Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Berita Fakta

Inilah Ciri-ciri Aliran Sesat, Semuanya Ada di Salafy Wahabi

TANDA-TANDA ALIRAN SESAT MENURUT IMAM AS-SYATIBHI

Oleh: Muhammad Idrus Ramli


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Pada beberapa waktu yang lalu, Majlis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang sesatnya aliran Ahmadiyah. Terdapat sekian banyak dalil yang diajukan oleh MUI sebagai bukti-bukti kesesatan Ahmadiyah. Dalam sebuah pertemuan di Surabaya saya mengemukakan bahwa aliran Wahhabi atau Salafi juga termasuk aliran sesat. Mendengar pernyataan ini salah seorang peserta diskusi mengajukan pertanyaan, apa bukti-bukti atau dalil-dalil kesesatan Wahhabi?

Menjawab pertanyaan tersebut, saya menjelaskan, bahwa al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi telah menguraikan dalam kitabnya, al-I’tisham tentang tanda-tanda ahli bid’ah atau aliran sesat. Menurut beliau ada dua macam tanda-tanda aliran sesat.

(1) tanda-tanda terperinci, yang telah diuraikan oleh para ulama dalam kitab-kitab yang menerangkan tentang sekte-sekte dalam Islam seperti al-Milal wa al-Nihal, al-Farq bayna al-Firaq dan lain-lain.

(2) tanda-tanda umum. Menurut Asy-Syathibi, secara umum tanda-tanda aliran sesat itu ada tiga.

Perpecahan dan Perceraiberaian


Pertama, terjadinya perpecahan di antara mereka. Hal tersebut seperti telah diingatkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”, (QS. 3 : 105).

“Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat”, (QS. 5 : 64).

Dalam hadits shahih, melalui Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:  “Sesungguhnya Allah ridha pada kamu tiga perkara dan membenci tiga perkara. Allah ridha kamu menyembah-Nya dan janganlah kamu mempersekutukannya, kamu berpegang dengan tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai…”


Kemudian Asy-Syathibi mengutip pernyataan sebagian ulama, bahwa para sahabat banyak yang berbeda pendapat sepeninggal Nabi shallallahu alaihi wasallam, tetapi mereka tidak bercerai berai. Karena perbedaan mereka berkaitan dengan hal-hal yang masuk dalam konteks ijtihad dan istinbath dari al-Qur’an dan Sunnah dalam hukum-hukum yang tidak mereka temukan nash-nya.

Jadi, setiap persoalan yang timbul dalam Islam, lalu orang-orang berbeda pendapat mengenai hal tersebut dan perbedaan itu tidak menimbulkan permusuhan, kebencian dan perpecahan, maka kami meyakini bahwa persoalan tersebut masuk dalam koridor Islam. Sedangkan setiap persoalan yang timbul dalam Islam, lalu menyebabkan permusuhan, kebencian, saling membelakangi dan memutus hubungan, maka hal itu kami yakini bukan termasuk urusan agama. Persoalan tersebut berarti termasuk yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam menafsirkan ayat berikut ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, siapa yang dimaksud dalam ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka”, (QS. 6 : 159)?” ‘Aisyah menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Mereka adalah golongan yang mengikuti hawa nafsu, ahli bid’ah dan aliran sesat dari umat ini.” Demikian uraian Asy-Syathibi.

Setelah menguraikan demikian, kemudian Asy-Syathibi mencontohkan dengan aliran Khawarij. Di mana Khawarij memecah belah umat Islam, dan bahkan sesama mereka juga terjadi perpecahan. Mereka sebenarnya yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Mereka akan membunuh orang-orang Islam, tetapi membiarkan para penyembah berhala.”

Berkaitan dengan aliran Wahhabi, agaknya terdapat kemiripan antara Wahhabi dengan Khawarij, yaitu menjadi pemecah belah umat Islam dan bahkan sesama mereka juga terjadi perpecahan. Perpecahan sesama Wahhabi telah dibeberkan oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbad al-Badr, dosen di Jami’ah Islamiyah, Madinah al-Munawwaroh dalam bukunya, Rifqan Ahl al-Sunnah bi-Ahl al-Sunnah, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Mushri.

Ada kisah menarik berkaitan dengan perpecahan di kalangan Wahhabi. AD, salah seorang teman saya bercerita pengalaman pribadinya kepada saya. “Pada April 2010 saya mengikuti daurah (pelatihan) tentang aliran Syi’ah di Jakarta yang diadakan oleh salah satu ormas Islam di Indonesia. Daurah itu dilaksanakan di Gedung LPMP Jakarta Selatan dengan peserta dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dalam daurah tersebut, salah seorang pemateri yang beraliran Salafi berkata, “Aliran Syi’ah itu pecah belah menjadi 300 aliran lebih. Antara yang satu dengan yang lain, saling membid’ahkan dan bahkan saling mengkafirkan. Jadi, itulah tanda-tanda ahli bid’ah, sesama kelompoknya saja saling membid’ahkan dan saling mengkafirkan. Kalau Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak demikian. Tidak saling membid’ahkan, apalagi saling mengkafirkan.” Demikian kata pemateri Salafi itu.

Setelah sesi dialog selesai, saya menghampiri pemateri Salafi tadi dan bertanya, “Ustadz, Anda tadi mengatakan bahwa tanda-tanda ahli bid’ah itu, sesama kelompoknya terjadi perpecahan, saling membid’ahkan dan saling mengkafirkan. Sedangkan Ahlussunnah Wal-Jama’ah tidak demikian. Ustadz, saya sekarang bertanya, siapa yang dimaksud Ahlussunnah Wal-Jama’ah menurut Ustadz? Bukankah sesama ulama Salafi di Timur Tengah yang mengklaim Ahlussunnah Wal-Jama’ah, juga terjadi perpecahan, saling membid’ahkan dan bahkan saling mengkafirkan.

Misalnya Abdul Muhsin al-’Abbad dari Madinah menganggap al-Albani berfaham Murji’ah. Hamud al-Tuwaijiri dari Riyadh menilai al-Albani telah mulhid (tersesat). Al-Albani juga memvonis tokoh Wahhabi di Saudi Arabia yang mengkritiknya, sebagai musuh tauhid dan sunnah. Komisi fatwa Saudi Arabia yang beranggotakan al-Fauzan dan al-Ghudyan, serta ketuanya Abdul Aziz Alus-Syaikh memvonis Ali Hasan al-Halabi, murid al-Albani dan ulama Wahhabi yang tinggal di Yordania, berfaham Murji’ah dan Khawarij.

Kemudian Husain Alus-Syaikh yang tinggal di Madinah membela al-Halabi dan mengatakan bahwa yang membid’ahkan al-Halabi adalah ahli-bid’ah dan bahwa al-Fauzan telah berbohong dalam fatwanya tentang al-Halabi. Al-Halabi pun membalas juga dengan mengatakan, bahwa Safar al-Hawali, pengikut Wahhabi di Saudi Arabia, beraliran Murji’ah. Ahmad bin Yahya al-Najmi, ulama Wahhabi di Saudi Arabia, memvonis al-Huwaini dan al-Mighrawi yang tinggal di Mesir mengikuti faham Khawarij. Falih al-Harbi dan Fauzi al-Atsari dari Bahrain menuduh Rabi’ al-Madkhali dan Wahhabi Saudi lainnya mengikuti faham Murji’ah. Dan Banyak pula ulama Wahhabi yang hampir saja menganggap Bakar Abu Zaid, ulama Wahhabi yang tinggal di Riyadh, keluar dari mainstream Wahhabi karena karangannya yang berjudul Tashnif al-Nas baina al-Zhann wa al-Yaqin.

Dengan kenyataan terjadinya perpecahan di kalangan ulama Salafi seperti ini, menurut Ustadz, layakkah para ulama Salafi tadi disebut Ahlussunnah Wal-Jama’ah?” Mendengar pertanyaan tersebut, Ustadz Salafi itu hanya menjawab: “Wah, kalau begitu, saya tidak tahu juga ya”.  Demikian jawaban Ustadz Salafi itu yang tampaknya kebingungan.” Demikian kisah teman saya, AD.

BACA JUGA:  Bantahan Terhadap Buku "Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia"

Beberapa bulan sebelumnya, ketika data-data perpecahan di kalangan ulama Salafi di Timur Tengah tersebut disampaikan kepada Ustadz Ali Musri, tokoh Wahhabi dari Sumatera yang sekarang tinggal di Jember, Ustadz Ali Musri langsung mengatakan: “Data ini fitnah. Di kalangan ulama Salafi tidak ada perpecehan.” Demikian jawaban Ustadz Ali Musri pada waktu itu.

Namun tanpa diduga sebelumnya, beberapa hari kemudian, Ustadz Ali Musri membagi-bagikan beberapa buku kecil kepada mahasiswanya di STAIN Jember. Ketika saya mengajar di STAIN Jember, sebagian mahasiswa yang menerima buku-buku tersebut, meminjamkannya kepada saya. Dan ternyata, di antara buku tersebut ada yang berjudul, Rifqan Ahl al-Sunnah bi-Ahl al-Sunnah, karangan Dr. Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbad al-Badar, dosen Ustadz Ali Musri ketika kuliah di Jami’ah Islamiyah, Madinah al-Munawwaroh. Ternyata dalam kitab Rifqan Ahl al-Sunnah bi-Ahl al-Sunnah, Dr. Abdul Muhsin membeberkan terjadinya perpecahan di kalangan Salafi yang sangat parah dan sampai klimaks, sampai pada batas saling membid’ahkan, tidak bertegur sapa, memutus hubungan dan sebagainya. Subhanallah, kesesatan suatu golongan dibeberkan oleh orang dalam sendiri. “Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya”, (QS. 12 : 26).

Mengikuti Teks Mutasyabihat

Kedua, mengikuti teks mutasyabihat, seperti yang diingatkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya”. (QS. 3 : 7). Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang sesat selalu mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Mereka suka mengikuti teks yang mutasyabih, bukan yang muhkam.

Menurut Asy-Syathibi, yang dimaksud mutasyabih di sini adalah teks yang samar maknanya dan belum dijelaskan maksudnya. Menurutnya, mutasyabih itu ada dua; (1) mutasyabih haqiqi seperti lafal-lafal yang mujmal (global) dan ayat-ayat yang secara literal menunjukkan keserupaan Allah subhanahu wa ta’ala dengan makhluk. Dan (2) mutasyabih relatif (idhafi), yaitu ayat yang membutuhkan dalil eksternal untuk menjelaskan makna yang sebenarnya, meskipun secara sepintas, teks tersebut memiliki kejelasan makna, seperti ketika orang-orang Khawarij berupaya membatalkan arbitrase mengambil dalil dari ayat, “ini al-hukmu illa lillah (hukum hanya milik Allah)”.  Secara literal, ayat tersebut dapat dibenarkan menjadi dalil mereka. Tetapi apabila dikaji lebih mendalam, ayat tersebut masih membutuhkan penjelasan. Berkaitan dengan hal ini Ibn Abbas memberikan penjelasan, bahwa hukum Allah subhanahu wa ta’ala itu terkadang terjadi tanpa proses arbitrase, karena ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita melakukan arbitrase, maka hukum yang menjadi keputusannya juga dianggap sebagai hukum Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian pula pernyataan Khawarij yang menyalahkan Sayidina Ali radhiyallahu anhu. Menurut Khawarij, “Ali telah memerangi musuhnya, tetapi tidak melakukan penawanan.” Di sini kaum Khawarij membatasi logika mereka pada satu sisi saja, yaitu kalau memang kelompok ‘Aisyah dan Muawiyah itu boleh diperangi, mengapa mereka tidak dijadikan tawanan oleh Ali sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menawan musuh-musuhnya dalam peperangan? Dalam logika berpikir ini, Khawarij telah meninggalkan sisi lain, yaitu sisi yang dijelaskan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” (QS. 49 : 9).

Ayat tersebut menjelaskan tentang peperangan tanpa operasi penawanan sesudahnya terhadap pihak yang kalah. Hal ini yang tidak disadari oleh kaum Khawarij. Akan tetapi dalam perdebatan dengan Khawarij, Ibn Abbas mengingatkan mereka pada aspek yang lebih mematahkan, yaitu bahwa jika dalam peperangan Ali radhiyallahu anhu terjadi operasi penawanan, maka sebagian mereka akan mendapat bagian Ummul Mu’minin ‘Aisyah sebagai tawanannya. Dengan demikian, pada akhirnya mereka akan menyalahi al-Qur’an, yang mereka klaim berpegang teguh dengannya.

Berkaitan dengan aliran Wahhabi, kita dapati mereka selalu berpegangan dengan ayat-ayat mutasyabihat. Misalnya ketika kaum Wahhabi membaca ayat al-Qur’an, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”, (QS. 39 : 3), maka mereka mengatakan bahwa orang yang berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala melalui perantara (tawassul) orang yang sudah wafat, berarti telah syirik dan kafir.

Kaum Wahhabi lupa, bahwa di samping mereka tidak memahami makna ibadah secara benar, mereka juga tidak menyadari bahwa bertawassul dengan para nabi dan orang-orang saleh, telah diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, tabi’in dan generasi penerusnya. Sehingga dengan pemahaman yang dangkal terhadap ayat tersebut, Wahhabi akhirnya terjerumus pada pengkafiran terhadap kaum Muslimin. Dan jika diamati dengan seksama, dalam setiap pendapat yang keluar dari mainstream kaum Muslimin, kaum Wahhabi biasanya mengikuti teks-teks literal yang tidak dipahami maknanya secara benar.

Al-Imam Asy-Syathibi berkata dalam kitabnya al-I’tisham yang sangat populer: “Renungkanlah, logika berpikir mengikuti ayat-ayat mutasyabihat, dapat membawa seseorang pada kesesatan dan keluar dari jamaah. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat, maka merekalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah (sebagai orang-orang yang sesat). Hati-hatilah dengan mereka”.

Mengikuti Hawa Nafsu

Ketiga, mengikuti hawa nafsu sebagaimana diingatkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan (zaigh)”, (QS. 3 : 3). Kesesatan (zaigh) adalah lari dari kebenaran karena mengikuti hawa nafsu. Dalam ayat lain, “Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (QS. 28 : 50).

Ada kisah menarik berkaitan dengan mengikuti hawa nafsu ini. Ketika orang-orang Khawarij mengasingkan diri dan menjadi kekuatan oposisi terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, Ali selalu didatangi orang-orang yang memberinya saran: “Wahai Amirul Mu’minin, mereka melakukan gerakan melawan Anda.” Ali radhiyallahu anhu hanya menjawab: “Biarkan saja mereka. Aku tidak akan memerangi mereka, sebelum mereka memerangiku. Dan mereka pasti melakukannya.” Sampai akhirnya pada suatu hari, Ibn Abbas mendatanginya sebelum waktu zhuhur dan berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, aku mohon shalat zhuhur agak diakhirkan, aku hendak mendatangi mereka (Khawarij) untuk berdialog dengan mereka.” Ali radhiyallahu anhu menjawab: “Aku khawatir mereka mengapa-apakanmu.” Ibn Abbas berkata: “Tidak perlu khawatir. Aku laki-laki yang baik budi pekertinya dan tidak pernah menyakiti orang.” Akhirnya Ali radhiyallahu anhu merestuinya. Lalu Ibn Abbas memakai pakaian yang paling bagus produk negeri Yaman.

BACA JUGA:  Errornya UmmatiPress Kemarin Bukan Karena Diserang Hacker

Ibn Abbas berkata: “Aku menyisir rambutku dengan rapi dan mendatangi mereka pada waktu terik matahari. Setelah aku mendatangi mereka, aku tidak pernah melihat orang yang lebih bersungguh-sungguh dari pada mereka. Pada dahi mereka tampak sekali bekas sujud. Tangan mereka kasar seperti kaki onta. Dari wajah mereka, tampak sekali kalau mereka tidak tidur malam untuk beribadah. Lalu aku mengucapkan salam kepada mereka. Mereka menjawab: “Selamat datang Ibn Abbas. Apa keperluanmu?”

Aku menjawab: “Aku datang mewakili kaum Muhajirin dan Anshar serta menantu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Al-Qur’an turun di tengah-tengah mereka. Mereka lebih mengetahui maksud al-Qur’an dari pada kalian. Lalu sebagian mereka berkata, “Jangan berdebat dengan kaum Quraisy, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar”. (QS. 43 : 58). Kemudian ada dua atau tiga orang berkata: “Kita akan berdialog dengan Ibn Abbas.” Kemudian terjadi dialog antara Ibn Abbas dengan mereka. Setelah Ibn Abbas berhasil mematahkan argumentasi mereka, maka 2000 orang Khawarij kembali kepada barisan Sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Sementara yang lain tetap bersikeras dengan pendiriannya. 2000 orang tersebut kembali kepada kelompok kaum Muslimin, karena berhasil mengalahkan hawa nafsu mereka. Sementara yang lainnya, telah dikalahkan oleh hawa nafsunya, sehingga bertahan dalam kekeliruan.

Kita seringkali melihat atau mendengar kisah perdebatan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah dengan tokoh-tokoh ahli bid’ah, misalnya orang Syi’ah, Wahhabi, atau lainnya. Akan tetapi meskipun mereka berulangkali dikalahkan dalam perdebatan, dengan dalil-dalil al-Qur’an, Sunnah dan pandangan ulama salaf, mereka tidak pernah kembali kepada kebenaran, karena hawa nafsu telah mengalahkan mereka.

Tidak Mengetahui Posisi Sunnah

Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya al-I’tisham membuat sebuah pertanyaan yang dijawabnya sendiri, mengapa seseorang itu mengikuti hawa nafsu dan kemudian pendapat-pendapatnya menjelma dalam bentuk sebuah aliran sesat? Hal tersebut ada kaitanya dengan latar belakang lahirnya aliran-aliran sesat, yang sebagian besar berangkat dari ketidaktahuan terhadap Sunnah. Hal ini seperti diingatkan oleh sebuah hadits shahih, “Manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin”.

Menurut Asy-Syathibi, setiap orang itu mengetahui terhadap dirinya apakah ilmunya sampai pada derajat menjadi mufti atau tidak. Ia juga mengetahui apabila melakukan introspeksi diri ketika ditanya tentang sesuatu, apakah ia berpendapat dengan ilmu pengetahuan yang terang tanpa kekaburan atau bahkan sebaliknya. Ia juga mengetahui ketika dirinya meragukan ilmu yang dimilikinya. Oleh karena itu, menurut Asy-Syathibi, seorang alim apabila keilmuannya belum diakui oleh para ulama, maka kealimannya dianggap tidak ada, sampai akhirnya para ulama menyaksikan kealimannya.

Kaitannya dengan aliran Wahhabi, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sang pendiri aliran Wahhabi sendiri, termasuk orang yang tidak jelas kealimannya. Tidak seorang pun dari kalangan ulama yang semasa dengan Syaikh Muhammad, yang mengakui kealimannya. Bahkan menurut Syaikh Ibn Humaid dalam al-Suhub al-Wabilah, kitab yang menghimpun biografi para ulama madzhab Hanbali, Syaikh Muhammad sering dimarahi ayahnya, karena ia tidak rajin mempelajari ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Pernyataan Syaikh Ibn Humaid, diperkuat dengan pernyataan Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, kakak kandung Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, yang mengatakan dalam kitabnya al-Shawa’iq al-Ilahiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah:

“Hari ini manusia mendapat ujian dengan tampilnya seseorang yang menisbatkan dirinya kepada al-Qur’an dan al-Sunnah dan menggali hukum dari ilmu-ilmu al-Qur’an dan Sunnah. Ia tidak peduli dengan orang yang berbeda dengannya. Apabila ia diminta membandingkan pendapatnya terhadap para ulama, ia tidak mau. Bahkan ia mewajibkan manusia mengikuti pendapat dan konsepnya. Orang yang menyelisihinya, dianggap kafir. Padahal tak satu pun dari syarat-syarat ijtihad ia penuhi, bahkan demi Allah, 1 % pun ia tidak memiliknya. Meski demikian pandangannya laku di kalangan orang-orang awam. Inna lillah wa inna ilayhi raji’un.” (Syaikh Sulaiman, al-Shawaiq al-’Ilahiyyah, hal. 5).

Dewasa ini, para pengikut aliran Wahhabi atau Salafi, sebagian besar memang orang-orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan agama yang memadai. Ada kisah menarik berkaitan hal ini. Bahrul Ulum, teman saya yang tinggal di Surabaya, bercerita kepada saya.

“Suatu hari saya mendatangi Ustadz Mahrus Ali yang populer dengan mantan kiai NU, di rumahnya, Waru Sidoarjo. Ternyata Ustadz Mahrus Ali sedang menulis buku yang isinya mengharamkan ayam. Melihat tulisan tersebut, saya segera membuka Shahih al-Bukhari, dan di situ ada sebuah hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah makan ayam. Saya tunjukkan kepada Ustadz Mahrus Ali, hadits dalam Shahih al-Bukhari itu sambil menyerahkan kitabnya. Ternyata, di luar dugaan, Ustadz Mahrus Ali bilang, “Hadits ini hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja.” Mendengar jawaban tersebut, saya terkejut. Ternyata Ustadz Mahrus Ali mengikuti logika orientalis, menolak otoritas hadits ahad.” Demikian cerita Bahrul Ulum.

Menurut saya, sebenarnya Mahrus Ali itu bukan bermaksud mengikuti logika orientalis. Ia hanya bermaksud menutupi rasa malunya saja dengan alasan bahwa hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja. Sebab dalam logika Wahhabi, kedudukan hadits ahad (kebalikan hadits mutawatir) sama dengan hadits mutawatir, sama-sama menjadi pedoman dalam akidah dan hukum.

Sekitar dua tahun yang lalu, saya sering mendapat pertanyaan, mengapa LBM NU Jember tidak menulis bantahan terhadap buku-buku Mahrus Ali yang baru. LBM hanya membantah buku Mahrus Ali yang pertama. Kami dari tim LBM NU Jember memang tidak menulis bantahan terhadap buku-buku Mahrus Ali yang baru, karena disamping buku-buku yang baru, dalil dan argumentasinya sama dengan buku yang pertama, juga dalam buku-buku yang baru, pendapat-pendapatnya banyak yang berangkat dari ketidaktahuan terhadap hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang terdapat dalam kitab-kitab hadits.

Misalnya dalam buku kedua, Mahrus Ali mengatakan, “Kini, saya tidak mau lagi mencium tangan guru-guru saya, karena saya tidak pernah melihat para sahabat mencium tangan Nabi shallallahu alaihi wasallam.” Pernyataan ini jelas menyingkap siapa sebenarnya Mahrus Ali. Bukankah hadits-hadits yang menerangkan bahwa para sahabat mencium tangan Nabi shallallahu alaihi wasallam terdapat dalam kitab standart yang enam. Bahkan sebagian ulama ahli hadits dari generasi salaf, yaitu al-Imam al-Hafizh Abu Bakr Ibn al-Muqri’ al-Ashbihani, menulis kitab khusus tentang mencium tangan berjudul Juz’ fi Taqbil al-Yad. Tetapi Ustadz Mahrus Ali, seperti kebiasaan kaum Wahhabi, memang sangat mudah mendistribusikan vonis bid’ah dan syirik terhadap hal-hal yang tidak disetujuinya, tanpa mengetahui dalil-dalil yang semestinya.

BACA JUGA:  SILAHKAN DI-DOWNLOAD GRATIS....

Menghujat Generasi Salaf

Menurut al-Imam Asy-Syathibi, dari ketiga tanda-tanda aliran sesat di atas, tanda yang pertama diterangkan dalam hadits-hadits iftiraq (yang menerangkan tentang perpecahan umat Islam). Sedangkan tanda-tanda kedua dan ketiga, yaitu mengikuti teks mutasyabihat dan hawa nafsu, tidak diterangkan dalam hadits-hadits iftiraq, akan tetapi disebutkan dalam ayat al-Qur’an (QS. 3 : 7).

Selain hal tersebut, Asy-Syathibi juga menerangkan bahwa ciri khas ahli bid’ah dapat diketahui dari awal pembicaraan. Yaitu setiap bertemu orang lain, ia akan membeberkan kejelekan orang-orang terdahulu yang dikenal alim, saleh dan menjadi panutan umat. Sebaliknya ia akan menyanjung setinggi langit, orang-orang yang berbeda dengan para tokoh panutan tersebut.

Dalam hal ini Asy-Syathibi memberikan contoh bagi kita, bagaimana kaum Khawarij mengkafirkan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Padahal para sahabat telah dipuji oleh Allah dalam al-Qur’an dan dipuji oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits-hadits shahih. Sebaliknya, kaum Khawarij justru memuji Abdurrahman bin Muljam al-Muradi karena telah membunuh Sayidina Ali radhiyallahu anhu.

Perbuatan serupa juga dilakukan oleh orang-orang Syi’ah. Syi’ah telah menghujat dan mengkafirkan para sahabat. Menurut Syiah, seperti dalam riwayat al-Kulaini dalam Ushul al-Kafi, sesudah Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat, semua sahabat menjadi murtad kecuali tiga orang saja, yaitu Salman al-Farisi, Abu Dzarr al-Ghifari dan Miqdad bin al-Aswad.

Sementara kaum Wahhabi, secara ekslpisit tidak mengkafirkan para sahabat dan generasi salaf. Namun dari pandangan mereka yang membid’ahkan dan mengkafirkan beberapa amaliah generasi salaf sejak masa sahabat, tabi’in dan generasi penerusnya, seperti amaliah tawassul, istighatsah, tabarruk dan lain-lain, sebagian ulama menganggap kaum Wahhabi telah membid’ahkan dan mengkafirkan generasi salaf secara implisit. Bukankah amaliah tawassul, tabarruk, istighatsah dan lain-lain yang menjadi isu-isu kontroversi antara kaum Sunni dengan Wahhabi, telah diajarkan oleh kaum salaf, generasi sahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya. Sebaliknya, kaum Wahhabi justru menganggap orang-orang Musyrik seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan lain-lain lebih mantap tauhidnya dari pada kaum Muslimin yang bertawassul.

Belakangan, dari kaum Wahhabi kontemporer tidak sedikit terlontar pernyataan tokoh-tokoh mereka yang menistakan generasi salaf secara parsial (juz’i). Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, misalnya menganggap sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiyallahu anhu telah musyrik, dalam komentarnya terhadap kitab Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari karena melakukan istighatsah di makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu. Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin dalam fatwanya, menganggap al-Imam al-Nawawi dan al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani bukan pengikut Ahlussunnah.

Syaikh Nashir al-Albani dalam fatwanya mengkafirkan al-Imam al-Bukhari karena melakukan ta’wil terhadap ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Dalam kitab al-Tawassul Ahkamuhu wa Anwa’uhu, al-Albani juga mencela Sayyidah ‘Aisyah, dan menganggapnya tidak mengetahui kesyirikan. Syaikh Ahmad bin Sa’ad bin Hamdan al-Ghamidi, menganggap al-Imam al-Hafizh al-Lalika’i, pengarang kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, tidak bersih dari kesyirikan. Demikian sekelumit contoh penistaan tokoh-tokoh Wahhabi terhadap generasi salaf dan para ulama terkemuka secara parsial.

Sulit Diajak Dialog Terbuka

Pada bulan Maret 2008, tim LBM NU Jember mengajak Mahrus Ali untuk berdialog dan berdebat secara terbuka di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Hasilnya, dengan berbagai alasan Mahrus Ali tidak siap datang. Sesudah itu, beberapa kali ia diajak dialog di Universitas Diponegoro Semarang, kemudian di Universitas Brawijaya Malang, ia juga tidak siap. Dan terakhir dia diajak dialog di masjid di sebelah rumah tempat tinggalnya, ternyata ia tidak datang. Sepertinya ia tidak berani berdialog terbuka dengan para ulama, karena ia merasa yakin bahwa dalil-dalil yang dimilikinya sangat lemah sekali dan tidak akan mampu bertahan di arena perdebatan ilmiah.

Al-Imam Asy-Syathibi menjelaskan dalam al-I’tisham, bahwa sebagian besar kaum ahli bid’ah dan pengikut aliran sesat tidak suka berdialog dan berdebat dengan pihak lain. Menurut Asy-Syathibi, mereka tidak akan membicarakan pendapatnya dengan orang yang alim, khawatir kelihatan kalau pendapat mereka tidak memiliki landasan dalil syar’i yang otoritatif. Sikap yang mereka tampakkan ketika bertemu dengan orang alim adalah sikap pura-pura. Tetapi ketika mereka bertemu dengan orang awam, mereka akan mengajukan sekian banyak kritik dan sanggahan terhadap ajaran dan amaliah umat Islam yang sesuai dengan syari’at. Sedikit demi sedikit, mereka masukkan ajaran bid’ahnya kepada kalangan awam.

Dalam beberapa kali diskusi dengan kaum Wahhabi, seperti awal Agustus 2010 di Sampang, beberapa bulan sebelumnya di Yogyakarta dan Juli 2010 di Denpasar, tidak sedikit dari kalangan Wahhabi yang melontarkan pernyataan kepada saya, “Kita tidak perlu berdialog soal-soal khilafiyah antara Sunni dengan Wahhabi. Ini sama sekali tidak penting. Musuh kita orang-orang kafir, Amerika, Zionis dan lainnya yang dengan rapi berupaya menghancurkan umat Islam.” Begitulah kira-kira ucapan mereka.

Tentu saja ucapan itu mereka lontarkan ketika posisi mereka terdesak dalam arena perdebatan dan diskusi ilmiah yang disaksikan oleh publik. Mereka merasa khawatir, pandangan-pandangan mereka yang keluar dari mainstream kaum Muslimin akan terbongkar kelemahan dan kerapuhannya. Terbukti, mereka sendiri ketika berbicara di hadapan orang awam, tidak pernah berhenti membid’ahkan dan mengkafirkan umat Islam di luar golongan mereka. Bahkan selama ini, kelompok mereka sangat agresif membicarakan dan menyebarkan isu-isu khilafiyah antara Sunni dengan Wahhabi, maupun dengan lainnya.

Al-Imam Asy-Syathibi berkata dalam al-I’tisham: “Jangan berharap mereka (ahli bid’ah Salafy Wahabi) akan berdialog dengan seorang alim yang pakar dalam ilmunya.”

Alhamdulillaahirobbil’aalamiin….

SUMBER: Dari “Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi” karya Ust. Muhammad Idrus Ramli, alumni Pondok Pesantren Sidogiri tahun 1424/2004.

 


 

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

525 thoughts on “Inilah Ciri-ciri Aliran Sesat, Semuanya Ada di Salafy Wahabi”

  1. Wah, Dupfall belum berani koment di postingan sini, takut terkena kriteria ciri-ciri pengikut aliran sesat, he he he….

    Yg bikin kriteria itu Imam Syatiby, lho…. Pengikut Salafy Wahabi silahkan kalau pada mau kebakaran jenggot, marahnya pada Imam Syatiby aja, jangan marah pada Ummati dan pendukung ASWAJA ya? Ummati cuma dalam posisi mengabarkan berita bagus ini, semoga ummat Islam pada sadar dari nina bobok kebanggaan atas satu-satunya kebenaran yg ternyata semu.

    1. maaf mas baihaqi , saya lebih cocok jika ” kebenaran yang dibawa syeikh-syeikh Wahabi adalah Palsu dan kesesatan “.

      oh ya kenapa antum nulisnya DupFall kan namanya Dufal..? barang kali ada penjelasan…?

      1. dupfall= down-up fall, dia orang suka turun naik, turun naik akhirnya jatuh beneran Mas. Jatuh dalam artian dia ketahuan aslinya yg jahil murokkab, padahal tadinya saya sempat agak sedikit kaget waktu dia diskusi sama Mas Syahid, kirain dia benar-benar pintar. Eh, gak tahunya cuman gaya doang dg cara koar-koar.

        Afwan semuanya ya, akhirnya mau tak mau harus saya jelasin deh, Mas Syahid sih pakai minta penjelasan, he he he….

      2. Mas Syahid, bisakah dieksplain lebih detail lagi atas kalimat:
        ” kebenaran yang dibawa syeikh-syeikh Wahabi adalah Palsu dan kesesatan “

        Syukron, semoga bermanfaat untuk semuanya, amin….

  2. salafy itu tuhannya Alloh swt dan nabinya muhammad saw, rukun islam dan rukun imannya juga sama, jgn lah kau menilai mereka sesat sodaraku begitu juga dengan orang-orang salafy jgn suka bilang orang selain golonganmu sesat
    Saat nanti nabi isa diturunkan lagi ke bumi, beliau akan meluruskan agama kristen yang sudah jelas-jelas sesat menganggap nabi isa itu adalah Tuhan
    Saat Imam mahdi datang pun akan membuat islam mejadi satu kembali dari bermacam-macam golongan seperti sekarang
    Kita semua belajar menjadi seorang muslim yang mukmin…………..

    1. Khowarij pun begitu, Gusti Allohnya sama, Kanjeng Nabinya juga sama, tapi ajarannya, telah mengkafir-kafirkan, bahkan menghalalkan darah sesama Muslim (sebagaimana itu juga sering dilakukan Wahhabiy).
      Kalu yang satu (khowarij) sudah disepakati banyak ulama atas kekafirannya, Lantas untuk Wahhabi Njenengan ndak setuju, lalu apa alasannya. apa ndak terllihat sama Njenengan, persamaan keduanya.

      Sebuah cerita :

      Ada sebuah kampung masyarakat primitif didatangi seorang kepalanya gundul, penampilannya kumal. Sejak kedatangannya kampung itu jadi banyak barang yang ilang. Tak lama berselang terungkaplah bahwa yang suka mengambil barang itu adalah si Gundul tadi. Kesimpulan masyarakat adalah ada “Maling Gundhul.” Semenjak itu masyarakat suka salah kaprah kallo lihat orang gundhul jadi berhati-hati dan waspada..

      Beberapa bulan kemudian, ada pemuda gondrong, pakaiannya mewah dan bagus-bagus. kejadiannya sama juga, jadi banyak barang ilang. kemudian tertangkaplah si Gondrong itu. Masyarakat pun berpikir.. “Oh ternyata orang gondrong juga maling”.

      Mereka pun berpikir ulang tentang jinis maling, “ternyata apapun bajunya, apapun penampilannya yang disebut maling ya, yang ngambil barang orang tanpa ijin, baik dulu mau pun yang sekarang sama saja, kalau kelakuannya sama saja”.

      Begitu juga yang kasus khowarij & wahhabi diatas

  3. Maaf Bang Mahdi, Salafy Wahabi ciri-cirinya sama dg yg disebutin Imam As-Syatiby dalam postingan di atas. Sesat itu masih mendingan Bang (bener mendingan gak ya), tidak sampai ke tingkat kafir atau musyrik. Sedangkan Salafy Wahabi sudah biasa dan lazim menyebut kaum muslimin sebagai kafir musrik penyembah kuburan.

    Diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari ra katanya: Beliau mendengar Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang memanggil seseorang dengan kafir atau menyatakan musuh Allah, padahal sebenarnya tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada dirinya.” [HR. Bukhari dan Muslim].
    Kenyataannya Salafy Wahabi adalah yg paling hobby menyebut kafir musyrik kepada ummat Islam.

    Mereka gemar menukil ayat2 al-Qur`an dan hadits, tetapi mereka tak paham maksud yang sebenarnya. Mereka berijtihad tanpa kaidah yang benar. Sehingga ketika telah lahir fatwa dari mereka, maka dengan mudahnya mereka menyebut orang yang berbeda pendapat dengan mereka sebagai ahlul bid’ah, musyrik, dan kafir.

  4. Salafy Wahabi jika dilihat dg kacamata al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi, sangat jelas kelihatan dan tak diragukan lagi memang Salafy Wahabi adalah sekte sesat.

  5. Gak apa-apa deh wahabi di bilang sesat, toh yang bilang sesat bukan Nabi Muhammad. Tapi kalo orang Aswaja mah banyak yang kafir, gak percaya,,???

    Allah Ta’ala berfirman,

    ???????? ???? ?????????? ?????? ????????? ?????????? ???????????? ???????????? ???????? ?????????? ?????? ?????? ???? ????? ???????? ???????? ????????

    “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60)

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31)

    Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.

    Pada ayat selanjutnya juga, Allah telah mengatakan,

    ?????? ???? ????? ???????? ???????? ????????

    “kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” Maka seandainya orang yang menyiakan shalat adalah mukmin, tentu dia tidak dimintai taubat untuk beriman.

    Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

    ?????? ??????? ??????????? ?????????? ????????? ?????????? ??????????????? ??? ????????

    “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS. At Taubah [9]: 11). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengaitkan persaudaraan seiman dengan mengerjakan shalat. Berarti jika shalat tidak dikerjakan, bukanlah saudara seiman. Konsekuensinya orang yang meninggalkan shalat bukanlah mukmin karena orang mukmin itu bersaudara sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

    ???????? ?????????????? ????????

    “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49]: 10)

    Pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Hadits

    Terdapat beberapa hadits yang membicarakan masalah ini.

    Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ?????? ????????? ???????? ????????? ??????????? ?????? ??????????

    “(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

    Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ?????? ???????? ???????? ???????? ????????????? ?????????? ??????? ????????? ?????? ????????

    “Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566).

    Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ?????? ???????? ??????????? ??????????? ??????????

    “Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi). Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat.

    Para sahabat ber-ijma’ (bersepakat) bahwa meninggalkan shalat adalah kafir

    Umar mengatakan,

    ??? ????????? ?????? ?????? ??????????

    “Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat.”

    Dari jalan yang lain, Umar berkata,

    ????????? ??? ??????????? ?????? ?????? ??????????

    “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam kitab Sunan-nya, juga Ibnu ‘Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209). Saat Umar mengatakan perkataan di atas tatkala menjelang sakratul maut, tidak ada satu orang sahabat pun yang mengingkarinya. Oleh karena itu, hukum bahwa meninggalkan shalat adalah kafir termasuk ijma’ (kesepakatan) sahabat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab Ash Sholah.

    Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq. Beliau mengatakan,

    ????? ????????? ????????? -??? ???? ???? ????- ??? ???????? ??????? ???? ??????????? ???????? ?????? ?????? ??????????

    “Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)

    Dari pembahasan terakhir ini terlihat bahwasanya Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’ (kesepakatan) mereka menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam). Itulah pendapat yang terkuat dari pendapat para ulama yang ada.

    Ibnul Qayyim mengatakan, “Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik).” (Ash Sholah, hal. 56)

    bnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)

    Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (Al Kaba’ir, hal. 25)

    Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).” (Al Kaba’ir, hal. 26-27)

    orang yang meninggalkan shalat harus dibunuh karena dianggap telah murtad (keluar dari Islam). Pendapat ini adalah pendapat Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, ‘Amir Asy Sya’bi, Ibrohim An Nakho’i, Abu ‘Amr, Al Auza’i, Ayyub As Sakhtiyani, ‘Abdullah bin Al Mubarrok, Ishaq bin Rohuwyah, ‘Abdul Malik bin Habib (ulama Malikiyyah), pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, pendapat Imam Syafi’i (sebagaimana dikatakan oleh Ath Thohawiy), pendapat Umar bin Al Khothob (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm), Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya.

    Sekarang loe pada lihat deh, jangan lihat pake nafsu loe, lihat pake hatimu. Gak malu bilang orang sesat, padahal orang salafy pada sholat ke mesjid. Mana orang Aswaja, sholat aja gak mau apalagi pergi ke mesjid. Emang ikut wirid di jamin masuk surga,,? Ente punya dalil..?
    satu lagi postingan yang menggelikan dari Ummati…

    Lagian apa seperti ini Islam yang di bawa Nabi..Wkwkwkwkw..Islam Aswaja terbukti telah gagal mengangkat agama Islam ke puncak tertinggi,,,

    Apakah Islam yang salah, tidak bro, pemahaman kalianlah yanmg telah menyimpang,,,
    Selamat buat Ummati, di tunggu postingan terbarunya yang lebih menggelikan..

    1. Budi@

      Ada lagi hadits (sabda) Nabi yg sesuai kriterianya dg ajaran Salafy Wahabi dan para penganutnya. Yaitu diriwayatkan dari Sayyidina Ali ra katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembus binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka karena sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari dan Muslim]

      Gemana Bud dg Sabda Nabi Saw di atas, apakah antum masih ngotot bilang: “Gak apa-apa deh wahabi di bilang sesat, toh yang bilang sesat bukan Nabi Muhammad.”

    2. Budi tukang bohong n ngibul karena pemahaman yg sempit, sebab setahu saya di masjid salafy dekat rumah saya masjidnya sekarang sepi jamaah, ini fakta Bud. Mungkin jamaahnya sudah bosan dicekoki dalil-dalil melulu tanpa penjelasan yg memadai dari ustadz2nya yg cenderung menghujat kaum muslimin di sekitarnya yg bukan Salafy. Ingat, orang itu memiliki pikiran, ada yg dangkal cara bernalarnya dan ada yg cara bernalarnya teliti dan mendalam. Hanya orang2 yg dangkal pikirannya saja yg bisa disusupi Virus Wahabi, terbukti di perumahan komplek sekitar saya tinggal.

    3. budi , atas dasar apa budi bisa mengatakan :” Tapi kalo orang Aswaja mah banyak yang kafir, gak percaya,,??? ” bisa dijelasin Bud…? hati-hati bud, anda telah mengkafirkan ahlu sunnah wal-jama`ah secara umum tanpa alasan.

    4. Masya Allah.. Saya baru sadar bahwa Salafi Wahabi sesat setelah mendengar penjelasan Budi ini. Terus terang, saya sudah beberapa kali mengikuti pengajian Salafi. Terakhir di Masjid ARH UI. Sampai sekarang saya belum pernah ikut lagi.

      Budi, anda secara sangat serampangan menukil pernyataan Ibnu Hazm ra. Saya punya bukunya: Al Muhalla. Dalam jilid I tentang akidah dijelaskan antara lain:

      1. Iman dan Islam adalah suatu kesatuan.
      2. Barangsiapa meyakini keimanan di dalam hatinya dan diucapkan dengan lisan, maka ia telah diberi taufik kepada Islam, baik ia mengimaninya berdasarkan bukti (dalil) atau tidak. Maka ia adalah seorang muslim di hadapan Allah”.
      3. Iman dan Islam adalah ikrar (janji setia) di dalam hati yang diucapkan dengan lisan serta direalisasikan dengan anggota tubuh. Semua itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
      4. Orang yang tidak mengerjakan amal shalih akan tetap berstatus sebagai seorang muslim dan TIDAK DIKAFIRKAN, walaupun yang bermaksiat dan lemah iman.

      Dari penjelasan ini, jelas bahwa taubat itu ditujukan juga untuk muslimin juga. Dalam akidah ahlusunah, kita meyakini bahwa muslim yang berbuat dosa besar atau kecil bukanlah kafir. Hanya, jika mereka berbuat dosa besar mereka harus bertaubat. Jika berbuat dosa kecil, maka mereka harus banyak beristighfar. Karena iman dan Islam suatu kesatuan, maka orang yang bermaksiat (misalnya meninggalkan shalat, berzina dll) tidaklah dimaksudkan menjadi kafir atau keluar dari Islam, tetapi orang yang berkurang imannya karena menanggalkan ajaran Islam.
      Semoga bermanfaat.

    5. @Budi: Saya sepakat dengan sampeyan… saya juga haqqul yakin kalau Kanjeng Nabi SAW ndak pernah ngendika “Qad kafara Muhammad Ibn Abdil Wahhab wa hizbuh…” Saya juga menandaskan kalu yang bilang Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah ngendika seperti itu, berarti dia benar-benar menungsa yang kewarasannya perlu diperiksa.
      Saya juga haqqul yakin kalu Kanjeng Nabi juga nggak pernah ngendika “Muhammad Ibn Wahhab,wal Albaanii, wal Utsaimin yadkhuluuna jannah.”

      Saya juga haqqul yaqin kalu Kanjeng Nabi Muhammaad SAW juga ndak pernah ngedika “George Bush, John Travolta & Madonna min Ahlin Naar”..

      1. atau jangan-jangan khowarij sama sampeyan ini dianggap sesat karena kere. dan wahhabiy dianggep bener karena sugeh & isa marakke sugeh. Cilaka tenan kalo begitu..

  6. Apa yg ditulis dalam artikel di atas adalah arahan dari Ulama besar ASWAJA (Ahlussunnah Wal-Jamaah) dan kemudian disinkronkan dengan fakta zaman sekarang plus pengalaman pribadi penulisnya Muhammad Idrus Ramli. Sungguh sebuah karya yg kritis dan cerdas, menohok sangat telak jantung Wahabisme. Dengan tulisan di atas, semestinya membuat pembacanya bisa tergugah pula kecerdasan hatinya sehingga tercerahkan. Thanks info-infonya yg terus mencoba menyorot wahabisme yg terbukti sebagai sekte penyebar bid’ah dholalah yg nyata.

  7. Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

    Merasa benar sendiri adalah salah satu bentuk kesombongan yang samar. Yang mana kesombongan ini adalah salah satu sifat buruk yang dirintis oleh Iblis la’natullah manakala iblis diperintahkan untuk bersujud kepada Nabiyullah Adam ‘alaihissalaam sebagai bentuk penghormatan.

    Merasa benar sendiri juga merupakan sikap dan sifat yang ada pada sekte wahhabiyyun. Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Mereka wahhabiyyun melalui corong-corong radio menyebarkan ajaran yang memvonis amalan ini bid’ah, amalan itu bid’ah, Ulama’ fulan sesat, hanya karena mengamalkan amalan yang menurut mereka bid’ah, padahal sesungguhnya amalan-amalan yang sudah berkembang di masyarakat adalah amalan-amalan yang pada dasarnya ada dalilnya.

    Imam syathibi telah dengan jelas menyebutkan ciri-ciri suatu sekte dikatakan sesat, dan memang ciri-ciri tersebut ada pada sekte wahhabiyyun. Imam syathibi yang notabene adalah salah satu ulama’ yang menjadi rujukan kaum wahhabiyyun justru menyatakan dan menyebutkan ciri-ciri tersebut yang pada intinya ciri-ciri aliran sesat tersebut ada pada kaum wahhabiyyun.

    Maka, sebagai bagian dari ahlussunnah wal jama’ah maka wajib bagi kita untuk meluruskan faham mereka dengan kemampuan kita masing-masing.
    http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/03/13/cara-mudah-membantah-ajaran-ajaran-sekte-wahhabi/

    1. Mas Jundumuhammad, mantab ulasannya, lanjutkan dan tetap semangat berdakwah meluruskan paham-paham bengkok yg terus mencari korbannya di tengah-tengah kaum muslimin. Mari kita selamatkan Ummat Islam dari virus Wahabi yg bisa mematikan sunnah-sunnah Nabi Saw.

  8. @budi. Nt tlh nyata skl memfitnah dan mengkafirkan seluruh aswaja. Dan demi Alloh sy kembalikan tuduhan ini kpd anda jika tuduhan nt tdk benar sampi alam kubur.

  9. @budi. Duh betapa bodohnya dirimu. Apa nt ga tahu ada brp ribu ulama ahlu sunah wal jamaah, kok LANCANG skl nt nuduh semua aswaja kafir?

  10. Dari omongan budi, udah jelas menunjukkan kesesatan dirinya sendiri. Budi budi, istighfar lah. Kalau pikiran ente seperti itu terus tak akan bahagia Hidupmu bud.

  11. budi mengatakan :” Gak apa-apa deh wahabi di bilang sesat, toh yang bilang sesat bukan Nabi Muhammad.”

    dibilang sesat kok gak apa-apa bud…? emang menurut budi Wahabi ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW…?

  12. Wahabi berlindung dibalik dalil2 nash utk menutupi kesesatan teologinya. Krn gak PD maka semua kelompok selain dirinya dicap ahli neraka. Kalah bersaing nih yee hu hu hu kasihan skl dikau.

  13. Hey all wahabi, yg sok ngaku ahlu sunah wal jamaah. SEORANG AHLU SUNAH WAL JAMA’AH SEJATI ITU TIDAK MUDAH MENGUMBAR NAFSU MENGKAFIRKAN, MENYESATKAN GOLONGAN LAIN DAN SELALU MENJAGA TATAKRAMA serta TAUHIDNYA TDK RETAK JADI 3 KAYAK ANDA.

  14. Inspirator wahabi itu bukan syekh ibnu taymiah tp SYEKH ABDUNNAFSI BIN SYAITHON BIN IBLIS AL NAJDI yg menjelma mirip syekh ibnu taymiah tp syekh ibnu abdulwahab ga bs membedakan itu ibnu taymiah asli ato palsu.

    1. he he he udah dulu mbah nanti Wahabiyyun ga ada yang berani nongol, maklum ahli bid`ah kaya wahabiyyun kan rata-rata gak punya nyali , yah namanya Juga ahli bid`ah mana ada punya nyali mencari kebenaran.

  15. Ya iyalah, masa ya iya dong? Para Wahabiyyun pada gak berani nongol di thread sini takut semakin terbongkar bid’ahnya yg dholalah. Wah, Abahna Jibril juga sudah kapok tuh, gak berani muncul lagi, bisa budrek kepalanya kalau masuk sini kaya’nya.

  16. Ya mBah Redhy, ada pepatah yg sering diucapkan oleh pejuang, BERANI KARENA BENAR, MAJU TAK GENTAR MEMBELA YG BENAR, he he he…..

    Seandainya blog-blog Salafy Wahabi itu berani terbuka dan berani memuat koment yg membantah artikel mereka, maka pastilah akan diserbu anak-anak ASWAJA dengan semangat MAJU TAK GENTAR MEMBELA YG BENAR, kira-kira begitu nggak ya Mbah?

    Tapi sayang ya, mereka Salafy Wahabi itu menyuarakan kedustaan jadinya gak ditampilkan kalau dikomentari dg bantahan, sepertinya mereka takut kebohongannya terbongkar.

  17. Betul mas Jabir. Pejuang kebenaran sejati pantang mundur. Ngakunya aja pengikut salaf tp kok mentalnya lembek kaya banci. Klu memang aqidahnya shahih yg brani dong. Terbukti aqidahnya retak makane ngacir deh, KABUUUR, MUNDUUUR. Tp suka licik main tikam dr belakang

  18. Mbah Redhy Abu Jamal@

    Pripun kabarnnya Mabah, semoga barokah terus Mbah. Oh ya, dulu namanya siapa ya, agak-agak lupa nama sebelum Mbah Redhy, siapa ya…?

    Wah…., Ummati makin mantab ini tentang ciri2 Salafy Wahabi, eh maksudnya tentang tanda-tanda sekte sesat ahli bid’ah dholalah. Maju terus pantang mundur, maju tak gentar membela yang benar, he he he….

  19. @budi : kok bilang orang aswaja kafir? ente nih udah bisa memahami qur’an hadist secara sempurna? KH Prof Agil Al munawar yang sudah tinggi tingkat kepahaman ttg qur’an hadist tidak menyebut salafy itu sesat atau bahkan kafir………..”hanya saja masalah ta’wil manusia yg berbeda tergantung tingkat keimanan dan hidayah yang didapat” Mudah2an kita sesama muslim jangan saling mengkafirkan muslim yang lain.

    1. wkwkwkwk…siapa yang bilang loe kafir. Gue cuma ikutan aja bro. Loe gak lihat komen gue. Isinya Al qur’an, hadist dan pendapat para ‘ulama. Kalo gak sholat kafir. Dan loe lihat lingkungan loe. Jangan pake nafsu loe. Tapi pake mata dan hati loe. Banyak tuch orang Aswaja yang gak sholat. Jadi ya dari situ mereka udah kafir. Gimana sech, gue cuma ikutan kata Tuhan dan Nabi ane. Kalo ente mau marah, sana marah sama Tuhan dan Nabi ane. Ato Tuhan ane dan ente beda ya? Kok marah? Aneh Aswaja neh!

      1. Budi mereka shalat, tapi tidak dipamerkan di depan ente. Saya suka lihat tukang ojek pada shalat, tukang cleaning service pada shalat, tukang bangunan pada shalat, tukang penjaga toko pada shalat, yah… semuanya shalat kok, cuman ente aja yg terlalu su’udhon. Mereka tidak shalat di masjid, miungkin shalat di tempat lain yg nt gak lihat mereka shalat. Gitu Bud….?

        1. saya juga melihat , kelinci makan salad, kambing makan salad, sapi makan salad, dan terakhir manusia juga makan ssalad

      2. budi terlalu gegabah dalam menghukumi sesuatu , apakah budi sudah tanya satu persatu jika mereka itu sama sekali tidak sholat….?

        jangan berburuk sangkalah bud , bisa jadi mereka shalat namun tidak dihadapan budi, mungkin budi gak sadar telah mengkafirkan orang dengan sembarangan (aswaja lagi yang dikafirin).

  20. Maap, jika pihak dari ummati bisa mencari orang yg bernama budi tersebut. Setidaknya IP ADDRESS nya bisa di carikan, untuk di tampilkan di forum ini.

    1. Sekalian aja bro! Loe mau tahu ane tinggal di mane? Ane salafy ato bukan? Ane Aswaja ato bukan? Ato ane yang bukan-bukan? He..he..he…! Tapi yang pasti gue malu sama pemahaman agame ane sekarang. Seperti inikah islam yang di bawa Nabi kite. Bullshit! Rusak! Gue yakin agama ane Islam itu bener, tapi pemahaman yang telah salah. Alhamdulillah ane bisa buka internet dan bisa tahu mana yang pemahaman salah dan mana yang bener.

      1. Budi@

        jadi nt sadar kalau pemahaman agama nt rusak? makanya nt tinggalin itu Wahabi, udah sadar paham rusak kok masih diperjuangkan aja, beruntung nt bisa lihat website UMMATI ini jadi nt dapat wawasan baru.

        1. Sekarang Insya ALLAH akan bener, Hehehe..dulu gue Asyari. Sifat 20 udah gue pelajari dulu di SMP .gak ngaruh, seperti juga yasinan, tahlilan, maulidan..udah berapa lama orang Aswaja MELAKUKANNYA..APA ADA PERUBAHAN SAMA UMAT, WKWKWKWKW..kagak,,cuma buat makan dan tertawa, gak nambah iman.. malah ngisapin barang haram..di mesjid lagi..bikin orang kafir sepele aja sama kita..mereka aja kagak mau ngerokok di gereja..

          1. Ohhh… gitu ya Bud, jadi nt sekarang pengikut Salafy Wahabi? Terus alasannya apa kok nt meninggalkan Ahlussunnah Waljamaah dan berganti jadi Salafy Wahabi? Bikin bangga ya bisa ikut sekte sesat?

            Oke, menurut nt gemana artikel tentang CIRI-CIRI ALIRAN SESAT yg diposting di atas? Sudah klop belum dengan fakta keadaan Salafy Wahabi?

            Neh, saya kutipkan artikel di atas:

            -Perpecahan dan Perceraiberaian

            -Mengikuti Teks Mutasyabihat

            -Mengikuti Hawa Nafsu

            -Tidak Mengetahui Posisi Sunnah

            -Menghujat Generasi Salaf

            -Sulit Diajak Dialog Terbuka

            Gemana itu Bud?

      2. jadi budi sudah tahu mana pemahaman yang benar dan mana pemahaman yang salah… jadi menurut budi yang bener yang mana bud ? dan yang salah yang mana bud… ….? tolong dong dijelasin….?

  21. Budi budi… Orang nggak sholat ya diajak sholat, kok malah dikafir kafiri. Emang sholat ente udah bener? Budi oh budi, mengapa engkau jadi begini, merasa udah bener sendiri, aku jadi ngeri.

  22. tulisan imam asyathibi shahih,namun cocok ditujukan kpd ahlul bid’ah yg sebenarnya,karena hakekatnya pemecah belah umat islam adalah pembuat bid’ah yakni yg menyelisihi sunnahnya.

    1. Sebelum datang/munculnnya fintah Wahabi, ummat Islam di sluruh dunia bersatu di bawah kekholifahan Islam Utsmaniyah. Dan setelah muncul Wahabi maka terpecah-belahlah Ummat Islam sampai sekarang dan sampai waktu yg dikehendaki Allah swt. Akhirnya kebatilan Wahabi nantinya akan lenyap walaupun sekarang sedang mengalami puncak perkembangannya dalam usianya yg sudah 200-an tahun ini. Ketika “kebusukannya” sudah tersebar di mana-mana di seluruh dunia, maka Wahabi tidak akan laku lagi dan ditinggalkan para pengikutnya. Maka Ahlussunnah Waljamaah akan jaya mempersatukan Ummat Islam.

  23. Abu Hatim Ar Rozi berkata: “Ciri-ciri Jahmiyah adalah menggelari Ahlus Sunnah dengan Musyabbihah…” (Syarh I’tiqog Ahlus Sunnah Wal Jama’ah 1/201)

    Ibnu Abdil Barr berkata: “Adapun Jahmiyyah, Mu’tazilah dan Khawarij mereka mengingkari sifat-sifat Allah dan tidak mengartikannya secara dhahirnya. Lucunya mereka menuding bahwa orang yang menetapkannya termasuk Musyabbih.” (At Tamhid 3/351)

    Abu Utsman Ash Shabuni berkata: “Mereka (Ahlus Sunnah) tidak menyelewengkan makna ayat ini (As Shad 75) kepada makna-makna lain. Tidak menarik maknanya kepada makna “dua kenikmatan”, atau “dua kekuatan” seperti penyelewengan yang dilakukan mu’tazilah dan jahmiyyah –semoga Allah membinasakan keduanya-.”(Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 161).

  24. @ajam, apakah anda sudah menerjemahkan tulisan ulama dgn benar dan paham maksudnya? Apakah anda ingin mengatakan ulama-ulama asy ariya yg melakukan takwil thd beberapa ayat sifat adalah jahmiyah? Apakah anda tidak tahu bahwa ibnu taymiyah menakwil ‘wajah Allah’ dgn arah ? Atau anda tidak tahu imam ahmad menakwil ‘datang tuhammu’ dgn datang utusan tuhanmu ? Atau anda tidak tahu kalau imam bukhari menakwil tertawa Allah dgn rahmat ? Andat seharusnya bisa membedakan makna zhahir dan lafaz zhahir.

  25. pertama, benar bahwa Asy’ariyah menakwilkan sifat2 Alloh itu adalah tularan dari Jahmiyah, sebagaimana yang disebutkan oleh para imam di atas.

    kedua, jatuhnya seseorang/ulama ke dalam sebagian aqidah firqoh sesat, tidak lantas langsung dijatuhkan vonis bahwa dia adalah termasuk golongan tersebut.

    ketiga, jika benar Ibnu Taimiyah, Imam Ahmad dan Imam Bukhari menakwilkan sifat2 Alloh, tidak lantas hal itu adalah tolok ukur kebenaran. kebenaran adalah jika sesuai dengan perkataan nabi, bukan perkataan selainnya. dan ternyata tidak didapati satupun hadits ataupun atsar sahabat yang menakwilkan sifat2 Alloh.

    keempat, masih banyak contoh lain ulama ahlus sunnah seperti Abu Hatim Ar Rozi, Utsman Ash Shobuni, Ibnu Abdil Barr dan lainnya yang menafikan takwil pada sifat2 Alloh. kenapa tidak memilih mengikuti mereka yang itu lebih seuai dengan Rasulullah dan para sahabat? kenapa malah memilih mengikuti ulama yang terjatuh pada aqidah jahmiyah?

    1. Ajam mengatakan : pertama, benar bahwa Asy’ariyah menakwilkan sifat2 Alloh itu adalah tularan dari Jahmiyah, sebagaimana yang disebutkan oleh para imam di atas.

      Saya jawab : dari tiga ulama yang ajam Nukil qoulnya , tidak ada satupun yang mengatakan bahwa : ” Asy’ariyah menakwilkan sifat2 Alloh itu adalah tularan dari Jahmiyah “, itu hanya kesimpulan ajam yang tidak berdasar.

      Ajam mengatakan : kedua, jatuhnya seseorang/ulama ke dalam sebagian aqidah firqoh sesat, tidak lantas langsung dijatuhkan vonis bahwa dia adalah termasuk golongan tersebut.

      Saya jawab : ulama manakah yang ajam maksud ” jatuhnya seseorang/ulama kedalam sebagian aqidah firqoh sesat…?

      Ajam mengatakan : ketiga, jika benar Ibnu Taimiyah, Imam Ahmad dan Imam Bukhari menakwilkan sifat2 Alloh, tidak lantas hal itu adalah tolok ukur kebenaran. kebenaran adalah jika sesuai dengan perkataan nabi, bukan perkataan selainnya. dan ternyata tidak didapati satupun hadits ataupun atsar sahabat yang menakwilkan sifat2 Alloh.

      Saya jawab : pernyataan ajam ini sebagian benar , namun apakah sekelas Imam Ahmad dan Imam Bukhori tidak layak diikuti…? Apakah kita menganggap lebih faham perkataan Nabi ketimbang beliau berdua…? Lalu bagaimana doa nabi agar Allah men-ilhamkan Ta`wil untuk Ibnu Abbas…? Lalu bagaimana dengan banyaknya Ta`wil yang dilakukan Ibnu Abbas , Mujahid , as-sudi , astauri , at-thobary , Imam Malik bin anas beserta Tabi`in lainnya…? Hebat memang ajam ini , paling bilang : ” tokh mereka juga manusia he he he…

      Ajam mengatakan : keempat, masih banyak contoh lain ulama ahlus sunnah seperti Abu Hatim Ar Rozi, Utsman Ash Shobuni, Ibnu Abdil Barr dan lainnya yang menafikan takwil pada sifat2 Alloh. kenapa tidak memilih mengikuti mereka yang itu lebih seuai dengan Rasulullah dan para sahabat? kenapa malah memilih mengikuti ulama yang terjatuh pada aqidah jahmiyah ?

      Saya jawab : jadi menurut ajam Imam Ahmad dan Imam Bukhori juga Jahmiyah…? Istighfar ya ajam, Ajam, ta`wil yang dinafikan oleh Abu hatim ar-rozi ,Utsman Ash Shobuni, Ibnu Abdil Barr dan lainnya adalah Ta`wil yang Fasid seperti Ta`wil yang dilakukan oleh Jahmiyah atau mu`tazilah , jadi mengikuti Ulama Ahlu Sunnah yang mana pun sama hanya soal pemahaman kita terhadap pernyataan Ulama tersebut sudah benar belum..? sebab yang mereka nafikan adalah Ta`wil yang Fasid.

      Ajam atau Ibnu Abi Irfan ini memang jago dengan Logika ngawur dan dalih yang hebat beliau punya dalih andalan :” mereka juga sama manusia ” weleh weleh weleh

      1. anda berkata:
        dari tiga ulama yang ajam Nukil qoulnya , tidak ada satupun yang mengatakan bahwa : ” Asy’ariyah menakwilkan sifat2 Alloh itu adalah tularan dari Jahmiyah “, itu hanya kesimpulan ajam yang tidak berdasar.

        saya jawab:
        itu kesimpulan saya pribadi.

        anda berkata:
        ulama manakah yang ajam maksud ” jatuhnya seseorang/ulama kedalam sebagian aqidah firqoh sesat…?

        saya jawab:
        beberapa ada

        anda berkata:
        pernyataan ajam ini sebagian benar , namun apakah sekelas Imam Ahmad dan Imam Bukhori tidak layak diikuti…? Apakah kita menganggap lebih faham perkataan Nabi ketimbang beliau berdua…? Lalu bagaimana doa nabi agar Allah men-ilhamkan Ta`wil untuk Ibnu Abbas…? Lalu bagaimana dengan banyaknya Ta`wil yang dilakukan Ibnu Abbas , Mujahid , as-sudi , astauri , at-thobary , Imam Malik bin anas beserta Tabi`in lainnya…? Hebat memang ajam ini , paling bilang : ” tokh mereka juga manusia he he he…

        saya jawab:
        yang paling paham tntang hadits nabi adalah para sahabat, kemudian tabi’in, kemudian tabi’ut tabi’in. pahamilah hadits nabi dengan pemahaman mereka. ibnu abbas tidak pernah mentakwil sifat Alloh. begitu juga mufasirin yang anda sebutkan.

        anda berkata:
        jadi menurut ajam Imam Ahmad dan Imam Bukhori juga Jahmiyah…? Istighfar ya ajam, Ajam, ta`wil yang dinafikan oleh Abu hatim ar-rozi ,Utsman Ash Shobuni, Ibnu Abdil Barr dan lainnya adalah Ta`wil yang Fasid seperti Ta`wil yang dilakukan oleh Jahmiyah atau mu`tazilah , jadi mengikuti Ulama Ahlu Sunnah yang mana pun sama hanya soal pemahaman kita terhadap pernyataan Ulama tersebut sudah benar belum..? sebab yang mereka nafikan adalah Ta`wil yang Fasid.

        saya jawab:
        kalo begitu saya balik. jadi menurut ahmad, nabi, para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in itu musyabbihi dan mujassimi? istighfar ya ahmad.

        1. Ajam logikanya jungkir balik kaya’ sirkus! Ikut-ikutan berlogika tapi gak sanggup, itu disebabkan Wahabi sebenarnya anti logika. Biasanya taqlid buta kepada Albani, bin Baz, Utsaimin, dan M. Abdul wahab.

      2. lagi-lagi ajam menggunakan Logika ngawur, mungkin bagi ajam yang penting bikin kisruh benar atau salah itu tidak penting, ajam-ajam. saya jadi inget program Zionist.

    2. ??? ??? ?????? ??????? ??? ????? ??? ???? ??? ?? ???? ?????? ??? ?????? ???? ?? ????? “????? ?????? ?? ??? : “?? ??? ?? ???? ??? ?? ?????? ?? ?? ????? ??? ???? ???? ?? ??? ??? ??? ?????? ??? ???? ????? ??? ?????? ?? ?? ????? “???.

  26. @ajam, di zaman salaf, ada ulama yg melakukan takwil dan ada yg tidak melakukan takwil, kedua-duanya tidak melakukan tasybih dan tajsim, karena mereka memberikan maknanya kepada makna yg sesuai dgn keagungan Allah. Keduanya adalah manhaj salaf, dan keduanya dalam kebenaran, maka mengikuti salah satu dari keduanya adalah benar. Yg tidak boleh kita ikuti adalah yg menyimpangkan maknanya kepada makna yg tidak sesuai dan jauh dari aturan tatabahasa arab. Maka para ulama lebih memahami daripada kita.

    1. bagaimana mungkin keduanya benar jika saling berlawanan? ulama yang saya ikuti berkata wajib menafsirkan sesuai dhohirnya, sedangkan ulama yang anda ikuti haram mengikuti dhohir teks. bagaimana mungkin salah satu mengatakan wajib dan yang lain mengatakan haram bisa benar semuanya?

      ulama yang anda ikuti yang mengharamkan mengikuti dhohir teks. siapakah pendahulunya? apakah Rasulullah? apakah para sahabat? apakah tabi’in? apakah tabi’ut tabi’in?

    2. ajam mengatakan : ulama yang anda ikuti yang mengharamkan mengikuti dhohir teks.

      saya jawab : dari kitab manakah kata-kata itu Ajam dapatkan….? atau itu cuma kesimpulan Ajam lagi….?

  27. Monggo dilanjut, tapi kayaknya keluar dari pokok bahasan…….tapi gak pa palah buat pembelaan , ya Mas Ajam. Tetapi menurut kami pemahaman Imam Asyari yang paling pas. Dan lagi kayaknya anda paling benar sendiri aja……..

  28. Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

    Berdusta atas nama Ulama’ Ahlussunnah Wal Jama’ah merupakan salah satu ciri dari aliran-aliran sesat. Contoh: Kaum wahhabiyyun berdusta atas nama Imam Malik rahimahullah dalam hal ziyarah kubur Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam. Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa Imam Malik rahimahullah akan menghukum cambuk siapapun yang berziarah ke kubur Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam. Nah, riwayat ini dijadikan salah satu dalil kaum Wahhabiyyun untuk menentang ziyarah kubur Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam. Mereka hanya menelan mentah-mentah riwayat tersebut tanpa tabayyun/menelaah kenapa Imam Malik berkata seperti itu.

    Padahal sesungguhnya yang dimaksud pelarangan ziyarah kubur Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam oleh Imam Malik adalah: Menurut Imam Malik rahimahullah, sungguh tidak pantas bagi seorang mukmin berziyarah ke kubur Rasulullah, namun seharusnya seorang mukmin berziyarah kepada Rasulullah bukan berziyarah kepada makam/kuburnya Rasulullah shollallaah ‘alaih wa sallam. Sangat beda bukan? Berziyarah kepada Rasulullah dengan berziyarah kepada kubur/makamnya Rasulullah?

    Hal ini dijelaskan oleh habib Novel bin Muhammad Alaydrus di dalam ceramah beliau pada saat acara haul Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi di Solo 26 Maret 2011 kemarin.

    Silakan Download Full Audio Haul Al-Habib Ali Al-Habsyi dan ceramah habib Novel bin Muhammad Alaydrus yang diselenggarakan kemarin tanggal 26 Maret 2011, di Solo.

    Download di http://jundumuhammad.wordpress.com/download-mp3/

    Semoga bermanfaat.

  29. Budi :
    Sekarang Insya ALLAH akan bener, Hehehe..dulu gue Asyari. Sifat 20 udah gue pelajari dulu di SMP .gak ngaruh, seperti juga yasinan, tahlilan, maulidan..udah berapa lama orang Aswaja MELAKUKANNYA..APA ADA PERUBAHAN SAMA UMAT, WKWKWKWKW..kagak,,cuma buat makan dan tertawa, gak nambah iman.. malah ngisapin barang haram..di mesjid lagi..bikin orang kafir sepele aja sama kita..mereka aja kagak mau ngerokok di gereja..

    sungguh ini orang yang bikin saya trauma dan tidak mau kembali mengikuti pengajian yg diadakan oleh wahabi,,dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadist hanya dijadikan topeng saja,namun akhlak dan perilaku tidak mengikuti apa yang diajarkan.atau memang mereka diajarkan dengan akhlak yang seperti itu?hanya ALLAH Yang Maha Tahu.

  30. terus terang saya baru tahu. siapa yang menggunakan riwayat Imam Malik itu untuk menentang ziarah kubur? apakah ada buku, artikel, website atau rekaman ceramah?

    1. Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

      {Buat admin, komentar saya ditelan akismet berkali-kali, kalau ada duplikasi komentar tolong dihapus saja}

      Penjelasan khusus untuk Ajam dan yang pro Wahhabiyyun: Karena antum baru tahu, ini ana kasih tahu detailnya. Baca dengan hati yang jernih.

      Adapun salah satu dalil yang biasa dipakai kaum Wahhabiyyun untuk mengharamkan ziarah ke Makam Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, yaitu perkataan Imam Malik bin Anas (perintis Mazhab Maliki) tentang ziarah ke kuburan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam. Bahkan Ibnu Taimiyah di dalam kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah juz 27 hal. 111-112 sangat mengandalkan ungkapan Imam Malik ini. Ibnu Taimiyah berkata:

      ?? ?? ??? ???? ????? ?? ????: ??? ??? ????? ??? ???? ???? ????? ????? ???? ????? ???? ?????? ??? ??? ??????? ???? ??? ??????? ????? ????? ???? ??? ???????. ??? ??? ?? ??? ??? ?? ???? ???? ??? ???? ???? ????: ???? ??? «????? ????» ?? ??? ??? ??? ????? ??? ?????? ?????? ???? ? ???? ?? ????.

      “Bahkan Imam Malik dan yang lainnya sangat membenci kata-kata, ‘Aku menziarahi kubur Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam’ sedang Imam Malik adalah orang paling alim dalam bab ini, dan penduduk Madinah adalah paling alimnya dalam bab ini, dan Imam Malik adalah imamnya penduduk Madinah. Seandainya terdapat sunnah dalam hal ini dari Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam yang di dalamnya terdapat lafaz ‘menziarahi kuburnya’, niscaya tidak akan tersembunyi (tidak diketahui) hal itu oleh para ulama ahli Madinah dan penduduk sekitar makam beliau –demi bapak dan ibuku .”

      Kaum Salafi & Wahabi, bahkan imam mereka yaitu Ibnu Taimiyah tampaknya salah paham terhadap ungkapan Imam Malik tersebut. Imam Malik adalah orang yang sangat memuliakan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, sampai-sampai ia enggan naik kendaraan di kota Madinah karena menyadari bahwa tubuh Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam dikubur di tanah Madinah, sebagaimana ia nyatakan, “Aku malu kepada Allah ta’ala untuk menginjak tanah yang di dalamnya ada Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam dengan kaki hewan (kendaraan-red)” (lihat Syarh Fath al-Qadir, Muhammad bin Abdul Wahid As-Saywasi, wafat 681 H., Darul Fikr, Beirut, juz 3, hal. 180). Bagaimana mungkin sikap yang sungguh luar biasa itu dalam memuliakan jasad Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam seperti menganggap seolah-olah beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam masih hidup, membuatnya benci kepada orang yang ingin menziarahi makam Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam? Sungguh ini adalah sebuah pemahaman yang keliru.

      Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, di dalam kitab Fathul-Bari juz 3 hal. 66, menjelaskan, bahwa Imam Malik membenci ucapan “aku menziarahi kubur Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam” adalah karena semata-mata dari sisi adab, bukan karena membenci amalan ziarah kuburnya. Hal tersebut dijelaskan oleh para muhaqqiq (ulama khusus) mazhabnya. Dan ziarah kubur Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam adalah termasuk amalan yang paling afdhal dan pensyari’atannya jelas, dan hal itu merupakan ijma’ para ulama.

      Artinya, kita bisa berkesimpulan, setelah mengetahui betapa Imam Malik memperlakukan jasad Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam yang dikubur di Madinah itu dengan akhlak yang luar biasa, seolah seperti menganggap beliau masih hidup, maka ia pun lebih suka ungkapan “aku menziarahi Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam” dari pada ungkapan “aku menziarahi kubur Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam” berhubung banyak hadis mengisyaratkan bahwa Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam di dalam kuburnya dapat mengetahui, melihat, dan mendengar siapa saja yang menziarahinya dan mengucapkan salam dan shalawat kepadanya. Sepertinya Imam Malik tidak suka Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam yang telah wafat itu diperlakukan seperti orang mati pada umumnya, dan asumsi ini dibenarkan oleh dalil-dalil yang sah.

      Ibnu Taimiyyah sendiri dalam Iqtidha-us Shiratul-Mustaqim halaman 397, menuturkan apa yang pernah diriwayatkan oleh Ibnu Wahb mengenai Imam Malik bin Anas. “Tiap saat ia (Imam Malik) mengucapkan salam kepada Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam, ia berdiri dan menghadapkan wajahnya ke arah pusara Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam, tidak kearah kiblat. Ia mendekat, mengucapkan salam dan berdo’a, tetapi tidak menyentuh pusara dengan tangannya”

      Imam Nawawi rahimahullah di dalam kitabnya yang berjudul Al-Idhah Fi Babiz-Ziyarah mengetengahkan juga kisah itu. Demikian juga didalam Al-Majmu jilid VIII halaman 272.

      Al-Khufajiy didalam Syarhusy-Syifa menyebut, bahwa As-Sabkiy mengatkan sebagai berikut: “Sahabat-sahabat kami menyatakan, adalah mustahab jika orang pada saat datang berziarah ke pusara Rasulallah Shollallaah ‘alaih wa sallam menghadapkan wajah kepadanya (Rasulallah Shollallaah ‘alaih wa sallam) dan membelakangi Kiblat, kemudian mengucapkan salam kepada beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam, beserta keluarganya (ahlu-bait beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam) dan para sahabatnya, lalu mendatangi pusara dua orang sahabat beliau Shollallaah ‘alaih wa sallam (Khalifah Abubakar dan Umar –radhiyallhu ‘anhuma). Setelah itu lalu kembali ketempat semula dan berdiri sambil berdo’a “. (Syarhusy-Syifa jilid III halaman 398).

      Dengan demikian tidak ada ulama ahlussunnah wal jama’ah yang mengatakan cara berziarah yang tersebut diatas adalah haram, bid’ah, sesat dan lain sebagainya, kecuali golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya.

      Wa lillaahi at-taufiq.

      Semoga bermanfaat.

      1. emang bener sehebat apapun Hujjah Ahli Bid`ah seperti wahabi kalo sudah berhadapan dengan Ahlu Sunnah yang sesungguhnya, Rontok semua Hujjahnya , tersingkap semua kebathilannya.

      2. Jundumuhammad & Ahmadsyahid@

        Mas Jundumuhammad benar. Komentar antum berdua Mas Syahid banyak ditelan AKISMET dan sebagian masuk ke kotak SPAM. Jadi yg masih bisa ditampilkan sudah kami tampilkan. Syukron atas koment-koment-nya yg berbobot dan ilmiyah. Insyaallah sangat bermanfaat bagi kaum muslimin, amin….

    2. oh bener toh ibnu abi irfan toh he he he…. kenapa harus ganti nama….? wah harus di skak matt lagi neh mas mamo….?

  31. Hehehe…Oyah…Belum Tau Ni..Perpecahan Mereka,Ulama2 Timur Tengah (yg Kalian Sebut Wahhabi) Itu Spt apa..?.
    Kalau Mau Bawakan Fakta Jangan Setengah2 Lah..!!.

  32. Abu Muhammad Zaid@

    Apakah antum sudah baca artikel di atas apa belum Mas, di situ ada SUB JUDUL: “Perpecahan dan Perceraiberaian”, silahkan dibaca dan itulah sekelumit fakta perpecahan mereka, kalau disebutin semuanya memang amat sangat banyak sekali seh, he he he….

  33. ASS saya mau nanya nih gimana keadaan makam ibnu wahab di dariya….apakah tdk dipuja puja seperti makam sayyidina ali oleh syiah,,,,dan ada yg tahu gimana kondisi makam syaikh al bani….

  34. Abul Hasan Al Asy’ari berkata:
    “Dan telah berkata orang-orang dari kalangan Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah (Khawarij) : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. Allah ta’ala berada di setiap tempat’. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah). Mereka (Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah) memalingkan (mena’wilkan) makna istiwaa’ kepada kekuasaan/kemampuan (al-qudrah). (Al-Ibaanah, hal. 34-37)

    Ibnu Khuzaimah berkata:
    “Kami beriman kepada khabar Allah Jalla wa ‘Ala bahwa Pencipta kita bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Kita tidak mengubah kalâm Allah dan tidak mengatakan selain apa yang dikatakan kepada kita, tidak seperti Kaum Mu’aththilah Jahmiyah yang berkata: ‘Sesungguhnya Dia istawla (berkuasa) atas ‘Arsy-Nya, bukan istiwa’ (bersemayam).’ (At-Tauhîd wa Itsbât Shifâtir Rabb, 1/231)

    Utsman bin Sa’id Ad Darimi berkata:
    “Hadits ini (hadits jariyah) sangat pahit bagi kelompok Jahmiyah dan mematahkan paham mereka bahwa Allah tidak di atas arsy tetapi di bumi sebagaimana Dia juga di langit. Lantas bagaimanakah Allah turun ke bumi kalau memang Dia sendiri sudah di atas bumi? Sungguh lafazh hadits ini membantah paham mereka dan mematahkan hujjah mereka.” (Naqdhu Utsman bin Sa’id ‘ala Al-Mirrisi Al-Jahmi Al-Anid hal. 285)

    Ibnu Abdil Barr berkata:
    “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya Allah berada di atas langit, di atas arsy sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Hadits ini termasuk salah satu hujjah Ahli Sunnah terhadap kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyah yang berpendapat bahwa Allah ada dimana-mana, bukan di atas arsy.” (At-Tamhid 3/338)

    Abdulloh bin Mubarok berkata:
    “Rabb kita berada di atas langit ke tujuh dan di atasnya adalah ‘Arsy. Tidak boleh kita mengatakan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah berada di sini yaitu di muka bumi.” (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits hal. 46-47)

    Ibnu Abi Hatim Ar Rozi berkata:
    ‘Ali bin Al Hasan bin Yazid As Sulami telah menceritakan kepada kami, ia berkata, ayahku berkata, “Aku pernah mendengar Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi –ketika itu beliau menahan seseorang yang berpemikiran Jahmiyah, orang itu didatangkan pada beliau, lantas beliau pun mengujinya-. Hisyam bertanya padanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.” Orang itu pun menjawab, “Aku tidak mengetahui apa itu terpisah dari makhluk-Nya.” Hisyam kemudian berkata, “Kembalikanlah ia karena ia masih belum bertaubat.” (Dzammul Kalam 1/120)

  35. @ajam, beberapa ulama memang menafsirkan istiwa dengan menguasai, seperti taqiyudin as subki juga imam ghazali. Mereka berakidah asy ariyah. Mereka tidak Mengingkari keberadaan Allah di atas arsy, tetapi di atas arsy adalah bermakna keagungan dan kemuliaan Allah di atas arsy bukan arti zat Allah bertempat di atas arsy. Patut anda pahami bahwa ulama-ulama besar pengikut asy ari mempunyai sanad sampai kepada beliau dan murid-muridnya, sehingga apa yg disampaikan lebih layak dipercayai.

  36. @ajam, ada 3 kelompok ulama yg menafsirkan makna istiwa. Yg pertama, kelompok yg menyerahkan maknanya kepada Allah, tanpa memperincinya. Kedua adalah yg menakwilnya dengan makna yg sesuai dgn keagungan Allah, ini bukan tha’til, karena mereka melakukan takwil sesuai kaidah bahasa dan metode tafsir, mereka adalah ulama yg terpercaya. Kelompok ketiga adalah yg memberikan maknanya sesuai dgn lafaz zhahirnya, sehingga menjadi tasybih dan tajsim. Jadi anda ikut kelompok mana?

  37. saya tidak akan membahas aqidah mana yang benar antara yang menetapkan sesuai dhohirnya dengan yang mentakwilnya pada makna lain, karena topik yang diangkat artikel di atas adlaah tentang ciri2 aliran sesat. saya hanya membahas bahwa ada kesamaan aqidah antara asy’ariyah dengan jahmiyah.

    namun secara ringkas, saya singgung sedikit bahwa menetapkan sesuai dhohirnya bukanlah tasybih atau tajsim. Alloh mulia dan agung dengan sifat yang disifatkannya sendiri dan disifatkan oleh Rasulullah.

    “Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (An Nisa’ 122)

  38. Jelas bahwa para ulama dari keempat-empat mahzab yaitu para-para ahli hadis, ahli fiqh, ahli usul dan seterusnya dari mahzab Hanafiyah, Malikiah, Syafiyah dan Hambaliah (kecuali tokoh setelah itu yang memegang aqidah tajsim) berpegang dengan aqidah yang menyucikan Allah dari tempat.
    Imam Abu Mansur Abdul-Qahir ibn Tahir al-Baghdadi ra. dalam kitabnya al-Farq baynal-Firaq menukilkan ijmak Ahlus-Sunnah diatas aqidah yang mensucikan Allah Taala dari tempat :
    ??????? – ?? ??? ????? ???????? – ??? ??? – ?? ???? – ?? ????? ???? ??? ???? ???? ????
    “Dan mereka – yaitu Ahlus-Sunnah wal-Jamaah – berijmak bahwa Dia – yaitu Allah – tidak diliputi oleh suatu tempat dan tidak dilalui keatas-Nya oleh suatu masa”.
    Al-Shaykh Imamul-Haramayn Abul-Maali Abdul-Malik ibn Abdullah al-Juwayni ra. juga menjelaskan ijmak tersebut dalam kitabnya al-Irshad:
    ????? ??? ????? ????? ??? ???? ?????? ?????? ?????? ?? ??????? ??????? ???????
    “Dan mazhab Ahlul-Haqq bersepakat bahwa Allah Subhanahu wa-Taala disucikan dari sifat mengambil tempat atau ruang dan disucikan dari sifat pengkhususan dengan arah”.
    Waktu demi waktu para ulama berpegang dan mempertahankan aqidah Allah wujud tidak bertempat. Segala yang dinyatakan seperti Istawa adalah bermaksud keagungan Allah semata-mata. Segala sifat yang dinyatakan berkenaan Allah adalah berarti sifat kebesaran dan kemuliaanNya sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Abu Ashari ra. dalam sifat 20.
    Sayyidina Ali ibn Abi Talib r.a berkata:
    ??? – ?? ???? – ??? ???? ??? ???? ??? ?? ???
    Artinya:
    “Allah ada azali, dan tempat tidak ada dan Dia sekarang dengan apa yang Dia ada (wujud-Nya azali tanpa bertempat)”.
    Imam Zainul-Abidin ra. berkata dalam kitabnya al-Sahifatus-Sajjadiyyah:
    ??? ???? ???? ?? ????? ????
    Artinya:
    “Engkaulah Allah yang tidak diliputi oleh suatu tempat pun”. (al-Hafiz Muhammad Murtada al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil-Muttaqin)
    Al-Imam Jaafar al-Sadiq ra. berkata:
    ?? ??? ?? ???? ?? ??? ?? ?? ??? ?? ??? ??? ??? ???? ?? ?? ??? ??? ??? ???? ??????? ??? ??? ?? ??? ???? ??????? ??? ??? ?? ??? ???? ???????? – ?? ??????? –
    Artinya:
    “Barangsiapa menyangka bahwa Allah itu berada di dalam sesuatu atau daripada sesuatu atau di atas sesuatu maka sesungguhnya dia telah syirik. Ini karena jika Dia ada di atas sesuatu niscaya Dia menjadi suatu yang ditanggung, jika Dia di dalam sesuatu niscaya Dia menjadi suatu yang terbatas, dan jika Dia daripada sesuatu niscaya Dia menjadi suatu yang baru – yaitu makhluk (yang diciptakan) – “. (al-Qushayri : Risalah al-Qushairiyah)
    Imam Abu Hanifah ra. berkata dalam kitabnya al-Fiqhul-Absat:
    ??? ???? ????? ??? ???? ??? ?? ???? ????? ???? ???? ????? ??? ??? ?????? ??? ?????? ???
    Artinya:
    “Allah taala itu ada (azali) dan tempat tidak ada pun sebelum Dia mencipta makhluk. Dan Allah taala itu ada (azali) dan suatu tempat pun tidak ada dan suatu makhluk yang lain pun tidak ada, dan Dia pencipta segala sesuatu”.
    Imam Syafi’i ra berkata:
    “Sesungguhnya Allah taala ada (azali) dan suatu tempat pun tidak ada, maka Dia mencipta tempat sedangkan Dia di atas sifat keazalian sebagaimana Dia ada (azali) sebelum Dia mencipta tempat. Perubahan tidak harus (pada akal) berlaku ke atas-Nya pada zat-Nya dan tidak juga penukaran pada sifat-Nya”. [al-Hafiz Muhammad Murtada al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil-Muttaqin]
    Imam Ahmad ibn Hanbal ra tidak berpendapat bahwa Allah ada dengan ara sebagaimana dinukilkan oleh Ibn al-Jawzi dalam kitabnya al-Bazul-Ashhab.
    Imam Abu Jaafar al-Tahawi ra. berkata dalam risalahnya al-Aqidatut-Tahawiyyah:
    “Allah Maha Suci dari batasan, sakatan, sudut, anggota besar dan anggota kecil sedangkan Dia tidak diliputi oleh ara yang enam seperti sekalian makhluk”.
    Ibn Hibban ra. berkata dalam kitabnya Sahih Ibn Hibban:
    “Allah ada (azali), sedangkan masa tidak ada dan tempat juga tidak ada”.
    Berikut ini beberapa penjelasan ulama Ahlussunnah wal-jamaah bahwasanya langit adalah kiblat dalam berdoa bukan karena langit tempat bagi Allah:
    Imam Abu Manshur al-Maturidi ra. menuliskan dalam kitab al-Tauhid, h. 75-76:
    “Adapun menghadapkan telapak tangan ke arah langit dalam berdoa adalah perintah ibadah. Dan Allah memerintah para hamba untuk beribadah kepadaNya dengan jalan apa pun yang Dia kehendaki, juga memerintah mereka untuk menghadap ke arah mana pun yang Dia kehendaki. Jika seseorang berprasangka bahwa Allah diarah atas dengan alasan karena seseorang saat berdoa menghadapkan wajah dan tangannya kearah atas, maka orang semacam ini tidak berbeda dengan kesesatan orang yang berprasangka bahwa Allah berada diarah bawah dengan alasan karena seseorang yang sedang sujud menghadapkan wajahnya ke arah bawah lebih dekat kepada Allah. Orang-orang semacam itu sama sesatnya dengan yang berkeyakinan bahwa Allah diberbagai penjuru; ditimur atau dibarat sesuai seseorang menghadap didalam shalatnya. Juga sama sesatnya dengan yang berkeyakinan Allah di Mekah karena Dia dituju dalam ibadah haji”.
    Imam al-Ghazali ra. menuliskan dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin, j. 1, h. 128:
    “Adapun mengangkat tangan ketika berdoa kepada Allah dengan menghadapkan telapak tangan kearah langit adalah karena arah langit merupakan kiblat doa. Dalam pada ini terdapat gambaran bahwa Allah yang kita mintai dalam doa tersebut adalah Maha pemiliki sifat yang agung, Maha mulia dan Maha perkasa. Karena Allah atas setiap segala sesuatu Maha menundukan dan Maha menguasai”.
    Ibnu Hajar al-Asqalani ra. menuliskan dalam Fath al-Bari Bi Syarh Shahih al-Bukhari:
    “Langit adalah kiblat didalam berdoa sebagaimana kaabah merupakan kiblat didalam shalat” (Fath al-Bari, j. 2, h. 233)
    Syekh Mulla Ali al-Qari ra. menuliskan dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 199, salah satu kitab yang amat penting dalam memahami risalah al-Fiqh al-Akbar karya Imam Abu Hanifah ra.:
    “Langit adalah kiblat dalam berdoa dalam pengertian bahwa ia adalah tempat bagi turunnya rahmat yang merupakan sebab bagi meraih berbagai macam kenikmatan dan mencegah berbagai-bagai keburukan. Syekh Abu Mu’ain al-Nashafi ra. dalam kitab at-Tamhid tentang hal ini menyebutkan bahwa para muhaqqiq telah menetapkan mengangkat tangan ke arah langit dalam berdoa adalah murni karena merupakan ibadah”.

    Dan perdebatan dalam masalah ini tidaklah diperintahkan Allah kepada hambanya. Tugas seorang hamba hanyalah untuk taat menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.

  39. Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari ra. berkata: “Allah s.w.t. wujud tanpa bertempat. Dia menciptakan Arasy dan Kursi tanpa memerlukan kepada tempat.” (Tabyiin Kazbul Muftari: 150)

    Hadits Al-Jariyyah riwayat Imam Muslim adalah tentang seorang sahabat datang menghadap Rasulullah s.a.w menanyakan prihal budak perempuan yang dimilikinya, ia berkata: ”Wahai Rasulullah, tidakkah aku merdekakan saja?”. Rasulullah s.a.w berkata: ”Datangkanlah budak perempuan tersebut kepadaku”. Setelah budak perempuan tersebut didatangkan, Rasulullah s.a.w bertanya kepadanya: “Aina Allah?” (Dimana Allah) Budak tersebut menjawab: “Fi as-sama’” (Dilangit). Rasulullah bertanya: “Siapakah aku?”. Budak menjawab: “Engkau Rasulullah”. Lalu Rasulullah berkata (kepada pemiliknya): “Merdekakanlah budak ini, sesungguhnya ia seorang yang beriman” (HR. Muslim)
    Para ulama’seperti Imam Ibn Al-Jauzi, Imam An-Nawawi, Imam Al-Qurthubi, Imam Al-Baji dan lain-lain ketika berinteraksi dengan hadith Al-Jariyyah dari riwayat Imam Muslim ini coba mengambil langkah untuk mendekatkan makna aina (dimana) dengan kepahaman yang sahih, yaitu dengan kepahaman yang tidak membawa kepada pahaman tajsim atau “Allah s.w.t. Bertempat”. Mereka menolak konsep dan pahaman “Allah bertempat di atas Arasy”, lalu mensyarakan hadits Al-Jariyyah versi Imam Muslim ini dengan syaraan yang menepati aqidah murni Islam.
    Aqidah Al-Asya’ira dan Al-Maturidiyyah adalah aqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah, yaitu aqidah jumhur ulama umat Islam dan merekalah yang menentang kekacauan aqidah oleh golongan zindiq, Mujassim, Mutazilah dan sebagainya dalam mana Al-Asya’ira dan Al-Maturidiyyah berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w sepanjang waktu dalam sejara Islam. Siapa saja yang mengkafirkan Al-Asya’ira dan Al-Maturidiyyah atau menghukum fasiq terhadap Al-Asya’ira dan Al-Maturidiyyah maka sesungguhnya aqidah pihak tersebut dalam bahaya.
    Aqidah yang benar disisi Islam yaitu Aqidah Al-Asyaira adalah Allah Ta’ala tidak dilingkungi oleh tempat dan Dia tidak ditetapkan dengan zaman karena tempat dan zaman adalah makhluk yang mana Allah maha suci daripada meliputi apa saja makhlukNya, bahkan Dialah Pencipta setiap sesuatu dan Dia mengetahui akan setiap sesuatu, demikianlah aqidah yang telah disepakati oleh umat Islam dan para-para ulama Islam telah menyatakan : “ Allah telah wujud tanpa bertempat dan Dia ada sebelum mencipta tempat dan tidak berubah sama sekali ”.
    Imam Ahli Sunnah Wal jamaah Imam Abu Hasan Al-Asy’ary ra. dalam kitabnya berjudul An-Nawadir: ” Barangsiapa yang mempercayai Allah itu jisim maka dia tidak mengenali Tuhannya dan sesungguhnya dia mengkufuri Allah”.
    Imam Abu Hasan Al-Asya’ary menyatakan : ” Istiwa Allah bukan bersentuhan, bukan menetap, bukan mengambil tempat, bukan meliputi Arasy, bukan bertukar-tukar tempat, bukanlah Allah diangkat oleh Arasy bahkan arasy dan malaikat pemikul arasylah yang diangkat oleh Allah dengan kekuasaanNya, dan mereka dikuasai oleh Allah dengan keagunganNya “dan inilah catatan sebenarnya dalam kitab Al-Ibanah.
    Namun terdapat kitab Al-Ibanah cetakan golongan Mujassim yang menambah-nambah dan melakukan pendustaan kepada Imam Abu Hasan Al-Asya’ary dan ini wajar diwaspadai. Imam Ahmad Bin Hanbal ra.: ” Segala yang terbayang dibenak pikiranmu maka ketahuilah bahwa Allah tidak sedemikian” . Dan ini merupakan kaedah yang telah disepakati disisi seluruh ulama Islam.
    Imam Abu Hanifah ra. menyatakan dalam kitabnya Fiqhul Absat: ” Allah ta’ala telah ada tanpa tempat, Allah telah wujud sebelum mencipta makhluk, dimana sesuatu tempat itu pun belum wujud lagi, makhluk belum ada lagi sesuatu benda pun belum ada lagi, dan Allah lah yang mencipta segala sesuatu.
    Dinyatakan dengan sanad yang sahih oleh Imam Baihaqi dari Abdullah bin Wahb berkata:
    ” Ketika kami bersama dengan Imam Malik, datang seseorang lelaki lantas bertanya: ‘Wahai Abu Abdillah Imam Malik! ‘Ar-Raman ‘Alal Arasyi Istawa’ bagaimana bentuk istiwa Allah? maka Imam Malik kelihatan mera mukanya kemudian beliau mengangkat wajahnya lantas berkata: ‘Ar-Raman ‘Alal Arasyi Istawa’ ialah sebagaimanayang telah disifatkanNya dan tidak boleh ditanya bentukNya karena bentuk itu bagi Allah adalah tertolak dan aku tidak dapati engkau melainkan seorang pembuat bid’ah! maka keluarkan dia dari sini”.
    Imam Syafi’i ra. telah berkata: ” Barangsiapa mempercayai Allah itu duduk di atas Arasy maka dia telah kafir”. Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mu’allim Al-Qurasyi dalam kitabnya Najmul Muhtady Wa Rojmul Mu’tadi.
    Berkata juga Imam Ahmad bin Hambal ra. : ” Barangsiapa yang mengatakan Allah itu jisim tidak seperti jisim-jisim maka dia juga jatuh kafir”. Diriwayat oleh Al-Hafiz Badruddin Az-Zarkasyi dalam kitabnya Tasynif Al-Masami’.
    Imam Ja’far As-Sodiq ra. berkata: “ Barangsiapa menganggap Allah itu dalam sesuatu atau daripada sesuatu atau atas sesuatu benda maka dia telah syirik (kafir) karena sekiranya Allah didalam sesuatu maka Dia mempunyai ukuran, sekiranya dikatakan Allah atas sesuatu benda maka Dia dipikul dan sekiranya Dia daripada sesuatu maka Dia makhluk”.
    Justeru itu apabila disebut golongan Ahli Sunnah wa al-Jamaah atau pegangan Salaf dan Kalaf, maka maksudnya ialah orang-orang yang mengikut rumusan paham Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan paham Abu Mansur al-Maturidi.
    Siapakah Asya’ira dan Maturidiyyah? Mereka adalah lisan yang menterjemahkan “Aqidah sawad al a’zam” (mayoritas Ulama’) dan Rasulullah s.a.w memerintahkan umatnya agar berpegang dengan pegangan mayoritas”.
    Imam Ibnu Hajar Al-Haytami berkata “Jika Ahlussunnah wal jamaah disebutkan, maka yang dimaksud adalah pengikut rumusan yang digagas oleh Imam Abu al-Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi “ (Tathhiru al-Jinan wa al-Lisan)
    Az-Zubaidi mengatakan : “Jika dikatakan ahlu sunnah, maka yang dimaksud dengan mereka itu adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah.”(Ittihafus Sadatil Muttaqin 2 : 6)
    Penulis Ar-Raudhatul Bahiyyah mengatakan :”Ketahuilah bahwa pokok semua aqaid Ahlus Sunnah wal Jama’ah atas dasar ucapan dua kutub, yakni Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi”.
    Al-Ayji mengatakan :”Adapun Al-Firqotun Najiyah yang terpilih adalah orang-orang yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang mereka : “Mereka itu adalah orang-orang yang berada di atas apa yang Aku dan para shahabatku berada diatasnya”. Mereka itu adalah Asy’ariyah dan Salaf dari kalangan Ahli Hadits dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah”.
    Hasan Ayyub mengatakan : “Ahlus Sunnah adalah Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansyur Al-Maturidi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka berdua. Mereka berjalan di atas petunjuk Salafus Shalih dalam memahami aqaid”.
    Beberapa ulama asy’ariyah :
    Imam Al Ghazali, Imam Al Khathabi, Imam Fakruddin Ar Razi, Imam Al Jashash, Imam As Suyuthi, Imam Al Baqillani, Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, Imam Izzuddin bin Abdusalam, Imam Abul Faraj bin Al Jauzi, Imam An Nashafi, Imam Al Bulqini, Imam Ar Rafi’i, Imam Al Baidhawi, Imam Al Amidi, Imam Al ‘Iraqi, Imam Ibnu Al ‘Arabi, Imam Al Qurthubi, Imam Al Qadhi ‘Iyadh, Imam Al Qarrafi, Imam Asy Syathibi, Imam Abu Bakar Ath Thurthusi, Imam Syahrustani, Imam Al Maziri, Imam Isfirayini, Imam Dabusi, Imam As Sarakhsi, Imam At Taftazani, Imam Al Bazdawi, Imam Ibnul Hummam, Imam Ibnu Nujaim, Imam Al Karkhi, Imam Al Kasani, Imam As Samarqandi, dan lain-lain

    Satu hal yang tidak tertulis disini bahwa para ulama di atas selain cerdas di akal juga cerdas hatinya sehingga dengan hati yang jernih akan mampu melihat hakikat kebenaran Ilahiyah.

  40. Marilah kita berkaca pada masa lampau, dimana perdebatan masalah teologi sangat kencang sehingga muncul berbagai aliran teologi seperti mu’tazilah yang terpecah lagi menjadi 6 kelompok, khawarij yang pecah menjadi 15 kelompok, syi’ah pecah menjadi 32 kelompok dan lain-lain.
    Bukankah teologi mu’tazilah pernah berjaya karena didukung pemerintahan dinasti abasiyah dan melakukan pemaksaan kepada kelompok lain bahkan imam ahmad sampai dipenjara.

    Pantaskah pada masa sekarang sebagaian kelompok Islam menuduh sesat kepada asy’ariyah? Seharusnya kita merekonstruksi bagaimana perdebatan seru antara mu’tazilah dan asy’ariyah sehingga dimenangkan oleh asy’ariyah dan runtuhlah teologi mu’tazilah.

    Kita tentunya tidak memutlakkan kebenaran teologi asy’ariyah dalam penetapan sifat 20. Hakekatnya sifat Allah itu satu, dan munculnya penetapan sifat 20 oleh imam asy’ari hanyalah maksimal kemampuan akal manusia untuk memahami sifat Allah namun hakekat kebenaran tetaplah milik Allah semata. Tentunya dibanding dengan aliran teologi yang lain, konsep asy’ariyah yang paling pas dan kenyataannya inilah yang menjadi mayoritas dipegang umat Islam sedunia.

    1. mantaaaaaaab mbaaaah ……..giliran memberikan pencerahan kayaknya sulit tuh bagi Ajam = ibnu abi irfan tuk menyangkal ……

    2. penjelasan yang Bagus Mbah , semoga para pengikut al-Mujassim Ibnu Taymiyah dan al-mujassim Ustman ibn said ad-darimi tersadarkan.

  41. aqidah kami sudah jelas,Allah diatas langit yg paling tinggi,dng ketinggian dan kebesaranNya,terpisah dng makhlukNya dan bersemayam diatas arsy.(qs. thaha:5 ,qs.as-sajdah:4 ,qs.al-hadid:4 ,qs.al-furqan:59) tanpa penyelewengan maknanya,tanpa mengingkarinya,tanpa menetapkan caranya dan tanpa mengumpamakannya.(tidak ada sesuatupun yg serupa dng Dia. Qs.asy-syura:11) masihkah aqidah ini dikatakan al mujassim,atau al musyabbihah? Kecuali oleh orang2 yg menuhankan akalnya.

    1. itulah aqidah tasybih dan tajsim emen , bawa ayat (tidak ada sesuatupun yg serupa dng Dia. Qs.asy-syura:11)
      kok masih Bilang : Allah diatas langit yg paling tinggi,dng ketinggian dan kebesaranNya,terpisah dng makhlukNya dan bersemayam diatas arsy.

      menjisimkan dan mentasybih tapi gak ngerasa yah…?

      1. coba QS Asy Syuro 11 itu diruskan sampai akhir.

        “Tidak ada seuatupun yang serupa dengan-Nya. Dialah yang maha mendengar lagi maha melihat.”

        disitu disebutkan bahwa Alloh mempunyai sifat mendengar dan melihat. makhluq pun juga bisa mendengar dan melihat.

        jika anda mengingkari dua sifat ini, berarti anda kufur.
        jika anda menetapkan dua sifat ini, berarti tuduhan tasybih dan tajsim itu kembali pada anda sendiri.

      2. ajam mengatakan : jika anda mengingkari dua sifat ini, berarti anda kufur.
        jika anda menetapkan dua sifat ini, berarti tuduhan tasybih dan tajsim itu kembali pada anda sendiri.

        saya jawab : menetapkan sifat yang Allah sebutkan dalam al-qur`an dan Sunnah Rosul , tidak serta-merta membuat seseorang itu Mujassim atau Musyabbih , yang menjadikan seseorang mejussim stau tidak , adalah cara memahami atau meyakininya , jika Nash Mutasyabihat diartikan dengan Makna dzahir Hakiki terjatuhlah ia kedalam Tajsim dan tasybih. makna ini pula yang dijadikan standar keyakinan Ibnu Taymiyah yang juga diikuti oleh kaum Wahabi dalam menetapkan shifat bagi Allah azza wajalla , oleh karena itu saya sebut Ibnu Taymiyah juga wahabi adalah penganut faham Mujassimah. maaf baru saya balas karena ada kesibukan.

        1. ayat mana yang mutasyabihat? apakah maksud anda ayat yang mengatakan “Alloh di langit” sperti yang disebutkan sodara masemen (qs. thaha:5 ,qs.as-sajdah:4 ,qs.al-hadid:4 ,qs.al-furqan:59)? bagian mana yang mutasyabihat dari ayat2 ini?

          lalu bagaimana pemahaman anda tentang dua sifat Alloh dalam QS Asy Syuro’ 11, yakni mendengar dan melihat? anda menetapkannya sebagaimana adanya atau mentakwilnya ke makna lain?

  42. Untuk sodare2 Ane di Ummati. maju terus da’wahnye, ane dukung selalu… Orang2 model si Budi & Ajam tuh ibarat kate lagi kehausan di padang pasir ketemu aer bersih malah minum aer yg butek (kotor). Artinye, mereka tuh sebenernye udah pada tau kalo ASWAJA entu faham yg lurus sesuai dg yg Nabi SAW jelaskan dlm Haditsnya. Tapi emang dasar ude kecuci otaknye ame filosofi “doktrin Wahabi” yg selalu mengagung-agungkan pemurnian Aqidah. Entu si Budi yg katanya “mantan” Aswaja, ude kelewatan Jahilnye. Die pan nulis begini :

    “…Sekarang loe pada lihat deh, jangan lihat pake nafsu loe, lihat pake hatimu. Gak malu bilang orang sesat, padahal orang salafy pada sholat ke mesjid. Mana orang Aswaja, sholat aja gak mau apalagi pergi ke mesjid. Emang ikut wirid di jamin masuk surga,,? Ente punya dalil..?

    Ciri2 ciri Wahabi kentel bgt, sorga cuman buat die doang tuh yg sholatnye ude paling rajin dan paling bener dan selalu tepat waktu. Nah inilah propaganda Salafi Wahabi yg “mencuci otak” pengikutnye untuk terus memberikan keyakinan yg kuat bahwa mereka paling benar, paling sesuai dg Qur’an dan Sunnah, paling sesuai dg Salafush Sholeh, paling…paling…paling…yg laen bid’ah dan sesat….

  43. Pertanyaan saya pada pernyataan akhiy emen

    Seperti ayat : mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka, (QS. At-taubah : 67), dan ayat : sungguh kami telah lupa pada kalian, (QS. Assajdah : 14).

    Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Alqur’an, dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa, tapi berbeda dengan sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman : ”dan tiadalah Tuhanmu itu lupa” (QS. Maryam : 64)

    Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits No.2569)

    Apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita? Allah Suci dari hal itu. WaAllahua’lam

    Jazaakumullah

  44. Allah bersemayam di atas arsy itu menurut al quran syahid,kalo menurut akal dan pemikiran nt mungkin bersemayamnya Allah itu seperti makhluk.dah dibilangin,tanpa ta’thil,tanpa tahrif,tanpa tasybih dan tanpa takyif. masih mengikutin aqidahnya imam abulhasan asyari yg mu’tazilah ya,beliau sdh ruju’ mas,dlm kitab al ibanah.

    1. emen , benar Istiwa disebutkan dalam al-qur`an (bahkan dibanyak tempat ) , Namun Ingat Allah juga berfirman : tidak ada sesuatupun yg serupa dng Dia. Qs.asy-syura:11
      sehingga ayat “istiwa” itu jangan difahami dengan Makna dzahir hakiki, karena akan menjatuhkan kedalam Tasybih dan Tajsim, kalo faham Mu`tazilah Justreu menolak sifat-sifat Allah , sangat berbeda dengan Faham Asya`ri yang menetapkan sifat2 Allah tanpa terjatuh kedalam Tajsim dan Tasybih seperti Ibnu Taymiyah dan Wahabi.

  45. Sepertinya udah dibahas di buku debat dgn wahabi atau di link jumdumuhammad. press..tinggal d copypaste atau d ketik ulang..

  46. @masemen, di Al quran itu disebut istiwa. Memang Allah yg mengatakannya demikian, dan para ulama kita memberikan makna yg sesuai dengan keagungan Allah, bukan memaknai sesuai lafaz zhahir yg berarti bersemayam atau posisi duduk secara hakiki, karena hal ini termasuk tasybih. para Ulama yg tidak menakwilnya bukan berarti memaknai seperti lafaz zhahirnya, tetapi menyerahkan maknanya kepada Allah tanpa memperincinya.

  47. Takwil hanya untuk ulama tertentu yang memang menguasai ilmunya dan nafsunya telah terkendalikan dengan baik dan itupun dengan syarat dan aturan yang berat. Makanya penakwilan tidak untuk dipublikasikan secara luas sebagaimana tafsir.

    Yang awam jangan menyentuh wilayah ini.

  48. by the way, any way, bus way…

    1) aqidah asy’ariyah sama dengan jahmiyah dalam asma’ wa shifat, bagaimanapun pembelaan mereka. mereka tidak akan bisa mengingkari kemiripan ini. membela aqidah mereka sama saja membela aqidah jahmiyah.

    2) tidak ada satupun dalil baik dari hadits nabawiyah atau atsar sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in YANG SHOHIH yang mendukung aqidah takwil sifat2 Alloh dari dhohirnya.

    3) ijma’ YANG SHOHIH adalah ijma’ tentang aqidah (tatsbit) menetapkan sifat Alloh sebagaimana adanya, tanpa ta’thil, tahrif, takyif dan tamtsil.

    4) ulama ahlus sunnah yang terjatuh dalam aqidah takwil, seperti An Nawawi, Ibnu Hajar dan lainnya tidak pernah menyebut person/golongan yang beraqidah tatsbit sebagai musyabbihi atau mujassimi. yang memberi sebutan seperti itu hanyalah seorang jahmi, haruri dan mu’tazili.

    5) celaan ulama ahlus sunnah kepada jahmiyyah salah satunya adalah karena mereka memalingkan makna sifat Alloh dari dhohir nash. maka tidak adil jika celaan ini tidak diberlakukan juga kepada asy’ariyah yang mngikuti jejak mereka.

    disini saya hanya ingin menunjukkan kemiripan ciri2 Jahmiyah dengan Asy’ariyah saja. kalo mau membahas aqidah mana yang benar antara jahmiyah/asy’ariyah dengan salafiyah/wahabiyah, mungkin admin bisa menyediakan tempat tersendiri.

    1. Ajam@

      Tolong dijelaskan berdasar sejarah Wahabi dari sejak kemunculannya di Najd, step by step dari sejak menagaku sebagai gerakan muwahidun, kemudian Salafy sehingga akhir-akhir ini juga mengaku-aku sebagai Ahlussunnah Waljamaah seperti yang antum katakan di atas. Ingat, yg saya minta penjelasan berdasar sejarahnya, sebab ini sangat penting mengingat bahwa selama ini Wahabi di dunia Islam tidak pernah dikenal sebagai penganut Ahlussunnah Waljamaah. thanks sebelumnya.

  49. @ baihaqi

    berikan alamat email anda, nanti jawaban saya kirim. kalo dibahas disini, itu hanya usaha pengalihan anda dari pmbahasan karena anda tidak bisa mengingkari kemiripan asy’ariyah dengan jahmiyah.

    trima kasih

  50. Ajam@

    Sama sekali tidak mengalihkan pembahasan, justru hal ini ada kaitan erat dg pernyataan antum dalam koment bahwa Wahabi adalah Ahlussunnah Waljama’ah. Kita mesti berangkat dari sejarah, adakah Wahabi itu Ahlussunnah Waljama’ah? Bahkan menurut buku-buku sejarah yg ditulis sejarahwan Wahabi sendiri mereka tidak mengatakan sebagai Ahlussunnah Waljama’ah, kecuali para Salafiyyi zaman sekarang saja yg mengaku-aku sebagai Ahlussunnah Waljama’ah.

    1. untuk menutupi belang yang ada diseluruh tubuh dan wajah Wahabi , akhirnya mereka (wahabi) membajak Nama Ahlu Sunnah untuk kelompok neo khowarij dan neo Mujassimah , sehingga ajam pun tidak mau menjelaskan secara terbuka apa yang diminta oleh mas baihaqi.

  51. saya tidak mengklaim wahabi adalah ahlus sunnah. dan ini tidak ada hubungannya dengan kemiripan asy’ariyah dengan jahmiyah.

    1. Kalau begitu, menurut Ajam…, Wahabi bukan Ahlussunnah? Artinya bahwa Wahabi adalah Wahabi tanpa ada kaitan dg Ahlussunnah? Memang demikianlah seharusnya Ajam, sebab menurut sejarah dari pihak ahli sejarah Wahabi sendiri yg saya baca, Wahabi itu memang Wahabi saja tak ada kaitan dg Ahlussunnah, dengan demikian clear ya?

      1. saya pribadi/wahabi adalah ahlus sunnah atau bukan, tidak perlu bagi saya/kami berusaha mensucikan diri kami dengan mengklaim ahlus sunnah. yang penting adalah usaha untuk mengikuti sunnah sesuai pemahaman salaf, bukan klaim kosong sperti kalian.

  52. HATI-HATI MEMASUKI AREA PERDEBATAN YANG MENJURUS PADA MASALAH TEOLOGI. KALAU TIDAK MUMPUNI ILMUNYA BISA MEMBAHAYAKAN KEIMANAN. PERDEBATAN MASALAH TEOLOGI, SEKALI LAGI TIDAK DIPERINTAHKAN SYARIAT.

    BOLEHLAH YANG BERDEBAT CUKUP ILMU, TETAPI BAGI PENGUNJUNG LAIN YANG MASIH AWAM KAN BISA MEMBUAT BINGUNG.

    HATI-HATI DAN WASPADA…!!!!!

    =================================================================================

    KARENA SEPANJANG PENGETAHUAN SAYA SELAMA INI, TIDAK ADA PAKAR TEOLOGI YANG MUMPUNI DI DALAM WAHABIYAH. YANG TERJADI MALAH KELOMPOK INI MENJAUHI ILMU KALAM/TEOLOGI, SO APA PANTAS MEMBICARAKAN/MENGUPAS MASALAH TEOLOGI……….

    DARI SEMUA GOLONGAN UMAT YANG 73 ITU, SEMUA PUNYA PUNYA DASAR TEOLOGI YANG SALING BERBEDA MESKI ADA SEDIKIT KEMIRIPAN.
    DARI 73 GOLONGAN ITU TIDAK ADA YANG NAMANYA KELOMPOK ASY’ARIYAH KARENA IMAM ASY’ARI ADALAH PENDIRI TEOLOGI AHLU SUNNAH WAL JAMAAH.
    YANG SAYA TULIS INI SAYA AMBIL DARI BUKU KARYA SYAIKH KAMI, SYAIKH ABDUL QODIR AL JILANI, PENDIRI TAREKAT QODIRIYAH DAN PENGIKUT IMAM HANBALI DALAM FIQH. BELIUPUN JUGA MENGAKUI TEOLOGI ASY’ARIYAH.

    1. mbah redhy abu jamal@

      Sebutan Asy’ariyah adalah sebutan yg dinisbatkan oleh ulama-ulama Wahabi kepada Ahlussunnah Waljama’ah , tujuannya untuk mengaburkan pengertiannya yg sudah mengakar sejak zaman dahulu kala. Dan mereka berhasil, sebab sekarang ini semakin banyak anak-anak muda lulusan Arab Saudi yg menganggap sesat Asy’ariyah, padahal Asy’riyah nota-benenya adalah Ahlussunnah Waljama’ah demikianlah berdasar fakta sejarahnya. Hal ini bisa dirujuk langsung di kitab-kitab yg belum didistorsi (dirusak) oleh tangan-tangan Wahabi yg TLAFY (perusak berat).

    2. ngomong2 tentang Imam Abdul Qodir Al Jailani, beliau menyebutkan ciri-ciri Jahmiyyah dalam kitab beliau Al Ghunyah li Thaalibi Thariiqil Haqq (1/128) sebagai berikut:

      1. Iman adalah hanyalah ma’rifah kepada Allah dan Rasul-Nya, serta seluruh apa yang datang di sisinya
      2. Al-Qur’an adalah makhluq
      3. Allah tidak pernah berbicara kepada Musa (secara langsung)
      4. Allah ta’ala tidak pernah berfirman (menafikkan sifat kalaam)
      5. Allah tidak bisa dilihat
      6. Allah tidak diketahui mempunyai tempat tertentu
      7. Allah tidak mempunyai ‘Arsy dan Kursiy, dan Ia tidak berada di atas ‘Arsy (tetapi asy’ariyah myakini Alloh memiliki ‘Arsy dan Kursiy, namun mengingkari itiwa’ Alloh di atasnya)
      8. Mengingkari adanya mawaaziin (timbangan-timbangan) amal (di akhirat)
      9. Mengingkari adzab qubur
      10. Surga dan neraka telah diciptakan yang memiliki sifat fana (tidak kekal)
      11. Allah ‘azza wa jalla tidak akan berbicara kepada makhluk-Nya dan tidak akan melihat mereka di hari kiamat
      12. Penduduk surga tidak akan (bisa) melihat Allah ta’ala dan tidak pula melihatnya di surga
      13. Iman itu cukup dengan ma’rifatul-qalb tanpa pengikraran dengan lisan
      14. Mengingkari seluruh sifat-sifat Al-Haqq (Allah) ‘azza wa jallaa” (ttapi asy’ariyah mengingkari sebagian sifat-sifat Alloh)

      perhatikan ciri nomer 5, 6, 7, 12, dan 14. itu sama dengan ciri-ciri asy’ariyah.

    3. Assalamu’alaikum.Maaf, pendatang baru nich..

      Allah SWT berfirman, “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (darimu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan,” (Al-Baqarah: 204-205).
      Allah SWT berfirman, “Maka sesungguhnya, telah kami mudahkan Al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang,” (Maryam: 97).

      Allah SWT berfirman, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar,” (Az-Zukhruf : 58).

      Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., ia berkata: “Rasulullah saw .bersabda, ‘Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat. Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat, ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.’ (Az-Zukhruf: 58).” (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448]).

      Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling suka mau menang sendiri lagi lihai bersilat lidah’.” (HR Bukhari [2457] dan Muslim [2668]).

      afwan, kalau mau debat kusir kayak gini kagak bakalan ketemu 1 sama lain, yang ada hanya cuma saling menyalahkan,komentar dibantah, komentar lagi dibantah, komentar lagi dibanta, cuma bikin esmosi doank. sebagaimana yang bisa kita saksikan.Padahal debat seperti inilah yang Allah ta’ala larang.Diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, ia berkata, “Umar pernah berkata kepadaku, ‘Tahukah engkau perkara yang merobohkan Islam?’ ‘Tidak! Jawabku.’ Umar berkata, ‘Perkara yang merobohkan Islam adalah ketergelinciran seorang alim, debat orang munafik tentang Al-Qur’an dan ketetapan hukum imam yang sesat’.” (Shahih, HR Ad-Darimi [I/71], al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqiih wal Mutafaqqih [I/234], Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd [1475], Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [IV/196]).

      Diriwayatkan dari Abu Ustman an-Nahdi, ia berkata, “Aku duduk di bawah mimbar Umar, saat itu beliau sedang menyampaikan khutbah kepada manusia. Ia berkata dalam khutbahnya, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, perkara yang sangat aku takutkan atas ummat ini adalah orang munafik yang lihai bersilat lidah’.” (Shahih, HR Ahmad [I/22 dan 44], Abu Ya’la [91], Abdu bin Humaid [11], al-Firyabi dalam kitab Shifatul Munaafiq [24], al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimaan [1641]).

      Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah saw., “Perdebatan tentang Al-Qur’an dapat menyeret kepada kekufuran.” (HR Abu Daud [4603], Ahmad [II/286, 424, 475, 478, 494, 503 dan 528], Ibnu Hibban [1464]).

      Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru r.a., ia berkata, “Pada suatu hari aku datang menemui Rasulullah saw pagi-pagi buta. Beliau mendengar dua orang lelaki sedang bertengkar tentang sebuah ayat. Lalu beliau keluar menemui kami dengan rona wajah marah. Beliau berkata, ‘Sesungguhnya, perkara yang membinasakan ummat sebelum kalian adalah perselisihan mereka terhadap al-Kitab’.” (HR Muslim [2666]).

      Diriwayatkan dari ‘Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya (yakni ‘Abdullah bin ‘Amru r.a.), bahwa suatu hari Rasulullah saw. mendengar sejumlah orang sedang bertengkar, lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya, ummat sebelum kalian binasa disebabkan mereka mempertentangkan satu ayat dalam Kitabullah dengan ayat lain. Sesungguhnya Allah menurunkan ayat-ayat dalam Kitabullah itu saling membenarkan satu sama lain. Jika kalian mengetahui maksudnya, maka katakanlah! Jika tidak, maka serahkanlah kepada yang mengetehuinya.” (Hasan, HR Ibnu Majah [85], Ahmad [II/185, 195-196], dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [121]).

      Kandugan Bab:

      Ayat-ayat dan hadits-hadits yang kami sebutkan di atas secara tegas melarang jidal dan perdebatan. (Akan tetapi) siapa saja yang mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah tentu akan mendapati anjuran beradu argumentasi dan berdebat. Di antaranya adalah firman Allah SWT, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (An-Nahl: 125).

      Dan firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik,” (Al-Ankabuut: 46).

      Ayat-ayat dalam Kitabullah tidaklah bertentangan satu sama lainnya, bahkan saling membenarkan. Dari situ dapatlah kita ketahui bahwa jidal dan debat yang dicela dalam Al-Qur’an tidak sama dengan jidal dan debat yang dianjurkan. Jidal dan debat itu ada yang terpuji dan ada yang tercela. Kedua jenis itu sama-sama disebutkan dalam Al-Qur’an. Adapun jidal yang tercela disebutkan dalam firman Allah SWT, “(Yaitu) orang orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang beriman.” (Ghaafir: 35).

      Jadi jelaslah, jidal yang tercela itu adalah jidal tanpa hujjah, jidal dalam membela kebathilan dan berdebat tentang Al-Qur’an untuk mencari-cari fitnah dan takwil bathil.
      Adapun jidal yang terpuji adalah nasihat untuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, para imam dan segenap kaum Muslimin. Nabi Nuh as sering beradu argumentasi dengan kaumnya hingga beliau menegakkan hujjah atas mereka dan menjelaskan kepada mereka jalan yang benar.

      Allah SWT berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami,” (Huud: 32).

      Demikianlah sunnah Rasulullah saw. dan sirah (sejarah hidup) generasi terdahulu r.a. Jadi jelaslah, jidal yang terpuji tujuannya adalah membela kebenaran dan untuk mencari kebenaran, untuk menampakkan kebathilan dan menjelaskan kerusakannya. Adapun jidal yang tercela adalah sikap menentang dan bersitegang urat leher dalam adu argumentasi untuk membela kebathilan dan menolak kebenaran.
      Jadi kita wajib menerima kebenaran walaupun kebenaran itu datang dari musuh kita. sepakat nda gak?
      kalo sepakat, mari kita lanjutkan…

      Ibnu Hibban berkata (IV/326), “Jika seseorang berdebat tentang Al-Qur’an, maka apabila Allah tidak melindunginya ia akan terseret kepada keraguan dalam mengimani ayat-ayat mutasyabihat. Jika sudah disusupi keraguan, maka ia akan menolaknya. Rasulullah saw. menyebutnya sebagai kekufuran yang merupakan salah satu bentuk penolakan yang berpangkal dari perdebatan.”
      Oleh sebab itu, seorang Muslim harus mengimani seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, yang muhkam maupun yang mutasyaabih. Karena semuanya berasal dari Allah. Jika ia tidak mengetahui, hendaklah bertanya kepada ahli ilmu atau menyerahkan masalah kepada orang yang mengetahuinya. Ia tidak boleh bertanya kepada orang yang tidak mengetahuinya.
      Perselisihan tentang Al-Qur’an dapat menyeret kepada sikap mempertentangkan satu ayat dengan ayat lainnya. Kemudian dari situ akan muncul sikap melepaskan diri dari hukum-hukumnya dan mengubah hukum halal haramnya. Kemudian akan berlakulah sunnatullah pada ummat terdahulu atas orang-orang yang saling berselisih itu, yakni kebinasaan dan kehancuran.

      Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 1/210 – 215.

      Jika pembaca sudah sepakat, saya akan nukilkan beberapa Etika dalam berdebat yang terpuji :
      1. Hendaklah masalah yang diperdebatkan bukan permasalahan yang sudah disepakati oleh para ulama yang terkenal oleh kalangan kaum muslimin juga,ijma’ kaum muslimin, seperti dalam permasalahan akidah. semua kita orang Islam harus sepakat seia sekata dalam masalah akidah ini (tentunya akidah yang benar to..) bagaimana akidah yang benar itu ya tentunya aqidah Rosulullah saw, bagaimana kita bisa tau akidah beliau, kita kan ga ketemu langsung? Allah ta’ala banyak menyebutkan sifat beliau dalam Al qur,an jadi mari kita belajar Al Qur’an. jangan di baca tok lho.. tapi belajar makna dan tafsirnya sangat penting. Terus Al Qur’an kan ga njelasin detail tentang Islam ini trus dari mana kita mau merujuk ?? jawabannya : Al haditslah yang akan merincinya Kenyataannya banyak hadits-hadits disana, ada yang shoheh ada yang hasan ada yang marfu’ ada yang dho’if bahkan maudhu’. apakah kita sudah belajar mustholah hadits??
      2. Argumen/ dalil-dalil yang dibawakan hendaknya dari Al Qur,an jg hadits (yang shoheh/hasan)dengan pemahaman para shahabat, tabi’in & tabiut tabi’in,serta para ulama yang terkenal mengikuti mereka dengan baik,kemudian para guru-guru kita yang ikut mencontoh mereka. karena maaf-maaf saja kadang kita sering salah paham terhadap dalil2 itu sendiri, so… jalan selamat adalah ngikut mereka karena kita belum bisa berijtihad (baca kitab gundul saja kadang kita banyak salahnya dari pada benernya) & ini bukan disebut TAKLID tapi disebut ITTIBA, tolong dibedakan !! awas jangan asal comot, kalo asal comot dalam menukilkan hadits, apalagi perkataan ulama, siapapun dia kalau g jelas ujungnya sampai kepada Rosululloh/ tidak, kalau asal comot nanti apa bedanya sejarah Islam dengan sejarah majapahit. Setiap orang bebas memanbah atau mengurangi literatur sejarahnya, wah berabe dech Islam nanti.
      3. Hendaklah debat itu untuk mencari kebenaran terus dia mengikuti kebenaran tersebut, walaupun datangnya dari lawan debat kita. Kita junjung tinggi Sportifitas.Terus apakah kebenaran itu diukur dari banyaknya jumlah pengikut, atau lamanya suatu ajaran/tradisi berlangsung? jawabannya: tidak sama sekali, bahkan Alloh ta’ala menyatakan bahwa kebenyakan itulah yang banyak tergelincir. contoh : dalam akhir-akhir ayat sering Antum semua dapati potongan ayat yang berbunyi, Bal aktsarunnasi la yasykurun, bal Aktsarunnasi la ya’lamuun, bal aktsaruhum faasiquun dll lihat sendiri terjemahannya dalam Al Qur’an. juga yang ga jauh-jauh dari 73 golongan berapa golongan yang selamat, cuma 1 kan?
      4. Menghindari ucapan, penukilan dusta. Jadi kalao kita sembrono asal comot dalam membawakan dalil berarti secara tidak langsung kita itu berdusta atas nama Rosululloh saw.
      5. Hendaknya bersifat rifk (bijaksana) ga dikit-dikit keluar fonis, fasiq, kafir, sesat. Hati-hati lho bisa jadi fonis ini akan kembali kepada diri Anda sendiri. Karena Rosullulloh pernah bersebda : barnag sipa yang mengatakan kepada saudaranya sendiri” Ya kafir”, maka ucapan ini akan kembali kepada salah 1 dari ke-2 orang tersebut. Kalau benar berarti kembali kepada yang difonis, tapi kalau salah maka akan kembali kepada yang memfonis,termasuk di dalamnya kata-kata fonis fasiq, sesat dan yang semisalnya. naudzubillah.

      Kirannya yang dapat ane sebutkan itu dulu,insya alloh lain kali ane sambung. kalau ada kebenaran itu datangnya dari Allah ta’ala dan kalau banyak kesalahan itu datangnya dari saya dan Syaithon. Mohon maaf atas segala kekurangan. wallahuta’ala a’lam bishawab.

  53. afwan, bukannye mo ngalihin bahasan. Debat Theology ini kayaknye gak bakal ade titik temunye sebab emang Wahabiyyun sendiri ude tekak alias suse kebuka mate hatinye. Percuma aje karena mereka ude tingkatan “Mujtahid” semue bang, Fatwa Imam Syafi’i aje bisa ditinggalin (bahkan disalahin) kalo emang menurut mereka gak ade dalilnye. Bikin pegel ati aje nimpalin yg begituan, malahan jadi ajang cacian nantinye, naudzubillaaah… So, pegimane kalo kite bahas lagi tuh artikel awal soal perpecahan di Salafi – Wahabi…??? kembali ke lap…top.

      1. Hhehehehehe…
        Beginilah akhlaq orang aswaja kalo sudah bingung,,,
        Menghina orang lain..
        Dia itu orang Aswaja bro yang bermazhab Syafii dan jama’ahnya orng Syafii…
        Makanya nak cakap, bacalah dulu, kajilah dulu,,
        Wkwkwkwkwkkwkwk..

  54. Ane belajar sm guru2 ane yg sanadnye nyambung sampe Rasulullah SAW bang, dan mereka menganut madzhab Imam Syafi’i salah seorang MUJTAHID MUTLAQ. Berhubung ane masih jauh dari kategori FAQIH, makanye Ane ikut sm yg ude ade, artinye ude siap pake. Nah kalo ente pan ude kategori “Mujtahid” tuh yg ude bisa bilang ini dhoif, ini gak ade dalilnye, entu syirik, entu bid’ah… makanye cocok tuh buat ente, IMAM BUDI. Intinye kan ente gak mo terime mateng gitu aje kan apa2 yg sudah di Ijtihadkan para Imam yg 4…???

  55. Betul sekali bang nur dan ane setuju. Perdebatan teology cunab nguras energi dan kagak ada hasilnya buat ningkatin iman. Yang terjadi malah menang-menangan dan caci-maki. Makanye dulu Imam Al Ghazali mengecam perdebatan model beginian oleh orang yang awam ilmu kalam he he he he.

    SEKALI LAGI, PERDEBATAN ILMU KALAM/TEOLOGI TIDAK DIPERINTAH ATAU DIANJURKAN SYARIAT.

  56. Setuju bang nur. Guru ane juga sanadnya juga bersambung sampai Rosululloh saw kok dan ane juga ngikuti Imam Syafi’i dalam fiqh dan teologinya Imam Asy’ari dan tasawufnya Imam Junaid al Baghdadi. Itu kan tiga imam besar panutan umat dalam memahami teks suci Al Qur’an dan al Hadist.

  57. Inilah 73 golongan dalam Islam:

    AHLU SUNNAH WAL JAMAAH

    KHAWARIJ: terdiri 15 kelompok yaitu an Najdah, Azariqah, Fadikiyah, ‘Athawiyah, Ajradah, al Jazimiyah, al Majhuliyah, Shalatiyah, Akhnasiyah, Zhafariyah, Hafsiyah, ‘Abadiyah, Bahnasiyah, Syamrakhiyah, Bada’iyah

    SYI’AH: terdiri 32 kelompok yaitu Rafidhah, Ghaliyah dan Zaidiyah. Rafidhah pecah menjadi (Qathiyyah, Kisaniyah, Karibiyah, Umairiyah, Muhammadiyah, Hisiniyah, Nawisiyah, Ismailiyah, Qaramadhiyah, Mubarakiyah, Syamithiyah, Imariyah, Mathmuriyah, Musawiyah dan Imamiyah). Ghaliyah pecah menjadi (Lubnaniyah, Manshuriyah, Thayyariyah, Bananiyah, Mughiriyah, Khithabiyah, Ma’mariyah, Bizi’iyah, Mufadhliyah, Mutanasikhah, Syurai’iyah, Saba’iyah, Mufawwidhah). Zaidiyah pecah menjadi (Jarudiyah, Sulaimaniyah, Bitriyah, Na’imiyah, Ya’qubiyah).

    MU’TAZILAH DAN QADARIYAH: terdiri 6 kelompok yaitu Hadzaliyah, Nidzamiyah, Ma’muriyah, Juba’iyah, Ka’abiyah, Bahsyamiyah.
    MURJI’AH: terdiri 12 kelompok yaitu Jahamiyah, Shalihiyah, Syamriyah, Yunusiyah, Yunaniyah, Najjariyahh, Ghailaniyah, Syabibiyah, Hanafiyah, Mu’adziyah, Murisiyah, dan Kiramiyah

    MUSYABBIHAH: terdiri 3 kelompok yaitu Hasyimiyah, Muqatiliyah dan Wasimiyah

    JAHAMIYAH; kelompok ini menyatakan Al Qur’an makhluk, Allah mempunyai tempat, tidak bersemayam di Arsy. Dan yang lebih dari itu semua mereka menafikan/menolak seluruh sifat-sifat Allah.

    DHARARIYAH

    NAJJARIYAH

    KILABIYAH

    1. Mbah Redhy, Kalau Wahabi masuk kelompok yg mana? Yang Khowarij itu ya, Najdiyah apa Najdah itu? Apakah karena si tanduk Syetan Wahabi munculnya dari Nejd?

  58. Jadi video di atas mengambil ucapan siapa mas,,? Ucapan Imam Syafi’i yang di pake oleh Imam Ibnu Katsir, jadi sebenarnya kalian aja yang ngaku ikut Imam Syafi’i tapi Imam Syafi’i berlepas diri dari kalian, Pengakuan yang mengelikan..

    1. budi , tadi ada yang sms ke saya beliau minta smsnya diposting , ini bunyi smsnya Bud : ” itu tuh budi ngandelin Video youtube , tampak tololnya wahabiyyun , masak sanad guru ngaji yang penuh barakah mau digantiin pake video….? oalah kok bego and tolol bin ngawur bin sesat tuh wahabiyyun , moga2 diampuni Allah tuh geng wahabi.

      rasanya mau ketawa baca komen budi , lucu banget deh , kok ada ya ummat kaya gitu…? munculnya wahabi juga karena kehendak Allah SWT semata sebagai Ujian bagi Aswaja, kita hadapi dengan Iman dan Tauhid yang hakiki jauh dari dendam amien.

      1. Boleh ana tahu nomor hapenya mas?, ane mau mengucapkan terima kasih atas kebaikannya mas..!!
        Mas kita harus melihat orang dan apa yang di ucapkan orang tersebut, kalo di benar kenapa gak mau kita ikuti apalagi seorang Ibnu Katsir yang keilmuannya di akui dunia Islam..

        1. semalam yang sms mas ahmad syahid itu saya mas. Emang kenapa mas……….
          Mas mau tahu nomer hp saya, apakah itu penting? Kalau emang niat baik bolehlah tp jgn disini. Nt email aja ke email saya di regusdhauta@gmail.com

    2. assalamualikum
      numpang mampir
      sy udah liat vidionya pas baca postingan di mr habib munzir ngejelasin jadi yang divideo ini menggal kitab ibnu katsir, terakhirnya ngak dibacain jadi maknanya beda. di kitab aslinya imam ibnu katsir menyatakan bahwa adapun pahala sedekah dan doa untuk yang udah meninggal tidak ada perbedaan antara para imam bahwa pahalanya nyampe. untuk lebih jelasnya bisa kunjungi webnya mr.
      yah kira-kira gitu untuk lebih jelas sekali beli kitabnya dan baca dihadapan guru yang punya sanad, jadi kagak dibahongin.
      wassalam

  59. asy’ariyah sama dengan jahmiyah. dan ternyata tidak ada satupun orang disini yang bisa mengingkarinya. selanjutnya, kami tidak akan merasa rendah dengan tuduhan, celaan dan tipuan seorang jahmiyah kepada kami.

  60. @ajam, dari dulu hingga sekarang, asy ariyah adalah ahlussunah wal jamaah. Tidak ada yg perlu dibuktikan dan apa yg mau diingkari? Kalau anda punya sedikit kecerdasan, dan pernah membaca atau mempelajari sejarah islam tentu ente paham. Sayang ente kurang cerdas dan tidak tahu sejarah islam. Mangkanya belajar yg rajin biar naik kelas. Kami tidak menuduh atau menipu, kami hanya menjelaskan kenyataan.

  61. asy’ariyah ebagai ahlus sunnah? itu kan cuma klaim kosong kalian. saya tidak heran jika az zabidi berkata: “yang dimakud Ahlus sunnah adalah ay’ari dan maturidi”. silakan saja, itu hak mereka mengaku-ngaku seperti itu.

    saya cukup mengetahui sejarah pendiri asy’ariyah, yakni Imam Abul Hasan Al Asy’ari. dulunya beliau belajar pada seorang mu’taziliy, lalu berpindah menjadi seorang kullabiy, lalu yang terakhir menjadi seorang ahlus sunnah sejati. ketika menjadi ahlus sunnah sejati inilah, beliau membantah pemahaman beliau yang terdahulu. tapi anehnya, kalian mengambil pemahaman beliau yang terdahulu dan masih menisbatkan pada beliau.

  62. sebagian aqidah asy’ariyah ada kesamaan dengan mu’tazilah. ga adil dong jika bantahan itu hanya ditujukan pada mu’tazilah saja tapi tidak pada asy’ariyah. termasuk yang dibantah oleh Imam Abu Hasan adalah aqidah mu’tazilah tentang sifat Alloh, dimana mereka memalingkan makna dari dhohirnya.

    Imam Abul Hasan berkata: “Dan telah berkata orang-orang dari kalangan MU’TAZILAH, JAHMIYAH, dan HARURIYAH : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. Allah ta’ala berada di setiap tempat’. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah). Mereka (Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah) memalingkan (mena’wilkan) makna istiwaa’ kepada kekuasaan/kemampuan (al-qudrah). (Al-Ibaanah, hal. 34-37)

    Ibnu Abdil Barr berkata: “Adapun JAHMIYAH, MU’TAZILAH, dan KHOWARIJ mereka mengingkari sifat-sifat Allah dan tidak mengartikannya secara dhahirnya. Lucunya mereka menuding bahwa orang yang menetapkannya termasuk Musyabbih.” (At Tamhid 3/351)

    beiau juga berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya Allah berada di atas langit, di atas arsy sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Hadits ini termasuk salah satu hujjah Ahli Sunnah terhadap kelompok MU’TAZILAH dan JAHMIYAH yang berpendapat bahwa Allah ada dimana-mana, bukan di atas arsy.” (At Tamhid 3/338)

    Abu Utsman Ash Shabuni berkata: “Mereka (Ahlus Sunnah) tidak menyelewengkan makna ayat ini (As Shad 75) kepada makna-makna lain. Tidak menarik maknanya kepada makna “dua kenikmatan”, atau “dua kekuatan” seperti penyelewengan yang dilakukan MU’TAZILAH dan JAHMIYAH –semoga Allah membinasakan keduanya-.”(Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 161).

  63. @ajam, apa yg anda nukil, sy meragukan apa benar terjemahannya seperti itu. Tapi nggak apa deh, coba ajam berikan penjelasan, mengapa murid-murid Imam Asy ari tidak mengikuti gurunya malah mengikuti apa yg dibantahnya. Kenapa juga para imam seperti juwaini dan imam ghozali tidak mengetahui masalah ini, malah mengembangkan ajaran asyariyah. Apakah ajarannya yg terakhir kata ajam, diajarkan kepada ulama wahabi bukan kepada murid-muridnya? Oh iya jam, kalau ayat al quran harus dimaknai sesuai zahir, lalu apa makna Allah adalah cahaya langit dan bumi?

  64. Inilah 73 golongan dalam Islam:
    AHLU SUNNAH WAL JAMAAH
    KHAWARIJ: terdiri 15 kelompok yaitu an Najdah, Azariqah, Fadikiyah, ‘Athawiyah, Ajradah, al Jazimiyah, al Majhuliyah, Shalatiyah, Akhnasiyah, Zhafariyah, Hafsiyah, ‘Abadiyah, Bahnasiyah, Syamrakhiyah, Bada’iyah
    SYI’AH: terdiri 32 kelompok yaitu Rafidhah, Ghaliyah dan Zaidiyah. Rafidhah pecah menjadi (Qathiyyah, Kisaniyah, Karibiyah, Umairiyah, Muhammadiyah, Hisiniyah, Nawisiyah, Ismailiyah, Qaramadhiyah, Mubarakiyah, Syamithiyah, Imariyah, Mathmuriyah, Musawiyah dan Imamiyah). Ghaliyah pecah menjadi (Lubnaniyah, Manshuriyah, Thayyariyah, Bananiyah, Mughiriyah, Khithabiyah, Ma’mariyah, Bizi’iyah, Mufadhliyah, Mutanasikhah, Syurai’iyah, Saba’iyah, Mufawwidhah). Zaidiyah pecah menjadi (Jarudiyah, Sulaimaniyah, Bitriyah, Na’imiyah, Ya’qubiyah).
    MU’TAZILAH DAN QADARIYAH: terdiri 6 kelompok yaitu Hadzaliyah, Nidzamiyah, Ma’muriyah, Juba’iyah, Ka’abiyah, Bahsyamiyah.
    MURJI’AH: terdiri 12 kelompok yaitu Jahamiyah, Shalihiyah, Syamriyah, Yunusiyah, Yunaniyah, Najjariyahh, Ghailaniyah, Syabibiyah, Hanafiyah, Mu’adziyah, Murisiyah, dan Kiramiyah
    MUSYABBIHAH: terdiri 3 kelompok yaitu Hasyimiyah, Muqatiliyah dan Wasimiyah
    JAHAMIYAH; kelompok ini menyatakan Al Qur’an makhluk, Allah mempunyai tempat, tidak bersemayam di Arsy. Dan yang lebih dari itu semua mereka menafikan/menolak seluruh sifat-sifat Allah.
    DHARARIYAH
    NAJJARIYAH
    KILABIYAH

    1. Wkwkwkwk..Nih dapat dalil darimana mas..?
      POantasan aja orang-orang syiah hidup tenang di Indonesia, rupanya kalian menganggapnya orang Islam, padahal banyak ulama telah mengkafirkan mereka,,,
      Dan pantesan kalian tak terasa sudah mengikuti ibadah mereka sperti perayaan haul,,

    2. budi semua budi anggap kafir kemaren Aswaja budi bilang banyak yang Kafir sekarang Syi`ah juga budi anggap Kafir, kenapa budi gampang mengkafirkan sih bud…?

      1. kok bangga ya mas mereka itu dengan mengkafirkan golongan lain? emang mereka itu semua sudah mencapai taraf haqqul yaqin bakal masuk surga ya…… he he he he
        daripada berbangga dengan mengkafirkan golongan lain, apa ga lebih baik meneliti cacat diri yang menggunung itu.

      2. IMAM MALIK
        ??????? ????

        ??? ?????? ?? ??? ??? ??????? ??? : ???? ??? ??? ???? ???? :

        ??? ???? : ???? ???? ????? ????? ??? ???? ???? ????

        ??? ??? ??? ?? ??? ???? ?? ???????.

        ( ?????? / ????: ????? )

        Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”
        .
        ( Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )

        Begitu pula Ibnu Katsir berkata, dalam kaitannya dengan firman Allah surat Al Fath ayat 29, yang artinya :
        “ Muhammad itu adalah Rasul (utusan Allah). Orang-orang yang bersama dengan dia (Mukminin) sangat keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keridhaanNya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, karena bekas sujud. Itulah contoh (sifat) mereka dalam Taurat. Dan contoh mereka dalam Injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya (yang kecil lemah), lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang-orang yang menanamnya. (Begitu pula orang-orang Islam, pada mula-mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat), supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal salih diantara mereka”.
        Beliau berkata : Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik, beliau mengambil kesimpulan bahwa golongan Rofidhoh (Syiah), yaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi SAW, adalah Kafir.
        Beliau berkata : “Karena mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama.

        (Tafsir Ibin Katsir, 4-219)

        Imam Al Qurthubi berkata : “Sesungguhnya ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya juga benar, siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin”.

        (Tafsir Al Qurthubi, 16-297).

        IMAM AHMAD
        ?????? ???? ??? ????
        :
        ??? ?????? ?? ??? ??? ??????? ??? : ???? ??? ??? ???? ??? ????

        ??? ??? ???? ?????? ? ???: ?????? ??? ???????
        .
        ( ?????? / ????? : ?? ???)

        Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat bahwa dia bukan orang Islam”.

        ( Al Khalal / As Sunnah, 2-557).

        Beliau Al Khalal juga berkata : Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata : “Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka kami khawatir dia keluar dari Islam, tanpa disadari”.

        (Al Khalal / As Sunnah, 2-558).

        Beliau Al Khalal juga berkata :

        ???? ??????: ?????? ??? ???? ?? ???? ?? ???? ??? : ???? ??? ?? ??? ??? ????

        ?? ????? ????? ??? ???? ???? ???? ???? : ?? ???? ??? ???????

        (?????? / ????? : ?????)

        “ Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita pada kami, katanya : “Saya bertanya kepada ayahku perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi SAW. Maka beliau menjawab : “Saya berpendapat ia bukan orang Islam”.

        (Al Khalal / As Sunnah, 2-558)

        Dalam kitab AS SUNNAH karya IMAM AHMAD halaman 82, disebutkan mengenai pendapat beliau tentang golongan Rofidhoh (Syiah) :

        “Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari sahabat Muhammad SAW dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya, kecuali hanya empat orang saja yang tidak mereka kafirkan, yaitu Ali, Ammar, Migdad dan Salman. Golongan Rofidhoh (Syiah) ini sama sekali bukan Islam.

        AL BUKHORI
        ?????? ???????
        .
        ??? ???? ???? : ??????? ???? ??? ?????? ????????

        ?? ???? ??? ?????? ????????

        ??? ???? ???? ??? ?????? ??? ??????? ??? ?????? ??? ???? ???????
        .
        ( ??? ????? ?????? :???)

        Iman Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja, apakah aku sholat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.
        (Imam Bukhori / Kholgul Afail, halaman 125).

        AL FARYABI

        ???????? :

        ??? ?????? ??? : ?????? ??? ?? ??????? ????????

        ??? : ????? ???? ?? ????? ?? ???? ???: ???? ???????? ???? ????? ??? ??? ??????

        ???: ????? ???: ????? ????? ???: ??. ?????? ??? ???? ?? ??? ???? ?? ??? ??? ?????

        ???: ?? ????? ???????? ?????? ?????? ??? ?????? ?? ?????.

        (??????/?????: ?????)

        Al Khalal meriwayatkan, katanya : “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al Karmani, katanya : “Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu ia berkata : “Apakah orang semacam itu boleh disholatkan jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh?”. Jawabnya : “Janganlah kamu sentuh jenazahnya dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu turunkan ke liang lahatnya”.

        (Al Khalal / As Sunnah, 6-566)
        .
        AHMAD BIN YUNUS

        Beliau berkata : “Sekiranya seorang Yahudi menyembelih seekor binatang dan seorang Rofidhi (Syiah) juga menyembelih seekor binatang, niscaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi dan aku tidak mau makan sembelihan si Rofidhi (Syiah), sebab dia telah murtad dari Islam”.

        (Ash Shariim Al Maslul, halaman 570).

        ABU ZUR’AH AR ROZI

        ??? ???? ??????.

        ??? ???? ????? ????? ???? ?? ????? ???? ???? ??? ???? ???? ????

        ????? ??? ?????? ??? ???? ???? ??? ????? ?????? ??????.

        ( ??????? : ??)

        Beliau berkata : “Bila anda melihat seorang merendahkan (mencela) salah seorang sahabat Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa dia adalah ZINDIIG. Karena ucapannya itu berakibat membatalkan Al-Qur’an dan As Sunnah”.

        (Al Kifayah, halaman 49).

        ABDUL QODIR AL BAGHDADI

        Beliau berkata : “Golongan Jarudiyah, Hisyamiyah, Jahmiyah dan Imamiyah adalah golongan yang mengikuti hawa nafsu yang telah mengkafirkan sahabat-sahabat terbaik Nabi, maka menurut kami mereka adalah kafir. Menurut kami mereka tidak boleh di sholatkan dan tidak sah berma’mum sholat di belakang mereka”.

        (Al Fargu Bainal Firaq, halaman 357).

        Beliau selanjutnya berkata : “Mengkafirkan mereka adalah suatu hal yang wajib, sebab mereka menyatakan Allah bersifat Al Bada’

        IBNU HAZM

        Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah, bahwa Al-Qur’an sesungguhnya sudah diubah”.
        Kemudian beliau berkata : ”Orang yang berpendapat bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan mendustakan Rasulullah SAW”.

        (Al Fashl, 5-40).

        ABU HAMID AL GHOZALI

        Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah menentang dan membinasakan Ijma kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan surga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”.
        Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir”.

        (Fadhoihul Batiniyyah, halaman 149).

        AL QODHI IYADH

        Beliau berkata : “Kita telah menetapkan kekafiran orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam keyakinan mereka, bahwa para Imam mereka lebih mulia dari pada para Nabi”.
        Beliau juga berkata : “Kami juga mengkafirkan siapa saja yang mengingkari Al-Qur’an, walaupun hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat yang diubah atau ditambah di dalamnya, sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) dan
        Syiah Ismailiyah”.

        (Ar Risalah, halaman 325).

        AL FAKHRUR ROZI

        Ar Rozi menyebutkan, bahwa sahabat-sahabatnya dari golongan Asyairoh mengkafirkan golongan Rofidhoh (Syiah) karena tiga alasan :
        Pertama: Karena mengkafirkan para pemuka kaum Muslimin (para sahabat Nabi). Setiap orang yang mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW, yang artinya : “Barangsiapa berkata kepada saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang kafir”.
        Dengan demikian mereka (golongan Syiah) otomatis menjadi kafir.
        Kedua: “Mereka telah mengkafirkan satu umat (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh kehormatan (para sahabat Nabi)”.
        Ketiga: Umat Islam telah Ijma’ menghukum kafir siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari kalangan sahabat.

        (Nihaayatul Uguul, Al Warogoh, halaman 212).

        IBNU TAIMIYAH

        Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Al-Qur’an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa Al-Qur’an mempunyai penafsiran-penafsiran batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya. Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang kekafiran orang semacam ini”
        Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan penegasan Al-Qur’an yang terdapat di dalam berbagai ayat mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini, adakah orang yang meragukannya? Sebab kekafiran orang semacam ini sudah jelas….

        (Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587).

        SYAH ABDUL AZIZ DAHLAWI

        Sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab Itsna Asyariyah dari sumber-sumber mereka yang terpercaya, beliau berkata : “Seseorang yang menyimak aqidah mereka yang busuk dan apa yang terkandung didalamnya, niscaya ia tahu bahwa mereka ini sama sekali tidak berhak sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya kekafiran mereka”.

        (Mukhtashor At Tuhfah Al Itsna Asyariyah, halaman 300).

        MUHAMMAD BIN ALI ASY SYAUKANI

        Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan mencakup empat dosa besar, masing-masing dari dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang-terangan.
        Pertama : Menentang Allah.
        Kedua : Menentang Rasulullah.
        Ketiga : Menentang Syariat Islam yang suci dan upaya mereka untuk melenyapkannya.
        Keempat : Mengkafirkan para sahabat yang diridhoi oleh Allah, yang didalam Al-Qur’an telah dijelaskan sifat-sifatnya, bahwa mereka orang yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah SWT menjadikan golongan Kuffar sangat benci kepada mereka. Allah meridhoi mereka dan disamping telah menjadi ketetapan hukum didalam syariat Islam yang suci, bahwa barangsiapa mengkafirkan seorang muslim, maka dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam Bukhori, Muslim dan lain-lainnya.

        (Asy Syaukani, Natsrul Jauhar Ala Hadiitsi Abi Dzar, Al Warogoh, hal 15-16)

        Wkwkwkwkwkwkw…
        Mas, gue cuma ikutan aja mas,,
        Kalo mau marah sama orang yang di atas ya mas, yang berfatwa bahwa Syiah Kafir..
        Semoga dapat petunjuk..

      3. Kalo mau tahu lagi tentang Syiah..
        Ketik aja www,Hakekat.com..
        Atau tulis aja di Google..
        Ulama yang mengkafirkan Syiah lalu enter..

  65. Sebenarnya sumber semua bencana pertentangan antar umat Islam adalah karena masing-masing saling mengklaim dan membakukan pemahamannya sendiri lalu menuduh kelompok lain tidak benar.

    Sebenarnya jika sejak awal golongan pengikut abdulwahab mengaku dengan percaya diri sebagai kelompok wahabiyah tentu tidak demikian keadaannya. Masalah muncul karena mereka mengaku paling ahlu sunnah wal jamaah.

  66. Selama sikap merasa paling benar tetap menjadi primadona umat Islam, maka pertentangan antar umat tidak akan surut tetapi malah menggila. Seringkali kita yang di jaman ini menemukan sebagian ulama yang kemampuan ilmunya pas pasan tetapi dengan gagah berani menilai kapabilitas ulama salaf.

  67. ajam@pengikut yg mengaku asyariah,terlanjur membela mati2an aqidah tsb.sehingga ketika disampaikan fakta yg shahih,mereka mengingkarinya ,mengapa mereka tdk mau koreksi.apakah ini dikarenakan taqlid yg membabibuta ,semoga Allah memberikan hidayahNya.

  68. @.emen , tahukah anda jika keyakinan Wahabi terhadap sifat-sifat Allah swt adalah keyakinan Tajsim dan Tasybih…? dalam keyakinan ini mereka meniru kepercayaan al-mujassim Ibnu Taymiyah, ibnu taymiyah berkata mengenai aqidah ini : semua ayat tentang sifat-sifat Allah dalam al-qur`an tidak pernah ditakwilkan para sahabat , dan aku telah mengkaji lebih dari 100 buku Tafsir yang dinukil dari para sahabat , aku tidak menemukan adanya Takwil terhadap ayat-ayat sifat , atau hadist-hadist sifat selain makna yang sudah difahami secara tekstual.”

    perkataan dusta Ibnu Taymiyah ini telah menipu banyak orang awam khususnya para pentaqlid Buta seperti sekte Wahabi.

    Emen , silahkan lihat contohnya tafsir ayat kursi menurut at-thobary , Ibnu `athiyah dan ma-alimu tanzil lil imam al-Baghowi , mereka semua membuka penafsiran dengan perkataan sayidina Ibnu Abbas ra : ” kursinya adalah ilmunya ” bahkan Ibnu `athiyah merasa cukup dengan perkataan sayidina Ibnu Abbas tersebut dan mengatakan bahwa riwayat selain itu adalah Isroilliyyat dan Hasyawiyyat yang tidak boleh dipakai. sama halnya dengan ayat- ayat mengenai “Wajah Allah” para sahabat mentakwilnya dengan tujuan , pahala, atau yang semakna tergantung konteks kalimatnya.

    Oleh karena itu satu-satunya argumen Wahabi tentang keyakinan mereka adalah pendustaan terhadap para sahabat , pemalsuan fakta-fakta agama dan penisbatan secara bathil kepada kitab-kitab Tafsir yang sudah populer di sisi Ummat , silahkan emen buka sendiri Tafsir –Tafsir itu agar terbukti kebohongajn mereka , anda akan menyaksikan sendiri betapa fatalnya kedustaan kaum wahabi terhadap agama dan Ulama salaf , anda akan membuktikan sendiri jika penisbatan “salafy” oleh Wahabi adalah perampokan sadis di siang bolong.

    apakah emen masih perlu bukti lain ….?

    1. yang benar, Ibnu Abbas menafsirkan Kursi Alloh adalah tempat untuk meletakkan kaki Alloh.

      Dari Sa’id bin Jubair bahwasanya ketika Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas
      Radhiyallahu ‘anhu menafsirkan firman Allah: “Kursi Allah meliputi langit dan bumi,” (Al Baqoroh 255) beliau berkata: “Kursi adalah tempat meletakkan kaki Allah, sedangkan ‘Arsy tidak ada yang dapat mengetahui ukuran besarnya melainkan hanya Allah Ta’ala.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 12404), al-Hakim (II/282) dan dishahihkannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi. Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyah (hal. 368-369), takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki.)

    2. yah ajam sudah dibilangin : Ibnu `athiyah merasa cukup dengan perkataan sayidina Ibnu Abbas tersebut dan mengatakan bahwa riwayat selain itu adalah Isroilliyyat dan Hasyawiyyat yang tidak boleh dipakai.

      lagipula rujukan ajam kan syarah aqidah thohawiyyah versi Mujassimah , silahkan ajam buka langsung kitab-kitab aslinya seperti ma`alimu Tanzil Imam Baghowi surat al-baqoroh ayat 115,225 dan ayat 272 , lihat juga tafsir surat ar`d ayat 22 surat al-qoshosh ayat 88 , surat al-rum ayat 38 dan 39 surat ad-dahr ayat 9 dan surat al-lail ayat 20 ajam akan ketahui sendiri betapa fatalnya kedustaan Wahabi terhadap agama dan Ulama Salaf , oh ya Tafsir al-baghowi ini diakui kebenarannya oleh Ibnu taymiyah lho.

          1. oh, sama2 belum baca toh? ya ga usah kalo gitu. yang jelas asy’ariyah itu sama dengan jahmiyah dan mu’tazilah.

          2. Ajam@

            Memang Syekh Asy’ari sebelum tampil membela ASWAJA, beliau adalah mu’tazilah. Kemudian Imam Asy’ari keluar dan berganti membela ASWAJA di hadapan Mu’tazilah. Makanya dalam sejarah dikenal Imam Asy’ary adalah tokoh central ASWAJA (Ahlussunnah waljamaah). Bacalah sejarah biar tahu urutan kisahnya seperti apa, dan benar memang sebelum jadi perintis pembela faham ASAWAJA beliau adalah Mu’tazilah.

            Jadi antum benar jika ditinjau dari sisi sejarah biografinya sebelum beliau memperjuangkan ASAWAJA.

          3. benar…Imam Abul Hasan telah bertaubat dari Mu’tazilah dan ruju’ pada pemahaman salaf. tapi anehnya kalian malah menghidupkan kembali paham Mu’tazilah ini dan lebih parahnya menisbatkan diri kalian sebagai pengikut Imam Abul Hasan.

            salah satu paham Mu’tazilah yang kalian hidupkan adalah mentakwil sifat2 Alloh dari dhohirnya.

            Imam Abul Hasan berkata: “Dan telah berkata orang-orang dari kalangan MU’TAZILAH, JAHMIYAH, dan HARURIYAH : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. Allah ta’ala berada di setiap tempat’. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah). Mereka (Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah) memalingkan (mena’wilkan) makna istiwaa’ kepada kekuasaan/kemampuan (al-qudrah). (Al-Ibaanah, hal. 34-37)

            Ibnu Abdil Barr berkata: “Adapun JAHMIYAH, MU’TAZILAH, dan KHOWARIJ mereka mengingkari sifat-sifat Allah dan tidak mengartikannya secara dhahirnya. Lucunya mereka menuding bahwa orang yang menetapkannya termasuk Musyabbih.” (At Tamhid 3/351)

            beliau juga berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya Allah berada di atas langit, di atas arsy sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Hadits ini termasuk salah satu hujjah Ahli Sunnah terhadap kelompok MU’TAZILAH dan JAHMIYAH yang berpendapat bahwa Allah ada dimana-mana, bukan di atas arsy.” (At Tamhid 3/338)

            Abu Utsman Ash Shabuni berkata: “Mereka (Ahlus Sunnah) tidak menyelewengkan makna ayat ini (As Shad 75) kepada makna-makna lain. Tidak menarik maknanya kepada makna “dua kenikmatan”, atau “dua kekuatan” seperti penyelewengan yang dilakukan MU’TAZILAH dan JAHMIYAH –semoga Allah membinasakan keduanya-.”(Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 161).

          4. Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

            Sayang sekali, kitab al-ibanah yang antum jadikan rujukan bukanlah ibanah yang original.

            Justru pernyataan al-imam Abu al-Hasan al-Asy’ariy rahimahullah di kitab al-ibanah yang original sangat bertentangan dengan apa yang menjadi keyakinan Wahhabiyyun.

            Dan seluruh dunia Islam sudah mafhum, bahwasanya pemalsuan kitab al-Ibanah dilakukan oleh kaum Wahhabiyyun untuk menutupi kesesatan aqidah mereka.

            Sekali lagi ini adalah FAKTA.

            http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/03/04/pemalsuan-kitab-al-ibanah-imam-abu-hasan-al-asyariy/

            Semoga bermanfaat

          5. 1) isu pemalsuan kitab al ibanah oleh Wahabi/Salafi itu bualan kalian semata.

            menurut link yang anda berikan, ada 3 manukrip. tetapi tahukah anda bahwa sebenarnya ada begitu banyak manuskrip kitab Al Ibanah. jadi sebelum anda membandingkan semua manukrip tersebut, jangan buru2 menyimpulkan bahwa manuskrip yang anda pegang itulah yang benar dan manuskrip yang lain itu salah.

            boleh jadi manuskrip yang anda peganglah yang salah dan kami bisa menuduh balik kalian telah memalsukan kitab Al Ibanah.

            berikut beberapa manukrip kitab Al Ibanah:
            – Darul Kutub Al Qurumiyah Al Mishriyah Kairo.
            – Maktabah Jami’ah Al Utsmaniyah India.
            – Maktabah Azhariyah.
            – cetakan Dr. Fawkiyyah.
            – cetakan darul bayan Lebanon.
            – cetakan Darun Nafaais Lebanon.
            – dll.

            2) yang membantah aqidah Mu’tazilah itu tidak hanya Imam Abul Hasan. lihat juga Imam lain seperti Ibnu Abdil Barr, Abu Utsman Ash Shobuni, Abu Hatim, Utsman bin Sa’id Ad Darimi, dan lain2. aqidah yang mereka cela adalah aqidah yang sama yang diikuti oleh golongan Asy’ariyun.

          6. Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

            Pemalsuan kitab al-ibanah itu bukan isu, tapi fakta. Dan memang faktanya kaum wahhabiyyun-lah yang melakukannya.

            Tidak hanya al-ibanah yang dipalsukan, kitab-kitab karangan ulama’ ahlussunnah wal jama’ah lainnya pun dipalsukan, seperti kitab Hasyiyat ash-showi.

            Dan memang yang dijadikan rujukan kaum wahhabiyyun adalah kitab al-ibanah yang dipalsukan oleh ulama’ wahhabiyyun. Jadi al-ibanah kaum wahhabiyyun tidak original.

          7. Di seluruh dunia Islam pada zaman akhir-akhir ini, kaum yg paling terkenal sebagi perusak kitab para Ulama adalah kaum Salafy Wahabi. Kaum ini (salafy wahabi) terpaksa melakukan perusakan/distorsi kitab2 ulama agar sesuai dengan ideologi wahabi yg mengekor hawa nafsu. Ajam mau berkelit seperti tupai yg pandai melompat pun tidak akan sanggup merubah kenyataan bahwa kaum salafy wahabi adalah TALAFY (perusak).

          8. saya tanya pada anda, jawablah dengan jujur, inshof dan ‘adhil. apakah anda sudah membaca seluruh manuskrip kitab Al Ibanah?

  69. bukti segudang puuuuuun percuma mas Syahid orang2 seperti @ajam dkk sudah punya dalil2kuat dan hadist2 yang lebih “shahih ” menurut mereka ……..jadi kita hanya menyampaikan yang kita pahami titik ……..tik…tik….setelah nya kita serahkan kepada Alloh SWT ….

    1. iyah. emang bukti segudang bahwa asy’ariyah itu sama dengan jahmiyah dan mu’tazilah. dan alhamdulillah belum ada yang bisa mengingkari tentang hal ini.

      1. Bacalah sejarah biar tahu kronologi kisahnya Imam Asy’ari itu seperti apa, dan benar memang menurut sejarah biografinya sebelum jadi perintis dan pembela faham ASAWAJA beliau adalah Mu’tazilah.

        Jadi antum benar jika ditinjau dari sisi sejarah biografinya sebelum beliau memperjuangkan ASAWAJA (ahlussunnah waljamaah).

  70. Buat Bang Budi dan Bang Ajam, begini aje deh. Daripade jadi mudhorot ni forum, pegimane kalo Antum ktm lgs sm guru Ane. Pendidikan agamanye sih gak sampe S1 apalagi S2, tp kalo ude ngebahas Kitab bs selevel Doktor bang. Nanti bareng2 kite bahas ilmu Tauhid/Aqidah mulai dari kitab yg paling tipis aje bang yaitu kitab sifat 20 yg ditulis oleh Mufti Betawi Habib Utsman bin Yahya. Ni kitab emang kecil bang, tapi luas penjelasannye. Niat ane tulus bang, untuk kemaslahatan/silaturrahim sesame Muslim, daripade cm hujat2an di blog orang. Pegimane bang…???

    1. Bang Nur@

      Yang di maksud Assh0ghir oleh Ajam adalah Salafy Wahabi, dan memang kaum ini adalah kaum shoghir dalam artian yg sebenarnya, dan juga terbukti Salafy Wahabi adalah ahlul bid’ah dholalah sejati yg tak tertandingi di dunia ini. Maksud ane bid’ah dholalahnya mereka itu tiada tandingannya. Makanya kata Ajam jangan ambil ilmu dari Ash-shoghir, he he he…. bener juga die kali ini ya?

  71. @ajam dan masemen, Coba dijawab juga dong, kenapa kalau ulama asy ariyah yang melakukan takwil disebut jahmiyah, sedangkan ibnu taymiyah, imam ahmad, imam bukhari dan lainnya melakukan takwil tidak disebut jahmiyah? Padahal metodenya sama lho, dan mereka mempunyai syarat dan ilmu. Terus mengapa juga ulama wahabi yg menakwil, Allah lebih dekat dari urat leher, Allah meliputi segala sesuatu, tidak disebut jahmiyah? Terus kenapa pertanyaan saya tentang murid imam asy ari yg saya anggap tidak masuk akal bisa menyelisihi Akidah gurunya dan makna Allah adalah cahaya langit dan bumi tidak di jawab?

  72. Ta’thil itu menghilangkan kata atau teks zahir dan menggantinya dengan makna lain secara hakiki. Maka tidak disebut tha’til bila tidak meninggalkan kata yg menunjukkan kepada maknanya, dan tidak menggantinya dengan makna majasi sehinh menjadi kata yg lain secara hakiki.

    1. maaf @Dianth si ajam nggak pakai metode itu yang ada metode “MENTERJEMAHKAN SAJA ” sulit amat ( bahasa Al Qur’an kan jelas ) menurut ajam ……

  73. Ta’thil itu menghilangkan kata atau teks zahir dan menggantinya dengan makna lain secara hakiki. Maka tidak disebut tha’til bila tidak meninggalkan kata yg menunjukkan kepada maknanya, dan tidak menggantinya dengan makna hakiki maupun majasi sehingga menjadi kata yg lain secara hakiki. Takwil yang dilakukan para ulama islam bukanlah takwil batil. Contoh takwil batil adalah menakwilkan kata mengangkat nabi isa dgn takwil mewafatkannya, karena bertentangan dgn dalil lain. Apa yg dilakukan ulama dalam menakwilkan sifat-sifat Allah adalah agar kita tidak terjerumus pada tasybih dan tajsim serta tidak menimbulkan kontradiksi dan kerancuan yg ditimbulkan oleh lemahnya akal kita dan nafsu kita yg selalu ingin bertanya.

    1. yah….begitulah si Ajam kalau menafsirkan ayat/hadist tidak mengenal istilah MUTASYABIHAT…….SAMPAI KAPAN JUGA diskusi nggak bakalan ketemu mas Dianth karena berbeda metode pemahaman ………“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]
      “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]: 269)

  74. mamo cemani gombong@

    Mas Mamo n Mas Dianth, itu si Ajam Ibnu Abi Irfan ngotot menginginkan keadilan menurut versinya (hawa nafsunya), agar kita sukarela Imam Asy’ari itu juga disebut Jahmiyun. Itulah bukti kuatnya bagaimana Wahabi-wahabi itu pengikut setia Hawa Nafsu, baik Wahabi awamnya atau Wahabi yg ulamanya.

  75. baihaqi@sedikit koreksi,bahwa salafy tdk menyebut imam abu al hasan asyari seorang jahmy,hanya dalam sejarahnya beliau pernah dlm aqidah menjadi seorang mu’tazilah,dan mengikuti pemahaman ibnu kullab,dan terakhir beliau ruju kepemahaman salaf mengikuti pemahaman imam ahmad.ustd saya bilang, kitab al ibanah yg menjadi kitab rujunya imam asyari ini,tidak diakui oleh pengikut asyariah dng alasan kitab trsb telah dirusak oleh ulama ‘wahabi’katanya.dng demikian silahkan atur saja aqidah masing2 dan siap2 mempertanggung jawabkannya disisi Allah.

    1. Jangan salahkan orang jika ada yg mengatakan Wahabi merusak kitab Ibanah, karena sesungguhnya Wahabi memang terkenal sebagai perusak buku-buku agama karya para Ulama agar sesuai hawa nafsunya.

      Beliau Imam Asy’ari adalah perintis ASWAJA (ahlussunnah waljamaah) yang diikuti oleh mayoritas Ummat Islam di seluruh dunia hingga saat ini. Paran pegikut 4 imam madzhab syari’ah, dalam aqidahnya mereka ikut Imam Asy’ari. Dan Wahabi dalam aqidahnya bukan pengikut Imam Asy’ari tapi justru menganggap sesat faham aqidah Imam Asy’ari.

    2. masemen@

      kita harus mengamati dan mengkaji sejarah kehidupan al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari yang ditulis oleh para alim ulama’. Al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari merupakan salah seorang tokoh kaum Muslimin yang sangat masyhur dan mempunyai fakta yang jelas. Beliau bukan tokoh kontroversial dan bukan tokoh yang misteri iaitu perjalanan hidupnya tidak diketahui orang, lebih-lebih lagi berkaitan dengan hal yang amat penting seperti yang kita bicarakan ini. Seandainya kehidupan al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari seperti kenyataan dalam artikel yang di reka oleh Wahhabi/Salafi Gadungan itu, menyatakan bahawa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari melalui tiga fasa perkembangan pemikiran, maka sudah tentu para sejarawan akan menyatakannya dan menjelaskannya di dalam buku-buku sejarah. Maklumat mengenai ini juga sudah pasti akan masyhur dan tersebar luas sebagaimana fakta sejarah hanya menyatakan bahawa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari hanya bertaubat dan meninggalkan fahaman Muktazilah sahaja.

      Semua sejarawan yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari hanya menyatakan kisah naiknya al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari ke atas mimbar di masjid Jami` Kota Basrah dan berpidato dengan menyatakan bahawa beliau telah keluar daripada fahaman Muktazilah. Di sini kita bertanya, adakah sejarawan yang menyatakan kisah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari fahaman pemikiran Abdullah bin Sa`id bin Kullab? Sudah tentu jawapannya, tidak ada.

      Apabila kita menelaah atau meneliti buku-buku sejarah, kita tidak akan mendapatkan fakta atau maklumat yang mengatakan al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari bertaubat dari ajaran Ibn Kullab baik secara jelas mahupun samar. Oleh itu, maklumat atau fakta yang kita dapati ialah kesepakatan para sejarawan bahawa setelah al-Imam Abu Hassan al-Asy`ari bertaubat daripada fahaman Muktazilah, beliau kembali kepada ajaran Salaf al-Salih seperti kitab al-Ibanah dan lain-lain yang ditulisnya dalam rangka membela mazhab Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah.

      Al-Imam Abu Bakr bin Furak berkata:
      “Syaikh Abu al-Hassan Ali bin Ismail al-Asy`ari radiyallahu`anhu berpindah daripada mazhab Muktazilah kepada mazhab Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah dan membelanya dengan hujjah-hujjah rasional dan menulis karangan-karangan dalam hal tersebut…” (Tabyin Kidzb al-Muftari, al-Hafiz Ibn Asakir(1347H) tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, Maktabah al-Azhariyyah li at-Turats, cet.1, 1420H, hal 104)

      Sejarawan terkemuka, al-Imam Syamsuddin Ibn Khallikan berkata: “Abu al-Hassan al-Asy`ari adalah perintis pokok-pokok akidah dan berupaya membela mazhab Ahl al-Sunnah. Pada mulanya Abu al-Hassan adalah seorang Muktazilah, kemudian beliau bertaubat dari pandangan tentang keadilan Tuhan dan kemakhlukan al-Quran di masjid Jami` Kota Basrah pada hari Jumaat”. (Wafayat al-A’yan, al-Imam Ibn Khallikan, Dar Shadir, Beirut, ed. Ihsan Abbas, juz 3, hal. 284)

      Sejarawan al-Hafiz al-Zahabi berkata: “Kami mendapat informasi bahawa Abu al-Hassan al-Asy`ari bertaubat dari fahaman Muktazilah dan naik ke mimbar di Masjid Jami’ Kota Basrah dengan berkata, “Dulu aku berpendapat bahawa al-Quran itu makhluk dan…Sekarang aku bertaubat dan bermaksud membantah terhadap fahaman Muktazilah”. (Syiar A`lam al-Nubala, al-Hafidz al-Zahabi, Muassasah al-Risalah, Beirut, ed. Syuaib al-Arnauth, 1994, hal. 89)

      Sejarawan terkemuka, Ibn Khaldun berkata: “Hingga akhirnya tampil Syaikh Abu al-Hassan al-Asy`ari dan berdebat dengan sebahagian tokoh Muktazilah tentang masalah-masalah shalah dan aslah, lalu dia membantah metodologi mereka (Muktazilah) dan mengikut pendapat Abdullah bin Said bin Kullab, Abu al-Abbas al-Qalanisi dan al-Harith al-Muhasibi daripada kalangan pengikut Salaf dan Ahl al-Sunnah”. (Ibn Khaldum(2001), al-Muqaddimah, Dar al-Fikr, Beirut, ed. Khalil Syahadah, h. 853)

      Fakta yang dikemukakan oleh Ibn Khaldum tersebut menyimpulkan bahawa setelah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar daripada fahaman Muktazilah, beliau mengikuti mazhab Abdullah bin Sa`id bin Kullab, al-Qalanisi dan al-Muhasibi yang merupakan pengikut ulama’ Salaf dan Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah.

      Demikian juga, maklumat atau fakta sejarah yang dinyatakan di dalam buku-buku sejarah yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari seperti Tarikh Baghdad karya al-Hafiz al-Khatib al-Baghdadi, Tabaqat al-Syafi`iyyah al-Kubra karya al-Subki, Syadzarat al-Dzahab karya Ibn al-Imad al-Hanbali, al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn al-Atsir, Tabyin Kizb al-Muftari karya al-Hafiz Ibn Asakir, Tartib al-Madarik karya al-Hafiz al-Qadhi Iyadh, Tabaqat al-Syafi`iyyah karya al-Asnawi, al-Dibaj al-Muadzahhab karya Ibn Farhun, Mir`at al-Janan karya al-Yafi`I dan lain-lain, semunya sepakat bahawa setelah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari fahaman Muktazilah, beliau kembali kepada mazhab Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah yang mengikut metodologi Salaf.

      Penjelasan ilmiyah ini saya COPAS dari http://as-salafiyyah.blogspot.com/2011/02/benarkah-al-imam-abu-al-hassan-al.html

  76. @ajam dkk

    Mau tanya dikit sama nt. Apakah nt-nt itu sudah paham dan menguasai ilmu alat seperti nahwu sharaf badi’ balaghoh dll. Please mohon jawabannya.

    1. mbaaaaaah ya jelas belum lah………itu kan metode yang benar ….kalau mereka memakai ilmu cabang islam itu tentunya ngga ada debat ini dong ……mbah yang ada mereka itu ilmunya TERJEMAHKAN LANG SUNG kalau perlu Al Qur’an diterjemahkan dgn google translate….he…he….gitu lo mbaaaah…..

      1. @mamo
        Mbah cuman tanya lho, apabila ga dijawab kan sudah jelas masalahnya kan. Mbah tahu kok niat sebenarnya si Ajam cuman dia ga mau terus terang mengakuinya atau takut.

        Kayaknya komen-komen Ajam tuh diambil dari sebuah majalah Islam (kelompok wahabiyah)yang pernah mengulas Asy’ariyah.

  77. Sekali lagi saya sampaikan di forum ini, JAUH LEBIH UTAMA DAN MENYELAMATKAN adalah menghindari perdebatan yang tidak membawa manfaat apalagi sudah masuk wilayah yang sensitive dan kita semua bukan termasuk yang sangat ahli.
    Nah, ini saya sampaikan sebuah pengalaman ruhani teman saya dan sekarang masih hidup dan Insya Allah bekerja di Kalimantan. Sebut saja namanya Suparmin (maklum orang desa). Dia termasuk seorang yang bermadzab Syafi’i dalam fiqih dan menganut teologi Imam Asy’ari/Maturidi. Kebetulan dia ikut toriqoh dan sebagai murid dia tergolong murid yang taat.
    Suatu ketika pada saat dzikir, dia menerima anugerah ruhani yang luar biasa yaitu dia mampu membaca Surah Yasin dengan tartil dan tertib sebanyak 3 kali berturut-turut yang lamanya lebih lama dari waktu adzan berkumandang dan dalam keadaan sadar sebab dia juga mendengar suara adzan tersebut. Saya percaya benar cerita tersebut karena memang dia layak dipercaya dan saya mendengar langsung. Ini menunjukkan aqidahnya shahih dan anugerah tersebut sebagai pemberian hadiah oleh Allah agar semakin menambah kuat keyakinan dan keimanannya serta keistiqomahan dalam beribadah.
    Nah, kalau menurut pemahaman kelompok salafy-wahabi bahwa aqidah tawhid asy’ariyah itu sesat tentulah kiranya tidak mungkin Allah memberi anugerah ini pada hambanya. Ini hanya sebagian kecil bukti bahwa teologi asy’ariyah tidaklah sesat sebagaimana pemahaman kaum wahabi. Dan saya yaqin masih banyak peristiwa-peristiwa Ilahiyah yang diperoleh para ulama-ulama salaf yang tergolong asy’ariyah sebagaimana telah saya tulis sebelumnya.
    Apakah sudah pernah ada ustadz2 wahabiyah yang meraih anugerah Ilahiyah seperti ini? Bagaimana pendapat anda tentang hal ini?

  78. Sebenarnya tidak sulit kok memahami makna istiwa Allah bersemayam di atas Arsy. Ya, tidak sulit bagi yg hatinya jernih dan mendapat pertolongan Allah. Kalau Allah menghendaki salah seorang hambanya memahami tentu tidak ada yg sulit bukan…………

  79. BENAR BAHWA MEMANG KITAB AL IBANAH MEMANG TELAH DIKOTORI OLEH KAUM MUJASIMAH DAN INI MENURUT PENELITIAN MUTAKHIR DAN SHAHIH. DAN SEMUA JUGA TAHU KALAU BELIAU DULU MU’TAZILAH DAN MURID DARI JUBA’I.

    SEJARAH MENCATAT BAHWA IMAM ASY’ARI LAH YANG MERUNTUHKAN MU’TAZILAH YANG PADA SAAT ITU MERAJALELA.

    1. memang benar bahwa Imam Abul Hasan yang meruntuhkan paham mu’tazilah. tapi anehnya kalianlah yang menghidupkan kembali paham tersebut. ditambah lagi, kalian malah menisbatkan diri kalian sebagai pengikut Imam Abul Hasan.

      simak lagi bantahan Imam Abul Hasan pada kelompok Mu’tazilah

      ????? ?????? ?? ???? ??? ????? ??? ??? ??? ????? ?????? ?? ???????? ??? ??????? ??? ??? ??? ????? ??? ?? ??? ??? ????? ???? ????? ??????? ???? ???? ??? ?? ???? ?????? ???? ????? ???? ????? ???? ??????.
      ???? ?? ??? ?????? ??? ????? ????? ?????????? ???? ?? ???? : ?? ???? ??? ??????? ???? ??? ??? ??? ??? ?? ???????? ?? ???? : ?? ???? ???? ??? ??????? ???????? ???? ?? ???? ???????? [??? ?????] : ?????????.

      “Dan telah berkata orang-orang dari kalangan Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah (Khawarij) : ‘Sesungguhnya makna istiwaa’ adalah menguasai (istilaa’), memiliki, dan mengalahkan. Allah ta’ala berada di setiap tempat’. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahlul-Haq (Ahlus-Sunnah). Mereka (Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah) memalingkan (mena’wilkan) makna istiwaa’ kepada kekuasaan/kemampuan (al-qudrah). Jika saja hal itu seperti yang mereka katakan, maka tidak akan ada bedanya antara ‘Arsy dan bumi yang tujuh, karena Allah berkuasa atas segala sesuatu. Bumi adalah sesuatu, dimana Allah berkuasa atasnya dan atas rerumputan.
      Begitu juga apabila istiwaa’ di atas ‘Arsy itu bermakna menguasai (istilaa’), maka akan berkonsekuensi untuk membolehkan perkataan : ‘Allah ber-istiwaa’ di atas segala sesuatu’. Namun tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang membolehkan untuk berkata : ‘Sesungguhnya Allah ber-istiwaa’ di tanah-tanah kosong dan rerumputan’. Oleh karena itu, terbuktilah kebathilan perkataan bahwa makna istiwaa’ (di atas ‘Arsy) adalah istilaa’ (menguasai)” (Al-Ibaanah, hal. 34-37)

  80. @AJAM
    Kutipan nt soal jahamiyah dari Al Ghunyah karya syekh Abdul Qodir al Jilani ada yang nt pelintir demi nafsu nt ya.

    Apa nt temukan dalam kitab tersebut beliau syekh abdul qodir al jilani menyesatkan asy’riyah?
    Apa nt ga tahu kalau beliau juga mengakui asy’riyah…? JANGAN PELINTIR PENDAPAT ULAMA BESAR

    1. saya tidak pernah berkata bahwa yang beliau bantah adalah asy’ariyah. beliau menyebutkan ciri2 Jahmiyah dan kebetulan beberapa ciri2 itu sama dengan asy’ariyah.

      so, tidak adil jika celaan Imam Abdul Qodir hanya ditujukan pada jahmiyah tok, tapi asy’ariyah tidak.

  81. @ all ASWAJA
    bagaimana mau paham dan memahami apa yang udah mas-mas jelaskan. mereka itu orang-orang yang akidah tauhidnya udah salah duluan. Kalo tauhidnya udah salah, apalagi yang lainnya…

    kita doakan mereka mau SEDIKIT membuka ruang hati untuk mau SEDIKIT memikirkan apa yang udah BANYAK mas-mas sampaikan diforum ini.amien

  82. salamu1alaikum…

    seperti yang telah saya pelajari, paham Asy`ariyah muncul pertama kali karena adanya paham mu`tazilah dan khawarij, untuk meluruskan pemahaman yang salah ketika itu, dan pemahaman ini masih diteruska hingga sekarang, dengan tetap berpacu kepada dalil naqli dan `aqli.
    Pembagian sifat Allah menjadi 20, tidak berarti hanya mengakui Allah memiliki 20 sifat, begitu juga dengan asmaul husna, tidak berarti allah hanya memiliki 99 asma, masih banyak asma dan sifat Allah yang tertulis di Al-qur’an dan hadits namun tidak masuk ke dalam keduanya..
    Memang sangat riskan sekali jika kita bahas tentang teologi di sini, jangankan mendapatkan kebenaran, naudzubillah jika ternyata kita semakin bingung dan dibutakan dengan kebencian menyalahkan orang lain dan menganggap diri paling benar. Allah tidak membutuhkan hambanya meributkan bagaimana `ArsyNya, Allah di langit atau tidak, apa yang dimaksud dengan Tangan, Kalam, Penglihatan Allah.
    Semoga kita bisa berjalan bersama tanpa ada perdebatan yang menimbulkan kebencian dan caci maki…. Ihdina ya Rabb…

  83. @ajam

    Mau nanya lagi nih mas ajam.
    Ada berapa ayat sih dalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang sifat Allah?

  84. Bismillah…
    UNTUK SAUDARA-SAUDARA SALAFIYUN SEMUA,saya himbau agar meninggalkan blog ini, debat ini tidak akan ada habisnya.malah membuat kita melupakan hal2 yg lebih penting(beribadah Kpd Allah ‘azza wa jalla) dan menuntut Ilmu Syar’i.

    UNTUK SAUDARA2 KU KAUM MUSLIMIN SEMUA, terutama yg salah paham dgn salafiyun, kami mengajak agar mengakhiri ini smua, mari bersama2 menuntut ilmu dgn objektif.
    Minal Kitabi wa sunnah, dan jauhilah perpecahan.

    1. @Abu Abdillah

      Tolong himbau juga saudara-saudara wahabi untuk meninggalkan kebiasan mengatakan syirik, bidah, kafir , Himbau juga saudara-saudara wahabi untuk belajar sopan santun.
      kalo saudara-saudara wahabi gak merasa paling benar sendiri dan gak mudah menuduh kafir,bidah syirik dan tahu sopan santun , pastilah tidak ada perpecahan kaum muslimin.
      Himbaulah saudara-saudara wahabi ente mulai dari yang terdekat dulu, yaitu keluarga ente saudara, teman, teman dari teman, saudara dari saudara dst……… .

  85. Abu Abdillah@

    Muhammad Idrus Ramli sang penulis artikel postingan di atas berkata: “Dalam beberapa kali diskusi dengan kaum Wahhabi, seperti awal Agustus 2010 di Sampang, beberapa bulan sebelumnya di Yogyakarta dan Juli 2010 di Denpasar, tidak sedikit dari kalangan Wahhabi yang melontarkan pernyataan kepada saya, “Kita tidak perlu berdialog soal-soal khilafiyah antara Sunni dengan Wahhabi. Ini sama sekali tidak penting. Musuh kita orang-orang kafir, Amerika, Zionis dan lainnya yang dengan rapi berupaya menghancurkan umat Islam.” Begitulah kira-kira ucapan mereka.

    Tentu saja ucapan itu mereka lontarkan ketika posisi mereka terdesak dalam arena perdebatan dan diskusi ilmiah yang disaksikan oleh publik. Mereka merasa khawatir, pandangan-pandangan mereka yang keluar dari mainstream kaum Muslimin akan terbongkar kelemahan dan kerapuhannya. Terbukti, mereka sendiri ketika berbicara di hadapan orang awam, tidak pernah berhenti membid’ahkan dan mengkafirkan umat Islam di luar golongan mereka. Bahkan selama ini, kelompok mereka sangat agresif membicarakan dan menyebarkan isu-isu khilafiyah antara Sunni dengan Wahhabi, maupun dengan lainnya.”

  86. beberapa forumer disini menuduh salafi/wahabi merusak kitab Al Ibanah. aneh bin ajaib, padahal dulunya golongan kalian mati-matian menyatakan bahwa kitab Al Ibanah itu kitab fiktif, rekaan salafi/wahabi belaka. sekarang setelah bukti eksistensi kitab itu benar-benar ada, kalian mengalihkan tuduhan bahwa salafi/wahabi merubah2 isi kitab tersebut.

    apa buktinya? sekali lagi, kaidah dalam menuduh adalah si penuduhlah yang wajib mendatangkan bukti, bukan si tertuduh.

  87. jadi kesimpulannya, kesalahan Asy’ariyun itu ada 2:

    1) menghidupkan kembali paham Mu’tazilah dan Jahmiyah
    2) menisbatkan diri sebagai pengikut Imam Abul Hasan

  88. Capek deh, cuman muter-muter ga jelas juntrungannya. Ajam juga ga bisa komentari cerita saya diatas. Ajam juga ga mau jawab seluruh pertanyaan saya.
    Jadi tidak ada yang pelu dibahas lebih lanjut karena tidak ada manfaatnya sama sekali.

  89. anda tidak bisa menangkap maksud saya. cerita anda itu menyebutkan bahwa dahulunya Imam Abul Hasan berpaham Mu’tazilah, lalu menjadi berpaham Kullabiyah dan akhirnya berpaham Ahlus Sunnah. beliau bantah semua paham beliau yang terdahulu. saya setuju dengan cerita anda ini.

    akan tetapi, paham Mu’tazilah yang beliau bantah, justru kalian ikuti dan kalian nisbatkan sebagai paham Imam Abul Hasan, padahal beliau berlepas diri darinya. telah saya sebutkan kemiripan paham Mu’tazilah dan Jahmiyah dengan paham Asy’ariyah, salah satunya adalah mentakwil sifat Alloh. Alhamdulillah sejauh ini, belum ada yang bisa mengingkari kenyataan ini.

    so, paham yang kalian ikuti itu sebenarnya bukan paham Imam Abul Hasan, melainkan paham Mu’tazilah dan Jahmiyah, akan tetapi kalian berdusta atas nama beliau karena telah menisbatkan paham kalian itu pada beliau yang telah berlepas diri dari kalian.

    jadi ada beberapa fakta yang bisa kita ungkap:
    1) paham Mu’tazilah dan Jahmiyah mentakwil makna sifat2 Alloh dari dhohirnya. ini sangat khas dengan paham Asy’ariyah masa kini.
    2) Mu’tazilah dan Jahmiyah mengingkari keberadaan Alloh di atas langit/di atas ‘Arsy. ini juga sangat khas dengan Asy’ariyah masa kini.
    3) Mu’tazilah dan Jahmiyah menggelari ahlus sunnah dengan gelar Musyabbih dan Mujassim. ini juga sangat khas dengan Asy’ariyah masa kini.
    4) Ibnu Hajar yang terjatuh dalam aqidah takwil, tidak pernah menggelari Ibnu Taimiyah sebagai Musyabbih atau Mujassim yang beraqidah tatsbit. ini sangat kontras dengan Asy’ariyah masa kini.

  90. ajam@betul kata abu abdillah,mending kita tinggalkan perdebatan ini,selama ini perdebatan tdk ada juntrungannya,malah yg ada saling hujat antar sesama muslim.kita cari ilmu yg shahih,dan bukan disini tempatnya.semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua dalam aqidah dan tauhid yg lurus dan tetap istiqomah,sampai Allah mewafatkannya.syukron,mohon maaf semuanya,wassalam.

    1. masemen@

      Masemen kalau kepojok dalam debat kok terus ngambek kayak gitu ya rata-rata pengikut wahabi itu? Aneh ya, bukannya ngikuti kebenaran malah mengajak menghindar, gemana toh Sampeyan-sampeyan ini. Jangan sombong terhadap kebenaran ASWAJA, nanti bisa nyesel di akherat tiada gunanya. Camkan itu masemen.

  91. @’Ajam, antum menuliskan “Mu’tazilah dan Jahmiyah mengingkari keberadaan Alloh di atas langit/di atas ‘Arsy. ini juga sangat khas dengan Asy’ariyah masa kini. Boleh kami simpulkan bahwa antum berpemahaman keberadaan Allah Azza wa Jalla di atas langit / di atas ‘Arsy atau dengan kata lain Allah Azza wa Jalla bertempat di atas langit / di atas ‘Arsy. Tolong di jawab dahulu konfirmasi dari kami ini.

          1. Tadi antum berpendapat keberadaan Allah ta’ala di atas langit atau di atas ‘arsy. Sebelum ada langit dan arsy, Allah ta’ala ada di mana ?

        1. menurut logika anda, jika Alloh istiwa’ di atas ‘Arsy, berarti Alloh butuh pada ‘Arsy atau butuh pada tempat. begitu bukan?

          jika harus demikian, maka saya punya qiyas yang semisal. anda pasti meyakini bahwa Alloh yang menghidupkan dan mematikan. namun kenapa Alloh memerintahkan malaikat pencabut nyawa untuk mematikan manusia? apakah Alloh butuh seorang pembantu?

          Alloh juga maha memberi rizki, tapi kenapa Alloh memerintahkan malaikat untuk membagi rizki? apakah Alloh butuh seorang pembantu?

          kenapa Alloh perintahkan manusia dan jin untuk menyembah pada-Nya? apakah Alloh butuh disembah?

          kenapa Alloh perintahkan untuk berinfaq di jalan-Nya? apakah Alloh butuh uang infaq dari kita?

          jika anda jawab TIDAK, seharusnya berlakukan juga qiyas ini pada sifat istawa’ Alloh. Alloh istawa’ di atas ‘Arsy bukan karena butuh pada ‘Arsy atau pada tempat.

      1. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).
        “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS Al Ankabut [29]:6 )

        1. jawabnya:

          “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Alloh yang menciptakan bumi dan langit dalam enam masa, lalu Dia istiwa’ di atas ‘Arsy…dst” (Al A’rof 54)

          sependek pengetahuan saya, tidak ada ayat Alquran ataupun Al Hadits yang menyebutkan keberadaan Alloh sebelum Dia menciptakan bumi dan langit. jadi jika anda bertanya dimana Alloh sebelum adanya makhluq, saya jawab “TIDAK TAHU”.

          yang ada hanyalah ayat Alquran atau Al Hadits yang menyebutkan keberadaan Alloh di atas langit / ‘Arsy setelah Dia menciptakan bumi dan langit (dan makhluq lainnya).

    1. saya juga ingin bertanya pada akhuna Ummati, semoga anda berkenan menjawab dengan lugas dan tegas.

      apakah anda meyakini bahwa golongan Mu’tazilah dan Jahmiyah mengingkari keberadaan Alloh di atas langit?

      1. Nte sedang dialog dg mutiarazuhud, kok tanya ke Ummati, gemana nte ini asal seruduk aja sepeti babi hutan. Lihat kiri kanan jangan asal seruduk aja.

  92. Masya Allah, jadi makin muter2 aje kesitu lagi kesitu lagi. Bang Ajam, fahan Asy-ariyah yang kami ikuti itu bukan paham seperti Mu’tazilah apalagi Jahmiyah. Kan ude dibahas panjang banget tuh ame Ust. Ahmad Syahid dan Mbah Redhy tentang Aqidah Asy-ariyah. Trus ente balik lagi bilang sama aje ame Jahmiyah. Dijelasin lagi ame Ust. Ahmad, ente balik lagi sama aje ame Mu’tazilah. Jujur nih bang, sebenernye ente bise baca Kitab Kuning gak sih spt yg Mbah Redhy tanya..??? Entu ade kitab Aqidah namanye Tijanud Darori. Tipis emang kitabnye, tapi cb ente pelajarin dulu tuh, tp pake guru yeh… jg dibace sendirian entar puyeng lagi…

    1. Bang Nur, ya neh si Ajam muter-muter seperti keledai penggilan. Hati yg sudah parah terkena virus wahabi bakalan susah diobati, kasihan juga ya kalau sampai kebawa mati itu virus-virus wahabi?

  93. sudah jelas Mu’tazilah dan Jahmiyah itu sama aqidahnya dengan aqidah Asy’ariyah dalam memahami asma wa shifat Alloh. membantah aqidah Mu’tazilah dan Jahmiyah otomatis membantah juga aqidah Asy’ariyah.

    toh, anda tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa Mu’tazilah dan Jahmiyah itu beraqidah takwil terhadap ayat2 sifat Alloh. aqidah inilah yang dibantah oleh Imam Abul Hasan dan ulama ahlus sunnah yang lain.

    1. @’Ajam , keliru kalau mengatakan Mu’tazilah dan Jahmiyah itu sama 100% aqidahnya dengan Asy’ariah. Bisa benar jika antum menyatakan bahwa aqidah Mu’tazilah dan Jahmiyah dan aqidah Asy’ariah menolak memaknai“Arrahmaanu ‘alal ‘arsy istawaa (QS Thaha [20]:5 ) sebagai Ar’rahman bertempat di atas Arsy.
      Kami meyakini Arrahmaanu ‘alal ‘arsy istawaa (QS Thaha [20]:5 ) namun kami menolak memahaminya sebagai Ar’rahman bertempat di atas Arsy.
      Imam Sayyidina Ali KW yang selalu memandang Allah Azza wa Jalla mengatakan
      “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333)
      Begitupula Imam Sayyidina Ali KW yang selalu memandang Allah Azza wa Jalla mengatakan
      “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya” (diriwayatkan oleh Abu manshur al baghdadi dalam kitab alfarq baynal firoq hal 333)
      Allah ta’ala sendiri yang menyampaikan tentang diriNya bahwa “Aku adalah dekat”

      “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat“.( Al Baqarah [2]:186 ).
      “Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah [56]: 85 ).
      “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf [50] :16 )
      “Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (QS Al-’Alaq [96]:19 )

      Allah ta’ala adalah dekat tanpa bersentuh, Allah ta’ala adalah jauh tanpa berarah dan tanpa berjarak.

      Allah ta’ala adalah dekat hanya dapat dikenal melalui hati atau hakikat keimanan

      Allah ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu ’Umar r.a.:
      “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan/mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”

      1. 100% sih enggak. yang saya katakan adalah sama dalam memahami sifat2 Alloh. dan inilah salah satu alasan ulama ahlus sunnah mencela Mu’tazilah dan Jahmiyah. telah saya sebutkan atsar mereka dalam posting terdahulu.

        jika anda membenarkan aqidah Asy’ariyah tentang sifat2 Alloh, maka berarti anda membenarkan juga aqidah Mu’tazilah dan Jahmiyah yang telah dicela oleh para ulama ahlus sunnah.

        anda membawakan atsar dari Ali rodhiallohu’anhu dari kitab Al Fariq bainal Firoq karya Abdul Qohir Al Baghdadi. saya katakan bahwa Abdul Qohir ini tidak dikenal sebagai ahli hadits. jika benar, coba anda sebutkan sanadnya, insyaAlloh anda tidak akan bisa karena memang atsar itu dibawakannya tanpa sanad.

        sebelum membahas aqidah manakah yang benar antara Mu’tazilah/Jahmiyah/Asy’ariyah dengan Wahabi/Salafi tentang sifat2 Alloh, saya katakan bahwa anda tidak akan bisa mngingkari kenyataan bahwa aqidah Mu’tazilah/Jahmiyah itu sama dengan aqidah Asy’ariyah dalam memahami sifat2 Alloh. karena itu, bantahan ulama ahlus sunnah kepada Mu’tazilah/Jahmiyah otomatis berlaku juga untuk membantah Asya’riyah, meskipun tidak secara sharih mereka menyebut nama Asy’ariyah.

        1. Mu’tazilah berpemahaman bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Tuhan mendengar dengan zatNya. Tuhan melihat dengan zatNya dan Tuhan berkata dengan zatNya. Kata mereka, dasar paham ini adalah tauhid. Kalau Tuhan pakai sifat maka berarti Tuhan dua yaitu Zat dan Sifat. Paham ini bertentangan dengan paham kaum Ahlussunnah wal Jama’ah atau kaum sunni atau kaum asy’ariah atau kaum berdasarkan kitab al-ibanah versi sebelum “diubah” oleh sebagian ulama (ahli ilmu). Selengkapnya http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/11/al-ibanah/

        2. Assalamu ‘Alaikum Wr Wb. Ana baca dialog ini sangat menarik dan menambah wawasan. Hanya ada yg mau saya tanyakan, dan mohon dijawab.
          @’Ajam: Antum tulis “100% sih enggak.” maksudnya apa.? Apa ini merupakan jawaban dari pertanyaan Bang Nur “Jujur nih bang ‘Ajam, sebenernye ente bise baca Kitab Kuning gak sih spt yg Mbah Redhy tanya..???”. Kalau itu memang jawabannya, berarti ilmu antum masih bisa antum kembangkan lagi dengan belajar lebih dalam. Kalau itu bukan jawabannya, mohon antum jawab pertanyaan Bang Nur dan Mbah Redhy dengan jujur.
          “Wa laa taquulu maa laa taf’aluun”
          Wassalam

  94. Insya Allah diskusi ini brmanfaat bagi yg bisa mengambil maknanya dg niatan mencari jalan mendekati Allah SWT…sangat dimungkinkan ada hawa nafsu yg terungkapkan di sini, krn manusia d karunia hw nafsu, yg penting bisa mengendalikan agar tdk mnjdi jauh dari Allah SWT…
    @admin ummati, mohon d share klo ada artikel ttg kitab2 versi wahabi truz d bandingkan dg kitab asli nya, spt al ibanah yg didiskusikan d atas, terima kasih…monggo d lanjut diskusinya, klo bisa kembali k topic awal…maaf

  95. Wow makin keren nih.

    Sudahlah Ajam, kalau memang ilmu nt tentang teologi/kalam sudah melebihi imam-imam ulama yang berpaham asy’riyah seperti saya tulis sebagian diatas BOLEHLAH saya percaya sama Al Imam Ajam, mujtahid masa kini dari Indonesia.

    Kalau ny dah bisa ngalahin Imam al Ghazali, Imam Haramain Juwaini, Ibnu Hajar Asqolani, Jalaluddin Suyuthi, Ibnu Athaillah, Ibnu Arabi, Imam al Qusyairi dll BOLEH ANDA KOAR_KOAR DISINI.

    Tetapi buktikan dulu di negeri ini anda memamng layak disebut alim sekaligus arif.

    SAYA JAUH LEBIH PERCAYA SAMA GURU SAYA SENDIRI DARIPADA NT DAN GURU SAYA TUH SANAD ILMUNYA SANGAT DAN SANGAT JELAS SEKALI BERSAMBUNG HINGGA ROSULULLOH SAW.

    SEKIAN DAN SAYA TIDAK AKAN MELAYANI AJAM LAGI PADA ARTIKEL INI

    WASSALAM

    Mbah Redhy Abu Jamal

      1. Mu’tazilah berpemahaman bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Tuhan mendengar dengan zatNya. Tuhan melihat dengan zatNya dan Tuhan berkata dengan zatNya. Kata mereka, dasar paham ini adalah tauhid. Kalau Tuhan pakai sifat maka berarti Tuhan dua yaitu Zat dan Sifat. Paham ini bertentangan dengan paham kaum Ahlussunnah wal Jama’ah atau kaum sunni atau kaum asy’ariah atau kaum berdasarkan kitab al-ibanah versi sebelum “diubah” oleh sebagian ulama (ahli ilmu).

        1. Na’am, ahsan Mas Mutiara Zuhud, barokallohu fik. Hanya orang-orang yg mengingkari fakta sejarah aja yg bilang aqidah Asy’ariyah itu sama dg Mu’tazilah, atau kalau tidak begitu mereka menjungkir-balikkan fakta sejarah. Tidak ada zaman sekarang ini kaum yg hobby berbuat kerusakan seperti itu kecuali orang-orang Salafy Wahabi.

        2. Mas Mutiara Zuhud, kenapa antum menyebut “PERUBBAH/PERUSAK” itu sebagai “AHLI ILMU”, apakah maksudnya mereka itu karena berbeda dengan apayg disebut AHLU DZIKRI seperti dalam ayat Al-Qur’an “fas’aluu ahla al-dzikri inkuntum laa ta’lamuun”?

          1. Yup, mereka tetaplah “ahli ilmu” atau ulama namun sekarang ini kita harus membedakannya dengan ulama sholeh atau alim ulama. Sekarang ini bisa kita temukan “ahli ilmu” atau ulama sebatas “nilai” dalam ijazah pendidikan mereka namun hakikat “kelulusan” belumlah mereka peroleh. Hakikat “kelulusan” dari mereka yang tholabul ilmi sejatinya adalah ke-sholeh-an atau ke-ihsan-an. Ke-ihsan-an itu, cuma ada dua tingkatan. Tingkatan utama adalah mereka yang dapat memandang Allah Azza wa Jalla dengan hati atau hakikat keimanan sedangkan tingkatan di bawah itu adalah mereka yang selalu yakin bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala perbuatan kita.

        3. kata ulama ahlus sunnah ga begitu. kata mereka, Mu’tazilah dan Jahmiyah itu mengingkari keberadaan Alloh di atas ‘Arsy. mereka merubah pengertian istawa’ dengan istawla’. mereka merubah sifat “kedua tangan” dengan makna “dua kenikmatan”. mereka tetap memberikan sifat pada Alloh.

          tidak ada perbedaan antara aqidah Mu’tazilah dan jahmiyah dengan Asy’ariyah. atau mungkin anda belum mengenal aqidah Mu’tazilah dan Jahmiyah?

  96. Baiklah, agar diskusi tidak berlarut-larut dalam hal aqidah atau i’tiqad, kami sampaikan saja apa yang dipahami oleh saudara-saudaraku Salaf(i) atau Wahhabi. Mereka berpegang salah satunya dengan kitab/teks berikut http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/09/aqidah.pdf.
    Mereka memahami berdasarkan dzahirnya, sementara hakikat maknanya mereka serahkan kepada Allah Azza wa Jalla

    Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad menyatakan:
    “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”
    “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.
    Ulama-ulama kami “melalui” Syariat, Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat.
    Ulama-ulama kami menyampaikan bahwa maha suci Allah ta’ala dari “di mana” dan “bagaimana”

    Sedangkan mereka mengatakan bahwa Allah ta’ala menciptakan ‘Arsy dan “..kemudian Dia-pun bersemayam di atas ‘Arsy”.(As-Sajdah:4)
    Bersemayam ditafsirkan pula bertempat atau berada di atas ‘Arsy.

  97. Baiklah, agar diskusi tidak berlarut-larut dalam hal aqidah atau i’tiqad, kami sampaikan saja apa yang dipahami oleh saudara-saudaraku Salaf(i) atau Wahhabi. Mereka berpegang salah satunya dengan kitab/teks berikut http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/09/aqidah.pdf.
    Mereka memahami berdasarkan dzahirnya, sementara hakikat maknanya mereka serahkan kepada Allah Azza wa Jalla

    Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad menyatakan:
    “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”
    “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.
    Ulama-ulama kami “melalui” Syariat, Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat.
    Ulama-ulama kami menyampaikan bahwa maha suci Allah ta’ala dari “di mana” dan “bagaimana”

    Sedangkan mereka mengatakan bahwa Allah ta’ala menciptakan ‘Arsy dan “..kemudian Dia-pun bersemayam di atas ‘Arsy”.(As-Sajdah:4)
    Bersemayam ditafsirkan pula bertempat atau berada di atas ‘Arsy.

    Allah Azza wa Jalla di atas ‘arsy atau ‘arsy di bawah Allah Azza wa Jalla

    sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam:

    Maknanya: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).

    Hadis Nuzûl dipahami mereka secara lahirnya yaitu Allah subhânahû wa ta‘âlâ turun ke langit dunia, turun dari atas ke bawah dan berpindah, maka pemahaman ini akan melahirkan Ittihâd sekaligus Hulûl lantaran langit ada tujuh lapis, dan Allah subhânahû wa ta‘âlâ turun ke langit dunia atau langit pertama sehingga langit ke dua sampai ke enam bahkan ‘Arasy akan berada di atas Allah subhânahû wa ta‘âlâ, na‘ûdzu billâh.

    Jika konsep “Bi Lâ Kayf” telah tertanam dalam keyakinan kita, maka segala karakter turunnya makhluk yaitu pergerakan dari atas ke bawah dan berpindah pasti ternafi dari Allah subhânahû wa ta‘âlâ karena segala bentuk perpindahan adalah sebua…h “Kayf”. Maka, kata “nuzûl, istiwâ’” lebih layak kita katakan Nuzûl-Nya Allah subhânahû wa ta‘âlâ adalah Nuzûl yang layak bagi keagungan dan kemulian-Nya tanpa berpindah, tanpa Kayf. Begitu pun dengan Istiwâ’, Allah Yang Maha beristiwâ’, tidak dapat dikatakan “bagaimana” (sebuah kalimat istifhâm untuk menanyakan metode, tata cara, visualisasi), karena bagaimana mungkin kita akan menanyakan “bagaimana” padahal segala bentuk metode, tatacara, visualisasi (Kayfiyyât) semuanya ternafi dari Allah subhânahû wa ta‘âlâ.

    1. sebenarnya saya tidak pernah memulai membahas aqidah mana yang benar antara yang takwil dengan tatsbit. saya hanya ingin menunjukkan kesamaan aqidah antara Mu’tazilah/Jahmiyah dengan Asy’ariyah. dan alhamdulillah sodara mutiarazuhud pun tidak bisa mengingkari kenyataan ini.

      1. @ajam
        coba silahkan ente tunjukkan apa saja itu pemahaman jahmiah beserta kitab2 nya,
        ane pngen tahu,ente bener2 faham apa nggak,kalo ane sih jelas orang yg awam..

      2. Kami sudah sampaikan di atas bahwa Aqidah mu’tazillah/jahmiyah sangat berbeda dengan Asy’ariah. Yang sama cuma menghindari makna bahwa Allah ta’ala bertempat di atas ‘arsy. Mu’tazillah menolak sifat Allah sedangkan kami menyembah Allah ta’ala yang Wujud (ada), Qidam (Terdahulu), Baqo’ (Kekal), Mukhollafatuhu lil hawaadits (Tidak Serupa dengan MakhlukNya), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya), Wahdaaniyah (Esa), Qudrat (Kuasa), Iroodah (Berke…hendak), Ilmu (Mengetahui), Hayaat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashor (Melihat), Kalam (Berkata-kata), Qoodirun (Yang Memiliki sifat Qudrat), Muriidun (Yang Memiliki Sifat Iroodah), ‘Aalimun (Yang Mempunyai Ilmu), Hayyun (yang Hidup), Samii’un (Yang Mendengar), Bashiirun (Yang Melihat), Mutakallimun (Yang Berkata-kata). Silahkan antum berkeyakinan bahwa Allah tidak wujud, tidak qidam dll.

        1. sudah saya sampaikan bahwa Mu’tazilah dan Jahmiyah juga memberikan sifat pada Alloh. simak kembali atsar ulama ahlus sunnah di posting saya di muka. Mu’tazilah dan Jahmiyah memalingkan makna istiwa’ dengan istawla’ (menguasai). mereka juga memalingkan makna dua tangan dengan dua kenikmatan.

          tolong disimak dulu atsar ulama ahlus sunnah itu, baru anda berkomentar.

          1. Mu’tazilah:

            Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah berkata :

            ??? ??????? ??????? ?????? ????? ???? ? ???????: ??? ??? ??? ????? ? ??? ?? ?????? ???? ?? ???? ??? ?? ????: ????? ??? ????????? ??? ???????? ??? ???????? ????? ???????? ?????????? ??? ?????? ????? ?? ?????? ? ???? ?????? ??? ???????? ?? ??????? ? ????? ???????? ???????? ?????? ???? ??? ????????? ????? ??

            ????????? ????? ?????????? ????? ??????? ????? ????

            “Mereka (Ahlul-Hadits) tidak meyakini sifat-sifat itu dengan cara menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Mereka mengatakan bahwa Allah ta’ala telah menciptakan Adam ‘alaihis-salaam dengan dua tangan-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an : “Allah berfirman : ‘Hai Iblis, apa yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Mereka (Ahlul-Hadits) juga tidak menyimpangkan Kalamullah dari pengertian yang sebenarnya, dengan mengartikan kedua tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau dua kekuatan sebagaimana yang dilakukan oleh MU’TAZILAH dan JAHMIYAH – semoga Allah membinasakan mereka – . Mereka (Ahlul-Hadits) juga tidak me-reka-reka bentuknya dan menyerupakannya dengan tangan makhluk-makhluk, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Musyabbihah – semoga Allah menghinakan mereka –“ (‘Aqidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits oleh Abu ‘Utsman Ash-Shabuni, hal. 26, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 2/1415)

            bukankah Asy’ariyah juga memalingkan sifat tangan Alloh sebagai nikmat atau kekuatan. sama persis kan?

          2. Mu’tazillah mengingkari sifat Allah. Sedangkan kami mengimani DzatNya, SifatNya, NamaNya, PerbuatanNya.
            Ulama kami menyetujui makna istiwa dengan bersemayam namun menolak maknanya sebagai bertempat.
            Bersemayam di sini adalah seperti bersemayam di hati , begitupula Allah ta’ala dekat di hati atau dengan kata lain muslim yang terbaik adalah muslim yang ihsan yakni muslim yang dapat memandang Allah ta’ala dengan hati.

          3. anda katakan bahwa mereka beraqidah ta’thil itu tidak mutlak benar tapi juga tidak mutlak salah. ada sebagian dari mereka yang beraqidah demikian, namun ada juga sebagian yang lain yang beraqidah tahrif.

            bukti2 sudah saya sampaikan, yaitu celaan ulama ahlus sunnah seperti Abul Hasan Al Asy’ari, Ibnu Abdil Barr, Abu Utsman Ash Shobuni, Abu Hatim Ar Rozi dan lainnya bahwa mereka memalingkan (tahrif) sifat Alloh keluar dari dhohirnya.

            saya rasa apa yang diucapkan oleh para ulama ahlus sunnah tentang mereka ini sangat jelas menunjukkan bahwa aqidah mereka adalah memberikan sifat pada Alloh yang menurut mereka lebih pantas dan lebih agung bagi Alloh. ini sama persis dengan aqidah Asy’ariyah masa kini (tanpa Abul Hasan Al Asy’ari).

      3. Anda tidak konsisten. Anda bilang ada kesamaan.
        Sebelumnya bilang asy’ariyah=mu’tazilah (titik).
        pernyataan pertama dan kedua sangat berbeda. Begitulah kontradiksi pengikut faham wahabi. Jawabannya ga bisa dipegang. Makanya kalo nulis mikir dulu. Lalu bagaimana dengan akidahmu yang jelas tasybih??? Bin baz bilang Allah diangkat oleh beberapa malaikat berwajah hewan?? Subhanallah..

        1. toh, sejak awal saya telah menunjukkan kesamaan ay’ariyah dan jahmiyah/mu’tazilah dari sisi aqidah tentang sifat2 Alloh. saya juga tidak berkata “ay’ariyah=jahmiyah/mu’tazilah 100%”.

    1. oh jadi ente nggak tahu persis ya,alamaak…
      sama aja kaya ane,wkwkk,silahkan ajam tampilkan…
      ane kpengen tahu,ane org awam dan ente kayaknya hebat deh nyamain2 nya..
      jadi ane mau belajar nih…

    1. @ajam
      wkwkwkwkk…..ternyata,hm…hm…ane kira ente faham bener ajam…
      sama ente kaya ane,jd nggak bisa belajar nih,wkwkwk
      besok2 cari kitab nya ya jangan asal njeplak doank,
      kan ane mau belajar dr ente jd nggak bisa neh…he..he…

  98. Ping-balik: Bukti Kebenaran Akidah Asy’ariyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah « UMMATI PRESS
  99. @ ajam
    klo menurut anda ada kesamaan emangnya kenapa?
    apakan sesuatu yang memiliki satu dua kesamaan maka semuanya sama. contohnya monyet juga punya jari lima mata dua kaki dua sama kaya manusia tp ngak pernah tuh menyamakan seluruhnya manusia itu monyet. udah dikatakan sama mas mutiara zuhud meskipun ada kesamaan tapi antara mutazilah dan asyariyah ada perbedaan yang utama yaitu perbedaan yang dikemukakan mas mutiara zuhud.
    wallohualam

    1. alhamdulillah jika memang diakui ada kesamaan aqidah antara Asy’ariyah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyah.

      yang perlu saya luruskan pada anda adalah:
      1) saya tidak pernah menyamakan 100%. Jahmiyah itu sudah dikafirkan oleh para ulama ahlus sunnah. tokohnya sudah dihukum mati dan kitabnya dibakar. adapun Mu’tazilah saya kurang tahu. adapun tentang Asy’ariyah, saya tidak mengkafirkannya sebagaimana Jahmiyah. dan setahu saya, tidak ada ulama baik Salafi maupun lainnya yang mengkafirkan Asy’ariyah. dan ini salah satu titik yang membedakan antara Asy’ariyah dengan Jahmiyah/Mu’tazilah.

      2) Asy’ariyah menyerupai Jahmiyah/Mu’tazilah pada hal2 yang dicela oleh para ulama ahlus sunnah. jadi tidak adil jika celaan itu tidak ditujukan juga pada Asy’ariyah maupun lainnya yang mempunyai titik kesamaan tersebut. aneh kan jika Jahmiyah/Mu’tazilah dicela habis2an karena mengingkari keberadaan Alloh di atas ‘Arsy, tetapi Asy’ariyah boleh bahkan dipuji karena mengingkari keberadaan Alloh di atas ‘Arsy.

  100. Ini biar ndak berlaru-larut, dari diskusi dengan @’Ajam, alhamdulillah kami tuliskan tulisan terbaru

    TUHAN BERSEMAYAM

    Kesalahpahaman lainnya yang telah berlarut-larut sehingga menimbulkan perdebatan bahkan perselisihan adalah memahami dan meyakini “Tuhan bersemayam”.

    “Arrahmaanu ‘alal ‘arsy istawaa” (QS Thaha [20]:5 ). Terjemahan atau makna umumnya yang kita ketahui adalah “ Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy“

    Kalau kita buka kamus besar Indonesia tentang bersemayam tentu kita akan temukan bahwa bersemayam makna pertamanya duduk dan makna lainnya adalah berkediaman.

    Jumhur ulama (ahli ilmu) menerima terjemahan istiwa adalah bersemayam namun jangan dipahami sebagai duduk atau bertempat. Kenapa jumhur ulama (ahli ilmu) menerima terjemahan istiwa sebagai bersemayam karena bersemayam dapat digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang bersemayam di hati dan kita tahu bahwa hati pun tidak bertempat dan berarah. Allah Azza wa Jalla , tidak bertempat maupun berarah. Jadi bersemayam pun adalah kata yang mutasyabihat atau memiliki makna lebih dari satu.

    Muslim yang mendalami tentang hati atau salah satunya tentang tazkiyatun nafs maka insya Allah akan mengenal Allah (ma’rifatullah). Muslim itu akan mencapai muslim yang terbaik atau muslim yang Ihsan yang dapat memandang Allah Azza wa Jalla dengan hati atau hakikat keimanan.

    Salah paham yang besar bagi mereka yang mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui “di mana” Allah. Salah satunya mereka berpegang pada hadits tentang budak Jariyah. Para hafiz di bidang hadits dan para pakar hadits yang mu`tabar sepanjang sejarah sepakat menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits mudltharib, yang disebabkan oleh banyaknya versi dari hadits ini, baik secara redaksional maupun secara sanad hadits. Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan hadits ini adalah sahih tapi syadz dan tidak bisa dijadikan landasan menyangkut masalah akidah!

    “Di mana Allah” pada hakikatnya adalah bertanya tentang dzatNya dan kita dilarang keras bertanya tentang dzatNya. Keliru jika ada yang bertanya tentang dzat Allah atau mengenal Allah melalui dzatNya, namun kita mengenal Allah melalaui sifatNya, NamaNya dan perbuatanNya.

    Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya, “Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah.”

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah saw., beliau bersabda, “Sesungguhnya syaitan mendatangi salah seorang dari kamu, lalu berkata, ‘Siapakah yang telah menciptakan ini? Siapakah yang telah menciptakan itu?’ Hingga syaitan berkata kepadanya: ‘Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Jika sudah sampai demikian, maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dengan mengucapkan isti’adzah dan berhenti.” (HR Bukhari [3276] dan Muslim [134]).

    Dari jalur lain diriwayatkan dengan lafazh. “Hampir tiba masanya orang-orang saling bertanya sesama mereka. Sehingga ada yang bertanya, ‘Allah telah menciptakan ini dan itu, lalu siapakah yang menciptakan Allah?’ Jika mereka mengatakan seperti itu, maka bacakanlah, ‘Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Mahaesa.’ Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’ (Al-Ikhlas: 1-4). Kemudian, hendaklah ia meludah ke kiri sebanyak tiga kali, lalu berlindung kepada Allah dari gangguan syaitan dengan mengucapkan isti’adzah.” (HR Abu Dawud [4732], An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah [460], Abu Awanah [I/81-82], Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhiid [VII/146]).

    Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah SWT berfirman, ‘Sesungguhnya ummatku akan terus-menerus bertanya apa ini, apa itu?’ Hingga mereka bertanya, ‘Allah telah menciptakan ini dan itu lalu siapakah yang menciptakan Allah’” (HR Muslim [136]).

    Dalam riwayat lain ditambahkan, “Pada saat seperti itu mereka tersesat.” (Shahih, HR Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah [647]).

    Jika ada seorang muslim yang dapat menjelaskan tentang dzatNya dengan lisan maupun tulisan , pastilah itu bukan dzatNya

    Sungguh kita semua telah bersaksi atau menyaksikan (memandang Allah) ketika kita belum dapat ber-lisan atau ketika kita belum dapat menulis atau ketika jasmani belum disempurnakan.

    “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

    Jadi jiwa kita atau ruhani kita sudah bersaksi ketika kita atau manusia sebelum terlahir dari rahim ibu.

    Namun ketika kita (manusia) lahir maka kitapun suci, lupa, tidak tahu , ummi bahwa ruhani kita pernah bersaksi, menyaksikan atau memandang Allah Azza wa Jalla.

    Oleh karenanya Allah yang Ar Rahmaan dan Ar Rahiim memberikan petunjukNya sebagai bekal kita mengarungi alam dunia untuk dapat kembali kepadaNya.

    Dengan petunjukNya disampaikanlah atau diajarkanlah kita (manusia) untuk bersaksi melalui tulisan atau lisan agar kita bisa berlisan “bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah“

    Untuk membuktikan kesaksian lisan “syahadat” itu maka kita buktikan dalam sholat, zakat, puasa dan berhaji jika mampu.

    Dengan sholat, zakat, puasa dan berhaji, kita bisa sampai kepada Allah Azza wa Jalla atau bisa bertemu dengan Allah Azza wa Jalla

    Nabi Muhammad Saw bersabda, bahwa Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah.

    Dalam sebuah hadist Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan”

    Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya sembahyang (Sholat) itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).

    Hal yang kami uraikan di atas adalah yang dimaksud dengan Tasawuf dalam Islam atau tentang Ihsan atau tentang akhlak

    MAN ‘ARAFA NAFSAHU FAQAD ‘ARAFA RABBAHU

    (Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Allah)

    Firman Allah Taala : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53 )

    Awaluddin makrifatullah, Awal agama adalah mengenal Allah, akhirnya adalah berakhlakul karimah atau muslim yang baik, muslim yang sholeh atau muslim yang Ihsan. Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

    Begitulah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di depan para sahabat bahwa tonggak Islam ada tiga yakni tentang Islam (rukun Islam/fiqih), tentang Iman (rukun iman/ushuluddin/i’tiqad) dan tentang Ihsan (akhlak/tasawuf).

    Dari sejak dahulu kala dalam perguruan tinggi Islam yang dimaksud Tasawuf dalam Islam adalah tentang akhlak atau tentang Ihsan namun pada zaman ini ada ulama (ahli ilmu) mengingkari tasawuf dalam Islam atau tidak mendalami / menjalankan tasawuf atau tentang Ihsan sehingga sebagian mereka masih bertanya “di mana” atau “bagaimana” Allah Azza wa Jalla. Maha suci Allah ta’ala dari “di mana” maupun “bagaimana”

    Tidak mendalami / menjalankan Tasawuf atau mengingkari Tasawuf lah kelemahan dari saudara-saudara kita Salafi Wahhabi sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/16/2010/04/13/kelemahan-salafiyyah/ Kami maksudkan dengan salafiyyah adalah salaf(i) atau wahhabi karena salafiyyah sejati itu sendiri sebenarnyapun ada yakni mereka yang tidak pernah bertanya “di mana” Allah.

    Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani menyampaikan dalam makalahnya bahwa ulama Wahhabi telah mencantumkan dalam kurikulum pendidikan mereka, dimana ada materi terdapat pengafiran, tuduhan syirik dan sesat terhadap kelompok-kelompok Islam sebagaimana dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiy (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah yang berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Shuufiyyah (aliran–aliran tashowwuf ) adalah syirik dan keluar dari agama. Selengkapnya silahkan baca cuplikan makalah beliau dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

    Begitulah mereka kalau membolehkan kaum non muslim bekerjasama menyusun kurikulum pendidikan sebagaimana yang kami jelaskan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/ atau http://www.eramuslim.com/editorial/shimon-peres-memuji-raja-abdullah.html

    Mereka telah menjadikan kaum non muslim sebagai teman, sebagai penasehat dan meninggalkan kaum muslim.

    Begitu pula kita menyesalkan pemimpin-pemimpin negeri yang muslim mau menjadi “pemimpin boneka” Amerika seperti di Afghanistan, Palestina dan termasuk pemimpin seperti Husni Mubarak di Mesir yang telah tumbang. Begitupula kita menyesalkan Wakil Presiden Mesir, Omar Suleiman yang mempunyai “hubungan dekat” dengan Amerika.

    Mereka adalah para pemimpin yang mempunyai ”hubungan dekat” dengan Amerika. Mereka menjadi pemimpin yang ”memenuhi” kepentingan Amerika. Pada hakikatnya mereka berkawan dengan Amerika, yang sangat berperan didalamnya adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.

    Padahal Allah ta’ala telah memperingatkan dengan firmanNya yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)

    Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (Ali Imran, 119)

    “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)

    “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)

    “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 ) Selengkapnya mengenai kaum yang dimurkai Allah silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/27/orang-orang-beriman/

    Wassalam

    Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

    1. sodara Mutiarazuhud…

      jika saya mau membahas aqidah mana yang benar antara yang menetapkan sifat Alloh sesuai dhohirnya dengan yang memalingkan sifat Alloh dari dhohirnya, niscaya saya akan membahasnya sejak awal.

      namun saya hanya ingin menunjukkan kesamaan antara Jahmiyah/Mu’tazilah dengan Asy’ariyah saja, cuma itu tok. saya rasa saya tidak pernah membuat diskusi ini menjadi berlarut-larut, karena tujuan saya jelas. adapun rekan2 yang lainnyalah yang mmbuar berlarut-larut karena apa yang saya ungkapkan dengan apa yang mereka bantah itu tidak nyambung. yang saya ungkapkan adalah kesamaan antara asy’ariyah dengan jahmiyah/mutazilah, tapi yang mereka bantah adalah membenarkan aqidah takwil sifat Alloh.

      1. Ajam@

        Ajam, nte lagaknya seperti pengikut aqidah yg lurus saja? Padahal aqidah yg nte anut itu kan akidah bid’ah dholalah? Gemana tanggapan nte tentang aqidah nte yg sesat dan menyesatkan itu?

        1. itu kan menurut pandangan anda sebagai seorang asy’ariyah yang notabene mirip jahmiyah/mu’tazilah.

          Imam Abu Utsman Ash Shobuni berkata: “Tanda-tanda Jahmiyah adalah menamakan Ahlus Sunnah dengan musyabbihah.”

          terus terang, gelaran musyabbihah yang kalian sematkan pada kami justru semakin meninggikan derajat kami dan merendahkan derajat kalian, karena terbukti siapa yang ahlus sunnah dan siapa yang jahmiyah.

          1. Rekan-rekan disini bukan menamakan Ahlus Sunnah dengan Musyabbihah namun menamakan Salafi Wahhabi mirip sekali dengan Musyabbihah bedanya Salafi Wahhabi menambahkan “tidak serupa dengan makhluk” seperti Allah ta’ala punya tangan namun tangan yang tidak serupa dengan makhluk.

          2. iyah, berarti salafilah yang ahlus sunnah, karena aqidah salafi adalah sama dengan aqidah yang diikuti oleh Imam Abu Utsman, sedangkan aqidah asy’ari adalah sama dengan aqidah jahmiyah yang dicela oleh beliau.

            sebenarnya, tuduhan musyabbihah itu bisa balik kepada asy’ariyah sendiri. hemat saya, kalian pasti meyakini bahwa Alloh mempunyai sifat mendengar dan melihat. bukankah makhluq juga mempunyai pendengaran dan penglihatan.

            kalo begitu, asy’ariyun itu musyabbihah juga dong?

          3. Mendengar, Melihat itu merupakan sifat Allah ta’ala kami pun meyakininya. Namun kalau Allah ta’ala membutuhkan atau mempunyai tangan, kaki, mata , kami menghindari makna dzahir , lebih baik bertahan pada lafadznya saja kalau tidak bisa memahaminya

          4. aneh sekali, sifat tangan itu sama juga dengan sifat mendengar, yakni sama2 ada dalilnya.

            untuk sifat mendengar anda maknai sesuai dhohir sedangkan sifat tangan anda palingkan dari dhohirnya. apa landasan anda membedakan cara pemaknaan pada sifat mendengar dengan sifat tangan? kenapa harus dibedakan?

            jika anda beralasan untuk menghindari penyerupaan dengan Alloh, ini tidak bisa diterima karena sifat mendengar itu dimiliki juga oleh makhluq. jadi jika anda menetapkan sifat mendengar bagi Alloh, anda telah menyerupakan-Nya dengan makhluq.

            jika anda beralasan untuk menghindari tajsim, ini pun juga tidak bisa diterima, karena logikanya mendengar itu butuh alat pendengaran yang disebut kuping/telinga. jadi jika anda menetapkan sifat mendengar bagi Alloh, anda telah menetapkan jasmani bagi Alloh, yakni kuping/telinga.

            sekarang saya bertanya, apa landasan anda membedakan cara pemaknaan sifat mendengar dengan sifat tangan bagi Alloh?

          5. @ajam nt memaknai hadist ini gimana ??? “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari). ajam kalau puasa dapat nggak ketemu Tuhan ???atau hadist lain “Buatlah perut-perutmu lapar dan qalbu-qalbumu haus dan badan-badanmu telanjang, mudah-mudah an qalbu kalian bisa melihat Allah di dunia ini (HR Bukhari)…..apa ajam mau telanjang biar ketemu Tuhan ????

          6. Jadi @Ajam berkeyakinan bahwa Allah ta’ala mendengar membutuhkan alat pendengaran ?

            Kami hanya mau mengingatkan saja bahwa Allah ta’ala tidak membutuhkan alat bantu apapun.

          7. bukan begitu. saya hanya ingin mengikuti alur logika anda. jika menetapkan sifat tangan bagi Alloh itu anda katakan mujassim, seharusnya bagi yang menetapkan sifat mendengar Alloh itu juga anda katakan mujassim.

            logika anda juga mengatakan bahwa jika Alloh berada di atas langit, brarti ALloh butuh tempat. maka prlakukan logika ini untuk sifat mendengar. jika ALloh mempunyai pendengaran, maka Alloh butuh alat pendengaran yang namanya kuping/telinga.

            nah, pertanyaan saya, kenapa anda membedakan cara pemaknaan antara sifat mendengar dengan sifat tangan atau sifat istawa’?

          8. hemat saya, anda pasti mengakui Ibnu Hajar al Asqolani adalah seorang ahlus sunnah. logikanya, jika beliau memuji seseorang, orang itu pasti dianggap beliau sebagai ahlus sunnah dan konsekuensinya anda pun harus menganggap orang itu sebagai ahlus sunnah juga. jadi apabila ada orang yang menggelari orang itu sebagai musyabbihah, maka dialah seorang jahmiyah.

            nah, Ibnu Hajar Al Asqolani memuji Ibnu Taimiyah setinggi langit, bahkan menggelari beliau sebagai Al ‘Allamah dan Al Hafidz.

            dalam Al Fath 6/289 beliau berkata: “Peringatan: terdapat pada sebagian kitab hadits ini (Wahuwal an ala ma aalihi kaana) Hadits tersebut merupakan tambahan yang tidak terdapat dalam kitab manapun sebagaimana telah diperingatkan oleh Al Allaamah Taqiyuddin Ibnu Taimiyah.”

            dan dalam Talkhisul Kabir 3/109 beliau berkata: “Hadits ini telah ditanyakan kepada Al Hafidz Ibnu Taimiyah, beliau berkata : hadits tersebut merupakan kedustaan, tidak dikenal sama sekali di kitab-kitab kaum muslimin yang diriwayatkan.”

            nah, konsekuensinya anda harus menganggap Ibnu Taimiyah sebagai ahlus sunnah. jika tidak, berarti anda meragukan ke-ahlussunnah-an Ibnu Hajar juga.

            akan tetapi, KH Sirajuddin Abbas yang kemudian ditaqlidi oleh KH Achmad Masduqi malah menggelari Ibnu Taimiyah sebagai musyabbihah. dalam Kitab beliau Konsep Dasar Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah hal 84 beliau berkata: “Pada mulanya Ibnu Taimiyyah adalah pengikut madzhab Hanbali dan banyak pengetahuannya dalam bidang fiqih dan ushuluddin. Akan tetapi sayang sekali beliau terpengaruh oleh faham golongan Musyabbihah/Mujassimah yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk…”.

            jadi, Ibnu Taimiyah adalah seorang ahlus sunnah sejatu, sedangkan KH. Sirajuddin Abbas dan KH. Achmad Masduqi lah seorang (dengan i’tiqod) Jahmiyah.

      2. Terserah pendapat antum maupun kaum antum, namun yang terpenting adalah Asy’ariyah merupakan Ahlussunnah Wal Jama’ah sejak dahulu kala. Silahkan antum bantah dalam thread ini

        1. membenarkan aqidah asy’ariyah sama saja dengan membenarkan aqidah jahmiyah/mu’tazilah.

          suatu kedustaan jika kaum asy’ariyun masa kini menisbatkan dirinya sebagai pengikut sahabat Rasulullah Abu Musa AL Asy’ari atau ulama ahlus sunnah Abul Hasan Al Asy’ari.

  101. @Ajam coba bandingkan bagaimana antum memahami nuzul (turun) seperti dalam http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/09/aqidah.pdf dengan bagaimana kami memahami nuzul (turun) sebagai contoh yang diuraikan oleh Habib Munzir

    Hadirin hadirat, sampailah kita kepada Hadits Qudsi, dimana Sang Nabi Saw bersabda menceritakan firman Allah riwayat Shahih Bukhari “Yanzilu Rabbuna tabaaraka wa ta’ala fi tsulutsullailil akhir…” (Allah itu turun ke langit yang paling dekat dengan bumi pada sepertiga malam terakhir).

    Maksudnya bukan secara makna yang dhohir Allah itu ke langit yang terdekat dg bumi, karena justru hadits ini merupakan satu dalil yang menjawab orang yang mengatakan bahwa Allah Swt itu ada di satu tempat atau ada di Arsy.

    Karena apa? kalau Allah itu sepertiga malam turun ke langit yang paling dekat dengan bumi, kita mengetahui bahwa sepertiga malam terakhir itu tidak pergi dari bumi tapi terus kearah Barat. Disini sebentar lagi masuk waktu sepertiga malam terakhir misalnya, Lalu sepertiga malam terakhir itu akan terus bergulir ke Barat, berarti Allah terus berada di langit yang paling dekat dengan bumi. Tentunya rancu pemahaman mereka.

    Yang dimaksud adalah Allah itu senang semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat kepada hamba hamba Nya disaat sepertiga malam terakhir semakin dekat Kasih Sayang Allah.

    Allah itu dekat tanpa sentuhan dan jauh tanpa jarak. Berbeda dengan makhluk, kalau dekat mesti ada sentuhan dan kalau jauh mesti ada jarak. “[I]Allah laysa kamitslihi syai’un[/I]” ([I]Allah tidak sama dengan segala sesuatu[/I]) (QS Assyura 11)

    Allah Swt turun mendekat kepada hamba Nya di sepertiga malam terakhir maksudnya Allah membukakan kesempatan terbesar bagi hamba hamba Nya di sepertiga malam terakhir.

    Sepertiga malam terakhir kira kira pukul 2 lebih dinihari.., kalau malam dibagi 3, sepertiga malam terakhir kira kira pukul 2 lebih, sampai sebelum adzan subuh itu sepertiga malam terakhir, waktu terbaik untuk berdoa dan bertahajjud.

    Disaat saat itu kebanyakan para kekasih lupa dengan kekasihnya. Allah menanti para kekasih Nya. Sang Maha Raja langit dan bumi Yang Maha Berkasih Sayang menanti hamba hamba yang merindukan Nya, yang mau memisahkan ranjangnya dan tidurnya demi sujudnya Kehadirat Allah Yang Maha Abadi. Mengorbankan waktu istirahatnya beberapa menit untuk menjadikan bukti cinta dan rindunya kepada Allah.

    Hadirin hadirat, maka Allah Swt berfirman (lanjutan dari hadits qudsi tadi) “Man yad u’niy fa astajibalahu” (siapa yang menyeru kepada Ku maka aku akan menjawab seruannya).

    Apa maksudnya kalimat ini?

    Maksudnya ketika kau berdoa disaat itu Allah sangat….,. sangat… ingin mengabulkannya untukmu. “Man yasaluniy fa u’thiyahu” (barangsiapa diantara kalian adakah yang meminta pada Ku maka Aku beri permintaannya).

    Seseorang yang bersungguh sungguh berdoa di sepertiga malam terakhir sudah dijanjikan oleh Allah ijabah (terkabul).

    Kalau seandainya tidak dikabulkan oleh Allah berarti pasti akan diberi dengan yang lebih indah dari itu. “Wa man yastaghfiruniy fa aghfira lahu” (dan siapa yang beristighfar mohon pengampunan pada Ku disaat itu, akan Kuampuni untuknya).

    Betapa dekatnya Allah di sepertiga malam terakhir. Hadirin hadirat, disaat saat itu orang orang yang mencintai dan merindukan Allah pasti dalam keadaan bangun dan pasti dalam keadaan berdoa.

    Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari “manusia yang paling khusyu’ (Sayyidina Muhammad Saw) didalam tahajjudnya beliau berdoa “Allahumma lakal hamdu antanurrussamawati wal ardh, Allahumma lakal hamdu anta qayyimussamawati wal ardh, Wa lakal hamdu anta rabbussamawati wal ardh””.

    “Allahumma lakal hamdu antanurrussamawati wal ardh” (Wahai Allah bagi Mu puji – pujian yang indah, Engkaulah Cahaya langit dan bumi, yang Maha Menerangi langit dan bumi dengan kehidupan, kesempurnaan dan kemegahannya). Cahaya langit dan bumi, Dialah Allah. “Allahumma lakal hamdu anta qayyimussamawati wal ardh” (Wahai Allah bagi Mu puji – pujian yang indah, Engkaulah yang Membangun langit dan bumi). “Wa lakal hamdu anta rabbussamawati wal ardh” (dan untuk Mu puji – pujian, Engkaulah yang Memelihara langit dan bumi).

    Sumber: http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=181&Itemid=1

  102. Ibnu Taimiyah yang melakukan dzikir jama’ah setiap habis sholat shubuh, lalu dilanjutkan dengan membaca surat al-Fatihah sampai Matahari naik ke atas, dan ia selalu menatapkan matanya ke langit. Padahal apa yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah ini tidak ada contohnya dari Rasulullah saw. bagaimana @ajam menyematkan ahlus sunnah sejati kepadanya dilain hal membid’ahkan dan menyesatkan kaum muslim yang lain bahkan ulama ????? benar mas Syahid logika yang ngawur ………..

  103. @Ajam, itu cuma pendapat antum saja bahwa KH. Sirajuddin Abbas dan KH. Achmad Masduqi lah seorang (dengan i’tiqod) Jahmiyah.
    Dari sejak dahulu kala kami sudah mengenal KH. Sirajuddin Abbas sebagai ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Pada prinsipnya semua muslim adalah pada umumnya adalah Ahlussunnah wal Jama’ah atau disingkat kaum sunni. Bahkan kitab beliau yang sudah terkenal sejak dahulu kala.

    Berikut ini adalah ikhtisar aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagaimana dihimpun oleh KH Sirajuddin Abbas dalam kitabnya I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jamaah.

    1. Iman ialah mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati. Kemudian iman yang sempurna ialah mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota badan.
    2. Tuhan itu ada, namanya Allah, dan ada 99 nama bagi Allah.
    3. Tuhan mempunyai sifat banyak sekali, yang boleh disimpulkan perkataan: Tuhan mempunyai sifat-sifat Jalal (kebesaran), Jamal (keindahan), dan Kamal (kesempurnaan)

    Selengkapnya silahkan baca pada http://nujekulo.blogspot.com/2010/06/ciri-ciri-ahlussunnah-wal-jamaah.html

    1. saya tidak mengatakan mereka adalah seorang jahmiyah. yang ingin saya katakan adalah mreka mempunyai unsur i’tiqod jahmiyah. jika mereka adalah ahlus sunnah wal jamaah sejati, tentunya tidak akan menyebut sesama ahlus sunnah sebagai muyabbihah/mujassimah. atau mungkin menurut mereka Ibnu Taimiyah itu bukan ahlus sunnah? jika memang demikian, seharusnya mereka juga tidak memasukkan Ibnu Hajar sebagai goongan ahlus sunnah.

  104. @Ajam , Ibnu Hajar Al Asqolani wajarrlah memuji Syaikh Ibnu Taimiyah, begitupula beliau memuji Ibnu ‘Arabi. Namun Ibnu Hajar Al Asqolani tidak pernah membenarkan bahwa Allah ta’ala mempunyai tangan namun tangan yang tidak menyerupai makhlukNya. Syaikh Ibnu Taimiyah sejak dahulu kala pendapatnya tentang “mengenal Allah” dengan memaknai secara dzahir telah ditolak oleh jumhur ulama.

    Kesalahpahaman selama ini adalah tentang makna manhaj Salaf dan ahlussunnah. Prinsip dasarnya pada umumnya ulama adalah manhaj Salafush Sholeh maupun ahlussunnah. Seluruh ulama pada umumnya mengikuti Salafush Sholeh dan Sunnah Rasulullah.

    Jika ada seorang yang tidak mempunyai kemampuan untuk berijtihad sendiri dan mengikuti suatu mazhab misalkan mazhab Syafi’i maka pada prinsipnya merekapun ber manhaj Salaf ataupun mengikuti Ahlussunnah karena Imam Syafi’i pastilah bermanhaj Salafush Sholeh dan Ahlus sunnah, Bahkam Imam Mazhab hidup di zaman tabi’in atau tabi’ut tabi’in.

    Tentang Syaikh Ibnu Taimiyah seperti antum sampaikan bahwa KH Achmad Masduqi dalam kitab beliau “Konsep Dasar Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” hal 84 beliau berkata: “Pada mulanya Ibnu Taimiyyah adalah pengikut madzhab Hanbali dan banyak pengetahuannya dalam bidang fiqih dan ushuluddin. Akan tetapi sayang sekali beliau terpengaruh oleh faham golongan Musyabbihah/Mujassimah yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk…”.

    Perhatikan perkataan KH Achmad Masduqi bahwa “Syaikh Ibnu Taimiyah terpenagaruh leh faham golongan Musyabbihah/Mujassimah”.

    Bagi kami pengaruh itu terjadi karena Syaikh Ibnu Taimiyah dan sebagian para pengikutnya untuk ayat-ayat mutasyabihat memahami secara dzahir atau dengan metodologi “terjemahkan saja”.

    Kami tidak memaknai dzahir ayat-ayat mutasyabihat untuk menghindari kekufuran sebagaimana yang disampaikan Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada dzahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran“.

    Benar bahwa Al-Qur’an “dengan bahasa Arab yang jelas“ (QS Asy Syu’ara [26]:195) namun yang tahu jelas makna ayat-ayatnya adalah kaum yang mengetahui atau yang berkompeten atau yang ahlinya yang telah dikaruniakan al-hikmah oleh Allah ta’ala .
    Sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,
    “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fushshilat [41]:3 )

    “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”(QS Al Baqarah [2]:269 )

    Jika di dalam Al-Qur’an dan Hadits kita menemukan sifat Allah yang makna dzahirnya adalah sifat manusia maka harus ditinggalkan karena Al Imam ath-Thahawi mengatakan: “Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir“.

    Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak, diam, turun, naik, duduk, bersemayam, mempunyai jarak, menempel, berpisah, berubah, berada pada satu tempat dan sebagainya.

    DzatNya adalah kekal, tidak berubah, tidak berpindah, tidak mempunyai ukuran/dimensi. Yang berubah, berpindah dan berukuran/dimensi adalah manusia.

    Imam malik bin anas ra menghadapi hadis ”Allah turun di setiap sepertiga malam” adalah, yanzilu amrihi ( turunnya perintah dan rahmat Allah ) pada setiap sepertiga malam “adapun Allah Azza wa Jalla, adalah tetap tidak bergeser dan tidak berpindah, maha suci Allah yg tiada tuhan selainNya“ lihat pada “at tamhid” 8/143, “siyaru a’lamun nubala” 8/105 “arrisalatul wafiyah” hal 136 karangan Abi Umar Addani dan dalam kitab syarah an-nawawi ala shohih muslim 6/37 dan juga al-inshaaf karangan ibnu sayyit al-bathliyusi hal 82.

    1. wah, ko beda yah. Ibnu Hajar sama sekali tidak pernah menyebut Ibnu Taimiyah telah terjatuh dalam pemahaman tasybih/tajsim, apalagi menggelarinya sebagai musyabbihah/mujassimah.

      sedangkan kedua kyai yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Ibnu Hajar, malah berani menyebut Ibnu Taimiyah sebagai musyabbihah/mujassimah. terlebih lagi para juhala (orang2 bodoh) di kalangan NU yang taqlid pada perkataan kedua kyai tersebut.

  105. Wahai saudara-saudaraku, perbedaan pemahaman antar umat muslim adalah kehendak Allah Azza wa Jalla. Hal yang harus kita hindari adalah perselisihan atau pertengkaran. Kesalahpahaman yang berlarut-larut sehingga kita berselisih, bertengkar adalah memahami antara bermadzhab dengan bermanhaj Salafush Sholeh.

    Sebenarnya tidak ada keharusan atau kewajiban bermazhab dalam agama, demikian juga tidak ada keharusan atau kewajiban mengikuti mazhab empat.

    Yang menjadi kewajiban adalah mengikuti al-Qur’an dan Sunnah dan dalil-dalil lainnya secara benar.

    Namun bagi orang awam yang belum dapat memahami al-Qur’an dan Sunnah serta dalil-dalil atau kesepakatan jumhur ulama maka bermazhab adalah merupakan suatu kebutuhan.

    Bagi orang awam bermazhab adalah semata-mata untuk memudahkan mereka mengikuti al-Qur’an dan Sunnah dan dalil-dalil lainnya secara benar.

    Kalau orang awam mengikuti sebuah mazhab atau disebut muqolid maka otomatis merekapun mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah karena Imam Mazhab mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah.

    Begitupula kalau bermanhaj Salafush Sholeh adalah mengikuti Salafush Sholeh maka seorang muqolidpun pada hakikatnya bermanhaj Salafush Sholeh karena imam Mazhab mengikuti Salafush Sholeh pula.

    Ulama-ulama jahil saja yang membedakan antara bermazhab dengan bermanhaj Salafush Sholeh.

    Terbukti ketika mereka mencoba memahami nuzul (turun) Allah ta’ala. Mereka memahami secara dzahir turun atau berpindah. Segala sesuatu yang berpindah pastilah mempunyai dimensi atau ukuran. Sebuah titik berpindah dari X ke Y maka titik itu mempunyai dimensi/ukuran. Sebuah balon berpindah dari X ke Y maka balon itu mempunyai dimensi/ukuran. Pesawat terbang berpindah dari x ke Y maka pesawat terbang itu mempunyai dimensi/ukuran. Bumi berpindah atau mengelilingi matahari maka bumi itu mempunyai dimensi/ukuran. Sedangkan Allah Azza wa Jalla mustahil berdimensi atau berukuran. Jika Allah Azza wa Jalla berdimensi atau berukuran maka itulah yang dimaksud mem-benda-kan Allah ta’ala seperti kaum mujasimmah.

    Wassalam

    1. sudah terang benderang penjelasan dari bang Zon menurut ana nggak adalagi hal yang perlu di bantah ……….nggak tau bagi para “PAHAM YANG NGEYEL”….

    2. terimakasih pencerahannya mas mutiarazuhud…inilah dakwah dengan hikmah bukan hawa nafsu, wallohu a’lam

  106. sodara Mutiarazuhud

    anda berkata:
    Terbukti ketika mereka mencoba memahami nuzul (turun) Allah ta’ala. Mereka memahami secara dzahir turun atau berpindah. Segala sesuatu yang berpindah pastilah mempunyai dimensi atau ukuran. Sebuah titik berpindah dari X ke Y maka titik itu mempunyai dimensi/ukuran. Sebuah balon berpindah dari X ke Y maka balon itu mempunyai dimensi/ukuran. Pesawat terbang berpindah dari x ke Y maka pesawat terbang itu mempunyai dimensi/ukuran. Bumi berpindah atau mengelilingi matahari maka bumi itu mempunyai dimensi/ukuran. Sedangkan Allah Azza wa Jalla mustahil berdimensi atau berukuran. Jika Allah Azza wa Jalla berdimensi atau berukuran maka itulah yang dimaksud mem-benda-kan Allah ta’ala seperti kaum mujasimmah.

    saya katakan:
    ketika anda mendengar hadits nuzul, anda langsung berimajinasi bahwa jika begini maka konsekuensinya begini, jika begitu maka konsekuensinya begitu. tapi kenapa ketika mendengar ayat tentang sifat mendengar bagi ALloh, anda langsung menerimanya tanpa imajinasi/khayalan yang aneh2 itu? kenapa anda tidak berimajinasi bahwa jika Alloh mendengar, pasti butuh alat pendengaran yang dinamakan telinga. jika butuh telinga, berarti Alloh punya jasmani. jika Alloh punya jasmani berarti serupa dengan makhluq.

    kenapa anda membedakan cara memahami sifat nuzul dengan sifat mendengar?

    1. @Ajam,
      Sifat-sifat Allah terbagi menjadi 4 bagian :
      1. Sifat Nafsiah adalah bernisbat pada kata nafsi (jiwa) maksudnya Dzat dan sifat nafsiah adalah tidak masuk akal bila Dzat tanpa sifat ini yaitu Esa Wujudnya. jadi sifat ini hanya satu yaitu “wujud”.
      2. Sifat Salbiah adalah bernisbat pada kata salbu maksudnya mentiadakan sesuatu yang tidak layak bagi Allah. Sifat salbiyah tersebut ada 5 yaitu : Qidam, Baqa’, Mukholafatuhu Lilhawaditsi, Qiyamuhu binafsihi dan Wahdaniyah.
      3. Sifat Ma’ani. sifat yang pasti ada pada Dzat Allah SWT. Sifat Ma’ani ini ada 7 yaitu : Qudrat (sifat berkuasa), Irodat (berkehendak), Ilmu (berilmu), Hayat (hidup), Sama’ (mendengar), Bashor (melihat) dan Kalam (berbicara).
      4. Sifat Ma’nawiyah adalah sifat yang mulazimah (menjadi akibat) dari sifat ma’ani, Sifat Ma’nawiyah ini ada 7 yaitu : Qodiron, Muridan, Aliman, Hayyan, Sami’an, Bashiron, Mutakalliman.

      Sifat mendengar termasuk dalam sifat ma’ani , sifat yang pasti ada pada Dzat Allah SWT

      Sedangkan sifat nuzul berlawanan dengan Sifat Salbiah.

      1. 1) apakah anda mempunyai ulama ahlus sunnah sebagai panutan dalam pembagian sifat2 Alloh di atas?

        2) apakah ulama ahlus sunnah memang membedakan cara pemahaman antara sifat nuzul dengan sifat mendengar? kalo sifat nuzul harus dipertentangkan dengan logika, sedangkan sifat mendengar harus diterima secara langsung.

        3) apa dalil sifat qidam, mukholafatuhu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi?

  107. dan satu hal yang belum anda bantah, dan saya yakin anda tidak akan bisa membantahnya adalah paham Jahmiyah/Mu’tazilah juga mengingkari keberadaan Alloh di atas ‘Arsy. mereka memalingkan makna istawa’ menjadi menguasai. hal ini adalah yang membuat mereka sama dengan Asy’ariyah.

    1. @Ajam, silahkan jika antum berkeyakinan bahwa keberadaan Allah Azza wa Jalla ada sebelum segala sesuatunya diciptakanNya kemudian setelah ‘Arsy diciptakan, Allah Azza wa Jalla berpindah dan berada dan bertempat di atas ‘Arsy.

      Kami berpegang dengan apa yang Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan yang maknanya: “Engkau azh-Zhahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).

      Begitupun kami berpegang pada Sifat Qiyamuhu Binafsihi (berdiri sendiri) adalah Allah tidak butuh pada tempat yang menetap padanya atau tempat yang ditempatinya atau pencipta yang mewujudkannya. Tetapi Dia Maha Kaya [tidak butuh] dari segala sesuatu selainnya (makhluk).

      Allah Ta’ala berfirman, “Dan tunduklah semua (maksudnya merendah diri) pada Allah yang kuasa hidup lagi senantiasa mengurus (makhluknya)”. (QS. Thoha : 111). Dan Allah Ta’ala berfirman, “Wahai manusia, kamu sekalian membutuhkan Allah, sedangkan Allah Maha kaya (Tidak membutuhkan) lagi maha terpuji”. (QS. Faathir : 15). Dan Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah sungguh Maha Kaya (Tidak membutuhkan) dari alam semesta” (QS. Al Ankabut : 6)

      Sekali lagi kami mengingatkan bahwa dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits janganlah memahami secara lepas . Seluruhnya mempunyai kaitan antara satu ayat dengan ayat lain dalam satu surat, kaitan dengan ayat pada surat yang lain, juga kaitan ayat dengan hadits. Selain memperhatikan kaitan atau hubungan , perlu pula kita memperhatikan asbabun nuzul. Jadi kita tidak boleh memahaminya dengan sekedar menterjemahkan saja. Apalagi terhadap ayat-ayat mutasyabihat yakni ayat-ayat yang memiliki arti lebih dari satu.

      Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad menyatakan: “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

      1. bukan itu yang saya bicarakan. yang saya maksud, anda tidak bisa mengingkari bahwa aqidah Jahmiyah/Mu’tazilah dengan Asy’ariyah itu sama, yaitu salah satunya sama2 tidak mengakui keberadaan Alloh di atas ‘Arsy.

        1. ‘Ajam@

          gara2 nte berpikir sempit jadinya ngeyel cara menyimpulkan. Makanya jangan anti ilmu kalam biar bisa berpikir tertib.

    2. ‘Ajam@

      dg jawaban Mas Mutiarazuhud ini semestinya Ajam tidak ngotot memaksakan diri menganggap sesat Imam Asy’ari. Itu pun kalau antum masih merasa beriman. Tapi terserah antum…. sebab hujjah yg disampaikan oleh Mas Mutiarazuhud amat sangat kokoh dan kuat.

      1. berilmulah sebelum berucap dan beramal.

        anda tidak tahu menahu pokok persoalan, maka jangan buru2 memberikan penilaian. coba simak kembali postingan saya, adakah yang menuduh Imam Abul Hasan Al Asy’ari sesat.

        yang sesat itu asy’ariyah, bukan Imam Abul Hasan

        1. ‘Ajam@

          Ajam berkata: yang sesat itu asy’ariyah, bukan Imam Abul Hasan.

          Ane jawab, Asy’ariyah adalah hasil perjuangan Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Kemudian Nte bilang sesat Asy’ariyah, siapa yg memperjuangkan tegaknya aqidah asy’ariyah? Imam Abu Hasan asy’ari, ya kan? Nte sesatkan asy’ariyah, dan tidak nte sesatkan pejuangnya. Sungguh-sungguh logika yg jungkir balik seperti permainan sirkus!

          1. apakah Imam Abul Hasan pernah mendeklarasikan sebuah madzhab yang beliau sebut Asy’ariyah? apakah Imam Abul Hasan pernah berkata bahwa siapa saja yang mngikuti ajarannya disebut Asy’ariyun?

            sama sekali tidak. istilah Asy’ariyun itu hanya bualan kalian. kalian menisbatkan diri kalian sebagai Asy’ariyun (pengikut Imam Abul Hasan Asy’ari) padahal aqidah kalian berbeda. asy’ariyun sesat, sedangkan Imam Abul Hasan adalah seorang ‘alim.

          2. ini logika orang bahlol. Memangnya Imam syafei mengatakan ajarannya mazhab syafei? justru yang saya ingin minta bukti kalau ada ulama salaf yang mengatakan bahwa ajarannya adalah salafi.
            istilah Asy’ariyun itu bukan bualan seperti yang namanya salafi. kalian menisbatkan diri kalian sebagai salafi padahal aqidah kalian berbeda.

          3. itulah mengapa saya katakan bahwa asy’ariyun itu berdusta. bisa saja kalian mengklaim sebagai pengikut Imam Abul Hasan Al Asy’ari atau Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. akan tetapi hujjah itu ada dalam nash, bukan pada perkataan (klaim/tuduhan).

            berapa banyak orang mengklaim sebagai ahlus sunnah akan tetapi justru mereka adalah ahlul bid’ah. berapa banyak orang mengaku pintar tetapi justru dia adalah orang bodoh. berapa banyak orang mengaku memiliki harta benda padahal harta itu adalah milik orang lain. kalian mengaku sebagai pengikut Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Imam Asy Syafi’i, akan tetapi kalian sangat jauh dari ajaran mereka.

            sama dengan masalah “klaim”, begitu juga dengan masalah “tuduhan”, yang menjadi hujjah adalah nash, bukan perkataan.

            berapa banyak orang menuduh orang lain sebagai khowarij, padahal yang dituduh itu sangat jauh dari ciri2 khowarij. berapa banyak orang menuduh orang lain sebagai pembunuh, padahal orang yang dituduh itu tidak melakukan pembunuhan.

            sekali lagi, klaim kalian sebagai pengikut Imam Al Asy’ari dan Imam Asy Syafi’i, tidaklah menjadikan kalian sebagai Asy’ariyun dan Syafi’iyun sejati, karena klaim semata hanyalah dusta kecuali benar2 ada pembuktian.

          4. Lagi-lagi pernyataan Bahlol. Yang namanya Asy ariyah itu jelas-jelas adalah pengikut Imam Asy ary, dimana mereka mengambil ilmu jelas sanadnya sampai kepada Imam Asy ari. Dan kami mengikuti ustad-ustad dan guru-guru kami yang belajar akidah dengan ulama yang bersanad hingga Imam Asy ari. Para Ulama dan ahli sejarah juga tahu siapa itu Asy ariyah atau Asy ariyun, hanya ente yang nggak paham-paham.

          5. saya katakan bahwa salafi itu berdusta. bisa saja kalian mengklaim sebagai pengikut sahabat dan salaf akan tetapi hujjah itu ada dalam nash, bukan pada perkataan (klaim/tuduhan).

            berapa banyak orang mengklaim sebagai salafi akan tetapi justru mereka adalah ahlul bid’ah. berapa banyak orang mengaku pintar tetapi justru dia adalah orang bodoh (bahlol) berapa banyak orang mengaku memiliki harta benda padahal harta itu adalah milik orang lain. kalian mengaku sebagai sahabat dan salaf akan tetapi kalian sangat jauh dari ajaran mereka.

            sama dengan masalah “klaim”, begitu juga dengan masalah “tuduhan”, yang menjadi hujjah adalah nash, bukan perkataan.

            sekali lagi, klaim kalian sebagai pengikut Salaf tidaklah menjadikan kalian sebagai Salafi sejati, karena klaim semata hanyalah dusta kecuali benar2 ada pembuktian.

          6. Bukti..
            Sahabat gak ada yang tahlilan…
            Orang salafy juga..
            Sahabat gak ada yang maulidan..
            Orang salafy juga..
            Sahabat gak ada yang ngerayain Isra’ Mi’raj..
            Orang salafy juga..

          7. Hanya seperti itukah bukti sebagai salafi? sungguh menyedihkan…. sesuatu yang merupakan permasalahan fikih dan meninggalkan sebuah tradisi yang baik anda jadikan dalil.

  108. Sekali lagi kami sampaikan Salah paham yang besar bagi mereka yang mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui “di mana” Allah. Salah satunya mereka berpegang pada hadits tentang budak Jariyah. Para hafiz di bidang hadits dan para pakar hadits yang mu`tabar sepanjang sejarah sepakat menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits mudltharib, yang disebabkan oleh banyaknya versi dari hadits ini, baik secara redaksional maupun secara sanad hadits. Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan hadits ini adalah sahih tapi syadz dan tidak bisa dijadikan landasan menyangkut masalah akidah!

    “Di mana Allah” pada hakikatnya adalah bertanya tentang dzatNya dan kita dilarang keras bertanya tentang dzatNya. Keliru jika ada yang bertanya tentang dzat Allah atau mengenal Allah melalui dzatNya, namun kita mengenal Allah melalaui sifatNya, NamaNya dan perbuatanNya.

    Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya, “Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah.”

    1. saya prnah menuli bantahan tentang anggapan idhthirob hadits jariyah menurut sodara MZ. entah kenapa tidak bisa ditampilkan.

      hadits jariyah itu shohih tanpa ada keraguan. sebenarnya cukup mudah membantah sodara MZ. cukuplah hadits itu diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shohih-nya sebagai penegasan bahwa hadits itu shohih. akan tetapi bagi pembela aqidah Jahmiyah, hati mereka menjadi sesak karena hadits ini, karena itulah mereka mencari-cari dalil untuk melemahkannya.

      salah satu dalih itu adalah anggapan adanya idhthirob (kegoncangan), karena menurutnya matan hadits itu berbeda-beda dan tidak bisa diambil yang terkuat. padahal hadits2 yang mereka perbandingkan adalah hadits yang sama sekali berbeda. matannya berbeda, para rowi-nya juga berbeda, sahabat yang menjadi sumbernya pun berbeda.

      sangat lancang (tidak cuma berani) sodara MZ mengklaim adanya ijma’ ulama yang melemahkan hadits ini karena adanya idhthirob. tidak heran jika berdusta atas nama ulama begitu ringan bagi golongan Asy’ariyun, karena bagi mereka berdusta atas nama nabi saja juga ringan, apalagi berdusta atas nama sejarah.

      1. ‘Ajam Ibnu Abi Irfan, entah sampai kapan Nte akan menulis secara keblinger seperti ini. Mungkin sampai batas waktu yg ditentukan Allah Swt kali ya?

        Tidak ada cerita sejarahnya kalau penganut aqidah Asy’ari (Ahlussunnah Waljamaah) itu berdustu, kalau penganut wahabi ya memang ya, sebab modalnya adalah kedustaan. Kalau nggak dusta nggak bakalan laku jualan aqidahnya. Di masyarakat ngaku Ahlussunnah waljamaah, eh nggak tahunya kok Wahabi ya? Kasihan masyarakat yg tertipu….

        1. contoh kedustaan atas nama nabi, Syaikh Alwi Maliki dalam kitabnya Jala’udz Dzolam menybutkan ebuah hadits: “Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin”.

          ini adalah hadits palsu, bahkan tidak ada sanadnya, sekalipun disitu dikatakan hadits itu diriwayatkan dari sahabat Abbas bin Abdul Mutholib.

          hadits ini dipakai oleh kaum asy’ariyun untuk memojokkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

        2. justru asy’ariyah sangat sering berdusta. berapa banyak hadits palsu dan lemah yang laku dalam amaliyah dan aqidah mereka.

          dan sampai detik inipun, bukti kebenaran sejarah hitam wahabi yang saya minta belum juga bisa didatangkan. padahal saya cuma minta sumber kitab yang dijadikan rujukan oleh penulis artikel. kan tinggal sebutin aja, judul kitabnya apa, ditulis oleh siapa.

          1. Ulama asy ariyah adalah ulama yamg perpercaya dan amanah. Masalah hadist palsu dan lemah menurut ulama wahabi bisa jadi merupakan perbedaan pendapat tentang riwayat hadist. Sejarah hitam wahabi tidak perlu anda minta bukti seperti itu, anda bisa saksikan saat ini sendiri… siapa yang menghancurkan situs-situs bersejarah umat islam, pemakaman baqi, rumah rasulullah, dll dan bagaimana sikap mereka terhadap pejuang palestina. Bagaimana pula mereka mengambil orang kafir sebagai pelindung dan penolong mereka, bagaimana pula mereka dahulu memberontak terhadap khilafiyah islam Turki. Bagaimana pula ulama wahabi bisa mendukung Arab menjadi sebuah kerajaan yang dimiliki oleh sebuah keluarga yaitu Saud?

          2. oh, jadi menurut anda hadits “akan keluar pada abad kedua belas…dst” yang dianggap palsu oleh wahabi, anda anggap hadits shohih?

            kalo begitu saya tantang semua orang yang ada disini, bawakan sanadnya!

          3. Saya tidak membincangkan hadist, yang saya omongkan adalah Sejarah hitam wahabi tidak perlu anda minta bukti seperti itu, anda bisa saksikan saat ini sendiri… siapa yang menghancurkan situs-situs bersejarah umat islam, pemakaman baqi, rumah rasulullah, dll dan bagaimana sikap mereka terhadap pejuang palestina. Bagaimana pula mereka mengambil orang kafir sebagai pelindung dan penolong mereka, bagaimana pula mereka dahulu memberontak terhadap khilafiyah islam Turki. Bagaimana pula ulama wahabi bisa mendukung Arab menjadi sebuah kerajaan yang dimiliki oleh sebuah keluarga yaitu Saud?

          4. ya sudah, kalo tidak bisa membawakan sanadnya, akuilah bahwa Syaikh Alwi Al Maliki telah berdusta atas nama Rasulullah.

            kemudian mengenai sejarah hitam wahabi, ko sampe sekarang belum ada yang bisa membawakan sumber sejarah itu. anda tahu sejarah wahabi itu dari kitab apa, ditulis oleh siapa?

      2. Silahkan dibaca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/12/hadits-jariyah/

        Jumhur ulama menyampaikan bahwa maha suci Allah dari “di mana” dan bagaimana

        “Di mana” adalah bentuk pertanyaan terhadap dzatNya dan pertanyaan ini dan pertanyaan “bagaimana” adalah merupakan bid’ah.

        Silahkan antum berpegangan kepada hadits jariyah.

        Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“.

        1. kemaren anda katakan Ijma’, sekarang anda katakan Jumhur. yang benar yang mana?

          dalam link itu disebutkan komentar Al Baihaqy terhadap periwayatan Muslim tentang hadits ini. menurut sodara MZ, ada 2 kesimpulan dari komentar AL Baihaqy tersebut:

          1. Tidak terdapat di dalam sahih Muslim menurut versi Imam Baihaqi.
          2. Bahwa kisah ini terjadi perbedaan riwayat dari segi redaksi hadits.

          saya katakan:
          entah tidak bisa membaca atau tidak bisa mengerti bacaan, sehingga sodara MZ tidak melihat kenyataan yang terpampang jelas. jelas2 Al Baihaqy berkata: “hadits ini adalah shohih”, lalu bagaimana bisa dikatakan terdapat idhthirob? kalo ada idhthirob, pasti beliau akan berkata hadits ini lemah. selanjutnya, jelas2 Al Baihaqy berkata: “diriwayatkan oleh Muslim”, lalu bagaimana bisa dikatakan tidak diriwayatkan oleh Muslim?

          lalu apa maksud perkataan beliau: “secara terpotong/terputus (munqothi’)”? yaitu maksudnya adalah hadits yang berjalur sanad dari Al-Auzaa’iy dan Hajjaaj Ash-Shawaaf, dari Yahyaa bin Abi Katsiir. coba bandingkan dengan sanad hadits jariyah dalam Shohih Muslim no.537

          ????? ??? ???? ???? ?? ??????? ???? ??? ?? ??? ???? (??????? ?? ??? ??????) ????: ????? ??????? ?? ??????? ?? ???? ??????? ?? ???? ?? ??? ????? ?? ???? ?? ??? ??????? ?? ???? ?? ????? ?? ?????? ?? ????? ??????? ???

          Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ash-Shabbaah dan Abu Bakr bin Abi Syaibah (yang keduanya berdekatan dalam lafadh hadits tersebut), mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ibraahiim, dari Hajjaaj Ash-Shawaaf, dari Yahyaa bin Abi Katsiir, dari Hilaal bin Abi Maimuunah, dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari Mu’aawiyyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, ia berkata:

          dalam sanad tersebut tidak ada nama Al Auzaa’iy. telah jelas kita lihat perbedaannya.

          1. Mayoritas ulama tidak menjadikan hadist ini sebagai dalil dalam masalah akidah. Karena mereka memahami Allah di langit bukan seperti makna zhahirnya dan beberapa ulama telah menjelaskan masalah ini.

          2. pertama-tama, kita selesaikan dulu persoalan apakah hadits ini shohih atau tidak. jika telah diketahui shahih atau tidaknya, barulah kita bahas apakah hadits ini bisa dijadikan dalil keberadaan Alloh di tas langit atau tidak.

            lagipula, apa anda sudah menghitung berapa jumlah ulama yang menerimanya sebagai dalil dan berapa jumlah ulama yang menolaknya sebagai dalil, sehingga anda bisa berkata “mayoritas”?

          3. Justru ente yang sehurusnya menghitung berapa banyak ulama yang menjadikan hadist ini sebagai dalil Allah bertempat di Arsy

          4. saya tidak pernah berkata mana yang lebih banyak. saya tidak berkata, ulama yang berpendapat A lebih banyak daripada ulama yang berpendapat B.

            nah, dari mana anda tahu ulama yang berpendapat B lebih banyak daripada ulama yang berpendapat A?

            apa dasar anda mengatakan “mayoritas”?

          5. Dalam link http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/12/hadits-jariyah/ tersebut kami cantumkan sumber tulisan artinya tulisan tersebut bukan kami yang menulis. Namun kami sependapat dengan penulis. Nama Al-Auzaa’iy aada tertulis silahkan periksa pada link berikut http://www.indoquran.com/index.php?surano=6&ayatno=29&action=display&option=com_muslim
            Hal perlu diperhatikan bahwa hadits tersebut bukan diletakkan dalam bab iman namun dalam bab masjid dan tempat-tempat sholat. Artinya hadits tersebut yang utamanya tidak berkaitan dengan iman/akidah namun larangan Rasulullah bahwa ‘Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.’

        1. mamo cemani gombong@

          Kabare Mas Syahid gemana Mas Mamo? Lagi ke luar negeri kali ya?

          Tanpa mas Syahid ane jadi memble nih, jadi kehilangan inspirasi, he he he….

          Hallo Mas Syahid, Mas Gondrong, Mas Akbar dan All ASWAJA, gemana kabar antum semua? Ane mohon maaf jika ada salah-salah kata dan menyinggung antum2 semua, Ilove you all….

  109. Salah seorang pengunjung blog kami dari Malaysia menyampaikan sbb,

    Bagaimana mereka dapat dekat dengan Allah ta’ala jika mereka menempatkan Allah ta’ala di tempat yang jauh/tinggi.
    Bagaimana mereka dapat menguraikan tentang sifat Allah jika mereka belum dapat memandang Allah dengan hati atau hakikat keimanan.
    Bagaimana mereka dapat mengenal Allah (ma’rifatullah) jika mereka belum pernah bertemu dengan Allah atau belum pernah berkomunikasi dengan Allah Azza wa Jalla.

    1. kalimat dari malaysia dgn pemaknaan yang dalam …….makna yang luas ……nggak tau kalau dimaknai oleh golongan yang lemah aqal namun mereka merasa paling alim dam paling tau masalah islam ……NAUDZUBILLAH…..thank’s bang Zon pencerahannya …..salam

  110. hakikat aqidah orang sufi memang seperti itu,ketika dalam al quran dijelaskan, Allah diatas langit,katanya Allah tdk bisa dkt dng hambanya,kalau makhluk sih iya.Allah tdk sama dng makhlukNya.ketinggian Allah tdk menjadi penghalang dengan kedekatan makhluknya.makanya jng dahulukan akal mas,tp dalil.

    1. @masemen adakah sesuatu yang dapat menjaraki seseorang hamba dengan Allah Azza wa Jalla ? Adakah sesuatu yang dapat menghalangi/menhijab seseorang hamba dengan Allah Azza wa Jalla. Yang ada adalah orang itu sendiri yang menghijabi atau menghalangi sehingga mereka tidak dapat memandang Allah ta’ala dengan hati. Itulah yang diungkapkan oleh ulama tasawuf bahwa dosa bagaikan sebuah titik hitam yang jika terkumpul banyak maka akan menghalangi/menghijabi sehingga tidak dapat memandang Allah Azza wa Jalla dengan hati atau buta hatinya.

  111. Hal yang dimaksud dengan tulisan/thread di atas tentang “ciri-ciri aliran sesat” adalah menguraikan mereka yang tersesat di jalan yang lurus.

    Kenapa kami mengatakan mereka di jalan yang lurus karena mereka telah bersyahadat. Manusia yang tidak bersyahadat adalah mereka yang berpaling dari jalan yang lurus.

    Mereka tersesat di jalan yang lurus karena mereka tidak mau mengikuti jumhur ulama yang sholeh atau jumhur ulama yang ihsan.

    Mereka “termakan” oleh jargon mereka sendiri yakni bid’ah , khurafat, tahayul.

    Mereka menilai jumhur ulama yang sholeh/ihsan sebagai ahlul bid’ah padahal mereka sendiri belum dapat memahami tentang bid’ah dengan baik.

    Mereka melarang untuk bergaul dengan jumhur ulama yang sholeh/ihsan akhirnya mereka hanya memahami Al-Qur’an dan Hadits sebatas apa yang mereka pahami. Mereka merasa cukup dengan ilmu yang mereka pahami.

    Mereka beranggapan tentang agama Islam hanya sebatas apa yang mereka pahami. Apapun yang diluar apa yang mereka pahami pastilah bid’ah, tahayul, khurafat.

    Mereka merasa cukup dan yakin dengan apa yang mereka pahami dan apa yang mereka telah amalkan dapat menghantarkan mereka ke surga. Sehingga sebagian mereka begitu yakin telah memegang kunci surga.

    Apapun di luar apa yang mereka pahami adalah tahayul, khurafat atau bahkan menganggap sebagai hal yang ghaib atau mistik. Bahkan adala ulama mereka berfatwa bagi muslim yang meyakini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengetahui hal yang ghaib adalah termasuk orang orang kafir.

    Rasulullah shallahu alaihi wasallam mengetahui hal yang ghaib sebatas yang diwahyukan kepada Beliau.

    Rujukkannya adalah firman Allah ta’ala yang artinya; “Tuhan Maha Mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak akan membukakan kegaibannya itu kepada seorang pun, kecuali kepada Rasul yang di kehendaki”. (QS. Al Jin [72]: 26-27).

    “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit“. (QS Al Isra [17]:85 ).

    Akhirnya mereka membangun keyakinan atau beragama secara ilmiah atau berdasarkan apa yang masuk akal. Jika tidak masuk akal mereka pastilah tahayul, khurafat, mistik. Inilah yang disampaikan oleh Rasulullah sebagai mereka yang membaca Al-Qur’an yang tidak melampaui kerongkongan. Mereka membaca Al-Qur’an tidak mencapai hati. Sehingga mereka hanya tahu mendengar dengan telinga, melihat dengan mata, berjalan dengan kaki , tidak paham dengan mendengar dengan hati, melihat dengan hati, berjalan dengan hati.

    Inti semua inilah karena mereka menolak atau mengingkari tasawuf dalam Islam yang menguraikan tentang Ihsan atau tentang Akhlak. Mereka menolak atau mengingkari tasawuf dalam Islam bisa jadi karena mereka memahami/memaknai tasawuf dengan hal yang lain atau termakan propaganda atau pencitraan buruk terhadap tasawuf dalam Islam.

    Dengan tasawuflah kita dapat berjalan dengan hati, berjalan di jalan yang lurus untuk sampai (wushul) kepada Allah ta’ala

    Dengan tasawuflah kita dapat mi’raj untuk sampai ke hadirat Allah ta’ala

    Dengan tasawuflah kita dapat zikrullah hingga sampai ke hadirat Allah ta’ala

    Dengan tasawuflah, sholat,zakat,puasa dan berhaji yang sampai ke hadirat Allah ta’ala

    Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda, bahwa Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah

  112. ada ujar dari sahabat ana …… mana mungkin anak SD tau hitungan sampai milliaran sedangkan medianya untuk menghitung adalah batang lidi ?????? butuh berapa truk lidi nya ????? anak kelas 2 SD ditanya 5-8 = ? yang nanya pasti dianggap salah soal , coba cek lagi soalnya , bahkan penanya dianggap sesat, gila , dan macam2 lah ……namun kalau penanya bertanya pd anak SLTA 5-8 = ? langsung akan dijawab -3 ….disini kita petik pelajaran ORANG ORANG YANG NGEYEL , MEREKA ITU SEBETULNYA MEMANG BELUM TAU ILMUNYA , NAMUN SAYANG kadang dikasih tau malah kita yang dianggap sesat …..padahal….padahal…..padahal…….wallohu’alam.

    1. Yup, ulama-ulama yang sholeh atau alim ulama mengatakan bahwa hadits “Kullu bid’atin dlalalah” adalah untuk intropeksi diri bukan untuk menilai, menghukum muslim yang lain sebagai ahlul bid’ah karena belum tentu ilmu yang kita pahami mencakup semua yang telah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah sampaikan.

      Sebagian ulama sebenarnya hanya mengetahui sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebatas yang telah dibukukan/dituliskan karena mereka belajar agama sebatas apa yang telah dibukukan/dituliskan

      Sebagai contoh adalah apa yang telah disampaikan oleh Habib Munzir mengenai syaikh Al Albani berikut cuplikannya,

      ***** awal cuplikan *****

      Saudaraku yg kumuliakan,
      beliau itu bukan Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yg mengumpulkan hadits dan menerima hadits dari para peiwayat hadits, albani tidak hidup di masa itu, ia hanya menukil nukin dari sisa buku buku hadits yg ada masa kini, kita bisa lihat Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), berikut sanad dan hukum matannya, hingga digelari Huffadhudduniya (salah seorang yg paling banyak hafalan haditsnya di dunia), (rujuk Tadzkiratul Huffadh dan siyar a’lamunnubala) dan beliau tak sempat menulis semua hadits itu, beliua hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman,

      Imam Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman, demikian para Muhaddits2 besar lainnya, seperti Imam Nasai, Imam Tirmidziy, Imam Abu Dawud, Imam Muslim, Imam Ibn Majah, Imam Syafii, Imam Malik dan ratusan Muhaddits lainnya,

      Muhaddits adalah orang yg berjumpa langsung dg perawi hadits, bukan jumpa dg buku buku, albani hanya jumpa dg sisa sisa buku hadits yg ada masa kini.

      Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.
      AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya.

      Albani bukan pula Alhafidh, ia tak hafal 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, karena ia banyak menusuk fatwa para Muhadditsin, menunjukkkan ketidak fahamannya akan hadits hadits tsb,

      Abani bukan pula Almusnid, yaitu pakar hadits yg menyimpan banyak sanad hadits yg sampai ada sanadnya masa kini, yaitu dari dirinya, dari gurunya, dari gurunya, demikian hingga para Muhadditsin dan Rasul saw, orang yg banyak menyimpan sanad seperti ini digelari Al Musnid, sedangkan Albani tak punya satupun sanad hadits yg muttashil.

      berkata para Muhadditsin, “Tiada ilmu tanpa sanad” maksudnya semua ilmu hadits, fiqih, tauhid, alqur;an, mestilah ada jalur gurunya kepada Rasulullah saw, atau kepada sahabat, atau kepada Tabiin, atau kepada para Imam Imam, maka jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa namun ia tak punya sanad guru, maka fatwanya mardud (tertolak), dan ucapannya dhoif, dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti, karena sanadnya Maqtu’.

      apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yg tidak mencapai 10% dari hadits yg ada dimasa itu, lalu berfatwa ini dhoif, itu dhoif.

      saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena tipuan seorang tong kosong.
      ***** akhir cuplikan *****
      Sumber: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9

      1. Sisa hadits yg 10% dicungkil-cungkil Albani, he he he…. jahat itu Albani, sosok dungu seperti itu kok diikuti ya? Heran, heran….. sama penganut Wahabi.

  113. abah zahra@

    Kalau menurut Abah Zahra kira2 apa maunya si tokoh salafy tsb? Tapi gak ada yg pilih kalau calonin diri, rakyat mesir kebanyakan pengikut ASWAJA.

    1. silakan “perwakilan salafy” yang menjawabnya….
      sebagaimana kita ketahui sebelumnya salafy mengharamkan pemilu… buatan thagut lah, dst…dst… pas kelihatan mubarak mau jatuh, mereka mengadakan muktamar merubah keputusannya, malah calonin diri jadi presiden? ga takut masuk neraka apa ya? pemilu kan bid’ah, nanti masuk neraka loh…. yang ikut muktamar juga ga takut neraka?
      nih link nya : http://hidayatullah.com/read/16146/31/03/2011/read/16114/29/03/2011/tatkala-salafi-memilih-berdemonstrasi.html?sms_ss=facebook&at_xt=4d99737c0dc69377%2C0

      1. abah zahra@

        Jika begitu caranya, itu sama saja dg memmbuat permainan agama agar sesuai hawa nafsunya para penganut Salafy Wahabi. Kira-kira begitu kali ya? Gemana kalau menurut perwakilan Salafy Wahabi, silahkan berbicara mumpung bisa bebas bicara di blog ini, he he he….

  114. mulai membosankan diskusi ini di simak ……..karena bukan ilmu lagi yang didiskusikan tapi “PAHAM NGEYEL” KHAS wahabi mulai keluar ……..ya begitulah wahabiyun di mana2 kalau kalah ber Hujjah…….

  115. Mas Mamo, kita harus sabar untuk saling mengingatkan mereka karena mereka telah bersyahadat.

    Salah satu pokok kesalahpahaman mereka yang mengaku-aku berpemahaman serupa dengan Salafush Sholeh adalah dalam memahami hadits Jariyah.

    Hadits ini menjelaskan beberapa hal penting kepada kita, diantaranya
    1. Sekelumit pelajaran yang bisa dipetik dari hadits, diantaranya;
    a. Rasul Saw. mencontohkan metode mengajar yang tauladan.
    b. Hadits ini menceritakan tentang masalah membayar kafarah berupa pembebasan seorang budak yang disyaratkan mesti beriman. Rasul Saw. memastikan apakah budak yang akan dibebaskan sudah beriman?!
    c. Di dalam hadits menceritakan tentang status periwayat hadits yang baru masuk islam.
    d. Di dalam hadits menceritakan keadaan kaum si periwayat hadits.
    e. Di dalam hadits diceritakan cara Rasul Saw. mengetahui bahwa si budak seorang beriman atau bukan? Berdasarkan indikasi yang nampak oleh Rasul Saw..[3]

    2. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim pada bab “Haram berbicara di dalam shalat”. Beliau tidak meriwayatkan pada bab “iman”, bab “kafarah dengan pembebasan budak beriman”, dan juga bukan pada bab “pembebasan budak”. Artinya hadits ini beliau kelompokkan ke dalam masalah-masalah `amaliyah, bukan bersifat masalah akidah. Karena hadits ini tidak cukup kuat untuk berdalil di dalam masalah akidah.

    Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/12/hadits-jariyah/

    1. akhi MZ, kemaren anda lancang sekali berkata bahwa telah Ijma’ ulama tentang adanya idhthirob dalam hadits jariyah. saya khawatir, anda hanya membual seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal.

      “Barangsiapa yang mengklaim ijma’ maka ia telah berdusta, bagaimana dia mengetahui hal itu, padahal bisa saja orang-orang berbeda pendapat.” (al-Muhalla (III/246)

      jadi bisakah anda membuktikan klaim Ijma’ tersebut?

      1. Wahai saudaraku @’Ajam, pada komentar nomor berapa kami menuliskan ijma’ ulama ?
        Antum tahukan resiko mengatakan sesuatu yang tidak pernah kami lakukan ?

        Kami ini menyampaikan atau menjelaskan semua ini untuk membantu antum memahami agama karena Allah ta’ala semata.

        Semoga antum dapat mendengar, melihat dan berjalan dengan hati agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla.

        1. saya kutipkan saja komentar anda. anda berkata:

          Salah paham yang besar bagi mereka yang mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui “di mana” Allah. Salah satunya mereka berpegang pada hadits tentang budak Jariyah. Para hafiz di bidang hadits dan para pakar hadits yang mu`tabar sepanjang sejarah SEPAKAT menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits mudltharib, yang disebabkan oleh banyaknya versi dari hadits ini, baik secara redaksional maupun secara sanad hadits. Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan hadits ini adalah sahih tapi syadz dan tidak bisa dijadikan landasan menyangkut masalah akidah!

          saya katakan:
          bukankah “sepakat” itu sama dengan “Ijma”?

          1. Hm, komentar kami di #304.

            Bagi kami yang dimaksud Ijma ulama adalah kesepakatan ulama. Seharusnya bisa dibedakan antara ulama sepakat dengan kesepakatan ulama. Kalau ulama sepakat artinya masih sebagian ulama yang sepakat.

            Dalam komentar tersebut kami telah pula tuliskan “sebagian ulama mengatakan hadits ini adalah sahih tapi syadz dan tidak bisa dijadikan landasan menyangkut masalah akidah.

            Bahkan Imam Muslim pun sepakat meletakan hadits tersebut bukan dalam bab tentang iman atau akidah. Inti dari hadits tersebut sebenarnya adalah perkataan Rasulullah bahwa ‘Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.’

          2. ya sudah, saya husnu dzon saja bahwa anda tidak bermaksud mengklaim ijma’ setelah penjelasan yang aneh ini.

            baiklah, kita masuk lagi pada pembahasan. anda katakan sebagian ulama mengatakan hadits ini adalah shahih tapi syadz. sebelumnya juga anda katakan hadits ini mudhthorib.

            saya bertanya, dalam kaidah ilmu hadits, hadits yang ada syadz dan idhthirob itu bisa dikatakan shahih atau tidak?

          3. Dikatakan dalam komentar kami, hadits tersebut sebagian ulama berpendapat sebagai hadits mudltharib, yang disebabkan oleh banyaknya versi dari hadits ini, baik secara redaksional (matan) maupun secara sanad hadits.

            Dan sebagian lagi yang lainnya mengatakan shahih tapi syadz untuk dijadikan landasan menyangkut masalah iman atau akidah. Untuk itulah Imam Muslim meletakkannya tidak pada bab tentang iman/akidah

          4. 1) pertanyaan saya adalah “apakah dalam kaidah ilmu hadits, hadits yang terdapat syadz dan idhthirob bisa dikatakan shahih?”. kalo iya, ulama siapa yang mengatakan demikian? jika tidak, maka anda harus tegas mengatakan apakah hadits ini shohih atau dho’if.

            2) adakah ulama yang mengatakan bahwa hadits jariyah ini mudhthorib (selain jahmiyah, mu’tazilah dan asy’ariyah)?

            3) apakah anda sudah paham bagaimana suatu hadits dinilai mudhthorib?

          5. Kami jawab dari pertanyaan no 3 terlebih dahulu. Tentu kita paham bahwa kita mengetahui yang dimaksud hadits mudltharib (ketidaktepatan atau diperselisihkan) baik mudltharib matan atau mudltharib sanad. Hukumnya, Al-Idlthirab menyebabkan hadits menjadi lemah. Hal ini karena dalam hadits mudltharib terdapat isyarat yang menunjukkan ketidaktepatan/ketidaktelitian, baik pada sanad maupun matan.

            1). Tampaknya antum salah paham. Komentar kami berisi dua pendapat sebagian ulama terhadap hadits tsb. Satu berpendapat mudltharib baik sanad maupun matan. Yang lain berpendapat syahih namun syadz (meragukan) sebagai landasan menyangkut masalah iman atau akidah.

            2) Imam Muslim pun menurut pendapat kami berpendapat shahih namun syadz (meragukan) sebagai landasan menyangkut masalah iman atau akidah. Untuk itulah beliau meletakan hadits tersebut bukan pada bab tentang iman/akidah

          6. ternyata anda orang yang plin plan.

            kita cek ulang perkataan anda. anda tunjukkan pada saya sebuah link di blog anda. disitu anda sebutkan komentar Al Baihaqy terhadap hadits jariyah riwayat Muslim. dari ulasan di blog anda itu, saya menarik 2 poin penting:

            1) menurut anda, Al Baihaqy meragukan bahwa hadits itu diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Shohihnya.
            2) menurut anda, Al Baihaqy menganggap hadits itu mudhthorib.

            saya katakan:
            anda tidak bisa melihat kenyataan yang terpampang jelas di depan mata. anda membaca tapi tidak sampai kerongkongan. jelas2 Al Baihaqy berkata: “Hadits ini shohih”, lalu bagaimana mungkin anda katakan mudhthorib?. beliau juga berkata: “Diriwayatkan oleh Muslim”, lalu bagaimana mungkin anda katakan tidak diriwayatkan oleh Muslim?

            anda katakan bahwa sebagian ulama mengatakan hadits ini shahih tapi syadz. apa maksudnya “syadz” disini? jika anda katakan bahwa maksudnya adalah “meragukan untuk dijadikan dalil dalam masalah aqidah”, jelas ini adalah pendefinisian yang ngawur.

            pertanyaan saya yang lain masih belum anda jawab:

            1) siapa ulama yang berpendapat hadits jariyah ini mudhthorib?

            2) menurut anda, yang dimaksud dengan hadits mudhthorib itu hadits yang bagaimana?

            saya tambahkan

            3) siapa ulama yang mengatakan bahwa hadits ini bukan dalil aqidah ‘Ulluw?

  116. @mas mamao

    Salam kenal mas, setuju mas,klo sdh kehilangan pijakan, pada kabur tuh Wahabi cs …

    @Abah zahra dan @Baihaqi

    Salam kenal mas, mengenai plin-plan nya salafi dalam perpolitikan, janganlah dulu kasus di Mesir, di negara Indonesia tercinta ini saja, PKS yang banyak dihuni Salafy, sering membuat blunder politik yang aneh-aneh dan inkonsisten.

  117. @Ajam, agar enak dibaca kami pindahkan ke sini
    Ibnu Hajar al Asqallâni –penutup para hafidz- dalam kitab at Talkhîsh al Khabîr-nya terhadap hadits tersebut, ia mengatakan:
    .??? ??????? ??????? ????????
    “Dan pada redaksinya terdapat pertentangan yang sangat banyak.”
    Ia menegaskan dalam Fathu al Bâri-nya,1/221:
    ??? ????? ?????? ?????? ???????? ???? ??? ????? ??? ???? ?? ??? ??? ? ??? ?? ????? ???? ?? ????? ???. ?
    “Kerena sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahasia-rahasia ketuhanan itu terlampau pendek u…ntuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan kepada ketetapan-Nya: Mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan Dzat-nya: Di mana?.”

    Kesimpulannya bagi kami bahwa hadits tersebut hal yang utama adalah perkataan Rasulullah bahwa “Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.’

    Hal yang menjadi masalah adalah kaum Salafi Wahhabi menjadikan hadits tersebut sebagai landasan i’tiqad / akidah sedangkan Imam Muslim tidak meletakkannya pada bab iman/i’tiqad.

    1. pertama, Ibnu Hajar tidak secara shorih mengatakan hadits ini mudhthorib, apalagi melemahkannya.

      kedua, justru perkataan Ibnu Hajar yang shorih adalah menshohihkan. beliau berkata: “Hadits shahih, diriwayatkan Muslim”. (Fathul Bari 13/359)

      ketiga, dari perkataan Ibnu Hajar di atas, sepertinya sodara MZ ingin menyatakan bahwa hadits jariyah itu adalah mudhthorib matan. namun sayang sodara MZ tidak mengerti hadits mudhthorib matan itu seperti apa.

      keempat, jika telah jelas keshahihannya, maka tidak selayaknya kita pertentangkan dengan Quran atau Hadits shahih yang lain, karena wahyu2 Alloh tidak mungkin saling bertentangan. Hadits shahih juga tidak mungkin bertentangan dengan akal sehat.

      kelima, masih banyak ulama lain yang menerima hadits ini dan menjadikannya sebagai dalil aqidah ‘Ulluw. sebut saja Abdul Ghoni Al Maqdisiy, beliau berkata: “Siapakah yang lebih jahil dan rusak akalnya serta tersesat jalannya melebihi seorang yang mengatakan bahwa tidak boleh bertanya di mana Allah setelah ketegasan pembuat syari’at dengan perkataannya dimana Allah?” (al-Iqtishod fil I’tiqod hal. 89). seandainya saat ini Abdul Ghoni Al Maqdisiy masih hidup, saya jawab pertanyaan beliau itu: “orang itu adalah mutiarazuhud”.

      keenam, seandainya, sekali lagi seandainya hadits jariyah ini tidak bisa dipakai sebagai dalil aqidah ‘Ulluw, masih banyak ayat Alquran dan Hadits shohih serta atsar shohih yang menjadi dalil aqidah ‘Ulluw ini. misalnya saja atsar Zainab bintu Jahsy riwayat Al Bukhori, beliau berkata: “Kalian dinikahkah oleh keluarga kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Alloh dari atas tujuh langit”.

      ketujuh, siapa bilang Ibnu Hajar Al Asqolaniy adalah penutup para hafidz?

      1. jadi ingat perkataan Gus Dur : “Umat Islam tidak boleh terjebak pada aspek yang sifatnya instan nafsu. Ini memudahkan perilaku spiritual umat Islam rentan pada pertarungan kebudayaan dan pluralistas. Akibatnya, secara psikologis ini memudahkan yang tidak sama dianggap salah,” dan filosofi sufi : Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati.

        jadi menurut ana Instropeksi pribadi bagaimana kita ibadah lebih bermanfaat ….wallohu ‘alam ….

        1. mas MZ, jangan anda menjadi orang sombong. orang sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

          saya sudah menunjukkan kebenaran yang tidak bisa anda bantah. sekiranya Alloh memberi umur panjang pada anda, pergunakanlah untuk kembali pada aqidah yang benar.

          1. kebenaran menurut pemahaman nt Jam …….kebenaran dgn hawanafsu @Ajam ,……Aqidah yang benar menurut @Ajam …….nt bukan mutlak kebenaran jam …..Apa nt merasa me wakili Alloh dan Rosul ????? yang sombong itu nt @jam coba ulama mahzab apa nt bisa ngomong keAliman mereka itu diragukan ????? kalau nggak kenapa nt nggak bermahzab ????? atau nt menganggap dah sampai tingkatan derajat nt dgn mereka ????? belajar lagi jam Islam itu luas dan dalam jangan merasa udah paling tau Islam lah ……..taqlid ulama mahzab insyaAlloh lebih selamat ……

          2. Kasihan Ajam, semakin membabi buta ngomongnya. Padahal yg benar adalah yg dibawakan keterangannya oleh Mas EMZED, lebih komprehensif dalam menjelaskan duduk persoalan. Sementara yg dilakukan Ajam adalah sekedar ngeyel menganggap diri yg benar dan inilah yg menghijab hatinya menjadi gelap gulita sehingga tidak mampu melihat kebenaran yg disampaikan Mas Emzed.

            Dimana2 emang pengikut Wahabi seperti Ajam ini, tidak hanya di dunia online tetapi juga di dunia offline.

          3. @Ajam dan @fadli
            Berikut adalah perbincangan kami dengan KH Thobary Syadzily mengenai pendapat beliau tentang ‘di mana’ bagi Allah Azza wa Jalla

            *****awal pendapat KH Thobary Syadzily *****
            Dalam ilmu tauhid, Allah swt maha dibersihkan dari enam kam, yaitu:
            1. Kam Muttasil fidz-Dzat
            2. Kam Muttasil fish-Shifat
            3. Kam Muttasil fil-Af’al
            4. Kam Munfasil -fidz-dzat
            5. Kam Munfashil fish-Shifat
            6. Kam Munfasil fil-Af’al.
            Sebaliknya keenam kam tsb hanya ada pada makhluk karena:
            ???? ???? ???? ?? ???? ?????? ? ??????? ? ????????
            Artinya: Allah Maha dibersihkan dari ciri-ciri makhluk, warna, dan segala bentuk kaifiyat (pertingkah-pertingkah makhluk).
            Kaifiyat di sini kalau dalam ilmu filsafat dinamakan: 10 Dasar Pertanyaan Filsafat, di mana, ke mana, bagaimana dsb. Oleh karena itu dalam kehidupan ini perlu sekali mempelajari ilmu tauhid, karena ilmu tauhid itu peranannya sangat sentral, sehingga kita dalam menjalani hidup ini dapat terpimpin dengan baik.
            Dalam kaitannya dengan orang-orang yang faham terhadap ilmu tauhid, masalah-masalah yang dianggap bid’ah, syirik dan sesat (seperti ziarah kubur, tabarruk, tawassul dsb) oleh kelompok2 kaum puritan, itu merupakan tuduhan yang tidak pas dan bisa juga itu merupakan bid’ah yang sebenarnya.
            Orang yang menuduh syirik, sesat dan bid’ah terhadap orang yang faham dalam masalah ilmu tauhid, sebenarnya orang itu telah melakukan bid’ah yang sebenar-benarnya bid’ah.
            Untuk mengetahui ilmu tauhid yang bersih dari faham-faham yang bengkok, silahkan anda pelajari kitab-kitab, seperti: Tijan ad-Daruri karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, Fathul Majid karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, Jauharatut Tauhid karya Syeikh Ibrahim Baijuri, Kifayatul ‘Awam, Sanusiyah, Hudhudi, Ad-Dasuqi ‘ala Ummil Barahin dsb “
            ****akhir pendapat****

            Memang Al-Qur’an diturunkan “dengan bahasa Arab yang jelas” (QS Asy Syu’ara [26]:195) namun dapat dipahami oleh kaum yang mengetahuinya. firman Allah ta’ala yang artinya, “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fushshilat [41]:3 ).

            Jika kita belum dapat merujuk secara langsung dengan Al-Qur’an dan Hadits maka kita disarankan untuk bertanya dengan mereka yang mengetahui sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya, “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS An Nahl [16]:43). Jika ingin bertanya tentang tauhid lebih lanjut silahakan hubungi beliau melalui facebook di

            Pernyataan Allah berada/bertempat di langit atau di atas `arsy adalah konsekuensi dari pertanyaan “dimana?” dan “bagaimana?”, meskipun tidak menyebutkan secara jelas pertanyaan tersebut!

            Meskipun pernyataan Allah berada di langit atau di atas `arsy dikunci dengan pernyataan “jangan fikirkan bagaimana Allah berada di langit atau di atas `arsy”, ini tidak menafikan mereka menisbahkan sifat makhluq kepada Al Khaliq, yaitu keduanya sama-sama berada pada suatu tempat!

            Ketika anda menyatakan bahwa Allah berada di atas `arsy atau di atas langit itu artinya anda sudah duluan menentukan kaifiyah terhadap Allah dengan menetapkan langit atau `arsy sebagai tempat Allah berada. Ketika ini disampaikan kepada orang lain maka anda sudah membuat orang berfikir.

            Ketika anda sudah dahuluan memikirkan zat Allah dan membuat orang berfikir kemudian anda melarang orang memikirkan tentang kaifiah zat Allah! Justru pemikiran anda yang seperti ini sangat sulit dipahami oleh orang lain, karena kontradiktif secara akal! Pendapat KH KH Thobary Syadzily , “Mereka yang mengatakan dan meyakinkan bahwa Allah itu bersemayam di atas ‘arasy meskipun bersemayamnya sesuai dengan keagunga-Nya, itu merupakan pandangan yang tidak dilandasi dengan ilmu tauhid yang kuat seperti yang diterangkan dalam kitab2 ilmu tauhid: Tijan ad-Daruri, As-Sanusiyah, Kifayatul ‘Awam, Fathul Majid (karya Syeikh Nawawi al-Bantani), Jauharatut Tauhid, Hudhudi, Ad-Dasuqi ‘Syarhi Ummil Barahin, dan lain-lain”.

            Kami sepakat bahwa pada zaman modern ini kita sebaiknya mensosialisasikan buku/tulisan karya ulama sholeh nenek moyang (ulama sholeh terdahulu) dari kalangan kita sendiri yang masih terjaga ke-asli-an di tengah adanya kemungkinan perubahan yang jahil terhadap buku-buku peninggalan para ulama dahulu sebagaimana yang dicontohkan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/11/al-ibanah/

            Hal seperti itu juga disampaikan oleh Syeikh Al Azhar Dr. Ahmad At Thayyib dalam “Forum Alumni Al Azhar VI” bahwa adanya upaya negatif terhadap buku para ulama, “Demikian juga adanya permainan terhadap buku-buku peninggalan para ulama, dan mencetaknya dengan ada yang dihilangkan atau dengan ditambah, yang merusak isi dan menghilangkan tujuannya.” Selengkapnya silahkan baca pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/27/ikhtilaf-dalam-persatuan/

        2. pertanyaan “dimana Alloh?” adalah disyariatkan.

          1) berdasarkan hadits jariyah yang shohih. adapun perkataan MZ bahwa para hufadz sepanjang sejarah sepakat menganggapnya mudhthorib, ini hanyalah omong kosong.

          2) berdasarkan atsar Ibnu Umar.

          dari Zaid bin Aslam, beliau bercerita: “Ibnu Umar pernah melewati seorang penggembala kambing, lalu beliau berkata: “Wahai penggembala kambing, adakah kambing yang layak untuk disembelih?” Jawab si penggembala: “Tuan saya tidak ada disini.” Ibnu Umar berkata: “Katakan saja pada Tuanmu bahwa kambingnya dimakan serigala.” Penggembala itu mengangkat kepalanya ke langit seraya berkata: “Lalu dimana Alloh?” Ibnu Umar berkata: “Demi Alloh, sebenarnya aku yang lebih berhak mengatakan “Dimana Alloh?”!”. Kemudian Ibnu Umar membeli penggembala serta kambingnya, membebaskannya dan memberinya kambing.” (Mu’jam Kabir Thobroni 12/263/13054)

          3) Abdul Ghoni Al Maqdisiy berkata: “Siapakah yang lebih jahil dan rusak akalnya serta tersesat jalannya melebihi seorang yang mengatakan bahwa tidak boleh bertanya di mana Allah setelah ketegasan pembuat syari’at dengan perkataannya dimana Allah?” (al-Iqtishod fil I’tiqod hal. 89)

          4) Adz Dzahabiy berkata: “Dalam hadits ini terdapat dua masalah: pertama, disyariatkannya pertanyaan seorang muslim, “Dimana Alloh”, dan kedua, jawaban yang ditanya adalah “Di atas langit”. barangsiapa mengingkari kedua masalah ini, berarti dia mengingkari Nabi.” (Al ‘Ulluw lil ‘Aliyyil ‘Adzim)

          5) Ibnul Qoyyim berkata: “Nabi pernah bertanya, “Dimana Alloh?”, lalu dijawab oleh yang ditanya bahwa Alloh berada di atas langit. Nabi pun kemudian ridho atas jawabannya dan mengetahui bahwa itu adalah hakikat iman kepada Alloh dan beliau juga tidak mengingkari pertanyaan ini atasnya. Adapun kelompok Jahmiyah, mereka menganggappertanyaan “Dimana Alloh?” seperti halnya : Apa warnanya, apa rasanya, apa jenisnya dan apa asalnya dan lain sebagainya dari pertanyaan yang mustahil dan batil.” (I’lamul Muwaqqi’in 3/521)

    1. Mas Emzed, thanks atas link-nya syekh perintis Wahabisme tsb, sudah saya print dan sebarkan buat di lingkungan tempat tinggal lewat RT.

    1. Biasalah, wahabiyyun hobby memelintir perkataan ulama, sudah terkenal di seluruh dunia. Bahkan makna ayat Qur’an pun dipelintir agar sesuai hawa nafsunya. Misalnya tentang ayat-ayat untuk orang kafir dipelintir maknanya agar bisa untuk menyerang orang Islam yg tidak sepaham Wahabi. Sudah TOP-lah Wahabi tentang hal pelintir-pelintiran ini….

  118. ya sudahlah. diskusi tentang hadits jariyah dan kemiripan asy’ariyah dengan jahmiyah mandeg sampai sini.

    wassalaamu’alaikum warohmatulloh

  119. @ajam, ini yang mendukung pendapat kami maha suci Allah dari “di mana Dia” dan “bagaimana Dia”

    Ibnu Hajar al Asqallâni dalam Fathu al Bâri-nya,1/221:
    “Karena sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahasia-rahasia ketuhanan itu terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan kepada ketetapan-Nya: Mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan Dzat-nya: Di mana?.”

    Imam Sayyidina Ali kw juga mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana“ (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 98)

    Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“.

    1. pertama, hadits jariyah ini adalah shohih. anda tidak bisa membantahnya.

      kedua, jika telah shohih, tidak selayaknya dipertentangkan dengan perkataan orang lain, sekalipun itu Abu Bakar atau Umar.

      Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata, “Hujan batu dari langit akan segera menimpa kalian. Aku katakan, ‘Rosululloh bersabda demikian’, namun kalian mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata demikian’.” (Ibnu Baththol)

      ketiga, telah lalu atsar Ibnu Umar, Abdul Ghoni Al Maqdisiy, Adz Dzahabiy dan Ibnul Qoyyim tentang disyariatkannya bertanya “dimana Alloh?”. perkataan mereka lebih layak diikuti karena lebih sesuai dengan perkataan Nabi.

      1. Silahkan @ajam berpendapat seperti itu . Bagi kami hadits Jariyah shahih namun syadz untuk landasan i’tiqad / akidah. Hadits tersebutpun dalam kitabnya tidak berada pada bab tentang Iman namun tentang sholat.

        1. kemaren anda katakan hadits itu mudhthorib, sekarang anda katakan shahih. lalu anda tambahkan, shahih tapi tidak bisa dijadikan dalil aqidah ‘Ulluw.

          padahal hadits shohih adalah ucapan Nabi. bagaimana mungkin ucapan Nabi anda nafikan dan lebih mengutamakan ucapan orang lain. saya benar2 kuatir, batu akan turun dari langit menghujani anda. saya katakan “Nabi bersabda begini”, anda bantah dengan mengatakan “Ibnu Hajar berkata begini”.

          kaidah mana yang mengatakan bahwa jika suatu hadits diletakkan pada bab amal/ibadah/fiqih tidak bisa dijadikan dalil aqidah? ulama ahli hadits siapa yang membuat kaidah seperti itu?

          saya kira cukuplah sampai disini pembahasan mengenai hadits jariyah. kita telah sama2 sepakat bahwa hadits itu shohih. hanya saja, anda menerima hadits itu sebagaimana kaum jahmiyah menerimanya, sedangkan saya mengambil jalan ashhabul hadits saja.

          1. Loh antum itu bagaimana toh, kami katakan sebagian ulama yang menyatakan hadits tersebut mudltharib. Studinnya silahkan baca link yang telah kami sampaikan.

            Sedangkan secara sederhana adalah hadits tersebut shahih namun syadz untuk dijadikan landasan i’tiqad / akidah. Bagi kami hal ini terbukti dengan hadits tersebut bukan berada pada bab tentang iman.

            Silahkan antum beri’tiqad dengan “di mana” namun apakah itu sesuai dengan memandang, mendengar dan berjalan dengan hati.

          2. saya kan sudah lama bertanya, siapa ulama yang menilai hadits itu mudhthorib? link yang anda sebutkan itu tidak bermanfaat sama sekali karena anda menyebutkan Al Baihaqy, sedangkan Al Baihaqy dengan sangat gamblang mengatakan shohih. lalu anda juga menyebutkan Ibnu Hajar, padahal lagi2 Ibnu Hajar malah mengatakan shohih juga. sebutkan saja secara langsung siapa saja ulama yang menilai hadits itu mudhthorib!

            seharusnya antum bersikap jujur dengan berkata sebagaimana yang mereka katakan. mereka tidak berkata mudhthorib, kenapa antum berkata mudhthorib? saya kira hal ini lumrah di kalangan asy’ariyah masa kini. lha wong berdusta atas nama nabi saja ringan di lisan apalagi dusta atas nama ulama.

            siapa ulama yang menetapkan kaidah bahwa hadits yang diletakkan dalam bab amal/fiqih tidak bisa dijadikan dalil bab aqidah? apakah Ibnu Hajar, Al Baihaqy, An Nawawi, atau As Suyuthi? atau anda membuat kaidah sendiri?

            lalu bagaimana jika ada hadits yang memuat perkara aqidah sekaligus fiqih, seperti hadits isro’ dan mi’roj? dari sisi aqidah, hadits ini adalah dalil ‘Ulluw, ru’yatulloh, azab neraka dan ni’mat surga dll. dari sisi fiqih, dalil ini adlaah dalil perintah sholat. apakah anda menilai hadits isro’ mi’roj ini syadz juga?

            pertanyaan “dimana Alloh” ini adalah sunnah nabi dan diikuti oleh Ibnu Umar. apakah anda ingin menjadi orang yang ingkar sunnah?

  120. Berikut adalah perbincangan kami dengan KH Thobary Syadzily mengenai pendapat beliau tentang ‘di mana’ bagi Allah Azza wa Jalla

    *****awal pendapat KH Thobary Syadzily *****
    Dalam ilmu tauhid, Allah swt maha dibersihkan dari enam kam, yaitu:
    1. Kam Muttasil fidz-Dzat
    2. Kam Muttasil fish-Shifat
    3. Kam Muttasil fil-Af’al
    4. Kam Munfasil -fidz-dzat
    5. Kam Munfashil fish-Shifat
    6. Kam Munfasil fil-Af’al.
    Sebaliknya keenam kam tsb hanya ada pada makhluk karena:
    ???? ???? ???? ?? ???? ?????? ? ??????? ? ????????
    Artinya: Allah Maha dibersihkan dari ciri-ciri makhluk, warna, dan segala bentuk kaifiyat (pertingkah-pertingkah makhluk).
    Kaifiyat di sini kalau dalam ilmu filsafat dinamakan: 10 Dasar Pertanyaan Filsafat, di mana, ke mana, bagaimana dsb. Oleh karena itu dalam kehidupan ini perlu sekali mempelajari ilmu tauhid, karena ilmu tauhid itu peranannya sangat sentral, sehingga kita dalam menjalani hidup ini dapat terpimpin dengan baik.
    Dalam kaitannya dengan orang-orang yang faham terhadap ilmu tauhid, masalah-masalah yang dianggap bid’ah, syirik dan sesat (seperti ziarah kubur, tabarruk, tawassul dsb) oleh kelompok2 kaum puritan, itu merupakan tuduhan yang tidak pas dan bisa juga itu merupakan bid’ah yang sebenarnya.
    Orang yang menuduh syirik, sesat dan bid’ah terhadap orang yang faham dalam masalah ilmu tauhid, sebenarnya orang itu telah melakukan bid’ah yang sebenar-benarnya bid’ah.
    Untuk mengetahui ilmu tauhid yang bersih dari faham-faham yang bengkok, silahkan anda pelajari kitab-kitab, seperti: Tijan ad-Daruri karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, Fathul Majid karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, Jauharatut Tauhid karya Syeikh Ibrahim Baijuri, Kifayatul ‘Awam, Sanusiyah, Hudhudi, Ad-Dasuqi ‘ala Ummil Barahin dsb “
    ****akhir pendapat****

  121. Memang Al-Qur’an diturunkan “dengan bahasa Arab yang jelas” (QS Asy Syu’ara [26]:195) namun dapat dipahami oleh kaum yang mengetahuinya. firman Allah ta’ala yang artinya, “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fushshilat [41]:3 ).

    Jika kita belum dapat merujuk secara langsung dengan Al-Qur’an dan Hadits maka kita disarankan untuk bertanya dengan mereka yang mengetahui sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya, “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS An Nahl [16]:43).

    Jika ingin bertanya tentang tauhid lebih lanjut silahkan hubungi KH Thobary Syadzily melalui facebook.

  122. Pernyataan Allah berada/bertempat di langit atau di atas `arsy adalah konsekuensi dari pertanyaan “dimana?” dan “bagaimana?”, meskipun tidak menyebutkan secara jelas pertanyaan tersebut!

    Meskipun pernyataan Allah berada di langit atau di atas `arsy dikunci dengan pernyataan “jangan fikirkan bagaimana Allah berada di langit atau di atas `arsy”, ini tidak menafikan mereka menisbahkan sifat makhluq kepada Al Khaliq, yaitu keduanya sama-sama berada pada suatu tempat!

    Ketika anda menyatakan bahwa Allah berada di atas `arsy atau di atas langit itu artinya anda sudah duluan menentukan kaifiyah terhadap Allah dengan menetapkan langit atau `arsy sebagai tempat Allah berada. Ketika ini disampaikan kepada orang lain maka anda sudah membuat orang berfikir.

    Ketika anda sudah dahuluan memikirkan zat Allah dan membuat orang berfikir kemudian anda melarang orang memikirkan tentang kaifiah zat Allah! Justru pemikiran anda yang seperti ini sangat sulit dipahami oleh orang lain, karena kontradiktif secara akal!

  123. Pada kesempatan yang lain KH Thobary Syadzily menyampaikan, “Mereka yang mengatakan dan meyakinkan bahwa Allah itu bersemayam di atas ‘arasy meskipun bersemayamnya sesuai dengan keagunga-Nya, itu merupakan pandangan yang tidak dilandasi dengan ilmu tauhid yang kuat seperti yang diterangkan dalam kitab2 ilmu tauhid: Tijan ad-Daruri, As-Sanusiyah, Kifayatul ‘Awam, Fathul Majid (karya Syeikh Nawawi al-Bantani), Jauharatut Tauhid, Hudhudi, Ad-Dasuqi ‘Syarhi Ummil Barahin, dan lain-lain”.

    Kami sepakat bahwa pada zaman modern ini kita sebaiknya mensosialisasikan buku/tulisan karya ulama sholeh nenek moyang (ulama sholeh terdahulu) dari kalangan kita sendiri yang masih terjaga ke-asli-an di tengah adanya kemungkinan perubahan yang jahil terhadap buku-buku peninggalan para ulama dahulu

  124. Berikut KH Thobary Syadzily pada facebook menjelaskan

    Isi-isi Ilmu Tauhid (????? ??? ???????):

    1. Definisi Ilmu Tauhid (??????):
    Imu yang mempelajari tentang sifat-sifat Allah dan para rasul, baik sifat-sifat yang wajib, mustahil maupun ja’iz, yang jumlah semuanya ada 50 sifat. Sifat yang wajib bagi Allah ada 20 sifat dan sifat yang mustahil ada 20 sifat serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. Begitupula sifat yang wajib bagi para rasul ada 4 sifat (sidiq. tabligh, amanah, dan fathanah) dan sifat yang mustahil ada 4 sifat (kidzb / bohong, kitman / menyembunyikan, khianat, dan bodoh) serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. 50 sifat ini dinamakan “Aqidatul Khomsin / ????? ??????? “. Artinya: Lima puluh Aqidah.

    2. Materi Ilmu Tauhid: Dzat Allah dan sifat-sifat Allah.

    3. Pelopor atau Pencipta Ilmu Tauhid (?????): Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (260 H – 330 H / 873 M – 947 M ) dan Imam Abul Manshur Al-Mathuridi ( 238 – 333 H / 852 – 944 M ).

    4. Hukum Mempelajari Ilmu Tauhid (????): Wajib ‘ain dengan dalil ijmali (global) dan wajib kifayah dengan dalil tafshili.

    5. Nama lain dari Ilmu Tauhid (????): Ilmu Tauhid, Ilmu Ushuluddin, Ilmu Kalam dan Ilmu ‘Aqa’id.

    6. Hubungan Ilmu Tauhid dengan Ilmu-ilmu lain (?????): Asal untuk ilmu-ilmu agama dan cabang untuk ilmu-ilmu selainnya.

    7. Masalah-masalah Ilmu Tauhid (??????): Sifat-sifat wajib, mustahil, dan ja’iz bagi Allah swt dan para Rasul-Nya.

    8. Pengambilan Ilmu Tauhid (????????): Dari Al-Qur’an, Al-Hadits, dan akal yang sempurna.

    9. Faedah Ilmu Tauhid (??????): Supaya sah melakukan amal-amal sholeh di dunia.

    10. Puncak Mempelajari Ilmu Tauhid (?????): Memperoleh kebahagian dengan mendapat ridha Allah swt dan dapat masuk surga.

  125. i dalam kitab “Hasiyah ad-Dasuqi ‘ala Ummi al-Barahin” karya Syeikh Muhammad Dasuqi halaman 83 diterangkan tentang hukumnya orang yang mengi’tiqadkan atau meyakinkan Allah sebagai berikut:

    ? ???? ?? ?? ????? ?? ???? ??? ???????? ??? ???? ? ?? ????? ??? ??? ?? ???????? ??? ??? ??? ???? ? ???????? ???? ?????? ?? ???? ??? ???? ? ?? ??? ? ?? ???? ???? ??? ??

    Artinya:
    ” Dan hendaklah kalian ketahui bahwa sesungguhnya barangsiapa meyakinkan Allah itu seperti jisim (bentuk suatu makhluk) sebagaimana jisim-jisim lainnya, maka orang tersebut hukumnya kafir (orang yang kufur dalam aqidah, bukan orang murtad). Dan barangsiapa meyakinkan bahwa Dia seperti jisim, namun tidak seperti jisim-jisim lainnya, maka orang tersebut adalah orang yang durhaka, bukan kafir. Adapun keyakinan (i’tiqad) yang benar adalah keyakinan yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah itu bukan jisim dan bukan pula sifat. Tidak ada seorang makhluk pun yang dapat mengetahui dzat Allah terkecuali hanya Dia semata”.

    Penjelasan di atas merupakan bagian penjelasan dari sifat Allah “Al-Mukhalafah lil Hahaditsi (???????? ??????? ) . Artinya: Allah swt berbeda dengan makhluk. Pokoknya tidak ada sesuatu pun yang dapat menyerupai Allah, baik dari segi dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun pekerjaan-pekerjaan-Nya, sebagaimana firman Allah swt : ??? ????? ??? ? ?? ?????? ?????? ( As-Syura: 11)

    Dengan demikian tidak sah seandainya Allah disamakan dengan sifat-sifat (?????), warna-warna (?????) dan pertingkah-pertingkah makhluk (?????? ) meskipun disesuaikan dengan keagungan-Nya seperti mempunyai tangan, mata, telinga, kaki, berwarna putih seperti cahaya, bersemayam dan sebagainya

  126. @ajam, apanya ya mandeg? Yang mandeg itu pikiran ente. Hadist jariyah itu sudah jelas hanya sedikit ulama yg menjadikannya dalil dalam masalah akidah. Jadi kalau namanya sedikit tentu sisanya, mayoritas ulama tidak menjadikannya dalil dalam masalah akidah. Hadist ini shahih secara periwayatan, tapi pertanyaan dimana Allah itu yg diperselisihkan maksudnya. Jadi karena ada perbedaan pendapat ulama tentang matan hadist (pertanyaan dimana Allah) maka hadist ini tidak bisa dijadikan dalil. Sekarang yg perlu kita tanyakan mana dalil dan tafsir ulama yg mengatakan bahwa istiwa Allah itu mengandung arti bahwa Allah bertempat dilangit? Atau dalil dan tafsir yg mengatakan Allah istiwa secara hakiki alias duduk atau bersemayam secara hakiki?

    1. ya jelas mandeg, karena MZ ga bisa ngebantah keshahihan hadits jariyah. malah sikapnya yang plin plan. kemaren bilang “para huffadz sepanjang sejarah telah sepakat menganggap hadits ini mudhthorib”, sekarang setelah saya tunjukkan bukti2 keshahihan hadits jariyah, dia bilang “shahih tapi syadz”. istilah “shahih tapi syadz” ini asalnya dari mana? siapa yang pertama kali membikin istilah ini di dunia ilmu hadits?

      anda ini juga tidak bisa belajar dari kesalahan MZ. jika hadits telah jelas2 shahih, maka itulah dalil yang qoth’i. yang mengucapkannya adalah orang yang sama yang mengucapkan bahwa dia telah melakukan isro’ dan mi’roj. orang yang sama pula yang mengucapkan bahwa dia melihat jibril, melihat neraka dan surga, melihat para nabi sebelumnya di langit. dia adalah orang yang sama pula yang memerintahkan pada kita untuk mengerjakan sholat, zakat, puasa, haji dan lain2. dialah orang yang perkataannya dijaga, bukan berdasarkan hawa nafsu, mealinkan wahyu yang telah diwahyukan.

      bagaimana mungkin kita menolak sebagian ucapannya dan menerima sebagian yang lain? bagaimana mungkin kita menolak ucapannya dan mengedepankan ucapan orang lain?

      1. Mas intinya tidak ada kesepakatan kita tentang hadist ini, apakah dipakai buat dalil tentang akidah atau tidak. Anda kalau mau ikut ulama yang menjadikan ini sebagai dalil terserah, kami juga ikut ulama yang tidak menjadikan hadist ini sebagai dalil dan menakwil maksud pertanyaan nabi itu kepada budak jariyah tsb. Mengatakan ulama yang satu lebih sesuai dengan nabi itu bahlol namanya, karena masing-masing punya argumen, yang namanya diperselisihkan tidak ada yang pasti benarnya atau paling sesuai. Sekarang saya minta anda tunjukkan dalil lain dan tafsir ulama tentang Allah bertempat di langit atau mempunyai arah diatas secara indrawi/hakiki.

      2. @Ajam, sudah berkali-kali kami sampaikan bahwa hadits itu shahih namun syadz untuk landasan akidah / i’tiqad atau keimanan.

        Agar lebih mudah dimengerti hadits tersebut shahih untuk urusan tentang sholat namun untuk redaksi (matan) seputar “di mana” banyak versi atau bertentangan dengan matan-matan yang lain. Jadi syadz untuk tentang iman atau i’tiqad. Apalagi dalam redaksi (matan) hadits tersebut dapat diketahui bahwa baru masuk Islam. Silahkan kalau antum beri’tiqad di atas landasan yang syadz.

  127. @ajam, masalah syeikh maliki sy husnozhon pada beliau, meyakini kemuliannya. Masalah hadist yg ente tanyakan sy tidak tahu. Yg perlu anda akui adalah wahabi telah menghancurkan pemakaman baqi, telah menghancurkan banyak situs bersejarah, termasuk rumah rasulullah, bekerjasama dgn amerika dan sekutunya bahkan menjadikannya pelindung. Anda akui atau tidak sejarah kelam ini, sebelum anda akui sejarah kelam yg lain?

    1. daripada anda membela dengan taqlid pada Alwi Al Maliki, sebaiknya anda doakan beliau semoga diampuni Alloh atas dosa2nya karena berdusta atas nama Nabi.

      adapun wahabi menghancurkan pekuburan baqi’, saya tidak berniat untuk mengingkarinya. justru saya ingin mengakuinya, benar wahabi melakukan itu. akan tetapi, yang perlu diluruskan adalah bahwasanya perbuatan wahabi menghancurkan pekuburan ituah yang sesuai dengan As Sunnah.

      Nabi bersabda: “Jangan kau biarkan patung-patung itu sebelum kau hancurkan dan jangan pula kau tinggalkan kuburan yang menggunduk tinggi sebelum kau ratakan.” (Muslim)

      ‘Aisyah berkata: “Kalaulah bukan karena sabda tersebut, niscaya kubur beliau akan ditampakkan, namun dikhawatirkan nantinya akan dijadikan masjid,” (Bukhori dan Muslim)

      justru yang menjadi SEJARAH KELAM seharusnya dialamatkan pada siapa yang pertama kali membangun kubur baqi’ dengan bangunan, karena dialah yang sesungguhnya menyelisihi sunnah.

      1. Daripada anda salah sangka terhadap Syekh Alwi al maliki lebih baik anda diam saja. Berbahaya anda menghina ahlu bait Rasulullah, sesungguhnya siapa yang membenci ahlu bait, maka Rasul pun bisa benci kepadanya. Lebih baik masalah ini tidak kita bahas, saya takut laknat turun kepada ente. Jadi pembahasan ini saya hentikan. Mas, masalah meratakan kuburan termasuk ikhtilaf ulama, salah satu tafsir tentang meratakan kuburan itu maksudnya bukan meratakan sama dengan tanah, tetapi rata tidak menonjol namun lebih tinggi dari tanah. Masalah bangunan di kuburan, sebagian ulama mengatakan makruh, tetapi kalau bertujuan untuk melestarikan atau menjaga situs-situs bersejarah yang merupakan syiar-syiar Allah atau tanda-tanda agama Allah maka itu merupakan sesuatu yang mulia. Maka anda saksikan beratus-ratus tahun para ulama dan penguasa muslim melestarikan tanda-tanda agama Allah termasuk makam para nabi, sahabat dan ulama. Maka sejarah kelam mana yang akan anda tunjukkan kepada para ulama dari zaman salaf hingga zaman kini yang mengagungkan syiar-syiar yang merupakan tanda-tanda agama Allah?
        Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (QS. Al Hajj 32).

      2. Berikut ini daftar makam dan tempat yang juga dihancurkan Kaum Wahabi
        -Pemakaman al-Mualla di Mekah termasuk pusara isteri tercinta Nabi, Sayidah Khadijah binti Khuwailid , Makam Ibunda Rasul Siti Aminah binti Wahhab, makam pamananda Rasul Abu Thalib (Ayahanda Ali bin Abu Thalib) dan makam kakek Nabi Abdul Muthalib
        -makam Siti Hawa di Jedah
        -makam ayahanda Rasul Abdullah bin Abdul Muthalib di Madinah
        -rumah duka (baytl al-Ahzan) Sayidah Fatimah di Madinah
        -Masjid Salman al_Farisi di Madinah
        -Masjid Raj’at ash-Shams di Madinah
        -Rumah Nabi di Madinah setelah hijrah dari Mekah
        -Rumah Imam Ja’far al-Shadiq di Madinah
        -Komplek (mahhalla) bani Hasyim di Madinah
        -Rumah Imam Ali bin Abi Thalib tempat Imam Hasan dan Imam Husein dilahirkan
        -Makam Hamzah dan para syuhada Uhud di gunung Uhud

        diambil dari situs sufimedan.blogspot.com

        Bagi orang yang waras, pastilah mengetahui semua itu adalah situs-situs bersejarah umat Islam. Apakah kita mau bukti-bukti sejarah kita hilang?

        1. Mas dianth@

          Masya
          Allah…., laa khaula wala quwwata illa billah!!!

          Sampai kapan Wahabi-wahabi itu akan terus bangga dg kesesatannya? Wallohu a’lam….

          1. Entahlah mas baihaqi, Yang pasti Islam yang cinta damai, anti kekerasan telah ternodai. Apapun tujuannya menghilangkan bukti-bukti peradaban Islam yang tiada ternilai harganya adalah kejahatan. Mereka tidak hanya nerusak fisik harta tak ternilai sebuah peninggalan tapi juga telah berusaha menghancurkan turats (warisan klasik) ilmu-ilmu keislaman terutama Ilmu kalam, Ilmu tasawuf dan mazhab fikih. Hanya Allah pelindung kita.

  128. @ajam, masalah syeikh Maliki sy husnozhon pada beliau, meyakini kemuliannya. Masalah hadist yg ente tanyakan sy tidak tahu. Ente jgn lari ke masalah lain, Yg perlu anda akui adalah wahabi telah menghancurkan pemakaman baqi, telah menghancurkan banyak situs bersejarah, termasuk rumah rasulullah, bekerjasama dgn amerika dan sekutunya bahkan menjadikannya pelindung. Anda akui atau tidak sejarah kelam ini, sebelum anda akui sejarah kelam yg lain?

    1. Bego loe..
      Coba loe fikir, loe kira amerika mau datang ke Saudi tanpa bayaran,loe harus tahu itu, sebenarnya Amerikalah budak Saudi…
      Mereka bukan pelindung Saudi, Allah udah melindungi Makkah dan Madinah sampai hari kiamat, tak perlu bantuan kafir Amerika..
      Loe macam pernah ke Makkah aja, tanya sama yang udah pernah ke sana, apa pemakaman Baqi itu hancur apa gak? pemakaman itu masih ada sampai sekarang, sok ngerti sejarah loe..

      1. @Budi, kita harus paham bahwa Awaluddin makrifatullah, Awal agama adalah mengenal Allah, akhirnya adalah berakhlakul karimah atau muslim yang baik, muslim yang sholeh atau muslim yang Ihsan. Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

        1. Maaf mas MZ, terima kasih nasehatnya..!!
          Dianth macam tahu aja keadaan Saudi gimana? Apa orang amerika itu bebas keluar masuk Makkah Madinah padahal haram mereka masuk kesana..karena kafirnya mereka..!!!
          Kalo gak ngerti lebih baik diam..!!

          1. Mas Budi, secara dzahir Orang Amerika tidak masuk Makkah dan Madinah namun produk, sistem, gaya hidup mereka telah masuk ke sana. Gaya hidup yang berlebihan, hubud dunya telah masuk ke sana. Pelayan dua tanah suci telah mengizinkan budaya kapitalisme, hedonisme masuk ke sana. Infrastruktur di bangun di sana melebihi kebutuhan yang dikatakan secukupnya sehigga secara tidak disadari tidak dapat lagi me-napak tilas-i perjalanan ruhani ibadah haji yang pernah dilakukan ulama-ulama salaf (terdahulu) yang sholeh. Bisa jadi nanti yang tertinggal adalah ibadah fisik semata.

            Berikut ungkapan saudara kita dari Malaysia.

            “Hudaibiyah adalah tempat sejarah yang pasti dilawati oleh sesiapa yang ke Mekah. Kejadian yang merupakan strategi paling licik oleh Allah dan Rasul keatas para penentangNya. Perjanjian yang dibuat untuk menipu Allah dan Rasul akhirnya menjadi senjata makan tuan. Islam menang besar hasil menandatangani perjanjian Hudaibiyah oleh Rasulullah SAW terhadap Kafir Quraisy. Sedangkan sejarah Ashabul Kahfi pun masih dibesarkan orang di Amman, inilah pula Hudaibiyah.

            Sepatutnya tentulah sebuah muzium besar yang cukup gah dibangunkan di sekitar tempat kejadian terutama perigi dimana Rasulullah SAW meludah kepadanya hingga keluar air!

            Tapi kenapakah Wahabi telah biarkan tempat itu menjadi tempat bakar sampah sahaja. Tulisan kecil pun tiada menunjukan itulah tempatnya. Alasan apakah yang boleh mengubat luka hati kami ini wahai Wahabi terhadap perbuatan mu kepada nabi kami? Kenapa kamu benci sangat kepadanya?

          2. loe kagak tahu ya mengapa Osama bin Laden menjadi teroris? karena dia ngamuk melihat banyaknya tentara Amerika dan sekutunya di Wilayah Saudi. Kenapa kita harus diam..? bukankah kita dilarang mengambil kawan dekat kita dari orang yang memerangi kita.

          3. Sebentar lagi jika pembangunan-pembangunan maket-nya sudah selesai, orang-orang yang pergi haji konsentrasi ibadahnya akan terpecah antara rekreasi (hiburan) dengan ibadah. Itulah karya Sukses negeri Wahabi tsb dalam merusak ibadah kaum muslimin nantinya. Dan ini juga sudah diisyaratkan oleh nabi Saw, bahwa yg maksudnya nanti akan datang masa dimana orang pergi haji tidak dapat pahala haji kecuali sekedar rekreasi saja.

      2. hehehe, kok Budi marah. Amerika budak Saudi, yang benar aja mas, bukannya mereka bersekongkol. Anda benar, Allah udah melindungi Makkah dan Madinah sampai hari kiamat, tak perlu bantuan kafir Amerika..
        lalu mengapa mereka begitu mesra? Pemakamakan Baqi emang masih ada, tapi rata ama tanah, cari aja beritanya kalau ente tidak percaya.

        1. Membuat kuburan rata dg tanah itu salah satu maksudnya agar ummat Islam tidak bisa lagi napak tilas sejarahnya. Ada sejarahnya tapi nggak ada peninggalan sejarahnya. Makanya Wahabi juga disebut TALAFY (perusak).

  129. Kesimpulannya orang yang berkeyakinan “di mana Dia” untuk menanyakan tempat atau orang yang bertanya “bagaimana Dia” adalah mereka yang belum dapat mendengar, melihat dan berjalan dengan hati.

    Kita harus ingat selalu firman Allah ta’ala yang artinya,

    “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”. (QS Al Isra [17]:72 ) dan

    “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS Al Hajj [22]:46 ).

    [43:40] Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata? (QS Az Zukhruf [43]:40 )

  130. Allah Azza wa Jalla, tidak satupun yang menyerupaiNya.
    Allah Azza wa Jalla, tidak membutuhkan makhluk atau ciptaanNya
    Bahkan Allah Azza wa Jalla tidak membutuhkan namaNya, sifatNya, perbuatanNya namun kita membutuhkan namaNya, sifatNya, perbuatanNya untuk mengenal Allah (ma’rifatullah).
    Hal-hal yang kami sebutkan itu selaras dengan Allah itu Mukhollafatuhu lil hawaadits (Tidak Serupa dengan MakhlukNya), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya)

    Kami yakni bahwa Allah ta’ala itu Wujud (ada), Qidam (Terdahulu), Baqo’ (Kekal), Mukhollafatuhu lil hawaadits (Tidak Serupa dengan MakhlukNya), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya), Wahdaaniyah (Esa), Qudrat (Kuasa), Iroodah (Berkehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayaat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashor (Melihat), Kalam (Berkata-kata), Qoodirun (Yang Memiliki sifat Qudrat), Muriidun (Yang Memiliki Sifat Iroodah), ‘Aalimun (Yang Mempunyai Ilmu), Hayyun (yang Hidup), Samii’un (Yang Mendengar), Bashiirun (Yang Melihat), Mutakallimun (Yang Berkata-kata).

    Silahkan jika ada yang tidak meyakini (mengingkari) apa yang kami yakini tentang Allah Azza wa Jalla.

  131. Allah ta’ala itu Qidam (Terdahulu), Baqo’ (Kekal). Allah ta’la itu sebagaimana awal dan akhir. Tidak berubah dan berpindah. Sesuatu yang berpindah mempunyai ukuran dan bentuk. Seuatu yang berpindah membutuhkan tempat dan arah.

  132. Alam dunia adalah segala sesautu yang harus kita tinggalkan agar dapat sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla.

    Alam barzakh adalah tempat penantian bagi orang pada umumnya.

    Sedangkan Rasulullah, para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada ”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )dan oreang-orang sholeh menanti pada tempat di sisi Allah Azza wa Jalla. Mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki sebagaimana firmanNya yang artinya

    ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

    ”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )

    “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )

  133. Oops salah letak seharusnya tertulis.

    Sedangkan Rasulullah, para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh mendapatkan tempat penantian di sisi Allah Azza wa Jalla. Mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki sebagaimana firmanNya yang artinya

    ”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )

    ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

    ”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )

    “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )

  134. Ping-balik: Mengaku Ahlussunnah Waljama’ah, Tapi Kok Menganggap Sesat Asy’ariyyah Maturidiyyah ??? « UMMATI PRESS
  135. Hehehehe, sederhana koq…artikel paling tidak ilmiyyah yg pernah gw baca.
    Bwt Idrus Ramli dan ente2 pengikutnya…
    Sabar saja, tunggu keputusannya kelak di akhirat antara kami dan kalian.
    Siapa yang benar, siapa yang menyimpang di hadapan Allah.

    Hehehehe.

    1. hijau@

      Tidak usah menunggu di akherat, Mas. Sebab sejak di dunia ini juga ciri-cirinya sudah sangat jelas lho. Ya, jelas bahwa Wahabi adala tanduk syetan yg muncul di Najd, Najd adalah tempat kelahiran Yekh Muhammad bin Abd Wahab sang pendiri Wahabi yg sekarang sedang mlungsungi jadi Salafi, Salafi tapi Wahabi atau Salafi Wahabi. Ini sudah jelas, tidak usah nunggu sampai ke akhirat, ntar nyesel tiada gunanya sebab gak bisa balik ke dunia lagi.

    2. Mas hijau, sebelum kita ke akherat, tugas kita adalah menemukan kebenaran dan memperjuangkannya. Penyesalan ada di akherat, tiada berguna lagi. Semoga kita semua ditunjukkan Jalan yang lurus.

  136. dasar kuburiyun,,, ga boleh liat kuburan rada keramat n keren dikit,, lgsung berbondong bondong… ke mesjid aja lo pd males,,rajinnya klo lg maulid doank yg ada badogannya… huuuhh… makan tuh kuburan…!!

    1. mamo cemani gombong (palsu)@

      dasar WAHABIYYUN MAJASSIMUN KADZDZAABUUN, bukan kitab-kitab para ULAMA saja yg dipalsukan bahkan nama mas MAMO CEMANI GOMBONG pun-pun dipalsukan juga, he he he…..

      Benar-benar terbukti sebagai tukang memalsukan dan berbohong!!!

  137. dari awal hingga akhir saya menyimak dan berupaya untuk obyektif dalam komentar dan tulisan yang ada namun saya belum mendapati kebenaran dalil atas penjelasan orang yang senang dengan amalan yang tidak ada pada zaman RAsulullah. bagai mana mereka dapat mengatakan sebuah kebenaran sedangkan amalan mereka saja menentang kebenaran itu sendiri (yasinan dibilang sunnah/ tahlilan di bilang sunnah/ ngalab berkah kubur di bilang berpahala/ selamatan dibilang shodakhoh/ dari tulisan dan komentar diatas mungkin tidak ada namun dalam kehidupan kita sehari-hari siapa yang mau menafikan bahawa apa yang saya sebutkan tadi itu sebuah tidak terjadi pada mereka ahli bid’ah yang benci sunnah. contoh Kyai Afrokhi tobat dari hal diatas tadi tapi malah Kyai Afrokhi difitnah dengan banyak sekali fitnah seperti yang dilakukan sarkub dan kawan-kawannya. kita tidak boleh menutub mata bahwa sudah mulai banyak yang jemu dengan pemahaman yang sesat dan mereka ingin berpindah pada pemahan yang benar.

    1. nt itu wahabi jadi merasa paling sunah ya…?????@np bisa nt jelaskan fitnah kyai Afrokhi ????? tulis sanggahan/ alasan yang OBYEKTIF menurut nt ….jangan ASBUN

  138. @np
    Lebih utama kita selalu introspeksi hati kita. Soal amalan yasinan, tahlilan dsb kalau memang anda tidak yakin ga usah jalani tetapi gak usah ngributin orang yang melakukan.

    Kita cuma beda pada pemahaman mengenai sumber suci agama kita, Al Qur’an dan Hadist dan janganlah dengan pemahaman kita lalu seenak sendiri menghakimi orang lain.
    Islam itu tidak sesempit pemahaman kita lho, so jangan sok jadi hakim kebenaran.

    Kalau kita memahami agama sebatas akal, maka kita bisa terjebak lalu membatasi kebenaran sesuai kemampuan akal kita padahal sudah sangat jelas bahwa kemampuan akan kita sangat terbatas.

    Dari jaman nabi hingga kini, dalil-dalil suci tidak pernah berubah dan tetap suci. Semua mukmin pasti yakin akan kebenaran dalil-dalil suci ini namun pemahaman masing-masing umat pasti beda sesuai kadar akal dan ruhani masing-masing.

    Nah, apakah ada hukum dilarangnya yasinan, tahlilan, haul, maulid nabi dll didalam Al Qur’an yang qathi sebagaimana diharamkannya zina dan riba?

    Maaf lho mas, ini pertanyaan dari orang awam…….

    1. EMANG ADA PERINTAH yasinan, tahlilan, haul, maulid nabi dll didalam Al Qur’an yang qathi sebagaimana diharamkannya zina dan riba?

  139. abu fathimah :EMANG ADA PERINTAH yasinan, tahlilan, haul, maulid nabi dll didalam Al Qur’an yang qathi sebagaimana diharamkannya zina dan riba?

    Ane balikin ke ente yeh..
    Emang ade perintah ZAKAT FITHRAH PAKE BERAS di dalam Al-Qur’an yang Qath’i…???

    to all Ummatiers, Yang ini gak use dikometarin. Pertanyaanye ude basi alias kadaluarse. Senjata murahan nih…..

  140. asalam alaikum.
    lawong islam itu kan sudah jelas dan sempurna. mulai apa yang harus laksanakan itu sudah diperintah apalagi urusan ibadah.
    tuh kalau ada yang merasa bisa menunjukkan dasar dan dalil adanya yasinan tahlillan apalagi ngalap berkah dikubur maka silakan muat disini. dan kalau ada maka saya akan sangat berterimakasih dan bersyukur sehingga saya akan ikut lagi yasinan tahlillan dan ngalab berkah dikubur. soalnya saya sendiri dulu juga sangat gandrung bahkan sempat ingin tahlilan lagi di kampung. tapi kan itu butuh dalil..seandainya ada!!!! silakan yang merasa aswaja menjawabnya bukan dari selain aswaja soalnya saya juga ingin selalu berpegang juga dengan aswaja seperti yang lain.

  141. nun prasetyo@

    Mungkin karena belum dapat hidayah-NYA, dikasih dalil berderet juga kalian tidak bisa paham gitu lho. Yah maklum sudah kena virus wahabi stadium parah kayaknya.

    Coba lihat dalilnya di artikel berikut, KLIK: