Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Salafi Wahabi

Nejd / Najd Sebagai Tempat Keluarnya Tanduk Setan

Fakta Kebenaran Nejd / Najd (Riyadh) Sebagai Tempat Keluarnya Tanduk Setan

Nejd / Najd (Riyadh) – Sebahagian para pengikut wahabi akan marah jika kita sebut bahawa Nejd tempat kelahiran Imam mereka adalah tempat keluarnya tanduk Setan dan tempat keluarnya khawarij. Mereka beralasan bahwa Nejd yang di maksud Rasululah s.a.w adalah Iraq, karena negeri Iraq sumber dari kekacauan dan fitnah. Sungguh pembelaan mereka ini sangat terkesan mengada-ada karena mereka tidak punya bukti.

Mari kita lihat bukti kuat berupa peta Nejd berikut ini….

 

nejd or najd map peta nejd atau najd - Nejd / Najd Sebagai Tempat Keluarnya Tanduk Setan

 

 

Mari kita lihat sejauh mana kebenaran yang telah disampaikan oleh pengikut wahabi yang terlalu fanatik dengan Imamnya Muhammad bin Abdul Wahab. Sehingga beliau hampir seperti nabi yang tidak salah dan khilaf. Padahal sangat nyata dan telah jelas dalam sejarah  beliau tergolong salah dan sesat. Informasi Bahaya fitnah daerah Nejd berasal dari hadits Rasulullah s.a.w yang menceritakan keberkatan tanah  Yaman, dan Syam sebagaimana di dalam hadisnya :

عن ابن عمر قال : ذكر النبي صلى الله عليه وسلم : ” اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك لنا في يمننا” . قال

وفي نجدنا ؟ قال : ” اللهم بارك لنا في شأمنا، اللهم بارك لنا في يمننا، قالوا : وفي نجدنا ؟ فأظنه قال في الثالثة : ” هناك الزلازل والفتن وبها يطلع قرن الشيطان ” رواه البخاري كتاب الفتن باب قول النبي صلى الله عليه وسلم :” الفتنة قبل المشرق “رقم 7094

Artinya : Dari Ibnu Umar r.a berkata : Rasulullah s.a.w menyebutkan : ” Ya Allah berilah keberkatan kepada negeri Syam kami, berilah keberkatan kepada negeri Yaman kami, Berkata mereka : ” Pada Nejd kami Ya Rasulullah “, berkata Rasulullah : Ya Allah berilah keberkatan kepada negeri Syam kami, berilah keberkatan kepada negeri Yaman kami, Berkata mereka : ” Pada Nejd kami Ya Rasulullah “, Berkata Rasulullah : Disana terdapat kegoncangan ( aqidah ) dan fitnah, dan disanalah terbitnya tanduk Setan. ( H.R . Bukhari , kitab al-Fitan, bab Qulun Nabi s.a.w. al-Fitnah Min Qibla al-Masyriq, no : 7094 ).

Dari hadis ini kita mengetahui bahwa Rasul telah mendo’akan negeri Syam dan Yaman, sebab itulah para sahabat berlomba-lomba untuk pindah ke negeri Yaman dan Syam.

Kenapa Najd yang terdapat di hadis ini bukan negeri Iraq? Adapun sebagai Jawabannya sebagai berikut :

1 – Negeri yang dido’akan Rasulullah adalah negeri-negeri yang telah masuk Islam sebahagian penduduknya. Sebahagian ahli Syam telah mendatangi Nabi s.a.w. dan mengucap kalimat dua Syahadah. Penduduk Yaman mendatangi Rasul dan memeluk Islam ketika itu, sementara penduduk daerah Iraq tidak ada yang datang ke hadapan Rasul. Bahkan mereka masuk Islam pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khatab ketika penaklukkan negara Farsi. Sementra penduduk Najd ( tempat kelahiran pemimpin wahabi ) telah berbondong-bondong pergi ke Madinah untuk memeluk Islam. Bagaimana bisa di dalam hadis menyebutkan kalimat ” di Nejd kami “.  Sementara Iraq belum jatuh ke tangan umat Islam, dan masih dipegang oleh negara Farsi.

BACA JUGA:  Mengaku Pengikut Salaf; Wahabi Anti Takwil Padahal Salaf Shalih Melakukan Takwil

Ungkapan kami di sini memiliki dua makna :

Yang pertama : Para sahabat yang bersama Rasul, dan mereka bermaksud bahwa ungkapan kami adalah makna kepemilikan Iraq, dan ini mustahil sebab Iraq belum jatuh ketangan umat Islam.

Yang kedua : Utusan yang datang dari Najd, jikalau Najd itu Iraq, maka sesuatu yang mustahil sebab tidak ada riwayat yang mengatakan adanya utusan kaum yang datang dari Iraq, maka mestilah Nejd tersebut bahagian negara yang dikenal yaitu Riyahd dan sekelilingnya.

Sementara kalimat ” kami ” pada negeri Syam, karena telah datang sebahagian utusan negeri Syam ke Madinah untuk memeluk islam dan di Syam terdapat Baitul Maqdis, dan tempat para nabi-nabi terdahulu.

2 – Rasul mengatakan bahwa Najd adalah tempat keluarnya tanduk syaiton, terlepas dari hakikat ataupun majaz, tapi yang dimaksud adalah orang yag membawa kesesatan dan fitnah bagi umat islam dan mereka tergolong dari orang – orang kafir. Karena Syaitan pemimpin orang-orang kafir dan menyesatkan orang, ini sangat jauh sekali keadaannya dengan fitnah yang berlaku di Iraq.  Pembunuhan Imam Ali r.a di tangan orang – orang Khawarij suatu fitnah yang lebih kecil di bandingkan dengan fitnahnya Musailamah al-Kadzab yang berasal dari Yamamah Nejd ( Riyadh sekarang ), yang telah mengaku nabi dan membunuh puluhan para sahabat sehingga Umar bin Khatab menjadi sangat takut sekali akan habisnya penghafal al-Qur`an disebabkan serangan Musailamah.

Musailamah dan pengikutnya tergolong orang-orang yang kafir dan menyesatkan orang lain, sementara orang-orang Khawarij masih dalam keadaaan islam sebagaimana didalam riwayat Ibnu Abbas dari Imam Ali di dalam Sohih Bukhari. Tetapi mereka pelampau yang keluar dari batasan, demikiannya juga pandangan ulama ahlus Sunnah bahwa khawarij telah keluar dari jama’ah  tetapi tidak keluar dari Islam. Dengan demikian tahulah kita bahwa fitnah yang terdapat di Yamamah ( Najd ) lebih besar dari fitnah yang berada di Iraq, di Najd juga tedapat khawarij dan golongan Qaramithoh yang kafir.

BACA JUGA:  Ustadz Firanda Pendusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (3)

3 – Kita mengetahui bahwa Iraq adalah negeri yang berkat juga. Bukti keberkatan Iraq adalah pindahnya ulama-ulama besar dari golongan sahabat ke Iraq seperti Imam Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas`ud, Anas bin Malik, `Ammar bin Yasir, Hudzaifah bin Yaman, Sa`ad bin Abi Waqash, Imran bin Hushain, jikalau negeri Iraq tidak berkat bagaimana boleh para sahabat pindah ke Iraq berbondong-bondong. Di negeri Iraq pula terbitnya banyak ulama hadis dan mazhab ahlussunnah seperti mazhab Imam Hanafi, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Sufyan ats-Tsauri dan Sufyan bin Uyaynah, timbulnya di baghdad ulama dan fakar-fakar qira`ah dan Nahu, berbeda dengan Najd Yamamah yang tidak terdapat sedikitpun para sahabat yang bermukim di situ bahkan para sahabat datang ke Najd Yamamah untuk memerangi orang kafir dan murtad pengikut Musailamah. Bagaimana bisa kita katakan bahwa Iraq tempat yang terkutuk dan tidak berkat, sementara Iraq telah mengeluarkan jutaan ulama. Kenapa wahabi mengikuti mazhab Hanbali sementara Imam Ahmad berasal dari Iraq.

4 – Iraq telah masyhur ketika zaman jahiliyah, jikalau Rasul bermaksud Iraq niscaya beliau akan sebutkan secara jelas dengan namanya khusus tetapi Rasul tidak menyebutkan Iraq bahkan menyebutkan Najd yang berarti bukan Iraq. Jadi jika disebut dengan Najd maka di maksud adalah  Najd secara uruf yaitu daerah Yamamah , Dar’ah dan sekitarnya, karena kawasan ini juga dataran tinggi.

5 – Hadis Rasulullah s.a.w. yang berbunyi :

عن ابن عمر رضي لله عنهما أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو مستقبل المشرق يقول : ” ألا إن

الفتنة هاهنا من حيث يطلع قرن الشيطان . رواه البخاري

 

Artinya : Dari Ibnu Umar r.a. beliau mendengar Rasul bersabda dalam keadaan mengarah ke bahagian arah timur Madinah : ” Ingatlah bahwasanya fitnah datang dari sana dari tempat terbitnya tanduk syaitan. ( H.R .Bukhari no : 7093 ).

Bahagian timur Madinah adalah Nejd ( bahagian Yamamah, Dir`ah, dll ) bukan Iraq. Ini jelas kalau kita melihat peta, adapun para ulama yang menafsirkan timur tersebut ke arah Iraq telah bersalah dengan kenyataan dan ilmu zaman sekarang, karena timurnya Madinah bukan Iraq.

BACA JUGA:  Wahhabi Adalah Ahlus Sunnah Waljamaah, Benarkah?

6 – Hadis Rasulullah s.a.w yang menyuruh penduduk Nejd agar berniat ihram dari Qarnu Manazil .

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : أمر رسو ل الله صلى الله عليه وسلم أهل المدينة أن يهلوا من ذي

الحليفة، وأهل الشام من الجحفة وأهل النجد من قرن المنازل .رواه مالك ، كتاب الحج باب مواقت الإهلال

 

Artinya :Dari Abdullah bin Umar r.a. beliau berkata : Rasulullah s.a.w. menyuruh penduduk Madinah berniat ihram dari Dzul- Hulaifah, penduduk Syam dari Juhfah, dan penduduk Nejd dari Qarn, Manazil. ( H.R. Malik , Kitab Hajj, bab Mawaqitu al-Ihlal no : 732 ).

Sementara lafaz didalam Sohih Bukhari ialah :

عن ابن عمر : وقّت رسول الله صلى الله عليه وسلم قرنا لأهل نجد ، والجحفة لأهل الشام وذا الحليفة لأهل

المدينة، قال : سمعت هذا من النبي صلى الله عليه وسلم ، وبلغني أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : : و لأهل اليمن يلملم ” وذكر العراق فقال : لم يكن عراق يومئذ ( رواه البخاري . رقم : 7344

Artinya :Dari Ibnu Umar beliau berkata : Rasulullah telah menentukan miqat bagi ahli Najd di Qaran, Juhfah untuk penduduk Syam, Dzul Hulaifah untuk penduduk Madinah, , berkata Ibnu Umar : telah sampai kepadaku bahwa Nabi s.a.w. berkata : ” Bagi penduduk Yaman dari Yalamlam”. kemudian disebutkan Iraq, berkata beliau : Ketika itu belum ada Iraq. ( H.R. Bukhari, no 7344 ).

Dari kedua hadis diatas jelaslah bahwa yang di maksud Nejd adalah daerah dataran tinggi yang terdiri dari Yamamah ( Riyadh sekarang ), Dir`ah dan lain-lainnya. Bukan Iraq, karena ketika itu orang Iraq belum memeluk islam, sementara Qarnu Manazil berhampiran dengan Yamamah (Riyadh sekarang ).

7 – Adapun riwayat yang menggantikan Masyriq ( arah timur ) kepada Iraq, riwayat ini telah diubah dan tidak shahih. Karena kebanyakkan riwayat mengatakan Masyriq. Adapun penafsiran Salim bin Abudullah bin Umar kepda Iraq adalah salah satu ijtihad beliau yang belum bisa dijadikan pegangan, sebab bukan dari penafsiran Rasulullah s.a.w. Sebagaimana beliau pernah berijtihad untuk melarang para wanita pergi shalat ke masjid sehingga ayah beliau Abdullah bin Umar marah tidak bercakapan dengan beliau sampai Abdullah bin Umar meninggal dunia.

http://allangkati.blogspot.com

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

160 thoughts on “Nejd / Najd Sebagai Tempat Keluarnya Tanduk Setan”

  1. Nejd di Iraq ??? ….
    wah sotoy …. belum pernah saya dengar kalau iraq bisa disebut dgn nama nejd …. jelas sekali para wahabi tidak akan bisa lari dr hadits ini utk menutupi tanduk mereka ….

  2. Kepada penulis,

    Bagaimana menurut antum tentang hadits shahih dibawah?

    Dalam lafazh yang dikeluarkan Imam Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 12/384 no.13422 dari jalur Ismail bin Mas’ud: Menceritakan kami Ubaidullah bin Abdullah bin Aun dari ayahnya dari Nafi’ dari Ibnu Umar – dengan lafazh:

    ?????????? ??????? ????? ???? ????????, ?????????? ??????? ????? ???? ?????????. ?????????? ????????, ???????? ????? ???? ???????????? ???? ????????????, ????????: ??? ???????? ?????! ?????? ??????????? ?????: ????? ????? ???????????? ??????????? ??????? ???????? ?????? ????????????

    Wahai Allooh berkahilah kami dalam Syam kami, wahai Allooh berkahi kami dalam Yaman kami. Beliau mengulanginya beberapa kali, pada ketiga atau keempat kalinya, para sahabat berkata, ”Wahai Rasulullooh! Dalam Iraq kami?” Beliau menjawab, ”Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula muncul tanduk setan.”

    Apakah lafadz Iraq masih bisa diingkari?

    1. Silahkan ngeyel asal jangan sampai kebakaran jenggot, tapi di bawah ini saya lampirkan fakta sejarah NEJD:

      Modern History of the Arab Countries. Vladimir Borisovich Lutsky 1969

      CHAPTER XI

      THE ARABIAN COUNTRIES DURING 1840 TO 1870

      ARABIA AFTER 1840.

      After the Egyptians had withdrawn from the Arabian Peninsula, the country was again spilt up into a number of regions. These, however, were not city-states (such a degree of disunity existed only in Hadhramaut and in some parts of the Persian Gulf), but comparatively large feudal formations such as the Hejaz and the Yemen on the Red Sea and Wahhabi Nejd, Kasim and Shammar in Inner Arabia and Oman on the Persian Gulf. All these regions, with the exception of Oman and southern Arabia, were formally under Turkish control. Turkey, however, stationed garrisons only in the chief towns of the Hejaz and the port of Tihama, and the Turkish pashas’ authority was restricted to these towns. Actually, the Arabian feudal estates were independent of the Porte.

      In the Hejaz, power belonged to the Meccan sherifs, as it had been in ancient times. In the Yemen the Zaydite Imams held the reins of power. Turkey’s attempt (in 1849) to place the Yemen under her direct control fell through. The Wahhabi state was restored in Nejd and embraced almost all Inner Arabia, including El-Hasa. Only the feudal lords and the merchants of Kasim strove to uphold their independence. Meanwhile, in the north of Nejd the new emirate of Shammar was formed and, gradually gaining strength, began to compete with Nejd for hegemony in northern Arabia.

      Oman was divided into two parts. One came under the control of the Muscat seyyid Said (1807-1856), who also retained his hold on a number of islands in the Indian Ocean (Zanzibar and others), and other territories on the coast of Iran and East Africa. The other part, Trucial Oman, was split up into a number of small “pirate” sheikhdoms. Both parts were under the control of the British resident and theguns of the British squadron stationed in the area ensured British domination all along the coast. The British resident’ used force to put down popular uprisings, appointed and dismissed governors and continued to impose new agreements on the coastal sheikhs. Southern Arabia was a conglomeration of small sultanates and sheikhdoms. England possessed the colony of Aden, which was a breeding ground of strife and uprisings in the southern part of the peninsula.
      WAHHABI NE JD.

      After twenty years of Egyptian rule, the Wahhabis had restored their state in Nejd. In 1843, Emir Faisal became the head of state. Since 1838, he had been a war prisoner in Egypt, but had then fled to Damascus, where he masqueraded as a theological student. When the Egyptians withdrew, he returned to Riyadh and with popular support regained power.

      Within a comparatively short time, Faisal restored the emirate, which had virtually begun to disintegrate. True, it was still far from being as powerful as it had been in the past. In 1846, it even acknowledged Turkish suzerainty and undertook to pay an annual tribute of 10,000 thalers. Nor were the former boundaries of the Wahhabi state restored. The Riyadh Emir controlled only Nejd and El-Hasa.

      The attempt of the Saudi dynasty to regain power in Kasim led to a protracted struggle with the Hejaz. The prospect of Wahhabi domination in this important trade centre of Arabia did not appeal to the Meccan sherifs. The merchants of Kasim were also opposed to Wahhabi power. They had gained control of a significant portion of the increasing trade between various regions of Arabia and the neighbouring Arab countries, and were rapidly enriching themselves. Kasim’s “commerce with Medina and Mecca on the one hand, and with Nejd, nay, even with Damascus and Baghdad, on the other hand,” wrote t distinguished British traveller Palgrave, who visited In r Arabia in 1862-63, “has gathered in its warehouses stores of traffic unknown to any other locality of Inner Arabia, and its hardy merchants were met alike on the shores of the Red Sea and of the Euphrates, or by the waters of Damascus.” [Palgrave, Personal Narrative of a Year’s Journey Through Central and Eastern Arabia, London, 1 69, p. 117.]

      The merchants of Kasim were oppressed by feudal extortions and the rigorous customs of the Wahhabi state, an wanted their city-states to be independent. With the he] of the Meccan sherifs the inhabitants of Kasim successful] repulsed all the Wahhabi campaigns. In 1855, Faisal eve acknowledged the independence of Anaiza and Buraida Further attempts by the Saudi dynasty to conquer the towns of Kasim achieved almost nothing. Only occasionally were they able to exact a certain amount of tribute.

      In eastern Arabia, the Wahhabis met with British opposition. Twice they attempted to regain their former position on the Persian Gulf (1851-52 – western Oman, 1859 – Qatar), and twice they were repelled by the British fleet. After the conclusion of the Anglo-Nejd Treaty in 1866, the Saudi family abandoned its attempts to extend its power to Trucial Oman and Bahrain and restricted its activities ii these areas to tribute gathering.

      An atmosphere of bellicose fanaticism pervaded the Wahhabi state. Religious intolerance had reached its highest pitch. A special tribunal of zealots was set up in the middle of the 19th century in Nejd to mete out strict punishment upon all who violated religious laws. The guilty were fined and subjected to severe corporal punishment.

      The new Wahhabi state lacked internal cohesion; the central power was weak. The tribes fought not only against one another, but also against the Emir. After Faisal’s death in 1865, feudal and tribal separatism was aggravated still further by the continuous strife between the dynasties. Faisal had divided Nejd among his three eldest sons and on his death a fierce struggle ensued between them for supreme power.

      The struggle for the throne and internecine strifes further weakened the already tottering foundations of the Wahhabi state. The emirs of Shammar, who were competing with the Saudi family for supremacy in northern Arabia, did not fail to take advantage of the critical situation. The Turks followed their example by seizing El-Hasa.
      THE GROWTH OF THE SHAMMAR EMIRATE.

      The Shammar emirate acquired especial significance among the Arabian feudal states after the withdrawal of the Egyptians. Hail was its capital. The new Rashid dynasty, which had firmly established itself in the emirate as far back as the thirties of the 19th century, used Nejd’s decline to consolidate its power. The Rashids had been the vassals of Nejd, but in the middle of the 19th century their dependence became purely nominal. Shammar, like Nejd, was a Wahhabi state. But unlike Nejd, the rulers of Shammar pursued a policy of religious tolerance.

      The emirs of Shammar, Abdullah (1834-47) and especially his son Talal (1847-68), did much to develop trade and the crafts. Talal built markets and workshops in Hail. He invited merchants and artisans both from the neighbouring Arabian regions and from Iraq. He granted them various privileges. Religious tolerance attracted the merchants and pilgrims. Caravans from Iraq changed, their usual routes and began passing to Mecca via Hail, steering clear of fanatical Nejd. Talal ensured their safety. He completely stamped out highway robbery, subdued the Bedouin tribes and forced them to pay taxes. He also conquered a number of oases (Khaibar, Jauf and others), removed rebellious feudal lords and everywhere appointed his own governors. The growth of trade and the policy of Emir Talal led to the centralisation and strengthening of Shammar.

      The Riyadh emirs watched with anxiety the growing. might of their vassal. In 1868, Talal was summoned to Riyadh, where he was poisoned. His state, however, continued to exist and with the help of the Turks entered the struggle against Riyadh for supremacy in Inner Arabia.
      BRITISH COLONIES IN ARABIA (1840-70).

      After the withdrawal of the Egyptians from Arabia, the British became the absolute rulers of the Persian Gulf coast and Aden. Apart from Oman, which had lost its independence in 1798, seven sheikhdoms of Trucial Oman and Bahrain had been under British control since 1820. England left power in these tiny states in the hands of the local rulers and restricted herself to establishing what was known as relations of alliance with them.

      These relations, which tied the sheikhs of Trucial Oman and Bahrain hand and foot, were constantly ratified and renewed. Thus, with each treaty (1839, 1847, 1853, 1856) on the surface claiming peace and concord “for all time,” the “rights” of the British political resident in Bender-Bushir, who was the virtual ruler over all these territories, were extended. The local rulers were deprived of the opportunity to pursue an independent foreign policy. England always managed to find an excuse for interfering in the internal affairs of Trucial Oman and Bahrain. The British merchants received various rights and privileges.

      In 1861, England imposed a new convention on Bahrain, by which she undertook to “defend” Bahrain from foreign attacks and became entitled to send her troops there whenever she wished. The convention actually meant the establishment of a British protectorate over Bahrain.

      The British expansion in the Persian Gulf met with the open resistance of Turkey and Iran, who laid claim to a number of territories. In 1868, England came near to establishing “relations of alliance” with Qatar, but three years later was compelled to yield the sheikhdom to Turkey.

      France threatened British positions in Oman. England’s most reliable “ally” in Arabia was the Muscat seyyid, whom the British political agent had well in hand. Under the pretext of joint suppression of piracy and the slave trade, England imposed on him a number of new unequal agreements (1839 and 1845), which strengthened the “relations of alliance” between England and Oman. As far back as 1834, the British had forced the Muscat seyyid Said to surrender to them the Kuria Muria Islands. In 1857, they seized Perim Island which was annexed to the colony of Aden.

      In 1856, Said, the governor of Muscat, died. The British intervened in the ensuing dynastic conflict and in 1861, at the proposal of the viceroy of India, Lord Canning, they divided the huge domains of the Muscat seyyid between his two sons. Oman [Oman gradually lost its domains on the coast of Iran. In 1868, Bender-Abbas with the adjoining coastal strip went to the Persians.] went to the eldest son Thuwaini and the coast of East Africa and Zanzibar, which had been a part of Muscat ever since the end of the 18th century, went to the youngest son, Mejid. This division weakened Oman and later facilitated the British seizure of Zanzibar and control over Oman.

      In the middle of the 19th century, Oman became the object of Anglo-French rivalry. In 1846, France concluded a commercial agreement with Oman, similar to the Anglo-Oman Trade Treaty of 1839. In 1861, she objected to the partition of Oman into two parts. The Anglo-French conflict ended in a compromise. On March 10, 1862, in Paris, England and France signed a joint declaration, granting “independence” to Muscat and Zanzibar. Thus France had reconciled herself to the factual partition of Oman. England acknowledged the illusory “independence,” but her actions belied her words. In the space of ten years (1862-71) a wave of uprisings swept Oman. The great mass of the people were rebelling against the new Muscat Sultan Thuwaini (1858-66), whom they regarded as a British protégé. They were supported by the Wahhabis, who strove to restore their former power in Oman and even collected a regular tribute from many towns and districts of Oman. England openly interfered in Oman’s affairs despite the Declaration of 1862. She supplied Thuwaini with guns and ships to deploy against the people and her fleet shelled the hostile towns. She ordered the sheikhs under her control to support the Sultan and, when Thuwaini was killed, she rendered the same assistance to his son. When Thuwaini’s son was banished from the country, she helped his younger brother to suppress the popular uprisings and install himself at Muscat.

      The British troops in Aden lived almost in a state of siege. A series of uprisings flared up in southern Arabia against the interference of the British authorities. In 1840, an uprising, backed by the Lahej Sultan, took place in Aden. It was put down, but in 1846, the Arabs attacked again. Upon his accession to power in 1849 in Lahej, Sultan Ali demanded the return of Aden. In 1858, he sent his troops to fight the British, but was defeated in a battle near Sheikh-Othman and compelled to acknowledge British rule in Aden. In 1867, the British undertook another expedition against the rebellious tribes of southern Arabia, who refused to acknowledge the seizure of Aden.

  3. Demikian juga dengan hadits shahih lain, Ya’qub al-Fasawi dalam al-Ma’rifah 2/746-748, al-Mukhallish dalam al-Fawa’id al-Muntaqah 7/2-3, al-Jurjani dalam al-Fawa’id 2/164, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 6/133, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimsyaq 1/120 dari jalur Taubah al-‘Anbari dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya dengan lafazh:

    ?????????? ??????? ????? ???? ??????????, ?????????? ??????? ????? ???? ?????????????, ?????????? ??????? ????? ???? ????????, ?????????? ??????? ????? ???? ???????? ????????? ????? ???? ????????. ??????? ??????: ??? ???????? ?????! ?????? ??????????, ?????????? ??????, ???????????? ????????, ????? ?????? ???????? ?????????: ?????? ??????????, ?????????? ??????, ???????: ????? ???????????? ??????????? ??????? ???????? ?????? ????????????

    Wahai Allooh berkahilah kami dalam Makkah kami, wahai Allooh berkahilah kami dalam Madinah kami, wahai Allooh berkahilah kami dalam Syam kami. Wahai Allooh, berkahilah kami dalam sha’ kami dan berkahilah kami dalam mudd kami. Seorang bertanya, ”Wahai Rasulullooh! Dalam Iraq kami.” Nabi shallalloohu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya dan mengulangi tiga kali. Namun tetap saja orang tersebut mengatakan, ”Dalam Iraq kami.” Nabi pun berpaling darinya seraya bersabda, ”Di sanalah kegoncangan dan fitnah dan di sana pula muncul tanduk setan.” (Sanad hadits ini shahih, sesuai syarat Bukhari-Muslim.

    Apakah lafadz Iraq masih juga harus diingkari? Bukankah dengan menggabungkan beberapa hadits tentang ini maka satu hadits shahih akan menafsirkan hadits shahih lainnya tentang makna asal kata “nejd” (yakni tanah yang tinggi)? Ulama ahlu sunnah manakah yang antum jadikan rujukan untuk menolak perkataan Salim bin Abdullah bin Umar yang menjelaskan bahwa yang dimaksud “nejd” adalah Iraq? Atau …. antum menganggap diri antum lebih ‘alim dari Salim bin Abdullah bin Umar dalam masalah ini?

  4. Muhammad bin Abdul Wahhab: Fitnah Nejed?
    (Kritikan Ilmiah untuk Penentang Dakwah Tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)
    disusun oleh:
    Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

    Sesungguhnya Allooh telah berjanji menjaga kemurnian agama-Nya, dengan membangkitkan sebagian hamba-Nya untuk berjuang membela agama dan membantah ahli bid’ah, para pengekor hawa nafsu, yang seringkali menyemarakkan agama dengan kebid’ahan dan mempermainkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah seperti anak kecil mempermainkan tali mainannya. Mereka memahami nash-nash dengan pemahaman yang keliru dan lucu. Hal itu karena mereka memaksakan dalil agar sesuai dengan selera hawa nafsu.
    Bila anda ingin bukti, terlalu banyak, tetapi contoh berikut ini mungkin dapat mewakili.
    Dalam sebuah majalah bulanan yang terbit di salah satu kota Jawa timur, seorang yang menamakan dirinya ”Masun Said Alwy” menulis sebuah artikel sekitar sepuluh halaman berjudul ”Membongkar Kedok Wahabi, Satu Dari Dua Tanduk Setan”.
    Setelah penulis mencoba membaca tulisan tersebut, ternyata hanya keheranan yang saya dapati. Bagaimana tidak? Tulisan tersebut tiada berisi melainkan kebohongan dan kedustaan, sampai-sampai betapa hati ini ingin sekali berkata kepada penulis makalah tersebut, ”Alangkah beraninya anda berdusta! Tidakkah anda takut siksa?!”
    Sungguh banyak sekali kebohongan yang kudapati[1], namun yang menarik perhatian kita untuk menjadi topik bahasan rubrik hadits adalah ucapannya yang berkaitan tentang “hadits” sebagai berikut:
    ”Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih Bukhari & Muslim dan lainnya”. Di antaranya:
    ??????????? ???? ??? ????? ??????????? ???? ??? ????? ????????? ????? ???????????
    Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana, sambil menunjuk ke arah timur (Nejed). HR. Muslim dalam Kitabul Fitan
    ???????? ????? ???? ??????????? ???????????? ?????????? ??? ????????? ????????????? ???????????? ???? ????????? ????? ???????? ????????? ???? ???????????? ??? ???????????? ?????? ?????? ???????? ????????? ????? ???????? ??????????? ?????????????. ???? ???????
    Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak anah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ke tempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur. HR. Bukhari no 7123, Juz 6 hal 20748. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Ibnu Hibban.

    [1] Seperti tuduhan kejinya bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab adalah alat Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya, mengkafirkan kaum muslimin, punya keinginan mengaku nabi, merendahkan Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam dan melecehkannya, menghancurkan makam-makam bersejarah dan tuduhan-tuduhan dusta lainnya. Penulis telah berniat membongkar kebohongan-kebohongan ini secara terperinci pada edisi ini tetapi keterbatasan halaman mengurungkan niatnya. Semoga pada edisi-edisi berikutnya, Allooh memudahkan terwujudnya niat baiknya. Amiin.

    1. – Teruntuk Abu Asyraaf –

      Tidak ada yang mengatakan Nejd sebagai Iraq kecuali Kaum Wahabi, Ini BUKTINYA, kamus modern berkata tentang NEJD.

      NEJD

      n?jd or Najdnäjd, region, central Saudi Arabia. Riyadh, the country’s capital and major city, is located there. The Nejd is a vast plateau from 2,500 to 5,000 ft (762–1,524 m) high. There is a chain of oasis settlements in the eastern section; elsewhere the area is roamed by nomadic Bedouins. The Nejd, the stronghold of the Wahhabi movement, was gradually conquered (1899–1912) from Turkey by the Wahhabi leader, Ibn Saud. From there he completed his conquest of the Hejaz and Al Hasa. In 1932 the Nejd became part of his newly constituted domain, Saudi Arabia.
      ____________________

      The Columbia Encyclopedia, Sixth Edition Copyright© 2004, Columbia University Press. Licensed from Lernout & Hauspie Speech Products N.V. All rights reserved.

      -33668-

  5. Nabi SAW pernah berdoa
    ?????????? ??????? ????? ???? ????????, ?????????? ??????? ????? ???? ?????????
    Ya Allooh, berikanlah kami berkah dalam negara Syam dan Yaman.
    Para sahabat bertanya: Dan dari Nejed wahai Rasulullooh, beliau berdoa: Ya Allooh, berikanlah kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda:
    ??????? ???????????? ??????????? ??????? ???????? ?????? ???????????? ?????? ????????? ??????? ????????????
    Di sana (Nejed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk Syetan. Dalam riwayat lain: Dua tanduk Syetan.
    Bani Hanifah adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Su’ud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahhab…”.
    Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya seperti yang dikatakan oleh Sayyid Abdur Rahman al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahhab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullooh SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian”.
    Al Allamah Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah Al-Haddad menyebutkan dalam kitabnya “Jala’udz Dzolam” sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW:
    ?????????? ???? ??????? ?????? ??????? ???? ??????? ?????? ?????????? ?????? ?????????? ????????? ??????????? ???????? ??????????? ???????? ???? ????????? ????????? ??????????? ??????????????? ????????? ??????????????? ?????????????????? ?????????? ????????? ????????????????? ??????? ???????????????
    Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah Bani Hanifah seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin”. Al-Hadits.

    1. – Buat: Abu Asyraf Murid Abu Ubaida Sidawy (ust. gak kredibel) – Ini saya copas-kan lagi tentang Nejd menurut ilmu Geography modern, Silahkan kalau masih ingin terus ngeyel seperti kebanyakan orang-orang Wahaby. Tapi lihatlah ilmu pengetahuan modern membuktikan Nejd bukan Iraq sebagaimana kata Yusuf Sidawy…..

      Mideast & N. Africa Encyclopedia: Najd

      The central plateau region of Saudi Arabia.

      A geographically isolated region of the Arabian peninsula, Najd (the Arabic word for plateau or highland) is bounded in the south by the great sand desert, the Rub al-Khali, and on the east by a long, narrow strip of sand desert known as al-Dahna. To the north lies another sand desert, the Nafud, and to the west, Najd is separated from the Red Sea coast by the mountains of Hijaz and Asir. The plateau is divided into three regions: southern Najd, the home of the eighteenth-century Wahhabi movement and the original home of the ruling Al Sa?ud family (main city, Riyadh); Qasim, an agricultural district in the center of Najd (main city, Unayza); and Jabal Shammar in the north (main city, Ha’il). Because of its geographic isolation, Najd, unlike other areas of the Gulf and Arabian Sea, was not subject to European colonialism. Most of the great camel-herding bedouin ranged at least part of the year in Najd, but the bulk of its permanent population were town dwellers and semi-nomadic oasis gardeners. Najd is today the central administrative district and home to the capital city of Saudi Arabia, Riyadh.

      — ELEANOR ABDELLA DOUMATO

  6. INILAH JAWABANNYA
    Demikianlah teks ucapannya sebagaimana termuat dalam Majalah ”Cahaya Nabawiy” Edisi 33 Th. III Sya’ban 1426 H (September 2005 M) hal. 15-17 tanpa saya kurangi atau tambahi (adapun penulisan cetak tebal dalam beberapa kata atau kalimat adalah dari admin blog). Ucapan di atas mendorong penulis menanggapinya dalam tiga point pembahasan:
    I. Pertama: Dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab Adalah Fitnah Nejed?1
    Sebenarnya apa yang dilontarkan oleh saudara Masun Said Alwy di atas bukanlah hal baru melainkan hanyalah daur ulang dari para pendahulunya yang mempromosikan kebohongan ini, semisal al-Haddad dalam Mishbahul Anam hal. 5-7, al-A’jili dalam Kasyful Irtiyab hal. 120, Ahmad Zaini Dahlan dalam Durarus Saniyyah fir Raddi ‘alal Wahhabiyyah hal. 542, Muhammad Hasan al-Musawi dalam al-Barahin al-Jaliyyah hal. 71, an-Nabhani dalam ar-Raiyah ash-Sughra hal. 27, dan lain-lain dari orang-orang yang hatinya disesatkan Allooh. Semuanya berkoar bahwa maksud ”Nejed” dalam hadits-hadits di atas adalah Hijaz (Saudi Arabia sekarang) dan maksud fitnah yang terjadi adalah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab!
    Kebohongan ini sangat jelas bagi orang yang dikaruniai hidayah ilmu dan diselamatkan dari hawa nafsu, ditinjau dari beberapa segi:
    A. Hadits itu saling menafsirkan
    Bagi orang yang mau meneliti jalur-jalur hadits ini dan membandingkan lafazh-lafazhnya, niscaya tidak samar lagi baginya penafsiran makna Nejed yang benar dalam hadits ini. Dalam lafazh yang dikeluarkan Imam Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 12/384 no.13422 dari jalur Ismail bin Mas’ud: Menceritakan kami Ubaidullah bin Abdullah bin Aun dari ayahnya dari Nafi’ dari Ibnu Umar – dengan lafazh:
    ?????????? ??????? ????? ???? ????????, ?????????? ??????? ????? ???? ?????????. ?????????? ????????, ???????? ????? ???? ???????????? ???? ????????????, ????????: ??? ???????? ?????! ?????? ??????????? ?????: ????? ????? ???????????? ??????????? ??????? ???????? ?????? ????????????
    Wahai Allooh berkahilah kami dalam Syam kami, wahai Allooh berkahi kami dalam Yaman kami. Beliau mengulanginya beberapa kali, pada ketiga atau keempat kalinya, para sahabat berkata, ”Wahai Rasulullooh! Dalam Iraq kami?” Beliau menjawab, ”Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula muncul tanduk setan.”
    Sanad hadits ini bagus. Ubaidullah seorang yang dikenal haditsnya, sebagaimana kata Imam Bukhari dalam Tarikh al-Kabir 5/388/1247. Ibnu Abi Hatim berkata dalam al-Jarh wat Ta’dil 5/322 dari ayahnya, ”Shalih (bagus) haditsnya.”
    Dan dikuatkan dalam riwayat Ya’qub al-Fasawi dalam al-Ma’rifah 2/746-748, al-Mukhallish dalam al-Fawa’id al-Muntaqah 7/2-3, al-Jurjani dalam al-Fawa’id 2/164, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 6/133, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimsyaq 1/120 dari jalur Taubah al-‘Anbari dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya dengan lafazh:
    ?????????? ??????? ????? ???? ??????????, ?????????? ??????? ????? ???? ?????????????, ?????????? ??????? ????? ???? ????????, ?????????? ??????? ????? ???? ???????? ????????? ????? ???? ????????. ??????? ??????: ??? ???????? ?????! ?????? ??????????, ?????????? ??????, ???????????? ????????, ????? ?????? ???????? ?????????: ?????? ??????????, ?????????? ??????, ???????: ????? ???????????? ??????????? ??????? ???????? ?????? ????????????
    Wahai Allooh berkahilah kami dalam Makkah kami, wahai Allooh berkahilah kami dalam Madinah kami, wahai Allooh berkahilah kami dalam Syam kami. Wahai Allooh, berkahilah kami dalam sha’ kami dan berkahilah kami dalam mudd kami. Seorang bertanya, ”Wahai Rasulullooh! Dalam Iraq kami.” Nabi shallalloohu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya dan mengulangi tiga kali. Namun tetap saja orang tersebut mengatakan, ”Dalam Iraq kami.” Nabi pun berpaling darinya seraya bersabda, ”Di sanalah kegoncangan dan fitnah dan di sana pula muncul tanduk setan.” (Sanad hadits ini shahih, sesuai syarat Bukhari-Muslim)

    1. – Teruntuk Abu Asyraf –

      Berikut ini saya copas-kan tentang nejd dalam ilmu Georaphy Modern, silahkan simak dan perhatikan tidak sedikit pun menyebut Iraq atau yang lain kecuali Riyadh Arab Saudi (silahkan jika masih mau terus mengeyel):

      Geography: Boundaries of Nejd

      The Arabic word nejd literally means “upland” and was once applied to a variety of regions within the Arabian Peninsula. However, the most famous of these was the central region of the Peninsula roughly bounded on the west by the mountains of the Hejaz and Yemen and to the east by the historical region of Bahrain and the north by Mesopotamia and Syria.

      Medieval Muslim geographers spent a great amount of time deciding the exact boundaries between Hejaz and Nejd in particular, but generally set the western boundaries of Nejd to be wherever the western mountain ranges and lava beds began to slope eastwards, and set the eastern boundaries of Nejd at the narrow strip of red sand dunes known as the Ad-Dahna Desert, some 100 km (62 mi) east of modern-day Riyadh. The southern border of Nejd has always been set at the large sea of sand dunes known today as Rub’ al Khali (the Empty Quarter), while the southwestern boundaries are marked by the valleys of Wadi Ranyah, Wadi Bisha, and Wadi Tathlith.

      The northern boundaries of Nejd have fluctuated greatly historically and received far less attention from the medieval geographers. In the early Islamic centuries, Nejd was considered to extend as far north as the River Euphrates, or more specifically, the “Walls of Khosrau”, constructed by the Persian Empire as a barrier between Arabia and Mesopotamia immediately prior to the advent of Islam. The modern usage of the term encompasses the region of Al-Yamama, which was not always considered part of Nejd historically.

      Topography

      A view of the Tweig (Tuwaiq) Escarpment from the west. The Saudi capital Riyadh lies just beyond the horizon.

      Nejd, as its name suggests, is a plateau ranging from 762 to 1,525 m (2,500 to 5,003 ft) in height and sloping downwards from west to east. The eastern sections (historically better known as Al-Yamama) are marked by oasis settlements with lots of farming and trading activities, while the rest has traditionally been sparsely occupied by nomadic Bedouins. The main topographical features include the twin mountains of Aja and Salma in the north near Ha’il, the high land of Jabal Shammar and the Tuwaiq mountain range running through its center from north to south. Also important are the various dry river-beds (wadis) such as Wadi Hanifa near Riyadh, Wadi Na’am in the south, Wadi Al-Rumah in the Al-Qassim Province in the north, and Wadi ad-Dawasir at the southernmost tip of Nejd on the border with Najran. Most Nejdi villages and settlements are located along these wadis, due to ability of these wadis to preserve precious rainwater in the arid desert climate, while others are located near oases. Historically, Nejd itself has been divided into small provinces made up of constellations of small towns, villages and settlements, with each one usually centered around one “capital”. These subdivisions are still recognized by Nejdis today, as each province retains its own variation of the Nejdi dialect and Nejdi customs. The most prominent among these provinces are Al-‘Aridh, which includes Riyadh and the historical Saudi capital of Diriyah; Al-Qassim, with its capital in Buraidah; Sudair, centered around Al Majma’ah; Al-Washm, centered around Shaqraa; and Jebel Shammar, with its capital, Ha’il. Under modern-day Saudi Arabia, however, Nejd is divided into three administrative regions: Ha’il, Al-Qassim, and Riyadh, comprising a combined area of 554,000 km2 (214,000 sq mi).
      Major towns

      Riyadh is the largest city in Nejd, as well as the largest city in the country as a whole, with a population of more than 4,700,000 in 2009. Other cities include Buraidah (670,000 in 2008), Unaizah (135,000 in 2007) and Ar Rass (126,000 in 2007). Smaller towns and villages include Sudair, Al-Kharj, Dawadmi, Al-Zilfi, Al Majma’ah, Shaqraa, Tharmada’a, Dhurma, Al-Gway’iyyah, Al-Hareeq, Hotat Bani Tamim, Layla, As Sulayyil, and Wadi ad-Dawasir, the southernmost settlement in Nejd.

      Population

      Social and ethnic groups
      An Arab bedouin in 1964

      Prior to the formation of the modern Kingdom of Saudi Arabia, the native population of Nejd consisted mainly of members of several Arabian tribes, who were either nomads (bedouins), or sedentary farmers and merchants. The rest of the population consisted mainly of Arabs who were, for various reasons, unaffiliated with any tribes, and who mostly lived in the towns and villages of Nejd working in various trades such as carpentry or as (Sonnaa’ craftsmen). There was also a small segment of the population made up of African as well as some East and South Eastern European slaves or freedmen.

      Most of the Nejdi tribes are of Adnani Arabic origin and had immigrated in ancient times from Hijaz to Najd. The most famous Nejdi tribes in the pre-Islamic era were Banu Hanifa, who occupied the area around modern-day Riyadh, `Anizzah, Banu Tamim, who occupied areas further north, the tribe of Banu Abs who were centered in Al-Qassim, the tribe of Tayy, centered around modern-day Ha’il, and tribe of Banu ‘Amir in southern Nejd. By the 20th century, many of the ancient tribes had morphed into new confederations or immigrated to other areas of the Middle East, and many tribes from other regions of the Peninsula had moved into Nejd. However, the largest proportion of native Nejdis today still belong to these ancient Nejdi tribes or to their newer incarnations. Many of the Nejedi tribes even in ancient times were not nomadic or bedouin but rather very well settled farmers and merchants. The royal family of Saudi Arabia, Al Saud, for example, trace their lineage to Banu Hanifa. On the eve of the formation of Saudi Arabia, the major nomadic tribes of Nejd included Qahtanite, Mutayr (historically known as Banu Abs), Shammar (historically known as Tayy), ‘Utaybah (historically known as Hawazen), Subay’, Harb, the Suhool, and the Dawasir. In addition to those tribes, many of the sedentary population belonged to Banu Tamim, `Anizzah (historically known as Bakr), Banu Hanifa, Banu Khalid, and Banu Zayd.

      Most of the nomadic tribes are now settled either in cities such as Riyadh, or in special settlements, known as hijras, that were established in the early part of the 20th century as part of a country-wide policy undertaken by King Abdul-Aziz to put an end to nomadic life. Nomads still exist in the Kingdom, however, in very small numbers — a far cry from the days when they made up the majority of the people of the Arabian Peninsula.

      Since the formation of modern Saudi Arabia, Nejd, and particularly Riyadh, has seen an influx of immigrants from all regions of the country and from virtually every social class. The native Nejdi population has also largely moved away from its native towns and villages to the capital, Riyadh. However, most of these villages still retain a small number of their native inhabitants. About a quarter of the population of Nejd, including about a third of the population of Riyadh, are non-Saudi expatriates, including both skilled professionals and unskilled laborers.

      Slavery was abolished in Saudi Arabia by King Faisal in 1962. Some of those freed slaves chose to continue working for their former slave-owners, particularly those whose former owners were members of the royal family.
      Religion

      Practically all Nejdis are Sunni Muslims, either nominally or in practice. The region is known across the Islamic world for its puritanical interpretation of Islam and is generally considered a bastion of religious conservatism. In reality, however, many other parts of the Kingdom are no less conservative or religious than Nejd. Other religions, such as Christianity, Hinduism, and Buddhism, are represented in Nejd by members of the expatriate communities. However, religions other than Islam can not be practiced in public, by law.

      Language

      The people of Nejd have spoken Arabic, in one form or another, for practically all of recorded history. As in other regions of the Peninsula, there is a divergence between the dialect of the nomadic Bedouins and the dialect of the sedentary townspeople. The variation, however, is far less pronounced in Nejd than it is elsewhere in the country, and the Nejdi sedentary dialect seems to be descended from the Bedouin dialect, just as most sedentary Nejdis are descendants of nomadic Bedouins themselves. The Nejdi dialect is seen by some to be the least foreign-influenced of all modern Arabic dialects, due to the isolated location and harsh climate of the Nejdi plateau, as well as the apparent absence of any substratum from a previous language. Indeed, not even the ancient South Arabian language appears to have been widely spoken in Nejd in ancient times, unlike southern Saudi Arabia, for example. Within Nejd itself, the different regions and towns have their own distinctive accents and sub-dialects. However, these have largely merged in recent times and have become heavily influenced by Arabic dialects from other regions and countries. This is particularly the case in Riyadh.

  7. Imam Muslim dalam Shahihnya 2905 meriwayatkan dari Ibnu Fudhail dari ayahnya, dia berkata, ”Saya mendengar ayahku Salim bin Abdullah bin Umar berkata:
    ??? ?????? ??????????! ??? ???????????? ???? ????????????? ?????????????? ???? ?????????????, ???????? ?????? ?????? ????? ???? ?????? ???????? : ???????? ???????? ????? n ???????? : ????? ??????????? ???????? ???? ??? ????? ?????????? ???????? ?????? ???????????, ???? ?????? ???????? ?????? ????????????
    Wahai penduduk Iraq! Alangkah seringnya kalian bertanya tentang masalah-masalah sepele dan alangkah beraninya kalian menerjang dosa besar! Saya mendengar ayahku Abdullah bin Umar mengatakan, ”Saya mendengar Rasulullooh -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ’Sesungguhnya fitnah datangnya dari arah sini –beliau sambil mengarahkan tangannya ke arah timur–, dari situlah muncul tanduk setan….’”
    Riwayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa maksud ”arah timur” adalah Iraq sebagaimana dipahami oleh Salim bin Abdullah bin Umar.
    Al-Khaththabi berkata dalam I’lam Sunan 2/1274, ”Nejed: arah timur. Bagi penduduk kota Madinah, Nejednya adalah Iraq dan sekitarnya. Asli makna ’Nejed’ adalah setiap tanah yang tinggi, lawan kata dari ’Ghaur’ yaitu setiap tanah yang rendah seperti Tihamah (sebuah kota di Makkah–pen) dan Makkah. Fitnah itu muncul dari arah timur dan dari arah itu pula keluar Ya’juj dan Ma’juj serta Dajjal sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits.”
    Demikian pula dijelaskan oleh para ulama lainnya seperti:
    1.al-‘Aini dalam Umdatul Qari 24/200,
    2.al-Kirmani dalam Syarh Shahih Bukhari 24/168,
    3.al-Qashthalani dalam Irsyad Sari 10/181,
    4.Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 13/47,
    5.dan sebagainya.
    Hal ini dapat kita temukan juga dalam kitab-kitab kamus bahasa Arab seperti al-Qamus al-Muhith oleh ar-Razi dan Lisanul Arab oleh Ibnu Manzhur, dan dalam kitab-kitab gharib hadits seperti an-Nihayah fi Gharib Hadits oleh Ibnu Atsir.
    Dengan sedikit keterangan di atas, jelaslah bagi orang yang memiliki pandangan, bahwa maksud ”Nejed” dalam riwayat hadits di atas bukanlah nama negeri tertentu, tetapi untuk setiap tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya. Dengan demikian maka Nejed yang dikenal oleh dunia Arab banyak sekali jumlahnya. (lihat Mu’jam al-Buldan 5/265, Taj al-Arus 2/509, Mu’jam al-Mufahras li Alfazh Hadits 8/339)
    Jadi, Nejed yang merupakan tempat munculnya tanduk setan dan sumber kerusakan (fitnah) adalah arah Iraq. Karena itulah timur kota Madinah Nabawiyah. Maka seluruh riwayat dan lafazh hadits ini kalau digabungkan, ternyata saling menafsirkan antara satu dengan lainnya, sebagaimana hal ini juga dikuatkan oleh penafsiran para ulama –yang terdepan adalah Salim, anak Ibnu Umar-radhiyalloohu ‘anhu- dan para pakar ahli bahasa.
    (2) Sejarah dan fakta lapangan membuktikan kebenaran hadits Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam di atas. Benarlah, Iraq adalah sumber fitnah1, baik yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Seperti:
    1.Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj,
    2.Perang Jamal,
    3.Perang Shifin,
    4.Fitnah Karbala’,
    5.Tragedi Tartar.
    Demikian pula munculnya kelompok-kelompok sesat seperti
    Khawarij yang muncul di kota Harura’ –kota dekat Kufah–,
    Rafidhah (Syi’ah) –hingga kini masih kuat–,
    Mu’tazilah,
    Jahmiyah, dan
    Qadariyah.
    Awal kemunculan mereka di Iraq, sebagaimana dalam hadits pertama Shahih Muslim.
    Dan kenyataan yang kita saksikan dengan mata kepala pada saat ini, keamanan di Iraq terasa begitu mahal. Banyak peperangan dan pertumpahan darah, serta andil (campur tangan) orang-orang kafir dalam menguasai Iraq. Kita berdo’a kepada Allooh agar memperbaiki keadaan di Iraq, menetapkan langkah para mujahidin di Iraq dan menyatukan barisan mereka. Amiin.
    Ibnu Abdil Barr berkata dalam al-Istidzkar (27/248), “Rasulullooh mengkhabarkan datangnya fitnah dari arah timur, dan memang benar secara nyata bahwa kebanyakan fitnah muncul dari timur dan terjadi di sana. Seperti perang Jamal, perang Shifin, terbunuhnya al-Husain, dan lain sebagainya dari fitnah yang terjadi di Iraq dan Khurasan semenjak dahulu hingga sekarang. Akan sangat panjang kalau mau diuraikan. Memang, fitnah terjadi di setiap penjuru kota Islam, namun terjadinya dari arah timur jauh lebih banyak.”
    Syaikh Abdur Rahman bin Hasan berkata dalam Majmu’atur Rasa’il wal Masa’il (4/264-265), “Telah terjadi di Iraq beberapa fitnah dan tragedi mengerikan yang tidak pernah terjadi di Nejed Hijaz. Hal itu diketahui oleh seorang yang menelaah sejarah, seperti keluarnya Khawarij, pembunuhan al-Husain, fitnah Ibnu Asy’ats, fitnah Mukhtar yang mengaku sebagi Nabi … dan apa yang terjadi pada masa pemerintahan Hajjaj berupa pertumpahan darah, sangat panjang kalau mau diuaraikan.”
    Syaikh Mahmud Syukri al-Alusi al-Iraqi berkata dalam Ghayatul Amani (2/180), “Tidak aneh, Iraq memang pusat fitnah dan musibah. Penduduk Islam di sana selalu dihantam fitnah satu demi satu. Tidak samar lagi bagi kita, fitnah ahli Harura’ (kelompok Khawarij–pen) yang mencemarkan Islam. Fitnah Jahmiyah yang banyak dikafirkan oleh mayoritas ulama salaf juga muncul dan berkembang di Iraq. Fitnah Mu’tazilah dan ucapan mereka terhadap Hasan al-Bashri serta lima pokok ajaran mereka yang berseberangan dengan paham Ahli Sunnah begitu masyhur. Fitnah ahli bid’ah kaum sufi yang menggugurkan beban perintah dan larangan yang berkembang di Bashrah. Dan fitnah kaum Rafidhah dan Syi’ah serta perbuatan ghuluw (berlebihan) mereka terhadap ahli bait, ucapan kotor terhadap Ali bin Abu Thalib-radhiyalloohu a’nhu- serta celaan terhadap pembesar para sahabat, merupakan hal yang sangat masyhur juga.”

    [1] Oleh karenanya, para ulama menjadikan hadits ini sebagai salah satu tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad shallallaahu’alaihi wa sallam. Lihat Umdatul Qari 24/200 oleh al-’Aini dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 5/655, dan Takhrij Ahadits Fadhail Syam hal. 26-27 oleh al-Albani.

    1. – Buat: Abu Asyraf Murid Abu Ubaida Sidawy – Ini saya copas-kan lagi tentang Nejd menurut kamus modern, Silahkan kalau masih ingin terus ngeyel seperti kebanyakan orang-orang Wahaby. Tapi lihatlah ilmu pengetahuan modern membuktikan Nejd bukan Iraq sebagaimana kata Yusuf Sidawy…..

      1.

      Main Entry: Nejd
      Pronunciation: ?nejd, ?nezhd
      Variant(s): or Najd ?najd, ?nazhd
      Function: geographical name

      region central & E Saudi Arabia; area 447,000 square miles (1,162,200 square kilometers), population 1,200,000

      — Nej·di ?nej-d?, ?nezh- adjective or noun

      1. Lucu ente Bung,..masa untuk menafsirkan hadits ente merujuk ke kamus yang tidak jelas begitu. Bahasa geografis itu dinamis bung,..dulu dan sekarang bisa berubah-ubah, namun tidak demikian dengan hadits. Ada yang lebih jelas dari kamus yang ente tampilkan tersebut i.e hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama lainnya yang terkait dengan makna kata “Nejd” itu sendiri,..

  8. (3) Anggaplah bahwa ”Nejed” yang dimaksud hadits di atas adalah Nejed Hijaz, tetap saja tidak mendukung keinginan mereka, sebab hadits tersebut hanya mengkhabarkan terjadinya fitnah di suatu tempat, tidak menvonis perorangan seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Terjadinya suatu fitnah di suatu tempat, tidaklah mengharuskan tercelanya setiap orang yang bertempat tinggal di tempat tersebut.
    Bukankah Nabi -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- juga mengkhabarkan akan terjadi fitnah di kota Madinah Nabawiyah?! Seandainya terjadinya fitnah di suatu tempat pasti mengakibatkan setiap penduduknya tercela, maka itu artinya seluruh penduduk Madinah tercela, padahal tak seorangpun mengatakan hal ini. Bahkan tidak ada suatu tempat pun di dunia ini –baik telah terjadi maupun belum– kecuali akan terjadi fitnah di dalamnya. Lantas akankah seseorang berani mencela seluruh kaum muslimin seantero dunia?! Jadi, timbangan celaan seorang bukanlah karena dia lahir di tempat ini atau itu. Tetapi timbangannya adalah kalau dia sebagai pencetus fitnah berupa kekufuran, kesyirikan, dan kebid’ahan. (Shiyanatul Insan ‘an Waswasah Syaikh Dahlan hal. 498-500 oleh Syaikh Muhammad Basyir al-Hindi)
    Syaikh Abdur Rahman bin Hasan mengatakan, “Bagaimanapun juga, celaan itu silih berganti waktu tergantung kepada penduduknya, sekalipun memang tempat itu bertingkat-tingkat keutamaannya. Tempat maksiat pada suatu waktu bisa saja akan menjadi tempat ketaatan di waktu lain, demikian pula sebaliknya.
    Seandainya Nejed tercela karena Musailamah (al-Kadzdzab) setelah kemusnahannya bersama para pengikutnya, niscaya Yaman juga tercela karena Aswad al-Ansiy yang mengaku Nabi….
    Kota Madinah tidaklah tercela karena kaum Yahudi tinggal di sana dan kota Makkah tidaklah tercela disebabkan penduduknya dahulu mendustakan Nabi -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- dan memusuhi dakwahnya.” (Majmu’atur Rasa’il wal Masa’il 4/265).
    Syaikh Abdul Lathif bin Abdur Rahman bin Hasan berkata dalam Minhaj Ta’sis wa Taqdis hal. 92,
    “Timbangan keutamaan itu tergantung pada penduduknya, berbeda dan berpindah bersama ilmu dan agama. Kota dan desa yang paling utama di setiap waktu adalah yang paling banyak ilmu dan sunnahnya, dan sejelek-jelek kota adalah yang paling sedikit ilmu, paling banyak kejahilan, kebid’ahan, dan kesyirikan, paling lemah dalam menjalankan sunnah dan jejak salafush shalih. Jadi, keutamaan kota itu tergantung kepada penduduk dan orangnya.”
    Sebagai kesimpulan, penulis ingin menurunkan ucapan berharga dari penjelasan ahli hadits abad ini, Muhammad Nashiruddin al-Albani yang telah menepis salah paham hadits ini dalam berbagai kesempatan. Beliau berkata setelah takhrij hadits yang panjang,
    ”Sengaja saya memperluas keterangan takhrij hadits shahih ini serta menyebutkan jalur dan lafazh-lafazhnya, karena sebagian ahli bid’ah yang memerangi sunnah dan menyimpang dari tauhid telah mencela Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, pembaharu dakwah tauhid di jazirah Arab, dan mereka mengarahkan hadits ini pada beliau, dengan alasan karena beliau berasal dari Nejed yang populer saat ini.
    Mereka tidak tahu atau memang pura-pura tidak tahu bahwa hal itu bukanlah yang dimaksud oleh hadits ini, namun yang dimaksud adalah Iraq sebagaimana dijelaskan oleh kebanyakan jalur hadits ini. Demikianlah yang ditegaskan oleh para ulama semenjak dahulu seperti Imam Khaththabi, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan sebagainya.
    Mereka tidak tahu juga bahwa orang yang berasal dari negeri tercela tidaklah otomatis dia tercela kalau memang dia orang yang shalih. Demikian pula sebaliknya, betapa banyak orang fajir dan fasik di Makkah, Madinah, dan Syam. Dan betapa banyak orang alim dan shalih di Iraq?[1] Alangkah bagusnya ucapan Salman al-Farisi kepada Abu Darda’ tatkala mengajak dirinya hijrah dari Iraq ke Syam, ”Amma ba’du, sesungguhnya negeri yang mulia tidaklah membuat seorang pun menjadi mulia, namun yang membuat mulia ialah amal perbuatannya.”
    (Silsilah Ahadits Shahihah 5/305)
    Beliau juga berkata,
    “Jalur-jalur hadits ini menguatkan bahwa arah yang diisyaratkan oleh Nabi adalah arah timur, yang tepatnya adalah Iraq, sebagaimana anda lihat secara jelas dalam sebagian riwayat. Hadits ini merupakan tanda diantara tanda-tanda kenabian, sebab awal fitnah adalah dari arah timur, yang merupakan penyebab perpecahan di tengah kaum muslimin, demikian pula bid’ah-bid’ah muncul dari arah yang sama, seperti bid’ah Syi’ah, Khawarij, dan sebagainya. Imam Bukhari 7/77 dan Ahmad 2/85, 153 meriwayatkan dari Ibnu Abi Nu’min, bahwasanya dia menyaksikan Ibnu Umar -radhiyalloohu a’nhu- ketika ditanya oleh seorang dari Iraq tentang hukum membunuh lalat bagi muhrim (orang yang sedang ihram). Maka berkata Ibnu Umar,
    ‘Wahai penduduk Iraq! Kalian bertanya kepadaku tentang orang muhrim membunuh lalat, padahal kalian telah membunuh anak putri-Rasulullooh, sedangkan beliau (Nabi) sendiri bersabda: Keduanya (al-Hasan dan al-Husain) adalah kesayanganku di dunia’.”
    (Silsilah Ahadits Shahihah 5/655-656)
    Beliau juga berkata,
    ”Apa yang dikhabarkan oleh Rasulullooh -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- telah terbukti. Sebab kebanyakan fitnah besar munculnya dari Iraq, seperti peperangan antara Ali dan Mu’awiyah, antara Ali dan Khawarij, antara Ali dan Aisyah, dan sebagainya yang disebutkan dalam kitab-kitab sejarah. Dengan demikian, hadits ini merupakan salah satu mu’jizat dan tanda-tanda kenabiannya.”
    (Takhrij Ahadits Fadha’il Syam wa Dimsyaq, hal. 26-27)

    [1] “Tak seorang muslim pun mengatakan tercelanya para ulama Iraq. Bagaimana tidak, para pembesar ahli hadits, fiqh, dan jarh wa ta’dil, mayoritas mereka dari Iraq.” (Mishbah Zhalam hal. 336)

    1. – Buat: Abu Asyraf Murid Abu Ubaida Sidawy – Ini saya copas-kan lagi tentang Nejd menurut kamus modern, Silahkan kalau masih ingin terus ngeyel seperti kebanyakan orang-orang Wahaby. Tapi lihatlah ilmu pengetahuan modern membuktikan Nejd bukan Iraq:

      ThesaurusLegend: Synonyms Related Words

      Noun 1. Nejd – a central plateau region of the Arabian Peninsula; formerly an independent sultanate until 1932 when it united with Hejaz to form the Kingdom of Saudi Arabia

      Najd: Arabia, Arabian Peninsula – a peninsula between the Red Sea and the Persian Gulf; strategically important for its oil resources

      Kingdom of Saudi Arabia, Saudi Arabia – an absolute monarchy occupying most of the Arabian Peninsula in southwest Asia; vast oil reserves dominate the economy
      Based on WordNet 3.0, Farlex clipart collection. © 2003-2008 Princeton University, Farlex Inc.

  9. II. Kedua: Muhammad bin Abdul Wahhab dan cukur rambut[1]
    Adapun tudingan saudara Masun Said Alwy bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya dan ini termasuk dalam hadits Nabi -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- tentang Khawarij, “Tanda mereka adalah cukur rambut.”
    Kebohongan ini pun bukanlah hal yang baru. Ini hanya daur ulang dari para pembohong sebelumnya seperti:
    1.Jamil az-Zuhawi al-Iraqi dalam al-Fajr ash-Shadiq dan
    2.Ahmad Zaini Dahlan dalam Durarus Saniyyah,
    3.dan lain-lain.
    Tuduhan ini sangat mentah. Tujuan di balik itu sangat jelas, yaitu melarikan manusia dari dakwah yang disebarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Ada beberapa point untuk mendustakan tuduhan ini:
    (1) Mereka mendustakan tuduhan bohong ini
    Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab berkata tatkala membantah tuduhan bahwa ulama dakwah mengkafirkan orang yang tidak mencukur rambut kepalanya, “Sesungguhnya ini adalah kedustaan dan kebohongan kepada kami. Seorang yang beriman kepada Allooh dan hari akhir tidak mungkin melakukan hal ini. Karena kekufuran dan kemurtadan tidaklah terealisasikan kecuali dengan mengingkari perkara-perkara agama yang maklum bi dharurah (diketahui oleh semua). Macam-macam kekufuran, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan adalah perkara yang maklum bagi para ahli ilmu. Tidak mencukur rambut kepala bukanlah termasuk di antaranya (kekufuran atau kemurtadan), bahkan kamipun tidak berpendapat bahwa mencukur rambut adalah sunnah, apalagi wajib, apalagi kufur keluar dari Islam bila ditinggalkan.” (Durarus Saniyyah 10/275-276, cet. kelima)
    Syaikh Sulaiman bin Sahman berkata, “Ini termasuk kebohongan, kedustaan, kezhaliman, dan penganiayaan.” (adh-Dhiya’ asy-Syariq hal. 119)
    Syaikh Muhammad Basyir al-Hindi berkata juga, “Ini adalah kedustaan yang sangat jelas dan kebohongan yang sangat keji.” (Shiyanatul Insan ‘an Waswasah Syaikh Dahlan hal. 560)
    (2) Pendapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tentang mencukur rambut
    Merupakan bukti yang menguatkan kebohongan tuduhan ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah menjelaskan pendapatnya dalam masalah mencukur rambut atau memeliharanya, yang menyelisihi tuduhan musuh-musuhnya. Beliau berkata, “Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang yang memelihara rambutnya? Dia menjawab, ‘Sunnah yang bagus, seandainya kami mampu maka kami akan melakukannya. Rambut Nabi -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- sampai ke bahunya.’ Dan disunnahkan sifat rambut seorang seperti sifat rambut Nabi -shallalloohu ‘alaihi wa sallam-. Kalau panjang maka sampai ke bahu, kalau pendek maka sampai ke daun telinga.”
    Beliau juga berkata, “Dibencikah mencukur rambut kepala pada selain haji dan umrah? Ada dua riwayat; Pertama: Dibenci, berdasarkan sabda Nabi -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- tentang Khawarij, ‘Tanda mereka adalah bercukur.’ Kedua: Tidak dibenci, berdasarkan larangannya tentang qaza’ (mencukur sebagian rambut dan membiarkan sebagian lainnya), ‘Cukurlah semua atau biarkan semua.’ (HR. Abu Dawud). Ibnu Abdil Barr berkata, ‘Para ulama di setiap tempat bersepakat bolehnya bercukur.’ Cukuplah ini sebagai hujjah.” (Mukhtashar al-Inshaf wa Syarh al-Kabir, kumpulan karya Syaikh Ibnu Abdil Wahhab 1/28, cet. Jami’ah Imam)
    (3) Pendapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tentang Khawarij
    Bagaimana mungkin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dikategorikan termasuk hadits yang disinyalir Nabi -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- tentang Khawarij, padahal beliau sendiri berlepas diri dari Khawarij. Perhatikan ucapannya, “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullooh -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- tentang ciri-ciri khawarij, kejelekan mereka serta anjuran memerangi mereka.” (Mukhtashar Sirah Rasul hal. 498)
    (4) Ibadah dengan mencukur gundul merupakan syi’ar Khawarij
    Adapun ucapan saudara “Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya”, ini merupakan kesalahan dan kejahilan. Sebab ibadah dengan cukur gundul ini adalah syi’ar aliran sesat Khawarij dan diikuti sebagian sufi.
    Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata dalam Fatawanya (hal. 347): “Alasan para ulama membenci cukur rambut dan menganggapnya menyelisihi sunnah karena hal itu adalah syi’ar Khawarij dahulu.” (lihat pula Aridhatul Ahwadzi 7/256 oleh Ibnul Arabi dan Fathul Bari 13/669 oleh Ibnu Hajar)
    Dan (syi’ar) ini juga diikuti oleh sebagian kelompok sufi, sebagaimana dijelaskan oleh:
    1.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam: al-Istiqamah 1/256
    2.dan muridnya, Ibnul Qayyim, dalam Ahkam Ahli Dzimmah2/749.
    Maka ucapan “Hal ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya” adalah kejahilan dan kesalahan.

    [1] Disadur dari risalah Sya’rus ar-Ra’si oleh Sulaiman bin Shalih al-Khurasyi.

  10. III. Ketiga: Berdusta atas nama hadits[1]
    Adapun hadits yang dinukil oleh saudara Masun Said Alwy dari kitab “Jala’udz Dzolam fir Raddi ‘ala Najdi Al-Ladzi Adholla Awam” oleh Sayyid Alwy al-Haddad dari Abbas bin Abdul Muthallib, maka ini adalah kebodohan di atas kebodohan. Sebab hadits ini tidak ada asal usulnya sama sekali dalam kitab-kitab hadits, tetapi tetap dijadikan argumen untuk mendukung hawa nafsunya.
    Anda jangan tertipu dengan ucapan di akhirnya: “Al-Hadits”!!
    Seandainya itu diriwayatkan oleh ahli hadits, maka mengapa tidak dia sebutkan?! Apa beratnya? Lebih terkejut lagi, kalau anda tahu bahwa ucapan “Al-Hadits” ini sebenarnya bukan dari kitab aslinya, melainkan hanyalah ucapan Masun Said Alwy.
    Seharusnya saudara Masun Said Alwy menukil takhrij lucu dari kitab aslinya. Si pengarang kitab tersebut mengatakan, ”Hadits ini memiliki syawahid (penguat-penguat) yang mendukung maknanya, sekalipun tidak diketahui siapa yang meriwayatkannya!!”
    Kalau memang tidak diketahui siapa yang meriwayatkannya, mengapa dia berdalil dengannya?! Jadi, hadits ini hanyalah buatan orang tersebut dan yang semodel dengannya. Dia berdusta atas nama Rasulullooh -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- secara terang-terangan di depan makhluk. Aduhai, alangkah rusaknya hati yang berani berbuat demikian, dan alangkah buruknya hati yang mencintai orang-orang model mereka! Mereka berdusta atas nama Rasulullooh -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- dan mengaku cinta Nabi -shallalloohu ‘alaihi wa sallam-. Mungkinkah dua hal ini dapat bersatu di hati seseorang?! Sekali-kali tidak, kecuali di hati seorang ahli bid’ah dan pendusta.
    Sungguh lucu ucapannya “Tidak diketahui siapa yang meriwayatkannya”. Seandainya dia menyandarkannya kepada kitab yang tidak ada wujudnya, niscaya akan lebih laris kebohongannya di tengah-tengah orang-orang jahil, bukan bagi para ulama yang mengetahui cahaya ucapan Nabi.
    Kami harap anda jangan heran, karena berdusta dan menyebarkan hadits-hadits dusta adalah kebiasaan setiap penggemar bid’ah.

    PENUTUP & NASIHAT
    Usai kita menanggapi tiga permasalahan di atas, penulis merasa perlu menyodorkan nasihat bagi kita semua dan secara khusus kepada saudara Masun Said Alwy, penulis artikel “Membongkar Kedok Wahabi”:
    (1) Hendaknya kita mempelajari makna hadits dengan bantuan kitab-kitab syarah (penjelasan) para ulama agar tidak ngawur menafsirkannya.
    Alangkah indahnya ucapan Sufyan bin ‘Uyainah:
    ??? ????????? ??????????? ???????????? ????????? ??????????? ????????? ??????????? ????????? ??????????? ??????????? ??????
    Wahai penuntut ilmu hadits! Pelajarilah makna hadits, sesungguhnya saya mempelajari makna hadits selama tiga puluh tahun.
    (2) Hendaknya kita lebih selektif dan kritis dalam menerima berita, sebagaimana yang diperintahkan Allooh dalam kitab-Nya (yang artinya):
    Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti. (QS. al-Hujurat: 6)
    Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata, ”Sesungguhnya telah sampai kepada para ulama India dan Yaman berita-berita tentang Syaikh Ibnu Abdil Wahhab. Lalu mereka membahas, memeriksa, dan meneliti sebagaimana perintah Allooh, hingga jelaslah bagi mereka bahwa para pencelanya adalah pembohong yang tidak amanah.” (Muqaddimah Syiyanatul Insan hal. 29-30)
    Maka kepada para pendengki dakwah ini, bersikap adillah kalian dan periksalah berita yang sampai kepada kalian, niscaya kalian akan segera sadar bahwa kalian dibutakan dengan kedustaan dan tuduhan!
    (3) Seringkali kami menasehatkan kepada saudara-saudara kami agar waspada dalam menyampaikan hadits lemah dan palsu, apalagi dusta yang tidak ada asal usulnya. Ditambah lagi, apabila hal itu untuk mendukung selera hawa nafsu. Semua itu dosa yang sangat berbahaya, karena termasuk dusta atas nama Nabi -shallalloohu ‘alaihi wa sallam-.
    Sebagaimana kami nasehatkan juga agar kita selektif dalam menyebutkan hadits, yaitu hendaknya disertai riwayatnya, jangan hanya sekedar menyebutkan “al-Hadits” begitu saja.
    Akhirnya kita memohon kepada Allooh hidayah dan taufiq, sesungguhnya Dia Maha Pemurah.

    [1] Lihat Muqaddimah Hadzihi Mafahimuna oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh.

    [Diambil dari http://abiubaidah.com/kritikhadits-wahabi.html/%5D

  11. Kepada penulis,

    Saya hanyalah memberikan tulisan dari seorang ustadz yang lebih ‘alim dari saya dan saya lihat apa yang diambil dari ustadz tersebut adalah perkataan para ulama ahlu sunnah wal jama’ah dengan dalil-dalil yang sangat jelas dan bukanlah sekedar perkataan seorang ustadz.
    Saya berharap yang sedikit ini bisa memberikan manfaat bagi antum dan ikhwan/akhwat yang ingin mencari kebenaran dan tidak hanya sekedar taqlid pada seseorang. Dan hanya kepada Allooh-lah kita akan kembali dan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita.

    1. @ Abu Asyraf:

      Terbukti kan kamu dikibulin oleh Yusuf Sidawy, nih saya tambah bukti satu lagi….

      Plateau of Nejd Saudi Arabia
      24.6N 46.7E

      February 22nd, 2010 Category: Mountains 1 vote, average: 3 out of 51 vote, average: 3 out of 51 vote, average: 3 out of 51 vote, average: 3 out of 51 vote, average: 3 out of 5 (register to rate)
      Saudi Arabia – February 16th, 2010

      Saudi Arabia – February 16th, 2010

      Saudi Arabia’s geography is varied. From the humid western coastal region on the Red Sea, the land rises from sea level to a peninsula-long mountain range (Jabal al-Hejaz) beyond which lies the plateau of Nejd in the center (visible here in the middle).

      The Arabic word nejd literally means “upland” and was once applied to a variety of regions within the Arabian Peninsula. However, the most famous of these was the central region of the Peninsula roughly bounded on the west by the mountains of the Hejaz and Yemen and to the east by the historical region of Bahrain and the north by Mesopotamia and Syria.

      Medieval Muslim geographers spent a great amount of time deciding the exact boundaries between Hejaz and Nejd in particular, but generally set the western boundaries of Nejd to be wherever the western mountain ranges and lava beds began to slope eastwards, and set the eastern boundaries of Nejd at the narrow strip of red sand dunes known as the Ad-Dahna Desert, some 100 km (62 mi) east of modern-day Riyadh, visible here framing the plateau to the right.

      Jadi…. tidak ada yang berkata Najd adalah Iraq kecuali Salafy Wahabi dan para pengikutnya. Karena itu …. dipersilahkan kalau masih mau tetap ngeyel, saya maklum karena ngeyel dan merasa benar sendiri adalah karakter dasar kaum Wahabi seperti anda….

    2. @abu asyraf
      ternyata sampean taqlid juga sama abi ubaidah..saya juga taqlid koq…sesama orang taqlid koq menghina…he…he…abu syaraf…syaraf…syaraf…bocah syaraf….

  12. Abu Ubaidahdotcom sudah terkenal tidak kredibel di mata Ummat Islam Indonesia. Dia alim menurut ente para salafy, menurut Ummat Islam Abu Ubaidah nggak kredibel…. Blog-nya hoby mendelete komentar pengunjungnya. Kapok berkunjung ke blog-nya, mainnya curang kayak judi upluk, wehe he he he…..

  13. Kitab-kitab yang dinukil Abu Ubaidah semuanya kitab-kitab Wahabi, banyak ngarangnya, kitab abal-abal nggak laku di tengah ummat Islam Mayoritas. Ada yang bilang itu kitab buat nipu ummat …..

    1. Maaf sebelumnya, kitab manakah yang antum maksud dengan pernyataan antum “Kitab-kitab yang dinukil Abu Ubaidah semuanya kitab-kitab Wahabi, banyak ngarangnya, kitab abal-abal nggak laku di tengah ummat Islam Mayoritas. Ada yang bilang itu kitab buat nipu ummat …..”

      Bisakah antum memberikan contoh-contoh kitab yang antum maksud dengan “semuanya kitab-kitab Wahabi, banyak ngarangnya, kitab abal-abal”? Yang saya maksudkan disini adalah YANG BERKENAAN dengan hadits dari Salim bin Abdullah bin Umar SAJA dan bukan yang lainnya.

      1. Kalimat Ibnu Askari itu gaya hiperbolisme, maksudnya tidak semuanya, memahami kata-kata itu jangan terlalu harfiah dong ….

        Saya ingatkan buat Ibnu Asakair, menjawab pertanyaan bodoh itu tidak ada lain kecuali diam. Jadi njenengan diam lebih baik dan lebih afdlol….

        Habis ini aku juga mau diam aja sambil dzikir Astaghfirullah sebanyak-banyaknya. Oke, sampai di sini

        Wassalam…..

  14. Baiklah kalau memang saya dikatakan membeo atau membebek. Saya terima dengan lapang dada, alhamdulillah. Tetapi masalahnya sekarang, yang saya jadikan referensi untuk mbebek dan mbeo adalah Salim bin Abdullah bin Umar. Beliau adalah seorang tabi’in muktabar yang meninggal 106H. Abu Ubaidah hanya menyitir riwayat dari imam Muslim!

    Wahai anda …. adakah yang bisa membantah keilmuan hadits imam Muslim? Bukankah anda seorang ahlu sunnah wal jama’ah? Sekali lagi perhatikanlah perkataan hadits yang disampaikan imam Muslim (JANGAN LIHAT saya atau Abu Ubaidah-nya) yang selengkapnya adalah:

    ?????????? ?????? ??????? ???? ?????? ???? ??????? ????????? ???? ?????? ?????????? ?????????? ???? ?????? ????????????? ??????????? ??????? ??????? ??????? ?????????? ????? ???????? ???? ??????? ????? ???????? ??????? ???? ?????? ??????? ???? ?????? ???????? ??? ?????? ?????????? ??? ???????????? ???? ???????????? ?????????????? ????????????? ???????? ????? ?????? ??????? ???? ?????? ????????
    ???????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ????? ??????????? ??????? ???? ???????? ?????????? ???????? ?????? ??????????? ???? ?????? ???????? ??????? ???????????? ?????????? ???????? ?????????? ??????? ?????? ?????????? ?????? ?????? ??????? ?????? ???? ??? ?????????? ?????? ??????? ??????? ????? ??????? ????
    { ?????????? ??????? ?????????????? ???? ???????? ???????????? ???????? }
    ????? ???????? ???? ?????? ??? ??????????? ???? ??????? ???? ?????? ????????

    Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Umar bin Aban, Washil bin Abdula’la dan Ahmad bin Umar Al Waki’i, teks milik Ibnu Aban, mereka berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya berkata: Aku mendengar Salim bin Abdullah bin Umar berkata: Wahai penduduk Irak, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar, aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya fitnah itu muncul disini -ia menunjukkan tangannya ke arah timur- dari arah terbitnya dua tanduk setan. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musa hanya membunuh orang yang ia bunuh berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman padanya: ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40). Ahmad bin Umar berkata dalam riwayatnya: Dari Salim, ia tidak menyebut: Aku telah mendengar.

    Demikian juga dengan riwayat dari Ya’qub al-Fasawi dalam al-Ma’rifah 2/746-748, al-Mukhallish dalam al-Fawa’id al-Muntaqah 7/2-3, al-Jurjani dalam al-Fawa’id 2/164, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 6/133, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimsyaq 1/120 dari jalur Taubah al-‘Anbari dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya dengan lafazh:

    ?????????? ??????? ????? ???? ??????????, ?????????? ??????? ????? ???? ?????????????, ?????????? ??????? ????? ???? ????????, ?????????? ??????? ????? ???? ???????? ????????? ????? ???? ????????. ??????? ??????: ??? ???????? ?????! ?????? ??????????, ?????????? ??????, ???????????? ????????, ????? ?????? ???????? ?????????: ?????? ??????????, ?????????? ??????, ???????: ????? ???????????? ??????????? ??????? ???????? ?????? ????????????

    Wahai Allooh berkahilah kami dalam Makkah kami, wahai Allooh berkahilah kami dalam Madinah kami, wahai Allooh berkahilah kami dalam Syam kami. Wahai Allooh, berkahilah kami dalam sha’ kami dan berkahilah kami dalam mudd kami. Seorang bertanya, ”Wahai Rasulullooh! Dalam Iraq kami.” Nabi shallalloohu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya dan mengulangi tiga kali. Namun tetap saja orang tersebut mengatakan, ”Dalam Iraq kami.” Nabi pun berpaling darinya seraya bersabda, ”Di sanalah kegoncangan dan fitnah dan di sana pula muncul tanduk setan.” (Sanad hadits ini shahih, sesuai syarat Bukhari-Muslim)

    Ketika kita berbicara masalah hadits maka kita berbicara tentang sabda Nabi kita shallalloohu’alaihi wa sallam. Shahih ataukah dho’if suatu hadits. Kalau anda tidak mempercayai sebuah hadits dalam shahih Muslim atau yang lainnya, maka konsekuensinya anda HARUS bisa memberikan bukti bahwa perkataan Nabi itu ada kelemahan dalam perawi-nya. Sekarang buktikan perkataan anda wahai saudaraku? Kalau anda tidak mampu untuk mengetahui ilmu hadits maka tanyakanlah kepada yang menulis artikel ini.

    Sementara diriku, maka hujjah-ku cukup dengan mempercayai hadits shahih yang ada dalam shahih Muslim. Itu cukup bagiku karena bagi saya shahih Muslim adalah kitab paling shahih setelah Al-Qur’an dan shahih Bukhari.

    Sementara anda wahai saudaraku, apakah anda cukup membeo dan membebek dengan kata-kata Muhammad Husni Ginting yang berkata: “Adapun penafsiran Salim bin Abudullah bin Umar kepada Iraq adalah salah satu ijtihad beliau yang belum bisa dijadikan pegangan, sebab bukan dari penafsiran Rasulullah s.a.w.”

    Siapa Muhammad Husni Ginting hingga bisa melemahkan riwayat Salim bin Abdullah bin Umar? Apakah dia mendapat rekomendasi ulama untuk bisa melemahkan dan menshahihkan sebuah hadits? Apa dia punya karangan buku tentang ilmu mustholah hadits atau yang semacamnya?

    Wahai saudaraku, ketahuilah seorang dokter kadungan akan mendapat rekomendasi kelulusan sebagai dokter kandungan dari dokter kandungan (yang lebih senior) juga. Adalah SANGAT KONYOL, ketika dokter kandungan diluluskan oleh seorang SARJANA HUKUM. Apakah anda mau mempercayakan istri anda yang akan melahirkan anak kesayangan anda kepada dokter kandungan yang direkomendasikan oleh sarjana hukum, wahai saudaraku?

    Demi Allooh anda PASTI tidak akan rela. Sekali lagi ….. INI MASALAH AGAMA. Jangan libatkan logika pikiran kita di dalamnya. Perkataan anda akan diterima kalau menyebutkan perkataan para ulama ahlu sunnah wal jama’ah dari kalangan shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’iin atau para imam. Tetapi maaf, perkataan anda ditolak disini kalau dalil anda HANYA MENGUTIP dari WIKIPEDIA!!! Kata orang …… JAKA SEMBUNG MAKAN KEDONDONG = NGGAK NYAMBUNG DONG!!!!

  15. Inti perso’alan di sini adalah apakah benar Nejd (Najdi) itu adalah Iraq? Ilmu pengetahuan membuktikan Najdi adalah Wilayah Riyadh Arab Saudi seperti yang saya kutipkan di atas, lalu apanya yang gak nyambung?

    1. Maaf Ibnu Asakir, manakah DALIL antum ketika Nabi shallalloohu’alaihi wa sallam menyebutkan ??????????? (arah timur) hanya dibatasi wilayah Saudi Arabia yang sekarang saja dan tidak memasukkan ARAH Iraq di dalamnya? Tetapi mohon ketika menyebutkan dalil adalah dengan perkataan ulama, dan bukan yang lainnya.

      Dan sekali lagi saya minta maaf (bukan untuk menggurui), contoh pemberian dalil (yang benar) dalam menjelaskan perkataan ulama tentang ??????????? (arah timur) adalah:

      Al-Hafidz Ibn Hajar Al-’Asqalani rahimahullooh dalam Fat-hul Bari 13: 47, mengutip kata-kata Al-Khaththabi rahimahullooh (388H):

      ??? ?? ??? ??????? ??? ??? ???????? ??? ???? ????? ?????? ???????? ??? ???? ??? ???????? ???? ??? ?? ????? ?? ????? ??? ???? ????? ???? ?? ????? ????? ?????? ???? ?? ????? ???? ?? ?????.

      “Nejd itu di sebelah timur, barang siapa yang berada di Madinah maka nejd-nya ialah pendalaman negeri Iraq dan persekitarannya yang menjadi arah timur (bagi) penduduk Madinah. Ini karena asal (perkataan) nejd (dari segi bahasa) ialah setiap tanah yang tinggi yang menjadi lawan kepada ghaur yaitu setiap tanah yang rendah (lembah), sedangkan Tihamah keseluruhannya adalah lembah dan Makkah pula termasuk sebahagian dari Tihamah.”

      Kemudian Al-Hafidz Ibn Hajar mengomentari kata-kata Al-Khattabi dengan katanya:

      ???? ???? ???? ?? ???? ??????? ?? ???? ?? ????? ?????? ???? ???? ?? ???? ???? ????? ???? ???? ?? ?? ??? ????? ??????? ??? ?? ???? ???? ??????? ???? ???????? ????.

      “Dan dengan ini dapat diketahui kelemahan pendapat Ad-Dawudi yang menyangka bahwa nejd itu suatu tempat khusus di sebelah Iraq, sedangkan ia bukan sedemikian, bahkan setiap (tempat) yang tinggi berbanding sekelilingnya, (maka) dinamakan yang tinggi itu nejd manakala yang rendah pula ghaur.”

      1. Dalil-nya: “lihat aja di peta, sebelah timur Madinah bukan Iraq!” Ngeyel minta dalil melulu seh, dasar Wahabi, maaf he he he ……

        1. Allooh Ta’ala berfirman:

          ???? ??????? ????????????? ???? ???????? ??????????

          (Artinya) “Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 111)

          1. Kalau so’al wilayah atau daerah tertentu bukti kebenarannya ada di peta, Om Abu…. Jangan ngeyel pakai dalil, dong…. malu-maluin aja Om….?!

            Tempatkanlah dalil AlQur’an sesuai pada tempatnya, tidak tepat untuk bahas so’al peta, maaf ikut campur …?!!!

          2. Sebelah timur Madinah itu ya Indonesia, dasar Abu Saraf ! Mau dalilnya? Wah kok gw ikutan ngeyel gaya Wahhabi gini

  16. Astaghfirullahal’azhim itu yang namanya Abu Asyaraf itu kok ngga mudeng2 ya, apa buta arah la wong yang namanya timur dari kota madinah itu ya nejd kalau irak itu ya sebelah utara wah ngeyel tenan,

  17. astaghfirllah…….
    coba donk simak baik-baik, jangan mengedepankan hawa nafsu dulu……
    Yg mengatakan arah timur adalah IRAQ disitu bukanlah ust. Abu Ubaidah ataupun Abu Asyraf mas…..mereka hanya menukil Sabda Rasulullah dengan sanad yg shahih, ditegaskan oleh Salim bin Abdullah bin Umar dan diperkuat oleh perkataan Imam Al-Khaththaby,

    beliau berkata : “……Barang siapa yang berada di Madinah maka nejd-nya ialah pendalaman negeri Iraq dan persekitarannya yang menjadi arah timur (bagi) penduduk Madinah. Ini karena asal (perkataan) nejd (dari segi bahasa) ialah setiap tanah yang tinggi yang menjadi lawan kepada ghaur yaitu setiap tanah yang rendah (lembah), sedangkan Tihamah keseluruhannya adalah lembah dan Makkah pula termasuk sebahagian dari Tihamah (Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bary 13/47)

    jadi, jika ada yg mencela dengan sebutan buta arah, berarti dia juga telah mencela bahwa Salim bin Abdullah bin Umar dan Imam Al-Khaththaby buta arah……
    mana yg lebih mengetahui tentang permasalahan ini, kita yg dhoif ini atau Salim bin Abdullah bin Umar?

      1. Yang nekad itu sampeyan Bung,..la wong yang bicara “Arah timurnya Madinah itu adalah pedalaman Iraq” itu Salim bin Abdullah bin Umar dan Imam Al-Khaththaby koq, ulama ahlus sunnah. Lah sampeyan?.. ck, ck, ck,..sekolah di mana sih, bahlul amat,..

  18. Salam ukhuwah semua….

    Berkata Dr. Yusuf Qardawi apabila ditanya mengenai peperangan yang berlaku antara HAMAS dan WAHHABI (Masjid Ibnu Taimiah&Golongan Ansarrullah&SalafiyyahWahhabiyyah)

    Dr. Yusuf Qardawi menjawab:

    ” Saya amat yakin bahawa HAMAS dalam melawan tindakan terhadap golongan itu (Wahhabiiyyah Salafiyyah) HAMAS telah melakukan sesuatu yang amat benar, HAMAS telah banyak kali menasihat jemaah tersebut ( SalafiyyahWahhabiyah) agar tidak menyerang saudara Umat Islam, memadai umat Islam menentang dan meyerang Yahudi Israeil sahaja bukan bergaduh sesama sendiri.

    HAMAS telah banyak kali membawa para ulama dan pemerintah Islam berbincang dengan jemaah ini (SalfiyyahWahhabiyya) tetapi mereka (Wahhabi) tidak mempedulikan dan tidak pandai/ Mereka (SalafiyyahWahhabiyyah) itu tidak pandai mengenai Fiqh Jihad sama sekali. Kepada merekalah saya tujukan kitab Fiqh Jihad. Kerana mereka (SalafiyyahWahhabiyyah) memahami fiqh jihad itu adalah memerangi umat Islam. Buktinya ketikamana Yahudi merampas Gaza kita langsung tidak mendapati mereka (salafiyyahWahhabiyah) itu membantu umat Islam Palestin samaada secara pergorbanan,peperangan atau apa-apa sumbangan mereka langsung tidak ada terhadap umat Islam di Gaza yang diserang Yahudi.

    Malangnya kita dapati mereka (SalafiyyahWahhabiyyah) menyumbangkan pembunuhan dan peperangan keatas umat Islam pula. Mereka mendakwa mahukan Daulah Islamiah atau Khilafah Islamiah. Apa ini?! Merdeka dahulu Palestin baru kita bicara mengenai itu semua!. Kita dapati mereka (SalafiyyahWahhabiyah) di Palestin bila tokoh mereka berkhutbah sehingga sampai mengangkat senjata dengan pakaian serba hitam, ini adalah suasana yang tidak sepatutnya….”- TAMAT KENYATAAN DR.YUSUF QARDAWI dalam mengkritik gerakan SalafiyyahWahhabiyyah dan Hizbu Tahrir yang amat beria-ria mendirikan Khilafah tetapi umat Islam Palestin pula yang menjadi mangsa.

    Dalam suasana yang kita tahu bahawa Konvai bantuan ke Gaza yang disertai lebih 40 buah negara termasuk negara bukan Islam telah ditahan dan sebahagiannya dibunuh oleh tentera Yahudi Zionis di kapal konvoi tersebut kita tidak harus lupa akan kacau-bilau yang dilakukan oleh Wahhabi dan Hizbut Tahrir terhadap umat Islam Palestian sehingga sekarang.

    Wahhabi di Palestin telah membuka masjid dan sekali gus merupakan markaz gerakan mereka di Palestin yang dinamakan masjid itu sebagai MASJID IBNU TAIMIAH. Tiada masaalah jika masjid dijadikan tempat ibadah dan amalan yang baik tetapi malangnya Masjid Wahhabi tersebut telah dijadikan oleh Wahhabi sebagai pusat menghentam dan menyerang serta mengkafirkan umat Islam dan pemimpin Islam di Palestin dan HAMAS tidak terlepas dari serangan oleh SalafiWahhabi di sana. Pusat atau markaz Wahhabi itu juga dinamakan sebagai puak Ansarullah.

    Masjid atau pusat Wahhabi di Palestin tersebut pada mulanya diketuai oleh seorang Wahhabi bernama Abdul Latif Khalid yang mendakwa berketurunan Musa. Masjid Ibnu Taimiah tersebut juga menjadi tempat golongan Hizbut Tahrir mengerakkan fahaman mereka setelah kedua-dua fahaman ini (Wahhabi & HizbutTahrir) ditolak oleh umat Islam Palestian kerana terlalu melampau dan radikal sedangkan perkara itu akan membuatkan/mengakibatkan nama umat Islam di Palestin menjadi buruk di mata luar juga susah menyusun startegik terbaik untuk memperjuangan kemerdekaan Palestin dari Yahudi Zionis.

    Perlu diketahui bahawa gerakan (SalafiyyahWahhabiyyah&Ansarullah&Masjid Ibnu Taimiah) ini adalah diadakan/diwujudkan di Palestin untuk merosakkan perpaduan umat Islam di Palestin dengan cara yang amat halus. Mereka juga mengkafirkan umat Islam seperti HAMAS dan seluruh umat Islam yang tidak mengikut mereka…end

    SYEIKH ABDULLAH AL-HARARI : PAKAR HADITH ZAMAN KINI & PEJUANG AQIDAH ISLAM ZAMAN KINI:
    Pakar Ilmu Hadith Zaman Kini Adalah Seorang Ulama Yang Beraliran Ahli Sunnah Wal Jama’ah Iaitu Al-Muhaddith Syeikh Abdullah Al-Harari. Wahhabi Yang Memusuhi Islam Dan Wahhabi Yang Membawa Ajaran Mujassimah Sangat Benci Terhadap Semua Ulama Islam Dan Mengkafirkan Umat Islam

    SYEIKH SAYYID ‘ALAWI AL-MALIKY
    Beliau merupakan ulama ASWJ yg dikafirkan oleh Wahhabi. Beliau mengajar di Masjid Al-Haram Mekah di Bab As-Salam mengenai ilmu aqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah Al-Asya’irah. Kemudian beliau dihalau oleh Wahhabi dan dimaki oleh Wahhabi sebagai Thogout Babis Salam. Wahhabi adalah Yahudi dan pembunuh ulama Islam.

  19. Ulama bersama karangan mereka yang mengfatwakan bahawa Wahabi adalah MILITAN dan Pengganas serta Khawarij…:

    1- Fasl al-Khitab fi Radd ‘ala Muhammad ibn Abdil Wahhab oleh Syaikh Sulaiman ibn Abdil Wahhab. Inilah merupakan kitab yang pertama yang menolak fahaman Wahhabi yang ditulis oleh saudara kandung pengasas fahaman Wahhabi.

    2- As-Sowa’qul Ilahiyyah fi Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Syaikh Sulaiman ibn ‘Abdul Wahhab al-Najdi.

    3- Fitnah al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (kitab ini telah diterjemahkan ke bahasa Melayu oleh Ustaz Muhammad Fuad bin Kamaluddin ar-Rembawi)

    4- Ad-Durarus Saniyah fi al-Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (kitab ini telah diterjemahkan ke bahasa Melayu, maaflah ambo lupa tajuknya)

    5- Khulasatul Kalam fi Bayani ‘Umara` al-Balad al-Haram karangan al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

    6- Saif al-Jabbar oleh Syaikh Fadhlur Rasul

    7- Al-Aqwal al-Mardiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-Syaikh al-Faqih ‘Atha’ al-Kasam al-Dimashqi al-Hanafi

    8- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Sholeh al-Kuwaisy al-Tunisi

    9- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Abu Hafs Umar al-Mahjub

    10- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Muhammad Sholeh al-Zamzami al-Syafie

    11- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Ibrahim ibn Abdul Qadir al-Tarabulasi al-Riyahi al-Tunisi

    12- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Mufti Madinah Zubir di Bashrah – Syaikh Abdul Muhsin al-Asyniqiri al-Hanbali

    13- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Mufti Fez – Syaikh al-Makhdum al-Mahdi

    14- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Qadhi Jamaa’ah di Maghribi – Syaikh Ibn Kiran

    15- Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh Syaikhul Islam Tunisia- Syaikh Ismail al-Tamimi al-Maliki

    16- Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh Syaikh Ahmad al-Misri al-Ahsa’i

    17- Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh al-‘Allamah Barakat al-Syafie al-Ahmadi al-Makki

    18- Ar-Radd ‘ala Muhmmaad ibn Abdil Wahhab karangan Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafie, guru dan syaikh bagi Ibn ‘Abdul Wahhab. Disebut oleh Ibnu Marzuq asy-Syafie: Syaikhnya ini telah berfirasat bahwa dia akan menjadi orang yang sesat dan meyesatkan seperti mana firasat syaikhnya Muhammad Hayat as-Sindi dan dan ayahnya [ayahnya Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab].

    19- At-Taudhih ‘ala Tauhid al-Khallaq fi Jawab Ahli al-Iraq ‘ala Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab karangan Syaikh ‘Abdullah Affendi al-Rawi

    20- Al-Haqiqah al-Islamiyah fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Abdul Ghani ibn Sholeh Hamadah.

    21- Ad-Dalil Kafi fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabi oleh Syaikh Misbah ibn Muhamad Syabqalu al-Beiruti

    22- Radd Muhtar ‘ala Durr al-Mukhtar oleh Ibn ‘Abidin al-Hanafi al-Dimasyqi

    23- Al-Haq al-Mubin fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyin oleh Syaikh Ahmad Sa’id al-Faruqi al-Sirhindi al-Naqsyabandi
    24- Al-Haqaiq al-Islamiyah fi Radd ‘ala Maza’im al-Wahhabiyyah bi Adillah al-Kitab wa al-Sunnah al-Nabawiyyah oleh Syaikh Malik ibn Syaikh Mahmud.

    25- Ar-Rudud ‘ala Muhammad ibn Abdul Wahhab oleh al-Muhaddits Sholeh al-Fullani al-Maghribi. Telah berkata Sayyid ‘Alawi ibn Ahmad al-Haddad bahwa kitab yang besar ini mengandungi risalah dan jawapan daripada para ulama’ mazhab yang empat, Hanafi, Maliki, Syafie dan Hanbali dalam menolak pendapat/fahaman Muhammad ibn Abdul Wahhab.

    26- Ar-Radd ‘ala Muhammad ibn Abdul Wahhab oleh Syaikh Abdullah al-Qudumi al-Hanbali al-Nablusi

    27- Risalah fi Musyajarah baina Ahl Makkah wa Ahl Nadj fil ‘Aqidah oleh Syaikh Muhammad ibn Nasir al-Hazimi al-Yamani

    28- Sa’adah ad-Darain fi ar-Radd ‘ala Firqatain – al-Wahhabiyyah wa Muqallidah al-Zhahiriyyah oleh Syaikh Ibrahim ibn Utsman ibn Muhammad al-Samhudi al-Manshuri al-Misri

    29- Al-Saif al-Batir li ‘Unuq al-Munkir ‘ala al-Akabir oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Quthubul Irsyad al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi al-Haddad.

    30- As-Suyuf al-Masyriqiyyah li Qat’ie A’naaq al-Qailin bi Jihah wa al-Jismiyah oleh Syaikh ‘Ali ibn Muhammad al-Maili al-Jamali al-Tunisi al-Maghribi al-Maliki

    31- Raudh al-Majal fi al-Radd ‘ala Ahl al-Dholal oleh Syaikh Abdurrahman al-Hindi al-Delhi al-Hanafi

    32- Sidq al-Khabar fi Khawarij al-Qarn al-Tsani Asyara fi Itsbathi ‘an al-Wahhabiyyah min al-Khawarij oleh Syaikh al-Syarif ‘Abdullah ibn Hassan Basya ibn Fadhi Basya al-‘Alawi al-Husaini al-Hijazi

    33- Al-Minhah al-Wahbiyyah fi Raddi al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Daud bin Sulaiman al-Baghdadi an-Naqsyabandi al-Khalidi

    34- Al-Haqaaiq al-Islamiyyah fi ar-Raddi ‘ala al-Mazaa’im al-Wahhabiyyah bi Adillah al-Ktab wa as-Sunnah an-Nabawiyyah oleh al-Hajj Malek Bih ibn Asy-Syaikh Mahmud, Mudir Madrasah al-‘Irfan, Kutbali, Mali

    35- Misbah al-Anam wa Jala-uz-Zhalam fi Raddi Syubah al-Bid’i an-Najdi Allati Adhalla biha al-‘Awwam oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Quthubul Irsyad al-Habib ‘Abdullah bin ‘alwi al-Haddad. Di dalam kitab ini, pada halaman 3, beliau berkata bahawa kesesatan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab telah disampaikan oleh ramai ulama secara tawatur dalam tulisan-tulisan mereka daripada orang-orang yang tsiqah dari kalangan ulama-ul-akhyar (terpilih) dan selain mereka, yang telah melihat dengan matanya sendiri dan mendengar dengan telinganya sendiri akan kesesatan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan pengikut-pengikutnya dan juga dari tulisan-tulisan, perkataan, perbuatan dan perintah Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikut-pengikutnya. Pada halaman 15, al-Habib berkata: Aku telah diberitahu oleh seorang tua yang bersinar wajahnya kerana kesholehannya dan sudah melebihi 80 tahun umurnya, salah seorang pemuka kita keluarga Abu ‘Alawi yang lahir dan membesar di Makkah dan kerap berulang alik ke Madinah. Nama beliau Musa bin Hasan bin Ahmad al-‘Alawi berketurunan Sayyidina ‘Uqail bin Salim, saudara Sayyidina Quthubus-Syahir asy-Syaikhul Kabir Abu Bakar bin Salim. Beliau berkata:- “Aku dahulu berada di Madinah belajar kepada asy-Syaikh Muhammad Hayat (as-Sindi al-Madani). Muhammad bin ‘Abdul Wahhab juga berulang-alik ke majlis Syaikh Muhammad Hayat seperti murid-murid lainnya. Aku mendengar daripada orang-orang sholeh dan ulama, sebagai kasyaf daripada mereka, firasat mereka mengenai Muhammad bin ‘Abdul Wahhab di mana mereka menyatakan bahawa dia akan sesat dan menyesatkan Allah dengannya orang yang dijauhkan dari rahmatNya dan yang dibinasakanNya”

    36- An-Nuqul as-Syar’iyyah fi Raddi ‘alal Wahhabiyyah oleh Hasan ibn ‘Umar ibn Ma’ruf as-Shatti al-Hanbali

    37- Nasiha li Ikhwanina Ulama Najd oleh as-Sayyid Yusuf ibn Sayyid Hasyim ar-Rifaie

    38- Tahakkum al-Muqallidin bi Mudda`i Tajdid ad-Din karangan Syaikh Muhammad bin ‘Abdur Rahman bin ‘Afaliq al-Hanbali, seorang ulama yang sezaman dengan Muhammad ibn Abdul Wahhab dan telah mencabar keilmuannya sehingga Ibnu ‘Abdul Wahhab membisu seribu bahasa
    39- Saiful Jihad li Mudda`i al-Ijtihad karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Lathif asy-Syafi`i

    40- Tarikh al-Wahhabiyyah oleh Ayyub Sabri Pasha (meninggal dunia tahun 1308H/1890M). Beliau adalah merupakan Laksamana Armada Laut di zaman pemerintahan Sultan ‘Abdul Hamid Khan II. Kitab karangan beliau ini menceritakan tentang Wahhabi secara terpeinci. Sebahagian kandungan kitab ini telah diterjemahkan ke bahasa Melayu dengan tajuk Faham Wahhabi dan Penyelewengannya. Beliau juga merupakan pengarang kitab Mir’ah al-Haramain

    42- Faydul Wahhab fi Bayan Ahl al-Haq wa Man Dhalla ‘an ash-Shawab karangan Syaikh ‘Abdur Rabbih bin Sulaiman asy-Syafi`i

    43- As-Sarim al-Hindi fi ‘Unuqin-Najdi karangan Syaikh ‘Atha` al-Makki;

    44- As-Sarim al-Hindi fi Ibanat Tariqat asy-Syaikh an-Najdi karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Isa bin Muhammad as-San`ani

    44- Al-Basha`ir li Munkiri at-Tawassul ka Amtsal Muhammad ibn Abdul Wahhab karangan Syaikh Hamd-Allah ad-Dajwi

    45- Risalah Irsyadul Jaawiyyin ila Sabilil ‘Ulama-il-‘Aamiliin karangan Tuan Guru Haji ‘Abdul Qadir bin Haji Wangah bin ‘Abdul Lathif bin ‘Utsman al-Fathoni

    46- Sinar Matahari Buat Penyuluh Kesilapan Abu Bakar al-Asy’ari [pelopor fahaman Wahabi di Perlis] karangan Syaikh Abdul Qadir bin ‘Abdul Muthalib al-Mandili

    47- Tajrid Saif al-Jihad li Mudda’I al-Ijtihad karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Lathif asy-Syafie. Beliau menolak pendapat Muhammad bin ‘Abdul Wahhab ketika hayatnya.

    48- Al-Mazhab atau Tiada Haram Bermazhab karangan Syaikh Abdul Qadir bin ‘Abdul Muthalib al-Mandili

    49 Kitab Senjata Syari’at karangan Ustaz Abu Zahidah bin Haji Sulaiman dan Abu Qani’ah Haji Harun bin Muhammad as-Shamadi al-Kalantani. Kitab ini telah ditaqridz oleh Syaikh ‘Abdullah Fahim, Tuan Guru Haji Ahmad bin Tuan Hussin Kedah dan Tuan Guru Haji ‘Abdurrahman Merbuk, Kedah.

    50- Al-Fajr ash-Shodiq fi al-Radd ‘ala al-Maariq karangan Syaikh Jamil Affendi Shodiqi az-Zuhawi.

    51- Al-Ushul al-Arba’ah fi Tardid al-Wahhabiyyah/ Al-‘Aqaid as-Shohihah fi Tardid al-Wahhabiyyah karangan Muhammad Hasan, Shohib al-Sirhindi al-Mujaddidi.

    52- Al-Awraq al-Baghdadiyyah fi al-Jawabat an-Najdiyyah karangan Syaikh Ibrahim ar-Rawi al-Baghdadi.

    53- Al-Bara’ah min al-Ikhtilaf fi ar-Radd ‘ala Ahli asy-Syiqaq wa an-Nifaq wa ar-Radd ‘ala Firqah al-Wahhabiyyah al-Dhallah karangan Syaikh Zainul ‘Abidin as-Sudani.

    54- Al-Barahin as-Sati’ah karangan Syaikh Salamah al-‘Azzami

    55- Risalah fi Ta’yid Madzhab as-Sufiyyah wa ar-Radd ‘ala al-Mu’taridhin ‘Alaihim karangan Syaikh Salamah al-‘Azzami

    56- Risalah fi Jawaz at-Tawassul fi ar-Radd ‘ala Muhammad ibn ‘Abdil Wahhab karangan al-‘Allamah Syaikh Mahdi al-Wazaani, Mufti Fez, Maghribi.

    57- Risalah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah karangan Syaikh Qasim Abi al-Fadhl al-Mahjub al-Maliki

    58- Al-Risalah ar-Raddiyyah ‘ala at-Tho’ifah al-Wahhabiyyah karangan Syaikh Muhammad ‘Atholah yang dikenali sebagai Ato ar-Rumi

    59- ‘Iqd Nafis fi Radd Syubhat al-Wahhabi al-Ta’is karangan Syaikh Ismail Abi al-Fida` at-Tamimi at-Tunisi. Beliau adalah seorang yang faqih dan ahli sejarah.

    60- Al-Madarij as-Saniyyah fi Radd al-Wahhabiyyah karangan Maulana Aamir al-Qadiri, guru di Darul Ulum al-Qadiriyyah, Karachi, Pakistan

    # Dan banyak lagi kitab dan kenyataan ulama yang menolak fahaman Wahhabi yang ditulis ulama sejak dari tercetusnya fahaman ini. Dan sampai sekarang pun masih ada ulama yang menulis kitab untuk menolak fahaman Wahhabi dan menyifatkan Wahabi sebagai MILITAN dan PENGGANAS.

  20. Banyak orang sudah buta hati di sini, di kasih dalil dari Rasulullah, malah yang di ambil dalil manusia. Hadist Nabi di tentang. Masya Allah..!!!
    @Akh yusuf Ibrahim..
    @akh Abu Asyraf..
    Kayaknya banyak orang di sini Nabinya bukan lagi Muhammad Bin Abdullah…

    1. @Abu Hanin:

      antum bilang: “Kayaknya banyak orang di sini Nabinya bukan lagi Muhammad Bin Abdullah…”

      saya jawab: “Yang jelas Nabi kami bukan Muhammad bin Abdul Wahhab (perintis faham Wahabi). Karena kami melakukan peringatan maulid Nabi Saw, maka jelas nabi kami adalah Nabi Muhammad Saw. Jadi natum-antum para pengikut Muhammad bin Abdul wahhab jelas-jelas telah salah lihat dan salah tafsir selama ini….”

      1. Jelas-jelas di kasih hadist dari Nabi, kenapa kalian tentang ya akhi..? kenapa kalian mengambil pendapat manusia…
        Kaiian ngaku bermazhab Syafi’i. Imam Syafi’i menyuruh untuk memegang hadist. Jadi pengakuan kalian selama ini hanya omong kosong ya…

      2. Pengakuan harus di tunjukkan dengan bukti ya akhi, setiap orang bisa ngaku pengikut siapa saja.
        Tapi kalo yang di ikutinya tidak di akuinya, apakah pantas dia mengaku mengikuti.Hadirs Rosul jelas bahwa Njed itu Iraq, kalian malah mengambil pendapat manusia. Mana pengakuan kalian yang mengikuti Nabi Muhammad.
        Orang bodoh aja tahu kaloau kalian berdusta..

      3. saya jawab: “Yang jelas Nabi kami bukan Muhammad bin Abdul Wahhab (perintis faham Wahabi). Karena kami melakukan peringatan maulid Nabi Saw, maka jelas nabi kami adalah Nabi Muhammad Saw. Jadi natum-antum para pengikut Muhammad bin Abdul wahhab jelas-jelas telah salah lihat dan salah tafsir selama ini….”
        [Antum tahu ya akhi, para Sahabat Nabi tidak pernah bikin Maulid, jadi menurut antum para sahabat bukan Pengikut Nabi Muhammad. Hati-hati antum kalo bicara akhi..!]

        1. [Antum tahu ya akhi, para Sahabat Nabi tidak pernah bikin Maulid, jadi menurut antum para sahabat bukan Pengikut Nabi Muhammad. Hati-hati antum kalo bicara akhi..!]
          ..tulisan ini hanya menyampaikan kalau nabi mereka Adaalah Muhammad saw, karena mereka merayakan maulid,..tidak ada tuduhan sama sekali kepada para sahabat…

          Abu Hanin , antum yang salah memahami kalimat, harusnya antum yang berhati-hati kalau nulis, lihat tulisan antum:
          antum bilang: “Kayaknya banyak orang di sini Nabinya bukan lagi Muhammad Bin Abdullah…”

          Kalimat ini bisa mengindikasikan ” Takfir”
          once: becarefull with your language…!!!

          1. Wkwkwkwkwkwkwkw…
            Antum baca lagi ya akhi….
            ana cuma bilang “kayaknya”, tidak memvonis mereka nabinya bukan Nabi Muhammad…
            Tapi menurut antum, gimana kalo gini ya akhi….
            Ada orang masuk Masjid,lalu dia sholat dua rakaat.
            Ana berkata kayaknya orang ini sholat Tahhiyyatul Masjid. Waktu di tanya rupanya dia Sholat Wudlu’…
            Menurut antum ana salah gak…?
            Sekaranbg ana tanya, ada hadist yang jelas shohih dari Rasul, tapi kita gak mengakuinya, menurut antum gimana..?

          2. [Antum tahu ya akhi, para Sahabat Nabi tidak pernah bikin Maulid, jadi menurut antum para sahabat bukan Pengikut Nabi Muhammad. Hati-hati antum kalo bicara akhi..!]
            Ana cuma bertanya akhi…!!
            “jadi menurut antum para sahabat bukan Pengikut Nabi Muhammad?”
            Karena dari perkataannya Mas Jono, kayaknya cuma yanmg merayakan Maulid yang umat Nabi Muhammad,,,?
            Gimana Akhi..?

  21. Riwayat-riwayat ini memberikan pengertian, bahwa isbal yang dilakukan baik karena sombong atau tidak, hukumnya haram. Akan tetapi, kita tidak boleh mencukupkan diri dengan hadits-hadits seperti ini. Kita mesti mengkompromikan riwayat-riwayat ini dengan riwayat-riwayat lain yang di dalamnya terdapat taqyiid (pembatas) “khuyalaa’”. Kompromi (jam’u) ini harus dilakukan untuk menghindari penelantaran terhadap hadits Rasulullah Saw. Sebab, menelantarkan salah satu hadits Rasulullah bisa dianggap mengabaikan sabda Rasulullah Saw. Tentunya, perbuatan semacam ini adalah haram.
    [ini ana ambil dari topik “http://ummatiummati.wordpress.com/2010/07/19/isbal-tidak-otomatis-nyombong-artinya-juga-tidak-otomatis-haram/]
    jadi antum semua melakukan keharaman karena menentang Sabda Rasulullah…
    Bukan ana yang bilang, ana cuma copy paste kok..
    Ini kalian yang bilang…

    1. @Abu Hanin:
      Kalau komentar harusnya jangan di sini, harusnya di postingan masalah Isbal, ini yang pertama koreksi saya. Yang kedua, antum main potong kalimat, sehingga bisa menimbulkan salah pengertian bagi orang-orang awam. Yang benar , inilah keterangan selengkapnya tanpo dipotong seenaknya, semoga pembaca yang lain bisa lebih paham.

      “Riwayat-riwayat ini memberikan pengertian, bahwa isbal yang dilakukan baik karena sombong atau tidak, hukumnya haram. Akan tetapi, kita tidak boleh mencukupkan diri dengan hadits-hadits seperti ini. Kita mesti mengkompromikan riwayat-riwayat ini dengan riwayat-riwayat lain yang di dalamnya terdapat taqyiid (pembatas) “khuyalaa’”. Kompromi (jam’u) ini harus dilakukan untuk menghindari penelantaran terhadap hadits Rasulullah Saw. Sebab, menelantarkan salah satu hadits Rasulullah bisa dianggap mengabaikan sabda Rasulullah Saw. Tentunya, perbuatan semacam ini adalah haram.

      Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, yakni perkataan Rasulullah Saw kepada Abu Bakar ra (“Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”), menunjukkan bahwa manath (obyek) pengharaman isbal adalah karena sombong. Sebab, isbal kadang-kadang dilakukan karena sombong dan kadang-kadang tidak karena sombong. Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar telah menunjukkan dengan jelas bahwa isbal yang dilakukan tidak dengan sombong hukumnya tidak haram.

      Atas dasar itu, isbal yang diharamkan adalah isbal yang dilakukan dengan kesombongan. Sedangkan isbal yang dilakukan tidak karena sombong, tidaklah diharamkan. Imam Syaukani berkata, “Oleh karena itu, sabda Rasulullah Saw, ‘Perhatikanlah, sesungguhnya memanjangkan kain melebihi mata kaki itu termasuk kesombongan.’ [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim], harus dipahami bahwa riwayat ini hanya berlaku bagi orang yang melakukan isbal karena sombong. Hadits yang menyatakan bahwa isbal adalah kesombongan itu sendiri —yakni riwayat Jabir bin Salim—harus ditolak karena kondisi yang mendesak. Sebab, semua orang memahami bahwa ada sebagian orang yang melabuhkan pakaiannya melebihi mata kaki memang bukan karena sombong.”

      1. Baca kalimat yang terakhir akhi…
        “Sebab, menelantarkan salah satu hadits Rasulullah bisa dianggap mengabaikan sabda Rasulullah Saw. Tentunya, perbuatan semacam ini adalah haram”.
        Kalian dikaasih hadist Nabi yang shohih, tapi kalian abaikan dan mengambil pendapat orang lain, apakah kalian tidak melakukakan perbuatan haram..?
        Gimana sich ini, fikiran kalian sangat rancu dan belepotan..
        Dan soal isbal ya akhi, kalo emang, di bedakan antara sombong dan tidak sombong, Abdullah Bin Umar, tetap mengangkat pakaiannya melebihi mata kaki. Kalian lebih baik dari Abdullah Bin Umar..?
        Sungguh tak mungkin..!!

    1. Antum mau bukti apalagi akh..? Tidak cukupkah hadist Nabi sebagai petunjuk. Antum mau ingkari hadist Nabi. Jelas sekali bunyi hadist itu kalo Njed yang di maksud adalah Iraq. Antum mau mencari petunjuk siapa lagi. Itu riwayat Imam Muslim. Antum pengikut ingkar Sunnah ya..?

    2. Bukannya yg bilang arah timur adalah iraq itu Salim bin Abdullah bin Umar dan Imam Al-Khaththaby?
      berarti si mubas ini telah menghina Salim bin Abdullah bin Umar dan Imam Al-Khaththaby buta mata dan buat hati donk,,,,,naudzubillah

      @mubas
      apakah itu yg diajarinn habib anda ya akhi….?

    1. “Semua orang saudi itu tau kalau najd itu adalah riadh..” => Hehe,..”najd” yang dibahas disini adalah dalam konteks hadits sebelumnya brur. Dan jawabannya hendaknya merujuk kepada keterangan para ulama yang memahami maksud perkataan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama tersebut. Mungkin orang saudi tidak salah ketika mengatakan, “..najd itu adalah riadh..” atau ketika mereka menyebut wilayah lain selain riyadh yang berada di arah timur tempat mereka. Itu adalah konteks geografis dan sifatnya general, artinya tempat manapun yang berada di wilayah timur dengan letak geografis lebih tinggi itu sah-sah saja jika di sebut najd. Namun yang dibahas disini adalah konteks makna najd yang dimaksudkan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallama dalam haidts diatas.. Meskipun riyadh berada di sebelah timur, namun bukan tempat itu yang dimaksud najd oleh Salim bin Abdullah bin Umar, melainkan pedalaman Iraq. Paham gak ente brur?.. 🙂

  22. Kata : Yaman, Syam, Iraq, Hijaz, Nejd adalah nama-nama wilayah yang sudah lazim dan dikenal.

    Jadi gak mungkin kata Nejd ditakwil dipaksakan menjadi Iraq.

    Kalau ada hadis yang saling bertentangan, maka :
    1. Dikompromikan (selama masih bisa)
    2. Ditarjih (dipilih mana yang lebih kuat)
    3. Dicari asbabul wurud dan urutan waktunya untuk diketahui qarinah kemungkinan yg terakhir menasakh yang pertama.

    Dalam hadis Nejd/Irak sbg tempat timbulnya fitnah dan tanduk setan, tidak diketahui waktu urutan timbulnya hadis, mana yg duluan dan mana yg belakangan, jadi gak bisa dipastikan ada nasakh.

    Dikompromikan masih bisa : dua-dauanya dipakai, sumber fitnah dan tanduk setan dari IRAK dan dari Nejd.

    Ditarjih juga masih bisa : Urutan kualitas kesahihan kitab hadis :
    1. Bukhari 2. Muslim 3. Tirmidzi 4. Abu Dawud 5. Nasai 6. Ibnu Majah (ke-enamnya disebut Khutubus Shittoh)

    Baru yang lain : 7. Ahmad 8. Muwatho’ Malik 9. Ibnu Khuzaimah 10 yg lainnya : Thabarani, Daruquthni, Hakim, dll.

    Sumber fitnah dan tanduk setan dari NEJD yang diriwayat : Bukhari, Tirmidzi, Ahmad jelas lebih kuat dari pada yang menyebutkan sumber fitnah dari IRAK yang diriwayatkan : Ya’qub al-fasawi, mukhollis, al-jurjani, abu nu’aim dan ibnu asakir

    Secara Realita sejarah juga mendukung, dua tanduk setan dari Nejd adalah :
    1. Musailamah Al Khazab, nabi palsu pada masa Khalifah Abu Bakar.
    2. Muh. Bin Abdul Wahab, gembong WAHABI.

    Sedangkan IRAK, disana ada Baghdad, justeru pusat peradaban jaman keemasan Islam.

  23. Sejak Kapan Iraq dinamai Nejd??? sejak kapan lafadz Nejd diganti dengan Iraq?

    Tak bacakan Ulang hadist shohihnya:

    “Dari Ibnu Umar RA, Bahwa Rosulullah SAW bersabda : “Ya Allah, berkahilah syam dan yaman bagi kami”. Mereka memohon: “Najd kami lagi wahai Rosulullah, doakan berkah”. Beliau menjawab:”Ya Allah, berkatilah syam dan yaman bagi kami”. mereka memohon:”Najd kami lagi wahai Rosulullah, doakan berkah”. Beliau menjawab:”Di najd itu tempatnya sesegala kegoncangan dan berbagi macam fitnah. Dan di sana lahir generasi pengikut syetan”.
    (HR Bukhori-979,
    at-Tirmidzi-3888
    dan Ahmad-5715.)

    Menurut Imam Ahmad Zaini dahlan (pernah menjadi mufti makkah),al-Hafidz al-Ghummari, al-Hafidz al-Abdari, NAJD adalah daerah lahirnya muhammad bin abdul wahhab……. ^o^

  24. Terserah antumlah akhi, antum baca dulu komennya Abu Asyraf…
    Di situ jelas kok semuanya bagi yang mau mencari kebenaran..
    Dan satu lagi akh..kenapa antum beranggapan kalo salah satu tanduk setan itu Muhammad Bin Abdul Wahab…?
    Antum punya dalil untuk tuduhan itu..?

  25. bila ditanya apakah betul Ibn Abdulwahhab lahir di Najd, jawabannya betul, karena anda boleh tanyakan dan ziarah ke makamnya, memang di wilayah yg bernama najd.

    dan bila anda bertanya dimana Ibn Abdulwahab dilahirkan, semua penduduk saudi arabia tahu dan jawabannya sama, yaitu najd..

    dan penduduk Najd terkenal kasar kasar ucapannya dan tak bersahabat, penduduk di wilayah itu digelari Najdiy. (orang najd)

  26. Saudara Abu Hanin yang kami hormati,

    Kalau minta dalilnya, kan itu sudah disebutkan berulang-ulang, kenapa masih minta dalil terus? Nah, berangkat dari hadits-hadits tersebut para ulama ahlussunnah mencari faktanya. Yaitu fakta siapa tokoh penyebar fitnah dahsyat di tengah ummat Islam. Adakah yang lebih dahsyat fitnahnya selain fitnah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab? Lihat sejarah yang Obyektif, adakah dalam sejarah fitnah terdahsyat selain yang dilakukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab? Ratusan ribu kaum Muslimin bersimbah darah menjemput maut akibat fitnah yang dibawanya.

    Bahkan fitnah itu terus menyala-nyala di seluruh dunia Islam, di Indonesia, Malaysia, Afganistan, Irak, Pakistan, di mana-mana mereka menyebar isu bid’ah, msyrik, khurafat, TBC, yang kesemua itu menimbulkan fitnah di tengah kaum Muslimin. Kenapa para pengikut Wahabi tidak serta-merta menyadarinya? Jawabnya adalah, Ahmadiyah yang sesat pun masih ngotot mereka lurus. Apalagi Wahabi Salafy yang jelas-jelas memiliki jargon kembali ke Al-Qur’an dan Hadits? Pastilah para pengikutnya akan merasa paling lurus, dan faktanya memang demikian konyol seperti yang diungkap oleh UMMATI PRESS.

  27. orang wahhabi kalau bukan dari fatwa ulamanya sendiri kayaknya masih berhati dongak
    ni tak kasi ulamanya qahhabi sendiri
    semuga wahhabinya bisa baca arab 😀

    FATWA BIN BAZ ulamaNYA wahhabi mengakui KALAU NAJD adalah temasuk najd yang di riadh(najd yamamah)di saudi

    ???? ??? ??? ?????? ?????? ???? ?????? :
    ?? ????? ?????? ??????? ?????? ??????? ????????..
    ?????? ?????? ?? ?????? ??? (6667):
    ?2: ?? ?? ?????? ???? ?????? ???? ?????? ??????? ?? ??? ??????: ?? ??? ???? ?? ??? ??? ??? ???? ???? ??? ???? ???? ???? -??? ?????? ??????- ????: « ??? ?? ?????? ?????? ??? ?? ?????? ?????? ?? ??? ???? ??? ??????? » ?
    ?2: ?????? ??????? ???: ?????? ???? ?? ????? ???? ? ?? ??? ????? ??? ???? ???? ?? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ???: « ??? ????? ??? ?????? (1) » ???: ??? ??? ???? “??? ?????” ??: ????? ?? ??????. ?????.
    ???? ?? ?????? ???? ?? ???: ???: ???? ??????? ???? ? ????? ????? ??? ?????? ??? ????? ?? ???? ?????? (??? ?????)? ????? ????? ???? ?????? ????: ???? ??? ???? ????? ???? ? ??? ????? ????? ?? ???? ??? ??? ??? ??? ??? ???? ???? ????: « ????? ???? ??? ?? ????? ??????? ?????: ??? ????? ?? ???? ????? ???: ????? ??????? ????????? ???? ???? ??? ??????? » (2) ??? ????? ??? ???: « ????? ???? ????? ??? ??? » (3) ???? ?????? ????? ?? ??? ??????? ??? ??????? ??? ??? ?? ??? ????? ????? ????? : ?? ??? ??? ???? ??? ??? ????? ??????? ???? ??? ??? ????? ??? ????? ??? ????? ?????? ?????? ??????: ?? ???? ???? ??? ??? ??? ??? ???? ?????? ??????? ????: ????: ?? ??? ??????? ?? ????? ????? ?? ?????? ???????? ???? ?????? ????? ? ???????? ???? ??? ????? ????? ???? ??? ??????? ??????? ????? ????? ??? ??? ??? ???? ??? ??????? ? ???? ?? ???? ??????? : “???? ??? ?? ??????”? ?????? ??? ??? ??? ????? ????: ????: ????? ????? ????? ??????? ???? ???? ?? ??????. ?????.
    ???? ?????? ?? ??? ???? ??? ???? ??? ???? ???? ????: « ??? ???? ???? ??????? ?? ????? ???? » : ???? ???? ???????: ?????? ????? ????: ??? ????? ?????? ??????? ?????? ?????? ????: ?????? ?? ??????? ??????? ????: ?????? ?????? ????? ?? ???? ??????? ??? ?????? ??? ??? ?? ?????? ?????: « ??? ????? ??? ?????? » ???? ??? ?? ???? ??? ???? ???? ???? ??? ??? ???? ????? ??? ???? ?????? ?? ??????? ??? ???? ??? ??? ???? ????? ???????? ????? ?????? ????? ??????? ??????? ??????? ????? (4) . ?????.
    ??????? ?? ?????? ??? ???? ?????? ?????? ??????? ???????? ??? ??? ???? ?????? ????? ???????? ?? ????? ???? ??????? ?? ??????? ??????? .
    ?????? ???????. ???? ???? ??? ????? ????? ???? ????? ????.

    ?????? ??????? ?????? ??????? ????????
    ??? // ??? // ???? ???? ?????? // ?????? //

    ??? ???? ?? ???? // ??? ???? ?? ????? // ??? ?????? ????? // ??? ?????? ?? ??? ???? ?? ??? /

  28. Ana cuma tanya perkataan siapa kalo dua tanduk setan itu si Musailamah dan satu lagi Muhammad Bin Abdul Wahab…? apa dari Rasul..?
    Ana bisa aja bilang kalo dua tanduk setan itu orang lain. Tidak ada dalilnya kalo itu kedua orang itu.
    Yang berkata hanya para pengikut hawa nafsu, karena kebencian terhadap syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab. Ana orang salafy dan tidak pernah di ajarkan untuk menyakiti manusia. Bom sana, bom sini. Apalagi membunuh sampai ribuan kaum Muslimin.

  29. @Abu Hanin

    Antum bilang: “Ana bisa aja bilang kalo dua tanduk setan itu orang lain. Tidak ada dalilnya kalo itu kedua orang itu.”

    Jawab: Katakan saja kalau memang ada orang lain selain Nabi palsu Musailama n Syekh Abd. Wahab. Kalau kedua tokoh ini memang ada fakta sejarahnya, dll….

    Ayo, katakan menurut versi antum jangan ragu, katakan dengan mantap. Kalau gak ada faktanya pastilah akan segera menguap dihembus angin.

    1. Ada dalil yang nyata gak kalo dua tanduk setan itu Si Musailamah dan Muhammad Bin Abdul Wahab…? Tidak ada akh. Kalo memang salah satu orang itu si Musailamah, pasti para sahabat telah membicarakan tentang Musailamah, bahwa dia salah satu dari dua tanduk setan yang dikatakan Rasul. Ini tidak ada. Hanya cerita dari sejarah tanpa dalil….!!!

    2. ahlus sunnah ga akan bilang si dia dan dia yg dimaksud Nabi tanpa ada dalil yg menguatkan bahwa si dialah yg dimaksud Nabi, karena jika tidak ada dalil yg menguatkannya, itu sama aja kaya suudzon,,,,,

      @jono
      ahli hadis aja ga ada yg mengartikan dua tanduk setan itu adalah musailamah dan abd wahab, tp anda yakin benr kalo dua tanduk setan itu musailamah dan abd wahab, seolah-olah anda sekrng hidup di akhir jaman dan ga mungkin ada lagi org kaya musailamah dan abd wahab,,,,,,
      apa anda yakin di masa yg akan datang ga ada orang seperti musailamah dan abd wahab? sampe2 anda main sradak-sruduk mengartikan sabda Nabi,,,

      sebenrnya yg suka main vonis itu wahabi atau yg anti-wahabi ya?,,,,,,

  30. Adapun riwayat yang menggantikan Masyriq ( arah timur ) kepada Iraq, riwayat ini telah diubah dan tidak shahih. Karena kebanyakkan riwayat mengatakan Masyriq. Adapun penafsiran Salim bin Abudullah bin Umar kepda Iraq adalah salah satu ijtihad beliau yang belum bisa dijadikan pegangan, sebab bukan dari penafsiran Rasulullah s.a.w. Sebagaimana beliau pernah berijtihad untuk melarang para wanita pergi shalat ke masjid sehingga ayah beliau Abdullah bin Umar marah tidak bercakapan dengan beliau sampai Abdullah bin Umar meninggal dunia.[Tolong riwayatnya ya akhi..!
    Seseorang Abdullah Bin Umar tidak mungkin berbuat sehina ini. Karena beliau periwayat hadist dan salah satu sahabat Nabi, tak mungkin dia tidak tahu tentang hadist larangan tidak berbicara dengan saudara sesama muslim lebih dari tiga hari.]

  31. @ mas jono:
    koment mas:
    Kalau minta dalilnya, kan itu sudah disebutkan berulang-ulang, kenapa masih minta dalil terus?
    (kayaknya yang diminta tuh dalil penyebutan nama secara spesifik mas)
    Nah, berangkat dari hadits-hadits tersebut para ulama ahlussunnah mencari faktanya.
    (ulama ahlu sunnah yang mana ya mas??)
    Yaitu fakta siapa tokoh penyebar fitnah dahsyat di tengah ummat Islam. Adakah yang lebih dahsyat fitnahnya selain fitnah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab?
    (ada mas, abdulloh bin saba, dan cikal bakal khowarij yaitu Dzul, baca sejarahnya mas, silahkan bisa dibaca di talbis iblis ibnul jauzy)

    Lihat sejarah yang Obyektif, adakah dalam sejarah fitnah terdahsyat selain yang dilakukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab? Ratusan ribu kaum Muslimin bersimbah darah menjemput maut akibat fitnah yang dibawanya.Bahkan fitnah itu terus menyala-nyala di seluruh dunia Islam, di Indonesia, Malaysia, Afganistan, Irak, Pakistan, di mana-mana mereka menyebar isu bid’ah, msyrik, khurafat, TBC, yang kesemua itu menimbulkan fitnah di tengah kaum Muslimin. Kenapa para pengikut Wahabi tidak serta-merta menyadarinya? Jawabnya adalah, Ahmadiyah yang sesat pun masih ngotot mereka lurus. Apalagi Wahabi Salafy yang jelas-jelas memiliki jargon kembali ke Al-Qur’an dan Hadits? Pastilah para pengikutnya akan merasa paling lurus, dan faktanya memang demikian konyol seperti yang diungkap oleh UMMATI PRESS.
    (kalo mas telah membaca berbagai kitab dari syaikh muhammad, dan sekian banyak syarahnya dengan teliti, dan mencari pemahaman yang benar dibalik nama bid’ah, syirik, khurafat (TBC), dan bagaimana pemahaman manhaj beliau tentang menghukumi kafir, ahli bid’ahmaka saya pastikan mas akan seperti saya yang semula sepakat menuduh syaikh sesat, namun setelah memahami hal2 tersebut alhamdulillah saya mengerti, syaikh dan manhaj beliau ibarat sebuah durian yang kalo dilhat dari luar saja hanya akan menimbulkan keseraman, namun setelah dikupas baru bisa diketahui lezatnya, adapun masalah tuduhan yang mas katakan sebagai penyebab pembunuhan, maka tak ubah seperti sebuah tuduhan dari kaum kafir yahudi dan nashrani bahwa islam adalah agama kasar, agama teroris, hobi bertempur, gemar merampas negeri, dan Rosululloh lah subjek pertama yang mereka tunjuk…demikan adanya…bacalah kitab fitnatu takfir yang ditulis oleh 3 masyaikh zaman kiwari, insya Alloh terjawab segala tuduhan bahwa salafy gemar menyesatkan dan mengkafir2kan orang lain…wallhu musta’an…
    blog saya : :www.abahnajibril.wordpress.com

  32. Nejd di Iraq …
    Bukankah nama lengkap pencetus wahabi sendiri adalah
    Muhammad bin Abd Wahab An Najdi …. Dan jelas diriwayatkan pria ini lahir di daerah Najd ..
    Apa mau bilang kalau Muhammad bin and Wahab lahir di Iraq ??
    Bukankah nama2 daerah seperti syam, yathrib, Najd,Iraq, Hijaz, Nejd adalah nama-nama wilayah yang masing2 lokasinya sudah lazim dan dikenal sejak dahulu kala .. dan masing2 dikenal dgn ciri khas budayanya sehingga tidak mungkin ada salah pengertian ttg masing2 daerah tsb …
    Lalu bagaimana caranya kalangan pengikut Muhammad bin abd Wahab bisa memberikan versi baru pengertian Najd sebagai Iraq ??

    1. Yang bialng Njed adalah Irak bukan pengukut Muhammad Bin Abdul Wahab ya akhi, tapi Salim Bin Abdullah Bin Umar dan juga ada hadist yang lain akhi…
      Baca dulu semua komen di atas sebelum berbicara ya akhi, biar antum ngomong gak memalukan diri antum///

    2. Nejd di Iraq…
      Bukankah nama lengkap pencetus wahabi sendiri adalah
      Muhammad bin Abd Wahab An Najdi …. Dan jelas diriwayatkan pria ini lahir di daerah Najd…

      itu mah namanya tafsiran ‘cok-galicok’, digali-gali smpe cocok, ngpas2in aja,,,,,,

      Lalu bagaimana caranya kalangan pengikut Muhammad bin abd Wahab bisa memberikan
      versi baru pengertian Najd sebagai Iraq ??

      itu brdasarkan penafsirannya para Ahlus Sunnah terdahulu mas trmsuk salah satunya adalah Salim, anak Ibnu Umar radhiyallahu a’nhu,,,,,
      Imam Muslim dalam Shahihnya 2905 meriwayatkan dari Ibnu Fudhail dari ayahnya, dia berkata, ”Saya mendengar ayahku Salim bin Abdullah bin Umar berkata:
      ??? ?????? ??????????! ??? ???????????? ???? ????????????? ?????????????? ???? ?????????????, ???????? ?????? ?????? ????? ???? ?????? ???????? : ???????? ???????? ????? n ???????? : ????? ??????????? ???????? ???? ??? ????? ?????????? ???????? ?????? ???????????, ???? ?????? ???????? ?????? ????????????
      “Wahai penduduk Iraq ! Alangkah seringnya kalian bertanya tentang masalah-masalah sepele dan alangkah beraninya kalian menerjang dosa besar! Saya mendengar ayahku Abdullah bin Umar mengatakan, ”Saya mendengar Rasulullooh -shallalloohu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ’Sesungguhnya fitnah datangnya dari arah sini –beliau sambil mengarahkan tangannya ke arah timur–, dari situlah muncul tanduk setan….’”
      Riwayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa maksud ”arah timur” adalah Iraq sebagaimana dipahami oleh Salim bin Abdullah bin Umar.

      Al-Khaththabi berkata dalam I’lam Sunan 2/1274, ”Nejed : arah timur. Bagi penduduk kota Madinah, Nejednya adalah Iraq dan sekitarnya. Asli makna ’Nejed’ adalah setiap tanah yang tinggi, lawan kata dari ’Ghaur’ yaitu setiap tanah yang rendah seperti Tihamah (sebuah kota di Makkah–pen) dan Makkah. Fitnah itu muncul dari arah timur dan dari arah itu pula keluar Ya’juj dan Ma’juj serta Dajjal sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits.”
      Demikian pula dijelaskan oleh para ulama lainnya seperti:
      1.al-‘Aini dalam Umdatul Qari 24/200,
      2.al-Kirmani dalam Syarh Shahih Bukhari 24/168,
      3.al-Qashthalani dalam Irsyad Sari 10/181,
      4.Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 13/47,

      jadi, nejd=Iraq itu bukannya pngertian baru mas,,,,,,,,,,

  33. Lha memang banyak hadits yang menyebutkan bahwa munculnya tanduk syetan adalah Iraq mau gimana lagi? apakah kita mesthi komplen ke Baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam soal ini? Naudzubillahi min dzalik.

    1. Mereka gak komplein akh….
      Mereka hanya kurang yakin kalo Nabi Muhammad itu Rasul, makanya mereka cari pendapat lain……
      Wkwkwkwkwkwkwkwkwkw…

  34. Wkwkwkwkwkwkwkwk…..
    Kalo antum mau memperbandingkan..
    Antum baca link dari Abahnajibril akh,,,,
    Jelas hadist-hadist dan riwayatnya, di banding link punya antum, tanpa riwayat sama sekali….Afwan ana ketawa, habis antum ngasih pembandingnya gak kuat sich….

  35. Saudaraku yg kumuliakan,
    1. hadits itu sebagaimana sabda Rasulullah saw :
    “Wahai Allah berkahilah wilayah Yaman kami dan wilayah Syam kami”

    lalu mereka berkata : dan juga untuk wilayah Najd kita wahai Rasulullah..!

    Rasul saw berdoa lagi : “Wahai Allah berkahilah wilayah Yaman kami dan wilayah Syam kami”

    lalu mereka berkata lagi : dan juga untuk wilayah Najd kita wahai Rasulullah..!,

    Rasul saw menjawab : “Disitulah goncangan, fitnah, dan disanalah terbitnya tanduk syaitan”
    (Shahih Bukhari hadits no.990)

    2. menurut para ulama kita bahwa memang anggapan para muhaddits Najd adalah iraq, karena saat itu belu terjadi apa apa, namun setelah kelahiran faham wahabi ini maka jelaslah sudah apa yg dimaksud nabi saw adalah Najd tempat kelahiran Ibn Abdulwahab, sebab para muhaddits belum menemukan fitnah yg demikian dahsyatnya sebagaimana faham wahabi ini. namun Nabi saw mengabarkan hal itu.

    3. pendapat yg mu’tamad pada ulama ulama kita adalah bahwa nabi saw tak mau mendoakan Najd, karena Nabi saw memahami bahwa Allah telah menghendaki fitnah muncul dari wilayah itu.
    sungguh tempat kelahiran Ibn Abdulwahhab adalah di wilayah yg di kenal dg nama Najd, penduduk disana digelari dengan najdiy (orang najd).

    mengenai pendapat para muhadditsin, sungguh terdapat ikhtilaf mengenai posisi Najd ini, saya tidak berkenan menyebutkannya karena akan menjadi perdebatan yg tak berguna.

    bila ditanya apakah betul Ibn Abdulwahhab lahir di Najd, jawabannya betul, karena anda boleh tanyakan dan ziarah ke makamnya, memang di wilayah yg bernama najd.

    Ibn Abdulwahhab tertuduh sebagai pemimpin gerakan wahabi, namun ada juga sangkalan bahwa justru abdulwahab tidak demikian, gerakan yg dinamai wahabi ini adalah perbuatan murid muridnya.

    walhasil

    saya tak mau membahas mengenai aib pribadi Ibn Abdulwahab dalam forum ini untuk diperdebatkan, apakah betul ia pencetusnya atau bukan, karena yg perlu kita luruskan adalah ajaran wahabi yg banyak penyimpangan, mengenai siapapun pencetusnya, bukan itu tujuan kita untuk membahasnya.

    bila betul dia pencetusnya maka apa perlunya kita membahasnya?, malah kita kebagian dosanya karena telah meng Ghibahnya, bila ternyata bulan dia pencetus ini semua, maka kita telah kena dosa memfitnahnya.

    tujuan kitan adalah perbaikan akidah muslimin yg bergetar dalam keraguan dengan kemunculan faham wahabi ini.

    demikian saudaraku yg kumuliakan, mohon maaf bila anda merasa saya menuduh Ibn Abdulwahhab adalah yg dimaksud dalam hadits itu, tidak demikian maksud saya, karena dalam hal ini adalah ikhtilaf para muhadditsin..

    sumber :http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=7&id=5759#5759

  36. 2. menurut para ulama kita bahwa memang anggapan para muhaddits Najd adalah iraq, karena saat itu belum terjadi apa apa, namun setelah kelahiran faham wahabi ini maka jelaslah sudah apa yg dimaksud nabi saw adalah Najd tempat kelahiran Ibn Abdulwahab, sebab para muhaddits belum menemukan fitnah yg demikian dahsyatnya sebagaimana faham wahabi ini. namun Nabi saw mengabarkan hal itu.
    Afwan akh ana tanya…:
    Sekarang udah mau kiamat ya..? Apa antum yakin gak ada lagi manusia seperti syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab bahkan lebih dari Syaikh yang bisa menimbulkan fitnah seperti yang antum tuduhkan…?
    Apa Rasul menyebut salah satu tanduk setan itu Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab…?
    Antum punya dalil untuk itu..?
    Berani sekali antum mengartikan sabda Nabi, kayak gak ada lagi manusia yang lahir dari Najd yang bisa menimbulkan fitnah.

  37. “Menurut para ulama kita bahwa memang anggapan para muhaddits Najd adalah iraq, karena saat itu belu terjadi apa apa, namun setelah kelahiran faham wahabi ini maka jelaslah sudah apa yg dimaksud nabi saw adalah Najd tempat kelahiran Ibn Abdulwahab, sebab para muhaddits belum menemukan fitnah yg demikian dahsyatnya sebagaimana faham wahabi ini. namun Nabi saw mengabarkan hal itu.”

    ————————————————————————-

    Sedikit komentar saja dari saya :

    Terlihat jelas sekali disitu bahwa pak habib secara tidak langsung telah mengakui bahwa tafsiran (pemahaman) yang menyebutkan arah timur adalah Nejd tempat lahirnya Syaikh Muhammad merupakan tafsiran yang baru muncul belakangan yang tidak pernah dikenal sebelumnya di zaman Sahabat, generasi Tabi’in, Imam Madzhab, serta Ulama-Ulama Ahlus Sunnah terdahulu lainnya.

    Sekedar gambaran sederhana dari saya,

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir sekitar awal abad ke-17 dan wafat sekitar akhir abad ke-17, sehingga kemungkinan besar pertama kali munculnya tafsiran yang menyebutkan bahwa arah timur adalah Nejd tempat lahirnya Syaikh adalah awal-awal abad ke-18 dan terus berkembang hingga abad ke-19.

    Sehingga bisa kita tarik kesimpulan bahwa tafsiran yang menyebutkan arah timur yang dimaksud Rasulullah adalah Nejd tempat lahirnya Syaikh Muhammad itu bisa dibilang baru muncul kurang lebih sekitar 12 abad setelah Rasulullah wafat, yang artinya bahwa tafsiran semacam itu tidak pernah dikenal di zaman Sahabat, generasi Tabi’in, Imam Madzhab, serta Ulama-Ulama Ahlus Sunnah lainnya.

    Maka dari itu, saya disini ingin mempersilahkan kepada saudara muslim untuk memilih, apakah saudara ingin mengikuti tafsiran bahwa Nejd adalah Iraq sebagaimana yang ditafsirkan oleh para Salafush Shalih terdahulu seperti Salim bin Abdullah bin Umar atau tafsiran arah timur adalah Nejd (tempat lahirnya Syaikh) yang kemungkinan tafsiran tsb baru muncul pada abad ke-18 jauh setelah Rasulullah wafat.

    Waallahu ‘alam……..

  38. ????? ????? ?? ??? ??????? ??? ??????? ?? ????? ??? ???? ???? ?? ??? ???? ?? ??? ?? ???? ?? ???? ?? ??? ??? ?? ????? ??? ???? ???? ???? ??? ????? ???? ??? ?? ?????? ????? ???? ?? ?????? ?????? ??????? ???? ??? ?? ??????? ?? ???????? ????? ?? ???? ????! ??? ??????? ??? ??? ??? ??????? ??????? ???? ???? ??? ???????

    Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al-Ma’mariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismaail bin Mas’ud yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun dari ayahnya, dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan pada Yamaan kami”. Beliau [shallallaahu ‘alaihi wa sallam ] mengatakannya beberapa kali. Ketika beliau mengatakan yang ketiga kali atau yang keempat, para shahabat berkata “Wahai Rasulullah, dan juga Iraq kami?”. Beliau bersabda “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [Mu’jam Al Kabiir Ath Thabrani 12/384 no 13422].

    Hadis ini tidak shahih. Hadis ini mengandung illat [cacat] Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun dalam periwayatan dari Ibnu ‘Aun telah menyelisihi para perawi tsiqat yaitu Husain bin Hasan [At Taqrib 1/214] dan ‘Azhar bin Sa’d [At Taqrib 1/74]. Kedua perawi tsiqat ini menyebutkan lafaz Najd sedangkan Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun menyebutkan lafaz Iraq. Ubaidillah bukan seorang yang tsiqat, Bukhari berkata “dikenal hadisnya” [Tarikh Al Kabir juz 5 no 1247], Abu Hatim berkata “shalih al hadits” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/322 no 1531] dimana perkataan shalih al hadits dari Abu Hatim berarti hadisnya dapat dijadikan i’tibar tetapi tidak bisa dijadikan hujjah. Jika perawi seperti Ubadilillah ini menyelisihi perawi yang tsiqat maka hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah dan mesti ditolak.

    Pernyataan bahwa hadis Ubadilillah tidak bertentangan melainkan menafsirkan hadis Najd sehingga Najd yang dimaksud adalah Iraq merupakan pernyataan yang bathil. Najd adalah Najd sedangkan Iraq adalah Iraq. Najd yang dimaksud dalam hadis tanduk setan adalah nama suatu negeri yang memang sudah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh karena itu para sahabat menyebutnya “Najd kami”. Lihat saja matan hadisnya yang dengan jelas menyebutkan Negeri Syam dan Yaman kemudian sahabat bertanya bagaimana dengan Najd kami, jadi Najd disini adalah nama suatu negeri. Pada zaman itu tidak ada yang menyebut Iraq sebagai Najd bahkan telah terbukti dengan dalil shahih bahwa Najd dan Iraq adalah dua tempat yang berbeda. Jadi menyatakan Najd adalah Iraq jelas tidak berdasar sama sekali.
    ????? ??? ?? ???? ??? ?? ???? ?? ??????? ?? ???? ??? ?? ??? ??? ?? ???? ?? ???? ??? ?? ???? ?? ??? ???? ?? ??? ?? ???? ??? ??? ????? ??? ???? ???? ? ??? ???? ????? ?? ????? ????? ??? ????? ???? ????? ???? ??? ?? ??????? ????? ??? ?? ???? ?????? ????? ???? ??? ?? ????? ?????? ???? ??? ??????? ?? ???? ???? ???? ?? ??? ????? ???? ??? ?? ??????? ????? ??? ?? ???? ?????? ????? ???? ??? ?? ????? ????? ??? ?? ????? ?????? ???? ??? ??????? ?? ???? ???? ??? ?? ?? ???? ??? ??????? ????? ?????

    Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id yang berkata telah menceritkankepada kami Hammaad bin Ismaa’iil bin ‘Ulayyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah mencertakan kepada kami Ziyaad bin Bayaan yangberkata telah menceritakan kepada kami Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar dari ayahnya yang berkata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat shubuh, kemudian berdoa, lalu menghadap kepada orang-orang. Beliau bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau diam, lalu bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami berikanlah keberkatan kepada kami pada mudd dan shaa’ kami. Ya Allah, berikanlah keberkatan kepada kami pada tanah Haram kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Syaam kami dan Yaman kami”. Seorang laki-laki berkata “dan ‘Iraq, wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda “dari sana akan muncul tanduk setan dan bermunculan fitnah” [Mu’jam Al Awsath Ath Thabraani 4/245 no 4098].

    Hadis ini tidak shahih. Hadis ini juga mengandung illat [cacat]. Ziyaad bin Bayaan dikatakan oleh Adz Dzahabi “tidak shahih hadisnya”. Bukhari berkata “dalam sanad hadisnya perlu diteliti kembali” [Al Mizan juz 2 no 2927] ia telah dimasukkan Adz Dzahabi dalam kitabnya Mughni Ad Dhu’afa no 2222 Al Uqaili juga memasukkannya ke dalam Adh Dhu’afa Al Kabir 2/75-76 no 522. Perawi dengan kedudukan seperti ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika ia meriwayatkan kabar yang menyelisihi kabar shahih kalau daerah yang dimaksud adalah Najd bukan Iraq sebagaimana yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Nafi’.
    ????? ???? ?? ??? ?????? ?????? ????? ???? ?? ????? ?? ??? ???? ?? ???? ??????? ?? ???? ?? ??? ??? ??? ??? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ????? ???? ??? ?? ??????? ??? ?????? ??? ?????? ??? ????? ??? ?????. ???? ????? ?? ???? ???? ??? ?????? ? ???? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ??? ??????? ??????? ????? ???? ??? ???????

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Aziiz Ar Ramliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbariy dari Salim dari Ibnu ‘Umar yang berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [ Ma’rifah Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/746-747]

    Pada tulisan sebelumnya kami menganggap tidak ada masalah pada sanad hadis ini kecuali Taubah Al Anbary yang dikenal tsiqat tetapi dinyatakan mungkar al hadits oleh Al Azdy. Setelah kami teliti kembali ternyata hadis ini juga mengandung illat [cacat] yaitu Ibnu Syaudzab tidak mendengar hadis ini dari Taubah Al Anbary, ia melakukan tadlis yaitu menghilangkan nama gurunya yang meriwayatkan dari Taubah Al Anbary.

    Hadis dengan matan seperti di atas diriwayatkan juga dari Walid bin Mazyad Al Udzriy Al Bayruuti dari Abdullah bin Syaudzaab dari Abdullah bin Qasim, Mathr, Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbary dari Salim dari ayahnya secara marfu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Al Fasawi dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/747, Ath Thabrani dalam Musnad Asy Syamiyyin 2/246 no 1276, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 1/130-131 dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 6/133.
    ????? ??? ???? ?? ?????? ?? ?????? ?? ???? ???????? ????? ??? ?????? ??? ????? ??? ???? ?? ???? ????? ??? ???? ?? ?????? ???? ?????? ????? ??? ??? ?? ???? ??????? ?? ???? ?? ??? ???? ?? ??? ?? ???? ?? ???? ???? ??? ???? ???? ? ??? ??? ????? ???? ?? ????? ????? ??? ?? ??????? ????? ??? ?? ????? ????? ??? ?? ????? ????? ???? ??? ?? ????? ????? ??? ?? ???? ???? ??? ?? ???? ???? ??????? ????? ??? ?????? ????? ???? ??? ????? ???? ??????? ????? ??? ?? ??? ??? ??????? ?????? ????? ???? ??? ???????

    Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ‘Abbas bin Walid bin Mazyad Al Bayruutiy yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Syawdzab yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Qasim, Mathr Al Waraaq dan Katsir Abu Sahl dari Taubah Al Anbariy dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ya Allah berikanlah keberkatan kepada Mekkah kami, dan berikanlah keberkatan kepada kami pada Madinah kami, pada shaa’ kami, pada mudd kami, pada Yaman kami, dan pada Syaam kami”. Seorang laki-laki berkata “Wahai Rasulullah, dan pada ‘Iraaq kami ?”. Beliau menjawab “di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula akan muncul tanduk setan” [Musnad Asy Syamiyyin Thabrani 2/246 no 1276]

    Dengan mengumpulkan semua hadis riwayat Ibnu Syaudzab maka diketahui kalau Ibnu Syaudzab terbukti melakukan tadlis. Riwayatnya dari Taubah Al Anbary dengan ‘an ‘anah ternyata ia dengar dari Syaikhnya Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl. Ada sedikit perbedaan lafaz antara riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary dan riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya dari Taubah Al Anbary yaitu pada riwayat dimana Ibnu Syawdzab menyebutkan mendengar langsung dari Syaikhnya terdapat lafaz “ya Allah berilah keberkatan pada Mekkah kami” sedangkan pada riwayat an ‘an ah Ibnu Syaudzab dari Taubah Al Anbary tidak terdapat lafaz tersebut.

    Illat atau cacat yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab adalah tidak diketahui dari syaikhnya yang mana lafaz Iraq tersebut berasal. Disini terdapat kemungkinan

    * Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga Syaikhnya yaitu Abdullah bin Qasim, Mathr dan Katsir Abu Sahl dimana ketiganya memang menyebutkan lafaz “Iraq”.
    * Ibnu Syawdzab mendengar langsung dari ketiga syaikhnya dimana lafaz Iraq tersebut hanya berasal dari salah satu Syaikhnya sehingga disini Ibnu Syawdzab menggabungkan sanad hadis tersebut dan matan hadis yang berlafaz Iraq berasal dari salah satu syaikhnya.

    Terdapat kemungkinan kalau riwayat Ibnu Syawdzab dengan lafaz Iraq ini berasal dari Mathar bin Thahman Al Warraq dan disebutkan Ibnu Hajar kalau ia seorang yang shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan [At Taqrib 2/187]. Abu Nu’aim ketika membawakan riwayat Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary, ia berkata
    ??? ???? ???? ?? ??? ???? ?? ???? ????? ?????? ?? ???? ?? ??? ???? ?? ??? ?? ????

    Begitulah riwayat Dhamrah dari Ibnu Syawdzab dari Taubah dan telah meriwayatkan Walid bin Mazyad dari Ibnu Syawdzab dari Mathr dari Tawbah [Hilyatul Auliya 6/133]

    Setelah itu Abu Nu’aim mengutip riwayat Ibnu Syawdzab dari ketiga syaikhnya di atas. Jadi kemungkinan besar lafaz Iraq pada hadis ini berasal dari Mathr bin Thahman. Dan telah ditunjukkan bahwa riwayat yang tsabit sanadnya adalah riwayat shahih dari Nafi’ dengan lafaz Najd. Oleh karena itu matan hadis ini mungkar lafaz yang benar hadis ini adalah Najd dan lafaz Iraq kemungkinan berasal dari kesalahan perawinya yaitu Mathr bin Thahman syaikhnya Ibnu Syawdzab.

  39. ????? ??????? ?? ??? ?? ???? ????? ?? ????????? ????? ?? ??? ??????? ( ?????? ???? ???? ) ????? ????? ??? ???? ?? ???? ??? ???? ???? ?? ??????? ?? ??? ???? ?? ??? ?????? ?? ?????? ?? ??????? ??????? ??????? ???? ??? ??????? ?? ??? ???? ???? ???? ???? ??? ???? ???? ? ??? ???? ?? ?????? ??? ?? ???? ????? ???? ??? ?????? ?? ??? ???? ???? ??????? ????? ???? ????? ???? ??? ????? ??? ???? ???? ??? ?? ?? ????? ??? ???? ???? ?? ? ?? ?? { ????? ???? ??????? ?? ???? ?????? ????? } [ 20 / ?? / 40 ] ??? ???? ?? ??? ?? ?????? ?? ???? ?? ??? ????

    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdul A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al Wakii’iy [dan lafaznya adalah lafaz Ibnu Abaan] ketiganya berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya yang berkata Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Thaahaa: 40]”. Berkata Ahmad bin Umar dalam riwayatnya dari Salim tanpa mengatakan “aku mendengar”[Shahih Muslim 4/2228 no 2905].

    Jika dilihat baik-baik tidak ada penunjukkan bahwa timur yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Iraq. Disini Salim bin Abdullah bin Umar mengingatkan penduduk Iraq bahwa terdapat hadis Nabi akan ada fitnah yang datang dari arah timur. Oleh karena itu Salim memberi peringatan kepada penduduk Iraq agar mereka tidak menjadi fitnah yang dimaksud dalam hadis tersebut. Telah lazim kalau mengingatkan seseorang bukan berarti menuduh orang tersebut. Lagipula perkataan seorang tabiin tidaklah menjadi hujjah jika telah jelas dalil shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Bisa jadi Salim tidak mengetahui hadis shahih dari Ibnu Umar kalau tempat yang dimaksud adalah Najd sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Nafi’.

    Hadis ini juga menjadi bukti kelemahan hadis Ibnu Syawdzab dari Taubah Al Anbary. Perhatikanlah hadis riwayat Muslim tersebut ia menggabungkan sanad hadis dimana ia mengambil hadis tersebut dari ketiga syaikhnya yaitu Abdullah bin Umar bin Aban, Washil bin Abdul A’la dan Ahmad bin Umar. kemudian meriwayatkan dengan satu matan yang ada lafaz “wahai penduduk Iraq”. Lafaz ini berasal dari Abdullah bin Umar bin Aban sedangkan pada riwayat Washil bin Abdul A’la tidak ada lafaz tersebut.
    ????? ???? ?? ??? ?????? ?????? ????? ??? ???? ?? ???? ?? ???? ?? ??? ??? ??? ???? ???? ???? ??? ???? ???? ? ??? – ???? : ?? ?????? ???? ?? ?? ??? ????? ???? ??? ?????? ??? ???? ??? ??????? ????? ???? ????? ??? ???? ??? ????? ??? ???? ???? ??? ?? ?? ????? ??? ??? ???? ?? : { ????? ???? ??????? ?? ???? ?????? ????? }

    Telah menceritakan kepada kami Washil bin Abdul A’la Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari ayahnya dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini ia menunjukkan tangannya ke arah timur dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” [Musnad Abu Ya’la 9/383 no 5511 dishahihkan oleh Husain Salim Asad]

    Jadi perkara perawi menggabungkan sanad para syaikh-nya dengan mengambil satu matan saja dari salah satu syaikh-nya adalah perkara yang ma’ruf dalam ilmu hadis. Jika semua syaikh-nya itu perawi yang tsiqat tsabit maka tidak ada masalah tetapi jika salah satu syaikh-nya dhaif atau banyak melakukan kesalahan maka lafaz matan tersebut mengandung kemungkinan dhaif. Inilah illat [cacat] yang ada pada riwayat Ibnu Syawdzab.

    Selain itu bukti kalau hadis dengan lafaz Iraq [riwayat Ibnu Syawdzab] tidak tsabit sampai ke Salim bin ‘Abdullah dapat dilihat dalam hadis Muslim di atas dimana ketika Salim mengingatkan penduduk Iraq, ia malah membawakan hadis tanduk setan dengan lafaz timur. Kalau memang terdapat hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq maka mengapa pada saat itu Salim bin Abdullah bin Umar tidak menyebutkan hadis itu, ia malah menyebutkan hadis tanduk setan dengan lafaz timur. Bukankah sangat cocok kalau mau mengingatkan penduduk Iraq dengan hadis yang memang mengandung lafaz Iraq?. Jadi Salim sendiri tidak mengetahui adanya hadis tanduk setan dengan lafaz Iraq sehingga ketika ia mengingatkan penduduk Iraq, ia malah mengutip hadis tanduk setan dengan lafaz timur.

  40. Wah, lengkap nih penjelasannya, semoga Yusuf Ibrahim segera bertobat sehingga setan-setann yang bertengger di hatinya pada nangis sehingga kurus kering.
    Selama ini pasti setannya gemuk and subur karena senang melihat Tingkah-Polah si Yusuf Ibrahim yang sok Pintar Agama sehingga Imam Syafi’i juga dianggapnya sebagai Ahli Bid’ah! Pasti senang tuh setannya dan terus bertepuk tangan memberi semangat kepada Yusuf Ibrahim….

    1. “Tingkah-Polah si Yusuf Ibrahim yang sok Pintar Agama sehingga Imam Syafi’i juga dianggapnya sebagai Ahli Bid’ah!…..”

      ————————————-

      bisa tolong ditunjukan, dibagian mana dari kata-kata saya yang menggambarkan bahwa saya telah menganggap Imam Syafi’i sebagai Ahli Bid’ah?

      1. he…he…. @ Wong ko Lutan Yusuf Ibrahim gak salah kok……dia kan cuma nerusin ilmu dari IMAM IMAMNYA dia jadi wajar kalo merasa lebih tau masalah islam …..TBC adalah peluru dari mereka ……coba aku jadi pengin tau komen yusuf Ibrahim artikel di blog ini yang Wahabi merubah tempat Sai ibadah haji ……ada dalih apa dgn BIDAH tsb …..

  41. Yusuf Ibrahim @

    ente sering dalam blog ini membid’ahkan kaum muslimin yang mengikuti adanya bid’ah hasanah. Atau jelasnya ente menganggap tidak adanya bid’ah khasanah, padahal yang bilang adanya bid’ah khasanah adalah Imam Syafi’i, juga Syayyidina Umar bin Khottob sahabt Nabi, juga banyak Imam-imam yang lain seperti Imam Nawawi, mereka bilang ada bid’ah khasanah. Kemudian ente bilang tidak ada bid’ah khasanah. Apa ini artinya? Berarti Otomatis ente menganggap Imam Syafi’i dan Imam-imam yang lain sebagai ahli bid’ah! Kok enggak sadar sih…??!!! Kok nggak merasa sih???!!!

    1. yang bilang setiap bid’ah (dalam hal agama) itu sesat adalah Rasulullah dan para Sahabat mas, bukan saya !

      Rasulullah bersabda,
      “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

      “Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578)

      Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
      “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

      Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
      “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

      saya tidak ingin berlarut-larut lagi menjelaskan apa itu bid’ah,

      orang-orang di blog ini yang mendukung bid’ah hasanah saja tidak pernah saya katai “ahlu bid’ah” ! apalagi mengatakan Umar dan Imam Syafi’i sebagai ahlu bid’ah, kalau saja saya sudah menganggap Umar dan Imam Syafi’i sebagai ahlu bid’ah, maka anda dan teman-teman anda pastinya sudah habis saya kata-katai “si A ahlu bid’ah”, “si B ahlu bid’ah”, dan “si Fulan Ahlu bid’ah” semuanya. Maka dari itu, tuduhan anda tsb tidak lain hanyalah prasangka saja !

      “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa…..” (Q.S Al-Hujaraat: 12)

      “Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” (Q.S An-Nisa’ : 112)

      “Barangsiapa yg menuduh seorang muslim secara dusta, maka Allah akan menempatkannya di tanah lumpur neraka sehingga dia mencabut ucapannya.” (H.R Abu Dawud : 3597, Ahmad 11/70, al-Hakim dalam al-Mustadrak 11/27 dan beliau menshahihkannya)

      1. Yusuf Ibrahim @

        Kamu bilang: “yang bilang setiap bid’ah (dalam hal agama) itu sesat adalah Rasulullah dan para Sahabat mas, bukan saya !”

        Baiklah kalau ente bilang begitu. Saya tanya nih, Syayyidina Uma bin Khattab itu Sahabat Nabi apa bukan? Ente sudah tahu beliau bilang apa tentang bid’ah? Beliau bilang ada bid’ah khasanah! Terus kalau kemudian Imam Syafi’i dan para Imam yang lain bilang Bid’ah ada yang Bid’ah Khasanah berarti Imam Syafi’i CS melawan Rasulullah? Berarti otomatis Imam Syafi’i Ahli Bid’ah jika ente berpegang dalih seperti itu! Masih belum menyadarinya ya?

        Ketahuilah saudaraku Yusuf Ibrahim, Nabi kita bersabda tentang bid’ah itu banyak sekali, yang mana dari hadits-hadits itu oleh para Salafuna shalih disinkronkan, dan itulah yang dilakukan oleh Imam Syafi’i Cs, dan juga oleh Syayyidina Umar. Makanya dari sini muncul bid’ah Khasanah yang pertamakali dimunculkan oleh beliau Syayyidina Umar, apakah Syayyidina salah menurut ente? Ingat belia adalah sosok sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, dan Sunnah beliu bisa dijadikan pegangan hukum agama. Ingat ini saudaraku Yusuf Irahim….

        Tapi terserah saja jika ente masih bersikeras dengan pendapat ente. Saya tahu kok hampir mustahil merubah pandangan seperti itu. Cuma yang perlu saya tanyakan kembali, yang salah itu cara pemahaman ente atau cara pemahaman para Imam itu dan Syayyidina Umar yang salah?

        Tolong jawab yang jujur sesuai hati nurani jangan berdasar taklid buta kepada pemahaman Wahabi yang terbukti menimbulkan fitnah di tengah dunia Islam!

      2. @ yusuf ibrahim bagaimana komen anda dgn penguasa ARAB SAUDI yang merubah tempat SAI dalam IBADAH haji ?????? apa tu termasuk BID AH ?????? BACA artikel baru cari dalilnya

      3. dalil yang yusuf ibrahim bawakan ga ada yang salah, cuma mahamin nya keliru, coba fahami yang bener him biar ummat islam indonesia cinta wahabi/salafi, kalo akurkan enak him ok ?

  42. Yang punya blog ini pasti suka yasinan, tahlilan, peringantan kematian 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari…. ngejiplak umat budha ….. gk usah ngeyel,, ngaku saja …

    1. @imam widodo

      Yang punya blog ini pasti suka yasinan, tahlilan, peringantan kematian 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari…. ngejiplak umat budha ….. gk usah ngeyel,, ngaku saja
      ————————
      coba ente sebutkan dikitab budha (tripitaka) mana…dan halaman berapa tertera peringatan 7,40,100 hari berikut 100
      begitu pula di kitab veda mana yg tsb ada…Rig Weda,Yajur Weda,Sama Weda,Atharwa Weda,atau di kitab2 purana nya…? coba ente sebutkan halaman nya,
      jangan asal sebut kang..

    2. @ Imam Widodo …..kalau ya amalan itu di praktekan emang knapa ?????? kalau nt ngga suka terus mau apa ???? klau soal ngejiplak maaf ….itu kan KATANYA KATANYA …..manaaaaaaa buktinya ????

    3. Imam Widodo sukur jeplak tuh jawab pertanyaan kang Gondrong tau kalo bisanya cuma jeplak bikin mazhab aja Al-widododiyah ente jadi imamnya

  43. Imam Widodo@

    Ente kalau gak ada ilmu jangan komentar. Lihat tuh Yusuf Ibrohim sudah tobat, kapan kamu nyusul, jangan keburu mati belum sempat tobat dari paham keislaman Wahabi. Maaf cuma mengingatkan aja…. jangan ikut-ikutan menganggap Imam Syafi’i sebagai AHLI BID’AH!

    1. Biar pun terpecah-belah Ummat Islam ini yang paling penting itu jangan masuk ke firqah Wahabi. Kamu-kamu akan ketipu jargon kembali ke Al-Qur’an Sunnah hanya sebatas jargon di mulut saja. Prakteknya full fitnah kepada para Ulama Salafuna Shalih, lihat pemahaman gaya Wahabi secara otomatis memvonis Ahli Bid’ah kepada Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Ibnu hajar Al-astqalani dan ratusan bahkan ribuan Ulama yang menjadi mata rantai (sanad) Imam-imam Mu’tabar Salafuna Shalih tersebut. Para pengikut paham Wahabi nggak sadar kena kibul jargon keren kembali ke Al-Qur’an and Sunnah.

  44. atau bisa cari kata2 NAJD di searching situs W.W.W.YUFID.COM

    enak, murah, cepat dan lumayan buat baca2 dan belajar dan membanding-bandingkan

  45. andre @ Itulah bukti kalau Wahabi disebut kaum dungu kuadrat. Kalu yng ngomong imamnya, walau salah ya diikuti aza, kalau imamnya menuju neraka juga akan dikintili aza, namanya juga kaum dungu?

  46. Pengikut Salafy Wahabi sampai kapan pun akan terkungkung dalam kejumudan. Kecuali mereka mau berlega hati mencari informasi selain dari Salafy Wahabi. Sayangnya mereka diproteksi oleh doktrin agar jangan mendengarkan informasi dari ahli bid’ah. Selain Salafy Wahabi adalah ahli bid’ah jika dipandang dari sudut pandang mereka.

  47. So’al Najd ada di Bang Abu Dzaky….. Silahkan masuk di sini, infonya lebih lengkap. Kalau yg di situ tentang Maulid, jadi tidak tempatnya, biar tertib ya? Kecuali jika masalah Nejd belum ada dibahas di sini, Oke Bang?

  48. @ Wong Ko Lutan :

    itu syarah haditsnya dari siapa….?

    Ulama Muhadditsin mutaqaddimin memahami bahwa najd yang dimaksud adalah Iraq jauh sebelum kelahiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah

    Para habib antum pun tahu akan hal itu, bahwasannya ulama muhaddits mutaqaddimin memahami bahwa najd yang dimaksud adala iraq, coba amtun seacrh di situs majelis rasullullah tentang topik :Hadis masalah Najd (tanduk setan)

    Pada hadits yang saya kutip pun secara jelas bahwa Salim bin Abdullah bin Umar telah menjelaskan, tentang hadits fitnah tanduk syaitan tersebut kepada penduduk iraq

    Juga fakta yang mungkin antum juga setuju ini adalah tragedi yang besar yaitu munculnya kaum khawarij di Irak yang membunuh amirul mukminin Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Tahlib Radhiallahu’anhuma

    Juga terbunuhnya Husain bin Ali Radhiallahu’anhu terjadi di Iraq

    Dan antum juga tahu bahwa firqah khawarij adah firqah pertama yang memisahkan diri dari ahlussunnah

    Dan setelah itu ada juga firqah syiah yang terpisah juga dari ahlussunnah, kemudian qadariyah, jahmiyah, mu’tazilah

    Inilah awal fitanah perpecahan umat Islam

    1. Abu Dzaky@

      Nah, benar Bang di sini tempatnya. Tapi saya nggak ingin diskusi masalah ini, sudah terlalu panjang. Baca aja Artikel dan coment-coment ditas sudah ada lengkap jawabannya.

      Aku malu sama Abu Sivon Salafi di bawah ini.

  49. @abu zaki
    oh jadi,sesuai yg nt katakan: bahwa Salim bin Abdullah bin Umar telah menjelaskan, tentang hadits fitnah tanduk syaitan tersebut kepada penduduk iraq,berarti bukan penduduk iraq donk yg di maksud ya? hmm ane jd tahu deh…

  50. all temen aswaja
    saya minta bantuan nih , apa bener di situsnya Habib Mundzir ada artikel yang ngebahas Hadist fitnah tanduk setan , seperti yang abu dzaky klaim ? soalnya saya cari ga ketemu , apa saya kurang teliti atau abu dzaky yang boong ?, sebab diatas abu dzaky juga memelintir sejarah , dia katakan bahwa yang membunuh sayidina Ustman adalah dari kelompok Khowarij , dan ini keliru.

    tolong ya bantu cari artikel tsb, mudah-mudahan saya yang tidak teliti.

    1. Memang ada Mas Syahid, tapi penjelasan Habib Munzir tidak seperti yg dikatakan oleh Abu Dzky. Habib munzir menjelaskan bahwa Najd di Arab Saudi. Saya sudah lama baca tentang itu di situsnya sekitar 2008 yg lalu. Beliau menegaskan bahwa masalah itu khilafiyah terutama tentang seorang sebagai tertuduhnya yaitu M. Abdul Wahhab. Bahwa Wahabi adalah faham yg perlu duluruskan yg lahir di Najd adalah benar, memang Habib Munzir mempercayai akan hal ini.

      Beliau adalah orang yang sangat bijaksana dan sangat mulia, tidak mau meng-ghibah sosok M Abdul Wahhab. Tapi bahwa Najd adalah di Arab Saudi, Habib munzir memang mengatakan hal demikian. Nanti akan saya cari di situsnya, untuk mengeceknya.

  51. Link yg dikasih Mas Prass itu benar,

    berikut ini saya COPAS kata Habib Munzir yg ada di link tsb:

    Re:Hadis masalah Najd (tanduk setan) – 2007/07/18 03:12
    Alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,

    Cahaya keberkahan Rajab dan kemuliaan malam isra wal mi’raj semoga selalu menaungi hari hari anda,

    Saudaraku yg kumuliakan,
    1. hadits itu sebagaimana sabda Rasulullah saw :
    “Wahai Allah berkahilah wilayah Yaman kami dan wilayah Syam kami”

    lalu mereka berkata : dan juga untuk wilayah Najd kita wahai Rasulullah..!

    Rasul saw berdoa lagi : “Wahai Allah berkahilah wilayah Yaman kami dan wilayah Syam kami”

    lalu mereka berkata lagi : dan juga untuk wilayah Najd kita wahai Rasulullah..!,

    Rasul saw menjawab : “Disitulah goncangan, fitnah, dan disanalah terbitnya tanduk syaitan”
    (Shahih Bukhari hadits no.990)

    2. menurut para ulama kita bahwa memang anggapan para muhaddits Najd adalah iraq, karena saat itu belu terjadi apa apa, namun setelah kelahiran faham wahabi ini maka jelaslah sudah apa yg dimaksud nabi saw adalah Najd tempat kelahiran Ibn Abdulwahab, sebab para muhaddits belum menemukan fitnah yg demikian dahsyatnya sebagaimana faham wahabi ini. namun Nabi saw mengabarkan hal itu.

    3. pendapat yg mu’tamad pada ulama ulama kita adalah bahwa nabi saw tak mau mendoakan Najd, karena Nabi saw memahami bahwa Allah telah menghendaki fitnah muncul dari wilayah itu.
    demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    wallahu a’lam

    ===============================================

    Selanjutnya Habib Munjir menulis:

    saudaraku yg kumuliakan,
    bila artikel anda dimaksudkan membela Ibn Abdul wahhab, sungguh tempat kelahiran Ibn Abdulwahhab adalah di wilayah yg di kenal dg nama Najd, penduduk disana digelari dengan najdiy (orang najd).

    mengenai pendapat para muhadditsin, sungguh terdapat ikhtilaf mengenai posisi Najd ini, saya tidak berkenan menyebutkannya karena akan menjadi perdebatan yg tak berguna.

    bila ditanya apakah betul Ibn Abdulwahhab lahir di Najd, jawabannya betul, karena anda boleh tanyakan dan ziarah ke makamnya, memang di wilayah yg bernama najd.

    Ibn Abdulwahhab tertuduh sebagai pemimpin gerakan wahabi, namun ada juga sangkalan bahwa justru abdulwahab tidak demikian, gerakan yg dinamai wahabi ini adalah perbuatan murid muridnya.

    walhasil

    saya tak mau membahas mengenai aib pribadi Ibn Abdulwahab dalam forum ini untuk diperdebatkan, apakah betul ia pencetusnya atau bukan, karena yg perlu kita luruskan adalah ajaran wahabi yg banyak penyimpangan, mengenai siapapun pencetusnya, bukan itu tujuan kita untuk membahasnya.

    bila betul dia pencetusnya maka apa perlunya kita membahasnya?, malah kita kebagian dosanya karena telah meng Ghibahnya, bila ternyata bulan dia pencetus ini semua, maka kita telah kena dosa memfitnahnya.

    tujuan kitan adalah perbaikan akidah muslimin yg bergetar dalam keraguan dengan kemunculan faham wahabi ini.

    demikian saudaraku yg kumuliakan, mohon maaf bila anda merasa saya menuduh Ibn Abdulwahhab adalah yg dimaksud dalam hadits itu, tidak demikian maksud saya, karena dalam hal ini adalah ikhtilaf para muhadditsin..

    wallahu a’lam

  52. all temen aswaja

    Syukron antum dah bantuin cari artikel dimaksud, dan terbukti apa yang di klaim Abu dzazy tidak benar , dan abu dzaki hanyalah tukang sembelih , dan tukang plintir sejati , terbukti di Blog Abu Salafy komentar abu dzaki juga menyesatkan di Blog Ummati dia plintir sejarah dan menyembelih Artikel Majlis Rosulallah, Da`wah kok Dengan Rekayasa dan Kebohongan ? jangan-jangan Islam Murni dan ajakan kembali kepada Qur`an Dan Sunnah Juga hanya Rekayasa dan Dusta.

    Terima kasih kawan-kawan Aswaja semuanya , Wabil Khusus Mas Wong dan Mas Pras yang sudah menunjukkan link dan Copas.

  53. eh ikut komen dikit ya

    Dalam salah satu kitab karya syekh Abdul Qadir al Jilani, yang membahas kelompok islam yang jumlahnya 73 sebagaimana sabda Rosululoh ternyata ada 10 kelompok utama yaitu
    Ahlu Sunnah wal jamaah, khawarij, syiah, mu’tazilah, murji’ah, musyabbihah, jahamiyah, dharariyah, najjariyah dan kilabiyah.

    Khawarij terpecah menjadi 15 dan salah satunya adalah an Najdah dimana ini mengikuti Najdah bin Amir al Hanafi dari Yamamah.

    Saya cuman takut aja kalo wahhabi ini keturunan dari kelompok ini he he he.

  54. “Menurut para ulama kita bahwa memang anggapan para muhaddits Najd adalah iraq, karena saat itu belu terjadi apa apa, namun setelah kelahiran faham wahabi ini maka jelaslah sudah apa yg dimaksud nabi saw adalah Najd tempat kelahiran Ibn Abdulwahab, sebab para muhaddits belum menemukan fitnah yg demikian dahsyatnya sebagaimana faham wahabi ini. namun Nabi saw mengabarkan hal itu.”

    ——————————————-
    Terlihat jelas sekali disitu bahwa pak habib secara tidak langsung telah mengakui bahwa tafsiran (pemahaman) yang menyebutkan arah timur adalah Nejd tempat lahirnya Syaikh Muhammad merupakan tafsiran yang baru muncul belakangan yang tidak pernah dikenal sebelumnya di zaman Sahabat, generasi Tabi’in, Imam Madzhab, serta Ulama-Ulama Ahlus Sunnah terdahulu lainnya.

    Sekedar gambaran sederhana,

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir sekitar awal abad ke-17 dan wafat sekitar akhir abad ke-17, sehingga kemungkinan besar pertama kali munculnya tafsiran yang menyebutkan bahwa arah timur adalah Nejd tempat lahirnya Syaikh adalah pada abad ke-18 dan terus berkembang hingga abad ke-19.

    Sehingga bisa kita tarik kesimpulan bahwa tafsiran yang menyebutkan arah timur yang dimaksud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam adalah Nejd tempat lahirnya Syaikh Muhammad itu bisa dibilang TAFSIRAN YANG BARU MUNCUL kurang lebih sekitar 12 abad setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam wafat, yang artinya bahwa tafsiran semacam itu TIDAK PERNAH dikenal di zaman Sahabat, generasi Tabi’in, Imam Madzhab, serta Ulama-Ulama Ahlus Sunnah lainnya.

    Maka dari itu, saya ingin mempersilahkan kepada semua saudara muslim disini untuk memilih dan berpikir, apakah saudara ingin mengikuti tafsiran bahwa Nejd adalah Iraq sebagaimana yang ditafsirkan oleh para Salafush Shalih terdahulu seperti Salim bin Abdullah bin Umar atau tafsiran arah timur adalah Nejd (tempat lahirnya Syaikh Muhammad) yang kemungkinan besar tafsiran tsb merupakan tafsiran yg baru muncul belakangan.

    Waallahu ‘alam…..

  55. tapi knapa klo bukan di nejd,, nama muhammad bin abdul wahab attamimiy an-nejd, bararti kan dia lahir di nejd,, so ga usah pake ahadist panjang2

  56. Namanya juga Wahabi, fakta pun masih dibantahnya. Itulah kekonyolan dan kedunguan kaum Wahabi. Sudah jelas Nejed itu di wilayah Arab Saudi sekarang kok masih dibantah pakai hadits? Kalau hadits masih ada kemungkinan hadits palsu, tapi kalau fakta kan sudah jelas ya toh Mas Yusuf Ibrohim?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker