Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Fikih Sunnah

Masalah Bid’ah oleh Ulama Ahlussunnah Waljama’ah

Menolak pembagian Bid’ah pada Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah, maka itu berarti mereka menolak dan menyalahkan ulama’ besar seperti al-Imam asy-Syafi’i, Al Hafid Ibnu Hajar, al-Imam a-Nawawi dan Salafus-shalih lainnya.

Kupas Tuntas Masalah Bid’ah oleh Ulama Ahlussunnah Waljama’ah. Penjelasan hadits-hadits tentang masalah bid’ah secara komprehensif. Dengan penjelasan yang cukup panjang ini semoga bisa memberikan pemahaman yang benar terkait permasalah bid’ah. Sehingga kita tidak mudah terombang-ambing oleh pemahaman menyimpang terkait masalah bid’ah. Para Ulama terpercaya adalah tempat kita mengambil ilmu.

Ketika sebagian orang menolak pembagian Bid’ah pada Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah, maka itu berarti mereka menolak dan menyalahkan ulama’ besar seperti al-Imam asy-Syafi’i, Al Hafid Ibnu Hajar, al-Imam a-Nawawi dan Salafus-shalih lainnya. Seolah-olah Ulama besar itu hanya berpendapat berdasarkan hawa nafsu dan mengesampingkan al-Qur’an dan Hadits.

Penah terjadi dialog menarik. Berikut kami kutip sebagian dialog tersebut dengan tanda “W” untuk wakil Wahabi dan “K” untuk wakil kami.

W : Kami tidak menjelaskan pendapat kami berdasarkan pikiran kami, tetapi berdasarkan ulama’ salaf juga.

K : Ulama’ salaf yang mana yang Anda maksudkan ?

W : Ulama’ semisal Ibnu Taimiyah.

K: Bukankah telah jelas dalam pembahasan yang lalu, bahwa definisi Bid’ah semisal Ibnu Taimiyah masih perlu penjelasan lebih lanjut? Dan kemudian diperjelas oleh definisi yang dikemukakan oleh As-Syafi’i?

W : Saya rasa definisi dari Ibnu Taimiyah sudah jelas, tidak perlu penjelasan tambahan.

K : Berarti Anda menafikan adanya bid’ah yang baik. Kalau demikian, apa pendapat Anda tentang hal-hal baru seperti mush-haf al-Qur’an, pembukuan Hadits, fasilitas Haji, Sekolah dan Universitas Islam, Murattal dalam kaset dan sebagainya yang tidak ada di zaman Nabi?

W : Itu bukan bid’ah.

K : Lantas di sebut apa? Apakah hanya akan didiamkan setiap hal-hal baru tanpa ada status hukum dari agama (boleh tidaknya). Ini berarti Anda menganggap Islam itu jumud dan ketinggalan zaman.

W : (Diam)…. Baiklah, tetapi kami memiliki ulama’ yang memiliki penjelasan tidak seperti apa yang Anda jelaskan, ulama’ kami membagi Bid’ah menjadi dua ; Bid’ah agama dan Bid’ah Dunia.

K : Nah, memang seharusnya demikian. Lantas, siapa yang membagi bid’ah menjadi demikian?

W : Ulama’ semisal Albani dan Bin Baz. Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW, “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian.”

K: Hadits tersebut bukan hanya ulama Anda yang mengetahui. Ulama’ salaf telah mengetahui Hadits tersebut, namun mereka tidak menyimpulkan demikian, karena itu berarti seakan-akan Nabi ‘mempersilahkan’ manusia untuk berkreasi dalam urusan dunia sesuka hati, dan Nabi ‘mengaku’ tidak banyak tahu urusan dunia. Baiklah, tidak usah kita berbicara terlalu jauh. Ketika ternyata Anda juga berdalih dengan pendapat ulama Anda, berarti kita sama-sama bersandar pada ulama. Sebuah pertanyaan buat Anda: Apakah Anda lebih percaya pada ulama Anda daripada ulama salaf yang hidup di zaman yang lebih dekat kepada zaman Nabi SAW? Apakah Anda mengira bahwa As-Syafi’i salah mendefinisikan Bid’ah -yang merupakan pokok agama maha penting- kemudian didiamkan saja oleh ulama salaf lainnya tanpa bantahan? Apakah Anda mengira Albani lebih banyak memahami Hadits dari Imam Syafi’i, Ibnu Hajar dan an-Nawawi?

W : Terdiam tidak menjawab.

K : Kami rasa tidak mungkin ulama Anda, seperti Ibnu Taimiyah, Albani dan Bin Baz sampai merasa lebih benar dari asy-Syafi’i, an-Nawawi, Ibnu Hajar, Al-Baihaqi dan ulama salaf lainnya. Mungkin ulama Anda hanya sekedar memiliki pemikiran berbeda, sebagaimana lazimnya ulama berbeda pendapat tanpa menyalahkan pendapat lain. Kami rasa Anda saja yang berlebihan dan kemudian menyalahkan ulama salaf demi membela pendapat ulama Anda. Kalau benar demikian, maka berarti Anda justru telah menistakan ulama Anda sendiri.

******

Orang yang gemar melontarkan kata bid’ah biasanya akan berkata: “Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya. Begitu juga para sahabatnya, tidak ada satupun diantara mereka yang mengerjakannya. Demikian pula para tabi’in dan tabi’it-tabi’in. Dan kalau sekiranya amalan itu baik, tentu mereka akan mendahului kita.”

Mereka juga berkata: “Kita kaum muslimin diperintahkan untuk mengikuti Nabi, yakni mengikuti segala perbuatan Nabi. Semua yang tidak pernah beliau lakukan, kenapa justru kita yang melakukannya? Bukankah kita harus menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW, para sahabat dan ulama-ulama salaf? Melakukan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi adalah Bid’ah”.

Kaidah-kaidah seperti itulah yang sering mereka jadikan pegangan dan mereka pakai sebagai perlindungan, juga sering mereka jadikan sebagai dalil dan hujjah untuk melegitimasi tuduhan Bid’ah terhadap semua amalan baru. Mereka menganggap setiap hal baru -meskipun ada maslahatnya dalam agama- sebagai Sesat, haram, munkar, syirik dan sebagainya’, tanpa mau mengembalikannya kepada kaidah-kaidah atau melakukan penelitian terhadap hukum-hukum pokok (dasar) agama.

Ucapan seperti diatas adalah ucapan yang awalnya haq namun akhirnya batil, atau awalnya shahih namun akhirnya fasid (rusak). Pernyataan bahwa Nabi SAW atau para sahabat tidak melakukan si anu adalah benar. Akan tetapi pernyataan bahwa semua yang tidak dilakukan oleh Nabi dan sahabat itu sesat adalah sebuah Istimbath (penyimpulan hukum) yang keliru.

Karena tidak-melakukan-nya Nabi SAW atau salafus shalih bukanlah dalil keharaman amalan tersebut. Untuk ‘mengecap’ sebuah amalan boleh atau tidak itu membutuhkan perangkat dalil dan sejumlah kaidah yang tidak sedikit.

Kaidah mereka yang menyatakan bahwa setiap amalan yang tidak dikerjakan Nabi dan sahabat adalah Bid’ah hanya berdalih dengan Hadits-hadits bid’ah dalam pengertian zhahir, tanpa merujuk pada penjelasan yang mendalam dari ulama salaf.

Al-Imam Ibnu Hajar berkata: “Hadits-hadits shahih mengenai suatu persoalan harus dihubungkan antara satu dengan yang lain, untuk dapat diketahui dengan jelas tentang pengertiannya yang mutlak (lepas) dan yang muqayyad (terikat). Dengan demikian maka semua yang diisyaratkan oleh Hadits-hadits itu dapat dilaksanakan (dengan benar).”

Ketika kita mengemukakan pendapat ulama, sebagian orang membantah dengan penyataan bahwa Hadits lebih utama untuk diikuti dari pendapat siapapun. Itu berarti ia mengira bahwa pendapat ulama itu tidak berdasarkan al-Qur’an atau Hadits, melainkan berdasarkan akal atau hawa nafsu. Maka takutlah kepada Allah dan janganlah bersu’uzhon pada ulama shaleh.

Baiklah, mari kita telaah Hadits-hadits terkait dengan pembahasan ini, kita lihat saja apakah mereka berpendapat berdasarkan Hadits sedangkan ulama shaleh itu hanya berpendapat dengan akal atau hawa nafsu.

A. HADITS PERTAMA TENTANG BID’AH

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة
“Setiap yang diada-adakan (muhdatsah) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat’. (HR.Abu Daud dan Tirmidzi).

Al-Imam An-Nawawi, didalam Syarah Sahih Muslim, mengomentari Hadits ini dan berkata: “Ini adalah sebuah kaidah umum yang membawa maksud khusus (‘Ammun makhsus). Apa yang dimaksudkan dengan ‘perkara yang baru’ adalah yang bertentangan dengan Syari‘at. Itu dan itu saja yang dimaksudkan dengan Bid‘ah”.[8]

Demikian juga ayat Allah juga menjelaskan, ada bid’ah yang terpuji, sebagaimana firman-Nya :

وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاء رِضْوَانِ اللهِ

“Dan kami jadikan di hati mereka (Hawariyyun pengikut Isa) rasa kasih dan sayang serta Rahbaniyah yang mereka buat, Kami tidak mewajibkan rahbaniyah itu, (mereka tidak melakukan itu) kecuali untuk mencari keridhaan Allah”. (QS. Al-Hadid : 27)

Berkatalah KH. Ali Badri Azmatkhan:
Dalam ayat itu Allah menjelaskan bahwa Ia telah mengkaruniai Hawariyyun dengan tiga perkata. Pertama, rasa kasih, yakni berhati lembut sehingga tidak mudah emosi. Kedua, rasa sayang, yakni mudah tergerak untuk membantu orang lain. Ketiga, Rahbaniyah, yakni bersungguh-sungguh didalam mengharap ridha Allah, mereka berupaya dengan banyak cara untuk menyenangkan Allah, walaupun cara itu tidak diwajibkan oleh Allah.

Allah SWT memang menyebut Rahbaniyah itu sebagai Bid’ah yang dibuat oleh Hawariyun, itu bisa dipahami dari kalimat ibtada’uuhaa (mereka mengada-adakannya). Namun Bid’ah yang dimaksud adalah Bid’ah Hasanah. Hal ini ditunjang dengan dua alasan:

Pertama, Rahbaniyah disebut dalam rentetan amal baik menyusul dua amal baik sebelumnya, yaitu ra’fatan (rasa kasih) dan rahmatan (rasa sayang). Kalau memang Allah mau bercerita tentang keburukan mereka akibat membuat Rahbaniyah, tentu susunan kalimatnya akan memisahkan antara kasih sayang dan Rahbaniyah. Sedangkan kalimat dalam ayat itu justru menggabungkan Rahbaniyah dengan kasih sayang sebagai karunia yang Allah berikan pada Hawariyun.

Kedua, Allah SWT berkata “Rahbaniyah itu tidak Kami wajibkan”. Tidak diwajibkan bukan berarti dilarang, melainkan bisa jadi hanya dianjurkan atau dinilai baik. Ini mengisyaratkan bahwa Rahbaniyah itu adalah cara atau bentuk amalan yang tidak diperintah atau dicontohkan oleh Nabi Isa, akan tetapi memiliki nilai baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Isa. Bukti bahwa Allah SWT membenarkan Bid’ah mereka berupa Rahbaniyah adalah Allah SWT mencela mereka karena mereka kemudian meninggalkan Rahbaniyah itu. Ketika membuat Rahbaniyah menunjukkan upaya mereka untuk mendapat ridha Allah, maka meninggalkan Rahbaniyah menunjukkan kemerosotan upaya mereka untuk mendapat ridha Allah.[9]

Sebagian orang berkata: Ketika Nabi SAW berkata ‘semua bid’ah adalah sesat’, bagaimana mungkin ada orang yang berkata ‘tidak, tidak semua bid’ah sesat, tetapi ada yang baik’. Apakah ia merasa lebih tahu dari Rasulullah? Apakah ia tidak membaca ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَتَرْفَعُوْا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi..” (Al-Hujarat : 2)

Mereka menyalahkan orang yang bersandar pada pendapat ulama salaf dan menganggap orang itu lebih mengutamakan ulama daripada Nabi. Hal ini merupakan pemikiran yang sempit dan termasuk penistaan terhadap kaum muslimin. Ada berapa juta muslimin shaleh yang meyakini keilmuan dan ketaqwaan al-Imam asy-Syafi’i sang penolong Sunnah (Nashirus-sunnah), Ibnu Hajar sang pakar yang hafal puluhan ribu Hadits beserta sanadnya, an-Nawawi sang penghasil puluhan ribu lembar tulisan ilmiah dan sebagainya?

Sejarah bahkan mencatat bahwa islamisasi di belahan dunia dilakukan oleh ulama yang sependapat dengan mereka, termasuk Walisongo yang menyebarkan Islam di Nusantara. Tiba-tiba mereka dihujat oleh orang yang belajar dan pengabdiannya bahkan tidak melebihi seperempat yang dimiliki ulama salaf itu. Sungguh mereka tidak memiliki rasa hormat pada para pejuang Islam. Seandainya mereka tahu seberapa besar peranan para pejuang itu dalam perkembangan dunia Islam, jangankan para pejuang itu hanya berbeda pendapat, seandainya jelas salah pun mereka tidak pantas dihujat, karena kita yakin mereka tidak sengaja bersalah. Apalagi pendapat mereka bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kalimat “Kullu” Tidak Berarti Semua Tanpa Kecuali

Dalam bahasa Arab, Kulluh berarti semua. Namun dalam penggunaan, tidak semua kullu berarti semua tanpa kecuali. Ada banyak ayat al-Qur’an yang menggunakan kalimat “kullu” akan tetapi tidak bermaksud semua tanpa kecuali. Diantaranya:

1. Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوْا بِمَا أُوْتُوْا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُوْنَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan pintu-pintu dari segala sesuatu untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. al-An’am : 44)

Meskipun Allah SWT menyatakan abwaba kulli syai’ (pintu-pintu segala sesuatu), akan tetapi tetap ada pengecualiannya, yaitu pintu rahmat, hidayah dan ketenangan jiwa yang tidak pernah dibukakan untuk orang-orang kafir itu. Kalimat “kulli syai” (segala sesuatu) adalah umum, tetapi kalimat itu bermakna khusus.

2. Allah SWT berfirman:

أَمَّا السَّفِيْنَةُ لِمَسَاكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيْبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُدُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْباً

“Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, aku bermaksud merusak perahu itu, karena di hadapan mereka ada seorang Raja yang mengambil semua perahu dengan paksa.” (QS. al-Kahfi : 79)

Meskipun Allah SWT mengunakan kalimat kulla ssafinatin (semua perahu), akan tetapi tetap ada pengecualiannya, yaitu perahu yang bocor, karena Raja yang diceritakan dalam ayat itu tidak merampas kapal yang bocor, bahkan Nabi Khidhir sengaja membocorkan perahu itu agar tidak dirampas oleh Raja.

3. Allah berfirman :

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوْا لاَ يُرَى إِلاَّ مَسَاكِنُهُمْ كَذلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِيْنَ

“Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa.” (??QS. Al-Ahqaf : 25)

Meskipun Allah SWT menyatakan kulla syai’ (segala sesuatu), akan tetapi tetap ada pengecualiannya, yaitu gunung-gunung, langit dan bumi yang tidak ikut hancur.

Allah berfirman :
إِنِّيْ وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ

“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (QS. An-Naml:23)

Meskipun Allah SWT menyatakan kulli syai’ (segala sesuatu), akan tetapi tetap ada pengecualiannya, karena Ratu Balqis tidak diberi segala sesuatu tak terkecuali, sebanyak apapun kekayaan Balqis tetap saja terbatas.

Ayat-ayat diatas membuktikan bahwa, dalam konteks al-Qur’an, kalimat “kullu” juga bisa berarti “semua dengan pengecualian”, sebagaimana lazimnya dalam penggunaan bahasa Arab dan bahasa lainnya. Masihkah Ada yang menyalahkan ulama salaf semisal asy-Syafi’i karena menafsirkan kalimat “kullu” dalam Hadits “Kullu bid’atin” dengan metode berfikir yang jernih dan ditunjang dengan perangkat pendukung dan dalil-dalil yang jelas.

BACA JUGA:  Doa Qunut, Hadits Shahih Doa Qunut & Hukum Membaca Doa Qunut

Selain itu, banyak pula ungkapan dalam al-Qur’an atau Hadits yang sepintas nampak bermakna umum namun sebenarnya bermakna khusus. Perlu dipahami bahwa hal ini adalah bisa dalam penggunaan bahasa pada umumnya, sehingga kita tidak boleh kaku karena terpaku dengan sebuah kalimat tanpa memperhatikan istilah dan susunan bahasa. Bahkan kita harus memperhatikan ayat dan Hadits lain barang kali ada maksud tkhshish (membatasi) dalam kalimat umum atau sebaliknya.

Mari kita simak contoh-contoh berikut ini.

1. Allah berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعاً

“Barang siapa yang menginginkan kekuatan maka hanya milik Allah-lah kekuatan itu semuanya.” (QS. Fathir: 10)

Dari pernyataan ayat diatas, sepintas kita memahami bahwa kita tidak boleh mengatakan bahwa kekuatan itu milik Allah dan Rasul-Nya, karena dalam ayat itu disebutkan bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah, semuanya dan berarti tidak ada sedikitpun kekuatan yang boleh dikatakan milik selain Allah. Namun coba perhatikan ayat berikut ini:

وَللهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلكِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ لاَيَعْلَمُوْنَ

“.. padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS. al-Munafiqun : 8)

Ternyata ayat ini menyatakan bahwa kekuatan adalah milik Allah dan Rasulnya serta orang-orang mukmin. Memang, izzah (kekuatan) Allah dan izzah Rasul adalah dua hal berbeda. Namun yang kita maksud di sini adalah penggunaan kalimat izzah untuk disebut milik Allah dan selain Allah. Kalau membaca ayat yang pertama, nampaknya kita tidak boleh mengatakan “izzah milik Allah dan Rasul”, akan tetapi kalau membaca ayat yang kedua maka kita bahkan boleh mengatakan “izzah milik Allah dan Rasul serta orang-orang mukmin”, karena Allah sendiri yang mengatakan demikian.

2. Allah SWT berfirman:

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُوْن

“Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah umpan (bahan bakar) neraka jahannam, kalian pasti masuk kedalamnya.” (QS. al-Anbiya : 98)

Ayat ini menyatakan bahwa orang yang menyembah selain Allah akan masuk neraka bersama sesembahannya. Kalau ayat itu dipahami begitu saja tanpa mempertimbangkan ayat yang lain, maka akan dipahami bahwa Nabi Isa dan bundanya juga akan masuk neraka, karena mereka disembah dan dipertuhankan oleh orang Nasrani. Begitu juga para malaikat yang oleh kaum sebagian musyrikin disembah dan dianggap sebagai tuhan-tuhan mereka.

3. Rasulullah SAW. bersabda:

“Orang yang menunaikan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam tidak akan masuk neraka”. (HR. Muslim)
Hadits ini menyatakan bahwa orang yang shalat shubur dan ashar akan selamat dari neraka. Kalau Hadits ini dipahami begitu saja tanpa mempertimbangkan ayat dan Hadits yang lain, maka akan dipahami bahwa kita akan selamat dari neraka walaupun tidak shalat zhuhur, maghrib dan isya’ asalkan shalat shubuh dan ashar.

4. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya biji hitam ini (habbatus-sauda’) adalah obat bagi semua penyakit, kecuali mati”[10].

Para mufassirin telah menegaskan bahawa kalimat ‘umum’ yang digunakan dalam Hadits ini merujuk kepada sesuatu yang ‘khusus’. Maksud Hadits ini sebenarnya ialah “banyak penyakit” (bukan semua penyakit) bisa disembuhkan dengan habbatus-sauda’, walaupun kalimat yang dipakai adalah kaliamat ‘umum’ (kullu yang berarti semua).

 

B. HADITS KEDUA TENTANG BID’AH

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أحْدَثَ فِي اَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري و مسلم)

“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya, maka ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Mari kita telaah makna Hadits diatas, benarkah Hadits diatas bisa menjadi justifikasi membid’ahkan setiap amalan baru dalam agama?

Coba anda perhatikan pada kalimat “yang tidak bersumber darinya” pada Hadits tersebut, kira-kira apa makna dari kalimat tersebut. Agar menjadi jelas, bandingkan dua kalimat berikut ini:
1. “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya, maka ia tertolak.”
2. “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam masalah (agama) kami ini, maka ia tertolak.”

KH. Ali Badri Azmatkhan berkata:
“Apabila kalimat ‘yang tidak bersumber darinya’ dibuang, maka sepintas akan dipahami bahwa hal baru apapun akan disebut Bid’ah, walaupun hal baru itu masih berisikan nilai syari’at. Dan kalaupun misalnya kalimat ‘yang tidak bersumber darinya’ itu benar-benar tidak disebutkan dalam Hadits ini, tentu kita juga tidak bisa memfonis semuanya Bid’ah berdasarkan Hadits ini, karena, untuk memahami sebuah Hadits, kita juga harus mempertimbangkan Hadits lain, baik Hadits Qauli (perkataan Nabi) maupun Hadits Iqrari (pembenaran Nabi terhadap tindakan Sahabat).

Kemudian, ketika Nabi katakan ‘yang tidak bersumber darinya’, itu berarti ada hal baru yang bersumber dari syari’at dan ada hal baru yang tidak bersumber dari syari’at. Kalau yang dilarang adalah hal baru yang tidak bersumber dari syari’at, maka hal baru yang bersumber dari syari’at tidak dilarang.

Lantas apa yang dimaksud dengan hal baru yang bersumber dari syari’at? Kalau hal baru yang bersumber dari syari’at itu dicontohkan dengan shalat malam, maka semua orang tahu bahwa shalat malam itu bukan hal baru. Kalau hal baru yang bersumber dari syari’at itu diartikan ihya’ussunnah (menghidupkan Sunnah yang sudah lama ditinggalkan orang), maka secara bahasa itu juga tidak benar, karena memulai kebiasaan lama itu bukan termasuk hal baru.

Maka tidak ada lain hal baru yang dimaksud kecuali cara baru yang tidak dicontohkan Nabi, namun tidak bertentangan dengan syari’at dan bahkan memiliki nilai syari’at. Hal ini diperkuat dengan banyaknya hal baru yang dilakukan para shabat Nabi, misalnya menyusun atau menambah doa selain susunan doa yang dicontohkan Nabi, Ta’rif (memperingati hari Arafah) yang dilakukan oleh Abdullah bin Abbas dengan menggelar kemah dan dzikir bersama pada tanggal 9 Dzulhijjah (ketika tidak sedang berhaji), shalat tarawih dengan satu imam di Masjidil-haram oleh para sahabat di zaman Umar bin al-Khatthab (sedangkan pada zaman Nabi tarawihnya berkelompok-kelompok di sudut-sudut Masjidil-haram), dan banyak lagi misal yang bisa kita temui dalam kitab-kitab Tafsir, kitab Hadits dan Syuruh (kitab syarah/tafsir Hadits).

Kepada siapapun yang belum pernah membaca tuntas kitab-kitab Tafsir, kitab Hadits dan Syuruh, bila ia mau mentahqiq sebuah permasalahan, saya sarankan untuk membaca semuanya dengan tuntas, agar terbuka baginya cakrawala berfikir sebagaimana ulama salaf. Logikanya, bagaimana mungkin pemikiran seorang sarjana atau doktor yang hanya pernah membaca tuntas beberapa judul buku bisa lebih tajam dari pemikiran asy-Syafi’i, an-Nawawi, al-Ghazali, Ibnu Hajar al-Asqalani dan sebagainya.

Mereka adalah ulama besar yang berhasil mengisi khazanah keilmuan Islam dengan karya-karya besar yang bukan hanya dikagumi umat Islam saja. Dan satu hal yang harus kita sadari, yaitu bahwa karya-karya itu tidak lahir dari upaya yang ringan, mereka tidak belajar hanya sepuluh tahun, mereka tidak meneliti hanya sepuluh tahun, mereka tidak hanya membaca seribu Hadits, tapi meneliti puluhan tahun dan puluhan ribu Hadits. Tidak mudah bagi mereka untuk memutuskan sebuah kesimpulan, tapi sebagian akademisi zaman sekarang begitu mudahnya menyalahkan ulama salaf, padahal target belajarnya tidak seserius ulama salaf, targetnya hanya gelar ‘Lc’, ‘MA’, ‘Doktor’ dan sebagainya”.[11]

C. HADITS KETIGA TENTANG BID’AH

Rasulullah SAW bersabda:

وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةً ضَلاَلَةً لاَ تُرْضِيْ اللهَ وَرَسُوْلَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا …

“.. Dan barangsiapa mengadakan Bid’ah yang sesat yang tidak diridhoi oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, maka ia mendapat (dosanya) dan sebanyak dosa orang lain yang ikut mengerjakannya.“ )HR. Tirmidzi(

Dalam Hadits diatas terdapat kalimat “Bid’ah yang sesat”. Dalam Hadits tersebut kata ‘Bid’ah’ dan ‘sesat’ adalah mudhaf dan mudhaf ‘ilaih (gramer Arab). Bila merujuk pada ilmu gramer bahasa Arab, bab “Mudhaf” dan “Na’at-man’ut”, susunan kalimat itu memberi arti adanya Bid’ah yang tidak sesat. Bahkan dalam bahasa Indonesiapun demikian. Kalau Anda berkata “Saya tidak suka tali yang panjang”, itu berarti menurut Anda ada tali yang pendek.

Sebagai penutup bab ini, mari kita renungkan firman Allah SWT berikut ini :

وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ َانْتَهُوْا

‘Apa saja yang dibawa oleh Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa saja yang dilarang oleh Rasul maka berhentilah (mengerjakannya). (QS. Al-Hasyr : 7)

Coba perhatikan, ayat diatas dengan jelas menyebutkan bahwa perintah agama adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW, dan yang dinamakan larangan agama adalah apa yang memang dilarang oleh Rasulullah SAW. Dalam ayat diatas ini tidak dikatakan:

وَماَ لَمْ يَفْعَلْهُ فَانْتَهُوْا

“Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulul maka berhentilah (mengerjakannya).”

Juga dalam Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari:

اِذَا أمَرْتُكُمْ بِأمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْئٍ فَاجْتَنِبُوْهُ

“Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu maka lakukanlah semampumu, dan jika aku melarangmu melakukan sesuatu, maka jauhilah ia.”

Perhatikan, dalam Hadits ini Rasulullah SAW tidak mengatakan:

وَاِذَا لَمْ أفْعَلْ شَيْئًا فَاجْتَنِبُوْهُ

“Dan apabila sesuatu itu tidak pernah aku kerjakan maka jauhilah ia!’

Jadi, pemahaman melarang semua hal baru (Bid’ah) dengan dalil Hadits “Setiap yang diada-adakan (muhdatsah) adalah Bid’ah” dan Hadits “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam masalah (agama) kami ..“ adalah pemahaman yang tidak benar, karena banyak pernyataan atau ikrar dari Rasulullah SAW dalam Hadits-hadits yang lain yang menyimpulkan adanya restu beliau terhadap banyak hal baru atas inisiatif para sahabat.

Dari itu, para ulama menarik kesimpulan bahwa Bid’ah (prakarsa) sesat ialah yang bersifat men-syari’atkan hal baru dan menjadikannya sebagai bagian dari agama tanda seizin Allah Allah SWT (QS Asy-Syura : 21), serta prakarsa-prakarsa yang bertentangan dengan yang telah digariskan oleh syari’at Islam, misalnya sengaja shalat tidak menghadap kearah kiblat, shalat dimulai dengan salam dan diakhiri denga takbir, melakukan shalat dengan satu sujud saja, melakukan shalat shubuh dengan sengaja sebanyak tiga raka’at dan sebagainya. Semuanya ini dilarang oleh agama karena bertentangan dengan apa yang telah digariskan oleh syari’at.

Makna Hadits yang mengatakan “mengada-adakan sesuatu” adalah masalah pokok-pokok agama yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Itulah yang tidak boleh dirubah atau ditambah. Misalnya ada orang mengatakan bahwa shalat wajib itu dua kaili sehari, padahal agama menetapkan lima kali sehari. Misalnya juga, orang yang sanggup -tidak berhalangan- berpuasa wajib pada bulan Ramadhan boleh tidak perlu puasa pada bulan tersebut, tapi bisa diganti dengan puasa pada bulan apa saja. Inilah yang dinamakan menambah dan mengada-adakan agama, bukan masalah-masalah nafilah, sunnah atau lainnya yang tidak termasuk pokok agama.

Referensi:
[1] “Al-Munjid fil Lughah wal-A’lam“, alpabet ?
[2] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, XIII : 253.
[3] Iqthidho Shirath al-Mustaqim hal. 272
[4] Tafsir al-Manar, IX: 60.
[5] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, XV : 179, Dar al-Fikr, Beirut
[6] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Baari, IV : 318.
[7] Syarh an-Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, VI : 154-155, Dar Ihya Turats al-Arab, Beirut.
[8] An-Nawawi, Syarah Sahih Muslim, VI : 154.
[9] KH. Ali Badri Azmatkhan, Klarifikasi Masalah Khilafiyah.
[10] Diriwayatkan dari ‘Aiysah dan Abu Hurairah oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad melalui sembilan belas periwayatan.
[11] KH. Ali Badri Azmatkhan, Klarifikasi Masalah Khilafiyah.

_____________________________________________

Pendapat Ulama’ tentang Bid’ah

Penjelasan Ulama Salafuna Shalih Tentang Bid’ah

Berikut adalah pandangan-pandangan beberapa ulama salaf yang diakui dunia Islam tentang ketaqwan dan keilmuan mereka. Simak perkataan mereka tentang masalah Bid’ah.

A.  Al-Imam asy-Syafi’i

Sumbangan besar al-Imam asy-Syafi`i RA dalam ilmu Usul Fiqih ialah pembagian beliau terhadap makna ‘perkara baru’ (Bid‘ah) menjadi dua hal pokok, bid’ah hasanah dan sayyiah.

Pendapat beliau ini diriwayatkan secara shahih dari dua murid beliau yang terkenal pada zaman akhir kehidupan beliau, yaitu ulama pakar Hadits Mesir yang bernam Harmala bin Yahya at-Tujaybi dan ar-Rabi` bin Sulaiman al-Muradi.
Harmala berkata, “Aku mendengar al-Imam asy-Syafi’i RA berkata: “Bid‘ah itu ada dua macam: Bid‘ah yang terpuji (bid‘ah mahmudah) dan bid‘ah tercela (bid‘ah madzmumah).
Apa yang sesuai dengan Sunnah itu terpuji dan apa yang bertentangan itu tercela.”[1]

Sedangkan ar-Rabi` juga meriwayatkan dari al-Imam asy-Shafi`i bahwa beliau berkata: “Perkara baharu yang diada-adakan itu ada dua macam: Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah, atsar Sahabat atau ijma’ ulama’, maka bid‘ah itu adalah sesat (fa hadhihil-bid‘atu dalalatun). Kedua, perkara baru yang diadakan dari segala kebaikan (ma uhditsa min al-khair) yang tidak bertentangan dengan hal yang disebutkan, yang ini bukan bid‘ah dicela (wa hadhihi muhdatsatun ghairu madzmumah).[2]

BACA JUGA:  Merintis Jalan Perdamaian Dunia Bersama Para Ulama

Dalam menjelaskan perkataan as-Syafi’i tersebut, al-Imam al-Haitami, al-Qadhi Abu Bakr Ibnu al-`Arabi dan al-Imam al-Laknawi berkata: “Bid‘ah dipandang dari segi Syari‘at ialah segala perkara baru yang diadakan dan bertentangan dengan hukum yang diturunkan Allah, baik berdasarkan dalil-dalil yang nyata atau pun dalil-dalil umum. Maka, hanya Bid‘ah yang menyalahi Sunnah saja yang tercela”.[3]

Mereka menyimpulkan dan berkata: “Maka sangat keliru bila perkara baru dipandang Bid’ah hanya semata-mata kerana ia ‘perkara baru’. Kebid’ahan perkara baru itu ditentukan dengan dalil-dalil syar’i.

B.  Al-Imam al-Baihaqi

Al-imam al-Baihaqi menjelaskan panjang lebar tentang masalah bid’ah, diantaranya beliau berkata: “Begitu juga dalam hal penjelasan aqidah, hal tersebut adalah bid‘ah, karena ilmu aqidah adalah menjabarkan beberapa kaidah kepada orang awam yang tidak dikenal sebelumnya (pada zaman Nabi dan sahabat). Namun demikian, hal itu adalah perkara baru yang terpuji (mahmudah) karena ia bertujuan untuk membantah kepalsuan Bid‘ah ahli falsafah kala itu.”

Beliau juga berkata: “Rasulullah SAW ditanya tentang Qadha’ dan Qadar dan jawabannya adalah sebagaimana yang kita dengar sampai hari ini. Pada masa itu, para Sahabat sudah berpuas hati dengan jawaban yang diberikan oleh Rasulullah SAW.

Namun pada zaman kita ini, banyak ahli Bid’ah yang menyatakan tidak puas dengan jawaban Rasulullah tersebut sehingga mereka tidak mau menerimanya. Nah, untuk menangkis serangan (untuk menolak beberapa ketentuan akidah) yang mereka sebarkan kepada kaum muslimin, kita perlu berhujjah dengan menggunakan kaidah pembuktian yang bisa diterima oleh mereka. Dan sesungguhnya usaha ini, meskipun Bid’ah (baru), datangnya dari Allah juga.”[4]

Ini merupakan pembelaan al-Imam al-Baihaqi secara terang-terangan terhadap keperluan ilmu kalam (falsafah ketuhanan) dan sifatnya yang sejalan dengan tuntutan Sunnah, demi untuk mempertahankan ajaran Islam dari pelaku Bid‘ah. Pendirian yang hampir sama juga bisah dilihat di kalangan para Imam besar seperti Ibnu `Asakir, Ibnus-Shalah, an-Nawawi, Ibnus-Subki, Ibn `Abidin dan lainnya.

C.  Al-Qadhi Abu Bakar Ibnnul-‘Arabi al-Maliki

Beliau berkata ketika mengulas masalah bid’ah: “Ketahuilah bahawa Bid‘ah (al-muhdatsah) itu ada dua macam: Pertama, setiap perkara baru yang diadakan yang tidak memiliki landasan agama, melainkan mengikut hawa nafsu sesuka hati, ini adalah Bid’ah yang sesat. Kedua, perkara baru yang diadakan namun sejalan dengan apa yang sudah disepakati, seperti yang dilakukan oleh para Khulafa’urrasyidin dan para Imam besar, maka hal tersebut bukanlah bid‘ah yang keji dan tercela. Ketahuilah, sesuatu itu tidak dihukumi bid’ah hanya karena ia baru.

Allah SWT berfirman:

مَا يَأْتِيْهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلاَّ اسْتَمَعُوْهُ وَهُمْ يَلْعَبُوْنَ

Yang artinya, “Tidak datang kepada mereka suatu ayat al-Qur`an pun yang baru (muhdats) dari Tuhan mereka, melainkan mereka men-dengarnya, sedang mereka bermain-main” (QS. al-Anbiya`: 2).

Dan perkataan Sayyidina `Umar RA: “Alangkah bagusnya bid‘ah ini!”
Kesimpulannya, Bid‘ah tercela hanyalah perkara baru yang bertentangan dengan Sunnah, atau perkara baru yang diadakan dan membawa kita pada kesesatan.”[5]

D. Hujjatul-Islam al-Imam al-Ghazali.

Ketika mengulas masalah penambahan ‘titik’ pada huruf ayat-ayat al-Qur’an, al-Imam al-Ghazali berkata: “Hakikat bahwa ia adalah perkara baru yang diadakan tidaklah menghalanginya untuk dilakukan. Banyak sekali perkara baru yang terpuji, seperti sembahyang Terawih secara berjama’ah, ia adalah “Bid‘ah” yang dilakukan oleh Sayyidina`Umar RA, tetapi dipandang sebagai Bid’ah yang baik (Bid‘ah Hasanah). Adapun Bid’ah yang dilarang dan tercela, ialah segala hal baru yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW atau yang bisa merubah Sunnah itu.[6]

E. Ibnu Hazm az-Zahiri

Ibn Hazm al-Zahiri berkata: “Bid‘ah dalam agama adalah segala hal yang datang pada kita dan tidak disebutkan didalam al-Qur’an atau Hadits Rasulullah SAW. Ia adalah perkara yang sebagiannya memiliki nilai pahala, sebagaimana yang diriwayatkan dari Sayyidina`Umar RA: “Alangkah baiknya bid‘ah ini!.” Ia merujuk pada semua amalan baik yang dinyatakan oleh nash (al-Qur’an dan Hadits) secara umum, walaupun amalan tersebut tidak ddijelaskan dalam nas secara khusus. Namun, Di antara hal yang baru, ada yang dicela dan tidak dibolehkan apabila ada dalil-dalil yang melarangnya.[7]

F. Ibnul-Jauzi

Ibnu Jauzi menyatakan hal yang sama dalam kitabnya, Talbis Iblis. Beliau berkata: “Ada banyak perkara baru (muhdats) yang diamalkan orang dan tidak berlawanan dengan Syari‘at. Ulama mereka salaf menganggap bahwa hal tersebut tidak mengapa untuk diamalkan.”

G. Ibnul-Atsir al-Jazari

Pakar kamus bahasa Arab, Ibnul-Atsir menyebut di dalam kitabnya, an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wal-Atsar:

“Bid‘ah itu ada dua macam: Bid‘ah petunjuk (bid‘atu huda) dan bid‘ah yang sesat (bid`atu dalalah). Segala hal yang menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya adalah terkutuk dan dipersalahkan. Dan segala hal yang masuk dalam keumuman ketentuan Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perintahkan atau anjuran, adalah hal yang dipuji. Rasulullah SAW telah menyebutkan bahwa amalan seperti itu diberi pahala.

Beliau bersabda: ‘Barang siapa memulai suatu amalan yang baik dalam Islam, maka ia memperoleh pahalanya dan paha orang-orang yang mengikutinya’. Begitu juga sebaliknya, Rasulullah SAW bersabda: ‘Barang siapa yang memulai amalan buruk dalam Islam, maka ia memikul dosanya dan dosa orang lain yang mengikutinya.’[8]

Dengan demikian, Hadits yang menyebutkan “setiap yang baharu itu sesat”[9] hendaknya disimpulkan dengan “segala hal baru yang bertentangan dengan asas-asas Syari‘at dan menyalahi Sunnah.[10]

H. Al-Imam al-Izz Ibnu Abdissalam

Syaikhul Islam Sulthanul-Ulama’ al-Imam al-`Izz Ibnu Abdissalam juga menjelaskan tentang masalah bid’ah, beliau berkata: “Di sana ada beberapa macam perkara baru (Bid‘ah). Pertama, perkara yang tidak dilakukan dalam Islam namun syari‘at menyatakannya sebagai hal terpuji, bahkan ada yang dinyatakan wajib. Kedua, perkara yang tidak dilakukan dalam Islam namun syari‘at membenci dan mengharamkannya. Ketiga, perkara yang tidak dilakukan dalam Islam dan syari‘at membolehkannya.”[11]

Dalam kesempatan lain beliau menyebutkan bahwa Bid‘ah itu ada lima macam, sama dengan lima hukum yang simpulkan oleh ulama fiqih untuk hal perbuatan manusi, yaitu wajib, haram, sunnah (mandub), kakruh dan mubah (boleh).[12]

I. Al-Imam An-Nawawi

Al-Imam al-Muhaddits al-Hafizh Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi berkata: Bid‘ah -menurut syari‘at- adalah segala sesuatu yang tidak pernah ada pada zaman Rasulullah SAW. Bid’ah terbagi menjadi dua, baik dan buruk.”

Beliau melanjutkan: “Para pemuka umat dan Imam kaum muslimin yang ilmunya sudah diakui, seperti Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdissalam menyebut di akhir buku beliau, al-Qawa`id (al-Kubra): “Bid‘ah itu terbagi pada perkara-perkara wajib (wajibat), haram (muharramat), sunnah (mandubat), makruh (makruhat) dan boleh (mubahat).
Seharusnya, cara menilai suatu Bid‘ah itu dengan melihat kaidah syari’at (qawa‘id syari‘ah). Jika ia masuk dalam kategori kewajiban (ijab) maka jadilah ia Wajib, jika ia termasuk dalam keharaman maka jadilah ia Haram, jika ia termasuk hal yang mendatangkan keutamaan, maka jadilah ia disukai, apabila ia termasuk hal yang buruk maka jadilah ia makruh dan seterusnya. Selebihnya adalah bid’ah yang boleh.”[13]

J.  Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani

Beliau berkata: “Kalimat ‘bid‘ah’ itu berarti sesuatu yang dibuat tanpa ada contoh sebelumnya. Lalu kalimat itu digunakan dalam istilah Syari‘at sebagai lawan dari Sunnah, dan karena itulah iapun menjadi tercela. Namun, jika diteliti (ternyata tidak mesti seperti itu), sekiranya hal baru tersebut termasuk hal yang digalakkan oleh Syari‘at maka ia adalah Bid‘ah yang baik (Bid‘ah Hasanah), jika ia termasuk hal yang dibenci maka ia adalah Bid‘ah buruk (mustaqbahah). Selain dari itu adalah Bid’ah yang boleh (mubah). Bid’ah juga bisa dibagi menjadi lima kategori.”[14]

K.  Al-Imam asy-Syaukani

Beliau menyatakan -di dalam kitabnya yang terkenal, Nail al-Authar- bahwa Bid‘ah terbagi menjadi “baik” dan “buruk”. Menurut beliau, pandangan seperti inilah yang paling kukuh dan kuat.[15]

L.  Al-Imam al-Hafizh Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi

Ketika mengomentara pendapat al-Imam asy-Syafi’i, al-Qurthubi berkata: “Menanggapi ucapan ini (ucapan asy-Syafi’i tentang pembagian bid’ah), saya katakan bahwa makna Hadits Nabi SAW yang berbunyi ‘Seburuk-buruk perkara adalah hal yg baru, semua hal yang baru adalah Bid’ah, dan semua Bid’ah adalah sesat’ bermaksud hal-hal yang tidak sejalan dengan al-Qur’an, Sunnah Rasul SAW dan perbuatan Sahabat Rasul.

Sesungguhnya hal ini telah diperjelas oleh Hadits lainnya, yaitu “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya.”[16] Hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai terbaginya Bid’ah pada Bid’ah yang baik dan Bid’ah yang sesat”.[17]

M. Al-Imam as-Suyuthi

Al-Hafizh al-Muhaddits al-Imam Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi berkata: “Hadits ‘Bid’ah Dhalalah’ ini bermakna ‘Aammun makhsush’ (sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya), sama dengan firman Allah:

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا

“.. yang menghancurkan segala sesuatu atas perintah Tuhannya..” (QS. Al-Ahqaf : 25), padahal tidak semua dihancurkannya.

Sama juga dengan ayat:

وَلكَنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّيْ لأَمْلَئَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia semuanya.” (QS As-Sajdah : 13) (padahal kenyataannya tidak semua manusia masuk neraka. Ayat ini bukan bermakna semua jin dan manusia, melainkan hanya yang musyrik dan zhaim dari mereka). Sama juga dengan Hadits: “Aku dan hari Qiamat bagaikan kedua jari ini”, Padahal Qiamat masih ribuan tahun lagi.[18]

Pendapat Jumhur (Kebanyakan) Ulama’ Madzhab

Ulama dari empat madzhab telah sepakat dengan klasifikasi Bid’ah terbagi pada lima hukum seperti yang dikemukakan oleh al-Imam al-Izz bin Abdissalam, seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya. Berikut diantara Ulama dari empat madzhab yang berpendapat demikian:

1. Dari madzhab Hanafi: Al-Kirmani, Ibnu Abidin, at-Turkmani, al-`Aini dan at-Tahanawi.[19]

2. Dari madzhab Maliki: at-Turtusyi, Ibnul-Hajj, al-Qarafi dan az-Zurqani. Tidak termasuk asy-Syathibi.[20] Pendapat asy-Syathibi inilah yang kemudian diangkat oleh Rasyid Ridha, Salim Hilali dan Muhammad Abdussalam Khadir asy-Syuqairi (murid Rasyid Ridha). Asy-Syuqairi menulis buku berjudul as-Sunan wal-Mubtada`at al-Muta`alliqah bil-Adzkar wash-Shalawat yang di penuhi dengan berbagai riwayat tidak shahih.

3. Dari madzhab asy-Syafi’i: Semua berpendapat sama.[21]

4. Dari madzab Hanbali: Generasi salaf telah sepakat dengan pendapat asy-Syafi’i. Kemudian dari kalangan muta’akhirin mencoba mengingkarinya dengan mengatakan bahwa pembagian syafi’i dan Izzudin terhadap bid’ah adalah dari segi bahasa.[22] Dan pembagian bid’ah menurut bahasa adalah pendekatan yang sering dibawakan oleh golongan anti Bid’ah Hasanah untuk mendukung pendapat mereka. Mereka tetap bersikukuh bahwa semua “Bid’ah” (termasuk Bid’ah Hasanah) adalah sesat, meskipun pendapat itu bertentangan dengan realitas dan pendapat jumhur ulama.

Pendapat asy-Syafi’i juga didukung oleh al-Imam as-Suyuthi, sebagaimana yang beliau tulis dalam risalah yang berjudul “Husnul Maqashid fi ‘Amalil-Maulid” dan “Al-Mashabih fi Shalatit-Tarawih. Didukung pula oleh al-Imam Az-Zarqani seperti yang beliau tulis dalam kitab “Syarah al-Muwattha’, Didukung pula oleh al-Imam Ali al-Qari seperti yang beliau tulis dalam kitab “Syarhul-Misykah. Didukung pula oleh al-Qusthallani seperti yang beliau tulis dalam kitab “Irsyadus-Sari Syarah Shahih al-Bukhari”. Dan masih banyak lagi ulama yang lain.

Demikianlah pendapat para imam besar yang telah terekam dalam berbagai kitab turats (klasik). Masih banyak lagi yang tidak sempat terekam pendapatnya, karena memang ketika itu penulisan kitab tidak semudah sekarang. Setidaknya, ketika mereka diam berarti mereka setuju, karena kalau memang mereka menganggap pendapat asy-Syafi’i sebagai kesesatan, maka tidaklah mungkin mereka diam saja tanpa menulis buku kritikan. Pendapat asy-Syafi’i diterima oleh ulama di zaman beliau hingga ulama berikutnya. Barulah pada abad akhir ini muncul segolongan ulama yang menyalahkan pendapat para Imam besar hujatul-Islam tersebut, bahkan berani menganggap pendapat mereka sesat.

Saudaraku, Ketika kita sama-sama berguru dan berpendapat menurut guru, maka bersyukurlah karena kita berguru pada Imam-imam besar seperti asy-Syafi’i sang perintis madzhab, an-Nawawi sang ahli Hadits penulis Syarah Shahih Muslim, al-Ghazali sang Hujjah penulis Ihya Ulumiddin, al-Baihaqi sang ahli dan perawi Hadits, as-Suyuthi sang pakar berbagai disipliln Ilmu Islam, al-Asqalani sang ahli Hadits penulis Syarah Shahih al-Bukhari, al-Qurthubi sang pakar dan penulis kitab Tafsir, al-Qusthallani sang ahli Hadits penuli Syarah Shahih al-Bukhari dan sebagainya.

Kalau guru-guru kita itu dianggap sesat. Lalu siapa ulama yang bisa dibanggakan oleh umat Islam. Mereka yang dianggap sesat itu telah mengharumkan nama Islam dengan pemikiran dan karya-karya mereka. Coba kita tanyakan pada hati kita, seandainya kita harus memilih, siapa yang sebaiknya tidak pernah hidup di dunia ini, apakah asy-Syafi’i dan sebagainya atau ulama abad ini yang menganggap asy-Syafi’i sesat? Apa yang kita miliki kalau kita mencoret nama-nama mereka dan membuang karya-karya mereka dari rak buku kita.

BACA JUGA:  PBNU Himbau Umat Islam Tidak Tergiur Gaji Besar ISIS

Apa yang tersisa dari khazanah keilmuan Islam kalau kita membuang kitab-kitab asy-Syafi’i, Syarah Shahih Muslim (an-Nawawi) kitab Ihya’ Ulumiddin, Fathul Bari, Irsyadussari, Syarah Muwattha’ (az-Zarqani), Syarhul-Misykah dan sebagainya. Kalau mereka dianggap sesat dan karya-karya mereka dicekal, maka yang tersisa dari kekayaan umat Islam adalah ulama pencaci maki dan buku-buku yang dipenuhi dengan mengupat ulama salaf.”[23]

Syekh Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Seorang ulama tidaklah bisa disebut Imam (rujukan) dalam sebuah disiplin ilmu, apabila ia masih mengikuti pendapat yang ganjil (menyalahi pendapat yang lebih masyhur di kalangan Imam-imam besar).”

[1] Abu Nu’aim dalam “Hilyat al-Awliya’”, IX : 121, Abu Shama dalam “al-Ba`its `ala Inkar al-Bida` wal-Hawadits”, hal. 93, Ibn Rajab dalam “Jami` al-`Ulum wal-Hikam”, hal. 267, Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, XIII : 253, al-Turtusyi dalam “al-Hawadits wal-Bida`, hal. 158-159, dan asy-Syaukani dalam “al-Qaul al-Mufid fi Adillat al-Ijtihad wat-Taqlid, hal. 36. Riwayat dari Saidina `Umar disebut oleh Imam Malik dalam al-Muwattha’ dan al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari

[2] Diriwayatkan dari al-Rabi` oleh al-Bayhaqi didalam “al-Madkhal” dan “Manaqib asy-Syafi`i, I : 469 dengan sanad shahih dan dishahihkan juga oleh Ibnu Taimiyyah dalam “Dar’u Ta`arud al-`Aqli wan-Naqli, hal. 171 dan melalui al-Baihaqi oleh Ibn `Asakir dalam “Tabyin Kadzib al-Muftari, hal. 97. Dinukilkan oleh adz-Dzahabi dalam “Siyar”, VIII : 408, Ibnu Rajab dalam “Jami` al-`Ulum wal-Hikam, II : 52-53, Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, XIII : 253.

[3] Al-Haitami, “at-Tabyin fi Syarh al-Arba`in”, hal. 32, Ibnul-`Arabi, “`Aridat al-Ahwadzi, X : 147.

[4] Al-Baihaqi, “Manaqib asy-Shafi`i”, I : 469.

[5] Ibnul-`Arabi, “`Arid at al-Ahwadzi”, X : 146-147.

[6] Al-Ghazzali, “Ihya’ `Ulumiddin, I : 276.

[7] Ibnu Hazm, “al-Ihkam fi Usul al-Ahkam”, I : 47.

[8] Diriwayatkan dari Jarir bin Abdillah al-Bajali oleh Imam Muslim, al-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad dan ad-Darimi. Juga diriwayatkan dengan kalimat yang mirip dari Abu Hurairah oleh Ibnu Majah dan Ahmad, dari Abu Juhaifah oleh Ibn Majah dan dari Hudzaifah oleh Imam Ahmad.

[9] Diriwayatkan dari al-`Irbad bin Sariyah oleh at-Tirmidzi (Hasan Shahih), Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, ad-Darimi, Ibn Hibban, I : 178-179, al-Hakim menyatakan shahih, I : 95-97, adz-Dzahabi juga menyatakan Shahih dalam “al-Madkhal ila ash-Sahih”, hal. 80-81, al-Ajurri dalam “asy-Syari`ah”, hal. 54-55, Ibnu Abi `Asim dalam “as-Sunnah”, hal. 29, at-Thahhawi dalam “Musykil al-atsar”, II : 69, Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam “as-Sunnah”, hal. 26-27, al-Harits bin Abi Usamah dalam Musnadnya, I : 197-198, ar-Ruyani dalam Musnadnya, I : 439, Abu Nu`aim dalam “Hilyat al-Awliya’”, V : 220-221, X : 115, at-Thabarani dalam “Musnad asy-Syamiyyin”, I : 254, I : 402, I : 446, II : 197, II : 298 dan “al-Kabir”, XVIII : 245-257, al-Baihaqi dalam “as-Sunan al-Kubra, X : 114, “al-Madkhal”, hal. 115-116, al-I`tiqad, hal. 229 dan “Syu`ab al-Iman, VI : 67, al-Baghawi menyatakan Hasan dalam “Syarh as-Sunnah, I : 205, Ibnul-Atsir dalam “Jami` al-Usul”, I : 187, I : 279, Ibnu `Asakir dalam “al-Arba`in al-Buldaniyyah”, hal. 121, Ibnu Abdil-Barr menyatakan Shahih dalam “at-Tamhid, XXI : 278-279 dan “Jami` Bayan al-`Ilm”, II : 924 dan lain-lain.

[10] Ibnul-Atsir, “an-Nihayah”, I : 79.

[11] Ibnu Abdisalam, “al-Fatawa al-Mushiliyyah”, hal. 129.

[12] Ibnu Abdisalam, al-Qawa`id al-Kubra, II : 337-339, an-Nawawi dalam “al-Adzkar”, hal. 237 dan “Tahdzib al-Asma’ wal-Lughat”, III : 20-22, asy-Syathibi dalam “al-I`tisham”, I : 188, al-Kirmani dalam “al-Kawakib ad-Darari”, IX : 54, Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, XIII : 253-254, as-Suyuthi dalam “Mukaddimah Husnul-Maqsid” dan dalam “al-Hawi lil-Fatawi, al-Haytami dalam Fatawa Haditsiyah, hal. 150, Ibnu Abidin dalam “Radd al-Mukhtar”, I : 376 dan lain-lain.

[13] An-Nawawi, “Tahdzib al-Asma’ wal-Lughat”, III : 20-22.

[14] Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, V : 156-157.

[15] Asy-Syaukani, Nailul-Authar, IV : 60.

[16] Shahih Muslim, Hadits no. 1017

[17] Tafsir al-Imam al-Qurthubi, II : 87.

[18] Syarh Assuyuthi, III : 189.

[19] Al-Kirmani, “al-Kawakib ad-Darari Syarh Shahih al-Bukhari, IX : 54, Ibnu Abidin, “al-Hasyiyah”, I : 376, I : 560, at-Turkmani, “al-Luma` fil-Hawadits wal-Bida`, I : 37, at-Tahanawi, “Kassyaf Istilahat al-Funun, I : 133-135, al-Himyari, “al-Bid`ah al-Hasanah” (hal.152-153).

[20] At-Turtushi, “al-Hawadits wal-Bida`, hal. 15, 158-159, Ibnul-Hajj, “Madkhal asy-Syar` asy-Syarif, II : 115, al-Qarafi, “al-Furuq”, IV : 219, asy-Syathibi, “al-I`tisham, I : 188-191, az-Zurqani, “Syarh al-Muwattha’, I : 238.

[21] Abu Syama, “al-Ba`its `ala Inkar al-Bida` wa al-Hawadits”, hal. 93.

[22] Ibnu Rajab, “al-Jami` fil-`Ulum wal-Hikam”, II : 50-53.

[23] KH. Ali Badri Azmatkhan, klarifikasi masalah khilafiyah.

_____________________________________________________

Hubungan Antara Ijtihad dengan Bid’ah Hasanah

??? ???? ?????? ??????

Dalam istilah ushul-fiqih, hal yang tidak dikerjakan atau tidak dicontohkan oleh Rasulullah disebut “at-Tark”, yang secara bahasa artinya meninggalkan suatu pekerjaan. Ulama ushul sepakat bahwa at-Tark bukan berarti larangan. Ketika Nabi tidak mengerjakan sesuatu bukan berarti beliau tidak menganggapnya haram. Ini adalah suatu hal yang sangat logis dan tidak harus sangat cerdas untuk memahaminya.

Sering ada yang berkata: “Kalau memang ini baik tentu Rasulullah sudah mengerjakannya.” Ini adalah pemahaman yang kaku. Rasulullah sudah memberi kita dasar untuk pengembangan bentuk amaliah, sehingga beliau tidak harus memberi terlalu banyak contoh kepada kita. Kelebihan umat Muhammad adalah kepedulian mereka terhadap dunia keilmuan, sehingga tanpa harus diberi banyak contoh mereka akan kreatif.

Banyak hal yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah, mungkin karena tidak sempat, tidak terfikir atau situasi tidak mendesak untuk itu. Suatu contoh, Rasulullah SAW baru terfikir untuk puasa Asyura’ setelah melihat orang Yahudi mengerjakannya, karena puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang layak untuk dikerjakan sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah berkaitan dengan hari Asyura’. Seandainya dari dulu orang Yahudi tidak puasa Asyura’, bisa jadi beliau tidak berpuasa Asyura karena tidak terfikir oleh beliau untuk itu.

Atau seandainya orang Yahudi melakukan walimah untuk memperingati hari Asyura’, bisa jadi Rasulullah juga akan memperingati hari Asyura dengan bentuk walimah, bukan puasa, karena walimah adalah salah satu bentuk ibadah shodaqoh yang juga layak untuk dikerjakan sebagai ungkapan rasa syukur.

Demikian juga dengan istilah “beriman sesaat”. Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik, bahwa Sahabat Abdullah bin Rawahah sering mengajak orang untuk dzikir bersama dengan berkata:

تَعَالَ نُؤْمِنُ بِرَبِّنَا سَاعَةً

“Mari kita beriman pada Tuhan kita sesaat”

Suatu ketika Abdullah bin Rawahah mengatakan itu pada seseorang dan orang itu langsung marah, ia menganggap Abdullah bin Rawahah telah membuat Bid’ah dengan kalimat “beriman sesaat”, iapun mengadukan hal itu kepada Rasulullah SAW dengan berkata:

يَا رَسُوْلَ الله أَلاَ تَرَى إِلى ابْنِ رَوَاحَةَ يَرْغَبُ عَنْ إِيْمَانِكَ إِلَى إِيْمَانِ سَاعَة

“Ya Rasulullah, sesungguhnya Abdullah bin Rawahah telah meninggalkan iman dengan caramu dan memilih iman sesaat.”

Maka Rasulullah SAW berkata:

يَرْحَمُ اللهُ ابْنَ رَوَاحَةَ إِنَّهُ يُحِبُّ الْمَجَالِسَ الَّتِيْ تُبَاهِى بِهَا الْمَلاَئِكَة

“Semoga Allah merahmati Abdullah bin Rawahah, dia itu menyukai majlis yang dibanggakan oleh para Malaikat.”

Riwayat lain menyatakan bahwa Sahabat Mu’adz bin Jabal juga sering mengungkapkan kalimat itu. Sepertinya, Abdullah bin Rawahah adalah orang bertama yang memiliki ide kalimat “beriman sesaat”. Setelah kasus pengaduan kepada Rasulullah itu kemudian kalimat ini menjadi populer dan Mu’adz bin Jabal yang paling sering menggunakannya.

Coba kita perhatikan, seandainya inisiatif itu tidak muncul dari seorang Abdullah bin Rawahah atau Mu’adz bin Jabal, mungkin tidak akan pernah ada ikrar dari Rasulullah bahwa istilah “beriman sesaat” itu boleh digunakan.

Dari dua riwayat itu dan riwayat lain yang senada, kita bisa menyimpulkan, bahwa Rasulullah sudah memberikan contoh kepada kita sebagai dasar pemikiran untuk inisiatif baik. Apalagi lagi Rasulullah pernah bersabda “Man Sanna Sunnatan ..” (Barang siapa yang mengawali suatu bentuk perbuatan baik dst). Maka kumpulan riwayat itu menyimpulkan seolah-olah Rasulullah SAW berkata “Cerdaslah dan kreatiflah kalian, selama ide kalian itu baik dan tidak menyalahi Syari’at.”

_________________________________________

Dan sebagai tambahan dari hadiah ku ini, berikut tulisan yang saya kutip dari Tim Lembaga Bahtsul Masa’il PC NU Jember dalam buku : “Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & DzikirSyirik” yang juga menyebutkan Dalil – dalil tentang adanya Bid’ah Hasanah yang dilakukan oleh para Sahabat ra pada masa Rasulullah, yaitu :

1. Hadits Muadz bin Jabal ra, yang diriwayatkan oleh al Thabarani dalam al Mu’jam al Kabir(20/271) dan al Imam Ahnad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi Syaibah dan lain-lain, yang menceritakan hal yang beliau (Muadz) lakukan ketika terlambat datang shalat berjama’ah. Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam Ibadah, seperti shalat atau lainnya apabila sesuai dengan tuntunan syara’.

2. Hadits al Ash bin Wa’il ra, yang diriwayatkan oleh al Thabarani, Al Hafizh al Haitsami –guru al Hafizh Ibnu Hajar- mengatakan dalam Majmu Zawaid (6/10631) para perawi hadits ini tsiqat dan perawi hadits shahih, yang menceritakan bagaimana suku Dzuhl bin Syaiban bertawassul dengan nama Nabi atas inisiatif pemimpin mereka dan belum mereka pelajari dari Nabi saw. Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru apabila sesuai dengan tuntunan syara’. Dengan demikian tidak selamanya perbuatan yang tidak diajarkan oleh Nabi saw selalu keliru dan buruk.

3. Hadits Bilal ra, yang diriwayatkan oleh al Bukhari (1149), Muslim (6247), al Nasai dalam Fadhail al Shahabah (132), al Baghawi (1011), Ibn Hibban (7085), Abu Ya’la (6104), Ibn Khuzaimah (1208), Ahmad (5/354), dan al Hakim (1/313), yang menceritakan bagaimana beliau (Bilal ra) selalu menjaga wudhu dan shalat dua rakaat setiap selesai adzan ataupun wudhu. Hadits ini memberikan faedah bolehnya berijtihad dalam menentukan waktu ibadah, karena Bilal memperoleh derajat tsb berdasarkan Ijtihadnya sendiri, tanpa dianjurkan, dan tanpa bertanya kepada Nabi saw.

4. Hadits Ibnu Abbas ra, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3061), yang menceritakan beliau (Ibnu Abbas ra) mundur ke belakang berdasarkan Ijtihadnya, padahal sebelumnya Rasulullah saw telah menariknya berdiri lurus di sebelah beliau. Hadits ini membolehkan berijtihad membuat perkara baru dalam agama apabila sesuai dengan syara’.

5. Hadist Ali Bin Abi Thalib ra, yang diiriwayatkan oleh Imam Ahmad (865), yang menceritakan bagaimana Abu Bakar ra membaca Al Quran dengan suara lirih dan Umar ra yang membaca dengan suara keras, sedangkan Ammar membaca dengan mencampur berbagai ayat al Qur’an. Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat Bid’ah Hasanah dalam agama. Ketiga sahabat itu melakukan ibadah dengan caranya sendiri berdasarkan ijtihadnya masing-masing. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak selamanya sesuatu yang belum diajarkan oleh oleh Nabi saw pasti buruk atau keliru. Dan agaknya cara Ammar bin Yasir membaca Al Quran sesuai dengan Tradisi Tahlil di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah Indonesia.

6. Hadits Amr bin Ash, yang diriwayatkan oleh Abu dawud (334), Ahmad (4/203), al Daruquthni (1/178), yang menceritakan beliau (Amr bin Ash) melakukan tayamum karena kedinginan berdasarkan ijtihadnya. Dengan demikian tidak semua perkara yang tidak diajarkan oleh Nabi saw itu pasti tertolak, bahkan dapat menjadi Bid’ah Hasanah apabila sesuai dengan tuntunan syara seperti dalam hadits ini.

7. Hadits Umar bin Khaththab ra, yang diriwayatkan oleh Muslim (1357), al Tirmidzi (3592), al Nasai (884) dan Ahmad (2/14), yang menceritakan seorang laki laki yang mengucapkan Allahu akbar kabiran wal hamdulillahi katsiran wa subhanallahi bukratan wa ashila.

8. Hadits Rifa’ah bin Rafi’ ra, yang diriwayatkan oleh al Bukhari (799), al Nasai (1016), Abu Dawud (770), Ahmad (4/340), dan Ibnu Khuzaimah (614), yang menceritakan kedua orang sahabat yang mengerjakan perkara baru yang belum pernah diterimanya dari Nabi saw, yaitu menambah bacaan dzikir dalam Iftitah dan dzikir dalam I’tidal. Hadits ini menjadi dalil bolehnya membuat dzikir baru dalam shalat, apabila tidak menyalahi dzikir yang ma’tsur (datang dari Nabi saw), dan bolehnya mengeraskan suara dalam bacaan dzikir selama tidak mengganggu orang lain.

Bahkan di dalam buku tersebut juga diceritakan bagaimana Imam Ahmad bin Hanbal melakukan Bid’ah Hasanah yang belum pernah dilakukan oleh Nabi saw, yaitu beliau mendoakan Imam Syafi’i di dalam shalatnya selama 40 tahun (Al Hafizh al Baihaqi, Manaqib al Imam al Syafi’i, 2/254), dan bagaimana beliau membaca doa Khatmil Qur’an sebelum ruku’ (Ibn al Qayyim, Jala’ al Afham, hal. 226),

Dan juga diceritakan bagaimana Bid’ah Hasanah yang dilakukan oleh Ibn Taimiyah dalam berzikir yaitu membaca mengulang-ulang surat al fatihah dari sejak setelah shalat subuh hingga matahari naik sambil pandangannya selalu diarahkan ke langit tanpa ada nash dari Nabi saw. (Umar bin Ali al Bazzar; Al A’lam al Aliyah fi Manaqib Ibn Taimiyah, hal 37-39).

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

252 thoughts on “Masalah Bid’ah oleh Ulama Ahlussunnah Waljama’ah”

  1. Tulisan di atas adalah yang paling lengkap yang pernah saya baca untuk kategori artikel. Uraiannya sangat jelas, ini membuktikan bahwa Salafy Wahabi selama ini telah berbobohong besar bahwa mereka sebagai pengikut Ulama Salaf. Faktanya mereka menyelisihi konsesnsus ulama salaf. Mereka (para Salafy Wahabi) secara langsung atau tidak langsung telah menganggap ahli bid’ah kepada Imam Syafi’i yang merupakan seorang Ulama Salaf pencetus pembagian bid’ah kepada bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah.

    Demikianlah fakta telah bicara…. Siapa sebenarnya Salafy Wahabi. Mereka bukan Ahlussunnah Waljama’ah! Mohon ma’af jika terkesan keras, karena saya terbawa arus kekerasan oleh blog-blog Salafy Wahabi, dan saya tidak pernah diberi kesempatan berkomentar di blog-blog mereka karena takut kepalsuan mereka terungkap di depan publik pengikutnya. Sekali lagi mohon maaf….

    1. Itu karena apa … mereka salafy adalah para pembohong besar karena ijma’ ulama salaf sendiri (sperti imam syafi’i, An Nawawi, Ibn Jauzi, Al-Qadhi Abu Bakar Ibnnul-‘Arabi al-Maliki dll) mereka ingkari ttg bid’ah ini … padahal dimana2 mereka selalu berkata ” kesepakatan ulama salaf adalah …. ” tetapi sesungguhnya banyak ulama salaf yg mahsyur saja bertentangan dgn mereka ….
      Bisa kita ketahui bhwa yg dimaksud para Wahabiyyun sbg ulama salaf hanyalah semacam Ibnu Taimiyyah si anak Bani Mudhar dan Ibnu Qayyim yg memandang ibadah & syariat dalam pandangan tekstual, tidak mendalam,kaku, & sempit.
      Maka benarlah kata Rasul bahwa kaum yg berdiri di tanah Najd ini hanya mengaji sesuatu tapi hanya sampai kerongkongannya.

    2. saya ingin bertanya, menurut pemndangan anda apakah contoh dari bid’ah yang sesat?

      lalu imam syafi’i itu apakah membagi bid’ahnya itu hanya dalam aspek ibadat saja atau dengan aspek keduniaan juga?

  2. bila ada saudara-saudara disini yg ingin sharing dan bertukar pikiran tentang bid’ah dengan saya, bisa via email di
    ibra_alfarisi87@yahoo.com

    mungkin jika sharing dilakukan secara one by one (tertutup), bisa mengurangi ego yg ada di dalam diri kita….

    tentu kita disini bisa belajar sama-sama,
    semoga bermanfaat……

  3. To Yusuf Ibrahim,

    Saya sarankan komentari saja atikel di atas. Menurut saya, postingan artikel tentang bid’ah di atas cukup memadai yang menjelaskan tentang apa itu bid’ah, siapa yang mencetuskan pembagian bid’ah menjadi bid’ah dlolalah dan bid’ah hasanah. Saya pribadi mendapat manfaat dari artikel di atas, dan saya telah membacanya lebih sepuluh kali. Alhamdulillah ilmu saya tentang kebid’ah-an menjadi lebih mantap. Semuanya berdarsar pada ayat-ayat Al-qu’an dan hadits-hadit Rasulullah SAW. Kemudian dijelaskan oleh para Ulama Ahlussunnah Waljama’ah yang memeliki bonafiditas kredibilitas yang diakui di dunia Islam.

    Anda nggak usah takut dibilang bodoh jika mengomentari di sini, sebab di sini saya salut atas keterbukaan blog ini dalam menerima perbedaan. Di sini tampaknya nggak ada kecurangan dalam menerima komentar, terbukti tidak dimoderasi terlebih dulu. Rupanya para pengelola situs UMMATI PRESS tidak mau megikuti gaya blog milik para Salafy Wahabi yang hoby mendelete atau mencurangi komentar pengunjungnya yang berbeda pendapat. Maka hati-hatilah jika berkomentar nanti, agar tidak terbuka kejahilan dalam arti komentar yang saling bertententangan padahal disampaikan oleh satu orang.

    Saya mengikuti dan menyimak blog ini sejak awal, tapi baru kali ini sempat berkomentar. Dan saya cukup mengenal karakter Saudara Yusuf Ibrahim, semoga mendapat hidayah kembali kepada pemahaman Islam Ahlussunnah Waljama’ah. Semoga sadara-saudara yang lain juga diselamatkan dari pemahaman Islam versi Wahabi….

    Salam kenal untuk para pengelola UMMATI PRESS semuanya, teruskan perjuangan antum, kami merasakan mafaat blog kalian…. Oh, ya, blog ini juga selalu saya rekomendasikan kepada orang-orang yang saya kenal untuk selalu dikunjungi. Tak lupa saya sangat berterima kasih atas adanya blog ini.

    ===================================

    Konfirmasi UMMATI PRESS untuk Akbar Caniago:

    Salam kenal juga, Uda Akbar…. Terima kasih atas kunjungan setianya, semoga ilmu semakin bertambah, amin….

    1. Antum nyesel lho kalo saya komentar disini, nanti antum ga bisa komen lagi disini, soalnya dari yg sudah2, dari semua artikel di blog ini yg saya komentari, seluruh forum komentarnya ditutup semua lho….kalo ga percaya, bisa dilliat artikelnya, masih ada koq….

      komentar saya tentang artikel di atas adalah :
      1. Sebelum masuk ke dalam Sabda Rasulullah dan pendapat para Ulama tentang bid’ah, alangkah baiknya jika penulis lebih menekankan terlebih dahulu apa itu arti bid’ah secara bahasa (umum) dan apa itu arti bid’ah secara istilah (khusus) seperti halnya pelajaran SD dahulu karena kita semua tau bahwa kata bid’ah itu bukanlah bahasa Indonesia sehingga diperlukan pemahaman baik secara bahasa maupun secara istilah agar tidak terjadi kerancuan…harus ada dasarnya terlebih dahulu dalam memahami arti bid’ah….

      2. Mengapa diperlukan pemahaman secara bahasa dan istilah? karena pengertian secara bahasa (umum) tentu berbeda dengan pengertian secara istilah (khusus), pengertian secara bahasa belum tentu masuk ke dalam pengertian secara istilah…

      3. Seperti halnya shalat, shalat secara bahasa (umum) artinya adalah doa, sedangkan shalat secara istilah (khusus) artinya adalah serangkaian kegiatan ibadah khusus yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Jadi, maksud perintah shalat yg terdapat di beberapa Firman Allah adalah perintah mengerjakan shalat secara istilah/syara’, bukan secara bahasa….

      4. Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:
      “Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.”

      5. Begitu juga dengan Sabda Rasulullah dan perkataan Umar serta Imam Syafi’i, apakah sama maksud bi’dah yg ada di dalam Sabda Rasulullah dengan bid’ah yg baik yg ada di dalam perkataan Umar dan Imam Syafi’i? tentu jawabannya adalah berbeda (tidak sama), karena tidak mungkin (mustahil) orang sekaliber Umar bin Khattab dan Imam Syafi’i menghasanahkan/menganggap baik apa yg Rasulullah sesatkan…..

      6. Adapun bid’ah sesat yg terdapat dalam Sabda Rasulullah adalah bid’ah secara istilah (syara’) yakni mencakup setiap/semua bid’ah (perkara baru) tanpa terkecuali yg terbatas hanya dalam urusan keagamaan saja (Habluminallah), selain kepada urusan keagamaan, maka boleh kita membuat perkara baru selama tidak mengandung unsur yg dilarang, karena segala urusan keagamaan/perbuatan yg dapat mendekatkan diri kepada Allah, pasti tentunya telah dijelaskan dan dicontohkan oleh Rasulullah dan para Sahabat sehingga kita tidak boleh membuat ritual-ritual peribadatan baru…
      Jadi, bid’ah yg sesat itu ruang lingkupnya terbatas yakni sebatas dalam hal ritual peribadatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah (Habluminallah)…..

      Rasulullah bersabda,
      “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

      Beliau juga bersabda,
      “Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. Thabrani)

      Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
      “Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)

      Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
      “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

      Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
      “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

      Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,
      “Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”

      Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

      Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

      Jadi, tidaklah cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik, tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kaidah yang benar adalah “Niat baik semata belumlah cukup.”

      7. Adapun perkara baru dalam hal keduniaan (Habluminannas), maka itu boleh-boleh saja dilakukan selama tidak mengandung unsur yg dilarang, berbeda halnya dengan perkara peribadatan yg tidak boleh dilakukan sebelum ada perintahnya,
      Rasulullah bersabda,
      “Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadits ini hasan)

      8. Memang terdapat beberapa riwayat dari sebagian Ulama terdahulu yg mengaggap baik sebagian perbuatan bid’ah, padahal yg dimaksud tidak lain adalah BID’AH SECARA BAHASA (UMUM), BUKAN MENURUT SYARI’AT, karena yg terlarang dalam sabda Rasulullah itu hanyalah terbatas ke dalam bid’ah menurut syari’at….
      Seperti Ibnu Rajab yg mengomentari perkataan Imam Syafi’i tentang bid’ah dibagi 2, Ibnu Rajab berkata :”…..Adapun bid’ah mahmudah (yang baik) yakni sesuai dengan sunnah, yaitu apa-apa yang ada asalnya berupa sunnah sebagai tempat merujuk kepadanya, dan yang dimaksudkan oleh beliau tersebut hanyalah merupakan pengertian bid’ah secara bahasa, bukan menurut syara’….”
      (Shifatus Shafwah,2/256)
      Jika maksud bid’ah mahmudah itu adalah bid’ah secara bahasa saja, maka makna bid’ah mahmudah yg terkandung di dalam pendapat Imam Syafi’i tsb adalah bid’ah yg maknanya umum (luas) termasuk di dalamnya perkara baru dalam urusan keduniaan juga…

      9. Mengenai perkataan Umar, itu hanyalah bid’ah secara bahasa saja yg memiliki makna yg umum, bid’ah itu bahasa Arab yg biasa diucapkan….karena shalat tarawih berjamaah tidak dilakukan pada zaman khalifah sebelumnya, adapun yg dilakukan Umar adalah menghidupkan kembali Sunnah Rasulullah, bukan mengadakan suatu ritual peribadatan yg baru….
      Jadi, dalam kasus tsb, Umar tidaklah membuat bid’ah/mengada-ada suatu ritual peribadatan, karena apa? karena ;
      – Rasulullah melakukan shalat tarawih
      – Rasulullah melakukan shalat tarawih pada bulan Ramadhan
      – Rasulullah melakukan shalat tarawih berjamaah
      – Rasulullah melakukan shalat tarawih di masjid
      – Rasulullah melakukan shalat tarawih pada malam hari bulan Ramadhan
      Rasulullah meninggalkannya karena khawatir diwajibkan, lain halnya jika Umar mewajibkan shalat tarawih, maka itu artinya Umar telah melakukan bid’ah yg terlarang sebagaimana yg Rasulullah jelaskan tentang bid’ah tsb….akan tetapi kan Umar tidak mewajibkan shalat tarawih…..Jadi, perbuatan Umar itu memiliki dasar yg sangat kuat sekali….

      10. Sebagai penutup, katakanlah seandainya memang benar bahwa Islam membolehkan bagi kita (umat muslim) untuk sekreatif mungkin dalam menciptakan ritual peribadatan baru, maka saya ingin tau, siapa yg memiliki wewenang dalam hal menciptakan tata cara atau ritual-ritual peribadatan baru tsb? habib-kah? kiayi-kah? ustadz-kah? atau seluruh umat muslim didunia ini?

      Waallahu ‘alam…….

      1. @ yusuf ibrohim
        1.rosululloh sholat tarawih 11 roka’at atau 23 roka’at…???
        2.sampean shoat subuh pake’ qunut setiap hari…???

        1. @ yusuf ibrohim
          (HR. Muslim no. 867)
          (HR. Thabrani)
          Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610
          Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah) dll.

          dari tulisan sampean di atas begitu banyak membawa nama sahabat dan karya ulama’ salafussholeh, sampean sudah baca kitab aslinya secara utuh atau….????
          jwab dengan jujur…bohong itu dosa lho mas….

          1. jawab dululah pertanyaan saya yg ada di point 10 itu, alangkah lebih sopan jika pertanyaan saya tsb dijawab terlebih dahulu sebelum bertanya kemana-mana, biar ‘fair’ aja gitu……

      2. Teman-teman aku wong Jowo bilang, orang seperti Yusuf Ibrahim ini berjenis ‘rai gedek’ atau muka tembok, yang artinya orang tak punya malu. Kalau merasa beriman seharusnya punya malu. Di “Debat Lucu …..” dia sudah ketahuan…. penyamarannya, eh kok masih punya hati buat nongol di sini?.Welleh welleh….

        1. 1. komentar antum ini sudah keluar dari topik, tidak mengena kepada isi dari artikel diatas, bukankah antum sendiri menyarankan kepada saya untuk mengomentari isi artikel diatas saja?

          2. sebelum meragukan keimanan seseorang, alangkah baiknya jika antum perhatikan dulu kata-kata antum itu, tidak perlulah mengatai orang dengan sebutan ‘muka tembok’ segala, karena Allah telah berfirman ;
          “…….Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (sesama muslim) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman……..” (Q.S Al-Hujaraat : 11)
          saya tidak akan meragukan keimanan antum, karena mungkin saja antum lupa atau belum mengetahui Firman Allah tsb…..

          3. mengenai penyamaran, bukankah saya hanya menggunakan satu nickname saja dalam satu forum diskusi di blog ini? walaupun saya mempunyai nickname lain, toh….apa yg saya suarakan juga sama saja koq, tidak ada yg berbeda, jadi tidak masalah dengan penggunaan nickname, karena saya yakin bahwa tidak semua orang yg berkomentar di blog internet itu menggunakan nama asli, bahkan menurut feeling saya, antara ‘saliq’ dan ‘gondrong’ itu masih satu orang…..tapi, iya ataupun tidak, bukan hal perlu dipermasalahkan karena tidak terlalu penting untuk dibahas…..

          -sukron-

          1. masalahnya bukan nama asli atu bukan, tetapi ente mencoba memerankan beberapa karakter tapi tidak berhasil karena ketahuan oleh ahlinya.

            Ente (bukan antum) menebak antara Salaik dan Gondrong sama orangnya, saya yakin itu meleset jauh. Antara Salaik dan Gondrong memiliki karakter dan rasa tulisan di antara keduanya sangat jauh berbeda.

            gemana Mas Admin, tolong dijawab agar tidak saling tuduh. Mungkin Yusuf Ibrahim menganggap setiap orang seperti dirinya yang manipulator diri sendiri!

          2. Lhoooo…….itu kan sudah saya jelaskan di artikel itu, walaupun saya mempunyai beberapa nickname di blog ini, tapi karakter saya cuma satu mas yakni menentang perbuatan syirik, bid’ah, takhayul dan kurafat…..lagipula saya bukannya ketauan mas, memang kebetulan ada yg nanya, lalu saya jawab dengan jujur….jangan di dramatisir seperti itulah……

            kalo seandainya kedua nickname (saliq & gondrong) itu satu orang, toh….juga gpp mas dan juga kalo seandainya kedua nickname itu ternyata orang yg berbeda juga ga masalah mas, karena membuat banyak nickname di internet itu ga ada larangannya dan bukanlah suatu perbuatan yg tercela……
            Jadi, terlalu berlebihan jika dikatakan saling tuduh menuduh……terlalu di dramatisir, mungkin kebanyakan nonton sinetron kali ya?…hehehe

            Jadi, saya ingin stop saja mempermasalahkan tentang nickname ini karena tidak terlalu penting untuk dibahas…..

      3. bismiilah
        @ pa yusuf
        bapak menerangkan bidah secara umum dan secara istilah. dalam definisi istilah saya sangat setuju anda mengambil dari imam as syatibi. tp pa yusuf sepengetahuan sy yang bodo ini definisi secara bahasa itu biasanya juga termasuk dalam definisi istilah
        sebagai penjelasan sy pake contohnya pa yusuf.
        doa dan sholat bisa masuk dalam definisi secara bahasa. sedangkan doa tidak bisa masuk dalam definisi sholat menurut istilah.
        jadi tatkala pa yusuf bicara bidah secara umum maka itupun termasuk definisi bidah menurut istilah.
        maka sy yang bodo ini menyimpulkan bahwa seluruh perkataan pa yusuf bahwa pembagian bidah menjadi dua oleh imam syafii itu bidah secara umum maka bidah secara istilahpun termasuk. sehingga segala klaim pa yusuf jatuh semuanya
        mohon maaf apabila ada kesalahan dan mohon di koreksi
        makasih
        wassalam

      4. komentarnya panjang, tapi agak dungu siapa yg mbagi bid’ah dunia dan bid’ah agama. apakah rosul saw yg mbagi? tentu tidak. ada pepatah : ORANG YG HATI DAN PIKIRAN KOTOR DAN HANYA TAHU SYARIAT WALAUPUN QUR’AN DAN HADIST HAFAL KETAHUILAH SESUNGGUHNYA MEREKA HANYA BISA DONGENG ,MENULIS ,DAN MEMBACA SAJA.

        KLO MEREKA MELIHAT PERKARA YG BARU TAPI BAIK SESUAI SYARIAT, IBARAT MEREKA MELIHAT DURIAN ,wah durian itu berbahaya lihat tuh kulitnya apalagi isinya. ITULAH GAMBARAN HATI YG NISTA DAN KELAK RUH NYA AKAN SENGSARA.

  4. saudara-saudaraku yang mudah-mudahan dirahmati Allah.

    saya tak bermaksud untuk menyinggung saudara tentang faham saudara yang meyakini tentang pembagian bid’ah dalam perkara ibadat.apabila pembagian bid’ah itu dalam perkara keduniaan maka semua ulama sepakat tentang hal itu. tetapi apabila pembagian bid’ah itu dalam perkara ibadat maka sampai saat ini pun para ulama tak sefaham dalam hal itu.

    seperti yang kita ketahui, perbedaan pendapat ini dari wktu ke waktu semakin memanas saja. hingga sampai ada orang yang berkata “apakah islam itu serumit ini hingga terjadi perdebatan dimana-mana”
    perkataan orang tersebut seakan -akan menyatakan bahwa agama inilah yang salah sehingga terjadi perdebatan dimana-mana.
    dalam hal ini saya yakin bahwa saya dan saudara tentu tak sependapat dengan perkataa dan anggapan orang tersebut, kita sama-sama yakin bahwa agama islam ini agama yang benar dan sempurna, jadi tak mungkin agama ini yang salah. jika bukan agama ini yang salah lantas siapa?? mengenai hal ini saya jadi teringat perkataan seorang ulama: “sebenarnya bukan agama yang salah tetapi manusialah yang salah, andai saja setiap manusia itu sensntiasa mengikuti dan menjalankan apa yang nabi kita perintahkan, dan berpegang teguh pada al-qur’an dan hadist nabi yang nyata shahihnya tanpa menciptakan hal-hal yang baru dalam perkara ibadat maka tak mungkin ada seorang pun yang berani menentangnya dan niscaya agama ini akan terpelihara kesuciaanya”

    saudara yang menganggap adanya bid’ah hasanah dalam perkara ibadat itu tentu mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang saudara kerjakan tanpa contoh dari nabi itu menjadi perdebatan di kalangan ulama, dan saudarapun mengetahui bahwa ada banyk hadist yang meyatakan bahwa tiap-tiap bid’ah itu sesat, dan saudara pun tahu bahwa menurut faham saudara bahwa setip bid’ah hasanah hukumnya tak ada yang wajib untuk dikerjakan semuanya adalah sunah, berarti tak mengapa apabila ditinggalkan, karena kita tidak akan mendapat dosa walaupun kehilangan pahala sunah tetapi itu semua berlaku apabila faham yang saudara yakini itu benar, tetapi apabila faham yang saudara yakini itu ternyata salah maka berarti saudara akan berhadapan dengan ancaman nabi bahwa tiap-tiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka.

    jadi maksud saya disini ialah bukankah kita sebaiknya memilih jalan yang selamat yaitu jalan yang telah dicontohkan oleh nabi termasuk dalam hal beribadah, saya rasa masih banyk sekali ibadah-ibadah nabi kita yang belum dapat kita kerjakan seperti : shalat tahajud dan witir hampir setiap malam,shalat dhuha,rawatib, puasa senin-kamis setiap minggunya, puasa 3 hari tiap bulan, membaca qur’an dan merenungkan maknanya dan masih sangat banyk lagi amalan-amalan nabi yang lainnya.
    mengapa kita lebih memilih amalan yang tak dicontohkan oleh nabi padahal betepa banyak amalan yang telah dicontohkan olehnya dan para ulama pun sepakat tentang kebolehan untuk mengerjakannya. mengapa kita tinggalkan apa yang dicontohkan oleh nabi kita, apakah kita merasa amal ibadah kita ini lebih baik dari nabi kita?

  5. @muhammad hasan
    siapa yang salah..??
    jawab:
    orang2 awam yang sok keminter menafsirkan alqur’an dan hadist nganggo dengkule dewe..
    menurut saya…anda lebih keminter dari pada imam syafi’i..

    kenapa….????

    menurut saya anda tukang sayur yang merasa masakanya lebih enak di banding koki…paham…???

    1. Ijtihad (kesepakatan) siapa mas? ulama? ulama yg mana? atau ijtihad Imam Madzhab? Imam Madzhab yg mana? memangnya para Imam Madzhab tsb ada yg merayakan maulidan ya? atau diantara mereka (Imam Madzhab) ada yg melaksanakan yasinan dari rumah ke rumah setiap malam jumat?

      Perlu diingat mas, Ijtihad itu tujuannya untuk menghukumi suatu permasalahan baru mas, bukan untuk menciptakan/membuat suatu tata cara/ritual-ritual peribadatan baru…..coba perhatikan, jelas sekali perbedaannya……

      Adapun sekali lagi yg saya tanyakan itu, kalo memang Islam membenarkan/membolehkan bagi umat muslim utk sekreatif mungkin menciptakan/membuat ritual peribadatan baru, lalu SIAPA yg memilliki wewenang dalam MENCIPTAKAN/MEMBUAT tata cara/ritual peribadatan baru tsb?

      Jadi, pertanyaan saya belum terjawab itu……

      1. sepanjang pengetahuan saya yang berwenang adalah para ulama’ dalam rangka untuk berdakwah menyebarkan agama islam.atau metode dakwah.

        ada apa dengan yasinan & maulidan mas,…???

        1. – Saliq –

          itu ‘teori’ siapa ya? sejak kapan Ulama mempunyai wewenang untuk menciptakan/membuat tata cara peribadatan baru…..? mbok…kalo jawab itu jgn ‘asbun’ (asal bunyi) gitu toh mas….

          ingat mas, Islam itu tidak membutuhkan sama sekali tambahan-tambahan tata cara ritual peribadatan baru lagi, karena Agama (Islam) ini telah sempurna dan Sunnah Rasulullah sudahlah cukup bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah…..untuk apa menciptakan tata cara peribadatan baru, padahal Sunnah yg sudah ada saja sudah cukup bagi kita (umat muslim)?

          “………Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…..(Al-Maidah : 3)

          Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
          “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

          Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
          “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

          Imam Malik berkata:
          “Barangsiapa yg membuat bid’ah di dalam Islam yg ia menganggapnya sebagai bid’ah hasanah, maka sesungguhnya ia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat dalam (menyampaikan) risalah Allah. Karena sesungguhnya Allah berfirman :
          “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu Agama kamu….” (Al-Ma’idah:3)
          Maka, apa-apa yg tidak menjadi Agama pada hari itu, niscaya tidak akan menjadi Agama pada hari ini.”
          (al I’tisham oleh Imam asy Syathibi juz I hal. 49)

          Perkataan tsb sangat jelas menunjukan bahwa segala sesuatu yg tidak termasuk ajaran Agama Islam pada hari itu (pada saat turunnya ayat tsb), pastinya tidak akan termasuk ajaran Agama Islam pada hari ini…..Mengapa Imam Mallik mengatakan bahwa orang yg menganggap baik suatu bid’ah (secara syari’at) dikatakan bahwa orang tsb telah menuduh Rasulullah berkhianat? karena seandainya perbuatan bid’ah hasanah (ex : maulidan atau yasinan) itu baik, kenapa Rasulullah tidak menyampaikannya baik melalui perbuatannya maupun melalui Sabdanya?

          Dan perlu digarisbawahi, menciptakan tata cara peribadatan baru itu sama saja dengan menciptakan syari’at baru walaupun mengatasnamakan dakwah sekalipun yg dimana perbuatan tsb dihukumi sesat oleh Rasulullah dan para Sahabatnya, bahkan diancam masuk neraka sebagaimana yg Rasulullah jelaskan,

          “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

          kalo memang Ulama mempunyai wewenang untuk menambah/menciptakan/membuat tata cara/ritual peribadatan baru sebagaimana kata saudara saliq ini, maka Agama (Islam) ini akan menjadi agama buah tambahan tangan manusia seperti halnya agama nasrani….berbahaya sekali pemahaman semacam itu….dan dengan bertambahnya tata cara/ritual peribadatan baru itu, maka secara otomatis akan mematikan Sunnah Rasulullah pula, karena orang2 akan lebih mengenal amaliyah baru ketimbang Sunnah Rasulullah…..

          Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
          “Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)

          Kalo soal maulidan dan yasinan itu, saya cuma mau tau aja kalo memang yg suadara maksud adalah ijtihad Imam Madzhab, karena kebanyakan para ‘aktivis’ yasinan dan maulidan yg mendalilkan amaliyahnya sbg bid’ah hasanah itu selalu mengklaim bahwa mereka bermadzhab Syafi’i, makanya itu saya mau tau, apakah para Imam Madzhab khususnya Imam Syafi’i pernah merayakan maullidan seperti yg mereka (‘aktivis’) lakukan saat ini? Apakah Imam Syafi’i pernah melaksanakan yasinan setiap malam jumat dari satu rumah sahabat ke rumah sahabat lainnya?

          1. For Yusuf ibrahim al wahabi,

            Mengenai Imam Syafi’i apakah pernah maulidan atau baca Yasin setiap malam Jum’at saya yakin kita semua tidak ada yang tahu. Tidak ada bukti tertulis dalam biografinya. Tetapi mengatakan Imam Syafi’i tidak pernah baca Yasin malam Jum’at atau tidak Memperingati Maulid di bulan Maulid, itu juga bohong besar! Apakah ada bukti tertulis dalam biografinya, bahwa Imam Syafi’i tidak baca Yasin di malam Jum’at atau tidak memperingati Maulid Nabi Saw? Jawab…!!!

            Hanya Syaithon atau Iblis dan anak buahnya saja yang tidak suka Surat Yasin dibaca di malam Jum’at! Demikian juga Syathon, Iblis dan antek-anteknya saja yang melarang peringatan Maulid Nabi Saw. Sebab, kalau merasa Mukmin atau Muslim pastilah hatinya tergetar karena rindu ketika Nabi Muhammad Saw disebut namanya. Mulutnya akan otomatis bershalawat saat mendengar nama Agung beliau disebut, demikian pula hatinya….

            Kalian anak-anak wahabi memerangi amal-amal shalih seperti itu, dengan alasan bid’ah tidak ada contoh dari Nabi sungguh kelewatan ngawurnya! Sekali lagi saya tegaskan (mengulang penjelasan artikel di atas), bahwa Maulidan atau Yasinan itu termasuk Ibadah Mu’amalah, bukan Ibadah Mahdloh! Ibadah Mu’amalah sangat terbuka peluang untuk dimodifikasi asalkan tidak melanggar syari’ah! Paham…?

            Jadi agak marah nih, senyum ah, he he he…. kepada semuanya, maaf ya?

          2. sengaja anda saya giring keranah dakwah:

            tata cara/ritual dakwah ulama’ wahabi.
            1.membunuh
            2.mengfitnah ulama’
            3.memalsukan kitab.
            4.mengatakan alloh ada arsy.(ritual dakwah paling parah)

            mau bukti…???

            yasinan dll kita bahas nanti…

          3. -Akbar-

            1. sepertinya terlalu awam jika mengatakan bahwa orang yg menentang yasinan itu artinya dia telah melarang orang membaca yasin dan orang yg melarang merayakan maulidan dikatakan tidak cinta kepada Rassulullah, ada satu kisah yg menarik untuk disimak ;

            Sahabat Abdullah bin Umar pernah mendengar orang bersin lalu mengatakan: “Alhamdulillah dan sholawat dan salam kepada Rasulullah”,
            Maka Ibnu Umar mengatakan: “Bukan seperti itu Rasulullah mengajarkan kepada kita. Namun Nabi hanya mengatakan: “Apabila salah seorang diantara kalian bersin maka ucapkanlah Alhamdulillah, ”beliau tidak mengatakan: Dan bersholawatlah kepada Rasulullah“. (Hasan. Riwayat Tirmidzi: 2738)

            dari kisah diatas, apakah Ibnu Umar melarang seseorang untuk bershalawat kepada Rasulullah? tentu jawabannya tidak bukan? padahal tidak ada larangan dari Rasulullah untuk bersin sambil shalawat….akan tetapi Ibnu Umar melarangnya…..

            ada satu kisah lagi,

            Sa’id bin Musayyib pernah melihat orang sholat setelah munculnya fajar lebih dari dua rakaat, maka diapun melarang orang tersebut.
            Lalu orang itu menjawab: “Wahai Abu Muhammad ! Apakah Allah akan menyiksaku karena sholat?!
            Beliau menjawab: Tidak ! tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi sunnah“. (Riwayat Baihaqi 2/466, ad-Darimi 1/116 dll dengan sanad shohih).

            apakah Sa’id bin Musayyib telah melarang orang tsb melakukan shalat? tentu tidak bukan?

            2. kalo berargumen dengan menggunakan akal dan hawa nafsu serta perasaan semata sih, saya rasa hampir semua orang juga bisa mas…..

            3. seharusnya anda donk yg memberikan bukti kalo Imam Syafi’i itu melakukan yasinan dari rumah ke rumah setiap malam jumat dan merayakan maulidan setiap tahunnya….

            4. saran buat ‘akbar’, sebaiknya jangan pelit dan malas untuk bershalawat kepada Rasulullah yakni dengan menyingkat shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi SAW, karena SAW dalam bahasa Inggris itu artinya melihat, tidak ada unsur shalawatnya……hehehe…..

            5. kalo yasinan boleh dimodifikasi pelaksanaannya, berarti seorang muslim boleh donk mengkhususkan baca surat Yasin dulu sebelum makan? bukankah tidak ada larangannya?

          4. – saliq –

            santai….ga usah ngebahas wahhabi dululah, nanti pembahasannya jadi kemana-mana dan semakin tidak terarah, jawab dulu pertanyaan saya tentang perkataan anda bahwa Ulama itu mempunyai wewenang untuk menciptakan tata cara/ritual peribadatan baru, pemahaman dari mana itu?

            adab dalam diskkusi itu adalah pembicaraannya tidak boleh keluar dari tema pembahasan….

      2. Koreksi untuk Bp. Yusuf Ibrohim,

        Pak Yusuf berkata kepada Salik: Ijtihad (kesepakatan) siapa mas?

        Koreksi dari kami: maaf Pak Yusuf, arti ijtihad itu bukan kesepakatan. Kalau kesepakatan itu istilahnya Ijma’ (ijma’ ulama’), demikian Pak Yusuf.

        Adapun mengenai penutupan kolom komentar di: “Debat Lucu Ahlussunnah VS Salafy Wahabi”, di mana Pak Yusuf terlibat di sana, iItu pertimbangannya semata-mata karena SEO untuk blog ini. Rata-rata dalam sehari untuk judul tersebut dikunjungi 300-an pengunjung. Artikel yang lain hanya kebagian cipratannya saja, padahal artikel-artikel yang lain justru tak kalah manfaatnya.

        Nah, di sini letak masalahnya, kami ingin memeratakan kunjungan di semua judul artikel. Oleh karena itu kami tutup kolom komentar tersebut. Dan ini terbukti berhasil, klik kunjungan jadi merata.

        Ingat, kami hanya menutupnya dan Pak Yusuf bisa berkomentar di artikel yang lain. Juga tidak ada satu pun komentar yang kami delete. Bahkan yang sudah masuk spam, kalau masih bisa diangkat tetap kami munculkan. Demikianlah, ini sekaligus informasi kepada pengunjung yang lain.

        Kami hanya menyampaikan (tabligh) apa-apa yang kami anggap benar, semoga bermanfaat bagi saudara-saudara yang mau mengambil manfaatnya. Namun demikian, kami sangat terbuka dengan adanya perbedaan, dan silahkan antum semua mendiskusikannya. Satu pesan kami, jangan membawa senjata tajam! He he he…. senyum dong biar tampak manis, gitu….

  6. @ yusuf ibrohim

    assalam…

    begitu hebatnya antum ber….sehingga seperti imam syafii tak tahu apa yang antum katakan di atas…

    ingat boss…

    pemahaman imam syafii/madzhabnya itu di di ikuti para imam2 lain dan hujjatul hadist,serta para alhafidz hadist,imam nawawi,imam bukhori,ibnu hajar atsqolani,syech nawawi,dll

    apakah antum kira antum lebih faham dari imam bukhori?…imam nawawi…?imam ibnu hajar atsqolani…?

    semuapun tahu boss…

    antum,ane,kita semua adalah anak sekolah TK,dan mereka para PROFESSOR nya…kitalah yang mesti belajar pada mereka, bukan mereka belajar dari kita,…..ck..ck….

    wassalam…

  7. Klarifikasi pernyataan Imam Syafi’i

    Pendalilan akan adanya bid’ah hasanah dengan pernyataan Imam Syafi’I,
    ?????? ?????? ???? ?????? ????? ??????
    “Bid’ah ada dua: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela.”

    tidaklah benar dengan klarifikasi berikut:

    Pertama: Bahwa perkataan imam Syafi’i, jikapun pernyataan itu benar, tidak semestinya bertentangan dengan keumuman sabda Rasulullah ? (dimana Nabi menyabdakan bahwa seluruh bid’ah dalam ibadah adalah sesat).
    Sudah amat dimaklum bahwa bila ada perkataan sahabat Nabi ? yang menyelisihi sabda Nabi ?, maka pernyataan sahabat itu bukanlah hujah yg disepakati, lalu bagaimana jika itu adalah perkataan yang bukan sahabat Nabi.

    Kedua: mereka yg bedalih dengan perkataan imam Syafi’i senyatanya tidak mengerti maksud dari perkataan beliau. Bid’ah terpuji yg dimaksud imam Syafi’i adalah bid’ah lughawi (secara bahasa) sama dengan ungkapan Umar ketika menyatukan shalat tarawih dengan satu imam di masjid yg memang memiliki asal di dalam syari’at.

    Ibnu Rajab berkata: “Perkataan Syafi’i: “Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela.” adalah bahwa apa yg berkesesuaian dengan sunnah adalah terpuji dan apa yg menyelisihi sunnah adalah tercela. Hal itu dikuatkan setelah pernyaatannya itu beliau berdalil dengan perkataan Umar “Nikmat bid’ah adalah ini” yg menyatukan pelaksanaan shalat tarawih.
    (jami’ al-Ulum oleh Ibnu Rajab hal.266)

    Ketiga: bahwa imam Syafi’i tidak mungkin mengatakan bid’ah hasanah, karena beliau telah mengatakan: “siapa yg istahsana (menganggap baik ) berarti telah membuat syari’at” dan pernyataan-pernyataan imam yang lain mengenai celaan beliau pada prinsip istihsan (menentukan hukum berdasar pada prasangka baik). Sangat adil dan bijak jika kita menafsirkan perkataan imam Syafi’i dengan pernyataannya sendiri, karena orang yg berucap lebih mengetahui dengan maksud dari ucapannya dari pada selainnya. (dinukil dari kitab Mauqif ahlussunnah min ahlil bida’ wal hawa juz 1 hal106-117)

    1. Untuk difa,

      Sungguh kasihan aku melihatmu, cara berpikirmu yang asal-asalan telah berhasil membuat pernyataan yang seakan paling tahu tentang isi hati dan pikiran Imam Syafi’i. Rupanya cara berpikir ala wahabi telah sukses merusak pikiranmu.

      Sebelum kita berdiskusi lebih jauh, coba tolong jelaskan lebih rinci beserta contoh kasusnya mengenai tulisanmu di atas: “Perkataan Syafi’i: “Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela.” adalah bahwa apa yg berkesesuaian dengan sunnah adalah terpuji dan apa yg menyelisihi sunnah adalah tercela.

      Aku hanya ingin tahu sejauh mana pemahamanmu dalam bentuk aplikasi dari apa yang kamu tulis diatas. Silahkan…..

      1. Akbar Caniago mengatakan:
        Sungguh kasihan aku melihatmu, cara berpikirmu yang asal-asalan telah berhasil membuat pernyataan yang seakan paling tahu tentang isi hati dan pikiran Imam Syafi’i. Rupanya cara berpikir ala wahabi telah sukses merusak pikiranmu.

        Maaf, kita tidak pernah bertemu dan saling melihat bagaimana anda bisa kasihan melihat saya. Dari sini saj sudah menunjukkan bahwa andalah yg berfikir asal-asalan, bagaimana belum pernah bertemu tetapi merasa kasihan sudah melihat.
        Bung Akbar Caniago, anda harus banyak belajar membaca bagaimana memahami teks dan pernyataan. Apa yang saya katakan tak satupun pernyataan saya. Semuanya saya nukilkan dari perkataan para ulama. Disitu ada penyataan Ibnu Rajab (736H -795H), imam as-Syathibi yang lahir (578 H). Saharusnya yg kasihani adalah statmen anda yang isinya hanya klaim tanpa landasan ilmiah. Kita diskusi agama, sudah seharusnya dengan sumber rujukan, bukan debat kusir. Kalau asal jeplak, anak kecil juga bisa. Inggat ini bicara agama, bicara tentang ajaran Tuhan, hati2 kalau tidak bersumber.

        Akbar Caniago:
        Sebelum kita berdiskusi lebih jauh, coba tolong jelaskan lebih rinci beserta contoh kasusnya mengenai tulisanmu di atas: “Perkataan Syafi’i: “Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela.” adalah bahwa apa yg berkesesuaian dengan sunnah adalah terpuji dan apa yg menyelisihi sunnah adalah tercela.

        Sebelum coment saya sarankan sebaiknya anda banyak2 belajr membaca, karena sepertinya anda tidak bisa menyerap dan memahami apa yg orang lain tulis. Tapi tidak mengapa saya bantu anda kali ini.
        Contohnya sudah dinyatakan langsung oleh Imam Syafi’i mengenai shalat tarawih. Shalat tarawih yang dikatakan Umar sebagai bid’ah pengertiannya adalah bid’ah secara bahasa bukan secara istilah syari’i. karena mengenai shalat tarawih tidak ada seorang ulamapun yg mengatakan bahwa itu adalah bid’ah haqiqi atau bid’ah dalam pengertian secara syari’i yg tertolak. Alasannya karena apa yang dilakukan Umar ada contoh sebelumnya dari nabi tetapi kemudian nabi meninggalkannya karena suatu sebab
        Karena pengertian bid’ah menurut ulama adalah “ibadah” yang dibuat atau dilakukan tanpa (mitsalus saabiq). Saya beri tanda kutip kata ‘ibadah’ karena topic bid’ah hanya dalam lingkup ibadah, tidak termasuk muamalah dan wasail dunyawiah. Karenanya tidak ada ulama yang mengatakan kemajuan teknologi sekarang ini yg berupa wasilah2 transportasi sebagai bid’ah yg tertolak, walaupun secara bahasa arab bisa dikatakan bid’ah. –semoga sampai disini bisa difahami dan disepakati-

    2. Klarifikasi pernyataan Imam Syafi’i

      Pendalilan akan adanya bid’ah hasanah dengan pernyataan Imam Syafi’I,
      “Bid’ah ada dua: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela.”

      tidaklah benar dengan klarifikasi berikut:
      —————————–
      mari kita lihat ya kang……….?

      1.menurut riwayat abu nu’im,imam syafii’pernah berkata:” bidah itu ada 2 macam,satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. bid’ah terpuji ialah yang sesuai dengan sunnah nabi dan bi’ah tercela ialah yang tidak sesuai atau menentang sunnah nabi.(fathul bari,juz XVII hal 10)Ibnu hajar

      2.sesuai dengan abu nu’im,imam baihaqi ahli hadist yang terkenal menerangkan dalam kitab “manaqib syafi’i bahwa imam syafii pernah berkata : “pekerjaan yg baru itu dua macam,1.pekerjaan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan al-quran,sunnah nabi,atsar dan ijma, ini di namakan bid’ah dholalah’ 2.pekerjaan

      keagamaan yang baik,yang tidak menentang salah satu tsb di atas,adalah bid’ah juga,tetapi tidak tercela (idem..)

      jadi apakah imam syafii pernah berkata itu? kiranya antum dapat menjawabnya sendiri….
      ——————————

      Pertama: Bahwa perkataan imam Syafi’i, jikapun pernyataan itu benar, tidak semestinya bertentangan dengan keumuman sabda Rasulullah ? (dimana Nabi menyabdakan bahwa seluruh bid’ah dalam ibadah adalah sesat).Sudah amat dimaklum bahwa bila ada perkataan sahabat Nabi ? yang menyelisihi sabda Nabi ?, maka pernyataan sahabat itu bukanlah hujah yg disepakati, lalu bagaimana jika itu adalah perkataan yang bukan sahabat Nabi.

      Kedua: mereka yg bedalih dengan perkataan imam Syafi’i senyatanya tidak mengerti maksud dari perkataan beliau. Bid’ah terpuji yg dimaksud imam Syafi’i adalah bid’ah lughawi (secara bahasa) sama dengan ungkapan Umar ketika menyatukan shalat tarawih dengan satu imam di masjid yg memang memiliki asal di dalam syari’at.

      ——————————
      Al-quran di jelaskan dengan sunnah dan perilaku nabi,sunnah nabi di jelaskan/di terangkan
      sunnah lainnya atau dengan perilaku sahabat khulafaur rasyidin,sahabat lainya yg terpercaya…
      tak ada yang membenturkan tapi saling menerangkan dan di terangkan…ada ayat di terangkan dengan
      ayat lain, dan ada sunnah di terangkan dengan sunnah lainnya,begitu saling melengkapi
      bukannya benturan dan menyelisihi antara satu dengan lainnya.

      apa lagi dalam hal ini sahabat khulafaurr rasyidin,yang untuk nya nabi menjelaskan dan menerangkannya sendiri:
      1.sabda rasulullah:
      “ikuti dua orang sesudah aku wafat,yaitu abu bakar dan umar” (h.r.tirmidzi,shahih tirmidzi 13 hal 129)
      bersabda rasululloh:
      2.“Maka wajib atas mu memegang sunnah aku dan sunnah khulafaur rasyidin yang di beri hidayah”
      H.s.r Imam abu daud dan Tirmidzi, lih-juz IV hal 201)

      seperti nya jelas sekali bagi ane sabda rasul terserbut,bagi antum…silahkan berpendapat lain…

      oleh karenanya sunnah khulafaurr rasyidin yang pada intinya sunnah nabi juga,karena sesuai dengan sabda diatas,tsb..
      oleh karenanya,imam syafii menerangkan dan menjelaskan nya,
      ” bidah itu ada 2 macam,satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. bid’ah terpuji ialah yang
      sesuai dengan sunnah nabi dan bi’ah tercela ialah yang tidak sesuai atau menentang sunnah nabi.(fathul bari,juz XVII hal 10)

      ——————————-
      Ibnu Rajab berkata: “Perkataan Syafi’i: “Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela.” adalah bahwa apa yg berkesesuaian dengan sunnah adalah terpuji dan apa yg menyelisihi sunnah adalah tercela. Hal itu dikuatkan setelah pernyaatannya itu beliau berdalil dengan perkataan Umar “Nikmat bid’ah adalah ini” yg menyatukan pelaksanaan shalat tarawih.
      (jami’ al-Ulum oleh Ibnu Rajab hal.266)

      Ketiga: bahwa imam Syafi’i tidak mungkin mengatakan bid’ah hasanah, karena beliau telah mengatakan: “siapa yg istahsana (menganggap baik ) berarti telah membuat syari’at” dan pernyataan-pernyataan imam yang lain mengenai celaan beliau pada prinsip istihsan (menentukan hukum berdasar pada prasangka baik). Sangat adil dan bijak jika kita menafsirkan perkataan imam Syafi’i dengan pernyataannya sendiri, karena orang yg berucap lebih mengetahui dengan maksud dari ucapannya dari pada selainnya. (dinukil dari kitab Mauqif ahlussunnah min ahlil bida’ wal hawa juz 1 hal 106-117)……. karya…?
      ——————————-
      mari kita tengok lagi ya kang……..

      “semua hal baru yang tak ada asal/dalil dalamsyariat di namakan bid’ah,namun apa2 yg ada dasarnya
      syariahnya maka bukanlah bid’ah. maka kalimat bid’ah dalam makna syariah adalah buruk,namun berbeda dengan nama bahasa,karena dalam bahasa kesemuanya hal baru di sebut bid’ah,sama saja apakah itu yg baik atau yang buruk,demikian pula dengan hal2 baru,sbgm hadist yg di riwayatkan oleh aisyah ra,”barang siapa yang membuat hal baru dlm urusan kami (syariah) yg bukan dari syariah maka ia tertolak,sbm penjelasannya……………………..dst………………..hadist itu dikeluarkan oleh ahmad,dan abu daud dan tirmidzi,dan dishohihkan oleh ibn majah,ibn hibban dan hakim,maka hadist ini dgn makna yg dekat hadist aisyah sbmn di sebutkan,dan terpadu padanya banyak sumber pemahaman kalimat, dan berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua,bid’ah terpuji dan bid’ah tercela,maka hal baru yang sesuai dengan sunnah maka ia terpuji,dan yang tak sesuai dengan sunnah maka ia tercela,demikian di riwayatkan dari abu,dr ibrahim bin junaid dari Assyafii” (fathul bari almasyur juz 13 hal 254)-ibn hajar

      “berkata Imam Nawawi mengenai hadist riwayat shahih muslim no.1017 ini:
      pada hadist ini terdapat pengecualian dari sabda beliau SAW, “semua yg baru adalah bid’ah dan semua yang bid’ah adalah sesat” sungguh yang dimaksudkan adalah hal yang baru yang buruk dan bidah yang tercela”(syarh annawawi ala shahih muslim juz 7 hal 104-105)

      cukuplah jelas bagi ane kang….bagi antum silahkan ambil pendapat lain yg cocok….
      ——————————-

      Amat disayangkan, sekali lagi itu bukan perkataan anak tk ataupun doctor, tetapi ulama ahlul hadits. Jika ulama ahlul hadits saja yang banyak mengerti tentang maksud dan makna hadits, ketika memaknai perkataan selain hadits dalam hal ini perkataan imam Syafi’i apakah sudah selayaknya dijadikan bahan renungan yang mendalam.
      ———————-
      ya itu bukan perkataan anak TK,yg ane maksud kita ini semua yg baru pd belajar agama kang…
      dan juga seperti nya ahlul hadist bukan ibnu rajab aja ya kang…banyak ya…tapi Imam Ibnu hajar,dan Imam Nawawi kiranya telah cukup menjelaskannya …dan sudah selayaknya dijadikan bahan renungan yang mendalam.

      ——————————

      Waallahu ‘Alam

  8. @difa

    assalam…

    duhai difa…

    yg mentelaah dan mengkoreksi pendapatnya imam syafii sdh bukan level kita…
    para imam,hujjatul hadist,para hafidz hadist telah ratusan tahun mentelaah,mengoreksi dst…
    dan bahkan mengikuti madzhab nya…sedangakan tuk zaman ini tuk levelan ulama yang hafidz hadist saja sudah jarang…

    jadi tak usahlah antum berdalil ini dan itu, yang secara tak langsung seperti para imam2,hujjatul hadist tak tahu yg antum katakan…..padahal…jauh bintang dengan bumi…
    juga..karena jauh sebelum kita dan dengan masa yang dekat dengan rasul saw,beliau2 telah mendahului kita secara mendalam dalam menelaah sesuatu tsb…

    seperti pendapat seorang ahli ilmu dan ibadah yang masanya dekat dengan rasul yang di ikuti para professor dan doktor yg juga masanya dekat dengan rasul di sanggah pendapat para anak TK yang baru pada belajar,yang mana masanya,keilmuannya,ketaqwaannya teramat jauh dan tak sebanding ….

    wassalam..

    1. gondrong mengatakan:
      yg mentelaah dan mengkoreksi pendapatnya imam syafii sdh bukan level kita…
      para imam,hujjatul hadist,para hafidz hadist telah ratusan tahun mentelaah,mengoreksi dst…
      dan bahkan mengikuti madzhab nya…sedangakan tuk zaman ini tuk levelan ulama yang hafidz hadist saja sudah jarang…

      Dari pernyataan mas gondrong di atas sepertinya mas gondrong kurang mengenal ulama atau dengan pernyataan lain gapul=gagap ulama (meminjam istilah gaptek=gagap teknologi karena sepertinya gamang ketika mendengar nama ulama lain). Yang saya nukilkan: bahwa Imam Syafi’i tidak memaksudkan bid’ah hasanah dengan pernyanyataannya bid’ah mamduhah (terpuji) tetapi bid’ah secara bahasa seperti pernyataan Umar itu bukan pendapat saya atau dokor, tapi Ibnu Rajab. Apakah mas gondrong tahu siapa Ibnu Rajab?!
      Dia adalah ulama kisaran 736H -795H, yg tidak ada hubungannya dengan Muhammad bin Abdul Wahhab (1703H-1791H) –maaf sengaja saya sebutkan karena amat besar sekali kebencian saudara2 disini dengan beliau, seharusnya betapapun ketidaksepakatan kita dengan pandangan ulama tidak sepantasnya mencela ulama dengan serampangan, karena itu bukan jalan ahlussunnah, ahlussunnah senantiasa memuliakan ulama (dan Alhamdulillah belum terdengar dari mereka yg dituduh wahabi mencela satupun ulama)-.
      Mas gondrong kenal dengan Ibnu Hajar? Dia ulama ahlusunanh menurut mas atau bukan? Ibnu Hajar memuji keilmuan Ibnu rajab: sebagai ulama yang mahir dalam funun ilmu hadits, rijalnya, ilalnya serta makna hadits. Lihat kitab Anba’ Alghamar (itu kalau mas gondrong bisa baca kitab gundul, kalau kesulitan coba di cari di search di google atau Wikipedia)

      Gondrong:
      jadi tak usahlah antum berdalil ini dan itu, yang secara tak langsung seperti para imam2,hujjatul hadist tak tahu yg antum katakan…..padahal…jauh bintang dengan bumi…
      juga..karena jauh sebelum kita dan dengan masa yang dekat dengan rasul saw,beliau2 telah mendahului kita secara mendalam dalam menelaah sesuatu tsb…

      Sekali lagi itu bukan perkataan saya, itu adalah penyataan ahlul hadits, seharusnya kalau ahlul hadits sudah menyatakan demikian kenapa masih berkeras

      Gondrong:
      seperti pendapat seorang ahli ilmu dan ibadah yang masanya dekat dengan rasul yang di ikuti para professor dan doktor yg juga masanya dekat dengan rasul di sanggah pendapat para anak TK yang baru pada belajar,yang mana masanya,keilmuannya,ketaqwaannya teramat jauh dan tak sebanding ….

      Amat disayangkan, sekali lagi itu bukan perkataan anak tk ataupun doctor, tetapi ulama ahlul hadits. Jika ulama ahlul hadits saja yang banyak mengerti tentang maksud dan makna hadits, ketika memaknai perkataan selain hadits dalam hal ini perkataan imam Syafi’i apakah sudah selayaknya dijadikan bahan renungan yang mendalam.

      1. Ini saya tambahkan lagi perkataan ulama salaf kalau masih dirasa kurang,

        Ketahuilah bahwa bid’ah itu terbagi dua, bid’ah secara syar’i dan secara bahasa. (sekali lagi inipun bukan pernyataan saya tetapi pernyataan ulama ahlussunnah, Ibnu Katsir (700H-774H), yg tidak ada hubungannya dengan Muhammad bin AbdulWahhab :).
        Ibnu Katsir menyatakan: “(Ungkapan) Bid’ah terbagi menjadi dua. sesekali bid’ah secara syar’iah, seperti sabda Nabi: “Sesungguhnya setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”, Dan sesekali bid’ah secara bahasa, seperti perkataan amirul mukminin Umar Ibn al-Khatthab mengenai shalat tarawih “ni’matul bid’ah” (bid’ah yang baik).
        [sumber: tafsir Ibnu Katsir jilid 1/162 cetakan darul fikr tahun 1401H]

        kalau mau diperjelas lagi:

        Dalam kitab Tuhfatul ahwadzi (al-mubarok furi, pensyarah kitab sunan at-Turmudzi -beiau dari India bukan dari Saudi-) menyatakan: “Sabda Nabi: “Setiap bid’ah adalah sesat merupakan jawami al-kalim (perkataan simpel tapi mengandung banyak faedah) yg merupakan aslun adzhimun (asal yg agung) dari pokok agama. Sedangkan apa yang ada dari perkataan generasi salaf yang istahsana (menganggap baik) bid’ah senyatanya/maksudnya adalah bid’ah menurut bahasa bukan syar’iah, yg diantaranya perkataan Umar dalam shalat tarawih “ni’matul bid’ah” (sebaik bid’ah).

        Apakah yg saya nukilkan di atas masih belum bisa membuka mata. Apa yg di katakan oleh Umar “sebaik bid’ah” tidak bisa dijadikan dalil adanya ‘bid’ah hasanah’ karena berbeda hakikatnya. Perbuatan Umar yg menyatukan shalat tarawih hakikatnya adalah sunnah yang memiliki dasar/dalil dari Nabi, dimana Nabi saw melakukannya tetapi kemudian meninggalkannya karena suatu sebab.

        Perlu diketahui pula, bahwa seluruh dalil yang dinukilkan dari perkataan ulama dalam artikel diatas sebernarnya justru dalil ketidakadaan bid’ah hasanah. Dalil-dalil yg tersebut di dalam artikel mayoritasnya adalah dalil yg digunakan oleh imam as-Syatibi (wafat 790H) dalam membantah pemahaman keliru akan adanya bid’ah hasanah dalam kitabnya al-I’tishom

        Lalu bagaimana minyak mau dipaksakan jadi air. Berapa banyak orang yg berkata mengenai sesuatu tetapi dinukilkan kepada sesuatu yang lain. Amanah ilmiah adalah sesuatu yg daruri bagi pencari kebenaran

      2. Dari pernyataan mas gondrong di atas sepertinya mas gondrong kurang mengenal ulama atau dengan pernyataan lain gapul=gagap ulama (meminjam istilah gaptek=gagap teknologi karena sepertinya gamang ketika mendengar nama ulama lain).
        ————————
        nah itu dia….kang ane kurang mengenal ulama….benar ane gagap ulama…kan ane anak TK kang, dalam ilmu agama alias baru balajar…mangkanya ane perlu belajar banyak..dan juga ulama amat banyak kang,…

        ————————
        Yang saya nukilkan: bahwa Imam Syafi’i tidak memaksudkan bid’ah hasanah dengan pernyanyataannya bid’ah mamduhah (terpuji) tetapi bid’ah secara bahasa seperti pernyataan Umar itu bukan pendapat saya atau dokor, tapi Ibnu Rajab. Apakah mas gondrong tahu siapa Ibnu Rajab?!
        ————————

        tentang pendapat ibnu rajab ia pun menjelaskannya kang…

        “berkata alhafidh ibnu rajab dalam kitabnya jami’ul ulum walhikam yang padanya peringatan bagi ummat dari mengikuti hal2 baru diada adakan,dan itu di kuatkan dengan hadist:semua bid’ah adalah sesat,maka yang di maksud adalah yang tidak ada asal usulnya dalam syariah yang menjadi penjelasannya,adapun apa apa yang ada asal usulnya dalam syariah maka hal itu tak bisa di sebut bid’ah dalam makna syariah,walaupun ia tetap di sebut bid’ah dalam makna bahasa (aunulma’bud juz 12 -235)

        nah tentang bid’ah dalam makna bahasa….ini di jelaskan lagi kang oleh imam ibn Hajar,

        “semua hal baru yang tak ada asal/dalil dalamsyariat di namakan bid’ah,namun apa2 yg ada dasarnyasyariahnya maka bukanlah bid’ah. maka kalimat bid’ah dalam makna syariah adalah buruk,namun berbeda dengan nama bahasa,karena dalam bahasa kesemuanya hal baru di sebut bid’ah,sama saja apakah itu yg baik atau yang buruk,demikian pula dengan hal2 baru,sbgm hadist yg di riwayatkan oleh aisyah ra,”barang siapa yang membuat hal baru dlm urusan kami (syariah) yg bukan dari syariah maka ia tertolak,sbm penjelasannya……………………..dst………………..hadist itu dikeluarkan oleh ahmad,dan abu daud dan tirmidzi,dan dishohihkan oleh ibn majah,ibn hibban dan hakim,maka hadist ini dgn makna yg dekat hadist aisyah sbmn di sebutkan,dan terpadu padanya banyak sumber pemahaman kalimat, dan berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua,bid’ah terpuji dan bid’ah tercela,maka hal baru yang sesuai dengan sunnah maka ia terpuji,dan yang tak sesuai dengan sunnah maka ia tercela,demikian di riwayatkan dari abu,dr ibrahim bin junaid dari Assyafii” (fathul bari almasyur juz 13 hal 254)-ibn hajar

        —————–
        Dia adalah ulama kisaran 736H -795H, yg tidak ada hubungannya dengan Muhammad bin Abdul Wahhab (1703H-1791H) –maaf sengaja saya sebutkan karena amat besar sekali kebencian saudara2 disini dengan beliau, seharusnya betapapun ketidaksepakatan kita dengan pandangan ulama tidak sepantasnya mencela ulama dengan serampangan, karena itu bukan jalan ahlussunnah, ahlussunnah senantiasa memuliakan ulama (dan Alhamdulillah belum terdengar dari mereka yg dituduh wahabi mencela satupun ulama)-.
        —————–
        trima kasih ….
        tapi sayang nya ane juga tak membicarakan yg akang katakan itu ttg hubungannya dgn Muhammad bin Abdul Wahhab….(benci ulama/dan mencela)

        —————–
        seharusnya betapapun ketidaksepakatan kita dengan pandangan ulama tidak sepantasnya mencela ulama dengan serampangan, karena itu bukan jalan ahlussunnah, ahlussunnah senantiasa memuliakan ulama (dan Alhamdulillah belum terdengar dari mereka yg dituduh wahabi mencela satupun ulama)-.
        —————————-
        waduh kalo mencela secara serampangan thp ulama lain itu insya Allah ane nggak ya kang..
        jika pernah ane mohon ampun pada Mu ya Allah…coba akang cari tahu aja,apa Muhammad bin Abdul Wahhab pernah mencela atau tidak thp ulama lainnya dalam kitab2 nya,akang cari tahu sendiri deh….ane kurang faham hal tsb…

        —————————–
        Mas gondrong kenal dengan Ibnu Hajar? Dia ulama ahlusunanh menurut mas atau bukan? Ibnu Hajar memuji keilmuan Ibnu rajab: sebagai ulama yang mahir dalam funun ilmu hadits, rijalnya, ilalnya serta makna hadits. Lihat kitab Anba’ Alghamar (itu kalau mas gondrong bisa baca kitab gundul, kalau kesulitan coba di cari di search di google atau Wikipedia)
        —————————
        ya,insya Allah….
        —————————

        Sekali lagi itu bukan perkataan saya, itu adalah penyataan ahlul hadits, seharusnya kalau ahlul hadits sudah menyatakan demikian kenapa masih berkeras.
        —————————
        berikut pula pernyataan ahlul hadist juga kang: (diantara nya yg akang sebut)

        1.menurut riwayat abu nu’im,imam syafii’pernah berkata:” bidah itu ada 2 macam,satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. bid’ah terpuji ialah yang sesuai dengan sunnah nabi dan bi’ah tercela ialah yang tidak sesuai atau menentang sunnah nabi.(fathul bari,juz XVII hal 10)Ibnu hajar

        2.sesuai dengan abu nu’im,imam baihaqi ahli hadist yang terkenal menerangkan dalam kitab “manaqib syafi’i bahwa imam syafii pernah berkata : “pekerjaan yg baru itu dua macam,1.pekerjaan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan al-quran,sunnah nabi,atsar dan ijma, ini di namakan bid’ah dholalah’ 2.pekerjaan keagamaan yang baik,yang tidak menentang salah satu tsb di atas,adalah bid’ah juga,tetapi tidak tercela (idem..)

        3.imam jalaluddin suyuthi “maksud asal dari perkataan bid’ah ialah sesuatu yang baru diadakan tanpa contoh terlebih dahulu,dalam istilah syariat,bid’ah adalah lawan dari sunnah,yaitu sesuatu yang belum ada pada zaman nabi muhammad,kemudian hukum bidah terbagi kepada hukum yang lima.(tanwirul halik,juz 1-137)

        4.berkata Imam Nawawi mengenai hadist riwayat shahih muslim no.1017 ini:
        pada hadist ini terdapat pengecualian dari sabda beliau SAW, “semua yg baru adalah bid’ah dan semua yang bid’ah adalah sesat” sungguh yang dimaksudkan adalah hal yang baru yang buruk dan bidah yang tercela”(syarh annawawi ala shahih muslim juz 7 hal 104-105)
        —————————-
        Amat disayangkan, sekali lagi itu bukan perkataan anak tk ataupun doctor, tetapi ulama ahlul hadits. Jika ulama ahlul hadits saja yang banyak mengerti tentang maksud dan makna hadits, ketika memaknai perkataan selain hadits dalam hal ini perkataan imam Syafi’i apakah sudah selayaknya dijadikan bahan renungan yang mendalam.
        ———————-
        ya itu bukan perkataan anak TK, yg ane maksud kita ini semua yg baru pd belajar agama kang…
        dan juga seperti nya ahlul hadist bukan ibnu rajab aja ya kang…banyak ya…tapi Imam Ibnu hajar,dan Imam Nawawi kiranya telah cukup menjelaskannya …dan sudah selayaknya dijadikan bahan renungan yang mendalam.

        ——————————

        Waallahu ‘Alam

        1. nah, alhamdulillah, sepertinya sudah sepakat sekarang bahwa istilah bid’ah hasanah itu tidak ada, apa yang saya utarakan tentang kekeliruan memahami maksud dari perkataan Imam Syafi’i dengan “bid’ah mamduhah” adalah bid’ah secara bahasa, hal itu semakin dikuatkan lagi dengan dalil2 yang mas gondrong tambahkan, yang pemahamannya bahwa maksud bid’ah yang baik hanyalah sebatas istilah bahasa. berarti rampung kontroversi ada tidaknya bid’ah hasanah,, alhamdulillah

          1. @ difa =

            Kalau anda shalat pakai sajadah, itu termasuk bid’ah dlolalah atau bid’ah khasanah? Ingat, dalam riwayat, Nabi Saw shalat di tanah. Jadi Shalat pakai sajadah adalah bid’ah, tidak ada contoh dair Nabi Saw. Aku ulangi, itu termasuk bid’ah khasanah atau bid’ah dlolalah?

            Pertanyaan kedua, di masjid yang bertingkat, shalat berjama’ah biasanya Imam ada di lantai bawah, sedangkan makmumnya di lantai dua atau tiga dst…. Shalat jama’ah yang demikian itu juga tidak ada contah dari Nabi Saw. Nah, shalat jama’ah yang seperti itu termasuk bid’ah dlolalah atau bid’ah khasanah? Silahkan kalau mau ngeyel tidak ada bid’ah khasanah…. Pertanyaannya disebut bid’ah apa cara ibadah seperti contoh di atas?

          2. he…he…he…
            ya jelas sekali bagi ane… antum nggak ngerti itu semua,(maksud nya para Imam tersebut)….
            he…he…terang dan jelas bagi ane….

            dan berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua,bid’ah terpuji dan bid’ah tercela,maka hal baru yang sesuai dengan sunnah maka ia terpuji,dan yang tak sesuai dengan sunnah maka ia tercela,demikian di riwayatkan dari abu,dr ibrahim bin junaid dari Assyafii” (fathul bari almasyur juz 13 hal 254)-ibn hajar

            wassalam…

  9. Buat semuanya, Akbar, Yusuf, Gondrong, Salik dan semuanya,…

    Antara Salik dan Gondrong bukan orang yang sama, seperti yang dituduhkan oleh Yusuf Ibrahim. IP-nya beda, jadi jelas tidak ada alasan untuk memaksakan tuduhan. Kalau untuk kasus Yusuf Ibrahim, memang IP-nya sama, dan orangnya juga sudah mengakuinya. Demikian, harap bisa dimengerti oleh semua pihak. Oke, terimakasih.

    1. Terimakasih atas jawaban yang cepat. Jadi sudah clear ya? Jadi sekarang sudah terbukti kebodohan si Yusuf Ibrahim yang merasa sok pinter ini kan ya? Ho ho hoi…. lucu ya?

      1. -Akbar-

        “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri (sesama muslim) dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
        (Q.S Al-Hujaraat : 11)

        1. Bang Yusuf Ibrahim…,

          Yang layak menyebut dalil di atas seharusnya orang lain yang membelamu. Anda semestinya bersabar tidak bela diri dengan ayat tersebut. Inilah bukti, anda tahu dalil, tapi tidak mengerti penerapannya.

          Lagi pula Anda kan sombong selangit, mengatakan kolom komentar di sini ditutup karena komentarmu yang pinter seperti ulama. Ini saya kutipkan komentar sombongmu: “Antum nyesel lho kalo saya komentar disini, nanti antum ga bisa komen lagi disini, soalnya dari yg sudah2, dari semua artikel di blog ini yg saya komentari, seluruh forum komentarnya ditutup semua lho….kalo ga percaya, bisa dilliat artikelnya, masih ada koq….”
          Huh, sombong sekali anda Bang Yusuf, padahal anda cuma berkomentar di satu kolom artikel “Debat Lucu Ahlussunnah Vs Salafy Wahabi”.

          Begitulah anda yang sombong, yang sok pinter seakan memiliki ilmu melebihi para ulama. Padahal ilmumu hanyalah “ilmu Wahabi” yang tidak diakui di kalangan mayoritas Ummat Islam. Rasulullah Saw mengajarkan dalam suatu riwayat hadits shahihnya, seorang Muslim boleh sombong di hadapan orang yang sombong sepeti anda.

  10. @ yusuf ibrohim
    q.s. alhujarat :11
    memang sangat pas untuk mazhab wahabi,al bani…yang selalu merendahkan ulama’ lain…

    he..he..senjata makan tuan…..

    1. loh,,,,saliq ini ternyata mazhabnya wahabi ya,,,,,ini terbukti secara nyata, sah dan meyakinkan sedang merendahkan ulama lain…….

      (manusia memang aneh, hanya bisa melihat belek dimata orang lain, tetapi beleknya sendiri tidak disadari)

      1. @ abu difa
        al bani itu orang yang tertidur di perpustakaan terus ngimpi jadi ulama’…

        zz……zzz…zzzz…….

        zzzz..z..zz..zz….

  11. For Yusuf:

    Anda bilang…,

    2. kalo berargumen dengan menggunakan akal dan hawa nafsu serta perasaan semata sih, saya rasa hampir semua orang juga bisa mas…..

    Jawab: Suka pakai obral dalil seperti anda itu tidak otomatis berarti tidak mengikuti hawa nafsu kan? Ingat sejarah Islam, orang-orang Khowarij juga hobby obral dalil, apakah mereka tidak ikut hawa nafsu?

    3. seharusnya anda donk yg memberikan bukti kalo Imam Syafi’i itu melakukan yasinan dari rumah ke rumah setiap malam jumat dan merayakan maulidan setiap tahunnya….

    Jawab: Nah…. kan lucu? Seperti orang debat so’al telur ama ayam duluan mana? He he he …. lucu abis deh…?!

    4. saran buat ‘akbar’, sebaiknya jangan pelit dan malas untuk bershalawat kepada Rasulullah yakni dengan menyingkat shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi SAW, karena SAW dalam bahasa Inggris itu artinya melihat, tidak ada unsur shalawatnya……hehehe…..

    Jawab: Anak kecil juga tahu, Saw itu dibaca Shallallahu ‘alaihi wasallam….

    5. kalo yasinan boleh dimodifikasi pelaksanaannya, berarti seorang muslim boleh donk mengkhususkan baca surat Yasin dulu sebelum makan? bukankah tidak ada larangannya?

    Jawab: Lho kok nggak boleh? Apakah harus harus nunggu dalilnya baru bisa baca yasin sebelum makan? Boleh aja dong sebelum makan baca Yasin dulu? Baca Waqi’ah juga boleh? Baca Al Mulk juga nggak apa-apa, bahkan dapat pahala satu hurup sepuluh kebaikan. Malah bagus kan, sebelum menikmati makanan mendulang pahala baca Qur’an dulu?

    Maksud saya begini, Yasinan atau Maulidan itu adalah termasuk ibadah mu’amalah, bukan mahdloh. Kalau Ibadah Mahdloh itu aturannya, syarat rukunnya, syarat sahnya, yang membatalkannya, dlsb-nya, semuanya sudah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Nah, dalam hal ini kita tidak boleh memodifikasi. Harus Ikut contoh, harus ittiba’. Jangan ngarang sendiri dalam hal ini, nati bisa terjerumus dalam bid’ah dlolalah. Contohnya Ibadah Shalat, kita tidak boleh shalat dhuhur hanya satu raka’at. Kalau nekad juga, maka itu namanya bid’ah dlolalah. Tidak ada pahalanya alias raddun, ditolak oleh Allah Swt. Demikian juga ibadah-ibadah mahdloh yang lain, harus ikut contoh dari Nabi Saw. Kalau tidak ikut contoh, maka fahuwa raddun, ibadahnya ditolak karena tidak ittiba’ Rasul Saw. Di sini jelas ya? Ini tadi membahas ibadah Mahdlhoh atau ibadah wajib. Oke Saudara Yusuf? Sudah jelas kan? Bisa dipahami kan?

    Sekarang saya akan membahas ibadah mu’amalah. Ingat, pada prinsipnya ini bukan ibadah wajib, tapi ada pahalanya jika pelaksanaannya tidak melanggar norma-norma agama kita (syari’ah). Contoh: Tradisi Baca Yasin malam Jum’at wajib apa bukan? Tidak wajib, tapi membacanya akan dapat pahala, betul? Ingat pelaksanaannya tidak ada syarat dan rukunnya, dlsb. Di mana boleh membacanya? di mana saja boleh asal tidak di WC atau di tempat yang kotor. Hari apa atau kapan boleh membacanya? Kapan saja boleh, hari Senin sampai Minggu/Ahad boleh membacanya. Kalau hari Jum’at boleh tidak? Boleh, bahkan bagus karena hari Jum’at adalah sayyidul ayyam, hari yang diberkati oleh Allah swt. Bahkan ada buku yang terbit membahas keistimewaan hari Jum’at, pernah baca buku itu? Intinya, ibadah mu’amalah Yasinan itu tidak melanggar Syari’ah. Apakah ini bid’ah? Ya emang bid’ah karena ibadah mu’amalah semacam ini tidak ada di zaman Rasul Saw. Tapi tentunya tidak otomatis dilarang, nah…, bid’ah seperti inilah yang disebut bid’ah khasanah. Dalam hal ini sudah ada modifikasi oleh para Ulama pencetus Yasinan di malam Jum’at, karena tidak ada contohnya. Tidak ada contohnya dalam kasus ini bukan berarti tidak boleh dilakukan. Pihak-pihak yang melarang atau membid’ah-dlolalahkan Yasinan, jelas-jelas mereka telah berbuat mungkar yang nyata. Bagaimana tidak mungkar kalau menghalangi orang-orang yang mengharap rahmat (pahala) dari Allah Swt?

    Waduh, kepanjangan ini, ntar yang lainnya jadi bingung kalau terlalu panjang…. Semoga anda dan yang lainnya bisa paham. Barakallahu fikum ajma’in….

    1. -Akbar-

      1. Waduh…bagaimana ini? berargumen dengan menggunakan dalil koq dikait-kaitkan dengan khawarij ya? tapi gpp, yg penting kan pemahamanannya tidak seperti khawarij, lebih baik obral dalil mas, daripada obral hinaan, ejekan dan mencari-cari kesalahan orang lain…..

      2. Saya heran dengan anda ini, sebenarnya apa sih yg diajarkan oleh guru anda ini? apakah anda hanya diajarkan bagaimana cara menghina wahhabi, mengejek wahhabi, serta mencela wahhabi saja? sehingga pemahaman anda serampangan seperti itu?
      Seenak perutnya mengatakan boleh-boleh saja membaca surat ini dan itu sebelum makan, seolah-olah Rasulullah tidak pernah mengajarkan bagaimana adab sebelum makan……bisa terlihat kan sekarang, siapa sebenarnya yg ‘sok pinter’ disini?
      padahal Rasulullah hanya mengajarkan mengucapkan ‘Bismillah’ saja sebelum makan, sebagaimana dalam Sabdanya,

      Dari Amr bin Abi Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir)

      “Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022)

      Jadi, barangsiapa yg masih saja mengikuti pendapat ‘akbar caniago’ ini, nsicaya Allah akan sesatkan dia (orang yg mengikuti ‘akbar’ ini) sebagaimana Firman Allah ;

      “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (Q.S An-Nissa : 115)

      Ingatlah pula dengan perkataan Imam Asy-Syafi’i, dalam kitabnya, Hilyatul Awliya’ pada halaman 107, yang artinya:

      “Apabila engkau dapati ajaran dari Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam, maka ikutilah ajaran itu dan jangan kalian menoleh kepada pendapat seorangpun”

      Maka, pendapat si ‘akbar’ yg mengatakan boleh-boleh saja membaca surat ini dan itu sebelum makan itu sangat tidak layak untuk diikuti, ditolak dan sebaiknya dibuang jauh-jauh pendapatnya itu…………

      3. Yang munkar itu bukan orang yg melarang yasinan mas, akan tetapi orang-orang yg menciptakan tata cara/ritual peribadatan baru dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah itu, seolah-olah Sunnah Rasulullah yg sudah ada masih ada yg kurang sehingga diciptakanlah ritual peribadatan baru itu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah….padahal Sunnah dari Rasulullah saja sudah cukup bagi kita utk mendekatkan diri kepada Allah, yg namannya cukup, berarti tidak perlu ditambah atau dikurangi lagi mas……

      Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
      “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

      4. Imam Syafi’i berkata ;

      “Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (dalam agama, menurut pendapat/akalnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at (baru)”
      [Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’ oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya].

      Jadi, jika anda menganggap baik membaca surat-surat Al-Quran sebelum makan, maka sesungguhnya anda telah membuat syariat baru…….

      1. Buat saudara Yusuf Ibrahim,

        Inilah jawaban saya:

        1. Orang gila pasti tidak tahu kalau dirinya gila. Kalau tahu, berarti dia sudah waras. Demikian juga Khowarij tentu tidak menyadari kalau dirinya Khowarij. Kalau sadar tentunya sudah bertobat.

        2. Yang jelas saya tidak diajari “ilmu wahabi” oleh guru-guru saya. Ilmu wahabi adalah ilmu bagaimana mengobral dalil(gammpang mengeluarkan dalil untuk hal-hal yang seharusnya tidak perlu dalil), menebar pesona dalil atau pamer dalil tanpa tahu maksud dan tujuannya atau penerapannya. Mengadili lawan diskusi dengan dalil seakan lebih tahu dari Allah Swt. Tentu kita harus menghindari praktik ilmu seperti ini.

        3. Yasinan atau Maulidan dan yang sejenisnya yang bukan ibadah mahdloh, semua itu tidak ada tata cara/ritual peribadatan secara khusus. Dalam masalah ini anda asal tuduh atau memang tidak mengerti. Anda sungguh konyol dan ngawur selalu mengatakan “menciptakan tata cara/ritual peribadatan baru”. Dari perkataan yang selalu anda ulangi menunjukkan anda tidak perduli dengan fakta yang ada. Anda terlalu teoritis dan mengabaikan fakta lapangan. Padahal dalam acara maulidan, yasinan, tahlilan, semua tidak ada tata cara khusus seperti teori anda. Sebutkan kalau ada, pasti anda akan bingung sendiri, karena memang tidak ada tata caranya secara khusus.

        4.Sekali lagi membuktikan anda tidak mengerti bagaimana menerapkan dalil, asal membeo saja mengikuti ustaz-ustaz salafy wahabi. Saya berlindung kepada Allah Swt dari ‘sempitnya nalar’ yang anda banggakan!

        Demikian jawaban saya, mudah-mudahan bisa menjadi bahan renungan. Semoga juga bermanfaat untuk pengunjung yang lain. Barakallahu fikum ajma’in, Walhamdulillahi rabbil ‘alamin…amin….

        1. 1. apakah setiap orang yg berargumen dengan menggunakan dalil lantas dikatakan khawatij? kalo hanya sebatas itu cara pandang anda, maka kasihanilah diri anda…..

          2. kalo ‘ilmu wahhabi’ itu adalah ilmu yg mengajarkan mengucapkan ‘Bismillah’ sebelum makan sesuai dengan apa yg sudah diajarkan oleh Rasulullah, kenapa tidak?…..

          3. Fakta yg lebih konyol bin ngawur lagi adalah dengan membuat syariat baru yakni membaca surat Yasin sebelum makan, padahal Rasulullah hanya mengajarkan cukup mengucap ‘Bismillah’ saja sebelum makan……

          4. ingat ! Banyaknya orang yg melakukannya berdasarkan fakta dilapangan, tidak bisa dijadikan ukuran benar salahnya suatu perbuatan…….

          “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

          5. kalo anda boleh-boleh saja menilai orang-orang seperti saya itu terlalu mudah ‘obral dalil’, maka saya juga boleh donk menilai anda yg juga terlalu mengedepankan akal dan perasaan semata dalam menghukumi syariat Islam ini……

          6. Biarlah orang yg menilai, mana yg berpendapat berdasarkan dalil ilmiah dan pendapat mana yg hanya mencari-cari kesalahan, lebih mengedepankan hawa nafsu, akal dan perasaan semata…..

          -sukron-

          sampai disini dulu yaa…..apabila ada kata-kata saya yg keliru baik yg disengaja ataupun tidak, mohon dimaafkan…….

          1. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
            to yusuf ibrahim,
            comment kmu kock kelihatnnya muter muter terus aja, kaya gak ada perkataan yang lain aja yang keluar dari mulut km, saya baca comment kamu malah bikin aku tertwa aja, yakin coba kalo aq bisa kenal dan melihat kelakuan dan kehidupan bermasyarakat / sosial kamu, mungkin aku juga bisa menimpulkan kamu itu termasuk orang yang seperti apa,
            lha kamu debat seperti ini aja wagu yang gak perlu di sampaikan kamu sampaikan, contoh “Fakta yg lebih konyol bin ngawur lagi adalah dengan membuat syariat baru yakni membaca surat Yasin sebelum makan, padahal Rasulullah hanya mengajarkan cukup mengucap ‘Bismillah’ saja sebelum makan” tadi mas akbar kan sudah menjelaskan sebelum makan baca yasin kan gak ada hukumnya di larang atau di wajibkan jadi apabila kita sebelum makan ingin membaca al quran atau surat yasin kan gak ada masalah malah Insyaallah kita dapat pahala dari Allah SWT, tapi aq baca comment kamu malah tertawa sendiri aq, sepertinya mas yusuf gak tahu apa yang di maksud oleh mas akbar, sepertinya anda juga hanya mengandalkan dalil-dalil yang dari buku saja, terima kasih, maaf sebelumnya.
            wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

  12. masalah bid’ah ini sangat penting, hubungannya sama dasar agama, memangnya saudara tidak takut dengan ancaman nabi saw lewat sabdanya ” tiap-tiap bid’ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan itu di neraka” (h.r. muslim dan nasa”i) tapi saudara jangan salah faham tentang bid’ah disini, maksud bid’ah disini itu bid’ah dalam perkara IBADAT seperti bersuci, dzikir, shalat,puasa,haji dll. bukan perkara KEDUNIAAN (ADAT) seperti jual-beli,dakwah, perang, jinayat dll. dan sebelum saudara bicara masalah HALAL atau HARAMnya BID’AH saudara harus tahu dulu apa yang dimaksud perkara IBADAT dan apa yang dimaksud perkara ADAT,
    1.perkara IBADAT ialah perkara yang tidak dikerjakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari apabila tak di parintah oleh agama dan perkara yang tidak dapat difikirkan dengan jelas tentang baik atau buruknya,
    contohnya:
    A.mengapa kita disuruh bertayamum dengan tanah apabila tak ada air?
    B.mengapa shalat dzhuhur 4 reka’at tetapi shubuh hanya 2 reka’at, padahal kita diwaktu shubuh keadaan kita lebih lapang (alias gak sibuk)?

    nah, perkara ini yang GAK BOLEH DITAMBAH atau DIKURANGI harus sama kaya yang nabi contohin,

    2. perkara ADAT ITU perkara yang udah biasa dilakukan manusia walaupun gak di perintah oleh agama dan perkara yang dapat diketahui kebaikan dan keburukannya dengan jelas. nah perkara ini yang yang BOLEH DITAMBAH atau DIKURANGI. contohnya ada yang bilang “kalau setiap yang gak ada contohnya dari nabi itu bid’ah donk berarti dakwah lewat internet, pake mikrofon,terus perang pake tembakan juga haram donk???????” nah sekrang kita lihat dulu perkara itu termasuk perkara IBADAT atau ADAT, DAKWAH & PERANG itu termasuk perkara ADAT… kenapa? karena wlaupun agama gak nyuruh ha-hal itu bakal tetep dikerjain oleh manusia contohnya RUSIA itu negara KOMUNIS tapi mereka tetep perang terus kalo seseorang melakukan kesalahan pasti akan langsung dinasehati oleh saudaranya meskipun mereka komunis , nasrani ataupun yang lainnya dengan demikian HAL ITU BERARTI BIASA DIKERJAKAN MANUSIA WALAUPUN TAK DIPAERINTAH OLEH AGAMA.
    jdi dakwah lewat internet itu memang bid’ah tetapi TIDAK HARAM karena hal itu termasuk dalam hal keduniaan(adat) bukan dalam ibadat inilah dalilnya, sabda nabi: “kamu terlebih mengetahui hal urusan dunia kamu” (H.R.Muslim)

    sedangkan BID’AH dalam hal ibadat itu semuanya HARAM, dalam beberapa hadist yang nyata SHAHIHnya nabi melarang keras!! dan pehatikanlah beberapa perkataan ulama ahlifiqh dibawah ini: “ada orang bertanya kepada imam Malik tentang membaca “qul huwallahu ahad”beberapa kali dalam satu rekaat maka ia benci yang demikian itu dan berkata: yang demikian itu satu daripada perkara-perkara yang diada-adakan orang”(AL-I’TISHAM)

    cobalah SAUDARA FIKIR… APA MEMBACA QUL HUWALLAH ITU TIDAK BAIK??? MENGAPA IMAM MALIK BENCI DAN MENGATAKAN BID’AH???? MENGAPA TIDAK IA KATAKAN HAL ITU BID’AH HASANAH????
    dan ada riwayat lagi: telah berkata ibnu majisyun: saya pernah dengar imam Malik berkata: “barangsiapa mengadakan satu BID’AH dalam islam, bid’ah yang mana ia anggap BID’AH HASANAH, sesungguhnya (seolah-olah) ia menyangka bahwa MUHAMMAD SAW itu khianat tentag menyampaikan perintah (ALLAH) karena Allah berfirman: “pada hari ini Aku telah sempurnakan agama kamu bagi kamu” maka apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu , tidak jadi agama pada hari ini.”(AL-I’TISHAM)
    diriwayat ini dengan jelas imam malik menolak anggapan orang tentang adanya BID’AH HASANAH..

    BAGI SAUDARA-SAUDARA YANG MENGANGGAP ADANYA BID’AH HASANAH, MAKA jawablah prtanyan saya dibawah ini ”

    -SHALAT ITU BAIK TIDAK? LANTAS MENGAPA TAK BOLEH KITA TAMBAH 1 ATAU 2 REKAAT DALAM SHALAT SEHINGGA SHALAT DZUHUR MENJADI 5 REKAAT?
    – AL-FATIHAH ITU BAIK TIDAK? LANTAS MENGAPA TAK BOLEH DALAM RUKU’ ATAU SUJUD KITA BACA AL-FATIHAH?

    SAUDARAKU BAHAYA BID’AH ITU TIDAK SEDIKIT, apabila bid’ah ini terus dibiarkan niscaya takan ada lagi KESUCIAN AGAMA INI KARENA SETIAP IBADAH BOLEH DITAMBAH DAN DIKURANGI DAN NISCAYA NANTI ORANG-ORANG TAK DAPAT MEMBEDAKAN YANG MANA YANG SUNAH NABI DAN YANG MANA YANG BID’AH…. APAKAH KITA SEBAGAI UMAT MUHAMMAD AKAN MEMBIARKAN SUNAHNYA MATI KARENA TERTUTUP OLEH BID’AH YANG DIADA-ADAKAN ORANG????????

    perhatikanlah perkataan ibnu QOYYIM: “sudah diketahui bahwa orang yang berdosa maka mudharatnya akan kembali pada dirinya sendiri, sedangkan mudharat orang yang mengadakan bid’ah kembali kepada manusia, cobaan orang yang mengadakan bid’ah berkaitan dengan dasar agama sedangkan cobaan orang yang berdosa berkaitan dengan hawa nafsu.Orang yang mengadakan bid’ah dudk diantara manusia seakan-akan ia berada di jalan Allah, padahal hakikatnya ia menghalangi mereka dari jalan itu,sedangkan orang yang berbuat dosa tidaklah begitu. orang yang mengadakan bid’ah menentang apa yang dbawa Rasulullah saw, sedangkan orang yang berbuat dosa tidak begitu.orang yang mengadakan bid’ah memotong jalan keakhirat bagi manusia,sedangkan orang yang berdosa hany lambat menuju ke akhirat karena dosanya” (al-jawab al-kafy)

    dan FAHAMILAH sabda nabi: “sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan masuk syurga dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka, lalu shahabat bertanya “ya rasulullah, siapakah satu golongan itu?” beliau menjawab, :”golongan yang mengikuti jejakku dan jejak shahabatku” (H.R. TIRMIDZI)

    APABILA KITA MASIH MENGERJAKAN PERKARA-PERKARA BID’AH AKANKAH KITA TERMASUK DALAM SATU GOLONGAN YANG SELAMAT ITU ATAU TUJUH PULUH DUA GOLONGAN YANG CELAKA ITU??????

    1. Kacau deh ilmu keislaman kalau dipegang ama Wahabi…. Jadi absurd dan tidak relevan. bener-bener ngawur, asal berdalil. Seperti burung berkicau atau beo yang membeo, nggak ngerti maksudnya, yang penting bisa nembak pakai dalil. Ya Allah, jauhkan keluarga kami dari wahabi, selamatkan kaum muslimin dari kerusakan yang diusahakan oleh para wahabi…. Amin….

      1. memangnya usaha pengrusakan wahabi itu seperti apa ya,,,kalau yang saya fahami dari koment mereka2 yang digelari wahabi sepertinya mengajak untuk beramal dengan dalil,,,apakah beramal dengan dalil itu suatu pengrusakan atau suatu yang harus dipuji….,,,,jadi g ngerti saya…..tolong lebih di perjelas mas…

    2. assalamualaikum, ana org baru masuk situs ini dr malaysia.
      mau tanya kalo menyanyi (singing) bawa unsur lagu dakwah atau selawat boleh enggak?
      sebab orang yang selalu anggap bid’ah yasinan dan tahlilan mengatakan nyanyian-nyanyian dakwah waalau ada alat musik bertali dibolehkan sebab dakwah. dakwah bukan ibadah khusus kata mereka.
      tapi bca yasin tu dan mengucap tiada tuhan melainkan allah dalam tahlil sesat. sebab ia ibadah khas.
      tapikan ianya dakwah yang ada unsur baca al quran dan dzikir.

  13. @ muhamad hasan
    apa ada di dunia yang rukuk dan sujud dalam sholat membaca fatihah….????
    fitnah lagi….

    kalau memberi contoh itu yang bener mas…

    1. -saliq-

      saudara ‘Muhammad Hasan’ itu bertanya mas, mbok….jawabnya yg nyambung gitu, lagipula itu bukan fitnah mas, tapi Sabda Rasul ;

      “……ketauhilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud. Saat rukuk, agungkanlah Ar-Rabb. Saat sujud, bersungguh-sungguhlah untuk berdo’a, kemungkinan besar do’amu dikabulkan.” (H.R Muslim (479))

      coba perhatikan Sabda Rasulullah diatas, membaca Al-Quran pun, jika tidak tepat waktu dan tempatnya, maka terlarang hukumnya…..Sabda Rasulullah diatas bukan berarti Rasulullah melarang membaca Al-Quran kan…..?

      1. Tempat belajar Amtsilati di DKI Jakarta:

        11. DKI Jakarta

        No NSPP Nama Pondok Pesantren Alamat Telepon Kecamatan Kabupaten Propinsi Tipe Santri Tokoh Pendiri Pimpinan
        Lk Pr

        1 1 512317110017 PP. Al Ishlah Jl. Tanah Kusir Rt.007/010 (021) 7290408 Kebayoran Lama Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Kombinasi 247 269 Abd. Halim Amir, DR,KH,MBA Abd. Halim Amir, DR, KH, MBA

        2 2 512317110012 PP. Mahad Aly Al Arba’in Jl. KH. M. Syafi’i Hadzami (021) 72791575 Kebayoran Lama Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Salafiyah 35 – M. Syafi’i Hadzami, KH H. Ahsin S Muhammad, MA, DR

        3 3 51231751119 PP. Al Musyarrofah Jl. H. Mukhtar Raya (021) 5856768 Pesanggrahan Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Kombinasi 430 210 Ahmad Nawawi, KH Ahmad Nawawi, KH

        4 4 009073005005 PP. Darunnajah Jl. Ulujami Raya No.86 021-7350187 Pesanggrahan Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Ashriyah 102 131 Abdul Manaf Mukhayyar, KH Mahrus Amin, Drs, KH

        5 5 512317111019 PP. Miftahul Huda Jl. H. Satiri Ulujami Rt.02/03 021 5868223 Pesanggrahan Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Ashriyah 173 179 Alwi H.G, H Ust. Hamka Kamaluddin

        6 6 512317120**- PP. Daarul Ma’arif Jl. RS. Fatmawati (021) 7694127 Cilandak Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Ashriyah 868 573 Idham Chalid, KH, DR Idham Chalid, KH, DR

        7 7 512317120*-* PP. Hidayatut Thalibin Jl. Cilandak Tengah III / 53 (021) 7653281 Cilandak Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Ashriyah 305 250 Moh Idris KS, KH Zainal Arifin, Drs, KH

        8 8 512317120*** PP. Miftahul Ulum Addiniyyah Jl. Madrasah No. 17 (021) 7650689 Cilandak Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Ashriyah 126 139 Ishaq Yahya, KH Abd Salam Zaini, Lc, KH

        9 9 512317130041 PP. Al Mahbubiyah Jl. Jeruk Purut Rt.001/03 (021) 7829630 Pasar Minggu Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Ashriyah 270 352 Manarul Hidayat, KH, DR Chisomuddin Basri, H, Drs

        10 10 512317131031 PP. Al I’tshom Jl. Tanjung Barat Selatan (021) 78830446 Jagakarsa Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Ashriyah 45 21 Marzuki Arman Abduh, KH Marzuki Arman Abduh, KH

        11 11 512317131029 PP. Al Mawaddah Jl. Sadar Raya No 34 021-788931791 Jagakarsa Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Kombinasi 106 163 M Saalih, KH Abdullah, KH, S.Ag

        12 12 512317131037 PP. An Nuriyah Jl. Timbul No 60 Cipedak 021-7271233 Jagakarsa Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Salafiyah 50 35 Rodjali Sarmili, H, BA Julian Lukman, H, LC

        13 13 512317131034 PP. Darul Aitam Al I’tishom Jl. Tg Barat Selatan RT 04 RW 021 -88304461 Jagakarsa Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Ashriyah 82 69 Marzuki Arman Abduh, KH Marzuki Arman Abduh, KH

        14 14 512317131*** PP. Darul Hikmah Jl. Lapangan Merah 0 – Jagakarsa Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Salafiyah 25 25 Daman Danuwijaya, H Thabrani As

        15 15 512317141045 PP. Daarul Ishlah Jl. Buncit Raya No.5 (021) 7942622 Pancoran Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Salafiyah 180 – Munir Hasbi, KH Amir Hamzah, KH

        16 16 512317150025 PP. Daarul Rahman Jl. Senopati 35 A (021) 5226928 Kebayoran Baru Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Ashriyah 157 597 Syukron Ma’mun, KH Syukron Ma’mun, KH

        17 17 512317170*** PP. As Syafi’iyah Jl. Al Barkah No.17 (021) 8280587 Tebet Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Ashriyah 70 40 Abdullah Syafi’ie, KH Abdul Rasyid AS, KH

        18 18 512317170*_* PP. Darul Qur’an Jl. Palbatu I No.21 (021) 8316707 Tebet Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Ashriyah 80 75 Masyhuri Syahid, MA, KH Masyhuri Syahid, MA, KH

        19 19 009073001014 PP. Perguruan Al Awwabin Jl. Teber Barat VI No.3 021-297879 Tebet Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Salafiyah 10 10 Abdul Rahman Nawi, KH Abdul Rahman Nawi, KH

        20 20 512317170020 PP. Syarif Hidayatullah Jl. Lap. Ros III No. 33 (021) 8303025 Tebet Kota Jakarta Selatan DKI Jaya Kombinasi 65 40 Dhiyaudin, KH (alm) Ida Sajidah, Lc, Hj

        21 21 042317210001 PP. Husnayain Jl. Lapan 25 Pekayon 021 8710969 Pasar Rebo Kota Jakarta Timur DKI Jaya Ashriyah 15 24 A. Cholil Ridwan, KH KH. A. Cholil Ridwan

        22 22 512317211088 PP. Al Amiria Wiva Usaha Al M Jl. Bungur Rt.10 Rw.06 (021) 87797827 Ciracas Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 40 30 M. Amirudin Yusuf, Drs Amirudin, Drs, H

        23 23 512317411*** PP. Assalafiyah Jl. Manunggal 2 (021) 8414970 Ciracas Kota Jakarta Timur DKI Jaya Ashriyah 78 71 Misbahul Munir, H Misbahul Munir, H

        24 24 512317411022 PP. Modern Tunas Islam Jl. Cibubur 4 No.20 (021) 8705657 Ciracas Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 400 62 Andzar jaya Setiawan Drs, BA, Andzar jaya Setiawan Drs, BA,H

        25 25 512317212445 PP. Al Fajru Jl. Kapuk Rt. 11/03 (021) 8406230 Cipayung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 35 25 Ustad Heriyanto, S.Ag Soimun, S.Pdi

        26 26 512317212037 PP. Al Fathonah Jl. SLTP 160 Rt.05/05 021 8449347 Cipayung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Salafiyah 10 10 M.M. Anda Suhanda, H M. Hasan Basri

        27 27 512317212034 PP. Al Mustaqiim Jl. Munjul No. 1 Kel. Munjul 021-8452774 Cipayung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 62 15 Sulaiman, SE, H Ahmad Jafar Shidiq

        28 28 512317212032 PP. Bamadita Rahman Jl. Asrama Zeni AD No. 17 (021) 8413735 Cipayung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 120 200 Bambang Madiyono, Prof, DR Hamim Tohari, H

        29 29 512317411002 PP. Darul Faroh Jl. H. Siun Rt.001/05 (021) 8444278 Cipayung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 40 – Sayyid Muhammad Asseggaf M. Hasan Basri

        30 30 512317212013 PP. Fisabilillah Jl. Kel. Pondok Rangon (021) 8440292 Cipayung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 33 19 Achmad Mubarok, Prof, Dr, MA Endang Sudarso

        31 31 512317212*** PP. Ja’far Shiddiq Jl. Hankam Munjul Rt.05/02 (021) 93794392 Cipayung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 72 – A. Ja’far Shiddiq A. Ja’far Shiddiq

        32 32 042317211018 PP. Minhaajurrosyidin Jl. SPG 7 No. 17- Lubang Buaya 021-9215957 Cipayung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Ashriyah 94 110 Zubaidi Umar, H, SJ Aceng Karimullah, KH, SE

        33 33 512317212071 PP. Tsaqofah Aislamiyah Jl. SMP 160 No. 32 Rt.03/01 (021) 8444278 Cipayung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 30 40 Habib Muhammad Assegaf Habib Ali Zainal Abidin Alkaff

        34 34 Kw953PP76640 PP. Ulul Ilmi Jl. Masjid Al Akbar 40 (021) 9191652 Cipayung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 96 47 Achmad Wajihudin, Drs, KH, MA Achmad Wajihudin, Drs, KH, MA

        35 35 512317260022 PP. Yayasan Al Hamzah Jl. Kav. I DKI No.80 021 8456647 Cipayung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Ashriyah 57 58 Sultan Mahri, KH Aly Abdurohman

        36 36 51231742**** PP. Nurul Hijrah Jl. Penggilingan Baru 3 (021) 87795045 Kramat Jati Kota Jakarta Timur DKI Jaya Ashriyah 35 36 Abu Hanifah Thoyyib, KH Abu Hanifah Thoyyib, KH

        37 37 512317420025 PP. Tapak Sunan Jl. Kayu Manis (021) 8013940 Kramat Jati Kota Jakarta Timur DKI Jaya Ashriyah 112 73 M. Syafi’i Hadzami, KH M. Nuruddin, Drs, KH

        38 38 512317230024 PP. Assalafy Jl. Kebon Nanas Utara II No.3 (021) 5193852 Jatinegara Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 202 169 Abdullah, Habib Hud Habib Bin Moh Bagir Alatas

        39 39 512317230040 PP. Jauharul Wathan Jl. T. No.4 Rt.005/011 (021) 8518684 Jatinegara Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 68 57 Abdul Halim Abdul Halim, H

        40 40 512317431*** PP. Al Hidayah Jl. Jatibening II Rt.01 / 12 (021) 8650958 Duren Sawit Kota Jakarta Timur DKI Jaya Ashriyah 47 30 Madinah, KH Abd Rahman Madinah, KH

        41 41 512317431015 PP. Al Jauhariyah Jl. Buaran 2 (021) 8631257 Duren Sawit Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 30 45 Asmah, Hj, Ustz Nurul Ghulam, Drs, H

        42 42 512317231011 PP. Al Wathoniyah 24 Jl. Padat Karya No. 35 Rt.08/0 (021) 86904024 Duren Sawit Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 19 5 A. Zayadi Maula, H A. Zayadi Maula, H

        43 43 04231723100Z PP. Az Ziyadah Kp. Tanah 80 Duren Sawit (021) 8611412 Duren Sawit Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 204 250 A. jJayadi Muhajir, KH (Alm) Siti Fatimah, Ust, Hj, Dra

        44 44 512317231036 PP. Nurul Jannah Malaka 3 (021) Duren Sawit Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 72 84 Imam Zarkasyi Imam Zarkasyi Rowi

        45 45 512317240*** PP. Persatuan Islam Kramat Asem (021) 8196005 Matraman Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 237 336 A. Sukayat, H (alm) M. Fauzi Nurwahid, Drs, H

        46 46 512317250*** PP. Al Kenamiyah Pulo Nangka Barat (021) 47867752 Pulo Gadung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Ashriyah – 110 Ilyas Keman, H Hambali Ilyas, Drs, KH

        47 47 512317250047 PP. Ar Rahmah Jl. Sinar Jaya Rt.001/010 (021) 4890210 Pulo Gadung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Salafiyah 40 10 Yusuf Bachrupin, KH Ysuf Bachrudin, KH

        48 48 512317250038 PP. Khusus Yatim Darussalam Jl. Jatinegara Kaum 1 36 021-4712471 Pulo Gadung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Salafiyah 10 15 Udia Wijaya, HR Hasanuddin M, BA, KH

        49 49 512317260*** PP. Al Hikmatuzzainiyyah Jl. Satria Tiga Rt.009/02 (021) 46832941 Cakung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 14 21 Muhammad Zen Farid, KH Muhammad Zen Farid, KH

        50 50 042317260021 PP. Al Wathoniyah 09 Jl. Raya Penggilingan 02/03 021-4608184 Cakung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Ashriyah 155 125 Ahmad Shodri, KH, Drs Ahmad Shodri, KH, Drs

        51 51 512317260033 PP. Al Wathoniyah Pusat Jl. Raya Bekasi Timur 021 4608663 Cakung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Ashriyah 81 90 Hasbiallah, KH KH. Irfan Zidni

        52 52 512317260089 PP. Asy-Syubban Al – Muslimun Kp. Baru Rt.003/09 (021) 44831013 Cakung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 110 90 Abd Rohim Husen, KH Moh Kholil Ar, KH

        53 53 512317260069 PP. Darul Hikmah Jl. Al Hikmah Kp. Kandang Sapi (021) 4612441 Cakung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 20 26 Ahmad Shodikun Aw, DR, KH Abdul Ghoni, S.Ag

        54 54 512317260000 PP. Jamiyyatul Khoirot Jl. Tipar Cakung Rt.008/09 (021) 4406673 Cakung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Salafiyah 25 30 A. Sarmidi, KH (Alm) Moh. Maksum, Ust, H, S.Ag

        55 55 512317260014 PP. Nahdatul Wathan Jl. Raya Penggilingan (021) 46820788 Cakung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Salafiyah 146 123 M. Suhaidi, H Miftahuddin, M.Ag

        56 56 512317260023 PP. Rahmatusy Syfa Jl. Rawa Kuning No.59 021 4803510 Cakung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Ashriyah 153 145 Ali Abdurahman Nabawi KH. Abdurahman Nabawi

        57 57 512317460021 PP. Ziyadatul Mubtadi’ien Penggilingan No.100 (021) 4611852 Cakung Kota Jakarta Timur DKI Jaya Kombinasi 70 40 Muhir, KH (Alm) A. Fadloli Elmuhir, KH

        58 58 5123171400 PP. Islam Hubbul Wathon Jl. Cempaka Putih Tengah 26 E (021) 4213566 Cempaka Putih Kota Jakarta Pusat DKI Jaya Salafiyah 80 80 Ma’i, H Ibrahim Karim, KH

        59 59 512317360091 PP. Al Falah As Salafiyah Jl. Pisangan Batu No.29A (021) 6266774 Sawah Besar Kota Jakarta Pusat DKI Jaya Ashriyah 13 7 Muhammad Mukmin, KH Muhammad Mukmin, KH

        60 60 512317410053 PP. Al Falah JL. KH. Tohir 43 Rt.03/07 (021) 5303453 Kebon Jeruk Kota Jakarta Barat DKI Jaya Kombinasi 155 171 Ubaidillah Isa, KH Ubaidillah Isa, KH

        61 61 512317410304 PP. Al Idzhaar Jl. H. Salihun No.163 (021) 5356204 Kebon Jeruk Kota Jakarta Barat DKI Jaya Kombinasi 56 55 H.A. Syamsuri, SH H.A. Syamsuri, Drs

        62 62 512317141054 PP. As Shiddiqiyah Jl. Surya Sarana 6 c (021) 5803046 Kebon Jeruk Kota Jakarta Barat DKI Jaya Kombinasi 336 323 Nur Moh Iskandar Sq, DR. KH Nur Moh Iskandar Sq, DR, KH

        63 63 512317410002 PP. As Surur Jl. H.H. No.63 Rt.08/01 (021) 70122065 Kebon Jeruk Kota Jakarta Barat DKI Jaya Ashriyah 60 51 Abdul Hamid, KH Abdul Hamid, KH

        64 64 512317410006 PP. At Taufiiq Kedoya Selatan 08159920584 Kebon Jeruk Kota Jakarta Barat DKI Jaya Ashriyah 30 20 Mahmud M, Drs, H Mahmud, Drs, H

        65 65 512317141*** PP. YPP. Al Kamal Jl. Kedoya Raya No.2 (021) 58301233 Kebon Jeruk Kota Jakarta Barat DKI Jaya Ashriyah 300 350 H. Sudarmono, SH Haryanto Danutirto, Prof, Dr

        66 66 512317311022 PP. Al Abror Jl. Manggis No.5A Srengseng (021) 5849903 Kembangan Kota Jakarta Barat DKI Jaya Kombinasi 44 92 Amsir, KH (Alm) Abdullah, KH

        67 67 512317411010 PP. Al Hidayah Basmol Basmol Rt.06/06 (021) 5812061 Kembangan Kota Jakarta Barat DKI Jaya Kombinasi 140 115 Mas’ud, KH Hasyim, KH

        68 68 512317411035 PP. Al Washilah Kp. Baru No.20 Rt.014/010 (021) 5811672 Kembangan Kota Jakarta Barat DKI Jaya Ashriyah 335 260 Dasuki Adnan DR, KH, SH, MM Dasuki Adnan DR, KH, SH, MM

        69 69 512317310007 PP. An Nuriyah Komplek Unilever No.22 (021) 5850454 Kembangan Kota Jakarta Barat DKI Jaya Kombinasi 34 38 Muhammad Subhan

        70 70 512317420*** PP. Mirqot Ilmiyah Al Itqon Jl. H. Selong Rt.005/03 (021) 5453788 Cengkareng Kota Jakarta Barat DKI Jaya Kombinasi 246 325 Asirun, KH Mahfudz Asirun, KH

        71 71 512317420016 PP. Nurul Qur’an Jl. Raya Duri Kosambi No.7 (021) 54396458 Cengkareng Kota Jakarta Barat DKI Jaya Kombinasi 66 51 Muhammad Supena, Drs, M.Pd Muhammad Supena, Drs, M.Pd

        72 72 512317421*** PP. Minhajut Tholibin Jl. Peta Utara No.46 (021) 5401881 Kalideres Kota Jakarta Barat DKI Jaya Kombinasi 175 150 Asmani, KH (alm) M. Ahya Al Anshori, KH

        73 73 512317421013 PP. Sirojul Huda Jl. Utan Jati Rt.002/011 (021) 5453862 Kalideres Kota Jakarta Barat DKI Jaya Ashriyah 112 130 Moh. Mansyur, KH (Alm) Zumamuddin, KH

        74 74 512317430344 PP. Riyadhul Mu’minin Jl. Petamburan Angke No.21 (021) 5676830 Grogol Petamburan Kota Jakarta Barat DKI Jaya Kombinasi 96 10 M. Suhaimi, KH M. Suhaimi, KH

        75 75 512317510038 PP. Al Muhajirin Telukgong Kavling Blok A 20 (021) 6625163 Penjaringan Kota Jakarta Utara DKI Jaya Ashriyah 55 65 Abdul Rouf Sy H, KH Hadi Ali Bahresy, SE

        76 76 512317510060 PP. Darul Ghufron Jl. Luar Batang 5 (021) 6618251 Penjaringan Kota Jakarta Utara DKI Jaya Kombinasi 40 55 Parate Farid, H Arsyad MS, KH

        77 77 512317510021 PP. Fathul Huda Jl. Kapuk Kamal Raya No.20 (021) 9237208 Penjaringan Kota Jakarta Utara DKI Jaya Kombinasi 43 40 M. Usman M. Usman

        78 78 512317510018 PP. Nurul Bahri Muara Angke Rt.006/01 (021) 66696553 Penjaringan Kota Jakarta Utara DKI Jaya Kombinasi 100 – M. Ai Saprudin, S.Pdi Moh. Ai Saprudin, S.Pdi

        79 79 512317220001 PP. Al Qur’an Ibrohimiyyah Kp. Bahari 4 No.121 (021) 4307535 Tanjung Priok Kota Jakarta Utara DKI Jaya Ashriyah 58 48 H.M. Suryadi Abdul Majid M. Surnadi Abdul Majid, KH

        80 80 512317520062 PP. Ilmu Al Qur’an Al Misbah JL. Re Mardinata Rt.08/13 (021) 4306409 Tanjung Priok Kota Jakarta Utara DKI Jaya Kombinasi 175 100 Mamah Mukaromah, Hj Misbahul Munir, KH, H

        81 81 512317520061 PP. YAPIS Al Oesmaniyah Jl. Tawes No.21-22 (021) 43904728 Tanjung Priok Kota Jakarta Utara DKI Jaya Kombinasi 60 54 Abu Usman Al Hamidy MA, Prof, Sayid Hamidan, Lc, KH

        82 82 042317530045 PP. Al Mutaqin Jl. Lontar 2 No.12/14/16 021-4357783 Koja Kota Jakarta Utara DKI Jaya Ashriyah 266 134 Nursahim, KH (alm) Nursahim, KH

        83 83 512317531042 PP. Yatim Al Aqsha Jl. Sutra Ungu Blok D6 No.31 (021) 4505722 Kelapa Gading Kota Jakarta Utara DKI Jaya Ashriyah 100 32 Imron Rosyadi, KH, Drs, MA Ahmad Rofi’i, Drs

        84 84 512317540058 PP. Al Hikmah Jl. Malaka Bulak 18 (021) 44850938 Cilincing Kota Jakarta Utara DKI Jaya Kombinasi 21 25 Ahmad Syatibi, KH, Drs Idham Syatibi, KH, Drs

        85 85 512317540036 PP. Al Miftahiyyah Jl. Muara Gedung Kalibaru (021) 4412778 Cilincing Kota Jakarta Utara DKI Jaya Kombinasi 280 319 M. Miftahuddin, KH, Drs M. Miftahuddin, KH, Drs

        86 86 512317240032 PP. Al Wathoniyah 43 Jl. Raya Rorotan Rt.001/10 (021) 44852652 Cilincing Kota Jakarta Utara DKI Jaya Salafiyah 509 428 Ahmad Mulki, HD, KH Hasbiallah, S.Ag, H

        87 87 512317240014 PP. Syawapifiyyah Malaka Jl. Malaka 4 No.27 Rt.013/06 (021) 44850373 Cilincing Kota Jakarta Utara DKI Jaya Kombinasi 70 20 Nurdin Marjuni , Drs, KH Nurdin Marjuni, Drs, KH

        88 88 51231742xxxx PP. Amalan Syahid Pulau Kelapa (021) 68557276 Kepulauan Seribu Utara Kepulauan Seribu DKI Jaya Kombinasi 100 90 Asyuroh, H Asyuroh,H

      2. @yusuf ibrahim,

        Wah, memang benar apa kata Akabar Caniago tentang anak buah Dul wahab bernama Yusuf Ibrahim ini. Tak beda dg khowarij, gemar obral dalil, asal nembak pakai dalil. Semakin malu-maluin aja nih orang…

        Seperti contoh di atas, Salik mempertanyakan apakah ada orang rukuk pakai baca Fatihah seperti contoh yang diajukan oleh Muhammad Hasan. Salik mempertanyakan, sebab Salik nggak percaya kalau ada kasus seperti itu. Kemudian Salik minta contoh yang benar-benar ada atau contoh kasus fakta dengan mengatakan: “kalau memberi contoh itu yang bener mas….” Itu atinya Salik mengingkari perbuatan itu kan? Eh, sama si Yusuf langsung ditembak dengan dalilnya: “……ketauhilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud. Saat rukuk, agungkanlah Ar-Rabb. Saat sujud, bersungguh-sungguhlah untuk berdo’a, kemungkinan besar do’amu dikabulkan.” (H.R Muslim (479))”.

        Dalilnya sih sudah benar, tapi nembaknya (penerapannya) salah. Dasar emang Wahabi, benar-benar suka obral dalil!

  14. @ yusuf ibrohim and all wahabi
    anda dan semua wahabi mengingkari adanya bid’ah hasNAHah…???
    pertanyaan ana berhadiah RP 100.000(SERATUS RIBU RUPIAH)

    soal:
    tunjukan dalil soheh atau atau hasan bahkan dhoif, perintah nabi muhammad s.a.w. untuk KULTUM(kuliah tujuh menit) ba’da subuh yang selalu di lakukan oleh salafi wahabi..

    saya tunggu jawabanya sampai 1 minggu mulai detik ini…

    1. Yg mengingkari bid’ah hasanah itu bukan saya ataupun ‘wahhabi’ yg anda sebut mas, melainkan Rasulullah dan para Sahabatnya…

      Rasulullah bersabda,
      “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

      Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
      “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

      Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
      “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

      Lagipula, biasa sajalah, santai aja, ga usah main tantang-tantangan begitu…….

      ga usah bertanya kemana-mana dulu mas, jawab dululah pertanyaan saya itu tentang perkataan anda bahwa Ulama mempunyai wewenang untuk menciptakan/membuat tata cara peribadatan baru, anda dapat pemahaman itu dari mana?

  15. saliq,,
    memang sekarang gak ada kasus kaya gitu, tapi di satu sekolah yang saya ketahui bahwa akhir-akhir ini gurunya ngajarin shalat sakit gigi, dengan alasan bid’ah hasanah, jadi ga mustahil nanti akan timbul hal-hal seperti yang saya sebutkan diatas, dengan alasan bid’ah hasanah……. ???????? bagaimana tanggapan anda tentang hal ini,????

    1. @ muhamad hasan
      saya baru dengar ada sholat sakit gigi…coba anda cross cex ke gurunya itu dulu …kalau informasinya salah,scara tidak langsung anda menyebarkan fitnah…

      mungkin ummati press pernah mendengar sholat sakit gigi…

      he..he…he..lucu juga..

      1. Mungkin maksud Muhammad Hasan mau bikin lucu-lucuan di sini. nggak apa-apa kok, boleh aja, he he he he ….. benar-benar lucu sih? Kok ada ya yang seperti ini?

        Tapi kalau memang Muhamad Hasan serius, kasih tahu alamat guru tsb, biar kami bisa mengecek kebenarannya. Hal ini harus diluruskan, sebab dia telah membuat bid’ah dlolalah….
        Kalau tidak mau kasih alamatnya, berarti Muhammad Hasan cuma bikin komedi saja, atau bahkan bisa jadi ini fitnah belaka.

    1. judul artikel ebooknya banyak yang menarik mas, tapi sayang kebanyakan impor dari malaysia,,, bukan bahasa kita,,,,susah dimengerti, apalagi yang dibahas masalah beda pendapat,,,,sulit ditemukan point-pointnya,,,,saya rasa mas saliq bukan orang malaysia,,,kalau bisa ditejemah kebahasa Indonesia sepertinya lebih asyik,,,,,saya sudah download sebagiannya terutama mengenai tanggapan atas karya tulis,,,,,ko sepertinya isi kitab aslinya tidak seperti terjemahannya,,,,,atau karena saya yg g ngerti bahasa malaysia ya….. semoga malaysia turun ke indonesia bukan untuk bikin huru hara seperti yang sudah-sudah,,, (maksudnya bikin teror seperti nurdin dan azhari….. 🙂 )

      indonesia is the best…..bukan bangsa pembeo …..semoga

      1. @ abudifa

        coba sampean download debat MUI vs SALAFI.. semoga bermanfaat,salamat mendengarkan…

        kalau sama amrozi cs sampean mendukung tidak…yang telah menghalalkan darah muslim..

  16. assalam…

    nah itulah…kan ane udah bilangin, masalah (diatas) ini sudah bukan levelan kita, jadinya ya…begini deh…
    banyak yg nggak nyambung tanya dan jawabnya (yg satu tanya ngalor,yg satu jawab kidul)…,penerapan dalil nya sama juga,…contoh2nya (penerapan dlm ibadat dan kegiatan sehari2) sama…(satu kulon satunya lagi wetan)…he..he..

    oleh karenanya sudahlah… ikuti ulama2 kita yang terpercaya,..
    dlm penerapannya sehari2 telah di suguhkan susunan ilmu agama kita oleh ulama2 pendahulu kita, tata cara ibadah, tata cara pemudahan bacaan bahasa arab/al-quran,beserta ilmu2 pendukung nya,ilmu ketauhidan dll, tata cara beribadah dgn bermacam versi (madzhab) ikuti lah, pilih salah satu nya,tak usah neko2 lagi,…tapi tuk cari tahu sumbernya (nash yg jelasnya) silahkan…karena itu akan lebih memantapkan kita dalam beribadah…insya Allah..

    wassalam..

  17. Nggak apa-apa Mas Gondrong, dari kesalahan-kesalahan ini biar bisa belajar. Luruskan saja yang salah Mas, biar pada faham. Terima kasih tuk atensinya selama ini, jazakallahu khoiron katsiro….

  18. Kalaulah memang bahwa Islam itu mengenal yg namanya bid’ah hasanah, maka akan banyak sekali nanti muncul satu persatu tata cara peribadatan baru (dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah) yg tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah…..
    Rasulullah besabda,
    “Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. Thabrani)

    Seandainya suatu perbuatan itu dikatakan bid’ah hasanah, maka saya ingin tanya, hasanah menurut siapa? menurut ‘saliq’, ‘gondrong’, ‘ummati, atau ‘akbar caniago’ atau orang-orang lain lagi? kalaulah hasanah menurut Allah dan Rasul-Nya, lalu kenapa Rasulullah dan para Sahabat tidak melakukannya atau minimal mengajarkannya? bukankah mereka adalah orang-orang yg paling semangat dalam beribadah kepada Allah dan para Sahabat adalah orang-orang yg paling mencintai Rasulullah?

    Maka dari itu, bid’ah hasanah memiliki banyak sekali kerancuan dalam menetapkan kehasanahannya itu sendiri karena tidak ada batasan-batasan/ukuran yg jelas dalam menghukumi suatu perbuatan itu dikatakan bid’ah hasanah atau tidak, karena masing-masing individu bisa saja menganggap baik perbuatannya itu, sehingga seseorang bahkan bisa seenaknya menciptakan tata cara peribadatan baru yg tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah dengan dalih bid’ah hasanah…..

    Contoh sederhananya adalah di dalam diskusi ini, di dalam diskusi yg kecil ini yg hanya mellibatkan beberapa orang saja, sudah muncul syari’at-syari’at baru seperti ;
    1. Ulama memiliki wewenang dalam menciptakan/membuat tata cara perbadatan (syari’at) baru, padahal hanya Allah yg berhak dalam membuat syari’at dan itu semua sudah sempurna dengan diturunkannya Al-Quran sehingga tidak diperlukan lagi syari’at tambahan…..

    “………….Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu………” (Q.S Al-Maidah : 3)

    2. Membaca Yasin sebelum makan, padahal Rasulullah hanya mengajarkan kepada kita cukup mengucapkan ‘Bismillah’ saja sebelum makan, sebagaimana dalam Sabdanya,

    Dari Amr bin Abi Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir)

    “Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim 2022)

    Coba perhatikan !
    ini baru di dalam diskusi yg hanya melibatkan segelintir orang saja, bagaimana jika keyakinan adanya bid’ah hasanah ini di ‘lempar’ ke seluruh umat muslim di seluruh dunia ini? maka Agama Islam ini akan menjadi agama yg penuh dengan buah tambahan tangan manusia karena banyaknya syariat baru bermunculan satu demi satu dengan mengatasnamakan bid’ah hasanah……

    Imam Syafi’i berkata,
    “Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (dalam agama, menurut pendapat/akalnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at (baru)”
    [Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’ oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya].

    Jadi, jika ada seorang muslim yg menganggap baik suatu perkara baru di dalam Agama (Islam) ini, maka sesungguhnya dia telah membuat syariat baru……

    1. Mengenai penjelasan saya soal baca Yasin sebelum makan, yang kemudian dipelintir oleh Yusuf sebagai syari’at baru, menurut saya itu karena pemahamannya yang sempit dan terlalu teoritis. Mengenai Baca Yasin sebelum makan itu tentu khusus bagi saya pribadi tidak apa-apa, tidak berdosa karena bid’ah seperti anggapan Yusuf Ibrahim. Bagi saya tetap yakin Allah Swt akan memberi pahala sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah dalam Hadits Shahih, satu huruf Al-Qur’an bernilai pahala sepuluh kebaikan.

      Saya kasih contoh praktiknya seperti ini: Misalnya saya waktu akan makan malam, sebelum makan saya baca surat Yasin atau Surat Waqi’ah atau Surat Mulk, atau yang lain. Setelah Baca Al-Qur’an tersebut saya menikmati makanan. Bagaimana amal shalih seperti bisa berdosa karena dianggap bid’ah? Nah, otomatis sebelum menyuap makanan yang pertama tentunya baca Basmallah, karena ini juga sudah menjadi praktik keseharian. Hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan yang otomatis, sebagaimana saya mengucap alhamdulillah sesudah makan.

      Dalam hal ini pula saudara yusuf ibrahim tidak relevan mengeluarkan dalil tersebut karena terkesan pamer dalil saja. Karena dalil tersebut sudah menjadi bagian dari praktik keseharian saya dan kita semua.

      Demikian sekedar klarifikasi dari saya. Sebelum dan sesudahnya, saya mohon maaf kepada semua pengunjung di blog ini, karena saya sering tidak bisa kontrol emosi. Barokallohu fikum ajma’,in walhamdulillahi rabbil alamin….

      1. Berhubung perkataan anda penuh dengan syubhat, maka saya ingin berkomentar sedikit saja…..

        Ketahuilah ! syarat sah atau diterimanya suatu ibadah (Shohih Tafsir Ibnu Katsir oleh Syaikh Musthofa Al Adawiy hafidzahullah hal.57/III, terbitan Dar Ibnu Rojab, Mesir) ) antara lain :
        1. Ikhlas karena Allah, dan
        2. Mengikuti petunjuk Rasulullah (baik waktunya, tata caranya, dan bilangannya (jika berhubungan dengan bilangan)).
        Jadi, niat baik saja belum cukup untuk melakukan peribadatan mas, jika Rasulullah tidak pernah mengkhususkan membaca surat ini dan itu sebelum makan, maka tidak perlulah kita melakukannya (mengada-ada) karena bisa terjerumus kepada perbuatan bidah yg sesat sebagaimana yg Rasulullah Sabdakan…..

        “……….Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

        “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

        “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

        Lagipula, walaupun anda mengelak telah membuat syari’at baru, akan tetapi tetap saja anda telah membuat syari’at baru karena anda telah menganggap baik pengkhususan membaca Al-Quran sebelum makan yg dimana pengkhususan tsb tidak pernah dijelaskan sebelumnya oleh Rasulullah. Perbuatan anda tsb tidak lebih semata-mata hanya berdasarkan prasangka baik terhadap perbuatan saja.

        Imam Syafi;i berkata,
        “Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (dalam agama, menurut pendapat/akalnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at (baru)”
        [Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’ oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya].

        Beliau juga berkata,
        “Sesungguhnya anggapan baik (al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu” (Ar-Risalah, hal. 507).

        Jadi, yg perlu digarisbawahi dalam masalah membaca Al-Quran sebelum makan ini adalah bukan membaca Al-Qurannya yg terlarang yaa……

        1. @ysuf ibrahim,

          Semua dalil yang kamu sebut itu benar, tidak ada yang mengingkari. Cuma yang bikin lucu, kamu salah mengetrapkannya, hingga kesan yang saya tangkap kamu sengaja memukul orang pakai dalil. Bagi orang awam dalil, pasti kagum sama dalilmu yang banyak, tapi bagi yang ngerti, ya lucu aja sih…?! Senyum dikit ah… lucu abis sih kamuum…?

          1. -abu salma-

            itu kan hanya sebatas kesan yg anda tangkap saja, belum tentu orang lain sama seperti anda….
            kalo cuma bilang si A lucu, si B lucu….saya rasa anak kecil pun juga bisa berkata seperti itu…..

        2. @Yusuf Ibrahim,

          Oh ya, kok pertanyaan Gondrong nggak dijawab? Mau minta petunjuk Ustadzmu dulu ya? Kamu kan ngotot bilang nggak ada bid’ah hasanah, jawab dong pertanyaan mas gondrong, biar ketahuan sampai di mana pintermu dalam mengeyel gaya Wahabimu, please…. silahkan dijawab atuh Kang Yusuf ??!!

  19. Rasulullah bersabda,
    “Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat (kepada penguasa) [1], walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafâ Râsyidîn yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.”
    (Shahih diriwayatkan oleh Imam-imam Ahlul Hadits, di antaranya adalah Imam Ahmad dalam Musnadnya 7/126-127, Imam Abu Dâwud no. 4607 dan ini lafazhnya, Imam at-Tirmidzi no. 2676, Imam Ibnu Mâjah no. 42, Imam ad-Dârimi 1/44, Imam Ibnu Hibbân dalam Shahîhnya no. 5, At-Ta’lîqâtul Hisân dan no. 102, al-Mawârid, Imam al-Hâkim 1/95-96, Imam Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 54-59, Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 1/205, no. 102, Imam al-Baihaqi dalam Sunannya 10/114, Imam al-Lâlikâi dalam Syarah Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah 1/ 83, no. 81 dan lain-lain.)

    Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
    “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

    Imam Sufyan ats-Tsaury berkata,
    “Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiatan dan pelaku kemaksiatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiatannya sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya.”
    (Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (no.238))

    Imam Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali bin Khalaf al-Barbahari berkata,
    “Jauhilah setiap perkara bid’ah sekecil apapun, karena bid’ah yang kecil lambat laun akan menjadi besar. Demikian pula kebid’ahan yang terjadi pada ummat ini berasal dari perkara kecil dan remeh yang mirip kebenaran sehingga banyak orang terpedaya dan terkecoh, lalu mengikat hati mereka sehingga susah untuk keluar dari jeratannya dan akhirnya mendarah daging lalu diyakini sebagai agama. Tanpa disadari, pelan- pelan mereka menyelisihi jalan lurus dan keluar dari Islam.”
    (Syarhus Sunnah lil Imaam al-Barbahary (no.7), tahqiq Khalid bin Qasim ar-Radadi, cet.II/Darus Salaf, th. 1418 H)

    Imam Syafi’i berkata,
    “Sesungguhnya anggapan baik (al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu”
    (Ar-Risalah, hal. 507)

    ————————————————–
    [1] Rasulullah bersabda ; “Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiyat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan”
    (HR. Al-Bukhari (no. 4340, 7257), Muslim (no. 1840), Abu Dawud (no. 2625), an-Nasa’i (VII/159-160), Ahmad (I/94), dari Sahabat ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu.)

    Dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.
    “Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.”
    (HR. Al-Bukhari (no. 2955, 7144), Muslim (no. 1839), at-Tirmidzi (no. 1707), Ibnu Majah (no. 2864), an-Nasa’i (VII/160), Ahmad (II/17, 142) dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma. Lafazh ini adalah lafazh Muslim)

  20. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Saudara2ku semua yg saya cintai, mengenai perkara bidah atau bukan yg terpenting adalah bagaimana cara kita menyikapinya sesuai petunjuk Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pernah bersabda “tinggalkan yang meragukan, kerjakan yang pasti”. Beliau juga bersabda bahwa halal itu jelas begitu juga haram. Jika ketentuan halal dan haram tidk diatur dalam kitabullah dan sunnah Rasul, maka itu termasuk perkara subhat. Dalam menyikapi masala subhat, seorang Muslim meninggalkan pekerjaan sesuatu yg diharamkan, maka Muslim tersebut telah menjaga agama dan kehormatannya.(Kurang lebih seperti itu bunyi haditsnya-jika saya salah mohon dikoreksi) Jadi jika kita ragu apakah perayaan Maulid atau Isra Mi’raj misalnya termasuk perbuatan terpuji atau tidak secara syar’i, jika kita tidak mengerjakannya maka sudah pasti tidak berdosa. Sebaliknya, jika kita merayakannya mungkin berpahala mungkin tidak karena ulama2 yg menanggapi kebolehan atau larangan bukanlah orang2 yg maksum. Setuju?
    Maaf kalau dikatakan saya tidak menghormati ulama. Tentu bukan maksud saya. Sekedar tidak setuju, walaupun saya masih anak TK dalam urusan agama, kan tidak masalah kalau tidak sependapat. Seperti, barangkali, saudara2ku di atas juga tidak setuju ada ulama yg berpendapat bahwa jilbab tidak wajib bagi muslimah. Padahal ulama tersebut sangat terkenal, seorang profesor, ahli tafsir, sekolah di Al Azhar Mesir dengan predikat cum laude.
    Oke sobat. Semoga Allah azza wa Jalla selalu memudahkan kita semua dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. Amin ya Rabbal alamin.

  21. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Saudara2ku semua yg saya cintai, mengenai perkara bidah atau bukan yg terpenting adalah bagaimana cara kita menyikapinya sesuai petunjuk Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pernah bersabda “tinggalkan yang meragukan, kerjakan yang pasti”. Beliau juga bersabda bahwa halal itu jelas begitu juga haram. Jika ketentuan halal dan haram tidk diatur dalam kitabullah dan sunnah Rasul, maka itu termasuk perkara subhat. Dalam menyikapi masala subhat, seorang Muslim meninggalkan pekerjaan sesuatu yg meragukan, maka Muslim tersebut telah menjaga agama dan kehormatannya.(Kurang lebih seperti itu bunyi haditsnya-jika saya salah mohon dikoreksi) Jadi jika kita ragu apakah perayaan Maulid atau Isra Mi’raj misalnya termasuk perbuatan terpuji atau tidak secara syar’i, jika kita tidak mengerjakannya maka sudah pasti tidak berdosa. Sebaliknya, jika kita merayakannya mungkin berpahala mungkin tidak karena ulama2 yg menanggapi kebolehan atau larangan bukanlah orang2 yg maksum. Setuju?
    Maaf kalau dikatakan saya tidak menghormati ulama. Tentu bukan maksud saya. Sekedar tidak setuju, walaupun saya masih anak TK dalam urusan agama, kan tidak masalah kalau tidak sependapat. Seperti, barangkali, saudara2ku di atas juga tidak setuju ada ulama yg berpendapat bahwa jilbab tidak wajib bagi muslimah. Padahal ulama tersebut sangat terkenal, seorang profesor, ahli tafsir, sekolah di Al Azhar Mesir dengan predikat cum laude.
    Oke sobat. Semoga Allah azza wa Jalla selalu memudahkan kita semua dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. Amin ya Rabbal alamin.

  22. @yusuf ibrahim

    ———————————————
    Kalaulah memang bahwa Islam itu mengenal yg namanya bid’ah hasanah, maka akan banyak sekali nanti muncul satu persatu tata cara peribadatan baru (dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah) yg tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah…..
    Rasulullah besabda,
    “Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. Thabrani)

    Seandainya suatu perbuatan itu dikatakan bid’ah hasanah, maka saya ingin tanya, hasanah menurut siapa? menurut ‘saliq’, ‘gondrong’, ‘ummati, atau ‘akbar caniago’ atau orang-orang lain lagi? kalaulah hasanah menurut Allah dan Rasul-Nya, lalu kenapa Rasulullah dan para Sahabat tidak melakukannya atau minimal mengajarkannya? bukankah mereka adalah orang-orang yg paling semangat dalam beribadah kepada Allah dan para Sahabat adalah orang-orang yg paling mencintai Rasulullah?
    ———————————————–
    Dari kata2 antum sepertinya antum menolak apa yang dikatakan sahabat rasululloh yaitu Umar bin
    khattab:

    “dari abdurrahman bin abdul qurai,beliau berkata: “saya keluar bersama umar bin khattab pd suatu malam bulan ramadhan………..dst……….umar berkata ini adalah sebaik2 nya bid’ah adalah ini”,(shahih bukhari I-hal 242) (almuwattho-imam malik,juz 1 hal 136-137)

    apa ini kurang jelas kata2 nya? siapa yg berkata? gondrong apa salik? atau antum menafikan adanya hadist tsb?

    antum dan kaum sa-wah melaksanakan sholat taraweh di bln ramadhan?
    taraweh berjamaah atau tidak? ….kalau iya….? berarti antum melaksanakan bi’dah, yg menurut
    antum…(silahkan jwb sendiri)… yang menurut ane seperti yg di katakan sahabat umar ini adalah BI’DAH
    YANG BAIK..(sebaik2 nya bid’ah adalah ini)

    sabda rasulullah:
    “ikuti dua orang sesudah aku wafat,yaitu abu bakar dan umar” (h.r.tirmidzi,shahih tirmidzi 13 hal 129)

    hadist….
    “bahwasanya zeid bin tsabit berkata: abu bakar sidiq memanggil saya sesudah terjadi peperangan
    yamamah,di mana banyak sahabat2 nabi yg mati syahid……………….dst……………….sehingga
    Tuhan membukakan sebagai hati abu bakar dan umar maka saya carilah ayat2 quran itu dan saya kumpulkan dimana pada mula nya terdapat di tulis di atas pelepah2 tamar,batu2 putih dan yang ada di dalam dada para sahabat2 Nabi.(h.s.r Imam bukhari-lihat fathul bari,juz X hal 385-390)

    dari keterangan di atas dpt di ambilkesimpulan:
    1.perbuatan membukukan Al-quran adalah Bidah,tak ada zaman rosul,yg mana para sahabat melaksanakan nya….
    2.yg mengumpulkannya ayat2 sahabat zeid bin tsabit dgn perintah abu bakar.
    3.perbuatan ini di anggap baik oleh para sahabat,maka jadilah ia bidah yg hasanah.

    antum membaca al-quran dengan kitab kumpulan yang ada sekarang? atau di pelepah batang kurma,kulit unta/kambing atau batu2 putih zaman rasul?
    kalau dgn kitab yang ada sekarang jelas antum melaksanakan bidah,
    yang menurut antum…..(silahkan jawab sendiri)…yang menurut ane bidah hasanah….

    hadist bukhari:
    “Bahwasanya huzaifah bin yaman datang kepada utsman (khalifah ketiga).ketika itu huzaifah mengepalai
    jihad di daerah syam dalam memerangi armini dan ajarbaiyan. huzaifah sangat terkejut mendengar perbedaan2 prajurit dlm membaca alquran……………..dst…………….maka utsmanmeminta kepada siti
    hafsah,agar kumpulan quran yang ada di tangan beliau di berikan kepadanya untuk di salin dan kemudian di kembalikan.maka…………………..utsman memerintahkan kepada 3 anggota panitia yg semuanya berasal dari suku qureisy ;”kalau kamu berbeda faham dgn zeid bin tsabit tentang tulisan2 quran maka pakailah menurut bahasa qureisy karena quran di turunkan sesuai dengan bahasa qureisy’
    maka semua panitia bekerja…..dst…………(H.r.Bukhari,lihat Fathul Bari X hal 390-396)

    Dari kedua hadist bukhari tampak bahwa menuliskan qur’an dalam satu mushaf adalah sunnah khulafaur rasyidin, yang belum dikenal zaman Rasulullah dan ini perbuatan bidah yang hasanah
    berikut pula penambahan titik pada huruf2 penambahan kasroh, fathah, dlomah dan tanda baca lain, pada penulisan huruf quran adalah bidah. tak ada zaman rosululloh,tapi ini adalah bidah yang baik…….

    yang oleh karenanya kita semua dimudahkan mempelajari baca alquran,
    yang karenanya melahirkan ulama2,melahirkan ustadz-ustadz antum dan ane…..
    yang karenanya melahirkan hafidz2 quran…..yang karenanya tulisan huruf arab menggunakannya…
    yang akhirnya kita tahu adanya ilmu tajwid,panjang pendek bacaan ayat….dst….
    yang karenanya ilmu pengetahuan yang berasal dari islam dengan mudah dan di terjemahkan ke dlm berbagai bahasa di dunia (pd masa kejayaan islam) demikemakmuran umat manusia dll.

    hadist bukhari:
    “dari saib bin yazid beliau berkata: adalah azan di waktu jum’at permulaan nya apabila dudukimam diatas
    mimbar pada zaman nabi, pada masa abu bakar dan umar rda. ketika zaman utsman rda,dimana orang sudah bertambah banyak maka beliau (sahabat utsman)menambahkan azan yang ketiga diatas
    zaura.(H.r.Bukhari-shahih bukhari I hal 116)

    jelas sekali sahabat utsman menambahkan azan yang ketiga, dan ini adalah bid’ah,
    tak ada zaman rasululloh dan bidah yang hasanah tentunya…

    bagaimana dgn perbuatan2 bid’ah sahabat2 rasul ini umar,abu bakar,utsman ini menurut pandangan antum…?

    bersabda rasululloh:
    “Maka wajib atas mu memegang sunnah aku dan sunnah khulafaur rasyidin yang di beri hidayah”
    H.s.r Imam abu daud dan Tirmidzi, lih-juz IV hal 201)

    1. Terimakasih Mas Gondrong Atas penjelasannya yang kuat dengan hujjah.

      Mengenai diskusi dengan Saudara Yusuf Ibrahim kuserahkan padamu, karena kelihatannya karaktermu yang low profile lebih cocok untuk menghadapi Yusuf Ibrahim. Kalau aku bawaannya hanya emosi melulu, kurang sabar. Saya akan mundur, silahkan diskusi ini diteruskan. Saya akan menjadi penyimak yang baik seperti dulu lagi.

      Sekali lagi terimakasih untuk Mas Gondrong.

    2. 1. Tidak boleh bagi kita (umat muslim) membenturkan Sabda Rasulullah dengan perkataan orang lain di dunia ini, saya bilang Rasulullah bersabda bahwa setiap bid’ah itu sesat tanpa terkecuali, anda bilang (membantah) bahwa Umar berkata ada bid’ah yg hasanah…..

      Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma berkata: “Hampir saja diturunkan kepada kalian hujan batu dari langit, (ketika) saya berkata ‘Rosulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda’, sedangkan kamu (membantah) berkata ‘Abu Bakar dan Umar berkata demikian’.” (Syarh Kitab Tauhid 1/482)

      2. Adapun perkataan Umar tsb adalah pengertian bid’ah secara bahasa saja yg maknanya umum, sebagaimana yg sudah saya jelaskan sebelumnya, karena yg sesat itu adalah hanyalah sebatas pengertian bid’ah secara syari’at saja, karena tidak mungkin orang sekaliber Umar menghasanahkan apa yg Rassulullah sesatkan…….

      3. Adapun perkataan Umar tsb, yg bid’ah itu BUKAN shalat tarawihnya mas, adapun shalat tarawihnya itu bukan bid’ah, wong…Rasulullah saja melakukan shalat tarawih koq, bid’ah yg dimaksud disitu adalah hanya dari segi waktu pelaksanaanya saja yg dimana shalat tarawih berjamaah itu tidak dilakukan dimasa ke khalifahan sebelumnya, Jadi bukan shalat tarawihnya yg bid’ah, maka Umar disitu bukan melakukan bid’ah melainkan menghidupkan sunnah…..
      makanya itu, diperlukan bagi kita memahami bid’ah secara bahasa dan secara istilah……

      4. Mengenai pembukuan Al-Quran, singkatnya itu semua bukanlah bid’ah, karena apa? karena para Sahabat tidak menambah-nambah/mengurangi ayat di dalam Al-Quran, tidak menambah-nambah/mengurangi surat di dalam Al-Quran, tidak mengubah makna dari ayat-ayat Al-Quran…..
      Adapun mengenai tajwid, itu malah justru sangat memudahkan bagi umat muslim untuk membacanya, namun tanpa mengubah makna dari ayat-ayat Al-Quran tsb, mungkin jika tidak ada harokatnya (arab gundul), anda, saya dan sebagian besar umat muslim yg ada di dunia ini akan kesulitan membacanya….

      Adapun dibukukannya Al-Quran setelah wafatnya Rasulullah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan,
      “Sesuatu yang menghalangi untuk dikumpulkannya Al Qur’an (pada saat Rasulullah masih hidup) adalah karena pada saat itu wahyu masih terus turun. Allah masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. Apabila tatkala itu Al Qur’an itu dikumpulkan dalam satu mushaf, maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap saat. Tatkala Al Qur’an dan syari’at telah paten setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula Al Qur’an tidak terdapat lagi penambahan atau pengurangan, dan tidak ada lagi penambahan kewajiban dan larangan, akhirnya kaum muslimin melaksanakan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan tuntutan (anjuran)-nya. Oleh karena itu, amalan mengumpulkan Al Qur’an termasuk sunnahnya. Jika ingin disebut bid’ah, maka yang dimaksudkan adalah bid’ah secara bahasa.”
      (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/97)

      5. Adapun pembukuan Al-Quran itu termasuk Ijma’ (kesepakatan) para Sahabat sehingga bisa dijadikan dasar di dalam Agama.

      6. Mengenai adzan Shalat Jumat lebih dari satu kali, Imam Syafi’i menjelaskan di dalam kitab Al-Umm,

      Imam Asy-Syafi’ie berkata ; “Dan aku sukai bahwa Adzan pada hari jum’at adalah ketika imam masuk kedalam masjid dan duduk diatas tempatnya yakni tempat ia hendak berkhutbah yang terbuat dari kayu. atau mimbar atau sesuatu yang dapat menjadikannya tinggi. Atau tanah. Maka apabila telah selesai (imam naik keatas mimbar) hendaklah Muadzin mengumandangkan adzan dan apabila selesai adzan tersebut hendaklah imam berkhutbah tanpa ada tambahan lain.”

      Kemudian berkata Asy-Syafi’ie melanjutkan ; “Dan aku sukai bahwa muadzin mengumandangkan adzan seorang diri apabila ia (imam) telah diatas mimbar, dan tidak boleh mengumpulkan dua muadzin. Telah mengabarkan kepada kami Ar-Rabi’ ia berkata; Telah mengabarkan kepada kami Asy-Syafi’ie ia berkata; telah mengabarkan kepada kami secara tsiqoh (terpercaya) dari Az-Zuhri dari Saib bin Yazid bahwa Adzan pertama kali untuk jum’at adalah ketika imam telah duduk diatas mimbar, ini pada masa Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam, dan Abu Bakar dan Umar, kemudian pada masa khalifah Utsman sedangkan saat itu manusia telah ramai (banyak) maka Utsman memerintahkan untuk mengadakan adzan kedua, maka terjadilah adzan (kedua) pada masa itu, dan menjadi tetaplah hal itu.”

      Berkata Asy-Syafi’ie ; “Dan sesungguhnya ‘Atha memungkiri (tidak menyetujui) perbuatan itu bahwa Utsman telah melakukan perbuatan muhdats (baru) akan tetapi ia (‘Atha) berkata bahwa Mu’awiyahlah yang melakukan perbuatan muhdats itu. Wallohu Ta’ala a’lam.”

      Berkata Asy-Syafi’ie ; Dan manapun dari kedua hal itu (pada masa Utsman atau Muawiyah) maka Apa yang terjadi dimasa Rosululloh shallallohu’alaihi wasallam paling aku sukai.

      (Kitab Al-Umm Juz I, kitab Sholat Bab Kewajiban Jumat)

      Mungkin sampai disini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Imam Asy-Syafi’ie sendiri menganjurkan dan lebih menyukai bahwa adzan untuk sholat jum’at itu dilakukan saat khatib telah berada diatas mimbar sebagaimana yang telah terjadi dan berjalan pada masa Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam.

      Dan telah nyata bahwa beliau (Imam Asy-Syafi’ie) paling menyukai adzan satu kali sebagaimana yg terjadi di zaman Rasulullah, BUKAN dua kali, yakni sebelum khatib naik ke mimbar dan setelah khatib naik ke atas mimbar.

      Maka yang menjadi pertanyaan besar dibenak kita adalah, kepada siapakah orang-orang yang mengaku bermadzhab Syafi’i itu mengikut?

      Adapun hadits yang disebutkan Imam Asy-Syafi’ie diatas juga disebutkan dalam shahih Bukhari, dengan lafadz ;

      ???? ?????????? ???? ??????? ????? ????? ?????????? ?????? ??????????? ????????? ????? ?????? ?????????? ????? ??????????? ????? ?????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ?????? ???????? ?????? ??????? ????????? ???????? ????? ????????? ?????? ??????? ?????? ???????? ???????? ????? ?????????? ?????????? ????? ???????????? ????? ????? ????? ??????? ???????????? ???????? ?????????? ??????????????

      Saib bin Yazid berkata, “Adalah azan pada hari Jumat, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallohu ‘anhuma. Maka pada masa Utsman Radhiallohu ‘anhu dan orang-orang sudah banyak, ia menambahkan azan yang ketiga diatas Zaura’. Berkata Abu Abdillah, Zaura’ adalah suatu tempat di pasar di kota Madinah. [Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Ashqalani, kitab jumu’ah]

      Maka menjadi teranglah bagi kita bahwa yang diadakan pada masa Utsman Radhiallohu ‘anhu adalah adzan diatas zaura’ yakni tempat lain diluar masjid di tengah pasar dengan tujuan memberi tahu bahwa hari itu adalah hari jumat dan hampir masuk waktu adzan. Bukan seperti yang diperbuat orang-orang pada masa sekarang ini.

      7. Jika melihat dalil diatas, maka dapat diketahui bahwa faktor pendorong dilakukannya adzan lebih dari satu kali pada zaman Ustman semata-mata dikarenakan adanya beberapa alasan (udzur) seperti :
      – Umat muslim sudah banyak pada saat itu
      – Sedangkan rumah-rumah kaum muslimin saling berjauhan satu sama lain
      Adapun sekarang kan sudah ada speaker yg jarak jangkauan suaranya itu bisa berkilo-kilo meter, sehingga sudah tidak ada lagi alasan di jaman sekarang ini untuk melakukan adzan lebih dari satu kali….maka, kita tidak boleh sembarangan menghukumi setiap perkara baru itu sebagai bid’ah hasanah dengan berdalil dari apa yg terjadi pada zaman Ustman tsb tanpa memperhatikan sebab-sebab dilakukannya adzan lebih dari satu kali pada zaman Utsman tsb…..

      8. Kalaulah memang ada yg ingin melaksanakan adzan lebih dari satu kali seperti yg terjadi pada zaman Ustman, maka adzan berikutnya, anda harus melakukannya dipasar…..

      -Waallahu ‘Alam-

      1. Okelah…
        seandainya memang benar bahwa Utsman telah membuat bid’ah hasanah yakni adzan shalat jumat lebih dari satu kali sesuai dengan pemahaman anda….
        Maka saya mau tanya kepada anda yg meyakini adanya bid’ah hasanah, siapa yg mempunyai wewenang dalam menciptakan bid’ah hasanah pada jaman sekarang ini? habib-kah? kiayi-kah? ustadz-kah? atau setiap muslim berhak membuat bid’ah hasanah?

        kalo seandainya ada di jaman sekarang ini orang yg mempunyai wewenang dalam menciptakan bid’ah, maka seharusnya orang tsb HARUS lebih alim atau minimal ketakwaannya itu harus sama seperti Utsman bin Affan donk…..setuju? pasti setuju donk…..

        apakah ada orang di dunia ini yg kealimannya menyamai Sahabat Utsman?

        itu adalah pertanyaan saya sejak awal diskusi ini yg belum terjawab……

        -sukron-

      2. Coment for Yusuf Ibrahim…

        Hem….. senyum ah…, makin kesini kok semakin lucu tapi agak njengkelin juga nih orang. Pantas bang Akbar Caniago emosi melulu, ha ha ha …..!!! Wahai para pengunjung Ummati Press, sekalian saya kasih tahu nih agar jangan terlalu dongkol kepada orang yang bernama Yusuf Ibrahim ini. Ada rumus yang cocok buatnya, “Orang Awam kalah oleh Ulama, Tapi Ulama pasti akan dikalahkan oleh orang ngeyel.” Yusuf Ibrahim sangat mencolok ngeyelnya, nggak ada malunya sama sekali.

        Contohnya kasus diskusi di atas, Mas Gondrong sudah bilang tentang dua hadits sbb:

        1. Bersabda rasululloh: “Maka wajib atas mu memegang sunnah aku dan sunnah khulafaur rasyidin yang di beri hidayah” Ini hadit yang sudah populer di tengah ummat Islam.

        2. sabda rasulullah: “ikuti dua orang sesudah aku wafat, yaitu abu bakar dan umar” (h.r.tirmidzi,shahih tirmidzi 13 hal 129). Hadits ini juga sangat populer. Nah, itu kan Nabi Muhammad sendiri yang suruh Ummatnya ikut kedua sahabat Rasul tsb. Yang mana secara global kedua hadits itu juga menunjukkan akan potensi adanya bid’ah hasanah, iya kan? Mas gondrong juga sudah kasih contoh-contohnya di atas secara jelas, iya kan?

        Tapi memang dasar si Yusuf ngeyel ….?!! Ya sabar aja deh, mau apa lagi….? ngalah aja deh, demi terciptranya ketentraman dunia Islam. Mari kita anggukkan kepala pada Yusuf Ibrahim, biar nggak terlalu repot. Hemmm… senyum dikit lagi ah…???!!!

      3. ASAALAMUALAIKUM
        BISMILLAH
        @ sdr yusuf….apakah saudara sudah membaca buku METODEOLOGI ITJIHAT UMAR RA…??? BANYAK ITJIHAD BELIAU YANG “BARU” TETAPI SEJALAN DAN SELARAS DENGAN AL-QURAN DAN HADIST RASULULLAH SAW….SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN ZAMAN DI MASANYA……TAPI BAGI ANDA YANG ANTI “BARU” TENTU SAYA TIDAK YAKIN ANDA AKAN MEMBACANYA…
        WASSALAMUALAIKUM

  23. saya sudah menanyakan lagi, tentang masalah shalat sakit gigi, dan ternyata memang benar guru tersebut telah mengajarkan kepada semua murid-muridnya,
    tambahan lagi guru itu mengajarkan bahwa waktu melaksanakannya itu stelah shalat magrib.

    jika bertanya kepada saya yang tak sependapat dengan adanya bid’ah hasanah sudah tentu saya tak setuju dengan adanya kejadian tersebut,

    tetapi anda, orang-orang kreatif yang sangat mendukung adanya bid’ah hasanah, mengapa anda mendhalalah kan perbuatan tersebut????

    bukankah berarti guru tersebut sependapat dengan anda,, ????

    dan bukankah saliq yang mengatakan bahwa yang memiliki wewenang dalam membuat ibadat baru itu ialah para ulama dengan jalan ijtihadnya dan dalam rangka dakwahnya..?

    apabila kita melihat perkara ini dari perkataan-perkataan saliq, maka saya rasa bisa saja guru tersebut menjawab,: ini adalah ijtihad saya, dan inipun hanyalah semata-mata untuk kepentingan dakwah… daripada ngeluh saat sakit gigi, bukankah sebaiknya kita shalat, kita menyerahkan diri kita kepada Allah dan bermunajat kepadaNya….????

    saya tak menuduh ummati press yang mengajarkan hal ini tetapi saya hanya mengemukakan apa DAMPAK dari adanya bid’ah hasanah,,, dengan adanya bid’ah hasanah setiap ulama dapat membuat ibadat-ibadat yang baru berdasarkan ijtihadnya dan asalkan untuk kepentingan dakwah,,

    lantas dimana kesucian agama islam yang sempurna ini,,kalau setiap ibadat boleh ditambah dan dikurangi….dengan alasan bid’ah hasanah????

    cobalah anda jelaskan apa maksud dari perkataan-perkataan sahabat-sahabat di bawah ini,

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
    “Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)

    Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
    “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
    “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

    1. ASSALAMUALAIKUM
      BISMILLAH..
      APAKAH ANDA SUDAH MEMPUNYAI BUKU TENTANG METEODOLOGI ITJIHAD UMAR BIN KHATTAB RADIALLAHUANHUM..??? DISANA BANYAK HAL2 YANG DI LAKUKAN BELIAU SETELAH RISALAH…BACALAH…BACALAH…SEBAB ITU MENGAPA AYAT PERTAMA KALI TURUN BACALAH…. DENGAN MEMBACA KITA JADI TAU TENTANG AGAMA ISLAM…BAHWA ISLAM ITU UNIVERSAL..UNTUK SELURUH UMAT MANUSIA BUKAN HANYA UNTUK JAMAN KENABIAN..KEKHALIFAAN..TAPI UNTUK RIBUAN TAHUN SETELAH RISALAH….AGAMA ITU ILMU..KAJI LAGI DENGAN HATI YANG IKHLAS..HATI YANG BERSIH..ANADAIKAN ANDA KESULITAN DALAM SAUATU MASALAH DENGAN MENGKAJI AL-QURAN DAN HADIST, MAKA BERTANYALAH KEPADA ORANG YANG MENGETAHUI HAL TERSEBUT..SEBAB UNTUK KITA BERITJIHAD MASIH TERLAMPAU JAUH…MUNGKIN KITA DISINI BELUM ADA YANG HAFAL AL – QURAN, BELUM MENGETAHUI BANYAK KANDUNGAN AL-QURAN SEBAB2 DITURUNKANNYA,,PEMBAGIAN MENURUT TURUNNYA..MUNGKIN KITA DISINI BELUM HAFAL 1000 HADIS YANG SAHIH..APALAGI DISERTAI MATAN,,SANAD..PARAWI..DLLL…MAKA DARI ITU KITA PERLU SANDARAN BERUPA GURU YANG MEMBIMBING KITA…..
      WASSALAM……

  24. Kalau Shalat itu ibadah mahdlhoh, tidak boleh membuat shalat gaya baru, jangan ngarang aja kamu. Kasih tahu alamat sekolahnya dong biar Ummati Press bisa ngecek kebenarannya.

    1. benar sholat itu ibadah mahdloh wabil khusus sholat wajib 5 waktu, sementara sholat sunnah ada muakadah dan ghoiru muakadah, ada juga sholat muthlaq yang tidak terikat dengan waktu, keumuman ayat wastainu bishobri washolah menjadi salah satu dalil asal bahwa sholat itu semuanya baik termasuk sholat ketika kita terkena sakit gigi.

  25. @yusuf ibrohim

    1. Tidak boleh bagi kita (umat muslim) membenturkan Sabda Rasulullah dengan perkataan orang
    lain di dunia ini, saya bilang Rasulullah bersabda bahwa setiap bid’ah itu sesat tanpa
    terkecuali, anda bilang (membantah) bahwa Umar berkata ada bid’ah yg hasanah…..
    ——————————————
    hehe…kaya nya antum kurang mengerti neh…
    al-quran di jelaskan dengan sunnah dan perilaku nabi,sunnah nabi di jelaskan/di terangkan
    sunnah lainnya atau dengan perilaku sahabat khulafaur rasyidin,sahabat lainya…tak ada
    yang membenturkan tapi saling menerangkan dan di terangkan…ada ayat di terangkan dengan
    ayat lain, dan ada sunnah di terangkan dengan sunnah lainnya,begitu saling melengkapi
    bukannya benturan antara satu dengan lainnya.

    ——————————————
    2. Adapun perkataan Umar tsb adalah pengertian bid’ah secara bahasa saja yg maknanya umum,
    sebagaimana yg sudah saya jelaskan sebelumnya, karena yg sesat itu adalah hanyalah sebatas
    pengertian bid’ah secara syari’at saja, karena tidak mungkin orang sekaliber Umar
    menghasanahkan apa yg Rassulullah sesatkan…….
    ——————————————-
    baik itu secara bahasa atau pun apalah kata antum,tapi antum katakan juga “bid’ah secara
    bahasa’

    he..he…kayanya memang nggak jelas juga bagian akhir kata2 sahabat umar bagi antum…
    antum mengatakan pengertian secara bahasa?
    okelah kita bahas mengenai bahasa..

    dalam kamus bahasa arab, kata bid’ah berarti “sesuatu yang diadakan tanpa contoh yang
    terdahulu”, tersebut dalam kamus:
    alMuhith, karangan Syirazi, juz III hal 3
    Mukhtarus Shihah, karangan arRazi, hall 379
    alMu’tamad, hal 28
    Munjid, hal 27
    demikian menurut bahasa Arab, maka si pencipta disebut Mubdi’ atau Mubtadi’. Langit, bumi
    dan segala sesuatunya juga dikatakan bid’ah karena semuanya dijadikan Allah tanpa contoh.
    Allah dinamai “Badi’i” yaitu Maha Pencipta. “Tuhan yang menciptakan langit dan bumi (tanpa
    contoh)” alBaqarah 117.

    nah ini ane copas saja dr ummati2 dr ummat dhoif…

    pengertian arti kullu disitu ada tiga, disesuaikan dengan susunan kata dalam bahasa arab.
    1 syay’in artinya setiap satu
    2. ba’din artinya setiap sebagian … Lihat Selengkapnya
    3. jam’in artinya setiap semua.kalau mas firdaus lihat kalimat wa kullu bid’atin dholalah,

    wa itu harful atof, penyambung dari kata sebelumnya,
    kullu bid’atin merupakan muftada yakni kalimat mudhof mudhofun ilaih dholalatun merupakan

    khobarnya
    maka dari itu merupakan kalimat isim yakni bukan kata kerja, dan dimulai dari kata2 kullu
    ada kata yg tersembunyi dalam kalimat kullu, kita harus melihat kalimat2 tersebut dari
    awal, kata tersembunyi itu terdiri dari tiga seperti klasifikasi diatas
    jadi para ulama shorof dan nahwu sepakat bahwa kata kullu diatas mengandung kata2 ba’din
    atau berarti setiap sebagian bukan jam’in.

    sedang utk KULLU NAFSIN DZAIQOTUL MAUT, kata2 kullu disini adalah jam’in yg berarti setiap
    semua,Klo anda coba lihat di Al Qur’an byk sekali contohny, saya akan beri anda contoh lagi

    yg tidak berarti semua
    coba nte lihat mas…
    ini dari surat Al Anbiya ayat 30 :

    ??????????? ???? ???????? ????? ?????? ????? ??????? ???????????
    Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga
    beriman

    kata2 kullu disitu berarti sebagian, krn ternyata jin tidak diciptakan dari air dan ini
    bisa nte lihat di surat Ar-Rahmah ayat 15 :

    ???????? ????????? ???? ??????? ???? ?????
    Dan Allah SWT menciptakan Jin dari percikan api yang menyala
    contoh lain lagi singkat mas…
    seperti ayat : “semua bangkai itu haram”
    apakah bnar semua bangkai haram? jwbnya tidak krn ada ayat lain yg menerangkan bahwa
    bangkai utk dilaut itu halal
    kullu disini juga berarti sebagian.

    jelas bagi antum? yg selalu mengatakan dr segi bahasa dst…

    jadi ayat tak berbenturan dgn ayat,tapi saling menjelaskan dan menerangkan satu dengan yang
    lainnya,begitu pula dengan sunnah nabi,saling mendukung dan menjelaskan antara yang satu
    dengan lainnya…jika antum berpendapat lain…silahkan

    ——————————————–
    3. Adapun perkataan Umar tsb, yg bid’ah itu BUKAN shalat tarawihnya mas, adapun shalat
    tarawihnya itu bukan bid’ah, wong…Rasulullah saja melakukan shalat tarawih koq, bid’ah yg
    dimaksud disitu adalah hanya dari segi waktu pelaksanaanya saja yg dimana shalat tarawih
    berjamaah itu tidak dilakukan dimasa ke khalifahan sebelumnya, Jadi bukan shalat tarawihnya
    yg bid’ah, maka Umar disitu bukan melakukan bid’ah melainkan menghidupkan sunnah…..
    makanya itu, diperlukan bagi kita memahami bid’ah secara bahasa dan secara istilah……
    ——————————————–
    itu juga ane tahu…mangkanye ane tanya di atas :
    antum dan kaum sa-wah melaksanakan sholat taraweh di bln ramadhan?
    taraweh berjamaah atau tidak? ….kalau iya….? berarti antum melaksanakan bi’dah, yg menurut
    antum…(silahkan jwb sendiri)…he..he..

    antum bilang :
    bid’ah yg dimaksud disitu adalah hanya dari segi waktu pelaksanaanya saja yg dimana shalat
    tarawih berjamaah itu tidak dilakukan dimasa ke khalifahan sebelumnya, jadi secara tak
    langsung…..antum mengatakan bid’ah lho walau dr segi waktu pelaksanaan….??

    —————-
    Pada mulanya shalat tarawih disebut dengan istilah “QIYAMU RAMADHAN”. Sebutan “shalat
    tarawih” baru ada sejak zaman Khalifah Umar bin Khatab R.A.

    Ketika syari’at puasa diturunkan kepada Nabi MUHAMMAD SAW, malam harinya beliau ke Masjid
    untuk melaksanakan Qiyamu Ramadhan (menghidupkan malam Ramadhan) dengan shalat,kemudian
    dari belakang diikuti umat yang semakin hari semakin banyak .

    Pada malam ke 4,Nabi MUHAMMAD SAW tak datang ke Masjid untuk melakukannya, para sahabat
    akhirnya mendatangi beliau seraya bertanya “ya Rasul mengapa tadi malam tak datang ke
    masjid untuk melaksanakan Qiyamu Ramadhan “.
    “aku khawatir kalian menganggap bahwa itu ialah shalat wajib” jawab Rasulullah.
    Kemudian Khalifah Umar bin Khatab berpendapat ‘Bahwa orang-orang yang sedang shalat tarawih
    sendirian sebaik dikumpulkan menjadi satu dibawah pimpinan seorang imam’ kemudian Khalifah
    Umar bin Khatab menyuruh Ubay bin Ka’ab seorang sahabat periwayat hadits untuk menjadi imam
    dan sejak itu shalat tarawih dilaksanakan secara berjama’ah.

    ——————————————–
    4. Mengenai pembukuan Al-Quran, singkatnya itu semua bukanlah bid’ah, karena apa? karena
    para Sahabat tidak menambah-nambah/mengurangi ayat di dalam Al-Quran, tidak menambah-
    nambah/mengurangi surat di dalam Al-Quran, tidak mengubah makna dari ayat-ayat Al-Quran…..
    Adapun mengenai tajwid, itu malah justru sangat memudahkan bagi umat muslim untuk
    membacanya, namun tanpa mengubah makna dari ayat-ayat Al-Quran tsb, mungkin jika tidak ada
    harokatnya (arab gundul), anda, saya dan sebagian besar umat muslim yg ada di dunia ini
    akan kesulitan membacanya
    ——————————————–
    5. Adapun pembukuan Al-Quran itu termasuk Ijma’ (kesepakatan) para Sahabat sehingga bisa
    dijadikan dasar di dalam Agama.
    ———————————————
    Dari kedua hadist bukhari tampak bahwa menuliskan qur’an dalam satu mushaf adalah sunnah
    khulafaur rasyidin, yang belum dikenal zaman Rasulullah dan ini perbuatan bidah yang
    hasanah…

    “BAGAIMANA ENGKAU AKAN MEMBUAT SUATU PEKERJAAN YANG TIDAK DIBUAT OLEH RASULULLAH ? (Riwayat Bukhari, Fathul Bari juz X halaman 385-390)

    ————-
    titik pada ayat2 alquran…penjelasan hujjatul islam imam Ghozali:
    neh ane copas saja dari tulisan di atas di ummati2 :

    Ketika mengulas masalah penambahan ‘titik’ pada huruf ayat-ayat al-Qur’an, al-Imam al-
    Ghazali berkata: “Hakikat bahwa ia adalah perkara baru yang diadakan tidaklah
    menghalanginya untuk dilakukan. Banyak sekali perkara baru yang terpuji, seperti sembahyang
    Terawih secara berjama’ah, ia adalah “Bid‘ah” yang dilakukan oleh Sayyidina`Umar RA, tetapi
    dipandang sebagai Bid’ah yang baik (Bid‘ah Hasanah). Adapun Bid’ah yang dilarang dan
    tercela, ialah segala hal baru yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW atau yang
    bisa merubah Sunnah itu.[6]

    antum dapat menafsirkan sendiri deh apa yg di katakan imam Ghozali tsb,ane pilih penjelasan
    imam Ghozali bukan antum…

    ——————————————-
    6. Mengenai adzan Shalat Jumat lebih dari satu kali, Imam Syafi’i menjelaskan di dalam
    kitab Al-Umm,
    Imam Asy-Syafi’ie berkata ; “Dan aku sukai bahwa Adzan pada hari jum’at adalah ketika imam
    masuk kedalam masjid dan duduk diatas tempatnya………dst……… Maka menjadi teranglah
    bagi kita bahwa yang diadakan pada masa Utsman Radhiallohu ‘anhu adalah adzan diatas zaura’
    yakni tempat lain diluar masjid di tengah pasar dengan tujuan memberi tahu bahwa hari itu
    adalah hari jumat dan hampir masuk waktu adzan. Bukan seperti yang diperbuat orang-orang
    pada masa sekarang ini.
    ————————–
    nah yg di maksud blm bahasan disini / ane adalah tentang penambahan azan boss…bukan
    lainnya…tak usah ke mana azan ke 2 di sebaiknnya di lakukan dst…jadi menurut antum
    bagai mana tentang apa yang di lakukan sahabat utsman ini…begitu aja.
    ——————————————–

    7. Jika melihat dalil diatas, maka dapat diketahui bahwa faktor pendorong dilakukannya
    adzan lebih dari satu kali pada zaman Ustman semata-mata dikarenakan adanya beberapa alasan
    (udzur) seperti :
    – Umat muslim sudah banyak pada saat itu
    – Sedangkan rumah-rumah kaum muslimin saling berjauhan satu sama lain
    Adapun sekarang kan sudah ada speaker yg jarak jangkauan suaranya itu bisa berkilo-kilo
    meter, sehingga sudah tidak ada lagi alasan di jaman sekarang ini untuk melakukan adzan
    lebih dari satu kali….maka, kita tidak boleh sembarangan menghukumi setiap perkara baru itu
    sebagai bid’ah hasanah dengan berdalil dari apa yg terjadi pada zaman Ustman tsb tanpa
    memperhatikan sebab-sebab dilakukannya adzan lebih dari satu kali pada zaman Utsman tsb.
    ———————————————
    nah itu antum dah terangkan sendiri…maksud nya,
    – Umat muslim sudah banyak pada saat itu
    – Sedangkan rumah-rumah kaum muslimin saling berjauhan satu sama lain

    Adapun sekarang kan sudah ada speaker yg jarak jangkauan suaranya itu bisa berkilo-kilo
    meter, sehingga sudah tidak ada lagi alasan di jaman sekarang ini untuk melakukan adzan
    lebih dari satu kali…

    jadi antum menolak apa yang menjadi sunnah khulafaurr rasyidin?

    maka, kita tidak boleh sembarangan menghukumi setiap perkara baru itu sebagai bid’ah
    hasanah dengan berdalil dari apa yg terjadi pada zaman Ustman tsb tanpa memperhatikan
    sebab-sebab dilakukannya adzan lebih dari satu kali pada zaman Utsman tsb.

    jadi antum menganggap apa yang dilakukan sahabat utsman itu apa?….
    ———————————————
    8. Kalaulah memang ada yg ingin melaksanakan adzan lebih dari satu kali seperti yg terjadi
    pada zaman Ustman, maka adzan berikutnya, anda harus melakukannya dipasar…..

    nah seperti kata antum,skr udah ada speker,jadi jikalau udah ada speker mengenai tempat,
    tak usah ke pasar ya,he..he..
    ————————————————

    -Waallahu ‘Alam

  26. Nah.. ini pendekarnya dah turun gunung. Wuih… gondrong nih, sakti kelihatannya, pasti akan keteter penjahatnya. Tuh, lihat jurusnya mirip jurus Tai Chi. Temen-temen, geser dikit dong, aku juga mau nonton…. Semoga pendekar gondrong berhasil meringkus penjahat kambuhan itu…. Amain….

  27. Gelar tiker sendiri ah, biar lega. Siapa mau ikut gabung, nih lega sambil ngudut tembakau Muntilan, he he he…. Awas, penjahat sedang merapal aji-aji warisan Wahabi. Bisa mengatasinya apa nggak ya si pendekar gondrong? Ayo, sholawat ramai-ramai biar pendekar kita dapat pertolongan-NYA. Allohumma Sholli ala sayyidina Muhammad Wa ala Alihi…. Amin….

  28. Penjahatnya dah mulai kecut kayaknya, perhatikan kelihatannya dia siap-siap mau merubah diri jadi yang lain, tuh liatin mulutnya komat-kamit seperti sedang mateg mantra kesaktiannya.

  29. @ jangkung
    aku juga wong muntilan…salan kenal…

    @ wahabi
    rosululloh sholat tarawih 8 roka’at..???
    sayidina umar dan sahabat lain,salafussoleh,dan seluruh dunia sampai saat ini(kecuali wahabi) 20 rakaat…??

    20-8=12(DUA BELAS)

    terus di manakah letak arti bid’ah secara bahasa..??????????????????????

    1. memangnya ada yang bilang shalat tarawh lebih dari 8 rakaat atau kurang dari 20 rakaat sebagai bid’ah,,,,baru tahu juga ane klo ada,,,,siapa dan dimana tuh bilangnya bang saliq,,,,berarti g ngerti fiqih tu orang……kalo bisa dinukil disini sumber yang bilang bid’ah bang, biar kelihatan nyata barangnya,,biar dilurusin bareng-bareng……semoga bang saliq dapat menemukan sumbernya…….

      1. @ abudifa
        oklah kalau bgitu..
        anda tentu pernah sholat tarawih dong…sholatnya berapa roka’at..????

        monggo di jawab…

        1. Hiaaa ha ha ha ha ….. pertanyaannya bagus, aku tahu maksud arah pertanyaan Mas Salik itu….. Hayo…. monggo dijawab Abu Difa…..???

        2. Sebelum saya jawab perlulah difahami bahwa shalat taraweh senyatanya adalah qiyamullail atau shalat malam. pada bulan Ramadhan qiyamullail dinamakan dengan taraweh, sehingga tidak perlu dan tidak ad niat-niat tertentu dalam mengerjakan shalat taraweh, niatnya sama seperti mengerjakan shalat malam. taraweh dan shalat malam hanyalah penamaan, hakikatnya sama. sehinga hukum shalat taraweh tak ubahnya shalat malam.

          Kembali kepada pertanyaan saliq:
          Jawabannya simpel saja kok liq 🙂 , ketika saya masuk masjid yang melaksanakan 8 rakaaat + witir saya ikut dibelakang imam sampai selesai. kalau saya sedang masuk masjid yang shalatnya 20 rakaat + witir saya juga shalat sama imam sampai selesai.
          he he he, bingung liq??

          nih dalilnya:
          ??????? ???? ????? ???? ????????? ?????? ?????????? ?????? ???? ??????? ????????
          “Siapa yang shalat bersama imam hingga usai, dituliskan baginya pahala shalat semalam suntuk” [HR ashabus sunnan at-Turmudzi no.811, an-Nasai no. 1616, Ibnu Majah no.1388]

          dalil lain:
          ??????? ????????? ??????? ???????
          “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat”
          [HR. al-Bukhari no.990,993 dll, Muslim no. 1782 dan Ashab Sunan -ga perlu an sebutin yg ashabus sunan rinciannya nanti jadi panjang karena riwayat al-Bukhari dan Muslim aj ane rasa dah cukup]

          Kenapa an ikut shalat baik yg 8 maupun yg lebih dari itu, (jangan dibilang plin plan ya liq : ) , hal itu semata-mata ikut dalil, bukan karena ikut nalar dan cuma pengen cari jalan tengah)

          Nabi tidak pernah membatasi jumlah rakaat dalam pelaksanaan shalat malam, riwayat mengenai jumlah shalat malam Nabi saw tidak hanya satu (awas, jangan nanti dibilang bertentangan, itu hanya tanawu/variasi) baik yg diriwayatkan oleh Saib bin Yazid, Yazid bin Ruman dan lainnya yg menyebutkan jumlah rakaat taraweh dimasa Umar ( yang 21 atau yang 23 atau juga riwayat yg 29 dengan witir ) maupun hadits Aisyah yang menyebutkan “Nabi tidak pernah melaksanakan shalat malam lebih dari 13 rakaat” atau tentang witir Nabi dengan 5 rakaat, 7 rakaat atau 9 rakaat. yang artinya tidak ada batasan jumlah rakaat tertentu yg dibuat oleh Nabi saw dalam pelaksanaan shalat malam.

          Jumlah rakaat bukan harga mati. ini bukan perkataan ane, tapi perkataan yang sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad bahwa seluruh riwayat itu hasan.

          Karena intinya, shalat malam hanyalah sunnah, walaupun saliq cuman shalat 5 rakaat + witir itu sudah disebut qiyamur Ramadhan atau yg lebih populer dengan istilah taraweh, berjamaah ataupun tidak.

          yang kelihatan tidak berubah itu adalah cara melaksankannya, yaitu sebagaimana hadits yg an sebut di atas “dua rakaat dua rakaat”. melakukan salam setiap selesai dua rakaat, tidak lebih. tetapi untuk witir boleh melakukan dengan satu salam sekaligus, baik 1,3,5,7 dan 9 rakaat, itu yg ada riwayatnya.

          bagaimana mas saliq,,,,,bingung??
          silahkan ditanyakan kepada guru yang suka baca kutubussittah atau tis’ah, jangan tanya ustad yg cuma bisa baca terjemahan…….apalagi ustad copas alias copy paste 🙂

          intinya mendapatkan keutamaan “shalat semalam suntuk” itu bagi siapa yang ikut shalat bersama imam sampai tuntas, terlepas berapapun rakaatnya.

          kalo ad yg mengganjel buat kang saliq mapun bung chaidir an bantu berkhidmah…… 🙂
          semoga jawabannya memenuhi semua arah 🙂

          1. o iye ane lupa bang saliq,,,itu yg bilang bid’ah cuma karena beda rakaat taraweh tuh sapa ya,,,dijawab dulu dong, biar g dituduh memfitnah bang,,,semoga bukan bang saliq sendiri…. 🙂

          2. @ difa
            difa coment:
            Karena intinya, shalat malam hanyalah sunnah, walaupun saliq cuman shalat 5 rakaat + witir itu sudah disebut qiyamur Ramadhan atau yg lebih populer dengan istilah taraweh, berjamaah ataupun tidak.
            ——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————–
            jawab:
            he..he….he…
            mungkin kelak anak anda akan melakukan taraweh 2 raka;at + 1 raka’at witir….

            tertawa lagi ah,,,he…he…he…

            benar banget saya jadi bingung..bingung…..anda berijtihad dari 2 hadist…???
            saya ucapkan selamat anda telah menjadi MUJTAHID bergelar SYEKH DIFA NGLANTUR.

          3. @ difa
            o iye ane lupa bang saliq,,,itu yg bilang bid’ah cuma karena beda rakaat taraweh tuh sapa ya,,,
            ——————————————————————————————————————————
            jawab:

            sudah download MUI vs salafi belum…????

          4. santri jawab:
            he..he….he…
            mungkin kelak anak anda akan melakukan taraweh 2 raka;at + 1 raka’at witir….

            tertawa lagi ah,,,he…he…he…
            benar banget saya jadi bingung..bingung…..anda berijtihad dari 2 hadist…???
            saya ucapkan selamat anda telah menjadi MUJTAHID bergelar SYEKH DIFA NGLANTUR.
            __________

            he…he..he….
            namanya juga santri, biasalah kalau suka bingung-bingung 🙂

            itu bukan ijtihad saya tri, itu kata Nabi mengenai shalat malam..(masa nabi dibilang NGelantur…hati2 ya, nanti tak laporin pak yai kamu….. 🙂 )
            ini di kasih lanjutan hadits “dua rakaat dua rakaat” biar tambah bingung:

            ??????? ????????? ??????? ??????? ??????? ?????? ?????????? ????????? ?????? ???????? ????????? ??????? ???? ??? ???? ??????
            “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, jika khawatir masuk waktu subuh maka shalatlah satu rakaat”
            (riwayat haditsnya sama dengan yg diatas)

            Tidak satu dua orang sahabat yg shalat malam dengan satu rakaat dan tidak ad pengingkaran di antara mereka, itu menunjukkan akan………. he he…he itu titik2nya dijawab ya santri biar cepat lulus…..
            haditsnya bukan cuma itu, banyak lg pembahasannya
            lihat keterangan lengkapnya dalam fahul barinya Ibnu Hajar, disitu disebutkan panjang lebar,,,bisakan tri,,semoga sudah bisa baca kitab gundul biar cepet krosceknya…

            ayo santri belajarnya yg semangat ,,,biar terus bertambah ilmunya…. 🙂

          5. @ difa
            o iye ane lupa bang saliq,,,itu yg bilang bid’ah cuma karena beda rakaat taraweh tuh sapa ya,,,
            ——————————————————————————————————————————
            saliq jawab:

            __________

            waakakakak…….
            beneran harus belajar banyak nih anak,,,diminta untuk membuktikan tuduhan kok malah pake tuduhan lagi….bener-bener cocok ma judul yg ad disitu……FITNAH

            cara membuktikan pernyataan orang itu ya dari orangnya,,dimedia apa dia ngomong, pake suara ato pake tulisan,,,klo bisa sekalian ada foto-fotonya biar keren

            link yg ente kasih itu posisinya sama dengan ente, dalam posisi menuduh. setelah ane masuk tuh link jadi pengen nanya juga seperti pertanyaa yg ane ajukan ke saliq….begimane sih liq…
            coba datang ke kantor polisi terdekat bagaimana prosedur membuktikan tuduhan,,,baru kesini lagi… :)….. kalo kantor polisi jauh,,,bisa nanya ma bang gondrong tuh, bagaimana prosedurnya, ato malah ke ummati…..

            hheeeh….. ad ad aje saliq

  30. Ya tuh, si Penjahat murid Wahabi dah kena batunya. Bakalan bisa diringkus nih, Sang Pendekar Gondrong tampil sangat meyakinkan, jurusnya mantap dan lentur, penjahatnya sepertinya sudah mulai sulit berkelit, rasain….. dah gak bisa gak bisa sombong lagi tuh penjahatnya…. ikut senyum sama Abu Salma ah….!!??? Akbar Caniago, di mana kamu…. masih nonton?

  31. Salman Sundawi….!!! Tenang aja, abdi mah masih setia menonton atuh? He he he…. nyunda dikit boleh ya? Salam hangat, ayo bersholawat, Allohumma Sholli wasallim wabarik ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shohbih….

  32. Hei temen-temen, kok Sholawatnya pada pake sayyidina semua? ntar dibilang bid’ah oleh orang-orang Sa Wah, lho? Ada yang bisa nandingi nggak kalau ada serangan dari Sa Wah?

  33. Mengenai maulid nabi semoga link ini bisa jadi bahan renungan:

    http;//abudifa,wordpress,com/2010/07/05/dialog-dengan-pembela-maulid-nabi-kontroversi-pembidahan/

      1. berikut penggalannya:

        Ini adalah pernyataan yang jelas dari al-Muqrizi[1] bahwa al-Ubaidiyin adalah penyebab musibah yang menimpa kaum muslimin. Merekalah yang telah membuka keran perayaan-perayaan bid’ah ke khalayak. Sampai-sampai mereka juga merayakan perayaan kaum Majusi dan Nasrani. Ini adalah bukti atas jauhnya mereka dari Islam dan justru memeranginya, sekalipun mereka tidak mengatakan dan menampakkannya.

  34. saliq, saya ingin bertanya apa syarat yang harus dipenuhi,, untuk melakukan ijtihad??

    dan apakah anda membaca lafazh niat sebelum bertakbir pada saat shalat, seperti, “ushalli fardho subhi…………….dst”?????

  35. @ all wahabi & aswaja
    ok lah qalaou begitu……
    debat seru MUI vs WAHABI siapakah yang menang…mungkinkah wahabi bertobat….anda penasaran…silahkan download klik link di bawah ini….garatiiiiiiiiiiiii……sssssssss…buruaa…..nnnnn….

    selamat mendengarkan….

  36. @ muhammad hasan
    menurut syekh hambal untuk menjadi seorang mujtahid:
    1.hafal al qur’an,tafsir dan asbabul nuzul
    2.hafal hadist 300.000 serta sanad matanya…(masih adakah orang yang mampu menghafal hadist 300.000 di zaman sekarang….)
    3….
    4…..
    5……….
    6……….
    7…………bla….bla…..

    ya..saya membaca usholi….dst…..
    anda mau tanya dalilnya….silahkan baca sendiri….monggo…kalau mau eyel-eyelan sama imam syafi’i

    1. saliq:
      ya..saya membaca usholi….dst…..
      anda mau tanya dalilnya….silahkan baca sendiri….monggo…kalau mau eyel-eyelan sama imam syafi’i

      _____
      he..he…abang kita satu ini lucu juga ya,,,,ndalili baca ushali kok pake link toko buku,, trus bawa-bawa imam syafi’i lagi ….liq…liq…. :),,,,ayo dong yg ilmiah bang liq, biar g cuma jadi debat kusir yang cuman bisa bilang (emang udah dari sononya, pokoknya itu yg bener, masa ulama salah, bisikan jinnya begitu dsb) ….. klo memng kesulitan an siap bantu bang….. 🙂

      alangkah indhnya jika kaum muslimin beramal dengan dalil, walau berbeda pada tanawu/variasi seperti pada generasi salaf. Sisa energi bisa dipakai untuk kemaslahatan umat.
      Tidak seperti sekarang, perhatian dan dana umat banyak tersedot untuk ritual2 yg g jelas juntrungannya dalam islam,,,,,,,,,,,,,,,,,,,semoga

  37. -Pendekar Gondrong-

    Sepertinya ‘pendekar’ yg satu ini tanggapannya banyak yg ga nyambung nih, mungkin saya akan menanggapi singkat saja dengan tertibnya sbb ;

    1. anda berkata : “baik itu secara bahasa atau pun apalah kata antum,tapi antum katakan juga “bid’ah secara bahasa’…”, dari perkataan anda itu saja, terlihat sekali bahwa anda sebenarnya tidak memahami apa itu arti bid’ah baik secara bahasa dan arti bid’ah secara istilah yg merupakan dasar dalam memahami bid’ah, ingat Om ! bid’ah itu bukan bahasa Indonesia…..atau sebaiknya anda kembali ke SD lagi aja sehingga anda bisa memahami bagaimana cara memahami secara bahasa dan istilah….

    2. Makanya diawal-awal diskusi ini saya sudah menyarankan kepada hadirin disini semua untuk memahami apa itu arti bid’ah baik secara bahasa maupun secara istilah (syariat), karena jika hal tsb belum dipahami, maka bisa menimbulkan kerancuan/kebingungan sendiri bagi orang yg membacanya…..bisa terlihat bahwa tanggapan2 disini banyak yg ga nyambung……

    3. mengenai penjelasan saya tentang perkataan Umar, sepertinya anda tidak menyimak penjelasan saya tsb nih, sehingga tanggapan anda ‘jaka sembung’ sekali……

    4. tentang shalat tarawih, saya urutkan kronologisnya ya, soalnya tanggapan anda ini banyak yg ga nyambung…..begini ni,
    awalnya kan anda bertanya kepada saya, apakah saya melakukan shalat tarawih berjamaah? lalu anda meneruskan lagi, kalo iya saya melaksanakan shalat tarawih berjamaah, berarti menurut anda saya telah melakukan bid’ah, kemudian saya bantah perkataann anda tsb bahwa mengerjakan shalat tarawih berjamaah itu BUKAN BID’AH ! karena apa? karena sudah anda jawab sendiri bahwa Rasulullah melaksanakan shalat tarawih yg dahulu dinamakan ‘Qiyamu Ramadhan’ seperti yg anda jelaskan barusan, itu artinya anda telah membantah perkataan anda sendiri, BAGAIMANA BISA ANDA MENGATAKAN SHALAT TARAWIH BERJAMAAH ITU BID’AH, AKAN TETAPI RASULULLAH MELAKUKANNYA? KALO RASULULLAH MELAKUKANNYA, BERARTI BUKAN BID’AH DONK, KAN ADA CONTOHNYA !

    Jadi, saya harap tanggapannya itu yg nyambung donk…..

    5. Yg perlu di garisbawahi disini adalah yg sesat itu adalah BID’AH SECARA SYARI’AT BUKAN BAHASA ! bid’ah secara bahasa itu sifatnya umum, sedangkan bid’ah secara syari’at itu sifatnya khusus…..

    6. Mengenai Sunnah Khulafaur Rasyidin, jika kita mau belajar lagi tentu pengumpulan Al-Quran termasuk Sunnah Mereka, adzan shalat jumat lebih dari satu kali dengan sebab tertentu merupakan salah satu Sunnah Mereka yg oleh Rasulullah sudah dijamin bahwa mereka adalah orang-orang yg diberi petunjuk, namun kita seharusnya melihat hal tsb HANYA sebatas dari sisi HASIL IJMA’ mereka saja seperti mengumpulkan Al-Quran dan menambah adzan dengan sebab-sebab yg sudah saya jelaskan diatas tadi saja TITIK, JANGAN kita melihatnya dari sisi perkara barunya ! karena hasil Ijma’ para Sahabat sudah bisa dijadikan dasar dalam Agama ini, saya ulangi lagi yakni HASIL IJMA’-NYA SAJA LHO !

    Seperti halnya puasa hari senin yg Rasulullah contohkan, tentu yg termasuk Sunnah Rasulullah disitu adalah mengerjakan puasa hari seninnya, bukan memperingati hari kelahirannya (ulang tahun) !

    7. Adzan Shalat jumat lebih dari satu kali yg terjadi pada zaman Utsman bin Affan saja, jika dilakukan pada jaman sekarang saja sudah tidak relevan lagi dilakukan karena sudah hilang sebab-sebab dilakukannya adzan lebih dari satu kali tsb karena sudah ada pengeras suara (speaker) yg daya jangkauan suaranya itu bisa berkilo-kilo meter sehingga adzan sekali saja sudah cukup didengar oleh banyak orang !
    Coba perhatikan ! Adzan Shalat jumat lebih dari satu kali yg terjadi pada zaman Utsman bin Affan saja, jika dilakukan pada jaman sekarang sudah tidak relevan lagi dilakukan, apalagi bid’ah-bid’ah yg tidak pernah ada di jaman para Sahabat…….

    8. Makanya dari itu, dari awal diskusi ini saya sudah sudah bertanya berulang-ulang dan belum terjawab sampai detik ini, kalaulah memang benar bahwa Islam membenarkan bagi kita (umat muslim) untuk sekreatif mungkin menciptakan/membuat tata cara/ perbadatan baru dalam rangka menciptakan bid’ah hasanah, maka siapa di jaman sekarang ini yg memiliki wewenang menciptakan peribadatan baru tsb? habib-kah? ustadz-kah? atau kiayi?

    1. Cuihhhh… muncrat! Si Penjahat dari Sawah (Salafy Wahabi) sudah mulai meludah ke langit nih. Awas kena muka sendiri, lho…?!!

    2. Ya, tuh mulai mukul angin, gak kena sasaran, ayaooo…!!! Tepuk tangan, beri semangat, si penjahatnya mau main licik, hati-hati sang pendekar, awas kena jebakannya, mau tabur debu tuh kelihatannya….!!!!

  38. Ho’oh, pukulannya kelihatan ngawur sekarang, makanya memukul angin, wussssss….!!!! Kira-kira penjahat kambuhan ini akan bertobat apa nggak ya?

  39. Sepertinya ada persepsi yg perlu disamakan karena terasa sekali amat rancu diantara kita:

    Dalam kaidah usulul fiqh dikatakan (semoga teman2 disini belajar ilmu ini), disebutkan:

    ????? ?? ??????? ? ??????? ??????? ??? ?? ??? ???? ??????? ?? ???????? ????? ?? ?????? ??? ?? ??? ?????

    Hukum asal ‘adat’ dan sesuatu itu adalah ibahah (boleh) kecuali ada dalil yg mengharamkan (sengaja saya beri tanda kutip pada kata ‘adat’ karena sepertinya banyak yg keliru memaknai atau menterjemahkannya)
    Hukum asal ibadah adalah terlarang atau tauqif (diam/statis) kecuali ada izin dari syari’at.

    Dalilnya: (ane ragu nih, dalam hal ini perlu dalil atau tidak, karena sepertinya banyak yg alergi dalil disini. Biarlah kalau ad yang minta dalil baru saya kasih, biar g dibilang hambur dalil ? )

    Sehingga ibadah apapun (baik itu mahdhoh atau ghairo mahdhoh) masuk dalam kaidah ini, tidak ada pengecualian.
    (semoga sampai sini bisa nyambung. Mengenai mahdhoh atau ghairo mahdoh diakhir nanti ane singgung)

    Karena ibadah hukum asalnya tidak boleh dikerjakan, bagi yg mengerjakannya harus punya dasar/dalil (surat perintah pembolehan/pensyaria’tan), tentunya dari al-Quran dan hadits.
    Jadi kalau sampean mengerjakan suatu ibadah, trus ada yg usil mana dalil yg memerintahkan, sampean keliru kalau balik nanya mana dalil yang melarang, karena yg sampean kerjakan asalnya sudah terlarang atau tauqifiah.
    (semoga sampe sini juga nyambung)

    Nah dari tadi ngomong ibadah terus, jangan2 ada yg g ngerti perngertian ibadah. Nih pengertian ibadah:

    ???: ?????? ??????? ????? ???? ??????? ??? ???? ??? ??? ??? ???? ??????? ????? ??????.

    ????????: ????? ??? ??? ??????? ??????? ????:

    ?- ?? ????? ??? ???? ???? ?????? ??????? ??????

    2- ?? ?????? ???????? ????? ???? ??? ??? ????? ????????

    3- ?? ???? ???? ?????? ???????.

    4- ?? ??? ??? ???? ???? ?????? ?? ??????? ???????? ???????? ??????? ????????. ???????? ??????

    (saya rasa mengerti semua artinya, dalilnya sengaja tidak saya hadirkan, biar yg alergi dalil tidak kumat alerginya. Kalau nanti diperlukan nanti bisa dikelurkan,,kalau g ngerti bisa minta tolong mas gondorong menterjemahkan…. ? )

    Dari kaidah usul di atas, yg selain ibadah seperti ‘adat’ hukum asalnya boleh, jadi silahkan mau berinovasi apa saja boleh. Cuman nanti dulu, pengertian adat disitu dibenerin dulu, adat disitu bukan adat menurut bahasa Indonesia, tetapi adat dalam bahasa arab, pengertiannya beda jauh bung. Ini yg menyebabkan ga nyambung diskusinya selama ini, banyak istilah2 yg pengertiannya beda.

    Pengertian adat menurut bahasa arab itu begini:
    ??????? ?? ????? ??? ???? ??? ?? ?????? ??????? ?? ???? ???? ????? ??????? ? ????? ??????? ?????? ??????
    (yg g engerti bahasa arab nih ane bantu terjemahin):
    ‘Adaat secara bahasa bentuk plural dari kata âdah yaitu apa yang biasa dilakukan manusia yaitu yang senantiasa dilakukannya berkali-kali dan berulang-ulang. (Gampangnya) adat adalah aktivitas keseharian manusia.
    Contohnya: makan, minum, buang air, berpakaian, hubungan social dll.
    Jadi pengertian adat disitu bukan “adat istiadat” seperti yg difahami sebagian sodara-sodari disini, ini salah besar. (semoga pada mau mengerti bahasa arab)

    Kefatalannya terjadi, ketika adat istiadat kita dimasukkan kedalam kaidah fiqih ” adat hukum asalnya boleh” padahal pengertian adat dalam kaidah itu bukan adat istiadat. (sampe disini semoga juga bisa nyambung ? )

    Mengenai ‘Adat istiadat’ kalau kita mau memperhatikan dan jujur, ada dua kemungkinan:
    Pertama: istiadat yang memang tidak terkandung unsur ibadah, seperti tradisi permainan, bentuk rumah, motif pakaian dsb.
    Kedua: adat yang terkandung unsur ibadah: seperti sedekah bumi, tatacara /resepsi kematian, kelahiran, selamatan dll. Karena pelaksanaannya mengunakan tatacara ibadah seperti doa2, zikir, sembelihan bahkan ada yang sampai rukuk dan sujud.

    Nah untuk adat istiadat yg tidak mengandung unsur ibadah silahkan saja berinovasi sebaik-baiknya dan sebebas-bebasnya.
    Tetapi untuk yang mengandung unsur ibadah kita tidak bisa gegabah mengikutinya atau melakukkannya.

    Seperti yang sudah dikatakan bahwa hukum asal ibadah adalah dilarang/statis.
    Maka perlu diketahui jg kalau ibadah yg disyari’atkan itu terbagi dua:
    Ada ibadah mutlak (ibadah tidak terikat) dan ada ibadah muqoyyad (ibadah terikat)..
    -nah loh, apa lagi tuh muqoyad dan mutlak, he he semoga bisa nyambung dan g pada lier-

    Ibadah Muqoyyad (ibadah terikat) artinya ibadah itu pelaksanaannya dibatasi tatacaranya oleh syari’at.
    Batasnya ada 4: WAKTU, CARA, JUMLAH, TEMPAT (smog g kurang)
    (dikatakan mukoyad (terikat) karena terikat oleh ke4 batasan itu, seluruhnya atau sebagiannya. (dan karena ke 4 unsur ini dalam ibadah, maka penetapannya juga harus pakai sumber/ dalil)

    Adapun ibadah mutlak ia tidak memiliki batasan, ia dapat dilakukan tanpa terkait 4 pembatas di atas.

    Untuk ibadah Muqoyyad sepertinya kita semua sepakat kalau keluar dari 4 hal di atas maka ibadahnya jadi tidak benar.
    Contoh: shalat wajib yang lima waktu. Kita ambil sample shalat zuhur
    Waktunya: matahari tergelincir dari atas kepala sampai panjang bayangan menyerupainya (kalau dikerjakan diluar itu jadi tidak sah)
    Caranya: dimulai dengan takbir dan ditutup dengan salam dengan gerakan tubuh dan bacaannya insyaallah kita semua tahu (kalau dimulai dengan salam dan diakhiri dengan takbir tentu tidak diterima)
    Jumlah: 4 rakaat. (kalau ditambah jadi 5 atau dikurangi jadi 3 juga tidak diterima)
    Tempat: dalam hal ini tidak dibatasi (selama bersih dari najis)

    Contoh lain: zikir ba’da shalat:
    Waktu: setelah shalat (klo dikerjakan sebelum shalat y bukan zikir ba’da shalat namanya)
    Cara: dilafalkan dengan lisan (ini zikir lisan bukan zikir hati, karena nabi melafalkannya)
    Jumlah : subhanallah 33x, alhamdulillah 33x allahu akbar 33x (kalau jumlahnya ditambah atau dikurangi semaunya, sudah bukan sunnah lagi)
    Tempat: tidak dibatasi (tergantung dimana dia shalat)
    Semoga dua contoh ini bisa mewakili yang lain.

    Contoh Ibadah mutlak (tidak terikat):
    Shalat sunnah mutlak, zikir mutalak, puasa mutlak (….bingung ? )
    Shalat mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi waktunya selama tidak bertepatan dengan waktu larangan. Seperti shalat malam (silahkan shalat dihari apapun, jumlah rakaatnya terserah, jam berapapun, keliwon, legi, pahing, terserah)
    Zikir mutalak: silahkan membaca tahmid, tahlil, takbir, suhanallah berapapun banyaknya dan dimanapun, sambil tidur, berdiri duduk
    Puasa mutlak; silahkan puasa hari apapun. Selama tidak mengkhususkan hari tertentu yang dilarang.

    Nah untuk ibadah mutlak, dia harus tetap dalam keadaan mutlak (tidak terikat). Ketika ibadah mutlak pada akhirnya di ikat oleh suatu aturan, disinilah mulai munculnya kebid’ahan itu. Karena, seperti yg sudah disampaikan diatas bahwa keterikatan dengan 4 hal pada ibadah muqoyyad harus berdasarkan sumber/dalil.

    Sampai disini semoga mulai ad titik terangnya.

    Nah, pembicaraan bid’ah dan yang diperdebatkan oleh kaum muslimin sekarang ini mayoritasnya pada ibadah mutlak (tidak terikat) tetapi kemudian dijadikan muqoyyad (terikat).
    Contohnya:
    Zikir, tasbih, tahlil, takbir dan beberapa bacaan asmaul husna yang mutlak oleh sebagian kiayi, ajengan, guru toriqot di jadikan muqoyyad dengan jumlah, waktu, tempat tertentu. 1000x, 100 ribu x dibawah air terjun, atau dikamar tanpa lampu, (maaf) telanjang dll, yang tidak ada sumbernya dari al-Quran dan sunnah.
    – Shalat malam yang tadinya mutlak, dijadikan muqoyyad (terikat) dengan shalat malam jum’at keliwon, selasa legi atas anjuran guru atau kiayi yang juga tidak ada sumbernya dari al-Quran atau sunnah.
    – Puasa mutlak dijadikan muqoyyad dengan mutih, pati geni yang tidak ada dalilnya dalam al-Quran maupun sunnah.

    Sampai disini semoga semakin lebih terang.

    Ibadah-ibadah mutlak itu, semuanya ada dalilnya dari al-Quran dan sunnah, tetapi TATA CARA, WAKTU, TEMPAT, JUMLAH itu yang tidak ada sumbernya. Padahal ibadah itu seluruhnya tauqifiah.

    Ketika kita menentukan 4 pembatas sendiri tanpa ada pentunjuk dari syari’at, disinilah dikatakan kita telah membuat ibadah atau mengamalkan ibadah yang tidak sunnah alias bid’ah. Bukan bid’ah pada asal penyari’atannya tetapi bida’ah dalam 4 pembatas tersebut karena telah membuat batasan yang bukan dari syari’at.
    (bid’ah seperti ini oleh ulama disebut sebagai BID’AH IDOFIAH (bid’ah tambahan karena secara asal memang ada)

    Adapun bid’ah yang tidak ada asalnya, biasanya disebut dengan BID’AH ASLIAH (bid’ah tulen). Dalam hal ini ulama mencontohkannya dengan:
    ? …….
    -semoga tidak kebakaran jenggot,,,,,he he,, itupun kalau punya jenggot, padahal jenggot sunnah,, sebagai ahlussunnah ayo kita hidupkan sunnah Nabi dengan tidak mencukur jenggot, itu kalau memang benar-benar pejuang sunnah…-

    Dengan: perayaan maulid Nabi, perayaan tahun baru, ulang tahun, 40 atau 100 hari orang mati dsb.

    Karena perayaan2 itu tidak dikenal di zaman Nabi maupun generasi awal salaf.
    Kalaupun dipaksakan untuk dicarikan dalilnya, dalil2 itu tidak lebih dari dalil yang mutlak atau mutasyabih.

    O iya, bagi yang memisahkan bahwa bid’ah itu hanya pada ibadah mahdhoh, tahukah anda apa pengertian ibadah mahdhoh?
    Pengertian ibadah mahdhoh yang saya ketahui adalah seperti ini:

    ????? ??????? ??????: “?? ?? ??? ?? ?????? ?? ????? ?????? ???????? ??????? ????? ???? ????? ??????”. ??? ???? ?? ???? ?? ?????? ?? ??????? ?? ???????? ?? ????? ??? ???? ??????? ??? ??? ????? ?? ??? ????????

    Pengertian ibadah mahdhah adalah: apa-apa yang diperintahkan syari’at dari perbuatan hamba dan ucapan yg dikhususkan pada kemuliaan dan keagungan Allah ta’ala. Setiap amalan atau perkataan yang ditunjukkan oleh dalil dari nas-nas atau ijma atau selainnya akan diwajibkannya ikhlas adalah ibadah yang asalnya disyari’atkan.
    (maaf kalau terjemahaannya tidak sesuai selera ? )

    Dari pengertian ini, jika saya tanya: apakah zikir, shalawat, tahlil, tasbih bukan ibadah mahdhah, tidak diperintah oleh syari’at?. Kalau begitu mana ibadah yg tidak masuk pengertian makhdoh yg mungkin untuk berinovasi atau berbid’ah-bid’ah?

    Saya rasa cukup dulu
    Semoga yang sedikit ini bisa kita sepakati

    1. @ abu diva,

      ente sensitif deh, ane yakin di sini nggak ada yang alergi dalil. Kalau ada yang bilang “obral dalil”, itu maksudnya seseorang telah memaksakan dalil tidak pada tempatnya, terus dalilnya itu banyak tapi meleset dari persoalan yang didiskusikan, makanya ada yang menyebutnya sebagai “obral dalil”. Lagian mana ada Ummat Muhammad Saw kok alergi dalil? Jangan sensitif kayak gitu ah…, jangan ngambek dong?

      1. -adul wahib-

        sbg orang yg sempat dituduh suka ‘obral dalil’, saya ingin tanya ni, dibagian mana? pembahasan apa? dan dalil mana yg saya bawakan yg tidak tepat penggunaannya?
        Saya harap anda bisa menunjukkannya kepada saya dibagian mananya jika benar-benar ada yg keliru, karena sesama muslim itu harus saling mengingatkan donk jika ada muslim lain yg melakukan kekeliruan…..

        -terima kasih-

        1. @yusuf ibrahim

          Ooo… jadi menurut ente kita ini sesama muslim? yg serius nih Bang Yusuf, ikhlas ngga? Soalnya ane suka bertawassul dengan Nabiku Muhammad Saw, ane juga suka ziarah kubur ke makam orang-orang shalih. Bukankah Ilmu Wahabi Mengatakan bertawassul kepda Nabi Muhammad adalah syirik (musyrik)? Bukankah ilmu Wahabi mengatakan ziarah ke makam Nabi Saw atau makam orang-orang shalih sebagai Penyembah kuburan, dan ini artinya juga musyrik? Kalau menurut ilmu wahabi kan ane musyrik berarti bukan muslim, masih mau menganggap ane sesama muslim? Dan orang-orang seperti ane, di Indonesia jumlahnya jutaan. Jawab deh, nanti ane akan dengan ikhlas menunjukkan kekeliruanmu dalam mengobral dalil-dalil syar’i tidak pada tempatnya.

          1. Bang Dul Wahib, wah…. pertanyaan ente cerdas.
            Ayo jawab Bang Yusuf tapi jangan asal njeplak, jawabnya harus yang jujur sesuai ilmu Wahabi ya?

          2. Oo….jadi selama ini anda berprasangka bahwa saya telah mengkafirkan anda gitu?

            “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa….” (Q.S Al-Hujaraat : 12)

            Perlu diketahui mas, di awal diskusi ini, saya itu memanggil lawan bicara saya dengan sebutan ‘saudara’, tentu saudara yg saya maksud disitu adalah saudara sesama muslim pastinya….

            Mengenai pertanyaan anda itu, sepertinya pertanyaan anda ini sudah bukan meleset dari persoalan yg sedang didiskusikan lagi ni, melainkan sudah keluar dari tema diskusi, karena adab dalam diskusi itu adalah tidak boleh keluar dari topik yg didiskusikan…..
            Jadi, jika saya jawab, nanti kemana-mana pembahasannya, semakin tidak terarah……

            Dan perlu digarisbawahi pula disini, adapun yg selama ini dipermasalahkan tentang syirik dan bid’ah itu adalah hanya sebatas perbuatannya saja, namun tidak lantas memvonis atau langsung melabeli orang yg melakukan perbuatan syirik dan bid’ah tsb seorang yg musyrik atau ahlul bid’ah karena bisa saja orang yg melakukan perbuatan syirik dan bid’ah tsb masih belum mengetahui bahwa perbuatan tsb adalah perbuatan syirik dan bid’ah…..sehingga dalam memvonis seseorang itu musyrik atau ahlul bid’ah, tidaklah boleh sembarangan sebagaimana kita juga tidak boleh sembarangan mengatakan ‘kafir’ kepada sesama muslim lainnya…..

            Tapi ingat ! pernyataan saya diatas tsb sifatnya umum lho, tidak terkait sama sekali dengan pernyataan saudara ‘adul wahib’ tentang tawasul dan ziarah kubur itu……Jadi, saya harap pernyataan saya tsb tidak dikait-kaitkan dengan pernyataan saudara ‘adul wahib’ tsb…..

          3. Maaf ini ada faedah. sengaja ane nukilkan dari sebelah –sepertinya dituding sa-wah juga :), semoga bisa memberi sedikit kerangka bagaimana pandangan ahlussunnah yg mereka yaqini dalam koridor kafir mengafirkan/takfir :

            1. Takfir itu adalah hak Alloh dan Rasul-Nya. Maka siapa saja yang Alloh dan Rasul-Nya kafirkan maka kafir dan sebaliknya.
            2. Takfir itu memiliki syarat-syarat yg harus dipenuhi, baik oleh orang yg menvonis kafir dan yang divonis kafir. Syarat utk yg menvonis kafir adalah : ia haruslah berilmu dan mengetahui sebab2 kekafiran, menegakkan hujjah dan menghilangkan penghalang (mawani’) kekafiran. Dan ini bukan tugas setiap muslim. Adapun syarat yang divonis kafir adalah : ia mengetahui (ilm) bahwa apa yg dilakukannya mrp bentuk kekufuran, niat (bermaksud dengan sengaja) dan dalam keadaan sukarela atau tidak terpaksa.
            3. Oleh karena itulah Syaikhul Islam menjelaskan bahwa mawani’ (penghalang) kekafiran adalah : jahl (ketidaktahuan) sebagai lawan dari ilm (mengetahui perbuatannya itu kafir), terpaksa lawan dari sukarela dan tidak disengaja lawan dari niat.
            4. Adapun untuk menvonis kafir, hendaknya dilihat dua hal, yaitu : (1) Dilalah (penunjukan) nash al-Kitab dan as-Sunnah bahwa memang perbuatan tsb menyebabkan kekafiran, dan (2) inthibaq (kesesuaian) hukum yang diberikan kepada pelaku dengan melihat terpenuhi syarat-syarat takfir dan tidak ada penghalan kekafiran.
            5. Kaidah yang disepakati adalah seseorang tetap dalam keislamannya sampai ada keterangan YANG PASTI bahwa keislamannya telah hilang. Oleh karena itu keIslaman seseorang tdk boleh dianggap sirna hanya dengan asumsi, zhan (dugaan), takwil, dls.
            6. Diantara mawani’ yang mu’tabar adalah, tidak melakukan vonis kafir dg sebab banyaknya syubuhat yg melingkupi, seperti takwil, dls…
            7. Kaidah yang mu’tabar juga adalah bahwa tidak setiap orang yg jatuh kpd perbuatan kekafiran otomatis orangnya menjadi kafir (Laysa kullu man waqo’a fil kufri waqo’a al-kufru ‘alaihi)

            (klo ad point yg perlu dikritisi silahkan)

    2. Menurut pangalaman ane dalam membaca artikel-artikel di blog Salafy Wahaby, ane bisa menyimpulkan tidak setiap yang mengambil dasar dari al-Qur’an dan hadis itu pasti benar! Jangan salah pahan, maksud ane begini: bahwa “al-Qur’an atau Hadis itu memang benar adanya, tetapi penjelasan orang terhadapnya lah yang belum tentu benar!”. Awas, janga dipelintir ya?

      Maka sikap kita ketika ada orang yang menjelaskan ayat al-Qur’an atau hadis, waspadailah dengan cara mengkonfirmasikannya kepada para guru atau alim ulama yang sudah dikenal dan diakui di masyarakat. Yang sedemikian itu agar kita selamat dari penjelasan yang ganjil atau sesat yang seringkali menipu kalangan awam sehingga diyakini sebagai kebenaran.

      1. Bang Dul Wahib, tuh kan bener? Si Yusuf nggak jujur sesuai ilmu wahabi kan? ato ilmu wahabi-nya yang plin-plan ya? Wah, ilmu kayak gini kok dipegang dg bangga ya, naudzu billah min dzalik….!!!!

        Ada yang ganjil tuh parnyataannya, nah aku kutipkan : “Tapi ingat ! pernyataan saya diatas tsb sifatnya umum lho, tidak terkait sama sekali dengan pernyataan saudara ‘adul wahib’ tentang tawasul dan ziarah kubur itu……Jadi, saya harap pernyataan saya tsb tidak dikait-kaitkan dengan pernyataan saudara ‘adul wahib’ tsb…..” Ini pernyataan ganjil, lucu, dan hemmmm, senyum ah….

        Nih aku kutip lagi pernyataan Yusuf di alenia sebelumnya yang tak kalah ganjil dan lucu: “Dan perlu digarisbawahi pula disini, adapun yg selama ini dipermasalahkan tentang syirik dan bid’ah itu adalah hanya sebatas perbuatannya saja, namun tidak lantas memvonis atau langsung melabeli orang yg melakukan perbuatan syirik dan bid’ah tsb seorang yg musyrik atau ahlul bid’ah karena bisa saja orang yg melakukan perbuatan syirik dan bid’ah tsb masih belum mengetahui bahwa perbuatan tsb adalah perbuatan syirik dan bid’ah…..sehingga dalam memvonis seseorang itu musyrik atau ahlul bid’ah, tidaklah boleh sembarangan sebagaimana kita juga tidak boleh sembarangan mengatakan ‘kafir’ kepada sesama muslim lainnya…..”

        Aku bertanya: Kalau pelaku tawassul dan ziarah kubur belum tahu ilmunya bukan musyrik, terus para ulama, kiyai, habaib yang tahu ilmunya berati musyrik gitu ya…? wuehe he he he…. Ilmu kok kontradiksi kayak ilmunya Darwin si Bapak manusia kera ya?

        1. Saudara-saudara penonton, si Yusuff sudah mulai mengeluh, he he he…. mulai keteter kelihatannya. Itu Dul Wahib tanyanya bikin dia ngeluh,… Seharusnya dia nyalahin ilmu Wahabi-nya yang nggak ada konsistennya, bukan hanya ngeluh yo? kasihan, ilmunya rapuh puh puh…. plintat-plintut tut tut tut…..

          Ilmu kayak gitu kok dipelajari dan dihapal ya?

  40. izin untuk sedikit komentar atau diam…
    hebat2 mereka…..menyebutkan ucapan rasulullah saw seperti ucapan kawan mereka…hati2 kawan dalam mengeluarkan ucapan rasulullah saw..hati2…hati2…apa lagi menyebutkan 1 ayat dalam al-quran..kalau hal itu masih belum jelas kepada kita atau belum kita mengerti hikma dari balik itu semua hendaklah kita diam…hati2..hati2…astaghfirullah…

  41. Rindu sama Mas Gondrong nih…, aku suka jurus-jurus “Tai Chi”-nya, demikian mantap n lentur, bikin babak belur penjahatnya. Huee he he he….
    Akabar Caniago, awak masih ado di tempatmu? Sekali-kali turun gelanggang tak apa lah..?? Aku suka jurusmu yang lugu tapi kena sasaran, wueehe he he he he…. Sambil duduk selonjor ah… biar nggak ngentut, ntar batal deh wudluku…..

  42. assalamu’alaikum.
    Setelah membaca dari beberapa artikel saya sangat tertarik dengan pembahasan ini.
    Semoga Orang wahabi yang tidak mau menerima kebenaran Allah memberikan Hidayah dan kesadaran.

    sudah beberapa kali dari Ahlusunnah waljama’ah dengan WAHHABI ATTALAFI (pengrusak) dalam debat terbuka mengakui kesalahannya. narasumberpun bukan orang ecek2 tapi doktor dari mesir yang mengaku sebagai anti bid’ah VS ahlussunnah.

    dia adalah doktor……(tidak saya tampilkan namanya) dia adalah dosen saya di fakultas Al-Azhar ( sekarang : dirasat islamiyah wal-arabiyah) UIN SYAHID Jakarta. dan saya beserta teman2 BEMF ( kebetulan jadi wapresnya waktu itu) mengadakan debat terbuka : wahhabi dan Ahlussunnah wal jama’ah. Habib Syekh Salim Alwan Alhasani sebagai pembicara dari ASWAJA. (beliau adalah ketua mufti di Australia, beliau murid dari Syekh Abdullah Al-Harory al-habashi libanon).

    apa yang terjadi doktor wahhabi itu dipertengahan debat keluar dengan muka merah karena kalah dalam : ta’wil, sejarah, takhrij hadits dll.
    ini saya perkenalkan :
    (ini video beliau : syekh salim alwan)

    http://darulfatwa.org.au/ dan ini webnya.

    sehingga saya ketika skripsi dengan judul tentang tawassul, padahal penguji saya doktor yang berfaham wahhabi juga, tapi Alhamdulillah mereka mengakui kebenaran itu.

    kalau mau Wahhabi itu jangan hanya dalam tulisan dan suka ngeles ja kalaudebat ilmiah. saya mohon ampun kepada Allah SWT semoga kita semua dijauhkan dalam menyalahkan pendapat yang shohih.

    wassalamu’alaikum.

  43. @yusuf ibrohim

    Sepertinya ‘pendekar’ yg satu ini tanggapannya banyak yg ga nyambung nih, mungkin saya akan menanggapi singkat saja dengan tertibnya sbb ;
    —————————
    ane orang nya rada jangkung bukan pendek dan kekar….he…he….
    —————————

    1. anda berkata : “baik itu secara bahasa atau pun apalah kata antum,tapi antum katakan juga “bid’ah secara bahasa’…”, dari perkataan anda itu saja, terlihat sekali bahwa anda sebenarnya tidak memahami apa itu arti bid’ah baik secara bahasa dan arti bid’ah secara istilah yg merupakan dasar dalam memahami bid’ah, ingat Om ! bid’ah itu bukan bahasa Indonesia…..atau sebaiknya anda kembali ke SD lagi aja sehingga anda bisa memahami bagaimana cara memahami secara bahasa dan istilah….
    ———————————————

    hee..he..ane anak TK Oom bukan SD….
    tapi antum jelas nggak neh yg di kata sahabat umar”adalah sebaik2 nya bid’ah adalah ini”
    kayanya anak SD beneran juga ngerti banget…deh…tanpa antum jelasin apa2 nya…
    jadi mana yg lebih ngert neh…anak SD beneran ape antum??? he..he….
    ————-
    ane ngejelasin itu semua biar antum faham…
    1.apa makna arti kata bidah,(gampangnya sesuatu yg baru yg tak ada zaman rasul)
    2.apa makna sabda rasululloh ttg bidah,(kata kullu diatas mengandung kata2 ba’din
    atau berarti setiap sebagian bukan jam’in.dst…)
    3.bid’ah dlm hal shbt umar….adalah bidah yang hasanah,

    mengapa hasanah? penjelasannya adalah Umar sahabat rasul,dan tahu pengejawantahannya dari sunnah2 rasul,tak mungkin ia berkehendak tanpa berkesesuaian dgn sabda rasul,apa lagi kita di perintahkan tuk mengikuti sunnah khulafaur rosyidin yang juga sabda rasul,
    oleh karenanya mengikuti apa2 yang dilakukan khulafaur rosyidin menjadi sunnah rosul juga…

    tanpa antum mengatakan;
    “adzan Shalat jumat lebih dari satu kali yg terjadi pada zaman Utsman bin Affan saja, jika dilakukan pada jaman sekarang saja sudah tidak relevan lagi dilakukan karena sudah hilang sebab-sebab dilakukannya adzan lebih dari satu kali tsb karena sudah ada pengeras suara (speaker)”

    kok ada sunnah khulafaur rosyidin di katakan sudah tak relevan? masak relevan jadi ukuran sunnah?
    sunnah ya tetap sunnah…waduh….bagaimanaini….ck..ck…
    coba antum pikir dong….

    ————————————————————
    2. Makanya diawal-awal diskusi ini saya sudah menyarankan kepada hadirin disini semua untuk memahami apa itu arti bid’ah baik secara bahasa maupun secara istilah (syariat), karena jika hal tsb belum dipahami, maka bisa menimbulkan kerancuan/kebingungan sendiri bagi orang yg membacanya…..bisa terlihat bahwa tanggapan2 disini banyak yg ga nyambung……
    ———————————————–

    he..he…
    orang disini juga pada tahu…
    why?……ane obrol begini bukan cuma antum aje kan…dr yg sudah2 ambil separo paragraf,padahal yg jelasinnya yang bawah…ingat juga kan obrolan antum juga dengan ane di lain masalah…..?
    yang mana ane jg bilang jangan ambil sepotong2 penjelasan ulama ntar jadi beda makna dan maksud nya…ingat…?
    —————–
    oke…kita ambil penjelasannya Imam ibn Hajar mengapa imam syafii membagi bidah terbagi dua,nah di sana ada yang antum mau….

    “semua hal baru yang tak ada asal/dalil dalam syariat di namakan bid’ah,namun apa2 yg ada dasarnya
    syariahnya maka bukanlah bid’ah. maka kalimat bid’ah dalam makna syariah adalah buruk,namun berbeda dengan nama bahasa,karena dalam bahasa kesemuanya hal baru di sebut bid’ah,sama saja apakah itu yg baik atau yang buruk,demikian pula dengan hal2 baru,sbgm hadist yg di riwayatkan oleh aisyah ra,”barang siapa yang membuat hal baru dlm urusan kami (syariah) yg bukan dari syariah maka ia tertolak,sbm penjelasannya dalam kitab alahkam,lalu terjadi pula pada hadist riwayat jabir ra,semua yg bidah adalah sesat demikian pula hadist riwayat al irbadh bin saariyah ra hati2lah dengan hal baru,maka sungguh semua yg bidah itu sesat,hadist itu di awali dgn wasiat Nabi saw pd kami dgn wasiat yg indah maka di sebutlah hadist itu,hadist itu dikeluarkan oleh ahmad,dan abu daud dan tirmidzi,dan dishohihkan oleh ibn majah,ibn hibban dan hakim,maka hadist ini dgn makna yg dekat hadist aisyah sbmn di sebutkan, DAN TERPADU PADANYA BANYAK SUMBER PEMAHAMAN KALIMAT,DAN BERKATA IMAM SYAFII BAHWA BIDAH TERBAGI,BIDAH TERPUJI DAN BIDAH TERCELA,MAKA HAL BARU YANG SESUAI DENGAN SUNNAH MAKA IA TERPUJI,DAN YANG TAK SESUAI DENGAN SUNNAH MAKA IA TERCELA, demikian di riwayatkan dari abu,dr ibrahim bin junaid dari Assyafii”

    dan datang juga dari riwayat assyafii sebagaimana dikeluarkan oleh imam albaihaqi dalam manakibnya,bahwa hal2 baru ada dua macam:yaitu apa2 dr hal baru yg bertentangan dgn kitab dan sunnah atau atsar sahabat,atau ijma ulama maka hal itu adalah bidah dholalah,dan hal baru berupa kebaikan yg tak bertentangan dgn hal2 di atas maka hal itu terpuji, dan ulama telah membagi bidah kepada 5 hukum,dan hal ini telah jelas”.(fathul bari almasyur juz 13 hal 254)-ibn hajar

    bagaimana boss..ini yang antum mau?
    hanya mengingatkan aje…ambil penjelasan semua nya, ntar jadi beda atau belok maksud dan maknanya dan beda pengertian antum sama ane…he..he…

    ———————
    3. mengenai penjelasan saya tentang perkataan Umar, sepertinya anda tidak menyimak penjelasan saya tsb nih, sehingga tanggapan anda ‘jaka sembung’ sekali……
    ———————
    sayang ane hanya anak TK…boss…

    ——————————————-
    4. tentang shalat tarawih, saya urutkan kronologisnya ya, soalnya tanggapan anda ini banyak yg ga nyambung…..begini ni,
    awalnya kan anda bertanya kepada saya, apakah saya melakukan shalat tarawih berjamaah? lalu anda meneruskan lagi, kalo iya saya melaksanakan shalat tarawih berjamaah, berarti menurut anda saya telah melakukan bid’ah, kemudian saya bantah perkataann anda tsb bahwa mengerjakan shalat tarawih berjamaah itu BUKAN BID’AH ! karena apa? karena sudah anda jawab sendiri bahwa Rasulullah melaksanakan shalat tarawih yg dahulu dinamakan ‘Qiyamu Ramadhan’ seperti yg anda jelaskan barusan, itu artinya anda telah membantah perkataan anda sendiri, BAGAIMANA BISA ANDA MENGATAKAN SHALAT TARAWIH BERJAMAAH ITU BID’AH, AKAN TETAPI RASULULLAH MELAKUKANNYA? KALO RASULULLAH MELAKUKANNYA, BERARTI BUKAN BID’AH DONK, KAN ADA CONTOHNYA !

    Jadi, saya harap tanggapannya itu yg nyambung donk…..
    ————————————————–

    he..he…
    antum juga nggak nyambung… why…sengaja dgn halus ane cerita ternyata..?biar antum lebih nyambung…begini..
    1.rosul sholat qiyamu ramadhan…….antum dan ane sholat taraweh.
    secara niat ane tanya sama antum…apa antum sholat taraweh niatnya sholat qiyamu ramadhan?
    (dr sini hendaknya antum sdh mengerti) apa antum sholat taraweh dgn niat sholat taraweh?
    2.rosul sholat qiyamu ramadhan,diikuti dgn yg lainnya…ada keterangan rosul jadi imam ?
    jelas banget neh :
    “Kemudian Khalifah Umar bin Khatab berpendapat ‘Bahwa orang-orang yang sedang shalat tarawih sendirian sebaik dikumpulkan menjadi satu dibawah pimpinan seorang imam’ kemudian Khalifah
    Umar bin Khatab menyuruh Ubay bin Ka’ab seorang sahabat periwayat hadits untuk menjadi imam
    dan SEJAK SAAT ITU shalat tarawih dilaksanakan secara berjama’ah.

    bagaimana..siapa yang nggak nyambung…?jelas kata2 nya “sejak saat itu” apa maknanya?

    nah (yg di atas) ane tambah keterangan imam ghozali…

    “Hakikat bahwa ia adalah perkara baru yang diadakan tidaklah menghalanginya untuk dilakukan. Banyak sekali perkara baru yang terpuji, seperti SEMBAHYANG TERAWEH SECARA BERJAMAAH, IA ADALAH “BID’AH” YANG DILAKUKAN OLEH SAYYIDINA`UMAR RA, tetapi dipandang sebagai Bid’ah yang baik (BID’AH HASANAH). Adapun Bid’ah yang dilarang dan tercela, ialah segala hal baru yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW atau yang bisa merubah Sunnah itu.[6]

    jadi siapa yg nggak nyuambung neh…?en apa antum merasa lebih tahu dr imam Ghozali?…

    ————————
    5. Yg perlu di garisbawahi disini adalah yg sesat itu adalah BID’AH SECARA SYARI’AT BUKAN BAHASA ! bid’ah secara bahasa itu sifatnya umum, sedangkan bid’ah secara syari’at itu sifatnya khusus…..
    ——————————–
    Nah itu dia…dari situlah maka ada bid’ah ada yg baik dan yang buruk,dst…..lihat penjelasan imam ibnu hajar di atas..(asal jangan membelokkan dan kurang dlm memahami maknanya okeh…)

    ——————————————-
    6. Mengenai Sunnah Khulafaur Rasyidin, jika kita mau belajar lagi tentu pengumpulan Al-Quran termasuk Sunnah Mereka, adzan shalat jumat lebih dari satu kali dengan sebab tertentu merupakan salah satu Sunnah Mereka yg oleh Rasulullah sudah dijamin bahwa mereka adalah orang-orang yg diberi petunjuk, namun kita seharusnya melihat hal tsb HANYA sebatas dari sisi HASIL IJMA’ mereka saja seperti mengumpulkan Al-Quran dan menambah adzan dengan sebab-sebab yg sudah saya jelaskan diatas tadi saja TITIK, JANGAN kita melihatnya dari sisi perkara barunya ! karena hasil Ijma’ para Sahabat sudah bisa dijadikan dasar dalam Agama ini, saya ulangi lagi yakni HASIL IJMA’-NYA SAJA LHO !
    ———————————————-
    sunnah khulafaur rasyidin? udah ane jelasin di atas…

    pengumpulan al-quran mau,huruf2 di tambahin titik mau,azan yg ke 2 tidak,ilmu nahwu mau…
    padahal tak ada semua di zaman rasul ya….

    di bilangin ada yg baik ada yang buruk nggak mau,he..he…
    ———————–

    Seperti halnya puasa hari senin yg Rasulullah contohkan, tentu yg termasuk Sunnah Rasulullah disitu adalah mengerjakan puasa hari seninnya, bukan memperingati hari kelahirannya (ulang tahun) !
    ————————
    kalau yang ini antum nyambung nya ke masalah maulid di ummati2 aja…nya ntar jadi kesana-kesini

    ———————————————

    7. Adzan Shalat jumat lebih dari satu kali yg terjadi pada zaman Utsman bin Affan saja, jika dilakukan pada jaman sekarang saja sudah tidak relevan lagi dilakukan karena sudah hilang sebab-sebab dilakukannya adzan lebih dari satu kali tsb karena sudah ada pengeras suara (speaker) yg daya jangkauan suaranya itu bisa berkilo-kilo meter sehingga adzan sekali saja sudah cukup didengar oleh banyak orang !
    Coba perhatikan ! Adzan Shalat jumat lebih dari satu kali yg terjadi pada zaman Utsman bin Affan saja, jika dilakukan pada jaman sekarang sudah tidak relevan lagi dilakukan, apalagi bid’ah-bid’ah yg tidak pernah ada di jaman para Sahabat…….
    ———————————————–

    kok ada sunnah khulafaur rosyidin di katakan sudah tak relevan?

    masak relevan jadi ukuran sunnah?

    sunnah ya tetap sunnah…waduh….bagaimanaini….ck..ck…
    ———————————————–
    8. Makanya dari itu, dari awal diskusi ini saya sudah sudah bertanya berulang-ulang dan belum terjawab sampai detik ini, kalaulah memang benar bahwa Islam membenarkan bagi kita (umat muslim) untuk sekreatif mungkin menciptakan/membuat tata cara/ perbadatan baru dalam rangka menciptakan bid’ah hasanah, maka siapa di jaman sekarang ini yg memiliki wewenang menciptakan peribadatan baru tsb? habib-kah? ustadz-kah? atau kiayi?
    ————————————————
    nah emang nya yang itu ente nanya ama siape……
    tata cara peribadatan yang baru yang mana neh yang antum maksudkan?

    ————————————————

    -Waallahu ‘Alam

    1. Nah… kan, terbukti kan, Yusuff Ibrahim kalau dalam posisi kepojok jadi semakin konyol kan? Wah, ini kalau debat terbuka bisa langgsung merah tuh mukanya, waladalah…. bisa-bisa langsung ngacir tanpa pamit…! kwak kakk kk kkakk ….

      Selamat dan sukses buat Mas Gondrong, hore…. !!!

  44. -gondrong-

    1. begini ya bang gondrong, kita harusnya melihat hasil ijma para Sahabat itu sebagai Sunnah Kulafaur Rasyidin, jangan kita melihat dari sisi membuat perkara barunya…….karena bisa menimbulkan kesalah pahaman yg bisa membuat orang yg tidak paham bisa seenaknya membuat perkara baru dalam hal agama atas dasar ‘bidah hasanah’ dengan merujuk kepada perkataan para Sahabat tsb…..

    2. Berhubung setiap orang bisa saja membawa perkataan Ulama, jadi begini ajalah biar lebih jelas arahnya dan lebih mengerucut, anda kan sudah tau teorinya, sekarang saya ingin tau, implementasi anda aja sekarang dalam memahami pendapat Imam Syafi’i tentang bid’ah mahmudah (hasanah) itu seperti apa? apakah setiap perbuatan baik itu bisa kita masukan ke dalam bid’ah hasanah? apakah yg mengkhususkan membaca Yasin sebelum makan itu bisa dibilang bid’ah hasanah? bagaimana menetapkan kehasanahannya itu sendiri?

    3. Mengenai shalat tarawih, anda mengomentari dalil yg anda bawakan dengan berkata ;
    “rosul sholat qiyamu ramadhan,diikuti dgn yg lainnya…ada keterangan rosul jadi imam ?”
    ————————————————————————-
    anda jangan hanya membawakan satu dalil, lalu menafsirkan sendiri dalil tsb, lagipula bisa saja saya tanya balik ke anda, apakah di dalam dalil yg anda bawakan tsb dijelaskan bahwa Rasulullah dan Sahabat shalat sendiri-sendiri di dalam satu masjid?
    Dari Abu Dzar:
    “Barang siapa qiyamul lail bersama imam sampai selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh).” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain)

    Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata:
    “Kami melaksanakan qiyamul lail (tarawih) bersama Rasulullah pada malam 23 bulan Ramadhan, sampai sepertiga malam. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan (berakhir) sampai separuh malam. Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadhan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” (HR. Nasa’i, Ahmad, Al Hakim)

    Abu Dzar, ia berkata:
    “Kami puasa, tetapi Nabi tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (tarawih), hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah mengimami karni shalat, sampai lewat sepertiga malam.
    Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam. Dan pada malam ke lima, beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separoh malam.
    Lalu kami berkata kepada Rasulullah, “Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?”, maka beliau bersada,
    “Barang siapa shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai. maka ditulis untuknya shalat satu malam (suntuk).”
    Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi, hingga Ramadhan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapat falah.
    saya (perawi) bertanya, apa itu falah? Dia (Abu Dzar) berkata, “Sahur. ” (HR Nasai, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad)

    Tsa`labah bin Abi Malik Al-Quradli, dia berkata:
    “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pada suatu malam di bulan Ramadlan keluar dan melihat sekelompok orang shalat di sebelah masjid. Beliau bertanya: “Apa yang mereka lakukan?”
    Seseorang menjawab: “Wahai Rasulullah, mereka adalah orang yang tidak bisa membaca Al-Qur’an, Ubay bin Ka’b membacakannya untuk mereka dan bersama dialah mereka shalat”.
    Maka beliau bersabda: “Mereka telah berbuat baik”, atau “Mereka telah berbuat benar dan hal itu tidak dibenci bagi mereka.” (HR. Al-Baihaqi 2/495. Hadits ini disebutkan pula oleh Ibnu Nashr di dalam Qiyamul Lail hal. 90 dengan riwayat Abu Dawud 1/217 dan Al-Baihaqi)

    Jadi, semakin jelaslah bahwa yg dimaksud bid’ah di dalam perkataan Umar adalah bukan shalat tarawihnya karena shalat tarawih berjamaah ada dasarnya dari Rasulullah….

    4. lagi-lagi anda mengomentari dalil yg anda bawakan dengan berkata : “…..jelas kata2 nya “sejak saat itu” apa maknanya? ”
    ———————————————————————
    pelajari dulu donk sejarah di hidupkannya kembali shalat tarawih berjamaah oleh Sahabat Umar, maksud ‘sejak saat itu’ disitu adalah sejak zaman khlifah Abu Bakar, karena pada zaman ke khalifahan beliau, shalat tarawih dilakukan sendiri-sendiri dan berkelompok-kelompok, berpencar-pencarlah, tidak dalam satu Imam……kemudian diadakanlah kembali, dan itulah maksud bid’ah yg ada di dalam perkataan Umar yg dimana shalat tarawih berjamaah dengan satu imam pada masa Umar tidak pernah dilakukan di masa kekhalifahan sebelumnya (Abu Bakar)…….

    5. Mengenai ketidak relevanan adzan shalat jumat lebih dari satu kali di jaman sekarang ini, selain sudah tidak relevan KARENA SUDAH HILANGNYA SEBAB, tentu cara Rasulullah (adzan satu kali) merupakan sebaik-baiknya cara (petunjuk), makanya itu, sebenarnya anda tau atau tidak sebab dilakukannya adzan shalat jumat lebih dari satu kali yg terjadi di masa Utsman bin Affan?

    6. anda berkata : “…….tata cara peribadatan yang baru yang mana neh yang antum maksudkan?”
    —————————————————————————
    tata cara peribadatan baru apapun itu mas, karena yg namanya hal baru itu bisa saja saat ini tidak ada, kemudian di masa yg akan datang ada dan muncul peribadatan baru yg tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah dan para Sahabat atas dasar bid’ah hasanah, bahkan penulis artikel diatas menganjurkan untuk sekreatif mungkin membuat ide di dalam agama ini….
    nah…makanya itu saya ingin tau, siapa yg memiliki wewenang dalam hal menciptakan tata cara/ peribadatan baru tsb? atau singkatnya siapa yg memiliki wewenang dalam menciptakan bid’ah hasanah saat ini?

    1. @yusuf ibrahim,

      Anda sering sekali mengatakan “Tata Cara Peribadatan Baru”, hoby banget ya ngeluarin “dalil” ini? Tapi tak apa lah itu memang hoby anda.

      Yang ingin saya minta penjelasan kepada Yusuf Ibrahim, bagaimana implementasi TATA CARA PERIBADATAN BARU jika dikaitkan dengan peringatan Maulid Nabi Saw? Misalnya kasih contoh TATA CARANYA,atau SYARAT RUKUNNYA Peringatan Maulid tersebut. Monggo dijawab, saya tunggu jawabannya. Karena saya ingin tahu sejauh mana TEORI anda bisa diterapkan dalam kasus peringatan Maulid Nabi Saw …. njawabnya yang jelas, jangan mbulet seperti benang kusut ya?

      1. @yusuf ibrohim

        1.bagi ane telah jelas bang yusuf penjelasan para ulama yang terpercaya,jika antum berpendapat lain silahkan…, riwayat assyafii sebagaimana dikeluarkan oleh imam albaihaqi dalam manakibnya,bahwa hal2 baru ada dua macam:yaitu apa2 dr hal baru yg bertentangan dgn kitab dan sunnah atau atsar sahabat,atau ijma ulama maka hal itu adalah bidah dholalah,dan hal baru berupa kebaikan yg tak bertentangan dgn hal2 di atas maka hal itu terpuji, dan ulama telah membagi bidah kepada 5 hukum,dan hal ini telah jelas”.(fathul bari almasyur juz 13 hal 254)-ibn hajar

        2.implementasi bidah hasanah di antaranya:
        a.membukukan ayat2 alquran,
        b.memberi titik dan baris pada ayat2 suci alquran
        c.membukukan hadist nabi
        d.membuat kitab tafsir spy agar ummat tetap memahami isi dan kandungan alquran
        e.membukukan kitab2 fiqih guna menjaga hukum2 agama berjalan dengan baik,
        f.belajar ilmu nahwu,sharaf,dst
        g.membuat madrasah2 dll

        3.sesuai dengan yang antum bawakan dalilnya dan jelas untuk ane maknanya, ternyata rasululloh tak berjamaah secara…terus-menerus qiyamu ramadhan, di mulai hari ke tujuh akhir bulan ramadhan,dan akhirnya antum juga bilang shalat tarawih berjamaah dengan satu imam pada masa Umar tidak pernah dilakukan di masa kekhalifahan sebelumnya (Abu Bakar)…jadi yang ada zaman sahabat umar ra ya…secara terus-menerus ya dan nama nya taraweh ya ,dan niat sholatnya juga taraweh ya..he..he…

        4.tak ada ukuran sunnah khulafaur rosyidin relevan atau tidak relevan,sunnah tetaplah sunnah.
        begitu pula dengan sunnah rosul.

        jikalau nanti akhir zaman ini semua umat manusia berfikir cara antum,dan cara modern…

        ketika semua umat berlomba mencari harta kerja siang malam,urusan dunia lebih di fikirkan ketimbang akhirat,masih maukah ummat melaksanakan kewajibanNya?…apalagi sunnah?…
        mungkin (mereka menjawab) : ane sibuk ustadz,kesana,kesini,pokoknya sibuk…dan juga ustadz tuk zaman ini taraweh/zikir/azan 2x apalagi…sdh tak relevan,di ganti dengan semuanya aja…dengan sedekah ke fakir miskin, anak yatim dll…kan semua nya itu hanya ingin dapat pahala…penyebab nya adalah pahala,nah ane banyak uang ustadz…jadi tak usahlah itu semua…hemm jadi runyam deh…
        ya mudah mudahan kita tak mengalami/tak ada zaman kayak begitu…he..he..

        5.bidah yang terlarang dalam agama hanyalah bidah dalam hal keagamaan,ada pun dalam urusan keduniaan tak ada bidah yang terlarang,kita dapat membuat atau mengerjakan sesuatu yang belum di buat atau di kerjakan zaman nabi,atau sahabat.asal perbuatan itu baik dan tidak bertentangan dengan hukum agama,tidak di larang oleh hukum agama.dpt di contohkan membuat rumah dgn berbagai bentuk yg indah,mobil,listrik,dll

        tapi dalam keagamaan seperti sholat 5 waktu di jadikan 7,puasa ramadhan di jadikan 2 bulan dalam satu tahun,naik haji tidak ke mekkah, maka semua itu bidah yang terlarang oleh syariat islam.

        peribadatan baru?
        peribadatan baru yang mana ini? kalau ibadah kan telah jelas diatur dalam agama kita…
        ibadah ada yang wajib,ada yang sunnah semua nya ya sudah jelas diatur…pie toh sampean..

        1. -gondrong-

          Nah…sepertinya saya sudah menemukan ‘benang merahnya’ nih, saya sudah mulai sedikit bisa mengurai ‘benang kusut’ dalam obrolan saya dg bang ‘gondrong’ ini, saya akan tertibkan sbb ;

          1. Anda berkata : “….sesuai dengan yang antum bawakan dalilnya dan jelas untuk ane maknanya, ternyata rasululloh tak berjamaah secara terus menerus….”
          ————————————————–
          anda ini ngmngnya ga konsisten bgt bang, jgn mencla-mencle gitu donk, awalnya kan anda mengatakan bahwa tidak ada keterangan dari Rasulullah tentang shalat tarawih berjamaah, kemudian jika kita mengerjakan shalat tarawih berjamaah, menurut anda kita telah melakukan bid’ah, bahkan anda mengajukan pertanyaan aneh ‘APAKAH ADA KETERANGAN BAHWA RASUL JADI IMAM?……ya Subhanallah…..
          lalu saya bawakan dalil keterangan dari Rasulullah tentang shalat tarawih berjamaah, eh….sekarang anda malah ‘lari’ ke masalah shalat tarawih berjamaah TERUS-MENERUS…..sebagai laki-laki itu anda harus tegas donk kalo ngmng…..jangan kesana kemari gitu arah omongannya……..
          mengenai shalat tarawih berjamaah terus menerus, itu BUKAN BID’AH ! sekali lagi itu BUKAN BID’AH YA ! karena selama terus menerus itu masih dilakukan pada malam bulan Ramadhan, maka itu bukanlah bid’ah melainkan SUNNAH !
          karena dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda ;

          “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

          Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101). Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya. (Fathul Bari, 6/290)
          Yang dimaksud “pengampunan dosa” dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. Namun An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa kecil. (Lihat Fathul Bari, 6/290)

          Dari Abu Dzar:
          “Barang siapa qiyamul lail bersama imam sampai selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh).” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain)

          Coba perhatikan Sabda Rasul tsb yg merupakan kaidah umum shalat tarawih di bulan Ramadhan ! selama kita melakukan shalat tarawih terus menerus itu masih di dalam bulan Ramadhan, maka itu bukanlah bid’ah bang ! malah dosa kita akan diampuni oleh Allah…..

          Nah…tidak ada dizaman khalifah Abu Bakar itulah maksud bid’ah di dalam perkataan Umar tsb, yg dimana shalat tarawih berjamaah tidak dilakukan di masa khalifah sebelumnya (Abu Bakar)….jadi, itu bukanlah bid’ah secara syari’at…..jadi, SALAH BESAR jika mengatakan shalat tarawih berjamaah (terus-menerus) dikatakan bid’ah, karena ada keterangannya dari Rasulullah….
          Saya bingung dg anda ! amalan sunnah koq dicari-cari ya hukumnya supaya amalan tsb menjadi bid’ah…heran saya……

          2. Anda berkata : jikalau nanti akhir zaman ini semua umat manusia berfikir cara antum,dan cara modern…ketika semua umat berlomba mencari harta kerja siang malam,urusan dunia lebih di fikirkan ketimbang akhirat…bla…bla…..bla….”
          ————————————————————————
          anda tidak boleh memukul rata seperti itu donk, tentu berbeda dengan sunnah Rasulullah, adapun seluruh sunnah Rassulullah akan tetap relevan sampai hari kiamat nanti……saya hanya membatasi adzan lebih dari satu kali saja, tidak seluruh Sunnah Khulafaur Rasyidin…..
          anda ngmng panjang lebar ini sebenarnya anda ini tau atau tidak sebab/alasan dilakukannya adzan lebih dari satu kali tsb?
          Lagipula, ga perlulah sok-sok’an mengatakan mengikuti sunnah Khulafaur Rasyidin (sunnahnya Utsman adzan shalat jumat lebih dari satu kali), padahal praktek dilapangannya sekarang ini sudah tidak sesuai dg sunnahnya beliau….
          Dan ga perlulah sok-sok’an mengklaim bermadzhab Syafi’i, kalo masih mengatakan adzan lebih dari satu kali pada hari jumat hukumnya bid’ah hasanah, padahal Imam Syafi’i tidak pernah menghukumi adzan lebih dari satu kali itu tsb sbg bid’ah hasanah, malah beliau lebih menyukai apa yg terjadi pd zaman Rasulullah (adzan satu kali)….

          3. Yapz anda benar ! jika mengimplementasikannya seperti itu, berdasarkan implementasi bid’ah hasanah yg anda sebutkan diatas, maka semakin jelas dan terang lah bahwa bid’ah mahmudah yg dimaksud Imam Syafi’i adalah bid’ah secara bahasa saja yg umum maknanya yg kaitannya dalam hal keduniaan, seperti penggunaan speaker saat adzan dan penggunaan mikrophon pada saat ceramah…..
          Saya juga ingin tanya ni kepada anda, bid’ah yg bertentangan dengan kitab dan sunnah itu apa ya maksudnya?
          kalo anda benar-benar paham, coba jelaskan kepada saya agar permasalahan ini semakin jelas…..karena seperti yg sudah saya bilang sebelumnya, membawakan perkataan Ulama itu hampir semua orang bisa…..

          4. anda berkata : “bidah yang terlarang dalam agama hanyalah bidah dalam hal keagamaan,ada pun dalam urusan keduniaan tak ada bidah yang terlarang……”
          —————————————————————————-
          Lah…itu anda sudah paham kaidahnya, kalo itu kan sejak awal-awal diskusi ini sudah saya jelaskan kalo maksud bid’ah di dalam Sabda Rasul itu adalah bid’ah dalam agama (syari’at), bukan dalam hal keduniaan (bahasa)….karena Rasulullah bersabda ;
          “Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadits ini hasan)

          Jadi, maksud Sabda Rasul itu adalah SEMUA/SETIAP perkara baru dalam hal agama saja….

          5. anda berkata : “peribadatan baru?
          peribadatan baru yang mana ini? kalau ibadah kan telah jelas diatur dalam agama kita…”
          —————————————————————————-
          Sekarang saya ingin tau nih sikap anda yg sebenarnya, anda ini sebenarnya menyandarkan bid’ah hasanah itu kepada peribadatan atau kepada hal keduniaan?

          ——————-
          Note : Jika kita ingin menyebut bid’ah secara bahasa, maka sebutlah perkataan itu sesuai dengan artinya secara bahasa Indonesia, seperti tv, buku, speaker, mikrophon dll, jangan sebut speaker dkk tsb sebagai bid’ah, tapi sebutlah itu sbg sesuatu yg baru saja….
          seperti shalat, shalat secara bahasa artinya do’a, maka jika kita melihat orang sedang berdo’a, maka sebutlah sesuai dengan artinya secara bahasa yakni orang tsb sedang berdo’a, jangan mengatakan orang tsb sedang shalat…..

          1. Mohon maaf minta izin pada Admin UMMATI PRESS, saya ikut mengkritisi kecerobohan Bang Yusuf Ibrahim, mungkin karena bingung atau keder menghadapi Mas Gondrong. Khusus untuk poin yang paling atas (poin nomor 1) saja, bukankah disitu Mas Gondrong berkata: ““….sesuai dengan yang antum bawakan dalilnya dan jelas untuk ane maknanya, ternyata rasululloh tak berjamaah secara terus menerus…”

            Tapi kenapa Yusuf Ibrahim mejawab: “eh….sekarang anda malah ‘lari’ ke masalah shalat tarawih berjamaah TERUS-MENERUS…..sebagai laki-laki itu anda harus tegas donk kalo ngmng…..jangan kesana kemari gitu arah omongannya……..”

            Bagaimana ini Bang Yusuf Ibrahim, coba baca lagi, Mas Gondrong berkata ‘tak berjamaah’ terus menerus. Saya kasih tanda petik itu biar kelihatan, TAK BERJAMAAH TERUS MENERUS, coba baca lagi kata-kata Mas Gondron lebih teliti…..

            Parah akibatnya kalau diskusi main curang kayak Bang Yussuf ini…. pembaca bisa salah paham kalau tidak teliti juga…. Demikian, saya mohon maaf telah ikut campur. Diskusi ini sangat menarik, terus terang saya suka cara Mas Gondrong berdiskusi lebih jujur dan tidak emosian.

          2. -aji pangaribuan-

            sebelum anda menuduh saya curang, coba simak dan baca lagi DARI AWAL pembicaraan saya dengan bang ‘gondrong’, sekali lagi baca lagi DARI AWAL !
            coba anda baca lagi permasalahannya…..jangan berkomentar kalo belum tau masalahnya…….sehingga anda ga sembarangan menuduh orang curang…..

            kalo anda hanya menyimak obrolan saya dg bang ‘gondrong’ mulai dari perkataan bang ‘gondrong’ yg anda kutip itu, berarti anda sudah ketinggalan, anda telat menyimak obrolan saya dg ‘gondrong’…..

          3. hehe..he…
            sblm semua ane jawab,pertanyaan ane yg mudah aje blm antum jawab…
            antum sholat taraweh dgn niat qiyamu ramadhan,atau sholat taraweh dgn niat sholat taraweh…

          4. -gondrong-

            hmm…..sepertinya pertanyaan anda yg satu ini terlalu memaksakan deh, terlalu mencari-cari gitu, maksain bgt nanyanya…..
            ingat mas ! sampai hari kiamat yg namanya shalat tarawih itu hukumnya SUNNAH, BUKAN BID’AH ! walaupun anda berupaya sebesar apapun, bertanya seaneh apapun, tetap saja tidak akan bisa mengubah hukum shalat tarawih menjadi bid’ah…….walaupun dilakukan berjamaah atau terus meneruspun, tetap saja shalat tarawih itu SUNNAH !
            lagipula, anda ini koq maksa bgt ya supaya shalat tarawih itu hukumnya bid’ah, padahal sudah saya jelaskan bahwa amaliah shalat tarawih itu hukumnya SUNNAH, ada dasarnya dan ada keterangannya langsung dari Rasulullah !

            mengenai pertanyaan anda, saya jawab : mau saya itu niatnya qiyamu ramadhan keq, shalat tarawih keq, itu sama aja mas, ga ada bedanya koq, jika kita melaksanakan qiyamu ramadhan, itu artinya kan kita juga telah melaksanakan shalat tarawih, begitu juga sebaliknya, karena shalat tarawih adalah qiyamu ramadhan dan qiyamu ramadhan adalah shalat tarawih……..

            qiyamu ramadhan = shalat tarawih
            shalat tarawih = qiyamu ramadhan

            “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

            Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim berkata : “Yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah shalat tarawih dan ulama telah bersepakat bahwa shalat tarawih hukumnya mustahab (sunnah).”

            Al-Hafizh Ibnu Hajar memperjelas kembali tentang hal tersebut, “Maksudnya bahwa qiyamu Ramadhan dapat diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih dan bukanlah yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan hanya diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih saja (dan meniadakan amalan lainnya).” (Fathul Bari, 4/295)

  45. @abusalsa

    ya..ya….ya…… die paksa yusuf ibrahim keluarin dalil itu,padahal apa yg di tanya bang gondrong juga di sebut dlm dalil yg di keluarinnya sendiri masa die gak tahu ,cuman dibuat…..titik2.. aja sm bang gondrong, yusuf gak telaah lagi kali,eh terpancinglah si yusuf…die tulis tuh dalil,
    selanjutnya tinggal tunggu penjelasannye tentang tak pernah nya rasul melakukan..
    bisa aja ente bang…
    oh ya bang tuk perkuat lagi, dalil yusuf ibrahim kurang satu lagi tuh bang?

  46. ya, buat mas SALIQ, jwb dulu donk pertanyaan saudara DIFA tentang fitnah-memfitnah itu?? terus kok ga dijawab juga pernyataan saudara difa tentang USHALLI??
    saya tunggu lho jawabannya…..

    oiya dari fihak pro bid’ah hasanah, ga da yang mau komentarin nih tentang kaidah ushul fiqh yang dibawakan saudara DIFA??? atau jangan-jangan ga bisa komentar, lagi…. he.

    oiya ni si bang ABDUL WAHIB, gimana sih katanya mau ngasih tau masalah dalil-dalil yang dibawakan saudara YUSUF IBRAHIM, kan kata mas…, dalil-dalil yang dibawain sama yusuf ibrahim itu penerapannya tak sesuai pada tempatnya… ayo donk kasih tau terus jelasin juga dibagian mana? pembahasan apa? dan dalil mana yg tidak tepat……. saya tunggu lho mas…..

    1. -Muhammad Hasan-

      yaa…kita sabar aja mas, dijawab sukur, ga dijawab ya udah…….

      kan bisa terlihat nanti mana argumen yg ilmiah yg berdasarkan dalil dan mana argumen yg lebih mengedepankan hawa nafsu, akal, kebencian, prasangka, mencari-cari kesalahan serta perasaan semata dalam berbicara dan menghukumi syariat Islam yg Agung dan sempurna ini…..

      Waallahu ‘Alam………

  47. eh,,, pada kemana nih… pertanyaan saya diatas kok gak dijawab…?? bang saliq.. bang adul wahib kok gak dijawab….???

    buat bang YUSUF IBRAHIM & DIFA, teruskan perjuangan kalian dalam mengembalikan syariat islam ini sebagaimana yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad S.A.W,,

    jangan pernah nyerah ya!!!

  48. Sepertinya sudah pada males berdiskusi sama wahabi, pada ngeyel sih wahabinya? nggak ada habisnya, mirip mengurai benang kusut. Pertanyaannya sering salah, jadi gak bisa dijawab tuh? Sebab, kalau dijawab kan jadi salah juga jawabannya?

    Ya, sebaiknya para wahabi itu belajar dulu bagaimana cara bertanya yang benar, jangan asal tanya kalau tanya itu…. biar yang ditanya nggak pada diam. Ada istilah begini, Orang awam kalah oleh Ulama, dan Ulama kalah oleh Orang-orang ngeyel. Tuh lihat, Imam Syafi’i saja kalah sama Wahabi. Ibnu Har Al Atsqolani dipecundangi oleh wahabi yang pada ngeyel? Ya kan? Tul kan? Kitab para Ulama Mu’tabar juga pada diobark abrik oleh para Wahabi, ya kan? Pasti kalian akan ngeyel deh dengan apa yang saya tulis ini. Atu paling tidak ngrundel dalam hati, hwe he he he he ….

    Maaf jadi ikut komentar, padahal sebenarnya lebih enak menyimak lho? Soalnya pada lucu-lucu, bisa bikin geli sampai tertawa sendiri di kamar ini.

    1. -valencia-

      gilliran wahabi yg ga jawab, dibilang kabur, tapi giliran orang yg ga sependapat dg wahabi yg ga jawab, malah dibilang wahabi-nya yg salah ngasih pertanyaan….
      maka bisa terlihat kan skr, siapa sebenarnya disini yg merasa dirinya paling benar, sedangkan orang lain yg ga sependapat selalu salah…..biarlah orang lain yg masih jernih pikirannya (belum terkontaminasi syubhat) yg menilai sendiri…..

      kalo memang benar ada pertanyaann yg salah, coba tunjukan kepada saya dan teman-teman muslim disini, dibagian mana pertanyaan yg salah tsb? dari kata2 saya aja deh…..bukankah kita wajib mengingatkan sesama muslim jika ada muslim lain yg melakukan kesalahan?

  49. @yusuf ibrohim

    hmm…..sepertinya pertanyaan anda yg satu ini terlalu memaksakan deh, terlalu mencari-cari gitu, maksain bgt nanyanya…..
    ————————————–
    he..he..he….ane tanya niat antum…bukan yg lain dulu,itu ntar….
    ane tanya yg gampang aja jawabnya ngalor ngidul…ngak nyambung,
    ente nanya ane jawab mlulu…nyem…nyem…
    ane maksain……? nggak lah yaa antum yg kurang faham maksud ane…,tenang aja,hanya pengertian antum dan ane yg beda,…

    ane tanya ptanyaan itu bukan hanya pd antum aja kan nih (yg sm berfaham dgn antum),
    mereka jawab seadanya…nggak kesana-kemari…mereka ngerti ane tanya begitu,
    tapi kenapa antum nggak ya….? (jawabannya mrka yg ane tanya pada sama lho)

    jadi kiranya wajar aja kali ya……klo kita nggak pada nyambung pemahaman antara satu dgn yg lain
    lha yang mudah aja jawabnya nggak pada nyambung, ya kan boss…he..he…

    1. -gondrong-

      Nah….anda sendiri juga sebenarnya ga paham kan maksud jawaban saya?
      adapun maksud jawaban saya itu inti keseluruhannya adalah bahwa menurut saya yg didasari oleh pendapat Ulama, pertanyaan anda itu adalah pertanyaan yg ga perlu ditanyakan mas…..karena pada hakikatnya kedua-duanya (shalat tarawih & qiyamu ramadhan) itu sama…..jadi, walopun saya jawab ‘shalat tarawih’ ataupun ‘qiyamu ramadhan’ sekalipun, maka sama aja, ga ada yg perlu dipermasalahkan lagi kan?…..kecuali memang jika anda adalah orang yg suka mencari-cari masalah……..

      ya udah….kalo memang menurut anda saya ga paham thd pertanyaan anda, maka saya minta tolong kepada anda untuk menjelaskan kepada saya, maksud anda bertanya seperti itu apa? korelasi pertanyaan anda dengan topik pembahasan ini apa? seandainya saya jawab ‘shalat tarawih’ kenapa? jika saya jawab ‘qiyamu ramadhan’ kenapa? karena memang anda tidak menjelaskan maksud pertanyaan anda ini apa…..

      1. he..he…
        nah kan bener…slalu…..he..he……ngak apa2 santai aja kang, tak usah ngotot…

        kan antum udah tahu sm ane beda pandangan jadi nggak usah antum ngotot, ane juga ngotot…santai saja…ane juga tak berfikiran antum harus ikut cara ane neh dlm berfaham.. nggak kang….itu sdh dari hati masing,krn memang kita (antum dan ane) sdh ada jalan msng2,antum jalannya nya seperti ini, ya ane jalannya seperti ini….jadi tak perlu kita memaksakan kehendak….
        ——————————-
        kecuali memang jika anda adalah orang yg suka mencari-cari masalah……..
        ——————————-
        kalo yang ini (dpt di alihkan saja ke…) antum buka kitab sejarah islam aja,mulai timbul nya masalah2 dalam islam dan perbedaan yang mencolok masalahnya dari mana….? ane kurang faham hal tsb,
        dan antum dpt pula cari di ummati2 yg sering bermasalah dlm penerapan di masyarakat itu siapa…? sory ane kurang faham juga, antum cari tahu aja sendiri di ummati2 ini….
        ——————————
        begitu pula dgn cara obrolan kita ini,ada yg mulai jalannya dr lor…ada yg mulainya dr kidul…
        yg pd akhirnya nanti tau maksudnya…..,
        hanya cara penyampaiannya mesti spt itu krn mengikuti alur pertanyaan dan kadang kala mengikuti pemahaman yang berbeda…
        tapi ya begitu adanya…he..he..
        ——————————–
        Sholat qiyamu ramadhan dan teraweh

        sholat qiyamu ramadhan atau taraweh pada hakekatnya memang sama,
        sama2 sembahyang sunnah yg di anjurkan rasululloh yg di kerjakan pada bulan ramadhan,
        pada masa rosul di kenal dgn nama qiyamu ramadhan,di kerjakan secara berjamaah pada awal bulan ramadhan hari ke 1,2, dst dilanjutkan di rumah,krn di khawatirkan rosul akan menjadi kewajiban bagi ummatnya,kadang rosul sholat berjamaah pada hari2 akhir bulan ramadhan, yg mana beliau pun khawatir jika sholat berjamaah terus menerus akan adanya perintah kewajiban bagi ummatnya,

        sholat taraweh mulai di kenal pada masa khalifah umar yg mana sama2 di kerjakan pd malam bulan ramadhan,yang mana khalifah melihat sholat pd masa nya tercerai berai yg kemudian di satukan dlm satu jamaah,kalau disatukan dengan seorang imam sesungguhnya lebih baik,lebih serupa dengan sembahyang Rasululloh bgt pendapatnya, (krn memang pd masa khalifah abu bakar tak di lakukan hal tsb). Itulah yang kemudian populer dengan sebutan shalat tarawih, artinya istirahat, karena mereka melakukan istirahat setiap selesai melakukan shalat 4 raka’at dengan dua salam. Dan Umar RA. berkata: “Inilah sebaik-baik bid’ah”dan pada masa khalifah umar dst smp saat ini sholat taraweh di lakukan secara berjamaah secara terus menerus.

        kiranya antum bisa menilai sendiri beda pemahaman antum dan ane sampai sejauh mana….
        ——————————-
        1.faktor niat, jika kita niat sholat taraweh:
        dlm shalat taraweh kita mengikuti 2 sunnah rasul,yaitu tentang ibadah sholat sunnah dibulan suci ramadhan,dan sunnah mengikuti khulafaurrosyidin, dikatakan ini adalah sebaik2 bidah (krn tata cara pelaksanaan nya mgkn beda dgn rasul) tapi ini bidah yg hasanah,dan kita sunnah mengikutinya.

        jadi dalam hal ini jika seseorang niat dgn sholat taraweh insya Allah kita mendapatkan 2 pahala sunnah,yaitu sunnah rosul ibadah di bln ramadhan dan sunnah mengikuti khulafaurrosyidin.

        2.faktor niat,jika sholat qiyamu ramadhan,
        jika kita niat sholat qiyamu ramadhan,maka Insya Allah kita mendapatkan satu sunnah rasul,yaitu sholat sunnah di malam bulan ramadhan.

        wallahu a’lam

        1. -gondrong-

          “…..dlm shalat taraweh kita mengikuti 2 sunnah rasul,yaitu tentang ibadah sholat sunnah dibulan suci ramadhan,dan sunnah mengikuti khulafaurrosyidin, dikatakan ini adalah sebaik2 bidah (krn tata cara pelaksanaan nya mgkn beda dgn rasul) tapi ini bidah yg hasanah,dan kita sunnah mengikutinya.”
          ————————————————————————-
          walah…pemahaman anda ini koq campur aduk begini ya? sejak kapan ada amalan ‘gado-gado’ yg hukumnya sunnah sekaligus juga bid’ah? bagaimana bisa, suatu amalan yg ada sunnahnya dari Rasulullah, tapi dikatakan bid’ah?……….TIDAK MUNGKIN mas ! antara Sunnah dan bid’ah itu ga mungkin bisa bersatu ! karena Sunnah merupakan pembeda dari bid’ah….
          makanya itu, maksud bid’ah dalam perkataan Umar tidak lain adalah waktu pelaksanaannya aja yg tidak ada dizaman kekhalifahan sebelumnya, BUKAN SHALAT TARAWIH ATAU QIYAMU RAMADHANNYA yg bid’ah…..

          tapi kalo memang bang ‘gondrong’ masih tetap ngotot kalo shalat tarawih itu bid’ah yaa terserah, biar umat muslim sendirilah yg menentukan…..terus juga kalo bang ‘gondrong’ ini tidak mau menerima penjelasan saya, yaa itu hak anda, toh….saya menjelaskan panjang lebar disini bukan hanya untuk anda aja koq, akan tetapi juga untuk seluruh umat muslim yg ada disini……semoga bermanfaat !

          “……..Jadi dalam hal ini jika seseorang niat dgn sholat taraweh insya Allah kita mendapatkan 2 pahala sunnah,yaitu sunnah rosul ibadah di bln ramadhan dan sunnah mengikuti khulafaurrosyidin. faktor niat,jika sholat qiyamu ramadhan, jika kita niat sholat qiyamu ramadhan,maka Insya Allah kita mendapatkan satu sunnah rasul,yaitu sholat sunnah di malam bulan ramadhan.”
          ———————————————————
          entah anda dapat darimana kaidah semacam itu, padahal Rassulullah menjelaskan SECARA UMUM mengenai pahala shalat tarawih atau qiyamu ramadhan tanpa melebihkan satu dg yg lainnya…

          Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam sampai selesai maka terhitung baginya (makmum) qiyam satu malam penuh.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)

          “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

          1. @yusuf Ibrohim

            walah…pemahaman anda ini koq campur aduk begini ya? sejak kapan ada amalan ‘gado-gado’ yg hukumnya sunnah sekaligus juga bid’ah? bagaimana bisa, suatu amalan yg ada sunnahnya dari Rasulullah, tapi dikatakan bid’ah?……….TIDAK MUNGKIN mas ! antara Sunnah dan bid’ah itu ga mungkin bisa bersatu ! karena Sunnah merupakan pembeda dari bid’ah….makanya itu, maksud bid’ah dalam perkataan Umar tidak lain adalah waktu pelaksanaannya aja yg tidak ada

            dizaman kekhalifahan sebelumnya, BUKAN SHALAT TARAWIH ATAU QIYAMU RAMADHANNYA yg bid’ah…..
            —————————————————
            he…he….he..
            ane pahami pemahaman antum yg nggak pernah sejauh ini,dan mgkn ini nggak di bahas dalam kajian2 ilmu yg antum ikuti,bgt pula pemahaman antum yg ane ketahui….
            begini kang moga2 jelas,…..
            1.dari nama dulu,….adakah “nama” sholat taraweh pada masa nabi?
            tak ada,apa namanya kalo tak ada? sampe sini kiranya antum faham?
            2.dlm pelaksanaan,nabi sholat sunnah dlm bulan ramadhan,begitu pula kita mengikutinya,berarti kita melaksanakan sunnah,nabi..walau hanya beda nama….(qiyamu ramadhan dan taraweh)
            3.nabi sholat qiyamu ramadhan berjamah,hari 1,2,lalu tak pernah lagi (lihat di atas) bgt pula berjamaah nabi pada akhir2 bulan ramadhan,yg lainnya dikerjakan di rumah…nah lihat pd masa umar s/d saat ini secara terus menerus dilakukan secara berjamaah…artinya……..? adakah nabi secara full berjamaah?(nyape sini kiranya antum dpt ngerti)

            nb:oh ya..antum bawakan pkataan imam nawawi dan imam ibnu hajar,coba antum cari tahu juga ttg pemahaman bidah oleh ke duannya beserta penjelasannya (sd menurut hukum yg 5) mudah2 antum faham…

            ————————————————
            makanya itu, maksud bid’ah dalam perkataan Umar tidak lain adalah waktu pelaksanaannya aja yg tidak ada dizaman kekhalifahan sebelumnya,
            ———————————
            antum cari di hadist” siapa yg mengeluarkan hadist” yg sedang di bicarakan kita ini? rasululloh,tak ada ukuran sahabat ke sahabat kalau bukan ke rasululloh,pasti merujuk ke nabi sebagai rasululloh pembawa risalah,bukan ke abu bakar yg status nya sahabat umar ra….bagaimana antum ini??
            andai antum abu bakar,ane umar…pasti ane merujuki semuanya ke rasululloh,bukan ke antum…bagai mana sih antum ini….bgt contoh gampang nya…
            nah shbt umar ra,juga berkata bgt berpedoman pada sang pembawa risalah,yaitu rosululloh,jd bkn hal masa abu bakar tak ada.

            ——————————————————
            BUKAN SHALAT TARAWIH ATAU QIYAMU RAMADHANNYA yg bid’ah…..
            ——————————————————
            ha…ha….dr atas ampe bawah begini nggak ngerti juga…?capek…..deh…
            penjelasannya ada di atas,atau yg di bawah ini…

            ——————————-
            tapi kalo memang bang ‘gondrong’ masih tetap ngotot kalo shalat tarawih itu bid’ah yaa terserah, biar umat muslim sendirilah yg menentukan…..terus juga kalo bang ‘gondrong’ ini tidak mau menerima penjelasan saya, yaa itu hak anda, toh….saya menjelaskan panjang lebar disini bukan hanya untuk anda aja koq, akan

            tetapi juga untuk seluruh umat muslim yg ada disini……semoga bermanfaat !
            ——————————————————–
            sama2 klo begitu…

            ini sama juga di atas,sholat taraweh dlm pelaksanaan sunnah,hanya namanya yg bidah (baru),krn baru ada sejak jaman umar ra,sedangkan secara terus menerus di lakukan secara berjamaah (full) itu juga tak rasul laksanakan,bgt semoga antum jelas…
            ——————————————————-

            entah anda dapat darimana kaidah semacam itu, padahal Rassulullah menjelaskan SECARA UMUM mengenai pahala shalat tarawih atau qiyamu ramadhan tanpa melebihkan satu dg yg lainnya…
            “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)
            ——————————–
            ha…ha….rinciannya…
            1.antum melaksanakan sunnah rasululloh dlm bulan ramadhan,spt yg antum bilang:
            Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
            “Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam sampai selesai maka terhitung baginya (makmum) qiyam satu malam penuh.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)
            2.antum juga telah melaksanakan perintah rasul yang lain dlm masalah ini,yaitu:
            sabda rasulullah:
            “ikuti dua orang sesudah aku wafat,yaitu abu bakar dan umar” (h.r.tirmidzi,shahih tirmidzi 13 hal 129)
            bersabda rasululloh:
            “Maka wajib atas mu memegang sunnah aku dan sunnah khulafaur rasyidin yang di beri hidayah”
            H.s.r Imam abu daud dan Tirmidzi, lih-juz IV hal 201)

            nah kira2 aja deh antum melaksanakan berapa sunnah dalam sholat taraweh berjamaah secara terus menerus itu…?plus di tambah lagi amalan zikir2 yang di perintahkan rosululloh…yg berarti antum melaksanakan sunnah rosul juga tentang amalan zikir…….insya Allah Nikmat lainnya tak terhitung banyak nya.
            ———————————————————

            wallahu a’lam

          2. 1. Nah….sekarang sudah sepakat kita nih bahwa shalat tarawih itu pelaksanaannya Sunnah, kalo soal ‘nama’, saya rasa itu tidak perlu dipermasalahkan karena yg penting adalah pelaksanaannya karena Imam Nawawi dan Ibnu Hajar saja tidak mempermasalahkan perbedaan nama antara keduanya tsb dan mereka tidak mengkategorikan shalat tarawih kedalam bid’ah (walaupun hasanah) HANYA karena namanya yg berbeda (berubah), bahkan mereka menyamakan antara keduanya dengan keutamaan yg sama pula…..

            2. Ingat mas ! awalnya anda ini mempermasalahkan bahwa shalat tarawih berjamaah itu bid’ah, bahkan anda mengajukan pertanyaan aneh “APAKAH ADA KETERANGAN RASULULLAH JADI IMAM?”, setelah saya jelaskan bahwa tarawih berjamaah itu bukan bid’ah, kemudian anda ‘lari’ ke masalah tarawih terus-menerus, lalu saya jelaskan lagi kalo itu juga bukan bid’ah, dan sekarang anda mempermasalahkan soal ‘nama’……?

            3. Mengenai shalat tarawih terus-menerus, kan sudah saya jelaskan, selama terus-menerus itu masih dilaksanakan pada bulan ramadhan, maka itu hukumnya Sunnah, walaupun Rasulullah tidak melakukannya, akan tetapi ada keterangannya langsung dari Rasulullah secara umum keutamaan melaksanakan shalat tarawih atau qiyamu ramadhan di BULAN RAMADHAN……

            4. Adapun perubahan nama ‘qiyamu ramadhan’ menjadi ‘tarawih’, maka perubahan tsb tidak bisa dijadikan dasar untuk memasukan amaliah shalat tarawih tsb kedalam bid’ah mas……

            5. “nabi sholat qiyamu ramadhan berjamah,hari 1,2,lalu tak pernah lagi (lihat di atas) bgt pula berjamaah nabi pada akhir2 bulan ramadhan,yg lainnya dikerjakan di rumah…nah lihat pd masa umar s/d saat ini secara terus menerus dilakukan secara berjamaah…artinya……..? adakah nabi secara full berjamaah?(nyape sini kiranya antum dpt ngerti)”
            —————————————————————————————-
            Iya saya paham, berarti jika ada orang yg hanya bisa shalat tarawih di masjid cuma dua hari sekali (15 hari dlm sebulan) dikarenakan adanya uzur misalnya, berarti dia telah melakukan bid’ah donk menurut kaidah anda? karena dia tidak mengikuti sunnah Rasul (shalat 3 hari) dan juga sunnah Umar (full sebulan)…….tidak dapat pahala sunnah donk dia jika merujuk kepada kaidah anda……? apakah anda sudah berpikir sejauh itu?

            6. Dan perlu saya tekankan kembali mengenai Sunnah Khulafaur Rasyidin disini agar tidak salah paham, jika ada hasil ijtihad Sahabat Khulafaur Rasyidin yg termasuk perkara baru yg tidak pernah ada di zaman Rasulullah dengan sebab dan alasan tertentu, maka tolong letakkan di dalam kepala kita (kaum muslimin) untuk mendudukan HASIL IJTIHAD tsb sebagai Sunnah Khulafaur Rasyidin yg diberi petunjuk, JANGAN didudukan hasil ijtihad tsb sebagai hukum bolehnya membuat perkara baru (dlm hal agama) karena yg termasuk Sunnah Khulafaur Rasyidin itu BUKANLAH membuat perkara barunya, melainkan HASIL IJTIHAD-nya saja titik …..
            Jadi, yg termasuk Sunnah Khulafaur Rasyidin itu adalah HASIL IJTIHAD-nya saja seperti mengumpulkan Al-Quran dlm satu mushaf, mengumpulkan umat shalat tarawih dengan satu imam dll, BUKAN membuat perkara barunya, karena kedudukan Sunnah jauh lebih tinggi dibanding bid’ah (walaupun hasanah)…….

            semoga sampai disini kita sudah paham……

  50. Dari dialog ini, saya lihat yang menjelekkan wahabi kurang santun dalam berdialog. Terlihat sekali mereka lebih mengedepankan su’u dzon dahulu daripada membaca dalil lawannya dan kemudian mengarah kepada menjelekkan lawan bicaranya..

  51. @ rifai
    Yah, namanya juga penonton, biar ramai kan harus bersorak sorai. Lagian reaksi penonton juga kan akibat dari pihak Wahabi yang terlalu meremehkan lawan diskusi, jadi reaksi penonton adalah konsewnsi logis akibat ulah anak-anak Wahabi sendiri …. Coba deh simak baik-baik dari komentar2 awal di sini.

    Jadi ibarat begini ya, kalau anda berteriak di hadapan orang, maka orang itu akan membalas berteriak. Coba kasih senyum, nanti anda akan dapat senyum juga. Nah coba anda bilang bid’ah, musyrik kepada orang lain, maka orang itu juga akan mengatakan anda lebih bid’ah, karena buktinya memang wahabi juga ahli bid’ah yang sebenarnya. Wahabi adalah perusak agama Islam no wahid tiada tara bandingannya dengan jargon kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw ….

    Bantah saja tulisan saya ini, nanti akan saya tunjukkan kerusakan-kerusakan Islam yang dibuat oleh Wahabi. Jadi anda nanti gak bisa lagi bilang bahwa orang lain mengedepankan SU’UDLON …. Karena anda dan Wahabi juga kelompok bersu’udlon kelas berat yang tak ada bandingannya di dunia ini ….

    1. @Untuk Saudara Valecia..

      1. Maaf, saya tidak mau membantah apa yang Anda tulis.
      2. Mengenai kata “suu dzon” dari saya, ya saya minta maaf kepada semua. Sepertinya itu memang salah dari saya, karena tentu saya tidak tahu mana yang suu dzon.
      3. Maaf, saya bukan wahabi. Saya dari keluarga NU dan pernah pesantren di pondok NU lebih dari 3 tahunan. Hanya saja saya ingin lebih mengikuti kebenaran walaupun darimana datangnya, termasuk bila kebenaran itu datang dari orang yang katanya “wahabi”.
      Saya juga yakin kalau Anda lebih baik dari saya dalam menerima kebenaran. Dan saya berdoa kalau saya yang salah, Allah memberi hidayah kepada saya. Dan kalau Anda yang salah, saya doakan semoga Allah memberi hidayah kepada Anda
      Terima Kasih

    2. -valencia-

      sepertinya guru anda ini hanya mengajarkan ilmu bagaimana mencela wahabi, menjelek-jelekan wahabi, dan menghina wahabi ya? kasianilah diri anda ini, karena ilmu anda itu tidak bermanfaat sedikitpun di akhirat nanti……

      skr begini ajalah, karena jika saya bantah perkataan anda dengan mengatakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab itu seperti ini dan itu, pastinya anda juga akan membantah lagi bahwa wahabi begini dan begini juga kan?….maka tidak akan ada habis-habisnya……malah akan membuat bingung umat yg pada akhirnya hanya akan menjadi debat kusir saja……
      karena jika mengambil kbar2 diluar tentang wahabi, maka akan banyak sekali versi, wahabi beginilah, wahabi begitulah….

      makannya dari itu, saya ingin mengajak anda dan teman-teman disni untuk melihat contoh konkritnya langsung dengan mata kepala sendiri melalui forum diskusi yg kecil ini saja, ga usah kemana-mana dulu, cukup kita liat di dalam forum diskusi ini saja…..
      ambil contohlah saya sbg wahabi, orang yg dari awal diskusi sudah dikata-katai wahabi (walopun saya tidak ridho dipanggil wahhabi karena memang kata tsb diucapkan untuk mengejek),
      adakah dari penjelasan saya yg menggambarkan tuduhan anda tsb? penjelasan saya yg membuktikan tuduhan anda tsb? kalo ada, coba tunjukan dibagian mana penjelasan saya yg merusak agama Islam ini? didalam pembahasan apa? dan pada saat saya berbicara dg siapa?

  52. @valencia

    dari pada saling menghina & mengejek,, lebih baik saudara jawab dulu pertanyaan saya diatas,,, siapa tahu jawaban anda dapat menjadi pembelajaran buat saya,,,, & umat islam lainnya,,,

    sukron..

    1. Ya Allah berikanlah hamba ilmu-Mu melalui blog keren ini…. Maju terus berjuang, hambat laju wahabi jangan biarkan wahabi jadi wabah penyakit Islam. Nanti Indonesia bisa jadi seperti kayak Saudi, yang kehilangan spiritualnya. Agamanya jadi kropos tak berjiwa, seperti mayat berjalan aja ya? Ada orang berdo’a di makam Nabi Saw, eh diusir…. dibilang musyrik, dasar agamanya rusak tuh Wahabi.

      1. Abu Fariz bilang:
        Ya Allah berikanlah hamba ilmu-Mu melalui blog keren ini…. Maju terus berjuang
        _______________
        aamiin……….mari kita terus berjuang

        hambat laju wahabi jangan biarkan wahabi jadi wabah penyakit Islam.
        _______________
        no comment (g punya data)

        Nanti Indonesia bisa jadi seperti kayak Saudi,
        ______________________
        (he..he..he… aku juga anak ACI = Aku Cinta Indonesia…lagi pula indonesiaku lebih indah)

        tapi kalo bisa kaya minyak, pemerintah yang peduli kerakyat/bangsanya -pendatang tetap bangsa no 2 di sana, tidak seperti di kita malah dijadikan raja, bangsa sendiri malah jd no2-, polisi tidak pernah nilang minta duit atau memeras, bensin murah, listrik murah, keamanan lebih terjamin, tempat maksiat tenggelam dalam tanah, perempuan jadi ratu -disediakan pelayan-, tidak ada orang teler di jalan, lapangan kerja terbuka,,,,,,naaaah…..untuk itunya kayaknya pengen juga tuh….. 🙂

        yang kehilangan spiritualnya.
        ___________________________
        eee…… untuk yang ini…… bagaimana mengartikan: MASJID TERISI, ketika masuk waktu shalat semua aktivitas berhenti dan berbondong2 menuju masjid, JAMAAH shalat subuh di masjid selalu terisi, lembaga2 sosial hidup karena jiwa sosial dan sedekah hidup, (kira2 spiritual apa yang menggerakkan mereka ya??)

        Agamanya jadi kropos tak berjiwa, seperti mayat berjalan aja ya?
        ___________________________
        memang menyedihkan….efek globalisasi dan peperangannya telah berhasil mencuci otak dan membuat semua negeri islam jadi kropos tak berjiwa. parabola dengan cenel2 tontonan barat dan eropa yg free (bebas) membuat jiwa arab yang padang pasir berkolaborasi dengan totonan budaya barat dan eropa yang serba free (bebas) itu, akibatnya membuat darah orang2 arab semakin panas. efeknya mata jadi gelap, sehingga ada saja pembantu rumahan yg jadi korbanya. dan sayangnya itupun terjadi pada pembantu2 di negeri kita juga.

        Di sekolah mereka belajar kebaikan, setibanya dirumah kemajuan teknologi dengan sadar telah mencekoki mereka budaya yg deras tak terbendung. (lagi-lagi inipun terjadi pada anak-anak bangsa kita, yg mulai kehilangan jati diri karena silau dengan kebebasan barat), padahal orang2 muslim barat dan eropa yg datang ke saudi dengan terus terang justru memimpikan lingkungan seperti saudi, karena alasan keamanan yang pasti, kebebasan yg mereka rasakan dinegara yg katanya bebas amatlah fiktif.

        Ada orang berdo’a di makam Nabi Saw, eh diusir…. dibilang musyrik, dasar agamanya rusak tuh Wahabi.
        ________________________________
        setahu ane nih Abu Faris y, Nabi ngajarin kita tuh kalau lagi ada di mesjid Nabi trus mau berdoa y di Raudhah (tempat mustajab di masjid nabawi yg terletak antara mimbar Nabi dan makam, itupun kudu antri sekarang, orang yg udah dapet tempat disitu biasanya berat mau pindah, jadi harus sabar. di Raudhah g ad petugas yang ngusir nyuruh pindah 🙂 )

        klo pas di makam di usir….he…he…he….ane juga merasa belom pernah puas kalo lagi di depan makam…ngantrinya itu lo abu faris…..ane aje kalo lagi ngantri di belakang suka sebel sama yg berlama2 di depan makam, padahal yang dituntunkan para sahabat Nabi dan salaf lain jika ziarah kemakam Nabi cuma memberi salam ke Nabi dan dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar….jd….ya begitu itu kesannya. dan lagi itukan jalur orang lewat keluar , jd klo g cepet2 kasihan sama yg dibelakang kita, habis antriannya panjang, sesak (kudu tinggal lama di situ kali ye…… 🙂

        emangnya abu faris mau doa apa sih? klo doa untuk Nabi, kan bisa dimana-mana dilakukan, waktu shalat atau bershalawat saja sudah besar pahalanya. klo mau doa untuk kebutuhan Abu Faris sendiri, kan udah ada Raudhah tuh, tempat yg mustajab.

        Dari kecil kitakan udah di ajarin adab-adab berdoa waktu ngaji dulu, kudu menghadap kiblat, nah klo abu faris berdoa untuk kebutuhan abu faris dimakam Nabi kan malah jadi membelakangi kiblat, nah loh….kan jadi g sesui tuh sama ajaran guru ngaji tentang adab berdoa…

        yahhhhhh….yg pasti tak ad gading yg tak retak…..umat ini sudah lama dicabik2, dan dijauhkan dari ajaran yg sebenarnya semoga kita bisa turut berkontribusi untuk memperbaikinya

        yg perlu disadari dan dewasa adlah bahwa:
        ISLAM adalah SESUATU dan ARAB adalah SESUATU yg lain. ajaran islam tidak selalu identik dengan bangsa arab walaupun sercara historis dan kronologis dari arab.
        islam datang untuk umat manusia. Islam diterima di indonesia karena isi ajarannya yg sejalan denga moral bangsa indonesia. Banyak pemeluk agama lain yg beralih memeluk islam karena ajaran TAUHIDnya yg murni, jadi jangan kotori MORAL dan TAUHID itu.

        semoga………….

        1. @ Om difa….,

          Oh, jadi Om difa sudah sering ke Mekkah ya? Kebetulan nih kalau njenengan sering ke sana, saya mau tanya, Maqom Ibrahim masih ada di tempatnya apa sudah raib ya? Kalau ternyata sudah tidak ada, diumpetin kemana tuh Maqom Ibrahim sama Wahabi? Takut Ummat Islam pada musyrik ya kalau ada maqom ibrahim?

          Padahal Allah Swt memuji Nabi Saw dan Umar bin Khattab ra yang menjadikan Maqom Ibrahim as (bukan makam kuburannya, tetapi tempat Ibrahim as berdiri dan berdo’a di depan Ka’bah) sebagai tempat shalat. Sebagaimana firman Allah Swt: “Dan mereka menjadikan tempat berdo’anya Ibrahim sebagai tempat shalat.” (QS. al-Imran: 97).

          Ayat di atas jelas bahwa Allah Swt memuliakan tempat hamba-hamba-Nya berdo’a, bahkan Rasul Saw pun bertabarruk dengan shalat di di tempat Ibrahim berdo’a, dan Allah Swt memuji perbuatan itu. Sekali lagi pertanyaan saya kepada Om difa, di mana gerangan Maqom Nabi Ibrahim itu kini berada? Karena pada tahun 70-an Maqom Ibrahim masih ada di tempatnya.

          Nah, perbuatan Wahabi yang menghilangkan Maqom Ibrahim tsb termasuk merusak agama atau menyelamatkan agama? Padahal Allah Swt memuji perbuatan Rasul Saw di maqom tersebut? Jawablah wahai orang-orang yang merasa tauhidnya paling murni ….

          1. hah……….maqom ibrohim hilang…….wah berita besar tuh, jujur baru kali ini dengar maqom ibrahim hilang, dimana beritanya tuh Abu Fariz, biar nanti kita adukan ke komisi penyelewengan pemberitaan (ad g y komisi kayak gitu ? 🙂 ) ato jangan2 kasusnya sama kayak bang saliq, cuman isu yg berhembus……..an minta sumbernya y Abu Fariz, biar an cek tuh siapa sebernanya si penghembus berita itu……….(semoga bukan dari jamaah haji yg g tahu klo maqom itu=jejak kaki dan bukan kuburan….bisa jadi karena g ngeliat kuburan di dekat ka’bah akhirnya bilang maqomnya hilang……. 🙂

            klo maqom ibrohim itu = kuburan ibrohim, terus terang, boro-boro denger berita hilang, baca di kitab kuning juga belum pernah kalo disitu pernah ad kuburan ibrahim. nah klo maqom ibrahim=bekas telapak kaki Nabi Ibrahim, lah baru beberapa bulan yg lalu an shalat dibelakang moqom, malah terjaga, tersimpan di dalam semacam kubah kaca kecil nan cantik yg terbiangkai dengan kuningan seolah terkesan tebuat dari emas. siapapun bisa melihatnya, tapi jangan lama2 nanti dihalau petugas, bukan karena apa2, kalau lama berhenti disitu, orang towaf jadi macet, mengganggu orang lain, jadi dihalau, itu yg ane saksikan.

            o iya ane baru inget, kalo berita di geser/dimundurkan itu ane pernah denger, jadi posisi maqom sekarang bukan posisi dimasa nabi, itupun karena alasan perluasan dan demi kenyamanan orang2 yg towaf (karena shalat towah dianjurkan dilakukan dibelakang maqom ibrahim), nah bisa kebayangkan kalo posisi maqom yg terlalu dekat dengan ka’bah trus orang2 pada berhenti solat disitu, yg towah jdi mandek g akan bisa jalan. pergeserannyapun tidak terlalu jauh, sekedar ada ruang.

            o iya lagi,,klo berita hajar aswad yg hilang itu baru bener ane pernah denger Abu. ketika ada kekhilafahan syi’ah kecil di ahsa (bagian timur saudi sekarang) mereka pernah mencuri hajar aswad dan dibawa ketempat mereka. klo ini beritanya baru valid. tahunnya ane lupa, nanti an cb lihat2 lagi artikelnya. g tau tuh orang2 syia’ah maunya apa. hajar aswad ko di curi, trus mekkah juga pernah dibom sama mereka. sekarang mereka berusaha memasukkan narkoba ke indonesia (media memberitaan orang2 iran yg tertangkap menyelundupkan narkoba). kalo yg ini kira2 maunya apa y…..

            ahlussunnah sepertinya harus lebih waspada!…..

          2. @ Om difa,

            Jawaban njenengan di bawah ini tepat Om, itu hanya isu buatan saya sendiri untuk mengetes Om difa aja, jadi maafkan saya. Berarti panjenengan bukan termasuk yang memusyrikkan shalat di maqam Ibrahim. Mungkin yang berpendapat demikian mereka belum tahu aja. Terimakasih, barokallohu fik ….

            Yang perlu kiata semua sadari, sekarang ini sedang terjadi proses meredam Isu-isu bid’ah, tentunya akan terjadi gesekan yang kesannya terkadang sangat keras. Menurut cerita orang-orang tua, pada tahun 1970 – 80 an, di indonesia juga pernah terjadi perdebatan keras antara NU – Muhammadiayah mengenai khilafiyah furu’iyah, tapi sekarang sudah reda. Kini muncul Salafy yang membabi buta, semoga ke depan juga bisa reda, amin….

          3. abu faris :

            Jawaban njenengan di bawah ini tepat Om, itu hanya isu buatan saya sendiri untuk mengetes Om difa aja, jadi maafkan saya. Berarti panjenengan bukan termasuk yang memusyrikkan shalat di maqam Ibrahim. Mungkin yang berpendapat demikian mereka belum tahu aja. Terimakasih, barokallohu fik ….
            ___________________________________________
            haaaah, iki opo meneh to Abu Faris, ad yg memusyrikan shalat di maqom ibarahim??!….jan, ini juga ane baru denger seumur2, tenan…..Abu Faris, tolong panjenengan tunjukkanlah kepada kita-kita di sini, siapa yg telah membuat kenistaan dan berkata seperti itu, biar kita beri pelajaran……

            ….semoga bukan isu buatan panjenengan lagi ya Abu Faris….., hehhhh…, lelah kalau cuma isu …islam tidak mengajarkan kita berbohong hanya untuk kesenangan apalagi untuk mengklaim kebenaran dan menjatuhkan mereka yg kita anggap lawan , kasihankan kalau nda ad yg meluruskan isu buatan panjenengan orang yg panjenengan bilang wahabi seperti benar2 menghilangkannya, apa lagi kalo yg difitnah negara orang, bisa dituntut kita nanti. yg nda ngerti bisa menganggap berita buatan panjenengan itu benar, awas ‘fitnah’ itu lebih buruk dari pembunuhan, semoga kita tidak termasuk kedalam ciri orang2 yg dikatakan Rasulullah dalam shahih al-Bukhari dan Muslim dari Abdullh Ibn Amr:

            “Ada empat perkara yg bila keempatnya ada pada seseorang maka dia adalah orang munafik yg sesungguhnya….Jika BICARA DUSTA, jika berjanji tidak menepati, jika dipercaya berkhianat, dan jika BERMUSUHAN berbuat KEJI.”

            (mengenai stasus munafiq di sini afdhalnya lihat syarah haditsnya, biar g salah faham, nanti di tuduh memunafikkan orang. karena kecenderungan sekarang ini jika mengangkat ayat atau hadits tentang syirik, dibilang mensyirikkan, jika mengangkat hadits bid’ah dibilang membid’ahkan, jika mengangkat hadits kufur, dibilang mengkafirkan,,,,kenapa tidak memahaminya sebagai sesuatu yang harus dihindari, kenapa imagenya jadi melabeli….memang kedewasaan dalam memberi dan menerima nasehat sangat dibutuhkan dalam kehidupan ini)

            semoga kita tidak termasuk di dalamnya….

        2. abu fariz :
          Padahal Allah Swt memuji Nabi Saw dan Umar bin Khattab ra yang menjadikan Maqom Ibrahim as (bukan makam kuburannya, tetapi tempat Ibrahim as berdiri dan berdo’a di depan Ka’bah) sebagai tempat shalat.
          ________________________________
          waaah….Abu Fariz sepertinya harus cari pembisik baru yg benar. maqom ibrohim itu bukan tempat berdiri dan berdoanya Nabi Ibrahim as di depan Ka’bah, tetapi bekas/jejak kedua tapak kaki yg diyakini sebagai tapak kaki Nabi Ibrahim di sebuah batu ketika beliau membangun Ka’bah bersama Nabi Ismail. (orang yg pernah ke mekkah tahu itu, ato coba cari di mas google siapa tahu ad )

          Sebagaimana firman Allah Swt: “Dan mereka menjadikan tempat berdo’anya Ibrahim sebagai tempat shalat.” (QS. al-Imran: 97).
          Ayat di atas jelas bahwa Allah Swt memuliakan tempat hamba-hamba-Nya berdo’a, bahkan Rasul Saw pun bertabarruk dengan shalat di di tempat Ibrahim berdo’a, dan Allah Swt memuji perbuatan itu.
          ___________________________________
          waduuuuh….terjemahan ayatnya parah begitu, itu terjemah versi mana, bahaya kalo caranya model begitu. jangn bgitu Abu Fariz:
          ini terjemah versi depag kalo memang ayat itu yg dimaksud:

          “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah Dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. ” (QS. al-Imran: 97)

          terjemahan Abu Fariz sama sekali g ada korelasinya. bunyinya aja g sama (maaf, hati-hati kalo menyitir al-Quran, klo g bisa lebih selamt lihat terjemahannya)

          dugaan ane Abu Fariz memaksudkan ayat ini kali y:

          “Dan (ingatlah), ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. ” (QS albaqoroh: 125)

          tapi kenapa ayat ini dihubung2kan dengan pujian Allah terhadap Nabi dan Umar sebagai tempat shalat ya…? trus ko jadi Nabi bertabarruk dengan maqom ibrahim…? ini apa kolerasi/hubungannya dengan ayat2 tersebut?
          kitab tafsir salafussoleh mana yg mengatakan asbabunnuzul ayat diatas karena memuji Nabi dan Umar yg bertabaruk dengan maqom…makin g ngerti an…..

          setahu ane Nabi dan umatnya shalat dimaqom itu karena perintah Allah dalam surat albaqoroh:125 diatas: “dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat!.” (ini kalimat perintah)
          kalo bertabaruk dengan maqom, sepertinya….jauh tuh abu faris, tapi kalo berabarruk dengan mentaati perintah Allah dan Rasul, mungkin itu benar. hal ini dibuktikan dengan riwayat dari Umar yg disampaikan oleh Imam al-Bukhari dalam kitabul Haj yg mengatakan ketika mencium hajar asawad Umar berkata: ”
          ??? ????? ??? ??? ????? ??????? , ?? ?? ???? ????? ????? ?? ????
          aritnya kurang lebih begini:

          “Sungguh aku tahu kamu hanyalah batu yang tidak dapat memberi mudharat maupun manfaat. kalau bukan karena aku melihat Nabi menciummu niscaya aku tidak akan menciummu.

          inilah salafussoleh kita. mereka bertabaruk dengan perintah Allah dan Rasul.

          tolong Abu Fariz di cek lagi informasi dan pelajarannya…..kasihan, informasi dan pelajran yg keliru jadi membuat kita makin jauh dari ajaran islam yg mualia ini………

          semoga kita tidak termasuk orang yg hanya dapat menuduh orang lain merusak agama, tetapi kita sendiri terjerumus di dalamnya….

          1. Kalau di kalangan klas bawah itu aneh-aneh Om difa, isunya macam-macam. Ya, namanya juga isu, tentu nggak betul. Sama seperti isu-isu bid’ah, isu-isu syirik, semuanya nggak betul, hanya isu saja. Orang berziarah disebut penyembah kuburan, oarang bertahlil disebut ahli bid’ah, semua ini ndak betul, hanya isu-isu belaka, Allah maha tahu siapa yang musyrik, ahli bid’ah, atau pun munafiq. Sebagai Ummat Muhammad Saw, kita sudah dijamin tidak akan bersepakat untuk kesesatan, juga tidak dikuatirkan akan berbuat syirik seperti kata hadits Nabi Saw.

            Untuk terwujudnya hubungan yang harmonis di antara sesama Ummat Muhammad Saw, sudah selayaknya kita semua meminimalisir beredarnya isu-isu bid’ah, syirik, munafiq dlls. Isu-isu tersebut nyaris setiap saat dan detik meluncur di udara menimbulkan fitanah di antara sesama Ummat Muhammad Saw…..

  53. @abu fariz

    bila saling melecehkan ,,, tak mungkin umat ini akan bersatu,,, alangkah baiknya jika kita berdiskusi/bertukar fikiran secara baik & sopan,,,

    1. @ muhammad hassan,

      Berkaca dan bercerminlah agar bisa melihat diri sendiri apakah sudah sopan dan baik?

      Lagi pula mana ada persatuan terwujud kalau Wahabi Indonesia masih selalu mengeksploitasi isu-isu bid’ah? Pada bulan Rajab, wahabi indonesia menyebarkan isu-su-isu bid’ah bulan rajab. Di radio, internet, majalah, di mimbar-mimbar Jum’at dan di mana-mana tempat. Ganti bulan Sya’ban, wahabi indonesia menyebar isu-isu bid’ah Sya’ban di radio, di majalah, di mimbar-mimbar Jum’at atau di mana saja di internet. Ganti bulan Maulid, kalian menyebar isu-isu bid’ah bulan Maulid. Setiapganti bulan kalian menyebar isu-isu bid’ah berkaitan bulan tsb. Bahkan di bulan Ramadlan juga kalian eksploitasi dengan menyebar isu-isu bid’ah Ramadlon?

      Semuanya adalah isu-isu belaka, dan perso’alan khilafiah ini sudah selesai dibahas ratusan tahun yang lalu oleh para Ulama yang berkompeten bisa dilihat di kitab-kitab peninggalan mereka. Dan kalian para Wahabi mencoba menghidupkan kembali isu-isu bid’ah, musyrik, dll, sejak munculnya sekte Wahabi ini. Lalau persatuan apa yang kalian impikan? Kalau Wahabi sudah dilenyapkan oleh Allah swt baru Islam bisa bersatu…. Kalau selama masih ada Wahabi, Ummat Islam akan selalu panas membara karena fitnah Wahabi terus menyala setiap saat dan waktu dan setiap pergantian bulan….

  54. @abu fariz

    saya meminta maaf apabila pada awal-awal diskusi ada perkataan-perkataan saya yang kasar dsb…..

    saya tak ingin, beranjak ke topik yang lain dulu,,,
    hal-hal yang di kemukakan saudara,,, dapat kita bahas nanti,, tetapi sekarang saya harap saudara abu fariz,, berkenan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya diatas,,, dengan harapan siapa tahu saya dapat belajar dari saudara abu fariz ini,,,,

    sukron,,

  55. @ difa
    ma’af saya lama ngga’ coment ada urusan cari nafkah..he…he..
    ——————————————–

    17 Juli 2010 pukul 7:33 am

    o iye ane lupa bang saliq,,,itu yg bilang bid’ah cuma karena beda rakaat taraweh tuh sapa ya,,,dijawab dulu dong, biar g dituduh memfitnah bang,,,semoga bukan bang saliq sendiri…. 🙂

    jawab:
    ini realitanya di lapangan,coba antum croscex ke anak2 wahabi(bukan muhamadiyah) . mereka akan bilang ” rosululloh ngga’ pernah sholat tarawih 20 raka’at..jadi sholat tarawih 20 roka’at adalah bid’ah.(kata anak2 wahabi.

    gantian boleh saya bertanya ke sampeyan..??…biar fair dikit aja..

    1. ass…
      Saya pernah menanyakan kebeberapa Kyai Besar, Habaib mengenai bayak hal diantaranya seperti tarawih berapa rakaat/ shubuh pake qhunut atau tidak…….. jawabanya menurut saya sedikit sederhana tapi sangat luas makna didalamnya…….. beliau menjawab” DUA_DUANYA BENAR!….. YANG TIDAK BENAR ORANG YANG TIDAK SHOLAT”

  56. ass…
    Dalam masyarakat kita berkembang berbagai macam RAGAM ALIRAN yg berkenaaan dgn MASALAH FIQH. Kendatipun Mayoritas umat islam mengaku bermazhab Syafi’i, tetapi mazhab lain pun sedikitnya byknya ada pengaruhnya terhadap umat islam lainnya. Pemikiran ini didasarkan atas kenyataan yg terjadi dlm masyarakat kita sehari-hari, bahwa ada saja TERLIHAT PERBEDAAN PENDAPAT yg berkenaan dgn MASALAH FURU’ (cabang), BAIK MENGENAI IBADAH,MUAMALAH dan lai sebagainya.

    Kalau ADA SALING PENGERTIAN antara pihak SATU DGN PIHAK YG LAINNYA,TENTU TIDAK ada hal yg perlu DIKAWATIRKAN, karena adakalanya hal-hal yg diperselisihkan itu dapat dipertemukan, ADA JALAN KELUAR yg DAPAT DITEMPUH, dan kalau sampai MENGALAMI JALAN BUNTU, MASING-MASING PIHAK MAMPU MENGHARGAI PENDAPAT ORANG LAIN yg berbeda dgn pendapatnya.

    Sebaliknya KALAU KURANG LAPANG DADA,MASALAH YG KECIL DAPAT MENJADI BASAR, karena masing-masing pihak mempertahankan pendapatnya walau hati kecilnya mengakui kelemahan pendapat itu. HAL INI MUNGKIN KARENA FANATIK TERHADAP MAZHAB YG DIANUTNYA,ATAUPUN DISEBABKAN KURANG LUAS PANDANGAN,BATAS ILMU YG DIMILIKINYA atau DIPENGARUHI OLEH FAKTOR-FAKTOR yg LAINNYA, yg BERSIFAT PRIBADI ATAU GOLONGAN BAHKAN POLITIK dalam masyarakat.

    Timbul pertanyaan dan tanda tanya, MENGAPA PERTENTANGAN PAHAM TIDAK BERKESUDAHAN itu TIDAK DAPAT DIREDAHKAN DEMI pertimbangan KESATUAN UMAT…. KITA HARUS PRIHATIN lagi apa bila ada SEBAGIAN ORANG yg ikut MENGAMBIL BAGIAN UTK MENGHIDUPSUBURKAN MASALAH KHILAFIAH,PADAHAL SEMUA PIHAK YAKIN BENAR BAHWA AGAMA ISLAM DITURUNKAN OLEH ALLAH SWT. TIDAK UTK MENSUKARKAN ATAU DIPERTENTANGKAN hambaNYA, sehingga membawa bencana kpd seluruh umat. Agama Islam diturunkan utk membawa kemudahan,kedamaian dan ketemtraman utk semua umat di dunia.

    Berdasarkan kenyataan ini pula, kita dapat membayangkan BETAPA BERATNYA TUGAS PARA ALIM ULAMA SEBAGAI PENDIDIK. karena mereka semua berfungsi sebagai pewaris para Nabi utk menyampaikan ajaran Agama Allah SWT kepada masyarakat luas. Sedang masyarakat yg dihadapi sangat heterogen, tidak sama daya pikirnya, tidak sama latar pendidikannya, lingkunngannya… lebih berat lagi masyarakat yg dihadapi tidak mengenyam pendidikan sama sekali.

    DALAM MASALAH KHILAFIAH, kita HENDANYA LEBIH BERHATI-HATI MEMBERIKAN PENJELASAN ATAU JAWABAN DIUSAHAKAN JGN SAMPAI MEMIHAK KEPADA SALAH SATU KELOMPOK ATAU YG LAINNYA.terutama sekali kepada para pendidik.
    kalau belum memungkinkan disebabkan krn awam atau belum terjangkaunya ilmu mereka maka berilah penjelasansesederhana mungkin dan sebijak sana mungkin supaya jiwa mereka puas dan tidak gelisah.

    Pada saat ini diperguruan tingggi diajarkan perbandingan Mazhab dwengan harapan, setelah selesai para mahasiswa mereka telah mendapat bekal penangkal utk menghadapi masalah-masalah yg mungkin timbul dalam masyarakat. Bahan yg diberiakn, tentu belum dapat menjadi jaminan bahwa merka dapat menyelesaikan masalah tersebut karena yg diberikan hanya dasar-dasarnya saja. TETAOI DIPERGURUAN TINGGI DICOBA MEMBENTUK POLA PIKIRAN MEREKA, SUPAYA LUWES, BERSEDIA MENDEGAR PENDAPAT ORANG LAIN DAN PERBEDAANNYA DAN MEMBINA RASA TOLERANSI DENGAN LAPANG DADA. hal seperti ini seharusnya ditiru oleh para pendidik kita mulai dari tingkat kecil sampai dewasa dalam berbagai bentuk pengajaran.

    Dengan demikaian sudah ada gambaran, apa penyebab para Imam Mujtahid itu berbeda pendpat dan demikian pula kita dapat mengantisipasi masalah-masalah yg terjadi dengan cara bijaksan.

    Salah satu buku/kitab yg bagus unutk dibaca diantaranya, PERBANDINGAN MAZHAB oleh M.Ali Hasan, Kitab-kitab Hadist yg Shaih.

    wass…….

    1. @ suluh indra
      saya sangat setuju kalau pemikiran umat islam seperti sampeyan semua..

      jangan meributkan khilafiah…dan furuq..ok ..apakah yang lain setuju…
      karena menjaga persatuan dan kesatuan umat adalah wajib.

      CLEAR..!!!!

  57. ass….
    Betul Boss….. dalam arti menghargai selama arah kiblatnya sama,syahadatnya sama… kitabnya sama…..kecuali memang lain… itu beda Boss….itu pun kita tidak bisa dengan jalan kekerasan….. tapi dengan cara pendekatan yang baik mungkin dikarenakan kurangnya pemahaman mereka.
    Kalau kita telusuri sejarah Fiqh Islam sepanjang masa kecuali masa muta’akin, kita tidak menemukan seorang pun dari Ashabul Madzahib (Mujtahid) yg mememrintahkan orang mengikutinya, beberapa ulama Muta’akhirin pengikut mazhablah yg mewajibkan kepada ummat Islam utk mengikuti mazhab tertentu, mereka telah membuat aturan-aturan yg mengikat agar pengikut mazhab tidak mengikuti mazhab lain, yang sesungguhnya mempersempit keluasaan agama.
    Kefanatikan yg tidak jelas ini membuat mereka selalu berusaha membela mazhabnya,salah ataupun benar. Tetapi ada juga banyak ulama Muta’akhirin yang sadar dan obyektif dalam menilai mazhab, tidak disertai fanatisme. sekalipun beliau-beliau memegang mazhab tertentu.

  58. bukannya rosul bersabda : sholatlah kalian seperti sholatku
    udahlaaaah ikutin aja,, sholat biasa aja belum tentu diterima, pake macem-macem mau di tambah-tambahin segala…..

  59. @ lion:

    Nabi Saw bersabda:
    “Shalatlah kalian sebagaimana kalian lihat aku shalat bukan shalat seperti shalatku”

    Kalau shalat seperti shalatku (Shalat Nabi) tidak ada satu pun yang mampu. Karena apa, shalat seperti Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tentunya siapa yang mampu karena manusia tentunya terbatas. Kalau jasad gerakannya bisa kita ikuti seperti gerakan perbuatannya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam apakah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam shalat hanya dengan jasad? tentunya shalat ada hakikatnya dan ada dhahirnya, dhahirnya adalah jasadnya, bathinnya (hakekatnya) adalah ruh dan sanubarinya tentunya ikut shalat.

    Namun ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    ??????? ????? ?????????????? ????????

    “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”

    maka shalatlah kalian semampu kalian untuk membenahi gerak geriknya seperti yang dilakukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, ada yang rukunnya ada yang sunnahnya ada yang sunnah muakkadah nya, hal seperti itu mesti kita ketahui kemudian melangkah menuju kedalaman makna hakikatnya, yaitu rahasia hati dan ruh yang turut shalat bersama shalat kita, hati dan ruh kalau sudah ikut shalat dengan jasad kita maka jasad selesai shalat hati dan ruhnya tidak keluar dari shalatnya, karena terus dekat dengan Allah subhanahu wata’ala. Maka ada istilah shalat 24 jam, tentunya kalau demikian maka terwujudlah bahwa shalat itu bisa mencegah kemungkaran. Lha hatinya shalat terus nggak akan sempat berbuat mungkar, kecuali sedikit saja barangkali.

    Nah, kita semua sedang terus belajar mencapai shalat yang seperti ini, demikianlah sifat shalat nabi. Kalau seperti yang dibukukan oleh Syekh Albani tentang shalat nabi tentunya masih jauh, sebab tidak membahas jiwa shalat itu sendiri, pembahasannya hanya dlohir saja nggak ada ruhnya ….

  60. saya juga setuju dengan pendapat saudara Suluh Indra,,, mudah-mudahan kedepan umat kita ini bisa semakin bersatu,,

    buat saudara-saudara sesama muslim,,,

    untuk memperdalam pengetahuan tentang jiwa shalat,,, bisa di periksa di kitab PEDOMAN SHALAT karangan prof.T.M.Hasbi ash-shidiqy… disana dijelaskan hakikat shalat secara rinci,, dan cara-cara untuk dapat menghadirkan hati kita ketika shalat sehingga kita dapat khusyuk dalam shalat kita,,,

    semoga bermanfaat,,
    sukron,,

  61. 1. Nah….sekarang sudah sepakat kita nih bahwa shalat tarawih itu pelaksanaannya Sunnah, kalo soal ‘nama’, saya rasa itu tidak perlu dipermasalahkan karena yg penting adalah pelaksanaannya karena Imam Nawawi dan Ibnu Hajar saja tidak mempermasalahkan perbedaan nama antara keduanya tsb dan mereka tidak mengkategorikan shalat tarawih kedalam bid’ah (walaupun hasanah) HANYA karena namanya yg berbeda (berubah), bahkan mereka menyamakan antara keduanya dengan keutamaan yg sama pula…..
    —————————————-
    he..he…nah mangkanya kalo jadi orang baca dulu dengan teliti maksud dan tujuannya jangan asal bablas aja dr ujung atas ampe ujung bawah,mangkanye ane bilang antum nggak ngerti2….udah bbrapa x di bilang br disini antum tahu….capek deh……..
    —————————————-
    2. Ingat mas ! awalnya anda ini mempermasalahkan bahwa shalat tarawih berjamaah itu bid’ah, bahkan anda mengajukan pertanyaan aneh “APAKAH ADA KETERANGAN RASULULLAH JADI IMAM?”, setelah saya jelaskan bahwa tarawih berjamaah itu bukan bid’ah, kemudian anda ‘lari’ ke masalah tarawih terus-menerus, lalu saya jelaskan lagi kalo itu juga bukan bid’ah, dan sekarang anda mempermasalahkan soal ‘nama’……?
    —————————————
    ini juga antum nggak ngerti/faham…maksud tujuannya …yg ngerti malahan abu salsa…….dan kadir……….
    nih ane copas yg ngerti maksud nya….:(dr bang kadir/abu salas)

    ya..ya….ya…… die paksa yusuf ibrahim keluarin dalil itu,padahal apa yg di tanya bang gondrong juga di sebut dlm dalil yg di keluarinnya sendiri masa die gak tahu ,cuman dibuat…..titik2.. aja sm bang gondrong,
    yusuf gak telaah lagi kali,eh terpancinglah si yusuf…die tulis tuh dalil,
    selanjutnya tinggal tunggu penjelasannye tentang tak pernah nya rasul melakukan..
    bisa aja ente bang…oh ya bang tuk perkuat lagi, dalil yusuf ibrahim kurang satu lagi tuh bang?

    nah die tahu…..(masak antum nggak?)
    padahal apa yg di tanya bang gondrong juga di sebut dlm dalil yg di keluarinnya sendiri masa die gak tahu ,cuman dibuat…..titik2.. aja sm bang gondrong……yusuf gak telaah lagi kali….dst
    (dr sini antum gak tahu ane pancing…..)
    ————————————
    3. Mengenai shalat tarawih terus-menerus, kan sudah saya jelaskan, selama terus-menerus itu masih dilaksanakan pada bulan ramadhan, maka itu hukumnya Sunnah, walaupun Rasulullah tidak melakukannya, akan tetapi ada keterangannya langsung dari Rasulullah secara umum keutamaan melaksanakan shalat tarawih atau qiyamu ramadhan di BULAN RAMADHAN……
    ———————————–
    ya….coba antum baca lagi di atas maksud nya………….udah ane terangkan…..baca lagi.
    ———————————–
    4. Adapun perubahan nama ‘qiyamu ramadhan’ menjadi ‘tarawih’, maka perubahan tsb tidak bisa dijadikan dasar untuk memasukan amaliah shalat tarawih tsb kedalam bid’ah mas……
    5. “nabi sholat qiyamu ramadhan berjamah,hari 1,2,lalu tak pernah lagi (lihat di atas) bgt pula berjamaah nabi pada akhir2 bulan ramadhan,yg lainnya dikerjakan di rumah…nah lihat pd masa umar s/d saat ini secara terus menerus dilakukan secara berjamaah…artinya……..? adakah nabi secara full berjamaah?(nyape sini kiranya antum dpt ngerti)”
    —————————————
    antum baca lagi aja deh diatas…….
    —————————————
    Iya saya paham, berarti jika ada orang yg hanya bisa shalat tarawih di masjid cuma dua hari sekali (15 hari dlm sebulan) dikarenakan adanya uzur misalnya, berarti dia telah melakukan bid’ah donk menurut kaidah anda? karena dia tidak mengikuti sunnah Rasul (shalat 3 hari) dan juga sunnah Umar (full sebulan)…….tidak dapat pahala sunnah donk dia jika merujuk kepada kaidah anda……? apakah anda sudah berpikir sejauh itu?
    ————————————
    sama udah di terangkan di atas…..
    ———————————–
    6. Dan perlu saya tekankan kembali mengenai Sunnah Khulafaur Rasyidin disini agar tidak salah paham, jika ada hasil ijtihad Sahabat Khulafaur Rasyidin yg termasuk perkara baru yg tidak pernah ada di zaman Rasulullah dengan sebab dan alasan tertentu, maka tolong letakkan di dalam kepala kita (kaum muslimin) untuk mendudukan HASIL IJTIHAD tsb sebagai Sunnah Khulafaur Rasyidin yg diberi petunjuk, JANGAN didudukan hasil ijtihad tsb sebagai hukum bolehnya membuat perkara baru (dlm hal agama) karena yg termasuk Sunnah Khulafaur Rasyidin itu BUKANLAH membuat perkara barunya, melainkan HASIL IJTIHAD-nya saja titik …..
    Jadi, yg termasuk Sunnah Khulafaur Rasyidin itu adalah HASIL IJTIHAD-nya saja seperti mengumpulkan Al-Quran dlm satu mushaf, mengumpulkan umat shalat tarawih dengan satu imam dll, BUKAN membuat perkara barunya, karena kedudukan Sunnah jauh lebih tinggi dibanding bid’ah (walaupun hasanah)……
    ————————————
    sunnah ya sunnah walaupun itu sunnah dr khulafaurrosyidin, why krn kita melaksanakan perintah/sunnah rasul yg lainnya ttg khulafaurrosyidin entah beberapa hadist yg mengemukakannya…….(ttg penjelasan lainnya ada di pembagian bidah yg tunduk pd hukum yg lima)

    ttg pengumpulan mushaf antum coba baca lagi deh…..
    ntar antum temui bgm para pengumpul smp dibukakan dadanya…dst…..
    ————————————-
    bagai mana antum dah baca ttg bid’ah menurut imam nawawi dan ibn hajar,s/d menurut hukum yang lima?

    semoga sampai disini kita sudah paham……

  62. Ass..,to all saudara seiman,
    Kalau boleh berpendapat..menurut saya setelah membaca diskusi diatas;
    =Tidak akan ada titik temunya kalau berdiskusi masalah bid’ah dengan orang2 wahhabi..alasannya adalah sepertinya Allah SWT yang kita sembah beda dengan yang mereka sembah.Kalau tidak salah tuhan yang mereka sembah ada tempat dan berjasad.

    Wassalam

  63. BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM
    ass …
    kenalin sy pendatang baru.
    buat saudara2KU marilah kita berhenti perdebatan ini.
    sy yakin sampai kiamat ga bakalan kelar2. yg ada hanya menanamkan kebencian antar saudara yg pd hal seiman.apakah itu wahabi,salafi.NU,muhammadiyah,persis, dll lain cerita klw AHMADIYAH itu emang udh keluar dr ISLAM tp klw yg satu QUNUT yg satu enggak,yg satu bismillahnya disirr yg satu jahr,yg satu maulid yg satu enggak,yg satu telunjuknya digerak2in yg satu enggak, mbok hal2 yg seperti ini jgn diributin.apalagi ampe buat mesjid baru.(INI MENURUT PEMAHAMAN SAYA YG MUNGKIN AJA SALAH.)
    krn menurut sy yg BODOH ini tujuan saudara2 kita sih (sepeti; mas hasan.mas ibrahim. mas difa.mas rifai,mas akbar,dll yg semangatnya luar biasa ) baik hanya mencari kebenaran tp klw sy liat dr penyampainnya udh EMOSI kan jd ga bener.sampaikan sesuatu yg benar dgn cara yg benar.ngaku pengikut sunnah tp kata2nya ga mencerminkan org yg mengikuti sunnah.krn menurut sy pengikut sunnah itu bukan hanya ibadahnya aja yg nyunnah tp akhlaknya juga nyunnah donk.biar mantep gt.
    sungguh andaikan orang kafir melihat blog ini pasti mereka akan tertawa senang.
    tuh liat orang2 islam dari dulu debat mulu kerjaannya.
    klw keadaan umat ISLAM seperti ini sampai kapan akan bangkit kembali KHILAFAH ISLAM yg kita impikan.
    masih banyak hal yg lain yg lebih penting utk kita bahas.
    sy senang melihat saudaraku yg semangatnya luar biasa dlm menegakkan sunnah, tp klw ujung2nya menimbulkan kebencian.emosi,saling ngejek, dll.kan jd ga baik ujung2nya.
    menurut sy yg bodoh ini marilah kita kembali kpd pemahaman para ulama salaf(saya yakin saudaraku pd tau semua siapa mereka, klw sy mah cuma tau imam syafie doank.. )krn hanya mereka yg mengerti apa itu sunnah apa itu bid’ah.krn seperti matan hadits hanya merekalah yg lebih faham maksudnya.
    akhir tulisan sy akan sy muat beberapa pesan dr para ulama salaf mudah2an bermanfaat.andaikan ada kata atau rujukan sy yg keliru mohon dikoreksi yaa.

    1. Al-Imam Yahya bin Sa’id Al Anshari rahimahullah berkata : ”Para ulama adalah orang-orang yang memiliki kelapangan dada dan keleluasaan sikap, dimana para mufti selalu saja berbeda pendapat, sehingga (dalam masalah tertentu) ada yang menghalalkan dan ada yang mengharamkan. Namun toh mereka tidak saling mencela satu sama lain”. (Tadzkiratul Huffadz : 1/139 dan Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih 393).

    2. Al-Imam Yunus bin Abdul A’la Ash-Shadafi rahimahullah (salah seorang murid/sahabat Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah) berkata : ” Aku tidak mendapati orang yang lebih berakal (lebih cerdas) daripada Asy Syafi’i. Suatu hari pernah aku berdiskusi (berdebat) dengan beliau, lalu kami berpisah. Setelah itu beliau menemuiku dan menggandeng tanganku seraya berkata : ” Hai Abu Musa! Tidakkah sepatutnya kita tetap bersaudara, meskipun kita tidak sependapat dalam satu masalah pun ? (tentu diantara masalah-masalah ijtihadiyah) (Siyaru A’lam An-Nubala’ : 10/16-17).

    3. Ulama salaf (salah satunya adalah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah) berkata, ”Pendapatku, menurutku, adalah benar, tetapi ada kemungkinan salah. Dan pendapat orang lain, menurutku, adalah salah, namun ada kemungkinan benar”.

    4. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : ”Seandainya setiap kali dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah itu saling menjauhi dan memusuhi, niscaya tidak akan tersisa sedikitpun ikatan ukhuwah diantara kaum muslimin” (Majmu’ Al-Fatawa : 24/173).

    5. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,”Dalam masalah-masalah yang diperselisihkan diantara para ulama fiqih, aku tidak pernah melarang seorang pun diantara saudara-saudaraku untuk mengambil salah satu pendapat yang ada” (Al-Faqih wal Mutafaqqih : 2/69).

    6. Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur rahimahullah (atau Harun Ar-Rasyid rahimahullah) pernah berazam untuk menetapkan kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik sebagai kitab wajib yang harus diikuti oleh seluruh ummat Islam. Namun Imam Malik sendiri justeru menolak hal itu dan meminta agar ummat di setiap wilayah dibiarkan tetap mengikuti madzhab yang telah lebih dahulu mereka anut” (Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih : 209-210, Al-Intiqa’ : 45).

    7. Khalifah Harun Ar-Rasyid rahimahullah berbekam lalu langsung mengimami shalat tanpa berwudhu lagi (mengikuti fatwa Imam Malik). Dan Imam Abu Yusuf rahimahullah (murid dan sahabat Abu Hanifah rahimahullah) pun ikut shalat bermakmum di belakang beliau, padahal berdasarkan madzhab Hanafi, berbekam itu membatalkan wudhu (Majmu Al-Fatawa : 20/364-366).

    8. Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah termasuk yang berpendapat bahwa berbekam dan mimisan itu membatalkan wudhu. Namun ketika beliau ditanya oleh seseorang,”Bagaimana jika seorang imam tidak berwudhu lagi (setelah berbekam atau mimisan), apakah aku boleh shalat di belakangnya?” Imam Ahmad pun menjawab,”Subhanallah! Apakah kamu tidak mau shalat di belakang Imam Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah dan Imam Malik bin Anas rahimahullah?” (karena beliau berdualah yang berpendapat bahwa orang yang berbekam dan mimisan tidak perlu berwudhu lagi) (Majmu’ Al-Fatawa : 20/364-366).

    9. Imam Abu Hanifah rahimahullah, sahabat-sahabat beliau, Imam Syafi’i, dan imam-imam yang lain, yang berpendapat wajib membaca basmalah sebagai ayat pertama dari surah Al-Fatihah, biasa shalat bermakmum di belakang imam-imam shalat di Kota Madinah yang bermadzhab Maliki, padahal imam-imam shalat itu tidak membaca basmalah sama sekali ketika membaca Al-Fatihah, baik pelan maupun keras … (lihat: Al-Inshaf lid-Dahlawi : 109).

    10. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah shalat shubuh di masjid dekat makam Imam Abu Hanifah rahimahullah dan tidak melakukan qunut (sebagaimana madzhab beliau), dan itu beliau lakukan ”hanya” karena ingin menghormati Imam Abu Hanifah. Padahal Imam Abu Hanifah rahimahullah telah wafat tepat pada tahun Imam Asy-Syafi’i rahimahullah lahir (lihat: Al-Inshaf : 110).

    11. Diceritakan dari Imam Abu Ya’la Al-Farra’ Al-Hambali rahimahullah bahwa, pernah ada seorang ulama fiqih yang datang kepada beliau untuk belajar dan membaca kitab fiqih berdasarkan madzhab Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Beliau (Imam Abu Ya’la rahimahullah) bertanya tentang negeri asalnya, dan iapun memberi tahukannya kepada beliau.

    Maka beliau berkata kepadanya: Sesungguhnya penduduk negerimu seluruhnya mengikuti madzhab Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, lalu mengapakah engkau meninggalkannya dan ingin beralih ke madzhab kami? Ia menjawab: Saya meninggalkan madzhab itu karena saya senang dan tertarik denganmu. Selanjutnya Imam Abu Ya’la rahimahullah berkata: Ini tidak dibenarkan.

    Karena jika engkau di negerimu bermadzhab dengan madzhab Imam Ahmad rahimahullah, sedangkan seluruh masyarakat di sana mengikuti madzhab Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, maka engkau tidak akan mendapatkan seorangpun yang beribadah (dalam madzhab Ahmad rahimahullah) bersamamu, dan tidak pula yang belajar denganmu.

    Bahkan sangat boleh jadi justru engkau akan membangkitkan permusuhan dan menimbulkan pertentangan. Maka statusmu tetap berada dalam madzhab Asy-Syafi’i rahimahullah seperti penduduk negerimu adalah lebih utama dan lebih baik (lihat: Al-Muswaddah Fi Ushulil Fiqhi Li Aali Taimiyah hal. 483).
    WASSALAM
    ABU JAUZIY/AGAM PERUMNAS TANGERANG 68879910

  64. sebenernya, yang memiliki dalil dan jelaslah yang baik. bukan berarti yang lain tidak baik, kurang baik saja. Mas Yusuf Ibrahim bagus dalil2nya, sebenarnya juga yang menjelekkan/menuduh wahabbi kepada Yusuf Ibrahim dkk, adalah tidak lebih baik dari yang dituduh.
    biasa orang yang terlanjur malu dengan ketidak kuatan dalilnya, maka dia akan berusaha mempertahakan dalil dalil yang dibuatnya dengan sekuat tenaga.
    kalau mengaku syafiiyah, kerjakan apa yang diperbuat Imam Syafii, kalau imam Syafii, menyuruh kita melafazkan niat, lafazkan saja, bila terdapat di kitab2 imam Syafii, bahwa beliau menambah Rabbighfirli sesudah fatihah dan sebelum amiin, maka lakukanlah, bila tidak ada, maka janganlah mengaku sebagai syafiiyah.

    1. @ abu jauzy….salam kenal…aku sangat setuju dgn pendapat anda ….tapi kalau anda bertemu mereka ( saudara kita juga )di forum kecil atau majelis ….. aku yakin komentar anda akan berbeda …..apa lagi anda yang tau Imam Syafei doang …imam anda ini menurut mereka salah dalam hal ini dan itu ….apa rela anda klo imam anda didikte oleh mereka sptnya mereka lebih tau maslah agama ….itu baru segelintir yang aku ceritakan ..masih banyaaaaak yang lain2 …..maka pendapat aku biarlah blog ini tetap eksis kalo kami menyikapinya bukan debat tapi DISKUSI kalaupun mereka emosi berarti mereka bukan mencari KEBENARAN …..tapi mencari KEMENANGAN ….blog ini sangat2 berguna bagi saudara2 kita yang awam . Kalo orang non muslim liat biar aja mereka tertawa itu bukan urusan kita ….justru disini harusnya mereka akhirnya tau bahwa teroris itu jelas bukan ajaran Islam yang rahmatan lil alamiin…… maaf aku juga masih awam jadi mendukung blog ini ….wassalam

  65. Muhammad Nafi` dan semua yang berfaham Wahabi/Salafi sekedar saran kalo mo komentar sebaiknya disesuaikan dengan Judul dan isi artikel. TQ

  66. Astagfirullaah mohon maaf sebelumnya, menurut Aye banyak yg sudah melanggar adab, bantahlah dengan cara yg baik, dengan kata² yg baik, jgn saling tuduh, saling hina dan fitnah…

    Aye yg dhaif ini cuman mo berpesan, Islam itu agama yg mudah jangan dipersulit & jangan berlebih²an (ghuluw)

    Nabi Muhammad menyebarkan Islam dengan Al-Qur’an & Hadits (shahih) yg merubah masa jahiliyah menjadi masa kegemilangan Islam, dengan memaksimalkan yg ada tanpa kita tambahpun insyaAllah akan sampai jua ke-Zaman yg kita idamkan yaitu kebangkitan Islam, pada dasarnya kitakan nafsih² siapapun boleh berpendapat asalkan punya dasar InsyaAllah masyarakat mampu menilai sesuai dengan hidayah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala…

    Aye mo mengutip : “Ciri-ciri dakwah mereka bahwa mereka gemar membuat provokasi dan menebar isu-isu bid’ah, isu-isu kafir-musyrik, dan mengharamkan tahlilan, Maulid Nabi Saw, mencemooh ratib, mengharamkan Tawassul kepada Nabi Saw setelah wafatnya, dan mengkafir-musyrikkan ummat Islam yang bukan wahhabi”

    Daftar Ustadz yg Antum kasih, Aye ngeliatnye nih ye seolah-olah Ustadz² tersebut telah Antum kafirkan, jika hal diatas yg Aye kutip satu saja tidak sesuai boleh jd Antum telah melakukan fitnah & Aye yakin Antum² udeh pd tau hukum fitnah ntu ky ap, terimakasih atas infonye & semoga bukan fitnah…

  67. Wa’alaikum salaam Warohmatullaah Wabarokaatuh, wkwkwk mohon maaphin Aye yg dhaif klo ad salah kata & tanggapan, Aye mo ngingetin lg jangan lupa jawab salam gr² berdebat oh iye klo emang pd peduli sm Islam nyok kite sholat shubuh di Masjid…

    1. www

      komentar kok ga ada yang nyambung , kalo mau bicara soal bi`ah ini artikel yang tepat , kalo mau bicara soal daftar nama Ustadz itu ada artikelnya , yang ga salam nt , ga ada yang salam juga nt yang jawab muter-muter kayak apa aja.

      peduli islam kok solat subuh dimasjid , sholat subuh di masjid sih sudah Fardu kifayah , kalo mau peduli Islam waspadai penghancuran Islam dari dalam yaitu mencegah merebaknya Virus wahabi dll , begitu juga dari luar kristenisasi , komentarnya sesuain dong.

  68. Wuehe he he he….
    Mas Syahid, saya benar-benar menahan geli baca koment si “www”, dia itu bisa paham apa nggak sih baca kalimat-kalimat kok tiba-tiba dia bilang: “Daftar Ustadz yg Antum kasih, Aye ngeliatnye nih ye seolah-olah Ustadz² tersebut telah Antum kafirkan,”

    Kalimat yg mana yg menggambarkan bahwa Ummati telah mengkafirkan ustadz2 dalam daftar? seharusnya dia komentarnya di tempat yg nyambung biar mudah dilacak, yaitu di link ini

    Benar-benar unik dan lucu banget, dua koment-nya nggak nyambung semuanya…..

  69. udah yg pnting sunnah is the best.
    kita semua pasti mencari yg bnar tp jgn mengganggap yg paling bnar(akan terlihat nanti di akhir jaman siapa yg bnar).
    islam itu akan trbagi beberapa golongan. apakah golongan antum atau yg lain yg akan masuk surga, yg tau hanya ALLAH.
    jadi mari saling menghargai. toh kita sudah saling mengingatkan kepada masing2.
    toh juga hidayah itu masing2. bersyukurlah yg mendapat hidaya dari ALLAH.
    sekian. salam DAMAI….!!!
    I LOVE ALLAH

  70. Bid’ah, bid’ah dan bid’ah.
    Agar para pemimpin KASAWAH (KAwarij-SAlafi-Wahabi) mendapat legitimasi dalam berkreasi membid’ahkan sekaligus mengkafirkan sesame ummat Islam yang tidak sejalan dengan mereka, maka ditegakkanlah sebuah hadits musykil, yaitu tentang “kebodohan” Rasulullah dalam hal duniawi (Antum A’lamu bi Umuri Dunyakum).

    Bersandarkan kepada hadits tersebut, akhirnya mereka mendapat ruang yang sangat luas dalam menentukan mana yang mendapat ancaman api neraka yaitu bid’ah dholalah (ibadah), dan mana yang bisa sesukanya berkreasi (mu’amalah). Pemisahan antara ibadah dengan mu’amalah ini sudah jelas merupakan konsep sekuler, yang dikemudian hari akan menghancurkan Islam dari dalam.

    Padahal kita semua tahu bahwa kata “kullu” itu tidak harus diartikan setiap, tiap-2, sekalian, atau seluruhnya. Banyak contoh kata “kullu atau kulla” jauh dari mengandung arti seluruhnya. Seperti kita ketahui bersama, kata kullu itu merupakan kata kunci dalam mengancam ummat Islam lain yang tidak sejalan.

    Hal lain adalah, saya yang dho’if ini, tidak berhasil menemukan dalil yang secara tekstual menjelaskan pemisahan antara ibadah dan mu’amalah. Yang ada malah sebaliknya, tidak ada pemisahan diantara keduanya. Seperti, didalam do’a Iftitah (Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh Alam), serta surat Adz-Dzariyat ayat 56 (Tidak semata-mata aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah).

    Mohon pencerahan dari para penggiat salaf.

  71. Bismillah…
    Assalamu’alaikum…
    Subhanallah… sebuah blog yg sangat bagus, dgn adanya blog ini semoga kaum muslimin mendapatkan ilmu sehingga tahu mana yg benar diatas dalil dan mana yg hanya sekedar taklid dan mengikuti hawa nafsu. Kepada UMMATI, teruslah diatas niat yg baik dan kejujuran dlm menampilkan komentar baik dr pihak yg sependapat maupun yg tidak, terutama dr wahabiyyin… biarkan mereka wahabiyyun leluasa mengomentari sehingga kita tahu kayak apa sih aqidah dan manhaj wahabiyyun yg secara tdk langsung kita jd mengenal siapa wahabiyyun sebenarnya. Dan kepada wahabiyyin,,, teruslah kalian berkomentar, keluarkan dalil2 yg kalian miliki dgn pemahaman yg menurut kalian adl pemahaman yg sesuai dgn pemahaman salafusshaleh, agar kami menjadi tahu apa yg menjadi pijakan kalian dlm beragama, kalau memang kalian yg benar2 diatas ilmu dan dalil, insyaallah kami dgn senang hati akan menerimanya, dan semoga Allah memberikan hidayah dan kemudahan bagi kami utk mengikutinya. Dan kami jg berlindung kepada Allah dari segala syubhat yg mengikuti hawa nafsu yg bs menjerumuskan kpd jurang kebinasaan. amiin. Maaf, kalau boleh saya memberi penilaian, kalau menurut saya yg awam ini, benar jg yg dikatakan wahabiyyun, dari komen2nya sangat jelas sekali dan sangat ilmiah… hampir semuanya menukil dari perkataan ulama, Alhamdulillah, sekarang saya jd tahu mana yg diatas dalil dan mana yg hanya sekedar ngikutin akal dan hawa nafsu,,, mana yg berada diatas qaidah yg kuat dan haq dan mana yg qaidahnya lemah dan bathil. Maaf, jika boleh saya memberikan nasehat kpd komentator di blog ini, mohon komen dgn perkataan yg baik, tdk ada unsur celaan, hinaan apalagi fitnah terutama kpd ulama, ingatlah bhw lisan2 kita kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.. lgpula kita tdk memiliki jaminan bhw kitalah yg benar, bs saja kita yg benar atau bs saja wahabiyyun yg selama ini kita antipati dan benci seluruh mati (hehe.. bukan cuman benci setengah mati) tp justru ternyata merekalah yg benar…wallahu’alam. Dan sebaiknya kpd UMMATI tak perlulah menampilkan komen yg hanya berisi cercaan dan hinaan, takut kalau UMMATI jg ikut menanggung dosanya…(hehehe..itu kalau kita meyakini kalau perkataan keji itu termasuk dosa.. bener nggak yah..??) sebab komen2 yg berisi provokasi dan hinaan akan menyebabkan orang antipati duluan yg akhirnya enggan menerima kebenaran lawan. Hemm, jadi penasaran nih… siapa wahabi sebenarnya..?? Teman2, bs bantu nggak kasih alamat link blog2nya wahabiyyun, boleh donk sekali-kali mengunjungi blog mereka… Semoga Allah membukakan hati saya dan kaum muslimin utk menerima kebenaran darimanapun datangnya, amiin….
    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    1. hana albani@

      Hana Albani, antum ini seorang yg gak jelas alias orang Abu-Abu. Komentarmu yg ini sepintas terkesan bagus hampir mirip bukan orang Wahabi, akhirnya tetap ketahuan juga gaya Wahabimu di akhir-akhir kalimat. Oke tak apa, memang orang-orang Wahabi itu sudah biasa seperti kelkauan antum. Pura-pura jadi orang baik padahal yg tersewmbunyi ….. wallou a’lam deh.

      Baiklah, for @All pengunjung…. Ternyata orang bernama hana albani memiliki nama-nama lain, kasusnya persis sama dg @Abu Fathul Al-Wahabi (KLIK DISINI) yg dulu pernah terungkap kejahatannya di blog ini.

      Jadi hana albani ini adalah juga seperti itu kelakuannya. Inilah hasil nyata didikan Wahabi: Satu orang punya beberapa nama, lihat dan periksa IP-Adress-nya berikut ini:

      hana albani
      hana_albani@yahoo.co.id
      188.54.85.50

      osamah Al-Waunaug
      septi.maya61@yahoo.com
      118.96.186.50

      Aiman
      dataprisma@yahoo.com
      118.96.186.50

      jadeite
      jadeite@plasa.com
      118.96.186.50

      wongbiasawae
      kojixlab@yahoo.com
      118.96.186.50

      wongbiasawae
      ganymedaid@hotmail.com
      118.96.186.50

      avicenna
      ganymedaid@yahoo.co.id
      118.96.186.50

      Maya
      septi.maya61@yahoo.com
      118.96.186.50

      Demikianlah, ini kami laporkan kepada semua pengunjung agar maklum adanya, supaya dapat diambil pelajaran…..

      1. ooooooooooooooooooooooooooooooooooooo…………………………………..
        pantesan hari ini ane lihat ummati “dibombardir” . Hampir setiap artikel dikomentari (komentnya gak jelas lagi) Eh ga tahunya ………………

        @admin
        makasih mas laporannya , kami maklum kok …..
        numpang nanya mas kalo cara” dakwah spt itu termasuk bid’ah ga ya ?

        1. Mas Sufrit@

          Bid’ahnya lebih tebal Mas, yaitu menjadi BIDDNGAH, he he he …. Maksudnya tipuannya dalam dakwah itulah yg bidngah, karena Nabi Saw tidak menipu lho ya?

  72. Mana Attuh Org2 Sahwah , katanya Jargon kembali kepada Alqur’an dan Sunnah, apakah dakwah dgn tipuan ini dibenarkan dan nggak disaksikanoleh seluruh mahluk-mahluk Allah SWT, Bukankan Seluruh Mahluk Allah SWT Akan melaknat org2 yg hanya bisa bicara tapi tidak sesuai dengan kenyataan, Na’uzubilahi minzalik, Kita seluruh Aswaja, baik yang Awam maupun yang berilmu mohon perlindungan kepada Allah SWT dari perkataan dan perbuatan yang demikian,,Aaamin.

    1. Kalau ga mau di tipu, keluarkan dalilnya, kamu kan ASWAJA. Tunjukkan bahwa kamu itu pengikut Ahlus sunnah waljama’ah. Bukan pengikut Asy ‘ariyah Atau bahkan pengikut Gusdur yang bilang bahwa Al-Qur’an adalah kitab PORNO.

      1. PUTRA@

        PUTRA, silahkan komentari artikel di atas, apanya yg salah dari artikel di atas? Ingat artikel di atas adalah artikel ilmiyyah, jadi koment antum juga diharap ilmiyyah juga. Biar nanti ana bisa jawab dg ilmiyyah juga, oke PUTRA>>>>?

        1. Mana tunjukkan dalil bahwa pengikut Asy ‘ariyah adalah yang paling benar?
          Semua pertanyaan2 ilmiah di sini tidak satupun di jawab pengikut Asy ‘ariyah dengan benar, malah diputar balikkan saja. Jawab dulu tuh pertanyaan-pertanyaan yang ga dijawab, jangan malah bicara ngawur kesana-kemari!!!!

          Blog ini cuma menghujat kelompok yang tidak sepaham dengan Asy ‘ariyah atau bahkan Gus Dur yang bilang bahwa Al-Qur’an adalah kitab PORNO.

          MYEH_MYEH

          Admin pasti akan memenjarakan gw kan… Pasti bisa ditebak..
          So Sorry ya.. yang pada hatinya tersakiti, maaf bukan bermaksud menyakiti..

          1. PUTRA@

            PUTRA, coba perhatikan ayat al-Qur’an ini, Allah berfirman:
            ??? ???????? ????????? ???????? ???? ????????? ???????? ???? ??????? ???????? ??????? ??????? ???????? ??????????? ?????????????? ????????? ????? ?????????????? ????????? ????? ????????????? ???????????? ??? ??????? ??????? ????? ?????????? ???????? ??????? (???????: 54)

            “Wahai sekalian orang beriman barang siapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah, mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat -ditakuti- oleh orang-orang kafir. Mereka kaum yang berjihad dijalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci-maki”. QS. al-Ma’idah: 54

            Dalam sebuah hadits Shahih diriwayatkan bahwa ketika turun ayat ini, Rasulullah memberitahukan sambil menepuk pundak sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya bersabda: “Mereka (kaum tersebut) adalah kaum orang ini!”.

            Dari hadits ini para ulama menyimpulkan bahwa kaum yang dipuji Allah dalam ayat di atas tidak lain adalah kaum Asy’ariyyah. Karena sahabat Abu Musa al-Asy’ari adalah moyang dari al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari.

            Dalam penafsiran firman Allah di atas: (Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah) QS. Al-Ma’idah: 54, al-Imam Mujahid, murid sahabat ‘Abdullah ibn ‘Abbas, berkata: “Mereka adalah kaum dari negeri Saba’ (Yaman)”. Kemudian al-Hafizh Ibn ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib al-Muftari menambahkan: “Dan orang-orang Asy’ariyyah adalah kaum berasal dari negeri Saba’” (Tabyin Kadzib al-Muftari Fi Ma Nusiba Ila al-Imam Abi al-Hasan al-Asy’ari, h. 51).

            Demikian, semoga para pengikut Wahabi dapat hidayah sehingga tidak lagi hobby berbohong ataupun hobby mendukung kebohongan, amin….

          2. Admin====> Anda itu akan menjadi bahan tertawaan dunia islam di barat dan timur.
            Mana mungkin shahabat Abu Musa al-Asy’ari merupakan pembawa akidah Asy ‘ariyah yang dianut oleh orang2 NU yang kemudian di klaim sebagai akidah ASWAJA.
            Sungguh bodoh ada ini, memalukan
            Baca sejarah siapa itu shahabat Abu Musa al-Asy’ari dan siapa itu Asy’ari pembawa akidah Asy’ariyah.
            ANDA INI LUCU SEKALI.. MASA shahabat Abu Musa al-Asy’ari merupakan pembawa akidah Asy ‘ariyah.
            GUSDUR yang bilang Al-Qur’an adalah kitab PORNO, pasti akan terwa juga kalau masih hidup.

          3. PUTRA@

            Putra…., anda ini benar-benar bodoh dan tolol rupanya kok tak paham kalimat sederhana. Di atas Mas ADMIN menulis bahwa shahabat Abu Musa al-Asy’ari adalah KAKEK MOYANG dari Abu Hasan Al-Asy’ariy pejuang aqidah ASWAJA (ahlussunnah waljamaah). Baca itu di alenia ke empat koment ADMIN di atas. Admin pun mengutip dari keterangan Ulama.

            Jangan kelewatan dong tololnya, bikin hilang kesabaran nih ketololan ente!!!

          4. Siapakah Syaikh Abul Hasan Al Asy`ari

            Beliau bernama `Ali bin Isma`il bin Abi Bisyr Ishaq bin Salim bin Isma`il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Burdah bin Musa Al Asy`ary, lebih dikenal dengan Abu Al Hasan Al Asy`ary. Dilahirkan pada tahun 260 Hijriyah atau 875 Masehi, pada akhir masa daulah Abbasiyah yang waktu itu berkembang pesat berbagai aliran ilmu kalam, seperti : al Jahmiyah, al Qadariyah, al Khawarij, al Karamiyah, ar Rafidhah, al Mu`tazilah, al Qaramithah dan lain sebagainya.

            Sejak kecil Abul Hasan telah yatim. Kemudian ibunya menikah dengan seorang tokoh Mu`tazilah bernama Abu `Ali Al Jubba`i. Beliau (Abul Hasan) seorang yang cerdas, hafal Al Qur`an pada usia belasan tahun dan banyak pula belajar hadits. Pada akhirnya beliau berjumpa dengan ulama salaf bernama al Barbahari (wafat 329 H). inilah yang akhirnya merubah jalan hidupnya sampai beliau wafat pada tahun 324 H atau 939 M dalam usia 64 tahun.

            Abu al Hasan al Asy`ary dan Mu`tazilah

            Pada mulanya, selama hampir 40 tahun, beliau menjadi penganut Mu`tazilah yang setia mengikuti gurunya seorang tokoh Mu`tazilah yang juga ayah tirinya. Namun dengan hidayah Allah setelah beliau banyak merenungkan ayat-ayat Al Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah, beliau mulai meragukan terhadap ajaran Mu`tazilah. Apalagi setelah dialog yang terkenal dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Abu `Ali al Jubba`i dan setelah mimpi beliau bertemu dengan Rasulullah, beliau secara tegas keluar dari Mu`tazilah.

            Inti ajaran faham Mu`tazilah adalah dasar keyakinan harus bersumber kepada suatu yang qath`i dan sesuatu yang qath`i harus sesuatu yang masuk akal (rasional). Itulah sebabnya maka kaum Mu`tazilah menolak ajaran al Qur`an apalagi as Sunna yang tidak sesuai dengan akal (yang tidak rasional). Sebagaimana penolakan mereka terhadap mu`jizat para nabi, adanya malaikat, jin dan tidak percaya adaya takdir. Mereka berpendapat bahwa sunnatullah tidak mungkin dapat berubah, sesuai dengan firman Allah :

            Tidak akan ada perubahan dalam sunnatillah (Al Ahzab:62; lihat juga Fathir:43 dan Al Fath:23).

            Itulah sebabnya mereka tidak percaya adanya mu`jizat, yang dianggapnya tidak rasional. Menurut mereka bila benar ada mu`jizat berarti Allah telah melangar sunnah-Nya sendiri.

            Sudah barang tentu pendapat seperti ini bertentangan dengan apa yang dikajinya dari al Qur`an dan as Sunnah. Bukankah Allah menyatakan bahwa dirinya :

            (Allah) melakukan segala apa yang Dia kehendaki (Hud : 107)

            untuk kehidupan manusia Allah telah memberikan hukum yang dinmakan sunnatullah dan bersifat tetap. Tetapi bagi Allah berlaku hukum pengecualian, karena sifat-Nya sebagai Pencipta yang Maha Kuasa. Allah adalah Penguasa mutlak. Hukum yang berlaku bagi manusia jelas berbeda dengan hukum yang berlaku bagi Allah. Bukankah Allah dalam mencipta segala sesuatu tidak melalui hukum sunnatullah yang berlaku bagi kehidupan manusia ? Allah telah menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, menciptakan dari suatu benda mati menjadi benda hidup. Adakah yang dilakukan Allah dapat dinilai secara rasional ?

            itulah diantara hal-hal yang dibahas oleh Abu Al-Hasan Al Asy`ary dalam segi aqidah dalam rangka koreksi terhadap faham mu`tazilah, disamping masalah takdir, malaikat dan hal-hal yang termasuk ghaibiyat.

            Salah satu dialog beliau dengan Abu Ali Al Jubba`i yang terkenal adalan mengenai, apakah perbuatan Allah dapat diketahui hikmahnya atau di ta`lilkan atau tidakl. Faham Mu`tazilah berpendapat bahwa perbuatan Allah dapat dita`lilkan dan diuraikan hikmahnya. Sedangkan menurut pendapat Ahlus Sunnah tidak. Berikut ini dialog antara Abu Al Hasan dengan Abu Ali al Jubba`I

            Al Asy`ary (A) : Bagaimana kedudukan orang mukmin dan orang kafir menurut tuan?

            Al Jubba`i (B) : Orang mukmin mendapat tingkat tinggi di dalam surga karena imannya dan orang kafir masuk ke dalam neraka.

            A : Bagaimana dengan anak kecil?

            B : anak kecil tidak akan masuk neraka

            A : dapatkah anak kecil mendapatkan tingkat yang tinggi seperti orang mukmin?

            B : tidak, karena tidak pernah berbuat baik

            A : kalau demikian anak kecil itu akan memprotes Allah kenapa ia tidak diberi umur panjang untuk berbuat kebaikan

            B : Allah akan menjawab, kalau Aku biarkan engkau hidup, engkau akan berbuat kejahatan atau kekafiran sehingga engkau tidak akan selamat.

            A : kalau demikian, orang kafir pun akan protes ketika masuk neraka, mengapa Allah tidak mematikannya sewaktu kecil agar selamat dari neraka.

            Abu Ali Al Jubba`i tidak dapat menjawab lagi, ternyata akal tidak dapat diandalkan.

            Abu al Hasan Al Asy`ary dalam meninjau masalah ini selalu berdasar kepada sunnah Rasulullah. Itulah sebabnya maka madzhab yang dicetuskannya lebih dikenal dengan Ahlus Sunnah wal Jama`ah.

            Abu al Hasan al Asy`ary Pencetus Faham Asy`ariyah

            Namun karena pengaruh yang cukup dalam dari faham Mu`tazilah, pada mulanya cetudan pendapat Abu al Hasan sedikit banya dipengaruhi oleh Ilmu Kalam. Keadaan seperti ini sangat dimaklumi karena tantangan yang beliau hadapi adalah kelompok yang selalu berhujjah kepada rasio, maka usaha beliau untuk koreksi terhadap Mu`tazilah juga berusaha dengan memberikan jawaban yang rasional. Setidak-tidaknya beliau berusaha menjelaskan dalil-dalil dari Al Qur`an atau As Sunnah secara rasional. Hal ini dapat dilihat ketika beliau membahas tentang sifat Allah dalam beberapa hal beliau masih menta`wilkan sebagiannya. Beliau menyampaikan pendapatnya tentang adanya sifat Allah yang wajib menurut akal.

            Pada mulanya manhaj Abul Hasan Al Asy`ary dalam bidang aqidah menurut pengkuan secara teoritis pertama berdasarkan naqli atau wahyu yang terdiri dari Al Qur`an dan Al Hadits Al Mutawatir, dan kedua berdasarkan akal. Namun dalam prakteknya lebih mendahulukan akal daripada naql. Hal ini terbukti masih menggunakan penta`wilan terhadap ayat-ayat Al Qur`an tentang sifat-sifat Allah, misalnya: yadullah diartikan kekuatan Allah, istiwa-u Llah dikatakan pengasaan dan sebagainya.

            Contoh lain misalnya dalam menetapkan dua puluh sifat wajib bagi Allah, diawali dengan menetapkan hanya tiga sifat wajib, kemudian berkembang dalam menyinmpulkan menjadi lima sifat, tujuh sifat, dua belas sifat atau dan akhirnya dua puluh sifat atau yang lebih dikenal dengan Dua puluh Sifat Allah. Dari dua puluh sifat itu tujuh diantaranya dikatakan sebagai sifat hakiki sedang tigabelas yang lain sifat majazi. Penetapan sifat hakiki dan majazi adalah berdasarkan rasio.

            Dikatakannya, penetapan tujuh sifat hakiki tersebut karena bila Allah tidak memilikinya berarti meniadakan Allah. Ketujuh sifat hakiki tersebut adalah hayyun bihayatin, alimun bi ilmin, qadirun bi qudratin, sami`un bi sam`in, basyirun bi basharin, mutakallimun bi kalamin dan muridun bi iradatin. Sedangkan mengenai tiga belas sifat majazi bila dikatakan sebagai sifat hakiki berarti tasybih atau menyamakan Allah dengan makhluk.

            Ketika ditanyakan :Bagaimana menetapkan sifat hakiki tersebut, sedangkan sifat itu secara lafziah sama dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk? Jawabannya: Sifat-sifat tersebut dari segi lafaz sama dengan makhluk, namun bagi Allah SWT mempunyai arti `maha` sesuai dengan kedudukan Allah yang Maha Kuasa. Kalau demikian seharusnya tidak perlu kawatir dalam menerapkan tiga belas sifat yang lain dengan mengatakannya sebagai sifat hakiki bukan ditetapkan sebagai majazi, dengan pengertian sebagaimana dalam menetapkan tujuh sifat hakiki tersebut diatas, yakni walaupun sifat-sifat Allah dari segi lafaz sama seperti sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia, namun sifat itu bila dinisbahkan kepada Allah akan mempunyai arti Maha.

            Abu Al Hasan Al Asy`ary kembali ke Salaf

            Pada akhirnya setelah banyak berdialog dengan seorang bernama Al Barbahari (wafat 329 H), Abul Hasan Al Asy`ary menyadari kekeliruannya dalam pemahaman aqidah terutama dalam menetapkan sifat-sifat Allah dan hal lain tentang ghaibiyat. Empat tahun sebelum beliau wafat beliau mulai menulis buku Al Ibanah fi Ushul Al-Diyanah merupakan buku terakhir beliau sebagai pernyataan kembali kepada faham Islam sesuai dengan tununan salaf. Namun buku ini tidak sempat terbahas secara luas di kalangan umat Islam yang telah terpengaruh oleh pemikiran beliau sebelumnya.

            Untuk mengenal lebih jauh tentang kaidah pemikiran beliau di bidang aqidah sesudah beliau kembali ke metode pemikiran salaf yang kemudian lebih dikenal dengan Salafu Ahli As Sunnah wa Al Jama`ah, beliau merumuskannya dalam tiga kaidah sebagai berikut:

            1. Memberikan kebebasan mutlak kepada akal sama sekali tidak dapat memberikan pembelaan terhadap agama. Mendudukkan akal seperti ini sama saja dengan merubah aqidah. Bagaimana mungkin aqidah mengenai Allah dapat tegak jika akal bertentangan dengan wahyu.

            2. Manusia harus beriman bahwa dalam urusan agama ada hukum yang bersifat taufiqi, artinya akal harus menerima ketentuan wahyu. Tanpa adanya hukum yang bersifat taufiqi maka tidak ada nilai keimanan.

            3. Jika terjadi pertentangan antara wahyu dan akal maka wahyu wajib didahulukan dan akal berjalan dibelakang wahyu. Dan sama sekali tidak boleh mensejajarkan akal dengan wahyu apalagi mendahulukan akal atas wahyu.

            Adapun manhaj Abul Hasan dalam memahami ayat (tafsir) adalah sebagai berikut:

            1. Menafsirkan ayat dengan ayat.

            2. Menafsirkan ayat dengan hadits

            3. Menafsirkan ayat dengan ijma`.

            4. Menafsirkan ayat dengan makna zahir tanpa menta`wilkan kacuali ada dalil.

            5. Menjelaskan bahwa Allah menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, untuk itu dalam memahami Al Quran harus berpegang pada kaidah-kaidah bahasa Arab.

            6. Menafsirkan ayat dengan berpedoman kepada asbabun-nuzul dari ayat tersebut

            7. Menjelaskan bahwa isi ayat Al Quran ada yang umum dan ada yang khusus, kedua-duanya harus ditempatkan pada kedudukannya masing-masing.

            Banyak sekali buku-buku karya Abul Hasan Al Asy`ary. Yang ditulis beliau sebelum tahun 320 (sebelum kembali kepada manhaj salaf) lebih dari 60 buku. Sedangkan yang ditulis sesudah tahun 320 hampir mencapai 30 buah buku, diantara yang terakhir ini adalah Al Ibanah fi Ushul Ad Diyanah.

            Wallahu A`lam.

          5. Osama Al-Zawahiri@

            Kaum Wahabi/Salafy wahabi silahkan bikin artikel yg aneh-aneh dan memojokkan Asy’aryah, tetapi yg perlu diingat oleh kalian Wahabiyyun, bahwa para Ulama’ Mu’tabar itu beraqidah Asy’ariyah. Seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al-Astsqolani, Imam Jalaludin Al_Suyuti, Imam Al-Ghozali dll, sangat banyak. Mereka semua beraqidah Ahlussunnah Waljamaah yg diperjuangkan kembali Oleh Al-Asy’ari dan al-Maturidi pada zaman mereka, yaitu zaman pergolakan pemikiran aqidah masa itu.

            Jadi faktanya hanya Para Wahabiyyun yg anti aqidah Asy’ari – Maturidi, inilah faktanya. Dan kalian adalah kaum minoritas di dunia ini yg merasa sebagi Ghuroba, itu hanya klaim Kaum Wahabi yg nilainya hanya sebatas pretttt aja, tidak lebih dari pretttt. Demikian wahai kaum Wahabi, sadarlah sebelum ajal menjemput kalian, afwan…..

          6. Anda ini sakit jiwa kok ikut komentar….

            anda yang ditertawakan kok malah bilang kami jadi bahan tertawaan.

            Kasihan amat…… berobat mas.

          7. Ada banyak versi tentang kitab Al Ibanah karya Imam Asy’ary. So, jangan kaget kalau ulasan versi wahabiyun seperti itu ha ha ha ha.

            Komen wahabiyun itu lucu sekali kalau soal madzab asy’ariyah dalam ilmu kalam. Kalau tuduhan mereka sesat pada pengikut asy’ariyah jaman sekarang kan aneh dan super aneh. Kan sudah sangat terbukti dengan jelas banyak ulama besar pengikut asy’ariyah dan karyanya juga dipelajari suku Najd dkk. Bahkan seorang ulama wahabiyun kontemprer aja mengakui kalau semua ulama besar Islam adalah pengikut madzab asy’ariyah dalam bidang ilmu kalam.

            Nah, kalau mereka menuduh semua warga NU sesat gara2 mengikuti asy’ariyah dalam ilmu kalam kan lucu sekali dan kelihatan BODOH, TOLOL, SUPER BODOH DAN SUPER TOLOL.

            Sekarang wahabiyun berani ga kita tantang agar mereka meninggalkan semua karya ulama-ulama bidang ilmu hadist dan fiqih yg mereka pelajari yg merupakan karya ulama yg berbau asy’ariyah.

            Sejatinya, kagak ada kok karya otentik ulama wahabiyun yg bermutu tinggi sebagaimana karya ulama aswaja.

          8. @mbah, mana berani kaum Sahwah ninggalinnya, karena nggak ada karya ulama2 Sahwah yg bermutu, banyak karya ulama2 Sahwah yang ada hanya nukil and nukil, ngaku mujtahid tapi nggak punya sanad, ibarat kata pepatah serigala berbulu domba!!!! Tambahan Mbah SUPER BODOH SUPER TOLOL MUROKAB

  73. Masya Allah, kunjungan pertama yg sangat mengesankan… blm apa2 sdh dpt bogem mentah, sungguh saya sangat heran, kenapa kalian begitu sangat membenci wahabi, sehingga semua orang yg nggak sependapat dgn kalian langsung di cap wahabi. Tak perlulah berburuk sangka kpd sesama muslim, apalagi menuduh dgn tuduhan tanpa bukti. Demi Allah, ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi blog ini, dan Hana Albani adalah asli nama akun saya, dan saya tdk pernah menggunakan nama akun lainnya sebagaimana yg dituduhkan… semoga Allah mengampuni segala kekhilafan kita semua, dan sebaik-baik orang yg berbuat kesalahan adalah bertaubat… komen saya sebelumnya hanyalah penilaian yg wajar bagi orang yg awam seperti saya, tp kenapa justru malah dituduh macam2. Biarlah Allah yg menjadi saksi dan hakim atas perkara ini.

    1. he he he he ……@ hana albani nt masih ngeles aja ????? Admin memberikan data kok masih ngeles …..dasar salapoy …..

    2. Utadz osamah Al-Waunaug dan hana albani ternyata orangnya sama yo?

      Utadz osamah Al-Waunaug dan hana albani, ini no Ip-adress ente: 118.96.186.50, coba lihat komentar @Admin ni 214, jadi jangan terus mengelak malah makin menunjukkan kebenaran Wahabi benar2 tukang bohong, penipu, pendusta n manipulator tidak pantas pendakwah berbuat seperti itu. kasihan korban ente, Ustadz Wahabi!!!

  74. Apakah Muhammadiyah, JAT, MTA, dll selain NU kalian hukumi dengan wahabi????
    Trus kalian anggap semua juga teroris?
    Sungguh dangkal sekali pemikiran kalian jika semua dianggap wahabi…

  75. osamah Al-Waunaug n hana albani orangnya sama@

    Ente pakai nama gant-ganti berpura-pura bukan Wahabi padahal asli wahabi, di mana rasa malumu. Apakah kamu masih merasa beriman padahal tak punya rasa malu? Coba lihat koment @Admin no,214, ini ana kutip bahwa ente seorang ABU-ABU alias MUNAFIQ yg tidak layak berdakwah:

    hana albani
    hana_albani@yahoo.co.id
    188.54.85.50

    osamah Al-Waunaug
    septi.maya61@yahoo.com
    118.96.186.50

    Aiman
    dataprisma@yahoo.com
    118.96.186.50

    jadeite
    jadeite@plasa.com
    118.96.186.50

    wongbiasawae
    kojixlab@yahoo.com
    118.96.186.50

    wongbiasawae
    ganymedaid@hotmail.com
    118.96.186.50

    avicenna
    ganymedaid@yahoo.co.id
    118.96.186.50

    Maya
    septi.maya61@yahoo.com
    118.96.186.50

    Nah, itu ente orang Wahabi terbukti masih aja ngeles, no IP-Adress nte gak bisa bohong emang semua itu nte Wong Wahabai Asli.

  76. Dan (orang-orang durhaka) berkata: “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina). (Shaad : 62)

  77. @Utadz osamah Al-Waunaug dan hana albani dan beberapa nama yg kami sebutkan di koment no 214 ternyata orangnya benar-benar sama lho.

    Utadz osamah Al-Waunaug, maaf antum terpaksa kami jebloskan dalam penjara WordPress karena terbukti sebagai penipu dan pendusta. Antum tidak layak berdakwah di Ummati Press.

    Afwan untuk semua pengunjung, kami memenjarakan pendusta ini di Kerangkeng WordPress ….

    1. Ana setuju dg tindakan Admin, dia sudah pembohong dan pendusta tapi masih nelak seperti itu tidak layak kirim koment. Baravo Ummati!!!

      Selama ini ana menunggu koment Wahabi yg berkwalitas tapi tidak muncul2 juga. Benar kata Mas Juman, Wahabi terbukti ilmunya ilmu COPAS, hem….

      Ustadz2nya aja ilmunya pada Ilmu Copas semua, apalagi murid2nya?

  78. Wah.. Jangan-jangan klo gw ngeblok di sini juga di penjara.. Ini menunjukkan bahwa Ummati ketahuan boroknya.. Ga berani mempertanggungjawabkan.. MYEH_MYEH..

    1. Para Wahabiyyun sudah pada gak bisa coment yg mutu setelah tidak diperbolehkan COPAS. Terbukti anggapan bahwa Wahabiyyun ilmunya ilmu COPAS, kwk kwk wkk….

    2. PUTRA@

      Kalau antum merasa bisa komentar secara baik-baik silahkan komentari artikel di atas. Apakah menurut antum ada yg salah dari artikel di atas? Ana senagn kalau antum nantinya bisa berdiskusi dg baik dan jujur….

      Jangan kuatir, Admin selama ini dikenal selalu berbuat adil terhadap koment2 yg pro atau yg kontra. Antum bisa teliti semua koment2 di blog ini bertebaran koment2 pro dan kontra. Jad, kalau untuk kasus pemenjaraan @osamah Al-Waunaug, memang itu sudah selayaknya karena terbukti sebagai Super pembohong. Kalau antum mendukung si pembohong tsb, coba pikirkan secara jujur menurut timbangan Islam pantaskah si pembohong tsb didukung? Maaf….

  79. Orang-orang pengikut bid’ah bicaranya tanpa ilmu, tanpa dalil yang jelas, cuma asal ngomong.
    Intinya yang mereka bilang ga usah tanya dalil, klo ga mau ikut ya ga usah ikut..

    1. PUTRA@

      Wahabi/Wahabisme adalah ali bid’ah yg sesungguhnya, merasa benar tetapi terbukti kebenaran palsu, kasihan pengikutnya ya?

  80. @PUTRA

    Kelihatan ente ga bisa kasih komentar atau bantahan yang ilmiyah terhadap artikel diatas .
    ente cuma mau belokin permasalahan ke GUSDUR… kan ? he he he……. GAK NGARUH !
    apalagi cuma orang kaya ente yang maki” GUSDUR…………. he he he……
    Dunia barat , timur, utara, selatan tahu dan mengakui kalo GUSDUR adalah Presiden RI ke 4, dan dunia barat , timur, utara, selatan tahu kalo GUSDUR jadi seorang predien pada waktu itu karena salah satunya atas dukungan Amien Rais seorang intelektual, tokoh masyarakat dan tokoh Muhammadiyah.

    so …. ente kasih koment aja artikel diatas kalo ga bisa ngebantah ya udah direnungkan aja….
    gitu aja kok repot…

  81. Maaf, ralat….
    Ternyata Hana Albani bukan termasuk si pemilik nickname dan IP-Adress pembohong. Hanya mirip saja angkanya dan setelah kami teliti kembali ternyata beda. Mohon maaf yg sebesar-besarnya kepa Hana Albani atas khilaf kami, syukron….

    hana albani
    hana_albani@yahoo.co.id
    188.54.85.50

    osamah Al-Waunaug
    septi.maya61@yahoo.com
    118.96.186.50

    Angkanya mirip tapi ternyata beda, maaf ya akhi Hana Albani, syukron.

  82. Saudara-saudaraku yang aku cintai masalah bid’ah memang hal yang polemik sejak terjadinya perpecahan dalam islam…semua kelompok mengaku yang benar tapi sudahlah kita tinggalkan saja perdebatan yang kira2 tidak memberikan manfaat untuk kita, mulailah bermuhasabah pada diri kita untuk berlomba dalam kebaikan. Kita jaga shalat kita, berjama’ah, puasa kita, sedekah kita, sunnah2 nabi kita, sudahkah kita amalkan…? sosial kita, berbakti kepada orang tua, berkata dengan penuh lemah lembut, berakhlak karimah, menuntu ilmu, dst. Mari kita jaga persatuan dan kesatuan umat. Kalo ada masalah…diskusikan dgn baik. Ingat sesama muslim kita bersaudara…syukron.

  83. assalamu`alaikum…numpang ah…sukron katsiron atas blog nya dan juga perdebatan nya yang Hot,yang membuat lebih cerah pengajian ini,saya dari Bandung ..ingin menyatakan”SAYA TIDAK SUKA KEPADA ORANG2/USTAD2 YANG SUKA GAMPANG MMVONIS INI-ITU BID`AH,,DIKIT2 BID`AH APALAGI YANG ILMUNYA MASIH RECEHAN” HAPUNTEN HEHEHEH

  84. make sure you check Killafoe and Zanetic out because they are going to blow up bigger than anything after their EPs drop.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker