Sejarah

Mecatat Sejarah Perjuangan Santri yang Terpendam

Upaya Mencatat Sejarah Perjuangan Santri yang Terpendam

Sekalinya sejarah menampilkan pahlawan Islam seperti HOS Cokroaminoto maupun KH Ahmad Dahlan, maka seolah dipilih citra Islam yang modernis. Pada saat yang sama, KH Wahab bersama ulama lainnya, termasuk KH Mas Mansoer, mendirikan Taswirul Afkar sebuah forum diskusi membahas pelbagai wacana saat itu. Inilah mengapa sejarah gerakan kebangkitan nasional kita tidak mencantumkan NU termasuk dalam kategori tersebut. NU adalah kebangkitan yang dipelopori ulama.

Menjelang 22 Oktober 2015, tensi politik naik. Hal ini karena Presiden Jokowi meneken surat Keputusan Presiden (Keppres) Hari Santri Nasional. Tak pelak muncul suara-suara pro dan kontra keputusan Presiden tersebut. Bagi kalangan NU dan pesantren tentu saja menyambut baik Keppres presiden itu. Mereka menganggap bahwa sekarang ini presiden telah menunaikan janji politiknya selama kampanye tahun lalu. Lebih dari itu, negara telah menghargai perjuangan para ulama dan santri juga mensahkan peristiwa tersebut sebagai bagian dari fakta sejarah.

Sebaliknya suara-suara kontra atas Keputusan Presiden ini juga muncul. Mereka menganggap bahwa keputusan itu justru langkah mundur dari upaya-upaya menghilangkan batas antara trikotomi santri-priyayi-abangan. Dengan keputusan presiden itu, maka dikhawatirkan tuntutan serupa dari kalangan non santri, seperti penetapan hari abangan nasional. Oleh karena itu, perlu  memahami bagaimana negara mendefinisikan kesejarahan nasional selama ini, agar tidak lagi timbul kesan bahwa penetapan hari santri oleh Presiden Jokowi ini merupakan deal-deal politik, lebih-lebih seolah hanya keberpihakan pada kelompok Islam tertentu, dalam hal ini pesantren.

 

Sekalinya sejarah menampilkan pahlawan Islam seperti HOS Cokroaminoto maupun KH Ahmad Dahlan.

 

Bila kita baca sejarah kebangkitan nasional, seperti dalam buku-buku resmi, sejarah kita dibagi berdasar pada masa pra abad ke-19 dan pasca abad ke-19. Pada masa sebelum abad ke-19, dikatakan perjuangan bersifat lokal; Perang Jawa, Perang Aceh, Perang Paderi, sementara masa setelah abad ke-19 dikatakan bersifat nasional; gerakan Boedi Oetomo, Serikat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi SI, Sumpah Pemuda yang lahir dari organisasi daerah seperti Djong Java, Djong Celebes, Djong Soematra, serta Muhammadiyah. Disinilah kita  mendapati negara masih diskriminatif ketika tidak memasukkan NU sebagai bagian dari gerakan kebangkitan nasional. Padahal NU lahir setelah abad ke-19. Saat itu, NU sudah memilki cabang di luar Jawa. Ingat bahwa Muktamar 1938 digelar di Kalimantan.

banner gif 160 600 b - Mecatat Sejarah Perjuangan Santri yang Terpendam

Kita juga bisa baca sejarah berdirinya Boedi Oetomo, Sarekat Islam, rata-rata mereka semua berlatar belakang pendidikan Belanda. Dr soetomo adalah mahasiswa STOVIA, seolah-olah kesadaran nasionalisme kita justru muncul ketika lebih dulu mendapat didikan Belanda. Sekalinya sejarah menampilkan pahlawan Islam seperti HOS Cokroaminoto maupun KH Ahmad Dahlan, maka seolah dipilih citra Islam yang modernis. Pada saat yang sama, KH Wahab bersama ulama lainnya, termasuk KH Mas Mansoer, mendirikan Taswirul Afkar sebuah forum diskusi membahas pelbagai wacana saat itu. Inilah mengapa sejarah gerakan kebangkitan nasional kita tidak mencantumkan NU termasuk dalam kategori tersebut. NU adalah kebangkitan yang dipelopori ulama.

Seumpama sedikit lebih obyektif, perang yang terjadi di Jawa, Aceh, Sumatera Barat, pada pra abad ke-19 justru digerakkan oleh para ulama. Tengku Cik Ditiro adalah seorang ulama. Di Aceh, gelar tengku itu artinya ulama atau kiai, ajengan, tuan guru atapun tuanku. Perang Diponegoro selama 5 (lima) tahun dari 1825-1830 dibantu oleh Kiai Maja, Kiai Sentot Ali Basya. Bahkan ajudan pribadi Diponegoro sendiri adalah Kiai Hasan Besari yang ikut dibuang ke Makassar. Beliau ini konon adalah cucu dari Kiai Nur iman Mlangi dan merupakan kakek dari KHM Moenawwir, pendiri Pesantren Al-Quran pertama di Nusantara.

Penulisan sejarah kadang tidak berpihak. Banyak penggalan-penggalan yang sengaja maupun tidak, dibiarkan begitu saja. Mestinya kita bangga bahwa kesadaran nasionalisme  bukanlah hasil didikan barat, sebaliknya muncul secara inhern dari keyakinan agama kita bahwa hubbul wathan minal iman, cinta tanah air sebagian dari iman.

====

Judul Asli: Ikhtiar Meluruskan Sejarah Perjuangan Santri

Ditulis oleh : Mohammad Yahya (Alumnus PP Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta).

Fb : www.facebook.com/abujakfar.yahya

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker