Fikih Sunnah

Ikut Madzhab Agar Pemahaman Islam Tidak Tersesat

Periksa Silsilah Sanad 4 Imam Madzhab. Mari Bermadzhab, Agar Pemahaman Islam Tidak Tersesat. Tinggalkan Wahabisme yang Anti Madzhab Agar Selamat Dunia Akhirat.

Pada sa’at ini semakin banyak orang yang merasa mereka lebih hebat dibandingkan ulama ulama dahulu. Mereka mencoba menebarkan slogan untuk tidak bermadzhab, tetapi mengambil hukum dari al-Qur`an dan Sunnah secara langsung. Slogan (semboyan = perkataan) berhukum al-Qur’an dan hadits benar tetapi memiliki tujuan yang salah, dan akan menghasilkan kesalahan yang besar.

Adapun diantara dalil-dalil yang diucapkan oleh mereka yang anti madzhab ialah:

1 – Rasulullah tidak pernah memerintahkan  kita untuk bermadzhab, bahkan memerintahkan kita mengikuti sunnahnya.

2 – al-Qur`an dan Sunnah sudah cukup menjadi dalil dan hukum sehingga tidak di perlukan lagi Madzhab-madzhab.

3 – Madzhab-madzhab itu bid`ah karena tidak ada pada zaman Rasul.

4 – Seluruh ulama Madzhab seperti Imam Syafi`i melarang orang-orang mengikuti mereka dalam hukum.

5 – Bermadzhab dengan madzhab tertentu berarti telah menolak sunnah Nabi Muhammad SAW.

6 – Pada Zaman sekarang sudah semestinya kita berijtihad, karena dihadapan kita telah banyak kitab-kitab hadits, Fiqih, ulumul Hadits dan lain-lain, kesemuanya itu mudah didapati.

7 – Para Ulama Madzhab adalah manusia biasa, bukan seorang nabi yang ma’shum dari kesalahan, semestinya kita berpegang kepada yang tidak ma’shum yaitu hadits-hadits Rasulullah.

8 – Setiap hadits yang shahih wajib diamalkan, tidak boleh menyalahinya dengan mengikuti pendapat ulama madzhab.

Ini sebahagian hujjah-hujjah mereka, kita akan jawab satu persatu insyaAllah.

Masalah pertama

1  Rasulullah tidak pernah memerintahkan kita untuk bermadzhab. Dari maknanya, tidak ada perintah untuk bermazhhab secara khusus, akan tetapi, bermazhab diperintahkan secara umum.

Perintah umum tersebut terdapat didalam al-Qur`an dan Hadits Rasul , demikian juga disana tidak terdapat larangan untuk bermazhab dari Rasulullah. Dengan demikian tidak boleh kita buang dalil umum yang menyuruh untuk bermadzhab. Bahkan sebagian dalil dan hujjah-hujjah menjurus kepada kekhususan mengikuti ulama-ulama yang telah sampai derajat Ijtihad.

Sanad 4 Imam Madzhab Fikih Islam - Ikut Madzhab Agar Pemahaman Islam Tidak Tersesat

Berikut ini saya aka uraikan beberapa dalil tentang bermadzhab:

1 – Allah Berfirman :

Artinya : “Hendaklah bertanya kepada orang mengetahui jika kamu tidak mengetahui.”

Penjelasan ayat : ayat ini memerintahkan  orang-orang awam yang tidak mengetahui sesuatu, atau belum mencapai derajat mujtahid untuk bertanya kepada orang alim atau orang yang telah sampai derajat Mujtahid. Hal ini bermakna orang yang tidak sampai derajat mujtahid diharuskan mengikuti mazhab-madzhab yang di i’tiraf (diakui) oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah Wal Jama`ah.

Siapa yang merasa tidak memiliki ilmu maka dia wajib bertaqlid kepada ulama, sebab Allah tidak mengatakan , jikalau kau tidak mengetahui maka hendaklah lihat didalam al-Qur`an dan Hadits. Karena al-Qur`an dan al-Hadits memiliki pemahaman yang hanya ulama yang mujtahid saja yang memahaminya. Karena itulah Allah memerintahkan untuk bertanya kepada Ulama  mujtahid akan arti dan pemahaman dari al-Qur`an dan al-Hadits.

2 – Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan menariknya dari hati hamba-hambanya ( ulama ) akan tetapi mengambil ilmu dengan mencabut nyawa ulama, sehingga apabila tidak terdapat ulama, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh ( menjadi pegangan mereka ), mereka bertanya hukum kepadanya, kemudian orang-orang bodoh itu berfatwa menjawab pertanyakkan mereka, jadilah mereka sesat dan menyesatkan pula. ( H.R Bukhari, Muslim , Tirmidzi , Ibnu Majah. Ahmad, ad-Darimi).

Penjelasan hadits : Hadits ini menunjukkkan kepada kita semakin sedikitnya ulama pada masa sekarang. Siapa yang mengatakan semangkin banyak maka dia telah menyalahi hadits Nabi yang shahih dan kenyataan yang ada. Sebab Allah mencabut nyawa ulama, dan tidak ada pengganti yang dapat menandingi keilmuannnya. Siapa yang dapat menandingi keilmuan Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi`I, Imam Ahmad pada zaman sekarang? Tidak ada yang mampu. Mereka telah wafat dan meninggalkan warisan yang sangat besar , yaitu ilmu dan madzhab-mazhab mereka.

Jadi orang -orang awam yang  mengambil warisan ilmu-ilmu mereka seolah-olah seperti bertanya lansung kepada Imam yang empat. Dengan begitu, jauhlah mereka dari kesesatan dan menyesatkan orang. Tetapi orang bodoh yang tidak mau bermadzhab  akan menanyakan permasalahannya kepada orang yang berlagak alim dan mujtahid tetapi bodoh, tolol dan sok tahu, maka dia berfatwa menurut hawa nafsunya dan perutnya dalam memahami hadits dan lainnya. Orang ini  sangat membahayakan dan menyesatkan umat Islam. Mereka tidak menyadari  kesesatan mereka dan berusaha untuk menyebarkan pemahaman mereka, inilah ciri-ciri kebodohannya.

Dari hadits ini kita perlu bertanya, mengapa  Rasul mengatakan,”mereka bertanya kepada orang-orang bodoh”. Penyebab mereka mengambil ilmu kepada orang yang bodoh ialah karena orang alim sudah tiada lagi. Padahal kitab-kitab hadits semangkin banyak dicetak, kitab-kitab ilmu semangkin menyebar di kalangan masyarakat. Penulis melihat ada beberapa sebab :

1 – Pentingnya ulama madzhab dalam menuntun pemahaman yang ada dari al-Qur`an dan al-Hadits, sehingga apabila ulama meninggal dunia, tiada lagi orang yang mampu mengajarkan pemahaman yang sebenarnya dari al-Qur`an dan al-Hadits.

2 –Orang-orang yang sesat menolak untuk  mengikuti  madzhab-madzhab yang telah tertulis dan dibukukan, sehingga mereka lebih memilih orang yang berlagak lebih tahu dalam memahami al-Qur`an dan al-Hadits dibandingkan ulama-ulama  terdahulu.

3 –  Orang yang paling bodoh ialah yang tidak mengetahui bahwa dia bodoh, sehingga dia berfatwa walaupun dalam keadaan bodoh, tidak ingin melihat kembali apa kata ulama-ulama madzhab di dalam kitab mereka.

4 – Salah satu  tanda hari kiamat adalah madzhab bodoh lebih berkembang dan menyesatkan orang yang bermadzhabkan  empat madzhab.

5 – Dari hadits diatas juga kita fahami bahwa pada zamansekarang sangat sulit  kita dapati ulama yang  kedudukannya sampai kepada ulama mujtahid. Apabila kita menyalahi hal ini, kemungkinan kita telah mengingkari hadits Rasul yang menceritakan tentang ilmu akan dicabut dari permukaan bumi ini dengan wafatnya ulama. Pada abad pertama hijriyah, puluhan , bahkan ratusan orang sampai kepada derajat al-Hafizh dan mujtahid, demikian juga pada abad kedua, ketiga, dan keempat. Tetapi setelah itu, ulama-ulama semakin berkurang, apalagi pada zaman kita sekarang.  Jadi apa yang dikatakan Rasul telah terjadi pada masa kini.

Kita dapat melihat,  betapa banyak orang yang mengaku alim dan berfatwa, padahal dia tidak memiliki standar dalam berfatwa. Orang-orang ini bermuka tebal, seperti tembok China.

3 – Rasulullah bersabda :

Artinya : Janganlah kamu menghina orang-orang Quraisy, karena seorang ulama dari kalangan bangsa Quraisy, ilmunya akan memenuhi penjuru bumi ini .

( H,R Baihaqi didalam al-Manaqib Syafi`i, Abu Naim didalam al-Hilyah, Musnad Abu Daud ath-Thayalisi ).

Para ulama menta’wilkan maksud hadits tersebut kepada Imam Syafi`i al-Quraisyi yang telah menebarkan ilmu dan madzhabnya dibumi ini. Diantara ulama yang mengungkapkan hal  itu ialah Imam Ahmad Bin Hanbal, Imam Abu Nuaim al-Ashbahani, Imam Baihaqi.

Dan maksud ilmu pada hadits tersebut adalah madzhab dan pemahamannya terhadap al-Quran dan sunnah, sebab pemahaman terhadap al-Qur`an dan sunnah itulah yang disebut ilmu.  Ilmu itu adalah madzhab jika ilmu tersebut diikuti orang lain. Dengan demikian, madzhab adalah salah satu pemahaman al-Qur`an dan hadits yang diikuti oleh orang lain.

BACA JUGA:  Awas, tangan-tangan Wahabi Merubah Rute Ibadah Haji

Masalah kedua

2 – Pendapat Saudara yang mengatakan bahwa Al-Qur`an dan Sunnah sudah cukup menjadi sumber hukum adalah ungkapan seorang  Mujtahid, yang telah memenuhi  syarat-syarat berijtihad. Jika Saudara berkata demikian juga, berarti Saudara sudah menjadi mujtahid, dan sudah memiliki syarat-syarat ijtihad. Akan tetapi jika Akan tetapi jika tidak, maka saya sarankanagar Saudara mundur kebelakang, atau membeli cermin ( kaca ) agar dapat  bercermin siapa diri anda, dan sampai mana keilmuan anda. Apabila cermin juga tidak mampu  menunjukkan hakikat diri anda sendiri dalam keilmuan, maka hendaklah bercermin dengan ulama-ulama ahlus sunnah wal jama`ah, karena cermin yang ada dirumah harganya murah atau sudah pecah. jika tidak tergambar juga hakikat diri anda dihadapan orang lain, maka syaithan telah memperdayakan anda. Ingatlah,  menjadi mujtahid itu amat berat, dan memiliki syarat-syarat yang sulit.

Rasul bersabda :

Artinya : Allah menyayangi seseorang yang mengetahui batas kemampuannya.

Kalau anda sadar akan batas keilmuan dan kemampuan anda, tentu anda akan mengikuti madzhab yang empat. Tetapi sayang, anda tidak melihat kelemahan dan kebodohan anda sendiri.

Perlu anda ketahui jika anda belum sampai kepada tahap Mujtahid, jika ingin mengambil langsung dari al-Qur`an dan Sunnah, apakah anda telah mengahapal al-Qur`an keseluruhannya? Atau paling sedikit ayat-ayat Ahkam, dan telah mengetahui maksud ayat-ayat tersebut, sebab-sebab turunnya ayat, apakah ayat tersebut tergolong Nasikh atau Mansukh, apakah ayat tersebut Muqayyad atau Muthalaq, atau ayat itu Mujmal atau Mubayyan, atau ayat tersebut `Am atau Khusus, kedudukan setiap kalimat didalam ayat dari segi Nahwu dan `Irabnya, Balaghahnya, bayannya, dari segi penggunanaan kalimat Arab secara `Uruf dan  hakikatnya, atau majaznya, kemudian adakah terdapat didalam hadits yang mengkhususkan ayat tersebut, ini masih sebagian yang perlu anda ketahui dari al-Qur`an.

Sementara dalam Hadits, anda mesti menghapal seluruh hadits-hadits Ahkam, kemudian mengetahui sebab-sebab terjadinya hadits tersebut, mana yang mansukh dan mana yang Nasikh, mana yang Muqayyad dan mana yang Muthlaq, mana yang mujmal dan mubayyan, mana yang `Am dan Khas, dan mesti mengetahui bahasa arab dengan sedalam-dalamnya, agar tidak menyalahi Qaidah-Qaidah dalam bahasa. Hal ini meliputi  Nahwu, Balaghah, bayan, ilmu usul Lughah.

Anda juga  mesti mengetahui fatwa-fatwa ulama yang terdahulu, sehingga tidak mengeluarkan hukum yang menyalahi ijma` ulama, dan mengetahui shahih atau tidaknya hadits yang akan digunakan. Hal ini meliputi pengetahuan tentang sanad, Jarah dan Ta`dil, Tarikh islami dan ilmu musthalah hadits secara umum dan mendalam, sebab tidak semua hadits shahih dapat dijadikan hujjah secara langsung, karena mungkin saja telah dimansukhkan, atau hadits tersebut umum dan adalagi hadits yang khusus, maka mesti mendahulukan yang khusus. Hal ini akan saya jelaskan insya Allah dalam pembahasan yang khusus.

Pertanyaannya adalah, sudahkan anda memiliki syarat yang telah kami sebutkankan, kalau sudah silahkan anda berijtihad sendiri, kalau belum jangan mempermalukan diri sendiri. Kebodohan yang paling bodoh adalah tidak mengakui diri bodoh, sehingga tidak mau belajar dari kebodohannya.

Masalah ketiga

3 – Pendapat anda yang mengatakan bermadzhab itu suatu yang bid’ah karena tidak terdapat pada zaman Rasul. Penulis mengira anda belum  memahami kata-kata Bid`ah dengan sebenarnya. Tetapi, masalah ini insyaAllah akan kami  akan buatkan sebuah pembhasan khusus.

Madzhab memang tidak ada pada zaman Nabi, karena para sahabat berada bersama nabi. Apabila ada permasalahan, maka mereka akan bertanya langsung kepada Rasulullah SAW. Akan tetapi setelah Rasulullah meninggal dunia,  mulailah muncul madzhab-madzah di kalangan sahabat. Dan yang terkenal di antaraanya adalah  madzhab Abu Bakar, madzhab Umar, Utsman, Ali, Abdullah Bin Umar, Sayyidah `Aiysah, Abu Hurairah, Abdullah Bin Mas`ud, dll.

Demikian juga pada masa Tabi`in.  Madzhab-madzhab telah bermunculan ketika itu, seperti madzhab Az-Zuhri, Hasan al-Bashri, Salim Bin Abdallah, Urwah Bin Zubair, dll. Imam Abu Hanifah juga tergolong Tabi`in yang memiliki Madzhab yang diikuti, begitu pula Imam Malik.  maka jelaslah bahwa mengikuti madzhab yang ada dan diakui oleh ulama bukan hal yang bid`ah, jikalau hal tersebut bid`ah, niscaya para sahabat  termasuk ahli bid`ah.

Masalah keempat

4 – Larangan ulama Madzhab kepada murid-muridnya agar jangan mengikuti mereka adalah hal yang tidak benar, sebab seluruh perkataan ulama Madzhab telah dirubah pemahamannya oleh orang tertentu.  mari kita lihat sebagian kata-kata Imam Syafi`i` dan kisah Imam Malik.

A – Kisah Imam Malik berserta Khalifah Abu Ja`far al-Manshuri.

Ibnu Abdul Barr meriwayatkan dengan sanadnya kepada al-Waqidi, beliau berkata : Aku mendengar Malik Bin Anas berkata : ” ketika Abu Ja`far al-Manshur melaksanakan hajji, beliau memanggilku, maka aku bertemu dan bercerita dengannya, beliau bertanya kepadaku dan aku menjawabnya, kemudian Abu Ja`far berkata : ” Aku bermaksud untuk menulis kembali kitab yang telah kamu karang yaitu Muwaththa`, kemudian aku akan kirim keseluruh penjuru negeri islam, dan aku suruh mereka mengamalkan apa yang terkandung didalamnya, dan tidak mengamalkan yang lainnya. Dan meninggalkan semua ilmu-ilmu yang baru selain ” Muwaththa`, karena Aku melihat sumber ilmu adalah riwayat ahli Madinah dan ilmu mereka. Dan aku pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, Janganlah kamu buat seperti itu, karena orang-orang sudah memiliki pendapat sendiri, dan telah mendengarkan hadits Rasul, dan mereka telah meriwayatkan hadits-hadits yang ada, dan setiap kaum telah mengambil dan mengamalkan apa telah diamalkan pendahulunya, dari perbedaan pendapat para shahabat dan selain mereka, jika menolak apa yang mereka percayakan itu sangat berbahaya, biarlah mereka mengamalkan apa yang telah mereka amalkan dan mereka pilih untuk mereka”, berkata Abu J`afar: “Kalaulah engkau suruh aku untuk membuat seperti itu niscaya aku akan laksanakan.”

Dalam riwayat yang lain Imam Malik berkata : Wahai Amirul Mukminin Sesungguhnya para sahabat Rasulullah SAW telah berpencar diberbagai negeri, orang-orang telah mengikuti madzhab mereka, maka setiap golongan berpendapat mengikuti madzhab orang yang diikuti. ( al-Intiqa : 41 , Imam Darul Hijrah Malik Bin Anas : 78 ).

Lihat bagaimana Imam Malik menjawab permintaan Khalifah Abu Ja`far. Beliau tidak melarang orang-orang untuk bertaqlid pada Madzhab yang mereka akui. Sebab pada masa itu madzhab fiqih sangat berkembang sekali. Seperti di Iraq madzhab Imam Abu Hanifah, Di Syam berkembang Madzhab Imam Auza`i, di Mesir berkembang madzhab Imam Laits Ibnu Sa`ad, dan masih banyak lagi madzhab-madzhab yang berkembang saat itu. Bahkan beliau menyarankan kepada Khalifah agar mereka dibenarkan untuk mengikuti madzhabnya masing-masing.

B – Perkataan Imam Syafi`i :

Artinya : Al-Muzani itu adalah penolong ( dalam menyebarkan ) madzhabku

( Lihat Siyar `Alam an-nubala` li adz-Dzahabi : 12/493, Thabqatu Syafi`iyah al-Kubra Li as-Subki : 1/323, terbitan Dar kutub ilmiyah ).

Dari perkataan Imam Syafi`i diatas sangat jelas sekali bahwa beliau tidak melarang seorangpun untuk mengikuti madzhabnya, bahkan beliau mengatakan kepada murid-muridnya bahwa al-Muzani adalah seorang penolong dan penyebar madzhab Syafi`i.  Apabila beliau melarang untuk mengikuti madzhabnya tentu beliau tidak mengatakan perkataan tersebut.

BACA JUGA:  Kekejaman Terorisme Cederai Akhlak / Adab Perang Rasulullah

Diriwayatkan Imam al-Khatib didalam karangannya ” al-Faqih wa al-Mutafaqih ( 2 / 15 -19 ) ” cerita yang sangat panjang sekali tentang Imam al-Muzani seorang pewaris ilmu Imam Syafi`i, didalam akhirnya beliau mengungkapkan perkataan al-Muzani : ” Lihatlah apa yang kau tulis dari apa yanh ku ajarkan, tuntutlah ilmu dari seorang yang Faqih, maka kamu akan menjadi Faqih “.

Dari perkataan Imam al-Muzani yang memerintahkan muridnya untuk melihat apa yang beliau sampaikan, beliau tidak memerintahkan mereka untuk melihat kepada Hadits, karena hadits tidak boleh difahami dengan sebenarnya hukum yang terdapat didalamnya kecuali oleh seorang yang Faqih. Dan memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu kepada seorang yang Faqih bukan hanya untuk mengetahui hadits semata, sebab puncak ilmu hadits adalah Fiqih. Apabila bermadzhab itu dilarang, tentu Imam al-Muzani akan melarang muridnya untuk mengikuti apa yang beliau ajarkan, melainkan memerintahkan mereka mengambil hukum secara langsung  dari al-Qur`an.

Masalah kelima

5 – Pendapat yang mengatakan bahwa bermadzhab dengan madzhab tertentu berarti menolak Sunnah Rasulullah adalah pendapat yang tidak benar dan tidak berasas. Sebab seluruh ulama Mujtahid sangat berpegang teguh dalam mengamalkan sunnah Nabi SAW, mereka telah menjadikan al-Hadits sebagai sumber kedua setelah al-Qur`an, dan kedudukan al-Hadits sangat tinggi  dalam pandangan mereka.

Sebagian orang  salah memahami perkataan Imam-imam Mujtahid seperti Imam Syafi`i dalam perkataanbeliau :

Artinya : Apabila kamu dapati perkataanku menyalahi perkataan Rasulullah SAW maka tinggalkanlah perkataanku dan ambillah Hadits Rasul..

Perlu kita ketahui pemahaman yang mengatakan bahwa Imam Syafi`i melarang mengikuti pendapatnya  adalah pemahaman yang salah, karena ungkapan Imam Syafi`i tersebut  memiliki pemahaman sebagai berikut .

A – Kamu boleh mengikuti pendapatku selama pendapatku tidak bertentangan dengan Hadits Rasulullah.

B – Perkataan ini menunjukkan betapa besarnya kedudukkan Hadits Nabi SAW dalam pandangan Imam Syafi`i.

C – Karena begitu besarnya kedudukan Hadits di hadapan Imam Syafi`i sehingga beliau menjadikan al-Hadits adalah sumber kedua didalam madzhabnya. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak akan mungkin mendahulukan pendapatnya dari pada Hadits Rasul, kecuali apabila hadits tersebut tidak dianggap shahih dan memiliki beberapa sebab sehingga tidak boleh mengamalkannya, sebab tidak seluruh Hadits shahih boleh diamalkan.

D – Imam Syafi` hanya berpegang dengan hadits yang shahih menurut pandangannya, bukan hadits mansukh, atau hadits yang memiliki permasalahan dan `illat, karena beliau adalah seorang ahli hadits yang masyhur.

Masalah keenam

6 – Adapun ungkapan saudara yang mengatakan pada zaman sekarang ini sebenarnya semakin mudah untuk menjadi mujtahid karena banyaknya buku yang dicetak, berbeda dengan zaman dahulu, adalah  ini tidak benar, bahkan menyalahi kenyataan yang ada. Coba kita lihat penyebab mengapa pada zaman ini sukar untuk menjumpai seorang mujtahid.

A – Tidak keseluruhan kitab telah dicetak dan disajikan kepada kita. Terbukti masih banyak lagi kitab ulama-ulama muslim yang tersebar dalam bentuk Makhthuthath ( Munuskrip ) di negeri Erofah, Mesir, Turki, Saudi Arabiyah, Pakistan, Hindia dan lain-lain.

B – Banyaknya kitab-kitab hadits yang hilang dan tidak ditemui pada saat sekarang ini disebabkan berbagai kejadian, seperti pembakaran kitab-kitab pada masa Monggolia menyerang Baghdad dan membakar seluruh kitab-kitab Islam, penghancuran Negeri Islam di Andalusia, dan lain-lain. Maka bisa saja hal ini boleh kita ketahui jika kita mentakhrij hadits, dan ingin melihat dari sumber aslinya, tetapi tidak diketemukan.

C – Pada zaman sekarang orang belajar ilmu menurut bidangnya masing-masing. Pelajar yang di Kuliah Syari`ah tidak mempelajari ilmu musthalah hadits secara mendalam, pelajar yang Kuliah Usuluddin tidak mempelajari Usul Fiqih dan Fiqih secara mendalam, pelajar Lughah bahkan sangat sedikit sekali mempelajari bidang ilmu fiqih dan hadits, dari cara belajar seperti ini bagaimana akan menjadi mujtahid?

D – Tidak adanya (langka) pada zaman sekarang orang dapat digelar al-Hafizh. Ini membuktikan betapa buruknya prestasi kita dalam bidang hadits dibandingkan dengan zaman-zaman sebelum kita. Bagaimana mau menjadi mujtahid hadits pun tidak hapal? Kalaulah dalam ilmu hadits saja kita belum mampu menjadi al-Hafizh bagaimana pula ingin menjadi al-Mujtahid?

e – Tetapi yang sangat lucunya yang ingin jadi mujtahid itu sekarang terdiri dari pelajar-pelajar kedoktoran,insinyur, mekanik, yang bukan belajar khusus tentang agama. Kalau pelajar agama saja tidak sampai kepada mujtahid bagaimana lagi dengan pelajar yang bukan khusus mempelajari agama? Kalau pun jadi mujtahid pasti mujtahid gadungan ( penipuan ).

Cobalah renungkan cerita Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya al-Muswaddah : 516, dan diungkapkan oleh muridnya Ibnu Qayyim. Dari Imam Ahmad, ada seorang lelaki bertanya kepada Imam Ahmad:  “Apabila seseorang telah menghapal hadits sebanyak seratus ribu hadits, apakah dia sudah dikira (dianggap) Faqih?”  Imam Ahmad menjawab: “Tidak dikira (dianggap) Faqih,”  berkata lelaki tersebut : ” jika dia hapal dua ratus ribu hadits ? “, Imam Ahmad menjawab : ” tidak disebut Faqih “, berkata lelaki tersebut : ” jika dia telah menghapal tiga ribu hadits ?”, Imam Ahmad menjawab : ” tidak juga dikira Faqih”, berkata lelaki tersebut : ” Jika dia telah menghapal empat ratus ribu hadits?”  Imam Ahmad menjawab secara isyarat dengan tangannya dan mengerakkannya, maksudnya, mungkin juga disebut Faqih berfatwa kepada orang dengan ijtihadnya.

Cobalah renungkan dimana kedudukan kita dari Faqih dan al-Mujtahid, agar tahu kelemahan kita dan kebodohan kita.

E – Memang ada kitab-kitab yang dapat membantu kita agar dapat berijtihad. Tetapi yang jadi permasalahannya, apakah kita mampu benar-benar memahami apa yang kita baca? Apakah yang kita fahami sesuai dengan pemahaman ulama-ulama pada masa salafussalihin? Sebab membaca hadits dengan sendirian tanpa bimbingan seorang guru akan membawa kepada kesesatan, sebagaimana pesan ulama-ulama agar mengambil ilmu dari mulutnya ulama yang ahli.

Artinya : Ambillah ilmu itu dari mulutnya para ulama.

Berkata Imam Ibnu Wahab seorang murid Imam Malik yang alim dalam ilmu Hadits:

Artinya : al-Hadits dapat menyesatkan seseorang ( yang membacanya ) kecuali bagi para ulama

Berkata Imam Sufyan Bin Uyainah ( seorang ulama besar yang ahli dalam fiqih dan hadits guru Imam Syafi`i ) :

Artinya : al-Hadits itu dapat menyesatkan seseorang kecuali bagi ulama yang faqih. ( al-Jami` li Ibni Abi Zaid al-Qairuwani : 118 )

Masalah ketujuh

7 – Apa yang saudara ungkapkan bahwa ulama mujtahid adalah manusia biasa yang mungkin saja salah dalam perbutan atau pemahaman adalah benar, tetapi sangat salah sekali jika saudara menyangka bahwa mereka yang berijtihad tidak boleh diikuti karena mereka manusia biasa. Yang sangat jelasnya, mereka bukan nabi, dan juga bukan bertarap seperti anda, tidak ada seorang ulama yang hidup sekarang ini yang mampu menandingi ilmunya Imam Abu Hanifah, Imam Malik Bin Anas, Imam Syafi`i, Imam Ahmad.

Berkata Imam adz-Dzahabi mengungkapkan didalam kitabnya at-Tadzkirah : 627-628 , diakhir ceritanya dari generasi muhaddits yang kesembilan diantara tahun 258 H – 282 H, beliau berkata : “Wahai syeikh lemah lembutlah pada dirimu, senantiasalah bersikap adil, janganlah memandang mereka dengan penghinaan, jangan kamu menyangka muhaddits pada masa mereka itu sama dengan muhaddits pada masa kita ( maksudnya dari masa 673 H – 748 H ), sama sekali tidak sama. Tidak ada seorang pun pembesar Muhaddits pada masa kita yang sampai kedudukkannya seperti mereka didalam keilmuan.”

BACA JUGA:  Video Praktek: Cara Shalat Seperti Shalatnya Nabi Saw

Dari ungkapan Imam adz-Dzahabi diatas memberikan pengertian bahwa ilmu kita memang tidak setarap dengan para ulama-ulama mujtahid pada zaman dahulu. Jadi jikalau mereka berijihad ternyata salah di dalam ijtihadnya, maka mereka akan mendapat satu pahala dan tidak mendapat dosa. Bagaimana dengan anda yang tidak sampai kepada derajat ijtihad kemudian berijtihad menurut kemampuan anda?  Maka kesalahan anda akan lebih banyak dibandingkan dengan ulama-ulama mujtahid yang terdahulu.

Dengan begitu seseorang yang memang sudah sampai kepada derajat mujtahid, apabila benar ijtihadnya maka akan mendapatkan dua pahala.  Jika salah dalam berijtihad maka mendapat satu pahala saja. Tetapi jika anda yang belum sampai kepada tahap mujtahid berijtihad dan tersalah dalam ijtihadnya, maka anda akan mendapatkan dosa, karena berijtihad dengan kebodohan.

Masalah kedelapan

8 – Adapun ungkapan anda tentang hadits yang Shahih wajib diamalkan secara langsung adalah salah satu kesalahan. Sebab tidak semua hadits yang shahih dapat diamalkan secara lansung, karena mungkin saja hadits tersebut memiliki `illat yang sangat samar sekali. Kemungkinan hadits shahih tersebut dimansukhkan, atau haditsnya muthlaq kemudian dimuqayyadkan dan lain-lain. Penulis ( insyaallah ) akan membahas permasalahan ini secara khusus .

Pada zaman sekarang ini telah banyak kita lihat golongan yang anti dan berusaha untuk menyerang dan membasmi madzhab-mahzhab yang masyhur. Dengan alasan (jargon) kita mesti berpegang teguh dengan al-Qur`an dan sunnah bukan berpegang teguh dengan madzhab. Tidak pernah kita dapati di dalam al-Qur`an atau di dalam hadits Rasulullah untuk menyuruh kita bermadzhab. Bahkan para pendiri madzhab sendiri pun melarang mengikuti jejak mereka, demikian kata mereka.

Hal ini sangat aneh sekali, mereka mati-matian mengajak orang agar meninggalkan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi`i, dan Ahmad, tetapi mereka juga sengaja menarik orang untuk mengikuti pemikiran dan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Apakah mereka tidak tahu bahawa mengikuti pendapat Ibnu Taimiyah juga disebut mengikuti madzhab? Atau mungkin mereka terlupa, juga mungkin karena ta’asub yang berlebih-lebihan terhadap Ibnu Taimiyah? Atau juga mungkin hasad dan dengki dengan pendiri para Madzhab? Kalau tidak sebab-sebab itu niscaya mereka tidak akan keberatan terhadap seseorang yang bermadzhab Hanafi, Maliki, atau Syafi`i.

Kenyataan ini telah kita lihat sendiri, jikalau kita kata Ibnu Taimiyah saja yang berpegang teguh dengan al-Qur`an dan Sunnah, maka maknanya madzhab-madzhab yang lain tidak benar. Sebab menurut pandangan mereka ( orang yang tidak bermazhab atau golongan Wahabi ) bahwa Taimiayah yang benar. Disini mereka terlupa bahwa Ibnu Taimiyah seorang manusia bukan seorang nabi yang tidak berdosa. Wajarkah kita larang seseorang bermadzhab, sementara kita sendiri mengikuti madzhab seseorang? Jikalau kita sebutkan seperti ini maka mereka tidak akan mengaku dengan sebenarnya. Bahkan mencoba untuk memutar balikkan Fakta, dengan ucapan kita mesti berpegang teguh dengan al-Qur`an dan Sunnah.

Tetapi yang menjadi pertanyaan dibenak hati saya adalah apakah pendiri-pendiri Mazhab tidak mengikuti al-Qur`an dan al-Sunnah? Tentu mereka menjawab ” Sudah tentu para pendiri madzhab mengikut al-Qur`an dan as-Sunnah tetapi mereka manusia yang mungkin memiliki kesalahan”.  Jadi menurut mereka ( para anti mazhab ) karena adanya kesalahan pada ulama mujtahid maka mereka sendiri mengambil al-Qur`an dan Sunnah secara langsung. Ini akan membuktikan mereka tidak akan tersalah dalam menentukkan hukum dalam berijtihad? Jikalau sekiranya mereka sadar diri dengan kemampuan meraka niscaya mereka akan berpegang teguh dengan mana-mana mazhab yang empat.

Pada kesempatan ini saya hanya mencoba untuk memaparkan beberapa dalil yang menjadi pegangan masyarakat awam dalam mengikuti madzhab yang empat, beserta makna dan tujuan ” Madzhab ” dan bila timbulnya madzhab. Dalam kesempatan lain insyaallah saya akan ketengahkan segala dalil-dali yang membatalkan anggapan-anggapan bahwa mengikuti mazhab adalah bid`ah.

Pengertian Madzhab

Kalimat Madzhab berasal dari bahasa Arab yang bersumberkan dari kalimat Dzahaba, kemudian diobah kepada isim maf`ul yang berarti, Sesuatu yang dipegang dan diikuti. Dalam makna lain mana-mana pendapat yang dipegang dan diikuti disebut madzhab. Dengan begitu madzhab adalah suatu pegangan bagi seseorang dalam berbagai masalah, mungkin lebih kita kenal lagi dengan sebutan aliran kepercayaan atau sekte, bukan hanya dari permasalahan Fiqih tetapi juga mencakup permasalahan `Aqidah, Tashawuf, Nahu, Shorof, dan lain-lain. Di dalam Fiqih kita dapati berbagai macam madzhab, seperti madzhab Hanafi, Maliki, dan Syafi`i. Di dalam ‘Aqidah kita dapati madzhab `Asya`irah, Maturidiyah, Muktazilah, Syi`ah. Di dalam Tashawuf kita dapati madzhab Hasan al-Bashri, Rabi`atu adawiyah, Ghazaliyah,Naqsabandiyah, Tijaniyah, dll. Di dalam Nahu kita dapati madzhab al-Kufiyah dan madzhab al-Bashriyah.

Tumbuhnya Madzhab Fiqih

Pada zaman Rasulullah SAW ”madzhab” belum dikenal dan digunakan karena pada zaman itu Rasul masih berada bersama sahabat. Jadi jika mereka mendapatkan permasalahan maka Rasul akan menjawab dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Tetapi setelah Rasulullah meninggal dunia, para shahabat telah tersebar diseluruh penjuru negeri Islam, sementara itu umat Islam dihadirkan dengan berbagai permasalahan yang menuntut para shahabat berfatwa untuk menggantikan kedudukan Rasul.

Tetapi tidak seluruh shahabat mampu berfatwa dan berijtihad, sebab itulah terkenal di kalangan para sahabat yang berfatwa di tengah sahabat-sahabat Rasul lainnya. Sehingga terciptanya Mazhab Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Sayyidah `Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah Bin Umar, Abdullah Bin Mas`ud dan yang lainnya. Kenapa shahabat-sahabat yang lain hanya mengikuti sahabat yang telah sampai derajat mujtahid, karena tidak semua sahabat mendengar hadits Rasul dengan jumlah yang banyak, dan derajat kefaqihan mereka yang berbeda-beda. Sementara Allah telah menyuruh mereka untuk bertanya kepada orang yang `Alim diantara mereka.

Artinya : Hendaklah kamu bertanya kepada orang yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui.

Pada zaman Tabi`in timbul pula berbagai macam madzab yang lebih dikenal dengan madzhab Fuqaha Sab`ah ( Madzhab tujuh tokoh Fiqih) di kota Madinah, setalah itu bermunculanlah madzhab yang lainnya di negeri islam, seperti madzhab Ibrahin an-Nakha`i, asy-Syu`bi, dan masih banyak lagi. Sehingga timbulnya madzhab yang masyhur dan diikuti sampai sekarang yaitu Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi`iyah, Hanabilah, madzhab ini dibenarkan oleh ulama-ulama untuk diikuti karena beberapa sebab :

1 – Madzhab ini disebarkan turun-temurun dengan secara mutawatir.

2 – Madzhab ini di turunkan dengan sanad yang Shahih dan dapat dipegang .

3 – Madzhab ini telah dibukukan sehingga aman dari penipuan dan perobahan .

4 – Madzhab ini berdasarkan al-Qur`an dan al-Hadits, selainnya para empat madzhab berbeda pendapat dalam menentukan dasar-dasar sumber dan pegangan .

5 – Ijma`nya ulama Ahlus Sunnah dalam mengamalkan empat madzhab tersebut.

sumber: http:  // allangkati . blogspot . com

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Ikut Madzhab Agar Pemahaman Islam Tidak Tersesat
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

45 thoughts on “Ikut Madzhab Agar Pemahaman Islam Tidak Tersesat”

  1. saya save kang artikenya, belum sempat baca semua.

    kadang orang macam gitu aneh, meraka mau langsung alQuran dan hadist, padahal bisanya tahu arti alquran dan hadist dari buku terjemah, terus yang terjemah siapa? apa meraka juga nggak taqlid sama yang nerjemah.

  2. Sukurlah, panjenengan langsung paham….
    Semoga semakin banyak orang-orang yang sadar akan pentingnya bermazhab.
    Thank’s kunjungannya, dan kami sudah kunjungi Web-mu, bagus sekali, semoga sukses bisnis web-design-nya….

  3. @ ummati

    salut…MANTABBEk ………!!!!(qolqolah)

    “seandainya kitab2 terdahulu tidak di bakar tentara mongolia… tentu hari ini ngga’ ada wahabi..”
    “…ah kenapa aku harus berandai-andai…”

    oQlah qalau bgicu..aqu bermazhab syafi’i…

  4. ass……
    sangat bagus… Semoga dapat bermanfaat bagi yang membacanya….. sangat bagus….
    tolong kalo bisa dibahas lebih lagi mengenai mazhab yang lebih luas…. agar kita semua umat muslim dapat menambah ilmu dan terbuka wawasanya terhadap mazhab-mazhab itu.. yang pada akhirnya menumbuhkan rasa persatuan dalam uamat islam, khususnya di indonesia.

    1. Hanya org picik yg tidak mau bermadzhab.
      Terimakasih atas pencerahannya, smg Allah SWT membalas segala usaha baik Anda.
      Salam Kenal dr saya, org Purbalingga Jawa Tengah.

  5. dlam gambaran sederhana saya : seandainya kita memakai al qur’an dan al hadits secara langsung,mungkin di ibaratkan kita memakan makanan mentah yang seharusnya di masak terlebih lebih dahulu. walaupun memang ada sebagian makanan yg tdk perlu dimasak sebelum di makan.dan tidak semua orang bisa memasak makanan tersebut kecuali orang yang ahli di dalamnya. seharusnya kita bersyukur dan berterima kasih kepada para ulama2 mujtahid dan pendiri madzhab yang telah menghabiskan hidupnya hanya untuk memasak kandungan al qur’an dan al hadist kita tinggal menikmati.. mengamalkan..

  6. Yang saya tahu MAZHAB fiqh itu adalah Metodologi Istinbat dalam hukum syara. Mazhab itu tidak cuman 4 khan??? yang lain kok dikemanakan??? Imam yang 4 itu ulama Besar dan Ilmunya luas, tapi juga banyak sekali ualama hebat walaupun tidak membuat suatu mazhab tersendiri dan kadang berbeda pendapat dengan Imam yang 4.

    Seorang ustadz menyampaikan: Sebetulnya semua muslim pada hakikatnya bermazhab, ada yang kepada 4 mazhab yang mahsyur ada juga kepada lain ulama atau pada jamiyahnya. Ada juga sebagian yang kadang sependapat dengan imam Malik, kadang beda pendapat dengan Imam Syafii tapi sependapat dengan Imam Assyaukani, kadang berbeda pendapat dengan Imam Hambali tapi sependapat dengan Ibnu Hajar Alasqolani, dsb.

    Jadi saya pikir terlalu berlebihan jika mengatakan “hanya orang picik, bodoh, dungu dsb kepada orang yang tidak bermazhab terhadap imam yang 4 dan sebaliknya.”

    Ayolah … kita bukan apa-apa dibanding para ulama yang sudah jelas menjadi “Mu’tabaroh” yang jadi banyak rujukan ulama lainnya.

    Sy sampaikan sebuah hadits: “Allah SWT akan mengutus pada setiap awal seratus tahun orang yang akan memperbaharui urusan umat ini” [H.R. Abu Daud]. Siapa “orang yang akan memperbaharui urusan umat ini”??? tentu saja ULAMA.

    Wallohu a’lam.

    1. @ibnu abbas

      Akhi Ibnu Abbas, antum benar memang ada banyak mazhab dalam Islam terutama mazhab aqidah dan mazhab fikih (syara’).

      Dalam mazhab fikih ada puluhan mazhab, tapi yang paling mu’tabar dan banyak diikuti adalah 4 mazhab tersebut dalam artikel di atas. Tulisan artikel di atas adalah sebagai jawaban dari PROMOSI KAUM WAHABI yang menyerukan “haram”-nya bermazhab, sehingga mereka sering melontarkan cemo’oh kepada orang-orang bermazhab sebagai taqlid buta. Padahal apa jadinya tanpa bermazhab bagi orang-orang yan bukan mujtahid? Mau ngarang sendiri dalam memahami fikih (syara’) dan aqidah Islam?

      Menegenai informasi aliran-aliran mazhab fikih insyaallah akan di posting di waktu yang akan datang.

      Untuk mendapatkan gambaran jelas tentang misi tulisan di atas silahkan baca pengalaman nyata “perdebatan” akibat ulah kaum Wahabi di sini: http://www.ummatipress.com/2010/01/26/mengaku-tidak-bermazhab-itu-keblinger/

  7. Asslamualaikum semua, Islam sudah sempurna semenjak Rasulullah ada, jelas tidak perlu tambahan apapun, dalam artian bid’ah = segala bentuk penambahan terhadap hal yang sudah sempurna, cukuplah apa yang jelas datangnya dari yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya ,untuk ilmunya bisa datang dari jalan dan mazhab manapun.

    masalah salafi dan wahabi apa yang benar akui benar dan apa yang salah buktikan kalo itu salah dengan ilmu, cari kebenaran bukan cari siapa yang paling benar.

    apa yang ada sekarang banyak perbedaan kita kembalikan pada asalnya pada Al Quran dan Hadits jangan lihat mazhab atau golongan, yang salah buktikan salah, yang benar akui benar, tapi memang banyak orang salah tidak merasa salah karena kurang ilmu, maka marilah cari ilmunya, jangan fanatik mazhab atau anti terhadap mazhab lain.

    mari letakan masalah mazhab pada porsinya, jangan sebut yang tidak bermazhab itu keblinger, karena banyak orang yang bermazhab (yang kurang ilmunya )justru tidak karuan.

    tidak bermazhab bukan berarti tidak mengambil ilmu (tidak menerima) dari para imam mazhab atau ulama mazhab manapun, tapi mengambil ilmu dari mereka semua tanpa melihat mazhab tapi tidak sampai fanatik mazhab dan tidak anti terhadap perbedaan.

    kita beragama dan meneladani Rasulullah SAW dengan jalan mengambil ilmu dari para ulama semua, bukan bertaqlid kepada ulama tersebut. Dalam hal perbedaan pendapat antar mazhab maka apa yang lebih benar dan lebih kuat dalil dan argumennya yang kita ambil.

    yang salah kita buktikan salah (kita koreksi) dengan kembali pada dalil bukan tujuan menghina atau menganggap rendah terhadap ilmu para ulama tersebut tetapi demi kebenaran (haq) dan menyelamatkan agama (lihat dalam hadits tentang halal haram dan subhat di dalam kitab Arba’in Nawawiyah ) dan yang benar kita harus berani akui kalau pendapat orang lain benar adanya.

    yang saya lihat dimasyarakat seolah-olah agama ini (ISLAM) yang begitu luas dan universalnya ilmu Islam menjadi sempit dengan mazhab dan golongan atau organisasi
    atau mungkin ini sengaja dibuat oleh orang munafik dan orang-orang yang memusuhi islam.

    kita lihat banyak orang banggga dengan golongan/organisasi/mazhab tertentu sampai mati-matian membela golonganya tanpa melihat bagaaimana sebenarnya Islam ini.

    terakhir saya bukan ingin membela wahabi atau salafi, saya sendiri kurang mengetahui apa yang salah dari pendapat para ulama didalamnya tetapi apa yang benar saya terima dan apa yang salah dengan tegas saya tolak,

    kalau saya lihat yang disebut wahabi/salafi sendiri dengan sendirinya menjadi satu mazhab dari banyak mazhab dalam ISLAM.

    dan kalau masalah bid’ah saya dengan tegas menyatakan setiap bid’ah sesat (dholalah), baik itu yang hasanah maupun yang sayiah karena bid’ah adalah segala bentuk penambahan terhadap yang sempurna tidak mungkin bisa diterima.yang tidak dilakukan Rasulullah SAW dahulu sekarangpun tidak bisa dibenarkan.

    BID’AH itu dalam agama bukan dalam masalah dunia, setiap hal yang membuat agama ini berbeda (tambahan) dengan apa yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya adalah bid’ah.

    tapi saya tidak setuju setiap yang baru didunia ini adalah bid’ah, hanya hal-hal yang membuat agama (syareat bertambah) itulah yang bid’ah tapi hal-hal yang adanya tidak berpengaruh terhadap syariat agama itu bukan bid’ah walaupun itu ada kaitanya dengan Islam sendiri, contoh masalah Ilmu Nahwu,Sharaf, Ilmu Tajwid dan setiap apapun yang ada dan tidak adanya hal tersebut tidak mempengaruhi hukum syariat (hukum Agama) itu bukan bid’ah.
    dan segala bentuk

    1. @ aria
      omongan nt, ” yang salah kita buktikan salah (kita koreksi) dengan kembali pada dalil bukan tujuan menghina atau menganggap rendah terhadap ilmu para ulama tersebut tetapi demi kebenaran (haq) dan menyelamatkan agama (lihat dalam hadits tentang halal haram dan subhat di dalam kitab Arba’in Nawawiyah ) dan yang benar kita harus berani akui kalau pendapat orang lain benar adanya.

      seolah olah benar , padahal mengoreksi tanpa ilmu, akan menghasilkan kekacauaan, ketimbang kebenaran dan kemaslahatan, keberadaan madzhab sejak dahulu hingga hari ini telah membuat kedamaian Ummat islam secara umum, meskipun ada sebagian kecil yang tetap memper masalahkannya.

      dengan bermadzhab yang sudah diakui oleh seluruh dunia islam (4 madzhab) muslimin menjadi sangat toleran terhadap perbedaan pendapat yang terjadi.

      sementara sejak kemunculan wahabi/salafi yang tidak bermadzhab, bahkan cenderung mencela orang yang bermadzhab inilah , ummat islam menjadi sangat tidak toleran terhadap perbedaan pendapat, hingga terjadi pembunuhan ulama-ulama Ahli Sunnah yang dilakukan oleh sekte wahabi/salafi, karena mereka memaksakan fahamnya harus diikuti, jika tidak maka dianggap musyrik dan kafir hingga halal darahnya.

      bagi orang awam seperti saya dan nt , haram hukumnya tidak bermadzhab, kecuali nt sudah memenuhi persyaratan menjadi mujtahid silahkab berijtihad, tidak perlu koar-koar hayo ijtihad ! HAYO IJTIHAD ! JANGAN TAQLID nyalahin orang yang bermadzhab
      atau memang nt merasa pinter agama ? kalo mo ijtihad ijtihad aja ga perlu berkoar koar, paling paling hasil ijtihad nt ga lebih baik dari bin baaz yang keblinger ! buktinya mahamin soal Bid`ah aja nt keblinger, itu baru satu soal bung ! masih ada ratusan bahkan ribuan persoalan yang harus nt selesaikan kalo nt menda`wakan ” Tanpa Madzhab itu baik ” mana hasil koreksi nt ? udah dapet berapa halaman ? dan inget itu cuma hasil kereksi yang belum tentu lebih baik ya , bukan hasil Ijtihad nt, karena nt paling juga dapet nukil sana sini ?

      TIDAK MAU BERMADZHAB BAGI ORANG YANG BELUM MEMENUHI PERSYARATAN IJTIHAD ADALAH KESOMBONGAN BELAKA , OMONG KOSONG, biasa tong kosong bunyinya nyaring.

  8. he…he…he….sabar…sabar …bos.. rupanya teman kita @ Aria belum baca artikel paling grees di blog ini ….pengekor wahabi MENTAL semua ….kata Bid ah yang nyaring jadi bumerang di artikel tsb …..ok @ Aria silahkan baca …terus anda komen bid ah itu yang bagaimana menurut anda ….

  9. Saudaraku se Islam, yuk kita ngaca diri…Saya pernah mendapat pelajaran tentu saudarku lebih faham tentang hal ini; bahwa Rosulullah SAW pernah bersabda “tidak halal tiga orang hidup di muka bumi ini tanpa berjama`ah“. Sudahkah saudara berbai`at dengan sesama kita, dengan bersumpah demi Allah saudara akan selalu berjalan di jalan Allah….? Kalau belum betapa pandainya saudara berdebat, yg akan melemahkan barisan kita, neraka sudah menunggu kedatangan saudara…..

  10. Saudara tentu setuju “jama`ah“ itu kewajiban bagi kita. Seperti badan yg satu. Saudara setuju kan kalau dalam jama`ah itu berlaku keta`atan, ada imam, ada kebersamaan, ada tolong menolong, dan tetap berada di jalan Allah….sudahkah saudara yg merasa paling pinter, paling benar berjama`ah…..kalau belum selagi masih bernafas segera berjama`ah…..di manapun saudara mamasuki jama`ah silahkan…..siapa yg akan diterima Allah, semua hak prerogatif Nya……ingat saudara akan tergolong mati dalam keadaan jahiliyah selama tdk ada lingkaran jama`ah di leher saudara…….ingat itu !

    1. ki sambang dalan@

      Ki Sambang, arah bicara anda ini ditujukan kemana? Kalau ditujukan ke kami para pendukung blog UMMAT PRES, jelas kami sudah berjamaah bersama Ahlussunnah Waljama’ah. Tolong diperjelas arahnya kemana pembicaraan anda ini. Thanks.

    1. kayaknya dari golongan KEPERCAYAAN nih orang redaksinya nggak fokus atau aku yang bodoh ya ?????? ki sambang dalan ……

  11. bagi saudaraku yg belum jelas atas komentar ki sambang dalan, silahkan baca berulang-ulang, fahami, renungkan……adakah yg salah ? Nggak jelas juga coba tanyakan kpd siapa saja yg faham Islam……atau jangan-jangan saudara terlalu pandai tentang Islam kali ya…….

  12. ingin kenal lebih dalam siapa ki sambang dalan…..buka akun face book nya…atau call ke nomer ini 085229145535…..faham saya; selama anda shalat wajib lima waktu, anda adalah saya……anda adalah tubuh saya…..kehormatan anda saya kedepankan….saya tdk lebih dari anda…..

  13. penting saudaraku ketahui bahwa jama`ah tidak cukup hanya dengan pengakuan, ada tata caranya, ada konsekwensinya……saudara ingin tahu Ayat Al Qur`an dan Hadist Shohehnya yg mendasari tentang hal ini ? Silahkan hubungi ki sambang dalan……

  14. Ya sudah kisambang, he he he….. Jadi sadar sekarang, ternyata antum bikin buyar diskusi ini….

    Jangan muncul lagi ya Ki…? Ayo teman0teman Wahhabi, lanjut diskusinya, tapi baca dulu artikel di atas biar nyambung, Oke? Apa yg jadi keberatan antum dari artikel di atas?

  15. Ping-balik: Buku-buku Sesat Buatan Para Aktifis Wahabisme di Indonesia « UMMATI PRESS
  16. Aswaja, kocar kacir…
    Pendukungnya mulai hijrah ke manhaj Salafus Shalih, Alkhamdulillah.
    Yang gak boleh Bermazhab atau Taqlid buta?
    Siapa yang omong? membingungkan, ummati….ummati?

    1. @nana
      kita lihat situs mereka dan kita uji apa yg mereka sampaikan,ternyata….wkwkwk…
      nggak jelas jawabannya. seringnya tak ada jawaban, mbeo…atau nggak tak di tampilkan…
      yah sdh pada tahu deeeh…semua…he..he…

    2. Ketika ada yang berkata “Ikuti Manhaj Salafusshalih”, apakah ia mendengarkan langsung dari mereka? atau mendengar dari para ulama yang menyampaikan pemahaman mereka??

      Para sahabat pun terkadang berbeda pendapat, meski Rasulullah ada di tengah mereka, tapi mereka tidak saling mencela. Para Tabi`in dan para Ulama juga berbeda pendapat, namun mereka tidak pernah saling cela. Itulah perbedaannya generasi Salaf dengan Generasi sekarang.

      Siapapun yang belajar agama kepada seseorang, pasti ia telah bermadzhab kepada gurunya, begitu juga gurunya telah bermadzhab kepada gurunya lagi, dan terus demikian hingga sampai kepada Rasulullah. Jadi kenapa menentang orang yang mengambil pendapat dari ulama madzhab jika yang menentang itu pun mengambil pendapat dari ulamanya?

      Para ulama madzhab adalah jalan untuk menuju Al-Qur’an dan Hadis, karena kita belum memiliki kemampuan untuk menyelaminya langsung. Mereka adalah orang yang telah mempunyai syarat untuk berijtihad, dan ijtihad mereka boleh untuk diikuti.

      Kenapa dilarang untuk mengikuti pendapat Imam Syafi`i, Imam Ghazali, Imam Nawawi, Imam Rafi`i, Imam Haramain dan ulama-ulama madzhab Syafi`i lainnya, padahal yang melarang pun sering mengikuti pendapat dari Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdil Wahhab, Ibnu Utsaimin, Nashiruddin Al-Albani, Ibnu Bazz dan ulama lainnya??

  17. mas… untuk tulisan alquran ama hadis na kok tanda tanya semua ,tulisan arab na tmpilain jga dong!!!maklum newbi di forum ini 😆 😆

    1. Ya Mas, itu effect perpindahan server dari WordPress.com ke server berbayar, pada bulan Ramahan yg lalu. Dan kami belum sempat memperbaiki semuanya kecuali baru beberapa postingan saja. Insyaallah nanti jika ada libur panjang akan kami perbaiki semuanya. Terimakasih tegurannya, barokallohu fik.

  18. Bismillaah,

    Kita mengikuti ulama madzhab agar kita mengetahui dasar hukum dari Al Qur’an dan Hadits tentang masalah agama. Agar kita yakin bahwa kita benar-benar mengikuti Allah dan rasulNya berdasarkan Qur’an dan Hadits.

    Contoh, kita mengikuti Imam Syafii untuk tidak menggunakan lafadz “Ashsholaatu khoirumminannaum” saat adzan shalat subuh karena kita mengetahui dari kitab beliau yang berjudul Al Um hadits tentang dua adzan shalat subuh. Adzan pertama menggunakan lafadz tersebut. Sedangkan adzan kedua tidak menggunakan lafadz tersebut.

    Atas dasar hadits tersebut Imam Syafii menetapkan bahwa adzan subuh – bila hanya sekali – tidak menggunakan lafadz “Ashsholaatu khoirumminannaum”.

    Inilah gunanya madzhab.

    Wallaahu a’lam.

  19. @ibnu suradi
    Nah gitu dong, ente secara gak sadar sudah mengamalkan adab wa sunnah. ente sudah menghormati penulis artikel, jadi gak lari dari artikel.
    Selain itu bermahzab juga supaya kite gak bingung, apalagi ilmu kite kan masih semrawut (alias pas-pasan).
    Contohnya : dalam hal zakat, imam abu hanifah membolehkan pakai uang sebesar harga 3.5 tsa, imam 3 yang lain mengharuskan makanan pokok, jadi mana yang kite ambil? masih banyak yang lain.

  20. semalgat…..semangat….semangat tuk mencari kebenaran.ALHAMDULILLAH GARA2 WAHABI JD TERTARIK MEMPLAJARI ISLAM…Terima kasih pd mereka yg tlah mnambah pencerahan,semoga ALLAH MERAHMATI…AMIEN

  21. rohman arif:
    semalgat…..semangat….semangattukmencarikebenaran.ALHAMDULILLAHGARA2WAHABIJDTERTARIKMEMPLAJARIISLAM…Terimakasihpdmerekaygtlahmnambahpencerahan,semogaALLAHMERAHMATI…AMIEN

    waaah kang arif semangat betul niih

  22. Bismillaah,

    Janganlah mengaku bermadzhab, bila beramal tanpa mengetahui dasar hukumnya dari Qur’an dan Hadits yang disampaikan imam madzhab. Banyak imam shalat berjamaah mengaku bermadzhab Syafii tapi bila menjadi imam ia langsung takbir untuk memulai shalat sebelum shaf shalat berjamaahnya benar-benar rapat dan lurus. Padahal, Imam Syafii dalam Kitab Al Um mengatakan: “Janganlah imam bertakbir untuk shalat sebelum shaf shalat berjamaah rapi (rapat dan lurus).”

    Harusnya imam tersebut mencari tahau dahulu perkataan Imam Syafii dalam masalah tersebut dan kemudian mencari tahu dalil dari Qur’an dan Hadits yang digunakan Imam Syafii sebagai dasar perkataannya.

    Dalam sebuah disksusi di nu online, sesorang mengatakan bahwa sutrah (pembatas di depan orang yang sedang shalat) tidak ada dalam Madzhab Syafii. Padahal, hadits tentang sutrah ada dalam Shahih Bukhari. Dan Imam Bukhari bermadzhab Syafii.

    Jadi, benar-benarlah dalam bermadzhab. Jangan asal bermadzhab, yang bisa jadi bertentangan dengan pendapat imam Madzhab itu sendiri.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bermadzhab ada tingkatannya bro…
      1. Muqallid cukup mengetahui rajih dalam madzhab.
      2. Murrajih bisa mentarjihkan khilaf, hingga menelorkan pendapat rajih dalam madzhab dengan membandingkan dalil-dalilnya. (Imam An Nawawi)
      3. Mujtahid madzhab berijtihad sendiri dengan mengambil langsung dari nushus dengan kaidah madzhab, ia bisa berbeda dengan hasil ijtihad Imam (Al Muzani, Al Buwaithi dll)
      4. Mujtahid mutlak membuat kaidah dan berijitad dengan nushus. (As Syafi’i)

  23. Bismillaah,

    Kang Naka,

    Apa maksud perkataan “untuk mengetahui rajih dalam bermnadzhab”. Apakah ia bermaksud “mengetahui pendapat imam madzhab dan dahil Qur’an dan hadits yang digunakan sebagai dasar pendapat imam madzhab?”

    Apakah dibenarkan bagi seseorang untuk hanya mencukupkan pada perkataan guru: “Inilah madzhab Syafii” tanpa mencari tahu perkataan Imam Syafii dan dalil Qur’an dan Hadits sebagai dasar perkataannya? Apakah bermadzhab dengan cara demikian, seseorang sudah dianggap benar-benar mengikuti Allah dan rasulNya?

    Wallaahu a’alam.

  24. Wah, ane lihat memang ente belom paham bagaimana cara bermadzhab. Namun dah tergesa-gesa kasih penilaian.

    Bismillaah,
    KangNaka,
    Apamaksudperkataan“untuk mengetahui rajih dalam bermnadzhab”.Apakah ia bermaksud“ mengetahui pendapat imam madzhab dan dahil Qur’an dan hadits yang digunakan sebagaidasar pendapat imammadzhab?”

    Mengetahui yang rajih menurut madzhab. Dalam satu madzhab saja banyak khilaf bro. Khilaf mengenai periwayatan pendapat Imam, khilaf antara Imam dengan mujtahid madzhab, khilaf sesama mujtahidz madzhab. Nah, mana yang rajih dari pendapat itu? Itu tugasnya mufti tarjih seperti Imam Ar Rafi’i dan Imam An Nawawi.

    Apakah dibenarkan bagi seseorang untuk hanya mencukupkan pada perkataan guru:“Inilah madzhab Syafii” tanpa mencaritahu perkataan Imam Syafii dan dalil Qur’an dan Hadits sebagai dasar perkataannya?Apakah bermadzhab dengancara demikian,seseorang sudah dianggap benar-benar mengikuti Allah dan rasulNya?

    Cukup jika dia tahapan mukaliid, dan penukilan pendapat rajih sudah valid karena penukilnya adalam muqallid yang alim.

    Namun jika kapasitasnya sampai pada mufti murajjih, ia akan menimbang dengan dalil dan periwayatan mana yang rajih dalam madzhab.

    Beda jika ia sudah sampai pada derajat mujtahid madzhab, dia langsung berinteraksi dengan Al Qur`an dan Sunnah namun masih terikat dengan metode madzhab. Yang kayak gini dah gak bertaklid.

    Justru kalau posisinya masih muqallid, namun nekad menempatkan diri sebagai murajjih atau bahkan mujtahid madzhab, atau mujtahid mutlak maka ini yang kagak sesaui dengan Al Quran dan Sunnah, karena melibatkan diri dalam perkara sedangkan ia bukan ahlinya.

  25. Bismillaah,

    Kang Naka,

    Kalau kita hanya menerima perkataan guru tentang pendapat madzhab tanpa mengetahui dalil ayat Qur’an dan hadits shahih yang digunakan sebagai sebagai dasar pendapat tersebut, bagaimana kita merasa yakin bahwa kita sudah benar-benar mengikuti Allah dan RasulNya?

    Bukankah Allah membekali pendengaran, penglihatan dan hati untuk mendengarkan, melihat dan memikirkan ayat-ayat Allah dan hadits Rasulullaah untuk mendapatkan kebenaran.

    Kalau kita hanya menerima perkataan guru tanpa mengetahui dalilnya, maka kita hanya menitipkan pendengaran, penglihatan dan hati kita kepada guru kita. Kita tidak memfungsikannya dengan maksimal karena kemalasan kita. Bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan pendengaran, penglihatan dan hati kita kepada Allah kelak?

    Bukankah para imam madzhab menyarankan kepada kita untuk mengikuti Allah dan rasulNya. Artinya, kita hendaknya mengkuti pendapat imam madzhab hingga ke dalil ayat Qur’an dan hadits yang digunakan sebagai dasar pendapat imam madzhab tersebut. Kalau tidak mengetahui dalail-dalilnya, maka tidak ada manfaatnya bermadzhab.

    Wallaahu a’lam.

  26. @ibnu suradi
    “Bukankah Allah membekali pendengaran, penglihatan dan hati untuk mendengarkan, melihat dan memikirkan ayat-ayat Allah dan hadits Rasulullaah untuk mendapatkan kebenaran.”
    Dengan demikian ente tidak perlu bermazhab, karena ente sudah bisa menafsirkan sendiri.

  27. Bismillaah,
    KangNaka,
    Kalaukitahanyamenerima perkataanguru tentangpendapat madzhabtanpamengetahui dalilayatQur’andanhadits shahihyang digunakansebagai sebagaidasar pendapattersebut, bagaimanakitamerasayakin bahwakitasudahbenar- benarmengikuti AllahdanRasulNya?

    Kita yakin, mengikuti Rasulullah karena guru kita telah menukil pendapat dalam madzhab secara valid yang telah dirajihkan dengan pertimbangan berbagai macam dalil oleh mufti murajih semisal Imam An Nawawi. Dan pemahaman Imam An Nawawi sunnah Rasulullah lebih valid daripada pemahaman kita sendiri terhadapnya, karena keilmuan beliau jauh di atas ilmu kita.

    BukankahAllahmembekalipendengaran,penglihatandanhatiuntukmendengarkan,melihatdanmemikirkanayat-ayatAllahdanhaditsRasulullaahuntukmendapatkankebenaran.

    Syarat untuk menjadi mufti tarjih dan mujtahid tidak hanya memiliki pendengaran, penglihatan serta otak untuk berfikir. Kalau demikian, semua bisa dong jadi mufti murajjih dan mujtahid. Walau faktanya dalam
    As Syafi’iyah yang sampai dalam derajad ini baru Imam An Nawawi dan Ar Rafi’i.

    Kalaukitahanyamenerimaperkataangurutanpamengetahuidalilnya,makakita
    hanyamenitipkanpendengaran,penglihatandanhatikitakepadagurukita.Kitatidakmemfungsikannyadenganmaksimalkarenakemalasankita.Bagaimanakitaakanmempertanggungjawabkanpendengaran,penglihatandanhatikitakepadaAllahkelak?

    Justru kulau belum memiliki kapasitas, namun nekad melakukannya itulah yang diminta pertanggung jawaban. Bukan mujtahid sudah berijtihad, bukan murajih sudah merajihkan pendapat yang menurut versinya sesuai dengan sunnah. Ini akan dipertanggung jawabkan….

    BukankahparaimammadzhabmenyarankankepadakitauntukmengikutiAllahdanrasulNya.Artinya,kitahendaknyamengkutipendapatimammadzhabhinggakedalilayatQur’andanhaditsyangdigunakansebagaidasarpendapatimammadzhabtersebut.Kalautidakmengetahuidalail-dalilnya,makatidakadamanfaatnyabermadzhab.

    Iya, mengikuti Al Qur`an dan Sunnah yang dipahami oleh mujtahid, bukan pemahaman sendiri. Dan Imam An Nawawi sudah menyaring pendapat mujtahid mana yang rajih dengan pertimbangan berbagai dalil. Ane amat percaya Imam An Nawawi, karena keilmuan sekaligus amalan beliau serta kehati-hatian beliau.

  28. Bismillaah,

    Kang Naka dan Kang Ucep,

    Saya tidaklah memposisikan diri saya sebagai mujtahid. Saya tidak menetapkan hukum suatu masalah dengan ayat dan hadits yang saya dapatkan. Tapi, saya hanya mengikuti pendapat Imam Madzhab hingga ke dalil-dalil yang digunakan imam madzhab sebagai dasar pendapat imam madzhab tersebut. Saya mengikuti pendapat Imam Syafii bahwa adzhan subuh yang sekali tidak menggunakan lafadz “Ashshalaatu khairumminannaum” karena Imam Syafii menggunakan dalil hadits habwa lafadz tersebut digunakan untuk adzan subuh yang pertama seperti yang termaktub dalam kitab beliau yang berjudul Al Um.

    Begitulah cara saya mengikuti pendapat imam madzhab. Saya tidak berhenti hanya pada perkataan guru: “Inilah pendapat Imam Syaffi.” Tapi saya menanyakan juga ayat dan hadits yang digunakan Imam Syafii sebagai dasar pendapatnya. Dan guru selalu menjawab pertanyaan semacam itu meski tidak seketika saya bertanya karena harus mencarinya terlebih dahulu.

    Wallaahu a’lam.

  29. Bismillaah,

    Kepada para ummatipressers,

    Selamat Iedul Adha. Taqabbalallaahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amalku dan amalmu (shalat, puasa, kurban, dll). Mohon maaf bila ada perkataan yang tidak berkenan di hati kawan-kawan semua.

    Wallaahu a’lam.

  30. @ibnu suradi
    Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS.Al Maidah : 6)

    Hadist ” Telah menceritakan kepada kami Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah Al Uwaisy berkata, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Sa’d dari Syihab bahwa ‘Atha’ bin Yazid mengabarkan kepadanya bahwa Humran mantan budan ‘Utsman mengabarkan kepadanya, bahwa ia telah melihat ‘Utsman bin ‘Affan minta untuk diambilkan bejana (berisi air). Lalu dia menuangkan pada telapak tangannya tiga kali lalu membasuh keduanya, lalu ia memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangan hingga siku tiga kali, kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kakinya tiga kali hingga kedua mata kaki. Setelah itu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa berwudlu seperti wudluku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dan tidak berbicara antara keduanya, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dan dari Ibrahim berkata, Shalih bin Kaisan berkata, Ibnu Syihab berkata. Tetapi ‘Urwah menceritakan dari Humran, Ketika ‘Utsman berwudlu, dia berkata, Maukah aku sampaikan kepada kalian sebuah hadits yang kalau bukan karena ada satu ayat tentu aku tidak akan menyampaikannya? Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang laki-laki berwudlu dengan membaguskan wudlunya kemudian mengerjakan shalat, kecuali akan diampuni (dosa) antara wudlunya dan shalatnya itu hingga selesai shalatnya. ‘Urwah berkata, Ayat yang dimaksud adalah: ‘(Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan…) (Qs. Al Baqarah : 159).

    Dari dua diatas,
    1. mane yang ente duluin ?
    2. mane yang lebih berat ente amalin?
    3. Waktu kapan ente gunain?
    Tolong ente jawab ya.

  31. Bismilaah,

    Kang Ucep,

    Ayat Al Qur’an tersebut berisi perintah Allah untuk berwudhlu dana cara wudhlu secara umum. Sedanagkan, hadits tersebut menjelaskan wudhlu secara lebih rinci.

    Pertama-kita, kita musti mengetahui perintah wudhlu. Ini ada dalam ayat Al Qur’an. Kedua, kita mengetahui bagaimana melakukan wudhlu secara rinci. Ini ada dalam hadits.

    Dalam shalat juga seperti itu. Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk shalat. Perintah tersebut ada dalam Al Qur’an. Sedangkan cara shalat ada dalam hadits.

    Wallaahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker