Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Inspirasi Islam

Hukum Memperingati Kemerdekaan RI Itu Wajib

Hukum Memperingati Kemerdekaan – KH Marzuki Mustamar mengatakan bahwa hukum memperingati kemerdekaan hukumnya wajib. Upacara peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-71 juga dilakukan oleh santri Pondok Pesantren (PP) Sabilurrosyad Gasek
Malang, Rabu (17/8) hari ini. Layaknya khas santri, dalam upacara tersebut mereka juga mengenakan sarung lengkap dengan pecinya.

Meski sedemikian sederhana, upacara yang digelar sejak jam 08.00 pagi itu berjalan dengan khidmat. Bahkan, Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar yang berkesempatan menjadi pembina upacara. Dia sempat meneteskan air mata diikuti oleh peserta upacara yang lain. Pekik ‘Merdeka’, lantunan lagu Indonesia Raya beserta Sholawat Badar menambah semangat perjuangan para santri.

 

kh+marzukki - Hukum Memperingati Kemerdekaan RI Itu Wajib

 

Dalam amanatnya, Kiyai Marzuki menyampaikan bahwa memperingati, mensyukuri, dan mengisi kemerdekaan itu hukumnya wajib. Mengapa Hukum Memperingati Kemerdekaan wajib?

Yang pertama, kita sadar bahwa kita bersujud di Indonesia. Dilahirkan di Indonesia, mencari nafkah di Indonesia. Semua yang kita lakukan berada di Indonesia. Dan sampai saat ini Indonesia yang kondusif inilah tempat kita untuk mendekat kepada Allah SWT.

Yang kedua, Indonesia merdeka tidak lepas dari perjuangan pahlawan yang hampir sebagian besar adalah ulama’. Seperti Sultan Hamidin Putera Syarif Hidayatullah, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, KH Wahab Chasbullah, dan Ahmad Natsir. Mereka adalah ulama besar yang telah berjuang mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan Republik Indonesia.

Tak lupa juga, Bung Karno. Bapak proklamator tersebut adalah santri. Kenapa? Dalam mengambil keputusan penting, Bung Karno selalu meminta pendapat Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, seperti misalnya, Bagaimana hukumnya membela Tanah Air? Dari pertanyaan inilah kemudian menjadi salah satu embrio adanya Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945. Bagi para ulama, harga kemerdekaan NKRI setara dengan nyawa dan darah mereka. Oleh karena itu, kita yang masih hidup wajib menjaga kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan, wajibnya menjaga NKRI, sama dengan wajibnya melaksanakan syariat Islam.

Yang ketiga, NKRI memiliki aset punya orang Islam terbesar di dunia. Pasalnya, masjid yang berada di bumi pertiwi saja ada sekitar setengah juta lebih. Pesantren yang dimiliki Nahdlatul Ulama saja ada sekitar 30.000 lebih. Belum lagi lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya. Makam para ulama, walisongo juga berada di Indonesia. Maka dari itu, menjaga NKRI adalah harga mati. Ingat! Bubarnya NKRI berarti terancamnya aset umat Islam.

Nah, karena itulah hukum memperingati kemerdekaan RI menjadi wajib, karena memperingati kemerdekaan punya peran yang penting.

 

BACA JUGA:  Di Syi'ah Ada Rafidhoh, di Ahlussunnah Ada Wahabi Nawaashib

Mereka mempersoalkan hukum memperingati kemerdekaan

Dalam penutupnya, kiyai yang juga santri dari Almaghfurlah KH Masduqi Mahfudz ini, sangat menentang keras berbagai aliran atau kelompok. Yang mana saat ini masih ada yang mengkafirkan para pejuang NKRI terdahulu. Bahkan masih ada yang mengatakan bahwa Indonesia Negara ‘Thogut’. Karena negara thogut maka hukum memperingati kemerdekaan negara thogut adalah haram.

”Semua yang hadir khususnya santri-santriku, berhati-hatilah dengan kelompok-kelompok seperti itu, kelompok seperti mereka memiliki mental yang sama dengan penjajah,” pungkasnya.

Sementara itu, Lurah Putri Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Mila Lishowabi, mengungkapkan. Bahwa upacara bendera peringatan HUT RI adalah agenda yang rutin dilaksanakan tiap tahunnya.

“Untuk tahun ini, acara akan dirangkai dengan Festival Banjari Gasek se-Jatim pada Minggu (21/8). Dan Halal bi Halal Pondok Pesantren Sabilurrosyad yang menghadirkan beberapa tokoh nasional seperti KH. Musthofa Bisri (Gus Mus). Juga tokoh Muhammadiyah H.A Malik Fadjar, Menteri Ketenagakerjaan dan Transmigrasi M Hanif Dhakiri. Ketua PBNU sekaligus Wakil Gubenur Jatim Gus Ipul. KH Harun Ismail Blitar dan beberapa tokoh lainnya pada Senin (22/8) malam,” ujar wanita murah senyum tersebut. (al/muslimoderat.com)

 

BACA JUGA:  Jasa Besar NU Selamatkan Makam Nabi Muhammad dari Kehancuran

Oleh: Muhammad Faishol, Mantan Wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini sebagai
Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang.

Tulisan ini bisa menjadi jawaban terhadap mereka yang mempersoalkan hukum memperingati kemerdekaan.

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker