Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Sufi - Tasawuf

Sufi Dianggap Musyrik, Lebih Fasih Bicara Kemusyrikan

Tahukah anda bahwa para sufi itu ternyata lebih fasih dibanding kaum Salafi Wahabi ketika menjelaskan tentang seluk beluk kemusyrikan?

Pemahaman yang dianut Salafi Wahabi itu memang aneh tapi nyata. Di mana-mana para aktivis Salafi Wahabi mengkampanyekan bahwa para sufi adalah kaum musyrik. Mereka menulis propaganda hitam terhadap kaum sufi itu disebar di berbagai mass media. Baik di dunia nyata maupun di jagad internet. Kampanye mereka yang gigih tersebut memang  membuahkan hasil gemilang. Sekarang ini semakin banyak anak-anak muda menjadi latah berteriak bahwa para sufi adalah musyrikin. Para pemuda korban penipuan gaya Salafi Wahabi itu tidak merasakan kalau diri mereka sudah kena tipu habis-habisan.

Sungguh kita merasa kasihan kepada mereka yang benci kepada kaum sufi dan ulama sufi. Makanya postingan ini kami persembahkan dengan segenap rasa cinta, semoga para korban kebohongan Salafi Wahabi itu segera menemukan dirinya telah terpedaya oleh propaganda hitam dan murahan. Bahkan sampai hari ini kampanye hitam tentang tasawuf dan para sufi masih terus menerus dikobarkan. Seakan-akan mereka sudah benar-benar di atas kebenaran.

Tahukah anda bahwa para sufi itu ternyata lebih fasih dibanding kaum Salafi Wahabi ketika menjelaskan tentang seluk beluk kemusyrikan? Kami akan suguhkan fakta tentang penjelasan bermutu tinggi yang mengupas tuntas apa itu musyrik dan kemusyrikan. Penjelasan disampaikan oleh seorang Mursyid (guru pembimbing sufi) bernama KH. MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI dari Semarang.

Berikut ini adalah penjelasan beliau dalam kajian sebuah kitab tasawuf Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Atho’illah ( Abu Fadhil Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdurrahman Ibnu Atho’illah ).  Tokoh Sufi dan ilmu tasawwuf  legendaris yang hidup  sezaman dengan Ibnu Taymiyah ini, bahkan diantara keduanya pernah “BERDEBAT” secara langsung di sebuah Masjid seusai Shalat Isa’. Insyaallah nanti akan kami posting  juga kisah perdebatan mereka yang pasti seru dan berhikmah.  Sekaligus membuktikan bahwa para tokoh Sufi adalah orang-orang Shalih yang brilliant.

Sekarang mari kita ikuti penjelasan seorang guru sufi, KH. MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI, tentang kemusyrikan dan atau kesyirikan yang juga merupakan penjelasan mendetail dan ecxelent….

“Ngaji Kitab Al-HIKAM Karya Ibnu Atho’llah”

=============================================================

IMAN CAMPUR SYIRIK

Dijelaskan oleh: KH.  MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI

كَمَا لاَيُحِبُّ العَمَلَ اْلمُشْتَرَكَ كَذَلِكَ لاَيُحِبُّ اْلقَلْبَ اْلمُشْتَرِكَ , العَمَلُ اْلمُشْتَرَكَ لاَيَقْبَلُهُ وَاْلقَلْبُ اْلمُشْتَرِكُ لاَيُقْبِلُ عَلَيْهِ

Seperti Allah tidak menyukai amal yang bersekutu, demikian pula Allah juga tidak menyukai hati yang syirik. Allah tidak menerima amal yang bersekutu, maka hati yang syirik tidak diterima di sisi-Nya.
Yang dimaksud ‘Amal Bersekutu’ dalam pembahasan ini adalah amal ibadah yang mengandung unsur syirik karena mempunyai banyak tujuan. Tujuan utamanya sebenarnya cuma dua, yakni dunia dan sekaligus akhirat.

Dari dua dasar tujuan itu pelaksanaannya bisa berkembang kepada tujuan lain. Seperti contoh ada sekelompok orang mengadakan istighotsah masal misalnya, dengan istighotsah itu mereka beribadah dan berdo’a kepada Allah untuk keselamatan umat. Mereka memohon perlindungan kepadaNya agar terhindar dari fitnah, marabahaya, musibah dan lain-lain, baik di dunia maupun diakhirat.

Apabila tujuannya amal perbuatan itu benar-benar hanya untuk kepentingan umat, maka itu berarti istighotsah yang benar. Para pelaksana dan pengikutnya akan mendapatkan pahala dan ijabah dariNya. Namun sayangnya seringkali yang terjadi dalam fenomena tidak demikian. Istighotsah tersebut kebanyakan secara terang-terangan ditunggangi kepentingan pilitik. Mereka mengumpulkan para Kiai yang kharismatik agar umat mau berbondong-bondong datang dengan alasan untuk beribadah padahal tujuan utamanya untuk mendirikan partai politik baru atau paling tidak supaya orang mau memilih calon pejabat yang sudah mereka tetapkan.

BACA JUGA:  Ketika Malas Ibadah, Apa yang Harus Dilakukan?

Amal perbuatan seperti itu disamping merupakan amal perbuatan yang tidak disukai Allah SWT. karena bercampur dengan syirik dan tidak akan diterima disisiNya, juga berarti, mereka itu mengadakan pembodohan publik. Para pelaksananya bahkan terjebak dalam perbuatan munafik, dalam arti luarnya baik tetapi dalamnya busuk.

Berbeda dengan keadaan orang-orang yang secara lahir pekerjaannya seakan-akan hanya mencari kehidupan duniawi. Siangnya bekerja baik di sawah, di pasar maupun di kantor bahkan sebagai tukang sampah sekalipun. Sambil berdo’a mereka bekerja keras untuk mencari karunia Allah di muka bumi. Malam harinya bertahajjud di hadapan Allah, disamping untuk bersyukur atas segala karunia, juga supaya apa yang sudah didapatkan mendapat keberkahan dan yang belum didapatkan akan mendapat kemudahan.

Dengan pola hidup seperti itu, ternyata kemudian hidupnya benar-benar mendapatkan keberkahan. Selanjutnya, asal pemilikan duniawi yang diinginkan itu bukan menjadi tujuan yang utama, tetapi hanya dijadikan sebagai sarana untuk menyempurnakan kehidupan agamanya, meskipun di dalam ibadah dan do’a itu terdapat dua tujuan, yakni mencari kenikmatan duniawi dan kenikmatan ukhrowi, namun itu hakekatnya hanya bertujuan satu yaitu kehidupan akhirat dan amal tersebut tidak termasuk yang dikatagorikan sebagai ‘amal bersekutu’.

Yang dimaksud amal bersekutu itu bisa jadi berupa amalan horizontal maupun fertikal. Amal fertikal itu seperti orang melaksanakan mujahadah, dzikir dan wirid-wirid yang diistiqomahkan pada setiap pagi dan petang. Amal tersebut yang mestinya dijadikan sarana oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kapada Allah supaya hatinya menjadi suci dan bersih. Melaksanakan tazkiyah secara ruhaniah supaya matahatinya cemerlang dan mendapatkan ma’rifatullah.

Apabila amal utama itu dilakukan untuk tujuan duniawi, seperti untuk mencari harta karun ghaib yang diyakini adanya oleh sekelompok orang, atau supaya pelakunya menjadi orang sakti madraguna, atau supaya orang bisa mengobati orang sakit dengan itu dia mendapatkan sumber kehidupan. Apabila tujuan amal fertikal tersebut ujung-ujungnya urusan duniawi, meskipun amal yang dilakukan itu dengan membaca kalimat dzikir atau mendawamkan membaca asma’ul husna, amal tersebut bisa dikatagorikan sebagai amal bersekutu.

Demikian pula amalan horizontal, seperti shodaqoh dan zakat, apabila niatnya tidak semata-mata melaksanakan pengabdian yang hakiki kepada Allah, tetapi dicampuri tujuan riya’, berbangga-banggaan dan menyebut-nyebutnya hingga menyakiti hati orang yang menerima, amal seperti itu bisa dikatagorikan sebagai amal bersekutu. Shodaqoh dan zakat yang dicampuri tujuan riya’ dan menyakitkan hati itu tidak diterima disisi Allah. Allah menegaskan dengan firmanNya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

BACA JUGA:  Maladewa Akan Jadi Negara Wahabi Masa Depan ?

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian”.(QS.al-Baqoroh(2)264)

Rasulullah SAW. menegaskan pula dalam sabdanya:
حَدِيثُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Diriwayatkan dari Sayidina Umar bin al-Khattab ra berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung kepada niatnya. Sesungguhnya setiap orang itu akan mendapat sesuatu mengikut niatnya. Barangsiapa berhijrah kerana Allah dan RasulNya, maka Hijrahnya itu kerana Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang berhijrah untuk mendapatkan dunia dia akan mendapatkannya atau kerana seorang perempuan yang ingin dikahwininya maka hijrahnya itu mengikut apa yang diniatkannya (HR.Bukhori, Muslim, Tirmidzi,Nasa’ie,Abu Daud,Ibnu Majah dan Ahmad Ibnu Hambal)

Jika amal yang bercampur syirik saja tidak diterima di sisi Allah, terlebih lagi hati yang syirik, karena ‘hati’ merupakan satu-satunya alat komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Orang yang hatinya syirik itu akan hidup terasing, do’anya tidak dikabulkan, pintu munajatnya tertutup. Dia lebih rentan terjebak dalam perbuatan munafik sehingga terputus dari rahmat, petunjuk dan pertolongan Allah yang akhirnya berakibat hidupnya menjadi terkucil. Allah menggambarkan keadaan itu dengan firmanNya:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.(QS.al-Hajj(22)31)

Orang yang hatinya ada penyakit syirik itu sesungguhnya juga adalah orang beriman, dalam arti percaya kepada Allah dan rasulNya, namun dalam hatinya terkadang terjangkit harap dan takut kepada selain Allah. Imannya yang lemah tidak mampu menjawab kenyataan hidup yang terkadang memang suka datang menghimpit perasaan. Semisal ketika sedang dihadapkan keadaan yang mengancam, maka hatinya segera menoleh kepada selain Allah untuk mencari perlindungan dan keselamatan. Padahal orang beriman tidak boleh berharap dan takut kepada selain Allah, karena mereka percaya bahwa tidak ada yang mempunyai kekuatan kecuali hanya Allah Ta’ala. Tidak ada yang dapat menghidupkan dan yang mematikan kecuali hanya Allah Ta’ala.

Orang beriman tidak boleh menyandarkan harapan hidup kecuali hanya kepada Allah. Tidak boleh memohon pertolongan maupun perlindungan kecuali hanya kepada Allah. Tidak boleh takut terkena marabahaya baik di dunia maupun di akhirat kecuali hanya kepada Allah. Apabila hal tersebut dilakukan padahal dia itu orang yang mengerjakan sholat, puasa Ramadhan dan kuwajiban-kuwajiban yang lain, maka itu merupakan pertanda dalam hatinya masih ada penyakit syirik.

Orang mendapat keberhasilan hidup misalnya. Dia berhasil menggapai keberuntungan yang diharapkan, namun kemudian merasa bahwa keberhasilan itu hanya disebabkan ilmu pengetahuan dan kemampuannya yang prima. Hanya karena telah melaksanakan infestasi yang benar hingga mendapatkan keuntungan besar. Hanya karena keahliannya dalam menghadapi tantangan dan rintangan sehingga mendapatkan keberhasilan. Dia tidak pernah mengakui bahwa segala keberhasilan itu sejatinya datang semata anugerah Allah kepadanya.

BACA JUGA:  Alamat Ziyarah Makam Wali di Indonesia

Orang seperti itu berarti telah berbuat syirik, bahkan itulah hekakatnya syirik. Karena telah menyejajarkan dirinya dengan Allah Ta’ala. Dalam arti mengakui hak Rububiyah Allah Ta’ala sebagai hak pribadinya. Allah memberikan contoh tentang syirik ini dengan firman-Nya:
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ – العنكبوت:29/65

Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo`a kepada Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) menyekutukan (Allah). QS:29/25.

Penumpang kapal itu disebut berbuat syirik, hal itu disebabkan, karena ketika mereka diselamatkan dari badai laut, namun begitu sampai di darat, saat itu juga mereka ingat hanya angin topan yang berbelok arah, bukan Allah yang telah menyelamatkan mereka dengan membelokkan arah angin topan. Mereka berkata: “Untung angin itu berbelok kekanan seandainya terus pasti kita semua akan binasa”. Pernyataan seperti itu menggambarkan adanya syirik dalam hati mereka. Dalam arti menyekutukan Allah Ta’ala dengan angin topan dalam dua hal, angin topan itu mampu menghidupkan dan mematikan seseorang. Padahal sebelum itu mereka tidak pernah berdo’a kepada angin topan, tetapi kepada Allah Ta’ala.

Orang berdoa’ kepada Allah Ta’ala supaya mendapatkan rizki yang baik. Ketika Allah mengabulkan do’a-do’anya dan dia mendapatkan rizki yang diharapkan itu, tentunya datangnya rizki itu pasti melalui proses hukum sebab akibat sebagaimana lazimnya kejadian di dunia, namun dia menganggap hanya terjadi dari sebab usahanya sendiri, dan berkata: “Seandainya saya tidak bersekolah tinggi dan tidak berusaha maka mana mungkin saya mendapatkan rizki yang baik ini”. Yang demikian itu juga disebut syirik, bahkan bisa dikatakan mengaku sebagai tuhan karena telah menyamakan Allah dengan dirinya sendiri.

Walhasil, orang yang hatinya syirik itu bukan hanya orang-orang yang suka bepergian jauh untuk mencari kuburan-kuburan keramat kemudian minta berkah kepada kuburan. Mencari dukun-dukun sakti untuk memesan jimat bertuah supaya hidupnya mendapat keselamatan. Orang yang dalam hatinya ada unsur syirik itu justru kebanyakannya malah tinggal diam di rumah. Mereka mengerjakan sholat dan puasa tetapi hatinya menganggap dirinya sebagai tuhan, karena merasa hanya ilmu pengetahuan dan usahanya saja yang telah menjadi sebab dia menjadi orang sukses dan mendapat kemuliaan.

Di depan orang banyak bibirnya selalu mengucap¬kan kalimat syukur, tetapi saat berangan-angan sendiri hatinya dipenuhi kecongkaan atas keberhasilan hidup yang dirasakan itu. Itulah pertanda hati yang syirik, selama penyakit hati yang kronis itu belum mampu dibersihkan, maka sampai kapanpun do’a-do’anya tidak mendapatkan ijabah dari-Nya.

 

Summber:   (malfiali, 2011)

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

264 thoughts on “Sufi Dianggap Musyrik, Lebih Fasih Bicara Kemusyrikan”

  1. Subhanallah tulisan yang sangat bagus dan menggugah , apa yang dikatakan oleh Ahli Tashowuf tentang Syirik lebih Fasih, tepat dan sesuai dengan Qur`an dan Hadist , semoga menjadi stimulus yang menyadarkan bagi mereka yang gemar dengan ini itu Musyrik.

  2. Tulisan yang menyadarkan. Setiap orang yg mau merenungkan keadaan dirinya pastilah merasakan betapa hati ini selalu muncul penyakit-penyakit yg tanpa kita sadari lama kelamaan telah menguasai jiwa kita. Hati yg syirik, ria, ujub, sombong, iri, syahwat dan sejenisnya. Untuk meyembuhkannya kita butuh dokter yg hatinya bersih dari penyakit, mempunyai pengalaman dan pengetahuan yg dalam ttg penyakit hati dan mempunyai obatnya. Dokter itu tidak lain adalah guru kita, ayah rohani kita, mursyid yg selalu membimbing dan memberikan kita obatnya, mendoakan kita dimanapun kita berada selama hidupnya. Dialah ulama pewaris nabi, yg mendapatkan warisan ilmu dari hati nabi, melalui hati para sahabat, tabin, tabiut tabiin, sampai kpd guru kita, ilmu yg akan diwariskan kepada murid-muridnya, yg merupakan cahaya kesadaran batin kita, yg menghidupkan jiwa kita dgn zikir tanpa putus, yg mematikan virus-virus jiwa kita dan menghubungkan roh kita dengan tuhan kita. Tanpa tasawuf kita bisa menjadi fasik, karena penyakit hati yg akut. Bertasawuf tanpa mempelajari fikih akan menyebabkan orang menjadi zindik karena dia akan melanggar syariat. Menjalani tasawuf dan mempelajari fikih itulah jalan yg terbaik. Semoga kita semua mendapatkan rahmatNya.

  3. Alkhamdulillah …..Artikel yang sangaaaaaat bagus keluar yaaaah begitulah ilmu tasawuf semakin dipelajari semakin kita merasa MALU ,HINA , PALING BERDOSA yang akhirnya menghantar kita terhadap tiada menghadap wajah kita kepada selain Alloh ….dimana kita menghadap DISITU WAJAH ALLOH ………..masya Alloh ….ini kalau dibaca saudara kita wahabiyun …..he….he…. MANA DALILNYAAAA , BODOH SEMUA , MANA ILMUNYA ????? KHAS sekali pasti keluar pertanyaan tersebut …….

  4. jadi ingat kata2 guru saya almarhum…….ilmu kita ibarat air setetes di LAUTAN ….pertanyaanya ilmu yang mana ya ???? saya belajar dari SD, SMP, SMA ,PERguruan tinggi kirain ilmu agama islam gitu2 aja …….setelah tau tasawuf baru kebukak mata saya Masya Alloh …inilah Ilmu Alloh yang LAUTAN itu bagaimana iklas,khusyukdalam sholat,zuhud,…….dan tidak segampang spt yang dianggap oleh saudara2 kita yang menggampangkan ilmu Al Qur’an ….pernah sdr Aiman ( mitra p Mahrus ) komen menggampangkan dalam mentafsir Al Qur’an dan Hadist ….di tanya 2 ayat aja ngloooyooor ………saudaraku menurut ilmu tasawuf Al Qur’an kalau diletakkan diatas gunung maka hancur gunung tsb …..Ayat2 Alloh Maha Dahsyat bagaimana Nabi Musa bisa membelah Laut , bagaimana Nabi Muhammad Saaw bisa melaksanakan Isra Miraj dgn kecepatan Luar Biasa …….he…he….saudara2 kita para wahabiyun pasti nggak bisa menjelaskan secara ilmiah peristiwa di luar batas Aqli kita ……..hanya KEKASIH ALLOH yang bisa menjelaskan …….ilmu tasawuf adalah ilmu praktek bukan ilmu teori ……makanya Alloh sangat membenci sifat SOMBONG walau sekecil apapun dalam hati kita …….maka dari itu sadarlah wahai wahabi untuk berprasangka buruk terhadap saudara2 kita …..perbedaan pemahaman jangan membuat mata hati kita lupa akan kebenaran HANYA MILIK ALLOH stop mengkafirkan , mensyirikan , menyalahkan ,membodohkan dalam amaliyah saudara kita ……..KADANG KITA MELIHAT SESEORANG SALAH DALAM SYARIAT NAMUN HANYA ALLOH YANG TAHU HAKIKAT SESEORANG TSB makanya Nabi berpesan janganlah BERPRASANGKA BURUK ….belum tentu seburuk seperti yang anda pikirkan ….padahal….padahal….padahal……..wallohualam

  5. @mo,kalo nulis Alhamdulillah jng pake kh dong.(siapa yg mengambil agama bukan dari islam pasti akan tersesat,tasawuf bukan dari islam)

        1. Sepertinya ada terus Mas Prass, Mas Admin sepertinya masih banya simpanan untuk disharingkan….

          Teman-teman Wahabi yang sdh karatan semakin kebakaran jenggot aja, bukannya pada sadar. Padahal, padahal, padahal…. gaya Mas Mamo nih, padahal yg disharingkan adalah faktual dan benar.

    1. @nu.tobat tuh ditanya ama mas Syahid …….kalau nt nggak tau ilmunya jangan komen dah …..cuma bilang tasawuf bukan dari islam semua orang pasti bisa …….

  6. Pengikut Wahabi kalau ada fakta yg kuat seperti tulisan / postingan di atas, mereka nggak berani komentar. Berarti mereka setuju atau menganggap benar artikel itu, dan tuduhan mereka yg terbukti meleset sejauh-jauhnya. Tapi anehnya, kenapa mereka tidak mau insyaf? Hayo teman-teman, siapa yg bisa jawab dapat hadiah…. mobil…. mobilan, he he he he….

    Kalau jawaban saya, mereka takut sama Mas Syahid, takut aqidah Wahabi dibilang bidngah dholalah.

    Bobok dulu ah….

  7. Alhamdulillah, dapat tersiar juga tasawuf dalam Islam, yang mengupas tentang akhlak, yakni akhlak kita sebagai hamba Allah terhadap Allah ta’ala dan akhlak kita terhdap diri sendiri, akhlak kita terhadap cipataanNya yang lain seperti alam, tumbuhan, hewan dan lain lain termasuk akhlak terhadap sesama manusia apalagi akhlak terhadap sesama manusia yang telah bersyahadat.

    Ada paragraph yang menarik untuk dibuat konsep bagi kita sebagai hamba Allah yang melangkahkan kaki (perjalanan) di bumi milik Allah.

    Saya kutip kembali paragraph tsb.

    Orang berdoa’ kepada Allah Ta’ala supaya mendapatkan rizki yang baik. Ketika Allah mengabulkan do’a-do’anya dan dia mendapatkan rizki yang diharapkan itu, tentunya datangnya rizki itu pasti melalui proses hukum sebab akibat sebagaimana lazimnya kejadian di dunia, namun dia menganggap hanya terjadi dari sebab usahanya sendiri, dan berkata: “Seandainya saya tidak bersekolah tinggi dan tidak berusaha maka mana mungkin saya mendapatkan rizki yang baik ini”. Yang demikian itu juga disebut syirik, bahkan bisa dikatakan mengaku sebagai tuhan karena telah menyamakan Allah dengan dirinya sendiri.

    Intisari dari paragraph ini berdasarkan pemahaman kami bahwa Allah ta’ala mengabulkan doa manusia bukanlah karena doa manusia karena “Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS Al Hajj [22]:14 )
    Pahami bahwa Allah ta’ala berbuat bukan dikarenakan/dipengaruhi ciptaanNya.

    Allah ta’ala memberikan kebutuhan, keinginan ataupun cobaan bagi manusia yang mengaku sebagai hamba Allah, pada hakikatnya tidak mempedulikan bentuk, kadar ataupun jenis kebutuhan, keinginan ataupun cobaan tersebut namun hakikatnya Allah ta’ala ingin tahu kemanakah hamba Allah tersebut berserah diri dalam menghadapi kebutuhan, keinginan atau cobaan tersebut kemudian apakah hamba Allah tsb merasakan “bersama” Allah ketika kebutuhan dan keinginan itu terpenuhi atau cobaan tersebut teratasi ? Inilah hakikat Bismillaahirrahmaanirrahiim

    Marilah kita bayangkan dan resapi sebagai hamba Allah yang melangkahkan kaki (perjalanan) di bumi milik Allah.

    Kemanakah tujuan perjalanan itu ? Surgakah ?

    “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

    Surga adalah ciptaanNya sedangkan tujuan kita (sampai/wushul) kepada-Nya.
    Bagaimana kita mencapai tujuan kita ?,
    benarkah yang kita tuju ?
    untuk itulah kita harus mengenal Allah (ma’rifatullah) karena Allah ta’ala yang menjadi tujuan kita.

    Awaluddin makrifatullah, awal-awal agama ialah mengenal Allah
    Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, Siapa yang kenal dirinya akan Mengenal Allah.

    Firman Allah Taala :
    “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53 )

    Jadi kesimpulan silahkan periksa diri masing-masing apakah dengan pemahaman yang ada saat ini,
    dapatkah mengenal Allah (ma’rifatullah)
    dapatkah merasakan Allah itu dekat ?
    dapatkah menjadi muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) yakni muslim yang seolah-olah melihat Allah atau minimal menjadi muslim yang yakin bahwa Allah melihat seluruh perbuatan kita

    Jika berbuat kesalahan apakah kita merasa malu dengan Allah yang begitu dekat ?

    Sungguh Allah itu dekat, sesuai dengan firman Allah yang artinya

    “Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah: 85).

    “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf: 16)

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” ( Al Baqarah: 186).

    Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (QS Al-’Alaq [96]:19 )

    Saat ini kesalahpahaman telah terjadi, meluas dan sistematik, sebagian umat Islam meyakini bahwa Allah ta’ala bertempat di tempat yang begitu tinggi yakni di atas arasy (cipataanNya yang paling tinggi) sehingga secara tidak disadari umat Islam tidak merasakan kedekatan dengan Alah ta’ala

    Allah itu dekat itu bukan berarti bahwa Allah ta’ala itu bertempat di bumi , di langit atau di mana-mana. Maha suci Allah ta’ala dari “di mana”.

    Allah itu dekat dapat kita yakini dengan sifatNya, namaNya dan perbuatanNya sedangkan sifatNya,namaNya dan perbuatanNya tidak berpisah dengan dzatNya.
    Jadi dengan sifatNya,namaNya dan perbuatanNya, atas kehendakNya kita dapat menjadi seolah-olah melihat dzatNya inilah yang dinamakan dengan Ihsan

    Dari sifat 20 Allah ta’ala kita paham dan yakin bahwa Allah itu wujud (ada) , mustahil tidak ada (adam).

    Kita secara syariat ada karena Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim nya Allah ta’ala.

    Coba bayangkan jika seluruh indera kita seperti penglihatan, pendengaran, penciuman/rasa itu tidak diberikan oleh Allah yang maha pengasih dan penyayang , apakah kita ada ?

    “Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur” (QS As Sajadah (32):9)

    Lalu pada bagian manakah dari agama Islam kita dapat mengetahui tentang Ihsan.
    Tentang Ihsan atau tentang Akhlak diuraikan dalam Tasawuf dalam Islam.

    Dengan tasawuf dalam Islam kita dapat mengetahui tentang akhlak yakni bagaimana kita berakhlak sebagai hamba Allah dengan Allah ta’ala, berakhlak pada diri sendiri, bagaimana kita berakhlak dengan ciptaanNya yang lain seperti alam, tumbuh2an, hewan dan termasuk bagaimana kita berakhlak dengan sesama manusia.

    Marilah kita berakhlak baik bagi sesama manusia apalagi bagi sesama muslim.
    Marilah kita saling menghargai pemahaman masing-masing terhadap Al-Qur’an dan Hadits.

    Bagaimanapun pemahaman kita, seberapa banyak ilmu yang diperoleh, seberapa banyak amal/ibadah yang telah dilakukan, apakah mewujudkan sebagai muslim yang berakhlak baik, muslim yang sholeh , muslim yang ihsan ?
    Sungguh tujuan Agama Islam adalah mewujudkan hamba Allah yang berakhlakul karimah.

    Rasulullah mengatakan “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

    Wassalam

  8. mutiarazuhud @

    Terimakasih penjelasan Ustdz, memang benar Wahabi yg gemar memfitnah ajaran Islam itu memang perlu diluruskan. Dengan cara halus mereka malah main kasar, lihat komentar mereka kalau ada orang merendah, mereka malah semakin “menginjak” orang yg merendah karena akhlak. Wahabi emang nggak tahu akhlak, gara-garanya mereka anti tasawuf. Ustaz Mutiarazuhud memang ahli tasawuf, terimakasih pencerahannya.

      1. Maaf, sebaiknya tidak dikatakan ajaran tasawuf namun tasawuf dalam Islam ,karena takut salah memaknai adanya ajaran lain.

        Memang tasawuf ada di Nasrani, Budha, di ajaran atau agama lainnya, begitu pula dalam Islam.

        Lalu apakah konten Tasawuf serupa disemua agama ?

        Ya, tentu nama atau istilah sepakat dipergunakan untuk sesuatu yang sama atau hampir sama.

        Jadi konten Tasawuf hampir sama disemua ajaran atau agama , tentang akhlak, jiwa, mengenal yang disembah. Yang berbeda adalah tuhan yang disembah.
        Dalam Islam , Tiada Tuhan selain Allah

        1. mz@.
          yang diperkarakan Whabis dan Salafis adalah soal Istilah atau penamaan , mereka menggugat istilah atau Nama ” Tashowuf ” mereka tidak melihat esensi atau isi Pokoknya , Ma`lum Wahabis/salafis adalah kaum literalis yang sangat dangkal , hanya melihat permukaan laut , keindahan Dasarnya tidak pernah mereka lihat , mereka tidak tahu kekayaan Dasar Laut yang berlimpah , bagi mereka jangankan menggali potensi dasarnya , menyelam pun mereka tidak sanggup.

          1. mas Syahid ….kiasannya ” BAGAIMANA KITA MENDAPATKAN MUTIARA SEDANGKAN KITA TIDAK PERNAH MENYELAM ” kira2 begitu kalau salah mohon koreksi mas …..( kalau ngeyel jawabya YA BELI LAH DI PASAR …he,….he….)

      2. Jadi semoga bisa paham kalau ada yang bertanya “Apakah Tasawuf merupakan ajaran Islam?” karena sesungguhnya mereka tidak paham apa yang dinamakan dengan istilah Tasawuf.

        Pertanyaan yang benar adalah “Bagian manakah tasawuf dalam Islam ?” Jawabannya adalah ayat-ayat yang membahas tentang Ihsan, tentang akhlak.

  9. @mz.ingat kata ulama,’agama adalah darah dagingmu,darimana agama itu kamu ambil’
    Ulama salafussoleh hanya mencukupkan diri dng Alqur’an dan hadist yg sohih,baik dalam ibadah ,akhlak ,muamalah,ekonmi dll.tidak perlu ada ajaran2 lain.(ribet agama ini kalau sdh muncul bida’h)

  10. –tobat Keblangsak@

    Jangan ambil agama dri Wahabi, bisa keblangsak ke jurang kesesatan. Jangan sembarangan ambil agama, carilah ulama-ulama yg jujur yg nggak penipu seperti syaikh-syaik wahabi, ntar nyesel di akhirat.

  11. Kami sangat mendukung untuk menyebarluaskan tulisan seperti topik kali ini.

    Hak dan tugas kita semua untuk menyiarkan pemahaman kita namun sebaiknya dalam dakwah kita tidak mengikutkan hawa nafsu namun semata-mata karena Allah ta’ala. Kita harus dapat sekuat tenaga untuk mencontoh Rasulullah yang mana perkataan beliau bukanlah didasarkan hawa nafsu.

    Memang sangat disayangkan saudara-saudara kita kaum Salafi Wahabi yang berpusat di wilayah kerajaan Saudi tidak menerima adanya perbedaan pemahaman. Menurut sebagian mereka , mereka sajalah yang benar, selain mereka keliru atau sesat/kafir.

    Perbedaan pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits adalah kehendak Allah ta’ala

    Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).(QS Al Baqarah [2]: 269)

    “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )

    Namun yang akan ditanyakan kepada kita adalah bagaimana kita menyikapi adanya perbedaan pemahaman.

    Apakah perbedaan pemahaman akan disikapi dengan perselisihan , berbantah-bantahan, pertengkaran bahkan saling membunuh antara sesama saudara muslim yang telah bersyahadat seperti yang kita lihat pertikaian/peperangan antara kaum Syiah dan kaum Sunni?

    Allah telah berfirman, “Jangan kalian saling berselisih karena itu membuat kalian lemah dan hilang bau kalian.” (Q.S. al Anfaal: 46)

    “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dengan berjama’ah dan jangan berpecah belah.” (Q.S. Ali Imran: 103)

    Sebagian ulama lainnya bahkan belum dapat memahami maksud ”perbedaan umatku adalah rahmat” bahkan sebagian lainnya mengingkari sehingga secara tidak disadari mengingkari kehendak Allah.

    Perbedaan pemahaman tidak dapat dihindari karena akan adanya kesalahpahaman. Kita paham yang pasti benar hanyalah Al Qur’an dan Hadits

    “Sebenar benar perkataan adalah kitabullah(alquran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.”(HR.Muslim).

    Pendapat, pemahaman, perkataan manusia selain kedua pokok itu, bisa diambil dan bisa pula ditolak

    Imam Daarul Hijroh (Malik bin Anas) mengatakan, “Setiap dari kita diambil dan ditolak darinya kecuali pemilik kubur ini,” seraya menunjuk kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam.”

    Bagi mereka yang biasa berdiskusi, bertukar pendapat, dan berdialog pasti mengenal ungkapan, “Pendapatku benar, tetapi mungkin juga salah. Dan pendapat lawanku salah, tetapi mungkin juga benar.”

  12. Saya teringat teman saya yang pada awalnya bersemangat untuk mengikut pengajian kaum Salafi Wahabi, seperti pendapat umumnya tentu penjagian tersebut didukung para ustadz yang notabene lulusan perguruan tinggi di wilayah kerajaan Saudi yang mempunyai kemampuan/penguasaan bahasa Arab yang tidak diragukan lagi.
    Namun akhirnya surut karena para ustadz senang mempergunjingkan kaum Nahdiyin. Namun kami ingatkan bahwa belum tentu seluruh ustadz kaum Salafi Wahabi seperti itu, namun ambillah pelajaran bahwa ilmu + amal yang benar pada ujungnya adalah menampilkan akhlak yang baik.

    Karena sesungguhnya tujuan Rasulullah diutus adalah menyempurnakan akhlak
    Rasulullah mengatakan “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

    Jadi jika tidak berakhlak baik diungkapkan sebagai orang membaca Al-Quran namun tidak melampai kerongkongan (maksudnya tidak masuk ke hati)

  13. @mz. saya rasa antum adalah ahli ilmu,terpelajar,namun disayangkan antum terkena juga subhat2 yg memojokkan salafy,yaitu dng kata2 wahabi,padahal rujukan kitab2 yg dibahas adalah kitab2 ulama salaf,seperti imam ibnu Hatim,imam Syafi’i,jauh sebelum syeikh Muhammad Abdul wahhab.tp aneh ketika dimasyarakat koq jadi wahabi.

  14. Mas, salafi dan wahabi akidahnya sama atau beda?
    Yang jelas akidah wahabi dan Ahlu as Sunnah wa al Jamaa’ah berbeda, dan akidah wahabi telah dikufurkan oleh para Ulama.

    Mas, bagaimana menurut salafi perayaan Maulid? Wahabi membid’ahkannya.

    Mas, bagaimana salafi menghukumi ziarah kubur ke makan Rosul SAW? Wahabi melarangnya. WaAllahua’lam.

    1. Mas Afif, dalam term di blog ini antara Salafy dan Wahabi adalah sama, karena salafy adalah nama baru dari Wahabi, baik akidahnya ataupun syari’atnya banyak bertentangan dengan yg dipraktekkan oleh Ahlussunnah Waljama’ah. Mereka juga sama-sama anti ilmu IHSAN (tasawuf). Dalam segala hal sama persis dengan Wahabi, karena Salafy adalah jelmaan/ nama baru dari Wahabi.

      Salafy Wahabi yang dimaksud di sini beda dengan Salafy (salafiyah) dalam terminologi pesantren tradisional (klasik) yang biasanya berafiliasi ke NU. Di NU ada ribuan pondok pesantren SALAFIYAH atau salafy (klasik) sejak ratusan tahun yang lalu, sejak zamandakwah Walisongo.

  15. Manhaj Salaf atau pemahaman Salafush Sholeh

    Berikut ini tulisan merupakan kelanjutan tulisan saya sebelumnya, kesalahpahaman tentang generasi terbaik, http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/07/24/generasi-terbaik/

    Suatu kesalahpahaman lainnya yang telah berlarut-larut dan masih terjadi sampai zaman modern ini adalah kesalahpahaman tentang pemahaman (manhaj). Kesalahpahaman yang telah membuat umat muslim kebingungan, dalam keraguan dan bahkan menimbulkan konflik antara umat muslim sendiri.

    Sebagian muslim atau kaum muslim mengikuti pemahaman ulama Muhammad bin Abdul Wahab, ulama yang mengikuti pemahaman ulama Ibnu Taimiyah. Mereka disebut kaum Wahabi atau Salaf(i).

    Kesalahpahaman terjadi karena mereka menyatakan bahwa pemahaman mereka adalah sebagaimana pemahaman Salafush Sholeh. Mereka mengatasnamakan pemahaman mereka sebagaimana pemahaman Salafush Sholeh. Lihat tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/01/atasnama-salaf/

    Begitu juga , saya agak risih jika menemukan tulisan dimulai dengan
    “Pemahaman dalam Islam ……….”, secara tidak disadari merupakan tulisan yang mengatasnamakan Islam, yang bisa mengakibatkan bahwa klo berbeda pemahamannya maka pemahaman yang berbeda bisa diartikan pemahaman di luar Islam ?

    Kita sebaiknya tidak mengatasnamakan pemahaman kita atau kaum kita pada muslim lainnya atau kaum muslim lainnya. Kita harus tegas mengatakan atau mengakui sebagai pemahaman kita atau sebagai pemahaman kaum kita. Begitu juga harus tegas mengatakan atau mengakui sebagai penafsiran kita, yang umumnya mengikuti nama yang menafsirkan atau yang memahaminya. Contoh Mazhab Syafi’i, Manhaj Asy’ariah, Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir , Tafsir Buya Hamka dll.

    Bagaimana pemahaman sebenarnya Salafush Sholeh menjadi termasuk perihal yang ghaib karena waktunya sudah berlalu (Al-Ghaibul Madhi) yaitu segala sesuatu atau kejadian yang terjadi pada zaman dahulu, yang mana kita tidak hidup sezaman dengannya. Sehingga kita tidak bisa melakukan konfirmasi (temu-muka) akan pemahaman mereka sesungguhnya.

    Apa yang kita lakukan adalah upaya pemahaman (ijtihad) terhadap tulisan, riwayat, lafadz, nash Al-Qur’an , Hadits, riwayat atau perkataan Salafush Sholeh, yakni para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan juga pemahaman-pemahaman ulama–ulama terdahulu.

    Pendapat/Pemahaman/Pemikiran seorang muslim bisa benar dan bisa salah namun perkataan dalam Al-Qur’an dan Hadits adalah yang pasti benar.

    Imam Daarul Hijroh (Malik bin Anas) berkata “Setiap (pendapat) dari kita diambil dan ditolak darinya kecuali pemilik kubur ini,” seraya menunjuk kepada junjungan kita, Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaih

    “Sebenar benar perkataan adalah kitabullah(alquran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam..”(HR.Muslim)

    Upaya pemahaman yang telah dilakukan dan disampaikan kepada muslim lainnya atau kaum muslim lainnya harus diakui oleh orang yang melakukan pemahaman yang kelak harus mempertanggungjawabkan di akhirat nanti. Kita tahu apapun lisan maupun tulisan kita harus mempertanggung jawabkan di akhirat nanti. Apalagi pemahaman kita menjadi dasar amal atau perbuatan muslim lainnya.

    Oleh karenanya pemahaman dengan sistem guru-murid secara temu muka atau lisan, turun temurun (memperhatikan sanad/keterhubungan), sistem peng-ijazah-an pada suatu thariqah lebih baik dibandingkan pemahaman yang digali berdasarkan tulisan atau tekstual semata.

    Bayangkan kemungkinan distorsi yang terjadi antara ulama Muhammad bin Abdul Wahab dengan ulama Ibnu Taimiyah yang terpaut ratusan tahun zamannya. Oleh karananya saya katakan bahwa ulama Muhammad bin Abdul Wahab, “mengangkat kembali” metode pemahaman ulama Ibnu Taimiyah dan dicampur dengan pemahaman pribadi beliau sendiri.

    Jadi harus kita katakan dengan tegas dan mengakui bahwa apa yang telah dipahami oleh ulama Muhammad bin Abdul Wahab ataupun ulama Ibnu Taimiyah adalah pemahaman mereka masing-masing

    Sehingga jika kita menemukan perbedaan pemahaman, kita masing-masing harus memutuskan dengan merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits.

    Kenapa saya katakan masing-masing pribadi yang memutuskan, karena kita bertanggung jawab pada pemahaman kita masing-masing, tidak bisa kita membebankan tanggung jawab kepada orang lain yang telah mengutarakan pemahamannya. Pemahaman adalah dasar dari sebuah amal / perbuatan. Di akhirat nanti kita tidak bisa mengatakan bahwa perbuatan kita didunia dikarenakan buah dari pemahaman si fulan

    Firman Allah,

    “(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS al Baqarah [2]: 166)

    “Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al Baqarah [2]: 167)

    Oleh karenanya, jika kita mengeluarkan sebuah pemahaman, kita wajib mengingatkan orang yang menerima pemahaman itu untuk selalu merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits.

  16. NGAJI HIKAM (Sumber Inayah)
    Menyambut Maulid Nabi Besar Muhammad saw.

    Apa benar orang yang berziarah ka makam Waliyullah itu hukumnya syirik ..?? Jika tujuan orang-orang yang berziarah ke makam para Waliyullah itu sekedar minta kepada kuburan……! berdoa kepada batu mati yang menancap di atas sesonggok tanah ke…ring….?, siapa yang tidak mengerti bahwa perbuatan tersebut hukumnya syirik. Kalau memang benar bahwa orang yang berziarah kekuburan para waliyullah itu syirik..?, sekarang ada pertanyaan; “sekiranya yang ditanam di bawah tanah kering yang ditancapi batu nisan itu jasad kita, maukah orang-orang yang berbuat syirik itu menziarai kuburan kita…?”, kalau ternyata tidak mau, apa bedanya jasad kita dengan jasad para waliyullah itu…? Ada apa di dalam jasad kita dan ada apa pula di dalam jasad mereka, padahal sama-sama jasad yang sudah mati….?. mengapa jasad para Wali itu dapat menarik hati orang banyak hingga datang dari tempat yang jauh sekedar ziarah atau tabarrukan sedang kepada jasad kita tidak…?

    Temukan jawabannya di alamat disini:

    http://ponpesalfithrahgp.wordpress.com/2011/01/21/ngaji-hikam-sumber-inayah-menyambut-maulid-nabi-muhammad-saw/

    1. hai bung ……manusia yang mati hanya jasad …..namun ruhnya kekal…(dalil cari sendiri )…..kuburan nt , jasad nt bs sama kalau kesholihan nt sama dgn jasad waliyullah sewaktu hidup …….semua itu hanya kehendak Alloh ……karana Alloh Maha berkehendak ……..sekali lagi yang membedakan KESHOLEHANNYA ……

    1. Kaitan Ima Asy Syafi’i dengan tasawwuf, silahkan baca tulisan pada
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/27/pemahaman-harfiah/

      Berikut cuplikannya

      Dalam sebuah diskusi, seseorang yang berpemahaman ala Wahabi / Salafy mencoba memaknai syair atau nasehat dari Imam Syafi’i rahimullah dengan metode pemahaman secara harfiah, tersurat atau sebagaimana yang tertulis.

      Ini kata pembukanya,

      Kurang apalagi Imam syafi’i. Sufi iya. Ahli fiqh ok,hafidz alqur’an, bahkan dibidang ilmu hadits beliau dijuluki sebagai Nashiru sunnah (pembela sunnah). Hasilnya, Buku2 beliau enak dibaca dan tegas. Arrisalah, Al-Umm. Semua definisi menjadi jelas. Termasuk buku kumpulan syairnya yang indah:
      .
      “Uhibbu asShalihiina wa lastu minhum
      La’alli an anaala bihim syafa’ah
      Wa akrahu man tijaratuhu al maashii
      Wa lau kunnaa sawa’an fil bidha’ah”

      “Aku mencintai orang shalih
      Walaupun aku bukan seperti mereka
      Tapi aku benci dengan orang2 ahli maksiat
      Meskipun sesungguhnya aku pun sama kelakuannya”

      Kalau kita lihat sepintas syair empat baris, terjemahan empat baris.

      Syair seperti ini atau perkataan-perkataan yang mengandung hikmah tidak dapat dimaknai secara lahiriah, tekstual, harfiah atau tersurat

      Umumnya mengandung kata kiasan (Balaghoh) yang mempunyai makna yang dalam, tersirat atau hikmah. Begitu juga nash-nash Al-Qur’an dan Hadits banyak yang dimaknai dengan pemahaman yang dalam (hikmah) atau secara tersirat.

      “Demi Al Quraan yang penuh hikmah” (QS Yaasiin [36]: 2)

      Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/20/hikmah/

      Syair yang diuraikan tsb adalah menunjukkan sikap tawadhu dari Imam Madzhab As-Syafi’i ra

      Mereka mengartikan
      “Uhibbu asShalihiina wa lastu minhum La’alli an anaala bihim syafa’ah”
      sebagai
      “Aku mencintai orang shalih walaupun aku bukan seperti mereka”
      itu saja

      Jauh sekali makna yang sebenarnya atau ada bagian yang tidak dimaknai.

      Uhibbu as Shalihiina = Aku mencintai orang shalih
      walastu minhum = Walaupun.. aku tidak seperti mereka
      La’ali an anaala bihim syafa’ah = Beliau berharap / semoga memperoleh Syafa’at / pertolongan dari Rosulullah saw (untuk menjadi orang yang Sholeh)

      Ini tauladan yang disampaikan Imam Syafi’i ra bahwa kita tidak boleh mengatakan / mengakui sebagai saya serupa dengan mereka termasuk orang sholeh, atau saya seorang sholeh atau saya seorang sufi atau saya seorang muhsin, karena orang sholeh, orang sufi, orang muhsin adalah dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia atau hasil penilaian Allah pada manusia. Bagi kita manusia hanya boleh berharap pertolongan Allah dan berupaya untuk mencapainya.

      1. mz@.
        jika ada Wahabi/salafi mengartikan bait Syair Imam Syafi`i seperti itu , berarti memang ada bait yang sengaja tidak diterjemahkan , dimana bait yang tidak diterjemahkan itu menunjukkan, imam Syafi`i pun ber tawassul kepada Sholihin , baik yang masih Hidup maupun yang Sudah mati, jadi bukan diartikan secara harfiyah , tersurat , atau seperti yang tertulis , tapi benar-benar tidak diartikan , karena jika diterjemahkan , akan menghantam Faham mereka soal Tawassul. dan juga menunjukkan jika Wahabi/salafi tidak Amanah , bagaimana mereka bisa mengklaim sebagai Ahlu Sunnah.

      2. ana pernah baca di sebuah situs (ana lupa situsnya) disebutkan bahwa Imam Asy Syafi’i adalah seorang sufi. benarkah hal ini?

  17. Berselisih penghambat untuk sampai pada tujuan hidup kita

    Dalam tulisan sebelumnya sudah kami sampaikan tentang perbedaan pemahaman adalah kehendakNya
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/19/perbedaan-pemahaman/

    Sikap kita dengan berselisih, berbantah-bantahan,bertengkar, saling membunuh adalah salah satu yang menghambat kemajuan umat Islam.
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/17/kemajuan-umat-islam/

    Berselisih, berbantah-bantahan, bertengkar, saling membunuh adalah sikap yang tidak disukai Allah ta’ala

    Kita harus dapat membedakan antara berbeda dengan berselisih. Berbeda adalah beragam (plural) sedangkan berselisih adalah sikap atas perbedaan.

    Sikap yang baik adalah sabar dan ikhlas atas kehendak Allah tsb, salah satunya dengan saling menghargai perbedaan pemahaman.

    Sungguh setiap hamba Allah yang telah bersyahadat dengan “sidqan min qalbihi“ (betul-betul keluar dari qalbu), mereka telah berjalan pada jalan yang lurus

    “Tak ada satu orang pun yang bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan Muhammad rasul Allah yang ucapan itu betul-betul keluar dari kalbunya yang suci kecuali Allah mengharamkan orang tersebut masuk neraka“. (H.R. Bukhari dan Muslim).

    Metode pemahaman, madzhab, manhaj, tharekat, halaqah, kelompok atau bentuk jama’ah minal muslimin lainnya adalah diibaratkan “kendaraan” untuk berjalan di jalan yang lurus. Keberagamaan “kendaraan” tersebutlah yang merupakan kehendak Allah.

    Sekarang marilah kita intropeksi bagaimana “kendaraan” yang telah kita gunakan apakah dapat mengantarkan kepada tujuan kita ?.
    Seberapa cepat sampai tujuan ?
    Kadang tidak kita sadari , kita terlampau sibuk memperbincangkan tentang “kendaraan” sehingga “kendaraan” tersebut tidak juga berjalan kepada tujuan.

    Kemanakah tujuan kita ? surgakah ?
    “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

    Surga adalah ciptaanNya sedangkan tujuan kita sampai (wushul) kepada-Nya.

    Hamba Allah akan sampai (wushul) kepadaNya bisa dengan cepatnya yakni pada saat ini juga di dunia atau berlambat-lambat ketika di akhirat nanti.

    Hamba-hamba Allah yang telah sampai kepadaNya di dunia adalah mereka yang seolah-olah melihat Allah, melihat Allah dengan hati atau muslim yang ihsan. (Ihsan,bahasa arab yanga artinya terbaik/sempurna.)

    Marilah kita bersegera kepada Allah, jangan sibuk memperbincangkan “kendaraan” sampai lupa menjalankan kendraan atau lupa pada tujuan yang sebenarnya.

    Mereka, muslim yang mendalami dan mengamalkan tentang Ihsan (tasawuf/akhlak) mengenal “Fafirruu Ilallah” berlarilah kepada Allah.

    Mudah2an para pembaca dapat memahami kami mengapa kami begitu kukuh menyampaikan tentang Ihsan atau tasawuf dalam Islam, begitu kukuh kami mengingatkan tentang akhlak, Insyaallah semua itu kami lakukan adalah atas persaudaraan muslim dan mengingatkan pada tujuan kita sebenarnya dalam melangkahkan kaki di bumi ciptaan Allah ta’ala.

    Wassalam

    Zon di Jonggol

  18. komen saya singkat aja, yang menuduh syirik pada kaum sufi itu pasti antek kaum kafir soalnya ruh islam itu ada di dalam ilmu tasawuf. Jika ruhnya hilang, pasti islam tinggal jasadnya doang kayak kitab undang2 hukum pidana. kaum kafir sangat tahu bahwa didalam tasawuf terkandung ruh dan inti agama islam. cara menghancurkannya tentu dari dalam umat islam sendiri dengan tuduhan yang sangat kejam, MUSYRIK.

    1. jika tasawuf itu dianggap ruh Islam, berarti Muhammad dan para sahabatnya serta generasi setelahnya tidak mengenal Islam, karena mereka tidak mengenal istilah “sufi” atau “tasawuf”. tidak tersebut dalam hadits ataupun atsar shohih.

      1. ini contoh salafi/wahabi yang galil adab , nyebut Nabi pake nama nya saja kalo manggil m. abdul wahab , bin baz dia pake syeikh.

        keledai bawa kitab yang penting mikul ,isi ga penting.

        1. kayaknya ga perlu Mas , Tauhid tiga macem yang ga ada dasarnya aja mereka pake , ini soal Fadloilul A`mal minta sanad , urusan Aqidah ga perlu dasar dan sanad Urusan fadloilul A`mal mesti pake dasar dan sanad , Wahabi/salafi ga tahu mana Poko mana cabang , mana Prinsip , mana yg bukan Prinsip. entar biar kita jelasin soal Bid`ah aja deh susah juga ngomong sama keledai, bisanya cuma mikul doang.

      2. Ibnu Abi Irfan @

        Hei, menyebut Nama Nabi kok seperti menyebut nama keponakan? Adakah contoh dari para Sahabat dan Tabiut Tabi’in yg memanggil nama Rasulullah dengan nama doang?

        Antum memanggil Ibnu Abdul Wahhab aja pakai tambahan Asyaikh, manyebut Al-albani pakai Alallamah assyaikh, padahal keallamahannya masih dipertanyakan para Ulama?

        Lalu kenapa antum menyebut Nama Rasulullah dengan namanya doang? Di mana akhlakmu kepada Rasulullah Saw?
        Antum adalah contoh sukses hasil didikan ilmu wahabi yag tidak berakhlak kepada Rasulullah Saw tapi mengaku-ngaku ahlussunnah!

  19. he..he.. kayak keledai di penggilingan, muter2….
    di atas udah ada artikelnya, di bahas sama ahlinya, ini masih aja mempermasalahin istilah….he..he…
    kayaknya teknik-teknik BOLOT seperti hadits Najd mulai dipraktekan nih…
    Najd yang udah jelas nama daerah, dibahas asal katanya…..
    Wah, kalo saya jadi pedagang kain, harus hati2 nih cari pegawai, jangan yang wahaby, nanti misalnya kita suruh pegawai untuk kulakan kain ke Tanah Abang, dia minta bahas dulu istilah Tanah Abang…. Percakapannya jadi panjang, omzet ga muter..
    Majikan : Bang, tolong ambil kerudung 2 kodi ke tanah abang, yang warna merah ya, udah banyak pesanan
    Pegawai : Tanah abang, arti kata tanah merah, daerah yang bertanah merah, bahasa sunda tanah yaitu lemah, jadi tanah abang di mana ya?? di lemah abang, Bekasi, atau semua yang bertanah merah? Lapangan bola deket kelurahan juga merah….
    Majikan : Dasar BOLOT !!!@$%??*&%$#@

  20. bahkan istilah Wahabi atau Salafi sekalipun tak ada di jaman Rasul….jadi sah2 saja klo ada yang menilai Wahabi pun bid”ah karena tak ada dijaman Nabi bahkan Sahabat

    Istilah dipakai untuk menyederhanakan hal2 yang ada di muka bumi. Mana ada dulu istilah ekonomi atau iqtishod di jaman nabi. Apa ada istilah matematika di jaman Nabi???

    yang ada Al Jabbar. Dari seorang Ulama Al Khawarizmi.

    apa jaman Nabi ada rukun iman rukun islam???

    jadi berbijaksanalah menggunakan istilah….istilah tidaklah penting
    yang penting adalah isi

  21. Salafi itu ndak pernah diajarkan Adab dan Akhlak kayaknya. Yang ada hanya doktrin sempit jalan lurus, surga, neraka, jalan sesat, kafir< syirik, tersesat

    ahhaahhahaha………

    Memangnya KEBENARAN HANYA MILIKMU WABABI…..????

    Saya bertahun2 dicekoki ajaran Wahabi. Setelah aku bertemu Guru Syaikh yang sudah berpulang, aku sadar, Wahabi itu ibarat orang yang hanya tiduran dirumah dan tidak pernah mengenal dunia luar. mereka tidak tahu tukang bakso, tukang sate. Yang ada mereka hanya nonton TV…..

    Maka tak salah sudut pandang mereka begitu

    di Wahabi tak pernah diajarkan bagaimana solat khusyuk, akhlak terhadap Tuhan, pada Nabinya, Sahabat2nya, yang ada hanya perintah SOLATLAH YANG KHUSUK, JADILAH ORANG SOLEH….tapi tak pernah diajarkan bagaimana jadi sosok yang nggenah lair batin. Yang ada hanya MEREKA KAFIR, KITALAH PEMBAWA KEBENARAN YANG MUTLAK

    Saya bisa bilang begini karena merasakan kejemuan, merasakan keringnya diri ketika bersama mereka. Hingga suatu saat saya tak punya teman karena sikap Islam saya yang keras dan cenderung mudah menyalahkan dan mensesatkan orang lain.

    Dulu ada orang berkata, kmu kok mudah2nya menyesatkan, apa kamu sendiri sudah benar terhadap Tuhanmu, terhadap kedua orang tuamu??? Pertanyaan yang menyesakkan dada ketika aku merasakan dosa2 makin menumpuk, sering bersebrangan sma kedua org tua.

    ini hanya pengalaman pribadi. daripada saya ngoceh dalil g jelas. Toh saya bukan murid yang baik. bahkan dibilang murid guru Syaikh saya, masih belum.
    lebih baik mengungkapkan pengalaman pribadi daripada harus perang dalil.

  22. Ada kita temui saudara-saudara muslim kita yang telah mendapatkan ilmu yang banyak dan telah mengimplementasikan ilmu keadalam amal namun mereka diibaratkan “tidak melampaui kerongkongan”, maknanya tidak sampai ke hati atau tidak membentuk akhlaknya

    Ilmu —-> Amal (pemberhentian bagi sebagian muslim) —> Akhlak

    Rasulullah mengatakan “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

    Nasehat orangtua kita dahulu pahamilah padi ”semakin berisi semakin merunduk”

  23. Orang-orang yang paham dan mengamalkan ilmu Tasawuf dikenal dengan nama orang sufi.

    Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah.

    Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.

    Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.

    Firman Allah yang artinya,
    [38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
    [38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.
    (QS Shaad [38]:46-47)

    Tidak seorangpun yang boleh mengaku sebagai Wali Allah atau Wali atau muhsin atau muslim yang sholeh atau seorang Arif, seorang Shiddiqin, seorang Sufi karena semua itu dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia.

    Namun jika ada orang yang lain yang memanggil kita seperti itu tidak mengapa sebagai bentuk penghormatan atau atas dasar penghormatan.

    1. abu fadlan @

      Om, abu fadlan…, penjelasan sudah begitu jelas antum masih belum paham juga? Ini saya ulang penjelasan-pejelasan di atas, bahwa tasawuf adalah Ilmu yang membahas bagaimana praktek ber-IHSAN. Ini ilmu sangat penting, Om Abu Fadlan.

      Ini saya ulang lagi:

      Agama (al-din) ini terdiri dari 3 bagian yang tak bisa dipisah-pisahkan atau merupakan satu kesatuan. Yaitu, IMAN, ISLAM, IHSAN, antum sudah tahu kan tentang hal ini?

      Nah…., Praktek ber-IMAN dijelaskan dalam ILMU TAUHID/AQIDAH
      Praktek Ber-ISLAM dijelaskan dengan ILMU SYARI’AT/FIKIH
      Praktek Ber-IHSAN dijelaskan dengan ILMU TASAWUF/TAZKIYATUN NAFSI

      Jadi kalau antum anti tasawuf, bagaimana antum praktek ber-IHSAN? Apalagi jika antum ikut-ikutan mengatakan taswuf belitan iblis, lalu bagaimana antum bisa praktek ber-IHSAN? Padahal IHSAN adalah bagaian sangat penting, sama halnya dengan IMAN dan ISLAM. Tanpa IHSAN jadinya nggak lengkap, sadarilah Om Abu Fadlan. Salam penuh cinta buat Om Abu Fadlan, saran saya mulailah Om Abu membuka hati dan akal jangan sia-siakan anugrah Allah yg besar itu, yaitu hati dan akal.

  24. secara gampang, berikhsan itu beribadah karena Allah melebihi batas minimal karena ahlak dan ridho karena Allah…. jadi beribadahnya bukan karena takut dosa..
    contohnya dalam menutup aurat
    aurat laki-laki dari pusar ke bawah sampai lutut… tetapi kita masih menggunakan baju kan? itu karena akhlak kita… kalo mikirin dosa, kenapa kita tidak sekadar menutup pusar ke bawah sampai lutut saja sebagai batas minimal menutup aurat?
    tapi kadang bagi sebagian salafy/wahaby yang eror, yang kaku dalam beribadah, yang tahu hanya batas minimal saja, hitam putih saja, paktek ikhsan dalam beribadah ini di anggap amalan menambah2 syariat… bener-bener eror…
    saya gatau apakah abu fadlan termasuk salafy/wahaby yang konsekuen yang hanya menutup aurat di batas minimalnya saja ( tidak pakai baju ) atau termasuk yang melakukan bid’ah dengan menambah syariat ( memakai baju )

  25. capek deh sama anak2 pak wahhab.
    Kita kan tahu to ada iman, islam dan ihsan. Lha ihsan itu kan hakikatnya ruh islam dan tasawuf itu muncul dari penjabaran ihsan. Ya emang anak2 pak wahhab cuman itu-itu aja yang jadi bahasan.

    Buat anak2 pak wahhab, APA YANG KITA KETAHUI DAN PAHAMI TENTANG ISLAM MASIH JAUH DARI YANG TIDAK KITA KETAHUI DAN PAHAMI. MENGAPA DENGAN ILMU YANG SEMPIT ANDA2 SUDAH GAGAH BERANI MENGELUARKAN KATA-KATA SESAT, KAFIR DAN MUSYRIK KEPADA SESAMA MUSLIM DI LUAR KELOMPOK ANDA?.

    ADAKAH DALIL YANG MENYATAKAN BAHWA MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB ADALAH HAKIM TUNGGAL DALAM AQIDAH ISLAM SEHINGGA GAMPANG SEKALI MENUDUH MUSYRIK SESAMA MUSLIM YANG LAIN?

    KALAU ANDA MENGKLAIM BERAQIDAH PALING MURNI, BERTAWHID PALING MURNI, BUKANKAN ITU SIKAP SOMBONG DAN BENAR SENDIRI.

    DAN KALAU ANDA SUKA MENGHAKIMI UMAT MUSLIM YG LAIN DENGAN TUDUHAN SESAT DAN KAFIR, BUKANKAH ITU NAMANYA MENYEJAJARKAN DIRI DENGAN TUHAN. APA INI NAMANYA BUKAN SUPER SYIRIK?

    MAAF SAYA BERTANYA KARENA SAYA BARU BELAJAR ISLAM.

  26. kami tdk prnah mnjadikan seorang ulama pun sbg hakim tunggal,tp yg mnjadi hakim adlh apa2 yg datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan rosulullah shallallahu’allaihi wa sallam. jd mrupakan fitnah kalau anda mnuduh salafy mnjdkan muhammad bin abdul wahab sbg hakim dlm urusan aqidah.

    1. tapi kenyataan yang ada tasawuf mengajarkan ahlak islam sesungguhnya ………ihsan …..bagaimana shalat khusyuk, bagaimana ikhlas ,dll dsb yang mana nggak diajarkan oleh syaikh2 nt …jujur aja …betul kan ….

  27. @abu fadlan, cape… dweh ngomong sama ente…. emang ada konsep akidah salafy/wahaby yang tidak menggunakan konsepnya / pemahaman ibn abd wahab ? kalo ente sendiri dalam aqidah ngikutin konsep / pemahaman siapa ? asy’ariah ? atau siapa …

  28. @mamo,, kenyataan bukanlah dalil.. skrg coba nt cari di al qur’an atw assunnah adakah kata “tashawwuf” ?? klo ga ada brrti tashawuf adlh bkn ajaran islam. sejak kpn ajaran tashawuf mulai muncul?
    betu,,kami memang tdk mempelajari tashawuf krna bkn dri islam,toh bwt apa di pelajari. kami mncukupkan dgn apa yg telah di ajarkan oleh rosulullah shalallahu’alaihi wa sallam.

    @mz,, anda mgatakan kaum sufi adlh mreka yg telah mncapai muslim yg ihsan.
    dr mna anda tau tantang hal itu? apakah malaikat jibril turun kpd anda?
    terus sejak kapan orang muslim yg ihsan di namakan gn sufi? pemahaman dr mna ini?

    @bapake zahra,, klo cape ya udh tidur aja,,td kan sdh saya jwb,, bhwa pemahaman aqidah adlh sesuai apa yg telah di jelaskan oleh rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. bkn dgn pmahaman si anu,si itu,apalagi mnurut akal.

    1. he…he….@Abu fadlan ……nt pernah liat orang kesurupan nggak ?? coba ana mau tanya cara mengobatinya sesuai Al Qur’an atau hadist ada nggak ???? yaaah minimal mencegahnya ada ngga dalilnya ???

    2. abu fadlan AlMujassim AlMusabbih @

      Nggak usah ngoceh seperti burung, aqidah Wahabi yg antum anut kan aqidah bid’ah dholalah? Masak taihid ada tiga, ajaran Nabi Saw apa ajaran Ibnu Tymiyan n Ibnu Abdul Wahhab? Setahu kami Allah dan Rasul-NYA tidak pernah membagi tauhid jadi tiga, pemabgian ini adalah dholalah yg nyata.

      Maaf, tolong yg lain minggir, Abu Fadlan ini harus ditertibkan biar nggak ngoceh ngalor ngidul lagi.

      Ayo, silahkan Abu fadlan, silahkan sebutkan dari AlQur’an atau Hadits di mana ayat atau matan yg mengatakan tauhid dibagi tiga?

      Kalau ternyata antum tidak bisa sebutkan berarti aqidah Wahabi adalaha aqidah dholalah! Please sebutkan….

  29. Kita hidup di dunia kita umpamakan sebagai “perjalanan” menuju sutau tujuan yang kita sebut tujuan hidup

    Kemanakah tujuan hidup kita ?

    Apakah tujuan hidup kita masuk surga?

    SurgaNya bukan lah tujuan namun sebuah keniscayaan bagi “orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya”

    Tujuan kita adalah untuk sampai kepadaNya

    “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

    “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam“. (QS Al An’aam [6]:162 )

    Dalam agama Islam ada 3 pokok utama yakni
    Tentang Islam (rukun Islam/Fiqih), Tentang Iman (rukun Iman/Ushuluddin/I’tiqad), Tentang Ihsan (akhlak/tasawuf dalam Islam)

    Fiqih, Ushuluddin, I’tiqad dll yang merupakan pendalaman/pengamalan rukun Iman, dan rukun Islam adalah syariat/syarat “perjalanan”, rambu2 dan petunjuk “perjalanan”, tanpa syariat/syarat maka “perjalanan” akan tersesat.

    Sedangkan Ihsan atau tasawuf adalah yang dimaksud dengan “perjalanan”, “perjalanan” untuk sampai kepada Allah. Dalam tasawuf kita dapat mengenal Allah (ma’rifatullah) agar paham kemana “perjalanan” hendak dituju.

    Dalam “perjalanan” akan mendapatkan suasana yang disampaikan oleh Anas Ra, Rasulullah saw berkata “….kesenanganku dijadikan dalam shalat”

    Dalam “perjalanan” akan dapat memahami bahwa “syariat bukanlah beban”. Silahkan baca tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/16/syariat-bukanlah-beban/

    Dalam “perjalanan” inilah yang disampaikan oleh Imam Syafi’i rahimullah sebagai “keni’matan taqwa” atau “keni’matan perjalanan”.

    *********************
    Nasehat/Diwan Imam Syafi’i ~ rahimullah
    Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
    Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
    ********************

    Nasehat/Diwan Imam Syafi’i seperti inilah yang seolah-olah dilenyapkan oleh sebagian saudara-saudara kita kaum Salafi/Wahabi untuk membenarkan atau mempertahankan apa yang mereka pahami atau pemahaman mereka.

    Jadi bagi pemahaman kami, sebagian ulama-ulama kaum Salafi/Wahabi seolah-olah bukannya menegakkan kebenaran namun memperturutkan hawa nafsu yakni membenarkan pemahaman mereka. Mereka menggunakan ayat-ayat untuk berdalih bukan berdalil. Wallahu a’lam

    Beda berdalih dengan berdalil

    “Menggunakan” ayat untuk PEMBENARAN inilah yang disebut “BERDALIH”
    Menyampaikan ayat untuk menegakkan KEBENARAN inilah yang disebut “BERDALIL”

    Wahai ahli-ahli syariat (fiqih, ushuluddin, i’tiqad dll) marilah kita tinggalkan perselisihan, perdebatan, saling mengejek, saling menghujat, saling merasa paling benar dan yang lainnya sesat.

    “Demi Masa” (QS Al Ashr [103]:1 ) Sebaiknya kita tidak membuang waktu sehingga melupakan tujuan hidup kita sesungguhnya.

    Marilah kita taati ulama-ulama yang “keulamaannya” telah disepakati jumhur ulama, bukan mengikuti ulama yang dipertanyakan/disanggah oleh jumhur ulama.
    Sebaiknya tidak bangga dengan merasa asing ditengah-tengah pemahaman yang telah disepakati jumhur ulama, karena jumhur ulama sepakat dalam kebenaran.

    Marilah kita berlomba-lomba menuju kepada Allah, berlarilah kepada Allah , “Fafirruu Ilallah” berlomba-loba untuk dapat seolah melihat Allah atau melihat Allah dengan hati.

    Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
    “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
    Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
    “Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
    Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.

    “Seolah-olah melihat Allah” adalah bukti bahwa telah sampai kepada Allah.
    Sebagai pembuktian nyata akan syahadat yang telah kita ucapkan merupakan “sidqan min qalbihi“ (betul-betul keluar dari qalbu)
    Itulah hakikat dari syahadat / “kesaksian” / “menyaksikan” / “melihat” /”syahid” bahwa “tiada tuhan selain Allah“

    Semoga kita semua dapat mencapai muslim yang Ihsan, muslim yang baik, muslim yang sholeh
    Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,
    “Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.

    Semoga dari tulisan ini dapat kita pahami hakikat dari pemahaman Salafush Sholeh yang harus kita pahami dan kita ikuti. Sekaligus menjawab mengapa mereka dipanggil dengan “Salafush sholeh” karena mereka telah mencapai muslim yang sholeh, muslim yang ihsan.

    Sebagian umat muslim yang mengaku mengikuti Salafush Sholeh, sesungguhnya baru mengikuti sebagian saja yakni tentang syariat Islam namun belum mencoba memahami /mengikuti “perjalanan” yang telah dilakukan Salafush Sholeh.

    “Perjalanan” memang tidak mudah disampaikan kepada khalayak ramai karena “perjalanan” itu semata-semata kehendak Allah ta’ala. Kita paham bahwa tidak semua khalayak ramai dikehendaki oleh Allah ta’ala untuk melakukan “perjalanan” atau “kembali” kepada Allah.

    “Perjalanan” harus dilakukan atas bimbingan orang per orang sebagaimana contoh Rasulullah membimbing Sayyidina Ali ra secara langsung. Inilah yang dimaksud sanad ilmu, pengijazahan tharekat, atau berguru secara langsung (tatap muka) bukan dengan cara memahami dari tulisan.

    “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An Nuur [24]:35 )

    “…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu (membimbingmu/memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al Baqarah, 2: 282)

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

  30. @abu fadlan, menurut ente pemahaman akidahnya ibn abd wahab sesuai Al-qur’an dan Rasulullah SAAW ga? Pemahaman aqidah ente sama ga sama pemahaman akidahnya ibn abd wahab… Ente jangan bilang ga tau ya?? ente kan sering bergaul sama pengikutnya ibn abd wahab….

  31. @mamo,, caranya adlh dgn di ruqyah,yaitu dgn di bacakan ayat2 al qur’an sesuai yg di ajarkan oleh rosulullah shalallahu’alaihi wa sallam.
    banyak hadits yg mnyebutkan bolehnya ruqyah,selama tdk ada unsur kesyirikan.
    dlm riwayat muslim rosulullah bersabda
    ” perlihatkanlah kepadaku ruqyah kalian,dan tdk apa2 melakukan ruqyah selama tdk ada unsur syirik”

    cara mncegah kesurupan diantaranya adalah dgn memperbanya dzikir kpd allah sesuai dgn apa yang telah di ajarkan rosulullah shalallahu allaihi wa sallam atau dzikir pagi & petang.
    atau dgn memakan kurma ajwah,sbgmna dlm hadits bukhari no.5769 dan muslim no.2074
    “barang siapa memakan tujuh butir kurma ajwah di pagi hari,ia tdk akan terkena racun atau sihir di hari itu”
    itu hanya sedikit dari cara mengobati & mncegah kesurupan.tentunya msh bnyak dalil2 yg mnyebutkan hal tsbt.

    1. @ abu fadlan ….he…he… teori anda texs book aja ….ngomong boleh coba nt praktekin ….yang ada ntar yang kesurupan malah mbaca ayat kursi lagi ….nggak percaya nt kalau syetan mbaca ayat kursi ????? nggak cukup Abu itu mah teori …. coba apa sebabnya ????

  32. @ asoya yg ngaku musa,,
    apakah anda tdk faham tentang bid’ah?
    ” dan jauhilah olehmu perkara yg baru dlm agama.maka sesungguhnya setiap perkara dalam agama adalah bid;ah dan setiap bid’ah adlh sesat” ( HR.abu daud & tirmidzi )
    ” barang siapa melakukan amalan bukan atas perintah kami,maka amalan itu tertolak ( HR.muslim )
    jd yg dimaksud bid’ah adlh segala sesuatu yg tdk ada dasarnya atau contohnya dari syariat,baik berupa amalan ataupun keyakinan.

    adapun pmbagian tauhid mnjdi 3 adlh bukan suatu amalan ibadah atau suatu keyakinan baru. pembagian tauhid mnjdi 3 hanya utk mempermudah manusia mempelajari tauhid. toh dgn di baginya tauhid mnjadi 3 rubbubiyah,uluhiyah,& asma’ wa sifat tdk ad yg berdzikir rubbubiyah 33 x,uluhiyah 33 x,dan asma wa sifat 33 x. dan tdk merubah kayakinan kami tentang Allah subhanahu wa ta’ala.
    pembagian tauhid mnjadi 3 adlh seperti halnya pembagian rukun shalat,syarat sah shalat atau rukun wudhu dan syarat syah wudhu,kalau kita tanyakan hal tersebut tentu tidak ada dalil nya dlm qur’an maupun sunnah. jd sekali lg pembagian tauhid hanya untuk mempermudah pembelajaran dan pemahaman.

  33. Abu fadlan, jgn melihat atau mendengar penjelasan tentang tasawuf atau ilmu islam lainnya dari satu sisi saja. Cobalah belajar dari orang yg menjalaninya, kalau ada yg menurutmu janggal, engkau bisa minta penjelasan langsung dari ahlinya. Demikian saran saya, biar kita tidak berpikir picik dan dangkal dalam beragama. Abu fadlan, tahukah antum yg mengislamkan indonesia dulu itu adalah kaum sufi. Jasa mereka amat besar, jgnlah engkau membuang mereka dari hidupmu, doa mereka kita harapkan, tentu antum juga tahu bahwa syekh abdul qodir al jailani adalah seorang sufi.

  34. @ mamo
    dr td kan ane dah bilang ” itu hanya sedikit dari cara mengobati & mncegah kesurupan” jd tidak semua di jelaskan,tentunya bukan dsni tmpatnya,kalau nt ingin memperdalam silahkan nt belajar sendiri. toh nt punya guru,suruh guru nt cari di kitab2 hadits mgnai tata cara rosulullah dlm mngobati & mncegah kesurupan atau sihir. dan akalau anda mgatakan teori anae hnya tex box saja ya terserah nt,toh ane dah bawakan dalilnya dari hadits. apakah nt jg akan mgtkan bhwa rosulullah hanya bisa teori saja???? atau nt ga prcaya dgn apa yg rosulullah sabdakan?? semoga tidak demikian..
    ingatlah setiap ucapan akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah aza wa jalla..
    sblm berucap sebaiknya kita pelajari trlbih dahulu..

    1. sblm berucap sebaiknya kita pelajari trlbih dahulu …..???? bagaimana dgn tasawuf ???nt udah berucap apa dah di pelajari ?????

  35. he…he…@ abu Fadlan… Rosululloh bersabda “sesuatu yang dikerjakan bukan oleh ahlinya tunggu KEHANCURANYA” apa nt kurang jelas dgn hadist ini abu ???? nah nt makanya jangan banyak omong deh klo nt bukan ahlinya lebih baik diam atau bertanya kalo tidak tau lebih baik . Abu banyak dari muslim yang fasih baca Al Qur’an namun dalam ayat2 yang dibacakannya cuma jasad nggak ada ruhnya …..teori yang nt beberkan ngga ada yang salah ……cuman kalau yang praktek ruqyah anak sd yang hafal Al Qur’an mana sembuh tuh yang kesurupan ???? syetan lebih fasih n hafal ayat kursi Abu …..pelajaran spt ini Ahlinya ya di tasawuf Abu ….bagaimana hati selalu tidak LALAI thd Alloh ….bagaimana jiwa selalu bersih dan selalu dijaga dari syetan …..bagaimana jiwa yang “HIDUP” bisa membaca ayat2 Alloh yang Maha Dahsyat…..pelajaran ini semua ada di tasawuf …..silahkan saja nt memercayai kalau tasawuf bukan islam itu hak nt yang jelas sholatnya muslim adalah ritual namun sholatnya muhsinin…..dgn spiritual ( berdialog dgn Yang Maha Dahsyat )

  36. tashawuf kalian berbeda dg tasahwuf hasan al bashri,junaid al baghdadi..mereka menguasai Al Quran & Sunnah..ilmu ttd ad din dgn cabang2nya..sdgkan skarang tashawuf..nyembah kubur..dzikir gedeg-gedeg?kalian di sini hobinya debat..mancing2 salafy,temen2 salafy tu bkn kalah debat..tp krn dah tau,kalian tu bebel..ngeyel..dah gitu aj,pny ilmu tukang mulung,tkg comot..yg di comot abu salafy.g usah bnyk cing cong..

    1. Diriwayatkan dari Abu Umamah., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda; “ Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat “ Kemudian Rasulullah membacakan ayat,” Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar ”. (Az-Zukhruf: 58). (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448])

    1. Mas Mamo dan Mas Dianth, bantah aja Wahabi-wahabi itu biar kesesatannya tidak menyebar di mayarakat, kasihan masyarakat awam banyak yg tertipu oleh kebohongan-kebohongan Wahabi.

  37. @ dianth
    salafy bukanlah tukang fitnah yg menghukumi hanya berdasarkan qila wa qola atau hanya berdasarkan omongan orang tanpa tabayun.
    klo nt ingin mgtahui penyimpangan tokoh2 sufi atau tasawuf,silahkan nt baca sendiri kitab2 mereka.di antara tokoh mrka adlh ibnu arabi,dlmbkiabnya Masra’ at tasawwuf dia mengatakan :
    -wali lebih tinggi dari Allah ( 22 )
    -utk sampai kpd allah tdk perlu mgikuti ajaran nabi ( 20 )
    -allah membutuhkan pertolongan makhluk.
    dan msh bnyak perkataan kufur lainya,silahkan nt baca sndiri dlm kitab td atau dlm kitabnya fushush al hukm. atau tokoh sufi lainya.
    skrg ane nanya ma nt,,, mgnal sejarah wahabi dr siapa? prnahkah nt mbaca sejarah wahabi dr pihak yg di tuduh wahabi?? atau cuma dr ust.google?? atau dr pihak2 yg tidak suka thdp dakwah salafiyah?? prnahkah nt mndatangi kajian salafy kemudian berdialog dgn ust.dr salafy? knp nt jg tdk melakukan hal yg nt sarankan? coba nt datangi kajian2 salafy,kalau da yg mnyimpang silahkan nt langsung debat. klo ga dialog di akhir kajian..

    1. Sebagian dari mereka dan para pengikutnya beribadah ingin menyaingi/melebihi Rasulullah SAW (bukan menurut petunjuk Beliau SAW).
      “Sederhana dalam Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlis-Sunnah 114 oleh Al-Laalikai – dari perkataan Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu).
      “amal yang sedang-sedang saja dan sesuai dengan sunnah lebih baik daripada amal yang banyak tetapi bid’ah”.(tanbihul ghafilin 2/442)

  38. @dianth
    klo memang bnar islam di indonesia di sebarkan oleh org2 sufi,,lantas apakah kalau mereka melakukan kesalahan akan tetap kita ikuti dgn taqlid buta??? bukankah beragam harus sesuai dgn apa yg telah allah turunkan kepada rosul Nya?? maka hendaklah kita hindari taklid buta,bangga thdp kelompok dan golongan.. hendaknya setiap kita bangga dgn apa yg rosulullah ajarkan.. wallahu ta’ala a’lam

    1. Apakah antum berprasangka bahwa ulama-ulama kita banyak melakukan kesalahan ?
      Tolong tunjukkan kepada kami, kesalahan yang pernah dilakukan oleh mereka seperti:

      Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi
      Syaikh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi
      Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari
      Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli Al-Minangkabawi
      Syeikh Sayyid Utsman Betawi
      Syeikh Muhammad Khalil Al-Maduri
      Syeikh Muhammad Mukhtar Al-Bughri
      Syeikh Abdul Hamid Asahan

      Sedikit riwayat mereka silahkan baca di

      Berikut tanggapan Prof. Dr. Assayyid Muhammad Bin Assayyid Alwi Bin Assayyid Abbas Bin Assayyid Abdul Aziz Almaliki Alhasani Almakki Alasy’ari Assyadzili tentang kaum muslim yang mengaku Salafi / Wahabi

      Para pemuda yang mengaku salafiyah (pengikut jejak para ulama terdahulu).

      Sungguh, pengakuan itu sangat mulia apabila pengakuan itu mereka realisasikan.

      Beberapa golongan lainnya mengaku ahli hadits (berpegang teguh kepada hadits).

      Pengakuan ini pun sangat mulia.

      Sebagian yang lain mengatakan tidak perlunya bermadhzab dan hanya berpegang teguh dengan al Qur’an dan as Sunnah saja karena al Qur’an dan as Sunnah adalah pilar-pilar agung berdirinya agama Islam sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam. ?????? ???? ???????? ???????? ??? ???? ?????????? ??????????? ??? ?????? ???? ??????? ???? ?????????? ??????? ??????? ???? ?????????? ?????? ??????????? ?????? ??????? ????? ????????? (???? ??????? ?? ?????

      “Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka. Kalian tidak akan tersesat selagi berpegang teguh atau mengamalkan keduanya, yaitu al Qur’an dan Sunnahku. Keduanya tidak terpisahkan sampai mengantarkan aku ke al-haudl/telaga.”(H.R. al Baihaqy).

      Pengakuan ini pada hakikatnya sangat terpuji.

      Namun, pengakuan-pengakuan ini hanya pengakuan dari orang-orang yang bukan ahlinya. Pengakuan dari orang-orang yang berfatwa secara individual tanpa ada dasar ataupun sandaran dari para ulama yang terpercaya. Pendapat dan fatwa-fatwa mereka terlontar begitu saja tanpa adanya batasan, keterikatan kaidah-kaidah, bahkan asal-usulnya.

      Oleh karena itu, mereka mengingkari dan menyanggah keyakinan orang-orang selain mereka.

      Mereka beranggapan, “hanya merekalah yang berada dalam jalan kebenaran dan selain mereka telah terjerumus dalam kesesatan.”

      Hal ini adalah salah satu pijakan atas apa-apa yang kita dengar dari mereka dalam mengafirkan, memusyrikkan, dan menuduhkan hukum-hukum dengan memberikan julukan-julukan dan sifat-sifat yang tidak pantas bagi seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak disembah selain Allah ta’ala dan bahwa Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam adalah utusan Allah ta’ala.

      Misalnya, tuduhan mereka dengan mengatakan kepada orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka dengan sebutan ”perusak! dajjal! ahli bid’ah! Bahkan, pada akhirnya mereka mengatakan “musyrik, kafir, dan lainnya. Sungguh, sangat sering kita dengar dari orang-orang yang mengaku berakidah, mereka membabi buta mengucapkan kata-kata keji di atas.

      Bahkan, sebagian dari mereka menuduh orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka dengan berkata,

      ”Wahai orang yang mengajak kepada kemusyrikan dan kesesatan di zaman ini”.

      “Wahai pembaharu agama, Amr bin Luhai!”

      Begitulah, sering kita dengar mereka melontarkan hinaan dan ejekan yang tidak sepantasnya terlontar dari mulut seorang pelajar apalagi dari mulut seorang ahli ilmu yang seyogyanya memilih cara-cara terbaik dalam berdakwah dan bersopan santun dalam berdiskusi.

      Wassalam

    2. Mas dianth @

      Abu Fadlan kok bisa bangga banget ya taqlid buta kepada Ibnu abdul Wahab n Ibnu taymiyah? Lebih baik mana kira-kira taqlid kepada Wahabi atau kepada Imam Syafi’i?

  39. Yang mengaku pengikut al imam As Syafii,renungkan..semoga Alloh merahmati kita,
    “Kaum zindiq yang dimaksud Imam Syafi ’ i adalah orang -orang sufi . Dan assama’ yang dimaksudkan adalah nyanyian -nyanyian yang mereka dendangkan . Sebagaimana dimaklumi, Imam Syafi ’ i masuk Mesir tahun 199 H. Perkataan Imam Syafi’ i ini mengisyaratkan bahwa masalah nyanyian merupakan masalah baru. Sedangkan kaum zindiq tampaknya sudah dikenal sebelum itu. Alasannya, Imam Syafi ’ i sering berbicara tentang mereka , di antaranya beliau mengatakan: “Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum zhuhur ia menjadi orang yang dungu. ” Dia ( Imam Syafi’ i ) juga pernah berkata : “Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akal nya ( masih bisa ) kembali normal selamanya. ” ( Lihat Talbis Iblis, hal 371 ) . Sekian nukilan kami dari Tasawuf Belitan Iblis

    1. lho emang nya kenapa dgn pernyataan imam syafii mengenai tasawwuf?
      he..he…nggak ngerti pasti maksud nya neh…bawain perkataan imam syafii itu ya?
      wkwkwkk…..mangka nya jangan belajar sama ustadz wahabi mlulu,ntar nggak tahu penjelasan nya…ane tahu kok ente hanya copasan bagian paragraf dr http://ainuamri.blogspot.com/2010/02/sufi-benarkah-itu-ajaran-nabi.html
      he..he…

      “Seandainya seseorang menjadi sufi pada pagi hari, maka siang sebelum zhuhur ia menjadi orang yang dungu”

      maksudnya:
      jika orang dlm hal beragama mengenal hanya syariat terus menerus tanpa mengenal hakikat,karena begitu ia terjun ke dunia sufi ternyata banyak hal2 yg belum terselami nya,banyak hal yg belum di ketahui oleh nya, yg bersifat hati,dan kezuhuad-an,mahabbah dll ,jadi setelah ia mengetahui nya maka ia ibarat orang dungu yg baru belajar.

  40. @mz
    di dlm artikel anda ada kalimat” bahwa kaum sufi sering menggunakan istilah khusus yg hanya dipahami oleh orang yg sudah terjun ke dunia mereka”
    apa msh blm sempurna agama ini??? shingga harus mnggunakan istilah khusus yg tdk di pahami orang lain???
    ini adlh pembelaan yg tdk beralasan,krna bhsa mereka adlh bhsa arab dan ulama terdahulu jg mnggunakan bahasa arab,sehingga ulama yg mengagnggap tokoh sufi al hllaj dan ibnu arabi sindiq bahkan kafir adlh sangat faham trhdp penyimpangan ucapan al hallaj dan ibnu arabi.

    1. @Abu Fadlan
      Kekhususan tersebut tidak berhubungan dengan kesempurnaan agama.

      Sebagai contoh,
      Rasulullah mencontohkan sholawat dalam sholat adalah yang berlaku umum (untuk orang kebanyakan), seperti Sholawat Ibrahimiyah sedangkan sholawat diluar waktu sholat , ungkapkanlah dengan sebaik-baiknya dan sekhusus-khususnya termasuk menggunakan “Sayyidina”. Imam Syafi’i rahimullah , Imam Sayyidina Ali ra mempunyai cara mereka sendiri untuk mengungkapkan kecintaan mereka dalam sholawat.

      Kaum muslim pada umumnya boleh saja tidak memahami hadits qudsi. Namun tidak bagi orang-orang yang khusus.

      Begitu pula pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits, kaum muslim pada umumnya memahami sebagaimana dzahir atau sebagaimana yang tersurat / tertulis. Sedangkan orang-orang khusus atas kehendakNya dikaruniakan pemahaman yang dalam (Hikmah)

      “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]: 269)

      Contoh bagaimana perbedaan dalam memahami, berdasarkan bahasa arab artinya,

      Rasulullah SAW bersabda , ”Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan mati syahid” (HR.Ibnu Majah)

      Hadits ini mengandung hikmah / arti tersirat yang tidak bisa dipahami dengan pemahaman dzahir atau apa yang tersurat/tertulis.

      atau contoh lain

      “Mutu qabla an tamutu”

      Pemahaman secara apa yang tertulis artinya, “Matilah kamu sebelum kamu mati”

      Contoh lain silahkan baca tulisan pada
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/09/2010/10/27/pemahaman-harfiah/

  41. @ mamo
    apa anda jg kurang jelas dgn ucapan saya ” itu hanya sedikit dari cara mengobati dan mencegah kesurupan” tentunya yg sesuai dgn qur’an dan sunnah. shgga tdk smuanya di jelaskan dsni,kan ane dah bilang silahkan nt belajar sndiri.
    lagian bangga bgt dah bsa mngobati kesurupan?? atau emng hanya itu yg di pelajari di tasawuf??,,rosulullah jg dah ngajarin mas.. jd ga perlu repot2 ikut2an tasawuf.. klo cuma ngobatin kesurupan dukun jg bisa mas.. tp kan tdk sesuai syariat..
    lgian nt ko tiba2 jd bhs kesurupan?? mkanya klo dzikir jgn ky orang kesurupan muter2,teriak2.. emg rosulullah ngajarinya gtu??

    1. @ Abu Fadlan……ayat ayat Alloh itu Maha Dahsyat lho Bu …..di Al Qur’an terdapat kandungan Energi yang Takk Terhingga ……ana anggap wajar kalo nt berucap spt itu , maslhnya nt belom tahu , nggak mungkin ustadz nt tau / membelajari ilmu tsb karena mendengar tasawuf aja udah alergi …..ilmu yang ada di Al Qur’an hanya bisa di ajarkan oleh sang Ahlinya Bu, dan tidak segampang yang kita pikir …….ayat yang dibaca orang awam tidak akan ada dampak apapun namun kalo di baca oleh yang Ahlimya Masya Alloh Bu ………banyak yang nggak masuk akal namun kita harus mengimani Bu ……ana hanya menyampaikan ……banyak musuh2 islam yang tau hal ini Bu mereka takut kalo islam bersatu ada sebagian mereka berusaha memecah umat dgn berbagai cara Bu …..hati hati dan waspada jangan2 …..jangan2 ….jangan2 ……wassalam

  42. lihat petikan artikel di atas ..
    “Namun sayangnya seringkali yang terjadi dalam fenomena tidak demikian . Istighotsah tersebut kebanyakan secara terang -terangan ditunggangi kepentingan pilitik . Mereka mengumpulkan para Kiai yang kharismatik agar umat mau berbondong- bondong datang dengan alasan untuk beribadah padahal tujuan utamanya untuk mendirikan partai politik baru atau paling tidak supaya orang mau memilih calon pejabat yang sudah mereka tetapkan . Amal perbuatan seperti itu disamping merupakan amal perbuatan yang tidak disukai Allah SWT, karena bercampur dengan syirik dan tidak akan diterima disisiNya , juga berarti , mereka itu mengadakan pembodohan publik . Para pelaksananya bahkan terjebak dalam perbuatan munafik, dalam arti luarnya baik tetapi dalamnya busuk…”
    inilah akhi bukti & fakta,..efek dari ajaran menyimpang,aktual di lapangan sperti ini..rupanya “ummati press” mengakui dan membuka mata pembaca..tapi anehnya seperti ini di “pelihara & di bela”..termasuk maulid terbesar di kolong jagat (bidah terbesar di kolong jagat),lihat saja besok orang politik siapa aja yg pd dateng..

  43. @MZ anda telah mengesampingkan uswah,teladan dr Nabi Muhammad baik berupa perkataan,perbuatan,taqrir beliau..islam tidak butuh tambahan tasawuf,apakah anda menyangka para sahabat yg tdk mengenal tasawuf tdk dapat mengetahui ttg akhlak…di bawah ini tulisan anda :
    Dengan “tasawuf dalam Islam” kita dapat mengetahui tentang akhlak yakni bagaimana kita berakhlak sebagai hamba Allah dengan Allah ta’ ala , berakhlak pada diri sendiri , bagaimana kita berakhlak dengan ciptaanNya yang lain seperti alam , tumbuh 2 an, hewan dan termasuk bagaimana kita berakhlak dengan sesama manusia .
    anda jg berkata :
    Memang tasawuf ada di Nasrani , Budha, di ajaran atau agama lainnya, begitu pula dalam Islam. Lalu apakah konten Tasawuf serupa disemua agama ? Ya , tentu nama atau istilah sepakat dipergunakan untuk sesuatu yang sama atau hampir sama
    Jadi konten Tasawuf hampir sama disemua ajaran atau agama , tentang akhlak , jiwa, mengenal yang disembah . Yang berbeda adalah tuhan yang disembah . Dalam Islam , Tiada Tuhan selain Allah…
    sadarlah dg perkataan anda MZ,sebelum faham anda seperti orang orang JIL yg sdh kenyang dg tasawuf. sekali lagi anda telah berkata : “Yang berbeda adalah tuhan yang disembah . Dalam Islam , Tiada Tuhan selain Allah” kenapa ga di tambah dlm kristen Jesus,tujuanya sama..anda takut terbongkar tasawuf anda ?
    para pembaca jgn terkecoh dg ucapan MZ..perhatikan…Wihdatul Adyan… Modus PENYATUAN AGAMA

  44. @MZ anda telah mengesampingkan uswah,teladan dr Nabi Muhammad baik berupa perkataan,perbuatan,taqrir beliau..islam tidak butuh tambahan tasawuf,apakah anda menyangka para sahabat yg tdk mengenal tasawuf tdk dapat mengetahui ttg akhlak…di bawah ini tulisan anda :
    Dengan “tasawuf dalam Islam” kita dapat mengetahui tentang akhlak yakni bagaimana kita berakhlak sebagai hamba Allah dengan Allah ta’ ala , berakhlak pada diri sendiri , bagaimana kita berakhlak dengan ciptaanNya yang lain seperti alam , tumbuh 2 an, hewan dan termasuk bagaimana kita berakhlak dengan sesama manusia .
    anda jg berkata :
    Memang tasawuf ada di Nasrani , Budha, di ajaran atau agama lainnya, begitu pula dalam Islam. Lalu apakah konten Tasawuf serupa disemua agama ? Ya , tentu nama atau istilah sepakat dipergunakan untuk sesuatu yang sama atau hampir sama
    Jadi konten Tasawuf hampir sama disemua ajaran atau agama , tentang akhlak , jiwa, mengenal yang disembah . Yang berbeda adalah tuhan yang disembah . Dalam Islam , Tiada Tuhan selain Allah…
    sadarlah dg perkataan anda MZ,sebelum faham anda seperti orang orang JIL yg sdh kenyang dg tasawuf. sekali lagi anda telah berkata : “Yang berbeda adalah tuhan yang disembah . Dalam Islam , Tiada Tuhan selain Allah” kenapa ga di tambah dlm kristen Jesus,tujuanya sama..anda takut terbongkar tasawuf anda ?para pembaca jgn terkecoh dg ucapan MZ..perhatikan…Wihdatul Adyan… Modus PENYATUAN AGAMA

    1. @anti tashawuf sesat
      Serakang silahkan antum ganti istilah tasawuf dengan apa yang antum kehendaki, karena istilah tidaklah masalah bagi kami.

      Berikanlah istilah/nama yang baik untuk menamakan perihal tentang Ihsan, seolah-olah melihat Allah atau melihat Allah dengan hati atau hakikat keimanan. Ma’rifatullah, Tazkiyatun Nafs, tentang akhlak yakni Akhlak hamba Allah terhadap Allah ta’ala , akhlak terhadap diri sendiri, akhlak terhadap ciptaanNya yang lain seperti alam, tumbuh2an , hewan , dll termasuk akhlak terhadap sesama manusia.

      Lalu antum, maaf, masih seperti kebanyakan orang awam mengenal istilah “penyatuan agama” atau antum secara tidak langsung masih meyakini adanya agama lain selain Islam. Padahal kalau antum telah mendalami tentang ihsan, insyallah antum paham bahwa agama hanyalah Islam
      Silahkan baca tulisan pada
      http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/21/agama-hanya-islam/

  45. Mas abu fadlan, sy jg mempelajari wahabi dari wahabi. Say tidak perlu berdebat ama ustad wahabi, ngapain sy berdebat ama ustad, kan sy bilang ditanyakan atau minta dijelaskan, sy sudah merasa cukup mengkaji wahabi dari buku, majalah dan situsnya. Isinya semua kurang lebih sama saja. Mas, wahabi ekstrim ama tasawuf, seharusnya seperti imamnya, ibnu taymiah yg lebih adil memandang tasawuf. Tanya kenapa? Masalah taklid buta, cb ente lihat kelompok antum, siapa yg lebih taklid dan fanatik daripada kelompok yg mengaku paling sesuai alquran dan sunnah lalu menyebut dirinya salafi? kelompok lainpun dianggap bidah dan sesat.

  46. @dianth
    knp anda takut berdialog dgn ust.2 salafy?? takut kebongkar penyimpangan kalian?? klo memang kalian merasa bnar sharusnya berani berdialog secar lgsung,bkn hanya menyebar fitnah lewat internet..
    anda mengatakan salafy itu ekstrim?? ini adlh fitnah jadul..
    dimna letak ke ekstriman salafy??
    apa yg anda maksud dgn ekstrim??
    apkah karna salafy mngatakan suatu kelompok telah mnyimpang krna tdk sesuai dgn qur’an dan sunnah,anda anggap salafy sbg kelompok yg ekstrim??
    atau karena anda merasa risih krna kelompok anda jg kelompok yg dianggap menyimpang dr qur’an dan sunnah??
    bukankah anda mengimani bhwa rosulullah adlh sbg suri tauladan kita???lantas apakah pantas anda mgatakan kepada orang2 yg ingin mgajak umat islam utk kembali beragama sesuai dgn qur’an dan sunnah,anda katakan sbg kelompok yg ekstrim???
    apakah anda jg akan menuduh rosulullah telah mengajarkan faham yg ekstrim???

    salafy dlm menilai suatu penyimpangan selalau merujuk kpd qur’an dan sunnah.
    dan bkn berarti salafy merasa paling benar,paling tau,paling pinter.
    salafy hanya memperingatkan umat dari penyimpangan,dan mengajak agar beragama sesuai dgn tuntunan rosulullah.
    klo ada kelompok yg dianggap menyimpang,seharusnya introspeksi diri,apakah sudah sesuai dgn qur’an & sunnah apa blm?? jgn malah kebakaran jenggot,pdhl ga pd jenggotan…
    klo memang merasa sdh sesuai,ya silahkan anda bantah salafy dgn dalil,atau datangi langsung ke kajianya.
    tp klo memang menyimpang,knpa tdk mau kmbali kpd cara beragama yg bnar,sesuai dgn tuntunan rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam???
    apakah kembali kpd qur’an dan sunnah anda anggap sbg aib,shingga malu untuk menerima kebenaran??
    berfikirlah…..

  47. ooo jadi tauhid tiga ga menyimpang dari Al-qur’an… udah jelas2 tauhid tiga menyimpang dari Al-qur’an, salah satunya surat Al-mu’minun 89-90)

  48. Wahai ahli-ahli syariat (fiqih, ushuluddin, i’tiqad dll) marilah kita tinggalkan perselisihan, perdebatan, saling mengejek, saling menghujat, saling merasa paling benar dan yang lainnya sesat.

    “Demi Masa” (QS Al Ashr [103]:1 ) Sebaiknya kita tidak membuang waktu sehingga melupakan tujuan hidup kita sesungguhnya. Tujuan hidup kita adalah sampai kepada Allah

    SurgaNya bukan lah tujuan namun sebuah keniscayaan bagi “orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya”

    “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

    Marilah kita taati ulama-ulama yang “keulamaannya” telah disepakati jumhur ulama, bukan mengikuti ulama yang dipertanyakan/disanggah oleh jumhur ulama.
    Sebaiknya tidak bangga dengan merasa asing ditengah-tengah pemahaman yang telah disepakati jumhur ulama, karena jumhur ulama sepakat dalam kebenaran.

    Marilah kita berlomba-lomba menuju kepada Allah, berlarilah kepada Allah , “Fafirruu Ilallah” berlomba-loba untuk dapat seolah melihat Allah atau melihat Allah dengan hati.

    Semoga kita semua dapat menjadi muslim yang Ihsan, muslim yang sholeh sehingga (salah satunya) dapat merasakan kesenangan dalam sholat (sebagaimana Rasulullah), dapat menjadikan syariat Islam pada hakikatnya bukanlah beban namun kita butuh syariat Islam sebagai petunjuk dalam melakukan perjalanan yang “menyenangkan” (tiada rasa khawatir dan tidak pula bersedih) agar kita sampai kepada Allah ta’ala

  49. @bapake zahra
    ga usah muter2 tinggal sebutkan saja dmna penyimpanganaya???
    dr td udh ane jelasin.. tulung di baca lg penjelasanya diatas..

    1. maaf @abu fadlan satu lagi orang yang kesurupan itu jiwanya dikuasai syetan yang moyangnya Iblis …..dan nt mempelajari nggak musuh manusia ini ????? dia itu umurnya ribuan tahun lho udah di didik oleh Iblis akan kelemahan2 manusia yang bisa secara halus masuk ke aliran darah manusia …….nah Abu…..bisik bisik secara halus di dada Abu itu adalah syetan Bu, dan nggak cukup dgn membaca TEKS AL QUR’AN bisa melenyapkan syetan yang bercokol dalam aliran darah manusia kecuali Dokter yang Ahli di bidang itu ……Al lazi yuwaswisu fi sudurinnas ………udah ya @Abu semoga nt ngerti apa yang ana maksudkan ……..

  50. Ah sekali lagi capek ngikutin anak2 pak wahhab. Muter2 terus dan kok pertanyaan saya gak dijawab tuntas?

    Udah begini aja, saya tidak mau ikutan debat karena perdebatan bisa mengurangi keimanan kita.

    Buat anak2 pak wahhab, cobalah resep ini:

    LAKUKAN INI SELAMA 7 HARI SAJA

    – JAGALAH KESUCIAN BADANMU DENGAN DAWAMUL WUDLU ALIAS BATAL WUDLU.
    – SETIAP MALAM SEHABIS SHOLAT ISYA TRUS DISAMBUNG SHOLAT HAJAT, SHOLAT TAUBAT DAN SHOLAT WITIR.
    – SETELAH ITU DUDUKLAH MENGHADAP KIBLAT BACALAH ISTIGHFAR SEBANYAK BANYAKNYA DAN HATI MENYEBUT ALLOH ALLOH ALLOH TERUS TIADA HENTI. JANGAN LUPA OTAK ANDA UNTUK MERENUNG ‘SIAPAKAH ANDA DAN DARI APA ANDA DICIPTAKAN’

    1. he….he…he….@ lemah ireng nt harus siapin dalilnya amalan itu pasti nanti ditanyain …..saudara kita itu sangat hati2 lho takutnya itu BID’AH dholalah …..salam kenal mas/bu / pak/ ibu / siapapun nt

  51. @abu fadlan, penyimpangan tauhid tiga dari Al-qur’an di antaranya :
    – memisahkan antara rububiyah Allah dengan ilahiyah Allah, padahal dalam surat Al-mu’minun 89-90, jelas sekali tidak ada pemisahan antara rububiyah dan ilahiyah Allah. Juga hadits ” man rabbuka ? ”

    – menganggap musyrikin Arab bertauhid rububiyah, padahal musyrikin Arab tidak bertauhid dalam rububiyah. Mereka musyrik baik dalam rububiyah maupun ilahiyah kepada Allah

    – memasukkan amalan Nabi dan sahabat berupa tawasul / tabarruk ke dalam amalan musyrik

  52. Mas abu fadlan sepertinya kurang paham. Mas, saya bukan tidak mau berdialog dgn ustad wahabi, pertama, kajian salafi tidak umum dikalangan kami, jadi sy rasa masih langka dan yg gampang ditemui kajiannya adalah di dunia maya atau lewat buku-buku salafi. Kedua, saya masih menghargai pendapat atau fatwa ulama-ulama wahabi, walaupun ada pendapat yg saya tidak setuju tapi sy tidak anti perbedaan. Apanya yg dibongkar mas? Kesesatan kami? Mas, tidak perlu saya takut, justru saya ingin dialog kalau mau menyesatkan Saya? Emang siapa ente? Wakil tuhankah? Nabi kah? Apakah kalau ulama wahabi bilang sesat berarti pasti sesat, apakah pemahaman wahabi adalah kebenaran mutlak? Bagi saya tidak, hanya Allah kebenaran mutlak. Alquran dan sunnah adalah kebenaran tp pemahaman orang bukanlah kebenaran mutlak, bahkan sahabat dan salaf juga berbeda dalam memahami nash. Dan tidak ada mereka klaim kebenaran kecuali hal-hal yg mutawir. Seharusnya anda tahu pemahaman salaf dan bgmn sikap mereka thd perbedaan.

  53. Mas abu fadlan, semua ulama islam mengajak kembali kepada alquran dan Sunnah, termasuk para sufi. Sayangnya banyak yg salah paham dgn tradisi sufi dan sarana pengajarannya, Memang ada ajaran tasawuf disusupi oleh penyimpangan dan kesalahan, tapi itu jg berlaku disemua bidang ilmu. Tugas kita adalah membersihkannya. Bukankah ulama juga berusaha membersihkan ilmu hadist dari riwayat palsu dan menyempurnakan kaidahnya?

  54. @ mamo
    ya udh klo nt emg dah pinter ngobatin kesurupan,, silahkan nt buka praktek aja ” mengobati kesurupan ” trus nt obatin tuh tmn2 nt biar dzikirnya ga ky org kesurupan

    @ lemah ireng
    sampeyan mgatakan ” jagalah kesucian badanmu dgn batal wudhu” ini adlh ocehan yg lucu,ironis,dan tdk mgkin kecuali dr org yg tdk prnah mau bljr sunnah.. bukankah rosulullah memerintahkan agar bersuci sebelum shalat dgn berwudhu ????
    anda menyuruh shabis shlt isya mbaca istighfar sebanyak2nya dan mnybut Alloh Alloh tanpa henti..
    please dehhh… dlm kitab hadits apa rosulullah berdzikir dgn lafaz “Alloh Alloh” doank,, diantara dzikir yg dijarkan adlh subhanallah,alhamdulillah,allahuakbar dll. dan tdk di khususkan shbis shlt isya saja..
    jd ga ush ngajak2 ane ikut2an bid’ah nt,silahkan nikmati sndiri aja..

    @ mamo lagi
    tentu dlm beragama harus sesuai dalil,tdk sekarepe dhewek.. krna kami mengimani sabda rosulullah
    ” barang siapa yang melakukan amalan bukan atas perintah kami,maka akan tertolak”
    kami tdk ingin beribadah dgn sia sia tanpa pahala,bhkn diancam dosa dan neraka..
    tp klo kalian2 ane ga tau deh.. nt nt kan lbih prcaya pd guru2 & habib2 kalian dr pd sabda rosulullah..
    apakah pantas kalian mgaku ahlussunnah,sementara kalian menolak sunnah & berpaling kpd ucapan orang..

    1. @ Abu fadlan maaf emang nt bs tau Rosululloh ada perintah ini itu dari siapa Bu ….. emang nt ketemu langsung dgn Rosul ????? emang nt seorang mutjahid bisa mempelajari Qur’an n Hadist sendiri ????? luaaar biasa ya nt ….hebat2 ….yang ada nt pasti tersesat ….” BELAJAR TANPA GURU , GURUNYA SYETAN ” ……nauzubillah

  55. @ mamo
    ya udh klo nt emg dah pinter ngobatin kesurupan,, silahkan nt buka praktek aja ” mengobati kesurupan ” trus nt obatin tuh tmn2 nt biar dzikirnya ga ky org kesurupan

    @ lemah ireng
    sampeyan mgatakan ” jagalah kesucian badanmu dgn batal wudhu” ini adlh ocehan yg lucu,ironis,dan tdk mgkin kecuali dr org yg tdk prnah mau bljr sunnah.. bukankah rosulullah memerintahkan agar bersuci sebelum shalat dgn berwudhu ????
    anda menyuruh shabis shlt isya mbaca istighfar sebanyak2nya dan mnybut Alloh Alloh tanpa henti..
    please dehhh… dlm kitab hadits apa rosulullah berdzikir dgn lafaz “Alloh Alloh” doank,, diantara dzikir yg dijarkan adlh subhanallah,alhamdulillah,allahuakbar dll. dan tdk di khususkan shbis shlt isya saja..
    jd ga ush ngajak2 ane ikut2an bid’ah nt,silahkan nikmati sndiri aja..

    @ mamo lagi
    tentu dlm beragama harus sesuai dalil,tdk sekarepe dhewek.. krna kami mengimani sabda rosulullah
    ” barang siapa yang melakukan amalan bukan atas perintah kami,maka akan tertolak”
    kami tdk ingin beribadah dgn sia sia tanpa pahala,bhkn diancam dosa dan neraka..
    tp klo kalian2 ane ga tau deh.. nt nt kan lbih prcaya pd guru2 & habib2 kalian dr pd sabda rosulullah..
    apakah pantas kalian mgaku ahlussunnah,sementara kalian menolak sunnah & berpaling kpd ucapan orang

    1. ilustrasi orang kesurupan sebetulnya hanya contoh ……beginilah group nt memahami dari orang awam kaya ana aja nt nggak paham apalagi memahami Al Qur’an dan hadist Abu fadlan …..belajar lagilah Bu ….jangan sok2 an nt paling ngerti …..maaf nasehat aja kok …..

  56. tidak ad manfaatnya kalian mangaku ahlussunnah,karna pd hakekatnya kalian adlh para inkarussunnah.. brp bnyak sunnah2 yg kalian ungkari??
    ketika rosulullah memerintahkan agar pakaian kaum laki2 tdk boleh mlbihi mata kaki/isbal,,tp banyak dri kalian apa bila melihat org yg tidak isbal,dgn tanpa rasa malu kalian bertanya ” emang kebanjiran mas???
    ketika rosulullah memerintahkan agar memelihara jenggot,,tp diantara kalian malah menuduh org yg brjenggot sbg teroris,dituduh org yg tdk bsa mnjaga kbrsihan,org yg tdk memperhatikan enampilan..
    apakah apabila rosulullah berada di hadapan kalian,,kalian akan tuduh rosulullah sbg gembong teroris??? wal iyadzubillah.. apakah kalian piikir rosulullah tdk prnah mgajari kebersihan????

    pengakuan tidak akan merubah hakikat kalian..
    “dan mereka ( yahudi & nasrani ) berkata:”sekali kali tdk akan msuk surga kecuali orang2 (yg beragama) yahudi atau nasrani” demikian itu hanya angan2 mereka yang kososng belaka. katakanlah: ” tunjukanlah bukti kebenaranmu jika kamu adlh orang yg bnar”(al baqoroh 111)
    klo cuma pngakuan org yahudi&nasrani jg bisa,tapi tetap tdk merubah hakikat bahwa mereka dlm kesesatan..

  57. @ mamo
    apakah anda tdk pernah mambaca kitab hadits?? shingga tdk tahu apa yg di perintahkan & apa yg dilarang rosulullah??
    ya pantesan wong sampeyan belajarnya cuma ilmu laduni tok,, ngalamun trus dpt wahyu gitu??? tp wahyu syaithon…
    kalian mgatakan “bhwa salafy ahli doktrin berbahaya” apakah menyampaikan qur’an & sunnah kalian anggap doktrin???
    tp kalian pd ga nyadar,yg didoktrin tu otak2 sampeyan mas,sampeyan hanya nurut prkataan guru2 nt,habib2 nt,dan gembong tasawuf nt ibnu arabi tok.tanpa mau merujuk kpd qur’an & sunnah.

    terserah nt mo ngtain ane dangkal jg gppa,toh ane bukan sumur…
    emang nt doang yg punya guru???

  58. @ mamo
    apakah anda tdk pernah mambaca kitab hadits?? shingga tdk tahu apa yg di perintahkan & apa yg dilarang rosulullah?? kasihan sekali kalian ini….
    ya pantesan wong sampeyan belajarnya cuma ilmu laduni tok,, ngalamun trus dpt wahyu gitu??? tp wahyu syaithon…
    kalian mgatakan “bhwa salafy ahli doktrin berbahaya” apakah menyampaikan qur’an & sunnah kalian anggap doktrin???
    tp kalian pd ga nyadar,yg didoktrin tu otak2 sampeyan mas,sampeyan hanya nurut prkataan guru2 nt,habib2 nt,dan gembong tasawuf nt ibnu arabi tok.tanpa mau merujuk kpd qur’an & sunnah.

    terserah nt mo ngtain ane dangkal jg gppa,toh ane bukan sumur…
    emang nt doang yg punya guru???

    1. rupanya jiwa nt udah di kuasai syetan …..maaf ana males nglayanin debat ana maunya diskusi ….maaf silahkan nt terusin keyakinan nt ……kebenaran udah disampaikan terserah nt mau pakai or not …..urusanNya Alloh ……semoga nt dpt hidayah ….

  59. @ bapake zahra
    akan ane jlaskan sdkit pembagian tauhid
    1.tauhid asma’wa sifat adlh mengimani Allah dgn apa yg telah Allah namakan utk diri-Nya.dan mensifati Allah dgn apa2 yg telah Allah sifatkan bagi diri Nya,dan dgn apa yg di sifatkan oleh Rosulullah shalallahu ‘allaihi wa sallam,serta MENAFIKAN dari Nya penyerupaan dan permisalan. dalil :
    “tdk ada sesuatu pun yg serupa dgn Dia,dan Dia lah yang maha Mendengar lagi maha Melihat” ( asy syuro: 11)
    dlm ayat ini Allah menafikan penyerupaan atas Diri Nya dan Allah mensifati diri Nya maha mendengar dan maha melihat. maka wajib bagi kita meyakini bahwa Allah maha melihat dan mendengar,tanpa menyerupakan dan mengumpamakan dgn pennglihatan & pendengaran makhluk.
    dan msh bnyak dalil yg mnyebutkan tntang asma’ & sifat Allah diantaranya al fatihah ayt 2,,al isro 110,,thoha 8,,asy syuro 11. silahkan baca sendiri.

  60. sekali lagi capek tuh ngladeni anak2 pak wahhab. Percuma diladeni karena ndak nyambung dan ndak paham. Semoga segera mendapat cahaya hidayah yang terang benderang.

    @abu fadlan, jika anda ndak paham tasawuf apalagi soal ibnu arobi, tidak usah bawa-bawa nama beliau. Saya yakin pengetahuan anda tentang ibnu arobi cuman bersumber dari pendapat syekh-syekh wahhabi dan disini anda cuman baca terjemahannya doang he he he he.

    Anda tidak usah merasa paling ahlu sunnah dan paham AL Qur’an.

    Ingatlah, setingi apapun dan sebenar apapun pemahaman anda tentang Islam masih banyak yang belum anda tahu tentang Islam yang sebenarnya.

    Saya menghormati siapapun muslim apapun madzabnya namun saya paling tidak suka kata-kata suka mengkafirkan sesama muslim.

    Saya sudah sering mengunjungi blog kelompok wahhabi/salafi dan juga membaca buku2 terbitannya tentang tasawuf.
    Komentar saya singkat: PENUH FITNAH DAN TIDAK BERMUTU.
    Kebanyakan anda-anda tidak bisa membedakan mana sufi sejati dan mana sufi palsu, namun anda mencampur aduk lalu menuduh yang tidak benar.

  61. @abu fadlan
    sudah bukan rahasia lagi yang menjadi sasaran kecaman dan cacian anak2 pak wahhab cuman tasawuf sama ilmu kalam.

    Kalau anda emang sudah mumpuni ilmu islam, pertanyaan saya : Apa puncak dari ilmu islam yang telah anda kuasai?

  62. 2. tauhid al uluhiyah adlh mengikhlaskan serta mengkhususkan beribadah dalam kecintaan,roja'(harapan),tawakal,roghbah(permohonan dgn sungguh2),rohbah(perasaan cemas) dan doa hanya bagi Allah satu satunya.
    serta memurnikan ibadah seluruhnya baik yg lahir maupun batin hanya bgi Allah semata,serta tdk mnjadikan hal tsbut untuk selain Nya,baik malaikat,maupun para nabi,atau yg lainya. sbgmna firman Allah:
    ” Hanya kpd Engkaulah kami menyembah dan hanya kpd Engkaulah kami memohon pertolongan”( al fatihah:5)
    “…… maka sembahlah Allah dgn memurnikan ketaatan kepada Nya”( az zumar:2)
    “katakanlah: hanya Allah saja yang aku sembah dgn memurnikan ketaatan kepadaNya dlm menjalankan agamaku”( az zumar 14)
    dan ayat2 yg lain silahkan cari sendir.

  63. @abu fadlan

    Kalau toh saya suka tahlilan, maulud nabi, tawasul, tabaruk, wiridan, baca dalail khairat dan lain-lain. Kemudian saya juga menghormati para imam tasawuf seperti
    Sulthonul Auliya Syekh Abdul Qadir al Jilani, Sulthonul Auliya Syekh Abul Hasan Asy Syadzili, Quthub Zaman Syekh Abul Abbas al Mursi, Al Quthub al Kamil al Farid Syekh al Akbar Muhyiddin Ibnu Arobi, Al Ghawts Syekh Abu Madyan al Maghribi, Al Quthub al Abhar Syekh Abu Yazaa Yalnour dan juga Imamul Tariqah Syekh Abul Qasim Junaid al Baghdadi dan yang lain lagi.

    Apa anda akan menuduh saya penuh bid’ah, musyrik, sesat, kafir?

  64. @ lemah ireng
    sabar mas,, nanyanya satu satu ya..
    ane cuma seorang diri,,lha nt nt yg nanya bnyak bgt.. mbok yao sing sabar..ane ngtik lwat hp bkn copas dr compter,jd ya harap maklum nggih,,dah shalat isya blm?? tar ya ane makan dlu,,

  65. sekalipun hitam kelam wajah seseorang namun jika hatinya bersih berikut aqidahnya maka akan tampak cahaya terpancar dari wajahnya

    maka tiadalah ibadah lisan yang paling tinggi,kecuali membaca al Qur’an,yang melebihi dzikir,dan mendo’a dengan ikhlas kepada Tuhan ( Ihya Ulumuddin)

  66. mukhalafatun @

    Tuh kan terbukti Ihya Ulumuddin bagus kan? Kok Salafy Wahabi ngatain Ihya Ulumudiin segai kitab orang sesat? Berarti memang Salafy Wahabi tukang bohong kelas wahid!

  67. ane kelarin dlu
    3.tauhid rububiyah adlh penetapan bahwa Allah ta’ala adlh rabb,penguasa,pencipta,pemberi rezqi,yg menghidupkan & mematikan,pemberi kemanfaatan & kemudhorotan,yg maha Esa dlm mengkabulkan doa,bagiNya lah segala urusan,dan di TanganNya lah segala kebaikan,maha segala atas sgala sesuatu,tdk ada sekutu bagi Nya dlm hal tersebut.
    dalil :
    “segala puji bagi Allah,Rabb semesta alam” (al fatihah:2)
    “ingatlah,bahwa mnciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.maha suci Allah Rabb semesta alam”(al a’raf:54)
    “katakanlah: siapakah yang di tangan Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi,tetapi tdk ada yg dpt dilindungi dari azab Nya,jika kamu mgtahui” (al mu’minun:88) dan ayat2 yg lain msh bnyak..

    dan tauhid rububiyah inilah yg diyakini oleh kaum musyrikin
    “dan sungguh jika kalian bertanya kpd mereka: siapakah yg menciptakan mereka,niscaya mereka akan mnjawab:”Allah”(az zukhruf 87)
    “dan sesungguhnya jika kalian mnanyakan kpd mereka: siapakah yg mnurunkan air dari langit lalu mnghidupkan dgn air itu bumi sesudah matinya?”tentu mereka akan mnjawab: “Allah” (al ankabut 83)
    dan ayat2 yg lain.
    namun tauhid rububiyah saja tidaklah cukup,shnggga mereka tetap di hukumi sbg kaum yg kafir,karena mereka memalingkan tauhid uluhiyah kpd selain Allah.
    “dan sbagian besar mereka tidak beriman kpd Allah,melainkan dlm keadaan mempersekutukan Allah”( yusuf 106)
    “karena itu janganlah kalian membuat sekutu2 bagi Allah,padahal kaian mgetahui”( al baqarah 22)
    dan ayat2 yg lainya..

    itu hanya sedikit sekali pnjelasan mngnai pembagian tauhid,dan ayat2 td telah menetapkan pembagian tauhid tsbut.
    tentunya tdk smua dpt di jelaskan dsni..
    semoga bermanfaat..

  68. @ Wahabi insyaf

    Semua kitab baik,sekalipun itu dianggap buruk sebab akan menjadikan kita tau yang buruk
    namun saya pribadi yang masih berlumur dosa dan bodoh,masih tak mampu berdalil dengan hadits seperti kebanyakan generasi muda sekarang.

    saya memang terlalu tua masuk ke blog ini,tapi saya jadi ingat 17 belas tahun lalu saat hoby2nya berdebat dengan berapi-api
    silahkan sahabat2 lanjutkan….dengan bijak dan santun

    saya hanya bangga dengan pengetahuan anak2 muda tentang hadits begitu fasih namun tak jarang saya temui baik di dunia nyata or maya sepertinya dijadikan perhiasan/ aksesoris agar tampak gemerlapnya akan tetapi wajahnya tak bercahaya walau wajah saya pun memang masih buram.

    setiap pengikut tidak berarti umatnya namun umatnya pasti pengikut

    trimakaasih ummati sudah dimuat

    1. @Mukhalafatu
      Tidak ada alasan usia untuk menuntut ilmu. karena beribadah tanpa ilmu akan menyebabkan taklid buta. Maaf tidak ada maksud untuk menggurui nt. Allah berfirman “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yg beriman di antara kamu dan orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS Al Mujadillah:11).”Dan katakanlah, Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu penetahuan” (QS Thaha : 114)
      Rasulullah Shallallhu Alaihi Wa Salam bersabda “Barang siapa yg menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga”. HR Ahmad
      “Barang siapa yg dikehendaki Allah dg kebaikan, maka Allah akan membuatnya pandai dalam agama”. HR Bukhari

  69. @ lemah ireng
    klo toh anda mghormati imam2 anda,ulama2 anda atau guru2 anda,itu bknlah hujjah utk menghalalkan apa yg telah diharamkan oleh Allah,betapapun rasa hormat anda kpd mereka,tetapi anda tetap melakukan maka anda akan di sebut pelaku bidah,ane tdk mnyebut ahli bid’ah.

    klo mau tnya istilah2 tasawuf tentu nt lebih faham,jd jgn nanya ma ane,krna ane bkn orang tasawuf.

  70. sekali lagi saya jelaskan,,
    dsni saya tdk prnah mgatakan & tdk prnah meras sbg orng yg paling tahu agama,apalagi mgaku ahli ilmu.. saya hanya se orang tholabul ‘ilmi..
    dan dakwah salafyah bknlah dakwah yg menghakimi sesat tdknya suatu kelompok,,tp hanya menyampaikan apa yg sesuai dgn qur’an & sunnah..
    jd klo ada yg merasa terusik,krna kelompoknya di anggap mnyimpang,,silahkan di bantah dgn hujjah kalian,tntunya dri qur’an & sunnah.
    dan utk lbih jelasnya silahkan datang di kajian kami,kmudian berdialog dgn santai.
    adapun yg menuduh kajian2 kami tdk untk umum,itu adlh tuduhan yg batil & tdk beralasan sama sekali.. klo emng bner sering buka blog/website salafy,tntu dstu akan bnyak di jumpai jadwal kajian salafy baik yg rutin maupun tabligh akbar,dan tdk akan pernah di jumpai kata2″ khusus orang2 salafy” tp terbuka untuk umum.. dan silahkan dgrkan radio rodja dstu jg akan di bcakan jadwal kajian,, jd yg mngatakan dakwah salafy adlh tertutup,anda salah besar,,

    1. abu fadlan @

      “abu fadlan”:

      Ih… GE-ER abis deh. Ternyata komentar2 di atas gak ada yg bilang ajaran Salafy tertutup, kok merasa sendiri tertutup? Nggak tertutup juga hanya laki buat orang-orang yg gak mau mikir tentang aqidah 3in1 (trinitas) ala nashoro. Sadar dong mana dalinya yg mengatakan Tauhid ada tiga? Jangan main-main, ini so’al prinsipil, dasar keimanan kok kalian main-main? Katanya kalian selalu pakai dalil Al-Qur’an Sunnah, Mana dalilnya yg mengatakan tauhid tiga?

      Kalian mempermasalahkan maulid nabi yg maslah cabang (furu’), tapi kalian gak sadar bahwa aqidah Tauhid tiga ternyata tanpa dalil baik dari Qur’an ataupun Sunnah. Dalil yang antum sebutkan sudah saya baca semua, tidak ada yang membagi tauhid jadi tiga. (Maaf yg saya pakai adalah gaya Wahabi yg selalu tanya dalil, nah.. mana dalilnya?)

  71. Semoga kita mendapat hidayah dari Allah SWT, beribadah dengan disertai niat, manhaj Qur’an dan Hadits, dengan tujuan mencapai ridho dan rahmat Allah, serta safaat Rasulullah SAW.Amin

    1. Kacung Ngaran n Abu Fadlan @

      Hidayah akan sulit didapat bagi orang yg hobby memusyrikkan orang yg beryahadatain, kecuali kemusyrikan akan menimpa dirinya sendiri. Ini terbukti bahwa aqidah Salafy Wahabi ternyata sesat dan musyrik dengan tauhid TRINITAS-nya. TAUHID TRINITAS tidak diajarkan Oleh Allah dan Rasul-NYA. Tidak ada dalilnya sama sekali pembagian tauhid jadi tiga. Yang disebutin Abu Fadlan sama sekali bukan dalil pembagian tauhid jadi tiga (TRINITAS).

      Pembagian Tauhid Tiga adalah bid’ah dholalah karena bukan ajaran Nabi Saw. Itulah terbukti dengan telak, bahwa kemusyrikan dan kebid’ahan yang selalu kalian tuduhkan kepada KAUM SUFI ternyata menimpa kalian sendiri. Kalian harus kritis terhadap ajaran kalian sendiri, berpikirlah biar sadar kalau aqidah kalian adalah aqidahnya orang musyrik, Tauhid 3in1 (trinitas), dinspirasi kaun nashoro ya?

      1. @ Wahabi Insyaf
        Rupanya nt sangat dekat dengan Tuhan, sehingga bisa memvonis org sulit mendapatkan hidayah.Tidak ada yg menuduh siapapun, Yg ada biasanya org yg merasa dituduh. Padahal org hanya berdakwah menyampaikan Qur’an dan Hadist

    2. kalau nt selalu berdasarkan Al Quran n hadist harusnya stop menuduh muslim yang lain sesat , ahlul bid’ah ,musyrik dong .

      1. Tidak ada yg menuduh siapapun, Yg ada biasanya org yg merasa dituduh. Padahal org hanya berdakwah menyampaikan Qur’an dan Hadist

  72. @ ameer n wahaby
    nt nt bru dtg lgsung nyrocos..
    dr kmrn kan ane dah bilang,pmbagian tauhid hanya utk mempermudah pemahaman dan pmbelajaran,sprti halnya pmbagian rukun & syarat sah shalat,rukun & syarat sah wudhu,.. bukan lantas mnyembah 3 tuhan..
    skrg ane tanya,apakah pembagian rukun shalat dan wudhu ada dlm alqu’ran & hadits??
    tentu tdk akan ada,knp ga kalian protes dr dlu??
    kan di atas jg dah di jelaskan pngertian masing tauhid & dalilnya,,apa msh mau ngeyel??? ya terserah nt nt aja… sa karepmu !!
    mknya klo bru nimbrung jgn lgsung nyrocos.. baca dlu dr atas,klo dah ngantuk ya merem sono..
    skrg ane mo tanya ma nt ber2 tolong di jawab
    apa pngrtian trinitas & apa pgertian tauhid mnurut nt ? monggo di jawab..

    1. Syarat dan rukun Wudlu ada Dalilnya baik dari qur`an Maupun Hadist, begitu juga dengan Syarat dan Rukun Sholat , sangat Naif jika mengatakan : tentu tdk akan ada,knp ga kalian protes dr dlu??

    2. Tauhid dibagi tiga itu bid’ah dholalah, tidak ada di zaman Nabi, tanya kepada ulama yg ngerti. Tanya sama Abdul Hakim Amir Abdat barangkali dia ngerti, oke Bos?

  73. pembagian Tauhid menjadi 3, yakni Rubbubiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat itu telah ada dalil2nya dalam Alquran dan Assunnah, hanya saja baru ada sistematika perumusannya pada masa belakangan.

    seperti halnya dalam ilmu nahwu ada pembagian kalimah menjadi 3, yakni ismun, fi’lun dan harfun. semenjak dahulu, yang namanya kata dalam bahasa arab itu terdiri dari 3 jenis ini, hanya saja baru ada sistematika perumusannya belakangan. karena itulah, orang arab badui tidak mengenal pembagian ini, namun toh dalam bahasa mereka tetap ada 3 jenis kalimah ini.

    contoh lain adalah, semenjak dahulu yang namanya hitungan 1 + 1 = 2. sebelum ada orang yang pertama kali merumuskannya, hitungan itu tetap sama.

    demikian halnya tauhid. sebelum ada orang yang pertama kali merumuskannya, yang namanya tauhid itu ada 3, yakni rubbubiyah, uluhiyah dan asma wa shifat. kalau tauhid itu tidak dirumuskan, maka akan terjadi kebingungan.

    Tauhid artinya adalah mengesakan Alloh. kalau tidak ada perumusan, maka manusia mengesakan Alloh dalam hal apa? apakah mengesakan Alloh dalam hal dzat-Nya saja? mengesakan Alloh dalam hal sifat-Nya saja? mengesakan Alloh dalam hal perbuatan-Nya saja? mengesakan Alloh dalam hal peribadatan kepada-Nya saja?

    1. Ibnu Abi Irafan, mana dalilnya? Kan yg sudah disebutin itu bukan dalil pembagiannya, gemana sih ente semua pada linglung dengan ilmu wahabi kalian?

  74. kalau pembagian tauhid menjadi 3 ini disamakan dengan aqidah trinitas ketuhanan kaum nasrani, maka dimana letak kesamaannya? apa karena sama2 terdapat 3 bilangan? apa karena sama2 berkaitan dengan ketuhanan?

    1. semua hal baru adalah bid’ah , semua bid’ah adalah sesat , sesat tempatnya di neraka ,………kemana ???? tauhid bagi 3 perkara yang diada ada kan ……ngga ada tuntunnanya ……

          1. kalau tauhid rubbubiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma wa sifat itu adalah bid’ah, maka tauhid seperti apa yang dianut oleh salaf?

          2. yang jelas Nabi nggak mengajarkan adalah bid’ah ….kalau tauhid dibagi 3 bukan bid’ah terus apa dong ???

          3. antum sepertinya bingung ketika ana bertanya tauhid model “aswaja”-nya antum. jangan2 antum orang yang tidak bertauhid. semoga tidak demikian.

            telah ana jelaskan di atas, 3 jenis tauhid itu telah ada semenjak dahulu, hanya saja baru dirumuskan belakangan.

            sama seperti pembagian kalimah dalam ilmu nahwu. semenjak dahulu, yang namanya kalimah dalam bahasa arab itu ada 3 jenis, yaitu ismun, fi’lun dan harfun. hanya saja perumusannya belakangan.

            ana tanya, 1 + 1 itu berapa sebelum ada orang yang merumuskannya menjadi “1 + 1 = 2”?

          4. he…he….nt sendiri yang bingung @ Ibnu ….pemahaman nt kan jelas KULLU BID’ATIN DHOLALAH ……ana terapkan ke pemahaman nt juga tauhid dibagi 3 …..berbenturan kan …??? kalau nt percaya ada bid’ah hassanah seharusnya hal ini bisa masuk, namun kembali menyelisih Al Quran N hadist nggak ???? silahkan nt pahami sendiri ….he….he….pusing kan …lha kalau nt nanya bagaimana salaf YA YANG SESUAI AL QUR’AN N HADIST lah …

          5. he…he….hebat juga nt …tauhid di ibaratkan kaya rumus matematika …….boleh…boleh….he…he…

          6. jawab aja dulu. sebelum ada orang yang merumuskan pembagian kalimah dalam ilmu nahwu, kalimah dalam bahasa arab itu seperti apa? adakah ismun, fi’lun dan harfun seperti ketika sudah dirumuskan?

    2. Ibnu Abi Irfan @

      Pertanyaan bagus dan linglung, he he he…. Kalian tidak kritis pada doktrin batil Wahabi, jadi kalian nggak bisa lihat persamaan antara TRINITAS NASRONI dngan TRINITAS TAUHID TIGA-nya Wahabi.

      Ini persamaannya:

      – Nasroni mengimani bahwa tuhan mereka satu dalam tiga, tiga dalam satu. Ketiganya adalah Tuhan Nasroni, tanpa ketiganya adalah bukan tuhan Nasroni.

      – Wahabi mengimani bahwa tauhid mereka satu dalam tiga, tiga dalam satu (3in1/1in3==>>TRINITAS==>TAUHID TIGA BIJI). Ketiganya adalah Tauhid ala Wahabi, tanpa ketiganya tidak disebut bertauhid.

      Padahal tauhid yg benar menurut ajaran Nabi Saw adalah mengesakan Allah Swt, dalilnya Qul huwallohu ahad! Kalau kita sudah mengimani bahwa tuhan satu-satunya adalah Allah Swt maka itu sudah disebut bertauhid, dan menjadi sempurna dengan memenuhi 6 rukun Iman yg sudah terkenal. Jadi mereka yg sudah bersyahadatain tidak disebut musyrik lagi.

      Sedangkan ajaran TRINITAS (tauhid tiga), mau tidak mau akan sangat mudah dan gampang memusyrikkan orang-orang beriman, karena mengukur keimanan berdasar tauhid tiga, dimana cara mengukur dengan cara ini adalah dugaan yg tidak pasti, tapi kalian akan mudah memvonis kemusyrikan orang-orang beriman. Kalian berbuat demikian tanpa merasa berdosa sama sekali akibat tauhid trinitas kalian. Sudah berapa juta kaum muslimin yg kalian anggap musyrik di seluruh dunia, mengingat ajaran wahabi ini sudah menyebar ke seluruh dunia? Dimana ada ummat Islam, disitu Wahabi ada dan melancarkan aksinya memusyrikkan kaum muslimin. Apakah kalian Kaum Wahabi tidak menyadarinya?

  75. @ mamo
    baca lag bantahan ane tntang bid’ah diatas bwt @asoya musa
    ( klo msh ga faham juga,,brarti nt harus bnyak belajar )

    @ al akh ibnu abi irfan,,barokallohufikum
    biasa akh,ahlu bid’ah klo dah kalah dalil ama kehabisan dalih ya kya gni,omonganya muter2 ga karuan,yg udh di jawab ditanyain lg..

    1. wah, kalo langsung menjudge mereka sebagai “ahlu bid’ah” ana ga berani. Syaikh Al Albani berkata: “Orang yang jatuh pada kebid’ahan tidak langsung kebid’ahan jatuh padanya.”

  76. @ mamo
    baca lag bantahan ane tntang bid’ah diatas bwt @asoya musa
    ( klo msh ga faham juga,,brarti nt harus bnyak belajar )

    @ al akh ibnu abi irfan,,barokallohufikum
    biasa akh,ahlu bid’ah klo dah kalah dalil ama kehabisan dalih ya kya gni,omonganya muter2 ga karuan,yg udh di jawab ditanyain lg….

  77. @al akh ibnu abi irfan
    jazakullahu khoiron atas nasihatnya

    @ mamo
    omongan nt tu cuma muter2 doank,, dah kehabisan dalih yah??
    jawab dulu tuh.. tauhid menurut aswaja ente tu yg gmn???

    1. @ Abu fadlan nt keluarin pendapat untuk pembenaran pendapat tauhid di bagi 3 hanya menururuti akal nt doang, nggak ada tuh hadistnya meski dhoif sekalipun ….dua pemahamn nt saling berbenturan diakui or tidak ini kenyataan …….kalau nt tanya tauhid ASWAJA ya jelas yang sesuai Al Qur’an dan hadist dong nggak nambahin nggak ngurangin ….he…he…gimana Abu …pusing ya ???silahkan nt dgn pemahaman nt sendiri …..bener kata @ Ibnu bikin bingung ……( kebingungan)

  78. Pengeneralisiran tasawuf adalah sesat memang telah dicontohkan oleh para ulama/syaikh dari pusatnya salafi wahabi di wilayah kerajaan Saudi.

    ***********************
    Dalam materi tersebut terdapat pengafiran, tuduhan syirik dan sesat terhadap kelompok-kelompok Islam sebagaimana dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiy (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah yang berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Shuufiyyah (aliran–aliran tashowwuf ) adalah syirik dan keluar dari agama.

    Materi kurikulum tersebut menjadikan sebagian pengajar terus memperdalam luka dan memperlebar wilayah perselisihan. Padahal, 3/4 penduduk muslim seluruh dunia adalah Shuufiyyah dan seluruhnya terikat dan meramaikan padepokan (zaawiyah) mereka dengan tashowwuf.

    Selengkapnya silahkan baca tulisan pada makalah Prof. Dr. Assayyid Muhammad Bin Assayyid Alwi Bin Assayyid Abbas Bin Assayyid Abdul Aziz Almaliki Alhasani Almakki Alasy’ari Assyadzili, arsip makalah (terjemahan) ada di http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/
    ****************************************

    Permasalahan yang terjadi dalam umat Islam saat ini adalah sebagian muslim yang mengaku Salafi / Wahabi atau manhaj Salaf (pengikut jejak para ulama terdahulu), secara tidak disadari telah menuhankan pendapat (kaum) sendiri (istibdad bir ro’yi). Menuhankan dalam arti apapun pendapat baik dari diri maupun kaumnya sendiri adalah sebuah kebenaran. Mereka beranggapan, “hanya merekalah yang berada dalam jalan kebenaran dan selain mereka telah terjerumus dalam kesesatan.” Mereka menjadi fanatik dengan kaumnya (ta’asub) . Permasalahan inilah yang dimaksud dengan ekstreem/ghuluw dalam pemahaman agama. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS Al Maa’idah [5]:87 )

    Seperti saya sampaikan dalam beberapa tulisan permasalahan ini sebenarnya mulai terasa sejak Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengangkat kembali pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah. Fatwa beliau yang cukup terkenal dan diikuti oleh sebagian muslim saat ini.

    *****************************888
    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Tidak ada aib bagi orang yang menampakkan madzhab salaf, menyandarkan diri kepadanya, dan bangga dengan madzhab salaf. Bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan para ulama, karena tidaklah madzhab salah kecuali di atas kebenaran. Apabila dia sesuai dengan salaf secara lahir dan batin, maka dia bagaikan seorang mukmin yang berada di atas kebenaran secara lahir dan batin” [Majmu Fatawa 4/149]

    Sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/2111/slash/0
    ********************

    Dengan fatwa ini maka apapun pemahaman Syaikh Ibnu Taimiyah atau pemahaman syaikh/syaikh Salafi/wahabi yang lain, dianggap oleh para pengikutnya sebagai pemahaman Salafush Sholeh

    Padahal apapun Syaikh Ibnu Taimiyah atau pemahaman syaikh/syaikh Salafi/wahabi yang lain ketika membaca Quran dan Sunnah, lalu dia pun berjtihad dengan pendapatnya. Apa yang dia katakan tentang Quran dan Sunnah, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu dia sendiri. Sumbernya memang Quran dan Sunnah, tapi apa yang dia sampaikan semata-mata lahir dari kepalanya sendiri.

    Permasalahan perbedaan pemahaman ini semata-mata kehendak Allah. Kita tidak dapat mempertanyakan kehendakNya, namun kita akan ditanya bagaimana sikap kita atas kehendakNya. Untuk itulah kita harus hindari berselisih, berbantah-bantahan, bertengkar, saling menghujat, berolok-olok sehingga seolah tidak malu dengan Allah yang dekat, kalaupun tidak merasa kedekatan dengan Allah ta’ala maka kita semua yakin bahwa Allah ta’ala melihat seluruh perbuatan kita.

    Semoga Allah ta’ala memberikan petunjuk pada kita semua, khususnya pada saudara-saudara kita kaum Salafi / Wahabi.

  79. Ibnu irfan n all wahabi@.
    Inti dari pembagian Tauhid ala m. abdul wahhab adalah membedakan ma`na Ilah dan ma`na rob, tolong tunjukkan jika ma`na Rob dan Ilah itu memiliki perbedaan ma`na yang esnsial , sehingga orang baru dikatakan muslim jika ia telah bertauhid Uluhiyah , tolong tunjukkan dalil jika Rosulallah SAW mengajarkan ma`na tauhid seperti ini kepada para sahabatnya ra ?.

    Adapun kami kaum Asy`ariyah wal-maturidiyah memahami Tauhid sebagaimana yang Rosulallah SAW ajarkan kepada para Sahabat ra , sebagaimana Jibril mengajarkannya secara langsung kepada Rosulallah SAW , sebagaimana diriwayat kan Imam muslim dalam shahihnya (kitab iman hadist no 8) dari sayidina Umar bin khottob , diriwayakan juga oleh abu daud 4695 at-tirmidzi 2610 dan lainnya , dimana Hadist ini merangkum Pokok agama Islam yaitu , Islam , iman dan Ihsan

    Adapun ma`na Tauhid (peng esa an Allah ) meyakini dan membenarkan jika Allah itu Wajib adanya karena dzatnya , esa dan tunggal , yang memiliki sifat , malikun qodirun, hayyun , qoyyumun, qodimun azaliyun, daimun ,abadiyun, mengetahui segala sesuatu ,mampu melakukan apapun dikehendakinya , bebas melakukan apaun , bebas menentukan hukum sekehendaknya, tidak ada sesautu apapun yang menyerupainya, dan Allah maha mendengar dan maha melihat , Allah tersucikan dari yang mirip dan menyerupainya , Allah pun tersucikan dari kebutuhan teman dan pembantu, Allah tidak terikat dengan Waktu , dia tidak disibukkan urusan dengan urusan lainnya , tidak pula terlingkupi oleh Arah dan tempat , tidak pula terpengaruhi oleh kejadian waktu dan zaman , secara mutlak Allah tidak butuh pada segala sesuatu , sementara segala sesuatu butuh kepadanya , menciptakan makhluk sekaligus perbuatan nya seluruhnya, baik perbuatan yang baik maupun yang buruk , yang bermanfaat maupun mudhorot, , memberikan Hidayah kepada yang dikehendaki , serta menyesatkan yang dikehendaki , mengampuni siapa yang dikehendaki dan meng adzab siapa yang dikehendaki , Allah tidak akan ditanya atas perbuatannya makhlunya lah yang ditanya , tidak ada kewajiban bagi Allah atas segala sesuatu , karena bagi Allahlah milik segala sesuatu , tidak ada yang memiliki bersama Allah , tidak pada ula hak seseorang atas Allah , Allah menjanjikan pahala bagi yang berbuat baik karena kemuliaannya , dan mengancam pembuat kejelekan dengan i`qobnya karena keadilannya.

    Inilah tauhid menurut kami , kami tidak membedakan ma`na Ilah dan Rob karena Rosulallah pun tidak membedakannya , bahkan pembedaan ma`na khas wahabi ini bertentangan dengan banyak ayat qur`an dan Hadist . inilah aqidah dan rukun iman pertama yang kami ( Asy`ariyah maturidiyah yakini ) sebagai mana yang disebutkan dalam Hadist Jibril diatas , Aqidah kami sangat mudah dimengerti dan dihapal bahkan oleh anak kecil sekalipun, dengan lantunan Sya`ir khas Wali songo Allah wujud qidam baqo mukholafatulilhawadisti dan seterusnya ,
    lantas Hadist mana yang menjadi landasan kalian dalam bertauhid ? adakah Rosulallah SAW mengatakan kalian tidak menjadi muslim kecuali bertauhid Uluhiyah ,meskipun kalian bertauhid Rububiyah, seperti yang sering di da`wahkan sebagian Orang dari Najd yang juga menyerap ke Bumi wali songo , orang tidak dikatakan Muslim jika tidak bertauhid Uluhiyah, meskipun orang tersebut bertauhid Rububiyah. adakah Rosul mengajarkannya ?

    jika tidak ada berarti Tauhid versi Wahabi / Salafi ini adalah Bid`ah dolalah.

  80. Ibnu irfan n all wahabi@.

    Inti dari pembagian Tauhid ala m. abdul wahhab adalah membedakan ma`na Ilah dan ma`na rob, tolong tunjukkan jika ma`na Rob dan Ilah itu berbeda , atau memiliki perbedaan yang esnsi , sehingga orang baru dikatakan muslim jika ia telah bertauhid Uluhiyah , tolong tunjukkan dalil jika Rosulallah SAW mengajarkan ma`na tauhid seperti ini kepada para sahabatnya ra ?.

    Adapun kami kaum Asy`ariyah wal-maturidiyah memahami Tauhid sebagaimana yang Rosulallah SAW ajarkan kepada para Sahabat ra , sebagaimana Jibril mengajarkannya secara langsung kepada Rosulallah SAW , sebagaimana diriwayat kan Imam muslim dalam shahihnya (kitab iman hadist no 8) dari sayidina Umar bin khottob , diriwayakan juga oleh abu daud 4695 at-tirmidzi 2610 dan lainnya , dimana Hadist ini merangkum Pokok agama Islam yaitu , Islam , iman dan Ihsan

    Adapun ma`na Tauhid (peng esa an Allah ) meyakini dan membenarkan jika Allah itu Wajib adanya karena dzatnya , esa dan tunggal , yang memiliki sifat , malikun qodirun, hayyun , qoyyumun, qodimun azaliyun, daimun ,abadiyun, mengetahui segala sesuatu ,mampu melakukan apapun dikehendakinya , bebas melakukan apaun , bebas menentukan hukum sekehendaknya, tidak ada sesautu apapun yang menyerupainya, dan Allah maha mendengar dan maha melihat , Allah tersucikan dari yang mirip dan menyerupainya , Allah pun tersucikan dari kebutuhan teman dan pembantu, Allah tidak terikat dengan Waktu , dia tidak disibukkan urusan dengan urusan lainnya , tidak pula terlingkupi oleh Arah dan tempat , tidak pula terpengaruhi oleh kejadian waktu dan zaman , secara mutlak Allah tidak butuh pada segala sesuatu , sementara segala sesuatu butuh kepadanya , menciptakan makhluk sekaligus perbuatan nya seluruhnya, baik perbuatan yang baik maupun yang buruk , yang bermanfaat maupun mudhorot, , memberikan Hidayah kepada yang dikehendaki , serta menyesatkan yang dikehendaki , mengampuni siapa yang dikehendaki dan meng adzab siapa yang dikehendaki , Allah tidak akan ditanya atas perbuatannya makhlunya lah yang ditanya , tidak ada kewajiban bagi Allah atas segala sesuatu , karena bagi Allahlah milik segala sesuatu , tidak ada yang memiliki bersama Allah , tidak pada ula hak seseorang atas Allah , Allah menjanjikan pahala bagi yang berbuat baik karena kemuliaannya , dan mengancam pembuat kejelekan dengan i`qobnya karena keadilannya.

    Inilah tauhid menurut kami , kami tidak membedakan ma`na Ilah dan Rob karena Rosulallah pun tidak membedakannya , bahkan pembedaan ma`na khas wahabi ini bertentangan dengan banyak ayat qur`an dan Hadist . inilah aqidah dan rukun iman pertama yang kami ( Asy`ariyah maturidiyah yakini ) sebagai mana yang disebutkan dalam Hadist Jibril diatas , Aqidah kami sangat mudah dimengerti dan dihapal bahkan oleh anak kecil sekalipun, dengan lantunan Sya`ir khas Wali songo Allah wujud qidam baqo mukholafatulilhawadisti dan seterusnya ,
    lantas Hadist mana yang menjadi landasan kalian dalam bertauhid ? adakah Rosulallah SAW mengatakan kalian tidak menjadi muslim kecuali bertauhid Uluhiyah , seperti yang sering di da`wahkan sebagian Orang dari Najd yang juga menyerap ke Bumi wali songo , orang tidak dikatakan Muslim jika tidak bertauhid Uluhiyah.

    1. qoola Al Akh Ahmad:
      tolong tunjukkan jika ma`na Rob dan Ilah itu berbeda , atau memiliki perbedaan yang esnsi , sehingga orang baru dikatakan muslim jika ia telah bertauhid Uluhiyah , tolong tunjukkan dalil jika Rosulallah SAW mengajarkan ma`na tauhid seperti ini kepada para sahabatnya ra ?.

      aquulu:
      firman Alloh:
      – “inna robbakumulladzii kholaqos samaawati wal ardhi = sesungguhnya Robb kalian yang menciptakan bumi dan langit.” (Al A’rof: 54)
      – “robbii qod ataitanii minal mulki = ya Robb kami, Engkau anugerahkan padaku sebagian kerajaan” (Yusuf: 101)
      – “qul man robbus samaawati wal ardhi = katakanlah: siapakah Robb bumi dan langit?” (Ar Ra’du: 16)
      lalu bandingkan dengan firman Allah:
      – “qooluu na’budu ilaahaka wa ilaaha aabaaika = mereka berkata kami menyembah Ilahmu dan Ilah bapakmu” (Al Baqoroh: 133)
      – “wamaa umiruu illa liya’buduu ilaaha waahidaa = padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Ilah yang esa” (At Taubah: 31)
      – “wa may yad’u ma’allohi ilaahan aakhor = dan barangsiapa yang menyembah di samping Alloh Ilah yang lain” (Al Mu’minun: 117)

      penjelasannya: ketika menggunakan lafadz Robb, maka yang dimaksud adalah berkenaan dengan perbuatan Alloh kepada makhluq-Nya, seperti menciptakan, menganugerahi kerajaan, menguasai, mengampuni, memberi, melindungi dan lain2. sedangkan ketika menggunakan lafadz Ilah, maka yang dimaksud adalah berkenaan dengan perbuatan makhluq kepada Alloh, seperti menyembah, meminta, memohon ampun, berdoa, berqurban, beribadah dan lain2.

  81. Abu fadlan & Ibnu irfan n all wahabi@.
    Inti dari pembagian Tauhid ala m. abdul wahhab adalah membedakan ma`na Ilah dan ma`na rob, tolong tunjukkan jika ma`na Rob dan Ilah itu berbeda , atau memiliki perbedaan yang esnsi , sehingga orang baru dikatakan muslim jika ia telah bertauhid Uluhiyah , tolong tunjukkan dalil jika Rosulallah SAW mengajarkan ma`na tauhid seperti ini kepada para sahabatnya ra ?.

    Adapun kami kaum Asy`ariyah wal-maturidiyah memahami Tauhid sebagaimana yang Rosulallah SAW ajarkan kepada para Sahabat ra , sebagaimana Jibril mengajarkannya secara langsung kepada Rosulallah SAW , sebagaimana diriwayat kan Imam muslim dalam shahihnya (kitab iman hadist no 8) dari sayidina Umar bin khottob , diriwayakan juga oleh abu daud 4695 at-tirmidzi 2610 dan lainnya , dimana Hadist ini merangkum Pokok agama Islam yaitu , Islam , iman dan Ihsan

    Adapun ma`na Tauhid (peng esa an Allah ) meyakini dan membenarkan jika Allah itu Wajib adanya karena dzatnya , esa dan tunggal , yang memiliki sifat , malikun qodirun, hayyun , qoyyumun, qodimun azaliyun, daimun ,abadiyun, mengetahui segala sesuatu ,mampu melakukan apapun dikehendakinya , bebas melakukan apaun , bebas menentukan hukum sekehendaknya, tidak ada sesautu apapun yang menyerupainya, dan Allah maha mendengar dan maha melihat , Allah tersucikan dari yang mirip dan menyerupainya , Allah pun tersucikan dari kebutuhan teman dan pembantu, Allah tidak terikat dengan Waktu , dia tidak disibukkan urusan dengan urusan lainnya , tidak pula terlingkupi oleh Arah dan tempat , tidak pula terpengaruhi oleh kejadian waktu dan zaman , secara mutlak Allah tidak butuh pada segala sesuatu , sementara segala sesuatu butuh kepadanya , menciptakan makhluk sekaligus perbuatan nya seluruhnya, baik perbuatan yang baik maupun yang buruk , yang bermanfaat maupun mudhorot, , memberikan Hidayah kepada yang dikehendaki , serta menyesatkan yang dikehendaki , mengampuni siapa yang dikehendaki dan meng adzab siapa yang dikehendaki , Allah tidak akan ditanya atas perbuatannya makhlunya lah yang ditanya , tidak ada kewajiban bagi Allah atas segala sesuatu , karena bagi Allahlah milik segala sesuatu , tidak ada yang memiliki bersama Allah , tidak pada ula hak seseorang atas Allah , Allah menjanjikan pahala bagi yang berbuat baik karena kemuliaannya , dan mengancam pembuat kejelekan dengan i`qobnya karena keadilannya.

    Inilah tauhid menurut kami , kami tidak membedakan ma`na Ilah dan Rob karena Rosulallah pun tidak membedakannya , bahkan pembedaan ma`na khas wahabi ini bertentangan dengan banyak ayat qur`an dan Hadist . inilah aqidah dan rukun iman pertama yang kami ( Asy`ariyah maturidiyah yakini ) sebagai mana yang disebutkan dalam Hadist Jibril diatas , Aqidah kami sangat mudah dimengerti dan dihapal bahkan oleh anak kecil sekalipun, dengan lantunan Sya`ir khas Wali songo Allah wujud qidam baqo mukholafatulilhawadisti dan seterusnya ,
    lantas Hadist mana yang menjadi landasan kalian dalam bertauhid ? adakah Rosulallah SAW mengatakan kalian tidak menjadi muslim kecuali bertauhid Uluhiyah , seperti yang sering di da`wahkan sebagian Orang dari Najd yang juga menyerap ke Bumi wali songo , orang tidak dikatakan Muslim jika tidak bertauhid Uluhiyah.

  82. @abu fadlan
    Kalau saya enteng aja kok soal tauhid, bagi saya tauhid ya hanya tunggal, ahad. Karena tauhid adalah menunggalkan Yang Maha Tunggal, tidak ada atribut yang lain yang melekat.

    Perlu anda tahu ya mas, sesungguhnya dalam realitas kehidupan ini sikap saling menyalahkan sesama muslim yg beda paham apalagi menuduh syirik, musyrik itu SANGAT DAN SANGAT disukai kaum kafir terutama di negeri ini.

    Mengapa demikian mas? Karena secara otomatis hal ini sudah membuat keropos pertahanan umat Islam. Perlu anda tahu mas, ada teman saya dari nasrani tetapi fasih tuh baca Al Qur’an.

    Dalam sejarah penjajahan Belanda dan Jepang, lawan yang paling berat dan ditakuti Belanda adalah kaum sufi. Memang bukti sejarah tertulis sangat jarang tetapi perlakuan penjajah terhadap guru2 sufi sangat kejam dan penyebaran ajaran ufi sangat dibatasi dengan ketat dan celakanya ini diteruskan orde baru selama 32 thn.

    Nah, kini anda lihat sendiri bukan situasi sosial masyarakat kita? Meski da’i banyak, mesjid ribuan tetapi budaya hidup umat muslim ikutan hedonis bukan? Bukankan banyak dari umat muslim yang menjadi pecinta dunia dan akhil?

    Nah ini akibat dari ibadah bathin seperti sabar, ridho, zuhud, qonaah jauh dari umat Islam. Zuhud itu bukan ibadah fisik dengan memakai baju kumal, tidak kerja dan malas. Zuhud adalah sikap hati yg tidak mencintai dunia.

    Kemudian mas, saya sebagai muslim tidak akan menuduh sesat, ahli bid’ah, kafir dan syirik kapada sesama muslim. Meski saya seperti yg telah saya tulis di atas, saya tetap YAQIN akan kebenaran mutlaq Al Quran jg Hadist nabi yg shahih.

    Perlu anda tahu, tidak ada kaum sufi menjadikan ucapan para syaikhnya menjadi hukum dan kaum sufi tetap menjadikan Al Qu’an dan Sunnah sebagai pedoman. Kalau anda tidak percaya, silahkan saja dan itu hak anda.

    Pernahkan anda membaca risalah Imam Junayd, Imam Qusyairi dan yg lain2……

    Kalau anda pingin tahu silsilah seluruh tariqat sufi, saya punya kok. Semua tariqat sufi bermuara pada sahabat Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khaththab, Anas bin Malik dan Abu Bakar ash Shiddiq kemudian Rosulluloh. Bahkan silsilah sufi Ibnu Taymiyah, Ibnu Arobi juga ada kok. Anda mau tahu ndak?

  83. pusing ngeliat tauhid versi wahabi. ane dl sering debat ama org kristen, kalo dah didebat masalah tahuhd versi mereka (trinitas) jawaban muter2 semuanya. sama kaya org2 wahabi ni hehehe

  84. ahmadsyahid :

    lantas Hadist mana yang menjadi landasan kalian dalam bertauhid ? adakah Rosulallah SAW mengatakan kalian tidak menjadi muslim kecuali bertauhid Uluhiyah , seperti yang sering di da`wahkan sebagian Orang dari Najd yang juga menyerap ke Bumi wali songo , orang tidak dikatakan Muslim jika tidak bertauhid Uluhiyah.

    seperti hadits hadits yang antum bawakan. ketika Jibril bertanya apa itu Islam, Nabi menjawab: “Islam adalah keharusan engkau bersaksi bahwa tiada Ilah selain Alloh…dst”. disini Nabi menggunakan lafadz Ilah (tauhid uluhiyah).

  85. @ lemah ireng
    anda mgatakan “kalau saya tauhid enteng saja ko soal tauhid” perlu di ingtkan,,tauhid tu bkn perkara enteng bung..

    @ lemah ireng & ahmad syahid
    kalian ber2 kan sama2 ngaku aswaja,, tp ko definisi tauhid kalian beda yah???? aneh…
    yg satau jawabanya cekak bgt “tauhid = ahad”
    yg satunya jwbnya pnjang bner,,tp intinya tetep tauhid rububiyah,uluhiyah,& asma’ wa sifat,cuma jwbnya di gabung..
    jd silahkan kalian ber2 diskusi sndiri tauhid mnurut aswaja kalian tu yg ky apa???

    insya Allah ini coment terakhir ane,, saya rasa blm ada faedahnya dialog sprti ini,, krna yg terakhir coment seolah olah itulah yg dianggap bnar..
    jadi silahkan kalian beribadah dgn bid’ah yg kalian kalian yakini,mskipun hujjah telah jelas kpd kalian..
    dan kami akan berusaha beragama sesuai dgn sunnah dan manhaj salaf..

    afwan bila ada kata2 ana yg kurang bijak..
    subhanakallahumma wabihamdika asyhaduala ila wa illa anta astaghfiruka wa atuwbu ilayk..

    wasalamu’alaikum warahmatullahi wa barokatuhu…

    1. WA’ALLAYKUM SALAM @abu fadlan …ana juga mohon maaf kalo ada kata2 yang ngga berkenan perbedaan pemahaman bukan berarti kita jadi musuh ….berhentilah menuduh saudaramu sendiri dgn kata2 : Ahlul bid’ah , musyrik , kafir, dll dsb …yang menurut bt itu benar wallohualam ……..karena sesuai sabda Nabi “seorang mukmin terhadap mukmin yang lain laksana bangunan ……”

    2. abu fadlan @

      Kasihan antum, aqidah antum tauhid tiga yg bid’ah dholalah kok masih ngotot nuduh orang lain yg ahlul bid’ah. Introspeksilah diri antum, pelajari dua versi ini mana yg paling dekat kebenaran? Tauhid tiga (TRINITAS) itu benar-benar terbukti tidak ada dalilnya, tidak akan ketemu dalilnya sampai hari kiyamat, sadarilah. Yang antum sebut-sebut di atas yg menurut antum dasar pembagiaan tauhid sungguh benar-benar bukan dalil pembagian tauhid. Jadi jangan main-main, ini adalah masalah serius sebab menyangkut masalah aqidah, aqidah adalah prinsip dasar berbeda dengan masalah-masalah cabang (furu’yah) yang suka kalian usil mempermasalahkannya. Kalian mempermasalahkan Tahlilan, Yasinan, Maulidan yang semuanya adalah furu’yyah, sementara kalian enjoy dengan tauhid tiga (TRINITAS) yang terbukti bid’ah dholalah.

  86. @ABU FADLAN
    YA sudahlah kita akhiri perdebatan yang muter2 ga ada titik temu. marilah kita sama2 berjuang demi tegaknya kalimatullah di muka bumi ini. jauhkan rasa menang sendiri, pinter sendiri, paling islami sendiri, paling benar sendiri.

    jauhkan pula sikap mengkafirkan sesama muslim yang beda pandangan. yang perlu kita dakwahkan sekarang adalah kesadaran berislam,karena saat ini yang banyak terjadi adalah umat islam yang tahu islam tetapi masih sering bermaksiat.

    sejujurnya, sebagai muslim saya itu SUNGGUH MERASA KASIHAN kepada saudara2 yang wahhabi/salafi yang suka menuduh sesat, ahli bid’ah, kafir dan sebagainya.

  87. Hidayatullah.com–Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam pembukaan Forum Alumni Al Azhar VI, yang mengangkat tema tentang “Persatuan dalam Komunitas Ahlu Sunnah” itu memperingatkan bahwa pengkafiran dan penyesatan sesama umat Islam membuat umat ini akan terpecah-belah, demikian lansir onislam.net (25/1).

    Dalam sesi mudakhalat (masukan) Syeikh Dr. Yususf Al Qaradhawi, selaku Ketua Himpunan Ulama Muslim Internasional memperingatkan adanya usaha kelompok fanatik yang menyesatkan Al-Asy’ariah (pengikut theologi Sunni yang banyak dianut ulama madzhab As Syafi’I dan Al Azhar sendiri).

    Kalau umat Islam berjalan di belakang kelompok fanatik ini, maka ummat akan lenyap dan terpecah-belah.”

    Beliau juga memperingatkan agar umat tidak perlu mendengar mereka yang bukan ahli ilmu, “Tidak sepatutnya umat Islam melakukan pengkafiran dan tidak perlu mendengar dukhala ilmi (mereka yang berkecimpung dalam ilmu namun bukan ahlinya).”

    Beliau juga memberikan masukan dalam forum agar memberikan pencerahan kepada umat dengan pengetahuan yang membuat mereka bersatu. Dan para ulama bertanggung jawab dalam menyatukan umat.

    “Maka kita perlu melakukan upaya untuk mendekatkan kelompok yang terpacah belah untuk menyatukan mereka.”

    Ulama yang menetap di Qatar ini optimis bahwa perbaikan umat juga akan datang dari Al-Azhar, karena alumninya menyebar di berbagai wilayah dunia Islam. * ONN
    sumber: http://www.hidayatullah.com/read/15001/26/01/2011/al-qaradhawi:-%E2%80%9Djangan-dengar-dukhala%E2%80%99-ilmi

  88. Dari dulu pingin komentar tapi takut salah. Ternyata susah juga bikin komentar, mungkin hanya mengingatkan saja buat ummat Islam jangan gampangan bilang kafir musyrik kepada para sufi. Tak kenal maka tak sayang. Ini aja komentar saya, jika salah tolong dikoreksi.

    Maaf tak bisa komentar banyak, lebih baik nyimak aja ah? Salam buat teman-teman yg pintar-pintar. Semoga pada jujur komentarnya, kami dan teman-teman ngefas sama Mas Syahid. Komentarnya bagus dan bermutu dan berani membela kebenaran dan terkesan lebih jujur dan lebih Ilmiyah. Pasti jebolan pesantren ya Mas?

  89. ibnu Irfan mengatakan:
    firman Alloh:
    – “inna robbakumulladzii kholaqos samaawati wal ardhi = sesungguhnya Robb kalian yang menciptakan bumi dan langit.” (Al A’rof: 54)
    – “robbii qod ataitanii minal mulki = ya Robb kami, Engkau anugerahkan padaku sebagian kerajaan” (Yusuf: 101)
    – “qul man robbus samaawati wal ardhi = katakanlah: siapakah Robb bumi dan langit?” (Ar Ra’du: 16)
    lalu bandingkan dengan firman Allah:
    – “qooluu na’budu ilaahaka wa ilaaha aabaaika = mereka berkata kami menyembah Ilahmu dan Ilah bapakmu” (Al Baqoroh: 133
    “wamaa umiruu illa liya’buduu ilaaha waahidaa = padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Ilah yang esa” (At Taubah: 31)
    – “wa may yad’u ma’allohi ilaahan aakhor = dan barangsiapa yang menyembah di samping Alloh Ilah yang lain” (Al Mu’minun: 117)
    penjelasannya: ketika menggunakan lafadz Robb, maka yang dimaksud adalah berkenaan dengan perbuatan Alloh kepada makhluq-Nya, seperti menciptakan, menganugerahi kerajaan, menguasai, mengampuni, memberi, melindungi dan lain2. sedangkan ketika menggunakan lafadz Ilah, maka yang dimaksud adalah berkenaan dengan perbuatan makhluq kepada Alloh, seperti menyembah, meminta, memohon ampun, berdoa, berqurban, beribadah dan lain2.

    Saya jawab :
    Ayat-ayat al-Qur`an dan penjelasan yang Ibnu Irfan sampaikan, sama sekali tidak memberikan perbedaan Ma`na yang Esensi , antara Ma`na Rob dan Ilah , sehingga tidak bisa dikatakan, orang baru dikatakan muslim jika ia telah bertauhid Uluhiyah , ayat-ayat diatas menunjukkan Munasabah / kecocokan ma`na Rob dan Ilah dengan kalimat sesudahnya , sehingga difahami jika orang beriman kepada rububiyah Allah juga beriman kepada Uluhiyah Allah , tidak seperti pemahaman wahabi yang mengatakan orang kafirpun bertauhid Rububiyah ,

    silahkan cermati ayat-ayat Qur`an berikut :
    wala yamurokum an tatakhidzul malaikata wanabiyiina arbaba qs. Ali-imrom :80 ayat diatas menegaskan bahwa orang-orang musyrik mengakui adanya arbab(tuhan-tuhan) selain Allah seperti malaikat dan para nabi , dengan demikian berarti orang-orang Musyrik tersebut tidak mengakui Tauhid Rububiyah .
    tallahi in kunna lafi dolalimubin idz nusawikum biRobil a`lamin qs. Al-syu`aro 97-98 ayat ini menceritakan tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat dan pengakuan mereka yang tidak mengakui Tauhid Rububiyah , dengan menjadikan berhala-berhala sebagai arbab (tuhan-tuhan).

    Pendapat yang mengkhususkan kata Uluhiyah terhadap ma`na ibadah bertentangan dengan ayat : ya sohibai sijni a,arbabun mutafariquna khoirun amillahul wahidul Qohhar ma ta`buduna min dunihi illa asma an sammaitumuha antum wa abaukum qs. Yusuf 39-40. ayat ini menjelaskan , bagaimana kedua penghuni penjara itu , tidak mengakui Tauhid Rububiyah dan menyembah tuha-tuhan (arbab) selain Allah , disamping itu ayat berikutnya menghubungkan Ibadah dengan Rububiyah , bukan dengan Uluhiyah , sehingga menyimpulkan konotasi ma`na Rububiyah itu pada dasarnya sama dengan ma`na Uluhiyah.

    Sehingga dapat dikatakan jika pembagian Tauhid ala Ibnu Taymiyah , yang membedakan ma`na ilah dan ma`na rob bertentangan dengan ayat-ayat Qur`an sebagaimana kita bahas diatas , jadi Ma`na Ilah dan Rob itu pada Hakekatnya sama , dampak dari pembedaan ma`na Ilah dan Rob (padahal qur`an tidak menyatakan demikian .)

    Paham bathil ini mengatakan bahwa yang memasukkan seseorang ke dalam Islam adalah mengakui tauhid uluhiyyah, bukan tauhid rububiyyah.
    Jadi menurut mereka bahwa keimanan itu tak ada hubungannya dengan tauhid rububiyyah? Jadi bila seseorang berkata bahwa hujan itu turun karena bintang, maka hal itu tak membatalkan keimanan? Jika seseorang mengi’tiqadkan bahwa yang menyembuhkan itu adalah obat, maka hal itu tak membatalkan keimanan ?

    Adakah perintah Rosul SAW agar Tauhid difahami dan dibagi seperti ini ? sebab Hadist Jibril yang dianggap oleh Ibnu irfan menjelaskan Tauhid Uluhiyah , sebenarnya hanya Munasabah saja , sama sekali tidak menjelaskan perbedaan ma`na Ilah dan Rob.
    Adakah Rosul mengatakan , anda baru bertauhid Rububiyah belum bertauhid Uluhiyah , sehingga anda belum Muslim , jika tidak ada riwayat dan perintah dari Sang Rosul agar tauhid difahami , dipelajari dan dibagi seperti ini , berarti pemahaman dan pembagian Tauhid model ini adalah Bid`ah. Bukankah setiap Bid`ah adalah sesat ?

  90. Mas Syahid di akhir komentarnya bertanya kepada Ibnu Abi Irfan: “Bukankah setiap Bid`ah adalah sesat?”

    Ya, orang-orang WAHABI harus konsisten dengan ilmunya dong? Jadi kenapa terus muter-muter seperti keledai penggilingan?

  91. Dr. Ahmad At Thayyib juga memperingatkan adanya pihak-pihak yang jelas-jelas “mempermainkan” fiqih madzhab imam empat dan menggantinya dengan fiqih baru dan mewajibkannya kepada masyarakat.

    Beliau juga memperingatkan adanya upaya negatif terhadap buku para ulama, “Demikian juga adanya permainan terhadap buku-buku peninggalan para ulama, dan mencetaknya dengan ada yang dihilangkan atau dengan ditambah, yang merusak isi dan menghilangkan tujuannya.”

    Syeikh Al Azhar juga berpesan bahwa umat mestinya belajar bagaimana mereka toleransi kepada sesama mereka dan Al-Azhar pada waktu yang akan datang di forum ulama Ahlu Sunnah akan membahas tema, ”Ikhtilaf dalam Bingkai Persatuan”, yang juga akan membahas masalah takfir dan perseteruan

    Selengkapnya : http://hidayatullah.com/read/15006/26/01/2011/syeikh-al-azhar:%E2%80%9Dada-pihak-yang-berusaha-rusak-karya-ulama%E2%80%9D.html

    Kalau ada waktu baca juga tulisan baru ana di
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/27/mazhab-ataukah-manhaj/

  92. @orang jonggol, begitulah kalau dalam beragama ini tdk ada wala dan baronya. pengkafiran
    thd yg jelas2 kekafiran dianggapnya memecah belah,mungkin tkng sihirpun tdk mau mereka sesatkan.

  93. Antisufi, apakah anda senang mengkafirkan orang islam? Yang manakah yg jelas-jelas kafir? Siapakah yg ente maksud? Apakah sufi? Apakah pengikut asy ari? Apakah orang yg bertawasul? Apakah orang yg tahlilan? Apakah orang yg mengadakan maulid? Ziarah kubur? Tukang sihir kok dibawa bawa… Emangnya selain wahabi atau dia seorang sufi sama seperti tukang sihir? Coba anda jelaskan lebih detail makSud perkataanmu itu? Apakah ente kira ulama-ulama al azhar itu tidak bisa membedakan mana yg kafir mana yg bukan kafir?

  94. @Antisufi you wrote: Pengkafiran thd yg jelas2 kekafiran

    Saya mendapatkan sebuah buku dari tanah suci didalamnya ada memuat sepuluh hal-hal yang membatalkan keislaman.

    Salah satu poinnya (point ke tiga) diuraikan bahwa barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu akan kekafiran mereka, atau membenarkan paham (madzhab) mereka, maka dengan demikian dia telah kafir.

    Dari buku-buku lain yang kami dapat dari sana, dapat diketahui bahwa ada yang dimaksud sebagai orang-orang musyrik adalah berdasarkan pemahaman “tauhid jadi tiga”, bahwa banyak hamba Allah yang telah bersyahadat baru mencapai Tauhid Rububiyyah (menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah saja) belum sampai kepada Tauhid Uluhiyah (ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah). Mereka berprasangka bahwa banyak hamba Allah yang telah bersayahadat namun belum bertauhid Uluhiyah atau banyak hamba Allah yang beribadah belum hanya ditujukan kepada Allah .

    Sehingga berdasarkan prasangka dan pemahaman mereka tersebut jatuhlah hukum atau penilaian mereka terhadap hamba Allah yang telah bersyahadat sebagai termasuk orang musyrik.

    Jika ada muslim yang tidak mengikuti prasangka dan pemahaman seperti mereka maka dengan demikian dia telah kafir.

    Selengkapnya http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/12/19/takfir/

  95. Cuplikan keyakinan kaum sufi:

    Allah swt adalah Tuhan Yang Maha Esa, tiada yang kedua bagi-Nya dalam uluhiyah-Nya.
    Allah swt disucikan dari bersahabat dan beranak.
    Allah swt adalah Penguasa yang tiada sekutu bagi-Nya.
    Allah swt adalah Pencipta yang tiada penata lain bersama-Nya.
    Allah swt adalah Maha Esa yang disifati dengan Wujud bagi diri-Nya.
    Allah swt tersucikan dari memiliki arah dan sisi.
    Allah swt bersemayam di Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya dan di atas makna yang Allah swt kehendaki sebagaimana Arsy. Tiada sesuatu yang lain yang mampu menyamai-Nya.
    Allah swt bukanlah seperti yang dapat dijangkau oleh akal. Akal tidak menunjukkan pada-Nya, waktu tidak membatasi-Nya dan tempat tidak mempersempit-Nya.
    Firman-Nya: Aku Maha Esa, Yang Maha Hidup, yang tiada merasa berat memelihara seluruh makhluk-Nya.
    Allah swt Maha Tinggi dari ditempati atau menempati ciptaan-Nya. Ciptaan-Nya ada sesudah-Nya atau Allah swt ada sebelum ciptaan-Nya.
    Allah swt-lah yang menciptakan Arsy, Lauh dan Qalam yang luhur.
    Allah swt-lah yang Maha Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir, Yang Bathin dan Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
    Allah swt berkehendak pada ciptaan di alam langit dan bumi. Qudrah-Nya tidak bergantung pada sesuatu.
    Allah swt memuliakan siapa yang Allah swt kehendaki, dan menghinakan siapa yang Allah swt kehendaki. Allah swt juga memberi petunjuk kepada siapa yang Allah swt kehendaki dan Allah swt menyesatkan siapa yang Allah swt kehendaki. Apa yang Allah swt kehendaki pasti terjadi dan yang tidak Allah swt kehendaki pastilah tidak akan terjadi. Kalau seluruh makhluk berkumpul ingin mengadakan sesuatu yang tidak dikehendaki Allah, maka sesuatu pastilah tidak akan terjadi.
    Allah swt-lah yang menciptakan suara, huruf dan bahasa, karena itu kalam-Nya tanpa anak tekak dan lidah, pendengaran-Nya tanpa telinga dan anak telinga, penglihatan-Nya tanpa bola mata, iradah-Nya tanpa hati dan kalbu, ilmu-Nya tanpa keperluan dan pengamatan pada penjelasan, hayat-Nya tanpa udara yang keluar dari rongga dada dan Dzat-Nya tidak bertambah dan berkurang.
    Allah swt-lah yang agung kekuasaan-Nya, sempurna ilmu-Nya dan besar karunia-Nya. Keadilan-Nya tidak membatasi keutamaan-Nya dan keutamaan-Nya tidak membatasi keadilan-Nya (ibnu arabi)

    Tidak akan mencium bau tauhid, orang yang tergambar dalam diri-Nya sesuatu tentang tauhid (asy Syibly)
    Barangsiapa yang melihat sebiji sawi ilmu tauhid, ia akan lunglai membawa sisa kulit-Nya karena berat beban-Nya (asy Syibly)
    Menunggalkan Yang Ditunggalkan melalui pembenaran sifat Kemanunggalan-Nya dengan keparipunaan Tunggal-Nya, bahwa Allah swt adalah Yang Maha Esa Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dengan menafikan segala yang kontra, mengandung keraguan dan keserupaan, tanpa keserupaan, tanpa bagaimana, tanpa gambaran dan tamsil. Tiada sesuatu yang me-Nyamai-Nya dan Allah swt Maha Mendengar lagi Maha Melihat ( al Junayd)
    Ada tiga kategori tauhid: Pertama, tauhid Allah swt bagi Allah swt yakni ilmu-Nya bahwa sesungguh-Nya Allah swt adalah Esa. Kedua, tauhid-Nya Allah swt terhadap makhluk yakni ketentuan-Nya bahwa hamba yang menauhidkan dan menjadi ciptaan-Nya dan, Ketiga tauhid-Nya makhluk terhadap Allah swt yakni pengetahuan hamba bahwa Allah yang Maha Perkasa dan Agung adalah Maha Esa. Ketentuan dan khabar-Nya menegaskan bahwa Allah swt Maha Esa.
    Barangsiapa berpraduga bahwa Allah swt ada dalam sesuatu atau dari sesuatu atau di atas sesuatu maka orang tersebut benar-benar musyrik yang -Nyata. Sebab apabila Allah ada dalam sesuatu maka Allah pasti terbatas, jika dari sesuatu maka Allah pasti baru dan jika di atas sesuatu maka Allah mengandung sesuatu (Ja’far ash Shadiq)
    Allah swt adalah Yang Maha Esa, Yang dikenal sebelum ada batas dan huruf. Maha Suci Allah, tidak ada batasan bagi Dzat-Nya dan tidak ada huruf bagi Kalam-Nya (asy Syibly)
    Huruf adalah ayat-Nya, wujud adalah ketetapan-Nya, ma’rifat adalah tauhid-Nya dan tauhid-Nya adalah perbedaan-Nya dengan makhluk-Nya.
    Tauhid adalah ilmu anda dan ikrar anda bahwa sesungguh-Nya Allah swt adalah Tunggal dalam Azali-Nya, tidak ada dua-Nya dan tidak ada sesuatupun yang mengerjakan pekerjaan-Nya (al Junayd)
    Siapa yang mengenal hakikat dalam tauhid, maka gugurlah pertanyaan: Mengapa dan Bagaimana (Al Husein Mansur)
    Sesungguhnya Allah Al Haq adalah Maujud, Esa, Qadim, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Kasih, Maha Menghendaki, Maha Mendengar, Maha Agung, Maha Luhur, Maha Melihat, Maha Besar, Maha Hidup, Maha Tunggal, Maha Abadi dan segalanya bergantung kepada-Nya.
    Arti bahwa Allah swt itu Esa adalah penafian segala pembagian terhadap Dzat, penafian penyerupaan tentang Hak dan Sifat-sifat-Nya serta penafian adanya teman yang menyertai-Nya dalam Kreasi dan Ciptaan-Nya.

    Kata-kata paling mulia dalam tauhid adalah seperti yang diucapkan sahabat Sayyidina Abu Bakar ash Shiddiq ra: Maha Suci Dzat Yang tidak menjadikan jalan bagi makhluk-Nya untuk mengenal-Nya, kecuali dengan cara merasa tidak berdaya mengenal-Nya

  96. Pesan balik dari yang mengaku Salafy atas peringatan Syaikh Yusuf Qaradhawi

    Setelah kami menurunkan tulisan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/27/mazhab-ataukah-manhaj/ Tulisan didalamnya ada peringatan disampaikan oleh Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengingatkan umat Islam untuk tidak perlu mendengar dukhala ilmi terkait pentakfiran yang dilakukan oleh mereka.

    Datang salah satu pesan menanggapi tulisan tersebut dari salah seorang yang mengaku pengikut jejak para ulama salaf (terdahulu) mengingatkan kepada saya tentang vonis kesesatan terhadap Syaikh Yusuf Qaradhawi. Mereka menyampaikan beberapa link, salah satunya adalah

    Dalam situs itu Syaikh Yusuf Qaradhawi dinyatakan sesat oleh mereka, salah satunya karena pernyataan Syaikh Yusuf Qaradhawi,

    ”Aku katakan, jihad kami melawan Yahudi bukan karena mereka Yahudi. Sebagian ikhwan sudah ada yang menulis dan membahas masalah ini. Mereka menganggap bahwa kita ini memerangi Yahudi karena mereka Yahudi padahal kami tidak berpendapat demikian. Kami tidak memerangi Yahudi karena alasan aqidah namun kami memerangi Yahudi karena alasan tanah. Kami tidak memerangi orang-orang kafir karena mereka kafir namun kami memerangi mereka sebab mereka merampas dan menyerobot tanah serta rumah kami tanpa hak.” (Harian Ar Raayah nomor 4696, 24 Sya’ban 1415 H/25 Januari 1995 M)

    Pernyataan itu bukanlah sebuah kesesatan.

    Kita memerangi Yahudi sama sekali bukan karena mereka Yahudi. Mereka Yahudi adalah kehendakNya. Kita tidak memerangi kehendakNya. Hal yang kita perangi adalah sikap orang-orang Yahudi terhadap kita. Itulah yang disampaikan oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi bahwa “kami memerangi mereka sebab mereka merampas dan menyerobot tanah serta rumah kami tanpa hak”

    “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS Al Maaidah [5]: 8 )

    Orang-orang Yahudi ada di dunia ini adalah kehendakNya. Mereka lah yang paling keras permusuhannya kepada kita
    “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” ( QS Al Maaidah: 82 ).

    Kita memerangi orang-orang Yahudi karena sikap/perbuatan mereka terhadap kita

    “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS Al Mumtahanah [60]:8 )
    “Janganlah engkau berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang terbaik, kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka..” (QS Al Ankabut [29]:46 )

    Dalam situs itu kaum Salafy menyampaikan pendapatnya atas pernyataan Syaikh Yusuf Qaradhawi sbb:

    ”Mungkin bagi Qaradhawi tanah lebih berharga daripada aqidah. Seandainya Yahudi tidak menyerobot tanah Palestina maka Qaradhawi tidak akan berpendapat tentang adanya jihad melawan Yahudi karena sudah tidak ada alasan tanah yang mengharuskan untuk berjihad memerangi mereka.”

    Dan kemudian mereka berhujjah dengan firman Allah

    “Katakanlah : ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At Taubah : 24).

    Begitulah pendapat ulama Salafy bahwa mempertahankan tanah dan rumah saudara-saudara kita di Palestina bukanlah termasuk yang dinamakan berjihad di jalan –Nya.

    Bagi kaum Salafy jika orang-orang Yahudi tidak merampas dan menyerobot tanah serta rumah saudara-saudara kita di Palestina tanpa hak, maka kaum Salafy tetap berjihad memerangi orang-orang Yahudi dengan alasan aqidah ?
    Apakah yang dimaksud dengan ulama Salafy, jihad di jalan-Nya adalah ”meluruskan” aqidah orang-orang Yahudi ? atau akan membasmi orang-orang Yahudi dari muka bumi ?

    Jihad kita dan saudara-saudara kita di Palestina terhadap orang-orang Yahudi adalah atas perbuatan zhalim mereka terhadap saudara-saudara kita di Palestina.

    Jihad atas sikap/perbuatan mereka ! bukan atas keberadaan ataupun aqidah mereka di dunia.

    Jika kita berjihad atas keberadaan atau aqidah mereka maka sesungguhnya memerangi kehendakNya, karena keberadaan atau aqidah mereka adalah semata-mata kehendakNya

    Firman Allah yang artinya,
    “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )

    Kita dapat melihat dengan jelas perbedaan memahami pernyataan Syaikh Yusuf Qardhawi, begitu pula perbedaan memahami nash-nash Al-Qur’an dan Hadits

    Kebenaran itu dari Allah yang Ahad namun kita yang sama-sama telah bersyahadat tidak dapat mengatakan satu upaya pemahaman saja yang benar yang lain sesat. Semua upaya pemahaman adalah berupaya untuk meraih kebenaran, upaya menuju jalan yang lurus.

    Kita harus dapat menghargai perbedaan pemahaman diantara hamba-hamba Allah yang telah bersyahadat. Perbedaan pemahaman adalah kehendakNya. Kita tidak dapat mempertanyakan kehendakNya, namun kita di akhirat nanti, akan ditanya bagaimana sikap kita atas kehendakNya.

    Sikap ulama Salafy terhadap perbedaan pemahaman dengan Syaikh Yusuf Qaradhawi adalah dengan menjatuhkan vonis sesat kepada Beliau. Mereka akan mempertangung-jawabkan sikap mereka di akhirat kelak.

    Semua ini terjadi karena mereka fanatik dengan kaumnya (ta’asub) dan menuhankan pendapat (kaum) sendiri (istibdad bir ro’yi). Menuhankan dalam arti apapun pendapat baik dari diri maupun kaumnya sendiri adalah sebuah kebenaran. Mereka beranggapan, “hanya merekalah yang berada dalam jalan kebenaran dan selain mereka telah terjerumus dalam kesesatan.” Permasalahan inilah yang dimaksud dengan ekstreem/ghuluw dalam pemahaman agama. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS Al Maa’idah [5]:87 ). Tulisan selengkapnya mengenai ekstrem dalam pemahaman agama, silahkan baca pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

    Salah satu sebab mereka fanatik adalah salah memahami hadits ”73 golongan masuk neraka dan hanya satu masuk surga”

    Mereka yakin bahwa kaum mereka adalah satu yang masuk surga bahkan ada sebagian dari mereka begitu yakin bahwa mereka memegang ”sertifikat” surga

    Bagi kami kaum muslim yang mendalami Tasawuf atau tentang Ihsan, hadits 73 golongan bukanlah “digunakan” untuk menetapkan apa yang yang kita pahami atau kaum kita adalah yang dimaksud 1 golongan masuk surga dan selain kita adalah termasuk 73 golongan.

    Namun hadits tersebut “digunakan” agar kita selalu dalam keadaan “memeriksa” kesesuaian antara yang kita pahami dan jalani dengan Al-Qur’an dan Hadits.
    Keadaan ”memerika” ini harus kita pertahankan sampai kematian menjemput kita karena sesungguhnya keputusan kita termasuk 1 golongan yang masuk surga adalah kehendakNya , tidak ada satupun manusia yang mengetahui atau memastikannnya kecuali apa yang telah ditetapkan Allah ta’ala seperti contoh 10 Sahabat yang pertama-tama mengikuti Rasulullah

    “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah : 100)

    Dalam tasawuf keadaan ”memeriksa” kesesuaian antara yang kita pahami dan jalani dengan Al-Qur’an dan Hadits termasuk bagian ”pengenalan diri sendiri” yakni sikap khauf’ (takut) dan raja (harap).

    Inilah yang dicontohkan oleh Imam Syafi’i ~rahimullah ketika beliau ditanya apakah beliau termasuk sufi. Beliau tidak menjawab atau mengakui sebagai sufi karena sufi sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Abu al-Abbas r.a adalah dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi

    Firman Allah ta’ala yang artinya: ”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

    Firman Allah yang artinya,
    [38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
    [38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.
    (QS Shaad [38]:46-47).

    Kita tidak boleh mengakui bahwa kita seorang sufi, karena sufi bukanlah sebuah pengakuan.

    Imam Syafi’i _ rahimullah menjawab dengan sikap tawadhunya,
    ”Uhibbu as shalihiina walastu minhum la’ali an anaala bihim syafa’ah”

    “Aku mencintai orang shalih walaupun aku tidak seperti mereka namun aku berharap memperoleh syafa’at dari Rasulullah saw (untuk menjadi/termasuk orang yang Sholeh)“.

    Imam Syafii mengatakan ”tidak seperti mereka” karena sikap khauf(takut) , namun beliau berharap (raja’) ”termasuk orang-orang sholeh” karena dapat menjadi orang-orang sholeh atau sufi atau muhsin/muhsinin adalah semata-mata perbuatanNya terhadap manusia.

    ”Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS An Nuur [24]:21 )

    Semoga kita dapat menjadi muslim yang sholeh atau muhsin atau muslim yang Ihsan atau muslim yang seolah-olah melihatNya atau minimal selalu yakin dan keadaan sadar bahwa Allah ta’ala melihat segala perbuatan kita setiap saat.

    Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,

    “Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

  97. @mz,itu antum tau 10 pmbtl keislaman,coba antum baca kitab2 karangan ulama yg antum sebut wahabi,dng keikhlasan.antum kan dkt keal-barkah cilengsi,coba antum sharing dng ust badru.tiap mlm snn.

    1. @antisufi
      Biarkanlah mas dengan pemahaman kita masing-masing.
      Kami begini antum begitu semua atas kehendakNya
      Segala sesuatu adalah kehendakNya.
      Namun kita akan ditanya bagaimana menghadapi kehendakNya.

      “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya tetapi merekalah yang ditanya. (QS Ambiya [21];23 )

      Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya atau kehendakNya tapi perbuatan/sifat/karakter kitalah yang akan ditanya.

      Segala cobaan yang diujikan kepada kita, segala kebutuhan dan keinginan kita adalah kehendakNya.

      Kita akan ditanya bagaimana kita menghadapi kehendakNya

      Sedangkan mengenai pentakfiran, pendapat berikut yang kami ikuti

      Prof. Dr. Assayyid Muhammad Bin Assayyid Alwi Bin Assayyid Abbas Bin Assayyid Abdul Aziz Almaliki Alhasani Almakki Alasy’ari Assyadzili

      LARANGAN MENJATUHKAN VONIS KUFUR ( TAKFIR )
      SECARA MEMBABI BUTA

      Banyak orang keliru dalam memahami substansi faktor-faktor yang membuat seseorang keluar dari Islam dan divonis kafir. Anda akan menyaksikan mereka segera memvonis kafir seseorang hanya karena ia memiliki pandangan berbeda. Vonis yang tergesa-gesa ini bisa membuat jumlah penduduk muslim di dunia tinggal sedikit. Kami, karena husnuddzon, berusaha memaklumi tindakan tersebut serta berfikir barangkali niat mereka baik. Dorongan kewajiban mempraktekkan amar ma’ruf nahi munkar mungkin mendasari tindakan mereka. Sayangnya, mereka lupa bahwa kewajiban mempraktekkan amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan cara-cara yang bijak dan tutur kata yang baik ( bil hikmah wal mau’idzoh al – hasanah ).

      Jika kondisi memaksa untuk melakukan perdebatan maka hal ini harus dilakukan dengan metode yang paling baik sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Nahl : 125, yang artinya:
      “Serulah ( manusia ) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.

      Praktek amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang baik ini perlu dikembangkan karena lebih efektif untuk menggapai hasil yang diharapkan. Menggunakan cara yang negatif dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah tindakan yang salah dan tolol.

      Jika Anda mengajak seorang muslim yang sudah taat mengerjakan sholat, melaksakan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah, menjauhi hal-hal yang diharamkan-Nya, menyebarkan dakwah, mendirikan masjid, dan menegakkan syi’ar-syi’ar-Nya untuk melakukan sesuatu yang Anda nilai benar sedangkan dia memiliki penilaian berbeda dan para ulama sendiri sejak dulu berbeda pendapat dalam persoalan tersebut kemudian dia tidak mengikuti ajakanmu lalu kamu menilainya kafir hanya karena berbeda pandangan denganmu maka sungguh kamu telah melakukan kesalahan besar yang Allah melarang kamu untuk melakukannya dan menyuruhmu untuk menggunakan cara yang bijak dan tutur kata yang baik.

      Al-Allamah Al-Imam Al-Sayyid Ahmad Masyhur Al-Haddad mengatakan, “ Telah ada konsensus ulama untuk melarang memvonis kufur ahlul qiblat ( ummat Islam ) kecuali akibat dari tindakan yang mengandung unsur meniadakan eksistensi Allah, kemusyrikan yang nyata yang tidak mungkin ditafsirkan lain, mengingkari kenabian, prinsip-prinsip ajaran agama Islam yang harus diketahui ummat Islam tanpa pandang bulu (Ma ‘ulima minaddin bidldloruroh), mengingkari ajaran yang dikategorikan mutawatir atau yang telah mendapat konsensus ulama dan wajib diketahui semua ummat Islam tanpa pandang bulu.

      Ajaran-ajaran yang dikategorikan wajib diketahui semua ummat Islam (Ma‘lumun minaddin bidldloruroh) seperti masalah keesaan Allah, kenabian, diakhirinya kerasulan dengan Nabi Muhammad SAW, kebangkitan di hari akhir, hisab ( perhitungan amal ), balasan, sorga dan neraka bisa mengakibatkan kekafiran orang yang mengingkarinya dan tidak ada toleransi bagi siapapun ummat Islam yang tidak mengetahuinya kecuali orang yang baru masuk Islam maka ia diberi toleransi sampai mempelajarinya kemudian sesudahnya tidak ada toleransi lagi.

      Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan sekelompok perawi yang mustahil melakukan kebohongan kolektif dan diperoleh dari sekelompok perawi yang sama. Kemutawatir bisa dipandang dari :

      1. Aspek isnad seperti hadits :
      ?? ??? ???? ?????? ??????? ????? ?? ?????
      ” Barangsiapa berbohong atas namaku maka carilah tempatnya di neraka.”

      2. Aspek tingkatan kelompok perawi seperti kemutawatiran Al-Qur’an yang kemutawatirannya terjadi di muka bumi ini dari wilayah barat dan timur dari aspek kajian, pembacaan, dan penghafalan serta ditransfer dari kelompok perawi satu kepada kelompok lain dari berbagai tingkatannya sehingga ia tidak membutuhkan isnad.

      Kemutawatiran ada juga yang dikategorikan mutawatir dari aspek praktikal dan turun-temurun ( tawuturu ‘amalin wa tawarutsin ) seperti praktik atas sesuatu hal sejak zaman Nabi sampai sekarang, atau mutawatir dari aspek informasi ( Tawaturu ‘ilmin ) seperti kemutawatiran mu’jizat-mu’jizat. Karena mu’jizat-mu’jizat itu meskipun satu persatunya malah sebagian ada yang dikategorikan hadits ahad namun benang merah dari semua mu’jizat tersebut mutlak mutawatir dalam pengetahuan setiap muslim.

      Memvonis kufur seorang muslim di luar konteks di muka adalah tindakan fatal. Dalam sebuah hadits disebutkan :
      ??? ??? ????? ????? ?? ???? ??? ??? ??? ??????.( ???? ??????? ?? ??? ????? ??? ???? ??? )
      ” Jika seorang laki-laki berkata kepada saudara muslimnya ”Hai kafir !” maka vonis kufur telah jatuh pada salah satu dari keduanya.” ( H.R.Bukhari dr Abu Hurairah R.A )

      Vonis kufur tidak boleh dijatuhkan kecuali oleh orang yang mengetahui seluk-beluk keluar masuknya seseorang dalam lingkaran kufur dan batasan-batasan yang memisahkan antara kufur dan iman dalam hukum syari’at Islam.

      Tidak diperkenankan bagi siapapun memasuki wilayah ini dan menjatuhkan vonis kufur berdasarkan prasangka dan dugaan tanpa kehati-hatian, kepastian dan informasi akurat. Jika vonis kufur dilakukan dengan sembarangan maka akan kacau dan mengakibatkan penduduk muslim yang berada di dunia ini hanya tinggal segelintir.

      Demikian pula, tidak diperbolehkan menjatuhkan vonis kufur terhadap tindakan-tindakan maksiat sepanjang keimanan dan pengakuan terhadap syahadatain tetap terpelihara. Dalam sebuah hadits dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda :
      ???? ?? ??? ??????? : ???? ??? ??? : ?? ??? ??? ???? ?? ????? ???? ??? ????? ?? ??????? ?????? , ??????? ??? ??? ????? ???? ??? ?? ????? ??? ???? ?????? ?? ????? ??? ????
      ??? ??? ???? ????????.( ????? ??? ???? )
      “Tiga hal merupakan pokok iman ; menahan diri dari orang yang menyatakan Tiada Tuhan kecuali Allah. Tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam akibat perbuatan dosa ; Jihad berlangsung terus semenjak Allah mengutusku sampai akhir ummatku memerangi Dajjal. Jihad tidak bisa dihapus oleh kelaliman orang yang lalim dan keadilan orang yang adil ; dan meyakini kebenaran takdir”.

      Imam Al-Haramain pernah berkata, “ Jika ditanyakan kepadaku : Tolong jelaskan dengan detail ungkapan-ungkapan yang menyebabkan kufur dan tidak”. Maka saya akan menjawab,” Pertanyaan ini adalah harapan yang bukan pada tempatnya. Karena penjelasan secara detail persoalan ini membutuhkan argumentasi mendalam dan proses rumit yang digali dari dasar-dasar ilmu Tauhid. Siapapun yang tidak dikarunia puncak-puncak hakikat maka ia akan gagal meraih bukti-bukti kuat menyangkut dalil-dalil pengkafiran”.

      Berangkat dari paparan di muka kami ingatkan untuk menjauhi pengkafiran secara membabi buta di luar point-point yang telah dijelaskan di atas. Karena tindakan pengkafiran bisa berakibat sangat fatal.

      Hanya Allah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan hanya kepada-Nya lah tempat kembali.

      Wassalam

      Zon di Jonggol

  98. antisufi@

    Antum kan Salafy Wahabi yang penganut Trinitas Wahabi ya? Menurut teman-teman, Salafy Wahabi adalah ahlul bid’ah yg sesungguhnya, pembela kemungkaran dan memusuhi ummat Islam di seluruh dunia, ingin merubah Tauhid ajaran Nabi dengan Tauhid TRINITAS karangan sendiri, betul apa betul?

  99. nuhun kang zon tausiyahna,abdi ge ti cianjur mun plng kmpng kadang2 lewat jnggol.(kang zon,abdimah awam keneh teu sprt kang zon anu bljr ka timteng. Jujur kang zon,abdi kenal jamaah salafy dicileungsi,tapi jamaah salaf yg dituduh tkng mengkafirkan ,memusyrikan ke heula.salafy hanya khawatir umat trjrmsk kpd kemsyrikan,trutama pd mslh kubur.haturnuhun kang zon,

    1. antisufi @.
      anda ditanya sama mbak sumiyati kok enggak jawab ?
      jama`ah wahabi/salafi khawatir ummat terjerumus dalam kemusyrikan , sementara mereka sendiri (wahabi/salafi) memasukkan syirik dalam aqidah mereka, gimana neh ?

    2. @antisufi

      Sama kang kami juga khawatir umat terjerumus bid’ah , khurafat, tahayul. Namun kami tetap berprasangka baik kepada setiap hamba Allah yang telah bersyahadat. Kami menahan diri untuk tidak mensesatkan ataupun mengkafirkan hamba-hamba Allah yang telah bersyahadat.

      Marilah kita upayakan bersama-sama penjernihan (tashfiyah), pembersihan (tanqiyah), saling mengingatkan, mengoreksi, dan dengar pendapat (murooja’ah), berusaha saling memahami (mufaahamah), dan mengadakan dialog (muhaawaroh) dengan memegang satu prinsip bahwa kebenaran yang haq adalah satu namun upaya pemahaman itu bisa beragam tergantung karunia Allah akan pemahaman agama yang dikaruniakan kepada setiap hamba Allah. Allah lah yang membimbing kita. Allah yang tahu makna segala firmanNya.

      Hal yang sangat kami hindarkan adalah merasa lebih baik atau merasa lebih suci dibandingkan saudara-saudara muslim lainnya.

      Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)

      Bayangkan karena meremehkan saudara muslim kita yang lain maka pupuslah segala amal ibadah yang kita lakukan , pupuslah upaya penegakkan tauhid yang kita lakukan karena tidak akan masuk surga!

      Kita ndak pernah tahu kadar ketaqwaan seorang muslim. Allah sajalah yang tahu. Namun kita bisa lihat mereka dari akhlak mereka, karena tujuan akhir agama adalah akhlak!

      Rasulullah mengatakan “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

      Kami berupaya memahami apa sebenarnya dibalik perintah dan larangan Allah ta’ala. Semua itu kami dapatkan dalam tasawuf atau tentang ihsan.

      Jadi kami bingung kenapa kaum muslim menjadi menjauh dari tasawuf bahkan seperti antum anti sama sekali anti dengan tasawuf sehingga membuat nickname antitasawuf.

      Kami selalu mengingat mereka yang menganggap salafi wahabi sebagai virus. Kami ingatkan kepada mereka yang berupaya untuk menghambat virus Wahabi, seperti contoh berikut

      Betul kita berikhtiar untuk itu namun lakukanlah dengan yang langkah-langkah yang dicintaiNya

      Virus Wahabi adalah kehendakNya, bagi kita adalah cobaan namun kita tidak boleh berselisih dengan mereka yang telah bersyahadat.

      Hak kita adalah menyampaikan apa yang kita pahami , hak mereka adalah menyampaikan apa yang mereka pahami.

      Kalau mereka menyampaikan dengan hujatan, olok-olokan, itu tanggung jawab mereka kepada Allah ta’ala.

      Hak kita adalah menyampaikan nasehat agar mereka tidak menghujat dan berolok-olok.

      Kalau mereka tidak mengikuti nasehat kita maka mereka bisa termasuk orang-orang yang dimurkai Allah ta’ala karena sudah tahu tapi masih melakukannya.

      Tafsir Ibnu Katsir tentang orang-orang yang dimurkai dan mereka yang sesat.
      “Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”,
      yakni bukan jalan orang-orang yang dimurkai. Mereka adalah orang yang rusak kehendaknya; mereka mengetahui kebenaran, namun berpindah darinya.
      Dan “bukan jalannya orang-orang yang sesat”, yaitu mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan menggandrungi kesesatan. Mereka tidak mendapat petunjuk kepada kebenaran.

      Wassalamualaikum

  100. kang syahid, antum aya2 wae.kang, jaman nabi dan sahabat blm lah di kenal namanya ‘sanad’namun jaman para tabiin,muncul yg namanya hadist dhaif,bahkan palsu,yg disebarkan terutama oleh syiah,oleh karena itu para ulama sebelum mrwyatkan hadist,di selidiki dulu siapa perawinya.kang, ketika muncul perbedaan pemahaman aqidah dalam masalah kubur,aqidah mu’tazilah,jahmiyah, maka para ulama untuk memudahkan kaum muslimin tdk terjebak aqidah sesat ,dijlskanlah bagaimana tauhid dalam meng esakan Allah,dan asmawashifatnya.karena dalam hal mencipta,mengatur,menguasai semua sepakat bahkan kaum musyrikin pun mengakui itu adalah hak Allah.(maaf,kalau sdh dlm masalah kubur kita berbeda,dan masalah aqidah asma wasifat berbeda,salahsatu contoh sy meyakini bahwasanya Allah berada diatas langit yg paling tinggi dng ketinggian dan kebesaranNya dan berbeda dng makhluknya,tanpa takyif,)dalam aqidah itu berbeda,jng didebat, sdh saja,maaf,saya orang awam yg baru bljr.maaf ya kang syahid.wassalam.maaf sekali lagi.salam buat bang zon,orang jnggl tea.

    1. kemabali lagi ada yang salah faham …….di sini bukan tempat BERDEBAT namun tempat tukar informasi , ilmu , saling nasehat , nah @anti sufi kalau nt udah punya pemahaman JANGAN DIDEBAT itu keliru ….bagaimana nt bisa menerima kebenaran ???? sedangkan acuannya kan jelas Al Quran n Hadist …….

    2. mas mamo , belum apa-apa antisufi udah khawatir didebat , gimana kalo ditanya aja mas ? padahal kita kan cuma pengen diskusi.

      antisufi tolong jawab ya , Salafusholihin yang mana yang mengatakan Allah berada dilangit ? bahkan mengatakan ” barang siapa tidak meyakini Allah berada di langit maka dia telah Kafir “.

      terus Salafusholihin yang mana yang mengajarkan tiga Tauhid versi Wahabi / salafi ?

      dalam masalah kubur yang beda yang mana neh ? oh ya masalah Tashowuf itukan cuma Istilah juga, kok anda menolaknya dengan keras, sampe pake nick antisufi kan kata nt ” kang syahid, antum aya2 wae.kang, jaman nabi dan sahabat blm lah di kenal namanya ‘sanad’namun jaman para tabiin,muncul yg namanya hadist dhaif,” kok soal Tashowuf beda , kenapa gak konsisten ?.

      bener kata mas mamo : bagaimana nt bisa menerima kebenaran ???? sedangkan acuannya kan jelas Al Quran n Hadist …….
      antisufi jawab ya ?

  101. Antisufi, silahkan baca soal ziarah kubur di link ini, saya rekomendasikan untuk kalian yg antisufi, silahkan baca biar dapat sadar dari mencela orang-orang yg ziarah kubur.

  102. @antisufi

    Kami mau konfirmasi saja , antum katakan “Allah berada diatas langit yg paling tinggi dng ketinggian dan kebesaranNya dan berbeda dng makhluknya,tanpa takyif”

    Berada itu sama maknanya dengan bertempat ?

    Lalu bagaimana menjelaskan “Allah itu dekat” ?

    Kalau ndak salah kaum antum memahami bahwa Allah itu dekat dengan ilmuNya

    Jadi dzatNya berpisah dengan ilmuNya

    Benarkah ?

    Mohon jawabannya, apapun jawaban antum , tidak ada masalah dengan kami.

    Tapi keyakinan / i’tiqad ini sangat penting bagi kita, untuk mencapai tujuan hidup yakni agar kita sampai kepada Allah ta’ala

    “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

    Surga adalah keniscayaan bagi setiap orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya akan tetapi tidaklah mudah agar kita sampai kepada-Nya. Untuk itulah kita perlu (salah satunya) mengenal Allah ta’ala (ma’rifatullah), mengenal apa dibalik perintah dan laranganNya dll

  103. punten kang zon,abdi sanes tukang ro’yu dalam masalah aqidah,yg jelas menetapkan, Allah diatas langit yg paling tinggi dan bersemayam diatas arasy,terpisah dng makhluKNya.tanpa takhrif,tanpa ta’thil,tanpa tamtsil,tanpa takyif.punten ogenya kang zon,abdi sanes mujassim,mu’tajilah atanapi jahmiyah,puntennya kang zon aqidah abdi nu ieu ayeunamah.punten.sakali deui.(‘kata guru saya,perdebatan antara salafiyah dan asya’riyah ialah ketika kitab al-ibanah yaitu kitab yg berisi ruju’nya al imam Abul hasan asyari rahimahullah,tdk diakui oleh pengikutnya.dng alasan buatan wahabi)wallahua’lam.punten kang zon,abdi komentarna dugikadieu.abdimah masih awam,punten.abdi jadi pembaca wae.wassalam.

    1. Maaf, kang antisufi, dalam forum bersifat umum sebaiknya gunakanlah bahasa yang dapat dimengerti umum, untuk menghindari fitnah.
      Lupakanlah penilaian tentang mujassimah dll.
      Ini kesempatan untuk menjelaskan pemahaman masing-masing tanpa kita perdebatkan namun saling menghargai pemahaman masing-masing

      Kami hanya butuh sedikit penjelasan antum benarkah Allah itu dekat dengan ilmuNya, sedangkan dzatNya bertempat di atas langit atau tepatnya di atas Arasy ?

  104. antisufi mengatakan kitab ibanah berisi ruju’nya Imam abu hasan asy’ary ? ruju’ dari mana kemana ? dari sifat 20 ke tauhid tiga ? ada juga Ibn taimiyah yang ruju’ dari tauhid 3 ke asy’ariyah …. coba deh dibahas masalah ini di sini… jangan2 emang kerjaan salafy/wahaby melintir kata2 imam asy’ari deh…. monggo….

  105. Wahai saudara-saudaraku. Izinkanlah kami menyarankan untuk menahan diri terlebih dahulu untuk melanjutkan berdiskusi dengan saudara-sudara kita dari kaum Salafi sebelum salah satu dari mereka menjawab pertanyaan paling dasar bagi para penuntut ilmu agama tahap lanjut yakni

    Benarkah Allah itu dekat dengan ilmuNya, sedangkan dzatNya bertempat di atas langit atau tepatnya di atas Arasy ?

    Jawabannya dari mereka yang kita perlukan adalah benar atau salah. Itu saja !
    Setelah menjawab benar atau salah barulah diikuti dengan penjelasannya.

    Kita harus menerima apapun jawaban dari mereka karena jawaban mereka adalah kehendak Allah ta’ala karean Allah ta’ala yang memperkenalkan diriNya kepada semua hamba Allah dengan kadar yang berbeda-beda.

    Kenapa perntanyaan ini wajib di jawab karena kita dalam berdiskusi agama pada hakikatnya mennyampaikan apa yang difirmankan Allah atau apa yang dikatakan Rasulullah. Kalau mereka tidak mengenal Allah maka apa yang mereka sampaikan adalah semata-mata perkataan guru/ustadz/syaikh mereka sendiri.

    Selain itu saat ini telah berlangsung upaya cukup serius bagi umat muslim agar dapat menerima konsep berikut ini

    “Allah is above the Heavens, separate from the creation but among his creation by His Hearing (as-Samiy), His Seeing (al-Baseer) and His Knowledge (al-Aleem)”

    Penyebar-luasan konsep ini diikuti oleh langkah-langkah pembenaran dengan Al-Qur’an dan Hadits bahkan dengan kitab injil, filsafat, akal dll

    Konsep inilah yang dikhawatirkan oleh ulama-ulama yang mendalami tasawuf.

    Sedangkan ulama-ulama tasawuf membenarkan konsep 20 sifat Allah dengan titik perbedaan pada, saya cuplikan dari tulisan lain sbb,

    Mazhab Asy ‘Ariyah
    Golongan ini beriktiqod bahwa segala perbuatan itu dari Allah, tetapi bagi makhluk masih ada usaha ikhtiar.
    Dengan usaha ikhtiar, makhluk itu berbuat dan berlaku hukum syara’ sebagai sunatullah (hukum alam).
    Bagi mereka, usaha ikhtiar makhluk tidak menentukan tetapi Allah ta’ala itulah yang menentukan hasil (akibat) dari usaha ikhtiar makhluk.

    Maka Mazhab ini adalah iktiqod yang dapat dipegang. Hanya saja golongan ini masih belum dapat mencapai martabat kasyaf. Hal ini karena mereka masih terhijab (terdinding) dengan sebab masih memandang bahwa usaha ikhtiar itu dari hamba itu sendiri, sehingga tidak ada pandangan bahwa usaha ikhtiar itu adalah perbuatan Allah yang disandarkan pada makhluknya.

    Mohon izin moderator, marilah kita tunggu dahulu jawaban atas pertanyaan di atas sebelum mereka melanjutkan diskusi dengan kita.

    Wassalam

  106. sekali lagi maafbang zon,saya bukan tukang ro’yu,dari ilmu yg telah saya dapatkan tentang i’tiqad yg ahlussunah dan bukan asya’riyah salahsatunya adalah meyakini Allah diatas langit yg paling tinggi dng ketinggian dan kebesaranNya dan bersemayam diatas arsy(Qs.Thaha:5)sedangkan ilmuNya meliputi daratan dan lautan(Qs.Al-an’am:59)maaf,ilmunya msh cetek ,mngkn ikhwan2 salaf ada yg mau nambahin.maaf,bang zon skl lg sy menyimak aja,tapi memang saya anti tasawuf,tp bukan berarti benci sama pengamal tasawufnya,dan tdk mengkafirkan,apalagi memusyrikkannya,seperti tuduhan sebagian yg coment disini.malah tman2 aswaja ada yg sampai menuduh salafy bertauhid trinitas,duh terlalu keji tuduhan itu.padahal salafy spanjang saya tau,tdk pernah nyebut sianu kafir,musyrik,buktinya,kami tdk dilarang bermakmum kepada pengikut asyariah,atau sufi.wassalam.(udah ah diskusinya,mdh2an tmn2 salaf ada yg komen lagi,)

    1. Kang antisufi, penjelasan bisa sesudahnya .

      Jawaban yang ditunggu hanyalah benar atau salah. Itu saja

      Benarkah Allah itu dekat dengan ilmuNya, sedangkan dzatNya bertempat di atas langit atau tepatnya di atas Arasy ?

      1. @Antisufi maksudnya bang Zon mungkin nt memercayai atau nggak dgn pernyataan “Allah itu dekat dengan ilmuNya, sedangkan dzatNya bertempat di atas langit atau tepatnya di atas Arasy ?” maaf bang Zon . barangkali antisufi ngga mudeng ….

  107. Sejauh ini pernyataan saudara kita antisufi adalah

    (Agar tidak salah memahami tulisan antisufi maka saya salin sesuai dengan tulisan aslinya)
    Antisufi:

    “Sy meyakini bahwasanya Allah berada diatas langit yg paling tinggi dng ketinggian dan kebesaranNya dan berbeda dng makhluknya,tanpa takyif”
    “saya bukan tukang ro’yu”
    “tapi memang saya anti tasawuf”

    Kemudian atas pertanyaan kami, Benarkah Allah itu dekat dengan ilmuNya, sedangkan dzatNya bertempat di atas langit atau tepatnya di atas Arasy ?

    Sejauh ini beliau belum menjawab benar atau salah namun beliau baru menyampaikan terjemahan secara dzahir firman Allah dalam (QS Thaha:5) dan (QS Al-an’am:59)

    @antisufi: “meyakini Allah diatas langit yg paling tinggi dng ketinggian dan kebesaranNya dan bersemayam diatas arsy(Qs.Thaha:5)sedangkan ilmuNya meliputi daratan dan lautan(Qs.Al-an’am:59) ”

    @antisufi adalah hamba Allah yang dipengaruhi oleh syaikh/ulama/ustadz dari kaum Salafi Wahabi.

    Sejauh ini beliau belum dapat menjawab pertanyaan kami dengan jawaban benar atau salah karena beliau tidak mau menggunakan akalnya sendiri yang merupakan karunia Allah ta’ala sehingga kita berbeda dengan ciptaanNya yang lain.

    Beliau mendapatkan pengaruh dari syaikh/ulama/ustadz kaum Salafi Wahabi bahwa kita tidak boleh memahami agama dengan akal (ro’yu).

    Ada satu konsep kehidupan yang diuraikan oleh sebagian syaikh/ulama/ustadz bahwa kita harus berserah diri, jangan menggunakan akal, apa yang Allah ta’ala dan Rasulullah sampaikan dan apa yang dicontohkan oleh Salafush sholeh harus diterima dan diikuti apa adanya berdasarkan penafsiran/penterjemahan terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Hadits secara dzahir karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa arab yang jelas. “dengan bahasa Arab yang jelas”. (QS Asy Syu’ara’ [26]: 195)

    Padahal ada firman Allah pada ayat lain yang menerangkan bahwa walaupun Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas namun pemahaman yang dalam haruslah dilakukan oelh orang-orang yang berkompeten (ahlinya). [41:3] “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)

    Pemahaman yang dalam seperti beristinbath, menggali hukum dari Al-Qur’an dan Hadist haruslah dilakukan oleh yang ahlinya, tertuang dalam syarat-syarat menjadi mujtahid atau imam mujtahid. Tulisan selengkapnya silahkan baca tulisan pada
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/31/imam-mujtahid/
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/07/perlunya-madzhab/
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/03/madzhab-empat/

    Sebelum kita tanggapi tulisan/komentar dari Antisufi maupun kaum Salafi Wahabi lainnya baik dalam topik ini maupun topik-topik lainnya dalam blog ini, sebaiknya kita tunggu jawaban (salah satu dari mereka) benar atau salah dari pertanyaan kami
    Benarkah Allah itu dekat dengan ilmuNya, sedangkan dzatNya bertempat di atas langit atau tepatnya di atas Arasy ?

    Ini adalah masalah paling penting ! sebelum hamba Allah boleh menyampaikan tentang firmanNya (Al-Qur’an) ataupun menyampaikan perkataan Rasulullah (hadits)

    Kita tunggu s/d pk 16.00 WIB hari ini saja , apapun jawaban dari salah satu yang mengaku bermanhaj Salaf, kita harus terima karena itu adalah kehendakNya. Kita tidak boleh memperdebatkan ataupun mengingkari kehendakNya.

    Setelah batas waktu itu atau setelah salah satu dari mereka menjawab benar atau salah.
    Insyaallah kami akan menguraikan pokok permasalahan yang telah kami khawatirkan selama ini.
    Mohon maaf, mohon izin dan mohon kesabaran saudara-saudaraku lainnya.

    Wassalam

  108. “Allahuma A’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika”
    ” Ya Allah tolonglah aku untuk selalu berdzikir kepadaMu, mensyukuri nikmatMu, dan beribadah kepadaMu dengan baik” ( HR Ahmad, Abu Daud )

    1. kacung ngaran maaf neh , selagi nt masih ngikutin orang-orang yang mencela Sahabat Rosulallah SAW , seperti Ibnu taymiyah , bin baz ibn abdil Wahhab dst saya yakin doa yang nt panjatkan tidak ada artinya , bahkan Ibadah seri tahun pun tidak akan ada artinya, semuanya akan tertolak , kalo nt masih ngikutin orang2 tersebut.

      1. Astaghfirullahal ‘adhiim, bila berbicara dg hawa nafsu dapat tergelincir mengaku sbg Tuhan,shg dp memvonis amalan hambaNYA.

  109. Oh ya saudara kita @Kacung Ngaran apakah termasuk kaum Salafi Wahabi ?
    Kalau ya , mohon di jawab pertanyaan kami
    Benarkah Allah itu dekat dengan ilmuNya, sedangkan dzatNya bertempat di atas langit atau tepatnya di atas Arasy ?

    Jawabannya cukup benar atau salah, kemudian barulah penjelasannya.

    Sekaligus kami mau bertanya karena antum mengatakan tidak ada yang menuduh sesat, bagaimana dengan yang disampaikan oleh saudara-saudara kita di salafy.or.id yang menuduh sesat Syaikh Yusuf Qaradhawi , silahkan baca pada Artikel ini diberitahukan ke kami oleh pengurus group di FB http://www.facebook.com/pages/Manhaj-As-Salaf-Ash-Shalih/93154618811

    Apakah salafy.or.id atau group di FB tersebut bukan termasuk kaum antum ?

    1. maaf bang Zon date line anda telah lewat hamba Allah yang @ anti sufi nggak ngejawab ……ibarat penyakit tumor sudah nggak cukup di”OLESI” salep bang …..namun sudah harus di ” OPERASI ” itu aja diliat “stadiumnya akarnya udah menjalar bloom ????? salep betul obat namun sudah nggak mempan kali ……sekali lagi maaf hanya komen ….

  110. Baiklah, oleh karena tenggat waktu sudah terlampaui dan tak seorangpun yang mengaku bermanhaj Salaf menjawab pertanyaan kami maka kami akan menjelaskan salah satu yang kami khawatirkan akan konsep atau pola pemahaman yang disampaikan sebagian ulama/syaikh.

    Konsep yang diusung sebagian ulama adalah

    Kita harus berserah diri, jangan menggunakan akal, apa yang Allah ta’ala dan Rasulullah sampaikan dan apa yang dicontohkan oleh Salafush sholeh harus diterima dan diikuti apa adanya berdasarkan penterjemahan/penafsiran terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Hadits secara dzahir karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa arab yang jelas. “dengan bahasa Arab yang jelas”. (QS Asy Syu’ara’ [26]: 195)

    Jangan menggunakan akal termasuk mengikuti imam madzhab karena imam madzhab (menurut mereka) menyampaikan berdasarkan akal atau telah tercampur akal imam madzhab, tidak murni firman Allah, perkataan Rasulullah atau apa yang telah dicontohkan Salafush Sholeh.

    Lihat penjelasan ustadz Ahmad Sarwat Lc dalam http://www.warnaislam.com/syariah/hadis/2009/12/4/2760/Paham_Anti_Mazhab_Ingin_Meruntuhkan_Syariah_Islam.htm
    Beliau mengulas buku karya Dr. Said Ramadhan Al-Buthy yang berjudul Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam.

    Kutipan penjelasan ustadz Ahmad Sarwat Lc

    Menurut Al-Albani, semua orang haram hukumnya merujuk kepada ilmu fiqih dan pendapat para ulama. Setiap orang wajib langsung merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Dan untuk memahaminya, tidak dibutuhkan ilmu dan metodologi apa pun. Keberadaan mazhab-mazhab itu dianggap oleh Al-Albani sebagai bid’ah yang harus dihancurkan, karena semata-mata buatan manusia.

    Mohon maaf oleh karena keterbatasan waktu penjelasan akan saya lanjutkan insyaallah ba’da Isya.

    Wassalam

  111. kutipan komentar saya jam 12 siang.yg lenyap ntah kemana,maklum hp jadul(@mo,apa mksd antum dng prtnyaan apakah anti sufi hamba ALLAH? Apakah yg anti sufi itu antum kafirkan?antum tdk membaca,bgimn aqidah alhallaj,yazid albustami,syekh siti jenar,dan jaman ini tkh sufi mdrn,pentolan gruf dewa,(baca kitab talbisul iblis)Jd sebetulnya siapa yg suka mngkfrkan? @bang zon(dng pertanyaan antum yg berkali2 itu,ana jd menduga2,maaf apakah antum menafikkan shifat2 Alloh,atau menerima tapi menta’wil?

    1. @antisufi
      Alasan kenapa kami mengulang-ulang sederhana sekali, karena antum atau salah seorang dari yang mengaku bermanhaj salaf belum ada yang menjawab pertanyaan kami.
      Kenapa kami mengatakan orang-orang yang mengaku bermanhaj salaf karena memang ada hamba Allah yang bermanhaj Salaf namun pengenalan dzatNya tidak serupa dengan konsep syaikh Ibnu Taimiyah.

      Kemudian antum mengomentari komentar saudara kita mas Mamo yang menuliskan “MAAF bang Zon apa betul @anti sufi seorang HAMBA ALLOH..?”, antum mengartikannya bahwa mas Mamo mempertanyakan bahwa seluruh orang yang anti sufi termasuk hamba Allah.

      Padahal mas Mamo hanya mempertanyakan antum seorang, karena mas Mamo menuliskan tanda @ sebelum “anti sufi” artinya pada diri orang yang menggunakan nick name antisufi saja yang dipertanyakan sebagai hamba Allah, dan saya menjawab bahwa setiap manusia yang bersyahadat termasuk hamba Allah. Ingat teguran Rasulullah ketika seorang sahabat telah membunuh seseorang yang menurut dugaan sahabat hanya berpura-pura mengucapkan LA ILAHA ILALLAH

      Usamah bin Zaid ra berkata: Rasulullah saw mengutus kami ke Huraqah pada suku Juhainah, maka ketika kami sampai disana, pagi-pagi kami menyerbu. Tiba-tiba aku dan seorang Anshar bertemu dengan seorang dari mereka. Maka ketika kami telah mengepungnya, ia berkata “LA ILAHA ILALLAH”. Maka shahabatku orang Anshar itu menyuruh aku menghentikan, tetapi terus saja aku tikam dengn tombakku sehingga matilah dia. Dan ketika kami telah kembali ke Madinah, berita itu telah sampai kepada Rasulullahsaw maka beliau bertanya “Apakah sesudah ia mengucapkan LA ILAHA ILALLAH masih juga engkau membunuhnya?” jawabku: “Ya Rasulullah, ia berkata begitu mungkin hanya karena takut kepada senjataku”. Bersabda Nabi: “Apakah sudah kau belah dadanya sehingga engkau ketahui dengan jelas, apakah ia berkata karena takut atau tidak”….

  112. Allah berfirman dalam hadist Qudsi :

    Apabila hamba-Ku menghampiri diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai dari pada sekedar mengamalkan apa-apa yang telah Ku wajibkan atasnya, dan terus menerus menghampiri Ku dengan malan-amalan yang baik, hingga Aku mencintainya, maka apabila aku telah mencintainya, adalah Aku pendengarannya bila ia mendengar, Akulah penglihatannya bila ia melihat, dan Aku lah tangannya apabia ia mengambil (melakukan sesuatu), Akulah kakinya bila ia berjalan, jika ia bermohon niscaya Aku perkenankan permohonannya dan jika meminta perlindungan kepada-Ku pastilah Aku lindungi dia. (H.R. BUKHARI). Maksud saya menjad Hamba Alloh tidak semudah yang kita bayangkan ….bagaimana kita mengenal Alloh sebenar benar kenal …….wallohualam

  113. tepatnya,tuduhan jamaah yg tdk bermahdzab seharusnya disandang oleh jamaah inkarussunnah,bukannya kepada jamaah yg ingin ‘ittiba’kpd nabinya.yg didlnya dikaji kitab2 para ulama salafussholeh.(saya menduga kebencian ini berawal dari di ‘hajr’ nya habib alwi almaliky oleh para ulama kibar,sampai menjalar ke indonesia)

    1. @sufitobat
      Tidak ada ulama yang melarang kita untuk tidak bermadzhab!.
      Ada muslim yang menisbatkan pada salafush sholeh karena mereka tidak merasa cukup dengan hasil ijtihad imam mazhab namun harus didukung dengan kompetensi sebagai layaknya imam mujtahid.
      Kompetensi atau syarat imam mujtahid , silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/31/imam-mujtahid/

      Apa yang ulama khawatirkan adalah adanya anjuran dari saudara-saudara muslim kita yang “mengaku” bermanhaj salaf untuk merujuk langsung pada Al-Qur’an dan hadits tanpa dibekali kompetensi atau keahlian.

      Benar bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas namun untuk ijtihad maupun pemahaman tingkat lanjut harus dilakukan oleh orang-orang yang mengetahui atau berkompeten sebagaimana firman Allah yang artinya “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui (QS Fush shilat 41:3)

      Kelirulah pendapat ulama Al Albani bahwa dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits tidak dibutuhkan ilmu dan metodologi apa pun.

      Sebagai contoh,

      Salah satu yang membatalkan wudhu’ adalah bersentuhan dengan perempuan (selain mahram) berdasar ayat 6 Surat al-Maidah. Ayat yang dibahas satu itu, tapi kenyataan pendapat imam mazhab berlainan

      Hanafiyah berpendapat bahwa yang dimaksud dnegan “al-lams” (bersentuhan) dalam ayat tersebut adalah bersetubuh. Sehingga wudhu’ hanya akan batal karena melakukan setubuh (Arab = jimaa’), dan tidak batal dengan sekedar bersentuhan kulit –baik ada syahwat saat bersentuhan atau tidak.

      Malikiyah dan Hanbaliyah mengatakan wudhu’ tidak batal bila tidak ada syahwat saat bersentuhan, dan batal jika disertai dengan syahwat. Karenanya, walaupun yang disentuh itu anak ingusan, bila ada syahwat, tetap batal.

      Hanbaliyah: hanya perempuan yang wajarnya menimbulkan syahwat saja yang membatalkan. Demikian, karena kedua madzhab (Malikiyah dan Hanbaliyah) ini melandaskan pendapatnya di samping pada ayat di atas juga pada beberapa hadis yang menyiratkan tidak batalnya wudhu’ hanya sekedar dengan bersentuhan biasa (tanpa syahwat).

      Syafi’iyah: tambah ketat lagi, baik ada syahwat atau tidak, jika yang disentuh itu perempuan yang sudah baligh maka membatalkan wudhu’. Argumennya, yang dimaksud dengan “al-lams” dalam ayat 6 surat al-Maidah itu adalah bersentuhan secara hakiki, antara dua kulit yang berlainan jenis, laki-laki dan perempuan yang sama-sama dewasa.

      Itu satu contoh kecil. Dan perbedaan-perbedaan yang lain pun terjadi karena demikian itu: metodologi istinbath (pengambilan dalil) yang berlainan.

      Belum lagi memahami ‘Istiwa Allah di atas ‘arsy, yang sebagian ulama menganggap sebagai ayat muhkamat.

      Jadi anjuran untuk “melihat” langsung bagaimana ibadah Rasulullah dan para Salafush sholeh dengan sekedar menterjemahkan saja tanpa didukung kompetensi atau keahlian adalah anjuran yang sangat berbahaya.

      Inilah yang disampaikan Syaikh Yusuf Qaradhawi agar kita tidak perlu mendengar dukhala ilmi (mereka yang berkecimpung dalam ilmu namun bukan ahlinya)

    2. faktor utama kenapa ajaran sesat pun ada pengikutnya , adalah setiap orang ingin selamat , setiap orang ingin bahagia dunia akherat , hanya terkadang karena tidak dibarengi dengan ilmu yang memadai orang tidak mampu membedakan mana racun mana madu , ditambah dengan doktrin anti Taqlid , Racun Wahabi pun mereka minum , aqidah Tajsim pun mereka yakini sebagai kebenaran , padahal Ulama bersepakat al-mujassim Kafirun bil Ijma`.
      hal ini saya sampaikan sebagai rasa cinta sesama Muslim.

  114. Sesuai janji kami inilah tulisan kami selengkapnya setelah di kompilasi ulang.

    Judul: Terjemahkan saja

    Pada zaman sekarang ini ada sebuah konsep yang diusung sebagian ulama yang mengaku menisbatkan pada Salafush Sholeh. Konsep ini kami berikan nama “terjemahkan saja” , konsepnya adalah,

    Kita harus berserah diri, jangan menggunakan akal, apa yang Allah ta’ala dan Rasulullah sampaikan dan apa yang dicontohkan oleh Salafush Sholeh harus diterima dan diikuti apa adanya berdasarkan penterjemahan / penafsiran terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Hadits secara dzahir karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas.

    Dalih konsep mereka dengan firman Allah yang artinya,
    “dengan bahasa Arab yang jelas”. (QS Asy Syu’ara’ [26]: 195).

    Sebagian ulama itu melarang kita berpendapat/berpemahaman dengan akal (ro’yu) walaupun telah bersandar pada Al-Qur’an dan Hadits.

    Namun mereka tidak konsisten ketika mereka “menggunakan” akal untuk pendapat mereka tentang “tauhid menjadi tiga” atau dengan kata lain hanya mereka sajalah yang boleh menggunakan akal. Padahal dengan akal yang dikaruniakan Allah ta’ala lah, kita menjadi berbeda dengan ciptaanNya yang lain dan dengan akallah kita memahami petunjukNya sebagai syarat, rambu atau petunjuk untuk mengadakan “perjalanan” agar kita sampai kepada Allah ta’ala. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/24/perjalanan-hidup/

    Jangan menggunakan akal, termasuk didalamnya jangan mengikuti imam madzhab karena imam madzhab (menurut mereka) menyampaikan berdasarkan akal atau telah tercampur akal imam madzhab, tidak murni firman Allah (Al-Qur’an), perkataan Rasulullah (Hadits) atau perkataan/perbuatan yang telah dicontohkan Salafush Sholeh (Atsar).

    Lihat penjelasan ustadz Ahmad Sarwat Lc dalam http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/2011/01/18/paham-anti-mazhab/

    Beliau mengulas buku karya Dr. Said Ramadhan Al-Buthy yang berjudul Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam.

    Kutipan penjelasan ustadz Ahmad Sarwat Lc,

    *** awal kutipan ***
    Menurut Al-Albani, semua orang haram hukumnya merujuk kepada ilmu fiqih dan pendapat para ulama. Setiap orang wajib langsung merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Dan untuk memahaminya, tidak dibutuhkan ilmu dan metodologi apa pun. Keberadaan mazhab-mazhab itu dianggap oleh Al-Albani sebagai bid’ah yang harus dihancurkan, karena semata-mata buatan manusia.

    Tentu saja pendapat seperti ini adalah pendapat yang keliru besar. Ilmu fiqih dan mazhab pada ulama yang ada itu bukan didirikan untuk menyelewengkan umat Islam dari Al-Quran dan As-Sunnah. Justru ilmu fiqih itu sangat diperlukan sebagai metodologi yang istimewa dalam memahami Quran dan Sunnah.
    *** akhir kutipan ***

    Tidak ada larangan seorang ulamapun bagi setiap muslim untuk tidak mengikuti mazhab. Jika seorang muslim merasa tidak cukup dengan hasil ijtihad imam mazhab, mereka harus didukung dengan kemampuan atau kompetensi sebagai seorang mujtahid. Selengkapnya mengenai syarat atau kompetensi sebagai mujtahid, silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/2010/03/31/imam-mujtahid/

    Dengan konsep “terjemahkan saja”, telah terjadi kesalahpahaman selama ini tentang anjuran bagi setiap muslim untuk merujuk langsung dengan Al-Qur’an dan Hadits tanpa memperhatikan kemampuan/kompetensi atau metodologi pemahaman.

    Contoh:

    Salah satu yang membatalkan wudhu’ adalah bersentuhan dengan perempuan (selain mahram) berdasar ayat 6 Surat al-Maidah. Ayat yang dibahas satu itu, tapi kenyataan pendapat mereka berlaian.

    Hanafiyah berpendapat bahwa yang dimaksud dnegan “al-lams” (bersentuhan) dalam ayat tersebut adalah bersetubuh. Sehingga wudhu’ hanya akan batal karena melakukan setubuh (Arab = jimaa’), dan tidak batal dengan sekedar bersentuhan kulit –baik ada syahwat saat bersentuhan atau tidak.

    Malikiyah dan Hanbaliyah mengatakan wudhu’ tidak batal bila tidak ada syahwat saat bersentuhan, dan batal jika disertai dengan syahwat. Karenanya, walaupun yang disentuh itu anak ingusan, bila ada syahwat, tetap batal.

    Hanbaliyah: hanya perempuan yang wajarnya menimbulkan syahwat saja yang membatalkan. Demikian, karena kedua madzhab (Malikiyah dan Hanbaliyah) ini melandaskan pendapatnya di samping pada ayat di atas juga pada beberapa hadis yang menyiratkan tidak batalnya wudhu’ hanya sekedar dengan bersentuhan biasa (tanpa syahwat).

    Syafi’iyah: tambah ketat lagi, baik ada syahwat atau tidak, jika yang disentuh itu perempuan yang sudah baligh maka membatalkan wudhu’. Argumennya, yang dimaksud dengan “al-lams” dalam ayat 6 surat al-Maidah itu adalah bersentuhan secara hakiki, antara dua kulit yang berlainan jenis, laki-laki dan perempuan yang sama-sama dewasa.

    Itu satu contoh kecil. Dan perbedaan-perbedaan yang lain pun terjadi karena demikian itu: metodologi istinbath (pengambilan dalil) yang berlainan.

    Apalagi memahami ayat-ayat mutasyabihat (memiliki arti banyak) seperti “Arrahmaanu ‘alal ‘arsy istawaa (QS Thaha [20]:5 ) diperlukan pemahaman yang dalam (hikmah) dan merupakan karunia Allah, diberikanNya kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Pada hakikatnya Allah ta’ala memperkenalkan diriNya kepada siapa yang dikehendakiNya saja.

    “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]: 269)

    Konsep “terjemahkan saja” merupakan sebuah kekeliruan dengan hanya bersandar pada sebuah ayat yakni “dengan bahasa Arab yang jelas”. (QS Asy Syu’ara’ [26]: 195)

    Padahal ada firman Allah ta’ala pada ayat lain yang menerangkan bahwa walaupun Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas namun pemahaman yang dalam haruslah dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten (ahlinya). “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)

    Kita paham bahwa jika kita ingin memahami lebih dalam firman Allah ta’ala, disamping makna kata dengan alat seperti nahwu, shorof, balaghoh dll, kita sebaiknya memperhatikan keutuhan kalimat, memperhatikan keutuhan ayat, kaitan dengan ayat-ayat sebelumnya dalam satu surat, kaitan dengan ayat-ayat lain dalam surat yang lain maupun hadits, asbabun nuzul.

    Konsep “terjemahkan saja” sangat berbahaya jika upaya pemahaman yang dilakukan untuk tujuan berdakwah atau bahkan untuk mensesatkan , mentakfirkan (kaum) muslim lainnya . Inilah yang disampaikan oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi agar kita tidak perlu mendengarkan dukhala ilmi (mereka yang berkecimpung dalam ilmu namun bukan ahlinya) pada pembukaan Forum Alumni Al Azhar VI, yang mengangkat tema tentang “Persatuan dalam Komunitas Ahlu Sunnah”. Silahkan lihat berita pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/27/ulama-bukan-ahlinya/ dan
    http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/27/ikhtilaf-dalam-persatuan/

    Saat ini ada kita temukan ulama yang berpegang hanya pada satu atau sebagian nash Al-Qur’an maupun Hadits dalam upaya mereka membenarkan apa yang mereka atau kaum mereka pahami sehingga mereka terjerumus kapada upaya pembenaran atau berdalih bukan pada upaya menegakkan kebenaran atau berdalil/berhujjah.

    Konsep “terjemahkan saja” sangat disukai oleh orang-orang yang telah diperingatkan bagi kita oleh Allah ta’ala yakni “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ). Mereka menggunakan konsep “terjemahkan saja” untuk mendalami Al-Qur’an dan Hadits dalam upaya pembenaran apa yang mereka pahami dan sekaligus untuk menumpahkan rasa permusuhan mereka.

    Salah satunya mereka gunakan konsep “terjemahkan saja” untuk menyebarkan paham pluralisme padahal pada hakikatnya agama hanyalah Islam. Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/21/agama-hanya-islam/

    Juga ditengarai dengan konsep “terjemahkan saja” digunakan untuk upaya mereka mendiskreditkan ulama-ulama muslim sehingga berbenturan dengan kaumnya atau tidak dipercayai lagi oleh kaumnya. Mereka berupaya mengurangi pengaruh ulama atas masyarakat/kaumnya dengan menyebarkan konsep kebebasan hati nurani yang bebas dari paham agama yakni dengan penyebaran paham liberalism dan sekularisme.

    Jadi sebuah kesalahpahaman jika kita menganjurkan bagi setiap muslim untuk merujuk langsung kepada Al-Qur’an dan Hadits tanpa mensyaratkan kompetensi atau kemampuan untuk berijtihad.

    Lebih baik sebagaimana pendapat jumhur ulama agar bagi mereka yang belum mempunyai kemampuan berijtihad untuk ikhlas menjadi seorang muqolid (mengikuti imam mazhab) kemudian diikuti merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits agar terhindar dari taqlid buta.

    Apa yang telah dihasilkan dan diwariskan oleh imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i maupun Imam Hanbali jauh telah melampaui daripada konsep “terjemahkan saja”. Bahkan mereka adalah imam-imam yang masih sempat bergaul langsung dengan para Salafush Sholeh.

    Begitu pula apa yang telah dihasilkan dan diwariskan oleh Imam Asy’ari dan Imam Maturidi , mereka telah jauh melampaui konsep “terjemahkan saja”. Mereka telah dapat menerangkan kepada kita akan sifat-sifat Allah berdasarkan petunjukNya.

    Mereka adalah orang-orang yang berkecimpung dalam ilmu dan yang ahlinya. Ulama yang berkompeten dibidangnya masing-masing.

    Begitupula apa yang telah dihasilkan dan diwariskan oleh imam-imam tasawuf, mereka telah jauh melampaui konsep “terjemahkan saja”. Perkataan atau pendapat mereka terlahir dalam bentuk nasehat yang menyentuh hati atau bimbingan agar kita bisa sampai kepada Allah ta’ala. Nasehat atau bimbingan mereka tidak memerlukan lagi dalil/hujjah karena mereka membimbing kita sampai kepada Allah yang Mengetahui makna dari seluruh firmanNya. Sungguh pada hakikatnya untuk memahami agama, Allah ta’ala lah yang membimbing hambaNya. Oleh karenanya marilah kita mengenal Allah (ma’rifatullah).

    Awaluddin makrifatullah, awal-awal agama ialah mengenal Allah

    Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, Siapa yang kenal dirinya akan Mengenal Allah.

    Firman Allah Taala :
    “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu“ (QS. Fush Shilat [41]:53 )

    Marilah kita berlomba-lomba menuju kepada Allah, berlarilah kepada Allah , “Fafirruu Ilallah” berlomba-loba untuk dapat seolah melihat Allah atau melihat Allah dengan hati.

    Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
    “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
    Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
    “Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
    Sayyidina Ali ra menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan …”.

    “Seolah-olah melihat Allah” adalah bukti bahwa telah sampai kepada Allah.
    Sebagai pembuktian nyata akan syahadat yang telah kita ucapkan merupakan “sidqan min qalbihi“ (betul-betul keluar dari qalbu)
    Itulah hakikat dari syahadat / “kesaksian” / “menyaksikan” / “melihat” /”syahid” bahwa “tiada tuhan selain Allah“

    Semoga kita semua dapat mencapai muslim yang Ihsan, muslim yang baik, muslim yang sholeh
    Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin,
    “Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.

    Wassalam

    1. jika Manhaj atau metodologi yang digunakan oleh pengikut Wahabi seperti yang dipaparkan MZ diatas , jelas jika yang diinginkan Wahabi adalah penghancuran Islam dari dalam , dapat dibayangkan jika Istinbatul ahkam hanya menggunakan cara ” Terjemahkan saja ” , Subhanallah sangat bodoh sekali al-bani itu , katanya Itiba` Salaf Manhaj Salafu sholihin kok ditinggalkan , weleh weleh , hancur nih agama kalo wahabi diikutin.

      1. Mas Syahid, kita harus tetap berprasangka baik dengan saudara kita yang telah bersyahadat.

        Kemungkinan besar ulama/syaikh saudara-saudara kita di pusat sana adalah korban dari pengaruh orang-orang yang telah diperingatkan bagi kita oleh Allah ta’ala yakni “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ). Kita sebut saja pengaruh kaum SPILIS.

        Dalam uraian kami di atas , kami jelaskan bagaimana konsep “terjemahkan saja” sangat digemari oleh kaum SPILIS.

        Kalau konsep “terjemahkan saja” dapat diterima oleh saudara-saudara kita yang telah bersyahadat maka kaum SPILIS akan menyampaikan apa yang mereka pahami terhadap Al-Qur’an dan Hadits.

        Jelas kaum SPILIS membaca dan memahami Al-Qur’an tanpa berwudhu dan mereka tidak akan mendapatkan karunia hikmah (pemahaman yang dalam).

        Kaum SPILIS membaca dan memahami Al-Qur’an dan Hadits untuk menumpahkan rasa kebencian mereka kepada kita

        Kesalahan besar ulama-ulama di wilayah kerajaan Saudi (pusat Salafi Wahabi) membiarkan diri mereka bersekutu dengan Amerika atau kaum SPILIS.

        Bahkan mereka bekerjasama menyusun kembali kurikulum pengajaran/pendidikan dengan kaum SPILIS dengan harapan menghapus segala apa yang mengarah kepada fanatisme terhadap kelompok-kelompok agama lain.

        Kaum SPILIS seolah-seolah membuka wawasan para ulama Salafi Wahabi dengan diterimanya konsep “terjemahkan saja”.

        Semua itu karena mereka Amerika teman kepercayaan dan penasehat bagi kurikulum pendidikan.

        Padahal Allah ta’ala telah memperingatkan dalam firmanNya yang artinya.

        “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)

        “Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (Ali Imran, 119)

        “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”
        (Qs. Al Mujadilah : 22)

        Contoh fakta kecil, coba saksikan dua video berikut ini.

        Video pertama
        http://www.youtube.com/watch?v=690j3fAWIZY Kalimat Pedang – 1 di mulai menit ke 2:56

        dan kemudian di lanjutkan pada video kedua

        http://www.youtube.com/watch?v=48kUEx9iGk8 Kalimat Pedang – 2

        Berikut sebagian transkript subtitle yang kami dapat salin dari melihat kedua video tersebut

        ***** awal transkript subtitle *****
        Setelah bertahun-tahun melakukan pengawasan dan persiapan, salibis berhasil mengeset waktu untuk merubah kurikulum pelajaran di negeri dua tanah suci

        Perwakilan pemerintah Amerika:
        ”Selama bertahun-tahun kami bekerja sama dengan pemerintahan Saudi untuk urusan menghapus segala apa yang mengarah kepada fanatisme terhadap kelompok-kelompok agama lain di dalam kurikulum pelajaran di Arab Saudi dan di beberapa tempat lainnya”. ”Hasilnya, pemerintahan Saudi di bulan Juli 2006 telah menetapkan untuk keperluan mengkoreksi dan memperbaharui buku-buku pelajarannya, juga menghilangkan semua celah besar yang mengarah pada kebencian terhadap berbagai kelompok dan agama lain”
        ”Sedangkan pemerintah Saudi telah menyebutkan bahwa mereka akan menyelesaikan proyek ini, di awal tahun pelajaran 2008”

        Adapun langkah yang berbahaya adalah apa yang dilakukan Raja Abdulloh yang meminta untuk mendekatkan berbagai agama dan menyetujui suatu agama yang diridhoi oleh PBB dan dianut oleh seluruh bangsa.

        Raja Abdullah:
        ”Saya meminta kepada seluruh agama yang turun dari langit” (samawi)
        ”Untuk berkumpul dengan saudara-saudara mereka dalam satu iman dan ketaatan kepada seluruh agama, karena kita menghadap kepada satu Tuhan”
        ”Saya pernah berpikiran untuk mengunjungi Vatican, dan sayapun telah mengunjunginya”
        ”Sayapun bertemu dengan Paus dan saya berterima kasih padanya”
        ”Saya berterima kasih (karena) dia menemui saya”
        ”Saya tidak akan melupakan pertemuan seorang manusia dengan seorang manusia”
        ”dan ketika itu aku tawarkan ide ini kepadanya yaitu untuk menghadap kepada Tuhan ~ Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~”
        ”Menghadap kepada Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Mulia, dalam apa yang Dia perintahkan dalam agama-agama yang turun dari langit dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an”
        ”Kita meminta kepada Tuhan Yang Maha Mulia lagi Perkasa agar memberi petunjuk pada kita semua”
        ”Semua agama-agama ini kepada satu kalimat yang diperintahkan oleh Tuhan ~Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~ untuk dilaksanakan oleh manusia”
        ”Insyaallah dalam waktu sedekat mungkin, dan ketika kita berkumpul dan telah disetujui, Insyaallah, semuanya dalam kebaikan ~ semua agama”
        ”Saya akan pergi ke PBB, Saya juga yakin hingga orang yang beriman dengan Abrahamisme”
        ”Saya juga menginginkan mereka …. tapi ketiganya ini wajib bagi mereka Taurat, Injil dan Al-Qur’an dan selebihnya Insyaallah semuanya baik”
        ”Pada mereka ada kebaikan, karena kemanusiaan mereka juga bagus”
        ”karena moral mereka juga bagus dan karena negara mereka juga bagus dan karena semuanya adalah keluarga”

        Sungguh keluarga Saud telah memulai ~dalam kemurtadan yang jelas ~ mepersiapkan sebuah agama baru , dan itu dilakukan dengan beberapa langkah. Yang pertama adalah konferensi Makkah yang terakhir yang mengumpulkan beberapa kelompok sesat dan menyimpang dari hukum Allah untuk menyetujui agama yang baru. Sebagaimana pada fase berikutnya ditawarkan kepada Yahudi, Nasrani dan Budha di konferensi Spanyol dengan munculnya sebuah agama yang disetujui oleh PBB dan agar bisa diterima oleh semuanya. Padahal cukuplah Allah bagi kita, dan (Dia lah) sebaik-baiknya Pelindung.
        ***** akhir transkript subtitle *****

        Inilah permasalah besar dunia Islam sesungguhnya.

        Bagaimana kita telah diporakporandakan oleh kaum SPILIS bahkan telah nyata masuk ke wilayah kerajaan dinasti Saudi.

        Namun kita harus selalu ingat bahwa segala permasalahan, segala cobaan, segala kebutuhan dan keinginan kita adalah kehendak Allah ta’ala. Pada hakikatnya kita diakhirat nanti akan ditanyakan bagaimana sikap/perbuatan kita menghadapi kehendak Allah.

        Untuk itulah kita harus menjaga ukhuwah Islamiyah, Ikhtilaf dalam persatuan.

        Marilah kita ingatkan saudara-saudara kita yang telah terkena pengaruh kaum SPILIS melalui perantaraan pemahaman Salafi Wahabi.

        Konsep “pemisahan” Allah, bahwa “Allah itu dekat dengan ilmuNya, sedangkan dzatNya bertempat di atas langit atau tepatnya di atas Arasy” adalah hasil dari konsep “terjemahkan saja”.

        Kata mereka itulah yang difirmankan Allah ta’ala , kita tidak boleh memahami dengan akal (ro’yu). Menurut mereka memahami dengan akal menyalahi konsep berserah diri. Padahal memahami dengan akal adalah yang kita maksud dengan metodologi istinbatul ahkam.

        Benar, Allah itu di atas Arasy namun Allah itu dekat dengan kita. Keyakinan ini sebenarnya sama dengan Allah itu Dzahir dan Allah itu Bathin atau Allah itu Awal dan Allah itu Akhir. Keyakinan yang seolah-olah kontradiksi tidak bisa dipahami dengan konsep “terjemahkan saja”

        Apa yang diupayakan oleh kaum SPILIS adalah “meletakkan” Tuhan di tempat yang paling tinggi, seolah-olah mereka mensucikan Tuhan dan tidak mencampurkan dengan urusan dunia yang kotor.

        Pikiran/Akal kita dipetakan kembali oleh kaum SPILIS sehingga kita tidak disadari akan lupa bahwa Allah itu dekat.

        Sehingga semakin sukar kaum muslim dapat mencapai tingkatan Ihsan atau muslim yang baik atau muslim yang sholeh. Hal ini juga dibantu dengan “pencitraan buruk” terhadap tasawuf dalam Islam.

        Semua ini barulah analisa kami saja.

        Sekali lagi marilah kita atasi permasalahan ini dengan semangat Ukhuwah Islamiyah. Kaum SPILIS mengharapkan kita terpecah belah dan kemudian musnah.

        Wassalam

  115. Alhamdulillah , ada pula artikel yang isinya sama dengan apa yang telah kami sampaikan. Silahkan berkunjung

    Tampak yang telah berkunjung ke sana , mas mamo.

    1. iya Bang Zon ….artikel yang sangat bagus …….hanya saya agak bosan diskusi dgn saudara2 kita ……mereka masuk blog2 yang tidak sepaham dgn mereka diawali dgn niat ” PERANG DALIL ” jadi bukan niat cari ilmu atau mendalami iman …..jadi kadang saya komen santai aja …….mereka lupa firman2 Alloh ada yang tersurat , yang tersirat , yang tersembunyi ,……yang tersirat aja kadang bikin kita sulit memahaminya …apalagi yang tersembunyi …….namun hal itu kan sudah dikaji oleh para imam2 mahzab kita tinggal memakai …….wallohualam ……

      1. Untuk mengetahui makna sesungguhnya dari seluruh firman Allah atau bagaimana kita “mencari” firman Allah yang tepat dan dapat memecahkan permasalahan yang ada, satu-satunya cara adalah bertanya kepada Allah Azza wa Jalla, Untuk itulah kita harus mengenal Allah (ma’rifatullah) dengan terlebih dahulu mengetahui keadaan diri kita sendiri. Semua itu hanya dapat diperoleh dengan melakukan “perjalanan” menuju kepada Allah ta’ala dengan fiqih, ushuluddin/i’tiqad sebagai syarat perjalanan (syariat), sebagai rambu-rambu maupun petunjuk perjalanan agar kita sampai kepada Allah ta’ala

        Perjalanan inilah yang dinamakan tasawuf dan perlu pembimbing perjalanan (mursyid) yakni mereka yang telah sampai kepada Allah ta’ala.

        “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” ( QS An Nisaa’ [4]:175 )

        Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
        http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/24/perjalanan-hidup/

        Wassalamualaikum

        Zon di Jonggol
        (sekedar teman perjalanan)

  116. Ya betul, komentarnya banyak dan ada yg terlalu panjang dari Bang Sufi Mutiara, bikin pusing bacanya, he he he…. habis panjaaaaannnng banget.

    1. he….he….tulisannya mengandung unsur2 syetan ……penuh profokasi HOBINYA syetan ,……..penuh penuh su’uzon makanannya syetan….

    2. @. luvi sapitri

      anda cowok apa cewek ? kok ngomongnya asal jeplak aja , melebihi jablay doli ? tolong jangan perlihatkan ketololan anda di Blog ini, tolong jangan kaya keledai yang gak mempan diomongin.

  117. Wahai para pengunjung blog tercinta ini.

    Kalau kita mendalami tasawuf maka Insyaallah, kita tidak akan mencela, menghina, menghujat manusia atau mensesatkan, mentakfirkan hamba-hamba Allah yang telah bersyahadat.

    Pada hakikatnya semua itu akan kembali kepada kita. Kalau kita berbuat kebaikan maka pada hakikatnya akan kembali kepada kita berupa kebaikan pula (pahala atau akhir yang baik).

    Benarlah yang diibaratkan kalau kita “menunjuk” jari kepada seseorang, pada hakikatnya empat jari menunjuk kepada kita sendiri.

    Semakin besar kita berupaya untuk menghina orang lain maka semakin terhinalah diri kita. Ini sunatullah.

    Alhamdulillah, kami telah tuliskan bahwa Rasulullah bertasawuf, silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/11/rasulullah-bertasawuf/

    Semoga kita semua dan saudara-saudara kita Wahhabi / Salafi mendapatkan petunjuk dan hidayahNya

    Wassalamualaikum

  118. Ping-balik: - Ummati Press

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker