Inspirasi Islam

Fakta Sufi: Tasawuf dan Tarekat Seiring Sejalan dengan Syari’at

TASAWUF DAN TAREKAT

Ringkasan Buku Terbaru (Cahaya Tasawuf) Dr. H. Cecep Alba, MA

(Rektor IAILM Suryalaya)

A. Tasawuf

Definisi tasawuf satu dengan yang lainnya berbeda-beda tergantung dari sisi mana si pakar tadi meninjaunya. Ada yang melihat dari sisi sejarah kemunculannya, ada yang melihat dari sisi fenomenan sosial di abad klasik dan pertengahan, juga ada yang melihatnya dari sisi substansi ajarannya dan ada juga yang melihat dari sisi tujuannya.

sufi e1480269944268 - Fakta Sufi: Tasawuf dan Tarekat Seiring Sejalan dengan Syari'at
Illustrasi seorang Sufi – CC BY by amerune

1. Asal-usul Tasawuf 

Teori pertama menyatakan bahwa secara etimologis tasawuf diambil dari kata “Suffah” yaitu sebuah tempat di mesjid Rasulullah Saw. (Mesjid Nabawi) yang dihuni oleh sekelompok sahabat yang hidup zuhud yang konsentrasi beribadah kepada Allah sambl menimba ilmu dari Rasulullah.

Teori kedua, menyatakan bahwa tasawuf diambil dari kata “sifat” dengan alasan bahwa para sufi suka membahas sifat-sifat Allah sekaligus mengaplikasikan sifat-sifat Allah tersebut dalam perilaku mereka sehari-hari.

Teori ketiga berpendapat bahwa kata “tasawuf” daiambil dari akar kata “sufah” artinya selembar bulu, sebab para sufi dihadapan Tuhannya merasa begaikan selembar bulu yang terpisah dari kesatuannya yang tidak mempunyai nilai apa-apa.

Teori keempat menyatakan bahwa “tasawuf” diambil dari kata “shofia” yang artinya al-hikmah (bijaksana) sebab para sufi selalu mencari hikmah ilahiyah dalam kehidupannya. Teori kelima, sebagaimana dikemukakan oleh al-Busti seorang fakar tasawuf, menyatakan bahwa taswuf berasal dari kata “as-safa” yang artinya suci, bersih dan murni, sebab para sufi membersihkan jiwanya hingga berada dalam kondisi suci dan bersih. Ada juga teori yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari akar kata “suf” yang artinya bulu domba (wool), dengan argumentasi wool kasar yang terbuat dari bulu binatang sebagai tanda kesederhanaan hidup mereka.

Diantara berbagai pendapat tenang asal usul “taswuf” menrut Ahmad as-Sirbasi, pendapat al-Bustilah yang paling kuat dan rajih, sebab kenyataannya tasawuf itu adalah upaya pensucian hati supaya dekat dengan Allah.

Dilihat dari tujuannya, seperti telah disinggung di atas, tasawuf adalaha proses pendekatan diri kepada Allah dengan cara mensucikan hati (tashfiat al-Qalbi).

2. Pengertian Tasawuf secara Terminologis

Menurut Muhammad bin Ali al-Qasab, guru Imam Junaidi al-Bagdadi, tasawuf adalah akhlak mulia yang nampak di zaman yang mulia dari seorang manusia mulia bersama kaum yang mulia.

Sedang menurut al-Junaidi al-bagdadi (W. 297 H) tasawuf adalah :

“Engkau ada bersama Allah tanpa ‘alaqah (tanpa perantara)”.

Usman al-Makki berpendapat bahwa tasawuf adalah keadaan dimana seorang hamba setiap waktu melakukan perbuatan (amal) yang lebih baik dari waktu sebelumnya.

Sirri as-Saqati (W. 251 H) berkata :

“Tasawuf adalah suatu nama bagi tiga makna : yakni (1) nur ma’rifat nya tidak memadamkan cahaya kewaraannya, (2) tidak berbicara tentang ilmu batin yang bertentangan dengan makna zahir al-Kitab atau sunnah, dan (3) tidak terbawa oleh karomahnya untuk melanggar larangan Allah”.

Syekh Abdul Qodir al-Jilani berpendapat bahwa taswuf adalah mensucika hati dan melepaskan nafsu dari pangkalnya dengan kholwah, riyadoh dan terus-menerus berdzikir dengan dilandasi iman yang benar, mahabbah, taubat dan ikhlas.

Sedangkan ilmu tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui keadaan jiwa manusia, terpuji atau tercela, bagaimana cara-cara mensucikan jiwa dari berbagai sifat yang tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji dan bagaimana cara mencapai jalan menuju Allah.

3. Obyek Ilmu Tasawuf

Obyek ilmu taswuf adalah perbuatan hati dan panca indera ditinjau dari segi cara pensuciannya.

4. Buah Ilmu Tasawuf

Buah taswuf adalah terdidiknya hati mengetahui (ma’rifah) terhadap ilmu gaib secara ruhani, selamat di dunia dan bahagia di akhirat, dengan mandapat keridoan Allah.

5. Keutamaan Ilmu Tasawuf

Ilmu tasawuf adalah ilmu yang paling mulia karena berkaitan dengan ma’rifah kepada Allah Ta’ala dan mahabbah kepada-Nya.

6. Hubungan ilmu taswuf dengan ilmu yang lainnya

Nisbah ilmu taswuf terhadap ilmu yang lain baagikan nisbah ruh bagi jasad. Ilmu tasawuf adalah ruh, sementara ilmu yang lain adalah jasad. Jasad tidaklah dapat hidup tanpa ruh.

7. Pencipta Ilmu Tasawuf

Pencipta ilmu tasawuf adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah menciptakan ilmu ini kepada Rasulullah dan para Nabi yang sebelumnya.

8. Nama Ilmu Taswuf

Ilmu tasawuf mempunyai beberapa nama, antara lain sebagai berikut:

a. Ilmu Batin

b. Ilmu al-Qalbi

c. Ilmu Laduni

d. Ilmu Mukasyafah

e. Almu Asrar

f. Ilmu Maknun

g. Ilmu Hakikat


9. Pilar Ilmu Tasawuf

Pilar ilmu tasawuf ada lima perkara

a. Taqwallah (bertakwa kepada Allah) baik sewaktu sirr maupun ‘alabiyah (terbuka).

b. Mengikuti Sunnah baik qauli maupun fi’li serta mengaktualisasikannya dalam penjagaan diri dan akhlak yang baik.

c. Berpaling dari makhluk yang diwujudkan dalam sikap sabar dan tawakkal.

d. Rida terhadap ketentuan Allah yang diwujudkan dengan sikap qona’ah dan menerima (tafwid).

e. Kembali kepada Allah baik sikala senang maupun di waktu susah.

10. Sumber Ilmu Tasawuf

Ilmu tasawuf diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Juga dari atsar assabitah (jejak yang sudah tetap) dari umat-umat pilihan di masa silam.

11. Hukum Mempelajari Ilmu Tasawuf

Hukum mempelajarai ilmu tasawuf adalah wajib ain atrinya kewajiban yang mengikat kepada setiap individu muslim.

Oleh karena itu sebagian ulama ahli ma’rifah berkata :

Barang siapa yang tidak memiliki ilmu ini sedikitpun (ilmu batin), aku hawatir ia berakhir dengan su’ul khatimah. Paling tidak seorang mukmin harus membenarkan akan ilmu ini dan menyerahkan kepada ahlinya.

12. Masalah-masalah yang dibahas dalam ilmu Tasawuf

Masalah inti yang dibahas dalam ilmu tasawuf adalah sifat-sifat jiwa manusia, cara-cara pensucian jiwa, dan penjelasan istilah-istilah yang khas dalam disiplin ilmu ini misalnya; maqamat, taubat, zuhud, wara’, al-mahabbah, fana baqa dan yang lainnya.

B. Rukun Tasawuf

Al-Kalabazi dengan mengutip pendapat Abu al-Hasan Muhammad bin Ahmad al-Farisi menerangkan bahwa rukun tasawuf ada sepuluh macam, antara lain :

1. Tajrid at-Tauhid (memurnikan tauhid)

2. Memahami informasi. Maksudnya mendengar tingkah laku bukan hanya mendengar ilmu saja.

3. Baik dalam pergaulan.

4. Mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan diri sendiri.

5. Meninggalkan banyak pilihan.

6. Ada kesinambungan antara pemenuhan kepentingan lahir dan batin.

7. Membuka jiwa terhadap intuisi (ilham).

8. Banyak melakukan bepergian untuk menyaksikan keagungan alam ciptaan Tuhan sekaligus mengambil pelajaran.

9. Meninggalkan iktisab untuk menumbuhkan tawakkal.

10. Meninggalkan iddikhar (banyak simpanan) dalam keadaan tertentu kecuali dalam rangka mencari ilmu.

C. Perkembangan Tasawuf

Secara keilmuan, tasawuf adalah disiplin ilmu yang baru dalam syari’at Islam, demikian menurut Ibnu Khaldun. Adapaun asal-usul tasawuf menurutnya adalah konsentrasi ibadah kepada Allah, meninggalkan kemewahan dan keindahan dunia dan menjauhkan diri dari akhluk. Ketika kehidupan materialistik mulai mencuat dalam peri kehidupan masyarakat muslim pada abad kedua dan ketiga hijriyyah sebagai akibat dari kemajuan ekonomi di dunia Islam, orang-orang yang konsentrasi beribadah dan menjauhkan diri dari hiruk pikuknya kehidupan dunia disebutlah kaum sufi.

Berbeda dengan Ibnu Khaldun, Muhammad Iqbal dalam bukunya “Tajdid al-Fikr ad-Dini al-Islam” berpendapat bahwa tasawuf telah ada semenjak Nabi. Riyadoh Diniyyah telah lama menyertai kehidupan manusia sejak awal-awal Islam bahkan kehidupan ini semakin mengental di dalam sejarah kemanusiaan.

Menurut sebagian fakar, Imam Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang memunculkan istilah taswuf. Menurut yang lain Salman al-Farisi. Menurut pendapat yang lain Hudzaefah bin al-Yaman sebab Hasan Basri (tokoh sufi di abad kedua Hijriyyah) berguru kepada Hudzefah.

Akar-akar tasawuf dalam Islam merupakan penjabaran dari ihsan. Ihsan sendiri merupakan bagian dari trilogi ajaran Islam. Islam adalah satu kesatuan dari iman, islam dan ihsan. Islam adalah penyerahan diri kepada Allah secara zahir, iman adalah I’tikad batin terhadap hal-hal gaib yang ada dalam rukun iman, sedangkan ihsan adalah komitmen terhadap hakikat zahir dan batin.

Islam, iman dan ihsan adalah landasan untuk melakukan suluk dan taqqarub kepada Allah. ‘Iz bin Abdissalam berpendapat bahwa sistematika keberagamaan bagi kaum muslimin, yang pertama adalah Islam. Islam merupakan tingkat pertama beragama bagi kaum awam. Iman adalah tingkatan pertama bagi hati orang khusus kaum mukminin, sedangkan ihsan adalah tingkatan pertama bagi ruh kaum muqarribin.

D. Tahapan-tahapan Supaya bisa Dekat Dengan Allah

Dalam menempuh jalan ruhani menuju Tuhan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah), ada stasion-stasion (al-Maqamat)“hal” adalah kondisi yang dialami oleh seorang sufi dalam dirinya atau batinnya sebagai hasil dari usahanya dalam maqamat tadi. Dengan demikian perbedaan maqam dan ahwal ialam maqam merupakan usaha seorang sufi untuk berada dalam tingkatan tertentu sedangkan ahwal adalah suatu pemberian (karunia) Allah yang diberikan kepada seorang sebagai hasil usahanya dalam maqam tadi. yang mesti ditempuh oleh seorang salik. Maqam adalah kedudukan atau tahapan dimana seorang sufi berada. Kedudukan ini hanya akan di dapat oleh seorang sufi atas usahanya sendiri dengan penuh kesungguhan dan istiqamah. Sedangkan ahwal yang bentuk mufranya

“Ahwal adalah pemberian sementara maqamat adalah usaha”.

Dengan demikian ahwal bertingkat-tingkat. Pada umumnyapara sufi menulis sepuluh tingkatan.

1. Taubah

Taubah adalah maqam pertama yang mesti dilalui oleh setiap salik.

Taubah ada tiga tingkatan :

a) Taubah orang sadar

Awalnya kebiasaan yang terjadi dalam linngkungan beragama tetapi akhirnya menjadi tinggi dalam perasaan tambah-tambah menjadi peringatan.

b) Taubat Salik

Taubah orang salik bukan dari dosa dan kesalahan dan bukan dari penyesalan dan istigfar tetapi terjadi karena perpindahan kondisi jiwa yang naik menjadi sempurna sehingga dapat menghadirkan Allah dalam setiap gerak nafasnya.

Dalam sebuah syair yang indah Abdullah al-Mubarok menyatakan :

Aku melihat dosa mematikan hati

Lalu diikuti dengan kehinaan di setiap-setiap zamannya

Meninggalkan dosa adalah cara menghidupkan hati

Maka pilihlah bagi dirimu untuk menyalahi dosa-dosa.

c) Taubat ‘Arif

Taubat seorang ‘arif (orang yang ma’rifah) bukan dari dosa atau dari menyalahi jiwa tetapi taubah dari kelupaan terhadap dirinya sendiri bahwa dirinya itu dalam gemgaman Tuhannya.

2. Zuhud

Awal mula zuhud adalah sikap wara’ dalam beragama yakni menjauhi hal-hal yang diharamkan syara’. Memang kewara’an dapat menimbulkan keinginan untuk berlaku zuhud secara ruhani secara mendalam. Hanya makna zuhud secara sufistik lebih jauh dari itu. Misalnya halal menurut syari’at adalah apa-apa yang tidak menyalahi aturan Allah, sementara halal secara sufistik adalah apa-apa yang tidak menyebabkan lupa kepada Allah.

3. Wara (al-Wara’)

Secra lugawi wara’ artinya hati-hati. Secara istillahi wara’ adalah sikap menahan diri agar hatimu tidak menyimpang sekejap pun dari mengingat Allah.

Wara’ ada empat tingkatan

a. Wara’ orang awam

Ialah wara’ orang kebanyakan yaitu menahan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang Allah.

b. Wara’ orang saleh

Menahan diri dari menyentuh atau memakan sesuatu yang mungkin akan jatuh kepada haram.

c. Wara’ muttaqin

Menahan diri dari sesuatu yang tidak diharamkan dan tidak syubhat karena takut jatuh kepada haram.

Nabi bersabda, yang artinya :

“Seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sehingga dia meninggalkan apa yang tidak berdosa karena takut akan apa yang dapat menimbulkan dosa” (Ibnu Majah).

d. Wara’ orang benar

Menahan diri dari apa yang tidak berdosa sama sekali dan tidak khawatir jatuh ke dalam dosa, tapi dia menahan diri melakukannya kaena takut tidak ada niat untuk beribadat kepada Allah.

4. Faqr (al-Faqr)

Faqr berarti kekurangan harta dalam menjalankan kehidupan di dunia. Sikap faqr harus dimiliki oleh seorang salik sewaktu menjalankan suluknya.

5. Sabar (as-Sabr)

Sabar berarti tabah dalam menghadapi segala kesulitan tanpa ada rasa kesal dan menyerah dalam diri. Sabar juga dapat berarti tetap merasa cukup meskipun kenyataannya tidak memiliki apa-apa.

6. Syukur (as-Syukr)

Syukur yang berarti berterima kasih. Allahlah yang telah memberikan nikmat dan berokah kepada umat manusia. Allah berfirman : Jika kamu bersyukur, maka kami akan menambahkan nikmat kepadamu (al-Baqarah : 7)

7. Tawakal (at-Tawakkal)

Tawakkal arti dasarnya berserah diri kepada Allah. Secara sufistik tawakkal adalah penyerahan diri hanya kepada ketentuan Allah.

8. Rida (ar-Rida)

Rida artinya meninggalkan ikhtiar. Menurut al-Muhaisibi rida adalah tentramnya hati dibawah naungan hukum.

Menurut an-Najjar, ahli rida terbagi empat tipe. Pertama, golongan orang yang rida atas segala pemberian Al-Haq dan inilah makrifat. Kedua, golongan orang rida atas segala nikmat, itulah dunia. Ketiga, golongan yang rida atas musibah dan itlah cobaan yang beragam. Keempat, golongan yang rida atas keterpilihan, itulah mahabbah.

9. Al-Ma’rifah

Ma’rifah artinya mengenal atau melihat (melihat tuhan dengan mata hati).

Dzunnun al-Misri membagi ma’rifah menjadi tiga bagian : 1) Ma’rifah mukmin, 2) Ma’rifah ahli kalam, 3) Ma’rifah Auliya muqarrabin. Sufi membagi manusia pada tiga klasifikasi. Pertama, tingkatan kaum ‘arif yang mendapatkan kebahagiaan sebab hikmah (wisdom). Kedua, tingkatan orang-orang mukmin yang mendapatkan kebahagiaan karena memiliki keimanan. Ketiga, tingkaatn orang-orang bodoh dan mereka ini orang-orang yang binasa.

E. Tasawuf dan Tarekat

Mazhab dalam tasawuf disebut tarekat. Harun Nasution memandang tarekat dari sisi institusi. Ia beranggapan bahwa tarekat adalah organisasi para pengamal ajaran Syaikh pendiri tarekat termaksud.

K.H.A. Sahibulwafa Tajul’arifin (Abah Anom) menjelaskan bahwa tasawuf adalah proses pendekatan diri kepada Tuhan sedangkan tarekat adalah metodenya. Dengan demikian TQN adalah salah satu metode tasawuf untuk mendekatkan diri kepada Allah guna dapat keridoan-Nya.

Sebuah tarekat dianggap mu’tabarah apabila terpenuhi kriteria sebagai berikut.

1. Substansi ajarannya tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dalam arti bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

2. Tidak meninggalkan syari’ah.

3. Silsilahnya sampai dan bersambung (ittisal) kepada Rasulullah Saw.

4. Ada mursyid yang membimbing para muridnya.

5. Ada murid yang mengamalkan ajaran gurunya.

6. Kebenaran ajarannya bersifat universal.

Tarekat yang tidak memenuhi kriteria seperti tertulis di atas dianggap gair mu’tabarah yakni tidak dibenarkan mengamalkannya apalagi meyebarkannya.

Berdasarkan kelima kriteria di atas jelaslah bahwa TQN bukanlah ajaran yang baru apalagi dianggap ajaran yang tidak berasal dari Rasul, karena ia adalah ajaran yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah sahihah dan secara mutawatir diamalkan oleh setiap generasi dibawah bimbingan Syaikh Mursyid pada setiap zamannya.

F. Sumber Ajaran Tasawuf

Kalau kita kaji al-Qur’an secara tematik, kita kana menemukan peta ayat secara zahir yakni ada empat tentang teologi, fikih, tasawuf, falsafah dan seterusnya. Dari pendektana semacam ini ulama melahirkan ilmu tauhid, ilmu fikih, tasawuf, filsafat dan lain-lain.

Sebagian sufi misal Ibnu ‘Arabi, al-Qusyaeri, Ibnu ‘Atolilah as-Sakandari dan sufi-sufi kontemporer lainnya berpendapat bahwa semua ayat adalah tauhid, semua ayat adalah fikih begitu juga semua ayat adalah taswuf. Paradigma yang berbeda dengan statemen di atas ini muncul karena ada hadis nabi yang menyatakan bahwa setiap ayat ada mengandung makna zahir dan makna batin.

Makna batin hanya dapat dipahami oleh ulama yang secara istiqamah mensucikan hatinya dengan riyadah. Ulama yan g dawam dalam riyadah adalah para sufi. Para sufilah orangnya yang dapat menangkap makna batin ayat sehingga melahirkan ilmu haqiqah.

Dari pendekatan semacam ini pula, pada gilirannya melahirkan apa yang disebut tafsir isyari (tafsir sufi). Dari tafsir isyarilah lahirnya ilmu hakikat, taswuf dan tarekat, termasuk Tareka Qadiriyyah wa an-Naqsabandiyah (TQN).

G. Buah dari Pengamalan Tasawuf

Buah pengamalan ilmu taswuf adalah akhlak al-Karimah akhlak al-Karimah adalah kepribadian seimbang seorang manusia dalam kedudukannya sebagai hamba Allah dan khalifah Allah.

Dalam konsep universal dapat disebutkan bahwa akhlak al-Karimah adalah kepribadian yang sesuai dengan petunjuk (hidayah) Allah dan Rasulnya.

H. Tarekat dalam Sistem Ajaran Islam

Tarekat merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Islam tanpa tarekat bukanlah Islam kaffah sebagai yang diajarkan Rasulullah Saw. Islam kaffah adalah Islam yang terpadu di dalamnya aspek akidah, syari’ah dan haqiqah.tarekat qadiriyyah wa an-Naqsabandiyah adalah salah satu alian dalam tasawuf yang substansi ajarnnya merupakan gabungan dari dua tarekat yaitu Qadiriyyah dan naqsabandiyah. Secara keilmuan dari aqidah lahir ilmu aqa’id, ilmu tauhid, teologi Islam dan ilmu kalam, dari syariah lahir ilmu Fikih dengan segala cabangnya dan dari aspek haqiqah lahir ilmu tasawuf dan tarekat.

Arti dasar tarekat adalah jalan. Dan yang dimaksud adalah jalan yang mesti dilalui oleh seorang salik utuk menuju pintu-pintu tuhan. Imam Malik berkata sebagai dikutip oleh Imam al-Gazali :

“Barang siapa bertasawuf tanpa fikih maka dia zindik dan barang siapa berfikih tanpa tasawuf maka ia masih fasik dan barang siapa yang berislam dengan memadukan antara fikih dan tasawuf benarlah dia dalam berislam”.

Secara eksplisit kedua tarekat ini dipadukan oleh seorang Maha Guru tasawuf yaitu Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Qadiriyah adalah nama sebuah tarekat yang dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Sultan al-Auliya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Sementara Naqsabandiyah adalah tarekat yang dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Syaikh Bahauddin an-Naqsabandi.

TASAWUF AKHLAKI, FALSAFI DAN IRFANI

A. Tasawuf Akhlaki (Tasawuf Sunni)

Tasawuf Akhlaki adalah tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak’ mencari hakikat kebenaran yang mewujudkan menuasia yang dapat ma’rifah kepada Allah, dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf Akhlaki, biasa disebut juga dengan istilah tasawuf sunni. Tasawuf Akhlaki ini dikembangkan oleh ulama salaf as-salih.

Dalam diri manusia ada potensi untuk menjadibaik dan potensi untuk menjadi buruk. Potensi untuk menjadi baik adalah al-‘Aql dan al-Qalb. Sementara potensi untuk menjadi buruk adalah an-Nafs. (nafsu) yang dibantu oleh syaithan.

Sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an, surat as-Syams : 7-8 sebagai berikut :

<§??tRur $tBur $yg1§qy™ C?E $ygyJolù;r’sù $ydu‘qègé? $yg1uq?)s?ur C?E

Artinya : “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.

Para sufi yang mengembangkan taswuf akhlaki antara lain : Hasan al-Basri (21 H – 110 H), al-Muhasibi (165 H – 243 H), al-Qusyairi (376 H – 465 H), Syaikh al-Islam Sultan al-Aulia Abdul Qadir al-Jilani (470 – 561 H), Hujjatul Islam Abu Hamid al-Gajali (450 H – 505 H), Ibnu Atoilah as-Sakandari dan lain-lain.

B. Tasawuf Falsafi

Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang didasarkan kepada keterpaduan teori-teori tasawuf dan falsafah. Tasawuf falsafi ini tentu saja dikembangkan oleh para sufi yang filosof.

Ibnu Khaldun berendapat bahwa objek utama yang menjadi perhatian tasawuf falsafi ada empat perkara. Keempat perkara itu adalah sebagai berikut:

1. Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta intropeksi diri yang timbul dari dirinya.

2. Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya sifat-sifat rabbani, ‘arasy, kursi, malaikat, wahyu kenabian, ruh, hakikat realitas segala yang wujud, yang gaib maupun yang nampak, dan susunan yang kosmos, terutama tentang penciptanya serta penciptaannya.

3. Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang brepengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan.

4. Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syatahiyyat) yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya, menyetujui atau menginterpretasikannya.

Tokoh-tokoh penting yang termasuk kelompok sufi falsafi antara lain adalah al-Hallaj (244 – 309 H/ 858 – 922 M) Ibnu’ Arabi (560 H – 638 H) al-Jili (767 H – 805 H), Ibnu Sab’in (lahir tahun 614 H) as-Sukhrawardi dan yang lainnya.

C. Tasawuf ‘Irfani

Tasawuf ‘Irfani adalah tasawuf yang berusaha menyikap hakikat kebenaran atau ma’rifah diperoleh dengan tidak melalui logika atau pembelajaran atau pemikiran tetapi melalui pemebirian Tuhan (mauhibah). Ilmu itu diperoleh karena si sufi berupaya melakukan tasfiyat al-Qalb. Dengan hati yang suci seseorang dapat berdialog secara batini dengan Tuhan sehingga pengetahuan atau ma’rifah dimasukkan Allah ke dalam hatinya, hakikat kebenaran tersingkap lewat ilham (intuisi).

Tokoh-tokoh yang mengembangkan tasawuf ‘irfani antara lain : Rabi’ah al-Adawiyah (96 – 185 H), Dzunnun al-Misri (180 H – 246 H), Junaidi al-Bagdadi (W. 297 H), Abu Yazid al-Bustami (200 H – 261 H), Jalaluddin Rumi, Ibnu ‘Arabi, Abu Bakar as-Syibli, Syaikh Abu Hasan al-Khurqani, ‘Ain al-Qudhat al-Hamdani, Syaikh Najmuddin al-Kubra dan lain-lainnya.

TQN PONDOK PESANTREN SURYALAYA

A. Tujuan TQN

Tujuan TQN sama dengan tujuan Islam itu sendiri, yaitu menuntun manusia agar mendapat ridha Allah, sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat.

“Tuhanku, Engkaulah yang aku maksud dan keridoan-Mu yang aku cari. Berilah aku kemampuan untuk bisa mencintai-Mu dan ma’rifah kepada-Mu”.

Dalam do’a tersebut terkandung empat macam tujuan TQN itu sendiri yaitu :

1. Taqarrub Ilallah SWT.

Ialah mendektakan diri kepada Allah dengan jalan dzikrullah.

2. Menuju jalan Mardhatillah

Ialah menuju jalan yang diridai Allah Swt. Baik dalam ‘ubudiyyah maupun di luar ubudiyyah.

3. Kema’rifatan (al-ma’rifah); melihat tuhan dengan mata hati.

4. Kemahabbahan (kecintaan) terhadap “Dzat Laisa kamislihi Syaiun” yang mana dalam mahabbah itu mengandung keteguhan jiwa dan kejujuran hati.

B. Dasar-dasar TQN

Adapun dasar-dasar TQN agar dapat mencapai tujuan sebagaimana tertulis di atas, dijelaskan oleh Tuan Syaikh sendiri yaitu sebagai berikut :

1. Tinggi cita-cita. Barangsiapa yang tinggi cita-citanya maka menjadi tinggilah martabatnya.

2. Memelihara kehormatan. Barangsiapa memelihara kehormatan Allah, Allah akan memelihara kehormatannya.

3. Memperbaiki hidmat. Barangsiapa memperbaiki khidmat, ia wajib memperoleh rahmat.

4. Melaksanakan cita-cita. Barangsiapa berusaha mencapai cita-citanya, aia kan sealu memperoleh hidayah-Nya.

5. Membesarkan nikmat. Barangsiapa membesarkan nikmat Allah berarti ia bersyukur kepada Allah. Barangsiapa bersyukur kepada-Nya maka ia akan mendapatkan tambahan nikmat sebagai yang dijanjikan Allah.

C. Amaliyah dalam TQN

Amaliyah yang bersifat spiritual ini harus diamalkan oleh siapa saja yang telah menyatakan diri melallui “talqin” sebagai murid dan ikhwan bagi Guru Mursyid dalam komunitas tarekat termaksud.

1. Zikir

Zikir, secara lugawi artinya ingat, mengingat atau eling dalam bahasa sunda. Yang dimaksud dalam TQN adalah zikir bimakna khas. Zikir bimakna khas adalah “hudurul Qalbi ma’allah” (hadirnya hati kita bersama Allah). Zikir dalam arti khusus ini terbagi dua 1) zikir jahr dan 2) zikir khafi.

Baik zikir jahr maupun zikir khafi mempunyai landasan yang kuat dari al-Qur’an dan tradisi Rasulullah saw.

Dalil-dalin zikir dalam al-Qur’an

tûïI%©!$# tbr???.?‹tƒ ©!$# $VJ»u?I% #Y?q?èè%ur 4’n?t?ur ?NIgI/q?Z?_ …

“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring” (QS. 3 : 191)

?’ITr???.?Œ$$sù ?N?.???.?Œr& (#r??à6ô©$#ur ’?< ?wur Ebr??à??3s? CEIEE

“Maka berzikirlah kepada-Ku, pasti aku akan mengingat-mu,…” (QS. 2 : 152).

Dalil-dalil dzikir dalam Hadis Rasulullah saw.

“Perbaharuilah iman kamu sekalian !. para sahabat bertanya : Bagaimana cara kami memperkuat dan memperbaharui iman itu ya Rasulullah ? Rasul bersabda ialah dengan memperbanyak ucapan laailaaha illalaah”.

Syarat-syarat berdzikir ada tiga macam

1) Hendaklah orang yang berdzikir mempunyai wudu yang sempurna.

2) Hendaklah orang yang berzikir melakukannya dengan gerakan yang kuat.

3) Berdzikir dengan suara keras sehingga dihasilkan cahaya zikr di dalam abtin orang-orang yang berzikir dan menjadi hiduplah hati-hati mereka.

2. Khataman

Kata khataman berasala dri kata “khatama yakhtumu khataman” artinya selesai/ menyelesaikan. Maksud khataman dalam TQN adalah menyelesaikan atau menamatkan pembacaan aurad (wirid-wirid) yang menjadi ajaran TQN pada waktu-waktu tertentu.

3. Manakib (Manaqib)

Kata manakib merupakan kata jama dari manqabah mendapat akhiran an. Manqabah sendiri artinya babakan sejarah hidup seseorang.

Jama dari manqobah adalah manaqib. Dalam tradisi bahasa sunda kata manaqib ditambah dengan an sehingga bacaannya menjadi manaqiban yang mengandung arti proses pembacaan penggalan hidup seseorang secara spiritual. Manaqib dalam TQN adalah manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sebagai pendiri tariqat Qadiriyyah.

Manaqiban dalam TQN merupakan amalan syahriyyah artinya amalan yang harus dilakukan minimal satu bulan satu kali. Biasanya materi manaqiban terbagi pada dua bagian penting. Pertama, materi (kontens) tentang hidmah ‘amaliyah. Hidmah amaliyah ini adalah inti manaqiban itu sendiri. Substansi ajarannya ialah meliputi :

1. Pembacaan ayat suci al-Qur’an

2. Pembacaan Tanbih

3. Pembacaan Tawassul

4. Pembacaan manqabah Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani

5. Do’a

6. Tutup

Kedua hidmah ‘Ilmiyyah. Maksud hidmah ilmiyyah adalah pembahasan tasawuf secara keilmuan dan pembahasan aspek-aspek ajaran Islam keseluruhan.

Tujuan Manaqiban

1) Mencintai dan menghormati zurriyyah (keturunan) Rasulullah saw.

2) Mencintai para ulama, salihin dan para wali.

3) Mencari berkah dan syafa’at dari Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

4) Bertawassul dengan tuan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani karena Allah semata.

5) Melaksanakan nazar karena Allah semata, bukan karena maksiat.

4. Riyadoh

Riyadoh secara etimologis artinya latihan. Dalam term tasawuf yang dimaksud riyadoh adalah latihan rohani dengan cara tertentu yang lazim dilakukan dalam dunia tasawuf. Dalam tradisi TQN, riyadoh yang paling utama adalah zdikrullah.

5. Ziarah

Ziarah menurut bahasa berasal dari akar kata zaara – yazuuru, ziyaaratan artinya berkunjung atau mengunjungi. Menurut istilah ziarah adalah mengunjungi tempat-tempat suci, atau berkunjung ke kepada orang-orang salih, para nabi, para wali, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dengan niat karena Allah.

Tujuan Ziarah, antara lain :

1) Mengingatkan kita akan kematian.

2) Mengambil pelajaran (‘ibrah) dari kehidupan manusia-manusia salih (salihin).

3) Mendo’akan kepada arwah mukminin yang sudah meninggal mendahului kita.

4) Attabarruk.

6. Khalwah

Khalwat artinya mengasingkan diri dari keramaian dunia ke suatu tempat dengan tujuan agar konsentrasi beribadah kepada Allah semata. Khalwat bagi salik mubtadi (pengamal tarekat baru) harus dibawah bimbingan Guru Mursyid. Lama masa khalwat tergantung pada bimbingan guru bisa jadi sepuluh hari, dua puluh hari hingga empat puluhhari. Paling sedikit tiga hari.

Dalam kitab Tanwir al-Qulub, Syaikh Amin Kurdi menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang salik yang akan berkhalwat yaitu:

1) Niat dengan ikhlas

2) Meminta izin kepada mursyidnya sekaligus memohon do’anya.

3) Didahului dengan ‘uzlah, tidak tidur malam, berpuasa dan terus berdzikir.

4) Masuk tempat khlawat mendahulukan kaki kanan dengan membaca ta’awwuz, basmalah dan membaca surat an-Nas tiga kali.

5) Dawam al-Wudlu.

6) Jangan bertujuan ingin mendapat karamat.

7) Tidak menyandar badan ke dinding.

8) Rabithah.

9) Berpuasa.

10) Diam dan terus Zikrullah.

11) Waspada terhadap godaan yang empat,syaitan, materi, nafsu dan syahwat. Dan laporkan kepada guru apa yang terjadi sewaktu khalwat.

12) Menjauhi sumber suara.

13) Salat fardu tetap berjama’ah demikian juga jum’at tidak boleh ditinggalkan.

14) Jika harus keluar maka kepala ditutup dan melihat ke tanah.

15) Jangan tidur, kecuali kalau sangat ngantuk boleh tetapi punya wudu. Tidak tidur untuk rehat badan, bahkan kalau mampu jangan sampai merebahkan badannya ke lantai tetapi tidurlah sambil duduk.

16) Tidak lapar tidak kenyang.

17) Jangan membuka pintu kepada orang yang bermaksud meminta berkah kepadanya.

18) Semua keni’matan yang dialaminya harus merasa hanyalah dari gurunya.

19) Menapikan getaran dan lintasan dalam hati, apakah getaran baik atau jelek, karena boleh jadi mengganggu kekhusuan hati.

20) Terus berdzikir dengan cara yang telah diperintahkan guru sampai guru memerintah berhenti dan keluar dari khalwat.

7. Tanbih

Secara vertikal TQN membimbing manusia menuju kepada Tuhan dan secara horizontal memberikan rambu-rambu dan prinsip-prinsip bagaimana seharusnya kita hiddup secara berjamaah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tanbih juga mengandung ajarn moral, menyangkut pelbagai kehidupan pribadi, keluarga masyarakat dan negara secara luas.

D. Hasil yang Dicapai

HM. Subandi, pakar psikologi dari Universitas Gajah Mada, telah melakukan penelitian tentang dampak kejiwaan yang timbul dari pengamalan TQN Pondok Pesantren Suryalaya.

1. Kemampuan memecahkan masalah, dari mulai masalah pribadi, keluarga, karir, polotik, ekonomi dan lain-lain.

2. Ketahanan emosional yang tinggi, meskipun mengalami berbagai situasi yang menyedihkan atau mengecewakan ia tidak mengalami gangguan mental karenanya.

3. Ketenangan batin, tidak merasa cemas atau waswas dalam menghadapi situasi yang tidak menentu.

4. Pengendalian diri yang baik (kontrol diri), tidak terbawa arus kemanapun pergi.

5. Pemahaman terhadap dirinya sendiri secara baik.

6. Menemukan jati dirinya atau dalam istilah psikologi “individuasi” karena mampu menemukan dirinya maka ia pun mampu menemuka Tuhannya.

7. Memiliki kesadaran lain atau dalam istilah psikologi disebut “altered states of consiousness” yaitu kesadaran “supernormal” (bukan para normal), yang pada umumnyadimiliki oleh orang yang berwawasan spiritual atau tungkat kerohanian tinggi.

MURSYID DAN MURID

A. Mursyid

Guru atau mursyid dalam sistem tasawuf adalah asyrafunnasi fi at-tariqoh artinya orang yang palin tinggi martabatnya dalam suatu tarekat. Mursyid mengajarkan bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memberikan contoh bagaimana ibadah yang benar secara syari’at dan hakikat. Betapa penting keberadaan guru dalam suatu tarekat, dijelaskan tidaklah benar seseorang mengamalkan suatu tarekat tanpa guru.

Mursyidlah yang mendapat izin dari Rasulullah untuk melakukan talqin az-Zikir kepada sipa saja ang mau mengamalkan zikir.

Kriteria Mursyid

a. Seorang mursyid haruslah seorang yang alim.

b. Seorang mursyid haruslah’arif.

c. Seorang mursyid harus sabar dan mempunyai rasa belas kasihan yang tinggi kepada murid-muridnya.

d. Seorang mursyid harus pandai menyimpan rahasia murid-muridnya.

e. Seorang mursyid tidak boleh menyalahgunakan kedudukan sebagai seorang guru spiritual atau orang yang paling tinggi martabatnya dalam tarekat.

f. Seorang mursyid haruslah bijaksana.

g. Seorang mursyid harus disiplin.

h. Menjaga lisan dan nafsu keeduniaan.

i. Seorang mursyid harus mempunyai hati yang ikhlas.

j. Selalu menjaga jarak antara dirinya dengan muridnya.

k. Memelihara harga diri, wibawa dan kehormatan.

l. Mursyid harus bisa memberi petunjuk tertentu pada situasi tertentu kepada muridnya.

m. Merahasakan hal-hal istimewa.

n. Mursyid selalu mengawasi muridnya dalam kehidupan sehari-hari.

* o. Merahasiakan segala gerak gerik kehidupannya.

p. Seorang mursyid harus mencegah berlebihan dalm makan dan minum.

q. Seorang mursyid harus menyediakan tempat berkhalwat bagi murid-muridnya.

r. Menutup pergaulan murid dengan mursyid lainnya.

B. Murid dan kewajiban terhadap Mursyidnya

Murid secara etimologis artinya orang yang berkehendak, berkemauan dan mempunyai cita-cita. Murid dalam istilah tarekat adalah orang yang bermaksud menempuh jalan untuk dapat sampai ke tujuan yakni keridoan Allah.

Kewajiban murid terhadap mursyidnya adalah sebagai berikut :

1. Menyerahkan diri lahir batin.

2. Murid harus menurut dan mematuhi perintah gurunya.

3. Murid tidak boleh menggunjing gurunya.

4. Seorang murid tidak boleh melepaskan ikhtiarnya sendiri.

5. Seorang murid harus selalu ingat kepada gurunya.

6. Seorang murid tidak boleh memiliki keinginan untuk bergaul ;lebih dalam dengan mursyidnya, baik untuk tujuan dunia maupun akhirat.

7. Seorang murid harus mempunyai keyakinan dalam hati.

8. Seorang murid tidak boleh menyembunyikan rahasia hatinya.

9. Murid harus memelihara keluarga dan kerabat gurunya.

10. Kesenangan murid tidak boleh sama dengan gurunya.

11. Seorang murid tidak memberi saran kepada gurunya.

12. Seorang murid tidak boleh memandang kekurangan gurunya.

13. Seorang murid harus rela memberikan sebagian hartanya.

14. Seorang murid tidak boleh bergaul dengan orang yang dibenci gurunya.

15. Seorang murid tidak boleh melakukan sesuatu yang dibenci gurunya.

16. Seorang murid tidak boleh iri kepada murid lainnya.

17. Segala sesuatu yang menyangkut pribadinya harus mendapat izin dari gurunya.

18. Tidak boleh duduk pada tempat yang biasa dipakai duduk oleh gurunya.

C. Adab Murid terhadap Dirinya Sendiri

1. Meninggalkan pergaulan dengan orang-orang yang jahat, sebaliknya bergaul dengan orang-orang pilihan.

2. Jika hendak berzikir padahal ia telah memiliki keluarga dan telah beranak maka seyogyanya menutup pintu yang dapat menghalangi antara dia dengan istri dan anaknya.

3. Meninggalkan sikap berlebihan baik dalam urusan makan, minum, pakaian, hubungan suami istri.

4. Meninggalkan cinta dunia dan berfikir tentang kehidupan akhirat.

5. Tidak tidur dalam keadaan junub, tetapi sebaliknya selalu dalam keadaan suci punya wudu.

6. Tidak boleh toma (berharap) kepada apa yang ada di tangan manusia lain.

7. Jika rizki sulit didapat, dan hati manusia keras kepadanya, amka bersabarlah, sebab boleh jadi hara dunia berpaling dari murid ketika ia masuk dalam tarekat.

8. Hendaklah ia melakukan muhasabah (intropeksi) dan mendorong jiwanya untuk mengamalkan tarekat.

9. Menydikitkan tidur, terutama di waktu sahur sebab ia adalah waktu ijabah.

10. Menjaga diri agar hanay makan yang hala.

Dan lain-lain …

D. Adab Murid terhadap Sesama Ikhwan atau terhadap Muslim yang lain

1. Mencintai ikhwan tarekat seperti ia mencintai dirinya sendiri.

2. Memulai mengucapkan salam, bersalaman dan berbicara dengan bahasa yang menyenangkan jika bertemu sesama ikhwan.

3. Bergaul sesama ikhwan dengan akhlak yang baik.

4. Bersikap tawadu’ kepada ikhwan.

5. Mencari keridaan mereka dan anda harus memandang mereka lebih baik dari pada anda sendiri, selanjutnya saling menolong dalam kebaikan dan takwa, mencintai Allah dan mendorong mereka dalam apa yang diridai Allah dan anda menunjuki mereka ke jalan yang benar.

6. Menaruh kasih kepada semua ikhwan, hormat kepada yang lebih besar dan sayang kepada yang lebih muda.

7. Bersikap simpatik dan halus dalam upaya menasihati ikhwan jika meraka melakukan pelanggaran.

8. Berbaik sangka kepada ikhwan.

9. Hendaklah menerima permintaan maaf ikhwan yang lain apabila ia minta maaf meskipun ia berdusta, sebab orang yang meminta maaf kepadamu secara terbuka meskipun batinnya marah maka sesungguhnya orang itu telah taat kepadamu dan telah menghormatimu.

10. Mendamaikan dua ikhwan yang bermusuhan.

11. Bersikap benar kepada sesama ikhwan dalam segala kondisi dan jangan lupa mendo’akan mereka dengan ampunan meskipu mereka gaib (tidak ada dihadapan kita).

12. Memberi kelapangan mereka dalam majelis.

13. Bertanya tentang nama kawan kita sekaligus nama ayahnya.

14. Mempertahankan harga diri ikhwan dan menolong mereka meskipun sedang tidak dihadapan kita.

15. Menunaikan janji apabila ia berjanji, sebab sesungguhnya janji termasuk salah satu dari dua pemberian, menurut Ahlussunnah ia adalah utang.

E. Waliyullah

Waliyullah artinya kekasih Allah, orang-orang yang dicintai Allah. Ia selalu diberi hidayah oleh Allah untuk beramal salih dan berdakwah, ia adalah orang-orang salih yang beramal dengan ikhlas.

F. Tanda-tanda Wali Allah

1. Jika kita melihat mereka, mereka mengingatkan kita kepada Allah.

2. Jika mereka tiada, tidak pernah orang-orang mencarinya.

3. Mereka bertaqwa kepada Allah.

4. Mereka saling menyayangi dengan sesamanya.

5. Mereka selalu sabar, wara’ dan berakhlak mulia.

6. Mereka hidup zuhud di dunia.

7. Mereka selalu terhindar ketika ada bencana.

8. Hati mereka selalu terkait kepada Allah.

9. Mereka suka terbiasa bermunajat di akhir malam.

10. Mereka suka menangis dan berzikir mengingat Allah.

11. Jika meraka menghendaki sesuatu, Allah memenuhi keinginannya.

12. Keinginan mereka dapat menggoncangkan gunung.

Karamah

Karamah adalah kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada para wali. Hal itu diberikan sebagai hiburan atau santunan, atau pembekalan ilmu atau sebagai ujian.

Manfaat Karamah

1) Dapat menambah keyakinan kepada Allah.

2) Mengkokohkan kepercayaan masyarakat kepada seorang wali.

3) Adanya karomah merupakan bukti anugrah atau derajat yang diberikan Allah kepada seorang wali, agar pengabdiannya tetap istiqamah.

G. Perbedaan antara Kenabian dan Kewalian

Kenabian adalah jabatan spritual yang diberikan Allah kepada orang-orang pilihan dengan cara Allah memberikan wahyu kepadanya, sementara kewalian adalah kasih sayang Allah kepada orang-orang tertentu karena ia berusaha mujahadah taqarub kepada-Nya sehingga memberikan ilham kepada-Nya.

Kenabian adalah kalam yang datang dari Tuhan sebagai wahyu, bersama-sama ruh dari Tuhan, sebagai wahyu yang dinyatakan dan diperkuat dengan ruh. Kewalian adalah orang dimana Tuhan mempercayakan (waliyah) hadis-Nya. Tuhan membawa wali kepada diri-Nya dengan cara yang berbeda, dan dia mempunyai hadis.

Bukti-bukti Kenabian

Sebagai salah satu indikator pengakuan seseorang sebagai nabi dan rasul adalah adanya mu’jizat. Mu’jizat adalah kejadaian luar biasa yang diberikan Allah kepada seorang nabi atau rasul untuk menguatkan kenabian dan kerasulannya.

Syarat-syarat Mu’jizat

1. Mu’jizat, datangnya harus dari Allah sebagai kejadian luar biasa untuk menguatkan kenabia atau kerasulan seseorang.

2. Mu’jizat harus berupa kejadian luar biasa sehingga tidak ada yang dapat meniru.

3. Mu’jizat harus muncul dari seorang nabi agar dapat dijadikan bukti bagi risalahnya.

4. Mu’jizat harus diiringi dengan pengakuan kenabian, baik secara hakekat atau hukum. Biasanya didahului dengan kejadiaan luar biasa yang disebut irhash.

5. Mu’jizat harus sesuai dengan situasi dan kondisi di masa timbulnya, kalau tidak, maka pungsinya berubamenjadi ihanah, seperti yang terjadi pada Musilamah al-Kazzab.

6. Para penentang risalah tidak bisa mendatangkan yang sepertinya, jika bisa, maka mu’jizat itu palsu.

7. Mu’jizat boleh bertentangan dengan hukum alam.

Ma’unnah, Ihanah, Istidraj, Irkhas, Sihir, Sya’udah dan Garaib al-Mukhtari’ah.

Ma’unah adalah kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada orang awam untuk melepaskan dirinya dari kesulitan.

Ihanah adalah kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang pembohong yang mengaku sebagai nabi, seperti yang pernah diberikan kepada Musailamah al-Kazzab.

Sedangkan Istidraj adalah kejadian luar biasa yang diberikan kepada orang fasik yang mengaku sebagai wakil Tuhan dengan mengemukakan berbagai dalil untuk menguatkan kebohongannya. Adapaun Irkhas adalah kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada calon nabi.

Sihir adalah suatu cara yang dapat menampilkan berbagai perbuatan yang aneh bagi yang tidak mengerti seluk beluknya, tetapi sebenarnya seluk beluknya itu dapat dipelajari.

As-Sya’udah adalah kejadiaan; luar biasa yang biasa timbul di tangan seseorang, sehingga menampakkan pesona dan kekaguman bagi yang melihatnya, meskipun kejadian itu tidak terjadi.

Garaib al-Mukhtariah adalah karya atau ucapan manusia disebabkan ilmu pengetahuan dan teknologi tertentu, seperti radio, televisi dan telepon, hp dan lain-lain.

Tasawuf dan Tharekat

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

24 thoughts on “Fakta Sufi: Tasawuf dan Tarekat Seiring Sejalan dengan Syari’at”

  1. Kepada Yth. Ummati Press,

    Tolong juga dibahas tentang buku Wahabi ini:

    Judul Buku: Salafi versus Sufi

    Penulis : Ali bin as-Sayyid al-Washifi

    ISBN : 979-9533-81-3

    Penerbit : Penerbit Akbar

    Jumlah Halaman : 234 halaman

    Jenis Cover : Soft Cover

    Sinopsis

    Banyak praktek keagamaan di Dunia Islam saat ini terjerumus dalam paham mistis yang disebarkan oleh para penganut paham tasawuf (sufi) yang menyimpang. Mereka menjauhkan umat dari dua sumber utama agama Islam, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan menggantinya dengan ajaran-ajaran filsafat dan mistis yang bercampur syirik.

    Untuk membuat mudah memahami tema-tema diskusi yang berat, penulis sengaja membuatnya dalam bentuk dialog dengan seorang ahli sufi. Model seperti ini memang membuat kita lebih menikmati dan mengerti tema bahasan yang tengah dikupas oleh penulisnya.

    Saya harap dari Ummati Press ada pembahasan khusus tentang buku ini, sehingga aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah tidak tercemar fahaman Wahabi.
    Terima Kasih.

  2. emang suuuuuuulit kalau hati sudah membatu ….hijab2 ilmu yang sangat tebal dan berkarat …..cuma hidayah ALLOH lah yang bisa menghancurkan hijab tersbut …….kalau cuma argumen and dalil sebanyak apapun gak mempan ….. itu pendapat saya yang bodoh ini ….salam

  3. Ping-balik: Israel Khawatir Iran Dapatkan S-300 Dari Venezuela | Portal Berita … :: berita
  4. ya.. sesama muslim saling menyalahkan, cuma di indonesia terdapat begitu byk perbedaan2 di antara umat Islam (maklum Islam terbanyak ada di Indonesia), bahkan diantaranya saling meledek satu sama lain, akibatnya bencana silih berganti terjadi di Indonesia ini.. susah memang.. para habib dan ulama2, kyai2, ustadz2 saling menjual agamanya demi urusan “perut”! bodoh kalian semua!!

  5. Mewaspadai Sufi

    Sejarah Munculnya Tasawuf dan Sufi

    Tasawuf (????????) diidentikkan dengan sikap berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara’ terhadap dunia. Pelakunya disebut Shufi (selanjutnya ditulis Sufi menurut ejaan yang lazim, red) (?????????), dan jamaknya adalah Sufiyyah (???????????). Istilah ini sesungguhnya tidak masyhur di jaman Rasulullah ?, shahabat-shahabatnya, dan para tabi’in. Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Adapun lafadz Sufiyyah bukanlah lafadz yang masyhur pada tiga abad pertama Islam. Dan setelah masa itu, penyebutannya menjadi masyhur.” (Majmu’ Fatawa, 11/5)
    Bashrah, sebuah kota di Irak, merupakan tempat kelahiran Tasawuf dan Sufi. Di mana sebagian ahli ibadahnya mulai berlebihan dalam beribadah, zuhud, dan wara’ terhadap dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah ?), hingga akhirnya memilih untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuf/?????? ).
    Meski kelompok ini tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan “Sufi”, sebagai nisbat kepada Shuf (??????). Jadi, lafadz Sufi bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di jaman Rasulullah ?, karena nisbat kepadanya adalah Shuffi (???????). Bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah ?, karena nisbat kepadanya adalah Shaffi (???????).
    Demikian juga bukan nisbat kepada makhluk pilihan Allah
    ??????????? ???? ?????? ?????
    karena nisbat adalah Shafawi ?(?????????) . Dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab) meski secara lafadz bisa dibenarkan. Namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.
    Para ulama Bashrah yang mengalami masa kemunculan kelompok sufi, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana diriwayatkan Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahani rahimahullah dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin rahimahullah, bahwasanya telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba. Maka beliau berkata: “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al-Masih bin Maryam! Maka petunjuk Nabi kita lebih kita cintai, beliau ? biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun, dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal. 5, 6, 16)
    Asy-Syaikh Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jami rahimahullah berkata: “Demikianlah munculnya jahiliah Tasawuf, dan dari kota inilah (Bashrah) ia tersebar.” (At-Tasawuf Min Shuwaril Jahiliah, hal. 5)

    Siapakah Peletak Ilmu Tasawuf?

    Ibnu ‘Ajibah, seorang Sufi Fathimi, mengklaim bahwa peletak ilmu Tasawuf adalah Rasulullah ? sendiri. Beliau ?, menurut Ibnu ‘Ajibah, mendapatkannya dari Allah ? melalui wahyu dan ilham. Kemudian Ibnu ‘Ajibah berbicara panjang lebar tentang hal ini dengan sekian banyak bumbu keanehan dan kedustaan, yaitu: “Jibril pertama kali turun kepada Rasulullah ? dengan membawa ilmu syariat. Dan ketika ilmu itu telah mantap, maka turunlah ia untuk kedua kalinya dengan membawa ilmu hakikat. Beliau ? pun mengajarkan ilmu hakikat ini pada orang-orang khusus saja. Dan yang pertama kali menyampaikan Tasawuf adalah ‘Ali bin Abi Thalib ?, dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menimba darinya.” (Iqazhul Himam Fi Syarhil Hikam, hal. 5 dinukil dari At-Tasawuf Min Shuwaril Jahiliyah, hal. 8)
    Asy-Syaikh Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jami rahimahullah berkata: “Perkataan Ibnu ‘Ajibah ini merupakan tuduhan keji lagi lancang terhadap Rasulullah ?. Dengan kedustaan, ia telah menuduh bahwa beliau ? menyembunyikan kebenaran. Dan tidaklah seseorang menuduh Nabi dengan tuduhan tersebut, kecuali seorang zindiq yang keluar dari Islam dan berusaha untuk memalingkan manusia dari Islam jika ia mampu. Karena Allah ? telah perintahkan Rasul-Nya ? untuk menyampaikan kebenaran tersebut dalam firman-Nya :
    ??????????? ?????????? ??????? ??? ???????? ???????? ??? ??????? ?????? ???? ???????? ????? ????????? ??????????
    “Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu. Dan jika engkau tidak melakukannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.” (Al Maidah: 67)
    Beliau juga berkata: “Adapun pengkhususan Ahlul Bait dengan sesuatu dari ilmu dan agama, maka ini merupakan pemikiran yang diwarisi orang-orang Sufi dari pemimpin-pemimpin mereka (Syi’ah). Dan benar-benar ‘Ali bin Abi Thalib ? sendiri yang membantahnya, sebagaimana diriwayatkan Al-Imam Muslim rahimahullah dari hadits Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah ?. Ia berkata: “Suatu saat aku pernah berada di sisi ‘Ali bin Abi Thalib ?. Maka datanglah seorang laki-laki seraya berkata: ‘Apa yang pernah dirahasiakan oleh Nabi ? kepadamu?’ Maka Ali pun marah lalu mengatakan: ‘Nabi ? belum pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang tidak disampaikan kepada manusia! Hanya saja beliau ? pernah memberitahukan kepadaku tentang empat perkara.’ Abu Thufail ? berkata: ‘Apa empat perkara itu wahai Amirul Mukminin?’ Beliau menjawab: ‘Rasulullah ? bersabda: “(Artinya) Allah melaknat seseorang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat seorang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat seorang yang melindungi pelaku kejahatan, dan Allah melaknat seorang yang mengubah tanda batas tanah’.” (At-Tasawuf Min Shuwaril Jahiliah, hal. 7-8)

    Hakikat Tasawuf

    Dari bahasan di atas, Tasawuf jelas bukan ajaran Rasulullah ? dan bukan pula ilmu warisan dari ‘Ali bin Abi Thalib ?. Lalu dari manakah ajaran Tasawuf ini?
    Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Ketika kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka kita dapati sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad ?, dan para shahabatnya yang mulia lagi baik, yang mereka adalah makhluk-makhluk pilihan Allah ? di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi, dan zuhud Budha.” (At-Tasawuf Al-Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28)
    Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Wakil rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya setan yang paling tercela lagi hina untuk menggiring hamba-hamba Allah ? di dalam memerangi Allah ? dan Rasul-Nya ?. Sesungguhnya ia (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang benar ini. Periksalah ajarannya! Niscaya engkau akan mendapati di dalamnya ajaran Brahma (Hindu), Buddha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah.” (Muqaddimah kitab Mashra’ut Tasawuf, hal. 19)2
    Keterangan para ulama di atas menunjukkan bahwasanya ajaran Tasawuf bukanlah dari Islam. Bahkan ajaran ini merupakan kumpulan dari ajaran-ajaran sesat yang berusaha disusupkan ke tengah-tengah umat untuk menjauhkan mereka dari agama Islam yang benar.

    Kesesatan-Kesesatan Ajaran Tasawuf

    Di antara sekian banyak kesesatan ajaran Tasawuf adalah:
    1. Wihdatul Wujud, yakni keyakinan bahwa Allah ? menyatu dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Demikian juga Al-Hulul, yakni keyakinan bahwa Allah ? dapat menjelma dalam bentuk tertentu dari makhluk-Nya (inkarnasi).
    Al-Hallaj, seorang dedengkot sufi, berkata: “Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang makan dan minum.” (Dinukil dari Firaq Al-Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Iwaji, 2/600)
    Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata: “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah dinukil dari Firaq Al-Mu’ashirah, hal. 601)
    Muhammad Sayyid At-Tijani meriwayatkan (secara dusta, pen) dari Nabi ? bahwasanya beliau bersabda:
    ???????? ?????? ??? ???????? ?????
    “Aku melihat Rabbku dalam bentuk seorang pemuda.”
    (Jawahirul Ma’ani, karya ‘Ali Harazim, 1/197, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 615)
    Padahal Allah ? telah berfirman:
    ?????? ????????? ?????? ?????? ?????????? ??????????
    “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
    ????? ????? ??????? ???????? ???????? ????? ???? ???????? …
    “Berkatalah Musa: ‘Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihatku’…” (Al-A’raf: 143)
    2. Seorang yang menyetubuhi istrinya, tidak lain ia menyetubuhi Allah ?
    Ibnu ‘Arabi berkata: “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah!” (Fushushul Hikam).1 Betapa kufurnya kata-kata ini…, tidakkah orang-orang Sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini?
    3. Keyakinan kafir bahwa Allah ? adalah makhluk dan makhluk adalah Allah ?, masing-masing saling menyembah kepada yang lainnya
    Ibnu ‘Arabi berkata: “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dan Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah).2
    Padahal Allah ? telah berfirman:
    ????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ??????????????
    “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
    ???? ????? ???? ??? ????????????? ??????????? ?????? ???? ??????????? ???????
    “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam: 93)
    4. Keyakinan tidak ada bedanya antara agama-agama yang ada
    Ibnu ‘Arabi berkata: “Sebelumnya aku mengingkari kawanku yang berbeda agama denganku. Namun kini hatiku bisa menerima semua keadaan, tempat gembala rusa dan gereja pendeta, tempat berhala dan Ka’bah, lembaran-lembaran Taurat dan Mushaf Al Qur’an.” (Al-Futuhat Al-Makkiyyah).3
    Jalaluddin Ar-Rumi, seorang tokoh sufi yang sangat kondang, berkata: “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti. Bagiku, tempat ibadah adalah sama… masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.”4
    Padahal Allah ? berfirman:
    ?????? ???????? ?????? ???????????? ??????? ?????? ???????? ?????? ?????? ??? ??????????? ???? ??????????????
    “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)
    5. Bolehnya menolak hadits yang jelas-jelas shahih
    Ibnu ‘Arabi berkata: “Kadangkala suatu hadits shahih yang diriwayatkan oleh para perawi-perawinya, tampak hakikat keadaannya oleh seseorang mukasyif (Sufi yang mengetahui ilmu ghaib dan batin). Ia bertanya kepada Nabi ? secara langsung: “Apakah engkau mengatakannya?” Maka beliau ? mengingkarinya seraya berkata: “Aku belum pernah mengatakannya dan belum pernah menghukuminya dengan shahih.” Maka diketahuilah, dari sini lemahnya hadits tersebut dan tidak bisa diamalkan sebagaimana keterangan dari Rabbnya walaupun para ulama mengamalkannya berdasarkan isnadnya yang shahih.” (Al-Futuhat Al-Makkiyah).1
    6. Pembagian ilmu menjadi syariat dan hakikat. Di mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah ?. Oleh karena itu, menurut keyakinan Sufi, gugur baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini.
    Mereka berdalil dengan firman Allah ? dalam Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99:
    ????????? ??????? ?????? ?????????? ??????????
    yang mana mereka terjemahkan dengan: “Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu keyakinan.”
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman, bahwasanya perkataan tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian isi Al Kitab dan mengkufuri sebagian lainnya. Sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat. Hakikat tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen).” (Majmu’ Fatawa, 11/401)
    Beliau juga berkata: “Adapun pendalilan mereka dengan ayat tersebut, maka justru merupakan bumerang bagi mereka. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: ‘Sesungguhnya Allah ? tidak menjadikan batas akhir beramal bagi orang-orang beriman selain kematian’, kemudian beliau membaca Al Qur’an Surat Al-Hijr ayat 99, yang artinya: ‘Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu kematian’.”
    Beliau melanjutkan: “Dan bahwasanya ‘Al-Yaqin’ di sini bermakna kematian dan setelahnya, dengan kesepakatan ulama kaum muslimin.” (Majmu Fatawa, 11/418)
    7. Keyakinan bahwa ibadah kepada Allah ? itu bukan karena takut dari adzab Allah ? (an-naar/ neraka) dan bukan pula mengharap jannah Allah ?. Padahal Allah ? berfirman:
    ?????????? ???????? ??????? ????????? ???????????????
    “Dan peliharalah diri kalian dari an-naar (api neraka) yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (‘Ali Imran: 131)
    ??????????? ????? ?????????? ???? ????????? ????????? ????????? ????????????? ??????????? ????????? ???????????????
    “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada jannah (surga) yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (‘Ali Imran: 133)
    8. Dzikirnya orang-orang awam adalah ??? ?????? ?????? ????? , sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah “???? / Allah”, “???? / huwa”, dan “?? / aah” saja.
    Padahal Rasulullah ? bersabda:
    ???????? ????????? ??? ?????? ?????? ?????
    “Sebaik-baik dzikir adalah ?? ??? ??? ???? .” (HR. At-Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah ?, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 1104).1
    Syaikhul Islam rahimahullah berkata: “Dan barangsiapa yang beranggapan bahwa ?? ??? ??? ???? adalah dzikirnya orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah “???? / Huu”, maka ia seorang yang sesat dan menyesatkan.” (Risalah Al-‘Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari Haqiqatut Tasawuf, hal. 13)
    9. Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu kasyaf (yang dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib.
    Allah ? dustakan mereka dalam firman-Nya :
    ???? ??? ???????? ???? ??? ????????????? ??????????? ????????? ?????? ?????
    “Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml: 65)
    10. Keyakinan bahwa Allah ? menciptakan Nabi Muhammad ? dari nur/ cahaya-Nya, dan Allah ? ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad ?.
    Padahal Allah ? berfirman :
    ???? ???????? ????? ?????? ?????????? ?????? ??????? …
    “Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku …” (Al-Kahfi: 110).
    ???? ????? ??????? ?????????????? ?????? ??????? ??????? ???? ??????
    “(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat.” (Shad: 71)
    11. Keyakinan bahwa Allah ? menciptakan dunia ini karena Nabi Muhammad ?.
    Padahal Allah ? berfirman :
    ????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ?????????????
    “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

    Demikianlah beberapa dari sekian banyak ajaran Tasawuf, yang dari ini saja, nampak jelas kesesatannya. Semoga Allah ? menjauhkan kita dari kesesatan-kesesatan tersebut …

    Keterkaitan Antara Sufi dengan Kelompok “JI”

    Keterkaitan antara Sufi dengan kelompok “JI” (Jama’ah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin) sangatlah erat karena pendiri kelompok “JI” ini adalah seorang Sufi. Jama’ah Tabligh, didirikan oleh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi seorang Sufi dari tarekat Jisytiyyah. Dan seiring bergulirnya waktu, Jama’ah Tabligh kemudian berbai’at di atas empat tarekat Sufi: Jisytiyyah, Qadiriyyah, Sahruwardiyyah, dan Naqsyabandiyyah. (Lihat kitab Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, karya Asy-Syaikh Hasan Janahi, hal. 2, 12.)
    Adapun Ikhwanul Muslimin, pendirinya adalah Hasan Al-Banna, seorang Sufi dari tarekat Hashafiyyah, sebagaimana yang ia katakan sendiri: “…Di Damanhur aku bergaul dengan kawan-kawan dari tarekat Hashafiyyah dan setiap malamnya aku selalu mengikuti acara hadhrah yang diadakan di Masjid At-Taubah…”
    Ia juga berkata: “Terkadang kami berziarah ke daerah Azbah Nawam, karena di sana terdapat makam Asy-Syaikh Sayyid Sanjar, salah seorang dari tokoh tarekat Hashafiyyah.” (Mudzakkiratud Da’wah Wad Da’iyah, hal. 19, 23, dinukil dari kitab Fitnatut Takfir Wal Hakimiyah, karya Muhammad bin Abdullah Al-Husain, hal. 63-64)
    Wallahu a’lam bish shawab.

      1. wah mas dadan ini telat sekali, cuma pembenaran terhadap rekan wahabinya saja….duh dah basi mas, coba scroll down lagi komen-2 di bawah tuh…..haduuuh capeee deeeeehhhh

  6. Membongkar Ajaran Tasawuf : Hakikat Tasawuf
    Penulis: Asy Syaikh Shalih Fauzan al Fauzan

    Hakikat Tasawuf

    Kata “Tasawuf” dan “Sufi” belum dikenal pada masa-masa awal Islam, kata ini adalah ungkapan baru yang masuk ke dalam Islam yang dibawa oleh ummat-umat lain.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- dalam Majmu’ Fatawa berkata: “Adapun kata Sufi belum dikenal pada abad-abad ke tiga hijriah, akan tetapi baru terkenal setelah itu. Pendapat ini telah diungkapkan oleh lebih dari seorang imam, seperti Imam Ahmad bin Hambal, Abu Sulaiman Ad-Darani dan yang lain. Terdapat riwayat bahwa Abu Sufyan Ats-Tsauri pernah menyebut-nyebut tentang sufi, sebagian lagi mengungkapkannya dari Hasan Basri. Ada perbedaan pendapat tentang kata “sufi” yang disandingkan dibelakang namanya, yang sebenarnya itu adalah nama nasab seperti “qurosyi”, “madany” dan yang semacamnya.

    Ada yang mengatakan bahwa kalimat sufi berasal dari kata: Ahlissuffah [4] , hal tersebut keliru, karena jika itu yang dimaksud maka kalimatnya berbunyi : Suffiyy (??????) . Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah barisan (shaf) terdepan dihadapan Allah, hal itu juga keliru, karena jika yang dimaksud demikian, maka yang benar adalah: ?????? . Ada juga yang mengatakan bahwa ungkapan tersebut bermakna: makhluk pilihan Allah (????), itu juga keliru, karena jika itu yang dimaksud, maka ungkapan yang benar adalah Shafawy (???????). Ada yang mengatakan bahwa kalimat sufi berasal dari nama seseorang yaitu Sufah bin Bisyr bin Ad bin Bisyr bin Thabikhah, sebuah kabilah arab yang bertetangga dari Mekkah pada zaman dahulu yang terkenal suka beribadah, hal inipun jika sesuai dari sisi kalimat namun juga dianggap lemah, karena mereka tidak terkenal sebagai orang-orang yang suka beribadah dan seandainyapun mereka terkenal sebagai ahli ibadah, maka niscaya julukan tersebut lebih utama jika diberikan kepada para shahabat dan tabi’in serta tabi’ittabiin. Disisi lain orang-orang yang sering berbicara tentang istilah sufi tidaklah mengenal suku ini dan mereka tentu tidak akan rela jika istilah tersebut dikatakan berasal dari sebuah suku pada masa jahiliyah yang tidak ada unsur Islamnya sedikitpun. Ada juga yang mengatakan –dan inilah yang terkenal- bahwa kalimat tersebut berasal dari kata ????? (wol), karena sesungguhnya itulah kali pertama tasawuf muncul di Basrah.

    Yang pertama kali memperkenalkan tasawuf adalah sebagian sahabat Abdul Wahid bin Zaid sedangkan Abdul Wahid merupakan sahabat Hasan Al-Basri, dia terkenal dengan sikapnya yang berlebih-lebihan dalam hal zuhud, ibadah dan sikap khawatir (khouf), satu hal yang tidak di dapati pada penduduk kota saat itu. Abu Syaikh Al-Ashbahani meriwayatkan dalam sanadnya dari Muhammad bin Sirin yang mendapat berita bahwa satu kaum mengutamakan untuk memakai pakaian dari wol (shuf), maka dia berkata: “Sesung-guhnya ada suatu kaum yang memilih pakaian wol dengan mengatakan bahwa mereka ingin menyamai Al-Masih bin Maryam, padahal petunjuk nabi kita lebih kita cintai, beliau dahulu mengenakan pakaian dari katun atau lainnya, atau ucapan semacam itu”, kemudian setelah itu dia berkata: “Mereka mengaitkan masalah itu dengan pakaian zahir yaitu pakaian yang terbuat dari wol maka mereka mengata-kannya sebagai sufi, akan tetapi sikap mereka tidak terikat dengan mengenakan pakaian wol tersebut, tidak juga mereka mewajibkannya dan menggan-tungkan permasalahannya dengan hal tersebut, akan tetapi dikaitkannya berdasarkan penampilan luarnya saja. Itulah asal kata tasawuf, kemudian setelah itu dia bercabang-cabang dan bermacam-macam” demi-kianlah komentar beliau –rahimahullah- [5] yang menjelaskan bahwa tasawuf mulai tumbuh berkembang di negri Islam oleh orang-orang yang suka beribadah di negri Basrah sebagai dampak dari sikap mereka yang berlebih-lebihan dalam zuhud dan ibadah dan kemudian berkembang setelah itu, bahkan para penulis belakangan sampai pada kesimpulan bahwa tasawuf merupakan pengaruh dari agama-agama lain yang masuk ke negri-negri Islam, seperti agama Hindu dan Nashara. Pendapat tersebut dapat dimengerti berdasarkan apa yang diucapkan Ibnu Sirin yang mengatakan: “Sesungguhnya ada beberapa kaum yang memilih untuk mengenakan pakaian wol seraya mengatakan bahwa hal tersebut menyerupai Al-Masih bin Maryam, padahal petunjuk Nabi kita lebih kita cintai”. Hal tersebut memberi kesimpulan bahwa tasa-wuf memiliki keterkaitan dengan agama Nashrani !!.

    Doktor Sabir Tu’aimah menulis dalam bukunya: As-Sufiyah, mu’takadan wamaslakan (Sufi dalam aqidah dan prilaku): “Tampaknya tasawuf merupakan akibat dari adanya pengaruh kependetaan dalam agama Nashrani yang pada waktu itu para pendetanya mengenakan pakaian wol dan mereka banyak jumlahnya, yaitu golongan orang-orang yang total melakukan prilaku tersebut di negeri-negeri yang dimerdekakan Islam dengan pengaruh tauhid, semuanya memberikan pengaruh yang tampak pada prilaku generasi pertama dari kalangan tasawuf “ [6]

    Syaikh Ihsan Ilahi Zahir –rahimahullah- dalam kitabnya: Tashawwuf Al-Mansya’ Wal mashdar (Tasawuf, Asal Muasal dan Sumber-Sumbernya) berkata: “Jika kita amati ajaran-ajaran tasauf dari generasi pertama hingga akhir serta ungkapan-ungkapan yang bersumber dari mereka dan yang terdapat dalam kitab-kitab tasauf yang dulu hingga kini, maka akan kita dapatkan bahwa disana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara tasauf dengan ajaran-ajaran Al-Quran dan Sunnah, begitu juga kita tidak akan mendapatkan landasan dan dasarnya dalam sirah Rasulullah serta para shahabatnya yang mulia yang merupakan makhluk-makhluk Allah pilihan. Bahkan sebaliknya kita dapatkan bahwa tasawuf diadopsi dari ajaran kependetaan kristen, kerahiban Hindu, ritual Yahudi dan kezuhudan Budha” [7].

    Syaikh Abdurrahman Al-Wakil –rahimahullah- ber-kata dalam mukadimah kitabnya: Mashra’ut Tashaw-wuf (keruntuhan tasauf): “Sesungguhnya tasauf rekayasa setan yang paling hina dan pedih untuk memperbudak hamba Allah dalam rangka memerangi Allah dan Rasul-Nya, diapun merupakan tameng orang-orang Majusi dengan berpura-pura seolah-olah bersumber dari Allah, bahkan dia merupakan tameng setiap sufi untuk memusuhi agama yang haq ini. Perhatikanlah, akan anda dapatkan didalamnya kependetaan Buda, Zoroaster, Manuiah dan Disaniah. Andapun akan mendapatkan didalamnya Platoisme, Ghanusiah, didalamnya juga terdapat unsur Yahudi, Kristen dan Paganisme (berhalaisme) Jahiliyah “ [8]) .

    Dari apa yang diketengahkan oleh para penulis muslim masa kini di atas tentang asal usul tasawuf, dan masih banyak selain mereka yang tidak dise-butkan yang menyatakan hal serupa, maka jelaslah bahwa sufi adalah sesuatu yang dimasukkan ke dalam ajaran Islam yang dilakukan oleh orang-orang yang menjadi pengikutnya dengan cara-cara yang aneh dan jauh dari hidayah Islam.

    Mengenai disebutkannya secara khusus kalangan sufi generasi kemudian (muta’akhirin) adalah karena pada mereka banyak terdapat penyimpangan-penyimpangannya. Sedangkan kaum sufi terdahulu, mereka relatif lebih moderat, seperti Fudhail bin ‘Iad, Al-Junaid, Ibrahim bin Adham dan lain lain.

    Footnote :
    4. Ungkapan yang diberikan kepada para shahabat yang tinggal di masjid Nabawi untuk mendapatkan ilmu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam .
    5. Majmu’ Fatawa, 11/5,7,16,18.
    6. Hal. 17
    7. Hal. 28
    8. Hal. 19
    (Dikutip dari tulisan Asy Syaikh Dr Sholeh Fauzan, judul asli ????? ?????? ????? ???????
    ?? ???? ??????? ??????, Edisi bahasa Indonesia Hakikat Sufi dan Sikap Kaum Sufi terhadap prinsip Ibadah dan Agama. Diterbitkan oleh Depag Saudi Arabia.)

    Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
    Sumber artikel :

  7. sikap ideal kaum salaf dalam menilai tashowuf adalah ” barang siapa bertashowuf tanpa berfiqh maka ia bisa menjadi zindiq, sebaliknya barang siapa ber fiqh tanpa tashowuf maka ia menjadi fasiq” dua ektrim yang sebainya dihindari

  8. mamo cemani gombong,

    Kita semua tahu bahwa di dunia Islam ada pelaku tasawuf (sufi), juga ada penentangnya yaitu pemeluk faham Wahabi. Kita maklum kalau Abu Said sebagai pemeluk Wahabi meng-COPAS artikel anti tasawuf, sebab Salafy Wahabi memang di antara agenda dakwahnya adalah memberantas tasawuf. Kita semua juga tahu berdasar sejarah turun temurun mereka, sejak awal kemunculannya yang dipelopori Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memang ingin menghabisi tasawuf. Tentunya kita tidak akan memaksa untuk menghentikan propaganda mereka dalam menumpas ilmu tasawuf, biarkan saja mereka melancarkan misinya itu. Sementara itu toh kenyataannya para muslimin di seluruh dunia sebagai pengamal ilmu tasawuf masih tetap bisa menikmati zikirnya sampai hari ini dan insyaallah sampai menjelang hari kiamat.

    Kenapa sampai menjelang kiamat? Sebab ketika sudah tidak ada lagi para sufi berzikir menyebut-nyebut nama Allah Swt itu artinya kiamat sudah benar-benar dekat, benar-benar dekat dalam arti benar-benar dekat yang sebenarnya.

    “Tidak akan terjadi kiamat selama masih ada yang mengucapkan (zikir) Allah, Allah, Allah….”, (shahih Imam Muslim, hadits No. 148 dan no.149).

    “Dan Allah tidak akan menyiksa mereka selama engkau (wahai Muhammad) berada di antara mereka. Dan Allah tidak akan menyiksa mereka selama di antara meraka (ada Ummat Muhammad di antara orang-orang ingkar) yang beritighfar.” (Al-Qur’an surat al-anfal-ayat 33).

    Pertanyaan kita adalah, adakah orang-orang Islam yang zikirnya sebanyak para sufi? Adakah orang-orang yang beristghfar sebanyak yang dilakukan orang-orang Sufi? Faktanya para sufi adalah para Muslim yang selalu menyebut nama Allah Swt, selalu istighfar nyaris dalam setiap tarikan nafasnya. Begitulah faktanya tentang para sufi, biarkan saja para penentangnya menyodorkan 1001 teori atas nama ulama mereka toh dosanya akan berbalik kepada mereka sendiri. Sungguh aneh bin ajaib bagaimana bisa orang-orang yang berzikir itu divonis syirik? Bukankah zikir itu termasuk ibadah yang paling disukai Allah SWT? Tentunya ini pertanyaan global saja dan tidak perlu jawaban terperinci.

    Adapun tentang istilah Ilmu Tasawuf ialah merupakan ilmu yang menjelaskan bagaimana praktek IHSAN. Ingat, dalam agama kita ada tiga elemen mendasar yang saling berkaitan yaitu IMAN, ISLAM, dan IHSAN.

    Secara singkat dapat dijelaskan bahwa:
    – Cara Praktek ber-Islam memunculkan ILMU FIQH (SYARI’AH)
    – Cara Praktek ber-Iman memunculkan ILMU AQIDAH (ILMU TAUHID)
    – Cara Praktek ber-Ihsan memunculkan ILMU TASAWUF (TAZKIYATUN NUFUS)

    Saudara Ahmad Syahid berkata: sikap ideal kaum salaf dalam menilai tashowuf adalah ”Barang siapa bertashowuf tanpa berfiqh maka ia bisa menjadi zindiq, sebaliknya barang siapa ber-fiqh tanpa tashowuf maka ia menjadi fasiq” dua ekstrim yang sebainya dihindari. Maksudnya agar kita menjadi hamba Allah SWT yang ideal mestilah berfiqh (menjalankan syari’ah) dan bertasawuf (tazkiyatun Nafsi) agar tidak menjadi ekstreem (zindiq dan atau fasiq).

    Penjelasan panjang lebar sudah ada dalam artikel di atas, silahkan dibaca dengan hati terbuka.
    Wallahu a’lam….

  9. alkhamdulillah ….. makasih pencerahannya …@ Abu said bagaimana anda bisa menjelaskan teori Isra Miraj Nabi Muhammad SAW secara rinci dan Ilmiah ??????? sebab Islam kan ilmiah dan amaliah………

  10. maaf satu lagi @Abu Said ….janganlah anda memfitnah tasawuf memiliki keterkaitan dgn nasrani …… mana buktinya ( versi keren anda MANA DALILNYA ) ngomong asal aja ……apa diajarkan spt itu di salafi/wahabi ya ???? boleh fitnah yang penting tujuan tercapai ???????

  11. org abu-abu emang gtu…… biarin aja mrk mencela dan menuduh yg macam tentang para sufy…. terbukti para sufy lah yg mnghidpkan islam ini…. sedangkan para wahaby…???? apa kontribusi mrk utk islam ini….???? bisa nya cuma mngkritik org,mencela,dan cuma mrk lah islam yg plg bnr…. Dasar wahaby/salafy palsu edan….!!!

  12. ga usah heran sama anak-anaknya pak wahhab. bagi kaum sufi, cacian dan celaan dari anak2 pak wahhab laksana kotoran sapi, kambing, ayam dan lain2 yang tertimbun ditanah dan toh akhirnya jadi pupuk yang menyuburkan tanah itu sendiri. Sufi itu seperti tanah.
    Saya pernah bergaul dengan orang sufi sekaligus pengusaha kaya raya. Wow, dalam kehidupannya tidak ada yang tidak berpegang teguh pada syariat Islam, baik dalam mendidik anak istri juga cucu, dalam bisnis, dalam pergaulan dengan sesama. Bahkan harta yang diinfaqkan untuk agama sangat banyak tanpa koar-koar. Wajahnya cerah penuh cahaya keimannan. Melihat wajahnya yang teduh sudah bisa bikin tentram rasanya. Saya hanya sempat bergaul selama 2 tahun dan kini beliau sudah meninggal beberapa waktu yg lalu.
    Soal artikel sufi saya banyak sekali dan kapan2 saya muat disini.

  13. Assalamualaikum
    Kita gak usah bingung dengan ucapan atau artikel dari wahabi, memang dari dulunya wahabi begitu. Seperti diketahui, Islam akan terus diutak atik oleh kaum yahudi n nasrani apalagi dunia tasawuf.

  14. Kang Lemah ireng dan Kang Ummati, mohon dibahas dengan jelas perbedaan tassawuf islam dengan orang nasrani dan yahudi,
    mohon maaf kalau orang sufi dicap berlebihan dalam beribadah, apakah itu tidak meniru Kanjeng Nabi, lha wong Nabi beribadah (sholaT) saja sampai kaki Beliau bengkak, kita sebagai ummatnya apakah tidak boleh meniru Panutannya………sekian

  15. Mengapa sekarang ini tasawuf semakin diminati orang? Manusia modern sebenarnya manusia yang mengalami alienasi (keterasingan) jiwa. Persaingan dalam berebut benda ternyata melelahkan pikiran. Ketegangan-ketegangan dalam hidup sering dialami. Dalam kehidupan modern, manusia sering terperangkap oleh kebahagian-kebahagian semu. Yaitu, kebahagiaan yang direkayasa, bukan kebahagiaan yang tumbuh dari dalam diri manusia itu sendiri. Dalam kehidupan modern manusia diiming-iming dengan status, posisi, sertifikat, merek dan berbagai macam simbol. Akhirnya pikiran manusia melekat pada topeng-topeng dunia. Jika sudah terjerat oleh topeng kehidupan, manusia merasa terjunjung dan tersanjung. Yang dalam keadaan tertentu menyebabkan lupa diri. Nah, untuk menghadapi problema psikologis ini ada yang lari ke berbagai macam hiburan dari yang ringan hingga yang paling berat dan ada pula yang mencari solusi damai dengan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan. Ternyata, yang dirasakan bersentuhan langsung dengan kesejukan hati adalah “tasawuf atau pengolahan qolbu”. Itulah sebabnya tasawuf sekarang ini banyak diminati orang, baik oleh orang-orang Islam itu sendiri, maupun orang-orang non-muslim. Bahkan di Eropa maupun Amerika sekarang ini banyak orang non-muslim yang menjadi anggota jamaah tasawuf.

    Tentu saja hal ini bisa menimbulkan kecemburuan di kalangan umat Islam formalis, yaitu orang-orang Islam yang lebih berpegang teguh pada aturan lahiriah agama atau syariat. Menghadapi perkembangan yang pesat ini kalangan formalis merasa kehilangan pamor. Karena itu beberapa orang (tidak banyak) di kalangan formalis ini menulis buku yang isinya mengecam ajaran tasawuf, bahkan ada yang tega memfitnah bahwa ajaran tasawuf itu bid’ah dan menyesatkan manusia.
    Orang yang membid’ahkan tasawuf adalah orang-orang yang tidak memahami ajaran tasawuf, pada pokoknya mereka tidak memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Mereka menganggap tasawuf itu lahir dari kalangan luar Islam. Untuk membuktikan ini mereka mencari-cari definisi kata tasawuf, yang katanya tidak ada di dalam Al Quran dan Al Hadis. Jadi, mereka lebih disibukkan mencari kulit daripada mencari isi atau substansi ajaran. Jika saja mereka sadar bahwa apa yang diajarkan oleh tasawuf itu budipekerti atau akhlak yang diajarkan oleh Rasulullah, maka mereka pasti akan berhenti membid’ahkan para sufi. Karena landasan tasawuf adalah kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, mengamalkan Al Qur’an dan hadist serta melakukan zikir sebanyak-banyaknya dan akhirnya menjadi hamba yang bermanifestasi kepada Illahi. Mengapa? Karena apa yang dipraktikkan oleh Rasulullah dalam kesederhanaan hidupnya, apa yang diteladani oleh Abu Bakar dalam menyumbangkan hartanya, apa yang dicontohkan oleh Umar bin Khaththab dalam istana gubuknya, serta apa yang dilakukan oleh Ali bin Thalib ra dalam menegakkan keadilan, itulah yang disebut tasawuf / pengolahan qolbu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker