Salafi Wahabi

Koreksi Buat Ustadz Firanda Tentang Bid’ah Hasanah Syubhat Pertama

Koreksi Buat Ustadz Firanda Tentang Bid’ah Hasanah Syubhat Pertama. Koreksi ini sekaligus BANTAHAN UNTUK SYUBHAT PERTAMA yang ditulis Ustadz Firanda di blog Firanda.com … (Koreksi Bagian Awal).

Oleh: Abu Hilya

Bismillah,

Sanggahan kami berikut atas artikel Ust. Firanda yang berusaha keras menolak “Bid’ah Hasanan” tanpa ada upaya untuk men-Jami’-kan (meng-kompromikan) dua konsep Bid’ah yang sesungguhnya sangat jelas…

Sebelum kami sampaikan sanggahan kami atas artikel beliau, perlu kami ulangi sekali lagi “Konsep Bid’ah” sebagaimana yang pernah kami posting dalam comment kami dengan judul KOMPROMI PEMAHAMAN DEMI MENGHIDARI FITNAH PERPECAHAN, sungguh disana telah kami sampaikan Jami’ (titik temu) antara Makna Bid’ah dengan pendekatan Bahasa dengan Makna Bid’ah dengan pendekatan Istilahi (Terminologi)… diantaranya adalah :

Jami’ (Titik persamaan) dari dua definisi diatas adalah :

Madzhab Hanabilah : “Yang dikehendaki dengan bid’ah adalah perkara yang diadakan yang sama sekali tidak memiliki asal (dalil) dalam syari’at yang menunjukkan atas (kebolehan)nya.”

Madzhab Syafi’iyyah : “sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat).”

Sedang perbedaan yang sebenarnya tidak substantif terletak pada :

Madzhab Syafi’iyyah menyebut Bid’ah Hasanah/Mahmudah (Bid’ah yang baik/terpuji), pada perkara baru yang memiliki landasan hukum syar’i, sedang madzhab Hanabilah tidak menyebutnya sebagai Bid’ah. Jadi hanya perbedaan penyebutan semata yang tidak substantif dan tidak semestinya menjadikan perpecahan, sebagaimana pernyataan Ibnul ‘Arobi yang dituturkan oleh Sayyid Abdulloh Al Ghimmari dalam kitabnya Itqonus Shun’ah sbb:

وقال ابن العربي: “ليست البدعة والمحدث مذمومين للفظ بدعة ومحدث ولا معناهما، وإنما يذم من البدعة ما خالف السنة، ويذم من المحدثات ما دعا إلى الضلالة” اهـ.

Ibnul ‘Arobi berkata : ”Bid’ah dan Muhdatsah tidaklah tercela karena lafadz dan maknanya, sesungguhnya sesuatu yang dicela dari bid’ah adalah yang menyalahi sunnah, dan sesuatu yang dicela dari Muhdatsah adalah yang mendorong pada kesesatan.” (Itqonus Shun’ah Fi Tahqiqi Ma’nal Bid’ah)

Sungguh pandangan yang elok dari hasil kajian yang mendalam untuk diketahui semua kalangan dalam rangka mengkompromikan dua ta’rif (definisi) yang berbeda, demi menghindari perpecahan ummat dalam mensikapi perbedaan. Yang pasti pendapat tersebut tidaklah menyimpang dari dalil-dalil syara’ tanpa adanya interpretasi yang salah maupun tambahan atau pengurangan yang tidak dibenarkan.

Akan tetapi sangat disayangkan, sebagian orang yang dikaruniai Alloh ilmu justru berusaha mempertajam perbedaan yang sesungguhnya tidaklah substansial, dan berikut diantara tulisan Ust. Firanda dalam menolak “Bid’ah Hasanah”.

Ustadz Firanda Berkata :

Syubhat pertama :

Mereka berdalil dengan perkataan beberapa ulama yang mengesankan dukungan terhadap adanya bid’ah hasanah.
Diantaranya adalah perkataan Imam As-Syafi’i dan perkatan Al-Izz bin Abdissalam rahimahumallah.

Adapun perkataan Imam As-Syafi’i maka sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dengan sanad beliau hingga Harmalah bin Yahya

ثَنَا حَرْمَلَة بْنُ يَحْيَى قَالَ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِي يَقُوْلُ : البِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُومٌ، وَاحْتَجَّ بِقَوْلِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ : نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هِيَ

Dari Harmalah bin Yahya berkata, “Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela, maka bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji dan bid’ah yang menyelisihi sunnah adalah bid’ah yang tercela”, dan Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottob tentang sholat tarawih di bulan Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” (Hilyatul Auliya’ 9/113)

Sebelum menjelaskan maksud dari perkataan Imam As-Syafii ini apalah baiknya jika kita menelaah definisi bid’ah menurut beberapa ulama, sebagaiamana berikut ini:

Definisi bid’ah menurut para ulama

Imam Al-‘Iz bin ‘Abdissalam berkata :

هِيَ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ الرَّسُوْلِ

((Bid’ah adalah mengerjakan perkara yang tidak ada di masa Rasulullah)) (Qowa’idul Ahkam 2/172)

Imam An-Nawawi berkata :

هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ

((Bid’ah adalah mengada-ngadakan sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah)) (Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22)

Imam Al-‘Aini berkata :

هِيَ مَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَصْلٌ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَقِيْلَ: إِظْهَارُ شَيْءٍ لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ وَلاَ فِي زَمَنِ الصَّحَابَةِ

((Bid’ah adalah perkara yang tidak ada asalnya dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dan dikatakan juga (bid’ah adalah) menampakkan sesuatu yang tidak ada pada masa Rasulullah dan tidak ada juga di masa para sahabat)) (Umdatul Qori’ 25/37)

Ibnu ‘Asaakir berkata :

مَا ابْتُدِعَ وَأُحْدِثَ مِنَ الأُمُوْرِ حَسَناً كَانَ أَوْ قَبِيْحً

((Bid’ah adalah perkara-perkara yang baru dan diada-adakan baik yang baik maupun yang tercela)) (Tabyiinu kadzibil muftari hal 97)

Al-Fairuz Abadi berkata :

الحَدَثُ فِي الدَّيْنِ بَعْدَ الإِكْمَالِ، وَقِيْلَ : مَا استَحْدَثَ بَعْدَهُ مِنَ الأَهْوَاءِ وَالأَعْمَالِ

((Bid’ah adalah perkara yang baru dalam agama setelah sempurnanya, dan dikatakan juga : apa yang diada-adakan sepeninggal Nabi berupa hawa nafsu dan amalan)) (Basoir dzawi At-Tamyiiz 2/231)

Dari defenisi-defenisi di atas maka secara umum dapat kita simpulkan bahwa bid’ah adalah segala perkara yang terjadi setelah Nabi, sama saja apakah perkara tersebut terpuji ataupun tercela dan sama saja apakah perkara tersebut suatu ibadah maupun perkara adat.

Karena keumuman ini maka kita dapati sekelompok ulama yang membagi hukum bid’ah menjadi dua yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, bahkan ada yang membagi bid’ah sesuai dengan hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah), sebagaimana pembagian bid’ah menurut Al-‘Iz bin Abdissalam yang mengklasifikasikan bid’ah menjadi lima (wajib, mustahab, haram, makruh, dan mubah), beliau berkata,
“Bid’ah terbagi menjadi bid’ah yang wajib, bid’ah yang haram, bid’ah yang mandub (mustahab), bid’ah yang makruh, dan bid’ah yang mubah. Cara untuk mengetahui hal ini yaitu kita hadapkan bid’ah tersebut dengan kaidah-kaidah syari’at, jika bid’ah tersebut masuk dalam kaidah-kaidah pewajiban maka bid’ah tersebut wajib, jika termasuk dalam kaidah-kaidah pengharaman maka bid’ah tersebut haram, jika termasuk dalam kaidah-kaidah mustahab maka hukumnya mustahab, dan jika masuk dalam kaidah-kaidah mubah maka bid’ah tersebut mubah. Ada beberapa contoh bid’ah yang wajib, yang pertama berkecimpung dengan ilmu nahwu yang dengan ilmu tersebut dipahami perkataan Allah dan perkataan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini hukumnya wajib karena menjaga syari’at hukumnya wajib dan tidak mungkin menjaga syari’at kecuali dengan mengenal ilmu nahwu, dan jika suatu perkara yang wajib tidak sempurna kecuali dengan perkara yang lain maka perkara yang lain tersebut hukumnya wajib. Contoh yang kedua adalah menjaga kata-kata yang ghorib (asing maknanya karena sedikit penggunaannya dalam kalimat) dalam Al-Qur’an dan hadits, contoh yang ketiga yaitu penulisan ushul fiqh, contoh yang keempat pembicaraan tentang al-jarh wa at-ta’dil untuk membedakan antara hadits yang shahih dengan hadits yang lemah. Kaidah-kaidah syari’at menunjukan bahwa menjaga syari’at hukumnya fardlu kifayah pada perkara-perakra yang lebih dari ukuran yang ditentukan dan tidaklah mungkin penjagaan syari’at kecuali dengan apa yang telah kami sebutkan (di atas).”

Ada beberapa contoh bid’ah yang haram, diantaranya madzhab Qodariyah, madzhab Al-Jabariah, madzhab Al-Murji’ah, dan membantah mereka termasuk bid’ah yang wajib.

Ada beberapa contoh bid’ah yang mustahab diantaranya pembuatan Ar-Robt dan sekolah-sekolah, pembangunan jembatan-jembatan, dan setiap hal-hal yang baik yang tidak terdapat pada masa generasi awal, diantaranya juga sholat tarawih, pembicaraan pelik-pelik tasowwuf (sejenis mau’idzoh yang sudah ma’ruf), perdebatan di tengah keramaian orang banyak dalam rangka untuk beristidlal tentang beberapa permasalahan jika dimaksudkan dengan hal itu wajah Allah. Contoh-contoh bid’ah yang makruh diantaranya menghiasi masjid-masjid, menghiasi mushaf (Al-Qur’an), adapun melagukan Al-Qur’an hingga berubah lafal-lafalnya dari bahasa Arab maka yang benar ia termasuk bid’ah yang haram.

Contoh-contoh bid’ah yang mubah diantaranya berjabat tangan setelah sholat subuh dan sholat ashar, berluas-luas dalam makanan dan minuman yang lezat, demikian juga pakaian dan tempat tinggal, memakai at-thoyaalisah (sejenis pakaian yang indah/mahal) dan meluaskan pergelangan baju. Terkadang beberapa perkara diperselisihkan (oleh para ulama) sehingga sebagian ulama memasukannya dalam bid’ah yang makruh dan sebagian ulama yang lain memasukannya termasuk sunnah sunnah yang dilakukan pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sepeninggal beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini seperti beristi’adzah dalam sholat dan mengucapkan basmalah.” (Qowa’idul ahkam 2/173-174)

Catatan Kami :

BACA :  INI DAFTAR SEBAGIAN USTADZ SALAFI WAHABI DI INDONESIA

Sampai disini kita mendapati kejujuran sang ustadz dalam menyampaikan dua model pendekatan tentang makna bid’ah. Yang perlu kita garis bawahi dalam paparan beliau diatas adalah :

1. ketika beliau menyampaikan konsep Bid’ah oleh Al Imam ‘Izz bin Abdis salam berikut contoh-contohnya, hal ini penting untuk mengetahui konsistensi beliau sang ustadz dalam paparan selanjutnya.

2. Mengapa beliau tidak langsung menjelaskan maksud dari perkataan Imam Syafi’iy diatas ? Jawabannya akan kita dapati pada paparan selanjutnya… Insya Alloh…

Ustadz Firanda Berkata :

Ada 3 hal penting berkaitan dengan pengklasifikasian ini:

Pertama : Jika kita perhatikan perkataan Al-‘Iz bin Abdissalam secara lengkap dengan memperhatikan contoh-contoh penerapan dari pengklasifikasiannya terhadap bid’ah maka sangatlah jelas maksud beliau adalah pengklasifikasian bid’ah menurut bahasa, karena contoh-contoh yang beliau sebutkan dalam bid’ah yang wajib maka contoh-contoh tersebut adalah perkara-perkara yang termasuk dalam al-maslahah al-mursalah (yaitu perkara-perkara yang beliau contohkan yang berkaitan dengan bid’ah wajib) bahkan beliau dengan jelas menyatakan bahwa syari’at tidak mungkin dijalankan kecuali dengan bid’ah yang wajib tersebut.

As-Syathibi berkata “Sesungguhnya Ibnu Abdissalam yang nampak darinya ia menamakan maslahah mursalah dengan bid’ah karena perkara-perkara maslahah mursalah secara dzatnya tidak terdapat dalam nas-nas yang khusus tentang dzat-dzat mashlahah mursalah tersebut meskipun sesuai dengan kaidah-kaidah syari’at…dan ia termasuk para ulama yang berpendapat dengan mashlahah mursalah, hanya saja ia menamakannya bid’ah sebagaimana Umar menamakan sholat tarawih bid’ah” (Al-I’tishom 1/192)

Demikian juga bid’ah yang mustahab, berkaitan dengan wasilah dalam menegakkan agama. Sholat tarawih adalah termasuk perbuatan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan sholat tarawih secara berjama’ah bersama para sahabatnya beberapa malam. Dan pada tahun yang lain Nabi meninggalkan tarawih karena dikawatirkan akan diwajibkan karena tatkala itu masih zaman diturunkannya wahyu (ta’syri’). Hal ini menunjukan pada asalnya Nabi sholat malam bersama para sahabatnya dan di waktu yang lain beliau meninggalkannya karena kekawatiran akan diwajibkan. Namun kekawatiran ini tidak terdapat lagi di zaman Abu Bakar dan Umar. Hanya saja Abu akar tidak melaksanakan sholat tarawih karena ada dua kemungkinan, yang pertama karena mungkin saja ia memandang bahwa sholat orang-orang di akhir malam dengan keadaan mereka masing-masing lebih baik dari pada sholat di awal malam dengan mengumpulkan mereka pada satu imam (hal ini sebagaimana disebutkan oleh At-Thurtusi), atau karena kesibukan beliau mengurus negara terutama dengan munculnya orang-orang yang murtad sehingga beliau harus memerangi mereka yang hal ini menyebabkan beliau tidak sempat mengurusi sholat tarawih. (lihat Al-I’tishom 2/194)

Demikian contoh-contoh lain dari bid’ah mustahab (hasanah) yang disampaikan oleh beliau diantaranya : pembangunan sekolah-sekolah merupakan sarana untuk menuntut ilmu, dan pembicaraan tentang pelik-pelik tasawwuf yang terpuji adalah termasuk bab mau’izhoh (nasehat) yang telah dikenal.

Kedua : Dalam contoh-contoh bid’ah yang disyari’atkan (baik bid’ah yang wajib maupun bid’ah yang mustahab) sama sekali beliau tidak menyebutkan bid’ah-bid’ah yang dikerjakan oleh para pelaku bid’ah (Seperti sholat rogoib, maulid Nabi, peringatan isroo mi’rooj, tahlilan, dan lain-lain) dengan dalih bahwa bid’ah tersebut adalah bid’ah hasanah, bahkan beliau dikenal dengan seorang yang memerangi bid’ah.

Ketiga : Beliau dikenal dengan orang yang keras membantah bid’ah-bid’ah yang disebut-sebut sebagai bid’ah hasanah.

Berkata Abu Syamah (salah seorang murid Al-‘Iz bin Abdissalam),

“Beliau (Al-‘Iz bin Abdissalam) adalah orang yang paling berhak untuk berkhutbah dan menjadi imam, beliau menghilangkan banyak bid’ah yang dilakukan oleh para khatib seperti menancapkan pedang di atas mimbar dan yang lainnya. Beliau juga membantah sholat rogoib dan sholat nishfu sya’ban dan melarang kedua sholat tersebut” (Tobaqoot Asy-Syafi’iah al-Kubro karya As-Subki 8/210, pada biografi Al-‘Iz bin Abdissalam)

Beliau ditanya : Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar hukumnya mustahab atau tidak? Doa setelah salam dari seluruh sholat mustahab bagi imam atau tidak? Jika engkau berkata hukumnya mustahab maka (tatkala berdoa) sang imam balik mengahadap para makmum dan membelakangi kiblat atau tetap menghadap kiblat?…

Jawab : Berjabat tangan setelah sholat subuh dan ashar termasuk bid’ah kecuali bagi orang yang baru datang dan bertemu dengan orang yang dia berjabat tangan dengannya sebelum sholat, karena berjabat tangan disyari’atkan tatkala datang.

Setelah sholat Nabi berdzikir dengan dzikir-dzikir yang disyari’atkan dan beristighfar tiga kali kemudian beliau berpaling (pergi)… dan kebaikan seluruhnya pada mengikuti Nabi. Imam As-Syafi’i suka agar imam berpaling setelah salam. Dan tidak disunnahkan mengangkat tangan tatkala qunut sebagaimana tidak disyari’atkan mengangkat tangan tatkala berdoa di saat membaca surat al-Fatihah dan juga tatkala doa diantara dua sujud…

Dan tidaklah mengusap wajah setelah doa kecuai orang jahil. Dan tidaklah sah bersholawat kepada Nabi tatkala qunut, dan tidak semestinya ditambah sedikitpun atau dikurangi atas apa yang dikerjakan Rasulullah tatkala qunut” (Kittab Al-Fataawaa karya Imam Al-‘Izz bin Abdis Salaam hal 46-47, kitabnya bisa didownload di http://majles.alukah.net/showthread.php?t=39664)

Beliau juga menyatakan bahwa mengirim bacaan qur’an kepada mayat tidaklah sampai (lihat kitab fataawaa beliau hal 96). Beliau juga menyatakan bahwasanya mentalqin mayat setelah dikubur merupakan bid’ah (lihat kitab fataawaa beliau hal 96)

Sanggahan Kami

Disini mulai kita dapati ketidak obyektif-an pandangan beliau…. anda perhatikan dengan cermat pada point kedua yang beliau sampaikan… setelah dengan tegas beliau menyatakan bahwa Al Imam Al ‘Izz bin Abdis Salam tidak menyebut Seperti sholat rogoib, maulid Nabi, peringatan isroo mi’rooj, tahlilan, dan lain-lain sebagai bid’ah Hasanah, selanjutnya dengan cerdik beliau berupaya mengarahkan pemahaman para pembaca bahwa perkara-perkara tersebut sebagai Bid’ah Yang Diperangi oleh Al Imam Al ‘Izz bin Abdis salam… Dapatkah beliau membuktikan bahwa Imam Al ‘Izz bin Abdis Salam memerangi Maulid ?

lihat pernyataan Abu Syamah (murid Al Imam Al ‘Izz) tentang maulid :

وَمِنْ أَحْسَنِ مَا اُبْتُدِعَ فِي زَمَانِنَا مِنْ هَذَا الْقَبِيْلِ مَا كَانَ يَفْعَلُ بِمَدِيْنَةِ اِرْبِلَ -جَبَّرَهَا اللهُ تَعَالَى- كُلَّ عَامٍ فِي الْيَوْمِ الْمُوَافِقِ لِيَوْمِ مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الصَّدَقَاتِ وَالْمَعْرُوْفِ وَاِظْهَارِ الزِّيْنَةِ وَالسُّرُوْرِ فَاِنَّ ذَلِكَ مَعَ مَا فِيْهِ مِنَ الْاِحْسَانِ اِلَى الْفُقَرَاءِ مُشْعِرٌ بِمَحَبَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَعْظِيْمِهِ وَجَلَالَتِهِ فِي قَلْبِ فَاعِلِهِ وَشُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى مَا مَنَّ بِهِ مِنْ اِيْجَادِ رَسُوْلِهِ الَّذِي أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى جَمِيْعِ الْمُرْسَلِيْنَ

Dan diantara hal-hal terbaik yang dibuat di zaman kita dari sisi ini adalah apa yang dilakukan dikota Irbil –semoga Alloh menutup kekurangannya- dimana dalam setiap tahun pada hari yang bertepatan dengan hadi kelahiran Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, berupa (tradisi) sodaqoh, melakukan perkara ma’ruf, menampakkan perhiasan dan kebahagiaan (menghias kota) dan juga santunan kepada para faqir, yang kesemuanya menunjukkan kecintaan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, mengagungkan dan memuliakan beliau, yang ada dalam setiap hati pelakunya, sekaligus sebagai ungkapan syukur kepada Alloh atas anugrah yang telah dikaruniakan berupa diciptakannya rosul-Nya dan diutus sebagai rohmat seluruh alam -shollallohu ‘alaihi wasallam wa ‘alaa jamii’il mursaliin- (Al Baa’its fi Inkaril Bida’ Wal Hawaadits, vol. 1, hal. 23)

banner gif 160 600 b - Koreksi Buat Ustadz Firanda Tentang Bid'ah Hasanah Syubhat Pertama

Dari satu bukti tersebut dapat kita katakan bahwa : Dengan sadar atau tidak Sang Ustadz telah melakukan Tadlis (pengkaburan) maksud dari kosep bid’ah oleh Al Imam Al ‘Izz bin Abdis Salam untuk menyerang apa-apa yang beliau anggap sebagai Bid’ah sesat. Masih layakkah kita menganggap pernyataan-pernyataan sang Ustadz ?…

Selanjutnya tentang sholat Roghoib, Nishfu Sya’ban dst…

BACA :  Kaidah Wahabi yang Terus Digembar-gemborkan di Tengah Muslimin

Sebagaimana yang pernah kami sampaikan, pada amaliyah-amaliyah yang bersandar pada hadits-hadits dho’if terdapat khilafiyah para Ulama dalam mensikapinya berkaitan dengan beberapa hal :

Pertama : Berkaitan dengan penilaian para Ulama tentang status atau derajat sebuah hadits

Kedua : Berkaitan dengan penerimaan hadits-hadits dho’if sepanjang tidak sangat dho’if (Munkar, Maudhu’ dst..). dalam hal ini terdapat tiga sikap dari para ahli hadits.

1. Menolak secara mutlak (meskipun dalam fadhoilul a’maal), pendapat ini didukung oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, Yahya Ibn Ma’in dll.
2. Menerima secara mutlak (baik dalam hukum maupun fadho’ilul a’maal) dengan catatan ketika tidak ditemukan hadits lain yang shohih yang menerangkan. Mereka berargument bahwa bersandar pada hadits dho’if lebih baik dari pada bersandar pada akal. Imam As Suyuthi menyatakan bahwa pendapat ini dinisbatkan sebagai pendapat Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad
3. Menerima hanya dalam Fadho’ilul A’maal, Targhib, Tarhib, dan bukan dalam masalah hukum dan Aqidah dengan beberapa catatan. Pendapat ini dinyatakan sebagai pendapat Jumhur, diantaranya Imam An Nawawi dalam Taqrib-nya, Al ‘Iroqi dalam Alfiyah-nya, Al ‘Asqolani dalam Syarah An Nukhbah, Zakariya Al Anshori dalam Syarah Alfiyah, As Suyuthi dalam At Tadrib, Ibnu Hajar Al Haitami dalam Syarah Arba’in, Al Laknawi dalam Al Ajwibah Al fadhilah… dll

Kami yakin dalam masalah ini Sang Ustadz lebih tahu, sehingga perlu kami katakan: mempertajam perbedaan dalam masalah-masalah ini (sholat Roghoib, Nishfu Sya’ban) hanya akan berujung pada perpecahan… inikah yang beliau kehendaki ?…

Tentang Mushofahah (berjabat tangan) setelah sholat :

Dalam fatwa yang dikutip oleh beliau (Sang Ustadz) Imam Al ‘Izz mengkategorikan sebagai Bid’ah tanpa menjelaskan status hukumnya, akan tetapi sang Ustadz membawanya pada Bid’ah dalam pandangan beliau… bukankah sebagaimana telah beliau sampaikan diatas bahwa “Bid’ah” dalam konsep Al Imam Al ‘Izz terbagi dalam lima hukum ? lantas atas dasar apa beliau mengkategorikan Mushofaha (berjabat tangan) setelah sholat adalah Bid’ah yang terlarang ?

Ketahuilah mushofahah (berjabat tangan) setelah sholat bukanlah bagian dari pelaksanaan sholat atau perkara yang disunnahkan setelah sholat, dan tidak kami ketahui ada ulama kami yang mensunnahkan berjabat tangan sebagai kesunnahah setelah sholat…. Sunnahnya berjabat tangan disebabkan adanya Talaaqi (pertemuan) antara dua insan muslim. Berikut pernyataan Ibnu Hajar Al Haitami ketika ditanya tentang berjabat tangan setelah pengajaran dan yang lain :

وَسُئِلْت ما حُكْمُ الْمُصَافَحَةِ بَعْدَ التَّدْرِيسِ وفي لَيَالِي رَمَضَانَ بَعْدَ الدُّعَاءِ عَقِبَ الْوِتْرِ وَالتَّرَاوِيحِ وَكَذَلِكَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِيدِ وما الْأَرْحَامُ وَكَيْفَ كَيْفِيَّةُ صِلَتِهِمْ فَأَجَبْت بِقَوْلِي الذي دَلَّتْ عليه صَرَائِحُ السُّنَّةِ وَصَرَّحَ بِهِ النَّوَوِيُّ وَغَيْرُهُ أَنَّهُ حَيْثُ وُجِدَ تَلَاقٍ بين اثْنَيْنِ سُنَّ لِكُلٍّ مِنْهُمَا أَنْ يُصَافِحَ الْآخَرَ وَحَيْثُ لم يُوجَدْ ذلك بِأَنْ ضَمَّهُمَا نَحْوُ مَجْلِسٍ ولم يَتَفَرَّقَا لَا تُسَنُّ سَوَاءٌ في ذلك الْمُصَافَحَةِ التي تُفْعَلُ عَقِبَ الصَّلَاةِ وَلَوْ يوم الْعِيدِ أو الدَّرْسِ أو غَيْرِهِمَا بَلْ مَتَى وُجِدَ مِنْهُمَا تَلَاقٍ وَلَوْ بِحَيْلُولَةِ شَيْءٍ بين اثْنَيْنِ بِحَيْثُ يَقْطَعُ أَحَدُهُمَا عن الْآخَرِ سُنَّتْ وَإِلَّا لم تُسَنَّ

Aku ditanya tentang : Apa hukum berjabat tangan seusai proses belajar mengajar dan juga pada malam-malam Romadhon setelah do’a witir dan tarowih, begitu juga setelah selesai sholat ‘Id. Dan Apa (Siapa) yang dimaksud Al Arham serta bagaimana cara Bersilaturrahmi kepada mereka ?

Aku Jawab : Perkara (landasan) yang menjadi dalil akan hal itu adalah Sunnah-sunnah yang shorih. An Nawawi dan yang lain menjelaskan hal itu : Bahwasannya ketika didapati Talaaqi (pertemuan) antara dua orang, maka disunnahkan bagi masing-masing keduanya untuk menjabat tangan yang lain, jika tidak didapati Talaaqi (Pertemuan), seperti dua orang yang telah berkumpul dalam satu majlis dan keduanya belum pernah saling berpisah, maka tidak disunnahkan berjabat tangan. Sunnah dan tidak Sunnahnya berjabat tangan tersebut baik ketika selesai sholat meskipun sholat ‘Id, atau seusai belajar mengajar, atau yang lain. Bahkan manakala didapati Talaqi (pertemuan) antara dua orang -meski hanya tercegah oleh sesuatu (terpisah sesaat)- seperti salah satu dari keduanya sempat terputus dari yang lain, maka disunnahkan berjabat tangan, jika tidak maka tidak disunnahkan. (Al Fataawa Al Fiqhiyah, vol. 4, hlm. 245)

Selanjutnya kita ikuti paparan beliau :

Ustadz Firanda Berkata :

Pengklasifikasian bid’ah menjadi bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah juga diikuti oleh Imam An-Nawawi, beliau berkata, “Dan bid’ah terbagi menjadi bid’ah yang jelek dan bid’ah hasanah”, kemudian beliau menukil perkataan Al-‘Iz bin Abdissalam dan perkataan Imam Asy-Syafi’i di atas (lihat Tahdzibul Asma’ wal lugoot 3/22-23).

Kembali pada perkataan Imam Asy-Syafi’i :

Dari Harmalah bin Yahya berkata, “Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela, maka bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji dan bid’ah yang menyelisihi sunnah adalah bid’ah yang tercela”, dan Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottob tentang sholat tarawih di bulan Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” (Hilyatul Auliya’ 9/113)

Ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan perkataan Imam As-Syafi’i ini :

Pertama : Sangatlah jelas bahwasanya maksud Imam As-Syafii adalah pengklasifikasian bid’ah ditinjau dari sisi bahasa. Oleh karenanya beliau berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottoob :”Sebaik-baik bid’ah adalah ini (yaitu sholat tarawih berjamaah)”. Padahal telah diketahui bersama –sebagaimana telah lalu penjelasannya- bahwasanya sholat tarwih berjamaah pernah dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kedua : Kita menafsirkan perkataan Imam As-Syafi’i ini dengan perkataannya yang lain sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Tahdziib Al-Asmaa’ wa Al-Lughoot (3/23)

“Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah yang menyelisihi Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela”(lihat juga manaqib As-Syafi’i 1/469)

Lihatlah Imam As-Syafi’i menyebutkan bahwa bid’ah yang hasanah sama sekali tidak seorang ulama pun yang menyelisihi. Jadi seakan-akan Imam Asy-Syafi’i menghendaki dengan bid’ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid’ah jika ditinjau dari sisi bahasa.

Berkata Ibnu Rojab, “Adapun maksud dari Imam Asy-Syafi’i adalah sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwasanya pokok dari bid’ah yang tercela adalah perkara yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syari’ah yang bisa dijadikan landasan, dan inilah bid’ah yang dimaksudkan dalam definisi syar’i (terminology). Adapun bid’ah yang terpuji adalah perkara-perkara yang sesuai dengan sunnah yaitu yang ada dasarnya dari sunnah yang bisa dijadikan landasan dan ini adalah definisi bid’ah menurut bahasa bukan secara terminology karena ia sesuai dengan sunnah” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 267)

Ketiga : Oleh karena itu tidak kita dapati Imam Asy-Syafii berpendapat dengan suatu bid’ahpun dari bid’ah-bid’ah yang tersebar sekarang ini dengan dalih hal itu adalah bid’ah hasanah. Karena memang maksud beliau dengan bid’ah hasanah bukanlah sebagaimana yang dipahami oleh para pelaku bid’ah zaman sekarang ini.

Sanggahan Kami

Dari sini kita dapat memahami kecerdikan Sang Ustadz tidak menjelaskan langsung maksud pernyataan Imam As Syafi’iy tentang pembagian Bid’ah sebagaimana menjadi catatan kami diatas.

Pertama : Yang pasti Beliau menjelaskan maksud pernyataan imam As Syafi’iy setelah sebelumnya beliau mencoba mengarahkan para pembaca pada Konsep Bid’ah versi beliau. Keuntungan dari komunikasi model ini adalah :

– Telah tertanam dalam otak bawah sadar para pembaca Konsep Bid’ah yang beliau kehendaki.
– Memudahkan beliau dalam mengarahkan para pembaca untuk memahami konsep Bid’ah Imam As Syafi’i sesuai keinginan beliau, dan itu terbukti dengan pernyataan beliau :

Lihatlah Imam As-Syafi’i menyebutkan bahwa bid’ah yang hasanah sama sekali tidak seorang ulama pun yang menyelisihi. Jadi seakan-akan Imam Asy-Syafi’i menghendaki dengan bid’ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid’ah jika ditinjau dari sisi bahasa.

Atas dasar apa beliau menyimpulkan bahwa yang dimaksud Imam As Syafi’iy sebagai Bid’ah Hasanah hanya terbatas pada “Al Masholihul Mursalah” ? Bukankah sebagaimana yang beliau ketahui bahwa yang menjadi sandaran Imam Syafi’iy dalam konsep “Bid’ah Hasanah” adalah pernyataan Sayyidina Umar tentang Sholat tarowih ? adakah Sholat Tarowih masuk dalam wilayah “Al Masholihul Mursalah” ?

BACA :  Masuk Neraka Gara-gara Maulid Nabi Muhammad Saw ?

Selanjutnya, Jika Imam As Syafi’iy dan para Ulama Syafi’iyyah mengkategorikan kebaikan yang tidak menyelisihi dasar-dasar agama sebagai “Bid’ah Hasanah” berdasar pernyataan Sayyidina Umar, lantas adakah istilah “Al Masholihul Mursalah” memiliki sandaran hadits atau pernyataan seorang sahabat ?

Kami tidak mengingkari istilah “Al Mashlahah Al Mursalah” dalam pengertian Imam As Syathibi dan para Ulama Malikiyah lainnya, akan tetapi mencampur adukkan “Bid’ah Hasanah” dalam versi Imam As Syafi’iy dan para Ulama Syafi’iyyah dengan “Al Masholihul Mursalah” versi Imam As Syathibi dan para ulama Malikiyyah adalah pembodohan dan atau kebodohan. Berikut sepintas penjelasannya :

Para ulama yang memaknai Bid’ah dengan pendekatan Istilahi (terminologi) tidak menyebut Ibadah yang memiliki landasan hukum Syar’iy sebagai Bid’ah, meskipun hal itu belum ada pada masa Rosululloh dan para sahabat. Hal ini dapat anda buktikan dalam pandangan Imam Malik dalam pelaksanaan sholat Tarowih hingga 36 rokaat (Fathul Bari, vol.4, hlm. 253), bersuci dan berdandan ketika hendak menyampaikan sebuah hadits.. dll. Konsekwensi dari pemahaman Bid’ah dengan pendekatan terminologi ini adalah :

– Tidak menyebut Bid’ah pada Ibadah yang memiliki landasan hukum Syar’iy, meskipun tidak ada contoh sebelumnya.
– Bid’ah Hanya berlaku dalam urusan agama.
– Untuk kebaikan dalam urusan dunia mereka memasukkannya dalam kategori “Al Masholihul Mursalah” atau kaedah “Hukum Wasilah Mengikuti Tujuannya”

Sedangkan Imam As Syafi’iy dan para ulama Syafi’iyyah memahami Bid’ah dengan pendekatan bahasa, sehingga perkara baru baik Ibadah atau Urusan dunia yang tidak menyelisihi dasar-dasar agama disebut “Bid’ah Hasanah”. Adapun yang menyelisihi dasar-dasar agama disebut “Bid’ah Madzmumah”.

Berikutnya Ustadz Firanda Berkata :

Diantara amalan-amalan yang dianggap bid’ah hasanah yang tersebar di masyarakat namun diingkari Imam As-Syafii adalah :

– Acara mengirim pahala buat mayat yang disajikan dalam bentuk acara tahlilan.

Bahkan masyhuur dari madzhab Imam Asy-Syafii bahwasanya beliau memandang tidak sampainya pengiriman pahala baca qur’an bagi mayat. Imam An-Nawawi berkata:

ولا تعريج عليه وأما الصلاة والصوم فمذهب الشافعى وجماهير العلماء أنه لا يصل ثوابهما إلى الميت الا اذا كان الصوم واجبا على الميت فقضاه عنه وليه أو من أذن له الولي فان فيه قولين للشافعى أشهرهما عنه أنه لا يصح وأصحهما عند محققى متأخرى أصحابه أنه يصح وستأتى المسألة فى كتاب الصيام ان شاء الله تعالى وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابه يصل ثوابها إلى الميت وذهب جماعات من العلماء

“Dan adapun sholat dan puasa maka madzhab As-Syafi’i dan mayoritas ulama adalah tidak sampainya pahalanya kepada si mayat…adapun qiroah (membaca) Al-Qur’aan maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi’I adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat…” (Al-Minhaaj syarh shahih Muslim 1/90)

Sanggahan Kami

Redaksi Syarah muslim yang beliau bawakan berbentuk scann, akan tetapi demi mengirit page kami salin dalam bentuk tulisan tanpa penambahan atau pengurangan, anda bisa cosschek langsung web beliau…

Pertama : Kita dapati kecerdikan beliau dengan pernyataan; “diingkari Imam As Syafi’iy” dalam hal-hal berikut :

Ma’tam

Imam As Syafi’iy tidak menggunakan kalimat “Aku Mengingkari” akan tetapi beliau menggunakan kalimat “Wa Akrohu” (dan aku tidak menyukai/membenci) Ma’tam. Pernyataan Imam As Syafi’iy dalam Al Um Sebagaimana yang pernah kami sampaikan.
Dalam kalangan ahli ilmu dua kalimat tersebut jelas memiliki konotasi yang berbeda… disini kita dapati beliau melakukan Tahrif (Perubahan).
Selanjutnya yang dibenci Imam As Syafi’iy dalam tradisi “Ma’tam” adalah berkumpul untuk jamuan (makan-makan) di kediaman keluarga si mati, tanpa menyebutkan adanya tahlil atau do’a yang ada dalam acara tersebut. Lantas darimana beliau berani menyatakan Tahlilan adalah perkara yang dimaksud Imam As Syafi’iy ?

Tentang sampainya pahala bacaan al qur’an :

Disini kita dapati ketidak-obyektifan beliau dalam menukuil Syarah Muslim-nya Imam An Nawawi :

– Antara redaksi yang beliau sampaikan dan potongan terjemahnya… silahkan dinilai sendiri, apa akibatnya bagi kaum awam …?
– Perhatikan Qodhiyah yang beliau sampaikan dan bandingkan dengan Qhodhiyah yang lebih utuh berikut!

وَأَمَّا مَا حَكَاهُ أَقْضَى الْقُضَّاةِ أَبُو الْحَسَنِ اَلْمَاوَرْدِى اَلْبَصْرِى اَلْفَقِيْهُ اَلشَّافِعِيّ فِى كِتَابِهِ اَلْحَاوِى عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ الْكَلاَمِ مِنْ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَلْحَقُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ ثَوَابٌ فَهُوَ مَذْهَبٌ بَاطِلٌ قَطْعًا وَخَطَأٌ بَيِّنٌ مُخَالِفٌ لِنُصُوْصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَاِجْمَاعِ الْاُمَّةِ فَلاَ اِلْتِفَاتَ إِلَيْهِ وَلَاتَعْرِيْجَ عَلَيْهِ وَأَمَّا الصَّلاَةُ وَالصَّوْمُ فَمَذْهَبُ الشَّافِعِى وَجَمَاهِيْرُ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ لَايَصِلُ ثَوَابُهُمَا إِلَى الْمَيِّتِ اِلاَّ اِذَا كَانَ الصَّوْمُ وَاجِبًا عَلَى الْمَيِّتِ فَقَضَاهُ عَنْهُ وَلِيُّهُ أَوْ مَنْ أَذِنَ لَهُ الْوَلِيُّ فَاِنَّ فِيْهِ قَوْلَيْنِ لِلشَّافِعِى أَشْهَرُهُمَا عَنْهُ أَنَّهُ لاَيَصِحُّ وَأَصَحُّهُمَا عِنْدَ مُحَقِّقِى مُتَأَخِّرِى أَصْحَابِهِ أَنَّهُ يَصِحُّ وَسَتَأْتِى الْمَسْأَلَةُ فِى كِتَابِ الصِّيَامِ اِنْ شَاءَ اللهُ تَعاَلَى وَأَمَّا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فَالْمَشْهُوْرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِى أَنَّهُ لَايَصِلُ ثَوَابُهَا إِلَى الْمَيِّتِ وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ يَصِلُ ثَوَابُهَا إِلَى الْمَيِّتِ وَذَهَبَ جَمَاعَاتٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّهُ يَصِلُ إِلَى الْمَيِّتِ ثَوَابُ جَمِيْعِ الْعِبَادَاتِ مِنَ الصَّلاَةِ وَالصَّوْمِ وَالْقِرَاءَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَفِى صَحِيْحِ الْبُخَارِى فِى بَابِ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ نَذْرٌ أَنَّ بْنَ عُمَرَ أَمَرَ مَنْ مَاتَتْ أُمُّهَا وَعَلَيْهَا صَلاَةٌ أَنْ تُصَلَّى عَنْهَا

Tentang apa yang diriwayatkan Aqdhol Qudhot Abul hasan Al Mawardi As Syafi’iy dalam kitabnya Al Haawi dari sebagian kalangan ahli kalam, ‘bahwasannya mayit tidak mendapati pahala setelah kematiannya’ adalah madzhab yang bathil secara pasti dan jelas keliru sekaligus menyalahi nash-nash al qur’an dan as sunnah serta menyalahi Ijma’ (konsensus) ummat islam, maka tidak perlu dihiraukan dan tidak perlu menanggapinya. Adapun sholat dan puasa maka madzhab As Syafi’iy dan Jumhur ulama berpendapat bahwa pahala keduanya (sholat dan puasa) tidak dapat sampai kepada mayit, kecuali jika puasa tersebut adalah puasa wajib yang ditinggal mayyit kemudian wali atau orang yang di izini mengqodho’inya sebagai ganti dari mayit. Dalam masalah ini ada dua pendapat yang dinisbatkan kepada Imam As Syafi’iy : Pertama, pendapat yang paling populer (masyhur) dari Imam Syafi’iy hal tersebut tidak sah. Sedang yang paling sohih dari dua pendapat beliau menurut para Muhaqqiq Mutaakhhir kalangan Syafi’iyyah hal tersebut (menqodo’ puasanya mayit) adalah sah, dan masalah ini akan dijelaskan nanti pada Kitab As Shiyaam (bab puasa) Insya Alloh. Adapun bacaan al qur’an, maka yang populer dari madzhab Syafi’iy adalah pahalanya tidak sampai kepada mayit, sedang sebagian ulama kalangan Syafi’iyyah berpendapat pahala bacaan al qur’an sampai kepada mayit, dan beberapa kelompok Ulama yang lain berpendapat bahwa semua pahala ibadah berupa sholat, puasa, bacaan al qur’an dan yang lain bisa sampai kepada mayit. Dalam Shohih Bukhori -pada bab orang yang meninggal dan masih berhutang Nadzar- (disebutkan) bahwasannya Ibnu Umar memerintahkan seseorang yang ibunya meninggal dan masih berhutang sholat hendaknya orang tersebut melaksanakan sholat sebagai ganti dari ibunya. (Syarhun Nawawi Ala Muslim, vol : 1 hal, 90)

Pertanyaan kami, apa maksud beliau berdakwah dengan cara seperti ini… ? Kalau beliau tidak sefaham, kenapa tidak disampaikan apa adanya kemudian disanggah dengan sanggahan ilmiyah… ?

Bersambung …  ke Syubhat Pertama bagian akhir > > > >

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

87 thoughts on “Koreksi Buat Ustadz Firanda Tentang Bid’ah Hasanah Syubhat Pertama”

  1. Ustadz Firanda kalau di mata kaum awam agama tampak begitu pintar dan seakan-akan berilmu bak Ulama, tetapi lahatlah kenyataannya sekarang ini, dalam pandangan orang berilmu selainnya, Firanda tak lebih sebagai orang bodoh plus licik dan pembohong. Kasihan amat ya yg jadi korban penipuan Firanda.

    Jelas2 Para Ulama Mu’tabar mengakui adanya bid’ah hasanah, tapi Firanda justru ngotot menolaknya, Mbok ya mikir gitu lho, milih ikut Ulama Mu’tabar atau ikut Firanda yg berkarya berdasar bayaran Wahabi Saudi?

      1. dakir @
        kalau membagi tauhid menjadi tiga itu ajaran Rasululloh apa bukan? kalau ajaran rasulullah mana dalilnya? kalau bukan ajaran rasulullah kenapa kalian ikuti?

        silahkan jawab mas dakir.

        1. -kl itu mbak kl gak salah kesimpulan ulama dr hasil penyaringan dalil2,”jd dalilnya ada”, kl mbak pngin lebih jelas tanyao sama ustadz yg ahli, kl aku kan bkn ustadz to mbak.

          -itu mbak sptnya mirip dng pembagian hukm menjadi 5, ada wajib, sunnah dst,
          atau bhw sahnya sholat itu hrs terpenuhi rukun dan syarat, rukunnya ini, ini….., syaratnya ini…itu…..

          1. @dakir-tukang-elektronik
            -Tauhid kok disimpulkan, kenapa mesti begitu ? coba dong diterangkan to mas.
            -Rukun ada 5, kenapa harus begitu ? bukan nya Wahabi “Kullu bi’datin dholalah (setiap bid’ah sesat)? jadi cuma satu yaitu Bid’ah-sesat !!! Wah ente gak nyimak artikel nih !!!

          2. Mas Dakir tukang elektronik,

            Saya sudah baca banyak artikel tentang TAUHID TIGA versi Wahabi, memang dalilnya ada di artikel2 tsb, akan tetapi dalil-dalil itu tidak ada kaitan sama sekali dg pembagian Tauhid. Semua dalil yg disertakan di situ kesemuanya berkaitan dg asma dan sifat2 Allah. Kesemuanya nggak ada yg mengarah kepada pembagian Tauhid.

            Dan Tauhid memang seharusnya tidak dibagi, kalau tauhid harus dibagi tentunya Nabi saw, Sahabat dan Tabi’in sudah membaginya terlebih dulu, tidak perlu menunggu Wahabi yg melakukan pembagiannya.

            Jadi, pembagian Tauhid itu termasuk bid’ah aqidah samasekali tidak ada contohnya dari rasul Saw, tapi kenapa kalian para wahabiyyun mengikuti yg tidak diajarkan oleh Rasulullah saw?

          3. mas dakir tukang elektronik…., monggo panjenengan dulu, menurut panjenengan apa itu tauhid?

            Nanti jika jawabannya benar akan saya akui bahwa itu benar, tapi kalau menurut saya salah maka saya akan membantahnya dg berdasar dalil yg shahih tentunya.

            Silahkan mas dakir, apa itu tauhid?

          4. kl mbak sdh baca ttg tulisan yg membahas ttg tauhid dibagi 3, ya spt itulah yg saya sdh mudheng maksdnya. dan itu bkn pendpt saya loh mbak. (mbak tanyao sama yg nulis, jgn sama saya).

            lalu mbak berpendapat berlawanan dng tulisan itu, bhkn mbak terang2an mengatakan itu BIDA’H, mknya saya pantas bertanya kpd mbak, mnrt mbak APA TO TAUHID ITU?, shg membaginya adalah termasuk bid’ah?

          5. Tauhid itu ya urusan agama yang paling pokok..jadi kalo menurut wahabi tauhid itu bisa dibagi tiga ya itu mengada-ngadakan hal baru dalam urusan agama… kata wahabi semua perkara baru yang diadaadakan adalah bidah sesat.. ya membagi tauhid menjadi tiga berarti sesat..sederhana kan mas dakirtukang elektronik?

          6. mas dakir,
            di sini antum mengaku sudah paham, oleh karena itu saya minta antum untuk menuliskan apa yg sudah antum pahami itu. Kalau antum sudah paham, pastilah antum akan bisa menjelaskannya secara singkat menurut antum. Bukan yg COAPASAN, kalau itu sih belum tentu paham.

            Kalau antum nggak bisa menuliskannya bagaimana antum bisa mengaku sudah paham? Silahkan mas, jelaskan secara singkat apa yg antum pahami tentang tauhid.

          7. tauhid itu mengesakan(Allah).
            keyakinan bahwa:
            Allah yg menciptakan alam semesta, yg berkuasa atasnya dan yg mengaturnya, sehingga pantaslah kl Dia satu2nya yg mesti diibadahi.

            tp ada lho mbak tetangga saya, dr kata2nya saya tahu bhw dia meyakini bhw Allah itu penguasa alam semesta (dia bilang “allah tangolo kang murbeng dumadi”, ato “gusti alloh ingkang akaryo jagad” (yg mencipta alam semesta))
            tetapi dia tdk beribadah kpd Allah, saya ketahui dari dia meninggalkan shalat, tdk puasa romadhon, namun puasa “ngrowot di bln suro” sering saya dgr dilaksanakan. Melakukan pemujaan “danyangan” sdh tdk asing lg. (ini kisah nyata lho mbak yg saya saksikan).

  2. alhamdulillah, setelah menunggu munculnya artikel untuk membongkar penipuan2 yg dilakukan ustadz Firanda mengenai masalah “bid’ah hasanah” akhirnya hari ini muncul, malasih ustadz Abu Hilya… juga mas Admin, syukron ya mas? Saya senang sekali, dan kan saya simak secara berturut2 dalam sambungan-sambungan berikutnya.

  3. @Ustadz Abu Hiya says:
    Pertanyaan kami, apa maksud beliau berdakwah dengan cara seperti ini… ? Kalau beliau tidak sefaham, kenapa tidak disampaikan apa adanya kemudian disanggah dengan sanggahan ilmiyah… ?

    Komentar kami :
    Karena Ustadz Firanda sudah dibiayai Arab Saudi untuk berdakwah seperti itu. Dia ibarat “mesin” yang sudah dirancang sesuai keinginan pembuatnya. Istilah Ustadz Abu Salafi dia itu ibarat “burung beo” yang hanya menirukan majikannya.
    Betapa prihatin kita, sudah memecah-belah umat, terus mengacak-acak perkataan para Imam. Subhanallah.

  4. ahsantum Ustadz Abu Hilya , upaya kompromi adalah win2 solution sudah saatnya Ummat ini bersatu , sudah saatnya kaum wahabi menerima perbedaan pendapat khususnya soal Bid`ah , lihatlah Ustadz Abu Hilya sudah menarik kesimpulan jika perbedaan ini hanya soal , perbedaan Istilah yang tidak perlu dipersoalkan.

    syukron Ustadz Abu Hilya atas pencerahannya.

  5. Imam As Syafi’iy tidak menggunakan kalimat “Aku Mengingkari” akan tetapi beliau menggunakan kalimat “Wa Akrohu” (dan aku tidak menyukai/membenci) Ma’tam.
    itu penulisan ustad diatas..
    Memang mengkritisi suatu tulisan trkadang lebih mudah bg Qt pembaca,sprti hal nya saya mengomentari trhdp tulisan diatas..
    Terlepas dari tahlilan atau doa2 yg penulis merasa keberatan,krna imam syafii rahimahullah membenci perbuatan tsb,krn keterangan diatas pun jelas bahwasannya berkumpul dgn jamuan makan2 beliau MEMBENCI perbuatan itu..apa yg mendasari dizaman skrg melakukan perbuatan yg diBenci oleh beliau,bahkan tdk prnh dilakukan salaf sblumnya

    1. Kang Dikin, kutipannya jangan diputus segitu aja dong, itu namanya perbuatan licik kang, padahal di situ sudah djilaskan masih dalam alenia kalimat yg antum komentari.

      Ini saya kutipkan secara lengkap satu alenia, yang merupakan rangkaian kalimat penjelasan atas salah-paham ustadz Firanda tsb:

      Imam As Syafi’iy tidak menggunakan kalimat “Aku Mengingkari” akan tetapi beliau menggunakan kalimat “Wa Akrohu” (dan aku tidak menyukai/membenci) Ma’tam. Pernyataan Imam As Syafi’iy dalam Al Um Sebagaimana yang pernah kami sampaikan.
      Dalam kalangan ahli ilmu dua kalimat tersebut jelas memiliki konotasi yang berbeda… disini kita dapati beliau melakukan Tahrif (Perubahan).
      Selanjutnya yang dibenci Imam As Syafi’iy dalam tradisi “Ma’tam” adalah berkumpul untuk jamuan (makan-makan) di kediaman keluarga si mati, tanpa menyebutkan adanya tahlil atau do’a yang ada dalam acara tersebut. Lantas darimana beliau berani menyatakan Tahlilan adalah perkara yang dimaksud Imam As Syafi’iy ?

      Jadi siapa bilang mengkritisi sperti yg dilakukan oleh ustadz Abu Hilya itu gampang? Tapi kalau komentar ngawur dan licik seperti koment antum tsb emang gampang sih, saya setuju 100%.

      1. Kelihatannya ada yg mau mendistorsi ustadz Abu Hilya tetapi kepergok oleh Mbak aryati. Atau kalau nggak demikian, itu berarti perbuatan orang bodoh yg mau sok pintar.

    2. yahhhhh kita mah udah maklum atuh ama kaum wahabi….udah biasa toh mba aryati kelakuan mereka memotong” artikel trus dikomenin semau udel mereka,jgnkan artikel, ayat” suci AL-Qur’an aja dipotong” trus ditafsirin seenak mereka,hadist” shahih khan juga begtu mereka perlakukan, kata org jawa itu : “DADI WONG KOQ ORA ENE TOTO KROMO NE BELAS AMBE AGAMA”, berdalih mau ngikutin Sayyidinna Rasulullah SAW tapi koq malah nyakitin Rasulullah, piye to iki mas dikin…???

      1. betul mas woko, akhirnya perbuatan seperti itu menimbulkan fitnah. Jadianya mereka ini benar2 jadi “PRODUSEN FITNAH” terdahsyat di akhir zaman.

  6. Ustadz abu hilya, syukron artikelnya, saya tunggu artikel2 selanjutnya. Semoga ustadz dimudahkan oleh Allah dalam menulis artikel2 koreksi atas tipu muslihat Firanda, amin….

    kalau Firanda nggak ada bayarannya dari Arab Saudi maka tidak bakalan bisa menghasilkan karya apa2.

    Sedangkan ustadz abu hilya walau tanpa bayaran sepeser pun mampu melakukannya, alhamdulillah ya Allah, terimakasih telah Engkau karuniakan kemampuan istimewa kepada Ustadz Abu Hilya.

    1. Wahabi brkata : Hai aswaja,penjelasan tentang bid’ah diatas terlalu panjang,,pusing tau bacanya!!..Kan kami jadi bingung bantahnya.Lagi juga kamikan cuma hapal hadis “kullu bidatin dolalah wakullu dolalatin finnar”itu juga ngapalinnya sampe 2 bulan. Ditambah lagi IQ kami dibawah 45,tepatnya 37 lebih dikit.Wajar dong,sebab kalo IQ kami diatas 120,kami ditolak jadi wahabi.Kalo gitu,buat ngebantahnya kami mau tanya dulu ya sama Yazid Jawaz en Abdul Hakim.

  7. Melakukan tahrif dan melakukan pengaburan masalah ?
    Itu mah sudah biasa dilakalangan Waheboy, mulai dari bosnya sampai kroco2nya. Dan itu sudah merupakan salah satu ciri khas ‘Da’wah’ mereka untuk menipu awam. Ini yang perlu disebarkan ke ummat agar waspada dan tidak asal terima mentah-mentah terhadap apa saja yang datang dari mereka..

    1. Ealah mas Abdullah iki iso ae loh, jadi ada panggilan baru nih ama anak” wahabi, waheboy kayanya keren juga tuh bang….ckckckkc, maaf ye buat tmn” waheboy,jgn marah dunk,masa gtu doank ngambek,ga asik dah klo ngambekan mulu,jadi gak bsa konsen khan diskusinya….ekekekek kebanyakan emosi jadi ngawur loh diskusinya mas mas waheboy…

  8. Imam As Syafi’iy tidak menggunakan kalimat “Aku Mengingkari” akan tetapi beliau menggunakan kalimat “Wa Akrohu” (dan aku tidak menyukai/membenci) Ma’tam. Pernyataan Imam As Syafi’iy dalam Al Um Sebagaimana yang pernah kami sampaikan.
    Dalam kalangan ahli ilmu dua kalimat tersebut jelas memiliki konotasi yang berbeda… disini kita dapati beliau melakukan Tahrif (Perubahan).
    Selanjutnya yang dibenci Imam As Syafi’iy dalam tradisi “Ma’tam” adalah berkumpul untuk jamuan (makan-makan) di kediaman keluarga si mati, tanpa menyebutkan adanya tahlil atau do’a yang ada dalam acara tersebut. Lantas darimana beliau berani menyatakan Tahlilan adalah perkara yang dimaksud Imam As Syafi’iy ?

    saya sertakan kalimat diatas…
    Terlepas dari tahlilan atau doa2 yg penulis merasa keberatan,krna imam syafii rahimahullah membenci perbuatan tsb,krn keterangan diatas pun jelas bahwasannya berkumpul dgn jamuan makan2 beliau MEMBENCI perbuatan itu..apa yg mendasari dizaman skrg melakukan perbuatan yg diBenci oleh beliau,bahkan tdk prnh dilakukan salaf sblumnya……
    kan beliau membencinya,benarkan..itu pertanyaan saya??

    1. Bismillah,

      Mas @dikin : nampaknya anda tergesa-gesa membaca tulisan diatas, coba kami kutipkan lagi :

      Terjemah Ust. Firanda :

      “Dan adapun sholat dan puasa maka madzhab As-Syafi’i dan mayoritas ulama adalah tidak sampainya pahalanya kepada si mayat…

      padahal kalimat berikutnya adalah perkara yang dikecualikan, yang berbunyi :

      “kecuali jika puasa tersebut adalah puasa wajib yang ditinggal mayyit kemudian wali atau orang yang di izini mengqodho’inya sebagai ganti dari mayit.”

      selanjutnya, kami bertanya kepada anda : Apa efek dari terjemah beliau bagi orang yang nggak ngerti bhs. Arab ?

      Dan kalaupun orang awam meminta bantuan kepada Syekh Google, maka terjemah yang akan mereka dapati adalah :

      Nor Tarig dia dan doa dan berpuasa The Shafei pandangan dan mayoritas ulama bahwa itu tidak sampai Thoabhma dengan almarhum hanya jika puasa wajib untuk orang mati فقضاه dia dan Les atau berwenang wali van di mana ada dua pandangan dari Ochehrhma Shafie dia itu tidak benar dan lebih benar ketika peneliti Mtakhry teman-temannya bahwa itu adalah sah dan akan datang masalah di puasa bahwa Allah Maha Kuasa dan sementara membaca Alquran Valmshahur doktrin Shafie tidak mencapai pahala kepada almarhum dan mengatakan beberapa rekannya sampai penghargaan kepada almarhum dan pergi kelompok ilmuwan.

      sekali lagi kami sarankan, bacalah dengan hati terbuka… kalau ada kesalahan dari kami, silahkan disanggah dengan sanggahan ilmiyah…

  9. mas dikin , meng-Ingkari dengan dengan tidak menyukai / membenci , mempunyai konotasi yang berbeda Uatzd abu hilya mengoreksi terjemahan ustadz firanda dimana kata Akrohu dirubah menjadi wa ungkiru ( tidak suka dengan meng-ingkari ),

    sehingga kata akrohu berarti hukum Ma`tam adalah makruh , kalo wa ungkiru / mengingkari bisa berarti Tahrim / haram.

    terlebbih ustadz firanda menyamakan Ma`tam ( yang tidak disukai ) dengan Tahlilan ini jelas penyelewengan Makna.

    kalo soal salaf tidak melakukan hal itu maka salaf as-sholihin juga tidak pernah membagi Tauhid lalu kenapa kaum wahabi membagi Tauhid………? apa halal buat kalian dan haram buat kami……..?

  10. @Dikin says
    maksud dr tulisn yg ga disertakan semua,biar ga bertele2 pa ustad…

    Wah … nih orang ga ilmiah banget. Masa orang seenaknya memotong kalimat Ulama, lalu mengartikan semau sendiri.dibela sih?! Apa memang cara Wahabi berdakwah seperti itu? Boleh bohong, boleh manipulasi? Kayanya Nabi dan para salaf sholeh ga ada yang kaya gitu deh …?!

  11. Sudah menjadi semacam sunnatullah bahwa kaum munafik akan hancur oleh kaidah dan perkataan yang dibuatnya sendiri.Kaidah andalan wahabi sprti :
    1. kalau perbuatan itu baik,tentu rasul dan para sahabat telah mendahului melakukannya.
    2. kalau sesuatu itu tidak dikrjakan nabi dan sahabat,brarti sesuatu itu baru,setiap yg baru itu bidah,yg bidah itu sesat,yg sesat itu tempatnya dineraka.
    Yg mana dengan 2 kaidah diatas kaum wahabi bnyak menistakan amalan kaum muslim. Sekarang coba terapkan 2 kaidah diatas terhadap tauhid trinitas ala wahabi.Maka dgn sekejap wahabi menjadi “Ahli bid’ah” sejati. Dan akhirnya,sang senjata memakan tuannya sendiri.

  12. Abu hilya say
    Disini mulai kita dapati ketidak obyektif-an pandangan beliau…. anda perhatikan dengan cermat pada point kedua yang beliau sampaikan… setelah dengan tegas beliau menyatakan bahwa Al Imam Al ‘Izz bin Abdis Salam tidak menyebut Seperti sholat rogoib, maulid Nabi, peringatan isroo mi’rooj, tahlilan, dan lain-lain sebagai bid’ah Hasanah, selanjutnya dengan cerdik beliau berupaya mengarahkan pemahaman para pembaca bahwa perkara-perkara tersebut sebagai Bid’ah Yang Diperangi oleh Al Imam Al ‘Izz bin Abdis salam… Dapatkah beliau membuktikan bahwa Imam Al ‘Izz bin Abdis Salam memerangi Maulid ?

    Ust abu hilya yang saya hormati sebaiknya anda perlu lihat dulu atau belajar dulu kapan timbulnya pertama kali timbulnya perayaan mauled nabi atau perayaan-perayaan yang lainnya..
    Maaf saya menyanyakan kepada anda apakah imam Al ‘Izz bin Abdis Salam masa hidup beliau sudah adakah perayaan mauled..nabi..??
    Bila dari perkataan imam Al ‘Izz bin Abdis Salam dibawah ini pasti belum..
    Jika perkara beramal dengan hadist doif saya meliau menentangnya apa lagi amalanan yang tidak ada sandaran kepada nabi tolong yang cerdas yah dalam mengomentari..he..he..

    قال الشيخ شهاب الدين أبو شامة أحد تلامذة الشيخ وكان أحق الناس بالخطابة والإمامة وأزال كثيرا من البدع التي كان الخطباء يفعلونها من دق السيف على لمنبر وغير ذلك وأبطل صلاتي الرغائب ونصف شعبان ومنع منهما
    “Beliau (Al-‘Iz bin Abdissalam) adalah orang yang paling berhak untuk berkhutbah dan menjadi imam, beliau menghilangkan banyak bid’ah yang dilakukan oleh para khatib seperti menancapkan pedang di atas mimbar dan yang lainnya. Beliau juga membantah sholat rogoib dan sholat nishfu sya’ban dan melarang kedua sholat tersebut” (Tobaqoot Asy-Syafi’iah al-Kubro karya As-Subki 8/210, pada biografi Al-‘Iz bin Abdissalam)

    1. Bismillah,

      Saudariku @Ummu Abdillah, Alhamdulillah dan terimakasih atas koreksinya…

      Selanjutnya, tentang maulid sudah kami haturkan pandangan Abu Syamah dalam kitabnya “Al Ba’its ” diatas… coba ummi baca lagi…

      Berikutnya ; Fadhoilul A’mal yang bersandar pada hadits-hadits dho’if… begitulah adanya dalam literatur Mushtholah para Aimmah Al Muhadditsin… dan telah kami sampaikan ketiganya… silahkan bagi anda berpendapat mengikuti pendapat siapa.. tapi yang pasti anda tidak sah untuk memaksakan semua ummat islam mengikuti pendapat anda, karena masing-masing memiliki hujjah atas pandangannya… Wallohu A’lam…

      1. Bismillah,

        Saudariku @Ummu Abdillah, Alhamdulillah dan terimakasih atas koreksinya…

        Selanjutnya, tentang maulid sudah kami haturkan pandangan Abu Syamah dalam kitabnya “Al Ba’its ” diatas… coba ummi baca lagi…

        Berikutnya ; Fadhoilul A’mal yang bersandar pada hadits-hadits dho’if… begitulah adanya dalam literatur Mushtholah para Aimmah Al Muhadditsin… dan telah kami sampaikan ketiganya… silahkan bagi anda berpendapat mengikuti pendapat siapa.. tapi yang pasti anda tidak sah untuk memaksakan semua ummat islam mengikuti pendapat anda, karena masing-masing memiliki hujjah atas pandangannya… Wallohu A’lam…

        HE..HE.. LUCU DEH ANDA..
        anda mengomentari artikel ust Firanda..sekarang anda menuduh kurang teliti coba anda baca lagi deh artikel ust firanda..

        apa anda tidak bisa memahami maksud beliau..
        yang ditulis ust firanda

        Pengingkaran Al-Izz bin Abdis Salam terhadap perkara-perkara yang dianggap bid’ah hasanah

        Beliau dikenal dengan orang yang keras membantah bid’ah-bid’ah yang disebut-sebut sebagai bid’ah hasanah. Diantara perkara-perkara yang diingkari tersebut adalah bersalam-salaman setelah sholat, sholat roghoib, sholat nishfu sya’ban, mengusap wajah selesai doa, mengirim pahala bacaan qur’an bagi mayat, dan mentalqin mayat setelah dikubur.

        imam Al-Izz bin Abdis Salam membagi bid’ah menjadi 5 yaitu wajib, sunnah, mubah, haram dan makruh

        jadi kalau kita korelasi terhadap perkataan beliau dan perbuatan nya yaitu pengingkaran terhadap amalan yang berdasarkan hadist dhoif jadi maksud beliau adalah

        membagi Bid’ah menjadi 5 adalah makna secara LUGHOWI ( BAHASA) bukan bermakna Syari’at yang anda dan golongan anda yakini..

        he.he..

        1. Bismillah,

          Saudariku @Ummi Abdillah, kami menghargai pembelaan anda atas artikel yang ditulis oleh Ustadz Firanda, namun (maaf, tanpa maksud merendahkan) nampaknya anda kurang dilengkapi dengan keilmuan dalam menyanggah tulisan kami.

          Maaf saudariku, Ustadz Firanda menulis :

          Kedua : Dalam contoh-contoh bid’ah yang disyari’atkan (baik bid’ah yang wajib maupun bid’ah yang mustahab) sama sekali beliau tidak menyebutkan bid’ah-bid’ah yang dikerjakan oleh para pelaku bid’ah (Seperti sholat rogoib, maulid Nabi, peringatan isroo mi’rooj, tahlilan, dan lain-lain) dengan dalih bahwa bid’ah tersebut adalah bid’ah hasanah, bahkan beliau dikenal dengan seorang yang memerangi bid’ah.

          Kami memahami bahwa Al Imam Al ‘Izz berpendapat tidak diperkenankannya sholat roghoib dan sholat Nishfu Sya’ban. Pertanyaan kami ; mengapa beliau (Ust. Firanda) menggandengkan keduanya dengan maulid Nabi, tahlilan dll ? dan beliau mengahiri pernyataannya dengan : “dengan dalih bahwa bid’ah tersebut adalah bid’ah hasanah, bahkan beliau dikenal dengan seorang yang memerangi bid’ah”
          (Insya Alloh, kami yang bodoh ini tidak terlalu bodoh juga untuk terjebak dengan permainan merangkai kalimat….)

          Selanjutnya Ustadz Firanda menulis :

          Ketiga : Beliau dikenal dengan orang yang keras membantah bid’ah-bid’ah yang disebut-sebut sebagai bid’ah hasanah.

          Kemudian sang ustadz merangkainya dengan fatwa Mushofahah setelah sholat, padahal kenyataannya label dan hukum mushofahah menurut al Imam Al ‘Izz adalah sebagaimana dinyatakan oleh Imam An Nawawi dalam Tahdzibul Asma’ sbb :

          قال الشيخ الإمام المجمع على إمامته وجلالته وتمكنه في أنواع العلوم وبراعته أبو محمد عبد العزيز بن عبد السلام رحمه الله ورضي عنه في آخر كتاب “القواعد”: البدعة منقسمة إلى: واجبة، ومحرمة، ومندوبة، ومكروهة، ومباحة. قال: والطريق في ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة، فإن دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة، أو في قواعد التحريم فمحرمة، أو الندب فمندوبة، أو المكروه فمكروهة، أو المباح فمباحة، وللبدع الواجبة أمثلة منها: الاشتغال بعلم النحو الذي يفهم به كلام الله تعالى وكلام رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، وذلك واجب؛ لأن حفظ الشريعة واجب، ولا يتأتى حفظها إلا بذلك وما لا يتم الواجب إلا به، فهو واجب، الثاني حفظ غريب الكتاب والسنة في اللغة، الثالث تدوين أصول الدين وأصول الفقه، الرابع الكلام في الجرح والتعديل، وتمييز الصحيح من السقيم، وقد دلت قواعد الشريعة على أن حفظ الشريعة فرض كفاية فيما زاد على المتعين ولا يتأتى ذلك إلا بما ذكرناه، وللبدع المحرمة أمثلة منها: مذاهب القدرية والجبرية والمرجئة والمجسمة والرد على هؤلاء من البدع الواجبة، وللبدع المندوبة أمثلة منها إحداث الرُبِط والمدارس، وكل إحسان لم يعهد في العصر الأول، ومنها التراويح، والكلام في دقائق التصوف، وفي الجدل، ومنها جمع المحافل للاستدلال إن قصد بذلك وجه الله تعالى. وللبدع المكروهة أمثلة: كزخرفة المساجد، وتزويق المصاحف، وللبدع المباحة أمثلة: منها المصافحة عقب الصبح والعصر، ومنها: التوسع في اللذيذ من المآكل، والمشارب، والملابس، والمساكن، ولبس الطيالسة، وتوسيع الأكمام. وقد يختلف في بعض ذلك فيجعله بعض العلماء من البدع المكروهة، ويجعله آخرون من السنن المفعولة في عهد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فما بعده، وذلك كالاستعاذة في الصلاة والبسملة هذا آخر كلامه.(تهذيب الاسماء و اللغات, 994 )

          Al Imam Abu Muhammad Abdul Aziz bin Abdis Salam –rohimahulloh warodhiya ‘anhu-berkata dalam akhir kitabnya “Al Qowa’id”: “Bid’ah terbagi menjadi : Wajib, Haram, Mandzubah (sunnah), Makruh dan Mubah. Beliau berkata : adapun cara untuk mengetahui hal tersebut adalah hendaknya “Bid’ah” diuji dengan kaedah-kaedah syari’at, jika bid’ah tersebut masuk dalam kaedah yang mewajibkan maka ia wajib, atau kaedah yang mengharamkan maka ia diharamkan, atau sunnah maka ia disunnahkan, atau makruh maka dimakruhkan atau mubah maka diperbolehkan.

          Untuk bid’ah-bid’ah wajib memiliki beberapa contoh, diantaranya adalah :
          – Mempelajari Nahwu (gramatika arab) guna memahami al qur’an dan sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, dan hal itu adalah wajib… dst
          – Menjaga bahasa yang ghorib (aneh/asing) dalam al kitab dan as sunnah.
          – Menyusun (ilmu) Ushuluddin (aqidah) dan Ushul Fiqih.
          – Pembahasan Jarh dan Ta’dil serta pengklasifikasian hadits-hadits shohih dan Saqiim (cacat)
          – Dst…

          Untuk bid’ah yang Haram memiliki beberapa contoh :
          – Faham Qodariyah, Jabariyah, Murji’ah, dan Mujassimah. Menolak faham-faham tersebut adalah bid’ah yang wajib.

          Untuk bid’ah yang mandzubah memiliki beberapa contoh :
          – Mendirikan pondok dan tempat-tempat pendidikan.
          setiap kebaikan yang belum ada pada masa awal
          Sholat Tarowih
          – Pembahasan tentang hal-hal sulit/samar dalam tasawwuf juga tentang perdebatan.

          Untuk Bid’ah yang makruh memiliki beberapa contoh, diantaranya :
          – Menghias masjid
          – Menghias mushaf

          Untuk Bid’ah yang Mubah, diantaranya :
          Berjabat tangan setelah sholat shubuh dan ashar
          – Berluas-luas dalam kenikmatan makanan, minuman, berpakaian, tempat tinggal dst…

          Saudariku, perhatikan konsep menghukumi Bid’ah ala Al Imam Al ‘Izz diatas, adakah bid’ah hasanah hanya pada perkara-perkara Al Mashlahah Al Mursalah belaka ? adakah sholat tarowih yang oleh Imam Al ‘Izz dimasukkan kategori Bid’ah Mandzubah mau kita bawah kedalam wilayah Al Mashlahah Al Mursalah? Bahkan beliau mencantumkan “Setiap kebaikan yang belum ada pada masa awal” sebagai contoh bid’ah hasanah. ? Dan perhatikan hukum Mushofahah setelah sholat, adakah ia perkara yang diperangi oleh Imam Al ‘Izz ?…

          Maaf saudariku, anda yang memaksa kami membongkar lebih banyak kesalahan tulisan Ustadz Firanda yang sebenarnya dari sebagian saja sanggahan kami diatas cukup membuat kita untuk melacak kebenarannya.

          Selanjutnya, kami meminta anda menyebutkan pernyataan Imam Al ‘Izz bahwa beliau menolak amaliah yang bersandar pada hadits dho’if. Jika anda tidak dapat membuktikan, maka kami katakan bahwa pernyataan anda berikut :

          jadi kalau kita korelasi terhadap perkataan beliau dan perbuatan nya yaitu pengingkaran terhadap amalan yang berdasarkan hadist dhoif jadi maksud beliau adalah membagi Bid’ah menjadi 5 adalah makna secara LUGHOWI ( BAHASA) bukan bermakna Syari’at yang anda dan golongan anda yakini..

          Adalah kesimpulan anda semata, dan anda harus bertanggung jawab dihadapan beliau kelak….wallohu a’lam

          1. @Ummu Abdullah
            Berterima kasih lah Anda pada Ustadz Abu Hiya, yang dengan kata-katanya yang santun menegur kekeliruan Anda. Jadi saran kami, kalaupun mau membantah, nggak perlu Sombong Seperti Orang Berilmu. Beberapa komentar Anda terhadap tulisan-tulisan Ustadz Abu Hiya, menunjukkan Anda itu hanya Tong Kosong, jadi ukur dirilah. Jangan terlalu Taklid Buta pada Ustadz Firanda yang dibiayai oleh KSA. Ikutilah pendapat ulama yang Muktabar.

        2. @Ummi Abdillah said:

          imam Al-Izz bin Abdis Salam membagi bid’ah menjadi 5 yaitu wajib, sunnah, mubah, haram dan makruh

          jadi kalau kita korelasi terhadap perkataan beliau dan perbuatan nya yaitu pengingkaran terhadap amalan yang berdasarkan hadist dhoif jadi maksud beliau adalah

          membagi Bid’ah menjadi 5 adalah makna secara LUGHOWI ( BAHASA) bukan bermakna Syari’at yang anda dan golongan anda yakini..

          Menurut anda Al-Izz bin Abdis Salam membagi bid’ah menjadi 5 yaitu wajib, sunnah, mubah, haram dan makruh, nah, saya mau tanya: “wajib, sunnah, mubah, haram dan makruh” itu termasukhukum syare’at bukan?

          kalau 5 hukum tsb adalah syari’at, lalu kenapa anda katakan membagi Bid’ah menjadi 5 hukum adalah makna secara LUGHOWI ( BAHASA) bukan bermakna Syari’at. Bisakah anda jelaskan perkataan anda yg amburadul ini?

    2. Bismillah,

      Saudariku @Ummu Abdillah …

      Nampaknya anda kurang hati-hati mencermati tulisan kami, coba anda baca lagi, kami tidak menyandarkan pandangan tentang maulid kepada Al Imam Al ‘Izz, akan tetapi kepada murid beliau Abu Syamah….

    3. @Ummu Abdillah

      STATUS HADIST DHAIF

      Hadis dha’if berbeda dari hadis maudhu’ (palsu). Hadis dha’if tetap harus diakui sebagai hadis, dan menjadikannya sebagai dalil atau dasar untuk melakukan suatu amalan kebaikan yang berkaitan dengan fadha’il al-a’mal (keutamaan amalan) adalah sah menurut kesepakan para ulama hadis. Perhatikan isyarat-isyarat para ulama berikut ini:
      “… sementara mereka (para ahli hadis) telah berijma’ (bersepakat) atas bolehnya mengamalkan hadis dha’if (lemah) di dalam fadha’il al-a’mal (keutamaan amalan)” (lihat Syarh Sunan Ibnu Majah, juz 1, hal. 98).

      Syaikhul Islam al-Imam Hafizh al-’Iraqi berkata:
      “Adapun hadits dha’if yang tidak maudhu’ (palsu), maka para ulama telah memperbolehkan mempermudah dalam sanad dan periwayatannya tanpa menjelaskan kedha’ifannya, apabila hadits tersebut tidak berkaitan dengan hukum dan akidah, akan tetapi berkaitan dengan targhib dan tarhib seperti nasehat, kisah-kisah, fadhail al-a’mal dan lain-lain. Adapun berkaitan dengan hukum-hukum syar’i berupa halal, haram dan selainnya, atau akidah seperti sifat-sifat Allah, sesuatu yang jaiz dan mustahil bagi Allah, maka para ulama tidak melihat kemudahan dalam hal itu. Di antara para imam yang menetapkan hal tersebut adalah Abdurrahman bin Mahdi, Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin al-Mubarak dan lain-lain. Ibn Adi telah membuat satu bab dalam mukaddimah kitab al-Kamil dan al-Khathib dalam al-Kifayah mengenal hal tersebut.” (Al-Hafizh al-lraqi, al-Tabshirah wa al-Tadzkirah,juz 1, hal. 291).

      Kaitannya dengan pembahasan bid’ah adalah bahwa kaum Salafi & Wahabi terkesan mudah mengkategorikan suatu amalan sebagai bid’ah, atau minimal sebagai amalan yang harus dihindari hanya karena hadis yang dijadikan dalil untuk itu mereka anggap dha’if. Padahal, amalan-amalan yang didasari oleh hadis-hadis dha’if tersebut tergolong fadha’il al-a’mal (keutamaan amalan) atau furu’ (perkara cabang) yang bukan pokok di dalam penentuan hukum agama. Contohnya, hadis-hadis yang dijadikan dalil untuk menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an kepada mayit. Al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi menyatakan:

      “Dan mereka (jumhur ulama) mengambil dalil atas sampainya (hadiah pahala kepada mayit), dan dengan qiyas kepada apa yang telah disebutkan daripada do’a, sedekah, puasa, haji, dan memerdekakan budak, maka sesungguhnya tidak ada beda dalam hal memindahkan pahala antara entahkah amalan itu haji, sedekah, wakaf, do’a, atau bacaan al-Qur’an. Dan dengan hadis-hadis yang akan disebutkan, meskipun dha’if, maka semuanya menunjukkan bahwa hal tersebut (menghadiahkan pahala kepada mayit) memiliki asal (landasan di dalam agama), dan bahwa kaum muslimin di setiap masa masih terus berkumpul dan membacakan al-Qur’an untuk mayit-mayit mereka tanpa ada yang mengingkarinya, maka menjadilah hal itu sebagai ijma’. Semua itu telah disebutkan oleh al-Hafizh Syamsuddin bin Abdul Wahid al-Maqdisi al-Hanbali di dalam sebuah juz yang ia tulis tentang masalah tersebut.” (Lihat Syarh al-Shudur bi Syarh Hal al-Mauta wa al-Qubur, al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi, Dar el-Fikr, Beirut, hal. 269).

      Demikianlah contoh kearifan para ulama hadis dalam menilai dan menyikapi dalil-dalil yang secara zhahir dianggap dha’if. Sayangnya sikap seperti ini tidak ditiru oleh orang-orang yang gemar sekali menuduh bid’ah setiap perkara baru berbau agama. Terkadang bermodalkan sedikit pengetahuan tentang tahqiq al-hadits (penelitian hadis) mereka dengan mudahnya mencampakkan suatu amalan ke dalam keranjang bid’ah sesat hanya karena mereka nilai dalilnya dha’if (lemah).

  13. Hawa nafsu telah membutakan kalian (wahai aswaja) sehingga menghalangi kalian dari mengikuti jejak generasi yang telah dipuji oleh Rasulullah dan dijadikan sebagai barometer kebenaran dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sikap seperti itu menggiring kalian untuk terus lebih mengedepankan logika ,kalian memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dengan apa yang diajarkan dan diamalkan oleh generasi salaf ,menggunakan nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai tameng untuk melindungi penyimpangan dan kesesatan kalian. Dengan cara meletakkannya tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan apa yang telah dipahami, disampaikan dan diamalkan oleh generasi as-salafush shalih.

  14. @Ummuhanif
    Saya modiffikasi karya Anda ya….!?
    Hawa nafsu telah membutakan kalian (wahai Wahabi) sehingga menghalangi kalian dari mengikuti jejak generasi yang telah dipuji oleh Rasulullah dan dijadikan sebagai barometer kebenaran dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sikap seperti itu menggiring kalian untuk terus lebih mengedepankan penipuan dan cara licik,kalian memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dengan apa yang diajarkan dan diamalkan oleh generasi salaf, menggunakan nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai tameng untuk melindungi penyimpangan dan kesesatan kalian. Dengan cara meletakkannya tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan apa yang telah dipahami, disampaikan dan diamalkan oleh generasi as-salafush shalih, bahkan dengan cara mamanipulasi perkataan para ulama.

    1. Siiiip mas Bima, hanya dg sedikit modifikasi akhirnya menjadi susunan kalimat yg lebih bermakna, lanjut mas Bima.

      Maaf Ummuhanif, saya lebih enjoy jadi pendukung Mas Bima, maaf…..

  15. @ummihanif
    Gak usah lah mengatakan mengikuti Hawa Nafsu, siapa yang mengikuti hawa Nafsu, bukannya para ulama dan pengikutnya Wahabi.
    Wahabi merubah kitab-kitab klasik yang lain, tidak satu tapi puluhan bahkan ratusan. Fenomena pemalsuan kitab klasik oleh wahabi di suarakan oleh Syeikh Idahram dalam bukunya : “Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik” dan sampai saat ini wahabi tidak mampu membantah buku ini, justru menuduh penulisnya sebagai syiah dan menyebut buku syeikh idahram sebagai buku fitnah.
    Bahkan Wahabi sering mencipta dongeng2 rendahan seperti Wahabi bukan dari Muhammad ibn abdul Wahab, tapi dari Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum.

    Jadi siapa yang mengikuti HAWA NAFSU ??????

  16. dakir-tukang-elektronik says:
    January 23, 2013 at 7:29 am

    tauhid itu mengesakan(Allah).
    keyakinan bahwa:
    Allah yg menciptakan alam semesta, yg berkuasa atasnya dan yg mengaturnya, sehingga pantaslah kl Dia satu2nya yg mesti diibadahi.

    tp ada lho mbak tetangga saya, dr kata2nya saya tahu bhw dia meyakini bhw Allah itu penguasa alam semesta (dia bilang “allah tangolo kang murbeng dumadi”, ato “gusti alloh ingkang akaryo jagad” (yg mencipta alam semesta))
    tetapi dia tdk beribadah kpd Allah, saya ketahui dari dia meninggalkan shalat, tdk puasa romadhon, namun puasa “ngrowot di bln suro” sering saya dgr dilaksanakan. Melakukan pemujaan “danyangan” sdh tdk asing lg. (ini kisah nyata lho mbak yg saya saksikan).

    Mas dakir, terima kasih atas jawaban antum.
    Oke, itu jawaban yg bisa dibenarkan walaupun masih kurang fokus. Jadi akan saya tambahkan bahwa intinya tauhid adalah mengesakan Allah dalam segala hal-NYA. Jika sudah demikian tentunya otomatis orang yg bertauhid akan menyembah (beribadah) kepada Allah karena Allah adalah satu-satunya TUHAN, Tidak ada Tuhan Selain Allah. Jadi sifat rububiyyah itu bagi orang2 yang bertauhid sudah otomatis tercakup dalam Uluhiyyah (penyembahan kepada Allah satu2nya Tuhan). Demikian mas Dakir tambahan dari saya agar lebih jelas.

    Nah, saya lanjut ya mas, bagaimana anda agar bisa bertauhid dengan benar? Ini ada ilmunya lho mas yg disebut sebgai ILMU TAUHID. Silahkan jelaskan bagaimana agar kita bisa bertauhid dg benar, agar kita tidak salah menyembah dalam beribadah kepada Allah?

    ===========

    Ada pun contoh yg antum ajukan di atas, “mungkin” itulah contoh orang musyrik, saya katakan “mungkin” karena hidupnya belum final. Bisa jadi mereka nanti bertobat sehingga bisa bertauhid dg benar. Nah, seharusnya orang2 seperti itulah yg seharusnya didakwahi oleh Teman2 Salafy wahabi, berani nggak antum-antum berdakwah di tengah-tengah mereka?

    Kalau antum berdakwah tentang Tauhid kpd muslimin yg berziarah kubur karena anda anggap musyrik, itu dakwah yang salah sasaran, sebab Ziarah Kbur adalah Sunnah Rasulullah Saw. Akhirnya dakwah antum menimbulkan fitnah di tengah2 kaum muslimin.
    Kalau antum berdakwah tentang tauhid kpd muslimin yg bertawassul karena anda anggap musyrik, itu adalah dakwah yg salah sasaran, sebab bertwassul adalah Sunnah rasulullah saw. Akhirnya dakwah antum menimbulkan fitnah di tengah2 kaum muslimin.

    Maka itu berdakwahlah di tengah kaum yang antum contohkan di atas, sebab mereka itu punya komunitas, silahkan pergi ke mereka dan ajaklah mereka untuk bertauhid (mengesakan) Allah Swt. Kalau antum berhasil mengajak mereka taubat, pahalanya akan besar sekali buat kalian.

    1. JADI MANA YG MBAK INGKARI DARI TAUHID DIBAGI TIGA?

      bukankah org yg bertauhid itu mesti mengesakan Allah dlm hal ::

      1.penciptaan, pengaturan, penguasaan alam semesta ini.
      artinya keyakinan bhw Allah satu2nya yg menciptakan, menguasai dan mengatur alam semesta ini tanpa sekutu. (tauhid rubbubiyah)

      2.peribadatan.
      artinya hanya Allah satu2nya yg diibadahi. (taudid uluhiyah)

      3.asma dan sifatNya.
      bhw Allah satu2nya yg memiliki nama2 yg husna dan sifat2 yg ‘ulya yg tdk dimiliki oleh siapapun selainNya. (tauhid asma’ wa shifah)

      jd org yg BERTAUHID itu mesti mentauhidkan Allah dlm 3 poin diatas.
      (ITU KATA BELIAU2 YG MENGATAKAN “TAUHID DIBAGI TIGA” yg saya pahami loh mbak, bkn pendapat saya).

      Malah saya dngr ada yg menambahkan “mengesakan Allah dlm hukum” artinya mesti berhukum hanya dgn hukum Allah.

      – saya gak pernah mengatakan ziarah itu syirik mbak, demikian jg tawassul.
      walaupun saya menganggap syirik perbuatan org spt berikut (kisah nyata lg mbak):
      “seseorang mendatangi kubur org tuanya, lalu berkata yg maknanya kira2 : “wahai yg tlh tertidur disini, kami anak2mu akan melakukan hajat ini ato itu, tlglah kami agar terhindar dari setiap bala’ dan tercapai maksud hajat kami”.
      saya katakan “berziarah” model beginian yg “syirik”, namun saya tidak serta merta mengatakan pelakunya “musyrik”.

      jd harap dibedakan antara:
      -si fulan telah berbuat syirik.
      dengan
      -si fulan telah musyrik krn berbuat syirik.

      INI YG SAYA PAHAMI, DAN SAYA TDK MENGATAKAN PASTI BENAR, MKNYA SAYA BELAJAR KPD SIAPA SAJA YG TAHU, TERMASUK KPD MBAK.

      1. oh ya lupa njawab mbak,
        agar bs bertauhid maka (katanya sih) “harus mempelajari tauhid jg lawannya yaitu syirik”
        jadi harus belajar:

        1. apa itu tauhid
        2. apa itu syirik dan contoh2nya. termasuk memahami perbuatan2 org2 yg divonis musyrik oleh Allah di alqur’an dan sunnah. (yg ini saya rasakan berat, tapi ya berusaha sebisanya)

        1. Maaf mas dakir, rupanya di antara kita memang punya perbedaan yang mencolok tentang bagaimana agar bisa bertauhid dg benar.

          Kalau bagi saya (aswaja) untuk bisa bertauhid dg benar adalah dengan cara mengenal Allah. Jika sudah mengenal Allah (ma’rifatullah) maka kita tidak akan salah lagi dalam bertauhid.

          Bagaimana mengenal Allah? Yaitu dengan mengenali:
          1- Sifat Wajib/Mustahil Bagi Allah
          2- Sifat Jaiz Bagi Allah
          3- Sifat Nafsiyyah, Salbiyah, Ma’ani, Ma’nawiyah.

          Termasuk di dalamnya adalah 20 sifat bagi Allah
          01- Wujud
          02- Qidam
          03- Baqa’
          04- Mukhalafah Lilhawaditsi
          05- Al-Qiyam Binnafsi
          06- Wahdaniyah
          07- Qudrat
          08- Iradat
          09- Ilmu
          10- Hayat
          11- Sama’
          12- Bashor
          13- Kalam
          14- Kaunuhu Qadiran
          15- Kaunuhu Muridan
          16- Kaunuhu ‘Aliman
          18- Kaunuhu Sami’an
          19- Kaunuhu Bashiran
          20- Kaunuhu Mutakalliman

          Wah, ini kalau dijelaskan bisa panjang sekali, bisa 20 kali lipat panjang artikel di postingan. Nggak enak saya sama mas Admin, mosok koment kok panjangnya melebihi artikel? Bahkan bisa dicetak jadi buku lho Mas dakir. Selain itu, jujur saya tak sanggup mengetiknya, bisa memakan waktu berhari-hari. Semuanya ada dalilnya dari Akl Qur’an dan tidak asal comot lalu dipasang jadi dalil.

          Kalau kita tidak mengenal Allah dg benar, maka akan terjerumus kepada Tajsim (menjisimkan, Mujassim), Tasybih (menyerupakan, Musyabbih). Nah, kalau sudah demikian apa nggak rusak itu Tauhid, mas dakir? Selain karakter “self distruction” dari Tauhid 3, yaitu berupa “gampang mensyirikkan dan atau memusyrikkan”.

          Makanya untuk bisa bertauhid dg benar, kita harus lebih dulu mengenal Allah. Dan ilmu Tauhid seperti inilah yg dipelajari oleh Aswaja di seluruh dunia. Lho, kok Wahabi gampang banget memusyrik-musyrikan kaum Aswaja, apa nggak akan berbalik kepada mereka sendiri apa yg dituduhkan itu?

          1. Top mbak Aryati, semoga yg sedikit dari apa yg diungkap Mbak Aryati ini bisa membuka mata mereka agar melek tentang bertauhid yg benar, yaitu tauhid yang tidak punya efek samping yg buruk buat yg bertauhid (merasa bertauhid).

      2. @Dakir-tukang-elektronik

        Saya tertarik dengan kalimat anda : “Malah saya dngr ada yg menambahkan “mengesakan Allah dlm hukum” artinya mesti berhukum hanya dgn hukum Allah.”.

        saya jadi ingat kelompok khawarij ketika keluar dari barisan amirul mukmini Khalifah Ali bin Abi Thalib. para khawarij seingat saya berkata : “Tiada hukum selain hukum Allah”. kemudian di jawab Ali bin Abi thalib : “kalimat yg haq tapi digunakan untuk sesuatu yg bathil”. Maaf kalau redaksi saya ada kesalahan.

        Tidak semua hal dijelaskan secara terperinci oleh Al-Qur’an dan Hadist. Ada yang namanya ijtihad, yaitu mencurahkan daya kemampuan untuk menghasilkan hukum syara’ dari dalil dalil syara’ secara terperinci. Seperti yang banyak menghiasi kitab-kitab fiqih mazhab. misalnya, apakah wajib menyapu semua kepala atau sebagian saja ketika wudhu’, dalam memahami ayat “wamsahuu biruusikum”. atau dalam memahami arti quru’, bersuci atau haidh. Ijtihad itu tidak boleh dilakukan dalam masalah yg sudah ada nashnya secara pasti, seperti wajib shalat lima waktu, zakat, puasa dll.

        1. kalo melihat contoh2 kemusyrikan yang disampaikan akhuna dakir , jelas maksudnya adalah Istighotsah , dan kaum wahabi men-syaratkan 3 syarat agar Istighotsah tidak Musyrik.

          1. yang diistighotsahi masih hidup
          2. yang diistighotsahi mampu untuk melakukannya
          3. yang diistighotsahi Hadir alias ada dihadapan yang ber-istighotsah

          apabila salah satu syarat tidak terpenuhi maka menurut mereka (wahabiyun taimiyun ) ” pelaku ” istighotsah telah Musyrik , silahkan ustadz Agung diskusikan tiga syarat ini dengan mas dakir atau wahabi lainnya , saya berharap akhuna `ajam alias Ibnu Abi Irfan dapat membantu akhuna dakir untuk mempertahankan tiga syarat bathil ini.

          1. Mas Ahmad Syahid@

            ‘ajam dan ibnu abi irfan sudah nggak berani muncul di sini lagi. Dufal juga, sekitar dua bulan yg lalu Dufal muncul sekali langsung ngamuk karena dia nggak mau bid’ah hasanah. Setelah ngamuk dufal nggak muncul2 lagi.

          2. oooh gitu ya mas yanto emang dufal bisanya cuma ngamuk2 doang seh……tapi mudah2an mereka udah pada tobat dari faham2 menyimpang wahabiyah.

          3. Hadits yg diriwayatkan oleh At-Thabarani dan menyebutkan pada awalnya sebuah kisah sbb : seorang lelaki berulang-ulang datang kepada ‘Utsman ibn ‘Affan untuk keperluannya. ‘Utsman sendiri tidak pernah menoleh kepadanya dan tidak mempedulikan keperluannya. Lalu lelaki itu bertemu dengan ‘Utsman ibn Hunaif. Kepada Utsman ibn Hunaif ia mengadukan sikap Utsman ibn ‘Affan kepadanya. “Pergilah ke tempat wudlu, “ suruh ‘Utsman ibn Hunaif, “lalu masuklah ke masjid untuk sholat dua raka’at. Kemudian bacalah doa’ : “Ya Allah sungguh saya memohon kepada Mu bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, Nabi rahmat. Wahai Muhammad, saya bertawassul kepada Tuhanmu lewat dengan engkau. Maka kabulkanlah keperluanku.” Dan sebutkanlah keperluanmu….!

            Lelaki itu pun pergi melaksanakan saran dari Utsman ibn Hunaif. Ia datang menuju pintu gerbang Utsman ibn Affan yang langsung disambut oleh penjaga pintu. Dengan memegang tanggannya, sang penjaga langsung memasukkannya menemui Utsman ibn Affan. Utsman mempersilahkan keduanya duduk di atas permadani bersama dirinya. “Apa keperluanmu,” tanya Utsman. Lelaki itu pun menyebutkan keperluannya kemudian Utman memenuhinya. “Engkau tidak pernah menyebutkan keperluanmu hingga tiba saat ini.” kata Utsman, “Jika kapan-kapan ada keperluan datanglah kepada saya,” lanjut Utsman. Setelah keluar, lelaki itu berjumpa dengan Utsman ibn Hunaif dan menyapanya, “ Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Utsman ibn Affan sebelumnya tidak pernah mempedulikan keperluanku dan tidak pernah menoleh kepadaku sampai engkau berbicara dengannya. “Demi Allah, saya tidak pernah berbicara dengan Utsman ibn Affan. Namun aku menyaksikan Rasulullah didatangi seorang lelaki buta yang mengadukan matanya yang buta. “Adakah kamu mau bersabar ?” kata beliau. “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penuntun dan saya merasa kerepotan,”katanya. “Datanglah ke tempat wudlu’ lalu berwudlu’lah kemudian sholatlah dua raka’at. Sesudahnya bacalah do’a ini.” “Maka demi Allah, kami belum bubar dan belum lama obrolan selesai sampai lelaki buta itu masuk seolah ia belum pernah mengalami kebutaan.” Kata Utsman ibn Hunaif.

            Al-Mundziri berkata, “Hadits di atas diriwayatkan oleh At-Thabarani.” Setelah menyebut hadits ini At-Thabarani berkomentar, “Status hadits ini shahih.” ( At-Targhib jilid 1 hlm.440. Demikian pula disebutkan dalam Majma’u Az-Zawaid. Jilid 2 hlm. 279 ). Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata, “At-Thabarani berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Syu’bah dari Abu Ja’far yang nama aslinya ‘Umair ibn Yazid, seorang yang dapat dipercaya. Utsman ibn Amr sendirian meriwayatkan hadits ini dari Syu’bah. Abu Abdillah Al-Maqdisi mengatakan, “Hadits ini shahih.”Kata penulis, “Ibnu Taimiyyah berkata, “At-Thabarani menyebut hadits ini diriwayatkan sendirian oleh Utsman ibn Umair sesuai informasi yang ia miliki dan tidak sampai kepadanya riwayat Rauh ibn Ubadah dari Syu’bah. Riwayat Rauh dari Syu’bah ini adalah isnad yang shahih yang menjelaskan bahwa Utsman tidak sendirian meriwayatkan hadits.” (Qa’idah Jalilah fi at-Tawassul wal Wasilah. hlm 106).

            Dari paparan di atas, nyatalah bahwa kisah di muka dinilai shahih oleh At-Thabarani Al- Hafidh Abu Abdillah Al-Maqdisi. Penilaian shahih ini juga dikutip oleh Al-Hafidh Al- Mundziri, Al-Hafidh Nuruddin Al-Haitsami dan Syaikh Ibnu Taimiyyah. Kesimpulan dari kisah di muka adalah bahwa Utsman ibn Hunaif, sang perawi hadits yang menjadi saksi dari kisah tersebut, telah mengajarkan do’a yang berisi tawassul dengan Nabi SAW dan memanggil beliau untuk memohon pertolongan setelah beliau wafat, kepada orang yang mengadukan kelambanan khalifah Utsman ibn Affan untuk mengabulkan keperluannya. Ketika lelaki itu mengira bahwa kebutuhannya dipenuhi berkat ucapan Utsman ibn Hunaif kepada khlaifah, Utsman segera menolak anggapan ini dan menceritakan hadits yang telah ia dengar dan ia saksikan untuk menegaskan kepadanya bahwa kebutuhannya dikabulkan berkat tawassul dengan Nabi SAW, panggilan dan permohonan bantuannya kepada beliau SAW. Utsman juga meyakinkan lelaki itu dengan bersumpah bahwa ia sama sekali tidak berbicara apa-apa dengan khalifah menyangkut kebutuhannya.

          4. Dari ‘Utsman ibnu ‘Abdillah ibnu Mauhib, ia berkata, “Keluargaku mengutus saya kepada Ummu Salamah dengan membawa gelas berisi air. Lalu Ummu Salamah datang dengan membawa sebuah genta dari perak yang berisi rambut Nabi. Jika seseorang terkena penyakit ‘ain atau sesuatu hal maka ia datang kepada Ummu Salamah membawakan bejana untuk mencuci pakaian. “Saya amati genta itu dan ternyata saya melihat ada beberapa helai rambut berwarna merah,” kata ‘Utsman. HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Libaas Bab Maa Yudzkaru fi Al Syaibi.

            Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menegaskan, “Waki’ telah menjelaskan hadits di atas dalam karangannya. “Genta (Jaljal) itu terbuat dari perak yang dibuat untuk menyimpan rambut-rambut Nabi yang ada pada Ummu Salamah. Jaljal adalah benda mirip lonceng yang terbuat dari perak, kuningan atau tembaga. Kerikil-kerikil yang bergerak-gerak dalam jaljal terkadang dibuang lalu apa yang dibutuhkan diletakkan dalam jaljal. (Fathul Bari jilid 1 hlm. 353).

            Al-Imam Al-‘Aini berkata, “Penjelasan hadits di atas intisarinya adalah bahwa Ummu Salamah memiliki beberapa helai rambut Nabi SAW yang disembunyikan dalam sebuah benda mirip genta dan orang-orang ketika mengalami sakit memohon berkah dari rambut tersebut serta memohon kesembuhan dari keberkahan rambut itu. Mereka mengambil sebagian rambut Nabi dan meletakkannya dalam wadah berisi air. Kemudian mereka meminum air yang ada rambutnya itu hingga mereka sembuh. Keluarga ‘Utsman itu mengambil sedikit dari rambut itu dan meletakkannya dalam gelas dari perak. Mereka lalu minum air yang berada dalam wadah tersebut hingga mereka sembuh. Selanjutnya mereka mengutus ‘Utsman dengan membawa gelas perak itu kepada Ummu Salamah. Ummu Salamah pun mengambil gelas itu dan meletakkannya pada genta. Lalu ‘Utsman mengamati isi genta itu dan ternyata ia melihat beberapa rambut berwarna merah. Ucapan ‘Utsman : “Jika seseorang terkena penyakit ‘ain atau sesuatu hal maka ia datang kepada Ummu Salamah membawakan bejana untuk mencelup kain dst, adalah ucapan ‘Utsman ibn ‘Abdillah ibn Mauhib. Maksudnya adalah bahwa keluargaku…. Demikian penafsiran Al-Kirmani.

            Sebagian ulama mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa orang-orang, jika salah satu dari mereka. Pendapat Al-Kirmani lebih tepat, yang menjelaskan bahwa seseorang jika ia terkena penyakit ‘ain atau sesuatu hal maka keluarganya mengirimkan kepada Ummu Salamah sebuah bejana untuk mencuci pakaian yang disi dengan air dan sedikit rambut Nabi yang berkah. Orang tersebut kemudian duduk dalam bejana tersebut hingga ia sembuh kemudian rambut itu dikembalikan lagi kepada Ummu Salamah. (‘Umdatul Qaari Syarhu Shahihi Al-Bukhari jilid 18 hlm. 79 ).

            MENURUT SALAFI WAHABI (INGAT, YG BENAR ITU SALAF, BUKAN SALAFI), SYIRIK TIDAK PERBUATAN TERSEBUT?

        2. @Mas ahmadsyahid

          Al-Imam Al-Hafidh As-Syaikh ‘Imadu Ad-Din Ibnu Katsir mengatakan, “Sekelompok ulama, diantaranya Syaikh Abu Al-Manshur As-Shabbagh dalam kitabnya As-Syaamil menuturkan sebuah kisah dari Al ‘Utbi yang mengatakan, “Saya sedang duduk di samping kuburan Nabi SAW. Lalu datanglah seorang A’rabi (penduduk pedalaman Arab) kepadanya, “Assalamu’alaika, wahai Rasulullah saya mendengar Allah berfirman : “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S.An.Nisaa` : 64).

          Dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan atas dosaku dan memohon syafaat denganmu kepada Tuhanku.” Kata A’rabi. Kemudian A’rabi tadi pergi. Sesudah kepergiannya saya tertidur dan bermimpi bertemu Nabi SAW, “Kejarlah si A’rabi dan berilah kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.”

          Kisah ini diriwayatkan oleh An-Nawawi dalam kitabnya yang populer Al-Idhaah pada bab 6 hlm. 498. juga diriwayatkan oleh Al-Hafidh ‘Imadu Ad-Din Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Syaikh Abu Muhammad Ibnu Qudamah juga meriwayatkannya dalam kitabnya Al-Mughni jilid 3 hlm. 556. Syaikh Abu Al-Faraj ibnu Qudamah dalam kitabnya As-Syarh Al-Kabir jilid 3 hlm. 495, dan Syaikh Manshur ibn Yunus Al-Bahuti dalam kitabnya yang dikenal dengan nama Kasysyaafu Al-Qinaa’ yang notabene salah satu kitab paling populer dalam madzhab Hambali jilid 5 hlm. 30 juga mengutip kisah dalam hadits di atas.

          Al-Imam Al-Qurthubi, pilar para mufassir menyebutkan sebuah kisah serupa dalam tafsirnya yang dikenal dengan nama Al-Jaami’. Ia mengatakan, “Abu Shadiq meriwayatkan dari ‘Ali yang berkata, “Tiga hari setelah kami mengubur Rasulullah datang kepadaku seorang a’rabi. Ia merebahkan tubuhnya pada kuburan beliau dan menabur-naburkan tanah kuburan di atas kepalanya sambil berkata, “Engkau mengatakan, wahai Rasulullah!, maka kami mendengar sabdamu dan hafal apa yang dari Allah dan darimu. Dan salah satu ayat yang turun kepadamu adalah : Saya telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan untukku.” Kemudian dari arah kubur muncul suara : “Sesungguhnya engkau telah mendapat ampunan.” (Tafsir Al-Qurthubi jilid 5 hlm. 265).

          Apakah para wahabi akan mengatakan bahwa kisah diatas adalah dhoif? atau mereka ingin mengatakan bahwa para Imam tersebut telah meriwayatkan dan mengajarkan kemusryikan?

          Hidup dan Mati itu sama saja, karena yg memberi manfaat sesungguhnya adalah Allah s.wt. Bila ada orang yg berkeyakinan bahwa orang hidup dapat memberi manfaat dan terlepas dari kekuasaan Allah s.w.t, maka orang tersebut juga dapat jatuh dalam perbuatan syirik.

          1. barakallahu fiik Ustadzuna Agung , bagi kaum wahabi semua Hadist dan atsar yang berkaitan dengan Tawassul dan Istighotsah bil am-wat , semuanya dhaif bahkan menurut mereka Hadist dan atsar tentang hal itu sebagian besar Maudhu` , kecuali Hadist a`ma dari Utsman bin hunef riwayat syu`bah itu shahih , hanya menurut mereka hadist ini salah difahami oleh para penyembah kubur.

            kembali kepda contoh – contoh yang disampaikan akhuna dakir , sebaiknya antum ungkap kebathilan 3 syarat karangan syeikh Ibnu taimiyah diatas , sambil menunggu Ikhwan wahabi yang mumpuni untuk diskusi hingga tuntas , selama ini yang muncul cuma kroco-kroconya doang , mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan.

      3. Mas dakir@

        Di atas itu antum baru bicara “apa itu TAUHID”, dan saya bilang itu nggak fokus, makanya saya tambahkan sebagai koreksi bahwa TAUHID adalah mengesakan Allah dalam segala hal-NYA. Ini cakupannya lebih luas, sebab Allah kaitannya dengan tauhid itu bukan cuma menyangkut penciptaan / pengaturan (rububiyyah) dan dan atau uluhiyyah. Penciptaan / pengaturan itu masuk dalam sifat “Qodrat”, yaitu salah satu dari 20 sifat bagi Allah. Dapat antum bayangkan, baru satu sifat “Qodrat” sudah menelan “Tauhid Rubiyyah” yang dibangga-banggakan kaum Wahabi. Masih ada 19 sifat lagi lho Mas. Tentunya saya tidak sanggup untuk mengetiknya jika harus menerangkan kesemuanya.

        Kalau masalah pembagian Tauhid menjadi 3, jelas saya sangat mengingkarinya. Alasannya, sangat jelas pembagian tauhid ini bukan ajaran dari Rasulullah Saw. Selain itu pembagian Tauhid ini mempunyai efek samping yg sangat buruk bagi yg menganut Tauhid model ini. Efek sampingnya yg sangat buruk itu adalah mudah sekali mensyirikkan dan atau memusrikkan kepada orang lain. Kalau tuduhan atau vonis ini salah, antum tahu kan akibatnya? Akan musyrik sendiri itu yang menuduh musyrik, demikian nabi Muhammad melarang menuduh musyrik dan juga kafir.

        Sebagai contoh, dalam bukunya Syaikh Abdullah bin Mani’ menggelari Professor doktor Sayyid Muhammad bin Allawy Al Maliki sebagai dedengkot Kemusyrikan. Padahal yg digelari dedengkot kemusyrikan ini adalah anak cucu Rasulullah Saw. Sebabnya adalah karena Sayyid Muhammad hobby tawassul dan tabarruk. Antum bisa ceck tentang masalah ini di buku “Hiwar Ma’a Al Maliki” karya Syaikh Abdullah bin Mani’

        Jadi kalau antum mengaku tidak memusyrikkan kaum muslimin yg bertawassul, ziarah kubur, atau tabarruk, berarti antum benar2 punya pemahaman “tersendiri/menyempal” dari pemahaman Syaikh2 Wahabi. Artinya antum punya “PEMAHAMAN BARU” , Wahabi bukan, Aswaja bukan, Syi’ah juga bukan. Hebat antum Mas dakir, berarti antum termasuk mujtahid di bidang aqidah.

        1. @Imam Dakir
          Ayo keluarin ilmu dan semua jurusnya, Wahabi Pantang Menyerah, sekalipun harus berbohong. Tegakkan Tauhid Tiga Walau dengan kebohongan. Karena bersumpah demi Allah walaupun berbohong lebih baik, daripada bersumpah atas nama selain Allah.

        2. @mbk aryati

          saya paling kagum dengan tauhid asma wa shifatnya wahabi. takwil itu dilarang. dan karena melarang takwil, mereka mensifatkan Allah s.w.t yg maha suci dan sempurna dengan sifat wajah, tangan, betis, bahkan sifat sakit dan lupa.

          bahkan, tanpa ragu ragu mereka mengatakan bahwa orang yg melakukan takwil bukan ahlussunah, artinya, menurut wahabi, Imam Mujahid, Imam Hambali, dan Imam Bukhori bukan ahlussunah, karena ereka melakukan takwil.

        3. kalo begitu mbak, apakah berarti rosululloh tidak mengajarkan kpd ummatnya agar:
          ” berkeyakinan bhw Allah satu2nya yg mencipta, menguasai, menngatur alam semsta ini, dan Dia satu2nya pemilik nama2 yg husna dan sifat2 yg mulia, serta hendaknya hanya kpdNya saja kita beribadah?”
          (krn kata mbak tauhid 3itu bkn ajaran rosululloh, sedang isinya adalah spt saya sebutkan diatas).

          Untuk tambahan2 ttg masalah tauhid dr sodara2, intinya saya banyak setuju, dan cocok, dan itu adalah masalah2 yg lbh dlm ttg tauhid. jazakkumullohu khoiron katsiron.

          1. rupanya mas dakir tidak cermat membaca jawaban Mbak Aryati :

            ” Kalau masalah pembagian Tauhid menjadi 3, jelas saya sangat mengingkarinya. Alasannya, sangat jelas pembagian tauhid ini bukan ajaran dari Rasulullah Saw ” .

            sementara isi dari pembagian Tauhid adalah ” pemisahan ” Rabb dan Ilah , dan inilah Bid`ah Dolalah yang sesungguhnya , karena bertentangan dengan Qur`an dan Hadist.

          2. mas dakir, yang saya bilang bukan ajaran Rasulullah adalah pembagian TAUHID JADI 3. Jika antum bersikeras menganggap pembagian Tauhid adalah ajaran Rasulullah Saw, tolong sebutkan haditsny tentang pembagian ini, satu saja walaupun yg dhoif juga nggak apa2.

            Pembagian Tauhid ini bisa menimbulkan fitnah kepada muslim lain, juga merugikan bagi si pelaku TAUHID TIGA sendiri akabat “SELF DISTRUTION” dari karakter TAUHID WAHABI ini. Tidak ada Umat Islam yg mempraktekkan TAUHID 3 kecuali kaum Wahabi. Dan ini terbukti menimbulkan fitnah di mana-mana di seluruh dunia, contoh terakhir yg menjadi berita besar adalah Penghancuran Masjid di Libiya oleh SALAFI WAHABI. Masjid tersebut dihancurkan akibat SU’UDZON bahwa masjid digunakan sebagai arena kemusyrikan. FITNAH BESAR semacam inilah yg timbul dari keyakinan TAUHID TIGA.

            Di Libiya juga makam Wali Allah diledakkan kaum Salafi Wahabi, sampai-sampai jenazahnya keluar dan masih utuh segar setelah ratusan tahun dimakamkan! Ini sekedar contoh yg jadi berita internasional bagaimana efek FITNAH dari keyakinan TAUHID TIGA.

          3. Jadi mbak setuju “isinya”? (spt yg saya sebutkan) tapi mbak tidak setuju dng “penamaan” tauhid dibagi 3 gitu???

            kl penamaan “tauhid 3” itu mmg saya belum dengar ttg dalilnya, tp kl membaginya dlm rangka utk memudahkan dlm memahami tauhid saya kira ini mirip dng ulama yg mengatakan bhw :
            “sholat itu terdiri dari rukun2 dan syarat2”.
            “sifat wajib Allah itu 20” dsb.

            Pemisahan robb dan ilah? (saya blm paham maksudnya).
            tp kl ttg adanya org yg mengakui rubbubiyah Allah tapi tdk mentauhidkan Allah dlm peribadatan (uluhiyyah) saya sptnya pernah menemui.
            yaitu (kisah nyata lagi mbak, jng bosen ya..) :
            -adalah teman sesama tkg servis yg nasrani, ketika saya tanya:
            “apakah yesus yg menciptakan alam semesta ini sehingga kok kamu menyembah dia?”
            dia katakan “tidak”, sedang alasan dia menyembah yesus adalah “dia itu jalan yg harus dilalui bg org yg ingin menuju Allah” (yesus is the way). lalu ttg penciptaan alam semesta dia akui bhw Allah yg menciptakannya.

            -dr kalangan yg mengaku islam, saya jg mendengar berita yg sdh tenar, ttg mereka2 yg melakukan pemujaan kpd nyai roro kidul (parangtritis), tabarruk dng “lethong” kerbau kyai slamet, thowaf dikuburan kyai balak (disolo).
            bknkah thowaf dan pemujaan itu termasuk ibadah? lalu bgmn kalo ditujukan kpd selan Allah?

            dr 2 contoh bknkah merk mengakui rubbubiyyah Allah dan tdkmengesakan Allah dlm Ulluhiyyah?

          4. Bismillah,

            Mas @dakir,

            apa benar yang anda katakan berikut ?

            tp kl ttg adanya org yg mengakui rubbubiyah Allah tapi tdk mentauhidkan Allah dlm peribadatan (uluhiyyah) saya sptnya pernah menemui.

            apa pengertian “Rububiyah” menurut anda ? dan apa saja aspek yang terkandung dalam makna Rububiyah ? Mohon penjelasannya… terimakasih..

          5. mas dakir, saya tidak mengatakan setuju, lho ya? Sebab saya benar2 tidak setuju istilah TAUHID RUBUBIYYAH Ataupun TAUHID ULUHIYYAH. Ini adalah masalah USHUL atau POKOK AGAMA, harus ada contohnya dari rasul SAW. Jangan samakan dengan rukun2 shalat yg jelas2 ada contohnya dari Rasul Saw.

            TAUHID RUBUIBIYYAH dan TAUHID ULUHIYYAH sama sekali tidak ada contohnya. Saya Tanya, apakah rasul dan para Sahabat pernah menyebut Abu Jahal n Abu Lahab itu bertauhid rububiyyah? Tidak pernah kan? Lalu kenapa kaum Wahabi berani-beraninya menyebut Abu Jahal dan Abu Lahab bertauhid Rububiyyah? Itulah kacaunya Tauhid rekaan Wahabi ini, sangat bertentangan dg ajaran Nabi Saw.

            Biar lengkap dan tidak berefek FITNAH mestinya ditambah lagi, misalnya TAUHID KAUNIYYAH, TAUHID DZATIYYAH, TAUHID WUJUDIYYAH, dll. Sebab Tauhid itu tidak cuma menyangkut rububiyyah dan uluhiyyah semata-mata.

            Coba renungkan hadits Nabi berikut ini, hadits shahih:
            “Dari abu dzar ra. berkata, rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seorang hamba Allah yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallah kemudian mati dengan kalimat itu melainkan ia pasti masuk sorga”, saya berkata : “walaupun ia berzina dan mencuri?”, Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri”, saya berkata lagi : “walaupun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri, walaupun abu dzar tidak suka” (HR imam bukhary, bab pakaian putih, Hadis no. 5827). Lihat. ada ratusan hadis tentang “kalimat tauhid laa ilaha illallah dalam kutubushitah!”

            Kalimat “laailaha illalllah” mencakup rububiyah dan uluhiyah, kalau saja uluhiayah tak mencukupi, maka syahadat ditambah : “laa ilaha wa rabba illallah”
            tapi nyatanya tidak ada tambahan ROBBA semenjak dahulu Nabi kita memperkenalkan kalimat TAUHID !!

            Karena itu tidak layak Abu jahal dan Abu Lahab digelari BERTAUHID RUBUBIYYAH.

          6. MAAF SODARA2,
            – mohon say jng ditanya “APA PENDAPAT ANDA”?
            karena saya ini tkg servis yg gak level berpendapat dlm masalah ini. jd hrp dirubah pertanyaannya’
            “APA YG ANDA PAHAMI DR PENDAPAT ORG YG MENGATAKAN BEGINI ATAU BEGITU?”

            -ttg perbuatan2 dr org2 yg anda sebut wahhaby, jng ditanyakan kpd saya ya?

            Allah sbg Rabb dan Allah sbg ilah lalu mengharuskan utk mengesakan Nya sbg satu2nya rabb dan menjadikanNya satu2nya ilah yg diibadahi tdk ada dalilnya?

            kata mbak:
            “Kalimat “laailaha illalllah” mencakup rububiyah dan uluhiyah”

            kata saya:
            laa ilaaha illa Llaah = kalimat tauhid.
            mencakup (=kandunganya) = RUBBUBIYAH DAN ULUHIYYAH.
            (sudah berdampingan blm mbak??)

            hadits diatas adalh keutamaan laa ilaaha illallaah, mgkn gak ada hubngannya dgn diskusi ini.

            saya berkata : ada yg “mengakui rubbubiyah Allah” BUKAN “bertauhid” lho nggih?
            Rubbubiyah definisinnya mgkin susah bg saya, tp secara global dia meliputi PENGUASAAN, PENCIPTAAN DAN PENGATURAN alam semesta ini. dan scr detilnya bisa saja lbh dari itu namun saya blm mengerti seandainya ada.

            jd pernyataan saya akan terkoreksi begini:
            “tp kl ttg adanya org yg mengakui SEBAGIAN/SEBAGIAN BESAR rubbubiyah Allah tapi tdk mentauhidkan Allah dlm peribadatan (uluhiyyah) saya sptnya pernah menemui.

          7. @dakir-tukang-elektronik
            “jd pernyataan saya akan terkoreksi begini:
            “tp kl ttg adanya org yg mengakui SEBAGIAN/SEBAGIAN BESAR rubbubiyah Allah tapi tdk mentauhidkan Allah dlm peribadatan (uluhiyyah) saya sptnya pernah menemui”.

            Nah menurut ane, ini bagus untuk didiskusikan, karena ente kan sudah mengamati dan pengalaman, ya gak ?

          8. ya saya setuju mas ucep, benar bahwa mas dakir dan kaum wahabi lainnya memang sangat berpengalaman dalam memusyrikkan ummat islam yg diluar golongannya.

            Nah bagi kaum awam semuanya, kalau anda ingin Ahli dalam memusyrikkan ummat islam, maka belajarlah TAUHID TIGA kepada kang dakir, dijamin 1 jam langsung jadi AHLI, gak perlu pakai lama belajarnya. DIJAMIN!

          9. hadeeeeeeeehhhhhh kok kayak dalil tahlil, tapi anehnya tahlil dikatakan bidah tapi tauhid 3 kok tidak bidah yaaaaaa…… hhehehehehhehe

          10. mas Zuhal, tauhid 3 itu Bid’ah Dholalah, yaitu termasuk bid’ah di bidang aqidah. Hanya Wahabi yg bilang Tauhid tiga bukan bid’ah, padahal tidak ada contoh dari Nabi Saw.

            Ini kan soal Tauhid, soal ushul / pokok agama, harus ada contoh dari Nabi saw. kalau nggak ada contohnya pasti kacau deh, terbukti tauhid 3 itu adalah Tauhid yg kacau dan full fitnah!

          11. Nah, itu mas dakir, lihat tambahan dari ustadz Ahmad Syahid;, bahwa pembagian Tauhid ini adalah BID’AH DHOLALAH, bertentangan dg Al Qur’an dan Hadits. Tentunya ini bukan asal ngomong, mas dakir.

            Kalau TAUHID nya saja Bid’ah Dholalah, terus bagaimana selanjutnya?

          12. si dakir tukang servicenya ke mana neh? Kok gak ada sopannya pisan atuh? Kok menghilang tanpa pamit?

            diskusi baik2 kok tiba2 ngilang kayak dedemit hutan Halimun? Padahal saya sudah nungguin kelanjutannya, lho?

            Syukron Mbak Aryati,

  17. mantab Mbak Aryati, ikut nyimak ya Mbak?

    mas dakir, hati2 lah belajar ilmu tauhid…. bisa2 yg antum pelajari itu tauhid yg rusak.

  18. Tambahan sedikit untuk mas @dakir-tukang-elektronik

    Pengertian Tauhid : Mengesakan Allah dengan Yakin yang sebenar-benarnya, Tuhan yang tiada sekutu bagiNya (La Ila Ha Ilallah), yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, kesucian, kebesaran dan keadilan .
    Terapannya : Menancapkan kalimat La Illa Ha Ilallah dalam Hati, diucapkan dengan Lidah dan menerapkannya dalam kehidupan dan melaksanakan dengan Anggota Tubuh (termasuk Hati).
    Kalimat “La Illa Ha Ilallah” adalah Kalimat Tauhid atau disebut juga Kalimat Thayyibah dan Pengertian Kalimah Thayyibah secara bahasa adalah perkataan yang baik. Dalam Islam, Kalimat thayyibah adalah setiap ucapan yang mengandung kebenaran dan kebajikan yang bermanfaat bagi diri sendiri serta orang lain. Dimana mengandung aneka perbuatan ma’ruf dan pencegahan dari perbuatan munkar (Tafsir Depag V/ 182-183 dan Tafsir Wa Bayan Al-Qur’an oleh Dr. M. Hasan Al-Hamsy hal. 258).

    Firman Allah : Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kokoh, cabangnya menjulang ke langit. (QS Ibrahim : 24)
    Kalimat thoyyibah bagaikan pohon yang baik, yang akarnya kokoh menghujam ke dalam bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Artinya, bahwa kalimah yang baik adalah kalimat yang terpatri di dalam hati, sehingga membuat keyakinan dan keimanan menjadi lebih teguh dan tentram dalam menjalani Hidup.
    Ibnu Abbas dalam tafsirnya mengatakan bahwa pohon yang baik adalah gambaran pribadi yang baik, muslim yang muchlis, yang melahirkan maslahah dan selalu menjadi teladan di lingkungannya.

    Perlu diketahui, ucapan yang baik, sangat dipengaruhi oleh pribadi dan keimanan kita. Dalam hal ini, hati sangat mendominasi. Kalau hati kita baik, maka yang keluar dari lisan kita, tindak tanduk kita adalah sesuatu yang baik. Juga sebaliknya, kalau hati kita dipenuhi dengan hasad dan kedengkian atau segala macam yang mengotori hati, maka yang keluar adalah kata-kata dan tindak tanduk maksiat.

    Didalam Al quran, kalimat Tauhid diulang sampai 80 kali. Itu berarti, kalimat ini mengandung makna yang dalam dan Untuk menerapkan didalam kehidupan, agar kalimat thayyibah itu tertancap dengan kuat, maka kita dibekali dengan Al Qur’an.

    Dalam Rububiyyah : 2:21, 2:131, 2:139, 3:51, 3:193, 5:28, 5:72, 5:117, 6:45, 6:71, 6:100, 6:102, 6:162, 6:163, 6:164, 7:54, 7:61, 7:67, 7:104, 7:121, 7:172, 9:129, 10:3, 10:10, 10:37, 11:34, 13:16, 13:30, 18:14, 18:38, 18:51, 19:36, 19:65, 21:22, 21:56, 22:66, 26:24, 26:26, 26:28, 26:47, 26:48, 26:77, 26:109, 26:127, 26:145, 26:164, 26:180, 26:192, 27:8, 27:26, 27:44, 27:91, 28:30, 29:61, 32:2, 35:13, 37:5, 37:87, 37:182, 38:66, 39:75, 40:27, 40:62, 40:64, 40:65, 40:66, 41:9, 42:15, 42:53, 43:9, 43:46, 43:64, 43:82, 44:7, 44:8, 45:36, 46:13, 51:23, 53:49, 55:17, 56:80, 59:16, 69:43, 69:52, 70:40, 78:37, 79:19, 81:29, 83:6, 106:3, 113:1, 114:1.
    Dalam Uluhiyyah : 1:5, 2:21, 2:22, 2:83, 2:126, 2:131, 2:132, 2:133, 2:136, 2:139, 2:163, 2:177, 2:255, 2:256, 2:285, 3:2, 3:6, 3:18, 3:62, 3:64, 3:67, 3:79, 3:80, 3:83, 3:84, 3:110, 3:114, 4:36, 4:39, 4:87, 4:171, 5:73, 6:19, 6:71, 6:79, 6:102, 6:106, 6:151, 6:162, 6:163, 7:59, 7:65, 7:70, 7:73, 7:85, 7:140, 7:158, 9:18, 9:31, 9:129, 10:3, 10:30, 10:31, 10:32, 10:90, 10:104, 10:105, 11:2, 11:14, 11:26, 11:50, 11:61, 11:84, 12:37, 12:38, 12:39, 12:40, 12:108, 13:14, 13:15, 13:16, 13:30, 13:33, 13:36, 14:52, 16:2, 16:22, 16:36, 16:48, 16:49, 16:51, 16:52, 16:73, 17:22, 17:23, 17:39, 17:111, 18:14, 18:26, 18:38, 18:110, 19:35, 19:36, 19:65, 20:8, 20:14, 20:98, 21:22, 21:24, 21:25, 21:29, 21:108, 22:34, 22:62, 23:23, 23:32, 23:59, 23:91, 23:116, 23:117, 24:55, 25:68, 26:47, 26:48, 26:77, 27:25, 27:26, 28:70, 28:71, 28:72, 29:16, 29:46, 29:63, 34:22, 34:24, 34:33, 35:3, 36:23, 37:4, 37:35, 38:65, 39:3, 39:4, 39:6, 39:64, 39:66, 40:12, 40:14, 40:62, 40:65, 40:66, 41:6, 41:37, 43:45, 43:64, 43:84, 44:8, 47:19, 51:51, 52:43, 59:22, 59:23, 60:4, 64:13, 71:3, 72:2, 72:18, 72:20, 73:9, 98:5, 112:1, 112:4, 114:3.

    Dan Sunnah dalam hadist :
    Pada riwayat Muslim di dalam kitab shahihnya dari Utsman ra bahwa Nabi Muhammad saw bersabda : Barang siapa yang mati dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah maka dia pasti masuk surga”.
    ”Manusia yang paling berbahagia dengan syafa’atku kelak adalah orang yang mengucapkan La ilaaha illallah dengan penuh ikhlas dari relung hatinya atau dirinya (HR Bukhari).
    Juga Sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan La illaaha illallah yang dengan kalimat itu semata-mata ia mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla” (HR Muslim).

    Ada sebagian orang yang setelah mempelajari Uluhiyah, Rububiyah dan Asma wa shifat, mengatakan penyembah berhala sudah bertauhid, adalah suatu kekeliruan yang besar, mereka (penyembah berhala) tetap saja dikatakan Kafir dalam Islam. Karena dihatinya tidak ada kalimat Thayyibah.
    Bahkan Allah dengan tegas berfirman : Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan : “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al Maaidah : 73).
    Kalimat Tauhid “La Ila Ha Ilallah”, harus kita bawa sampai syakratul maut (Ruh sampai di krongkongan), sehingga kita dapat khusnul khatimah, tapi kalau tidak sampai mengucapkan yah gak tahu, hanya kita pasrah saja kepada Allah yang Maha pengasih lagi Penyayang.
    Dalam Kitab Asrar atTanzil wa Anwar at Ta’wil karangan Imam Fakhruruddin ar Razi, dikatakan dimana kita meletakan Ushul Tauhid dan Furu Tauhid ?.

    Dari Hal diatas, akan terbit apa yang dikatakan dengan Iman.
    Pengertian Iman adalah Keyakinan yang kokoh dengan hati, mengakui dengan lidah dan melaksanakan dengan anggota tubuh. Iman atau bahasa Indonesianya Percaya.
    Rukun Iman yang kita pedomani ada 6 perkara dan yang pertama adalah Iman kepada Allah. Untuk mempelajari Iman kepada Allah ini, kita diberikan pengetahuan tentang Allah yaitu Asma ul Husna atau Nama-nama Allah yang Agung (ada lebih dari 99 Nama) dan shifat Allah ada 20 (ada yang Wajib, Mustahil dan Harus) atau yang lebih dikenal dengan Asma wa shifat.

  19. boleh kasih masukan untuk kang admin….

    sebaiknya lain kali di launching tentang permasalahan kirim bacaan al qur’an menurut imam syafi’i…
    karena ini perlu diluruskan…. orang2 salafi mengutip penjelasan tentang tidak sampainya bacaan qur’an kepada mayit dari imam syafi’i dri qoul masyur…dengan hal ini seakan2 imam syafi’i berpendapat tdk sampai bacaan qur’an kepada mayit…. dan ujung2nya seakan2 kita yg syafiiyah bertentangan pendapat dgn imam syafi’i
    padahal sesungguhnya qoul mashur itu BUKAN MENGANGGAP TDK SAMPAI SECARA MUTLAK…. tpi sampai dengan syarat2 tertentu…..
    inget lho sampainya bacaan quran kpda mayit itu jatuhnya sudah ijma ulama salaf….mustahil bisa jadi ijma kalau imam syafi’i menganggap tdk sampai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker