Inspirasi Islam

Hadis – hadis Palsu Seputar Ramadhan (bagian 1)

Hadis Palsu – KH Ali Mustofa Yaqub: Hadis Hadis Palsu Seputar Ramadhan (bagian 1)

Jakarta – Berikut kami sampaikan Hadis-hadis palsu seputar Ramadhan yang beredar dan sangat populer di masyakat. Penjelasan disampaikan oleh KH Ali Mustofa Yaqub dalam bukunya: “Hadis-Hadis Bermasalah dan Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan”.

mengaji - Hadis - hadis Palsu Seputar Ramadhan (bagian 1) 1. Ramadhan di Awali Rahmat

 أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ.

“Permulaan bulan Ramadhan adalah Rahmat, pertengahannya maghfirah, dan penghujungnya adalah pembebasan dari neraka.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-‘Uqaili dalam kitab al-Dhu‘afa’ al-Kabir, Ibn
‘Adiy dalam al-Kamil fi al-Dhu‘afa’, al-Khatib al-Bagdadi dalam Mudih
Auham al-Jam’i wa al-Tafriq, Ibn ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, Ibn Abi
al-Dunya dalam Fadha’il Ramadhan, dan al-Dailami dalam al-Firdaus bi
Ma’tsur al-Khitab. Hadis ini adalah penggalan dari sebuah Hadis yang
cukup panjang dalam riwayat Ibn Khuzaimah —kitab Shahih Ibn Khuzaimah—
dan al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab al-Iman.

Hadis ini sangat lemah sekali. Adapun sumber lemahnya terdapat pada dua orang
rawi dalam Hadis tersebut. Pertama, Sallam bin Sawwar yang bernama
lengkap Sallam bin Sulaiman bin Sawwar, ia adalah munkar al-Hadits
(Hadisnya munkar). Kedua, Maslamah bin al-Shalt, ia adalah matruk.
Karenanya, Hadis ini adalah munkar disebabkan rawi yang bernama Sallam
bin Sawwar. Bisa juga Hadis ini disebut matruk karena faktor rawi yang
bernama Maslamah bin al-Shalt.


2. Tidak Makan Kecuali Lapar

Alkisah, sejumlah tamu yang mendatangi Nabi Saw, mereka merasa kagum dengan
kesehatan Nabi Saw dan para sahabat. Mereka kemudian bertanya kepada
Nabi, apa resepya sehingga kondisi kesehatan Nabi dan para sahabat
sangat prima. Nabi Saw, menjawab:

نَحْنُ قَوْمٌ لَا نَأْكُلُ حَتَّى نَجُوْعَ وَإِذَا أَكَلْنَا لَا نَشْبَعُ

“Kami adalah orang-orang yang tidak makan sehingga kami lapar, dan apabila kami makan, kami tidak sampai kenyang.”

Jika melacak keberadaan Hadis tersebut, maka tidak akan dapat ditemukan
dalam kitab-kitab Hadis, karena ungkapan tersebut tak lain hanyalah
ungkapan seorang dokter ahli dari Sudan, yang kemudian oleh banyak orang
diklaim sebagai Hadis. Perkataan tersebut dapat ditemukan dalam sebuah
kisah tentang empat dokter ahli yang masing-masing berasal dari Iraq,
Romawi, India dan Sudan, yang berkumpul di hadapan Kisra (raja) Persia.
Dan dokter dari Sudan itu adalah yang paling cerdas dalam menjawab
pertanyaan raja mengenai resep atau teori pengobatan yang paling manjur,
yang tidak memberikan efek samping.

Dokter ahli dari Sudan itu berkata: “Obat yang tidak mengandung efek samping
adalah anda tidak makan kecuali lapar, dan apabila anda makan, angkatlah
tangan anda sebelum merasa kenyang. Apabila hal itu anda lakukan maka
anda tidak akan terkena penyakit kecuali penyakit mati.”

Adapun kisah ungkapan dan kisah itu dapat ditemukan kitab al-Rahmah vi al-Tibb
wa al-Hikmah yang konon adalah karya al-Suyuthi, yang kemudian dinukil
oleh Syeikh Nawawi Banten dalam kitabnya Madarij al-Shu’ud.

Berangkat dari penjelasan di atas, dapat dipastikan ungkapan tersebut bukan
merupakan Hadis. Jika ungkapan itu tetap dianggap sebagai Hadis, maka
ungkapan itu tak lain adalah Hadis maudhu’, alias palsu. Sepatutnya,
ungkapan tersebut adalah kata-kata hikmah atau kata mutiara, karena
dengan demikian tidak akan memiliki dampak yang sangat serius, yaitu
mendustakan Nabi Muhammad Saw.

3. Ramadhan Setahun Penuh

 عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُماَ أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ
الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوْ تَعْلَمُ أُمَّتِيْ مَا
فِيْ رَمَضَانَ لَتَمَنَّوْا أَنْ تَكُوْنَ السُّنَّةُ كُلُّهَا رَمَضَانَ.

Dari Ibn ‘Abbas ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw, bersabda:
Seandainya umatku mengetahui pahala ibadah bulan Ramadhan, niscaya
mereka menginginkan agar satu tahun penuh menjadi Ramadhan.”

Hadis ini memiliki dua jalur periwayatan, yaitu riwayat Abu al-Khattab dan
Muhammad bin Rafi’, Redaksi Hadisnya sangat panjang, namun penggalan
Hadis itulah yang populer di masyarakat. Hadis tersebut diriwayatkan Ibn
Khuzaimah dalam kitabnya Shahih Ibn Khuzaimah, Abu Ya’la dalam kitab
Musnad-nya, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, al-Thabrani dalam al-Mu’jam
al-Kabir, Abu Nu’aim dalam Ma’rifat al-Shahabah dan Ibn al-Najjar.
Hadis ini juga dapat ditemukan di dalam kitab Durrah al-Nasihin karya
Ustman al-Khubbani.

Hadis tersebut adalah Hadis maudhu’ (palsu). Kepalsuan Hadis tersebut karena
pada sanadnya terdapat rawi yang bernama Jarir bin Ayyub al-Bajali. Di
mana para ulama Hadis (kritikus Hadis) menilainya sebagai pemalsu Hadis,
matruk, dan munkar. Oleh karena itu, Hadis yang diriwayatkannya menjadi
maudhu’, atau minimal matruk, dan munkar. Karena itu pula, Ibn al-Jauzi
dalam kitabnya al-Maudhu’at dan al-Suyuthi dalam kitabnya al-La’ali
al-Masnu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah secara tegas menyatakan kepalsuan
Hadis tersebut. Ketiga bentuk Hadis (maudhu, matruk, dan munkar) ini
tidak ada yang dapat dijadikan sebagai hujjah (dalil) karena tingkat
kedha’ifannya sangat parah (dha’if jiddan).

banner gif 160 600 b - Hadis - hadis Palsu Seputar Ramadhan (bagian 1)

Dikutip dari buku “Hadis-Hadis Bermasalah dan Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan” Karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. via Fiqhmenjawab.net

 

4. surga itu dihiasi untuk bulan Ramadhan

Berikut kami sampaikan Hadis-hadis palsu seputar Ramadhan yang beredar dan sangat populer di masyakat.

 عَنْ
ابْنِ عُمَرَ أَنَّ الْجَنَّةَ لتُزَخْرَفُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ
اْلحَوْلِ إِلَى الْحَوْلِ الْمُقْبِلِ. فَإِذَا كَانَ أَوَّلُ شَهْرٍ مِنْ
رَمَضَانَ هَبَّتْ رِيْحٌ مِنْ تَحْتَ الْعَرْشِ فشَقَّقَتْ وَرَقُ
الْجَنَّةِ عَنِ الْحُوْرِ الْعَيْنِ. فَقُلْنَ يَا رَبِّ اْجعَلْ لَنَا
مِنْ عِبَادَكَ أَزْوَاجًا تُقِرُّ أَعْيُنُهُمْ بِنَا وُتِقرُّ
أَعْيُنُنَا بِهِمْ.

Dari Ibn ‘Umar, bahwa surga itu dihiasi untuk bulan Ramadhan sejak awal
tahun sampai tahun berikutnya. Apabila hari pertama Ramadhan datang,
angin di bawah Arsy berhembus, sehingga daun-daun surga bergerak-gerak
mengenai para bidadari. Mereka kemudian berkata, “Wahai Tuhan kami,
jadikanlah dari hamba-hamba-Mu sebagai suami kami di mana kami dapat
menyejukkan pandangan mata mereka dan mereka dapat menyejukkan pandangan
mata kami.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Daruquthni dalam kitabnya al-Afrad,
al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath dan Musnad al-Syamiyyin, dan
al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman. Di mana Hadis ini juga merupakan
penggalan dari Hadis yang cukup panjang tentang Ramadhan Setahun Penuh
di atas.

Dalam Hadis di atas terdapat seorang rawi yang bernama al-Walid bin al-Walid
al-‘Ansi, ia adalah rawi kontroversial di kalangan ahli Hadis.
Al-Daruquthni sendiri menilainya sebagai munkar al-Hadits (rawi yang
munkar hadisnya), bahkan matruk al-Hadits. Ia juga adalah seorang qadari
(penganut madzhab al-Qadariyah). Dalam ilmu Hadis, dikenal adanya rawi
yang menganut bid’ah, dan faham Qadariyah itu adalah bid’ah dalam Ilmu
Tauhid. Karenanya riwayat al-Daruquthni tersebut gugur disebabkan dalam
sanadnya terdapat seorang Qadari yang bernama al-Walid bin al-Walin
al-‘Ansi.

 

BACA :  Shalat Tarawih, Hadits Palsu Seputar Ramadhan (Bagian 2)

5. Hadis Palsu Tidurnya Orang Berpuasa adalah Ibadah

 نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَذَنْبُهُ مَغْفُورٌ.

“Tidurnya orang berpuasa adalah Ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya
dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.”

Hadis ini tidak akan ditemukan jika dicari dalam kitab-kitab Hadis populer.
Sebab Hadis tersebut hanya diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitabnya
Syu’ab al-Iman, yang kemudian dinukil oleh al-Suyuthi dalam al-Jami’
al-Shagir, Ali al-Qari dalam al-Maudhu’at al-Kubra, al-Dailami dalam
al-Firdaus bi Ma’tsur al-Khitab, Abu Fadhl al-‘Iraqi dalam al-Mughni ‘an
Haml al-Asfar, al-Muttaqi al-Hindi dalam Kanz al-‘Ummal fi Sunan
al-Aqwal wa al-Af’al, dan al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din.

Berdasar pada Hadis ini, banyak orang yang lebih suka beraktivitas di malam
hari, yakni banyak orang berpuasa tapi tidak mau bekerja di siang hari,
sebaliknya di siang hari mereka lebih banyak tidur dengan alasan
tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Inilah dampak buruk Hadis
tersebut terhadap prilaku sebagian masyarakat Islam, khususnya di
Indonesia.

Hadis tersebut adalah Hadis palsu. Hal ini dikarenakan dalam riwayat tersebut
ada seorang rawi yang bernama ‘Abd al-Malik bin ‘Umair yang dinilai
sangat dha’if, ada pula Sulaiman bin ‘Amr al-Nakha’i yang dinilai
sebagai pendusta dan pemalsu Hadis. Sebagaimana Ahmad bin Hanbal, Yahya
bin Ma’in, al-Hakim, dan Ibn Hibban yang menyatakan bahwa Sulaiman bin
‘Amr al-Nakha’i sebagai pemalsu Hadis. al-Bukhari menilainya matruk
(Hadisnya semi palsu). Bahkan Yazid bin Harun mengatakan, “Siapa pun
tidak halal meriwayatkan Hadis dari Sulaiman bin ‘Amr.”

 

BACA :  Rekayasa Kebohongan Adalah Modal Dasar Dakwah Wahabi

6. Hadis Palsu Ramadhan Tergantung Zakat Fitrah

 شَهْرُ رَمَضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ وَلَا يُرْفَعُ إِلَى اللهِ إِلَّا بِزَكَاةِ اْلفِطْرِ.

“Ibadah bulan Ramadhan itu tergantung antara langit dan bumi, dan tidak akan
diangkat kepada Allah kecuali dengan mengeluarkan zakat fitrah.”

Dikutip dari buku “Hadis-Hadis Bermasalah dan Hadis – Hadis Palsu Seputar Ramadhan” Karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. via Fiqhmenjawab.net

 

BACA :  Diprediksi Sehabis Idul Fitri Rupiah Makin Kuat

Simpan

Simpan

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

1 thought on “Hadis – hadis Palsu Seputar Ramadhan (bagian 1)”

  1. Ping-balik: Hadits-hadits Palsu Seputar Ibadah Ramadhan (Bagian 2) | UMMATIPRESS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker