Berita Suriah

Madaya Kelaparan, Salah Presiden Assad atau Ahrar ash-Sham?

FAKTA PROPAGANDA KELAPARAN MADAYA: Presiden Bashar al-Assad tak mungkin membiarkan rakyatnya di kota Madaya kelaparan, sayangnya militan teroris Ahrar ash-Sham telah sejak lama berkuasa di kota Madaya …..

 

 

Islam-Institute, DAMASKUS – Gambar anak-anak yang kekurangan gizi di kota Madaya bertebaran di internet. Foto-foto itu begitu mengejutkan hingga membuat tak sampai untuk membagikannya karena hal itu adalah bukti potensi kejahatan yang ada di dalam diri manusia. Tak dapat dibayangkan bahwa penderitaan semacam itu harus dialami anak-anak tak ‘berdosa’ yang tidak memiliki pilihan atau mengatakan sesuatu soal perang.

Apa yang muncul dalam mitos bahwa ‘Assad dan pasukannya’ mengepung kota, dan bahwa dia adalah salah satu membawa penderitaan ini pada rakyatnya sendiri hanyalah upaya dari orang-orang yang sedang bekerja untuk melindungi pasukan jihad.

Australian Broadcasting Company (ABC) memberitakan bahwa Madaya telah ‘dikepung selama tujuh bulan oleh pasukan pemerintah Suriah dan milisi Hizbullah.” Meski perusahaan penyiaran itu sekilas menyebutkan bahwa Ahrar ash-Sham bersembunyi di kota berpenduduk 40.000 orang itu, namun mereka gagal untuk menyebutkan bahwa Ahrar ash-Sham adalah sekutu kunci untuk Al-Qaeda di Suriah, Jabhat Al-Nusra dan berbagi ideologi radikal yang sama.

Meski demikian, jika Ahrar ash-Sham memang menguasai kota, bagaimana mungkin hal ini bisa membenarkan kekurangan pangan dan blokade yang dipaksakan pemerintah pada Madaya? Tidak ada yang bisa membenarkan blokade tersebut. Ya! Namun, bagaimana jika saya (penulis-red) bisa menunjukkan bahwa Madaya tidak berada di bawah blokade makanan dari pemerintah, tetapi bahwa kekurangan pangan itu justru disebabkan oleh militan Ahrar ash-Sham yang mencoba memaksa tangan pemerintah Suriah untuk meringankan serangan yang menekan pada kelompok teroris yang telah terkepung itu?

Kemungkinan itu sangat nyata namun tidak mau dipertimbangkan oleh media-media propaganda semacam ABC, BBC, The Guardian dan sejenisnya yang biasanya tidak pergi secara langsung untuk melakukan pekerjaan investigasi sederhana karena akan mengancam paradigma sederhana mereka pada pemahaman Perang Suriah yang beragam dan kompleks. Tidak satupun dari media-media propaganda ini mempertimbangkan atau bahkan mungkin melihat (atau sengaja mengabaikan) rekaman yang memperlihatkan ribuan warga dari kota kecil itu memenuhi jalanan untuk menunjukkan dukungan pada pemerintah Suriah hanya sebulan sebelum berita mengerikan itu dibuat.

 Bisakah siapa pun, membuat penjelasan logis mengapa ribuan orang yang (katanya kelaparan gara-gara SAA dan Hizbullah) itu sebulan sebelumnya berdemonstrasi memenuhi jalan-jalan, meneriakkan dukungan pada hizbullah dan pemerintah, mempertaruhkan hidup mereka di depan kelompok teroris anti-pemerintah demi menampilkan kesetiaan mereka (pada SAA dan Hizbullah)? Jika hal ini tidak juga membuat yakin, mungkin kita harus mempertanyakan mengapa warga yang katanya diserang/ditekan pemerintahan yang mereka dukung, mengadukan frustrasi mereka pada militan tanpa mengucapkan/mengeluhkan satu katapun mengenai pemerintah?

Tentu saja, seperti yang terlihat dalam rekaman, seorang militan menginstruksikan pengambil video agar berhenti merekam. Nah hal itu jadi masuk akal dan sangat logis ketika penjelasannya adalah ternyata video pendek sederhana itu justru bisa merusak kebohongan (berupa tuduhan pemerintahan Assad sengaja melaparkan rakyat) yang sudah susah payah dibuat.

banner gif 160 600 b - Madaya Kelaparan, Salah Presiden Assad atau Ahrar ash-Sham?

Disamping itu, anehnya, mengapa hanya Madaya? mengapa pengepungan di Fouaa dan Kafraya di provinsi barat laut Suriah Idlib, dua kota kecil dengan penduduk yang dikelilingi oleh para teroris terdiri dari Ahrar ash-Sham, Jabhat Al-Nusra dan FSA tak mendapat perhatian walau sepatah katapun dari para media menyoal nasib, pengepungan, blokade, penderitaan, makanan dan kekurangan medis yang mereka rasakan akibat ulah teroris.

ahrar syam kepung madaya - Madaya Kelaparan, Salah Presiden Assad atau Ahrar ash-Sham?

Kembali ke Madaya, mari kita sedikit mengungkap kemunafikan dan kontradiksi, soal kelaparan ini. Gambar berikut muncul di Facebook, bahwa seseorang di Madaya pada tanggal 17 Desember, mengklaim bahwa biaya 1 pon gula atau beras mencapai sekitar 34 dolar, 1 pound tepung berharga hampir 47 dolar dan 1 pon susu bubuk berharga hingga mencapai 52 dolar.

Kenyataannya, hal ini sudah terjadi bahkan sebelum krisis menghantam dengan makin keras, dan harus diingat bahwa pemerintah Suriah tidak memiliki kontrol atas Madaya sepenuhnya. Hal ini justru menunjukkan bahwa ada jaringan pasar gelap di dalam kota. Karenanya, hal itu menunjukkan bahwa Ahrar ash-Sham telah mengambil keuntungan dari situasi ini untuk tidak hanya memaksa pemerintah agar bertindak menguntungkan mereka, tetapi juga mengeksploitasi orang-orang kota. Penduduk kota telah jelas menunjukkan hal itu melalui rekaman yang menggambarkan rasa frustrasi mereka terhadap para teroris yang menolak untuk menjawab pertanyaan kala orang-orang ini menanyakan mengapa mereka tidak memiliki makanan, sementara para militan/teroris itu punya?

Dan sebagaimana para teroris itu tidak bisa menjawab pertanyaan itu, media-media Barat, komentator, ‘ahli’ dan ‘analis’ juga tidak bisa menjelaskan pertanyaan warga itu. Celah propaganda kini terlihat jelas. Dan saat berita muncul bahwa orang-orang memasak dedaunan pohon untuk bertahan hidup, dorongan untuk mengatasi masalah ini tidak bisa menjadi lebih kritis.

Rakyat Suriah telah menderita selama 5 tahun yang panjang, dan informasi palsu mengenai kelaparan Madaya hanya akan menjadi bukti bahwa upaya-upaya kotor untuk membuat sentimen anti-Assad telah dilakukan kembali seiring kemarahan di Barat karena (upaya menebar kebohongan soal pemerintah) mengenai mitologi senjata kimia dan bom barel  terbukti bohong dan hanya merupakan bagian dari fantasi mereka belaka.

Menggunakan anak-anak yang kelaparan untuk melayani agenda intervensi telah menjadi pembenaran tersendiri mengenai betapa perang ini telah menjadi sesuatu yang menjijikkan, atau sebagaimana Dr Tim Anderson telah dengan sangat tepat memberi judul pada buku yang akan segera dirilisnya , ‘The Dirty War on Syria’.

Demi kemanusiaan, anak-anak yang kelaparan tidak seharusnya menjadi upaya untuk membenarkan intervensi.   (AL/ARN)

Ditulis berdasarkan artikel Paul Antonopoulos dari Al Masdar News.

VIDEO KOTA MADAYA

 

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker