Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Salafi Wahabi

JAGA DIRIMU DAN KELUARGAMU, WASPADAI ‘RACUN HATI’ SEJAK DINI

BENARKAH AJARAN SALAFI WAHABI BISA MERACUNI HATI ?

 

Oleh: A.  FAWWAAZ AL Q


 “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari)

Begitu penting menjaga hati  agar selalu bersih dari sikap sombong, merasa benar sendiri, ujub, riya dan semisalnya. Maka berhati-hatilah terhadap penyakit hati karena tertolaknya amal ibadah kita disebabkan rusaknya hati. Kenalilah sedini mungkin tanda-tanda rusaknya hati karena racun-racun hati semakin hari bak cendawan  di musim penghujan tumbuh subur seiring banyaknya “ulama’ dunia”.

Ada banyak tanda-tanda rusaknya hati diantaranya adalah :

1.      Berani keluar dari jama’ah kaum muslimin sambil menyalahkan amalan-amalan Ulama’ yang mata rantai ilmunya bersambung kepada Rosulullah saw, baik melalui Ulama ahlubait nabi saw, maupun yang melalui pemimpin madzab yang 4 (Maliki, Hanafi, Syafi’I, Hambali).

2.      Berani menafsiri Al Qur’an dan hadist nabi saw sesuai apa yang ada di kepalanya dengan meninggalkan pemahaman para salaf semisal pemahaman para Imam Madzhab (Maliki, Hanafi, Syafi’I, Hambali). Ibnu taymiyah bukan ulama’ salaf, lalu dengan alasan yang dibuat-buat mereka bilang pintu ijtihad masih terbuka, padahal mereka hanya hafal hadits terjemahanya saja. Mereka lupa kalau para imam Madzab hafal hadist nabi saw sedikitnya 600 ribu berikut sanad dan matanya, lupa kalau hadist nabi saw yang sampai kepada kita hanya beberapa ribu, lupa kalau Al-Bukhori, Imam nawawi, Imam Ibnu Hajar mengambil salah satu jalan madzhab yang empat. Lebih parahnya mereka meneriakan bahwa bermadzab itu bid’ah masuk neraka dan yang lebih ironis mereka menyebarkan katarak hati dan katarak mata dengan membuat jargon-jargon yang manis rayuan gombal:  “kembali ke alqur’an dan sunnah, ikutilah manhaj salaf, lalu menyebut diri mereka sendiri sebagai salafi”.  Apa bekal kalian sehingga dengan sombongnya mulut selalu berkata Syirik,  Bid’ah masuk neraka, tidak ada tuntunanya, ikut Rosulullah (saw) atau si fulan!, sekiranya baik…, ini… itu… bid’ah!

Hati yang beracun kalau tidak segera diobati akan menjauhkan kita dari Allah swt, Akan merusak  Islam, akan merusak  Iman, akan merusak (menuju) ihsan.Dan ini telah terjadi, siapakah mereka  ikuti terus kajian ini.

Peringatan bagi yang mengikuti kajian ini:

1.      Jangan bakar jenggotnya selagi belum tuntas membaca

2.      Jangan berkomentar kalau tak bermutu dan hanya kata-kata kasar

3.      Jangan marah lalu membenci kalau tidak memahami

4.      Dan semoga  tahudiri dengan tidak asal bunyi

Harapan kami semoga menjadi berkah bagi yang mengharap hidayah, amiin.

 

TIGA PILAR AGAMA YANG TELAH DIRUSAK KAUM MUSLIMIN SENDIRI :

 

 1.      ISLAM

Telah menjadi takdir Allah swt  lahir sekelompok golongan manusia-manusia muda (belakangan) yang mempermasalahkan ke-ISLAM-an seseorang. Begitu berani mereka  membagi Laailaahailallah menjadi tiga yang seakan-akan menjadi ilmu Tauhid (Uluhiyah, Rububiyah, Asmawasifah), siapa yang tidak mengikuti ini belum dianggap islam yang benar. Mereka tidak sadar telah sombong menetang Allah swt, sebab Allah  berfirman dalam Hadist Qudsy: “LAA ILAAHA ILLALLAH adalah BentengKU, barang siapa MENGUCAPKANYA masuklah ia ke dalam Benteng-KU. Dan barang siapa masuk ke dalam Benteng-KU amanlah ia dari adzab-KU”.

BACA JUGA:  PERBEDAAN ANTARA SYI'AH DAN SUNNI

Sebetulnya sekelompok golongan ini maksudnya baik untuk memberi pengertian apa yang dimaksud Firman Allah swt dalam hadist Qudsy ini, tetapi takdir Allah swt lain yang terjadi, justru sebaliknya kaum muslimin menjadi bingung dan tersesat salah jalan. Akibatnya karena sudah mendarah daging siapa yang tidak mengikuti pembagian tauhid 3 (Uluhiyah, Rububiyah, Asmawasifah) maka halal darahnya, dan kehormatanya boleh dirampas paksa. Bahkan Ulama’ mereka menceritakan dengan bangga (dalam kitabnya) tentang pembantaian kaum muslimin di Jazirab Arab pada bulan Muharram 1220 H/1805 M. ( Lihat di salah satu buku sejarah resmi wahabisme, oleh Ibnu Bisyr: “Unwan al-Majd fi Tarikh al-Najd” ).

Memang akibat rusaknya hati adalah lebih berbahaya dari yang paling bahaya, lebih biadab dari yang paling biadab, lebih keji dari yg paling keji. Ingatlah Rosulullah saw telah  melarang keras membunuh manusia yang bersyahadah. Rosulullah saw tidak mewajibkan membagi syahadah menjadi 3, mengapa kalian melakukannya yang pada tujuan akhirnya untuk menghalalkan darah dan kehormatan kaum muslimin?

Rasulullah bertanya : “Sudahkah kamu membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak? Rasulullah terus mengulangi pertanyaan itu kepadaku hingga menyebabkan aku berandai-andai bahwa aku baru masuk Islam saat itu. (HR Muslim )..  Semoga kita dijauhkan dari ulama’ yang mengikuti pemahaman Tauhid 3. Amiin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Apakah kamu yang telah membunuhnya? ‘ Dia menjawabnya, ‘Ya.’ Beliau bertanya lagi: “Lalu apa yang hendak kamu perbuat dengan kalimat, ‘Laa Ilaha Illallah, Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah’,  jika di hari kiamat kelak ia datang (untuk minta pertanggung jawaban) pada hari kiamat nanti? “ (HR Muslim )

Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min, lelaki atau perempuan, tanpa adanya sesuatu yang mereka lakukan,  maka orang-orang yang menyakiti itu menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.” (al-Ahzab: 58)

Mereka sanggup melakukan kebohongan dengan alasan yang dibuat-buat, sanggup melakukan pembunuhan dengan alas an yang dibuat-buat, sanggup melakukan pembantaian dengan syariat yang dibuatnya sendiri. Mengapa?

Dari uraian di atas, terbukti mereka merusak kalimat Laa ilaaha ilallah dengan membaginya menjadi Tauhid 3 (  tiga ), maka terjawablah pertanyaan: “Benarkah Ajaran Salafi Wahabi bisa meracuni hati?”

 

2.     IMAN

Setelah mengucapkan “Laa  ilaaha ilallah Muhammadarrosulullah” tanpa mengurai seperti ahli kimia, cukuplah seseorang telah dalam naungan Islam yang berarti darah dan kehormatanya haram ditumpahkan.

Semoga kita termasuk seorang Islam yang baik. Amiin

Tidak cukup menebarkan Racun keIslaman, tidak puas dengan kalimat Laailaaha illallah, mereka lalu mengotak atik rukun Iman yang ke-1 (percaya kepada Allah swt) dengan memfitnah Allah swt, mau tahu ikuti terus yang satu ini :

Perhatikan penjelasan berikut ini:

 Imam Sayyidina Ali ra berkata, “Sesungguhnya Allah menciptakan Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya.”

Imam asy-Syafii Muhammad ibn Idris (w 204 H), seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Syafii, berkata:Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya”(Lihat az-Zabidi, Ithf as-Sdah al-Muttaqn, j. 2, h. 24).

Allah swt diserupakan dengan raja pujaan  ulama mereka di Jazirah Arab sana, duduk diatas singgasana di arsy”,  sebetulnya mereka tahu betul akan perkataan Imam Ali tersebut, sebetulnya mereka hafal di luar kepala penjelasan Imam Syafi’I tersbut, tetapi apa hendak dikata kalau racun hati telah menjalar ke seluruh tubuh, rusaklah seluruh anggotatubuhnya. Jangankan perkataan Imam Ali yang dijelaskan ulang  oleh Imam Syafi’I, gajah yang begitu besar mungkin dikatakan kecil, apa sebabnya, mungkin mereka melihat gajah dari belakang sambil tiduran capai habis mbagi-mbagi surga.

Lalu kalian mengikuti siapa ? yangg belum jelas masuk surga?  MENGAPA TIDAK SAYYIDINA ALI, kw  SAJA yang kita  ikuti fatwanya. Bukankah kalian yakin bahwa sayyidina Ali. kw adalah ahli surga sesuai berita gembira dari Baginda Nabi saw? Mengapa tidak jernih juga hatimu bahwa Sayyidina Ali, kw adalah sahabat dan menantu Baginda Nabi saw yang sangat jelas sekali bahwa Sayyidina Ali, kw lebih nyunnah daripada Syeh Agung kalian? Jadikanlah Sholawat menjadi penawar racun yang telah bersarang di hatimu agar mendapat petunjuk. Semoga kalian sanggup melakukannya secepatnya. Amiin.

BACA JUGA:  Di Akhir Zaman Akan Banyak Orang Menjadi Kafir Karena Menjisimkan Allah

Alhamdulillah, rukun Iman ke-2 selamat dari fitnah golongan ini dan harap maklum karena Malaikat tidak punya nafsu seperti mereka.  Rukun Iman ke-3 Kitabullah  (Al-quran) Allah yang menurunkan dan Allah jua-lah yang menjaganya. Tetapi karena hati yang telah terkontaminasi racun, “Tak kuasa-lah kita memalsu Al-Quran Maknanya sajalah  yang diselewengkan”. Survei membuktikan mereka menyelewengkan Ayat-ayat suci yang seharusnya untuk orang kafir dihamtamkan kepada saudaranya kaum muslimin selain golonganya. Tidak boleh ditakwil ayat ini, tetapi pada ayat yg lain atau pun yang  merugikan  dengan tanpa beban seperti bocah umur 2.5 tahun tanpa malu-malu.  Ah…, takwil saja dah….   “Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).”  (Qs. Al-Isra [17]:72). Ayat ini harus ditakwil karena terjadi pada diri mereka, ketiga SyaikhMufti mereka TUNA NETRA semuanya sejak mufti pertama hingga mufti yang sekarang.  Kasihan deh loo… semoga bertaubat…. amiin.

Iman ke-3,  kita kaum muslimin diwajibkan beriman kepada Utusan Allah, Baginda nabi Muhammad saw adalah rosul terakhir utusan Allah, yang sebab Beliau kita mengenal Allh swt. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa’ala ali sayyidina Muhammad.  Junjungan kita Rosulullah saw tidak luput dari fitnah golongan ini, mengapa?

Mereka mendustakan sunnah  baginda Nabi saw, Sunnah Ziarah kubur didustakan padahal baginda Nabi saw pada saat tertentu Ziarah ke Baqi, Tawassul didustakan padahal banyak riwayat para sahabat nabi bertawassul. Jangan cari alasan “Mana Dalilnya” karena kalian akan melihat gajah dari kejauhan dari belakang sambil tiduran di dekat istri kesayanganmu.

BACA JUGA:  Aqidah yang Benar: Ayah Bunda Nabi Muhammad Bukan Kafir

Kalau memang kamu Cinta Nabi mengapa tega menghancurkan Peninggalan Nabi, bagaimana bisa walaupun kamu bilang cinta?

Jadi…, benarkah Ajaran Salafi Wahabi dalam hal ini bisa meracuni hati? Merusak keIMANan kita-kah memfitnah Allah (duduk di Singgasana), dan mendustakan Sabda nabi saw?

 

3.      IHSAN

Maqom ihsan adalah  idaman setiap muslimin muslimat, mukminin mukminat.

Mungkin karena mereka terlalu sulit untuk mencapai derajad ihsan (ana sendiri merasa sangat sulit dan semoga dimudahkan. Amiin),  lalu timbul rasa dengkinya mencemari akal pikiranya kemudian menetapkan di hatinya yang  pada ahirnya mereka menfitnah Ulama’-ulama’ yang mengajarkan bagaimana supaya kita merasa selalu Allah ada di dekat kita, atau Allah selalu mengawasi perbuatan kita yaitu para ulama Sufi. Sehingga mereka memelintir perkataan Imam syafi’i, Tasawwuf Bid’ah, syirik dan rupa rupa warnanya.

Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (menjalankan syariat) rosak keimanannya , sementara dia yang belajar fiqih (menjalankan syariat) tanpa mengamalkan Tasawuf rosaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar“

Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

Imam Ahmad bin Hambal sebelum belajar tasawwuf menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”

Kalau ketiga pilar agama (Islam, Iman, Ihsan) dirusak dengan meracuni hati kaum muslimin apa yang kita peroleh selain kerusakan, bukankah begitu?

Nah…, benar kan Ajaran Salafi Wahabi dalam hal ini bisa meracuni hati? Merusak jalan menuju Allah swt, yaitu ihsan?

TERUS MAU KEMANA, DIMANA, KEMANA? Tentu jawabanya bukan seperti jawaban Ayu Ting-Ting.

 

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

45 thoughts on “JAGA DIRIMU DAN KELUARGAMU, WASPADAI ‘RACUN HATI’ SEJAK DINI”

  1. Ya sangat setuju saya ustadz…. Memang ketiga pilar agama, Iman, Islam dan Ihsan di tangan Salafi Wahabi diolah menjadi racun Hati. Lihat anak2 muda muslimin, bnyak yg teler pemahaman agamanya, bahkan benar2 telah anggap sesat tasawuf, padahal tasawuf adalah ilmu tentanf Ihsan iti sendiri.

    sukron artikelnya, sorotannya cukup tajam memperlihatkan gambaran Salafi Wahabi yg menjadi racun hati buat para penuntut ilmu. Kasihan sekali korban2nya tidak sadar kalau mereka dicekoki “racun”.

  2. Bismillaah,

    Ya, hati manusia terutama di Indonesia memang sudah mengandung racun. Lihatlah pelajar, mahasiswa dan warga kampung belakangan. Mereka tawuran di sekolah, kampus dan kampung. Lihatlah, mereka hidup tanpa pegangan kecuali hawa nafsu.

    Bagaimana keadaan agama mereka sehingga mereka suka tawuran. Bagaimana efektifitas dakwah ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah dalam memperbaiki akhlak umat Islam?

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi,
      melihat kapasitas antum yg banyak omong, sudah selayaknya antum bisa melihat secara mendasar kenapa demikian para pelajar kita khususnya di sekolah UMUM, sebabnya adalah jam pelajaran agama dikebiri oleh kebijakan pemerintah kuhususnya dept Pendidikan, jadi jangan kait-kaaitkan dg NU dan Muhammadiyah. Kedua Ormas tsb emangnya bisa apa kalau pemerintah sudah membuat undang2 / peraturan / kurikulum pendidikan?

      Tapi ngat lho, yg tawuran itu sekolah Umum, sekolah di bawah naungan NU dan Muhammadiyah adalah Madrasah ibtida’iyah s/d aliyah, di madrasah Ibtida’iyyah, Tsanawiyyah, Aliyah tidak ada itu tawuran. Itulah pendidikan NU dan Muhammadiyah, gitu…

    1. @Abu Abdullah

      Siapa sih ulama syfi’iyyah yg mengingkari bid’ah hasanah? tolong dong disebutkan kemudian dituliskan saja sumbernya. jangan dibuat tautan. Ok?

  3. Ana mau nanya nih bro, kenapa Imam Syafi’i hanya dijadikan rujukan dalam masalah fiqih saja sedangkan dalam masalah akidah tidak? Apakah akidahnya Imam Abul Hasan al-Asyari lebih lurus daripada akidahnya Imam Syafi’i sehingga dijadikan rujukan?

    Tolong jelaskan juga alasannya mengapa ASWAJA mengkhususkan hal-hal berikut:

    Dalam masalah fiqih: Madzhab Syafi’i
    Dalam masalah akidah: akidahnya Abul Hasan al-Asyari
    Dalam masalah tarikat: tarikatnya Syaikh Abdul Qodir Jaelani
    dan sebagainya.

    1. @Abdullah

      1. Akidah
      Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- membantah golongan Khawarij dengan hujjah-hujjahnya. Beliau juga membungkam salah seorang pengikut ad-Dahriyyah (golongan yang mengingkari adanya pencipta alam ini). Dengan hujjahnya pula, beliau mengalahkan empat puluh orang Yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah jism (benda). Beliau juga membantah orang-orang Mu’tazilah. Ibnu Abbas -semoga Allah meridlainya- juga berhasil membantah golongan Khawarij dengan hujjah-hujjahnya. Ibnu Abbas, al Hasan ibn ‘Ali, ‘Abdullah ibn ‘Umar – semoga Allah meridlai mereka semua- juga telah membantah kaum Mu’tazilah. Dari kalangan Tabi’in; al Imam al Hasan al Bishri, al Imam al Hasan ibn Muhammad ibn al Hanafiyyah cucu sayyidina ‘Ali, dan khalifah ‘Umar ibn Abd al ‘Aziz -semoga Allah meridlai mereka- juga telah membantah kaum Mu’tazilah.

      Dan masih banyak lagi ulama ulama salaf lainnya, terutama al Imam asy-Syafi’i -semoga Allah meridlainya-, beliau sangat mumpuni dalam ilmu aqidah, demikian pula al Imam Abu Hanifah, al Imam Malik dan al Imam Ahmad –semoga Allah meridlai mereka- sebagaimana dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi (W 429 H) dalam Ushul ad-Din, al Hafizh Abu al Qasim ibn ‘Asakir (W 571 H) dalam Tabyin Kadzib al Muftari, al Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam Tasynif al Masami’ dan al’Allaamah al Bayadli (W 1098 H) dalam Isyaraat al Maram dan lainlain.

      Setelah tahun 260 H menyebarlah bid’ah Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya. Maka dua Imam yang agung Abu al Hasan al Asy’ari (W 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (W 333 H) –semoga Allah meridlai keduanya- menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al Qur’an dan al hadits) dan ‘aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhah-syubhah (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya.

      Imam Abu al Hasan al Asy’ari (W 324 H) dan Imam Abu Manshur al Maturidi (W 333 H) adalah yg mengkodifikasi ilmu tauhid atau ilmu kalam, berdasarkan keyakinan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka. Bukan berarti kedua Imam agung tersebut membawa aqidah yang baru. Dan perlu diketahui, Imam Abu al Hasan al Asy’ari bermazhab Syafi’i dan Imam Abu Manshur al Maturidi bermazhab Hanafi.
      Karena jasa kedua Imam agung tersebutlah, dalam masalah tauhid atau aqidah, Ahlussunah Wal Jama’ah bermazhab al Asy’ariyyah (para pengikut al Asy’ari) dan al Maturidiyyah (para pengikut al Maturidi). Jalan yang ditempuh oleh al Asy’ari dan al Maturidi dalam pokok-pokok aqidah adalah sama dan satu.

      Al Hafizh Murtadla az-Zabidi (W 1205 H) mengatakan: “Jika dikatakan Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah al Asy’ariyyah dan al Maturidiyyah”. Mereka adalah ratusan juta ummat Islam (golongan mayoritas). Mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, para pengikut madzhab Maliki, para pengikut madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al Hanabilah). Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah memberitahukan bahwa mayoritas ummatnya tidak akan sesat.

      “…maka barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga hendaklah berpegang teguh pada al Jama’ah; yakni berpegang teguh pada aqidah al Jama’ah”. (Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim, dan at-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih)

    2. @Abdullah

      2. Fiqih

      Ketika Nabi Muhammad saw. Masih berada ditengah tengah umat islam, semua permasalahan yg ada, akan langsung ditanyakan kepada Nabi Muhammad saw. Ketika Islam mulai menyebar luas, kemudian diutuslah para sahabat kebeberapa negeri seperti Khalid bin Walid ke Najran, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ari dan Muaz bin Jabal Ke Yaman, Utsman bin Abi ‘Ash ke Tsaqif.
      Setelah Nabi Muhammad saw. Meninggal dunia, kepada para sahabatlah semua permasalahan yg dihadapi umat islam diadukan untuk mendapatkan pemecahannya. Yang paling terkenal diantara mereka adalah; Khulafa’ur Rasyidin yang empat, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa al-‘Asy’ari, Mu’az bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit dll. Kemudian dikenal dengan mazhab sahabat, seperti madzhab Zaid bin Tsabit, mazhab Mu’az bin Jabal, mazhab Abdullah bin ‘Abbas dan yang lainnya dalam hal memahami beberapa hukum Islam

      Pada zaman tabi’in, daerah ijtihad bertambah luas dan kaum muslimin pada zaman itu menggunakan cara yang sama seperti cara yang dipakai oleh para sahabat Rasulallah saw. Hanya saja ijtihad dimasa tabi’in dapat digolongkan kepada dua madzhab utama yaitu Madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak dan madzhab Ahlu al-Hadits.

      Diantara tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak ialah Alqamah bin Qais an-Nakha’I; Sa’id bin Jubair; Masruq bin Al-Ajda’ al-Hamdani dan Ibrahim bin Zaid an-Nakha’i. Orang-orang awam Irak dan sekitarnya selalu bertaqlid kepada madzhab ini tanpa ada yang mengingkari.
      Adapun tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Hadits di Hijaz adalah; Sa’id bin al-Musayyab al-Makhzumi; ‘Urwah bin Zubair; Salim bin Abdullah bin Umar; Sulaiman bin Yasar dan Nafi’ Maula Abdullah bin Umar. Penduduk Hijaz dan sekitarnya senantiasa bertaqlid kepada madzhab ini tanpa ada seorangpun yang mengingkari.

      Setelah itu, muncullah ratusan mazhab, seperti mazhab Al Auza’I, mazhab Abu Daud Zahiri, mazhab Ibn Abi Laila, mazhab Sufyan Ats Tsauri, mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi’I, mazhab Hambali dll. Timbulnya mazhab yang banyak ini karena abad kedua dan ketiga Hijriyah merupakan abad ijtihad yg mutlak, untuk memenuhi keperluan masyarakat dan mencari pemecahan atas masalah masalah yg dihadapi.
      Yg terpenting diantara mazhab yg ada hingga sekarang adalah mazhab yg empat, yaitu mazhab Hanafi, mazhab Maliki, mazhab Syafi’I dan mazhab Hambali. Keempat mazhab tersebutlah yg masih sampai kepada kita dikarenakan banyaknya pengikut yg menyiarkan , menulis dan menyokongnya.
      Karena itu perlu saya luruskan, dalam masalah fiqih, Ahlussunah Wal Jama’ah berpegang pada mazhab yg empat. Ketika para penyebar Islam masuk ke wilayah Indonesia, mayoritas ulama tersebut bermazhab syafi’I, oleh karena itulah, mayoritas penduduk Indonesia bermazhab Syafi’I, dengan tetap mengakui dan menghormati mazhab Hanafi, mazhab Maliki dan mazhab Hambali.

    3. @Abdullah

      3. Tarekat/Tasawuf

      Fudlail ibn ‘Iyaadl, Al-Junaid, Al-Hasan al-Bashri, Sahl Al-Tusturi, Al-Muhasibi, dan Bisyr al-Haafi.” Fudlail ibn ‘Iyaadl, Al-Junaid, Al-Hasan al-Bashri, Sahl Al-Tusturi, Al-Muhasibi, dan Bisyr al-Haafi adalah tokoh-tokoh tashawwuf

      Salah seorang sahabat saya berkata, bahwa terjadi penyelewengan dalam ilmu tasawuf. Kemudian datanglah dua orang Imam yg meluruskan paham tasawuf, yaitu Hujjatul Islam al-Ghazali dan Abu al-Hasan al-Syadzili.

      Dalam masalah tasawuf atau tarekat, mengikuti madzhab Hujjatul Islam al-Ghazali dan Abu al-Hasan al-Syadzili. Demikian seperti dijelaskan oleh Hadlratusysyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.

      1. @Ustadz Agung :

        Subhanallah jawaban yang sangat lengkap dan jelas. Dan saya bisa memastikan bahwa Ustadz Agung mengetiknya langsung bukan COPAS (Copy Paste), dari trace type yang saudara ketik.

        Semoga saudaraku dan kita semua pengikut aqidah yang agung Ahlus Sunnah Wal Jamaah dianugrahi kasih sayang, barakah dan ridha dari Allah Subhanahu Wata’ala.

        Kebenaran hakiki hanya milik Allah
        Hamba Allah yang dhaif dan faqir
        Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      2. Mas @Agung
        Tanpa mengurangi rasa hormat kepada mas @agung, perlu ditambahkan sedikit untuk @abdullah :
        Ahlussunnah wal Jama’ah hanya mengambil salah satu dari 4 madzhab dan itu diserahkan kepada pemilihan seseorang apakah dia mau memilih Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i atau Imam Ahmad bin Hanbal, sesuai dengan kemampuan masing-masing Individu dalam Hal Ilmu yang dikuasai. Kalau mengambil empat2 nya, maka dia harus menguasai ilmu-ilmu yang mendukungnya.
        Tentang Aqidah al Asyariyah, sudah jelas penjelasan mas @Agung.

        Tentang Tasawuf.
        Sampai saat ini lebih dari 300 aliran tasawuf didunia, sekarang tergantung kepada yang ingin melaksanakannya, kenapa Tasawuf Qodiriyah (yang dibawa oleh Syeikh Abdul Qadir Jaelani) yang banyak di Indonesia, hal itu karena lebih mudah dalam mengamalkannya. Dan ada beberapa yang cukup mudah seperti : Naqsabandiyah (dibawa oleh Syeikh Muhammad Bahauddin Syah Naqsyabandi) dan Al Syazaliyah (yang dibawa oleh Syeikh Abu Hassan al Syadzali), Inilah yang paling banyak di Indonesia.
        Pengikut tarekat / tasawuf mempunyai tolok ukur kepada Hujjatul Islam al Ghazali dan karangannya yang paling populer “Ihya Ulumuddin” dan Al Ghazali bertolok ukur kepada Syeikh Abu Thalib al Makki dengan kitabnya “Quthul al Qulb”.
        Selain Hujjatul Islam al Ghazali, juga dipakai tolok ukur kepada Syeikh Athaillah asykandariyah.
        Dalam Hal pengambilan Fiqh dan Aqidah adalah sama seperti dalam Fiqh salah satunya dan Aqidah tetap kepada al Asyariyah. Contoh : Syeikh Abdul Qadir Jaelani mengambil Fiqh kepada Imam Ahmad bin Hanbal dan Aqidah kepada Imam Abu Hassan al Asyari.

    4. Mas Abdullah kena uppercut mas Agung… klepek, klepek, klepek..! diam seribu bahasa lalu ambil jurus pamungkas…Ngibrit lari, kemudian satu bulan yg akan datang muncul lagi, hehe.. tipe pecundang 😀 khas anak2 wahhabi

  4. @Ibnu Suradi berkata :

    Bagaimana keadaan agama mereka sehingga mereka suka tawuran. Bagaimana efektifitas dakwah ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah dalam memperbaiki akhlak umat Islam?

    Sebenarnya NU dan Muhammadiyah sudah berupaya keras, tapi Racun yang disebarkan Wahabi tampaknya lebih kuat untuk sementara ini.

    Ngomong-ngomong kok Ibnu Suradi belum jawab sih pertanyaan teman-teman :

    1. Yang pertama memberikan gelar “radiyahllahu anhu” Sultan Abdul Azis. Lalu Anda bilang Qur’an. Siapakah Ulama yang menafsirkan seperti tafsiran Anda? Atau Anda mengartikan sesuai nafsu Anda?
    2. Kata Anda Khulafar Rasyidin dalam hadits hanya dibatasi empat (Abubakar, Umar, Usman, dan Ali). Pertanyaan teman, apakah waktu Nabi mengucap “ikuti sunnahku dan khulafarrasyidin”, sistem kekhalifahan sudah terbentuk? Jangan-jangan Anda mengartikan sesuai nafsu Anda?
    3. Sholat yang lebih utama itu, yang mengikuti surat-surat yang biasa di baca Rasulullah atau yang paling lama berdiri? Bandingkan dengan komen2 Anda sebelumnya ya …

    Terima kasih atas penjelasannya ya Ibnu Suradi

    1. Bismillaah,

      Kang Bima,

      Alhamdulillaah, anda mulai memperhatikan ayat dan hadits-hadits yang saya sampaikan. Cari tahu untuk memahami lebih jauh ayat dan hadits-hadits yang saya sampaikan. Insyaallaah, itu akan bermanfaat besar bagi anda.

      Baca bab Shalat Paling Utama adalah Yang paling Lama Berdirinya di Kitab Syarah Muslim Imam Nawawi. Juga baca hadits-hadits tentang surat-surat yang biasa dibaca Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sehingga anda semakin memahami tata cara shalat Rasulullaah untuk mengamalkan hadits: “Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat.”

      Sya berdoa bagi anda semoga Allah mengkaruniakan keinginan untuk mengkaji hadits-haadits tentang tata cara shalat Rasulullaah.

      Wallaahu a’lam.

      1. @Ibnu Suradi

        Jaka Sembung mandi di kali. Kagak nyambung kali …. Orang lain disuruh memahami hadits. Diri sendiri mengartikan hadits semaunya …

        Jawab tuh pertanyaan Mas Agung di bawah ?

    2. @Ibnu Suradi

      pernah tidak Nabi Muhammad saw. memanggil sahabat disertai dengan gelar RhadiyaAllahu’anhu?

      Apakah para sahabat pernah saling memanggil diantara mereka dengan nama sekaligus dengan gelar RhadiyaAllahu’anhu?

      Sejauh pengetahuan saya, hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. dan para sahabat. Pemberian gelar RhadiyaAllahu’anhu adalah ijtihad khalifah Umar bin Abdul Aziz, karena adanya fitnah dari kaum Syi’ah yg mencela sahabat.

      1. Bismillaah,

        Kang Agung,

        Bukanlah Allah sendiri yang berfirman: “Allah ridho kepada para sahabat”. Lalu, bagaimana anda mempermasalahkan umat Islam menyampaikan apa yang Allah firmankan?

        Wallaahu a’lam.

        1. Bismillaah,

          Maaf, ada koreksi pada komentar saya. Kata “Bukanlah” semestinya “Bukankah”.

          Jadi kalimat yang benar adalah:

          Bukankah Allah sendiri yang berfirman: “Allah ridho kepada para sahabat”. Lalu, bagaimana anda mempermasalahkan umat Islam menyampaikan apa yang Allah firmankan?

        2. @Ibnu Suradi

          kelompok pengingkar mempermasalahkan peringatan maulid Nabi, dan memvonisnya bid’ah, dengan alasan hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. atau para sahabat.

          begitupun pemberian gelar RhadiyaAllahu’anhu, tidak pernah di contohkan oleh Nabi Muhammad saw. maupun para sahabat.

          kalau mau meminjam logika wahabi, artinya perbuatan tersebut adalah bid’ah.

          sekarang saya ingin balik bertanya, jika pemberian gelar RhadiyaAllahu’anhu diperbolehkan, mengapa kalian melarang peringatan Maulid Nabi, padahal banyak ulama yg telah mencapai derajat mujtahid memperbolehkan peringatan Maulid Nabi?

  5. paham-asyariyyah-adalah-cucu-paham

    dimana bisa dikatakan ahlus sunnah golongan asyariyah..
    padahalah imam dulunya penganut mu’tazillah kemudian bertobat..

    monggo dibaca..

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/02/paham-asyariyyah-adalah-cucu-paham.html

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/11/abul-hasan-al-asyariy-bertaubat-ke.html

    dan mohon untuk mas admin ditampil kan karena ini juga merupakan ilmu tentang kebenaran..jika anda memang bener bener memberi kebenaran kepada umat..

    1. @Ummu Abdillah: “dimana bisa dikatakan ahlus sunnah golongan asyariyah..
      padahalah imam dulunya penganut mu’tazillah kemudian bertobat..”

      Jawab :
      Dulu, Imam bu al Hasan al Asy’ari memang berpaham mu’tazilah. Alhamdulillah, beliau mendapat hidayah dari Allah swt. hingga menjadi pembela paham ahlussunah, sebagaimana pemahamannya para sahabat dan orang orang yg senantiasa mengikuti mereka.

      Dalam versi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al-Asya’irah digambarkan sbb : Para ulama adalah pembela ilmu agama dan Al-Asya’irah pembela dasar-dasar agama (ushuluddin).

      Al-Asyaa’irah (penganut madzhab Al-Asy’ari) terdiri dari kelompok para imam ahli hadits, ahli fiqih dan ahli tafsir seperti :
      • Syaikhul Islam Ahmad ibn Hajar Al-‘Asqalani, yang tidak disangsikan lagi sebagai gurunya para ahli hadits, penyusun kitab Fathul Baari ‘ala Syarhil Bukhaari.
      • Syaikhul Ulama Ahlissunnah, Al-Imam An-Nawaawi, penyusun Syarh Shahih Muslim, dan penyusun banyak kitab populer.
      • Syaikhul Mufassirin Al-Imam Al-Qurthubi penyusun tafsir Al-Jaami’ li Ahkaamil
      Qur’an.
      • Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al-Haitami, penyusun kitab Az-Zawaajir ‘aniqtiraafil
      Kabaa’ir.
      • Syaikhul Fiqh , Al-Ahujjah Ats-Tsabat (Hujjah Terpercaya ) Zakaaria Al-Anshari.
      • Al-Imam Abu Bakar Al-Baaqilani
      • Al-Imam Al-Qashthalani.
      • Al-Imam An-Nasafi
      • Al-Imam Asy-Syarbini
      • Abu Hayyan An-Nahwi, penyusun tafsir Al-Bahru Al-Muhith.
      • Al-Imam Ibnu Juza, penyusun At-Tashil fi ‘Uluumittanziil.
      dll

      Kebaikan apa yang bisa kita peroleh jika kita menuding para ulama besar dan generasi salaf shalih telah menyimpang dan sesat ? Bagaimana Allah akan membukakan mata hati kita untuk mengambil manfaat dari ilmu mereka bila kita meyakini mereka telah menyimpang dan tersesat dari jalan Islam? Saya ingin bertanya, “Adakah dari para ulama sekarang dari kalangan doktor dan orang-orang jenius, yang telah mengabdi kepada hadits Nabi SAW sebagaimana dua imam besar ; Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dan Al-Imam An-Nawawi, semoga Allah melimpahkan rahmat dan keridloan kepada mereka berdua.”

      Lalu mengapa kita menuduh sesat mereka berdua dan ulama Al-Asyaa’irah yang lain, padahal kita membutuhkan ilmu-ilmu mereka ? Mengapa kita mengambil ilmu dari mereka jika mereka memang sesat? Padahal Al-Imam Ibnu Sirin rahimakumullah pernah berkata : Ilmu hadits ini adalah agama maka perhatikan dari siapa kalian mengambil agama kalian. Apakah tidak cukup bagi orang yang tidak sependapat dengan para imam di atas, untuk mengatakan, “Mereka rahimahullah telah berijtihad dan mereka salah dalam menafsirkan sifat-sifat Allah.

      Bila Al-Imam An-Nawawi, Al-‘Asqalani, Al-Qurthubi, Al-Fakhrurrazi, Al-Haitami dan Zakaria Al-Anshari dan ulama besar lain tidak dikategorikan sebagai ahlussunnah wal jama’ah, lalu siapakah mereka yang termasuk Ahlussunnah Wal Jama’ah?

      1. @Abu Abdullah dan Umi Abdullah berkata :

        “dan mohon untuk mas admin ditampil kan karena ini juga merupakan ilmu tentang kebenaran..jika anda memang bener bener memberi kebenaran kepada umat..”

        Komentar saya :
        Mohon juga bantuan Anda berdua untuk menyampaikan link artikel di atas ke blog Abu Zauza. Kira-kira dia beerani ga muat.

        Sebagai catatan : Di sini Ustadz Ahmad Syahid pernah membantah Ustadz Firanda menggunakan atsar/dalil PALSU dalam membantah Abu Salafi. Eh .. Abu Jauza membela bahwa atsar/dalil tersebut tidak dapat dikatakan PALSU, paling ya … hanya dhoif. Lalu Ustadz Ahmad Syahid berkomentar kira-kira: “kok masalah aqidah dibangun di atas atsar/dalil dhoif, tidak sesuai dengan slogan kembali kepada Al Qur’an dan hadits shohih”.
        Kalau urusan agama, apalagi urusan ushul, jangan diserahkan kepada insinyur, apalagi kalau keilmuannya menyalahkan para Imam seperti Imam As’ari.

        1. Itulah Wahabi Mas Bima, bagaimana mereka mendapatkan kebenaran kalau untuk aqidah membolehkan dalil hadits/atsar yg dhoif, sedangkan untuk urusan amaliah mereka melarang menggunakan hdits / atsar yg dhoif? Apa nggak kebalik itu nalar Wahabi? Aqidah kok dibangun di atas dalil dhoif, terus bagaimna amal2nya kalau aqidahnya aja dhoif? Mikir… mikir… mikirlah wahai teman2 Wahabi / Salafi…..

          Padahal kalau di Aswaja (ahlussunnah wal jamaah) untuk urusan aqidah harus dalilnya shahih, sedangkan untuk urusan amaliah boleh memakai dalil dhoif, itulah ajaran ulama salaf yg asli bukan sala(i) Wahabi.

          Makanya aqidah Wahabi itu kacau tapi mereka merasa paling benar, seangkan dalam urusan amaliah mereka menimbulkan fitnah karena usil minta dalil shahih buat amaliah kaum muslimin yg bukan golongannya. Entah sampai kapan mereka bangga dengan finah2 yg ditimbulkannya, wallohu a’lam.

      2. Bismillaah,

        Biar jelas harusnya disampaikan ajaran Imam Abul Hasan Al Asy’ari sebelum dan setelah tobat. Bagaimana pandangan beliau tentang istiwa ‘alal arsy”? Apakah sifat 21 itu ajaran beliau sebelum atau sesudah tobat? Dengan demikian, jadi ketahuan apakah ajaran Asy’ariyah yang menyebar hingga kini itu ajaran sebelum atau sesudah tobat.

        Wallaahu a’lam.

        1. @Ibnu Suradi

          Imam Abu Hasan al-Asy’ari (W 324 H) mengatakan sebagai berikut : “Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia menciptakan ‘Arsy dan Kursi dan Dia tiada membutuhkan kepada tempat. Dan setelah tempat tercipta Dia ada seperti sebelum tercipta makhlukNya, ada tanpa tempat”. (Tabyin Kadzib al-Muftari)

          Imam Abu Hasan Al-As’ary berasal dari mazhab Syafi’i, dan pernyataan beliau sesuai dengan pernyataan pendahulunya, yaitu Imam Syafi’i. Imam Syafi’i berkata:
          “Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas hal ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (Syarh al-Fiqh al-Akbar)

          Imam Abu Manshur al-Maturidi (W 333 H) mengatakan sebagai berikut : “Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Tempat adalah makhluk, memiliki permulaan dan bisa diterima oleh akal jika ia memiliki penghabisan. Namun Allah ada tanpa permulaan dan tanpa penghabisan. Dia ada sebelum ada tempat, dan Dia sekarang setelah tempat tercipta Dia tetap ada tanpa tempat. Dia Maha Suci (mustahil) dari adanya perubahan, habis, atau berpindah (dari satu keadaan kepada keadaan lain).” (Kitab at-Tauhid)

          Imam Abu Manshur al-Maturidi berasal dari Mazhab Hanafi, dan pernyataan beliau sesuai dengan para pendahulunya, yaitu Imam Hanafi yg berbunyi :
          Al Imam Abu Hanifah -semoga Allah meridlainya- berkata :
          “Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir”. (diriwayatkan oleh al
          Maturidi dan lainnya).
          Al Imam Syekh al ‘Izz ibn ‘Abd as-Salam asy-Syafi’i dalam kitabnya “Hall ar-Rumuz” menjelaskan maksud Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan : “Karena perkataan ini memberikan persangkaan bahwa Allah bertempat, dan barang siapa yang menyangka bahwa Allah bertempat maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)”. Demikian juga dijelaskan maksud Imam Abu Hanifah ini oleh al Bayadli al Hanafi dalam Isyarat al Maram.

          Pernyataan Imam Syafi’i dan Imam Hanafi, sesuai dengan pernyataan salah seorang sahabat, yaitu Ali semoga Allah meridhoinya.

          Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq)

        2. @Ibnu Suradi : “Apakah sifat 21 itu ajaran beliau sebelum atau sesudah tobat?”.

          Jawab :

          al-Hafiz al-Dzahabi berkata: “Kami mendapat informasi bahawa Abu al-Hassan al-Asy`ari bertaubat dari faham Muktazilah dan naik ke mimbar di Masjid Jami’ Kota Basrah dengan berkata, “Dulu aku berpendapat bahwa al-Quran itu makhluk dan Sekarang aku bertaubat dan bertujuan membantah terhadap faham Muktazilah”. (Siyar A`lam al-Nubala, al-Hafidz al-Dzahabi, Muassasah al-Risalah, Beirut, ed. Syuaib al-Arnauth)

          Mu’tazilah juga dikenal sebagai aliran yang mendahulukan akal daripada nash (teks) al-Qur’an dan Sunnah. Di tangan Mu’tazilah, teks-teks al-Qur’an dan hadits menjadi berkurang nilai sakralitasnya karena harus dikoreksi terlebih dahulu dengan perisai rasio dan nalar.

          sejarah telah membuktikan bahwa para ulama yang berhasil membabat habis kelompok Mu’tazilah sampai punah pada akhir abad keenam Hijriah adalah para ulama pengikut madzhab al-Asy’ari.

          Dari yg saya pelajari, kami tidak membatasi Allah swt. hanya pada sifat 21, karena Allah swt mahasempurna dan mahasuci. Sifat 21, dirasa cukup untuk membentengi akidah umat islam dari fitnah Muktazilah.

        3. @Ibnu Suradi

          Keyakinan Ahlussunah Wal Jama’ah :

          Pertama, setiap orang yang beriman harus meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’aala wajib memiliki semua sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya. Ia harus meyakini bahwa Allah mustahil memiliki sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Ia harus meyakini pula bahwa Allah boleh melakukan atau meninggalkan segala sesuatu yang bersifat mungkin seperti menciptakan, mematikan, menghidupkan dan lain-lain. Demikian ini adalah keyakinan formal yang harus tertanam dengan kuat dalam hati sanubari setiap orang yang beriman.

          Kedua, para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebenarnya tidak membatasi sifat-sifat kesempurnaan Allah dalam 20 sifat. Bahkan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah barang tentu Allah wajib memiliki sifat tersebut, sehingga sifat-sifat Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada 99 saja sebagaimana dikatakan al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi rahimahullah:
          Sabda Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan Nama”, tidak menafikan nama-nama selainnya. Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam hanya bermaksud –wallahu a’lam-, bahwa barangsiapa yang memenuhi pesan-pesan sembilan puluh sembilan nama tersebut akan dijamin masuk surga. (al-Baihaqi, al-I’tiqad ‘ana Madzhab al-Salaf)

          Pernyataan al-Hafizh al-Baihaqi di atas bahwa nama-nama Allah Subhaanahu wa ta’aala sebenarnya tidak terbatas dalam jumlah 99 didasarkan pada hadits shahih:
          Ibn Mas’ud berkata, Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku hamba-Mu… Aku memohon dengan perantara setiap Nama yang Engkau miliki, baik Engkau namakan Dzat-Mu dengan-Nya, atau Engkau turunkan nama itu dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, dan atau hanya Engkau saja yang mengetahui-Nya secara ghaib, jadikanlah al-Qur’an sebagai taman hatiku, cahaya mataku, pelipur laraku dan penghapus dukaku.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, al-Thabarani dan al-Hakim).

          Ketiga, dari sekian banyak Shifat al-Dzat yang ada, sifat dua puluh dianggap cukup dalam mengantarkan seorang Muslim pada keyakinan bahwa Allah memiliki segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan

          Keempat, sifat dua puluh tersebut dianggap cukup dalam membentengi akidah seseorang dari pemahaman yang keliru tentang Allah Subhaanahu wa ta’aala. Sebagaimana dimaklumi, aliran-aliran yang menyimpang dari faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah seperti Mu’tazilah, Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah Subhaanahu wa ta’aala dengan makhluk), Mujassimah (kelompok yang berpendapat bahwa Allah memiliki sifat-sifat makhluk), Karramiyah dan lain-lain menyifati Allah dengan sifat-sifat makhluk yang dapat menodai kemahasempurnaan dan kesucian Allah. Maka dengan memahami sifat wajib dua puluh tersebut, iman seseorang akan terbentengi dari keyakinan-keyakinan yang keliru tentang Allah. Misalnya ketika Mujassimah mengatakan bahwa Allah itu bertempat di Arsy, maka hal ini akan ditolak dengan salah satu sifat salbiyyah yang wajib bagi Allah, yaitu sifat qiyamuhu binafsihi (Allah wajib mandiri). Ketika Musyabbihah mengatakan bahwa Allah memiliki organ tubuh seperti tangan, mata, kaki dan lain-lain yang dimiliki oleh makhluk, maka hal itu akan ditolak dengan sifat wajib Allah berupa mukhalafatuhu lil-hawadits (Allah wajib berbeda dengan hal-hal yang baru). Ketika Mu’tazilah mengatakan bahwa Allah Maha Kuasa tetapi tidak punya qudrat, Maha Mengetahui tetapi tidak punya ilmu, Maha Berkehendak tetapi tidak punya iradat dan lain-lain, maka hal itu akan ditolak dengan sifat-sifat ma’ani yang jumlahnya ada tujuh yaitu qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam. Demikian pula dengan sifat-sifat yang lain.

    2. Bismillah,

      @ummu abdillah,

      Insya Alloh, tentang pemikiran al Imam Abul Hasan Al Asy’ari melalui tiga fase, akan kami sampaikan sanggahan dari kami, permasalahan tsb sedang kami kaji dan akan membutuhkan waktu untuk menulisnya…

  6. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Terserah anda. Yang jelas saya sudah menyampaikan ayat yang dijadikan rujukan Umar bin Abdul Aziz dan umat Islam dalam menyebut radhiyallahu ‘anhu/hum saat menyebut nama sahabat.

    Wallaahu a’lam.

    1. anda sangat KONSISTEN dengan pendapat anda 🙂
      biasanya anda punya motto
      klo hal itu baik, Rasulullah pasti sudah mencontohkan…
      atau 4 khalifah pertama sudah mencontohkan…
      klo saya tanya gitu anda mau jawab gimana mas??
      #makanya jangan nuduh kami yang macem” lagi.. 🙂 #

    2. @Ibnu Suradi

      Konsisten dong jadi orang itu. Anda kan pernah berkata : “ikutilah sunnah Nabi dan sunnah khulafaurrhasyidin”.

      Sedangkan pemberian gelar RhadiyaAllahu’anhu, tidak pernah didapatkan dari Nabi Muhammad saw. dan khalifah yg empat. Artinya itu bid’ah. Dan menurut keyakinan sekelompok orang, semua bid’ah itu sesat.

      1. Bismillaah,

        Kang Agung,

        Allah sendiri yang berfirman: “Allah ridho kepada mereka (para sahabat)” Lalu, bagaimana anda berani mempermasalahkan orang yang menyampaikan apa yang Allah firmankan? Bukankah Rasulullaah juga menyampaikan apa-apa yang Allah firmankan kepada umatnya?

        Wallaahu a’lam.

  7. Sebenarnya saya merasa serba salah dg pengikut Wahabi, kalau kita ngomong secara halus mereka nggak mudeng, tapi begitu kita ngomong vulgar atau terbuka atau blak-blakan mereka bisa mudeng tetapi akibatnya malah tersinggung, mungkin itu karena doktrin yg sudah melekat dalam dirinya bahwa mereka adalah satu2nya kebenaran. Wallohu a’lam.

    1. itu indikasi mereka dah mengidap sifat sombong mbak…nanti juga di azab sama Allah kek iblis di adzab, karena sombong kepada Nabi Adam AS. :mrgreen:

  8. Alhamdullilah, dialog yang sangat baik dan isinya sangat berbobot. Saya dulu pernah mengikuti paham salafi wahabi ini, tapi setelah membaca ummati ini, saya berubah haluan dengan mengikuti paham yang benar yaitu Ahlul sunnah waljamaah. Terus terang saya dulu sering membid’ah kan orang tua dan teman2 saya yang mengikuti Aswaja, tetapi ternyata saya yang berbuat bid’ah. Maulid Nabi bid’ah, tahlil bid’ah, baca surat yasin setiap malam jum’at Bid’ah, tetapi ternyata amalan ini banyak diikuti oleh ulama2 sebelumnya dan ulama sekarang. Dan saya berdoa: Ya Allah SWT , jauhkan saya dan keluarga saya dari fitnah dajal dan Fitnah Salafi Wahabi.
    ( kalau orang salafi bilang, doa ini jelas bid’ah sesat karena tidak di ajarkan tambahan fitnah salafi wahabinya) 😆

  9. assalamu alaikum, postingannya mencerahkan dan sesuai dengan fakta yg ada itu aja. kepada mas salim alhamdulillah sudah tobat dan menyadari bahwa pemahaman wahabi/salafi ini adalah palsu atau mutasallif atau mengaku2 doang ikut pemahaman salaf,sy juga pernah keracunah mas salim tp alahamdulillah sy juga dah tobat,dan semoga kita tetap kuat dalam memengang manhaj ahlussunnah waljamaah terlebih dalam masalah aqidah yg merupakan pokok dari agama ini.wassalamu alaikum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker