Berita Fakta

Anda Harus Tahu Inilah Ciri-ciri Ahlussunnah Wal Jamaah

Ciri-ciri dan Kriteria Ahlus sunnah Wal Jamaah

Prof. DR Sayyid Muhammad Allawiy Al Maliki Al Hasani Tokok Aswaja Internasional

Ciri-ciri berikut ini adalah sekaligus menjadi barometer Kriteria Ahlus sunnah sebagaimana yang telah diterangkan oleh Imam Ghazali dalam kitab beliau Ihya Ulumuddin dan kitab lainnya adalah:

1. Tentang Ketuhanan :

Ahlussunnah Wal Jamaah layak dialamatkan kepada suatu kelompok atau golomga jika mereka memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang esa yang berhak disembah dengan segala sifat kesempurnaan-Nya yang tiada sama dengan makhluk.
  2. Zat Allah dapat dilihat dengan mata kepala, dan orang-orang mukmin akan melihat-Nya dalam surga kelak.
  3. Segala sesuatu yang terjadi merupakan atas kehendak-Nya namun pada makhluk terdapat ikhtiyari (usaha makhluk).
  4. Menolak faham Tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhluk.
  5. Menolak faham Jabariyah (segala sesuatu atas kehendak Allah tanpa ikhtiayri dari makhluk)
  6. Menolak faham Qadariyah (segala sesuatu atas kehendak makhluk tanpa taqdir dari Allah)

2. Tentang Malaikat:

  1. Malaikat itu ada dan jumlahnya tidak terhingga. Setiap malaikat memiliki tugasnya masing-masing, mereka selalu taat kepada perintah Allah.
  2. Ummat Islam hanya diwajibkan mengetahui sepuluh nama malaikat yang utama yang mempunyai tugasnya masing-masing.
  3. Sehubungan dengan keimanan tentang adanya malaikat, ummat islam juga diwajibkan meyakini adanya jin, iblis dan syaithan.

3. Tentang Kerasulan:

  1. Meyakini bahwa semua Rasul adalah utusan-Nya yang diberikan mu`jizat kepada mereka sebagi tanda kebenaran mereka.
  2. Rasulullah SAW penutup segala Nabi dan Rasul yang diutus kepada bangsa arab dan bangsa lainnya, kepada manusia dan jin.
  3. Mencintai seluruh Sahabat Rasulullah Saw.
  4. Meyakini bahwa shahabat yang paling mulia adalah Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq kemudian Sayidina Umar kemudian Saiydina Utsman kemudian Saidina Ali Radhiyallahu ‘anhum.
  5. Menghindari membicarakan masalah permusuhan sesama sahabat kecuali untuk menerangkan kebenaran dan bagaimana kaum muslimin menyikapinya.
  6. Meyakini Ibunda dan Ayahanda Rasulullah masuk surga berdasarkan firman Allah QS. Al-Isra’ ayat 15 :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra` : 15)

Kedua orang tua Nabi wafat pada zaman fatharah (kekosongan dari seorang Nabi/Rasul). Berarti keduanya dinyatakan selamat.

Imam Fakhrurrozi menyatakan bahwa semua orang tua para Nabi muslim. Dengan dasar Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ : 218-219 :

BACA :  Ziarah Kubur dan Tawassul Versi Ahlussunnah Waljama'ah

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud “.

Sebagian Ulama’ menafsiri ayat di atas bahwa cahaya Nabi berpindah dari orang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud lainnya. Adapun Azar yang secara jelas mati kafir, sebagian ulama’ menyatakan bukanlah bapak Nabi Ibrahim yang sebenarnya tetapi dia adalah bapak asuhnya dan juga pamannya.

Jelas sekali Rasulullah menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci bukan orang-orang musyrik karena mereka dinyatakan najis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam At Taubah ayat 28

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”

banner gif 160 600 b - Anda Harus Tahu Inilah Ciri-ciri Ahlussunnah Wal Jamaah

4. Tentang kitab:

  1. Al quran, Taurat, Injil, Zabur adalah kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya sebagai pedoman bagi ummat.
  2. Al Quran adalah kalam Allah dan bukan makhluk dan bukan sifat bagi makhluk.
  3. Tentang ayat mutasyabihat, dalam Ahlussunnah ada dua pandangan para ulama:
  • Ulama salaf (ulama yang hidup pada masa sebelum 500 tahun hijryah) lebih memilih tafwidh (menyerahkan kepada Allah) setelah Takwil Ijmali (umum/global) atau dikenal juga dengan istilah tafwidh ma’a tanzih yaitu memalingkan lafahd dari arti dhahirnya setelah itu menyerahkan maksud dari kalimat tasybih itu kepada Allah.
  • Ulama khalaf (Ulama pada masa setelah 500 Hijriyah) lebih memilih ta`wil yaitu menghamal arti kalimat dengan sebalik arti dhahirnya dengan menyatakan dan menentukan arti yang dimaksudkan dari kalimat tersebut.
BACA :  Mahasiswa UIN Melecehkan Al Qur’an

Dalam menentukan langkahnya, Ulama Salaf dan Ulama Khalaf sama-sama berpegang pada surat: Ali Imran ayat: 7

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

Artinya : “Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-quran) kepada kamu, di antara (isi) nya ada ayat-ayat muhkamat (jelas maksudnya) itulah pokok-pokok isi al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat (tidak difahami maksudnya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah (karena mereka tidak menyadari telah terjerumus dalam ayat mutasyabihat) dan untuk mencari-cari penafsirannya,”

[a]. >> dan tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi tuhan kami” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS: Ali Imran. 7) [b]. >> dan tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi tuhan kami” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS: Ali Imran. 7)
Ulama Khalaf berpendapat bahwa kalimat الرَّاسِخُونَ di’athafkan kepada lafadh اللَّهُ dan jumlah يَقُولُونَ آَمَنَّا merupakan jumlah musta`nafah (permulaan baru) untuk bayan (menjelaskan) sebab iltimas takwil. Terjemahan [a] merupakan terjemahan berdasarkan pendapat Ulama Khalaf.
Ulama Salaf berpendapat bahwa kalimat الرَّاسِخُونَ merupakan isti`naf. Terjemahan [b] merupakan terjemahan berdasarkan pendapat Ulama Salaf.
BACA :  Sesama Wahabi Saling Menyesatkan, Bukti Kontradiksi Ajaran Sesat

5. Tentang kiamat:

  1. Kiamat pasti terjadi, tiada keraguan sedikit pun.
  2. Meyakini adanya azab kubur.
  3. Kebangkitan adalah hal yang pasti.
  4. Surga adalah satu tempat yang disediakan untuk hamba yang dicintai-Nya.
  5. Neraka disediakan untuk orang-orang yang ingkar kepada-Nya.
  6. Meyakini adanya hisab (hari perhitungan amalan).
  7. Meyakini adanya tempat pemberhentian hamba setelah bangkit dari kubur.
  8. Meyakini adanya Syafaat Rasulullah, ulama, syuhada dan orang-orang mukmin lainnya menurut kadar masing-masing.

6. Kewajiban ta`at kepada-Nya terhadap hamba-Nya adalah diketahui melalui lisan Rasul-Nya bukan melalui akal.

7. Tidak mengatakan seseorang ahli tauhid dan beriman telah pasti masuk surga atau neraka kecuali orang-orang yang telah mendapat pengakuan dari Rasulullah bahwa ia masuk surga.

8. Tidak mengada-ngadakan sesuatu dalam agama kecuali atas izin Allah.

9. Tidak menisbahkan kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui.

10. Meyakini bahwa shadaqah dan doa kepada orang mati bermanfaat dan Allah memberi manfaat kepada mayat dengan shadaqah dan doa tersebut.

11. Meyakini adanya karamah orang-orang shaleh.

12. Tidak mengkafirkan seorang pun dari ahli kiblat (shalat) dengan sebab dosa yang mereka lakukan seperti zina, mencuri, minum khamar dll.

13. Masalah sifat dua puluh. Para ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah sebenarnya tidak membataskan sifat-sifat kesempurnaan Allah hanya kepada 20 sifat saja.

Bahkan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah pasti Allah wajib memiliki sekian sifat tersebut, sehingga sifat-sifat kamalat (kesempurnaan dan keagungan) Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada sembilan puluh sembilan saja.

 

sumber:
Kriteria Ahlus sunnah Wal Jamaah.
Oleh: Abu mudi

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

13 thoughts on “Anda Harus Tahu Inilah Ciri-ciri Ahlussunnah Wal Jamaah”

  1. Bismillaah,

    Ciri yang berikut:

    “8. Tidak mengada-ngadakan sesuatu dalam agama kecuali atas izin Allah.”

    riskan untuk dilanggar dengan alasan suatu kebaikan.

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi@

      Bismillah Walhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rosulillah….

      Point no “8”, “Tidak mengada-ngadakan sesuatu dalam agama kecuali atas izin Allah,”….
      Maksudnya adalah kaum muslimin boleh membuat “bid’ah hasanah”, karena segala hal yang baik menurut pandangan muslimin adalah baik juga dalam pandangan Allah Swt. Ada Hadits mauquf dari Ibnu Mas’ud menegaskan : “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, di sisi Allah SWT itu adalah baik, dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, di sisi Allah SWT itu adalah buruk “ (HR. Imam Ahmad).

      Point 8 tsb: Tidak mengada-ngadakan sesuatu dalam agama kecuali atas izin Allah,…. Tentunya Allah mengizinkan kita mengada-adakan kebaikan (bid’ah hasanah). Bukankah kita disuruh oleh Allah untuk beramal sholih dengan berbuat kebaikan? Wallohu a’lam.

  2. Bismillaah,

    Ummati menulis: “13. Masalah sifat dua puluh. Para ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah sebenarnya tidak membataskan sifat-sifat kesempurnaan Allah hanya kepada 20 sifat saja.”

    Komentar:

    Ciri terkait sifat 20 tidak berlaku untuk umati Islam sebelum Imam Hasan Al Asy’ari dan Al Maturidi lahir.

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi@

      Bukankah itu sudah sangat jelas?
      Kalimat pada pont 13 tsb membantah tuduhan bahwa ASWAJA membatasi sifat Allah hanya 20 saja. Padahal sifat 20 yang dimaksud adalah pembagiannya dalam ilmu tauhid, dan itu adalah berbeda dengan siafat-sifat Allah yang sangat banyak. Sehingga sifat-sifat kamalat (kesempurnaan dan keagungan) Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada sembilan puluh sembilan Asmaul Husna.

      Demikian, semoga antum dan teman-teman tidak salah paham terus menerus tentang sifat 20.

      Mungkin ada baiknya jika kami jelaskan secara global apa dan bagaimana itu sifat 20 yang justru hal ini adalah menjadi ilmu untuk mengenal Allah Swt sehingga kita bisa bertauhid secara benar.

      a. 20 sifat yang wajib bagi Allah swt: wujud (وجود), qidam (قدم), baqa (بقاء), mukhalafah lil hawaditsi (مخالفة للحوادث), qiyamuhu bin nafsi (قيامه بالنفس), wahdaniyyat (وحدانية), qudrat (قدرة), iradat (ارادة), ilmu (علم), hayat (حياة), sama’ (سمع), bashar (بصر), kalam (كلام), kaunuhu qadiran (كونه قديرا), kaunuhu muridan (كونه مريدا), kaunuhu ‘aliman (كونه عليما), kaunuhu hayyan (كونه حيا), kaunuhu sami’an (كونه سميعا), kaunuhu bashiran (كونه بصيرا), dan kaunuhu mutakalliman (كونه متكلما).

      b. 20 sifat yang mustahil bagi Allah swt: ‘adam (tidak ada), huduts (baru), fana’ (rusak), mumatsalah lil hawaditsi (menyerupai makhluk), ‘adamul qiyam bin nafsi (tidak berdiri sendiri), ta’addud (berbilang), ‘ajzu (lemah atau tidak mampu), karohah (terpaksa), jahlun (bodoh), maut, shamam (tuli), ‘ama (buta), bukmun (gagu), kaunuhu ‘ajizan, kaunuhu karihan, kaunuhu jahilan (كونه جاهلا), kaunuhu mayyitan (كونه ميتا), kaunuhu ashamma (كونه أصم), kaunuhu a’ma (كونه أعمى), dan kaunuhu abkam (كونه أبكم).

      c. 1 sifat yang ja’iz bagi Allah swt.

      DALIL-DALIL SIFAT WAJIB BAGI ALLAH SWT:

      1. Dalil sifat Wujud (Maha Ada): QS Thaha ayat 14, QS Ar-Rum ayat 8, dsb.

      2. Dalil sifat Qidam (Maha Dahulu): QS Al-Hadid ayat 3.

      3. Dalil sifat Baqa (Maha Kekal): QS Ar-Rahman ayat 27, QS Al-Qashash ayat 88.

      4. Dalil sifat Mukhalafah lil Hawaditsi (Maha Berbeda dengan Makhluk): QS Asy-Syura ayat 11, QS Al-Ikhlas ayat 4.

      5. Dalil sifat Qiyamuhu bin Nafsi (Maha Berdiri Sendiri): QS Thaha ayat 111, QS Fathir ayat 15.

      6. Dalil sifat Wahdaniyyat (Maha Tunggal / Esa): QS Az-Zumar ayat 4, QS Al-Baqarah ayat 163, QS Al-Anbiya’ ayat 22, QS Al-Mukminun ayat 91, dan QS Al-Isra’ ayat 42-43.

      7. Dalil sifat Qudrat (Maha Kuasa): QS An-Nur ayat 45, QS Fathir ayat 44.

      8. Dalil sifat Iradat (Maha Berkehendak): QS An-Nahl ayat 40, QS Al-Qashash ayat 68, QS Ali Imran ayat 26, QS Asy-Syura ayat 49-50.

      9. Dalil sifat Ilmu (Maha Mengetahui): QS Al-Mujadalah ayat 7, QS At-Thalaq ayat 12, QS Al-An’am ayat 59, dan QS Qaf ayat 16.

      10. Dalil sifat Hayat (Maha Hidup): QS Al-Furqan ayat 58, QS Ghafir ayat 65, dan QS Thaha 111.

      11 & 12. Dalil sifat Sama’ (Maha Mendengar) dan Bashar (Maha Melihat): QS Al-Mujadalah ayat 1, QS Thaha ayat 43-46.

      13. Dalil sifat Kalam (Maha Berfirman): QS An-Nisa ayat 164, QS Al-A’raf ayat 143, dan QS Asy-Syura ayat 51.

      DALIL-DALIL SIFAT JA’IZ BAGI ALLAH

      a. QS Al-Qashash ayat 68

      b. QS Al-Imran ayat 26

      c. QS Al-Baqarah ayat 284

  3. Asslm lah sudah mudeng gitu kok ,kalo wahabi itu keliru mari belajar dari sejarah terang terangan ulama wahabi sudah menumpahkan darah alias gladiator dengan menyembelih para ulama yg berselisih dan mendeportasi yg lain apa gak mikir y,beda dengan aswaja mereka berselisih tapi tidak sampai berkelahi bahkan saling mendoakan bahkan mau solat jamaah bareng ,imam safi, mau solat subuh tidak berqunut ketika jadi imam dikala jamaah penganut imam hambali

    1. nggih mas Supri, begitulah kaum Aswaja, Awwaja. Ada pun Wahabi kan memang sudah diisyaratkan oleh Nabi kita ajan kemunculannya di Najd? Lha, Wahabi itu Imamnya (mungkin sebagian mereka ada yg menganggap Nabi) benar2 muncul di Najd, kuburannya juga di Najd. Begitulah faktanya, dan para ulma Wahabi juga menyebut diri mereka sebagai Ulama Najd.

      Tapi dasar anak Wahabi Indonesia ini mudah dikibulin, sudah jelas2 Ulama Najdiyyah itu benar2 ada masih saja membantah. Bukunya aja ada, buku buatan mereka sendiri tentang kumpulan Ulama Najdiyyah, demikianlah.

  4. Sifat 20 disusun oleh Abul Hasan Al Asy’ari (walau beliau rohimahullahu telah bertaubat dan menyatakan diri bermadzhab Imam Ahmad). Abul Hasan dilahirkan sekitar tahun 230-an H, sedangkan Imam Syafi’i wafat pd tahun 204 H (menurut imam Arrobi bin Sulaiman). Artinya Imam Syafi’i tidak mengetahui sama sekali mengenai Sifat 20, apalagi ber-aqidah dengannya.

    1. @Ibn Abdul Chair

      hahahah 😛

      di atas kan sudah disebutkan bahwa Masalah sifat dua puluh. Para ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah sebenarnya tidak membataskan sifat-sifat kesempurnaan Allah hanya kepada 20 sifat saja. Bahkan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah pasti Allah wajib memiliki sekian sifat tersebut, sehingga sifat-sifat kamalat (kesempurnaan dan keagungan) Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada sembilan puluh sembilan saja.

      “Yang pertama kali wajib atas manusia ialah mengenal Allahdengan yaqin.” Dalam kitab Khuthbatul Habib Thahir bin Husain dikatakan, “Ketahuilah wahai saudaraku bahwa ushuluddin ialah mengenal Yang disembah sebelum menyembah, dan itulah hakikat ma’na kalimah syahadah.”

      sifat dua puluh tersebut dianggap cukup dalam membentengi akidah seseorang dari pemahaman yang keliru tentang Allah Subhaanahu wa ta’aala. Sebagaimana dimaklumi, aliran-aliran yang menyimpang dari faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah seperti Mu’tazilah, Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah Subhaanahu wa ta’aala dengan makhluk), Mujassimah (kelompok yang berpendapat bahwa Allah memiliki sifat-sifat makhluk), Karramiyah dan lain-lain menyifati Allah dengan sifat-sifat makhluk yang dapat menodai kemahasempurnaan dan kesucian Allah. Maka dengan memahami sifat wajib dua puluh tersebut, iman seseorang akan terbentengi dari keyakinan-keyakinan yang keliru tentang Allah.

      Misalnya ketika Mujassimah mengatakan bahwa Allah itu bertempat di Arsy, maka hal ini akan ditolak dengan salah satu sifat salbiyyah yang wajib bagi Allah, yaitu sifat qiyamuhu binafsihi (Allah wajib mandiri). Ketika Musyabbihah mengatakan bahwa Allah memiliki organ tubuh seperti tangan, mata, kaki dan lain-lain yang dimiliki oleh makhluk, maka hal itu akan ditolak dengan sifat wajib Allah berupa mukhalafatuhu lil-hawadits (Allah wajib berbeda dengan hal-hal yang baru). Ketika Mu’tazilah mengatakan bahwa Allah Maha Kuasa tetapi tidak punya qudrat, Maha Mengetahui tetapi tidak punya ilmu, Maha Berkehendak tetapi tidak punya iradat dan lain-lain, maka hal itu akan ditolak dengan sifat-sifat ma’ani yang jumlahnya ada tujuh yaitu qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam. Demikian pula dengan sifat-sifat yang lain.

      SAUDARA MEMBAWA NAMA IMAM HANBALI, COBA SAUDARA TERANGKAN AKIDAH IMAM HANBALI.

  5. Mas Agung,
    1. Point sy yg pertama adalah bahwa Al Imam Asy syafi’i tidak beraqidah dengan sifat 20, krn Al Imam Asy syafi’i wafat jauh sebelum sifat 20 dibuat. Betul apa enggak?.
    2. Pernyataan bahwa Abul Hasan mengikuti mazhab Imam Ahmad, adalah pernyataan beliau sendiri. Sy enggak mau melebar apa dan bagaimana tentang mazhab Hanbali.

  6. @Ibn Abdul Chair

    apakah Imam Syafi’i juga membagi tauhid menjadi tiga?

    aqidah imam Syafi’i dan Imam Abu Hasan Al Asy’ari adalah sama, “Allah swt. ada tanpa arah dan tempat”.

    Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al Qawim h. 64, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah -semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.

    Pada periode Imam madzhab yang empat ini kebutuhan kepada penjelasan masalah-masalah fiqih sangat urgen dibanding lainnya. Karena itu konsentrasi keilmuan yang menjadi fokus perhatian pada saat itu adalah disiplin ilmu fiqih. Namun demikian bukan berarti kebutuhan terhadap Ilmu Tauhid tidak urgen, tetap hal itu juga menjadi kajian pokok di dalam pengajaran ilmu-ilmu syari’at, hanya saja saat itu pemikiran-pemikiran ahli bid’ah dalam masalah-masalah akidah belum terlalu banyak menyebar. Benar, saat itu sudah ada kelompok-kelompok sempalan dari para ahli bid’ah, namun penyebarannya masih sangat terbatas. Dengan demikian kebutuhan terhadap kajian atas faham-faham ahli bid’ah dan pemberantasannya belum sampai kepada keharusan melakukan kodifikasi secara rinci terhadap segala permasalahan akidah Ahlussunnah. Namun begitu, ada beberapa karya teologi Ahlussunnah yang telah ditulis oleh beberapa Imam madzhab yang empat, seperti al-Imâm Abu Hanifah yang telah menulis lima risalah teologi; al-Fiqh al-Akbar, ar-Risâlah, al-Fiqh al-Absath, al-‘Âlim Wa al-Muta’allim, dan al-Washiyyah, juga al-Imâm asy-Syafi’i yang telah menulis beberapa karya teologi.

    Benar, perkembangan kodifikasi terhadap Ilmu Kalam saat itu belum sesemarak pasca para Imam madzhab yang empat itu sendiri. Seiring dengan semakin menyebarnya berbagai penyimpangan dalam masalahmasalah akidah, terutama setelah lewat paruh kedua tahun ke tiga hijriyah, yaitu pada sekitar tahun 260 hijriyah, yang hal ini ditandai dengan menjamurnya firqahfirqah dalam Islam, maka kebutuhan terhadap pembahasan akidah Ahlussunnah secara rinci menjadi sangat urgen. Pada periode ini para ulama dari kalangan empat madzhab mulai banyak membukukan penjelasan-penjelasan akidah Ahlussunnah secara rinci hingga kemudian datang dua Imam agung; al-Imâm Abu al-Hasan al-As’yari (w 324 H) dan al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H). Kegigihan dua Imam agung ini dalam membela akidah Ahlussunnah, terutama dalam membantah faham rancu kaum Mu’tazilah yang saat itu cukup mendapat tempat, menjadikan keduanya sebagai Imam terkemuka bagi kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah. Kedua Imam agung ini tidak datang dengan membawa faham atau ajaran yang baru, keduanya hanya melakukan penjelasan-penjelasan secara rinci terhadap keyakinan yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya ditambah dengan argumen argumen rasional dalam mambantah faham-faham di luar ajaran Rasulullah itu sendiri. Yang pertama, yaitu al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, menapakan jalan madzhabnya di atas madzhab al-Imâm asy-Syafi’i. Sementara yang kedua, al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi menapakan madzhabnya di atas madzhab al-Imâm Abu Hanifah. Di kemudian hari kedua madzhab Imam agung ini dan para pengikutnya dikenal sebagai al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah.

  7. @Ibn Abdul Chair

    Aqidah Imam Ahmad Ibn Hanbal

    al-Imâm Ahmad tidak seperti yang dipropagandakan kaum Wahhabiyyah sebagai Imam yang anti takwil. Dalam hal ini kaum Wahhabiyyah telah melakukan kedustaan besar atas al-Imâm Ahmad, dan merupakan bohong besar jika mereka mengklaim diri mereka sebagai kaum bermadzhab Hanbali. Demi Allah, madzhab al-Imâm Ahmad terbebas dari keyakinan dan ajaran-ajaran kaum Wahhabiyyah.

    Al Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Tsauban ibn Ibrahim Dzu an-Nun al Mishri, salah seorang murid terkemuka al Imam Malik -semoga Allah meridlai keduanya- berkata: “Apapun yang terlintas dalam benakmu (tentang Allah) maka Allah tidak menyerupai itu (sesuatu yang terlintas dalam benak)” (Diriwayatkan oleh Abu al Fadll at-Tamimi dan al Khathib al Baghdadi)

    Dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahwa dia mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya (Imam Ahmad). (Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami)

    Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainyamengatakan: “Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari
    kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal)

    Al-Hâfizh Abu Hafsh Ibn Syahin, salah seorang ulama terkemuka yang hidup sezaman dengan al-Hâfizh ad-Daraquthni berkata: “Ada dua orang saleh yang diberi cobaan berat dengan orang-orang yang buruk akidahnya, yaitu Ja’far ibn Muhammad dan Ahmad ibn Hanbal”.

    Yang dimaksud dua Imam agung yang saleh ini adalah; pertama, al-Imâm Ja’far ash-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir, orang yang dianggap kaum Syi’ah Rafidlah sebagai Imam mereka hingga mereka menyandarkan kepadanya keyakinan keyakinan buruk mereka, padahal beliau sendiri sama sekali tidak pernah berkeyakinan demikian. Dan yang kedua adalah al-Imâm Ahmad ibn Hanbal, orang yang dianggap oleh sebagian orang yang mengaku sebagai pengikutnya, namun mereka menetapkan kedustaan-kedustaan dan kebatilan-kebatilan terhadapnya, seperti akidah tajsîm, tasybîh, anti takwil, anti tawassul, dan lainnya yang sama sekali hal-hal tersebut tidak pernah diyakini oleh al-Imâm Ahmad sendiri. Di masa sekarang ini, madzhab Hanbali lebih banyak lagi dikotori oleh orang-orang yang secara dusta mengaku sebagai pengikutnya, mereka adalah kaum Wahhabiyyah, yang telah mencemari kesucian madzhab al-Imâm Ahmad ini dengan segala keburukan keyakinan dan ajaran-ajaran mereka.

    Al-Hâfizh Ibn al-Jawzi al-Hanbali dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybîh Bi Akaff at- Tanzîh menuliskan sebagai berikut: “Saya melihat bahwa ada beberapa orang yang mengaku di dalam madzhab kita telah berbicara dalam masalah pokok-pokok akidah yang sama sekali tidak benar. Ada tiga orang yang menulis karya untuk itu; Abu Abdillah ibn Hamid, al-Qâdlî Abu Ya’la, dan Ibn az-Zaghuni. Tiga orang ini telah menulis buku yang mencemarkan madzhab Hanbali. Saya melihat mereka telah benar-benar turun kepada derajat orang-orang yang sangat awam. Mereka memahami sifat-sifat Allah secara indrawi. Ketika mereka mendengar hadits ”Innallâh Khalaqa Adâm ‘Alâ Shûratih”, mereka lalu menetapkan shûrah (bentuk) bagi Allah, menetapkan adanya wajah sebagai tambahan bagi Dzat-Nya, menetapkan dua mata, menetapkan mulut, gigi dan gusi. Mengatakan bahwa wajah Allah memiliki sinar yang sangat terang, menetapkan dua tangan, jari-jemari, talapak tangan, jari kelingking, dan ibu jari. Mereke juga menetapkan dada bagi-Nya, paha, dua betis, dan dua kaki. Mereka berkata; Adapun penyebutan tentang kepala kami tidak pernah mendengar. Mereka juga berkata; Dia dapat menyentuh dan atau disentuh, dan bahwa seorang hamba yang dekat dengan-Nya adalah dalam pengertian kedekatan jarak antara Dzat-Nya dengan dzatnya. Bahkan sebagian mereka berkata; Dia bernafas. Lalu untuk mengelabui orang-orang awam mereka berkata; ”Namun perkara itu semua tidak seperti yang terlintas dalam akal”.

    Mereka telah mengambil makna zahir dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, lalu mereka mengatakan, seperti yang dikatakan para ahli bid’ah, bahwa itu semua adalah sifat-sifat Allah. Padahal mereka sama sekali tidak memiliki dalil untuk itu, baik dari dalil-dalil tekstual maupun dalil-dalil akal. Mereka berpaling dari teksteks muhkamât yang menetapkan bahwa teks-teks Mutasyâbihât tersebut tidak boleh diambil makna zahirnya, tetapi harus dipahami sesuai makna-makna yang wajib bagi Allah, dan sesuai bagi keagungan-Nya. Mereka juga berpaling dari pemahaman bahwa sebenarnya menetapkan teks-teks Mutasyâbihât secara zahirnya sama saja dengan menetapkan sifat-sifat baharu bagi Allah. Perkataan mereka ini adalah murni sebagai akidah tasybîh, penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. Ironisnya, keyakinan mereka ini diikuti oleh sebagian orang awam. Saya telah memberikan nasehat kepada mereka semua tentang kesesatan akidah ini, baik kepada mereka yang diikuti maupun kepada mereka yang mengikuti. Saya katakan kepada mereka: “Wahai orang-orang yang mengaku madzhab Hanbali, madzhab kalian adalah madzhab yang mengikut kepada al-Qur’an dan hadits, Imam kalian yang agung; Ahmad ibn Hanbal di bawah pukulan cambuk, -dalam mempertahankan kesucian akidahnya- berkata: “Bagaimana mungkin aku berkata sesuatu yang tidak pernah dikatakan Rasulullah!?”. Karena itu janganlah kalian mangotori madzhab ini dengan ajaran ajaran yang sama sekali bukan bagian darinya”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker