Opini Inspiratif

Mengenal Karakter Pemikiran NU yang Dinamis

Salah satu karakter NU itu dinamis (tathawwuri), bukan tekstualis dan tidak liberalis, tapi metodologis (manhaji). NU bukan Salafi Wahabi yang tekstualis, bukan takfiri yang radikalis, dan bukan liberal yang mengubah Nash.

 

Tradisi ulama sejak dulu ada dua, yaitu: Pertama, menyiapkan orang yang paham ilmu agama dan melakukan perbaikan, baik dengan dakwah maupun perang/ perjuangan (i’dad al mutafaqqihin wa al mushlihin da’watan wa qitaalan). Kedua, menjaga dan memperbaiki umat, baik aspek agama maupun kemasyarakatan (himayat al ummah wa ishlahiha diiniyyatan wa ijtima’iyyatan).

Tradisi ini harus dijaga, tidak boleh terputus, agar umat tidak menjadikan pemimpin-pemimpin yang bodoh, yang memberikan statemen tanpa ilmu, hingga mereka pun sesat dan menyesatkan, seperti diingatkan dalam hadits.

Sekarang tidak ada perang. Tapi spirit ini harus dijaga di pesantren, bahwa cinta negara merupakan bagian iman.

BACA JUGA:  Salafi Wahabi Sekte Pencipta Teroris dan Pembawa Bencana

Umat harus dijaga dari aliran sesat dan pemikiran menyimpang. Maslahat yang tidak bertentangan dengan syariat diakomodasi oleh syariat. Idza wujidat mashlahah lam tu’aridih an nash fa tsamma syar’ullah (jika terdapat mashlahat yang tidak bertentangan dengan nash maka di sana terdapat syariat Allah). Ini berbeda dengan kelompok liberal yang membatalkan nash demi mashlahat (naqdh nash bi al mashlahah). Beristri lebih dari satu kata orang liberal berlawanan dengan maslahat, akhirnya nashnya dibatalkan.

Sayyidina Umar dalam pendapat beliau di masanya, bukan membatalkan nash dengan mashlahat, namun tahqiq al manaath, atau verifikasi tentang relevansi teks.

NU mengakomodasi tradisi selagi tidak bertentangan dengan nash. NU tidak seperti Salafi Wahabi yang tekstualis, tidak seperti kelompok takfiri yang radikalis, tidak seperti liberal yang mengubah-ubah nash.

BACA JUGA:  Empat Guru Lecehkan NU, Ajari Siswa Tinggalkan Amalan NU

Saya mengajak mari paradigma kita selama ini ditambah. Pertama, ada al muhafazhah ‘ala al qadiim al shaalih, lalu kedua, al akhdzu bi aljadid al ashlah. Dua paradigma ini sudah tepat. Saya menambahkan yang ketiga: melakukan al ashlah ila maa huwa al ashlah, tsumma al ashlah fa al ashlah. Mengapa? Karena yang sekarang paling maslahat, boleh jadi besok tidak jadi yang ashlah lagi. Jadi ada perbaikan terus.

Problem kita saat ini, banyak dalam jumlah tapi sedikit dalam peran (katsir fi al jumlah qalil fi ad daurah).

Salah satu karakter NU itu dinamis (tathawwuri), bukan tekstualis dan tidak liberalis, tapi metodologis (manhaji).

BACA JUGA:  Habib Rizieq Jadi Imam Besar Umat, GP Ansor: Tak Perlu Mengada-ada

Islam Nusantara hanya casing atau bungkus. Isinya ya Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah an Nahdliyyah, Aswaja ala NU. Saya tambah lagi: maa ‘alaihi al muassissun (Aswaja NU sesuai yang dijelaskan oleh para pendiri organisasi).

(Disampaikan oleh Rais Aam PBNU Dr. KH. Ma’ruf Amin pada acara Seminar Nasional Ittiba’ Ulama: Meneguhkan Aqidah Merawat Tradisi, Agenda Pra Haul KH. Abdul Hamid Pasuruan, di PP Bayt al Hikmah asuhan Gus Idris Hamid, pada 20 Desember 2015. Dialihtuliskan oleh Ustadz Faris Khoirul Anam, Lc., M.H.I., Tim Tutor Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur/ Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya).

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Mengenal Karakter Pemikiran NU yang Dinamis
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker