Inspirasional

Inilah Syarat-syarat Kembali kepada Al Qur’an dan Hadits

SUDAHKAH ANDA MENGUASAI KAIDAH BER-ISTINBATH SEPERTI PARA IMAM MUJTAHID ?

Pengantar Redaksi: Orang awam nggak mau taqlid, bahkan lancang mau kembali kepada Al Qur’an dan Hadits secara langsung. Adalah logis belaka jika akibatnya kemudian mereka tersesat pemahamannya. Akibat selanjutnya, mereka gampang menuduh sesat terhadap pemahaman yg tidak sesat.

Sudah selayaknya mujtahid berijtihad dengan kembali kepada Al Qur’an dan Hadits secara langsung, karena mereka memenuhi syarat-syaratnya.

Lalu bagaimana anda aebagai kaum awam kok sok-sokan mau kembali  kepada Al Qur’an dan Hadits secara langsung seperti Mujtahid?

Jika Anda ingin kembali kepada Al Qur’an dan Al Hadits secara langsung seperti para mujtahid, sudahkan anda tahu syarat-syaratnya? Nah inilah yang akan dibahas oleh Ustadz Abu hilya berikut ini….

keutamaan nsfu syaban - Inilah Syarat-syarat Kembali kepada Al Qur'an dan Hadits
Belajar Islam dari kitab Ulama.

LAYAKKAH KITA BERIJTIHAD ?

Fenomena penolakan sebagian kalangan terhadap konsep Taqlid bagi kaum awam menimbulkan polemik bagi ummat Islam. Terutama bagi orang seperti kita yang tiada memiliki kemampuan untuk memahami agama langsung dari sumbernya yakni al Qur’an dan as Sunnah.

Di samping itu keengganan untuk bermadzhab (baca ; Taqlid) telah serta merta membangkitkan semangat sebagian ummat Islam untuk beristinbath (menggali hukum langsung dari sumbernya, yakni al qur’an dan as sunnah) tanpa disertai sarana yang memadai. Dan akibatnya dapat kita rasakan, betapa spirit agama yang semestinya adalah “Rohmatan Lil ‘Alamiin” berubah menjadi “Fitnah Perpecahan” di antara sesama ummat Islam.

Oleh karenanya sebelum kita melepaskan diri dari mata rantai bermadzhab (Taqlid) sebaiknya kita bercermin diri, setidaknya tentang beberapa hal :

Pertama : ADAKAH KITA TELAH MEMAHAMI BAHASA ARAB DENGAN BENAR ?

Memahami bahasa Arab dengan benar adalah sarana pertama yang mesti kita kuasai. Mengingat dua sumber utama dalam Islam yakni al Qur’an dan as Sunnah yang notabene menggunakan bahasa Arab dengan mutu yang sangat tinggi. Ilmu yang mesti kita kuasai dalam bidang ini setidaknya meliputi Gramatika Arab (Nahwu-Shorof), Sastra Arab/Balagho (Badi’, Ma’ani, Bayan), Logika Bahasa (Manthiq) Sejarah Bahasa, Mufrodat, dst….

Hal ini penting guna meminimalisir kesalahan dalam mengidentifikasi makna yang dikehendaki syari’at dari sumbernya secara Harfiyah (Tekstual). Juga untuk mengidentifikasi nash-nash yang bersifat ‘Am, Khosh, berlaku Hakiki, Majazi dst…

Adalah hal yang naif  jika kita berani mengatakan “Halal-Haram, Sah-Bathil, Shohih-‘Alil” hanya berdasar pemahaman dari terjemah al Qur’an atau as Sunnah. Sebagai ilustrasi sederhan berikut kami kutipkan peran pemahaman bahasa arab yang baik dan benar dalam memahami al Qur’an dan as Sunnah :

Contoh Fungsi Gramatika Arab

Firman Alloh yang menjelaskan tata cara berwudhu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

BACA JUGA:  Menghadapi NIIS dengan Strategi Politik Luar Negeri

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah : 6)

Coba anda perhatikan kalimat وَاَرْجُلَكُمْ (dan kedua kaki kalian) dalam firman Alloh diatas. Dimana kata tsb dibaca Nashob (dibaca Fathah pada huruf lam) padahal kata tersebut lebih dekat dengan kata بِرُءُوسِكُمْ (kepala kalian) yang dibaca Jar (dibaca kasroh pada huruf Ro’) dengan konsekwensi makna sebagai berikut :

a. Jika kata وَاَرْجُلِكُمْ (dan kedua kaki kalian) dibaca Jar (kasroh) maka yang harus dilakukan untuk kaki ketika berwudhu adalah Mengusap bukan Membasuh, hal ini disebabkan kata وَاَرْجُلِكُمْ disambung dengan kata بِرُءُوسِكُمْ yang berarti amil (kata kerjanya) adalah وَامْسَحُوا (dan Usaplah)

b. Jika kata وَاَرْجُلَكُمْ (dan kedua kaki kalian) dibaca Jar (kasroh) maka yang harus dilakukan untuk kaki ketika berwudhu adalah Membasuh bukan Mengusap. Hal ini disebabkan kata وَاَرْجُلَكُمْ disambung dengan kata وُجُوهَكُمْ yang berarti amil (kata kerjanya) adalah فَاغْسِلُوا (Basuhlah).

Coba anda perhatikan: betapa dengan sedikit perbedaan, berimplikasi makna dan kewajiban yang berbeda. Di mana ketika kata وَاَرْجُلَكُمْ dibaca fathah/Nashab maka kewajibannya adalah Membasuh. Sedang jika kata وَاَرْجُلِكُمْ dibaca Kasroh/Jarr, maka kewajibannya adalah Mengusap. Adakah hal ini kita dapati dari al Qur’an terjemah …?

Contoh Fungsi Balagho/Sastra Arab

Masih dalam tema ayat di atas, coba anda perhatikan kata إِذَا قُمْتُمْ dengan menggunakan Fiil Madhi (kata kerja masa lampau) yang jika dialih bahasakan secara harfiyah memberi makna : “Apabila kalian telah berdiri /menjalankan”… Sedang yang dimaksud adalah sebelum sholat. Inilah yang dalam pelajaran sastra arab disebut dengan “Ithlaqul Madhii Wa Uridal Mustaqbal”.

Contoh Fungsi Manthiq

Diantara fungsi “Manthiq”/Logika Bahasa dalam konteks ayat di atas adalah guna men-Tashowwur-kan (menjelaskan dengan makna yang Jami’ dan Mani’) dari masing-masing kata dalam ayat di atas. Misal yang dimaksud dengan “Yad” (tangan) adakah ia adalah “Tangan” dalam bahasa kita? “Wajah” seberapakah daerah yang masuk kategori “Wajah”? dan “Ru’us” (kepala), Membasuh, Mengusap, dst…. Adakah semuanya dapat kita definisikan dengan kamus bahasa indonesia? Sedang al Qur’an menggunakan bahasa arab dengan mutu paling tinggi ?

Kedua : SUDAHKAH ANDA MENGHAFAL AL QUR’AN (Seluruhnya) DAN JUGA SEKURANG-KURANGNYA SERATUS RIBU HADITS ?

Syarat kedua di atas sangatlah diperlukan karena dengan terpenuhinya syarat tersebut akan tergambar semua ayat dan hadits terkait jika anda hendak memutuskan suatu perkara. Dengan demikian keputusan/pendapat anda akan terhindar dari bertabrakan dengan nash-nash yang lain.

BACA JUGA:  CARA DAKWAH ITU BUKAN DENGAN CARA KASAR

Sebagai ilusrtrasi sederhana kita gunakan ayat ayat di atas dengan terjemah sbb :

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku. Dan usaplah kepalamu dan kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah : 6)

Jika kita memahami hanya dari ayat tersebut, maka akan kita dapati hukum wajibnya berwudhu adalah bagi setiap orang yang hendak melaksanakan sholat. Baik ia orang yang masih dalam keadaan suci maupun berhadats. Mengingat keumuman perintah pada ayat di atas yang ditujukan pada setiap orang yang hendak melaksanakan sholat.

Syarat kedua tsb, juga berguna untuk menghindarkan anda menempatkan dalil bukan pada tempatnya. Misal menempatkan ayat-ayat yang sejatinya untuk orang-orang kafir namun anda hantamkan untuk orang-orang Islam. Bukankah Abdulloh Ibn Umar –rodhiyallohu ‘anhu- pernah berkata, ketika beliau ditanya tentang tanda-tanda kaum Khowarij ?

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَاهُمْ شِرَارَ خَلْقِ اللَّهِ وَقَالَ إِنَّهُمْ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الْكُفَّارِ فَجَعَلُوهَا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Dan adalah Ibnu Umar, ia memandang mereka (Khowarij) sebagai seburuk-buruk makhluk Alloh. Dan ia berkata : “Mereka (Khowarij) berkata tentang ayat-ayat yang (sejatinya) turun terhadap orang-orang kafir, mereka timpahkan ayat tersebut untuk orang-orang beriman”. (HR. Al Bukhori, Bab Qotlil Khowaarij)

Ketiga : SUDAHKAH ANDA MENGUASAI ILMU-ILMU PENDUKUNG YANG LAIN GUNA MEMAHAMI AL QUR’AN DAN AS SUNNAH ?

Perangkat lain yang mesti anda kuasai dalam menggali hukum dari Al Qur’an dan As Sunnah yang memang luas dan dalamnya melebihi luas dan dalamnya samudera. Diantaranya adalah ;

– anda harus mengetahui “Asbaabun Nuzul” dari setiap ayat dan juga “Asbaabul Wuruud” dari setiap hadits. Hal ini penting agar anda mampu menempatkan dalil-dalil sesuai porsinya. Dan mampu membedakan dalil-dalil yang “Nasikh” (Pengganti/penyalin) dari dalil-dalil yang “Mansukh” (diganti/disalin)

– anda juga harus menguasai sekurang-kurangnya “Qiro’ah Sab’ah” dalam ilmu qur’an. Hal ini mengingat akan Naif rasanya seorang “Calon Mujtahid” melafadzkan al qur’an tidak dengan pengucapan yang fashih.

Di samping itu anda juga harus menguasai ilmu-ilmu pendukung guna memahami As Sunnah. Seperti ilmu Mushtholah Hadits, Jarh Wat Ta’dil, Taroojim, dst… Hal ini penting, setidaknya agar anda tidak berhukum dengan hadits yang lemah dengan menabrak hadits yang shohih.

Kekeliruan jargon kembali kepada al Qur’an dan Sunnah

Keempat : SUDAHKAH ANDA MENGUASAI KAIDAH BER-ISTINBATH SEPERTI PARA IMAM MUJTAHID ?

BACA JUGA:  Metode Amtsilati: Cara Cepat Bisa Baca Tulisan Arab Tanpa Harakat

Syarat keempat di atas juga sangat penting setidaknya guna mengetahui cara mensikapi nash-nash yang Mujmal, Mubayyan, ‘Am, Khosh, dan cara men-Jami’-kan (mencari titik temu) jika terdapat nash-nash yang dzahirnya Mukholafah (berselisih) atau Ta’aarudh (bertentangan).

Sebagai ilustrasi sederhana kami kutipkan Firman Alloh berikut :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada Alloh dan hari akhir. Dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Baqoroh : 62)

Sepintas ayat diatas memberi pemahaman adanya peluang yang sama bagi orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin. Untuk mendapat pahala disisi Alloh atas kebajikan yang mereka perbuat. Sehingga seakan ayat tsb menyatakan bahwa orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin, bisa masuk sorga. Adakah kenyataannya memang demikian ? Sedang dalam ayat lain Alloh berfirman :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima. Dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Alu Imron : 85)

Perhatikan dua ayat diatas !!! Adakah pengetahuan yang memadai pada diri anda untuk men-Jami’-kan dua nash yang dzahirnya Mukholafah (tidak sejalan) tsb ?  Sungguh apa yang kami sampaikan di atas hanyalah sebagian kecil perangkat yang harus anda kuasai. Untuk Ber-Istinbath, menggali hukum langsung dari sumbernya.  Dari sini kita tahu, jargon kembali kepada al Qur’an dan Sunnah menjadi keliru karena diserukan kepada kaum awam seperti kita.

Saudaraku… kami sampaikan hal-hal di atas bukan dalam rangka mematahkan semangat belajar anda. Akan tetapi ketika anda mencoba menggali hukum dari sumbernya langsung tanpa perangkat yang memadai. Maka yakinlah Kelancangan Anda Hanya Akan Berakibat Perpecahan Ummat Islam.

LIKULLI SYAIIN AHLUN, IDZA WUSIDAL AMRU LIGHOIRI AHLIHI.. FANTADZHIRIS SAA’AH : “Setiap segala sesuatu ada ahlinya. Jika suatu perkara diembankan (diserahkan) pada yang bukan ahlinya, maka nantikanlah saat kehancurannya”.  Wallohu A’lam…

Oleh: Abu Hilya

Save

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Inilah Syarat-syarat Kembali kepada Al Qur'an dan Hadits
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

77 thoughts on “Inilah Syarat-syarat Kembali kepada Al Qur’an dan Hadits”

  1. Artikel yg bagus sekali, di kalangan kaum Wahabi pasti tidak akan tahu tentang permasalahan yg beginian. Oleh karena itu, anak2 Wahabi ato salaphi memamang wajib dikasih tahu tentang masalah ini, semoga dg pemberitahuan ini mereka jadi menyadari siapa dirinya yg sebenarnya. Yaitu sesungguhnya mereka adalah orang2 awam yg sama sekali tidak layak berkoar2 “KEMBALI KEPADA AL QUR’AN DAN HADITS”. Sudah gitu ngotot nggak mau taqlid, emangnya antum2 Salafiyyin adalah seorang mujtahid? Kalian mesti belajar ilmu dari tingkat dasar, biar mengerti hirarki ilmu, biar ucapan kalian tdk menimbulkan fitnah akibat ilmu yg timpang sebelah alias nggak komprehensif.

    Dalam hal ini saya sangat setuju dg idenya Mbak Aryati agar anak2 Wahabi itu belajar lagi ilmu-ilmu dasar yg di ajarkan di madrasah ibtida’iyah Pesantren-pesantren NU, biar nantinya kalau ngomong nggak ngacau melulu. syukron atas perhatannya.

  2. Ya, teman2 Salafi Wahabiyyin sebaiknya belajar ilmu dari dasar dulu, terus sampai ke tingkat aliyah atau ulya. Sebagai contoh apa yg diajarkan di pesantren, inilah yg dipelajari di Madrasah Salafiyyah al-Fattah (pesantren NU) di Tanjunganom Nganjuk Jawa Timur. Maaf, ini bukan pamer ilmu, tetapi agar teman2 Wahabi tahu bahwa anak2 Aswaja itu punya ilmu. Makanya jangan heran kalau mereka pinter2 ketika berkomentar di blog ini, baik cowonya maupun cewek2nya.

    I. Tingkat Ibtida’iyyah

    Al-Qur’an, Hadits ( Arba’in Nawawi, Arba’in al-Fattah), Ilmu Tauhid (Aqidatul Awam, al-Jawahirul Kalamiyah), Fiqh (Fathul Qorib, Mabadi’ Fiqhiyyah), Nahwu (Nahwu dasar al-Fattah, al-‘imrithi, al-Jurumiyyah), Shorof (Shorof dasar al-Fattah, Qowa’idus Shorfiyyah, al-Amtsilah At Tashrifiyyah), dll.

    II. Tingkat Tsanawiyyah

    Tafsir (Tafsirul Jalalain), Hadits (Bulughul Marom, Riyadus Sholihin), Tashowuf (Bidayatul Hidayah), Tauhid (Tanwirul Qulub), Balaghoh ( al-Jauharul Maknun), Nahwu & Shorof (al-Fiyyah ibn Malik), Ilmu Kaidah Fiqh (Faroidlul Bahiyyah), dan Ilmu Mewaris (Iddotul Farid), dll.

    III. Tingkat Aliyyah

    Tafsir (Tafsirul Ibnu Abbas), Hadits (al-Jami’us Shogir ), Tauhid (Mafahim Yajibu antushohhaha), Fiqh (Nihayatuzzein), Kaidah Fiqh (Asybah wa Nadhoir), Tashowuf (Mauidzotul Mukminin), Balaghoh (Uqudul Juman), dll.

    Madrasah Salafiyyah al-Fattah menggunakan materi pelajaran dari kitab-kitab mu’tabaroh ‘Ala Thoriqoti Ahlis Sunnah Wal jama’ah.

  3. artikel yang bagus..buat abu hilya..inilah yang saya butuhkan..karena saya merasa perlu belajar lagi.. he…he…

    tetapi aneh jika para ulama pendahulu ( salaf) yang notabene ahli dibidangnya malah runtuh terhadap ulama’ mutakhahirin he..eh.. kenapa yah….
    mungkin karena hawa nafsu kali yah..

    atau mungkin karena tidak masuk diakal..

    sebagai contoh …

    Telah berkata Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah :

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Husain bin Al-Hasan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Nabi pernah bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Para shahabat : “Dan juga Najd kami ?”. Beliau bersabda : “Di sana muncul bencana dan fitnah. Dan di sanalah akan muncul tanduk setan”.

    padahal sudah jelas penjelasan dari sang ahli yaitu salim bin ibnu umar bin umar khattab
    bahwa najd itu meruju pada iraq tetapi diselewengkan ulama’ muthakirin…he..he..

    Selain itu, Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar pun pernah mengecam penduduk ‘Iraaq karena fitnah yang mereka timbulkan dengan menyebut hadits kemunculan tanduk setan.
    حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي (واللفظ لابن أبان). قالوا: حدثنا ابن فضيل عن أبيه. قال: سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول: يا أهل العراق! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة! سمعت أبي، عبدالله بن عمر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض. وإنما قتل موسى الذي قتل، من آل فرعون، خطأ فقال الله عز وجل له: {وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا} [20/طه/40].
    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdil-A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al-Wakii’iy (dan lafadhnya adalah lafadh Ibnu Abaan); mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Muusaa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905 (50)].

    contoh lain..

    hadist

    وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    para ulamah pendahulu sudah mengartika makna kullu itu makna yang bersifat umum

    dilihat dari penjelasan

    Juga hendaknya ia memperhatikan perkataan ’Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma :

    كُلُّ بِدْعَةٍِ ضَلاَلَةٌُ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةًَ

    ”Setiap bid’ah itu adalah sesat walaupun manusia memandangnya sebagai satu kebaikan” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikai dalam Syarh Ushulil-I’tiqad no. 205 dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205 dengan sanad shahih].

    trus ana mau nya..maksud dari ayat ini apa ust abu hilya.. tolong yah kalau sempet di buat suatu artikel khusus..tentang ayat

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu” [QS. Al-Maaidah :

    dan beserta penjelasan ulama salaf..

    terima kasih ust..

    jazakumullah khairah..

    1. Bismillah,

      Saudariku @ummu abdillah, alhamdulillah…anda masih berkenan hadir disini… semoga anda dan keluarga senantiasa dikaruniai kesehatan olehi Alloh…

      Selanjutnya, jika anda berkenan, tolong kami diberi penjelasan tentang batasan “Mutaqoddimin” dan “Mutaakhkhirin”… juga siapa ulama terakhir dari kalangan “Mutaqoddimin” dan siapa yang pertama dari kalangan “Mutaakhkhirin” ? karena sungguh kami tidak memiliki pengetahuan yang cukup akan hal tersebut… bagi kami hal itu penting agar nantinya tidak terjadi kekeliruan oleh kami dalam mengkategorikan mereka… sebelumnya kami haturkan terima kasih…

      Selanjutnya, tentang hadits “Qornus Syaithon”, seingat kami, saya pribadi tidak pernah berkomentar tentang hadits tsb, mengingat pengetahuan kami yang masih cingkrang akan hadits tsb… jadi kami tidak bisa menanggapi yang satu ini… barang kali teman/saudara kita yang lain bisa lebih menjelaskan akan hal tersebut….

      Berikutnya, permasalahan bid’ah… sebagaimana yang kami tulis diatas, bahwa hendaknya kita memahami nash-nash agama ini dengan lebih komperhensif. Sebagai contoh : anda membawakan atsar Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- yang berbunyi :

      كُلُّ بِدْعَةٍِ ضَلاَلَةٌُ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةًَ

      ”Setiap bid’ah itu adalah sesat walaupun manusia memandangnya sebagai satu kebaikan” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikai dalam Syarh Ushulil-I’tiqad no. 205 dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205 dengan sanad shahih].

      akan tetapi anda mengabaikan pernyataan lain dari para sahabat, diantaranya :

      a. Ibnu Umar sendiri, ketika beliau ditanya tentang sholat dhuha :

      عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا جَالِسٌ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ وَإِذَا نَاسٌ يُصَلُّونَ فِي الْمَسْجِدِ صَلَاةَ الضُّحَى قَالَ فَسَأَلْنَاهُ عَنْ صَلَاتِهِمْ فَقَالَ بِدْعَةٌ

      Dari Mujahid ia berkata : “Aku dan ‘Urwah Ibn Zubair memasuki masjid, dan ketika itu Abdulloh Ibnu Umar –rodhiyallohu ‘anhuma- sedang duduk menghadap Hujroh ‘Aisyah, sedang orang-orang tengah melaksanakan sholat di masjid yakni sholat dhuha.” Mujahid berkata : “Kami bertanya kepada Ibnu Umar –rodhiyallohu ‘anhuma- tentang sholat mereka, maka beliau menjawab “Bid’ah”. (HR. Al Bukhori)

      Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Hakam Ibn A’roj dari A’roj yang disebutkan dalam Fathul Bari :

      وروى بن أبي شيبة بإسناد صحيح عن الحكم بن الأعرج عن الأعرج قال سألت بن عمر عن صلاة الضحى فقال بدعة ونعمت البدعه

      Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Hakam Ibn A’roj dari A’roj, ia berkata : “Aku bertanya kepada Ibnu Umar –rodhiyallohu ‘anhuma- tentang sholat dhuha, maka beliau menjawab “Bid’ah” dan “Sebaik-baik Bid’ah”. (Fathul Bari, vol.III , hlm.52)

      Disamping itu ayah dari Ibnu Umar sendiri yakni Umar Ibn Khotthob yang disepakati merupakan salah satu Khulafaa’ Ar Rosyidiin pernah mencanangkan pula adanya Bid’ah yang baik, setidaknya dalam dua hal :

      a. Ketika beliau menjawab pertanyaan Abu Bakar (ketika menerima usulan penghimpunan al qur’an), beliau (Abu Bakar) bertanya : “Bagaimana engkau hendak melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam”? dan Umar menjawab “ Wallohi Innahu Lakhoirun” (Demi Alloh, sungguh hal itu adalah baik)

      b. Yang Masyhur, yakni tentang penghimpunan jama’ah tarowih…

      Jika dalam atsar-atsar diatas anda memiliki interpretasi yang berbeda dengan kami, makaitu hak anda, akan tetapi biarkan kami menginterpretasikan sebagaimana yang di gariskan oleh para ulama kami, khususnya Imam As Syafi’iy..

      Wallohu A’lam

      1. Bismillah,

        Maaf, ada kesalahan… comment atas nama @mamak, diatas adalah comment kami, nggak tahu kenapa koq yang muncul di id kami atas namabeliau…
        Kami mohon maaf khususnya kepada mas mamak….

          1. Bismillah,

            Terimakasih, Jazaakumulloh.. mas Admin, semoga tidak menjadi fitnah…

            Mas Admin kami punya tulisan sederhana yang barang kali bermanfaat jika di share di UmmatiPress, tapi kami nggak tahu cara kirimnya… mohon petunjuknya… terimakasih

      2. Memahami ‘Bid’ah Hasanah’ Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa

        Ibnu Abi Syaibah rahimahullah berkata :

        حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، عَنِ الْجُرَيْرِيِّ، عَنِ الْحَكَمِ بْنِ الْأَعْرَجِ، قَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَنْ صَلَاةِ الضُّحَى، وَهُوَ مُسْنِدٌ ظَهْرَهُ إِلَى حُجْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: بِدْعَةٌ، وَنِعْمَتِ الْبِدْعَةُ ! ”

        Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, dari Al-Jurairiy, dari Al-Hakam bin Al-A’raj, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang shalat Dluhaa, yang ketika itu punggungnya bersandar pada kamar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia menjawab : “Bid’ah, dan itu adalah sebaik-baik bid’ah” [Al-Mushannaf, 2/405 no. 7859].

        Sanad riwayat ini shahih, semua perawinya tsiqaat. Ibnu ‘Ulayyah termasuk perawi yang mendengar riwayat dari Al-Jurairiy sebelum ikhtilaath-nya [lihat : Al-Mukhtalithiin oleh Al-‘Alaaiy (bersama komentar muhaqqiq-nya), hal. 37-38 no. 16, tahqiq : Raf’at bin Fauziy & ‘Aliy bin ‘Abdil-Baasith; Maktabah Al-Khaanijiy, Kairo].

        Telah masyhur bahwasannya Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa adalah salah seorang shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang berpendapat tentang bid’ahnya shalat Dluhaa.

        حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: ثَنَا حَاجِبُ بْنُ عُمَرَ، عَنِ الْحَكَمِ بْنِ الْأَعْرَجِ، قَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَنْ صَلَاةِ الضُّحَى؟ فَقَالَ: ” بِدْعَةٌ ”

        Telah menceritakan kepada kami Wakii’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Haajib bin ‘Umar, dari Al-Hakam bin Al-A’raj, ia berkata : Aku pernah bertanya kepafa Ibnu ‘Umar tentang shalat Dluhaa, ia menjawab : “Bid’ah” [idem, 2/406 no. 7866].
        Sanadnya shahih.
        Sebagian orang ada yang mengambil riwayat Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa di atas sebagai dalil keabsahan bid’ah hasanah dan menganggap Ibnu ‘Umar sebagai sosok penganut paham eksistensi bid’ah hasanah.

        Pendalilan mereka tertolak dalam beberapa segi dengan urutan berpikir sebagai berikut :
        1. Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu membid’ahkan shalat Dluhaa dikarenakan ia tidak mengetahui mengetahui adanya perintah atau perbuatan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mendasarinya.

        حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ تَوْبَةَ، عَنْ مُوَرِّقٍ، قَالَ: ” قُلْتُ لِابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَتُصَلِّي الضُّحَى؟، قَالَ: لَا، قُلْتُ: فَعُمَرُ؟، قَالَ: لَا، قُلْتُ: فَأَبُو بَكْرٍ؟، قَالَ: لَا، قُلْتُ: فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا إِخَالُهُ ”

        Telah menceritakan kepada kami Musaddad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa, dari Syu’bah, dari Taubah, dari Muwarriq, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma : “Apakah engkau melakukan shalat Dluhaa ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Aku kembali bertanya : “Bagaimana dengan ‘Umar ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Aku kembali bertanya : “Abu Bakr ?”. Ia menjawab : “Tidak”. Aku kembali bertanya : “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Ia menjawab : “Aku kira tidak” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1175].

        Padahal, ada riwayat shahih bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan dan memerintahkan shalat Dluhaa.

        حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي لَيْلَى، يَقُولُ: ” مَا حَدَّثَنَا أَحَدٌ، أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ، فَإِنَّهَا قَالَتْ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَاغْتَسَلَ وَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، فَلَمْ أَرَ صَلَاةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ ”

        Telah menceritakan kepada kami Aadam : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Murrah, ia berkata : Aku mendengar ‘Abdurrahmaan bin Abi Lailaa berkata : “Tidak ada seorang pun yang menceritakan kepadaku bahwa ia melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dluhaa kecuali Ummu Haani’.

        Sesungguhnya ia pernah berkata : “Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk ke rumahnya pada hari Fathu makkah, lalu beliau mandi dan melakukan shalat delapan raka’at. Aku tidak pernah melihat shalat yang lebih ringan daripada itu, namun beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1176].

        حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ يَعْنِي الرِّشْكَ، حَدَّثَتْنِي مُعَاذَةُ، أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، ” كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي صَلَاةَ الضُّحَى ؟ قَالَتْ: أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ ”

        Telah menceritakan kepada kami Syaibaan bin Farruukh : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Waarits : Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Ar-Risyk : Telah menceritakan kepadaku Mu’aadzah, bahwasannya ia pernah bertanya kepada ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa : “Berapa raka’at Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat Dluhaa ?”. ‘Aaisyah menjawab : “Empat raka’at, dan beliau menambah sebanyak yang Allah kehendaki” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 719].

        حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ، أَخبرنا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، سَمِعَ عَاصِمَ بْنَ ضَمْرَةَ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي مِنَ الضُّحَى ”

        Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Daawud : Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaaq, ia mendengar ‘Aashim bin Dlamrah meriwayatkan dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat Dluhaa” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/89; Al-Arna’uth berkata : “sanadnya qawiy (kuat)”].

        حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ، حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ وَهُوَ ابْنُ مَيْمُونٍ، حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، عَنْ أَبِي الأَسْوَدِ الدُّؤَلِيِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى ”

        Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Asmaa’ Adl-Dluba’iy : Telah menceritakan kepada kami Mahdiy bin Maimuun : Telah menceritakan kepada kami Waashil maulaa Abi ‘Uyainah, dari Yahyaa bin ‘Uqail, dari Yahyaa bin Ya’mar, dari Abul-Aswad Ad-Dualiy, dari Abu Dzarr, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Pada setiap pagi, setiap sendi tubuh Bani Adam harus bersedekah. Setiap tasbih bisa menjadi sedekah. Setiap tahmid bisa menjadi sedekah. Setiap tahlil bisa menjadi sedekah. Setiap takbir bisa menjadi sedekah. Setiap amar ma’ruf nahi munkar juga bisa menjadi sedekah. Semua itu dapat digantikan dengan raka’at yang dilakukan pada waktu Dluha” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 720].

        Orang yang mengetahui menjadi hujjah bagi orang yang tidak mengetahui.
        2. Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa tidaklah menafikkan shalat Dluhaa secara mutlak. Shalat tersebut masyru’ dilakukan jika baru datang dari bepergian.
        حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الصَّوَّافُ، نَا سَالِمُ بْنُ نُوحٍ الْعَطَّارُ، أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يُصَلِّي الضُّحَى إِلا أَنْ يَقْدَمَ مِنْ غَيْبَةٍ ”

        Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim Ash-Shawwaaf : Telah menceritakan kepada kami Saalim bin Nuuh Al-‘Aththaar : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat Dluhaa kecuali jika baru datang dari bepergian” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 2/230-231 no. 1229; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam ta’liq Shahih Ibni Khuzaimah].

        3. Bersamaan dengan itu, Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa juga pernah mengerjakannya.
        ثَنَا لَيْثٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، كَانَ يُسْأَلُ عَنْ صَلاةِ الضُّحَى فَلا يَنْهَى وَلا يَأْمُرُ بِهَا، وَيَقُولُ: ” إِنَّمَا أَصْنَعُ كَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابِي يَصْنَعُونَ، وَلَكِنْ لا تُصَلُّوا عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَلا عِنْدَ غُرُوبِهَا ”

        Telah menceritakan kepada kami Laits, dari Naafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwa ia pernah ditanya tentang shalat Dluhaa, maka ia tidak melarangnya dan tidak pula memerintahkannya. Ia berkata : “Aku hanyalah melakukannya sebagaimana aku lihat para shahabatku melakukannya. Akan tetapi janganlah kalian mengerjakannya ketika matahari terbit dan tenggelamnya” [Diriwayatkan oleh Abu Jahm Al-Baghdaadiy dalam Juz-nya no. 17; sanadnya shahih].

        Jelasnya lagi dalam riwayat :

        حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ هُوَ الدَّوْرَقِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا كَانَ لَا يُصَلِّي مِنَ الضُّحَى إِلَّا فِي يَوْمَيْنِ يَوْمَ يَقْدَمُ بِمَكَّةَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَقْدَمُهَا ضُحًى فَيَطُوفُ بِالْبَيْتِ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَلْفَ الْمَقَامِ، وَيَوْمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَأْتِيهِ كُلَّ سَبْتٍ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَرِهَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهُ حَتَّى يُصَلِّيَ فِيهِ، قَالَ: وَكَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَزُورُهُ رَاكِبًا وَمَاشِيًا، قَالَ: وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّمَا أَصْنَعُ كَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابِي يَصْنَعُونَ، وَلَا أَمْنَعُ أَحَدًا أَنْ يُصَلِّيَ فِي أَيِّ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ، غَيْرَ أَنْ لَا تَتَحَرَّوْا طُلُوعَ الشَّمْسِ وَلَا غُرُوبَهَا

        Telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Ibraahiim Ad-Dauraqiy : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah : Telah mengkhabarkan kepada kami Ayyuub, dari Naafi’ : Bahwasannya Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa tidak pernah mengerjakan shalat Dhuha kecuali pada dua kali, yaitu hari ketika dia mengunjungi Makkah saat dia memasuki kota Makkah di waktu Dhuha lalu dia melakukan thawaf di Ka’bah kemudian shalat dua raka’at di belakang maqaam (Ibraahiim). Dan yang lain adalah saat ia mengunjungi masjid Qubaa’, yang ia mendatanginya pada hari Sabtu. Bila ia telah memasukinya, maka ia enggan untuk keluar darinya hingga ia shalat terlebih dahulu di dalamnya. Berkata Nafi’ : “Dan Ibnu’Umar radliallaahu ‘anhumaa menceritakan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi (masjid Qubaa’) baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki”. Berkata Nafi’ : Dan Ibnu ‘Umar radliallaahu ‘anhumaa berkata : “Sesungguhnya aku mengerjakan yang demikian seperti aku melihat para sahabatku melakukannya, namun aku tidak melarang seseorangpun untuk mengerjakan shalat pada waktu kapanpun yang ia suka baik di waktu malam maupun siang hari, asalkan tidak bersamaan waktunya saat terbitnya matahari atau saat tenggelam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1192].

        Dari sini terdapat sedikit kejelasan bahwa ‘sebaik-baik bid’ah’ yang dimaksudkan oleh Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa adalah terkait shalat sunnah mutlak yang dilakukan oleh seorang muslim pada waktu malam dan siang, dan kemudian orang-orang banyak melakukannya pada waktu Dluhaa. Di satu sisi Ibnu ‘Umar mengetahui bahwa shalat sunnah mutlak siang dan malam itu adalah masyru’, namun di sisi lain ia tidak mengetahui adanya dalil pendawaman shalat Dluhaa secara khusus di luar waktu ketika tiba dari bepergian.
        Dengan kata lain, perkataan sebaik-baik bid’ah yang diucapkan Ibnu ‘Umar tadi terkait dengan shalat sunnah mutlak yang banyak dikerjakan kaum muslimin pada waktu Dluhaa, bukan pada shalat Dluhaa-nya itu sendiri.

        Oleh karena itu, bid’ah dalam perkataan ‘sebaik-baik bid’ah’ dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa adalah bid’ah secara bahasa (lughawiy). Bukan bid’ah secara istilah. Telah masyhur perkataan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa tentang penafikan eksistensi bid’ah hasanah sebagaimana riwayat :

        أَخْبَرَنَا أَبُو طَاهِرٍ الْفَقِيهُ، وَأَبُو سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَمْرٍو، قَالا: ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ الأَصَمُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْمُنَادِي، ثنا شَبَابَةُ، ثنا هِشَامُ بْنُ الْغَازِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: ” كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً ”

        Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Thaahir Al-Faqiih dan Abu Sa’iid bin Abi ‘Amru, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Al-Asham : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ubaid Al-Munaadiy : Telah menceritakan kepada kami Syabaabah : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin Al-Ghaar, dari Naafi, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun orang-orang memandangnya sebagai satu kebaikan (bid’ah hasanah) [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhal no. 19; sanadnya hasan].

        Dan inilah praktek Ibnu ‘Umar dalam penafikan bid’ah hasanah :

        حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ، حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ الرَّبِيعِ، حَدَّثَنَا حَضْرَمِيٌّ مَوْلَى آلِ الْجَارُودِ، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ رَجُلًا عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ، فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، قَالَ ابْنُ عُمَرَ: وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا، أَنْ نَقُولَ: ” الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ”

        Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah : Telah menceritakan kepada kami Ziyaad bin Ar-Rabii’ : Telah menceritakan kepada kami Hadlramiy maulaa aali Al-Jaarud, dari Naafi’ : Bahwasannya ada seorang laki-laki yang bersin di samping Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, lalu dia berkata : “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillaah (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasulullah)”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Dan aku mengatakan : alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami untuk mengucapkan (ketika bersin) : ‘Alhamdulillah ‘alaa kulli haal’ (Alhamdulillah dalam segala kondisi)” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2738].

        Seluruh perawinya tsiqaat, kecuali Hadlramiy, seorang yang maqbuul. Ia mempunyai mutaba’ah dari Sulaimaan bin Muusaa sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Asy-Syaamiyyiin 1/186 no. 323. Oleh karena itu riwayat ini adalah hasan.

        Kembali ke awal pembicaraan. Tidak ada petunjuk yang shahih dan sharih dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa tentang pelegalan eksistensi bid’ah hasanah. Seandainya ada yang tetap keukeuh menganggap Ibnu ‘Umar mendukung bid’ah hasanah, maka hakekatnya ia hanya mengambil satu riwayat dan membutakan diri terhadap riwayat-riwayat lainnya, serta enggan melakukan pengkompromian untuk menghasilkan satu pemahaman komprehensif madzhab Ibnu ‘Umar dalam masalah bid’ah.
        Wallaahu a’lam.

        [abul-jauzaa’ – wonokarto, wonogiri, 12072012]

        1. @ummu abdillah
          Kok mencontohkan bid’ah hasanah dengan shalat dhuha, shalat dhuha adalah benar sunnah, ente mengambil tentang pertentangannya sih. lihat hadist2 yang shahih juga dong.
          Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda :
          “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at. (HR. Muslim).

          Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “(Waktu terbaik) shalat awwabin (nama lain untuk shalat Dhuha yaitu shalat untuk orang yang taat atau kembali untuk taat adalah ketika anak unta merasakan terik matahari”. (HR. Muslim).

          Apakah itu memang bukan sunnah, cari contoh lainlah.

        2. Bismillah,

          Maaf saudariku @Ummu Abdillah, kami tidak sedang berargumentasi tentang sholat dhuha, akan tetapi pernyataan Ibnu Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- antara Kullu Bid’atin Dholaalah Wa In Ro’aaha Annasu Hasanatan dengan pernyataan beliau Ni’matil Bid’ah

          Sekali lagi bukan tentang sholat dhuha dalam pandangan Ibnu Umar, akan tetapi pernyataan beliau yang dzhirnya “Ta’aarudh”.
          Pada satu kesempatan beliau menafikan “Bid’ah Hasanah” sama sekali. Namun dilain kesempatan beliau mencanangkan adanya “Ni’matil Bid’ah”

        3. Perhatikan kutipan dari kopasan berikut:

          “Dari sini terdapat sedikit kejelasan bahwa ‘sebaik-baik bid’ah’>yang dimaksudkan oleh Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa adalah terkait <shalat sunnah mutlak yang dilakukan oleh seorang muslim pada waktu malam dan siang, dan kemudian orang-orang banyak melakukannya pada waktu Dluhaa".

          So, pengkhususan amalan mutlak (shalat sunah mutlak) di waktu tertentu (di waktu dhuhah) dan mendawamkan adalah sebaik-baik bid'ah.

          Senjata makan tuan akibat tidak memahami kopasan namun langsung main paste. Mungkin penulisannya juga tidak sadar akan hal ini.

    2. dua tanduk setan, jelas dalilnya.

      satu tanduk berasal dari irak (Syiah Rafidhoh)

      tanduk yang lain adalah Najd (wahabiyyun), dalilnya ada 10 loh (kata mas Alex)

      Gitu mas Ummu Abdillah

  4. Mbak ummu tentang nejd anda mengatakan:
    “PADAHAL SUDAH JELAS PENJELASAN DARI SANG AHLI YAITU SALIM BIN IBNU UMAR BIN UMAR KHATTAB
    BAHWA NAJD ITU MERUJU PADA IRAQ TETAPI DISELEWENGKAN ULAMA’ MUTHAKIRIN…HE..HE..”
    Tapi kalau yang mengkategorikan najd termasuk dalam jajaran khilaf tentang masalah tanduk setan (dan menjadi opsi khilaf nomer satu) adalah LAJNAH DAIMAH KEBANGGAN SAUDI GIMANA? Apakah Juga termasuk yang anda pandang sebelah mata? Sbb:
    السؤال الثاني من الفتوى رقم 6667
    س : ما هي الفتنة التي يقولها عليه الصلاة والسلام في هذا الحديث : عن عبد الله بن عمر أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو مستقبل المشرق يقول : ألا إن الفتنة هاهنا ألا إن الفتنة هاهنا من حيث يطلع قرن الشيطان ؟

    الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه ، وبعد :

    جـ : المراد بالفتنة هنا الكفر ، وجاء في رواية مسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : رأس الكفر نحو المشرق قال : الإيجي قوله : ” رأس الكفر ” أي معظمه في المشرق . انتهى .

    ونقل عن القاضي عياض ما نصه : قيل يعني بالمشرق فارس ، لأنها حينئذ دار معظمة ، ورد بقوله في بقية الحديث ( أهل الوبر ) وفارس ليسوا بأهل الوبر ، وقيل : يعني نجد مسكن ربيعة ومضر وهي مشرق لقوله في حديث ابن عمر حين قال صلى الله عليه وسلم : اللهم بارك لنا في يمننا وشامنا ، قالوا : وفي نجدنا يا رسول الله ، قال : هنالك الزلازل والطاعون وبها يطلع قرن الشيطان وفي الآخر حين قال : اللهم اشدد وطأتك على مضر وأهل المشرق يومئذ من مضر مخالفون له ، ولدعائه على مضر في غير موطن ، ويقول حذيفة لا تدع مضر عبدا لله إلا فتنوه وقتلوه ، وكذا قال لهم حذيفة حين دخلوا على عثمان وملأوا الحجرة والبيت : لا تبرح ظلمة مضر لكل عبد لله مؤمن فتفتنه فتقتله ،
    وقيل : يعني ما وقع بالعراق في الصدر الأول من الفتنة الشديدة كيوم الجمل وصفين وحروراء وفتن بني أمية وخروج دعاة بني العباس وارتجاج الأرض فتنة وكل ذلك كان بشرق نجد والعراق ، وجاء في حديث الخوارج يخرج قوم من المشرق والكفر على هذا كفر نعمة ،
    وقيل : يعني الكفر حقيقة ورأسه الدجال لأنه يخرج من المشرق . انتهى .

    وقال النووي في شرح مسلم على قوله صلى الله عليه وسلم : حيث يطلع قرنا الشيطان في ربيعة ومضر : وأما قرنا الشيطان فجانبا رأسه ، وقيل هما جمعاه اللذان يغريهما بإضلال الناس ، وقيل شيعتاه من الكفار والمراد بذلك اختصاص المشرق بمزيد من تسلط الشيطان ومن الكفر كما قال في الحديث الآخر : رأس الكفر نحو المشرق وكان ذلك في عهده صلى الله عليه وسلم حين

    قال ذلك ويكون حين يخرج الدجال من المشرق ، وهو فيما بين ذلك منشأ الفتن العظيمة ومثار الكفرة الترك الغاشمة العاتية الشديدة البأس . انتهى .

    والظاهر أن الحديث يعم بجميع المشرق الأدنى والأقصى والأوسط ومن ذلك فتنة مسيلمة وفتنة المرتدين من ربيعة ومضر وغيرهما في الجزيرة العربية .

    وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

    اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
    Wallohu a’lam

  5. MENSIKAPI AYAT QUR’AN “SEMPURNANYA ISLAM”.

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
    “pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridloi Islam itu Jadi agama bagi kalian” [QS. Al Maaidah 3]

    Imam At Thobari menjelaskan Ayat diatas sebagai berikut:
    تفسير الطبري – (ج 9 / ص 517)
    فقال بعضهم: يعني جل ثناؤه بقوله:”اليوم أكملت لكم دينكم”، اليوم أكملت لكم، أيها المؤمنون، فرائضي عليكم وحدودي، وأمري إياكم ونهيي، وحلالي وحرامي، وتنزيلي من ذلك ما أنزلت منه في كتابي، وتبياني ما بيَّنت لكم منه بوحيي على لسان رسولي، والأدلة التي نصبتُها لكم على جميع ما بكم الحاجة إليه من أمر دينكم، فأتممت لكم جميع ذلك، فلا زيادة فيه بعد هذا اليوم. قالوا: وكان ذلك في يوم عرفة، عام حجَّ النبي صلى الله عليه وسلم حجة الوَدَاع. وقالوا: لم ينزل على النبي صلى الله عليه وسلم بعد هذه الآية شيء من الفرائض، ولا تحليل شيء ولا تحريمه، وأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يعش بعد نزول هذه الآية إلا إحدى وثمانين ليلة.
    Artinya: “Maka sebagian ulama berkata: yakni yang di kehendaki sebagian ulama -pujian yang agung untuk mereka- dengan firman Alloh [الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ], pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian wahai orang-orang muslim (berupa) kewajiban-kewajibanKu untuk kalian, Hukuman-hukumanku, perintahKu pada kalian, laranganKu, HalalKu, HaramKu, kesemuanya itu AKU turunkan dalam kitabKu, penjelasanKu adalah apa yang Aku jelaskan pada kalian dari kitabKU dengan wahyu atas lisan rosulKu, DAN DALIL-DALIL YANG AKU PERUNTUKKAN BAGI KALIAN ATAS SEMUA KEBUTUHAN KALIAN DARI (HAL YANG BERKAITAN) DENGAN AGAMA KALIAN. Maka aku sempurnakan semua itu bagi kalian, janganlah menambahi hal tersebut setelah hari ini.
    Sebagian ulama berkata: turunnya ayat diatas pada hari ‘Arofah, tahun dimana baginda Nabi SAW. melakukan haji perpisahan.
    Sebagian ulama berkata: Setelah turunnya ayat ini tidak turun lagi pada Nabi SAW. ayat-ayat yang menjelaskan kewajiban-kewajiban, halal dan haramnya sesuatu, dan sesungguhnya setelah turunnya ayat ini (jarak) delapan puluh satu malam baginda Nabi SAW. meninggal dunia.

    Kemudian keterangan Imam Thobari tentang “DAN DALIL-DALIL YANG AKU PERUNTUKKAN BAGI KALIAN ATAS SEMUA KEBUTUHAN KALIAN DARI (HAL YANG BERKAITAN) DENGAN AGAMA KALIAN” sesuai dengan pendapat ulama empat madzhab tentang adanya Qiyas dan Ijma’ yakni PENGEMBANGAN PEMIKIRAN MELALUI DASAR AL QUR’AN DAN AL HADIST seperti uraian Imam Ali Rozi Al Jassosh sebagai berikut:

    الفصول في الأصول للشيخ علي الرازي الجصاص الحنفي الجزء الرابع ص: 26
    فَإِنْ قِيلَ: قَالَ تَعَالَى: { لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ } وَالْقِيَاسُ الشَّرْعِيُّ لَا يُفْضِي إلَى الْعِلْمِ, فَعَلِمْنَا أَنَّهُ لَمْ يُرَدْ بِهِ. قِيلَ لَهُ: هَذَا غَلَطٌ, لِأَنَّ مَنْ يَقُولُ: إنَّ كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ, يَقُولُ: قَدْ عَلِمْت أَنَّ مَا أَدَّانِي إلَيْهِ قِيَاسِي فَهُوَ حُكْمٌ لِلَّهِ تَعَالَى ( عَلَيَّ ), وَأَمَّا مَنْ قَالَ: إنَّ الْحَقَّ فِي وَاحِدٍ, فَإِنَّهُ يَقُولُ: هَذَا عِلْمُ الظَّاهِرِ, كَخَبَرِ الْوَاحِدِ, وَكَالشَّهَادَةِ, وَكَقَوْلِهِ تَعَالَى: { فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ } وَيَدُلُّ عَلَيْهِ أَيْضًا: قوله تعالى: { وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ } قوله تعالى { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } وَقَالَ تَعَالَى: { مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ }. فَإِذْ لَمْ نَجِدْ فِيهِ كُلَّ حُكْمٍ مَنْصُوصًا, عَلِمْنَا أَنَّ بَعْضَهُ مَدْلُولٌ عَلَيْهِ, وَمُودَعٌ فِي النَّصِّ, نَصِلُ إلَيْهِ بِاجْتِهَادِ الرَّأْيِ فِي اسْتِخْرَاجِهِ. وَيَدُلُّ عَلَيْهِ قوله تعالى: { لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ } قَدْ حَوَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ثَلَاثَةَ مَعَانٍ: أَحَدُهَا: مَا نَزَّلَ اللَّهُ تَعَالَى مَسْطُورًا. وَالْآخَرُ: بَيَانُ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم لِمَا يَحْتَاجُ مِنْهُ إلَى الْبَيَانِ. وَالثَّالِثُ: التَّفَكُّرُ فِيمَا لَيْسَ بِمَنْصُوصٍ عَلَيْهِ وَحَمْلُهُ عَلَى الْمَنْصُوصِ. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: وَاحْتَجَّ إبْرَاهِيمُ بْنُ عُلَيَّةَ, لِإِثْبَاتِ الْقِيَاسِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: { فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ }…
    Artinya: “Apabila di tanyakan (Ada pertanyaan): Alloh berfirman:
    “Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri” [QS. An Nisaa 83]
    Sedangkan Qiyas Syar’iy tidak sampai taraf ‘ilmu (mengetahui maksud hukum dari Al Qur’an), maka kita mengetahui bahwa Qiyas Syar’iy tidak bisa di datangkan (untuk mengetahui maksud hukum dari Al Qur’an).
    Maka pertanyaan diatas di jawab: Ini adalah sebuah kekeliruan, karena sesungguhnya orang yang berkata: sesungguhnya setiap Mujtahid mendapat pahala, berkata: telah engkau ketahui bahwa sesungguhnya Qiyas yang aku datangkan adalah hukum Alloh Ta’ala padaku, dan apabila ada yang bertanya: sesungguhnya yang benar Cuma satu, maka mereka berkata: Ini tertentu pada ilmu dlohir, seperti adanya hadist wakhid, persaksian dan seperti Firman Alloh Ta’ala:
    “maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka(perempuan-perempuan yang beriman) (benar-benar) beriman” [QS Al Mumtahanah 10]
    Dan yang menunjukkan ilmu dlohir juga terdapat pada Firman Alloh:
    “dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu” [QS. An Nahl 89]
    Pada Firman Alloh:
    “pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian” [QS. Al Maaidah 3]
    Dan Alloh (juga) berfirman:
    “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[472]”,
    [472] Sebagian mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. dan ada pula yang menafsirkannya dengan Al-Quran dengan arti: dalam Al-Quran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada umumnya.[QS. Al An’am 38]
    MAKA APABILA KITA TIDAK MENEMUKAN DALAM AL QUR’AN SETIAP HUKUM DENGAN JELAS (TERTERA DALAM AL QUR’AN, SEPERTI DETAIL HAID, HUKUM ALKOHOL, ROKOK DSB. PENT.), KITA BISA MENGETAHUI BAHWA SEBAGIAN HUKUM TERSEBUT DI AMBILKAN DALIL DARI (PEMAHAMAN) AL QUR’AN DAN DI TINGGALKAN DALAM NASH AL QUR’AN, YANG HANYA BISA KITA FAHAMI DENGAN MENGASAH KEMAMPUAN OTAK/PIKIRAN (IJTIHAD BIRRO’YI) UNTUK MECETUSKAN HUKUM (DARI NASH AL QUR’AN). DAN YANG MENUNJUKKAN HAL TERSEBUT ADALAH FIRMAN:
    “agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan”,
    [829] Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran. [QS. An Nahl 44]
    Ayat ini mencakup tiga makna:
    1. Apa yang Alloh turunkan telah tertulis.
    2. Adanya penjelasan dari Rosululloh SAW. terkait hal-hal yang perlu untuk di jelaskan.
    3. (BOLEH) MEMIKIRKAN/MENGASAH OTAK TENTANG HAL YANG BELUM TERTERA DALAM AL QUR’AN DAN MENGARAHKAN PADA HAL YANG TELAH TERTERA PADA AL QUR’AN.
    Imam Abu Bakar berkata: Imam Ibrohim bin ‘Ulaiyah berpegang teguh konsep penetapan Qiyas dengan Firman Alloh Ta’ala:
    “Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” [QS. Al Hasyr 2]
    Wallohu a’lam

  6. Biasanya kalau sudah ditampilkan DALIL, Ummu Abdillah langsung kabur seperti Syetan berpapasan dengan Syayidina Umar. Nanti tahu-tahun NONGOL lagi di topik lain. Begini nih model ILMU Copy Paste. Listrik atau Bateray mati, langsung ga bunyi.

  7. Makasih artikelnya ustadz Abu Hilya.
    Makasih kata pengantar dan gambarnya mas Admin. Gambarnya bagus sudah saya donlot untuk dijadikan koleksi, keledai mikul kitab.

  8. Bismillah…
    tentang surat al maidah ayat 3
    Pendapat yang masyhur di kalangan masyarakat bahwasanya surat Al Maidah ayat 3 merupakan ayat yang terakhir kali diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah:3)Namun di dalam buku-buku tafsir dan buku-buku ulumul quran yang masyhur ternyata ayat berikut:

    وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّاكَسَبَتْ وَهُمْ لاَيُظْلَمُونَ

    Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Baqarah:281)

    Lalu yang benar, ulama penulis tafsir dan buku-buku ulumul quran atau pendapat yang tersebar di masyarakat awam?

    Berikut keterangan singkatnya.

    Ibnu Juraij mengatakan, “Ayat ini turun enam malam sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, setelah itu Allah tidak menurunkan satu pun ayat lagi kepada Nabi.” Menurut Ibnu Jubair dan Muqatil tujuh malam sebelum Nabi wafat. Ada pula yang menyatakan tiga hari bahkan beberapa saat sebelum Nabi wafat.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat mencatatnya dalam Alquran antara ayat riba dan utang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jibril datang kepadaku dan memerintahkan agar meletakkan ayat tersebut di awal ayat 280.”

    Ibnu Abbas mengatakan, “Ayat Alquran yang paling terakhir diturunkan adalah

    واتقوا يوما ترجعون فيه إلى الله ثم توفى كل نفس ما كسبت وهم لا يظلمونDan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)

    Kemudian Jibril mengatakan, ‘Wahai Muhammad letakkanlah ayat ini di awal ayat 280 surat Albaqarah’.”
    diringkas dari Kitab Jami’ li Ahkamil Quran oleh Imam Al Qurthubi.

    wallohu a’lam

    1. Tulang medan@

      tulang medan, syukron penjelasannya tentang YAUMA AKMALTU, surat Al Maidah ayat 3, mantab urainya yg dinukil dari kitab2 klasik, jadi menambah pengetahuan saya dan pengunjung yg lain. sekali lagi syukron, barokallohu fik.

      Oh ya, saya upa Tulang… nggak nyangka di Medan juga ada yg brilliant dalam hal kitab2 klasik seperti antum. Afwan…

  9. singkat tapi mengena. sangat penting untuk dijadikan tolok ukur bagi yang ingin menjadi mujtahid saat ini. apakah kualitas ilmu kita sudah sedemikian hebatnya sehingga kita layak untuk berijtihad atau bahkan kita tidak punya kompetensi dalam ilmu-ilmu tersebut sehingga kembali lagi kita ke derajat muqollid.
    minta ijin untuk copas ya ustadz buat disebar ke teman2 pengajian. syukron

  10. Bismillaah,

    Kita orang awam hanya mampu bertanya: “Mana Dalilnya” kepada guru kita. Dan guru kita akan menunjukkan dalil amalan ibadah kepada kita. Jangan malu bertanya dalil. Bila malu, maka kita tidak akan mengetahui dalil. Padahal dalil itu ilmu. Bila kita tidak tahu dalil, maka kita beragama tanpa ilmu, beribadah tanpa ilmu.

    Wallaahu a’lam.

    1. Kang Ibnu Suradi, antum sudah pernah belajar dari tingkat Ibtida’ atau langsungsung ke tingkat Ulya? Kaenapa saya tenya demikian, karena antum ini sangat ganjil sebagai orang awam. Sebaiknya antum belajar dulu ilmu-ilmu dari dasar biar kalau koment bermutu, insyaallah akan lebih bagus kalau antum belajar ilmu dari mulai yg paling dasar. Jadi benar itu saran Mbak Aryati Kartika kpd antum agar belajar dari dasar atau ibtida’, silahkan coba deh.

      1. Bismillaah,

        Mbak Aryati,

        Mungkin kita dan kawan-kawan anda berbeda dalam cara belajar dari saya dan kawan-kawan saya. Kami biasa menanyakan dalil kepada guru kami tentang suatu amalan. Misalkan, saat shalat berjamaah, saya mendengar dan menyaksikan imam berbicara memerintahkan merapatkan shaf shalat berjamaah tapi tanpa memberitahu caranya. Maka, setelah shalat, saya bertanya kepada guru saya bagaimana cara merapatkan shaf. Kemudian guru saya menjelaskan cara merapatkan shaf dengan menyampaikan dalil-dalilnya.

        Dulu ketika masih dikampung, saya hanya diajari untuk berbaris untuk shalat berjamaah. Waktu itu, guru di musholla tempat saya shalat tidak menjelaskan dalil-dalil cara merapatkan shaf dan saya juga tidak menanyakannya. Yang penting berbaris dalam shaf, tidak peduli barisannya bengkok-bengkok dan tidak rapat.

        Pada setiap kajian, menanyakan dalil bagi kami adalah biasa. Si penanya tidak dianggap lancang. Dan guru juga senang menjelaskannya. Bila belum mengetahui dalilnya, guru mengatakan: “Saya belum mengetahuinya. Saya akan mencari tahu. Nanti akan saya sampaikan kepada kalian.”

        Mungkin cara pengajaran yang diterima Mbak Aryati sama dengan cara pengajaran yang saya terima saat di kampung. Maaf bila salah tebak.

        Wallaahu a’lam.

        1. Kang Ibnu Suradi,
          Sebelumnya saya mohon maaf kalau saran saya telah menyinggung ego yg ada di hatimu. Akan tetapi apa yg saya sarankan itu adalah berdasar pengamatan saya atas koment2 antum selama 2 tahun ini, yang mana koment2 antum itu sangat jelas menyiratkan persepsi bahwa antum paling tahu tahu dalil tentang shalat. Oleh karena itulaha maka saya menyarankan antum untuk belajar lagi di Ibtida’iyah, maksudnya agar antum tahu di Ibtida’iyah kelas 4 itu sudah kami sudah belajar dalil-dalil tentang sholat, di antaranya belajar Bulughul Marom. Kalu di tingkat dasar aja sudah belajar bulughul Marom bagaimana di tingkat2 selanjutnya? Kok antum petantang-petenteng selama 2 tahun ini ingin pamer ilmu di hadapan anak2 santri?

          Tapi nggak apalah, saya pribadi sekarang sudah maklum, karena bisa diibaratkan seorang anak, antum adalah ibarat anak remaja yg sedang puber. Antum tahu kan bagaimana tingkah polah remaja yg sedang mengalami pubertas? Demikian semoga berkenan dg kejujuran saya ini atas pengamatan terhadap tingkah polah antum dalam berkomentar yg selalu mempermasalahkan tentang Sholat. Hampir di semua postingan walaupun tidak sedang bicara tentang sholat, tetapi antum selalu bicara tentang sholat di setipa postingan2 yg telah lau. Kalau bisa diibaratkan seorang anak remaja, ya begitulah kalau anak remaja sedang mengalami pubertas, egonya sangat tinggi ingin menunjukjkan bahwa dirinya paling tahu persoalan. Padahal sesungguhnya tidak dmikian halnya.

          Mohon maaf dan syukron.

          1. Bismillaah,

            Mbak Aryati,

            Saya belajar untuk mendapatkan ilmu atau dalil Qur’an dan hadits sehingga ibadah saya berdasarkan ilmu atau dalil Qur’an dan hadits. Sebenarnya, tujuan anda belajar itu untuk apa, sih?

            Wallaahu a’lam.

          2. Kang ibnu Suradi,
            tujuan belajar adalah supaya “tahu” dan pintar, adapun kaitannya dg agama, setelah tahu dan pintar lalu dipraktekkan, maksud saya bukan dipraktekkan untuk “minteri” (sekedar pamer ilmu, pamer dalil).

            Satu lagi, di akhirat nanti kita tidak akan ditanya soal dalil, akan tetapi dinilai dari sisi prakteknya, ikhlas lillahi ta’ala atau sekedar pameran ibadah gara2 merasa sudah sesuai dalil?

            Maaf, bukan berarti dalil tidak penting, cuma saya berbicara dari sudut pandang orang awam (bukan Ulama), sebab kebanyakan kita adalah orang awam daripada Ulama.

          3. Bismillaah,

            Mbak Aryati,

            Apakah orang yang tahu dan pintar itu adalah orang yang berilmu. Apakah yang dimaksudkan dengan ilmu dalam agama Islam itu adalah Qur’an dan Sunnah (hadits) atau yang lainnya? Apakah tiap muslim wajib menuntut ilmu tersebut?

            Wallaahu a’lam.

          4. Kang Ibnu Suradi,
            Oke saya tahu apa yg antum maksudkan, yaitu apa yg sehari-hari digembar-gemborkan oleh Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat di Roja, bahwa ilmu adalah “Qoolallah wa qoolarrosul”, saya stuju. Lantas, apakah menurut kalian “qoolalulama” bukan ilmu, bagitukah?

          5. Kang Mamo…. biasalah, Ibnu Suradi kalau nggak bisa jawab akibat pernyataanya sendiri langsung ngilang atau KO dan pingsan, pingsannya lama banget, capek nunggu kemunculannya lagi.

        2. OK mz….kalau memang bnar sampeyan selalu menanyakan “MANA DALILNYA” skrg saya tanya…monggo dijwab ya, ini terkait amalan dibulan ramadhan yg dilakukan teman2 salafy….saya tanyain mpe skrg gk ada salafy bisa jwab lho…mungkin sampeyan bisa jawab….

          1. pengkhususan membaca 1 juz pada tiap malam di sholat teraweh (itu dilakukan di mekah) boleh tau dalilnya rasul melakukan ini?
          2. pada 10 malam terakhir melakukan sholat tahajud BERJAMAAH…boleh tau dalilnya juga?ini dilakukan di saudi n skrg juga mulai byk dilakukan diindonesia juga oleh org2 salafi
          3. pada rakaat terakhir dimalam terakhir teraweh atau bisa juga dimalam 27 membaca doa khatam quran..

          nah dri 3 amalan ramadhan kaum wahabi diatas boleh tau mz dalilnya?
          inget lho..perkara baru dalam agama itu bidah

          monggo mz @ibnu suradi

          1. Wah br tau klo ada perkara bidah lainnya ala wahaby selain tauhid 3. Msuk hasanah apa dolalah ya. Jgn2 dikategorikan bidah dunia…(ngeles mode).

    2. Bismillah,

      Pak @Ibnu Suradi, baiklah, kami ikuti saran anda…

      Kalau begitu tunjukkan kepada kami “Mana Dalilnya” tentang :

      a. bahwa kita harus bertanya tentang dalil atas setiap amaliyah kita

      b. Tidak mengetahui dalil berarti tidak mengetahui ilmunya amal

      terima kasih

    3. @ibnu suradi

      setahu saya
      1. klo kita nyari guru pasti nyari orang yang ilmunya lebih tinggi dari kita atau malah ahlinya
      2. klo kita belajar dari seorang guru kita harus yakin bahwa guru kita tidak menyesatkan kita, kalo kita ga yakin ngapain belajar ama tuh guru
      3. seorang guru itu biasanya ngajarnya bertahap kaga langsung ngasih dalil bener tuh kata mbak aryati, kayaknya ga mungkin klo kita ngajarin orang ga pernah sholat langsung pake dalil! boro2 dia ngerti yang ada puyeng!
      4. menanyakan “mana dalilnya” ama guru kita menurut saya ko kayanya songong gitu! menunjukan ketidak percayaan kita pada guru kita walaupun itu sah – sah aja!
      terakhir saya mau nanya sama ente, apakah ente ketika pertama kali belajar solat langsung nanyain “mana dalilnya” ama guru ente, trus bagaimana reaksi guru ente?
      wallahu muwafiq

    4. Nah loh…kang ibnu suradi baru nongol nih, begtu nongol…tulisannya itu lagi itu lagi…hadeh…tulisan ente itu khan dah pernah dibahas toh…dalil mana? mana dalil? dalil mana dalil? ntr lama” jadi dalilnya kemana? cape dehhhh tulisan/komeng” ente itu” mulu tanpa ente sendiri tau isi dan maknanya apa,dah kadaluarsa itu komeng” ente….ntr mabok loh kebanyakan mengkonsumsi yg kadaluarsa….hehehhe peace kang ibnu jgn ngambek dunk, masa cmn gtu duank ngambek…gak seru ah…ntr jarang kesini lagi…. hihihi

  11. @Ummu abdillah

    dalam memahami kalimat Kullu bid’atin dholalah, harus secara komprehensif. memang benar, kullu itu bermakna semua. namun, yg saya ketahui bahwa, setiap kalimat umum harus dicari dahulu pentakhsisnya. dan pentakhsisnya adalaha hadist “Barang siapa yang mensunnahkan (membuat/menetapkan) di dalam Islam suatu sunnah hasanah (ketetapan/kebiasaan baik) maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun, dan barang siapa yang mensunnahkan (membuat/menetapkan) di dalam Islam suatu sunnah sayyi’ah (ketetapan/kebiasaan buruk) maka atas dia dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim)

    Bila kaum Salafi & Wahabi menafsirkan kata “sanna sunnatan hasanatan” di atas dengan makna “menghidupkan sunnah yang baik” dari sunnah atau ajaran Rasulullah Saw. yang telah ditinggalkan orang karena melihat asbab wurud (latar belakang dikeluarkannya hadis tersebut) yaitu berkenaan dengan sedekah, maka tafsiran itu sungguh keliru dan sangat menyimpang. Kejanggalan tafsiran mereka akan lebih terlihat bila dihubungkan dengan ungkapan “sanna sunnatan sayyi’atan” pada lanjutan hadis tersebut, yang bila diartikan menurut pemahaman mereka “menghidupkan sunnah yang buruk” dari sunnah atau ajaran Rasulullah Saw. Dengan begitu kita akan bertanya, apakah Rasulullah Saw. dan para shahabat beliau mengajarkan keburukan yang juga harus ditiru oleh umatnya??! oleh karena itulah, hadist tersebut dipahami berdasarkan keumumannya, bukan berdasarkan sebab khusus.

  12. Mas ibnu suradi, cukuplah bagi kami aswaja dalam mempelajari ilmu, bertendensikan pada ini:
    أدب الدنيا والدين ص: 68
    وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: { الْعِلْمُ خَزَائِنُ وَمِفْتَاحُهُ السُّؤَالُ فَاسْأَلُوا – رَحِمَكُمْ اللَّهُ – فَإِنَّمَا يُؤْجَرُ فِي الْعِلْمِ ثَلَاثَةٌ: الْقَائِلُ وَالْمُسْتَمِعُ وَالْآخِذُ }. وَقَالَ عليه الصلاة والسلام: { هَلَّا سَأَلُوا إذَا لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ }. فَأَمَرَ بِالسُّؤَالِ وَحَثَّ عَلَيْهِ, وَنَهَى آخَرِينَ عَنْ السُّؤَالِ وَزَجَرَ عَنْهُ, فَقَالَ صلى الله عليه وسلم: { أَنْهَاكُمْ عَنْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ }. وَقَالَ عليه الصلاة والسلام: { إيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ السُّؤَالِ }. وَلَيْسَ هَذَا مُخَالِفًا لِلْأَوَّلِ وَإِنَّمَا أَمَرَ بِالسُّؤَالِ مَنْ قَصَدَ بِهِ عِلْمَ مَا جَهِلَ, وَنَهَى عَنْهُ مَنْ قَصَدَ بِهِ إعْنَاتَ مَا سَمِعَ, وَإِذَا كَانَ السُّؤَالُ فِي مَوْضِعِهِ أَزَالَ الشُّكُوكَ وَنَفَى الشُّبْهَةَ. وَقَدْ قِيلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما: بِمَ نِلْت هَذَا الْعِلْمَ ؟ قَالَ: بِلِسَانٍ سَئُولٍ وَقَلْبٍ عُقُولٍ
    Artinya: Dan benar-benar diriwayatkan dari Nabi SAW. sesungguhnya Nabi SAW. bersabda: “Ilmu laksana tempat penyimpanan dan kuncinya adalah pertanyaan, maka bertanyalah -semoga Alloh merahmatimu- karena hanya tiga orang yang di beri pahala waktu (mempelajari ilmu): Orang yang berbicara, orang yang mendengar dan orang yang mengambil ilmu (mempelajari ilmu). Dan Nabi SAW. bersabda: “BERTANYALAH APABILA ENGKAU TIDAK TAHU, KARENA SESUNGGUHNYA OBAT PENYAKIT NAFAS ADALAH BERTANYA”, beliau Nabi SAW. memerintahkan bertanya dan memberikan semangat, sedangkan sesekali tempo melarang dan mencegah pertanyaan, kemudian Nabi SAW. bersabda: “Aku melarang kalian semua debat kusir, banyak pertanyaan dan menyiakan harta”, dan beliau Nabi bersabda: “TAKUTLAH DENGAN BANYAK PERTANYAAN, KARENA RUSAKNYA KAUM SEBELUM KALIAN SEBAB BANYAK PERTANYAAN”. (dua hadist terakhir) ini tidaklah bertentangan dengan hadist pertama, Nabi SAW. memerintahkan bertanya pada seseorang yang punya tujuan mengetahui hal yang tidak tahu dan Nabi SAW. melarang bertanya pada seseorang yang punya tujuan mempersulit ilmu yang didengar. Oleh karena itu apabila pertanyaan mengena sasaran maka akan menghilangkan keraguan dan ke tidak jelasan. Sahabat Ibnu Abbas ditanya: “Bagaiman anda mendapatkan ilmu ini?”, beliau menjawab: “Denga lisan yang senantiasa bertanya dan hati yang senantiasa berakal”.
    Jadi dalam metode belajar kami:
    1. Bertanya tapi TIDAK BANYAK BERTANYA.
    2. tidak ada kewajiban bertanya dalil qur’an dan hadist dari guru,
    3. kami belajar dengan metode talaqqi, bertemu langsung tidak selalu otodidak. karena:
    المجموع شرح المهذب الجزء الأول ص: 66
    فقد قال ابن سيرين ومالك وخلائق من السلف: هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم. إلى أن قال… وقالوا: ولا تأخذ العلم ممن كان أخذه له من بطون الكتب من غير قراءة على شيوخ أو شيخ حاذق فمن لم يأخذه إلا من الكتب يقع في التصحيف ويكثر منه الغلط والتحريف.
    Artinya: Imam Ibnu Sirin, Imam Malik dan Para ulama salaf benar-benar berkata: “Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah (telitilah) dari siapa kalian mengambil (belajar tentang) agama kalian”, sampai… Para ulama berkata: “JANGANLAH KALIAN MENGAMBIL (BELAJAR) ILMU DARI ORANG YANG BELAJAR DARI KITAB TANPA MEMBACA PADA PARA SYAIKH ATAU SYAIKH YANG PINTAR, MAKA BARANGSIAPA YANG MEMPELAJARI ILMU HANYA LEWAT BUKU AKAN MENGALAMI KESALAHAN PEMAHAMAN, BANYAK MEMBUAT KEKELIRUAN DAN AKAN MEMBELOKKAN PENGERTIAN.
    Wallohu a’lam.

    1. Bismilaah,

      Kang Lasykar,

      Cara belajar anda sebenarnya sama dengan saya. Sebagai orang awam yang tidak mengetahui banyak masalah agama berkewajiban betanya kepada guru yang mengetahui masalah agama. Guru tersebut menjawab pertanyaan kita dengan penjelasan yang tuntas disertai dalil dari Qur’an dan hadits. Guru seperti inilah yang dapat mendekatkan perkataan Allah dan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan umat Islam. Guru tersebut benar-benar mengajarlkan ilmu dalam agama Islam ini. Sedangkan guru yang menjelaskan masalah agama tanpa menyertakan dalil dari Qur’an dan hadits hanya akan menjauhkan umat islam dari Qur’an dan hadits. Ia akan membuat muridnya terus awam abadi hingga meninggalnya. Guru ini sejatinya tidak mengajarkan ilmu, melainkan perkataannya sendiri.

      Wallaahu a’lam.

      1. Satu saja yang saya garis bawahi dari perkataan anda mas ibnu suradi:

        “Sedangkan guru yang menjelaskan masalah agama tanpa menyertakan dalil dari Qur’an dan hadits HANYA AKAN MENJAUHKAN UMAT ISLAM DARI QUR’AN DAN HADITS. Ia akan membuat muridnya terus awam abadi hingga meninggalnya. GURU INI SEJATINYA TIDAK MENGAJARKAN ILMU, MELAINKAN PERKATAANNYA SENDIRI.”

        Tolong perkataan anda ini adakah dasarnya?
        Dan apakah wajib seorang guru untuk mengutarakan dalil qur’an dan hadist? Tolong biar diskusi kita berkesinambungan, tunjukkan dasar anda.
        Suwun.
        Wallohu a’lam

        1. Bismillaah,

          Kang Lasykar,

          Apa tugas seorang rasul? Apa tugas ulama? Apa tugas guru?

          Bila anda mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka anda tidak perlu mempertanyakan pertanyaan anda lagi.

          Wallaahu a’lam.

      2. @ibnu suradi

        mungkin omongan ente ada benernya juga tentang seorang guru harus menyampaikan dalil dalam mengajar..!
        tapi masalahnya adalah apa tujuan ente ngomongin hal itu disini?
        ini suudzon saya ama ente!
        1. ente mau nunjukin bahwa guru ente adalah guru yang paling baik dan benar sementara guru2 yang disini itu buruk dan menyesatkan! hanya karena cara solat yang berbeda dengan ente!
        2. ente mau bilang bahwa guru2 orang lain disini mengajar ga pake dalil dan menyesatkan
        3. ente mau nunjukin bahwa orang 2 disini salah nyari guru

        sebenernya saya mau nanya dalil sama ente tapi pasti ga di jawab jadi itu aja dulu..!

        1. Bismillaah,

          Kang Abi Raka,

          Sebenarnya, ilmu-ilmu yang disampaikan kang Abu Hilya itu musti dipelajari oleh seseorang yang ingin menjadi mujtahid. Apakah tugas mujtahid itu menyampaikan Qur’an dan Sunnah (hadits) atau yang lainnya?

          Wallaahu a’lam.

  13. Syukron mas vijay, jazaakallaohu khiron katsiirooo…..

    Untuk mas admin dan teman-teman aswaja, kami minta ke ikhlasannya untuk men share konten ummati dalam situs pesantren kami, semoga islam ‘ala thoriqoti ahlissunnah wal jama’ah mendapat kekuatan dan ridlo Alloh SWT. kami berharap panjenengan sedanten berkenan….. sebelumnya matur nembah nuwun…
    wallohu a’lam

    1. @ummu abdillah
      Marilah kita kembali kepada al qur’an dan sunnah dengan benar, jangan sebatas jargon, tapi tidak memiliki ilmunya. Allah Maha pemberi kurnia (Ya Wahhab) dan Allah Maha menyayangi (Ya Waduud) orang2 yang ingin belajar dalam menuntut ilmu.
      Biasanya Wahabi menyebut musuhnya dengan “Ahlu Kalam, Ahlu Bid’ah, Ahlu Hawa” entah apalagi, padahal dia sendiri yang demikian. Contohnya :
      Ahlu Hawa, berapa banyak Kitab Klasik yang dipalsukan untuk kepentingan Wahabi.
      Ahlu Bid’ah, padahal siapa yang pembuat bid’ah Tauhid menjadi 3, gak ada Nash al qur’an dan sunnah yang menyuruh tauhid dibagi.
      Ahlu Kalam, padahal siapa yang menyerupakan Allah dengan Mahluknya.

      Belajar yang benar mas @ummu abdillah tentang Agama islam, hidup ini paling banter 63 tahun. Belajar cara bagaimana shalat khusu’, bisa ngaji ditengah malam (jam 3-4 malam), menangis dikala senang, tersenyum dikala susah.

  14. Secara pribadi saya bersyukur dengan adanya teman-teman salafi krn dengan adanya mereka saya menjadi lebih mengenal para Kyai dan Habaib serta metode dakwah yang beliau bawa jika ditinjau dari aspek psikologi. Awalnya saya bingung memilih golongan yang harus saya ikuti dan Alhamdulillah setelah mengikuti beberapa kajian yang diadakan di kampus dan media serta memohon petunjuk kepada Allah SWT saya mantab untuk mengikuti para Kyai dan Habaib. Saya harap para ustadz untuk lebih mengintensifkan dakwah di kampus karena disana banyak sekali mahasiswa yang awam seperti saya yang terombang-ambing dan akhirnya mengikuti doktrin golongan tertentu yang jika sudah masuk ke pikiran bawah sadar dan mengkristal maka akan berdampak pada pola pikir yang sempit dan menolak apapun yang dikatakan golongan di luar mereka dan inilah yang pernah saya alami. Alhamdulillah setelah mendengarkan pengajian KH. Imron Jamil saya menjadi lebih terbuka terhadap pendapat orang lain dan saya berusaha untuk tidak menyimpan rasa rasa dengki dan berprasangka buruk terhadap teman-teman salafi meskipun mereka menyebut kami ahlul bid’ah atau semacamnya. Silahkan Anda menganggap kami sesuai dengan apa yang Anda sangkakan, tetapi saya akan tetap berusaha berbaik sangka kepada Anda karena kita tidak tahu akan seperti apa masa depan kita masing2. Semoga Allah SWT selalu menjaga kita dari penyakit hati yang samar, amin. Terima kasih Ummati Press

  15. Mas ibnu suradi saya jawab:
    tugas seorang rasul? Menyampaikan risalah,
    tugas ulama? Menyampaikan risalah
    tugas guru? Menyampaikan risalah

    namun saya belum pernah menemukan TUGAS GURU MENYAMPAIKAN RISALAH PLES WAJIB DENGAN QUR’AN HADISTNYA? Saya tekankan wajib menyampaikan qur’an hadistnya. Begitu pula murid wajib bertanya pada guru tentang al qur’an dan hadist yang menjadi dasar. Mungkin mas ibnu tahu? Tolong dengan hormat lagi sangat untuk memberikan dasar kepada saya, mungkin saya belum tahu. Asal mas tahu aja imam syafii waktu di Tanya, ternyata waktu menjawab banyak yang tanpa menyandarkan langsung pada qur’an dan hadist sbb:

    كان هناك مجموعة من العلماء يحقدون على الإمام الشافعي، ويدبرون له المكائد عند الأمراء،
    فاجتمعوا وقرروا أن يجمعوا له العديد من المسائل الفقهية المعقدة لاختبار ذكائه،
    فاجتمعوا ذات مرة عند الخليفة الرشيد”” الذي كان معجبًا بذكاء الشافعي وعلمه بالأمور الفقهية
    “” وبدأوا بإلقاء الأسئلة، الفتاوي في حضور الرشيد ……
    فسأل الأول:
    ما قولك في رجل ذبح شاة في منزله , ثم خرج في حاجة فعاد
    وقال لأهله: كلوا أنتم الشاة فقد حرمت علي، فقال أهله: علينا كذلك ..

    فكر قليلاً:
    فأجاب الشافعي:
    إن هذا الرجل كان مشركًا فذبح الشاة على اسم الأنصاب وخرج من منزله لبعض المهمات
    فهداه الله إلى الإسلام وأسلم فحُرّمت عليه الشاة وعندما علم أهله أسلموا هم أيضًا فحُرّمت عليهم الشاة كذلك .

    وسُئل: شرب مسلمان عاقلان الخمر، فلماذا يقام الحد على أحدهما ولايقام على الآخر ؟
    فكر قليلاً:
    فأجاب إن أحدهما كان صبيًا والآخر بالغًا

    وسُئل: زنا خمسة أفراد بامرأة ,فوجب على أولهم القتل ، وثانيهم الرجم ،
    وثالثهم الحد ورابعهم نصف الحد ، وآخرهم لا شيء ؟
    فكر قليلاً:
    فأجاب: استحل الأول الزنا فصار مرتدًا فوجب عليه القتل ,
    والثاني كان محصنًا، والثالث غير محصن، والرابع كان عبدًا، والخامس مجنونًا …..

    وسُئل: رجل صلى ولما سلّم عن يمينه طلقت زوجته !
    ولما سلم عن يساره بطُلت صلاته! ولما نظر إلى السماء وجب عليه دفع ألف درهم ؟
    فكر قليلاً:
    فقال الشافعي: لما سلّم عن يمينه رأى زوج امرأته التي تزوجها في غيابه ، فلما رآه قد حضر طلقت منه زوجته ،
    ولما سلم عن يساره رأى في ثوبه نجاسة فبطلت صلاته،
    فلما نظر إلى السماء رأى الهلال وقد ظهر في السماء وكان عليه دين ألف درهم يستحق سداده في أول الشهر.

    وسُئل: ما تقول في إمام كان يصلي مع أربعة نفر في مسجد فدخل عليهم رجل ،
    ولما سلم الإمام وجب على الإمام القتل وعلى المصلين الأربعة الجلد ووجب هدم المسجد على أساسه ؟
    فكر قليلاً:
    فأجاب الشافعي: إن الرجل القادم كانت له زوجة وسافر وتركها في بيت أخيه فقتل الإمام هذا الأخ ،
    وادعى أن المرأة زوجة المقتول فتزوج منها، وشهد على ذلك الأربعة المصلون، وأن المسجد كان بيتًا للمقتول، فجعله الإمام مسجدًا !

    وسُئل: ما تقول في رجل أخذ قدح ماء ليشرب، فشرب حلالاً وحُرّم عليه بقية ما في القدح ؟
    فكر قليلاً:
    فأجاب: إن الرجل شرب نصف القدح فرعف أي(نزف في الماء المتبقي) ، فاختلط الماء بالدم فحُرّم عليه ما في القدح
    إلى هنا لم يستطع الرشيد الذي كان حاضرًا تلك المساجلة
    أن يخفي إعجابه بذكاء الشافعي وسرعة خاطرته وجودة فهمه وحس إدراكه
    وقال: لبني عبد مناف فقد بينت فأحسنت وعبرت فأفصحت وفسرت فأبلغت.
    فقال الشافعي: أطال الله عمر أمير المؤمنين، إني سائل هؤلاء العلماء مسألة، فإن أجابوا عليها فالحمد لله،
    وإلا فأرجو أمير المؤمنين أن يكف عني شرهم فقال الرشيد. لك ذلك وسلهم ما تريد يا شافعي .
    فقال الشافعي : مات رجل وترك 600 درهم، فلم تنل أخته من هذه التركة إلا درهمًا واحدًا،
    فكيف كانا الظرف في توزيع التركة ؟ ؟
    فنظر العلماء بعضهم إلى بعض طويلاً ولم يستطع أحدهم الإجابة على السؤال،
    فلما طال بهم السكوت، طلب الرشيد من الشافعي الإجابة.
    فقال الشافعي: مات هذا الرجل عن ! ابنتين وأم و زوجه واثني عشر أخًا وأخت واحدة،
    فأخذت البنتان الثلثين وهي 400 درهم ، وأخذت الأم السدس وهو 100 درهم،
    وأخذت الزوجة الثمن وهو75 درهم، وأخذ الاثنا عشر أخا 24 درهمًا فبقي درهم واحد للأخت
    فتبسم الرشيد وقال: أكثر الله في أهلي منك، وأمر له بألفي درهم فتسلمها الشافعي ووزعها على خدم القصر …

    apakah imam syafii, maaf menyitir perkataan anda

    “Sedangkan guru yang menjelaskan masalah agama tanpa menyertakan dalil dari Qur’an dan hadits HANYA AKAN MENJAUHKAN UMAT ISLAM DARI QUR’AN DAN HADITS. Ia akan membuat muridnya terus awam abadi hingga meninggalnya. GURU INI SEJATINYA TIDAK MENGAJARKAN ILMU, MELAINKAN PERKATAANNYA SENDIRI.”

    Kalau iya, maaf saya terlepas dengan orang-orang yang seperti anda.
    Lebih baik anda jawab pertanyaan saya, diatas, biar kita tidak mujadalah.
    Terima kasih.
    Wallohu a’lam

  16. Bismillaah,

    Kang Lasykar,

    Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan Qur’an dan hadits. Ulama menyampaikan Qur’an dan hadits. Guru menyampaikan Qur’an dan hadits. Orang awam yang belajar sebagai murid menerima Qur’an dan hadits dari gurunya. Bukankah seperti itu, Kang?

    Menyampaikan Qur’an dan hadits adalah amanah bagi Rasuulullaah, yang kemudian diteruskan kepada ulama, kepada guru. Amanah tersebut disampaikan kepada siapa? Kepada manusia yang awam seperti kita. Rasulullaah, ulama dan guru telah menjalankan amanah menyampaikan Qur’an dan hadits kepada kita. Kita mustinya belajar untuk mendapatkan dalil dari Qur’an dan hadits yang disampaikan guru kita.

    Itulah jawaban dari pertanyaan anda: “…apakah wajib seorang guru untuk mengutarakan dalil qur’an dan hadist?”

    Wallaahu a’lam.

  17. Mas ibnu suradi, Alhamdulillah saya sudah tahu dengan yang anda ungkapkan. Sekarang kalau mas ibnu menelusuri dengan teliti, ulamaul khoir mana yang memberikan, fatwa, wejangan dan tuntunan tanpa berpegang pada saka agama, al Qur’an dan al Hadist? Namun metode beliau-beliau berbeda:
    Ada yang shorih langsung menyebutkan al Qur’an dan al Hadist,
    Ada yang iqtibas mengambil inti sari al Qur’an dan al Hadist
    Dan ada yang bil fa’li melakukan sesuai al Qur’an dan al Hadist, inilah yang dilakukan beliau-beliau. Tapi itu semua belum menjawab pertanyaan saya.
    Saya ulangi:
    1. Atas dasar apa anda mewajibkan para ulama setiap mengajar HARUS MENGUCAPKAN al Qur’an dan al Hadist yang letterlux ,pada setiap ucapan dan pekerjaan beliau?
    2. Atas dasar Apa anda mewajibkan setiap pelajar dan orang awam HARUS MENGETAHUI DASAR leterlux al Qur’an dan al Hadist?
    Tolong kami di kasih rujukan yang jelas, bukan hasil logika anda.
    Makasi
    Wallohu a’lam

  18. Dan atas dasar apa anda mengucapkan ini?:
    “Sedangkan guru yang menjelaskan masalah agama tanpa menyertakan dalil dari Qur’an dan hadits HANYA AKAN MENJAUHKAN UMAT ISLAM DARI QUR’AN DAN HADITS. Ia akan membuat muridnya terus awam abadi hingga meninggalnya. GURU INI SEJATINYA TIDAK MENGAJARKAN ILMU, MELAINKAN PERKATAANNYA SENDIRI.”
    Tolong di kasih rujukan jelas bukan logika
    Wallohu a’lam

  19. Asslamu’Alaikum

    terkadang pada pinter-pinter dengan komentar nya ( bikin pusing baca nya ) dari yang menulis nya ( Abu Hilya )
    jadi teringat pengajian dulu guru baru jelas kan ,murid-murid udah pada tanya-tanya bermacam-macam.
    Ilmu – Nur

    Wassalam

  20. ikut gabung, saya mantan oang yang sempat terombang ambing aqidah saya pada saat waktu mahasiswa..ana belajar tauhid yang dibagi 3. tapi lama-lama ana jd bingung sendiri…saya sempat tidak mau Qunut…ragu-ragu baca tahlil….alhamdulillah atas wasilah para ulama habaib dan buku-buku aswaja yg saya baca.saya telah kembali yakin pada pilihan hati nurani saya yaitu.ASWAJA(ikuti ajaran Al Qur’an,Sunnah, dan para ulama)…saya yakin seyakin yakinya…islam itu rahmatan lil ‘alamiiin…ini terbukti sampai sekarang jumlah orang islam begitu banyak..dan saya yakin..Islam Aswaja lah yang paling indah&benar .mudah-mudahan temen-temen wahabi/salafi palsu..cepet mendapat hidayah…amiiin

  21. LAGI LAGI Pak Suradi menggunakan jurus NINJANYA…
    Whus..Whus..Langsung HILANG…..!
    Hebat benar jurus pak suradi, di beberapa artikel sebelumya jurus NINJANYA ampuh untuk menghindari kilatan pedang SAMURAI Satria Aswaja….!
    IBNU SURADI MEMANG HUEBOH….!!!!!!!!
    Kita pantau lagi apa artikel selanjutnya beliau juga akan memakai jurus NINJANYA…!!!

  22. bismillah…
    sampai kapanpun gak akan ada kelarnya akhwan suradi.tugas yg berilmu hanya menyampaikan ilmu yg di miliki.
    tentunya berdasarkan Al Quran dan hadis.
    urusan di terima atau tidaknya terserah .gak usah di ladeni saudara/i yg tidak bisa meneriemanya.
    memang benar kata ulama” SYAITAN LEBIH MENYUKAI BID’AH DARIPADA MAKSIAT”
    dan biasanya orang yg menjalankan bid’ah itu susah untuk bertobat,karena apa yg dia yakini itu adalah ibadah yg berpahala.
    kecuali orang yg mendapatkn petunjuk dari ALLAH.

    1. Iya bener kata De Ota” SYAITAN LEBIH
      MENYUKAI BID’AH
      DARIPADA MAKSIAT”.Contohnya di wahabi banyak setannya.Setannya lebih profesional lagi.Pake sorban tapi mengkafirkan orang tua Nabi.Ngaku ahlussunnah tapi banyak perkataan ulama ahlussunnah didistorsi.Shalatnya menakjubkan tapi urusan tebas leher orang islam lebih menakjubkan lagi.Mengajak persatuan tapi mulutnya ga berhenti bidah sana bidah sini,kafir sana kafir sini dan tragisnya lagy yg dikafirin orang islam jadi orang islam makin sedikit dimuka bumi.Mengajak kepada tradisi salafusshalih tpi gemar mendustakan n mengubah kitab ulama,(metoda ilmiyyah dan demi kemaslahatan katanya …)…..Aduh..wahabi..memalsukan kitab kok disebut metoda ilmiyah…Seribu jempol buat wahabi…!!

      1. Mas Eko, ada 2 perkara yg dibenci setan, yg pertama ketika dia diusir dari Surga yg kedua ketika Maulid Nabi, dia paling benci ama yg satu ini sampe2 klo ada yg merayakannya lari terbirit2, Jadi ternyata setan juga pembenci bid’ah….

        1. @ Mas Vijay,sbtulnya setan itu benci atau suka ya sama bidah?Kok plinplan ya? Jadi sama sprti wahabi,plinplan.Di satu waktu bangga disebut wahabi,dilain waktu malu disebut wahabi.Pake pura2 ga tau lagi apa itu wahabi.Sama ya plinplannya kaya………

  23. @Ibnu Suradi

    trus, kalau tidak tahu dalil, apa salahnya? pertanyaan saya belum di jawab nie, apa yg di maksud dengan ibadah? apa yg di maksud dengan dalil? apa saja sumber hukum islam selain Al-Qur’an dan hadist? kalau ada masalah yg tidak ada fatwanya dari generasi salaf, apa yg harus dilakukan? jika kita tidak boleh membuat perkara baru, apa kita juga dilarang mengharam kan sesuatu yg tidak diharamkan oleh generasi salaf?

    1. Ust.Agung, Kang Ibnu Suradi jgn ditnya masalah pengertian ibadah dan dalil,kasihan nanti dia ga bisa jwb.Dia bisanya diajak diskusi tentang shalat versi albani.Coba dech diajak diskusi tntang shalatnya albani,dia pasti paling semangat ngejawabnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker