Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Opini Inspiratif

Kenapa NU Tidak Hanyut oleh Isu Kebangkitan PKI?

Sikap tenang NU menyikapi isu kebangkitan PKI akhir-akhir ini disebabkan isu PKI sekarang ini dilihat tak lebih suatu permainan politik yang dilancarkan kelompok tertentu sebagai pemanasan menghadapi Pemilu Presiden 2019.

Kenapa NU tidak hanyut oleh isu kebangkitan PKI? Absennya NU dalam hirup pikuk isu bangkitnya PKI menimbulkan petanyaan penuh heran dari masyarakat, kok NU cuek dengan isu PKI? Padahal NU adalah yang paling frontal menentang PKI pada masa kejayaan PKI tahun 1960-an. Para Kiai dan santri NU juga paling mengalami siksaan oleh orang-orang PKI pada tahun 1940-an.

Dengan bagitu, bukankah seharusnya sekarang ini NU layak bersuara keras menentang kebangkitan PKI? Tapi kenapa justru NU tidak hanyut oleh hiruk pikuk Isu Kebangkitan PKI?

Bahkan, dalam kegaduhan hiruk pikuk isu kebangkitan PKI (Partai Komunis Indonesia) akhir-akhir ini, organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) terkesan merentang jarak. Atau tak mau terlibat terlampau dalam. Kalaupun ada sejumlah tokoh NU yang berkata tentang isu PKI, mereka sekadar melayani pertanyaan jurnalis. Memang ada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dalam September ini beberapa kali melangsungkan aktifitas. Tapi lebih suka menyoroti permasalahan kebinekaan dan krisis Rohingya.

Gerakan Pemuda Ansor Surabaya memang sempat memutar film Pengkhianatan G30S/PKI saat merayakan tahun baru Islam. Tetapi cuma cuplikan saja dengan durasi selama lima menit. Kondisi ini lumayan menarik sebab bagaimanapun terasa ‘kurang afdol’ jika bicara isu PKI tanpa menyebut ormas NU. Sejarah telah menulis konflik berdarah kedua kelompok masyarakat ini di masa lalu.

Empat tahun silam, tepatnya 9 Desember 2013, PBNU secara eksklusif meluncurkan buku terkait hubungan NU dan PKI. Buku berjudul “Benturan NU-PKI 1948-1965” itu dinilai sebagai “buku putih”.

Wakil Sekjen PBNU Abdul Mun’im Dz selaku ketua tim penulis mengakui, buku sejarah versi NU tersebut terbit sebagai reaksi atas sekian banyak laporan yang menyudutkan NU. Terkhusus yang berhubungan soal pembunuhan terhadap pengikut PKI. Termasuk liputan eksklusif Majalah Tempo edisi Oktober 2012 bertema “Pengakuan Algojo 1965”.

BACA JUGA:  PKI dan DI/TII, Dua Hantu Politik Terus Gentayangan

Kini, saat sejumlah kalangan Islam ramai menggoreng isu kebangkitan PKI, pun TNI dengan aktifitas nonton bersama film Pengkhianatan G30S/PKI. NU malah terlihat kalem. Bahkan, terkesan memandang isu tersebut tidak terlalu penting.

Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menegaskan permasalahan PKI telah selesai. Kader NU yang juga Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menegaskan, PKI ialah masa lampau yang tak usah ditakuti lagi.

Ketua Bidang Kebudayaan dan Hubungan Antarumat Beragama PBNU Imam Azis menyinggung film Pengkhianatan G30S/PKI hanya efektif pada zaman Orde Baru. Bila diputar di masa kini akan tidak sedikit yang menertawakan. Kalau memperhatikan akun-akun media sosial aktivis muda NU, mereka malah menyebut isu PKI hanyalah “membangkitkan hantu”. Padahal, KH Hasyim Muzadi, ketua umum PBNU dua periode, sebelum meninggal mewanti-wanti. Supaya bahaya komunis dan gerakan anak cucu PKI tetap mesti diwaspadai.

Mewaspadai Isu Kebangkitan PKI

Mungkinkah kalangan NU kini, khususnya di jajaran struktural organisasi tersebut dan aktivis-aktivis mudanya, mempunyai pandangan tersendiri terkait PKI dan peristiwa 1965?

Atau di balik sikap NU yang sekarang terkesan cuek adalah merupakan cara baru mewaspadai kebangkitan PKI? Bukankah orang yang secara diam-diam mengawasi akan lebih awas ketimbang mereka yang berteriak-teriak? Tidak mungkin NU benar-benar cuek akan bahaya PKI sementara mereka dulu adalah pihak yang paling frontal melawan PKI. Juga pihak yg paling menderita akibat kekejaman PKI.

BACA JUGA:  Kekejaman PKI Terhadap Kiai dan Santri di Madiun 1948

Mantan ketua PBNU yang sekarang menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang KH Shalahuddin Wahid atau Gus Solah menuliskan. Bahwa warga NU memang mempunyai sikap berbeda-beda berhubungan isu kebankitan PKI. Setidaknya terdapat tiga kelompok menurut keterangan dari adik kandung KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut dalam artikelnya yang berjudul ‘Sikap Warga NU Terhadap PKI’.

Kelompok kesatu disebutnya sebagai kelompok antirekonsiliasi yang memandang perbuatan NU terhadap PKI pada masa lalu telah tepat. Namun, Gus Sholah meyakini, jumlah yang masuk kategori ini kecil.

Kelompok kedua mempunyai pandangan bahwa baik NU maupun PKI ialah sama-sama korban sehingga kumpulan ini menyokong rekonsiliasi.

Dan kelompok ketiga ialah mereka yang mengakui keterlibatan warga NU dalam pelanggaran HAM berat dan setuju diselenggarakan proses hukum untuk menyaksikan apa yang sebetulnya terjadi. Kelompok ini bahkan setuju TAP MPRS Nomor XXV/1966 dicabut dan doktrin komunis boleh disebarkan. Mereka yakin PKI tak bakal laku kalaupun diperbolehkan berdiri lagi.

Berdasarkan keterangan dari Gus Sholah, kelompok terakhir ini terpengaruh cara pandang Gus Dur yang memang bertolak belakang dengan dengan tokoh dan warga NU lainnya dalam menyikapi PKI. Sebagaimana Gus Dur yang tidak merasakan suasana permusuhan dengan PKI, sebab dari tahun 1963 sampai* 1971 belajar di Kairo, begitu pula orang-orang yang mengikuti cara pandangnya.

Mungkin sikap kalemnya NU dalam hiruk pikuk isu PKI belakangan ini sebab yang berperan di organisasi NU saata ini berasal dari kelompok kedua dan ketiga menurut pengelompokan yang dijelaskan Gus Sholah. Akan tetapi, juga sangat boleh jadi pegiat-pegiat NU sekarang ini tidak ingin rekonsiliasi alami atau rekonsiliasi kultural antara NU terdapat eks PKI dan keluarganya sehingga  terganggu hanya karena kegenitan bersikap dan berkata-kata.

BACA JUGA:  Dakwah Walisongo Sukses karena Cinta Tanah Air

Isu kebangkitan PKI di kalangan NU

Sejak benturan berdarah usai, sebagaimana ditulis dalam ‘buku putih’, kalangan NU memang berupaya merangkul bahkan mengayomi eks PKI dan keluarganya dari tindak kekerasan. Tidak sedikit anak eks PKI yang dididik di pesantren NU. Pada 2002, Imam Azis menginisiasi lembaga nonpemerintah Syarikat Indonesia bareng aktivis muda yang banyak sekali berlatar belakang pesantren.

Melalui penelitian, mediasi, dan kampanye publik lembaga yang mempunyai jaringan di 35 kota ini terus mendorong rekonsilasi masyarakat dengan eks PKI dan keluarganya. Ini upaya mulia demi rukunnya kembali anak-anak bangsa yang terlanjur memikul beban sejarah pilu, G30S/PKI 1965.

Jadi, kenapa NU tidak hanyut oleh isu kebangkitan PKI? Tidak hanyutnta NU dan sikap tenang NU dalam menyikapi isu kebangkitan PKI akhir-akhir ini selain sudah dijelaskan di atas, bisa juga disebabkan isu PKI sekarang ini dilihat tak lebih suatu permainan politik yang dilancarkan kelompok tertentu sebagai pemanasan menghadapi Pemilu Presiden 2019. Hal ini seperti disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj belum lama ini. Bahwa tahun 2019 adalah tahun politik, mirip Pilpres 2014, isu PKI sedang kembali dimainkan.

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker