Berita Fakta

Generasi Pengikut Syetan, Dari Najd ( Hijaz, Arab Saudi ) Merambah Dunia Islam

Buku: Tunas Radikalisme dari Najd

Tunas
Radikalisme
dari
Najd

Judul Buku: Radikalisme Sekte Wahabiyah

Penulis: Syekh Fathi al Misri al Azhari

Penerjemah: Asyhari Masduqi

Penerbit: Pustaka Asy’ari

Cetakan: I, 2011

Tebal: 236 halaman

Peresensi: Winarto Eka Wahyudi*

“Dari ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman bagi kami.“ Mereka memohon: “Najd kami lagi wahai Rasulullah, doakan berkah.” beliau menjawab: “Ya Allah berkahilah Syam dan Yaman bagi kami.” mereka memohon: “Najd kami lagi wahai Rasulullah, doakan berkah.” Beliau ( Nabi Muhammad Saw ) menjawab: Di Najd itu tempatnya segala kegoncangan dan berbagai macam fitnah. Dan disana akan lahir generasi pengikut syetan.”

Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Al Bukhari (979), al-Turmudzi (3888) dan ahmad (5715). Menurut para ulama seperti al-Imam al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Al-Hafidz Al-Ghummari, al-Hafidz al-‘Abdari dan lain-lain, maksud dari generasi pengikut syetan adalah yang akan lahir di Najd dalam hadits tersebut adalah kelompok Wahabi.

Karena sangat pentingnya untuk mewaspadai hal tersebut, maka akan timbul pertanyaan, siapakah kelompok Wahabi itu sebenarnya? serta amaliyah- amaliyah seperti apa yang mereka lakukan sehingga Nabi mengatakan bahwa mereka adalah generasi pengikut syetan? Disini akan diuraikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sangat fundamental tersebut.

Pelopor kelompok ini adalah Muhammad bin Abdul Wahab. Oleh karena itu para ulama mengatakan paham/sekte ini dengan sebutan Wahabiyah, dinisbatkan kepada ayahnya yaitu Abdul Wahab. Walaupun secara nomenklatur penamaannya sebenarnya salah, karena pembangun pertama asas gerakan ini adalah Muhammad, bukan Abdul Wahab. Namun bukan merupakan esensi mengenai permasalahan ini.

BACA JUGA:  Agar Syubhat Terungkap Jelas

Muhammad bin Abdul Wahab berasal dari kabilah bani Tamim, lahir tahun 1115 H, dan wafat 1206 H. menurut buku Kasyfus Syubahat yang ditulis oleh cucunya, yaitu Abdul Lathif bin Ibrahim Ali Syekh bahwa Muhammda bin Abdul Wahab lahir di suatu desa yang bernama “ainiyah”.

Pada awalnya dia belajar di Makkah dan Madinah, diantara gurunya adalah Syekh Muhammad Sulaiman Al Kurdi, Syekh Abdul Wahab (ayahnya sendiri), dan kakaknya Sulaiman bin Abdul Wahab. Namun sungguh pun demikian, walaupun semua gurunya berfaham ahlusunnah wal jama’ah, akan tetapi Muhammad bin abdul Wahab ini mengajarkan ajaran baru yang nyleneh dan tidak sesuai dengan kebanyakan para ulama.

Mula-mula pada saat dia di Madinah melihat amalan-amalan/ibadat-ibadat orang Islam dihadapan makam Nabi yang berlainan dengan syari’at Islam, menurut pandangannya. Kemudian pindah ke Basra dan menyiarkan fatwanya yang ganjil-ganjil tetapi dia segera diusir oleh penguasa dan dikeluarkan dari kota Basrah.

Kemudian ia menyampaikan fatwanya yang lagi-lagi sangat ganjil di negerinya sendiri yaitu ‘ainiyah. Tetapi Raja di negeri itu yang namanya Utsman bin Ahmad bin Ma’mar yang mulanya menolong tetapi setelah mendengar fatwa-fatwanya lalu mengusir dan berusaha membunuhnya. Kemudian ia pindah ke Dur’iyah yang rajanya bernama Muhammad bin Sa’ud. Di daerah ini Muhammad bin Abdul Wahab didukung sepenuhnya oleh penguasa negeri tersebut, sehingga bersatulah antara ulama dan penguasa yang akhirnya bergabunglah antara paham agama dengan raja.

Karena didukung oleh kekuasaan Raja, maka Muhammad bin Abdul Wahab sanagt leluasa menfatwakan faham-fahamnya tersebut, bahkan pengikutnya semakin bertambah. Biasanya dia menfatwakan orang-orang di Makkah itu banyak yang kafir, karena mereka berdo’a dengan bertawasul dihadapan makan Nabi, membolehkan berkunjung jauh menziarahi makam Nabi, memuji-muji Nabi dengan membaca sholawat burdah, dalailul khairat yang dianggap berlebih-lebihan memuji Nabi, membaca kisah-kisah maulid Barzanji dan akhirnya mereka dikafirkan karena tidak mau mengikuti Muhammad bin Abdul Wahab.

BACA JUGA:  Lanjutan..... Koreksi Buat Ustadz Firanda Wahabi Tentang Bid'ah Hasanah

Didalam buku yang berjudul Radikalisme Sekte Wahabiyah ini penulis banyak mengurai pendapat-pendapat mereka yang terkesan berani dan ekstrem, antara lain: mengingkari kenabian Adam, Syits, dan Idris, mengkafirkan Hawa, mengatakan alam azali, neraka fana’, menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, mengatakan Allah jism, menisbatkan anggota badan, duduk dan sifat-sifat makhluk kepada Allah. (hal 15).

Faham-faham Wahabi yang bisa kita lihat pada saat sekarang adalah dengan cara mengetahui amalan-amalannya antara lain yang ditulis dalam buku ini adalah: mengharamkan berdo’a berjama’ah, mengharamkan adzan kedua pada sholat Jum’at, mengharamkan sholat sunnah qobliyah Jum’at, mengharamkan berjabat tangan setelah selesai sholat berjam;ah, haram beristigotsah, tawasul, tahlilan dan lain sebagainya.

Bahkan, untuk membongkar kesesatan faham ini ke akar-akarnya, penulis memaparkan bagaimana afiliasi Muhammad bin Abdul Wahab serta ulama-ulama Wahabiyah yang lain (Ibnu Baz, Al Albani dll) dengan Yahudi, bahkan kesamaan antara paham Wahabi dengan faham Yahudi sekalipun diulas dalam buku ini.

Penisbatan radikalisme dalam kubu gerakan ini dikarenakan barang siapa yang tidak sesuai atau ikut dalam kelompoknya, maka halal darahnya untuk dibunuh karena sudah berstatus kafir. Salah satu contohnya adalah seperti yang dikutip dalam buku ini dalam koran As-Safar Sabtu 30 Mei 2001 (h.11) Muhammad Hasanin merilis isi sebuah dokumen yang mengatakan bahwa salah seorang pembesar Wahabiyah mengatakan:

BACA JUGA:  Kaum Wahhabi Melihat Makam Wali Sebagai Berhala

“Tidak seyogyanya ada peperangan antara orang-orang pilihan Islam (Wahabi) kecuali melawan orang-orang musyrik dan kafir, orang kafir yang musyrik pertama kali adalah orang-orang Turki Usmaniyah dan juga keturunan Bani Hasyim dan ringkasnya seluruh pengikut Nabi Muhammd selain kelompok Wahabi.”

Tiada gading yang tak retak, inilah istilah bagi setiap sesuatu pasti memiliki kekurangan, termasuk dalam buku ini. Antara lain adalah dalam pedoman penulisan karya ilmiah memang buku ini kurang begitu memperhatikan. footnote yang menjadi suatu keharusan untuk memperlihatkan validitas suatu karya terkesan diabaikan pada bagian-bagian akhir dalam buku ini. Padahal dalam bagian yang tanpa catatan kaki ini merupakan komponen krusial yang merupakan esesnsi ditulisnya buku ini. Serta peredaran buku yang memang kebutuhan ummat ini dirasa sangat minim, dikarenakan peresensi sendiri mendapatkannya pada saat pelatihan ahlusunnah wal jama’ah bukan dengan cara membeli di toko buku.

Namun secara keseluruhan buku ini sangat bagus untuk dibaca oleh ummat Islam secara keseluruhan dan semua kalangan, karena dapat membentengi diri sekaligus mewaspadai faham-faham Wahabiyah yang dewasa ini kian menunjukkan geliatnya.

 

* Koordinator ASWAJA Center IPNU IAIN Sunan Ampel Surabaya

s u m b e r

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Generasi Pengikut Syetan, Dari Najd ( Hijaz, Arab Saudi ) Merambah Dunia Islam
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

124 thoughts on “Generasi Pengikut Syetan, Dari Najd ( Hijaz, Arab Saudi ) Merambah Dunia Islam”

    1. jangan sampe golongan dengan ciri:
      1. jidat item
      2. celana cingkrang
      3. suka nyebut2 bid’ah

      menguasai mesjid!!! jangan sampe golongan mereka ngisi pengajian!!!

      :mrgreen:

  1. Tiga hari gak nongol, blog ini sdh banyak yg berubah ya.. Sy dan temen2 disibukkan survey pelajaran aqidah dan QurDIs di sekolah-sekolah. Dan hasilnya Alhamdulillah, sekarang pelajaran tauhid-nya lebih ilmiah, gak model dulu lagi.

    1. @ibn abdul chair
      Tauhid nya lebih ilmiah, bagaimana tuh !!!
      Setahu ane dari zaman Rasulullah masih hidup sampai sekarang ya itu-itu juga La Ila Ha Illah, apakah kalau di ilmiahkan jadi lebih banyak atau bagaimana ? wah kudu hati-hati nih… sama yang ilmiah.

    2. Hati2 dg ajaran dari Najd, mereka terbukti sbg generasi ….. yg menimbulkan fitnah. Lihat aja, masak tauhid dibikin seolah2 ilmiyah, padahal dari zaman Nabi sampai saat ini kan masih tetap yg itu2 juga, ngapai dibikin seolah2 ilmiyyah, apa nggak fitnah itu? Yang benar kan sudah ilmiyyah sedari awal diajarkan oleh Rasul Saw?

      Duuuuh, pengikut ajaran dari Najd emang aneh2 aja, makanya Nabi nggak sudi mendo’akan mereka:

      mereka memohon: “Najd kami lagi wahai Rasulullah, doakan berkah.” Beliau ( Nabi Muhammad Saw ) menjawab: Di Najd itu tempatnya segala kegoncangan dan berbagai macam fitnah. Dan disana akan lahir generasi pengikut syetan.”

  2. Satu-satunya yg sy suka dari blog ini yaitu komen-nya itu lho…lucu…he…he…
    Sekarang serius nih..
    Ini sih hanya pandangan sy aja, jadi kl nggak baik, ya..jangan ditiru. Begini, sy dalam menilai seseorg itu dari ucapannya atau tulisannya dan yg kedua dari masalah yg dihadapinya. Dari ucapan atau tulisannya bisa kita lihat bagaimana seseorg didalam memandang sesuatu yg pd akhirnya bisa dinilai juga kedangkalan atau kedalaman ilmu seseorg. Kl dari masalah yg dihadapinya, kita bisa melihat kapabilitas-nya. Sebab enggak mungkin sesorg yg punya kapabilitas minim tetapi menghadapi masalah berat, begitu juga sebaliknya. (waduuuh…ngomong apaan sih nih…minum obat dulu ach)

    1. kang ibn Abd khair, kok antum nggak merasa padahal pandangan antum ini sangat pas dg diri antum sendiri, lho?

      Saya masih ingat waktu antum koment bicara soal analogi (qiyas) pembagian Tauhid dg pembagian kalimat: Isim, fi’il dan huruf, antum menyangkal bahwa itu bukan analogi / qiyas. Kan lucu banget itu kang, di situlah antum benar2 menunjukkan diri antum tidak mengerti apa yg antum omongkan sendiri. kayak burung beo apa kayak burung kutilang itu kang?

      begitu juga dg pandangan antum di atas, antum melihat itu kepada teman2 di sini padahal itu adalah gambaran tentang diri antum sendiri. Bagaimana ini kang, kok bisa begitu kang?

      1. @Ibnu Abdul Chair
        Anda sering melontarkan pertanyaan dan pernyataan, dan tiba-tiba menghilang seperti betulian rak buku yang roboh, survei pendidikan aqidah dll. Sekarang saya mau mengingatkan kembali seperti yang diingatkan juga oleh Mas Junaidi di atas, tentang beberapa pertanyaan untuk Anda, yaitu :
        1. Anda bilang, “kalau terjadi perbedaan kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah. Nah kemudian ada pertanyaan, kalau tidak salah dari Ustadz Abu Hiya, tentang perbedaan hukum yang terjadi tentang “makan daging anjing”. Mohon dijawab dari Qur’an dan Hadits.
        2. Di dalam Al Qur’an ada berapa jumlah kata “Kullu”?. Apakah arti kata “Kullu” dalam Al Quran hanya “Semua”, tidak ada arti lain? Khalifah Umar bilang ada bid’ah hasanah, demikian juga Imam Syafi’i. Kemudian siapa yang bilang tidak ada bid’ah hasanah? Apakah dia Imam Mujtahid mutlak?
        Nah dua saja dulu yang kami ingatkan, mudah-mudahan rak buku Anda sudah diperbaiki, dan survei Aqidah sudah selesai, sehingga Anda dapat menanggapinya. Terima kasih atas sharing ilmunya.

  3. Buku ini edisi revisinya sudah ada footnote nya, cuma yang masih diabaikan nama surat dan nomor ayat Al qur’an yg dikutip dibuku tersebut tidak ada ( kalau hadits ada nama dan nomor haditsnya), jadi menyulitkan pembaca untuk merujuk terjemahan dan tafsir Al Qur’an.
    semoga terbitan yg akan datang akan di revisi dan dilengkapi lagi.

  4. Mas Bima, jika sy dan anda memiliki perbedaan maka kita diperintahkan untuk kembali ke Al Qur’an dan Hadist, betul khan?. Jika ini aja ggak bisa dilaksanakan, bagaimana mau ngomongin yg lebih dalam lagi.

    1. @Ibn Abdul Chair :

      Kembali ke Al Qur’an dan Hadits, adalah suatu slogan yang mulia, asal kita memiliki kemampuan yang cukup, jika tidak “taqlid” kepada ulama yang muktabar dan jelas jalur sanadnya itu jauh lebih baik, karena kita menyadari kemampuan kita.

      Saudara katanya habis selesai Survey Pelajaran Aqidah, Qur’an dan Hadits. Tapi ternyata ucapan saudara masih sembrono dan bahkan dengan berani menyampaikan hadits tapi dengan pemahaman yang salah. Apakah ini hasilnya saudaraku ???

      Kemarin saja ada beberapa masalah masih menggantung setelah saudara membuat pernyataan. Hari ini lagi saudara membuat pernyataan yang tidak benar. Sebaiknya mari belajar lagi. Ponpes Tebu Ireng Jombang adalah salah satu pemegang sanad Sahih Bukhari, Ponpes Sidogiri adalah pemegang sanad beberapa kitab ulama yang muktabar, di Jawa Baratpun ada. Lebih baik kita masuk ke lingkungan pendidikan yang jelas. Atau kalautidak ada waktu, kita bisa taklim ke beberapa Kyai atau Habaib. Insya Allah beliau dengan senang hati menerima kita.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  5. Mas Nasir ini bener ex wahhabi ya? sy jadi ada ide nih, mau ikut-ikutan. jadi nama sy ibn abd chair ex nahdliyin, keren juga ya. Dulu khan sy begitu.. (tp jangan deh..entar dituduh tukang dusta lagi) enggak enak mas…

    1. @ibn abdul chair,
      nick name saya dulu abu2an lantas ada ketentuan di blog ini harus pakai nick name nama orang jadi sekarang saya pakai nick name “Nasir ex Wahabi” sebenarnya sih saya ini dari dulu asli nahdiyin sejak nenek moyang saya juga nahdiyin, mudah2an anak cucu saya tetap nahdiyin jangan sampai ada yang ketularan virus dan penyakit yg sangat berbahaya yaitu penyakit “WAHABI” …. Amin.

  6. saya pernah dengar dari teman di kantor, katanya Nabi memerintahkan untuk membunuh Wahabi kalau ketemu mereka, ini katanya ada hadisnya yg sohih. Apakah ini benar, sebab teman saya tsb juga tidak hapal bunyi hadisnya, cuma memberi info seperti itu.

    Kalau benar ada hadisnya, tolong penjelasannya bagi yg mengetahui hadis tsb, syukron.

    1. Jamari SH@

      Mungkin yg dimaksud teman antum adalah hadits Imam Bukhori dan Imam Muslim; jelaslah ini hadits shahih dan yg dimaksud adalah kaum WAHABI, karena Wahabi kemunculannya di akhir Zaman dan mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik, persis seperti apa yg disebutkan oleh Nabi Muhammad saw dalam hadits berikut:

      Diriwayatkan dari Ali ra katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembus binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka karena sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari dan Muslim]

      1. Ustadzah…. maaf ustadzah Putri Karisma…. di situ tidak disebutkan “WAHABI” secara verbal, bagaimana penjelasan atau alasan yg lebih kuat sehingga ustadzah berkesimpulan bahwa yg dimaksud adalah wahabi? Maaf ustadzah… saya hanya igin jawaban yg lebih meyakinkan, samasekali tdk bermaksud membantah, matur nuwun.

        1. Sebelum menjawab, tolong jangan panggil saya ustadzah…, saya sangat malu dg panggilan itu. Saya hanyalah seorang pelajar, dan saya memberanikan diri menjawab pertanyaan antum karena dari tadi nggak ada yg jawab pertanyaan penting tsb

          Coba antum perhatikan apa yg saya sampaikan berikut ini adalah berdasar kenyataan sehari-hari tentang kaum WAHABI. Mereka begitu mudah menyebut orang lain sebagai kafir, musyrik, ahli bid’ah dsb. Padahal tuduhan itu tidaklah benar. Misalnya mereka menganggap bahwa bertawassul dengan Nabi adalah syirik, dan pelakunya adalah musyrik.

          Lho, bukankah Nabi telah melakukannya dan mengajarkan tawassul? Maka jelaslah bahwa yang telah keluar dari Islam itu adalah mereka sendiri. Mereka keluar dari Islam tanpa mereka sadari. Karena mereka tak menyadarinya dan bahkan mereka merasa sebagai ahlit tauhid, maka emakin sulitlah bagi mereka untuk kembali kepada Islam sebagaimana sukarnya anak panah yang telah lepas dari busurnya dan menembus binatang buruan itu kembali lagi ke busurnya. Karena anak panah yang telah menembus binatang buruan, rasanya tak mungkin dipakai lagi. Artinya, tak mungkin anak panah itu kembali ke busurnya semula.

          Selain itu, kekeliruan mereka adalah mereka menolak untuk bermadzhab. Tetapi lucunya, mereka sangat mengikuti pendapat guru mereka. Mereka beranggapan bahwa mujtahid muthlaq seperti Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah itu bisa salah dan bisa benar. Namun, terhadap perkataan guru mereka, mereka begitu patuh. Padahal ilmu guru mereka itu jauh di bawah para mujtahid muthlaq.

          Dan termasuk kejahilan mereka adalah menolak qiyas dan ta’wil. Mereka beralasan bahwa Islam ini sudah sempurna. Memang benar bahwa Islam ini sudah sempurna. Tak satu pun peristiwa lewat tanpa keterangan hukum, baik secara tekstual maupun isyarat dan analogi.

          Sebagai contoh yg masyhur adalah mengenai melafazhkan niat sholat. Mereka beranggapan bahwa ketika berqurban, Nabi memang melafazhkan niat, tetapi Nabi tidak melakukannya ketika akan shalat. Maka melafazhkan niat sholat ini, menurut mereka, tak ada contohnya dari Nabi. Padahal jika digunakan qiyas, maka dapatlah kita temukan bahwa niat qurban dan niat sholat itu sama-sama di hati, Ketika niat qurban itu boleh dilafazhkan, maka nait sholat pun boleh dilafazhkan. Begitu pula untuk ibadah-ibadah lainnya seperti berwudhu, puasa, dsb.Namun mereka menolak qiyas dan menganggap bahwa melafazhkan niat sholat itu bid’ah dholalah.

          Termasuk yg masyhur tentang mereka bahwa mereka juga menolak ta’wil terhadap hadits dan ayat-ayat mutasyabihat. Bukan “menghindar” melakukan ta’wil, tetapi menolak ta’wil. “Menghindar” melakukan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat biasanya adalah sikap orang-orang yang mengetahui bahaw ayat-ayat mutasyabihat memang mempunyai ta’wil, namun mereka tidak ingin menta’wil sembarangan demi berhati-hati. Sedangkan menolak ta’wil adalah sikap mereka yang menganggap ayat-ayat mutasyabihat sebagai ayat muhkamat yang tidak mempunyai ta’wil. Itulah bedanya.

          Sebagai contoh:

          Mereka beri’tiqad bahwa Allah mengambil tempat dengan berdasar pada ayat: “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.”

          Mahasuci Allah dari yang mereka sifatkan. Allah berbeda dengan makhluq-Nya. Ta’wil dari ayat ini adalah Allah menguasai ‘Arsy.

          Mereka juga beri’tiqad bahwa Allah mempunyai tangan. Padahal makna tangan Allah bisa berarti kekuasaan Allah, penerimaan Allah, dsb.

          Akibat menolak qiyas dan ta’wil, mereka telah menceburkan diri ke dalam pemahaman yang keliru. Mereka begitu mudah memvonis golongan lain sebagai ahlul bid’ah. I’tiqad mereka menjadi mirip dengan i’tiqad orang-orang mujassimah dan musyabbihah. Kekeliruan mereka dalam hal aqidah dan mudahnya mereka menuduh kafir dan musyrik kepada ummat Islam telah mengeluarkan mereka dari Islam tanpa mereka sadari.

          Nah… yg dimaksud Nabi Saw menyuruh membunuh mereka, mungkin untuk saat ini bisa diartikan memerangi pemikiran mereka. Maka memerangi pemikiran mereka, melindungi ummat dari syubhat-syubhat (keraguan-keraguan) yang mereka tebarkan adalah ibadah yang besar pahalanya. Kita harus bersabar atas tuduhan-tuduhan mereka. Bukankah kita tahu pendahulu mereka telah berkata kasar kepada Nabi. Maka jika mereka berkata kasar kepada kita, itu sudah tabi’at mereka. Mereka mudah membunuh dan memerangi ummat Islam dan membiarkan orang-orang non-Muslim. Lihat lah Arab saud sebgai pusat sekte Wahabii…. membiarkan muslimin Palestina dijajah Yahudi israel, bahkan akhirnya Arab saudi malah menghapus Israel dari daftar musuhnya dan menjadikan Iran sebagai musuh utama.

          Wallohu a’lam…..

  7. @jamari : nabi nggak suruh bunuh kok cuma bunyinya kalau nabi yang ketemu sendiri ama wahabi dia sendiri yang bunuh.
    wahabi emang aliran aneh bikin tiga tauhid yang gak ada di jaman nabi tapi gak ngakuin bidah. bilangnya penelitian menyeluruh.

  8. Saudara-saudaraku khususnya yang sama beri’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

    Mohon saudara menahan diri untuk tidak mengarahkan hadits tentang munculnya umat di akhir zaman dari Riwayat Imam Ali diatas ke suatu golongan. Karena justru akan menjadi permusuhan yang mendalam.

    Kita sebagai umat Rasulillah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa alihi wasallam dan sama-sama pernah mengucapkan syahadat yang sama dan syariat yang sama (Ushuliyyah) perlu menyampaikan ajaran junjungan iita yang mulia dengan contoh, ucapan dan perilaku yang baik. Bukankah Rasulallah sebaik-baik contoh kita dalam hidup ??? Khususnya dalam akhlaqul karimah.

    Mari kita buat gerakan penyadaran yang berakhlaqul karimah dan hujjah yang kuat yang sudahbanyak digali oleh para ulama kita yang muktabar.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    1. Mas Derajad@

      Syukron peringatannya, ahsantum dan alhamdulillah.

      Afwan Ustadz…. menurut ustadz Mas Derajad sendiri bagaimana penjelasan hadits tsb, seandainya yg dimaksud bukan Wahabi? Bukankah hadits tsb perlu dijelaskan secara lugas dan jelas? Mohon maaf, apakah menjelaskan secara lugas dan jelas itu termasuk ahlak sayyi’ah?

      Menurut saya pribadi…. maaf ini menurut apa yg saya pikirkan sendiri, bukankah kita sebaiknya bersikap terbuka termasuk dalam menjelaskan hal2 yg samar seperti hadits yg disebukan di atas?

      Mohon pencerahannya ustadz…. syukron.

      1. @Putri Karisma :

        Maaf Mbak baru jawab. Maksud himbauan saya adalah sebaiknya hadits tersebut kita jadikan rambu-rambu tentang keberadaan kelompok yang membahayakan aqidah kita. Termasuk hadits tentang adanya 73 golongan dan hanya satu yang selamat dst.

        Ulama-ulama pun sudah banyak menggali ciri-ciri mereka lebih khusus, jadi pemahaman kita akan adanya kelompok-kelompok itu makin nyata.

        Lalu mengapa saya menghimbau untuk tidak mengarahkan kepada kelompok yang jelas nama/organisasinya, karena kita tidak tahu bolak-baliknya hati manusia. Hidayah hanya hak “prerogratif” Allah semata. Kita hanya perlu mengingatkan bahayanya lepas dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

        Saya sangat setuju kepada comment Mbak Putri selanjutnya yang saya rasa lebih baik kita kedepankan.

        Kurang lebihnya saya mohon maaf.

        Kebenaran hakiki hanya milik Allah
        Hamba Allah yang dhaif dan faqir
        Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

        1. Syukron ustadz…. benar sekali itu, karena itu dg berkoment di sini dg cara masing2 sesuai kapasitas masing2, kita semuanya punya niat yg baik, semoga bisa memberikan stimulasi terhadap “kepala batu” agar berpikir sehingga dapat hidayah-NYA.

          Yang penting kita tidak mencemo’oh, tdk memaki atau juga tdk menghina sesama makhluk Allah, karena Allah Maha mampu membolak-balikkan hati, siapa tahu dari salah satu komentar yg kita kemukakan bisa menjadi sebab turunnya hidayah-NYA, amin ….

          afwan….

          1. Kalau menurut aku pahamilah wahabi sebagai teguran dari Allah kepada kita neng karisma,sebab tidak bisa dipungkiri islam indonesia terlalu banyak khurafat thakayul,atau amalan yang dikategorikan bidah,jangan malah balik menyersng fengan mencari cari kelemahan wahabi,arab saudi dengan faham wahabinya tetap didatangi kaum muslimin seluruh dunia baik dalam rangka ibadsh haji atau belajar agama karena disana ada petunjuk yang benar (makkah)lihat qs.al imran 96.sejelek jeleknya arab saudi menurut persangkaan anda mereka tetap diberkahi tidak seperti indonesia yang kebanyakan sok pinter dan yang paling afdol ibadahnya karena banyaknya amalan amalan buatan sendiri.tetapi pada kenyataanya banyak yang mengaku islam tapi tidak pernah melaksanakan kewajibannya terutama sholat.

          2. Hallo ACENGA…

            Wahabi merupakan bukti kebenaran hadits Nabi bahwa pada akhir zaman di Nejed akan muncul tantuk setan yaitu kaum pembawa fitnah Islam. Tidak ada lain yg muncul dari Nejed selain Wahabi.

            “Dari ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman bagi kami.“ Mereka memohon: “Najd kami lagi wahai Rasulullah, doakan berkah.” beliau menjawab: “Ya Allah berkahilah Syam dan Yaman bagi kami.” mereka memohon: “Najd kami lagi wahai Rasulullah, doakan berkah.” Beliau ( Nabi Muhammad Saw ) menjawab: Di Najd itu tempatnya segala kegoncangan dan berbagai macam fitnah. Dan disana akan lahir generasi pengikut syetan.”

    1. ibn Abd Chair…. kayaknya kamu mau injak sana angkat sini, itu sih gayanya snouck Horgronye, kwk kwk kwk …. mantab.

      Tapi apakah kira2 antum akan berhasil menjebak Mas Derajad dalam perangkap UJUBISME? wallohu a’lam.

  9. sebagai muslim, baiknya utamakan husnuzhon. Dengan begitu hati anda akan lebih lega dan bersih. coba deh praktekkan ini sebulan aja..terus bandingkan hati anda sebelum dan sesudah husnuzhon, pasti akan lebih baik.

    1. @Ibnu Abdul Chair

      Bukannya anda yg sering berprasangka buruk. orang berdiri untuk menghormati orang lain, saudara samakan dengan penghormatan Nasrani kepada Isa as. Itu kan namanya menyamakan antara muslim dengan orang kafir. itu lebih jahat lagi.

  10. @ibn abdulchair
    Kembali lagi ke kata Ilmiyah, seperti apa sih kata ilmiyah itu ?, terus terang ane belum tahu maksud ilmiyah menurut ente, maklum ane dari fisika, jadi perlu tahu ilmiyah yang ente maksud. Mohon penjelasannya, apalagi ini menyangkut “Tauhid yang lebih ilmiyah” !!!

  11. Bismillaah,

    Yang menjadi topik diskusi ini adalah hadits:

    “Dari ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman bagi kami.“ Mereka memohon: “Najd kami lagi wahai Rasulullah, doakan berkah.” beliau menjawab: “Ya Allah berkahilah Syam dan Yaman bagi kami.” mereka memohon: “Najd kami lagi wahai Rasulullah, doakan berkah.” Beliau ( Nabi Muhammad Saw ) menjawab: Di Najd itu tempatnya segala kegoncangan dan berbagai macam fitnah. Dan disana akan lahir generasi pengikut syetan.”

    Hadits itu riwayat Bukhari. Untuk memahami maksud hadits tersebut, sebaiknya kawan-kawan merujuk pada Kitab Fathul Bari karangan Imam Ibnu Hajar Asqalani. Beliau mensyarah hadits-hadits dalam Kitab Shahih Bukhari termasuk hadits yang sedang dibahas di forum disskusi ini.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi :

      Apa kabar saudaraku ?

      Maaf saya belum akan membahas hadits yang saudarakan ini. Saya masih heran dengan beraninya saudara membawa nama Kitab Fathul Bari padahal secara sanad keilmuan saudara masih sangat jauh memahaminya. Tapi itu terserah saudara, saya hanya berharap saudara tidak semakin sesat dalam memahaminya. Mengapa demikian ? Beliau, Ibnu Hajar Atsqalani dan Imam Bukhari adalah ulama yang bermazhab syafi’i, sedangkan saudara tidak mau menerima semua i’tiqad beliau.

      Satu hal pertanyaan saya yang belum saudara jawab, yaitu apakah saudara masih menggunakan Assalamu ‘alan Nabi…dst dalam tahiyat setelah saya sampaikan hujjah yang kuat, baik dari pemahaman Mazhab Syafi’i seperti penjelasan saya mengenai isi dalam Kitab Fathul Bari dan ternyata juga disepakati oleh Lajnah Daimah (Majelis Fatwa Faham Salafy Wahabi yang ternyata mengabaikan fatwa Albani) ataukah saudara ruju’ mengenai mu’tabarnya pendapat keharusan menggunakan lafadz Assalamu ‘alaika ayyuhan Nabi … Dst ???

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  12. Ibnu Hajar itu lahir pada tahun 1372, dan dia meninggal pada tahun 1448. Dia berpendapat Tanduk Syetan Nejed udah muncul dijamannya, lalu dia mentakwil makna dzohir “timur” ke negeri Iraq, tempatnya kaum Syiah. Padahal Riyadh (Nejed) baru ditakluki pada tahun 1902, dan negeri Arab Saudi baru didapatkan pada tahun 1932.

    Karena Ibnu Hajar udah mentakwil, padahal takwil itu dilarang oleh kaum Wahhaby, maka Ibnu Hajar itu udah berbuat bid’ah dan dia termasuk penghuni neraka, di sisi Wahhaby. Malah, Bin Bazz sendiri udah mengakui kalo Wahhaby udah mendirikan satu kerajaan.

  13. Bismillaah,

    Kang Santri dan lain-lainnya,

    Jadi, terserah anda semua. Apakah anda mengikuti syarahnya Ibnu Hajar atau Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan kawan-kawan? Itu terserah anda. Saya lebih memilih penjelasannya Ibnu Hajar sebab beliau ilmunya lebih tinggi daripada Ahmad Zaini Dahlan dan kawan-kawannya. Beliau hidup di masa lebih dekat dengan masa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam daripada Ahmad Zaini Dahlan dan kawan-kawannya.

    Ingat sabda Rasulullaah: “Semakin lama jaman semakin buruk.”

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi

      Hukum mengerak-gerakkan jari telunjuk ketika Tasyahhud

      Diriwayatkan dari Ibnu Zubair bahwa “Rasulallah saw. berisyarat dengan telunjuk dan beliau tidak menggerak-gerakkannya dan pandangan beliau pun tidak melampaui isyaratnya itu” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban). Hadits ini merupakan hadits yang shohih sebagaimana diterangkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’.

      Menggerak-gerakkan jari makruh hukumnya: Jumhur ulama Syafi’i memakruhkan menggerak-gerakkan telunjuk waktu tasyahhud, dalam Hasiyah al-Bajur

      Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Zubair ra. bahwa “Rasulallah saw.berisyarat dengan jarinya (jari telunjuknya) jika berdo’a dan tidak menggerak-gerakkannya”. (HR.Abu ‘Awanah dalam shohihnya II:226; Abu Dawud I:260; Imam Nasa’i III:38; Baihaqi II:132; Baihaqi dalam syarh As-Sunnah III:178 dengan isnad shohih).

      Dalil orang yang menggerak-gerakkan telunjuk:
      Orang yang mengatakan sunnah hukumnya menggerak-gerakkan telunjuk berdalil hadits riwayat Wa’il bin Hujrin yang menerangkan tentang tata cara sholat Nabi. Riwayat yang dimaksud ialah: “Kemudian Nabi mengangkat jari telunjuknya maka aku melihat beliau menggerak-gerakkannya sambil berdo’a”. (HR.Nasa’i)

      Hadits ini oleh sebagian madzhab Maliki dijadikan dalil untuk mensunnahkan tahrik yakni menggerak-gerakkan telunjuk itu dengan gerakan yang sederhana dimulai sejak awal tasyahhud hingga akhirnya. Dan gerakan tersebut mengarah ke kiri dan ke kanan, bukan ke atas dan ke bawah (Al-Fighul Islami 1/716).

      hadits dari Ibnu Umar yang menyatakan bahwa: “Menggerak-gerakkan telunjuk diwaktu shalat dapat menakut-nakuti setan”. Ini hadits dho’if karena hanya di riwayatkan seorang diri oleh Muhammad bin Umar al-Waqidi (Al-Majmu’ III/454 dan Al-Minhajul Mubin hal.35). Ibn ‘Adi dalam Al-Kamil Fi Al-Dhu’afa VI/2247; “Menggerak-gerakkan jari (telunjuk) dalam sholat dapat menakut-nakuti setan” adalah hadits maudhu’ ”.

      Al-Hafidh Ibn Al-Hajib Al-Maliki dalam Mukhtashar Fiqh-nya mengatakan bahwa yang masyhur dalam madzhab Imam Malik adalah tidak menggerakkan telunjuk yang diisyaratkan itu.

      Tiga imam madzhab lainnya yakni Hanafi, Syafi’i dan Hanbali tidak memakai dhohir hadits Wa’il bin Hujr tersebut sehingga dapat kita jumpai fatwa beliau bertiga tidak mensunnahkan tahrik. Hal ini disebabkan karena mensunnahkan tahrik berarti menggugurkan hadits Ibnu Zubair dan hadits-hadits lainnya yang menunjukkan Nabi saw. tidak menggerak-gerakkan telunjuk.

      Imam Baihaqi yang bermadzhab Syafi’i memberi komentar terhadap hadits Wa’il bin Hujr sebagai berikut: “Terdapat kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan tahrik disitu adalah mengangkat jari telunjuk, bukan menggerak-gerakkannya secara berulang sehingga dengan demikian tidaklah bertentangan dengan hadits Ibnu Zubair”.

    2. @ibnu suradi
      “Saya lebih memilih penjelasannya Ibnu Hajar sebab beliau ilmunya lebih tinggi daripada Ahmad Zaini Dahlan dan kawan-kawannya”

      Waduh dari mana ente tahu ?????, Masya Allah, ente sudah menilai ulama !!!!!. Ulama sekaliber Prof.Dr. Quraish Shihab aja gak berani bilang seperti itu.

      1. Bismillaah,

        Kang Ucep,

        Apakah ada yang salah saya menyamapaikan penilaian seperti itu? Sebenarnya, kawan-kawan di forum ini dan forum lainnya sering menyampaian penilaian seperti: “Memagnya Albani lebih hebat dari Imam Ibnu Hajar, Imam Nawawi dan Imam Syafii? Saya lebih memilih mengikuti Imam Ibnu Hajar yang ilmunya lebih tinggi daripada Albani”.

        Kang Agung,

        Tentang syarah Ibnu Hajar tentang hadits tanduk syetan, Kang Sanatri telah menyampaikan pendapat Imam Ibnu Hajar tentangnya. Saya hanya mengikuti apa yang dikatakan Kang Santri saja. Sebaiknya, anda membaca sekali lagi komentar Kang Santri tersebut. Atau kalau berkenan, anda dapat membaca Kitab Fathul Bari.

        Wallaahu a’lam.

        1. @Ibn Suradi

          menurut saya, kedua duanya bisa benar. irak, merupakan tempat kaum syi’ah. tapi jangan lupa, di iraq tempat berkembangnya mazhab hanafi. pada waktu zaman tabi’in, irak merupakan pusat perkembangan mazhab Ahlu al-Ra’yi dengan tokoh tokohnya Alqamah bin Qais an-Nakha’I; Sa’id bin Jubair; Masruq bin Al-Ajda’ al-Hamdani dan Ibrahim bin Zaid an-Nakha’i.

          sekarang saya tanya, siapa ulama yg keluar dari nejd (hijaz)?

          mereka, yg mengidolakan muhammad bin abdul wahab dkknya, seringkali melontarkan kalimat bid’ah, maulid nabi bid’ah, isra’ mi’raj bid’ah, cium tangan untuk tabarruk bid’ah, tawassul dengan Nabi Muhammadsaw. dan orang orang shalih bid’ah dll………………………….

          fatwa yg keluar dari seorang mujtahid, bila bertentangan dengan keyakinan salafi wahabi, maka dengan mudahnya mereka menjatuhkan fatwa tersebut, seolah olah mereka lah kebenaran itu.

          1. Bismillaah,

            Kang Agung,

            Maka dari itu, saya lebih memilih pendapat Imam Ibnu Hajar daripada pendapat Ahmad Zaini Dahlan karena Ibnu Hajar hidup pada masa lebih dekat kepada masa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan memiliki ilmu lebih tinggi daripada Ahmad Zaini Dahlan. Kalau anda dan kawan-kawan memilih pendapat Ahmad Zaini Dahlan, silahkan.

            Wallaahu a’lam.

          2. @Ibn Suradi

            kalau saya, dua duanya,,,, ^^

            menurut muhammad bin abdul wahab, boleh tidak kita bertawassul dengan Nabi Muhammad saw. di kala Nabi Muhammad saw. telah meninggal dunia?

            karena, dari beberapa orang, ada yg mengatakan itu perbuatan syirik, benar tidak?

          3. @Agung
            maaf koreksi mas, setahu sy Najd dan Hijaz dua nama kawasan yg berbeda. Coba lihat peta KSA. Mekkah dan al-Madinah masuk kawasan Hijaz . Sementara Riyad, Diriyyah dll masuk kawasan Najd. Klu lihat di peta Iraq ada di sebelah utara agak ke timur dari Madinah. Dan Najd pas sebelah timur Madinah. Coba buka buku seri Syaikh Idahram atau blog Salafy Tobat sepertinya dah di bahas.

  14. Si A dan si B shalat berjamaah dan keduanya masbuk berdampingan,
    setelah selesai shalat dan salam,
    si B dengan gayanya memberikan teguran kepada si A :

    Si B:” Ya akhi, tidak ada hadistnya setelah selesai shalat dan salam
    lalu mengusap muka”

    si A: ” oh yaa, saya mengusap muka karena saya pusing liat
    jari telunjukmu gerak-gerak terus”

    😆 😆 😆 😆 😆 😆 😆

    1. @ibn abdul chair
      Mungkin ente tanya sama mas @ibnu suradi, mungkin mas @agung salah menempatkan komentnya, itu jawaban untuk mas @ibnu suradi. Dikoment mana ane lupa, pernah @ibnu suradi melontarkan koment itu.

      Untuk Mas @agung, mungkin salah menempatkan koment ya !!

    2. @ibnu abdul chair
      Nah disini : http://ummatipress.com/2012/04/15/apa-itu-ahlussunnah-wal-jamaah/#comment-22507
      Ini koment nya @ibnu suradi : “Ada juga perbedaan yang disebabkan oleh keawaman atau ketidaktahuan seseorang atau masyarakat. Dulu saya pernah menganggap bahwa orang yang menggerak-gerakkan jari telunjuknya saat tasyahud itu sengaja bermain-main dalam shalat. Saya menganggap bahwa shalatnya batal karena bergerak lebih dari tiga kali. Namun, setelah mengkaji masalah shalat dengan sungguh-sungguh, saya menjadi malu karena orang yang saya anggap bermain-main dalam shalat itu ternyata benar. Dia beramal dengan dalil dari hadits.”

    3. @Ibn Abdul Chair

      Dalam shohih Muslim meriwayatkan hadits dari Jabir ra. menyebutkan bahwa “Rasulallah saw., bersabda seraya (berisyarat) dengan jari telunjuknya. Beliau mengangkatnya ke langit dan melemparkan (mengisyaratkan kebawah) ke manusia, ‘Allahumma isyhad, Allahumma isyhad (ya Allah saksikanlah)’. Beliau mengucapkannya tiga kali”.

      Telunjuk disebut juga syahid (saksi), sebab jika manusia mengucapkan syahadat, dia berisyarat dengan telunjuk tersebut. Nabi saw. sendiri jika mengatakan “Asyhadu” atau “Allahumma isyhad” (suka) berisyarat dengan telunjuknya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Darimi dan Imam Baihaqi dalam kitab Ma’rifat As-Sunnah wal Al-Atsar hadits shohih.

      waktu untuk mengangkat dan mengisyaratkan (jari) telunjuk, yaitu ketika mengucapkan kalimat syahadat yakni Asyhadu an laa ilaaha illallah dan tidak menurunkannya sampai mengucapkan salam. Para ulama telah melakukan ijtihad dimana tempat yang tepat untuk mengangkat telunjuk pada kalimat syahadat itu. Apakah sejak dimulainya tasyahhud atau ditengah-tengahnya karena di dalam hadits-hadits tersebut tidak ditentukan tempatnya yang tepat.

      Menurut madzhab Syafi’i, bahwa tempat mengangkat telunjuk itu sebaiknya apabila telah sampai pada hamzah illallah, sebagaimana yang tersebut dalam kitab Zubad karangan Ibnu Ruslan: “Ketika sampai pada illallah, maka angkatlah jari telunjukmu untuk mentauhidkan zat yang engkau sembah”.

      Menurut madzhab Hanafi, bahwa mengangkat telunjuk itu adalah diketika Laa ilaaha dan meletak kan telunjuk diketika illallah.

      Menurut madzhab Hanbali, bahwa mengangkat telunjuk itu adalah disetiap menyebut lafdhul jalalah pada tasyahhud dan do’a sesudah tasyahhud.

      cuma itu yg saya ketahui, untuk penjelasan terperincinya, saya tidak tahu.

  15. Ummu abdillah, ibnu suradi dan ikhwan se-aqidah lainnya. Kewajiban antum hanya menyampaikan dan jangan memaksa, sebab diterima atau tidaknya kebenaran yang antum sampaikan semua itu adalah hak Allah Jalla wa ‘Ala. Jangan mengikuti keinginan untuk jiddal karena hal itu dilarang. Coba perhatikan :
    1. Nabi Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam
    “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”
    (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)
    Jadi keberadaan kita di blog ini hanya menyampaikan.

    1. @Ibn Abdul Chair :

      Sebenarnya saudara juga masih menyisakan beberapa pertanyaan yang tidak saudara jawab sampai sekarang. Tapi itu hak saudara, saya berharap itu mengendap dalam hati nurani saudara, yang suatu saat saudara bisa memahaminya dengan baik.

      Menurut saya dalam situs ini bukan Jidal seperti yang saudara maksud, saya lebih memahaminya sebagai Majlisil ‘Ilmi. Materi yang disampaikan lebih kepada pengokohan hujjah bagi orang yang memilih i’tiqad ahlus sunnah wal jamaah. Kita semua akan memahami dengan baik hujjah mana yang lebih mu’tabar. Tidak kurang para alim Kang @bu Hilya, Kang Agung, termasuk Admindan beberapa alim yang lain menuangkan pemahaman i’tiqad ahlus sunnah wal jamaah dengan baik, dengan harapan bermanfaat untuk kita semua. Mengenai ada kontra pemahaman terhadap penyampaian para alim disini, kami memahaminya untuk islah dan bermuhasabah terhadap diri kita masing-masing. Yang kami sayangkan dalam menjawab beberapa materi, saudara dari Salafi Wahabi berusaha menyerang kami dengan qaul dan ijma ulama kami sendiri, tapi tanpa pemahaman yang menyeluruh. Ini tampak dari diangkatnya isi kitab-kitab semisal Fathul Bari, I’anatut Thalibin, Bulughul Maram dan beberapa kitab ulama Salaf (bukan Salafi Wahabi). Jadi sekali kali lagi kami sampaikan untuk renungan, “Apakah kalian sudah putus asa dengan hujjah kalian sendiri sehingga menggunakan qaul ulama kami yang belum jelas kalian memahami untuk menyerang kami ??” Bukankah para ulama kalian juga mempunyai fatwa yang tidak sedikit dalam memahami materi yang kami sampaikan disini ???

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. @Ibn Abdul Chair : “Ummu abdillah, ibnu suradi dan ikhwan se-aqidah lainnya”.

      Agung : Seingat saya, saudara pernah mengutip perkataan ustadz yg menjadi panutan saudara dengan kalimat : “Allah swt itu mempunyai wajah, tapi wajah Allah swt tidak seperti wajah makhluknya”.

      karena hal tersebut berkaitan dengan akidah, maka saya akan sedikit memaparkan pemahaman Ahlussunah Wal Jama’ah dalam memahami ayat ayat atau hadist mutasyabihat.

      Masalah ayat atau hadist mutasyabihat dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya :

      1. Pendapat Tafwidh Ma’a tanzih

      Madzhab Tafwidh Ma’a Tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kepada Allah swt, dengan I’tiqad Tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan) Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu’minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dengan hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna)

      Dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dengan mahluk dengan mengatakan Allah swt. Bersemayam di atas ‘Arasy, memiliki wajah dll., bukan seperti para Imam yang memegang madzhab tafwidh.

      2. Pendapat Ta’wil
      Madzhab Takwil yaitu menakwilkan ayat atau hadist tasybih sesuai dengan ke-Esaan dan Keagungan Allah swt. Ada sebagian orang, umumnya dari kaum Musyabbihah Mujassimah –sekarang Wahhabiyyah-,seringkali melempar tuduhan kepada Ahlussunnah Asy’ariyyah Maturidiyyah sebagai kaum Mu’ath-thilah, atau Mu’tazilah, atau kadang mereka sebut Afrâkh al-Mu’tazilah (cicit-cicit Mu’tazilah). Alasan mereka adalah karena kaum Asy’ariyyah dan Maturidiyyah sering memberlakukan takwil terhadap teks-teks mutsyabihât dari al-Qur’an dan Hadits, dan menurut mereka orang yang memberlakukan takwil sama saja dengan ta’thîl (mengingkari teks-teks tersebut), dalam istilah mereka ”al-Mu’awwil Mu’ath-thil”.

      kitab Sharîh al-Bayân Fî ar-Radd ’Alâ Man Khâlaf al- Qur’ân karya al-Imâm al-Hâfizh Abdullah al-Harari dalam menjelaskan bahwa takwil tidak hanya diberlakukan oleh para ulama Khalaf, tidak pula hanya diberlakukan oleh para ulama dari kalangan Asy’ariyyah dan Maturidiyyah saja, tapi jauh sebelum itu metodologi takwil ini telah diberlakukan oleh para sahabat, tabi’în, dan para ulama Salaf saleh terdahulu.

      metode takwil tafshîli ini dipakai oleh para ulama Salaf terkemuka, seperti al-Imâm Abdullah ibn Abbas dari kalangan sahabat Rasulullah, al-Imâm Mujahid (murid Abdullah Ibn Abbas) dari kalangan tabi’in, termasuk al-Imâm Ahmad ibn Hanbal dan al-Imâm al-Bukhari dari golongan yang datang sesudah mereka.

      Adapun takwil tafshîli dari sahabat Abdullah ibn Abbas adalah seperti yang telah disebutkan al-Imâm al-Hâfizh ibn Hajar dalam kitab Fath al-Bâri Syarh Shahîh al- Bukhâri, sebagai berikut:

      “Adapun kata “as-Sâq”, telah diriwayatkan dari Abdullah ibn Abbas dalam takwil firman Allah (Qs. Al Qalam: 42)

      Adapun takwil dari al-Imâm Mujahid adalah sebagaimana telah diriwayatkan oleh al-Hâfizh al-Bayhaqi takwil firman Allah swt. Qs. Al-Baqarah : 115 :
      ia (Mujahid) berkata: “Yang dimaksud dengan “Wajhullâh” adalah “Kiblatullâh” (kiblat Allah), maka di manapun engkau berada, baik di barat maupun di timur, engkau tidak menghadapkan mukamu kecuali kepada kiblat Allah tersebut” (Yang dimaksud adalah ketika shalat sunnah di atas binatang tunggangan, ke manapun binatang tunggangan tersebut mengarah maka hal itu bukan masalah)

      Adapun takwil dari al-Imâm Ahmad, juga telah diriwayatkan oleh al-Bayhaqi di dalam pembicaraan biografi al-Imâm Ahmad sendiri. Diriwayatkannya dari al-Hakim dari Abu ‘Amr as-Sammak dari Hanbal, bahwa al-Imâm Ahmad ibn Hanbal telah mentakwil firman Allah Qs. Al-Fajr : 22:
      bahwa yang dimaksud ayat ini bukan berarti Allah datang dari suatu tempat, tapi yang dimaksud adalah datangnya pahala yang dikerjakan ikhlas karena Allah. Tentang kualitas riwayat ini al-Bayhaqi berkata: “Kebenaran sanad riwayat ini tidak memiliki cacat sedikitpun”, sebagaimana riwayat ini telah dikutip oleh Ibn Katsir dalam kitab Târîkh-nya.

      Kemudian al-Hafzih al-Bayhaqi menuliskan:
      “Dalam peristiwa ini terdapat penjelasan kuat bahwa al-Imâm Ahmad tidak meyakini makna “al-Majî’” –dalam QS. al-Fajr di atas– dalam makna datangnya Allah dari suatu tempat. Demikian pula beliau tidak meyakini makna “an-Nuzûl” pada hak Allah yang –disebutkan dalam hadits– dalam pengertian turun pindah dari satu tempat ke tempat yang lain seperti pindah dan turunnya benda-benda. Tapi yang dimaksud dari itu semua adalah untuk mengungkapkan dari datangnya tanda-tanda kekuasaan Allah, karena mereka (kaum Mu’tazilah) berpendapat bahwa al-Qur’an jika benar sebagai Kalam Allah dan merupakan salah satu dari sifat-sifat Dzat-Nya, maka tidak boleh makna al-Majî’ diartikan dengan datangnya Allah dari suatu tempat ke tempat lain. Oleh karena itu al-Imâm Ahmad menjawab pendapat kaum Mu’tazilah dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah datangnya pahala bacaan dari surat-surat al-Qur’an tersebut. Artinya pahala bacaan al-Qur’an itulah yang akan datang dan nampak pada saat kiamat itu.

      Kemudian dalam kitab Shahîh al-Bukhâri dalam makna firman Allah Qs. Al-Qashas : 88
      al-Imâm al-Bukhari mentakwilnya, beliau menuliskan: “Segala sesuatu akan punah kecuali kekuasaan Allah”, dapat pula ayat tersebut bermakna: “Segala sesuatu akan punah kecuali pahala-pahala dari kebaikan yang dikerjakan ikhlas karena Allah”.

  16. ustadz abu hilya, ustadz agung , ustadz derajat dan ikhwan se-aqidah lainnya. kewajiban antum hanya menyampaikan dan saya yakin antum tidak memaksa. diterima atau tidaknya kebenaran yang antum sampaikan semua itu adalah hak Allah SWT.

    tetaplah sampaikan sanggahan atas tuduhan kaum wahabi, yang saya tahu ini bukan debat tapi koreksi dan konfirmasi kepada kaum wahabi bahwa apa yang aswaja lakukan itu ada dalilnya!

    buat ibnu abdul chair nyontek dikit ya…!

    barakallahu fikum

    1. Abi Raka@

      Numpang ikut ketawa ya, hwe hwe hwe…..

      Oh ya, memerangi pemikiran Wahabi itu ada pahalanya di sisi Allah, jadi ini bukan jidal, “……… Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah (baca: perangilah pemikirannya, pemahamannya ) mereka karena sesungguhnya, membunuh ( baca: memerangi pemikiran mereka sampai tak ada lagi fitnah) mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari dan Muslim]

  17. Ane setuju dengan @abi raka, Aswaja tetap mengedepankan kebenaran berdasarkan dari Kitab2 Ulama Aswaja, tidak berhujjah dengan akal pikiran tapi dengan Ijtihad Ulama.
    Mungkin ane bisa kasih perumpamaan :
    Orang buta kalau kita kasih tongkat pasti diterima, karena itu adalah petunjuk jalannya.
    Orang Melek kalau kita kasih tongkat, mungkin diterima, mungkin juga tidak, bergantung kepada isi hati orang tersebut, jika iya ingin menghormati sipemberi pasti diterima, kalau hatinya penuh dengan kedengkian pasti dia menolaknya seakan-akan menyinggung / menganggap dia buta beneran.
    Orang melek tapi buta, inilah yang agak repot buat kita beri tongkat itu, kalau diberi dikira kita menyinggung dia, jika tidak diberi kita kasihan terhadapnya.

    Kunci semuanya adalah Hati, apakah bisa terima atau tidak tongkat itu WaAllah hu a’lam, tapi tetap lah kita memberi tongkat itu dengan ke Ikhlasan dan kebenaran.

  18. @Ibn Abdul Chair dkknya yg seakidah serta sahabat sahabat saya yg seakidah

    satu lagi komentar generasi nejad (aswaja wahabib) : “Bagus apaan wong artikel ngawur gitu dibilang bagus. Kalo gitu caranya berdalil sih Kiyai Slamet (guru anti) juga bisa. Comot hadits cocokkan dengan selera lempar ke orang-orang wahabi. Kaya si Mundzir itu, dari mana dia tau bahwa merayakan Maulid Nabi, Isro Mi’raj itu sebagai Syiar Islam? Yang namanya perayaan-perayaan di luar perayaan Ied, itu bukannya Syiar Islam tapi Syiarnya orang Yahudi dan Nashoro. Sa enak udelnya aja si Mundzir nyomot ayat langsung dicocokin sama seleranya sendiri”.

    BERIKUT JAWABAN SAYA UNTUK GENERASI NEJD TERSEBUT :

    Dari tulisan generasi Nejd tersebut dapat di simpulkan, orang yg memperbolehkan peringatan maulid di samakan dengan perayaan kaum yahudi dan nasrani. Kedua, mencela ahlul bait.

    A. PERINGATAN MAULID NABI

    Allah merayakan hari kelahiran para Nabi Nya
    Firman Allah : “(Isa as berkata di pangkuan ibunya) Salam sejahtera atasku, di hari kelahiranku, dan hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan” (QS. Maryam : 33)

    Firman Allah : “Salam Sejahtera (untuk Yahya as) dihari kelahirannya, dan hari wafatnya dan hari ia dibangkitkan” (QS. Maryam : 15)

    Sahabat memuliakan hari kelahiran Nabi saw
    Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai Nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang – benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala Shahihain hadits)

    Kasih sayang Allah atas kafir yang gembira atas kelahiran Nabi saw
    Diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “bagaimana keadaanmu?”, abu lahab menjawab : “di neraka, Cuma diringankan siksaku setiap senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari, Sunan Imam Baihaqi Alkubra)

    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu (para Nabi dan Rasul) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal”. (S.Yusuf:111).

    “Dan semua kisah para Rasul kami ceriterakan kepadamu, yang dengan kisah-kisah itu Kami teguhkan hatimu “. (S. Hud: 120)

    PENDAPAT PARA IMAM DAN MUHADDITS ATAS PERAYAAN MAULID

    Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
    Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari Shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari di tenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa di dapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini? Telah berfirman Allah swt : “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS. Al Imran : 164). Imam Al-‘Asqalani memastikan bahwa memperingati hari maulid Nabi saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau merupakan amalan yang mendatangkan pahala.

    Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
    Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber-akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis No.1832 dengan sanad Shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300). Dan telah diriwayatkan bahwa telah ber-Akikah untuknya, kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin di perbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman – teman dan saudara – saudara, menjamu dengan makanan – makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

    Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
    Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia di zaman kita ini adalah perbuatan yang di perbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.

    Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
    Telah diriwayatkan Abu Lahab di perlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (Shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia bergembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan-Nya dengan sebab anugerah-Nya.

    Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah
    Dalam syarahnya maulid Ibn Hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran Nabi saw”.

    Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
    Dengan karangan maulidnya yang terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

    Imam Nawawi (Al-Hafidz Muhyiddin bin Syarat An-Nawawi) yang wafat dalam tahun 676 H bahkan mensunnahkan peringatan maulid Nabi saw..

    Seorang ulama terkenal, Imam Taqiyyuddin ‘Ali bin ‘Abdul-Kafi As-Sabki wafat tahun 756 H menulis kitab khusus tentang kemuliaan dan kebesaran Nabi Muhammad saw. Bahkan ia menfatwakan, barangsiapa menghadiri pertemuan untuk mendengarkan riwayat maulid Nabi Muhammad saw. serta keagungan maknanya ia memperoleh barokah dan ganjaran pahala.

    Imam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar Al-Haitsami As-Sa’di Al-Anshari Asy-Syafi’i wafat tahun 973 H menulis kitab khusus mengenai kemuliaan Nabi saw.. Ia memandang hari Maulid Nabi saw. sebagai hari raya besar yang penuh barokah dan kebajikan.

    B. KEUTAMAAN AHLUL BAIT

    Kita hanya sering mendengar dimasjid-masjid atau tempat lainnya tentang hadits Rasulallah saw. agar kita memegang dua bekal yaitu: ‘Kitabullah wa sunnati’ artinya (berpegang) Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw. atau hadits lainnya yaitu: ‘Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin sepeniggalku, dan peganglah erat-erat serta gigitlah dengan gigi gerahammu’. Tetapi belum pernah atau jarang sekali di kumandangkan dan dikenal oleh kaum muslimin hadits Nabi saw. agar kita memegang dua bekal: ‘Kitabullah dan Itrah-ku (keturunan-ku) Ahlu baitku’.

    Imam Muslim meriwayatkan hadits ini di dalam kitab shohih-nya dari Aisyah yang berkata; “Rasulullah saw. pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit dan) bergambar. Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah saw. memasuk- kannya kedalam pakaiannya, lalu Husain datang, dan Rasulullah saw. memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fathimah, dan Rasulullah saw. pun memasukkannya ke dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah saw memasukkan- nya ke dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah saw berkata; ’Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilang kan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya (surat Al-Ahzab:33).” (Shohih Muslim, bab keutamaan-keutamaan Ahlul Bait.)
    Al-Hakim meriwayatkan hadits serupa dari Ummu Salamah yang berkata; “Di rumah saya turun ayat yang berbunyi, ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’. Lalu Rasulullah saw mengirim Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, dan kemudian berkata, ‘Mereka inilah Ahlul Baitku’ “. (Mustadrak al-Hakim, kemudian, al-Hakim berkata, ‘Hadits ini shohih menurut syarat Bukhari’).

    Dalam sebuah hadits riwayat al-Imâm Ahmad ibn Hanbal Rasulullah bersabda:
    “Aku telah tinggalkan di antara kalian dua pengganti; yaitu Kitab Allah (al- Qur’an) yang akan selalu terbentang antara langit dan bumi, dan keturunanku; keluargaku (Ahl al-Bayt)”, keduanya tidak akan pernah berpisah hingga keduanya datang ke Haudl nanti (di akhirat)”115. Al-Hâfizh al-Haitsami berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, dan sanad-nya adalah jayyid (bagus)”.

  19. Apa2 yg antum sampaikan bagi kami (sy, ummu abdillah, ibnu suradi) dan ikhwan ahlussunah wal jama’ah (bukan aswaja) adalah pemahaman masa lalu. Dulu ketika kami masih bergelimangan tahayul, bid’ah dan khurafat apa yg kalian sampaikan pasti kami terima. Tetapi setelah hidayah Allah Tabarooka wa Ta’ala, Alhamdulillah kami sudah meninggalkan itu semua. “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)…” -WS Al Baqoroh 257.. Sekarang pemahaman kami lebih terang, jelas, tidak memberatkan, tidak mengada-ada. Dan kami akan terus menuntut ilmu agama ini agar senantiasa selalu berada dijalan yg lurus dan tidak kembali lagi ke dalam masa lalu kami.
    Kami hadir disini semata-mata ingin berbagi dengan apa yang telah Allah Tabarooka Wa Ta’ala atas segala hidayah-NYA. Setidaknya kalian dpt ilmu agama jalan yg lurus, yg mudah-mudahan bisa membuka hati dan mata antum dari segala macam kegelapan.

    1. @ibn abdul chair
      Ente sudah prustasi ya sehingga tidak ada kata lain : “Tetapi setelah hidayah Allah Tabarooka wa Ta’ala, Alhamdulillah kami sudah meninggalkan itu semua”
      Mari kita buktikan tentang kata hidayah itu ???
      Mari kita perbanyak :
      1. Shalat Tahajut tanpa putus disetiap malam
      2. Perbanyak Shaum / puasa
      3. Hilangkan Iri, Riya dan kedengkian dari dalam Hati
      4. Perbanyak Sabar, Tawakal dan Tawadhu’

    2. @Ibn Abdul Chair

      Aqidah Ahlussunah wal jama’ah : “Allah swt. ada tanpa tempat dan arah”. itulah ijma’ di kalangan ahlussunah.

      Jika seseorang berkeyakinan bahwa Allah swt. itu bertempat, bersemayam, ada pada arah tertentu, maka aqidahnya adalah aqidah batil. dan tidak layak menyandang gelar ahlussunah wal jama’ah.

      1. @Wonk Bingung

        Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam bersabda: “Allah ada pada azal (Ada tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn al-Jarud)

        Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

        Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Sebagaimana ditegaskan juga oleh sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:
        “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitabnya al-Farq Bayn al-Firaq, h. 333).

        Al-Imam al-Bayhaqi (w 458 H) dalam kitabnya al-Asma Wa ash-Shifat, hlm. 506, berkata: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam:

        “Engkau Ya Allah azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim dan lainnya). Jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat”.

        Al-Imam as-Sajjad Zain al-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (w 94 H) berkata: “Engkaulah ya Allah yang tidak diliputi oleh tempat”. (Diriwayatkan oleh al-Hafizh az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al-Bayt; keturunan Rasulullah).

        Al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi juga berkata dalam al-’Aqidah al-Thahawiyyah : “Allah subhanahu wa ta‘ala tidak dibatasi oleh arah yang enam.”

        Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi berkata dalam al-Farqu Bayna al-Firaq:“Kaum Muslimin sejak generasi salaf (para sahabat dan tabi’in) telah bersepakat bahwa Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh waktu.” (al-Farq bayna al-Firaq)

    3. inilah tanda-tanda orang yang keras hati bagaikan batu bahkan lebih keras dari batu, kebenaran sudah tampak di depan mata masih aja gk mau nerima.. batupun ketika terkena percikan air masih bisa berlobang… tapi kalian para wahabiyin ….. ntah apalagi yang harus kami ucapkan…
      DALIL SUDAH TERBENTANG LAKSANA LAUTAN
      HUJJAH SUDAH TERSAMPAIKAN BAGAIKAN HUJAN
      TAPI KALIAN…..
      semoga Alloh selalu memberikan ampunanNya kepada kita aminnnn…
      maju terus aswaja

  20. Saya sendiri udah bertahun-tahun divonis sebagai penghuni neraka, oleh kaum Salafi, karena saya Ahlu Bid’ah Hasanah. Pada mulanya, yah takut juga sampe masuk ke dalem neraka. Kemudian saya sadar, itu cuma nerakanya Wahhaby. Jadi sekarang, kalo Wahhaby bilang saya Ahli Neraka, yah saya anggap itu cuma lawak jenaka aja.

    Lalu Wahhaby mengatakan kaum Musyrik itu juga Ahlu Tauhid, dengan Tauhid Rububiyah. Ini lawak jenaka yang kesatu, karena kaum Musyrik itu mengakui Allah sebagai Pencipta dan Pemberi Rejeki, karena mereka memang kalah debat, bukan karena mereka berTauhid Rububiyah.

    Kemudian Wahhaby mengancam semua Ahlu Bid’ah Hasanah pasti masuk Nerakanya Wahhaby, dalam Tauhid Uluhiyah. Padahal Wahhaby sendiri udah berbuat bid’ah, seperti merubah garis Sa’ie pada ibadah haji, malah nikah misyar pula. Koq Ahlu Neraka mengancam sesama Ahlu Neraka? Nah, ini lawak jenaka yang kedua.

    Paling akhir, Wahhaby bilang lafat “Istawa” itu ayat mutasyabihat, jangan ditakwil, hanya Allah yang tau takwilnya. Lalu mereka memberi tau makna dzohirnya, “bersemayam”. Artinya, hanya Allah yang tau takwilnya itu, bermakna hanya Wahhaby yang tau makna dzohirnya. Itu lawak jenaka yang ketiga, karena Ahlu Takwil akan diancam masuk nerakanya Wahhaby.

    Karena Wahhaby udah bingung segala tangan, betis, mata, kaki malah langit dan Arasy juga binasa dalam al-Qashash 88 itu, maka Wahhaby juga mentakwil “Wajah-Nya” kepada “Dzat-Nya”. Lho, koq mengancam Ahlu Takwil dengan Neraka, sekarang udah mau mentakwil dan mau masuk Neraka pula. Nah, Wahhaby itu benar-benar Ahlu Lawak Jenaka dengan slogan atau jargonnya “Lawan Salafi Berarti Bid’ah Masuk Neraka”.

  21. Saya sudah cukup lama baca di ummati. Saya mau cerita pengalaman saya sendiri, sekitar 6 tahun lalu saya mengenal salafi. Dulu sebelum saya kenal salafi, lidah saya terasa ringan untuk membaca Al Quran, tapi setelah saya mengenal dan masuk salafy wahaby, lidah ini terasa kaku untuk membaca Al Quran. Perlu antum ketahui, saya sudah sejak kecil sangat lancar membaca Al Quran, bahkan sewaktu SMA saya sudah mengajar Al Quran di Pondok Pesantren. Kemudian saya juga banyak mengalami kebingungan sendiri, saya mudah terbawa emosi/mudah marah, di dalam kebingungan saya, setiap ada kesempatan saya mohon pada Alloh SWT agar dipilihkan jalan yang lurus, akhirnya kurang lebih dua tahun lalu saya keluar dari salafy wahaby. Dan setelah itu banyak perubahan yang saya alami. Saya tidak kebingungan, nalar saya membaik, dada saya terasa lapang, jadi sabar, tidak memvonis kelompok lain sesat, yang paling saya rasakan bacaan Al Quran saya kembali lancar dan enak. Moga2 pengalaman saya dapat diambil hikmahnya.

    1. Ahmad Salimi@

      Alhamdulillah, syukron sharingnya Mas Ahmad Salimi semoga yang lain mendapatkan inspirasi dari sharing antum walaupun sangat sedikit. Kalau tidak keberatan, kami mohon antum membuat tulisan untuk diposting di UmmatiPress, semacam KISAH NYATA berupa kisah perjalanan antum dari Asawaja ke Salafy Wahabi lalu ke kembali ke Aswaja. Insya allah akan sangat bermanfaat buat Ummat, sebagai pelajaran yang bisa diambil hikmahnya, amin.

      Syukron, barokallohu fik.

  22. kenapa saya tidak suka wahabi..!

    awalnya saya dan temen deket saya ga peduli tentang pemahaman keagamaan seseorang, mau wahabi ke, mau sunny ke, mau syiah ke, bodo amat selama dia islam, Allah tuhannya dan nabi muhammad rosulnya dia adalah saudara. sampai pada suatu saat temen saya ikut pengajian yang ada di kampungnya tidak lama kemudian dia mulai memprmasalahkan pemahaman agama saya yang sepaham dengan NU yang katanya salah, malah dia menganggap saya musuh islam yang nyata. lalu dia mengintimidasi saya karena saya tidak mau ikut pemahaman dia, dan dia masih memusuhi saya sampai sekarang

    pas di cek guru ngajinya, ternyata seorang ustadz dari kalangan wahabi
    dari sini saya mulai sama sekali tidak tertarik sama wahabi karena cara dakwah yang tidak simpatik!

    mohon maaf bila ada yang tersinggung

    wallahu musta’an

  23. @abi raka, koq malah begitu…sy malah lebih mantap dengan ahlussunah wal jama’ah (bukan aswaja) tp diblog ini disebutnya salafi wahhaby. Sejak sy mengikuti kajian salafi, sy jadi lebih rajin.
    Emang hidayah itu begitu mahal ya, jadi banyak juga orang yang nggak bisa bedain mana ketenangan haqiqi yg datang dari Allah Tabarooka Wa Ta’ala ama ketenengan semu yg datang dari Syetan.

    1. ibn abdul choir@

      Lho…. kok menurutmu tiba2 Wahabi jadi Ahlussunnah Waljamaah itu bagaimana jalan ceritanya Mas, tolong ceritakan sejak kemunculannya di NAJD ya, pasti menaruik nih ceritanya, sebab baru dengar dari antum nih kalau Wahabi tiba2 berubah jadi Ahlussunnah Waljamah.

      Sebab di seluruh dunia Wahabi itu dikenal sebagai Wahabi saja, sekte pembawa fitnah di seluruh dunia Islam. Ato bisa dibilang Wahabi itu ibarat benalu di tubuh Islam dan kaum muslimin. Kerjaanya bikin ricuh karena keahliannya dalam mengharamakan hal2 yg tidak haram. Dosa lho itu, Mas? Menurut Nabi Saw kerjaan seperti itu termasuk kejahatan terbesar lho itu?

      Kok tiba2 antum mempersepsikan Wahabi sebgai Ahlussunnah Wal Jamah, lucu nggak?

    2. @ibn abdul chair

      bilangnya sudah tenang.. tapi suka ngusik amaliayah orang lain.. sangat aneh
      padahal sudah disampaikan pendapat ulama-ulama salaf yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadist tentang amaliyah kita… masih saja dituduh bergelimang tahayul, bid’ah dan khurafat… astaghfirullah

      mau anda apa ya sebenarnya??

    3. @ibn abdul chair
      Ente menyebutkan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, apakah ente gak bid’ah ?
      Dari banyak hadist disebutkan hanya kata “Al Jama’ah”, bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Kalau ada dalam hadist2 kata “ahlus sunnah wal Jama’ah bisa dishare disini !!!
      Bid’ah gak kira2 menurut ente ??

    4. @ibnu abdul chair
      Ente menyebut “sy malah lebih mantap dengan ahlussunah wal jama’ah” apakah ente gak bid’ah ?
      Dalam Hadist2 disebutkan hanya kata “Al Jama’ah” bukan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”, kalau ada hadistnya bisa dishare disini. Kata ahlus sunnah wal Jama’ah timbul setelah Imam 4 madzhab, bid’ah gak ?

  24. @ibnu abdul chair

    apakah hidayah yang menyebabkan seseorang memutuskan tali silaturahmi bahkan memusuhi sodaranya…?
    apakah hidayah yang menyebabkan saudaranya tidak merasa nyaman karena intimidasinya….?
    apakah hidayah yang menyebabkan seseorang menyebut ahli lailahaillallah muhammadurrasulullah sebagai musuh yang nyata…?
    bukankah hanya syetan saja dalam al-qur’an sebagai musuh yang nyata buat masnusia?

    kalau iya, kira-kira itu hidayah dari siapa mas…?

    wallahu a’lam

  25. Alhamdulillah, sy merasa gembira sekali dengan tanggapan dari abi raka, vira, ucep, jabir dan mungkin semua ikhwan disini. Seperti ahlussunah lainnya, sy mengikuti manhaj ahlussunnah dalam memahami al-qur’an dan hadist atas pemahaman salafushsholih – terutama tiga generasi terbaik ummat ini dan org-org yang mengikutinya dgn baik (Attaubah 100) . Jadi pemahaman yg ada pd saya tidak tercampur oleh pemahaman tassawuf/suffiyah yg bukan dari Islam, ilmu kalam atau ilmu mantiq yg juga bukan dari Islam. Jelasnya begini :
    Salafiyah merupakan perwujudan dari anjuran ulama salaf, diantaranya Imam Al-’Auzai -رحمه الله- yang berkata :
    “Bersabarlah diatas sunnah, berhentilah kemana (para salaf) berhenti, katakan dengan apa yang mereka katakan dan cegahlah dari apa yang mereka cegah. Telusurilah jejak salafush sholeh karena akan mencukupimu apa yang mencukupi mereka”. (“Asy-Syari’ah ” oleh Al-Ajury” hal 58)

    1. @ibnu abdul chair
      “Jadi pemahaman yg ada pd saya tidak tercampur oleh pemahaman tassawuf/suffiyah yg bukan dari Islam, ilmu kalam atau ilmu mantiq yg juga bukan dari Islam.”

      Apakah ilmu yang ente sebutkan bukan dari Islam, bisa dijelaskan maksudnya ???

    2. @Ibn Abdul Chair

      ada tidak ulama salaf yg mengatakan, Allah swt. memiliki wajah, tapi wajah Allah swt. tidak seperti wajah makhluknya?

      Apa yg dimaksud dengan ilmu kalam?

      siapa generasi salaf yg membagi tauhid menjadi tiga?

      anda kan ingin berbagi kebenaran, jd tolong dijelaskan….

    3. @Ibn Abdul Chair

      Di antara kesesatan baru yang dimunculkan oleh kelompok Wahhabiyyah adalah penghinaan mereka terhadap tasawwuf dan para sufi secara keseluruhan. Dalam hal ini mereka telah menyalahi apa yang dikemukakan oleh panutan mereka sendiri yaitu Ibnu Taimiyyah, sebagaimana terdapat dalam kitab Syarh Hadits Nuzul bahwasanya Ibnu Taimiyyah memuji al-Junaid dan mengatakan bahwa beliau adalah Imam Huda (imam pembawa petunjuk). Mereka juga menyalahi pendapat Imam Ahmad, karena Imam Ahmad diceritakan pernah bertanya kepada Abu Hamzah dengan perkataan beliau: “Apa yang kamu katakan wahai sufi?”

      apa salahnya jika harus ada gelar “sufi”, sementara para ulama seperti Ibnu Hibban banyak sekali menyebutkan para perawi yang terkenal dengan kesufiannya, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya: “Menceritakan kepada kami Musa ibn Khalaf dan beliau termsuk wali abdal”. Begitu juga al-Baihaqy yang banyak meriwayatkan hadits dari ar-Raudzabary salah seorang sufi terkenal yang juga murid dari Imam al-Junaid ibn Muhammad radliyallahu ‘anhuma.

      1. @Baros,
        Kalau sudah kecampur sama yahudi dan nasrani dan tauhidnya tauhid trinitas, jadi bukan Islam lagi dong, tapi “Agama Wahabi”yang nabinya Muhammad ibnu Abdul Wahab bukan Muhammad SAW bin Abdullah.

    4. Lafat “tashawuf” itu memang bid’ah, karena ga ada dalm mana2 nash. Lalu apakah lafat “mashalih mursalah” itu bukan bid’ah? Kalo ilmu tashawuf itu bid’ah, apakah ilmu tajwid, ilmu tafsir al-Qur’an, ilmu Asbabun Nuzul, ilmu Jarh wa Ta’dil itu bukan bid’ah? Kenapa Wahhaby mau mempelajari semua ilmu-ilmu bid’ah itu? Kalo memang benar ada ajaran tashawuf yang sesat, tidaklah bermakna semua ajaran tashawuf itu sesat. Kalau begitu halnya, ada 72 golongan Islam yang sesat, lalu kenapa wahhaby masih mau menganut agama Islam?

      Padahal, hadist hanya menyebut lafat “Iman, Islam dan Ihsan”. Maka ilmu tentang Iman itulah ilmu kalam, atau ilmu Aqidah, atau Ilmu Ushuluddin, atau Ilmu Sifat 20. Apakah ilmu Tauhid 3 Wahhaby itu bukan ilmu kalam? Juga, ilmu tentang Islam itulah dipanggil ilmu feqah, termasuk didalamnya ushul feqah dan qawaid feqahiyyah. Dan ilmu tentang Ihsan itulah yang dipanggil ilmu tashawuf, ilmu akhlaq, ilmu tarekat, del el el.

      Di dalam ilmu Ihsan itu, kami kaum Sunny diajar untuk beribadah-
      1. agar dosa kami diampuni Allah, padahal Allah tidak mengampuni dosa syirik. maka kami diajar jangan syirik, dan harus mengenal arti syirik jali, syirik khafi dan syirik khafi ul khafi. Dah harus bertauhid, maka harus mengenal tauhid Af’al, Asma, Sifat dan Dzat.
      2. agar ibadah kami diterima di sisi Allah, maka kami diajar agar bersikap ikhlas. Lalu apakah ikhlas itu, padahal ikhlas itu sangat banyak artinya, malah merupakan rahsia Allah juga.
      3. agar kami dalam keadaan beribadah dalam setiap gerak geri dan masa, karena kami manusia dijadikan untuk beribadah, padahal kami juga dijadikan bersifat makan, tidur, berak dan kencing, lupa dan lalai. Lalu bagaimana kami harus jadikan makan, tidur, berak dan kencing itu sebagai ibadah. bagaimana harus kami perbuat dengan lalai dan lupa itu, padahal kami dijadikan untuk beribadah.

      Karena kaum Wahhaby menolak tashawuf, mereka hanya sanggup menjelaskan tentang “beribadahlah kamu dan yakinlah Allah melihat kamu”, namun tidak sanggup menjelaskankan tentang “beribadahlah kamu seolah-olah kamu MELIHAT ALLAH”.

      Karena ilmu tashawuf ini menggunakan dalil pengamalan (rasa/yakin), tidak bisa dicapai dengan dalil akal (debat dengan makna dzohir nash), maka silahkan kalian para Salafi mencari guru mursyid, melalui petunjuk doa-doa, solat taubat, solat hajat dan solat isytikharah. Jika kalian tetap mau berdebat, yah silahkan debat sendiri-sendiri, saya ga mau meladeni kalian :mrgreen:

  26. Vira, sdh pernah sy bilang bhw sy di blog ini hanya menyampaikan kebenaran, bukan mengusik-usk. sy melakukan itu krn kecintaan sy sesama muslim. ( enggak ada salahnya khan kl berita gembira (jalan yg lurus) yg sy dapat di share juga ke saudara semua.)

    1. @ibn abdul chair

      Alhamdulillah kalau niat anda seperti itu
      berarti sekarang sudah tidak ada masalah lagi
      anda kan sudah tau, bahwa amaliyah kami tidak melenceng dari Al-Qur’an, hadist berdasarkan ijtihad ulama-ulama salaf (sudah dibuktikan oleh ustad-ustad disini dengan memaparkan pendapat para ulama dalam beberapa kitab yang InsyaAllah masih asli dan tidak mengalami perubahan/pemotongan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab)
      yang buat saya binggung dan aneh.. kenapa anda masih mempermasalahkan amaliayah kami, padahal amalan kita sama-sama berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist Nabi SAW? aneh kan…
      sikap anda yang seperti itu.. seolah-olah anda menuduh kami di jalan yang sesat
      apakah benar begitu?

    2. @ibnu abdul chair
      “enggak ada salahnya khan kl berita gembira (jalan yg lurus)”
      Jalan Lurus dalam al Qur’an diartikan dengan Thariqat (Jalan yang lurus), kalau ente mendengar kata Thariqat atau Thariqah, mungkin ente akan alergi, karena kata thariqat pasti dihubungkan dengan kata Tasawuf, bagaimana mungkin ente sebut THARIQAT (Jalan lurus), tapi ente benci TASAWUF.
      Aneh bin ajaib !!!!!!!!!

  27. @ibnu abdul chair
    Ane sebenarnya kasihan sama ente, beginikah muslim yang sebenarnya, pantaslah islam selalu terkoyak oleh orang2 diluar islam.
    Mas, Ilmu yang ada didunia ini adalah korelasi dari al qur’an, semua dengan gamblang dan jelas, ayat2 al qur’an menjelaskan semua yang ada dimuka bumi ini, termasuk Ilmu2 Nya.
    Begini mas.
    Ilmu Tasawuf adalah ilmu pembersihan Hati, orang yang melakukan disebut Sufi.
    Ilmu Qalam adalah Ilmu mengenal Allah, bagaimana kita tahu siapa yang disembah kalau tidak tahu ilmunya.
    Ilmu Mantiq adalah Ilmu Pola berpikir, bahkan Imam al Gazhali berkata : “Barangsiapa tidak tahu ilmu mantiq (ilmu logika), maka tidak bisa dipercaya ilmunya”.

    Masih banyak lagi Ilmu2 sesuai dengan syariat Islam dan ada lagi Ilmu Pengetahuan :

    Ilmu Matematika, Ilmu aljabar (Al Gebr=susunan) dikembangkan pada masa bani Umayah (abad 1 H). Ilmu Aritmatika ditemukan oleh seorang muslim di Uzdbekistan bernama Al Khawaritzmi.
    Ilmu perbintangan (Astronomi) dalam islam disebut ilmu Falaq.
    Ilmu kedokteran, dasar ilmu kedokteran pertama kali dikembangkan oleh Ibnu Sina dan ilmunya menjadi acuan kedokteran.
    Baru2 th 2011 ini seorang ilmuan bernama John Anthony Hoffkin menemukan gugusan bintang dia mengatakan : Banyaknya gugusan bintang di alam semesta terjadi akibat ledakan besar (Big Bang) yang disebut dengan teori Big Bang. Kalau dirujuk dalam al qur’an ada ayat yang mengatakan : “Dahulu bumi dan langit ini bersatu, kemudian aku pisahkan keduanya” itulah Big Bang yang dimaksud Anthony Hoffkin.
    Penemu Helicopter berkebangsaan Rusia, setelah dia membaca ayat al qur’an, pikirannya terbersit untuk mencipta yaitu Helicopter, ayat itu : “Tirulah burung yang terbang dilangit” – silahkan baca riwayat hidupnya.

    Sebuah benda dapat dipisahkan sampai ukuran terkecil (teori Einstein / Teori Quantum) yang disebut Neutron dan Proton, dalam al Qur’an disebut “Biji zarah”
    Mungkin ini sedikit contoh, masih banyak lagi ilmu yang gak bisa diterangkan disini. Jangan berkecil hati kita sebagai Muslim, semua sudah dijelaskan Allah dalam Firman-firmanNya, cuma kitanya mau belajar apa gak terserah yang mau menjalankannya.

    Jadi kesimpulannya : semua ilmu yang ada dimuka bumi ini, sudah dijelaskan didalam Al Qur’an, Ane sedih kalau ada seorang muslim yang mengatakan “Ilmu ini dan itu, bukan dari Islam”, tapi ane sadar Muslim mungkin belum Melek tentang islam yang sebenarnya.

    Demikian mas @ibnu abdul chair.

  28. Inilah pemahaman saya spt dibawah ini :
    Tashawwuf : Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena merupakan pe-namaan yang baru lagi diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka yang dijadikan sebagai rujukan dalam ‘aqidah.
    Penamaan Tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan ini terkenal (ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran agama dan keyakinan selain Islam.
    Dr. Shabir Tha’imah memberi komentar dalam kitabnya, ash-Shuufiyyah Mu’taqadan wa Maslakan: “Jelas bahwa Tashawwuf dipengaruhi oleh kehidupan para pendeta Nasrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba dan berdiam di biara-biara, dan ini banyak sekali. Islam memutuskan kebiasaan ini ketika ia membebaskan setiap negeri dengan tauhid. Islam memberikan pengaruh yang baik terhadap kehidupan dan memperbaiki tata cara ibadah yang salah dari orang-orang sebelum Islam.
    Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat th. 1407 H) rahimahullah berkata di dalam bukunya at-Tashawwuful-Mansya’ wal Mashaadir: “Apabila kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran Shufi yang pertama dan terakhir (belakangan) serta pendapat-pendapat yang dinukil dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab Shufi baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas perbedaan yang jauh antara Shufi dengan ajaran Al-Qur-an dan As-Sunnah. Begitu juga kita tidak pernah melihat adanya bibit-bibit Shufi di dalam perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat beliau Radhiyallahu anhum, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari para hamba-Nya (setelah para Nabi dan Rasul). Sebaliknya, kita bisa melihat bahwa ajaran Tashawwuf diambil dari para pendeta Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi, serta ke-zuhudan Budha, konsep asy-Syu’ubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi, Ghanusiyah, Yunani, dan pemikiran Neo-Platonisme, yang dilakukan oleh orang-orang Shufi belakangan.”
    Syaikh ‘Abdurrahman al-Wakil rahimahullah berkata di dalam kitabnya, Mashra’ut Tashawwuf: “Sesungguhnya Tashawwuf itu adalah tipuan (makar) paling hina dan tercela. Syaithan telah membuat hamba Allah tertipu dengannya dan memerangi Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya Tashawwuf adalah (sebagai) kedok Majusi agar ia terlihat sebagai seorang yang ahli ibadah, bahkan juga kedok semua musuh agama Islam ini. Bila diteliti lebih mendalam, akan ditemui bahwa di dalam ajaran Shufi terdapat ajaran Brahmanisme, Budhisme, Zoroasterisme, Platoisme, Yahudi, Nasrani dan Paganisme.”
    Ilmu Kalam :Penamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mu-takallimin (pengagung ilmu kalam), seperti aliran Mu’tazilah, Asyaa’irah dan kelompok yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena ilmu Kalam itu sendiri merupa-kan suatu hal yang baru lagi diada-adakan dan mempunyai prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas Nama Allah dengan tidak dilandasi ilmu.
    Dan larangan tidak bolehnya nama tersebut dipakai karena bertentangan dengan metodologi ulama Salaf dalam menetapkan masalah-masalah ‘aqidah.
    Filsafat : Istilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.

    1. @Ibn Abdul Chair

      buktikan kalau As’ariyyah Maturidiyyah adalah kaum sesat?

      anda sepertinya tidak pernah membaca sejarah bahwa para ulama yang berhasil
      membabat habis kelompok Mu’tazilah sampai punah pada akhir abad keenam
      Hijriah adalah para ulama pengikut madzhab al-Asy’ari. Dalam sejarah pemikiran Islam, Mu’tazilah merupakan aliran yang dikenal paling tangguh dan hebat dalam
      arena dialog dan perdebatan. Mu’tazilah juga dikenal sebagai aliran yang mendahulukan akal daripada nash (teks) al-Qur’an dan Sunnah. Di tangan
      Mu’tazilah, teks-teks al-Qur’an dan hadits menjadi berkurang nilai sakralitasnya
      karena harus dikoreksi terlebih dahulu dengan perisai rasio dan nalar.

      Anda juga sepertinya tidak tahu sejarah, bahwa ilmu filsafat yang dianggap sebagai sumber pemikiran liberal dalam Islam, menjadi terkapar untuk selama-lamanya dari ranah intelektual kaum Muslimin setelah dibabat habis oleh Hujjatul Islam al-Ghazali dengan kitabnya Tahafut al-Falasifah.

    2. @Ibn Abdul Chair
      Astagfirullah, pak ibnu kalu ente masih dikaruniai pikiran dan hati. sekarang ente buka KITAB AL HIKAM Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari baca aja terjemahannya (buang dulu semua doktrin yg melekat tentang tasawuf) badingkan isinya dengan pernyataan mu. Cari FAKTANYA jangan Cuma dr GOSIP

    3. Bismillah,

      Buat para pengingkar madzhab Al Asy’ary, perlu anda ketahui pernyataan Syaikh Ibnu Taimiyyah berikut :

      وَأَمَّا لَعْنُ الْعُلَمَاءِ لِأَئِمَّةِ الْأَشْعَرِيَّةِ فَمَنْ لَعَنَهُمْ عُزِّرَ . وَعَادَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ فَمَنْ لَعَنَ مَنْ لَيْسَ أَهْلًا لِلَّعْنَةِ وَقَعَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ . وَالْعُلَمَاءُ أَنْصَارُ فُرُوعِ الدِّينِ وَالْأَشْعَرِيَّةُ أَنْصَارُ أُصُولِ الدِّينِ

      Adapun melaknat para Ulama par Imam madzhab Asy’ariy maka barang siapa melaknat mereka dia (wajib) dihukum, dan laknat berlaku baginya, karena barangsiapa melaknat orang yang tidak layak dilaknat maka laknat tsb jatuh pada dirinya. Para ulama adalah para penolong Furuu’ agama sedang Al Asy’ariyyah adalah penolong Ushul agama” (Majmu’ Al Fatawa, vol 4 hal 17)

  29. @Ibn Abdul Chair

    Ilmu Qalam adalah Ilmu mengenal Allah. Ilmu kalam di sebut jg dengan ushuluddin, yaitu ilmu yg mempelajari tentang pokok pokok agama dan berkaitan dengan aqidah.

    Sama sekali tidak berpengaruh, ketika golongan Musyabbihah mencela ilmu ini dengan mengatakan ilmu ini adalah ‘ilm al Kalam al Madzmum (ilmu kalam yang dicela oleh salaf). Mereka tidak mengetahui bahwa ‘ilm al Kalam al Madzmum adalah yang dikarang dan ditekuni oleh Mu’tazilah, Musyabbihah dan ahli-ahli bid’ah semacam mereka. Sedangkan ‘ilm al Kalam al Mamduh (ilmu kalam yang terpuji) yang ditekuni oleh Ahlussunnah, dasar-dasarnya sesungguhnya telah ada di kalangan para sahabat.

    Pembicaraan dalam ilmu ini dengan membantah ahli bid’ah telah dimulai pada zaman para sahabat. Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- membantah golongan Khawarij dengan hujjah-hujjahnya. Beliau juga membungkam salah seorang pengikut ad-Dahriyyah (golongan yang mengingkari adanya pencipta alam ini). Dengan hujjahnya pula, beliau mengalahkan empat puluh orang Yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah jism (benda). Beliau juga membantah orang-orang Mu’tazilah. Ibnu Abbas -semoga Allah meridlainya- juga berhasil membantah golongan Khawarij dengan hujjah-hujjahnya. Ibnu Abbas, al Hasan ibn ‘Ali, ‘Abdullah ibn ‘Umar -semoga Allah meridlai mereka semua- juga telah membantah kaum Mu’tazilah. Dari kalangan Tabi’in; al Imam al Hasan al Bishri, al Imam al Hasan ibn Muhammad ibn al Hanafiyyah cucu sayyidina ‘Ali, dan khalifah ‘Umar ibn Abd al ‘Aziz -semoga Allah meridlai mereka- juga telah membantah kaum Mu’tazilah. Dan masih banyak lagi ulamaulama salaf lainnya, terutama al Imam asy-Syafi’i -semoga Allah meridlainya-, beliau sangat mumpuni dalam ilmu aqidah, demikian pula al Imam Abu Hanifah, al Imam Malik dan al Imam Ahmad -semoga Allah meridlai mereka- sebagaimana dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi (W 429 H) dalam Ushul ad-Din, al Hafizh Abu al Qasim ibn ‘Asakir (W 571 H) dalam Tabyin Kadzib al Muftari, al Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam Tasynif al Masami’ dan al ‘Allaamah al Bayadli (W 1098 H) dalam Isyaraat al Maram.

    1. @Ibnu Abdil Chair berkata :

      Inilah pemahaman saya spt dibawah ini :
      Tashawwuf : Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena merupakan pe-namaan yang baru lagi diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka yang dijadikan sebagai rujukan dalam ‘aqidah.
      Penamaan Tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan ini terkenal (ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran agama dan keyakinan selain Islam.

      Komentar saya :
      Kita coba ganti kata TASYAWWUF dengan TAUHID TIGA, sbb :

      Inilah pemahaman saya spt dibawah ini :

      TAUHID TIGA: Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Salafi/Wahabi serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena merupakan pe-namaan yang baru lagi diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Salafi/Wahabi, klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka yang dijadikan sebagai rujukan dalam ‘aqidah.
      Penamaan Tauhid Tiga dan Salafi/Wahabi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan ini terkenal (ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran agama dan keyakinan selain Islam (Yahudi dan Nasrani).

  30. @ibnu abdul chair
    Itulah pandangan madzhab ente, yang menskreditkan Ilmu Islam yang bernama Tasawuf, mari kita coba diskusi tentang tasawuf. Ane coba dari kitab-kitab aslinya.

    Zakariya al Anshari (9H) berkata : Tasawuf adalah ilmu yang dengannya diketahui tentang pembersihan Jiwa, perbaikan budi pekerti serta pembangunan lahir dan batin untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi ( Ta’liqat ala ar Risalah al Qusairiyah)
    Ahmad Zaruq berkata : Tasawuf adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki hati dan memfokuskannya hanya untuk Allah semata. Fiqih adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki amal, memelihara aturan dan menampakan hikmah dari setiap hukum. Sedangkan Ilmu Tauhid adalah Ilmu yang bertjuan untuk mewujudkan dalil-dalil dan menghiasi Iman dengan keyakinan, sebagaimana ilmu kedokteran untuk memlihara badan dan Ilmu Nahwu untuk memelihara Lisan (Abu Abbas Ahmad Zaruq : Qawaid at Tashawuff)
    Imam Junaid berkata : Tasawuf adalah berahlak luhur dan meninggalkan semua akhlaq tercela (Musthafa Ismail al Madani Kitab : An Nashrah an Nabawiyah).
    Abu Hassan al Syazily berkata : Tasawuf adalah melatih Jiwa untuk tekun beribadah dan mengembalikannya kepada hukum2 ketuhanan (Hamid Saqqar kitab : Nur at Tahqiq).

    Dari semua itu dapat disimpulkan bahwa Tasawuf adalah penyucian Hati dari kotoran materi dan pondasinya adalah hubungan manusia dengan Sang Maha Pencipta yang Agung. Sufi adalah orang yang hati dan interaksinya murni hanya untuk Allah semata.
    Ilmu tasawuf didasari pada ayat2 al Qur’an yaitu Thariqah artinya Jalan Lurus.
    Juga dalam surat al Kahfi : 28 Allah berfirman : “Dan bersabarlah engkau bersama orang2 yang menyeru Tuhan mereka”.

    Tasawuf dituduh telah jauh dari ajaran Fiqih, itu tidak benar, kita lihat ucapan 2 orang ahli tasawuf :
    Syeikh Abdul Qadir Jaelani berkata : “Raihlah Haqiqat jangan tinggalkan Syariat” (Syeikh Abdul Qadir Jaelani Kitab : Al Gunyah).
    Syeikh Abu Yazid al Bustami dalam riwayat : Suatu waktu Syeikh Abu Yazid al Bustami mengajak murid2nya untuk bersama belajar kepada seorang Mufti yang sangat disegani, sambil menunggu waktu yang bersamaan, lewatlah sang Mufti didepannya, akhirnya diikuti dari belakang Mufti tersebut oleh Syeikh Abu Yazid al Bustami dan murid2nya, sampai akhirnya tiba didepan masjid, tapi sebelum sampai didepan masjid sang Mufti meludah mengarah kiblat. Melihat itu Syeikh Abu Yazid al Bustami balik arah dan kembali kerumahnya, Murid2nya bertanya : Kenapa kita kembali, bukankah kita akan menimba ilmu darinya ?, Syeikh Abu Yazid menjawab : dia tidak amanah. (Tarikh al Dimasyqi).
    Dari sini, orang menganggap bahwa tasawuf tidak menjalankan Fiqih adalah fitnah terbesar.
    Coba dilihat perkataan2 para imam 4 madzhab tentang tasawuf, juga lihat kehidupan para sahabat :
    1. Abu Bakar ash Siddiq : Seluruh hartanya dizakatkan untuk Islam
    2. Umar bin Khatab : Dia seorang khalifah, tapi pakaian yang dipakainya penuh dengan tambalan
    3. Khalid bin Walid : Putrinya berkata : Ayahku tidak meninggalkan harta sedikitpun, kecuali pedangnya.
    Lihatlah sahabat yang bersifat zuhud, yang merupakan dasar2 ajaran Tasawuf.

    Coba ente baca pendapat Ilmu Taimiyah tentang sufi.

    Demikian @ibnu abdul chair.

  31. Pada saat remaja, saya pun senang sekali membaca kitab durratun nashihin milik orang tua saya (beliau nahdliyin) entah berapa kali saya membaca kitab itu, tak terhitung. Namun kemudian sesuai dengan perkembangan ilmu dan pemahaman agama yg ada pada saya, entah mengapa kitab itu sudah tidak menarik lagi, terlalu sufiisme. Dan pd saat remaja pula sy punya banyak pengalaman sufiisme, seperti tidak basah melintasi jalan pdhl saat itu hujan lebat sekali. Cerita singkatnya begini : orang tua temen saya bingung melihat sy datang kerumahnya tanpa membawa payung tapi sy tidak kuyup. “lho koq nggak pake payung kamu nggak kebasahan, padahal lihat tuh hujan gede banget. lalu saya melihat kebelakang “oh ya hujan…. Kemudian orang tua temen saya itu buru-buru masuk ke dalam rumah.
    Tapi semua itu sdh lama sekali saya tinggalkan. Ada cerita lain lagi. tapi sy enggak mau ini merusak aqidah sy, oleh sebab itu sy menjauhi hal-hal spt ini.

    1. mELIHAT koment antum berarti antum benar2 tidak pernah baca Durrotun Nasihin, sebab Durrotun Nasihin bukan kitab sufisme. Antum ini benar2 tukang dusta tak tertandingi di sini, rupanya?

      padahal isi durrotun nasihin membahas berbagai hal dg tema2 tertentu stiap babnya yg terdiri dar 75 tema pembahasan. Sebenarnya kitab tsb sangat perlu antum baca untuk saat ini agar antum bisa menjadi muslim yg baik.

  32. @Ibn Abdul Chair

    saudara sepertinya tidak pernah membaca sejarah bahwa para ulama yang berhasil membabat habis kelompok Mu’tazilah sampai punah pada akhir abad keenam Hijriah adalah para ulama pengikut madzhab al-Asy’ari.

    Dalam sejarah pemikiran Islam, Mu’tazilah merupakan aliran yang dikenal paling tangguh dan hebat dalam arena dialog dan perdebatan. Mu’tazilah juga dikenal sebagai aliran yang mendahulukan akal daripada nash (teks) al-Qur’an dan Sunnah. Di tangan Mu’tazilah, teks-teks al-Qur’an dan hadits menjadi berkurang nilai sakralitasnya karena harus dikoreksi terlebih dahulu dengan perisai rasio dan nalar.

    anda juga sepertinya tidak tahu sejarah, bahwa ilmu filsafat yang dianggap sebagai sumber pemikiran liberal dalam Islam, menjadi terkapar untuk selama-lamanya dari
    ranah intelektual kaum Muslimin setelah dibabat habis oleh Hujjatul Islam al- Ghazali dengan kitabnya Tahafut al-Falasifah.

  33. @ibn Abdul Chair

    Al-Imâm al-Hâfizh Muhammad Murtadla az-Zabidi (w 1205 H) dalam pasal ke dua pada Kitab Qawâ-id al-‘Aqâ-id dalam kitab Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, menuliskan sebagai berikut: “Jika disebut nama Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah kaum Asy’ariyyah dan kaum Maturidiyyah”.

    Asy-Syaikh Ibn Abidin al-Hanafi (w 1252 H) dalam kitab Hâsyiyah Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, menuliskan: “Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah kaum Asy’ariyyah dan Maturidiyyah”.

    Aqidah Ahlussunah Wal Jama’ah : Allah swt. Ada tanpa tempat dan arah.

    “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), Sebagaimana firmanNya : “……dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya…..”. (Q.S. as-Syura:11), ‘Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan’.(QS Ash-Shaffaat: 159).

    Adapun sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya.

    Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:
    “Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata: “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. al-Bukhari)

    Hadits ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak bertempat. Allah subhanahu wa ta‘ala ada sebelum adanya makhluk, termasuk tempat.

    Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain- Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

    Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

    sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:
    “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq)

    Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru.

    Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq)

    Dalam salah satu karya al-Imâm Abu Hanifah berjudul al-Washiyyah. Dalam risalah al-Washiyyah yang merupakan risalah akidah Ahlussunnah, al-Imâm Abu Hanifah menuslikan: “Dia Allah Istawâ atas arsy dari tanpa membutuhkan kepada arsy itu sendiri dan tanpa bertempat di atasnya”.

    Al Imam Malik –semoga Allah meridlainya– berkata: “Ar-Rahman ‘ala al ‘Arsy istawa sebagaimana Allah mensifati Dzat (hakekat)-Nya dan tidak boleh dikatakan bagaimana, dan kayfa (sifat-sifat makhluk) adalah mustahil bagi-Nya” (Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma’ Wa ash-Shifat).

    Maksud perkataan al Imam Malik tersebut, bahwa Allah maha suci dari semua sifat benda seperti duduk, bersemayam, berada di suatu tempat dan arah dan sebagainya.

    Al Imam As Syafi’i-Semoga Allah meridhoinya berkata : sesungguhnya Dia Ta‘ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan (Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin)

    Al Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Tsauban ibn Ibrahim Dzu an-Nun al Mishri, salah seorang murid terkemuka al Imam Malik -semoga Allah meridlai keduanya- berkata: “Apapun yang terlintas dalam benakmu (tentang Allah) maka Allah tidak menyerupai itu (sesuatu yang terlintas dalam benak)” (Diriwayatkan oleh Abu al Fadll at-Tamimi dan al Khathib al Baghdadi).

    Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari (W. 324 H) semoga Allah meridlainya berkata: “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma wa ash-Shifat). Beliau juga mengatakan: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ta’ala di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al Imam al Asy’ari ini dinukil oleh al Imam Ibnu Furak (W. 406 H) dalam karyanya al Mujarrad.

    As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk
    Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227- 321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

    Al Imam Abu Manshur Al Baghdadi (W. 429 H) dalam kitabnya al Farq Bayna al Firaq berkata: “Sesungguhnya Ahlussunnah telah sepakat bahwa Allah tidak diliputi tempat dan tidak dilalui oleh waktu”.

  34. @Ibn Abdul Chair

    KEBENARAN AQIDAH ASY’ARIYYAH DAN MATURIDIYYAH SEBAGAI AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH

    Sesungguhnya al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari dan al-Imâm Abu Manshur al- Maturidi tidak datang dengan membawa ajaran atau faham baru. Keduanya hanya menetapkan dan menguatkan segala permasalahan-pemasalahan akidah yang telah menjadi keyakinan para ulama Salaf sebelumnya. Artinya, keduanya hanya memperjuangkan apa yang telah diyakini oleh para sahabat Rasulullah. Al-Imâm Abu al-Hasan memperjuangkan teks-teks dan segala permasalahan yang telah berkembang dan ditetapkan di dalam madzhab asy-Syafi’i, sementara al-Imâm Abu Manshur memperjuangkan teks-teks dan segala permasalahan yang telah berkembang dan ditetapkan di dalam madzhab Hanafi.

    Al-Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah mengutip perkataan al-Imâm al-Ma’ayirqi; seorang ulama terkemuka dalam madzhab Maliki,
    menuliskan sebagai berikut:
    “Sesungguhnya al-Imâm Abu al-Hasan bukan satu-satunya orang yang pertama kali berbicara membela Ahlussunnah. Beliau hanya mengikuti dan memperkuat jejak orang-orang terkemuka sebelumnya dalam pembelaan terhadap madzhab yang sangat mashur ini. Dan karena beliau ini maka madzhab Ahlussunnah menjadi bertambah kuat dan jelas. Sama sekali beliau tidak membuat pernyataanpernyataan yang baru, atau membuat madzhab baru.

    Masih dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subki juga menuliskan sebagai berikut:
    “Aku telah mendengar dari ayahku sendiri, asy-Syaikh al-Imâm (Taqiyuddin as- Subki) berkata bahwa risalah akidah yang telah ditulis oleh Abu Ja’far ath-
    Thahawi (akidah Ahlussunnah yang dikenal dengan al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah) persis sama berisi keyakinan yang diyakini oleh al-Asy’ari, kecuali dalam tiga perkara saja. Aku (Tajuddin as-Subki) katakan: Abu Ja’far ath-Thahawi wafat di Mesir pada tahun 321 H, dengan demikian beliau hidup semasa dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari (w 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H). Dan saya tahu persis bahwa orang-orang pengikut madzhab Maliki semuanya adalah kaum Asy’ariyyah, tidak terkecuali seorangpun dari mereka. Demikian pula dengan para pengikut madzhab asy-Syafi’i, kebanyakan mereka adalah kaum Asy’ariyyah, kecuali beberapa orang saja yang ikut kepada madzhab Musyabbihah atau madzhab Mu’tazilah yang telah disesatkan oleh Allah. Demikian pula dengan kaum Hanafiyyah, kebanyakan mereka adalah orang-orang Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali beberapa saja yang mengikuti madzhab Mu’tazilah. Lalu, dengan kaum Hanabilah (para pengikut madzhab Hanbali), orang-orang terdahulu dan yang terkemuka di dalam madzhab ini adalah juga kaum Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali orang-orang yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah. Dan yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah dari orang-orang madzhabHanbali ini lebih banyak dibanding dari para pengikut madzhab lainnya”.

    Al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam mengatakan bahwa sesungguhnya akidah Asy’ariyyah telah disepakati (Ijmâ’) kebenarannya oleh para ulama dari kalangan madzhab asy-Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi, dan orang-orang terkemuka dari kalangan madzhab Hanbali. Kesepakatan (Ijmâ’) ini telah dikemukan oleh para ulama terkemuka di masanya, di antaranya oleh pemimpin ulama madzhab Maliki di zamannya; yaitu al-Imâm Amr ibn al-Hajib, dan oleh pemimpin ulama madzhab Hanafi di masanya; yaitu al-Imâm Jamaluddin al-Hashiri. Demikian pula Ijma’ ini telah dinyatakan oleh para Imam terkemuka dari madzhab asy-Syafi’i, di antaranya oleh al-Hâfizh al-Mujtahid al-Imâm Taqiyyuddin as-Subki, sebagaimana hal ini telah telah dikutip pula oleh putra beliau sendiri, yaitu al-Imâm Tajuddin as-Subki.

    Al-Imâm al-Hâfizh Ibn ‘Asakir dalam kitab Tabyin Kadzib al-Muftari menuliskan:
    “Tidak mungkin bagiku untuk menghitung bintang di langit, karenanya aku tidak akan mampu untuk menyebutkan seluruh ulama Ahlussunnah di atas madzhab al-Asy’ari ini; dari mereka yang telah terdahulu dan dalam setiap masanya, mereka berada di berbagai negeri dan kota, mereka menyebar di setiap pelosok, dari wilayah Maghrib (Maroko), Syam (Siria, lebanon, Palestin, dan Yordania), Khurrasan dan Irak”.

  35. @Ibn Abdul Chair

    TOKOH TOKOH AHLUSSUNAH DARI MASA KE MASA

    Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam:
    “…maka barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga hendaklah berpegang teguh pada al Jama’ah; yakni berpegang teguh pada aqidah al Jama’ah”. (Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim, dan at-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih)

    A. Angkatan Pertama
    Angkatan yang semasa dengan al-Imâm Abu al-Hasan sendiri, yaitu mereka yang belajar kepadanya dan mengambil pendapat-pendapatnya, di antaranya: Abu al- Hasan al-Bahili, Abu Sahl ash-Shu’luki (w 369 H), Abu Ishaq al-Isfirayini (w 418 H), Abu Bakar al-Qaffal asy-Syasyi (w 365 H), Abu Zaid al-Marwazi (w 371 H), Abu Abdillah ibn Khafif asy-Syirazi; seorang sufi terkemuka (w 371 H), Zahir ibn Ahmad as-Sarakhsi (w 389 H), Abu Bakr al-Jurjani al-Isma’ili (w 371 H), Abu Bakar al-Audani (w 385 H), Abu al-Hasan Abd al-Aziz ibn Muhammad yang dikenal dengan sebutan ad-Dumal, Abu Ja’far as-Sulami an-Naqqasy (w 379 H), Abu Abdillah al-Ashbahani (w 381 H), Abu Muhammad al-Qurasyi az-Zuhri (w 382H), Abu Manshur ibn Hamsyad (w 388 H), Abu al-Husain ibn Sam’un salah seorang sufi ternama (w 387H), Abu Abd ar-Rahman asy-Syuruthi al-Jurjani (w 389 H), Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad; IbnMujahid ath-Tha’i, Bundar ibn al-Husain ibn Muhammad al-Muhallab yang lebih dikenal Abu al-Husainash-Shufi (w 353 H), dan Abu al-Hasan Ali ibn Mahdiath-Thabari.

    B. Angkatan Ke Dua
    Di antara angkatan ke dua pasca generasi al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari adalah; Abu Sa’ad ibn Abi Bakr al-Isma’ili al-Jurjani (w 396 H), Abu Nashr ibn Abu Bakr Ahmad ibn Ibrahim al-Isma’ili (w 405 H), Abu ath-Thayyib ibn Abi Sahl ash- Shu’luki, Abu al-Hasan ibn Dawud al-Muqri ad-Darani, al-Qâdlî Abu Bakar Muhammad al-Baqillani (w 403 H), Abu Bakar Ibn Furak (w 406 H), Abu Ali ad- Daqqaq; seorang sufi terkemuka (w 405 H), Abu Abdillah al-Hakim an-Naisaburi; penulis kitab al-Mustadrak ‘Alâ ash-Shahîhain, Abu Sa’ad al-Kharqusyi, Abu Umar al-Basthami, Abu al-Qasim al-Bajali, Abu al-Hasan ibn Masyadzah, Abu Thalib al-Muhtadi, Abu Ma’mar ibn Sa’ad al-Isma’ili, Abu Hazim al-Abdawi al-A’raj, Abu Ali ibn Syadzan, al-Hâfizh Abu Nu’aim al-Ashbahani penulis kitab Hilyah al-Auliyâ’ Fî Thabaqât al-Ashfiyâ’ (w 430 H), Abu Hamid ibn Dilluyah, Abu al-Hasan al-Balyan al-Maliki, Abu al-Fadl al-Mumsi al-Maliki, Abu alQasim Abdurrahman ibn Abd al- Mu’min al-Makki al-Maliki, Abu Bakar al-Abhari, Abu Muhammad ibn Abi Yazid, Abu Muhammad ibn at-Tabban, Abu Ishaq Ibrahim ibn Abdillah al-Qalanis.

    C. Angkatan Ke Tiga
    Di antaranya; Abu al-Hasan as-Sukari, Abu Manshur al-Ayyubi an-Naisaburi, Abd al-Wahhab al-Maliki,
    Abu al-Hasan an-Nu’aimi, Abu Thahir ibn Khurasyah, Abu Manshur Abd al-Qahir ibn Thahir al-Baghadadi (w 429 H) penulis kitab al-Farq Bayn al-Firaq, Abu Dzarr al-Harawi, Abu Bakar ibn al-Jarmi, Abu Muhammad Abdulah ibn Yusuf al-Juwaini; ayah Imam al-Haramain (w 434 H), Abu al-Qasim ibn Abi Utsman al-Hamadzani al-Baghdadi, Abu Ja’far as-Simnani al-Hanafi, Abu Hatim al-Qazwini, Rasya’ ibn Nazhif al-Muqri, Abu Muhammad al-Ashbahani yang dikenal dengan sebutan Ibn al-Labban, Sulaim ar- Razi, Abu Abdillah al-Khabbazi, Abu al-Fadl ibn Amrus al-Maliki, Abu al-Qasim Abd al-Jabbar ibn Ali al- Isfirayini, al-Hâfizh Abu Bakr Ahmadibn al-Husain al-Bayhaqi; penulis Sunan al-Bayhaqi (w 458 H), dan Abu Iran al-Fasi.

    D. Angkatan Ke Empat
    Di antaranya; al-Hâfizh al-Khathib al-Baghdadi (w 463 H), Abu al-Qasim Abd al-Karim ibn Hawazan al- Qusyairi penulis kitab ar-Risâlah al-Qusyairiyyah (w 465 H), Abu Ali ibn Abi Huraisah al-Hamadzani, Abu al-Muzhaffar al-Isfirayini penulis kitab at-Tabshîr Fî ad-Dîn Wa Tamyîz al-Firqah an-Nâjiyah Min al-Firaq al-Hâlikîn (w 471 H), Abu Ishaq asy-Syirazi; penulis kitab at-Tanbîh Fî al-Fiqh asy-Syâfi’i (w 476 H), Abu al-Ma’ali Abd al-Malik ibn Abdullah al-Juwaini yang lebih dikenal dengan Imam al-Haramain (w 478 H), Abu Sa’id al-Mutawalli (w 478 H), Nashr al-Maqdisi, Abu Abdillah ath-Thabari, Abu Ishaq at-Tunusi al-Maliki, Abu al-Wafa’ Ali ibn Aqil al-Hanbali (w 513 H) pimpinan ulama madzhab Hanbali di masanya, ad- Damighanial-Hanafi, dan Abu Bakar an-Nashih al-Hanafi.

    E. Angkatan Ke Lima
    Di antaranya; Abu al-Muzhaffar al-Khawwafi, Ilkiya, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali (w 505 H), Abu al-Mu’ain Maimun ibn Muhammad an-Nasafi (w 508 H), asy-Syasyi, Abd ar-Rahim ibn Abd al-Karim yang dikenal dengan Abu Nashr al-Qusyairi (w 514 H), Abu Sa’id al-Mihani, Abu Abdillah ad- Dibaji, Abu al-Abbas ibn ar-Ruthabi, Abu Abdillah al-Furawi, Abu Sa’id ibn Abi Shalih al-Mu’adzdzin, Abu al-Hasan as-Sulami, Abu Manshur ibn Masyadzah al-Ashbahani, Abu Hafsh Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w 538 H) penulis kitab al-‘Aqîdah an-Nasafiyyah, Abu al-Futuh al-Isfirayini, Nashrullah al-Mishshishi, Abu al-Walid al-Baji, Abu Umar ibn Abd al-Barr al-Hâfizh, Abu al-Hasan al- Qabisi, al-Hâfizh Abu al-Qasim ibn Asakir (w 571 H), al-Hâfizh Abu al-Hasan al-Muradi, al-Hâfizh Abu Sa’ad ibn as-Sam’ani, al-Hâfizh Abu Thahir as-Silafi, al-Qâdlî ‘Iyadl ibn Muhammad al-Yahshubi (w 533 H), Abu al-Fath Muhammad ibn Abd al-Karim asy-Syahrastani (w 548 H) penulis kitab al-Milal Wa an- Nihal, as-Sayyid Ahmad ar-Rifa’i (w 578 H) perintis tarekat ar-Rifa’iyyah, as-Sulthân Shalahuddin alAyyubi (w 589 H) yang telah memerdekakan Bait al-Maqdis dari bala tentara Salib, al-Hâfizh Abd ar- Rahman ibn Ali yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn al-Jawzi (w 597 H).

    F. Angkatan Ke Enam
    Di antaranya; Fakhruddin ar-Razi al-Mufassir (w 606 H), Saifuddin al-Amidi (w 631 H), Izuddin ibn Abd as-Salam Sulthân al-‘Ulamâ’ (w 660 H), Amr ibn al-Hajib al- Maliki (w 646 H), Jamaluddin Mahmud ibn Ahmad al-Hashiri (w 636 H) pempinan ulama madzhab Hanafi di masanya, al-Khusrusyahi, Taqiyuddin ibn Daqiq al-Ied (w 702 H), Ala’uddin al-Baji, al-Hâfizh Taqiyyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 756 H), Tajuddin Abu Nashr Abd al-Wahhab ibn Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki (w 771 H), Shadruddin ibn al- Murahhil, Shadruddin Sulaiman ibn Abd al-Hakam al-Maliki, Syamsuddin al-Hariri al-Khathib, Jamaluddin az-Zamlakani, Badruddin Muhammad ibn Ibrahim yang dikenal dengan sebutan Ibn Jama’ah (w 733 H), Muhammad ibn Ahmad al-Qurthubi penulis kitab Tafsir al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân atau lebih dikenal dengan at-Tafsîr al-Qurthubi (w 671 H), Syihabuddin Ahmad ibn Yahya al-Kilabi al-Halabi yang dikenal dengan sebutan Ibn Jahbal (w 733 H), Syamsuddin as-Saruji al-Hanafi, Syamsuddin ibn al-Hariri al- Hanafi, Adluddin al-Iji asy-Syiraji, al-Hâfizh Yahya ibn asy-Syaraf an-Nawawi; penulis al-Minhâj Bi Syarh Shahîh Muslim ibn al-Hajjâj (w 676 H), al-Malik an-Nâshir Muhammad ibn Qalawun (w 741 H), al-Hâfizh Ahmad ibn Yusuf yang dikenal dengan sebutan as-Samin al-Halabi (w 756 H), al-Hâfizh Shalahuddin Abu Sa’id al-Ala-i (w 761 H), Abdullah ibn As’ad al- Yafi’i seorang sufi terkemuka (w 768 H), Mas’ud ibn Umar at-Taftazani (w 791 H).

    G. Angkatan Ke Tujuh
    al-Hâfizh Abu Zur’ah Ahmad ibn Abd ar-Rahim al-Iraqi (w 826 H), Taqiyyuddin Abu Bakr al-Hishni ibn Muhammad; penulis Kifâyah al-Akhyâr (w 829 H), Amîr al-Mu’minîn Fî al-Hadîts al-Hâfizh Ahmad ibn Hajar al-Asqalani; penulis kitab Fath al-Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri (w 852 H), Muhammad ibn Muhammad al-Hanafi yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn Amir al-Hajj (w 879 H), Badruddin Mahmud ibn Ahmad al-Aini; penulis ‘Umdah al-Qâri’ Bi Syarh Shahîh al-Bukhâri (w 855 H), Jalaluddin Muhammad
    ibn Ahmad al-Mahalli (w 864 H), Burhanuddin Ibrahim ibn Umar al-Biqa’i; penulis kitab tafsir Nazhm ad- Durar (w 885 H), Abu Abdillah Muhammad ibn Yusuf as-Sanusi; penulis al-‘Aqîdah as-Sanûsiyyah (w 895 H).

    H. Angkatan ke Delapan
    Al-Qâdlî Musthafa ibn Muhammad al-Kastulli al-Hanafi (w 901 H), al-Hâfizh Muhammad ibn Abd ar- Rahman as-Sakhawi (w 902 H), al-Hâfizh Jalaluddin Abd ar-Rahman ibn Abu Bakr as-Suyuthi (w 911 H), Syihabuddin Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad al-Qasthallani; penulis Irsyâd as-Sâri Bi Syarh Shahîh al-Bukhâri (w 923 H), Zakariyya al-Anshari (w 926 H), al-Hâfizh Muhammad ibn Ali yang lebih dikenal dengan sebutan al-Hâfizh Ibn Thulun al-Hanafi (w 953 H).

    I. Angkatan Ke Sembilan Dan Seterusnya
    Abd al-Wahhab asy-Sya’rani (w 973 H), Syihabuddin Ahmad ibn Muhammad yang dikenal dengan sebutan Ibn Hajar al-Haitami (w 974 H), Mulla Ali al-Qari (w 1014 H), Burhanuddin Ibrahim ibn Ibrahim ibn Hasan al-Laqqani; penulis Nazham Jawharah at-Tauhîd (w 1041 H), Ahmad ibn Muhammad al-Maqarri at-Tilimsani; penulis Nazham Idlâ’ah ad-Dujunnah (w 1041 H), al-Muhaddits Muhammad ibn Ali yang lebih dikenal dengan nama Ibn Allan ash-Shiddiqi (w 1057 H), Kamaluddin al- Bayyadli al-Hanafi (w 1098 H), Muhammad ibn Abd al-Baqi az-Zurqani (w 1122 H), as-Sayyid Abdullah ibn Alawi al-Haddad al-Hadlrami al-Husaini; penulis Râtib al-Haddâd (1132 H), Muhammad ibn Abd al-Hadi as-Sindi; penulis kitab Syarh Sunan an-Nasâ-i (w 1138 H), Abd al-Ghani an-Nabulsi (w 1143 H), Abu al-Barakat Ahmad ibn Muhammad ad-Dardir; penulis al-Kharîdah al-Bahiyyah (w 1201 H), al-Hâfizh as-Sayyid Muhammad Murtadla az-Zabidi (w 1205 H), ad-Dusuqi; penulis Hâsyiyah Umm al- Barâhîn (w 1230 H), Muhammad Amin ibn Umar yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn Abidin al-Hanafi (w 1252 H)

    Nama-nama ulama terkemuka ini hanya mereka yang hidup sampai sekitar abad 12 hijriyyah, dan itupun hanya sebagiannya saja.

    Maka seorang yang berfaham Asy’ari ia juga pastilah seorang berfaham Maturidi. Dan katakan olehmu bahwa seorang Maturidi pastilah pula ia seorang Asy’ari.
    Dengan demikian akidah yang benar dan telah diyakni oleh para ulama Salaf terdahulu adalah akidah yang diyakini oleh kelompok al-Asy’ariyyah dan al- Maturidiyyah.

    Akidah Ahlussunnah ini adalah akidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam di seluruh penjuru dunia dari masa ke masa, dan antar generasi ke generasi. Di dalam fiqih mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi, dan orang-orang terkemuka dari madzhab Hanbali.

    1. syukron mas Agung, Wahabi emang tukan fitnah, masak asy’ariyyah dibilang sesat apa gak lihat mereka tokoh2 Ulama Asy’ariyyah? Mau2nya mereka di kibulin para syaikh mereka yg muncul dari Najd.

  36. Mengharap, melakukan sesuatu baik itu tindakan, ucapan atau perbuatan yg bukan haknya adalah sikap TAMA’ .Sikap yg musti dihindari karena sikap ini adalah salah satu penyebab tertolaknya amal ibadah kita disisi Allah swt.

    sebagai contoh:
    – tdk bekerja tetapi mengharap mendapat upah ini termasuk Tama’
    -tdk beribadah tapi mengharap pahala ini juga tama’

    sebagian kita (semoga ditolong Allah swt dg rahmatnya dari sikap tama’ amiin) mungkin karana keruh hatinya Tama’ yg terselubung / shahwat yg terselubung tak akan pernah merasa. Kita mendengar bagaimana saudara kita berkata:

    -Mereka berkata yg kami sampaikan adalah kebenaran mendapat petunjuk , hidayah dari Allah swt padahal dihatinya “merasa benar sendiri” ini Tama’ akhi..

    -Mencela Tasawwuf katanya mengada2 dlm agama seperti PENDETA NASRONI, HINDU, YAHUDI, YUNANI NEO PLATONISME.
    Bukankah Ulama’ antum sendiri kemudian antum mengikutinya YG mencontoh pendeta nasroni, hindu , yunani neoplatinisme dalam pembagian tauhid 3 / trinitas

    NASRONI (tuhan bapak, tuhan anak, roh kudus) = TRINITAS
    HINDU (bhahma , wisnu , shiwa) = TRINITAS
    YUNANI (zeus , poseidon , pedos) = TRINITAS

    WAHABI (uluhiyah , rububiyah , asmawasifah) = TRINITAS
    tdk hanya mencontoh NASRONI, HINDU, YUNANI . Pembagian tauhid 3 (yg mengherankan) wahabi dalam membagi tauhid 3 ternyata MENCONTOH AGAMA2 PAGAN YG ADA DIDUNIA :
    MESIR (iziris , auzuris , huris ) = TRINITAS
    ROMAWI (jupiter, nipton , pluton) = TRINITAS
    SALAFI (uluhiyah, rububiyah, asmawasifah) = TRINITAS

    dan yg menyedihkan umat Muhammad saw didunia ini ternyata Wahabi Salafi manhaj salaf dalam membunuh mengikuti YAHUDI mau buktinya tunggu dulu akhi.. Demikian pula dalam berteman ,pelindung, mengambil wali . Kerajaan saudi arabia sumber Wahabi salafi manhaj salaf TERNYATA yahudi adalah tuanya. terbukti Mana kontribusinya untuk Palestina, Mana fatwa JIHADnya untuk Palestina. malah yg ada fatwa syeh Albani yg nyleneh. bukankah begitu akhi.

    Kami percaya antum membaca Durrotunnasihin , Fatul bari, shohih Bukhori bahkan musyaf AlQur’an karim, tetapi manamungkin BERMANFAAT untuk antum.
    Yg antum baca semuanya itu Hasil BID’AH (hasanah) sedangkan menurut pemahaman antum ‘SEMUA BID’AH SESAT’ pantaslah kalu antum dan manhaj salaf juga tersesat akibat yg kalian baca. seperti tersesatnya:
    – sir jhon , orietalis inggris yg hafal tafsir jalalain tetapi tdk bermanfaat untuk dirinya
    – snoek horgronje orientalis belanda hafal alQur’an dan maknanya juga tdk bermanfaat untuk dirinya.

    bertobatlah sebelum ajal tiba, antum sekarang pakai HP bukan, ini adalah buatan kafir dan tasabuh kafir , betulkah begitu akhi, sebaiknya antum tinggalkan ini bid’ah akhi..

    antum klo haji naik pesawat terbang , ini buatan kafir dan tasabuh kafir sebaiknya antum naik unta saja klo haji. bid’ah bukan?
    Bandara King Abdul Aziz sekarang untuk Miqod. ini juga bid’ah mana fatwa ulama’ wahabi / salafi / manhaj salaf. mana nerakanya ?

    tdk boleh antum membagi Bid’ah ( bid’ah dunia dan bid’ah ahirat) ini bukan tuntunan
    Muhammad bin Abdillah tetapi mungkin tuntunan Muhammad bin Wahab.

    Bukankah kita diwajibkan mengikuti Muhammad bin Abdillah
    Bukan Muhammad bin Wahab teman Lauren of Arabia si orietalis inggris mr Hempler.

    Untuk masalah ini antum terlalu Tama’ akhi

  37. @Ibn Abdul Chair. Mau komen apalagi antum..? mau berhujjah pake dalil apa lagi antum..?! semuanya begitu terang benderang apa yg telah teman2 aswaja paparkan. Semoga Alloh SWT memberikan hidayah bagi antum… atau malah jadi tambah dengki? :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: Wallahu a’lam

      1. Bismillah,

        Siria dan Yaman adalah target kaum yahudi, mereka tahu letak kekuatan islam berdasar sabda Nabi : “Ya Alloh berkatilah Syam (Siriya) dan Yaman kami.”

  38. Sy punya banyak kitab tarikh, salah satunya 60 ulama salaf, tapi tak terdapat nama Syaikh Abu Hasan, Al Ghozali dan syaikh Abdul Qodir Jilani. Walapun ketiga ulama ini termasuk ulama besar, namun penulisnya Syaikh Ahmad Farid tidak memasukkannya.
    Sy juga bingung kalau disebutkan generasi pertama ahlussunah dari zaman abu hasan. Apakah sebelum itu bukan ahlussunah? spt a’imatul arba, Umar bin Abdul Azis, Hasan Al bashri dll. Memang betul ungkapan ahli sejarah bahwa ilmu yang paling mudah dimanipulasi ya..sejarah itu sendiri.

    1. @ibn abdul chair
      Setahu saya buku ” 60 ulama salaf ” karya Syaikh Ahmad Farid, adalah buku ulama wahabi yang diterbitkan penerbit wahabi, tentu saja ulama besar seperti , Syaikh Abu Hasan, Al Ghozali dan syaikh Abdul Qodir Jilani tidak dimasukkan sebagai ulama salaf, sebab penulis dan penerbitnya anti tasawuf dan anti aqidah Ahlusunnah wal Jamaah, dibuku itu sudah pasti dedengkot wahabi “ibnu tai-miyah dan Ibnu wahab” masuk. kan keduanya pendiri agama wahabi.

  39. Duh….sayang sih sy udah enggak bisa ruju’ ke Durratun Nashihin, jadi enggak bisa konfirm deh. Bukunya sdh sy bakar, takut ngeracunin anak cucu.

  40. @ibn abdul chair

    sudah di maklum qo klo wahabi bakar kitab..!
    khan emang begitu kelakuannya klo ga bakar ya di ubah isinya, bukan begitu mas..?

  41. Mas Vijay, Nashir itu cuma ngaku-ngaku aja ex wahabi.dia enggak tahu apa-apa tentang wahabi dan juga enggak tahu apa-apa tentang kitab 60 ulama salaf karya Syaikh Ahmad Farid. Dalam buku itu juga tidak memasukkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kalau sy sebutkan siapa saja ulama yg terdapat pd buku tu, pasti cuma bikin malu nasir aja.

    1. @ibn abdul chair
      kitab 60 ulama salaf karya Syaikh Ahmad Farid, memang tidak saya baca namun cukup baca daftar isi nama2 60 ulama didalam buku itu di gramedia, memang gak ada, Syaikh Abu Hasan, Al Ghozali dan syaikh Abdul Qodir Jilani, isinya nama ulama2 yg mendukung faham sesat wahabi seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Alafgani dll ulama wahabi.

    2. @ibn abdul chair
      “dia enggak tahu apa-apa tentang wahabi”
      Terus terang ane gak tahu tentang wahabi yang sebenarnya, kalau berkenan bisa ente jelaskan apa sih WAHABI itu bukan SALAFI atau SALAFY ya, biar ane jelas, karena mungkin ane baca2 kitab2nya Muhammad ibn Abdul Wahab gak ngarti2.
      Bisa dijelaskan ya !!!!!!!!!

  42. Bang Nashir, Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al Afghani juga enggak ada bang. Masak sih sy harus sebutin satu-satu.
    Masruq bin Al ajda, Said bin Musayyib, (aduh…capek maaf nih…diterusin juga enggak bakalan mudeng)

    1. @Ibn Abdul Chair :

      Buku 60 Biografi Ulama Salaf yang ditulis Dr. Ahmad Farid jelas tidak akan menyebutkan ulama-ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah seperti Al Imam Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dll. Benar kata saudara Nasir ex. Wahabi dan saudara lainnya diatas Ahmad Farid ini adalah tokoh Salafi Wahabi wilayah Iskandariah. Dia dan ulama Salafi Wahabi lain sedang eforia tentang upaya perubahan pemerintahan Mesir, yang diakui mereka sebagai kemenangan atau keberhasilan mereka atas golongan umat Islam yang lain. Presiden Mursi adalah satu tokoh Salafi Wahabi yang pernah mengikuti pendidikan Sarjananya di Amerika Serikat. Dia dan kelompok Ikhwanul Muslimin yang juga beraliran Salafi Wahabi kali ini mengalami krisis kepercayaan dari Masyarakat Mesir, setelah keluarnya Dekrit yang dirasa membohongi rakyat.

      Kembali ke Ahmad Farid tokoh Salafi Wahabi jelas jauh dari I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah, tidak mungkin akan menyebut ulama ASWAJA yang kami hormati. Jadi ucapan saudara disini jelas jadi bulan-bulanan Warga ASWAJA.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    1. Maaf Mas Cah Ndeso, sedikit mengingakan, boleh ya?
      Sabarlah dan sebaiknya antum agak sopan sedikit sebagaimana kebanyakan orang2 desa, mereka sangat sopan kpd siapa saja berkat bimbingan para Kiyai kita. Sekali lagui maaf.

      Alohumma Solli ala Sayyidina Muhammad, amiinn.

  43. Sifat radikal Wahhaby itu bisa diperhatikan, melalui Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah mereka. Berikut ini adalah urutannya –

    1. Tauhid Rububiyah, yang mengakui Allah sebagai Pencipta, Pemberi Rejeki, Pentadbir Alam, Pemberi Manfaat dan Mudarat, itu adalah tauhidnya kaum Musyrik. Jadi, pengakuan anda, bahawa Allah sebagai Pencipta, Pemberi Rejeki, Pentadbir Alam, Pemberi Manfaat dan Mudarat, tidak menjadikan anada Muslim, bahkan anda tetap kafir, seperti kaum Musyrik.

    2. Tauhid Uluhiyah, dimana SETIAP (KULLU) bid’ah itu adalah sesat. Nah, setiap yang tidak dikercontohkan Rasul itu adalah bid’ah. Maka, kalau anda Ahlu Bid’ah Hasanah, berarti anda tidak punya Tauhid Uluhiyah. Maka anda hanya punya Tauhid Rububiyah, karena hanya hanya mengakui Allah sebagai Pencipta, Pemberi Rejeki, Pentadbir Alam, Pemberi Manfaat dan Mudarat. Ini adalah tauhid Kaum Musyrik. Maka anda sebagai Ahlu Bid’ah Hasanah tetap kafir seperti Kaum Musyrik.

    Bukankah mereka yang murtad dalam Islam bisa dihukum bunuh, meskipun harus dibunuh dengan kaidah bom rakitan (yang tidak dianggap bid’ah)? Inilah punca sifat radikal Wahhaby – tolak makna KULLU sebagai sebahgian sesuatu, tolak hadis ijtihad, dakwa Ahlu Bid’ah Hasanah sebagai murtad karena tidak punya tauhid Uluhiyah, dan bunuhlah mereka dengan bom rakitan…!!!

  44. Buku Biografi 60 ulama salaf adalah terjemahan dari Min ‘Alam As salaf karya Syaikh Ahmad Farid, penerbit Darul Aqidah – Kairo Cet I thn 1426 H. Termuat dalam buku itu : Masruq bin al ajda, Said bin Al Musayyib (menantu Abu Hurairoh), Urwah bin Zubair, Said bin Jubair, Umar bin Abdul Aziz, Amir bin Syarahil, Thawus bin Kaisan, Al Hasan Al Bashri, Muhammad bin Sirrin, Al Imam Az zuhri, Ayyub As sakhtiani, Sulaiman bin Mihran (dikenal dgn Al A’masyi) Al Imam Abu Hanifah, Abdurrahman bin Amr Al Auza’a, Syu’bah bin AL Hajjaj, Sufyan Ats tsauri, Hammad bin Salamah, Al laits bin Sa’ad, Hammad bin Zaid, Al Imam Malik bin Anas, Al Imam Ibnul Mubarok, Al Fudhail bin Iyadh, Waqi’ bin Al jarroh, Sufyan bin ‘Uyainah, Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Said Al Qothon, Muhammad bin Idris Asy syafi’i – Nashiru Al Haq wa Sunnah, Yazid bin Harun, Abu Ubaid AL Qosim bin Sallam, Yahya bin Ma’in, Ali bin Al Madini, IShaq bin Rohawaih, Al Imam Ahmad bin Hambal, Muhammad bin Ismail AL BUkhori, Al Imam Muslim, Al Imam Abu Dawud, Abu Hatim Ar rozi, Abu Isa At tirmidzi, Ibrohim bin Ishaq, Abu Abdurrohman An nasa;i, Muhammad bin Nashr Al Marwazi, Muhammad bin Jarir Ath thobari, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Al Imam Ath thobaroni, Abu Al Hasan Ad daruquthni, Ibnu Mandah, Al Hakim Abu Abdillah ibnul Bayyi’, Abu Muhammad bin Hazm, Abu Bakar Al Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, Al Khotib Al Baghdadi, Al Hafizh Abu Al Qosin bin Asakir, Abu Faraj bin Al jauzi, Al Hafizh Abdul Ghoni Al Maqdisi, Al Izzu bin Abdissalam, Al Imam An nawawi, Ibnu Taimiyah, Al Hafizh Adzahabi, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani.
    Sebutkan diantara org-org mulia diatas yg tidak berdiri diatas AL Manhaj Aqidah Ahlussunah Wal Jama’ah?.

    1. Masalahnya, Wahabi itu ngaku mengikuti Ulama Salaf sehingga menyebut dirinya Salafi, akan tetapi dalam prakteknya mereka mengikuti Muhammad bin A Wahhab. Kalau Ulama Salaf mereka bermazhab dalam urusan fikihnya, tetapi Wahabi mengharamkan bermazhab. Itulah masalahnya, Mas. Bukankah begitu faktanya Mas?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker