Berita Fakta

Haul ke-3 Gus Dur di Ciganjur Dibanjiri Ribuan Jamaah dari Berbagai Penjuru Jakarta

Rasanya baru kemarin Gus Dur pergi menuju Tuhan, tapi kenyataanya kemarin, 30 Desember 2012 adalah hari haul ke-3 Gus Dur. Itu berarti Gus Dur sudah mangkat 3 tahun yang lalu, ah… betapa cepat waktu berlalu.

Dan, dalam rangka memperingati tahun ketiga kepulangan mantan presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), keluarga Almarhum menggelar acara doa berjamaah di kediaman Ciganjur, Ahad malam (30/12).

Di luar perkiraan, ternyata banjir ribuan jamaah dari berbagai daerah di Jakarta dan sekitarnya ikut menhadiri acara tahlilan, istighotsah dan doa berjamaah ini. Para jamaah hadir atas inisiatif sendiri-sendiri tanpa dikoordinasi ataupun diakomodasi oleh panitia haul.

BACA JUGA:  Daftar Isi

“Acara ini memang sebenarnya dimaksudkan untuk kalangan terbatas saja. Beberapa tamu undangan dan masyarakat sekitar saja. Tapi Alhamdulillah ternyata antusias masyarakat melebihi yang kami perkirakan,” tutur Ibu Nyai Hj. Shinta Nuriyah, isteri Almarhum Gus Dur kepada wartawan NU Online, usai acara.

Seluruh anak, menantu dan cucu-cucu Gus Dur lengkap turut ambil bagian dalam acara ini. Turut hadir pula dalam acara ini, keluargah besar Wahid Hasyim seperti adik-adik dan keponakan-keponakan Gus Dur, antara lain Aisyah Hamid Baidlowi, Lily Wahid dan lain-lain.

BACA JUGA:  Blog Artikel Islami dan Salafy Tobat Dapat Giliran Shut Down Wordpress.com

Sebelum acara puncak doa berjamaah, dari pagi keluarga juga menggelar acara khataman Al-Qur’an yang melibatkan mahasiswa penghafal Al-Qur’an (huffadh) dari Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta dan santri Pesantren Ciganjur.

Sementara itu dalam testimoninya, Mahfudh MD menyatakan, Gus Dur adalah sosok yang terbukti bersih secara hukum. Baik persidangan karena kasus Bulog maupun hibah dana dari sultan Brunei.

BACA JUGA:  Para Blogger Pendobrak Kepalsuan

“Dalam kedua persidangan hukum kedua kasus tersebut, pengadilan telah menyatakan bahw Gus Dur tidak terlibat. Sementara orang-orang yang terlibat dalam Buloggate telah divonis masing-masing empat tahun,” tandas Mahfudh.

Para tamu undangan yang hadir dalam acara doa bersama ini antara lain Ketua Mahkamah Konstitusi Mohammad Mahfudh MD, Wakil Menteri Agama Nazaruddin Umar, dan lain-lain.

 

sumber

 

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Haul ke-3 Gus Dur di Ciganjur Dibanjiri Ribuan Jamaah dari Berbagai Penjuru Jakarta
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

215 thoughts on “Haul ke-3 Gus Dur di Ciganjur Dibanjiri Ribuan Jamaah dari Berbagai Penjuru Jakarta”

    1. Gus Dur adalah sosok yg bersih tapi difitnah oleh orang2 yg rakus dalam kehidupan politiknya, siapa lagi kalau bukan Bp Amin Rais dkk? Akhirnya Pak Amin Rais kwalat tidak bisa jadi presiden selanjutnya, padahal sudah ngebet sampai ubun2 ingin jadi presiden.

      Baru2 ini Andi malaranggeng juga kwalat, dulu saat2 terakhir Gus Dur di Istana Presiden, Andi Malaranggeng menyuruh tentara untuk menyeret Gus Dur keluar Istana. Untungnya tentara tidak menuruti prvokasi Andi Malaranggeng. Seandainya terjadi tentu akan menjadi aib TNI dalam sepanjang sejarahnya. Hidup TNI !!! I love you TNI !!! Go to hell Andi Malaranggeng!

  1. Mendiang Gus Dur mengatakan, “Sejak dulu, kelompok yang suka dengan cara kekerasan itu memang mengklaim diri sedang membela Islam, membela Tuhan. Bagi saya, Tuhan itu tidak perlu dibela!”

    Ungkapan Gus Dur yang menyebut “Tuhan itu tidak perlu dibela!’ itu justru bertentangan dengan ayat:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad:7)

    Kaum fasik liberal sepertinya menyembunyikan dalil tersebut yang nyata dan lebih eksplisit tentang pembelaan terhadap agama Allah. Begitu juga dalam QS. Al Hajj ayat 40 :“…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa.”

  2. Gus dur mengatakan alloh secara hakikat.
    Anda mengatakan alloh secara majaz terbukti mentakwil lafadz alloh dengan agama.
    Menurut saya kok beda ya?

    Sudahlah mas…. urusan gusdur di dunia sudah selesai, mestinya kita yang masih hidup ini merenungi dan berhati-hati.
    Wallohu a’lam

  3. Dan juga kitapun tidak mengetahui apa yang tersimpan di hati gusdur waktu beliau berkata demikian, lebih baik khusnudzon aja lah, daripada menambah khisab.
    Wallohu a’lam

    1. abu dzar, anda yang aneh puls gobok…. ustadz dikampung sya aja disebut ulama kok , apalagi seorang Gusdur, yang kyai , haji, , pimpinan NU (organisasi massa islam terbesar di negri ini), pengasuh pesantren, seorang presiden, seorang tokoh nasional (dunia bahkan) . Lha terus ada yang yang hanya seorang biasa (sama spt sayay) kok nanya begitu ?????? emang aneh orang orang wahabi di negeri ini !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    2. abu dzar si Wahabi ini kelihatan sekali iri dengki dg para Ulama dan Kiyai2 di Indonesia, sebab di kalangan salafy wahabi tidak akan berani menyebut ustadz2nya sebagai ulama, kalau berani bisa2 ustadz2nya nggak dapat santunan bulanan dari bosnya di Arab saudi. Sebab yg namanya Ulama itu menurut kamus Wahabi cuma ada di arab saudi, mereka berkumpul di Kibar Ulama, maklumlah ya?

      Padahal, ilmu2 agama para ulama saudi kalau dibandingkan dg ilmunya Gus Dur paling2 cuma seujung kukunya Gus Dur. Kita semua kan tahu, ulama Wahabi itu kalau dalam dunia internet disebut dg ILMU COPAS, belum tentu ulama2 Wahabi itu mengerti benar2 apa yg diucapkannya. Beo semua kaya kroco2nya juga begitu.

  4. Mas abi dzar tahu kan hadist ini?
    َﻻ اﻮﱡﺒُﺴَﺗ تاَﻮْﻣَْﻷا َ ﻢُﻬﱠﻧِﺈَﻓ ْ ﺪَﻗ ْ اْﻮَﻀْﻓَأ ﻰَﻟِإ ﺎَﻣ ا

    “Janganlah kalian mencela orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah menyerahkan apa yang telah mereka perbuat.” faidlul qodir 6 hal 517

    Yang saya tanyakan, maksud orang yang telah meninggal diatas siapa? Orang muslim atau non muslim?
    Wallohu a’lam

  5. Maaf kopi paste via hp tulisan kacau, kami ketik ulang
    لا تسبوا الاموات فانهم قد افضوا الي ماقدموا
    Maaf hamzah dan alif layinah dlm hp tidak ada. Harap maklum

  6. @lasykar, kenapa dalil antum g antum keluarkan juga kepada orang2 yang menghina syekh muhammad bin abdul wahab dan syekhul islam ibnu taimiyah kan mereka juga sudah meninggal.heeee atau kepada para pencaci sahabat Mu’awiyah bin abu sofiyan kenapa dalil anda ga keluar.monggo.heee

    1. Mas abi dzar…. ada asap pasti ada api, kita semua tahu siapa yang memulai semua ini, jadi wajar apabila teman teman aswaja, mengeluarkan statemen sebagai “counter attack”, dan coba anda buka syarah hadist diatas di dalam faidlul qodir, maka mas abi dzar akan mengetahui alasan kami….
      Wallohu a’lam

      1. Dan sebaiknya anda jawab beberapa pertanyaan saya, biar diskusi ini berkesinambungan…. jadi biar tidak terkesan anda mendikte kami. Trims…

  7. @abu dzar
    Apa gak terbalik koment ente, lihat aja di Kitab : Al ushul al Arba’ah fi tardid al Wahabiyah (tashih Khatha Tarikh haula al Wahabiyah karangan Muhammad Sa’id asy Syuwairi) Penerbit : Dar al habib Cetakan ke 4 tahun 1421 H/2000 M Hal. 66 :
    “Dan sebagian perkataannya (Muhammad bin Abdul Wahab) : “Aku menganggap bathil kitab (fikih) empat madzhab dan aku katakan bahwa manusia dalam kurun waktu 600 tahun mereka tidak berada atas sesuatu (kebenaran) dan aku mengajak untuk berijtihat dan aku keluar dari taqlid (mengikuti ulama = “Menerima satu perkataan tanpa mengetahui dalilnya” (Mudzakaratu Ushuulil-Fiqh hal. 306-Cet. Multaqaa Ahlil-Hadiits) dan aku katakan bahwa perbedaan pendapat ulama adalah kemarahan dan aku mengkafirkan orang yang bertawasul kepada orang-orang shalih, aku mengkafirkan Bushairi karena ucapannya : “Hai orang yang paling mulia-mulianya makhluk (Muhammad)” dan aku katakan jika aku mampu untuk menghancurkan kubah Rasulullah saw niscaya akan aku hancurkan dan sekiranya aku mampu juga atas ka’bah, niscaya aku ambil talangnya dan aku buatkan talang dari kayu dan aku haramkan berziarah ke makam Nabi saw dan aku mengingkari untuk berziarah ke makam kedua orang tua dan selain dari keduanya dan aku mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah dan aku mengkafirkan Ibnu Al-Faridh dan Ibnu ‘Arabi dan aku akan membakar kitab Dalalil Al-Khairat dan kitab Raudh Ar-Riyahin (taman kesenangan) dan aku akan menamainya Raudh Asy-Syayathin (taman para setan), dst….”

    Jadi gimana bisa ane doain. kan dia gak percaya ya…

  8. kang ucep salam kenal dari abu dzar al-jakarti,pasar ikan tinggal di kramat luar batang tempat nya habib2 kumpul, kang ucep ane lahir dan besar di kawasan kramat luar batang tempatnya makam habib husain abu bakar al-idrus, banyak orang yang datang kesana ngejibun, sebagian mereka meminta kepada kuburan, sebagian mereka hanya ingin berekreasi, sebagian mereka ada yang mau lihat2 saja dan banyak tujuan dari mereka dan kuncen nya yang mengaku habib mengambil uang dari para orang yang berziarah ke makam habib husain, dengan membacakan doa di sebotol aqua dan berkata berdoalah dengan lantaran habib husain doa anda akan maqbul,mungkin abu dzar kecil hanya melihat dan ikut ikutan saja, tidak ada satu pun orang yang mengingakarinya dengan terang2 an, karna mata pencarian mereka ada disana.saya bertanya apakah ada hal yang demikian di ajarkan oleh rosulullah dan para sahabatnya?untuk kang ucep ane bertanya kepada saudara ane lasykar dia mengeluarkan dalil ketika gusdur di caci kenapa dia tidak mengeluarkan dalil yang sama ketika syekh muhammad bin abdul wahab dan syekhul islam ibnu taimiyah di caci????kang ucep komen ente kayanya lebay deh, di kitab syekh muhammad bin abdul wahab mana yang menganggap kiatb fiqih madhab yang 4 adalah bathil????apakah kang ucep sudah membaca kitab syekh muhammad bin abdul wahab semuanya? kalo blom mohon jangan mencela.okay

  9. @abu dzar
    Salam kenal juga, ane (Ucep Zenal) asli Jakarta dari Kramat Jaya dekat masjid KH Syafi’i Hadzami (alm). Tapi ane sekarang di Cianjur, jarang pulang kerumah, maklum cari sesuap Nasi buat ganjel perut.
    Ane juga sering kesana (Masjid Luar batang / Makam Habib Husein bin Abu Bakar al Idrus), memang selalu ramai dikunjungi orang.
    Apa ente tahu hati setiap orang yang pergi kesana ?, kalau ane sih yah mereka punya urusan.
    Apa ente kurang jelas sama judul kitab yang ane tulis diatas ?
    Yang caci maki bukannya ente, ente kilas balik aja sama koment2 ente ? tadinya ane gak mau jawab tapi ente maki2 begitu dibeberapa artikel, yah jadi ane koment deh.

  10. wah bagus deh klo udah pernah ke kramat luar batang, gmana ramaikan, kang ucep kumaha atuh kenapa kang ucep tanya apa ane tau isi hati mereka? heeee, kang ucep2, dari awal saya ud bilang klo saya lahir dan dibesarkan disana, guru ngaji saya waktu kecil sering ke kramat luar batang, dan kebanyakan orang yang berziarah saya tanya mau apa kesana katanya mereka mau minta barokah di makam habib husain dan jangan ditanya kang ucep setiap malam jum’at apalagi bulan ramadhan saya sering tidur di masjid kramat luar batang,shalat jum’at di masjid kramat luar batang bahkan saya sempetin shalat didalam ruangan kuburannya habib husain rahimahullah tapi dulu kondisi masjid masih belom di pugar seperti sekarang. saban hari tiap hari jum’at pas shalat jum’at itu orang yang mengaku habib bilang berdoalah dan mintalah dengan washilah habib husain abu bakar al-idrus doa kalian akan maqbul, tapi setelah saya faham tentang aqidah yang sebanarnya saya yakin kalau habib husain abu bakar al-idrus tidak menghendaki orang2 memohon doa kepada beliau, dan saya menghormati perjuangan beliau menyebarkan agama islam di indonesia telebih khusus di kampung luar batang walupun sekarang kramat luar batang tambah banyak premannya,heee.itu mah bukannya kitab syek muhammad bin abdul wahab kang ucep dan ane tidak di ajarkan untuk membenci para ulama ahlusunnah apalagi ulama 4 mahdzab lah wong saya belajar kitab2 mereka.kaya na terbalik nh, kang ucep.
    balik lagi nh untuk masalah gusdur gmana, antum tersinggung klo dia dapat cacian????apa ente pemuda anshor kli ya???heeee

    1. @abu dzar
      “tapi setelah saya faham tentang aqidah yang sebanarnya saya yakin kalau habib husain abu bakar al-idrus tidak menghendaki orang2 memohon doa kepada beliau”
      Memang ente dah ketemu beliau ?

      “jangan ditanya kang ucep setiap malam jum’at apalagi bulan ramadhan saya sering tidur di masjid kramat luar batang,shalat jum’at di masjid kramat luar batang bahkan saya sempetin shalat didalam ruangan kuburannya”
      Ente gimana, katanya Wahabi gak boleh shalat dikuburan, apalagi ini sampai tiduran ???

      “balik lagi nh untuk masalah gusdur gmana, antum tersinggung klo dia dapat cacian????”
      Apa yang mau dicaci buat Gus Dur, wong semuanya tidak pernah terbukti, ane sih ketawa aja dengerin nya !!!

      “apa ente pemuda anshor kli ya???” ane jawab : Tidak, karena ane selalu keluar kota melulu, bagaimana mau ikut organisasi !!!

  11. heee oh ternyata, oh ternyata keluar juga kartunya kang ucep, pendukung gustur to, heee. ketahuan pemikirannya liberal, heran masih di dukung aja,heee, yang mendukung kebebasan, mengatakan semua agama sama, ingin mengganti assalamu’alaikum dengan selamat pagi, siang, sore, yang parah lagi pedukung goyang inul,heee ngebor coy.heeee.cs nya ulil absor abdala yang ga tamat di LIPIA cabut belajar agama di california (belajar agama ko di tempat orang kafir n sama orang kafir), cs nur cholis majid yang mengatakan tuhan itu ada 2 tuhan besar dan tuhan kecil (g sekalian aja tuhan piyik)ayam kali,heee, yang dilengserkan jadi presiden keluar istana pake celana pendek doank,heeee, mau main bola pa? semoga Allah memberikan ampunan kepada pa gusdur atas semua kesalahan2 nya, dan semoga tidak ada gusdur2 yang lain yang mengikuti pola pikir nya.amiiiiin

    1. @abu dzar
      Ente mulai ngaco jalan pikirannya, ane gak seperti yang ente bayangin Liberal.
      Tanya sama diri ente, sudah berapa jauh ente beragama ? Kalau cuma membid’ahkan, mensyirikan kaum Muslim, sementara ente sendiri Shalat dikuburan juga bahkan tidur lagi, padahal faham ente wahabi melarang nya, apakah itu gak Munafik ??? ha ha ha.

  12. buat temen2 aswaja
    setuju ga klo ngeliat koment kang abu dzar, mirip ama sodaranya sesama wahabi ibnu abdil chair yang pandai mengarang cerita itu….!
    cara mendidik wahabi gmn ya..?
    ko bisa ya karakternya sama gitu….?

    1. abi raka@

      saya se7, mereka bisa punya karakter yg sama itu karena diajari prasangka buruk pada setiap pelajarannya, abi raka. Bagaimana gak sama karakternya, lah sedikit2 bid’ah, sedikit2 musyrik, sedikit2 kafir, dan semua itu dasarnya tidak lain kecuali prasangka buruk kepada yg punya pandangan berbeda dengan mereka.

      Sampai2 kabar di Ummati terbaru tentang penghancuran Masjid oleh Salafi, itu kan akibat prasangka buruk kepada kaum sufi. Taapi ya pantas kok buat mereka, sebab ajarannya langsung ngambil dari sumber utamanya, yaitu setan Najd.

      Saya dulu juga seperti itu, alhamdulillah saya sudah sembuh.

  13. alhamdulillah saya juga sudah sembuh dari penyembahan terhadap kuburan dari syariat2 ga jelas, bahkan saya mengajarkan pemahan tersebut kepada murid2 TPA saya, to kang ucep cory klo ane ga bil hal itu dlu pernah ane lakukan,okay, kuburan ko di mintai pertolongan tambah aneh lagi orang sudah mati ko dimintai kekayaan yang ada di doakan,okay.
    to abi raka cara pendidikan kami belajar dari dasar, ngaji tajwid dlu,beserta makhrojul hurufnya, ngaji membawa buku n pena untuk di tulis mengaji dengan menghafal qur’an dari ayat 1 ke ayat lainnya, menghafal hadits, belajar bahasa arab baik nahwu maupun shorofnya,terus meningkat belajar ilmu fiqih 4 mahdzab mengenal para ulama ahlu hadits terus meningkat, bukan yang dilakukan orang2 ngaji yasin setiap malam jum’at, ngajinya balapan,klo banyak makanannya banyak yang datang, sekali ada ceramah muridnya pada ga ad yang nyatet (emangnya lw siapa? imam syafe’i aj nyatet),sekali ceramah isinya lawakan ketawa dari awal sampai akhir, pas ditanya sama muridnya lw ngaji apa? g tahu tapi bagus ngajinya lucu ustadnya,heee.aneh yang g pantes di bilang ulama di panggil ulama bahkan ghulu alias lebay alias berlebihan ampe di anggap wali lah, air kobokan kakinya di anggap barokah lah, yang begini mau di bilang agama yang benar.so abi raka fenomena ini bukanlah sempalan tapi realita kaum muslimin pada saat ini.apa tanggapan ente, apa masih di bilang cerita? klo dibilang cerita berarti ente ga tahu situasi luar ente cma mendekam di kamar liat komputer, cma ngoceh tanpa fakta,gokil banget ente

    1. @abu dzar

      antum makin persis banget kaya ibnu abdil chair
      owya ngomong ngomong antum pernah konfirmasi ga klo orang yang datang ke kuburan itu pasti minta pertolongan atau minta kekayaan sama kuburan seperti tuduhan antum…?
      klo ga pernah berarti antum fitnah
      inget loh fitnah lebih kejam dari pada membunuh…!

    2. wah, antum nih.. kalau dilihat dari catatan /track record antum, pastilah sudah bisa dibilang sebagai seorang ulama sungguhan, lebih tinggi dari panggilan ustadz yang biasa kita temukan di negeri ini.
      dari sisi umur, ana menduga tidak lebih dari 45, tapi nampaknya di atas 25 an. dengan ukuran umur sedemikian, dan dengan kapabilitas, tanggung jawab yang diemban, serta visi ke depan, yang bisa dipahami dari cerita antum di atas, antum sungguh-sungguh layak disebut sebagai ulama.
      ulama memang terkadang ada yang pongah dan ada yang tawadlu’ (bijaksana). biasanya dan sebaiknya, seorang ulama makin tua sebaiknya semakin merunduk sejatinya ‘Padi’ yang semakin tua dan menguning.
      terkait dengan masalah yang tengah diperbincangkan; ana lihat sebuah hadis Nabi SAW ” اغد عالماً أو متعلماً أو مستمعاً أو محباً ولا تكن الخامسة فتهلك”. hadis ini mengajari para ulama, juga para ustad (ingat antum diantara mereka ini), untuk melihat umat yang dibimbingnya sesuai kadar mereka. ada yang alim (ulama), ada yang pembelajar, ada yang ‘mendengarkan’ bahkan ada yang hanya menyukai saja.
      kata Nabi SAW yang penting tidak menjadi kelompok yang kelima, yaitu TIDAK TERMASUK KEDALAM SALAH SATU DARI 4 GOLONGAN DI ATAS.
      lantas, jika ada yang bercita-cita mencetak mereka semua, menjadi orang yang alim, itu adalah cita-cita yang amat luhur. akan tetapi, jika saja cita-cita tersebut dilakukan dengan membabi buta, diantaranya dengan mengolok-olok, mencerca, atau bahkan memaki dan menyakiti tiga kelompok lainnya; yaitu kelompok yang kemampuannya hanya sebagai MUTA’ALLIM, atau MUSTAMI’, apalagi MUHIB. maka antum telah MENGINGKARI hadis nabi diatas. SEBAB, Nabi SAW MENGAKUI keberadaan mereka, dan Nabi menghargai mereka, orang-orang yang BISANYA HANYA DATANG UNTUK MENDENGARKAN PENGAJIAN, tidak hanya itu USTADZ….. bahkan orang yang tidak mau datang ngaji, asal masih punya rasa SUKA terhadap orang yang ngaji saja, Nabi SAW masih menghargainya.
      semoga antum hanya mengajarkan kepada anak-anak didik hal2 yang antum sebut diatas. dan tidak diajarkan CARA-CARA (TIDAK) MENGHARGAI UMATNYA, dan tidak diajarkan CARA SALAH MEMAHAMI HADIS.
      ingat antum tidak sekedar ustad, tapi telah menjadi seorang ulama yang menjadi panutan banyak orang.

    3. abu dzar@

      Mungkin antum tidak nyembah kuburan, tetapi kelihatannya antum menyembah Arab saudi dan Syaikh2 Wahabinya. Padahal di sana fitnah Islam itu digodok dan dimatangkan untuk dilalap para pengikutnya.

    4. Abu Dzar, antum dulunya mungkin muslim abangan makanya pemahaman antum masih mirip kaum abangan….. Kalau santri pastilah tidak akan punya pikiran kayak antum, begicuuuu….

    5. @abu dzar, anda brkata
      “alhamdulillah saya juga
      sudah sembuh dari
      penyembahan terhadap
      kuburan dari syariat2 ga
      jelas”.apakah anda mengkafirkan diri anda sendiri sebelum masuk wahabi?

    6. @abu dzar, anda brkata
      “alhamdulillah saya juga
      sudah sembuh dari
      penyembahan terhadap
      kuburan dari syariat2 ga
      jelas”.apakah anda mengkafirkan diri anda sendiri sebelum masuk wahabi?Wahai abu dzar,kburan itu bukan untuk disembah sprti yg pernah anda lakukan.Dan parahnya lagi setelah anda melakukan kemusyrikan yg pernah anda akui sendiri,anda menjadi seorang wahabi? Innalillaahi wainna ilai roojiuun

  14. balik lagi ke gusdur gimana kang ucep masih mau membela pemikiran gusdur? ini realita mas, kita ini sezaman dengan gusdur, kita sering melihat gusdur di media masa n surat kabar, bagaimana sepak terjangnya pa gusdur,okay

    1. @abu dzar
      Tuh kan ente mulai panik !!! Jangan panik mas. Santai aja seperti dipantai dekat rumah ente ya.
      Memang ente tahu pemikiran Gus Dur ?
      Ente mestinya berterima kasih sama Gus Dur, kalau tidak Wahabi sudah dibumi hanguskan dr bumi Indonesia, wong Faham Wahabi sudah masuk Red line Teroris (kalau gak percaya lihat buku Radikalisme). Lihat juga di Amerika dan lihat perkataan Panglima perang di Afganistan “Tidak ada lagi faham setelah Osama bin Laden”.

      Ya gak he..he..he..he.. !!!!!!!!!!!!!!!!!!

    2. Lihatlah prjalanan hidup abu dzar.Pertama ia menjadi seorang musyrik(ini ia akui sendiri,artinya ini bukan fitnah).Yg kdua ia menjadi seorang wahabi(trlihat dari hobinya yg gemar mencela,jadi ini bkan fitnah).Lalu skrang ia menjadi pengajar TPA.Wahaaii abu dzar,ilmu apakah yg hendak kau ajarkan pada muridmu?

  15. saya tidak membenci habib2 kalian yang kalian puja n bela mati-matian, kami menghormati pendapat mereka dalam masalah fiqiyah, tapi klo mereka mengajak kepada aqidah yang menujukan orang berbuat kesyirikan terutama pada TPA saya maka saya bantah.okay

    1. Bismillah,

      Saudaraku @abu dzar, daripada anda menghujat kesana kemari, bisa nggak kita diskusi ilmiyah tentang tawassul yang anda permasalahkan ? silahkan mulai… sampaikan dalil larangan tawassul…

      silahkan anda buktikan jika tawassul adalah syari’at yang nggak jelas…

  16. Amin amin amin…. waiyyana yaa mas syahid wa mas abu khilya….
    Sekalian tanya ke mas abi dzar, dari sisi mana anda menjelek-jelekkan ziarah qubur dan tabarruk yang senantiasa kami laksanakan… silahkan….

  17. ampuinnnn2,heee. wah kaya main keroyokan nh,heee, tapi ta apelah(logat malasyia),to laskyar ente lom jawab pertanyaan ane kenapa dalil itu g ente kluarkan kepada penghina syekh muhammad bin abdul wahab dan syekhul islam ibnu taimiyah kan mereka juga sudah meninggal????
    to abi raka, ape ente melihat fenomena umat islam pada saat ini yang ane komenkan?saya tahu respon ente klo lihat seperti itu di hadapan ente.
    to sidqon maafe, jazakallah khoiron katsiron ats masukannya, kenapa dalil antum tidak antum keluarkan pula untuk orang2 yang menghina syekh muhammad bin abdul wahab, syekhul islam ibnu taimiyah, syekh al-bani, syekh bin baz, syekh utsaimin, ustad firanda, ustad ahmas fais dan masih banyak lagi dri blog ini yang mereka hina, apa ente pa sidqon maafe temen dari blog ini?????lalu siapa yang salah memahami hadits ente apa ane??????
    to kang ucep, tenang ane ga panik klo bahasa luarnya mah dont panic,okay, kang ucep yang mengidolakan gusdur sebagai ulama / ada orang yang bilang sudah sampe derajat wali, ane hargai keyakinan kalian,okay.mungkin itulah keyakinan kang ucep dan cs nya yang teguh dan tidak bisa di ganggu gugat lagi sampai ajal menjemput kalian.okay.
    to abu hilya, yang menghujat kesana kemari itu siapa???? ane apa temen2 ente,okay.pembahasan kita masalah gusdur mas bukan tawashul nanti ada tempatnya,okay.sabar ya abu hilya.yoai.
    to luna hidayat, tu kan ente sudah suuzhon dlu, gmana sh lom sampai bab itu ya kitab akhlaqnya, monggo belajr dlu yang bener jangan setengah2 okay,nti ngobrol lagi bersama kang abu dzar. okay.
    to galuh ramadhan jadi yang meminta2 sama kuburan, yasinan stiap malam jum’at yang bacanya balapan, trus nyari2 barokah dari kobokan yang dianggap ulama, yang belajarnya cuma bawa badan ga di catet, yang ustadnya ceramahnya isinya ketaw2 itu islam abangan ya,wah klo gtu banyak ya di tempat ane yang islamnya abangan.gmna thu mas galuh menjelaskannya apa bil aj ya wah kamu itu islamnya abang an gtu kali ya??????
    to kucel (mudah-mudahan orangnya ga kucel),mudah2 an yang ente maksud wahabi bukan syekh muhammad bin abdul wahab, klo kitabnya syekh muhammad bin abdul wahab saya punya,dan kitab2 yang lain juga punya seperti saya punya kitab bulughul maram (imam ibnu hajar), kitab rhiyadhus shalihin( imam nawawi tapi bukan imam nawawi al-bantani),aqidah thohawiyah(imam athohawi), tafsir ibnu katsir, kitab syarhu sunnah (imam barbahari), kitab imam syafe’i juga punya al-uum, kitabus sitta, banyak deh. gmna masih mau tanya apakah ente wahabi?

    1. Abu Dzar n kaum Wahabi semuanya….

      Inilah Kesaksian Tengku Zulkarnaen Tentang Keilmuan Gus Dur, ketika beliau menemani Gus Dur di Rumah Gubernur Medan beberapa tahun yang lau….

      Tengku Zulkarnaen menuliskannya untuk anda semua…:

      Kiayi Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI yang ke-4 sudah lama saya kenal melalui siaran televisi, koran-koran dan buku-buku yang memuat pemikiran beliau. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah saat kami berdua pernah duduk bersama seharian penuh dari pukul 07.00 pagi hari sampai 19.00 malam hari. Kebersamaan kami berlangsung di Riau, tepatnya di kediaman Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal. Ketika itu Gubernur Riau sendiri yang meminta saya untuk menemani Gusdur sebagai ‘pengganti’ tuan rumah, karena Gubernur Riau tidak dapat terus menerus menemani Gusdur.

      Jadilah pertemuan kami itu berlangsung aman, tanpa ada gangguan sedikitpun. Saya masih ingat rombongan Gusdur saat itu lumayan ramai juga, di antaranya adalah Muhaimin Iskandar (sekarang menjadi Menteri Tenaga Kerja RI), dan saudara Lukman Edi (seorang anggota DPR RI). Sepanjang hari itu, kami duduk bersebelahan dan berbicara panjang lebar mulai dari masalah agama, masalah negara, masalah pemimpin-pemimpin Indonesia.

      Ketika membicarakan masalah agama kami terlibat dalam pembicaraan sangat serius. Saat itu kami berkesempatan untuk membuktikan secara langsung kata-kata orang yang banyak saya dengar, yang menyatakan bahwa Gusdur menguasai banyak kitab-kitab klasik. Maka kami membuka dialog dengan mencuplik kitab-kitab klasik yang pernah kami baca mulai dari karangan Imam As Syafi’i, Imam Harmaini, Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Katsir, dan lain-lain. Apa yang terjadi…? Gusdur ternyata bukan hanya mahir mengimbangi pembicaraan mengenai berbagai permasalahan yang kami kemukakan, namun dengan mahir beliau malah membacakan matan-matan semua persoalan tersebut dalam bahasa Arab yang asli, tepat seperti isi kitab yang asli. Tidak dapat kami pungkiri bahwa saat itu hati kami bergetar, kagum, heran, juga bahagia. Yakinlah kami bahwa Allah benar-benar Maha Kuasa dan telah menciptakan hamba-hambaNya dengan berbagai kelebihan. Subhanallah…

      Ketika membahas kepemimpinan nasional, Gusdur dengan disertai humor-humor kocak sana sini menjelaskan dan berdiskusi dengan kami tentang banyak hal. Satu yang sangat kami catat kuat dalam ingatan kami bahwa tidak pernah sekalipun terucap kata-kata jelek yang bersifat mempersalahkan seorangpun dari pemimpin nasional kita. Ketika membahas Pak Harto, nada ucapan beliau berubah menjadi sangat lembut dan serius. Saat itu Gusdur berkata dan kami masih ingat benar, beliau berucap begini: “Pak Harto sebagai seorang pemimpin nasional telah memberikan contoh sebuah pekerjaan yang terencana dan terukur. Program beliau direncanakan rapi dan diukur setelah waktu pelaksanaan berakhir.” Kemudian beliau berdiam berapa saat. Kemudian beliau tertawa kecil seraya berkata sambil tertawa: “laahha kalo saya, kerja kapan inget, terus saya buat saja..”

      Kesan saya saat itu muncul, sebagai orang Jawa asli, Gusdur terbiasa dengan sikap dan adab orang Jawa, mikul nduwur yaitu menghormati orang yang lebih tua. Beliau jujur dan humoris. Jujur dalam arti tidak menyembunyikan kelemahan dirinya.

      Pertemuan kami berjalan manis. Kami hanya berpisah beberapa menit saat waktu sholat Dzuhur dan Ashar tiba, untuk kemudian duduk kembali di meja yang sama. Ada beberapa keistimewaan Gusdur yang saya yakin muncul dari indera keenam beliau. Ketika beliau bertanya kepada kami: “Sampeyan itu kan orang Medan, kok kata Gubernur tadi, sampeyan orang Riau?” Kemudian kami menjelaskan bahwa ibu kami adalah orang Riau dari Rokan Hilir, Bagan Siapi-api. Namun kemudian beliau berkata: “Rumah sampeyan di Klender, sampeyan buat pengajian malam senin di Klender, terus sampeyan begini…sampeyan begitu..” yang kesemuanya tepat dan benar. Paling aneh adalah saat kami katakan bahwa kami akan pulang pukul 17.00 dengan pesawat Mandala, saat itu beliau berkata kepada saya dengan tegas: “Ndak, sampeyan pulang dengan saya naek Garuda jam 7 (malam).” Menanggapi ucapan itu kami diam saja sebab di tangan kami sudah ada tiket Mandala pukul 5 sore rute Pekanbaru-Jakarta.

      Ternyata pesawat Mandala delay sampai pukul 21.00, maka jadilah kami bertukar pesawat naik Garuda Indonesia bersama dengan Gusdur. Ada satu nasehat beliau kepada kami yang akan tetap kami ingat. “Negeri Riau adalah negerinya orang-orang Naqsyabandi. Dan dari sini telah muncul seorang wali besar Syaikh Abdul Wahab Rokan. Sampeyan musti jaga negeri ini, jangan dibiarkan begitu saja apalagi ibunya sampeyan orang asli negeri ini.” Saat itu beliau pegang tangan saya dan saya pun menjawab dengan rasa haru: “Iya Gus, saya pasti akan menjaga negeri saya ini.”

      Sekarang Gusdur telah berpulang bertemu dengan Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Setelah sebelumnya memandang dengan bashirah beliau kedatangan sang kakek tercinta, Ulama Besar pendiri NU untuk mendampingi beliau di alam barzakh. Kami berdoa semoga beliau nyaman berdekatan dengan Kakek dan Bapak beliau di tanah Jombang, Pesantren keluarga besar Syaikh Asy’ari.

      Selamat jalan Gusdur…Nasehat panjenengan senantiasa akan kami ingat sebagai kenangan manis antara orangtua kepada anaknya. Assalamu’alaika…

    2. @abu dzar

      yang saya tanya udah konfirmasi belum…?
      tinggal jawab udah atau belum susah amat malah nanya balik…!
      takut ketauan boongnya nya yaa…?

      owya karena antum ngerasa di keroyok undang aja temen2 antum buat koment disini biar tambah seru gitu…!

    1. Abu Dzar,

      Emangnya ada apa antara antum dg Gus Dur? Apakah antum pernah membandingkan antara keilmua Gus Dur dg keilmuan Imam Antum “MUHAMMAD BAW AN_NAJDI? Coba deh baca biografinya masing2 lalu bandingkan niscaya Muhammad BAW An-Najdi itu ilmunya gak ada seujung kukunya Gus Dur, kalau gak percaya silahkan tanyakan ke Ustadz antum: “Ustadz Gugel”.

      1. Setelah pelecehan terhadap almarhum KH Abdurrahman Wahid oleh Sutan Batoeghana, Anggota DPR RI Fraksi Demokrat dianggap selesai, warga NU di Jawa Barat kembali dibuat geram dengan kasus pelecehan serupa.

        Kali ini pelecehan malah dilakukan oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama setempat. Seperti Batoegana, pelecehan terhadap Presiden RI ke-4 tersebut muncul di soal Ujian Akhir Semester (UAS) ganjil Madrasah Aliyah pada hari Rabu, tanggal 5 Desember 2012 yang tertuang dalam pilihan ganda nomor 33 oleh Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (K2MA) Kanwil Kementrian Agama Jawa Barat.

        Dalam soal tersebut terdapat pertanyaan yang menjerumuskan siswa, terkait sebab jatuhnya Gus Dur yang mengarah ke pilihan jawaban A, yakni kasus Bruneigate dan Buloggate.

        Keluarga Besar NU di Kabupaten Subang Jawa Barat yang meliputi elemen Gerakan Pemuda Ansor, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Subang Jawa Barat geram serta mengecam Kanwil Jawa Barat.

        Ketua GP Ansor Subang, Asep Alamsyah Heridinata mengatakan, pihaknya merasa dilecehkan dengan diterbitkannya soal UAS tersebut dan membuatnya sangat geram. Pasalnya, belum lama isu tersebut dilontarkan oleh salah seorang politisi Partai Demokrat, kejadian serupa muncul lagi.

        “Kami merasa dilecehkan dengan kejadian ini. Betapa tidak, setelah kemarin dilakukan oleh sutan batugana, dan sekarang dilakukan oleh kanwil jabar yang notabene kanwil jabar harus menyeksi terlebih dahulu. Ini ada motif apa?” katanya kepada NU Online di Subang, Senin (10/12).

        Ketua Ikatan Pelajar NU Kabupaten Subang, Ahmad mengaku miris dengan kejadian ini. “Saya sangat prihatin. Ini merupakan distorsi dan pembelokan sejarah. Apalagi ini dikonsumsi langsung oleh pelajar,” katanya.

        http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,41196-lang,id-c,nasional-t,Gus+Dur+Dilecehkan+Lagi++Warga+NU+Jabar+Geram-.phpx

  18. Penjatuhan Gus Dur Melanggar Hukum!!!

    Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengungkapkan, tuduhan bahwa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menerima dana dari Bulog dan Brunei sengaja diramaikan untuk menjatuhkan citra Presiden ke-4 RI ini. Berikut kronologi penurunan Gus Dur menurut Mahfud MD:

    Dalam kasus yang selanjutnya disebut buloggate dan bruneigate tersebut, Gus Dur tak terlibat sama sekali. Dalam kasus buloggate, saat itu seseorang yang disebut sebagai tukang pijit Gus Dur, bernama Suwondo mengatasnamakan Gus Dur untuk kepentingan pribadi.

    “Gus Dur itu orangnya egaliter. Siapapun yang ingin bertemu, diterimanya. Termasuk tukang pijit pun diterimanya. Saat itu Suwondo ingin bertemu Gus Dur dengan membawa Sapuan. Dalam pertemuan itu, Suwondo bicara soal Aceh, dan sebagainya. Gus Dur hanya bilang bahwa Aceh perlu dibantu. Tapi kemudian, paska pertemuan itu, Suwondo menemui Sapuan dan meminta uang sebesar Rp35 Miliar, dengan membawa nama Gus Dur,” ungkap Mahfud.

    “Gus Dur tak tahu menahu soal itu. Itu kasus Suwondo yang menyalahgunakan nama Gus Dur,” tandas Mahfud dalam Konferensi Pers, usai mengisi seminar tentang Hukum di arena Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang dirangkai dengan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jayapura, Papua, Rabu (12/12).

    Sementara tentang Brunei, kata Mahfud, bermula dari keinginan Raja Brunei Darussalam, yang ingin memberi zakat kepada masyarakat Indonesia, melalui Aryo. “ Waktu itu kata Gus Dur, silahkan disalurkan, dan kemudian uang zakat itu disalurkan ke Aceh, dan lainnya. Jadi Gus Dur tak menerima uang tersebut,” ujarnya.

    Peristiwa pemberian zakat tersebut, kata Mahfud terjadi tahun 1999, ketika itu belum ada Undang-Undang Gratifikasi. Jadi Gus Dur langsung menyalurkannya tanpa melaporkan kepada negara. “ Saat itu dana tersebut langsung disalurkan. Jadi dua kasus hukum tersebut, tidak benar sama sekali. Tak terbukti sama sekali,” imbuhnya.

    Lebih lanjut dikatakan, bahwa jatuhnya Gus Dur, adalah murni kasus politik. Gus Dur dianggap melanggar TAP MPR nomor 6 dan 7 tahun 1999, karena memberhentikan Suroyo Bimantoro dari jabatan Kapolri. “Tanggal 20 Kapolri diganti. Undangan sidang MPR untuk menghentikan Gus Dur bukan soal Bulog dan Brunei tapi karena Gus Dur menggantikan Kapolri tanpa persetujuan DPR/MPR,” ujarnya.

    Karena undangan semacam itu, Gus Dur tak memenuhi undangan MPR dan mengeluarkan maklumat atau dekrit. “Tuduhan korupsi adalah tuduhan paling jahat. Gus Dur jatuh secara politik tak ada kasus hukum apapun di situ,” kata ahli hukum ini.

    “Secara politik memang merupakan fakta yang tak terhindarkan. Sebagai fakta politik saya terima, tapi kalau secara hukum itu tak bisa. Bahkan penjatuhan Gus Dur menurut saya melanggar hukum, sebab menurut Tap MPR disebutkan bahwa sidang umum MPR untuk menjatuhkan Presiden harus dihadiri oleh seluruh Fraksi. Saat itu PDKS dan PKB menyampaikan surat resmi untuk menolak sidang umum MPR tersebut,” paparnya.

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,41240-lang,id-c,nasional-t,Mahfud+MD++Penjatuhan+Gus+Dur+Melanggar+Hukum-.phpx

  19. Gus Dur Meramalkan Banjir Besar Jakarta

    Bencana bisa datang kapan saja dan dimana saja, tapi bagi orang yang dekat dengan sang pencipta, ia akan diselamatkan. Salah satu kemampuan unik dari Gus Dur adalah meramalkan sebuah bencana besar.

    H Sulaiman, asisten Gus Dur menuturkan, pada awal 2002, musim hujan datang dengan intensitas hujan yang lebih besar, tetapi tak ada yang menduga akan datangnya bencana banjir yang menenggelamkan sebagian wilayah Jakarta ini.

    Siang-siang, H Sulaiman mengaku ditelepon oleh Gus Dur yang saat itu sedang berada di Medan agar memberitahu teman-teman Gus Dur yang ada di daerah Kelapa Gading agar mengungsi karena akan ada banjir besar. Tentu saja Gus permintaan tersebut diiyakan.

    “Saya pikir, kalau memang benar-benar ada banjir ngak apa-apa, tapi kalau ternyata ngak terjadi banjir dan sudah menyuruh orang mengungsi, kan saya yang berabe, bisa habis ini,” katanya.

    Karena kekhawatiran ini, permintaan tersebut didiamkan saja, tidak disampaikan kepada teman-teman Gus Dur.

    Beberapa jam kemudian, Gus Dur telepon lagi, memastikan apakah teman-temannya sudah diberi tahu agar mengungsi. Dijawabnya saja “Sudah,” dengan yakin karena memang tak ada tanda-tanda banjir.

    Selanjutnya beberapa jam kemudian ia mendapat kabar dari berbagai tempat, air sudah mulai menggenangi Jakarta sampai akhirnya menenggelamkan beberapa wilayah. Banjir 2002 ini termasuk salah satu banjir terbesar yang pernah dialami Jakarta dalam sejarahnya

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,37062-lang,id-c,warta-t,Gus+Dur+Meramalkan+Banjir+Besar+Jakarta-.phpx

  20. Gus Dur Miliki Tuah dan Tulah

    Budayawan Agus Sunyoto melihat dari sudut pandang berbeda tentang kekuatan supranatural yang dimiliki oleh Gus Dur, yang telah disaksikan oleh banyak orang. Dalam konsep kebudayaan Jawa klasik, Gus Dur memilik kekuatan Ratu yang memberinya tuah dan tulah.

    Dalam tradisi Jawa Kuno pada aliran Kapitayan, kekuatan yang dianggap nomor satu adalah kekuatan mistik, yaitu kekuatan ratu atau datu. Mereka yang memiliki kekuatan seperti ini secara otomatis diangkat menjadi pemimpin. Keyakinan tersebut masih berlaku di masyarakat sampai sekarang sehingga syarat utama menjadi pemimpin yang diakui adalah memiliki kemampuan linuwih yang disaksikan oleh orang banyak.

    Dalam perkembangan selanjutnya, ketika pengaruh India datang ke wilayah Nusantara, struktur masyarakat semakin kompleks dengan munculnya tata administrasi kerajaan. Tetapi inti kekuatan tradisional dengan kekuatan ratu ini masih penting, tak heran raja harus memiliki keraton atau kedaton, yang didalamnya juga disimpan pusaka-pusaka kerajaan untuk mendukung kekuatan ratu.

    “Raja yang tidak punya kekuatan ratu tidak dianggap oleh masyarakat. Karena itu, ketokohan di NU sangat ditentukan oleh kekuatan gaib yang mengiringi seorang pemimpin,” katanya dalam perbincangan dengan NU Online baru-baru ini.

    Pemimpin yang punya kekuatan gaib disebut punya tuah, dan orang lain yang merusaha mencelakai atau bermaksud buruk bisa kena tulah. Ia mencontohkan Bung Karno yang memiliki kharisma, apa yang dibicakana, semua orang akan mengikuti dan orang yang akan mencelakai akan kena tulah. Demikian pula, Soeharto berusaha memiliki kekuatan tuah dengan mengumpulkan berbagai pusaka yang dianggap bisa menambah kharismanya.

    Gus Dur secara nyata telah dibuktikan oleh banyak orang memiliki kekuatan spiritual, yang lalu kesaksian tersebut disebarkan dari mulut ke mulut, yang membuat orang semakin menghormatinya. Mereka takut jika berniat buruk terhadap Gus Dur bisa kena tulah atau dalam bahasa populernya ‘Kualat Gus Dur’.

    Wakil ketua Lesbumi NU ini berpendapat ada faktor trah atau keturunan, tetapi ada pula potensi dalam diri tiap individu untuk meningkatkan potensi kekuatan ratu ini. Tapi salah satu ciri mereka yang memiliki adalah mengedepankan kepentingan orang lain karena kekuatan ratu memang diperuntukkan untuk menjadi seorang pemimpin.

    Terkait dengan kewalian, ia melihat adanya kesamaan antara kekuatan ratu dan kewalian. Wali berasal dari konsep Islam, yang ada para orang yang menghindari kehidupan keduniawian dan kebanyakan mengkritik otoritas kekuasaan duniawi seperti munculnya Abu Nawas pada zaman Harun al Rasyid, yang memberi perspektif lain dalam memandang berbagai persoalan ketika itu.

    Sementara itu kekuatan ratu muncul dalam lingkaran kekuasaan, tetapi berperan sebagai penyeimbang bagi konsep raja yang memiliki kekuasaan administratif yang berasal dari India. Ini karena kekuatan ratu yang dikenal antara tuah dan tulahnya, tidak ada kekuatan duniawinya.

    “Orang awam menduga semua kekuatan gaib itu wali, padahal belum tentu,“ jelasnya.

    Maka dari itu, dalam tradisi Jawa kuno, tidak dikenal konsep putra mahkota dari anak pertama. Raja yang dipilih adalah raja yang dianggap memiliki kekuatan ratu lebih tinggi, yang lebih sakti. Sultan Agung merupakan contoh orang menjadi raja meskipun bukan putra pertama.

    Tetapi ia menegaskan, kekuatan ratu ini berbeda dengan kekuatan pedukungan, yang dalam bahasa kuno disebut usada, yang perannya untuk pengobatan sementara kekuatan tuah dan tulah lebih dikhususkan untuk memimpin orang.

    Salah satu dari konsekuensi kekuatan ratu adalah, ketika menginjak usia 50 tahun, ia harus madeg pandito, berhenti menjadi raja untuk bertapa dan menekuni masalah spiritual.

    Kemunduran kerajaan Hindu Majapahit adalah dikarenakan pemegang kekuatan ratu tidak boleh berdagang. Inilah yang menyebabkan mereka tersingkir dari para penyebar Islam yang berdakwah di kawasan pesisir.

    Penghormatan masyarakat terhadap ulama yang memiliki kekuatan ghoib, masih jelas sekali, terbukti kiai tarekat lebih dihormati daripada guru fikih. “Kalau Gus Dur mungkin mewarisi kekuatan ghaib penguasan nusantara zaman dulu,“ jelasnya.

    Pemimpin negara Indonesia saat ini kurang dihormati karena memang tidak memiliki kesaktian. “Apalagi pemimpin yang naik karena duit, ya tidak ada tuahnya, karena tuah tidak ada kaitan dengan materi,“ tandasnya.

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,36937-lang,id-c,warta-t,Gus+Dur+Miliki+Tuah+dan+Tulah-.phpx

  21. Nasib Mobil Citroen Merah dan Pabrik Kecap Gus Dur

    Jika anda datang ke tempat Gus Dur, anda akan diterima dengan baik, butuh saran dan nasehat, ia akan memberi masukan, bahkan jika membutuhkan uang untuk keperluan ummat, ia tak segan-segan memberikan apa yang dimilikinya, sekalipun secara pribadi ia sangat membutuhkan.

    Ciri umum para kiai memang seperti itu, siap didatangi masyarakat kapan saja untuk menerima keluh kesah dari ummat, tetapi pengorbanan yang dilakukan oleh Gus Dur melampaui prestasi rata-rata para kiai sehingga penghormatan yang diberikan kepadanya juga jauh lebih tinggi, apalagi dengan sejumlah karomah yang dimilikinya. Masyarakat menyebutnya wali.

    Nasihin Hasan, teman akrab Gus Dur dalam aktifitas LSM, memiliki kisah yang bisa menjadi teladan tentang pengorbanan Gus Dur.

    Tahun 80-an, mereka berdua bergiat di LSM Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Untuk beraktifitas, Gus Dur kala itu sudah memiliki sebuah mobil merk Citroen kecil berwarna merah, yang seringkali ditaruh di kantor P3M.

    Suatu ketika, Gus Dur berencana meningkatkan kesejahteraan keluarga, maklum ada istri dan sejumlah anak yang harus disiapkan biaya sehari-hari dan kebutuhan sekolahnya yang semakin hari semakin besar.

    Usaha yang digagas adalah mendirikan pabrik kecap. Sayangnya, biaya investasi awalnya belum punya. Lalu muncullah ide untuk melego mobil merah itu. Nasihin menuturkan, ia diminta bantuan Gus Dur untuk menjualkan.

    Setelah ditawarkan ke sana-sini, beberapa bulan kemudian, terjuallah Citroen kecil tersebut dengan harga tiga juta rupiah. Maklum sudah mobil rongsokan. Sinta Nuriyah, istri Gus Dur juga sudah menunggu-nunggu uangnya agar bisnis bisa segera dimulai.

    Singkat cerita, transaksi dilakukan, mobil sudah berpindah tangan, digantikan dengan uang segepok yang ditaruh dalam amplop yang oleh Nasihin segera diantar ke rumah Gus Dur.

    “Ngak sampai satu hari, ada seorang kiai datang. Ngak tahu gimana ceritanya, duit dalam amplop yang belum dihitung itu diserahkan semuanya ke kiai tersebut,“ kata Nasihin yang menjadi ketua PP Lakpesdam periode 2004-2010 ini.

    “Yang kena kan Saya, ditanyain ibu Sinta Nuriyah”

    “Bagaimana uangnya yang sudah ditunggu berbulan-bulan itu?” tanya Ibu Sinta

    “Ya saya ngak tahu,“

    “Trus bagaiman rencana bikin pabrik kecapnya?”

    “Ya, saya juga ngak tahu,” jawab Nasihin.

    Lemaslah mereka berdua dan bubarlah rencana membikin pabrik kecap yang sudah dirancang dalam waktu lama itu,tak ada biaya lagi sementara mobil juga sudah berpindah tangan.

    Bagaimana sikap anda jika menghadapi situasi serupa yang dialami Gus Dur?

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,36352-lang,id-c,warta-t,Nasib+Mobil+Citroen+Merah+dan+Pabrik+Kecap+Gus+Dur-.phpx

  22. Rahasia Tidur Gus Dur tapi Tetap Sadar

    Soal Gus Dur ditengah-tengah acara dan ketika gilirannya bicara tetap bisa nyambung dalam konteks yang dibicarakan sebelumnya telah membuat heran banyak orang.

    Berbagai analisis pun dilakukan, ada yang menganggap ini bukti ilmu linuwih dari Gus Dur sementara yang lain beralasan Gus Dur hanya menduga-duga arah pembicaraan sebelumnya, lalu menyambungkannya. Mereka beralasan ini hanya soal kecerdasan saja, tak ada hubungannya dengan sesuatu yang sifatnya supra natural, apalagi Gus Dur sudah tahu watak orang sehingga bisa memperkirakan arah pembicaraan, ditambah bacaannya banyak, sehingga klop.

    Lalu bagaimana jika tema yang dibicarakan sebuah persoalan penting yang tak ada dalam wacana keilmuan, sebuah persoalan kongkrit yang harus dipecahkan bersama?

    H Ahmad Bagdja, sekjen PBNU era Gus Dur juga memiliki kisah soal tidur Gus Dur ini ketika memenuhi undangan Wapres Try Sutrisno untuk dimintai masukan pendirian masjid agung Al Akbar Surabaya. Datang memenuhi undangan Rais Aam KH Ilyas Ruhiyat, Gus Dur, Bagdja dan KH Imron Hamzah, rais syuriyah PWNU Jatim.

    Ketika Try Sutrisno sedang berbicara, ia melihat Gus Dur tertidur. Karena duduk bersebelahan, lalu Gus Dur dibangunkan, digerak-gerakkan tangannya. Lalu tapi Gus Dur berbisik, “Ya, saya denger kok”

    “Tapi ketika giliran Gus Dur bicara, memang bisa nyambung,” kata Bagdja.

    Dilain waktu setelah kejadian tersebut, Bagdja pun memberi saran kepada Gus Dur bagaimana agar ketika tertidur, posisi badannya tidak seperti orang yang sedang tidur, atau sebenarnya sedang mendengarkan, tetapi terlihat seperti orang sedang mengantuk, karena bisa membuat suasana tidak enak.

    Tapi Gus Dur pun menjawab, “Ente ngak ngerti ilmunya, ada caranya. Ini persoalan membangun kesadaran saja, yang bisa dilatih.”

    Ilmu ini, kata Gus Dur, penting untuk bisa istirahat kapan saja. Tidur bagi Gus Dur bukan berarti kehilangan kesadaran.

    Sejauh ini, belum ada orang yang mewarisi ilmu Gus Dur yang satu ini dan kalau memang bisa dilatih, bagaimana prosesnya, Gus Dur tak menjelaskan.

    “Kalau pun bisa, belum tentu ada yang berani tidur ditengah-tengah acara,” tandasnya.

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,36245-lang,id-c,warta-t,Rahasia+Tidur+Gus+Dur+tapi+Tetap+Sadar-.phpx

  23. Ryaas Rasyid: Gus Dur Sudah Tahu Bakal Jadi Presiden

    Mantan menteri otonomi daerah Ryaas Rasyid punya pengalaman menarik dengan mendiang presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

    Ketika gonjang-ganjing politik meningkat di akhir masa presiden BJ Habibie, Ryaas dalam sebuah perbincangan dengan Gus Dur diberitahu kalau cucu pendiri Nahdlatul Ulama tersebut bakal menjadi presiden.

    Sontak mendengar penjelasan itu Ryaas kaget dan tidak percaya. Kekagetannya malah menjadi-jadi ketika diceritakan kalau Gus Dur bakal terpilih menjadi presiden setelah mendapat petunjuk dari Tuhan.

    Ryaas seketika mengucapkan argumen kalau setelah era Nabi Muhammad SAW wafat, tidak ada lagi percakapan langsung antara Tuhan dengan manusia. Mendengar jawaban itu, langsung saja Gus Dur menegaskan kalau pesan itu datang dari langit.

    “Tapi, tidak lama kemudian dia benar terpilih menjadi presiden menggantikan Pak Habibie,” ujar Ryaas dalam acara Mengenang Dua Tahun Wafatnya Gus Dur di rumah dinas Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD di kompleks Widya Candra, Senin (2/1) malam.

    Hadir dalam acara itu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, mantan ketua PBNU Hasyim Muzadi, mantan ketua umum Partai Golkar Akbar Tanjung, Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifudin, mantan menteri perdagangan Luhut Panjaitan, mantan menteri otonomi daerah Ryaas Rasyid, dan teman dekat Gus Dur sekaligus tokoh Muhammadiyah Muslim Abdurrahman, serta para politisi dan pejabat negara era presiden Gus Dur.

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,35622-lang,id-c,warta-t,Ryaas+Rasyid++Gus+Dur+Sudah+Tahu+Bakal+Jadi+Presiden-.phpx

  24. Beberapa Pengalaman Van Bruinessen dengan Gus Dur

    Peneliti NU asal Belanda Martin van Bruinessen memiliki banyak pengalaman akan beberapa aspek luar biasa dari Gus Dur. Meskipun demikian, ia memaknainya sebagai bagian dari kecerdasan luar biasa yang dimiliki oleh Gus Dur.

    “Gus Dur seorang yang sangat rasionalis, tetapi disisi lain, ia juga sangat percaya macam-macam hal yang tidak masuk akal secara bersamaan. Ia wali gaya Jawa, bukan gaya Timur Tengah, yang nyeleh, memiliki ilmu ladunni, bisa mengetahui yang orang lain tidak tahu,” katanya ketika ditemui NU Online di gedung PBNU, Sabtu (20/5).

    Dari beberapa kali diskusi yang dihadiri oleh Gus Dur, ia sering melihat Gus Dur tertidur, tetapi kemudian ia bangun sebenar dan melontarkan pertanyaan yang pas, yang lebih cerdas dari pertanyaan orang lain yang menyimak dengan tekun.

    Suatu kali, ia juga pernah meminta Gus Dur untuk memberi kata pengantar buku yang ditulisnya. Waktu itu Gus Dur sudah buta, dan ia yakin, tidak ada orang yang membacakan buku tersebut untuk Gus Dur sebagai bahan dalam menulis kata pengantar, tetapi ia mampu menulis kata pengantar yang isinya persis seperti yang dimaksud dalam kandungan buku tersebut.

    “Penjelasan saya, ia orang yang sangat cerdas, punya daya ingat luar biasa,” paparnya.

    Sebagai gambaran atas kecerdasan Gus Dur, ia mengungkapkan, dalam kunjungannya ke berbagai pesantren di Jawa, Gus Dur bisa mengingat nama-nama yang ia datangi sampai hal-hal yang detail dan tidak pernah salah. Ia selalu dengan akrab menanyakan aspek keluarga dari para kiai sehingga hubungannya menjadi sangat intim dan pribadi

    Bruinessen berpendapat, Gus Dur merupakan produk budaya masyarakat Jawa yang memang menyukai aspek mistis. Ketika mengalami kebutaan, Gus Dur semakin tertarik dengan alam gaib, yang mana ia merupakan bagian penting dari dunia tersebut.

    “Saya bisa mengerti mengapa Gus Dur dianggap sebagai wali,” terangnya.

    Keberadaan Gus Dur juga dianggap sebagai pelindung oleh kelompok minoritas. Mereka melihat Gus Dur sebagai orang yang sudah dianugerahi oleh tuhan kemampuan seperti itu. Ada sesuatu diluar kemanusiaan yang ada pada diri Gus Dur yang tidak dimiliki orang lain

    Dalam masyarakat selalu ada kebutuhan yang lebih daripada manusia biasa, yang lebih dekat dengan Allah. Banyak orang berfikir Gus Dur seperti itu.

    “Gus Dur bukan tanpa kesalahan dan kelemahan, tetap ia orang baik yang membawa kebaikan dan membawa berkah untuk orang banyak,” paparnya.

    Saat menjelang reformasi ia bertemu dengan seorang China yang sangat percaya Gus Dur akan melindungi. Mereka sendiri tidak tahu Gus Dur sendiri adalah manusia yang meminpin ormas Islam terbesar di Indonesia.

    Ia juga pernah bertemu seorang pendeta Katolik yang mengatakan, Gus Dur dianugerahi kelebihan yang luar biasa oleh Allah. Agama Katolik juga mengenal konsep kewalian.

    Penulis: Mukafi Niam

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,32303-lang,id-c,warta-t,Beberapa+Pengalaman+Van+Bruinessen+dengan+Gus+Dur-.phpx

  25. Bagaimana Gus Dur Bisa Ikuti Diskusi Meski Tertidur

    Salah satu keheranan publik atas Gus Dur adalah kebiasaannya tertidur dalam sebuah diskusi, tetapi begitu gilirannya untuk bicara atau menjawab pertanyaan, ia dengan lancar menyampaikan pendapatnya, seolah-olah dengan tekun mendengarkan pembicaraan sebelumnya.

    Kebiasaan tidur di sembarang tempat ini memang tampaknya sudah dari sononya. Dalam biografi yang ditulis oleh Greg Barton, diceritakan, saat masih kecil ketika tinggal di Matraman Jakarta Pusat, Gus Dur pernah tertidur diatas pohon sehingga terjatuh dan menyebabkan tangannya patah.

    Lalu bagaimana penjelasan atas kemampuan Gus Dur untuk tetap bisa mengikuti pembicaraan meskipun tertidur. Kelompok rasionalis berpendapat Gus Dur bisa tetap mengikuti pembicaraan karena ia banyak membaca dan ingatannya kuat sehingga tiba waktunya berbicara, ia tinggal nyambung saja. Thesis ini bisa diuji, silahkan dicoba, tidur di sebuah acara dimana anda memiliki kompetensi dan kemudian apa anda bisa tetap mengikuti dinamika diskusi atau malah gelagapan?

    Dari pendekatan ilmiah, terdapat sebuah penelitian yang dipublikasi dalam Proceeding National Academy of Sciences yang dilakukan oleh tim dari Universitas of Florida menemukan bahwa bayi mampu belajar dan berfikir dalam kondisi tertidur.

    Dana Byrd, peneliti dari University of Florida menunjukkan bayi yang tertidur membuatnya mampu menyerap informasi seperti spons data. Bersama rekan-rekannya, ia menguji kemampuan belajar bayi baru lahir dengan mengulang nada yang diikuti oleh hembusan lembut dari udara ke kelopak mata. Setelah sekitar 20 menit, 24 dari 26 bayi menyipitkan kelopak mata bersama-sama ketika nada itu terdengar tanpa embusan udara.

    Jenis pembelajaran seperti ini tak dilihat di ranjang orang dewasa. Pertanyaannya, apakah Gus Dur tetap memiliki kemampuan seperti ini, yang tak hilang sejak ia dilahirkan?

    Sementara itu pendekatan spiritual adalah adanya wali yang memiliki kebiasaan aneh, yaitu suka sekali tidur dan ketika terbangun, ia banyak menceritakan hal-hal aneh diluar kemampuan manujsia biasa. Wali jenis ini yang sangat terkenal adalah Tgk Ibrahim Woyla dari Woyla Aceh Barat. Gus Dur pernah menerima kunjungannya dan ia sangat menghormati tamu ini (baca. Gus Dur Wali (10). Pertanyaannya, apakah Gus Dur sebenarnya juga wali dengan kategori yang sama?

    Umar Wahid, adik Gus Dur yang juga seorang dokter tak bisa menilai dan menjelaskan apakah kemampuan Gus Dur untuk tetap bisa mengikuti pembicaraan saat tertidur ini secara rasional, apalagi spiritual.

    “Saya berpendapat ini merupakan salah satu kelebihan yang diberikan Allah, saya tak bisa berkomentar apakah ini tanda kewalian atau bukan,” katanya

    Penulis: Mukafi Niam

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,32135-lang,id-c,warta-t,Bagaimana+Gus+Dur+Bisa+Ikuti+Diskusi+Meski+Tertidur-.phpx

  26. Pilot Pesawat Kepresidenan Alami Keajaiban Gus Dur

    Semasa menjadi presiden Indonesia, Gus Dur sangat rajin menjalin silaturrahmi dengan pemimpin negara lain, satu kebiasaan baik yang telah dikembangkan sejak sebelum ia menjadi presiden kepada masyarakat.

    Salah satu lawatan pentingnya adalah ke India di awal Februari 2000, setelah perjalanan panjang dari Eropa. Di negeri yang dialiri sungai Gangga ini, Gus Dur bertemu dengan PM Atal Behari Vejpaye dan Sonia Gandhi dan menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Jawaharlal Nehru. />
    Perjalanan panjang keliling Eropa dan pulangnya melewati India dan dilanjutkan ke Korea Selatan ini menggunakan pesawat kepresidenan, yang tentu saja memiliki standar keamanan dan pelayanan yang terbaik untuk orang paling penting di Indonesia.

    Pada kunjungan tersebut, ketika pesawat udara mendekati New Delhi, terdapat awan yang sangat gelap yang menutupi bandar udara sehingga tidak mungkin untuk mendarat di bandara Internasional Indira Gandhi New Delhi, sehingga direncanakan mendarat di bandara lain terdekat sebagai alternatif.

    Bagi seorang presiden dengan jadual yang sudah diatur secara ketat karena terbatasnya waktu, kondisi ini tentu akan membuat rencana kegiatan menjadi berantakan. Ditengah-tengah situasi seperti itu, tiba-tiba terjadi sebuah fenomena alam yang sangat ajaib, tiba-tiba saja langit terbuka dan sehingga pesawat bisa melewati awan dan begitu bisa mendarat, langit kembali tertutup awan hitam kembali.

    Kisah ini disampaikan oleh pilot pesawat kepresidenan yang sedang bertugas kepada adik Gus Dur, Umar Wahid yang merasa takjub dengan kejadian tersebut.

    “Ini kebetulan atau tidak, tapi pilot tersebut mengatakan dalam karirnya sebagai pilot, ia tidak pernah mengalami kondisi seperti itu,” katanya.

    Sebagai pilot kepresidenan, tentu saja telah dipilih orang dengan jam terbang tinggi dan kemampuan terbaik, kondisi seperti itu merupakan fenomena alam aneh yang baginya juga luar biasa dan tak terlupakan.

    “Gus Dur banyak diberi Allah kelebihan, tapi wali atau bukan, wallahu a’lam, ilmu saya tidak cukup,” tandasnya. (mkf)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,28015-lang,id-c,warta-t,Pilot+Pesawat+Kepresidenan+Alami+Keajaiban+Gus+Dur-.phpx

  27. Kan sudah kami jawab kan mas abi dzar…. sudah dilihat belum perkataan imam nawawi dalam faidlul qodir? Malah anda yang belum merespon pertanyaan saya satupun. Dan akan di perkuat ibarat dibawah ini.
    Maaf saya hanya menuqilkan perkataan para ulama, karena saya tahu saya hanya naqil/muqollid.
    تحفقة المحتاج 7 ص 348
    ومن ثم قال ابن جماعة: في ابن تيمية راسهم انه عبد اضله الله وخذله نسال الله دوام العافية من ذلك بمنه وكرمه

  28. Inilah Keajaiban Alam pada Gus Dur ketika di Makkah

    Jazirah Arab merupakan daerah yang tandus dan panas sehingga melakukan perjalanan yang melewati padang pasir merupakan sesuatu yang menyiksa yang menjadi perjuangan berat dan butuh persiapan fisik dan mental yang prima.

    Salah satu tanda kenabian Muhammad adalah ketika ia mengikuti misi dagang dari Makkah ke Syam, sekarang daerah Damaskus, bersama pamannya Abu Thalib. Sepanjang perjalanan tersebut Muhammad selalu dinaungi oleh awan sehingga tidak kepanasan.

    Gus Dur, tentu saja jangan dibandingkan dengan Nabi Muhammad, pernah mengalami fenomena keajaiban alam yang juga luar biasa ketika ia berada di Makkah untuk menjalankan ibadah haji tahun 1994 lalu.

    Kiai Said Aqil Siroj yang mendampingi Gus Dur mengisahkan, waktu itu rombongan haji sudah ada di Arafah. Kemudian Gus Dur bertiga, dengan Kang Said dan Sulaiman, asisten pribadi Gus Dur, memisahkan diri menjauhi perkemahan untuk berdoa di suatu tempat.

    Mereka bertiga berdzikir panjang ditengah udara gurun pasir yang panas sehingga keluar keringat yang banyak. Untungnya ada awan yang berada diatas mereka yang melindungi pancaran sinar matahari langsung.

    Ditengah-tengah dzikir tersebut, tiba-tiba awan tersebut menyibak dan satu cahaya kecil menerobos langsung mengenai tubuh Gus Dur sementara dua orang yang mengiringinya tidak terkena sinar tersebut. Gus Dur yang memimpin dzikir meneruskan dzikirnya sementara mereka berdua hanya bisa saling berpandang mata sambil terdiam dan ternganga.

    “Kelihatan sekali ada mego (awan) membuka, ada cahaya yang ke Gus Dur, ini saya tahu sendiri. Kalau diceritakan sulit, karena orang pasti tidak percaya,” kata Kang Said.

    Tapi setelah kejadian tersebut, Kang Said tidak menanyakan masalah itu. Menurutnya, jika pun ditanya, Gus Dur pasti jawabnya ringan-ringan saja. (mkf)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,27726-lang,id-c,warta-t,Inilah+Keajaiban+Alam+pada+Gus+Dur+ketika+di+Makkah-.phpx

  29. Rahasia Wirid 10.000 Kali Gus Dur di Masjidil Haram

    Bagi para aktivis di masa Orde Baru, Presiden Soeharto dianggap sebagai penguasa yang harus segera digulingkan. Masing-masing dalam posisi berhadapan. Kalau ada aktivis yang mau bertemu dengan Soeharto, ia segera dihujat karena dianggap telah mau diajak bekerjasama. Kalangan NU yang dipimpin Gus Dur juga menjaga sikap yang sama, apalagi NU termasuk kelompok yang “teraniaya” sehingga wajar jika bersikap demikian.

    Suatu ketika Pak Harto sakit. Keluarga, kerabat, sahabat dan para pejabatnya pun berbondong-bondong menengoknya. Para aktivis tetap menjaga jarak.

    H Ahmad Bagdja, sekjen PBNU era kepemimpinan Gus Dur menyarankan kepadanya untuk segera menjenguk Presiden.

    “Meskipun bertentangan, tapi ya pantes-pantesnya Gus Dur datang. Kalau Gus Dur yang datang, ngak ada yang nyalah-nyalahin,” katanya.

    Awalnya Gus Dur menolak datang. Salah satu saudara lelaki Gus Dur juga sampai meneleponnya agar kakaknya tersebut tidak bertemu dengan penguasa Orde Baru ini.

    Beberapa hari kemudian, ketika sedang di Medan, ia membaca koran yang menginformasikan pertemuan antara Gus Dur dan Pak Harto.

    Segera saja sesampai di Jakarta, ia bertanya kepada Gus Dur mengapa jadi ketemu dengan Soeharto, tapi jawaban Gus Dur enteng saja.

    “Ente kan belum pernah wirid 10.000 di Masjidil Haram,” katanya singkat.

    “Saya ngak tanya apa yang diamalkan, keburu banyak orang datang. Sampai beliau wafat pun saya ngak pernah tanya,” tandas Bagdja.

    Dalam tradisi NU, terdapat berbagai jenis wirid dan amalan, yang jika dibaca dalam jumlah tertentu dan pada waktu tertentu, dapat menimbulkan fadhilah sesuai yang dimaksudkan dalam doa-doa tersebut.

    Sayangnya, hingga sekarang, wirid ini masih menjadi rahasia, apa bacaannya, dan apa fadhilahnya. Entah jika Gus Dur mengijazahkan kepada seseorang untuk terus mengamalkannya.

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,36246-lang,id-c,warta-t,Rahasia+Wirid+10+000+Kali+Gus+Dur+di+Masjidil+Haram-.phpx

    1. Pantas lah kalau Gus Dur menjadi wali Allah, kekasih Allah, lha dzikirnya aja kenceng kayak gitu, tentu Allah sangat mencintai Gus Dur…. Semua ini ada dasarnya….

      siapa yg mendekatkan dirinya kepada Allah, tentunya Allah juga mendekat kepadanya.

      Kuat nggak dzikir seperti Gus Dur? Semoga nanti saya diberi oleh Allah kemampuan dzikir yg kenceng seperti Gus Dur.

  30. Saat Sekjen PBNU Dibaca Pikirannya oleh Gus Dur

    H Ahmad Bagdja, sekjen Gus Dur di PBNU 1994-1999 memiliki banyak cerita soal Gus Dur, diantara sekian banyak urusan organisasi, terdapat beberapa cerita pribadi yang mengesankan yang dikenangnya sampai sekarang.

    Soal Gus Dur mau jadi presiden, banyak saksi mata yang menyaksikannya. Entah berapa persen yang benar-benar yakin, sebagian hanya terdiam karena tidak yakin, tetapi tidak enak untuk mengungkapkannya. Sebagian lagi merespon sekedar untuk menyenangkan Gus Dur.

    Diantara yang kurang yakin, meskipun hanya disimpan dalam hati adalah Sekjen PBNU sendiri, H Ahmad Bagdja. Rupanya Gus Dur bisa membaca isi hatinya. Mungkin, kalau orang lain tidak masalah, tetapi seorang sekjen harus all out dalam memperjuangkannya, sehingga harus dimotivasi.

    Ketika sedang proses mempersiapkan persyaratan pencalonan kepresidenannya, terjadilah komunikasi yang intens di internal PBNU. Pada suatu hari, Gus Dur sedang bertemu dengan Alwi Syihab, belum sempat duduk, masuklah Bagdja dalam ruangan tersebut, dan Gus Dur tiba-tiba nyletuk

    “Wi, tahu ngak ente, Bagja ini ngak percaya saya jadi presiden”

    “Saya bantah, dari mana tahunya, wong yang mempersiapkan pernyataan Gus Dur mau jadi presiden, saya sama Gus Mus”

    “Itu kan ente disuruh sama kiai,“ ujar Gus Dur.

    “Saya ngak yakinnya, bukan pada Gus Dur-nya, tetapi sama Amin Rais dan Fuad Bawazier. Dia kan ke pesantren Buntet, ketemu dengan Kiai Abbas. Saya ragu, jangan-jangan hanya mau memakai nama Gus Dur saja,“ kata Bagdja membela diri.

    Ketika NU Online menegaskan, apakah memang pernah berbicara soal ketidakyakinannya bahwa Gus Dur akan jadi presiden, ia berkata, “Saya gak pernah ngomong apa-apa kepada siapapun.“

  31. Peristiwa yang Memaksa Gus Dur Pulang dari Italia

    Komitmen Gus Dur terhadap kerukunan umat beragama telah teruji oleh zaman. Salah satu peristiwa kerusuhan antar agama yang cukup mengganggu adalah pembakaran gereja di Situbondo pada 10 Oktober 1996.

    Kejadian tersebut juga menunjukkan salah satu kemampuan spiritual Gus Dur. H Sulaiman, asisten Gus Dur menuturkan ketika itu ia sedang menemani Gus Dur dalam sebuah kunjungan ke Italia.

    Meskipun di luar negeri, Gus Dur tetap menjalankan amalannya, sholat malam dan wirid panjang sebagaimana dilakukan di Indonesia. Keesokan harinya, Gus Dur meminta segera pulang ke Indonesia dengan penerbangan pertama, padahal terdapat rencananya terdapat kunjungan ke negara lain setelah dari Italia ini.

    Tak ada yang tahu mengapa Gus Dur bertindak seperti itu, termasuk Dubes Indonesia di Italia waktu itu. Gus Dur hanya menyatakan ada kejadian penting yang perlu ditanganinya.

    Ternyata benar, segera saja setelah sampai tiba di Indonesia, muncul peristiwa pembakaran gereja di Situbondo ini. Gus Dur diminta membantu mendinginkan suasana agar kerusuhan tersebut tidak menyebar.

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,37085-lang,id-c,warta-t,Peristiwa+yang+Memaksa+Gus+Dur+Pulang+dari+Italia-.phpx

  32. Mahfud MD Juga Saksikan Keanehan Sikap Gus Dur

    Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD ketika ditanya NU Online tentang pendapatnya apakah Gus Dur itu wali atau bukan berkelit bahwa yang tahu seorang wali adalah wali “Dan saya bukan wali,” katanya disela-sela acara Pekan Konstitusi di Jakarta, Jum’at (4/2).

    Namun demikian, pria asal Madura yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan di era presiden Gus Dur ini mengaku ikut mengalami dan menyaksikan sikap dan penyataan aneh yang dilakukan oleh Gus Dur.

    “Saya pribadi sering melihat sikap dan pernyataan aneh Gus Dur. Misalnya sebelum mengambil sebuah keputusan, beliau berkonsultasi dulu dengan Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy’ari, kakeknya yang meninggal tahun 1947.red). ‘Saya nanti malam mau ketemu Mbah Hasyim dulu’,” katanya.

    Ia menambahkan, untuk berdialog dengan orang yang sudah meninggal, Gus Dur meminta pertolongan pada kiai, salah satunya seorang kiai dari Pati. “Pernah juga mengaku minta tolong Lily Wahid (adiknya) untuk bisa berdialog dengan Mbah Hasyim,” tambahnya.

    Ditegaskannya, ada pernyataan aneh dari Gus Dur yang terbukti kebenarannya, tetapi ada juga yang tak terjadi apa-apa, tapi ia tak menyebutkan berapa persen probabilitas kebenarannya tersebut.

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,36167-lang,id-c,warta-t,Mahfud+MD+Juga+Saksikan+Keanehan+Sikap+Gus+Dur-.phpx

  33. Wali yang Menyembunyikan Diri Jadi Tokoh Abangan

    Sastro al Ngatawi, mantan asisten pribadi Gus Dur memiliki banyak pengalaman dalam persentuhannya dengan Gus Dur. Banyak pengalamannya yang luar biasa dan memiliki makna spiritual yang mendalam.

    Suatu ketika, ia diajak oleh Gus Dur untuk melakukan ziarah ke makam Eyang Gusti Aji di kaki gunung Lawu. Makam tokoh ini dikenal sebagai tempat untuk bersemedi kelompok abangan. Hampir semua tokoh abangan ziarahnya ke tempat ini.

    Jam dua malam, mereka mulai naik menuju ke pemakaman.

    Sastro lalu bertanya “Kita ngapain Gus disana nanti”.
    Gus Dur: “Ya tahlil, wong bisanya kita tahlil.”
    Sastro: “Katanya tokoh ini pentolannya abangan”
    Gus Dur: “Yang ngerti Islam atau bukan hanya Gusti Allah”

    Selanjutnya tahlil pun digelar, dan dalam berdoa mereka menyebut “Doa untuk ahli kubur yang dimakaman disini, kalau Engkau meridhoi,”

    Setelah selesai tahlil, juru kunci meminta Gus Dur untuk masuk dalam gedung tempat penyimpanan pusaka. Disana, ia diminta mengambil pusaka, dan apa yang diambil itu yang nantinya akan jadi pegangan. Gedungnya sendiri pun tidak memakai lampu sehingga gelap gulita dan pemilihan pusaka yang akan diambil akhirnya sangat spekulatif.

    Akhirnya Gus Dur pun masuk dan mengambil satu pusaka, dan ternyata yang terambil oleh Gus Dur adalah sebuah buku. Lalu Gus Dur diminta untuk mengambil satu lagi, dan memperoleh kain.

    Begitu dibuka di luar ruangan, buku yang terambil tersebut ternyata adalah kitab Al Qur’an. Diambilnya Al Qur’an berarti untuk pegangan hidup.

    Sastro: “Kalau selendangnya sendiri apa artinya Gus”
    Gus Dur: “Embuh mungkin untuk ngendong bongso (ngak tahu, mungkin untuk merawat bangsa).

    Selanjutnya, al Qur’an yang terambil tersebut diminta kembali sedangkan selendangnya boleh dibawa pulang.

    “Wah, beliau yang dimakankan disini ternyata wali kutub yang menyembunyikan diri,” kata Gus Dur.

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,32487-lang,id-c,warta-t,Wali+yang+Menyembunyikan+Diri+Jadi+Tokoh+Abangan-.phpx

  34. Idola Gus Dur adalah Para Sufi

    Siapakah orang yang diidolakan oleh Gus Dur? para artis, pemain sepak bola, politisi, hartawan atau ilmuwan sebagaimana kebanyakan orang? Bukan itu semuanya. Menurut Kiai Said Aqil, Gus Dur sangat mengidolakan para sufi.

    “Pokoknya idolanya para sufi yang filosof. Beliau senang sekali dengan judul disertasi saya, Hubungan Allah dengan Alam,” katanya.

    Beberapa sufi yang buku dan kisah hidupnya banyak dipelajari oleh Gus Dur adalah Junaidi al Bagdadi, Ibnu Sina, Al Ghozali.

    Ketika intelektualitasnya sudah sangat matang, Gus Dur menjadi bosan dengan pendekatan logis. Setiap orang yang kenal dengan Gus Dur akan kagum dengan instuisinya.

    Dijelaskannya, orang kalau memberikan masukan ke Gus Dur dengan analisis, Gus Dur ngak ngreken (memperhatikan), tapi kalau ngaku dapat isyarah, ia akan memperhatikan karena hal ini tidak ada batasnya sementara rasionalitas ada batasnya.

    “Ilham, ilmu ladunni, kasyaf, itu ngak ada batasnya, asal jangan ngaku mendapat wahyu atau mengaku nabi,” tuturnya.

    Ia mencontohkan Ibnu Arabi mengaku mendapat ilham, tetapi mengatakan lastu nabiyyah warasullah, saya bukan nabi, padahal isinya luar biasa, sementara itu pendiri Ahmadiyah mengaku dapat wahyu.

    “Ini salahnya mengaku mendapat wahyu, bukan menjadi wali, padahal isi bukunya bagus,” terangnya. (mkf)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,27679-lang,id-c,warta-t,Idola+Gus+Dur+adalah+Para+Sufi-.phpx

  35. Syeikh Yasin Padang Layani Sendiri Gus Dur

    Syeikh Yasin Padang, salah satu ulama keturunan Indonesia yang yang menjadi benteng ajaran ahlusunnah wal jamaah merupakan ulama yang sangat dihormati di dunia. Ulama ini juga sangat dihormati oleh warga NU.

    Bernama lengkap Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani lahir di kota Makkah pada tahun 1915 dan wafat pada tahun 1990. Ia adalah Muhaddits, Faqih, ahli tasawwuf dan kepala Madrasah Darul-Ulum, yang siswanya banyak berasal dari Indonesia.

    Jumlah karya beliau mencapai 97 Kitab, di antaranya 9 kitab tentang Ilmu Hadits, 25 kitab tentang Ilmu dan Ushul Fiqih, 36 buku tentang ilmu Falak, dan sisanya tentang ilmu-ilmu yang lain.

    Ia memiliki gaya hidup yang sangat sederhana, hanya menggunakan kaos dan sarung dan sering nongkrong di “Gahwaji” untuk Nyisyah (menghisap rokok arab)… tak seorangpun yang berani mencelanya karena kekayaan ilmu yang dimiliki

    Pada muktamar NU tahun 1979, ia datang ke Indonesia dan selanjutnya melakukan kunjungan ke sejumlah pesantren, yang dihadiri oleh ribuan warga NU yang ingin bertemu langsung dengannya.

    Ia juga dikenal memiliki banyak kekeramatan. Diantara cerita yang beredar soal kekeramatannya adalah Zakariyya Thalib asal Syiria pernah mendatangi rumah Syeikh Yasin Pada hari Jumat. Ketika Azan Jumat dikumandangkan, Syeikh Yasin masih saja di rumah, akhirnya Zakariyya keluar dan sholat di masjid terdekat. Seusai sholat Jum’at, ia menemui seorang kawan, Zakariyyapun bercerita pada temannya bahwa Syeikh Yasin ra. tidak sholat Jum’at. Namun dibantah oleh temannya karena kata temannya, “kami sama-sama Syekh solat di Nuzhah, yaitu di Masjid Syekh Hasan Massyat ra. yang jaraknya jauh sekali dari rumah beliau”…

    HM Abrar Dahlan bercerita, suatu hari Syeikh Yasin pernah menyuruh saya membikin Syai (teh) dan Syesah (yang biasa diisap dengan tembakau dari buah-buahan/rokok tradisi bangsa Arab). Setalah dibikinkan dan Syeikh mulai meminum teh, ia keluar menuju Masjidil-Haram. Ketika kembali, saya melihat Syeikh Yasin baru pulang mengajar dari Masjid Al-Haram dengan membawa beberapa kitab… saya menjadi heran, anehnya tadi di rumah menyuruh saya bikin teh, sekarang beliau baru pulang dari masjid.

    Dikisahkan ketika KH Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar dalam ilmu fiqih “bab diyat”, ia menemukan kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajian terhenti karenanya… malam hari itu juga, ia menerima sepucuk surat dari Syeikh Yasin, ternyata isi surat itu adalah jawaban kesulitan yang dihadapinya. Iapun merasa heran, dari mana Syekh Yasin tahu…? Sedangkan KH Abdul Hamid sendiri tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang kesulitan ini..!

    Kisah hubungan antara Syeikh Yasin Padang dan Gus Dur juga diungkapkan oleh KH Said Aqil Siroj. Dalam satu kunjungan ke Arab Saudi, Gus Dur menyempatkan diri singgah ke rumah Syeikh Yasin.

    Dalam pertemuan tersebut, Gus Dur mendapat penghormatan yang luar biasa, meskipun usianya lebih muda, Syeikh Yasin melayani sendiri Gus Dur, mengambilkan air, kurma dan lainnya, tidak boleh dilayani oleh para pembantunya.

    Kiai Said juga mendapat sejumlah cerita soal karomah Syeikh Yasin. Ketika sedang makan siang, ada ustadz anak buahnya, namanya Abdurrahim dari Kupang, keluar ruangan, tiba-tiba Syeikh Yasin bilang, Abdurrahim diiringin malaikat, “E.. jam enam sore mati,” katanya.

    Waktu Irak mau nyerang Kuwait, Syeikh Yasin tiba-tiba kemringet, ditanya sama Tantowi Musaddad, “Darimana?”, “Dari Kuwait, lihat bangkai dan darah,”

    “Ini tanda kewaliannya Syeikh Yasin, orang kayak gitu dengan Gus Dur hormat dan memberi perlakukan istimewa, padahal juga sudah sepuh banget,” tandasnya. (mkf)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,27657-lang,id-c,warta-t,Syeikh+Yasin+Padang+Layani+Sendiri+Gus+Dur-.phpx

  36. Ulama Terbesar Saudi pun Hormati Gus Dur

    Ulama yang sangat dihormati di Saudi Arabia, dalam satu negara yang menganut faham Wahabi, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, yang muridnya tersebar di seluruh dunia, memberi penghormatan pribadi kepada Gus Dur ketika berkunjung ke kediamannya.

    Besarnya pengaruh ulama yang mendalami mazhab Maliki ini telah berlangsung sejak dahulu. Lima orang kakek pendahulunya merupakan pemuka mazhab Imam Maliki di Makkah. Raja Saudi Arabia Faishal, tak akan membuat kebijakan terkait dengan Masjidil Haram sebelum berkonsultasi dengannya.

    Ia belajar di Al Azhar Mesir dan memperoleh gelar Doktor pada usia 25 tahun, yang merupakan orang Saudi pertama yang mencapai gelar akademik tertinggi pada usia termuda. Sebagai seorang akademisi, ia telah mengarang lebih dari 100 kitab. Muridnya tersebar di seluruh dunia, terutama berasal dari Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman dan Dubai. Mereka yang belajar di pesantrennya difasilitasi penuh olehnya.

    Alawi Al Maliki meninggal tahun 2004 dan upacara penguburannya merupakan yang terbesar dalam 100 tahun belakangan. Radio Arab Saudi selama tiga hari penuh hanya memutar al Qur’an untuk menghormatinya.

    Ayahnya, Sayid Alwi Al Maliki adalah guru dari pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Dia juga pernah menjadi guru besar di Masjidil Haram pada 1930-an dan 40-an dan merupakan ulama terbesar pada zamannya. Banyak ulama sepuh dari Nahdlatul Ulama yang menimba ilmu dari Sayid Alwi Al-Maliki yang merupakan ahli hadist.

    Penghormatan kepada Gus Dur, yang waktu itu masih menjabat sebagai ketua umum PBNU, oleh orang terhormat ini dituturkan oleh KH Said Aqil Siroj, yang waktu itu menemaninya bersama Ghofar Rahman, sekjen Gus Dur dalam satu kunjungan ke Mekkah.

    Sebagai ulama terkemuka, Sayyid Maliki selalu dikunjungi oleh tamu dari berbagai negara. Waktu Gus Dur datang ke kediamannya, di ruang tamu sudah banyak sekali orang yang mengantri.

    Begitu Gus Dur datang, ia langsung dipersilahkan masuk, bahkan diajak berbincang di kamar tidur pribadinya, bukan di ruang tamu. Gus Dur dikasih uang, arloji mewah dan barang berharga lainnya sebagai tanda penghormatan.

    Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said mengggambarkan, “Begitu hormatnya mereka berdua. Dan mereka bukan orang sembarangan,” (mkf)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,27592-lang,id-c,warta-t,Ulama+Terbesar+Saudi+pun+Hormati+Gus+Dur-.phpx

  37. Dimana Gus Dur yang Asli?

    Kisah tentang Gus Dur yang ada di beberapa lokasi muncul dari testimoni beberapa orang dekatnya, sehingga seringkali mereka malah bertengkar karena dua-duanya berkomunikasi dengan Gus Dur di tempat yang berbeda dalam waktu yang sama.

    Kiai Said Aqil Siroj juga pernah mengalami hal yang sama, ia “dikerjai” oleh Gus Dur sehingga sampai harus berdebat dengan temannya.

    Kisahnya bermula ketika itu malam-malam, sehabis mengimami sholat isya, ia bertandang ke rumah Gus Dur, yang merupakan tetangga sebelah rumah di Ciganjur. Karena Gus Dur belum datang, ia duduk-duduk di teras rumahnya.

    Tak lama kemudian, datang Suparta, salah satu pejabat BKKBN, yang juga bertamu ke rumah Gus Dur untuk mengundang ceramah. Suparta mengaku baru saja menelepon Gus Dur, waktu itu belum ada HP sehingga telepon yang digunakan telepon rumah, dan yang menjawab Gus Dur sendiri.

    Dalam pembicaraan telepon tersebut, Gus Dur mengatakan tak bisa menghadiri undangan BKKBN karena harus menghadiri haulnya Kiai Ali Maksum di Krapyak Yogyakarta. Suparta menegaskan, yang menerima dan menjawab telepon benar-benar Gus Dur sendiri karena ia sudah hapal nada dan suaranya.

    Tentu saja Kang Said yang sudah menunggu di rumahnya membahntah, Gus Dur tidak ada di rumahnya dan saat itu ia sedang menunggu kedatangannya.

    Akhirnya perdebatan diantara keduanya selesai setelah mobil Gus Dur muncul bersama tuannya didalam kendaraan tersebut. Keduanya lalu dipersilahkan masuk oleh Gus Dur ke dalam rumah.

    Pada kesempatan tatap muka itu, Suparta kembali menyampaikan keinginannya mengundang Gus Dur, yang waktu itu masih menjadi ketua umum PBNU, untuk ceramah dalam sebuah acara BKKBN dan jawaban yang diterima sama seperti yang disampaikan dalam pembicaraan lewat telepon bahwa ia ada haul KH Ali Maksum di Krapyak sehingga tak bisa menghadiri undangan BKKBN.

    Lalu siapa sebenarnya pria yang menjawab lewat telepon dengan suara persis seperti Gus Dur dan jawaban yang disampaikan juga sama persis dengan jawaban Gus Dur ketika bertatap muka bahwa ia tidak bisa memenuhi undangan BKKBN? Wallahu a’lam. (mkf)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,27577-lang,id-c,warta-t,Dimana+Gus+Dur+yang+Asli+-.phpx

    1. Sangat menakjubkan kang Juman…. pasti itu cerita yg banar2 ada, sebab yg cerita itu benar2 ada orang2nya. Gus Dur ada orangnya, begitu juga pak Suparta dan KH agil Siroj, jadi ini kisah nyata. Itulah yg saya maksud dg “kelebihan” atau keistimewaan Gus Dur, yg tentu saja kebanayakan orang nggak ada keistimewaan seperti itu. Dan itu hanya salah satu ciri2 seorang Wali, selain dia harus seorang yg shalih, baik sholih secara vertikal maupun horizontal. Dan Gus Dur sosok yg sholeh secara lengkap.

  38. Politisi PKS Akhirnya Akui Kebenaran Gus Dur

    Jakarta, Koordinator Kaukus Parlemen Indonesia untuk Palestina yang juga politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Al-Muzzammmil Yusuf akhirnya harus mengakui keunggulan mentan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pengakuan ini terbersit dalam pernyataan Al-Muzammil mengenai serangan tentara NATO ke Libya.

    Al-Muzammil menilai serangan militer Amerika Serikat beserta sekutunya ke Libya yang menewaskan banyak warga sipil merupakan wajah sesungguhnya dari kebijakan politik luar negeri AS. Tujuan AS dan sekutunya dalam agresi militer di Libya bukan untuk membantu rakyat Libya agar keluar dari krisis, namun untuk menunjukkan hegemoni AS di Timur Tengah dan kepentingan pragmatisnya untuk minyak Libya.
    gt;
    “Obama dan Bush itu sama saja, hanya beda gaya kepemimpinan, substansi kebijakan luar negerinya sama. Mereka hendak mengeruk keuntungan dari krisis di negara yang kaya dengan minyak. Mereka tidak peduli dengan krisis kemanusiaan di Libya,” kata Muzzammil dalam pernyataan pers-nya di Jakarta, Kamis (24/3).

    Sementara itu, jauh-jauh hari sebelum Al-Muzammil berkomentar, Gus Dur telah menyatakan pendapatnya mengenai Obama. Gus Dur, kala Obama baru terpilih, selalu menghimbau masyarakat agar tidak terjebak ke dalam euforia Kemenangan Obama.

    “Obama adala presiden Amerika. Tidak perduli dari mana asalnya, tentu dia akan berpihak kepada kepentingan nasional Amerika,” tutur Gus Dur seperti ditirukan Acun, salah seorang santri Gus Dur di Jakarta, Jum’at (25/1).

    Menurut Acun, saat siaran di Radio 68 H Kedai Tempo Jakarta, semasa hidupnya, Gus Dur sudah selalu memperingatkan masyarakat agar tidak terlena dengan kemenangan Obama. Bagi Gus Dur, Kemenangan Obama dari Partai Demokrat Amerika bukan berarti kemenangan demokrasi di dunia.

    “Jadi kalau ada orang yang baru ngomong sekarang tentang kesamaan obama dan Bush itu terlambat. Mestinya dia mengakui kebenaran Gus Dur. Mestinya di tahu kalau Gus Dur jauh-jauh hari sudah menyatakan hal itu,” papar Acun, sesepuh komunitas Gus Durian Jakarta ini.

    Menimpali Acun, salah seorang santri Pesantren Ciganjur, Ichank, juga berkomentar sama. menurut Ichank, sejak awal Gus Dur sudah selalu menyatakan bahwa dirinya tidaklah terlalu bergembira dengan kemenangan Obama, Sebab Obama tentu akan lebih mendahulukan kepentingan Nasional Amerika daripada lainnya.

    “Gus Dur justru sering menyatakan bahwa lobby Yahudi lebih berkuasa menentukan kebijakan dibandingkan Presiden di Negara Amerika, bahkan di dunia,” tutur Ichank yang mengaku cukup lama mengaji langsung kepada Gus Dur di Pesantren Ciganjur ini.

    Lebih lanjut ichank menjelaskan, pernyataan politisi PKS Al-Muzammil menunjukkan dirinya tidak peka. Tidak ada korelasi antara kebijakan Amerika di Libya dengan rakyat Palestina. Masing-masing kebijakan dan tindakan Amerika di berbagai belahan dunia, dilakukan dengan sangat sistematis. Termasuk agresi di Libya dan perlindungannya terhadap Israel.

    “Mestinya orang-orang yang mengaku memperjuangkan Palestina di Indonesia juga memberikan pernyataan yang memadai mengenai apa yang sebenarnya terjadi di sana. Bukan hanya mempolitisir keadaan rakyat Palestina untuk kepentingan politik pribadi dan kelompoknya saja,” tandas ichank. (syf)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,27425-lang,id-c,warta-t,Gusdurian++Politisi+PKS+Akhirnya+Akui+Kebenaran+Gus+Dur-.phpx

  39. Wali yang Lari dari Hadapan Gus Dur

    Wali memang kekasih Allah, tetapi diantara wali sendiri terdapat tingkatan-tingkatan. Semakin tinggi tingkatan seorang wali, mereka yang posisinya lebih rendah akan lebih menghormatinya.

    Kali ini, cerita salah satu karomah Gus Dur diungkapkan oleh Kiai Said Aqil Siroj saat menjalankan umrah Ramadhan, ketika Gus Dur masih menjadi ketua umum PBNU.

    Kang Said menuturkan setelah sholat tarawih berjamaah, ia diajak oleh Gus Dur untuk mencari orang yang khowas (khusus), yang ibadahnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan malu mengharapkan pahala, meskipun itu tidak dilarang. Mereka sudah berprinsip, manusia datangnya dari Allah, maka dalam beribadah, tak sepantasnya mengharapkan imbalan.

    Berdua bersama Gus Dur, mereka mengunjungi satu per satu kelompok orang yang memberi pengajian, ada yang jenggotnya panjang, ada yang kitabnya setumpuk dan mampu menjawab segala macam pertanyaan, ada yang jamaahnya banyak, tetapi semuanya dilewati.

    Lalu sampailah mereka dihadapan seorang Mesir yang sederhana, surbannya tidak besar, duduk di sebuah sudut. Kang Said selanjutnya diminta oleh Gus Dur untuk memperkenalkan dirinya sebagai ketua umum Nahdlatul Ulama dari Indonesia

    Tak seperti biasanya, orang Mesir terkenal dengan keramahannya, biasanya langsung ahlan wa sahlan ketika menerima tamu, tetapi yang satu ini bersikap agak ketus ketika ditanya.

    Kang Said menyampaikan niat dari Gus Dur untuk meminta sekedar doa selamat dari orang tersebut.

    Setelah berdoa ia langsung lari, dan menarik sajadahnya sambil berkata “Dosa apa aku ya robbi sampai engkau buka rahasiaku dengan orang ini”.

    Kang Said berkesimpulan bahwa orang tersebut merupakan wali yang sedang bersembunyi, jangan sampai orang lain tahu bahwa ia adalah wali, tetapi ternyata kewaliannya diketahui oleh Gus Dur, yang derajat kewaliannya lebih tinggi, dan ia merasa rahasianya terungkap karena ia memiliki dosa. (mkf)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,27537-lang,id-c,warta-t,Wali+yang+Lari+dari+Hadapan+Gus+Dur-.phpx

  40. Gus Dur Sudah Ramal Kang Said Jadi Ketum PBNU

    Salah satu tanda orang sholeh adalah ia memiliki pandangan batin yang sangat kuat sehingga mampu melintasi ruang dan waktu. Ia bisa mengetahui kejadian-kejadian di masa mendatang.

    KH Said Aqil Siroj mengaku dirinya telah diramalkan menjadi ketua umum PBNU oleh Gus Dur setelah usianya mencapai 55 tahun.

    Kiai Said menyatakan dirinya tidak meminta Gus Dur untuk melihat masa depannya, tetapi ramalan Gus Dur itu pun terucap begitu saja saat ia berkunjung ke rumahnya, yang masih satu kompleks di Ciganjur.

    Cerita ini bermula ketika Gus Dur pagi-pagi berolah raga dengan diiringi para pengawal, saat itu posisinya sudah sebagai mantan presiden. Lalu ia mampir ke rumah Kang Said, yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari kediamannya.

    Pada pagi yang cerah itu, Gus Dur minta disediakan air putih dan sarapan roti tawar, juga meminta Kang Said untuk membacakan kitab Ihya Ulumuddin, bab sabar dan tawakkal. Baru membaca dua baris, Gus Dur ternyata sudah tertidur sehingga ia menghentikan sementara membaca kitab tasawwuf karangan Imam Ghozali ini.

    Lima menit kemudian Gus Dur bangun dan langsung berujar “Sampean (kamu) jadi ketua umum PBNU sesudah umur 55 tahun”.

    Ucapan Gus Dur itu terbukti benar, Kang Said terpilih menjadi ketua umum PBNU pada muktamar NU ke-32 yang berlangsung di Makassar Maret, 2010 lalu pada usia 56 tahun. Kiai Said dilahirkan di Cirebon, 03 Juli 1953.

    Pada muktamar NU ke-30 di pesantren Lirboyo Kediri tahun 1999, Kang Said, saat itu usianya masih 46 tahun, juga pernah dicalonkan sebagai ketua umum PBNU berhadapan dengan KH Hasyim Muzadi. Saat itu ia sudah dikenal luas dan menjadi tokoh nasional, sementara Kiai Hasyim menjadi ketua PWNU Jatim, Kiai Hasyim yang terpilih. Tampaknya waktu belum berfihak kepadanya. (mkf)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,27396-lang,id-c,warta-t,Gus+Dur+Sudah+Ramal+Kang+Said+Jadi+Ketum+PBNU-.phpx

  41. Gus Dur Tahu sebelum Kejadian “Weruh Sakdurunge Winarah”

    Para Waliyullah memiliki berbagai karomah yang menunjukkan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Selain kejadian-kejadian aneh, karomah (keutamaan) ini seringkali berupa pengetahuan tentang hal-hal yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang.

    Salah satu alasan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering disebut-sebut sebagai waliyullah adalah pengetahuan Gus Dur mengenai peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Masyarakat Jawa biasa menyebut kemampuan ini dengan istilah “weruh sak durunge winarah.” r />
    Beberapa ulama dan Kiai banyak menceritakan tentang kemampuan Gus Dur yang satu ini. Selain cerita kebiasaan tidur di kala seminar yang kemudian terbangun dan bicara dengan sempurna mengenai isi pembicaraan sebelumnya, Gus Dur juga memiliki cerita kemampuan “weruh sak durunge winarah” ini di dunia nyata.

    Kisah berikut ini diceritakan oleh Katib Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara, KH Miftakhul Falah tatkala Beliau turut menunggui Gus Dur yang dirawat di Rumah Sakit Umum Koja Jakarta Utara, sekitar tahun 1994-an.

    Dalam ceritanya, KH Miftakhul Falah menceritakan, sewaktu Gus Dur sedang dirawat di RS Koja, beliau menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Habib Hasan di Pemakaman Koja. Dalam berziarah ini, Gus Dur selalu ditemani oleh beberapa orang sambil mendengarkan ceritanya.

    “Kalau di kemudian hari makam ini dibongkar, maka akan terjadi kerusuhan,” kata Miftakhul Falah menirukan kata-kata Gus Dur kala itu.

    Menurut Miftah, tidak seorang pun yang mengerti dan akan membayangkan kalimat Gus Dur tersebut akan menjadi kenyataan pada suatu ketika. Namun rupanya, zamanlah yang kelak membuktikan kata-kata Gus Dur tersebut.

    “Terbukti. Ketika makam tersebut akan dibongkar, benar-benar terjadi kerusuhan pada bulan April 2010 lalu,” tutur Miftakhul Falah.

    Menurutnya, banyak kini di antara temen-temannya yang menjadikan kalimat tersebut sebagai bukti kewalian Gus Dur. Ketika orang-orang lain bahkan belum bisa membayangkan, Gus Dur telah mengungkapkannya. (min)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,27406-lang,id-c,warta-t,Gus+Dur+Tahu+sebelum+Kejadian++Weruh+Sakdurunge+Winarah+-.phpx

  42. Wiranto Minta SBY Tiru Gus Dur

    Jenderal (Purn) Wiranto adalah sebagai Menkopolkam dalam pemerintahan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan merupakan orang pertama yang direshuffle, dipecat oleh Gus Dur, sepulangnya dari Kairo, Mesir, 13 Februari 2000. Tampaknya hal itu merupakan perjalanan politik yang sangat terkesan bagi Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat itu di mana kepemimpinan Gus Dur itu, harus ditiru oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    “Untuk keberanian, ketegasan dan kecepatan dalam mengambil keputusan, maka Presiden SBY harus menyontoh Gus Dur. Hindarkan politik transaksional dalam mereshuffle kabinet,” kata Wiranto di Gedung DPR RI Jakarta, Kamis (10/3).

    Wiranto datang ke DPR dalam rangka peluncuran bukunya “7 Tahun Menggali Pemikiran dan Tindakan Pak Harto” sekaligus memberikan arahan bagi anggota dewannya agar tidak terkontaminasi politik transaksional terkait isu reshuffle cabinet yang akan dilakukan oleh SBY.

    Menurutnya, gonjang-ganjing koalisi belakangan ini bernuansa politik transaksional berujung pada terganggunya konsentrasi kerja para menteri. Padahal untuk urusan pergantian menteri itu kata Wiranto, kita pernah punya pengalaman bagus di zaman pemerintahan Presiden Gus Dur.

    Ketika itu lanjut Wiranto, Gus Dur, memutuskan semua anggota kabinet tidak boleh menjadi pengurus partai politik. “Waktu itu, Akbar Tandjung, sebagai Mensesneg (Menteri Sekretaris Negara), juga merangkap sebagai Ketua Umum Golkar. Beliau disuruh memilih. Saudara Akbar Tandjung, saudara keluar dari kabinet atau keluar dari kepengurusan parpol?” tanya Gus Dur.

    Akbar Tanjung pun akhirnya memilih menjadi ketua umum Golkar. Sehingga jabatan Mensesneg dilepaskan dan diganti oleh Pak Muladi. “Kalau itu yang terjadi pada presiden sekarang, mudah-mudah Kabinet Indonesia Bersatu II sehat kembali. Tapi, kalau diganti dengan kader dari parpol, ya sama saja. Nanti tiap tahun ada reshuffle,” tambah Wiranto.

    Ia berharap sudah saatnya Presiden tegas bahwa anggota kabinetnya tak boleh merangkap sebagai pengurus partai politik. “Jadi yang di-reshuffle adalah cara berpikir kita menyusun kabinet, reshuffle bukan si menteri ini diganti menteri dari parpol lain. Tapi, si menteri dari partai diganti dengan orang-orang yang profesional kerjanya. Itu reshuffle yang saya harapkan,” ujarnya.

    Dengan begitu katanya, maka system pemerintahan presidensil bisa sehat. Di mana para menteri tidak bisa lagi ditentukan dengan kalkulasi politik, hasil transaksi politik. (amf)

    http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,27216-lang,id-c,warta-t,Wiranto+Minta+SBY+Tiru+Gus+Dur-.phpx

  43. Kesaksian Sopir Pribadi Soal “Kesaktian” Gus Dur

    Salah satu saksi hidup dari kemampuan spiritual Gus Dur adalah seorang sopirnya, Khoirul atas beberapa kejadian yang dialami bersama ketua umum PBNU tiga periode ini. Tentu saja, kejadian yang dialami berputar soal kisah di jalan raya.

    Suatu ketika, ia sedang berada di Majenang Cilacap mengantar Gus Dur dan beberapa orang anggota rombongan dalam dua mobil. Saat itu sudah jam 12 siang dan Gus Dur mengajak pulang karena di rumah ada tamu yang harus ditemuinya pada jam 13.00.

    Ia pun segera putar arah dan mobil rombongan di belakang mengikutinya di belakang. Karena sudah ada janji, ia ngebut, tetapi tak yakin bisa segera sampai di Ciganjur, tempat tinggal Gus Dur tepat waktu. Ia berpikiran, paling-paling bisa sampai di Jakarta pukul 3 atau 4 sore mengingat jaraknya yang sangat jauh. Rute yang harus dilalui masih sangat jauh karena harus melewati kawasan Puncak yang jalannya kecil, berliku-liku dan naik turun. Saat itu belum ada tol Cipularang.

    Ia pun tetap menggeber mobilnya secepat yang bisa ia lakukan. Mobil rombongan satunya di belakang tidak kelihatan, tampaknya sudah jauh ketinggalan.

    Singkat kata, sampailah mobil yang disetirinya di rumah Gus Dur dan ia merasa lega selamat sampai di rumah. Ia menengok jam tangannya. Angka yang masih diingatnya sampai sekarang, “pukul 13.12 menit”. Jakarta Cilacap hanya ditempuh dalam waktu 1 jam lebih sedikit. Dan Gus Dur tidak terlambat menerima tamunya yang juga baru saja sampai. Rombongan mobil di belakangnya baru sampai di Ciganjur pukul 16.30, beda empat jam lebih dari perjalanannya.

    Kisah lainnya adalah ketika Gus Dur berjanji menjemput tamunya di bandara Soekarno Hatta pada pukul 1 siang. Ia masih di ujung Tol Cikampek, yang kondisinya sedang macet sehingga diperkirakan baru jam tiga sampai di bandara, tapi faktanya. Tapi ia bisa sampai tepat waktu di bandara untuk menemui tokoh kehormatan tersebut.

    Yang lebih spektakuler lagi kejadian ketika Gus Dur mau berangkat ke NTB untuk memenuhi undangan di sana dan hanya ada satu kali penerbangan dari Jakarta. Pikirannya sudah dag dig dug, “Bisa ngejar pesawat apa tidak”. Mereka bertiga bersama dengan Aries Junaidi, mantan sekretaris Gus Dur dalam perjalanan di kawasan Kuningan yang terkenal sebagai daerah kemacetan. Semuanya terdiam dalam perjalanan yang menegangkan tersebut, suasana dan mobil yang biasanya penuh obrolan dan canda ini sunyi.. Matanya melirik ke arah Gus Dur yang dilihatnya sedang komat-kamit sambil menundukkan kepala.

    Aries minta turun di Mampang Prapatan karena mau membesuk salah satu kenalannya yang sedang dirawat di RS MMC. Ia pun segera meneruskan perjalanannya ke Bandara. Disana staff Gus Dur, Sulaiman dan Yuni sudah mengurus check in tiket dan ketika ampai, Gus Dur bisa tinggal boarding saja.

    18 menit kemudian, Aries Junaidi meneleponnya, menanyakan sudah sampai dimana, ternyata ia sudah balik dari bandara menuju ke Ciganjur sementara Aries sendiri masih belum turun dari ojek.

    “Iki, nek nurut akal ora iso, wong aku sing nyekel (kejadian itu, kalau menurut akal ngak mungkin, karena saya sendiri yang nyetir mobilnya”

    1. Benar2 mantab tautannya kang Juman, pasti akan saya baca semuanya. syukron ya, saya jadi lebih kenal dg Gus dur dg tautan2 antum, semoga berkah selalu menyertaimu, amin, amin, amin…..

  44. Mungkin bagi yang benci gusdur akan mengatakan, atsar, cerita, maqolah tidak bisa dibuat hujjah. Tapi apapun itu dengan adanya khabar tersebut cukuplah jadi pencerah dari jiwa yang kering, dan cukuplah bagi kami melihat betapa banyak kaum awam di sekitar kami yang minimal suka kepada santri dan islam dengan mendengar syiir tanpo wathon beliau.

    Terima kasih gus…. dan maafkan kami yang pernah salah menilaimu….. allohummaghfirlahu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu

  45. Ternyata 80 Persen Pendapatan Gus Dur untuk Umat

    Kiai merupakan kelompok sosial yang memberi bimbingan dan arahan, terutama dalam persoalan-persoalan keagamaan. Tak heran waktunya banyak untuk melayani umat sampai-sampai untuk bekerja guna menghidupi dirinya sendiri kadang kala tidak sempat.

    Disisi lain, masyarakat pun tahu akan kondisi tersebut, mereka membantu kiai dengan memberi “salam tempel” atau oleh-oleh untuk pesantren dan kiainya sebagai kontribusi masyarakat. Inilah mekanisme unik yang sudah berjalan sejak lama dan menjadikan institusi pesantren mampu hidup tanpa perlu bantuan dari pemerintah karena dibiayai langsung oleh masyarakat dengan sukarela.

    Semakin tinggi kedudukan kiai, penghormatan masyarakat pun semakin besar. Kiai sepuh atau kiai dari pesantren besar mendapatkan bantuan yang lebih besar. Gus Dur ketika menjabat sebagai ketua umum PBNU sering sekali mendapat bantuan dari masyarakat yang diterima secara pribadi, tapi meskipun tidak ada akad bahwa ini untuk kepentingan organisasi, Gus Dur tetap mengalokasikan 80 persen untuk organisasi, sementara 20 persen untuk operasional pribadi.

    “Beliau pernah mengatakan, tidak mungkin bisa mendapat berbagai sumbangan dari masyarakat kalau tidak dalam posisi menjabat sebagai ketua umum PBNU. Karena itu, dana tersebut tetap dialokasikan untuk NU, bukan untuk kepentingan pribadi,” kata Imam Mudakkir, teman Gus Dur yang seringkali diminta mengelola urusan keuangan.

    Keikhlasan Gus Dur dan kedermawanannya inilah yang membuatnya dihormati banyak orang, mendapat doa dari orang-orang yang ditolongnya dan memiliki banyak teman.

    Kebijakan 80/20 ini bisa menjadi teladan bagi para kiai dan pengurus NU yang mendapat barokah dalam posisinya sebagai pengurus NU, mulai dari tingkat pusat sampai tingkatan anak ranting. Gus Dur terbukti dan diakui membaktikan dirinya untuk NU, tidak mencari makan atau menunggangi NU untuk ambisi pribadi.

  46. Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan

    Selalu terdapat strategi unik dalam berdakwah, tetapi seringkali orang tidak paham apa yang sebenarnya dilakukan, bahkan ditentang habis-habisan karena dianggap menyalahi pakem yang sudah berlaku umum. Gus Dur seringkali mengalami hal ini.

    Salah satu amalan Gus Dur adalah berziarah ke makam-makan pendahulu yang dianggap berjasa dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Tapi ada kalanya mantan ketua umum PBNU ini memiliki maksud lain dalam berziarah.

    Di Kroya Jawa Tengah, terdapat sebuah makam yang dikenal sebagai jujukan ziarah kelompok abangan. Tentu saja, di sana mereka bukan membaca tahlil atau yasin, tetapi tradisi tersendiri di luar nilai-nilai keislaman.

    Ketika terdapat kesempatan, Gus Dur menziarahi makam tersebut. Kontan saja, para kiai di Kroya protes, mengapa berziarah ke tempat itu yang sudah terkenal menjadi “sarangnya” kelompok abangan dalam menjalankan ritual.

    “Apa Gus Dur tidak tahu ini. Mengapa harus menziarahi makam itu, yang sudah jelas-jelas tokoh abangan” kata sejumlah kiai kepada Gus Dur sebagaimana disampaikan ke sekjen PBNU H Marsudi Syuhud.

    Bukan Gus Dur namanya kalau berpikir konvensional. Ia pun menjelaskan “Saya ke sana kan dalam rangka tahlilan, bukan yang lain“

    Pelan tapi pasti, setelah diziarahi Gus Dur, makam tersebut semakin ramai, tetapi ada yang berbeda, mereka yang berziarah merubah ritual-ritualnya dengan tahlil dan amalan Islam lain sampai akhirnya tradisi non Islamnya berganti tanpa ada pemaksaan atau klaim bid’ah, sesat dan sejenisnya yang ujung-ujungnya malah menimbulkan perlawanan.

    Gus Dur juga menziarahi makam Kiai Mahfud, tokoh Angkatan Umat Islam (AUI) dari pesantren Semolangu Kebuman yang tertembak di Gunung Srandil yang ikut membela perjuangan melawan penjajah Belanda, tetapi dituduh memberontak.

    “Beliau ingin meluruskan bahwa banyak jasa yang telah ditorehkan Kiai Mahfud dalam membela tahan air,“ ujar Marsudi.

    Penulis: Mukafi Niam

  47. Santri yang Menguji Kewalian Gus Dur

    Dalam sebuah forum Gusdurian, seorang santri asal pesantren Ploso Kediri mengaku kepada Allisa Wahid, putri Gus Dur, bahwa ia pernah menguji kewalian Gus Dur.

    Santri yang memiliki sikap kritis ini mengisahkan, suatu hari ia datang ke Jakarta untuk suatu keperluan. Hajatnya di Jakarta pun berjalan baik, sayangnya ada masalah baru, yaitu kehabisan uang saku untuk kembali ke Kediri.

    Ia pun berfikir untuk menemui KH Said Aqil Siroj di Ciganjur Jakarta Selatan untuk menyampaikan persoalannya ini, tetapi sesampai disana ternyata Kang Said sedang pergi. “Wah bisa gawat ini kalau sampai ngak bisa pulang,“ pikiranya dalam hati.

    Ia pun terdiam, berusaha mencari solusi lain bagaimana agar bisa pulang ke Pesantren. Tiba-tiba terbersit pikirannya, “Mengapa ngak bersilaturrahmi ke Gus Dur di rumah sebelah. Katanya orang-orang, beliau kan wali, coba saja ah, diuji sekalian, benar apa ngak dia seorang wali, mumpung lagi dekat”

    Ia pun segera memutar langkahnya menuju rumah Gus Dur yang jaraknya hanya sepelemparan batu saja dari rumah Kang Said. Beruntung, Gus Dur sedang di rumah dan ia segera antri untuk bisa bertemu Gus Dur yang hari itu sedang banyak tamu.

    Ketika sudah tiba gilirannya, ia pun masuk, mencium tangan Gus Dur sebagaimana etika seorang santri kepada kiainya. Menyampaikan bahwa ia santri dari Ploso Kediri, ingin bersilaturrahmi sebelum pulang, tapi ia tak menyampaikan sedang tak punya ongkos.

    Gus Dur rupanya tahu persoalan yang sedang dialaminya, begitu pamit, ia diberi ongkos yang cukup untuk membeli tiket kereta api kelas bisnis. Ia pun senang sekali, karena ketika berangkat hanya naik kereta kelas ekonomi.

    Barulah ia percaya kalau Gus Dur itu seorang wali.

    Penulis: Mukafi Niam

  48. Kado Istimewa Gus Dur untuk Istri Penjual Duren

    Seorang wali adalah kekasih Allah yang mampu menebar rahmah di muka bumi. Ia membantu mereka yang dibutuhkan, mereka yang menangis kepada tuhannya di malam-malam sunyi karena kepada tuhannyalah tumbuh keyakinan nasib ditentukan.

    Kisah ini menunjukkan penghargaan atas nilai kemanusiaan Gus Dur yang sangat mendalam kepada rakyat kecil yang membutuhkan, yang telah diabaikan sehingga Allah mengirimkan Gus Dur untuk memberi bantuan.

    Sebagai tokoh yang dihormati, menerima undangan di berbagai daerah merupakan kegiatan rutin. Suatu ketika, Gus Dur mendapat undangan ke kota Malang. Ia mampir dulu ke kota Batu. Di tengah perjalanan, ia minta berhenti ketika terdapat seorang penjual durian, membeli dua buah, tetapi anehnya, sang pedagang diberinya uang segepok.

    Yudhi, sang sopir yang menemani Gus Dur keheranan, beli dua durian saja kok uangnya banyak banget. Biasanya kalau orang beli sesuatu, ditawar-tawar dahulu sampai dapat harga yang cocok. Ini tanpa ba-bi-bu, langsung dikasih uang banyak. Meskipun demikian, ia tak berani berkomentar apa-apa dan mengikuti perintah Gus Dur untuk melanjutkan perjalanan ketika uang sudah diserahkan.

    Namun rasa penasarannya tak hilang atas kejadian tersebut. Pertanyaan kenapa penjual durian dikasih uang yang sangat banyak selalu muncul dalam hati. Tak tahan atas rasa tersebut, beberapa hari kemudian, ia mendatangi penjual durian tersebut untuk mencari informasi lebih lanjut. Tapi ternyata kedai durian tutup.

    Ia pun tambah penasaran, setelah tanya kiri-kanan, akhirnya alamat penjual durian diketahui, posisinya di sebuah desa yang susah dilalui kendaraan, tapi sudah terlanjur basah, ia pun bertekad menelusuri misteri ini.

    Setelah dicari-cari, akhirnya ditemukan juga rumah tersebut. Begitu sampai, pintu diketuk, tapi tidak ada penghuninya. “Ada apa gerangan” pikirnya dalam hati.

    Ia pun menanyakan ke tetangga rumah, ke mana perginya penghuni rumah. Lalu dijelaskan bahwa pemilik rumah sedang mengantarkan istrinya untuk berobat. Sudah lama belahan jiwanya sakit, tetapi tidak punya uang untuk berobat sehingga dengan sangat terpaksa hanya bisa diam di rumah dan menjalani pengobatan ala kadarnya.

    Kepada tetangganya itu, ia pamitan untuk menjaga rumahnya karena akan ditinggal selama beberapa hari. Ia pergi untuk mengobatkan istrinya setelah baru-baru ini, dengan tiba-tiba didatangi oleh Gus Dur dan dikasih uang yang cukup memadai untuk biaya pengobatan yang sudah lama didambakannya.

    Yudhi pun hanya diam termagu setelah memahami kejadian tersebut dan makna yang terkandung di dalamnya. Ia lalu menceritakan kronologi peristiwa sebelumnya yang membuatnya sampai mencari-cari penjual durian ini.

    Penulis: Mukafi Niam

  49. Kesaksian Petinggi Muhammadiyah tentang Kewalian Gus Dur

    Meskipun di depan publik NU dan Muhammadiyah sering dianggap berseberangan, tapi faktanya diantara tokoh dan petingginya sendiri terjalin keakraban dengan tetap menghormati perbedaan pandangan masing-masing.

    Diantara tokoh Muhammadiyah yang pernah menyaksikan sisi “linuwih” Gus Dur adalah Syafii Maarif, mantan ketua umum PP Muhammadiyah dan Mukthie Fadjar seperti disampaikan oleh Mahfud MD dalam bukunya “Setahun Bersama Gus Dur: Kenangan Menjadi Menteri di saat Sulit”.

    Dalam bukunya tersebut Mahfud Menuturkan, Syafii Maarif pernah menulis di harian Kedaulatan Rakyat, menceritakan bahwa pada awal Juni 1999 Gus Dur sudah pernah mengatakan kepadanya bahwa dia akan menjadi presiden dan menjanjikan akan memberi sejumlah kursi di kabinet kepada orang-orang Muhammadiyah.

    Waktu itu, Syafii Maarif menjawab sambil bercanda, bahwa, jika Gus Dur menjadi presiden, Muhammadiyah tidak akan minta jatah kursi di kabinet. Syafii Maarif menceritakan percakapannya dengan Gus Dur itu beberapa waktu setelah Gus Dur benar-benar menjadi presiden.

    Informasi Jatuhnya Soeharto

    Bukan hanya soal dirinya akan menjadi presiden yang dikemukakan oleh Gus Dur kepada orang-orang tertentu. Setahun sebelum jatuhnya Soeharto dari kursi kepresidenan, Gus Dur juga sudah mengatakan dengan yakin bahwa sang Presiden akan jatuh. Prof A Mukthie Fadjar, guru besar Hukum Tata Negera dari Universitas Brawijaya Malang pernah bercerita juga bawah ketika bertemu dengan Gus Dur di Kediri pada tahun 1997, ia dititipi pesan oleh Gus Dur untuk disampaikan kepada Malik Fadjar, kakkanya, yang ketika itu menjadi salah seorang direktur jenderal di Departemen Agama.

    “Sampaikan pada Pak Malik Fadjar agar tidak usah dekat-dekat dengan Pak Harto. Sebenar lagi Pak Harto itu akan jatuh,”

    Demikian pesan Gus Dur seperti ditirukan oleh Mukthie Fadjar kepada Mahfud MD ketika sama-sama menguji kandidat doktor di Universitas Padjdjaran Bandung. Dan terbukti penguasa Orde Baru ini jatuh oleh gelombang protes mahasiswa yang membawa angin perubahan lewat reformasi.

    Penulis: Mukafi Niam

  50. Kesaksian Non Muslim Soal Kewalian Gus Dur

    Gus Dur tokoh pluralis yang menjadi pembela kelompok minoritas. Tak heran ia memiliki banyak teman dari kalangan non Muslim yang merasa nyaman dan terlindungi oleh Gus Dur.

    Beberapa teman dekatnya dari non muslim menyaksikan fenomena kewalian yang dimiliki oleh Gus Dur, seperti Marsilam Simanjuntak dan Irwan David Hadinata, sebagaimana dituturkan oleh Mahfud MD dalam bukunya “Setahun bersama Gus Dur: Kenangan menjadi Menteri di saat Sulit”

    Catatan Mahfud MD menyebutkan suatu ketika ia bertanya kepada Marsilam Simanjuntak- seorang yang dikenal dekat dengan Gus Dur, sekalipun ia seorang non Muslim.

    “Sebagai kawan lama Gus Dur, apakah Pak Marsilam mempercayai kegaiban,” tanya Pak Mahfud.

    Jawaban Marsilam cukup mengherankan Pak Mahfud. Marsilam mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak percaya pada hal-hal seperti itu.

    “Tetapi saya memang punya pengalaman aneh dengan Gus Dur,” ungkap Marsilam dengan mimik serius yang kemudian bercerita tentang kejadian pada 1999.

    Pada pertengahan 1999, kelompok Forum Demokrasi (Fordem) mengadakan rapat untuk menggeser Gus Dur dari jabatan ketua. Menurut Marsilam, teman-temannya di Fordem banyak mengeluh karena Gus Dur telah lupa pada Fordem dan lebih banyak mengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Untuk itu, Gus Dur akan diminta mundur dari jabatannya sebagai ketua Fordem. Yang menarik, pada pertemuan itu, sebelum diminta oleh forum, Gus Dur langsung menyatakan akan berhenti karena merasa dirinya memang tidak tepat lagi memimpin Fordem.

    Gus Dur mengaku sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk terus memimpin Fordem. Gus Dur juga mengatakan bahwa ia tidak seterampil serte teliti seperti Marsilam.

    “Lagi pula, kemarin saya didatangi oleh Mbah Hasyim yang memberitahu bahwa bulan Oktober ini saya akan jadi Presiden. Jadi, saya tidak bisa terus di Fordem,” demikian Gus Dur menceritakan adanya berita gaib dari Kiai Hasyim Asy’ari.

    Padahal, pada saat itu, nama Gus Dur belum muncul sebagai calon presiden yang signifikan. Poros Tengah yang kemudian mengusung nama Gus Dur saja ketika itu belum lahir.

    Tidak aneh, kata Marsilam, banyak diantara orang Fordem yang mendengan pidato Gus Dur itu menanggapinya dengan sikap berbeda-beda. Ada yang tertawa karena menganggap Gus Dur melakukan improvisasi atas pengunduran dirinya, ada yang seperti sedih karena menganggap Gus Dur sudah tidak normal, tetapi ada juga yang heran karena ekspresi Gus Dur yang cukup serius ketika mengatakan itu. Dan ternyata, pada Oktober menjadi Presiden sesuai dengan pesan gaib yang –kata Gus Dur sendiri- diterima dari Kiai Hasyim Asy’ari.

    Irwan David Hadinata, seorang mantan tentara dan alumus ITB yang kini bergerak dalam dunia bisnis, pernah menyampaikan cerita yang sama dengan cerita Marsilam kepada Mahfud MD. Menjelang Pemilu tahun 1999, kira-kira delapan bulan sebelum menjadi Presiden, Gus Dur memberitahu kepada Irwan bahwa dia akan menjadi Presiden. Dua bulan sebelum terpilih menjadi Presiden, Gus Dur kembali memberitahu bahwa pada bulan Oktober dia akan menjadi Presiden. Semula Irwan tidak terlalu serius menanggapi pemberitahuan itu dan untuk sekedar berbasa-basi saja kalau saat itu dia menjawab

    “Mudah-mudahan Pak Abdurrahman Wahid benar-benar menjadi presiden.” Irwan menjadi sangat kaget ketika pada bulan Oktober 1999 Gus Dur benar-benar menjadi presiden.

    “Di kalangan teman-teman pemuluk agama Katolik, Gus Dur itu disamakan dengan ‘Santo’ yakni orang suci yang dikalangan orang Islam disebut ‘wali’,” kata Irwan.

    Penulis: Mukafi Niam

  51. Mimpi Gus Dur Miliki Gedung Berlantai Sembilan

    Sebuah gedung megah berlantai sembilan kini berdiri megah di jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Inilah salah satu peninggalan Gus Dur ketika menjabat sebagai ketua umum PBNU selama tiga periode.

    Sebelumnya, kantor PBNU hanya berlantai 2 tingkat yang dipakai selama puluhan tahun. Dengan banyaknya badan otonom dan lembaga yang ada di PBNU, kantor tersebut terasa sesak, apalagi dengan kegiatan keorganisasian yang luar biasa.

    Bagaimana awal mulanya ide pendirian gedung PBNU ini? H Sulaiman, asisten Gus Dur menuturkan, cita-cita pendirian gedung berlantai 9 ini muncul setelah terpilihnya Gus Dur dalam muktamar ke-28 NU di Krapyak tahun 1989.

    “Waktu itu, Gus Dur menuturkan kepingin bikin gedung NU yang bisa memfasilitasi berbagai kegiatan. Pokoknya berlantai 9 sesuai dengan simbol NU,“ kata Sulaiman.

    Ia waktu itu merasa pesimis PBNU bisa memiliki gedung megah yang bisa dimanfaatkan untuk menampung kegiatan NU mengingat situasi dan kondisi yang kurang memihak NU. Akan tetapi, ketika disampaikan, Gus Dur hanya menjawab “Ya, kita lihat saja nanti”

    Waktu pun terus berjalan dan perjalanan Gus Dur dalam memimpin NU menghadapi banyak rintangan dan hambatan yang tak mudah. Penguasa Orde Baru tak nyaman dengan langkah-langkah yang dilakukan Gus Dur yang kritis pada kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

    Perubahan sosial politik sebagai akibat reformasi telah menyebabkan NU yang dulu dikuyo-kuyo kini bisa menunjukkan kekuatannya. Salah satunya adalah terpilihnya Gus Dur sebagai presiden RI ke-4.

    Cita-cita yang diucapkannya 10 tahun sebelumnya tak dilupakan. Sebuah gedung berlantai sembilan segera didesain, terdiri dari 8 lantai untuk kantor dan 1 lantai di basement sebagai ruang parkir. Tinggi gedung ini pas dengan aturan batasan bangunan tertinggi di jalan Kramat Raya.

    Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 November 1999/26 Rajab 1420 H. Seluruh pengurus bekerja keras bahu membahu agar bisa mengerjakan gedung ini. Warga NU juga diinstruksikan agar menyisihkan sebagian rizkinya untuk pembangunan gedung ini. Upaya ini tidak sia-sia. Hanya perlu waktu sekitar 2 tahun, gedung ini bisa diselesaikan dan diresmikan pada 6 Juni 2001/Rabiul Awal 1422.

    Kini berbagai kegiatan bisa dilakukan dengan ruangan yang lebih lega dan nyaman. PBNU juga dapat menerima tamu dalam ruangan yang lebih representatif. Lantai tiga dikhususkan untuk ruangan pengurus tanfidziyah, lantai empat ruangan syuriyah sedangkan lantai lainnya untuk kantor lembaga dan badan otonom. Lantai satu untuk musholla yang dalam waktu dekat akan dirubah menjadi masjid sedangkan lantai 8 merupakan aula utama untuk menggelar berbagai acara besar.

    Penulis: Mukafi Niam

  52. Gus Ipul: Keberanian Gus Dur Tanda Kewalian

    Tak ada orang yang tahu seseorang telah menjadi wali atau kekasih Allah keciali wali lainnya. Meskipun demikian H Saifullah Yusuf, wakil gubernur Jawa Timur juga yakin akan kewalian yang ada pada Gus Dur.

    Ia merujuk pada sebuah ayat Qur’an, Ala inna aulia allahi la khoufun alaihim wala hum yahzanuun yang dalam arti bebasnya, para wali merupakan orang yang tidak punya rasa takut kecuali pada Allah.

    “Gus Dur pada batas tertentu diatas rata-rata keberaniannya, ketakutannya terhadap urusannya dunia terbukti tak pernah menghalangi perjuangan dia untuk, katakanlah menolong ummat, membantu masyarakat, maka ia tak punya rasa takut kepada apa pun kecuali Allah,” katanya, Kamis (17/2).

    Mengenai aspek mistis dari Gus Dur, Saifullah Yusuf yang masih keponakan ini mengaku tak pernah melihat sesuatu yang di luar nalar dari Gus Dur.

    “Ndak ada mistis dari Gus Dur, tetapi beliau ahli silaturrahmi, baik pada yang hidup atau pun yang mati. Al ahyak minhum wal amwat. Wong NU kalau ketemunya yang urip (hidup) saja, kurang NU. Diparani kabeh (didatangi semua), ini ciri khas NU,” tuturnya.

    Tentang hubungan pribadinya yang ngak selalu cocok, ia menjelaskan, Gus Dur yang ngajarkan perbedaan. “Gus Dur ngerti ini konsekuensi apa yang selama ini diyakini. Dia membesarkan orang yang suatu ketika berhadapan dengan dirinya, baik dari sisi pemikiran dan politik, itu biasa, baginya. Dan ini dibawa sampai meninggal,” paparnya.

    Ia menambahkan kembali bahwa seorang wali memiliki keunggulan komparatif dibanding manusia biasa, melampaui umumnya manusia, baik dalam akidahnya atau ketaqwaannya.

    “Saya mengaggap Gus Dur diatas rata-rata, karena diberi di atas rata-rata berarti kekasih Allah. Gus Dur ora duwe wedi,” tandasnya. (mkf)

  53. Tamu Wali yang Diistimewakan Gus Dur

    Sebagai tokoh yang dihormati dan dikagumi banyak orang, rumah Gus Dur tak pernah sepi dari kunjungan para tamu, baik dari warga NU, pejabat, politisi, wartawan dan sebagainya.

    Gus Dur menerima tamu-tamunya biasanya dengan pakaian non formal. Karena kondisi fisiknya yang sudah lemah, biasanya para tamu diajak mengobrol sambil tiduran.

    Nuruddin Hidayat, salah satu santri Gus Dur suatu ketika merasa terheran-heran ketika ada tamu, Gus Dur minta untuk digantikan pakaiannya dengan kain sarung dan peci, seperti ketika mau sholat Idul Fitri. Seumur-umur ia belum pernah melihat Gus Dur seperti itu.

    Rombongan tamu tersebut sampai ditahan-tahan agar tidak masuk rumah dahulu, sampai Gus Dur dipinjami salah satu sarung milik santrinya agar bisa cepat berganti pakaian.

    Tamu, yang diketahuinya ternyata dari Aceh tersebut berpakaian sederhana, dekil, dan memakai celana seperti yang biasa dipakai oleh bakul dawet (penjual dawet). Tamu tersebut diantar oleh aktifitis Aceh.

    Perilaku Gus Dur dan tamunya juga aneh. Setelah keduanya bersalaman, Gus Dur pun duduk di karpet, demikian pula tamunya, tetapi tak ada obrolan diantara keduanya. Gus Dur tidur, tamunya juga tidur, suasana menjadi sunyi yang berlangsung sekitar 15 menit.

    Setelah sang tamu bangun, ia langsung pamit pulang, tak ada pembicaraan.

    Udin, panggilan akrab Nuruddin, karena merasa penasaran, segera setelah tamu pergi bertanya kepada Gus Dur.

    Udin: “Gus, ngak biasanya menerima tamu seperti ini”
    Gus Dur: “Itu Wali”
    Udin: “Apa ada wali seperti itu selain beliau di Indonesia”
    Gus Dur: “Tidak ada, adanya di Sudan”

    Orang yang sangat dihormati Gus Dur tersebut ternyata adalah almarhum Tgk Ibrahim Woyla dari Woyla Aceh Barat.

    Tokoh ini merupakan orang yang sangat dihormati di Aceh. Masyarakat Aceh memanggilnya “Tgk Beurahim Wayla” dan percaya bahwa ia sering menunaikan sholat Jum’at di Makkah dan kembali pada hari itu juga.

    Menurut Cerita, masyarakat disana, dia bisa berjalan cepat dan lebih cepat dari mobil. Dia jarang naik bus, tapi lebih senang berjalan kaki. Ia juga dipercaya bisa menghilang

    Ada orang yang menyebutnya sebagai “dewa tidur”, yang menghabiskan hari-harinya dengan tidur. Tgk.Ibrahim Woyla juga bisa mengetahui perilaku seseorang dan sering sekali orang yang menemui beliau dibacakan kesalahannya untuk di perbaiki.

    Sebelum terjadinya tsunami, Abu Ibrahim yang pernah mengatakan ”air laut bakal naik sampai setinggi pohon kelapa, terbukti tsunami. Posisi tidur Abu yang dianggap aneh (melengkung/ meukewien) ucapannya sedih melihat manusia banyak seperti hewan serta mengatakan dunia ini sudah semakin sempit dan masih banyak cerita gaib yang menjadi kan ulama kharismatik ini selalu dicari-cari hanya untuk dimintai berkahnya.

    Tokoh kharismatik ini baru meninggal Juli 2009 lalu dalam usia 90 tahun di kediamannya di Desa Pasi Aceh Kecamatan Woyla Kabupaten Aceh Barat dan dikebumikan tak jauh dari rumahnya. Ribuan pelayat memberinya penghormatan terakhir. (mkf)

  54. Gus Dur Minta Doa Pemulung

    Gus Dur menghormati siapa saja, tak peduli pangkat dan jabatannya, asal orang tersebut dekat dengan Allah, Gus Dur memintakan doa kepada orang tersebut.

    Nuruddin Hidayat, santri Gus Dur di Ciganjur menuturkan pengalamannya yang sangat berkesan ketika ia diminta oleh Gus Dur untuk mencari pemulung yang menyampaikan salam kepadanya.
    /> Udin, panggilan akrabnya, menuturkan, kisah ini bermula ketika ia berada di sebuah warung dekat Mall Cilandak sekitar tarhun 2003. Ketika hendak pergi, di depan warung tersebut, ia bertemu dengan seorang pemulung, seorang bapak-bapak yang sudah berusia tua dengan keranjang di pundaknya sementara kepalanya memakai caping.

    Dengan tiba-tiba, orang tersebut memberi salam “Assalamu’alaikum”
    Saya menjawab “Wa’alaikum salam”
    Ia bertanya lagi “Mas dari pesantren Ciganjur ya?”
    Saya menjawab “ Iya. Dalam hati saya agak heran, kok tahu saya dari Ciganjur tempatnya Gus Dur”.

    Selanjutnya orang itu hanya bilang, “Sampaikan salam saya kepada Gus Dur,” dan “Saya mengiyakan”. Ia kemudian memperkenalkan namanya, sebut saja HMZ. (nama sebenarnya sengaja dirahasiakan karena orang tersebut masih hidup).

    Karena terburu-buru, dan mengingat hanya seorang pengemis saja yang ingin menyampaikan salam kepada Gus Dur sehingga Udik ngak begitu memperhatikan dan langsung pergi.

    Baru seminggu kemudian, pagi-pagi ketika berolahraga, salam tersebut disampaikan.

    Udin “Gus dapat salam dari HMZ”
    Gus Dur “HMZ yang mana?” (karena banyak orang dengan nama HMZ)
    Udin “HMZ yang pemulung”
    Gus Dur “Kon rene, lho kuwi sing tak golei” (Suruh ke sini, orang itu yang saya cari-cari)

    Ia mengaku kebingungan untuk mencari pemulung tersebut karena ketemunya saja di jalan. Ia terus berusaha mencari HMZ, berkeliling dari lapak ke lapak pemulung. Setelah berusaha keras, akhirnya sebulan kemudian, baru ketemu di daerah Ragunan, tepatnya di Kampung Kandang. Esok harinya orang tersebut diajak untuk ketemu dengan Gus Dur.

    Pagi harinya, ketika sudah sampai di Ciganjur, Gus Dur bilang kepada pemulung tersebut agar mendoakan bangsa Indonesia. “Orang tersebut yang membaca doa dan Gus Dur yang mengamini,” terangnya.

    Pertemuan dengan Gus Dur berakhir disitu dan kemudian HMZ diantar pulang, tetapi Udin mengaku terus menjalin komunikasi.

    Saat Idul Qurban, Udin mengaku mengirimkan daging kepada orang tersebut malam-malam. “Entah bagaimana, saya belum datang, ia sudah mempersiapkan diri seolah-olah tahu akan ada tamu yang datang dan meskipun dagingnya belum saya serangkan, ia bahkan sudah bilang terima kasih,” ujarnya. (mkf)

  55. Habib Lutfi: Gus Dur Orang Saleh

    Ketua Umum Jamiyyah Ahlut Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah Habib Lutfi bin Yahya mengaku tidak bisa menyimpulkan apakah Gus Dur wali atau bukan, tetapi ia yakin Gus Dur orang yang sholeh.

    “Yang tahu wali hanya wali dan saya husnudhon billah beliau orang yang sholeh,” katanya seusai memberi tausiyah Maulid Nabi yang diselenggarakan Ansor NU Kamis (17/2) malam lalu.

    Ia menjelaskan, kesalehan atau kewalian seseorang tidak bisa diukur atau dibandingkan layaknya emas berapa karat.

    “Sholeh ya sholeh, kesalehan seseorang tidak bisa kita ukur, apalagi keauliaan. Tinggal prasangka baik kita, apalagi Gus Dur yang sudah berbuat untuk umat ini, untuk bangsa ini,” tandasnya.

    Bagi banyak orang, Habib Lutfi sendiri dianggap sebagai wali, entah benar atau salah, tetapi dalam setiap pengajian yang dihadirinya, massa selalu berusaha memberi hormat kepadanya dengan mencium tangannya.

    Dalam Munas Jatman yang dihadiri oleh Presiden SBY, yang berlangsung Juni, 2008 lalu di Asrama Haji Pondok Gede, para tukang foto mengeluh jualannya tidak laku untuk pose-pose yang berdampingan dengan Presiden sebagaimana biasanya. Para peserta ternyata lebih memilih berfoto bersama Habib Lutfi. Ia lebih dihormati daripada pejabat tertinggi negara. (mkf)

  56. wah udah banyak komennya yah,jazakallah khairan katsiron atas komennya,
    to juman ane hargai keyakinan antum seperti kang ucep, untuk mengidolakan pak gusdur mau ente anggap wali kek, ta ape lah(logat malasyia), mau ente anggap benar semua perkataan pak gusdur,mau anggap alim ulama ilmunya mengalahkan syekh muhammad bin abdul wahab(kok bisa ya?pdahl ud kel statmen pak gusdur membela goyang ngebor ya, membela ahmad dhani ketika menginjak2 nama Allah, yang suka meramal,padahalkan meramal ga boleh dalm agama ya,heee luchaiii) tapi saya hormati kalian,karna hal itu g ad pengaruhnya kepada aqidah saya,klo saya teh tetap mengidolakan rosullullah dan para sahabatnya,heee,saya menyakini skeh muhammad bin abdul wahab bahkan imam yang lain mempunyai kesalahn dan tidak ma’sum.
    to abi raka ente mengahadi ane aja ud was2 n panik apa lagi ngadapin yang lainnya(heee,bukannya sombong,okay),
    to eko, pendatng baru di koment ini yang mengajarkan saya dan memerintahkan saya untuk meminta kepada kuburan adalah guru ngaji saya dulu orang2 mengaku habib2 / juru kuncenya yang menyuruh saya untuk meminta kebada quburan,berarti meraka musyrik juga ya, seperti apa yang antum katakan,okay.tapi sekarang mah uda tobat.
    to lasykar ini perkataan ente “Kan sudah kami jawab kan mas abi dzar…. sudah dilihat belum perkataan imam NAWAWI dalam faidlul qodir?” mungkin ente harus banyak belajar lagi yang benar jangan belajr sama link,okay,duduk di majeelis ilmu,bawa buku di catet, jangan bawa badan doank okay, mungkin antum mau membawakan perkataan kritikan kepada ibnu taimiyah kali ya,tapi faidlul qodir penulisnya bukan imam nawawi, ane jelasin, karna imam nawawi tidak sezaman dengan syekhul islam ibnu taimiyah imam nawawi ulama abad ke 6 H yang bermadzhab syafe’i, sedangkan syekhul islam ibnu taimiyah ulama abad ke 7 H,okay.yang mengarang kitab tersebut adalah Muhammad bin Abdir-Rauf Al-Munawi bukan nawawi,okay, so laskyar belajar yang bener dlu lain waktu kita ngobrol lagi nti ane jelaskan apa yang ente tanyakan,apa mau di rumah ane????atau di maktabah.okay.
    untuk semua jazakallah khairan atas infonya semua ini membuat informasi tambahan kepada saya tentang keadaan umat islam saat ini, untuk pihak2 yang tersinggung sy mohon maaf, afwan.okay

    1. Ok abu dzar, tautan2 dari saya itu sekedar sedikit fakta tentang Gus Dur, tapi kalau antum masih mau terus2an membenci Gus Dur silahkan aja, itu hak pribadi antum bukan tanggung jawab saya, ya kan Abu Dazar?

      1. @abu dzar

        loh pertanyaan saya ko masih belum di jawab…?
        susah ya…? heheehehehe
        jujur aja kali ustadz, khan katanya antum ngaji fiqih, ngaji aqidah dan lain2
        tadinya saya ada pertanyaan lagi, berhubung satu aja ga di jawab ga jadi deh takut ga nyambung lagi hihihii

    2. Lho, kan memang benar seperti itu ya? Kalau Wali itu kudu mesti punya kelebihan-kelebihan yg istimewa yg tak dipunyai oleh orang kebanyakan. Kalau melihat fakta Gus Dur seperti itu boleh jadi benar bahwa Gus Dur itu seorang Wali kekasih Allah, lihat aja dzikirnya segitu banyak, 10.000 …. apa kuat kuat orang2 kebanyakan melakukan dzikir seperti itu? Dzikir yg banyak adalah salah satu sebab dicintai Allah Swt, seperti perintah Allah agar kita berdzikir sebanyak-banyaknya, dan 10.000 itu adalah dzikir yg sangat banyak. jadi masuk akal jika Gus Dur adalah sosok orang sholih yg dicintai Allah, Wallohu a’lam.

  57. @ abi dzar mungkin ente harus banyak belajar lagi yang benar jangan belajr sama link,okay,duduk di majeelis ilmu,bawa buku di catet, jangan bawa badan doank okay,

    —— maaf mas saya tidak belajar dari link, tapi belajar dari kiai dan nyantri, dan maaf kami akan menahan diri kata provokasi anda.

    mungkin antum mau membawakan perkataan kritikan kepada ibnu taimiyah kali ya,tapi faidlul qodir penulisnya bukan imam nawawi,

    —— makanya mas… di baca dulu yang bener dan teliti, Maaf mas yang dalam faidlul qodir tidak ada kata mengkritik imam ibnu taimiyyah, tapi yang ada ini
    فيض القدير – (ج 6 / ص 398)
    9782 – (لا تسبوا الأموات) أي المسلمين كما دل عليه بلام العهد فالكفار سبهم قربة (فإنهم قد أفضوا) بفتح الهمزة والضاد وصلوا (إلى ما قدموا) عملوا من خير وشر والله هو المجازي إن شاء عفا وإن شاء عذب فلا فائدة في سبهم فيحرم كما قال النووي : سب الأموات بغير حق ومصلحة شرعية كسب أهل البدع والفسقة للتحذير من الاقتداء بهم وكجرح الرواة لابتناء أحكام الشرع على بيان حالاتهم وقد أجمعوا على جواز جرح المجروح من الرواة حيا وميتا (حم خ) في الجنائز (عن عائشة)

    ane jelasin, karna imam nawawi tidak sezaman dengan syekhul islam ibnu taimiyah imam nawawi ulama abad ke 6 H yang bermadzhab syafe’i, sedangkan syekhul islam ibnu taimiyah ulama abad ke 7 H,okay.

    —— siapa mas yang mengatakan imam nawawi sezaman dengan imam ibnu taimiyah, dibaca dulu saja, yang pelan pelan, kalau masalah tahun dan kelahiran ini di bawah komplit:
    مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى – (ج 1 / ص 33)
    (وَالْمُرَادُ بِالشَّيْخِ) أَيْ: مُرَادِي (حَيْثُ أُطْلِقُ: شَيْخُ الْإِسْلَامِ وَبَحْرُ الْعُلُومِ) الْعَقْلِيَّةِ وَالنَّقْلِيَّةِ: (أَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ تَقِيُّ الدِّينِ) بْنُ (عَبْدِ الْحَلِيمِ بْنُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ مَجْدِ الدِّينِ أَبِي الْبَرَكَاتِ عَبْدِ السَّلَامِ بْنِ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي الْقَاسِم الْخَضْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ بْنِ الْخَضْرِ بْنِ عَلِيٍّ ابْنِ تَيْمِيَّةَ) الْحَرَّانِيِّ .
    وُلِدَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ عَاشِرَ وَقِيلَ ثَانِي عَشَرَ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ سَنَةَ إحْدَى وَسِتِّينَ وَسِتِّمِائَةٍ, وَتُوُفِّيَ لَيْلَةَ الِاثْنَيْنِ عَشْرَيْ ذِي الْقَعْدَةِ سَنَةَ ثَمَانٍ وَعِشْرِينَ وَسَبْعِمِائَةٍ
    المجموع – (ج 1 / ص 1)
    المجموع شرح المهذب للامام ابي زكريا محي الدين بن شرف النووي المتوفى سنة 676 ه و..الجزء الاول دار الفكر
    الوافي بالوفيات – (ج 5 / ص 199)
    شرف
    والد الشيخ محيي الدين النووي
    شرف بن مرى؛ هو الحاج شرف والد الشيخ محيي الدين النووي رحمهما الله تعالى، توف بنوى سنة خمس وثمانين وستمائة.

    yang mengarang kitab tersebut adalah Muhammad bin Abdir-Rauf Al-Munawi bukan nawawi,okay, so laskyar belajar yang bener dlu lain waktu kita ngobrol lagi nti ane jelaskan apa yang ente tanyakan,apa mau di rumah ane????atau di maktabah.okay.

    ———– saya tahu mas, terus gimana? Imam munawi tidak boleh mengambil perkataan imam nawawi? Apa bedanya dengan anda yang mengambil perkataan ulama anda? Yang penting dijawab dulu tidak usah janji, dan kalau mas mau berkunjung kerumah saya silahkan, tidak jauh kok Cuma ada dua, di Kediri dan Nganjuk. Trims
    Wallohu a’lam

  58. Lasykar…
    yang bener aja dong…masa’ Imam Nawawi ulama abad 6H? baca tarikh lagi deh..jangan malu-maluin kaum asyoo’irah dong.
    Imam Nawawi itu lahir pd thn 631H dan wafat 676H. Sedangkan Imam Ibnu Taimiyah lahir thn 661H dan wafat thn 728H

    1. Ibnu abdul chair…. Abu dzar….

      Saya cuma mau tanya kpd antum berdua, mungkin kalian berdua sangat pinter dan mau berbagi ilmu dengan kami-kami Aswaja:

      1. Kenapa Nabi menetapkan Miqat haji penduduk NAJD Hijaaz di QARN?

      2. Kenapa Nabi mnyebutnya daerah miqat itu dengan QARN?

      3. Adakah kaitannya dengan hadits shohih yg menjelaskan bahwa NAJD tempat munculnya QARN (tanduk) setan?

      4. Adakah hal itu suatu kebetulan? Atau ucapan Nabi itu memang ada isyarat tertentu tentang tempat munculnya Fitnah QARN (tanduk) setan di sana?

      Tolong bagi2 ilmunya tentang pertanyaan saya di atas ya? Syukron ktsiiir….

    2. ibn abdul chair@

      Imam Nawawi itu lahir pd thn 631H dan wafat 676H, itu artinya ABAD ke 6, jadi mas Lasykar itu sudah benar. Antum menyebut TAHUN sedangkan mas Lasykar menyebut ABAD. Gemana sih antum kok sesneng sekali menyalahkan orang?

      Oh ya ibn Abdul chair dan Abu dzar, tolong dijawab itu pertanyaan gampang dari mas Yanto Brewok, eh Jenggot, (maaf ya mas Yanto?)

  59. Dan Mas abi dzar pernah dengar hadist ini?
    المعجم الكبير للطبراني – (ج 7 / ص 164)
    قال رسول الله صلى الله عليه وسلم-“ذَرُوا الْمِرَاءَ، فَإِنَّ بني إِسْرَائِيلَ افْتَرَقُوا عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَالنَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهُمْ عَلَى الضَّلالَةِ إِلا السَّوَادَ الأَعْظَمَ”، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنِ السَّوَادُ الأَعْظَمُ؟ قَالَ:”مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ، وَأَصْحَابِي مَنْ لَمْ يُمَارِ فِي دِينِ اللَّهِ، وَمَنْ لَمْ يُكَفِّرْ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ بِذَنْبٍ غُفِرَ لَهُ”.
    Yang saya tanyakan maksud “dzaruu al mirroo-a” menurut mas abi dzar apa? Dan “wa man lam yukaffir ahadan min ahlittaudid” maksudnya juga apa?
    Trims wallohu a’lam

  60. mas ibnu baca koment diatas anda yang ada di majmu, maka akan jelas. dan jawab juga pertanyaan saya pada mas abi dzar.

    dan lihat koment anda:
    Ibn abd khoir:
    Lasykar…
    yang bener aja dong…masa’ Imam Nawawi ulama abad 6H? baca tarikh lagi deh..jangan malu-maluin kaum asyoo’irah dong.

    ——- Loh ini kan malah membuat bingung, sudah bener kok dibilang “bener aja dong”
    Di baca aja yang teliti sebelum koment mas….
    wallohu a’lam

  61. HALLO…. ABI DZAR, UMMU ABDILLAH, AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH PALSU DKKNYA, TOLONG DONG JAWAB PERTANYAAN SAYA INI, SAYA SUDAH PERNAH BERTANYA KEPADA WAHABI, TAPI TIDAK PERNAH DI JAWAB

    Sebenarnya saya tidak suka membahas masalah ayat ayat mutasyabihat. kalian kan menolak takwil, tolong y pertanyaan saya ini di jawab, kalau perlu, minta bantuan dengan al imam al mujtahid firanda andirja. pertanyaan saya adalah

    1. DIMANA ALLAH SEBELUM MENCIPTAKAN TEMPAT?

    2. TEMPAT YG SAUDARA MAKSUD DENGAN TEMPAT BERSEMAYAMNYA ALLAH ITU MAKHLUK APA BUKAN? QODIM AZALI ATAU TIDAK?

    2. APA MAKNA HADIST BERIKUT INI, INGAT YA, KALIAN KAN MELARANG TAKWIL ;
    ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim).

    DEMIKIANLAH PERTANYAAN SAYA, MOHON KIRAYA KALIAN MAU MENJAWABNYA. TRM KSH.

  62. ihhh atut,heee semakin banyak yang koment nh, sampai pa lasykar mengeluarkan identitasnya,siap pa ustad,heee, tol pa ustad anda baca di komentnya juman klo anda bener2 ustad n nyantri ap di benarkan sikap berlebihan kepada seseorang, apa di benarkan dalm islam tentang ramalan??
    to ibnu abdl khoir, hati2 jangan mengkritik yang mereka anggap ulama bahkan wali lho, nti rmh ente di datangi pemuda anshor lho,hee (nabi dikritk pemuda ansor ga ad taringnya, kaum muslimin dibantai di ambon dan di poso pemuda anshor ga ada giginya, kaum muslimin di bantai di palestina oleh zionis pemimpin kita zaman dlu bukannya datang ke palestina eh malah datang ke israel, sakit2 hati ini)heee.

    1. @abu dzar
      Ane ba’da ashar tadi musawarah sama 2 orang teman mualaf dari Prancis (dari cianjur mau rencana ke Pandeglang Banten), Insya Allah mau mampir ke Masjid luar batang, bagusnya lewat jalan masuk sebelah mana ya ?
      Kalau yang menuju lsg makam kan agak becek ya, apa jalan yang satu lagi lewat belakang yang samping tembok tinggi itu ya !! (udah lama gak kesana jadi gak begitu hafal jalannya).
      Ini kalau ada waktu ya (kira2 tgl 19), sekaligus mau jaulah ke tempat ente boleh ???

      1. betul tuh kata kang @abi raka, ga kan berani mereka berhadapan sama anak2 aswaja. dah ketauan modalnya…hehe! salam untuk ke dua karkun yang dari Prancis, kang ucep.

    2. @Abu dzar

      kalau ajarannnya dari pemahaman setan najd, pantas kalau kerjaannya memelintir perkataan orang lain. “Meramal” dalam cerita di atas mestinya jangan diartika leterleg dong, kan Gus Dur tidak bermaksud meramal, yg mengatakan meramal itu kan yg menyampaikan cerita tentang Gus Dur. Baca dong biar ngerti, di situ Gus Dur samasekali bukan meramal, tetap meramal itu kalimat yg disampaikan oleh penulis untuk menggambarkan kemampuan Gus Dur, itulah karomah, sebab Gus Dur di situ bukan sedang pamer.

      Oh ya, saya juga ingatkan kepada antum berdua, ibn abdul chair dan abu dzar… jawab tuh pertanyaan mudah dari mang Yanto Jenggot. Saya tunggu jawaban kalian berdua, ingin tahu kejujuran anda berdua, oke?

      1. Yang jelas bagi salafi (wahabi),klo tidak ada dalam Qur’an & Hadits adalah bid’ah,itu doktrin..
        Biar dikata bgimana,ndalil kaya apa,asal di Qur’an & Hadits gak ada (tertulis definisinya secara jelas),bid’ah,titik.
        Mereka hanya ‘manut’ pemahan Qur’an & Hadits versi ulama2 mereka,ulam najd tentunya.Selain dari ulama2 mereka,pasti dibilang ahlul bid’ah,ahli neraka.
        Kudu hati2 klo dapat ‘ilmu’ dari ulama najd,Rosululloh SAW sendiri yg kasih warning,akan datanglnya fitnah besar bagi umat Islam,munculnya tanduk setan…

  63. Lasykar…. kebiasaannya yg suka men-tahrif jangan dibawa-bawa dong. kalimat ‘yang bener aja dong’ di-tahrif jadi ‘bener aja dong’.
    Di-tahrif spy hilang makna sesungguhnya dan jadi cocok dengan pepahaman ente ya…
    he…he…
    (aduh….entar di-tahrif lagi nih…)

    1. Ibnu abdul chair…. Abu dzar….
      saya cuma tanya pd antum berdua, mungkin kalian berdua sangat pinter dan mau berbagi ilmu dengan kami-kami Aswaja:

      1. Knapa Nabi menetapkan Miqat haji penduduk NAJD Hijaaz di QARN?

      2. Knapa Nabi mnyebutnya daerah miqat itu dgn QARN?

      3. Adakah kaitannya dgn hadits yg mnjlaskan bhwa NAJD tempat munculnya
      QARN (tanduk) setan?

      4. Adakah hal itu suatu kebetulan? Atau ucapan Nabi itu memang ada isyarat tertentu tentang tempat munculnya Fitnah QARN (tanduk) setan di sana?

      Tolong bagi2 ilmunya tentang pertanyaan saya di atas ya?

  64. @abi dzar
    Silahkan uraikan ghuluw versi anda dan ramalan versi anda, tapi tolong di cantumkan marooji’ yang ada, siapa tahu kami punya. Trims

    @ibn abd khoir
    Silahkan anda jawab pertanyaan saya, dan insya alloh kami tidak akan mentahrif sedikitpun, anda tahu dikalangan pesantren apabila waktu membaca lafadz yang kemungkinan keliru guru kami waktu membenarkan senantiasa berucap لعل الصواب
    Karena menghormati mushonnif, kitab dan disertai jalur sanad yang jelas. Trims

    @mas ucep,
    Semoga perjalanan anda senantiasa mendapat perlindungan. Dari Alloh swt.
    Wallohu a’lam

  65. Putri Kharisma ini sekolahnya dimana ya?
    Kl yg lahir thn 600-an H dibilang abad ke 6H, tahu nggak konsekwensinya apa?
    Berarti yg lahir thn 500-an H dibilang abad ke 5H, thn 400-an H dibilang abad ke 4H, tahun ke 300-an H dibilang abad ke 3H, thn 200-an H dibilang abad ke 2H, thn 100-an H dibilang abad ke 1H…terus yg lahir dari thn ke 1 H s/d 99 H dibilang abad ke…?

    Bukannya persoalkan yg kecil-kecil…tapi yg kecil aja udah salah apalagi bicara yg besar spt aqidah, tauhid dll. cuuaapeeeeek deeeeh

  66. Wallahu ‘a’lam, kami tidak pernah diajarkan menanyakan kenapa pd sesuatu yg telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-NYA. Kami hanya diajarkan utk Sami’na wa atho’na. Jika dikemudian hari stlh kami melaksanakan perintah dan larangan-NYA, kami mendapatkan hikmah, tentunya kami bersyukur. Namun tentunya kita semua tahu bahwa hikmah pd setiap org akan berbeda-beda.

    1. Nah, tanyakan dong pada syaikh2 antum, biar antum tambah pinter dan segera menyadari bagaimana nanti syaikh2 antum akan glagapan sebagaimana kalau ditanya tentang Pembagian Tauhid, mereka glagapan lalu mengada-adakan alasan. sehingga menyamakan masalah pembagian tauhid sama dengan pembagian isim fi’il dan huruf. Jadi, kalian menyamakan masalah akidah dg maslah TATA BAHASA. Tolol banget itu syaikh antum, nggak ngerti daar-dasar ilmu sehingga ngaco aja omongannya.

      Maaf teman2 Aswaja semuanya, saya marah karena melihat kesombongannya, setan harus dilawan biar terkencing-kencing. Klau kita pakai ahlak di hadapan mereka pasti hanya diketawain aja, lha kan setan memang begitu?

  67. Putri kharisma itu sekolahnya dimana ya? Masa’ nggak bisa ngitung begitu…
    Bukannya sy persoalkan hal yg kecil-kecil, tp masalah yg kecil aja udah salah, apalagi mau bicara masalah yg besar spt tauhid, aqidah dll

    1. ibn abdul chair@

      Wahh… anak dul chair ini akibat sombong masih nggak sadar juga atas ketololan sendiri. Mas Lasykar menyebut 6 Hijriyah, itu sudah benar kok antum salahin?

      Mas, Imam Nawawi lahir tahun 631 H dan wafat 676 H, itu sama dengan ABAD 6 Hijriyah, hitungan 600 s/d 700 itu sama dengan 6 ABAD, paham? Tolol banget sih nte? sudah tolol, sombong lagi, dasar penganut ajaran setan Najd!

  68. BUKTI SEJARAH YANG JANGAN DILUPAKAN JUGA NIH…..
    Awal Mei 2008, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika serikat memenuhi undangan Simon Wiesenthal Center (SWC), sebuah LSM Zionis garda terdepan di AS. SWC akan menganugerahkan Medal of Valor, Medali Keberanian, buat Durahman yang dianggap sangat berani membela kepentingan Zionis di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar dunia bernama Indonesia.
    Dalam konferensi pers di Gedung PBNU Jakarta, sebelum keberangkatannya, Durahman menyatakan bahwa kepergiannya ke AS selain untuk menerima penghargaan tersebut juga akan merayakan seklaigus mengucapkan selamat atas kemerdekaan negara Israel ke-60. Durahman bukannya tidak tahu jika kemerdekaan Israel merupakan awal dimulainya teror, pembunuhan, pemerkosaan, pengusiran yang dilakukan teroris Zionis Yahudi terhadap ratusan ribu hingga jutaan warga Palestina yang sampai detik ini masih jutaan jumlahnya yang menjadi pengungsi di negeri-negeri sekitar tanah airnya. Tapi Durahman telah memilih posisi sebagai sekutu Zionis-Israel, bukan Palestina.
    Acara penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam istimewa yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor pro-Zionis Will Smith (The Bad Boys Movie), di Beverly Wilshire Hotel, 9500 Wilshire Blvd., Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los Angeles.
    Sebagai tuan rumah adalah Rabbi Mervin Hier (Pendiri SWC dan Rabbi paling berpengaruh di AS 2007-2008), yang dengan tangannya sendiri mengalungkan medali tersebut ke leher Durahman. Durahman sendiri, sambil terus duduk di kursi rodanya, tersenyum dan mencium dengan penuh takzim medali tersebut. Inilah seorang manusia yang bernama Abdurrahman Wahid, tokoh sentral dalam AKKBB.
    Sudah sedemikian jelas sekarang, siapa yang memperjuangkan Islam dan siapa yang memilih bersekutu dengan musuh-musuh Allah SWT. Masihkan Anda ragu mengambil posisi dalam perjuangan ini?

    1. Artinya, Gus itu bukan hanya tokoh dalam negeri, bahkan orang lur negeri pun menjadikannya sebagai tokoh yg perlu diapresiasi. nah, Israel memberinya penghargaan atas keberanian Gus Dur, saya kira itu benar dan tepat karena Gus Dur memang sosok manusia sholih yg tak punya rasa takut kecuali kpd Allah swt. Semua kalangan orang seluruh dunia kan mengakui akan hal itu, kecuali orang2 yg iri dengki kepadanya.

  69. @ibn abd khoir
    Anda ini aneh, waktu temen-temen aswaja berhujjah dengan landasan hadist dloif, walaupun berpegang pada ulama yang memperbolehkan lifadloilil a’mal teman-teman anda menolak dengan berbagai alasan. Ingat mas hadist dloif pun adalah sabda nabi.
    Tapi giliran anda menyerang dan mempengaruhi masyarakat awam menggunakan kalam khobar, kalam berita, padahal kalam khobar itu dzatiahnya muhtamilun bainasshidqi wal kidzbi (mungkin benar mungkin salah), belum lagi ada unsur ghibah, khianat, idza’ lihaqqil ghoir dan sebagainya.

    Lebih baik mas, kita diskusi yang akrab, silahkan dikeluarkan dalilnya, biar enak dan terarah.
    Wallohu a’lam

  70. Katanya Aqidah masalah besar dan pokok. Masa sih Aqidah bisa berubah-ubah. Bisa Tiga (Rububiyah, Uluhiyah, Asma washifat), Bisa berkurang jadi Aqidah Dua. Atau kalau tidak adiperlukan lagi Bisa Ga Dipake. Aqidah Culun …

  71. Galuh… udah kelas belapa cekalang? masih PAUD ya?
    Thn 600an H kata galuh abad ke 6H
    Thn 500an H kata galuh abad ke 5H
    Thn 400an H kata galuh abad ke 4H
    Thn 300an H kata galuh abad ke 3H
    Thn 200an H kata galuh abad ke 2H
    Thn 100an H kata galuh abad ke 1H
    Kalau thn 1H s/d 99 H galuh bilang abad ke berapa? khan udah diajarin ama bu guru..

    1. ha ha ha… iyya, antum benar, saya acungi jempol buat antum karena kali ini antum benar 100%, saya akui dg lapang dada. Tetapi kesalah dalam hal ini sudah pasti tidak akan menjadikan seseorang tersesat dalam akidah, benarkah demikian ibnu abdul chair?

      Yang berbahaya itu kalau salah dalam berakidah, bisa menjadi sebab masuk neraka, setuju nggak mas?

    2. Bismillah,

      Saudaraku @Ibn abdul chair & Abu dzar, anda berdua pernah belajar Falak nggak?…

      Disana disebut dua versi penghitungan tahun, ada yang memulai dengan angka 0 (Nol), ada yang menghitung dengan memulai angka 1 (satu). masing-masing memiliki argument yang sama kuat.

      Maaf, terpaksa ikut campur…. Karena kami semakin muak dengan kesombongan…

      1. Benar ustad
        Tadinya sih ane lepas dulu di koment, agar seru dulu.
        Dalam ilmu Matematika, ada yang namanya penghitungan dimulai dari angka Nol dan penghitungan dimulai dari angka 1. Penghitungan dimulai angka Nol masih digunakan di negara2 Slavia (Rusia) dan penghitungan dimulai angka 1 di Amerika, jadi dua2nya masih digunakan.
        Di Negara Eropa timur kalau Tahun 600-700, maka disebut abad 6, sedangkan Diamerika disebut abad 7 dan ada lagi pembulatan pada angka 5 (ini kaidah jalan tengah), jika 649 maka ikut di angka 6 dan 651 diambil 7.
        Contohnya pada angka pembulatan dibelakang koma, kalau dibawah angka 5 maka dibulatkan kebawah dan jika lebih maka dibulatkan keatas. Seperti juga kalkulator.
        @abu dzar dan @ibn abdul chair, pernah sekolah gak sih, masa yang begini gak tau.

  72. Bima, itulah aqidah kami… Memang ada ulama ahlussunnah yg membagi tauhid menjadi 2 dan ada ulama ahlussunah yg lain membagi menjadi 3. Semua pendapatnya shohih. Dan ini berbeda dengan aqidah kaum asyaa’iroh. Yang membedakannya adalah mashdar talaqqi-nya, kami mengambil dari Al Qur’an dan Sunnah sedangkan kaum asyaa’iroh berdasarkan akal.
    Apa mau sy nukil pendapat kaum asyaa’iroh yg mendewakan akal dan menomor duakan wahyu?

    1. @ibn abdul chair
      Salaf dan Ahlus Sunnah mana yang membagi Tauhid ??
      Ente pernah bilang kalau setelah mengetahui Tauhid Uluhiyah, Rubibiyah dan Asma wa shifat lantas dilupakan, Maksudnya ini apa ? (pertanyaan ini kan yang belum ente jawab ?)

    2. @KEDUSTAAN IBN ABDUL CHAIR

      Pernyataan Ulama Tentang Kebenaran Akidah Asy’ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

      Al-Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah mengutip perkataan al-Imâm al-Ma’ayirqi; seorang ulama terkemuka dalam madzhab Maliki,
      menuliskan sebagai berikut: “Sesungguhnya al-Imâm Abu al-Hasan bukan satu-satunya orang yang pertama kali berbicara membela Ahlussunnah. Beliau hanya mengikuti dan memperkuat jejak orang-orang terkemuka sebelumnya dalam pembelaan terhadap madzhab yang sangat mashur ini. Dan karena beliau ini maka madzhab Ahlussunnah menjadi bertambah kuat dan jelas. Sama sekali beliau tidak membuat pernyataanpernyataan yang baru, atau membuat madzhab baru.

      Masih dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subki juga menuliskan sebagai berikut :
      Dan saya tahu persis bahwa orang-orang pengikut madzhab Maliki semuanya adalah kaum Asy’ariyyah, tidak terkecuali seorangpun dari mereka. Demikian pula dengan para pengikut madzhab asy-Syafi’i, kebanyakan mereka adalah kaum Asy’ariyyah, kecuali beberapa orang saja yang ikut kepada madzhab Musyabbihah atau madzhab Mu’tazilah yang telah disesatkan oleh Allah. Demikian pula dengan kaum Hanafiyyah, kebanyakan mereka adalah orang-orang Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali beberapa saja yang mengikuti madzhab Mu’tazilah. Lalu, dengan kaum Hanabilah (para pengikut madzhab Hanbali), orang-orang terdahulu dan yang terkemuka di dalam madzhab ini adalah juga kaum Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali orang-orang yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah. Dan yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah dari orang-orang madzhab Hanbali ini lebih banyak dibanding dari para pengikut madzhab lainnya”.

      Al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam dalam “mulhah al i’tiqad” karya beliau mengatakan bahwa sesungguhnya akidah Asy’ariyyah telah disepakati (Ijmâ’) kebenarannya oleh para ulama dari kalangan madzhab asy-Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi, dan orang-orang terkemuka dari kalangan madzhab Hanbali.

    3. @KEDUSTAAN IBN ABDUL CHAIR

      Pernyataan Ulama Tentang Kebenaran Akidah Asy’ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

      Al-‘Ârif Billâh al-Imâm as-Sayyid Abdullah ibn Alawi al-Haddad (w 1132 H), Shâhib ar-Râtib, dalam karyanya berjudul Risâlah al-Mu’âwanah menuliskan sebagai berikut: “Hendaklah engkau memperbaiki akidahmu dengan keyakinan yang benar dan meluruskannya di atas jalan kelompok yang selamat (al-Firqah an-Nâjiyah). Kelompok yang selamat ini di antara kelompok-kelompok dalam Islam adalah dikenal dengan sebutan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah kelompok yang memegang teguh ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Dan engkau apa bila berfikir dengan pemahaman yang lurus dan dengan hati yang bersih dalam melihat teks-teks al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah yang menjelaskan dasar-dasar keimanan, serta melihat kepada keyakinan dan perjalanan hidup para ulama Salaf saleh dari para sahabat Rasulullah dan para Tabi’in, maka engkau akan mengetahui dan meyakini bahwa kebenaran akidah adalah bersama kelompok yang dinamakan dengan al-Asy’ariyyah, golongan yang namanya dinisbatkan kepada asy-Syaikh Abu al-Hasan al-Asy’ari -Semoga rahmat Allah selalu tercurah baginya-. Beliau adalah orang yang telah menyusun dasar-dasar akidah Ahl al-Haq dan telah memformulasikan dalil-dalil akidah tersebut. Itulah akidah yang disepakati kebenarannya oleh para sahabat Rasulullah dan orang-orang sesudah mereka dari kaum tabi’in terkemuka. Itulah akidah Ahl al-Haq setiap genarasi di setiap zaman dan di setiap tempat. Itulah pula akidah yang telah diyakini kebenarannya oleh para ahli tasawwuf sebagaimana telah dinyatakan oleh Abu al Qasim al-Qusyairi dalam pembukaan Risâlah-nya (ar-Risâlah al-Qusyairiyyah). Itulah pula akidah yang telah kami yakini kebenarannya, serta merupakan akidah seluruh keluarga Rasulullah yang dikenal dengan as-Sâdah al-Husainiyyîn, yang dikenal pula dengan keluarga Abi Alawi (Al Abî ‘Alawi). Itulah pula akidah yang telah diyakini oleh kakek-kakek kami terdahulu dari semenjak zaman Rasulullah hingga hari ini. Dan ketahuilah bahwa akidah al-Maturidiyyah adalah akidah yang sama dengan akidah al-Asy’ariyyah dalam segala hal yang telah kita sebutkan”.

    4. @KEDUSTAAN IBN ABDUL CHAIR

      Pernyataan Ulama Tentang Kebenaran Akidah Asy’ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

      Al-Imâm al-Hâfizh Muhammad Murtadla az-Zabidi (w 1205 H) dalam pasal ke dua pada Kitab Qawâ-id al-‘Aqâ-id dalam kitab Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, menuliskan sebagai berikut: “Jika disebut nama Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah kaum Asy’ariyyah dan kaum Maturidiyyah”.

      Asy-Syaikh Ibn Abidin al-Hanafi (w 1252 H) dalam kitab Hâsyiyah Radd al- Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, menuliskan: “Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah kaum Asy’ariyyah dan Maturidiyyah”.

    5. JADI, BILA ADA ORANG ATAU KELOMPOK YG MENGATAKAN BAHWA ASY’ARIYYAH ADALAH KAUM YG SESAT. MAKA KATAKAN KEPADA MEREKA, KALIANLAH YG BERADA DALAM KESESATAN, SESUNGGUHNYA MAZHAB ASY’ARIYYAH ADALAH MAZHAB YG LURUS DAN DI YAKINI KEBENARANNYA OLEH ORANG ORANG TERDAHULU, BAIK DARI AHLUL BAIT MAUPUN DARI KALANGAN MAZHAB YANG EMPAT.

    6. @KEBODOHAN IBN ABDUL CHAIR : “……sedangkan kaum asyaa’iroh berdasarkan akal……Apa mau sy nukil pendapat kaum asyaa’iroh yg mendewakan akal dan menomor duakan wahyu?”.

      JAWAB

      al-Hâfizh Ibn Asakir dalam kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî mengutip pernyataan al-Imâm Abu al-Abbas al-Hanafi; yang dikenal dengan sebutan Qadli al-Askari, menuliskan sebagai berikut:
      “Saya menemukan kitab-kitab hasil karya Abu al-Hasan al-Asy’ari sangat banyak sekali dalam disiplin ilmu ini (Ilmu Usuluddin), hampir mencapai dua ratus karya, yang terbesar adalah karya yang mencakup ringkasan dari seluruh apa yang beliau telah tuliskan. Di antara karya-karya tersebut banyak yang beliau tulis untuk meluruskan kesalahan madzhab Mu’tazilah. Memang pada awalnya beliau sendiri mengikuti faham Mu’tazilah, namun kemudian Allah memberikan pentunjuk kepada beliau tentang kesesatan-kesesatan mereka. Demikian pula beliau telah menulis beberapa karya untuk membatalkan tulisan beliau sendiri yang telah beliau tulis dalam menguatkan madzhab Mu’tazilah terhadulu. Di atas jejak Abu al-Hasan ini kemudian banyak para pengikut madzhab asy-Syafi’i yang menapakkan kakinya. Hal ini terbukti dengan banyaknya para ulama pengikut madzhab asy-Syafi’i yang kemudian menulis banyak karya teologi di atas jalan
      rumusan Abu al-Hasan.

      Dalam sejarah pemikiran Islam, Mu’tazilah merupakan aliran yang dikenal paling tangguh dan hebat dalam arena dialog dan perdebatan. Mu’tazilah juga dikenal sebagai aliran yang mendahulukan akal daripada nash (teks) al-Qur’an dan Sunnah. Di tangan Mu’tazilah, teks-teks al-Qur’an dan hadits menjadi berkurang nilai sakralitasnya karena harus dikoreksi terlebih dahulu dengan perisai rasio dan nalar.

      sejarah telah mencatat bahwa para ulama yang berhasil membabat habis kelompok Mu’tazilah sampai punah pada akhir abad keenam Hijriah adalah para ulama pengikut madzhab al-Asy’ari. ilmu filsafat yang dianggap sebagai sumber pemikiran liberal dalam Islam, menjadi terkapar untuk selama-lamanya dari ranah intelektual kaum Muslimin setelah dibabat habis oleh Hujjatul Islam al-Ghazali dengan kitabnya Tahafut al-Falasifah.

    7. @IBN ABDUL CHAIR

      Dalil itu ada dua, dalil Naqly dan dalil aqly. Dalil Naqly adalah dalil yg bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan dalil Aqly adalah dalil yg bersumber dari pemikiran akal yg sehat. Hukum ‘Aqly ada tiga, yaitu: wajib, mustahil, dan jaiz.

      contoh penggunaan dalil Naqly dan Aqly adalah قِدَمٌ Qidam (Terdahulu). Mustahil huduts (baru) atau didahului oleh ketiadaan. Dia Yang Awal dan Yang Akhir. [Al Hadid (57) : 3]

      Tuhan haruslah yang terdahulu. Tuhan tidak didahului oleh ketiadaan. Sesuatu yang diawali dengan ketiadaan berarti sifat aslinya adalah tiada. Sedangkan kita sudah sepakat bahwa Tuhan itu sifat aslinya adalah ‘Ada’. Dia Ada karena Dia memang Ada, jika diawali ketiadaan, kemudian menjadi Ada, lalu siapa yang membuat dia menjadi ‘Ada’? Maka yang membuat menjadi ‘ada’ itulah Tuhan, dan Tuhan tidak mungkin diadakan. Tuhan haruslah Terdahhulu. Maka tidak pantas kita menyembah sesuatu yang didahului oleh ketiadaan.

      contoh lagi, وُجُودٌ Wujud (ada). Mustahil ‘adam (tiada). Allah Yang Menciptakan langit dan bumi serta yang berada diantara keduanya… [QS. As Sajdah (32) : 4]

      Tuhan haruslah Ada, mustahil Tuhan itu bersifat tidak ada. Sesuatu bisa disebut Ada, kalau ia ada dengan sendirinya. Sebab ‘Ada’ adalah kata aktif, bukan pasif. Jadi segala sesuatu yang ‘diadakan’ maka dia bukanlah Tuhan, sebab sifatnya ‘diadakan’, bukan ‘Ada’. Tidak pantas jika kita menyembah sesuatu yang diciptakan. Tidak pantas jika manusia menyembah Isa as., Uzair as, patung, Fir’aun, pohon, dewa-dewa, jin, malaikat, dsb. Sebab mereka semua diciptakan. Sesuatu yang diciptakan bukanlah Tuhan. Justeru Tuhan itulah yang mencipta segala yang ada. Allah swt. berfirman : “Allah-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. al-Zumar : 62).

      TIDAK PERNAH DALAM SEJARAH DICERITAKAN BAHWA YG MEMBABAT HABIS KELOMPOK MUKTAZILAH ADALAH KAUM WAHABI….

    1. Mas Bima…., aneh ya mas, aqidahnya mas ibn abdul chair bisa dibuang kaklau sudah tdk diperlukan. Bisa jadi nanti akidah tauhid 3 yg malu-maluin ajaran Islam itu benar2 akan dibuang karena kritik ilmiyyah dari seluruh dunia Islam semakin gencar.

      kang ibn abdul chair…

      Jadi menurut antum Aqidah Asy’ariyyah tidak berdasar Al Qur’an dan al sunnah? Coba sebutkan aqidah asy’ariyyah itu seperti apa kok tidak berdasar Al Qur’an Dan Al sunnah?

  73. Assalamualaikm,
    Ibn A Chair…
    Comment anda makin kesini makin tdk terarah dan makin sesat kalo boleh saya katakan…
    semakin anda berontak , tmen2 aswaja semakin mudah menjatuhkan anda…

    Saya rasa kita sepakat masalah tauhid adalah masalah yg sangat urgent dan tdk bisa dibantah oleh muslim siapapun… apakah Nabi Muhammad dan para sahabat terdekat alpa pada saat itu utk mengajarkan masalah tauhid utk dibagi jadi 3? Jawabnya pasti ga mugkinlah..
    Klo bener2 urgent pasti Beliau sudah membaginya jadi 3 terlebih dahulu..
    dari sini saja kita yang awam sudah dapat melihat mana faham yang benar dan mana yang bathil.

    Tapi klo Ibn A Chair tetep kekeh… ya silahkan aja , kita sepakat untuk tidak sepakat..
    Kita hidup cuma sekali, jangan sampai mati sia2 bawa tauhid yg salah.

    Assalamulaikum..

  74. entah setan apa yg lewat blog ini, kapan sy mengatakan aqidah dibuang jika tdk diperlukan. tolong mas admin, kl bisa ditampilkan lagi, spy nanti sy syarah pemahaman bengkok dari mereka

    1. @ibn abdul chair
      Masya Allah, masa ente lupa waktu diskusi sama ane, baru ente koment belum hitungan minggu ? umur ente berapa ?, nti deh ane cari diartikel mana !!!

  75. Baik Galuh maupun yg lain tdk menyebut penghitungan ilmu falak tuh, jd kl engak disebutkan secara khusus, maka kita pake yg umum aja ya… bukan begitu kaidahnya.
    Galuh…tuh lagi diajarin ilmu ‘ngeles’ ama seniornya. (wong galuh-nya aja udah ngakuin koq)

    1. persoalan sepele tidak usah dibesar-besarkan , saya menyimak diskusi Ibnu abdil khoir dengan kawan2 Ummati soal pembagian Tauhid , lebih baik untuk dilanjutkan.

      silahkan saudaraku Ibnu abdil khoir untuk menjelaskan / menjawab pertanyaan2 ikhwan Ummati.

      1. Bismillah,

        Akhi Fillah, Ust. Ahmad Syahid, Dospundi Khabare? sami sehat?

        Panjenengan ini bisa aja, cari hiburan ko’ ngerjain orang…

        Du’aukum Rojaaunaa….

        1. Alhamdulillah sehat wal-afiat semoga antum sekeluarga dan Ikhwan Ummati juga sehat wal-afiat , Afwan ustadz Abu Hilya ana keki kalo ada yang sebut ana Ustadz , tapi ana lebih keki lagi kalo ngeliat ketundukan dan kepatuhan Ikhwan wahabi terhadap guru2 mereka , apakah ini tumbuh dari konsep ajarannya yang sempurna atau ada faktor lain …….?

          padahal kalo kita lihat literatur wahabi tidak ada yang bermutu sebab tentang Allah yang mereka sembahpun konsep ketuhanan mereka bermutu rendah , kadang-kadang saya ingin bertanya pada mereka siapakah Allah yang kalian sembah…..?

          jangan – jangan mereka menyembah Allah yang ada dalam benak mereka , yaitu Allah yang berjisim maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.

          1. Bismillah,

            Syukron mas Ahmad Syahid, afwan ana juga gitu jadi diledekin temen-temen gara-gara disini dipanggil ustadz. Kalau gitu selanjutnya biar kita semua lebih akrab sebaiknya jangan ada lagi panggilan ustadz diantara semua ikhwan ummati…

            Du’aukum…

          2. Maaf sebelumnya, Gak apa-apa kami memanggil ustad ya, alasan ana, karena pertama kami menghormati kepada ilmu, kedua kami melihat para wahabi muda pada serampangan kalau koment disini, sehingga perlu ada pengawasan kata-kata, maka koment-koment dapat lebih sopan kalau ada yang dihormati.
            Ana melihat ilmu, dapat dilihat pada koment apakah itu ilmu atau apakah koment itu hanya copas. Dapat terlihat jelas.

  76. Sy sangat minta tolong Admin dan temen2 disini utk bisa menampilkan apa sy yg minta sebelumnya (aqidah kl udah enggak perlu bisa dibuang). Saya sangat berharap.

    1. Ini Mas Ibn abdul Chair, benar lho bahwa koment antum ini menimbulakan multipersepsi ke arah “Pembuangan, dll”, coba simak sendiri koment antum di bawah ini ya?

      ibn abdul chair says:
      December 26, 2012 at 3:20 pm

      Pembelajaran tauhid dalam 3 bagian (rububiyah, ululiyah dan asma wa shifat) hanyalah utk kemudahan bagi pelajar itu sendiri. Dan bagi kami,salafiyyun, pembagian ini tdk mengikat krn ada juga yg membagi dalam 2 bagian.
      Tentunya pembagian ini sama sekali tidak diperlukan pd saat semua kaum muslimin bernaung dalam aqidah yg sama,namun ketika sdh tercampur dgn aqidah yg lain, barulah para ulama membuat pembagian ini dan pembagian ini semata-mata hanya utk kemudahan dalam belajar dan berdakwah. : 💡
      Reply

      ucep says:
      December 26, 2012 at 5:41 pm

      @ibn abdul chair
      Wah ane makin yakin nih, bahwa ente bukan wahabi beneran !!!!
      Kalau pemahaman seperti ente koment, mungkin gak terjadi pengkafiran terhadap sesama muslim.
      Ini ane bandingin antara koment ente sama Kitab Fathul Majid lho, apa ane yang gak mengerti atau ente yang gak mengerti nih.

      “Tentunya pembagian ini sama sekali tidak diperlukan pd saat semua kaum muslimin bernaung dalam aqidah yg sama,namun ketika sdh tercampur dgn aqidah yg lain, barulah para ulama membuat pembagian ini dan pembagian ini semata-mata hanya utk kemudahan dalam belajar dan berdakwah”.

      Sungguh aneh kalau Tauhid dibuat sementara, kalau sudah tahu lantas ditinggalin begitu aja “sama sekali tidak diperlukan”. Jadi Kafir lagi dong kita.

      Maaf maaf ya @ibn abdul chair, ane rasa ente mulai bingung nih.

      1. Terima kasih mas @admin

        @ibn abdul chair, ente coba jelaskan dengan sejelas-jelasnya masalah kata “tidak diperlukan” Uluhiyah, Rububiyah dan Asma wa shifat ?

    1. DALIL-DALIL SIFAT WAJIB BAGI ALLAH SWT:

      1. Dalil sifat Wujud (Maha Ada): QS Thaha ayat 14, QS Ar-Rum ayat 8, dsb.

      2. Dalil sifat Qidam (Maha Dahulu): QS Al-Hadid ayat 3.

      3. Dalil sifat Baqa (Maha Kekal): QS Ar-Rahman ayat 27, QS Al-Qashash ayat 88.

      4. Dalil sifat Mukhalafah lil Hawaditsi (Maha Berbeda dengan Makhluk): QS Asy-Syura ayat 11, QS Al-Ikhlas ayat 4.

      5. Dalil sifat Qiyamuhu bin Nafsi (Maha Berdiri Sendiri): QS Thaha ayat 111, QS Fathir ayat 15.

      6. Dalil sifat Wahdaniyyat (Maha Tunggal / Esa): QS Az-Zumar ayat 4, QS Al-Baqarah ayat 163, QS Al-Anbiya’ ayat 22, QS Al-Mukminun ayat 91, dan QS Al-Isra’ ayat 42-43.

      7. Dalil sifat Qudrat (Maha Kuasa): QS An-Nur ayat 45, QS Fathir ayat 44.

      8. Dalil sifat Iradat (Maha Berkehendak): QS An-Nahl ayat 40, QS Al-Qashash ayat 68, QS Ali Imran ayat 26, QS Asy-Syura ayat 49-50.

      9. Dalil sifat Ilmu (Maha Mengetahui): QS Al-Mujadalah ayat 7, QS At-Thalaq ayat 12, QS Al-An’am ayat 59, dan QS Qaf ayat 16.

      10. Dalil sifat Hayat (Maha Hidup): QS Al-Furqan ayat 58, QS Ghafir ayat 65, dan QS Thaha 111.

      11 & 12. Dalil sifat Sama’ (Maha Mendengar) dan Bashar (Maha Melihat): QS Al-Mujadalah ayat 1, QS Thaha ayat 43-46.

      13. Dalil sifat Kalam (Maha Berfirman): QS An-Nisa ayat 164, QS Al-A’raf ayat 143, dan QS Asy-Syura ayat 51.

      Dua puluh sifat yang wajib bagi Allah tersebut di atas dibagi kepada 4 bagian, yaitu:

      1. Sifat Nafsiyyah. Artinya: Sifat yang tidak bisa difahami Dzat Allah tanpa adanya sifat. Sifat Nafsiyyah ini hanya satu sifat, yaitu: sifat wujud.

      2. Sifat Salbiyyah. Artinya: Sifat yang tidak pantas adanya di Dzat Allah swt. Sifat Salbiyyah ini jumlahnya ada lima sifat, yaitu: Qidam, Baqa, Mukhalafah lil Hawaditsi, Qiyamuhu bin Nafsi, dan Wahdaniyyah.

      3. Sifat Ma’ani. Artinya: Sifat yang tetap dan pantas di Dzat Allah dengan kesempurnaan-Nya. Sifat Ma’ani ini jumlahnya ada tujuh sifat, yaitu: Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashar, dan Kalam.

      4. Sifat Ma’nawiyyah. Artinya: Sifat yang merupakan cabang dari sifat Ma’ani. Sifat Ma’nawyyah ini jumlahnya ada tujuh sifat, yaitu: Kaunuhu Qadiran, Kaunuhu Muridan, Kaunuhu ‘Aliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami’an, Kaunuhu Bashiran, dan Kaunuhu Mutakalliman.

      *****

      DALIL-DALIL SIFAT JA’IZ BAGI ALLAH

      a. QS Al-Qashash ayat 68

      b. QS Al-Imran ayat 26

      c. QS Al-Baqarah ayat 284

      CATATAN PENTING:

      Pokok-pokok Ilmu Tauhid (مبادئ علم التوحيد):

      1. Definisi Ilmu Tauhid (حده):

      Ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat Allah dan para rasul-Nya, baik sifat-sifat yang wajib, mustahil maupun ja’iz, yang jumlah semuanya ada 50 sifat. Sifat yang wajib bagi Allah ada 20 sifat dan sifat yang mustahil ada 20 sifat serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. Begitupula sifat yang wajib bagi para rasul ada 4 sifat (sidiq. tabligh, amanah, dan fathanah) dan sifat yang mustahil ada 4 sifat (kidzb / bohong, kitman / menyembunyikan, khianat, dan bodoh) serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. 50 sifat ini dinamakan “Aqidatul Khomsin / عقيدة الخمسين “. Artinya: Lima puluh Aqidah.

      2. Objek atau Sasaran Ilmu Tauhid (موضوعه): Dzat Allah dan sifat-sifat Allah.

      3. Pelopor atau Pencipta Ilmu Tauhid (واضعاه): Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (260 H – 330 H / 873 M – 947 M ) dan Imam Abul Manshur Al-Mathuridi ( 238 – 333 H / 852 – 944 M ).

      4. Hukum Mempelajari Ilmu Tauhid (حكمه): Wajib ‘ain dengan dalil ijmali (global) dan wajib kifayah dengan dalil tafshili.

      5. Nama Ilmu Tauhid (اسمه): Ilmu Tauhid, Ilmu Ushuluddin, Ilmu Kalam dan Ilmu ‘Aqa’id.

      6. Hubungan Ilmu Tauhid dengan Ilmu-ilmu lain (نسبته): Asal untuk ilmu-ilmu agama dan cabang untuk ilmu selainnya.

      7. Masalah-masalah Ilmu Tauhid (مسائله): Sifat-sifat wajib, mustahil, dan ja’iz bagi Allah swt dan para Rasul-Nya.

      8. Pengambilan Ilmu Tauhid (استمداده): Diambil dari Al-Qur’an, Al-Hadits, dan akal yang sehat.

      9. Faedah Ilmu Tauhid (فائدته): Supaya sah melakukan amal-amal sholeh di dunia.

      10. Puncak Mempelajari Ilmu Tauhid (غايته): Memperoleh kebahagian, baik di dunia maupun akherat dan mendapat ridha dari Allah swt serta mendapat tempat di surga.

      Wallahu a’lam…..

      lihat selengkapnya di sini: http://ummatipress.com/2011/06/25/aqidatul-awam-kitab-aqidah-ahlussunnah-waljamaah-bebas-virus-wahabi/

  77. asik,,,
    katanya Ibn A Chair mau mangkat dari blog ini, tp nyatanya masih nongol…
    maaf maksud saya minggat..

    bn abdul chair says:
    December 26, 2012 at 9:47 am
    Ah …enggak ah… sy kira sdh cukup kehadiran sy di blog ini beberapa bulan belakangan ini. saya berencana stlh pergantian tahun akan mengurangi kehadiran saya disini. sy punya banyak rencana utk tahun depan.

  78. tuh, dul, mbak kartika dah kasih penjelasan…

    sekarang giliran ente kasih dalil trinitas tauhid sesat wahabi….:mrgreen:

    3, 2 ato gak prlu lagi…wkwkwk….tauhidnya aja gak jelas :mrgreen:

  79. Kembali ke sosok Gus dur, sosok yang selalu sabar saat difitnah. Apa sebenarnya yg terjadi seputar isu Gus Dur mengganti Assalamualaikum dengan selamat pagi?
    ——————————————————–

    Kula Ndherek, Gus

    Oleh Ahmad Tohari

    ADALAH Edy Yurnaedi almarhum. Suatu siang, pada 1987, wartawan Majalah Amanah itu bergegas masuk ke ruang redaksi di Jalan Kramat VI Jakarta. Dengan wajah gembira dia meminta beberapa redaktur, di antaranya saya, mendengarkan laporannya. Dia baru selesai mewancarai KH Abdurrahman Wahid di Kantor PBNU. Topik wawancaranya adalah pluralitas internal umat Islam Indonesia.

    Maka rekaman wawancara pun diputar. Intinya, Gus Dur mengatakan, kemajemukan di dalam masyarakat muslim di Indonesia sudah menjadi kenyataan sejak berabad lalu. Meskipun sebagian besar umat Islam Indonesia menganut Mazhab Syafi’i namun ada juga yang mengambil mazhab lain. Bahkan penganut Islam Syi’ah, Ahmadiyah, abangan pun ada. Menurut Gus Dur tingkat penghayatan umat pun amat bervariasi dari yang hanya berkhitan dan bersyahadat waktu menikah sampai yang bertingkat kiai. Namun, ujar Gus Dur kemajemukan itu harus tetap terikat dalam ukhuwah islamiyah atau ikatan persaudaraan Islam. Artinya, sesama umat Islam yang berbeda aliran maupun tingkatan pemahaman seharusnya saling menyambung rasa saling hormat.

    Gus Dur sangat tidak suka terhadap istilah Islam KTP atau Islam abangan. Baginya, semua orang yang sudah bersyahadat dan berkelakuan baik ya muslim. Mereka yang ketika bertamu masih memberi salam dengan ucapan kula nuwun (Jawa), punten (Sunda) atau selamat pagi, ya muslim karena syahadatnya.

    ” Kalau begitu Gus, ucapan assalamu alaikum bisa diganti dengan selamat pagi?” tanya Edy Yurnaedi.
    ” Ya bagaimana kalau petani atau orang-orang lugu itu bisanya bilang kula nuwun, punten atau selamat pagi? Mereka kan belum terbiasa mengucapkan kalimat dalam bahasa Arab kayak kamu?”

    Itulah inti pendapat Gus Dur dalam wawancara dengan Edy Yurnaedi. Edy mengusulkan wawancara itu dimuat dalam Majalah Amanah edisi depan dengan penekanan bahwa Gus Dur menganjurkan mengganti assalamu alaikum dengan selamat pagi. Alasannya cukup konyol. Menurut Edy, Majalah Amanah yang kala itu baru berumur satu tahun harus membuat gebrakan dalam rangka menarik perhatian pasar. ” Kan nanti Gus Dur akan membantah. Dan bantahan itu kita muat pada edisi berikut. Nah, jadi malah ramai kan? Ini cuma taktik pasar kok,” Edy ngotot.

    Drs H Kafrawi Ridwan MA yang waktu itu jadi pemimpin redaksi lebih suka mengambil sikap momong kepada yang muda. Maka usul Edy ditawarkan kepada rapat. Tentu ada yang pro dan kontra. Celakanya lebih banyak yang pro. Mereka beralasan seperti Edy, cuma taktik pemasaran, dan Gus Dur mereka yakini akan membantah.

    Dan terbitlah edisi assalamu alaikum itu. Benar saja, masyarakat riuh. Gus Dur menuai kecaman. Oplah majalah terdongkrak. Dan Edy melanjutkan aksinya dengan mewawancarai kembali Gus Dur. Diharapkan Gus Dur akan membantah bahwa dia telah menganjurkan mengganti assalamu alaikum dengan selamat pagi. Tapi Edy amat terkejut ketika Gus Dur dengan enteng menjawab, buat apa membantah. ” Biarin, gitu aja kok repot.”

    Edy pulang ke kantor dengan wajah lesu. Oleh pemimpin redaksi dia dianggap telah gagal menyukseskan strategi pemasaran. Memang, oplah naik tetapi makan korban berupa terjadinya fitnah di tengah masyarakat. Secara pribadi saya pernah minta Gus Dur berbuat sesuatu untuk menghentikan fitnah yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Tapi dasar Gus Dur. Dia tetap pada pendirian akan membiarkan fitnah itu berhenti sendiri.

    Sayang fitnah itu ternyata berumur panjang. Setelah Gus Dur wafat kemarin masih terdengar suara penyiar yang mengatakan Gus Dur pernah ingin mengganti assalamu alaikum dengan selamat pagi. Maafkan kami para wartawan dan redaksi Majalah Amanah yang telah bermain api yang ternyata membakar kami sendiri. Gus Dur sendiri tetap berjiwa besar, tetap bersahabat, meskipun banyak yang terpaksa salah faham. Gus Dur tidak pernah mengusulkan mengganti assalamu alaikum dengan selamat pagi. Untuk hal ini saya akan menjadi saksi bagi Gus Dur.

    Dia, dengan kebesaran jiwa hanya ingin mengajak siapa pun untuk menghargai sesama muslim yang bisanya mengucap salam dengan kula nuwun, punten, atau selamat pagi. Ini adalah sikap dasar Gus Dur yang menyintai semua muslim dari yang hanya bermodal khitan sampai yang bergelar kyai. Bahkan ukhuwwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan) yang berkembang dari iman membuat Gus Dur memiliki rasa cinta kepada siapa saja, tak pandang ras, agama, maupun status sosial. Sugeng tindak, Gus, insya Allah kula ndherek. (35)

    sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/01/02/93511/Kula.Ndherek..Gus

  80. Terima kasih mas Admin,
    Apa ada kalimat saya yang mengatakan kl aqidah tdk diperlukan lagi bisa dibuang?
    Hal lain yg prosesnya sama terjadi pd disiplin ilmu yang lain, spt ilmu nahwu. Pd saat bahasa Arab digunakan pd kalangan bangsa Arab, tentunya ilmu nahwu belumlah ada. Nah ketika agama Islam menyebar ke jazirah lain spt Persia dan Romawi atau terjadinya pernikahan antara bangsa Arab dgn Non Arab, berkembangnya pendidikan dan perdagangan, terjadilah bahasa Arab yg tercampur dengan bahasa lain. Ini bukan saja membuat bahasa Arab menjadi jelek, salah ucap tp juga bisa merubah makna. Spt dhommah yg dibaca dgn kasroh.
    Kejadian-kejadian inilah yg mendorong timbulnya kaidah-kaida bhs Arab yg menjadikan rujukan untuk memberi ‘harkat’ bahasa Arab. Sehingga timbullah yg disebut ilmu nahwu.

    1. @ibn abdul chair
      Bahasa tulisan beda dengan bahasa lisan, ente musti cantumkan titik komanya ya!
      Tauhid sangatlah berbeda dengan ilmu Nahwu, syaraf dll, jadi jangan disamakan nti bingung lagi.

  81. Ini sama sekali bukan menyamakan antara aqidah dan ilmu nahwu (juga enggak ada kalimat sy yg mengatakan spt itu) Hanya saja, pada saat Islam berkembang, yg termasuk mengalami kerusakan adalah aqidah, ilmu bahasa, ilmu tajwid dll. Ada yg belajar Aqidah dari org yg tidak ber-aqidah spt Aristoteles dan Socrates (ini cikal bakal datang ilmu sesat). Dan macam-macam kerusakan lainnya

    1. ibn abdul chair,
      antum panic rupanya, sehingga dalam berkoment pun tidak terarah kepada siapa padahal di situ ada “Reply” yg gunanya ketika antum klik bisa terarah kepada siapa antum akan bicara. Kasihan bener saya lihat kekalutan antum ini, bacalah bismillah seribu x sebelum koment biar hati jadi tenang. Coba deh, insyaallah nanti antum akan tertib kembali, silahkan dicoba ya?

    2. @ibn abdul chair
      Memangnya ente tahu bahwa Aristoteles dan Socrates tidak berakidah, tapi ane positif thinking aja, aqidah yang dimaksud Aqidah Islam ya !!
      Kedua orang itu ahli Filsafat dan filsafatnya masih digunakan dikodekteran (Aristoteles), sedangkan (Socrates) dalam ilmu perbintangan dan hukum tata negara. Jadi jangan menuduh orang sesat, lah ilmunya masih digunakan sama orang2 yang berkompeten.

  82. Sdh ah ttg Durrahman – semoga Allah merahmatinya – jgn dibahas lagi.
    Oh ..ya saya lagi susun perbedaan aqidah yg haq ahlussunnah dengan aqidah bathil Asyoo’irah nih… mudah-mudahan bisa cepet selesai ya.

    1. Ya, silahkan, paling2 yg antum hasilkan pastilah versi Wahabi yg bathil, ujuing2nya tauhid trinitas dan berujung Allah bertempat di langit atau di Arsy. Terus selanjutnya Tuhan antum capek turun naik ke lanit dunia setiap sepertiga malam, capek banget tuhan kamu itu, karena nggak pernah istirahat.

      Ingat, sepertiga malam di Irian beda dg sepertiga malam di Jakarta, Kuala Lumpur, Beijing, Las vegas, Alabama, Alaska, Arizona, Arkansas, California, Carolina Utara, Carolina Selatan, Colorado, Connecticut, Dakota Selatan, dakota Utara, Florida, Georgia, hawaii, Idaho, Indiana, Iowa, Kansas, Kentucky, Michigan, Montana, Nevada, New Jersey, new York, New Mexico, Miami, Cape Town Afrika Selatan, Nigeria, Moskow, Mekkah, Baghdad, Karachi, Cairo, Mali, Sudan, Sungai Mekong, Laut Merah, Laut mati, Bangkok, Sungai Kuning, Tokyo, Tajikistan, Afganistan, Pakistan, Uzbekistan, Siberia, Spanyol Al Hambra, Istambul, Everest, duh aduh…. belum sya sebutin semua kota2 dan tempat2 di dunia, capek sekali tuhan antum turun terus-terusan ke langit dunia setiap sepertiga malam, tanpa istirahat.

      Sungguh, maha Suci Allah dari apa yg antum (kalian) sifatkan kepada-NYA.

      1. Subhanallah…. Kalau begitu allah versinya Wahabi malah gak sempat bersemayam di langit / di Arsy, mbak Aryati…. bagaimana sempat kalau terus-terusn sibuk naik-turun seperti mainan YOYO, kapan bersemayamnya?

        Lha allahnya Wahabi salafi mau bersemayam di arsy sementara waktu terus berjalan dan sepertiga malam terus bergiliran tanpa jeda waktu, kapan bersemayam? Oleh akrena itulah,maka para Ulama ahlussunnah Wal jamaah mantakwil agar agar sesuai dg keagungan Allah Swt, lha ini Wahabi malah mengharamkan takwil artinya mereka itu malah merendahkan Allah swt. Maha Suci Allah swt dari apa yg Wahabi-wahabi sifatkan kepada-NYA. Wallohu a’lam.

  83. kenapa tidak berdebat dengan kejujuran???? kenapa pula setiap pertanyaan yang ditanyakan teman-teman aswaja tidak pernah di jawab??? kenapa pula selalu pakai cara pengaburan masalah??? kalau begini apa bedanya dengan jidal ataupun al miroo’ yang sangat dilarang baginda nabi???

    kiai kami pernah berkata: “tujuan mencari ilmu adalah menghilangkan kebodohan”. padahal kita semua tahu kebodohan tidak akan pernah hilang, karena semakin orang berilmu maka akan tampaklah padanya kebodohan kebodohan yang lain.

    mari temen temen salafi kita ungkapkan dasar masing-masing, kita pertahankan dengan hati yang jernih, niscaya hidayah alloh akan menaungi kita.

    wallohu a’lam

  84. Assalamu’alaikum, masih bahas gusdur ya, ko larinya keluar pembahasan?????yang nayain haji lha nanyain tawashul lha, nanyain aqidah lha, nanyain ap lagi ya?????
    tapi paling lucu komen na mba aryati kartika “Ya, silahkan, paling2 yg antum hasilkan pastilah versi Wahabi yg bathil, ujuing2nya tauhid trinitas dan berujung Allah bertempat di langit atau di Arsy. Terus selanjutnya Tuhan antum capek turun naik ke lanit dunia setiap sepertiga malam, capek banget tuhan kamu itu, karena nggak pernah istirahat.

    Ingat, sepertiga malam di Irian beda dg sepertiga malam di Jakarta, Kuala Lumpur, Beijing, Las vegas, Alabama, Alaska, Arizona, Arkansas, California, Carolina Utara, Carolina Selatan, Colorado, Connecticut, Dakota Selatan, dakota Utara, Florida, Georgia, hawaii, Idaho, Indiana, Iowa, Kansas, Kentucky, Michigan, Montana, Nevada, New Jersey, new York, New Mexico, Miami, Cape Town Afrika Selatan, Nigeria, Moskow, Mekkah, Baghdad, Karachi, Cairo, Mali, Sudan, Sungai Mekong, Laut Merah, Laut mati, Bangkok, Sungai Kuning, Tokyo, Tajikistan, Afganistan, Pakistan, Uzbekistan, Siberia, Spanyol Al Hambra, Istambul, Everest, duh aduh…. belum sya sebutin semua kota2 dan tempat2 di dunia, capek sekali tuhan antum turun terus-terusan ke langit dunia setiap sepertiga malam, tanpa istirahat.” mang sapa yang punya pikiran kaya gitu mba???heeee

    1. @ abu dzar

      satu pertanyaan pilihan ganda untuk ustadz abu dzar
      pilih salah satu jawaban yang menurut anda benar

      wahabi meyakini bahwa Allah bersemayam diatas aras dan wahabi juga meyakini Allah turun pada sepertiga malam, sementara sepertiga malam akan selalu ada di bumi ini,
      dimanakah sebenarnya Allah berada menurut anda ?

      a. diatas aras
      b. bumi
      c. antara langit dan bumi
      d. kadang dilangit kadang di bumi
      e. anda bingung

      mohon maaf saya hanya ingin tau jawaban antum saja tidak lebih

  85. untuk komen mba aryati, tentang istiwanya Allah di atas arsy mba bisa baca artikelnya ust firanda bagus thu, karna bukan syekh muhammad bin abdul wahab dan syekhul islam ibnu taimiyah saja yang menyakini bahwa Allah berada di atas arsy, ulama2 terdahulu sebelum beliau pun sudah banyak yang mengimani bahwa Allah di atas arsy.baca ya mba.

    1. Maaf abu dzar, ya? saya sudah terlanjur nggak percaya pkpd ust Firanda karena belia sudah sangat terkenal di seantero dunia maya sebagai pendusta murokkab. Oleh karena itu saya lebih percaya kepada qoul-qoul Ulama salafuna sholih tentang “istiwa”.

      Simaklah qoul2 ulama di bawah ini:

      aL IMAM ABU HANIFAH BERKATA “BARANG SIAPA YANG MENGATAKAN SAYA TIDAK TAHU APAKAH ALLAH BERADA DI LANGIT ATAUKAH BERADA DI BUMI MAKA DIA TELAH KAFIR” (diriwayatkan oleh almaturidi dan lainya)
      shulthonul ulama’ al imam izzuddin bin abdissalam asyafi’i dalam kitabnya “Hall arrumuz” menjelaskan maksud perkataan imam abu hanifah, beliau imam izzuddin mengatakan ” karena perkataan yang demikian (aku tidak tahu allah dilangit atau dibumi) , memberikan persangkaan bahwa Allah bertempat, dan barang siapa yang menyangka bahwa Allah bertempat maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk ciptaan Nya). Demikian juga dijelaskan maksud imam abu hanifah ini oleh albayadli alhanafy dalam kitab isyaratul maram.

      Al imam al hafidz ibn al jawzi (w 597) dalam kitabnya daf’u syubhat atasybih,mengatakan ” Sesungguhnya orang yang mensifati Allah dengan tempat dan arah maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluknya ) dan juga mujassim (orang yang meyakini bahwa Allah adalah jisim/benda) ,yang orang itu buta dari mengetahui sifat Allah ”
      al hafidz ibnu hajar al ‘asqalani (w. 852) dalam kitabny fathul bari syarh shahihul bukhari mengatakan ” Sesungguhnya kaum musyabbihah dan mujassimah adalah mereka yang mensifati allah dengan tempat padahal Allah maha suci dari tempat”
      di dalam kitab al fatawa alhindiyyah,cetakan dar shadir, jilid II ,H 259 tertulis sbb ” Adalah kafir orang yang menetapkan tempat bagi Allah ta’ala”, juga dalam kitab kifayatul akhyar, karya al imam taqiyyuddin alhushni (w. 829 H),jilid ll,hal 202,cet darl fikr, tertulis sbb ” .. Hanya saja an nawawi menyatakan dalam bab shifat as shalat dari kitab syarhul muhadzdzab bahwa mujassimah adalah KAFIR, saya (alhushni) BERKATA “INILAH KEBENARAN YANG TIDAK DIBENARKAN SELAINYA, KARENA TAJSIM (MENYERUPAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK,BAIK DALAM DZAT DAN SIFAT,DAN MEYAQINI BAHWA ALLAH ADALAH JISIM-BENDA-) JELAS MENYALAHI ALQUR’AN Q.S ASSYURA 11.

      Al imam malik berkata ” ARRAHMAN ‘ALA AL ‘ARSY ISTAWA SEBAGAIMANA ALLAH MENSIFATI DZAT (HAKEKAT)NYA DAN TIDAK BOLEH DIKATAKAN BAGAIMANA DAN KAYFA (yg adlh sifat makhluk) ADALAH MUSTAHIL BAGINYA (DIRIWAYATKAN OLEH ALBAYHAQI DALAM AL ASMA’ WASHIFAT),maksud perkataan imam malik tsb, bahwa Allah mahasuci dari semua sifat benda (kayfa), seperti duduk,bersemayam,berada di suatu tempat dan arah dsb. Sdgkan yang mengatakan wal kayf majhul adalah tidak benar dan imam malik tidak pernah mengatakanya.
      Imam ath tahawi mengatakan ” barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia, maka ia telah kafir “, dia antara sifat2 manusia adalah bergerak,diam, naik, turun, duduk, bersemayam, mempunyai jarak, menempel, berpisah, berubah, butuh, berada pada suatu tempat dan arah, berbicara dg huruf dsb..
      Barang siapa yang menyifati allah dg sifat2 diatas ,sungguh dia terjerumus dalam kekufuran ( INI KATA IMAM ATTHAHAWI).

      IMAM AHMAD ARRIFA’I (W. 578) dlm kitabnya al burhan al muayyad berkata : ” JAGALAH AQIDAH KAMU SEKALIAN DARI BERPEGANG KEPADA DZAHIR AYAT ALQURAN DAN HADITS NABI MUHAMMAD YANG MUTASYABBIHAT,SEBAB HAL INI MERUPAKAN SALAH SATU PANGKAL KEKUFURAN”.
      MUTASYABIHAT ARTINYA NASH NASH ALQUR’AN DAN HADITS NABI MUHAMMAD YANG DALAM BAHASA ARAB MEMPUNYAI LEBIH DARI SATU ARTI, DAN AYAT2 YANG DEMIKIAN,TIDAK BOLEH DIAMBIL SECARA DZAHIRNYA, KARENA HAL TSB MENGANTARKAN KEPADA TASYBIH (MENYERUPAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUKNYA), AKAN TETAPI WAJIB DIKEMBALIKAN MAKNANYA SBGMANA PERINTAH ALLAH DALAM ALQUR’AN PADA AYAT2 YANG MUHKAMAT (AYAT2 YANG MEMPUNYAI SATU MAKNA DALAM BAHASA ARAB), YAITU MAKNA BAHWA ALLAH TIDAK MENYERUPAI SEGALA SESUATU DARI MAKHLUKNYA (ASYURA 11),
      DIANTARA AYAT2 MUTASYABBIHAT YANG TIDAK BOLEH DIAMBIL SECARA DZAHIRNYA ADALAH FIRMAN ALLAH ” ARRAHMAN ALAL ‘ARSY ISTAWA(THAHA 5), AYAT TSB TIDAK BOLEH DITAFSIRKAN BAHWA ALLAH DUDUK (JALASA) ATAU BERSEMAYAM ATAU BERADA DIATAS ARSY DENGAN JARAK ATAU BERSENTUHAN DENGANYA. JUGA TIDAK BOLEH DIKATAKAN ALLAH DUDUK, NAMUN TIDAK SEPERTI DUDUK KITA, ATAU ALLAH BERSEMAYAM, NAMUN TIDAK SEPEPTI BERSEMAYAMNYA KITA, KARENA DUDUK DAN BERSEMAYAM TERMASUK SIFAT KHUSUS BENDA SBGMANA YG DIKATAKAN OLEH ALBAYHAQI (W 458), AL IMAM ALMUJTAHID TAQIYUDDIN ASSUBKI (W.756). Dan ALHAFIDZ IBNU HAJAR (W.852) dll.

      abu dzar… silahkan cek, saya COPAS dari sini: http://www.as-salafiyyah.com/2010/11/allah-bertempat-di-arsy-atas-langit.html

  86. Ente pernah bilang kalau setelah mengetahui Tauhid Uluhiyah, Rubibiyah dan Asma wa shifat lantas dilupakan, Maksudnya ini apa ? (pertanyaan ini kan yang belum ente jawab ?)
    “lantas dilupakan” itu kalimat siapa? sy? bisa dibuktikan? tolong mas Admin tampilkan lagi.
    Tapi kalau itu merupakan takwil dari anda, tolong jangan dilimpahkan ke saya.

    1. @ibn abdul chair
      Coba perhatikan koment ya !!
      “Pembelajaran tauhid dalam 3 bagian (rububiyah, ululiyah dan asma wa shifat) hanyalah utk kemudahan bagi pelajar itu sendiri. Dan bagi kami,salafiyyun, pembagian ini tdk mengikat krn ada juga yg membagi dalam 2 bagian.
      Tentunya pembagian ini sama sekali tidak diperlukan pd saat semua kaum muslimin bernaung dalam aqidah yg sama,namun ketika sdh tercampur dgn aqidah yg lain, barulah para ulama membuat pembagian ini dan pembagian ini semata-mata hanya utk kemudahan dalam belajar dan berdakwah.”

      Kalau diteliti, ada banyak pertanyaan dari koment ente itu :
      1. Salaf dan ahlu sunnah mana yang membagi tauhid ?
      2. Jika sekarang dibagi 3, kemudian dibagi 2, kemudian berapa lagi ?
      3. Kata “Tidak diperlukan”, apakah ini maksudnya ?
      4. Kata “pembagian ini tdk mengikat” ini penerapannya bagaimana ?

      Jadi berhati-hati dalam kalimat tulisan.

  87. Maaf, Revisi-nya
    Ucep say : Ente pernah bilang kalau setelah mengetahui Tauhid Uluhiyah, Rubibiyah dan Asma wa shifat lantas dilupakan, Maksudnya ini apa ? (pertanyaan ini kan yang belum ente jawab ?)
    “lantas dilupakan” itu kalimat siapa? sy? bisa dibuktikan? tolong mas Admin tampilkan lagi.
    Tapi kalau itu merupakan takwil dari anda, tolong jangan dilimpahkan ke saya.

  88. Yang aneh, kenapa tidak mengatakan kpd sy : jadi kalau sdh tahu ilmu nahwu, lantas dibuang. (krn sy mengambil permisalan dengan ilmu nahwu)
    Lagian juga (jadi sy tanya deh) Apa anda, kl sdh mahir bahasa Arab lantas ilmu nahwu nggak dipake lagi? lantas, bagaimana anda tahu ini dibaca kasroh, ini dibaca fathah, ini dibaca dhommah jika ilmu nahwu tidak dipake lagi?
    NALAR MAS…NALAR…(kl butek..jangan dipaksain ke org lain ah)

    1. ibn abdul chair, antum dalam diskusi ini apa sih tujuan antum? Mau dakwah atau mau ngeyel dalam rangka membela Tauhid Trinitas yg batil?

      Padahal setelah saya simak dari diskusi di atas yang mengatakan: “Tentunya pembagian ini sama sekali tidak diperlukan pd saat semua kaum muslimin bernaung dalam aqidah yg sama,” ini adalah perkataan ibn abdul chair, tapi anehnya kok bisa mungkir?

      Nah, kalau TIDAK PERLUKAN itu kan konotasinya sama dengan “DIBUANG”? Sebenarnya mas ibn a chair ini mengerti ucapannya sendiri apa nggak sih? Memang repot kalau diskusi dg orang yang modalnya “Cuma Ngeyel”.

  89. TOLONG DONG PARA WAHABI JAWAB PERTANYAAN SAYA INI….. PLEASE DONG AH……

    1. DIMANA ALLAH SEBELUM MENCIPTAKAN TEMPAT?

    2. TEMPAT YG SAUDARA MAKSUD DENGAN TEMPAT BERSEMAYAMNYA ALLAH ITU MAKHLUK APA BUKAN? QODIM AZALI ATAU TIDAK?

    2. APA MAKNA HADIST BERIKUT INI, INGAT YA, KALIAN KAN MELARANG TAKWIL ;
    ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim).

    DEMIKIANLAH PERTANYAAN SAYA, MOHON KIRAYA KALIAN MAU MENJAWABNYA. TRM KSH.

    1. Bismillah,

      Mas @agung,

      Mungkin nunggu jawaban ilmiyah dari mereka (Sa-Wah) atas pertanyaan-pertanyaan antum ibarat nunggu “Beling Bosok” (membusuknya pecahan kaca)…. he he he…. selingan mas….

    2. @bu Hilya

      Sedih saya mas, kok pertanyaan saya di acuhkan oleh mereka. kaum wahabi itu kan hebat, kecil kecil sudah mujtahid, cukup tahu satu dua hadist saja, “kullu bid’atin” sudah bisa berfatwa hahahahah….

  90. Kadang ga habis pikir sama kaum wahabi ini. Di kasih pertanyaan (bahkan berulang2) dari anak2 aswaja ga pernah dijawab, diskusinya loncat-loncat, tapi belagunya setengah mati. Pinter-pinter apa pandir-pandir ya…?

  91. Kita harus berhati-hati dengan para wahabiyan, mereka berusaha memasukan aqidah 3 nya, dengan bermain kata-kata, sehingga kalau kita tidak memahami kata2nya, seolah-olah itu benar, dapat kita lihat pada komen mas @ibn abdul chair, juga pada permainan kata-kata dari blog Firanda (FIRANha dalam keranDA), juga kasus2 yang dishare disini.
    Itulah hebatnya mereka, sehingga yang awam akan terkesima dibuatnya, jadilah wahabiyan2 muda (tanpa ilmu) yang lain.

  92. jadi kasian saya sama IAC babak belur disini, temn2nya juga keterlalauan kok IAC dibiarin jadi bal balan disini…lagian katanya mau manggat sebelum tahun baru malah nongol lagi.
    btw, tapi bener ga seru klo ga ada IAC disini… mudahan IAC tetep eksis di ummatipress…

  93. saya akhir-akhir ini sering berkunjung ke blog ini.maaf saya hanya orang awam yang mencoba untuk komentar
    kalo di lihat dari mayoritas artikel di blog ini unjung-ujungnya pasti wahabi
    apalagi coment-comentnya.
    kalo kita mau berfikir dengan jernih dan hati lapang coba kita bandingkan
    amalan kita:
    1. sudah sesuai sunnah apa belum apa sesuai bid’ad
    2. lebih banyak sunnah apa bid’ah yang kita kerjakan
    3. pernahkah kita mengerjakan bid’ah dan meninggalkan sunnah
    kalo amalan kita sudah sesuai dengan sunnah meninggalkan bid’ah dan tidak pernah meninggalkan sunnah karena bid’ah. amin .
    tapi kalo amalan kita sebaliknya banyak meninggalkan sunnah karena bid’ah mari kita merenung lagi dalam hati dan dengan lapang hati dan akal yang sehat pasti akan ketemu kejangalan yang tertutup oleh kerasnya hati.
    terima kasih

    1. @Abuahsan
      Nasihatnya bagus. Cuma saya mau tanya, Anda mengenal definisi bid’ah dari ulama mana. Kalau definisi bid’ah dari Imam Syafi’i insya Allah aman. Karena Imam Syafi’i belajar antara pada Imam Malik yang berguru antara lain kepada Imam Nafi yang berguru antara lain kepada Ibnu Umar yang lebih mengetahui makna hadits Nabi. Jadi pemahamannya sampai Rasulullah. Tapi kalau Anda mengikuti definisi bid’ah ala Usaimin, alamat celaka. Karena Usaimin itu “ulama bayaran” Kerajaan Arab Saudi. Jadi definisi bid’ah yang mana yang ada maksud? biar kami tahu.

      1. maaf disini saya tidak memandang definisi bid’ah dari imam syafi’i atau ala usaimin. saya sebagai orang awam. saya berfikirnya sederhana saja selagi saya belum melaksanakan semua sunnah nabi yang begitu banyak yang mungkin saya tidak bisa melaksanakan semuanya sampai matipun. kalo saya tambah lagi dengan perkara bid’ah mungkin makin banyak sunnah nabi yang akan di tinggalkan.
        maaf saya disini hanya mengutarakan sudut pandang saya tidak ada maksud lain
        terima kasih

  94. maaf Abu Ahsan saya juga orang awam , tidak banyak tahu Sunnnah2 Nabi dan perkara Bid`ah , mohon kiranya Abu Ahsan berbaik hati dan mau berbagi menyebutkan beberapa perkara Bid`ah biar saya juga dapat mengindarinya.

  95. Iya Akhi Abuahsan. Kita sama-sama orang awam, tolong kami diberitahu amalan-amalan mana yang bid’ah yang sudah anda hindari, sehingga kami dapat belajar. Dan siapa yang kasih tahu Anda sehingga menghindari amalan-amalan yang menurut Anda bid’ah tersebut? Trims ya?!

  96. betul sekali, apa lagi saya yang amat sangat awam sekali, saya ingin belajar dari teman teman di bog ini, jadi tolonglah bang abuahsan beritahu kami contoh contoh amalan bid’ah. jangan pelit bagi ilmu yabang abuahsan…..anda kan orang baik yang suka menasehati (dillihat dr comment anda). jadi please ya bang abuahsan, tolooooooooooong

  97. @ ayu
    seperti ini pengertian bid’ah yang saya pahami.
    untuk contoh saya harap bisa tahu dari dari artikel dibawah ini.
    dan untuk diskusi kita cukup sampai disini
    karena terbatasnya ilmu untuk menghindarai kata- kata yang tak perlu terucap
    maaf bila banyak salah kata.
    http://www.novieffendi.com/2012/04/studi-kritis-kajian-islam-tentang-bidah.html

    Pengertian Bid’ah

    Saudaraku yang semoga kita selalu mendapatkan taufik Allah, seringkali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga seringkali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya. Tulisan ini -insya Allah- akan sedikit membahas permasalahan bid’ah dengan tujuan agar kaum muslimin bisa lebih mengenalnya sehingga dapat mengetahui hakikat sebenarnya. Sekaligus pula tulisan ini akan sedikit menjawab berbagai kerancuan tentang bid’ah yang timbul beberapa saat yang lalu di website kita tercinta ini. Kami harapkan pembaca dapat membaca tulisan ini secara sempurna agar tidak muncul keraguan dan salah paham. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

    AGAMA ISLAM TELAH SEMPURNA

    Saudaraku, perlu kita ketahui bersama bahwa berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, agama Islam ini telah sempurna sehingga tidak perlu adanya penambahan atau pengurangan dari ajaran Islam yang telah ada.

    Marilah kita renungkan hal ini pada firman Allah Ta’ala,

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah [5] : 3)

    Seorang ahli tafsir terkemuka –Ibnu Katsir rahimahullah- berkata tentang ayat ini, “Inilah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang tebesar bagi umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama ini, juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Maka perkara yang halal adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan dan perkara yang haram adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ma’idah ayat 3)

    SYARAT DITERIMANYA AMAL

    Saudaraku –yang semoga dirahmati Allah-, seseorang yang hendak beramal hendaklah mengetahui bahwa amalannya bisa diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat diterimanya amal. Kedua syarat ini telah disebutkan sekaligus dalam sebuah ayat,

    فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

    “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Rabbnya dengan sesuatu pun.” (QS. Al Kahfi [18] : 110)

    Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat ini, “Inilah dua rukun diterimanya amal yaitu
    [1] ikhlas kepada Allah dan
    [2] mencocoki ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

    Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

    Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Sebagaimana hadits innamal a’malu bin niyat [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77, Darul Hadits Al Qohiroh)

    Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Secara tekstual (mantuq), hadits ini menunjukkan bahwa setiap amal yang tidak ada tuntunan dari syari’at maka amalan tersebut tertolak. Secara inplisit (mafhum), hadits ini menunjukkan bahwa setiap amal yang ada tuntunan dari syari’at maka amalan tersebut tidak tertolak. …Jika suatu amalan keluar dari koriodor syari’at, maka amalan tersebut tertolak.

    Dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘yang bukan ajaran kami’ mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilakukan hendaknya berada dalam koridor syari’at. Oleh karena itu, syari’atlah yang nantinya menjadi hakim bagi setiap amalan apakah amalan tersebut diperintahkan atau dilarang. Jadi, apabila seseorang melakukan suatu amalan yang masih berada dalam koridor syari’at dan mencocokinya, amalan tersebutlah yang diterima. Sebaliknya, apabila seseorang melakukan suatu amalan keluar dari ketentuan syari’at, maka amalan tersebut tertolak. (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77-78)

    Jadi, ingatlah wahai saudaraku. Sebuah amalan dapat diterima jika memenuhi dua syarat ini yaitu harus ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak ada, maka amalan tersebut tertolak.

    PENGERTIAN BID’AH

    [Definisi Secara Bahasa]

    Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 1/91, Majma’ Al Lugoh Al ‘Arobiyah-Asy Syamilah)

    Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam firman Allah Ta’ala,

    بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

    “Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah [2] : 117, Al An’am [6] : 101), maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya.

    Juga firman-Nya,

    قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

    “Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46] : 9) , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. (Lihat Lisanul ‘Arob, 8/6, Barnamej Al Muhadits Al Majaniy-Asy Syamilah)

    [Definisi Secara Istilah]

    Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:

    عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ

    Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

    Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi).

    Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah

    طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيْقَةِ الشَّرْعِيَّةِ

    Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah). (Al I’tishom, 1/26, Asy Syamilah)

    Definisi yang tidak kalah bagusnya adalah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan,

    وَالْبِدْعَةُ : مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ

    “Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346, Asy Syamilah)

    Ringkasnya pengertian bid’ah secara istilah adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna. (Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Fairuz Abadiy dalam Basho’iru Dzawit Tamyiz, 2/231, yang dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 26, Dar Ar Royah)

    Sebenarnya terjadi perselisihan dalam definisi bid’ah secara istilah. Ada yang memakai definisi bid’ah sebagai lawan dari sunnah (ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), sebagaimana yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Asy Syatibi, Ibnu Hajar Al Atsqolani, Ibnu Hajar Al Haitami, Ibnu Rojab Al Hambali dan Az Zarkasi. Sedangkan pendapat kedua mendefinisikan bid’ah secara umum, mencakup segala sesuatu yang diada-adakan setelah masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik yang terpuji dan tercela. Pendapat kedua ini dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Al ‘Izz bin Abdus Salam, Al Ghozali, Al Qorofi dan Ibnul Atsir. Pendapat yang lebih kuat dari dua kubu ini adalah pendapat pertama karena itulah yang mendekati kebenaran berdasarkan keumuman dalil yang melarang bid’ah. Dan penjelasan ini akan lebih diperjelas dalam penjelasan selanjutnya. (Lihat argumen masing-masing pihak dalam Al Bida’ Al Hawliyah, Abdullah At Tuwaijiri, http://www.islamspirit.com)

    Adakah Bid’ah Hasanah?

    Setiap bid’ah adalah tercela. Inilah yang masih diragukan oleh sebagian orang. Ada yang mengatakan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat, ada pula bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Untuk menjawab sedikit kerancuan ini, marilah kita menyimak berbagai dalil yang menjelaskan hal ini.

    [Dalil dari As Sunnah]

    Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. [Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya]. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

    Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

    وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

    “Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)

    Diriwayatkan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan,

    يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا

    “Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

    [Dalil dari Perkataan Sahabat]

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

    مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ

    “Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)

    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

    اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

    “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)

    Itulah berbagai dalil yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat.

    KERANCUAN: BID’AH ADA YANG TERPUJI ?

    Inilah kerancuan yang sering didengung-dengungkan oleh sebagian orang bahwa tidak semua bid’ah itu sesat namun ada sebagian yang terpuji yaitu bid’ah hasanah.

    Memang kami akui bahwa sebagian ulama ada yang mendefinisikan bid’ah (secara istilah) dengan mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang tercela dan ada yang terpuji karena bid’ah menurut beliau-beliau adalah segala sesuatu yang tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i dari Harmalah bin Yahya. Beliau rahimahullah berkata,

    الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة

    “Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela.” (Lihat Hilyatul Awliya’, 9/113, Darul Kitab Al ‘Arobiy Beirut-Asy Syamilah dan lihat Fathul Bari, 20/330, Asy Syamilah)

    Beliau rahimahullah berdalil dengan perkataan Umar bin Al Khothob tatkala mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat Tarawih. Umar berkata,

    نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

    “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (HR. Bukhari no. 2010)

    Pembagian bid’ah semacam ini membuat sebagian orang rancu dan salah paham. Akhirnya sebagian orang mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada yang tercela (bid’ah sayyi’ah). Sehingga untuk sebagian perkara bid’ah seperti merayakan maulid Nabi atau shalat nisfu Sya’ban yang tidak ada dalilnya atau pendalilannya kurang tepat, mereka membela bid’ah mereka ini dengan mengatakan ‘Ini kan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)’. Padahal kalau kita melihat kembali dalil-dalil yang telah disebutkan di atas baik dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun perkataan sahabat, semua riwayat yang ada menunjukkan bahwa bid’ah itu tercela dan sesat. Oleh karena itu, perlu sekali pembaca sekalian mengetahui sedikit kerancuan ini dan jawabannya agar dapat mengetahui hakikat bid’ah yang sebenarnya.

    SANGGAHAN TERHADAP KERANCUAN:

    KETAHUILAH SEMUA BID’AH ITU SESAT

    Perlu diketahui bersama bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama, pen)’, ‘setiap bid’ah adalah sesat’, dan ‘setiap kesesatan adalah di neraka’ serta peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, semua ini adalah dalil tegas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna berbagai hadits yang mencela setiap bid’ah. Barangsiapa menentang kandungan makna hadits tersebut maka dia adalah orang yang hina. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/88, Ta’liq Dr. Nashir Abdul Karim Al ‘Aql)

    Tidak boleh bagi seorang pun menolak sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, lalu mengatakan ‘tidak semua bid’ah itu sesat’. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93)

    Perlu pembaca sekalian pahami bahwa lafazh ‘kullu’ (artinya: semua) pada hadits,

    وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Setiap bid’ah adalah sesat”, dan hadits semacamnya dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh umum.
    Asy Syatibhi mengatakan, “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah)

    Inilah pula yang dipahami oleh para sahabat generasi terbaik umat ini. Mereka menganggap bahwa setiap bid’ah itu sesat walaupun sebagian orang menganggapnya baik. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

    “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1/219, Asy Syamilah)

    Juga terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

    فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.

    “Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”

    قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

    Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

    Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

    Lihatlah kedua sahabat ini -yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud- memaknai bid’ah dengan keumumannya tanpa membedakan adanya bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang jelek (sayyi’ah).

    BERALASAN DENGAN SHALAT TARAWIH YANG DILAKUKAN OLEH UMAR

    [Sanggahan pertama]

    Adapun shalat tarawih (yang dihidupkan kembali oleh Umar) maka dia bukanlah bid’ah secara syar’i. Bahkan shalat tarawih adalah sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dilihat dari perkataan dan perbuatan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tarawih secara berjama’ah pada awal Ramadhan selama dua atau tiga malam. Beliau juga pernah shalat secara berjama’ah pada sepuluh hari terakhir selama beberapa kali. Jadi shalat tarawih bukanlah bid’ah secara syar’i. Sehingga yang dimaksudkan bid’ah dari perkataan Umar bahwa ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini’ yaitu bid’ah secara bahasa dan bukan bid’ah secara syar’i. Bid’ah secara bahasa itu lebih umum (termasuk kebaikan dan kejelekan) karena mencakup segala yang ada contoh sebelumnya.

    Perlu diperhatikan, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan dianjurkan atau diwajibkannya suatu perbuatan setelah beliau wafat, atau menunjukkannya secara mutlak, namun hal ini tidak dilakukan kecuali setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat (maksudnya dilakukan oleh orang sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), maka boleh kita menyebut hal-hal semacam ini sebagai bid’ah secara bahasa. Begitu pula agama Islam ini disebut dengan muhdats/bid’ah (sesuatu yang baru yang diada-adakan) –sebagaimana perkataan utusan Quraisy kepada raja An Najasiy mengenai orang-orang Muhajirin-. Namun yang dimaksudkan dengan muhdats/bid’ah di sini adalah muhdats secara bahasa karena setiap agama yang dibawa oleh para Rasul adalah agama baru. (Disarikan dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93-96)

    [Sanggahan Kedua]

    Baiklah kalau kita mau menerima perkataan Umar bahwa ada bid’ah yang baik. Maka kami sanggah bahwa perkataan sahabat jika menyelisihi hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa menjadi hujah (pembela). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat sedangkan Umar menyatakan bahwa ada bid’ah yang baik. Sikap yang tepat adalah kita tidak boleh mempertentangkan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan sahabat. Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencela bid’ah secara umum tetap harus didahulukan dari perkataan yang lainnya. (Faedah dari Iqtidho’ Shirotil Mustaqim)

    [Sanggahan Ketiga]

    Anggap saja kita katakan bahwa perbuatan Umar adalah pengkhususan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Jadi perbuatan Umar dengan mengerjakan shalat tarawih terus menerus adalah bid’ah yang baik (hasanah). Namun, ingat bahwa untuk menyatakan bahwa suatu amalan adalah bid’ah hasanah harus ada dalil lagi baik dari Al Qur’an, As Sunnah atau ijma’ kaum muslimin. Karena ingatlah –berdasarkan kaedah ushul fiqih- bahwa sesuatu yang tidak termasuk dalam pengkhususan dalil tetap kembali pada dalil yang bersifat umum.

    Misalnya mengenai acara selamatan kematian. Jika kita ingin memasukkan amalan ini dalam bid’ah hasanah maka harus ada dalil dari Al Qur’an, As Sunnah atau ijma’. Kalau tidak ada dalil yang menunjukkan benarnya amalan ini, maka dikembalikan ke keumuman dalil bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam masalah agama (baca : setiap bid’ah) adalah sesat dan tertolak.

    Namun yang lebih tepat, lafazh umum yang dimaksudkan dalam hadits ‘setiap bid’ah adalah sesat’ adalah termasuk lafazh umum yang tetap dalam keumumannya (‘aam baqiya ‘ala umumiyatihi) dan tidak memerlukan takhsis (pengkhususan). Inilah yang tepat berdasarkan berbagai hadits dan pemahaman sahabat mengenai bid’ah.

    Lalu pantaskah kita orang-orang saat ini memakai istilah sebagaimana yang dipakai oleh sahabat Umar?
    Ingatlah bahwa umat Islam saat ini tidaklah seperti umat Islam di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu. Umat Islam saat ini tidak seperti umat Islam di generasi awal dahulu yang memahami maksud perkataan Umar. Maka tidak sepantasnya kita saat ini menggunakan istilah bid’ah (tanpa memahamkan apa bid’ah yang dimaksudkan) sehingga menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat. Jika memang kita mau menggunakan istilah bid’ah namun yang dimaksudkan adalah definisi secara bahasa, maka selayaknya kita menyebutkan maksud dari perkataan tersebut.

    Misalnya HP ini termasuk bid’ah secara bahasa. Tidaklah boleh kita hanya menyebut bahwa HP ini termasuk bid’ah karena hal ini bisa menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat.

    Kesimpulan: Berdasarkan berbagai dalil dari As Sunnah maupun perkataan sahabat, setiap bid’ah itu sesat. Tidak ada bid’ah yang baik (hasanah). Tidak tepat pula membagi bid’ah menjadi lima: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram karena pembagian semacam ini dapat menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat.

    HUKUM BID’AH DALAM ISLAM

    Hukum semua bid’ah adalah terlarang. Namun, hukum tersebut bertingkat-tingkat.

    Tingkatan Pertama: Bid’ah yang menyebabkan kekafiran sebagaimana bid’ah orang-orang Jahiliyah yang telah diperingatkan oleh Al Qur’an. Contohnya adalah pada ayat,

    وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا

    “Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”.” (QS. Al An’am [6]: 36)

    Tingkatan Kedua : Bid’ah yang termasuk maksiat yang tidak menyebabkan kafir atau dipersilisihkan kekafirannya. Seperti bid’ah yang dilakukan oleh orang-orang Khowarij, Qodariyah (penolak takdir) dan Murji’ah (yang tidak memasukkan amal dalam definisi iman secara istilah).

    Tingkatan Ketiga: Bid’ah yang termasuk maksiat seperti bid’ah hidup membujang (kerahiban) dan berpuasa diterik matahari.

    Tingkatan Keempat: Bid’ah yang makruh seperti berkumpulnya manusia di masjid-masjid untuk berdo’a pada sore hari saat hari Arofah.

    Jadi setiap bid’ah tidak berada dalam satu tingkatan. Ada bid’ah yang besar dan ada bid’ah yang kecil (ringan).

    Namun bid’ah itu dikatakan bid’ah yang ringan jika memenuhi beberapa syarat sebagaimana disebutkan oleh Asy Syatibi, yaitu:

    1. Tidak dilakukan terus menerus.
    2. Orang yang berbuat bid’ah (mubtadi’) tidak mengajak pada bid’ahnya.
    3. Tidak dilakukan di tempat yang dilihat oleh orang banyak sehingga orang awam mengikutinya.
    4. Tidak menganggap remeh bid’ah yang dilakukan.

    Apabila syarat di atas terpenuhi, maka bid’ah yang semula disangka ringan lama kelamaan akan menumpuk sedikit demi sedikit sehingga jadilah bid’ah yang besar. Sebagaimana maksiat juga demikian. (Pembahasan pada point ini disarikan dari Al Bida’ Al Hawliyah, Abdullah At Tuwaijiri, http://www.islamspirit.com)

    Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah

    Berikut kami sajikan beberapa alasan lain dalam membela bid’ah dan jawabannya.

    [1] Mobil, HP dan Komputer termasuk Bid’ah

    Setelah kita mengetahui definisi bid’ah dan mengetahui bahwa setiap bid’ah adalah tercela dan amalannya tertolak, masih ada suatu kerancuan di tengah-tengah masyarakat bahwa berbagai kemajuan teknologi saat ini seperti mobil, komputer, HP dan pesawat dianggap sebagai bid’ah yang tercela. Di antara mereka mengatakan, “Kalau memang bid’ah itu terlarang, kita seharusnya memakai unta saja sebagaimana di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

    Menurut kami, perkataan ini muncul karena tidak memahami bid’ah dengan benar.
    Perlu sekali ditegaskan bahwa yang dimaksudkan dengan bid’ah yang tercela sehingga membuat amalannya tertolak adalah bid’ah dalam agama dan bukanlah perkara baru dalam urusan dunia yang tidak ada contoh sebelumnya seperti komputer dan pesawat.

    Suatu kaedah yang perlu diketahui bahwa untuk perkara non ibadah (‘adat), hukum asalnya adalah tidak terlarang (mubah) sampai terdapat larangan. Hal inilah yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (sebagaimana dalam Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/86) dan ulama lainnya.

    Asy Syatibi juga mengatakan, “Perkara non ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah bid’ah. Namun jika perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah, maka dia bisa termasuk dalam bid’ah.” (Al I’tishom, 1/348)

    Para pembaca dapat memperhatikan bahwa tatkala para sahabat ingin melakukan penyerbukan silang pada kurma –yang merupakan perkara duniawi-, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    إِذَا كَانَ شَىْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْر دِينِكُمْ فَإِلَىَّ

    “Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadits ini hasan)

    Kesimpulannya: Komputer, HP, pesawat, pabrik-pabrik kimia, berbagai macam kendaraan, dan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini, itu semua adalah perkara yang dibolehkan dan tidak termasuk dalam bid’ah yang tercela. Kalau mau kita katakan bid’ah, itu hanyalah bid’ah secara bahasa yaitu perkara baru yang belum ada contoh sebelumnya.

    [2] Para Sahabat Pernah Melakukan Bid’ah dengan Mengumpulkan Al Qur’an

    Ada sebagian kelompok dalam membela acara-acara bid’ahnya berdalil bahwa dulu para sahabat -Abu Bakar, ‘Utsman bin ‘Affan, Zaid bin Tsabit- saja melakukan bid’ah. Mereka mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya. Jika kita mengatakan bid’ah itu sesat, berarti para sahabatlah yang akan pertama kali masuk neraka. Inilah sedikit kerancuan yang sengaja kami temukan di sebuah blog di internet.

    Ingatlah bahwa bid’ah bukanlah hanya sesuatu yang tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bisa saja suatu amalan itu tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan baru dilakukan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, dan ini tidak termasuk bid’ah. Perhatikanlah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya berikut.

    “Bid’ah dalam agama adalah sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang tidak diperintahkan dengan perintah wajib ataupun mustahab (dianjurkan).
    Adapun jika sesuatu tersebut diperintahkan dengan perintah wajib atau mustahab (dianjurkan) dan diketahui dengan dalil syar’i maka hal tersebut merupakan perkara agama yang telah Allah syari’atkan, … baik itu dilakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak. Segala sesuatu yang terjadi setelah masa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun berdasarkan perintah dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti membunuh orang yang murtad, membunuh orang Khowarij, Persia, Turki dan Romawi, mengeluarkan Yahudi dan Nashrani dari Jazirah Arab, dan semacamnya, itu termasuk sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ Fatawa, 4/107-108, Mawqi’ Al Islam-Asy Syamilah)

    Pengumpulan Al Qur’an dalam satu mushaf ada dalilnya dalam syari’at karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis Al Qur’an, namun penulisannya masih terpisah-pisah.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/97) mengatakan, “Sesuatu yang menghalangi untuk dikumpulkannya Al Qur’an adalah karena pada saat itu wahyu masih terus turun. Allah masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. Apabila tatkala itu Al Qur’an itu dikumpulkan dalam satu mushaf, maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap saat. Tatkala Al Qur’an dan syari’at telah paten setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam; begitu pula Al Qur’an tidak terdapat lagi penambahan atau pengurangan; dan tidak ada lagi penambahan kewajiban dan larangan, akhirnya kaum muslimin melaksanakan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan tuntutan (anjuran)-nya. Oleh karena itu, amalan mengumpulkan Al Qur’an termasuk sunnahnya. Jika ingin disebut bid’ah, maka yang dimaksudkan adalah bid’ah secara bahasa (yaitu tidak ada contoh sebelumnya, pen).”

    Perlu diketahui pula bahwa mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf merupakan bagian dari maslahal mursalah. Apa itu maslahal mursalah?

    Maslahal mursalah adalah sesuatu yang didiamkan oleh syari’at, tidak ditentang dan tidak pula dinihilkan, tidak pula memiliki nash (dalil tegas) yang semisal sehingga bisa diqiyaskan. (Taysir Ilmu Ushul Fiqh, hal. 184, 186, Abdullah bin Yusuf Al Judai’, Mu’assasah Ar Royyan). Contohnya adalah maslahat ketika mengumpulkan Al Qur’an dalam rangka menjaga agama. Contoh lainnya adalah penulisan dan pembukuan hadits. Semua ini tidak ada dalil dalil khusus dari Nabi, namun hal ini terdapat suatu maslahat yang sangat besar untuk menjaga agama.

    Ada suatu catatan penting yang harus diperhatikan berkaitan dengan maslahah mursalah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/101-103) mengatakan, “Setiap perkara yang faktor pendorong untuk melakukannya di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada dan mengandung suatu maslahat, namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya, maka ketahuilah bahwa perkara tersebut bukanlah maslahat. Namun, apabila faktor tersebut baru muncul setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan hal itu bukanlah maksiat, maka perkara tersebut adalah maslahat.”

  98. Contoh penerapan kaedah Syaikhul Islam di atas adalah adzan ketika shalat ‘ied. Apakah faktor pendorong untuk melakukan adzan pada zaman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ada? Jawabannya: Ada (yaitu beribadah kepada Allah). Namun, hal ini tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal ada faktor pendorong dan tidak ada penghalang. Pada zaman beliau ketika melakukan shalat ‘ied tidak ada adzan maupun iqomah. Oleh karena itu, adzan ketika itu adalah bid’ah dan meninggalkannya adalah sunnah.
    Begitu pula hal ini kita terapkan pada kasus mengumpulkan Al Qur’an. Adakah faktor penghalang tatkala itu? Jawabannya: Ada. Karena pada saat itu wahyu masih terus turun dan masih terjadi perubahan hukum. Jadi, sangat sulit Al Qur’an dikumpulkan ketika itu karena adanya faktor penghalang ini. Namun, faktor penghalang ini hilang setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena wahyu dan hukum sudah sempurna dan paten. Jadi, mengumpulkan Al Qur’an pada saat itu adalah suatu maslahat.

    Kaedah beliau ini dapat pula diterapkan untuk kasus-kasus lainnya semacam perayaan Maulid Nabi, yasinan, dan ritual lain yang telah membudaya di tengah umat Islam. –Semoga Allah memberikan kita taufik agar memahami bid’ah dengan benar-

    [3] Yang Penting Kan Niatnya!

    Ada pula sebagian orang yang beralasan ketika diberikan sanggahan terhadap bid’ah yang dia lakukan, “Menurut saya, segala sesuatu itu kembali pada niatnya masing-masing.”

    Kami katakan bahwa amalan itu bisa diterima tidak hanya dengan niat yang ikhlas, namun juga harus sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini telah kami jelaskan pada pembahasan awal di atas. Jadi, syarat diterimanya amal itu ada dua yaitu [1] niatnya harus ikhlas dan [2] harus sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Oleh karena itu, amal seseorang tidak akan diterima tatkala dia melaksanakan shalat shubuh empat raka’at walaupun niatnya betul-betul ikhlas dan ingin mengharapkan ganjaran melimpah dari Allah dengan banyaknya rukuk dan sujud. Di samping ikhlas, dia harus melakukan shalat sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah,

    لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

    “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk [67] : 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

    Lalu Al Fudhail berkata, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 19)

    Sekelompok orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka beralasan di hadapan Ibnu Mas’ud,

    وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.

    “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

    Lihatlah orang-orang ini berniat baik, namun cara mereka beribadah tidak sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Ibnu Mas’ud menyanggah perkataan mereka sembari berkata,

    وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

    “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid)

    Kesimpulan: Tidak cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik, tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kaedah yang benar “Niat baik semata belum cukup.”

    [4] Ini Kan Sudah Jadi Tradisi di Tempat Kami…

    Ini juga perkataan yang muncul ketika seseorang disanggah mengenai bid’ah yang dia lakukan. Ketika ditanya, “Kenapa kamu masih merayakan 3 hari atau 40 hari setelah kematian?” Dia menjawab, “Ini kan sudah jadi tradisi kami…”

    Jawaban seperti ini sama halnya jawaban orang musyrik terdahulu ketika membela kesyirikan yang mereka lakukan. Mereka tidak memiliki argumen yang kuat berdasarkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka hanya bisa beralasan,

    إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

    “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. Az Zukhruf [43] : 22)

    Saudaraku yang semoga selalu dirahmati Allah, setiap tradisi itu hukum asalnya boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan hukum syari’at dan selama tidak ada unsur ibadah di dalamnya. Misalnya, santun ketika berbincang-bincang dengan yang lebih tua, ini adalah tradisi yang bagus dan tidak bertentangan dengan syari’at. Namun, jika ada tradisi dzikir atau do’a tertentu pada hari ketiga, ketujuh, atau keempat puluh setelah kematian, maka ini adalah bid’ah karena telah mencampurkan ibadah dalam tradisi dan mengkhususkannya pada waktu tertentu tanpa dalil.

    Jadi, bid’ah juga bisa terdapat dalam tradisi (adat) sebagaimana perkataan Asy Syatibi, “Perkara non ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah bid’ah. Namun jika perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah, maka bisa termasuk dalam bid’ah.” (Al I’tishom, 1/348)

    Dan sedikit tambahan bahwa tradisi yang diposisikan sebagai ibadah sebenarnya malah akan menyusahkan umat Islam. Misalnya saja tradisi selamatan kematian pada hari ke-7, 40, 100, atau 1000 hari. Syari’at sebenarnya ingin meringankan beban pada hambanya. Namun, karena melakukan bid’ah semacam ini, beban hamba tersebut bertambah. Sebenarnya melakukan semacam ini tidak ada tuntunannya, malah dijadikan sebagai sesuatu yang wajib sehingga membebani hamba. Bahkan kadang kami menyaksikan sendiri di sebuah desa yang masih laris di sana tradisi selamatan kematian. Padahal kehidupan kebanyakan warga di desa tersebut adalah ekonomi menengah ke bawah. Lihatlah bukannya dengan meninggalnya keluarga, dia diringankan bebannya oleh tetangga sekitar. Malah tatkala kerabatnya meninggal, dia harus mencari utang di sana-sini agar bisa melaksanakan selamatan kematian yang sebenarnya tidak ada tuntunannya. Akhirnya karena kematian kerabat bertambahlah kesedihan dan beban kehidupan. Kami memohon kepada Allah, semoga Allah memperbaiki kondisi bangsa ini dengan menjauhkan kita dari berbagai amalan yang tidak ada tuntunannya.

    [5] Semua Umat Islam Indonesia bahkan para Kyai dan Ustadz Melakukan Hal Ini

    Ada juga yang berargumen ketika ritual bid’ah –seperti Maulid Nabi- yang ia lakukan dibantah sembari mengatakan, “Perayaan (atau ritual) ini kan juga dilakukan oleh seluruh umat Islam Indonesia bahkan oleh para Kyai dan Ustadz. Kok hal ini dilarang?!”

    Alasan ini justru adalah alasan orang yang tidak pandai berdalil. Suatu hukum dalam agama ini seharusnya dibangun berdasarkan Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin). Adapun adat (tradisi) di sebagian negeri, perkataan sebagian Kyai/Ustadz atau ahlu ibadah, maka ini tidak bisa menjadi dalil untuk menyanggah perkataan Allah dan Rasul-Nya.

    Barangsiapa meyakini bahwa adat (tradisi) yang menyelisihi sunnah ini telah disepakati karena umat telah menyetujuinya dan tidak mengingkarinya, maka keyakinan semacam ini jelas salah dan keliru. Ingatlah, akan selalu ada dalam umat ini di setiap waktu yang melarang berbagai bentuk perkara bid’ah yang menyelisihi sunnah seperti perayaan maulid ataupun tahlilan. Lalu bagaimana mungkin kesepakatan sebagian negeri muslim dikatakan sebagai ijma’ (kesepakatan umat Islam), apalagi dengan amalan sebagian kelompok?

    Ketahuilah saudaraku semoga Allah selalu memberi taufik padamu, mayoritas ulama tidak mau menggunakan amalan penduduk Madinah (di masa Imam Malik) –tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah- sebagai dalil dalam beragama. Mereka menganggap bahwa amalan penduduk Madinah bukanlah sandaran hukum dalam beragama tetapi yang menjadi sandaran hukum adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu bagaimana mungkin kita berdalil dengan kebiasaan sebagian negeri muslim yang tidak memiliki keutamaan sama sekali dibanding dengan kota Nabawi Madinah?! (Disarikan dari Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, 2/89 dan Al Bid’ah wa Atsaruha Asy Syai’ fil Ummah, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali, 49-50, Darul Hijroh)

    Perlu diperhatikan pula, tersebarnya suatu perkara atau banyaknya pengikut bukan dasar bahwa perkara yang dilakukan adalah benar. Bahkan apabila kita mengikuti kebanyakan manusia maka mereka akan menyesatkan kita dari jalan Allah dan ini berarti kebenaran itu bukanlah diukur dari banyaknya orang yang melakukannya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

    وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al An’am [6] : 116)

    Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi kita taufik untuk mengikuti kebenaran bukan mengikuti kebanyakan orang.

    [6] Baca Al Qur’an kok dilarang?!

    Ini juga di antara argumen dari pelaku bid’ah ketika diberitahu mengenai bid’ah yang dilakukan, “Saudaraku, perbuatan seperti ini kan bid’ah.” Lalu dia bergumam, “Masa baca Al Qur’an saja dilarang?!” Atau ada pula yang berkata, “Masa baca dzikir saja dilarang?!”

    Untuk menyanggah perkataan di atas, perlu sekali kita ketahui mengenai dua macam bid’ah yaitu bid’ah hakikiyah dan idhofiyah.

    Bid’ah hakikiyah adalah setiap bid’ah yang tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Al Qur’an, As Sunnah, ijma’ kaum muslimin, dan bukan pula dari penggalian hukum yang benar menurut para ulama baik secara global maupun terperinci. (Al I’tishom, 1/219)

    1. Bismillah,

      PERTANYAAN UNTUK SAUDARAKU ABU AHSAN

      Anda katakan :

      Contoh penerapan kaedah Syaikhul Islam di atas adalah adzan ketika shalat ‘ied. Apakah faktor pendorong untuk melakukan adzan pada zaman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ada? Jawabannya: Ada (yaitu beribadah kepada Allah). Namun, hal ini tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal ada faktor pendorong dan tidak ada penghalang. Pada zaman beliau ketika melakukan shalat ‘ied tidak ada adzan maupun iqomah. Oleh karena itu, adzan ketika itu adalah bid’ah dan meninggalkannya adalah sunnah.
      Begitu pula hal ini kita terapkan pada kasus mengumpulkan Al Qur’an. Adakah faktor penghalang tatkala itu? Jawabannya: Ada. Karena pada saat itu wahyu masih terus turun dan masih terjadi perubahan hukum. Jadi, sangat sulit Al Qur’an dikumpulkan ketika itu karena adanya faktor penghalang ini. Namun, faktor penghalang ini hilang setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena wahyu dan hukum sudah sempurna dan paten. Jadi, mengumpulkan Al Qur’an pada saat itu adalah suatu maslahat.

      Pertanyaan kami :

      – Faktor pendorong dan penghalang yang anda sebut diatas berdasar analisa apa ada sandaran hadits atau atsar yang menunjukkannya ?

      – Maaf, Bagaimana kalau faktor pendorong dan penghalang sebagaimana yang anda maksud diatas tidak sesuai fakta pada masa Rosululloh ?…

      Selanjutnya anda berkata :

      Kaedah beliau ini dapat pula diterapkan untuk kasus-kasus lainnya semacam perayaan Maulid Nabi, yasinan, dan ritual lain yang telah membudaya di tengah umat Islam.

      Pertanyaan kami :

      – Diatas anda menyandarkan pernyataan kepada Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah), namun selanjutnya anda mengambil contoh Maulid dan Yasinan, pertanyaan kami adalah :

      Bagaimana dengan pernyataan Syaikhul Islam berikut ? :

      Tentang Maulid :

      فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مُوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَدَّمْتُهُ لَكَ

      Jadi, mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai tradisi yang tidak jarang dilakukan oleh sebagian orang, dan ia memperoleh pahala yang sangat besar karena tujuannya yang baik serta sikapnya yang mengagungkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sebagaimana telah aku jelaskan sebelumnya padamu. (Iqtidho’us Shirootil Mustaqiim, hal. 297)

      Tentang Yasinan (Dzikir Bersama-sama):

      وَسُئِلَ : عَنْ رَجُلٍ يُنْكِرُ عَلَى أَهْلِ الذِّكْرِ يَقُولُ لَهُمْ : هَذَا الذِّكْرُ بِدْعَةٌ وَجَهْرُكُمْ فِي الذِّكْرِ بِدْعَةٌ وَهُمْ يَفْتَتِحُونَ بِالْقُرْآنِ وَيَخْتَتِمُونَ ثُمَّ يَدْعُونَ لِلْمُسْلِمِينَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ وَيَجْمَعُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّكْبِيرَ وَالْحَوْقَلَةَ وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُنْكِرُ يُعْمِلُ السَّمَاعَ مَرَّاتٍ بِالتَّصْفِيقِ وَيُبْطِلُ الذِّكْرَ فِي وَقْتِ عَمَلِ السَّمَاعِ ”
      فَأَجَابَ : الِاجْتِمَاعُ لِذِكْرِ اللهِ وَاسْتِمَاعِ كِتَابِهِ وَالدُّعَاءِ عَمَلٌ صَالِحٌ وَهُوَ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فِي الْأَوْقَاتِ فَفِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { إنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ فَإِذَا مَرُّوا بِقَوْمِ يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إلَى حَاجَتِكُمْ } وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ { وَجَدْنَاهُمْ يُسَبِّحُونَك وَيَحْمَدُونَك } لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ هَذَا أَحْيَانًا فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ وَالْأَمْكِنَةِ فَلَا يُجْعَلُ سُنَّةً رَاتِبَةً يُحَافَظُ عَلَيْهَا إلَّا مَا سَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُدَاوَمَةَ عَلَيْهِ فِي الْجَمَاعَاتِ ؟ مِنْ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِي الْجَمَاعَاتِ وَمِنْ الْجُمُعَاتِ وَالْأَعْيَادِ وَنَحْوِ ذَلِكَ . وَأَمَّا مُحَافَظَةُ الْإِنْسَانِ عَلَى أَوْرَادٍ لَهُ مِنْ الصَّلَاةِ أَوْ الْقِرَاءَةِ أَوْ الذِّكْرِ أَوْ الدُّعَاءِ طَرَفَيْ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ وَغَيْر ذَلِكَ : فَهَذَا سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا

      Syaikh Ibnu Taimiyah ditanya tentang seseorang yang mengingkari ahli dzikir (berjama’ah) dengan berkata pada mereka : “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah.” Jama’ah tersebut memulai dan menutup dzikirnya dengan al qur’an, lalu mendo’akan kaum muslimin yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Mereka merangkai bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Hauqolah (Laa Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah) dan sholawat kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ?

      Syaikh Ibnu Taimiyah menjawab :”Berkumpul untuk berdzikir, mendengarkan al qur’an dan berdo’a adalah amal sholih dan termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama di setiap waktu. Dalam shohih (Al Bukhori) bahwasannya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Alloh memiliki banyak malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Alloh, maka mereka memanggil : “Silahkan sampaikan hajat kalian”, Ibnu Taimiyah menuturkan hadits tersebut (secara utuh), dan didalamnya terdapat redaksi; “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”. Akan tetapi hendaknya hal ini dilakukan dalam sebagian waktu dan keadaan, dan tidak menjadikannya sebagai sunnah yang dipelihara yang mengiringi sholat, kecuali perkara yang telah di contohkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam untuk di lakukan secara istiqomah berupa sholat lima waktu, jum’at, dan perayaan-perayaan (‘id) juga yang semisal. Adapun memelihara rutinitas wirid-wirid yang ada padanya, berupa sholawat, bacaan al qur’an, dzikir, atau do’a setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan hamba-hamba Alloh yang sholih zaman dahulu dan sekarang. (Majmu’ Fataawaa, vol. 22, hal. 520)

      Ini dulu, Mohon penjelasannya…. Bersambung

    2. terimaksih bang abuahsan atas penjelasan.. tapi abang blm jelaskan tentang pembagian bida’ah menjadi 2 , bid’ah hakikiyah dan idhofiyah beserta contoh-contohnya …. tolong bang biar lebih paham .

  99. إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

    “(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari no. 7051)

    Inilah do’a laknat untuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbuat bid’ah.

    Ibnu Baththol mengatakan, “Demikianlah, seluruh perkara bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama tidak diridhoi oleh Allah karena hal ini telah menyelisihi jalan kaum muslimin yang berada di atas kebenaran (al haq). Seluruh pelaku bid’ah termasuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membuat-buat perkara baru dalam agama. Begitu pula orang yang berbuat zholim dan yang menyelisihi kebenaran, mereka semua telah membuat sesuatu yang baru dan telah mengganti dengan ajaran selain Islam. Oleh karena itu, mereka juga termasuk dalam hadits ini.” (Lihat Syarh Ibnu Baththol, 19/2, Asy Syamilah) -Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perkara bid’ah dan menjadikan kita sebagai umatnya yang akan menikmati al haudh sehingga kita tidak akan merasakan dahaga yang menyengsarakan di hari kiamat, Amin Ya Mujibad Du’a-

    [Keempat, pelaku bid’ah akan mendapatkan dosa jika amalan bid’ahnya diikuti orang lain]

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

    “Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1017)

    Wahai saudaraku, perhatikanlah hadits ini. Sungguh sangat merugi sekali orang yang melestarikan bid’ah dan tradisi-tradisi yang menyelisihi syari’at. Bukan hanya dosa dirinya yang akan dia tanggung, tetapi juga dosa orang yang mengikutinya. Padahal bid’ah itu paling mudah menyebar. Lalu bagaimana yang mengikutinya sampai ratusan bahkan ribuan orang? Berapa banyak dosa yang akan dia tanggung? Seharusnya kita melestarikan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenapa harus melestarikan tradisi dan budaya yang menyelisihi syari’at? Jika melestarikan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam -seperti mentalqinkan mayit menjelang kematiannya bukan dengan talqin setelah dimakamkan- kita akan mendapatkan ganjaran untuk diri kita dan juga dari orang lain yang mengikuti kita. Sedangkan jika kita menyebarkan dan melestarikan tradisi tahlilan, yasinan, maulidan, lalu diikuti oleh generasi setelah kita, apa yang akan kita dapat? Malah hanya dosa dari yang mengikuti kita yang kita peroleh.

    Marilah Bersatu di Atas Kebenaran

    Saudaraku, kami menyinggung masalah bid’ah ini bukanlah maksud kami untuk memecah belah kaum muslimin sebagaimana disangka oleh sebagian orang jika kami menyinggung masalah ini. Yang hanya kami inginkan adalah bagaimana umat ini bisa bersatu di atas kebenaran dan di atas ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar. Yang kami inginkan adalah agar saudara kami mengetahui kebenaran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang kami ketahui. Kami tidak ingin saudara kami terjerumus dalam kesalahan sebagaimana tidak kami inginkan pada diri kami. Semoga maksud kami ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib,

    إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

    “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud [11] : 88)

    Inilah sedikit pembahasan mengenai bid’ah, kerancuan-kerancuan di dalamnya dan dampak buruk yang ditimbulkan. Semoga dengan tulisan yang singkat ini kita dapat semakin mengenalinya dengan baik. Hal ini bukan berarti dengan mengetahuinya kita harus melakukan bid’ah tersebut. Karena sebagaimana perkataan seorang penyair,

    عَرَّفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ …
    وَمَنْ لاَ يَعْرِفُ الشَّرَّ مِنَ النَّاسِ يَقَعُ فِيْهِ

    Aku mengenal kejelekan, bukan berarti ingin melakukannya, tetapi ingin menjauhinya
    Karena barangsiapa tidak mengenal kejelekan, mungkin dia bisa terjatuh di dalamnya

    Ya Hayyu, Ya Qoyyum. Wahai Zat yang Maha Hidup lagi Maha Kekal. Dengan rahmat-Mu, kami memohon kepada-Mu. Perbaikilah segala urusan kami dan janganlah Engkau sandarkan urusan tersebut pada diri kami, walaupun hanya sekejap mata. Amin Yaa Mujibbas Sa’ilin.

    Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

    ***

    Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.
    Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris Munandar
    Artikel http://www.muslim.or.id

    1. Bismillah,

      Kepada @segenap saudaraku ASWAJA, ada baiknya biar diskusinya fokus kita serahkan saja pada Ust. Ahmad Syahid, kita nyimak bersama dan semoga mendapat kemanfaatan….

      maaf kalo ana ngelempar pertanyaan duluan tanpa mengetahui adanya ust. ahmad syahid yang nenggapi duluan…. afwan ustadz… monggo dilanjut…

      1. Afwan Ustadz Abu Hilya , saat ini ana juga lagi diskusi di Blog MZ biar Fokus antum aja yang ngeladenin Abu Ahsan , lagi pula antum lebih Faham soal Bid`ah Insya Allah ana ikut menyimak.

    2. Mas @abu hilya
      Menurut ana sih, gak usah dilayani, karena kalau dilihat gaya bahasa dan gaya copasnya, ana tahu siapa @abuahsan ini, @abuahsan alias orang paling ngeyel diblog ini yang gak berani lagi nongol diblog ini, dia ganti nama jadi @abuahsan.
      Kita lihat aja kalau sabtu dan minggu dia gak nongol, ditambah jam kerja waktu nongolnya, ana pastikan si tukang ngeyel – mudah2an ini analisa jelek ana aja ya, tapi bisa dicoba.

      1. Bismillah,

        Mas @Ucep, ada baiknya kalao anda ada sempat silahkan dilayani, demi menambah pengetahuan pengunjung yang lain…afwan karena ana lagi nyelesaikan bantahan untuk Sang Ustadz…

        Mas @Admin, Syubhat pertama sudah selesai, tapi panjaaaang banget….

        1. Mas @abu hilya, maaf panggil kata “Mas”
          Tenang aja, disini banyak yang bisa, terkhusus sama mas @agung dan mbak @putri kharisma yang siap melayani.
          Teruskan aja menulisnya sampai selesai, karena sangat ditunggu postingannnya sama teman2.
          Ana juga lagi bolak balik ke daerah, mengantar 2 orang mualaf dari Perancis yang langsung belajar Tasawuf, dibulan maulid ini mereka ingin wisata kedaerah2 dan makam para wali, sore ini akan menuju Panjalu situ lengkong, semalam dari cirebon. Tapi tenang aja, moga2 ana sama teman2 bisa melayani diskusinya.

        2. Mas Ucep benar , teruskan menulis selesaikan kami menunggu , sebab kekuatan wahabi hanya dari copas untuk mengimbanginya perlu ada tulisan Bantahan untuk memudahkan saudara2 kita menandingi ilmu Copas mereka , Ustadz Abu Hilya tenang aja toh abu ahsan blm menjawab sedikit pun pertanyaan antum.

          dan ternyata di Blog MZ pun sama wahabiyun hanya bisa copas , awalnya ana kira `alim nyatanya cuma mampu copipaste giliran ditanya glagapan gak bisa jawab.

          mas Ucep sering bawa muallaf ya…..? bagi cerita dong….. awalanya gimana …….antum hebat banyak yang masuk Islam ditangan antum.

          1. Mas @Ahmad syahid, maaf kata “Mas”
            Tadinya 2 orang ini mau ke uzdbekistan, mau menulusuri sejarah islam, tapi dia ketemu ana di Aqsha (umroh-bln april 2012), setelah obrol2 dan tau ana dari Indonesia, dia lsg ikut ana ke Indonesia, jadi dia ikut terus sampai sekarang. Wah 2 orang itu hebaaat banget tasawufnya/dzikirnya.
            Menurut 2 orang ini yang lulusan Antrhopology, dia yakin bahwa Indonesia adalah Peradaban yang hilang, dari zaman Nabi Ibrahim dan Negeri Sulaiman. Contohnya dia bilang, Perahu Nabi Nuh terbuat dari jati kualitas tinggi, Jati hanya ada di Indonesia. Terus Wanasaba atau Wonosobo itu berasal dari kata Wana = Hutan, Saba = Negeri Saba. Begitu juga Candi2, semua candi di Indonesia gak ada yang tau tahun awal pembuatannya, Waktu Nabi Sulaiman diketahui Iblis Wafat, maka iblis gak melanjutkan pembuatannya, makanya candi2 diIndonesia Acak2an tempatnya. Apakah itu betul ana percaya aja dulu.

            Kalau mengislamkan mungkin itu taqdir ana kali mas, Ana juga bingung.

          2. masya Allah Mas Ucep , barakallahu fiikum , saya juga merasa cockok pake kata ” Mas ” , dipanggil Ustadz malah keki (sebab bukan ).

            oh ya mas Ucep benang sejarahnya blm ketemu ya…..? mungkin patut ditanyakan apakah banjir pada masa Nabiyullah Nuh as , membanjiri seluruh muka Bumi atau seluruh daratan kaum Nabi Nuh saja.

            `ala kulli haal sudah banyak orang masuk Islam ditangan antum menjadi tabungan diakherat kelak Insya Allah.

            maaf baru dibales dari semalem ngakses Ummati gak bisa.

          3. Mas @Ahmad Syahid
            Pertanyaan mas, sama dengan kalau saya mengaji trus ketemu surat tentang Nabi Nuh as, selalu terbersit dikepala “Apakah memang lautan ini terbentuk, pada saat zaman Nabi Nuh as dan apakah bumi ini semua terendam”. Ini juga saya tanya mereka berdua, dijawab ya, tapi tidak satu perahu tapi beberapa perahu, katanya ini dengan ditemukannya beberapa fosil perahu besar di Turki, Rusia, Cina dan meksiko. Fosil2 itu sekarang posisinya ada didalam lembah bahkan ada dipuncak bukit (yang diTurki).
            Saya bilang, apakah anda sudah lihat semua, dijawab baru 2 (Turki dan Cina).
            Apakah anda yakin itu kapal Nabi Nuh as, padahal Allah juga mengazab Bangsa Sodom Nabi Luth as, dengan Hujan, Badai dan Petir selama berhari-hari. Dijawab : Ya, bukankah Sodom, disebutkan hanya Bangsa didalam al Qur’an, tidak mnyeluruh Bangsa.
            Saya bilang, umur saya 34 th, tahun depan kalau anda kesini lagi, saya mungkin sudah dirumah sakit jiwa. dia bilang, ini al Qur’an Riil, tidak bohong, cuma israel yang akan mengubah semua sejarah dan peradaban manusia yang dijelaskan oleh al Qur’an. Kenapa Hitler ingin memusnahkan bangsa Israel, karena dia tahu maksud ini. (Wah sama dengan wahabi ya mas, dengan mengacak-acak kitab klasik).

            Amiin Mas, semoga mas @Ahmad Syahid juga.

        3. Ustadz Abu hilya, kami tunggu tulisan SYUBHAT BAGIAAN PERTAMA, panjang banget tidak masalah, syukron.

          SYUBHAT BAGIAN KETIGA-nya sudah masuk daftar tunggu postingan di UmmatiPress.

          1. Bismillah,

            Mas @Admin, Bantahan untuk Syubhat pertama koq belum nyampai ? padahal udah kami coba kirim hari Jum’at kemarin…. afwan..

  100. al-hamdulillah terimaksih banyak Abu Ahsan atas penjelasannya , namun maaf kenapa antum diatas mengatakan ” maaf disini saya tidak memandang definisi bid’ah dari imam syafi’i atau ala usaimin ” , namun nyatanya antum bawakan kaidah Bid`ah versi Wahabi yang juga versi Ibnu ustaimin , saya jadi ragu akan kebenarannya sebab belum apa2 anda sudah mentadlis ( muslihat ).

    jika keadaannya demikian sebaiknya kita diskusikan yuk….biar jelas siapakah yang mengikuti Sunnah dan siapakah yang melakukan Bid`ah………?

  101. baru terbit lgi nh, coz hbs sibuk dri bikin laporan tahunan,heee abu ahsan akhsan ta jazakallah khairan telah membawa artikel ust muhammad abduh yang di moraja’ah oleh ust aris munandar. ilmiyah banget abu ahsan, ud lama ga berjumpa dengan ust. aris munandar. mantap perkataannya ” Aku mengenal kejelekan, bukan berarti ingin melakukannya, tetapi ingin menjauhinya
    Karena barangsiapa tidak mengenal kejelekan, mungkin dia bisa terjatuh di dalamnya”.

  102. Tapi kenyataannya dalam praktek kok beda ya, saya lihat Wahabi itu terlalu banyak kejelekannya tapi antum kok melakukannya? nah… kenapa itu?

    Berarti prinsip ustadz aris munandar itu cuma jadi jargon kosong, betul?

  103. @Mas Yanto Jenggot
    Betul Mas, mereka melihat yang baik-baik dibilang jelek, dan dijelek-jelekkan. Melihat yang jelek, mereka getol banget ngerjainnya.

  104. tuhan memang tiak perlu dibela, bagaimana anda mambela tuhan? sedangkan anda mohon perlindungan kepada tuhan, bagaimana mungkin mahluk selemah kita membela dzat yang maha perkasa dan maha kuat,? kita kelindas mobil aja mati, sedangkan tuhan memiliki langit,bumi, dan isinya. lebih besar mana mobil dan bumi ? kita ini hanya penghuni sebutir debu jika dilihat dari alam jagat raya., yang pantas dibela,diberi atau dikasihani adalah yang lemah.

  105. kita warga NU kebanyakan tertipu oleh kaum wahabi, seakan akan mau memberantas kemaksiatan. padahal mereka seandainya lebih kuat dari NU, kita warga NU akan dihabisi, mereka anggap darah warga NU halal,, dengan berkedok musyrik…
    Tahukah anda ? undang undang pornografi itu, tujuan akhirnya mengganti kitab suci Al-Qur”an. Untungnya GusDur cepat tanggap dan mematahkan niat utama mereka dengan mengatakan “Al-Qur”an kitab paling porno”. suatu saat mereka akan terus mencari cara lain. percayalah !!. (terimakasih GusDud)

  106. kita tidak usah bingung dengan pernyataan dan apa yang dilakukan GusDur, beliau amat simple dan jelas.
    GusDur memberi tahu pada kita umat muslim, terutama kaum nahdiyin harus waspada dan hati hati, kenapa beliau bersahabat dengan nasrani dan yahudi ?.sampai beliau harus keliling dunia sewaktu menjabat sebagai presiden. Karna musuh yang paling berbahaya adalah musuh dalam selimut. pandai merubah warna, mengatas namakan membela agama, memberantas kemaksiatan, memberantas kemusyrikan, padahal mereka membenci Rosulullah, dendam pada Rosulullah. mereka dan anak keturunannya diharamkan bersolawat pada Nabi Muhammad SAW. GusDur sudah jelas jelas memberi tahu pada kita, mereka keturunan musailamah alkadzab. sia sia kita berdebat dengan mereka. karna tujuan mereka adalah untuk menghancurkan bukan mencari kebenaran. ( terimakasih GusDur, saya orang awam jadi bisa tahu yang dulunya tidak tahu, dan hampir terbawa arus jahat berkedok kebaikan )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker