Inspirasi Islam

Jasa Besar NU Selamatkan Makam Nabi Muhammad dari Kehancuran

Seandainya ketika itu NU tidak didirikan, Makam Nabi Muhammad bisa jadi sekarang sudah rata dengan tanah akibat tangan-tangan jahil kaum Wahhabi. Makam Nabi yang menjadi tempat ziyarah bagi muslim yang sedang melaksanakan Haji atau Umroh telah membuat kaum Wahhabi kebakaran jenggot, sebab orang-orang berziyah di makam Nabi dalam pandangan kaum Wahhabi adalah perbuatan syirik.

Mereka lalu berniat akan menghancurkan makam Nabi Muhammad, sebagaimana mereka juga telah menghancurkan pekuburan Ma’la yang menjadi tempat bersemayamnya jenazah para Sahabat Nabi. Dengan dalih makam Nabi dijadikan tempat praktik kemusyrikan (menyembah kuburan), maka kaum Wahhabi yang diperkuat oleh kerajaan Arab Saudi berencana menghancurkan makam Nabi.

Tapi bagaimana Makam Nabi bisa selamat dari penghancuran kaum Wahhabi, sehingga sekarang Umat Islam masih bisa berziyarah ke makam Nabi? Benarkah NU berjasa besar dalam penyelamatan Makam Nabi Muhammad dari tindakan angkara murka kaum Wahhabi?

Berikut ini kisahnya yang kami kutip dari merdeka.com, selamat membaca….

 

Kisah ulama Indonesia pertahankan makam Nabi yang hendak digusur

 

Komite Hijaz – Pada tahun 1924-1925, Arab Saudi dipimpin oleh Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi. Aliran ini sangat dominan di tanah Haram, sehingga aliran lain tidak diberi ruang dan gerak untuk mengerjakan mazhabnya.

Semasa kepemimpinan Ibnu Saud, terjadi eksodus besar-besaran ulama dari seluruh dunia. Mereka kembali ke negara masing-masing, termasuk para pelajar Indonesia yang sedang mencari ilmu
di Arab Saudi.

Aliran Wahabi yang terkenal puritan, berupaya menjaga kemurnian agara dari musyrik dan bid’ah. Maka beberapa tempat bersejarah, seperti rumah Nabi Muhammad SAW dan sahabat, termasuk makam Nabi Muhammad pun hendak dibongkar.

BACA JUGA:  Jadi Penjahat Besar Seumur Hidup Terhadap Kaum Muslimin

Umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah merasa sangat perihatin kemudian mengirimkan utusan menemui Raja Ibnu Saud. Utusan inilah yang kemudian disebut dengan Komite Hijaz.

Komite Hijaz ini merupakan sebuah kepanitiaan kecil yang dipimpin oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Setelah berdiri, Komite Hijaz menemui Raja Ibnu Suud di Hijaz (Saudi Arabia) untuk menyampaikan beberapa permohonan, seperti meminta Hijaz memberikan kebebasan kepada umat Islam di Arab untuk melakukan ibadah sesuai dengan madzhab yang mereka anut.

Karena untuk mengirim utusan ini diperlukan adanya organisasi yang formal, maka didirikanlah Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926, yang secara formal mengirimkan delegasi ke Hijaz untuk menemui Raja Ibnu Saud.

Adapun lima permohonan yang disampaikan oleh Komite Hijaz, seperti ditulis di situs www.nu.or.id tersebut adalah:

BACA JUGA:  Wahabi Tak Berkutik di Arena Dialog Terbuka di Balikpapan

Pertama, memohon diberlakukan kemerdekaan bermazhab di negeri Hijaz pada salah satu dari mazhab empat, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Atas dasar kemerdekaan bermazhab tersebut hendaknya dilakukan giliran antara imam-imam shalat Jum’at di Masjidil Haram dan hendaknya tidak dilarang pula masuknya kitab-kitab yang berdasarkan mazhab tersebut di bidang tasawuf, aqidah maupun fikih ke dalam negeri Hijaz, seperti karangan Imam Ghazali, imam Sanusi dan lain-lainnya yang sudaha terkenal kebenarannya.

 

Kedua, memohon untuk tetap diramaikan tempat-tempat bersejarah yang terkenal sebab tempat tempat tersebutdiwaqafkan untuk masjid seperti tempat kelahiran Siti Fatimah dan bangunan Khaezuran dan lain-lainnya berdasarkan firman Allah “Hanyalah orang yang meramaikan Masjid Allah orang-orang yang beriman kepada Allah” dan firman Nya “Dan siapa yang lebih aniaya dari pada orang yang menghalang-halangi orang lain untuk menyebut nama Allah dalam masjidnya dan berusaha untuk merobohkannya.”


Ketiga, memohon agar disebarluaskan ke seluruh dunia, setiap tahun sebelum datangnya musim haji menganai tarif/ketentuan beaya yang harus diserahkan oleh jamaah haji kepada syaikh dan muthowwif dari mulai Jedah sampai pulang lagi ke Jedah. Dengan demikian orang yang akan menunaikan ibadah haji dapat menyediakan perbekalan yang cukup buat pulang-perginya dan agar supaya mereka tidak dimintai lagi lebih dari ketentuan pemerintah.


Keempat, memohon agar semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz, ditulis dalam bentuk undang undang agar tidak terjadi pelanggaran terhadap undang-undang tersebut.

Kelima, Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) memohon balasan surat dari Yang Mulia yang menjelaskan bahwa kedua orang delegasinya benar-benar menyampaikan surat mandatnya dan permohonan permohonan NU kepada Yang Mulia dan hendaknya surat balasan tersebut diserahkan kepada kedua delegasi tersebut.

BACA JUGA:  Surat Edaran Mendagri Tentang Status Hukum Organisasi NU

 

Dari pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Komite Hijaz yang merupakan respons terhadap perkembangan dunia internasional ini menjadi faktor terpenting didirikannya oeganisasi NU. Berkat kegigihan para kiai yang tergabung dalam Komite Hijaz, aspirasi dari umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah diterima oleh raja Ibnu Saud. Makam Nabi Muhammad yang akan dibongkar pun tidak jadi dihancurkan.

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Jasa Besar NU Selamatkan Makam Nabi Muhammad dari Kehancuran
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker