Sosok & Tokoh

Gus Dur dalam Kenangan Denny Siregar

Deny Siregar Mengenang Gus Dur

Ada keterikatan emosional yang dalam antara saya dan dia. Gus Dur mengajarkan kejujuran berbahasa. Dia mengajak saya berpikir lebih luas dengan hati terbuka. Tawa kekehnya ketika ada sesuatu yang lucu menggambarkan bahwa tidak ada yang sulit di dunia, semua ini hanya permainan semata.

Islam-Institute, Jakarta – Gus Dur adalah sosok kenangan yang akan terlupakan bagi kalangan kaum muda aktifis yang memperjuangkan Indonesia untuk lebih baik ke depan. Orang-orang yang jujur pasti mengakui kebesaran Gus Dur. Dan kebesaran Gus Dur itu artinya benar-benar luas dan multi dimensi terkait kehidupan berbangsa. Oleh karena itu, mereka yang jujur menyebut Gus Dur sebagai Guru Bangsa.

Salah satu kaum muda itu adalah Deny Siregar, aktifis yang merasa terkait pemikirannya dengan pemikiran Gus Dur. Berikut ini adalah refleksi kenangan Deny Siregar atas diangkatnya Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional. Yuk, kita simak curahan kenangan Deny Siregar untuk menambah wawasan kita tentang sosok Gus Dur dari sudut pandang aktifis yang cinta kejujuran…..

BACA JUGA:  MENGAPA GUS DUR TAK BUTUH GAJI PRESIDEN

***

Berita di sah-kannya Gus Dur menjadi pahlawan nasional cukup membuat saya merenung sejenak.

Bukan gelarnya itu yang membuat saya merenung, karena saya yakin beliau sendiri orang yang tidak perduli akan itu, tetapi jadi teringat kembali sosoknya yang familiar dengan wajah tertawa.

Saya banyak belajar dari pemikiran Gus Dur. Visinya yang jauh ke depan membuat banyak orang terbangun sesudah tidur panjang begitu lama. Begitupun banyak yang salah mengartikan langkah-langkahnya. Ke-legowo-an Gus Dur untuk turun dari kursi kekuasaan demi menghindari perang saudara adalah bukti bahwa beliau lebih mementingkan utuhnya bangsa ini daripada sekedar jabatan yang juga akan hilang ditelan bumi.

Sejarah mencatat dengan bersih perjalanan Gus Dur selama ini.

Jadi, tidak ada salahnya jika saya kembali mengangkat catatan lama ini.

Saya masih ingat tanggal itu, 30 Desember 2009. Ketika itu saya sedang berkunjung ke Medan.

BACA JUGA:  Indonesia Hancur Jika Saat itu Gus Dur Bukan Presiden

Tiba-tiba mata terpaku pada running teks di salah satu stasiun Televisi. Gus Dur, sang Guru bangsa itu meninggal.

Saya mengeraskan suara televisi, tapi masih kurang keras dari gema suaranya yang berkata, “DPR itu taman kanak-kanak.” Saya tertawa keras pada waktu itu. Mentertawakan kebodohan negeri sendiri. Mentertawakan orang-orang tua yang tidak tahu diri.

Sudah lama bagi saya tidak ada yang mendobrak penjara kepalsuan yang dipertontonkan Harmoko dan kawan-kawan. Sebuah lontaran langsung yang menohok dan langsung menampar telak. Sebuah kejujuran berucap dalam sikap feodalisme yang ditanamkan selama Soeharto menjabat.

Lebih keras lagi saya tertawa ketika banyak “orang-orang terhormat” itu kelabakan. Mereka tidak biasa mendengar teguran. Itu seperti membuka mata orang bahwa selama ini mereka tidak bercelana. Mereka malu dan untuk menutupinya, mereka marah.

Slogannya, “begitu saja kok repot…,” mendobrak birokrasi pemikiran yang sudah terbiasa berbelit dan rumit. Menyederhanakan masalah karena memang masalahnya sederhana. Lugas dan cetas. Menyakitkan telinga.

BACA JUGA:  KH Alawi al-Bantani Tentang Waspada Wahabi

Kakinya belum kuat untuk menjaga negeri ini sebagai Presiden, karena masih begitu banyaknya serigala buas para penjaga harta. Tapi setidaknya, Gus Dur telah memulai usaha.

Sambil terus menonton detik-detik pemakamannya, tidak terasa saya tersenyum dengan mata basah.

Ada keterikatan emosional yang dalam antara saya dan dia. Gus Dur mengajarkan kejujuran berbahasa. Dia mengajak saya berpikir lebih luas dengan hati terbuka. Tawa kekehnya ketika ada sesuatu yang lucu menggambarkan bahwa tidak ada yang sulit di dunia, semua ini hanya permainan semata.

Saya tidak pernah mau mengucapkan selamat tinggal kepadanya, karena Gus Dur selamanya hidup dalam diri saya.

Apa kabar, Gus ?

Tunggu saya di perjalanan kedua.

***

Oleh: Denny Siregar

Judul Asli: Mengenang Gus Dur

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Gus Dur dalam Kenangan Denny Siregar
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker