Salafi Wahabi

Kaidah Wahabi yang Terus Digembar-gemborkan di Tengah Muslimin

Kaidah Wahabi – Salafy Wahabi akhir-akhir ini semakin jelas ketahuan dangkal pengetahuannya soal-soal agama. Setelah diungkap kebathilannya dalam membagi Tauhid tanpa dalil yang jelas, kini ada lagi dalil yang jadi kaidah andalan Wahabi. Yang mana kaidah wahabi ini selalu digembar-gemborkan sebagai kaidah besar yang ternyata hanya bualan kaum jahil semata-mata.

Pahlawan Wahabi - Kaidah Wahabi yang Terus Digembar-gemborkan di Tengah Muslimin

Adalah Salafi Wahabi Membuat Kaidah Fiqh Baru: “Lau Kana Khoiron, bla bla bla….” Padahal jika diteliti kaidah andalan Salafi Wahabi ini adalah kaidah bathil yang sangat nyata kebathilannya. Hal ini karena melanggar apa-apa yang telah diajarkan Allah dan Rasul-NYA tentang kebaikan…..

“Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya”

Patutlah kaidah yang besar ini dihafal oleh setiap muslim untuk menghancurkan berbagai macam bid’ah yang orang sandarkan dan masukkan ke dalam agama Allah yang mulia ini, Al-Islam.

Begitu di antara kandungan yang ada pada buku yang ditulis oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

BENARKAH KAIDAH WAHABI INI KAIDAH BESAR SEHINGGA DIJADIKAN TOLOK UKUR HALAL HARAM DALAM AGAMA KITA ?

Berikut yang saya temukan sehingga akhirnya dapat disimpulkan bahwa ini sebenarnya bukan kaidah besar, tapi hanyalah kaidah yang membuat pola pikir muslim menjadi dangkal.

1. Mirip kaidahnya orang kafir ketika menolak al qur’an

Silakan dilihat :

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya dia (Al Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. (QS 46: 11)

BACA JUGA:  Debat Lucu Ahlussunnah VS Salafy Wahabi

Dengan demikian dapat ditanyakan, apa pantas golongan yang menisbatkan diri pada SALAF membuat kaidah baru yang berawal dari ucapan kaum kafir untuk kemudian dijadikan kaidah haram halal ?

2. Menyalahi nash al qur’an

Sebagaimana kita tahu kaidah besar dalam agama ini di antaranya Ayat ini:

وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ َانْتَهُوْا

‘Apa saja yang dibawa oleh Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa saja yang dilarang oleh Rasul maka berhentilah (mengerjakannya). (QS. Al-Hasyr : 7)

Dalam AYAT ini disebutkan bahwa perintah agama adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW, dan yang dinamakan larangan agama adalah apa yang memang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Dan tidaklah dikatakan:

وَماَ لَمْ يَفْعَلْهُ فَانْتَهُوْا

“Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah maka berhentilah (mengerjakannya).”

3. Menyalahi hadist mauquf dari ibnu ma’ud ra.

ما رءاه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رءاه المسلمون سيئا فهو عنداالله سيء

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, maka menurut Allah-pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab Al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Hadits ini dalam kitab-kitab ushul fiqh dijadikan salah satu dalil ijma’ (konsensus ulama mujtahidin) dan dalam kitab-kitab kaidah FIQH dijadikan dalil dalam kaidah al-‘Adah Muhakkamah. Hadits ini marfu’ sampai Rasulullah sehingga dapat dijadikan hujjah (dalil) untuk mentakhsish keumuman hadits tentang semua bid’ah adalah sesat.

Berikut ini komentar beberapa ulama :

ما جاء في أثر ابن مسعود رضي الله عنه:(ما رآه المسلمون حسناً فهو عند الله حسن وما رآه المسلمون قبيحاً فهو عند الله قبيح). كشف الأستار عن زوائد البزار” (1/81)، و “مجمع الزوائد” (1/177)

BACA JUGA:  Ustadz Firanda Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (2)

Dari atsar Ibnu Mas’ud ra. “Apa yg menurut umat islam umumnya itu baik, maka baik menurut Alloh dan apa yg menurut umat islam umumnya itu buruk, maka buruklah menurut Alloh [Kitab Kasy al-Astar an jawaz al-Bazzar juz 1 hal. 81 dan Kitab Majmu’ zawaid juz 1 hal 177]

قال ابن كثير: “وهذا الأثر فيه حكايةُ إجماعٍ عن الصحابة في تقديم الصديق، والأمر كما قاله ابن مسعودٍ“.

Ibnu Katsir berkata, Atsar ini didalamnya menjelaskan kesepakatan sahabat yg telah mendahului dlm hal2 kebenaran sebagaimana yg dikatakan Ibnu Mas’ud

وقال الشاطبي في “الاعتصام” (2/655):(إن ظاهره يدل على أن ما رآه المسلمون بجملتهم حسناً؛ فهو حسنٌ، والأمة لا تجتمع على باطلٍ، فاجتماعهم على حسن شيءٍ يدل على حسنه شرعاً؛ لأن الإجماع يتضمن دليلاً شرعياً”)

Imam Syathibi dlm Kitabnya Al-I’tishom juz 2 hal. 655 [sesungguhnya yg secara zhohir apa yg menurut penglihatan org muslim umumnya mengandung kebaikan maka itu adalah baik, dan umat manusia tidak mgkn sepakat dalam kebatilan. Kesepakatan mereka pada seseuatu akan kebaikannya menunjukkan kebaikan menurut syari’at agama, karena kesepakatan umum mengandung hukum syara’ [hukum agama].

KESIMPULAN :

Amalan-amalan yang selama ini dipermasalahkan sebenarnya memang dianggap baik oleh para ulama sehingga tidak patut kaidah Wahabi seperti ”LAU KAANA KHAIRAN LASABAQUUNAA ILAIHI” karena ucapan seorang sahabat nabi lebih didahulukan.

Legitimasi kebaikan tidak terbatas kurun Salaf melainkan juga berasal dari dari kaum mukmin.

Hal ini diperkuat oleh ayat :

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غيـر سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيـرا ( (سورة النساء : 115 )

“Dan barang siapa yang menentang Rasulullah setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mukmin, maka kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang ia kuasai itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam neraka jahannam. Dan jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali” (Q.S. an-Nisa: 115)

BACA JUGA:  Ustadz Abu Hamzah Senior Salafi Wahabi VS Mahasiswa

Penyebutan ” jalan orang mukmin” merupakan faidah bahwa legitimasi kebaikan ada juga pada orang-orang mu’min.

Andaikata format atau kulitnya sama dengan rasulullah maka dalam ayat tersebut (terj) pasti tercukupi dengan :

““Dan barang siapa yang menentang Rasulullah setelah jelas baginya kebenaran , maka kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang ia kuasai itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam neraka jahannam. Dan jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali”

Catatan :

Hadits ini juga bisa dipakai sebagai dasar menetapkan sesuatu dengan cara istihsan atas sesuatu yang pada kurun sahabat tidak ada. Secara etimologi istihsan berarti “memperhitungkan sesuatu lebih baik”, atau “adanya sesuatu itu lebih baik”, atau ” mengikuti sesuatu yang lebih baik”, atau “mencari yang lebih baik untuk diikuti, karena memang disuruh untuk itu.”

Adakalanya ada yang mengatakan istihsan dilarang oleh imam syafi’i. Namun sebenarnya istihsan yang dilarang ternyata tidak sama dengan yang dimaksud dalam madzab hanafi.

Ulama madzab syafi’i yakni Imam Subki mendefinisikan istihsan yang diperbolehkan sbb: عدول عن قياس الى قياس أقوى منه  [beralih dari penggunaan satu qiyas kepada qiyas yang lain yang  lebih kuat dari padanya [qiyas pertama]

Wallahu a’lam

 

Ahmad Muzakki (Facebooker Aswaja)

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Kaidah Wahabi yang Terus Digembar-gemborkan di Tengah Muslimin
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

12 thoughts on “Kaidah Wahabi yang Terus Digembar-gemborkan di Tengah Muslimin”

  1. @all wahabiyun
    Kaidah wahabi “klw sekiranya perbuatan tu baik, tentulah para sahabat telah mendahului kita mengamalkannya”

    Ane :
    1.Tak tahunya kalian wahabiyun adanya sahabat yg melakukan suatu hal, itu bukan berarti hal tsb tdk pernah dilakukan oleh sahabat… tapi lebih dikarenakan kalian tidak menemukannya karena kalian “kurang baca”.. dan (maaf) kadang juga krn kedangkalan kalian dlm memahami sebuah riwayat.
    Mungkinkah kalian memahami semua hal ihwal n perkataan Nabi n para sahabat yg jumlahnya ratusan ribu sahabat dan tersebar diberbagai penjuru? Taukah kalian siapa sahabat yg paling dekat n lama bersama Nabi SAW? Jawabnya.. Khulafaur rosyidin!! Tapi berapakah hadist sahih yg diriwayatkan oleh masing2 mereka terutama abu bakar RA?? Jawabnya.. hanya PULUHAN saja!! Lalu, mungkinkah beliau2 yg bersama nabi puluhan tahun hanya mendapat pelajaran yg terangkum hanya dalam puluhan hadist?
    Berapakah kini jumlah hadist sohih yg sampai pada kita?? Gak ada 20.000 hadist!! Mungkinkah nabi yg berdakwah 22 th dg meninggalkan sahabat ratusan ribu hanya mempunyai kurang dari 20.000 hadist sahih? Lalu di mana ratusan ribu hadist sahih lain yg merupakan sumber ajaran Nabi??
    2.kaidah kalian, “klw sekiranya perbuatan tu baik, tentulah para sahabat telah mendahului kita mengamalkannya”. Inipun kalian sering melanggarnya sendiri… contoh : penggantian kalimat “As salamu ALAIKA ayyuhan nabi yg oleh albani mw diganti dg as salamu ALAN Nabi”, istighosah yg dilakukan oleh Ibnu Umar dan bilal yg mana Bilal mlh kena vonis musyrik, tarawih berjamaah 23 rakaat yg dilakukan umar RA.. dll”
    3. takwil ibnu abbas dlm riwayat sahih pada ayat “ yauma yuksyafu ‘an saaqin”,kalian juga mengingkari.. krn ibnu abbas menakwil ayat tersebut dg “hari yg memayahkan (kiamat)”. Tp kalian mengartikan kata “saaqin” dg BETIS Allah”. Ibnu abbas atw kaliankah yg benar??
    4. pernahkan para sahabat, satu sama lain saling “mengafirkan /membid’ahkan”?? jwb.. tidak pernah!! Mengapa kalian melakukannnya??

  2. Klw ane cermati …Kayaknya Wahabiyin juga punya kaidah baru yg berlaku untuk kalangn mereka sendiri…
    “tahrifun an Nushush fi an nuqul JAIZUN li intishori madzhabi al wahhabiyin wa taqwiyati da’watihim”
    “Merubah Nash-nash dalam periwayatan adalah BOLEH untuk mendukung madzhab wahabiyin dan menguatkan dakwah mereka”
    Hheemm..hmmmm… buat all wahabiyin,maaf ya???

    1. ASY-SAIDANI: “Merubah Nash-nash dalam periwayatan adalah BOLEH untuk mendukung madzhab wahabiyin dan menguatkan dakwah mereka”

      Semakin terbukti yg ahli bid’ah itu Wahabi sendiri ya kang Syaidan ?

  3. Artikle yang mantab.
    Wahabiyun mengaku-aku dan selalu mengatakan mengikuti pemahaman Salafush Shalih, padahal yang terjadi pemahaman yang sudah terhasut oleh kaum Zionis Yahudi sehingga mereka memahami Al Qur’an dan As Sunnah bersandarkan pada belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah). Mereka “meninggalkan” pendapat/pemahaman Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh. Mana ada belajar Agama Otodidak, yang ada gurunya Setan.

    Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai “Laurens Of Arabian”. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada keta’atan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku-buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku-buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis. Di Indonesia sendiri ada Thomas Horkinzjee, missioneris warga Belanda yang membuat aturan dan perundang undangan yang katanya berasal dari ajaran islam, padahal ajaran Naturalisme yang membatasi orang-orang untuk belajar dipondok-pondok pesantren.
    Kaum Zionis Yahudi juga menghasut kaum SEPILIS (sekulerisme, pluralisme, liberalisme) untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri, seperti cara baca kitab taurat, yang dikatakan oleh mereka sebagai pemahaman yang menyesuaikan dengan keadaan zaman (modernisasi / pembaharuan) atau pemahaman bersifat pragmatis (kepentingan).

    Jargon mereka juga harus “ILMIAH” padahal mereka cuma mengakali Ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist, dengan menafsirkan sendiri, walau tanpa bimbingan guru Hadist dan Fiqih, ini persis dengan Muhammad ibn Abdul Wahab yang tidak pernah belajar Fiqih sehingga dia sangat mudah mengatakan kata syirik, seperti juga Albani yang tidak pernah belajar ilmu hadist sehingga dia berani bongkar pasang Hadist. Dan ini yang sangat berbahaya buat umat islam, kalau saja disuatu kecamatan ada 1000 kepala masing-masing menafsirkan, maka bukan tidak mungkin dikecamatan itu akan ada 1000 Hujjah yang harus diterapkan, jadinya kacau dan disini lah pengertian “Pertama Islam datang dengan keterasingan, maka diakhir zaman Islam pun akan menjadi asing”. Nauzubillah.

  4. Kalaulah merubah tempat Sa’ie untuk berhaji itu satu bid’ah dunia yang baik, untuk mencari uang dengan pembinaan hotel-hotel mewah bertaraf lima bintang, nescaya udah lama Para Sahabat yang rata-rata miskin itu melakukannya.

  5. Kalaulah solat sunat Wudhu itu satu bid’ah dunia yang baik, nescaya Rasulullah saw udah mendahului Bilal r.a dalam melakukannya. Apakah menurut kaidah Wahhaby, Bilal r.a itu pembuat bid’ah dholalah?

  6. Kalaulah membongkar makam Rasulullah Saw dan mengeluarkan dr masjid Nabi adalah perbuatan yg baik, tentulah para sahabat sepeninggal Rasulullah Saw akan melakukannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker