sapi qurban 2017 di jakarta
Inspirasi Islam

Jadi Penjahat Besar Seumur Hidup Terhadap Kaum Muslimin

ID FashionWeek 300x250 - Jadi Penjahat Besar Seumur Hidup Terhadap Kaum Musliminaff i?offer id=7474&file id=157046&aff id=176058 - Jadi Penjahat Besar Seumur Hidup Terhadap Kaum Muslimin

Penjahat Besar – Sebagai seorang Muslim, maukah anda menjadi Penjahat Besar bagi kaum Muslimin? Pastinya anda tidak mau kan? Tapi secara tidak sadar selama ini mungkin anda sudah termasuk bagian dari para penjahat besar terhadap kaum muslimin.  Cobalah teliti apakah anda hobby mempermasalahkan amal-amal shalih kaum muslimin? Misalnya, apakah anda gemar meneriaki muslimin yang sedang baca surat Yasin di malam jum’at sebagai Ahli Bid’ah sesat dan masuk neraka?

Banyak isu-isu bid’ah yang disebarkan di tengah ummat Islam yang kesemuanya menimbulkan fitnah terhadap Islam. Yang Mubah jadi haram bahkan yang halal pun jadi haram, inilah fitnah kepada Islam dan sekaligus menjadi kejahatan terbesar. Pernyataan ini bukan ngawur  lho, sebab yang mengatakan demikian adalah Rasulullah Saw. Mari kita simak dan hayati perkataan Rasul Saw berikut ini….

قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ
الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ
مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw :
“Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang
mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram
sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

Berdasar pada hadits Shahih di atas sangat jelas, bahwa mempermasalahkan amalan muslimin yang tidak haram dikatakan haram itu adalah kejahatan besar. Artinya, mereka yang gemar mengharamkan amalan yang tidak haram adalah penjahat besar. Itu Nabi Saw yang mengatakannya. Tahlilan, Maulid, Dzikir Berjama’ah, Yasinan, sesungguhnya adalah amal-amal shalih kaum muslimin. Tetapi karena dipermasalahkan membuatnya seolah-olah menjadi haram (sehingga seakan-akan berdosa bagi pengamalnya).

IDSmartphonesYearEndSale370x300 - Jadi Penjahat Besar Seumur Hidup Terhadap Kaum Musliminaff i?offer id=3733&file id=76783&aff id=176058 - Jadi Penjahat Besar Seumur Hidup Terhadap Kaum Muslimin

penjahat besar di tengah umat Islam

Bid’ah itu Tidak Selalu Haram, karena Haram Itu Dosa

Kaitannya dengan itu, dalam melancarkan missi dakwahnya Kaum Wahabi sangat gemar mempermasalahkan Tahlilan yang tidak haram dikatakan haram (pengertian bid’ah menurut Wahabi adalah: berdosa jika melakukan hal bid’ah. Ini artinya tidak lain adalah haram). Maulid Nabi tidak haram dikatakan haram. Tawassul dengan Nabi Saw tidak haram dikatakan haram bahkan pelaku Tawassul dikatakan Musyrik oleh kaum Wahabi.

Kenapa Kaum Wahabi hobby berbuat demikian? Tidakkah mereka telah melakukan sebesar-besar kejahatan kepada Ummat Islam menurut pandangan Nabi Muhammad Saw?

Bagi yang merasa pengikut Wahabi mari kita simak kembali dan renungkan sedalam-dalamnya hadits yang mulia ini. Agar sembuh dari Maksiat Kejahatan Terbesar Terhadap Kaum Muslimin, agar tidak menjadi penjahat besar di tengah umat Islam:

 

قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ
أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw :
“Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

Master Website

Dari penjelasan analisa singkat di atas dapat kita katakan bahwa setiap yang haram itu dosa akan tetapi bid’ah itu tidak selalu haram. Semoga kita selamat dari pengaruh fitnah terhadap ajaran Islam. Dan yang selama ini sudah terlanjur jadi Tukang Fitnah terhadap ajaran Islam semoga sadar dan tidak enggan bertaubat. Wallohu a’lam….

Penjahat Besar di Tengah Umat Islam

Habib Munzir dalam salah satu majelisnya menjelaskan tentang hadits shahih ini sebagai berikut:

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

Berikut adalah penjelasan Habib Munzir: Seorang muslim yang paling jahat kepada muslim lainnya orang muslim yang paling jahat paling besar dosanya paling besar kejahatannya adalah orang yang mempermasalahkan hal yang tidak diharamkan jadi haram gara – gara ia permasalahkan. Banyak sekarang yang muncul seperti ini, yang mengharamkan maulid, yang mengharamkan nisfu sya’ban, yang mengharamkan isra mi’raj. Hal ini tidak diharamkan dipermasalahkan hingga menjadi haram, padahal semuanya adalah syi’ar :

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“barangsiapa yang membesarkan syiar – syiar Allah, sungguh itu bentuk ketaqwaan hati.” (QS Alhajj 32)

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Disinilah kita memahami bahwa keagungan – keagungan syiar di masa ghaflahnya umat sangat dibutuhkan, kalau zaman dulu sudah kuat imannya muslimin – muslimat itu tapi zaman sekarang di mana ditemukan menyerukan Nama Allah, di mana kumpulan – kumpulan dzikir, lihat kumpulan – kumpulan dosa, perbuatan – perbuatan dosa, lihat luluh lantah dan hancurnya umat Muhammad Saw paling besar. Hadirin – hadirat, umat Muhammad Saw sekarang ini betul – betul menyayat hati Sang Nabi keadaannya, siapa yang berdzikir? siapa yang mengingat Allah? siapa lagi yang mau peduli di malam nisfu sya’ban, Sang Nabi bermunajat. Hadirin – hadirat, siapa lagi yang mau baca surat yasin, qalbul qur’an jantungnya alqur’an, siapa yang mau menghidupkan sunnah – sunnahnya Rasul makin hari makin tidak dikenal. Justru perkumpulan seperti inilah yang mesti dimakmurkan, mereka yang tidak suka semoga diberi hidayah, amin.

IDSmartphonesYearEndSale370x300 - Jadi Penjahat Besar Seumur Hidup Terhadap Kaum Musliminaff i?offer id=3733&file id=76783&aff id=176058 - Jadi Penjahat Besar Seumur Hidup Terhadap Kaum Muslimin

Related Articles

148 thoughts on “Jadi Penjahat Besar Seumur Hidup Terhadap Kaum Muslimin”

    1. Assalamu’alaikum
      Hati hati kepada semua kaum muslimin yang suka memvonis sesat…perhatikan hadist berikut:

      Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa’id dari Mu’tamar bin Sulaiman dari Ayahnya yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Imran Al Jawniy dari Jundab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam] menceritakan bahwa ada seorang laki-laki berkata “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan” dan Allah SWT berfirman “Siapakah yang bersumpah atas namaKu bahwa Aku tidak mengampuni fulan, sungguh Aku telah mengampuni fulan dan menghapuskan amalmu” atau seperti yang dikatakan [Shahih Muslim 4/2023 no 2621]

  1. anas@

    Silahkan kalau mau seumur hadup jadi golongan Penjahat Terbesar seperti kata Nabi Saw. dalam hadits shahih di atas.

    Admin@

    Matur nuwun Mas Admin, itu hadits sangat penting yang baru ana dengar. Semoga bisa menggugah kesadaran orang2 Wahabi/Salafy yang hatinya belum terlalu parah terinfeksi Virus Wahabi. Mau bertaubat atau malah semakin parah itu terserah mereka. Contohnya sepert si Anas yg makin parah. Kelihatannya si Anas@ bahkan bangga sekali dapat gelar Penjahat Terbesar oleh Nabi saw.

    1. admanda salafy@

      Rupanya antum termasuk orang2 yg cuek dg hadits Shahih Imam Bukhari di artikel di atas ya? Silahkan saja kalau mau seumur hidupmu jadi penjahat terbesar bagi kaum muslimin. Kami-kami berkomentar di blog ini hanya sekedar mengingatkan saja kepada kaum Penjahat Terbesar menurut Nabi Saw, mau terima lalu bertaubat yg untung juga antum2 sendiri.

  2. Terima kasih mas @admin, pencerahan yang mantab. Kalau ada yang berbentuk word atau pdf mungkin lebih mantab, buat ane print dan bagi2 didaerah ane yang sudah terbebas dari faham2 Mujtahid-mujtahid Palsu alias dadakan.

  3. Apakah hadits diatas dpt kita pakai juga untuk kasus 2 berikut :
    Ritual bulan muharram :
    Karena dianggap sebagai bulan keramat, maka masyarakat mengadakan berbagai macam acara (ga jelas) diantaranya :
    1. Sadranan
    Yaitu pembuatan nasi tumpeng yang dihiasai berbagai macam lauk dan kembang. Mirip dengan sesaji. Kemudian nasi tumpeng tadi dihanyutkan ke laut selatan yang disertai juga dengan kepala kerbau.
    Menurut cerita, tujuan sadranan supaya sang ratu pantai selatan memberikan berkah dan tidak mengganggu. Masyarakat yang melakukan acara ini ada di daerah pesisir selatan Tulungagung dan Cilacap. Di Banyuwangi upacara seperti ini disebut dengan Petik Laut.
    2. Tirakatan.
    Tirakatan biasanya diadakan pada malam satu suro (Muharram). Pada malam ini masyarakat melakukan ritual, renungan, dan do’a-do’a. tujuannya adalah untuk mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan dan agar terhindar dari malapetaka.
    3. Ngalap Berkah
    Yaitu dengan mengunjungi daerah yang dianggap keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda).
    4. Kirab kerbau bule.
    Acara kirab ini ilaksanakan dengan membawa kerbau berkeliling yang kemudian dimandikan. Kerbau ini dikenal dengan nama Kyai Slamet yang berada di keraton Solo. Peristiwa ini sangat dinantikan oleh warga baik warga Solo maupun dari luar Solo. Mereka mengharapkan berkah dari sang kerbau dengan memegang kerbau, mengambil air bekas mandi kerbau, bahkan ada yang mengambil kotoran kerbau. Na’udzubillah.
    5. Lek-lekan
    Mitos yang lain yaitu berjaga tidak tidur pada malam hingga pagi hari di tempat-tempat umum (tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya). Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng kraton sambil membisu.
    6. Ruwatan
    Ruwatan berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran. Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.
    7. Memandikan keris pusaka (Ni yang paling keren)
    Agar terhindar dari mara bahaya, masyarakat memandikan pusaka seperti keris, pedang, tombak, dan senjata lainnya. Mereka mengira bahwa senjata itu harus dirawat dan dijaga. Jika tidak maka dia akan murka.
    Demikian berbagai macam ritual-ritual yang melanda masyarakat kita. Bagaimana di daerah anda? Apa ada ritual lain yang belum disebutkan? Silahkan menambah informasi seputar ritual syirik yang ada di daerah anda, untuk diketahui masyarakat kita agar mereka tidak ikut-ikutan tersesat.

    Monggo Ustadz2 disini nbahas status hukum menurut syariat ISLAM, kegiatan2 diatas (ritual yg lain menyusul u di postng)….

  4. oiiii, tolong, tolong komen saya di loloskan

    komen ku di blok yaaaa. katanya digembar-gemborin, situs ini terbuka, tdk seperti situ FIRANDA yg tertutup, kok sekarang komenku di blok, masih status moderasi,

    ada apa dgn ummatpress ?

    baru merasakan yaa ?…….situs kalo tidak di filter itu kaco baloooooo……..

    silahkan kasih komen disini, ust. ABISYAKIR baru bangun tuchhh kayaknya…
    http://abisyakir.wordpress.com/2011/11/13/info-buku-baru-bersikap-adil-kepada-wahabi/#comments

    1. BAGUS75@

      Nte aja baru muncul kali in, sudah macem-macem ngomongnya. Dasar Wahabi tukang fitnah n gak punya sopan santun. Kalau ane dekat nte sudah ane kasih bogem mentah biar tahu sopan santun.

      Nih ane koment pasti langsung muncul, dan buktinya koment nte yg kurang ajar ini juga muncul kan? Dasar tukang fitnah Nte Wahabi berotak monyet!

      Ane aja yg layanin Nte yg tolol ini, tak usah Mas Admin meladeni Nte.

      Mas Admin, tidak usah terprovokasi oleh Wahabi tolol macam si Bagus ini.

  5. alhamdulillah…nambah lagi ilmu…syukron admin

    to all wahabi

    ente2 jangan cepat-cepat menuduh seseorang itu kafir, musyrik…dll

    kedalaman hati seseorang siapa yang bisa menebak???

    jadi, hati-hati dengan bahaya Lisan!!!

    syukron

  6. mantap info na gan ,kata firanda itu tidak usah di dngar krn firanda sendiri di anggap pendusta oleh ust salafi/wahabi yg lain na ,jd perkataan firnda itu maudu’

    http:// salafybpp. com/manhaj-salaf/132-kronologi-rencana-pertemuan-bersama-para-masayikh.html

    http:// salafybpp. com/fataawa/106-dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-sedang-melanda-bag3.html

  7. Duhai para Salafi Wahabiyyin, alangkah lucunya kalianmendakwahkan soal-soal bid’ah yg tak ada perintah dari siapa pun berdakwah soal-soal bida’h. Sihkan kalau kalian mau seumur hidup jadi Penjahat besar di tengah muslimin, seperti kata Nabi Saw yg telah dijelaskan dalam artikel.

    Terimakasih mas Admin telah mempublish artikel sangat penting ini. Kalau para Salafy Wahabiyyin itu tetap cuek bebek pada hadits Nabi saw dalam artikel ini, itu artinya memang mereka benar2 telah benar2 tersesat oleh hawa nafsu mereka sendiri. Maka hadits shahih pun dipandang sebelah mata. Katanya Wahabi cuma mau pakai hadits shahih, mana dong apliksinya saat mengetahui peringatan Nabi saw yang tegas2 tertuju pada kaum semacam Wahabi ini? Ingat, kaum Wahabi adalah satu2-nya kaum yg selalu n hobby mempermasalahkan amal-amal shalih kaum muslimin.

    قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ
    الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ
    مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

    (صحيح البخاري)

    Sabda Rasulullah saw :
    “Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang
    mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram
    sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

    Tidak ada kaum yg seperti disebut Nabi dalam hadits di atas kecuali kaum Wahabi. Bagaimana setuju, Bro?

  8. Alhamdulillah….

    Syukron Mas Admin, artikel yg sangat menggugah kesadaran bagi orang yang mau berpikir.

    Maju terus pantang mundur dalam berdakwah menyampaikan kebenaran. Yang jelas ana suka banget dengan gaya Ummati Press dalam berdakwah. Sungguh unik dan antik menurut ana pribadi. Penjelasannya bisa menggiring ke arah pemahaman yang lebih benar, masuk akal dengan dalil yang jelas.

    1. Om David Servetus alias Nuryadin, homepage-nya ilang? Laknat makan tuan nih ceritanya? Makanya jangan merasa takabur punya karomah bisa bikin orang sakit/mati/ilang. Masih syukur cuma homepage aja, masih diberi kesempatan taubat.

  9. Mas Admin@

    Thank you artikelnya, sangat bagus judulnya. Akan ana jadikan modal untuk mengajak Wahabi-wahabi di sekitar ana agar bisa kembali ke jalan yang diridhoi Allah Swt. Kasihan kalau sampai mereka seumur hidup jadi Penjahat Terbesar bagi Muslimin. Ana benar2 kasihan kepada mereka, sebenarnya mereka itu korban dari Ustadz2 Wahabi bayaran tuk menyesatkan ummat Islam.

    Semoga mereka bunya bahan renungan setelah baca artikel sangat penting ini. Sekali lagi syukron……………

    1. Bagus apaan wong artikel ngawur gitu dibilang bagus. Kalo gitu caranya berdalil sih Kiyai Slamet (guru anti) juga bisa. Comot hadits cocokkan dengan selera lempar ke orang-orang wahabi. Kaya si Mundzir itu, dari mana dia tau bahwa merayakan Maulid Nabi, Isro Mi’raj itu sebagai Syiar Islam? Yang namanya perayaan-perayaan di luar perayaan Ied, itu bukannya Syiar Islam tapi Syiarnya orang Yahudi dan Nashoro. Sa enak udelnya aja si Mundzir nyomot ayat langsung dicocokin sama seleranya sendiri.

      1. @aswaja wahabib

        Peringatan Maulid Nabi

        Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
        Firman Allah : “(Isa as berkata di pangkuan ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS. Maryam : 33)

        Firman Allah : “Salam Sejahtera (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS. Maryam : 15)

        Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
        Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai Nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang – benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala Shahihain hadits)

        Kasih sayang Allah atas kafir yang gembira atas kelahiran Nabi saw
        Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari, Sunan Imam Baihaqi Alkubra)

        “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu (para Nabi dan Rasul) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal”. (S.Yusuf:111).

        “Dan semua kisah para Rasul kami ceriterakan kepadamu, yang dengan kisah-kisah itu Kami teguhkan hatimu “. (S. Hud: 120)

        PENDAPAT PARA IMAM DAN MUHADDITS ATAS PERAYAAN MAULID

        Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
        Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari Shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari di tenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa di dapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini? Telah berfirman Allah swt : “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS. Al Imran : 164). Imam Al-‘Asqalani memastikan bahwa memperingati hari maulid Nabi saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau merupakan amalan yang mendatangkan pahala.

        Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
        Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber-akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis No.1832 dengan sanad Shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300). Dan telah diriwayatkan bahwa telah ber-Akikah untuknya, kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin di perbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman – teman dan saudara – saudara, menjamu dengan makanan – makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

        Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
        Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia di zaman kita ini adalah perbuatan yang di perbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.

        Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
        Telah diriwayatkan Abu Lahab di perlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (Shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia bergembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan-Nya dengan sebab anugerah-Nya.

        Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
        Dalam syarahnya maulid Ibn Hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran Nabi saw”.

        Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
        Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

        Imam Nawawi (Al-Hafidz Muhyiddin bin Syarat An-Nawawi) yang wafat dalam tahun 676 H bahkan mensunnahkan peringatan maulid Nabi saw..

        Seorang ulama terkenal, Imam Taqiyyuddin ‘Ali bin ‘Abdul-Kafi As-Sabki wafat tahun 756 H menulis kitab khusus tentang kemuliaan dan kebesaran Nabi Muhammad saw. Bahkan ia menfatwakan, barangsiapa menghadiri pertemuan untuk mendengarkan riwayat maulid Nabi Muhammad saw. serta keagungan maknanya ia memperoleh barokah dan ganjaran pahala.

        Imam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar Al-Haitsami As-Sa’di Al-Anshari Asy-Syafi’i wafat tahun 973 H menulis kitab khusus mengenai kemuliaan Nabi saw.. Ia memandang hari Maulid Nabi saw. sebagai hari raya besar yang penuh barokah dan kebajikan.

        KASIHAN PARA IMAM IMAM TERSEBUT, DI SAMAKAN DENGAN YAHUDI DAN NASRANI KARENA MEMBOLEHKAN PERINGATAN MAULID NABI. KARENA SAUDARA KITA INI MENYAMAKAN PERINGATAN MAULID NABI DENGAN SYI’ARNYA YAHUDI DAN NASRANI.

      2. @ASWAJA WAHABIB

        Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
        Firman Allah : “(Isa as berkata di pangkuan ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS. Maryam : 33)

        Firman Allah : “Salam Sejahtera (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS. Maryam : 15)

        Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
        Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai Nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang – benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala Shahihain hadits)

        Kasih sayang Allah atas kafir yang gembira atas kelahiran Nabi saw
        Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari, Sunan Imam Baihaqi Alkubra)

        “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu (para Nabi dan Rasul) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal”. (S.Yusuf:111).

        “Dan semua kisah para Rasul kami ceriterakan kepadamu, yang dengan kisah-kisah itu Kami teguhkan hatimu “. (S. Hud: 120)

        PENDAPAT PARA IMAM DAN MUHADDITS ATAS PERAYAAN MAULID

        Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
        Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari Shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari di tenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa di dapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini? Telah berfirman Allah swt : “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS. Al Imran : 164). Imam Al-‘Asqalani memastikan bahwa memperingati hari maulid Nabi saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau merupakan amalan yang mendatangkan pahala.

        Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
        Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber-akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis No.1832 dengan sanad Shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300). Dan telah diriwayatkan bahwa telah ber-Akikah untuknya, kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin di perbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman – teman dan saudara – saudara, menjamu dengan makanan – makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

        Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
        Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia di zaman kita ini adalah perbuatan yang di perbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.

        Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
        Telah diriwayatkan Abu Lahab di perlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (Shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia bergembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan-Nya dengan sebab anugerah-Nya.

        Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
        Dalam syarahnya maulid Ibn Hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran Nabi saw”.

        Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
        Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

        Imam Nawawi (Al-Hafidz Muhyiddin bin Syarat An-Nawawi) yang wafat dalam tahun 676 H bahkan mensunnahkan peringatan maulid Nabi saw..

        Seorang ulama terkenal, Imam Taqiyyuddin ‘Ali bin ‘Abdul-Kafi As-Sabki wafat tahun 756 H menulis kitab khusus tentang kemuliaan dan kebesaran Nabi Muhammad saw. Bahkan ia menfatwakan, barangsiapa menghadiri pertemuan untuk mendengarkan riwayat maulid Nabi Muhammad saw. serta keagungan maknanya ia memperoleh barokah dan ganjaran pahala.

        Imam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar Al-Haitsami As-Sa’di Al-Anshari Asy-Syafi’i wafat tahun 973 H menulis kitab khusus mengenai kemuliaan Nabi saw.. Ia memandang hari Maulid Nabi saw. sebagai hari raya besar yang penuh barokah dan kebajikan.

      3. @ASWAJA WAHABIB

        KEUTAMAAN AHLUL BAIT
        Kita hanya sering mendengar dimasjid-masjid atau tempat lainnya tentang hadits Rasulallah saw. agar kita memegang dua bekal yaitu: ‘Kitabullah wa sunnati’ artinya (berpegang) Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw. atau hadits lainnya yaitu: ‘Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin sepeniggalku, dan peganglah erat-erat serta gigitlah dengan gigi gerahammu’. Tetapi belum pernah atau jarang sekali di kumandangkan dan dikenal oleh kaum muslimin hadits Nabi saw. agar kita memegang dua bekal: ‘Kitabullah dan Itrah-ku (keturunan-ku) Ahlu baitku’.

        Imam Muslim meriwayatkan hadits ini di dalam kitab shohih-nya dari Aisyah yang berkata; “Rasulullah saw. pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit dan) bergambar. Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah saw. memasuk- kannya kedalam pakaiannya, lalu Husain datang, dan Rasulullah saw. memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fathimah, dan Rasulullah saw. pun memasukkannya ke dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah saw memasukkan- nya ke dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah saw berkata; ’Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilang kan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya (surat Al-Ahzab:33).” (Shohih Muslim, bab keutamaan-keutamaan Ahlul Bait.)

        Al-Hakim meriwayatkan hadits serupa dari Ummu Salamah yang berkata; “Di rumah saya turun ayat yang berbunyi, ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’. Lalu Rasulullah saw mengirim Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, dan kemudian berkata, ‘Mereka inilah Ahlul Baitku’ “. (Mustadrak al-Hakim, kemudian, al-Hakim berkata, ‘Hadits ini shohih menurut syarat Bukhari’).

        Dalam sebuah hadits riwayat al-Imâm Ahmad ibn Hanbal Rasulullah bersabda:
        “Aku telah tinggalkan di antara kalian dua pengganti; yaitu Kitab Allah (al- Qur’an) yang akan selalu terbentang antara langit dan bumi, dan keturunanku; keluargaku (Ahl al-Bayt)”, keduanya tidak akan pernah berpisah hingga keduanya datang ke Haudl nanti (di akhirat)”115. Al-Hâfizh al-Haitsami berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, dan sanad-nya adalah jayyid (bagus)”.

      4. @aswaja wahabib

        Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
        Firman Allah : “(Isa as berkata di pangkuan ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS. Maryam : 33)

        Firman Allah : “Salam Sejahtera (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS. Maryam : 15)

        Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
        Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai Nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang – benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala Shahihain hadits)

        Kasih sayang Allah atas kafir yang gembira atas kelahiran Nabi saw
        Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari, Sunan Imam Baihaqi Alkubra)

        “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu (para Nabi dan Rasul) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal”. (S.Yusuf:111).

        “Dan semua kisah para Rasul kami ceriterakan kepadamu, yang dengan kisah-kisah itu Kami teguhkan hatimu “. (S. Hud: 120)

        PENDAPAT PARA IMAM DAN MUHADDITS ATAS PERAYAAN MAULID

        Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
        Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari Shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari di tenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa di dapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini? Telah berfirman Allah swt : “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS. Al Imran : 164). Imam Al-‘Asqalani memastikan bahwa memperingati hari maulid Nabi saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau merupakan amalan yang mendatangkan pahala.

        Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
        Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber-akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis No.1832 dengan sanad Shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300). Dan telah diriwayatkan bahwa telah ber-Akikah untuknya, kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin di perbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman – teman dan saudara – saudara, menjamu dengan makanan – makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

        Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
        Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia di zaman kita ini adalah perbuatan yang di perbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.

        Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
        Telah diriwayatkan Abu Lahab di perlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (Shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia bergembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan-Nya dengan sebab anugerah-Nya.

        Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
        Dalam syarahnya maulid Ibn Hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran Nabi saw”.

        Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
        Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

        Imam Nawawi (Al-Hafidz Muhyiddin bin Syarat An-Nawawi) yang wafat dalam tahun 676 H bahkan mensunnahkan peringatan maulid Nabi saw..

        Seorang ulama terkenal, Imam Taqiyyuddin ‘Ali bin ‘Abdul-Kafi As-Sabki wafat tahun 756 H menulis kitab khusus tentang kemuliaan dan kebesaran Nabi Muhammad saw. Bahkan ia menfatwakan, barangsiapa menghadiri pertemuan untuk mendengarkan riwayat maulid Nabi Muhammad saw. serta keagungan maknanya ia memperoleh barokah dan ganjaran pahala.

        Imam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar Al-Haitsami As-Sa’di Al-Anshari Asy-Syafi’i wafat tahun 973 H menulis kitab khusus mengenai kemuliaan Nabi saw.. Ia memandang hari Maulid Nabi saw. sebagai hari raya besar yang penuh barokah dan kebajikan.

        KEUTAMAAN AHLUL BAIT
        Kita hanya sering mendengar dimasjid-masjid atau tempat lainnya tentang hadits Rasulallah saw. agar kita memegang dua bekal yaitu: ‘Kitabullah wa sunnati’ artinya (berpegang) Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw. atau hadits lainnya yaitu: ‘Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin sepeniggalku, dan peganglah erat-erat serta gigitlah dengan gigi gerahammu’. Tetapi belum pernah atau jarang sekali di kumandangkan dan dikenal oleh kaum muslimin hadits Nabi saw. agar kita memegang dua bekal: ‘Kitabullah dan Itrah-ku (keturunan-ku) Ahlu baitku’.

        Imam Muslim meriwayatkan hadits ini di dalam kitab shohih-nya dari Aisyah yang berkata; “Rasulullah saw. pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit dan) bergambar. Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah saw. memasuk- kannya kedalam pakaiannya, lalu Husain datang, dan Rasulullah saw. memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fathimah, dan Rasulullah saw. pun memasukkannya ke dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah saw memasukkan- nya ke dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah saw berkata; ’Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilang kan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya (surat Al-Ahzab:33).” (Shohih Muslim, bab keutamaan-keutamaan Ahlul Bait.)
        Al-Hakim meriwayatkan hadits serupa dari Ummu Salamah yang berkata; “Di rumah saya turun ayat yang berbunyi, ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’. Lalu Rasulullah saw mengirim Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, dan kemudian berkata, ‘Mereka inilah Ahlul Baitku’ “. (Mustadrak al-Hakim, kemudian, al-Hakim berkata, ‘Hadits ini shohih menurut syarat Bukhari’).

        Dalam sebuah hadits riwayat al-Imâm Ahmad ibn Hanbal Rasulullah bersabda:
        “Aku telah tinggalkan di antara kalian dua pengganti; yaitu Kitab Allah (al- Qur’an) yang akan selalu terbentang antara langit dan bumi, dan keturunanku; keluargaku (Ahl al-Bayt)”, keduanya tidak akan pernah berpisah hingga keduanya datang ke Haudl nanti (di akhirat)”115. Al-Hâfizh al-Haitsami berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, dan sanad-nya adalah jayyid (bagus)”.

  10. kadang ana jg heran,itu dah ada hadis yg menyatakan akan munculnya tanduk 2 syetan dari nejed,para ulama sepakat yg dimaksud itu kan pemimpinnya wahabi,tapi mereka tdk mikir,malah katanya yg dimaksud itu irak bukan nejed dlm hadis,pada hal nyata jelas letak dipeta,kalo irak ada disebelah utara,dan nejed disebelah timur madinah,ya alloh,bukakan hidayah pada mereka pengannut salafi wahabi,sebenarnya bagus dalam kajian tauhidnya,cuma akhlaqnya saja yg kurang bagus

    1. حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

      Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [1][Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

      Dalam mensyarahkan hadits ini Al hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani menukil pendapat al Khattabi tentang najd yang merupakan negeri Iraq:

      نجد من جهة المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها وهي مشرق أهل المدينة، وأصل نجد ما ارتفع من الأرض وهو خلاف الغور فإنه ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور ومكة من تهامةِ

      “Najd Itu berada disebelah timur. Siapapun yang berada diMadinah, maka najdnya adalah pedalaman Iraq dan sekitarnya. Itulah sebelah timur Madinah. Asal kata Najd adalah tanah yang meninggi, berbeda dengar ghaur yang berarti tanah yang rendah. Seluruh Tihamah merupakah Ghaur dan Mekkah termasuk bagian Tihamah”.[Fathul Bari 13/47]

      Setelah itu Ibnu Hajar menambahkan pernyataan al Khattabi bahwa Najd adalah setiap tanah yang tinggi dengan mengatakan

      كل شيء ارتفع بالنسبة إلى ما يليه يسمى المرتفع نجدا والمنخفض غورا

      “Setiap yang lebih tinggi dibandingkan dengan sekitarnya dinamakan Najd dan setiap yang lebih rendah dinamakan Ghaur.”

      Dalam hal ini tentu kita harus membandingkan hadits-hadits yang memiliki kaitan dengan hadits fitnah Najd diatas.

      حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي (واللفظ لابن أبان). قالوا: حدثنا ابن فضيل عن أبيه. قال: سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول: يا أهل العراق! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة! سمعت أبي، عبدالله بن عمر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض. وإنما قتل موسى الذي قتل، من آل فرعون، خطأ فقال الله عز وجل له: {وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا} [[20/طه/40

      Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdil-A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al-Wakii’iy (dan lafadhnya adalah lafadh Ibnu Abaan); mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “Wahai penduduk ‘Iraq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musa hanya membunuh orang yang berasal dari keluarga Fir’aun karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905 (50)]

      Imam Al Khattabi, Ibnu Abdil Bar dalam [At Tamhid 1/279] , al Kirmani dalam [Al Fath 13/47], dan Allamatul Iraq al Alusi dalam [Ghayatul Amani Fi Raddi Ala al Nabhani 2/148] menafsirkan bahwa Najd adalah Negeri Iraq.

  11. ust admin ana mau tny ttg perkataan ibnu masud dan asy syatibi di bwh ini:

    “Ibnu Mas’ud radiyallahu anhu berkata, “Mencukupkan diri dengan berpegang pada sunnah, lebih baik daripada berijtihad dalam bid’ah.”

    “Imam asy Syathibi’ mendefinisikan bid’ah, adalah “cara beragama yang dibuat-buat, yang meniru syariat, yang dimaksudkan dengan melakukan hal itu sebagai cara berlebihan dalam beribadah kepada Allah SWT”.
    Asy-Syathibi, buku: al-I’tishaam (Beirut: Darul Ma’rifah), juz 1, hlm. 37.

  12. Abdullah@

    abdullah: “Ibnu Mas’ud radiyallahu anhu berkata, “Mencukupkan diri dengan berpegang pada sunnah, lebih baik daripada berijtihad dalam bid’ah.”

    Kami kasih contoh praktiknya saja biar cepat paham. Begini contohnya: Wahabi membagi Tauhid jadi tiga, tauhid uluhiyyah, tauhid rububiyyah dan tauhid asma wa sifat (populer disebut TAUHID TRINITAS). Pembagian seperti ini sama sekali tidak ada dalil, baik dalil Sunnah maupun Al-Qur’an. Kenapa Wahabi tidak mencukupkan diri dg Assunnah saja, kok malah berijtihad dalam Bid’ah? Ini bid’ah tidak tanggung-tanggung sebab Wahabi membuat bid’ah dalam aqidah. Aqidah adalah ushul dalam agama, kalau aqidahnya saja aqidah yang bid’ah lalu bagaima dengan ibadahnya yang didasari aqidah yang bid’ah? Wallohu a’lam….

    abdullah: “Imam asy Syathibi’ mendefinisikan bid’ah, adalah “cara beragama yang dibuat-buat, yang meniru syariat, yang dimaksudkan dengan melakukan hal itu sebagai cara berlebihan dalam beribadah kepada Allah SWT”.
    Asy-Syathibi, buku: al-I’tishaam (Beirut: Darul Ma’rifah), juz 1, hlm. 37.

    Kami kasih lagi contohnya biar cepat paham. Begini contohnya: Para khotib Wahabi dalam setiap muqoddimah khotbah Jum’at-nya selalu mewajibkan ucapan “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad…dst.”
    Adalah benar bahwa Perkataan ini adalah hadits shahih riwayat Imam Muslim. Tetapi kemudian Wahabi mewajibkan perkataan ini dalam setiap mukoddimah khotbah (bahkan dalam setiap ceramah). Mewajibkan, inilah yang bid’ah. Perkataan itu tidak wajib disebut dalam mukaddimah, tetapi Wahabi mewajibkan. Ini juga sebagai contoh CARA BERLEBIHAN seperti kata Imam Asy-Syatibi di atas.

    Demikian, dengan contoh ini semoga cepat paham. Juga sekaligus bukti, bahwa Wahabi itu adalah ternyata Ahli Bid’ah yang sangat parah. Wallohu a’lam….

    1. Syukron Ustadz, contohnya sangat jelas, ana langsung paham. Akhirnya terungkap siapa yang sebenarnya Ahli Bid’ah, ternyata Wahabi sendiori yang Ahli Bid’ah. Bahkan bid’ahnya sangat mantab sanggup merusak total aqidah.

    2. Ummati memang pinter ngarang deh. Oh iya, saya bukan Abdullah Asjam (Asy’ariyyah Jahmiyyah). Tiga tauhid itu disimpulkan dari sumber otentik, Qur’an dan Hadits. Bandingkan dengan akidah sifat 20-nya Asjam, asalnya dari mana? Dari akal, lalu baru dicari dalil naqli pendukungnya. Makanya para Imam gak kenal akidah ini. Dan akidah inipun berubah-ubah. Awalnya 3 sifat wajib, lalu 5, 7, 9, 13, akhirnya jadi 20. Siapa tahu nanti bertambah lagi di masa datang.

      Coba darimana Ummati dapat referensi kalau khutbah jum’at harus membaca hadits tersebut? Pendapat ulama Hanabilah mana, atau cuma ngarang aja? Mbok kalau mau nipu yang cerdas dikit kenapa, sebutin aja satu buku dengan halaman ngawur yang orang gak akan baca, pembaca pasti percaya, terutama Putri si bakul mlijo.

      1. @Abdullah :

        Agung :

        Al-Imâm al-Hâfizh Muhammad Murtadla az-Zabidi (w 1205 H) dalam pasal ke
        dua pada Kitab Qawâ-id al-‘Aqâ-id dalam kitab Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, menuliskan sebagai berikut: “Jika disebut nama Ahlussunnah Wal
        Jama’ah maka yang dimaksud adalah kaum Asy’ariyyah dan kaum Maturidiyyah”.

        Asy-Syaikh Ibn Abidin al-Hanafi (w 1252 H) dalam kitab Hâsyiyah Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, menuliskan: “Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah kaum Asy’ariyyah dan Maturidiyyah”.

        Setelah tahun 260 H menyebarlah bid’ah Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya. Maka dua Imam yang agung Abu al Hasan al Asy’ari (W 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (W 333 H) -semoga Allah meridlai keduanya- menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.

        Pada periode ini para ulama dari kalangan empat madzhab mulai banyak membukukan penjelasan-penjelasan akidah Ahlussunnah secara rinci hingga kemudian datang dua Imam agung; al-Imâm Abu al-Hasan al-As’yari (w 324 H) dan al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H). Kegigihan dua Imam agung ini dalam membela akidah Ahlussunnah, terutama dalam membantah faham rancu kaum Mu’tazilah yang saat itu cukup mendapat tempat, menjadikan keduanya sebagai Imam terkemuka bagi kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah. Kedua Imam agung ini tidak datang dengan membawa faham atau ajaran yang baru, keduanya hanya melakukan penjelasan-penjelasan secara rinci terhadap keyakinan yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya ditambah dengan argumenargumen rasional dalam mambantah faham-faham di luar ajaran Rasulullah itu sendiri. Yang pertama, yaitu al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, menapakan jalan madzhabnya di atas madzhab al-Imâm asy-Syafi’i. Sementara yang kedua, al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi menapakan madzhabnya di atas madzhab al-Imâm Abu Hanifah. Di kemudian hari kedua madzhab Imam agung ini dan para pengikutnya dikenal sebagai al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah.

        Al-Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah mengutip perkataan al-Imâm al-Ma’ayirqi; seorang ulama terkemuka dalam madzhab Maliki,
        menuliskan sebagai berikut:
        “Sesungguhnya al-Imâm Abu al-Hasan bukan satu-satunya orang yang pertama kali berbicara membela Ahlussunnah. Beliau hanya mengikuti dan memperkuat jejak orang-orang terkemuka sebelumnya dalam pembelaan terhadap madzhab yang sangat mashur ini. Dan karena beliau ini maka madzhab Ahlussunnah menjadi bertambah kuat dan jelas. Sama sekali beliau tidak membuat pernyataanpernyataan yang baru, atau membuat madzhab baru.

        Masih dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subki juga
        menuliskan sebagai berikut:
        “Aku telah mendengar dari ayahku sendiri, asy-Syaikh al-Imâm (Taqiyuddin as-Subki) berkata bahwa risalah akidah yang telah ditulis oleh Abu Ja’far ath-Thahawi (akidah Ahlussunnah yang dikenal dengan al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah) persis sama berisi keyakinan yang diyakini oleh al-Asy’ari, kecuali dalam tiga perkara saja. Aku (Tajuddin as-Subki) katakan: Abu Ja’far ath-Thahawi wafat di Mesir pada tahun 321 H, dengan demikian beliau hidup semasa dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari (w 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H). Dan saya tahu persis bahwa orang-orang pengikut madzhab Maliki semuanya adalah kaum Asy’ariyyah, tidak terkecuali seorangpun dari mereka. Demikian pula dengan para pengikut madzhab asy-Syafi’i, kebanyakan mereka adalah kaum Asy’ariyyah, kecuali beberapa orang saja yang ikut kepada madzhab Musyabbihah atau madzhab Mu’tazilah yang telah disesatkan oleh Allah. Demikian pula dengan kaum Hanafiyyah, kebanyakan mereka adalah orang-orang Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali beberapa saja yang mengikuti madzhab Mu’tazilah. Lalu, dengan kaum Hanabilah (para pengikut
        madzhab Hanbali), orang-orang terdahulu dan yang terkemuka di dalam madzhab
        ini adalah juga kaum Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab
        ini kecuali orang-orang yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah. Dan
        yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah dari orang-orang madzhab
        Hanbali ini lebih banyak dibanding dari para pengikut madzhab lainnya”4.

        AKIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH (Asy’ariyyah dan Maturidiyyah) : ALLAH SWT. ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH

        sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:
        “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq)

        Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari (W. 324 H) semoga Allah meridlainya berkata: “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma wa ash-Shifat). Beliau juga mengatakan: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ta’ala di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al Imam alAsy’ari ini dinukil oleh al Imam Ibnu Furak (W. 406 H) dalam karyanya al Mujarrad.

        Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227- 321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

        Al Imam Abu Manshur Al Baghdadi (W. 429 H) dalam kitabnya al Farq Bayna al Firaq berkata: “Sesungguhnya Ahlussunnah telah sepakat bahwa Allah tidak diliputi tempat dan tidak dilalui oleh waktu”.

        ANDA KAN MENUDUH KAMI KAUM JAHMIYYAH, JADI TOLONG DIBUKTIKAN? trm ksh.

      2. @abdullah

        Akidah 20?

        Pertama, setiap orang yang beriman harus meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’aala wajib memiliki semua sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya. Ia harus meyakini bahwa Allah mustahil memiliki sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya.

        Kedua, para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebenarnya tidak membatasi sifat-sifat kesempurnaan Allah dalam 20 sifat. Bahkan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah barang tentu Allah wajib memiliki sifat tersebut, sehingga sifat-sifat Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada 99 saja sebagaimana dikatakan al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi rahimahullah.

        Sabda Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan Nama”, tidak menafikan nama-nama selainnya. Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam hanya bermaksud –wallahu a’lam-, bahwa barangsiapa yang memenuhi pesan-pesan sembilan puluh sembilan nama tersebut akan dijamin masuk surga. (al-Baihaqi, al-I’tiqad ‘ana Madzhab al-Salaf)

        Ibn Mas’ud berkata, Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku hamba-Mu… Aku memohon dengan perantara setiap Nama yang Engkau miliki, baik Engkau namakan Dzat-Mu dengan-Nya, atau Engkau turunkan nama itu dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, dan atau hanya Engkau saja yang mengetahui-Nya secara ghaib, jadikanlah al-Qur’an sebagai taman hatiku, cahaya mataku, pelipur laraku dan penghapus dukaku.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, al-Thabarani dan al-Hakim)

        Ketiga, dari sekian banyak Shifat al-Dzat yang ada, sifat dua puluh dianggap cukup dalam mengantarkan seorang Muslim pada keyakinan bahwa Allah memiliki segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan. Di samping substansi sebagian besar Shifat al-Dzat yang ada sudah ter-cover dalam sifat dua puluh tersebut yang ditetapkan berdasarkan dalil al-Qur’an, sunnah dan dalil ‘aqli.

        Keempat, sifat dua puluh tersebut dianggap cukup dalam membentengi akidah seseorang dari pemahaman yang keliru tentang Allah Subhaanahu wa ta’aala. Sebagaimana dimaklumi, aliran-aliran yang menyimpang dari faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah seperti Mu’tazilah, Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah Subhaanahu wa ta’aala dengan makhluk), Mujassimah (kelompok yang berpendapat bahwa Allah memiliki sifat-sifat makhluk), Karramiyah dan lain-lain menyifati Allah dengan sifat-sifat makhluk yang dapat menodai kemahasempurnaan dan kesucian Allah. Maka dengan memahami sifat wajib dua puluh tersebut, iman seseorang akan terbentengi dari keyakinan-keyakinan yang keliru tentang Allah. Misalnya ketika Mujassimah mengatakan bahwa Allah itu bertempat di Arsy, maka hal ini akan ditolak dengan salah satu sifat salbiyyah yang wajib bagi Allah, yaitu sifat qiyamuhu binafsihi (Allah wajib mandiri). Ketika Musyabbihah mengatakan bahwa Allah memiliki organ tubuh seperti tangan, mata, kaki dan lain-lain yang dimiliki oleh makhluk, maka hal itu akan ditolak dengan sifat wajib Allah berupa mukhalafatuhu lil-hawadits (Allah wajib berbeda dengan hal-hal yang baru). Ketika Mu’tazilah mengatakan bahwa Allah Maha Kuasa tetapi tidak punya qudrat, Maha Mengetahui tetapi tidak punya ilmu, Maha Berkehendak tetapi tidak punya iradat dan lain-lain, maka hal itu akan ditolak dengan sifat-sifat ma’ani yang jumlahnya ada tujuh yaitu qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam. Demikian pula dengan sifat-sifat yang lain.

      3. Bismillah,

        Saudaraku @Abdullah,

        sebenarnya kami ingin berdiskusi dengan anda, namun melihat arogansi anda kami jadi nggak tertarik…

        disini kami cuma ngingatkan anda untuk menjaga emosi, terlebih berbicara tentang aqidah, lihat comment anda :

        Bandingkan dengan akidah sifat 20-nya Asjam, asalnya dari mana? Dari akal, lalu baru dicari dalil naqli pendukungnya. Makanya para Imam gak kenal akidah ini. Dan akidah inipun berubah-ubah. Awalnya 3 sifat wajib, lalu 5, 7, 9, 13, akhirnya jadi 20. Siapa tahu nanti bertambah lagi di masa datang

        apa anda bermaksud mengingkari Wujudnya Alloh, ke Esa-an Alloh, Qudrot Alloh, Bashor Alloh… dst? berhati-hatilah saudaraku….

  13. Kayaknya yang nulis artikel ini tutup mata dengan sejarah. Pada jaman Orla, NU bersatu dengan PKI melawan umat Islam yang diwakili oleh Masyumi. Setelah Orla lewat, orang2 NU ramai2 membantai bekas temannya. Lalu kembali NU mengkhianati umat Islam menjadi yang pertama menerima asas tunggal. Atas jasanya, dapat aliran banyak uang sehingga muncul istilah Kyai Pajero. Di jaman reformasi kembali menyakiti umat Islam dengan mengusulkan penghapusan Tap MPR tentang pelarangan PKI dan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Lalu menerima dana dari kafir luar negeri untuk menusuk umat Islam, diantaranya mendukung Ahmadiyah dan menolak UU Pornoaksi. Bahkan dari NU sendiri lahir JIL yang merusak ajaran Islam, dan ketua PBNU sekarang berbau syiah.

    Jadi yang sebenarnya penjahat besar bagi kaum muslim itu siapa? Ya Aswaja Asya’ariyyah wa Jahmiyyah.

    1. Abdullah@

      Nte rupanya tidak baca hadits shahih Bukhari yg ada di artikel. Kalau sdh baca tentu koment Nte bisa nyambung. Yang dimaksud hsdit tysb tadak lain adalah kaum Wahabi yg jelas2 merubahrubah hukum Islam. Itulah kejahan terbesar menurut Nabi Saw.

      Makanya jangan hanya baca judul, biar ngerti n tambah ilmu Nte.

      1. Yang nulis artikel itu asal njeplak. Tinggal cari hadits tentang orang/kaum yang tidak disenangi Nabi SAW, lalu nisbatkan pada orang/kaum yang tidak disenangi.

        Kamu tahu nggak kaidah umum para ulama tentang ibadah? Hukum asal ibadah adalah haram, kecuali yang diperintahkan. Terus apa ulama2 yang bikin kaidah itu mau kamu golongkan ke dalam hadits di atas?

        1. Ibadah kok dilarang? Kepala Antum ini sudah dihuni Iblis kali? Mana ada Ulama yg melarang Ibadah? Paling Ulama Wahabi yg ngomong demikian. Mereka itu orang2 jahil ngambil pemahaman ilmu dari Iblis.

          Ibada itu diperintah bukan dilarang, oke pak Dul? Kalian ini kelewatan sesatnya, ibadah kok dilarang?

          1. Ini sungguh menunjukkan kejahilan kamu. Pasti Asjam yang lain malu punya kawan seperti kamu. Coba renungkan baik2 kaidah para ulama: Hukum asal ibadah adalah haram, kecuali yang diperintahkan. Shalat, zakat, puasa, haji, semua ada perintahnya. Kalau hukum asalnya bukan dilarang, nanti orang bikin2 ibadah sendiri. Ada yang ibadahnya nyanyi. Ada yang semedi. Ada yang bersila dengan kepala di bawah. Ada yang memendam tubuh sampai leher. Dan macam2. Udah ngerti sekarang?

          2. Pak Dul, siapa sih nama para Ulama yg melarang ibadah, kok sak kepenake udele dewe berani melarang ibadah? Allah aja nyuruh kita beribadah kok ada ulama melarang ibadah? Jangan2 itu ulama Wahabi, yanggak pak Dul?

      2. Mbak Aryati,sebaiknya banyak2 mengkaji Alquran & Alhadits.Jangan cuma ikut2an tradisi aja.Cari yang bener apakah Tahlilan itu ada pada jaman Rosulullah SAW.Cobalah ikut pengajian Muhammadiyah,agar pikiran anda lebih terbuka.Gak usah ditelan mentah2 tapi buktikanlah sendiri dengan membuka Alquran dan Al-hadits,niscaya anda akan bisa membedakan yg mana yg benar dan yg mana yg tdk.Kalo takut mengikuti pengajian Muhammadiyah,anda bisa nonton Film “Sang Pencerah” terlebih dahulu biar anda tahu Muhammadiyah itu seperti apa.

    2. He.. he.. he.. ya akhi Abdullah apa antum belum tau kepanjangannya PBNU?

      PBNU itu, kan kepanjangan dari Penjahat Besar Ngaku Ulama. Klop, kan.

      Udah ga usah diladenin orang-orang ASWAJA WAHABIB ini, ga bakalan nyambung. Lha wong kebo sama keris aja dianggap bisa ngasih berkah.

      1. Gak ada orang ASWAJA yg meyakini kebo ato keris bisa ngasih berkah, itu adalah keyakinan Wahabi akibat otaknya yg ngeres, lalu keyakinan itu diatasnamakan ke Orang ASWAJA.

        Orang Aswaja yg paling bodoh pun tak akan berkeyakinan keris ato kebo bisa ngasih berkah. pantas kalau kalian disebut oleh para ulama seluruh dunia sebagai Fitnah. Fitnah Wahabiyah, tidak ada tuh fitnah Ahlussunnah, ya nggak?

    1. ahklak yang baik dan berhikmah dengan cara penyampaian nya, masak dijeplak jeplak kan, emang apa ada yang salah dalam menyapaikan artikel tsb. kan udah sesuai hadist yang ditulis sahih lagi, dan kenapa tidak diakui kebenaran nya aja.
      malah kenapa memerintah sampai meng haramkan2 ibadah segala, kenapa tidak diharamkan orang orang suka memalsu2 kan hadist, mengurangi dan menambahi hadist. nanti kan adil, klo sikap seperti itu kan malah menunjukkan kebenaran hadist tsb tentang prilaku anda selama ini. sudah bodoh maunya minta menang…… sampai orang bilang waspadai tindakan makar golangan penggonggong. heuuu.. hug….hug…hug… hayo gimana kalo begitu.

    2. Benar Mas Nasrullloh, error berat. Alhamdulillah sekarang sudah bisa online. Semoga tak ada gangguan lagi.

      Mengenai disutdown-nya artikelislami oleh Worpress.com sepertinya tidak terjadi secara kebetulan. Kita tunggu kabar dari pihak Artikel Islami.

  14. Maaf rekan-2 sekalian, ada yg punya kitab Fatul Majid-nya MAW ?? temen ane minta bukti ada isi di dalam kitabnya yg tertulis bahwa MAW dg bangganya membunuh org yg tidak sepaham dg dia….tolong yah kasih info, baik tulisan arab-nya maupun terjemahannya….

  15. Oya, orang-orang NU juga gila hormat. Nyalonin Presiden lagi, DPR, Jago KORUPSI, dll
    hahahaha
    lucu-lucu2.
    Dan Buat fatwa semaunya sendiri. Asalkan ada uang, fatwa keluar.
    hahahaha.
    lucu-lucu2.
    Coba lihat, siapa yang menjadi penjahat besar kaum muslimin?!!!!

  16. CONTOH Rokok..
    Coba fatwa-nya apa?
    jelas2 menimbulkan penyakit berbahaya, membuat orang jadi bodoh dan membunuh umat.
    Siapa coba yang menjadi pembunuh? yang menhalalkan rokok?

    APA KALIAN TIDAK TAHU BAHWA SELAIN MEMBUNUH BERLAHAN-LAHAN, JUGA MEMBUAT ORANG JADI BODOH. OTAKNYA RUSAK….
    atau jangan2 kalian suka ngrokok ya.. makanya otaknya pada rusak…

    Yah… Karena uang.. Pokokke ada uang ada fatwa. fatwa rokok halal.. Fatwa super goblok, membunuh umatnya sendiri. This is the real Murderer.

    1. Emang ada dalil yang bilang rokok itu haram (biasa wahabi kan harus pake dalil), emang wahabi bikin fatwa seenak udelnye aja.
      1. siapa hayo yang membagi tauhid menjadi 3, kayak prinsif trinitas.
      2. siapa yang ingin meratakan makam Nabi, wong zaman sahabat aja gak ada yang berani utak atik.
      3. siapa yang menghalalkan minum khamar halal asal gak mabok, nah ini dia jauh buanget dari aqidah.
      4. siapa yang menyuruh menyerahkan negara palestina ke israel, emang jihad islam udah mati.
      Fatwa macam apa ini……….

      1. Allah Ta’ala berfirman,

        وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

        “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS Al Baqarah:195).

        Tidaklah diragukan bahwa rokok adalah salah satu bentuk kebinasaan bagi kesehatan, finansial dll. Bahkan pabrik rokok sendiri mengakui bahwa rokok adalah kebinasaan. Buktinya adalah peringatan yang tertulis di bungkus rokok itu sendiri. Sungguh aneh tapi ada orang yang ngotot bahwa rokok itu tidak membahayakan padahal yang membuat rokok itu sendiri sudah mengakui bahaya yang terkandung di dalamnya.

        Allah Ta’ala berfirman,

        وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

        “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” (QS Al Isra’:26-27).

        Jika kita cermati dengan baik, tidaklah diragukan bahwa merokok adalah satu bentuk tabdzir (membuang-buang harta). Padahal perbuatan ini hukumnya dalam agama kita adalah haram, bahkan diancam dengan neraka.

        عَنْ خَوْلَةَ الأَنْصَارِيَّةِ – رضى الله عنها – قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِى مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ »

        Dari Khaulah Al Anshariyyah, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada banyak orang yang membelanjakan harta yang Allah titipkan kepada mereka tidak dengan cara yang benar maka api neraka untuk mereka pada hari Kiamat nanti” (HR Bukhari no 2950).

        Tentu kita semua sepakat bahwa menenggak racun semisal baygon meski hanya sesendok hukumnya adalah haram karena itu adalah racun. Kita pasti setuju bahwa rokok itu mengandung racun. Adakah perbedaan antara racun dalam bentuk cair semisal baygon dengan racun berbentuk asap yang ada dalam rokok? Sungguh tidak bisa kita bayangkan adanya orang yang membedakan dua hal tersebut.

        1. Ini lagi di-ulang2. Kalau dengan bid’ah pake definisi kamu, muka kamu itu juga bid’ah, bid’ah sayyiah malah :D. Bid’ah kalau menurut definisi syar’i, mengada-ada dalam urusan agama yang tidak dicontohkan oleh Nabi SAW & khulafaur Rasyidin. Kalau yang bukan urusan agama, yang tinggal dilihat saja kasus per kasus.

  17. Kalau ana baca dari artikel di atas, ana menangkap maksud dari sang Penulis berkeinginan untuk memperingatkan segolongan kaum muslim agar tidak jadi penjahat terbesar bagi Ummat Islam berdasar hadits Nabi saw yg shahih. Missinya jelas, yg dituju juga jelas.

    Allah dan Rasul-NYA tidak pernah memerintah kita berdakwah tentang vonis-vonis bid’ah. Tentunya Allah Dan Rasul-NYA maha tahu kenapa masalah bid’ah ini tidak pernah diperintah untuk didakwahkan, sebab akan menjadi fitnah Islam dan terhadap Ummat Islam itu sendiri. Kita hanya diberi peringatan oleh Nabi saw agar hati-hati terhadap bid’ah.

  18. @ Bedul
    yg ngomongnya ngaco tuh ente sm ustadz2 ente yg tolol

    rokok ente haramkan dg suatu alasan. Alasan itu juga trdapat pd BBM. Dampak BBM lbh luas dr rokok. Knp ustadz2 ente yg tolol itu ga mengharamkan BBM?
    Tanya sama ustadz ente, bumi yg mengelilingi matahari, atau sbaliknya, matahari yg mengelilingi bumi?

    Ente dan temen2 ente, kalo ga bs berhujjah, jangan shutdown blog orang. Udah kerjaannya delete komentar, skrg ngedelete blog orang. Habib Munzir juga pernah mengalami percobaan pembunuhan beberapa kali. Pernah di kejar2 utk dicelakai di jalan raya, pernah diracun. Itulah wahhabi. Ga bisa mendebat lawan, bunuh lawannya. Dasar bejad.

  19. perkataan bid’ah dan tidak bid’ah. sesat dan tidak sesat adalah berdasar Alqur’an dan as-sunnah. seandainya ada dalil yg shahih atau hasan maka wahaby tidak segan-2 u mengikuti. namun sudah jamak ahli bid’ah krn mengikuti nenek moyang, walau di tunjukan seribu hadist shahihpun tdk bergeming. pengambilan dalil wahaby adalah yg pasti. sbg contoh yasinan. wahaby juga baca surat yasin. dan baca surat yasin ( tdk di khususkan ) tidak ada perselisihan, baik wahaby atau non wahaby sama, baca surat yasin berpahala. coba bandingkan dg ” yasinan” ini ada perselisihan belum lagi rangkaian acaranya yg tidak ada contoh dr Rasulullah, maka inilah yg di jauhi wahaby. saudara-ku……. kamu sekalian adalah saudaraku se-islam. namun demikian tidaklah sama antara mereka yg konsen thd Qur’an dan Sunnah dg yg menyepelekan Qu’an dan sunnah. tidaklah sama orang yg menjauhi bid’ah dg yg melanggengkan bid’ah.

    saudaraku….sebagaian besar salafiyyun adalah mantan seperti kalian. jadi belajarlah. buatlah study banding. sampingkan tradisi, sampingkan golongan, sampingkan habib. gunakan akal dan fitrah kalian ketika telah di sampaikan dalil-2 syar’i.

    mohon maaf jika menyinggung……..

    Semoga Allah senantiasa memberikan kita semua hidayah menuju kebenaran.

    1. @is
      Mungkin bab khilafiyah itu udah clear saat dan setelah Ibnu Taimiyah, setelah wahabi datang bab ini dimunculkan lagi dan menjadi jargon dari wahabi.
      Coba ente pikirin tentang tauhid yang dipecah menjadi 3 bagian (konsep trinitas), padahal itu ilmu furu bukan ilmu ushul . Tauhid ilmu ushul sedangkan yang 3 ilmu furu. coba deh ente renungin yah.
      Masalah bid’ah, sesat, kafir yang ente lontarin itu hak prerogratif Allah swt, bukan hak wahabiyun. Ente masuk sorga apa neraka itu ente punya urusan, tapi jangan gampang bilang bid’ah, sesat atau apalah sama seluruh umat muslim. Yang penting Ente punya dalil n ane punya dalil, bukan itu yang diajarkan oleh utsaimin syeikh ente dibukunye “as shalwah al islamiyah dhawabith wa taujihat”.

  20. @is, perkataan bid’ah dan tidak bid’ah. sesat dan tidak sesat adalah berdasar Alqur’an dan as-sunnah. seandainya ada dalil yg shahih atau hasan maka wahaby tidak segan-2 u mengikuti. namun sudah jamak ahli bid’ah krn mengikuti nenek moyang, walau di tunjukan seribu hadist shahihpun tdk bergeming. pengambilan dalil wahaby adalah yg pasti

    emang sekte ente saja yg paham Hadist, emang ulama2 sekte ente udh hapal berapa ribu hadist dan matannya, ulama2 ASWAJA mengeluarkan hadist, bukan cukup dari nukilan2 seperti sekte ente, dgn hapalan bro camkan!!! kalau sekte ente hapal hadast bukan hadist,,

    emang ulama2 aswaja nggak hapal Qur’an dan Hadist!! fitnah ente,,jangan asal ngomong!!!!
    hadist Arbain nawawi aja belum tentu ulama2 ente hapal matan dan sanadnya,,,,,pengertian arti bid’ah aja msh banyak yg rancu,,jgn banyak cakaplah !!!!!

  21. saudaru-ku mohon maaf ya jika perkataan ana menyinggung. ada baiknya segala pertanyaan saudaraku ttg pembagian tauhid di bagi 3, atau pingin tahun ulama wahaby hapal hadist atau nggak ya datangi mereka. ajak diskusi mereka, test mereka. atau jika punya uang datang ke masjidil haram atau masjid nabawi atau di universitas islam madinah ajak debat mereka, sadarkan mereka. atau diskusi sama salafy di indonesia dg santai, rilek. mudahkah saudaraku…..?!

    1. lah …samalah dengan wahabi…seharusnya mereka terlebih dahulu datang ke pondok pesantren dan pimpinan ormas islam, jangan asal main tuduh bidah aja. Datang juga tuh ke Al Azhar, ….nggak level lah univ islam medinah dijadikan acuan.

    2. @is karena kalian merasa paling benar, harus kalian yg menemui kami!!!!
      Jangan kami yg datang kesana, suruh ustad2 ente datang ketempat ulama2 kami, jg hanya berani diforum yg hanya org awam2 , kalau mau amar ma’ruf nahi mungkar, ulama2 kami yg katanya sekte ente ahli bid’ah jg perlu didatangi dan perlu juga diluruskan ajak diskusi itu yg benar, jangan hanya org2 awam2 yg tdk tau kemudian ditanya dalil2 ini itu, kalau mau mencari kebenaran datangi mereka, masak ulama2 kami yg dtg kesana, contoh debat buya yahya dgn ulama salafi mana? sekali datang udh itu nggak muncul2 lg batang hidungnya apakah itu yg namanya mencari kebenaran.. silakan share di youtube dialog buya yahya dan Muhammad Thahara,

  22. Al Hafidz Abul Fida’ Ibnu Katsir Asy-Syafi’i –rahimahullah- menjelaskan hadits di atas ketika menafsirkan firman Allah ta’ala:

    { أَمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَى مِنْ قَبْلُ وَمَنْ
    يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالإيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ }
    “Apakah kalian ingin bertanya kepada rasul kalian sebagaimana (Bani Israil) bertanya kepada Musa sebelumnya, siapa yang menukar kekufuran dengan keimanan maka sungguh dia telah tersesat dari jalan (yang lurus)” [Al-Baqarah : 108]

    نهى الله تعالى في هذه الآية الكريمة، عن كثرة سؤال النبي صلى الله عليه وسلم عن الأشياء قبل كونها، كما قال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنزلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ } [المائدة: 101] أي: وإن تسألوا عن تفصيلها بعد نزولها تبين لكم، ولا تسألوا عن الشيء قبل كونه؛ فلعله أن يحرم من أجل تلك المسألة
    . ولهذا جاء في الصحيح: “إن أعظم المسلمين جُرْمًا من سأل عن شيء لم يحرم، فحرم من أجل مسألته” (1) . ولما سُئِل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الرجل يجد مع امرأته رجلا فإن تكلم تكلم بأمر عظيم، وإن سكتَ سكتَ على مثل ذلك؛ فكره رسول الله صلى الله عليه وسلم المسائل وعابها. ثم أنزل الله حكم الملاعنة (2) .
    وهذا إنما قاله بعد ما أخبرهم أن الله كتب عليهم الحج. فقال رجل: أكُل عام يا رسول الله؟ فسكت عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاثًا. ثم قال، عليه السلام: “لا ولو قلت: نعم لوجَبَتْ، ولو وَجَبَتْ لما استطعتم”. ثم قال: “ذروني ما تركتكم” الحديث.
    وقال البزار: حدثنا محمد بن المثنى، حدثنا ابن فضيل، عن عطاء بن السائب، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس، قال: ما رأيت قوما خيرا من أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، ما سألوه إلا عن ثنْتَي عشرة مسألة، كلها في القرآن: { يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ } [البقرة:219] ، و { يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ } [البقرة: 217] ، و { وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى } [البقرة: 220] يعني: هذا وأشباهه (1)

    Dalam ayat yang mulia ini Allah ta’ala melarang (kaum muslimin) untuk banyak bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sesuatu yang belum terjadi, sebagaimana firman Allah ta’ala : “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian bertanya (kepada nabi) tentang sesuatu yang jika diterangkan kepada kalian akan menyusahkan kalian, dan jika kalian menanyakannya ketika Al-Qur’an diturunkan niscaya akan diterangkan kepada kalian” [QS. Al-Maidah : 101]

    Oleh karena itu dalam As-Shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya kaum muslimin yang paling besar kejahatannya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan lalu diharamkan karena pertanyaannya” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari no. 7289 dan Muslim no. 2358]

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang seorang laki-laki yang mendapati istrinya bersama laki-laki lain (di kamarnya), jika rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara maka beliau berbicara tentang perkara yang besar dan jika beliau diam maka (tidak sepantasnya) beliau mendiamkan perkara yang demikian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak suka membicarakan perkara tersebut dan membuka sebuah aib, lalu Allah ta’ala menurunkan (ayat) hukum tentang mula’anah .[Dikeluarkan oleh Al-Bukhari no 5308]

    Hadits di atas dinyatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau memberitahukan kepada para sahabat (kaum muslimin) bahwa Allah ta’ala mewajibkan kepada mereka haji, ada seorang bertanya : “Apakah (kewajiban haji) tiap tahun wahai rasulullah ? maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendiamkannya sampai pertanyaan itu diulang tiga kali, kemudian rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak, seandainya aku mengatakan iya niscaya (kewajiban haji) wajib (tiap tahun) bagi kalian, dan seandainya hal tersebut diwajibkan niscaya kalian tidak akan mampu (menunaikannya)” lalu beliau bersabda : “Biarkanlah aku (Janganlah bertanya padaku) tentang sesuatu yang aku mendiamkan (tinggalkan) kalian” [Al-Hadits]

    Imam Al Bazzar berkata : “Menceritakan padaku Muhammad bin Al-Mutsanna, menceritakan padaku Ibnu Fudhail, dari ‘Atha bin As-Saib, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Belum pernah aku melihat suatu kaum yang lebih baik dari para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tidaklah mereka bertanya kecuali tentang 12 permasalahan, seluruhnya disebutkan dalam Al-Qur’an. “Mereka bertanya padamu (Nabi) tentang khamr dan perjudian” [QS. Al-Baqarah : 219], “Mereka bertanya padamu tentang bulan Haram” [QS. Al-Baqarah : 217], “Mereka bertanaya kepadamu tentang anak-anak yatim” [QS. Al-Baqarah : 220] yaitu pertanyaan-pertanyaan ini dan semisalnya. [Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir : 454/11]

    Ini sedikit diantara penjelasan ulama kita tentang hadits di atas, yang menjadi pertanyaan di benak saya, Kenapa hadits itu lalu diarahkan kepada orang-orang yang mengingkari bid’ah? padahal siapakah yang pertama mengingkari bid’ah hasanah bukankah Rasulullah dan para sahabatnya yang kemudian juga diikuti ulama-ulama setelah mereka. Kesimpulannya, Tidak pantas lisan kita menjuluki nabi, para sahabat dan para ulama sebagai penjahat besar kaum muslimin.

  23. maaf mas Ucep, tolong hargai sedikit usaha ane. Artikel yang di atas ane terjemahkan dari tafsir Ibnu Katsir. kalo emang mas Ucep nuduh ane cuma copas, coba tunjukin ane copas dimana? ane cape2 bahas hadits di atas di kitab ulama, alhamdulillah ketemu di tafsir ibnu katsir. wabillahittaufiq

  24. @hasnan
    Ane menghargai setiap komen yang ada disini, kalau ente tulis panjang n ente baru terjemahin kitab/buku mending ente tulis di word aja dulu n disimpan sebagai file. Kalo seperti komen ente itu kalau ada yang mau ajak diskusi ape ente siap ? Lihat aja komen2 team wahabi yang gak jelas isi komennya.

  25. Qiqiqiqiqi…..
    Bingung ane dengan argumentasi yang dihadirkan para pembela salafi/wahabi itu disini, selalu saja memaksakan diri membuat argumentasi pembenaran bukan kebenaran, walhasil begitu dikoreksi oleh all aswaja jadi ketahuwan jahilnya.

  26. sungguh hadist di atas tidak relevan jika di tujukan ke wahaby. sebab wahaby tidaklah meng-haramkan dan meng-halalkan kecuali berdasar Alqur’an dan Sunnah.
    adalah fitnah atau sengaja di hembuskan fitnah jika wahaby itu anti tahlil, yasin, maulid, tawasul, ziarah kubur. Namun wahaby melakukan amalan tsb hanya yg berdasar hadist yg shahih atau hasan. contoh wahaby tawasul dg asmaul husna, amal shaleh, dll, tapi tidak dg mayat walaupun orang shaleh, sebab ada larangannya yg dapat menjatukan diri kepada kekufuran. wahaby juga tahlil tapi bukan tahlilan sebab itu tidak di contohkan Rasulullah. wahaby juga baca surat yasin, namun tidak yasinan, sebab tdk ada contoh dan derajad hadistnya ada yg palsu. wahaby juga ziarah kubur, tapi tidak spt kebanyakan orang yg ada larangan u amalan model
    tsb. wahaby juga maulid yakni dg puasa senin , bukan dg perayaan yg tidak ada contoh dr Rasulullah maupun sahabat.

    Hikmah yg bisa di petik dr tulisan itu adalah bahwa amalan wahaby itu tidak ada perselisihan bagi yg mengamalkan baik wahaby maupun non wahaby. coba bandingkan dg amalan non wahaby ada celah yg sangat lebar u di perselisishkan krn tidak berdasar hadist yg shahih maupun contoh dr Rasulullah dan sahabat. bahkan tidak di lakukan oleh 4 imam Madzab sekalipun.

    Islam yg ideal adalah di tengah-2, tidak berlebih-lebihan. Tidak mudah meng-kafirkan ( keluar dr Islam) thd sesama saudara se-Islam, dan tidak berbuat amalan bid’ah.

    Nasehat saya : ber-agamalah dan ber-amalah sebagaimana yg Rasulullah
    sampaikan, kemudian Sahabat, dan sebagaimana imam Hanafy, Maliki, Syafi’i, Ahmad.
    walaupun beda fikh, namun Aqidah tetap sama

    mohon maaf jika tdk berkenan.

    1. yakin ga seperti itu? yg saya lihat di blog-2 wahabi, FB-2 wahabi, youtube yg isinya ceramah ustadz wahabi isinya spt itu juragan….

      ente doa’ain Ibu Bapak ente ga? misalnya mereka sudah meninggal…..kan kata faham ente do’a kpd org yg sudah meninggal ga sampe….hati-2 bisa durhaka loh….

  27. Bismillaah,

    Kang Nasrulloh,

    Saya yakin Akh Is mendoakan orang tuanya tak peduli apakah orang tuanya masih hidup atau sudah meninggal karena itu diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jangankan untuk orang tua, dia juga berdoa untuk saudara sesama muslim dan mukmin baik yang masih hidup maupun sudah meninggal karena ini juga diajarkan oleh Rasulullaah. Dia berusaha berusaha mengikuti Rasulullaah termasuk mendoakan orang tua dan sesama muslim yang sudah meninggal tanpa ritual-ritual yang tidak dicontohkan oleh Rasulullaah dan para sahabatnya.

    Wallaahu a’lam.

    1. seperti ini Kang Suradi :

      Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

      Membacakan Al-fatihah atas orang yang telah meninggal tidak saya dapatkan adanya nash hadits yang membolehkannya. Berdasarkan hal tersebut maka tidak diperbolehkan membacakan Al-Fatihah atas orang yang sudah meninggal. Karena pada dasarnya suatu ibadah itu tidak boleh dikerjakan hingga ada suatu dalil yang menunjukkan disyari’atkannya ibadah tersebut dan bahwa perbuatan itu termasuk syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalilnya adalah bahwasanya Allah mengingkari orang yang membuat syari’at dan ketentuan dalam agama Allah yang tidak dizinkanNya.

      Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

      “Artinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah. Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih” [Asy-Sura : 21]

      Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya belaiu bersabda.

      “Artinya : Barangsiapa melaksanakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak”[1]

      Apabila tertolak maka termasuk perbuatan batil yang tidak ada manfaatnya. Allah berlepas dari ibadah untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan cara demikian.

      Adapun mengupah orang untuk membacakan Al-Qur’an kemudian pahalanya diberikan untuk orang yang telah meninggal termasuk perbuatan haram dan tidak diperbolehkan mengambil upah atas bacaan yang dikerjakan. Barangsiapa mengambil upah atas bacaan yang dilakukannya maka ia telah berdosa dan tidak ada pahala baginya, karena membaca Al-Qur’an termasuk ibadah, dan suatu ibadah tidak boleh dipergunakan sebagai wasilah untuk mendapatkan tujuan duniawi.

      Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

      “Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan” [Huud : 15]

      [Nur ‘Alad Darbi, Juz I, I’dad Fayis Musa Abu Syaikhah]

      BACAAN AL-FATIHAH UNTUK KEDUA ORANG TUA

      Oleh
      Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

      Membacakan surat Al-Fatihah untuk kedua orang tua yang telah meninggal atau yang lain merupakan perbuatan bid’ah karena tidak ada dasarnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Al-Fatihah boleh dibacakan untuk orang yang meninggal atau arwah mereka, baik itu orang tuanya atau orang lain. Yang disyariatkan adalah mendo’akan bagi kedua orang tua dalam shalat dan sesudahnya, memohonkan ampunan dan maghfirah bagi keduanya dan sejenisnya yang termasuk doa yang bisa bermanfaat bagi yang sudah meninggal.

      [Nur ‘Alad Darbi, Juz III, I’dad Fayis Musa Abu Syaikhah]

      silahkan di jelaskan hal di atas, artinya bukankah do’a tidak sampai kepada org yg telah meninggal…ini kata ulama wahabi loooh.

      sedangkan menurut Aswaja :

      Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

      عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

      “Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”

      Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

      “Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendo’akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad).

      silahkan ditanggapi….

  28. @akhi nasrulloh :

    itulah manfaatnya info yg benar

    wahaby, selalu mendo’akan diri sendiri, orang tua, saudara sesama muslim,setelah sholat atau saat waktu yg mustajabah.
    Bahkan usaha selain dakwah, yg paling baik adalah mendo’a-kan agar sesama saudara mslim mendapat hidayah, bukan hanya bantah sana bantah sini.

    Adapun membaca Al-fatihah utk orang meninggal tdk ada dasar kuat utk syari’atnya

    Wahaby berpendapat pahala membaca Alqur’an utk orang tua yg meninggal Insya Allah sampai. namun yg perlu di perhatikan adalah membaca saja, tidak ada rangkaian spt tahlilan. .

    justru pendapat Imam Syafii yg nggak nyampai lho, kecuali amalan yg 3 itu.

    maka tidak ada jalan yg baik, kecuali mengikuti syri’at yg berdasar dalil kuat, dan menjauhi amalan dg dasar lemah, bahkan palsu.

    mohon maaf jika tidak berkenan.

    1. @is
      “wahaby, selalu mendo’akan diri sendiri, orang tua, saudara sesama muslim,setelah sholat atau saat waktu yg mustajabah.
      Bahkan usaha selain dakwah, yg paling baik adalah mendo’a-kan agar sesama saudara mslim mendapat hidayah, bukan hanya bantah sana bantah sini.”

      Penjelasan mas @nasrullah sama jawaban ente gak nyambung. ane ulangin : Wahabiyun mengatakan doa untuk orang meninggal pahalanya tidak sampai.

      Jadi menurut ente kalau doa perlu ada “waktu yang mustajab”, bertentangan banget yang mengatakan “Ingatlah Aku dikala kamu sedang duduk, berdiri, berjalan maupun telentang/tidur-tiduran”.

      “justru pendapat Imam Syafii yg nggak nyampai lho, kecuali amalan yg 3 itu.”
      Ente udah berbohong atas nama Imam syafi’i, dibuku ape ente dapat pendapat itu?

      1. baca juga kang komen nya IS :

        WahabyberpendapatpahalamembacaAlqur’anutkorangtuaygmeninggalInsyaAllahsampai.namunygperludiperhatikanadalahmembacasaja,tidakadarangkaianspttahlilan

        tapi dia bilang membaca Al-Fatihah kpd org yg sudah meninggal tdk sampai….ane jadi bingung deh sama komen nYA diA…….

  29. is:
    @akhinasrulloh:

    WahabyberpendapatpahalamembacaAlqur’anutkorangtuaygmeninggalInsyaAllahsampai.namunygperludiperhatikanadalahmembacasaja,tidakadarangkaianspttahlilan..

    Al-Fatihah bukan Surat dalam Qur’an yah????? jadi Surat dalam apa ???? tahlilan ? coba baca artikel di ummati ini yg membahas tahlilan…kaji lagi, di artikel tahlilan ada sumber-2/sanad-2 yg ditampilkan….berTABAYYUN, dimana sanad-2 itu yg salah menurut anda….

    1. Hmm, pertama kita luruskan syubhat Asjam dulu. Asjam mengira Wahabiyun mengatakan doa untuk orang meninggal pahalanya tidak sampai. Ini adalah salah satu fitnah Asjam untuk mendeskreditkan Salafi. Yang benar, sesuai dengan pendapat Imam Syafi’i, amalan badan misalnya shalat, puasa, baca qur’an, dll, pahalanya tidak sampai kepada mayat. Atau mungkin definisi Asjam tentang mendo’akan orang tua itu harus pakai tahlilan, makanya karena Salafi tidak mengadakan tahlilan, dikira Asjam tidak mendoakan orang tua.

        1. “Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” [HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa-i no. 4451. Shahih]. Jadi anak ndak usah menghadiahkan pahala, amal shalih yang dia lakukan, orangtua juga dapat. Hadits tersebut bersesuaian dengan hadits tentang amal yang tidak terputus.

          Mengenai menghadiahkan pahala, Imam Syafi’i mengatakan amalan badan tidak sampai pahalanya. Katanya bermazhab Sayfi’i, kok pendapatnya gak dituruti? Anda juga berusaha korek2 pendapat Syaikh Utsaimin yang mengatakan “pahalanya sampai”, tapi berhenti sampai di situ saja. Padahal ada terusannya, “tetapi tidak dianjurkan karena tidak ada contohnya dari Nabi SAW atau sahabat”.

          Soal tahlilan, setahu saya baca qur’annya dikit aja (Yasin), mulai jam 8 malam, paling telat jam 9 selesai, makan2 atau pulang bawa besek/berkat, bapak2/ibu2 pulang, terus pemudanya begadang main domino/remi 😀

          1. owww dulu ente sering main domino yah? saya malah blm pernah nemuin abis tahlilan main domino/remi….wah ente cuma berasumsi aja yah….

          2. ooooohhh…jadi mas bedul main kartunya mulai jam 11an yah…wah seru tuh mas, ampe jam brapa biasanya kalo main kartu ??

          3. @abdullah
            “Mengenai menghadiahkan pahala, Imam Syafi’i mengatakan amalan badan tidak sampai pahalanya.”
            Ente baca buku apaan?, tunjukin kitab nya apaan nti ane buka. jangan bohong lagi ya.
            Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar menyebutkan :
            “Bab perkataan dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi mayyit : ‘Ulama telah ber-ijma’ (bersepakat ) bahwa do’a untuk orang meninggal dunia bermanfaat dan pahalanya sampai kepada mereka. Dan ‘Ulama’ berhujjah dengan firman Allah : {“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka, mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami (59:10)”}, dan ayat-ayat lainnya yang maknanya masyhur, serta dengan hadits-hadits masyhur seperti do’a Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam “ya Allah berikanlah ampunan kepada ahli pekuburan Baqi al-Gharqad”, juga do’a : “ya Allah berikanlah Ampunan kepada yang masih hidup dan sudah meninggal diantara kami”, dan hadits- yang lainnya.” (Al-Adzkar li-Syaikhul Islam al-Imam an-Nawawi hal. 150).

            @dul coba ente buka bukunya MAW – Fathul Majid Bab 13 n kitab Utsaimin – Ash Shahwah A Islamiyah dhawabith wa taujiyat – Bab IV.

          4. @Nasrulloh
            Terjadi perbedaan antara MAW dan Utsaimin :
            MAW dalam Fathul Majid Bab 13 “Termasuk syirik beristighasah kepada selain Allah atau berdoa kepada selainnya”.
            Utsaimin dalan bukunya Bab IV “Sarana-sarana dakwah kepada Allah dan metodenya”. dikatakan – Jika memungkinkan bagi seseorang menggunakan wasilah/sarana dengan cara ini maka tidak diragukan lagi inilah sarana yang terbaik dan jika memandang perlu menyertakannya dengan sarana lain yang dibolehkan Allah maka tidak mengapa, namun dengan syarat sarana tersebut tidak mengandung suatu yang diharamkan, seperti berdusta atau memerankan peran orang kafir….dst.

            Jadi perbedaannya jauh buanget antara MAW dan utsaimin, yang satu bilang syirik yang satu membolehkan, akhirnya pada bingung yang mana yang diikutin ya !!!!!

          5. Bismillaah,

            Simak dengan teliti hadits yang anda sampaikan. Hadits tersebut menyatakan bahwa yang sampai kepada orang yang sudah meninggal adalah doa, bukan bacaan Qur’an, kecuali yang membaca Qur’an itu anak orang yang sudah meninggal sebagai hasil dari jerih payah orang tua.

            Wallaahu a’lam.

          6. @ibnu suradi
            Coba ente baca Buku Ar Ruh karangan Ibnu Qayyim Al Jauziah :

            ……. Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, dari Abdul Rahman Bin Al-Ala’ bin Lajlaj, dari ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al-Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.
            Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik penolakanku) itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.
            Berkata Al- Hasan bin As-sabbah Az-za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !
            Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshor, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasa mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu dari pada Al-Qur’an.
            Coba baca lagi kitab Fatawa Ibnu Taimiyah :

            Dan ditanyai (Ibnu Taimiyyah) mengenai (hadits): “bertahlil 70,000 kali dan dijadikan hadiah (pahalanya) kepada orang mati, agar menjadi terbebasnya bagi si mati dari api neraka”, adakah hadits tersebut shahih atau tidak? Dan apabila bertahlil seseorang dan dihadiahkan (pahalanya) kepada orang mati adakah pahalanya sampai kepada si mati atau tidak?
            Maka dijawab (oleh Ibnu Taimiyyah) : “Apabila bertahlil seseorang dengan yang sedemikian 70,000 atau kurang atau lebih dan dihadiahkan kepada si mati, Allah menjadikannya bermanfaat baginya dengan yang demikian itu. Dan hadist tersebut tidaklah shahih dan tidak juga dhoif (yakni tidak tsabit kedudukan hadist tersebut di sisi Ibnu Taimiyyah). Allah lah yang Maha Mengetahui”.

            Sekarang terserah ente.

      1. kata IS :

        Adapun membaca Al-fatihah utk orang meninggal tdk ada dasar kuat utk syari’atnya

        Wahaby berpendapat pahala membaca Alqur’an utk orang tua yg meninggal Insya Allah sampai. namun yg perlu di perhatikan adalah membaca saja, tidak ada rangkaian spt tahlilan. .

        kan saya tidak menyebut tahlilan, meski kami memang melakukan tahlilan, karena isinya yah membaca Qur’an juga kan ?

        tanpa tahlilanpun…kami bisa membaca Qur’an untuk mayyit, meski hanya baca Al-Fatihah…..

        gimana tanggapan ente ???

  30. aneh sama wahabi besek dibawa bawa untuk menuduh tahlilan salah.
    malahan dari tahapan tahlilan ngasih besek itu yang paling soheh riwayatnya dan semua ulama mengakuinya. ngak percaya !!!!!! nih sy jelasin
    tahapan tahlilan ersi standar
    1. tawasul
    2. baca yasin
    3. baca tahlil
    4. do’a
    5. makan bersama atau ngasih besek yang semampu keluarga yang meninggal.

    dari tahapan 1 s/d 3 masih dalam khilafiyah artinya ada yang bilang sampai ada yang tidak
    sedangkan 4 & 5 semua ulama bilang sampai. bukankan makan bersama atau ngasih besek adalah sedekah yang pahalanya akan sampai kepada mayit.

    jadi jika wahabi mempermasalahkan pemberian besek maka dia menyalahi dalil yang dia punya.

    1. Rony, rony, di mana ada wahabi nyalahin besek? Karena di Arab nggak ada, bid’ah gitu? Gile aja lu :D. Saya percaya ngasih makan sampai hari ke-7 dan pahalanya disedekahkan ke mayit, bisa membantu mayit karena saat itu mayit sedang diuji dengan pertanyaan kubur. Dalilnya adalah hadits Thawus walaupun marfu’ tapi ada hadits penguat lain. Lha kalau hari ke 40, 100, 1000, dan haul tiap tahun, ini dari mana dalilnya? Kepercayaan turun-temurun adaptasi kepercayaan Hindu?

      1. yang gile antum mungkin.
        kalo 1 s/d 7 boleh kenapa 40, 100, 1000 ngak boleh apa bedanya sama sama hari.
        dan sedekah mau kapan dan dimanapun boleh termasuk 40,100,1000 atau satu tahun sekali mau seumur hidup sekalipun ngak apa apa.

      2. tambahan bukannya kalian wahabi kalo ada yang meninggal ngak boleh ngasih makan ngasih sedekah. buktinya ada orang dikita yang kalo dikasih besek dari yang tahlilan langsung dibuang ngak dimakan katanya ngak boleh makan dari keluarga yang udah meninggal.

  31. Hati2 Ummati, sekarang makin banyak blog pembela sunnah / Aswaja hilang dari dunia online, mungkin dihack begundal2 Wahabi Busuk yg tak tahan dikritik. Maklum lah, mereka anti kritik, yg punya kemampuan hackking pasti akan berupaya full membantai blog-blog pembela sunnah.

    Karena itu, Ummati jangan lupa backup full juga. Biar kalau dihack bisa online lagi dg tampilan yg sama. Pokoknya Ummati pasti lah sudah tahu apa yg harus dilakukan demi tetap eksisnya blog kesayanagn ana ini. Mohon maaf, ana hanya mengingatkan.

  32. Ada khilaf ulama ttg mengirim pahala membaca Alqur’an utk orang yg sdh meninggal.
    Dan saya mengambil / meyakini yg Insya Allah sampai pahala membaca Al-Qur’an.

    Namun yg perlu di perhatikan,……. tidak ada peng-khususan dg Surat Al-Fatihah.
    maksud peng-khususan tentu selalu membaca Al-Fatihah bila ingin mengirim pahala membaca Al-Qur’an.

    sebagai contoh saya, bila ingin mengirim pahala membaca Al-Qur’an utk bapak ana yg sudah meninggal, membaca surat apa saja terserah asal tidak di khusus-kan surat tertentu.
    mau Al-Fatihah, mau Al-Baqarah, mau Al-Alaq, terserah…………..asal tidak di khususkan Al-Fatihah, atau di khususkan Al-Alaq, atau di khususkan Al-Baqarah.

    Akhi Nasrulloh, antum sama spt ana, suka sekali memcari kebenaran.
    pesan ana , datangilah ustad wahaby/ salafy. tanggalkan fanatisme golongan, tanggalkan kecurigaan dulu.
    gali informasi atau cari ilmu dg ustd wahaby sebanyak-2nya, baru antum simpulkan.

    ketahuilah akhi, sebagaian besar salafiyun dulu adalah seperti kebanyakan orang, adalah penentang dakwah salafy. bahkan di tempat kami ustad dan jamaahnya semua bermula dari non wahaby.

    mohon maaf jika tidak nyambung dan tdk berkenan.

    Namun sekali lagi, kalo dlm tahlilan cara dan rangkaiannya tidak ada tuntunan dr Rasullullah, maupun sahabat.

    1. kang is ngak ada tuh yang mewajibkan membaca sesuatu pada tahlilan. bacaan standar yang tahlilan itu di ambil dari quran dengan memilah bacaan yang mempunyai nilai plusnya sesuai dengan acara tersebut. yang menyusunpun memiliki dalil kenapa bacaan itu yang dipakai. trus kalo mau yang lain bisa aja.

      apakah anda menyakini bahwa setiap bacaan alquran ada nilai plusnya masing masing?

  33. kecuali yang membaca Qur’an itu anak orang yang sudah meninggal sebagai hasil dari jerih payah orang tua…kata Kang Suradi…

    misal saya membaca Al-Fatihah utk ortu saya jika sudah meninggal nanti…artinya sampai kan?

    kenapa kata IS : Adapun membaca Al-fatihah utk orang meninggal tdk ada dasar kuat utk syari’atnya, Wahaby berpendapat pahala membaca Alqur’an utk orang tua yg meninggal Insya Allah sampai. namun yg perlu di perhatikan adalah membaca saja, tidak ada rangkaian spt tahlilan. .

    ada 2 kalimat yg membingungkan oleh IS tampilkan…..

    kata kang Ucep dari nukilannya : Utsaimin dalan bukunya Bab IV “Sarana-sarana dakwah kepada Allah dan metodenya”. dikatakan – Jika memungkinkan bagi seseorang menggunakan wasilah/sarana dengan cara ini maka tidak diragukan lagi inilah sarana yang terbaik dan jika memandang perlu menyertakannya dengan sarana lain yang dibolehkan Allah maka tidak mengapa, namun dengan syarat sarana tersebut tidak mengandung suatu yang diharamkan, seperti berdusta atau memerankan peran orang kafir….dst.

    bukankah dg tahlilan akan sampai juga pahala dari hadiah bacaan Al-Qur’an baik dari anaknya dan lainnya….

  34. Bismillaah,

    Kang Nasrulloh,

    Jika anda mau membaca Qur’an, shalat, puasa, berinfak, dll, maka pahalanya otomatis mengalir ke orang tua anda sebab anda merupakan hasil jerih payah orang tua anda. Dalilnya adalah sebagai berikut:

    “Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” [HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa-i no. 4451. Shahih].

    Jadi, yang merasa menjadi anak dari bapak dan ibunya dipersilahkan beramal shalih sebanyak-banyaknya sehingga orang tuanya mendapatkan kebaikan dari amalan anaknya tersebut.

    Wallaahu a’lam.

    1. kalo bagi saya sih sudah selesai, karena lingkupnya anak yg membaca Qur’an/do’a untuk ibu bapaknya yg sudah meninggal pasti pahalanya akan sampai.

      kalau org lain berdo’a/baca Qur’an untuk orang lain yg sudah meninggal pahalanya sampai kepada org yg sudah meninggal tsb, mungkin dari rekan-2 ummati lainnya yg bisa menanggapi/menambahkan…..

  35. Masalah seorang berdoa untuk orang lain yang sudah meninggal juga sudah jelas. Bukankah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengarjarkan kepada umat Islam untuk berdoa: “Ya, Allah. Ampunilah kaum mukminin dan mukminat baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.”

    Tentang pahala bacaan Qur’an seseorang untuk orang lain yang sudah meninggal, maka Imam Syafii mengatakan: “Tidak sampai”. Saya mengikuti pendapat beliau.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Waktu ane tanya ente bermadzhab, ente gak jawab, karena ente pegang Madzhab Imam syafi’i, ini tambahan buat ente ya.
      Coba baca Kitab Mukhtasar Imam Muzani atau Kitab Imam Nawawi, biar jelas terus padukan sama kitab Al Umm Imam Syafi’i. Dalam beberapa kitab ya ane ambil.

      Imam an-Nawawi dalam Kitab : al-Minhaj syarah Shahih Muslim :
      “… dan yang masyhur didalam madzhab kami (syafi’iyah) bahwa bacaan al-Qur’an pahalanya tidak sampai kepada mayyit, sedangkan jama’ah dari ulama kami (Syafi’iyah) mengatakan pahalanya sampai dan dengan ini Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat, “…… pahala bacaaan al-Qur’an tidak sampai kepada mayit merupakan qaul yang lemah dan sebagian ashhab kami –syafi’iyyah – mengatakan sampai pahalanya kepada mayit, merupakan qaul yang kuat atau mukmatad”.

      “Adapun pembacaan al-Qur’an, yang masyhur dari madzhab asy-Syafi’i pahalanya tidak sampai kepada mayyit, sedangkan sebagian ashabusy syafi’i (‘ulama syafi’iyah) mengatakan pahalanya sampai kepada mayyit, dan pendapat kelompok-kelompok ulama juga mengatakan sampainya pahala seluruh ibadah seperti shalat, puasa, pembacaan al-Qur’an dan selain yang demikian, didalam kitab Shahih al-Bukhari pada bab orang yang meninggal yang memiliki tanggungan nadzar, sesungguhnya Ibnu ‘Umar memerintahkan kepada seseorang yang ibunya wafat sedangkan masih memiliki tanggungan shalat supaya melakukan shalat atas ibunya, dan diceritakan oleh pengarang kitab al-Hawi dari ‘Atha’ bin Abu Ribah dan Ishaq bin Ruwaihah bahwa keduanya mengatakan kebolehan shalat dari mayyit (pahalanya untuk mayyit). Asy-Syaikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad Hibbatullah bin Abu ‘Ishrun dari kalangan syafi’iyyah mutaakhhirin (pada masa Imam an-Nawawi) didalam kitabnya al-Intishar ilaa ikhtiyar adalah seperti pembahasan ini. Imam al-Mufassir Muhammad al-Baghawiy dari anshabus syafi’i didalam kitab at-Tahdzib berkata ; tidak jauh (tidaklah melenceng) agar memberikan makanan dari setiap shalat sebanyak satu mud, dan setiap hal ini izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah qiyas atas do’a, shadaqah dan haji, sesungguhnya itu sampai berdasarkan ijma’.”

      Dalam Kitab : Mughni Muhtaj lil-Imam al-Khatib as-Sarbini Bab : 4 hal : 110
      “dan diceritakan oleh mushannif didalam Syarh Muslim dan al-Adzkar tentang suatu pendapat bahwa pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayyit, seperti madzhab Imam Tiga (Abu Hanifah, Maliki dan Ahmad bin Hanbal) dan sekelompok jama’ah dari al-Ashhab (ulama Syafi’iyyah) telah memilih pendapat ini, diantaranya seperti Ibnu Shalah, al-Muhib ath-Thabari, Ibnu Abid Dam, shahib ad-Dakhair juga Ibnu ‘Abi Ishruun, dan umat Islam beramal dengan hal tersebut, apa yang oleh kaum Muslimin di pandang baik maka itu baik disisi Allah.
      Imam As-Subki berkata : .. dan yang menujukkan atas hal tersebut adalah khabar (hadits) berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an apabila di tujukan (diniatkan) pembacaannya niscaya memberikan manfaat kepada mayyit dan meringankan (siksa) dengan kemanfaatannya. Apabila telah tsabit bahwa surah al-Fatihah ketika di tujukan (diniatkan) manfaatnya oleh si pembaca bisa bermanfaat bagi orang yang terkena sengatan, sedangkan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam taqrir atas kejadian tersebut dengan bersabda : “Dari mana engkau tahu bahwa surah al-Fatihah adalah ruqiyyah ?”, jika bermanfaat bagi orang hidup dengan mengqashadkannya (meniatkannya) maka kemanfaatan bagi mayyit dengan hal tersebut lebih utama”.

      Kalau ente ngambil pendapat ente itu, mungkin ente baca Kitab Tafsir Ibnu Katsir, tapi gak apa2 yang penting ente bisa terapinnya, sebab 3 Madzhab mengatakan sampai pahalanya, kenapa Imam Syafi’i tidak, penjelasannya dah ane jawab ya.
      Tapi terserah ente percaya apa tidak ya !!!!

      1. naaaah jadi nyambung nih dari ane….menurut ilmu yg dimiliki Kang Suradi, orang tua Rosululloh SAW itu, kafir yg berarti masuk neraka, atau masuk Syurga? karena Orang Tua Rosululloh SAW kan meninggal ketika Rosululloh SAW masih kecil, ingat poin : anak yg membaca Qur’an/do’a untuk ortu nya yg sudah meninggal, pahalanya akan sampai….dan ingat bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Rosul Alloh SWT, Nabi terakhir, manusia paling sempurna di bumi ini….

        silahkan ditanggapi….

        1. Anda salah poin di sini. Amal kebajikan orang kafir tidak dihitung, lenyap bagaikan debu yang ditiup angin. Kebaikan orang kafir sudah dibalas secara sempurna di dunia. Biasanya ini adalah pertanyaan pancingan, setelah dijawab, lalu muncul balasan semisal “wahabi bergembira orang tua Nabi SAW masuk neraka”.

          Memang kebanyakan Asjam lebih mengedepankan akal daripada dalil. Orang tua Rasulullah SAW kok kafir, padahal beliau kan makhluk yang paling dicintai Allah? Kalau Qadarallah begitu, masak mau membantah?

          Ya begitulah, kalau orang tua Rasulullah tidak bisa “diislamkan”, ya berantakan itu hadits palsu tentang Nur Muhammad. Makanya mereka harus dibuat tidak kafir, terus ke atasnya juga bapak Nabi Ibrahim juga tidak kafir. Jadi untuk membuat satu dusta, harus membuat beberapa dusta pendukungnya.

          1. hebat bgt si bedul dAh bisa lebih pintar dari Rosululloh SAW, nauzubillah…ampe merinding ada org yg merasa lebih berilmu dari para ulama salaf…bukan SAWAH loh yah…apalagi merasa lebih berilmu dari Rosululloh SAW, tanpa dia menunjukkan bukti2 nya….

          2. @Abdullah

            “Dan kami tak akan menyiksa suatu kaum sebelum kami membangkitkan Rasul” (QS. Al-Isra : 15)

            Bahkan Nabi saw sendiri menjelaskan bahwa bahwa ayah – ayahnya adalah suci, sebagaimana sabda beliau saw :
            “aku Muhammad bin Abdillah bin Abdulmuttalib, bin Hasyim, bin Abdumanaf, bin Qushay, bin Kilaab, bin Murrah, bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nadhar bin Kinaanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudharr bin Nizaar, tiadalah terpisah manusia menjadi dua kelompok (nasab) kecuali aku berada diantara yang terbaik dari keduanya, maka aku lahir dari ayah ibuku maka tidaklah aku terkenai oleh ajaran jahiliyah, dan aku terlahirkan dari nikah (yang sah), tidaklah aku dilahirkan dari orang jahat sejak Adam sampai berakhir pada ayah dan ibuku, maka aku adalah pemilik nasab yang terbaik diantara kalian, dan sebaik – baik ayah nasab”. (dikeluarkan oleh Imam Baihaqi dalam dalail Nubuwwah dan Imam Hakim dari Anas ra).

            Dikatakan oleh Al Qadhiy Abubakar Al A’raabiy bahwa orang yang mengatakan ayah bunda Nabi di neraka, mereka di Laknat Allah swt, karena Allah swt telah berfirman : “Sungguh mereka yang menyakiti Allah dan Nabi-Nya mereka dliaknat Allah di dunia dan akhirat, dan dijanjikan mereka azab yang menghinakan” (QS Al Ahzab 57) maka berkata Qadhiy Abubakar tiadalah hal yang lebih menyakiti Nabi saw ketika dikatakan ayahnya di neraka.(Masalikul hunafa’ hal 75 li Imam Suyuti)
            ——————————————————————————————–

            “Dari Anas bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “Ya, Rasulullah, dimanakah ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ Dia di neraka” . Ketika orang tersebut hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.(HR Muslim)”.

            Berkata Al hafidh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi dalam kitabnya Masalikul hunafaa’ fi abaway mustofa, bahwa Riwayat hadits Shahih Muslim itu diriwayatkan oleh Hammad, dan ia adalah Muttaham (tertuduh), dan Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits lain darinya hanya ini (hadits seperti ini dinamakan hadits aahaad), dan riwayat hadits itu (ayahku dan ayahmu di neraka) adalah hadits riwayat Hammad sendiri, dan Hammad diingkari sebagai orang yang lemah hafalannya, dan ia terkelompok dalam hadits – hadistnya banyak diingkari, karena lemah hafalannya. Walaupun hadist ini shohih, tapi dihukumkan juga sebagai khabar ahad.

            Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi : “ketika kabar dari aahaad bertentangan dengan Nash Alqur’an atau Ijma, maka wajib ditinggalkan dhohirnya” (Syarh Muhadzab Juz 4 hal 342)

            Berkata Hujjatul Islam Al Imam Ibn hajar Al Atsqalaniy yang menyampaikan ucapan Al Kirmaniy bahwa yang menjadi ketentuannya adalah Kabar Aaahaad adalah hanya pada amal perbuatan, bukan pada I’tiqadiyyah (Fathul baari Almasyhur)

            Berkata Imam Al Hafidh Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy bahwa hadits riwayat Muslim abii wa abaaka finnaar (ayahku dan ayahmu di neraka), dan tidak diizinkannya Nabi saw untuk beristighfar bagi ibunya telah MANSUKH (diubah dan terhapus) dengan firman Allah swt : “Dan kami tak akan menyiksa suatu kaum sebelum kami membangkitkan Rasul” (QS. Al-Isra : 15)

  36. saya mau nanya ke wahabi

    misalnya ada si a pernah ngasih uang sama si b buat jajan. trus si a ini meninggal lalu si b merasa bahwa si a pernah berbuat baik pada dia dia ingin membalas kebaikan sia tadi tapi dia ngak punya duit untuk sedekah trus si b baca quran lalu si b menghadiahka pahala ya dia ke si a.
    pertanyaannya
    apakah pahala bacaan quran si b yampe atau tidak ?

  37. Bismillaah,

    Kang Ronny,

    Kalau kita memiliki hutang budi kepada orang yang sudah meninggal, maka berdoalah untuknya. Mintalah kepada Allah ampunan untuknya. Sebenarnya yang dibutuhkan orang yang sudah meninggal adalah ampunan dari Allah. Bila sudah diampuni, maka selamatlah dia di alam kubur, Padang Ma’syar, Hari Hisab dan akhirnya masuk surga.

    Maka, mohon ampunan dan rahmat Allah untuk orang yang sudah meninggal.

    Wallaahu a’lam.

  38. AWAS VIRUS WAHABI …..

    1.Ada pembalikan skala prioritas pada cara berpikir dan bertindaknya. Misalnya, mereka lebih memilih meneriakan slogan bid’ah-sesat pada orang yang merayakan acara maulid, ziarah kubur, dll yang hukumnya masih mukhtaf fihi, walapun berpotensi mengancam persatuan umat. Karena jelas sikap keras itu akan menimbulkan ketersinggungan dan menimbulkan aksi balas yang kontra-produktif.

    2.Dalam bidang pengetahuan agama, mereka terlalu konsen dengan menghafalkan tumpukan matan-syarah kitab, dan sibuk dengan fikih furu’iyah yang sering tidak di bandingi dengan pengetahuan kontemporer, sehingga yang terjadi adalah keluarnya fatwa-fatwa keras pada soal khilafiyah yang sering bertabrakan dengan kemaslahatan umat.

    3.Menutup pintu kebenaran dari pendapat orang lain. Seolah yang benar hanya dirinya saja. Efeknya mereka menekan orang lain untuk ikut pendapatnya. Bahkan sebagian dari mereka tak segan untuk menyesatkan ulama yang berfatwa kebalikan dari pendapatnya. Lihat misalnya kasus yang menimpa pengarang buku best seller, La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni yang dikecam habis gara-gara berfatwa wanita boleh tak memakai cadar dan boleh ikut pemilu. Hal yang sama juga pernah menimpa almarhum Syeikh Ghazali dan Syeikh Qaradhawi.

    4.Sering me-blowup permasalahan ajaran sufi, ziarah kubur, maulid nabi, tawasul dan sejenisnya, seolah-olah ukuran tertinggi antara yang hak dan bathil. Tapi pada saat yang sama mereka tidak peduli pada kebijakan publik dari pemerintahnya yang kadang tidak berpihak pada kepentingan rakyat dan umat Islam. Mereka taat total pada penguasa yang kadang kebijakannya tidak arif. Sangat jarang, kalau tak dikatakan tak ada, tokoh-tokoh Wahabi melakukan kritik pedas pada pemerintahan Arab saudi soal soal sistem pemerintah, kebijakan penjualan minyak, kebijakan politik luar negeri, lebih-lebih mengkritik “kedekatan” pemerintahanya sama Amerika dan sekutunya.

    5.Terlalu mengagungkan tokoh-tokoh kuncinya, semisal Ibnu Taymiah, Bin Baz, dll, sehingga mengurangi nalar kritis. Padahal, pada saat yang sama mereka berteriak anti taklid!

    6.Terlalu asyik dengan permasalahan mukhlataf fihi, sehingga sering lalai dengan kepentingan global umat Islam

    7.Terlalu tekstualis, sehingga sering menyisihkan pentingnya akal dan kerap Alergi dengan hal-hal baru.

    Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi : Ke mana-mana selalu menyebarkan salam. Selalu memakai baju bercorak gamis dan celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab. Jenggotnya dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya pemberlakuan syariat Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bidah, dan khurafat. Referensinya, al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya serba keren, valid, islami. Begitulah kira-kira penampilan kaum Wahabi. Sepintas dan secara lahiriah meyakinkan, mengagumkan.

    1. Astaghfirullah..,jenggot lebat itu anjuran rosul bung.Ente bilang jenggot lebat terkesan menyeramkan sama aja ente menyelisihi sunnah rosul.Sama aja ente bilang Rosul itu menyeramkan.Bukankah rosul pernah memerintahkan kepada umatnya untuk mencukur kumis dan memanjangkan jenggot?.Ente mengaku umat Rosul tapi kok menghina orang yang ingin melaksanakan perintah Rosul.Kalo ente tidak bisa menjalankan perintah Rosul jangan mengaku umat Rosul.Semoga ente diberikan hidayah.

  39. oh berarti kita dapat menambil manfaat dari yang hidup jika kita udah meninggal meskipun yang hidup itu ngak ada hubungan darah.
    jadi boleh dong kalo seorang anak atau ahli waris mengundang orang lain untuk berkumpul bersama dan mendoakan orang yang udah meninggal?

    1. Jadi Tommy Winata misalnya sebelum mati tobat, terus ahli warisnya pergi ke kampung Asjam, lalu kasih duit 10 milyar hasil dari suap, judi & narkoba, minta bacain Qur’an 1 juz perhari selama 1 tahun pahalanya untuk dia, terus bisa masuk surga, gitu?

      1. tergantung ente yakin ngak diakhirat ada mizan, bukankan semua diperhitungkan. mau kamu nanam baik atau buruk semuanya masuk itungan. apakah kamu yakin dengan baca 1 juz perhari selama satu tahun bisa masuk surga.

        jangankan tommy winata sebelum mati tobat nasuha bisa masuk surga atau enggak kang abdullah firaun juga kalo sebelum mati taubat nasuha mah masuk surga,

        bukankan ente kalo doa untuk seluruh muslim yang udah meninggal semua dapat hasil doa kamu termasuk didalamnya muslim muslim yang mempunyai dosa besar.

        trus catatan penting yang nentuin makhluk masuk surga cuma alloh. kami ngak pernah menyebutkan kalo melakukan amalan tertentu pasti masuk surga.

  40. Ane baca Kitab kumpulan Cacian Albani yang ditujukan kepada para Ulama sekarang maupun ulama kontemporer dengan menyebutkan kata-kata :

    Jahil (orang bodoh), Halik (binasa), Muta’ashshib (fanatik), Azhim ul-ghaflah (sangat sembrono), Thabl la yadri ma yakhruj min ra’sih (gendang yang tidak tahu apa yang keluar dari kepalanya), Syiddatu humqih (sangat tolol), Dhahalatu aqlih (sesat otaknya), Rafidhi mitslu al-himar (dia seorang rafidhi seperti keledai), Istifhalu jahlil (ketololannya amat sangat!), Jahul (orang tolol!), Mubtadi’ (ahli bid’ah), Dhal (sesat), Kadzdzab (pendusta), Mumawwih (pemalsu), Mulabbis (penipu), Ghairu mu’tamin ‘ala din (tidak amanah dalam agama), Ka dhartati ‘air fi al-’ara (seperti ringkikan keledai liar di tanah lapang), Fanzhuru ila iffatihi bal ufunatih (lihatlah kebersihannya bahkan kebusukan-kebusukannya), Huwa akdzab min himari hadza (dia lebih dusta dari keledaiku ini), Himar khassaf (keledai dungu), Waqah (tidak punya rasa malu), Kanud (kufur nikmat).

    Pantaskah seorang Albani yang dikatakan seorang Muhadist oleh pengikut Wahabiyun ????. ane dapat dari Kitab : Qamus Syata’im al-Albani (Kumpulan cacian Al Albani), Pengarang : Sayyid Hasan bin Ali As-Segaf, Penerbit : Darul Imam Nawawi, Bairut Lebanon.

    Masya Allah, Allahumar Zuqni qalban taqiyyan, minasyirki naqiyyan, la jafiyan wala syaqiya. Amiin ya robbal alamin.

  41. Ya Mas Ucep, gaya albani yg kasar dikuti oleh para pengikutnya. Dan kahirnya menular ke kita-kita jadi ikut-ikutan gayanya. Ayokita perbaiki koment2 kita dg koment yg khas Aswaja. Santun dan bermartabat. Kita sebaiknya jangan terpengaruh oleh gaya Wahabi yg terinspirasi oleh gaya Albani.

  42. kalo di pukul rata tentu aliran sesat spt ahmadyah,dll kalo pakai hadist ini tentu mereka akan mengatakan hal sama kpd yg kontra.
    maka tentu wajib di rinci satu per satu apa benar amalan-2 an tsb ada celah utk di katakan bid’ah. jika Rasulullah tdk memberi contoh, khulafaur Rasyidin, sahabat tidak melakukan maka ibadah dan amalan tsb tentu bid’ah. bukankah Rasulullah mengatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat dan sesat tempatnya di neraka. Adapun makna bid’ah tentu yg secara istilah krn ibadah itu sdh petunjuknya, bukan inovasi atau modifikasi manusia.
    Sedang bid’ah secara bahasa spt TV,hp,mobil, komputer maka hukumnya boleh.

    1. setiap bid’ah adalah sesat, tp tv, radio, motor, mobil memang bid’ah tp diperbolehkan, itu kata IS, mau tanya dalil atau di Qur’an surata mana dan hadist yg mana menerangkan tv, radio, mobil, motor itu bid’ah yg diperbolehkan??????????

  43. saya menyenangi nasyiruddin albani, syech Abdurahman al Jibrin, abdul aziz bin baz, DR. Aid al qorni karena beliau-beliau lah yang memberantas syirik, bid’ah, tahayul dan kurafat. saya pribadi ingin beragama itu, apa yang dibawakan nabi Muhammad saw itulah yang saya laksanakan/amalkan karena Islam itu sudah sempurna, hanya orang-bodoh-bodoh akhiratlah yang menambah-nambah islam.

    1. mas samsul bahri, saya menghargai anda menyenangi siapapun ulama yg anda senangi dan kagumi, akan tetapi kita harus faham bahwa yg namanya ulama adalah seorang yg memiliki keistimewaan yg diwariskan oleh Rasulullah SAW. bagaimana mungkin seorang ulama yg anda kagumi sebagai ulama salaf mempunyai sifat dan tingkah laku yg justru sangat bertentangan dg prilaku ulama salaf dan khalaf?apakah dibenarkan ulama mengkafirkan orang lain yg beda pendapat? bukanlah termasuk umatku yg suka menghina n menjelek2an ulama (HR.Ahmad,Thabrani n Hakim). menyakiti binatang aja sdh dilarang apalagi menyakiti hati manusia. tp jgn sampe ada alasan kita boleh menghujat dg alasan bhw kebenaran harus disampaikan. mudah2an kita tdk termasuk orng yg mencintai seeorang akan tetapi sesungguhnya dpt menjerumuskan kita.

  44. @Syamsul Bahrie:
    syekh Albani sebelum wafatnya sudah taubat dan akidahnya mengikti faham Asya’ari…sehingga sebagian kaum Wahabi yg telah mengetahui ini mengkafirkan syekh Al-bani. apakah anda belum pernah membaca perihal ini?

Tinggalkan Balasan

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker