Inspirasi Islam

Isbal Tidak Otomatis “nyombong”, Artinya Juga tidak Otomatis Haram!

Isbal Fahami Sebaiknya; Hukum Isbal

Celana Cingkrang Solusi Isbal?

Dari Ibnu ‘Umar diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar bertanya, “Sesungguhnya sebagian dari sisi sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Rasulullah Saw menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” [HR. Jama’ah, kecuali Imam Muslim dan Ibnu Majah dan Tirmidizi tidak menyebutkan penuturan dari Abu Bakar.]

Dari Ibnu ‘Umar dituturkan bahwa Rasulullah Saw telah bersabda: “Isbal itu bisa terjadi pada sarung, sarung dan jubah. Siapa saja yang memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah swt tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” [HR. Abu Dawud, an-Nasa`i, dan Ibnu Majah]

Kata khuyalaa’ berasal dari wazan fu’alaa’. Kata al-khuyalaa’, al-bathara, al-kibru, al-zahw, al-tabakhtur, bermakna sama, yakni sombong dan takabur.

Mengomentari hadits ini, Ibnu Ruslan dari Syarah al-Sunan menyatakan, “Dengan adanya taqyiid “khuyalaa’” (karena sombong) menunjukkan bahwa siapa saja yang memanjangkan kainnya melebihi mata kaki tanpa ada unsur kesombongan, maka dirinya tidak terjatuh dalam perbuatan haram. Hanya saja, perbuatan semacam itu tercela (makruh).”

Imam Nawawi berkata, “Hukum isbal adalah makruh. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Syafi’iy.”

Imam al-Buwaithiy dari al-Syafi’iy dalam Mukhtasharnya berkata, “Isbal dalam sholat maupun di luar sholat karena sombong dan karena sebab lainnya tidak diperbolehkan. Ini didasarkan pada perkataan Rasulullah Saw kepada Abu Bakar ra.”

Namun demikian sebagian ‘ulama menyatakan bahwa khuyala’ dalam hadits di atas bukanlah taqyiid. Atas dasar itu, dalam kondisi apapun isbal terlarang dan harus dijauhi. Dalam mengomentari hadits di atas, Ibnu al-‘Arabiy berkata, “Tidak diperbolehkan seorang laki-laki melabuhkan kainnya melebihi mata kaki dan berkata tidak ada pahala jika karena sombong. Sebab, larangan isbal telah terkandung di dalam lafadz. Tidak seorangpun yang tercakup di dalam lafadz boleh menyelisihinya dan menyatakan bahwa ia tidak tercakup dalam lafadz tersebut; sebab, ‘illatnya sudah tidak ada. Sesungguhnya, sanggahan semacam ini adalah sanggahan yang tidak kuat. Sebab, isbal itu sendiri telah menunjukkan kesombongan dirinya. Walhasil, isbal adalah melabuhkan kain melebihi mata kaki, dan melabuhkan mata kaki identik dengan kesombongan meskipun orang yang melabuhkan kain tersebut tidak bermaksud sombong.”

BACA JUGA:  Kembali Ke Ulama Nusantara

Mereka juga mengetengahkan riwayat-riwayat yang melarang isbal tanpa ada taqyiid. Riwayat-riwayat itu diantaranya adalah sebagai berikut:

“Angkatlah sarungmu sampai setengah betis, jika engkau tidak suka maka angkatlah hingga di atas kedua mata kakimu. Perhatikanlah, sesungguhnya memanjangkan kain melebihi mata kaki itu termasuk kesombongan. Sedangkan Allah SWT tidak menyukai kesombongan.” [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim].

“Tatkala kami bersama Rasulullah Saw, datanglah ‘Amru bin Zurarah al-Anshoriy dimana kain sarung dan jubahnya dipanjangkannya melebihi mata kaki (isbal). Selanjutnya, Rasulullah Saw segera menyingsingkan sisi pakaiannya (Amru bin Zurarah) dan merendahkan diri karena Allah SWT. Kemudian beliau Saw bersabda, “Budakmu, anak budakmu dan budak perempuanmu”, hingga ‘Amru bin Zurarah mendengarnya. Lalu, Amru Zurarah berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya saya telah melabuhkan pakaianku melebihi mata kaki.” Rasulullah Saw bersabda, “Wahai ‘Amru, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Wahai ‘Amru sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang yang melabuhkan kainnya melebihi mata kaki.” [HR. ath-Thabarni dari haditsnya Abu Umamah] Hadits ini rijalnya tsiqah. Dzahir hadits ini menunjukkan bahwa ‘Amru Zurarah tidak bermaksud sombong ketika melabuhkan kainnya melebihi mata kaki.

BACA JUGA:  Kembali Kepada Al-Quran dan Al-Sunnah Cuma Jadi Jargon Keren

Riwayat-riwayat ini memberikan pengertian, bahwa isbal yang dilakukan baik karena sombong atau tidak, hukumnya haram. Akan tetapi, kita tidak boleh mencukupkan diri dengan hadits-hadits seperti ini. Kita mesti mengkompromikan riwayat-riwayat ini dengan riwayat-riwayat lain yang di dalamnya terdapat taqyiid (pembatas) “khuyalaa’”. Kompromi (jam’u) ini harus dilakukan untuk menghindari penelantaran terhadap hadits Rasulullah Saw. Sebab, menelantarkan salah satu hadits Rasulullah bisa dianggap mengabaikan sabda Rasulullah Saw. Tentunya, perbuatan semacam ini adalah haram.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, yakni perkataan Rasulullah Saw kepada Abu Bakar ra (“Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”), menunjukkan bahwa manath (obyek) pengharaman isbal adalah karena sombong. Sebab, isbal kadang-kadang dilakukan karena sombong dan kadang-kadang tidak karena sombong. Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar telah menunjukkan dengan jelas bahwa isbal yang dilakukan tidak dengan sombong hukumnya tidak haram.

Atas dasar itu, isbal yang diharamkan adalah isbal yang dilakukan dengan kesombongan. Sedangkan isbal yang dilakukan tidak karena sombong, tidaklah diharamkan. Imam Syaukani berkata, “Oleh karena itu, sabda Rasulullah Saw, ‘Perhatikanlah, sesungguhnya memanjangkan kain melebihi mata kaki itu termasuk kesombongan.’ [HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi dari haditsnya Jabir bin Salim], harus dipahami bahwa riwayat ini hanya berlaku bagi orang yang melakukan isbal karena sombong. Hadits yang menyatakan bahwa isbal adalah kesombongan itu sendiri —yakni riwayat Jabir bin Salim—harus ditolak karena kondisi yang mendesak. Sebab, semua orang memahami bahwa ada sebagian orang yang melabuhkan pakaiannya melebihi mata kaki memang bukan karena sombong.

BACA JUGA:  Ustadz Firanda Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (2)

Selain itu, pengertian hadits ini (riwayat Jabir bin Salim) harus ditaqyiid dengan riwayat dari Ibnu ‘Umar yang terdapat dalam shahihain….Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah yang menyatakan bahwa Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong hadir dalam bentuk muthlaq, sedangkan hadits yang lain yang diriwayatkan Ibnu ‘Umar datang dalam bentuk muqayyad. Dalam kondisi semacam ini, membawa muthlaq ke arah muqayyad adalah wajib….”

Dari penjelasan Imam Syaukani di atas kita bisa menyimpulkan, bahwa kesombongan adalah taqyiid atas keharaman isbal. Atas dasar itu, hadits-hadits yang memuthlaqkan keharaman isbal harus ditaqyiid dengan hadits-hadits yang mengandung redaksi khuyalaa’. Walhasil, isbal yang dilakukan tidak karena sombong, tidak termasuk perbuatan yang haram.

Tidak boleh dinyatakan di sini bahwa hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar tidak bisa mentaqyiid kemuthlakan hadits-hadits lain yang datang dalam bentuk muthlaq dengan alasan, sebab dan hukumnya berbeda. Tidak bisa dinyatakan demikian. Sebab, hadits-hadits tersebut, sebab dan hukumnya adalah sama. Topik yang dibicarakan dalam hadits tersebut juga sama, yakni sama-sama berbicara tentang pakaian dan cara berpakaian. Atas dasar itu, kaedah taqyiid dan muqayyad bisa diberlakukan dalam konteks hadits-hadits di atas. [Tim Konsultan Ahli Hayatul Islam (TKAHI)]

http://jihadtegakislam.blogspot.com/2010/06/fahami-sebaiknya-hukum-isbal.html

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Isbal Tidak Otomatis "nyombong", Artinya Juga tidak Otomatis Haram!
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

36 thoughts on “Isbal Tidak Otomatis “nyombong”, Artinya Juga tidak Otomatis Haram!”

    1. Celana atau sarung, yg jauh diatas mata kaki atau sedikit dibawah lutut adalah pakaian orang yg sedang kebanjiran. ada lagi yg lucu kalau diluar masjid celananya dibawah mata kaki tapi kalau shalat dimasjid celananaya digulung diatas mata kaki seolah-olah takut terkena najis didalam masjid kalo diliuar gak, juga menurut saya kalau pakai sarung jauh diatas mata kaki bisa2 celana dalamnya bisa2 kelihatan waktu sujud sebab seperti halnya rok mini terlau tinggi.

      1. sedangkan celana atau sarung dll, yang melebihi dibawah mata kaki adalah pakaian orang yang sedang mengepel lantai yang abis kbanjiran, hahaha ini malah lebih lucu. justru yang dibawah mata kaki itu rawan terkena najis.

        * maukah anda memotong celana atau meninggikan sampai diatas mata kaki???
        – kalau mau berarti anda tidak sombong
        – kalau tidak, berarti jelas anda sombong karena hanya meninggikan saja anda tidak mau. naudzubillahimindzalik.

      2. Bung Rusli Zachri
        Yg anda maksud itu siapa? Coba anda perhatikan dengan seksama. Mereka itu yg takut dikatakan sombong, tetapi tidak takut daging di bagian bawah mata kakinya tersentuh api neraka.

  1. jadi pastinya “karena sombongnya” IYA KAN ???
    Allah berfirman :
    “janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh”
    yang ga boleh “berjalan”nya atau “angkuh”nya sih ??

    Sekarang dimana2 semua orang pakai celana dibawah mata kaki, lalu kalau kita pakai dibawah mata kaki mau sombong sama siapa ???
    sama aja kan walau celananya cingkrang tapi hatinya menyimpan kesombongan tetap aja haram … iya kan ?

  2. asalamualaikum..bukan masalah sombong atau pun tak sombong akhi..Mslah ini ada kesamaan dgn perintah bagi wanita untuk mnjulurkan pakaiannya agar dikenali sgbai wnita baik2..apa bisa mementingkan hasilnya saja drpd prosesnya jg..kan Dalil di atas2 sgla2nya , dan harus di luruska bila ada dalil lg..Mslh isbal adalh mslh yg bsar dimana Hadist yg memuat masalah ini bgtu bnyak..smga kt trus bristiqomah…

  3. Dari Abi Juhaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata.
    Aku melihat Nabi keluar dengan memakai Hullah Hamro’ seakan-akansaya melihat kedua betisnya yang sangat putih” [Tirmidzi dalam Sunannya 197, dalam Syamail Muhammadiyah 52, dan Ahmad 4/308]
    Ubaid bin Khalid Radhiyallahu ‘anhu berkata :

    “Tatkala aku sedang berjalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang di belakangku sambil berkata, “Tinggikan sarungmu! Sesungguhnya hal itu lebih mendekatkan kepada ketakwaan.” Ternyata dia adalah Rasulullah. Aku pun bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, ini Burdah Malhaa (pakaian yang mahal). Rasulullah menjawab, “Tidakkah pada diriku terdapat teladan?” Maka aku melihat sarungnya hingga setengah betis”.[Hadits Riwayat Tirmidzi dalam Syamail 97, Ahmad 5/364. dalam Mukhtashor
    Syamail Muhammadiyah, hal. 69].

    Kira-kira Rasul sombong gak ya….? Gak mungkinlah..!!
    Tapi pakaiannya kok di atas mata kaki ya…?

    Masya Allah…Sebenarnya yang kalian ikuti siapa…?
    Kalo kalian ngaku ngikuti Rasul, kok pada isbal ya….?
    Caapee deeh…!!!!

  4. Rasulullah bersabda :
    “Apa yang ada di bawah kedua mata kaki berupa sarung (kain) maka tempatnya di neraka” (HR.Bukhori)

    Dan beliau berkata lagi ;
    “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong”.

    dan dalam sebuah riwayat yang berbunyi :
    “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat di hari kiamat kepada orang-orang yang menyeret pakaiannya karena sombong.” (HR. Malik, Bukhari, dan Muslim)

    dan beliau juga bersabda :
    ” Ada 3 golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan ( dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim, Ibn Majah, Tirmidzi, Nasa’i).

    Musbil (pelaku Isbal) adalah seseorang yang menurunkan sarung atau celananya kemudian melewati kedua mata kakinya. Dan Al mannan yang tersebut pada hadist di atas adalah orang yang mengungkit apa yang telah ia berikan. Dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu adalah seseorang yang dengan sumpah palsu ia mempromosikan dagangannya. Dia bersumpah bahwa barang yang ia beli itu dengan harga sekian atau dinamai dengan ini atau dia menjual dengan harga sekian padahal sebenarnya ia berdusta. Dia bertujuan untuk melariskan dagangannya.

    Dalam sebuah hadist yang berbunyi :
    “Ketika seseorang berjalan dengan memakai perhiasan yang membuat dirinya bangga dan bersikap angkuh dalam langkahnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melipatnya dengan bumi kemudian dia terbenam di dalamya hingga hari kiamat. (HR. Mutafaqqun ‘Alaihi)

    Rasulullah bersabda :
    ” Isbal berlaku pada sarung, gamis, sorban. Siapa yang menurunkan sedikit saja karena sombong tidak akan dilihat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud dengan sanad Shohih).

    Hadist ini bersifat umum. Mencakup pakaian celana dan yang lainnya yang yang masih tergolong pakaian. Rasulallah Shallallahu ‘alaihi wassalam mengabarkan dengan sabdanya ;
    ” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima shalat seseorang yang melakukan Isbal.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Imam Nawawi mengatakan di dalam Riyadlush Sholihin dengan tahqiq Al Anauth hal: 358)

    Melalui hadist-hadist Nabi yang mulia tadi menyatakan bahwa menurunkan pakaian di bawah kedua mata kaki dianggap sebagai suatu perkara yang haram dan salah satu dosa besar yang mendapatkan ancaman keras berupa neraka. Memendekkan pakaian hingga setengah betis lebih bersih dan lebih suci dari kotoran kotoran . Dan itu juga merupakan sifat yang lebih bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .
    Oleh karena itu, wajib bagimu… wahai saudaraku muslimin…, untuk memendekkan pakaianmu diatas kedua mata kaki karena taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharapkan pahala-Nya dengan mentaati Rasullullah.

    Dan juga kamu melakukannya karena takut akan hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharapkan pahala-Nya. Agar engkau menjadi panutan yang baik bagi orang lain. Maka segeralah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melakkukan taubat nasuha (bersungguh-sungguh) dengan terus melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Dan hendaknya engkau telah menyesal atas apa yang kau perbuat.

    Hendaknya engkau sungguh-sungguh tidak untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dimasa mendatang, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat orang yang mau bertaubat kepada-Nya, karena ia maha Penerima Taubat lagi maha Penyayang.

    “Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala, terimalah taubat kami, sungguhnya engkau maha Penerima Taubat lagi maha Penyayang.”

    “Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala berilah kami dan semua saudara saudara kami kaum muslimin bimbingan untuk menuju apa yang engkau ridloi, karena sesungguh-Nya engkau maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Dan semoga shalawat serta salam tercurahkan kepada Muhammad, keluarganya dan sahabatnya.”

  5. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat kepada para hambanya berupa pakaian yang menutup aurat-aurat mereka dan memperindah bentuk mereka. Dan ia telah menganjurkan untuk memakai pakaian takwa dan mengabarkan bahwa itu adalah sebaik-baiknya pakaian.

    Saya bersaksi tidak ada yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha Esa. Tiada sekutu baginya miliknya segenap kekuasan di langit dan di bumi dan kepadanya kembali segenap makhluk di hari Akhir. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu ialah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak ada satupun kebaikan kecuali telah diajarkan beliau kepada ummatnya. Dan tidak ada suatu kejahatan kecuali telah diperingatkan beliau kepada ummatnya agar jangan mlakukannya. Semuga Shalawat serta Salam tercurah kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya dan orang yang berjalan di atas manhaj Beliau dan berpegang kepda sunnah beliau.

    “Wahai kaum muslimin, bertakwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman : ” Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah itu perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala mudah mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al A’raf -26)

    Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan nikmat kepada para hambaNya berupa pakaian dan keindahan. Dan pakaian yang dimaksudkan oleh ayat ini ialah pakaian yang menutupi aurat. Dan ar riisy yang dimaksud ayat ini adalah memperindah secara dlohir. maka pakaian adalah suatu kebutukan yang penting, sedangkan ar riisy adalah kebutuhan pelengkap.

    Imam Ahmad meriwatkan dalam musnadnya, beliau berkata :
    Abu Umamah pernah memakai pakaian baru, ketika pakaian itu lusuh ia berkata : “Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan pakai ini kepadaku guna menutupi auratku dan memperindah diriku dalam kehidupanku”, kemudian ia berkata : aku mendengar Umar Ibn Khattab berkata : Rasulullah bersabda : “Siapa yang mendapatkan pakaian baru kemudian memakainya. Dan kemudian telah lusuh ia berkata segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan pakaian ini kepadaku guna menutupi auratku dan memperindah diriku dalam kehidupanku dan mengambil pakaian yang lusuh dan menyedekahkannya, dia berada dalam pengawasan dan lindungan dan hijab Allah Subhanahu wa Ta’ala, hidup dan matinya.” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibn Majah. Dan Turmudzi berkata hadis ini gharib )

    Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan pakaian tubuh yang digunakan untuk menutup aurat, membalut tubuh dan memperindah bentuk, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan bahwa ada pakaian yang lebih bagus dan lebih banyak faedahnya yaitu pakaian taqwa. Yang pakaian taqwa itu ialah menghiasi diri dengan berbagai keutamaan-keutamaan. Dan membersihkan dari berbagai kotoran. Dan pakaian taqwa adalah tujuan yang dimaukan. Dan siapa yang tidak memakai pakaian taqwa, tidak manfaat pakaian yang melekat di tubuhnya. Bila seseorang tidak memakai pakaian taqwa, berarti ia telanjang walaupun ia berpakaian.

    Maksudnya :

    Pakaian yang disebut tadi adalah agar kalian agar mengingat nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyukurinya. Dan hendaknya kalian ingat bagaimana kalian butuh kepada pakaian dhahir dan bagaimana kalian butuh kepada pakaian batin. Dan kalian tahu faedah pakaian batin yang tidak lain adalah pakaian taqwa.

    Wahai para hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya pakaian adalah salah satu nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hambanya yang wajib disyukuri dan dipuji. Dan pakaian itu memiliki beberapa hukum syariat yang wajib diketahui dan diterapkan. Para pria memiliki pakaian khusus dalam segi jenis dan bentuk.
    Wanita juga memiliki pakaian khusus dalam segi jenis dan bentuk. Tidak boleh salah satunya memakai pakaian yang lain. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki laki.(HR Bukhari, Abu Daud, Turmudzi dan Nasa’i).

    Dan Nabi juga bersabda : “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat wanita yang memakai pakaian laki-laki dan laki-laki yang memakai pakaian wanita.”( HR Ahmad, Abu Daud, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban dan beliau mensahihkannya, serta Al Hakim, beliau berkata : Hadits ini shahih menurut syarat Muslim).

    Haram bagi pria untuk melakukan Isbal pada sarung, pakian, dan celana. Dan ini termasuk dari dosa besar.

    Isbal adalah menurunkan pakaian di bawah mata kaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman : “Dan janganlah engkau berjalan diats muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak suka kepada setiap orang yang sombong lagi angkuh.” ( Luqman: 18 )

    Dari Umar Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasullulah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
    “Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya di hari kiamat.” (HR Bukhari dan yang lainnya ).

    Dan dari Ibnu umar juga, Nabi bersabda :
    “Isbal berlaku bagi sarung, gamis, dan sorban. Barang siapa yang menurunkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat.” ( Hr Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dan hadits ini adalah hadits yang sahih ).

    Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
    “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong”. (Muttafaq ‘alaihi)

    Dalam riwayat Imam Ahmad dan Bukhari dengan bunyi :
    “Apa saja yang berada di bawah mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di Neraka.”

    Rasullullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :
    “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat. Tidak dilihat dan dibesihkan (dalam dosa) serta akan mendapatkan azab yang pedih, yaitu seseorang yang melakukan isbal (musbil), pengungkit pemberian, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (Hr Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

    Wahai para hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam keadaan kita mengetahi ancaman keras bagi pelaku Isbal, kita lihat sebagian kaum muslimin tidak mengacuhkan masalah ini. Dia membiarkan pakaiannya atau celananya turun melewati kedua mata kaki. Bahkan kadang-kadang sampai menyapu tanah. Ini adalah merupakan kemungkaran yang jelas. Dan ini merupakan keharaman yang menjijikan. Dan merupakan salah satu dosa yang besar. Maka wajib bagi orang yang melakukan hal itu untuk segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga segera menaikkan pakaiannya kepada sifat yang disyari’atkan.

    Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    “Sarung seorang mukmin sebatas pertengahan kedua betisnya. Tidak mengapa ia menurunkan dibawah itu selama tidak menutupi kedua mata kaki. Dan yang berada dibawah mata kaki tempatnya di neraka. (HR Malik dalam Muwaththa’ ,dan Abu Daud dengan sanad yang sahih)

    Ada juga pihak yang selain pelaku Isbal, yaitu orang-orang yang menaikan pakaian mereka di atas kedua lututnya, sehingga tampak paha-paha mereka dan sebagainya, sebagaimana yang dilakukan klub-klub olahraga, di lapangan-lapangan. Dan ini juga dilakukan oleh sebagian karyawan.

    Kedua paha adalah aurat yang wajib ditutupi dan haram dibuka. Dari ‘Ali Radiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
    “Jangan engkau singkap kedua pahamu dan jangan melihat paha orang yang masih hidup dan juga yang telah mati.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan Al Hakim. Al Arnauth berkata dalam Jami’il Ushul 5/451 : “sanadnya hasan”)

    Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat kepadaku dan anda sekalian melalui hidayah kitab-Nya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar kejadian mengikutinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala Ta’ala berfirman :
    “Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat keras hukuman-Nya (Al Hasyr : 7)

  6. Pertanyaan :
    Apakah hukumnya memanjangkan pakaian jika dilakukan karena sombong atau karena tidak sombong. Dan apa hukum jika seseorang terpaksa melakukakannya, apakah karena paksaan keluarga atau karena dia kecil atau karena udah menjadi kebiasaan ?

    Jawab :
    Hukumnya haram sebagaimana sabda Nabi :
    “Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di Neraka ” (HR.Bukhari dalam sahihnya )

    Imam Muslim meriwayatkan dalam shahih Abu Dzar ia berkata: Rasulullah bersabda: ” Ada 3 golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari Kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.” ( HR. Muslim, Ibn Majah, Tirmidzi, Nasa’i).

    Kedua hadist ini semakna dengan mencakup musbil yang sombong atau karena sebab lain. Karena Rasulullah mengucapkan dengan bentuk umum tanpa mengkhususkan . Kalau ia melakukan karena sombong maka dosa yang ia lakukan akan lebih besar lagi dan ancamannya lebih keras, Rasulullah bersabda :”Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong”. (Muttafaq ‘alaihi)

    Tidak boleh menganggap bahwa larangan melakukan Isbal itu hanya karena sombong saja, karena rasullullah tidak memberikan pengecualian hal itu dalam kedua hadist yang telah kita sebutkan tadi, sebagaiman juga beliau tidak memberikan pengecualian dalam hadist yang lain, Rasul bersabda : “Jauhilah olehmu Isbal, karena ia termasuk perbuaan yang sombong” (HR Abu Daud, Turmudzi dengan sanad yang shahih).

    Beliau menjadikan semua perbuatan Isbal termasuk kesombongan karena secara umum perbuatan itu tidak dilakukan kecuali memang demikian. Siapa yang melakukannya tanpa diiringi rasa sombong maka perbuatannya bisa menjadi perantara menuju kesana. Dan perantara dihukumi sama dengan tujuan . dan semua perbuatan itu adalah perbuatan berlebihan lebihan dan mengancam terkena najis dan kotoran.

    Oleh karena itu Umar Ibn Khatab melihat seorang pemuda berjalan dalam keadaan pakaiannya menyeret di tanah, ia berkata kepadanya : “Angkatlah pakaianmu, karena hal itu adalah sikap yang lebih taqwa kepada Rabbmu dan lebih suci bagi pakaianmu ( Riwayat Bukhari lihat juga dalam al Muntaqo min Akhbaril Musthafa 2/451 )

    Adapun Ucapan Nabi kepada Abu Bakar As Shiddiq ketika ia berkata :
    “Wahai Rasulullah, sarungku sering melorot (lepas ke bawah) kecuali aku benar- benar menjaganya. Maka beliau bersabda :”Engkau tidak termasuk golongan yang melakukan itu karena sombong.” (Muttafaq ‘alaih).

    Yang dimaksudkan oleh oleh Rasulullah bahwa orang yang benar-benar menjaga pakaiannya bila melorot kemudian menaikkannya kembali tidak termasuk golongan orang yang menyeret pakaiannya karena sombong. Karena dia (yang benar-benar menjaga ) tidak melakukan Isbal. Tapi pakaian itu melorot (turun tanpa sengaja) kemudian dinaikkannya kembali dan menjaganya benar-benar. Tidak diragukan lagi ini adalah perbuatan yang dimaafkan.

    Adapun orang yang menurunkannya dengan sengaja, apakah dalam bentuk celana atau sarung atau gamis, maka ini termasuk dalam golongan orang yang mendapat ancaman, bukan yang mendapatkan kemaafan ketika pakaiaannya turun. Karena hadits-hadits shahih yang melarang melakukan Isbal besifat umum dari segi teks, makna dan maksud.

    Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati terhadap Isbal. Dan hendaknya dia takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika melakukannya. Dan janganlah dia menurunkan pakaiannya di bawah mata kaki dengan mengamalkan hadits-hadits yang shahih ini. Dan hendaknya juga itu dilakukan karena takut kepada kemurkaan Alllah dan hukuman-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pemberi taufiq.

    (Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Bazz dinukil dari Majalah Ad Da’wah hal 218).

    Pertanyaan :
    Apakah menurunkan pakaian melewati kedua matakaki (Isbal) bila dilakukan tanpa sombong didanggap suatu yang haram atau tidak ?

    Jawab :
    Menurunkan pakaian di bawah kedua mata kaki bagi pria adalah perkara yang haram. Apakah itu karena sombong atau tidak. Akan tetapi jika dia melakukannya karena sombong maka dosanya lebih besar dan keras, berdasarkan hadist yang tsabi dari Abu Dzar dalam Shahih Muslim, bahwa Rasulullah bersabda :
    “Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat, tidak dibersihkan dari dosa serta mereka akan mendapatkan azab yang pedih.”

    Abu Dzarr berkata : “Alangkah rugi dan bangkrutnya mereka ya Rasulullah!

    Beliau berkata: “(Mereka adalah pelaku Isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barangnya dengan sumpah palsu” ( HR Muslim dan Ashabus Sunan)

    Hadis ini adalah hadist yang mutlak akan tetapi dirinci dengan hadist Ibnu umar, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersada :
    “Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat.”(HR Bukhari)

    Kemutlakan pada hadist Abu Dzar dirinci oleh hadist Ibnu Umar, jika dia melakukan karena sombong Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya, membersihkannya dan dia akan mendapatkan azab sangat pedih. Hukuman ini lebih berat dari pada hukuman bagi orang yang tidak menurunkan pakaian tanpa sombong. Karena Nabi berkata tentang kelompok ini dengan:
    “Apa yang berada dibawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di neraka” (HR Bukhari dan Ahmad)

    Ketika kedua hukuman ini berbeda, tidak bisa membawa makna yang mutlak kepada pengecualian, karena kaidah yang membolehkan untuk megecualikan yang mutlak adalah dengan syarat bila kedua nash sama dari segi hukum.

    Adapun bila hukum berbeda maka tidak bisa salah satunya dikecualaikan dengan yang lain. Oleh karena ini ayat tayammum yang berbunyi :
    “Maka sapulah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian dengan tanah itu.” (Al Maidah :6).

    Tidak bisa kita kecualikan dengan ayat wudlu yang berbunyi :
    “Maka basuhlah wajah wajah kalian dan tangan tangan kalian sampai siku. ( Al Maidah : 6).

    Maka kita tidak boleh melakukan tayammum sampai kesiku. Itu diriwayatkan oleh Malik dan yang lainnya dari dari Abu Said Al Khudri bahwa Nabi bersabda :
    “Sarung seseorang mukmin sampai setengah betisnya. Dan apa yang berada dibawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Dan siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya.”

    Disini Nabi menyebutkan dua contoh dalam hukum kedua hal itu, karena memang hukum keduanya berbeda. Keduanya berbeda dalam perbuatan, maka juga berbeda dalam hukum. Dengan ini jelas kekeliruan dan yang mengecualikan sabda Rasulullah ;
    “Apa yang dibawah mata kaki tempatnya dineraka.”

    Dengan sabda beliau :
    “Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

    Memang ada sebagian orang yang bila ditegur perbuatan Isbal yang dilakukannya, dia berkata: Saya tidak melakuakan hal ini karena sombong.

    Maka kita katakan kepada orang ini : Isbal ada dua jenis, yaitu jenis hukumnnya ; adalah bila seseorang melakukannya karena sombong maka dia tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan siksa yang sangat pedih. berbeda dengan orang yang melakukan Isbal tidak karena sombong. orang ini akan mendapatkan adzab, tetapi ia masih di ajak bicara, dilihat dan dibersihkan dosanya. Demikian kita katakan kepadanya.

    (diambil dari As’ilah Muhimmah Syaikh Muhammad Ibn Soleh Utsaimin)

  7. bagaimana bisa sebuah dalil ditafsirkan secara terbalik seperti itu?
    coba perhatikanlah Firman Allah berikut,

    “……Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar……” (Q.S Al-Ankabuut:45)

    apakah arti Firman Allah tsb adalah ‘selama kita mampu mencegah dan tidak melakukan perbuatan keji dan mungkar, lantas kita boleh-boleh saja tidak mengerjakan shalat?’

    apakah seperti itu metode pemahaman (terbalik) ala pemilik blog ini?

    1. maaf bagaimana solusinya dgn manusia yang rajin sholat namun masih korupsi , nipu orang dan berbuat keji lainya monggo di jawab buat bapak yang ahli dalam bidang hadist @ Abu hanin , @Abu Said ,@ Kacung Ngaran ……..

  8. Siiiiiip
    Bertobatlah yang menghalalkan isbal karena tidak sombong.
    ?????? ?? ??? ??? ?? ?????? ?? ????
    “Sederhana dalam Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlis-Sunnah 114 oleh Al-Laalikai – dari perkataan Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu).

    1. apa anda menyuruh imam Nawawi bertaubat?? karena beliau tidak mengharamkan isbal seperti anda..
      saya merasa aneh.. hanya dengan mencuplik beberapa hadist dan ayat al-qur’an langsung berfatwa semaunya..
      seolah-olah imam iman nawawi tidak mengerti hadist-hadist yang saudara”ku sampaikan diatas..
      sekedar analogi.. pernah belajar rumus ini F=m.a
      penjelasan siswa SD, SMP, SMA, guru, dosen, dan ilmuan akan berbeda-beda
      sesuai tingkat ilmunya..
      jika dibandingkan dengan ilmu imam nawawi.. mungkin kita hanya seperti siswa playgroup dan beliau adalah ilmuan terkenal..
      tidak pantas saudaraku klo kita menafikkan pendapan imam” terdahulu yang notabene mengabdikan hidupnya dalam islam dan sanad keilmuannya tersambung ke Rasulullah..
      semoga Allah melembutkan hati saudara..
      karena ini hanya masalah khilafiah.. tidak perlu dipeributkan
      kami cuma menampilkan hujjah bagi mereka yang berisbal bukan karena sombong..
      agar” orang seperti anda dan kelompok anda mengerti dan tidak mudah membid’ah”kan orang 🙂

  9. Pada dasarnya hukum memakai celana adalah boleh selama tidak ada niat berlebih-lebihan atau bersikap sombong.
    Hal ini berdasarkan hadist Abdullah bin ‘amr radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi saw, beliau bersabda’
    “Makanlah, dan berpakaianlah kalian tanpa berlebihan dan sikap sombong.” (HR. Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Majah. Hadist ini dishahihkan oleh Hakim).

    Nabi bersabda,
    “Ujung pakaian yang berada di bawah kedua mata kaki tempatnya adalah neraka.” (HR. Bukhori).

    Hadist Abdullah bin Umar r.a yang diriwayatkan dalam ash-Shahihain bahwa Nabi saw. bersabda,
    “Pada hari kiamat, Allah tidak memandang orang yang menyeret pakaiannya (yang panjang) dengan sombong.”

    Dalam kitab ash-Shahih, Imam Bukhari membuat bab dengan judul: Bab Orang yang Menyeret Sarungnya tanpa Sikap Sombong. Dalam bab itu beliau menyebutkan hadist Ibnu Umar r.a bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq r.a berkata,” Wahai Rasulullah, salah satu sisi kain sarung saya melorot kecuali jika saya selalu memeganginya.

    Maka Rasulullah saw bersabda,
    “Kamu bukan termasuk orang yang melakukannya karena kesombongan.”

    Oleh karena itu, lafadz larangan memanjangkan ujung pakaian yang bersifat mutlak dalam hadit-hadist tersebut, harus dimuqoyyadkan (dibatasi) dengan sikap sombong sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nawawi.
    Imam Syafi’i telah menjelaskan secara tegas tentang perbedaan antara orang yang melebihkan pakaiannya karena sombong dan yang tidak sombong.

    Maka pakaian hingga di bawah mata kaki (isbal) yang diharamkan adalah yang dilakukan dengan maksud sombong. Jika tidak maka tidak haram karena keberadaan sebuah hukum mengikuti keberadaan illat hukum itu.

    Syari’at juga telah memberikan ruang bagi tradisi dari kebiasaan seluruh masyarakat dalam menentukan bentuk pakaian dan penampilan. Rasulullah saw melarang seseorang memakai pakaian yang menarik perhatian orang yang berbeda dengan pakaian masyarakat pada umumnya.

    Beliau bersabda,
    “Barang siapa yang memakai pakaian yang menarik perhatian orang-orang maka Allah akan memakaikan pakaian kehinaan padanya pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari hadist abdullah bin Umar r.a. serta dihasankan oleh al-hafidz al-Mundziri).

    Para sahabat sendiri ketika memasuki kota persia mereka melakukan salat dengan memakai celana orang-orang persia. Para ulama juga menyebutkan jika terdapat kesepakatan masyarakat untuk memanjangkan sebagian jenis pakaian yang biasa dipakai, sehingga setiap masyarakat memliki ciri khas tersendiri yang diketahui oleh mereka, maka hal itu tidak diharamkan, tapi yang diharamkan adalah yang digunakan dengan niat menyombongkan diri.

    Tambahan :
    Seorang muslim yang mencintai sunah hendaknya mengetahui masalah ini, juga memahami zamannya dan dapat menerapkan sunah-sunah Nabi saw secara baik dalam masyarakat. Sehingga, ia dapat membuat mereka tertarik dan senang dengan sunah-sunah tersebut dan tidak menimbulkan fitnah yang membuat mereka menjauh dari agama ini. Hendaknya seorang muslim dapat membedakan sunah yang berasal dari tabi’at manusia, sunah yang berasal dari tata cara sesuai kebiasaan atau tradisi masyarakat dan jenis-jenis sunah yang lain. Ia juga harus memperhatikan skala prioritas dalam penerapan sunah-sunah yang lain, sehingga tidak mendahulukan yang bersifat anjuran dari yang bersifat wajib, atau lebih memperhatikan penampilan luar dengan mengabaikan sisi batin serta interaksi dengan baik di masyarakat. Seorang muslim juga hendaknya dapat memilih sunah yang dapat dipahami masyarakat sehingga tidak menjadi bumerang yang mengakibatkan terjadinya pelecehan dan penolakan terhadap sunah itu sendiri. Hal ini sebagaimana di jelaskan oleh Ali karamallahu wajhah. “Bicaralah kepada orang-orang sesuai pemahaman mereka dan tinggalkan hal-hal yang mereka benci. apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan ?” (HR. BUkhori dan lainnya). WaAllahua’lam

    Referensi
    Fatwa Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad

  10. masalah pakaian tak lepas dari masalah trend. tiap bangsa dan jaman punya trendnya masing-masing. dan trendnya jaman nabi ya seperti itu. dalam melihat hadits tetang isbal saya lebih menekankan konteks dan budaya arab saat itu.
    saya sulit membayangkan bahwa dosa menutup mata kaki timbangannya sama dengan dosa membunuh orang, berzina dan perbuatan dosa-dosa besar lainnya. saya juga sulit membayangkan, seandainya semua ibadah sudah dilaksanakan, seperti shalat, zakat, puasa dan haji dengan baik, dan hanya gara-gara pakaian menutup mata kaki terus dicemplungkan ke neraka, wah tuhan kejam sekali. dimana sifat rahman rahimnya? perkara sombong, jangankan yang besar biar sekecil biji zarrahpun haram masuk surga. wallahu ‘alamu bishawab!

  11. “Pakaian seorang muslim adalah hingga setengah betis. Tidaklah mengapa jika diturunkan antara setengah betis dan dua mata kaki. Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti).” (HR. Abu Daud no. 4095. Dikatakanshohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Al Jami’ Ash Shogir, 921)

    dalam hadits di atas disebutkan 2 jenis keadaan:
    1) isbal tanpa sombong: “Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka”
    2) isbal dngan sombong: “Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti)”

    jika lafadz “pakaian di bawah mata kaki” dan lafadz “pakaian diseret dalam keadaan sombong” berada dalam 2 perkataan yang berbeda, maka itu bisa dijamak dan kedudukannya saling menafsirkan. dengan kata lain, orang yang pakaiannya di bawah mata kaki, maka otomatis dia telah sombong.

    akan tetapi jika kedua lafadh ini berada dalam satu perkataan, maka itu harus dibedakan. dengan kata lain, orang yang pakaiannya di bawah mata kaki tanpa sombong, maka ia akan ditempatkan di neraka. sedangkan orang yang pakaiannya di bawah mata kaki dengan ombong, maka Alloh tidak akan melihat kepadanya.

    contoh lain adalah penggunaan kata “faqir”d an kata “miskin”. ketika keduanya berada dalam 2 perkataan yang berbeda, maka keduanya brmakna sama. contoh:

    1) “ahmad adalah orang faqir”
    2) “salim adalah orang miskin”

    dalam kadaan ini, kata faqir dan kata miskin mempunyai makna yang sama. namun brbda kondisinya jika kedua kalimat di ata disatukan:

    “ahmad adalah orang faqir dan salim adalah orang miskin”

    dalam keadaan ini, kata faqir dan kata miskin harus dibedakan maknanya.

  12. Buat semuanya yang merasa benar,
    tidak cukupkah kata-kata ini –> “Tidakkah pada diriku terdapat teladan?”

    “Tinggikan sarungmu! Sesungguhnya hal itu lebih mendekatkan kepada ketakwaan.” Ternyata dia adalah Rasulullah. Aku pun bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, ini Burdah Malhaa (pakaian yang mahal). Rasulullah menjawab, “Tidakkah pada diriku terdapat teladan?”

    Siapa teladan buat anda, seorang yang maksum dari anda anda sekalian termasuk saya ????
    “Tidakkah pada diriku terdapat teladan?”

  13. Bismillaah,

    Memakai pakaian di atas mata kaki (kebalikan dari isbal) adalah sunnah yang sangat mulia Orang yang tidak isbal adalah orang yang mengikuti Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupannya.

    Rasulullaah jelas-jelas bersabda: “Pakaian orang beriman adalah di atas mata kaki.” maka dari itu beliau memerintahkan kepada Ibnu Umar untuk meninggikan pakaiannya hingga di atas mata kaki.

    Allah berfirman: “Katakanlah, wahai Muhammad kepada umatmu: ‘Jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku.”

    Kalau Rasulullaah mengenakan pakaian di atas mata kaki dan memerintahkan umatnya untuk mengenakan pakaian di atas mata kaki, maka kita sebagai umatnya hendaknya mengikutinya dan tidak pantas menentangnya. Jika kita belum mampu, maka berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan kemampuan kepada kita untuk mengenakan pakaian di atas mata kaki.

    Wallaahu a’lam.

  14. @ibnu suradi
    “Kalau Rasulullaah mengenakan pakaian di atas mata kaki dan memerintahkan umatnya untuk mengenakan pakaian di atas mata kaki, maka kita sebagai umatnya hendaknya mengikutinya dan tidak pantas menentangnya”.
    Rasulullah saw selalu memakai Gamis / Jubah, ente selalu pakai gamis/jubah?. Kalau ane masih pakai celana panjang n sarung, kemane-mane belom pakai gamis gimane tuh dosa besar gak ane?.

  15. @Ucep yang baik hati,

    Mohon diperhatikan hadits Ibnu Umar tentang pakaian tersebut. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Ibnu Umar untuk mengangkat pakaian hingga di atas mata kaki dan menunjukkan bahwa pakaian orang yang beriman adalah di atas mata kaki.

    Apakah perintah tersebut hanya berlaku untuk Ibnu Umar atau juga untuk semua umat Islam? Kalau perintah tersebut hanya berlaku untuk Ibnu Umar, maka kita terbebas dari perintah tersebut. Bila perintah tersebut berlaku untuk semua umat Islam, maka kita hendaknya melaksanaklan perintah tersebut, bukan menentangnya.

    Sebenarnya, apa yang menghalangi anda semua dari melaksanakan perintah tersebut? Apakah anda menganggapnya itu hanya sekedar sunnah sehingga boleh meninggalkannya? Orang tidak mengerjakan puasa sunnah mungkin karena tidak kuat lapar. Orang tidak shalat malam karena ngantuk. Orang tidak sedekah karena pelit. Lalu apa alasan anda tidak mengerjakan sunnah berpakaian di

    Wallaahu a’lam.

  16. Jadi, apa alasan anda meninggalkan perintah berpakaian di atas mata kaki?

    Ibnu Umar langsung melaksanakan perintah tersebut tanpa menanyakan apakah perintah tersebut wajib atau sunnah. Bagaimana dengan anda? Apakah anda masih memilah-milah mana yang wajib dan mana yang sunnah dengan tujuan untuk meninggalkan perintah berpakaian di atas mata kaki?

    Wallaahu a’lam.

  17. @ibnu suradi
    Kite lihat artikel diatas, “Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Inikan sangat jelas, “Karena sombong”, kalau gak sombong bisa gak?. Disinilah hati yang berbicara dengan Allah swt sang maha bijaksana.
    ibnu suradi, kite jangan berpikir orang yang memanjangkan itu gak sunnah, kite lihat didaerah yang beriklim dingin (eropa), kalau dia meninggikan pakaiannya bagaimana kedinginan kan. Nanti dia bilang “gak usah masuk islam lah, dari pada mati kedinginan”.
    Berpikirlah yang cerdas jangan sempit, nanti ente repot.

  18. Kalau pelaksanaan perintah berpakaian di atas mata kaki itu disesuaikan dengan keadaan alam setempat, lalu apakah keadaan alam di Indonesia merupakan alasan untuk meninggalkan perintah tersebut? Nyatanya, kebanyakan umat Islam di Indonesia meninggalkan perintah berpakaian di atas mata kaki.

    Lagian, di Arab juga ada musim dingin. Jadi tidak ada pengecualian apakah musim panas atau musim dingin dalam pelaksanaan perintah tersebut. Makanya, Rasulullaah tidak bersabda: “Berpakaianlah di atas mata akaki kecuali musim dingin.”

    Wallaahu a’lam.

  19. Bismillaah,

    @Ucep

    Janganlah anda selalu menganggap orang yang menyampaikan ayat Qur’an dan hadits itu sombong atau paling benar sendiri. Memang orang yang menyampaikan dituntut untuk menyampaikannya dengan hikmah dan perkataan yang baik. Namun, yang menerima juga dituntut untuk terbuka fikirannya dan ikhlas dalam menerima ayat Qur’an dan hadits. Jangan sedikit-sedikit mencap sombong dan paling benar sendiri kepada orang yang menyampaikan.

    Kalaulah si penyampai itu sombong, toh ia masih lebih baik daripada orang yang menolak ayat dan hadits dengan sombong. Minimal apa yang disampaikannya dapat diambil pelajaran bagi siapa saja yang mau belajar. Namun, orang yang menolak ayat Al Qur’an dan hadits, tidak ada sepatah katapun yang dapat diambil pelajaran darinya.

    Bukankah Ali radhiallaahu ‘anhu mengatakan: “Dengarkan apa yang dikatakan dan jangan lihat orangnya. Kalau yang disampaikan kebenaran, maka terimalah meski yang menyampaikan itu engkau nilai lebih rendah status sosialnya darimu.

    Wallaahu a’lam.

  20. @ibnu suradi
    Ane terima ayat2 yang dikeluarkan sama ente, tapi tolong jangan diartikan secara sempit.
    Ahmad dinejab (syiah) selalu pakai celana cingkrang, ketemu sby dia cuek aja. lihat juga raja saudi (wahabi), jangan kan betis, jari kaki aja gak kelihatan.
    Di daerah dingin seperti finland, mereka gak bisa celana cingkrang, dinginnya minta ampun. Apakah mereka harus isbal juga, kan jadinya islam gak diterima disana dong.
    Allah swt hanya melihat HATI hamba-hambaNya. Artikel diatas jelas kata “Sombong”, ini adalah penyakit hati yang kudu dibuang sejauh-jauhnya.

  21. @Ucep,

    Dalil tentang perintah berpakaian di atas mata kaki (hadits Ibnu Umar) sudah jelas.

    Jika anda terus mencap sombong pada orang yang melaksanakan perintah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk berpakaian di atas mata kaki, maka tanpa sadar anda melakukan kesombongan karena pada hakekatnya menolak hadits tersebut.

    Untuk mengerti arti hadits tersebut, silahkan tanyakan kepada ahli hadits atau baca kitab syarah hadits. Janganlah anda menetapkan kebenaran berdasarkan apa yang dilakukan oleh Ahmad Dinejad dan Raja Abdullaah serta kebiasaan setempat. Ukurlah kebenaran berdasarkan Qur’an dan hadits.

    Wallaahu a’lam.

  22. @ibnu suradi
    “Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, yakni perkataan Rasulullah Saw kepada Abu Bakar ra (“Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”), menunjukkan bahwa manath (obyek) pengharaman isbal adalah karena sombong. Sebab, isbal kadang-kadang dilakukan karena sombong dan kadang-kadang tidak karena sombong. Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar telah menunjukkan dengan jelas bahwa isbal yang dilakukan tidak dengan sombong hukumnya tidak haram.”

  23. @Ucep,

    Mengenai hadits perintah Rasulullaah kepada Ibnu Umar untuk mengangkat kainnya hingga di atas mata kaki, itu sudah jelas meski tanpa disyarah sekalipun.

    Sedangkan tentang hadits kain Abu Bakar yang “melorot”, itu perlu kita cermati. Apakah sama antara kain yang “melorot” dan kain yang “sengaja dijulurkan” hingga di bawah mata kaki? Apakah kain kita melorot atau sengaja kita julurkan hingga di bawah mata kaki?

    Wallaahu a’lam.

  24. Bismillaah,

    Katanya Ahlul Sunnah wal Jamaah, kok menolak perintah Rasulullaah untuk menaikkan pakaian hingga di atas mata kaki. Katanya Ahlul Sunnah wal Jamaah, kok pakaiannya isbal menjulur sampai di bawah mata kaki sehingga menyapu lantai dan jalan?

    Marilah kita buktikan bahwa kita Ahlul Sunnah wal Jamaah dengan mengikuti Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam beragama Islam ini termasuk dalam mengikuti perintah beliau untuk menaikkan pakaian hingga di atas mata kaki.

    Wallaahu a’lam.

  25. Bismillaah,

    Jadi sudah paham semua, nih, bahwa orang yang isbal (celananya menjulur hingga di bawah mata kaki, menyapu jalan dan lantai) itu menolak perintah Rasulullaah shaallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menaikkan pakaian hingga di atas mata kaki. Sebaliknya, orang Wahabi yang celananya ngatung justru istiqomah melaksanakan perintah Rasulullaah untuk menaikkan pakaian hingga di atas mata kaki.

    Dalam hal ini, ternyata Wahabi itu Ahlul Sunnah wal Jamaah karena mengikuti perintah Rasulullaah. Sedangkan, penentangnya yang celananya menyapu jalan dana lantai bukanlah Ahlul Sunnah wal Jamaah karena tidak mengikuti perintah Rasulullaah.

    Wallaahu a’lam.

  26. klo umar tau ini haram mutlak, rasanya umar ga berani main2 sama hukum haram, pasti dibuat pendek sarungnya atau dia pakai pendeng supaya ga melorot..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker