Inspirasional

Horor 3 Bulan Jadi TKI Gelap di Malaysia

3 Bulan Jadi TKI Gelap, Saya Takut Ditangkap Polisi Malaysia

Saya sering bayangkan, seandainya polisi Malaysia tiba-tiba akan mengkap saya, rencananya saya tidak akan lari. Saya akan pasrah dan menyerah, sebab kalau lari bisa-bisa polisi akan menembak saya.

Sebelumnya sudah saya ceritakan secara singkat bagaimana kehidupan saya selama 3 bulan jadi TKI resmi di Kota Muar – malaysia. Jadi tidak selamanya jadi TKI resmi otomatis akan mengalami enaknya bekerja di negeri orang, justru yang saya rasakan adalah kondisi yang menjengkelkan dan terkadang memancing emosi. Dan pada puncaknya kejengkelan, saya pun kabur dan akhirnya saya menjadi TKI gelap alias TKI tanpa dokumen. Kisah singkat sebagai TKI resmi sudah saya ceritakan sebelumnya di link ini, silahkan klik.

Nah, sekarang saya akan bercerita tentang keadaan setelah menjalani kehidupan sebagai TKI Gelap. Di hadapan Husin, calon bos saya, saya hanya diajak bicara menyangkut soal pekerjaan yang akan saya kerjakan. Kemudian tanpa di tes, karena dia tampaknya cukup percaya dengan skill saya, saya langsung diterima kerja sebagai dress maker di butiknya, di Mall Jaya Shopping Centre, Petaling Jaya – Kuala Lumpur.

Jaya Shopping Centre – Petaling Jaya – Malaysia. (Illustarasi)

Pada hari Minggu tersebut saya diajak pulang ke apartemen Husin untuk menginap sementara. Dan rencananya, nantinya saya akan disewakan satu kamar untuk istirahat atau tidur sepulang kerja.

Hari pertama bekerja, yaitu hari Senin, saya merasa nyaman karena ruangannya memang berhawa sejuk full AC. Hari pertama saya ditugasi membuat baju kebaya Jawa (kalau di Indonesia disebut kebaya Kartini) milik seorang wanita host TV 3. Saya pun segera disuruh mengukur badan wanita tersebut. Saya mulai ukur berapa inch besar badannya, lingkar pinggang, lingkar pinggul, panjang baju, panjang tangannya, dan lain-lainnya. Setelah itu saya segera membuatkan polanya, lalu memotong kainnya, kemudian saya menjahitnya. Saya tanpa mengalami kesulitan dalam mengerjakannya, karena ini memang pekerjaan yang sesuai keahlian saya.

Saya mengerjakannya selesai dalam sehari, dan keesokan harinya yang punya baju segera datang ke butik untuk mencobanya. Alahamdulillah, baju kebaya buatan saya yang pertama sukses karena langsung pas di badannya dan enak dipakainya.

Begitulah hari demi hari pada awal-awal jadi TKI gelap saya jalani tanpa kendala, bahkan mulus tanpa hambatan karena baju-baju buatan saya selalu cocok dan pas dipakai para pemesannya. Saya banyak mendapat pujian dari para pelanggan. Menurut mereka, saya adalah seorang yang ahli di bidang fashion ini. Mereka mengenal saya sebagai orang Jakarta, dan rupanya Husin juga “menjual” nama Jakarta yang melekat pada saya.

Setelah bekerja kurang lebih dua Minggu, Husin memberitahu saya bahwa dia sudah mendapatkan kamar yang disewa buat saya menginap. Sebulan harga sewanya 350 Ringgit Malaysia. Lokasinya tidak jauh dari Mall, hanya sekitar 100 meter saja. Hm…, enak sekali, tidak seperti swaktu kerja di Muar yang setiap hari jalan kaki sejauh 8 kilimeter pergi-pulang kerja. Di Kuala Lumpur ini, pergi pulang kerja hanya memerlukan sedikit langkah sudah sampai. saya biasa berangkat kerja jam 9 pagi, pulangnya jam 9 malam.

Saya keluar mall hanya pada saat-saat jam istirahat untuk makan siang di kedai makanan, letaknya masih di lingkungan Mall. Atau pada hari Jum’at saya keluar ke masjid untuk shalat Jum’at. Pada hari-hari biasa saya shalat di tempat kerja, di ruangan yang biasanya untuk ngepasin baju.
***

Saya mulai merasakan ketegangan-ketegangan kecil sejak pertama tinggal di kamar sewa. Kamar saya adalah bagian dari sebuah rumah yang dijuni oleh keluarga Chinese. Jika saya masuk ke kamar berarti saya harus masuk dulu lewat pintu utama, ini juga berarti harus melewati penghuni rumah yang sedang nonton TV di ruang depan, lalu menuju kamar saya di lantai atas. Di lantai atas ada satu kamar lagi yang dihuni oleh pasangan muda beranak satu. Yang mana mereka ini adalah anak dari yang empunya rumah.

banner 2 2 - Horor 3 Bulan Jadi TKI Gelap di Malaysia

Waktu baru masuk kamar pertama kali, Husin wanti-wanti kepada saya agar tidak usah bicara dengan yang punya rumah atau penghuni yang lain. Mengenai soal urusan bayar sewa kamar akan dibaya oleh Husin sendiri setiap bulan. Jadi tidak usa ngomong-ngomong dengan yang punya rumah. Nanti kalau saya bicara akan ketahuan kalau saya orang Indonesia. Ini bisa berbahaya, katanya…, kalau dilaporkan ke polisi berarti Husin akan kena denda 20.000 Ringgit karena menyembunyikan pelarian.

Saya agak kaget mendengar peringatannya, tapi memang benar apa yang diktakan Husin. Jadi saya masuk ke rumah dan kalau ketemu penghuni rumah atau yang punya rumah, saya cuma sedikit membungkuk sambil tersenyum menunjukkan keramahan. Atau yang sering, saya hanya tersenyum saja tanpa bicara. Begitu masuk kamar sepulang kerja, saya langsung tak akan keluar lagi karena memang sudah malam. Sampai besok paginya saya harus keluar berangkat kerja.

Begitulah saya sehari-hari di rumah seperti orang asing, ya sangat asing, sampai pada suatu hari Minggu saya terpaksa mencuci pakaian di luar, karena kamar mandi di atas waktu itu sedang rusak krannya. Saat mencuci pakaian di belaknag dapur di luar rumah. Saya ditemani tante yang punya rumah. Dia mengajak saya bicara, dan mau atau tidak mau, saya harus menjawab pembicaraannya. Benar juga apa yang dikuatirkan Husin, akhirnya ketahuan juga keindonesiaan saya oleh si tante.

Si Tante bilang begini: “Kamu seperti orang Indonesia…”, dan saya pun mendengarnya seperti disambar geledek saking kagetnya.

Pada suatu hari ketika saya pulang kerja di malam hari, saya masuk kamar dan menemukan kelainan di meja saya. Letak buku-buku saya, ada Al-Qur’an, ada buku catatan harian, dan buku-buku bacaan yang saya bawa dari Indonesia agak bergeser dari tempatnya. Ya, saya yakin ada orang selain saya masuk kamar. Mungkin yang punya rumah sedang menyelidiki saya karena penasaran dengan saya. Itu kejadian di akhir bulan pertama saya tinggal di kamar sewa tersebut.
***

Sehari-hari saya makan di area kedai makanan di dekat Mal Jaya Shopping Centre. Di area ini terdapat banyak kedai makanan yang menyediakan berbagai macam menu makanan. Ketika itu saya sedang makan agak terlambat waktunya, yaitu sekitar jam 2 siang. Sedang asik makan tiba-tiba muncul serombongan polisi sekitar 6 orang polisi. Saya kaget bukan main, dengan hati berdebar-debar saya agak menyembunyikan muka, saya tidak berani melihat ke arah mereka yang duduk kurang lebih 10 meter dari tempat saya makan. sampai selesai makan, kemudian saya membayarnya, lalu saya pergi melalui pintu yang arahnya menjauh dari tempat duduk rombongan polisi tersebut.

Alhamdulillah, saya akhirnya bisa kembali ke tempat kerja tanpa dikejar para polisi tersebut. Tadinya saya kuatir mereka akan menagkap saya. Begitulah, saya punya “penyakit jiwa” takut ditangkap polisi. Hal ini karena saya adalah TKI gelap tanpa dokumen apapun. Jadi begitulah akhirnya kalau ketemu polisi rasanya sangat kuatir dan takut, takut ditangkap lalu dijebloskan ke dalam penjara.

Masih ada banyak cerita-cerita berkaitan dengan rasa ketakutan ditangkap polisi Malaysia setiap kali saya melihat atau berpapasan dengan mereka. Memang tidak setipa hari, bahkan tidak setiap Minggu saya ketemu polisi. Tetapi setiap saya melihat polisi, saya selalu dilanda perasaan takut sehingga memacu ketegangan yang mendebarkan hati. Kejadian-kejadian ini sangat menekan perasaan saya sehingga membuat saya agak stress. Saya sering membayangkan, cepat atau lambat saya akan ditangkap polisi.

Dan saya sering bayangkan, seandainya polisi tiba-tiba akan mengkap saya, rencananya saya tidak akan lari. Saya akan pasrah dan menyerah, sebab kalau lari bisa-bisa polisi akan menembak saya. Hal ini jangan sampai terjadi, saya masih ingin hidup dan kembali ke tanah air Indonesia tercinta.

Bagaimana kisah selanjutnya, apakah saya benar-benar ditangkap polisi Malaysia, lalu dijebloskan dalam penjara? Bagaimana upaya yang saya lakukan sehingga saya bisa keluar dari wilayah negara Malaysia, dan akhirnya saya bisa kembali ke Tanah Air Indonesia tercinta ini? Insyaallah akan saya kisahkan segera dalam bagian terakhir kisah saya ini….

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker