Berita Fakta

Penting Buat Kaum Wahabi: Segera Menyadari Kesalahan Dalam Memahami Bid’ah

Penting Bagi Kaum Wahabi Segera Menyadari Kesalahannya dalam Memahami Bid’ah

KESALAHAN KAUM WAHHABI DALAM MEMAHAMI BID’AH

Bismillaahirrohmaanirrohiim…,  Alhamdu lillahi rabbil alamiin…,  Allohumma sholli ala sayyidina Muhammad wa alihi wa ashabihi ajma’iin…..

Sebagaimana yang kami janjikan di postingan terdahulu, alhamdulillah dengan rahmat Allah dan hidayah-NYA, berikut akan kami tunjukkan kesalahan “kaum wahhabi” dalam memahami permasalahan bid’ah. Walaupun mereka selalu mengklaim sebagai kebenaran satu-satunya dan merasa telah mengikuti pemahaman para Sahabat Nabi, akan tetapi kenyataannya mereka hanya “OMDO” atau omong doang, berikut ini adalah buktinya:

1.  Mereka tidak memperdulikan perkataan yang sangat masyhur dari  Sahabat Umar: “Ni’matul bid’atu hadzihi” (alangkah bagus bid’ah ini). Di sini sangat jelas Sayyidian Umar memuji bid’ah (Sholat Tarawih Berjamaah sebulan penuh) sebagai kebaikan, ini sekaligus mencerminkan sejelas-jelasnya tentang adanya bid’ah yang baik (hasanah). Jika kaum Wahabi mengingkarinya sebagaimana yang mereka telah pertontonkan selama ini, apakah masih pantas mereka menyebut dirinya sebagai PENGIKUT PEMAHAMAN SAHABAT NABI?

2. Mereka tidak berani jujur dalam mengartikan kata “kullu” dalam hadits “KULLU BID’ATIN DHOLALAH….”. Sebaliknya mereka memaksakan arti  “kullu” hanya satu macam arti yaitu “setiap/semua”.  Padahal arti “kullu” itu ada dua sesuai kontek kalimat, yaitu : “setiap/semua” dan “sebagian”. Jadi menurut arti yang benar berkaitan hadits tersebut adalah “SEBAGIAN BID’AH ITU SESAT….. DAN SETIAP KESESATAN TEMPATNYA DI NERAKA”. Maka jelaslah maksudnya bahwa yang masuk neraka adalah setiap kesesatan dan bukan setiap bid’ah sebagaimana anggapan kaum Wahabi.  Sebab menurut Sayyidina Umar ternyata  ada bid’ah yang baik, dan bid’ah yang baik tentunya akan mendapat pahala berupa kenikmatan surga.

Bagi para penuntut ilmu yang mempelajari ilmu mathiq di pesantren Salafiyyah (pesantren klasik NU), bahwa menurut istilah ilmu manthiq arti kata KULLU sudah sangat dimaklumi pengertiannya, yaitu:

1- Ada kata “kullu” yang berarti “setiap/tiap-tiap/semua″ ini disebut “kullu kulliyah”

2- Ada kata “kullu” yang berarti “sebagian” yang disebut “kullu kully”

Sebagai contoh “kullu kulliyah”, adalah firman Allah dalam salah satu ayat Al Qur’an: “Kullu nafsin dzaa’iqotul maut” yang artinya “setiap yang berjiwa akan merasakan mati”.  Kata KULLU dalam ayat tersebut sangat tepat diartikan “SETIAP” dan akan menjadi salah jika diartikan “SEBAGIAN” karena faktannya memang semua/setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Demikianlah, kita tidak bisa mengartikan secara serampangan sehingga memaksakan arti yang nantinya akan menimbulkan kontra dengan fakta.

Adapun sebagai contoh “kullu kully”, adalah firman Allah: “wa ja’alnaa minal maa’i kulla syai’in hayyin” yang artinya “Dan telah kami jadikan dari air SEBAGIAN makhluk hidup”.  Dalam ayat ini kalau kata “kulla syai’in” diartikan “setiap/semua” maka akan kontra (bertentangan) dengan kenyataan bahwa ada makhluk hidup yang dijadikan Allah tidak dari air. Ada makhluk yang dijadikan dari cahaya seperti malaikat, dan ada yang dijadikan dari api; contohnya jin juga syetan dijadikan dari api. Sebagaimana firman Allah: “wa kholaqol jaanna min maarijin min naar” yang artinya “Dan Allah telah menjadikan jin itu dari api”

Dari uraian di atas maka sudah jelaslah bahwa arti “kullu” itu ada dua yaitu “setiap/semua″ dan “sebagian”. Dalam mengartikan “KULLU” tidak bisa serampangan begitu saja, tetapi harus melihat kontek kalimatnya agar nantinya tidak menjadi kontra dengan realitas, fakta atau kenyataan yang ada.

Oleh karena itu menjadi sangat mengherankan apa yang selama ini diperlihatkan oleh kaum wahhabi yang bangga dengan kesalahan dalam mengartikan “kullu” tanpa melihat kontek kalimat, sehingga mereka memaksakan arti “setiap/semua” untuk kata KULLU dalam hadits BID’AH tersebut. Sehingga mereka ngotot menggunakan dalil “kullu bid’atin dlolalah” sebagai alat untuk membid’ahkan (baca: mengharamkan)  apa saja yang tidak ada contohnya dari Nabi. Ini karena mereka menganggap semua/setiap bid’ah itu sesat tanpa kecuali. Tentunya ini kontra dengan kenyataan dan realitas bahwa ternyata ada bid’ah (hal baru) yang baik (hasanah). Sampai-sampai sayyidina memuji bid’ah “NI’MATUL BID’ATU HADZIHI; alangkah bagus bid’ah ini”.

Beberapa Kesalahan Kaum Wahhabi yang Lainnya

Benar-benar sudah masyhur tersebar di kalangan kaum wahhabi bahwa “bid’ah” itu hanyalah ada pada urusan “ibadah”.  Pada selain urusan ibadah mereka anggap tidak ada bid’ahnya. Mereka selalu mengatakan bahwa: Ibadah itu tak boleh diubah, ditambah, dikurangi atau diciptakan sendiri, kesemuanya harus berbentuk asli dari Nabi. Gara-gara anggapan seperti itu mereka lupa bahwa berdo’a itu adalah termasuk ibadah, dan di dalam berdo’a tentunya kita bisa ngarang sendiri, menciptakan sendiri dengan bahasa sendiri.  Baru satu contoh ini saja kaidah mereka menjadi runtuh sebab kontra dengan kenyataan bahwa ibadah berdo’a itu kita bisa menciptakannya sendiri.

Adapun urusan “selain ibadah”,  kata kaum wahhabi bolehlah berubah menurut keadaan zaman. Untuk mendukung anggapan ini mereka mengaplikasikan hadits Nabi saw: “Jika ada soal-soal agamamu, serahkanlah ia kepadaku. Jika ada soal-soal keduniaanmu, maka kamu lebih mengetahui akan soal-soal duniamu itu”.

Dipandang secara dangkal dan sepintas lalu anggapan Wahhabi ini seperti benar. Tetapi anggapan ini sesungguhnya adalah salah, hal ini karena:

banner 2 2 - Penting Buat Kaum Wahabi: Segera Menyadari Kesalahan Dalam Memahami Bid'ah

1- ”Bid’ah” itu selain dalam urusan “ibadah” kenyataannya juga terdapat di dalam urusan mu’amalah (pergaulan masyarakat) seperti: pementasan lakon-lakon Nabi dalam drama, baik yang bersifat hiburan atau komersil. Juga terdapat banyak contoh dalam kasus-kasus yang bersifat mu’amalah.

2- Sebenarnya yang menjadi sasaran hadits Nabi di atas adalah bukan mengenai “Bid’ah” melainkan mengenai “hukum agama/syari’at” dan “hal-hal dunyawiyyah yang bersifat teknis”. Dalam hal teknis dunyawiyah, kita dianggap lebih tahu oleh Nabi Saw.

Sebagai contoh:

– Hukum membangun masjid adalah urusan agama, harus dikembalikan kepada Nabi, artinya harus bersumber dari Qur’an dan sunnah. Sedang teknik pembangunannya adalah “urusan dunia” dan ini diserahkan kepada ummat, terserah menurut perkembangan peradaban manusia.

– Hukum pertanian agar hasil-hasilnya menjadi halal atau haram adalah urusan agama. Ini harus bersumber dari Qur’an atau Sunnah. Teknik cocok tanamnya adalah urusan dunia, terserah kepada kita boleh mengikuti perkembangan teknologi saat ini. Demikianlah kita dipandang lebih tahu urusan teknisnya oleh Nabi dalam hadits tersebut.

Di dalam pemahaman seperti inilah Nabi menyabdakan Hadits di atas. Samasekali bukan seperti dalam pemahaman “kaum wahhabi” di atas, sehingga mereka dengan ngawur mengatakan bid’ah itu hanya ada dalam urusan agama, tentunya hal ini tidak nyambung dengan yang dimaksud Nabi dalam sabdanya tersebut.

Kesalahan kaum wahhabi selain yang sudah dicontohkan di atas, adalah mereka menganggap bahwa “ibadah” itu hanya satu macam yang mana semua bentuknya harus asli dari Nabi saw. Padahal faktanya tidak demikian menurut ilmu yang benar. Bahwa yang benar “ibadah” itu ada dua macam, yaitu:

1. Ibadah Muqoyyadah (Ibadah yang terikat) atau biasa disebut juga sebagai ibadah mahdhoh, contohnya seperti:

– Sholat wajib 5 waktu

– Zakat wajib

– Puasa Ramadhan

– Haji, dsb…..

Ibadah-ibadah ini mempunyai keasalannya (keasliannya) dari Nabi saw dalam segala-galanya, hukumnya, teknik pelaksanaannya, waktu dan bentuknya. Kesemuanya diikat (muqoyyad) menurut aturan-aturan tertentu. Tidak boleh dirubah.

2. Ibadah Muthlaqoh (Ibadah yang tidak terikat secara menyeluruh), atau biasa juga disebut ibadah Ghoiru Mahdhoh, seperti contoh:

– Dzikir (lisan atau hati) kepada Allah SWT

– Tafakkur tentang makhluk Allah

– Belajar atau Mengajar ilmu agama

– Berbakti kepada ayah dan ibu (birrul walidain)

– dan masih banyak sekali contohnya….

Ibadah-ibadah ini mempunyai keasalan dari Nabi saw. dalam beberapa hal, sedang mengenai bentuk dan teknik pelaksanaannya tidak diikat dengan aturan-aturan tertentu, terserah kepada ummat, asal tidak melanggar garis-garis pokok “Syari’at Islam”.  Pada ibadah muthlaqoh (ghoiru mahdhoh) inilah terbuka peluang akan terjadi “bid’ah hasanah”. Demikianlah paham Ahlussunnah wal jama’ah yang jelas bertentangan dengan pemahaman “kaum wahhabi”.

Sebelum mengahiri penjelasan mengenai bid’ah ini, sebagai tambahan akan kami berikan contoh-contoh bid’ah hasanah:

– Mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an yang sebelumnya terpisah-pisah menjadi kitab (mushaf) yang tertib diawali dengan Fatihah dan diakhiri dengan an-Naas. Kita tahu dalam sejarahnya sempat terjadi ketegangan di antara sahabat-sahabat Nabi karena pengumpulan Al Qur’an ini dianggap bid’ah oleh mereka. Tetapi akhirnya dikumpulkan juga menjadi satu kitab sehingga kita di zaman ini bisa menikmati baca Al Qur’an. Ini berkat tindakan nekad para sahabat dalam melaksanakan bid’ah hasanah.

– Memberi titik-titik dan syakal pada tulisan Al Qur’an. Sebagaimana dimaklumi Al Qur’an pada masa Nabi saw tidak ada titik dan syakalnya.  Dengan diberinya titik dan syakal maka sekarang kita bisa membacanya dengan mudah. Coba bayangkan seandainya tidak diberi syakal dan titik, pastilah akan repot dan bahkan sulit membaca Al Qur’an. Berkat pelaksanaan bid’ah hasnah maka sekarang membaca Al Qur’an bisa menjadi lebih mudah.

– Membuat istilah-istilah hadits shohih, hadits hasan, hadits dloif dsb. Pada masa Nabi ini juga tidak ada, tetapi berkat pelaksanaan bid’ah hasanah maka kita bisa mengenali macam-macam hadits. Tentunya para ulama dalam membuat istilah-istilah tsb diniatkan ibadah, bahkan Imam Bukhori selalu sholat dua rokaat setiap akan menulis hadits. Ini tidak ada contohnya dari Nabi saw.

– Mengajar/belajar agama di Madrasah-madrasah secara klasikal (ber-kelas-kelas) dan bertingkat-tingkat dari dasar, menengah sampai universitas. Ibadah menuntut ilmu semacam ini tidak ada di zaman Nabi dan Sahabat.

– Peringatan Maulid Nabi saw dalam segala bentuk yang tidak bertentangan dengan garis-garis syari’ah Islam, ini juga bid’ah hasanah.

Demikianlah penjelasan dari kami sejak awal tulisan hingga akhir semoga bermanfaat dan kami akhiri dengan do’a semoga kita semua dijauhkan Allah dari kesesatan paham kaum wahhabi ini sampai akhir hayat nanti….  Sedangkan bagi kaum Wahabi betapa pentingnya bagi kalian segera menyadari kesalahan-kesalahan anda dalam memahami bid’ah. Karena akibat kesalahan dalam memahami bid’ah bisa menyebabkan tersebarnya fitnah terhadap ajaran Islam dan para Ulama juga kaum muslimin. Semoga Allah menurunkan hidayah-NYA kepada kita semua…. Aamiin Allaahumma Aamiin.

Wa Shallallahu ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa ashabihi ajma’iin, Walhamdulillaahirobbil’aalamiin….

 

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

152 thoughts on “Penting Buat Kaum Wahabi: Segera Menyadari Kesalahan Dalam Memahami Bid’ah”

  1. Alhamdulillah, syukron mas Admin atas postingannya yang sudah saya tunggu2 tayangannya ini.

    Kalau dalam pemahaman yg mendasar tentang bid’ah ini Wahabi sudah salah, maka pantaslah kalau selama ini Wahabi menjadi sumber fitnah bagi ajaran Islam. Yang akhirnya fitnah2 wahabi itu juga menimpa para Ulama Ahlussunnah dan kaum muslimin.

    Terlalu Wahabi, sadarlah kalian jangan tunggu kematian menghampiri kalian.

    1. sarah@ hadooh , kamu pengen jadi yang ga pernah difitnah atau kena fitnah ya ? gimana ya,bisa ga yah ? soalnya Rasulullah serta para sahabatnya,termasuk Umar,Utsman,Ali dan Muawiiyah pun terkena fitnah dan selalu di fitnah.bahkan terbunuh karena fitnah lho. mengapa ? karena beliau ~shallallahualaihiwasallam~ dan mereka radhiyallahu ‘anhum dalam tahap awal penyebaran islam, dan benar apa yang dikatakan baginda Rasul tentang tahap awal dan akhir ini:”بدأ الإسلام غريبا و سيعود غريبا كما بدأ” ‘islam datang dengan asing dan akan kembali asing seperti dimulai’.
      jadi ya wajar aja kalo sekarang,yg mendekati akhir zaman ini,selalu memfitnah islam yang sesuai dengan pemahaman Rasul dan para sahabatnya. karena ya islam yang seperti itu tidak akan mau bernegoisasi hukum dengan zaman dan perkembangannya.
      so,kalo emang dalam ajaran Nabi tuh sabar dan istiqomah aja kalo asing dan terfitnah.kan kata Nabi shallallahualaihiwasallam : “qul amantu billahi tsumma istaqim” “katakanlah:’aku beriman kepada Allah’,dan berpegang teguhlah” 🙂

  2. Alhamdulillah artikelnya mas @admin.

    Orang yang terkena pengaruh fatwa-fatwa kaum Wahabi biasanya jadi berpikiran sempit dalam memandang kehidupan beragama, yaitu hanya antara SUNNAH dan BID’AH, itupun menurut definisi mereka sendiri. Akibatnya, orang itu tidak bisa leluasa melihat kemaslahatan atau kebaikan suatu amalan yang di dalamnya terselip harapan untuk mendapatkan pahala dari nilai-nilai agama, hanya karena “format” mereka menganggap tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah Saw, padahal menurut para ulama, tidak dikerjakannya suatu amalan tidak menunjukkan bahwa amalan itu terlarang.

    Cara pandang yang sempit seperti ini kemudian melahirkan dua keadaan pada diri orang itu, yaitu:
    1. Fokus melaksanakan ibadah dengan format yang menurutnya persis seperti Rasulullah saw, seperti apa yang disebutkan di dalam sunnah Rasulullah Saw.
    2. Waspada dari perkara-perkara yang mereka anggap sebagai bid’ah.
    Keadaan yang pertama akan membuat orang itu merasa bangga dengan amal ibadahnya sendiri, sebab ia merasa amal ibadahnya itu bernilai karena sesuai sunnah. Di samping itu, keadaan tersebut juga bisa membangkitkan kesombongan saat melihat amal ibadah orang lain yang mereka anggap tidak sesuai sunnah sehingga menjadi sia-sia dan tidak berpahala.
    Keadaan yang kedua, yaitu kewaspadaannya terhadap perkara yang ia anggap bi’dah dengan pengertian yang tidak jelas, akan menumbuhkan ketakutan akan terjerumus kepada perbuatan bid’ah yang pada puncaknya berubah menjadi sikap PARANOID terhadap setiap perkara baru berbau agama.

    Saking paranoidnya, maka setiap menjumpai perkara baru berbau agama dalam bentuk apa saja (baik ucapan maupun perbuatan) dan dari kebiasaan ini dan dari kesempitan cara pandang mereka yang selalu membagi urusan agama cuma antara “Sunnah & Bid’ah”, maka terlontarlah ungkapan-ungkapan yang penuh kesombongan seperti berikut : “Tidak ada dalilnya!”, “Hadisnya dha’if (lemah)!”, “Tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw.!”
    Ungkapan “Tidak ada dalilnya!” adalah ungkapan yang tergesa-gesa dalam menghukumi suatu amalan, di mana banyak pendapat para pendakwah Wahabi ini berani melontarkannya kepada masyarakat dengan maksud meyakinkan dan memperdayai mereka seolah memang suatu amalan itu tidak ada dalilnya, padahal di sana ada ratusan bahkan ribuan jilid kitab tafsir dan kitab hadis yang jika mereka kaji satu persatu maka dalil itu akan mereka temukan. Kesombongan mereka membuat diri mereka seolah sudah menelusuri semua kitab-kitab itu dan seolah-olah mereka sudah hafal seluruh dalil, lalu berani memastikan ada atau tidak adanya dalil.

    Kenyataannya, mereka memang belum menelusuri semua rujukan dalil itu, bahkan mereka juga tidak mau membaca kitab-kitab para ulama yang menjelaskan dalil-dalil amalan seperti Maulid, tahlilan, atau lainnya, dengan alasan haram hukumnya membaca karya-karya ahli bid’ah. Mengapakah mereka tidak mencontoh Imam Malik bin Anas (ulama salaf) yang karena sifat tawadhu’ (rendah hati)nya ia lebih banyak menjawab “aku tidak tahu” saat ditanya tentang berbagai masalah? Apakah mereka lebih alim dari Imam Malik sehingga mereka berani memvonis suatu amalan dengan “Tidak ada dalilnya!” dan langsung saja menjatuhkan vonis bid’ah tanpa mengkaji lagi pendapat para ulama yang jelas-jelas sudah membahas dalil-dalilnya?

    Ungkapan “Hadisnya dha’if (lemah)!” yang seringkali dilontarkan dapat menimbulkan anggapan di benak masyarakat awam seolah hadis dha’if sama sekali tidak boleh dijadikan dalil dan harus dicampakkan. Padahal telah nyata bahwa para ulama hadis telah sepakat bahwa hadis dha’if itu sah dijadikan hujjah (dalil) bagi fadha’il a’mal (keutamaan amal) yaitu agar orang terdorong melakukan amal shaleh (lihat Al-Kifayah fi ‘ilmi Ar-Riwayah, Al-Khathib Al-Baghdadi, al-Maktabah al-‘Ilmiyah, Madinah, juz 1, hal. 133. Lihat juga Syarh Sunan Ibni Majah, juz 1, hal. 98).

    Yang justeru sangat aneh adalah sikap kaum Wahabi yang sok anti hadis dha’if, sementara untuk kepentingan misi dakwahnya ternyata mereka juga menggunakan hadis dha’if yang mendukung fahamnya. Lebih buruknya lagi, mereka banyak mendasari hukum dha’if suatu hadis dengan hasil penelitian ulamanya yaitu Albani yang tidak diakui kapabilitasnya dalam ilmu hadis oleh para ulama hadis, bahkan ia dianggap “plin-plan” dalam menilai hadis.
    Ungkapan “Tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw.!” Ini sama sekali tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang suatu amalan. Karena kalau tidak pernah berguru ataupun membaca kitab-kitab para fuqaha, maka amalan ini dapat dianggap SALAH bahkan bisa jadi terjadi penyimpangan yang cukup serius. Hadist yang Ribuan jumlahnya (mencapai +/- 900.000), jadi bagaimana kita tahu cara hidup dan apa yang dikerjakan Rasulullah SAW, laa hanya baca 10 hadist itupun tidak bisa menunjukan Sanadnya.
    Agama Islam sangat sempurna dalam mencakup berbagai aspek seluruh kehidupan. Sungguh kesempurnaan Islam itu tidak akan pernah terlihat bila urusan agama ini selalu hanya dipandang dari dua kategori saja Sunnah atau Bid’ah. Kesempitan cara pandang seperti ini akan membuat umat Islam tenggelam dalam permasalahan lama yang sebenarnya sudah tuntas dibahas oleh para ulama.

    1. Pagi ini baru melihat orang kerja dengan celana cingkrang setengah betis bawa tas dng sepatu cat putih dan terasa lucu percis Carly Chaplin lalu tetangga ibu nya crita ama saya suami melarang pasang tulisan kaligarafi Iskam dan gambar foto maupun tanggalan yg ada gambar foto orang dan pemandangan ya ampun bu ini pemamahaman Islam baru datang nih bu dari Arab sono aku ”berkilah””’ dan sebetul agama yang sudah ada di Indonesia sejak dulu ini sudah bagus tidak usah diselisihi dengan paham mereka syukur tidak semuan tetangga mengikuti nya dan hanya merasa risih melihat mereka tapi tak mengapa hanya segelintir orang kira2 ada 7 orang saja dan yang belum mengerti hanya kasih tahu bahwa itu paham Wahabi Salafi…Import dari saudi arabia sana

    2. Terimakasih Mas Admin, postingannnya sangat bagus. Artikel FIRANDA yg menghina Bid’ah Hasanah yg bersambung sampai 4 postingan menjadi hancur dg postingan Mas Admin di sini. Karena postingan di sini mengenai bid’ah yg paling mendasar. Jika dari Pemahaman Bid’ah yg mendasar ini sudah salah memahaminya, tentu selanjutnya akan semakin banyak kesalahan seperti yg dipertontonkan oleh FIRANDA dalam blognya tsb.

      Mas Ucep@
      itu karena pengikut ajaran Wahabi tidak diperbolehkan mikir oleh para asatidznya. Mereka didoktrin “Sami’na wa atho’na” tapi salah penerapannya. Padahal mikir itu penting agar bisa melihat kejanggalan2 yg ada pada ajaran Wahabi. Dan para pengikut ajaran Wahabi itu benar2 seperti kerbau dicucuk hidungnya setelah didoktrin dg “SAMI’NA WA ATHO’NA, kami dengar dan kami ta’at”, mereka jadi gak berani nanya untuk hal2 yg janggal karena takut didianggap “SAMI”NA WA ASHOINA, kami dengar dan kami ingkari”. Begitulah mas Ucep.

  3. Semoga teman2 salafy bisa faham. Aduh kasihan Sayyidina Ummar bin Khattab jadi gembong ahlul bid’ah karena mengatakan “inilah sebaik-baik bid’ah”. Apakah beliau tidak tahu kalau itu adalah sunnah nabi yang beliau hidupkan kembali (menurut saudara2 salafy). Lantas kenapa mengatakan “inilah sebaik-baik bid’ah”, tidak mengatakan “Inilah sunnah nabi yang di hidupkan kembali” (misalnya).

  4. Alhamdulillah mas Admin akhirnya selesai juga artikelnya,sangat mengena dan saya minta izin copas untuk menambah ilmu saya,,,mudah2an kawan wahabi terbuka pikiranya untuk menerima adanya bid’ah hasanah yg dilakukan para sahabat nabi ini dan para ulama ahlussunnah waljamaah telah membahasnya dengan jelas,seperti,imam syafi’e,imam assuyuty,imam annawawi,imam al qutuby dll.

  5. Semoga kaum Wahabi benar2 segera menyadari kesalahannya dalam hal2 yg menyangkut maslah bid’ah. Sehingga mereka tidak selama-lamanya seumur hidupnya menjadi fitnah bagi ajaran Islam. Memang sangat nyata bahwa pemahaman yg salah mengenai bid’ah ini bisa menimbulkan fitnah bagi para ulama yg membagi bid’ah menjadi 2, yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Dengan enteng selama ini mereka berkata: kan imam Syafi’i itu manusia biasa bisa salah. Na’udzu billah, itulah salah satu fitnah yg tidak mereka sadari akibat pemahaman yg salah.

    Emangnya ada ulama2 Wahabi sejak zaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yg sebanding Imam Syafi’i dalam segala halnya? Lihatlah biografi Imam Syafi’i yg luar biasa, lalu bandingkan dg Imam-imam Wahabi apakah ilmu imam2 Wahabi ada seujuing kukunya Imam Syafi’i? Maka dari itu, sejak sekarang ini mikirlah wajhai teman2 Wahabi / Salafi agar Alalh menurunkan HIDAYAHNYA buat kalian semuanya.

    1. Mbak Aryati,
      memngharap kaum Wahabi menyadari kesalahnnya sepertinya akan sulit, sebab kalau mereka melihat kebenaran yg didukung fakta dan argument sekuat apa pun bagi mereka dianggapnya buih. Itu kan ajaran ustadz2 Salafy seperti itu, apa yg datang dari luar golongan mereka dianggapnya buih.

      Coba sampai hari ini tidak ada komen2 dari pengikut Wahabi, ini karena mereka tahu postingan di atas sangat benar dan sangat kuat argumentasinya maupun faktanya, tetapi mereka lari dan menjauh. Tidak berani mendiskusikannya secara gentle dg tujuan menambah ilmu.

      padahal kan ustadz2 Ummati yg bergabung di sini siap mendiskusikannya? Ada Abu Hilya, ada Ustadz Baihaqi, ada Mas Ahmad Syahid… di mana ya itu Mas Ahmad syahid kok sepertinya lama gak kelihatan? semoga tetap sehat wal afiat, amin3x…………….

      1. benar Mbak Putri, mereka tidak sadar jika mereka sendiri yg ngomong seperti buih-buih tanpa arti, lihat saja di blog Firanda si Ustadz Salafy tsb membicarakan bid’ah sampai berbuih-buih. Hanya dengan postingan Ummati yg ini saja buih2 Firanda itu sudah pudar tan arti sedkit pun.

        Jika pemahaman dasar tentang Bid’ah saja sudah salah lalu apa yg mau dibicarakannya selain buih-buih di lautan? Mbok sadar gitu, lho?

        Saya setuju mereka itu pengecut kalau bicara tentang kebenaran, terbukti tidak ada yg berani muncul di sini sampai saat ini.

  6. Assalamualaikum,
    Postingannya padat dan berisi.Mohon ijin untuk copy-paste sebagai bahan bacaan keluarga.Terima kasih banyak.Semoga semua yang terlibat dalam penulisan artikel ini dicatat sebagai amal jariah oleh Allah SWT.Salam buat Mas Ahmad Syahid,Ditunggu2 wejangannya.

    Wassalam

  7. Sholat pake celana cingkrang yo bid’ah toh mas, apalagi celananya dilipat (kayak masjidnya kebanjiran aja) lha Nabi aja pake Jobah.

    Apalagi membid’ahkan, menyesatkan, bahkan mengkafirkan sesama muslim, itu perbuatan Bid’ah paling sesat. Lha wong dalilnya jelas kok!

    “Siapa yang memanggil seorang dengan kalimat ‘Hai Kafir’, atau ‘musuh Allah’, padahal yang dikatakan itu tidak demikian, maka akan kembali pada dirinya sendiri”.

    Monggo ingkang sampun kebacut, enggal tobat. mugi2 dingapuro dening Alloh. yen tobat ngagem Tawasul Nabi luweh sae, sebab Kanjeng Nabi Adam as. ditampi tobate dening Alloh amergo lantaran Tawasul Nabi Agung Muhammad.

    1. saya juga merasakan hal yang sama ketika awal mula memanjangkan jenggot, saya mendapat ejekan dari orang-orang kampung dengan berbagai macam, ada yang bilang jamaah tabligh, muhammaddiyah, wahabi dan lain-lain, namun karena background saya pesantren salafi yang di kampung saya yang diajarkan langsung oleh ulama terkenal, ketika saya tantang orang itu mereka malah diam.
      padahal saya murni ahlussunnah wal jama’ah madzhab Imam Syafi’i.
      kalau ingat saya jadi tersenyum sendiri.
      santai aja mas, klo emang haditsnya shahih dan tidak ada larangan dalam kitab setingkat tuhfatul muhtaj ala syarhil minhaj, al-mahalli, nihayatul muhtaj ‘ala syarhil minhaj, jalani saja Insya Allah aman. Wallahu ‘Alam bis Shawab

  8. Assalamualaikum semua saudaraku, saya sekeluarga bermashab Imam Syafii, kami tidak pernah membid’ah2kan, diundang Yasinan OK, Tahlilan OK. tapi karena penampilan kami yaitu memakai Sunnah : Pakai Jubah, Jenggot, Istri juga pakai Cadar, maka orang orang yang belum tau kami dianggap kami sama dengan Salafi/Wahabi. tapi bagi orang yang sudah tau kami dan Da’wah kami, mereka senang, karena kami tidak pernah bicara khilafiyah. Nah kami memohon kepada saudaraku tolong harus betul betul bisa membedakan mana yang Salafi dan Mana yang bukan, jangan setiap melihat orang berjubah, berjenggot, pakai cadar langsung Membencinya. Ciri salafi dan bukan Salafy bisa dengan mudah kita kenal…, mohon Team UmmatiPres bisa membuat artikel agar kita tidak mudah membenci kepada orang-orang yang mengamalkan Sunnah padahal bukan Salafy/Wahabi.
    Wassalamualaikum Warrohmatullohiwabarakatuh.

  9. Bismillah,

    @Mas Ahmad, jika anda merasa bukan salafi/wahabi maka tidak ada yang perlu anda risaukan dari konflik yang ditimbulkan mereka, dan semoga Alloh senantiasa membimbing kita semua.

    Ketahuilah, kemarahan kaum ASWAJA bukan karena ada yang tidak sama dengan kami, tapi semua ini adalah bagian dari respon atas hujatan kaum salafi wahabi terhadap kami dengan tuduhan-tuduhan Syirik, Tahayyul, Bid’ah, Kafir dsb. semoga Alloh segera menghentikan keadaan ini paling tidak di Indonesia, dan bagi saudara kita yang wirid hariannya hanyalah Kafir, Syirik, Bid’ah, Neraka segera dibukakan dari belenggu keterkungkungannya dalam doktrin-doktrin pemecah belah ummat…

  10. Bismillah,

    Sebenarnya kami menunggu kehadiran Ust. Ahmad Syahid untuk melengkapi artikel diatas dengan pemaparan tentang At Tark, semoga beliau senantiasa dalam lindungan Alloh SWT, karena kami sangat membutuhkan penjelasan tersebut, kalau beliau berkenan…

    sebelum dan sesudahnya kami haturkan Jazakallohu Ahsanal Jaza…

  11. Terima kasih mas ADMIN,

    Memang sudah selayaknya kaum wahabi secepatnya menyadari kesalahannya dalam pemahamannya tentang bid’ah, tentunya agar mereka tidak selamanya jadi tukang fitnah ajaran Islam dan kaum muslimin. Semoga mereka segera mendapat hidayah Allah sehingga dengan lapang dada menyadari kesalahannya.

  12. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat –dalam term ulama usul fiqih disebut at-tark – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.

    Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi atau sohabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram atau wajib.

    Alasan-alasan kenapa Nabi meninggalkan sesuatu:

    1. Nabi meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat: “Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”(QS Al-Haj: 77). Kebajikan maknanya adalah umum dan Nabi tidak menjelaskan semua secara rinci.

    2. Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu belai lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib.

    3. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut akan merubah perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada siti Aisyah: “Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka’bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim as. Sungguh Quraiys telah membuat bangunan ka’bah menjadi pendek.” (HR. Bukhori dan Muslim) Nabi meninggalkan untuk merekontrusi ka’bah karena menjaga hati mualaf ahli Mekah agar tidak terganggu.

    4. Nabi meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi disuguhi biawak panggang kemudian Nabi mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: “itu biawak!”, maka Nabi menarik tangannya kembali, dan beliu ditanya: “apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: “Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!” (QS. Bukhori dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang.

    5. Nabi SAW meninggalkannya karena memang tidak pemah memikirkan dan terlintas dalam pikirannya. Pada mulanya Nabi SAW berkhutbah dengan bersandar pada pohon kurma dan tidak pemah berpikir untuk membuat kursi, tempat berditi ketika khutbah. Setelah sahabat mengusulkannya, maka beliau menyetujuinya, karena dengan posisi demikian, suara beliau akan lebih didengar oleh mereka. Para sahabat juga mengusulkan agar mereka membuat tempat duduk dari tanah, agar orang asing yang datang dapat mengenali beliau, dan temyata beliau menyetujuinya, padahal belum pernah memikirkannya.

    Dan Nabi bersabda:” Apa yang dihalalakan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi membaca:” dan tidaklah Tuhanmu lupa”.(HR. Abu Dawud, Bazar dll.) dan Nabi juga bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya”.(HR.Daruqutnhi)

    Dan Allah berfirman:”Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(QS.Al Hasr:7) dan Allah tidak berfirman dan apa yang ditinggalknya maka tinggalkanlah.

    Maka dapat disimpulkan bahwa “at-Tark” tidak memberi faidah hukum haram. Sehingga, kaidah yg sering digunakan oleh salafi/wahabi yg berbunyi : “Jika hal tersebut baik, tentulah Nabi dan para sahabat yg mulia akan melakukannya” atau “Kita harus meninggalkan segala sesuatu yang tidak pemah dikerjakan oleh Rasulullah SAW.”tidak dapat digunakan. Dan memang kaidah seperti itu tidak ada dalam ushul fiqih.

    Kepada teman teman ASWAJA, jika ada pernyataan saya yg salah, silahkan dikoreksi.

  13. Artikel yg mencerahkan, dan akan menggugah kesadaran buat siapa saja yg membacanya. Insyaallah akan menyadarkan individu-individu penganut Wahabiyyah, kecuali yg keras kepalanya.

    Uraiannya cukup jelas dan mudah dimengerti, syukron ummati!

  14. Bismillah,
    Sebelumnya kami haturkan jazakumulloh Ahsanal Jaza buat @Mas Agung, atas penjelasannya masalah At Tark, semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pengunjung lain yang masih awam seperti kami, semoga Mas Agung dan segenap Asatidzah pemerhati dan pengunjung Ummati Press senantiasa dalam lindungan Alloh SWT.
    Selanjutnya dengan segala kerendahan hati seraya mengharap Taufiq dan Hdayah Alloh, perkenankan kami menambahkan sedikit Penjelasan Tentang At Tark, guna memperkuat apa yang sudah disampaikan oleh Mas Agung dan mempekaya khazanah keilmuan kita, semoga bermanfaat.
    At Tark / Ditinggalkannya atau tidak dilakukannya sebuah perkara tidak otomatis mengindikasikan ke-haram-annya, dengan penjelasan sebagai berikut:
    At Tark alias ditinggalkannya suatu perkara jika tidak disertai dalil yang menunjukkan bahwa perkara yang ditinggal tersebut adalah terlarang, maka At Tark seperti ini tidak dapat dijadikan Hujjah untuk larangan, cukup baginya dijadikan hujjah bahwa meninggalkan perkara tersebut adalah Masyru’ diakui oleh syara’ dan bukan sebuah kesalahan.
    Seperti tentang pendapat yang menolak wiridan atau do’a setelah sholat dengan alasan hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh para Salaf as Solih kami berpendapat ; seandainya hal itu benar (tidak ada dari kalangan slaf as solih yang wiridan atau berdo’a sesudah solat) kenyataan itu tidak menghasilkan hukum apapun selain bahwa tidak wiridan atau berdo’a sesudah solat adalah boleh apapun kondisinya baik repot maupun longgar. Dan tidak akan berindikasi kemakruhan apalagi keharaman wiridan ba’da solat, terlebih jika memperhatikan ke-mujmal-an dalil tentang dzikir dan do’a.
    Didalam kitab Al Mahalli Imam Ibnu Hazm menuturkan hujjah para ulama’ Malikiyyah dan Hanafiyyah yang memakruhkan sholat dua rokaat sebelum maghrib dimana mereka berhujjah dengan pendapat Ibrohim an Nakho’i yang menyatakan ; “sesungguhnya Abu Bakar, Umar dan Utsman tidak melakukannya”. Ibnu Hazm menjawab ; “ seandainya hal itu benar, sungguh tidak ada (bisa dijadikan hujjah) dalam hal tersebut, karena mereka (para sahabat) tidak melarang melaksanakan sholat dua rokaat sebelum maghrib “. (Al Mahalli, 2/254). Terlebih jika kita memandang ke-mujmal-an dalil sholat tahiyyatul masjid.
    Lebih jauh dalam Al Mahalli disebutkan :
    وأما حديث علي، فلا حجة فيه أصلاً، لأنه ليس فيه إلا إخباره بما علم من أنه لم ير رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاهما، وليس في هذا نهي عنهما ولا كراهة لهما، فما صام عليه السلام قط شهرًا كاملاً غير رمضان وليس هذا بموجب كراهية صوم شهر كامل تطوعًا اهـ. فهذه نصوص صريحة في أن الترك لا يفيد كراهة فضلاً عن الحرمة
    “ Adapun hadits Sayyidina Ali, tidak terdapat hujjah sama sekali didalamnya, karena Sayyidina Ali ra hanya menghabarkan bahwa beliau tidak pernah melihat Rosululloh Saw sholat dua rokaat (ba’da ashar. red), dan didalamnya (perkataan Sayyidina Ali) tidak ada larangan dan kemakruhan solat dua rokaat ba’da ashar. maka (bukankah) Rosululloh Saw, tidak pernah puasa sebulan penuh kecuali dibulan Romadhon, dan ini tidak menyebabkan makruhnya puasa sunnah sebulan penuh. (Al Mahalli, 2/271)
    Ini adalah nash yang jelas bahwa tidak dilakukannya atau ditinggalkannya suatu perkara tidaklah otomatis mengindikasikan ke-makruh-annya, apalagi ke-haram-annya.
    Sedang terhadap mereka yang menolak kaedah ini, dan menyatakan ini tidak ada dalam kaedah ushul fiqih, berikut kami sampaikan bukti-buktinya:

    1. Dalam Ushul Fiqih, dalil yang menunjukkan larangan ditunjukkan dengan tiga hal :

    a. Shighot Nahi (bentuk kalimat larangan) seperti :

    ولا تقربوا الزنا: Dan Janganlah kalian mendekati zina

    ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل : Dan Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.

    Larangan dengan sighot Nahi tsb pada asalnya berindikasi Haram namun terkadang bisa berindikasi Makruh.

    b. Lafadz Tahrim : (lafazh yang menunjukkan keharaman ) seperti :

    حرّمت عليكم الميتة : diharamkan atas kalian bangkai

    c. Dzammul Fi’li : (adanya cela-an atas perkara tsb, atau adanya ancaman siksa bagi pelakunya), contoh :

    من غش فليس منا : Barang siapa memalsukan maka ia bukan termauk golonganku.

    Dari tiga hal diatas tidak kita dapati At Tark sebagai salah satunya.

    2. Firman Alloh SWT dalam al qur’an :

    وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

    “ Apa yang diberikan Rosul bagimu terimalah, Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah “ (QS, Al Hasyr : 7)

    Disini Alloh tidak menyatakan و ما تركه فانتهوا “dan apa yang ditinggalkan Rosul maka tinggalkanlah “. Maka At Tark tidak berindikasi terlarang.

    3. Rosululloh SAW, bersabda :

    مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

    “ Apa-apa yang aku cegah atas kalian maka jauhilah (tinggalkanlah), dan apa-apa yang aku perintahkan pada kalian kerjakanlah semampu kalian “ (HR. Bukhori Muslim)

    Dalam hadits diatas Rosululloh Saw tidak mengatakan :وما تركته فاجتنبوهdan apa-apa yang aku tinggalkan maka jauhilah. Lantas dari mana At Tark dijadikan kaedah larangan.

    4. Para Ulama’ Ushul mendefisikan Sunnah adalah : Perkataan, Perbuatan, dan atau Ketetapan Rosululloh Saw. Dan mereka tidak mengatakan At Tark (apa yang ditinggalkan Nabi Saw) termasuk Sunnah. Karena At Tark tidak menunjukan apa-apa kecuali kebolehan tidak melakukan perkara yang ditinggalkan Nabi Saw.

    5. Sumber hukum dalam Islam yang disepakati adalah Al Qur’an dan As Sunnah, sedang Jumhur menambahkannya dengan Ijma’ dan Qiyas. Lantas apakah At Tark adalah salah satu dari sumber hukum Islam untuk menetapkan keharaman atau kemakruhan sesuatu? Tentu tidak.

    6. Sebagaimana yang telah kami sampaikan diatas, bahwa ditinggalkannya sebuah perkara oleh Rosululloh Saw maupun para sahabat memiliki banyak kemungkinan sebagai penyebabnya. Boleh jadi para sahabat (sepeninggal Rosululloh) meninggalkan atau tidak mengerjakan sesuatu karena memang sebuah Ijma’, atau karena kesepakatan bahwa hal tersebut tidak boleh, atau karena mereka menganggap ada hal lain yang lebih baik, atau ada sebab-sebab lain. Lantas apakah perkara yang memiliki banyak kemungkinan (at tark) dapat dijadikan dalil untuk menetapkan kemakruhan atau keharaman? Fa Taammal !!!

    7. At Tark adalah ashal, karena asal dari sesuatu adalah tidak ada. Maka At Tark tidak dapat membuktikan (dijadikan dalil) terlarangnya sesuatu. Fa Taammal Kay La Takhsar !!!

    Catatan : Penulis tidak mengingkari orang yang meninggalkan perkara yang tidak pernah dilakukan Rosululloh Saw dengan alasan Ittiba’, bahkan hal tersebut merupakan kebaikan. Namun mengharamkan apa yang ditinggalkan atau tidak dilakukan Rosululloh Saw dan Salaf as Sholih tanpa adanya dalil yang melarangnya adalah sebuah kedustaan atas nama agama.
    Selanjutnya segala apa yang ditinggalkan atau tidak dikerjakan Rosululloh Saw, sampai wafatnya beliau secara garis besar para Ulama membagi dalam dua macam :

    – Perkara yang ditinggalkan Rosululloh Saw karena tidak ada hal yang mendorong untuk melakukannya, namun setelah wafatnya Rosululloh Saw didapati pendorong/penyebab yang menghendaki untuk melakukannya. Hal semacam ini pada dasarnya boleh selama tidak menyalahi dalil-dalil nash. Contoh : Penghimpunan Mushaf pada masa Kholifah Abu Bakar RA, Penambahan adzan jum’ah pada masa Kholifah Utsman RA, dan yang lain.
    – Perkara yang ditinggalkan / tidak dikerjakan Rosululloh Saw padahal ada faktor yang mendorong untuk melakukannya, dalam hal ini ada dua sebab:

    a. Tidak adanya kemaslahatan syar’i dalam perkara tersebut. Maka dalam hal yang demikian hukumnya terlarang.
    b. Adanya madhorot yang lebih besar dari pada kemaslahatannya, seperti jamaah solat tarowih, namun ketika madhorotnya (yakni khawatir diwajibkan) hilang sehingga hanya tinggal manfaatnya, hal tersebut dapat dilakukan.

    Sebelum kita sampai pada kesimpulan tentang At Tark berikut kami kutipkan sebuah kisah dari Abdulloh bin Al Mubarok yang dituturkan oleh Sayyid Al Ghummari dalam kitabnya (Husnut Tafahhumi Wad Darki Li Mas-alatit Tarki) :

    قال عبد الله بن المبارك: أخبرنا سلام بن أبي مطيع عن ابن أبي دخيلة عن أبيه قال: كنت عند ابن عمر فقال: “نهى رسول الله عن الزبيب والتمر يعني أن يخلطا”. فقال لي رجل من خلفي ما قال؟ فقلت: “حرم رسول الله صلى الله عليه وسلم التمر والزبيب” فقال عبد الله بن عمر: “كذبت”! فقلت: “ألم تقل نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عنه؟ فهو حرام” فقال: “أنت تشهد بذلك؟” قال سلام كأنه يقول: ما نهى النبي صلى الله عليه وسلم فهو أدب.

    Abdulloh bin Al Mubarok berkata : Telah menceritakan kepadaku Salam bin Abi Muthi’ dari Ibnu Abi Dakhilah dari ayahnya, ia berkata : “ Aku berada disisi Abdulloh bin Umar, maka ia (Ibnu Umar) berkata : “ Rosululloh melarang korma dan kismis yakni mencampur keduanya “. Maka seorang lelaki dibelakangku bertanya : “ Apa yang telah disampaikan Ibnu Umar ?” Maka aku menjawab :” Rosululloh Saw mengharamkan mencampur korma dengan kismis “. Maka Abdulloh bin Umar berkata : “ Kamu berdusta!”. Akupun bertanya : “ Bukankah anda mengatakan bahwa Rosululloh Saw melarang mencampur korma dengan kismis? Maka itu berarti haram” Ibnu Umar RA berkata : “ Apa engkau (berani) bersaksi akan hal itu ?”. Salam berkata : “ Seakan-akan Abdulloh bin Umar berkata bahwa apa yang dilarang Nabi Saw adalah adab (makruh).
    Coba perhatikan sikap Abdulloh bin Umar RA salah satu Fuqoha-us Shohabah, dimana beliau menganggap dusta orang yang menafsirkan Nahi dengan Haram, padahal dalam ushul fiqih asal dari Nahi adalah Haram meskipun tidak shorih, namun terkadang Nahi juga bisa berindikasi Makruh.
    Kesimpulan Tentang At Tark :
    • Perkara yang ditinggalkan Rosululloh saw maupun para sahabat tidak otomatis menunjukkan perkara tersebut makruh atau haram, kecuali ada dalil yang menetapkan kemakruhan atau keharaman perkara tersebut.
    • At Tark yakni ditinggalkan dan atau tidak dilakukannya sebuah perkara, bukanlah landasan hukum untuk memakruhkan atau mengharamkan perkara tersebut.
    • Terhadap perkara baru, tidak langsung dapat divonis sesat atau haram sebelum diuji dengan dalil-dalil yang menjadi landasan agama yakni; Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.
    • Ungkapan “ Lau Kaana Khoiron Lasabaquunaa Ilaihi “ bukanlah sumber hukum bukan pula kaedah ushul untuk menetapkan kemakruhan atau keharaman suatu perkara.

    Disarikan dari Kitab “ Husnu At Tafahhum Wa Al Darki Li Masalai Al Tarki “ karya Sayyid Abdulloh bin As Siddiq Al Ghumari Al husaini. Tak lupa mohon koreksi atas segala kesalahan, terima kasih sebelumnya…

  15. assalamu alaikum,setelah menelaah apa yg di tulis pak @bu hilya menjadi sejuk hati ini,terima kasih ilmunya sangat mencerahkan sehingga tidak sembarangan menuduh amalan2 sebagian kaum muslimin yg tidak sejalan,dengan kata bid’ah dll. dan saya mau tanya ke mas admin dan kawan2 aswaja perkataan” Lau Kaana Khoiron Lasabaquunaa Ilaihi” dr mana datangnya? trima kasih sebelummya,,,

    1. Mas Ahmad, sepertinya Mas Admin tidak melihat pertanyaan antum, atau mungkin beliau masih ada kendala dg koneksi internetnya sehingga sampai sekarang belum jawab pertanyaan antum tentang asal muasal dalail andalan Wahabi LAUKAANA KHOIRON….dst. Sekedar membantu, silahkan baca di Ummati pada link berikut ada pemahasan tentang hal itu. Silahkan klik link ini Mas Ahmad.

      http://ummatipress.com/2012/01/13/dalil-andalan-wahabi-yang-terus-digembar-gemborkan-di-tengah-muslimin/

    2. Bismillah,

      @Mas Ahmad, tentang “LAU KAANA KHOIRON LASABQUUNAA ILAIHI” sejauah yang kami ketahui adalah ungkapan Imam Ibnu Katsir ketika beliau menafsirkan QS, An Najm :39, adapun tentang siapa pertamakali menggunakan ungkapan tersebut kami belum tahu..

      Wallohu a’lam

  16. bid’ah itu sesuatu yang tidak di contohkan dikerjakan rasulullah meskipun rasulullah sebenarnya tidak ada kendala untuk melakukannya,,

    sebagai contoh : pada saat wafatnya kerabat,keluarga rasul ,putra nya yang bernama Ibrahim kenapa rasulullah tidak melakukan doa bersama dirumah beliau padahal sangat mudah bagi rasulullah untuk mengadakan doa bersama dan pasti para sahabat sangat antusias menghadirinya,,akan tetapi kenapa tidak ada riwayat yang mengabarkan rasulullah melakukan hal tersebut…?? kalau hal tersebut baik dan tidak ada salahnya tentu rasulullah orang pertama yang akan melakukannya,,tp mengapa tidak dilakukan pdhl apa kendala untuk tidak melakukan hal tersebut ?? begitupun para sahabat,,apakah setelah abu bakar ra wafat para sahabat seperti umar ra,utsman ra dan ali ra mengadakan doa bersama dirumah abu bakar?

    apakah yang dilakukan umat pada jaman sekarang lebih baik dari pada generasi rasul sewaktu hidup? sehingga berpendapat bahwa doa bersama dalam peristiwa itu adalah baik menurut akal,,dan logika,,,

    apakah masuk logika yang membatalkan wudhu itu buang air kecil,,atau maaf ,,kentut tp pas kita wudhu dubur kita tidak ikut dibasuh,,kenapa yg di basuh justru tangan,,dll..??

    mudah2an kita semua hari demi hari kedepan makin diberi petunjuk sesuai dengan apa2 yg di syariatkan,,mudah2an kita semua bisa bersatu padu tidak terpecah belah,,karena umat lain memang ingin memecahkan kesatuan kita..janganlah terprovokasi waspadalah banyak sekali yg memang tujuannya seperti itu,,karena umat islam memang kelemahannya adalah dirusak dari dalam,,tetap bersatu saudara2 ku,,,biarlah ini dijadikan proses pembelajaran kita,,sabar,,,bukankah rasulullah menyuruh kita untuk selalu bersabar,,marilah kita bersatu jangan mudah dipecahkan,,perbedaan adalah hal yg wajar,,seiring waktu bs dilewati,,yang penting wahai saudara2 ku ingatlah kita jangan mudah terprovokasi dari dalam umat sendiri,,hati2 jg pada penyusup..mudah2an kita semua diberi petunjuk dilunakkan hatinya sehingga lebih mencintai saudara sesama muslim,,berniatlah dengan tulus ikhlas berdoalah semoga dijauhkan drpd ego dan kepentingan kelompok,,kita sama2 membangun umat ini,,semoga Allah selalu melindungi kita dari sifat2 yg sombong dan takabbur..mohon maaf apabila kata2 saya salah,,mohon maaf sekali lagi,,yg salah datangnya dari saya dan setan,,yang benar milik Allah,,mohon jangan di ikuti kalau perkataan saya pendapat saya tidak sesuai dengan sunnah atau hukum ,,sekali lagi mohon dimaafkan,,wassalam,,semoga Allah mengampuni dosa saya dan anda sekalian aamiin,,

    1. Assalamu ‘alaikum
      @butuh

      Saudara mengatakan : ” apakah masuk logika yang membatalkan wudhu itu buang air kecil,,atau maaf ,,kentut tp pas kita wudhu dubur kita tidak ikut dibasuh,,kenapa yg di basuh justru tangan,,dll..?? ”

      Saya : Bagusnya logika saudara beristinja dulu.

      Maaf kalau ada salah kata.

      1. Mas @M. Husaini, mungkin kita perlu bertanya kepada @butuh, air seni itu najis apa tidak, kalau najis, ya tentu saja harus dibasuh dulu, karena itu, tidak perlu menunggu seseorang itu ingin berwudhu atau tidak.

        Tentang kentut, mungkin @butuh punya definisi sendiri, apa itu kentut, apakah kentut termasuk najis atau tidak?

  17. Bismillah,

    @butuh, Sumber hukum dalam Islam dalam menetapkan kewajiban, keharaman, kesunnahan, kemakruhan dan kemubahan adalah al qur’an, as sunnah, dan kalau anda mengikuti pendapat jumhur, maka ditambah ijma’ dan qiyas.

    maka saya bertanya pada anda, dengan sumber hukum apa anda melarang do’a bersama setelah kematian ?

  18. @Butuh, ini konsep bid’ah anda : sesuatu yang tidak di contohkan dikerjakan rasulullah meskipun rasulullah sebenarnya tidak ada kendala untuk melakukannya,

    Bagaimana hukum mengumpulkan Al-Qur’an sehingga menjadi mushaf seperti yg kita kenal saat ini, bagaimana juga hukum para Imam Imam Muhadist yg mengumpulkan sunnah Nabi, mendirikan majlis taklim, mendirikan pesantren, Bagaimana dengan doa al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujud ketika shalat selama 40 tahun yang berbunyi: “Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Saya mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” (Al-Hafizh al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i, 2/254). Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, Sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits.

    Dimana hal hal yg saya sebutkan diatas tidak pernah di contohkan dan dikerjakan Rasulullah.

  19. assalamu alaikum,maaf pak butuh saya tidak sependapat dengan anda dengan dalil yg anda katakan ini ” kalau hal tersebut baik dan tidak ada salahnya tentu rasulullah orang pertama yang akan melakukannya” saya mau tanya perkataan ini di ambil dr Al-qur’an atau hadist???

  20. Assalamu’alaikum…

    sudah lama ane tidak mampir di mari, alhamdulillah Ummati masih eksis….semoga tetap eksis….

    sebenarnya ade kadang bosen juga baca mengenai bid’ah-2 terus….yaah wahabi sepertinya ga jauh-2 dari TBC or TBK yah??? Maulidan, yasinan, tahlilan…kebanyakan akhiran -an kena bid’ah oleh wahabi..heheheheehehe….

    jadi kurang ilmiah mereka, apa daurohnya cuma dapet itu aja yah? mudah-2an sih tidak….

    semoga ummati juga bisa ambil artikel-2 dari sumber aswaja lainnya spt : sarkub, group 1 juta menolak wahabi, warkop mbah lalar, singkirkan kepalsuan, peparing E illahi, NU, suara aswaja, PISS KTB, Dzikrul Maut de el el…jadi ketika penulis di ummati lagi ada kesibukan, website ummati tetap update meski ambil artikel dari sumber lain, menurut saya tidak apa-2, kan sesama aswaja, saling berbagi ilmu…jangan mudah vakum atau ga update.

    Mohon maaf bila ada kata-2 yg salah….

    Wassalam….

    1. aswaja selalu@

      Mas, usulan antum bagus juga, ane setuju. Tetapi setahu ane yg menyebabkan Admin lambat update adalah akibat kerusakan komputer satu2nya yg dimilikinya. Sehingga terganggu deh updatenya. Tentunya suatu pekerjaan yg sulit jika untuk menangani pekerjaan mengelola website hanya mengandalkan WARNET, ini berkaitan soal waktu dan kesempatan di sela2 kesibukannya yg lain.

      juga menurut pengamatan ane, sejak update postingan “TENTANG BID’AH” ini sepertinya mas admin belum mencul sekedar menyapa kita2. Semua tanggapan teman2 dicuekin semuanya, apa sebab? Coba lihat berita mengenai admin terpaksa berWARNET-ria untuk mengoperasikan Website ini. http://ummatipress.com/2012/09/19/ummatipress-terpaksa-beroperasi-via-warnet-2/

      Sungguh memprihatinkan tapi sayangnya ane belum bisa bantu. Mbok kalau antum punya komputer nganggur kasih aja ke Mas admin, pasti oke banget itu mas ASWAJA SELALU.

      1. @Bang Alvin….

        heheheheh bisa aja nih, ane aja OL di kantor xixixiixi…

        btw setau ane di sini yg jago bikin blog dll itu bang Wahyu Boez….kalo ga salah sih….

        maap kalo ane salah…kali aja beliau bisa bantu merawat website ini, atau komunikasi dg pemilik blog-2 aswaja atau admin di group FB untuk memprotect data de el el….

        1. Mas Alvin, mas Aswaja Slalu, dan kawan-kawan semuanya….

          Alhamdulillah, insyaallah besok hari Rabu 10 Oktober, kami akan kedatangan tamu dari Semarang yang akan menyumbangkan Komputer untuk kegiatan dakwah UmmatiPress. Kita do’akan, semoga lancar perjalanan beliau, karena malam ini sedang dalam perjalanan. Beliau adalah salah seorang komentator aktif di UmmatiPress, semoga Allah membalas amalnya dengan pahala yang sebanyak-banyaknya, amin….

          1. Alhamdulillah, semoga update2 selanjutnya semakin lancar. Dan bagi kawan Aswaja penyumbang komputer tsb saya do’akan semoga rezekinya semakin berlimpah, amin 3x…….
            Pokoknya saya ikut heppy dg kabar ini, karena saya tidak bisa membantu. 🙂

          2. Semoga Sahabat yang menyumbang komputer untuk Ummati selalu dalam Naungan Rahmat Allah SWT.

            @Mas Admin
            Seandainya masih ada keperluan, mohon diinfokan. Insya Allah saya juga ingin berpartisipasi sesuai kemampuan saya. Teriring doa semoga Ummati dapat menjadi Benteng Aswaja di Indonesia. Terima kasih.

            @Untuk para Ustad Ummati
            Semoga diberi kekuatan dan kesabaran dalam mengamalkan ilmunya, yang sangat-sangat bermanfaat, terutama dalam menangkal WAHABI

  21. Bismillah,

    Pernyataan dari saudara @butuh,

    apakah yang dilakukan umat pada jaman sekarang lebih baik dari pada generasi rasul sewaktu hidup? sehingga berpendapat bahwa doa bersama dalam peristiwa itu adalah baik menurut akal,,dan logika,,,

    tanpa bermaksud menafikan peran logika dalam beragama, apakah bisa diterima menetapkan hukum atas sesuatu dengan hukum haram, wajib sunnah, makruh, mubah berdasar logika?…sadarlah saudaraku..

    baiklah karena anda masih mengedepankan logika dalam beragama, akan kami sampaikan penjelasan yang mudah-mudahan logika anda nyambung dan bermanfaat…

    Sebelum diturunkannya ayat-ayat tentang haramnya Khomer, Perjudian, larangan zina, riba dan yang lain, pernakah Rosululloh SAW yang mulia melakukan itu semua?

    jawaban kita pasti menyatakan tidak pernah. lantas kenapa para sahabat masih mempertanyakannya (dalam masalah khomer dan perjudian)? bukankah telah cukup bagi mereka perintah “Taatilah Alloh dan Rosul-Nya!!” ? bukankah telah cukup dengan ayat tersebut sebagai larangan berzina, memakan riba, bertindak tidak jujur dan amanah, mencuri dan yang lain, karena Rosululloh yang mulia tidak pernah melakukannya…Renungkanlah saudaraku, semoga Alloh merahmati anda dan kita semua…

  22. Terus sajalah kalian putar otak untuk hal hal yang tidak berguna, agar kalian dibilang hebat, Alim, Soleh, hanif, bijaksana, sunnah, sehingga kalian lalai sampai akhirnya masuk kedalam kubur. Sahabat Nabi, Tabi’in tidak seperti kalian, itu yang harus kalian garis bawahi. mereka menjadikan alqur’an sebagai kunci dunia, sampai akhirnya 2/3 dunia dalam genggaman mereka. Hal itu bisa terjadi karena mereka tau isi alqur’an. Nah kebetulan kita sudah tidak tau lagi isi alqur’an bagaimana?. Maka sudah saatnya kita menggunakan hati yang bersih dan otak yang cerdas. Jangan lagi laga-laga sahih. yang tau alqur’an sudah tidak ada lagi, dahulu mereka sudah di bunuh dan dihabiskan oleh iblis. Mungkin ini takdir tuhan supaya permainannya jadi fair.

    1. Mas Admin Ummati, insyaallah semua pengunjung yg biasa berdiskusi di sini sudah memakluminya, pokoknya lanjut terus postingan selanjutnya sampai tak ada lagi fitnah2 Wahabi bertebaran di bumi Indonesia. :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

  23. Anak2 Salafy Wahabi pada diam seribu bahasa dalam postingan ini,

    Ini adalah ilmu dasar mengenai persoalan bid’ah, berangkat dari sini maka apa-apa yg diocehkan kaum Wahabi tentang bid’ah menjadi tidak berarti sama sekali. Sebab mereka benar2 memulainya dari pemahaman yg salah, maka tidak heran jika selama ini mereka menjadi fitnah dalam ajaran Islam.

    Terlalu kalau sampai nggak sadar juga atas kesalahannya setelah membaca postingan ini. Terutama Ibnu Suradi@, entah sampai kapan aka terus menerus bangga dg KEWAHABIANNYA yg penuh dg kesalahan2 fatal dalam memahami Islam.. 🙄 🙄 🙄

  24. Pengen pulang dari kantor td, tapi entah kenapa kok tiba-tiba kangen sama blog tercinta ini…ternyata ditarik Allah untuk mendapatkan ilmu yang luas dan luar biasa di halamaan ini….ingin saya print buat bacaan dirumah tapi sudah keburu matiin printernya hehehe…besok aja insya Allah, malam ini biar mulut kecil ini yang menceritakannya ke istri (eit, malam jumatan sama istri bid’ah gak ya…?kan katanya gak ada hadistnya….hehehehe)

    Terus kita berjuang bersama-sama menegakkan ahlus sunnah wal jamaah……semoga Allah selalu meridhoi niat baik dan usaha kita ini…aamien

  25. kalo penjabaran hadist jangan disembunyikan atau jangn dipotong.
    1. saya bukan berhalawan wahabi,bukan juga NU.
    2. tapi saya memperhatikan sosial masyrakat Islam Indonesia.
    tapi saya kurang setuju dengan blog ini

    1. ibinmuksin@

      1). Afwan Akhi ibnmuksin….,
      Tolong kasih contoh hadits dari postigan di atas yang kami sembunyikan atau yg kami potong secara sembarangan sehingga menyalahi maksudnya. Silahkan dijelaskan biar kami juga mengerti apa yang antum maksudkan.

      2). tidak apa-apa antum sekarang kurang setuju dengan blog ini, silahkan ikuti terus dan ikuti diskusi dengan kawan-kawan yang lain, siapa tahu nanti antum bisa setuju dengan eksistensi blog ini?

      Jangan baru berkunjung sekali sudah langsung main hakim sendiri.

  26. afwann akhi. apabedanya kita dengan wahabi yang selalu menyalahkan NU. jikakita juga suka menyalahkan wahabi. Tolong postingan tentang firqoh jangan dipublikasikan ke dunia terbuka.cukup debate tertutup. jangan sampai agama lain liat tentang perdebatan. masih banyakyang mest kita perbaiki. benahi diri sendiri liat. saya suka sedih ketika sesama muslim saling berdebat,masalahnya tentang bidah hasanah dan dolalah. ini akan menjadi debat kusir yang tidak kunjung habisnya. karena antum dan orang 0rang wahabi mempunyai imam masing-masing. masalah masuk neraka masuk surga hanya Allah yang mengetahui.

    1. Ibnu Muksin,
      coba katakan saja di mana letak salahnya dari uraian artikel di atas. Kalau antum bisa tunjukkan salahnya nanti saya akan mendukung antum sebab antum yg benar. Tapi kalau antum tidak bisa menunjukkan letak salahnya dari artikel di atas maka kamu memang sama saja dg Wahabi2 yang lainnya, kalau terpojok dalam diskusi ucapannya pasti seperti ucapan antum. Memang hanya itulah cara untuk membela Wahabi yg dianutnya ketika terpojok dalam diskusi, sebab sudah kehabisan argumentasi.

    2. Bismillah,

      Mas @Ibin Muksin, anda menanyakan perbedaan antara ASWAJA dengan WAHABI, sejauh yang kami ketahui perbedaannya adalah mereka menghujat kami, menghujat Ulama-ulama kami, dengan tuduhan-tuduhan Ahli Bid’ah, Syirik, dsb, sebuah tuduhan yang membuat kami ragu apakah mereka saudara kami seiman?

      anda bisa buktikan dengan buku-buku karya mereka semisal “mantan kiai NU menggugat” “Buku Putih Mantan Kiai NU” dll..belum lagi blog-blog dan situs-situs juga media online yang lain….

      tepatkah kiranya menurut anda jika kami hanya diam?

      bahwa selanjutnya generasi muda ASWAJA mengcounter itu semua dengan gaya dan bahasa mereka itu adalah bias dari kondisi yang diciptakan WAHABI

      hal penting yang perlu anda fahami, bahwa hal yang paling berbahaya dari misi mereka adalah mencoba memutus Ummat dari Al Qur’an dan As Sunnah dengan cara memutus tali penyambung antara Ummat dan Qur’an juga Sunnah yakni para Ulama..

      coba anda renungkan, tuduhan mereka terhadap para ulama kami, dimana mereka mengatakan para ulama kami menyukai bid’ah karena berkat, amplop, dan mereka menganggap para ulama menyembunyikan kebenaran untuk hal-hal semacam itu….

      Renungkanlah saudaraku, di saat Ummat semakin bodoh dalam memahami agamanya mereka menghujat para Kiai, Habaib, dan yang lain yang notabene merupakan sarana bagi kaum awam memahami agamanya, maka kondisi yang sangat mungkin akan timbul adalah :

      – Ummat yang buta ini akan mereba-raba tanpa Qo’id dalam memahami agamnya
      – Al Qr’an dan As Sunnah yang mulia akan mengalami degradasi karena diinterpretasikan dengan logika dangkal dan mata hati yang buta,
      – Mereka menghendaki kami meninggalkan para Imam kami, guru kami dan beralih mengikuti mereka…

      adakah kondisi ini menurut anda nggak penting?

    1. ibnmuksin@
      dari komentar2mu saya bisa baca apa yg tersembunyi di balik hatimu, sesungguhnya antum memang penganut Wahabisme tapi entah dari VARIANT WAHABI ynag mana. Sebab Wahabi memang cukup banyak variant-nya.

      mungkin antum gak sadar dirimu Wahabi, atau bahkan menyadari dg sesadar-sadarnya cuma kamu di sini menyamar. Rupanya antum sangat gerah melihat Wahabi dikupas tuntas di blog ini, dan antum rupanya mencoba menghentikannya dg cara menyamar seolah2 antum bukan Wahabi. Menyamar seperti apa pun Wahabi akan tetap kelihatan, sadarilah itu mas ibnu muksin@.

  27. saya ga setuju. apakah segala tuduhan bid’ah, tahyul, churafat itu harus kita jangan jawab? dibiarin aja, agar Wahhaby bisa menebarkan dakwah mereka seluas-luasnya? lalu siapakah yang akan jadi pembela agama Allah? padahal, yang ditanyakan Admin itu adalah tentang hadis mana yang udah dipotong? jangan-jangan ini helah Wahhaby yang udah kehabisan modal dan kebakaran jenggot.

  28. @Ibinmuksin

    Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah golongan mayoritas umat Muhammad. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam dasar-dasar aqidah. Merekalah yang dimaksud oleh hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam:
    “…maka barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga hendaklah berpegang teguh pada al Jama’ah; yakni berpegang teguh pada aqidah al Jama’ah”. (Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim, dan at-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih)

    Setelah tahun 260 H menyebarlah bid’ah Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya. Maka dua Imam yang agung Abu al Hasan al Asy’ari (W 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (W 333 H) -semoga Allah meridlai keduanya- menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al Qur’an dan al hadits) dan ‘aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhah-syubhah (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya, sehingga Ahlussunnah Wal Jama’ah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka (Ahlussunnah) akhirnya dikenal dengan nama al Asy’ariyyun (para pengikut al Asy’ari) dan al Maturidiyyun (para pengikut al Maturidi). Jalan yang ditempuh oleh al Asy’ari dan al Maturidi dalam pokok-pokok aqidah adalah sama dan satu.

    Al Hafizh Murtadla az-Zabidi (W 1205 H) dalam al Ithaf juz II hlm. 6, mengatakan: “Jika dikatakan Ahlussunnah Wal
    Jama’ah maka yang dimaksud adalah al Asy’ariyyah dan al Maturidiyyah”. Mereka adalah ratusan juta ummat Islam (golongan mayoritas). Mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, para pengikut madzhab Maliki, para pengikut madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al Hanabilah). Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah memberitahukan bahwa mayoritas ummatnya tidak akan sesat. Alangkah beruntungnya orang yang senantiasa mengikuti mereka.

    Salah satu Aqidah Ahlussunah waljamaah adalah :Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah
    sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-: “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).

  29. Bismillah,

    @admin Ummati,

    Seraya bersyukur kepada Alloh SWT, kami ucapkan selamat atas penampilan baru dari blog tercinta ini…walau ada sedikit kurang sempurna yakni pada font arabnya agak kurang enak dilihat, mungkin mas admin bisa mengusahakan lebih baik lagi…walau apa yang ada sekarang sebenarnya sudah bagus, dan kami haturkan terima kasih

    1. Ya, Alhamdulillah ustadz Abu Hiya…,
      kami sudah coba perbaiki font arabnya tapi belum berhasil, mungkin ini bawaan dari template, insyallah nanti kalau ada waktu cukup akan diganti templatenya yg lebih baik.

  30. assalamu alaikum,mba Aryati dan mas Abu hilya terima kasih bayak sudah menanggapi pertanyaan saya,,,,skhukron.dan saya maklum kepada mas admin yg nampaknya sedang ada masalah dalam mengurusi peralatannya,semoga saja cepat segera selesai demi kelancaran da’wah di dunia maya ini,,,wassalam.

  31. Assalamualaikum semua, saya ingin tanya setelah membaca tentang At Tark…, Apakah termasuk At Tark misalnya; Ngupati yaitu acara Dzikir & Doa utk orang yg hamil 4 bulan, Mitoni bagi yg hamil 7 bulan, Mohon sedianya yang mau njelasin biar saya tambah paham.
    Wassalamualaikum Wwb

  32. Bismillah,

    Mas @Ahmad, Ngapati atau Ngupati yakni upacara yang dilakukan pada saat kehamilan berusia 4 bulan, dan juga Mitoni atau Tingkepan yakni upacara selamatan yang diadakan pada saat kehamilan berusia 7 bulan adalah tradisi semata, sejauh yang kami ketahui tradisi tsb tidak terdapat sumbernya dari agama baik perintah, contoh, maupun larangan.

    Namun demikian, kandungan yang terdapat dalam acara yang berkemas Ngapati atau Tingkepan tersebut yang berupa do’a untuk bayi yang belum lahir terdapat contoh dan tuntunannya dari agama sbb:
    – Nabi Ibrohim as berdo’a untuk anak cucunya yang belum lahir :

    رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ
    “ Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami ummat yang tunduk patuh kepada Engkau “ (QS, Al Baqoroh : 128)
    – Al Qur’an juga mengajarkan kepada kita untuk selalu berdo’a :

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
    “ Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. “ (QS, Al Furqon : 74)

    – Rosululloh SAW mendo’akan janin Abi Tholhah :
    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ يَشْتَكِي فَخَرَجَ أَبُو طَلْحَةَ فَقُبِضَ الصَّبِيُّ فَلَمَّا رَجَعَ أَبُو طَلْحَةَ قَالَ مَا فَعَلَ ابْنِي قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ الْعَشَاءَ فَتَعَشَّى ثُمَّ أَصَابَ مِنْهَا فَلَمَّا فَرَغَ قَالَتْ وَارُوا الصَّبِيَّ فَلَمَّا أَصْبَحَ أَبُو طَلْحَةَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ أَعْرَسْتُمْ اللَّيْلَةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا

    “ Anas bin Malik berkata : “ Abu Tholhah memiliki seorang anak laki-laki yang sedang sakit. Kemudian ia pergi meninggalkan keluarganya. Kemudian anak kecil itu meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah pulang, beliau bertanya kepada istrinya, Ummu Sulaim, “Bagaimana keadaan anak kita?” Ummu Sulaim menjawab; “dia sekarang dalam kondisi tenang sekali”, kemudian Ummu Sulaim menyediakan makan malam, sehingga Abu Tholhah pun makan malam. Setelah selesai makan malam keduanya melakukan hubungan suami istri. Setelah selesai Ummu Sulaim menyuruh orang-orang mengubur anak laki-lakinya itu. Pagi harinya, Abu Tholhah mendatangi Rosululloh SAW dan menceritakan kejadian semalam. Nabi SAW bertanya; “ Tadi malam kalian tidur bersama?” Abu Tholhah menjawab “Ya”, Lalu Nabi SAW berdo’a; “ Ya Alloh berkahilah keduanya.” Lalu Ummu Sulaim melahirkan anak laki-laki “ (HR, Bukhori-Muslim)
    Ayat dan Hadits diatas melegitimasi berdo’a untuk anak dan keturunan, baik yang telah lahir maupun yang belum dan yang akan lahir.

    Adapun bershodaqoh dengan tujuan agar keinginannya atau hajatnya tercapai adalah perkara yang Mustahab, sebagaimana apa yang disampaikan Imam Nawawi dalam Majmu’ Syarah Muhadzzab,

    يستحب أن يتصدق بشئ امام الحاجات مطلقا

    “ Disunnahkan bersedekah ketika mempunyai hajat apapun “ (Majmu’ Syarah Muhadzdzab Juz 4/269)
    قال اصحابنا يستحب الاكثار من الصدقة عند الامور المهمة

    “ Para Ulama kami berkata : Disunnahkan memperbanyak bersedekah ketika menghadapi urusan-urusan penting “ (Majmu’ Syarah Muhadzdzab 6/233)

    Bersedekah pada masa-masa kehamilan juga dilakukan oleh Al Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana diceritakan dalam kitab Manaqib Al Imam Ahmad bin Hanbal-nya Al Imam Al Hafidh Ibn al Jauzi pada hal 406.

    Dari paparan diatas dapat disimpulkan sbb:

    – Penentuan waktu Ngapati/Ngupati dan tingkepan adalah tradisi semata yang tidak terdapat tuntunan dari agama, namun juga tidak menyelisihnya sebagaimana Syukuran kemerdekaan pada tgl 17 Agustus, dan tradisi-tradisi yang lain sepanjang dalam pelaksanaannya tidak terdapat hal-hal yang munkar.
    – Esensi dari acara tsb yakni do’a dan sedekah adalah perkara yang dianjurkan dan dicontohkan oleh agama.

    Wallohu a’lam,

    Sumber: Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah ASWAJA Center NU Jatim

  33. Jazakumulloh atas Penjelasanya Abu Hilya, Intinya memang Agama jangan mudah Menuduh dan Menjelekkan/ Menyalahkan Amalan Orang lain. Semoga kepada saudara kita yang sukanya dikit-dikit Bid’ah segera mendapat kepahaman Agama yg diberi Alloh SWT. Amien.

  34. kita tunggu aja di hari akhir, walaupun sseabreg dalil yang ditunjukan pasti tidak akan diterima. mohon maaf kalo ane salah. mudah-mudahan tidak ada dendam dianatara kita. mohon maaf sebesar-besarnya. biarkan kita berdakwah dengan jalan masing masing

    1. @Ibinmuksin

      Para ulama berkata : bahwa sesuatu yang diminta oleh syara’ baik yang bersifat khusus maupun umum, bukanlah bid’ah, kendati pun sesuatu itu tidak dilakukan dan tidak diperintah- kan secara khusus oleh Rasulallah saw.!

    2. Wahabi memang anti kebenaran, maunya nuruti hawa nafsu aja. Dikasih dalil kok malah meledek nantang2 bukti di akhirat?

      Antum emang pikirannya jelek banget, kok berpikir kami dendam pada antum? Kita di sini diskusi bukan denmdam-dendaman, sampaikan aja hujjah antum, jangan bisanya menggerutu yg tidak jelas juntrungannya.

    1. ibinmuksin@

      antum belum tahu rupanya dalam mudzakaroh yg antum kasih linknya tsb, akhirnya ustdz Ahmad Thoharoh ngeper dan tidak berani lagi muncul dalam pertemuan sesi berikutnya. Hujjahnya lemah bagaikan sarang laba2, tidak ada ceritanya Wahabi menang dalam debat soal Tawassul dan Ziarah. Sebab Wahabi memang hujjahnya sangat lemah.

  35. BID’AH tak terasa BID’AHnya bagi hati yg berdebu, bagi hati yg tertipu:

    1.KITAB HADIST(karena kekhawatiran tdk sampainya sunnah Rosul saw akibat banyaknya penghafal hadist yg wafat tampilah seorang Khalifah yg adil UMAR II mengadakan sayembara penulisan Hadist. dan dari sebab ini sampai2 yg bukan ahlinya ikut2an menulis Hadist, kemudian munculah ilmu musthola’ah hadist oleh seorang ulama Abu Muhammad Hasan bin Abdurrahman bin Khalad Ar-Ramahurmuzi (wafat 360 H) Kitab Hadist dan ilmu Musthola’ahnya adalah bid’ah karena tdk ada perintah dan contoh dari baginda nabi saw.

    2.PANTI ASUHAN adalah lembaga yg menampung bagi kaum papa duafa. inipun Bd’ah karena Baginda nabi saw thk pernah memberi contoh. Zaman nabi kaum duafa ditampung dirumah beliau2 para sahabat nabi. Karena Panti Asuhan dirasa enak dan mengenakan anti repot dan merepotkan maka ini adalah BID’AH terasa SUNNAH bagi hati berdebu pikiran kelabu.

    3.BERHAJI dg MIQOD diBandara King Abdul Aziz
    inipun Bid’ah tak terasa Bid’ahnya mungkin karena ini terjadi di negara asal muasalnya JURUS BID’AH. seperti pepatah “gajah yg besar tak tampak, semut dilubang jelas.

    ketiga contoh diatas adalah Bid’ah agama bagi yg membagi Bid’ah agama & Bid’aah Dunia
    dg mengharamkan pembagian Bid’ah baik & Bid’ah tercela . inilah hati yg mati.

    CONTOH BID’AH YG YG DATANG DARI NAJDI
    1. membagi tauhid menjadi 3 (trinitas) yaitu uluhiyah , Rububiyah, Asmawasifah
    Baginda nabi saw memcukupkan Laailaahaillallah Muhammadurrosulullah seseorang sudah muslim. jadi pembagian tauhid 3 adalah tdk ada contoh dan anjuran dari Baginda nabi saw, justru pembagian Tauhid 3 adalah contoh dari KAUM PAGAN :
    – Ajaran Trinitas di Mesir: Iziris, Auzuris, dan Huris.

    – Ajaran Trinitas di India: Brahma, Wisynu, dan Syiwa.

    – Ajaran Trinitas di Yunani: Zeus, Poseidon, dan Pedos.

    – Ajaran Trinitas di Romawi: Jupiter, Nipton, dan Pluton.
    – Ajaran Trinitas paulus dari tarsus : tuhan bapa, tuhan anak, ruhulkudus.
    2.karena pengaruh ajaran dari najdi tempatnya Musailamah kahzab / nabi palsu
    banyak sekali pemalsuan kitab2 Ulama’ seperti bisa dilihat scan buktinya di blog “salafi tobat”
    pemalsuan kitab tdk dicontohkan baginda nabi saw. Pemalsuan kitab adalah contoh yg dilakukan kaum terkutuk yahudi (mengacak2 taurot, memalsu injil, alquran tahrib)
    3.Mencela dan mengkafirkan AhlulQiiblah , mencela dan mengkafirkan AhlulQiblah adalah Bid’ah yg besar. karean saking besarnya sehingga mereka tak melihatnya apalaagi merasakanya persis seperti Anah panah menembus binatang buruan krn saking cepatnya maka tak berbekas.

    Cara membersihkan hati yg berdebu perbanyak dzikir sholawat nabi beramal sholeh dg ikhlas walau sedirham,dan tdk menuduh sembarangan berbelas kasih sesama muslim.

    mari ucapkan allahumma sholli wasallim ‘ala sayyidina muhammad wa’ala aali sayyidina muhammad

    1. Ahmad Fawwaz@

      Mas Ahmad, mantab ulasannya dan sindirannya, begitulah kira2 Wahabi penuh kontradiksi, ummat islam di seluruh dunia juga tahunya seperti itu terhadap salafy Wahabi.
      Mengena sekali sindirannya, he.

  36. 1. Mereka tidak memperdulikan perkataan yang sangat masyhur dari Sahabat Umar: “Ni’matul bid’atu hadzihi” (alangkah bagus bid’ah ini). Di sini sangat jelas Sayyidian Umar memuji bid’ah (Sholat Tarawih Berjamaah sebulan penuh) sebagai kebaikan, ini sekaligus mencerminkan sejelas-jelasnya tentang adanya bid’ah yang baik (hasanah). Jika kaum Wahabi mengingkarinya sebagaimana yang mereka telah pertontonkan selama ini, apakah masih pantas mereka menyebut dirinya sebagai PENGIKUT PEMAHAMAN SAHABAT NABI?

    tanggapan : apa hanya itu ocehan yang bisa antum katakan? ketahuilah saudaraqu,..postingan antum ini terlalu rapuh (bahkan lebih rapuh dari jarimh laba-laba), untuk kita katakan ilmiyah.kenapa? jelas sekali terlihat dari bagaimana antum memahami ucapan umar bin khaththab.Padahal sangat jelas apa yang di maksudkan beliau dengan ucapannya itu.Yang dimaksudkan beliau adalah bid’ah secara bahasa.Bukan istilah!mengapa? sebab Rasulullah pun mengerjakan Shalat tarawih bersama shahabat beliau di beberapa kesempatan.Setelah itu beliau tinggalkan dengan sebab alasan tertentu.

    1. hallo Dufal, udah dua tahun lebih antum gak muncul2 begitu muncul langsung nyerocos tanpa uluk salam sebagaimana seorang muslim bertemu muslim lainnya. Atau sekurang2nya bilang HALLO, gitu Fal.

      Saya heran lho fal, kok dufal ternyata belum sembuh juga dari penyakit virus Wahabi, berarti antum masih kurang mikirin ilmu2 yg kamu pelajari sehingga belum sembuh juga.

      Oke deh, yg bilang perkataan Sayyidina Umar tsb sebg bid’ah secara bahasa itu siapa yg bilang? Apakah Sayyidina Umar mengatakannya itu bid’ah bahasa? Apakah antum pikir Sayyidina Umar itu bodoh? Atau Wahabiyyun yg jahil dalam memahami maksud perkataan Sayyidina Umar? Padahal sudah sangat jelas, tarowih sebulan penuh itu benar-benar bid’ah sebab Nabi Saw tidak melakukan Tarowih sebulan penuh. Tetapi tentu saja tarowih sebulan penuh adalah bid’ah yg baik (hasanah).

      Bukankah kalau Wahabiyyun itu konsisten dg kaidah Bid’ahnya seharusnya mengharamkan tarowih sebulan penuh sebab Nabi saw tidak melakukannya sebulan penuh? Mikir Fal, mikir….

      Jadi jelaslah maksud sayyidina Umar bahwa benar ada bid’ah yg baik, hanya Wahabi yg bilang semua bid’ah itu jelek. Nabi sendiri mengatakan: KULLU BID’ATI Dholalah, Sebagian bid’ah itu sesat. Baca artikel di atas dari awal secara teliti biar antum ngerti dan makin pintar. Saya heran dari dulu sampai sekarang antum gak ningkat ilmunya. kalau begini terus bagaimana antum bisa sembuh fal?

    2. Bismillah,

      saudaraku @dufal, maaf ana nggak akan ngladeni arogansi anda, sekarang ana cuma minta bukti:

      – atas dasar apa anda menyamakan apa yang digagas Umar RA, dengan yang dicontohkan Nabi SAW,?
      – atas dasar apa anda menyebut apa yang telah dicontohkan Nabi SAW berupa Qiyamul Lail 4 salam dengan sebutan Tarowih?
      – Dalil apa yang anda pergunakan guna membatasi pernyataan Umar RA, Ni’matil Bid’ah Hadzihi hanya dalam pengertian bahasa?
      – cukupkah kiranya hadits “Jama’ah Qiyamul Lali” nya Nabi SAW yang dua malam itu sebagai hujjah untuk membatasi pernyataan Umar RA hanya dalam pengertian bahasa?
      – dari manakah anda mendapatkan istilah Qiyamul Lail di bulan Ramadhan dengan sebutan Tarowih?

  37. Ada seseorang yang ketika hidupnya di dunia, dia banyak melakukan amala-amalan Surga tapi ujung-ujungnya masuk Neraka…

    Ada seseorang yang ketika hidupnya di dunia, dia banyak melakukan amala-amalan Neraka tapi ujung-ujungnya masuk Surga …

  38. TELAAH KRITIS BID’AH FERSI SYEH MUHAMMAD BIN SHOLIH AL ‘UTSAIMIN

    Dalam kitabnya Al Ibda’ Fi Kamali As Syar’i Wa Khothoril Ibtida’ Syeh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin berkata :

    قوله (كل بدعة ضلالة) كلية, عامة, شاملة, مسورة بأقوى أدوات الشمول والعموم (كل), افبعد هذه الكلية يصح ان نقسم البدعة الى اقسام ثلاثة, أو الى خمسة ؟ ابدا هذا لايصح.

    Hadits “KULLU BID’ATIN DHOLALATUN” (semua bid’ah adalah sesat), bersifat general, umum, menyeluruh (tanpa terkecuali) dan dipagari dengan kata yang menunjuk pada arti umum yang paling kuat yaitu kata-kata seluruh (Kullu). Apakah setelah ketetapan menyeluruh ini kita dibenarkan membagi bid’ah menjadi tiga bagian, atau menjadi lima bagian ? selamanya pembagian ini tidak akan pernah sah. (Syeh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin, al Ibda’ fi Kamalis Syar’iy wa Khothoril Ibtida’ , hal; 13)

    Dalam uraian diatas kita dapati syekh al ‘Utsaimin menutup kemungkinan kata Kullu untuk memiliki makna lain, bahkan beliau mensifati Qodhiyah “KULLU BID’ATIN DHOLALATUN” tersebut dengan sifat Kulliyah (general), ‘Ammah (Umum), Syamilah (menyeluruh) dan memandang qodhiyah “Bid’atin Dholalah” (bid’ah adalah sesat) telah dipagari dengan Adat Syumul wal Umum (kata yang berindikasi umum dan menyeluruh) terkuat, yang berarti tanpa kecuali. Sehingga dalam akhir redaksi diatas kita dapati pernyataan selamanya pembagian ini tidak akan pernah sah

    Selanjutnya mari kita buktikan apakah syeh al ‘Utsimin konsisten dengan pernyataannya tentang :

    – Kata Kullu yang tidak dapat bermakna sebagian, atau beliau memberlakukan kata Kullu tidak dapat bermakna sebagian hanya khusus hadits diatas?
    – Bid’ah tidak akan pernah sah untuk dibagi selamanya…(benarkah ?)

    Dalam kitabnya yang lain Syeh al ‘Utsaimin berkata :

    ان مثل هذا التعبير (كل شيئ) عام قد يراد به الخاص, مثل قوله تعالى عن ملكة سبأ : (وأوتيت من كل شيئ) و قد خرج شيئ كثير لم يدخل في ملكها منه شيئ مثل ملك سليمان. ( الشيخ العثيمين , شرح العقيدة الواسطية, ص : 336 )

    Sesungguhnya redaksi seperti ini “KULLU SYAY’IN” (segala sesuatau) adalah kalimat general yang terkadang dimaksudkan pada makna terbatas, seperti firman Alloh Ta’ala tentang ratu Saba’; “Ia dikaruniai segala sesuatu”. (QS, An Naml: 23). Sedangkan banyak sekali sesuatu yang tidak masuk dalam kekuasaannya, seperti kerajaan Nabi Sulaiman. (Syeh al ‘Utsaimin, Syarah al Aqidah al Wasithiyyah, hal 336)

    Disini kita dapati Syeh al ‘Utsaimin mematahkan tesisnya sendiri tentang ke-umum-an arti kata Kullu dengan mengacu pada kenyataan, bahwa tidak semua berada dalam kekuasaan ratu Saba’, karena kenyataannya banyak yang tidak masuk dalam kekuasaannya termasuk kerajaan Nabi Sulaiman. Pertanyaannya, mengapa beliau tidak melakukan hal yang sama (melihat kenyataan) pada hadits “Kullu Bid’atin Dholalatun”. Terlebih jika memperhatikan hadits-hadis yang lain….

    Berikutnya, apakah beliau tetap konsisten dengan pernyataanya selamanya pembagian ini (bid’ah) tidak akan pernah sah ? berikut pernyataan beliau selanjutnya :

    الاصل في امور الدنيا الحل فما ابتدع منها فهو حلال الا ان يدل الدليل على تحريمه, لكن امور الدين الاصل فيها الحظر, فما ابتدع منها فهو حرام بدعة الا بدليل من الكتاب والسنة على مشروعيته ( الشيخ العثيمين , شرح العقيدة الواسطية, ص : 336 )

    Hukum asal dalam perkara perkara dunia adalah halal, maka inofasi (bid’ah) dalam urusan dunia adalah halal, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Tetapi hukum asal dalam urusan agama adalah terlarang, maka apa yang diperbarukan/diadakan (bid’ah) dalam urusan-urusan agama adalah haram dan bid’ah, kecuali ada dalil dari al Kitab dan Sunnah yang menunjukkan ke-masyru’-annya (keberlakuannya) (Syeh al ‘Utsaimin, Syarah al Aqidah al Wasithiyyah, hal 639-640)

    Dalam penjelasannya diatas Syeh al ‘Utsimin mematahkan pernyataannya yang lain setidaknya dalam dua hal :

    selamanya pembagian ini (bid’ah) tidak akan pernah sah, kenyataannya beliau membagi bid’ah dengan dua macam : yakni Bid’ah Dunia dan Bid’ah Agama
    – Keumuman makna kata Kullu, karena disini kita dapati adanya bid’ah yang tidak sesat yakni bid’ah dunia.

    Selanjutnya mari kita cermati pandangan beliau tentang realita pendirian pondok pesantren, menyusun ilmu, mengarang kitab dan yang lain sbb :

    ومن القواعد المقررة ان الوسائل لها احكام المقاصد, فوسائل المشروع مشروعة, ووسائل غير المشروع غير مشروعة, بل وسائل المحرم حرام, فالمدارس وتصنيف العلم وتأليف الكتب وان كانت بدعة لم يوجد في عهد النبي صلى الله عليه وسلم على هذا الوجه الا انه ليس مقصدا بل هو وسيلة, والوسائل لها احكام المقاصد, ولهذا لو بنى شحص مدرسة لتعليم علم محرم كان البناء حراما, ولو بنى مدرسة لتعليم علم شرعي كان البناء مشروعا ( الشيخ العثيمين , الابداع فى كمال الشرع وخطر الابتداع , ص : 18-19 )

    “ Dan diantara kaedah yang ditetapkan adalah bahwa “Perantara (wasilah) itu memiliki hukum-hukum maqoshid (tujuan) nya. Jadi perantara untuk tujuan yang disyari’atkan adalah disyari’atkan (pula), dan perantara untuk tujuan yang tidak disyari’atkan (perantara tsb) juga tidak disyari’atkan, bahkan perantara tujuan yang diharamkan adalah haram (hukumnya). Adapun pembangunan madrasah-madrasah, menyusun ilmu, mengarang kitab, meskipun itu semua Bid’ah dan tidak ditemukan/tidak didapati pada masa Rosululloh SAW dalam bentuk seperti ini, namun ia bukan tujuan melainkan hanya perantara, sedang hukum perantara (wasilah) mengikuti hukum tujuannya. Oleh karena itu bila seseorang membangun madrasah untuk mengajarkan ilmu yang diharamkan maka membangunnya dihukumi haram, dan bila membangun madrasah untuk mengajarkan ilmu syari’at, maka pembangunannya disyari’atkan.” (Syeh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin, al Ibda’ fi Kamalis Syar’iy wa Khothoril Ibtida’ , hal; 18-19)

    Coba kita perhatikan tulisan yang berhuruf tebal diatas, sekali lagi secara implisit beliau mematahkan tesisnya tentang ke-umum-an arti kata Kullu, bahkan secara implisit pula beliau telah membagi bid’ah dalam kategori “WASILAH” (perantara) dan “MAQOSHID” (tujuan). Sehingga jika kita cerna dengan logika bahasa, maka mafhum dari apa yang beliau katakan adalah :

    – Jika Bid’ah itu berupa “WASILAH” (perantara) maka hukumnya mengikuti “MAQOSID” (tujuan) tanpa memandang apakah itu urusan dunia atau urusan agama.
    – Adanya “WASILAH BID’AH” dan “WASILAH BUKAN BID’AH”
    – Hukum “WASILAH BID’AH” mengikuti hukum “MAQOSHID” yang berarti terbagi menjadi lima, yakni wajib, mandzubah, mubah, makruh dan haram.

    Jika mereka (salafi/wahabi) tidak mau mengategorikan “WASILAH” termasuk bid’ah, lantas apakah bisa dikategorikan sunnah dalam pengertian mereka? Kenyataanya mereka tidak mau menganggap sunnah terhadap apa-apa yang tidak ada pada masa Nabi SAW dan para Sahabat….

    Selanjutnya jika mereka (salafi/wahabi) memang konsisten dengan pendapat Syeh al ‘Utsimain diatas tentang hukum “WASILAH”, lantas mengapa mereka menganggap membaca kitab-kitab Maulid (Siroh Nabawi, pujian melalui qoshidah dan Sholawat) adalah Bid’ah Sesat? Apa memang tidak ada perintah baca sholawat? Apa memang tidak ada para sahabat yang bercerita tentang Nabi SAW,? apa memang tidak ada sahabat yang memuji Nabi SAW dengan senandung Nasyid mereka?… atau karena mereka (salafi) tidak/belum tahu? Atau tidak mau tahu?… atau mereka menganggap kitab-kitab MAULID adalah MAQOSHID (tujuan)? Annnehhh..(mubalagho)

    Wallohu A’lam

    Bersambung…..(TELAAH KRITIS PEMBAGIAN BID’AH DUNIA DAN BID’AH AGAMA) Insya Alloh..

    1. Salam.

      @Bu Hilya
      Terima kasih atas sharing pemikiran yang brilian. Pemaparan yang sangat lugas dan kritis.
      Mazhab Salafy adalah mazhab tambal sulam. Mereka tidak akan berhenti membuat lubang dalam konsep mereka (karena memang mereka memulai dengan sesuatu yang salah), sehingga akan selalu menjadi PR bagi pengikut2nya yang kemudian untuk menambal lubang2 tsb.
      Jadi mereka akan selalu dalam tekanan, baik dari luatr maupun dari dalam mazhab mereka sendiri (makanya Salafy tidak pernah berhenti melahirkan sekte2nya).
      Juga akan sangat menarik jika Bu Hilya bisa menampilkan kronologis tambal sulam tsb, yaitu bagaimana perjalanan transformasi konsep wahaby/salafy. Misal saja dahulunya jika kita lihat dari fatwa2 mereka maka tidak terlihat/terasa pembagian/pembedaan atas bid’ah dalam ibadah dan sosial.

      salam

  39. Pantasan Wahabi CUPET tukang Copypaste, ya ulamanya aza kaya gitu. NGgak ngerti yang diomongin sendiri. Ulama kaya gini mau diikutin? Mending ikut shalafussholeh asli. Pendapat Syayidin Umar, Imamam Sayfi’i, dll.Kalao ga salah, ulama ini juga nih yang bilang Imam Ibnu Hajar Alasqolani dan Imam Nawawi bukan Ahlussunnah.Nekad benar. Pantas aza diikuti sama pengikutnya di Indonesia. Tiba-tiba bisa jadi Syeh … Tapi kalo ada listrik. Kalo listrik mati … hilang kesempatan jadi Syeh karena ga bisa copypaste di internet.
    Ustadz @bu Hiya
    Terima kasih ulasannya, ditunggu lanjutannya.

  40. Ada lagi yang lucu dan menarik, dari seorang Syeikh dan merupakan guru dari Syeikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin
    Dalam Kitab “Al Adfillah an Naqliyah wa al Hissiyah ‘Ala Jarayâni asy Syamsi wa Sukûnin al Ardhi wa Imkâni as Shu’ûd Ila al Kawakib”, Karya Imam Besar Wahabi Syeikh Abdul Aziz bin Bâz menegaskan bahwa meyakini bumi mengitari matahari berarti telah membohongi Allah dan Kitab suciNya dan telah mengatakan kekafiran dan kesesatan dirinya.

    Ini sebagian dari isi kitabnya : Fatwa Imam Besar wahabi/Salafi yang gemar Pengkafiran tanpa sebab yang jelas!

    Pada hal:23 : “Sebagaimana pendapat bathil ini yang meyakini bahwa bumi mengitari matahari, bertentangan dengan nash-nash, ia juga menyalahi kesaksian kasat mata dan juga menentang akal (?), sebab kenyataannya manusia baik muslim maupun kafir menyaksikan bahwa matahari berjalan, terbit dan tenggelam dan mereka menyaksikan semua negeri dan semua gunung di sisinya tidak berubah akibat itu semua, andai bumi itu berjalan mengitari (matahari) seperti yang mereka anggap pastilah negeri-negeri, gunung-gunung, pohon-pohon, sungai-sungai dan lautan tidak akan tetap (tak terguncang) dan pastilah manusia menyaksikan negeri-negeri di belahan bumi bagian barat berada di sebelah timur dan sebaliknya negeri-negeri di belahan bumi bagian timur berada di sebelah barat dan kiblatpun berubah. Dan pendapat ini adalah rusak/palsu dari banyak sisi yang panjang jika diuraikan.”

    Pada hal:24 : “Pendapat ini (meyakini bumi mengitrari matahari) bertentangan dengan kenyataan yang dirasakan, manusia menyaksikan gunung-gunung tetap saja di tempatnya tidak berjalan, perhatikan gunung Nur di Mekah ia tetap di tempatnya, ini gunung Abu Qubais tetap di tempatnya, ini gunung Uhud di Madinah tetap di tempatnya, begitu juga gunung-gunung di berbagai belahan bumi, semua tidak berjalan! Setiap orang yang membayangkan pendapat ini pasti mengetahui kebatilannya dan rusaknya pendapat penyampainya dan ia jauh dari penggunaan akal dan pikirannya telah menyerahkan kendalinya kepada selain akalnya, persis seperti binatang, maka kami berlindung kepada Allah dari taqlid buta yang menyebabkan sesat keyakinannya dan memindahkannya dari pikiran orang berakal kepada kawanan binatang tak berakal.”

    Pada hal : 39 : “Kemudian semua manusia menyaksikan matahari setiap datang dari arah timur kemudian ia terus berjalan sehingga berada tepat di tengah langit, kemudian terus berjalan dan menurun sampai terbenam pada tempat-tempat berjalannya masing-masing, mereka mengetahui hal itu dengan pasti berdasarkan penyaksian mereka dan itu sesuai dengan apa yang ditunjukkan hadist yang jelas (hadist sujudnya matahari) dan ayat-ayat Al Qur’an. Dan tidak mengingkari ini kecuali orang yang dungu menentang apa yang disaksikan dengan kasat mata dan menentang nash-nash. Dan saya termasuk orang yang menyaksikan berjalannya matahari dari tempat-tempat berjalannya ditempat terbit dan tenggelamnya sebelum Allah membutakan mataku, usiaku ketika aku buta adalah sembilan belas tahun. Saya sebutkan hal ini untuk mengingatkan para pembaca bahwa saya termasuk orang yang menyaksiakan tanda-tanda (ayât) di langit dan di bumi dengan kedua mataku dalam waktu yang cukup lama”.

    Kemudian ia melanjutkan:
    Ringkas kata, bukti-bukti Naqliyah dan Indrawiyah atas kebatilan pendapat yang mengatakan bahwa matahari itu tetap atau ia berjalan mengitari dirinya sendiri dan sebagiannya telah lewat disebutkan. Kesimpulan dari hasil Terawang sang Imam adalah apa yang ia fatwakan di bawah ini:

    “Maka barang siapa meyakini selain ini dan berpendapat bahwa matahari tetap, tidak berjalan maka ia telah membohongi Allah dan membohongi Kitab suci-Nya yang tiada datang kebatilan Dari arah depan dan belakang, ia adalah turunan dari Allah Yang Maha Hakîm dan Maha Terpuji.Dan barang siapa meyakini pendapat ini maka ia telah meyakini kekafiran dan kesesatan, sebab ia adalah yang membohongi Allah dan membohongi Al Qur’an serta membohongi Rasulullah saw, sebab beliau telah menegaskan dalam hadist-hadist shahih bahwa matahari berjalan dan apabila ia tenggelam ia pergi dan bersujud di hadapan Tuhannya di bawah Arsy, sebagaiamana tetap dalam dua kitab Shahih (Bukhari & Muslim) dari hadist Abu Darr ra dan setiap orang yang membohongi Allah SWT atau membohongi Kitab suci-Nya atau membohongi Rasul-Nya yang Amin as, maka ia adalah kafir yang sesat dan menyesatkan, ia harus diminta untuk bertaubat, jika mau taubat dapat diterima taubatnya, jika tidak maka wajib dibunuh sebagai orang kafir murtad, harta miliknya menjadi fai’ (rampasan) untuk Baitul Mâl kaum Muslimin, seperti dinashkan oleh Ahli ilmu (?)”.

    Asyik, dengan satu kali goyangan lidah Imam Besar Kaum Wahabi yang hidup keluyuran di kampung-kampung gersang padang pasir tanah Arab seluruh kaum Muslimin telah dikafirkan dan harus dimintai taubat, sebab mereka meyakini bahwa matahari itu tetap ditempatnya pada tatanan tata surya dan ia berputar mengelilingi dirinya sendiri, kalau tidak mau meralat pendapat mereka maka mereka wajib dibunuh sebab mereka adalah kaum murtad dan telah kafir!!!.

    Aneh bin ajaib !!!!!!

    1. Kalian lucu2 dan menyedihkan, itu karena kalian tidak tahu apa Wahabi yg telah membawa dak tauhid yg haq dan memberantas kemusyrikan di muka bumi. Hanya sedikit yg selamat, yaitu ghuroba. Sipa itu ghuroba? pasti kalian tidak tahu sebab kalian bangga dg jumlah mayoritas.

      1. @jom
        “Kalian lucu2 dan menyedihkan”
        Lucu – Bagian mana yang lucu, bukankah Imam2 Wahabi yang lucu, mengartikan secara letterlux.
        menyedihkan – Justru ane dan kawan2 disini yang sedih melihat gaya Imam2 Wahabi, gampang mengkafirkan.

      2. Mas jom mending komentar ente krafikasi komentar bang ucep tuh bener apa ga tulisannya dinukil langsung dr Kitab “Al Adfillah an Naqliyah wa al Hissiyah ‘Ala Jarayâni asy Syamsi wa Sukûnin al Ardhi wa Imkâni as Shu’ûd Ila al Kawakib”, Karya Imam Besar Wahabi Syeikh Abdul Aziz bin Bâz. Nah kalu emang bener terjemahannya seperti itu…merenunglah ditengah malam buang hawa nafsu gunakan hati nurani Apakah seperti ini Karya Imam Besar Wahabi Syeikh Abdul Aziz bin Bâz

    1. mereka bukan ahlussunnah sedangkan Salafi adalah ahlussunnah waljamaah golongan selamat. Itu bedanya. Ghuroba bukan asal sedikit jumlahnya, tetapi harus lah Ahlussunnah wal jamaah.

      cari guru yg benar dan belajarlah yg tekun biar banyak ilmu. yang disebut ilmu adalah apa yg dikatakan Allah dan apa yg dikatakan Rosul. selainnya hanyalah buih tanpa arti.

      1. Salafi Wahabi kok tiba2 jadi Ahlussunnah Wal Jamaah, itu bagaimana sejarahnya Mas Jom? Tolong dishare ceritanya Mas, kok tiba2 berubah jadi Aswaja (ahlussunnah wal jamaah)?

        Aneh sekali buat saya kok tiba2 Wahabi jadi Aswaja?

  41. @jom
    Masa sih Wahabi disebut sebagai Kaum Al Ghuroba ?
    Makanya belajar, Lihat perkataan para Imam Madzhab tentang al Ghuroba, yaitu orang2 Tasawuf. Bagaimana mungkin Wahabiyun disebut al Ghuroba, wong orang2 Tasawuf pada dibunuhin, dihina, dimaki oleh Wahabiyun.
    Makanya belajar yang banyak ya @jom, jangan asal jeplak.
    Itulah TASAWUF yang ente bilang “Ghuroba bukan asal sedikit jumlahnya, tetapi harus lah Ahlussunnah wal jamaah”.

  42. ckckckck, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua, ana cuma mau bilang, antum semua baca dulu sejarah wahaby itu apa, terus salafy itu apa, bilang wahaby-wahaby ntar ga tau sejarahnya lagi, satu lagi, cukup lah antum semua mengikuti sunnah
    simak
    “Abu Najih, Al ‘Irbad bin Sariyah ra. ia berkata: “Rasulullah telah memberi nasehat kepada kami dengan satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat airmata bercucuran”. Kami bertanya ,”Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya (meninggal), maka berilah kami wasiat” Rasulullah bersabda, “Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya siapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.”

    [HR. Abu Daud dan At Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih]

    kalo antum merasa lebih baik/suci dari para sahabat silahkan antum kerjain bid’ah yang menurut antum baik itu, yang ga ada contohnya dari Rasulullah saw dan para sahabat, inget itu!

    1. @kyradical
      Ente punya kitabnya Muhammad bin Abdul Wahab gak ? judulnya “Fathul Majid”, disitu dijelaskan pembagian Tauhid menjadi 3, coba ente jelaskan kenapa musti dibagi 3, adakah dalilnya, Nashnya, ayat al Qur’an nya ?
      Kalau ente benar2 Wahabi pasti bisa jelaskan hal itu.

    2. Lagi2 Wahaby dengan khasnya, komentar tanpa membaca keseluruhan artikel. Bukankah sudah jelas bahwa salah satu topiknya adalah menggugat pemahaman/makna kata “kullu”, dan sudah sangat jelas penjelasan yang ada di artikel ini. Kalau kalian masih memaknai “kullu”hanya memiliki satu makna, yaitu: semua. Maka kalian akan tetap terjerumus dalam kebingungan dan tambal sulam mazhab kalian.
      Memangnya kalian anggap mazhab lain tidak pernah baca hadits tsb?

      salam

  43. ada temen2 muslim yg keras hatinya bagai batu saya turut sedih.. sedih sekali… artikel diatas sangat terang benderang, singkat, padat, berisi, dan sangat mengena.. ditambah dgn contoh2 nya yg sangat gamblang sehingga orang awam seperti saya dapat memahaminya…
    Ngeri rasanya memaknai bahwa bid’ah hanya dolalah… saya seorang ayah dari 3 anak ga kebayang setiap hari mencari nafnah yg sudah brg tentu juga sebagai IBADAH karena nafkahnya utk menghidupi anak2 dan istri… klo kita mencari nafkahnya ngikutin Rosullullah dan para Sahabat mungkin didunia hanya ada seorang pedagang, petani dan peternak…dan selain itu maka profesinya adalah Bid’ah dolalah… Naujubilah…
    Polisi, tentara, pegawai negri, karyawan swasta (spt saya) kerja mulai dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore jadi pelaku bid’ah dolalah setiap harinya… Jadi sangat mahfum jika Bid’ah semesti dan seharusnya juga pasti ada Hasanahnya… Masa didunia ini cuma ada pedagang lantas klo pedagang semua siapa yg jadi pembeli…Wassalam…

  44. Saya juga turut sedih. Karena kata kaum Wahhaby, jangan takwil lafat “kullu”. Namun katanya lagi, masih ada “bid’ah dunia” atau ” mashalih mursalah”. Saya sedih karena sampe hari ini, saya ga menemukan hukum takwil lafat “kullu” kepada makna lain seperti “bid’ah dunia” atau “mashalih mursalah” itu. Malah ga ada sebarang ulasan daripada para ulama Wahhaby sendiri. Sungguh saya bingung dan sedih banget.

  45. Andaikan saja mereka para sahabat,para tabi,in memahami serta berilmu tentang makna bid,ah seperti kang admin serta akang-akang yg lain.tentulah terdapat riwayat-riwayat bahwa mereka mengerjakan amalan-amalan seperti yg akang-akang kerjakan.
    atau memang barangkali ada riwayat bahwa mereka mengerjakannya,seperti contoh: mereka mengerjakan perayaan maulid Nabi.entahlah…..

    1. Abu Nabila@
      Jadi menurut antum dam kaum antum, Maulid Nabi saw itu haram hanya karena Sahabat Nabi tidak melakukannya? Terus antum kok tahu Sahabat tidak melakukannya itu apakah antum sudah ketemu riwayat yg shaih?

      1. Aryati Kartika says:
        November 8, 2012 at 9:29 am
        Abu Nabila@
        Jadi menurut antum dam kaum antum, Maulid Nabi saw itu haram hanya karena Sahabat Nabi tidak melakukannya? Terus antum kok tahu Sahabat tidak melakukannya itu apakah antum sudah ketemu riwayat yg shaih?

        ———————————————————————————————————————-
        Justru saya bertanya “barangkali”ada riwayat yang mereka mengerjakannya.entahlah saya tidak tahu.

        Atau mungkin agan-agan lebih memahami dan lebih berilmu serta lebih mencintai Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam ketimbang mereka hingga menyebabkan mereka luput dari amalan-amalan mulia yang agan-agan kerjakan? entahlah……

        1. Abu Nabilah@
          Artinya kita sama2 tidak punya riwayat shahih, baik yg melarangnya (mengharamkannya) ataupun yg memerintahkannya (menghalalkannya).

          Tetapi perlu antum tahu, perkara yang ditinggalkan Rosululloh saw maupun para sahabat tidak otomatis menunjukkan perkara tersebut haram (khususnya masalah Maulid Nabi), kecuali ada dalil yang menetapkan keharaman perkara tersebut. Berani mengharamkannya berarti melarang orang berbuat kebaikan (amal shalih), sedangkan beramal shalih itu termasuk perbuatan ibadah yg berpahala. Wallohu a’lam.

        2. @Abu Nabilah :

          Saya coba memberi tambahan untuk Mbak Aryati Kartika dalam menjawab Abu Nabilah. Tersebut dalam Kitab Sunan Nasa’i (Dikenal sebagai perawi hadits yaitu Imam Nasa’i) sebagai berikut :

          أخبرنا سوار بن عبد الله قال حدثنا مرحوم بن عبد العزيز عن أبي نعامة عن أبي عثمان النهدي عن أبي سعيد الخدري قال قال معاوية رضي الله عنهإن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج على حلقة يعني من أصحابه فقال ما أجلسكم قالوا جلسنا ندعو الله ونحمده على ما هدانا لدينه ومن علينا بك قال آلله ما أجلسكم إلا ذلك قالوا آلله ما أجلسنا إلا ذلك قال أما إني لم أستحلفكم تهمة لكم وإنما أتاني جبريل عليه السلام فأخبرني أن الله عز وجل يباهي بكم الملائكة

          Dari Suwar bin Abdullah ia berkata: menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz dari Abu Ni’amah dari Abu Utsman an-Nahdiy dari Abu Sa’id al-Khudriy ia berkata: Berkata Mu’awiyah Radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju halaqah para sahabat beliau, kemudian beliau bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian semua duduk berkumpul?” Mereka para sahabat menjawab, “Kami duduk berkumpul tidak lain untuk berdo’a kepada Allah Ta’ala dan memuji-Nya atas karunia petunjuk agama-Nya dan menganugerahkan engkau (Wahai Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam) kepada kami.” Kemudian beliau bertanya, “Demi Allah, tidakkah kalian duduk berkumpul kecuali hanya untuk itu?” Jawab para sahabat, “Demi Allah, tiada kami duduk berkumpul kecuali hanya untuk itu.” Maka beliau pun bersabda, “Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Akan tetapi karena aku telah didatangi Jibril ‘alaihissalam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat”.

          Semua perawi diatas tsiqat.

          Dari riwayat hadits diatas, kami pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah meyakini bahwa peristiwa diatas merupakan cikal bakal peringatan maulid.

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang dhaif dan faqir
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

        3. @Abu Nabilah :

          Unuk melengkapi penjelasan saya silahkan buka Kitab Sunan Nasa’i Juz 16 Halaman 291 Hadits nomor 5331,

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang dhaif dan faqir
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. @Aryati Kartika

      Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
      Firman Allah : “(Isa as berkata di pangkuan ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS. Maryam : 33)

      Firman Allah : “Salam Sejahtera dari kami (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS. Maryam : 15)

      Rasulullah saw memuliakan hari kelahiran beliau saw
      Ketika beliau saw ditanya mengenai puasa di hari senin, beliau saw menjawab : “Itu adalah hari kelahiranku, dan hari aku dibangkitkan” (Shahih Muslim)

      Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
      Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai Nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang – benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala Shahihain)

      Kasih sayang Allah atas kafir yang gembira atas kelahiran Nabi saw
      Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari)

      Salah seorang Tabi’it Tabi’in, yaitu pendiri mazhab Syafi’i, mengatakan bahwa Bid’ah itu di bagi menjadi dua, bid’ah yg terpuji dan bid’ah yg tercela.

      Para ulama pun telah menjelaskan bahwa, setiap perkara baru, baik yg dipinta secara khusus maupun umum, selama tidak menyalahi kaidah kaidah syari’at islam, maka iya boleh dilakukan. Dan hukum bid’ah itu dikembalikan kepada hukum islam yg asal, yaitu haram, sunnah, mubah, makruh, dan wajib.

      Selain Al-Qur’an dan Hadist, sumber hukum islam yg telah disepakati yaitu, Ijma’ dan qiyas. jadi, urutan sumber hukum islam adalah, Al-Qur’an, Hadist, Ijma’ dan qiyas.

      Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
      Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia di zaman kita ini adalah perbuatan yang di perbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.

      Jadi, komentar Abu Nabila tidak perlu kita tanggapi.

  46. Bismillah,

    @mas agung dan mas derajad juga semua asatidza Ummati

    Seandainya tidak demi kemaslahatan yang lebih luas, niscaya kami akan sarankan kepada mas Agung, mas Derajad, serta asatidza yang lain untuk tidak menterjemah al qur’an dan hadits, agar tidak menambah perkara yang dituduh Bid’ah Sesat, mengingat terjemah al qur’an dan hadits tidak ada pada masa Rosululloh saw dan para sahabat…

  47. Sesungguhnya merekalah (wahabi) yang lebih faham konteks bahasa Arab. Setahuku kata “kullu” artinya “setiap/semua” . Seperti “Kullu nafsin dzaiqotul maut” ” Setiap yang bernyawa pasti mengalami kematian” jika di artikan dengan “sebagian yang bernyawa adalah mengalami kematian” laaaah ini malah salah, bid’ah, dan sesat! :mrgreen:

  48. syarat diterimanya amal ada dua…….
    1.niat yang ikhlas karena Allah…hadis,, innama a’malu binniat wa innama likullim riimmanawa….dst
    2.i’tiba’ rosul./sesuai syariat……hadis muslim ….man amala amilan laisa alaihi amruna fahuwa roddun..(barang siapa mengerjakan amalan yang tidak pernah kami contohkan maka amalan itu tertolak…

    kita tidak boleh saling menyalahkan…tetapi mari kita lihat diri kita apakah telah sesuai dg kaeda diatas…perpecahan ummat islam memang telah diberitakan oleh Rosulullah hanya satu yg selamat….siapakah mereka..yaitu mengikuti Rosul dan sahabat….kalau semua ngaku ikut Rosul ya sudah ..amalkan saja amalan masing;masing…mohon maaf dari saya yang masih belajar…Allahuaalam bissawab

    1. abu syaza@

      Coba menurut antum mana yg salah dari artikel di atas?

      Jadi, di sini bukan saling menyalahkan, kami Aswaja hanya sekedar memperingatkan kepada teman2 Wahabi agar sadar tidak gampangan dalam mengharamkan amalan (ibadah) kaum muslimin. Postingan artikel di atas memnoba memberikan pennjelasannya, apakah menurut antum ada yg salah silahkan koreksi secara ilmiyyah.

      Mungkin dari koreksi antum bisa kita diskusikan bersma2 di sini, silahkan…

  49. Sebelumnya saya awam masalah agama tetapi setelah membaca penjelasannya tambah bingung dan makin ga jelas apalagi contoh2nya saling bertabrakan karena hanya mengandalkan akal. Padahal akal yg nulis artikel diatas aja keliahatannya ga beres!!!!!. Makin ga jelas

    1. Mas Wahabe,
      coba deh Otak Nte bawa ke tukang service, sepertinya error terkena Virus Wahabi dah. Itu ciri2nya jelas, kalau koment cuma bisa justifikasi tanpa argument. Juga tidak mampu melihat hal2 yg jelas, atau bahkan hal2 sdh jelas dianggapnya bertabrakan. Sekali lagi saya sarankan otak Nte bawalah ke tukang service!

  50. Beberapa waktu lalu saya dalam pefjalanan mengantar Gus Mus ke Airport di Batam, saya sempat bertanya kepada beliau, ini jg pertanyan kesekian kali karwna bisa bersama dan berdialog adalah kesempatan emas yang langka. ‘ Pak Kyai itu saya agak merasa heran kenapa wahabi kalau memang asli merk rosulullah, kok tidak diganggu ama yahudi israel ya? Beliau Gus Mus menjawab singkat ‘ Ya..karena wahabi ngerusak islam’ lalau sTa sambung mereka pikir islam itu cuma menyagkut urusan syariat sholat dan ibadah padahal hidup bersosial, menyampaikan sesuatu dg baik itu juga ajaran yang dibawa rosululloh. Pada kesempatan lain beliau menyampaikan NU sebagai rrepresentasi umat islam moderat, dipandang oleh kaum wahabi, salafi, HTI dan lain lain yg disponsori Arab Saudi sebagai kawan amerika yg harus dimusuhi. TAPI anehnya justru Pemerintah Kerajaan Arab Saudi saat ini di kenal sebagai sahabat karib Amerika. Jadi. Lucu aja kalian wahabian berlagak anti amerilka yahudi dan barat, padahal bos kalian yg rajin kirim petrodollar untuk misionaris kalian masuk ke Indonesia dan seluruh dunia adalah munafik tengik yg berlindung pd jaminan keamanan Amerika.. memang aneh kalian kaum wahabi perusak khasanah sejarah dan keindahan islam..kalian telah menjadi duri dan perusak islam..dg berlagak sok suci dg gaya pakaian dan fatwa bid’ah kalian..ingat kalian bukan terasing kalian sdh Mayoritas di Arab Saudi itupun karena wahiba menggunakan politik dan pemusnahan mereka yg tidak setuju wahabi, dg pembunuhan keji, aku yakin kalau seandainya kalian dpt kesempatan misal PKS menang pemilu, akan kalian musnahkan itu para ulama NU, Ingat dulu islam Indonesia terkenal damai, tp semenjak kalian masuk th 80-an melalui studi keislaman di kampus..tiba inddonesia dikenal sbg sarang teroris..ya. mgkn benar jg ngomong sama orang dungu macam kalian wahabi yg tdk mau belajar lbh jauh…percuma..

    1. @moh. bisri,
      Saya setuju dan benar 100% dengan apa yg anda katakan diatas, bukan saja ulama NU akan dimusnahkan tapi semua penganut ASWAJA termasuk kuburan yg dikijing akan dimusnakan jika PKS menang Pemilu.
      Maka dari itu wahai Umat NU dan ASWAJA hati2lah dengan PKS jangan sampai mereka berkuasa.

  51. PKS itu inspirasi ideologinya Jama’ah Ikhwanul Muslimin Mesir yang digagas oleh Imam Hasan Al Bana, Sayyid Qutub, sampai Syaikh Yusuf Qaradhawi.
    Aliran Salafy itu asalnya dari Arab Saudi.
    Saya tahun 2001 pernah membaca dua jilid majalah Salafy isinya menghujat Imam Hasan Al Bana, menghujat Sayyid Qutb, menghujat Syaikh Yusuf Qaradhawi dengan tuduhan ahlul bid’ah, ahlul ahwa, sesat…. masya Alloh.
    Sekarang buktikan tuduhan antum bahwa jika PKS berkuasa Aswaja dibubarkan: Gubernur Jabar saat ini orang PKS, Gubernur Sumbar saat ini PKS, Menkoinfo Tifatul Sembiring PKS, pernakah PKS menyerukan hancurkan NU!! Hancurkan Aswaja!!
    Atau secara organisasi PKS membuat onar, menduh, memfitnah sana-sini.
    Kalau komen, mohon dipikir dulu, lihat data dan fakta..
    Syukran

    1. @faiz fauzan,
      Maksudnya menang mutlak secara Nasional bukan menang disebagian kecil propinsi tapi menang mayoritas di perleman Pusat, DPRD I, DPRD II.

      Contohnya Iihwanul Muslimin (PKS nya Mesir) berlum apa2 sudah mau berkusa mutlak dengan mengganti undang2 untuk kekuasaan yg lebih luas dan kekuasaan Kehakiman berada dibawah presiden, lihat rakyat mesir demo besar2an (sampai ada yg tewas dibantai pihak yg berkuasa) untuk menentang Mursi yang mau jadi Firaun Modern diabad ini.

      Kalau PKS menang Mutlak kekuasan Otoriter macam Orde Barunya Suharto akan bangkit menindas rakyatnya sendiri.

      Mudah2an itu tidak akan terjadi dan Allah SWT akan melindungi Rakyat Indonesia dari kekuasaan Dajjal Abad Modern……Amin

  52. seharusnya orang2 NU juga instropeksi, sepengamatan saya, orang2 NU itu “jago kandang” berdakwah dalam komunitas pesantren atau alumni pesantren. jarang ada kajian NU di universitas2 umum seperti UI, ITB, UGM, UNPAD, IPB.
    Sementara mahasiswa2 yang masuk perguruan tinggi umum ini banyak yang semangat keislamannya tinggi.
    Nah, yang “menggarap” mereka-mereka ini, sejak tahun-tahun pertama mereka masuk kuliah adalah : Jama’ah Tarbiyah (PKS), Hizbut Tahrir, Salafy, Jama’ah Tabligh, NII, LDII, Syi’ah, JIL, HMI,
    Nah, peran orang-orang NU sebagai garda depan aswaja yang seharusnya ”menggarap” mereka mana?? Hampir tidak ada…
    Hampir tidak ada orang NU buka kajian kitab kuning di kampus-kampus umum, membahas kitab amal saja semisal Riyadush Shalihin, gak ada…
    Jadi jangan terlalu menyalahkan kalau tiba-tiba sekarang bermunculan berbagai aliran Islam di Indonesia.
    Sekarang harus diagendakan, orang NU dakwah keluar dari lingkungan pesantren, menyebar ke kampus, ke sekolah umum, dst.
    Sudah ada belum agenda ke sana??

    1. @faiz fauzan,
      Dakwah NU bukan tidak ada disekolah dan di Kampus2, tapi memangn sifatnya personal dan Lillahi Ta’ala dananya dari kantong pribadi ustazd yg bersangkutan.

      Beda dengan dakwah Wahabi yang disokong dana besar2an dari negara biangnya Wahabi yaitu Arab Saudi, Misionarisnya pun dikader dari di Arab Saudi lantas mengkader kaki tangan wahabi di Indonesia tentunya mereka mendapat fulus dan mendapat buku2 secara gratis.

      Dan lagi orang yg berpendidikan tinggi tidak jaminan tidak terkena virus wahabi apa lagi orang awam kecuali basis agamanya (Aswaja) cukup kuat mereka akan tau bahwa faham wahabi itu menyimpang dari ASWAJA.

    2. Tidak juga begita mas Faiz Fauzan, bukan berarti jago kandang, penyebabnya adalah anak2 NU itu kebanyakan masuk UIN, itu faforitnya sebab biayanya lebih terjangkau plus kadang2 dapat dicicil. Maklum, kan basisnya dari keluarga ekonomi lemah.

      Tetapi mungkin beberapa tahun ke depan bisa aja keluarga2 dari Warga NU meningkat ekonominya sehingga bisa masuk perguruan tinggi umum, bisa jadi nantinya mereka tidak bisa dianggap jago kandang lagi.

      Ngomong2 jago kandang itu kan juga tidak terbukti, bahkan orang2 Wahabi wa bilkhusus Salafy-nya kan selalu KO ketika berhadapan face to face dg ustadz2 Aswaja / NU. Bisa kita contohkan Buya Yahya berhadap[an dg ustadz Thoharoh dan Professor … siapa itu yg dari Cirebon, juga Ustadz Muhammad Idrus Ramli kenyang meng-KO Wahabi sampai sekarang ini nyaris tidak ada lagi yg berani dialog terbuka dg kaum Aswaja, dan masih banyak lagi contoh untuk disebutkan.

      Mengenai agenda, mungkin nanti bisa diusulkan kpda PB NU Pusat, mungkin agendanya langsung mengajak dialog tentang hal2 yg selama ini menjadi sumber fitnah, apalagi kalau bukan So’al2 Bid’ah, Tawassul syirik dll. Pasti dijamin KO orang2 Wahabi….

  53. “SEBAGIAN BID’AH ITU SESAT….. DAN SETIAP KESESATAN TEMPATNYA DI NERAKA”.

    KULLU = SEBAGIAN,,BERARTI

    “SEBAGIAN BID’AH ITU SESAT….. DAN SEBAGIAN KESESATAN TEMPATNYA DI NERAKA”.

    BERARTI SEBAGIAN LAGI DARI KESESATN TEMPATNYA DI…………………

  54. 2. Mereka tidak berani jujur dalam mengartikan kata “kullu” dalam hadits “KULLU BID’ATIN DHOLALAH….”. Sebaliknya mereka memaksakan arti “kullu” hanya satu macam arti yaitu “setiap/semua”. Padahal arti “kullu” itu ada dua sesuai kontek kalimat, yaitu : “setiap/semua” dan “sebagian”. Jadi menurut arti yang benar berkaitan hadits tersebut adalah “SEBAGIAN BID’AH ITU SESAT….. DAN SETIAP KESESATAN TEMPATNYA DI NERAKA”. Maka jelaslah maksudnya bahwa yang masuk neraka adalah setiap kesesatan dan bukan setiap bid’ah sebagaimana anggapan kaum Wahabi. Sebab menurut Sayyidina Umar ternyata ada bid’ah yang baik, dan bid’ah yang baik tentunya akan mendapat pahala berupa kenikmatan surga.

    _______________________________________________________________________

    lihatlah betapa liciknya orang ini memanifulasi kata kata , KULLU =SEBAHAGIAN jadi hadistnya berbunyi“SEBAGIAN BID’AH ITU SESAT….. DAN SETIAP KESESATAN TEMPATNYA DI NERAKA”. seharusnya “SEBAGIAN BID’AH ITU SESAT….. DAN sebagian KESESATAN TEMPATNYA DI NERAKA”.

    BERARTI ADA SEBAHAGIAN LAGI KESESATAN YG TEMPATNYA TIDAK DINERAKA. dimanakah itu ???????

    1. hhahaha… komentar yang lucu
      yang mengartikan sebagian kesesatan di neraka itu kan anda? kenapa menuduh orang lain yang licik?? aneh..
      dalam menentukan makna kata itu dilihat konteks kalimatnya mas
      “ajaran wahabi itu ‘bisa’ meracuni seperti ‘bisa’ ular”
      makna kata “bisa” berbeda walaupun dalam satu kalimat

      1. Ya, begitulah mbak Vira, dia yg mengartikannya seperti itu kok dilemparkan ke Aswaja? Benar2 lucu ini orang, padahal dalam artikel di atas sudah sudah dibahas lengkap contoh-contohnya.

        Seperti itulah contoh orang yg sudah terhijab, artikel yg jelas dan gamblang pun tidak mampu memahaminya. Benar2 kasihan kalau melihat orang yg sudah terhijab akal dan hatinya. Kita berdialog langsung pun, yang menurut kita sudah kita kasih penjelasan yg sejelas-jelasnya disertai contoh-contoh yg gamblang pun mereka hanya manggut-manggut seperti paham, tetapi nyatanya nggak paham. Itulah, hijab ilmu sangat luar biasa akibatnya, saya sering berhadapan dg figur2 seperti ini.

  55. Bang Nasir, mbak Sarah, sy baca komen antuma ttg NU dan Aswaja. Jadi mau nanya nih… Kalau NU itu = Aswaja ya? Dan Aswaja itu kependekan dari Ahlussunah Wal Jama’ah? betul? Jadi kalu bukan NU bukan Ahlussunnah? tolong dong dijelasin.

    1. Mas, NU itu bagian dari Aswaja sedunia. Aswaja adalah para pengikut Imam Mazhab yg empat di bidang Fiqih dan Imam Asy’ariy juga Imam Maturidi di bidang aqidahnya, adapun Tasawufnya ikut Imam ghozali dan lainnya.

      Jadi, Wahabi secara garis besar saya yakin 100% bukan Ahlussunnah Wal jama’ah. Mungkin secara individual ada yg berjiwa Aswaja, itu bisa terjadi. Tapi secara umum Wahabi adalah Wahabi dari Najd yg memusyrikkan Sufi dan mengharamkan ilmu tasawuf. Dan aqidahnya tidak jelas, begitu juga syari’atnya, acak-acakan karena tidak memiliki patrun pemahaman yg jelas. Demikian Mas Ibnu abdul Khoir….

      Maaf kalau kalau koment saya kepanjangan.

      1. Yang Jelas yang bukan ASWAJA itu “Wahabi” tapi selalu ngaku2 Aswaja namun Aswaja Palsu untuk mnegelabui orang awam.

        Aswaja yang asli malah tenang2 saja tidak pernah ngaku2 Aswaja lemah lembut terhadap orang lain, tidak pernah gampang membid’ahkan, mensyirikkan,mengkafirkan, menTBCkan orang yg tidak sefaham dengan golongannya

        Beda dengan Wahabi, kata2 Bid’ah, Kafir, Syirik adalah zikir se-hari2 yang diucapkan kepada orang lain yg tidak segolongan dengannya dan menganggap orang lain penghuni neraka dan Surga isinya orang wahabi semua, se-olah2 surga adalah milik orang wahabi…….ha ha ha lucu ni ye (LC)

  56. Mbak Sarah, nanya lagi…
    Fiqh-nya ambil dari 4 Imam Mazhab? aqidahnya dari Imam Abul Hasan Al Asy’ari (sifat 13) dan Imam Al Maturiddi (sifatNYA ditambah 7 jadi sifat 20).
    Pertanyaannya : emang dari 4 Imam Mazhab itu nggak ada ajaran aqidah? jadi perlu ambil dari yg lain? jelasin lagi ya..mbak…

    1. @ibn abdul chair

      Lho, antum ngakunya dulu mantan NU, kok tidak tahu permasalahan ini? NU gadungan ya?

      Oke, mengenai kenapa aqidah ikut Imam Al Asy’ariy / Al Maturidi, Fqih ikut 4 Imam mazhab, tasawuf ikut Imam Al Ghozali atau Al Bahdadi, semua itu berkaitan erat dg sejarah perkembangan ilmu agama, baik ilmu fiqih, ilmu aqidah maupun ilmu tasawuf. Semuanya punya tokohnya masing2 sebagai perintisnya, do you know?

      Dulu katanya antum mantan NU, kok gak tahu masalah ini, berrarti antum NU gadungan, cuma ngaku2 doang alias bohong, dusta and ngibul. Dakwah kok dusta melulu, ajiiib deh. Dusta itu bagi Wahabi halal ya mas?

  57. LOH BUKANKAH HADISHNYA BERBUNYI ” SETIAP YG BIAD,AH ITU SESAT DAN SETIAP KE SESATAN TEMPATNYA DINERAKA”

    KALAU KULLU = SEBAGIAN

    ” SEBAGIAN YG BIAD,AH ITU SESAT DAN SEBAGIAN KE SESATAN TEMPATNYA DINERAKA” OKE

  58. @ VIRA

    hhahaha… komentar yang lucu.MENYAMAKAN BAHASA INDONESIA DGN BAHASA ARAB………. NIH ASWAJA (ASLI WAJAH JAHILIAH)

    APA BEDANYA KATA KULLU PADA“وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ DGNKATA KULLUPADAوَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

    1. Bismillah,

      Mas @Imam ko’mani,

      Baiklah, kami akan ikut anda tentang generalnya arti ‘Kullu”, selanjutnya dalam pengaplikasian hadits tersebut gimana?

      – Apa naik Haji kita harus pakai onta?
      – Menerima hadits langsung dari perowi ?
      – Bertransaksi dengan Dinar atau Dirham ?
      – Masjid harus berlantai tanah ?

      Tolong penjelasannya !!!

  59. كل شي هالك الا وجه
    kalo dengan “kullu” ini bedanya apa?

    “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajahNya (kekuasaaNya)”…

    Surga dan neraka tidak ikut hancur padahal keduanya adalah makhluk Allah.. maka segala sesuatu itu tidak selalu berarti seluruhnya tanpa kecuali.. ya kan?

    Kalau segala sesuatu itu diartikan seruruh ya surga dan neraka ini juga ikut hancur..padahal Ahlusunnah memahami bahwa yang dihancurkan pada hari kiamat nanti itu hanyalah langit dan bumi dan isinya, sedangkan surga dan neraka tidak ikut hancur, surga dan neraka tidak terkena undang-undang qiamat…masih mau ngeles lagi bahwa kullu itu artinya “selalu” semuanya tanpa kecuali?….

  60. Mbak Sarah, sy bukan cuma ngaku2 aja mantan NU. Contoh nih..ya… wkt kecil sy bukan cuma ikut-ikutan aja bawa sesuatu (sesajen?) ke kuburan. Tp pas org-org itu pd pulang, sy ama temen2 langsung nyerbu tuh makanan. Kl cuma tahlilan ama muludan sih… kecil mbak…Percaya gak wkt kecil…selagi musim muludan, sy bisa hadiri 5x muludan dalam sehari.
    Ada..yg lucu…mbak, postur badan sy khan lebih besar, tinggi (pokoknya tegap begitu deh) dibanding teman-teman,… tahu gak mbak..mrk ngomong apa? katanya sy kebanyakan nasi besek dari tahlilan/muludan

    1. @ibnu abdil chair

      hadir muludan sehari 5 kali…?
      hebat banget, dimana tuh kang….?
      setau saya dalam mengadakan maulidan biasanya DKM masjid atau musholah di satu daerah biasa koordinasi dulu biar ga berbarengan, udah gitu biasanya maulidan tuh dilaksanakannya malam n durasinya min 3 jam sehabis solat isya, berarti antum sehari pergi ke 5 masjid or musolah malem2 yang jaraknya biasanya agak jauhan
      hebaaat…!
      kan ibnu ga boong kan…?

  61. @aswaja
    kalian semua harusnya konsisten dong kalau kata kullu kalian artikan sebagian atau tidak semua maka hadist

    “وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌوَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ SETIAP bid ah itu sesat dan SETIAP kesesatan tempatnya dineraka

    menjadi

    “وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌوَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ SEBAGIAN bid ah itu sesat dan SEBAGIAN kesesatan tempatnya dineraka atau

    “وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌوَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ TIDAK SEMUA bid ah itu sesat danTIDAKSEMUA kesesatan tempatnya dineraka

    jangan anda menulis “SEBAGIAN BID’AH ITU SESAT….. DAN SETIAP KESESATAN TEMPATNYA DI NERAKA” liatlah disatu sisi anda mengartikan KULLU = sebagian (pada kalimat وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ =SEBAGIAN bid ah itu sesat) namun pada sisi lain anda mengartikan KULLU = SETIAP (pada kalimatوَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ = SETIAP kesesatan tempatnya di neraka) gimana ini yg KONSISTEN dong. Benar kata imam ko mani itu namanya LICIK

    @ ADMIN

    2. Mereka tidak berani jujur dalam mengartikan kata “kullu” dalam hadits “KULLU BID’ATIN DHOLALAH….” JADI SIAPA YG TIDAK JUJUR?????????

    1. andi@

      1- Ada kata “kullu” yang berarti “setiap/tiap-tiap/semua″ ini disebut “kullu kulliyah”

      2- Ada kata “kullu” yang berarti “sebagian” yang disebut “kullu kully”

      Sebagai contoh “kullu kulliyah”, adalah firman Allah dalam salah satu ayat Al Qur’an: “Kullu nafsin dzaa’iqotul maut” yang artinya “setiap yang berjiwa akan merasakan mati”. Kata KULLU dalam ayat tersebut sangat tepat diartikan “SETIAP” dan akan menjadi salah jika diartikan “SEBAGIAN” karena faktannya memang semua/setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.

      Adapun sebagai contoh “kullu kully”, adalah firman Allah: “wa ja’alnaa minal maa’i kulla syai’in hayyin” yang artinya “Dan telah kami jadikan dari air SEBAGIAN makhluk hidup”. Dalam ayat ini kalau kata “kulla” diartikan “setiap/semua” maka akan kontra (bertentangan) dengan kenyataan bahwa ada makhluk hidup yang dijadikan Allah tidak dari air.

    2. Biamillah,

      mas @andi, nggak perlu pakai tuduhan “Licik” untuk membuktikan kebenaran, sebaiknya anda jawab saja pertanyaan kami buat mas @ko’ mani dengan ilmiyah…

      Mas @Admin Ummati, ada baiknya kita ikuti pemahaman mereka mengartikan “Kullu” dengan makna Kulliyah… selanjutnya mari kita buktikan sejauh mana konsistensi mereka dengan konsep kata “Kullu” nya…

    3. sebagian bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu dalam neraka.

      ndi, kalian ini ngerti ilmu nahwu ng…? kalau lu ngerti ng gua jelasin lagi pasti lu stuju ma trjmahan gua, kalau lo ng ngrti ilmu nahwu, ya lo bljar dulu dah. kalau saya jelaskan di sini bakalan gila lu (benran, dalam ilmu nahwu harus dipelajari bertahap).

  62. @ admin and aswaja

    mungkin anda salah paham ,, Saya tidak mengeneralisir semua kata KULLU = setiap (semua) sekalilagi Saya tidak mengeneralisir semua kata KULLU = setiap (semua)dan saya tau itu. itu tergantung kasusnya seperti yg telah anda jelaskan diatas namun disini saya pokus pada kasus hadist

    وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌوَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
    dalam kasus ini kata KULLU lebih cocok berarti SEMUA (setiap)dibandingkan kata SEBAHAGIAN(tidak semua) .kalau anda tidak percaya coba artikan saja sendiri dan bandingkan mana yg lebih cocok.Saya kira cukup komentar saya sampai disini, kalau ada kata2saya yg menyinggung kalian mohon maaf sekian

    @ SANTRI
    sepertinya anda salah alamat coba bacalagi komen BU HILYA untuk siapa komenya itu sekian

  63. Abi raka, sy tumbuh dan besar di kawasan yg banyak haba’ib dan ulamanya. Jadi yg namanya musim muludan itu bisa diselenggarakan dari mulai habis shubuh, wkt dhuha, habis dzuhur, habis maghrib dan habis isya. Ada cerita lucu nih mas… Wkt itu sy masih ghuluw ama yg namanya habib atau ulama. jd sy dan temen2 selalu berusaha maju ke depan mendekati mimbar. Mau tahu…nggak gimana caranya? itu..tuh..wktu jama’ah pada berdiri nyanyi2 asroqol (ma’af kl salah…udah lama soalnya) sy ama temen2 maju kedepan dikit-dikit.

  64. Tulisannya bagus dan rinci, sekaligus jelas…
    Namun alangkah baiknya, kita mendahulukan ukhuwah…

    Kalau menurut sy, justru begini mas admin..
    kata bid’ah itu dipahami oleh para ulama berbeda…
    ringkasnya, Imam Syafi’i dan imam2 lainnya mengartikan sbg ‘sesuatu hal yg baru’, sedangkan Ibnu Taimiyah cs mengartikannya sbg perkara baru dalam urusan agama yg dibuat2 utk menandingi sunah…

    Dari sini, jelas berbeda sehingga merubah pembagiannya, namun dalam aplikasinya akan menjurus sama jg…
    Imam Syafi’i yg mengartikan hny sekedar sesuatu hal yg baru, tentu akan membaginya mnjadi 5 bentuk hukum taklif. Berbeda halnya dg Ibnu Taimiyah tentu akan menolak membaginya tetapi menghukuminya dg haram. Hal ini wajar karena mengartikan bidah sbg hal baru dlm agama yg bertujuan menandingi sunah…

    Jadi dari sini, mohon dipahami dg jelas…
    Namun aplikasinya tentu sama:
    contoh: ada orang yg salat magrib 4 rakaat; hal ini tentu menyalahi sunah dan mereka semua sepakat hal tersebut haram…

    GITU AJA REPOT, pinjam bahasanya kyai Abdurrahman Wahid…
    tolong dikoreksi jg ada yg salah..! thanks

Tinggalkan Balasan

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker