Salafi Wahabi

Lanjutan….. Koreksi Buat Ustadz Firanda Wahabi Tentang Bid’ah Hasanah

Koreksi Buat Ustadz Firanda Wahabi Tentang Bid’ah Hasanah Syubhat Pertama. Tulisan warna merah adalah artikel ustadz Firanda. Sedangkan Warna hitam adalah penjelasan dan klarifikasi Ustadz Abu Hilya.

Silahkan klik di sini untuk membaca Koreksi sebelumnya > > > >

Firanda Wahabi Berkata : – Meninggikan kuburan dan dijadikan sebagai mesjid atau tempat ibadah Imam As-Syafi’I berkata : وأكره أن يعظم مخلوق حتى يُجعل قبره مسجداً مخافة الفتنة عليه وعلى من بعده من الناس “Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya” (Al-Muhadzdzab 1/140, Al-Majmuu’ syarhul Muhadzdzab 5/280)

Penjelasan Kami Baik Abu Ishaq As Sayrozi (shohibul Muhadzdzab) maupun Imam An Nawawi (Syarih Al Muhadzdzab) menghukumi “Makruh” sholat di kuburan (menjadikan kuburan sebagai tempat sholat). Dan Imam As Syafi’iy memakruhkan pula sholat di kuburan seseorang dalam rangka memuliakan Shohibul Maqbaroh (penghuni kubur tsb). Beliau dan para ulama Syafi’iyah tidak menganggap hal tersebut sebagai bid’ah hasanah karena memang menyelisihi hadits Nabi. Akan tetapi jika hadits dan fatwa Imam As Syafi’iy serta para ulama Syafi’iyah tsb dipergunakan untuk menyalahkan praktek yang ada disekitar kita, sungguh tidaklah tepat dengan beberapa alasan :

Pertama : Masjid yang ada di sekitar Maqbaroh orang-orang sholih di wilayah kita tidaklah dibangun dalam rangka memuliakan Shohibul Maqbaroh (penghuni kuburnya). Akan tetapi mayoritas masjid-masjid yang ada adalah masjid yang dibangun oleh Shohibul Maqbaroh (orang sholih penghuni kubur) sewaktu beliau masih hidup. Selanjutnya ketika beliau wafat dimakamkan di dekat masjid atau pesantren yang dibangunnya.

Kedua : orang-orang yang sholat di masjid tersebut, tidaklah sholat untuk memuliakan sang Wali, akan tetapi alasan tabarruk di masjid tersebut karena pernah dipergunakan oleh orang sholih untuk beribadah. Dan ini memiliki dasar hukum yang shohih dan shorih, diantaranya adalah :

Imam Al Bukhori meriwayatkan hadits dengan sanad bersambung sampai kepada Musa bin ‘Uqbah, ia berkata : رَأَيْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَتَحَرَّى أَمَاكِنَ مِنْ الطَّرِيقِ فَيُصَلِّي فِيهَا وَيُحَدِّثُ أَنَّ أَبَاهُ كَانَ يُصَلِّي فِيهَا وَأَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الْأَمْكِنَةِ  Aku pernah melihat Salim bin Abdillah, ia sedang mencari tempat-tempat di tepi jalan, kemudian dia sholat di tempat-tempat tersebut. Salim menceritakan ; bahwa ayahnya (Abdulloh Ibn Umar) pernah sholat di tempat-tempat tersebut. Dan beliau pernah melihat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sholat di tempat-tempat tersebut. (HR. Al Bukhori)

Ketika menjelaskan hadits diatas, Al Hafidh Ibnu Hajar menyampaikan hadits lain dengan tema yang sama, kemudian beliau berkata : فَهُوَ حُجَّةٌ فِي التَّبَرُّكِ بِآثَارِ الصَّالِحِيْنَ  Maka hal tersebut menjadi hujjah (dalil) Tabarruk dengan peninggalan orang-orang sholih. (Fathul Bari, vol. 1 hlm. 569)

Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits dengan sanad sampai kepada Sholih bin Dirham, ia bercerita : انْطَلَقْنَا حَاجِّينَ فَإِذَا رَجُلٌ فَقَالَ لَنَا إِلَى جَنْبِكُمْ قَرْيَةٌ يُقَالُ لَهَا الْأُبُلَّةُ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ مَنْ يَضْمَنُ لِي مِنْكُمْ أَنْ يُصَلِّيَ لِي فِي مَسْجِدِ الْعَشَّارِ رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعًا وَيَقُولَ هَذِهِ لِأَبِي هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ خَلِيلِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ مِنْ مَسْجِدِ الْعَشَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُهَدَاءَ لَا يَقُومُ مَعَ شُهَدَاءِ بَدْرٍ غَيْرُهُمْ “Kami pergi melaksanakan haji. Kebetulan kami bertemu seorang lelaki yang berkata kepadaku, “Di dekat kalian ada desa yang disebut Ubullah.” “Betul,” jawab kami. “Siapakah di antara kalian yang bisa memberi jaminan kepadaku agar aku bisa disholatkan di masjid ‘Asysyar dua atau empat roka’at ,” lanjutnya.   Sholih ibnu Dirham berkata : “Ini untuk Abu Huroiroh : Saya mendengar orang yang saya cintai, yakni Abul Qosim shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT membangkitkan dari masjid ‘Asysyar pada hari kiamat para syuhada’ yang tidak berdiri bersama para syuhada’ Badar kecuali mereka,” (HR Abu Dawud.)

As Syaikh Abuth Thoyyib penyusun kitab ‘Aunul Ma’bud syarah Sunan Abi Dawud mengatakan : bahwa masjid ‘Asysyar adalah masjid terkenal yang dimintakan berkah dengan sholat di dalamnya. (Aunul Ma’bud vol. XI hlm. 284).

Dalam Badzlul Majhud syarh Sunan Abi Dawud, Al ‘Allamah Al Kabir As Syaikh Kholil Ahmad As Saharnapuri mengatakan bahwa: وَفِي الْحَدِيْثِ دِلَالَةٌ عَلَى أَنَّ الطَّاعَاتِ الْبَدَنِيَّةَ تُوْصِلُ إِلَى الْغَيْرِ أَجْرُهَا، وَأَنَّ مَآثِرَ الْأَوْلِيَاءِ وَالْمُقَرَّبِيْنَ تُزَارُ وَيُتَبَرَّكُ بِهَا  Hadits ini menunjukkan bahwa ibadah fisik pahalanya bisa disampaikan kepada orang lain, dan bahwa peninggalan-peninggalan para wali dan orang-orang yang dekat dengan Alloh dapat diziarahi dan dimohon keberkahannya.” (Badzlul Majhud Syarah Sunan Abi Dawud, vol. XVII hlm. 225)

Ketiga : Jika pernyataan Imam As Syafi’iy diatas dipergunakan untuk melarang Tabarruk dengan berdo’a didekat kubur orang-orang sholih, juga sangat tidak tepat sebab Al Imam As Syafi’iy juga melakukannya : عَنْ عَلِي بِنْ مَيْمُوْن قَالَ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُوْلُ اِنِّي لَأَتَبَرَّكُ بِأَبِي حَنِيْفَةَ وَأَجِيْءُ إِلَى قَبْرِهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ يَعْنِي زَائِرًا فَإِذَا عَرِضَتْ لِي حَاجَةٌ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَجِئْتُ إِلَى قَبْرِهِ وَسَأَلْتُ اللهَ تَعَالَى الْحَاجَةَ عِنْدَهُ فَمَا تَبْعُدُ عَنِّي حَتَّى تُقْضَى  Dari Ali bin Maimun, ia berkata : Aku mendengar Imam As Syafi’i berkata : “Sesungguhnya saya senantiasa bertabarruk dengan Abu Hanifah. Aku senantiasa mendatangi makamnya setiap hari untuk berziyarah. Apabila aku mempunyai hajat, aku sholat dua rokaat, lalu aku datangi makamnya, selanjutnya aku meminta kepada Alloh tentang hajatku disisi kuburnya, tidak lama kemudian hajatku terkabul.” (Tarikh Baghdad, vol. 1 hal. 123)

Dari penjelasan diatas, sekali lagi kita dapati Sang Ustadz Firanda menolak “Bid’ah Hasanah” tidak dengan cara yang benar. Selanjutnya Ustadz Firanda Wahabi Berkata :

Bahkan Imam As-Syafii dikenal tidak suka jika kuburan dibangun lebih tinggi dari satu jengkal. Beliau berkata : وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُزَادَ في الْقَبْرِ تُرَابٌ من غَيْرِهِ وَلَيْسَ بِأَنْ يَكُونَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ بَأْسٌ إذَا زِيدَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ ارْتَفَعَ جِدًّا وَإِنَّمَا أُحِبُّ أَنْ يُشَخِّصَ على وَجْهِ الْأَرْضِ شِبْرًا أو نَحْوَهُ وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ… وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك “Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan diatas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan… Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun diatas kuburan, dan aku tidak melihat para fuqohaa mencela penghancuran tersebut”(Al-Umm 1/277)

Penjelasan Kami Yang kami ketahui dalam masalah menghias/membangun kuburan terjadi khilafiyah, dan pernyataan Imam As Syafi’iy di atas dalam pemahaman kami berimplikasi hukum “Khilaful Aula” (menyelisihi yang utama) dan kami pribadi lebih cenderung pada pernyataan Imam As Syafi’iy tsb, meski ada pendapat lain yang mengatakan “Laa Ba’sa” (tidak apa-apa) jika tanah kubur tersebut bukan tanah wakaf umum. Akan tetapi kami tidak habis pikir, mengapa beliau membawa masalah ini untuk menolak “Bid’ah Hasanah” ? Bukankah khilafiyah dalam masalah ini akibat perbedaan interpretasi atas dalil-dalil syari’at ? dan bagaimana tanggapan beliau tentang “Qubbatul Hadhroo’” (Pusara Mulia Rosululloh) ?…

BACA :  Fakta-fakta Tentang Siapa Wahabi

Selanjutnya Ustadz Firanda Wahabi Berkata :

– Pengkhususan Ibadah pada waktu-waktu tertentu atau cara-cara tertentu Berkata Abu Syaamah : قال الأمام الشافعي وأكره ان يتخذ الرجل صوم شهر يكمله كما يكمل رمضان وكذلك يوم من بين الأيام قال وإنما كرهته ليتأسى رجل جاهل فيظن ان ذلك واجب أو فعل حسن “Imam As-Syafi’i berkata : Aku benci seseroang berpuasa sebulan penuh sebagaimana berpuasa penuh di bulan Ramadhan, demikian juga (Aku benci) ia (mengkhususkan-pent) puasa suatu hari dari hari-hari yang lainnya. Hanyalah aku membencinya agar jangan sampai seseorang yang jahil mengikutinya dan menyangka bahwasanya perbuatan tersebut wajib atau merupakan amalan yang baik” (Al-Baa’its ‘alaa inkaar Al-Bida’ wa Al-Hawaadits hal 48) Perhatikanlah, Imam As-Syafii membenci amalan tersebut karena ada nilai pengkhususan suatu hari tertentu untuk dikhususkan puasa. Hal ini senada dengan sabda Nabi « لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ » “Janganlah kalian mengkhususkan malam jum’at dari malam-malam yang lain dengan sholat malam, dan janganlah kalian mengkhususkan hari jum’at dari hari-hari yang lain dengan puasa, kecuali pada puasa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian” (yaitu maksudnya kecuali jika bertepatan dengan puasa nadzar, atau ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau puasa qodho –lihat penjelasan Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaaj 8/19) Perhatikanlah, para pembaca yang budiman, puasa adalah ibadah yang disyari’atkan, hanya saja tatkala dikhususkan pada hari-hari tertentu tanpa dalil maka hal ini dibenci oleh Imam As-Syafi’i.

Penjelasan Kami: di sini nampaknya beliau mulai merasa aman untuk mengacak-acak pendapat Imam As Syafi’iy. Berikut penjelasannya :

Pertama : Yang dibenci Imam As Syafi’iy bukan puasanya, akan tetapi penghususannya pada waktu-waktu yang tidak ada sumber hukumnya. Jika yang beliau permasalahkan adalah puasa di bulan Rojab atau sebagian Bulan Sya’ban, maka puasa tersebut bersandar pada hadits-hadits dho’if yang penerimaannya sebagaimana telah kami jelaskan diatas. Dan juga puasa Rojab atau Sya’ban bernaung dibawah dalil-dalil umum anjuran melaksanakan kebaikan di bulan-bulan mulia, dengan syarat pelaksanaan puasanya tidak dibarengi keyakinan bahwa puasa adalah satu-satunya kebaikan yang bisa dilakukan di bulan-bulan mulia.

Kedua : Nampaknya beliau mengabaikan atau tidak menghiraukan illat (sebab) yang melatar belakangi pernyataan Imam As Syafi’iy tsb, yakni karena dikhawatirkan orang-orang awam mengikuti tanpa pengetahuan dan kemudian menganggapnya sebagai hal yang wajib atau pekerjaan yang baik. Dalam hal ini nampaknya beliau mengesampingkan Ilmu (ushul fiqih) yang telah dianugerahkan oleh Alloh padanya guna mendukung pernyataannya….

Pertanyaannya : Bagaimana jika illat (penyebab) ke-makruhannya tidak didapati ? Kami katakan : Jika hal ini disengaja maka beliau sungguh cerdik memanipulasi pernyataan para ulama guna mendukung pemahamannya… Wallohu A’lam.

Selanjutnya Ustadz Firanda Wahabi Berkata :

banner gif 160 600 b - Lanjutan..... Koreksi Buat Ustadz Firanda Wahabi Tentang Bid'ah Hasanah

Maka bagaimana jika Imam As-Syafii melihat ibadah-ibadah yang asalnya tidak disyari’atkan??! Apalagi ibadah-ibadah yang tidak disyari’atkan tersebut dikhususkan pada waktu-waktu tertentu?? Beliau juga berkata dalam kitabnya Al-Umm قال الشَّافِعِيُّ ) وَأُحِبُّ أَنْ يُخْلِصَ الْإِمَامُ الخطبه بِحَمْدِ اللَّهِ وَالصَّلَاةِ على رَسُولِهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم وَالْعِظَةِ وَالْقِرَاءَةِ وَلَا يَزِيدُ على ذلك ( قال الشَّافِعِيُّ ) أخبرنا عبد الْمَجِيدِ عن بن جُرَيْجٍ قال قُلْت لِعَطَاءٍ ما الذي أَرَى الناس يَدْعُونَ بِهِ في الْخُطْبَةِ يَوْمئِذٍ أَبَلَغَك عن النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم أو عَمَّنْ بَعْدَ النبي عليه الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قال لَا إنَّمَا أُحْدِثَ إنَّمَا كانت الْخُطْبَةُ تَذْكِيرًا ( قال الشَّافِعِيُّ ) فَإِنْ دَعَا لِأَحَدٍ بِعَيْنِهِ أو على أَحَدٍ كَرِهْته ولم تَكُنْ عليه إعَادَةٌ “Dan aku suka jika imam menyelesaikan khutbahnya dengan memuji Allah, bersholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyampaikan mau’izhoh, dan membaca qiroa’ah, dan tidak menambah lebih dari itu”. Imam As-Syafii berkata : “Telah mengabarkan kepada kami Abdul Majiid dari Ibnu Juraij berkata : Aku berkata kepada ‘Athoo : Apa sih doa yang diucapkan orang-orang tatkala khutbah hari itu?, apakah telah sampai kepadamu hal ini dari Nabi?, atau dari orang yang setelah Nabi (para sahabat-pent)?. ‘Athoo berkata : Tidak, itu hanyalah muhdats (perkara baru), dahulu khutbah itu hanyalah untuk memberi peringatan. Imam As-Syafii berkata, “Jika sang imam berdoa untuk seseorang tertentu atau kepada seseorang (siapa saja) maka aku membenci hal itu, namun tidak wajib baginya untuk mengulang khutbahnya” (Al-Umm 2/416-417) Para pembaca yang budiman, cobalah perhatikan ucapan Imam As-Syafi’i diatas, bagaimanakah hukum Imam As-Syafii terhadap orang yang menkhususkan doa kepada orang tertentu tatkala khutbah jum’at?, beliau membencinya, bahkan beliau menyebutkan riwayat dari salaf (yaitu ‘Athoo’) yang mensifati doa tertentu dalam khutbah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya dengan “Muhdats” (bid’ah). Bahkan yang dzohir dari perkataan Imam As-Syafii diatas dengan “aku benci” yaitu hukumnya haram, buktinya Imam Syafii menegaskan setelah itu bahwasanya perbuatan muhdats tersebut tidak sampai membatalkan khutbahnya sehingga tidak perlu diulang. Wallahu A’lam.

Penjelasan Kami: di sini sang Ustadz semakin berani mengacak-acak perkataan para ulama. Coba anda perhatikan sekali lagi pernyataan Imam As Syafi’iy ! “Jika sang imam berdoa untuk seseorang tertentu atau kepada seseorang (siapa saja) maka aku membenci hal itu, namun tidak wajib baginya untuk mengulang khutbahnya” Bandingkan dengan pernyataan Sang Ustadz !! Bahkan yang dzohir dari perkataan Imam As-Syafii di atas dengan “aku benci” yaitu hukumnya haram, buktinya Imam Syafii menegaskan setelah itu bahwasanya perbuatan muhdats tersebut tidak sampai membatalkan khutbahnya sehingga tidak perlu diulang.

BACA :  Di Sini Tempat Berkomentar Bagi Komentator Forum Dialog Ilmiyah AJ VS AS

Darimana pernyataan “Karihtuhu” menjadi “Haram”? dengan interpretasi akal-akalan pula….. Mengapa beliau tidak memahami pernyataan Imam As Syafi’iy tersebut berdasar pemahaman para ulama Syafi’iyah ? Lihat Muhadzdzab dan syarahnya juga dalam I’anah tentang do’a dan penghususan do’a untuk seseorang dalam khotbah…

Selanjutnya Ustadz Firanda Wahabi Berkata :

Keempat : Para imam madzhab syafiiyah telah menukil perkataan yang masyhuur dari Imam As-Syafii, yaitu perkataan beliau; مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat syari’at” (Perkataan Imam As-Syafi’i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi’i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur’aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir) Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakekatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru.

Penjelasan Kami Lagi-lagi para penolak “Bid’ah Hasanah” mencoba membenturkannya dengan “Istihsan” yang di tolak Imam As Syafi’iy dan para Ulama syafi’iyyah. Sekali lagi kami katakan : “Ini adalah kebodohan dan pembodohan”…

Selanjutnya Ustadz Firanda Wahabi Berkata :

Kesimpulan : Pertama : Ternyata banyak ulama yang menyebutkan mashlahah mursalah dengan istilah bid’ah hasanah. Karena memang dari sisi bahasa bahwasanya perkara-perkara yang merupakan mashlahah mursalah sama dengan perkara-perkara bid’ah dari sisi keduanya sama-sama tidak terdapat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya semua sepakat bahwa ilmu jarah wa ta’dil hukumnya adalah wajib, demikian juga mempelajari ilmu nahwu, namun sebagian mereka menamakannya bid’ah hasanah atau bid’ah yang wajib (sebagaimana Al-Izz bin Abdissalam) dan sebagian yang lain menamakannya maslahah mursalah (sebagaimana Imam As-Syathibi dalam kitabnya Al-I’tishoom). Demikian juga semuanya sepakat bahwa membangun madrasah-madrasah agama hukumnya adalah mandub (dianjurkan) namun sebagian mereka menamakannya bid’ah hasanah (bid’ah mandubah) dan sebagian yang lain menamakannya maslahah mursalah. Meskipun terjadi khilaf diantara mereka tentang hukum permasalahan tertentu maka hal itu adalah khilaf dalam penerapan saja yang khusus berkaitan dengan permasalahan itu saja yang khilaf itu kembali dalam memahami dalil-dalil yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, khilaf mereka bukan pada asal (pokok kaidah) tentang pencelaan terhadap bid’ah dan pengingkarannya.

Penjelasan Kami Tentang Bid’ah Hasanah dan Al Masholihul Mursalah telah kami sampaikan singkat di atas berikut perbedaan dan persamaannya.

Selanjutnya Ustadz Firanda Wahabi Berkata :

Namun bagaimanapun lebih baik kita meninggalkan istilah klasifikasi bid’ah menjadi bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah karena dua sebab berikut a. Beradab dengan sabda Nabi, karena bagaimana pantas bagi kita jika kita telah mendengarkan sabda Nabi ((semua bid’ah itu sesat)) lantas kita mengatakan ((tidak semua bid’ah itu sesat, tapi hanya sebagian bid’ah saja))

Sanggahan Kami: Sabda Nabi saw tidaklah berdiri sendiri-sendiri, akan tetapi satu dan yang lain ada yang berfungsi sebagai Pen-Takhsis, Nasikh, Mubayyan dst…. sehingga banyak para ulama yang memahami sabda Nabi “Kullu Bid’atin” bersifat “’Am Makhsus” (Umum yang dibatasi). Adakah sang Ustadz menuduh para ulama seperti Imam An Nawawi, Ibnu Hajar Al ‘Asqolani, Badruddin Al ‘Ain dan yang lain tidak beradab ? Subhanalloh, Nahnu Buroo’un min dzalik….

Selanjutnya Ustadz Firanda Wahabi Berkata :

b. Pengklasifikasian seperti ini terkadang dijadikan tameng oleh sebagian orang untuk melegalisasikan sebagian bid’ah (padahal para imam yang berpendapat dengan pengkasifikasian bid’ah mereka berlepas diri dari hal ini), yang hal ini mengakibatkan terancunya antara sunnah dan bid’ah

Sanggahan Kami Kerancuan itu akibat sang ustadz salah dalam menginterpretasikan “Bid’ah Hasanah” bukan dalam konsep dan batasan “Bid’ah Hasanah”

Selanjutnya Ustadz Firanda Wahabi Berkata :

Kedua : Para ulama yang dituduh mendukung bid’ah hasanah (seperti Imam As-Syafii dan Imam Al-Izz bin Abdis Salaam As-Syafi’i) ternyata justru membantah bid’ah-bid’ah yang tersebar di masyarakat yang dinamakan dengan bid’ah hasanah.

Sanggahan Kami Pernyataan dianggap gugur, karena semua diatas yang beliau ajukan adalah mengada-ada, sebagaimana telah kami jelaskan.

Selanjutnya Ustadz Firanda Berkata :

Ketiga : Imam As-Syafii dan Imam Al-Izz bin Abdis Salaam yang juga bermadzhab syafiiyah yang dituduh mendukung bid’ah hasanah ternyata tidak mendukung bid’ah-bid’ah hasanah yang sering dilakukan oleh orang-orang yang mengaku bermadzhab syafi’i. Oleh karenanya saya meminta kepada orang-orang yang melakukan bid’ah -dan berdalil dengan perkataan Imam As-Syafii atau perkataan Al-Izz bin Abdisalaam- agar mereka memberikan satu contoh atau dua contoh saja bid’ah hasanah yang dipraktekan oleh kedua imam ini !!???

Sanggahan Kami Contoh Bid’ah dari Imam As Syafi’iy telah kami sampaikan di atas (tentang tabarruk)

BACA :  Masuk Neraka Gara-gara Maulid Nabi Muhammad Saw ?

Selanjutnya Ustadz Firanda Wahabi Berkata :

Sebagai tambahan penjelasan, berikut ini penulis menyampaikan perbedaan antara bid’ah hasanah dengan maslahah mursalah : Maslahah mursalah harus memenuhi beberapa kriteria yaitu 1 Maslahah mursalah sesuai dengan maqosid syari’ah yaitu tidak bertentangan dengan salah satu usul dari usul-usul syari’ah maupun dalil dari dalil-dalil syar’i, berbeda dengan bid’ah 2 Maslahah mursalah hanyalah berkaitan dengan perkara-perkara yang bisa dipikirkan kemaslahatannya dengan akal (karena sesuatu yang bisa diketahui memiliki maslahah yang rajihah atau tidak adalah seauatu yang bisa dipikirkan dan dipandang dengan akal), artinya jika maslahah mursalah dipaparkan kepada akal-akal manusia maka akan diterima Oleh karena itu maslahah mursalah tidaklah berkaitan dengan perkara-perkara peribadatan karena perkara-perkara peribadatan merupakan perkara yang tidak dicerna oleh akal dengan secara pasti (jelas) dan secara terperinci (hanyalah mungkin diketahui hikmah-hikmahnya), seperti wudhu, tayammum, sholat, haji, puasa, dan ibadaah-ibadah yang lainnya. Contohnya thoharoh (tata cara bersuci) dengan berbagai macamnya yang dimana setiap macamnya berkaitan khusus dengan peribadatan yang mungkin tidak sesuai dengan pemikiran. contohnya keluarnya air kencing dan kotoran yang merupakan najis maka penyuciannya tidak hanya cukup dengan membersihkan tempat keluar kedua benda tersebut namun harus juga dengan berwudhu (meskipun anggota tubuh untuk berwudhu dalam keadaan bersih dan suci), kenapa demikian ??, sebaliknya jika anggota tubuh untuk berwudhu kotor namun tanpa disertai hadats maka tidak wajib untuk berwudhu, kenapa demikian?? kita tidak bisa mencernanya secara terperinci. Demikian juga halnya dengan tayammum, tanah yang sifatnya mengotori bisa menggantikan posisi air (yang sifatnya membersihkan) tatkala tidak ada air, kenapa demikan??, tidak bisa kita cerna dengan jelas, pasti dan terperinci. Demikan juga ibadah-ibadah yang lainnya seperti sholat dan haji terlalu banyak perkara-perkara yang tidak bisa kita cernai. Contohnya tentang tata cara sholat, jumlah rakaat, waktu-waktu sholat, hal-hal yang dilarang tatkala berihrom, dan lain sebagainya. Sungguh benar perkataan Ali لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لكان أَسفَلُ الخُفِّ أولى بالمسحِ من أعلاه ((Kalau memang agama dengan akal tentu yang lebih layak untuk di usap adalah bagian bawah khuf dari pada mengusap bagian atasnya)).

Sanggahan Kami Sang Ustadz semakin nglantur… Bagaimana Thoharoh dibawa ke dalam wilayah Masholih Al Mursalah …?

Selanjutnya Ustadz Firanda Wahabi Berkata :

3 Maslahah mursalah kembali pada salah satu dari dua perkara dibawah ini a. Bab wasilah (perantara) bukan tujuan, dan termasuk dalam kaidah مَا لاَ يَتِمُّ الوَلجبُ إلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجب ((sesuatu yang wajib jika tidak bisa sempurna pelaksanaannya kecuali dengan perkara yang lain maka perkara tersebut juga hukumnya wajib)), hal ini jika maslahah mursalah dalam rangka penyempurnaan pelaksaan salah satu dari dhoruriaat dalam agama. Contohnya seperti pengumpulan Al-Qur’aan, pemberian harokat pada Al-Qur’aan, mempelajari ilmu nahwu, mempelajari ilmu jarh wa ta’diil, yang semua ini merupakan perkara-perkara yang tidak ada di zman Nabi hanya saja merupakan maslahah mursalah b. Bab takhfif (peringanan), hal ini jika maslahah mursalah dalam rangka menolak kesulitan yang selalu melazimi. Jika demikian maka kita mengetahui bahwa bid’ah berbeda bahkan bertentangan dengan maslahah mursalah, karena obyek dari maslahah mursalah adalah perkara yang bisa dicerna dan ditangkap dengan akal secara terperinci seperti perkara-perkara adat, berbeda dengan perkara-perkara ibadat, oleh karena peribadatan sama sekali bukanlah obyek dari maslahah mursalah. Adapun bid’ah adalah sebalikinya yang menjadi obyeknya adalah peribadatan. Oleh karena itu tidak butuh untuk mengadakan peribadatan-peribadatan yang baru karena tidak bisa dicerna secara terperinci berbeda dengan perkara-perkara adat yang berkaitan tata cara kehidupan maka tidak mengapa diadakannya perkara-perkara yang baru. Para ulama telah menjelaskan bahwa asal hukum dalam peribadatan adalah haram hingga ada dalil yang menunjukan akan keabsahannya, berbeda dengan perkara-perkara adat asal hukumnya adalah boleh hingga ada dalil yang mengharamkannya. Demikian juga perkara-perkara bid’ah biasanya maksudnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah karena pelakunya tidak puas dengan syariat yang dibawa oleh Nabi, maka ia bukanlah termasuk maslahah mursalah karena di antara tujuan dari maslahah mursalah adalah untuk peringanan.

Sanggahan Kami Sudah tahu antara “Bid’ah Hasanah” dan “Al Masholihul Mursalah” berbeda, kenapa dicampur aduk ? Nampaknya beliau kebingungan dengan konsep bid’ahnya. Di atas beliau mengisyaratkan Bid’ah hasanah versi Imam Syafi’iy adalah Al Mashlahah Al Mursalah versi Imam As Syathibi, sekarang mengatakan beda…..

Pada akhir-akhir paparan beliau kita dapati pengaburan perbedaan antara Ibadah Mahdho Muqoyyad (Ibadah murni yang tata cara pelaksanaannya terikat) seperti wudhu, sholat dll, kabur dan membaur dengan Ibadah/Qurbah Muthlaq/Ghoiru Muqoyyad (Ibadah/Kebaikan yang tidak diatur teknis pelaksanaannya, baik jumlah, waktu dst) seperti membaca al qur’an, baca sholawat, shodaqoh dst….

Selanjutnya Ustadz Firanda Wahabi Berkata :

Dan perbedaan yang paling jelas bahwasanya masalahah mursalah adalah wasilah untuk bisa melaksanakan seeuatu perkara dan bukan tujuan utama, berbeda dengan bid’ah.

Penjelasan Kami Hukum Wasilah mengikuti tujuan adalah kaedah Am, dan amaliyah yang masuk kategori tujuan baik masuk kategori “Bid’ah Hasanah” versi Syafi’iyyah… (tentunya sepanjang tidak menyelisihi Al qur’an, as Sunnah, Atsar atau Ijma’)   Bersambung… Insya Alloh….

Oleh:  Abu hilya

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

13 thoughts on “Lanjutan….. Koreksi Buat Ustadz Firanda Wahabi Tentang Bid’ah Hasanah”

  1. ahsantum ustadz Abu hilya , ustadz firanda merasa lebih beradab ketimbang para Ulama yang membagi Bid`ah , sungguh terlalu…….

    1. Bismillah,

      Ustadz @Ahmad Syahid, Du’aukum ustadz, dan jangan lupa beri koreksi jika terdapat kesalahan atau kekurangan tulisan ana… maklum ana cuma tamatan madrasah ibtidaiyah kampung…. Jazaakalloh wa A’aanallohu wa Iyyakum Bitaufiqihi Wamtinaanihi…

  2. Sselain membisu untuk artikel ini, wahabinya ngumpet di balik pohon Gorkot.

    Matur nuwun atas penjelasannya ustadz abu hilya. Firanda pasti semakin bingung, dan makin terkesima dg kemampuan antum dalam menjelaskan atas kekeliruannya, maklum dia kan hanya bawa Copasan dari para muthowe’ Wahabi dari Najd.

  3. Kira2 ke depannya uistadz Firanda itu bisa ketemu Hidayah Allah apa nggak ya, kok berani sekali dia memfitnah para Ulama Iamm mazhab semacam Imam Syafi’i?

    Kalau melihat track recordnya selama ini… benar2 kasihan dia jadi tukang fitnah Ulama.

  4. @Yth Ustadz Firanda
    Melalui surat ini saya mohon kepada Ustadz untuk dapat kiranya BERDAKWAH secara sportif seperti yang dicontoh oleh Rasulullah dan para Salaf Soleh. Janganlah membohongi orang awam seperti kami dengan cara memanipulasi perkataan para Imam, karena kami sangat awam terhadap kitab-kitab ulama.
    Kebiasaan Ustadz berbohong, kemungkinan besar akan ditiru oleh para penganut Wahabi. Di sini banyak para Wahabi mengarang-ngarang cerita dusta untuk mengelabui kaum awam. Sebagai contoh, kami sampaikan di bawah ini komentar dari seorang dengan menggunakan beberapa nama dan terkenal dengan cerita-cerita bohongnya. Mohon diperhatikan, karena boleh jadi dia adalah korban yang TAKLIQ BUTA pada Ustadz dan meniru Ustadz :


    Lau Kaana Khoiron Lasabaquuna ilaihi says:
    January 14, 2013 at 9:41 am
    Luna Hidayat, enggak usah khawatir…. bulan lalu waktu kajian di masjid Attiin, yg jadi penanggung jawabnya jendral bintang dua dan pelindungnya jendral bintang empat (purn). Perwira-perwira aktif juga banyak yg ikut kajian ya AL ..ya AD..ya .AU, Police-nya juga ada. Di Kajian selasa pagi aja diantara yg hadir ada yg jendral bintang dua.
    Kajian kaum salaf itu juga sering gelar di masjid2 Polda lho, bahkan saya pernah hadir di kajian di PTIK. Nah, kl sholat jum’at di Ma’had salafi, ada beberapa jama’ahnya masih pake seragam militer lho.


    Bagus Fadhilah says:
    January 6, 2013 at 4:28 pm
    Supaya enggak sesat, ikut kaum salaf aja mas, (tiga generasi terbaik umat ini)

    Bagus Fadhilah says:
    January 11, 2013 at 7:30 am
    Oom Ucep, emang salaf ada banyak ya? Yang bagus tahu cuma satu, yang kayak ayah Bagus.

    ibn abdul chair says:
    December 25, 2012 at 7:09 pm
    Al faqir, yang bilang sy syirik itu si ucep. Dia enggak kenal sy sama sekali kecuali di blog ini.

    Lau Kaana Khoiron Lasabaquuna ilaihi says:
    January 14, 2013 at 11:43 am
    Agung : bahwa di antara kesesatan Ibn Taimiyah mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy, dan secara hakekat Dia berada dan bertempat di atasnya, juga mengatakan bahwa sifat Kalam Allah berupa huruf dan suara
    Bandingkan dengan seorg Ulama Salaf, beliau adalah murid dari Al Imam Asy syafi’i rahimahullah dan Guru dari Al Imam Al Bukhori rahimahullah.
    Imam Al-Humaidi (wafat tahun 219 H)
    Beliau adalah Abu Bakar, Abdullah bin Zubair bin Isa bin Usamah Al-Qurasyi Al-Asadi Al-Humaidi Al-Makki. Beliau termasuk ulama besar, al-hafizh, al-faqih.
    Guru dan Murid Imam Al-Humaidi ……….

    Bagus Fadhilah says:
    January 14, 2013 at 11:46 am
    Imam Al-Humaidi (wafat tahun 219 H)
    Beliau adalah Abu Bakar, Abdullah bin Zubair bin Isa bin Usamah Al-Qurasyi Al-Asadi Al-Humaidi Al-Makki. Beliau termasuk ulama besar, al-hafizh, al-faqih.
    Guru dan Murid Imam Al-Humaidi

    Maaf, avitarnya tidak nampak. Kalau tidak percaya, mohon bantuan Ustadz Umati untuk menjelaskannya.
    Terima kasih dan atas tanggapan Ustadz Firanda, kami ucapkan terima kasih.

    1. biar aja mas….nanti dia sendiri yang ikut nanggung dosa orang2 yang telah dia tipu dan sesatkan….:mrgreen:

      tapi yang saya bingung, apa si firanda gak sadar ya?

  5. Kesimpulannya adalah, jika ada yg menentang adanya Bid’ah Hasanah itu berarti mereka menentang Imam Syafi’i dan Sahabat Umar bi Khottob , dimana penentangan tsb diatas-namakan Sunnah. Itulah Fitnah Wahabi…. sadarlah wahai umat Islam janganlah tenggelam dalam kubangan fitnah Wahabi, cari info2 yg datang dari berbagai informasi dan gunakan nalar yg sehat, demikian saran saya.

    Kalau ustadz Firanda sih dapat bayaran, kalau pengikut dapat apa selain tertipu?

  6. sebenarnya saya sebagai pemula juga geli membaca bantahan antum ke ust firanda,saya rasa kalau hujjahnya cuma itu untuk mambantah artikel beliau sudah pasti antum mungkin tidak di layani.habis sesuatu yang sudah jelas masih di puter puter kesana kemari,akhirnya bingung sendiri dan nyallahin orang lain deh…teru terang kalau antum mau membaca artikel mata rantai ulama ahlu sunnah wal jamaah pasti antum langsung ngerti….tp yang namanya juga taklid buta sudah pasti hati tertutup manarima kebenaran……

    1. pisang ijo, kalau masih pemula ya pantas, lha koment mu aja juga sdh menunjukkan kalau antum pemula.

      Saya test, tolong jawab ya? Dari artikel di atas, mana tulisa firanda yg sedang dikoreksi? he he he… he he he… pertanyaan yg gampang untuk dijawab kan?

      kalau bisa jawab pertanyaan saya ini, kamu akan saya naikkan tingkat menjadi pemula lanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker