Anak Cucu Nabi

Jika Dianggap Berdosa Karena Cinta Ahlul Bait, Aku Tidak Akan Bertaubat dari Dosaku Itu

Jika aku dianggap berdosa karena cinta kepada keluarga Muhammad….
Maka aku tidak akan bertaubat dari dosaku itu…

Puisi Imam Syafi’i untuk Sayyidina Imam al-Husain bin Ali Karromallohu Wajhah

horor3 - Jika Dianggap Berdosa Karena Cinta Ahlul Bait, Aku Tidak Akan Bertaubat dari Dosaku Itu

Hatiku mengeluh, karena hati manusia sedang merana…
Kantuk tak lagi datang, susah tidur membuatku pusing….
Wahai siapa yang akan menyampaikan pesanku kepada al-Husain,…
Yang dibantai, meski tak berdosa,..

Bajunya seakan-akan dicelup basah dengan warna merah….
Kini hatta pedang pun meratap, dan tombak menjerit…
Dan kuda yang kemarin meringkik, kini meratap…

banner gif 160 600 b - Jika Dianggap Berdosa Karena Cinta Ahlul Bait, Aku Tidak Akan Bertaubat dari Dosaku Itu

Bumi bergempa karena keluarga Muhammad…
Demi mereka, gunung-gunung yang kukuh niscaya akan meleleh…
Benda-benda langit rontok, bintang-bintang gemetar,…

Wahai cadur-cadur dirobek, demikian juga hati…!
Orang yang bershalawat untuk dia yang diutus dari kalangan Bani Hasyim,…
Dia juga memerangi anak-anaknya….

Duhai alangkah anehnya….!
Jika aku dianggap berdosa karena cinta kepada keluarga Muhammad….
Maka aku tidak akan bertaubat dari dosaku itu…

____________________________

Di-indonesiakan oleh: Taufik Hidayat

Refference:
-Kitab Diiwan al-Imam assyafii ra, at-Thab’ah Daarul-Kitaab al-’Arobiyyi, Beiruut- Lebanon, Syair ke 15, halaman: 48

Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad Wa Aali Muhammad Wa ‘Ajjil Farajahum.

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

14 thoughts on “Jika Dianggap Berdosa Karena Cinta Ahlul Bait, Aku Tidak Akan Bertaubat dari Dosaku Itu”

  1. Ternyata di Zaman Imam Syafi’i juga sudah banyak pembenci keluarga Nabi Muhammad, kirain cuma Wahabi di zaman sekarang aja yg benci habaib, ternyata sudah ada sejak lama. Atau Wahabi2 di zaman ini sebagai penerus kebencian terhadapa habaib di zaman Imam Syafi’i? Wallohu a’lam.

  2. Ana dukung Imam Syafi’i tak perlu tobat gara2 cinta ahlul bait Nabi, tapi yg harus tobat itu yg benci ahlul bait Nabi…. Jangan sampai terlambat tobatnya ntar nyesal tiada berguna.

  3. Imam Syafi’i aja diganggu oleh pembenci keturunan Nabi Muhammad Saw, apalagi di akhir zaman ketika Wahabi penyebar fitnah itu juga gak demen sama ahlul bait Nabi, rasanya semakin parah aja. Kita perlu kesabaran tinggi untuk tetap cinta keluarga Nabi, sebab gangguan Wahabi begitu gencar menebar fitnahnya kepada anak turunnya Nabi saw.

  4. Setujuuuu
    Aku tidak akan bertobat, karena mencintai ahlu bait dan ane tetap bershalawat apapun bentuk shalawatnya akan ane baca dan amalkan. Karena ane sudah dibuktikan, dengan banyak membaca shalawat, Alhamdulillah.

  5. kita dukung madzhab imam syafi’i sesatnya syi’ah

    Al-Imam Asy-Syafi ’i berkata: “Aku
    belum pernah tahu ada yang melebihi
    Rafidhah dalam persaksian
    palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/ 27-28, karya
    Al-Imam Adz-Dzahabi)

    Al-Buwaitiy (murid Imam Syafi’i)
    bertanya kepada Imam Syafi’i,
    “Bolehkah aku shalat di belakang orang
    Syiah?” Imam Syafi’i berkata, “Jangan
    shalat di belakang orang Syi’ah , orang
    Qadariyyah, dan orang Murji’ ah” Lalu
    Al-Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat
    mereka, Lalu Imam Syafi’i menyifatkan,
    “Siapasaja yang mengatakan Abu Bakr
    dan Umar bukan imam, maka dia
    Syi’ah” . (Siyar A’lam Al-Nubala 10/31)

    Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku
    sama saja apakah aku shalat di
    belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di
    belakang Yahudi dan Nashara (yakni
    sama-sama tidak boleh -red) . Mereka
    tidak boleh diberi salam, tidak
    dikunjungi ketika sakit, tidak
    dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan
    tidak dimakan sembelihan
    mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)

  6. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, bahwa pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Sementara anaknya seperti Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT lagi.

  7. KEUTAMAAN AHLUL BAIT

    Kita hanya sering mendengar dimasjid-masjid atau tempat lainnya tentang hadits Rasulallah saw. agar kita memegang dua bekal yaitu: ‘Kitabullah wa sunnati’ artinya (berpegang) Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw. atau hadits lainnya yaitu: ‘Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin sepeniggalku, dan peganglah erat-erat serta gigitlah dengan gigi gerahammu’. Tetapi belum pernah atau jarang sekali di kumandangkan dan dikenal oleh kaum muslimin hadits Nabi saw. agar kita memegang dua bekal: ‘Kitabullah dan Itrah-ku (keturunan-ku) Ahlu baitku’.

    Imam Muslim meriwayatkan hadits ini di dalam kitab shohih-nya dari Aisyah yang berkata; “Rasulullah saw. pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit dan) bergambar. Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah saw. memasuk- kannya kedalam pakaiannya, lalu Husain datang, dan Rasulullah saw. memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fathimah, dan Rasulullah saw. pun memasukkannya ke dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah saw memasukkan- nya ke dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah saw berkata; ’Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilang kan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya (surat Al-Ahzab:33).” (Shohih Muslim, bab keutamaan-keutamaan Ahlul Bait.)

    Al-Hakim meriwayatkan hadits serupa dari Ummu Salamah yang berkata; “Di rumah saya turun ayat yang berbunyi, ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’. Lalu Rasulullah saw mengirim Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, dan kemudian berkata, ‘Mereka inilah Ahlul Baitku’ “. (Mustadrak al-Hakim, kemudian, al-Hakim berkata, ‘Hadits ini shohih menurut syarat Bukhari’).

    Dalam sebuah hadits riwayat al-Imâm Ahmad ibn Hanbal Rasulullah bersabda:
    “Aku telah tinggalkan di antara kalian dua pengganti; yaitu Kitab Allah (al- Qur’an) yang akan selalu terbentang antara langit dan bumi, dan keturunanku; keluargaku (Ahl al-Bayt)”, keduanya tidak akan pernah berpisah hingga keduanya datang ke Haudl nanti (di akhirat)”115. Al-Hâfizh al-Haitsami berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, dan sanad-nya adalah jayyid (bagus)”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker