Salafi Wahabi

Koreksi Buat Ustadz Firanda Soal Bid’ah Hasanah

BANTAHAN UNTUK SYUBHAT KEDUA

Bismillah,

Pada bantahan kami untuk syubhat pertama yang disampaikan oleh Ustadz Firanda dalam penolakannya atas konsep Bid’ah Hasanah, kami menggunakan argument yang menurut kami pribadi kami nilai kurang sopan dalam bahasa penyampaian kami. Hal itu disebabkan karena kami menganggap beliau adalah pelajar yang usianya lebih muda daripada kami, akan tetapi pada kesempatan kali ini, setelah kami tanpa sengaja mendapati foto beliau ternyata dalam perkiraan kami beliau lebih tua dari saya pribadi. Itulah yang membuat bahasa yang kami gunakan pada bantahan untuk syubhat pertama adalah bahasa peringatan dari saudara yang lebih tua, namun kali ini kami berusaha menggunakan bahasa kiritik dari saudara yang lebih muda.

Berikut pernyataan beliau dalam Syubhat Kedua :

Ustadz Firanda Berkata :

SYUBHAT KEDUA : Sabda Nabi “Seluruh Bid’ah Sesat, adalah lafal umum tapi terkhususkan”

Artinya, semua bid’ah itu sesat kecuali bid’ah-bid’ah hasanah. Pernyataan seperti ini memang terucap oleh sebagian ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah. Akan tetapi jika kita membaca kembali perkataan para ulama dengan saksama maka akan kita dapati secara gamblang bahwa maksud mereka dengan pengkhususan adalah dikhususkan dengan perkara-perkara yang merupakan al-maslahah al-mursalah, bahkan perkara-perkara yang wajib hukumnya. Jadi bukan bid’ah hasanah yang dipahami oleh kebanyakan pelaku bid’ah. (silahkan baca kembali Syubhat-Syubhat Para Pendukung Bid’ah Hasanah dan juga Semua Bid’ah Adalah Kesesatan).

Pada kenyataannya sabda Nabi “Seluruh bid’ah sesat” hanya bisa dikhususkan jika yang dimaksud dengan bid’ah adalah secara bahasa. Perhatikanlah perkataan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berikut :

قوله صلى الله عليه و سلم وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع قال أهل اللغة هي كل شيء عمل على غير مثال سابق قال العلماء البدعة خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة فمن الواجبة نظم أدلة المتكلمين للرد على الملاحدة والمبتدعين وشبه ذلك ومن المندوبة تصنيف كتب العلم وبناء المدارس والربط وغير ذلك ومن المباح التبسط في ألوان الأطعمة وغير ذلك والحرام والمكروه ظاهران وقد أوضحت المسألة بأدلتها المبسوطة في تهذيب الأسماء واللغات فإذا عرف ما ذكرته علم أن الحديث من العام المخصوص وكذا ما أشبهه من الأحاديث الواردة ويؤيد ما قلناه قول عمر بن الخطاب رضي الله عنه في التراويح نعمت البدعة ولا يمنع من كون الحديث عاما مخصوصا قوله كل بدعة مؤكدا بكل بل يدخله التخصيص مع ذلك كقوله تعالى تدمر كل شيء

“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Semua bid’ah sesat” adalah lafal yang umum tapi terkhususkan. Dan yang dimaksud adalah mayoritas bid’ah. Ahli bahasa berkata : “Bid’ah adalah seluruh perbuatan yang tanpa ada contoh sebelumnya”. Ulama berkata bahwasanya bid’ah ada 5 macam, wajib, mandub, haram, makruh, dan mubah. Diantara perkara yang wajib adalah pengaturan dalil-dalil ahlul kalam untuk membantah kaum atheis dan para mubtadi’ah dan yang semisalnya. Dan diantara bid’ah yang sunnah/mandub adalah penulisan kitab-kitab ilmu, pendirian madrosah-madrosah dan tempat belajar, dan yang selainnya. Diantara bid’ah yang mubah adalah berlapang dalam memakan makanan aneka ragam jenis makanan dan yang lainnya. Adapun bid’ah yang haram dan makruh maka telah jelas. Jika telah diketahui apa yang telah saya sebutkan maka diketahui bahwasanya hadits tersebut adalah umum tapi terkhususkan, dan demikian juga hadits-hadits yang semisalnya. Ini didukung dengan perkataan Umar bin Al-Khotthoob radhiallahu ‘anhu tentang sholat tarawih “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Dan sabda Nabi كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Semua bid’ah sesat” yang ditekankan dengan lafal كُلُّ “semua” tidaklah menghalangi bahwasanya lafal umum tersebut bisa dikhususkan, sebagaimana firman Allah تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ “Maka angin itu menghancurkan segala sesuatu” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 6/154-155)

Hal ini juga beliau tekankan dalam kitab beliau “Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab ;

(قوله) صلي الله عليه وسلم ” كل بدعة ضلالة ” هذا من العام المخصوص لان البدعة كل ما عمل علي غير مثال سبق قال العلماء وهى خمسة اقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة …ومن البدع الواجبة تعلم أدلة الكلام للرد علي مبتدع أو ملحد تعرض وهو فرض كفاية … ومن البدع المندوبات بناء المدارس والربط وتصنيف العلم ونحو ذلك

“Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Seluruh bid’ah sesat” merupakan lafal yang umum tapi terkhususkan, karena bid’ah adalah seluruh perbuatan yang tanpa contoh sebelumnya. Ulama menyatakan bahwa bid’ah ada 5 macam, wajib, mandub, haram, makruh, dan mubah….
Diantara bid’ah yang wajib adalah mempelajari dalil para ahli kalam untuk membantah mubtadi’ atau atheis, dan ini hukumnya adalah fardlu kifayah…
Dan diantara bid’ah yang sunnah adalah pendirian sekolah-sekolah dan tempat pendidikan, serta penulisan kitab-kitab ilmu dan yang semisalnya” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 4/519)

Dari penjelasan al-Imam An-Nawawi di atas dapat kita simpulkan :

Pertama : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Seluruh bid’ah sesat” keumumannya dianggap terkhususkan jika bid’ah di sini yang dimaksud adalah bid’ah secara bahasa, sebagaimana yang dipahami oleh al-Imam An-Nawawi. Meskipun pendapat al-Imam An-Nawawi ini dirasa kurang tepat, karena yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bid’ah dalam hadits-haditsnya adalah bid’ah menurut syari’at atau menurut istilah. (lihat kembali bab tentang seluruh bid’ah sesat).

Penjelasan Kami :

Pertama : Sebagaimana yang kami fahami, bahwasannya para Ulama yang membagi Bid’ah menjadi Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyiah/Madzmumah memang memaknai Bid’ah dengan pengertian yang identik dengan Bid’ah dalam arti lughowi (bahasa) yang selanjutnya pemahaman tersebut kami sebut dengan model pemahaman dengan pendekatan bahasa, sebagaimana Ta’rif (definisi) Bid’ah oleh Imam Al ‘Izz Bin Abdis Salam dalam Qowa’idul Ahkam dan Imam An Nawawi dalam Tahdzibul Asmaa’ wal Lughoot.

Kedua : Para Ulama (khususnya dari kalangan Muhadditsin) yang memandang Qodhiyah hadits كل بدعة ضلالة termasuk dalil yang bersifat ‘Am Makhsush bukan hanya Al Imam An Nawawi, akan tetapi ada diantaranya Al Imam Al Hafidh Ibnu Hajar Al ‘Asqolani dalam Fathul Bari, Al ‘Allamah Badruddin Al ‘Ain dalam ‘Umdatul Qori juga Al Hafidz Al Munawi dalam Faidhul Qodir, Al Hafidh As Suyuthi yang sependapat dengan Imam An Nawawi dalam Syarah Sunan An Nasai, dll.

Ketiga : Memahami Bid’ah Hasanah yang dimaksud oleh Imam An Nawawi hanya dengan hanya memperhatikan contoh-contoh yang beliau sampaikan –yang sejatinya contoh tersebut adalah pernyataan Ulama lain (Al Imam Al ‘Izz)- dan membatasi penerapan Bid’ah Hasanah hanya pada apa yang masuk kategori Al Masholih Al Mursalah adalah kesimpulan yang tergesa-gesa, dengan penjelasan yang Insya Alloh akan kami sampaikan selanjutnya.

 

Selanjutnya Ustadz Firanda Berkata :

Kedua : Lebih menunjukkan pemahaman al-Imam An-Nawawi di atas (dimana beliau memahami bid’ah yang disebutkan dalam hadits adalah bid’ah menurut bahasa), beliau menyatakan dalam kutipan di atas :

قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ : هِيَ كُلُّ شَيْءٍ عُمِلَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ

“Ahli bahasa berkata : “Bid’ah adalah seluruh perbuatan yang tanpa ada contoh sebelumnya”

Al-Imam An-Nawawi tatkala menyebutkan tentang bid’ah-bid’ah yang terkhususkan yang tidak termasuk dalam bid’ah dholalah (sesat) maka beliau mencontohkan dengan perkara-perkara yang termasuk dalam al-maslahah al-mursalah (atau yang dinamakan oleh sebagian ulama dengan bid’ah hasanah-sebagaimana telah lalu penjelasannya), seperti pendirian madrasah-madrasah, tempat belajar, penulisan kitab-kitab ilmu.

Ketiga : Bahkan al-Imam An-Nawawi juga mencontohkan diantara bid’ah yang dikhususkan dan tidak tercela adalah bid’ah yang mubah, seperti berluas-luas dalam memakan makanan yang beraneka ragam. Tentunya ini tidak dinamakan dengan al-maslahah al-mursalah, dan tidak juga dinamakan dengan bid’ah hasanah menurut sebagian ulama yang lain. Ini adalah murni bid’ah secara bahasa.

Sanggahan Kami :

Benar adanya bahwa contoh-contoh bid’ah hasanah yang dinuqil Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muhadzdzab tersebut adalah perkara-perkara yang masuk kategori Al Mashlahah Al Mursalah versi Imam As Syathibi. Akan tetapi membatasi penerapan Bid’ah Hasanah hanya dalam Al Mashlahah Al Mursalah adalah bukti ketidak-utuhan Sang Ustadz dalam memahami pemikiran Imam An Nawawi dan para Ulama Syafi’iyyah khususnya dalam konsep Bid’ah Hasanah, dengan beberapa penjelasan :

Pertama : Sang Ustadz tidak memperhatikan fatwa-fatwa Imam Nawawi dalam kitabnya yang lain, diantaranya tentang Ziyarah Maqbaroh Rosululloh saw dalam kitabnya Al Adzkaar. Juga dalam Tahdzibul Asma’ Imam An Nawawi mencontohkan Sholat tarowih sebagai Bid’ah Mandzubah, sedangkan Mushofahah (berjabat tangan) setelah sholat shubuh dan ashar adalah Bid’ah Al Mubahah. Disini kita mendapati ketidak jujuran atau ketidak utuhan pemahaman Sang Ustadz dalam konsep Bid’ah Hasanah versi Imam An Nawawi dan para Ulama Syafi’iyyah….

Kedua : “Al Mashlahah Al Mursalah” sebagai salah satu landasan hukum diperselisihkan, sebagian ada yang menerima sedang yang lain ada yang menolak (Lihat penjelasan Imam Al Ghozali tentang masalah ini dalam Al Mankhul)

Ketiga : Seandainya kita menerima Al Mashlahah Al Mursalah sebagai salah satu landasan hukum, maka kami katakan; bahwa konsep “Bid’ah Hasanah” dalam versi Syafi’iyyah berbeda dengan “Al Mashlahah Al Mursalah” versi para Ulama yang menerima “Al Mashlahah Al Mursalah” sebagai landasan hukum, dimana konsep Bid’ah Hasanah cakupannya lebih luas daripada Al Maslahah Al Mursalah :

Untuk lebih mudahnya kami ambil satu perkara sebagai contoh, yakni tentang Tahlilan atau Yasinan atau Dzikir berjama’ah yang lain.

Dalam contoh tersebut para ulama Syafi’iyah menganggapnya sebagai “Bid’ah” karena memang belum ada pada masa Rosululloh dan para sahabat kegiatan semacam ini. Akan tetapi para ulama yang memaknai Bid’ah dengan pendekatan bahasa memandangnya sebagai Bid’ah Hasanah, karena kegiatan tersebut bernaung dibawah dalil yang memotifasi Jama’ah Dzikir, seperti :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا قَالَ يَقُولُ فَمَا يَسْأَلُونِي قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ قَالَ يَقُولُونَ مِنْ النَّارِ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً قَالَ فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ يَقُولُ مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ قَالَ هُمْ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

banner gif 160 600 b - Koreksi Buat Ustadz Firanda Soal Bid’ah Hasanah

Dari Abi Huroiroh, ia berkata; Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Alloh mempunyai para malaikat yang senantiasa mengelilingi jalan-jalan guna mencari orang-orang yang berdzikir, dan ketika para malaikat mendapati kaum yang sedang berdzikir maka para malaikat berkata; ‘kemarilah, sampaikan hajat kalian’. Rosululloh bersabda: “Para malaikat tersebut mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap-sayap mereka sampai kelangit dunia.” Nabi bersabda: “Kemudian Alloh bertanya kepada para malaikat –sedang Alloh lebih tahu daripada para malaikat-Nya- “Apa yang diucapkan hamba-hamba-Ku?” para malaikat menjawab : “mereka mensucikan-Mu, mengagungkan-Mu, memuji-Mu, memulyakan-Mu”. Rosululloh bersabda: ‘Alloh bertanya : “Apakah mereka pernah melihat-Ku?” “Tidak –demi Alloh- mereka belum pernah melihat-Mu” jawab para malaikat. Rosululloh bersabda; Alloh bertanya : “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat-Ku?” para malaikat menjawab : “Seandainya mereka pernah melihat-Mu niscaya mereka akan lebih beribadah pada-Mu, lebih mengagungkan-Mu, lebih memuji-Mu juga lebih banyak mensucikan-Mu.” Rosululloh bersabda: Alloh bertanya : “Apa yang mereka minta pada-Ku?” “mereka meminta sorga” jawab para malaikat, Rosululloh bersabda: Alloh bertanya : “Adakah mereka pernah melihat sorga?” para malaikat menjawab : “Tidak –demi Alloh- mereka belum pernah melihat sorga.” “Bagaimana jika mereka pernah melihat sorga?” tanya Alloh. Para malaikat menjawab : “Seandainya mereka pernah melihat sorga niscaya mereka akan lebih menginginkannya dan akan lebih berusaha mendapatkannya serta akan lebih besar keinginannya akan sorga”. Rosululloh bersabda: Kemudian Alloh bertanya : “Dari apa mereka meminta perlindungan?” “dari neraka” jawab para malaikat, Rosululloh bersabda: kemudian Alloh bertanya : “Apakah mereka pernah melihat nereka?” para malaikat menjawab : “Tidak –demi Alloh- mereka belum pernah melihat neraka”. Rosululloh bersabda: Kemudian Alloh bertanya : “Bagaimana jika mereka pernah menyaksikan neraka?” para malaikat menjawab : “Seandainya mereka pernah menyaksikan neraka niscaya mereka akan lebih lari (menjauh) darinya dan akan lebih takut”. Rosululloh bersabda: Selanjutnya Alloh berfirman : “Maka saksikanlah oleh kalian bahwasannya Aku telah mengampuni mereka”. Rosululloh bersabda: Diantara para malaikat ada yang bertanya : “Diantara orang-orang yang berdzikir tersebut ada si fulan yang tidak termasuk diantara mereka (tidak ikut berdzikir), sesungguhnya dia datang karena ada suatu keperluan” Alloh pun menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang duduk (jadi satu), maka teman duduk mereka tidak akan celaka berkat mereka.” (HR, Bukhori, Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dan yang lain)

Dalam kaitan hadits diatas Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqolani memberi penjelasan sebagai berikut:

وَفِي الْحَدِيْثِ فَضْلُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ واَلذَّاكِرِيْنَ وَفَضْلُ الْاِجْتِمَاعِ عَلَى ذَلِكَ وَاَنَّ جَلِيْسَهُمْ يَنْدَرِجُ مَعَهُمْ فِي جَمِيْعِ مَا يَتَفَضَّلُ اللهُ تَعَالَى بِهِ عَلَيْهِمْ اِكْرَامًا لَهُمْ وَلَوْ لَمْ يُشَارِكْهُمْ فِي أَصْلِ الذِّكْرِ وَفِيْهِ مَحَبَّةُ الْمَلآئِكَةِ بَنِي اَدَمَ وَاعْتِنَاؤُهُمْ بِهِمْ

Dalam hadits tersebut terdapat keutamaan majlis-majlis dzikir, orang-orang yang berdzikir, juga keutamaan untuk berkumpul guna berdzikir. Dan sesungguhnya orang yang ikut duduk dengan orang-orang yang berdzikir, ia masuk dalam golongan orang-orang yang berdzikir dalam semua keutamaan yang diperoleh -sebagai penghormatan bagi orang-orang yang berdzikir- meskipun orang yang ikut duduk tersebut samasekali tidak ikut dzikir bersama mereka. Dan dalam hadits tersebut juga terdapat (penjelasan tentang) kecintaan dan pertolongan para malaikat kepada manusia. (Fathul Bari vol, 11. hal, 213)

Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :

عَنْ الْأَغَرِّ أَبِي مُسْلِمٍ أَنَّهُ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dari Al Aghorr Abi Muslim, ia berkata ; Aku menyaksikan Abu Huroiroh dan Abu Sa’id Al Khudzri, keduanya menyaksikan bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berdzikir kepada Alloh melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat tercurah pada mereka, ketenangan turun atas mereka, dan Alloh memuji mereka dihadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. (HR. Muslim)

Sedangkan para Ulama yang memaknai Bid’ah dengan pendekatan Ishthilahi (terminologi) tidak menyebut kegiatan tersebut sebagai Bid’ah. Oleh karenanya As Syaikh Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang hal tersebut :

وَسُئِلَ : عَنْ رَجُلٍ يُنْكِرُ عَلَى أَهْلِ الذِّكْرِ يَقُولُ لَهُمْ : هَذَا الذِّكْرُ بِدْعَةٌ وَجَهْرُكُمْ فِي الذِّكْرِ بِدْعَةٌ وَهُمْ يَفْتَتِحُونَ بِالْقُرْآنِ وَيَخْتَتِمُونَ ثُمَّ يَدْعُونَ لِلْمُسْلِمِينَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ وَيَجْمَعُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّكْبِيرَ وَالْحَوْقَلَةَ وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُنْكِرُ يُعْمِلُ السَّمَاعَ مَرَّاتٍ بِالتَّصْفِيقِ وَيُبْطِلُ الذِّكْرَ فِي وَقْتِ عَمَلِ السَّمَاعِ ”

Syaikh Ibnu Taimiyah ditanya tentang seseorang yang mengingkari ahli dzikir (berjama’ah) dengan berkata pada mereka : “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah.” Jama’ah tersebut memulai dan menutup dzikirnya dengan al qur’an, lalu mendo’akan kaum muslimin yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Mereka merangkai bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Hauqolah (Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah) dan sholawat kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ?

Beliau menjawab :

فَأَجَابَ : الِاجْتِمَاعُ لِذِكْرِ اللهِ وَاسْتِمَاعِ كِتَابِهِ وَالدُّعَاءِ عَمَلٌ صَالِحٌ وَهُوَ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فِي الْأَوْقَاتِ فَفِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { إنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ فَإِذَا مَرُّوا بِقَوْمِ يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إلَى حَاجَتِكُمْ } وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ { وَجَدْنَاهُمْ يُسَبِّحُونَك وَيَحْمَدُونَك } لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ هَذَا أَحْيَانًا فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ وَالْأَمْكِنَةِ فَلَا يُجْعَلُ سُنَّةً رَاتِبَةً يُحَافَظُ عَلَيْهَا إلَّا مَا سَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُدَاوَمَةَ عَلَيْهِ فِي الْجَمَاعَاتِ ؟ مِنْ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِي الْجَمَاعَاتِ وَمِنْ الْجُمُعَاتِ وَالْأَعْيَادِ وَنَحْوِ ذَلِكَ . وَأَمَّا مُحَافَظَةُ الْإِنْسَانِ عَلَى أَوْرَادٍ لَهُ مِنْ الصَّلَاةِ أَوْ الْقِرَاءَةِ أَوْ الذِّكْرِ أَوْ الدُّعَاءِ طَرَفَيْ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ وَغَيْر ذَلِكَ : فَهَذَا سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا

Syaikh Ibnu Taimiyah menjawab :”Berkumpul untuk berdzikir, mendengarkan al qur’an dan berdo’a adalah amal sholih dan termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama di setiap waktu. Dalam shohih (Al Bukhori) bahwasannya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Alloh memiliki banyak malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Alloh, maka mereka memanggil : “Silahkan sampaikan hajat kalian”, Ibnu Taimiyah menuturkan hadits tersebut (secara utuh), dan didalamnya terdapat redaksi; “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”. Akan tetapi hendaknya hal ini dilakukan dalam sebagian waktu dan keadaan, dan tidak menjadikannya sebagai sunnah yang dipelihara yang mengiringi sholat, kecuali perkara yang telah di contohkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk di lakukan secara istiqomah berupa sholat lima waktu, jum’at, dan perayaan-perayaan (‘id) juga yang semisal. Adapun memelihara rutinitas wirid-wirid yang ada padanya, berupa sholawat, bacaan al qur’an, dzikir, atau do’a setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan hamba-hamba Alloh yang sholih zaman dahulu dan sekarang. (Majmu’ Fataawaa, vol. 22, hal. 520)

Meskipun dengan jujur harus kami katakan; bahwa beliau tidak menganjurkan untuk dilakukan secara continue dan menganjurkan untuk dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Akan tetapi justru hal ini menjadi Musykil (sesuatu yang membingungkan) bagi kami, Bukankah diawal jawaban, beliau katakan hal itu adalah termasuk Qurbah dan Ibadah yang paling utama ? Selanjutnya mengapa beliau membatasi pelaksanaannya ? Wallohu A’lam…

Kami bertanya; Adakah Tahlilan, Yasinan, atau kegiatan semacamnya termasuk Al Mashlahah Al Mursalah ?….

Al Mashlahah Al Mursalah wilayahnya meliputi kemaslahatan (kepentingan umum) yang ketetapan hukumnya tidak didapati secara pasti dalam sumber hukum utama dalam islam.
Contoh yang terjadi di masa sahabat: Pembuatan Tahanan, Mencetak mata uang, penetapan lahan pertanian hasil pembebasan untuk tetap dikelola oleh para pemiliknya serta menetapkan Khorroj atas mereka, dll.

Sedang yang terjadi dimasa kita, seperti : Itsbat Nikah melalui KUA, Koordinasi pelaksanaan hajji oleh KBIH, Proses perceraian harus melalui sidang pengadilan agama demi melindungi hak masing-masing, Pembuatan KTP, dst…

Bagi para ulama yang menolak Al Mashlahah Al Mursalah sebagai landasan hukum, mereka mengembalikan hukum atas hal-hal diatas kepada sumber utama, jika tidak didapati dari al qur’an dan as sunnah maka dikembalikan pada Ijma’ para sahabat atau ditempuh jalan Qiyas. Selanjutnya jika hal-hal diatas diketahui sejalan atau tidak menyelisihi dengan sumber hukum yang disepakati, maka termasuk “Bid’ah Hasanah”, dan jika diketahui menyalahi sumber hukum yang disepakati, maka disebut “Bid’ah Madzmumah/Sayyiah”.

Dengan demikian Konsep “Bid’ah Hasanah” lebih luas cakupannya daripada “Al Mashlahah Al Mursalah”, sehingga membatasi penerapan “Bid’ah Hasanah” hanya dalam perkara-perkara yang masuk kategori “Al Mashlahah Al Mursalah” (menurut para ulama yang menerima sebagai landasan hukum) adalah bukti ketidak fahaman atas konsep “Bid’ah Hasanah” versi Syafi’iyyah.

Selanjutnya Ustadz Firanda Berkata :

Keempat : Dengan demikian jika kita membawakan makna bid’ah dalam hadits kepada makna bid’ah secara syari’at (bukan menurut bahasa) maka sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Seluruh bid’ah sesat” akan tetap pada keumumannya dan tidak terkhususkan.

Lafal كُلُّ “seluruh” dalam ushul fiqh merupakan lafal umum yang kuat. Dan para ahli ushul fiqh telah menyebutkan bahwasanya lafal umum akan tetap berlaku keumumannya sampai ada dalil yang menkhususkannya. Lafal umum bisa dikhususkan dengan tiga perkara, (1)”dalil dari al-qur’an atau sunnah”, (2)”akal”, dan (3)”al-hiss/yang ditangkap oleh indra (kenyataan yang terjadi)” (lihat Irsyaad al-Fuhuul karya Al-Imam Asy-Syaukaany 2/678)

Contoh lafal umum yang dikhususkan dengan akal seperti firman Allah

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah menciptakan segala sesuatu” (QS Az-Zumar : 62)

Tentunya akal sehat menunjukkan bahwa Allah tidak menciptakan sifat-sifatNya apalagi menciptakan diriNya sendiri.
Contoh lafal umum yang dikhususkan dengan al-hiss, seperti firman Allah:

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لا يُرَى إِلا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

“Angin yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS Al-Ahqoof : 25).

Tentunya indra kita mengetahui bahwasanya kenyataannya tidak semuanya yang dihancurkan oleh angin tersebut, langit dan bumi tidak dihancurkan oleh angin tersebut.

Demikian juga firman Allah
وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ
“Dan dia (ratu Balqis) dianugerahi segala sesuatu” (QS An-Naml : 23)

Tentunya indra menunjukkan bahwa ia tidak diberikan segala sesuatu di bumi ini, diantaranya ia tidak menguasai kerajaan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam.

Sebagian orang tatkala ingin menolak keumuman كُلُّ “semua” dalam hadits ini selalu menyatakan bahwa lafal كُلُّ tidak selamanya memberikan faedah keumuman, sebagaimana ayat-ayat di atas. Maka kita jawab mereka, dengan mengatakan bahwa ayat-ayat di atas dikhususkan dengan akal atau al-hiss.

Lantas jika kita memperhatikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Semua bid’ah sesat”, maka apakah ada dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang mengkhususkannya?, ataukah akal mengkhususkannya?, ataukah apa yang ditangkap oleh indra kita mengkhususkannya?.

Adapun pengkhususan al-Imam An-Nawawi terhadap lafal umum كُلُّ “semua” dalam sabda Nabi “seluruh bid’ah sesat” maka berangkat dari pemahaman bahwasanya yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bid’ah adalah bid’ah secara bahasa. Oleh karenanya diantaranya beliau berdalil dengan kenyataan yang ditangkap oleh indra bahwasanya ada perkara-perkara bid’ah yang benar-benar terjadi, seperti berluas-luas dalam memakan aneka ragam makanan, yang tentunya hal ini merupakan perkara yang diperbolehkan namun tidak terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu A’lam bis Showaab.

Penjelasan Kami :

Dari uraian Sang Ustadz diatas, kita dapati kengototan beliau dalam menolak “Bid’ah Hasanah”, dan saking ngototnya hingga beliau melupakan atau tidak mencermati pernyataan Imam An Nawawi dalam Syarah Muslim yang telah beliau nuqil diatas. Bukankah disana disebutkan bahwa diantara yang menguatkan pendapat Imam An Nawawi mensifati sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ” sebagai dalil ‘Am Makhsush (Umum yang dibatasi), adalah pernyataan Sayyidina Umar bin Khotthob “Ni’matil Bid’atu Hadzih” tentang Jama’ah sholat tarowih. Adakah hal itu bukan hujjah ?

Kami bertanya : Ada apa dengan Sang Ustadz ini ? Adakah beliau sengaja mengaburkan salah satu hujjah pembatasan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ” ? Ataukah karena saking ngototnya dalam menolak “Bid’ah Hasanah” hingga beliau kurang mencermati akan hal tsb ? Wallohu A’lam….

Bersambung… Insya Alloh

Oleh: Abu Hilya

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

9 thoughts on “Koreksi Buat Ustadz Firanda Soal Bid’ah Hasanah”

  1. ahsantum Ustadz Abu Hilya , tulisan antum semakin memperjelas inkonsistensi ustadz firanda , seolah ustadz firanda lupa jika diapun telah menukil perkataan Imam an-nawawi tentang Takhsish Kullu Bid`atin dolalah , eeh masih nanya :

    ” Lantas jika kita memperhatikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Semua bid’ah sesat”, maka apakah ada dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang mengkhususkannya?, ataukah akal mengkhususkannya? “.

    Ustadz firanda pura2 tidak tahu ampuun dah….., lanjutkan Ustadz Abu hilya kami selalu mengikuti ulasan antum.

  2. Firanda benar2 ngotot, ini tercermin sangat jelas dalam alinea terakhir dari tulisannya ini, sampai-sampai dia berkata: ” كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Seluruh bid’ah sesat” akan tetap pada keumumannya dan tidak terkhususkan.
    Lafal كُلُّ “seluruh” dalam ushul fiqh merupakan lafal umum yang kuat. Dan para ahli ushul fiqh telah menyebutkan bahwasanya lafal umum akan tetap berlaku keumumannya sampai ada dalil yang menkhususkannya. ”

    Dalam masalah ini, siapa sih ulama yg mengatakan seperti yg dikatakan Firanda? Akibat ngotot, banyak sekali penipuan yg dilakukan firanda ini, sungguh terlalu.

    Sebaiknya Firanda ini ditantang debat khusus so’al “Bid’ah Hasanah’ ini, harus secara terbuka, sampai dia tidak bisa ngomong lagi. biar pengekornya tahu Firanda ini adalah orang jahil yg benar2 jahil.

    1. Wah…, saya sangat setuju kalau ada yg menantang debat dg Firanda khusus mengenai permasalahan bid’ah hasanah. Saya yakin Firanda tidak akan mampu bicara banyak seandainya debat dilaksanakan secara terbuka. Saya pastikan akan KO di ronde2 awal. Tampak sekali dari tulisan2 nya, Firanda tidak begitu memahami apa yg sedang dibicarakannya. Sangat tidak konsisten.

      Usaha2 untuk membungkam mulut2 wahabi semacam firanda adalah termasuk ibadah yg besar pahalanya. Insyaallah akan bisa meredam fitnah2 yg terlanjur tersebar dari otak orang2 yg suka menyebar fitnah semacam Firanda.

  3. Mantab, Firanda semakin pusing tujuh keliling tentang pembagian bid’ah dengan penukilan ulama yang membagi bid’ah, Sudah menukil, tapi firanda masih ngotot aja.
    Biarin aja pusing sendiri dia, nti lama-lama juga dia bicara2 sendiri.

  4. mantap ni gayung bersambut gimana jika mas Admin mengundang Ustadz firanda untuk diskusi di Blog Ummati , boleh dicoba mas admin mudah2an dia berani.

    1. Wah ide yang lebih mantab mas @ahmad syahid.
      Dapat juga dipancing dulu dengan artikel di ummati ini. siapa tahu firanda mengoreksinya. Tapi artikel apa kira2, karena ana pernah main2 keblognya, terlihat Firanda gak punya specialisasi ilmu, yang ada cuma acak2 hadist.

  5. Bismillah,

    Alhamdulillah, Ust. Ahmad Syahid, Mas Ucep, dan segenap asatidza ummati masih aktif di blog ini. ana mohon pamit sementara setidaknya hingga akhir bulan Maulid, karena ada keperluan yang harus kami laksanakan… kami mohon para asatidza terutama mas ahmad syahid, mas ucep, mas agung, mas lasykar, mas derajat mbak aryati dan yang lain bersabar untuk terus berjuang dalam melindungi aqidah kita, khususnya di ummati ini…

    Tentang mungkin diskusi dengan Ustadz Firanda, sungguh menarik dan kami akan sangat berbahagia jika hal itu terlaksana setelah ana bisa on lagi disini… setidaknya sebagai penyimak dan penimbah ilmu… du’aukum semua….

  6. kalau smua bid’ah adalah sesat,,trus bagaimana ust. firanda menanggapi al-qur’an yg ada sekarang..bukankah al-qur’an sekarang bid’ah(tanda titik dan syaklnya). pdahal rosulullaoh tidak pernah memerintahkan mmbukukan al-qur’an,,apalagi diberi titik dan syakl.

  7. tlong bgi smua sja,apalagi ust. firanda,kalau mmahami islam hrus memakai ilmu yg ckup, jgn hnya bsa berkomentar skehendak hati.. tkutlah kepada Alloh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker