Fikih Sunnah

Kesalahan Ahli Bid’ah dalam Memahami “Bid’ah” Sehingga Menjadi Fitnah Islam

Bid’ah Itu Tidak Otomatis Haram Atau Berdosa

Vonis Bid’ah ala Wahabi terhadap amalan-amalan Kaum Muslimin benar-benar terbukti menjadi  Fitnah Islam. Bagaimana tidak menjadi fitnah Islam ketika ada orang baca surat Yasin dalam “Yasinan” divonis berdosa? Baca Tahlil dalam tahlilan berdosa, Dzikir Jamaah berdosa, baca kisah Maulid Nabi berdosa, tabligh akbar memperingati Isro’ Mi’roj berdosa, dan masih banyak lagi contohnya. Ini akibat kaum Wahabi salah dalam memahami kata “BID’AH”, makanya mereka salah juga ketika menerapkannya sehingga justru kata “Bid’ah” menjadi vonis hukum satu-satunya, yaitu hukum haram sehingga berdosa jika melakukan hal Bid’ah. Lebih jelasnya sehingga Bid’ah itu sama dengan hukum haram. Inilah kesalahan fatal dari pemahaman Bid’ah.

Kesalahan Wahabi dalam memahami kata “BID’AH”, adalah mereka memahami bid’ah sebagai suatu hukum, yaitu hukum haram. Padahal Bid’ah itu bukan hukum tetapi justri bid’ah adalah obyek hukum.  Sebab Bid’ah adalah “hal baru” yang mana “hal baru” ini tidak semuanya haram. Tetapi “hal baru” bisa menjadi Haram, menjadi Wajib, makruh, mubah, dan Mandubah. Demikian pemahaman tentang bid’ah oleh para Salafus Sholihin seperti Imam Syafi’i, Imam Ibnu Hajar Alatsqolani, Imam Nawawi dll.

Untuk lebih mendalami pemahaman bab Bi’d’ah ini silahkan baca dan simak uraian yang benar-benar bagus ini. Semoga bermanfaat….

amaliah sesat di bulan ramadhan 1 - Kesalahan Ahli Bid'ah dalam Memahami "Bid'ah" Sehingga Menjadi Fitnah Islam

MEMAHAMI KALIMAT:  “KULLU BID’ATIN DHOLALAH; SETIAP BID’AH ADALAH SESAT”

Oleh: Ibnu Mas’ud

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة).

Sesungguhnya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rosyidin. Gigitlah sunnah itu dengan geraham kalian (yakni; peganglah jangan sampai terlepas). Dan berhati-hatilah terhadap PERKARA YANG BARU, maka sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Syaikh Sholeh Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, hal: 639-640). Al-Utsaimin mengatakan, “Hukum asal dari perbuatan-perbuatan baru dalam urusan dunia adalah HALAL. Jadi bid’ah dalam urusan-urusan dunia itu HALAL, kecuali ada dalil yang menunjukan akan keharamannya. Tetapi hukum asal dari perbuatan-perbuatan baru dalam urusan agama adalah DILARANG, jadi bid’ah dalam urusan-urusan agama adalah HARAM dan BID’AH, kecuali adal dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan keberlakuannya.”

Melalui tulisannya yang lain Al-Utsaimin telah melanggar hukum yang dibuatnya sendiri dalam Al-Ibda’ fi Kamal Al-Syar’i wa Khathar Al-Ibtida’, hal 13. Dia mengatakan tentang hadits Nabi, ”(Semua bid’ah adalah sesat) adalah bersifat general, umum, menyeluruh (tanpa terkecuali) dan dipagari dengan kata yang menunjuk pada arti menyeluruh dan umum yang paling kuat yaitu kata-kata “kullu (seluruh)”. Apakah setelah ketetapan menyeluruh ini kita dibenarkan membagi bid’ah menjadi tiga bagian, atau menjadi lima bagian? Selamanya ini tidak akan pernah benar.”

BACA :  Penjelasan Tentang Pembagian Bid’ah ke Dalam Lima Bagian

Dalam pernyataannya diatas Al-Utsaimin menegaskan bahwa “SEMUA BID’AH adalah SESAT”, bersifat general, umum, dan menyeluruh terhadap seluruh bid’ah, tanpa terkecuali, sehingga tidak ada bid’ah yang disebut BID’AH HASANAH. Namun mengapa dalam pernyataannya yang pertama dia membagi bid’ah ada yang HALAL dan yang HARAM, juga ada bid’ah Dunia dan Bid’ah Agama, bukankah kullu di situ dikatakannya sebagai general (umum)? Beginilah LUCU-nya dan KONTRADIKTTIF-nya, bagaimana  banyak orang tidak mampu melihat ironisme difinisi Al-Utsaimin ini?

Berbeda sekali ke’arifan dan kebijakannya dalam menetapkan hukum jika dibandingkan dengan ulama-ulama yang masyhur seperti Imam Nawawi misalnya, dalam memahami hadits Nabi “SEMUA BID’AH ADALAH SESAT”, dalam Syarah Shahih Muslim, jilid 6 hal: 154, beliau sangat hati-hati dengan kata-kata “SEBAGIAN BID’AH ITU SESAT, BUKAN SELURUHNYA.” Hadits “KULLU BIDH’ATIN DHOLALAH”, ini adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Maka para ulama membagi bid’ah menjadi dua, BID’AH HASANAH (baik) dan BID’AH SYAIYI’AH (buruk). Lebih rinci bid’ah terbagi menjadi lima bagian sesuai dengan jumlah hukum islam, yaitu wajib, sunnat, haram, makruh dan mubah.

Al-Hamid Al-Husaini dalam Al-Bayan Al-Syafi fii Mafahim Al-Khilafiyah (Pembahasan Tuntas Masalah Khilafiyah) menjelaskan bahwa bid’ah terbagi menjadi lima bagian yaitu:

1. Bid’ah Wajib; seperti mengumpulkan lembaran Al-Qur’an menjadi mushhaf, menyanggah orang yang menyelewegkan agama, dan belajar bahasa Arab, khususnya ilmu nahwu.

2. Bid’ah Mandub; seperti membentuk ikatan persatuan kaum muslimin, mengadakan sekolah-sekolah, mengumandangkan adzan melalui pengeras suara, mengerjakan kebajikan yang pada masa pertumbuhan islam belum pernah dikerjakan orang.

3. Bid’ah Makruh; seperti menghias masjid-masjid dengan hiasan-hiasan yang tidak pada tempatnya, dan mendekorasi kitab-kitab Al-Qur’an dengan lukisan-lukisan dan gambar-gambar yang tidak pada semestinya.

4. Bid’ah Mubah; seperti menggunakan berbagai peralatan makan dan minum, memakan makanan dan minuman yang mengesankan kemewahan dan berlebih-lebihan.

5. Bid’ah Haram; semua perbuatan yang menyalahi sunnah dan tidak sesuai dengan dalil-dalil umum hukuk syari’at dan tidak mengandung kemashlahatan yang dibenarkan oleh syara’.

Soal sunnah dan bid’ah biasanya menjadi pangkal perbedaan dan perselisian pendapat. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya pengertian yang benar mengenai makna dan maksud dua perkataan itu.

Sunnah dan bid’ah adalah dua soal yang saling berhadap-hadapan dalam memahami ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Rasulullah saw sebagai Shahibusy Syara’ (yang berwenang menetapkan hukum syari’at). Keduanya tidak dapat ditentukan batas-batas pengertiannya, kecuali jika yang satu sudah dapat ditentukan pengertiannya lebih dulu. Tidak sedikit orang yang menetapkan batas pengertian bid’ah tanpa menetapkan lebih dulu batas pengertian sunnah, padahal Sunnah itulah yang menjadi pokok persoalan.

banner gif 160 600 b - Kesalahan Ahli Bid'ah dalam Memahami "Bid'ah" Sehingga Menjadi Fitnah Islam

Orang-orang yang anti bid’ah biasanya mereka mengklaim sebagai pengikut sunnah, padahal mereka belum mengetahui batas pengertian sunnah. Ironisnya mereka sendiri sebagai pelaku bid’ah namun tidak menyadarinya, dikarenakan mereka juga tidak mengetahui batas pengertian bid’ah itu sendiri. Karena itulah mereka terperosok pada pemikiran sempit dan tidak dapat keluar meninggalkannya, dan akhirnya mereka terbentur pada dalil-dalil yang berlawanan dengan pengertian mereka sendiri tentang bid’ah.
Imam Muslim, Ahmad dan Nasa’i mentakhrij dari Anas bin Malik serta Imam Bukhari mentakhrij dari Abu Musa Al-Asy’ary bahwa ketika Rasulullah mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman untuk berdakwah beliau bersabda: “Mudahkanlah mereka dan jangan mempersulitnya, gembirakanlah mereka dan jangan membuatnya bersedih”. Dalam haditz tersebut memberikan pengertian akan fleksibelitas ajaran islam. Hal itu berhubungan langsung dengan perbedaan dan perselisihan pendapat, mengenahi sunnah dan bid’ah.

BACA :  Bid'ah Menurut Penjelasan Para Ulama Aswaja

Imam Muslim juga mentakhrij dari Jabir r.a dan Imam Bukhari mentakhrij dari Ibnu Mas’ud r.a dalam khutbah Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya tutur kata (hadits) yang terbaik adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan petunjuk yang terbaik adalah petunjuk Muhammad s.a.w. Sedangkan persoalan yang terburuk adalah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” Makna hadits tersebut diperkuat oleh hadits Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majjah dan lainnya, Rasulullah bersabda, “…..Orang yang hidup sepeninggalku akan menyaksikan banyak perselisihan, maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin. Gigitlah sunnah itu dengan geraham kalian (yakni; peganglah jangan sampai terlepas). Hati-hatilah terhadap persoalan yang diada-adakan, karena setiap bid’ah adalah sesat.” Juga sabda beliau, “Barangsiapa yang di dalam agama kami mengadakan sesuatu yang tidak ada maka ia tertolak.” Dan sebagainya.

1. Pengertian Sunnah

Makna sunnah menurut dua istilah itu bukan yang dimaksud dalam pembicaraan mengenai makna Hadits Rasulullah saw. Sebab yang dimaksud “sunah” dalam hal itu adalah “Sunnah Rasul”, yakni jalan yang beliau tempuh, baik dalam bentuk amal perbuatan maupun perintah. Maka sesuatu yang baru diadakan (yang belum ada sebelumnya) harus dihadapkan, dipertimbangkan dan dinilai berdasarkan sunnah Rasulullah s.a.w. Jika yang baru diadakan itu baik, sesuai dan tidak bertentangan dengan jalan yang ditunjukkan beliau, ia dapat diterima. Namun jika sebaliknya, ia harus ditolak.

Syaikh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Iqtidha’us Shirotil Mustaqim” mengatakan sebagai berikut, “Sunah Jahiliyah adalah adat kebiasaan yang berlaku dikalangan Jahiliyah. Jadi kata “sunnah” dalam hal itu berarti “adat kebiasaan”, yaitu jalan atau cara yang berulang-ulang yang dilakukan oleh orang banyak, baik mengenai soal-soal yang dianggap sebagai peribadatan maupun yang lainnya.” Karena itu kita dapat memahami sunnah Rasulullah dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi pada zamannya, yaitu persoalan yang tidak dilakukan, tidak diucapkan dan tidak diperintahkan oleh beliau, tetapi dipahami dan dilakukan oleh orang-orang yang ahli ijtihad (Para shahabat, tabi’in dan para ulama’) dengan tetap berpedoman dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, tidak sepantasnya disebut sesuatu yang diada-adakan yang sesat (bid’ah dhalalah).  Karena sunnah Rasulullah mancakup empat macam, yakni Sunnah Qauliyah (ucapan), Fi’liyah (kerjaan/tindakan), Taqriyah (pengakuan) dan Hammiyah (cita-cita/keinginan). Dan keempatnya sampai saat ini diikuti oleh umatnya.

BACA :  Tidak Haram Berzikir Dengan Biji Tasbih

2. Pengertian Bid’ah

Dalam kitab Al-Qawa’idul Kubra Imam Izzuddin Ibnu Abdissalam memilah-milah “bid’ah” menurut kandungan dan cakupannya, apakah mengandung mashlahah (kebaikan) atau mafsadat (keburukan), ataukah kosong dari keduanya. Atas dasar itu ia membagi sifat bid’ah menjadi lima sesuai dengan lima kaidah hukum syara’, yaitu Wajib, Mandub, Haram Makruh dan Mubah. Banyak ulama yang menilai pendapat ini sangat cermat dan tepat seperti pendapat Muhammad bin Ismail Al-Kahlani (Ash-Shon’ani) membagi bid’ah ada lima bagian dalam kitab Subulus Salam syarah kitab Bulughul Maram, Imam Nawawi dan lainnya. Mereka menyatakan bahwa penerapannya tentu menurut keperluan dalam menghadapi berbagai kejadian, peristiwa dan keadaan baru yang ditmbulkan oleh perkembangan masyarakat. Mereka mengingkari pemikiran dan pandangan yang obyektif seperti itu, dan tetap bersitegang mempertahankan pengertian keliru dan kurang bijak tentang “Kullu Bid’atin Dhalalah” (setiap bid’ah adalah sesat).

Jika anggapan bahwa setiap yang diada-adakan dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah itu sesat, ada baiknya memperhatikan sejarah al-Qur’an dan al-Hadits yang dibukukan dan bisa dirasakan manfa’atnya sampai saat ini adalah hasil dari yang diada-adakan (bid’ah), karena Rasulullah tidak pernah menyuruh Zaid bin Tsabit untuk membukukan al-Qur’an atau menjadikannya mushhaf, juga melarangnya untuk tidak menulis apa yang pernah diucapkan dan dilakukannya (sunnah-sunnah Rasulullah).

Imam Bukhari, Muslim dan lainnya mentakhrij dari Rifa’ah bin Rafi’ berkaitan seseorang yang menyusul ucapan Rasul “Sami’allohu liman hamidah” waktu I’tidal dengan ucapan “Robbana lakal-hamdu katsiron mubarokan fiihi.” Selesai shalat Rasul tidak memarahi orang tersebut bahkan bersabda, “Aku melihat lebih dari tigapuluh Malaikat berpacu ingin mencatat do’a kamu itu lebih dulu.” Begitu juga ketika ada seorang jama’ah yang menambahkan do’a iftitah Rasul dengan kalimat “Allahu akbar kabiran wal-hamdu lillahi katsiran wa subhanallahi bukratan wa ashilan” beliau bersabda, “Aku melihat pintu-pintu langit terbuka bagi kalimat itu.” (HR. Nasa’i dari Ibnu Umar)

Ketika Rosululloh mendapat hadiah daging kelinci beliau menyuruh para shahabatnya untuk memakannya, juga kepada Umar bin Khaththab, namun Umar berkata bahwa ia sedang puasa, lalu Rasul bertanya, “puasa apakah itu?” Umar menjawab, “ puasa pada tanggal 13, 14 dan 15” Maka Rasul Bersabda, “Benar engkau umar, lakukanlah puasa pada hari yang putih bersih (yaum al-bidh) yaitu tanggal 13, 14 dan 15.” (HR. Baihaqi dari Umar bin Khaththab)

Contoh-contoh riwayat di atas adalah HAL BARU dalam agama (BID’AH) oleh para sahabat yang DILEGALKAN oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, dimana sebelumnya tidak dicontohkan oleh beliau. Wallohu A’lam bish-Showab.

Semoga bermanfa’at untuk menambah wawasan dan kebersatuan umat Islam. Aamiin….

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

238 thoughts on “Kesalahan Ahli Bid’ah dalam Memahami “Bid’ah” Sehingga Menjadi Fitnah Islam”

  1. Kesalahan kaum Wahabi dalam memahami Bid’ah dimulai sejak Muhammad bin Abdul Wahhab sang perintis Wahabisme. Selama Bid’ah dipahami sebagai hukum haram/dosa, maka selama itu pula Wahabi akan menjadi sumber fitnah Islam. Bid’ah (hal baru) tidak selalu haram untuk dilakukan, sadarlah kalian wahai teman2 Wahabiyyin.

    Sebaiknya dalam masalah bid’ah ini kaum Sawah jangan malu belajar kepada kaum ASWAJA. Jangan mau seumur hidupmu menjadi sumber fitnah Islam, bertaubatlah dan jangan malu mengakui kesalahan agar dapat memperbaikinya. Ngajilah masalah ini bersama anak2 ASAWAJA.

    1. بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

      hadist ini shahihkan ?

      أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة).

      Sesungguhnya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rosyidin. Gigitlah sunnah itu dengan geraham kalian (yakni; peganglah jangan sampai terlepas). Dan berhati-hatilah terhadap PERKARA YANG BARU, maka sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

      kita harus mengamalkan, berkata, dan menyakini sesui dengan hadist ini, imam syafi’i berkata :

      “Bila suatu hadist shahih, itulah madzhabku” (Nawawi dalam al-majmu’)

      benar khan mas ?????????

  2. Bismillaah,

    Penulis mengungkapkan: “Contoh-contoh riwayat diatas adalah HAL BARU dalam agama (BID’AH) oleh para sahabat yang DILEGALKAN oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, dimana sebelumnya tidak dicontohkan oleh beliau.”

    Komentar dan pertanyaan:

    Rasulullaah memang sering melegalkan HAL-HAL BARU yang dilakukan oleh para sahabatnya. Namun, bagaimana dengan HAL-HAL BARU yang kita lakukan? Siapa yang melegalkannya? Tentu bukan Rasulullaah, kan? Lalu siapa?

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Bagaimana kitab-kitab hadist yang sahabat Umar bin Khatab ra tidak menyetujui pembuatan dalam bentuk kitab/buku yang ente baca, apakah itu bid’ah? kitab2 hadist kan hal-hal baru. berarti ente kudu hapal dari salafus salih langsung ya.

    2. ada hal-hal yang baru yang dilakukan sepeninggal rasul seperti contoh adzan jumat 2 x, membukukan al quran, memberi titik dan harokat pada lafadz al quran, menghidupkan kembali solat tarawih berjamaah setelah sebelumnya dihentikan oleh rasul karena khawatir menjadi wajib dan memberatkan ummat.pertanyaannya adalah apakah rasul melegalkan perbuatan-perbuatan itu? tapi kenapa para sahabat dan geberasi berikutnya tetap melakukannya? apakah dengan demikian mereka telah melakukan bid`ah dolalah yang berakibat mereka masuk neraka? mereka melakukan itu karena mereka tahu itu adalah yang terbaik dilakukan demi kemaslahatan ummat generasi berikutnya.
      so, belajarlah dengan ulama yang mu`tamad dan memiliki silsilah sanad yang jelas sehingga apa yang disampaikannya tidak menyelisihi mereka.
      berhati-hatilah dengan ucapan tentang agama yang keluar bukan dari ahlinya, berbicara tentang konsep2 dalam agama seperti bid`ah, ketuhanan, dll bukan dari ahlinya maka kita akan binasa.

    3. Mas suradi……….yang menentukan amalan baru itu bid’ah atau ndak ya..ulama, karena ulama adalah pewaris para Nabi. Ulama lah yang paham spirit agama ini, ulama lah yang paham mana yang tsawabit dan mana yang mutaghoyyirot, mana yang kaku dan mana yang bisa berubah…bukan seperti anak anak sekarang,…semua yang ikut ngaji dengan gampangnya bilang ini bid’ah…itu bid’ah. seolah olah semua telah mencapai derajat ulama.
      semoga menjadi bahan renungan.

  3. pemahaman tentang makna bid`ah sesungguhnya telah diselesaikan oleh para ulama yang kompeten dibidangnya khususnya ulama dari madzhab syafii. jika ada pemahaman makna bid`ah yang berbeda oleh ulama berikutnya jauh di bawah generasi para ulama yang mu`tamad, maka pemahaman makna bid`ah yang baru itu telah menyelisihi ulama sebelumnya dan cukup bagi kita untuk berpegang kepada ulama yang mu`tamad dari generasi terdahulu. sbb mereka lebih mengerti dan faham tentang apa yang mereka bicarakan tentang agama dibanding ulama-ulama sekarang.

  4. @mba kartika, kalo saya meski do’a kepada ortu saya misalnya telah meninggal nanti, oleh kamu wahabi dianggap tidak sampai, yasinan dianggap bid’ah, saya tetap akan melakukan, karena bakti saya kpd ortu saya insya Alloh melapangkan kubur mereka, menerangkan kubur mrk, mengurangi dosa-2 mrk…kasihan sekali para ortu-2 yg mempunyai anak-2 yg begitu gampangnya mengikuti wahabi, keras & membatu hatinya, tidak mau lagi mendo’akan ibu bapaknya, menjadi anak durhaka kepada ibu bapaknya….nauzubillah….

  5. Ibnu Suradi@

    Mas Ibnu Suradi, asalakan “hal baru” tsb tidak melanggar hukum Syari’at maka otomatis jadi legal. Demikian Mas Ibnu Suradi.

  6. Bismillaah,

    Ucep menulis: “Bagaimana kitab-kitab hadist yang sahabat Umar bin Khatab ra tidak menyetujui pembuatan dalam bentuk kitab/buku yang ente baca, apakah itu bid’ah? kitab2 hadist kan hal-hal baru. berarti ente kudu hapal dari salafus salih langsung ya.”

    Komentar:

    Kang Ucep silahkan kaji hadits tentang perintah Rasulullaah kepada umat Islam untuk mengikuti Sunnahnya dan sunnah kulafaurrasyidin. Umar adalah salah satu kulafaurasyidin. Jadi pembukuan hadits tersebut termasuk sunnah kulafaurasyidin. Kita boleh mengikutinya.

    Wallaahu a’lama.

  7. Bismillaah,

    Ummati menulis: “asalkan “hal baru” tsb tidak melanggar hukum Syari’at maka otomatis jadi legal.”

    Komentar:

    Siapakah yang menetapkan hal baru itu melanggar atau tidak melanggar syari’at? Bukankah hanya Allah dan RasulNya yang berhak menetapkannya?

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi@

      Yang jelas bukan Iblis yg melegalkannya.
      Di atas sudah dijawab singkat oleh Mas Admin, bahwa asalkan tidak melanggar Syari’at maka OTOMATIS jadi legal. Lihat kata berhuruf kapital “OTOMATIS”, jadi pertanyaan antum itu sangat lucu karena menunjukkan antum seorang yg TELMI (telat mikir/alias lambat berpikir/ atau tak mampu berpikir akibat jadi korban CUCI OTAK WAHABI? Wallohu a’lam….

  8. @ibnu suradi,
    ente hanya berani mempertanyakan yg bukan berkaitan dengan syariat, coba ente tanya kepada ustad2 ente, yg telah jelas2 merubah hukum syariat, bagaimana hukum merubah tempat Saii ini berkaitan dengan syariat tolong ente jawab!!!!, apakah dilegalkan oleh Rosulullah SAW,

    Wahabbi itu adalah ahli bid’ah yg sesungguhnya, wahabbi adalah pembohong besar!!!

    jd dengan aturan syariat aja sekte ente sanggup merubahnya, apalagi yg tdk brhubungan dengan syariat,, ‘Auzubilahhiminzalik.

    Allahumma inni ‘auzubikka minal kazziibi wan nifaq,

      1. Solusinya gampang, ndak usah haji ke Masjidil haram, karena terlalu banyak bid’ah, terus jangan ke Masjid Nabawi, karena bid’ah yang memasukkan qubur Nabi ke dalam masjid. Terusin saja ziarah makam wali & syekh, bukannya berdo’a di sana lebih makbul menurut aswaja (asy’ariyyah wal jahmiyyah)?

        Kalau ngomong jangan ngelantur mas. Perubahan2 itu sudah dikonsultasikan dengan ulama2, yang mempertimbangkan hadits2 Nabi SAW dan kelancaran pelaksanaan ibadah haji. Gak bisa dibayangkan kalau Masjidil Haram dikelola PBNU. Tambah ruwet karena non-muslim boleh masuk foto2, Arafah & Muzdalifah jadi tempat wisata, dll.

        1. @ bedul, ente yg ngelantur ngigau, bangun2 hr sdh siang dul???
          konsultasi dgn ulama2 fulus dan rebutan dolar,
          emang Mekkah dan Madinah milik moyangnya Wahabi yang Yahudi (kagak tau malu )???…he.he.he..

          Kaum Wahabi tidak merasa cukup hanya dengan berusaha merusak aqidah orang-orang Islam, selain itu mereka juga merusak ibadah haji orang-orang Islam yang tengah mereka kerjakan.
          Sesungguhnya semenjak zaman Rasulullah seluruh orang Islam melakukan ibadah sa’i antara Shafa dan Marwah di tempat khusus yang telah ditetapkan oleh Raslullah. Dalam sebuah hadits Rasulullah memberikan pelajaran tentang tata cara berhaji, beliau bersabda:
          خذوا عني مناسِككم
          “Ambilah dariku tata cara ibadah haji kalian”.
          Rasulullah tidak perah berkata: “Ambilah tata cara ibadah kalian dari para penguasa wahabi”.
          Tepatnya tanggal 24 Februari 2008 kaum Wahabi memulai proyek pelebaran tempat ibadah sa’i yang sebelumnya telah mereka rencanakan. Mereka ingin “dikenang sejarah” agar dicatat bahwa pelebaran tempat ibada sa’i telah dibangun oleh “tangan mereka”, tidak peduli walaupun itu menyalahi ketentuan-ketentuan syari’at.
          Lebar tampat ibadah sa’i sebenarnya adalah sekitar 35 hasta; atau sekitar 17,5 meter. Namun sekarang telah dirubah oleh dinasti Wahabi menjadi 55 meter, dengan menambahkan sekitar 38 meter dari yang telah ditentukan oleh Rasulullah. Proyek pelebaran ini tidak lain hanya untuk “memenuhi keinginan perut dan kekuasaan” mereka.

          Al Imam al Hafizh an Nawawi dalam kitab al Majmu’, juz. 2, hlm. 77, meriwayatkan perkataan Imam asy Syafi’i, menuliskan: “Imam asy Syafi’i berkata: Jika seseorang melakukan sa’i di suq al ath-tharin maka sa’i-nya tersebut tidak sah”.

  9. Bismillaah,

    Kang FerryASWAJA,

    Saya setuju anda mempertanyakan perubahan tempat Sa’i dalam ibadah haji. Apa dalil Qur’an dan hadits yang digunakan pemerintah Arab Saudi sebagai dasar hukum untuk menetapkan perubahan tersebut?

    Jika anda menanyakan hal itu kepada saya, maka saya pasti menjawab: “Saya tidak mengetahuinya.” Lagian saya bukanlah juru bicara negara tersebut. Jadi, saya tidak berhak menjelaskan permasalahan tersebut kepada siapapun.

    Wallaaahu a’lam.

  10. ferry ASWAJA:
    @ibnusuradi,
    entehanyaberanimempertanyakanygbukanberkaitandengansyariat,cobaentetanyakepadaustad2ente,ygtelahjelas2merubahhukumsyariat,bagaimanahukummerubahtempatSaiiiniberkaitandengansyariattolongentejawab!!!!,apakahdilegalkanolehRosulullahSAW,

  11. maaf mau tanya apa benar sayyid muhammad bin alwiy al maliki memuji syeikh muhammad bin abdul wahhab sebagaimana disampaikan di.. dan sudah di cetak versi indonesia diterbitkan ash-shohwah malang… terima kasih..

  12. Jangan kite mencampur adukkan bid’ah dalam pengertian syariat dengan bid’ah dalam pengertian bahasa dan kite harus melihat dalam memahami apakah sesuatu itu termasuk ibadah atau hanya sekedar ekspresi atau sebuah kecintaan. Sesungguhnya bid’ah yang dibicarakan dalam al-Qur’an dan sunnah adalah inovasi dalam urusan agama, yaitu dengan penambahan atau pengurangan dalam syariat Islam, seperti menambah jumlah raka’at shalat dll. Atas kata bid’ah seperti inilah Nabi saw mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Sedangkan segala sesuatu yang baru, yang didalamnya terdapat manfaat bagi kehidupan masyarakat, jika itu dilakukan tanpa menisbatkan pada agama dan ia bukan perbuatan yang diharamkan secara syariat, maka ia adalah bid’ah yang baik / hasanah. Misalnya, jika suatu bangsa merayakan hari kemerdekaannya dll yang kesemuanya pada dasarnya halal, maka tidak ada larangan untuk melakukannya.

    Keliru besar jika berpendapat bahwa semua syari’at Nabi terdahulu terhapus dengan syariat Nabi Muhammad saw. Ketahuilah bahwa syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tidak menghapus syari’at para Nabi terdahulu, melainkan menyempurnakan. Buktinya, semua ulama sepakat termasuk syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, bahwa syariat yang dibawa oleh Nabi Musa as, yang terkenal dengan sepuluh perintah Allah swt, masih berlaku dalam agama Islam kecuali satu saja yang dihapus. Tahukah anda bahwa kalimat suci “Bismillahirrohmanirrohim” sudah dipakai oleh Nabi Sulaiman as, ketika beliau berkirim surat kepada ratu saba’, seperti dikisahkan dalam al-Qur’an, dan kalimat itu menjadi kalimat pembuka dalam al-Qur’an. Demikian juga kite melihat bahwa do’a-do’a para Nabi terdahulu masih tercatat dalam al-Qur’an dan tetap dibaca oleh Nabi Muhammad saw maupun kite sekarang. Bukti ini menunjukkan bahwa sebagian amalan Nabi terdahulu tidak terhapus dengan kedatangan Nabi Muhammad saw, tapi disempurnakan.

    Nah suradi mencampurkan keduanya, silahkan ente campur2.

    1. kaya es aja kang …es campur hehehehe, saya pun bingung sama wahabi, kiblatnya ke MAW, bin bazz dll, tp ngambil juga dr mahzab 4, dicampur-2, diambil yg untuk kepentingan penguatan faham mereka….smg ibn suradi mengerti, tapi kalo dia merasa lebih pinter & benar, mentahlah semua yg telah ditampilkan oleh rekan-2 aswaja…semoga Alloh SWT memberi hidayah untuk mereka semua….

  13. mantab artikel diatas,…
    kesalahan dalam pemahaman beragama berakibat fatal,…
    alhamdulillah para aswaja memilih pendapat2 ulama2 yg terpercaya dan terdahulu,..bukan terkemudian….

  14. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Penulisan hadits sudah berlangsung padsa zaman Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

    Mohon disimak hadits berikut: “Dari Abu Hurairah ra beliau berkata; tidak ada seorang dari sahabat Nabi yang lebih banyak meriwayatkan hadits dariku selain Abdullah bin Amr bin Ash, karena sesungguhnya dia mencatat hadits sedangkan aku tidak.” (HR Bukhari dan Tirmidzi)

    Abdullah bin Amr bin Ash menuliskan hadits dan Rasulullaah mendiamkannya.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi

      Ini ane ambil dari Kitab Umar Bin Khatab ra karangan Muhammad Husein Haekal Hal : 695-6, tanpa dikurang titik komanya, buku terbaik yg universal tentang riwayat sahabat dan diakui Profesor2 Islam dunia.

      Sehubungan dengan Sunnah Rasulullah ini Umar memegang peranan penting sekali yang patut kita perhatikan dengan seksama. Umar termasuk orang sangat kuat imannya kepada Allah dan kepada Rasulullah dan yang sangat besar hasratnya ingin mengikuti segala yang dibawa oleh Rasulullah yang datang dari Allah serta meneladani segala yang dikatakan dan dilakukan oleh Rasulullah saw. Tetapi juga besar sekali hasratnya tidak ingin mencampuradukan Kitabullag dengan apapun dan merintangi apa yang kadang memalingkan Muslimin dari Al Qur’anul Karim. Dalam hal ini ia sangat kuat mematuhi prilaku Rasulullah dan prilaku Abu Bakar ra sesudahnya. Mengutip sumber tentang Rasulullah yang berkata :
      “Jangan menuliskan sesuatu tentang aku selain Qur’an. Barang siapa menuliskan itu selain Al Qur’an, hendaklah dihapus.”
      Dan katanya lagi :
      “Kalian akan berselisih sesudah kutinggalkan. Karena nya, apa yang dikatakan orang tentang diriku, cocokkanlah itu dari aku dan mana yang bertentangan, bukan dari aku.”

      Dari kecenderungan inilah yang dilihat Umar dalam kehidupan Nabi sampai ia wafat.

      Bagaimana Ibnu suradi ?, ente masih berkelit?, Rasulullah saw sendiri menyuruh menghapus.
      Ente mesti jujur – Kitab-kitab yang ada yang ente baca mestinye ente bilang BID’AH Dholalah dong!!!.

      Ulama-ulama ASWAJA pasti seorang Hafidz yang hapal hadist sampai ribuan jumlahnya dan mendapat ijazah dari sang guru (seperti Habib Munzir Al Musawa), bagaimana dengan Al Bani yang ente jadiin pegangan hapalnya Cuma 10 hadist.

      1. بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ mas saya pernah dengar dari pengajian ada sahabat yang diizinkan Rasululloh untuk menulis hadist, mungkin saya akan tanyakan lagi siapa sahabat tsb, dimana riwayatnya ? semoga itu bisa sebagai dalil dari penulisan hadist, wallohu ‘alam.

        untuk habib Munzir Al Musawa, apa benar mas hafal hadist ribuan ? pengajian hadistnya dimana mas ? saya pengen juga je ? muga-muga saya seperti orang-orang dari organisasi NU yang beragama dengan sanad, (itu yang diucapkana syaikh hasyim asy’ari), saya bener-bener mendabakan seperti itu !!!!!! oh ya kalau umpamanya gak bisa datang ada rekaman ceramahnya hadistnya nggak ?

        1. @Fatayah ul Haq
          Begini, waktu dijaman bani umayah berkuasa abad 1 H, banyak orang2 diluar islam belajar ilmu2 islam, seperti ilmu fiqih, Hadist, tauhid .. dll, bahkan ilmu pengetahuan Ilmu Falaq (yg jadi Astronomi), matematika (Al Gab akhirnya berubah menjadi Aljabar dll). Mungkin disinilah para pelajar menulis hadist2 atau riwayat (analisa ane ya), karena dikhawatirkan hilang, terbukti saat ini manuskrip2 asli banyak disimpan diperpustakaan Negara Canada dan Perancis.

          Tentang Habib Munzir coba ente buka di blognya :
          http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=8&id=24504#24504
          Dia seorang Hafizd berarti telah hafal minimum 100.000 Hadist bersanad.
          atau buka2 aja artikel diblog ummati ini atau mas @admin bisa bantu ?.

    1. hehehehehe ga bisa-2 masuk disitu boss, dah disensor sama agan Firanda…. blog sawah yg lain juga kebanyakan rule buat kasih komen, coba di mari..gampang kan???

  15. permisi, saya pernah lihat ada link ke blog yg memberitakan firanda di cap ahli fitnah oleh ulama besar Madinah dimana yah??? tolong tampilkan lagi yah..terima kasih sebelumnya

    1. yang in bang nasrulloh maksud
      Ustadz Firanda Diperingatkan; Aqidah “Allah di atas Langit (Fisikly)” Hanyalah Aqidah Karangan dan Merupakan “Wahyu” dari Syetan

  16. Alhamdulillah mas admin, tadi sempat hang, gak bisa masuk.
    Sekali lagi terima kasih mas admin yang memperjuangkan Aswaja, semoga amal baik mas admin mendapat Ridho dari Allah swt. Amiin.

    1. ucep@

      Ya, alhamdulillah Mas Ucep, terimakasih do’anya….

      Kami akhir-akhir kebanjiran spam dari luar negeri, jadi kami sekarang memberlakukan PASSWORD bagi komentator. PASSWORD-nya tinggal COPAS di kolom yg tersedia. Mesin-mesing pengirim Spam tidak akan mampu menembus sebab tidak punya kemampuan menulis PASSWORD.

      Jadi bagi semua komentator agar Koment anda terkirim tanpa ERROR jangan lupa COPAS itu PASSWORD di kolom yg tersedia. Mohon maaf jadi sedikit agak merepotkan anda semuanya.

  17. @ucep
    kalo hanya cuap2 kasih komentar yg tidak ilmiyyah, yaa wajar di tolak komentarnya, baiknya antum buat artikel ditulis di ummatipress ini, untuk membantah artikel ust. firanda saja, seperti ust. ahmad syahid, gimana cep?

    @nasrulloh
    mengenai salafybpp itu masalah yg lain, seperti perbedaan pendapat diantara imam2 ahlussunnah, sudah biasa beda seperti itu.

    dan ttg habib munzir itu juga masalah yg lain, nah sekarang yg ditunggu tanggapan balik dari habib munzir sendiri, silahkan dibantah secara ilmiyyah, baik melalui internet atau mencetak buku lagi (yg khusus membantah ust. firanda), gampang kan ?

    karena ust. firanda, sekarang lagi nunggu bukti2nya daru habib munzir, sepertinya cukup fair.

    1. hahahahaha ente dibilangin ga bisa-2 dari rekan-2 ummati masuk kesitu, boos ente aja yg masuk disini, ga pake disensor kok, kalo keluar komen-2 yg kasar paling kita tegur aja spy lebih sopan…sono bilangin boss ente, punya blog kok susah amat masuknya, dipilih-2 cuma kaum sawah aja yg manut-2 sama dia , baru deh ditampilin…dari ummati spt : Mas Syahid, Mas Dianth, Kang AI, Kang ucep, Kang Naka dll ( maaf kalo yg ga disebut ), pastinya mempunyai argumen yg ilmiah & santun, ga seperti temen-2 ente tuh, kalo komen di mari spt ga ber akhlak, ga bermoral, ga berpendidikan, cuma bisanya HIT & RUN aja….cepet suruh boss Firanda kesini aja yg gampang bikin komen…..

    2. @anas
      – La wong sudah ada artikel bantahan Firanda dibolg ini, tapi komen2 kaum sawah gak pernah ada yang pas sama artikel.
      Yang ilmiah gimana sih, yang ilmiah itu menurut ente tunjuk2an Ayat AlQur’an dan Al Hadist, itu sih gak ilmiah sama aja ente bertaruh antara surga ama neraka.
      -Gak terbalik, harusnye firanda yang tegur Habib Munzir, kalau ada ulama yang dianggap salah menurut otaknye firanda. Ini ngomong kagak, bisanya bilang ini bid’ah itu bid’ah, ini menunjukan akhlak firanda Noool besar.
      Ane dah masuk ke firanda.com, komen ane memohon firanda ngomong sendiri sama habib munzir, jangan diartikelnye die, ini sama aja FITNAH dari yang katanya S2 atawa S lilin, 3 jam bertahan kemudian komen ane hilang.

      Ini toh yang disebut ILMIAH.

    3. kagak perlu di tanggapi krn fir’aunda nandurjana itu di katakan pendusta oleh ustadz salafi(salah fikir) lain na jd semua perkataan na dusta

  18. Kalaupun boss firanda punya mental & keberanian, gampang kok ga lewat blog kalo mau diskusi sama Habib Munzir, sudah jelas alamat-2 Pengajian Beliau, beliau sering memberikan ceramah di Masjid Al-Munawar, Perdatam-Pancoran, Ps.Minggu, gampang kan?? itu juga kalo boss Firanda punya keberanian…..

  19. @mas nasrulloh

    tipe orang itu beda2, dan sepertinya sah2 saja kan dan tidak masalah tipe orang beda2, mungkin tipe ust. firanda tidak mau kasih komentar di suatu artikel, karena terkesannya “blusukan” (masuk2 ke dalam) agak sedikit repot, dan tidak enak untuk dibaca. dan juga situs pribadi ust. firanda, mungkin tipenya tidak mau dikotori oleh komen2 yg banyak sekali. itu wajar dan tidak masalah, lihat aja di situs ust. firanda, beliau tidak banyak membalas komen2 yg masuk. beliau hanya senang menulis artikel saja yg lengkap dan detail, nah yg ditunggu balik dari ust. firanda itu tanggapan balik dari habib munzir sendiri (bukan dari orang2 lain atau murid-nya) biar kesannya formal dan fair. itu maksudnya om. tolong sampaikan kepada habib munzir yaa ?

    mungkin beda dgn tipe situs abul-jauzaa.blogspot.com, mungkin tipe ust. jauzaa, mau meloloskan komentar, lalu ditanggapi balik oleh ust. jauzaa, lihat saja situsnya, banyak komen yg masuk, dan banyak tanggapan balik dari ust. jauzaa. kalo kasih komen mendingan antum komen di situs ust. jauzaa saja, biar puas di bales ama ust. jauzaa, gimana om ?

    ust. firanda sekarang lagi belajar hadist di universitas madinah, lagian kalo ketemu langsung sepertinya harus punya effort khusus, agak ribet kan.

    saya sih hanya penonton bola saja om……dan saya mendukung manchester city, om nasrulloh MU-kan, hehehe maaf om kota manchester sekarang berwarna biru langit, MU dibantai abis 1-6

    1. Semua Orang Wahabi memiliki karakter sama seperti Firanda, tidak berani kontra takut kebongkar tipu daya n kejahilannya. Ini wajar, sebab memang demikianlah ciri2 aliran sesat. Tidak berani diskusi terbuka, hanya bisa klaim sepihak bahwa kebenaran ada di pihak mereka. Kebenaran kok gak berani diuji? Itu namanya kebenaran Prettt, qi qi qi…..

  20. yaaaaah ngapain buat blog kalo gitu kalo ga aktif berinteraksi, buat papan pengumuman saja kalo bgitu, ga fair juga kalo komen-2 dr rekan-2 aswaja ga bisa ditampilin, itu namanya pembelaan diri apa yg artikel dia buat merasa paling benar, ketika rekan-2 aswaja memberikan argumennya tidak bisa…jgn bilang mungkin ini itu yah, emang ente tau isi hati boss firanda? ente aja deh kasih kmen di firanda, bilang : ” tolong loloskan semua komen-2 dari aswaja, tolong aktif berinteraksi, tolong jawab dll ” , kalo mau lebih fair yah jgn lewat blog, firanda harus pertanggung jawabkan tuduhannya kepada Habib Munzir langsung, kalo minta bukti yah minta bukti langsung, bisa telpon, e-mail kan ??

    Perkara Bola tidaklah sopan membicarakan hal tsb disini, bukan tempatnya, perkara MU dibantai city itu sudah biasa, MU sudah pernah bebrapa kali kalah dg skor telak, apa langsung down ? tidak kan? tiap tahun akan selalu kuat, lihat sejarah, lihat prestasi, lihatlah etos kerja mereka, sudah berapa gelar & sudah berapa puluh trophy ada di lemari mereka? tanyakan juga kepada Mancity, sudah berapa gelar & trophy ada di lemari Mancity ????

    Tolong perkara bola ini yg terakhir, kalo mau debat bola di FB saya saja….kebetulan saya official utk team bola kantor saya….

  21. Mas @nasrulloh – Betul-betul mendingan bikin papan pengumuman, orang cuma bisa dibaca gak bisa dikomentari, pantesan demo dimana-mana ini toh prinsipnye….. wong gak jelas. bikin bom aja diem2, ini bikin artikel diem2 juga.

    @anas – “ust. firanda sekarang lagi belajar hadist di universitas madinah, lagian kalo ketemu langsung sepertinya harus punya effort khusus, agak ribet kan.”
    he he he….. belajar hadist atawa mau bikin hadis-hadis palsu wk wk wk……, mending belajar ama mas dianth atawa ama ust2 ummati ….. yakin dah gak bakalan ada pemalsuan hadist.

  22. yaa sudah mas

    kita tunggu saja bantahan balik dari habib munzir…….
    kan mudah juga kan, tinggal habib munzir nulis artikel, lalu dipublish di situs ummatipress ini

    cuman itu aja kok…..

    nunggu mancity vs newcastle, hari sabtu, siapa pecah telornya, rekor tidak pernah kalah di inggris…..heheheh

  23. wah..wah…artikel Firanda aja di mari sudah dipatahkan sama Mas Syahid dll, apa firanda kasih bantahan lagi ???? soalnya sudah skak mat….

    Mas ini susah yah, perkara bola bicaralah pada tempatnya, disini blog apa ?? katanya di Masjid ente belajarnya dg serius, tenang, ustadz nya ga ada pake becanda-2, kan akan membentuk murid-2 nya jadi santun & sopan, belajarlah dari Ibnu Suradi, dia lebih santun dari yg lain dalam hal tata bahasanya di blog ini….jgn spt kebanyakan yg lain, keluar pibadi-2 dg bahasa kasar dsb…

  24. sepertinya ust. firanda, menurut saya loh ya,
    inginya langsung bantahan balik dari habib munzir sendiri yg nulis, tidak mau orang lain yg membantah. tulisannya ust.ahmad syahid-pun tidak digubris oleh ust.firanda, dan itu sah2 saja, hak masing2 orang.

    perkara maS ahmad syahid itu masalah lain lagi, dan pernah ada bantahan dari ust. abul jauzaa
    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/10/beberapa-catatan-tentang-ijmaa.html

    kalo sudah dipublish di internet, otomatis ust. firanda mau mempertanggung jawabkan dunia akherat.

    kalo disitus dimari itu mudah kasih komentar, memang itu hak-nya admin ummatipress, itu sah2 saja, kalo situs firanda.com tidak boleh, yaa itu juga sah2 saja kan.

    jadi ditunggu bantahan langsung yg nulis alustad ahli hadist indonesia habib munzir, bukan yg lain, bisa ditulis di internet ditaruh di situs ummatipress atau situ majelis rasulullah, atau dicetak di buku……….cukup mudah kan.

  25. hahahahaha anas…anas…menurut ente kan? bukan menurut firanda kan ???? makanya ente kasih komen ke boss ente bilang, bikin pengumuman lagi : ” Kepada Yth. Habib Munzir, TOLONG JAWAB ARTIKEL SAYA !!!!! bikin juga pengumuman di mas media, di website nya MR, disini juga…..kalo lebih gentle, boss ente hubungi Habib Munzir, kan sama-2 guru, kalo ga mau di kasih komen sama rekan-2 ummati yg lain.yg menurut firanda mungkin ga selevel sama dia…

    makanya kalo disini gampang kasih komen, kita welcome sama rekan-2 ente, mau yg seburuk apapun komennya, karena disini fair, di firanda.com, susahnya rekan-2 ummati kasih komen krn ga fair, makanya kalo rekan-2 aswaja ga boleh komen, bikin aja pengumuman : ” UNTUK KALANGAN SENDIRI” , buat member buat org-2 sawah aja….

  26. Habib Munzir tak akan menangganggapi Firanda bro mengenai kesimpulan ia tentang madzhab As Syafi;i, karena ilmunya gak dianggap. Firanda belajar madzhab As Syafi’ dari baca-baca buku saja. Produk yang dihasilkan dah jatuh dengan sendirinya.

    Ilmu yang mu’tabar (dianggap) adalah yang keluar dari lisan ulama. Keilmuan tentang madzhab As Syafi’i yang mu’tabar mengambilnya juga dari orang yang ahli dalam madzbah itu.

    Nah, baru kalau ilmu firanda mengenai madzhab As Syafi’i diperoleh dari lisan para ulama mu’tabar, ok tentu para syafi’iyah akan perhitungkan untuk ditanggapi atau tidak.

    Sekarang pertanyaan ane nih, Firanda ambil ilmu madzhab As Syafi’i dari siapa?

  27. yaa sudah kalo tidak ada tanggapan balik dari habib munzir…..
    mau pigimana lagi.

    ust. firanda, insyaAlloh akan terus nulis artikel bantahan kepada habib munzir di internet.

    case closed…
    🙂

    1. baca komen Kang Naka baik-2, copy aja komen Kang Naka terus ente paste ke blog boss ente, kan kita-2 mah ga bisa kasih komen disitu….

      kalo sudah terjawab apa yg spt Kang naka tanya, harusnya secara gentle firanda sendiri bisa hubungi Habib Munzir : Alamat Majelis Rasulullah: Jl Cikoko Barat V, RT 03/05, No 66, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (12770). (Telfon 021-7986709)….sangat jelaskan alamatnya ?????

      ga perlu ente bertele-tele ina inu lah….alamat jelas & telpon sudah dikasih, tinggal tunggu apa lagi kalo mau minta konfirmasi ke Habib? jangan cuma pintar membodohkan org dg buat artikel-2 dendam kesumat kepada habib…ga bisa dibantak oleh rekan-2 ummati, bukti firanda itu pengecut, cuma menunjukkan pembenaran akan artikelnya….

    2. http://www.salafybpp.com/categoryblog/97-dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-sedang-melanda-bag1.html

      Kalo tulisan di atas benar….maka jelas lah kita bisa lihat bagaimana kaidah berpikir orang yg mengambil pendapat atau tulisan orang yg ditulis di tulisan tersebut(pak firanda)…

      Tapi klo tulisan tersebut ternyata salah dan memang pak firanda ini termasuk orang yg tsiqah, dan juga terkenal dgn ketsiqahannya, tentunya oleh semua kalangan ulama yak bukan cuman dari kalangan dia saja…maka tulisan/pendapat atau apalah yg berasal dari dia baru bisa dipertimbangkan…

      Kira2 bener gak logikanya..??..kayak logika penerimaan hadist saja lah….

      1. yang mengatakan itu juga ustadz salafi mas ,klu anda ingin tau kebenaran na datangi aja ulama salafi(salah fikir)yg mengatakan fir’aunda nandurjana pendusta

  28. Monggo, tafsirkan madzhab As Syafi’i dengan hanya merujuk buku. Monggo aja, kalau pengikutnya puas dengan penafsiran itu, walau ilmu seperti itu tidak dianggap.

    Yang jelas, kami hanya akan mengambil ilmu yang mu’tabar. Bukan dari orang yang hanya membaca buku tanpa ada yang membimbing.

    Adapun kami berusaha memegang kuat-kuat nasihat Salaf yang sejati, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al Auza’i,”Waktu itu ilmu ini merupakan sesuatu yang mulia jika ia datang dari mulut para ulama dan menyampaikannya serta saling bermudzakarah. Namun ketika ilmu itu berada di buku maka hilanglah cahanya, hingga berpindah kepada orang yang bukan ahlinya.” ( Jami’ Bayan Ilmi)

    Ibnu Mubarak diatanya oleh Said bin Ya’kub,”Kami memperoleh nasehat dari buku-buku, maka kami merujuknya.” Ibnu Mubarak menjawab,”Tidak mengapa. Jika engkau menemui nasihat yang tertulis di dinding, rujuklah ia maka engkau memperoleh nasihat.” Dikatakan kepada Ibnu Mubarak,”Bagaimana dengan fiqih?” Ibnu Mubarak menjawab,”Ia tidak lurus, kecuali dengan menyimak.” (Al Jami’ Ahlak Ar Rawi)

    So, fiqih yang diambil hanya dengan membaca buku “tidak lurus” alias bengkok, menurut ulama Salaf agung semisal Ibnu Mubarak dan lainnya.

    So, ketahuan, mereka yang ngotot melabeli diri dengan pengikut Salaf ternyata justeru menyalahi para salaf.

    Maka, monggo ente telan bulat-bulat tuh ilmu-ilmu buku dari Firanda. Adapun kita hanya ambil ilmu dengan bimbingan ahlinya, mengikuti metode para salaf yang sejati.

    1. Ada kisah yang ane ingin bagi-bagi dalam masalah ini. Ane kira teman-teman di sini dah kenal Muhaddits Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, ulama hadits yang bermadzhab Hanafi yang gurunya lebih dari 300 ulama.

      Suatu saat ia tidak mengerti dengan 2 istilah dalam madzhab Maliki.
      Walau beliau ulama tangguh dalam hadits, beliau tidak tergesa-gesa menkaji sendiri buku-buku Malikiyah, karena bukan takhasusnya. Apa yang beliau lakukan? Beliau yang tinggal di Saudi mengirim surat kepada Syeikh Abdussalam Harras, ulama Malikiyah yang tinggal di Fes Maroko, untuk bertanya mengenai penjelasannya, hingga beliau memperoleh 2 surat yang berisi jawabannya. (Tarajim Sittah min Fuqaha Alam Al Islami)

      Masalah bina’ alal qubur tergolong amat pelik, mengapa firanda yang tidak belajar madzhab As Syafi’i begitu gampang menukil-nukil sendiri dari buku-buku pdf, dan tidak bertanya kepada para ulamanya? Lebih-lebih Ia sendiri juga tidak kompeten dalam madzhab As Syafi’i.

  29. Bismillaah,

    Kawan-kawan Ummati selalu mendengung-dengungkan sanad guru. Mereka sering mengatakan bahwa mereka belajar dengan berguru yang brsanad bersambung hingga ke Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, mereka yakin telah mendapatkan ilmu yang benar-benar berasal dari Rasulullaah.

    Apakah ilmu tentang perayaan maulid nabi benar-benar dari Rasulullaah?

    Wallaahu a’lam.

  30. Bismillaah,

    Kang Naka,

    Jadi, sanad ilmu tentang perayaan maulid nabi itu hanya sampai pada ulama, tidak nyambung sampai ke Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam? Pantas saja, amalan tersebut menimbulkan pro-kontra, perselisihan, permusuhan dan lain-lain.

    Coba, seandainya, amalan tersebut bersanad hingga ke Rasulullaah, maka umat Islam termasuk yang disebut Wahabi akan bersatu melakukannya.

    Wallaahu a’lam.

    Wallaahu a’lam.

    1. Sanad ilmu pembagian hadits shaih dan dhaif dari siapa?
      Sanad ilmu menggelar pengajian tiap minggu pagi dari siapa?
      Sanad ilmu perbangkan syari’ah dari siapa?
      Sanad ilmu khutbah di sela-sela terawih dari siapa?
      Sanad ilmu perayaan hari kemerdekaan Saudi yang dibolehkan oleh muftinya dari siapa?
      Masih banyak lagi…..

      1. Adalagi yang ingin meratakan kuburan nabi Muhammad saw dari siapa?
        Yang merawat kuburan Utsaimin dari siapa?
        Yang bangun gedung utsaimin dari siapa?
        Yang membolehkan minum arak asal gak mabuk dari siapa?
        Yang menyuruh menyerahkan negeri Palestina ke Israel dari siapa?

    2. Pak suradi, sepertinya anda harus banyak baca mengenai kisah atau hadist nabi, yg berkaitan dgn khilafiyah antar ulama..muga2 anda mendapatkan pencerahan, serta bisa lebih bijak menyingkapinya…

      ^_^

  31. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Surat Al-ahzab 56).

    Syeikh Ibn Taimiyah : “Di dalam kitab beliau, Iqtidha’ as-Shiratil Mustaqim, cetakan Darul Hadis, halaman 266, beliau nyatakan: Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebahagian manusia samada menyaingi orang Nasrani pada kelahiran Isa عليه السلام, ataupun kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengagungkan baginda, dan Allah mengurniakan pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad ini…”
    Seterusnya beliau nyatakan lagi : “Ia tidak dilakukan oleh salaf, tetapi ada sebab baginya, dan tiada larangan daripadanya.”
    Kita pula tidak mengadakan maulid melainkan seperti apa yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah sebagai: “Kecintaan kepada Nabi dan mengagungkan baginda.”

    1. Rasulullah saw memperbolehkan Syair pujian di masjid Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata : “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)

  32. saya yakin ga bakal dijawab Kang, kan kata dia , kapasitasnya sbg pengunjung blog ini, jadi pasiv, ga mau lebih berinteraktif tanya jawab…..cuma mau tanya saja, ga mau ditanya…. saya baru saja masuk ke FB salah satu sawah yg mengagungkan ibnu Taimiyah & Albani, ketika saya tampilkan bukti-2 beliau-2 sudah taubat, dikasih komen panjaaaaaaang bgt, saya bilang aja, simple aja, silahkan cek sumber-2 yg telah ditampilkan…ga lama kemudian??? di closed artikelnya…..

    1. Kan seperti Firanda yang membuat pengumuman aja, dimana artikel nya yang gak boleh dibantah, wong artikel tuhan kok. Nular ke suradi, boleh tanya gak bisa dijawab.
      Cape deh suradi nongol terus di blog ini. wong hatinya sudah tertutup pada kebenaran.

      Firman Allah swt :
      Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.(23)
      Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam. (24)
      Maksudnya: pemimpin-pemimpin mereka. (25)
      Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, Karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas. (26)
      Walaupun panca indera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh Karena tidak dapat menerima kebenaran. (27)
      Keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan, adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. mereka menyumbat telinganya Karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Quran itu. (28) (Al Baqarah : 23-28)

      Itulah gambaran Wahabi buat Aswaja.

    1. Mohon Maaf salah diatas penjelasan asteriknya.

      Firman Allah : Al Baqarah : ayat 10-19

      10. Dalam hati mereka ada penyakit[23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
      11. Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”
      12. Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
      13. Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain Telah beriman.” mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu Telah beriman?” Ingatlah, Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.
      14. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami Telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka[25], mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.”
      15. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.
      16. Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
      17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api[26], Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat.
      18. Mereka tuli, bisu dan buta[27], Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
      19. Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, Karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati[28]. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir[29].
      20. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

      Penjelasan Asteriknya:

      [23] yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.
      [24] kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
      [25] Maksudnya: pemimpin-pemimpin mereka.
      [26] orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, Karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.
      [27] walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh Karena tidak dapat menerima kebenaran.
      [28] keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung peringatan, adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. mereka menyumbat telinganya Karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Quran itu.
      [29] maksudnya pengetahuan dan kekuasaan Allah meliputi orang-orang kafir.

      Semoga ini gak salah.

  33. Wuihi hi hi…. Ibnu Suradi langsung KO. Ana tambah satu lagi, ilmu yg membagi bid’ah jadi BID’AH DUNIA dan BID’AH AGAMA itu sanandnya dari siapa? Hayo…. bisa jawab?

  34. Ngegemesin anak2 pak Wahab ini…. ingin rasanya mencubit pipi & ngejedotin..( af1 sekedar intermezo, jangan dimasukin ati y bro ibnu Suradi & bro anas Hehe )

  35. @ mas ucep, jgn dijedotin kan kening nya udah item??
    yang merubah syariat nabi-nabi terdahulu ayo, sanadnya dari mana????
    yang pake hujjah ulama2 mazhab, untuk membodohi ummat, sanadnya dari mana????
    yang ngerayain maulidnya raja fadh, sanadnya dari mana????
    yang ngundang amerika untuk menyerang umat islam di irak ayo, sanadnya dari mana???

  36. mas @ferry
    Kalau jidatnya item, berarti sujudnya masih salah n gak bener dong, wong Rasulullah saw aja yang shalatnya paling hebat gak item.
    Ini persis sama dengan MAW bahwa MAW lebih mengetahui tentang kalimat La Illa Ha Ilallah dari pada Rasulullah, lihat aja mas ayat Al Baqarah : 10. wow sereeeem.
    Masya Allah.

  37. kok aneh ya wahabi ini selama ana menyimak-nyimak dialog dngn Aswaja kebanyakan ga mo nrimo…padahal dalil naqli dan aqli dah disertakan untuk pembuktiaanya…juga dikasih penjelasan secara detail, tapi masih ngeyel terussssssssssssssss…….terkadang ngilang ditelan bumi…..he..he…

    “memang benar ungkapan tentang adagium “memberi obat kepada yang sudah mati” kyknya harus dialamatkan kpd wahabi dan varian2nya..ya sebab
    ga kan sembuh-sembuh….he..he

    syukron

  38. Bismillaah,

    Kalau benar ada bid’ah hasanah, maka sejatinya tidak ada bid’ah sebab semua amalan baru yang dinilai baik oleh manusia dimasukkan ke dalam bid’ah hasanah. Oleh karena itu, masalah bid’ah dianggap bukan masalah penting. Oleh karena itu, tidak ada kehati-hatian dalam melaksanakan amal ibadah.

    Wallaahu a’lam.

    1. sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

  39. @ibnu suradi
    Kalau bid’ah itu semua adalah dholalah, bagaimana dengan pemakaian : Mobil, HP, Televisi, Pesawat, sajadah (ini hal baru yang tidak ada dizaman Rasulullah dan Rasulullah maupun sahabat sampai tabi’in tidak pernah memakainya).
    Pertanyaannya :
    1. kalau memang semua bid’ah adalah dholalah, berarti islam bukan agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) dong, berarti islam untuk dizaman Rasulullah saja?
    2. bagaimana pandangan ente tentang Bid’ah yang sebenar-benarnya?

  40. Bismillaah,

    Karena ada bid’ah hasanah, maka setiap amalan ibadah baru yang dinilai baik oleh manusia bukanlah bid’ah. Atau karena ada bid’ah hasanah, maka tidak ada bid’ah dholalah.

    Oleh karena itu, semua orang yang melakukan amalan baru dalam agama tidak khawatir bahwa mereka melakukan bid’ah. Kalaupun bid’ah, mereka meyakininya sebagai bid’ah hasanah, bukan bid’ah dholalah.

    Dengan pemahaman semacam itu, maka banyak umat Islam tidak berhati-hati dalam melakukan amalan ibadah baru. Mereka tidak takut melakukan bid’ah karena mereka meyakini bahwa yang mereka lakukan hanya bid’ah hasanah.

    “Lakukan saja, yang penting baik,” kata ustadznya.

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi:”Karena ada bid’ah hasanah, maka setiap amalan ibadah baru yang dinilai baik oleh manusia bukanlah bid’ah. Atau karena ada bid’ah hasanah, maka tidak ada bid’ah dholalah.”

      Perlu diluruskan…bid’ah hasanah, perkara baru yang tidak bertentangan dengan dalil dan kaidah Islam. Sehingga tidak semua bid’ah selalu khasanah, karena ada bid’ah yang bertentangan dengan dalil dan kaidah Islam, yang ini disebut madzmumah atawa dholalah.

      So, mereka yang pro ada bid’ah hasanah kagak ada yang menilai semua bid’ah selalu hasanah atawa selalu dholalah. Tapi masuk kepada hukum 5.

  41. kan sudah ada Hadist nya, mau diperdebatkan apa lagi? bid’ah = hal yg baru, iya toh ??? hasanah = yg baik, dholalah = yg buruk, spt nya cukup jelas, kalo ada hal yg baru, menurut ustadz = lakukan saja yg penting baik, itukan selama tidak menyalahi dari Qur’an & Hadist…jadi apa yg mesti dipertentangkan? wahabi mengharamkan Maulid, bid’ah katanya? tp di Hadist ada ( krn isi yg utama bershalawat kepada Rosululloh SAW ), dan hal yg baik pula, jadi dimana salahnya ???

  42. Bismillaah,

    Kang Nasrulloh,

    Hadits yang anda sampaikan hanya penggalan hadits. Silahkan baca kalimat-kalimat sebelumnya dari hadits itu. Maka, anda akan mendapatkan bahwa hadits itu tentang sedekah. Sedekah adalah sunnah, bukan hal baru. Diriwayatkan dalam hadits itu bahwa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam diam dan wajahnya merah menyimpan kemarahannya saat melihat para sahabat tidak tergerak untuk bersedekah kepada orang tak mampu yang datang kepada beliau. Lalu, ada seorang sahabat yang bangkit dan bersedekah kepada pendatang tersebut. Rasulullaah lantas bersabda seperti dalam lafadz yang anda sampaikan. Mendengar sabda Rasulullaah tersebut, maka para sahabat yang lain pun ikut bersedekah.

    Wallaahu a’lam.

    1. maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam.
      Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa-apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan…dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah).
      Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.

      1. lagian dah dijawab sebelumnya, syurga ada di bawah telapak kaki IBU….Neraka ada di bawah telapak kaki IBU, masa’ Abu Umar ga ngerti-2 sih, anak SD juga dah ngerti kalliiiiiii…..

  43. Bismillaah,

    Kang Nasrulloh,

    Agar kita tidak terlibat dalam debat kusir dengan mengedepankan pendapat masing-masing dari kita, maka ada baiknya kita sama-sama memeriksa penjelasan hadits tersebut dalam Kitab Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Betul, daripada ente disini diskusi gak pernah nyambung2 n gak ada faedah yang didapat, lebih baik ente liat2 aja atawa ente gak nongol.
      Kalau ente menafsirkan semua bid’ah adalah sesat silahkan, tapi ente harus yakinin ADALAH SESAT n ente terapin didalam kehidupan ente sehari2, kalau ente gak terapin maka azab Allah selalu mnyertai ente, inget itu Allah memegang Hati setiap orang.
      Selamat jalan ibnu suradi, sampai ketemu di Mahsyar.

      1. karena pengartian kita kan, BID’AH = HAL YG BARU, kalo pengartian Kang Suradi, BID’AH = SESAT, padahal arti bahasa arab ” BID’AH = HAL YG BARU” kan???

  44. Sudah kembali dari safar, alhamdulillah makin mantap berjalan di manhaj salaf. Ini juga sekalian untuk mematahkan kesombongan artikelislami alias David Servetus alias Nuryadin juragan pulsa telpon yang menganggap dirinya punya karomah bisa membuat orang mati/sakit.

    Soal Habib Munzir, kalau artikel ustadz Firanda dibaca dengan kepala dingin tanpa prasangka, terlihat dengan jelas kalau kejahilan Habib Munzir akan ilmu hadits ditelanjangi habis2an. Habib Munzir cuma mengandalkan gurunya saja yang al-Haafizh, sedangkan dia sendiri jahil dalam ilmu hadits. Bisa dilihat dalam beberapa kesempatan, dia gak bisa menyebutkan kitab yang dinukil ketika meyebutkan hadits, bahkan sering mengeluarkan hadits dhaif dan palsu.

    1. kata2 fir’aunda kagak usah di dengar krn fir’aunda itu pendusta ,yg mengatakan na bukan saya lho tp ustadz satu pengajian beliau sendiri

  45. @mas nasrulloh, @mas ucep

    ini ada bantahan buku ilmiyyah dari Ustad. Waskito kepada syaikh IDAHRAM (yg menulis buku trilogi anti wahabi). Kalo melihat tipe situs-nya, maka situsnya abisyakir ini sepertinya lebih terbuka, diberi hak bagi yg komen untuk masuk, dan sepertinya di “LADENIN” dan dijawab oleh ust. waskito ini, (beda dengan situs firanda yg tidak mau dikotori dgn komen2 jidal yg rumit). dan percuma antum masuk ke situs firanda, sebelum ada tulisan resmi dari habib munzir, gak bakalan diladenin.

    Ust. Waskito berpersepsi ada infiltrasi SYIAH dalam gerakan anti wahabi, maka jangan sampai juga habib munzir di susupin SYIAH juga………

    nah silahkan bagi mas2, embak2, om2, dan tante2, aktivis umatipress untuk kasih komen di situs http://abisyakir.wordpress.com, Insya Alloh dijawab dengan “PUAS” oleh ust. Waskito (abisyakir)

    monggo……… 🙂

    http://abisyakir.wordpress.com/2011/11/13/info-buku-baru-bersikap-adil-kepada-wahabi/#more-4042

    1. hahahahahahaha suruh kesini aja bos ente yg lain, cape2in ajah….paling tetep di sensor… tp tar mungkin rekan2 ummati bisa berkunjung di sana

  46. Firanda pengecut gitu kok jadi idola ya? Pada mampu mikir apa nggak sih kaum sawah ini?

    Sebenarnya banyak kesalahan dalam artikel Firanda. Tapi sayang blognya sangat tertutup terhadap sanggahan. Di hadapan pengikutnya yg rata2 jahil itu Firanda seakan berbicara ilmiyyah. Padahal itu hanya ilmiyyah semu belaka. Tapi di mata pengikutnya tampak ilmiyyah, maklum parapengikutnya rata2 jahil ilmu.

    1. Habib Munzir pengecut, cuma bisa mencela memakai nama gurunya yang katanya Al-Haafizh, kok bisa jadi idola sih? Bisa mikir nggak sih kaum asjam (asy’ariyyah jahmiyyah) ini?

      Kesalahan Habib Munzir sangat banyak, dan sudah ditelanjangi semuanya. Tetapi sayang blog MR itu sangat tertutup, kalau nggak muji2 Habib, nggak bakalan dimuat. Di hadapan para pemujanya, Habib Munzir itu kelihatan tahu ilmu, padahal dalilnya banya hadits dhaif & palsu (tapi bisa dishahihkan dengan ilmu laduni katanya). Kita maklumi saja, rata2 asjam itu pentaklid buta semuanya.

      1. Berdalil dengan hadits dhoif boleh dalam bab-bab tertentu. Inilah yang dilakukan para Salaf seperti Imam Malik, Imam As Syafi’i, Imam Ahmad, Ali Ibni Al Madini (guru Imam Al Bukhari), Imam Bukhari juga, yang diikuti oleh Imam An Nawawi dll.

        Nah, kalau berdalil dengan hadits maudhu’ jelas tidak boleh. Nah, ane minta bukti neeeeh klaim ente….di mana Habib Mudzir berdalil dengan hadits maudhu’?

        Ane tunggu bro, jawaban ente akan membutkitkan apakah ente jujur ataukah melakukan buhtan alias fitnah…

  47. @ucep,

    antum masih ngeyel aja, sudah dikasih tahu FIRANDA tidak mau meladenin yg lain kecuali meladenin HABIB MUNZIR. dan kalo HABIB MUNZIR tidak mau menjawab yaa sudah, itu juga hak-nya habib munzir, dan firanda juga ber hak menulis terus di situsnya untuk membantah habib munzir, dan sudah dipertanggung jawabkan dunia akherat

    ucep, lebih baik antum coba masuk ke situ ABISYAKIR, sepertinya akan dibales…..

    SILAHKAN DICOBA

    http://abisyakir.wordpress.com/2011/11/13/info-buku-baru-bersikap-adil-kepada-wahabi/#more-4042

    1. @anas
      ane nulis buat @abdullah buka buat ente, blog yang ente maksud ane dah liat2, kayaknya blognye PKS ya.
      Nti dah ane komen2, ane belon mau berpartai sih agak berat buat ane.

    2. klu menurut ane mungkin habib munzir tdk mau meladeni fir’aunda nandurjana krn fir’aunda sudah di cap pendusta oleh ustadz yg sealiran dg beliau sendiri ,walaupun nanti di jawab habib munzir jawaban fir’aunda pasti dusta lagi

  48. Di sini saya melihat anak2 Aswaja cukup smart berdebat. Kalau Wahabi? Wuih, kelihatan ngototnya. Berdebat sih tidak masalah. Yang lucu sekaligus nyebelin adalah adanya orang yang ingin terlihat menang / benar dalam diskusi tersebut. Tanpa memperhatikan lawan debatnya walaupun sudah benar masih saja didebat.

    Seperti artikel di atas, mestinya artikel ini sudah benar sesuai fakta lapangan. Makanya tidak ada yg bisa mendebat artikel. Akhirnya Wahabi mengalihkan ke topik lain.

    Seakan-akan pengakuan harus diperoleh secara eksplisit. Padahal tidak perlu. Pada kenyataannya, ternyata pembaca itu tidak bodoh. Mereka bisa menilai, mana yang masuk akal dan mana yang hanya sekedar ngotot.

    Jadi, saya tahu bahwa pembaca itu smart.

    Saya sarankan, berikan faktanya, alur berpikirnya, dan kesimpulan kita. Setelah itu biarkan pembaca mencernanya. Contohnya seperti pengantar-pengantar di setiap awal artikel di sini, semuanya sanggup menggugah kesadaran bagi orang-orang yang masih mampu berpikir. Saya yakin banyak orang yg tersentak kesadrannya setelah membaca pengantar-pengantar artikel di sini. Mereka lebih banyak menyimak dan diam mencermati setiap debat/diskusi di sini. Contohnya saya sendiri, ha ha ha….

    1. Smart Fren apa smart dari Hong Kong? Kebanyakan cuma asal mangap saja. Coba baca baik2 penjelasan tentang bid’ah dari situs2 “Sawah”, jangan asal main potong aja kaya biasanya. Emang udah kebiasaan kaum asjahm (asy’ariyyah jahmiyyah) sih. Contoh yang paling baru, bukunya Syaikh Idahram alias Marhadi, karena kebiasaan suka mentakwil, kata yang bahasa arab aslinya musyrik, ditakwil menjadi orang2 yang tawasul, istighotsah dan zikir jamaah? Duh duh duh, kebiasan asjahm.

  49. @ucep

    ngawur antum, orang PKS gak bakalan berani, nulis artikel yg menjurus ke perbedaan pendapat seperti ini (resiko tinggi), nanti takut, bakal ditinggal pemilihnya, lha wong PKS aja merangkul NU dan HABIB MUNZIR……..

    nih tulisan ust. abul jauzaa, yg menjelaskan PKS itu bukan wahabi, PKS itu seperti neo-NU (NU wajah baru)
    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/05/pks-memang-bukan-wahabi.html

    nah kalo antum kasih komen di situs abul-jauzaa, sepertinya juga akan dibalas,

    coba aja kasih komen di 2 situs ini, antum bakal di LADENIN

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/
    http://abisyakir.wordpress.com

  50. anas: coba aja kasih komen di 2 situs ini, antum bakal di LADENIN

    Abul Jauzaa sama saja dg Firanda, kalau merasa terdesak koment tidak dimunculin. Yah namanya juga Wahabi, mana berani buka2an soal kesesatan golongannya? Kalau berani buka-bukaan sih namanya bukan aliran sesat lagi, artinya itu sudah bukan Wahabi lagi tetapi sydah berubah. Kalau masih Wahabi pastilah menutup diri dari sanggahan. Koment ane tidak ada yg muncul, padahal cuma berisi pertanyaan2 sederhana lho?

    1. Lucu kalau menutup diri dari sanggahan langsung disebut Wahabi. Berarti MR Wahabi dong? Habib Munzir gak suka sedikit, langsung diancam delete account.

      1. Abdullah@

        Nte ngalami sendiri diancam mau didelete account antum? Benar demikian atau hanya fitnah dari antum? Berani sumpah sambar geledek kalau antum bohong?

        1. Bukan saya, tapi ada orang yang tanya sesuatu terus menerus, sampai kelihatannya Habib Munzir terdesak, lalu marah dan mengancam delete account. Buru2 orang itu muji2 Habib Munzir. Kalau lihat isinya forum, sepertinya full sensor. Yang tanya pasti ngaku temennya, tetangganya, saudaranya wahabi. Belum pernah lihat ada penanya yang jelas2 Wahabi; pasti sudah kena sensor dan delete account.

          1. baca lagi boss yg jelas, yg nanya itu karena dia mempunyai temen wahabi, ditanya ini itu or diskusi ini itu, krn mungkin dia kurang paham, terus dia forward ke MR, saya dah pernah lihat semua pertanyaan ttg wahabi di MR kok, yg detil dong, nama penanya nya siapa, yg ditanya apa?? nanti kita cek sama-2….kalo cuma cerita itu kan ente ga jelas….jadi tanda tanya buat kita semua….spt saya dapet buku : MANHAJ SALAFUS SHOLEH, saya tanya di mari, lengkap : Judul buku, pengarang, percetakan, bab berapa halaman berapa, isi yg dibahas apa….pokoknya yg detil kalo ente memberitakan sesuatu disini, biar saling cross check, kalo cuma berita kaya ente itu aja, itu berita anak SD dooong/….tapi anak SD sekarang spt nya lebih pintar juga kalo bicara…

  51. @budiono

    beda om budi, kalo FIRANDA sama sekali gak mau respon komen yg kontra, kecuali tulisan langsung dari HABIB MUNZIR

    berarti ABUL-JAUZAA mau respon tapi di pilih2 dan di filter,

    nah kelihatan kan masing2 situs itu punya sifat-nya masing2, itu sudah menjadi HAK-nya pemilik situs, masak MAKSA sich, gak baik itu………..

    nih wajahnya ust. FIRANDA kalo mau lihat
    http://yufid.tv/tafsir-surat-at-takatsur-bagian-02/

    kalo gitu pak budiono, kasih komen aja di situs ini, sepertinya gak di filter situs ini
    http://abisyakir.wordpress.com

    1. Pak Anas, semua blog Wahabi sama saja, karakternya seragam. Antum tidak merasakan sebab antum bukan komentator yg KONTRA.

      DiFaceBook juga sama aja, paling hobby main delete koment. Atau Status KONTRA WAHABI juga disikat/delete jika masuk di group Wahabi. Yah, emang demikianlah karakter penganut aliran sesat n menyesatkan.

    2. Pak Anas, coba buka mata lebar-lebar n bandingkan wajah Firanda dg wajah Hb Minzir, mana wajah di antara keduanya yg lebih Islami menurut kriteria Nabi Sa?

      Wajah Hb Munzir: Jelas, terang, senyum manis, enak dipandang mata bagi orang2 beriman.

      Firanda: Tidak Jelas, gelap/samar, tak nampak senyum, dan…. tebak sendiri deh selanjutnya.

      Hayo, mana wajah yg lebih Islami? Mikir dulu ya, Pak Anas?

  52. Abdullah,

    Abdullah: Lucu kalau menutup diri dari sanggahan langsung disebut Wahabi. Berarti MR Wahabi dong? Habib Munzir gak suka sedikit, langsung diancam delete account.

    Dasar Wahabi tukang Fitnah, mana ada seperti itu? Yang ada dibatasi kuotanya kali? Ente berani sumpah disambar geledek kok ngomong fitnah seperti itu?

  53. to adm

    tolong bisa kasih tahu ana artikel yg membahas mengenai paman Rasululloh SAW??
    apakah benar beliau mati dalam keadaan kufur??

    syukron

  54. @anas
    Ente cek dah isinya baru komen, ane dah cek seluruhnye artikel2nye. ente lihat Fahri hamzah yang jadi sasaran tembak oleh komen2 PKS
    Dah kalo ente orang pks n terus mau berpolitik, sana di DPR aja, mau suksesi 2014 ya. silahkan aja, ane gak bakalan liat lagi itu blog, kalo cara ente n komen ente kaya gitu. BATAL.

  55. All Aswaja, berhati-hati dengan Mazhab WAHABI karena setelah debat kusir yang panjang disini, terlihat dan bisa disimpulkan bahwa inilah ciri-cirinya :

    1. Menolak pemahaman bermazhab kepada imam-imam yang empat dimana hakikatnya mereka bermazhab “TANPA MAZHAB”.
    2. Menggabung amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq yang haram.
    3. Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah, padahal mereka beri’ttiba.
    4. Sering mengungkit soal-soal khilafiyyah.
    5. Sering menggunakan dakwah ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah.
    6. Sering berdiskusi dengan ijma’ ulama dan menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah bid’ah.
    7. Sering mendakwa orang yang bermazhab sebagai taksub mazhab, sedangkan mereka taksub kepada Ibnu Taymiyyah, Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab.
    8. Salah faham makna bid’ah yang menyebabkan mereka mudah membid’ahkan orang lain
    9. Sering berhujah dengan al-tark, sedangkan al-tark bukanlah satu sumber hukum
    10. Mempromosikan mazhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll. yang jelas keluar dari fiqh empat mazhab.
    11. Sering mengajak agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tunaffiru” sehingga menjadi lebih parah dari pada tatabbu‟ al-rukhas.
    12. Sering mengatakan bahwa fiqh empat mazhab telah ketinggalan zaman.
    13. Mereka sering mempermasalahkan dalil untuk kedudukan babi sebagai najis mughallazah dan Menyatakan bahwa bulu babi itu tidak najis karena tidak ada darah yang mengalir.

    Negara tetangganya Arab Saudi, Abu Dhabi (Dubai) dan Kuwait, tidak bisa tercemar faham Wahabi ini, kenapa Indonesia bisa !!!!
    Indonesia pasti bisa jauh dari agama baru WAHABI ini, mari ASWAJA Indonesia bisa.

    1. ciri-2 wahabi selain : HIT & RUN, kasar, merasa benar, merasa pintar, merasa org lain sesat & bodoh adalah seperti anas ini : Bicara tidak pada tempatnya, seperti anak tanpa otak, sudah dibilangin berkali-2, disini diskusi agama, bukan bola…..

  56. @anas
    Air sungai yang sudah tercemar, jangan diminum, jangan buat whudu’, jangan buat mandi, nti bahaya gatal2. Apalagi Buku, jangan dibaca, jangan dibeli. ntu prinsip ane.
    Ente disini mewakili partai atawa sawah atau pribadi ente?

    1. Hahaha, orang NU aja masih pada cuci kaki pake air butek yang bikin gatel karena volumenya lebih dari dua kullah, ya gak heran kalau buku sesat seperti “Kenalilah Aqidahmu”, “Meniti Kesempurnaan Iman” yang penuh hadits dhaif/maudhu’ & pendapat pribadi yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi SAW laku keras.

  57. fatwa nyeleneh ulama Waahabi

    Syaikh Hassan: Boleh Pilih Calon Kristen di Pemilu Jika Calon Islam Tidak Kompeten

    Jelang pemilihan umum parlemen dan presiden di Mesir, seorang ulama Salafi terkemuka Mesir memfatwakan bolehnya mendukung calon Kristen jika calon tersebut lebih baik dari calon Muslim.

    Fatwa ini dikeluarkan dan belum pernah terjadi sebelumnya dari salah satu ulama Salafi paling dihormati di Mesir, Syaikh Muhammad Hassan. Dalam pernyataannya, Syaikh Hassan menyerukan pengikut Salafi untuk memilih calon dari Koptik, jika mereka memang layak untuk dipilih, jika calon dari Muslim lebih buruk secara kompetensi dari calon kristen.

    “Sebuah suara dalam pemilu merupakan tanggung jawab, sehingga harus diberikan kepada calon yang paling layak untuk menempatinya, bahkan jika kandidat tersebut tidak termasuk calon Islam. Prioritas diberikan kepada yang paling layak, dan tidak seharusnya kita memberikan suara untuk mereka yang melakukan money politik,” kata Syaikh Hassan.

    Kristen Koptik merupakan warga minoritas di Mesir. Beberapa kandidat Kristen maju dalam pemilu, baik secara independen atau maju dari partai-partai pro-Islam.(fq/islamnews)
    sumber. Eramuslim.

  58. fatwa yg jelas2 bertentangan dengan Alqur’an

    Berikut nash-nash atau dalil-dalil yang melarang memilih pemimpin dari kaum kafir,yahudi dan nasrani, orang yang condong kepada kekufuran, dan orang yang mempermainkan agama.
    Nash-nash atau dalil-dalil yang tegas agar ummat Islam tidak memilih tipe-tipe pemimpin tersebut sebagaimana Firman Allah Swt. yang artinya :
    “Janganlah orang-orang Mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang Mu’min, dan siapa saja berbuat demikian niscaya lepaslah dia dari pertolongan Allah” (QS. Ali Imran : 28).
    Firman Allah Swt. :
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang Mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah untuk menyiksamu” (Q.S. An-Nisa : 144).

    Dari dua ayat tersebut di atas yang saya nukil sangat jelas dan tegas, bahwa ummat Islam dilarang atau tidak boleh memilih pemimpin dari golongan orang-orang kafir.

    Selanjutnya Firman Allah Swt. :
    “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Siapa saja diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya orang itu termasuk : golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim” (Q.S. Al Maidah : 51).

    Ayat al Qur’an diatas dengan jelas melarang ummat Islam untuk tidak memilih pemimpin dari golongan yahudi dan nasrani. Sebab, sikap permusuhan, kebencian, sikap keculasan dari golongan yahudi dan nasrani kepada umat Islam tidak akan pernah pudar, tidak akan pernah berubah, dan tidak akan pernah berhenti hingga hari kiamat. Ini ditegaskan dalam Firman Allah Swt. :
    “Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama meraka”. (QS. Al Baqarah : 120).

    Kemudian dalil yang melarang orang Mu’min memilih pemimpin dari golongan orang-orang yang condong kepada kekufuran, dan orang yang suka mempermainkan agama sebagaimana firman Alalh Swt. sebagai berikut yang artinya :
    “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu jika mereka lebih condong/mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS. At-Taubah : 23).

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpin orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, yaitu diatnara orang-orang yang telah diberi al Kitab sebelummu, dan orang-orang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertaqwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman” (QS. Al Maidah : 57).

    ITTAQULLAHA HAQO TUQOTIHI WALA TAMUTUNNA ILLA WA ANTUM MUSLIMUN.

    ALLAHUMMAGFIR LILMUSLIMINA WAL MUSLIMATI, WAL MU’MININA WAL MU’MINATI AL AHYAI MINHUM WAL AMWATI INNAKA SAMI’UN QORIBUN MUJIBUDDA’WATI WAYA QODHIALHAJAT

    ALLAHUMMA NAWIR QULUBANA BITTAOFIZI WAL HIDAYATI WAJNUBNASYIRKA WAL MUNKAROTI

    RABBANA ATINA FIDDUNYA HASANATI WAFIL AKHIRATI HASANATAN WAQINA ‘AZDABANNAR

    gimana para Wahabiyun???

  59. @admint
    Bagi anda yang memiliki website atau blog sendiri juga dapat menambahkan radio-radio online tersebut pada situs anda. Dengan tambahan live streaming radio pada situs anda tersebut dapat memberi kesan yang menarik dan mempercantik website atau blog anda. Pengunjung situs anda juga dapat menikmati sajian acara-acara yang disuguhkan oleh stasiun radio tersebut. Alhasil, pengunjung situs anda dapat lebih berlama-lama mengakses situs anda karena ingin mendengarkan radio online yang anda pasang tesebut dan ini dapat meningkatkan trafik kunjungan ke situs anda. Dan tentu saja website anda diharapkan akan lebih populer.

  60. fatwa nyeleneh Ulama Wahabi
    Syaikh Utsaimin memanipulasi ucapan guru besarnya Ibnu Taimiyyah, perhatikan berikut ini.
    Ibnu Taimiyyah di dalam kitabnya Iqtidhoush shirotil Mustaqim juz 1 halaman : 619 mengatakan tentang Maulid Nabi Saw :

    وكذلك ما يحدثه بعض الناس، إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، وتعظيمًا. والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد، لا على البدع- من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيدًا. مع اختلاف الناس في مولده. فإن هذا لم يفعله السلف، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه لو كان خيرًا.
    ) اقتضاء الصراط المستقيم مخالفة أصحاب الجحيم ، ج 1 ، ص 619(

    “ Demikian pula apa yang diperbuat orang-orang, terkadang bisa saja menyerupai orangt-orang Nashroni di dalam memperingati hari lahirnya isa As, dan juga terkadang bisa juga karena rasa cinta dan pengagungan Kepada Nabi Saw dan Allah memberi pahala mereka atas kecintaan dan ijtihad ini bukan karena bid’ah berupa menjdikan mauled Nabi Saw sbagai hari raya padahal para ulama berbeda pendapat tentang hari kelahiran Nabi Saw “

    Sekarang perhatikan fatwa Utsaimin dan penngkaburannya terhadap ucapan Ibnu Taimiyah dengan membuang sebagian ucapan ibnu Timiyyah dalam kitab Majmu’ Fatawanya jilid 6 halaman 200 berikut ini :

    وقال شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله: “وكذلك ما يحدثه بعض الناس؛ إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم وتعظيما له… من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيدًا – مع اختلاف الناس في مولده؛ فإن هذا لم يفعله السلف مع القيام المقتضى له وعدم المانع ولو كان هذا خيرًا محضا أو راجحا؛ لكان السلف – رضي الله عنهم – أحق به منا؛

    “ Demikian pula apa yang diperbuat orang-orang, terkadang bisa saja menyerupai orangt-orang Nashroni di dalam memperingati hari lahirnya isa As, dan juga terkadang bisa juga karena rasa cinta dan pengagungan Kepada Nabi Saw (sampai di sini Utsaimin memotong ucapan Ibnu Taimiyah), dari menjadikan hari kelahiran Nabi Saw sebagai hari raya…”

    Catatan : Lihatlah, bagaimana Utsaimin berani membuang dan memotong ucapan guru besarnya sendiri Ibnu Taimiyah bukan Cuma memotong tetapi ia juga menambahi ucapannya sndiri ke dalam ucapan Ibnu Taimiyyah sprit tertera di atas…
    Sungguh ia telah melakukan talbis (penipuan trhadap umat) dan khianat trhadap ilmu dan gurunya sendiri…!!!

    By: Ibnu Abdillah Al-Katibiy

    Syaikh Muhammad bin Solih Al-Utsaimin terjebak dengan pembagian bid’ah
    Golongan yg anti dg bid’ah hasanah dasarnya adalah hadits yg berbunyi : “An Jabir ibni Abdillah qol, qola Rosulullah Saw: “inna khoirol haditsi kitabullahi wa khoirol huda huda muhammadin wa sarrul umuuri muhdasaatuha wa kullu bid’atin dholalatu” (Rowahu Muslim)

    Artinya: Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah Saw bersabda: sebaik-baik ucapan adalah Kitab Allah, sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru, dan setiap bid’ah adalah sesat.

    Menurut mereka hadits di atas sangat tegas mengatakan bahwa smua bid’ah itu sesat, dlm hal ini saya akan mengutip qoul dari ulama’ yg mereka anggap paling top yaitu Syaikh Muhammad bin Solih Al-Utsaimin dlm kitabnya yg mreka anggap pula sbgai kitab yg paling mu’tabar yaitu kitab “al-ibda’ fi kamalis syar’i wa khotoril ibtida’ halaman 13 ” : “qouluhu (kullu bid’atin dholalatun) kulliyatun, aammatun, syaamilatun, musyawwarotun bi aqwaa adawaatis syumuuli wal umumi (kullu), afaba’da hadzihil kulliyati yasihhu an nuqossimal bid’ata ila aqsaami tsalasatin, aw ila aqsami khomsatin? ABADAN LA YASIHHU” (hal 13)
    Artinya: “Hadits (smua bid’ah adalah sesat) bersifat general, umum, menyeluruh, di pagari dg kata yg menunjuk pada arti menyeluruh & umum yg paling kuat yaitu kata-kata “kullu (sluruh)”, apakah stelah ktetapan menyeluruh ini kita di benarkan membagi bid’ah menjadi 3 bagian/menjadi 5 bagian? SELAMANYA TIDAK AKAN BENAR”
    Golongan yg anti dg bid’ah hasanah dasarnya adalah hadits yg berbunyi : “An Jabir ibni Abdillah qol, qola Rosulullah Saw: “inna khoirol haditsi kitabullahi wa khoirol huda huda muhammadin wa sarrul umuuri muhdasaatuha wa kullu bid’atin dholalatu” (Rowahu Muslim)

    Artinya: Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah Saw bersabda: sebaik-baik ucapan adalah Kitab Allah, sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru, dan setiap bid’ah adalah sesat.

    Menurut mereka hadits di atas sangat tegas mengatakan bahwa smua bid’ah itu sesat, dlm hal ini saya akan mengutip qoul dari ulama’ yg mereka anggap paling top yaitu Syaikh Muhammad bin Solih Al-Utsaimin dlm kitabnya yg mreka anggap pula sbgai kitab yg paling mu’tabar yaitu kitab “al-ibda’ fi kamalis syar’i wa khotoril ibtida’ halaman 13 ” : “qouluhu (kullu bid’atin dholalatun) kulliyatun, aammatun, syaamilatun, musyawwarotun bi aqwaa adawaatis syumuuli wal umumi (kullu), afaba’da hadzihil kulliyati yasihhu an nuqossimal bid’ata ila aqsaami tsalasatin, aw ila aqsami khomsatin? ABADAN LA YASIHHU” (hal 13)
    Artinya: “Hadits (smua bid’ah adalah sesat) bersifat general, umum, menyeluruh, di pagari dg kata yg menunjuk pada arti menyeluruh & umum yg paling kuat yaitu kata-kata “kullu (sluruh)”, apakah stelah ktetapan menyeluruh ini kita di benarkan membagi bid’ah menjadi 3 bagian/menjadi 5 bagian? SELAMANYA TIDAK AKAN BENAR”

    Pernyataan si koplax ini memberikan pengertian bahwa hadits “smua bid’ah adalah sesat” tanpa terkecuali, hingga gag ada 1 pun bid’ah hasanah apalagi bid’ah mandubah (yang mendatangkan pahala bgi pelakunya), alasan si koplax ini menolak pembagian bid’ah adalah kosakata “kullu”, tapi anehnya si koplax ini berkomentar lagi yg berlawanan arah, dlm halaman lain yaitu halaman 18-19 dlm kitab yg sama : “wa minal qowa’idil muqorroroti annal wasa’ila laha ahkamul maqosidi fa wasaa’ilul masyru’i masyruu’atun wa wasaa’ilu ghoiril masyru’i ghoiru masyruu’atin bal wasaa’ilul muharromi haroomun, fal madarisu wa tasniful ilmi wa ta’liful kutubi wa in kaana bid’atan lam yuujad fii ahdin nabi saw, ala hadzal wajhi illa annahu laysa maqsodan bal huwa washilatun wal wasaa’ilu laha ahkamul maqoosid, wa lihadza lau banaa syakhsun madrosatan lita’limil ilmin muharromin kaana al binaa’u harooman wa lau banaa madrosatan lita’limi ilmi syar’iyyin kaana al binaa’u masyruu’an”,

    Dalam qoul di atas yg di halaman 18-19 telah membatalkan tesis qoul sebelumnya yg di halaman 13 bahwa semua bid’ah itu semua sesat tanpa terkecuali dan sesat tempatnya di neraka dan SELAMANYA TIDAK AKAN BENAR membagi bid’ah menjadi 3 apalgi menjadi 5, kini si koplax menyatakan bahwa membangun madrosah, menyusun ilmu dan mengarang kitab itu bid’ah yg blm pernah ada pada masa Rasulullah Saw, namun hal ini adalah bid’ah yg blm tentu sesat, belum tentu ke neraka, hehe bahkan si koplax ini dlm soal ini menjadi beberapa bagian sesuai dg hukum tujuannya. (aneh tapi nyata)

    Ada lagi qoulnya si koplax yaitu dari kitab syarh aqidah al wasithiyyah hal 336 yg menyatakan kata “kullu” bermakna menyeluruh tanpa memiliki pengecualian dan pembatasan seperti ini: “anna mitsla hadza at ta’bir (kullu syai’in) aammun qod yuroodu bihil khossu, mitslu qoulihi ta’ala an malikati saba’in: (wa ‘uutiyat min kulli syai’in), wa qod khoroja syai’un katsiirun lam yudkhol fii mulkiha minhu syai’un mitslu mulki sulaiman”
    Artinya: contoh seperti redaksi “kullu syai’in (sgala sesuatu)” adalah kalimat umum yg terkadang di maksudkan pada makna yg terbatas, seperti firman Allah tentang Ratu Saba’ : “ia di karuniai segala sesuatu” padahal banyak skali sesuatu yg tidak masuk dalam kekuasaannya, sprti kerajaan Nabi Sulaiman As”

    Dalam qoul yg di atas ternyata si koplax ini mengakui bahwa tdk semua kata “kullu” dlm teks Al-Qur’an/Hadits bermakna general (am) tetapi ada yg bermakna terbatas (khosh), rupanya si kpolax ini terjebak dlm pembagian bid’ah menjadi brp bagian, ada qoulnya lagi yg tak kalah nyeleneh : “al-aslu fii umuurid dunya al hillu fama ubtudi’a minha fahuwa halaalun, illa an yadullu ad daliilu ala tahriimihi, lakin umuurud diinil aslu fiihal hadzoru, fama ubtudi’a minha fahuwa haroomun bid’atun, illa bi daliilin minal kitabi was sunnati ala masyru’ iyyatihi” (Al-Utsaimin, Syarh aqidah al-wasithiyyah sohifa- 639-640)

    Artinya: “hukum asal perbuatan baru dlm urusan-urusan dunia adalah halal, jadi bid’ah dlm urusan-urusan dunia itu halal, kecuali ada dalil menunjukkan keharamannya, tetapi hukum asal perbuatan baru dalam urusan-urusan agama adalah di larang, jadi berbuat bid’ah dalam urusan-urusan agama adalah haram & bid’ah, kecuali ada dalil dari Kitab dan Sunnah yg menunjukkan keberlakuannya”

    Jadi qoul si koplax di atas ini membatalkan tesis sebelumnya bahwa qoul yg pertama smua bid’ah scara keseluruhan adalah sesat dan sesat itu tempatnya di neraka, namun si koplax ini membatalkannya dg qoulnya yg menyatakan bahwa “bid’ah dalam urusan dunia halal semua kecuali ada dalil yg melarangnya, dan bid’ah dalam urusan agama haram & bid’ah semuanya kecuali ada dalil yg membenarkannya, dg klasifikasi bid’ah menjadi 2 (versi si koplax): bid’ah dlm hal dunia & bid’ah dlm hal agama dan memberi pengecualian dlm masing bagian, ini sebuah bukti bahwa si koplax ini tidak konsisten dg pernyataan awalnya (tidak ada pembagian dalam bid’ah)

    Peparing E’ Illahi/Moch. Atho’ Illah.
    ==========================
    Surabaya, 18-Oktober-2011, 14-00

    1. Khas asjam (Asy’ariyyah Jahmiyyah), tidak amanah dan penuh plintiran kalau mengutip sumber. Kirimin aja ke salafytobat, siapa tahu dimuat di websitenya, atau kirimkan ke Syekh Idahram supaya bisa jadi tambahan isi buku sesatnya yang keempat.

      Coba kita lihat betapa tidak amanahnya kaum asjam kalau mengutip sumber:

      Ucapan Syaikh begitu jelas dan gamblang:

      من لم يكفر المشركين، أو شك في كفرهم، أو صحح مذهبهم كفر

      Yang artinya: “barang siapa tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau meragukan kufur mereka atau membenarkan madzhab mereka maka ia kafir.”

      Namun sangat disayangkan Ustadz Marhadi menerjemah sesuai dengan keinginan dirinya bukan sesuai dengan keinginan pemilik ucapan. Dia terjemahkan: “barang siapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik-yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi’raj, dll, pen.- atau ragu untuk mengkafirkan mereka, atau membenarkan madzhab mereka maka dia telah kafir.”

      Untuk mengetahui bahaya dan lucunya model terjemahan ini, mari kita terapkan pada ayat-ayat al-Qur`an. Allah berfirman:

      فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ

      “Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu -yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi’raj, dll, pen.- dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka.” (QS. At-Taubah, 5)

      أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

      “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan-yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi’raj, dll, pen.-.” (QS. An-Nahl, 123)

      Atau kita terapkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

      أَخْرِجُوْا الْمُشْرِكِيْنَ مِنْ جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ

      “Keluarkan orang-orang musyrik-yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi’raj, dll, pen.- dari jazirah arab.” (HR. Bukhari, Muslim)

      Pertanyaannya : apakah boleh menerjemah dengan cara begini? Jelas tidak boleh. Mengapa? Sebab bukan itu yang dimaksud oleh Allah dan Rasulnya. Begitu pula, tidak boleh menerjemah ucapan Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab Rahimahullah dengan cara begitu sebab bukan begitu yang beliau maksud. Dari mana kita tahu maksudnya? Dari ucapannya dan penjelasannya, dari penjelasan para muridnya dan pengikutnya. Jika kita menerjemah tidak berdasarkan maksud si pembicara maka kita telah berbuat zhalim, dusta, dan nista.

      1. @dul, ente yang jahil dari mane tuh ente punya tulisan. he he he yang bilang tukang fitnah ternyata si @abdullah nih n yang tukang bilang bid’ah ternyata si @dullo juga, waduh emang maling teriak maling, bilang bid’ah ternyata rajanya ……….. wk wk wk
        Katanya mau diskusi asal ilmiyah, kok ilmiyah nya tukang kibul. buktiin artikel dari mana tuh !!!!!

          1. Cek halaman 166. “Syaikh” Idahram menerjemahkan musyrik sebagai yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi’raj, dll,

          2. @dul
            wk wk wk, ente bohong hal itu bukan bunyinye begitu. ane tanya ente punya gak sih bukunye. daripada ente asal jeplak, nti fitnah. jujur aje.

          3. Saya gak ada bukunya, karena buku sampah ini tidak layak dibeli. Tapi ada scan halaman yang dimaksud. Ya udah, kalau lu punya bukunye, dan menurut lu salah, ya tulis aja yang bener.

      2. @abdullah
        Hati2 ente dengan Ayat2 Al Qur’an, ente udah mempermainkan Al Qur’an nih buktinye !

        –“Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu -yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi’raj, dll, pen.- dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka.” (QS. At-Taubah, 5)— dari ente ya

        aslinye : Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu[*], Maka Bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan[**]. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At Taubah : 5)
        [*] yang dimaksud dengan bulan Haram disini ialah: masa 4 bulan yang diberi tangguh kepada kamu musyrikin itu, yaitu mulai tanggal 10 Zulhijjah (hari Turunnya ayat ini) sampai dengan 10 Rabi’ul akhir.
        [**] Maksudnya: terjamin keamanan mereka.

        —-“Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan-yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi’raj, dll, pen.-.” (QS. An-Nahl, 123)— dari ente

        aslinye : Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (An Nahl : 123)

        Masya Allah @abdullah. Ente berdusta atas nama Allah.

          1. @dul
            Ente bohongnye luar biasa……. ente cuma copas aja bangga, justru ane dah cek dibukunye tau ente, makanye ane tulis.

          2. Makanya, kalau baca, otaknya jangan ditaruh di meja, jadinya cuma sekedar membaca rangkaian huruf tanpa memahami maknanya. Coba kamu lihat, الْمُشْرِكِينَ diterjemahkan sebagai “yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan isra` mi’raj, dll,”. Kalau terjemahan kacau dan rusak ini dibuat nerjemahin quran hadits, hasilnya seperti yang di atas itu.

  61. Mas @Ferry
    Ane juga sedang baca-baca fatawa utsaimin, ternyata dia juga menyetujui tentang pembacaan ayat al Qur’an kepada Mayyit :

    Muhammad bin Shalih al-Utsaimin merupakan Syaikhul Wahhabiyah yang fatwa-fatwanya juga banyak menjadi rujukan pengikut sekte Wahhabiyah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin al-Wahib at-Tamimi atau lebih dikenal dengan Syaikh al-Utsaimin. Dalam beberapa fatwanya, terdapat pernyataan menarik yang mungkin jarang di publikasikan oleh pengikut Wahhabiyah tentang bacaaan al-Qur’an untuk orang mati. Berikut diantara pernyataan beliau :

    PENDAPAT YANG SHAHIH TENTANG MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK ORANG MATI
    “Pembacaan al-Qur’an untuk orang mati dengan pengertian bahwa manusia membaca al-Qur’an serta meniatkan untuk menjadikan pahalanya bagi orang mati, maka sungguh ulama telah berselisih pendapat mengenai apakah yang demikian itu bermanfaat ataukah tidak ? atas hal ini terdapat dua qaul yang sama-sama masyhur dimana yang shahih adalah bahwa membaca al-Qur’an untuk orang mati memberikan manfaat, akan tetapi do’a adalah yang lebih utama (afdlal)” *)
    Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin pernah ditanya tentang hukum membaca al-Qur’an untuk roh orang mati. Menariknya adalah bahwa menurut pandangan beliau ; yang rajih adalah bahwa bacaan al-Qur’an sampai kepada orang mati apabila ditujukan untuk orang mati tersebut.

    *) Majmu’ Fatawa wa Rasaail [17/220-221] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

    PENDAPAT YANG RAJIH TENTANG MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK ORANG MATI
    Fadlilatusy Syaikh ditanya tentang hukum tilawah (membaca al-Qur’an) untuk orang mati ?
    Jawaban : Tilawah untuk roh orang mati yakni membaca al-Qur’an karena ingin memberikan pahalanya untuk mayyit (orang mati) yang muslim, masala h ini terdapat perselisihan diantara ahlul ilmi atas dua pendapat : Pertama, sungguh itu bukan perkara yang masyru’ (tidak disyariatkan) dan sungguh mayyit tidak mendapat manfaat dengan hal itu yakni tidak mendapatkan manfaat dengan pembacaan al-Qur’an pada perkara ini. Kedua, sesungguhnya mayyit mendapatkan manfaat dengan hal itu, dan sesungguhnya boleh bagi umat Islam untuk membaca al-Qur’an dengan meniatkan pahalanya untuk fulan atau fulanah yang beragama Islam, sama saja baik dekat atau tidak dekat (alias jauh).

    Dan yang rajih (yang kuat) : adalah qaul (pendapat) yang kedua, karena sesungguhnya telah warid sebagai sebuah jenis ibadah yang boleh memindahkan pahalanya untuk mayyit (orang mati) karena sesungguhnya telah warid sebagai , sebagaimana pada hadits Sa’ad bin ‘Ubadah radliyallahu ‘anh ketika ia menshadaqahkan kebunnya untuk ibunya, dan sebagaimana kisah seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam : sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan aku menduga seandainya ia sempat berbicara ia akan meminta untuk bershadaqah, maka bolehkah bershadaqah untuknya ? Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab : iya”, ini sebuah peristiwa yang menunjukkan bahwa memindahkan pahala jenis ibadah untuk salah seorang kaum Muslimin adalah boleh, dan demikian juga terkait membaca al-Qur’an. Akan tetapi yang lebih utama dari perkara ini agar mereka berdo’a untuk mayyit, serta menjadikan amal-amal shalih untuk dirimu sendiri, karena Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Apabila bani Adam mati maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selali mendo’akannya”. Tidak dikatakan, “atau anak shalih yang melakukan tilawah untuknya, atau shalat untuknya, atau puasa untuknya, atau shadaqah untuknya, akan tetapi Nabi bersabda : “atau anak shalih yang berdo’a untuknya”,
    Maka ini menunjukkan bahwa seorang manusia berdo’a untuk mayyit itu lebih utama (afdlal) dari pada menjadikan amal-amal shalihnya lainnya untuk mayyit, dan manusia membutuhkan amal shalih agar pahalanya menjadi simpanan disisi Allah ‘Azza wa Jalla.” **)

    **) Majmu’ Fatawa wa Rasaail [2/305] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

    Tidak hanya itu, Syaikh al-Utsaimin al-Wahhabi juga pernah ditanya tentang surah an-Najm ayat 39. Ulama sendiri memiliki berbagai jawaban dalam menjelaskan ayat ini namun ulama tidak menafikan bahwa seseorang memang bisa memperoleh manfaat dari orang lain, sebab nas untuk hal ini telah mutawatir baik didalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Seperti itu juga Syaikh al-Utsaimin yang tidak menafikan bahwa seseorang bisa memperoleh manfaat dari amal orang lain.

    Ane masih baca-baca, berarti yang digembar-gemborkan pembacaan ayat Al Qur’an tidak ada dalam madzhab wahabi ternyata bos nya mengatakan boleh.
    Masya Allah.

  62. @abdullah n all wahabiyun
    Tolong cek dibukunya Majmu’ Fatawa wa Rasaail – Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Kalau gak percaya beli bukunya n baca yang bener.
    Tahlilan menurut Al Utsaimin adalah dibolehkan.

    “Al-Utsaimin di tanya : Apa hukum shalat dan puasa dari orang lain untuk mayyit ? Jawab : terdapat 4 macam jenis ibadah yang sampai kepada mayyit berdasarkan ijma’, yakni :

    1. Do’a
    2. Ibadah wajib yang bisa di pindahkan
    3. Shadaqah
    4. Membebaskan budak

    Dan yang tidak terhitung pada hal itu maka itu berada pada kedudukan yang diperselisihkan diantara ulama. Sebagian ulama ada yang mengatakan : sesungguhnya mayyit tidak mendapatkan manfaat dengan pahala amal-amal shalih yang dihadiahkan untuknya selain empat hal tersebut.
    Akan tetapi yang shawab (yang benar) : bahwa orang mati bisa mendapatkan manfaat dengan setiap amal shalih yang dijadikan untuk mayyit apabila mayyitnya mukmin, namun kami tidak melihat bahwa menghadiahkan amal kebajikan untuk orang mati termasuk perkara masyru’ yang dituntut dari manusia, bahkan kami katakan : apabila seorang manusia menghadiahkan pahala amal dari berbagai amal atau meniatkan dengan beramal dari berbagai amal agar dijadikan pahalanya untuk orang mati yang muslim maka itu bermanfaat bagi orang mati tersebut, tetapi tanpa ada tuntutan atau anjuran baginya untuk melakukan hal demikian.
    Dalil atas hal ini bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak menunjuki umatnya kepada amal ini, bahkan telah tsabit dari Nabi shalallallahu ‘alayhi wa sallam didalam shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah, bahwa beliau bersabda : “apabila seorang manusia mati maka terputus amalnya kecuali yang berasal dari tiga hal yakni dari shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang berdo’a untuknya”, Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam tidak mengatakan : “atau anak shalih yang beramal untuknya, atau beribadah untuknya dengan puasa, shalat atau selainnya”
    Ini sebuah isyarat bahwa yang layak serta yang disyariatkan adalah do’a untuk orang-orang mati diantara kita, bukan menghadiahkan ibadah-ibadah kepada mereka, sebab manusia sebagai pelaku didunia ini butuh kepada amal shalih, maka hendaklah menjadikan amal shalih untuk dirinya sendiri, serta memperbanyak do’a untuk orang-orang yang mati, sebab itu adalah baik dan merupakan jalan salafush shalih radliyallahu‘anhum”. *)
    *) Majmu’ Fatawa wa Rasaail [17/225] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

    Demikian.

    1. Syaikh Utsaimin membenarkan, tetapi tidak menganjurkan. Menurut mazhab Syafi’i pahalanya tidak sampai kepada mayat:
      “Dan adapun sholat dan puasa maka madzhab As-Syafi’i dan mayoritas ulama adalah tidak sampainya pahalanya kepada si mayat…adapun qiroah (membaca) Al-Qur’aan maka yang masyhuur dari madzhab As-Syafi’I adalah tidak sampai pahalanya kepada si mayat…” (Al-Minhaaj syarh shahih Muslim 1/90)

      Lha katanya ikut mazhab Syafi’i, kok sekarang mengambil pendapat Syaikh Utsaimin, dan itu pun milih2, bukan sesuatu yang dianjurkan oleh Syaikh. Kebiasaan sih, karena udah dilakukan turun temurun, nggak bisa diubah, mending dicari dalil yang mengesahkan walaupun lemah.

      1. @abdullah
        Berarti dibenarkan dong orang yang mengadakan tahlilan, jangan dibilang bid’ah atau apalah.
        Nah sekarang ente harus memenuhi janji sama mas @naka tuh.

      2. Dalam madzhab As Syafi madzhab Masyhur gak sampai namun ikhtiyarat para ulama mujtajidnya nyampai. Ikhtiyarat adalah pendapat yang dipilih oleh ulama mujtahid syafi’iyah berdsarkan dalil yang berbeda dengan pendapat Imam.

        Para ulama As Syafi’iyah sendiri menilai bahwa maksud tidak sampai dari perkatanaan Imam jika pelakunya hanya mencukupkan niat saja agar pahalanya disampaikan, tanpa berdoa agar pahala disampaikan Allah kepada si mayit.

        Sehingga, Imam An Nawawi menjama’ dua pendapat itu, dengan menyatakan jika hendak memenghadiahkan maka setelah baca Al Qur`an berdoa kepada Allah agar pehala disampaikan kepada si mayat.

        Para ulama As Syafi’iyah yang berpendapat nyampainya bacaan semisal Al Hafidz Ibni Shalah, Imam An Nawawi, Imam Ar Rafi’i, As Suyuthi dll.

        Nah, yang demikian tidak bisa dikatakan sebagai ulama yang keluar dari madzhab As Syafi’i, walau ada beberapa pendapat mereka berbeda dengan Imam. Kenapa? Karena posisi mereka dah sampai pada posisi ijtihad dalam madzhab, walau masih bermadzhab.

        So, kalau sekarang ada As Syafi’iyah yang mengikti pendapat para mujtahid madzhab yang memilih pendapat sampainya bacaan, juga tidak dinilai keluar dari madzhab.

        Kami As Syafi’iya punya juklak juga dalam bermdzhab.

      3. waaaa,,,wahabi bohong lagi..padahal yang mashyur menurut pendapat madzhab Syafii adalah sampai pahalanya,,yang masih di perdebatkan adalah tempat bacanya,,{tersenyum geli}

  63. @ucep @nasrulloh @all aktifis ummatipress

    baca yg ini juga, silahkan kasih komen, disini, sepertinya masih sepi tuh komennnya, serang aja situ ini yaaa, silahkan aktivis ummatipress kasih komen di situs ini.

    buku syaikh idahram, penul kesalahan terjemahan, dan pembohongan publik.
    sebenarnya syaikh idahram tidak ilmiyyah, karena memakai nama samaran, kalo berani jgn pakai nama samaran oiiii….sudah ngarang buku banyak2 tapi tidak ketahuan orangnya

  64. nih ada juga,
    http://nasihatonline.wordpress.com/2011/06/09/jawaban-ilmiah-terhadap-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/

    sebetulnya kalo di cek orang ini (Sofyan Chalid bin Idham Ruray) adalah ikut kelompok yg kontra ust. Firanda, yg artikel kritikan-nya kelompok ini (salfybpp), diambil oleh aktifis ummatipress untuk membantah firanda

    nah ternyata kelompok yg kontra firanda, juga mengkritik BOS-nya ummatipress ……….hehehe muter2 kan

    yaa gitulah seperti pepatah :
    MUSUH (salafybpp) dari MUSUHKU (Firanda) adalah TEMANKU

    tapi nulis juga untuk membantah SYAIKH IDAHRAM (sembunyi dibalik nama keren, orang tanpa identitas)

    silahkan kasih komen disini.

    http://nasihatonline.wordpress.com/2011/06/09/jawaban-ilmiah-terhadap-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/

    1. Anas@

      Setahu saya, artikel tentang Firanda sebaga Tukang Dusta tsb diposting di Ummati sejak sebelum Firanda ngetop sebagai Pendusta. Coba lihat tanggal postingannya sudah hampir dua tahun yg lalu. Hal itu diposting hanya ingin menunjukkan bukti bahwa sesama penganut Salafy Wahabi saling menyerang, yang intinya mereka rebutan duit/fulus di balik penyebaran faham Wahabi di Indonesia.

      Ingat, di balik penyebaran Faham Wahabi di Indonesia itu ada fulus yg jumlahnya tidak sedikit yg bisa bikin kaya mendadak. Dari kere jadi kaya, apa nggak siiip itu buat orang2 materialis semacam Firanda si Pendusta kere itu? (sekarang Firanda suda tidak kere lagi lah?)

      1. Emang kalau bikin pesantren gak butuh duit? Kalau muridnya pada gak punya, digratisin? Media (buku, radio, tv) gak butuh duit? Kalau ada sumber duit dari orang Islam, kenapa tidak.

        Coba bandingkan sama kelompok AsJam (Asy’ariyyah Jahmiyyah), nerima duit dari kaum kafir LibForAll berapa milyar tuh? PBNU, Fatayat, Wahid Institute, JIL, dll, cuma dipake untuk memusuhi umat Islam dan melindungi gereja. Emang dari dulu kelakuan NU kaya gitu. Jaman Orla gabung sama PKI melawan Masyumi. Coba ini, bergabung dengan komunis, melawan orang Islam. Jaman Orba, jadi yang pertama menelikung umat Islam dan menerima asas tunggal. Para kyai dapat duit banyak dan beli Pajero, sehingga terkenal dengan sebutan Kyai Pajero. Jaman orde reformasi nerima duit dari kaum kafir asing untuk melindungi kepentingan mereka di Indonesia. Wis, wis, NU, NU.

        1. Pak Dul, menurut antum duit orang kafir itu halal apa haram?

          Kalau menurut ana duit orang kafir itu halal, yang menjadi tidak halal tindakan setelah dapat duitnya digunakan untuk mengembangkan ajaran sesat seperti ajaran Wahabi. qi qi qi…., menurut cerita teman2 yg Jum’atan di Masjid Wahabi suka teriak-teriak di masjid2 tentang ajaran sesat eh kok ajarannya sendiri ternyata ajaran sesat ya? Kumaha atuh pak Dul? Pada sadar apa nggak sih kalau Wahabi itu adalah kesesatan itu sendiri?

          Gitu lho Pak Dul, paham nggak sih?

          1. Duh3 Aryati gelo, kalau menurut kamu Wahabi sesat, jangan ke Masjidil Haram, imamnya wahabi, solat kamu gak sah nanti. Jangan ke masjid Nabawi, imamnya juga wahabi. Datang saja ke masjid yang ada kuburan di dalamnya, karena itu aqidah yang benar menurut Habib Munzir. Lagian yang suka teriak2 istighotsah minta pertolongan wali kan golongan kamu?

      2. @baihaqi

        oiiii, yg penting itu, orang salafy yg mengkritik firanda (salafy juga), ternyata menulis buku juga untuk mengkritik IDAHRAM, itu yg penting, kesimpulannya bukunya IDAHRAM banyak salah-nya,

        gak penting sesama salafy bermusuhan (perbedaan pendapat ijtihad), itu sudah biasa……..

        sesama imam madzhab aja saling kritik (beda ijtihad).

        http://nasihatonline.wordpress.com/2011/07/15/telah-terbit-buku-bantahan-ilmiah-terhadab-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/

        1. anas@

          Ana sudah baca tulisan para Salafi Wahabiyyin tsb, ternyata tidak ada satu pun bantahan terhadap fakta-fakta yg ada dalam Buku Syekh Idahram tsb. Semua tulisan Salafy Wahabiyyin itu hanya berisi propaganda hitam untuk membunuh karakter Syekh Idahram. Coba sebutin di mana contoh bantahan terhadap fakta2 yg dimuat dalam buku TROLOGI-nya Syekh Idahram. Ingat dan ketahuilah bahwa buku Syakh Idahram itu berisi sangat banyak fakta2 kesesatan Wahabi, dan tulisan yg antum berikan link-nya itu dak ada satu pun bantahan kecuali hanya propaganda hitam yg tanpa fakta untuk menjelek-jelekkan Syekh Idahram.

          Sekali lagi, mana bantahannya terdap fakta2 kesesatan Wahabi yg ada dalam buku Syekh Idahram? Semuanya apologis (bela diri sebisanya-bisanya) tanpa fakta. Coba baca yg teliti deh, ada nggak bantahan yg real? Segini dulu dari ana, silahkan baca dulu artikel yg di link yg antum berikan, dan jangan lupa sambil mikir ya? Syukron.

  65. @abdullah
    Kite disini kan cari titik temu, bukannya maki-makian. titik temunya kan bisa begini :
    Ente punya dalil, ane punya dalil, jadi jangan gampang bilang Bid’ah, syirik, sesat, atau apalah apalagi sampai mengatakan Kafir. Kite2 kan ini muslim, bukankah muslim yang ada dibumi ini saling bersaudara, ya gak?.

    1. Gimana mau bikin titik temu, kalau menterjemahkan perkataan orang saja tidak amanah. Jadi sebenarnya yang menganggap gampang bilang syirik, bid’ah itu kamu sendiri. Tawassul ada yang boleh, ada yang tidak. Istighotsah ada yang boleh, ada yang tidak. Terus si kadzab itu dengan terjemahan sak enak udel menyimpulkan salafi mengkafirkan umat Islam yang bertawasul, zikir jama’ah, tahlilan, dll

        1. Baca buku lu sono yang bener! Kalau cuma dianggap susunan huruf2 yang gak bakalan ngerti2. Udah dijelasin ber-kali2 bagaimana tidak amanahnya orang2 AsJam dalam melakukan penterjemahan. Buka lagi buku sesat itu halaman 166, baca yang bener!

          1. Lu punya buku asli atau gak, tetep aja tidak menutup fakta Marhadi Al-Kadzab menulis dusta2 di bukunya. Udahlah, emang kamunya yang taklid buta gak mau mikir.

    1. Mas saliq, ke mana aja baru nongol?

      kalau ingin dengar satu radio saja maka stop aja yg lain2-nya deh. Caranya klik kotak kecil di kiri bawah dari masing2 media Player tsb. Gitu aja repot Mas Saliq? Kwk kwk kwk….

      Oh ya, Mas Admin, jadi enak nih sambil dengar radionya yg langsung ON. Thanks ya?

  66. Masih nunggu jawaban Abdullah, tentang klaim bahwa Habib Munzir berhujjah dengan hadits palsu. Hadits palsu apa yang dijadikan Habib Mundzir sebagai hujjah….

    1. Hadits tentang Nur Muhammad itu hadits palsu, bikinan sufi. Karena Habib Munzir afiliasinya sufi Yaman, ya gak heran kalau hadits ini disebut-sebut terus.

  67. Dalam madzhab As Syafi madzhab Masyhur gak sampai namun ikhtiyarat para ulama mujtajidnya nyampai. Ikhtiyarat adalah pendapat yang dipilih oleh ulama mujtahid syafi’iyah berdsarkan dalil yang berbeda dengan pendapat Imam.

    Para ulama As Syafi’iyah sendiri menilai bahwa maksud tidak sampai dari perkatanaan Imam jika pelakunya hanya mencukupkan niat saja agar pahalanya disampaikan, tanpa berdoa agar pahala disampaikan Allah kepada si mayit.

    Sehingga, Imam An Nawawi menjama’ dua pendapat itu, dengan menyatakan jika hendak memenghadiahkan maka setelah baca Al Qur`an berdoa kepada Allah agar pehala disampaikan kepada si mayat.

    Para ulama As Syafi’iyah yang berpendapat nyampainya bacaan semisal Al Hafidz Ibni Shalah, Imam An Nawawi, Imam Ar Rafi’i, As Suyuthi dll.

    Nah, yang demikian tidak bisa dikatakan sebagai ulama yang keluar dari madzhab As Syafi’i, walau ada beberapa pendapat mereka berbeda dengan Imam. Kenapa? Karena posisi mereka dah sampai pada posisi ijtihad dalam madzhab, walau masih bermadzhab.

    So, kalau sekarang ada As Syafi’iyah yang mengikti pendapat para mujtahid madzhab yang memilih pendapat sampainya bacaan, juga tidak dinilai keluar dari madzhab.

    Kami As Syafi’iya punya juklak juga dalam bermdzhab.

  68. mengirim pahala dan bacaan pada mayit,

    Berkata Imam Nawawi : “Barangsiapa yang ingin berbakti pada ayah ibunya maka ia boleh bersedekah atas nama mereka (kirim amal sedekah untuk mereka), dan sungguh pahala shadaqah itu sampai pada mayyit dan akan membawa manfaat atasnya tanpa ada ikhtilaf diantara muslimin, inilah pendapat terbaik, mengenai apa – apa yang diceritakan pimpinan Qadhiy Abul Hasan Almawardiy Albashriy Alfaqiihi Assyafii mengenai ucapan beberapa Ahli Bicara (semacam wahabiy yang hanya bisa bicara tanpa ilmu) bahwa mayyit setelah wafatnya tak bisa menerima pahala, maka pemahaman ini Batil secara jelas dan kesalahan yang diperbuat oleh mereka yang mengingkari nash – nash dari Alqur’an dan Alhadits dan Ijma ummat ini, maka tak perlu ditolelir dan tak perlu diperdulikan.

    Namun mengenai pengiriman pahala shalat dan puasa, maka madzhab Syafii dan sebagian ulama mengatakannya tidak sampai kecuali shalat dan puasa yang wajib bagi mayyit, maka boleh di Qadha oleh wali nya atau orang lain yang diizinkan oleh walinya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dalam Madzhab Syafii, yang lebih masyhur hal ini tak sampai, namun pendapat kedua yang lebih shahih mengatakan hal itu sampai, dan akan kuperjelas nanti di Bab Puasa Insya Allah Ta’ala.

    Mengenai pahala Alqur’an menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii bahwa tak sampai pada mayyit, namun adapula pendapat dari sahabat sahabat Syafii yang mengatakannya sampai, dan sebagian besar ulama mengambil pendapat bahwa sampainya pahala semua macam ibadah, berupa shalat, puasa, bacaan Alqur’an, ibadah dan yang lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari pada Bab : “Barangsiapa yang wafat dan atasnya nadzar” bahwa Ibn Umar memerintahkan seorang wanita yang wafat ibunya yang masih punya hutang shalat agar wanita itu membayar (meng qadha) shalatnya, dan dihikayatkan oleh Penulis kitab Al Hawiy, bahwa Atha bin Abi Ribah dan Ishaq bin Rahawayh bahwa mereka berdua mengatakan bolehnya shalat dikirim untuk mayyit,

    Telah berkata Syeikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah bin Abi Ishruun dari kalangan kita (berkata Imam nawawi dengan ucapan : “kalangan kita” maksudnya dari madzhab syafii) yg muta’akhir (dimasa Imam Nawawi) dalam kitabnya Al Intishar ilaa Ikhtiyar bahwa hal ini seperti ini. (sebagaimana pembahasan diatas), berkata Imam Abu Muhammad Al Baghawiy dari kalangan kita dalam kitabnya At Tahdzib : Tidak jauh bagi mereka untuk memberi satu Mudd untuk membayar satu shalat (shalat mayyit yg tertinggal) dan ini semua izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah Qiyas atas Doa dan sedekah dan haji (sebagaimana riwayat hadist – hadits shahih) bahwa itu semua sampai dengan pendapat yang sepakat para ulama. (Syarh Nawawi Ala Shahih Muslim Juz 1 hal 90)

    Maka jelaslah sudah bahwa Imam Nawawi menjelaskan dalam hal ini ada dua pendapat, dan yang lebih masyhur adalah yang mengatakan tak sampai, namun yang lebih shahih mengatakannya sampai,

    tentunya kita mesti memilih yang lebih shahih, bukan yang lebih masyhur,
    Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang shahih adalah yang mengatakan sampai, walaupun yang masyhur mengatakan tak sampai, berarti yang MASYHUR itu DHOIF, dan yang SHOHIH adalah yang mengatakan SAMPAI, dan Imam Nawawi menjelaskan pula bahwa sebagian besar ulama mengatakan semua amal pahala sampai.

    Sedangkan orang-orang Wahhabi hanya mengutip perkataan Imam Nawawi hingga, ”yang lebih masyhur hal ini tak sampai.”
    …..macam teman kita di atas…Inilah liciknya orang – orang wahabi

    lanjutnya……..

    “Sungguh sedekah untuk dikirimkan pada mayyit akan membawa manfaat bagi mayyit dan akan disampaikan padanya pahalanya, demikian ini pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, demikian pula mereka telah sepakat atas sampainya doa – doa, dan pembayaran hutang (untuk mayyit) dengan nash – nash yang teriwayatkan masing masing, dan sah pula haji untuk mayyit bila haji muslim,

    Demikian pula bila ia berwasiat untuk dihajikan dengan haji yang sunnah, demikian pendapat yang lebih shahih dalam madzhab kita (Syafii), namun berbeda pendapat para ulama mengenai puasa, dan yang lebih benar adalah yang membolehkannya sebagaimana hadits – hadits shahih yang menjelaskannya, dan yang masyhur dikalangan madzhab kita bahwa bacaan Alqur’an tidak sampai pada mayyit pahalanya, namun telah berpendapat sebagian dari ulama madzhab kita bahwa sampai pahalanya, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada yang membolehkannya” (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 7 hal 90)

    1. Terus terang aja, kalau ada pendapat masyhur, tetapi didhoifkan sama AsJam, biasanya kurang bisa dipercaya. Terlebih lagi AsJam punya track record memplintir perkataan para ulama.

      Sekarang gini saja, hadits menghajikan itu ada, mengqadhakan shalat wajib juga ada, menyedekahkan juga ada, yang nadzar juga ada, tetapi gak ada yang bacain quran, tahlilan, azan di kuburan, sahabat juga tidak melakukan, tabi’in juga tidak.

      1. @bedul
        ya sdh, biarlah ente nanti mati jd bangke, seperti anjing, babi, yg tdk ada nilai kemuliannya,
        tolong dijawab adakah nash Al Qur’an dan hadist rosulullah yg melarang org menyebut nama-nama Allah SWT, ayat-ayat Allah SWT.. kalau tidak selain sekte ente Sawah yang melarangnya… sekte yg melampaui batas,
        jgnlah ente membawa2 nama sahabat, tabiin.. nanti kualat!!!!!

        1. ferry ASY’ARIYYAH WAL JAHMIYYAH (ASWAJA), mulut kamu seperti kebanyakan mulut murid2 Habib Munzir di forum2, kasar dan tidak berakhlak, walaupun Habib Munzir berakhlak bagus. Orang AsJam memang suka memplintir pendapat para ulama, coba cari pendapat ulama yang kamu benci yang melarang orang menyebut nama Allah dan ayat Allah? Kalau gak mau menurut kepada Nabi, sahabat, tabi’in, kamu mau nurut siapa?

      2. Istilah masyhur yang digunakan Imam An Nawawi, tidak melulu menunjukkan bahwa ia pendapat rajih (arjahiyah). Tapi juga digunakan untuk menunjukkan bahwa dalam masalah itu ada khilaf dalam madzhab (khilafiyah). Demikian menurut Al Allamah Syumailah Al Ahdal, faqih As Syafiiyah Yaman.

        So, bukan memelintir bro, ada ilmunya.
        Itulah kenapa walau Imam An Nawawi menyatakan tidak sampainya pahala qira’ah merupakan pendapat masyhur, namun beliau memilih ikhtiyarat yang menyatakan sampainya pahala bacaan qira’ah dengan berdoa agar disampaiakan pahalanya kepada si mayit setelah qira’ah.

      3. pa Abdullah

        prinsipnya; dalam sebuah diskusi yang bener2 mau dikatakan ilmiah kedua belah pihak setidaknya memiliki puluhan referensi untuk dijadikan hujjah dalam mempersoalkan sebuah permasalahan. jikalau hujjah yang disampaikan dari salah satu pihak memang terbukti kuat kebenarannya, maka salah satu dari pihak yang berdialog harusnya bersedia menerima dengan lapang dada kebenaranny.

        kiranya kurang adil dan kurang baik hanya menuduh saja, tanpa bisa mematahkan hujjah2 dari lawan diskusinya. mf kalau kurang berkenan. ini hanya catatan dari seorang awam sj yg sering menyimak.

        syukron

    2. Mas Prass, mantab deh. Wahabi biasanya kalau gak selaeranya walaupun yg berkata Ulama Mu’tabar tetap akan dipandang sebelah mata. Atau bahkan dicibirnya bahwa ulama itu bukan Nabi dan Rasul. Begitulah Wahabi, plin plan dan Ulama Salafus sholih sebagai pegangan hanya sebatas semboyan tanpa bukti. Walloju a’lam…..

  69. baru saja tadi siang tidak sengaja melihat habib munzir di TVONE secara live, echhhh sorenya sudah muncul bantahan baru dari UST. FIRANDA

    teruskan ust. firanda…….!!! antum mempunyai hak untuk mengkoreksi kesalahan2 HABIB MUNZIR, dan kalopun tidak dijawab oleh habib munzir, gak apa2 itu juga hak habib munzir.

    http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/211
    judul : ANTARA HABIB MUNZIR & ISLAM JAMA’AH (LDII)

    1. Pak Anas@
      Tidak akkan percaya kepada Firanda sang Pendusta Murokkab itu kecuali orang2 bodoh yg tak mampu mikir dan hanya bisa manggut2 saja. Itulah koment saya buat antum sebagai contoh salah satu orangnya yg hanya bisa manggut2 n tak mampu mikir sesuai fakta.

      1. Salah satu pentaklid buta Habib Munzir, cuma bisa mencaci setelah bobrok pujaannya ditelanjangi habis2an. Fakta yang ada adalah habib Munzir pake jurus sanad die aja yang sah, yang lain tidak (alias mangkul) ala Nur Hasan Ubaidah dari Islam Jama’ah.

  70. @ All Wahabi
    Tolong dijawab Fatwa nyeleneh Ulama2 kalian itu yg jelas2 menyalahi sunnah dan Qur’an jargonnya kembali kesunnah dan Qur’an, munafik dan pembohong besar, seperti itulah sifat yahudi??? jgn berlari ketopik yg lain,,

  71. mudah2an bisa masuk lagi, dah ketinggalan jauh nih, tp yg dari bekasi siapa yah? kalo ada wahabi dari bekasi bicaranya kurang santun, kasar n ga ilmiah, mungkin tinggal dkt bantar gebang x yah, jadi mulutnya agak bau, saran saya harus sering2 wudhu, si anas yg makelar/calo blog sawah, yg banyak nuduh buku itu ada intervensi syiah, yaah mana buktinya? pengarangnya syiah? yg kasih referensi syiah? penerbitnya syiah? jgn cuma bilang ini itu syiah, bicara kasih bukti, jgn cuma HIT n RUN, perkara Habib MUnzir td ceramah langsung dibantah firanda, hebat juga yah firanda ini yg katanya lg belajar di Madinah bisa cepat kasih bantahan, pasti dia memang spesialis pemantau dakwah Habib Munzir, pasti banyak pakai mata2 dakwah aswaja spy cepat dibantah, si saliq bicara radiooo terus, mau jadi penyiar ya mas?

  72. sekarang pakai moderator yaa kalo kasih komen ?

    semoga lolos, kemaren2 tidak pakai moderator,
    terbukti kan, situs yg bagus itu pakai moderator, sehingga di filter komen2 yg masuk,

    nah sekarang situs ummatipress pakai moderasi, gak apa2 sich, itu hak admin ummatipress, dan juga hak situs FIRANDA juga kan, utk memblokir komen2 yg gak bermutu……….

    seperti situs
    http://www.facebook.com/firanda.andirja
    http://abul-jauzaa.blogspot.com/

    http://nasihatonline.wordpress.com/2011/07/15/telah-terbit-buku-bantahan-ilmiah-terhadab-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi/

  73. Allah ta’ala berfirman :

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu” [QS. Al-Maaidah : 3].

    Diantara ucapan para ulama tentang bid’ah hasanah :

    فَقَالَ مُعَاذُ بْنِ جَبَلٍِ يَوْمًَا : إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ فِتَنًا، يَكْثُرُ فِيْهَا الْمَالُ، وَيُفْتَحُ فِيْهَا الْقُرْانُ، حَتَّى يَأْخُذَهُ الْمُؤْمِنُ وَالْمُنَافِقُ، وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ، وَالصَّغِيْرُ وَالْكَبِيْرُ، وَالْعَبْدُ وَالْحُرُّ، فَيُوْشِكُ قَائِلٌُ أَنْ يَقُوْلَ : مَا لِلنَّاسِ لاَ يَتَّبِعُوْنِي، وَقَدْ قَرَأْتُ الْقُرْانَ ؟ مَا هُمْ بِمُتَّبِعِيَّ حَتَّى أَبْتَدَعَ لَهُمْ غَيْرَهُ ! فَإِيَّكُمْ وَمَا ابْتُدِعَ، فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌُ، وَأُحَذُِّرُكُمْ زَيْغَةَ الْحَكِيْمِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَقُوْلُ كَلِمَةَ الضَّلاَلَةِ عَلَى لِسَانِ الْحَكِيْمِ، وَقَدْ يَقُوْلُ الْمُنَافِقُ كَلِمَةَ الْحَقِّ.

    1) Mu’adz bin Jabal berkata pada suatu hari : ”Sesungguhnya di belakang kalian nanti akan terdapat fitnah, dimana pada waktu itu harta berlimpah ruah dan Al-Qur’an dalam keadaan terbuka hingga semua orang baik mukmin, munafiq, laki-laki, perempuan, anak kecil, orang dewasa, hamba sahaya, atau orang merdeka pun membacanya. Pada saat itu akan ada seseorang yang berkata : ’Mengapa orang-orang itu tidak mengikutiku padahal aku telah membaca Al-Qur’an ? Mereka itu tidak akan mengikutiku hingga aku membuat-buat sesuatu bagi mereka dari selain Al-Qur’an !’. Maka hendaklah kamu hati-hati/waspada dari apa-apa yang dibuat-buat (oleh manusia), karena sesungguhnya apa-apa yang dibuat-buat (bid’ah) itu adalah kesesatan. Dan aku peringatkan kalian akan penyimpangan yang dilakukan oleh seorang hakim ! Karena seringkali syaithan itu mengatakan kalimat kesesatan melalui lisan seorang hakim, dan seringkali seorang munafiq itu berkata tentang kebenaran” [HR. Abu Dawud no. 4611; shahih – Shahih Sunan Abi Dawud 3/120].

    عَنْ عَبْدِ اللهِ (بْنِ مَسْعُوْد) قَالَ : الْقَصْدُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الاجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

    2) Dari ’Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Sederhana dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no. 223, Al-Laalikaiy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqad no. 14, 114, Al-Haakim 1/103, dan yang lainnya; sanad riwayat ini jayyid].

    عَنِ ابْنِ الْعَبَاس – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا – أَنَهُ قَالَ : مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ ، إِلّا أَحْدَثُوْا فِيْهِ بِدْعَةً ، وَأَمَاتُوْا فِيْهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَا الْبِدَعِ وَتَمُوْتُ السُّنَنُ.

    3) Dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma bahwasannya ia berkata : Tidaklah datang kepada manusia satu tahun kecuali mereka membuat-buat bid’ah dan mematikan sunnah di dalamnya. Hingga hiduplah bid’ah dan matilah sunnah” [Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz-Zawaaid, 1/188, Bab Fil-Bida’i wal-Ahwaa’ : ”Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir, dan rijalnya adalah terpercaya”. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Wadldlaah dalam Kitaabul-Bida’ hal. 39].

    4) ’Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma berkata :

    كُلُّ بِدْعَةٍِ ضَلاَلَةٌُ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةًَ

    ”Setiap bid’ah itu adalah sesat walaupun manusia memandangnya sebagai satu kebaikan” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikai dalam Syarh Ushulil-I’tiqad no. 205 dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205 dengan sanad shahih].

    Itulah sedikit di antara nash dan atsar dari para pendahulu kita yang shalih (as-salafush-shalih) tentang tercelanya bid’ah. Mereka memutlakkan apa-apa yang baru dalam syari’at yang tidak ada dalilnya dan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam serta para shahabatnya sebagai bid’ah. Mereka tidak pernah mengecualikan bid’ah dengan kata hasanah (baik), karena seluruh bid’ah menurut mereka adalah dlalalah (sesat). Barangsiapa yang mengklaim ada bid’ah yang tergolong hasanah, maka pada hakekatnya ia telah menuduh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menyampaikan semua risalah.

    5) Al-Imam Malik rahimahullah – pemimpin ulama Madinah di jamannya – sangat mengingkari bid’ah hasanah. Ibnul-Majisyun mengatakan :

    سمعت مالكا يقول : “من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا – صلى الله عليه وسلم- خان الرسالة ، لأن الله يقول :{اليوم أكملت لكم دينكم}، فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا”

    ”Aku mendengar Imam Malik berkata : ”Barangsiapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah. Hal itu dikarenakan Allah telah berfirman : ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”. Maka apa saja yang pada hari itu (yaitu hari dimana Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam beserta para shahabatnya masih hidup) bukan merupakan bagian dari agama, maka begitu pula pada hari ini bukan menjadi bagian dari agama” [Al-I’tisham oleh Asy-Syathibi, 1/49].

    6) Ummul-Mukminin ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa berkata :

    وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَمَ شَيْئًَا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ عَلَيْهِ، فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَيْهِ الْفِرْيَةًَ، واللهُ يَقُوْلُ : (يَا أَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَه)

    “Dan barangsiapa yang menyangka Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu dari apa-apa yang diturunkan Allah, sungguh ia telah membuat kedustaan yang sangat besar terhadap Allah. Padahal Allah telah berfirman : ”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Maidah : 67) [HR. Al-Bukhari no. 7380 dan Muslim no. 177].

    Diantara contoh bid’ah hasanah yang diingkari oleh sahabat Nabi :

    عن نافع أن رجلا عطس إلى جنب بن عمر فقال الحمد لله والسلام على رسول الله قال بن عمر وأنا أقول الحمد لله والسلام على رسول الله وليس هكذا علمنا رسول الله صلى الله عليه وسلم علمنا أن نقول الحمد لله على كل حال

    1) Dari Nafi’ : Bahwasannya ada seseorang bersin di samping Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, lalu dia berkata : “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasulihi (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasul-Nya)”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Dan saya mengatakan, alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Akan tetapi beliau mengajarikami untuk mengatakan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” (Alhamdulillah dalam segala kondisi) [HR. At-Tirmidzi no. 2738, Hakim 4/265-266, dan yang lainnya dengan sanad hasan].

    Membaca shalawat kepada Nabi di waktu yang tidak dicontohkan (yaitu sewaktu bersin) ternyata diingkari oleh Ibnu ‘Umar dengan alasan bahwa hal itu tidak dicontohkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Itulah bid’ah. Tidak ada pemahaman di dalamnya adanya bid’ah hasanah (walau dengan alasan membaca shalat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam).

    Oleh karena itu, Al-Imam Malik rahimahullah – pemimpin ulama Madinah di jamannya – sangat mengingkari bid’ah hasanah. Ibnul-Majisyun mengatakan :

    سمعت مالكا يقول : “من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا – صلى الله عليه وسلم- خان الرسالة ، لأن الله يقول :{اليوم أكملت لكم دينكم}، فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا”

    ”Aku mendengar Imam Malik berkata : ”Barangsiapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah. Hal itu dikarenakan Allah telah berfirman : ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”. Maka apa saja yang pada hari itu (yaitu hari dimana Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam beserta para shahabatnya masih hidup) bukan merupakan bagian dari agama, maka begitu pula pada hari ini bukan menjadi bagian dari agama” [Al-I’tisham oleh Asy-Syathibi, 1/49].

    (Al-Imam Asy-Syafi’iy) pernah berkata :

    مَن اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

    “Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (menurut pendapatnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at” [Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’ oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya].

    Dalam Ar-Risalah, Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah mengatakan :

    إِنَّمَا الاستحسانُ تلذُّنٌ

    “Sesungguhnya anggapan baik (al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu” [Ar-Risalah, hal. 507].

    Dan juga dalam kitab Al-Umm (7/293-304) terdapat pasal yang indah berjudul : Pembatal Istihsaan/Menganggap Baik Menurut Akal (Ibthaalul-Istihsaan).

    Perkataan-perkataan di atas tidak mungkin kita pahami bahwa Al-Imam Asy-Syafi’iy menetapkan bid’ah hasanah – satu klasifikasi yang tidak pernah disebut oleh para pendahulu beliau. Bid’ah hasanah pada hakekatnya kembalinya pada sikap istihsan (menganggap baik sesuatu) tanpa dilandasi dalil, dan ini ditentang oleh beliau rahimahullah. Apabila kita tanya kepada mereka yang berkeyakinan adanya bid’ah hasanah : “Apa standar Anda dalam menentukan baiknya satu bid’ah ?”. Niscaya kita akan mendapatkan jawaban yang beragam, karena memang tidak ada standarnya. Akhirnya, jika kita rangkum keseluruhan pendapat mereka beserta contoh-contohnya, tidaklah tersisa bid’ah bagi mereka kecuali ia adalah hasanah.

    Al-‘Allamah Abu Syammah Al-Maqdisi Asy-Syafi’iy (seorang pembesar ulama Syafi’iyyah) berkata :

    فالواجب على العالم فيما يَرِدُ عليه من الوقائع وما يُسألُ عنهُ من الشرائعِ : الرجوعُ إلى ما دلَّ عليهِ كتابُ اللهِ المنزَّلُ، وما صحَّ عن نبيّه الصادق المُرْسَل، وما كان عليه أصحابهُ ومَن بعدَهم مِن الصدر الأول، فما وافق ذلك؛ أذِنَ فيه وأَمَرَ، وما خالفه؛ نهى عنه وزَجَرَ، فيكون بذلك قد آمَنَ واتَّبَعَ، ولا يستَحْسِنُ؛ فإنَّ (مَن استحسن فقد شَرَعَ).

    “Maka wajib atas seorang ulama terhadap peristiwa yang terjadi dan pertanyaan yang disampaikan kepadanya tentang syari’at adalah kembali kepada Al-Qur’an, riwayat shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan atsar para shahabat serta orang-orang setelah mereka dalam abad pertama. Apa yang sesuai dengan rujukan-rujukan tersebut dia mengijinkan dan memerintahkan, dan apa yang tidak sesuai dengannya dia mencegah dan melarangnya. Maka dengan itu dia beriman dan mengikuti. Dan janganlah dia menyatakan baik menurut pendapatnya. Sebab : ‘Barangsiapa yang menganggap baik menurut pendapatnya (istihsan), maka sesungguhnya dia telah membuat syari’at” [Al-Ba’its ‘alaa Inkaaril-Bida’ wal-Hawadits oleh Abu Syaammah, hal. 50].

    Wallahua’lam..

    1. Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

      dimanakah disebutkan : Tahlilan, Maulid Nabi SAW & bid’ah hasanah lainnya, di dalam Qur’an & Hadist DILARANG ?????

      1. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

        “Barangsiapa membuat satu sunnah (cara atau jalan) yang baik di dalam Islam maka dia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Dan barangsiapa yang membuat satu sunnah yang buruk di dalam Islam, dia mendapat dosanya dan dosa orang-orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (Shahih, HR. Muslim no. 1017).

        Pertama: Sesungguhnya makna dari (barangsiapa yang membuat satu sunnah) adalah menetapkan suatu amalan yang sifatnya tanfidz (pelaksanaan), bukan amalan tasyri’ (penetapan hukum). Maka yang dimaksud dalam hadits ini adalah amalan yang ada tuntunannya dalam Sunnah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Makna ini ditunjukkan pula oleh sebab keluarnya (asbabul wurud) hadits tersebut, yaitu seorang sahabat yang bersedekah lalu amalan (sedekah) tersebut diikuti oleh sahabat yang lain. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menyatakan hadits di atas sebagai motivasi kepada para sahabat agar mereka berlomba dalam kebaikan dan menjadi orang yang pertama dalam beramal.

        Kedua: Rasul yang mengatakan:

        “Barangsiapa yang membuat satu sunnah (cara atau jalan) yang baik di dalam Islam.”

        Adalah juga yang mengatakan:

        “Semua bid’ah itu adalah sesat.”

        Dan tidak mungkin muncul dari Ash-Shadiqul Mashduq (Rasul yang benar dan dibenarkan) -shallallahu ‘alaihi wa sallam- suatu perkataan yang mendustakan ucapannya yang lain. Tidak mungkin pula perkataan beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- saling bertentangan.

        Dengan alasan ini, maka tidak boleh kita mengambil satu hadits dan mempertentangkannya dengan hadits yang lain. Karena sesungguhnya ini adalah seperti perbuatan orang yang beriman kepada sebagian Al-Kitab tetapi kafir kepada sebagian yang lain.

        Ketiga: Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan (barangsiapa membuat sunnah) bukan mengatakan (barangsiapa yang membuat bid’ah). Juga mengatakan (dalam Islam). Sedangkan bid’ah bukan dari ajaran Islam. Beliau juga mengatakan (yang baik). Dan perbuatan bid’ah itu bukanlah sesuatu yang hasanah (baik).

        Tidak ada persamaan antara Sunnah dan bid’ah, karena sunnah itu adalah jalan yang diikuti, sedangkan bid’ah adalah perkara baru yang diada-adakan di dalam agama.

        Keempat: Tidak satupun kita dapatkan keterangan yang dinukil dari para Ulama yang menyatakan bahwa mereka menafsirkan Sunnah Hasanah (dalam hadits di atas) itu sebagai bid’ah yang dibuat-buat sendiri oleh manusia.

  74. oiiii, tolong, tolong komen saya di loloskan

    komen ku di blok yaaaa. katanya digembar-gemborin, situs ini terbuka, tdk seperti situ FIRANDA yg tertutup, kok sekarang komenku di blok, masih status moderasi,

    ada apa dgn ummatpress ?

    baru merasakan yaa ?…….situs kalo tidak di filter itu kaco baloooooo……..

    silahkan kasih komen disini, ust. ABISYAKIR baru bangun tuchhh kayaknya…
    http://abisyakir.wordpress.com/2011/11/13/info-buku-baru-bersikap-adil-kepada-wahabi/#comments

  75. 2) Atsar Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- :

    أخبرنا الحكم بن المبارك، أنبأنا عمرو بن يحيى قال : سمعت أبي يحدث، عن أبيه قال : كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَبْلَ صَلَاةِ الغَدَاةِ، فَإِذَا خَرَجَ، مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَجَاءَنَا أَبُوْ مُوْسَى الْأَشْعَرِيُّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – فَقَالَ : أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ قُلْنَا : لَا، بَعْدُ. فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ، فَلَمَّا خَرَجَ، قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيْعًا، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ – وَالْحَمْدُ للهِ – إِلَّا خَيْرًا. قَالَ : فَمَا هُوَ ؟ فَقَالَ : إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ. قَالَ : رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوْسًا يَنْتَظِرُوْنَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلَقَةٍ رَجُلٌ، وَفِيْ أَيْدِيْهِمْ حَصًا، فَيَقُوْلُ : كَبِّرُوا مِئَةً، فَيُكَبِّرُوْنَ مِئَةً، فَيَقُوْلُ : هَلِّلُوا مِئَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِئَةً، فَيَقُولُ : سَبِّحُوا مِئَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِئَةً. قَالَ : فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟ قَالَ : مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ : أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِهِم، ثَمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ : مَا هَذا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُوْنَ ؟ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًا نَعُدَّ بِهِ التَّكْبِيْرَ والتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيْحَ. قَالَ : فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتكُمْ ! هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُوْنَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ. قَالُوا : وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ تُصِيْبَهُ، .

    “Telah memberi khabar kepada kami Al-Hakam bin Al-Mubaarak : Telah memberitakan kepada kami ‘Amru bin Yahya, ia berkata : Aku mendengar ayahku meriwayatkan hadits dari ayahnya, ia berkata : Sebelum shalat shubuh, kami biasa duduk di depan pintu ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu. Jika dia sudah keluar rumah, maka kami pun berjalan bersamanya menuju masjid. Tiba-tiba kami didatangi oleh Abu Musa Al-Asy’ariy radliyallaahu ‘anhu, seraya bertanya : “Apakah Abu ‘Abdirrahman (‘Abdullah bin Mas’ud) sudah keluar menemui kalian ?”. Kami menjawab : “Belum”. Lalu dia pun duduk bersama kami hingga ‘Abdullah bin Mas’ud keluar rumah. Setelah dia keluar, kami pun bangkit menemuinya. Abu Musa berkata : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, tadi aku melihat kejadian yang aku ingkari di masjid, namun aku menganggap – segala puji bagi Allah – hal itu adalah baik”. Kata Ibnu Mas’ud : “Apakah itu ?”. Abu Musa menjawab : “Jika engkau berumur panjang, engkau akan mengetahui. Ada sekelompok orang di masjid, mereka duduk ber-halaqah sedang menunggu shalat. Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang, sedang di tangan mereka terdapat kerikil. Lalu pimpinan halaqah tadi berkata : ‘Bertakbirlah seratus kali’, maka mereka pun bertakbir seratus kali. ‘Bertahlillah seratus kali’, maka mereka pun bertahlil seratus kali. ‘Bertasbihlah seratus kali’, maka mereka pun bertasbih seratus kali”. Ibnu Mas’ud bertanya : “Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?”. Abu Musa menjawab : “Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan”. Ibnu Mas’ud berkata : “Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan”. Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu. Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka : “Benda apa yang kalian pergunakan ini ?”. Mereka menjawab : “Kerikil wahai Abu ‘Abdirrahman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mempergunakannya”. Ibnu Mas’ud berkata : “Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celaka kalian wahai umat Muhammad ! Betapa cepat kebinasaan/penyimpangan yang kalian lakukan. Para shahabat Nabi kalian masih banyak yang hidup. Sementara baju beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana beliau belum juga retak. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya ! Apakah kalian merasa berada di atas agama yang lebih benar daripada agama Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian akan menjadi pembuka pintu kesesatan ?”. Mereka menjawab : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan”. Ibnu Mas’ud menjawab : “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun ia tidak mendapatkannya”. [Dikeluarkan oleh Al-Imaam Ad-Daarimiy dalam Sunan-nya no. 210 – tahqiq : Husain Salim Asad]

  76. Bismillaah,

    Terus terang, dalam setiap pengajian yang saya ikuti sebelum menemukan jalan sunnah, ustadz-ustadznya tidak pernah menyampaikan hadits dan atsar tentang bid’ah yang disampaikan oleh Akh Hasnan. Saya tidak mengetahui apa alasan ustadz tidak menyampaikan hadits tersebut.

    Wallaahu a’lam.

  77. Bismillaah,

    Sampai sekarangpun, saya tidak pernah mendengarkan hadits-hadits tersebut disampaikan dalam pengajian di masjid yang jamaahnya beraqidah Asy’ariyah. Mengapa demikian? Saya berharap Habib Munzir menyampaikannya dalam acara Indahnya Damai di TVOne. Tak usah panjang lebar, namun apa adanya saja.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillahirrohmanirrohim.

      yang pertama adalah apakah atsar tersebut shohih atau tidak…?
      Atsar diatas tidak bisa dipakai untuk mengharamkan dzikir berjamaah…dan telah dibahas juga oleh ulama ulama aswaja.
      Mas suradi juga harus membaca tentang dalil dzikir berjamaah…sehingga tidak mengulang ngulang masalah ini. ( salah satunya buku tulisan Kyai Badruzzaman MA) disitu telah dijelaskan dalil dalil dzikir jamaai sangat terang sekali..seterang matahari siang…
      sehingga jikalau atsar tersebut shohih maka seharusnya ditafsirkan sesuai pemahaman hadist – hadist yang shohih tentang dzikir jamai…
      (silahkan rujuk buku tersebut diatas jika memang mas suradi menginginkan kebenaran,…)
      semoga kita semua bisa mengambil pelajaran…

      penyampaian hadist itu juga lihat-lihat sikonnya …lagi mbahas apa , topiknya apa. Biar nyambung..sehingga tidak semua hadist harus disampaikan.

      salah satu faktor penyebab pemahaman bid’ah yang extrim ini adalah karena disetiap pembukaan pengajian selalu disampaikan tentang hadist kullu bid’atin dholalah ( tapi dengan pemahaman mereka sendiri)
      pertanyaannya untuk mas suradi cs..apakah Rosullulloh saw senantiasa melakukannya seperti itu…?

      Wallaahu a’lam.

  78. oooohh Kang Ibnu ikut pengajian tsb ? kok mau? bukankah wahabi paling anti ikut pengajian beraqidah Asy’ariyah? mau cari-2 kesalahan? kan kang ibnu dah berilmu nih, kenapa tidak ajak diskusi ustadz nya? cari waktu/minta waktu, simple kan? apakah waktu kang ibnu ikut ceramah tsb membahas ttg itu ? coba lebih detil lagi, apa cuma cari-2 pembenaran sendiri nih….
    perkara ke Habib Munzir, coba tanya ke website beliau, bila kuota pertanyaan masih penuh, bersabar sampai dapat kuota, krn setau saya meang traffic pertanyaan cukup sibuk, atau coba baca-2 lagi disemua artikel di ummati, seingat saya sudah dibahas….jgn cuma melulu sama spt boss firanda, dikit-2 Habib Munzir, jalur pertanyaan masih banyak ke MUI, NU, FPI dll….silahkan mencoba….

  79. @hasnan
    Coba ente baca dgn teliti, ente tau hadist Qudsi adalah hadist yang dijamin 100% Shahih :

    Dari Buku / Kitab Kumpulan hadist Qudsy karya Imam Nawawi dan Al-Qasthalani dari No. 1 (HR. Bukhari) dan No. 2 (HR. Muslim) hal : 19-25.

    Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa’id, diceritakan oleh Jarir, dari A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai para malaikat yang banyak menjalankan keutamaan. Mereka mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang didalamnya mengumandangkan zikir, maka mereka (para malaikat) duduk bersama mereka dan sebagian mereka (para malaikat) berkerumunan diantara sebagian mereka (manusia) dengan membentangkan sayap-sayapnya hingga memenuhi sesuatu diantara meraka dan langit dunia. Apabila mereka majelis zikir telah selesai, mereka (para malaikat) naik kembali kelangit. Allah SWT bertanya kepada mereka (malaikat) yang sebenarnya Dia lebih mengetahui dari mereka, “dari mana kalian datang ?” Mereka (para malaikat) menjawab : “Kami datang dari hamba-hambamu dibumi, mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan memohon kepadaMu.” Allah SWT bertanya, “Mereka (manusia) minta apa kepadaKu ?” mereka menjawab : “Mereka memohon SurgaMu”. Allah SWT bertanya, “Apakah mereka (manusia) melihat SurgaKu ?” Mereka (malaikat) menjawab : “Tidak, wahai Tuhan Kami” Allah SWT bertanya, “Bagaimana jika mereka melihat SurgaKu ?” Mereka menjawab : “Mereka pasti minta perlindungan kepadaMu”. Allah SWT bertanya, “Dari apa mereka minta perlindungan kepadaKu ?” mereka menjawab : “Dari NerakaMu, wahai Tuhan kami.” Allah SWT bertanya, “Apakah mereka melihat NerakaKu ?” mereka menjawab :”Tidak”. Allah SWT bertanya : “Bagaimana jika mereka melihat nerakaKu?”. Mereka menjawab : “Mereka pasti akan minta ampunan padaMu.” Allah berfirman : “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan Aku memberikan Pahala sebagaimana yang mereka minta.” Para malaikat berkata : “Wahai Tuhan, dalam kelompok itu ada fulan, seorang hamba yang berbuat dosa. Bahwasannya dia pergi, biasanya dia bersama mereka”. Allah SWT berfirman : “Baginya Aku telah ampuni, Mereka adalah satu kelompok, salah seorang anggotanya tidak bisa mencelakakan mereka”. (HR. Muslim, Baab Majaalis adz-Dzikr, juz 10), juga (HR. Bukhari, Baab Fadhl Allah Ta’ala, Juz 8 hal. 86-87)

    Dari Tsabit ia bekata, Ketika sahabat Salman Al-Farisi beserta kawan-kawannya sedang sibuk berkumpul berzikir, lewatlah Rasulullah saw dihadapan mereka. Maka mereka terdiam sebentar. Lalu beliau bertanya, ” Apa yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab : “Kami sedang berzikir”. Kemudian Rasulullah saw bersabda. “Sungguh aku melihat rahmat Allah turun di atas kalian, maka hatiku tertarik untuk bergabung bersama kalian membaca zikir”. Lantas beliau bersabda yang artinya. ” Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan dari umatku orang-orang yang aku perintahkan duduk bersama mereka .” (H.R. Imam Ahmad)

    Ane gak kurangin titik komanya, silahkan terjemahin sendiri.

      1. Hasnan@

        Coba cari yg lebih teliti Mas, sebab komennya banyak sekali 200 komen lebih. Seingat kami tidak pernah mendelete komen tanpa alasan….

  80. @hasnan
    Ane gak mau copas, yang pasti2 aja.

    Allah berfirman : “Hai orang-orang beriman, berdzikirlah kalian (menyebut nama Allah), dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. (QS. al-Ahzab: 41-42).

    Dalam ayat lain, Allah berfirman: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin (*), laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Ahzab: 35).

    (*) yang dimaksud dengan muslim di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.

    Dari Hadist :
    “Perbanyaklah oleh kalian dari al-Baqiyat ash-Shalihat! Kemudian ditanyakan kepada Rasulullah: Apakah al-Baqiyat ash-Shalihat itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Takbir, Tahlil, Tahmid, Tasbih dan La Haula Wa La Quwwata Illa Billah”. (HR. Ibn Hibban, al-Hakim dan keduanya menyatakan Shahih. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad yang Hasan)

    Al-Imam Ahmad ibn Hanbal meriwayatkan dari Ummu Hani’ binti Abu Thalib, bahwa ia (Ummu Hani’) berkata: “Suatu ketika aku bertemu dengan Rasulullah. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku ini sudah tua dan mulai lemah, karenanya perintahkan aku dengan suatu amalan yang bisa aku kerjakan sambil duduk”. Kemudian Rasulullah berkata: “Bacalah tasbih seratus kali, sungguh itu sebanding dengan seratus budak yang engkau merdekakan dari anak keturunan Nabi Isma’il. Bacalah hamdalah seratus kali, sungguh itu sebanding dengan seratus ekor kuda berpelana dan dikekang yang membawa perbekalan perang di jalan Allah. Bacalah takbir seratus kali, sungguh itu sebanding dengan seratus unta yang engkau sedekahkan dan diterima oleh Allah. Dan bacalah tahlil seratus kali, maka ia akan memenuhi antara langit dan bumi. Dan pada hari itu tidak ada amal seorang-pun yang diunggulkan atas kamu kecuali orang yang melakukan seperti yang engkau lakukan”. (Hadits ini dihasankan oleh al-Hafizh al-Haitsami dan al-Hafizh al-Mundziri dalam kitabnya at-Targhib Wa at-Tarhib).

    Ente kan udah pada jadi Mujtahid mutlak, tolong ane di bantu terjemahin, ayat n hadist yang ane sebutin, ane gak berani nih ……. !!!!!

  81. Bismillaah,

    Kang Nahl Muslim,

    Saya tidak menafikan hadits dzikir keras. Dan saya juga tidak hanya menggunakan ayat dan hadits dzikir pelan. Dalam menyikapi dua dalil yanag kelihatan bertentangan tersebut, saya memilih mengikuti pendapat Imam Syafii: “Pada awalnya dzikir itu pelan. Namun tidak mengapa dikeraskan untuk mengajari makmum berdzikir. Bila makmum sudah dapat berdzikir, hendaknya dzikir kembali dipelankan.”

    Wallaahu a’lam.

  82. @ Inbu suradi, tampaknya anda tidak pernah atau jarang sholat berjamaah, imam manapun tidak akan pernah menanyakan pada makmumnya apakah mereka sudah dapat berdzikir apa blm setelah salam, mending klo makmumnya sudah bisa dzikir nah…klo blm bisa gimana…, mending klo makmumnya itu2 saja kita sudah hapal apakah mereka sudah bisa dzikir apa blm, nah…klo makmumnya banyak dan berganti2…., selain itu apakah anda tau ukuran keras dan dipelankan saat berdzikir…coba berapa desibel ?

  83. بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ

    mas hadist

    أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة).

    Sesungguhnya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rosyidin. Gigitlah sunnah itu dengan geraham kalian (yakni; peganglah jangan sampai terlepas). Dan berhati-hatilah terhadap PERKARA YANG BARU, maka sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

    khan shahih kan, apakah kita tak boleh berkata dan menyakini sesuai dengan hadist tersebut ???????

    Imam syafi’i berkata : “Setiap hadist yang datang dari Nabi Sholalllohu ‘alahi wassalam . berarti itulah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarkan sendiri dari aku” (sifat sholat nabi syaikh al-albani dikutib dari ibnu abi hatim hlm 93-94

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker