Fikih Sunnah

Maulid Nabi Tidak Diharamkan Allah dan Rasul-NYA

Maulid NabiKenapa Anda Masih Berani Mengharamkan Maulid Nabi Saw? Di dunia Islam akhir zaman ini muncul sekte Islam, di mana ada orang-orang yang cenderung untuk berbuat keterlaluan. Yaitu melebih-lebihkan dalam Mem-bid’ah-kan ( baca: mengharamkan ) untuk hal-hal yang baik. Padahal Allah sudah menurunkan ayat-ayat muhkamah (hukum) untuk menegaskan kepada mereka agar tidak melanggar batas-batas ketentuan Allah. Dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Di antaranya adalah ayat yang berbunyi sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman: Janganlah kamu mengharamkan yang baik-baik (dari) apa yang Allah telah halalkan buat kamu. Dan jangan kamu melampaui batas. Kerana sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang suka melampaui batas. Dan makanlah sebahagian rezeki yang Allah berikan kepadamu dengan halal dan baik. Dan takutlah kamu kepada Allah zat yang kamu beriman kepada-NYA.” (al-Maidah: 87-88).

Sebagaimana kita pahami bersama bahwa Islam sangat menghargai terhadap setiap hal yang menjadi sebab untuk berbuat yang baik. Dengan tujuan yang mulia dan niat yang bagus. Untuk itulah maka Nabi Muhammad Saw bersabda: “Sesungguhnya semua amal itu harus disertai dengan niat (niat yang baik, ikhlas karena Allah). Dan setiap amalan seseorang dinilai menurut niatnya.” (Riwayat Bukhari)

Niat yang baik itu dapat menjadikan seluruh yang mubah dan adat yang baik untuk berbakti dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu siapa yang memperingati maulid Nabi Saw dengan niat untuk menjaga kelangsungan dakwah Beliau dan memperkuat cinta supaya dapat melaksanakan ajaran-ajarannya dan meniru akhlaknya, untuk berkhidmat kepada Allah Azza WaJalla, maka Maulid Nabi itu dapat dinilai sebagai amal ibadah dan qurbah.

Tidak ada satu pun dalil yang shahih yang menunjukkan hukum larangan memperingati Maulid Nabi saw,  justru sebakliknya,  bahwa ternyata banyak dalil dan argumen yang bisa menjadi dasar Maulid Nabi saw adalah hal MUBAH yang bisa diniatkan untuk ibadah dan qurbah.

Untuk lebih jelasnya, ayo kita ikuti penjelasan dari ustadz Abu Hilya berikut ini….  (Pengantar Redaksi).

Maulid Nabi dan 21 Dalil Jawaban Persoalan Peringatan Maulid Nabi

Bismillah,

Sebelum kami kemukakan Dalil atau Hujjah Maulid Nabi Saw, perlu sebelumnya kami sampaikan beberapa hal:

Pertama : Kami berpendapat BOLEH dalam hal Perayaan Maulid dan berkumpul untuk mendengarkan Siroh Nabi SAW, serta bersholawat salam atas Beliau dan mendengarkan pujian-pujian yang memang pantas bagi Beliau.

Kedua : Kami tidak pernah MEN-SUNNAH-KAN Perayaan Maulid pada malam tertentu, semisal setiap 12 Robi’ul Awal atau setiap Senin, karena bagi kami mengingat dan menyebut Beliau adalah kebaikan ( Amal Sholih ) yang tidak dibatasi pelaksanaannya, meskipun mengingat dan bersyukur atas jasa Beliau lebih menggugah hati jika bertepatan dengan hari kelahiran Beliau SAW.

Ketiga : Berkumpul dalam Perayaan Maulid adalah WASILA KUBRO untuk berdakwa mengajak diri dan Ummat kejalan Alloh, dan itu merupakan kesempatan emas yang tidak sepatutnya dilewatkan, bahkan wajib bagi para Da’i, para Ulama, senantiasa mengingatkan Ummat ini pada Nabinya, tentang Akhlaqnya, kesantunannya, Sirohnya, Ibadahnya dst… Sehingga Perayaan Maulid Nabi bukanlah tujuan melainkan wasilah untuk mencapai tujuan Mulia. Berkata As Sayyid Muhammad bin ‘Alwi “Barang siapa yang tidak mampu mengambil sedikitpun manfaat dari agamanya maka ia terhalang dari kebaikan kelahiran Nabi SAW, yang mulia”.

DALIL BOLEHNYA MERAYAKAN (IKHTIFAL) MAULID NABI SAW

Pertama : Perayaan Maulid Nabi yang mulia adalah sebagai salah satu ungkapan wujud kegembiraan dan kebahagiaan karena diutusnya Beliau. Bukankah berbahagia dan bergembira karena kelahiran Beliau telah memberikan kemanfaatan kepada Abu Lahab yang ekspresi kegembiraannya ketika kelahiran Rosululloh SAW, ia memerdekakan budak perempuannya (Tsuwaybah) dan ia jelas-jelas kafir, sebagaimana Hadits riwayat Imam Bukhory :

حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ انْكِحْ أُخْتِي بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ فَقَالَ أَوَتُحِبِّينَ ذَلِكِ فَقُلْتُ نَعَمْ لَسْتُ لَكَ بِمُخْلِيَةٍ وَأَحَبُّ مَنْ شَارَكَنِي فِي خَيْرٍ أُخْتِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ ذَلِكِ لَا يَحِلُّ لِي قُلْتُ فَإِنَّا نُحَدَّثُ أَنَّكَ تُرِيدُ أَنْ تَنْكِحَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ قُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ لَوْ أَنَّهَا لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِي فِي حَجْرِي مَا حَلَّتْ لِي إِنَّهَا لَابْنَةُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِي وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ فَلَا تَعْرِضْنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ وَلَا أَخَوَاتِكُنَّ قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

Maka Akal yang waras tidak akan mempertanyakan dengan pertanyaan : “Mengapa kalian memperingatinya ?”, karena pertanyaan ini sama saja dengan bertanya : Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW ?”. Ini adalah pertanyaan yang tidak masuk akal bagi orang beriman.

 

Memperingati Maulid Nabi berarti bergembira atas kelahiran Rasulullah Saw

Kedua : Rosululloh SAW sendiri mengagungkan hari kelahiran Beliau, sebagaimana Hadits riwayat Imam Muslim :

و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ عَنْ غَيْلَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ الزِّمَّانِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْه ُأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

Puasa Rosululloh SAW, pada hari senin mengandung pengertian bahwa Beliau merayakan Kelahirannya, meskipun dengan bentuk yang berbeda dengan apa yang kita lakukan, namun makna yang terkandung didalamnya yakni bersyukur dan berbahagia atas kelahiran Beliu SAW, tetap ada.

Ketiga : Bergembira dan berbahagia karena kelahiran Rasulullah SAW, adalah perkara yang dituntut oleh Alloh. Sebagaimana terdapat dalam al qur’an S. Yunus : 58

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya : “Katakanlah : “ Dengan karunia Alloh dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira, karunia Alloh dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan “. (QS. Yunus : 58)

Dan rahmat terbesar didunia ini adalah Baginda Nabi SAW, sebagaimana dalam al qur’an :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya : “ Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam “. (QS. Al Anbiya : 107)

Keempat : Nabi SAW, senantiasa memperhatikan kaitan antar masa dan kejadian-kejadian keagamaaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya. Sebagaimana yang kita jumpai dalam hadits-hadits shohih diantaranya tentang hari ‘Asyuro.

Kelima : Peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada dizaman Rosululloh SAW, sehingga merupakan bid’ah, namun ia adalah bid’ah hasanah karena ia tercakup dalam dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyah, dan ia dipandang bid’ah dari segi kemasannya belaka bukan rangkaian isi yang terkandung didalamnya.

 

Maulid Nabi mendorong orang untuk bersholawat

Keenam : Peringatan Maulid Nabi SAW, mendorong orang untuk bersholawat salam atas Beliau, dan ini diperintahkan oleh Alloh dalam QS. Al Ahzab : 56

إِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلّونَ عَلىَ النَّبِيّ يَا أَيُّهَا الّذِيْنَ أمَنُوا صَلّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

Ketujuh : Dalam peringatan Maulid Nabi disebut tentang kelahiran Beliau, mu’jizat beliau, siroh beliau, dan pengenalan tentang pribadi beliau yang agung.  Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut meneladaninya, mengimani mu’jizatnya, membenarkan ayat-ayat yang disampaikannya? Dan kitab-kitab maulid adalah karya yang merangkum itu semua.

Kedelapan : Peringatan Maulid Nabi adalah salah satu cara untuk menunjukkan balas budi kita kepada beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifat beliau yang utama dan akhlaq beliau yang agung. Dimasa Nabi para penyair datang melantunkan qoshidah-qoshidah yang memuji beliau, diantaranya ada Ka’ab bin Zuhair (sebagaimana diriwayatkan Imam al Bayhaqi dalam Sunan al Kubro-nya), dan Rosululloh ridho dengan apa yang mereka lakukan. Kalau Nabi SAW, ridho terhadap orang-orang yang memujinya, lalu kenapa ada orang yang tidak suka dengan orang yang menyampaikan keterangan tentang perangai Beliau SAW?

banner gif 160 600 b - Maulid Nabi Tidak Diharamkan Allah dan Rasul-NYA

kesembilan : Mengenal perangai beliau SAW, mu’jizatnya, irhas-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Alloh berikan kepada seorang Rosul sebelum diangkat menjadi Rosul), dapat membuahkan bertambahnya iman, menambah mahabbah, karena adalah sudah menjadi watak manusia menyukai dan mengagumi keindahan baik “KHULUQON” maupun “KHOLQON”. Dan tidaklah ada diantara para makhluq yang lebih sempurna “KHULUQON” maupun “KHOLQON” melebihi Rosululloh SAW. Bukankah menambah Mahabbah dan Iman adalah sesuatu yang dituntut oleh Syara’? maka hal yang dapat mendorong perkara yang dituntut Syara’ adalah dituntut pula sepanjang tidak menyalahi dalil-dalil syar’iy.

Maulid Nabi bertujuan memuliakan Rasulullah SAW

Kesepuluh : Memuliakan Rasulullah SAW adalah perkara yang diperintahkan agama, dan bergembira dihari kelahiran beliau dengan menampakkan kebahagiaan dan membuat jamuan-jamuan, berkumpul untuk berdzikir, menyantuni yang faqir, adalah bagian dari menampakkan kebahagiaan dan pengagungan kepada beliau serta rasa syukur kepada Alloh yang telah memberi hidayah berupa agama yang qowiim.

Kesebelas : Dalam sebuah sabda Nabi SAW tentang keutamaan hari jum’at, disebutkan baha salah satu diantara maziyahnya adalah “ Pda hari itu Adam AS, diciptakan “. Hal ini menunjukkan kemuliaan waktu dimana seorang Nabi dilahirkan, maka bagaimana dengan hari dilahirkannya Rosululloh SAW? Sayyidu Waladi Adam… sekali lagi bukankah Rosululloh menganggap penting terhadap peristiwa-peristiwa besar keagamaan? Sehingga beliau pernah Sholat di “Baitul Lahm” karena disana tempat dilahirkannya Nabi Isa AS…

Kedua belas : Peringatan Maulid Nabi adalah hal yang dipandang baik oleh para Ulama dan ummat islam dipenjuru Negri (selain dalam komunitas salafi wahabi tentunya) dan sudah berlangsung ratusan tahun, bukankah sebuah kaidah yang bersandar pada perkataan Ibnu Mas’ud yang ditakhrij oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ

“ Apa yang dipandang baik oleh ummat islam maka baik pula di sisi Alloh. Dan apa yang dipandang buruk oleh ummat Islam maka buruk pula disisi Alloh “

Maulid Nabi dan kaidah ushul fikih “LIL WASAA-IL HUKMUL MAQOOSHID”

Ketiga belas : Dalam Peringatan Maulid Nabi terangkum di dalamnya Perkumpulan Dzikir, Shodaqoh, memuji dan pengagungan pada baginda Nabi SAW. Dan ini adalah perkara-perkara yang diperintahkan agama.

Keempat belas : Firman Alloh SWT,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“ Dan semua kisah-kisah para Rosul, Kami ceritakan kepadamu yang dengannya kami teguhkan hatimu “ (QS. Hud:120)

Dari ayat di atas jelaslah bahwa di antara hikmah dikisahkannya para Rosul adalah untuk meneguhkan hati Nabi SAW. Maka sesungguhnya kita lebih membutuhkan peneguhan hati dengan mengetahui berita-berita tentang Nabi SAW. Lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para Nabi sebelumnya.

Kelima belas : Tidak setiap yang tidak dikerjakan oleh Salaf dan tidak ada pada masa masa qurun terbaik adalah Bid’ah Munkaroh. Dan buruk yang haram untuk dikerjakan ummat Islam pada saat ini. Namun sesuatu yang baru tersebut haruslah diuji dulu dan di-crosschek dengan dalil-dalil syara’. Apakah ia tercakup dalam dalil-dalil syara’ atau menyalahinya. Jika ia tidak menyalahi dalil-dalil syara’, maka ketahuilah bahwa LIL WASAA-IL HUKMUL MAQOOSHID.

Maulid Nabi dan penjelasan Imam Syafi’iy tentang bid’ah

Keenam belas : Sesuatu yang rangkaian atau kemasannya (ijtima’iyyah-nya) tidak terdapat dalam “masa awal”. Namun isi muatannya (afrod-nya) berupa hal yang diperintahkan syara’. Maka sesuatu tersebut diperintahkan pula.

Ketujuh belas : Tidaklah setiap Bid’ah adalah Haram dan sesat. Karena jika demikian adanya maka bagimana dengan penghimpunan al qur’an oleh Kholifah Abu Bakar. Yang khawatir akan kepunahan al qur’an mengingat banyaknya para penghafal al qur’an yang syahid? Padahal Alloh telah menjamin dalam Firman-Nya: “ Sesungguhnya Kami telah menurunkan adz-Dzikro, dan sesungguhnya kami adalah Pelindung baginya”.

Dan jika setiap Bid’ah adalah haram dan sesat, maka haramlah apa yang dilakukan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khotthob. Dalam menghimpun Jama’ah tarowih dengan satu imam. Juga Haram pula apa yang dilakukan Amirul Mukminin Utsman bin Affan yang telah menambah adzan jum’ah hingga tiga kali. Bukankah semua itu terjadi setelah Alloh menyatakan kesempurnaan agama-Nya sebagaimana yang terkandung dalam QS. Al Maidah : 3. Juga Haram pula segala macam Ilmu seperti Tajwid, Qiro’ah, Nahwu-Shorof, Mustholah Hadits, dll. Juga Haram pula pendirian –pesantren-pesantren, Majlis Ta’lim, Panti asuhan dan kebaikan-kebaikan yang lain… Renungkanlah kembali konsep anda tentang Bid’ah!

Kedelapan belas : Imam Syafi’iy menjelaskan tentang Bid’ah :

ما أُحدِثَ وخالف كتاباً أو سنة أو إجماعاً أو أثراً فهو البدعة الضالة، وما أُحْدِثَ من الخير ولم يخالف شيئاَ من ذلك فهو البدعة المحمودة

“ Segala sesuatu yang diada-adakan dan menyalahi al qur’an, atau sunnah, atau ijma’ atau atsar, maka itulah Bid’ah Dholalah. Sedang sesuatu yang berupa kebaikan yang diadakan dan tidak menyalahi sesuatu pun dari semua maka ia adalah yang terpuji “

 

Maulid Nabi terkait hadits “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik ….

Kesembilan belas : Setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil Syara’ dan tidak dimaksudkan menyalahi syari’at serta tidak terdapat kemunkaran didalamnya. Maka sesuatu tersebut termasuk ajaran agama. Adapun pendapat sebagian kelompok ekstrim yang mengatakan “INI TIDAK DILAKUKAN OLEH PARA SALAF”, tidak bisa dijadikan dalil. Sekaligus membuktikan tidak adanya dalil atas pendapat mereka. Bukankah Rosululloh memberi keluasan dalam mengerjakan kebaikan sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at? Sebagaimana Hadits Riwayat Imam Muslim :

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik. Maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut. Dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk. Maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya. Tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikit pun”. (HR. Muslim)

Kedua puluh : Memperingati Maulid Nabi SAW, berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rosululloh SAW, dan itu menurut kami Masyru’ adanya. Sebagaimana yang anda lihat dalam sebagian besar amaliyah dalam Haajji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.

Kedua puluh satu : Sebagai penutup kami berikan catatan bahwa : Peringatan Maulid Nabi sebagaimana dalil-dalil yang telah kami sampaikan. Akan menjadi amalan terpuji jika di dalamnya tidak disertai kemungkaran (perbuatan-perbuatan tercela). Semisal dirayakan dengan menghadirkan musik-musik yang nyimpang, atau menciptakan huru-hara, dll.

PENDAPAT SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH TENTANG MAULID NABI

Berkata Ibnu Taimiyyah :

فتعظيم المولد واتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعيظمه لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس ما يستقبح من المؤمن المسدد ولهذا قيل للامام أحمد عن بعض الأمراء إنه أنفق على مصحف ألف دينار ونحو ذلك فقال دعه فهذا أفضل ما أنفق فيه الذهب أو كما قال ( إقتضاء الصراط المستقيم جز 1 ص 297)

Maka mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan menjadikannya sebagai musim raya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia dan akan begitu adanya. Terdapat pahala yang besar di dalamnya. Karena baiknya tujuan Maulid Nabi dan adanya pengagungan pada Rasulullah SAW. Sebagaimana yang telah aku sampaikan pada anda.” (Ibnu Taymiyyah dalam Iqtidho’us Shirothil Mustaqim, Juz I hal 297)

Disarikan dari kitab Dzikroyaat wa Munaasabaat karya Prof. Dr. As Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin Abbas al Maliki.

Wallohu a’lam.

Oleh: Abu Hilya – Perinagatan Maulid Nabi.

Simpan

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

42 thoughts on “Maulid Nabi Tidak Diharamkan Allah dan Rasul-NYA”

  1. Syukron ustadz Abu hilya,

    Mungkin di antara pembaca ada yang belum tahu seperti ada teman saya yg tanya, di atas ada kata “IHTIFAL” apa artinya? Artinya: pertemuan silaturahmi (mempererat tali silaturrohim dan atau persahabatan).

  2. jadi bagaimana dengan hadits nabi muhammad SAW:”Setiap bidah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di neraka???
    bagaimana dengan hadits nabi SAW:”Jangan kalian berlebihan memujiku sebagaimana nasrani memuji anaknya maryam(nabi isa)
    Dalam sholat yang sangat agung dan mulia saja lelaki dan perempuan dipisahkan tempatnya,sedangkan dalam maulid lelaki dan perempuan bercampur
    perintah sholat yang sangat agung dan wajib bagi muslim yang datang di mesjid hanya 1 atau 2 saf saja sedangkan yang datang maulid mesjid jadi sangat ramai,artinya orang lebih mementingkan maulid yang bidah dan nabi tidak pernah sama sekali contohkan ketimbang sholat yang Allah SWT wajibkan kepada hambanya.tolong penjelasannya

      1. @syahrul,
        kok anda bisa tau lelaki dan perempuan bercampur… berarti anda ikutan mauludan??? .Alhamdullilah…
        dit4 kami acara mauludan selalu terpisah meski tdk begitu jauh, tp jelas terpisah, dan dilaksanakan ba’da isya… kenapa lebih ramai… biasanya yg solat dimusholla ikutan mauludan di1 tempat mesjid yg aga besar, ditentukan waktu yg sekiranya semua warga sekitar bs hadir biasanya sabtu malam minggu atawa minggu malam senin, disediakan pula makanan/jajanan secara sederhana penuh hikmat dari sumbangan warga setempat.
        Justru saya bertanya2 kenapa syaikhul taimiyah sbg pionernya wahaby merestui mauludan? saya cari2 kesana kemari searching di mbah google sanggahan dari pihak wahaby ternyata belum pernah ketemu…
        apakah pengagum (pengikut) taimiyah mengetahui? mungkin saja sudah tau tp diabaikan, jika begitu bukankah ini berarti pengingkaran terhadap ulama kalian sendiri klo ulamanya saja diingkari apalg ulama yg berseberangan…
        Kembali lagi ke pemahaman bid’ah, jika disamaratakan semua bid’ah dolalah, maka akan byk berbenturan antara hadist yg satu dengan hadist yg lain, seharusnyalah tiap2 hadist saling memperkuat/mendukung.
        Wallahualam…

    1. @Mas Syahrul: jadi bagaimana dengan hadits nabi muhammad SAW:โ€Setiap bidah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di neraka???
      Penjelasan:
      Hadist tersebut telah di khususkan dengan dalil lain, seperti perkataan Syafii yang dinuqil imam zarkasyi Di bawah ini:
      ุงู„ู…ู†ุซูˆุฑ ุฅู…ุงู… ุจุฏุฑ ุงู„ุฏูŠู† ุจู† ู…ุญู…ุฏ ุจู‡ุงุฏุฑ ุงู„ุฒุฑูƒุดูŠ ุงู„ุฌุฒุก ุงู„ุฃูˆู„ ุต: 219
      ูˆููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ { ูƒู„ ุจุฏุนุฉ ุถู„ุงู„ุฉ }, ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุฅู…ุงู… ุงู„ุดุงูุนูŠ (ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡) ุงู„ู…ุญุฏุซุงุช ุถุฑุจุงู†: ุฃุญุฏู‡ู…ุง: ู…ุง ุฃุญุฏุซ ู…ู…ุง ูŠุฎุงู„ู ูƒุชุงุจุง ุฃูˆ ุณู†ุฉ ุฃูˆ ุฃุซุฑุง ุฃูˆ ุฅุฌู…ุงุนุง, ูู‡ุฐู‡ ุงู„ุจุฏุนุฉ ุงู„ุถู„ุงู„ุฉ. ูˆุงู„ุซุงู†ูŠ: ู…ุง ุฃุญุฏุซ ู…ู† ุงู„ุฎูŠุฑ ู„ุง ุฎู„ุงู ููŠู‡, ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ููŠ ู‚ูŠุงู… (ุฑู…ุถุงู†): ู†ุนู…ุช ุงู„ุจุฏุนุฉ ู‡ูŠ ูŠุนู†ูŠ ุฃู†ู‡ุง ู…ุญุฏุซุฉ ู„ู… ุชูƒู†, ูˆุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ุฑุฏ ู„ู…ุง ู…ุถู‰ ุงู†ุชู‡ู‰.
      Artinya: โ€œdalam hadist kullu bidโ€™atin dlolalah, Imam syafii RA berkata: hal-hal yang di perbarui ada dua, pertama:sesuatu yang di perbarui yang menyelisihi kitab, sunnah, atsar atau ijma, hal ini (yg menyelisihi) adalah bidโ€™ah dlolalah. Kedua: sesuatu yang di perbarui yakni kebaikan yang tidak menyelisihi, dan Sahabat umar RA benar-benar berkata dalam masalah berdiri (sholat) Ramadan, โ€œsebaik-baiknya bidโ€™ah adalah iniโ€, yakni sesuatu yang diperbarui dan belum pernah ada (tarawih berjamaah/20 rakaat. Pent) dan apabila hal tersebut sudah ada, maka niscaya tidak aka nada penolakan karena hal yang telah lampauโ€.
      Dan seperti penjelasan Imam sulaiman, ulama mutaakhirin sbb:
      ู‚ุฑุฉ ุงู„ุนูŠู† ุจูุชุงูˆูŠ ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุญุฑู…ูŠู† ุต: 30
      ูุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจู‚ูˆู„ู‡ ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆูƒู„ ุจุฏุนุฉ ุถู„ุงู„ุฉ ุงู„ูƒู„ ุงู„ู…ุฌู…ูˆุนูŠ ู„ุง ุงู„ุฌู…ูŠุนูŠ ูุงู„ุจุฏุน ุงู„ุชูŠ ุชูƒูˆู† ุถู„ุงู„ุฉ ู‡ูŠ ุงู„ู…ู†ุงููŠุฉ ู„ู„ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุดุฑุนูŠุฉ ูˆุงู„ู„ู‡ ุงุนู„ู… ุงู‡ู€
      Artinya: โ€œyg di kehendaki dengan ucapan dalam hadist wakullu bidโ€™atin dlolalatun adalah semua yang di kumpulkan bukan kesemua kumpulan, maka bidโ€™ah-bidโ€™ah yg menjadi sesat adalah yang menghilangkan (bertentangan) dengan kaidah-kaidah syariat, wallahu aโ€™lamโ€.
      Dan metode untuk mengetahui bidโ€™ah diarahkan pada lima hukum adalah sbb:
      ุงู„ูุชุงูˆู‰ ุงู„ุญุฏูŠุซูŠุฉ ุต : 109
      ู‚ุงู„ ุงู„ุนุฒ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุณู„ุงู… ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุงู„ุจุฏุนุฉ ูุนู„ ู…ุง ู„ู… ูŠุนู‡ุฏ ูู‰ ุนู‡ุฏ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุชู†ู‚ุณู… ุงู„ู‰ ุฎู…ุณุฉ ุฃุญูƒุงู… ูŠุนู†ู‰ ุงู„ูˆุฌูˆุจ ูˆุงู„ู†ุฏุจ ุงู„ุฎ ูˆุทุฑูŠู‚ ู…ุนุฑูุฉ ุฐู„ูƒ ุฃู† ุชุนุฑุถ ุนู„ู‰ ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุดุฑุน ูุฃูŠ ุญูƒู… ุฏุฎู„ุช ููŠู‡ ูู‡ูˆ ู…ู†ู‡.
      Artinya: โ€œAdapun cara untuk mengetahui hal tersebut (bidโ€™ah bisa menjadi sunah, wajib etc. pent) adalah dengan cara di uji (di sesuaikan) dengan kaidah kaidah syaraโ€™ maka hukum-hukum yang masuk dalam kaidah syariat maka termasuk di dalamnya.

      Mas Syahrul:
      bagaimana dengan hadits nabi SAW:โ€Jangan kalian berlebihan memujiku sebagaimana nasrani memuji anaknya maryam(nabi isa)
      Penjelasan:
      Batasan pujian yang tidak boleh adalah sampai taraf pengkultusan yang sampai menjadikan nabi sederajad dengan Alloh, inilah yang tidak boleh. Namun apabila dibawah itu sah sah saja sebagaimana perhormatan para sahabat di bawah ini:
      ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑู‰ – (ุฌ 19 / ุต 373)
      ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุนูŽุฑู’ุนูŽุฑูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูู‰ ุนูู…ูŽุฑู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจูู‰ ุฒูŽุงุฆูุฏูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุนูŽูˆู’ู†ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจูู‰ ุฌูุญูŽูŠู’ููŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ูŽ – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ูˆูŽู‡ู’ูˆูŽ ููู‰ ู‚ูุจู‘ูŽุฉู ุญูŽู…ู’ุฑูŽุงุกูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฏูŽู…ู, ูˆูŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุจูู„ุงูŽู„ุงู‹ ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ูˆูŽุถููˆุกูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูŠูŽุจู’ุชูŽุฏูุฑููˆู†ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุถููˆุกูŽ, ููŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุตูŽุงุจูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุชูŽู…ูŽุณู‘ูŽุญูŽ ุจูู‡ู, ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุตูุจู’ ู…ูู†ู’ู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ู…ูู†ู’ ุจูŽู„ูŽู„ู ูŠูŽุฏู ุตูŽุงุญูุจูู‡ู .
      Artinya: Sahabat Aun bin Abi juhaifah menceritakan dari ayah beliau: โ€œAku mendatangi Rasulullah sewaktu beliau ada di kubah hamraโ€™ dari Nabi Adam, aku juga melihat Sahabat Bilal membawa air bekas wudhuโ€™ Rasulullah dan orang-orang berebut mendapatkannya. Orang yang mendapatkannya air bekas wudhuโ€™ itu mengusapkannya ke tubuhnya, sedangkan yang tidak mendapatkannya, mengambil dari tangan temannya yang basahโ€ (H.R. Bukhari).
      ุตุญูŠุญ ู…ุณู„ู… – ุฌ 7 / ุต 81
      ูˆูŽุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูู‰ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุจู’ู†ู ุฑูŽุงููุนู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุญูุฌูŽูŠู’ู†ู ุจู’ู†ู ุงู„ู’ู…ูุซูŽู†ู‘ูŽู‰ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู’ุนูŽุฒููŠุฒู – ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงุจู’ู†ู ุฃูŽุจูู‰ ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉูŽ – ุนูŽู†ู’ ุฅูุณู’ุญูŽุงู‚ูŽ ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจูู‰ ุทูŽู„ู’ุญูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ุจูŽูŠู’ุชูŽ ุฃูู…ู‘ู ุณูู„ูŽูŠู’ู…ู ููŽูŠูŽู†ูŽุงู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ููุฑูŽุงุดูู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽุชู’ ูููŠู‡ู – ู‚ูŽุงู„ูŽ – ููŽุฌูŽุงุกูŽ ุฐูŽุงุชูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ููŽู†ูŽุงู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ููุฑูŽุงุดูู‡ูŽุง ููŽุฃูุชููŠูŽุชู’ ููŽู‚ููŠู„ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ู†ูŽุงู…ูŽ ููู‰ ุจูŽูŠู’ุชููƒู ุนูŽู„ูŽู‰ ููุฑูŽุงุดููƒู – ู‚ูŽุงู„ูŽ – ููŽุฌูŽุงุกูŽุชู’ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุนูŽุฑูู‚ูŽ ูˆูŽุงุณู’ุชูŽู†ู’ู‚ูŽุนูŽ ุนูŽุฑูŽู‚ูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู‚ูุทู’ุนูŽุฉู ุฃูŽุฏููŠู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ููุฑูŽุงุดู ููŽููŽุชูŽุญูŽุชู’ ุนูŽุชููŠุฏูŽุชูŽู‡ูŽุง ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽุชู’ ุชูู†ูŽุดู‘ููู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุนูŽุฑูŽู‚ูŽ ููŽุชูŽุนู’ุตูุฑูู‡ู ููู‰ ู‚ูŽูˆูŽุงุฑููŠุฑูู‡ูŽุง ููŽููŽุฒูุนูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจูู‰ู‘ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ู…ูŽุง ุชูŽุตู’ู†ูŽุนููŠู†ูŽ ูŠูŽุง ุฃูู…ู‘ูŽ ุณูู„ูŽูŠู’ู…ู ยป. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽุฑู’ุฌููˆ ุจูŽุฑูŽูƒูŽุชูŽู‡ู ู„ูุตูุจู’ูŠูŽุงู†ูู†ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ยซ ุฃูŽุตูŽุจู’ุชู ยป.
      Artinya: Berkata sahabat Anas bin Malik: Rasulullah SAW. masuk rumah Umi Sulaim dan tidur di ranjangnya sewaktu Umi Sulaim tidak ada di rumah, lalu di hari yang lain Beliau datang lagi, lalu Umi Sulaim di beri kabar bahwa Rasulullah tidur di rumahnya di ranjangnya. Maka datanglah Umi Sulaim dan mendapati Nabi berkeringat hingga mengumpul di alas ranjang yang terbuat dari kulit, lalu Umi Sulaim membuka kotaknya dan mengelap keringat Nabi lalu memerasnya dan memasukkan keringat beliau ke dalam botol, Nabi pun terbangun: โ€œApa yang kau perbuat wahai Umi Sulaim?, Tanya beliau nabi., โ€œYa Rasulullah, kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami,โ€ jawab Umi Sulaim. Rasulullah bersabda: โ€œEngkau benarโ€. (H.R. Muslim)
      Bukankan para sahabat diatas sangat berlebihan di bandingkan acara mauludan mas???

      Mas Syahrul:
      Dalam sholat yang sangat agung dan mulia saja lelaki dan perempuan dipisahkan tempatnya,sedangkan dalam maulid lelaki dan perempuan bercampur
      Penjelasan:
      Mas konsep kita sama selama ada kemungkaran pastilah kita tentang, tapi apakah mas sudah pernah terjun kelapangan??? Adakah semuanya seperti itu? Bercampur lelaki dan perempuan? Maaf mas di daerah kami al hamdulillah ada penghalang antara lelaki dan perempuan. Karena kami juga telah memahami apa yang pernah di ungkapkan hadrotusyaikh hasyim asyโ€™ari dalam kitab beliau, tambihatul wajibat hal 8-9
      sebagai berikut:

      ู‚ุฏ ุฑุฃูŠุช ููŠ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ุฅุซู†ูŠู† ุงู„ุฎุงู…ุณ ูˆุงู„ุนุดุฑูŠู† ู…ู† ุดู‡ุฑ ุฑุจูŠุน ุงู„ุฃูˆู„ ู…ู† ุดู‡ูˆุฑ ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุฎุงู…ุณุฉ ูˆุงู„ุฎู…ุณูŠู† ุจุนุฏ ุงู„ุฃู„ู ูˆุงู„ู„ุงุซู…ุงุฆุฉ ู…ู† ุงุงู„ู‡ุฌุฑุฉ ุฃู†ุงุณุง ู…ู† ุทู„ุจุฉ ุงู„ุนู„ู… ููŠ ุจุนุถ ุงู„ู…ุนุงู‡ุฏ ุงู„ุฏูŠู†ูŠุฉ ูŠุนู…ู„ูˆู† ุงู„ุฅุฌุชู…ุงุน ุจุฅุณู… ุงู„ู…ูˆู„ุฏ ูˆุฃุญุถุฑูˆุง ู„ุฐุงู„ูƒ ุงู„ุงุช ุงู„ู…ู„ุงู‡ูŠ ุซู… ู‚ุฑุฃูˆุง ูŠุณูŠุฑุง ู…ู† ุงู„ู‚ุฑุงู† ูˆุงู„ุฃุฎุจุงุฑ ุงู„ูˆุงุฑุฏุฉ ููŠ ู…ุจุฏุฅ ุฃู…ุฑ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู…ุง ูˆู‚ุน ููŠ ู…ูˆู„ุฏู‡ ู…ู† ุงู„ุฃูŠุงุช ูˆ ู…ุง ุจุนุฏู‡ ู…ู† ุณูŠุฑู‡ ุงู„ู…ุจุงุฑูƒุงุช ุซู… ุดุฑุนูˆุง ููŠ ุงู„ู…ู†ูƒุฑุงุช ู…ุซู„ ุงู„ุชุถุงุฑุจ ูˆุงู„ุชุฏุงูุน ุงู„ู…ุณู…ู‰ ุจูู†ุฌุงุฃู† ูˆูŠูˆูƒุณู† ูˆุถุฑุจ ุงู„ุฏููˆู ูƒู„ ุฐู„ูƒ ุจุญุถูˆุฑ ู†ุณูˆุฉ ุฃุฌู†ุงุจูŠุงุช ู‚ุฑูŠุจุงุช ู…ู†ู‡ู… ู…ุดุฑูุงุช ุนู„ูŠู‡ู… ูˆุงู„ู…ูˆุณูŠู‚ูŠ ูˆุณุชุฑูŠูƒ ูˆุงู„ู„ุนุจ ุจู…ุง ูŠุดุจู‡ ุงู„ู‚ู…ุงุฑ ูˆุงุฌุชู…ุงุน ุงู„ุฑุฌุงู„ ู…ุน ุงู„ู†ุณุงุก ู…ุฎุชู„ุทุงุช ูˆู…ุดุฑูุงุช ูˆุงู„ุฑู‚ุต ูˆุงู„ุฅุณุชุบุฑุงู‚ ููŠ ุงู„ู„ู‡ูˆ ูˆุงู„ุถุญูƒ ูˆุงุฑุชูุงุน ุงู„ุฃุตูˆุงุช ูˆุงู„ุตูŠุงุญ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆุญูˆุงู„ูŠู‡ ูู†ู‡ูŠุชู‡ู… ูˆุฃู†ูƒุฑุชู‡ู… ุนู† ุชู„ูƒ ุงู„ู…ู†ูƒุฑุงุช ูุชูุฑู‚ูˆุง ูˆุงู†ุตุฑููˆุง.
      Artinya: โ€œAku benar-benar telah melihat pada malam senin tanggal 25 bulan robiโ€™ul awwal dimulai dari bulan-bulan tahun 1355 H. sekelompok pelajar dari pondok-pondok pesantren melakukan perkumpulan (kegiatan) dengan nama maulid, dan mereka menghadirkan alat-alat musik, kemudian membaca sedikit al Qurโ€™an, keterangan-keterangan (hadist/atsar) yang menerangkan tentang permulaan syiar Nabi SAW., kejadian seputar kelahiran Nabi SAW., berupa tanda-tanda dan hal-hal yang terjadi setelahnya, berupa sejarah perjalanan Nabi SAW. yang penuh kebaikan. Kemudian mereka melakukan kemunkaran, seperti pukul-memukul tolak-menolak yang menurut mereka dinamakan pencak dan isenan dan menabuh rebana, kesemua itu dilakukan dihadapan wanita yang bukan mahromnya, kerabat mereka, orang-orang mulia mereka, dan (seperti adanya) musik, opera, permainan yang menyerupai perjudian, bercampurnya laki-laki bersama perempuan, orang mulia, adanya tarian serta terjerumus pada permainan, tertawa terbahak-bahak, meninggikan suara, berteriak di masjid dan sekitarnya. Maka Aku melarang (perbuatan) mereka dan aku mengingkari mereka dari kemunkaran-kemunkaran tersebut, maka pisahkan dan bubarkanlahโ€

      Memang pandangan beliau sungguh sangatlah relevan, bahwa apabila peringatan maulid bisa mendatangkan maksiat yang lebih dominan seperti kejadian di atas maka hukum merayakan maulud yang semula sunnah bisa berubah menjadi haram, oleh karena itu wajib bagi kita untuk menghilangkan segala kemungkaran yang ada baik dala acara mauled ataupun lainnya.

      Mas Syahrul:
      perintah sholat yang sangat agung dan wajib bagi muslim yang datang di mesjid hanya 1 atau 2 saf saja sedangkan yang datang maulid mesjid jadi sangat ramai,artinya orang lebih mementingkan maulid yang bidah dan nabi tidak pernah sama sekali contohkan ketimbang sholat yang Allah SWT wajibkan kepada hambanya.tolong penjelasannya
      Penjelasan:
      Masโ€ฆ apakah mas tau isi hati kami???
      Wallohu aโ€™lamโ€ฆ.

    2. aduh bos nih orang ngak nyimak nih..begitulah wahabi. baca dengan teliti, dengan lengkap uraian diatas, jangan ikuti ustad firanda.com. atau lakum dinukum aja kalau udah mentok mah..cobacal shalat istiqhoroh menta petunjuk yang benar.

  3. keep going muludan…
    trims artikelnya, amat sangat jelas dan gamblang sekali..
    cuma kadang masih ada yg usil nanya; “kenapa harus hari tertentu”, mohon sedikit djelaskan counter arguenya jika ada pertanyaan usil spt ini…

  4. Cikal Bakal Majelis Maulid yang Dikerjakan oleh para Shahabat di Zaman Rasulullah Shollallaahu โ€˜alaihi wa Sallam

    Disebutkan di dalam sunan an-Nasaโ€™i sebuah hadits shahih:

    Dari Suwar bin Abdullah ia berkata: menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz dari Abu Niโ€™amah dari Abu Utsman an-Nahdiy dari Abu Saโ€™id al-Khudriy ia berkata: Berkata Muโ€™awiyah Radhiyallaahu โ€˜anhu bahwasanya Rasulullah Shollallaahu โ€˜alaihi wa sallam keluar menuju halaqah para sahabat beliau, kemudian beliau bertanya, โ€œApa yang menyebabkan kalian semua duduk berkumpul?โ€ Mereka para sahabat menjawab, โ€œKami duduk berkumpul tidak lain untuk berdoโ€™a kepada Allah Taโ€™ala dan memuji-Nya atas karunia petunjuk agama-Nya dan menganugerahkan engkau (Wahai Rasulullah Shollallaahu โ€˜alaihi wa sallam) kepada kami.โ€ Kemudian beliau bertanya, โ€œDemi Allah, tidakkah kalian duduk berkumpul kecuali hanya untuk itu?โ€ Jawab para sahabat, โ€œDemi Allah, tiada kami duduk berkumpul kecuali hanya untuk itu.โ€ Maka beliau pun bersabda, โ€œSungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Akan tetapi karena aku telah didatangi Jibril โ€˜alaihissalam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah โ€˜Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikatโ€ (Sunan an-Nasaโ€™i).

    Hadits shahih tersebut diatas, disamping menjelaskan keutamaan berkumpul untuk berdzikir, juga menjelaskan tentang perbuatan para shahabat Nabi Shollallaahu โ€˜alaihi wa sallam yang berkumpul dalam rangka untuk bersyukur kepada Allah Taโ€™aala atas anugerah-Nya yang berupa diutusnya baginda Nabi Muhammad Shollallaahu โ€˜alaihi wa sallam kepada mereka. Bersyukur dan bergembira atas diutusnya Nabi Muhammad Shollallaahu โ€˜alaihi wa sallam adalah merupakan salah satu tujuan dilaksanakannya majelis maulid Nabi Shollallaahu โ€˜alaihi wa sallam.

  5. ada orang pinter tapi bodoh itulah jahiliah,, mencari-cari kesalahan..kalau kita menyimak dengan seksama dan baik..maka kita tahu jawabannya.. mungkin kalau tamatan SD kali ya nalarnya mentok. saya berlindung kepada Alloh ta’ala dari kebodohan dan sempitnya pemikiran..dan kerdilnya wawasan. amiiin

  6. Maaf admin.
    Sy sangat stuju dg dalil yg dibawakan utk acara maulid.
    Pertanyaannya, gimana mengenai kemungkaran sprt ikhtilat, roful shout fil masjid, taqdzirul masjid dll yg trjadi di kebanyakan acara maulid?

    1. Bismillah,

      Mas @Moslem yang kami hormati,

      Tentang Ikhthilat (bercampurnya laki-laki dan perempuan) adalah masalah kita bersama, dan faktanya hal tsb tidak hanya terjadi dalam sebagian Majlis Maulid (banyak Majlis Maulid yang tidak terjadi Ikhthilath), namun juga terjadi dalam kebaikan yang lain semisal pengelolaan Panti Asuhan, dan bahkan terjadi dalam Ibadah Mahdho semisal Thowaf, Sa’i, Romyul Jamaroot dst…
      Dalam hal ini dibutuhkan ketelatenan dalam meluruskan atau membenahi kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam praktek kebaikan-kebaikan kita dan tentunya bukan kebaikannya yang dihilangkan, selama masih memungkinkan untuk membenahi kekurangannya.

      Kedua; tentang Rof’us Shout Fil Masjid (mengeraskan suara dalam masjid). dalam hal ini kami belum memahami maksud anda… kalau boleh kami mohon anda meninjukkan pandangan atau pendapat para ulama tentang Rof’us Shout yang anda maksud…

      Ketiga; tentang Taqdzirul Masjid (mengotori masjid), bagi kami hal itu jelas berkonsekwensi Kaffaroh yang berupa membersihkan Masjid, dan itu sudah kami lakukan, meski sebelumnya kami berupaya untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya….

      Selanjutnya, dalam mensikapi kekurangan dalam Majlis Maulid atau Majlis Kebaikan yang lain Insya Alloh anda memahami kaedah masyhur dalam kalangan Syafi’iyyah : “MAA LAA YUDROKU KULLUHU LAA YUTROKU KULLUHU”, tentunya kebijakan dengan mengacu pada kaedah tsb jika kekurangan yang ada adalah kekurangan yang bisa ditoleransi dan memungkinkan untuk dibenahi… Wallohu A’lam…

  7. Tulisan Syekh Syarif Hatim Al-Oweini, dosen di Jamiah Ummul Qura, Mekah, ttg hukum memperingati maulid cukup bijak. Berikut coba saya (Ustadz Abdullah Haidir โ€“ red) terjemahkan secara ringkas tulisan beliau, moga bermanfaat.

    Berbicara tentang hukum maulid nabi harus berdasarkan ilmu dan adil. Jangan sampai diingkari adanya perbedaan pendapat di sana, dan bahwa ada sebagian ulama mulia yg menyatakan kebolehannya dengan sejumlah syarat. Bahkan di antara mereka ada yang mengatakan ijmak sunah melaksanakannya dengan syarat-syarat tersebut.

    Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah dalam kitabnya โ€œIqtidha AshShirathal Mustaqimโ€ meskipun dia menyatakan bahwa maulid adalah bidโ€™ah, namun dia memaklumi orang yang melaksanakannya, bahkan meyakini mereka mendapatkan pahala yang besar. Beliau berkata: โ€œMenghormati maulid dan menjadikannya sebagi momen khusus, boleh jadi dilakukan sebagian orang dan baginya pahala yg besar, karena niatnya yang baik dan penghormatannya terhadap Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wasallam. Sebagaimana telah saya sampaikan, boleh jadi sebagian orang menganggap baik sesuatu yang dianggap buruk oleh mereka yang benarโ€.

    Adapun uraian hukum maulid secara terperinci adalah sebagai berikut: Siapa yang ingin memanfaatkan hari maulid untuk mengingat sirah/sejarah Nabi atau membangkitkan sentimen kecintaan terhadapnya dalam jiwa kaum muslimin, tanpa ghuluw/berlebihan (seperti istighotsah/mohon pertolongan kpdnya), jika tidak diiringi kemunkaran (seperti ikhtilath) atau khurafat (keyakinan kehadiran Nabi secara fisik) juga tanpa keyakinan ada keutamaan khusus untuk memperingatinya pada hari tertentu, tapi sekedar memanfaatkan waktu terjadinya peristiwa agung agar hadir dalam jiwa, sebagaimana para khatib berbicara tentang perang Badar pd tgl 17 Ramadan atau peristiwa Fathu Mekah pd tgl 20 Ramadan, atau berbicara tentang peristiwa hijrah pada setiap awal tahun hijriah, maka dia hukumnya halal karena hal tersebut tidak ada kaitannya dengan keyakinan terhadap ibadah yang bidโ€™ah.

    Maka dengan syarat-syarat tersebut masalahnya jadi beralih dari bidโ€™ah kepada maslahah mursalah (Maslahah mursalah adalah perkara-perkara umum yang dipandang baik menurut tinjauan syara karena mendatangkan manfaat, jika tidak ada dalil khusus yg melarangnya), sebab kandungannya tak lain kecuali sarana yang mengantarkan kepada maslahat syarโ€™i, yaitu mengingatkan pada sejarah Nabi Sallallaahu Alayhi Wasallam, dan menghidupkan emosi cinta kepada beliau di dalam jiwa-jiwa kaum muslimin. Saya merasa perlu meluruskan tentang kebolehan maulid ini bagi mereka yang menghadirinya atau mengadakanya, dengan memastikan beberapa hal berikut:

    Pengajian atau peringatan tersebut (yang tidak ada kemungkaran di dalamnya) bukan karena peringatan tersebut merupkan ibadah, tapi sekedar memanfaatkan momen untuk mewujudkan maslahat syarโ€™i dari perbuatan tersebut.
    Hari maulid tahunan tersebut tidak memiliki kekhususan dan keutamaan yg tsabit/paten (menurut syariat).
    Hendaknya menjelaskan kemungkaran yang dipastikan kebatilannya, baik ucapan, perbuatan dan keyakinan yang sering terdapat pada peringatan maulid
    Dengan syarat-syarat tersebut saya tidak dapatkan bahwa maulid adalah bidโ€™ah dan tidak perlu mengingkari orang yang melaksanakannya. Sebagaimana saya tidak merasa bermasalah dengan pendapat yang melarangnya secara mutlak sebagai upaya menutup celah besarnya pelanggaran di dalamnya dan sebagai sadduzzariโ€™ah atas berbagai kemunkaran yang banyak terjadi di dalamnya, jika orang yang berpendapat demikian tidak berlebih-lebihan dalam pelarangannya dan tidak mengingkari orang yang membolehkannya dengan syarat-syarat tadi, di samping dia membolehkan adanya perbedaan ijtihad dalam masalah ini dengan syarat-syarat tadi. Karena pendapat yang membolehkan merupakan pendapat yang layak dipertimbangkan berdasarkan argumen yg dimiliki.Kenyataannya, perkara serupa juga terjadi di Saudi tanpa adanya penentangan.
    Para khatib Jumat atau penceramah umumnya berbicara tentang pengingkarannya terhadap peringatan maulid nabi menjelang hari-hari peringatan tersebut. Kadang mereka memulainya dengan menyebutkan keutamaan Nabi Sallallaahu Alayhi Wasallam juga tentang haknya atas umatnya. Setelah itu ceramah/khutbah diakhiri dengan menyebutkan kemunkaran maulid. Maka pada hakekatnya dia telah mengadakan maulid yang dibolehkan tanpa menamakannya sebagai maulid.Seperti itu juga, apa yang ditulis para ulama kita sebagai bahan pembicaraan di bulan Ramadan. Seperti kitab Syekh Utsaimin rahimahullah, di kitab tersebut dia jelaskan tentang perang Badar dan Fathu Mekah yang terjadi di bulan tersebut. Maksud beliau adalah agar hal tersebut dibaca di masjid-masjid setiap tahun. Yang beliau harapkan agar kitab tersebut tidak terputus dibaca setiap tahun setiap bulan Ramadan. Inilah yg banyak terjadi di masjid-masjid kita. Diulang-ulangnya pembicaraan tentang kedua kejadian tersebut setiap tahun pada waktu yg sama, tidak menjadikannya sebagai perbuatan bidโ€™ah. Karena pembatasn tersebut tidak dilakukan dengan tujuan ibadah, akan tetapi dilakukan sebagai upaya memanfaatkan momen agar pengaruhnya lebih tampak juga untuk memantapkan sejarahnya dan mengingatkan kita pada kedua peristiwa tersebut dalam sejarah Islam.
    Sebagai solusi moderat, kini banyak orang yang melaksanakan maulid tanpa terikat dengan jadwal tahunan yang telah ditetapkan. Mereka menyampaikan kemuliaan Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wasallam dalam pertemuan umum dan berulang kali. Maulid seperti ini jika tidak ada kemunkaran seperti maulid lainnya, maka tidak ada masalah sama sekali dengan syarat tidak diyakini sebagai ibadah yang khusus diniatkan untuk itu.

    Dengan demikian jelaslah bahwa harus dibedakan antara dua bentuk maulid:

    Jenis maulid yang masuk dalam katagori maslahah mursalah, yaitu jika tujuannya memanfaatkan momen sejarah daro peristiwa agung ini utk mengingat sejarah Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wasallam, atau untuk membangkitkan rasa cinta di dlm hati kepada beliau tanpa ada keyakinan keutamaan hari tertentu untuk ibadah dan keyaknan tanpa dalil. Gambaran seperti inilah yang dianggap baik banyak ulama. Sehingga mereka menyusun karangan untuk maulid secara khusus, lebih dari seratus agar dibaca pada hari maulid Nabi Sallallaahu Alayhi Wasallam, seperti Abu Syamah, Al-Alaaโ€™i dan Ibnu Abdulhadi (murid syaikhul Islam Ibnu Taimiah). Juga Ibnu Nashiruddin addimasyqi, Alhafiz Al Iraqi, Ibnu Hajar AlAsqolani dan masih banyak selain mereka para tokoh ulama.
    Bentuk maulid yang terdapat bidโ€™ah, walaupun tidak terdapat ghuluw dan kemunkaran, yaitu apabila dikaitkan dengan ibadah khusus yang dianggap berpahala, atau apabila dikhususkan hari tertentu dan secara khusus diniatkan, sebagaimana mengkhususkan watu-waktu tertentu untuk ibadah2-ibadah yang jelas-jelas disyariatkan.
    Inilah (jenis maulid kedua) yang diingkari banyak ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dan para tokoh ulama lainnya.

    Demikianlah hukum maulid secara global. Jika ternyata hari maulid menjadi hari libur resmi dan menjadi hari peringatan secara umum setiap tahun hal ini masuk kepada masalah lain, apakah hal tersebut masuk dalam katagori Id (hari raya), sehingga dia menjadi terlarang, atau apakah hari raya yang dilarang terhadap kaum muslimin (selain Idulfitri dan Iduladha) adalah yang dikaitkan dengan ibadah saja dan tidak termasuk hari raya (peringatan) yang tidak dikaitkan dengan ibadah, seperti hari (kemerdekaan) nasional.

    Pelaksanaan maulid dengan syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya, tidak dikaitkan dengan keyakinan ibadah terhadap hari-hari tertentu, juga tidak dikaitkan pada amal ibadah tertentu seperti shalat Idulfitri, Idul Adha, Zakat Fitrah atau berkurban, maka dengan demikian dia tidak diharamkan. Kecuali jika segala bentuk peringatan/perayaan diharamkan secara mutlak, maka dia haram sekedar menjadi kebiasaan dan keserupan dengan hari raya.

    Dalam masalah ini (apakah peringatan2 umum/nasional, kapan dia digolongkan sebagai hari raya yang dilarang dan kapan tidak digolongkan demikian) merupakan perbedaan pendapat yang muโ€™tabar/diakui. Para ulama memiliki sudut pandang masing-masing yang layak dihormati.

    Tentang Syekh AsySyarif Al-Ouni, hafizahullah

    Karena memiliki silsilah nasab hingga Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiallhu anhuma, Mengenal Syekh AsySyarif Al-Ouni, hafizahullah. Beliau ini klo di negara kita dipanggil habib. Lahir, tumbuh dan menuntut ilmu pada tingkat dasar hingga madrsah aliyah di Thaif Kemudian kuliah di Jamiah (universitas) UmmulQura dr S1 hingga S3. Kini menjadi dosen di sana jurusan Kitab dan Sunnah.

    Banyak makalah dan kitab yang sudah beliau karang umumnya dalam ilmu hadits yang menjadi spesialisasinya. Beliau juga aktif menjadi narasumber di berbagai konferensi dalam dan luar negeri serta di media massa. Menjabat sebagai anggota Majelis Syura Saudi selama dua periode. Beliaupun memiliki ijazah sanad โ€˜aaliyah dari sejumlah pemilik sanad di Hijaz atau luar Hijaz, Maroko, Yaman, dll. Hafizahullah syaikhana.

  8. Tambahan untuk mas abu khilya, semoga berkenan:
    Di daerah kami acara mauled kebanyakan dilaksanakan di madrasah/tempat umum, namun ada yang menggelar even tersebut di masjid dengan PELAKSAAN SETELAH ISYAโ€™.

    HUKUM DASAR TIDAK DIPERBOLEHKAN MENGERASKAN SUARA DI MASJID ADALAH IJTIHAD PARA ULAMA, jadi ini masalah furuiyyah dengan klasifikasi sebagai berikut:
    1. Haram mengeraskan suara (membaca qurโ€™an atau lainnya) apabila di depan orang sholat, karena masjid asal peletakan pertama dipergunakan untuk orang sholat (musholli) seperti ungkapan Imam ibnu hajar dibawah ini:
    ูุชุญ ุงู„ู…ุนูŠู† ุต: 43
    ูˆู‚ุงู„ ุดูŠุฎู†ุง ููŠ ุดุฑุญ ุงู„ุนุจุงุจ ูŠู†ุจุบูŠ ุญุฑู…ุฉ ุงู„ุฌู‡ุฑ ุจุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆุญู…ู„ ูƒู„ุงู… ุงู„ู†ูˆุงูˆูŠ ุจุงู„ูƒุฑุงู‡ุฉ ุนู„ู‰ ู…ุง ุฅุฐุงุฎุงู ุงู„ุชุฃุฐู‰ ูˆุนู„ู‰ ูƒูˆู† ุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ููŠ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ุณุฌุฏ.

    2. Makruh apabila mengeraskan suara diluar masjid apabila khawatir mengganggu orang shalat di masjid. Seperti Perkataan Imam Nawawi dalam ibarat di fathul muin diatas. Bahkan dalam fatwa Imam nawawi jamaah yang membaca qurโ€™an di masjid secara keras, yang dengan bacaan qurโ€™an tersebut ada yang mengambil manfaat dan ada yang merasa terganggu MALAH LEBIH UTAMA selama maslahah lebih baik dari mafsadah. Sbb:
    ุจุบูŠุฉ ุงู„ู…ุณุชุฑุดุฏูŠู† ุต: 66
    (ูุงุฆุฏุฉ) ุฌู…ุงุนุฉ ูŠู‚ุฑุกูˆู† ุงู„ู‚ุฑุขู† ูู‰ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุฌู‡ุฑุง ูˆูŠู†ุชูุน ุจู‚ุฑุงุกุชู‡ู… ุฃู†ุงุณ ูˆูŠุชุดูˆุด ุขุฎุฑูˆู† ูุงู† ูƒุงู†ุช ุงู„ู…ุตู„ุญุฉ ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุงู„ู…ูุณุฏุฉ ูุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ุฃูุถู„ ูˆุงู† ูƒุงู†ุช ุจุงู„ุนูƒุณ ูƒุฑู‡ุช ุงู‡ู€ ูุชุงูˆู‰ ุงู„ู†ูˆูˆูŠ.

    3. Mubah selama tidak mengganggu orang sholat. Seperti Iโ€™tikaf sambil njahit dll. Sbb:
    ุงุณู†ู‰ ุงู„ู…ุทุงู„ุจ 1435
    ( ููŽุฑู’ุนูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠููƒู’ุฑูŽู‡ู ู„ูŽู‡ู ) ุฃูŽูŠู’ ู„ูู„ู’ู…ูุนู’ุชูŽูƒููู ( ุงู„ุตู‘ูŽู†ูŽุงุฆูุนู ) ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ( ูƒูŽุงู„ู’ุฎููŠูŽุงุทูŽุฉู ) ูˆูŽุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽุฉู ( ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠููƒู’ุซูุฑู’ ) ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ููŽุฅูู†ู’ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ูƒูุฑูู‡ูŽุชู’ ู„ูุญูุฑู’ู…ูŽุชูู‡ู ุฅู„ู‘ูŽุง ูƒูุชูŽุงุจูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ููŽู„ูŽุง ูŠููƒู’ุฑูŽู‡ู ุงู„ู’ุฅููƒู’ุซูŽุงุฑู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุทูŽุงุนูŽุฉูŒ ูƒูŽุชูŽุนู’ู„ููŠู…ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุฐูŽูƒูŽุฑูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุฌู’ู…ููˆุนู ู‡ูู†ูŽุง ูˆูŽูููŠ ุจูŽุงุจู ุงู„ู’ุบูุณู’ู„ู ( ูˆูŽู„ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฑูŽุฌู‘ูู„ูŽ ุดูŽุนู’ุฑูŽู‡ู ) ุฃูŽูŠู’ ูŠูุณูŽุฑู‘ูุญูŽู‡ู ู„ูุฎูŽุจูŽุฑู ุงู„ุตู‘ูŽุญููŠุญูŽูŠู’ู†ู { ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุชูุฑูŽุฌู‘ูู„ู ุดูŽุนู’ุฑูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูููŠ ุงู„ูุงุนู’ุชููƒูŽุงูู }

    4. di SUNNAHKAN untuk acara keagamaan, selama tidak mengganggu orang sholat, sbb:
    ุบุงูŠุฉ ุชู„ุฎูŠุต ุงู„ู…ุฑุงุฏ ๏ดฟุตู€ 448๏ดพ ุฏุงุฑ ุงู„ูƒุชุจ ุงู„ุนู„ู…ูŠุฉ
    (ู…ูŽุณู’ุฃู’ูŽู„ูŽุฉู) ูŠูุณู’ุชูŽุญูŽุจู‘ู‘ู ุนูŽู‚ู’ุฏู ุญูŽู„ูŽู‚ู ุงู„ุนูู„ู’ู…ู ูููŠ ุงู„ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูููŠ ุงู„ุฌูŽูˆู’ู‡ูŽุฑููŠ ุงู„ุฃููˆู’ู„ูŽู‰ ุจูุงู„ู…ูุนู’ุชูŽูƒููู ู‚ูุฑูŽุงุกูŽุฉู ุงู„ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽุชูŽุนู’ู„ููŠู’ู…ูู‡ู ูˆูŽู…ูุทูŽุงู„ูŽุนูŽุชูู‡ู ูˆูŽูƒูุชูŽุงุจูŽุชูู‡ู ูˆูŽู…ูู†ู’ ู„ูŽุงุฒูู…ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุงูุญู’ุชููŠูŽุงุฌู ุฅูู„ูŽู‰ ูˆูŽุถู’ุนู ุงู„ูƒูุชูุจู ูููŠู’ู‡ู ููŽุงุฑู’ุชูŽููŽุงู‚ูŽ ุงู„ู…ูุฏูŽุฑูู‘ุณู ุจููˆูุถู’ุนู ูƒูุชูุจูู‡ู ูููŠู’ู…ูŽุง ุฐููƒูุฑูŽ ุจูุญูŽูŠู’ุซู ู„ูŽุง ูŠูŽุถููŠู’ู‚ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู…ูุตูŽู„ูู‘ูŠู’ู†ูŽ ุฌูŽุงุฆูุฒูŒ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ูˆูŽุถู’ุนูŽูŽ ุงู„ูƒูุชูุจู ูˆูŽุณููŠู’ู„ูŽุฉูŒ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุชูŽุนู’ู„ููŠู’ู…ู ุงู„ู…ูุณู’ุชูŽุญูŽุจูู‘ ูˆูŽู„ูู„ู’ูˆูŽุณูŽุงุฆูู„ู ุญููƒู’ู…ู ุงู„ู…ูŽู‚ูŽุงุตูุฏู ูˆูŽู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูุฅุบู’ู„ูŽุงู‚ูู‡ู ูููŠ ุบูŽูŠู’ุฑู ูˆูŽู‚ู’ุชู ุงู„ุตูŽู„ูุงุฉู ูƒูŽุจูŽุนู’ุฏู ุงู„ุนูุดูŽุงุกู ุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ุตููŠูŽุงู†ูŽุฉู‹ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุญููู’ุธู‹ุง ู„ูุขู„ูŽุชูู‡ู ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุฅูุฐูŽุง ุฎููŠู’ููŽ ุงูู…ู’ุชูู‡ูŽุงู†ูู‡ูŽุง ูˆูŽุถููŠูŽุงุนู ู…ูŽุง ูููŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฏูŽุนู’ ุฅูู„ูŽู‰ ููŽุชู’ุญูู‡ูŽุง ุญูŽุงุฌูŽุฉูŒ ูˆูŽุฅูู„ู‘ูŽุง ููŽุงู„ุณู‘ูู†ู‘ูŽุฉู ููŽุชู’ุญูู‡ูŽุง ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ู‹ุงูƒูŽู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ู…ูŽุฌู’ู…ููˆู’ุนูŽ ูˆูŽูŠูŽุฌููˆู’ุฒู ุงู„ู†ูŽูˆู’ู…ู ูููŠู’ู‡ู ุจูู„ูŽุง ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉู ุจูู‚ูŽูŠูู‘ุฏู ุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ุชูŽุถู’ูŠููŠู’ู‚ู ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ุณูŽูˆูŽุงุกูŒ ุงู„ู…ูุนู’ุชูŽูƒููู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ูˆูุถูุนูŽ ู„ูŽู‡ู ููุฑูŽุงุดูŒ ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูุงู„ู’ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูุงู„ุดูุฑู’ุจู ูˆูŽุงู„ูˆูุถููˆู’ุกู ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽุฃูŽุฐู‘ูŽ ุจูู‡ู ุงู„ู†ูŽุงุณู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ูู„ู’ู…ูŽุฃู’ูƒููˆู’ู„ู ุฑูŽุงุฆูุญูŽุฉูŒ ูƒูŽุฑููŠู’ู‡ูŽุฉูŒ ูƒูŽุงู„ุซูŽูˆู’ู…ู ูˆูŽุฅูู„ู‘ูŽุง ูƒูุฑูู‡ูŽ

    Itulah sekelumit masalah furuiyyah ijtihadiyyah dari madzhab syafiโ€™I, mungkin kalau teman-teman lain punya pandangan berbeda adalah sangat wajar. Dan apabila ada perseorangan yang melanggar ketentuan di atas, maka merupakan kewajiban kitalah untuk amar maโ€™ruf nahi munkar semampu kita. Wallohu aโ€™lam

  9. 1. Apakah para sahabat pernah melakukan maulid ?
    2. Apakah rasulullah pernah menganjurkan melakukan maulid ?…
    jika berdalih bahwa ini bid’ah hasanah…maka kita beranggapan kita lebih baik dari para sahabat dan ajaran rasulullah belum sempurnah..rasulullah lupa mengajarkan tentang harusnya kita merayakan maulid nabi…jika demikian mengapa perayaan maulid hanya dilakukan sehari…jika memang kita pengikut rasulullah..harusnya maulid itu dilakukan setiap hari setiap saat…bersalawat atas nabi setiap waktu….
    jika maulid itu baik maka sahabat Umar bin khattab, Abu bakar, Utsman, Ali para tabi’i Tabi’in lebih dahulu melakukannya….kita sama tahu bahwa para sahabat sangat giat dalam berbuat amal….jika itu baik maka mereka lebih dahulu merayakannya…….adakah dalam kitab imam bukhari dan imam muslim serta kitab salaf dahulu menjelaskan tentang maulid….

    1. Bismillah,

      Mas @Saiful, kami coba merubah sedikit tulisan anda, dan hasilnya adalah :

      1. Apakah para sahabat pernah menentang maulid ?
      2. Apakah rasulullah pernah melarang melakukan maulid ?โ€ฆ
      jika berdalih bahwa ini bidโ€™ah dholalahโ€ฆmaka kita beranggapan kita lebih baik dari para sahabat dan ajaran rasulullah belum sempurnah..rasulullah lupa melarang tentang harusnya kita meninggalkan maulid nabiโ€ฆjika demikian mengapa anda melarang maulid yang dilakukan sehariโ€ฆ

      jika maulid itu sesat maka sahabat Umar bin khattab, Abu bakar, Utsman, Ali para tabiโ€™i Tabiโ€™in telah melarang untuk melakukannyaโ€ฆ.kita sama tahu bahwa para sahabat sangat giat dalam mencegah kemungkaranโ€ฆ.jika itu sesat maka mereka lebih dahulu melarangnyaโ€ฆโ€ฆ.adakah dalam kitab imam bukhari dan imam muslim serta kitab salaf dahulu menjelaskan tentang larangan maulidโ€ฆ.

      1. Bismillah, kok malah ga menjawab apa yg dtanyakan oleh mas saiful saudaraku?? ga tau dalillnya ya? ya iyalah memang ga ada dalil sahih dari Rasululloh ttg anjuran melakukan maulid, ana juga memperbaiki komen antum saudaraku, para sahabat ga pernah nentang mauludan karena memang ga ada mauludan wktu itu, dan setelah beliau wafat dan estafet ke kholifahan berpindah, ga pernah ada acara mauludan, dalil2 diatas semuanya memang Benar tetapi tidak mencapai sasaran alias ga nyambung dgn apa yg dmaksud ,maksud saya tidak ada hubungannya dgn anjuran Maulid, postingan ini hanyalah penyesatan. Ingat generasi yang paling utama adalah generasi dimasa Rasul, setelahnya dan setelahnya.., yang giat mengamalkan sunnah2 Rasululloh shallallahu’alaihi wassalam. Nah bagaimana dgn keadaan kita sekarang?? lebih hebatkah kita dgn Para Sahabat?? sehingga melakukan amalan2 yg tidak pernah dianjurkan oleh Rasululloh shallallahu’alaihi wassalamdan diamalkan oleh para Sahabat?? tanya kenapa ๐Ÿ™‚

        1. @abu dzar
          Bagi kaum pengingkar Maulid, umat Islam yang mengadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dituduh telah “menganggap agama Islam ini masih kurang” alias belum sempurna Agama Islam, sehingga kaum pengingkar tega mengatakan “menambah-nambahi agama”, bahkan dengan begitu mereka dituduh telah menganggap Rasulullah saw berkhianat dalam menyampaikan agama. Sungguh keji tuduhan ini !.

          Dalam format acara maulid yang memang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw atau para shahabat Rasulullah saw, maulid hanyalah suatu wadah yang dibuat secara kreatif untuk melaksanakan amalanโ€amalan yang sesungguhnya telah diperintahkan oleh Rasulullah saw sendiri, seperti : bersilaturrahmi, berdzikir, bershalawat, mendo’akan orang meninggal, bersedekah, mendengar nasihat atau ilmu, memupuk kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah saw, berdo’a, berbagi rezeki dan memelihara keimanan serta ketakwaan. Bisa dibayangkan, tanpa acaraโ€acara kreatif seperti itu, apa jadinya keadaan umat Islam di zaman sekarang ini yang waktunya banyak menyita perhatian umat kepada akhirat sangat rendah, cintanya kepada dunia sudah menguasai pikiran, ditambah lagi acaraโ€acara dunia dan maksiat sudah dikemas jauh lebih baik, kreatif dan menarik.
          Kreasi kebajikan yang digagas oleh para ulama itu, tidak pernah diklaim sebagai “tambahan atas kekurangan agama”, melainkan hanya sebagai kegiatan keagamaan yang ditradisikan sebagai adat atau budaya yang dilaksanakan dalam rangka syi’ar agama. Jadi tuduhan pengingkar Maulid adalah tuduhan berlebihan yang diadaโ€adakan dan tidak ada kenyataannya, sedangkan jargon ayat yang selalu mereka (anti maulid) bawakan :
          โ€œPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni`matโ€Ku, dan telah Kuโ€ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Alโ€Maaidah : 3).

          Hanyalah pernyataan dari Allah tentang kesempurnaan Islam, bukan berisi tuduhan menambahโ€nambahi agama. Sesungguhnya, tidak seorang pun dari para Ulama dan umat pelaku Maulid itu berniat menambahโ€nambahi agama, apalagi sampai menuduh Rasulullah saw berkhianat. Sungguh hal itu tidak pernah terbesit sedikit pun dalam benak mereka, yang ada hanyalah pikiranโ€pikiran tentang mengupayakan peluang amal kebajikan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Dengan begitu diharapkan setiap orang yang ikut serta dalam acaraโ€acara tersebut mendapatkan pahala, ampunan, rahmat dan pengkabulan do’a dari Allah swt.

          Agama Islam memang sudah sempurna, siapa pun orang Islamnya paham dengan hal itu. Melakukan amal kebajikan adalah perkara yang diperintahkan di dalam agama, meski bentuk kebajikannya tidak pernah ada dizaman Rasulullah saw dan para shahabat, yang penting sejalan dengan prinsipโ€prinsip kebajikan menurut agama.

          1. Setuju mas Ucep, padahal telah jelas contohnya dimana pmn Nabi Mr. Abu Lahab yg notabene kafir masih dpt dispensasi dari siksa kuburnya tiap hr Senin karena disaat itu dia berbahagia, lalu memerdekakan seorang budak.
            Ini merupakan CLUE yg sudah sangat terang benderang bahwa Maulid Nabi itu bukan dholalah.
            Dan saya melihat tdk ada satu amalan pun didalam Mauludan yg mudharat.
            Pemerintahan yg sah saja mendukung Maulid bahkan tgl nya pun dilburkan sbg hari libur nasional,maka yg gak setuju Maulid mestinya tinggal di Saudi aja, jgn tinggal di Indonesia, kalo Wahabi ikutan libur di saat tgl. Maulid berarti ikutan merayakan Maulid karena secara sadar ikut merayakannya, mestinya mereka2 itu tetap kerja dan sekolah seperti hari biasa, dan jikalau mereka maksa tetap kerja dan kemudian perusahaan memberi upah overtime, maka upahnya jadi duit Haram, karena hari kerjanya hari haram menurut mereka..

            Ulama Wahabi mengkultuskan idenya Ibn Taimiyah, tp mrk mengingkari pendapat Syaikul Islam-nya sendiri ttg bolehnya merayakan Maulid. Ini kan Lucu bin Rancu..
            Pertanyaannya kemudian adalah, jika Pelaku Maulid ini saban tahun merayakannya terus dihukumi apa Si Pelakunya??? sebab klo berani melarang mestinyalah juga berani mengeluarkan Statement HUKUMANnya apa bagi siPelaku Bidah Maulid… sekali lagi saya tanya DIHUKUMI apa Si Pelakunya? Syirik Akbarkah? Musyrik Akbar kah atau apa ??? Tolong Dipertegas!!!
            Tapi kenyataannya, koment Abu Dzar dkk hanya itu dan itu yang kalo dibantah trus mbulet kesana kemari dan kembali ke koment-koment awal… Cape Deh…

  10. Urun tanggapan….

    Alhamdulillah, wa sholalloh ‘ala rasulillah

    Dulu pada masa khulafaur rasyidin, para sahabat mungkin tidak merayakan Maulid Nabi seperti sekarang, karena para sahabat pernah hidup bersamaan dengan Rosululloh SAW, mereka mengetahui kepribadian dah ahlak beliau dalam kehidupan sehari-hari, dan bahkan menghafalkan ahlaq kepribadian dan wjangan beliau (hadist) sebagaimana para sahabat menghafal al qur’an. Oleh sebab itu mungkin pada masa dahulu tidak ada perayaan acara maulid nabi seperti sekarang.

    Berbeda dengan saat ini, jarak waktu yang terbentang dengan masa kehidupan Rosululloh SAW sangat jauh, sehingga umat saat ini tidak mengenal dan mengetahui kehidupan beliau SAW secara langsung, sehingga sebagian umat sudah tdk menjadikan Rasululloh sebagai uswatun hasanah dalam kehidupan.

    Menurut saya pribadi, perayaan maulid nabi bukanlah merayakan hari kelahirannya, tetapi menjadikan moment hari kelahiran Rasululloh untuk mengingatkan kembali ke”suri tauladanan” beliau, mengingatkan kembali sejarah kehidupan beliau, dan untuk menyampaikan dan mengingatkan kembali wejangan2 serta ajaran beliau, untuk bersama2 melantunkan pujian keluhuran ahlak beliau, untuk bersama sama melantunkan sholawat bagi beliau, dan banyak lagi kebaikan yang bisa diambil dengan menjadikan hari kelahiran Rasululloh SAW sebagai moment untuk berkumpul bersama menggapai hikmah kisah hidup beliau SAW dan menambah rasa cinta dan rasa rindu kepad Rasululloh SAW.

    Allohumma sholli wa saalim wa baarik ‘ala nabiyyinaa muhammadin syayyidil mursaliin, wa ‘ala aalihi wa shohbihi ath thoyyibiina ath thoohiriin, wa ‘ala zaujatihi ummahaatil mu’miniin.

    1. benar saudaraku, dimasa Rasululloh tdk ada perayaan maulid, bahkan setelah beliau wafatpun para sahabat ga pernah merayakan maulid padahal Para Sahabat sangat giat dalam mengamalkan sunnah2 beliau Shallallahu’alaihi wassalam, dan ummat yg paling utama kata Rasul adalah dimasanya, setelahnya dan setelahnya. berarti ada 3 generasi. nah bagaimana dgn keadaan kita yg sekarang lebih hebatkah kita dari para sahabat yang melakukan amalan yg tdk pernah dianjurkan oleh Rasul dan tidak pernah diamalkan oleh para Sahabat??? Wujudkan lah kecintaan kita pada Rasululloh dgn mencintai sunnah2nya dan mengamalkannya, apa yg diperintahkan kita amalkan, dan apa yg di larang ya kita tinggalkan, bershalawat pada Rasul ga harus pada hari kelahirannya tetapi setiap saat, dan juga memahami siroh Rasululloh bisa kpn saja. wallahu a’lam bishshowab. semoga bermanfaat ๐Ÿ™‚

      1. Bismillah

        Mungkin akibat berfikir terlalu sederhana/dangkal maka jadinya :
        Yasiin : : Baik. Yasin-an : Bid’ah
        Tahlil : : Baik. Tahlil-an : Bid’ah
        Maulid : (Membaca Sholawat dan Siroh Nabawi) : Baik. Maulid-an : Bid’ah, dst….

      2. @abu dzar
        Menurut ane yang pertama kali merayakan atau memperingati Maulid adalah shahibul Maulid sendiri yaitu Baginda Nabi Muhammad saw, manusia pilihan yang kita juga memperingati hari kelahirannya. Hal ini sebagaimana yang terdapat nasโ€nas (Hadits Shahih), salah satunya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam kitab Shahih :
        โ€œSesungguhnya ketika Rasulullah saw ditanya tentang puasa hari Senin ? Maka beliau menjawab : โ€œpadanya adalah (hari) aku dilahirkan dan didalamnya diturunkan (alโ€Qurโ€™an) kepadakuโ€. (HR. Imam Muslim).

        Begitu juga para sahabat selalu berpuasa pada hari senin mas @abu dzar.
        Coba ente tunjukin, dalil yang mengharamkan Maulid. Paling2 yang melarang peringatan Maulid cuma generasi Wahabi dan Variannya, Ibnu Taimiyah sendiri tidak melarang peringatan Maulid Nabi saw.

  11. Saudaraku…ada berita duka yg di-share oleh saudari kita dari Majelis Rasulullah Saw
    Innalillaahi wa’innalillaahi roji’uun
    Telah berpulang ke Rahmatullah, KH. Ahmad Bakrie seorang ulama Kalsel yg Insya Allah ikhlas berdakwah krn Allah Swt.

    Berikut foto beliau yg tersenyum ketika wafat, http://m.facebook.com/photo.php?fbid=302058546564524&id=189811151122598&set=a.301908143246231.46850.189811151122598&_rdr#303318153105230
    Beliau nampak tersenyum,,,

    1. Innalillahi wa inna ilaihi roojiuunโ€ฆ.
      Orang yang sejuk wajahnya, selalu tersenyum dan selalu bertegur sapa baik yang dikenal maupun tidak dikenalnya. Ya Allah berilah Ridho Mu kepadanya dan tempatkanlah dia disisiMu yang terbaik……. Alfatehah.

  12. Sebenarnya inti permasalahnnya adalah seputar pemahaman bid’ah, selama hadist tentang ini gg diterima dg pemahaman pr ulama ..so pasti, banyak hal2 baru yg di vonis bidah dalalah, pdhal hal itu trmasuk hal yg sangat positif menurut agama ataupu aqal..

    Contoh maulidan.
    Secara agama udah jelas sngt dianjurkan untk bnyk bc shalawat, zikir, sdekah dll..
    Ko msh dprmslhkn..’?

  13. Betulkah Ibnu Taimiyah tidak mengharamkan maulid? coba cek dulu dalam kitab beliau.
    Nukilan-nukilan diatas tampaknya copy paste dari Abu Salafy, yang terindikasi syiah, makanya jangan diterima perkataanya, karena mereka menghalalkan dusta. Karena itu para ihkwan ASWAJA harap hati-hati.

    Sebenarnya persoalannya simpel, maulid itu tidak pernah dikerjakan generasi salaf ASWAJA.
    Jadi pilihannya sederhana sesat atau “bisa tersesat”.
    Logikayang dibangun mestinya , para sahabat Nabi shollahu ‘alaihi wssalam saja yang sudah terbukti sedemikian hebatnya mengharapkan berkah Nabi shollallahu’alaihi wassalam (menempelkankulit, menyimpan rambut dan keringat,danludah Nabishollahu’alaihi wassalam,dan disetujui Nabi shollahu’alaihi wassalam), mereka saja tidak memperingati Maulid Nabi, kenapa kita kok …..
    Sebagai catatan : tanggal kelahiran Nabi shollalhu’alahi wassalam diperselisihkan, sedangkan 27 Robiul Awal adalah tanggal beliau wafat … kan kita ngga memperingati wafatnya beliau …

    1. Bismillah,

      Saudaraku Lavon@…. Pernyataan Ibn Taimiyah tentang maulid sudah disebutkan kitabnya beserta vol dan hlmnya…. jadi nggak usah panik lihat aja langsung ke kitabnya…

      Makanya dalam beragama jangan hanya bersandar pada logika… ok…

    2. @lavon, ikhwan Aswaja yg saya lihat disini amat sangat berhati2, bukan berarti kami anti dinasehati, justru kami mempertanyakan apakah sodara siap menerima nasehat temen2 aswaja disini.
      Maulud Nabi bagi kami justru sangat simple, anda saja yg melihatnya entah dari kaca mata apa sehingga terlihat “tersesat”. Sahabat ga perlu maulid, mereka2 bisa berhadapan langsung dengan Rosullulah, mereka beruntung hidup sezaman dengan Beliau, bisa memperoleh ilmu, manfaat dan berkah langsung dari Beliau, kita yg hidup sesudahnya juga bisa memperoleh berkahnya dengan betawassul, bertabarruk…
      Allah Maha Bijaksana, ada medianya bagi kita yg hidup setelah Beliau utk tetap mendapat berkah dan manfaatnya… Wallluhualam…

  14. @Lavon

    makanya, cari guru yg benar. tidak melakukan sesuatu, bukan berati menunjukkan sesuatu itu haram. jika kita dilarang melakukan sesuatu yg tidak dikerjakan generasi salaf, apakah kita juga dilarang mengharamkan sesuatu yg tidak mereka haramkan? selain al-qur’an dan hadist, ada lg yg namanya ijtihad. ijtihad itu dilakukan pada perkara perkara yg tidak ada keterangannya secara pasti dan jelas dari al-qur’an dan hadist. “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah kalian lalaikan, dan Ia telah menetapkan batasan-batasan maka jangan kalian lampaui, dan Ia telah mengharamkan beberapa hal maka jangan kalian langgar, dan Ia telah mendiamkan beberapa hal (tanpa ketentuan hukum โ€“red) sebagai rahmat bagi kalian bukan karena lupa maka jangan kalian mencari-cari tentang (hukum)nya” (Hadis hasan diriwayatkan oleh ad-Daaruquthni dan yang lainnya).

    Menurut kesepakatan para ulama, dalil yang dapat dijadikan dasar pelaksanaan suatu amalan di dalam agama ada empat (4) sumbernya, yaitu (secara kronologis): 1. al-Qur’an 2. Sunnah 3. Ijma’ 4.Qiyas. Artinya, bila suatu perkara tidak ditemukan penunjukkan langsungnya di dalam al-Qur’an, maka dirujuklah kepada Hadis atau Sunnah Rasulullah Saw., dan bila juga tidak ditemukan, maka dirujuklah ijma’ (kesepatakan) para ulama mujtahid berdasarkan isyarat-isyarat
    al-Qur’an dan Hadis, dan bila juga tidak ditemukan maka digunakanlah ijtihad lain yang disebut qiyas yaitu perbandingan/persamaan suatu perkara dengan perkara-perkara yang disebut di dalam al-Qur’an atau yang pernah terjadi di masa Rasulullah Saw. dan para Shahabat beliau. (Lihat Kaidah-kaidah Hukum Islam, DR. Abdul Wahhab Khallaf, Penerbit Risalah, Bandung, 1985, hal. 18-21).

    saat Rasulullah Saw. menyebutkan di akhir kalimatnya bahwa Allah ta’ala โ€mendiamkan beberapa hal” maka itu artinya “Allah tidak memasukkan beberapa hal tersebut entah ke dalam kelompok yang Ia wajibkan, atau entah ke dalam kelompok yang Ia berikan batasan, atau entah ke dalam kelompok yang Ia haramkan”. Paling tidak, itu artinya Allah tidak mengharamkannya atau melarangnya, lebih jelasnya lagi, tidak menentukan hukumnya.

    dan disanalah berlaku yg namanya ijtihad. kalau berbicara masalah ijtihad, maka bukan berbicara masalah dosa, karena ijtihad yg benar mendapatkan dua pahala dan yg salah mendapatkan satu pahala, dengan syarat ijtihad tersebut keluar dari seorang mujtahid. dan jika suatu perkara itu tidak melnceng dari kaidah kaidah umum syari’at islam, maka iya boleh untuk dilakukan. dalam suatu hadist, Nabi Muhammad saw. memperbolehkan untuk merintis perkara perkara baru. “Barang siapa yang mensunnahkan (membuat/menetapkan) di dalam Islam suatu sunnah hasanah (ketetapan/kebiasaan baik) maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun, dan barang siapa yang mensunnahkan (membuat/menetapkan) di dalam islam suatu sunnah sayyi’ah (ketetapan/kebiasaan buruk) maka atas dia dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim).

    Otoritas terciptanya sunnah (hasil ijtihad) semacam itu ditunjukkan oleh riwayat hadis Rasulullah Saw. saat melepas kepergian Mu’adz bin Jabal Ra. ke Yaman, di mana beliau bertanya, “Dengan apa engkau menetapkan hukum?” Mu’adz menjawab, “Dengan Kitab Allah (al-Qur’an).” Rasulullah Saw. bertanya, “Bila tidak engkau temukan (di Kitab Allah)?” Mu’adz menjawab, “Dengan Sunnah Rasulullah.” Rasulullah Saw. bertanya, “Jika tidak engkau temukan (di Sunnah Rasulullah)?” Mu’adz menjawab, “Aku berijtihad dengan pendapatku.” Maka Rasulullah Saw. berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasul-Nya.”

    Mungkin ulama ulama wahabi tidak diberi taufiq, sehingga dengan mudahnya membid’ahkan amalan amalan umat muslim lainnya, yg pada dasarnya bukan masalah pokok, tapi merupakan masalah cabang dan hasil ijtihad para ulama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker