Breaking News

Hadits-hadits Tentang Bid’ah dan Penjelasannya

Hadits-hadits tentang bid'ah Hadist-hadits Tentang Bid’ah yang Membatasi Keumuman Hadits : Wa kulla Bid’atin Dholalah     وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَة –

Hadist-hadits Tentang Bid’ah kami kemukakan di sini menurut penjelasan para Imam Ulama Ahlussunnah, yang mana penjelasan beliau-beliau dengn sangat jelas menunjukkan bahwa bid’ah itu ternyata tidak semuanya sesat. Kalau mereka yang anti bid’ah hasanah masih bersikeras tidak mengakui adanya bid’ah hasanah, maka itu artinya sama saja mereka menganggap sesat para Imam Ulama Ahlussunnah yang sudah terkenal keshalihannya. Dan itulah yang diinginkan Zionis Yahudi, agar umat Islam menganggap sesat para Ulamanya dan sekaligus agar mereka tidak percaya dengan para Ulamanya. Na’udzu billah min dzaalik.

”IndoWebsite”

a.      Hadits dari Sayyidina Jarir bin Abdillah RA.

عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَلْبَجَلِي قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَاَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَ وِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ ان يَنْقُص مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Jarir bin Abdillah al-Bajali rodhiyallohu anhu berkata, Rosululloh shollallahu‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalamIslam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yangmelakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Danbarangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akanmemperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnyatanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

Al Imam Syarof bin Yahya an Nawawi –rohimahulloh- ketika mensyarah hadits dari sahabat Jarir ibn Abdillah ra diatas, beliau berkata :

وَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ تَخْصِيْصُ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ اَلْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُوْمَةُ وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُ هَذَا فِي كِتَابِ صَلَاةِ الْجُمْعَةِ وَذَكَرْنَا هُنَاكَ أَنَّ الْبِدَعَ خَمْسةُ أَقْسَامٍ

Artinya: Dan dalam hadits ini terdapat “Takhsish” (pembatasan keumuman) terhadap sabda Rosululloh shollallahu‘alaihi wa sallam, (yang berbunyi) “Setiap perkara baru adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat”. Sesungguhnya yang dikehendaki dengan hadits tersebut adalah “Al Muhdatsaat Al Bathilah dan Al Bida’ Al Madzmumah” (perkara-perkara baru yang bathil dan bid’ah-bid’ah yang tercela). Dan sungguh penjelasan tentang masalah ini telah lalu pada “Kitab Sholat Jum’ah” dan telah kami terangkan di sana bahwasannya bid’ah terbagi atas lima bagian. (Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, vol. VII, hlm. 104 Shameela)

b.     Hadits/Atsar Sayyidina Abdulloh bin Mas’ud RA :

 

مَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَ مَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ وَ قَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ جَمِيْعًا أَنْ يَسْتَخْلِفُوا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه

Apa yang dipandang baik oleh ummat Islam, maka ia baik di sisi Allah, dan apa yang dipandang buruk oleh ummat Islam, maka ia buruk disisi Allah. Dan sungguh para sahabat secara keseluruhan berpendapat untuk mengangkat Sayyidina Abu bakar RA, menjadi Kholifah. (HR. Hakim dan sanadnya dinyatakan sohih, dan disohihkan pula oleh Imam Ad Dzahabi, Al Mustadrok, vol. III, hlm. 83)

Imam Ahmad dalam musnadnya dan juga Imam at Thobroni dalam al Ausath juga meriwayatkan hadits diatas dengan redaksi:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ:إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

“Dari Abdulloh ibn Mas’ud ia berkata: “Sesungguhnya Allah memandang hati para hamba, maka Dia menemukan hati Nabi Muhammad shollallahu‘alaihi wa sallam sebagai hati yang terbaik diantara seluruh hati hamba-Nya, maka Dia memilih Muhammad untuk-Nya, kemudian Dia mengutusnya dengan membawa risalah-Nya, selanjutnya Allah memandang hati para hamba selain hati nabi Muhammad shollallahu‘alaihi wa sallam, maka Dia mendapati hati para sahabat Nabi sebagai hati yang terbaik dari hati para hamba, maka Dia jadikan mereka pembantu nabi-Nya, mereka berperang diatas agama-Nya, maka apa yang dipandang baik oleh Ummat Islam maka ia baik di sisi Allah, dan apa yang dipandang buruk oleh ummat islam maka ia buruk di sisi Alloh. “ (HR. Ahmad dan At Thobroni)

c.       Bid’ah yang ada pada masa Rosululloh shollallahu‘alaihi wa sallam.

  1. Hadits Sayyidina Mu’adz bin Jabal :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ اَبِي لَيْلَى قَالَ : كَانَ النَّاسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَاءَهُ الرَّجُلُ وَقَدْ فَاتَهُ شَيْئٌ مِنَ الصَّلَاةِ اَشَارَ اِلَيْهِ النَّاسُ فَصَلَّى مَا فَاتَهُ ثُمَّ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ ثُمَّ جَاءَ يَوْمًا مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَاَشَارُوا اِلَيْهِ فَدَخَلَ وَلمْ يَنْتَظِرْ مَا قَالُوا , فَلَمَّا صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرُوا لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :”سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌوَفِي رِوَايَةِ سَيِّدِنَا مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ:إِنَّهُ قَدْ سَنَّ لَكُمْ مُعَاذٌ فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا.

Abdurrohman bin Abi Laila berkata: “Pada masa Rosululloh shollallohu alaihi wasallam, bila seseorang datang terlambat beberapa rokaat mengikuti sholat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyaratkepadanya tentang rokaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akanmengerjakan rokaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk kedalam sholat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlahrokaat sholat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk dalam sholat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelahRosululloh shollallohu alaihi wa sallam selesai sholat, maka Mu’adz segeramengganti rokaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rosululloh shollallohualaihi wa sallam selesai sholat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shollallohu alaihi wa sallammenjawab: “Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” Dalamriwayat Mu’adz bin Jabal, beliau shollallohu alaihi wasallam bersabda; “Mu’adztelah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yangharus kalian kerjakan”. (HR. al-Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibn AbiSyaibah dan lain-lain. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Hafizh Ibn Daqiq al-’Id danal-Hafizh Ibn Hazm al-Andalusi).

               Hadits diatas menunjukkan adanya sahabat yakni Mu’adz Ibn Jabal – rodhiyallohu ‘anhu- yang memulai cara baru dalam sholat, yakni ketika makmum tertinggal satu atau dua rokaat dari imam, dimana sebelumnya para sahabat menggenapi dulu rokaat yang tertinggal baru kemudian masuk kedalam jamaah.

 

  1. Hadits Sayyidina Bilal RA :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ  قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

Abu Huroiroh meriwayatkan, bahwa Nabi shollallahu‘alaihi wa sallam bertanya pada Bilal ketika sholat fajar : “ Hai Bilal, kebaikan apa yang paling engkau harapkan pahalanya dalam Islam, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di Surga?, ia menjawab : “ Kebaikan yang paling aku harapkan pahalanya adalah, aku belum pernah berwudhu’, baik siang ataupun malam kecuali aku melanjutkannya dengan sholat (sunnah dua rokaat) yang aku tentukan waktunya.” (HR. Bukhori)

Sahabat Bilal melaksanakan sholat setiap selesai berwudhu, dimana hal ini tidak ada petunjuk maupun contoh sebelumnya dari Rosulullah shollallahu‘alaihi wasallam.

  1. Hadits Sayyidina Rifa’ah bin Rofi’ RA :

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَكُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

Rifa’ah bin Rofi’ rodhiyallohu anhu berkata: “Suatu ketika kami shalat bersamaNabi shollallahu‘alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku’, beliau berkata:“sami’allahu liman hamidah”. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata: “robbana walakalhamdu hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih”. Setelahselesai sholat, beliau bertanya: “Siapa yang membaca kalimat tadi?” Laki-laki itumenjawab: “Saya”. Beliau bersabda: “Aku telah melihat lebih 30 malaikatberebutan menulis pahalanya”. (HR. Bukhori [799]).

               Seorang laki-laki dalam hadits tersebut bertahmid ketika i’tidal dengan bacaan yang sebelumnya tidak diajarkan Rosulullah shollallahu‘alaihi wa sallam, dan Rosululloh merespon dengan menunjukkan nilai pahalanya.

Dan masih banyak hadits-hadits lain seperti hadits Abdulloh bin Abbas, Ali bin Abi Tholib, Umar bin Khotthob, ‘Amr bin ‘Ash dan yang lain -rodhiyallohu ta’ala ‘anhum ajma’iin- Selanjutnya hadits-hadits sejenis disebut dengan Sunnah Taqriri.

Jika dengan paparan hadits di atas sebagian orang beranggapan itu semua tidak masuk kategori bid’ah karena adanya ketetapan dari Rasulullah shollallahu‘alaihi wa sallam, maka jawaban kami adalah; ketetapan Rosululloh shollallahu‘alaihi wa sallam dalam konteks hadits-hadits seperti di atas tidaklah terbatas pada obyek yang dikerjakan para sahabat semata, melainkan juga ketetapan adanya perkara baru (bid’ah)  yang sebelumnya tidak ada petunjuk dari Rasululloh shollallahu‘alaihi wa sallam namun kemudian perkara tersebut di terima oleh Syari’ (Rasululloh), yang tentunya tidak setiap perkara baru di izinkan atau dipuji atau diterima oleh Rasulullah, ada juga yang ditolak atau dilarang, yang justru menjadi hujjah adanya bid’ah yang baik dan bid’ah yang ditolak.

( Oleh: Ustadz Abu Hilya )

 

2 Comments on Hadits-hadits Tentang Bid’ah dan Penjelasannya

  1. Pas mantep mas @admin, semoga dpt mendewasakan kita dlm beramaliyah. Untuk paham “bid’ah mesti sesat tak bisa ditawar – tawar” ya monggo anda pegangi. Tapi ya toleransi sedikit pada kami pengangamal bid’ah hasanah, krn sedikit banyak ada dalilnya lho. Minimal kita masih merasa bersaudara walau ada perbedaan pemahaman pada masalah furu’. Jadikan perbedaan sbg rahmat dan nikmat, jgan ia dijadkan sebagai laknat dan niqmat. Contoh dengan ada banyak perbedaan pemahaman keagamaan, anda dapat menerbitkan bayak buku, VCD dan stiker2 di kalangan anda sendiri. Anda dapat pahala dunia berupa uang dan pahala akhirat jg tentu bila dilakukan dgn benar, niat yg baik dan bertanggung jawab dan Sang Pemberi Pahala berkenan menerima amal anda ini . Ini nikmat dan rahmat kan?. Tapi klu anda menerbitkan buku, VCD atau lainnya yg isinya diantaranya menyesat2kan paham lain, membid’ahkan atau bahkan sampai mengakafirkan tanpa memberi udzur sedikitpun, walau anda merasa dalilnya benar dan niat benar, blm tentu ada pahalanya di akhirat walau pahala dunia anda mesti didapat berupa royalty dari karya anda. Apalagi karya anda membuat hati jadi keras, menimbulkan kerisauan, menimbulkan pertikaian antar saudara seiman seislam. Apa ini bukan laknat dan niqmat namanya?. Ingat ketika kita menuduh orang lain sesat diwaktu yg sama ada yang menuduh kita juga sesat. Dan tuduhan2 itu bisa jadi benar dan bisa jadi salah. maka nya mengembangkan sikap tasamuh dan memberi udzur barangkali di antara solusi untuk sebuah perbedaan tanpa bersikap jumawa dan membusungkan dada. Peace for all..

  2. indraisme1987 // Oct 30, 2013 at 4:13 pm //

    @hafed Muhsin, mohon maaf mas, menyela. Artikel ini adalah artikel retorika. Jadi, jika ada muslim yang membid’ahkan amalan2 kita, padahal amalan2 tsb bersandar pada amalan para sahabat Nabi, maka para sahabat pun melakukan bid’ah. Hal itu kan tak mungkin, karena itu, amalan2 yang sudah kita lakukan itu bukanlah bid’ah apalagi yang dlolalah..

2 Trackbacks & Pingbacks

  1. Bid'ah dan Penjelasannya Menurut Ajaran Islam | Islam Institute | Info Islam
  2. Doktrin Wahabi, dari Najd Mengguncang Ajaran Islam di Seluruh Dunia Islam | Inilah-Salafi-Takfiri.com

Leave a comment

Your email address will not be published.

*



3 − = zero