Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Analisis

Kisah Nyata: Nalar dan Akal Sehat Menuntun Dia Keluar dari Salafi

Kisah Nyata – Keluar dari Salafi….

Kenapa Aku Meninggalkan Salafi ?

Aku tak peduli dengan sindiran keputusanku keluar dari Salafi. Terserah dibilang orang yang futur, tersesat dari jalan dakwah, atau sebutan menyakitkan lainnya. Aku tak peduli sama sekali. Yang penting aku masih menyembah Tuhan, masih mendengarkan Al Qur’an dan Hadist, masih sholat, puasa, mendengarkan ceramah, dan bisa berbakti kepada orang-tuaku.

Perjalanan spiritualku dalam mengenal Islam menemui babak baru ketika memulai studi di Jogjakarta. Bertemu dengan senior satu kamar di asrama mahasiswa Sumatera Barat yang memiliki penampilan aneh. Berjenggot tebal dan celana di atas mata kaki. Namanya anak kampung yang baru sekali merantau, aku hanya bisa banyak mendengar apa yang seniorku itu sampaikan. Tiap malam aku dibombardir dengan istilah-istilah baru yang belum kuketahui sebelumnya tapi memiliki indikasi negatif dalam agama.

Berjalannya waktu dan semakin intensnya pembicaraan kami, akhirnya aku mengenal sebuah aliran baru “Salafi”. Sebuah ajaran yang diklaim sebagai ajaran yang paling benar dan paling teguh memegang Al Qur’an dan As Sunnah. Sementara gerakan atau ajaran lain dianggap bid’ah dan tidak sesuai dengan Islam “yang sebenarnya”.

Meski tanpa didampingi oleh sang senior, aku melakukan pencarian lebih lanjut tentang “Salafi”. Lewat pamflet-pamflet pengajian yang disebar di kampus, akupun mulai mengunjungi masjid-masjid tempat berlangsungnya kajian yang bertitel “mengikuti sunnah Nabi” ini.

 

Aku terpukau dengan kapabilitas ustadz-ustadznya yang hafal ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist. Banyak hadist-hadist baru yang kudengar. Tampilan tawadhu’ para pendengar yang terdiri dari bapak-bapak dan pemuda-pemuda berjenggot berjubah, serta wanita-wanita bercadar membuat kepincut untuk terus mengikuti pengajian-pengajian Salafi, karena sejak SMA aku sudah memilih memelihara jenggot sebagai sunnah Nabi, sampai-sampai aku berdebat keras dengan seorang guru berjilbab yang menyuruhku untuk memotong jenggot. Aku berpikir, inilah tempat aku menemukan teman-teman yang melaksanakan hadist yang dulu pernah kutemui bahwa memilihara jenggot merupakan bagian dari sunnah Nabi.

Meskipun masih menjadi orang “aneh” dengan penampilan modern (celana panjang dan kemeja), keinginanku untuk belajar mengalahkan rasa risih. Seringkali para jama’ah lain menatap diriku agak lama. Mungkin karena dirasa sebagai orang baru, gaya penampilanku yang tidak lazim dapat mereka maklumi. Minggu-minggu berlalu, aku semakin asyik dengan pengajian demi pengajian. Di Asrama, sang senior satu kamar semakin intens menceritakan kejelekan-kejelekan ajaran di luar Salafi.

Aku tak ingat lagi sejak kapan memotong celana hingga di atas matakaki. Semua celana panjangku kukirim ke tukang jahit untuk “dirapikan” agar sama seperti celana-celana yang dipakai oleh anggota pengajian. Jenggotku mulai memanjang dan celanaku tidak lagi celana lipatan. Mulailah beberapa peserta pengajian mendekatiku dan mengajakku ngobrol. Aku mulai merasa diterima sebagai bagian mereka. Aku merasa enjoy karena mulai mendapatkan teman-teman baru. Lambat laun hubunganku semakin intens dan mengenal lebih banyak lagi teman-teman Salafi. Sampai suatu kali perkenalan tentang kuliah, aku bilang kuliah di Filsafat UGM.

BACA JUGA:  Kebijakan Tax Amnesty, Cara Jokowi ‘Miskinkan’ Singapura

Sontak saja raut teman bicaraku berubah. Awalnya aku tak mengerti, kenapa setiap memperkenalkan diri sebagai mahasiswa Filsafat mereka mencoba mengalihkan pembicaraan?
Akhirnya aku tahu sebab-musabab, kenapa raut wajah mereka berubah ketika kubilang kuliah di Filsafat. Ternyata memang Salafi “mengharamkan Filsafat”. Berkali-kali ketika membahas peran akal dalam memahami wahyu atau kajian-kajian mengenai firqoh-firqoh Islam, istilah filsafat dikatakan dengan ucapan sinis. Berbagai istilah dilekatkan kepada filsafat, “ilmu syetan”, “ilmu sesat”, “ilmu tak bermanfaat”.

Kegelisahan mulai menderaku. Apakah benar kuliah yang sedang kujalani saat ini adalah kuliah yang mempelajari ilmu yang dilarang dalam Islam? Suatu ketika kuberanikan diri bertanya empat mata kepada beberapa Ustadz. Jawaban dari Ustadz yang kudatangi SAMA. Mempelajari filsafat itu haram.

Pertahananku jebol. Aku benar-benar binggung. Semester 3 aku mulai malas-malasan pergi ke kampus. Pagi hari dan siang hari aku hanya termanggu di asrama, berkata pada diri sendiri, “betapa bodohnya aku telah salah memilih jurusan”. Aku menghindar memilih jurusan hukum atas dasar asumsi “Islami”, hukum di Indonesia adalah hukum thagut (kafir, sesat). Dan pilihan jurusan filsafat kusandarkan kepada sebuah artikel dalam terjemahan Al Qur’an yang dikeluarkan oleh Departemen Agama. Tapi, di Jogja aku menemukan hal sebaliknya, “Filsafat Haram dalam Islam”.

Akibat jarang mengikuti perkuliahan, IP-ku jeblok. Padahal semester 1 dan 2 aku berhasil meraih IP di atas 3. Sementara, aktivitas pengajianku di Salafi semakin intens. Beberapa kajian yang kuikuti telah melewati batas kota Jogja.

Suatu ketika, aku berpikir tak mungkin lagi melanjutkan kuliah di filsafat. Kuberanikan diri bicara lewat telpon kepada Bapak untuk berhenti kuliah. Aku ingin masuk pondok pesantren, mempelajari ilmu agama yang lebih mulia dari ilmu-ilmu lain. Kusampaikan kepada Bapak dalil-dalil keharaman filsafat sebagaimana yang kudapatkan dari ustadz.

Bapak marah besar kepadaku. Aku cuek, karena yakin apa yang kusampaikan benar menurut “agama”. Aku bersitegang dengan Bapak. Beberapa hari setelah percekcokanku dengan Bapak, Ibu datang ke Jogja. Tak henti Ibu menangis. Memberitahukan bagaimana Bapak kecewa berat dengan “kegilaan-ku” meninggalkan kuliah di UGM. Ibu memintaku untuk mengurungkan niat berhenti kuliah. Jiwaku masih memberontak waktu itu.

Beberapa hari Ibu menginap di kamar. Tak henti tangisan beliau ketika memintaku untuk memikirkan kerja keras Bapak menguliahkanku dengan biaya yang besar di UGM. Akupun luluh. Tak sanggup rasanya melihat Ibu bercucuran airmata. Hati kecil berontak, bimbang antara memilih “agama” dan keinginan orang tua. Terlintas ucapan ustadz-ustadz Salafi bahwa hormat kepada manusia tidak perlu jika melanggar perintah Tuhan, hatta itu orangtua sendiri.

Di sisi lain sanubariku berkata, bukankah agama melarang seorang anak durhaka kepada orang tua?

BACA JUGA:  Kisah Nyata: Air dan Do'a Mustajab Buat Kesembuhan Habib Munzir

Aku menghadapi dilema ini sendirian. Seniorku satu kamar yang mengenalkanku dengan Salafi, hannya diam masa bodoh. Sibuk dengan kerja dan kuliahnya yang memang begitu padat. Menjelang kepulangan Ibu kembali ke kampung karena sudah tak bisa berlama-lama di Jogja demi kerja dan mengurusi adik-adikku yang masih kecil-kecil, beliau kembali memintaku untuk mengurungkan niat berhenti kuliah.

Aku tak bisa melawan Ibu dan melepas kepergian beliau dengan tangisan. Kukuatkan tekad dan bilang sama Ibu bahwa aku mengurungkan niat berhenti kuliah. Aku akan kembali masuk kuliah dan mengejar ketertinggalan selama ini. Berusaha keras meraih IP seperti 2 semester awal dulu. Dalam hati aku menguatkan tekad, “persetan dengan kata-kata Ustadz kalau akhirnya aku membuat Ibu menangis dan Bapak menjadi kecewa. Terserah dibilang membuang umur untuk mempelajari ilmu yang haram, terserah dibilang sebagai pengkhianat agama. Persetan dengan semua dalil dan argumen agamis yang mereka sampaikan. Aku mau menghormati orangtuaku meskipun dianggap sebagai “kedurhakaan” kepada Tuhan.

Titik balik itu berlangsung saat liburan semester 6, persis tiga tahun aku menjalani hidup sebagai mahasiswa di Jogja. Kudatangi kampus untuk registrasi masuk kuliah semester 7. Kuminta transkrip nilai. Tak sampai 40 sks mata kuliah yang telah kuambil. IPK-pun hancur di bawah 2,5. Hanya satu tekad kukobarkan, aku tak boleh mengecewakan Bapak dan Ibu lagi.

Aku mulai kuliah. Kajian Salafi masih tetap kuikuti. Aku masih senang dengan uraian hadist dan Al Qur’an dari Ustadz, meskipun sesekali sentilan negatif terhadap filsafat tetap memerahkan mukaku. Aku kemudian menjadi orang aneh. Pergaulanku dengan teman-teman Salafi semakin luas, karena aku adalah santri yang unik bagi mereka, menjadi Salafi tapi kuliah di filsafat.

Suatu hari di tahun awal 2006, aku memutuskan untuk masuk Muhammadiyah lewat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM. Aku mulai intens mengikuti kajian tafsir Ustadz Dr. Yunahar Ilyas, Lc di kantor pusat Muhammadiyah Yogyakarta. Ada hal lain yang kutemui. Ustadz Yunahar lulusan Saudi Arabia, sama dengan Ustadz-Ustadz kenamaan Salafi yang juga menempuh studi di negeri yang didirikan Keluarga Saud itu, yakni gaya ceramah Ustadz Yunahar yang lebih soft dan lebih mengedepankan analogi.

Tidak pernah beliau menyerang filsafat, malahan mengatakan filsafat dibutuhkan untuk menghadang musuh-musuh Islam. Aku terheran-heran. Kok bisa beda ya? Kuperhatikan face ustadz Yuhanar, kumis menghiasi wajahnya. Jenggot hanya sedikit. Tak pernah kulihat Ustadz Yunahar memakai kopiah haji meskipun beliau sudah naik haji berkali-kali. Hanya kopiah hitam nasional yang menurut beberapa teman Salafi, tidak Islami. Kuperhatikan celana beliau, berjuntai melewati mata kaki. Aku bertanya, kenapa “Ustadz” satu ini berbeda dengan Ustadz-Ustadz Salafi-ku?

Keherananku semakin kentara ketika Ustadz Faturahman Kamal mengantikan beberapa kali kajian Ustadz Yunahar. Ustadz Faturahman adalah alumni Universitas Islam Madinah yang diklaim sebagai salah satu pusat keilmuan Salafi. Gaya ceramah beliau berbeda. Bahkan sesekali beliau membicarakan geliat dakwah kampus yang menguraikan ketidakwajaran halaqoh dakwah, yang secara eksplisit mengarah kepada Salafi.

BACA JUGA:  Memahami Islam Nusantara, Kenapa Mereka Gagal Paham?

Aku kembali bertanya-tanya, apakah klaim Salafi sebagai firqoh yang paling benar sebagaimana yang berbuih-buih disampaikan oleh para Ustadznya BENAR? Sementara itu, senior satu kamarku yang melepasku dalam kebimbangan sendirian, meninggalkan Jogja. Dia sudah lulus kuliah dan hendak pulang kampung untuk mencari pekerjaan demi mempersiapkan lamarannya kepada salah satu teman dari asrama putri.

Kuliahku berjalan lancar. IPK-ku semakin hari semakin naik. Aku semakin menikmati perkuliahan dan uraian-uraian filosofis yang disampaikan dosen. Kajian Salafi mulai jarang kuikuti, kecuali kajian Ustadz Ridwan Hamidi yang tak bisa kutinggalkan sama sekali. Aku teramat suka dengan Ustadz Ridwan, yang seringkali mendapat ejekan dari kelompok Salafi yang lain, karena ceramah beliau yang lembut dan sering membuat jiwaku tentram.

Singkat cerita, bulan Februari ini aku akan diwisuda. Menjadi lulusan terbaik fakultas Filsafat UGM untuk wisuda periode pertama di tahun 2010 dengan IPK 3,61. Penampilanku sudah biasa. Tak ada lagi celana cingkrang di atas mata kaki dan jenggot panjang yang awut-awutan.
Aku menjadi orang biasa. Aku tetap normal tidak menjadi gila dengan filsafat yang kupelajari. Aku masih sholat, baca Al Qur’an dan mempercayai Tuhan. Filsafat telah membuka wawasan dan perspektifku lebih luas dalam memandang dunia. Tidak seperti saat di Salafi dengan pola hitam-putih yang dibangun. Hidup dikurung dan dihiasi kebencian kepada orang lain dengan sekat “Kafir”, “Ahlul Bid’ah” dan “Kaum Sesat” yang didasarkan bingkai agama.

Bulan ini, aku bisa mengobati airmata Ibu dan kekecewaan Bapak beberapa tahun lalu. Hari ini aku bahagia tanpa harus kehilangan ke-Islaman-ku. Malahan aku menemukan Islam yang damai lewat uraian Ustadz Yunahar Ilyas dan Ustadz Faturrahman Kamal.

Aku tak peduli dengan sindiran keputusanku keluar dari Salafi. Terserah dibilang orang yang futur, tersesat dari jalan dakwah, atau sebutan menyakitkan lainnya. Aku tak peduli sama sekali. Yang penting aku masih menyembah Tuhan, masih mendengarkan Al Qur’an dan Hadist, masih sholat, puasa, mendengarkan ceramah, dan bisa berbakti kepada orangtuaku. Aku punya jalan hidup sendiri dan punya kekuatan pikiran untuk mengarahkannya kemana. Aku sudah tak peduli dengan omongan-omongan negatif tentang keadaanku sekarang. Terserah mereka mau bilang apa…

NB: Kutuliskan cerita ini setelah membaca berita penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah diadakan di Pesantren Gontor yang notabene bukan pesantren Salafi. Kenapa pemerintah Saudi lebih percaya kepada Gontor daripada Pesantren-Pesantren Salafi yang saat ini sudah berdiri di berbagai kota di Indonesia??? Entahlah…

Sumber kisah nyata ini: https://grelovejogja.wordpress.com/2010/02/13/kenapa-aku-meninggalkan-salafi/

Semoga postingan kisah nyata ini bermanfaat

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

16 thoughts on “Kisah Nyata: Nalar dan Akal Sehat Menuntun Dia Keluar dari Salafi”

  1. @Admina

    Assalmu’alaikum

    Saya setuju. Kisah saudara qt diatas hampir sama dengan sy. Saya yang datang dari kampung, miskin Ilmu, Jarang baca buku. Waktu kuliah di jogja itulah awal mula saya mengalami perubahan drastis itu. Saya mulai sering baca buku (tiap bulan paling tidak beli 1 buku), ikut pengajian yang sangat beda materinya dengan di kampung. Karena saya mulai perkenalan belajar agama dari teman2 yang notabene adalah teman2 salafi, akhirnya pengaruh itu pun masuk jua di hati.

    Buku2 yang sy beli pun tidak lepas dari buku2 karangan ust salafy, hati pun jadi keras. Saat pulang kampung gak mau ikut pengajian karena sy udah kenal ustad2 yang ada, mereka bukan salafy, yang diajarkan adalah amalan bid’ah. Bahkan sy pun menyindir bapak yang sering ikut tahlilan. Ah… Kalo diingat2 saya adalah anak yang kurang ajar, padahal Bapak relah kerja keras hanya demi anaknya lulus kuliah dan jadi sarjana. Sebuah kebanggaan tersendiri dari orang tua.

    Memang hari2 diisi oleh siraman rohani penambah wawasan, sampai2 surut sifat berlemah lembut, sopan santun kepada orang tua dalam memberi nasehat. Tapi apakah nasehat saya benar? Bapak hanya diam saja tidak berdebat dengan saya, maklumlah bapak bukan orang yang pandai membaca tulis.

    Faham baru yang saya dalami saya rasakan sendiri kuatnya. Sulit untuk keluar dari faham itu, karena hati dan fikiran telah diisi oleh vonis untuk mereka yang berada di luar jamaah. Sungguh saya faham betul teman2 yang baru belajar agama dan langsung di masuki faham2 ajaran salafy. Sulit buat mereka keluar dari itu… sungguh….!

    Tetapi Syukur yang maha besar kepada Allah SWT sifat lemah lembut yang selama ini ditanamkan oleh orang tua tidak hilang semuanya. Hati saya memang tidak biasa pada kekerasan. Sifat ingin tahu, menjadikan saya jadi semakin kuat mencari tahu.

    Sejak lulus kuliah saya mulai ikut pengajian2 ustad di kampung, memang beda sekali cara penyampaiannya, maka masukknya pun ke hati berbeda pula. Hati yang dalam baha arab “Qolbu” yang berarti bolak balik memang menjadikan seseorang bisa berubah. Siraman ilmu yang lembut ahirnya melembutkan hati dan jiwa juga, demikian pula sebaliknya. Maka cara pandang terhadap perkara pun berbeda pula, memahami dalil pun demikian. Sungguh sempit jika saya hanya mengikuti kata2 orang yang selalu menjelek2kan orang lain yang berseberangan dengan dia.

    Ah…. Terlalu panjang comment ini, sy pun tidak bisa menceritakan dengan panjang lebar. Akhirnya, Alhamdulillah saya pun kembali suka pada zikir, baik sendiri ataupun berjamaah… sungguh indah…
    Hal yang saya sedihkan sekarang ini adalah kawan saya yang waktu dulu saya kasih tahu akan hal-hal bid’ah sekarang menjadi orang yang suka memvonis bid’ah bahkan kepada saya sendiri. Tapi saya tahu karena saya pernah merasakan itu juga. Hatinya keras susah menerima argumentasi.

    Kebulatan Tekad, Keikhlasan hati menyingkirkan ego, mungkin itulah yang bisa merubah seseorang.

    Saya pun sering menonton debat Ust. Idrus Ramli, wawasan semakin bertambah. Dan saya pun sering mengunjungi salah satu blog yang dapat menambah wawasan adalah blog http://www.ummatiummati.wordpress.com yang berubah karena suatu hal menjadi ummatipress.com yang mirip sekali dengan blok islam-institute ini.

    Wassalam…

    1. Wa alaikumussalam wr wb…

      Akhi AMR… @

      Syukron atas kunjungannya, kisah antum ini sangat bagus. Kalau ada sempat waktu, tolong tulis kisah nyatanya yang lebih detail/lengkap, insyaallah akan sangat bermanfaat buat pengunjung IslamInstitute. Syukron.

      Oh ya, kirim kisahnya ke: islaminstitute@yahoo.com

  2. Salafi bukan organisasi, anda tidak perlu mendeklarasikan diri keluar atau masuk, terserah anda, jika anda mengingkari al qur’an dan hadist berdasarkan pemahaman sahabat radiallahu anhum, otomatis anda anda telah keluar insya Allah.

    1. syarif hamdan@

      yang dimaksud oleh penulis kisah nyata di atas adalah bahwa dia keluar dari pemahaman Islam versi Salafi Wahabi. Baca dong secara lengkap kisahnya, biar antum dapat pelajaran.

      si Penulis nalarnya masih jalan, didukung akal sehatnya, maka dia berhasil lepas dari belenggu faham Salafi Wahabi. Semoga dia istiqomah di jalan pemahaman Islam rahmatan lil alamin.

      1. Penulis itu namanya Anggun Gunawan, mahasiswa filsafat UGM, semoga Allah menunjuki dia ke pemahaman Islam yg haq ini kembali..

        1 orng berhenti memahami agama sesuai pemahaman salaf saja dibangga-banggakan?? dan alhamdulillah temen-temennya mas anggun yg juga sperti dia, kenal dakwah salafi (kebetulan) di Jogja masih istiqomah dalam menjalan kan islam yg haq ini.. dakwah ala salafi itu mudah kok, ga repot, tinggal berhenti ngalap berkah di kuburan, berhenti motongin jenggot, ninggalin dzikir dangdutan dll.. jumlah org2 yg hatinya masih siap nerima hidayah masih banyak, kmarin ulama’ populer Saudi, Syaikh Abdul Muhsin bin Abbad Al-Badr mengisi kajian di Istiqlal dengan tema Tauhid (tema prinsipil dakwah salafi) jama’ahnya full masya Allah, lebih banyak dr kajian-kajian beliau di tahun-tahun sebelumnya.. juga sudah makin menjamurnya kajian-kajian ustadz-usatdz salafi dimana-mana, tiap pekan rutin ada, (ga yg cuma musim maulid aja ceramahnya) mengindikasikan dakwah salafiyyin itu sudah sangat menyebar dan diterima oleh masyarakat yg nalar dan akal sehatnya jalan (meminjam kata2 anda) ..balik lagi, semua itu hidayah Allah semata..

  3. Dalam hati aku menguatkan tekad, “persetan dengan kata-kata Ustadz kalau akhirnya aku membuat Ibu menangis dan Bapak menjadi kecewa. Terserah dibilang membuang umur untuk mempelajari ilmu yang haram, terserah dibilang sebagai pengkhianat agama. Persetan dengan semua dalil dan argumen agamis yang mereka sampaikan. Aku mau menghormati orangtuaku meskipun dianggap sebagai “kedurhakaan” kepada Tuhan.

    Wow sangat hebat.. tekad “Persetan” dengan alasan menghormati orang tua tanpa disadari telah bersekutu dengan setan yg merasuki diri sampai2 siap dianggap sebagai “kedurhakaan” kepada Tuhan., pdhl simple aja kisanak kalopun udah ga mau ikutan lg ya tinggal bicarakan saja baik2 tanpa perlu jd suatu kejelakan apalagi jd menjelek2an.. ooh iya luypa kan ahli salafi ya.. bukan ahli Al-Qur’an, maaf.

    1. Mereka orang-orang yang tidak paham, mari kita pahamkan.

      Orang-orang yang memusuhi dakwah sunnah dan dakwah tauhid, kebanyakannya mereka adalah orang yang belum paham.

      قالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ : إنَّ عَبدًا مِن عبادِ اللَّهِ بعثَهُ اللَّهُ إلى قومِهِ فضَربوهُ وشجُّوهُ ، قالَ : فجعلَ يَمسحُ الدَّمَ عن جَبهتِهِ ، ويقولُ : رَبِّ اغفِر لقَومي إنَّهم لا يَعلمونَ
      “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: sesungguhnya pernah ada seorang hamba dari hamba Allah, yang Allah utus ia kepada kaumnya (untuk berdakwah tauhid), namun kaumnya memukulinya dan melukainya. Lalu ia pun setelah itu mengusap darah dari dahinya seraya berkata: ‘wahai Rabb-ku, ampunilah kaumku, karena mereka adalah orang-orang yang tidak paham'” (HR. Ahmad, Ahmad Syakir menilai sanadnya shahih).

      Mereka memusuhi para da’i tauhid dan da’i sunnah karena tidak paham, maka mari pahamkan mereka.

      Lebih semangat lagi belajar, lebih semangat lagi berdakwah. Kembali lagi ke majelis ilmu, kembali lagi belajar tauhid. Ilmui, amalkan, dakwahi, dan bersabar.

  4. Wallahu yahdi mayyasya, wa tu izzu man tasya, wa tu dillu man tasya….
    Tidak ada ketaatan kepada mahluk untuk bermaksiat pada sang Khaliq
    Sampai anda bilang persetan……naudzubillah
    Ucapan yg sangat berani dan pasti akan anda ditanya nanti di akhirat.

  5. Kata2 “Persetan”…
    Itu adalah kata2 yg menurut sy adalah luapan hati penulis. Sy sendiri ingin bertanya kepada anda semua yang mempermasalahkan itu, Apakah anda berani mengatakan bahwa apa yang diinginkan oleh orang tuanya itu salah dan yang dilakukan si penulis itu benar?

  6. Sy bukan orang salafi. Tp sy menghargai pemikiran salafi sepanjang ada dalil AlQuran dan Alhadist. Sy ambil hal2 positif dlm pemikiran salafi. Bagi saya setiap apa yang kita lakukan saya berharap mencari keridhoan Alloh SWT.smoga Alloh senantiasa memberi petunjuk kepada kita untuk mengikuti yang Haq itu dan menjauhi yang batil.

  7. Sama seperti yang saya alami, awalnya awal2 ikut pengajian salafi, keras prinsipnya. Setelah bermasyarakat memang kita akan berbenturan terhadap prinsip2 manhaj yang kita pegang. Disitulah kita dituntut berlaku hikmah dalam berdakwah (kadang ini yg belum dikuasai oleh ikhwan2 salafi), kapan kita bertemu kelompok terdidik, kelompok sepuh (oran tua) dan sebagainya. Bagi saya bukan mengikrarkan masuk salafi atau keluar salafi, memang mengamalkan sunnah rosul itu berat sekali di akhir jaman, itu yang saya pegang….kita bisa hidup tanpa musik, film2 yang tbyk mudhorotnya, pergaulan yang membuang2 waktu….

  8. Kalo saya sih ngliatnya Islam yang dikampung2 tuh Adem, gak kaya Islam modelnya orang Timur tengah yang suka perang, saya pilih agama yang adem ayem aja, gak ikut2an pake celana cungklang, saya ikut Islam kakek saya aja,yang gak pernh menghina orang,TDK menjelek² an orang, tidak gampang menuduh orang lain sesat.

  9. saya mah ngikut Islamnya Muhammad Salallohu Alaihi Wa salam bukan kakek sy walaupun cinta damai tp msh percaya takhayul soalnya (smoga Alloh mengampuni beliau). Smoga ini bukan pemberhentian terakhir penulis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker