Fikih Sunnah

KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN & SUNNAH, BAGAIMANA BISA TERSESAT ?

KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN & SUNNAH, BAGAIMANA MASIH TERSESAT? Kaum Salafi Wahabi sangat terkenal memiliki yel-yel: “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”. Mereka mengajak umat untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. Kita muslimin semua tahu kenapa demikian? Karena, sebagai muslim sangat meyakini 100% tentunya bahwa al-Qur’an dan Sunnah merupakan sumber ajaran Islam yang utama yang diwariskan oleh Rasulullah Saw. Sehingga siapa saja yang menjadikan keduanya sebagai pedoman, maka ia telah berpegang kepada ajaran Islam yang murni. Dan berarti ia selamat dari kesesatan. Bukankah Rasulullah Saw. menyuruh yang sedemikian itu kepada umatnya?

Sampai di sini, anda yang merasa terpelajar mungkin bertanya-tanya dalam hati. “Bagaimana Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahab yang menyerukan ‘kebenaran yang edeal’ berdasar al Qur’an dan al Sunnah masih dianggap sesat oleh para ulama di zamannya? Mengapa pula paham Salafi Wahabi di zaman sekarang yang merujuk semua ajarannya kepada al-Qur’an dan Sunnah juga dianggap menyimpang. Bahkan divonis sesat oleh para Ulama? Boleh jadi anda marah dalam hati: “Hanya ‘orang gelo’ saja berani menyatakan sesat kepada mereka!”

Sabar dulu. Mari kita perhatikan permasalahan ini secara komprehensif. Agar bisa melihat “sumber masalah” yang ada. Sehingga apa yg bagi anda terlihat sangat bagus dan ideal tersebut bisa terlihat lebih obyektif.

penjaga kesucian a8q9 - KEMBALI KEPADA AL-QUR'AN & SUNNAH, BAGAIMANA BISA TERSESAT ?

1. Prinsip Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah adalah benar secara teoritis, dan sangat ideal bagi setiap orang yang mengaku beragama Islam. Tetapi yang harus diperhatikan adalah, apa yang benar secara teoritis belum tentu benar secara praktis. Menimbang kapasitas dan kapabilitas (kemampuan) tiap orang dalam memahami al-Qur’an & Sunnah sangat berbeda-beda. Maka bisa dipastikan, kesimpulan pemahaman terhadap al-Qur’an atau Sunnah yang dihasilkan oleh seorang ‘alim yang menguasai Bahasa Arab dan segala ilmu yang menyangkut perangkat penafsiran atau ijtihad, akan jauh berbeda dengan kesimpulan pemahaman yang dihasilkan oleh orang awam yang mengandalkan buku-buku “terjemah” al-Qur’an atau Sunnah.

Itulah kenapa di zaman ini banyak sekali bermunculan aliran sesat. Jawabnya tentu karena masing-masing mereka berusaha kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah.  Dan mereka berupaya mengkajinya dengan kemampuan dan kapasitasnya sendiri. Bisa dibayangkan dan telah terbukti hasilnya, kesesatan yang dihasilkan oleh Yusman Roy (mantan petinju yang merintis sholat dengan bacaan yang diterjemah). Ahmad Mushadeq (mantan pengurus PBSI yang pernah mengaku nabi). Lia Eden (mantan perangkai bunga kering yang mengaku mendapat wahyu dari Jibril). Agus Imam Sholihin (orang awam yang mengaku tuhan), dan banyak lagi yang lainnya.

Dan kesesatan mereka itu lahir dari sebab “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”, mereka merasa benar dengan caranya sendiri. Pada kaum Salafi & Wahabi, kesalahpahaman terhadap al-Qur’an dan Sunnah itu pun banyak terjadi. Bahkan di kalangan mereka sendiri pun terjadi perbedaan pemahaman terhadap dalil. Dan yang terbesar adalah kesalahpahaman mereka terhadap dalil-dalil tentang bid’ah.

2. Al-Qur’an dan Sunnah sudah dibahas dan dikaji oleh para ulama terdahulu yang memiliki keahlian yang sangat mumpuni untuk melakukan hal itu. Sebut saja: Ulama mazhab yang empat, para mufassiriin (ulama tafsir),muhadditsiin (ulama hadis), fuqahaa’ (ulama fiqih), ulama aqidah ahus-sunnah wal-Jama’ah, dan mutashawwifiin (ulama tasawuf/akhlaq).

Hasilnya, telah ditulis beribu-ribu jilid kitab dalam rangka menjelaskan kandungan al-Qur’an dan Sunnah secara gamblang dan terperinci. Sebagai wujud kasih sayang mereka terhadap umat yang hidup di kemudian hari. Karya-karya besar itu merupakan pemahaman para ulama yang disebut di dalam al-Qur’an sebagai “ahludz-dzikr”. Yang kemudian disampaikan kepada umat Islam secara turun-temurun dari generasi ke generasi secara berantai sampai saat ini.

Adalah sebuah keteledoran besar jika upaya orang belakangan dalam memahami Islam dengan cara “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” dilakukan tanpa merujuk pemahaman para ulama tersebut. Itulah yang dibudayakan oleh sebagian kaum Salafi Wahabi. Dan yang menjadi pangkal penyimpangan paham Salafi Wahabi sesungguhnya, adalah karena mereka memutus mata rantai amanah keilmuan mayoritas ulama dengan membatasi keabsahan sumber rujukan agama hanya sampai pada ulama salaf (yang hidup sampai abad ke-3 Hijriah). Hal ini seperti yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah (hidup di abad ke-8 H.) dan para pengikutnya. Bayangkan, berapa banyak ulama yang dicampakkan. Dan berapa banyak kitab-kitab yang dianggap sampah yang ada di antara abad ke-3 hingga abad ke-8 hijriyah.

banner 2 2 - KEMBALI KEPADA AL-QUR'AN & SUNNAH, BAGAIMANA BISA TERSESAT ?

Lebih parahnya lagi, dengan rantai yang terputus jauh, Ibnu Taimiyah dan kaum Salafi Wahabi pengikutnya seolah memproklamirkan diri sebagai pembawa ajaran ulama salaf yang murni. Padahal yang mereka sampaikan hanyalah pemahaman mereka sendiri setelah merujuk langsung pendapat-pendapat ulama salaf. Bukankah yang lebih mengerti tentang pendapat ulama salaf adalah murid-murid mereka?

Dan bukankah para murid ulama salaf itu kemudian menyampaikannya kepada murid-murid mereka lagi. Dan hal itu terus berlanjut secara turun temurun dari generasi ke generasi baik lisan maupun tulisan? Bijaksanakah Ibnu Taimiyah dan pengikutnya ketika pemahaman agama dari ulama salaf yang sudah terpelihara dari abad ke abad itu tiba di hadapan mereka di abad mana mereka hidup, lalu mereka campakkan sebagai tanda tidak percaya? Dan mereka lebih memilih untuk memahaminya langsung dari para ulama salaf tersebut?

Sungguh, ini bukan saja tidak bijaksana, tetapi juga keteledoran besar, bila tidak ingin disebut kebodohan. Jadi kaum Salafi Wahabi bukan Cuma menggaungkan motto “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” secara langsung. Tetapi juga “kembali kepada pendapat para ulama salaf” secara langsung dengan cara dan pemahaman sendiri. Mereka bagaikan orang yang ingin menghitung buah di atas pohon yang rindang tanpa memanjat. Dan bagaikan orang yang mengamati matahari atau bulan dari bayangannya di permukaan air.

3. Para ulama telah menghidangkan penjelasan tentang al-Qur’an dan Sunnah di dalam kitab-kitab mereka kepada umat sebagai sebuah “hasil jadi”. Para ulama itu bukan saja telah memberi kemudahan kepada umat untuk dapat memahami agama dengan baik tanpa proses pengkajian atau penelitan yang rumit. Tetapi juga telah menyediakan jalan keselamatan bagi umat agar terhindar dari pemahaman yang keliru terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Yang sangat mungkin terjadi jika mereka lakukan pengkajian tanpa bekal yang mumpuni seperti yang dimiliki para ulama tersebut.

Boleh dibilang, kemampuan yang dimiliki para ulama itu tak mungkin lagi bisa dicapai oleh orang setelahnya, terlebih di zaman ini. Menimbang masa hidup mereka yang masih dekat dengan masa hidup Rasulullah Saw & para Shahabat yang tidak mungkin terulang. Belum lagi keunggulan hafalan, penguasaan berbagai bidang ilmu, lingkungan yang shaleh, wara’ (kehati-hatian), keikhlasan, keberkahan, dan lain sebagainya.

Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah itu belum tentu dapat dianggap benar

Pendek kata, para ulama seakan-akan telah menghidangkan “makanan siap saji” yang siap disantap oleh umat tanpa repot-repot meracik atau memasaknya terlebih dahulu. Sebab para ulama tahu bahwa kemampuan meracik atau memasak itu tidak dimiliki setiap orang. Saat kaum Salafi & Wahabi mengajak umat untuk tidak menikmati hidangan para ulama. Dan mengalihkan mereka untuk langsung merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan dalih pemurnian agama dari pencemaran “pendapat” manusia (ulama) yang tidak memiliki otoritas untuk menetapkan syari’at. Berarti sama saja dengan menyuruh orang lapar untuk membuang hidangan yang siap disantapnya. Lalu menyuruhnya menanam padi.

Seandainya tidak demikian, mereka mengelabui umat dengan cara menyembunyikan figur ulama mayoritas yang mereka anggap telah “mencemarkan agama”. Lalu menampilkan dan mempromosikan segelintir sosok ulama Salafi Wahabi beserta karya-karya mereka serta mengarahkan umat agar hanya mengambil pemahaman al-Qur’an dan Sunnah dari mereka saja dengan slogan “pemurnian agama”.

Sesungguhnya, “pencemaran” yang dilakukan para ulama yang shaleh dan ikhlas itu adalah upaya yang luar biasa untuk melindungi umat dari kesesatan. Sedangkan “pemurnian” yang dilakukan oleh kaum Salafi Wahabi adalah penodaan terhadap ijtihad para ulama dan pencemaran terhadap al-Qur’an dan Sunnah.

Dan pencemaran terbesar yang dilakukan oleh kaum Salafi Wahabi terhadap al-Qur’an dan Sunnah adalah saat mereka mengharamkan begitu banyak perkara yang tidak diharamkan oleh al-Qur’an dan Sunnah. Saat mereka menyebutkan secara terperinci amalan-amalan yang mereka vonis sebagai bid’ah sesat atas nama Allah dan Rasulullah Saw.  Padahal Allah tidak pernah menyebutkannya di dalam al-Qur’an dan Rasulullah Saw. tidak pernah menyatakannya di dalam Sunnah (hadis)nya.

Dari uraian di atas, nyatalah bahwa orang yang kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah itu belum tentu dapat dianggap benar. Dan bahwa para ulama yang telah menulis ribuan jilid kitab tidak mengutarakan pendapat menurut hawa nafsu mereka. Amat ironis bila karya-karya para ulama yang jelas-jelas lebih mengerti tentang al-Qur’an dan Sunnah itu dituduh oleh kaum Salafi Wahabi sebagai kumpulan pendapat manusia yang tidak berdasar pada dalil. Sementara kaum Salafi Wahabi sendiri yang jelas-jelas hanya memahami dalil secara harfiyah (tekstual) dengan sombongnya menyatakan diri sebagai orang yang paling sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah.

S o u r c e

Oleh: Ustadz H. Imam Mustofa Mukhtar

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

43 thoughts on “KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN & SUNNAH, BAGAIMANA BISA TERSESAT ?”

  1. Asslmkm.wr.wb.
    Salam tadzim pak ustadz, sy pmbc setia artikel2 ummaty.. Sangat tkjub dg argument2 ilmyah yang ustadz kasih.sy insan bodoh cm bisa bengong nglihat bgitu hebatnya para pnerus ASWAJA membasmi fitnah wahaby.
    Ada 3 point yg mau sy sampaikan:

    1. Kalau boleh tahu, admin ummaty di kabupaten mana ya?? Prkenalkan, sy pmbaca ummaty dr banyuwangi.

    2. Kalau dizinkan, sy minta ridhonya Copas artikel ummaty utk blog jelek sy http://kitabgundul.blogspot.com insyaalloh link sumber ttap saya tmpilkan.

    3. Sekedar usul, gmn kalo setiap artikel ummaty yang agak panjang memakai jumplink?(sperti di blog sy: http://tutorialkomplit.blogspot.com/2012/11/cara-mudah-membuat-jump-link-di.html insyaaloh ummaty lebih fham ttg hal ini)
    Misal dipasang dibagian atas artikel(semacam daftar isi dr suatu postingan). Biar pengunjung lbih mudah memahami isi artikel ummaty yng TOP banget. Apalagi pr pengguna HP(sprti sy)

    Syukron jzilan atas semuanya..
    Mohon direplay.
    Wassalam.

    1. Nah…. terbukti kan, tidak otomatis paling benar hanya bermodal jargon KEMBALI KPD AL QUR’AN DAN SUNNAH itu? Begitu jelas pembuktian artikel di atas, bisa nggak kalian kawan2 Wahabi memberi bantahannya? Saya rasa akan sulit, bahkan sekedar menghindar pun akan sulit.

      Hidup Aswaja! Bravo Ummati! Lanjuut!

          1. Persis seperti yg dipresentasikan dalam artikel di atas itulah Salafy Wahabi, jadi itu sangat ilmiyyah sekali dilihat dari sudut fakta dan empiris. Ya, benar2 sangat ilmiyyah.

  2. alhamdulillah, sekarang saya jadi tahu duduk persoalannya. Tadinya waktu lihat judulnya saya agak kaget, kok bisa?

    Ternyata ya, benar2 bisa tersesat kalau Al Qur’an dan assunnah cuma dijadikan yel2 atau jargon atao sekedar motto, yg semuanya ini bisa mendorong bagi orang2 awam untuk memahami Al qur’an dan sunnah sesuai hawa nafsunya akibat kejahilannya.

  3. Bismillaah,

    Kita memang harus kembali kepada Qur’an dan Sunnah agar kita selamat di dunia dan akhirat. Hanya dengan kembali kepada Qur’an dan Sunnah kita dapat memperbaiki aqidah, ibadah dan akhlak kita.

    Kalau kita melihat fakta di masyarakat, kita menemui arisan siswa SMA/SMK untuk berkencan dengan pelacur di Situbondo, kawain-cerai model Aceng Fikri di Garut, tawuran siswa di banyak sekolah, tawuran mahasiswa di banyak kampus dan tawuran warga di banyak kampung, korupsi pejabat di Jakarta dan banyak daerah. Ini membuktikan bahwa umat Islam di Indonesia jauh dari Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia musti kembali kepada Qur’an dfan Sunnah.

    Kita melihat kebanyakan umat Islam melaksanakan shalat, namun kekejian dan kemungkaran makin merajalela. Padahal, Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Jadi, ada apa sebenarnya dengan shalat kebanyakan umat Islam di Indonesia sehingga tidak dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar? Jangan-jangan shalat mereka tidak sesuai dengan Qur’an dan Sunnah.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi,
      Saya percaya hanya kaum wahabi saja yg shalatnya khusuk dan paling benar, sehingga mereka saja yg Islamnya paling sempurna dan paling jauh dari kekejian.

      Dan saya percaya kaum wahabi saja yg paling nyunah dan paling Al Qur’ani, selain kalian para pengikut Wahabi adalah penghuni neraka, jadi isi surga hanya ada pengikut wahabi saja.

      1. Kalau begitu surga diciptakan hanya sia2 ya, karena isinya cuma kaum Wahabi yg cuma seuprit jumlahnya, itupun dimulainya sejak kemunuculannya di Najd kira2 akhir tahun 800-san. Lho, kalai surga diciptakan sangat sedemikian luas, lalu penghuninya cuma kaum Wahabi yg sedikit, alangkah sia2 nya surga diciptakan. Bukankah demikian akang2 Wahabi?

        1. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
          بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
          “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)
          jadi kuantitas belum tentu menunjukan kebenaran, insyaalloh saya ingin termasuk yg terasing.

  4. Bismillaah,

    Kang Nasir & Kang Andi,

    Kita melihat kebanyakan umat Islam melaksanakan shalat, namun kekejian dan kemungkaran makin merajalela. Padahal, Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Jadi, ada apa sebenarnya dengan shalat kita dan shalat kebanyakan umat Islam di Indonesia sehingga tidak dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar?

    Wallaahu a’lam.

  5. @ibnu suradi
    Ente udah suudzhon sama yang mendirikan shalat dengan bilang “namun kekejian dan kemungkaran makin merajalela”
    Ente lihat albani dan benbazz, mengkafirkan beberapa ulama termasuk imam Bukhari, jadi dimana shalatnya menurut ente, pemikiran ente gak nyambung sama tulisan ente.

    Orang yang mengerti dan faham lebih dalam kandungan :
    1. Niat
    2. Takbir dengan mengangkat tangan
    3. Bacaan takbiratul ikhram
    4. Ruku dan sujud
    5. dst …..

    Kalau semua Muslim faham dan mengerti arti sebenarnya shalat dan menerapkannya dalam kehidupan, barulah kemungkaran dan kekejian tidak terjadi.
    janganlah kita menjadi orang yang MUNAFIK, zaman sekarang setelah shalat, orang-orang lupa akan shalatnya, begitu juga orang yang berpuasa lupa sama puasanya.
    Contoh : ente kerja di sebuah perusahaan, waktu ente ditanya sama bos ente tentang pekerjaan, apakah ente jawab dengan mengamalkan penerapan shalat, puasa ente. Ane yakin 1000 % pasti yang dijawab, bagaimana posisi ane gak digeser atau bagaimana bos bisa yakin sama jawaban ane, kalau perlu dengan sedikit berbohong.

    Zaman Rasulullah para sahabat menerapkan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama, mereka tahu arti yang sebenarnya dari shalat saat takbiratul ikhram “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbul alamin”, makanya tubuh mereka sebagai jaminan kepada Allah swt.

  6. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Dengan bekomentar: “Kalau semua Muslim faham dan mengerti arti sebenarnya shalat dan menerapkannya dalam kehidupan, barulah kemungkaran dan kekejian tidak terjadi.”, sebenarnya anda ingin mengatakan bahwa kebanyakan umat Islam di Indonesia belum memahami dan mengerti shalat dengan sebenarnya sehingga kemungkaran dan kekejian semakin merajalela.

    Saya jadi bertanya-tanya bagaimana sebenarnya sistem pengajaran shalat di sekolah-sekolah, masjid-masjid, majlis taklim dan rumah-rumah umat Islam di Indonesia sehingga shalat anak didiknya dan lulusannya tidak dapat mencegah merebaknya perbuatan keji dan mungkar di masyarakat. Pengajaran shalat itu tanggung jawab organisasi kemasyarakatan Islam, pesantren, sekolah-sekolah, guru-guru dan orang tua. Bagaimana mereka mengajarkan shalat kepada umat Islam sehingga shalat mereka belum bisa mencegah merajalelanya kekejian dan kemungkaran di Indonesia?

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      “sebenarnya anda ingin mengatakan bahwa kebanyakan umat Islam di Indonesia belum memahami dan mengerti shalat dengan sebenarnya sehingga kemungkaran dan kekejian semakin merajalela”

      He he he …. ente “lempar batu semubunyi tangan”. Lihat koment ente ya “Kita melihat kebanyakan umat Islam melaksanakan shalat, namun kekejian dan kemungkaran makin merajalela”. Bersambung dong kalau memberi koment.

      Kemungkaran dan kekejian itu terjadi bukan akibat dari shalat, tapi dari manusianya, coba kita lihat seseorang yang Puasa dan Shalatnya hebat, tapi dia kelaparan bagaimana Nafsu nya, mungkin salah bicara sedikit aja kita bisa kena pukul.
      Kita lihat Albani dan benbazz, yang kata anda shalatnya paling hebat (karena anda mengikutinya), tapi demi Dolar $$$$$ dia rela mengkafirkan Ulama2 muslim dan tidak lepas Imam Bukhari dikafirkan.

      Tapi kalau dilihat dari “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbul alamin” (sesungguhnya shalatku, Ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah swt) kita terapkan dalam kehidupan (waktu berjalan, tidur, makan, bekerja, waktu kenyang, lapar dia ingat kata2 sumpahnya kepada Allah swt tersebut), maka kemungkaran dan kekejian mungkin tidak ada.
      Lihat lagi ayat al Qur’an : “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang Telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (QS Mujadillah : 7).

      Coba ente kaji : pertama sumpah kita dalam takbiratul ikhram dan ayat al Mujadillah : 7. Kan ente mufassir dan muhadist, pakai akal sehat.

      Tapi dilema rasanya mengatakan, orang yang shalatnya hebat tapi dia kelaparan dan ada dalam tekanan, semuanya musnah, Yaaah contohnya …… demi dollar. Kecuali orang2 yang SABAR, TAWAKAL dan TAWADDU’, baru dia bisa lolos darI yang namanya COBAAN, UJIAN dan KEFAKIRAN.

  7. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Sebenarnya ayat yang anda bawakan: “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbul alamin” (sesungguhnya shalatku, Ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah swt)” sangat erat hubungannya dengan ayat: “Innashshalata tanha ‘anil fkhsyaa i wa munkar (Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar”.

    Kita melaksanakan shalat hanya untuk Allah. Hanya saja apakah Allah menerima shalat kita? Shalat yang bagaimana yang diterima Allah? Allah memerintahkan kita: “Katakanlah wahai Muhammad kepada manusia: ‘Jika engkau mencitai Allah, ikutilah aku'”. Jadi, shalat yang diterima Allah adalah shalat yang mengikuti tata cara shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya baik dari sisi persiapannya, niatnya, gerakannya, bacaannya, thuma’ninahnya, dll. Shalat seperti itulah yang diterima Allah. Shalat seperti itulah yang dapat mencegah diri pribadi kita dan masyarakat yang merupakan kumpulan dari diri pribadi-diri pribadi kita dari melakukan perbuatan keji dan mungkar.

    Faktanya, kekejian dan kemungkaran semakin merajalela di masyarakat. Apakah kita belum melakuan shalat hanya untuk Allah dan mengikuti tata cara shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya sehingga kita dan masyarakat kita masih suka melakukan perbuatan keji dan mungkar?

    Wallaahu a’lam.

  8. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Anda musti berhati-hati dalam berkomentar. Bagaimana anda bisa mengatakan bahwa saya mengkafirkan sesama umat Islam? Kalimat mana dari komentar saya di ummatipress yang menunjukkan bahwa saya mengkafirkan orang lain? Anda dapat periksa kata per kata dan kalimat per kalimat dari komentar-komentar saya di situs ini dari awal saya berpartisipasi hingga kini. Tunjukkan kepada saya bagian komentar saya yang mengkafirkan orang lain.

    Apakah tuduhan anda itu karena saya menyampaikan firman Allah: “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar”, lalu menyampaikan kenyataan bahwa: “Kekejian dan kemungkaran semakin merajalela di masyarakat di Indonesia.”, dan kemudian bertanya: “Ada pada sebenarnya dengan shalat umat islam Indonesia sehingga tidak dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar?”?

    Saya khawatir tuduhan anda kepada saya menjadi pengurang pahala anda. Oleh karena itu, anda musti menarik tuduhan itu.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Lihat koment ente ya “Kita melihat kebanyakan umat Islam melaksanakan shalat, namun kekejian dan kemungkaran makin merajalela”
      Buat ane ini cukup bukti. Perhatikan dengan saksama, bagi orang yang membacanya, reaksi sipembaca bagaimana ????
      Lihat kitab Fatawa Albani dia mengkafirkan Imam Bukhari.

    1. @ibnu suradi
      He he he, ane gak pernah mengkafirkan orang, silahkan baca dan cari koment2 ane lagi.
      Ente diajak diskusi gak pernah nyambung. Ente berusaha memasuki faham Wahabi kesini dengan mengatakan “shalat ala Rasulillah saw” padahal itu “shalat ala Albani”.
      Lihat semua artikel diblog ini, pasti ada koment ente mengajak shalat ala Albani.

      1. @Kang Ucep,
        Ibnu Suradi ini pakarnya shalat khusuk yang baik dan benar, shalat orang lain pasti salah dan buruk dan dia bisa dan yakin benar shalat ibnu suradi dan semua pengikut wahabi pasti di terima oleh Allah SAWT sedangkan selain mereka tidak diterima, alias sia2 tempatnya dineraka

      2. Bismillaah,

        Kang Ucep,

        Anda hanya bisa menyalahkan apa-apa yang disampaikan Albani dalam Kitab Sifat Shalat Nabi, tapi tidak mengetahui bahwa beliau hanya menyampaikan hadits-hadits shahih tentang tata cara shalat Rasulullaahi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kalau mau adil, mari kita bahas hadits-hadits tersebut di forum diskusi ini. Namun, anda dan kawan-kawan anda menghentikan pembahasan hanya sampai masalah surat-surat yang biasa dibaca Rasulullaah saat shalat wajib. Anda-anda sekalian tidak bersedia melanjutkan pembahasan ke masalah ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, duduk tasyahud dan salam.

        Kalau anda-anda sekalian menghentikan penyampaian hadits-hadits tentang tata cara shalat Rasulullaah, berarti anda juga menghentikan keinginan para pembaca ummatipress untuk mengetahui hadits-hadits tersebut dan mengamalkannya. Padahal, bila diskusi dilanjutkan, para pembaca dapat mengetahui hadits-hadits tersebut dan mengamalkan hadits-hadits tersebut untuk memperbaiki shalatnya yang mungkin selama ini hanya ikut-ikutan.

        Wallaahu a’lam.

        1. @ibnu suradi
          Ente salah, sudah beberapa kali ane sampaikan dikoment ane tentang shalat tapi karena ente gak pernah / selalu membaca seluruhnya koment2 yang diberikan oleh kawan aswaja disini, jadi ente berpikiran seperti itu. Ente langsung jawab, padahal jawaban ente gak nyambung sama koment kawan2 disini !!!
          Bahkan ente diajak kawan2 disini untuk bertemu langsung, ente tolak !!!! biar clear masalahnya.

  9. @Ibnu Suadi
    Anda ngotot ingin ajarkan sholat ala Albani, diskusi langsung aza sama Ustadz Abu Hiya biar keinginan Anda terpuaskan. Jutaan umat muslim di Indonesia memang tidak mengetahui dalil-dalil gerakan sholat. Tapi dg keterbatasannya mereka berusaha mengikuti guru-guru mereka yg memiliki sanad pada Imam Mazhab. Apakah dg tidak mengetahui dalil, sholat mereka tidak diterima? Anda yang paling mengetahui dalil pasti diterima? Ya sudah Anda saja yang masuk syurga. Kami muslimin yang tidak memahami dalil selama ini, berserah diri menunggu Rahmat dan kemurahan Allah saja. Terserah mau Anda bilang taklid buta.

    1. Bismillaah,

      Kang Bima dan Kang Santri,

      Sebagai orang awam yang sedang shalat, kita memang harus mengikuti guru. Namun, guru yang diikuti hendaknya menunjukkan dalil dari Qur’an dan hadits tentang tata cara shalat Rasulullaah sehingga kita yakin bahwa shalat yang diajarkannya benar-benar shalat yang sesuai dengan shalat yang diajarklan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya.

      Itulah shalat yang benar, shalat yang sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena hanya Rasulullaah lah yang diberi wewenang oleh Allah untuk mengajarkan shalat kepada manusia. Sedangkan para imam, ulama, ustadz dan guru hanya menyampaikan dengan benar shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada manusia. Sebagai bukti bahwa seorang guru telah menyampaikan dengan benar shalat yang diajarkan Rasulullaah, ia hendaknya menyampaikan hadits-hadits tentang tata cara shalat Rasulullaah.

      Kalau dalam mengajar shalat kepada muridnya seorang guru tidak menyampaikan hadits-hadits tentang tata car shalat Rasulullaah, maka tidak ada jaminan bahwa shalat yang diajarkan guru tersebut benar atau salah. Sekarang pilihan ada di tangan anda. Apakah berusaha sekuat tenaga untuk menemukan hadits-hadits tentang tata cara shalat Rasulullaah dengan berguru kepada orang yang berilmu atau hanya sekedar mengikuti guru yang tidak pernah menyampaikan hadts-hadits tentang tata cara shalat Rasulullaah?

      Semoga penjelasan singkat ini dapat menjadi dorongan bagi kita semua untuk instropeksi, menilai diri kita sendiri: “Apakah shalat kita sudah sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya atau belum?” Kalau sudah sesuai, kita nerusaha untuk istiqomah untuk terus mengamalkannya. Kalau belum sesuai, kita hendaknya terus belajar dan belajar.

      Wallaahu a’lam.

  10. Saya sih, gak apa2 kalo Wahhaby bilang saya taklid buta. Karena bagi saya, Wahhaby juga bertaklid kepada Bin Baz. Padahal Bin Baz itu juga buta matanya.

    “Dan barang siapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan buta dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (Qs. Al-Isra [17]:72)

  11. @ibnu suradi
    kalo pak suradi di tanya dalil DETAIL dari A sampai Z hukum syariat dari sholat, haji, sedekah, zakat, nikah, jihad, puasa, dagang dll. dan jutaan hukum syariat apa kira2 pak suradi dan gurunya bisa menghadirkan TOTAL JENDRAL dalilnya. kalau ada amal pak suradi atau gurunya misalnya 1 aja yang tanpa dalil atau TIDAK TAHU DALILNYA artinya pak suradi TAKLID juga.
    kesimpulanya:IKUT TAKLID TAPI MELARANG TAKLID (standar ganda Dong..)
    wong jowo ngomong jas bukak iket blangkon, sama jugak sami mawon. hee …heee…

  12. Bismillaah,

    Kang Zacki,

    Saya masih awam dan akan terus belajar hingga hayat meninggalkan badan. Dalam proses belajar, saya mengikuti guru yang menunjukkan kepada saya dalil-dalil dari Quir’an dan hadits yang menjadi dasar segala ibadah saya kepada Allah termasuk shalat. Saya selalu bertanya kepada guru saya tentang masalah agama Islam ini. Guru saya selalu menjawab pertanyaan saya dengan menyampaikan dalil dari Qur’an dan hadits serta perkataan ulama. Kadang dia bisa menjawab seketika, kadang menjawab beberapa hari setelah ia mencari tahu terlebih dahulu.

    Itulah cara saya mengikuti guru dalam belajar agama Islam.

    Wallaahu a’lam.

  13. @ibnu suradi
    berarti pak suradi antara amal dan dalil belum tentu klop.misalnya mengamalkan 100amal dalilnya belum tentu menghadirkan 100dalil.
    misalnya pak suradi sdh melakukan nikah,puasa atau zakat, tapi apa kira kira sudah tahu dalilnya ,mengenai waktu zakat, ukuran zakat, siapa penerima zakat, bahan untuk zakat, kl pak suradi sudah menemukan dalil baru amal dari SEMUA amal bapak berarti good…!bapak juga harus tahu ribuan bahkan puluhan ribu ato lebih dari amal dalam kehidupan kita SEHARI HARI.
    tapi kalo ada amal bapak yang mendahului dalil maka bapak juga mukolid yang bertaklid.
    dan kamipun yang bertaklid bukanya tidak tahu dalil. kami tahu walaupun tidak lengkap persis 100%.kami juga terus belajar apa dikira cuma pak suradi yang belajar aja.
    KITA SEMUA TIDAK BOLEH STANDAR GANDA ..!

  14. Bismillaah,

    Kang Zacki,

    Sebelum membaca Kitab Sifat Shalat Nabi karya Albani, saya benar-benar awam. Sya beramal tanpa ilmu (Qur’an dan Hadits). Amal saya mendahului ilmu. Alhamdulillaah, kitab tersebut menyadarkan saya bahwa saya haruss beramal berdasarkan dalil dari Qur’an dan Hadits. Dalam belajar hingga sekarang, saya memprioritaskan untuk mendapatkan dalil-dalil dari Qur’an dan hadits untuk kegiatan ibadah yang saya lakukan sehari-hari seperti shalat, puasa, zakat, tidur, bangun tidur, masuk kamar mandi, keluar kamar mandi, wudhu, mengenakan pakaian, keluar rumah, berangkat ke masjid, masuk masjid, amalan di dalam masjid menunggu shalat wajib, shalat wajib, dzikir, keluar masjid, masuk rumah, makan dan minum, naik kendaraan berangkat kerja, dst.

    Alhamdulillaah, saya sudah mengetahui dalil semua amalan tersebut dari bertanya kepada guru dan membaca kitab meski saya tidak hafal semuanya. Doakan saya untuk terus belajar agar mengetahui dalil dari semua amal ibadah yang saya lakukan.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Mari kita lihat :
      Pertama : Bersedakep tangan diatas dada.
      Bunyi hadistnya, meletakan tangan diatas dada.
      Pertanyaannya : Kenapa para Imam Madzhab, juga Imam Madzhab selain yang 4, seperti Ibnu jauzi dll, tidak melakukan meletakan tangan diatas dada. Ada yang diatas pusar, dibawah pusar ?? Padahal mereka lebih dekat dengan Rasulullah saw ? bahkan Imam Abu Hanifah (masa anak2) masih menyaksikan sahabat terutama Sayyidina Ali ra.

      Kedua : Sujud
      Dalam al Qur’an ada surat yang menerangkan : Orang yang bersujud dapat dilihat pada tanda dikeningnya.
      Pertanyaannya, kenapa Rasulullah tidak ada tanda dikeningnya berupa tanda hitam, padahal dizaman dulu tidak ada sajadah. Seperti kita ketahui, sujudnya Rasulullah lebih lama dari pada seorang sahabat membaca 50 ayat, bahkan itupun belum selesai sujudnya (ada hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah rha).

      Ketiga : I’tidal
      Seorang Imam Wahabi Benbazz, mengajarkan cara meletakan tangan setelah ruku / i’tidal adalah besedakap didada (lihat kitab fatawa nya benbazz). Padahal di Hadist dan al qur’an sama sekali tidak ada ??? (bisa dilihat saat Haji, ada beberapa orang yang meletakan tangan diatas dada, pada waktu berdiri setelah ruku / i’tidal)

      Maaf, ane lagi dijalan jadi gak bisa menunjukan Hadist2nya, nti kalau sampai dirumah ane tulis hadist dan ayat al qur’an yang ane sebutkan atau ente bisa bantu tuliskan.

      Dari ketiga diatas, apa yang salah dalam melakukan gerakan2 shalat ????

      Disinilah kita kudu belajar sama guru yang bersanad, agar gak salah dalam menafsirkan ayat Al Qur’an dab Hadist !!!!
      Yang penting bagi kita : Afdhalu Shalatu Thulul Qunut (Afdhol nya shalat adalah panjangnya tingkat ketakwaannya)
      Artinya : semakin kita khusu’, maka semakin shalat kita diterima Allah swt. Kalau shalat masih mikirin isi kantong, isi perut, istri dan anak2, bagaimana dengan Inna Shalati ???

      Demikian @ibnu suradi mohon dijawab !!!!!

  15. @Ibnu Suradi
    wah, pak kalo cuma amal seperti itu orang yang bertakild atau bermazhab juga banyak tahu dalilnya pak.ingat pak SURADI yang bapak sebutkan belum ada apa apanya dengan hukum syariat yang bisa mencapai ratusan ribu bahkan JUTAAN dalil.masih banyak orang yang taklid mazahab tapi dalilnya lebih banyak hafalannya dari yang bapak sebutkan. KESIMPULANNYA sama aja bapak juga TAKLID.

  16. Maaf Awam,
    @bang suradi
    Mungkin bang suradi hendak menyampaikan “manhaj” atau metode ilmiah. Bila satu perkara dikaitkan dengan satu atau beberapa dalil yang sesuai. Bahkan dalam metode ilmiyah pun harus disertai dasar-dasar logika yang kuat berupa Struktur, Filsafat, dan Referensi. Tapi dalam pembelajaran Islam yang saya sebagai awam ketahui, menetapkan keputusan jauh lebih sulit dari pada sekedar metode Ilmiyah. Walaupun metode ilmiyah pun sebetulnya sulit. Kenapa sulit? Karena satu dalil dan dalil lainnya sesungguhnya satu nafas. Bagaimana mungkin Sayyidina Ali k.w. memenangkan sayembara mempersunting putri Nabiyullah S.A.W hanya membaca surat Al Ikhlas berulang-ulang? Karena seluruh dalil dalam Islam satu nafas. Maka pengambil keputusan dalam Islam harus hafal Alquran dan menguasai perangkat tafsir, juga hafal hadist dan seperti yang dijelaskan di artikel lain di Ummati. Logikanya kesahihan (bukan shahihnya hadist) dalam pengambilan keputusan dalam Islam sangat ketat dan berkualitas.

    Nah, maksud saya, kalau bang suradi dicukupkan dengan dalil yang abang terima dari guru abang ya monggo dipraktekkan. Dan bila ada sahabat kita yang taklid dengan mahzab guru, atau orang tua, ya dihormati karena ulama Mahzab adalah terpercaya. Menurut saya juga, praktek dengan dalil dan hadist shahih tidak keliru. Semoga kita terhindar dari melampaui batas. Maaf Awam.

Tinggalkan Balasan

Check Also

Close
Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker