Salafi Wahabi

Ustadz Firanda Pendusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (4)

Ustadz Firanda Membungkus Tipu Muslihatnya dengan Sanad-sanad Riwayat Tidak Sah, Mungkar dan Palsu

… Bagian Terakhir dari Sekelumit Upaya Mengungkap Tipu Muslihat Ustadz Firanda

Oleh: ustadz Ahmad Syahid

Ustadz Firanda berkata :

Dan rupanya Abu Salafy sadar bahwasanya tipu muslihatnya ini akan tercium juga –karena kami yakin Al-Ustadz Abu Salafy Al-Majhuul adalah ustadz yang mengerti akan ilmu hadits, dan mengerti akan definisi hadits shahih, oleh karenanya berani untuk mengkritik As-Syaikh Al-Albani rahimahullah-. Oleh karenanya agar tidak dituduh dengan tuduhan macam-macam, ………

Jawaban:

Rupanya Ustadz Firanda tidak sadar jika tipu muslihatnya ini, akan tercium juga karena kami yakin Al-Ustadz Firanda Al-Makhdzuul adalah ustadz yang mengerti akan ilmu hadits, dan mengerti akan definisi hadits shahih, namun tetap saja membawakan riwayat-riwayat dengan Sanad yang Tidak sah, Mungkar bahkan Palsu (maudhu`).  Padahal dalam Mukhtashar Al-uluw As-Syaikh Al-Albani pun , mengakui adanya Rawi-rawi yang majhul dalam sanad yang dibawakan Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya itu.  Silahkan lihat Mukhtashor al-uluw al-albani untuk membuktikannya sendiri.

ustadz firanda 2 - Ustadz Firanda Pendusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (4)

Ustadz Firanda berkata :
maka Al-Ustadz Al-Majhuul segera membungkusi tipu muslihatnya ini dengan berkata :

Peringatan:

Mungkin kaum Wahhabiyah Mujassimah sangat keberatan dengan penukilan kami dari para tokoh mulia dan agung keluarga Ahlulbait Nabi saw. dan kemudian menuduh kami sebagai Syi’ah! Sebab sementara ini mereka hanya terbiasa menerima informasi agama dari kaum Mujassimah generasi awal seperti ka’ab al Ahbâr, Muqatil dkk.. Jadi wajar saja jika mereka kemudian alergi terhadap mutiara-mutoara hikmah keluarga Nabi saw. karena pikiran mereka telah teracuni oleh virus ganas akidah tajsîm dan tasybîh yang diprogandakan para pendeta Yahudi dan Nasrani yang berpura-pura memeluk Islam!

Dan sikap mereka itu sekaligus bukti keitdak sukaan mereka terhadap keluarga Nabi Muhammad saw. seperti yang dikeluhkan oleh Ibnu Jauzi al Hanbali bahwa kebanyakan kaum Hanâbilah itu menyimpang dari ajaran Imam Ahmad; imam mereka dan terjebak dalam faham tajsîm dan tasybîh sehingga seakan identik antara bermazhab Hanbali dengan berfaham tajsîm, dan di tengah-tengah mereka terdapat jumlah yang tidak sedikit dari kaum nawâshib yang sangat mendengki dan membenci Ahlulbait Nabi saw. dan membela habis-habisan keluarga tekutuk bani Umayyah; Mu’awiyah, Yazid …. .[ Muqaddimah Daf’u Syubah at Tasybîh; Ibnu Jauzi])) –demikianlah perkataan abu.

Jawaban:

Justru Ustadz Firanda yang membungkus tipu muslihatnya dengan sanad-sanad riwayat yang tidak sah, Mungkar dan Palsu. Ustadz firanda juga membungkus tipu muslihatnya dengan tekhnik-tekhnik licik dalam bantahannya untuk Abu Salafy ini, semoga para pembaca budiman bisa mencermati hal ini.

Ustadz Firanda berkata :
Lihatlah bagaimana buruknya akhlaq Abu Salafy yang hanya bisa menuduh Ahlus Sunnah dengan tuduhan-tuduhan yang kasar namun tanpa bukti. Perkataannya ini mengandung beberapa pengakuannya :

1. Dia sudah sadar kalau bakalan dituduh mengekor Syia’h namun kenyataannya adalah demikian. Oleh karenanya dengan sangat berani dia mengkutuk Sahabat Mulia Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu. Bukankah ini adalah aqidah Syi’ah Rofidhoh???, bukankah meyakini Allah tidak di atas adalah aqidah Rofidhoh??. Imam Ahlus Sunnah manakah yang mengutuk Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu???!!. Kita Ahlus Sunnah cinta dengan Alu Bait, akan tetapi ternyata semua riwayat Alu Bait yang disebutkan oleh sang Ustadz Abu salafy Al-Majhuul riwayat dusta tanpa sanad.

Jawaban:
1.Ustadz Firanda tidak sadar jika tipu muslihatnya dalam ” Klaim Ijmaknya “, melalui riwayat-riwayat yang tidak sah Mungkar bahkan Maudhu’ akan terbongkar?

2. Ustadz Firanda menuduh ustadz Abu Salafy sebagai orang yang berakhlak buruk , karena katanya Abu Salafy menuduh Ahlu Sunnah (baca: Wahabiyah) tanpa bukti.   Hanya sayang Ustadz firanda lagi-lagi tidak sadar jika dia juga banyak menuduh riwayat Abu salfy tanpa bukti,  (seperti tuduhan dusta Firanda terhadap riwayat Az-zabidi yang dinukil dari Shahifah as-sajaadiyah, yang dilakukannya tanpa bukti ), saya berharap agar Ustadz Firanda ngaca diri .

3.Ustadz Abu Salafy bukanlah orang yang Maksum, bisa jadi abu Salafy juga membuat kesalahan. Dan jika benar (sekali lagi “jika benar”) Abu Salafy mengutuk Sayidina Mu’awiyah Rodhiallahu anhu saya pun tidak sependapat dengan Abu Salafy dalam kutukannya itu (meskipun mu’awiyah layak mendapat celaan).  Lagi pula celaan kepada Sahabat Nabi tidak hanya Muncul dari kaum syi’ah, sebab kaum Wahabiyah pun sama mencela para Sahabat Mulia hanya caranya saja yang berbeda.

4. Sejak kapan Wahabiyyun jadi Ahlu Sunnah? Sebab salah satu ciri Ahlu Sunnah disamping ”tidak mencela Sahabat Nabi” juga tidak menetapkan ”Arah bagi Allah“.  Sedangkan kaum wahabi yang ngaku salafy, mencela Sahabat Nabi (dengan cara yang berbeda dengan Syi’ah) dan menetapkan Arah bagi Allah.

5. Sukurlah Jika kaum Wahabiyah “mengaku”  mencintai Ahlul Bait, hanya saja klaim cinta itu tidak pernah berbukti.  Bahkan banyak bukti menunjukkan jika di hati kaum wahabiyyah sangat membenci Ahlal Bait. Contoh kecil dari bukti itu perkataan Ustadz Firanda sendiri:  ”Akan tetapi ternyata ”semua” riwayat Ahlu Bait yang disebutkan oleh sang Ustadz Abu salafy Al-Majhuul riwayat dusta tanpa sanad ”.  Cermati kata ”semua“,  padahal dua (2) dari 4 riwayat yang dibawakan Ustadz Abu Salafy memiliki sanad seperti riwayat Abu Nu’aim dan riwayat Al-Hafidz As-sayyid Az-zabidi dalam It-tihafnya.  Akhlak buruk Ustadz Firanda terlihat jelas ketika mengatakan: ”riwayat Dusta” tanpa menyebut Alasan kenapa riwayat itu dicap sebagai riwayat Dusta?

Ustadz Firanda berkata :

2. Dia menuduh bahwa Ahlus Sunnah (yang disebut Wahhabiah olehnya) benci terhadap keluarga Nabi…, manakah buktinya ada seorang Wahhabi yang benci terhadap keluarga Nabi??. Bukankah As-Syaikh Muhammad Bin AbdilWahaab guru besarnya para Wahhabiyyah telah menamakan enam anak-anaknya dengan nama-nama Alul bait???.

Jawaban:

Lagi-lagi Ustadz Firanda (wahabiyah) mengklaim sebagai Ahlu Sunnah? Padahal menetapkan arah dan mencela Sahabat Nabi bukanlah ciri ahlu Sunnah,  sedangkan soal bukti seorang wahabi benci terhadap keluarga Nabi sangat banyak dua contoh di atas kiranya cukup membuktikan hal itu.  Syeikh Muhammad bin Abdil wahhab boleh saja menamakan anak-anaknya dengan nama Ahlul bait (sebagai tameng ), sebab yang dibutuhkan adalah bukti nyata dalam Prilaku beragama bukan sekedar penamaan anak .

Ustadz Firanda berkata :
3. Menuduh Muqotil dkk sebagai mujassimah. Ana ingin tahu apa maksud dia dengan “dkk”??!!

Jawaban:

Lagi-lagi Ustadz Firanda berlagak Pilon dan seakan tidak tahu pernyataan Ulama tentang Muqotil dan Hajjaj bin yusuf as-saqofi. Menurut saya ini juga trik Firanda untuk menghindar dari tuduhan Tasybih dan Tajsim.

Ustadz firanda berkata ;
Setelah ketahuan kedoknya dan tipu muslihatnya terhadap para Alul Bait, maka Abu Salafy tidak putus asa, maka ia melancarkan tipu muslihat berikutnya. Yaitu berusaha menukil dari para imam madzhab. Namun seperti biasa, ia hanya mampu mendapatkan riwayat-riwayat tanpa sanad. Sungguh aneh tapi nyata, sang ustadz berani mengkritik syaikh Al-bani namun ternyata ilmu hadits yang dimiliki sang ustadz hanya digunakan untuk mengkritik, dan tatkala berbicara tentang aqidah –yang sangat urgen tentunya- ilmu haditsnya dibuang, dan berpegang pada riwayat-riwayat tanpa sanad. Wallahul Musta’aan.

Jawaban:

Seperti biasa lagi-lagi Ustadz Firanda menuduh tanpa bukti (memfitnah) dengan mengatakan: ” Setelah ketahuan kedoknya dan tipu muslihatnya terhadap para Alul Bait”.  Ternyata sekalipun sekolah di Madinah tidak membuat akhlak Ustadz Firanda menjadi baik. Sebab Ustadz Firanda hanya bisa  menuduh tanpa Bukti, yang berarti Fitnah.  Terlebih dalam Klaim Ijmaknya pun Ustadz Firanda banyak membawakan Riwayat Tanpa sanad. Lupakah jika dia pun melakukan hal yang sama? Bahkan jauh lebih parah karena sebagian riwayat yang dibawakan Ustadz Firanda adalah riwayat Maudhu’ alias Palsu.

Abu Salafy berkata:
Penegasan Imam Abu Hanifah ra.

Di antara nama yang sering juga dimanfa’atkan untuk mendukung penyimpangan akidah kaum Mujassimah Wahhabiyah adalah nama Imam Abu Hanifah, karenanya penting juga kita sebutkan nukilan yang nenegaskan akidah lurus Abuhanifah tentang konsep ketuhanan. Di antaranya ia berkata:

ولقاء الله تعالى لأهل الجنة بلا كيف ولا تشبيه ولا جهة حق

”Perjumpaan dengan Allah bagi penghuni surga tanpa bentuk dan penyerupaan adalah haq.”[ Syarah al Fiqul Akbar; Mulla Ali al Qâri:138]))- demikian perkatan Abu Salafy

Firanda berkata:
Para pembaca yang budiman marilah kita mengecek kitab-kitab yang merupakan sumber pengambilan riwayat Abu Hanifah yang dilakukan Abu Salafy

Berkata Mulla ‘Ali Al-Qoori dalam syarah Al-Fiqh Al-Akbar hal 246 :

“Dan berkata Al-Imaam Al-A’dzom (maksudnya adalah Abu Hanifah-pent) dalam kitabnya Al-Washiyyah : Dan pertemuan Allah ta’aala dengan penduduk surga tanpa kayf, tanpa tasybiih, dan tanpa jihah merupakan kebenaran”. Selesai” (Minah Ar-Roudh Al-Azhar fi syarh Al-Fiqh Al-Akbar, karya Ali bin Sulthoon Muhammad Al-Qoori, tahqiq Wahbi Sulaimaan Gowjiy hal 246)

Ternyata riwayat Imam Abu Hanifah di atas berasal dari sebuah kitab yang berujudl “Al-Washiyyah” yang dinisbatkan kepada Abu Hanifah.

Sebelum melanjutkan pembahasan ini, saya ingin meningatkan pembaca tentang sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah.

Riwayat tersebut adalah perkataan beliau rahimahullah :

مَنْ قال لا أعْرِفُ ربِّي في السماء أم في الأرضِ فقد كفر، لأَنَّ اللهَ يقول: {الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏}، و عرشه فوق سبع سماواته.

“Barang siapa berkata, ‘Aku tidak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia benar-benar telah kafir. Sebab Alllah telah berfirman:

الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏.

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arsy.” (QS. Thâhâ;5)

dan Arsy-Nya di atas tujuh lapis langit.”

Riwayat Abu Hanifah ini termaktub dalam kitab Al-Fiqhu Al-Akbar, dan buku ini telah dinisbahkan oleh Abu Hanifah. Akan tetapi buku ini diriwayatkan oleh Abu Muthii’ Al-Balkhi.

Al-Ustadz Abu Salafy tidak menerima riwayat ini dengan dalih bahwasanya sanad periwayatan buku Al-Fiqhu Al-Akbar ini tidaklah sah karena diriwayatkan oleh perawi yang tertuduh dusta.

Abu Salafy berkata :

{(Pernyataan yang mereka nisbahkan kepada Abu Hanifah di atas adalah kebohongan dan kepalsuan belaka!! Namun kaum Mujassimah memang gemar memalsu dan junûd, bala tentara mereka berbahagia dengan penemuan pernyataan-pernyataan palsu seperti contoh di atas!!

Pernyataan itu benar-benar telah dipalsukan atas nama Imam Abu Hanifah… perawi yang membawa berita itu adalah seorang gembong pembohong dan pemalsu ulung bernama Abu Muthî’ al Balkhi.

Adz Dzahabi berkata tentangnya, “ia seorang kadzdzâb (pembohong besar) wadhdhâ’ (pemalsu). Baca Mîzân al I’tidâl,1/574.

Ketika seorang perawi disebut sebagai kadzdzâb atau wadhdhâ’ itu berarti ia berada di atas puncak keburukan kualitas… ia adalah pencacat atas seorang perawi yang paling berat. Demikian diterangkan dalam kajian jarhi wa ta’dîl !

Imam Ahmad berkata tentangnya:

لا ينبغي أن يُروى عنه شيئٌ.

“Tidak sepatutnya diriwayatkan apapun darinya.”

Yahya ibn Ma’in berkata, “Orang itu tidak berharga sedikitpun.”

Ibnu Hajar al Asqallani menghimpun sederetan komentar yang mencacat perawi andalan kaum Mujassimah yang satu ini:

Abu Hatim ar Razi:

كان مُرجِئا كَذَّابا.

“Ia adalah seorang murjiah pembohong, kadzdzâb.”

Adz Dzahabi telah memastikan bahwa ia telah memalsu hadis Nabi, maka untuk itu dapat dilihat pada biografi Utsman ibn Abdullah al-Umawi.” (Lisân al Mîzân,2/335) )} Demikian perkataan Abu Salafy sebagaiamana bisa dilihat di

Demikianlah penjelasan Al-Ustadz Abu Salafy Al-Majhuul.

Sekarang saya ingin balik bertanya kepada Pak Ustadz, manakah sanad periwayatan kitab Al-Washiyyah karya Abu Hanifah???

Dan sungguh aneh tapi nyata, ternyata meskipun Ustadz Abu Salafy telah menyatakan dusta tentang buku Al-Fiqh Al-Akbar yang merupakan periwayatan Abu Muthii’ Al-Balkhi, namun… ternyata Pak Ustadz Abu Salafy masih juga nekat mengambil riwayat dari buku tersebut.

Jawaban:

1. Ustadz Firanda menanyakan Sanad riwayat kitab ”Al- Washiyah” perntanyaannya : begitu penting kah ‘ Sanad ” , bagi Ustadz Firaanda? Sehingga menanyakan Sanad Riwayat kitab Al-Washiyah? Sebab ketika Abu Salafy membawakan riwayat-riwayat yang bersanad pun , tetap saja Ustadz Firanda menolaknya tanpa alasan yang ilmiyah?

2.Bisakah Ustadz Firanda Al-makhdzuul, menunjukkan dimana letak pernyataan Abu salafy : ” yang telah menyatakan dusta tentang buku Al-Fiqh Al-Akbar yang merupakan periwayatan Abu Muthii’ Al-Balkhi? Jangan-jangan Fitnah Lagi aja,  sebab kata–kata Ustadz Abu salafy tidak menyinggung Nama Kitab. Atau nama buku , yang beliau tolak adalah soal riwayat Ucapan Imam Abu Hanifah “Barang siapa berkata, ‘Aku tidak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia benar-benar telah kafir. Sebab Alllah telah berfirman: dst , jadi yang ditolak Abu Salafy bukan kitabnya tapi sebagian isi kitab khususnya pernyataan Imam Abu Hanifah diatas , silahkan Ustadz Firanda cermati kata-kata Abu Salafy : ” ((Pernyataan yang mereka nisbahkan kepada Abu Hanifah di atas adalah kebohongan dan kepalsuan belaka!! Namun kaum Mujassimah (Wahabiyah) memang gemar memalsu dan junûd, bala tentara mereka berbahagia dengan penemuan pernyataan-pernyataan palsu seperti contoh di atas!!

Pernyataan itu benar-benar telah dipalsukan atas nama Imam Abu Hanifah… perawi yang membawa berita itu adalah seorang gembong pembohong dan pemalsu ulung bernama Abu Muthî’  al Balkhi.

3. Sehingga pernyataan ustadz Firanda : ” Dan sungguh aneh tapi nyata, ternyata meskipun Ustadz Abu Salafy telah menyatakan dusta tentang buku Al-Fiqh Al-Akbar yang merupakan periwayatan Abu Muthii’ Al-Balkhi, namun… ternyata Pak Ustadz Abu Salafy masih juga nekat mengambil riwayat dari buku tersebut ” .  Pernyataan Ustadz Firanda ini Tampak benar,  semata mata karena Ustadz Firanda memelintir kata-kata Abu Salafy.  Dari sini terlihat jika Ustadz Firanda hanya mencari kemenangan bukan semata-mata mencari Kebenaran.

4. penolakan Ustadz Abu Salafy di atas (soal kata-kata Imam Abu Hanifah di atas) sama sekali tidak berarti bahwa seluruh isi kitab itu ditolak oleh Abu Salafy.   Meskipun Ustadz Abu salafy menolak Rawinya ( Abu Muthi Al-Bakhli ) karena kitab Fiqhul Absath itu adalah kitab Fiqhul Akbar itu sendiri,  hanya yang diriwayatkan oleh Hammaad Bin Abi Hanifah disebut Fiqhul Akbar sementara yang diriwayatkan Oleh Abu Muthi ( Rawi yang ditolak Abu Salafy ) disebut / dikenal dengan nama Fiqhul Absath.  Dalam fiqhul Absath itulah terdapat Ucapan Imam Abu Hanifah yang tidak terdapat dalam Fiqhul Akbar , sehingga Abu Salafy menolak kata-kata Imam Abu Hanifah yang terdapat dalam Fiqhul Absath itu, bukan menolak seluruh isi kitab , sebagaimana yang di tuduhkan oleh Ustadz Firanda.  Sehingga sah-sah saja Abu Salafy menukil dari Fiqhul Absath selagi sesuai dengan Fiqhul Akbar, karena Fiqhul Akbar diriwayatkan oleh Rawi yang tsiqoh (terpercaya).

5. Dibawah ini, silahkan pembaca yang budiman cermati, betapa lihainya Ustadz Firanda memelintir pernyataan Ustadz Abu Salafy, yang kemudian dia modifikasi sehingga digunakan untuk menjatuhkan Abu Salafy

Abu Salafy berkata :
Dan telah dinukil pula bahwa ia (yaitu abu hanifah) berkata:

قلت: أرأيت لو قيل أين الله تعالى؟ فقال- أي أبو حنيفة-: يقال له كان الله تعالى ولا مكان قبل أن يخلق الخلق، وكان الله تعالى ولم يكن أين ولا خلق ولا شىء، وهو خالق كل شىء.

”Aku (perawi) berkata, ’Bagaimana pendapat Anda jika aku bertanya, ’Di mana Allah?’ Maka Abu Hanifah berkata, ’Dikatakan untuk-Nya Dia telah ada sementara tempat itu belum ada sebelum Dia menciptakan tempat. Dia Allah sudah ada sementara belum ada dimana dan Dia belum meciptakan sesuatu apapun. Dialah Sang Pencipta segala sesuatu.” [ Al Fiqhul Absath (dicetak bersama kumpulan Rasâil Abu Hanifah, dengan tahqiq Syeikh Allamah al Kautsari): 25])) demikian perkataan Abu Salafy-

Ustad Firanda berkata :
Para pembaca sekalian tahukah anda apa itu kitab Al-Fiqhu Al-Absath?, dialah kitab Al-Fiqhu Al-Akbar dengan periwayatan Abul Muthii’ yang dikatakan dusta oleh Abu Salafy sendiri.

Lihatlah perkataan Al-Kautsari :

“Dan telah dicetak di India dan Mesir syarh Al-Fiqh Al-Akbar dengan riwayat Abu Muthii’, dan dialah yang dikenal dengan Al-Fiqh Al-Absath untuk membedakan dengan Al-Fiqh Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Hammaad bin Abi Haniifah”

Al-Kautsari juga berkata di muqoddimah tatkala mentahqiq Al-Fiqh Al-Absath :

“Dia adalah Al-Fiqhu Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Abu Muthii’, dikenal dengan Al-Fiqh Al-Absath untuk membedakannya dengan Al-Fiqhu Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Hammad bin Abi Haniifah dari ayahnya. Dan perawi Al-Fiqh Al-Absath yaitu Abu Muthii’ dia adalah Al-Hakam bin Abdillah Al-Balkhi sahabatnya Abu hanifah…”

Sungguh aneh tapi nyata, ternyata Al-Ustadz Abu Salafy yang telah menyatakan kedustaan kitab Al-Fiqhu Al-Absath ternyata juga menjadikan kitab tersebut sebagai dalil untuk mendukung hawa nafsunya. Maka kita katakan kepada Al-Ustadz Abu Salafy–sebagaimana yang ia katakan sendiri- : Anda wahai Abu Salafy.

Yang anehnya dalam buku Al-Fiqhu Al-Absath yang ditahqiq oleh ulamanya Abu Salafy yang bernama Al-Kautsari terdapat nukilan yang “mematahkan punggung” kaum jahmiyyah dan Asyaa’iroh muta’akkhirin, dan neo Asya’iroh seperti Abu Salafy cs. Dalam buku tersebut Abu Haniifah berkata :

Abu Hanifah berkata, “Barang siapa berkata, ‘Aku tidak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia benar-benar telah kafir. Demikian juga orang yang mengatakan “Sesunguhnya Allah di atas ‘arsy (tapi) aku tidak tahu apakah ‘arsy itu di langit atau di bumi”

…..

Inilah kitab Al-Fiqh Al-Absath tahqiq Al-Kautsari yang dijadikan pegangan oleh Al-Ustadz Abu Salafy. Ternyata Abu Hanifah mengkafirkan orang yang tidak mengatakan Allah di atas langit dengan berdalil dengan hadits Jaariyah (budak wanita) yang tatkala ditanya oleh Nabi “Dimanakah Allah” maka sanga budak mengisyaratkan tangannya ke langit.

Penjelasan saya ini juga saya anggap cukup untuk menyingkap kesalahan pemilik blog salafytobat (lihat

Jawaban :
1. Pembaca yang budiman demikianlah kelihaian Ustadz Firanda dalam memlintir kata-kata lawan diskusinya (Ustadz Abu Salafy), yang kemudian dengan lihainya dijadikan senjata untuk menjatuhkan Ustadz Abu Salafy. Sebagaimana telah saya jelaskan diatas. (tentang penolakan Ustadz Abu Salafi terhadap kata-kata Imam Abu Hanifah yang terdapat dalam Fiqhul Absath).

selanjutnya : ……..
Abu Salafy berkata ((Dalam kesempatan lain dinukil darinya (yaitu dari Abu Hanifah):

ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا.

”Kami menetapkan (mengakui) bahwa sesungguhnya Allah SWT beristiwâ’ di atas Arsy tanpa Dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya. Dialah Tuhan yang memelihara Arsy dan selainnya tanpa ada sedikit pun kebutuhan kepadanya. Jika Dia butuh kepadanya pastilah Dia tidak kuasa mencipta dan mengatur alam semesta, seperti layaknya makhluk ciptaan. Dan jika Dia butuh untuk duduk dan bersemayam, lalu sebelum Dia menciptakan Arsy di mana Dia bertempat. Maha Tinggi Allah dari anggapan itu setinggi-tingginya.”[ Syarah al Fiqul Akbar; Mulla Ali al Qâri:75]

Pernyataan Abu Hanifah di atas benar-benar mematahkan punggung kaum Mujassimah yang menamakan dirinya sebagai Salafiyah dan enggan disebut Wahhâbiyah yang mengaku-ngaku tanpa malu mengikuti Salaf Shaleh, sementara Abu Hanifah, demikian pula dengan Imam Ja’far, Imam Zainal Abidin adalah pembesar generasi ulama Salaf Shelah mereka abaikan keterangan dan fatwa-fatwa mereka?! Jika mereka itu bukan Salaf Sheleh yang diandalkan kaum Wahhabiyah, lalu siapakah Salaf menurut mereka? Dan siapakah Salaf mereka? Ka’ab al Ahbâr? Muqatil? Atau siapa?))- demikianlah perkataan Abu Salafy-

Firanda berkata :
Kami katakan :
1- Isi dari nukilan tersebut sama sekali tidak berententangan dengan aqidah Ahlus Sunnah, karena Ahlus Sunnah (Wahhabiyah/As-Salafiyah) tatkala menyatakan Allah beristiwa di atas ‘arsy tidaklah melazimkan bahwasanya Allah membutuhkan ‘arsy. Dan tidak ada kelaziman bahwasanya yang berada di atas selalu membutuhkan yang di bawahnya. Jika kita perhatikan langit dan bumi maka kita akan menyadari akan hal ini. Bukankah langit berada di atas bumi?, bukankah langit lebih luas dari bumi?, bukankah langit tidak butuh kepada bumi? Apakah ada tiang yang di tanam di bumi untuk menopang langit?. Jika langit yang notabene adalah sebuah makhluq namun tidak butuh kepada yang di bawahnya bagaimana lagi dengan Kholiq pencipta ‘arsy.

Jawaban :

1. Lagi-lagi ini merupakan perkeliruan dan Talbis (penyamaran dan pencampur-adukan) dari Ustad Firanda. Dia menekankan persoalan pada ”membutuhkan” dan ”tidak membutuhkan”.  Padahal pernyataan Imam Abu Hanifah yang dinukil ustadz Abu Salafy yang berbunyi : ”Dialah Tuhan yang memelihara Arsy dan selainnya tanpa ada sedikit pun kebutuhan kepadanya.” Hanyalah sebuah ”taukid atas lawazim / kelaziman-kelaziman “sesuatu” yang berada pada sesuatu” atau penguatan dari kata kata sebelumnya, silahkan perhatikan perkataan sang Imam :
” ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه
Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa ”, tanpa membutuhkan kepadanya dan Tanpa ber-Diam (berada). Di atasnya kata-kata sang Imam yang saya Bold diatas Luput dari pembahasan Ustadz Firanda, atau Ustadz Firanda sengaja melakukan Talbis sehingga kata-kata- Sang Imam tidak ditekankan dalam pembahasannya, sebab Ustadz Firanda mempunyai Aqidah yang ber-beda dengan Aqidah sang Imam? Aqidah Ustadz Firanda ”Allah berada diatas Arsynya” (mengartikan Istawa dengan Istiqror (ber-diam / berada)”,  sementara Aqidah Imam Abu Hanifah menetapkan Istawa ” Tanpa ber-diam (min ghoiri istiqror) diatas Arsy.

2. Untuk mendukung Aqidahnya Ustadz Firanda meng-qiyaskan / meng-analogikan Sang Maha Pencipta dengan makhluknya.  Dia mencontohkan jika Langit tidak butuh kepada Bumi, tahukah Ustadz Firanda jika tidak ada Bumi Niscaya tidak ada langit (secara Logika)? Tahukah Ustadz Firanda, jika Tidak ada Bawah tidak mungkin ada Atas (secara logika)? Fahamkah Ustadz Firanda apa yang dimaksud dengan kata Butuh (ihtiaj) dan tidak butuh (min ghoiri ihtiaj) dalam masalah ini? Saya (Ahmad Syahid) yakin sebenarnya Ustadz firanda faham, hanya saja hawa Tasybih dan Tajsim begitu dominant dalam hatinya.

Ustadz Firanda berkata :
2- Nukilan dari Abu Hanifah tersebut sesuai dengan aqidah As-Salafiyyah dan justru bertentangan dengan aqidah Abu Salafy cs. Bukankah dalam nukilan ini Abu Hanifah menetapkan adanya sifat istiwaa? Dan tidak mentakwil sifat istiwaa sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Salafy cs??. Abu Hanifah menjelaskan bahwasanya Allah beristiwaa (berada di atas) ‘arsy akan tetapi tanpa ada kebutuhan sedikitpun terhadap ‘arsy tersebut.

Jawaban:

1. Lagi-lagi Ustadz Firanda men-Talbis (menyamarkan) duduk persoalan sebenarnya. Adalah benar jika Imam Abu Hanifah menetapkan ” Istiwa ”, tapi Ingat, Imam Abu Hanifah tidak memahami ”Istiwa” sebagaimana yang dipahami oleh Ustadz Firanda.  Perhatikan perkataan Imam Abu Hanifah diatas:  ”Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa”, tanpa membutuhkan kepadanya dan Tanpa ber-Diam (berada) diatasnya”.  Bandingkan dengan pemahaman ”Istiwaa”-nya Ustadz Firanda yang memahami ”Istiwa” dengan Istiqror, berdiam dan berada.

2. Adapun soal takwil , ketika Imam Abu Hanifah menetapkan ”Istiwaa” beliau juga mengatakan :”……………..”  dan Tanpa ber-Diam (berada) diatasnya”. Inilah Tafwidh atau Takwil Ijmali yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah ra, beliau tidak mengartikan Istiwaa dengan ”makna asalnya” yaitu : ”Istiqror” ( ber-diam / berada ).  Oleh karena itu beliau katakan: min ghoiri Istiqror alaihi, semoga Ustadz Firanda faham.

ustad Firanda berkata :
3- Oleh karenanya kita katakan bahwa justru nukilan ini merupakan boomerang bagi Abu Salafy cs yang selalu mentakwil istiwaa’ dengan makna istaulaa (menguasi) –dan inysaa Allah hal ini akan dibahas pada kesempatan lain. Bahkan dalam halaman yang sama yang tidak dinukil oleh Abu Salafy ternyata Mulla ‘Ali Al-Qoori menyebutkan riwayat dari Abu Hanifah yang membungkam Ustadz Abu Salafy cs. Marilah kita melihat langsung lembaran tersebut yaitu dari buku Syarh Al-Fiqh Al-Akbar karya Mulla ‘Ali Al-Qoori (hal 126)

Dan Abu hanifah rahimahullah ditanya tentang bahwasanya Allah subhaanahu turun dari langit. maka beliau menjawab : Allah turun, tanpa (ditanya) bagaimananya, …

Bukankah dalam nukilan ini ternyata Abu Hanifah menetapkan sifat nuzuulnya Allah ke langit dunia?, Abu Hanifah menetapkan hal itu tanpa takwil dan tanpa bertanya bagaimananya. Karena memang bagaimana cara turunnya Allah tidak ada yang menetahuinya.

Jawaban :

Justru nukilan ini semakin memperjelas jika Imam Abu Hanifah menetapkan Tafwidh atau Takwil Ijmali , dan memperjelas jika Imam Abu Hanifah tidak mengartikan Istiwa dengan Istiqror (berdiam / berada).  Dari nukilan ini semakin mempertegas perbedaan antara Aqidah Imam Abu Hanifah dengan Aqidah Ustadz Firanda.

Berkata Abu Salafy :
Penegasan Imam Syafi’i (w. 204 H)

Telah dinukil dari Imam Syafi’i bahwa ia berkata:

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لا يجوز عليه التغيير في ذاته ولا التبديل في صفاته.

”Sesungguhnya Allah –Ta’ala- tel;ah ada sedangkan belum ada temppat. Lalu Dia menciptakan tempat. Dia tetap atas sifat-Nya sejak azali, seperti sebelum Dia menciptakan tempat. Mustahil atas-Nya perubahan dalam Dzat-Nya dan pergantian pada sifat-Nya.”[ Ithâf as Sâdah,2/24])) – demikian perkataan Abu Salafy –

Firanda berkata :
Para pembaca yang budiman marilah kita melihat sumber pengambilan Abu Salafy secara langsung dari kitab Ithaaf As-Saadah Al-Muttaqiin 2/24

Ana katakan bahwasanya –sebagaimana kebiasaan Abu Salafy- maka demikian juga dalam penukilan ini Abu Salafy menukil perkataan Imam As-Syaafi’i tanpa sanad, maka kami berharap pak Ustadz Abu Salafy cs untuk mendatangkan sanad periwayatan dari Imam As-Syafii ini.

Jawaban :

Gaya ustadz Firanda yang seolah berjiwa besar dan bertindak Ilmiyah , nyatanya jika didatangkan sanadnya dia akan tolak lagi dengan mengatakan: “Mana Bioghrafi para rawinya? mana Hasil Takhrijnya? Apakah diambil dari sumber-sumber terpercaya? Dan lain sebagainya”. Padahal Ustadz Firanda sendiri membawakan riwayat tanpa sanad, dan kalaupun bersanad Ustadz Firanda juga tidak menyertakan bioghrafi para rawinya, tidak pula menyertakan hasil Takhrijnya. Oleh karena itu sebelum menanyakan dan meminta pada orang lain sebaiknya Ustadz Firanda Instrospeksi diri.

Abu Salafy berkata :
Penegasan Imam Ahmad ibn Hanbal (W.241H)

Imam Ahmad juga menegaskan akidah serupa. Ibnu Hajar al Haitsami menegaskan bahwa Imam Ahmad tergolong ulama yang mensucikan Allah dari jismiah dan tempat. Ia berkata:

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم المجتهد من أنه قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه.

”Adapun apa yang tersebar di kalangan kaum jahil yang menisbatkan dirinya kepada sang imam mulia dan mujtahid bahwa beliau meyakini tempat/arah atau semisalnya adalah kebohongan dan kepalsuan belaka atas nama beliau.”[ Al Fatâwa al Hadîtsiyah:144.] –demikian perkataan Abu Salafy-

banner gif 160 600 b - Ustadz Firanda Pendusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (4)

Firanda berkata :
Pada nukilan di atas sangatlah jelas bahwasanya Abu Salafy tidak sedang menukil perkataan Imam Ahmad, akan tetapi sedang menukil perkataan Ibnu Hajar Al-Haitsami tentang Imam Ahmad. Ini merupakan tadliis dan talbiis. Abu Salafy membawakan perkataan Ibnu Hajr Al-Haitsami ini dibawah sub judul “Penegasan Imam Ahmad”, namun ternyata yang ia bawakan bukanlah perkataan Imam Ahmad apalagi penegasan. Seharusnya sub judulnya : “Penegasan Ibnu Hajr Al-Haitsami”.

Jawaban:

Ya sudah tinggal ganti aja sub judulnya menjadi “Penegasan Ibnu Hajr Al-Haitsami”. Silahkan ustadz firanda menkomentarinya, jangan Cuma mengalihkan perhatian pada soal lain.

Abu Salafy berkata:
Penegasan Imam Ghazzali:

Imam Ghazzali menegaskan dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn-nya,4/434:

أن الله تعالى مقدس عن المكان ومنزه عن الاقطار والجهات وأنه ليس داخل العالم ولا خارجه ولا هو متصل به ولا هو منفصل عنه ، قد حير عقول أقوام حتى أنكروه إذ لم يطيقوا سماعه ومعرفته ”

“Sesungguhnya Allah –Ta’ala- Maha suci dari tempat dan suci dari penjuru dan arah. Dia tidak di dalam alam tidak juga di luarnya. Ia tidak bersentuhan dengannya dn tidak juga berpisah darinya. Telah membuat bingun akal-akal kaum-kaum sehingga mereka mengingkari-Nya, karena mereka tidak sanggunp mendengar dan mengertinya.”

Dan banyak keterangan serupa beliau utarakan dalam berbagai karya berharga beliau.

Penegasan Ibnu Jauzi

Ibnu Jauzi juga menegaskan akidah Isla serupa dalam kitab Daf’u Syubahi at Tasybîh, ia berkata:

وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه ، لان الدخول والخروج من لوزام المتحيزات.

“Demikian juga harus dikatakan bahwa Dia tidak berada di dalam alam dan tidak pula di luarnya. Sebab masuk dan keluar adalah konsekuensi yang mesti dialami benda berbentuk.”[ Daf’u Syubah at Tasybîh (dengan tahqiq Sayyid Hasan ibn Ali as Seqqaf):130])) –demikian perkataan Abu Salafy-

Firanda berkata :

Rupanya tatkala Abu Salafy tidak mampu untuk menemukan satu riwayatpun dari kalangan salaf dengan sanad yang shahih yang mendukung aqidah karangannya maka ia terpaksa mengambil perkataan para ulama mutaakhkhiriin semisal Al-Gozaali yang wafat pada tahun 506 H dan Ibnu Jauzi yang wafat pada tahun 597 H.

Adapun Al-Gozaali maka Abu Salafy menukil perkataannya dari kitab Ihyaa ‘Uluum Ad-Diin. Sesungguhnya para ulama telah mengingatkan akan kerancuan pemikian aqidah Al-Gozaali dalam kitabnya ini. Diantara kerancuan-kerancuan tersebut perkataan Al-Gozaali :

“Dihikayatkan bahwasanya Abu Turoob At-Takhsyabi kagum dengan seorang murid, Abu Turob mendekati murid tersebut dan mengurusi kemaslahatan-kemaslahatan sang murid, sedangkan sang murid sibuk dengan ibadahnya dan wajd-wajdnya. Pada suatu hari Abu Turob berkata kepada sang murid, “Kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid”, sang murid berkata, “Aku sibuk”. Tatkala Abu Turob terus menerus dan serius mengulang-ngulangi perkataannya, “Kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid”, akhirnya sang muridpun berkata, “Memangnya apa yang aku lakukan terhadap Abu Yaziid, aku telah melihat Allah yang ini sudah cukup bagiku sehingga aku tidak perlu dengan Abu yaziid”. Abu Turoob berkata, “Maka dirikupun naik pitam dan aku tidak bisa menahan diriku, maka aku berkata kepadanya : “Celaka engkau, janganlah engkau terpedaya dengan Allah Azza wa Jalla, kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid sekali maka lebih bermanfaat bagimu daripada engkau melihat Allah tujuh puluh kali”. Maka sang muridpun tercengang dan mengingkari perkataan Abu Turoob. Iapun berkata, “Bagaimana bisa demikian?”. Abu Turoob berkata, “Celaka engkau, bukankah engkau melihat Allah di sisimu, maka Allahpun nampak untukmu sesuai dengan kadarmu, dan engkau melihat Abu Yaziid di sisi Allah dan Allah telah nampak sesuai dengan kadar abu Yaziid”. Maka sang murid faham dan berkata, “Bawalah aku ke Abu Yaziid”…

Aku berkata kepada sang murid, “Inilah Abu Yaziid, lihatlah dia”, maka sang pemuda (sang murid)pun melihat Abu Yaziid maka diapun pingsan. Kami lalu menggerak-gerakan tubuhnya, ternyata ia telah meninggal dunia. Maka kamipun saling bantu-membantu untuk menguburkannya. Akupun berkata kepada Abu Yaziid, “Penglihatannya kepadamu telah membunuhnya”. Abu Yaziid berkata, “Bukan demikian, akan tetapi sahabat kalian tersebut benar-benar dan telah menetap dalam hatinya rahasia yang tidak terungkap jika dengan pensifatan saja (sekedar cerita saja). Tatkala ia melihatku maka terungkaplah rahasia hatinya, maka ia tidak mampu untuk memikulnya, karena dia masih pada tingkatan orang-orang yang lemah yaitu para murid, maka hal ini membunuhnya”.

Al_Gozzaalii mengomentari kisah ini dengan berkata, “Ini merupakan perkara-perkara yang mungkin terjadi. Barangsiapa yang tidak memperoleh sedikitpun dari perkara-perkara ini maka hendaknya jangan sampai dirinya kosong dari pembenaran dan beriman terhadap mungkinnya terjadi perkara-perkara tersebut….”

Oleh karenanya para ulama memperingatkan akan kerancuan-kerancuan yang terdapat dala kitab Ihyaa’ uluum Ad-Diin.

Yang anehnya… diantara para ulama yang keras dalam memperingatkan kerancuan kitab ini adalah Ibnu Jauzi sendiri.

Ibnul Jauzi berkata (dalm kitabnya Talbiis Ibliis, tahqiq DR Ahmad bin Utsmaan Al-Maziid, Daar Al-Wathn, 3/964-965):

Dan datang Abu haamid Al-Gozzaali lalu iapun menulis kitab “Ihyaa (Uluum Ad-Diin-pent)”… dan dia memenuhi kitab tersebut dengan hadits-hadits yang batil –dan dia tidak mengetahui kebatilan hadits-hadits tersebut-. Dan ia berbicara tentang ilmu Al-Mukaasyafah dan ia keluar dari aturan fiqh. Ia berkata bahwa yang dimaksud dengan bintang-bintang, matahari, dan rembulan yang dilihat oleh Nabi Ibrohim merupkan cahaya-cahaya yang cahaya-cahaya tersebut merupakan hijab-hijabnya Allah. Dan bukanlah maksudnya benda-benda langit yang sudah ma’ruuf.”. Mushonnif (Ibnul Jauzi) berkata, “Perkataan seperti ini sejenis dengan peraktaan firqoh Bathiniyah”. Al-Gozzaali juga berkata di kitabnya “Al-Mufsih bil Ahwaal” : Sesungguhnya orang-orang sufi mereka dalam keadaan terjaga melihat para malaikat, ruh-ruh para nabi, dan mendengar suara-suara dari mereka, dan mengambil faedah-faedah dari mereka. Kemudian kondisi mereka (yaitu orang-orang sufi) pun semakin meningkat dari melihat bentuk menjadi tingkatan derajat-derajat yagn sulit untuk diucapkan”

Dan masih banyak perkataan para ulama yang mengingatkan akan bahayanya kerancuan-kerancuan pemikiran Al-Gozzaali, diantaranya At-Turtusi, Al-Maaziri, dan Al-Qodhi ‘Iyaadh.

Maka saya jadi bertanya tentang kitab Ihyaa Uluum Ad-Diin, apakah kita mengikuti pendapat Ustadz Abu Salafy yang majhuul untuk menjadikan kitab tersebut sebagai sumber aqidah?, ataukah kita mengikuti perkataan Ibnu Jauzi??

Adapun perkataan Ibnul Jauzi maka sesungguhnya Ibnul Jauzi dalam masalah tauhid Al-Asmaa was sifaat mengalami kegoncangan, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rojab Al-Hanbali. Beliau berkata :

“Dan diantara sebab kritkan orang-orang terhadap Ibnul Jauzi –yang ini merupakan sebab marahnya sekelompok syaikh-syaikh dari para sahabat kami (yaitu syaikh-syaikh dari madzhab hanbali-pent) dan para imam mereka dari Al-Maqoodisah dan Al-’Altsiyyiin mereka marah terhadap condongnya Ibnul Jauzi terhadap takwiil pada beberapa perkatan Ibnul Jauzi, dan keras pengingkaran mereka terhadap beliau tentang takwil beliau.

Meskipun Ibnul Jauzi punya wawasan luas tentang hadits-hadits dan atsar-atsar yang berkaitan dengan pembahasan ini hanya saja beliau tidak mahir dalam menghilangkan dan menjelaskan rusaknya syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh para ahli kalam (filsafat). Beliau mengagungi Abul Wafaa’ Ibnu ‘Aqiil… dan Ibnu ‘Aqiil mahir dalam ilmu kalam akan tetapi tidak memiliki ilmu yang sempurna tentang hadits-hadits dan atsar-atsar. Oleh karenanya perkataan Ibnu ‘Aqiil dalam pembahasan ini mudhthorib (goncang) dan pendapat-pendapatnya beragam (tidak satu pendapat-pent), dan Abul Faroj (ibnul Jauzi) juga mengikuti Ibnu ‘Aqiil dalam keragaman tersebut.” (Adz-Dzail ‘alaa Tobaqootil Hanaabilah, cetakan Daarul Ma’rifah, hal 3/414 atau cetakan Al-’Ubaikaan, tahqiq Abdurrahman Al-’Utsaimiin 2/487)

Para pembaca yang budiman, Ibnu Rojab Al-Hanbali telah menjelaskan bahwasanya aqidah Ibnul Jauzi dalam masalah tauhid Al-Asmaa’ was Sifaat tidaklah stabil, bahkan bergoncang. Dan Ibnul Jauzi –yang bermadzhab Hanbali- telah diingkari dengan keras oleh para ulama madzhab Hanbali yang lain. Sebab ketidakstabilan tersebut karena Ibnul Jauzi banyak mengikuti pendapat Ibnu ‘Aqiil yang tenggelam dalam ilmu kalam (filsafat).

Jawaban:

Sangat disayangkan Ustadz Firanda tidak menyertakan perkataan Ibnu Rojab Al-hanbali seperti yang dinukil oleh Al-Imam At-taqi al-Hashni yang sezaman dengannya dalam kitab Daf’u Syabah man Syabbah wa tamarrad halaman 123, yang mengatakan : Adalah Syeikh Zainuddin Ibn Rojab Al-hanbali yang meyakini Kafirnya Ibnu Taimiyah dan beliau mempunyai tulisan sebagai bantahan Untuk Ibnu Taimiyah , dan beliau (Ibn Rojab) berkata dengan suara yang paling lantang dalam majlis-majlis (Ilmu-pent ), As-subki mempunyai Udzur untuk mengkafirkan Ibnu Taimiyah. Lihatlah dan resapi pernyataan Ibnu rojab untuk Ibnu Taimiyah Imam Ustadz Firanda dan All Wahhabi.

Adapun pernyataan Ibnu Rojab yang dibawakan Ustadz firanda adalah pernyataan sebelum Ibnu Rojab Tobat dari Aqidah tasybih dan Tajsim, adapun setelah Taubat dari Aqidah Ibnu Taimiyah itulah perkataannya sebagaimana saya nukil diatas.

Ustadz Firanda berkata :
Ibnul Jauzi dalam kitabnya Talbiis Ibliis mendukung madzhab At-Tafwiidh, sedangkan dalam kitabnya Majaalis Ibni Jauzi fi al-mutasyaabih minal Aayaat Al-Qur’aaniyah menetapkan sifat-sifat khobariyah, dan pada kitabnya Daf’ Syubah At-Tasybiih mendukung madzhab At-Takwiil (lihat penjelasan lebih lebar dalam risalah ‘ilmiyyah (thesis) yang berjudul “Ibnul Jauzi baina At-Takwiil wa At-Tafwiidh” yang ditulis oleh Ahmad ‘Athiyah Az-Zahrooni. Dan bisa didownload di

 

Jawaban:

Tafwidh dan Takwil adalah manhaj atau metodologi yang digunakan ulama Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) dalam memahami ayat mutasyabihat. Jadi tidak aneh jika Ibnu Jauzi menggunakan dua metodologi itu, dan sama sekali tidak menunjukkan kegoncangan Aqidah Imam ibnu Jauzi, karena dua manhaj itulah yang digunakan Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah).  Yang aneh justru Ustadz Firanda dan kelompoknya yang menolak Tafwidh juga Takwil, disamping juga menunjukkan kegoncangan Aqidah Ustadz Firanda sampai-sampai terjebak dalam Filsafat ”arah yang tidak ber-wujud.”

Ustadz Firanda berkata:
Adapun perkataan Ibnu Jauzy rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh Abu salafy yaitu :

وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه ، لان الدخول والخروج من لوزام المتحيزات.

“Demikian juga harus dikatakan bahwa Dia tidak berada di dalam alam dan tidak pula di luarnya. Sebab masuk dan keluar adalah konsekuensi yang mesti dialami benda berbentuk

Maka saya katakan :
Pertama : Abu Salafy kurang tepat tatkala menerjemahkan “Al-Mutahayyizaat” dengan benda berbentuk. Yang lebih tepat adalah jika diterjemahkan dengan “perkara-perkara yang bertempat”.

Jawaban:

Ustadz firanda bisa meng-koreksi penterjemahan namun sayang tetap saja salah dalam memahaminya. Tidak tahukah Ustadz Firanda jika “perkara-perkara yang bertempat”  niscaya perkara-perkara itu berbentuk? Allah maha Suci dan Maha Tinggi dari sifat-sifat ber-tempat dan berbentuk, sebagaimana tergambar dalam Aqidah Bathil Ustadz Firanda.

Ustadz Firanda berkata :
Kedua : Kalau kita benar-benar merenungkan perkataan Ibnul Jauzy ini maka sesungguhnya perkataan ini bertentangan dengan penjelasan Imam Ahmad sebagaimana telah lalu tatkala Imam Ahmad berkata :”Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya. Katakan lagi kepadanya, “Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?”. Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.

Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar Dzat-Nya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah” (Ar-Rod ‘alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)

Jelas di sini perkataan Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa Allah di luar ‘alam, tidak bersatu dengan makhluknya. Hal ini jelas bertentangan dengan peraktaan Ibnu Jauzi yang berafiliasi kepada madzhabnya Imam Ahmad bin Hanbal.

Jawaban:

1.Aqidah Jahmiyah mengatakan: “Allah berada pada semua tempat dengan Dzatnya”.  Aqidah Mu’tazilah mengatakan: “Allah berada pada semua tempat dengan Ilmunya”. Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan tanpa Arah”. Sementara Aqidah sekte Karomiyah mengatakan: “Allah berada pada Arah atas”. Nah, Aqidah sekte Karomiyah ini percis sama dengan Aqidah Ustadz Firanda cs.

2. Sekali lagi kita katakan: “Katakanlah kita terima jika kitab Ar-rodd ala Jahmiyah adalah kitab Asli karya Imam Ahmad Ibnu Hanbal , tetap saja pemahaman : Baa-inun min Kholqih ” bukanlah berarti ”terpisah dari makhluknya”, bukan pula berarti bahwa Allah di luar Alam sebagaimana salah difahami oleh Ustadz firanda.  Makna yang benar dari kata Baaa-inun adalah sebagaimana diterangkan Oleh al-Hafidz Al-Baihaqi dalam al-asma wa as-sifat halaman 382 bab hal-hal yang datang dalam Firman Allah : ”Ar-rohman ala Arsy Istawa” beliau berkata : ”di atas sesuatu berbeda darinya dengan makna sesuatu itu tidak menempatinya, tidak pula tempat itu menempatinya, tidak menyentuhnya tidak pula menyerupainya. Dan Bainunah (baaa-inun) bukanlah terpisah, maha suci Allah Robb (tuhan-pen) Kami dari Hulul (menempati dan menempel, begitu juga Bainunah bukan berarti terpisah dan menjauh karena hal itu Mustahiil bagi Allah. (Alasma wa as-sifat hal 217).  Penjelasan ini senada dengan penjelasan Imam Al- Khuthobi dalam kitab A`lamul Hadist halaman 187. Pertanyaannya apakah Ustadz Firanda lebih Faham dari Al-Imam Al-Hafidz Al-Baihaqi…? Sehingga mengartikan lafadz ”Baa-inun ” dengan terpisah bahkan jauh diluar alam sana …? Adakah Ulama Ahlu Sunnah yang memahami kata “Baa-inun” seperti yang difahami Ustadz Firanda…?

3. Saya minta kepada Ustadz Firanda untuk menunjukkan dimanakah letak kata-kata Imam Ahmad yang mengatakan : ”Bahwa Allah di luar ‘alam”, di alinea ke berapa atau di baris ke berapa…? Perkataan Imam Ahmad yang ustadz Firanda Nukil dari kitab AR-Rodd alal Jahmiyah sama sekali tidak ada yang menunjukkan jika Imam Ahmad mengatakan ”bahwa Allah di luar ‘alam”.  Pernyataan ini murni dari Ustadz Firanda yang salah dalam memahami perkataan Imam Ahmad ”Baaa-inun min Kholqihi” yang sekaligus menunjukkan Tadlis dan plintiran perkataan Imam Ahmad oleh Ustadz Firanda. ( kalau saya boleh pinjam istilah bahasa Ustadz Firanda:  ”Ber Dusta atas nama Imam Ahmad ” )

4. Berkata Al-Imam Al-Hafidz An-nawawi dalam kitabnya Roudhotu Tholibin 10/ 64 : “Sesungguhnya sebagian dari perkara-perkara yang menyebabkan kemurtadan dari Agama Islam dan menjadikannya kafir dalam i’tiqod adalah menetapkan bagi Allah sifat ”Bersatu” maupun ”terpisah” dengan Makhluknya. Penjelasan ini senada dengan penjelasan Imam Al-Baihaqi juga Imam Al- Khuthobi sehingga pernyataan Imam Ibn Jauzi senada dan selaras dengan para Imam Lainnya yang tidak mensifati terpisah maupun bersatu dengan Makhluknya.

5. Pernyataan Imam Ahmad di atas yang dinukil Ustadz Firanda Justru bertentangan dengan Aqidah Ibnu Taimiyah (imamnya Firanda cs) yang mengatakan : ”Bahwa Allah menciptakan Makhluknya dalam dirinya” ( Mahallan lil Hawadist ). Sementara Imam Ahmad mengatakan : ” Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah ”. Bahkan Ibnu Taimiyah lebih jauh mengatakan ”bahwa Allah mungkin saja bersentuhan dengan Syetan dan kenajisan” (silahkan lihat bayan Talbisul Jahmiyah karya Ibn Taimiyah juz 2 hal. 555dan 556).  Inilah Bid’ah I’tiqod terburuk yang dimunculkan Ibnu Taimiyah maha guru sekaligus Imam Ustadz Firanda CS. Yang diambil dari sekte sesat Karomiyah mujassimah.

Ustadz Firanda berkata :
Ketiga : Peraktaan Ibnul Jauzy –rahimahullah- “bahwasanya Allah tidak di dalam ‘alam semesta dan juga tidak di luar alam” melazimkan bahwasanya Allah tidak ada di dalam kenyataan, akan tetapi Allah hanya berada dalam khayalan. Karena ruang lingkup wujud hanya mencakup dua bentuk wujud, yaitu Allah dan ‘alam semesta, jika Allah tidak di dalam ‘alam dan juga tidak di luar ‘alam berarti Allah keluar dari ruang lingkup wujud, maka jadilah Allah itu pada hakekatnya tidak ada.

Jawaban:

Perkataan ustadz Firanda diatas (point ketiga) menunjukkan jika dalam benak Ustadz Firanda ” Allah adalah benda”.  Perhatikan ucapan ustadz Firanda: “Jika Allah tidak di dalam ‘alam dan juga tidak di luar ‘alam berarti Allah keluar dari ruang lingkup wujud, maka jadilah Allah itu pada hakekatnya tidak ada.”  Kesimpulan prematur ini dikarenakan dalam benaknya ustadz Firanda ”Allah itu benda”. Maka akhirnya Ustadz Firanda tidak dapat menerima perkataan Ibnu Jauzi bahwa Allah tidak di luar tidak juga didalam alam”. Ustadz Firanda tidak sadar jika Allah itu bukan benda yang bisa disifati: berada diluar alam , atau disifati berada dalam Alam. Allah adalah Kholiqu kulli sya’i pencipta segala sesuatu yang tidak boleh disifati dengan sifat-sifat yang melekat pada benda (Makhluknya), karena Allah Laista kamistlihi sya’i , tidak ada yang menyerupainya sementara sifat diluar atau didalam adalah Sifat Makhluk.

Keismpulan Ustadz Firanda :

Kesimpulan :
Demikianlah para pembaca yang budiman penjelasan tentang hakikat dari artikel yang ditulis oleh Abu Salafy.
Kesimpulan yang bisa di ambil tentang abu salafy adalah sebagai berikut :

Pertama : Ana masih bingung apakah Ustadz Abu Salafy adalah seseorang yang berpemahaman Asyaa’iroh murni ataukah lebih parah daripada itu, yaitu ada kemungkinan ia berpemahaman jahmiyah atau mu’tazilah. Karena ketiga firqoh ini sepakat bahwasanya Allah tidak di atas langit.

Jawaban :

Ustadz Firanda bingung karena dalam benaknya telah mengakar sifat-sifat makhluk , sehingga ketika Tuhan (Allah) tidak disifati oleh sifat-sifat makhluk Ustadz Firanda Bingung. Ditambah dengan minimnya pemahaman atas perbedaan antar kelompok Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) dengan kelompok Bid’ah seperti Jahmiyah dan Mu`taziilah, membuat ustadz Firanda semakin bingung.

kesimpulan firanda Kedua :

Atau bahkan ada kemungkinan Al-Ustadz berpemahaman Syi’ah Rofidhoh yang juga berpemahaman bahwasanya Allah tidak di atas langit. Semakin memperkuat dugaan ini ternyata Al-Ustadz Abu Salafy banyak menukil dari buku-buku Rafidhoh. Selain itu Al-Ustadz Abu Salafy juga dengan tegas dan jelas mengutuk Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhu. Oleh karenanya ana sangat berharap Al-Ustadz Abu Salafy bisa menjelaskan siapa dirinya sehingga tidak lagi majhuul. Dan bahkan ana sangat bisa berharap bisa berdialog secara langsung dengan Al-Ustadz.

Jawaban :

Selain sekte Mujassimah, Karomiyah, wahabiyah dan yang sejenisnya (Taimiyah Centris), semuanya berkeyakinan jika Allah maha tinggi di atas segalanya bukan secara Fisik tetapi maha Tinggi diatas segalanya secara Hakiki dan Mutlak tanpa Arah. Adapun kutukan terhadap Mu’awiyah Rodhiallahu anhu, tidak serta merta bisa ”menodai” kebenaran yang dibawa Abu Salafy bahwa Allah tidak berada dilangit. Saya juga berharap agar Ustadz Firanda jangan hanya koar-koar didunia maya, jangan hanya menyebarkan faham-faham menyimpangnya didunia Internet.  Dan Saya sangat berharap agar Ustadz Firanda berdialog secara Langsung dengan Ustadz-ustadz Ahlu Sunnah wal-jama’ah ( Asy’ariyah).

kesimpulan firanda Ketiga : Dari penjelasan di atas ternyata Al-Ustadz Abu Salafy nekat mengambil riwayat dari buku yang telah difonis oleh Al-Ustadz sendiri bahwa buku tersebut adalah kedusataan demi untuk mendukung aqidah Abu Salafy. Maksud ana di sini adalah buku Al-Fiqhu Al-Akbar karya Abu Hanifah dari riwayat Abu Muthii’ Al-Balkhi.

Jawaban:

Dari penjelasan di atas tidak ada kata-kata Ustadz Abu Salafy yang memvonis Dusta terhadap buku Al-Fiqhu Al-Akbar karya Abu Hanifah dari riwayat Abu Muthii’ Al-Balkhi. Yang ada adalah Vonis Dusta terhadap ”Riwayat salah satu Ucapan Imam Abu Hanifah” yang terdapat dalam buku riwayat Abu Mu’thi Al-balkhi, mohon dengan Hormat Ustadz Firanda tunjukkan jika yang divonis Abu Salafy adalah BUKU-nya bukan hanya salah satu riwayat dalam buku itu? Tolong jangan main Plintir pernyataan teman diskusi.

kesimpulan firanda Keempat : Abu Salafy juga ternyata melakukan tadlis (muslihat) dengan memberi sub judul “Penegasan Imam Ahmad”, namun yang dinukil oleh Al-Ustadz adalah perkataan Ibnu Hajr Al-Haitsami.

Jawaban:

Jika kita hitung Tadlis (muslihat) Ustadz Firanda ternyata jauh lebih banyak dan bertumpuk-tumpuk, sebagaimana telah kita tunjukkan diatas.

kesimpulan firanda Kelima : Aqidah yang dipilih oleh Abu Salafy adalah sebagaimana yang dinukil oleh Abu Salafy dari Ibnul Jauzi

وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه

“Hendaknya dikatakan bahwasanya Allah tidak di dalam alam dan juga tidak diluar alam”

Inilah aqidah yang senantiasa dipropagandakan oleh Asyaa’iroh Mutaakhirin seperti Fakhrurroozi dalam kitabnya Asaas At-Taqdiis.

Dan aqidah seperti ini melazimkan banyak kebatilan, diantaranya :

– Sesungguhnya sesuatu yang disifati dengan sifat seperti ini (yaitu tidak di dalam alam dan juga tidak di luar alam, dan tidak mungkin diberi isyarat kepadanya) merupakan sesuatu yang mustahil. Dan sesuatu yang mustahil menafikan sifat wujud. Oleh karenanya kelaziman dari aqidah seperti ini adalah Allah itu tidak ada

– Perkataan mereka “Allah tidak di dalam alam dan juga tidak di luar alam” pada hakekatnya merupakan penggabungan antara naqiidhoin (penggabungan antara dua hal yang saling bertentangan). Hal ini sama saja dengan perkataan “Dia tidak di atas dan juga tidak di bawah” atau “Dia tidak ada dan juga tidak tidak ada”. Dan penggabungan antara dua hal yang saling kontradiksi (bertentangan) sama halnya dengan meniadakan dua hal yang saling bertentangan. Maka perkataan “Allah tidak di alam dan juga tidak diluar alam” sama dengan perkataan “Allah tidak tidak di alam dan juga tidak tidak di luar alam”. Dan telah jelas bahwasanya menggabungkan antara dua hal yang saling bertentangan atau menafikan keduanya merupakan hal yang tidak masuk akal, alias mustahil

– Pensifatan seperti ini (yaitu : tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang tidak ada. Jika perkaranya demikian maka sesungguhnya orang yang beraqidah terhadap Allah seperti ini telah jatuh dalam tasybiih. Yaitu mentasybiih (menyerupakan) Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau mentasybiih Allah dengan sesuatu yang mustahil.

– Pensifatan Allah dengan sifat-sifat seperti ini masih lebih tidak masuk akal dibandingkan aqidah orang-orang hululiah (seperti Ibnu Arobi yang meyakini bahwa Allah bersatu atau menempati makhluknya). Meskipun aqidah hulul juga tidak masuk akal akan tetapi masih lebih masuk akal (masih lebih bisa direnungkan oleh akal) dibandingkan dengan aqidah Allah tidak di atas dan tidak di bawah, tidak di alam dan juga tidak di luar alam, tidak bersatu dengan alam dan tidak juga terpisah dari alam.

Jawaban:

Kesimpulan prematur ke 5 dari Ustadz Firanda menunjukkan dengan jelas Jika ustad Firanda tidak bisa memahami keberadaan Tuhan ”Allah” jika tidak disifati dengan sifat-sifat Makhluk.  Oleh karena itu beliau katakan : ”Pensifatan seperti ini (yaitu : tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang tidak ada”. Hhal ini terjadi karena Ustadz Firanda menggunakan ukuran-ukuran dan sifat-sifat Makhluk untuk menunjukkan keberadaan Tuhan (Allah). Dia (Ustadz Firanda ) lupa jika Allah bukanlah Makhluk yang bisa disifati dengan sifat-sifat Makhluk. Ustadz Firanda juga lupa jika Allah mengatakan ”Tidak ada sesuatupun yang menyerupainya”. Fahamkah Ustadz Firanda dengan kalimat: ”TIDAK ADA YANG MENYERUPAINYA? ”

2. Bagi Ustadz Firanda Aqidah Ahli Bid’ah lebih Masuk akal ketimbang Aqidah Ahlu Sunnah (Asy’ariyah). Sehingga Ustadz Firanda lebih memilih Aqidah Ahlu Bid’ah ” Karomiyah” ketimbang Aqidah Ahlu Sunnah (Asy`ariyah).  Sehingga tidak aneh jika ustadz Firanda pun akhirnya bersepakat dengan sekte orang-orang hululiah (seperti Ibnu Arobi yang menurut Wahabiyyin meyakini bahwa Allah bersatu atau menempati makhluknya “ -Ibnu Arobi terlepas dari aqidah hulul – ahmad syahid). Karena Ustadz Firanda mengatakan: ”bahwa Allah berada pada Arah Yang tidak berwujud” yang artinya Allah Hulul atau menempati Makhluknya yang bernama Arah yang tidak ber-wujud.  Lupakah ustadz firanda jika ”segala apa pun namanya selain Allah adalah Makhluknya?

kesimpulan firanda Keenam: Abu Salafy menolak keberadaan Allah di atas karena meyakini hal ini melazimkan Allah akan diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk. Maka kita katakana, aqidahnya ini menunjukan bahwasanya Abu Salafylah yang terjerumus dalam tasybiih, dan dialah yang musyabbih. Kenapa…??. Karena Abu Salafy sebelum menolak sifat Allah di atas langit ia mentasybiih dahulu Allah dengan makhluk. Oleh karenanya kalau makhluk yang berada di atas sesuatu pasti diliputi oleh tempat. Karenanya Abu Salafy mentasybiih dahulu baru kemudian menolak sifat tingginya Allah.

Ternyata hasil aqidah yang diperoleh Abu Salafy juga merupakan bentuk tasybiih. Karena aqidah Abu Salafy bahwasanya Allah tidak di dalam ‘alam dan juga tidak di luar alam merupakan bentuk mentasybiih Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau sesuatu yang mustahil (sebagaimana telah dijelaskan dalam point kelima di atas). Jadilah Abu Salafy musyabbih sebelum menolak sifat dan musyabbih juga setelah menolak sifat Allah.

Jawaban:

1. Aqidah Ahlus Sunnah Wal-jama’ah ( Asy’ariyah) meyakini jika Allah di atas seluruh makhluknya dan Allah Istawa diatas Arsynya, hanya saja; Atas, Istawa juga ketinggian tidak difahami secara fisikly/dzat, sebagaimana yang difahami Ustadz Firanda cs.  Sehingga menetapkan Arah dan tempat yang bernama Arah yang tidak ber-wujud. Begitu juga Aqidah Abu salafy berlandaskan kepada Hadist Shahih ”kaana Allah walam yakun Syai’un Ghoiruh; Allah telah ada sebelum selainnya ada ” ditegaskan oleh Hadist : ”Allahumma anta dhahir fa laista fawqoka Sya’i wa anta Bathin falaitsa duunaka Sya’iy;  yaa Allah engkaulah Adz-dzhahir yang tidak ada sesuatu di atasmu dan engkaulah al-bathin yang tidak ada sesuatu di bawahmu. Dua hadist ini bertentangan dengan Aqidah ustadz firanda cs.

2. Jika dalam membayangkan adanya Arah dan tempat (untuk menetapkan hukum) saja sudah disebut dihukumi dan di-cap sebagai Musyabih, lantas bagaimana dengan Ustadz Firanda cs, yang menetapkan Arah dan Tempat Bagi Allah? Inilah perkeliruan Ustadz Firanda untuk mendukung Aqidahnya yang Fasid.

3. Dari jawaban point satu jelaslah jika Abu Salafy bukanlah Musyabbih seperti yang dituduhkan Ustadz Firanda. Dan jelas jika Abu Salafy adalah Muttabi’, pengikut Aqidah Rosulallah SAW.  Justru Ustadz Firanda-lah yang Musyabih karena menetapkan Arah dan tempat bagi Allah , layaknya Makhluk yang tidak bisa lepas dari Arah dan tempat. Bahkan ustadz firanda pun ber Aqidah Hulul karena bagi ustadz Firanda, Allah berada (bertempat) di Arah yang tidak ber-wujud, yang berarti Allah menempati makhlunya yang bernama ”Arah yang tidak ber-wujud”.  Dan jelaslah bahwa Ustadz firanda adalah seorang Mubtadi’  (Ahlul Bid’ah),  sebab dalam Alqur’an maupun Hadist tidak pernah disebut adanya ”Arah yang tidak ber-wujud”.

kesimpulan firanda Ketujuh : Abu Salafy tidak menemukan satu perkataan salaf (dari generasi sahabat hingga abad ke tiga) yang mendukung aqidahya, oleh karenanya Abu Salafypun nekat untuk berdusta atau mengambil dari riwayat-riwayat yang tidak jelas dan tanpa sanad, atau dia berusaha mengambil perkataan-perkataan para ulama mutaakhiriin.

Jawaban:

1. Sangat banyak perkataan Salaf As-shalihin yang mendukung Aqidah ”Allah ada tanpa tempat dan tanpa Arah”  (jika ingin disebutkan satu-persatu tentu bisa jadi satu buku Full karena jumlahnya ratusan ).  Satu contoh yang tidak bisa dipungkiri (meskipun Bin Baz dan pembesar wahabi lainnya memungkiri) adalah ”kitab Aqidah At-thohawiyah yang menyebutkan:  ”Jika Allah maha suci dari batasan-batasan (huduud) dan ujung sesuatu / akhir sesuatu (ghoyaat). {(Batasan hanya melekat pada sifat-sifat makhluk begitu juga akhir sesuatu atau ujung sesuatu hanya melekat pada makhluk.-pent)}.

2. Semua riwayat yang dibawakan ustadz Firanda untuk mendukung aqidah fasidnya, hanya berdasarkan kepada Riwayat–riwayat yang Tidak Sah, Mungkar bahkan Palsu (maudhu’)  sebagaimana telah kita Ungkap satu-persatu dalam ”Klaim Ijmak”  yang di da’wakan oleh Ustadz Firanda.  Dan ternyata Salaf bagi Ustadz Firanda tidak sama dengan salaf versi Ahlu Sunnah (Asy’ariyah).  Salaf versi ustadz Firanda adalah para Pembohong dan pemalsu Hadist seperti Ibnu Bathoh al-‘ukbary, al-hakari dan yang sejenisnya.  (Entah ditaruh di mana prinsip  ”hanya mengunakan hadist-hadist Shahihnya” atau itu hanya sekedar jargon atau semboyan kosong  untuk mengelabui orang awam…..?

3. Riwayat – riwayat Tidak Sah, Mungkar dan Maudhu’ yang dibawakan Ustadz Firanda ternyata hanya dijadikan bumpher dan batu loncatan untuk menyemir Aqidah (falsafat) Asli sang Ustadz yaitu Allah berada Pada ”Arah yang tidak ber-wujud”.  Hal ini dia lakukan untuk menghindar dari Hukuman Ulama yang meng-Kafirkan Aqidah Hulul. Namun sayang usahanya ini gagal total dan hanya menyebabkan kekufuran di atas kekufuran. Sebagaiman telah dijelaskan diatas, di mana falsafat Ustadz Firanda ini hanya berbuah pada dua kemungkinan yang kedua-duanya adalah kekufuran.

4. Setelah semua Tipu Muslihat Ustadz Firanda Terbongkar, di mana seluruh riwayat yang dibawakannya ”Jatuh” di mata Ulama Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) dan ”jatuh” di mata Ulama Jarh wa at-ta’dil, apakah sikap selanjutnya yang akan diambil oleh Ustadz firanda………..?

Ala kulli  haal, sesungguhnya semua Bani Adam adalah pembuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang mau ber-taubat.

Demikian semoga bermanfa’at .

Ahmad Syahid 7 oktober 2011

 

Membaca ke Bagian Awal (Pertama), Tipu Muslihat Ustadz Firanda Terbongkar

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

106 thoughts on “Ustadz Firanda Pendusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (4)”

  1. Hemmmm…, hampir dua jam membaca Bantahan Mas Ahmad Syahid kepada Firanda sungguh terasa asik enak dibaca, jadi tambah ilmu. Point demi point hujjag Ustadz Firanda rontok berguguran bagaikan daun-daun kering yg jatuh dari dahannya. Sungguh tak berdaya, mau lari kemana wahai Firanda sang Pendusta Murokkab?

    Di bagian terakhir ini semakin kuat membuktikan ternyata gelar S2 Madinah tidak bernilai apa-apa jika sang penyandang gelar tsb tak memiliki daya nalar yg prima. Pernyataan2 kontradiktif Firanda seperti terbaca dalam artikel di atas semakin mengundang sinisme yg eronis, oh…. hanya segini toh ilmu yg dimiliki lulusan Madinah yg diasuh oleh Para dedengkot Wahabi? Wallohu a’lam….

    Syukron Mas Ahmad Syahid, Mas Admin Ummati dan semua pemerhati yang jujur hatinya. Kesombongan Firanda dan ustadz-ustadz Wahabi lainnya memang sudah saatnya dibungkam agar tidak menular ke pemuda-pemuda muslimin yg lemah akalnya. Hanya orang-orang yg lemah aqal yg bisa diperdaya tipu muslihat Wahabi.

    Barokallohu fikum, alhamdulillah….

  2. Lihat kata Firanda : Pensifatan seperti ini (yaitu : tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang tidak ada. Jika perkaranya demikian maka sesungguhnya orang yang beraqidah terhadap Allah seperti ini telah jatuh dalam tasybiih. Yaitu mentasybiih (menyerupakan) Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau mentasybiih Allah dengan sesuatu yang mustahil.

    Ini suatu pernyataan pengingkaran sifat qidam Allah. Apakah mereka tidak sadar, bahwa dulu alam pernah tidak ada.

    Lalu bagaimana Allah bisa disandarkan pada sifat dilauar dan didalam ataupun arah dan tempat. Bagaimanakah mereka memahami Allah sudah ada sebelum ada sesuatu ?

    Apakah mereka meyakini qidamnya alam?

    ataukah mereka meyakini Allah berubah sifatNya setelah menciptakan Alam ?

    Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan.

  3. mantab mas Ustadz Ahmad…

    Jawaban mas ustadz:

    Kesimpulan prematur ke 5 dari Ustadz Firanda menunjukkan dengan jelas Jika ustad Firanda tidak bisa memahami keberadaan Tuhan ”Allah” jika tidak disifati dengan sifat-sifat Makhluk. Oleh karena itu beliau katakan : ”Pensifatan seperti ini (yaitu : tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang tidak ada”. Hhal ini terjadi karena Ustadz Firanda menggunakan UKURAN-UKURAN dan sifat-sifat MAKHLUK untuk menunjukkan keberadaan Tuhan (Allah). Dia (Ustadz Firanda ) lupa jika ALLAH BUKANLAH MAKHLUK yang bisa disifati dengan sifat-sifat Makhluk. Ustadz Firanda juga lupa jika Allah mengatakan ”Tidak ada sesuatupun yang menyerupainya”. Fahamkah Ustadz Firanda dengan kalimat: ”TIDAK ADA YANG MENYERUPAINYA? ”

    jelas sudah pemahan firanda itu,apa dan bagai mana ….dan termasuk golongan apa….

  4. Firanda nyatanya sesat dengan tipu daya ilmu yang dipengaruhi hawa nafsu juga syaithan laknatullah. Hati2 lah ikhwan bahawa syaithan itu tukang yang mahir dalam melakukan kerja2 menyesatkan manusia, hawa nafsu itu alatan syaithan semata dan kita manusia ini menjadi bahan yang mahu diolah oleh syaithan. Oleh itu tundukkan hawa nafsu moganya ia tidak menjadi alat kepada syaithan dan menghindarkan kita dari tipu daya. Sejarah telah membuktikan bahwa manusia yang bertaraf wali yang telah beribadah beratus tahun, mempunyai karromah luar biasa bisa ditipu oleh syaithan melalui hawa nafsu.
    Begitulah juga Ibnu Taimiyah, Muhammad Abdil Wahab dan kader2 nya yang menjadi dai yang menyesatkan umat.

  5. wahabi..wahabi….tersesat kq bangga….. 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳 😳

  6. rontoklah sudah hujjah pemahaman jism,
    artikel yg bagus….,mohon izin menimba ilmu nya,dan izin copas ke pc dan laptop ane,kang syahid,…trims..

  7. Firanda bicara:

    Pensifatan seperti ini (yaitu : tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang tidak ada.yang mustahil.

    Firanda sedang menggunakan hukum yang berlaku pada jauhar (benda) untuk diterapkan kepada Allah. Dimana sifat benda adalah kaberadaanya tidak bisa lepas dari tempat tempat. Sehingga mustahil dia ada jika dikatakan tidak bertempat. So, Allah bagi Firanda adalah benda, hingga mustahil ia terbebas dari tempat. Di sini kebobrokan akidah ybs dah ketahuan.

    Kalau keberadaan-Nya terikat dengan adanya
    tempat, maka konsekswensinya tempat itu perlu ada terlebih dahulu atau sezaman dengan keberadaan Allah. Karena syarat dari eksistensi wujud adalah adanya tempat untuknya.

    Dan ini adalah bathil, karena Allah memiliki sifat Qidam.

    So, segala sesuatu yang keberadaannya tidak lepas dari tempat, maka keberadaannya tanpa tempat adalah sesuatu yang mustahil. Namun dzat yang keberadaannya tidak terikat dengan tempat, keberadaanya tanpa tempat bukan hal yang mustahil.

    Kalau dibaca ulasan di atas, kesalahan Firanda banyak yang berasal dari pijakan pemikirannya yang menggunakan hukum untuk benda yang diterapkan kepada Allah, walau masih banyak kesalahan fatal lainnya.

    1. Dan datang Abu haamid Al-Gozzaali lalu iapun menulis kitab “Ihyaa (Uluum Ad-Diin-pent)”… dan dia memenuhi kitab tersebut dengan hadits-hadits yang batil –dan dia tidak mengetahui kebatilan hadits-hadits tersebut-

      Kebiasaan kelompok ini, menjatuhkan pribadi ulama untuk menjauhkan karya mereka dari umat. Sebagaimana yang ia telah lakukan kepada Imam Abdul Qahir Al Baghdadi, guru Imam Al Baihaqi, yang ia katakan bukan muhaddits.

      Nah, kali ini Firanda menyerang Imam Al Ghazali dengan pernyataan Ibnu Al Jauzi. Yang anetangkap, intinya ia ingin menyatakan “Jangan merujuk Al Ihya!” Karena bla…bla…bla…

      Ok, ane jawab nukilan pernyataan Ibnu Al Jauzi di atas. Jika pernyataan itu dari Ibnu Al Jauzi, maka hal itu tidaklah mengherankan karena beliau menurut para ulama amat tasahul (bermudah-mudah) dalam menghukumi hadits sebagai maudhu. Kitab Al Maudhuat karya beliau sendiri dah dikritik banyak ulama, karena memasukkan hadits-hadits shahih dan hasan di dalamnya, juga hadits-hadits dhaif. Imam Imam As Siyuthi menulis dua kitab La’ali Al Mashnu’ah dan An Nukat, untuk menyanggah Al Maudhuat.

      Sehingga para ulama menyarankan agar tidak langsung menghukumi hadits dengan status maudhu’ hanya dengan dicantumkannya dalam Al Maudhuat Ibnu Al Jauzi sebelum membaca karya Imam As Suyuthi tersebut.

      Adapan hadits maudhu dalam Al Ihya, tidaklah banyak sebagaimana dikatakan Imam Al Iraqi pentahrij hadits Ihya. Jika ada dhaifnya itu juga lumrah karena mayoritas pembahasan dalam Al Ihya berkisar mengenai fadhail, sebagaimana dinyatakan Al Aidrus Ba Alawi dalam Ta’rif Al Ihya’.

      Memang ada pembahasan masalah akidah, dalam Bab Qawaid Al Aqaid. Namun kalau dihitung hadits yang tercantum di situ ada total 66 dengan pengulangan. Yang shahih dan hasan jumlahnya 47, dan yang tidak dihukumi oleh Imam Al Iraqi jumlahnya 9.

      Yang dihukumi dhaif ada hanya 9, itupun penghukuman atas isnad bukan hadits. Hingga ada kemungkinan haditsnya bisa shahih. Dan beberapa hadits yang dinyatakan isnadnya dhaif pun berhubungan dengan fadhail ilmu, walau ditulis dalam bab Al Qawaid Al Aqaid.

      Coba bandingankan dengan Al Uluw, yang merupakan kitab akidah yang dijadikan rujukan kelompok ini. Jumlah haditsnya sebanyak 279. Dan yang dinilai dhaif serta maudhu’ jumlahnya mencapai 158, alias 56 % nya!

      So, gak masalah merujuk Al Ihya’ karena haditsnya lebih sehat dibanding Al Uluw, yang dijadikan rujukan oleh Firanda.

  8. sekedar berbagi,…

    dlm alquran Allah berfirman…
    “Wahai sekalian orang beriman barang siapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah, mereka adalah orang-orang yang lemah lembut kepada sesama orang mukmin dan sangat kuat -ditakuti- oleh orang-orang kafir. Mereka kaum yang berjihad dijalan Allah, dan mereka tidak takut terhadap cacian orang yang mencaci-maki”. QS. al-Ma’idah: 54

    Dalam sebuah hadits Shahih diriwayatkan bahwa ketika turun ayat ini, Rasulullah memberitahukan sambil menepuk pundak sahabat Abu Musa al-Asy’ari, seraya bersabda: “Mereka (kaum tersebut) adalah kaum orang ini!”.

    Dari hadits ini para ulama menyimpulkan bahwa kaum yang dipuji Allah dalam ayat di atas tidak lain adalah kaum Asy’ariyyah. Karena sahabat Abu Musa al-Asy’ari adalah moyang dari al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari.

    Dalam penafsiran firman Allah di atas: (Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan kaum tersebut mencintai Allah) QS. Al-Ma’idah: 54, al-Imam Mujahid, murid sahabat ‘Abdullah ibn ‘Abbas, berkata: “Mereka adalah kaum dari negeri Saba’ (Yaman)”. Kemudian al-Hafizh Ibn ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib al-Muftari menambahkan: “Dan orang-orang Asy’ariyyah adalah kaum berasal dari negeri Saba’” (Tabyin Kadzib al-Muftari Fi Ma Nusiba Ila al-Imam Abi al-Hasan al-Asy’ari, h. 51).

    Alhamdulillah,…

  9. Assalamu’alaikum…..

    Semoga pahala berlimpah, kesuksessan dalam hidup untuk rekan-2 ummati & keluarganya semua…

    rekan-2 wahabi pada kemana yah? beberapa hari ini ga nongol-2, jadi kangen sama kang abdullah, abu umar, ibnu suradi dll…. :mrgreen: :mrgreen:

  10. Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy. (dalil di Qur’an banyak). Pernyataan ini sudah jelas membuktikan bahwa keberadaan Allah berada di atas ‘Arsy?
    Jangan mengambil dalil dari orang-orang syi’ah ya..

  11. Cukupsatubantahanbagiartikeldiatas.
    bagaimanatentangperistiwaIsra’Mi’rajRasullullah?

    Gak cukup bro, di atas amat banyak poin. Poin mana yang mok ente bantah pake hadits Isra’ mi’raj itu???

    Nah, perjelas dan mari berdiskusi. Tunjukkan mana dalam hadits Isra’ Mi’raj yang menunjukkan berada Allah di atas.

  12. Hei pembaca.. payah ngomong dengan wahabi yang tetap ngotot dengan paham Allah itu duduk di Arsy, makanya pertanyaannya tetap sama. Otaknya sudah dipenuhi dengan mengkhayalkan Allah SWT seperti membayangkan makhluk. Na’uzubillah min dzalika! Tobatlah wahai mujasimah musyabih al wahabiah!

  13. @abu umar
    Ente gak baca point yang kemaren2 sih.

    Aisyah ra meriwayatkan bahwa Nabi saw tidak melihat Tuhannya pada malam mi’raj. Bahkan ia berkata, “Barang siapa mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW melihat Tuhannya pada malam Mi’raj, berarti ia telah membuat kebohongan yang besar kepada Allah swt”.

    Hadist dari Zayd ibn Ali ibn al Husain meriwayatkan dari kakeknya, dari Ali ibn Abi Thalib ra:
    Ketika Rasulullah mengajarkan azan, malaikat Jibril datang kepada beliau membawa hewan untuk beliau tunggangi. Nama hewan tunggangan itu adalah Burqah. Awalnya Burqah enggan ditunggangi oleh Rasulullah. Beliau berkata kepada Jibril, “Hai Jibril, datangkan kepadaku hewan tunggangan yang lebih lembut (penurut) dari ini!”. Kemudian Jibril berkata kepada Burqah,”Menurut kamu hai Burqah! Tidak ada manusia yang menunggangimu yang lebih mulia dihadapan Allah selain dia (Rasulullah)”.
    Kemudian Rasulullah bersabda, “Kemudian aku menungganginya sehingga aku sampai pada hijab (tabir) yang berada dekat Yang Maha Rahman. Aku melihat ada seorang malaikat keluar dari balik hijab. Aku bertanya kepada Jibril, “Hai Jibril, siapakah malaikat itu?” Jibril berkata, Demi Dia yang telah memuliakanmu dengan kenabian, aku tidak pernah melihat malaikat sebelum ini”. Malaikat itu berkata, “Allah MahaBesar, Allah MahaBesar. Lalu dari balik Hijab terdengar suara, “Hamba Ku benar, Aku Maha Besar”. Malaikat itu berkata lagi, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan Selain Allah”. Lalu terdengar lagi suara dari balik hijab, “Hamba Ku benar. Akulah Allah yang tidak ada tuhan selain Aku”. Malaikat berkata lagi, Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”. Lalu terdengar lagi suara dari balik Hijab, “Hamba Ku benar, Aku telah mengutus Muhammad sebagai Rasul”. Malaikat berkata lagi, “Mari kita mendirikan Shalat, Mari kita meraih keberuntungan. Lalu terdengar suara dari balik hijab, “Hamba Ku benar. Hamba-hamba Ku telah berdoa kepada Ku”.
    Rasulullah melanjutkan, Ketika itu Allah menyempurnakan keutamaan bagiku lebih dari para Nabi, para Rasul, orang-orang yang terdahulu dan Orang-orang yang datang kemudian”.

    Hadist Ali ra ini diriwayatkan oleh ibnu mardawih dan Abu Nu’aim lewat jalur Muhammad ibn al Hanafiyah.

    Imam Al Qusyairy berkata dalam kitab Al Mi’raj : “ Guru dan Imam kami mengatakan bahwa jika riwayat ini shahih, maka padanya tidak ada kata yang harus ditakwilkan selain kata hijab. Ketika Rasulullah mengatakan bahwa beliau sampai pada hijab itu maknanya adalah beliau sampai padanya dan tidak akan ada mahluk lain setelah beliau yang sampai padanya. Tidak mustahil Allah menciptakan sebuah tempat dimana mahluk Nya bisa sampai pada tempat itu dan merasakan kehadiranNya. Akan tetapi mustahil jika tempat itu kemudian menjadi batas atau tempat bagi Nya. Sebab Allah Mahasuci dari batas atau terikat dengan jarak tertentu, dekat atau jauh. Sedangkan yang bicara dibalik hijab dan mengatas namakan Allah dengan berkata, “Hamba Ku benar …..”, bisa jadi ia adalah malaikat yang diciptakan Allah dan ditempatkan dibalik hijab untuk mewakili Nya membenarkan ucapan malaikat yang ada diluar hijab.

    Jelas ente ya.

  14. Bukankah Rasulullah ke langit pada Mi’raj-nya?

    Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy. (dalil di Qur’an banyak). Pernyataan ini sudah jelas membuktikan bahwa keberadaan Allah berada di atas ‘Arsy?
    Jangan mengambil dalil dari orang-orang syi’ah ya..

    1. si Abu Umar masih muteeeeeer-2 terus yah…kebiasaan HIT & RUN sih….coba baca dari artikel 1 s/d 4…..coba baca lagi semua Kang pelaaaaan-2 aja, ga usah terburu-2, Belanda & Jepang masih jauh, kalo AS kan deket …..hehehehe…

    2. Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “Barangsiapa ingin mengetahui kedudukannya disisi Allah, maka lihatlah bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya. Sesungguhnya kedudukan hamba disisi Allah ditentukan oleh bagaimana ia mendudukan Allah dalam dirinya”. (Kitab Al Ilm Al Awliya – Tarmidzi).
      Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “Iman yang paling utama adalah seseorang yang tahu bahwa sesungguhnya Allah bersamanya dimana pun ia berada”. (Kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras..Jilid 1 hal 110 – Imam Ahmad ibn Hanbal)

  15. Sifat Tangan Bagi Allah
    Posted on July 4, 2011 by admin 2

    Para pembaca yang dirahmati Allah! Sebagai lanjutan dari pembahasan kita tentang Tauhid Asmaa’ wa sifat, pada kesempatan kali ini kita akan mengupas tentang sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan Sunah. Di antara sifat Allah yang mulia yang disebutkan dalam Alquran dan Sunah adalah sifat tangan bagi Allah. Pada bahasan-bahasan yang lalu kita sudah membahas tentang kaidah-kaidah Ahlussunah dalam mengimani sifata-sifat Allah. Bahwa kita mengimani segala sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan Sunah, tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Dan tidak pula mengkhayalkan atau mempertanyakan tentang bentuk (hakikat) sifat tersebut. Serta tidak pula mentakwilkannya dengan sesuatu yang diluar makna sifat tersebut.

    Pada bahasan berikut ini kita akan sebutkan tentang dalil-dalil dari Alquran dan Sunah tentang sifat tangan bagi Allah, serta perkataan dari para ulama salaf. Pada akhir bahasan kita akan menjawab berbagai argumentasi orang-orang yang mengingkari sifat tangan bagi Allah, atau mentakwilnya.

    {قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ} [ص/75]

    “Allah berfirman, ‘Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.’”

    Dalam ayat yang mulia ini Allah menyebutkan kemuliaan dan keutamaan Nabi Adam atas penciptaan Iblis. Bahwa Allah menciptakan Nabi Adam dengan kedua tangan-Nya. Bukan seperti makhluk-makhluk lainnya yang diciptakan dengan Qudrat-Nya atau kalimat “Kun”.

    Hal ini diperjelas dalam sebuah hadits yang menceritakan tentang peristiwa ketika manusia dikumpulkan di padang Makhsyar. Manusia ditimpa oleh kegelisahan dan kesusahan pada hari itu, lalu mereka mencari orang yang mungkin untuk memohon syafaat bagi mereka. Maka mereka pertama kali mendatangi Nabi Adam seraya berkata,

    ((يا آدم أنت أبو البشر خلقك الله بيده ونفخ فيك من روحه…(( متفق عليه

    “Wahai Adam! Engkau adalah Bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya kepadamu.”

    Demikian pula ungkapan Nabi Musa kepada Nabi Adam kelak di hari kiamat ketika menyebutkan keutamaan nabi Adam di hadapan Allah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah dalam sabda beliau,

    (( قَالَ مُوسَى أَنْتَ آدَمُ الَّذِى خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلاَئِكَتَه…(( رواه مسلم

    ”Berkata Musa: engakau adalah Adam yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya kepada engkau serta memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu… ”

    Kemudian nabi Adam pun membalas pujian nabi Musa dengan mengatakan,

    ((فَقَالَ لَهُ آدَمُ أَنْتَ مُوسَى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلاَمِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ)) وفي لفظ ((كَتَبَ لَكَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ)) رواه مسلم

    “Maka Adam berkata kepadanya: engkau adalah Musa yang Allah telah mengistimewakanmu dengan perkataannya dan telah menuliskan Taurat untukmu dengan tangan-Nya.”

    Dari beberapa dalil yang kita kemukakan di atas menunjukkan bahwa orang yang mengatakan Allah memiliki tangan bukanlah orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Kalau hal tersebut membawa kepada penyerupaan Allah dengan makhluk, tentulah Allah tidak akan sebutkan sifat tersebut untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya. Demikian pula para nabi Allah Adam dan Musa tidak akan mempergunakan kata-kata tersebut untuk Allah. Sebab mereka menetapkan sifat tersebut bagi Allah, tidak harus menyerupakannya dengan sifat makhluk. Karena sifat Allah sesuai dengan kebesaran Zat Allah. Tidak ada yang mengetahui bagaimana hakikat bentuk dan rupanya kecuali Allah itu sendiri. Maka oleh sebab itu jika ada orang yang memahami makna tangan ketika dinisbahkan kepada Allah sebagaimana hakikat yang ada pada makhluk maka ini adalah pemahaman yang salah dan keliru. Inilah yang dilarang dalam agama yaitu menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.

    Maka oleh sebab itu, yang dikatakan Musyabbihah atau Mujassimah adalah orang yang mengatakan tangan Allah seperti tangan makhluk, yakni makna sifat Allah seperti sifat makhluk.

    Sebagaimana jawaban Imam Ahmad ketika ditanya tentang Musyabbihah, beliau menjawab: ”Al Musyabbihah adalah orang yang mengatakan: pendengaran Allah seperti pendengarku, penglihatan Allah seperti penglihatanku, tangan Allah seprti tanganku.”[1]

    Oleh sebab itu, orang yang menuduh Ahlussunah sebagai Musyabihah dan Mujassimah adalah kedustaan belaka. Karena mereka tidak pernah mengatakan bahwa tangan Allah seperti tangan makhluk. Bahkan sebaliknya mereka adalah orang yang mencela orang yang menyerupakan sifat Allah dengann sifat makhluk. Tetapi mereka meyakini bahwa Allah memiliki sifat sebagaimana yang terdapat dalam Alquran dan Sunah yang shahih. Tidak sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang Mu’athilah mengatakan bahwa orang yang meyakini Allah memiliki sifat adalah Musyabbihah dan Mujassimah.

    Barangsiapa yang menuduh orang yang meyakini Allah memiliki sifat tangan sebagai musyabbihan dan mujassimah. Maka tuduhan itu pertama sekali tertuju kepada para nabi Allah, Adam dan Musa. Bahkan telah menuduh Allah menyerupakan diri-Nya dengan makhluk-Nya, Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.

    Kebatilan mazhab Musyabbihah

    Kebatilan tentang mazhab Musyabbihah sangat nyata sekali bagi orang yang berakal dan beriman. Apakah mungkin Allah Yang Maha Besar, Yang Maha Sempurna dalam segala sifat-Nya akan diserupakan dengan makhluk yang serba kurang dan lemah! Sebagai contoh sifat tangan bagi Allah, mari kita lihat bagaimana keagungan dan kesempurnaan sifat Allah tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran dan Sunah yang shahih.

    Allah menyebutkan bahwa di tangan-Nya kekuasaan dan ketentuan segala sesuatu. Sebagaimana dalam firman-Nya,

    {فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ} [يس/83]

    “Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.

    Dan firman Allah,

    {قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [المؤمنون/88]

    “Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”

    Kita bertanya kepada orang-orang Musyabbihah, “Apakah mungkin disamakan tangan Allah dalam ayat tersebut dengan tangan makhluk?” Jawabannya pasti tidak, karena kekuasaan mutlak berada di tangan Allah sedangkan yang ada di tangan makhluk adalah atas karunia dan pemberian Allah. Berarti menyerupakan sifat tangan Allah yang memiliki kekuasaan mutlak dengan tangan makhluk adalah amat nyata sekali kesesatannya.

    Demikian pula Allah sebutkan bahwa segala karunia berada di tangan-Nya, Allah memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

    {قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ} [آل عمران/73]

    “Katakanlah, ‘Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.’”

    {وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ} [الحديد/29]

    “Dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

    Apakah orang-orang Musyabbihah akan mengatakan tangan Allah yang memiliki karunia yang luas seperti tangan makhluk yang tidak memiliki apa-apa? Tangan mereka kosong dari karunia dan kebaikan kecuali atas pemberian Allah semata. Karena semua kebaikan berada di tangan Allah.

    Sebagaimana firman Allah,

    {بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ }[آل عمران/26]

    Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Demikian pula Allah sebutkan tentang sifat tanga-Nya dalam Alquran,

    {وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ} [الزمر/67]

    “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya[1316]. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

    Tidakkah orang-orang Musyabbihah merenungkan ayat yang mulia ini! Mungkinkah akan disamakan tangan Allah dengan tangan makhluk! Makhluk yang mana mampu menggengam bumi dan menggulung langit dengan tangannya! Subhaanallah Maha suci Allah dari segala apa yang mereka sangkakan.

    Demikian pula, jika kita tengok hadits-hadits yang menyebutkan sifat tangan Allah. Betapa agungnya sifat Allah tersebut. Berikut kita sebutkan beberapa hadits tentan sifat tangan Allah,

    عن ابن عمر رضي الله عنهما؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يطوي الله عز وجل السماوات يوم القيامة، ثم يأخذهن بيده اليمنى، ثم يقول: أنا الملك؛ أين الجبارون؟ أين المتكبرون؟ ثم يطوي الأرضين بشماله، ثم يقول: أنا الملك؛ أين الجبارون؟ أين المتكبرون؟ ». متفق عليه

    Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu ia berkata; telah bersabda Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Allah melipat semua langit pada hari kiamat kemudian Allah ambil dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana orang-orang yang sombong? Kemudian Allah melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana orang-orang yang sombong?”

    عن أبي هريرة رضي الله عنه؛ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: « يقبض الله الأرض يوم القيامة، ويطوي السماء بيمينه، ثم يقول: أنا الملك؛ أين ملوك الأرض ». رواه البخاري

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana raja-raja dunia?”

    عن أبي هريرة رضي الله عنهقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يد الله ملأى لا يغيضها نفقة سحاء الليل والنهار. وقال أرأيتم ما أنفق منذ خلق السماوات والأرض فإنه لم يغض ما في يده. وقال وكان عرشه على الماء وبيده الأخرى الميزان يخفض ويرفع). أخرجاه في الصحيحين

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tangan Allah penuh (rahmat dan nikmat), tidak pernah terkurangi oleh pemberian sepanjang malam dan siang. Apakah kalian (tidak) perhatikan apa yang diberikan-Nya semenjak diciptakan langit dan bumi, tidak pernah mengurangi apa yang di tangan-Nya. ‘Arasy-Nya berada di atas air. Dan pada tangan-Nya yang lain ada timbangan, ia turunkan dan ia angkat.’”

    Tidakkah orang Musyabbihah merenungkan hadits-hadits tersebut, yang menerangkan tentang keagungan tangan Allah. Akankah bisa diserupakan tangan Allah dengan tangan makhluk! Sedangkan tangan Allah mampu melipat langit dan menggenggam bumi. Demikian pula tangan Allah penuh dengan nikmat dan rahmat. Adapun tangan makhluk jangankan untuk menggenggam bumi, menggenggam satu kilo pasir saja tidak mampu. Demikian pula tangan makhluk tidak memiliki rahmat dan nikmat kecuali atas pemberian Allah Yang Maha Kaya dimana rahmat dan nikmat-Nya tidak pernah berkurang semenjak diciptakan-Nya langit dan bumi.

    Allah memiliki dua tangan yang mulia tidak serupa dengan tangan makhluk. Kemudian kedua tangan Allah tersebut tidak ada cacat sedikitpun. Maka oleh sebab itu disebutkan dalam hadits bahwa kedua tangan-Nya adalah kanan. Tapi tidak berarti bahwa kedua tangan Allah berada dibagian kanan. Tapi disebutkan kedua tangan Allah kanan adalah agar tidak diyakini pada salah satu tangan Allah ada kekurangan dan kelemahan. Mari kita simak penjelasannya berikut ini,

    عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن المقسطين عند الله يوم القيامة على منابر من نور عن يمين الرحمن عز وجل، وكلتا يديه يمين». رواه مسلم

    Dari Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil disisi Allah pada hari kiamat di atas mimbar terbuat dari cahaya di sebelah kanan Allah, dan kedua tangan-Nya adalah kanan.”

    Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Para ulama berkata: Tatkala sifat-sifat makhluk menggandung kekurangan, maka tangan kiri mereka lebih lemah dalam kekuatan dan perbuatan, ketika tangan kiri dipergunakan untuk hal-hal yang hina seperti memegang najis dan kotoran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kedua tangan Allah penuh berkah, tidak ada sedikitpun memiliki kekurangan dan cacat dalam segala segi. Sebagaimana halnya sifat-sifat makhluk. Sekalipun yang paling mulia dinatara keduanya adalah yang kanan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Adam berkata, ‘Aku memilih tangan kanan Allah dan kedua tangan Allah kanan yang penuh berkah’[2]. Maka sesungguhnya tidak ada kekurangan dalam segala sifat Allah juga tidak ada celaan dalam segala perbuatan-Nya. Akan tetapi perbuatan Allah adakalanya karunia (keutaman) dan adakalanya keadilan. Sebagaimana yang terdapat dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al Asy’ari radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

    “Tangan kanan Allah penuh (rahmat dan nikmat), tidak pernah terkurangi oleh pemberian sepanjang malam dan siang. Apakah kalian (tidak) perhatikan apa yang diberikan-Nya semenjak Ia ciptakan langit dan bumi, tidak pernah mengurangi apa yang di tangan kanan-Nya. Dan timbangan keadilan di tangan-Nya yang lain ada, Ia naikkan dan Ia turunkan“.

    Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa karunia (keutamaan) di tangan kanan Allah dan keadilan di tangan yang lainnya. Dan sudah dimaklumi bahwa kedua tangan Allah adalah kanan (mulia), maka karunia (kemulian) lebih tinggi dari sifat keadilan. Maka segala bentuk rahmat yang diberikan Allah adalah karunia dari-Nya. Dan segala bentuk azab yang datang dari Allah adalah bentuk keadilan dari-nya. Maka rahmat lebih baik daripada azab. Oleh karena itu orang-orang yang berlaku adil berada di atas mimbar tebuat dari cahaya di sebelah kanan Allah, dan mereka tidak diletakkan di sebelah tangan Allah yang lain. Allah meletakkan mereka di sebelah kanan-Nya adalah sebagai kemulian untuk mereka. Sebagaimana Allah memberikan kemulian dalam Alquran terhadap golongan kanan di atas golongan kiri. Dan mereka golongan kiri di azab berdasarkan keadilan-Nya. Demikian pula terdapat dalam berbagai hadits dan atsar menyebutkan bahwa orang pada genggaman kanan adalah penghuni surga dan orang pada genggaman yang lain adalah penghuni neraka.”[3]

    Kebatilan madzhab Muawwilah (Mu’aththilah)

    Komunitas ahlul kalam mengingkari dan mentakwil ayat-ayat dan hadits-hadits yang kita sebutkan diatas dengan takwilan-takwilan yang batil.

    Diantara mereka ada yang mengatakan yang dimaksud dengan tangan adalah qudrah. Yang lain mengatakan yang dimaksud dengan tangan adalah nikmat. Argumentasi mereka adalah jika kita meyakini Allah punya tangan kita akan terjerumus kepada penyerupaan Allah dengan makhluk. Alasan lain adalah karena dalam bahasa Arab kata-kata tangan digunakan kadang kala untuk penyebutan nikmat. Jawaban Ahlussunah terhadap syubhat-syubhat tersebut adalah sebagai berikut:

    Syubhat pertama: Bahwa tangan Allah adalah qudrah-Nya.

    Jika kita cermati ayat-ayat dan hadist-hadits yang kita sebutkan di atas. Kita mendapati bahwa tidak sama antara qudrah dan tangan. Karena Allah mempergunakan kedua lafaz tersebut dalam konteks yang berbeda. Seperti ayat yang menyebutkan tentang kemulian Adam di atas makhluk-makhluk yang lain. Bahwa Allah menciptakannya dengan kedua tangannya. Kalau tangan diartikan qudrah maka semua makhluk diciptakan dengan qudrah. Maka tentu tidak ada kelebihan dan keistimewaan Adam di atas makhluk-makhluk yang lain. Tentu Iblis akan menjawab ketika Allah berkata kepadanya: Kenapa engkau engggan sujud kepada Adam yang aku ciptakan dengan kedua tanganku? Akupun engakau ciptakan dengan kedua tanganMu. Kalau sekiranya tangan bisa diatikan dengan qudrah.

    Semua orang islam sepakat bahwa sifat Qudrah Allah adalah satu bukan dua. Jika tangan diartikan dengan qudrah pada kisah Adam terbut, tentu akan berbunyi begini: kenapa engkau enggan sujud kepada Adam yang aku ciptakan dengan dua qudrahKu. Pemahaman seperti ini tidak seorangpun yang mengenalnya dalam Islam.

    Syubhat kedua: Maksud tangan Allah adalah nikmat-Nya.

    Demikian pula bila tangan Allah ditakwil dengan nikmat apakah akan dikatakan bahwa adam diciptakan dengan dua nikmat. Sedangkan nikmat Allah bukan dua adanya akan tetapi tidak terbilang, bagaimana bisa dikatakan hanya dua. Kalau Adam diciptakan dengan nikmat tentu tidak ada kelebihan adam di atas Iblis. Tentu Musa tidak akan memuji Adam dengan penciptaaan Allah terhadapnya. Demikian pula manusia ketika berada di Padang Makhsyar ketika mereka memohon agar Adam meminta syafaat kepada Allah. Mereka memuji dan menyebutkan keistimewaan Adam, dimana Allah telah menciptakanya dengan kedua tangan-Nya.

    Berkata Syeikh islam Ibnu Taimiyah dalam menjawab dua syubuhat di atas: “Firman Alah: Aku ciptakan dengan kedua tanganKu” tidak bisa diartikan bahwa yang dimaksud dengannya adalah Qudrah. Karena qudrah adalah satu. Dan tidak bisa bilangan dua digunakan untuk menyatakan satu. Dan juga tidak bisa diartikan nikmat, karena nikmat Allah tidak terhitung (jumlahnya). Dan nikmat yang tidak terbilangan tidak bisa dinyataka dengan bilangan dua[4].

    Syubuhat ketiga: Meyakini Allah memiliki sifat tangan adalah meyerupakan Allah dengan Makhluk.

    Syubhat ini yang senantiasa dikemukakan oleh setiap pengingkar sifat-sifat Allah. Bagi pembaca pembahasan-pembahasan yang berlalu akan sangat mudah menjawabnya. Karena sifat tangan di sini dinisbahkan kepada Allah tidak kepada makhluk. Maka segala sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan kemulian Zat Allah. Kita tidak meyakini sifat tangan Allah seperti tangan makhluk. Jika kita katakan seperti tangan makhluk berarti yang kita yakini bukan sifat Allah tapi sifat makhluk. Mungkinkah akan disamakan sifat Allah dengan sifat makhluk! Karena setiap sifat sesuai dengan kondisi zat setiap sifat tersebut. Apakah kita akan katakan tangan kursi seperti tangan manusia! Karena sama-sama disebut tangan. Setiap makhluk yang diberi tangan berbeda bentuk dan hakikatnya sesuai dengan zat masing-masing makhluk tersebut. Kucing, gajah, kerbau, sapi, kera, masing-masing memilki tangan. Tetapi tidak pernah tergambar dalam benak kita kitika ada orang menyebut tangan monyet lalu kita pahami seperti tangan gajah.

    Syubuhat keempat: Kata-kata tangan dalam bahasa Arab digunakan kadang kala untuk menyebut nikmat.

    Memang kalimat tangan kadang kala penggunaannya dalam bahasa Arab diartikan dengan nikmat. Akan tetapi selalu dipergunakan terhadap zat yang memiliki sifat tersebut secara hakiki. Oleh sebab itu tidak pernah disebut kepada air, udara dan hujan memiliki tangan. Sebab zat tersebut secara hakiki tidak memiliki tangan. Tetapi penggunaan kalimat tangan khusus kepada setiap zat yang benar-benar memiliki tangan. Selanjutnya penetuan makna ditetukan oleh konteks susunan kata di mana kalimat tangan tersebut ditempatkan. Tidak mungkin setiap kita menemukan kalimat tangan diartikan dengan nikmat. Maka ayat-ayat dan hadits-hadits yang kita sebutkan di atas tidak bisa ditakwil dengan nikmat dan qudrah karena konteks susunan kalimatnya tidak mendukung kearah tersebut sama sekali.

    Sebagai bukti terakhir kebatilan pentakwilan tersebut adalah simpangsiurnya penafsiran dan makna yang disebutkan para ahli kalam terhadap ayat atau hadits yang sama. Hal ini adalah suatu indikasi yang membuktikan bawah ahli kalam tidak punya dasar yang valid dalam menetukan takwil-takwil mereka.

    Penulis Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.
    Artikel http://www.dzikra.com
    [1] Lihat Al Ibaanah karangan Ibnu Baththah: 3/327.
    [2] Hadits tersebut diriwayatkan At Tirmizi (5/453) dan dinilai oleh Syeikh Al Albany: Hasan Shahih (shahih sunan At Tirmizi: 3/137).
    [3] Majmu’ fatawa (17/92-93).
    [4] Majmu’ Fatawa (6/365).

  16. Abu Umar:
    Aneyang
    tanyamalah
    baliktanya.
    gmnsih?
    cobajelaskan?
    Bukankah
    Rasullullah
    kelangitpada
    waktumi’raj?

    Emang, hadits menunjukkan Rasulullah ke langit dan menerima wahyu shalat. Tapi tidak menunjukkan Allah di langit. Sebagaimana Nabi Musa menerima wahyu di atas gunung Thur, tidak menunjukkan bahwa Allah berada di atas gunung Thur.

  17. Sifat Tangan Bagi Allah
    Posted on July 4, 2011 by admin 2

    Para pembaca yang dirahmati Allah! Sebagai lanjutan dari pembahasan kita tentang Tauhid Asmaa’ wa sifat, pada kesempatan kali ini kita akan mengupas tentang sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan Sunah. Di antara sifat Allah yang mulia yang disebutkan dalam Alquran dan Sunah adalah sifat tangan bagi Allah. Pada bahasan-bahasan yang lalu kita sudah membahas tentang kaidah-kaidah Ahlussunah dalam mengimani sifata-sifat Allah. Bahwa kita mengimani segala sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan Sunah, tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Dan tidak pula mengkhayalkan atau mempertanyakan tentang bentuk (hakikat) sifat tersebut. Serta tidak pula mentakwilkannya dengan sesuatu yang diluar makna sifat tersebut.

    Pada bahasan berikut ini kita akan sebutkan tentang dalil-dalil dari Alquran dan Sunah tentang sifat tangan bagi Allah, serta perkataan dari para ulama salaf. Pada akhir bahasan kita akan menjawab berbagai argumentasi orang-orang yang mengingkari sifat tangan bagi Allah, atau mentakwilnya.

    {قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ} [ص/75]

    “Allah berfirman, ‘Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.’”

    Dalam ayat yang mulia ini Allah menyebutkan kemuliaan dan keutamaan Nabi Adam atas penciptaan Iblis. Bahwa Allah menciptakan Nabi Adam dengan kedua tangan-Nya. Bukan seperti makhluk-makhluk lainnya yang diciptakan dengan Qudrat-Nya atau kalimat “Kun”.

    Hal ini diperjelas dalam sebuah hadits yang menceritakan tentang peristiwa ketika manusia dikumpulkan di padang Makhsyar. Manusia ditimpa oleh kegelisahan dan kesusahan pada hari itu, lalu mereka mencari orang yang mungkin untuk memohon syafaat bagi mereka. Maka mereka pertama kali mendatangi Nabi Adam seraya berkata,

    ((يا آدم أنت أبو البشر خلقك الله بيده ونفخ فيك من روحه…(( متفق عليه

    “Wahai Adam! Engkau adalah Bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya kepadamu.”

    Demikian pula ungkapan Nabi Musa kepada Nabi Adam kelak di hari kiamat ketika menyebutkan keutamaan nabi Adam di hadapan Allah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah dalam sabda beliau,

    (( قَالَ مُوسَى أَنْتَ آدَمُ الَّذِى خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلاَئِكَتَه…(( رواه مسلم

    ”Berkata Musa: engakau adalah Adam yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh-Nya kepada engkau serta memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu… ”

    Kemudian nabi Adam pun membalas pujian nabi Musa dengan mengatakan,

    ((فَقَالَ لَهُ آدَمُ أَنْتَ مُوسَى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلاَمِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ)) وفي لفظ ((كَتَبَ لَكَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ)) رواه مسلم

    “Maka Adam berkata kepadanya: engkau adalah Musa yang Allah telah mengistimewakanmu dengan perkataannya dan telah menuliskan Taurat untukmu dengan tangan-Nya.”

    Dari beberapa dalil yang kita kemukakan di atas menunjukkan bahwa orang yang mengatakan Allah memiliki tangan bukanlah orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Kalau hal tersebut membawa kepada penyerupaan Allah dengan makhluk, tentulah Allah tidak akan sebutkan sifat tersebut untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya. Demikian pula para nabi Allah Adam dan Musa tidak akan mempergunakan kata-kata tersebut untuk Allah. Sebab mereka menetapkan sifat tersebut bagi Allah, tidak harus menyerupakannya dengan sifat makhluk. Karena sifat Allah sesuai dengan kebesaran Zat Allah. Tidak ada yang mengetahui bagaimana hakikat bentuk dan rupanya kecuali Allah itu sendiri. Maka oleh sebab itu jika ada orang yang memahami makna tangan ketika dinisbahkan kepada Allah sebagaimana hakikat yang ada pada makhluk maka ini adalah pemahaman yang salah dan keliru. Inilah yang dilarang dalam agama yaitu menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.

    Maka oleh sebab itu, yang dikatakan Musyabbihah atau Mujassimah adalah orang yang mengatakan tangan Allah seperti tangan makhluk, yakni makna sifat Allah seperti sifat makhluk.

    Sebagaimana jawaban Imam Ahmad ketika ditanya tentang Musyabbihah, beliau menjawab: ”Al Musyabbihah adalah orang yang mengatakan: pendengaran Allah seperti pendengarku, penglihatan Allah seperti penglihatanku, tangan Allah seprti tanganku.”[1]

    Oleh sebab itu, orang yang menuduh Ahlussunah sebagai Musyabihah dan Mujassimah adalah kedustaan belaka. Karena mereka tidak pernah mengatakan bahwa tangan Allah seperti tangan makhluk. Bahkan sebaliknya mereka adalah orang yang mencela orang yang menyerupakan sifat Allah dengann sifat makhluk. Tetapi mereka meyakini bahwa Allah memiliki sifat sebagaimana yang terdapat dalam Alquran dan Sunah yang shahih. Tidak sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang Mu’athilah mengatakan bahwa orang yang meyakini Allah memiliki sifat adalah Musyabbihah dan Mujassimah.

    Barangsiapa yang menuduh orang yang meyakini Allah memiliki sifat tangan sebagai musyabbihan dan mujassimah. Maka tuduhan itu pertama sekali tertuju kepada para nabi Allah, Adam dan Musa. Bahkan telah menuduh Allah menyerupakan diri-Nya dengan makhluk-Nya, Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.

    Kebatilan mazhab Musyabbihah

    Kebatilan tentang mazhab Musyabbihah sangat nyata sekali bagi orang yang berakal dan beriman. Apakah mungkin Allah Yang Maha Besar, Yang Maha Sempurna dalam segala sifat-Nya akan diserupakan dengan makhluk yang serba kurang dan lemah! Sebagai contoh sifat tangan bagi Allah, mari kita lihat bagaimana keagungan dan kesempurnaan sifat Allah tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran dan Sunah yang shahih.

    Allah menyebutkan bahwa di tangan-Nya kekuasaan dan ketentuan segala sesuatu. Sebagaimana dalam firman-Nya,

    {فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ} [يس/83]

    “Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.

    Dan firman Allah,

    {قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [المؤمنون/88]

    “Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”

    Kita bertanya kepada orang-orang Musyabbihah, “Apakah mungkin disamakan tangan Allah dalam ayat tersebut dengan tangan makhluk?” Jawabannya pasti tidak, karena kekuasaan mutlak berada di tangan Allah sedangkan yang ada di tangan makhluk adalah atas karunia dan pemberian Allah. Berarti menyerupakan sifat tangan Allah yang memiliki kekuasaan mutlak dengan tangan makhluk adalah amat nyata sekali kesesatannya.

    Demikian pula Allah sebutkan bahwa segala karunia berada di tangan-Nya, Allah memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

    {قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ} [آل عمران/73]

    “Katakanlah, ‘Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.’”

    {وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ} [الحديد/29]

    “Dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

    Apakah orang-orang Musyabbihah akan mengatakan tangan Allah yang memiliki karunia yang luas seperti tangan makhluk yang tidak memiliki apa-apa? Tangan mereka kosong dari karunia dan kebaikan kecuali atas pemberian Allah semata. Karena semua kebaikan berada di tangan Allah.

    Sebagaimana firman Allah,

    {بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ }[آل عمران/26]

    Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Demikian pula Allah sebutkan tentang sifat tanga-Nya dalam Alquran,

    {وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ} [الزمر/67]

    “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya[1316]. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

    Tidakkah orang-orang Musyabbihah merenungkan ayat yang mulia ini! Mungkinkah akan disamakan tangan Allah dengan tangan makhluk! Makhluk yang mana mampu menggengam bumi dan menggulung langit dengan tangannya! Subhaanallah Maha suci Allah dari segala apa yang mereka sangkakan.

    Demikian pula, jika kita tengok hadits-hadits yang menyebutkan sifat tangan Allah. Betapa agungnya sifat Allah tersebut. Berikut kita sebutkan beberapa hadits tentan sifat tangan Allah,

    عن ابن عمر رضي الله عنهما؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يطوي الله عز وجل السماوات يوم القيامة، ثم يأخذهن بيده اليمنى، ثم يقول: أنا الملك؛ أين الجبارون؟ أين المتكبرون؟ ثم يطوي الأرضين بشماله، ثم يقول: أنا الملك؛ أين الجبارون؟ أين المتكبرون؟ ». متفق عليه

    Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu ia berkata; telah bersabda Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Allah melipat semua langit pada hari kiamat kemudian Allah ambil dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana orang-orang yang sombong? Kemudian Allah melipat bumi dengan tangan kiri-Nya, lalu Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana orang-orang yang sombong?”

    عن أبي هريرة رضي الله عنه؛ قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: « يقبض الله الأرض يوم القيامة، ويطوي السماء بيمينه، ثم يقول: أنا الملك؛ أين ملوك الأرض ». رواه البخاري

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Allah berkata: Akulah Yang Maha Diraja, dimana raja-raja dunia?”

    عن أبي هريرة رضي الله عنهقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يد الله ملأى لا يغيضها نفقة سحاء الليل والنهار. وقال أرأيتم ما أنفق منذ خلق السماوات والأرض فإنه لم يغض ما في يده. وقال وكان عرشه على الماء وبيده الأخرى الميزان يخفض ويرفع). أخرجاه في الصحيحين

    Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tangan Allah penuh (rahmat dan nikmat), tidak pernah terkurangi oleh pemberian sepanjang malam dan siang. Apakah kalian (tidak) perhatikan apa yang diberikan-Nya semenjak diciptakan langit dan bumi, tidak pernah mengurangi apa yang di tangan-Nya. ‘Arasy-Nya berada di atas air. Dan pada tangan-Nya yang lain ada timbangan, ia turunkan dan ia angkat.’”

    Tidakkah orang Musyabbihah merenungkan hadits-hadits tersebut, yang menerangkan tentang keagungan tangan Allah. Akankah bisa diserupakan tangan Allah dengan tangan makhluk! Sedangkan tangan Allah mampu melipat langit dan menggenggam bumi. Demikian pula tangan Allah penuh dengan nikmat dan rahmat. Adapun tangan makhluk jangankan untuk menggenggam bumi, menggenggam satu kilo pasir saja tidak mampu. Demikian pula tangan makhluk tidak memiliki rahmat dan nikmat kecuali atas pemberian Allah Yang Maha Kaya dimana rahmat dan nikmat-Nya tidak pernah berkurang semenjak diciptakan-Nya langit dan bumi.

    Allah memiliki dua tangan yang mulia tidak serupa dengan tangan makhluk. Kemudian kedua tangan Allah tersebut tidak ada cacat sedikitpun. Maka oleh sebab itu disebutkan dalam hadits bahwa kedua tangan-Nya adalah kanan. Tapi tidak berarti bahwa kedua tangan Allah berada dibagian kanan. Tapi disebutkan kedua tangan Allah kanan adalah agar tidak diyakini pada salah satu tangan Allah ada kekurangan dan kelemahan. Mari kita simak penjelasannya berikut ini,

    عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إن المقسطين عند الله يوم القيامة على منابر من نور عن يمين الرحمن عز وجل، وكلتا يديه يمين». رواه مسلم

    Dari Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil disisi Allah pada hari kiamat di atas mimbar terbuat dari cahaya di sebelah kanan Allah, dan kedua tangan-Nya adalah kanan.”

    Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Para ulama berkata: Tatkala sifat-sifat makhluk menggandung kekurangan, maka tangan kiri mereka lebih lemah dalam kekuatan dan perbuatan, ketika tangan kiri dipergunakan untuk hal-hal yang hina seperti memegang najis dan kotoran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kedua tangan Allah penuh berkah, tidak ada sedikitpun memiliki kekurangan dan cacat dalam segala segi. Sebagaimana halnya sifat-sifat makhluk. Sekalipun yang paling mulia dinatara keduanya adalah yang kanan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Adam berkata, ‘Aku memilih tangan kanan Allah dan kedua tangan Allah kanan yang penuh berkah’[2]. Maka sesungguhnya tidak ada kekurangan dalam segala sifat Allah juga tidak ada celaan dalam segala perbuatan-Nya. Akan tetapi perbuatan Allah adakalanya karunia (keutaman) dan adakalanya keadilan. Sebagaimana yang terdapat dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al Asy’ari radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

    “Tangan kanan Allah penuh (rahmat dan nikmat), tidak pernah terkurangi oleh pemberian sepanjang malam dan siang. Apakah kalian (tidak) perhatikan apa yang diberikan-Nya semenjak Ia ciptakan langit dan bumi, tidak pernah mengurangi apa yang di tangan kanan-Nya. Dan timbangan keadilan di tangan-Nya yang lain ada, Ia naikkan dan Ia turunkan“.

    Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa karunia (keutamaan) di tangan kanan Allah dan keadilan di tangan yang lainnya. Dan sudah dimaklumi bahwa kedua tangan Allah adalah kanan (mulia), maka karunia (kemulian) lebih tinggi dari sifat keadilan. Maka segala bentuk rahmat yang diberikan Allah adalah karunia dari-Nya. Dan segala bentuk azab yang datang dari Allah adalah bentuk keadilan dari-nya. Maka rahmat lebih baik daripada azab. Oleh karena itu orang-orang yang berlaku adil berada di atas mimbar tebuat dari cahaya di sebelah kanan Allah, dan mereka tidak diletakkan di sebelah tangan Allah yang lain. Allah meletakkan mereka di sebelah kanan-Nya adalah sebagai kemulian untuk mereka. Sebagaimana Allah memberikan kemulian dalam Alquran terhadap golongan kanan di atas golongan kiri. Dan mereka golongan kiri di azab berdasarkan keadilan-Nya. Demikian pula terdapat dalam berbagai hadits dan atsar menyebutkan bahwa orang pada genggaman kanan adalah penghuni surga dan orang pada genggaman yang lain adalah penghuni neraka.”[3]

    Kebatilan madzhab Muawwilah (Mu’aththilah)

    Komunitas ahlul kalam mengingkari dan mentakwil ayat-ayat dan hadits-hadits yang kita sebutkan diatas dengan takwilan-takwilan yang batil.

    Diantara mereka ada yang mengatakan yang dimaksud dengan tangan adalah qudrah. Yang lain mengatakan yang dimaksud dengan tangan adalah nikmat. Argumentasi mereka adalah jika kita meyakini Allah punya tangan kita akan terjerumus kepada penyerupaan Allah dengan makhluk. Alasan lain adalah karena dalam bahasa Arab kata-kata tangan digunakan kadang kala untuk penyebutan nikmat. Jawaban Ahlussunah terhadap syubhat-syubhat tersebut adalah sebagai berikut:

    Syubhat pertama: Bahwa tangan Allah adalah qudrah-Nya.

    Jika kita cermati ayat-ayat dan hadist-hadits yang kita sebutkan di atas. Kita mendapati bahwa tidak sama antara qudrah dan tangan. Karena Allah mempergunakan kedua lafaz tersebut dalam konteks yang berbeda. Seperti ayat yang menyebutkan tentang kemulian Adam di atas makhluk-makhluk yang lain. Bahwa Allah menciptakannya dengan kedua tangannya. Kalau tangan diartikan qudrah maka semua makhluk diciptakan dengan qudrah. Maka tentu tidak ada kelebihan dan keistimewaan Adam di atas makhluk-makhluk yang lain. Tentu Iblis akan menjawab ketika Allah berkata kepadanya: Kenapa engkau engggan sujud kepada Adam yang aku ciptakan dengan kedua tanganku? Akupun engakau ciptakan dengan kedua tanganMu. Kalau sekiranya tangan bisa diatikan dengan qudrah.

    Semua orang islam sepakat bahwa sifat Qudrah Allah adalah satu bukan dua. Jika tangan diartikan dengan qudrah pada kisah Adam terbut, tentu akan berbunyi begini: kenapa engkau enggan sujud kepada Adam yang aku ciptakan dengan dua qudrahKu. Pemahaman seperti ini tidak seorangpun yang mengenalnya dalam Islam.

    Syubhat kedua: Maksud tangan Allah adalah nikmat-Nya.

    Demikian pula bila tangan Allah ditakwil dengan nikmat apakah akan dikatakan bahwa adam diciptakan dengan dua nikmat. Sedangkan nikmat Allah bukan dua adanya akan tetapi tidak terbilang, bagaimana bisa dikatakan hanya dua. Kalau Adam diciptakan dengan nikmat tentu tidak ada kelebihan adam di atas Iblis. Tentu Musa tidak akan memuji Adam dengan penciptaaan Allah terhadapnya. Demikian pula manusia ketika berada di Padang Makhsyar ketika mereka memohon agar Adam meminta syafaat kepada Allah. Mereka memuji dan menyebutkan keistimewaan Adam, dimana Allah telah menciptakanya dengan kedua tangan-Nya.

    Berkata Syeikh islam Ibnu Taimiyah dalam menjawab dua syubuhat di atas: “Firman Alah: Aku ciptakan dengan kedua tanganKu” tidak bisa diartikan bahwa yang dimaksud dengannya adalah Qudrah. Karena qudrah adalah satu. Dan tidak bisa bilangan dua digunakan untuk menyatakan satu. Dan juga tidak bisa diartikan nikmat, karena nikmat Allah tidak terhitung (jumlahnya). Dan nikmat yang tidak terbilangan tidak bisa dinyataka dengan bilangan dua[4].

    Syubuhat ketiga: Meyakini Allah memiliki sifat tangan adalah meyerupakan Allah dengan Makhluk.

    Syubhat ini yang senantiasa dikemukakan oleh setiap pengingkar sifat-sifat Allah. Bagi pembaca pembahasan-pembahasan yang berlalu akan sangat mudah menjawabnya. Karena sifat tangan di sini dinisbahkan kepada Allah tidak kepada makhluk. Maka segala sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan kemulian Zat Allah. Kita tidak meyakini sifat tangan Allah seperti tangan makhluk. Jika kita katakan seperti tangan makhluk berarti yang kita yakini bukan sifat Allah tapi sifat makhluk. Mungkinkah akan disamakan sifat Allah dengan sifat makhluk! Karena setiap sifat sesuai dengan kondisi zat setiap sifat tersebut. Apakah kita akan katakan tangan kursi seperti tangan manusia! Karena sama-sama disebut tangan. Setiap makhluk yang diberi tangan berbeda bentuk dan hakikatnya sesuai dengan zat masing-masing makhluk tersebut. Kucing, gajah, kerbau, sapi, kera, masing-masing memilki tangan. Tetapi tidak pernah tergambar dalam benak kita kitika ada orang menyebut tangan monyet lalu kita pahami seperti tangan gajah.

    Syubuhat keempat: Kata-kata tangan dalam bahasa Arab digunakan kadang kala untuk menyebut nikmat.

    Memang kalimat tangan kadang kala penggunaannya dalam bahasa Arab diartikan dengan nikmat. Akan tetapi selalu dipergunakan terhadap zat yang memiliki sifat tersebut secara hakiki. Oleh sebab itu tidak pernah disebut kepada air, udara dan hujan memiliki tangan. Sebab zat tersebut secara hakiki tidak memiliki tangan. Tetapi penggunaan kalimat tangan khusus kepada setiap zat yang benar-benar memiliki tangan. Selanjutnya penetuan makna ditetukan oleh konteks susunan kata di mana kalimat tangan tersebut ditempatkan. Tidak mungkin setiap kita menemukan kalimat tangan diartikan dengan nikmat. Maka ayat-ayat dan hadits-hadits yang kita sebutkan di atas tidak bisa ditakwil dengan nikmat dan qudrah karena konteks susunan kalimatnya tidak mendukung kearah tersebut sama sekali.

    Sebagai bukti terakhir kebatilan pentakwilan tersebut adalah simpangsiurnya penafsiran dan makna yang disebutkan para ahli kalam terhadap ayat atau hadits yang sama. Hal ini adalah suatu indikasi yang membuktikan bawah ahli kalam tidak punya dasar yang valid dalam menetukan takwil-takwil mereka.

    Penulis Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.
    Artikel http://www.dzikra.com
    [1] Lihat Al Ibaanah karangan Ibnu Baththah: 3/327.
    [2] Hadits tersebut diriwayatkan At Tirmizi (5/453) dan dinilai oleh Syeikh Al Albany: Hasan Shahih (shahih sunan At Tirmizi: 3/137).
    [3] Majmu’ fatawa (17/92-93).
    [4] Majmu’ Fatawa (6/365).

    Tangan (yadd) menurut makna hakiki bahasa Arab adalah anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari (Mu’jam Al Wasith).

    Apakah ente meyakini yadd yang dinisbatkan kepada Allah adalah tangan hakiki dalam bahasa Arab?

      1. Tangan Abu Umar dengan tangan monyet dan anjing Berbeda bentuknya saja kan mas ?

        Tetapi sama-sama anggota tubuh, sama-sama bentuk yang mempunyai batas dan ukuran.

        Maha suci Allah dari susunan, bentuk, batas dan ukuran.

      2. Tangan seluruh makhluk hidup itu sama-sama anggota badan, jisim, punya ukuran, menempati ruang.

        Walau anda menyatakan bahwa yadd yang dinisbatkan kepada Allah bentuknya berbeda namun anda masih meyakini bahwa tangan itu sebagai anggota badan, jisim, punya ukuran, menempati ruangan maka itu sudah tasybih.

        He he he diskusi tanya mulu…

      3. Pertanyaan ente dah ane jawab semua. Pertanyaan ane yang lalu lom ente jawab.

        Tangan (yadd) menurut makna hakiki bahasa Arab adalah anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari (Mu’jam Al Wasith).

        Apakah ente meyakini yadd yang dinisbatkan kepada Allah adalah tangan hakiki dalam bahasa Arab itu?

        1. Ya.. Tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya, sesuai dengan Kebesaran Dzat-Nya.
          Laisa kamitslihi syaiun. (Dia (Allah) tidak serupa dengan sesuatu pun).

          1. Jangan berbelit dong. Pertanyaannya adalah,”Apakah ente meyakini yadd yang dinisbatkan kepada Allah adalah tangan hakiki dalam bahasa Arab itu?”

            Iya atau tidak?

          2. Ya. PAHAM.
            Tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya, sesuai dengan Kebesaran Dzat-Nya.
            Laisa kamitslihi syaiun. (Dia (Allah) tidak serupa dengan sesuatu pun).
            Tangan berbeda makhluk aja berbeda apalagi Tangan Allah, jelas berbeda dengan makhluk-Nya.
            Ente itu mau mentakwil kan? hahaha. mau ente takwil apa Tangan Allah?

          3. OOOOOO….jadi menurut Abu Umar yadd yang dinisbatkan kepada Allah merupakan anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari!!!

            Dah ketahuan akidah si Abu Umar!

          4. Tangan manusia adalah anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari.

            Sedangkan Abu Umar memaknai yadd yang dinisbatkan kepada Allah juga sebagai anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari.

            Inilah penyerupaan yang sempurna!!!!

            Orang yang sudah berakidah demikian, tidak ada gunanya mengklaim bahwa ia tidak menyerupakan Allah terhadap apapun.

            Hayoo…siapa yang mok mengikuti akidah si Abu Umar?????

          5. Ya. PAHAM.
            Tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya, sesuai dengan Kebesaran Dzat-Nya.
            Laisa kamitslihi syaiun. (Dia (Allah) tidak serupa dengan sesuatu pun).
            Tangan berbeda makhluk aja berbeda apalagi Tangan Allah, jelas berbeda dengan makhluk-Nya.

            @Abu Umar

            mf saya bingung…………..;

            (Dia (Allah) tidak serupa dengan sesuatu pun)!

            tetapi tanpa di sadari antum sudah mampu membayangkan suatu konsep tentang Tangan Alloh….DENGAN BAHASA ANTUM…

            “bagaimanapun mahluk akan selalu mengimajinasikan sebuah konsep tentang sesuatu yang sesuai dengan padanan ATAU KADAR fitrahnya sebagai mahluk juga bukan??!!!

            MAha Suci Alloh dari perkiraan2 manusia!!!

            syukron

          6. Yang memperkirakan Dzat Allah siapa? apakah mensifati tangan berarti memperkirakan bentuk tangan-Nya bagaimana? sungguh bodoh ente itu? Mbok ya sadar km. Kita semua tidak mengetahui bentuk tangan Allah seperti apa.. yang jelas tangan-Nya berbeda dengan sesuatu pun.

          7. Berbeda apanya? Ente kan menyetujui bahwa yadd yang dinisbatkan kepada Allah bermakna anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari, sesuai makna hakiki bahasa Arab! Itulah tangan manusia!!!

          8. sepertinya Abu Umar ini pusing dg komentar or argumen yg ditampilkannya sendiri, atau copas-annya dia baca dulu? main copas aja?? coba minum obat pusing dulu yah mas….

  18. lanjut terus aswaja dakwahnya,…
    moga2 hidayah Allah dtg ke para kaum sa-wah agar kembali ke aqidah aswaja…amiin…
    comment ane kemarin nggak muncul ya ustadz he..he..,

  19. Maha Suci Alloh SWT dari perkiraan mahluk2-Nya!!!

    to abu umar…

    logika antum bertabrakan coba baca sekali lagi lebih dalam………. pernyataan2 antum??!!

    saya mau tanya juga kenapa ilmu tafsir lahir??dan bagaimana sejarah tentang kelahiran ilmu tafsir tersebut??

    syukron

  20. @abu umar
    Pertama ente menyakinkan Allah di Arsy dengan pemikiran ente saat Rasulullah bermi’raj, disini ane jawab, setelah ane jawab ente berargumen tentang Tangan Allah “Sifat Tangan Bagi Allah”. (Gak nyambung)
    Ente ngarti gak sama pertanyaan ente tentang Allah di Arsy sesuai pertanyaan ente.
    Disini ane nilai 1. ente gak berilmu buat keyakinan ente sendiri. 2. Ente mau nguji keyakinan Team Aswaja tentang Allah. 3. Ente cuma mau ngadalin team aswaja.
    Gak bakalan ane n team aswaja bisa terpengaruh sama akidah wahabiyun yang bingung itu. Apalagi ini masalah Tauhid, bisa2 ente bingung kalau salah dalam menafsirkan tentang keberadaan Allah. jangan main2 dalam masalah Tauhid ini DOSA.
    Sebelum terlambat, tobat deh ente.

    1. Yang tobat harusnya ente? cuma mempelajari ilmu dari ustadnya sendiri. Sampai perkataan hati mereka ya di turuti meskipun tanpa dalil yang jelas. Dalilnya cukup, hatiku mengatakan dari Allah. Apa itu bisa menjadi dasar? Jangan2 syetan tuh yang membisikan ke hatinya. huahahahaha

  21. Ana jadi tahu sekarang, kenapa Abu Salafy tak mau menangga[pi lagi Firanda. Ternyata Firanda itu penyandang gelas S2 tapi Jaahil Murokkab. Sepertinya Abu Salafy mengikuti prinsip para Ulama Salafussholihin bahwa jawaban untuk orang jaahil adalah DIAM. Dan Abu Salafy melakukannya, yaitu diam.

    Kalau dijawab, terus Firanda juga jawab tapi gak nyambung, kan kacau, ya kan?

    Jadi yg Jawab Mas Ahmad Syahid aja, biar lebih bebas n enjoy tanpa beban. Sebab kalau Abu Salafy yg jawab sambil marah-marah karena jengkel dengan O’ON-nya Firanda, maka jatuhlah martabat Abu Salafy di hadapan kejahilan Firanda. Untunglah Abu salafy melakukan aksi DIAM tak mau nanggapi lagi ocehan Firanda yg ternyata tanpa makna seperti dikupas habis oleh Mas Ahmad syahid.

    Demikian sedikit analisa ana mohon maaf jika salah beranalisa, maklum masih amatiiirrr? 😆

  22. Masya Allah.. dasar mujasimah alwahabiah! Sejak kapan “tangan” jadi kata sifat? Sudah jelas kata “tangan” adalah kata benda masa’ dimaknai secara zahir nash Al Quran dan hadist nabi tentang ayat dan hadist mutasyabihat. Otak dan pemikiran siapapun akan rusak kalau mengikuti pola pikir wahabi tentang zat Allah.

  23. Apa yang dapat kita katakan kepada mereka yang mengingkari Tauhid Asma wa Sifat dan menganggapnya sebagai sesuatu yang dibuat oleh orang-orang belakangan ?

    Jawaban.
    Tauhid Asma wa Sifat termasuk salah satu dari tiga macam Tauhid : Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma wa Sifat.

    Mereka yang mengingkari Tauhid Asma wa Sifat berarti mengingkari salah satu macam Tauhid. Mereka yang ingkar ini tidak lepas dari dua keadaan yang berikut.

    Pertama.
    Mengingkarinya setelah mengetahui bahwa itu memang benar adanya. Mereka mengingkarinya secara sengaja, dan mengajak yang lain untuk mengingkarinya. Maka mereka yang berlaku seperti ini telah kafir karena mengingkari apa yang telah Allah tetapkan untuk diriNya. Padahal mereka mengetaui hal tersebut tanpa perlu takwil-nya.

    Kedua.
    Hanya ikut-ikutan kepada orang lain karena rasa percaya dan menyangka bahwa ia berada di atas kebenaran. Atau karena salah dalam menafsirkan, sementara ia menyangka berada di atas kebenaran. Mereka melakukan hal ini bukan karena sengaja mengingkari, tetapi karena ingin mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala menurut pengakuan mereka. Maka mereka-mereka yang seperti ini adalah orang-orang yang tersesat dan salah karena ikut-ikutan atau mentakwil (menafsirkan) sendiri.

    Kafirnya kelompok yang pertama sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang kaum musyrikin.

    “Artinya : Padahal mereka kafir (ingkar) kepada Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pemurah)”. [Ar-Ra’d : 30]

    Syaikh Sulaiman bin Abdullah di dalam kitabnya, Taysir Al-Aziz, berkata, “Karena Allah telah menanamkan mereka yang mengingkari satu dari nama-namaNya (yaitu Ar-Rahman) dengan kafir, maka hal ini menunjukkan bahwa mengingkari bagian dari nama-nama dan sifat-sifatNya adalah kafir. Dengan demikian, siapa saja yang mengingkari sesuatu dari nama-nama dan sifat-sifatNya, baik itu orang-orang filsafat, Jahmiyah, Mu’tazilah, atau selain mereka-pun termasuk kafir, sesuai dengan kadar pengingkaran mereka terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah tersebut”. [Lihat Taysir Aziz Al-Hamid hal. 575]

    Beliau juga berkata, “Bahkan kami katakan, Barangsiapa yang tidak beriman kepada nama-nama dan sifat-sifatNya, maka dia bukan termasuk orang-orang yang beriman. Dan barangsiapa di dalam hatinya ada rasa keberatan akan hal itu, maka dia seorang munafik”. [Lihat Taysir Aziz Al-Hamid hal. 588]

    Tauhid Asma dan Sifat bukanlah sesuatu yang baru dimunculkan oleh orang-orang belakangan. (Bukanlah) Anda telah mendengar hukum bagi siapa saja yang mengingkari nama Allah Ar-Rahman ! Dan (bukankah) mengimani Tauhid ini terdapat dalam pembicaraan para Shahabat, Tabi’in, Imam yang Empat, dan yang lainnya dari kalangan Salaf.

    Imam Malik, ketika ditanya tentang masalah istiwa (tingginya) Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas Arsy-Nya berkata, Istiwa (Allah) sudah sama dipahami, dan bagaimana (hakikat)nya tidak diketahui, sementara mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentang bagaimana (hakikat) Allah ber-istiwa adalah bid’ah”. [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.141]

    Abdullah bin Mubarak berkata, “Kita mengetahui bahwa Tuhan kita berada di atas langit yang tujuh ; ber-istiwa di atas Arsy-Nya ; terpisah dari makhluk-Nya. Kami tidak mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Jahmiyah”. [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.151]

    Imam Al-Auza’iy berkata, Kami dan para Tabi’in mengatakan, Sesungguhnya Allah penyebutannya [1] di atas Arsy-Nya dan kami mengimani apa saja yang terdapat di dalam Sunnah”. [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.138]

    Imam Abu Hanifah berkata, “Barangsiapa yang mengatakan, Saya tidak tahu apakah Tuhan saya berada di langit atau bumi, berarti dia telah kafir karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Allah ber-istiwa di atas arsy-Nya”. [Thaha : 5]

    Dan arsy-Nya berada diatas langit yang tujuh”. [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.136]

    Jika anda ingin lebih jauh mengetahui tentang perkataan para salaf dalam masalah ini, maka lihat kitab Ijtima Al-Juyusy Al-Islamiyah ‘Ala Ghazwi Al-Mu’aththilah wal Jahmiyah (Bersatunya Tentara Islam dalam Memerangi Aliran Mu’ththilah dan Jahmiyah) oleh Imam Ibnu Al-Qayyim.

    Beberapa ulama memasukan Tauhid Asma dan Sifat ke dalam Tauhid Rububiyah dengan mengatakan bahwa Tauhid ada dua macam : Tauhid Fi Al-Marifat wa Al-Itsbat, yaitu Tauhid Rububiyah (dan masuk kedalamnya Tauhid Asma dan Sifat), dan Tauhid Fi Ath-Thalabi wa Al-Qashdi, yaitu Tauhid Uluhiyah. Akan tetapi, ketika mulai muncul orang-orang yang mengingkari Tauhid Asma dan Sifat, maka dijadikanlah Tauhid ini tersendiri untuk menetapkan masalah penetapannya dan menolak mereka yang mengingkarinya.

    Tiga macam Tauhid ini terdapat di dalam Al-Qur’an, terkhususkan pada awal-awal surat. Sebaiknya kitab pertama yang hendaknya anda baca adalah kitab Madarij as-Salikiin oleh Ibnu Qayyim.

    [Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan III/19-20 Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 4/I/Dzulhijjah 1423H, Alamat Pondok Pesantren Islaic Center Bin Baz Piyungan Bantul Yogyakarta]

  24. @abu umar
    Pertanyaannya copas, jawabannya copas. nti ane jawab binun lagi.
    Firman Allah : Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al Maidah : 73)”.

  25. Laaaahhh itu dah dikit ngerti nya….eeehhh malah aneh lagi…haduuuuhhhh 😳 😳

    Abu Umar:
    Ya.PAHAM.
    TanganAllahberbedadengantanganmakhluk-Nya,sesuaidenganKebesaranDzat-Nya.
    Laisakamitslihisyaiun.(Dia(Allah)tidakserupadengansesuatupun).
    TanganberbedamakhlukajaberbedaapalagiTanganAllah,jelasberbedadenganmakhluk-Nya.
    Enteitumaumentakwilkan?hahaha.mauentetakwilapaTanganAllah?

  26. 1- Isi dari nukilan tersebut sama sekali tidak berententangan dengan aqidah Ahlus Sunnah, karena Ahlus Sunnah (Wahhabiyah/As-Salafiyah) tatkala menyatakan Allah beristiwa di atas ‘arsy tidaklah melazimkan bahwasanya Allah membutuhkan ‘arsy. Dan tidak ada kelaziman bahwasanya yang berada di atas selalu membutuhkan yang di bawahnya.

    Firanda samakan Allah dan Al Arsy dengan langit dan bumi

    Dan tidak ada kelaziman bahwasanya yang berada di atas selalu membutuhkan yang di bawahnya. Jika kita perhatikan langit dan bumi maka kita akan menyadari akan hal ini. Bukankah langit berada di atas bumi?, bukankah langit lebih luas dari bumi?, bukankah langit tidak butuh kepada bumi? Apakah ada tiang yang di tanam di bumi untuk menopang langit?. Jika langit yang notabene adalah sebuah makhluq namun tidak butuh kepada yang di bawahnya bagaimana lagi dengan Kholiq pencipta ‘arsy.

    Sekedar bagi-bagi kisah. Kasus mirip ane juga dapati dalam forum-forum Wahaby. Ada anggota forum yang menjelaskan nuzul yang dinisbatkan kepada Allah yang bukan merupakan perpindahan dengan mencontohkan dengan seseorang yang kartunya jatuh kemudian dia merunduk untuk memungutnya. Menurutnya itu nuzul yang bukan merupakan perpindahan.

    Ada pula seorang guru Ushuluddin di Universitas Riyadh yang disebut pakar dalam bidang akidah. Saat menguatkan argumen akidah mereka bahwa istiwa itu hakiki dan nuzul tidak membuat Al Arsy kosong, ia menyebutkan,”Seandainya ada laki-laki yang berbadan tinggi duduk di dinding sedangkan kedua kakinya menjulur ke tanah, sesunggunya bagian yang menempel di bumi dari kadua kakinya dinilai bahwa ia di bumi, sedangkan ia masih duduk di atas tembok. Dengan demikian maka tidak ada masalah lagi Allah berada di langit dunia sedangkan ia bersemayam di Al Arsy!!!”

    Ia telah menggambarkan istiwa dan nuzul dengan laki-laki yang duduk di tembok yang kakinya nyentuh tanah!!!

    Ada pula perbedatan antara Asyari jahil dengan Wahabi jahil:
    Asy’ari: Bagaimana Rabb kita berada di atas Al Arsy sedangkan ia tidak nempel kepadanya!?
    Wahaby: Atap di atasmu, apakah ia menempel padamu???
    Asyari diam…..
    Padahal si Wahaby telah menyerupakan Allah dengan atap!!!!

  27. Penyerupaan yang juga biasa digunakan Wahaby dalam mendukung akidahnya adalah penyerupaan mengenai perbedaan yadd yang dinisbatakan kepada Allah terhadap makhluk dengan perbedaan tangan antar makhluk.

    Ini juga yang baru dilakukan oleh si Abu Umar, setelah menyerap ilmu kopasan dari tulisan Dr. Fulan MA….

  28. Penyerupaan yang juga biasa digunakan Wahaby dalam mendukung akidahnya adalah penyerupaan mengenai perbedaan yadd yang dinisbatakan kepada Allah terhadap tangan makhluk dengan perbedaan tangan antar makhluk.

    Ini juga yang baru dilakukan oleh si Abu Umar, setelah menyerap ilmu kopasan dari tulisan Dr. Fulan MA….

    1. Ente telah memfitnah.. Apakah ane menyerupakan Dzat Allah dengan Makhluk-Nya? Apakah ada bukti? Apakah Ane menggambarkan bentuk Tangan Dzat Allah? Tidak kan? Kita tidak mengetahui bentuk-Nya, Membayangkanpun juga tidak bisa.

      1. Berarti ente kagak setuju dengan pemakanaan yadd yang dinisbatkan kepada Allah dengan anggota tubuh dari lengan hingga ujung jari, sesaui dengan makna hakiki dalam bahasa Arab?

  29. saya hanya berfikir, kenapa ya Alloh membiarkan/ menumbuhkah paham wahaby yg katanya sesat kok di mekkah dan madinah di mana merupakan tempat agama ini lahir, tempat Rasulullah di lahirkan,merupakan 2 kota suci umat Islam, dg kondisi makmur. Sedangkan paham lain katanya benar/ ahlu sunnah, berkembang di mana kota dan negaranya kacau bin balau.

    jadi kesimpulannya, apa Alloh menjadikan kota suci Mekah madinah jadi sarang mayoritas orang sesat, sedangkan kota bukan tempat suci jadi tempat mayoritas ahlu sunnah.

    ATAU SEBALIKNYA

    ALLOH MENJADIKAN KOTA SUCI MEKKAH MADINAH SBG TEMPAT MAYORITAS AHLU SUNNAH, SEDANGKAN KOTA BUKAN TEMPAT SUCI JADI MAYORITAS SARANG AHLU BID’AH.

    jika kita bertanya kpd orang islam yg netral tanpa kepentingan apapun, secara fitrah mereka akan berkata MEKKAH MADINAH ADALAH KOTA SUCI DAN TEMPAT ULAMA YG PAHAM AGAMA DG BENAR.

    mohon maaf jika tdk berkenan

    wallahu a’lam.

    1. @is
      Zaman sekarang yang bicara bukan aqidah tetapi UANG, lihat aja negara Arab saudi yang dikawal oleh negara-negara Yahudi n Nasrani alias Amerika n NATO. Paling deket diingatan kita yaitu negara Libya, NATO yang menghancurkan untuk kemudian dia ambil ladang2 minyak. Kite tunggu aja sampai kapan minyak itu habis.
      Ustad2 yang masuk ke Indonesia mungkin juga begitu!!!!

    2. Is ………kita nggak boleh meng andai2 hal Alloh berkehendak ,…….kewajiban kita sbg muslim tinggal menjalani apa2 yang Alloh kehendaki ,……..ada nya Wahabi itu juga UJIAN yang datang dari Alloh bagaimana kita mensikapi ……..emang sih kalau ketemu dialog ama mereka bikin emosi ……he he he ……

  30. Tuhannya wahabi adalah tidak sama dengan Tuhan Ahlussunnah wal jamaah! Tuhannya wahabi bisa dibayangkan; punya wajah, tangan, kaki, mata dan lain-lain.

  31. Tambahan.. tuhannya wahabi punya telinga, mulut, dada, punggung, perut,(maaf) anggota di bawah perut, dst.Kacau deh.. 🙄 🙄 🙄

    1. Ingat Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Bentuk Dzat Allah tidak bisa di bayangkan.. Kalau ente seperti itu berarti ente cuma memfitnah.

  32. heran nih dengan yang punya blog, tidak ilmiah sekali cara mengkerisi tulisan Ust Firanda hanya dengan main vonis tanpa bisa mendatangkan bukti, ini munkar, ini falsu. Tolong dong unjukkan bukti dimana munkarnya, falsunya kalau hanya dengan vonis anak sekolah SD aja bisa.

    1. amr@

      Makanya baca dari Awal (bagian Pertama), biar antum tidak asal koment. Silahkan baca dari awal biar antum paham dan mengerti apa itu palsu dll.

    2. hehehehe another sawah follower, yg main asal komen tanpa membaca semua artikel yg ditampilkan, cuma bisa HIT & RUN, ga mau tahu kebenaran, sanad-2 yg shahih yg telah ditampilkan, merasa paling benar & paling pintar, padahal akan lebih kelihatan menjadi yg paling bodoh….Nauzubillah….

    3. amr@

      antum kan yg dulu pernah kasih link VIRUS itu kan? Awas teman-teman n All Pengunjung, hati2 kalau si amr@ kasih link, jangan di klik. Itu jebakan berisi virus. Hati2 aja, dia ini orang jahat.

      1. DEMI ALLAH, AMR YANG ANDA MAKSUD DIATAS ITU BUKANLAH SY (AMR) YANG DULU ANDA KIRA NGASIH LINK VIRUS. amr diatas itu seprtix manfaatin nama sy gra2 komen sy yg kacau dl. untuk komen sy yg dulu yg keluarx aneh2 tu, sy minta maaf tp bkan sengaja, emang keluarx bgitu. kemungkinan krn loding internet yg sy pake lelet. SY PERJELAS, SY BUKAN WAHABI/SALAFY.

  33. Ane yakin seyakin yakinya tidak akan berubah pendirian sampai ajal tiba. Bahwa Allah berada di Atas Langit. (ber-istiwa’ di atas Arsy). Sudah cukup banyak bukti, baik dari Qur’an maupun Sunnah Rasullullah.

    1. hehehehehe yaw udah kang, bawa saja sampe mati, berarti ga perlu komen lagi kan dg artikel-2 yg ditampilkan dimari ??? seajarah wahabi menurut akang yg baik-2 dari versi ustadz-2 ente kan? apakah benar sejarah-2nya? ilmu yg kita miliki masih spt 1butir pasir di pantai Kang, masih banyak waktu untuk mendapatkan ilmu lagi, masih banyak waktu utk mengkaji kebenaran/kekeliruan wahabi, pelajari dulu sejarahnya, pelajari sumber-2nya, pelajari lagi urutan penyebaran pahamnya. apakah sampai ke Rosululloh SAW ???

    2. Hmmm… Orang seperti Abu Umar ini memang layak untuk dikasihani, sudah melihat kebenaran di depan matanya tapi dia tak mampu melihatnya. Duhhhh… kasihan banget ana pada orang ini. Semoga Allah menolongnya ….

    1. betul kang, selama hatinya masih berkarang yaaaahh ga bakal mau nerima kebenarannya, mudah-2an dapet hidayah dari Alloh SWT agar bisa terbuka mata hatinya akan ilmu yg masih sangat luaaaaaas, kebenaran yg sangat banyaaakkk….dia dah berkeuakinan begitu, yaaaah baiknya kalo dia kasih komen apapun ga usah ditanggapi…kan dia dah yg paling benar & pintar…

  34. Ane yakin seyakin yakinya tidak akan berubah pendirian sampai ajal tiba. Bahwa Allah berada di Atas Langit. (ber-istiwa’ di atas Arsy). Sudah cukup banyak bukti, baik dari Qur’an maupun Sunnah Rasullullah.

    ———————–

    Banyak juga dari al Quran dan Sunnah Allah bukan sahaja berada di langit. Anda boleh memilih samada untuk beriman dengan ayat Allah keseluruhannya, atau memilih-milih mengikut hawa nafsu.

    1. kalo anda pemikir, baca lagi artikel Mas Syahid yg membantah firanda, baca dr awal, pelan-pelaaaaaan aja, kebiasaan ente n rekan2 wahabi ente apa2 selalu terburu nafsu duluan, pikirkan baik2, telusuri sanad2 yg ditampilkan, kalo cuma kasih komen…yakin seyakin2nya anak kecil jg bisa bilang, ane pun bs bilang yakin seyakin2 nyA wahabi itu dalam jalur kesesatan….kasih komen yg berilmu dong ah, tampilkan sumber2 menurut ente itu yakin dg se yakin2nya ente (coba hitung ada brp kali kata yakin diulang hehehehehe…..) :mrgreen: :mrgreen:

      1. Mas Nasrul, antum salah paham dg akhi Pemikir, lho? Itu beliau sedang memberi koment kepada Abu Umar di atas itu. Nih ana kutip koment Abu Umar tsb:

        Abu Umar:
        Aneyakinseyakinyakinyatidakakanberubah
        pendiriansampaiajaltiba.
        BahwaAllahberadadiAtasLangit.
        (ber-istiwa’diatasArsy).Sudahcukup
        banyakbukti,
        baikdariQur’anmaupunSunnahRasullullah.

        1. oh gitu yah mbak? perasaan baru ketemu sama kang pemikir, kirain kang pemikir temennya abu umar hehehe, jd malu…..maaf yee kang pemikir, solnya ane kangen jg ma abu umar, kangen sangat smpe buta mata nih ane…sekali lg maaf kang pemikir, makasih mba kartika dah diingetin….

  35. Akhi Pemikir bermaksud mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an n Hadits yg menjelaskan keberadaan Allah Swt bukan hanya di langit. Mungkin yg dimaksud adalah ayat “Allah itu Dekat” dll, masih banyak lagi di ayat yg lain. Kalau Wahabi itu konsisten, kenapa mereka tidak meng-imani semuanya? Kenapa hanya yg di langit saja? Nah… gitu kali?

  36. @admin ummati
    skdar memperjelas aja, amr yang di komentari di atas tu bknlah sy yg dulu di kira ngasih link virus oleh ust AI. coba di cek IP nya apakh sm dengan kota sy. Afwan sebelumx.

  37. Imam Abu Hanifah berkata : Artinya : ���Barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir���. Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan ���aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi���. Berkata Imam Abu Hanifah : ���Sesungguhnya dia telah ���Kafir !���. Imam Malik bin Anas telah berkata : Artinya : ���Allah berada di atas langit, sedangkan ilmunya di tiap-tiap tempat, tidak tersembunyi sesuatupun dari-Nya���. Imam Asy-Syafi���iy telah berkata : Artinya : ���Dan sesungguhnya Allah di atas ���Arsy-Nya di atas langit-Nya��� Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya : ���Allah di atas tujuh langit diatas ���Arsy-Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap tempat.? Jawab Imam Ahmad : Artinya : ���Benar ! Allah di atas ���Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-nya���. Imam Ali bin Madini pernah ditanya : ���Apa perkataan Ahlul Jannah ?���. Beliau menjawab : Artinya : ���Mereka beriman dengan ru���yah (yakni melihat Allah pada hari kiamat dan di sorga khusus bagi kaum mu���minin), dan dengan kalam (yakni bahwa Allah berkata-kata), dan sesungguhnya Allah ���Azza wa Jalla di atas langit di atas ���Arsy-Nya Ia istiwaa���. Imam Tirmidzi telah berkata : Artinya : ���Telah berkata ahli ilmu : ���Dan Ia (Allah) di atas ���Arsy sebagaimana Ia telah sifatkan diri-Nya���. (Baca : ���Al-Uluw oleh Imam Dzahabi yang diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal : 137, 140, 179, 188, 189 dan 218. Fatwa Hamawiyyah Kubra oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal: 51, 52, 53, 54 dan 57). Telah berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para imam- : Artinya : ���Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta���ala di atas ���Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya������. (Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma���rifah ���Ulumul Hadits��� hal : 84). Telah berkata Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani -diantara perkataannya- : ���Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas ���Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :���Ar-Rahman di atas ���Arsy Ia istiwaa (Thaha : 5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta���wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas ���Arsy. Dan keadaan-Nya di atas ���Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya):���Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ���Arsy-Nya ?��� (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87). Demikianlah aqidah salaf, salah satunya ialah Imam Abdul Qadir Jailani yang di Indonesia di sembah-sembah dijadikan berhala oleh penyembah-penyembah qubur dan orang-orang bodoh. Kalau sekiranya Imam kita ini hidup pada zaman kita sekarang ini dan beliau melihat betapa banyaknya orang-orang yang menyembah dengan meminta-minta kepada beliau dengan ���tawasul���, tentu beliau akan mengingkari dengan sangat keras dan berlepas diri dari qaum musyrikin tersebut. Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji���un !!.

    1. waaah si mbah abis tapa dari goa nih, jadi pas muncul tau-2 kasih komen macam-2 hadist dll, padahal isi hadist yg mbah keluarin itu sudah dibahas di artikel-2 ummati, sudah dijelaskan mbah…jadi mbah kan baru bangun nih, mandi dulu deh, minum teh anget dulu, kalo ada cemilan, yah makan sambil nge-teh or ngupi deh…naaaahhh kalo udah seger, sehat jiwa raga….mbah baca dah semua artikel yg udah ditampilkan, pelan-pelaaaaannn aja mbah, jangan buru-2 seperti konco-2 mbah yg lain, tenang aja mbah….AS & Yahudi dah deket kok di gurunya mbah, jadi baca lagi se detail-detailnya…..moso’ mbah ikut group HIT & RUN juga sih heheheehhehee :mrgreen: :mrgreen:

  38. sebenarnya tokoh para penyembah kubur itu tidak mau mengakui kesesatanya karna mereka sudah terlalu enak dapat makan dari orang orang bodoh yang berhasil mereka kibulin,seperti contoh di daerah saya itu ada mujahadaan yang di pimpin tokoh habib dari solo yang mengaku keturunan dari keluarga nabi,para tokoh sesat ini menarik duwit bagi orang yg ingin di doakan agar kelurganya yg sudah mati dapat ampunan dr alloh,dan acara ini selalu di hadiri ribuan orang orang bodoh dari segala penjuru………….

  39. @mbah, ente ngambilnye yang kafir-kafir aje sih, makanya ente ketularan.
    Tukang minyak bergaul sama tukang minyak, tukang semir bergaul dengan tukang semir, tukang kibul bergaul dengan tukang kibul. Bukan begitu mbah?, jadi ente dikibulin sama tukang kibul, tuh si Firanda…..

    1. heheheheheh si mbah kelamaan tapa di goa kang…makanya mbah, baca lagi, saya kan dah bilang pelan-pelaaaaaan aja, insya Alloh paham, tapi kalo ga paham or ga bisa nerima juga kebangetan dah kalo gitu…mbah sudah terkena kanker wahabi kronis…..nauzubillah….

      1. Itulah mas @nasrulloh, kalau otak kecilnye dianggep kecil melulu, jadi gak pernah digunain tumpul jadinya, asal firanda nulis begini, yo maju jalan ikut he he he ……… yo keneraka maju jalan …………grak yang penting selain SAWAH sesat n kafir.

  40. @mbah mangung mangun > copas dari mana pernyataan ente?
    Sebagai balasnya sila ente baca dengan teliti di bawah ni.

    Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:

    “Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.

    Anda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”, hal itu karena orang tersebut mempertanyakan makna Istawa dengan kata-kata “Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna ayat tersebut, sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya, maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya.

    Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.

    Dari sini dapat dipahami bahwa al-Lali’ka’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman mengatakan “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul”, sama sekali bukan untuk tujuan menetapkan makna duduk atau bersemayam bagi Allah. Juga sama sekali bukan untuk menetapkan makna duduk atau bersemayam yang Kayfiyyah duduk atau bersemayam-Nya tidak diketahui oleh kita. Hal ini berbeda dengan orang-orang Wahhabiyyah yang salah paham terhadap pernyataan al-Lalika’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy. Hanya saja, –menurut mereka–, Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. A’udzu Billah.

    Untuk membantah keyakinan kaum Wahhabiyyah tersebut, kita katakan kepada mereka: Dalam perkataan al-Lalika-i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman terdapat kata “al-Kayf Ghair Ma’qul”, ini artinya bahwa Istawa tersebut bukan Kayfiyyah, sebab Kayfiyyah adalah sifat benda. Dengan demikian, oleh karena kata Istawa ini bukan Kayfiyyah maka jelas maknanya bukan dalam pengertian duduk atau bersemayam. Karena duduk atau bertempat itu hanya berlaku pada sesuatu yang memiliki anggota badan, seperti pantat, lutut dan lainnya. Sementara Allah maha suci dari pada anggota-anggota badan.

    Yang mengherankan, kaum Musyabbihah seperti kaum Wahhabiyyah di atas seringkali memutarbalikan perkataan dua Imam di atas. Mereka sering mengubahnya dengan mengatakan “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Perkataan semacam ini sama sekali bukan riwayat yang benar berasal dari al-Imam Malik atau lainnya. Tujuan kaum Musyabbihah mengucapkan kata tesebut tidak lain adalah untuk menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Istawa Allah, lalu mereka mengatakan Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. Karena itu mereka seringkali mengatakan: “Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy, tapi cara bersemayam-Nya tidak diketahui”. Atau terkadang mereka juga berkata: “Allah duduk di atas arsy, tapi cara duduk-Nya tidak diketahui”. jadi, Perkataan kaum Musyabbihah “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah” tidak lain hanyalah untuk mengelabui orang-orang awam bahwa semacam itulah yang telah dikatakan dan yang dimaksud oleh Al-Imam Malik. A’udzu Billah.

    Al-Hafizh al-Bayhaqi dari jalur Yahya ibn Yahya telah meriwayatkan bahwa ia -Yahya ibn Yahya- berkata: Suatu saat ketika kami berada di majelis al-Imam Malik ibn Anas, tiba-tiba datang seseorang menghadap beliau, seraya bekata: Wahai Abu Abdlillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimankah Istawa Allah? Lalu al-Imam Malik menundukan kepala hingga badanya bergetar dan mengeluarkan keringat. Kemudian beliau berkata: “al-Istiwa’ telah jelas -penyebutannya dalam al-Qur’an- (al-Istiwa Ghair Majhul), dan “Bagaimana (sifat benda)” tidak logis dinyatakan kepada Allah (al-Kayf Ghair Ma’qul), beriman kepada adanya sifat al-Istiwa adalah wajib, dan mempermasalahkan masalah al-Istiwa tersebut adalah perbuatan bid’ah. Dan bagiku, engkau tidak lain kecuali seorang ahli bid’ah”. Lalu al-Imam Malik menyuruh murid-muridnya untuk mengeluarkan orang tersebut dari majelisnya. Al-Imam al-Bayhaqi berkata: “Selain dari al-Imam Malik, pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman, guru dari al-Imam Malik sendiri” (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408).

    Dalam mengomentari peristiwa ini, asy-Syaikh Salamah al-Uzami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka dalam bidang hadits, dalam karyanya berjudul Furqan al-Qur’an, mengatakan sebagai berikut:

    “Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).

    Ada pelajaran penting yang dapat kita tarik dari peristiwa ini. Jika al-Imam Malik sangat marah terhadap orang tersebut hanya karena menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, hingga mengklaimnya sebagai ahli bid’ah, maka tentunya beliau akan lebih marah lagi terhadap mereka yang dengan terang-terangan mengartikan Istawa dengan duduk, bertempat atau bersemayam! Dapat kita pastikan seorang yang berpendapat kedua semacam ini akan lebih dimurkai lagi oleh al-Imam Malik. Hal itu karena mengartikan Istawa dengan duduk atau bersemayam tidak hanya menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, tapi jelas merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya.

    Dan sesungguhnya sangat tidak mungkin seorang alim sekaliber al-Imam Malik berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat dan arah. Al-Imam Malik adalah Imam kota Madinah (Imam Dar al-Hijrah), ahli hadits terkemuka, perintis fiqih madzhab Maliki, sudah barang tentu beliau adalah seorang ahli tauhid, berkeyakinan tanzih, mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk-Nya.

    Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta).

    Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).

    Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama sekali tidak benar (Ghair Tsabit). Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).

    Dengan demikian pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Malik di atas adalah riwayat yang sama sekali tidak benar. Dan kata-kata tersebut yang sering kali dikutip oleh kaum Musyabbihah dan dinisbatkan kepada al-Imam Malik tidak lain hanyalah kedustaan belaka.

  41. Ulama yang mengimani (beri’tiqod) bahwa Allah Azza wa Jalla bertempat di atas ‘Arsy salah satunya adalah ulama Ibnu Taimiyyah, ulama yang dikenal memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, tidak mengikuti pendapat (hasil ijtihad) pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias tidak mengikuti pendapat Imam Mazhab yang empat.

    Ulama Ibnu Qoyyim al Jauziah ber-talaqqi (mengaji) kepada ulama Ibnu Taimiyyah, namun sayangnya beliau ber-talaqqi kepada ulama yang tidak bermazhab sehingga beliau pun mengimani (beri’tiqod) bahwa Allah Azza wa Jalla bertempat di atas ‘Arsy

    Begitu juga dengan ulama Muhammad bin Abdul Wahhab memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab). Kitab utama yang dipelajarinya adalah kitab karya ulama Ibnu Taimiyyah.

    1. Mas @mamo
      Apa ada orang belajar agama secara otodidak, wong Rasulullah aja diajari dengan perantara Jibril, hebaaat banget manusia seperti itu melebihi Nabi Muhammad saw. Perantaranya siapa mas? IBLIS kali ya !!!!

  42. Setiap muslim tentulah mengimani bahwa “ar Rahmaanu ‘alaa al’arsyi istawaa” karena memang itu disebutkan dalam Al Qur’an pada surat Thaahaa [20] ayat : 5.Namun jumhur ulama tidak sependapat bahwa maknanya adalah Allah Azza wa Jalla bertempat di atas ‘Arsy karena mustahil Allah Azza wa Jalla dibatasi atau terbatas oleh ‘Arsy……

  43. Inilah dasyatnya rekayasa sejarah wahabi yang dilakukan oleh dedengkot mereka sendiri, lalu dirahasiakan oleh para dedengkot wahabi itu sendiri, akibatnya pengikutnyapun tak mampu membedakan mana paham yang benar dan mana paham yang salah alias sesat… 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker