Analisis

Memahami Islam Nusantara, Kenapa Mereka Gagal Paham?

Gagal Paham Tentang Islam Nusantara Sengaja Disebarluaskan Untuk Menyerang NU?

Islam-Institute.Com – Pembicaraan mengenai Islam Nusantara sudah tak terhitung banyaknya, dimuat di koran, majalah dan media-media online. Namun tetap saja mereka sengaja tidak paham dan menolak ide deradikalisasi Islam melalui wacana Islam Nusantara. Sebabnya bukan karena apa-apa kecuali mereka melihat celah untuk menyerang NU sebagai pemilik gagasan Islam Nusantara.

Di bawah ini adalah artikel yang ditulis Syaiful Arif tentang mereka yang gagal memahami Islam Nusntara….. Selamat membaca semoga bermanfaat:

 

 

Islam Nusantara Bukan Paduan Islam dengan “Agama Jawa”

Secara resmi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj memberikan klarifikasi tentang kesalahpahaman atas istilah Islam Nusantara (IN). Menurutnya, Islam Nusantara bukanlah sinkretisme yang memadukan Islam dengan “agama Jawa”, melainkan kesadaran budaya dalam berdakwah (Kompas, 4/7).

Klarifikasi ini menjadi penting, tidak hanya demi gagasan dan penggagasnya, yakni NU, melainkan bagi masa depan Islam di Indonesia secara umum. Hal ini memang dilematis, sebab baik para kritikus maupun pendukung belum benar memahami hakikat IIslam Nusantara itu sendiri, akibat sifat gagasan ini yang cepat populer melampaui kematangan ilmiahnya.

Setidaknya terdapat beberapa kesalahpahaman atas Islam Nusantara tersebut:

Pertama, dari sebagian besar warga nahdliyin sendiri yang menyamakan Islam Nusantara dengan “lokalisasi” atau Jawanisasi Islam. Pembacaan al-Qur’an langgam Jawa di Istana Negara pada peringatan Isra’ Mi’raj (15/5/2015) yang digagas oleh Menteri Agama, menguatkan pemahaman ini. Dus, menjadi muslim Nusantara berarti menjadi muslim Jawa yang menolak kearaban.

Kedua, turunan dari pemahaman di atas; Islam Nusantara dianggap anti-tesa dari Islam Arab. Ini tentu menyulut kritikan kaum puritan yang menggangap Islam Nusantara merupakan aliran menyimpang sebab menolak kearaban, padahal Islam lahir di Arab.

BACA JUGA:  Buku: Wali Songo Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan

Ketiga, pesimisme dari pandangan modernis yang menempatkan Islam Nusantara bersifat anti-kemajuan. Maka lahirlah kecurigaan bahwa Islam Nusantara mengajak muslim Indonesia kembali ke zaman Mataram, layaknya Sanusi Pane yang menolak ajakan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) untuk menjadikan Eropa sebagai kiblat bagi renaissans Indonesia pada Polemik Kebudayaan 1935. Ini yang membuat Islam Nusantara dianggap sebagai langkah mundur, terutama karena Islam di Indonesia telah lama melaju bersama kemodernan.

Islam Nusantara, Kewajaran Konteks

Berbagai kesalahpahaman ini akan mengantar kita pada “kewajaran kontekstualisasi” yang melatari Islam Nusantara, baik sebagai realitas historis-kultural, maupun sebagai gagasan. Penyebab kesalahpamahan ini disebabkan pengetahuan Islam Nusantara sebagai produk, dan bukan sebagai metodologi. Inilah yang membuat Islam Nusantara dianggap sebagai kesalahan serius, padahal ia merupakan kewajaran yang hadir tidak hanya di negeri ini, tetapi di belahan dunia manapun.

Ini terjadi karena sebagai realitas historis, Islam Nusantara merupakan produk dari kontekstualisasi Islam. Meminjam istilah Taufik Abdullah, ia merupakan hasil dari “proses kimiawi” antara Islam dengan kultur lokal. Hanya saja bentuknya bukan sinkrestisme, pun juga Jawanisasi, melainkan perwujudan kultural Islam akibat penggunaan tradisi (‘urf) sebagai salah satu dalil perumusan hukum Islam. Inilah titik krusial dari Islam Nusantara itu.

Artinya, NU yang kini mewacanakan gagasan Islam Nusantara, berangkat dari metodologi yang wajar dalam perumusan hukum Islam. Sebab di dalam setiap perumusan ini, terdapat dalil sekunder – selain al-Qur’an dan hadist – yang merujuk pada; ijma’ (kesepakatan ulama), qiyas (analogi), istihsan (kebijaksanaan), saddu al-dzari’ah (menutup keburukan), dan ‘urf (tradisi). Dalil terakhir inilah yang menjadi landasan bagi pembentukan Islam Nusantara, berbasis pada kaidah fikih al-‘adah al-muhakkamah (adat bisa menjadi landasan hukum).

BACA JUGA:  Dakwah Walisongo Sukses karena Cinta Tanah Air

Hal ini terjadi karena perumusan hukum Islam selalu memiliki tujuan, yang oleh para fakih ditetapkan pada nilai kemaslahatan (mashlahat). Inilah yang menjadi tujuan syariah (maqashid al-syari’ah). Oleh NU, maqashid al-syari’ah ini diwujudkan melalui prinsip-prinsip syariah (mabadi’ al-syari’ah), salah satunya moderasi (wasathiyyah) sebagaimana firman Allah dalam al-Baqarah:143. Dalam praktiknya, prinsip moderat diterapkan melalui suatu realisme (al-waqi’iyyah), yang menempatkan realitas sebagai pijakan bagi pemikiran, perumusan hukum dan medan dakwah (Muhajir, 2015). Realisme ini yang membuat Walisongo menerima realitas masyarakat Nusantara, dan dari sana membangun Islam secara perlahan.

Oleh karenanya, Islam Nusantara bukan sinkretisme sebab dasar dan metodologinya berbasis pada syariah Islam. Ini dilakukan Walisongo ketika menggunakan wayang dalam berdakwah, yang dilakukan melalui “islamisasi nilai” di dalam bentuk budaya berepos Hindu tersebut.

Misalnya, dengan menambah tokoh Sang Hyang Tunggal sebagai pencipta para dewa, Sunan Kalijaga telah menegaskan monoteisme atas politeisme. Ini dilakukan tanpa perusakan artistik dan konflik teologis, sebab pembaruannya sangat halus dan substantif. Atau ketika Dewi Drupadi, yang dalam epos Mahabarata asli melakukan poliandri: isteri Pandawa lima, menjadi monogami: hanya menjadi isteri Yudistira (Sunyoto, 2012:358). Pembaruan kebudayaan ini dilakukan melalui transformasi struktur dalam (nilai), tanpa merubah sama sekali struktur luar (bentuk) kebudayaan. Ini yang membuat Islam diterima secara luas, karena ia datang dengan damai.

Islam Nusantara, Dialektika Budaya

Dari sini, pelurusan atas kesalahpahaman terhadap Islam Nusantara perlu dilakukan dalam beberapa hal. Pertama, konteks persoalan Islam Nusantara bukan oposisi antara kearaban dan keindonesiaan, melainkan antara agama dan budaya. Ini terjadi tidak hanya di Indonesia (Nusantara) melainkan juga di Arab dan belahan bumi manapun, ketika agama diamalkan.

BACA JUGA:  Gus Mus, Islam Nusantara dan Peci Hitam Bung Karno

Dalam konteks ini, kita perlu menengok kembali prinsip pribumisasi Islam yang merupakan proses alamiah, sosialisasi nilai-nilai agama. Artinya, bahkan di Arab-pun, pribumisasi Islam ke dalam budaya pra-Islam dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ini terkait dengan sifat dasar sosialisasi, dan sifat dasar dialektika agama dan budaya, yang saling independen dalam hubungan tumpang-tindih. Layaknya hubungan filsafat dan ilmu pengetahuan, maka agama membutuhkan budaya sebagai media sosialisasi, meski agama bukan budaya.

Kedua, dengan demikian anti-tesa Islam Nusantara bukan Islam Arab, akan tetapi purifikasi agama dari budaya. Purifikasi ini oleh gerakan Wahabi akhirnya digerakkan demi imperialisme budaya Arab. Inilah yang ditolak Islam Nusantara, tanpa menolak sama sekali “Arabisme Islam”. Ini dibuktikan dengan al-Qur’an langgam Jawa, yang tetap dibaca dalam Bahasa Arab. Perawatan aspek Arab dalam rukun Islam menunjukkan bahwa Islam Nusantara, hanyalah pengamalan Islam dalam habitus masyarakat tanpa merusak sendi agama.

Ketiga, Islam Nusantara bukan langkah mundur. Ia justru langkah maju melalui pemijakan pada akar budaya Islam. Sebab jika gagasan Islam Indonesia memuat keharmonisan Islam dan negara-bangsa (nation-state), maka Islam Nusantara memuat keharmonisan Islam dengan budaya Nusantara. Karena sifat nasionalisme Indonesia yang perenialis (kesinambungan kultur-historis dan bangsa modern), maka Islam Nusantara menjadi dasar bagi nasionalisme Islam yang melandasi kebangsaan Indonesia. Ini membuat Islam Nusantara menjadi dasar bagi gagasan Islam Indonesia.

Syaiful Arif, Dosen Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta

Sumber : NU Online

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker