Inspirasi Islam

Mengapa Salafi Wahabi Dianggap Meresahkan

Salafi Wahabi – Dulunya, Salafi atau Salafiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah ( 661 H-728 H). Atau yang sering dikenal dengan panggilan Ibnu Taimiyah. Salafi atau Salafiyah itu sering diklaim sebagai gerakan untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. beserta para Sahabat beliau.

Sedangkan Wahabi atau Wahabiyah adalah sebutan untuk kelompok atau paham keagamaan yang dinisbatkan kepada pelopornya yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1702 M-1787 M/ 1115 H-1206 H). Sebetulnya, nama Wahabi ini tidak sesuai dengan nama pendirinya, Muhammad. Tetapi begitulah orang-orang menyebutnya. Sedangkan para pengikut Wahabi menamakan diri mereka dengan al-Muwahhiduun (orang-orang yang mentauhidkan Allah). Meskipun sebagian mereka juga mengakui sebutan Wahabi untuk dirinya.

salafi - Mengapa Salafi Wahabi Dianggap Meresahkan

Salafi Wahabi dan Konsep Dasar Ajaran Salafi Wahabi

Kedua paham di atas, Salafi & Wahabi, sebenarnya memiliki hubungan tidak langsung yang cukup erat. Yaitu bahwa Muhammad bin Abdul Wahab adalah termasuk pengagum Ibnu Taimiyah dan banyak terpengaruh oleh karya-karya tulis Ibnu Taimiyah. Itulah mengapa kedua ajaran mereka memiliki kesamaan visi dan misi, yaitu “Kembali kepada Al-Qur’an & Sunnah Rasulullah Saw. beserta para Sahabat”. Sehingga apa saja yang “mereka anggap” tidak ada perintah atau anjurannya di dalam Al-Qur’an, Sunnah, atau atsar Sahabat Nabi Saw. Langsung mereka anggap sebagai bid’ah (perkara baru yang diada-adakan) yang diharamkan dan dikategorikan sebagai kesesatan, betapapun bagusnya bentuk suatu kegiatan keagamaan tersebut.

Mereka selalu menuduh hal-hal yang dianggap bid’ah dengan dasar hadis Nabi Saw.  “… Kullu bid’atin dhalalah, wa kullu dhalalatin fin-naar” (setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan akan dimasukkan ke dalam Neraka). Dengan visi dan misi inilah maka para pengikut mereka di zaman ini kemudian menamai diri mereka dengan sebutan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah (penganut Sunnah Nabi Muhammad Saw. & para Sahabat beliau). Yang pada hakikatnya berbeda dari pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipahami oleh para ulama Islam di dunia (yaitu ulama yang mempunyai hubungan historis dengan al-Asy’ari dan al-Maturidi ).

Visi  “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. serta para Sahabatnya”  tersebut telah mendorong mereka untuk melaksanakan sebuah misi “memberantas Bid’ah & Khurafat”.  Sekilas visi & misi itu terlihat sangat bagus. Namun dalam prakteknya ternyata seringkali menjadi sangat berlebihan. Mengapa? Karena semua bid’ah & khurafat yang mereka anggap sesat dan wajib diberantas itu mereka definisikan sendiri. Tanpa mengkompromikan dengan definisi atau penjelasan para ulama terdahulu.

BACA JUGA:  Kepulan Asap Dari Api Wahabi

Sudah banyak penjelasan para ulama zaman ini, bagaimana Salafi Wahabi mencuri istilah Ahlussunnah wal Jamaah. Sehingga belakngan mereka menjadi terbiasa menganggap diri mereka sebagai Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sampai puncaknya diungkap dalam Muktamar Ulama Aswaja di Chechnya, 25-27 Agustus 2016, bahwa Salafi Wahabi tidak memiliki ciri sebagai Ahlussunnah Wal Jama’ah.

 

Imam kaum Salafi Wahabi, Ibnu Taimiyah maupun Muhammad bin Abdul Wahab sudah dianggap sesat oleh Ulama pada zamannya

Terbukti, pada masa hidupnya saja, baik Ibnu Taimiyah maupun Muhammad bin Abdul Wahab, sudah dianggap “aneh”. Bahkan cenderung dianggap sesat ajarannya oleh para ulama pengikut empat Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) yang keseluruhannya menganut paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Hal itu terjadi karena Ibnu Taimiyah kerapkali mengeluarkan fatwa-fatwa ganjil mengenai aqidah atau syari’at yang menyelisihi ijma’ para ulama. Sehingga ia sering ditangkap, disidang, dan dipenjara. Sampai-sampai ia wafat di dalam penjara di Damaskus. Dan tercatat ada 60 ulama besar (baik yang sezaman dengan Ibnu Taimiyah maupun yang sesudahnya) yang menulis pembahasan khusus. Untuk mengungkap kejanggalan dan kekeliruan pada sebagian fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah dalam begitu banyak karyanya. (Lihat al-Maqaalaat as-Sunniyyah karya Syaikh Abdullah al-Harary).

Sedangkan Muhammad bin Abdul Wahab yang datang belakangan jauh lebih beruntung. Ia didukung oleh seorang Raja yang berhasil menguasai Mekkah (Hijaz) yang bernama Muhammad bin Sa’ud. Atau lebih dikenal dengan Ibnu Sa’ud (penaklukan Hijaz ke-I th. 1803-1813 M. Penaklukan ke-II th. 1925 M masa Raja Abdul Aziz bin Sa’ud dengan bantuan Inggris sampai sekarang).

Itulah mengapa Mekkah, Madinah dan sekitarnya sekarang dikenal dengan “Saudi”/Sa’udi Arabia (dinisbatkan kepada Ibnu/bin Sa’ud atau Aalu Sa’ud/keluarga Sa’ud). Dengan dukungan kekuasaan dan dana dari Raja Ibnu Sa’ud itulah maka ajaran Wahabi menjadi paham wajib di Saudi Arabia. Dan menyebar luas ke seluruh dunia sekaligus membuat resah umat Islam di negeri-negeri yang lain.

 

Mengapa Salafi Wahabi meresahkan Umat Islam di seluruh dunia ?

Mengapa Salafi Wahabi dianggap meresahkan? Karena fatwa-fatwa ulama Salafdi Wahabi tentang bid’ah dan khurafat yang disebarluaskan itu seringkali berbenturan dengan adat istiadat. Atau tradisi keagamaan umat Islam di masing-masing negeri. Padahal tradisi mereka itu telah berlangsung sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Dan telah dijelaskan kebolehan atau keutamaannya oleh para ulama ahlus-Sunnah wal-jama’ah.

Khususnya di Indonesia dan Malaysia, tradisi keagamaan yang sering dianggap bid’ah dan sesat itu di antaranya: Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Juga Tahlilan kematian, do’a dan zikir berjama’ah, ziarah kubur, tawassul, membaca al-Qur’an di pekuburan, qunut shubuh, dan lain sebagainya. Yang masing-masing memiki dasar di dalam agama.

BACA JUGA:  Untuk Kaum Syi'ah, Ketahuilah Ahlussunnah Bukan Nawaashib

Jelasnya, keresahan itu muncul karena fatwa-fatwa para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab (Salafi Wahabi) tersebut bertentangan. Dengan fatwa-fatwa mayoritas ulama yang dijadikan pedoman oleh mayoritas umat Islam di dunia. Akibatnya mereka menjadi seperti orang usil yang selalu menyalahkan dan mempermasalahkan amalan orang lain. Lebih dari itu bahkan mereka menganggap sesat orang yang tidak sejalan dengan ajaran Salafi Wahabi.

(Untuk lebih jelas, baca “I’tiqad Ahlussunnah Wal-Jama’ah” karya KH. Siradjuddin Abbas. Diterbitkan oleh Pustaka Tarbiyah Jakarta. Juga baca “Maqaalaat as-Sunniyyah fii Kasyfi Dhalaalaati Ibni Taimiyah”. Karya Syaikh Abdullah al-Harary, diterbitkan oleh Daarul-Masyaarii’ al-Khairiyyah, Libanon).

Ajaran Salafi Ibnu Taimiyah dilanjutkan oleh murid-muridnya, di antara yang paling dikenal adalah Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Sedangkan ajaran Wahabi disebarluaskan oleh para ulama Wahabi yang diakui di Saudi Arabia. Yang paling dikenal di antaranya adalah: Nashiruddin al-Albani, Abdul Aziz bin Baz, Shalih al-Utsaimin, Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin, dan lain-lain. Dari keduanya, pada zaman ini mereka disebut Salafi Wahabi.

Namun begitu, kita berusaha bersikap proporsional dalam menyikapi ajaran yang mereka sampaikan. Artinya, apa yang baik dan sejalan dengan pendapat para ulama mayoritas maka tidak kita kategorikan ke dalam penyimpangan atau kesesatan.

 

Salafi, Wahabi dan Salafi Wahabi

Perlu diketahui, bahwa meskipun dasar kemunculannya berbeda, namun belakangan Salafi & Wahabi seperti satu tubuh yang tidak bisa dibedakan. Yaitu sama-sama memandang sesat atau bid’ah terhadap acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Juga Tahlilan kematian, ziarah kubur, tawassul, menghadiahkan pahala kepada orang meninggal, berdo’a & berzikir berjama’ah, bersalaman selesai shalat berjama’ah, membaca al-Qur’an di pekuburan, berdo’a menghadap kuburan, dan lain sebagainya.

Dan boleh dikatakan, bahwa Salafi & Wahabi sekarang sudah menjadi mazhab tersendiri yang lebih ekstrim dalam berfatwa ketimbang Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahab sendiri. Mereka sering disebut sebagai Salafi Wahabi.

Di Indonesia, fatwa-fatwa Salafi Wahabi banyak disebarluaskan oleh para mahasiswa atau sarjana yang sebagian besarnya adalah alumni Perguruan Tinggi di Saudi Arabia. Atau mereka yang mendapat beasiswa di lembaga pendidikan Saudi Arabia. Di samping itu, paham Wahabi juga disebarluaskan melalui buku-buku terjemahan, yang kini menghiasi berbagai toko buku atau stan-stan pameran buku.

BACA JUGA:  Koreksi Ahlussunnah Wal-Jama'ah Kepada Salafy Wahabi Soal Tawassul

Bahkan, buku–buku mereka juga dibagi-bagi secara gratis, baik melalui Atase Kedubes Saudi Arabia, maupun lembaga pendidikan Saudi Arabia seperti LIPIA atau yang lainnya. Buku-buku seperti itu juga dibagikan kepada semua Jama’ah Haji secara gratis setiap tahunnya. Akibatnya sebagian mereka mengalami perang batin dalam menimbang-nimbang kebenaran.

 

Ajaran Salafi Wahabi disebarkan melalui buku gratis dan radio

Di samping melalui buku-buku dan forum-forum kajian keagamaan, fatwa-fatwa Salafi Wahabi juga disebarluaskan melalui siaran radio. Seperti: Radio Dakta Bekasi (FM/107 Mhz), Radio Roja Cileungsi (AM/756 Mhz), dan Radio Fajri Bogor (FM/91,4 Mhz).

Di Indonesia juga terdapat ormas-ormas Islam yang prinsip dasar atau metodologi ajarannya sama atau hampir sama dengan Salafi Wahabi seperti Muhammadiyah, PERSIS, Al-Irsyad, PUI (Persatuan Umat Islam), Paderi, Sumatra Tawalib, dan lain-lain (lihat Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, jilid 4, hal. 205).

Hanya saja ada sebagian yang tidak seekstrim mereka. Tetapi kadang sebagian anggota ormas-ormas itupun memiliki sikap ekslusivisme yang sama dengan kaum Salafi Wahabi. Sehingga dalam kajian ini penulis tidak memisahkan mereka sebagai kelompok tersendiri. Dan menganggapnya sejenis dengan kaum Salafi Wahabi. Hal ini jauh lebih layak untuk sebuah pemahaman agama dengan ciri yang sama, entah sebagian ciri atau keseluruhannya.

Dalam kajian ini kami tidak ingin berpanjang kalam tentang Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahab, menimbang keperluannya yang tidak terlalu urgen dalam pembahasan ini. Sebab sepertinya, para pengikut mereka sekarang sudah lebih independen dalam berijtihad dan berfatwa mengenai perkara-perkara baru yang mereka anggap bagian dari agama yang tidak pernah ada di zaman Rasulullah Saw. atau para Shahabat beliau.

Bahkan dalam beberapa hal mereka tidak sependapat dengan Ibnu Taimiyah & Muhammad bin Abdul Wahab. Hal ini menunjukkan bahwa kaum Salafi Wahabi sekarang ini hanya mengambil motto utama yang sangat global dari Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Yaitu “kembali kepada al-Qur’an, Sunnah Rasulullah Saw., dan Sunnah para Shahabat beliau”. Sedangkan dalam perkara-perkara detailnya mereka cenderung pilih-pilih.

Itulah kenapa konsentrasi pembahasan ini lebih pada fatwa-fatwa ulama Salafi Wahabi. Di mana fatwa-fatwa itulah yang sering menjadi sumber masalah bagi kerukunan hidup beragama antar umat Islam.

Ryo Satura

Simpan

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Mengapa Salafi Wahabi Dianggap Meresahkan
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

76 thoughts on “Mengapa Salafi Wahabi Dianggap Meresahkan”

  1. Tulisan di bawah ini saya Copas dari artikel diatas, yang saya anggap sebagai inti dari artikel tersebut:

    “Ajaran Salafi Ibnu Taimiyah dilanjutkan oleh murid-muridnya, di antara yang paling dikenal adalah Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Sedangkan ajaran Wahabi disebarluaskan oleh para ulama Wahabi yang diakui di Saudi Arabia, yang paling dikenal di antaranya adalah: Nashiruddin al-Albani, Abdul Aziz bin Baz, Shalih al-Utsaimin, Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin, dan lain-lain. Namun begitu, kita berusaha bersikap proporsional dalam menyikapi ajaran yang mereka sampaikan. Artinya, apa yang baik dan sejalan dengan pendapat para ulama mayoritas maka tidak kita kategorikan ke dalam penyimpangan atau kesesatan.

    Perlu diketahui, bahwa meskipun dasar kemunculannya berbeda, namun belakangan Salafi & Wahabi seperti satu tubuh yang tidak bisa dibedakan, yaitu sama-sama memandang sesat atau bid’ah terhadap acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw., tahlilan kematian, ziarah kubur, tawassul, menghadiahkan pahala kepada orang meninggal, berdo’a & berzikir berjama’ah, bersalaman selesai shalat berjama’ah, membaca al-Qur’an di pekuburan, berdo’a menghadap kuburan, dan lain sebagainya. Dan boleh dikatakan, bahwa Salafi & Wahabi sekarang sudah menjadi mazhab tersendiri yang lebih ekstrim dalam berfatwa ketimbang Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahab sendiri.”

  2. Bagi ana orang yg awam sederhana sj cara berfikirnya:
    1. Ali ra berkata ” dengar atau simak apa yg dikatakannya, bukan melihat siapa yg berkata”;
    2 Setiap apa yg ana dapatkan dr suatu dalil, selain dg iman ana cari kebenaran apa yg disampaikan itu (ittiba’)semaksimal mungkin dr para pakar hadits, krn banyaknya bertebaran hadits palsu/munkar/ maudhu, dan dhoif yg menurut akal sehat ana tidak bisa dijadikan sandaran utk beribadah walaupun isi dan makna hadits itu utk kebaikan.
    3. Banyak amal ibadah, baik hablumminallah maupun hablumminannas yg tidak abu-abu sehingga tidak menimbulkan pertentangan dan mudah dikerjakan dengan ikhlas.
    4.Yg ana fahami adalah setiap amal dan ibadah itu dimulai dg niat yg ikhlas untuk mencapai ridho dan rahmat Allah SWT, serta safaat Rasullulah SAW
    5. Banyak itu belum tentu berarti benar

    1. Alkhamdulillah, sama.

      “3. Banyak amal ibadah, baik hablumminallah maupun hablumminannas yg tidak abu-abu sehingga tidak menimbulkan pertentangan dan mudah dikerjakan dengan ikhlas”

      Yang jelas tidak abu-abu saja sampai saya mati tak akan sempurna melaksanakannya, kok masih ditambahi yang abu-abu. Mang mereka suka tambah-tambah.

  3. hati2 trhdp ucapan atau tulisan orang orang yang hanya taqlid kpd gurunya saja ,tanpa mau meneliti kebenaran.sesungguhnya orang2 yg mengatakan wahabi’mereka adalah orang2 yg taqlid tanpa didasari ilmu dan dipenuhi dng kebencian.wahai ikhwan caritahulah dulu,apakah benar wahabi seperti itu.

    1. bener emang begitu ….tetangga ada yang ikut paham tsb tiaaaaap hari ada aja yang dibilang bid ah , syirik , bahkan musyrik …. gayanya kaya org yang paling tau hukum islam …kalau di konfrontir marah …..bahkan 17 agustus bidah banget KATANYA….

  4. 1. Barangkali mas mujaddid bisa memberi gambaran wahabi menurut pandangan antum, biar jelas. Karena banyak buku yang menggambarkan bhw konsep dasar pemikiran wahabi nggak jauh seperti artikel diatas. Contoh sederhana adalah istilah taqlid spt yang baru antum tulis.

    2. Semoga tidak ada kebencian diantara kita.

  5. Terus bendung virus wahaby/salafy palsu ini…. jgn biarkan islam ini hancur krn faham aneh dan taqlid buta para pengikut abdul wahab….. Islam tdk lh jumud/beku,sprti yg mrk sangkakan…. islam membawa kedamaian,kekompakan,penuh adab,toleransi,bahkan kpd kaum non muslim…. Jd,jk ingin belajar agama,liat2 dulu…. Klu udh rujukan nya syekh albany,bin bazz,atau utsaimin,jgn di pkai,krn mrk adlh kaum mujasimmah,takfiriyah,mubaddi’ah…. mrk adlh wahaby(pemecah belah umat),yg ngaku2 sbg salafy…..

  6. Asslamualaikum semua, Islam sudah sempurna semenjak Rasulullah ada, jelas tidak perlu tambahan apapun, dalam artian bid’ah = segala bentuk penambahan terhadap hal yang sudah sempurna, cukuplah apa yang jelas datangnya dari yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya ,untuk ilmunya bisa datang dari jalan dan mazhab manapun.

    khusus untuk orang2 seperti mas darda jangan pakai nafsu mas, kalau kita beda mari kita kembalikan kepada Al Quran dan Hadits jangan gitu mas, cari dulu ilmunya, pelajari apa yang benar dan salahnya, ambil yang benar dan koreksi yang keliru, tidak perlu saling hujat dan saling cela tanpa ilmu, itu adalah kebiasaan orang bodoh yang suka mendahulukan nafsu, karena kesalahan bisa di siapa saja.

    masalah salafi dan wahabi apa yang benar akui benar dan apa yang salah buktikan kalo itu salah dengan ilmu, cari kebenaran bukan cari siapa yang paling benar.

  7. SAMPAH, DELETED!!!

    COPAS ini Panjangnya lebih 4 kali lipat artikel di atas. Bagi Wahabi yang lain, kalian kalau komentar pakailah apa yang ada di kepala anda semdiri. COPAS-an juga boleh, tapi jangan kepanjangan. Karena keterangan yang bertele-tele semakin membingungkan. Kita ingin kebenaran yang faktual….

  8. SAMPAH, DELETED!!!

    Saudara Abu Said ini hoby sekali nyampah! Beginilah karakter kaum yang satu ini, kerjaannya nyampah!

    Kalau tidak bisa komentar, silahkan diam aja. Atau Ustaz anda aja suruh komentar, biar nanti ditanggapi oleh pengunjung lainnya.

    Bagi Wahabi yang lain, tolong jangan nyampah lagi!

  9. Kenapa Kita Harus Mengikuti As-Salaf?
    Penulis: Al-Muhaddist Al-’Allaamah Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy rahimahullahu Ta’aala

    ????? ???? ????????

    Kenapa kita harus mengikuti as Salaf???

    Jawaban dari pertanyaan ini akan kita dengarkan dari seorang imam ahlil Hadist pada zaman ini yaitu; al Muhaddist al `Allaamah Muhammad Naashiruddiin al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala.

    Pertanyaan:

    Kenapa harus dinamakan dengan as Salafiyyah?? Apakah da`wah ini merupakan da`wah hizbiyyah, atau da`wah thooifiyyah atau da`wah madzhabiyyah, atau dia ini merupakan satu golongan yang baru dalam Islam ini??

    Jawaban:

    Sesungguhnya kata kata “as Salaf” ma`ruufun (sangat dikenal) dalam bahasa `arab dan di dalam syari`at ini, yang terpenting bagi kita disini adalah pembahasannya dari sisi syari`at.

    Sesungguhnya telah shohih dari pada Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau `Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada anaknya Faathimah radhiallahu `anha sebelum beliau `Alaihi wa Sallam wafat:

    ((????? ???? ??????? ???? ??? ????? ??? ??……)). ???? ???? (2450) (98).

    Artinya: “Bertaqwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya sebaik baik “salaf” bagi kamu adalah saya…”[1]

    Penggunaan kalimat ‘salaf” sangat ma`ruf dikalangan para `ulama salaf dan sulit sekali untuk dihitung dan diperkirakan, cukup bagi kita satu contoh dari sekian banyak contoh contoh yang digunakan oleh mereka dalam rangka untuk memerangi bid`ah bid`ah.

    ?? ??? ?? ????? ?? ??? ??? ?? ?? ?????? ?? ???

    “Setiap kebajikan itu adalah dengan mengikuti orang salaf dan setiap kejelekan tersebut adalah yang diada adakan oleh orang khalaf”.

    Ada sebahagian orang yang menda`wakan memiliki `ilmu, mengingkari penisbahan kepada “salaf”, dengan da`waan bahwa nisbah ini tidak ada asalnya. Dia berkata: “Tidak boleh bagi seseorang muslim untuk mengatakan saya seorang “salafiy,” seolah olah dia mengatakan juga: “Tidak boleh bagi seseorang mengatakan saya muslim yang mengikuti para “salafus shoolih” dengan apa apa mereka di atasnya dalam bentuk `aqidah, `ibadat dan akhlaq.” Maka tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran seperti ini kalau benar benar dia ingkari, sudah tentu diwajibkan juga bagi dia untuk berlepas diri dari Islam yang benar, yang telah dijalani oleh para “salafus shoolih”, Rasuulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam telah mengisyaratkan dalam hadist hadist yang mutawaatir diantaranya:

    ((??? ???? ????? ?? ????? ??????? ?? ????? ??????)).

    Artinya: “Sebaik baik ummat saya adalah yang hidup sezaman dengan saya (sahabatku), kemudian orang orang yang mengikuti mereka (at Taabi`uun), kemudian orang orang yang mengikuti mereka (at Baaut Taa`bi`iin)….”[2]

    Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari penisbahan kepada as Salafus Shoolih, sebagaimana kalau seandainya berlepas diri juga dari penisbahan yang lainnya, tidak mungkin bagi seorang ahli `ilmu untuk menisbahkannya kepada kekufuran atau kefasikan.

    Orang yang mengingkari penamaan seperti ini (nisbah kepada “salaf”). Apakah kamu tidak menyaksikan, bukankah dia menisbahkan dirinya kepada satu madzhab dari sekian madzhab yang ada?, apakah madzhab ini berhubungan dengan `aqidah atau fiqh. Sesungguhnya dia mungkin Asy`ariy, Maaturiidiy dan mungkin juga dia dari kalangan ahlul hadist atau dia Hanafiy, Syaafi`ii, Maalikiy atau Hanbaliy diantara apa apa yang termasuk kedalam penamaan ahlus Sunnah wal Jamaa`ah, padahal seseorang yang menisbahkan dirinya kepada madzhab asy`Ariy atau kepada madzhab yang empat, sebenar dia telah menisbahkan dirinya kepada pribadi pribadi yang bukan ma`suum tanpa diragukan, walaupun diantara mereka ada juga para `ulama yang benar, alangkah aneh dan sangat mengherankan sekali, kenapa dia tidak mengingkari penisbahan kepada pribadi yang tidak ma`suum ini???

    Adapun seorang yang mengintisabkan dirinya kepada “as Salafus Shoolih”, sesungguhnya dia telah menyandarkan dirinya kepada seseorang yang ma`suum secara umum (yang dimaksud Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam), Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam telah menyebutkan tentang tanda tanda “al Firqatun Naajiyyah” yaitu seseorang yang berpegang teguh dengan apa yang Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam dan para shohabatnya ada di atasnya, maka barang siapa yang berpegang teguh dengan jalan mereka secara yaqin, dia betul betul berada di atas petunjuk Robnya.

    Nisbah kepada “as Salaf” ini merupakan nisbah yang akan memuliakan seseorang menisbahkan dirinya kepadanya, kemudian memudahkan baginya untuk mengikuti jalan kelompok orang yang selamat tersebut, tidak sama dengan seseorang yang menisbahkan dirinya kepada nisbah yang lain, karena penisbahan itu tidak akan terlepas dia diantara dua perkara:

    Pertama, dia mungkin meng-intisabkan dirinya kepada seseorang yang bukan ma`suum, atau kepada orang orang yang mengikuti manhaj (methode) orang yang bukan ma`suum ini, yang tidak ada sifat suci baginya, berbeda dengan shahabat Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam yang memang diperintahkan kita oleh Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam untuk berpegang teguh dengan sunnah (cara/methode)nya dan sunnah para shahabatnya setelah beliau wafat.

    Dan kita akan terus menerus menganjurkan dan menerangkan agar pemahaman kita terhadap al Quraan dan as Sunnah benar benar sesuai dengan pemahaman para shahabatnya Shollallahu `alaihi wa Sallam, supaya kita terjaga daripada berpaling dari kanan dan kekiri, juga terpelihara dari penyelewengan pemahaman yang khusus, sama sekali tidak ada dalil yang menunjukan atas pemahaman itu dari Kitaabullahi Subhaana wa Ta`aalaa dan Sunnah RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam.

    Kemudian, kenapa tidak cukup bagi kita untuk menisbahkan diri kepada al Quraan as Sunnah saja?

    Jawabannya kembali kepada dua sebab:

    Pertama: Berhubungan dengan nash nash syar`ii.

    Kedua: Melihat kepada keadaan firqoh firqoh (golongan golongan) islaamiyah pada sa`at ini.

    Ditinjau dari sebab yang pertama: kita menemukan dalil dalil syar`ii memerintahkan untuk menta`ati sesuatu yang lain disandari kepada al Kitab dan as Sunnah, sebagaimana dikatakan oleh Allah Ta`aalaa:

    ((????? ????? ????? ?????? ???? ??????? ?????? ????? ????? ????….)) ?????? (59).

    Artinya: “Hai orang orang yang beriman, tha`atilah Allah dan tha`atilah RasulNya, dan ulil amri diantara kalian.” An Nisaa` (59).

    Kalau seandainya ada waliyul amri yang dibai`at dikalangan kaum muslimin maka wajib untuk mentha`atinya sebagaimana kewajiban mentha`ati al Kitab dan as Sunnah, bersamaan dengan demikian kadang kadang dia salam serta orang orang disekitarnya, namun tetap wajib mentha`atinya dalam rangka mencegah kerusakan daripada perbedaan pandangan pandangan yang demikian dengan syarat yang ma`ruuf, demikian disebutkan dalam hadist yang shohih:

    ((?? ???? ?? ????? ???? ?????? ?? ???????)).

    Artinya: “Tidak ada ketha`atan di dalam ma`shiat, sesungguhnya ketha`atan itu hanya pada yang ma`ruuf.”[3]

    Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa berkata:

    ((??? ????? ?????? ?? ??? ?? ???? ?? ????? ????? ??? ???? ???????? ???? ?? ???? ????? ???? ????? ?????)). ??????:(115).

    Artinya: “Barang siapa menyakiti (menyelisihi) as Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam setelah sampai (jelas) kepadanya hudan (petunjuk), lalu dia mengikuti bukan jalan orang mu`minin (para shahabat), kami akan palingkan dia kemana sekira kira dia berpaling, lalu kami akan masukan dia keneraka jahannam yang merupakan sejelek jelek tempat baginya.” An Nisaa (115).

    Sesungguhnya Allah `Azza wa Jalla Maha Tinggi dan Maha Suci Dia dari sifat kesia sia-an, tidak diragukan dan disangsikan lagi bahwasanya penyebutan jalan orang mu`miniin pada ayat ini sudah tentu ada hikmah dan faedah yang sangat tepat, yaitu; bahwasanya ada kewajiban yang penting sekali tentang pengikutan kita kepada Kitaabullahi Subhaana wa Ta`aalaa dan Sunnah RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam wajib untuk dicocokan dengan apa apa yang telah dijalani oleh orang muslimiin yang pertama dikalangan ummat ini, mereka adalah shahabat Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam; kemudian orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, inilah yang selalu diserukan oleh ad Da`watus Salafiyyah, dan apa apa yang telah difokuskan dalam da`wah tentang asas asas dan tarbiyahnya.

    Sesungguhnya “ad Da`watus Salafiyyah”-merupakan satu satunya da`wah yang haq untuk menyatukan ummat ini, sementara apapun bentuk da`wah yang lain hanya memecah belah ummat ini; Allah `Azza wa Jalla berkata:

    ((?????? ?? ????????)). ?????? (119).

    Artinya: “Hendaklah kamu bersama orang orang yang benar.” At Taubah (119), dan barangsiapa yang membedakan diantara al Kitaab dan as Sunnah disatu sisi, dan antara “as Salafus Shoolih disisi yang lainnya dia bukan seorang yang jujur selama lamanya.

    Ditinjau dari sebab yang kedua: Kelompok kelompok dan golongan golongan pada hari ini sama sekali tidak menghadap secara muthlaq untuk mengikuti jalan orang mu`miniin (jalan para shahabat radhiallahu `anhum) seperti yang disebutkan pada ayat diatas, dan dipertegas lagi dengan sebahagian hadist hadist yang shohih diantaranya: hadist al firaq (mengenai perpecahan) menjadi tujuh puluh tiga gologan, yang keseluruhannya di neraka kecuali satu, Rasuulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam telah menjelaskan tentang sifatnya bahwasanya dia:

    “?? ???? ??? ??? ?? ??? ???? ????? ???????.”

    Artinya: “Dia (al Firqatun Naajiyyah) itu adalah sesuai dengan apa apa yang saya hari ini dan para shahabat saya.”[4]

    Dan hadist ini serupa dengan ayat diatas menyebutkan jalan orang mu`miniin, diantaranya juga hadist al `Irbaadh bin Saariyah radhiallahu `anhu:

    “?????? ????? ???? ??????? ???????? ???????? ?? ????”.

    Artinya: “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah dan Sunnah al Khulafaaur Raasyidiin al Mahdiyiin setelah saya.”[5]

    Jadi dihadist ini menunjukan dua Sunnah: Sunnatur Rasuul Shollallahu `alaihi wa Sallam dan Sunnatul Khulafaaur Raasyidiin.

    Diwajibkan bagi kita-akhir ummat ini- untuk kembali kepada al Kitaab dan as Sunnah dan jalan orang mu`miniin (as Salafus Shoolih), tidak dibolehkan bagi kita mengatakan: kita akan memahami al Kitab dan as Sunnah secara bebas (merdeka) tanpa meruju` kepada pemahaman “as Salafus Shoolih!!”

    Dan wajib adanya penisbahan yang membedakan secara tepat pada zaman ini, maka tidak cukup kita katakan: saya muslim saja!, atau madzhab saya adalah al Islam!, padahal seluruh firqah firqah yang ada mengatakan demikian: ar raafidhiy (as Syii`ah) dan al ibaadhiy (al Khawaarij/Firqatut takfiir) dan al qadiyaaniy (Ahmadiyyah) dan selainnya dari firqah firqah yang ada!!, jadi apa yang membedakan kamu daripada mereka keseluruhannya??

    Kalau kamu mengatakan: saya muslim mengikuti al Kitab dan as Sunnah juga belum cukup, karena pengikut pengikut firqah firqah yang sesat juga mengatakan demikian, baik al `Asyaairah dan al Maaturiidiyyah dan kelompok kelompok yang lain- keseluruhan pengikut mereka juga menda`wakan mengikuti yang dua ini (al Kitab dan as Sunnah).

    Dan tidak diragukan lagi adanya wujud penisbahan yang jelas lagi terang yang betul betul membedakan secara nyata yaitu kita katakan: “Ana muslim mengikuti al Kitab dan as Sunnah di atas pemahaman “as Salafus Shoolih,” atau kita katakan dengan ringkas: “Ana Salafiy.”

    Dan diatas inilah; sesungguhnya kebenaran yang tidak ada penyimpangan padanya bahwasanya tidak cukup bersandarkan kepada al Kitab dan as Sunnah saja tanpa menyandarkan kepada methode pemahaman “as Salaf” sebagai penjelas terhadap keduanya dalam sisi pemahaman dan gambaran, al `ilmu dan al `amal, ad Da`wah serta al Jihad.

    Kita mengetahui bahwasanya mereka-radhiallahu `anhum- tidak pernah fanatik kepada madzhab tertentu atau kepada pribadi tertentu, tidak terdapat dikalangan mereka ada mengatakan: “Bakriy (pengikut Abu Bakr), `Umariy (pengikut `Umar), `Utsmaaniy (pengikut `Utsman), `Alawiy (pengikuti `Ali) radhiallahu `anhum ajma`iin, bahkan salah seorang dari kalangan mereka apabila memudahkan baginya untuk bertanya kepada Abu Bakr atau `Umar atau Abu Hurairah dia akan bertanya; yang demikian itu dikarenakan mereka betul betul yaqin bahwasanya tidak dibolehkan meng-ikhlashkan “ittibaa`” (pengikutan) kecuali pada seorang saja, ketahuilah dia adalah Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam; dimana beliau tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya melainkan wahyu yang diwahyukan padanya.

    Kalau kita terima bantahan para pengeritik ini bahwasanya kita hanya menamakan diri kita “kami orang muslim”, tanpa menisbahkan kepada “as Salafiyyah”-padahal nisbah itu merupakan nisbah yang mulia dan benar-, apakah mereka (para pengeritik) akan melepaskan dari penamaan dengan golongan golongan mereka, atau madzhab madzhab mereka, atau thoriiqah thoriiqah mereka- yang padahal penisbahan dan penyadaran itu bukan disyari`atkan dan tidak benar?!!

    ?????? ??? ??????? ?????

    ??? ???? ??? ??? ????.

    Artinya: “Cukuplah bagi kalian perbedaan ini diantara kita

    Dan setiap bejana akan menuangkan apa apa yang ada padanya.

    Dan Allah Tabaaraka wa Ta`aalaa yang Menunjuki kita ke jalan yang lurus, dan Dia-Subhaana wa Ta`aalaa- Yang Maha Penolong.

    Diterjemahkan oleh Abul Mundzir-Dzul Akmal as Salafiy

    Dari Majallah as Ashoolah (no.9/86-90), dengan judul: “Masaail wa Ajwibatuha.”

    1997M.

    (Sumber URL:

      1. ini juga copasan ………kepala nt kosong apa @buuuuuuu abu

        Klo copasan napa, coba bantah aj isinya, baru lo mang berilmu. Klo bisa.

  10. ahhh pusing saya ma orang yang ribut tentang bid’ah…….kalo saya seh selama masih syahadat mah itu sama masih sodara juga…..ga usah di panjangin lagi di sini…mending pada jago agama…kasih aja ke yang lebih ahli…ribet banget sehhh…kasian ma orang bodoh kaya saya ini jadi bingung….

  11. kang dado ga usah bingung faham wahabi / salafi itu cuma faham baru yang masuk ke indonesia kurang lebih dua ratus tahun yang lalu, sementara faham para wali songo yang nota bene meng islamkan kake nenek moyang kita, sudah ada sejak 1200 tahun yang lalu, sehingga lebih patut diikuti ketimbang faham baru yang bau kencur ( masih ingusan ) hanya saja faham mereka didukung oleh negara yang kaya raya sehingga bisa menyebar kemana mana terlebih sasaran wahabi / salafi itu biasanya adalah orang – orang awam seperti kita, sementara orang – orang berilmu dari kalangan ahli sunnahnya para wali songo tidak berani mereka ajak karena takut ketahuan belangnya .

    1. uraian diatas nggak cukup dicerna dgn akal @ awam ……agama itu ada dalil aqli dan naqli …..kadang2 diluar batas akal normal ….contoh Isra miraj nabi Saaw apa masuk akal …….abu jahal hanya memakai akal makanya nggak bisa iman ….

  12. kenapa salafi/wahabi dianggap meresahkan ?

    karena wahabi/salafi terlalu memaksakan fahamnya agar diterima, dan men cap mubtadi` sesat, musyrik, bahkan kafir kepada orang yang tidak mau menerima fahamnya.

    lantaran wahabi / salafi , menjadikan perbedaan persepsi, hasil ijtihad maupun perbedaan pendapat yang berdasarkan hujjah, sebagai tembok pemisah untuk membelah satu kesatuan menjadi dua kelompok atau lebih, untuk saling menerkam.
    dengan dua hal ini muncullah perang urat saraf diantara kaum muslimin.

    padahal faham wahabi/salafi sendiri belum tentu lebih mendekati kebenaran dari faham yang lainya.

  13. mas aria…… pake nafsu gmn….???? justru anda yg pake nafsu,tdk mau melek mata hati dan batin anda dgn kebenaran…. Mata hati dan bati anda telah tertutup krn merasa diri paling bnr,dan org lain salah(begitulah sifat wahaby/salafy palsu ini). Ingat mas aria,jika semakin banyak beribadah,tp kt semakin merasa benci dg org lain,berarti ada yg salah dg ibadah kt.Krn semakin banyak ibadah dan ilmu agama,kt semakin syg dan cinta kpd seasama umat….. Artikel di atas adlh mengupas sedikit apa dan bagaimana faham sempalan ini.Jadi,baca dg hati yg jernih,dan hilangkan monopoly kbnrn.Betul,islam emang udh sempurna,jadi gx perlu lg ada yg nama nya wahaby/salafy,atau apa,cukup apa yg ada di bawa oleh ulama 4 mazhab,krn mereka yg lbh tau tntg qur’an dan hadist,kt yg tdk pnya ilmu setaraf mrk tinggal mengikuti. Jadi,tdk semua org bs ngerujuk langsung ke qur’an dan hadist,harus org2 yg bnr2 ahli di bidang nya…. Jadi,jgn ngerasa baru pnya kitab satu di rmh,udh laga’ kaya’ imam mujtahid,udh ngersa laya’ berfatwa,tunggu dulu……kt bukan yg ahli nya mas aria…. Dan tentang wahaby/salafy,sebaik nya anda baca terus blog ini,krn dari komen anda,nampak anda masih awam tntg sekte wahaby/salafy palsu yg di motori muahamad ibn abdl wahab,al bany,bin bazz,utsaimin,dll….. selamat membaca mas…

  14. Ping-balik: Buku-buku Sesat Buatan Para Aktifis Wahabisme di Indonesia « UMMATI PRESS
  15. Menurut saya, solusinya sederhana: teguh dengan dua kalimat syahadat, menjalankan rukun Islam, meyakini rukun Iman, berpedoman pada Al-qur’an dan Hadist (yang syahih), belajar dari para alim ulama yang mengerti dan memahami.

    Berdebat tentang perbedaan paham dan sekte justru memperburuk tali persaudaraan sesama muslim. Allah SWT tidak memandang manusia dari sekte yang dianut, tetapi menilai ketakwaan dan keimanan kita kepadaNya. Bagaimanapun, saya sebagai muslim meyakini bahwa ISLAM (dan kitab Al-qur’an) tidak akan tergerus dan dilindas oleh perkembangan zaman. Semakin berkembang zaman, semakin berkembang pula ilmu pengetahuan, semakin banyak interpretasi dan pemahaman. Hal yang demikian adalah lumrah, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, yang pada dasarnya merupakan keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT. Oleh karena itu kita diwajibkan menuntut ilmu sampai akhir, dari akar sampai ujung daun secara menyeluruh, tidak setengah-setengah, agar tidak salah arah. Memahami ajaran Islam yang benar (sesuai Al-qur’an dan Hadits) merupakan suatu kewajiban bagi kita sebagai muslim. Saya rasa, selama kita berpegang teguh pada Al-qur’an dan Hadits, perbedaan paham dan mazhab bukanlah suatu masalah, dan tidak perlu didramatisasi.

    Salam,
    Manshur Zikri.

    1. @ Manshur Zikri….salam kenal semua peryataan nt secara “nasionalis ” benar …..namun permasalahannya bukan pada pedebatan itu sendiri mas ….. kami insyaAlloh teman2 aswaja ingin meluruskan dari pemahaman kaku atau arogan dari sekte2 sesat yang merasa ” mewakili ” nabi bahkan “mewakili ” Alloh yang notabene adalah jeratan SYETAN yang begitu dahsyatnya dalam menipu daya saudara2 kita sesama muslim .dan sesama muslim kita wajib saling mengingatkan paling tidak biar yang awam dalam Islam tidak ikut terjerumus kedalam kesesatan …..begitu pendapat ana mas maaf bila nggak berkenan …..salam

  16. @. manshur zikri
    wahabi mengklaim bahwa merekalah satu-satunya ahli Tauhid yang murni , selain mereka adalah Musyrik yang tidak memilki kehormatan dan harus dibunuh dan dirampas harta bendanya,(hal ini benar-benar telah mereka lakukan).

    mereka juga berkeyakinan bahwa seseorang tak akan berguna baginya ” dua kalimah syahadat ” apabila ia masih percaya “tabarruk” dengan Rosulallah SAW atau memohon Syafa`at beliau, mereka berkeyakinan bahwa seorang muslim yang meyakini hal-hal tersebut adalah Musyrik ! dan kemusyrikannya lebih besar dari kemusyrikan orang-orang Jahiliyah yang menyembah patung maupun Binatang.

    apakah sekte radikal dan ektrim seperti ini akan anda biarkan…..?

    1. Tarmadi@

      Nte beratanya aja gak bener, apalagi jawabnya bagaimana? Coba dirubah pertanyaannya yg benar biar bisa dijawab….

  17. Sebagian Ahlul Fitnah dan pendusta mengatakan bahwa Da’wah Syaikh Muhammad Abdul wahab adalah sesat. Apakah mereka para pendusta trsebut punya kitab2nya dan membacanya, Pernakah membaca biografinya. atau hanya mendengar saja dari orang2 pendusta tanpa mengecek langsung dari kitab2nya..ingatlah wahai saudaraku sesungguhnya mata, hati dan pendengaran ada tanggungjawabnya di akhirat kelak.

    1. Antum punya kitab aslinya tidak akh? Atau antum hanya mendengar saja dari orang-orang yang menganggap syirik, mengatakan kafir kepada muslimin lain tanpa membaca kitab asli karangan Ulama Sunnah?

      ingatlah wahai saudaraku sesungguhnya mata, hati dan pendengaran ada tanggungjawabnya di akhirat kelak.

        1. Di bagian Mana pada kitab dan Ajaran Syekh Muhammad ibn Abdil Wahhab yang sesat????? Buktikan dengan fakta… Jangan jadi tukang fitnah….pendusta…. Coba tulis dan kasih tau ke saya bagian mana? halaman berapa? judul bukunya yg mana? tulis dg fakta… coba bagi tukang fitnah di sini ada yg bisa kasih bukti kesesatan dia????

    2. Saya sudah pernah membaca biografinya. Tapi tentunya biografi yang ditulis oleh Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah dan bukan tulisan ulama’ Ahlul Bid’ah Al-Wahhabiyyah.

  18. Kalau lah semua ibadah yang anda tulis di atas baik,, Pasti Rosul dan Para sahabat lebih dulu mengerjakannya “Tidak tersisi satupun yang mendekatkan diri pada Allah dan menjauhkan diri dari neraka Kecuali telah aku sampaikan kepadamu semuanya” (Hadits),, Lho….. kenapa masih ragu dg maulid? tahlilaln kematian, yasinan, peringatan bla. bla…bla…. Apa yg datang dari Allah dan Rosul, Dengar dan Ta’ati……. kenapa mesti mencari celah untuk membantah,, bahkan berani bicara dalam Agama “MENURUT PENDAPAT SAYA”…. emangnya agama ini pendapat menusia apa? emangnya manusia yg bikin agama….. Naudzubillah wa jazakumullah

    1. “Tidak tersisi satupun yang mendekatkan diri pada Allah dan menjauhkan diri dari neraka Kecuali telah aku sampaikan kepadamu semuanya” (Hadits)

      Dalil tersebut maknanya Syariat ini sudah sempurna, perintah dan larangan sudah lengkap disampaikan kepada Ummat.

      Maka, berdasarkan hadits tersebut pula dapat diambil kesimpulan, tidak ada larangan membaca kalimat Laa ilaaha illa Alloh (Tahlilan dalam bahasa Jawa), membaca sholawat dan shiroh Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam (Maulidan dalam bahasa Jawa), membaca Surah Yaasiin (Yasinan dalam bahasa Jawa).

      Dalilnya adalah dalil yang antum sampaikan tersebut.

      Sampai saat ini tidak ada dalil pelarangan membaca kalimat Laa ilaaha illa Alloh (Tahlilan dalam bahasa Jawa), membaca sholawat dan shiroh Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam (Mauludan dalam bahasa Jawa), membaca Surah Yaasiin (Yasinan dalam bahasa Jawa).

      Karena syariat ini sudah lengkap dan sempurna, tentunya kalau amalan tersebut dilarang, pasti ada dalil yang melarangnya.

    2. Bukankah yasinan, tahlilan, dan maulid dari ajaran Rasul?
      “Semua” bid’ah sesat. Mengenai lafadz kullu bagaimana dengan hadist di bawah ini

      ?? ????? ??? ???? ???? ???? ???: ?? ??? ??? ?? ?????

      Apakah Malaikat juga diciptakan dari air?

      “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barang siapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang? mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).

      Wallahu ta’ala a’lam

  19. Kalau lah semua ibadah yang anda tulis di atas baik,, Pasti Rosul dan Para sahabat lebih dulu mengerjakannya “Tidak tersisa satupun yang mendekatkan diri pada Allah dan menjauhkan diri dari neraka Kecuali telah aku sampaikan kepadamu semuanya” (Hadits),, Lho….. kenapa masih ragu dg maulid? tahlilaln kematian, yasinan, peringatan bla. bla…bla…. Apa yg datang dari Allah dan Rosul, Dengar dan Ta’ati……. kenapa mesti mencari celah untuk membantah,, bahkan berani bicara dalam Agama “MENURUT PENDAPAT SAYA”…. emangnya agama ini pendapat menusia apa? emangnya manusia yg bikin agama….. Naudzubillah wa jazakumullah
    Balas

    1. “Kalau lah semua ibadah yang anda tulis di atas baik,, Pasti Rosul dan Para sahabat lebih dulu mengerjakannya”, apakah ini hadits Rasul Saw, atau kata-kata kamu sendir, atau kata-kata siapa? Silahkan jawab, saya tunggu.

  20. @Hafzan memang itulah kaidah wahabi hal tersebut dah di ulas di mutiara zuhud ini ana copas sebagian ” Marilah kita sebarluaskan penjelasan kekeliruan selama ini dan hentikan penggunaan kaidah “LAU KANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) untuk melarang amal kebaikan (amal sholeh) karena kaidah ini tidak berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits

    Alangkah indahnya peringatan Isra Mi’raj, Maulid Nabi, dll tanpa ada satupun ulama yang melarangnya dan kembali berkumandang amal kebaikan (amal sholeh) seperti sholawat badar dan lain-lain yang pada ujungnya akan tegak kembali ukhuwah islamiyah dan tidak ada lagi umat muslim yang menyempal dari jama’ah sebagaimana yang telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/04/13/merekak-yang-melesat/

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830
    dan kalau nt ngeyel silahkan konsultasi dgn bang Zon di
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/08/lau-kaana-khoiron/
    sangat di tunggu agar nt nggak tersesat @ Hafzan…..salam

  21. Ini grup/kelompop Bodoh semua………….. Mudah2n Akal Antum ditundukkan pada Allah selalu, Tidak Jadi pembangkang atas Syariat ini, Aelanjutnya” Man Yusyaqiqurrosula mim ba’di ma tabayyana lahul lhuda nuwallihi ma yuwalli wa nushliihi jahannam….” silahkan… sebagai saudara muslim tugas saya cuma menyampaikan… o ya, boleh pinjam gak buku2 karangan Wali songo antum?

    1. Wah, di sini ada juga dagelan brutal Wahabi, @Hafzan, Hafzan….. kalau mau jdi pelawak jangan jadi pelawak Wahabi, lucunya menyimpan kekejaman. Ayat vit cocok buat kalian Wahabi, yang terbukti membuat bid’ah dholalah dg membagi tauhid jadi tiga, kalian menganggap orang di luar antum ahali bid’ah sedangkan kalian sendiri adalah para dedengkot ahlul bid’ah. Kalian Wahabi membagi tauhi jadi tiga, ajaran siapa itu? Apakah Nabi Saw membagi Tauhid jadi tiga, Hafzan? Jawablah Bos….

  22. Di bagian Mana pada kitab dan Ajaran Syekh Muhammad ibn Abdil Wahhab yang sesat????? Buktikan dengan fakta… Jangan jadi tukang fitnah….pendusta…. Coba tulis dan kasih tau ke saya bagian mana? halaman berapa? judul bukunya yg mana? tulis dg fakta… coba bagi tukang fitnah di sini ada yg bisa kasih bukti kesesatan dia????

    1. Hafzan@

      Kesalahan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ada di Kitab: “Kasyfu asy-Syubuhat; Doktrin Takfir Wahhabi Paling Ganas”. Bacalah kitab tsb, walaupun sudah diedit agar lebih halus oleh Syekh bin Baz, tapi toh ktab tersebt masih menampakkan sifat aslinya yg kejam kepada Ummat Islam yg tidak sepaham dengannya.

      Bacalah, kan antum bisa bahasa arab? Di situ dikatakan orang-orang Islam selain golongannya (Wahabi) sebagai kafir musyrik. Silahkan cek dg nalar yg benar dan kritis. Agar dapat petunjuk-NYA, amin….

  23. ORANG AWAM SEMUA ISINYA DI SINI, BELAJAR TAK MAU MENGHUJAT DAN MEMFITNAH AJA KERJANYA… BACA KITAB IBN ABDIL WAHHAB AJA BELUM PERNAH UDAH MAIN FITNAH, TOBAT SONO…… MALAH SIBUK MEMPERTAHANKAN BID’AH, MANA KITAB2 KARANGAN WALI2 SONGO MU ITU? SAYA BISA BELI DI MANA? DI TOKO MIMPI? GAK MUTU BGT DISKUSI SM ORANG2 JAHIL DAN SOMBONG DG AJARAN KESOMBOMBONGAN DAN FITNAH,, INIKAH TANDA2 DAJJAL ITU? JANGAN2 DI SINI BANYAK DARI ASWAJA = AHLUS SYI’AH WA DAJJAL….. ALLAH AKAN MEMPERLIHATKAN KEBENARAN ITU DAN MEMBALAS FITNAH ITU….

    1. Hafzan, jelas koment kamu yg gak mutu gitu kok masih ngotot terus? kala gak bisa koment yg ilmiyyah mendingan cabut aja gih, cepat, cepat, cepat…. Hanya malu-maluin teman-teman wahabi-mu kalau kamu komentnya cuma seperti itu.

    2. HAFZAN

      Aduh-aduh kok nt nafsu banget sih. Emangnya komen nt ga mengandung penuh nafsu? Justru koment2 nt tuh sangat dan sangat sekali tercium anyirnya nafsu sampe ditempat ane yang jauh di pojok Jawa Timur terasa lho.

      Bahkan aroma amis kesombongan nt juga sangat menyengat

    1. @ Hafzan
      Iyalah kamu pintar, kelompok kamu yang paling benar, paling bertauhid yang lain sesat masuk neraka.
      Hanya kamu dan kelompok kamu penghuni surga, semua makhluk penghuni neraka kecuali kamu dan kelompok kamu “wahabi” yang pemilik surga.
      Hafzan ! selamat pergi kesurgamu, jangan kesasar jalan ke Neraka ya! …he he ..he

  24. Wah Hafzan dah stres, ditanyain dalil ga bisa jawab. dikasih tahu malah sok tahu … jadi ingat pepatah waktu SD “Tong Kosong ….

    1. …NYARING BUNYINYA!!

      Ditanya dalil Tauhid 3 malah marah. Nyari buku Wali Songo yg sangat banyak beredar g ketemu, marah lagi. Dikasih rujukan buku leluhur Wahhabi, entah udah tahu ato emang ikut Wahhabi krn ikutan jadi g pernah baca bukunya, marah lagi.

      Kasihan..

  25. kalau merusak kuburan baqi’ itu baik, maka para imam generasi salaf akan mendahului mereka.

    Jika mengharamkan tawassul dg nabi itu baik, maka para imam generasi salaf akan mendahului mereka.

    Jika melarang tabarruk itu baik, maka para imam generasi salaf akan mendahului mereka.

    Pada faktanya, tawassul, tabarruk, dan lainnya itu telah dicontohkan oleh generasi salaf. Lalu apa lagi yg mereka minta?

    Awan kezhaliman telah menghalangi hati mereka dari cahaya kebenaran.

    1. he…he…bumerang ceritanya niiiih……..kalau baik para salaf pasti mendahului mereka ????? he…he……good ide …

  26. Betul itu, kalaulah menghancurkan kuburan itu baik pastilah Nabi saw, Para Sahabat dan Salafuna shalih sudah lebih dulu melakukannya. Faktanya tidak ada cerita Salafuna Shalih menghancurkan kuburan, kecuali para wahabiyyun golongan pembawa fitnah Islam. Manghacurkan kuburan dg jargon/motto penegak Tauhid. Tauhid apaan tuh???

    1. Tauhid 3 ala BID’AH DLOLALAH

      -Membuat ‘Tauhid’ Uluhiyah untuk mengkafirkan & menghalalkan darah kaum Muslim
      -Membuat ‘Tauhid’ Rububiyah untuk memuluskan bersekutu dengan kaum Kafir
      -Membuat ‘Tauhid’ Asma wa Shifat untuk ikut dalam perlombaan ‘menggambar Tuhan’ dengan kaum Kafir

      tambahan:
      Kalau mengkafirkan Muslim lain itu baik, pasti para imam generasi salaf akan mendahului mereka.
      Kalau bersekutu & kerjasama dgn Kaum Kafir yg memusuhi Islam itu baik, pasti para imam generasi salaf akan mendahului mereka.
      Kalau mereka-reka Allah itu punya Jism & menyamai makhluk-Nya, pasti para imam generasi salaf akan mendahului mereka.

  27. @Hafzan demi kehormatan kamu balik lagi dong, biar gentle gitu. kalo merasa berilmu kasih tahu dalilnya. biasanya orang tawadhu, jika pernah berbuat atau berucap salah kepada orang lain, akan minta maaf. tapi itu kalau orang yang normal lho …

  28. hafzan….
    kenapa elu lari….dasar gak tanggung jawab luh….
    ngaku bisa bahasa arab ….ilmu masih cetek pake debat luh …malu maluin
    dasar wahabi kalau kalah debat ngacir…..sambil bilang aswaja dajjal
    bener bener nih orang ..biarin kalo ketemu gua tabokin mulutnya biar gak kurang ajar…
    dasar celana cingkrang(lagi banjir kali… ),jidat hitam (pake lem power glu kali….)
    ,jenggot berantakan( cuma 2 lembar doang….) hee…..he…… he……….

  29. Oh…. alangkah keras hati orang2 Wahabi sehingga menjadi sombong. Seperti si Boid di atas yang smbong menolak fakta2 dan kebenaran yg ada dalam postingan / artikel di atas. Dengan sombong nya berkata SEMUANYA BUIH. Inilah akibat hati yg keras sehingga menjadi sombong menolak kebenaran dan fakta. Tak mampu membantahnya cuma bisa bilang BUIH SEMUA.

  30. jika kalian berbeda pendapat maka kembalikanlah kepada Al quran dan As sunah,,,,,sebaiknya jangan mencela salafi ato wahabi,..mencela itu perbuatan yang tercela.karena pada fitrohnya manusia itu merasa paling benar,,bahkan anda sendiri menulis artikel ini ,,pastinya merasa benar dlm diri anda,,,,semoga kita semua mendapat hidayah dari Allah swt.
    Amien

    1. berilmu dahulu sblm berbicra. krna bnyak bicara tanpa ilmu : PENIPU. kalau kt mendpat suatu berita cek dulu kbenaran nya. jgn smpai kt menimpakan azab bgi suatu kaum krena prasangka. dan sesungguhnya prasangka itu tiada berguna menghdpi suatu kebenaran.

      1. Berilmu juga bisa jadi sombong kalau ilmunya diambil dari WAHABISME. Cuma kelihatan sepintas benar, tetapi ketika diteliti akhirnya terbukti hanya tipu sana tipu sini atas nama Qur’an dan Sunnah.

        Itulah Wahabi yg saya tahu, dan juga muslimin sedunia sudah tahu hal itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker