Fikih Sunnah

KONTRADIKSI SEORANG SYEH MUHAMMAD BIN SHOLIH AL ‘UTSAIMIN

TELAAH KRITIS BID’AH VERSI SYEH MUHAMMAD BIN SHOLIH AL ‘UTSAIMIN

 

Oleh: Abu Hilya

 

Dalam kitabnya Al Ibda’ Fi Kamali As Syar’i Wa Khothoril Ibtida’ Syeh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin berkata :

قوله (كل بدعة ضلالة) كلية, عامة, شاملة, مسورة بأقوى أدوات الشمول والعموم (كل), افبعد هذه الكلية يصح ان نقسم البدعة الى اقسام ثلاثة, أو الى خمسة ؟ ابدا هذا لايصح.

Hadits “KULLU BID’ATIN DHOLALATUN” (semua bid’ah adalah sesat), bersifat general, umum, menyeluruh (tanpa terkecuali) dan dipagari dengan kata yang menunjuk pada arti umum yang paling kuat yaitu kata-kata seluruh (Kullu). Apakah setelah ketetapan menyeluruh ini kita dibenarkan membagi bid’ah menjadi tiga bagian, atau menjadi lima bagian ? selamanya pembagian ini tidak akan pernah sah. (Syeh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin, al Ibda’ fi Kamalis Syar’iy wa Khothoril Ibtida’ , hal; 13)

Dalam uraian diatas kita dapati syekh al ‘Utsaimin menutup kemungkinan kata Kullu untuk memiliki makna lain, bahkan beliau mensifati Qodhiyah “KULLU BID’ATIN DHOLALATUN” tersebut dengan sifat Kulliyah (general), ‘Ammah (Umum), Syamilah (menyeluruh) dan memandang qodhiyah “Bid’atin Dholalah” (bid’ah adalah sesat) telah dipagari dengan Adat Syumul wal Umum (kata yang berindikasi umum dan menyeluruh) terkuat, yang berarti tanpa kecuali. Sehingga dalam akhir redaksi diatas kita dapati pernyataan selamanya pembagian ini tidak akan pernah sah

Selanjutnya mari kita buktikan apakah Syeh al ‘Utsimin konsisten dengan pernyataannya, bahwa :

– Kata Kullu yang tidak dapat bermakna sebagian, atau beliau memberlakukan kata Kullu tidak dapat bermakna sebagian hanya khusus hadits diatas?
– Bid’ah tidak akan pernah sah untuk dibagi selamanya…( benarkah Syaikh ‘Utsaimin akan tetap konsisten dengan pernyataanya ini? )

Untuk membuktikannya, silahkan perhatikan dalam kitabnya yang lain Syeh al ‘Utsaimin berkata :

ان مثل هذا التعبير (كل شيئ) عام قد يراد به الخاص, مثل قوله تعالى عن ملكة سبأ : (وأوتيت من كل شيئ) و قد خرج شيئ كثير لم يدخل في ملكها منه شيئ مثل ملك سليمان. ( الشيخ العثيمين , شرح العقيدة الواسطية, ص : 336 )

Sesungguhnya redaksi seperti ini “KULLU SYAY’IN” (segala sesuatau) adalah kalimat general yang terkadang dimaksudkan pada makna terbatas, seperti firman Alloh Ta’ala tentang ratu Saba’; “Ia dikaruniai segala sesuatu”. (QS, An Naml: 23). Sedangkan banyak sekali sesuatu yang tidak masuk dalam kekuasaannya, seperti kerajaan Nabi Sulaiman.  (Syeh al ‘Utsaimin, Syarah al Aqidah al Wasithiyyah, hal 336)

BACA :  Bolehkah Makmum Tidak Ikut Imam Baca Qunut Subuh ?

Disini kita dapati Syeh al ‘Utsaimin mematahkan tesisnya sendiri tentang ke-umum-an arti kata Kullu dengan mengacu pada kenyataan, bahwa tidak semua berada dalam kekuasaan ratu Saba’, karena kenyataannya banyak yang tidak masuk dalam kekuasaannya termasuk kerajaan Nabi Sulaiman. Pertanyaannya, mengapa beliau tidak melakukan hal yang sama (melihat kenyataan) pada hadits “Kullu Bid’atin Dholalatun”. Terlebih jika memperhatikan hadits-hadis yang lain….

Berikutnya, apakah beliau tetap konsisten dengan pernyataanya selamanya pembagian ini (bid’ah) tidak akan pernah sah ? berikut pernyataan beliau selanjutnya :

الاصل في امور الدنيا الحل فما ابتدع منها فهو حلال الا ان يدل الدليل على تحريمه, لكن امور الدين الاصل فيها الحظر, فما ابتدع منها فهو حرام بدعة الا بدليل من الكتاب والسنة على مشروعيته ( الشيخ العثيمين , شرح العقيدة الواسطية, ص : 336 )

Hukum asal dalam perkara perkara dunia adalah halal, maka inofasi (bid’ah) dalam urusan dunia adalah halal, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Tetapi hukum asal dalam urusan agama adalah terlarang, maka apa yang diperbarukan / diadakan (bid’ah) dalam urusan-urusan agama adalah haram dan bid’ah, kecuali ada dalil dari al Kitab dan Sunnah yang menunjukkan ke-masyru’-annya (keberlakuannya). (Syeh al ‘Utsaimin, Syarah al Aqidah al Wasithiyyah, hal 639-640)

BACA :  Video Praktek: Cara Shalat Seperti Shalatnya Nabi Saw
banner gif 160 600 b - KONTRADIKSI SEORANG SYEH MUHAMMAD BIN SHOLIH AL ‘UTSAIMIN

Dalam penjelasannya diatas Syeh al ‘Utsimin mematahkan pernyataannya yang lain setidaknya dalam dua hal:

-di atas beliau berkesimpulan: selamanya pembagian ini (bid’ah) tidak akan pernah sah, tapi kenyataannya beliau membagi bid’ah dengan dua macam: yakni Bid’ah Dunia dan Bid’ah Agama.
– Di atas sudah menyatakan keumuman makna kata Kullu, tetapi pernyataanya disini kita dapati adanya bid’ah yang tidak sesat yakni bid’ah dunia.

Selanjutnya mari kita cermati pandangan beliau tentang realita pendirian pondok pesantren, menyusun ilmu, mengarang kitab dan yang lain sbb :

ومن القواعد المقررة ان الوسائل لها احكام المقاصد, فوسائل المشروع مشروعة, ووسائل غير المشروع غير مشروعة, بل وسائل المحرم حرام, فالمدارس وتصنيف العلم وتأليف الكتب وان كانت بدعة لم يوجد في عهد النبي صلى الله عليه وسلم على هذا الوجه الا انه ليس مقصدا بل هو وسيلة, والوسائل لها احكام المقاصد, ولهذا لو بنى شحص مدرسة لتعليم علم محرم كان البناء حراما, ولو بنى مدرسة لتعليم علم شرعي كان البناء مشروعا ( الشيخ العثيمين , الابداع فى كمال الشرع وخطر الابتداع , ص : 18-19 )

“Dan diantara kaedah yang ditetapkan adalah bahwa “Perantara (wasilah) itu memiliki hukum-hukum maqoshid (tujuan) nya. Jadi perantara untuk tujuan yang disyari’atkan adalah disyari’atkan (pula), dan perantara untuk tujuan yang tidak disyari’atkan (perantara tsb) juga tidak disyari’atkan, bahkan perantara tujuan yang diharamkan adalah haram (hukumnya). Adapun pembangunan madrasah-madrasah, menyusun ilmu, mengarang kitab, meskipun itu semua Bid’ah dan tidak ditemukan/tidak didapati pada masa Rosululloh SAW dalam bentuk seperti ini, namun ia bukan tujuan melainkan hanya perantara, sedang hukum perantara (wasilah) mengikuti hukum tujuannya. Oleh karena itu bila seseorang membangun madrasah untuk mengajarkan ilmu yang diharamkan maka membangunnya dihukumi haram, dan bila membangun madrasah untuk mengajarkan ilmu syari’at, maka pembangunannya disyari’atkan.” (Syeh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin, al Ibda’ fi Kamalis Syar’iy wa Khothoril Ibtida’ , hal; 18-19)

BACA :  Salafy - Wahabi: Menuduh HAMAS Penipu Ummat!

Coba kita perhatikan tulisan yang berhuruf merah diatas, sekali lagi secara implisit beliau mematahkan tesisnya tentang ke-umum-an arti kata Kullu, bahkan secara implisit pula beliau telah membagi bid’ah dalam kategori “WASILAH” (perantara) dan “MAQOSHID” (tujuan). Sehingga jika kita cerna dengan logika bahasa, maka mafhum dari apa yang beliau katakan adalah :

– Jika Bid’ah itu berupa “WASILAH” (perantara) maka hukumnya mengikuti “MAQOSID” (tujuan) tanpa memandang apakah itu urusan dunia atau urusan agama.
– Adanya “WASILAH BID’AH” dan “WASILAH BUKAN BID’AH”
– Hukum “WASILAH BID’AH” mengikuti hukum “MAQOSHID” yang berarti terbagi menjadi lima, yakni wajib, mandzubah, mubah, makruh dan haram.

Jika mereka ( salafi / wahabi ) tidak mau mengategorikan “WASILAH” termasuk bid’ah, lantas apakah bisa dikategorikan sunnah dalam pengertian mereka? Kenyataanya mereka tidak mau menganggap sunnah terhadap apa-apa yang tidak ada pada masa Nabi SAW dan para Sahabat dan justru dengan bersikeras menganggapnya sebagai bid’ah sesat….

Selanjutnya jika mereka (salafi/wahabi) memang konsisten dengan pendapat Syeh al ‘Utsimain diatas tentang hukum “WASILAH”, lantas mengapa mereka sedemikian beraninya menganggap membaca kitab-kitab Maulid (Siroh Nabawi, pujian melalui qoshidah dan Sholawat) adalah Bid’ah Sesat? Apa memang tidak ada perintah baca sholawat? Apa memang tidak ada para sahabat yang bercerita tentang Nabi SAW? apa memang tidak ada sahabat yang memuji Nabi SAW dengan senandung Nasyid mereka…? Atau karena mereka ( salafi ) tidak / belum tahu? Atau tidak mau tahu?… Atau jangan-jangan mereka menganggap kitab-kitab MAULID adalah MAQOSHID (tujuan)? Annnehhh… (mubalagho).

Wallohu A’lam

Bersambung ke …  (TELAAH KRITIS PEMBAGIAN BID’AH DUNIA DAN BID’AH AGAMA) Insya Alloh….

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

35 thoughts on “KONTRADIKSI SEORANG SYEH MUHAMMAD BIN SHOLIH AL ‘UTSAIMIN”

  1. Katanya Ulama kok nggak konsisten dg ilmunya, maunya kok yg sesuai dg selaranya doangan? lah, kan lucu…. bicara tentang KULLU aja belepotan nggak konsist kayak gitu kok disebut Ulama Agung? Aneh bin ajaib ya?

    Semoga para pengikut yg disesatkannya mendapat kesempatan bertobat, kasihan mereka hanya korban ajaran sesat.

  2. Alhamdulillah @ Ustadz Abu Hilya , terima kasih banyak atas ilmu dari anda…. Semoga menjadi hujjah kami dalam memperjuangkan yang Hak. Syukron.

  3. Menurut Ustadz Abu Hilal malang (bukan Abu Hilya) syeh Utsaimin hafal diluar kepala Kitab Syarah Bukhori “Fatul bari” apa karena terlalu hafal itu ya terus kemudian lupa,
    . Dan yg penting beliau syeh Utsaimin melupakan bahwa Imam Syafi’i telah membagi Bid’ah menjadi dua.

    Alhamdulillah, Imam kami Al-Imam Syafi’i sangat konsisten.

  4. Baca tulisan ini jd inget video ini. di video ini org saudi memuji-muji pangeran meraka Al Alaweed dengan membaca syair. apakah ini jg termasuk bidah dholalah, kalu bukan bidaah, knp para pembeci maulid membidahkan maulid Nabi Muhammad Shollaallahualihi wasalam 😛

  5. Gue ikut pendapat imam nawawi aja. kalo kullu bi’ah bermakna menyeluruh tanpa di khususkan wah mereka juga kena dong. bukankah tablig akbar atau bedah buku juga perkar baru?

  6. @Para Wahabier
    Coba jelaskan arti kata “KULLU”, kalau memang merasa ILMIAH ! Berani gaaaa??? Jangan ikuti selera sendiri !! Ayo yang suka MEMPERSOALKAN amalan Muslimin, bisa jelasin ga?? Ayo yang merasa lebih pintar dari Syayidina Umar, Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al Asqolani?

  7. Benar2 terbukti kontradiktif, sangat tidak layak disebut sbg ulama, pantasnya disebut apa ya? Bukankah seorang Ulama itu harus bisa dipegang kata2nya, bagaimana kalau plin-plan (kontradiktif) seprti Syaikh ini?

    Semoga bisa menggugah kesadaran bagi para pemujanya, sehingga tidak malu lagi untuk bertobat, amiin.

        1. Jamari Salaman Haz@
          Maksudnya…, Syaikh Wahabi yg bernama Muhammad bin Sholih Al Utsaimin tsb tidak layak disebut Ulama, begitu kan mas Jamari?

  8. Cuma mrk yang ber-manhaj salaf saja yang bisa memahami ucapan, pendapat atau fatwa Syaikh Sholih Al Utsaimin, tak bisa dipahami oleh manusia yang diliputi oleh hawa nafsu krn kebanyakan amalan bid’ah-nya.
    seorang muslim yang amaliahnya lurus dan bersih akan mendapati manfa’at pada kelurusan dan bersihnya akal dan pemahaman. Sedangkan mrk yang bergelimangan dengan amalan yg tercampur, mengakibatkan juga akal dan pemahamannya tercampur alias tidak bersih, dikotori oleh hawa nafsu.

    1. Bukankah ‘manhaj salaf’ juga tidak ada di jaman Rosululloh..? Bukankah semua hal yang tidak ada/dicontohkan oleh Rosulullah SAW adlh bid’ah sesat menurut salafi..? Taklid ya taklid mas bro,tapi mbok ya jgn sampai buta..
      Dunia ini luas,tengoklah jendela dan keluarlah,jangan ngendon didalam rumah mlulu,smoga bertambah cakrawalah berpikir,tidak pongah mengklaim selain ‘manhajnya’ adalah salah.
      Piss ah…

  9. Wong Pantura, Manhaj salaf nama baru?.
    Monggo di chek mas :
    1. Al Imam Al Baihaqi Asy syafi’I berkata : “Mazhab salaf dan ashabul hadist kholaf adalah Al Qr’an itu kallamullah (bukan makhluk)” – Al Asma wa shifaat, Abu Bakar Ahmad bin Husain Al Baihaqi, 2/17 no. 586
    2. Imam Al Haramain menyatakan taubatnya dari manhaj ilmu kalam “Aku telah mengarungi lautan yang luas, dan aku telah menyelami segala sesuatu yang dilarang oleh ulama, semua itu dalam rangka mencari kebenaran serta lari dari taqlid, namun sekarang aku kembali dan aku yakini mazhab salaf” – Fathul Bari 13/350.
    3. Al Khatib Al Baghdadi berkata: “Diantara bahaya terbesar adalah menetapkan satu pendapat yang menyelisihi mazhab Salaf dari kalangan imam-imam kaum muslimin dalam hukum puasa yang merupakan salah satu rukun agama, dan aku dengan kehendak Allah menyebutkan sunnah-sunnah yang ma’tsur dan hadist-hadist shohih yang masyhur dari Rasulullah dan shahabat beliau yang terpilih lagi diridhoi.dan juga generasi setelah mereka, yaitu tabi’in. – Al Majmu Syarah Al muadzdzab 6 / 419.
    4. Al Imam An nawawi: “Diantar pendapat Salaf dan para imam kholah yang sudah jelas lagi tersebar luas bahwa iman itu bertambah dan berkurang dan ini adalah mazhab Salaf, muhadditsin dan sekelompok ahlu kalam, namun kebayakan ahlu kalam mengingkari bertambah dan berkurangnya iman. – Syarah Muslim 1/48.
    5. Al Imam Ibnu Qudamah berkata: “Sesungguhnya tidak ada perbedaan pendapat bahwa mazhab Salaf (dalam hal sifat-sifat Allah) adalah menetapkan dan menyerahkan, serta tidak memasuki takwil dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk) – Tahrimun Nazhr fi Kutubil Kalam halmn 36.

    1. MANHAJ SALAF yg mana? Para Salaf berbeda beda pendapat seperti Para Imam madzab rodliyallahuanhum. Ibnu taymiyah sekalipun bukan Ulama’ Salaf
      apalagi syeh Ibnu Wahab.

      coba tulis aslinya , tak baik menterjemah semaunya (tanpa ada sanad dari empunya kitab. bahay akhi. nanti jangan2 empunya Kitab nanti tak bertanggung jawab terhadap antum. hati2 akhi

      Ana doakan dg rajin berkunjung ke Blog ini antum Tafakur karena Allah

    2. Bismillah,

      Mas @ibn abdul chair,

      Maaf mas anda bacanya dari kitab mana ? berikut satu koreksi :

      فاذا تقرر ما ذكرناه من مذاهب السلف وأئمة الخلف فهي متظاهرة متطابقة على كون الايمان يزيد وينقص وهذا مذهب السلف والمحدثين وجماعة من المتكلمين وأنكر أكثر المتكلمين زيادته ونقصانه

      sedang yang lain mohon dikoreksi sendiri

    3. @Ibn Abdul Chair

      di kalangan Ahlussunnah dikenal istilah “Ulama Salaf”; mereka adalah orang-orang terbaik dari kalangan Ahlussunnah yang hidup pada tiga abad pertama tahun hijriah. Tentang para ulama Salaf ini, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik abad adalah abad-ku (periode sahabat Rasulullah), kemudian abad sesudah mereka (periode Tabi’in), dan kemudian abad sesudah mereka (periode Tabi’i at-Tabi’in)” (HR. at-Tirmidzi).

      ketika zaman Nabi Muhammad saw., semua permasalahan yg ada, langsung di tanyakan kepada Nabi Muhammad saw. Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia, muncullah generasi sahabat, yg kemudian di kenal dengan mazhab sahabat. Setelah generasi sahabat, muncullah dua mazhab besar, yaitu mazhab ahli ra’yu dan mazhab ahli hadist. Setelah itu, muncullah ratusan mazhab, seperti mazhab hanafi, maliki, syafi’I, hanbali, Al Auza’I, zhahiri dll. Namun, dari semua mazhab yg ada, yg terpenting adalah mazhab yg empat, karena keempat mazhab itulah yg masih sampai kepada kita karena terus mendapat dukungan dari ulama ulama setelah mereka.

      saudara mengutip pendapat Imam Imam Ahlussunah Wal Jama’ah, tapi, apakah saudara tahu, Imam Nawawi, Imam Al Haramain dan Imam Al Baihaqi bermazhab Syafi’iyyah. Al Imam Ibn Qudamah, merupakan pembesar madzhab Hanabilah dengan kitabnya berjudul Al-Mughni.

      Orang yg mengikuti mazhab yg empat, berarti mengikuti generasi salaf.

    4. @Ibn Abdul Chair : “Imam Ibnu Qudamah berkata: “Sesungguhnya tidak ada perbedaan pendapat bahwa mazhab Salaf (dalam hal sifat-sifat Allah) adalah menetapkan dan menyerahkan, serta tidak memasuki takwil dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk)”.

      Jawab :

      Diatas anda mengutip pendapat Imam Ibnu Qudamah yg melarang takwil. Al Imam Ibn Qudamah, merupakan pembesar madzhab Hanabilah dengan kitabnya berjudul Al-Mughni.

      Dalam kitab Sharîh al-Bayân Fî ar-Radd ’Alâ Man Khâlaf al-Qur’ân karya al-Imâm al-Hâfizh Abdullah al-Harari. metode takwil dipakai oleh para ulama Salaf terkemuka. al-Imâm Abdullah ibn Abbas dari kalangan sahabat Rasulullah, al-Imâm Mujahid (murid Abdullah Ibn Abbas) dari kalangan tabi’in, termasuk al-Imâm Ahmad ibn Hanbal dan al-Imâm al-Bukhari dari golongan yang datang sesudah mereka menggunakan metode takwil.

      Imam al-Bayhaqi menuliskan sebagai berikut:
      “Mengkabarkan kepada kami al-Hakim, berkata: Mengkabarkan kepada kami Abu ‘Amr ibn as-Sammak, berkata: Mengkabarkan kepada kami Hanbal ibn Ishak, berkata: Aku telah mendengar pamanku Abu Abdillah (Ahmad ibn Hanbal) berkata: ”Mereka (kaum Mu’tazilah) mengambil dalil dalam perdebatan denganku, –ketika itu di istana Amîr al-Mu’minîn–, mereka berkata bahwa di hari kiamat surat al-Baqarah akan datang, demikian pula surat Tabarak akan datang. Aku katakan kepada mereka bahwa yang akan datang itu adalah pahala dari bacaan surat-surat tersebut. Dalam makna firman Allah QS. al-Fajr 22, bukan berarti Allah datang, tapi yang dimaksud adalah datangnya kekuasaan Allah. Karena sesungguhnya kandungan al-Qur’an itu adalah pelajaran-pelajaran dan nasehat-nasehat”

      Diriwayatkannya dari al-Hakim dari Abu ‘Amr as-Sammak dari Hanbal, bahwa al-Imâm Ahmad ibn Hanbal telah mentakwil firman Allah: Al-Fajr : 22. bahwa yang dimaksud ayat ini bukan berarti Allah datang dari suatu tempat, tapi yang dimaksud adalah datangnya pahala yang dikerjakan ikhlas karena Allah. Tentang kualitas riwayat ini al-Bayhaqi berkata: “Kebenaran sanad riwayat ini tidak memiliki cacat sedikitpun”, sebagaimana riwayat ini telah dikutip oleh Ibn Katsir dalam kitab Târîkh-nya.

      Kemudian al-Hafzih al-Bayhaqi menuliskan:
      “Dalam peristiwa ini terdapat penjelasan kuat bahwa al-Imâm Ahmad tidak meyakini makna “al-Majî’” –dalam QS. al-Fajr di atas– dalam makna datangnya Allah dari suatu tempat. Demikian pula beliau tidak meyakini makna “an-Nuzûl” pada hak Allah yang –disebutkan dalam hadits– dalam pengertian turun pindah dari satu tempat ke tempat yang lain seperti pindah dan turunnya benda-benda. Tapi yang dimaksud dari itu semua adalah untuk mengungkapkan dari datangnya tanda-tanda kekuasaan Allah, karena mereka (kaum Mu’tazilah) berpendapat bahwa al-Qur’an jika benar sebagai Kalam Allah dan merupakan salah satu dari sifat-sifat Dzat-Nya, maka tidak boleh makna al-Majî’ diartikan dengan datangnya Allah dari suatu tempat ke tempat lain. Oleh karena itu al-Imâm Ahmad menjawab pendapat kaum Mu’tazilah dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah datangnya pahala bacaan dari surat-surat al-Qur’an tersebut. Artinya pahala bacaan al-Qur’an itulah yang akan datang dan nampak pada saat kiamat itu”

      Dari penjelasan di atas terdapat bukti kuat bahwa al-Imâm Ahmad memaknai ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah, juga hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah, tidak dalam pengertian zhahirnya. Karena pengertian zhahir teks-teks tersebut seakan Allah ada dengan memiliki tempat dan kemudian berpindah-pindah, juga seakan Allah bergerak, diam, dan turun dari atas ke bawah, padahal jelas ini semua mustahil atas Allah.

      Dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subki juga menuliskan sebagai berikut: Dan saya tahu persis bahwa orang-orang pengikut madzhab Maliki semuanya adalah kaum Asy’ariyyah, tidak terkecuali seorangpun dari mereka. Demikian pula dengan para pengikut madzhab asy-Syafi’i, kebanyakan mereka adalah kaum Asy’ariyyah, kecuali beberapa orang saja yang ikut kepada madzhab Musyabbihah atau madzhab Mu’tazilah yang telah disesatkan oleh Allah. Demikian pula dengan kaum Hanafiyyah, kebanyakan mereka adalah orang-orang Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali beberapa saja yang mengikuti madzhab Mu’tazilah. Lalu, dengan kaum Hanabilah (para pengikut madzhab Hanbali), orang-orang terdahulu dan yang terkemuka di dalam madzhab ini adalah juga kaum Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali orang-orang yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah. Dan yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah dari orang-orang madzhab Hanbali ini lebih banyak dibanding dari para pengikut madzhab lainnya”
      .
      Dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahwa dia mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya (Imam Ahmad). (Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami)

      Al-Hâfizh Ibn al-Jawzi dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybîh mengatakan : “Janganlah kalian masukan ke dalam madzhab orang saleh dari kalangan Salaf ini (al-Imâm Ahmad ibn Hanbal) sesuatu yang sama sekali bukan dari rintisannya. Kalian telah membungkus madzhab ini dengan sesuatu yang sangat buruk. Karena sebab kalian menjadi timbul klaim bahwa tidak ada seorangpun yang bermadzhab Hanbail kecuali pastilah ia sebagai mujassim.

      SARAN SAYA, BERHENTILAH KALIAN DARI BERDUSTA, DAN JANGANLAH KALIAN MENGOTORI KEAGUNGAN DAN KEBESARAN MAZHAB HANBALI.

    5. @Ibn Abdul Chair

      saudara kan menolak takwil. tolong jelaskan pengertian dari hadist berikut ini:

      diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan
      Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim)

      Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita? apakah ketika kita menjenguk orang yg sakit, akan kita temui Allah di samping orang tersebut?

      Lalu bagaimana dengan firman-Nya : ”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS. Al Fath : 10)

      dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yang turut berbai’at pada sahabat.

      kutipan anda, yg mengatasnamakan Imam Ibnu Qudamah, yg menolak takwil, SAYA TIDAK MEMPERCAYAINYA.

      karena saudara menolak takwil, tolong jelaskan makna Al-Qur’an dan hadist diatas. apa lagi saudara mengaku menegakkan dakwah tauhid.

  10. kitab2 yg antum baca tentunya versi wahabi ( telah di tahrif/ distorsi)
    atau mungkin antum salah memahami karena tdk pernah ngaji kepada beliau atau kepada murid2nya. beliau bermadzab Syafi’i sedangkan antum bermadzab wahabi/ madzab salafi/manhaj salaf DAN TDK ADA MAZHAB SALAF

    Antum menulis seperti itu sebetulnya tdk pada tempatnya. SEBAIKNYA ANTUM MENGUTIP KITABNYA SYEH ALBANI ATAU SYEH AGUNG ANTUM SYEH UTSAIMIN DAN KAWAN2. IBNU HAJAR, ANNAWAWI BERMADZAB SYAFI’I SEDANGKAN ANTUM BUKAN BERMADZAB SYAFI’I malu dongg..

    Ana sarankan antum perhatikan fatwa syeh antum “tentang kawin dg niat talak”
    ato antum laksanakan kawin kontrak seperti Fatwa Syeh Antum.

    Asyik bukan! Habis Manis Sepah Dibuang, Syahwat tersalur nafsu terjulur.

    Atau fatwa Takfir, seakan2 surga diciptakan oleh Syeh Antum kemudian diwariskan husus untuk sekte baru ajaran baru nama baru pemahaman baru yaitu sekte wahabi / salafi / manhaj salaf

  11. AYO BOCAH2 DISKUSINE SING APIK, SOPAN DAN BERADAB.

    – JGNLAH SUATU KAUM MENGOLOK2 KAUM YG LAIN, KRN BS JD YG DIOLOK2 ITU LBH BAIK DR YG MENGOLOK2.

    – BIHASBI ‘IMRI’IN MINNA SYARRI AN YAHQIRO AKHOOHU MUSLIM.

  12. sejarah pembantaian ahlul qiblah di tanah Hijaz sekarang SA yg dilakukan Madzab / agama wahabi sungguh sangat ironi. Apakah bisa dibenarkan pembantaian Manusia dg semena-mena dan bisa dikatakan sangat sadis ? inikah memurnikan Tauhid? Ini akibat Fatwa berdasar arahan nafsu. dan sekarang juga terjadi fatwa2 nyleneh syeh agung SA sang monopoli kebenaran walaupun jauh dari ajaran Islam yg Rahmah.

    Mari kita berdoa SEMOGA WAHABI / SALAFI / MANHAJ SALAF HANYA SEKECIL DEBU DIGURUN, karena BILA MEREKA MENJADI BESAR PASTILAH MEREKA AKAN MEMBANTAI, MENJARAH, MERAMPAS MEMBUNUH KEPADA AHLUL QIBLAH SEPERTI YG TELAH DICONTOHKAN LELUHURNYA MUHAMMAD SU’UD DAN MUHAMMAD IBNU WAHAB PENGASAS WAHABI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker