Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Inspirasi Islam

Kado Istimewa Hari Santri 2017 dari Santri Remaja Berprestasi

Menyambut Hari Santri Indonesia 2017 yang diperingati pada 22 Oktober 2017.

Kado Istimewa Hari Santri 2017 dari Santri Remaja Berprestasi. SANTRI REMAJA DENGAN PRESTASI LUAR BIASA. Namanya Muhammad Abdul Faqih, Hafal Al Quran Sejak Umur 12 Tahun. Dia sebagai anak bangsa telah membuat nama Indonesia kembali harum di seantero dunia. Nun jauh Timur Tengah di Saudi sana, santri penghafal Al Quranyang lahir di Semarang ini dinobatkan sebagai juara III dalam lomba “Musabaqah Hafalan Al Quran” tingkat internasional.

Tentunya, Prestasi ini seakan sebagai kado istimewa Hari Santri 2017 yang akan diperingati pada 22 Oktober. Prestasi ini juga membanggakan sebab dalam meraihnya harus bersaing dengan peserta lain dari lebih 80 negara di berbagai benua.

Dari Benua Afrika, ada peserta dari Afrika Selatan, Nigeria dan Djibouti. Dari Eropa, ada dari Inggris, Bosnia, dan Norwegia. “Dari Asia Tenggara, selain Indonesia, ada peserta dari Malaysia, Kamboja, Filipina, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Adalah Muhammad Abdul Faqih yg akrab dipanggil Faqih. Remaja Santri kelahiran 1996 ini menjadi delegasi Indonesia pada lomba internasional usai meraih prestasi di ajang lomba nasional. Faqih tercatat sebagai juara II pada Sari Tilawah Al-Quran (STQ) Nasional tahun 2015 di Jakarta. Dan sebagai juara II Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional tahun 2016 di Nusa Tenggara Barat.

BACA JUGA:  Ustadz Abu Hamzah Senior Salafi Wahabi VS Mahasiswa

“Alhamdulillah, di usai 8 tahun, saya diberi taufiq (pertolongan) untuk menghafal Al Quran hingga khatam pada umur 12 tahun. Saya menghafal dengan Ayah sendiri,” ujar Faqih melalui sambungan telepon, Minggu (15/10/2017). Faqih saat itu masih berada di Saudi Arabia untuk persiapan kepulangan ke Tanah Air.

Abdul Faqih mengaku mendapat dukungan dan motivasi dari keluarga selama menghafalkan Al-Quran. Terutama dukungan Bapak yang bernama Muhammad Rifa’i, juga Ibunya yang bernama Sri Purwati, dan kakak-kakaknya.

Menjadi Santri

Abdul Faqih saat ini tercatat sebagai santri Pesantren Al Munawir Krapyak. Sejak 2014, Faqih ngaji di pesantren yang sudah melahirkan ribuan ahli Al-Quran itu.

Perjalanan intelektual (rihlah ilmiah) Faqih dimulai sejak tahun 2008. Lulus dari MI Muftahul Huda Lopait Tuntang Semarang, Faqih memilih melanjutkan belajarnya di MTs Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri. Pendidikannya berlanjut hingga lulus MA di pesantren yang sama.

“Saya nyantri sejak umur 12 tahun di Ponpes Al Falah Ploso Kediri,” tuturnya.

Dari Pesantren Ploso, sejak tiga tahun lalu, Faqih melanjutkan belajarnya di Pesantren Al Munawir Krapyak. Di sini, Faqih menekuni Qiraah Sab’ah. “Saya berharap bisa menyelesaikan ngaji Qiraah Sab’ah ini tahun depan,” harapnya.

BACA JUGA:  Syi'ah Rafidhoh dan Syi'ah Non Rafidhoh di Indonesia

Dari Krapyak, Faqih berencana melanjutkan pendidikannya pada jenjang perkuliahan. Dia belum bisa menyebut pasti akan kuliah di mana. Tapi dia berharap bisa kuliah di daerah Semaran agar bisa mengabdi dengan masyarakat dan keluarga.

“Saya ingin menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang lain. Juga ingin menjadi seseorang yang shalih baik secara ritual maupun sosial,” ujarnya.

Kenapa Nyantri

Ada tiga alasan kenapa Faqih memilih untuk menjadi santri. Pertama: ingin mengikuti jejak para tokoh-tokoh Agama di Indonesia. Menurutnya, banyak tokoh bangsa pada abad 19 yang berasal dari kalangan pesantren. “Sang Proklamator Kemerdekaan Bapak Soekarno pun juga pernah nyantri di Syaikhona Kholil Bangkalan. Presiden keempat, Gus Dur pun juga jebolan pesantren,” katanya.

Alasan kedua, kata Faqih, karena hubungan dan tata karma (adab) antara santri dan kyai di pesantren sangat diutamakan, jauh dari hubungan yang terbentuk antara murid dan guru di pendidikan umum. “Di pesantren, pertama kali yang diutamakan adalah adab kemudian ilmu. Al-‘ilmu fauqal adab,” kutipnya.

Sedang alasan ketiga, karena di pesantren, santri banyak diajari ilmu agama.

BACA JUGA:  Sunni dan Syi'ah Punya Alquran dan Kiblat yang Sama

Makna Hari Santri

Atas prestasi yang diraihnya, Faqih akan menjadi salah satu tamu undangan pada Puncak Perayaan Hari Santri di Semarang pada 22 Oktober mendatang. Faqih sendiri mengaku bangga menjadi santri. Karenanya, Hari Santri mempunyai makna tersendiri baginya.

Menurut Faqih, 22 Oktober 1945 adalah hari saat para ulama dan santri berjuang memerangi Kolonial Belanda demi mmpertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjaga keutuhan Negara. Santri masa kini dan masa depan juga harus berjuang dengan cara memerangi hawa nafsu sehingga bisa mencari ilmu sedalam-dalamnya.

“Santri juga harus memperkuat jiwa religius keislaman dan kebangsaan, agar bisa menjaga kekuatan Islam, keutuhan NKRI dan melindungi negara ini dari adu domba,” tandasnya.

Gerbang pengabdian kini sudah terbuka lebar di hadapan Muhammad Abdul Faqih. Pengagum KH. Hasyim Asy’ari ini sendiri berkomitmen untuk mulai mengabdikan ilmunya kepada masyakat. Dia mengaku terinspirasi dengan jiwa nasionalisme Pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama ini sehingga ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan agama. Dan, itu akan dimulainya dari lingkungan terdekat rumahnya di Semarang.

Sumber

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker