Opini Inspiratif

Harusnya Adhyaksa Dault Belajar dari Kesalahan FPI

Denny Siregar : Harusnya Pak Adhyaksa Dault Belajar dari Kesalahan FPI

Pertarungan Pilkada Jakarta masih dua tahun ke depan, Deny Siregar sudah bisa mengatakan dengan penuh percaya diri, bahwa pak Adhyaksa Dault sudah gagal.

“Harusnya pak Adhyaksa belajar dari kesalahan FPI,” kata Deny Siregar. “Jangan menyerah, pak. Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Tundalah 5 tahun lagi,” tambahnya.

 

 

Islam-Institute, Jakarta – Denny Siregar dalam akun facebooknya membuat analisa tentang pencalonan Adhyaksa Dault dalam pemilihan Gubernur DKI. Adhyaksa gunakan cara politik orde Baru era pak Harto, dengan cara tunggangi agama dalam melawan rivalnya yaitu AHOK.

Di era media online yang serba digital sekarang ini, nyaris semua strategi calon pemimpin bisa dilihat, dianalisa dan diprediksi bagaimana hasilnya ke depan. Tak terkecuali apa yang dilakukan Adhyaksa Dault dalam bermain strategi, bisa dilihat transparan, dan begitu mudah ditebak bagaimana nanti hasilnya.

Pertarungan Pilkada Jakarta masih dua tahun ke depan, Deny Siregar sudah bisa mengatakan dengan penuh percaya diri, bahwa pak Adhyaksa Dault sudah gagal.

“Harusnya pak Adhyaksa belajar dari kesalahan FPI,” kata Deny Siregar. “Jangan menyerah, pak. Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Tundalah 5 tahun lagi,” tambahnya.

Berikut ini analisa Deny Siregar selengkapnya ….

 

GAGAL MANING, PAK ADHYAKSA

Kalau soal manuver politik boleh-lah pak Adhyaksa dault ini.

BACA :  FPI Laporkan Gubernur DKI 'Ahok' ke KPK, Karena Korupsi?

Track record beliau mulai dari menjadi ketua senat mahasiswa sampai didapuk menjadi menteri pemuda dan olahraga, menunjukkan kepiawaiannya bermain politik. Ketika paham bahwa “ajakan”nya supaya Ahok masuk Islam mendapat sambutan yang kurang baik, beliau putar haluan dengan mengajak 10 orang pendeta untuk mengusungnya.

Ada poin yang ingin diangkat dengan situasi ini. Pertama, beliau ingin menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang sangat toleran. Buktinya, pendeta pun mendukung beliau.

Yang kedua, Ahok harus dihadapkan dengan pendeta, pimpinan jemaat. Biarlah orang Kristen yang menasehati Kristen lainnya. Kalau yang menasehati beragama Islam, nanti dibilang SARA, sok mencampuri keyakinan orang lain dan bla bla lainnya. Sekali tepuk, dapat dua lalat. Senyum-pun mengembang dibalik kumis indah yang membentang.

Hanya ada satu yang mengganjal. Kenapa masih suka bermain-main di wilayah agama ?

Politik berjubah agama adalah mainan orde baru. Pada masa itu, agama dijadikan sebagai baju untuk menjaring massa yang juga senang pakai baju. Mulai dari partai berlambang Ka’bah sampai ada istilah Jenderal hijau adalah cara-cara efektif untuk menarik simpati masyarakat sampai ke arah pendulangan suara pada. Dan pak Adhyaksa tumbuh besar di masa-masa itu.

banner gif 160 600 b - Harusnya Adhyaksa Dault Belajar dari Kesalahan FPI

Sayangnya, pak Adhyaksa mungkin terlupa bahwa era sudah berubah.

Era media sosial ini, mau tidak mau membuka banyak borok mereka yang membawa agama dalam misi politiknya. Entah berapa banyak pemuka agama yang jatuh karena terlalu berat mengemban amanah sedangkan pola berfikir mereka masih “mumpung ada kesempatan”. Bully-an terhadap mereka yang membawa-bawa agama dalam misi politiknya dan terjatuh, jauh lebih parah dari bully-an mereka yang jatuh tetapi tidak membawa nama agama.

BACA :  Demo Minta Ahok Ditangkap, Ibu-Ibu Ini Dapat Bayaran Rp 50 ribuan

Era keterbukaan ini, pola berfikir masyarakat pun mengalami peningkatan. Standar mereka sangat tinggi, apalagi ketika kita berbicara wilayah ibukota. Mereka lebih menyukai pemimpin dengan tindakan daripada pemimpin yang sibuk dengan seragam.

Pak Adhyaksa seharusnya cermat mengamati ini sejak awal jika ingin memenangkan pertarungan. Membawa-bawa agama dalam kancah politik Indonesia sekarang adalah manuver yang ketinggalan zaman. Ibarat sekarang kita sudah masuk pada era smartphone, tapi strategi yang dipakai masih telepon fixed line. Mana nomernya yang masih pake putaran lagi, bukan yang sudah pencetan.

Yang kasihan sebenarnya adalah para pemuka agama yang pak Adhyaksa usung kemana-mana. Mereka akan di bully habis-habisan di media sosial. Apalagi gelar pendeta di dalam agama Kristen, haram hukumnya bermain politik. Pendeta urusannya jemaat. Mereka adalah gembala, jangan jadikan mereka serigala.

Harusnya pak Adhyaksa belajar dari kesalahan FPI, yang membawa baju agama sampai melantik Gubernur tandingan yang bayar iuran RW-pun kurang. Kasihan beliau si Gubernur tandingan, hilang entah kemana. Jadinya malah ketahuan kalau belum bayar iuran.

BACA :  Jurus Ahok: Karir Pejabat Top Eselon 2 yang Nyetor Upeti Bakal Tamat

Mungkin pak Adhyaksa tidak sadar, bahwa manuver bapak malah mengangkat nama Ahok di kalangan agamanya dia. Perilaku Ahok dalam memimpin Jakarta menunjukkan bahwa ia sangat Kristen dan menjalankan ajaran Yesus dengan benar. Kalau pendeta yang bapak usung menyerang Ahok, malah banyak yang bertanya kenapa orang yang sudah menjalankan ajaran agamanya dengan baik diserang? Yang nyerang pendeta lagi, orang yang seharusnya lebih mengerti ajaran dengan benar.

Disini saya harus memberikan standing applause untuk Ahok, maaf ya pak Adhyaksa. Serangan kepada Ahok oleh pendeta yang bapak bawa malah menjadi senjata makan tuan. Umat Kristen jadi paham dan terbuka matanya, bahwa di dalam agama mereka, bahkan orang yang seharusnya mereka hormati dan mereka percaya kata-katanya, ternyata bisa salah melangkah. Ahok menampar par par mereka yang berbaju pendeta tetapi punya kepentingan pribadi di baliknya. Jangan sampai para pendeta yang bapak usung membuka bajunya dibagian dada dan berteriak histeris sambil menangis, “Tampar aku, koh Ahok…. Tampar aku…”

Mungkin sudah saatnya bapak mengumpulkan semua timses bapak dalam ruangan meeting, dan tatap mereka dengan geram sambil bergumam, “Son…. Kalian gagal maning, gagal maning son….” Jangan menyerah, pak. Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Tundalah 5 tahun lagi.  (AL/ARN/Denny Siregar)

Sumber: Akun Facebook Denny Siregar

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker