Salafi Wahabi

Ibnu Taymiyah Antara Bid’ah Hasanah dan Maulid Nabi

INILAH IBNU TAYMIYAH : PERSEMBAHAN BUAT PARA PENGAGUM AS-SYAIKH IBNU TAYMIYAH. Berikut kami kutipkan beberapa pandangan/pendapat As-Syaikh Ibnu Taymiyah tentang beberapa perkara yang oleh para pengagum beliau dianggap sebagai Bid’ah Sesat atau Syirik.

Bismillah….

Mereka para asatidza Salafi besar kemungkinan mengabaikan atau bahkan menyembunyikan banyak fatwa Ibnu Taymiyah yang dirasa tidak sesuai dengan misi atau keinginan mereka.

Tulisan kami kali ini tidak dalam rangka membenarkan pendapat para ulama kami dengan berhujjah dengan pendapat As-Syaikh Ibnu Taymiyah. Akan tetapi kami persembahkan beberapa pendapat Syaikh Ibnu Taymiyah khususnya yang menyangkut amalan-amalan yang dituduh sebagai bid’ah sesat guna membuka mata hati para pengikut SALAFI/WAHABI agar menghentikan arogansinya dalam memerangi saudara seiman. Tentu saja Syaikh Ibnu Taymiyah adalah salah satu ulama panutan kaum Salafi Wahabi.

SYAIKH IBNU TAYMIYAH DAN BID’AH HASANAH

Dalam salah satu fatwanya yang terhimpun dalam kitab “Majmu’ Al Fatawa” Syaikh Ibn Taymiyah berkata :

وَمِنْ هُنَا يُعْرَفُ ضَلَالُ مَنْ ابْتَدَعَ طَرِيقًا أَوْ اعْتِقَادًا زَعَمَ أَنَّ الْإِيمَانَ لَا يَتِمُّ إلَّا بِهِ مَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّ الرَّسُولَ لَمْ يَذْكُرْهُ وَمَا خَالَفَ النُّصُوصَ فَهُوَ بِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ وَمَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهُ خَالَفَهَا فَقَدْ لَا يُسَمَّى بِدْعَةً قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ – : الْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ : بِدْعَةٌ خَالَفَتْ كِتَابًا وَسُنَّةً وَإِجْمَاعًا وَأَثَرًا عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذِهِ بِدْعَةُ ضَلَالَةٍ . وَبِدْعَةٌ لَمْ تُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ قَدْ تَكُونُ حَسَنَةً لِقَوْلِ عُمَرَ : نِعْمَتْ الْبِدْعَةُ هَذِهِ هَذَا الْكَلَامُ أَوْ نَحْوُهُ رَوَاهُ البيهقي بِإِسْنَادِهِ الصَّحِيحِ فِي الْمَدْخَلِ

“Dari sini dapat diketahui kesesatan orang yang membuat-buat cara atau keyakinan baru, dan ia berasumsi bahwa keimanan tidak akan sempurna tanpa jalan atau keyakinan tersebut, padahal ia mengetahui bahwa Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- tidak pernah menyebutnya. Pandangan yang menyalahi nash adalah Bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedang pandangan yang tidak diketahui menyalahinya terkadang tidak dinamakan Bid’ah. Imam As Syafi’iy –rohimahulloh- berkata : “Bid’ah itu ada dua : Pertama ; Bid’ah yang menyalahi al qur’an, sunnah, Ijma’ dan atsar sebagian sahabat Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- maka ini disebut Bid’ah Dholalah. Kedua ; Bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut, maka Bid’ah ini terkadang disebut Bid’ah Hasanah berdasar pernyataan Umar “Sebaik-baik Bid’ah adalah ini (tarowih)”. Pernyataan Imam As Syafi’iy ini diriwayatkan oleh al Baihaqi dalam kitab Al Madkhol dengan sanad yang shohih. (Majmu’ Fatawa, vol. 20, hlm. 163)

Coba anda perhatikan tulisan yang kami cetak tebal diatas dengan hati dan pikiran yang bebas…., betapa beliau menamai “Bid’ah” bukan atas setiap perkara baru, melainkan pada perkara yang menyalahi Nash. Sedang perkara yang tidak menyalahi Nash tidak disebut “Bid’ah”. Lebih jauh sikap beliau yang menghormati dan menghargai pendapat Imam As Syafi’iy yang membagi Bid’ah menjadi Bid’ah Dholalah dan Bid’ah Hasanah.

SYAIKH IBNU TAYMIYAH DAN TAHLILAN, YASINAN, (DZIKIR BERJAMA’AH)

وَسُئِلَ : عَنْ رَجُلٍ يُنْكِرُ عَلَى أَهْلِ الذِّكْرِ يَقُولُ لَهُمْ : هَذَا الذِّكْرُ بِدْعَةٌ وَجَهْرُكُمْ فِي الذِّكْرِ بِدْعَةٌ وَهُمْ يَفْتَتِحُونَ بِالْقُرْآنِ وَيَخْتَتِمُونَ ثُمَّ يَدْعُونَ لِلْمُسْلِمِينَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ وَيَجْمَعُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّكْبِيرَ وَالْحَوْقَلَةَ وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُنْكِرُ يُعْمِلُ السَّمَاعَ مَرَّاتٍ بِالتَّصْفِيقِ وَيُبْطِلُ الذِّكْرَ فِي وَقْتِ عَمَلِ السَّمَاعِ ”

Syaikh Ibnu Taymiyah ditanya tentang seseorang yang mengingkari ahli dzikir (berjama’ah) dengan berkata pada mereka : “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah.” Jama’ah tersebut memulai dan menutup dzikirnya dengan al qur’an, lalu mendo’akan kaum muslimin yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Mereka merangkai bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Hauqolah (Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah) dan sholawat kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ?

فَأَجَابَ : الِاجْتِمَاعُ لِذِكْرِ اللهِ وَاسْتِمَاعِ كِتَابِهِ وَالدُّعَاءِ عَمَلٌ صَالِحٌ وَهُوَ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فِي الْأَوْقَاتِ فَفِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { إنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ فَإِذَا مَرُّوا بِقَوْمِ يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إلَى حَاجَتِكُمْ } وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ { وَجَدْنَاهُمْ يُسَبِّحُونَك وَيَحْمَدُونَك } لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ هَذَا أَحْيَانًا فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ وَالْأَمْكِنَةِ فَلَا يُجْعَلُ سُنَّةً رَاتِبَةً يُحَافَظُ عَلَيْهَا إلَّا مَا سَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُدَاوَمَةَ عَلَيْهِ فِي الْجَمَاعَاتِ ؟ مِنْ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِي الْجَمَاعَاتِ وَمِنْ الْجُمُعَاتِ وَالْأَعْيَادِ وَنَحْوِ ذَلِكَ . وَأَمَّا مُحَافَظَةُ الْإِنْسَانِ عَلَى أَوْرَادٍ لَهُ مِنْ الصَّلَاةِ أَوْ الْقِرَاءَةِ أَوْ الذِّكْرِ أَوْ الدُّعَاءِ طَرَفَيْ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ وَغَيْر ذَلِكَ : فَهَذَا سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا

Syaikh Ibnu Taymiyah menjawab :”Berkumpul untuk berdzikir, mendengarkan al qur’an dan berdo’a adalah amal sholih dan termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama di setiap waktu. Dalam shohih (Al Bukhori) bahwasannya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Alloh memiliki banyak malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Alloh, maka mereka memanggil : “Silahkan sampaikan hajat kalian”, Ibnu Taymiyah menuturkan hadits tersebut (secara utuh), dan didalamnya terdapat redaksi; “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”. Akan tetapi hendaknya hal ini dilakukan dalam sebagian waktu dan keadaan, dan tidak menjadikannya sebagai sunnah yang dipelihara yang mengiringi sholat, kecuali perkara yang telah di contohkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk di lakukan secara istiqomah berupa sholat lima waktu, jum’at, dan perayaan-perayaan (‘id) juga yang semisal. Adapun memelihara rutinitas wirid-wirid yang ada padanya, berupa sholawat, bacaan al qur’an, dzikir, atau do’a setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan hamba-hamba Alloh yang sholih zaman dahulu dan sekarang. (Majmu’ Fataawaa, vol. 22, hal. 520)

SYAIKH IBNU TAYMIYAH DAN SAMPAINYA PAHALA KEBAIKAN UNTUK ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

وَسُئِلَ – رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى – عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى { وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إلَّا مَا سَعَى } وَقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ } فَهَلْ يَقْتَضِي ذَلِكَ إذَا مَاتَ لَا يَصِلُ إلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ أَفْعَالِ الْبِرِّ؟

Syaikh Ibnu Taymiyyah -rahimahullohu ta’aala- ditanya tentang Firman Alloh Swt, “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS. An-Najm: 39) dan hadits “Ketika anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.” adakah kedua nash tersebut menunjukkan “jika seseorang telah meninggal maka tak sesuatupun sampai padanya dari perbuatan baik?”

فَأَجَابَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، لَيْسَ فِي الْآيَةِ وَلَا فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَنْتَفِعُ بِدُعَاءِ الْخَلْقِ لَهُ وَبِمَا يُعْمَلُ عَنْهُ مِنْ الْبِرِّ بَلْ أَئِمَّةُ الْإِسْلَامِ مُتَّفِقُونَ عَلَى انْتِفَاعِ الْمَيِّتِ بِذَلِكَ وَهَذَا مِمَّا يُعْلَمُ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ وَقَدْ دَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ فَمَنْ خَالَفَ ذَلِكَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ

Maka Syaikh Ibnu Taymiyah menjawab : “Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin, Tidak ada ayat dan juga hadits (yang menyatakan) bahwa mayyit tidak beroleh kemanfaatan dari do’a makhluk dan juga dari amal kebaikan untuknya, bahkan para Imam umat Islam sepakat berolehnya manfaat bagi mayyit dengan itu semua, dan masalah ini adalah termasuk perkara yang diketahui dari islam secara pasti, dan sungguh al qur’an, as sunnah dan ijma’ telah menunjukkan itu semua. Maka barangsiapa menyelisi-hinya maka dia termasuk ahli bid’ah.” (Al Fatawwa Al Kubro, vol. 3 hal. 27)

banner gif 160 600 b - Ibnu Taymiyah Antara Bid'ah Hasanah dan Maulid Nabi

SYAIKH IBNU TAYMIYAH DAN TALQIN MAYIT

سُئِلَ: مُفْتِي الْأَنَامِ، بَقِيَّةُ السَّلَفِ الْكِرَامِ، تَقِيُّ الدِّينِ بَقِيَّةُ الْمُجْتَهِدِينَ، أَثَابَهُ اللَّهُ، وَأَحْسَنَ إلَيْهِ. عَنْ تَلْقِينِ الْمَيِّتِ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ دَفْنِهِ، هَلْ صَحَّ فِيهِ حَدِيثٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. أَوْ عَنْ صَحَابَتِهِ؟ وَهَلْ إذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شَيْءٌ يَجُوزُ فِعْلُهُ؟ أَمْ لَا؟

Syaikh Ibnu Taymiyyah -rahimahullohu ta’aala- ditanya tentang Talqin Mayit dalam kuburnya setelah rampung proses pemakamannya. “Adakah hadits shohih dari Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- atau dari sahabatnya tentang hal tersebut ? dan jika tidak ada satu dalilpun dalam hal tersebut adakah ia boleh dilakukan atau tidak ?

أَجَابَ: هَذَا التَّلْقِينُ الْمَذْكُورُ قَدْ نُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ: أَنَّهُمْ أَمَرُوا بِهِ، كَأَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، وَغَيْرِهِ، وَرُوِيَ فِيهِ حَدِيثٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكِنَّهُ مِمَّا لَا يُحْكَمُ بِصِحَّتِهِ ؛ وَلَمْ يَكُنْ كَثِيرٌ مِنْ الصَّحَابَةِ يَفْعَلُ ذَلِكَ، فَلِهَذَا قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ مِنْ الْعُلَمَاءِ: إنَّ هَذَا التَّلْقِينَ لَا بَأْسَ بِهِ، فَرَخَّصُوا فِيهِ، وَلَمْ يَأْمُرُوا بِهِ. وَاسْتَحَبَّهُ طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وَكَرِهَهُ طَائِفَةٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ، وَغَيْرِهِمْ.

Maka beliau menjawab : Adapun talqin tersebut sungguh telah diriwayatkan dari sekelompok para sahabat seperti Abi Umamah Al Bahiliy dan yang lain, sesungguhnya mereka memerintahkan hal tersebut, dan di dalamnya disebutkan hadits Nabi saw, akan tetapi hadits tersebut tidak dapat dihukumi sohih, dan tidak banyak para sahabat yang melakukannya. Oleh karenanya Imam Ahmad dan para ulama yang lain berkata :“Sesungguhnya talqin tersebut tidak apa-apa”, dan mereka memberi kelong-garan dalam masalah ini dan tidak memerintahkannya. Sebagian golongan dari para Ulama kalangan Syafi’iyyah dan Hanbaliyah mensunnahkannya, sedangkan sebagian golongan dari kalangan para ulama Malikiyyah dan yang lain me-makruh-kannya. (Fatawa Al Kubro. vol 3, hal. 24)

SYAIKH IBNU TAYMIYAH DAN ZIYARAH KUBUR

أَجَابَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أَمَّا زِيَارَةُ الْقُبُورِ فَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ قَدْ نَهَى عَنْهَا نَهْيًا عَامًّا، ثُمَّ أَذِنَ فِي ذَلِكَ. فَقَالَ: {كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا. فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ} وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَ أُمِّي، فَأَذِنَ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُ فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا، فَلَمْ يَأْذَنْ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ}.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah ketika ditanya tentang ziyarah kubur beliau menjawab : Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin. Adapun ziyarah kubur, sungguh terdapat dalam sohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, bahwasannya beliau pernah melarang ziyarah kubur dengan larangan yang bersifat umum, kemudian beliau mengizinkan ziyarah kubur. Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Aku telah (pernah) melarang kalian berziyaroh kubur, maka (sekarang aku perintahkan) berziyarohlah kalian kekuburan, sesungguhnya ziyarah kubur dapat mengingatkan akhirat.” Dan Nabi saw bersabda : “Aku memohon izin kepada tuhanku untuk diperkenankan menziyarahi makam ibuku dan Alloh mengizinkanku, dan aku memohon izin agar aku diperkenankan memohonkan ampun untuk ibuku dan Alloh tidak mengizinkanku, maka berziyarahlah kalian, sesungguhnya ziyarah kubur dapat mengingatkan kalian akan akhirat.” (Al Fataawa Al kubro, Vol 3 hal, 43)

SYAIKH IBNU TAYMIYAH DAN KEISTIMEWAAN KUBURAN ORANG-ORANG SHOLIH

وَكَذَلِكَ مَا يُذْكَرُ مِنَ الْكَرَامَاتِ وَخَوَارِقِ الْعَادَاتِ الَّتِي تُوْجَدُ عِنْدَ قُبُوْرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ مِثْلُ نُزُوْلِ الْأَنْوَارِ وَالْمَلآئِكَةِ عِنْدَهَا وَتَوَقِّي الشَّيَاطِيْنِ وَالْبَهَائِمِ لَهَا وَانْدِفَاعِ النَّارِ عَنْهَا وَعَمَّنْ جَاوَرَهَا وَشَفَاعَةِ بَعْضِهِمْ فِي جِيْرَانِهِ مِنَ الْمَوْتَى وَاسْتِحْبَابِ الْإِنْدِفَانِ عِنْدَ بَعْضِهِمْ وَحُصُوْلِ الْأُنْسِ وَالسَّكِيْنَةِ عِنْدَهَا وَنُزُوْلِ الْعَذَابِ بِمَنْ اِسْتَهَانَ بِهَا فَجِنْسُ هَذَا حَقٌّ لَيْسَ مِمَّا نَحْنُ فِيْهِ ، وَمَا فِي قُبُوْرِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ كَرَامَةِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ ، وَمَا لَهَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الْحُرْمَةِ وَالْكَرَامَةِ فَوْقَ مَا يَتَوَهَّمُهَ أَكْثَرُ الْخَلْقِ ، لَكِنْ لَيْسَ هَذَا مَوْضِعَ تَفْصِيْلِ ذَلِكَ

“Demikian pula kejadian yang disebutkan, tentang karomah dan hal-hal yang di luar kebiasaan yang terjadi di kuburan para nabi dan orang-orang sholih seperti turunnya cahaya dan malaikat di kuburan tersebut, setan dan binatang menjauhi tempat itu, api terhalang untuk membakar kuburan dan orang yang berada di dekatnya, sebagian dari para nabi dan orang-orang sholih memberi syafaat kepada orang-orang mati yang menjadi tetangga mereka, kesunnahan mengubur jenazah di dekat kuburan mereka, memperoleh kedamaian dan ketenteraman saat berada di dekatnya, dan turunnya adzab atas orang yang menghina kuburan tersebut, maka hal-hal ini adalah benar adanya dan tidak termasuk dalam topik bahasan kami tentang diharamkannya menjadikan kuburan sebagai masjid. Apa yang terjadi pada kuburan para nabi dan orang-orang sholih dari kemuliaan dan rahmat Alloh dan apa yang diperoleh di sisi Alloh dari kehormatan dan kemulia-an itu berada di atas anggapan banyak orang. (Iqtidho’us Shirothil Mustaqim, 374)

SYAIKH IBNU TAYMIYAH DAN KAROMAH PARA WALI

فَبَرَكَاتُ أَوْلِيَاءِ اللهِ الصَّالِحِينَ بِاعْتِبَارِ نَفْعِهِمْ لِلْخَلْقِ بِدُعَائِهِمْ إلَى طَاعَةِ اللهِ وَبِدُعَائِهِمْ لِلْخَلْقِ وَبِمَا يُنْزِلُ اللهُ مِنْ الرَّحْمَةِ وَيَدْفَعُ مِنْ الْعَذَابِ بِسَبَبِهِمْ حَقٌّ مَوْجُودٌ فَمَنْ أَرَادَ بِالْبَرَكَةِ هَذَا وَكَانَ صَادِقًا فَقَوْلُهُ حَقٌّ. وَأَمَّا ” الْمَعْنَى الْبَاطِلُ ” فَمِثْلُ أَنْ يُرِيدَ الْإِشْرَاكَ بِالْخَلْقِ : مِثْلُ أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ مَقْبُورٌ بِمَكَانِ فَيَظُنُّ أَنَّ اللهَ يَتَوَلَّاهُمْ لِأَجْلِهِ وَإِنْ لَمْ يَقُومُوا بِطَاعَةِ اللهِ وَرَسُولِهِ فَهَذَا جَهْلٌ

Keberkahan para Wali Alloh yang sholih dari aspek manfaat yang diberikan mereka dengan ajakan mereka untuk taat kepada Alloh, mendoakan makhluk dan diturunkannnya rahmat oleh Alloh serta ditolaknya adzab berkat eksistensi mereka adalah fakta yang konkrit. Barangsiapa yang menghendaki keberkahan dalam konteks demikian dan ia jujur maka ucapannya benar. Adapun pengertian yang salah itu semisal jika yang mengungkapkannya bermaksud menyekutukan Alloh dengan makhluk, seperti seseorang yang mengira bahwa mereka dikasihi oleh Alloh hanya berkat (orang sholih) yang dimakamkan ditempat tersebut, sedang mereka tidak menunaikan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka hal ini adalah tindakan bodoh. (Majmu’ul Fatawa, 11/114)

SYAIKH IBNU TAYMIYAH DAN MADZHAB AL ASY’ARIY (AL-ASYA’IROH)

وَالْعُلَمَاءُ أَنْصَارُ فُرُوعِ الدِّينِ وَالْأَشْعَرِيَّةُ أَنْصَارُ أُصُولِ الدِّينِ .

“Para Ulama adalah pembela ilmu-ilmu agama ,sedang Al Asy’ariyyah adalah pembela dasar-dasar agama (Ushulud Diin) “ (Majmu’ Al Fataawa Ibnu Taimiyah, vol. 4, hlm. 16)

SYAIKH IBNU TAYMIYAH DAN MAULID NABI

فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مُوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَدَّمْتُهُ لَكَ

Jadi, mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai tradisi yang tidak jarang dilakukan oleh sebagian orang, dan ia memperoleh pahala yang sangat besar karena tujuannya yang baik serta sikapnya yang mengagungkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sebagaimana telah aku jelaskan sebelumnya padamu. (Iqtidho’us Shirootil Mustaqiim, hal. 297).

Tulisan kami diatas semoga dapat menjadi titik awal pembuka kesadaran bagi Saudaraku yang tidak sefaham, bahwa amaliyah yang anda permasalahkan adalah berada dalam wilayah “Khilafiyah Ijtihadiyah” yang tidak ada untungnya bagi Islam dan Kaum Muslimin untuk mempertajam perbedaan dalam masalah-masalah tersebut.

Jika anda memang saudara yang baru tumbuh semangat ke-islam-annya, kami sarankan belajarlah dengan hati dan fikiran yang bebas dan merdeka serta bersikaplah kritis terhadap ustadz anda sebagaimana anda begitu kritis terhadap pendapat para Ulama kami.

Dan tentunya masih banyak fatwa-fatwa Syaikh Ibnu Taymiyah yang sejatinya dapat menjadi titik awal menyadarkan saudaraku SALAFI/WAHABI untuk tidak mempertajam khilafiyah yang sejatinya hanya akan merugikan Ummat Islam. Problemnya adalah : Apakah mereka mau membuka hati dan fikiran mereka untuk menerima pandangan/pendapat Ulama’ yang mereka kagumi ?… Wallohu A’lam…

Oleh: Abu Hilya

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

23 thoughts on “Ibnu Taymiyah Antara Bid’ah Hasanah dan Maulid Nabi”

  1. Cukup jelas bagi saya, bahwa setiap amalan yang telah dilakukan oleh umat terdahulu mempunyai dasar yang kuat untuk khusu’ dalam ibadahnya, semoga Islam tidak kaku didalam melakukan Ibadah seseorang kepada Allah. Hal ini tentulah, seorang hamba harus mengerti tentang kaidah2 agamanya, dengan banyak belajar dan membaca.
    Ulasan-ulasan artikel dalam website ini, cukuplah bagi saya sebagai pencerahan dalam mengenal Islam yang tidak kaku dan tidak monoton dalam menjalani hidup untuk akhirat. Apalagi banyak dibeberapa kalangan yang mengatakan bahwa peringatan Maulid adalah tidak boleh atau bid’ah, tapi dengan penjelasan artikel diatas, jelas dibolehkan.
    Semoga website ini juga banyak memberikan pendalaman kandungan-kandungan khasanah Islam, khususnya saya pribadi.

    1. Islam Sungguh Indah, luas dan menyejukkan, tidak sempit yang disangkakan wahabi….dikit2 bid,ah, dikit2 syirik, dikit2 gak ada contohnya dizaman nabi……dikit2 kok cuma sedikit…..ha ha ha Islam rasanya sempit dan bau jika dibawah ketiak wahabi.

  2. berikut saya copas dari blog wahabi, mungkin ada temen aswaja yg bisa membantu menjawabnya, khusus perkataan ibnu taymiyah perihal maulid.

    “Sebagian orang selalu mencari-cari dalil untuk membenarkan amalan tanpa tuntunan yang ia lakukan. Di antara cara yang dilakukan adalah menjadikan perkataan ulama Ahlus Sunnah sebagai argumen untuk mendukung bid’ah mereka. Inilah yang terjadi dalam perayaan Maulid Nabi. Di antara perkataan ulama Ahlus Sunnah yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, disalahpahami oleh sebagian kalangan sehingga beliau pun disangka mendukung perayaan Maulid.
    Di salah satu website yang kami telusuri, ada perkataan Syaikhul Islam sebagai berikut, “Merayakan maulid dan menjadikannya sebagai kegiatan rutin dalam setahun sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian orang, akan mendapatkan pahala yang besar sebab tujuannya baik dan mengagungkan Rasulullah SAW.”

    Perkataan beliau inilah yang menjadi dasar sebagian kalangan yang menyatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendukung Maulid. [1]

    Kalimat selengkapnya terdapat dalam kitab Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim sebagai berikut.

    فتعظيم المولد واتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعيظمه لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس ما يستقبح من المؤمن المسدد ولهذا قيل للامام أحمد عن بعض الأمراء إنه أنفق على مصحف ألف دينار ونحو ذلك فقال دعه فهذا أفضل ما أنفق فيه الذهب أو كما قال مع أن مذهبه أن زخرفة المصاحف مكروهة وقد تأول بعض الأصحاب أنه أنفقها في تجديد الورق والخط وليس مقصود أحمد هذا وإنما قصده أن هذا العمل فيه مصلحة وفيه أيضا مفسدة كره لأجلها فهؤلاء إن لم يفعلوا هذا وإلا اعتاضوا الفساد الذي لا صلاح فيه مثل أن ينفقها في كتاب من كتب الفجور ككتب الأسماء أوالأشعار أو حكمة فارس والروم

    “Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara tahunan, hal ini terkadang dilakukan oleh sebagian orang. Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya hal itu dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tidak dianggap baik oleh mukmin yang mendapat taufik.

    Oleh karena itu, diceritakan kepada imam Ahmad mengenai beberapa pemimpin (umaro’) bahwasanya mereka menginfaqkan 1000 dinar untuk pencetakan Mushaf. Maka beliau berkata, “Biarkan mereka melakukan itu, itulah infaq terbaik yang dapat mereka lakukan dengan emas” atau sebagaimana yang Imam Ahmad katakan. Padahal menurut madzhab Imam Ahmad, makruh hukumnya memperindah mushaf. Namun sebagian pengikut Imam Ahmad menafsirkan maksud Imam Ahmad adalah beliau memakruhkan memperbaharui kertas dan khothnya. Namun sebenarnya maksud Imam Ahmad bukanlah seperti yang ditafsirkan ini. Imam Ahmad memaksudkan bahwa memperindah mushaf ini ada mashlahat (manfaat) di satu sisi dan ada pula mafsadatnya (bahayanya). Inilah yang beliau makruhkan.

    Namun perlu diketahui bahwa jika mereka (para umara’) tidak melakukan hal ini (yaitu memperindah mushaf), tentu mereka akan melakukan hal-hal lain yang tidak berfaedah. Misalnya para umara’ tersebut malah menyalurkan infaq mereka untuk mencetak buku-buku tidak bermoral: buku cerita yang hanya menghabiskan waktu, buku sya’ir (yang sia-sia belaka) dan buku filsafat dari Persia dan Romawi.”[2] Demikian perkataan beliau rahimahullah.

    Jika seseorang membaca teks di atas secara utuh, insya Allah dia tidak memiliki pemahaman yang keliru. Lihat baik-baik perkataan beliau di atas: ”Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya hal itu dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tidak dianggap baik oleh mukmin yang mendapat taufik”. Dari perkataan beliau ini menunjukkan bahwa perayaan Maulid tidak dianggap baik oleh orang-orang yang mendapat taufik. Jika ada yang menganggap amalan Maulid itu baik, maka dia adalah orang yang keliru. Maka ini menunjukkan bahwa Maulid bukanlah amalan yang baik.

    Coba kita lihat kembali perkataan Syaikhul Islam lainnya dalam kitab yang sama (Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim) agar kita tidak salah keliru dengan perkataan beliau di atas. Dalam beberapa lembaran sebelumnya, Syaikhul Islam mengatakan,

    وكذلك ما يحدثه بعض الناس إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام وإما محبة للنبي صلى الله عليه و سلم وتعظيما له والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه و سلم عيدا مع اختلاف الناس في مولده فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضى له وعدم المانع منه ولو كان هذا خيرا محضا أو راجحا لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه و سلم وتعظيما له منا وهم على الخير أحرص وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره وإحياء سنته باطنا وظاهرا ونشر ما بعث به والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان فإن هذه هي طريقة السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسا

    “Begitu pula halnya dengan kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang. Boleh jadi perbuatan mereka menyerupai tingkah laku Nashrani sebagaimana Nashrani pun memperingati kelahiran (milad) ‘Isa ‘alaihis salam. Boleh jadi maksud mereka adalah mencintai dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh jadi Allah memberi ganjaran kepada mereka dikarenakan kecintaan dan kesungguhan mereka, dan bukan bid’ah maulid Nabi yang mereka ada-adakan sebagai perayaan. Padahal perlu diketahui bahwa para ulama telah berselisih pendapat mengenai tanggal kelahiran beliau. Apalagi merayakan maulid sama sekali tidak pernah dilakukan oleh para salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Padahal ada faktor pendorong (untuk memuliakan nabi) dan tidak ada faktor penghalang di kala itu. Seandainya merayakan maulid terdapat maslahat murni atau maslahat yang lebih besar, maka para salaf tentu lebih pantas melakukannya daripada kita. Karena sudah kita ketahui bahwa mereka adalah orang yang paling mencintai dan mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kita. Mereka juga tentu lebih semangat dalam kebaikan dibandingkan kita. Dan perlu dipahami pula bahwa cinta dan pengagungan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sempurna adalah dengan ittiba’ (mengikuti) dan mentaati beliau yaitu dengan mengikuti setiap perintah, menghidupkan ajaran beliau secara lahir dan batin, menyebarkan ajaran beliau dan berjuang (berjihad) untuk itu semua dengan hati, tangan dan lisan. Inilah jalan hidup para generasi utama dari umat ini, yaitu kalangan Muhajirin, Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.”[3]

    Kami rasa sudah jelas jika kita memperhatikan penjelasan beliau yang kedua ini. Jelas sekali beliau menyatakan perayaan Maulid itu tidak ada salafnya (pendahulunya) artinya amalan yang tidak ada tuntunannya, bahkan merayakan Maulid sama halnya dengan Natal yang dirayakan oleh Nashrani. Lantas dengan penjelasan beliau ini apakah masih menuduh beliau rahimahullah mendukung maulid?!

    Mohon jangan menukil perkataan beliau sebagian saja, cobalah pahami perkataan beliau secara utuh di halaman-halaman lainnya dalam kitab Iqtidho’. Simak baik-baik perkataan beliau di atas: “Boleh jadi Allah memberi ganjaran kepada mereka dikarenakan kecintaan dan kesungguhan mereka, dan bukan bid’ah maulid Nabi yang mereka ada-adakan sebagai perayaan.” Dari sini, beliau menggolongkan maulid sebagai bid’ah karena memang tidak pernah diadakan oleh para salaf dahulu (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Namun perayaan ini dihidupkan dan diada-adakan oleh Dinasti ‘Ubaidiyyun[4]. Dan ingat, beliau katakan bahwa mudah-mudahan mereka mendapat pahala karena mengangungkan dan mencintai beliau, namun bukan pada acara bid’ah maulid yang mereka ada-adakan. Mohon pahami baik-baik perkataan beliau ini. Semoga Allah beri kepahaman.

    Renungkan perkataan beliau baik-baik. Apakah bisa dipahami dari perkataan terakhir ini bahwa beliau mendukung Maulid? Semoga Allah memberikan taufiknya kepada kita sekalian agar bisa membedakan mana yang benar dan mana yang keliru.

    1. Bismillah
      Guna menyikapi pernyataan ibn taimiyyah tersebut, hendaknya menggunakan hati yang jernih dan logika yang cerdas.

      Pertama : Dengan tegas beliau katakan bahwa dalam apa (maulid) yang dilakukan banyak orang terdapat pahala yang besar.
      Kedua : Pahala yang besar tersebut diperoleh akibat kecintaan kepada baginda Nabi saw bukan karena bid’ahnya….

      Selanjutnya… gunakanlah akal yang jujur… mungkinkah terdapat pahala yang besar didalam kemasan bid’ah sesat?

      1. Mas Mamak@ iya ya saya juga baru ngeh… buat apa taimiyah repot2 bilang (maulid) terdapat pahala yg besar trus diekor kalimat menafikannya…

      2. Berarti Wahabi memelintir pemahamannya agar sesuai dg nafsunya, jelas tidak mungkin lah ada bid’ah sesat kok dapat pahala besar? Tentunya yg dimaksud oleh Ibn taymiyah adalah bid’ah hasanah, karena hanya bid’ah hasanah yg akan dapat pahala.

        Terkadang pemahaman Wahabi itu bahkan bisa mencoreng para Ulamanya sendiri akibat dari pemelintiran pemahaman. tau jangan2 mereka tidak sadar telah memelintirnya, wallohu a’lam.

  3. sekedar menambahi dari kalimat diatas..dan saya perlu tambahan dalam melengkapi artikel diatas…

    YAIKH IBN TAIMIYAH DAN MAULID NABI

    فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مُوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَدَّمْتُهُ لَكَ

    Jadi, mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai tradisi yang tidak jarang dilakukan oleh sebagian orang, dan ia memperoleh pahala yang sangat besar karena tujuannya yang baik serta sikapnya yang mengagungkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sebagaimana telah aku jelaskan sebelumnya padamu. (Iqtidho’us Shirootil Mustaqiim, hal. 297).

    KALIMAT SELENGKAPNYA BISA BISA DILIHAT

    فتعظيم المولد، واتخاذه موسمًا، قد يفعله بعض الناس، ويكون له فيه (1) أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم، كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس، ما يستقبح من المؤمن المسدد. ولهذا قيل للإمام أحمد عن بعض الأمراء: إنه أنفق على مصحف ألف دينار، أو نحو ذلك فقال: دعهم، فهذا أفضل ما أنفقوا فيه الذهب، أو كما قال. مع أن مذهبه أن زخرفة المصاحف مكروهة. وقد تأول بعض الأصحاب أنه أنفقها في تجويد (2) الورق والخط. وليس مقصود أحمد هذا، إنما قصده أن هذا العمل فيه مصلحة، وفيه أيضًا مفسدة كره لأجلها. فهؤلاء إن لم يفعلوا هذا، وإلا اعتاضوا بفساد (3) لا صلاح فيه، مثل أن ينفقها في كتاب من كتب الفجور: من كتب الأسمار أو الأشعار، أو حكمة فارس والروم.

    Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara tahunan, hal ini terkadang dilakukan oleh sebagian orang. Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya hal itu dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tidak dianggap baik oleh mukmin yang mendapat taufik.

    Oleh karena itu, diceritakan kepada imam Ahmad mengenai beberapa pemimpin (umaro’) bahwasanya mereka menginfaqkan 1000 dinar untuk pencetakan Mushaf. Maka beliau berkata, “Biarkan mereka melakukan itu, itulah infaq terbaik yang dapat mereka lakukan dengan emas” atau sebagaimana yang Imam Ahmad katakan. Padahal menurut madzhab Imam Ahmad, makruh hukumnya memperindah mushaf. Namun sebagian pengikut Imam Ahmad menafsirkan maksud Imam Ahmad adalah beliau memakruhkan memperbaharui kertas dan khothnya. Namun sebenarnya maksud Imam Ahmad bukanlah seperti yang ditafsirkan ini. Imam Ahmad memaksudkan bahwa memperindah mushaf ini ada mashlahat (manfaat) di satu sisi dan ada pula mafsadatnya (bahayanya). Inilah yang beliau makruhkan.

    Namun perlu diketahui bahwa jika mereka (para umara’) tidak melakukan hal ini (yaitu memperindah mushaf), tentu mereka akan melakukan hal-hal lain yang tidak berfaedah. Misalnya para umara’ tersebut malah menyalurkan infaq mereka untuk mencetak buku-buku tidak bermoral: buku cerita yang hanya menghabiskan waktu, buku sya’ir (yang sia-sia belaka) dan buku filsafat dari Persia dan Romawi.”[2] Demikian perkataan beliau rahimahullah.

    Jika seseorang membaca teks di atas secara utuh, insya Allah dia tidak memiliki pemahaman yang keliru. Lihat baik-baik perkataan beliau di atas: ”Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya hal itu dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tidak dianggap baik oleh mukmin yang mendapat taufik”. Dari perkataan beliau ini menunjukkan bahwa perayaan Maulid tidak dianggap baik oleh orang-orang yang mendapat taufik. Jika ada yang menganggap amalan Maulid itu baik, maka dia adalah orang yang keliru. Maka ini menunjukkan bahwa Maulid bukanlah amalan yang baik.

    http://shamela.ws/browse.php/book-11620#page-664

    mari kita lihat perkataan lainnya dikitab yang sama..

    وكذلك ما يحدثه بعض الناس، إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، وتعظيمًا. والله قد يثيبهم (4) على هذه المحبة والاجتهاد، لا على البدع- من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيدًا. مع اختلاف الناس في مولده. فإن هذا لم يفعله السلف، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه لو كان خيرًا. ولو كان هذا خيرًا (5) محضا، أو راجحًا لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا، فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيمًا له منا، وهم على الخير أحرص وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره، وإحياء سنته باطنًا وظاهرًا، ونشر ما بعث به، والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان.

    “Begitu pula halnya dengan kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang. Boleh jadi perbuatan mereka menyerupai tingkah laku Nashrani sebagaimana Nashrani pun memperingati kelahiran (milad) ‘Isa ‘alaihis salam. Boleh jadi maksud mereka adalah mencintai dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh jadi Allah memberi ganjaran kepada mereka dikarenakan kecintaan dan kesungguhan mereka, dan bukan bid’ah maulid Nabi yang mereka ada-adakan sebagai perayaan. Padahal perlu diketahui bahwa para ulama telah berselisih pendapat mengenai tanggal kelahiran beliau. Apalagi merayakan maulid sama sekali tidak pernah dilakukan oleh para salaf (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in). Padahal ada faktor pendorong (untuk memuliakan nabi) dan tidak ada faktor penghalang di kala itu. Seandainya merayakan maulid terdapat maslahat murni atau maslahat yang lebih besar, maka para salaf tentu lebih pantas melakukannya daripada kita. Karena sudah kita ketahui bahwa mereka adalah orang yang paling mencintai dan mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kita. Mereka juga tentu lebih semangat dalam kebaikan dibandingkan kita. Dan perlu dipahami pula bahwa cinta dan pengagungan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sempurna adalah dengan ittiba’ (mengikuti) dan mentaati beliau yaitu dengan mengikuti setiap perintah, menghidupkan ajaran beliau secara lahir dan batin, menyebarkan ajaran beliau dan berjuang (berjihad) untuk itu semua dengan hati, tangan dan lisan. Inilah jalan hidup para generasi utama dari umat ini, yaitu kalangan Muhajirin, Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

    http://shamela.ws/browse.php/book-11620#page-661

    mohon salah dibetulkan..

    1. Kata Nabi saw dalam hadits shahih: bahwa sejelek2 orang adalah dia mati masih dalam keadaan membujang (tidak kawin), nah, ibnu taymiyyah itu membujang sampai wafatnya.

      Berdasar sabda Nabi maka ibnu Taymiyyah itu sejelek2 manusia. Jadi… nggak usah ribut tentang manusia yg jelek.

  4. Ini saya copas dari forsansalaf sebelum di hack oleh orang yang tak bertanggung jawab, dan saya rangkum dalam 2 coment
    1. Abdulloh mahasiswa al asyhar vs muhibbin
    2. Abdulloh mahasiswa al asyhar VS santri jowo yang pernah kami save, semoga menjadi acuan teman-teman aswaja lainnya

    Abdullah (20:24:00) :
    Thoyyib….
    Saya akan mencoba menjawab argumen teman-teman dengan hujjah-InsyaAllah.
    Pertama: Untuk Muhibbin.
    Antum mengatakan : “Kalo pingin tau ni ana bawakan nash arabnya juga dari kitab Iqtidha’ as-Sirath al-Mustaqim hal.269:
    فتعظيم المولد، واتخاذه موسماً، قد يفعله بعض الناس، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم
    “Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW..”
    Jawaban:
    Antum kayaknya belum membaca buku Iqthidha` secara lengkap sehingga antum silap dalam memahai maksud dari perkataan Ibnu Taimiyyah itu sendiri.
    Ungkapan di atas dikeluarkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam rangka mencegah lahirnya mafsadah yang lebih besar, bukan membolehkan maulid Nabi secara mutlak karena tidak ada asalnya dalam Syariat (Al-Quran dan Sunnah ala fahmi Salafil Ummah). Maksudnya: karena tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah dan para shahabat. Penjelasan ini sudah dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah di halaman sebelumnya.
    Selanjutnya ibnu taimiyyah mengatakan :
    الثاني: أن تدعو الناس إلى السنة بحسب الإمكان فإذا رأيت من يعمل هذا ولا يتركه إلا إلى شر منه، فلا تدعو إلى ترك منكر بفعل ما هو أنكر منه، أو بترك واجب أو مندوب تركه أضر من فعل ذلك المكروه، ولكن إذا كان في البدعة من الخير، فعوض عنه من الخير المشروع بحسب الإمكان، إذ النفوس لا تترك شيئاً إلا بشيء، ولا ينبغي لأحد أن يترك خيراً إلا إلى مثله أو إلى خير منه، فإنه كما أن الفاعلين لهذه البدع معيبون قد أتوا مكروهاً، فالتاركون أيضاً للسنن مذمومون، فإن منها ما يكون واجباً على الإطلاق، ومنها ما يكون واجباً على التقييد، كما أن الصلاة النافلة لا تجب. ولكن من أراد أن يصليها يجب عليه أن يأتي بأركانها، وكما يجب على من أتى الذنوب من الكفارات والقضاء والتوبة والحسنات الماحية، وما يجب على من كان إماما، أو قاضيا، أو مفتيا، أو واليا من الحقوق، وما يجب على طالبي العلم، أو نوافل العبادة من الحقوق.
    Maksudnya: “Hendaklah kalian menyeru manusia kepada Sunnah semaksimal mungkin. Apabila kamu melihat ada orang yang melakukan amalan ini (maulid Nabi) dan ia tidak akan meninggalkannya kecuali kepada amalan yang lebih buruk dari itu maka janganlah Anda mengajaknya meninggalkan kemungkaran tersebut yang membuatnya berpindah kepada kemungkaran yang lebih besar…dst.”
    Dan tiga paragraf berikutnya Ibnu Taimiyyah kembali menjelaskan:
    فتعظيم المولد، واتخاذه موسماً، قد يفعله بعض الناس، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم، كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس، ما يستقبح من المؤمن المسدد. ولهذا قيل للإمام أحمد عن بعض الأمراء: أنه أنفق على مصحف ألف دينار، أو نحو ذلك فقال: دعهم، فهذا أفضل ما أنفقوا فيه الذهب، أو كما قال. مع أن مذهبه أن زخرفة المصاحف مكروهة. وقد تأول بعض الأصحاب أنه أنفقها في تجويد الورق والخط. وليس مقصود أحمد هذا، إنما قصده أن هذا العمل فيه مصلحة، وفيه أيضاً مفسدة كره لأجلها. فهؤلاء إن لم يفعلوا هذا، وإلا اعتاضوا بفساد لا صلاح فيه، مثل أن ينفقها في كتاب من كتب الفجور: من كتب الأسمار أو الأشعار، أو حكمة فارس والروم.
    Artinya: “Maka mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW sebagaimana yang telah saya jelaskan sebelumnya karena “sebagian orang” memandang baik apa yang dipandang buruk oleh orang-orang mukmin yang lurus (istiqomah dengan sunnah Nabi, pent.)…dst.”
    Kemudian Ibnu Taimiyyah memberikan contoh perkataan Imam Ahmad terhadap sebagian penguasa waktu itu. Padahal dalam mazhab imam ahmad hal tersebut dimakruhkan, namun kemudian beliau “bolehkan” dalam rangka mencegah kemungkaran yang lebih besar. (Silahkan antum baca sendiri kutipan di atas).
    Sikap seperti ini telah diukir oleh ulama2 Ushul: “Apabila bertemu dua mafsadah maka ambilllah mafsadah yang lebih ringan.”
    Permasalahn serupa pernah disebutkan juga oleh Ibnu Taimiyyah di dalam bukunya “Al-Hisbah” : “Suatu kali ada orang Tar-Tar meminum minuman keras kemudian murid2 ibnu Taimiyyah mengatakan: “Mari kita cegah mereka!” Lalu Ibnu taimiyyah melarang (padahal mencegah kemungkaran hukumnya wajib) karena kata ibnu Taimiyyah: “Biarkan mereka, karena kalau mereka tidak minum maka mereka akan membunuh dan akan berbuat kerusakan dimuka bumi.”
    Subhanallah….Inilah dakwah yang bijak dan sesuai dengan panduan Rasulullah. Disatu sisi kita harus istiqomah dengan nash-nash Syar`i dan disisi lain kita harus juga meri`ayah mafsadah dan maslahatnya.
    Penutup untuk muhibbin saya ingin mengingatkan bahwa:
    1. Acara Maulid Nabi tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabat sebagaimana telah dijelaskan oleh yek Saudi sebelumnya.
    2. Deretan ulama yang mengharamkan maulid Nabi bukan hanya ulama-ulama yang dikenal “wahabi” oleh kaum sufi dan syiah, tapi banyak juga deretan ulama azhar yang mengharamkannya. Berikut saya kutip diantaranya:
    – Syekh Abdul Majid Salim (Mufti Mesir), beliau mengatakan: “Amalan maulid yang banyak dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin saat ini tidak pernah dilakukan oleh generasi salafus saleh. Apabila amalan ini termasuk taqarrub kepada Allah maka tentulah telah dilakukan oleh ulama salafus saleh.”
    (Lihat: Fatawa darul Iftâ, No. 589 tanggal 27 April 1942)
    – Prof. DR. Muhammad Husein Azzahabi (Wazir Auqaf Misriyyah) mengatakan ketika wawancara dengan redaksi Koran Al-Ahram hari Jumat 19 Desember 1975: “Pada hakikatnya maulid Nabi yang dilakukan oleh orang saat ini keburukannya lebih besar dari menfaatnya…”
    – Dan masih banyak ulama-ulama azhar (yang tidak pernah digelari dengan ualam-ulama wahabi) juga mengharamkan maulid Nabi seperti Syekh Ali Mahfudz (Anggota ulama-ulama senior di Al-Azhar University) di dalam bukunya Al-Ibdâ` fi Mudhâril Ibtidâ` hal. 250 Cet. Darul Ma`rifah., dan guru-guru saya; di antaranya: Prof Dr. Ahmad Masur Ali Sabalik, Dr. Musthafa Murad, Dr. Muhammad Yusri, Dr. Umar Abdul Aziz dll. (Saya mendengar langsung dari mereka ketika ditanya tentang maulid Nabi)
    3. Obat perpecahan adalah kembali kepada sunnah Nabi dan Khulafaa`ur Rasyidin sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Irbath bin Sariyyah Ra, Nabi Saw bersabda: “Dan siapa yang masih hidup (dalam usia panjang) dari kalian, dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka cukuplah bagi kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala). Gigitlah Sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dari segala urusan yang diada-adakan (bid’ah), sebab setiap bid’ah itu adalah kesesatan. “ (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).
    Itu saja dulu dari saya, adapun dalih-dalih wong djowo akan saya jawab berikutnya. Karena saya lagi ada janji. Dan untuk Ibn Ubaidillah sebaiknya anda tingkatkan daya baca Anda dan bersikap lebih kritis (maksudnya: Jangan manggut-manggut aja ikut kata orang) Harap Anda membaca dari teks asli dan secara sempurna bukan separoh-separoh terus diambil kesimpulan: “Tuh, Ibnu Taimiyyah aja membolehkan acara maulid Nabi” padahal para pentahqiq dan para pakar yang menganalisa pemikiran ibnu Taimiyyah tidak satu pun yang mengatakan bahwa Ibnu Taimiyyah membolehkan maulid Nabi. Thank`s.
    Wassalam.
    muhibbin (18:01:59) :
    @ Abdullah, ana mau klarifikasi pernyataan anda :
    1. Dalam terjemahan anda “ Hendaklah kalian menyeru manusia kepada Sunnah semaksimal mungkin. Apabila kamu melihat ada orang yang melakukan amalan ini (maulid Nabi) dst…”
    Dari mana anda mengartikan amalan ini sebagai maulid Nabi mas ? padahal Ibn Taimiyah aja tidak mengatakannya maulid. Ini pemikiran Ibn Taimiyah atau hanya penafsiran (akal pikiran) anda sendiri ?. Berarti anda berbeda pandangan dengan Ibn Taimiyah.
    Dalam halaman sebelumnya di kitab tersebut secara jelas Ibn Taimiyah menyatakan bahwa peringatan maulid bukanlah bid’ah. Berikut nashnya :
    وكذلك ما يحدثه بعض الناس ، إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام ، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم ، وتعظيمًا . والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد ، لا على البدع- من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيدًا
    “Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia, Adakalanya karena hanya meniru orang-orang Nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa–‘Alaihis Salam– dan adakalanya karena cinta dan mengagungkan Rasulullah SAW, Terkadang Allah memberikan pahala karena kecintaan mereka kepada Rasulullah—Shallallâhu alaihi wasallam dan ijtihad mereka ini, bukan atas bid’ahnya dengan menjadikan hari kelahiran Nabi sebagai hari raya baru dalam islam “.
    Ibn Taimiyah secara jelas menyatakan di atas bahwa yang menjadi bid’ah adalah ketika menjadikan kelahiran Nabi sebagai hari raya baru dalam islam, bukan perayaan maulid yang berisi kecintaan dan pengagungan terhadap Rasulullah dengan bershalawat dan membaca siroh beliau. Oleh karena itu di halaman selanjutnya Ibn Taimiyah menyatakan :
    فتعظيم المولد، واتخاذه موسماً، قد يفعله بعض الناس، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم
    “ Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW “
    Sangat jelas sekali Ibn Taimiyah menyatakan bahwa mengagungkan maulid bahkan menjadikannya sebagai rutinan bukanlah bid’ah dan bisa mendatangkan pahala yang besar. Sehingga bukanlah termasuk اخف الضررين (mengambil bahaya yang paling ringan). Apabila dikatakan bid’ah yang sesat, maka adakah kesesatan yang mendatangkan pahala ???
    2. Pernyataan Ibn Taimiyah yang anda tampilkan adalah adab dalam amar ma’ruf nahi munkar. Ibn Taimiyah mengajarkan jika anda dapatkan suatu kemunkaran/bid’ah yang sudah jelas dan tidak bisa berubah kecuali kepada yang lebih buruk, maka jangan anda cegah tapi arahkan kepada apa yang tidak bertentangan dengan syari’at. Gambarannya : perayaan ulang tahun, daripada hanya berupa nyanyian, diarahkan dengan semisal membaca Al-Qur’an, dzikir atau ibadah lainnya.
    Inilah tindakan bijaksana yang dikemukakan Ibn Taimiyah dalam mengajak orang menuju kebaikan bukan menvonis maulid sebagai bid’ah.
    3. Janganlah anda menampilkan pendapat ulama’2 yang tidak senang dengan maulid, karena klo ana tampilkan yang setuju dengan maulid, bisa2 mencapai ribuan ulama’.
    Mungkin ini saja yang ana tanggapi sambil memberi kesempatan kepada teman2 sunni lainnya yang ingin ikutan komentar. Mudah2an bisa di pahami dengan seksama…..
    Abdullah (05:14:55) :
    Salam kenal dari saya. Nama saya Abdullah; Mahasiswa Al-Azhar University. Saya sangat tertarik dengan diskusi teman-teman di situs ini. Semoga kita semua diberikan petunjuk oleh Allah untuk menempuh jalan yang lurus amin ya Rabbal alamin.
    Saya ingin memberikan beberapa komentar:
    Pertama= saya ingin mengingatkan sekali lagi bahwa diskusi harus dilandasi dengan dalil bukan hanya ngalor ngidul.
    kedua= saya tertarik dengan jawaban Yek Saudi yang telah memaparkan dengan gamblang dan disertai dengan dalil dan bukti-bukti.
    Ketiga: Saya ingin menyebutkan perkataan salah seorang shahabat Rasulullah bernama Ibnu Umar; Ia berkata, “Setiap bid`ah itu adalah sesat walaupun semua orang memandangnya baik” (lihat: kitab”Assunnah” karangan Muhammad bin Nashr Al-Maruuzi hal. 81) ungkapan Ibnu ini selaras dengan perkataan muhammad shabri di atas bahwa tidak ada pembagian bid`ah hasanah dan bid`ah sayyi’ah.
    Keempat: Saya ingin menukilkan perkataan Ibnu Taimiyyah secara lengkap sehingga pembaca bisa menghukum; apakah Ibnu Taimiyyah membolehkan maulid Nabi atau tidak?
    Berikut kutipannya:
    ابتداع مولد النبي صلى الله عليه وسلم مضاهاة للنصارى في عيد ميلاد عيسى ولو كان خيراً لسبقنا إليه السلف الصالح في صدر الإسلام وتفصيل القول في ذلك
    وكذلك ما يحدثه بعض الناس، إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، وتعظيماً. والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد، لا على البدع- من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيداً. مع اختلاف الناس في مولده. فإن هذا لم يفعله السلف، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه لو كان خيراً. ولو كان هذا خيراً محضا، أو راجحاً لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا، فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيماً له منا، وهم على الخير أحرص. وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره، وإحياء سنته باطناً وظاهراً، ونشر ما بعث به، والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان. فإن هذه طريقة السابقين الأولين، من المهاجرين والأنصار، والذين اتبعوهم بإحسان.
    Yang artinya:
    “Mengada-adakan perayaan maulid Nabi—Shallallâhu alaihi wasallam—merupakan amalan yang menyerupai orang-orang Nasrani ketika mereka merayakan kelahiran Nabi Isa. Apabila amalan itu adalah sesuatu yang baik maka tentulah generasi para salafus shaleh akan melakukannya di awal perkembangan Islam.
    Lebih rincinya berikut ini:
    Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia, baik karena hanya meniru orang-orang Nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa–‘Alaihis Salam–atau karena alasan cinta dan mengagungkan Nabi–Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangkali Allah akan memberikan pahala karena kecintaan mereka kepada Rasulullah—Shallallâhu alaihi wasallam, bukan karena amalan bid`ah yang mereka lakukan—yaitu menjadikan kelahiran Nabi—Shallallâhu alaihi wasallam—sebagai sebuah perayaan, padahal tanggal kelahiran beliau masih menjadi ajang perselisihan.
    Dan hal semacam ini belum pernah dilakukan oleh ulama salaf (terdahulu). Jika sekiranya hal tersebut memang merupakan kebaikan yang murni atau merupakan pendapat yang kuat, tentu mereka itu lebih berhak (pasti) melakukannya dari pada kita, sebab mereka itu lebih cinta dan lebih hormat pada Rasulullah—Shallallâhu alaihi wasallam—dari pada kita. Mereka itu lebih giat terhadap perbuatan baik.
    Sebenarnya, kecintaan dan penghormatan terhadap Rasulullah—Shallallâhu alaihi wasallam—tercermin dalam meniru, mentaati dan mengikuti perintah beliau, menghidupkan sunnah beliau baik lahir maupun bathin dan menyebarkan agama yang dibawanya, serta memperjuangkannya dengan hati, tangan dan lisan. Begitulah jalan generasi awal terdahulu, dari kaum Muhajirin, Anshar dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik”
    Dari ungkapan ini jelas bahwa Ibnu Taimiyyah tidak membenarkan amalan maulid Nabi, bukan seperti yang dipahami oleh Ibnu KhariQ. Yang dimaksud oleh Ibnu Taimiyyah adalah seseorang yang mengagungkan dan mencintai Rasulullah maka ia akan diberi pahala atas niatnya tapi amalan maulid Nabi yang ia lakukan maka itu adalah bid`ah.
    Kalaupun kita menganggap bahwa maulid Nabi itu adalah boleh maka maulid Nabi yang benar adalah dengan berpuasa setiap senin sebagaimana hadits yang menyatakan bahwa sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah kenapa kita berpuasa pada hari Senin? Rasulullah menjawab: “Karena itu adalah hari kelahiranku.”
    Jadi kesimpulannya: generasi salafus shaleh memperingati hari kelahiran Nabi yaitu dengan berpuasa setiap hari senin sebagaimana hadits di atas bukan dengan melaksanakan maulid Nabi setiap tgl 12 Rabi`ul Awwal karena tidak dicontohkan oleh Nabi dan juga generasi para salaf. Kembai kepada pemahaman generasi salaf itulah yang dimaksud dengan manhaj salaf, dan orang yang menisbahkan dirinya mengikuti generasi salaf disebut dengan salafi, diantaranya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab.
    wong Djowo (20:05:24) :
    Salam kenal dari saya. Saya BUKAN Mahasiswa Al-Azhar University,
    Bagi saya di sini tidak penting lulusan mana, yang penting berdiskusi dengan JUJUR dan ilmiyah..
    Coba kita simak kejujuran (lebih tepatnya kecurangan) kang Abdullah, Sang Mahasiswa Al-Azhar University..

    = KECURANGAN PERTAMA
    Setelah saya baca kitab IQTDHA’ As-SIRAT Al-MUSTAQIM nya Ibnu Taimiyah ternyata TEKS berikut ini TIDAK ADA sama sekali dalam kitab tersebut..
    ابتداع مولد النبي صلى الله عليه وسلم مضاهاة للنصارى في عيد ميلاد عيسى ولو كان خيراً لسبقنا إليه السلف الصالح في صدر الإسلام وتفصيل القول في ذلك
    Mengada-adakan perayaan maulid Nabi—Shallallâhu alaihi wasallam—merupakan amalan yang menyerupai orang-orang Nasrani ketika mereka merayakan kelahiran Nabi Isa. Apabila amalan itu adalah sesuatu yang baik maka tentulah generasi para salafus shaleh akan melakukannya di awal perkembangan Islam.
    Lebih rincinya berikut ini:…

    Sayang sekali Sang Mahasiswa Al-Azhar University terburu-buru membuat bahasa Arabnya sehingga KERANCUAN bahasa Arabnya kentara sekali..
    Perhatikan kata-kata:
    وتفصيل القول في ذلك وكذلك ما يحدثه بعض الناس
    Bagi yang mengerti Bahasa Arab ini Jelas bukan susunan MUBTADA-KHABAR yg tepat, kalimat وكذلك dst TIDAK BISA menjadi khabar وتفصيل. Sungguh terasa amat janggal
    = KECURANGAN KEDUA
    إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، وتعظيماً.
    Kalimat إما tidak diterjemahkan dengan benar, dia katakan “Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia,
    baik karena hanya meniru orang-orang Nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa–‘Alaihis Salam–atau karena ALASAN cinta
    TERJEMAHAN YANG BENAR
    Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia, ADAKALANYA karena hanya meniru orang-orang Nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa–‘Alaihis Salam– dan ADAKALANYA karena cinta
    Di sini Ibnu Taimiyah menyebut DUA TUJUAN yang BERBEDA, Pada halaman berikutnya (269) Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Tujuan kedua BERPAHALA BESAR (seperti dalam artikel)
    Sedangkan sang Mahasiswa Al-Azhar University MENYAMAKAN dua tujuan ini dengan cara menghindari penerjemahan إما dengan benar
    = KECURANGAN KETIGA
    Sang Mahasiswa Al-Azhar University MENAMBAH dan MENGURANGI sebagian terjemahan agar sesuai dengan kemauannya..
    Lihat kembali terjemahannya
    “atau karena ALASAN cinta dan mengagungkan Nabi”
    ditambahkannya kata ALASAN untuk menuduh bahwa mereka yg membaca maulid hanyalah mengaku-ngaku cinta dan itu sekedar ALASAN belaka.
    selanjutnya dia membuang kata IJTIHAD pada kalimat berikut..
    والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد
    dan barangkali Allah akan memberikan pahala karena kecintaan mereka kepada Rasulullah—Shallallâhu alaihi wasallam
    TERJEMAH SEHARUSNYA :
    Terkadang Allah memberikan pahala karena kecintaan mereka kepada Rasulullah—Shallallâhu alaihi wasallam dan IJTIHAD mereka ini..
    Ibnu Taimiyah mengakui bahwa ini adalah masalah IJTIHADIYAH (yang seandainya salah pun masih berpahala), namun Sang Mahasiswa Al-Azhar University sengaja tidak menerjemahkannya..
    sang Mahasiswa Al-Azhar University juga menghentikan kutipannya sampai di situ saja karena setelahnya ada kalimat
    مع ما لهم من حسن القصد والاجتهاد
    Maka titik PERBEDAAN Ibnu Taimiyah dan Wahabi :
    = Ibnu Taimiyah masih mengakui bahwa dg dasar CINTA, MAULID mendatangkan PAHALA BESAR..
    = sedangkan Wahabi merasa ALERGI untuk mengaitkan MAULID dengan PAHALA

  5. Bagi saya sangat jelas untuk peringatan Maulid adalah tidak sama dengan Natal nya kaum Nasrani. Jadi tidak ada relavansinya antara Islam dan Nasrani.
    Kalau boleh saya menyandarkan pada peringatan Maulid ini, maka hadist yang menyandarkan dalil yang kuat adalah bahwa Nabi Muhammad juga merayakan Maulid, cuma bedanya yang dilakukan Nabi Muhammad adalah setiap hari senin. Hal itu sangat jelas dan kuat dalil yang digunakan. Ketika Nabi ditanya tentang puasanya pada hari senin, cuma umat nya yang tidak memperhatikan hal ini, bahkan puasa senin dan kamis pun jarang dilakukan.
    Maulid saat inipun tidak selalu diadakan pas tepat tanggal 12 Rabiul awal, tapi sudah dilakukan setiap saat.
    Karena faedah Maulid ini cukup besar, disana terlihat ada majelis zikir, menyambung tali silaturahim, bersedakah dan masih banyak lagi manfaat didalamnya, serta bukankah Nabi membawa ajarannya dengan memperbanyak seperti hal itu?. Jadi kenapa harus diperdebatkan dan saya rasa Islam sangat flexibel dalam kaidah2 ajarannya.

    1. Karena itulah Mas Johan, Maulid Nabi pun bisa jadi bahan untuk dijadikan finah oleh Wahabi, mereka selalu menjadi fitnah bagi Islam. Ini ciri2nya seperti yg disabdakan oleh Nabi Muhammad dalam hadits tentang Najd, bahwa di Najd akan ada fitnah2 yg muncul dari Najd.

      Hal ini terbukti bahwa Wahabi sekarang menjadi fitnah paling besar bagi islam dan Umat Islam di seluruh dunia.

      1. Saya tidak melihat kelompok Wahabinya, tapi cara berpikir nya yang terlalu sempit dalam memahami kaidah-kaidah ajaran Islam, padahal Islam ini sudah memenuhi segala aspek kehidupan, yang paling terkecilpun sudah masuk dalam kaidah / khasanah Islam.

        1. Wahabi adalah realitas di tengah umat Islam, semua orang tahu…, kalau ada orang bilang gak tahu, mungkin pura2 nggak tahu aja, alasannya takut dibilang njelek-njelekin orang Islam. Lho, ini prinsip yg salah jika membiarkan fitnah terus berkembang di tengah umat Islam. Jangan lupa dg tuntunan Nabi Saw berikut ini: “katakanlah apa adanya walaupun itu pahit”.

          Kalau Wahabi itu benar2 nyata sebgai sumber fitnah, mestinya tidak perlu ragu2 mengatakannya. Sebagaimana mereka juga tidak ragu2 dalam memfitnah aqidah Asy’ariyyah sesat. Jika kita loyo dalam menyuarakan kebenran sehingga kalah oleh kebatilan, bersiaplah menghadapi bencana besar di akhirat kelak. Na’dzubillah min dzaalik!

  6. Nah betul kata dunia , klo urusan plintir melintir curang mencurangi palsu memalsu golongan 3T (tabdi,tasybih,Takfir) si wahabi biangnya.
    ini plintiran wahabi :

    WAHHABI KELIRUKAN KITAB AL-IBANAH (2)
    Oleh: Abu Syafiq (012-2850578)
    Setelah merujuk kepada semua cetakan kitab Al-Ibanah didapati tiada suatu cetakan pun yang mengatakan “Allah Bersemayam Atas Arasy” dan tidak wujud langsung perkataan “Allah Duduk Atas Arasy” sepertimana yang didakwa oleh Wahhabi. Bahkan tertera pada cetakan kitab Al-Ibanah ‘An Usuli Adiyanah oleh Imam Abu Hasan Al-Asya’ry yang diTahkik Oleh Dr. Fauqiyah Husain Mahmoud Prof Di Universiti “ain Syams Kaherah Mesir cetakan 2 Tahun 1987M didapati dalam kitab Al-Ibanah tersebut
    Imam Abu Hasan Al-Asya’ary menyatakan : ” Istiwa Allah bukan bersentuhan, bukan menetap, bukan mengambil tempat, bukan meliputi Arasy, bukan bertukar-tukar tempat, bukanlah Allah di angkat oleh Arasy bahkan arasy dan malaikat pemikul arasylah yang diangkat oleh Allah dengan kekuasaanNya, dan mereka dikuasai oleh Allah dengan keagunganNya “. Lihat kitab di atas yang telah Disacn dan perhatikan pada line yang telah dimerahkan.
    Amat jelas Imam Abu Hasan Al-Asy’ary menafikan TEMPAT bagi Allah dan juga beliau menolak akidah kufur yang mendakwa Allah Berada Diatas Arasy Mengambil Arasy Sebagai TempatNya… Ini adalah akidah kufur yang ditolak oleh Imam Al-Asy’ary.
    Sungguh jijik dan jahat golongan Wahhabi menokok dan menukar serta membohongan kitab Imam Sunnah Abu Hasan Al-Asy’ary.
    SOALAN SAYA KEPADA WAHHABI: KENAPA ANTUM TIDAK AMANAH DALAM HAL AKIDAH?!!JAWAB!
    Semoga Allah memberi hidayah kepada Wahhabi dengan hujjah yang saya kemukakan dengan terang,jelas lagi bersuluh.
    *ISTAWA TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN KEPADA BERSEMAYAM KERANA BERSEMAYAM BERERTI DUDUK, INI BUKAN SIFAT ALLAH. SEPERTI MANA ALMUTAKABBIR TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN PADA ALLAH SEBAGAI SOMBONG&ANGKUH KERANA ITU SIFAT JELEK BUKAN SIFAT ALLAH. AKAN TETAPI SEBAIKNYA DITERJEMAHKAN DENGAN MAHA MENGUASAI.
    http://www.abu-syafiq.blogspot.com

  7. Salam kenal wahai saudaraku.

    Seperti kita ketahui kaum-kaum wahabi sudah memasuki dan menyelinap kedalam kaum intelektual dan pemuda-pemuda yang anti maulid, dan mereka katakan semua sebagai penyakit. Selain itu juga kita dapati kaum-kaum ibu dan bapak yang sedih dengan hal ini karena kebanyakan mereka berkata kepada anaknya: “Anak sekarang kalau dikasih tau tentang agama, lebih pintar mereka dalam menjawabnya”. entah dari mana mereka belajar dan memahaminya sebegitu cepat berubah.

    untuk membendung hal ini apakah kita tidak sebaiknya membentuk suatu organisasi untuk pemuda, agar lebih tidak gampang terpengaruh dengan paham-paham wahabi. dan juga untuk membendung oraganisasi-organisasi mereka yang kian marak banyak
    menyebarkan fitnah.

    Silahkan di tanggapi.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker