Uncategorized

KH Ali Mustafa Ya’qub: Kalau Beda Akidah, Dia Adalah Kawan

KH Ali Mustafa Ya’qub, pernah mengatakan kalau ada orang berbeda akidah dengan kita, maka dia adalah kawan.

Bagaimana menyikapi mereka, berikut ini penjelasan KH Ali Mustafa Ya’qub yang kami kutip dari NU Online ….

 

Jakarta – KH Ali Mustafa Yaq’ub termasuk satu diantara ulama Indonesia yang
fokus menekuni bidang hadits. Pilihan itu bermula sejak ia belajar di
Pesantren Tebuireng, Jombang Jawa Timur. Menurut guru besar ilmu hadits
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, Kiai Bisri Syamsuri lah yang banyak
menumbuhkan benih-benih kecintaannya pada ilmu hadits

“Beliau (Kiai Bisri) yang mendorong saya untuk mencintai hadits, karena beliau
mengatakan bahwa belajar hadits itu lain dari belajar fiqih, lebih
nikmat belajar hadits. Karena dalam belajar hadits itu banyak membaca
shalawat, sementara fiqih tidak,” tuturnya sembari mengisahkan ihwal
gurunya yang telah mendahuluinya.

Di antara sekian banyak pendapat yang ia sampaikan, ada hal penting terkait
bagaimana seharusnya sikap Muslim terhadap Non-Muslim. “Kalau ada yang
beda akidah, Tuhan-nya mungkin bukan Allah. Dia adalah kawan,” kata Kiai
Mustafa Ya’qub pada acara pengajian di Kalimatan. 

banner gif 160 600 b - KH Ali Mustafa Ya'qub: Kalau Beda Akidah, Dia Adalah Kawan

“Sepanjang tidak memusuhi kita, mereka disebut kawan,” jelasnya.

Tokoh yang menyelesaikan program doktor di Universitas King Saud, Arab Saudi
ini kemudian bercerita, “Rasulullah pernah berkawan dengan orang Yahudi.
Namanya Muhairik. Ia adalah pendeta Yahudi, ahli kitab Taurat. Saking
akrabnya pendeta itu dengan Rasulullah ketika perang Uhud pendeta itu
ikut berperang , berpihak kepada orang Islam,” katanya mengisahkan.

“Pendeta tersebut juga berwasiat, kalau dia gugur semua kebun kurmanya untuk
Rasulullah Saw agar dipakai untuk kepentingan apa yang dimaui
Rasulullah,” lanjutnya.

Ketika perang usai, sambung dia, dicari siapa saja yang gugur dalam medan perang. Dan
di antara mereka yang gugur adalah Muhairik. 

“Maka sesuai pesannya, akhirnya Rasulullah mengambil kebun kurma milik Muharik,” ujar Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015 ini.

Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal yang telah menghasilkan puluhan karya ilmiah
ini, Kamis (28/4) pagi menghembuskan nafas terakhir. Ia meninggal di RS
Hermina, Ciputat dalam usia 64 tahun. 

Dari Almaghfurlah ada pesan penting yang selayaknya menjadi pegangan bagi umat Islam. “Harus
diingat sesama orang Islam jangan saling caci-mencaci, apalagi sampai
sesat-menyesatkan, atau kafir-mengkafirkan.”  (Zunus/NU Online)
BACA :  You Will Never Think Of Thieves The Same Way After Watching This Guy

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker