Berita Fakta

Fakta Perbedaan Antara Akidah Wahabi dan Akidah Islam ( bag. I )

Wahabi Mujassimuun: ALLAH ITU BERSEMAYAM DI ATAS ‘ARSY DAN BERADA DI ATAS LANGIT

“Perbedaan Akidah Wahabi dan Islam” (Bag: I)

 

Anwar Badruzzaman

Saya sering diminta untuk membuat daftar hal-hal yang berbeda antara akidah versi Wahabi  dan Islam. Perbedaan utama adalah bahwa ketika Wahabi mengatakan: ”Allah tidak menyerupai ciptaan-Nya”, maksud mereka adalah: bahwa ALLAH  BERBEDA DENGAN CIPTAAN-NYA DALAM CARA SEPERTI CIPTAAN berbeda satu sama lain, INI MIRIP seperti dalam kasus sidik jari, Semua orang memiliki sidik jari yang berbeda.

Jadi ketika mereka mengatakan: Allah mempunyai tangan, tetapi “tidak seperti TANGAN kita,” artiNYA memiliki karakteristik fisik yang berbeda, seperti warna, jumlah jari, atau BENTUK, atau sesuatu seperti itu. KENYATAAN ini TERJADI, karena mereka percaya bahwa Allah adalah sesuatu yang dapat menunjuk arah dan memiliki batas, yaitu bentuk dan ukuran.

Untuk mempermudah, mari kita menyebutnya JISIM / tubuh, karena tubuh adalah segala sesuatu dengan ukuran dan bentuk, WALAU TERKADANG banyak Wahabi tidak suka DENGAN kata ini.  Semua kreasi seperti yang KITA amati oleh mata kita, memiliki bentuk, dan berbeda hanya dalam bentuk  dan ukuran. Karena Wahabi percaya bahwa tuhan mereka adalah JISIM / tubuh, KARENA keyakinan mereka adalah: ALLAH hanya berbeda DENGAN CIPTAAN-NYA dalam karakteristik tubuh, YAKNI BERBEDA DALAM bentuk dan ukuran SAJA. Ini berarti bahwa ALLAH menjadi bagian identik dengan ciptaan, DAN bagian yang berbeda cara.

Di sisi lain, kaum Sunni (Ahlussunnah Wal Jama’ah) mengatakan bahwa realitas keberadaan Allah bena- benar tidak menyerupai ciptaanNya. Mereka tidak percaya bahwa Allah berbeda dengan ciptaan-Nya hanya dalam hal-hal SEPERTI ciptaan berbeda satu sama lain. DENGAN alasan ini, kaum Sunni (Aswaja)  mengatakan bahwa realitas keberadaan Allah bukanlah tubuh. Artinya Dia tanpa ukuran atau bentuk.

Cara lain untuk mengekspresikan kepercayaan Sunni DALAM HAL non kemiripan Allah-DENGAN ciptaan adalah bahwa kemiripan apa pun DENGAN MAHLUK PASTI butuh spesifikasi. Padahal semestinya Realitas keberadaan Allah tidak memerlukan spesifikasi, karena BILA membutuhkan spesifikasi berarti menjadi tergantung pada sesuatu yang lain yang MENENTUKAN SPESIFIKASINYA. Dengan kata lain, berarti bergantung pada pencipta untuk memberikan spesifikasi dan keberadaan sesuai dengan spesifikasi. keberadaan Tubuh, yang mencakup ukuran dan bentuk, sangat membutuhkan spesifikasi ukuran dan bentuknya, karena tidak ada bentuk atau ukuran YANG memiliki prioritas lebih tinggi untuk eksistensi intrinsik. Tidak ada ukuran lebih mungkin ada dari yang lain, tanpa pengaruh dari selain itu. Demikian juga, bentuk tidak lebih mungkin ada dari yang lain tanpa pengaruh dari selain itu.

DAN Apa pun yang memiliki keberadaan SEBAGAIMANA tubuh, MAKA ITU kreasi (DI CIPTA), MAKA tidak BISA menjadi Pencipta. Itulah sebabnya, PARA ULAMA SALAF meskipun mereka tidak menjelaskan secara detail TENTANG SIFAT MUTASABIHAT, MEREKA selalu menyatakan bahwa SIFAT Allah tanpa bagaimana, yaitu tanpa spesifikasi, tanpa bentuk atau perubahan. PENDAPAT MEREKA SEPERTI ITU KARENA kedekatan dengan MASA kenabian, mereka memiliki pikiran besar dan pemahaman yang mendalam tentang agama. Mereka memahami bahwa Allah tidak terbatas atau memiliki batas, atau kurang sempurna dalam arti apapun, dan bahwa Dia tidak dalam arah atau berubah. Mereka menyatakan semua ini dengan kalimat sederhana: “tanpa bagaimana.”  Mereka mengambil kalimat ini
dari Alquran:  “…  DIA benar-benar tidak menyerupai apapun”(QS AS SYUR0:11).  Artinya, realitas keberadaan-Nya tidak menyerupai ciptaan.

BACA :  Nabi Mengatakan Mayit Bisa Mendengar, Ulama Wahabi Mengingkarinya

Sebagai kesimpulan, keyakinan Wahabi adalah bahwa Allah berbeda dari ciptaan / MAHLUK SEPERTI cara CIPTAAN berbeda satu sama lain. Mereka percaya bahwa keberadaan-Nya adalah tubuh, seperti sang makhluk. IniLAH perbedaan YANG paling mendasar antara Sunni (Aswaja) dan Wahabi.

Perbedaan inti lainnya, YAITU konsep unik mereka TENTANG syirik, YANG benar- benar merupakan konsekuensi dari HAL DI ATAS. Mari saya jelaskan …. Ketika manusia menyembah bentuk 3 dimensi, ENTAH BAGAIMANA mereka merasa perlu untuk membuat YANG DISEMBAHNYA berbeda dari benda lain. Alasannya adalah bahwa ITU ADALAH realitas penting dari keberadaan apa yang mereka sembah, BEGITU JUGA semua hal lain YANG BERSANGKUTAN DGN YANG MEREKA SEMBAH. TETAPI…, bentuk 3 dimensi TETAP SAJA hanya bentuk 3 dimensi sehubungan dengan jenis keberadaan, yaitu BERUPA JISIM atau tubuh.

Dengan demikian, perbedaan ini hanya bisa MEREKA DAPATKAN dalam hal:
1-Apa yang dilihat, yaitu penampilan dalam bentuk, ukuran atau warna, atau lokasi.
2-Beberapa karakteristik yang tak terlihat.
3-Bagaimana seseorang berperilaku terhadap objek ini.

Itulah SEBABNYA mengapa Anda akan menemukan Buddha atau anemist (orang-orang yang menyembah pohon-pohon dan benda lainnya yang ditemukan) menghiasi idola (TUHAN) nya DENGAN bentuk aneh, seperti beberapa kepala, dan jika dia kaya dia akan membeli HIASAN dari emas. Anda juga akan menemukan MEREKA memasukkan TUHAN nya ke dalam sebuah lokasi khusus di rumahnya. Ini BERKAITAN DENGAN penampilan YANG MEREKA SEMBAH. Ia akan mengklaim bahwa berhala memiliki kekuatan, atau pengetahuan, atau sejenisnya, untuk mencoba merasionalisasi ibadah KEPADANYA. Lalu ia akan MELAKUKAN ritual upacara khusus di hadapan fisiknya. Banyak perhatian yang diCURAHKAN DI lokasi idola, JUGA perilaku upacara yang berhubungan dengan lokasi ini, dan hiasan untuk membedakannya dari objek lainnya. Hal ini untuk berkontribusi dalam ilusi bahwa pada dasarnya TUHAN MEREKA berbeda dari benda lain, dan membuatnya tampak masuk akal bahwa itu adalah tuhan.

BACA :  Daftar Penerbit Wahabi dari Berbagai Variant Wahabi di Indonesia
banner gif 160 600 b - Fakta Perbedaan Antara Akidah Wahabi dan Akidah Islam ( bag. I )

Para Wahabi adalah sama seperti penyembah berhala biasa, mereka menyembah apa yang pada dasarnya adalah sebuah hal yang 3 dimensi. Namun, objek ibadah mereka tidak ada, sehingga mereka hanya akan mengatakan tentang penampilannya, “tidak seperti benda lain dan tidak tahu bagaimana.” DAN cara KETUHANAN mereka SEPERTI INI DI biarkan terbuka, dan BISA DI KETAHUI OLEH UMAT Buddha, SeHinGGa kaum BUDHA BERKATA: “objek KAMI jauh lebih baik daripada Anda, KARENA ANDA” ketika ditanya “bagaimana?” ANDA berkata, “kami tidak tahu, tapi POKOKNYA ADA BERSEMAYAM DI ARASY. ”
Pada aspek penampilan lokasi, lokasi khusus TUHAN WAHABI adalah  “di atas dunia dalam arah.”  Di sini mereka telah melampaui semua penyembah berhala lainnya dengan memilih lokasi yang benar-benar khusus yang tidak dapat dijangkau oleh indera. Tapi mereka berada pada keSALAHAN konseptual KARENA KE ESAAN TIDAK MUTLAK UNTUK ALLAH, TOH BANYAK KESAMAANNYA di bumi, Lagi pula, setiap objek fisik tunggal adalah “satu” dalam hitungan, tetapi tidak dalam bentuk, SEHINGGA KONSEP MEREKA sangat berkabut, dan mereka memiliki cukup dilema. YANG bisa MEREKA lakukan adalah mengatakan bahwa tubuh yang mereka sebut Allah (tetapi sebenarnya BUKAN DIA) layak DISembah, sedangkan obyek lain YANG SAMA FISIK, JISIM, badan tidak LAYAK DI SEMBAH..! Tapi apa yang menjadi dasar mereka untuk klaim ini?

Mereka tidak bisa klaim ini, didasarkan pada kenyataan adanya objek ibadah mereka, karena tubuh, dan badan MEMILIKI sangat banyak mode yang sama DALAM eksistensi. Mereka tidak bisa mengklaim perbedaan berdasarkan karakteristik yang tak terlihat, karena jika kemahakuasaan, kemahatahuan dan keberadaan kekal bisa menjadi SIFAT dari DZAT YANG 3 dimensi ini,  maka tidak ada cara rasional UNTUK membuktikan bahwa SESUATU YANG seperti itu bisa memiliki SIFAT YANG TADI DI SEBUTKAN.  Sementara DZAT LAIN YANG SAMA SEPERTI ITU tidak..! Artinya mendasarkan pada klaim bahwa benda ini memiliki semua macam karakteristik seperti kekuasaan DLL, tidak akan memuaskan pencarian mereka untuk arti TAUHID YANG membuat mereka berbeda dari penyembah berhala lainnya.

DARI SEMUA PENJELASAN DI ATAS, semua penyembah berhala mengklaim BAHWA BERHALANYA memiliki segala macam kekuatan, sehingga hal ini tidak akan membuat WAHABI berbeda dengan cara yang esensial. Hal ini terutama bila dibandingkan dengan agama YANG MEMILIKI kepercayaan yang sama mengenai realitas keberadaan pencipta, yaitu JISIM, tubuh, seperti kristen, dan terutama orang-orang Yahudi. Dalam prakteknya, bagaimanapun, Wahabis telah mencapai keuntungan lebih DARI penyembah benda lainnya, karena Wahabis bisa memecahkan berhala fisik, dan tidak ada penyembah berhala MAMPU bersaing UNTUK membuktikan bahwa mereka salah, bahkan mereka sendiri tidak dapat membuktikan bahwa mereka benar.

BACA :  Gus Mus: Selamat Tahun Baru, Kawan

Dalam HAL ini, Wahabi merasa lebih unggul dalam permainan membedakan Sembahan berhala NYA (seperti ketika Hindu klaim berhala-berhala mereka adalah lebih baik daripada Bhuddists dan sebaliknya). Namun, hal ini sangat lemah dengan sendirinya, karena didasarkan tidak adanya fisik TUHAN mereka, dan keberadaan TUHAN YANG fantastis tidak mungkin untuk DIbuktikan. Hal ini karena benda-benda fisik tidak dapat dibuktikan ada kecuali dengan observasi. Bukti bagi keberadaan pencipta yang digunakan Muslim tidak membantu mereka (WAHABI), karena KONSEP MUSLIM didasarkan pada gagasan bahwa apa PUN yang memiliki ukuran dan bentuk dan perubahan membutuhkan pencipta, berarti bahwa berhala mereka membutuhkan satu PENCIPTA juga.

Di sinilah konsep mereka tentang syirik datang untuk bermain, mereka PERLU sesuatu untuk membuat TUHAN mereka benar-benar berbeda dalam klaim MONOTEIS mereka secara unik. Mereka merasa perlu untuk membuat objek menyembah mereka berbeda dari obyek lain dengan cara yang lebih nyata. Mereka adalah orang-orang yang tidak berpikir banyak TENTANG non-fisik. Mereka, atau lebih tepatnya Ibnu Taimiyah, menemukan konsep keESAAN Allah itu menjadi masalah perilaku , soal siapa yang dapat dipanggil untuk membantu dan yang tidak bisa. HAL Ini sama dengan perilaku Buddha YANG penuh dgn upacara sekitar TUHAN MEREKA ditempatkan, untuk membedakannya dari badan- badan lain. Mereka membuat satu-satunya badan / BERHALA yang BOLEH dipanggil untuk membantu, terlepas dari apakah orang YANG MEMANGGIL  MEMINTA  BANTUAN  ITU percaya BAHWA YANG dipanggil memiliki kekuatan independen yang aktual dan nyata atau tidak?

Di antara perbedaan lain adalah, seperti mengatakan bahwa semua teks kitab suci harus dipahami secara harfiah. Kenyataannya ini adalah ide-ide tidak konsisten yang mereka gunakan hanya pada saat sesuai tujuan mereka. Kita semua tahu, jika itu tidak sesuai tujuan mereka, mereka akan LARI DARI semua ARTI harfiah dan kamus bahasa Arab dalam pemahaman tentang kata, seperti halnya dengan ARTI KALIMAT  “kħalaqa”:  membuat, dan aĥdatsa: MENGADAKAN ATAU membawa ke dalam keberadaan yang membutuhkan tempat danio adalah sifat makhluq. Ini dilakukan ketika mereka mengatakan bahwa SIFAT AL QURAN yang muhdats tetapi BUKAN makhluuq. Suatu interpretasi yang sangat  jauh dari masuk akal…!! Sungguh itu suatu yang kotradiktif,  bukankah setiap yang muhdats adalah merupakan sifat makhluq? Meraka tidak berani konsisten karena para Ulama’ Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah sepakat untuk mengkafirkan siapa yang meyakini bahwa Al-Qur’an itu makhluk. ( Anwar Badruzzaman  )

 

bersambung…..

 

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

136 thoughts on “Fakta Perbedaan Antara Akidah Wahabi dan Akidah Islam ( bag. I )”

  1. Para wahabis Al Mujassimuun dalam argumentasi sering mengatakan Allah punya tangan tapi tidak seperti tangan kita. biasanya mereka memberi contoh, kera punya tangan tapi tangan kera tidak seperti tangan kita, dll.

    Muslimin ahlus sunnah waljama’ah mengatakan maha suci Allah dr apa yg mereka sifatkan. Apa mereka tdk berpikir kesempurnaan bagi kita hanyalah bersifat nisbi baik bagi kita belum tentu baik menurut bangsa kera?

    coba aja iseng2 tanyakan pada kera tentang tangannya. bagus mana antara tangan kera dan tangan manusia? Di sinilah wahaby tak menyadari telah merendahkan keagungan Allah yang Maha Sempurna dengan mengatakan “Tuhan punya Tangan tapi tak seperti Tangan Mahluk. Di sini terselip kalimat “perbandinagan”, apakah ini tidak kelewatan, yang implikasinya bisa merendahkan Allah Swt?

    Cobalah pikirkan masak-masak, apakah tak mungkin manusia yg biasanya memang suka kurang ajar itu bisa mengatakan bahwa tangan manusia lebih baik dari tangan Tuhan?

    Oleh karena itu janganlah membuat kalimat yang memungkinkan terjadinya “PERBANDINGAN” antara Allah dan makhluknya. Kaum Wahabi / salafi kalau mau sembuh dari penyakit “MUJASSIM” maka berhentilah dari yg demikian itu. Wallhu a’lam.

    1. Ustadz Ahmad Sayahid, wah…. lama nggak kelihatan ke mana aja, ustadz, sehat2 aja kan? Saya sangat senang atas kehadiran ustadz, selamat bergabung kembali ustadz,

    1. 1). Ustadz Ahmad syahid, syukron kunjungannya, harapan kami, semoga di sela-sela kesibukan antum ada kesempatan dan waktu untuk berdakwah kembali lewat Ummati Press.

      2). Mas Ucep, Penulisnya bertanggung jawab sepernuhnya, beliau selalu bersemngat menyampaikan kebenaran berdasarkan pemahaman Para Ulama Ahlussunnah Wal jamaah.

      3). Mas Jalu, insyaallah bagian 2 akan segera menyusul….

      1. Terima kasih mas @admin, ane Yakin dan tetap percaya ustad2 disini akan siap berargumentasi dengan para wahabiyan dan ane cuma bisa dukung dan siap juga berargumentasi dengan wahabiyan.
        Maju terus mas @admin dalam membela Ahlus Sunnah Waljamaah, ane cuma baru bisa oceh-oceh aja.

  2. bila pemahaman tajsim dijadikan tolak ukur kebenaran bertauhid dan pemahaman ta’wil disebut sebagai bentuk kekufuran. Barapa puluh ulama besar yang akan menjadi korban pentakfiran tersebut?
    sudah seharusnya para wahabi bertaubat dari pemikiran tajsim dan mau menerima ta’wil sebagai solusi menyelamatkan diri dari berfikir tentang bentuk Allah dan menutup kran interpretasi terhadap wujud Allah karena ada faham wahabi yang katanya bentuk Arrahman sepertihalnya bentuk Adam.
    salam kenal untuk semua temen Aswaja khususnya Ust Admin.
    Allahu Akbar….

  3. Wahabi or Salafi itu sdh jelas2 Mujassim tetapi mereka sendiri tidak merasa bahwa dirinya Mujassim, aneh tapoi nyata, pantas masuk buku catatan MURI.

  4. ahmadsyahid say

    artikel yang bagus , asal muasal penyembahan berhala adalah Tasybih dan tajsim , semoga kaum wahabi tersadarkan.

    he..he..he..

    beginilah orang yang bier bicara secara akal dan filsafat tanpa disertai dalil

    bukannya asal muasanya penyembahan berhala itu dimulai dari kaum anda para tasawuf dan kaum kuburiyin he..he..

    banyak dalil menjelas begitu..he..he..

    1. @ummu abdillah

      Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab sahih masing-masing meriwayatkan dari hadits sahabat Abdullah ibn Mas’ud, berkata: “Datang seorang pendeta kepada Rasulullah, berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah di hari kiamat akan memegang seluruh lapisan langit dengan satu jari, seluruh lapisan bumi dengan satu jari, gunung-gunung dan pepohonan dengan satu jari”. Dalam satu riwayat mengatakan: “Air dan tanah dengan satu jari, kemudian Allah menggerakan itu semua”. Maka Rasulullah tertawa lalu bersabda [turunnya firman Allah swt]: ”Dan tidaklah mereka dapat mengenal Allah dengan sebenar keagungan-Nya”.

      Imam Ibn Al Jauzi dalam kitabnya DAF’U SYUBAH AT-TASYBIH BI-AKAFFI AT-TANZIH mengatakan: “Tertawanya Rasulullah dalam hadits di atas sebagai bukti pengingkaran beliau terhadap pendeta (Yahudi) tersebut, dan sesungguhnya kaum Yahudi adalah kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya (Musyabbihah). Lalu turunnya firman Allah swt. adalah bukti nyata lainnya bahwa Rasulullah mengingkari mereka (kaum Yahudi)”.

    2. @ummu abdillah

      tasawwuf itu titik konsentrasinya adalah pendidikan dan pensucian ruhani (Ishlâh al-A’mâl al-Qalbiyyah, atau Tazkiyah an-Nafs). Tasawuf yang tercela adalah yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah.

      Anda baca saja sejarah penaklukan konstantinopel, sultan Mehmed II atau yg dikenal dengan Muhammad Al Fatih adalah seorang shufi dari tarekat Naqsabandiyah, begitupun para prajuritnya. Jika semua tasawuf itu sesat, maka Rasulullah saw. tidak akan memuji Muhhammad Al Fatih dan pasukannya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. : “….konstantinopel itu akan ditaklukan, sebaik baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik baik pasukan adalah pasukannya”.

      orang yang saudara gelari kaum kuburiyyun, mereka melaksanakan sunnah Nabi Muhammad saw. sesungguhnya, andalah yang mendustakan Nabi dengan memberi gelar kuburiyyun pada para pengikutnya. Berikut buktinya :

      Pada dasarnya ziarah kubur itu sunnat dan ada pahalanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
      “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dulu aku melarang kamu ziarah kubur. Sekarang ziarahlah.” (HR. Muslim).

      Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya dari Abu Sa’id al Khudri –semoga Allah meridlainya-, ia berkata, Rasulullah bersabda :

      “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat (di masjid) kemudian ia berdo’a: “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan derajat orang-orang yang saleh yang berdo’a kepada-Mu (baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal)…………….”.

      Orang yang berziarah ke makam para wali dengan tujuan tabarruk, maka ziarah tersebut dapat mendekatkannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menjauhkannya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Orang yang berpendapat bahwa ziarah wali dengan tujuan tabarruk itu syirik, jelas keliru. Ia tidak punya dalil, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Al-Hafizh Waliyyuddin al-’Iraqi berkata ketika menguraikan maksud hadits: “Sesungguhnya Nabi Musa u berkata, “Ya Allah, dekatkanlah aku kepada tanah suci sejauh satu lemparan dengan batu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, seandainya aku ada disampingnya, tentu aku beritahu kalian letak makam Musa, yaitu di tepi jalan di sebelah bukit pasir merah.”

      Ketika menjelaskan maksud hadits tersebut, al-Hafizh al-’Iraqi berkata: “Hadits tersebut menjelaskan anjuran mengetahui makam orang-orang saleh untuk dizarahi dan dipenuhi haknya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan tanda-tanda makam Nabi Musa u yaitu pada makam yang sekarang dikenal masyarakat sebagai makam beliau. Yang jelas, tempat tersebut adalah makam yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.” (Tharh al-Tatsrib)

      “Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi berkata, Abu Nashr bin Qatadah dan Abu Bakar al-Farisi mengabarkan kepada kami, Abu Umar bin Mathar mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Ali al-Dzuhli mengabarkan kepada kami, Yahya bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Malik al-Dar, bendahara pangan Khalifah Umar bin al-Khaththab, bahwa musim paceklik melanda kaum Muslimin pada masa Khalifah Umar. Maka seorang sahabat (yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani) mendatangi makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mengatakan: “Hai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu karena sungguh mereka benar-benar telah binasa”. Kemudian orang ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan beliau berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya “bersungguh-sungguhlah melayani umat”. Kemudian sahabat tersebut datang kepada Umar dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Lalu Umar menangis dan mengatakan: “Ya Allah, saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu”. Sanad hadits ini shahih. (Al-Hafizh Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, juz 7, hal. 92. Dalam Jami’ al-Masanid juz i, hal. 233, Ibn Katsir berkata, sanadnya jayyid (baik). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Khaitsamah, lihat al-Ishabah juz 3, hal. 484, al-Khalili dalam al-Irsyad, juz 1, hal. 313, Ibn Abdil Barr dalam al-Isti’ab, juz 2, hal. 464 serta dishahihkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, juz 2, hal. 495).

      Apabila hadits di atas kita cermati dengan seksama, maka akan kita pahami bahwa sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiyallahu ‘anhu tersebut datang ke makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan tujuan tabarruk, bukan tujuan mengucapkan salam. Kemudian ketika laki-laki itu melaporkan kepada Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu, ternyata Umar radhiyallahu ‘anhu tidak menyalahkannya. Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu juga tidak berkata kepada laki-laki itu, “Perbuatanmu ini syirik”, atau berkata, “Mengapa kamu pergi ke makam Rasul shallallahu alaihi wa sallam untuk tujuan tabarruk, sedangkan beliau telah wafat dan tidak bisa bermanfaat bagimu”. Hal ini menjadi bukti bahwa bertabarruk dengan para nabi dan wali dengan berziarah ke makam mereka, itu telah dilakukan oleh kaum salaf sejak generasi sahabat, tabi’in dan penerusnya.

      JADI, MENURUT UMMU ABDILLAH, SALAH SEORANG SAHABAT BILAL BIN HARIST RHADIYALHU’ANHU ADALAH SEORANG KUBURIYYUN, BEGITUPUN DENGAN SAHABAT UMAR RHADIYALHU’ANHU KARENA TIDAK MENYALAHKANNYA. KASIHAN KEDUA ORANG SAHABAT YANG MULIA TERSEBUT, KARENA MENURUT UMMU ABDILLAH, MEREKA TELAH MENGAJARKAN PENYEMBAHAN BERHALA.

  5. Pada hakikatnya, Asy’ariyyah tidak dapat dinisbatkan kepada Ahlus Sunnah, karena beberapa perbedaan prinsip yang mendasar, di antaranya:
    1. Golongan Asy’ariyyah menta’-wil sifat-sifat Allah Ta’ala, sedangkan Ahlus Sunnah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti sifat istiwa’ , wajah, tangan, Al-Qur-an Kalamullah, dan lainnya.
    2. Golongan Asy’ariyyah menyibukkan diri mereka dengan ilmu kalam, sedangkan ulama Ahlus Sunnah justru mencela ilmu kalam, sebagaimana penjelasan Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika mencela ilmu kalam.
    3. Golongan Asy’ariyyah menolak kabar-kabar yang shahih tentang sifat-sifat Allah, mereka menolaknya dengan akal dan qiyas (analogi) mereka.[25]
    [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, N/M

    1. @Ahlussunah wal jama’ah : “Pada hakikatnya, Asy’ariyyah tidak dapat dinisbatkan kepada Ahlus Sunnah”.

      jawab :
      Al-Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah mengutip perkataan al-Imâm al-Ma’ayirqi; seorang ulama terkemuka dalam madzhab Maliki, menuliskan sebagai berikut: “Sesungguhnya al-Imâm Abu al-Hasan bukan satu-satunya orang yang pertama kali berbicara membela Ahlussunnah. Beliau hanya mengikuti dan memperkuat jejak orang-orang terkemuka sebelumnya dalam pembelaan terhadap madzhab yang sangat mashur ini. Dan karena beliau ini maka madzhab Ahlussunnah menjadi bertambah kuat dan jelas. Sama sekali beliau tidak membuat pernyataanpernyataan yang baru, atau membuat madzhab baru.

      Masih dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subki juga menuliskan sebagai berikut: “Aku telah mendengar dari ayahku sendiri, asy-Syaikh al-Imâm (Taqiyuddin as-Subki) berkata bahwa risalah akidah yang telah ditulis oleh Abu Ja’far ath-Thahawi (akidah Ahlussunnah yang dikenal dengan al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah) persis sama berisi keyakinan yang diyakini oleh al-Asy’ari, kecuali dalam tiga perkara saja. Aku (Tajuddin as-Subki) katakan: Abu Ja’far ath-Thahawi wafat di Mesir pada tahun 321 H, dengan demikian beliau hidup semasa dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari (w 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H). Dan saya tahu persis bahwa orang-orang pengikut madzhab Maliki semuanya adalah kaum Asy’ariyyah, tidak terkecuali seorangpun dari mereka. Demikian pula dengan para pengikut madzhab asy-Syafi’i, kebanyakan mereka adalah kaum Asy’ariyyah, kecuali beberapa orang saja yang ikut kepada madzhab Musyabbihah atau madzhab Mu’tazilah yang telah disesatkan oleh Allah. Demikian pula dengan kaum Hanafiyyah, kebanyakan mereka adalah orang-orang Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali beberapa saja yang mengikuti madzhab Mu’tazilah. Lalu, dengan kaum Hanabilah (para pengikut madzhab Hanbali), orang-orang terdahulu dan yang terkemuka di dalam madzhab ini adalah juga kaum Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali orang-orang yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah. Dan yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah dari orang-orang madzhab Hanbali ini lebih banyak dibanding dari para pengikut madzhab lainnya”.

      Al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam mengatakan bahwa sesungguhnya akidah Asy’ariyyah telah disepakati (Ijmâ’) kebenarannya oleh para ulama dari kalangan madzhab asy-Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi, dan orang-orang terkemuka dari kalangan madzhab Hanbali. Kesepakatan (Ijmâ’) ini telah dikemukan oleh para ulama terkemuka di masanya, di antaranya oleh pemimpin ulama madzhab Maliki di zamannya; yaitu al-Imâm Amr ibn al-Hajib, dan oleh pemimpin ulama madzhab Hanafi di masanya; yaitu al-Imâm Jamaluddin al-Hashiri. Demikian pula Ijma’ ini telah dinyatakan oleh para Imam terkemuka dari madzhab asy-Syafi’i, di antaranya oleh al-Hâfizh al-Mujtahid al-Imâm Taqiyyuddin as-Subki, sebagaimana hal ini telah telah dikutip pula oleh putra beliau sendiri, yaitu al-Imâm Tajuddin as-Subki.

      Al-Imâm al-Hâfizh Muhammad Murtadla az-Zabidi (w 1205 H) dalam pasal ke dua pada Kitab Qawâ-id al-‘Aqâ-id dalam kitab Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, menuliskan sebagai berikut: “Jika disebut nama Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah kaum Asy’ariyyah dan kaum Maturidiyyah”.

      Asy-Syaikh Ibn Abidin al-Hanafi (w 1252 H) dalam kitab Hâsyiyah Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, menuliskan: “Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah kaum Asy’ariyyah dan Maturidiyyah”.

      Asy-Syaikh al-Khayali dalam kitab Hâsyiyah ‘Alâ Syarh al-‘Aqâ’id menuliskan sebagai berikut: “Kaum Asy’ariyyah adalah kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah.

      1. ust agung

        Al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam mengatakan bahwa sesungguhnya akidah Asy’ariyyah telah disepakati (Ijmâ’) kebenarannya oleh para ulama dari kalangan madzhab asy-Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi, dan orang-orang terkemuka dari kalangan madzhab Hanbali. Kesepakatan (Ijmâ’) ini telah dikemukan oleh para ulama terkemuka di masanya, di antaranya oleh pemimpin ulama madzhab Maliki di zamannya; yaitu al-Imâm Amr ibn al-Hajib, dan oleh pemimpin ulama madzhab Hanafi di masanya; yaitu al-Imâm Jamaluddin al-Hashiri. Demikian pula Ijma’ ini telah dinyatakan oleh para Imam terkemuka dari madzhab asy-Syafi’i, di antaranya oleh al-Hâfizh al-Mujtahid al-Imâm Taqiyyuddin as-Subki, sebagaimana hal ini telah telah dikutip pula oleh putra beliau sendiri, yaitu al-Imâm Tajuddin as-Subki.

        bisa dijelaskan dmana sumbernya …?

        lebih baik lagi dikasih link he.he..

  6. maaf ummu abdillah , sejak kapankah istilah tasawuf dan kuburiyun dikenal…….?

    lalu sejak kapankah para penyembah berhala ada……..? sebelum atau sesudah munculnya istilah tasawuf dan kuburiyun………..?

  7. he..he.. apa anda belum membaca kisah tentang wali 5 ( Wadd, Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”.) pada zaman nabi nuh yang jelaskan dalam surat nuh ayat 23

    ayat tersebut tentu anda tau bagaimana ayat tersebut di tafsirkan oleh ibnu abbas

    yang kedua tentang tasawuf..

    ini mungkin pertama yang dilakukan Fir’aun dengan pemahaman widatul wujud
    dan ini dibenarkan oleh Ibnu ‘Arabi yang nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad Ibn al-‘Arabi al-Haitami al-Thai, dilahirkan di Murcia, Andalusia Tenggara tahun 560 H/1165 M

    1. @ummu abdillah
      Ente baca kitab Insan Kamil karangan Ibnu Arabi yang benar, Ibnu Arabi menjelaskan “Adam diciptakan bukan sebagai cerminan dari Sang pencipta”

      Ente tahu gak tentang Wahdathul Wujud yang dijelaskan oleh Ibnu Arabi ?

    2. @ummu abdillah

      Aqidah kaum sufi yang lurus, Para Sufi Menentang Paham Hulul dan Wahdatul Wujud :

      Al Imam Syekh Muhyiddin ibn ‘Arabi mengatakan: “Tidak akan meyakini Wahdah al Wujud kecuali para mulhid (atheis) dan barangsiapa yang meyakini Hulul maka agamanya rusak (Ma’lul)”.

      Sedangkan perkataan-perkataan yang terdapat dalam kitab Syekh Muhyiddin ibn ‘Arabi yang mengandung aqidah Hulul dan Wahdah al Wujud itu adalah sisipan dan dusta yang dinisbatkan kepadanya. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdul Wahhab asy- Sya’rani dalam kitabnya Lathaif al Minan Wa al Akhlaq menukil dari para ulama.

      Syekh Abd al Ghani an-Nabulsi -semoga Allah merahmatinyadalam kitabnya al Faidl ar-Rabbani berkata: “Barangsiapa yang mengatakan bahwa Allah terpisah dari-Nya sesuatu, Allah menempati sesuatu, maka dia telah kafir”.

      Al Imam Ar-Rifa’i -semoga Allah meridlainya- berkata: “perkataan (yang diucapkan dengan lisan meskipun tidak diyakini dalam hati) yang bisa merusak agama: perkataan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya (Wahdat al Wujud). “Jauhilah perkataan Wahdat al Wujud yang banyak diucapkan oleh orang-orang yang mengaku sufi.

      Syekh al ‘Alim Abu al Huda ash-Shayyadi –semoga Allah merahmatinya- juga mengatakan dalam kitabnya al Kawkab ad-Durriy: “Barangsiapa mengatakan saya adalah Allah dan tidak ada yang mawjud (ada) kecuali Allah atau dia adalah keseluruhan alam ini, jika ia dalam keadaan berakal (sadar) maka dia dihukumi murtad (kafir)”.

    3. ummu abdillah pertanyaan saya sangat sederhana ” kapankah istilah kuburiyun dikenal…….? jawabannya sederhana : ” sejak kemunculan m. abdul wahhab an-nejdi kurang lebih 250th yang lalu ” sedangkan faham Tasybih dan Tajsim sudah ada sejak masa Salaf as-sholihin bahkan jauh sebelum masa itu Tasybih dan tajsim sudah ada (yahudi , nashrani , budha hindu dll )

      dan tolong fahami lagi firman Allah dalam surat nuh ayat 23 yg ditafsirkan oleh Ibnu abbas ra , ( ini adalah nama2 orang shalih ( wada suwa` yaghuts dst ) dari kaum Nuh as , setelah orang2 shalih ini meninggal syetan membisikkan kepada kaum mereka untuk membuat patung2 dan diletakan dimajlis para shalihin tersebut dan kaum itu melaksanakan bisikan syetan itu namun belum disembah , setelah para pembuat patung ini meninggal barulah patung2 itu disembah , tafsir Ibnu abbas ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Istilah kuburiyun yang populer dikalangan wahabis.

      adapun soal tasawuf , sangatlah aneh jika fir`aun bertasawuf , apalagi wihdatul wujud sama sekali bukan ajaran tasawuf , lagi pula ahli sejarah manakah yang mengatakan istilah tasawuf sudah dikenal sejak masa Fir`aun ………? atau ini hanya dagelan dan sejarah fktip karangan Ummu abdillah………..?

      ummu abdillah , baca kembali artikel diatas dan kelanjutannya (bag II ) juga komen mas Ucep di artikel bagian 2 , saya khawatir bantahan Ummu abdillah atas pernyataan :” asal muasal penyembahan berhala adalah Tasybih dan Tajsim ” adalah pengakuan dan pembenaran akan Aqidah Tasybih dan Tajsim.

      nasalullahal `afiyah

      1. he..he.. sangat aneh..istilah kuburiyin jika baru dikenal pada 250 tahun yang lalu

        apa anda tidak mengerti..arti dari kuburiyin..

        apa anda tidak pernah mendengar tentang peringatan nabi bahwa bahaya tentang kuburan

        10. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

        حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَمْزَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا لَعَنَ اللَّهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

        (AHMAD – 7054) : Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hamzah Ibnul Mughirah dari Suhail Ibnu Abi Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala, Allah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/246, Al-Humaidiy no. 1020, Ibnu Sa’d 2/241-242, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 5/43-44, Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 3/47, dan yang lainnya; shahih].

        9. Hadits Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhu :

        حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

        (AHMAD – 20620) : Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari Uqbah bin Abdurrahman dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsauban dari Zaid bin Tsabit, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat orang-orang Yahudi yang mengambil kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” [Diriwayatkan oleh Ahmad 20620 & 186 dan ‘Abd bin Humaid no. 244; shahih dengan syawahid-nya].

        8. Hadits Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah radliyallaahu ‘anhu :

        حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ قَالَ آخِرُ مَا تَكَلَّمَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْرِجُوا يَهُودَ أَهْلِ الْحِجَازِ وَأَهْلِ نَجْرَانَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَاعْلَمُوا أَنَّ شِرَارَ النَّاسِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

        Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Maimun telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Samurah bin Jundub dari Bapaknya dari Abu ‘Ubaidah berkata; Akhir perkataan yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: “Keluarkan orang Yahudi Hijaz dan Najran dari Jazirah Arab, dan ketahuilah bahwa orang yang paling buruk diantara manusia adalah mereka yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid.” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/195 no. 1691 & 1694; Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 4/57, Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Aahaadul-Matsaaniy no. 235-236, Abu Ya’laa Ath-Thahawi dalam Musykilul-Atsar 4/13; Abu Ya’la no. 872, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 4/12, dan yang lainnya; shahih].

        dan masih banyak lagi…tentang kuburiyin..he.he..

        1. ummu abdillah aneh sekali kesimpulan anda : ” apa anda tidak pernah mendengar tentang peringatan nabi bahwa bahaya tentang kuburan ” , .

          benahi lagi pemahaman anda terhadap hadist2 yg anda bawakan , sebab jika hadits2 itu dipahami seperti itu kenapa Rosulallah SAW mensyari`atkan ziarah kubur………?

          dan tolong jangan campur adukan antara ” istilah kuburiyun versi wahabi ” dengan penyebutan kata ” kubur ” dalam hadist2 diatas , karena tidak ada kaitannya dengan ” istilah kuburiyun khas wahabi “.

          1. he..he.. anda sungguh ane dalam berpendapat..

            memang ziarah kubur itu disyariatkan tetapi penerapannya dilapangan itu sangat jauh berbeda…dengan yang nabi ajarkan

            disini saya akan membawakan hadist tentang kuburan

            1. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa :

            حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ شَيْبَانَ عَنْ هِلَالٍ هُوَ الْوَزَّانُ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا قَالَتْ وَلَوْلَا ذَلِكَ لَأَبْرَزُوا قَبْرَهُ غَيْرَ أَنِّي أَخْشَى أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا

            Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Musa dari Syaiban dari Hilal dia adalah Al Wazzan dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika Beliau sakit yang membawa kepada kematiannya: “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani disebabkan mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid”. ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Kalau bukan karena sabda Beliau tersebut tentu sudah mereka pindahkan kubur beliau (dari dalam rumahnya), namun aku tetap khawatir nantinya akan dijadikan masjid”.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1330, Muslim no. 529, Ahmad 6/80 & 121 & 255, Ibnu Abi Syaibah 2/376, Abu ‘Awaanah 1/399, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 508, Al-Khathiib dalam Taariikh Baghdaad 13/52 & 183, Ath-Thabaraniy dalam Al-Ausath no. 7730, dan yang lainnya].

            2. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

            حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

            Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Ibnu Syihab dari Sa’in bin Al Musattab dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat Yahudi dan Nashara karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 437, Muslim no. 530, Abu Dawud no. 3227, An-Nasa’iy 4/95, Abu Ya’laa no. 5844, Ahmad 2/284, dan yang lainnya].

            3. Hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhum :

            حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ عَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ قَالَا لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا

            Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bahwa ‘Aisyah dan ‘Abdullah bin ‘Abbas keduanya berkata, “Ketika sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin parah, beliau memegang bajunya dan ditutupkan pada mukanya. Bila telah terasa sesak, beliau lepaskan dari mukanya. Ketika keadaannya seperti itu beliau bersabda: ‘Semoga laknat Allah tertipa kepada orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.’ Beliau memberi peringatan (kaum Muslimin) atas apa yang mereka lakukan.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 435 & 436, Muslim no. 531, Ibnu Hibban no. 6619, Abu ‘Awaanah 1/399, An-Nasa’i 1/115; dan yang lainnya].

            Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang hadits di atas :

            وكأنه صلى الله عليه وسلم علم أنه مرتحل من ذلك المرض ، فخاف أن يعظم قبره كما فعل من مضى ، فلعن اليهود والنصارى إشارة إلى ذم من يفعل فعلهم

            “Seakan-akan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui bahwa beliau akan wafat melalui sakit yang beliau derita, sehingga beliau khawatir kubur beliau akan diagung-agungkan seperti yang telah dilakukan orang-orang terdahulu. Oleh karena itu, beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai isyarat yang menunjukkan celaan bagi orang yang berbuat seperti perbuatan mereka” [Fathul-Baariy, 1/532].

            4. Hadits ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa :

            و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكِ الصُّوَرَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهُمْ تَذَاكَرُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ فَذَكَرَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَأُمُّ حَبِيبَةَ كَنِيسَةً ثُمَّ ذَكَرَ نَحْوَهُ حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ ذَكَرْنَ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ يُقَالُ لَهَا مَارِيَةُ بِمِثْلِ حَدِيثِهِمْ

            Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Hisyam telah mengabarkan kepadaku Bapakku dari Aisyah radhiyallahu’anhu bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebutkan gereja yang mereka lihat di Etiopia Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam yang didalamnya terdapat gambar-gambar. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu apabila ada seorang laki-laki shalih di antara mereka lalu dia meninggal, maka mereka membangun di atas kuburannya sebuah masjid, dan mereka menggambar laki-laki tersebut. Mereka itu adalah sejelek-jeleknya makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Amru an-Naqid keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah dari Bapaknya dari Aisyah radhiyallahu’anhu “Bahwa mereka saling menyebutkan hadits dari Rasulullah ketika beliau sakit, lalu Ummu Salamah dan Ummu Habibah menyebutkan sebuah gereja” kemudian dia menyebutkan hadits semisalnya.Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Bapaknya dari Aisyah radhiyallahu’anha dia berkata, “Para istri nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah menyebutkan kepada kami sebuah gereja yang kami lihat di tanah Habasyah yang diberi nama Mariyah” semisal hadits mereka. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 434, Muslim 528, Abu ‘Awaanah 1/400-401, Ibnu Hibban no. 3181, An-Nasa’i 2/41, Al-Baihaqiy 4/80; dan yang lainnya].

            5. Hadits Jundub bin Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu :

            حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ عَدِيٍّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ النَّجْرَانِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي جُنْدَبٌ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

            Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim dan lafazh tersebut milik Abu Bakar. Ishaq berkata, telah mengabarkan kepada kami dan Abu Bakar berkata, telah menceritakan kepada kami Zakariya’ bin ‘Adi dari Ubaidullah bin Amru dari Zaid bin Abi Unaisah dari Amru bin Murrah dari Abdullah bin al-Harits an-Najrani dia berkata, telah menceritakan kepadaku Jundab dia berkata, “Lima hari menjelang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam wafat, aku mendengar beliau bersabda, ‘Aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil salah seorang di antara kalian sebagai kekasih, karena Allah Ta’ala telah menjadikanku sebagai kekasih sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih. Dan kalaupun seandainya aku mengambil salah seorang dari umatku sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian itu menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari mereka sebagai masjid, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai masjid, karena sungguh aku melarang kalian dari hal itu”. [Diriwayatkan oleh Muslim no. 532 dan Abu ‘Awanah 1/401].

            6. Hadits Al-Harits An-Najrani radliyallaahu ‘anhu :

            عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ النَّجْرَانِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي جُنْدَبٌ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ : أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ ”

            Dari Al-Harits An-Najrani dia bercerita : Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wasiat lima hari sebelum wafat : “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur para Nabi mereka dan orang-orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Maka, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Sesunguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/374-375; shahih Muslim 827].

            7. Hadits Usamah bin Zaid radliyallaahu ‘anhuma :

            حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ الرَّبِيعِ حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ شَدَّادٍ عَنْ كُلْثُومٍ الْخُزَاعِيِّ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدْخِلْ عَلَيَّ أَصْحَابِي فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَكَشَفَ الْقِنَاعَ ثُمَّ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا قَيْسٌ عَنْ جَامِعٍ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ وَهُوَ مُتَقَنِّعٌ بِبُرْدٍ لَهُ مَعَافِرِيٍّ وَلَمْ يَقُلْ وَالنَّصَارَى

            Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, budak Bani Hasyim Telah menceritakan kepada kami Qais bin Al-Rabi’ Telah menceritakan kepada kami Jami’ bin Syaddad dari Kultsum Al-Khuza’i dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepadaku: “Masukkan para sahabatku dirumahku.” Mereka pun masuk kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam membuka selendang lalu bersabda: “Allah melaknat Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan makam nabi -nabi mereka sebagai masjid.” Telah menceritakan kepada kami Suraij Telah menceritakan kepada kami Qais dari Jami’, hanya saja ia Jami’ berkata: mereka pun masuk dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam tengah menutupi kepala dengan selimut berwarna kelabu milik beliau, beliau tidak menyebutkan: “Dan Nasrani.” [Diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi no. 669; Ahmad 5/204; Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir no. 393 & 411, Ibnu Sa’d 2/241, Al-Haakim 4/194, dan yang lainnya; hasan dengan syawaahid-nya].

            8. Hadits Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah radliyallaahu ‘anhu :

            حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ قَالَ آخِرُ مَا تَكَلَّمَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْرِجُوا يَهُودَ أَهْلِ الْحِجَازِ وَأَهْلِ نَجْرَانَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَاعْلَمُوا أَنَّ شِرَارَ النَّاسِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

            Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Maimun telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Samurah bin Jundub dari Bapaknya dari Abu ‘Ubaidah berkata; Akhir perkataan yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: “Keluarkan orang Yahudi Hijaz dan Najran dari Jazirah Arab, dan ketahuilah bahwa orang yang paling buruk diantara manusia adalah mereka yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid.” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/195 no. 1691 & 1694; Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 4/57, Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Aahaadul-Matsaaniy no. 235-236, Abu Ya’laa Ath-Thahawi dalam Musykilul-Atsar 4/13; Abu Ya’la no. 872, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Aatsaar 4/12, dan yang lainnya; shahih].

            9. Hadits Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhu :

            حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

            (AHMAD – 20620) : Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari Uqbah bin Abdurrahman dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsauban dari Zaid bin Tsabit, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat orang-orang Yahudi yang mengambil kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah.” [Diriwayatkan oleh Ahmad 20620 & 186 dan ‘Abd bin Humaid no. 244; shahih dengan syawahid-nya].

            10. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

            حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَمْزَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا لَعَنَ اللَّهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

            (AHMAD – 7054) : Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hamzah Ibnul Mughirah dari Suhail Ibnu Abi Shalih dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala, Allah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/246, Al-Humaidiy no. 1020, Ibnu Sa’d 2/241-242, Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid 5/43-44, Al-Bukhari dalam At-Taariikh Al-Kabiir 3/47, dan yang lainnya; shahih].

            Al-Haafidh Ibnu Rajab Al-Hanbaly menukil perkataan Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahumallah dalam kitab Al-Kawaakibud-Daraari :

            الوثن الصنم ، يقول : لا تجعل قبري صنماً يصلى ويسجد نحوه ويعبد ، فقد اشتد غضب الله على من فعل ذلك ، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يحذر أصحابه وسائر أمته من سوء صنيع الأمم قبلهم ، الذين صلوا إلى قبور أنبيائهم ، واتخذوها قبلة ومسجداً ، كما صنعت الوثنية بالأوثان التي كانوا يسجدون إليها ويعظمونها ، وذلك الشرك الأكبر ، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يخبرهم بما في ذلك من سخط الله وغضبه ، وأنه مما لا يرضاه ، خشية عليهم من امتثال طرقهم ، وكان صلى الله عليه وسلم يحب مخالفة أهل الكتاب وسائر الكفار ، وكان يخاف على أمته اتباعهم ، ألا ترى إلى قوله صلى الله عليه وسلم على جهة التعبير والتوبيخ ” لتتبعن سنن الذين كانوا من قبلكم حذوا النعل بالنعل ، حتى إن أحدهم لو دخل جحر ضب لدخلتموه ؟”.

            “Al-Watsan itu maknanya patung. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai patung/berhala yang menjadi kiblat shalat, tempat bersujud, juga tempat beribadah”. Dan Allah sangat murka kepada orang yang melakukan hal tersebut. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memperingatkan para shahabat dan seluruh umatnya tentang perbuatan buruk umat-umat terdahulu, karena mereka shalat menghadap kuburan para Nabi mereka serta menjadikannya sebagai kiblat dan masjid. Sebagaimana penyembah berhala yang menjadikan berhala sebagai objek sesembahan yang diagungkan. Perbuatan tersebut merupakan syirik akbar. Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa perbuatan tersebut mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah ta’ala dan Dia tidak akan pernah meridlainya. Hal tersebut disampaikan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena beliau khawatir umatnya akan meniru perbuatan mereka. Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam senantiasa memperingatkan umatnya agar tidak menyerupai Ahlul-Kitaab dan orang-orang kafir. Dan beliau juga khawatir bila umatnya akan mengikuti jejak mereka. Tidakkah engkau mengetahui sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengungkaokan celaan dan kemarahan : “Sungguh kalian akan mengikuti jejak-jejak orang sebelum kalian sama persis, setapak demi setapak; sehingga salah seorang dari mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan memasukinya pula” [Fathul-Baariy oleh Ibnu Rajab Al-Hanbaly 2/90/65 – melalui perantaraan Tahdziirus-Saajid].

            11. Hadits Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu :

            حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ مَنْ تُدْرِكُهُ السَّاعَةُ وَهُمْ أَحْيَاءٌ وَمَنْ يَتَّخِذُ الْقُبُورَ مَسَاجِدَ

            (AHMAD – 3651) : Telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Za`idah dari ‘Ashim bin Abu An Najud dari Syaqiq dari Abdullah ( bin Mas’ud Radliyallahu ta’ala ‘anhu ) ia berkata; AKu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling buruk adalah orang yang kalian dapati hidup ketika hari kiamat terjadi dan orang yang menjadikan kubur sebagai masjid.” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/405 & 435, Ath-Thabaraniy no. 10413, Ibnu Abi Syaibah 3/345, Al-Bazzaar no. 3420, Abu Ya’laa no. 5316, Ibnu Khuzaimah no. 789, Ibnu Hibbaan no. 6847, dan yang lainnya; hasan].

            12. Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu :

            عن علي بن أبي طالب قال : ” لقيني العباس فقال : يا علي انطلق بنا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فإن كان لنا من لأمر شئ وإلا أوصى بنا الناس ، فدخلنا عليه ، وهو مغمى عليه ، فرفع رأسه فقال : ” لعن الله اليهود اتخذوا قبور لأنبياء مساجد ” . زاد في رواية : ” ثم قالها الثالثة ” . فلما رأينا ما به خرجنا ولم نسأله عن شئ

            Dari Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Al-‘Abbas radliyallaahu ‘anhu pernah menemuiku seraya berkata : ‘Wahai ‘Ali, mari ikut kami mengunjungi para Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin ada sesuatu hal yang perlu kita tanyakan. Kalau tidak, beliau akan memberikan wasiat kepada orang-orang melalui kita’. Kemudian kami masuk menemui beliau, sedangkan beliau dalam keadaan berbaring karena sakit. Lalu beliau mengangkat kepalanya : “Allah telah melaknat orang-orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid “. Dalam sebuah riwayat ditambahkan : “Kemudian beliau mengatakan yang ketiga kalinya. Dan ketika kami melihat apa yang terjadi pada beliau, maka kami pun keluar dan tidak menanyakan sesuatu pun kepada beliau” [HR. Ibnu Sa’ad 4/28 dan Ibnu ‘Asaakir 12/172/2; hasan].

            13. Hadits Ummahatul-Mukminin radliyallaahu ‘anhunna :

            عن أمهات المؤمنين أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا : كيف نبني قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ أنجعله مسجداً ؟ فقال أبو بكر الصديق : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

            Dari Ummahatul-Mukminiin : Bahwasannya para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya : “Bagaimana kami harus membangun kubur Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, apakah kami boleh menjadikannya sebagai masjid ?”. Maka Abu Bakar menjawab : “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid” [HR. Ibnu Zanjawaih dalam kitab Fadlaailush-Shiddiq sebagaimana disebutkan dalam Al-Jamii’ul-Kabiir 3/147/1].

          2. ummu abdillah panjang amat…….? cukup bawakan 1 nama ulama saja ( sebelum m. abdul wahhab menyebarkan fahamnya ) menyebut Istilah : ” kuburiyun “.

            pernyataan anda sebelumnya : ” bahayanya kuburan ” lalu anda tidak dapat memungkiri akan masyru`nya ziarah kubur , namun tetap anda menolaknya dengan alasan ” namun dilapangan prakteknya berbeda dengan yang Rasul ajarkan ” , wah rupanya anda lebih memahami Tauhid ketimbang Rasulallah SAW , dan rupanya anda lebih peduli terhadap Ummat ini ketimbang Rosulallah SAW.ck ck ck…..

          3. he..he.. apa anda lupa tentang komentar anda..yang saya komentari..diatas anda mengatakan
            bahwa asal mula penyembahan berhala adalah tasybih..

            artikel yang bagus , asal muasal penyembahan berhala adalah Tasybih dan tajsim , semoga kaum wahabi tersadarkan.

            jika anda membaca hadist diatas..sangat jelas bahwa peringatan keras nabi terhadap umatnya tentang kuburan..

            istilah kuburiyun adalah salah satu orang yang mengagungkan / berlebihan terhadap kuburan..

            sedangkan orang yang berlebihan terhadap kuburan sudah lama sebelum diutusnya nabi..he..he.

          4. baiklah ummu abdillah ( sy gak tahu ini bener perempuan apa laki jadi perempuan ) , yang pasti 1 . anda keliru mengatakan fir`aun bertasawuf 2. anda tidak dapat menyebutkan satu nama Ulama saja sebelum m.abdul wahhab yang menyebut istilah ” kuburiyun ” , sehingga pernyataan anda bahwa tasawwuf dan kuburan adalah penyebab ” penyembahan berhala tidak dapat dipertanggung jawabkan ,

            selanjutnya mari kita perjelas bagaimana kaitan tasybih dan tajsim dengan penyembahan berhala dan bagaimana kaitan tasawuf dan kuburan dengan penyembahan berhala.

            saya berpendapat asal muasal penyembahan berhala adalah tasybih dan tajsim , sementara anda berpendapat : asal muasal penyembahan berhala adalah kuburan dan Tasawuf tolong jelaskan bagaimana kuburan dan tasawuf bisa menjadikan seseorang menjadi penyembah berhala………?

  8. @ahlussunah wal jama’ah “Golongan Asy’ariyyah menta’-wil sifat-sifat Allah Ta’ala, sedangkan Ahlus Sunnah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti sifat istiwa’ , wajah, tangan”.

    jawab :

    Dalam kitab Sharîh al-Bayân Fî ar-Radd ’Alâ Man Khâlaf al- Qur’ân karya al-Imâm al-Hâfizh Abdullah al-Harari dalam menjelaskan bahwa takwil tidak hanya diberlakukan oleh para ulama Khalaf, tidak pula hanya diberlakukan oleh para ulama dari kalangan Asy’ariyyah dan Maturidiyyah saja, tapi jauh sebelum itu metodologi takwil ini telah diberlakukan oleh para sahabat, tabi’în, dan para ulama Salaf saleh terdahulu.

    metode takwil tafshîli ini dipakai oleh para ulama Salaf terkemuka, seperti al-Imâm Abdullah ibn Abbas dari kalangan sahabat Rasulullah, al-Imâm Mujahid (murid Abdullah Ibn Abbas) dari kalangan tabi’in, termasuk al-Imâm Ahmad ibn Hanbal dan al-Imâm al-Bukhari dari golongan yang datang sesudah mereka.

    Adapun takwil tafshîli dari sahabat Abdullah ibn Abbas adalah seperti yang telah disebutkan al-Imâm al-Hâfizh ibn Hajar dalam kitab Fath al-Bâri Syarh Shahîh al- Bukhâri, sebagai berikut:

    “Adapun kata “as-Sâq”, telah diriwayatkan dari Abdullah ibn Abbas dalam takwil firman Allah (Qs. Al Qalam: 42)

    bahwa yang dimaksud dengan kata “as-Sâq” dalam ayat ini adalah “Perkara yang dahsyat”. Artinya di hari tersebut (hari kiamat) akan dibukakan segala perkara dan urusan yang sulit dan dahsyat. as-Saq itu sendiri artinya betis, tapi sahabat Abdullah ibn Abbas mentakwilnya.

    Sementara itu diriwayatkan dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari dalam menafsirkan ayat QS. al-Qalam: 42 tersebut mengatakan bahwa orang-orang mukmin di saat kiamat nanti dibukakan bagi mereka akan cahaya yang agung (maksudnya pertolongan dari Allah).

    Al-Imâm Ibn Furak berkata: ”Yang dimaksud dengan ayat tersebut ialah bahwa orang-orang mukmin mendapatkan berbagai karunia dan pertolongan”. Al-Muhallab berkata: ”Yang dimaksud ayat tersebut adalah bahwa orang-orang mukmin mendapatkan rahmat dari Allah, sementara pada saat yang sama orang-orang kafir mendapatkan siksa dari-Nya”

    Adapun takwil dari al-Imâm Mujahid adalah sebagaimana telah diriwayatkan oleh al-Hâfizh al-Bayhaqi takwil firman Allah swt. Qs. Al-Baqarah : 115 :
    ia (Mujahid) berkata: “Yang dimaksud dengan “Wajhullâh” adalah “Kiblatullâh” (kiblat Allah), maka di manapun engkau berada, baik di barat maupun di timur, engkau tidak menghadapkan mukamu kecuali kepada kiblat Allah tersebut” (Yang dimaksud adalah ketika shalat sunnah di atas binatang tunggangan, ke manapun binatang tunggangan tersebut mengarah maka hal itu bukan masalah)

    Adapun takwil dari al-Imâm Ahmad, juga telah diriwayatkan oleh al-Bayhaqi di dalam pembicaraan biografi al-Imâm Ahmad sendiri. Diriwayatkannya dari al-Hakim dari Abu ‘Amr as-Sammak dari Hanbal, bahwa al-Imâm Ahmad ibn Hanbal telah mentakwil firman Allah Qs. Al-Fajr : 22:
    bahwa yang dimaksud ayat ini bukan berarti Allah datang dari suatu tempat, tapi yang dimaksud adalah datangnya pahala yang dikerjakan ikhlas karena Allah. Tentang kualitas riwayat ini al-Bayhaqi berkata: “Kebenaran sanad riwayat ini tidak memiliki cacat sedikitpun”, sebagaimana riwayat ini telah dikutip oleh Ibn Katsir dalam kitab Târîkh-nya

    “Maka pada hari ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupa kan pertemuan mereka dengan hari ini…” (QS.al A’râf : 51)

    Ibnu Abbas ra. menta’wil ayat ini yang menyebut (Allah) melupakan kaum kafir dengan ta’wîl ‘menelantarkan/membiarkan’. Ibnu Jarir berkata: ‘Yaitu maka pada hari ini yaitu hari kiamat, Kami melupakan mereka, Dia berfirman, Kami membiarkan mereka dalam siksa..’ (Tafsir Ibnu Jarir, 8/201)

    Al-Hâfizh al-Bayhaqi meriwayatkan pula dari Abu Abd ar-Rahman Muhammad ibn al-Husain al-Sullami tentang takwil al-Imâm Sufyan ats-Tsawri dalam firman Allah Qs. Al-Hadid : 4, Al-Bayhaqi menuliskan sebagai berikut : ”Wa Huwa Ma’akum Aynamâ Kuntum” (QS. Al-Hadid: 4), beliau menjawab: “Yang dimaksud adalah Dia Allah bersama kalian dengan ilmunya (Artinya Allah mengetahui segala apapun yang terjadi, bukan dalam pengertian bahwa Dzat Allah mengikuti atau menempel dengan setiap orang)”.

    Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq)

    Kemudian dalam kitab Shahîh al-Bukhâri dalam makna firman Allah Qs. Al-Qashas : 88 al-Imâm al-Bukhari mentakwilnya, beliau menuliskan: “Segala sesuatu akan punah kecuali kekuasaan Allah”, dapat pula ayat tersebut bermakna: “Segala sesuatu akan punah kecuali pahala-pahala dari kebaikan yang dikerjakan ikhlas karena Allah”.

  9. @ahlussunah wal jama’ah : “Pada hakikatnya, Asy’ariyyah tidak dapat dinisbatkan kepada Ahlus Sunnah”.

    Jawab :

    Al-Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah mengutip perkataan al-Imâm al-Ma’ayirqi; seorang ulama terkemuka dalam madzhab Maliki, menuliskan sebagai berikut: “Sesungguhnya al-Imâm Abu al-Hasan bukan satu-satunya orang yang pertama kali berbicara membela Ahlussunnah. Beliau hanya mengikuti dan memperkuat jejak orang-orang terkemuka sebelumnya dalam pembelaan terhadap madzhab yang sangat mashur ini. Dan karena beliau ini maka madzhab Ahlussunnah menjadi bertambah kuat dan jelas. Sama sekali beliau tidak membuat pernyataanpernyataan yang baru, atau membuat madzhab baru.

    Al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam mengatakan bahwa sesungguhnya akidah Asy’ariyyah telah disepakati (Ijmâ’) kebenarannya oleh para ulama dari kalangan madzhab asy-Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi, dan orang-orang terkemuka dari kalangan madzhab Hanbali. Kesepakatan (Ijmâ’) ini telah dikemukan oleh para ulama terkemuka di masanya, di antaranya oleh pemimpin ulama madzhab Maliki di zamannya; yaitu al-Imâm Amr ibn al-Hajib, dan oleh pemimpin ulama madzhab Hanafi di masanya; yaitu al-Imâm Jamaluddin al-Hashiri. Demikian pula Ijma’ ini telah dinyatakan oleh para Imam terkemuka dari madzhab asy-Syafi’i, di antaranya oleh al-Hâfizh al-Mujtahid al-Imâm Taqiyyuddin as-Subki, sebagaimana hal ini telah telah dikutip pula oleh putra beliau sendiri, yaitu al-Imâm Tajuddin as-Subki.

    Al-Imâm al-Hâfizh Muhammad Murtadla az-Zabidi (w 1205 H) dalam pasal ke dua pada Kitab Qawâ-id al-‘Aqâ-id dalam kitab Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, menuliskan sebagai berikut: “Jika disebut nama Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah kaum Asy’ariyyah dan kaum Maturidiyyah”.

    Asy-Syaikh Ibn Abidin al-Hanafi (w 1252 H) dalam kitab Hâsyiyah Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, menuliskan: “Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah kaum Asy’ariyyah dan Maturidiyyah”.

    Asy-Syaikh al-Khayali dalam kitab Hâsyiyah ‘Alâ Syarh al-‘Aqâ’id menuliskan sebagai berikut: “Kaum Asy’ariyyah adalah kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah.

  10. @ahlussunah wal jama’ah : “Pada hakikatnya, Asy’ariyyah tidak dapat dinisbatkan kepada Ahlus Sunnah”.

    jawab :

    Masih dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subki juga menuliskan sebagai berikut: “Aku telah mendengar dari ayahku sendiri, asy-Syaikh al-Imâm (Taqiyuddin as-Subki) berkata bahwa risalah akidah yang telah ditulis oleh Abu Ja’far ath-Thahawi (akidah Ahlussunnah yang dikenal dengan al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah) persis sama berisi keyakinan yang diyakini oleh al-Asy’ari, kecuali dalam tiga perkara saja. Aku (Tajuddin as-Subki) katakan: Abu Ja’far ath-Thahawi wafat di Mesir pada tahun 321 H, dengan demikian beliau hidup semasa dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari (w 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H). Dan saya tahu persis bahwa orang-orang pengikut madzhab Maliki semuanya adalah kaum Asy’ariyyah, tidak terkecuali seorangpun dari mereka. Demikian pula dengan para pengikut madzhab asy-Syafi’i, kebanyakan mereka adalah kaum Asy’ariyyah, kecuali beberapa orang saja yang ikut kepada madzhab Musyabbihah atau madzhab Mu’tazilah yang telah disesatkan oleh Allah. Demikian pula dengan kaum Hanafiyyah, kebanyakan mereka adalah orang-orang Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali beberapa saja yang mengikuti madzhab Mu’tazilah. Lalu, dengan kaum Hanabilah (para pengikut madzhab Hanbali), orang-orang terdahulu dan yang terkemuka di dalam madzhab ini adalah juga kaum Asy’ariyyah, sedikitpun mereka tidak keluar dari madzhab ini kecuali orang-orang yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah. Dan yang mengikuti madzhab Musyabbihah Mujassimah dari orang-orang madzhab Hanbali ini lebih banyak dibanding dari para pengikut madzhab lainnya”.

  11. @ahlussunah wal jama’ah : “Golongan Asy’ariyyah menyibukkan diri mereka dengan ilmu kalam, sedangkan ulama Ahlus Sunnah justru mencela ilmu kalam, sebagaimana penjelasan Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika mencela ilmu kalam”.

    jawab :

    ilmu kalam itu disebut juga dengan ilmu ushuludin, ilmu tauhid atau ilmu yang mempelajari pokok pokok agama. Maka diwajibkan untuk penuh perhatian dan keseriusan dalam mengetahui aqidah al Firqah an-Najiyah yang merupakan golongan mayoritas, karena ilmu aqidah adalah ilmu yang paling mulia disebabkan ia menjelaskan pokok atau dasar agama. Rasulullah shallalllahu ‘alayhi wasallam ditanya tentang sebaik-baik perbuatan, beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”. (H.R. al Bukhari).

    Pada periode Imam madzhab yang empat ini kebutuhan kepada penjelasan masalah-masalah fiqih sangat urgen dibanding lainnya. Karena itu konsentrasi keilmuan yang menjadi fokus perhatian pada saat itu adalah disiplin ilmu fiqih. Namun demikian bukan berarti kebutuhan terhadap Ilmu Tauhid tidak urgen, tetap hal itu juga menjadi kajian pokok di dalam pengajaran ilmu-ilmu syari’at, hanya saja saat itu pemikiran-pemikiran ahli bid’ah dalam masalah-masalah akidah belum terlalu banyak menyebar. Benar, saat itu sudah ada kelompok-kelompok sempalan dari para ahli bid’ah, namun penyebarannya masih sangat terbatas. Dengan demikian kebutuhan terhadap kajian atas faham-faham ahli bid’ah dan pemberantasannya belum sampai kepada keharusan melakukan kodifikasi secara rinci terhadap segala permasalahan akidah Ahlussunnah. Namun begitu, ada beberapa karya teologi Ahlussunnah yang telah ditulis oleh beberapa Imam madzhab yang empat, seperti al-Imâm Abu Hanifah yang telah menulis lima risalah teologi; al-Fiqh al-Akbar, ar-Risâlah,al-Fiqh al-Absath, al-‘Âlim Wa al-Muta’allim, dan al-Washiyyah, juga al-Imâm asy-Syafi’i yang telah menulis beberapa karya teologi. Benar, perkembangan kodifikasi terhadap Ilmu Kalam saat itu belum sesemarak pasca para Imam madzhab yang empat itu sendiri.

    Setelah tahun 260 H menyebarlah bid’ah Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya. Maka dua Imam yang agung Abu al Hasan al Asy’ari (W 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (W 333 H) -semoga Allah meridlai keduanya- menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al Qur’an dan al hadits) dan ‘aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhah-syubhah (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya, sehingga Ahlussunnah Wal Jama’ah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka (Ahlussunnah) akhirnya dikenal dengan nama al Asy’ariyyun (para pengikut al Asy’ari) dan al Maturidiyyun (para pengikut al Maturidi).

    Sama sekali tidak berpengaruh, ketika golongan Musyabbihah mencela ilmu ini dengan mengatakan ilmu ini adalah ‘ilm al Kalam al Madzmum (ilmu kalam yang dicela oleh salaf). Mereka tidak mengetahui bahwa ‘ilm al Kalam al Madzmum adalah yang dikarang dan ditekuni oleh Mu’tazilah, Musyabbihah dan ahli-ahli bid’ah semacam mereka. Sedangkan ‘ilm al Kalam al Mamduh (ilmu kalam yang terpuji) yang ditekuni oleh Ahlussunnah, dasar-dasarnya sesungguhnya telah ada di kalangan para sahabat. Pembicaraan dalam ilmu ini dengan membantah ahli bid’ah telah dimulai pada zaman para sahabat. Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- membantah golongan Khawarij dengan hujjah-hujjahnya. Beliau juga membungkam salah seorang pengikut ad-Dahriyyah (golongan yang mengingkari adanya pencipta
    alam ini). Dengan hujjahnya pula, beliau mengalahkan empat puluh orang Yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah jism (benda). Beliau juga membantah orang-orang Mu’tazilah. Ibnu Abbas -semoga Allah meridlainya- juga berhasil membantah golongan Khawarij dengan hujjah-hujjahnya. Ibnu Abbas, al Hasan ibn ‘Ali, ‘Abdullah ibn ‘Umar – semoga Allah meridlai mereka semua- juga telah membantah kaum
    Mu’tazilah. Dari kalangan Tabi’in; al Imam al Hasan al Bishri, al Imam al Hasan ibn Muhammad ibn al Hanafiyyah cucu sayyidina ‘Ali, dan khalifah ‘Umar ibn Abd al ‘Aziz -semoga Allah meridlai mereka- juga telah membantah kaum Mu’tazilah. Dan masih banyak lagi ulamaulama salaf lainnya, terutama al Imam asy-Syafi’i -semoga Allah meridlainya-, beliau sangat mumpuni dalam ilmu aqidah, demikian pula al Imam Abu Hanifah, al Imam Malik dan al Imam Ahmad -semoga Allah meridlai mereka- sebagaimana dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi (W 429 H) dalam Ushul ad-Din, al Hafizh Abu al Qasim ibn ‘Asakir (W 571 H) dalam Tabyin Kadzib al Muftari, al Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam Tasynif al Masami’ dan al Allaamah al Bayadli (W 1098 H) dalam Isyaraat al Maram dan lain lain.

    Telah banyak para ulama yang menulis kitab-kitab khusus mengenai penjelasan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti Risalah al ‘Aqidah ath-Thahawiyyah karya al Imam as-Salafi Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321 H), kitab al ‘Aqidah an-Nasafiyyah karangan al Imam ‘Umar an-Nasafi (W 537 H), al ‘Aqidah al Mursyidah karangan al Imam Fakhr ad-Din ibn ‘Asakir (W 630 H), al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah yang ditulis oleh al Imam Muhammad ibn Hibatillah al Makki (W 599 H).

  12. @ahlussunah wal jama’ah

    Sebenarnya, saudara, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, dan orang orang yang seaqidah dengan saudara, adalah orang orang yang beraqidah buruk dan sesat. kalian meyakini bahwa Allah swt. yang maha suci memiliki tangan, wajah, bersemayam dll secara hakiki.

    Perkataan kalian tersebut bertentangan dengan aqidah ahlussunah wal jama’ah yang asli, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227- 321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

  13. @ahlussunah wal jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas dan seaqidah dengan saudara.

    diatas saya mengatakan kalian beraqidah sesat, berikut alasan saya :

    Golongan sesat melarang orang mentakwil ayat-ayat Ilahi atau hadits-hadits Rasulallah saw. yang berkaitan dengan shifat. Jadi bila ada kata-kata di alqur’an wajah Allah, tangan Allah dan seterusnya harus diartikan juga wajah dan tangan Allah secara hakiki.

    Bila ayat-ayat mutasyabihat mempunyai arti yang sebenarnya maka akan berbenturan dengan ayat-ayat ilahi diantaranya dalam QS (42):11; QS (6): 103; QS (37): 159.

    ”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS. Al Fath : 10). Dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yang turut berbai’at pada sahabat.

    Namun, karena anda menolak takwil, maka menurut pemahaman saudara, turun tangan dari langit, dimana Allah swt. yang maha suci meletakkan tanganNya diatas tangan para sahabat hahahahah

    Sebagaimana hadits qudsiy yang mana Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi wali- Ku sungguh Ku-umumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya Ku-beri permintaannya….” (Shahih Bukhari)

    Pemahaman kami, sebagaimana yang dikatakan oleh Habib Munzir, makna hadist tersebut adalah menunjukkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan panca indera lainnya, bagi mereka yang taat pada Allah akan dilimpahi cahaya kemegahan Allah, pertolongan Allah, kekuatan Allah, keberkahan Allah, dan sungguh maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya.

    Namun, karena saudara menolak takwil, artinya saudara berkeyakinan bahwa Allah swt. yang maha suci menjadi telinga, mata, tangan dan kaki hambanya. jadi mirip paham wahdatul wujud hahahahah…

    Seperti ayat : ”Nasuullaha fanasiahum” mereka melupakan Allah maka Allah pun melupakan mereka, (QS. At-taubah : 67). Artinya, saudara Dengan ayat ini menyifatkan sifat lupa kepada Allah.

    diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim).

    Jadi, menurut keyakinan sesat saudara, ahlussunah wal jama’ah (palsu), Yazid bin Abdul Qadir Jawas dan seaqidah dengan saudara, Allah swt. yang maha suci menurut kalian memiliki sifat sakit.

    apabila kita menjenguk orang yang sakit, apakah kita akan menemui Allah swt. di samping orang yang sakit?

    itulah pengantar sederhana tentang kesesatan aqidah ahlussunah wal jama’ah (palsu), Yazid bin Abdul Qadir Jawas dan yang seaqidah dengan mereka.

  14. @ahlussunah wal jama’ah (As-‘Ariyyah wa Maturidiyah)

    Dalam surah Al-Baqoroh : 115, Allah swt. berfirman : “……Dimanapun kamu menghadap, disanalah wajah Allah……..”.

    Jadi, menurut ahlussunah wal jama’ah (palsu), Yazid bin Abdul Qadir Jawas dan orang orang yang seaqidah dengan mereka, karena menolak takwil, maka mereka mengartikan ayat tersebut dengan : “ke arah manapun kalian menghadap, di belahan bumi manapun, niscaya Allah ada di sana”. hahahahah……

    Sedangkan menurut ahlussunah wal jama’ah (As-‘Ariyyah wa Maturidiyah), kata wajhullahu artinya kiblatullah sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid (W. 102 H) murid Ibn Abbas. Takwil Mujahid ini diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi
    dalam al Asma’ Wa ash-Shifat.

    itulah rusaknya pemahaman mereka. semoga kita dijauhkan oleh Allah swt. dari aqidah sesat kaum mujassim dan musyabbih.

  15. @ummu abdillah : “bukannya asal muasanya penyembahan berhala itu dimulai dari kaum anda para tasawuf dan kaum kuburiyin he..he..”

    jawab :

    “Bahwa musim paceklik melanda kaum Muslimin pada masa Khalifah Umar. Maka seorang sahabat (yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani) mendatangi makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mengatakan: “Hai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu karena sungguh mereka benar-benar telah binasa”. Kemudian orang ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan beliau berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya “bersungguh-sungguhlah melayani umat”. Kemudian sahabat tersebut datang kepada Umar dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Lalu Umar menangis dan mengatakan: “Ya Allah, saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu”. Sanad hadits ini shahih. (Al-Hafizh Ibn Katsir, al- Bidayah wa al-Nihayah, juz 7, hal. 92. Dalam Jami’ al-Masanid juz i, hal. 233, Ibn Katsir berkata, sanadnya jayyid (baik). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Khaitsamah, lihat al-Ishabah juz 3, hal. 484, al-Khalili dalam al-Irsyad, juz 1, hal. 313, Ibn Abdil Barr dalam al-Isti’ab, juz 2, hal. 464 serta dishahihkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, juz 2, hal. 495).

    Apabila hadits di atas kita cermati dengan seksama, maka akan kita pahami bahwa sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiyallahu ‘anhu tersebut datang ke makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan tujuan tabarruk, bukan tujuan mengucapkan salam. Kemudian ketika laki-laki itu melaporkan kepada Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu, ternyata Umar radhiyallahu ‘anhu tidak menyalahkannya. Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu juga tidak berkata kepada laki-laki itu, “Perbuatanmu ini syirik”, atau berkata, “Mengapa kamu pergi ke makam Rasul shallallahu alaihi wa sallam untuk tujuan tabarruk, sedangkan beliau telah wafat dan tidak bisa bermanfaat bagimu”. Hal ini menjadi bukti bahwa bertabarruk dengan para nabi dan wali dengan berziarah ke makam mereka, itu telah dilakukan oleh kaum salaf sejak generasi sahabat, tabi’in dan penerusnya.

    KASIHAN KEDUA ORANG SAHABAT YANG MULIA INI, KARENA DIBERI GELAR KUBURIYYUN OLEH UMMU ABDILLAH. DAN PERBUATAN MEREKA MENJADI CIKAL BAKAL PENYEMBAHAN BERHALA.

    1. he..he.. ust..agung..anda berhujah dengan atsar yang dhoif yang meniru dari salafitobat..

      atsar yang anda bawakan adalah atsar yang lemah dan banyak sekali bantahannya..coba anda sekali2 searching di mbah google..

      Mengenai riwayat di atas, ada yang mengatakan bahwa orang yang mendatangi kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah shahabat Bilal.

      Al-Haafidh berkata dalam Al-Fath (2/496) :

      وقد روى سيف في الفتوح أن الذي رأى المنام المذكور هو بلال بن الحارث المزني أحد الصحابة

      “Saif telah meriwayatkan dalam kitab Al-Futuuh bahwasannya orang yang bermimpi tersebut adalah Bilaal bin Al-Haarits Al-Muzanniy, salah seorang shahabat” [selesai].

      Namun riwayat Saif tersebut adalah sangat lemah. Saif ini adalah Ibnu ‘Umar At-Tamiimiy adalah seorang yang disepakati kelemahannya. Ia seorang yang haditsnya ditinggalkan (matruk), pendusta lagi dituduh dengan kezindiqan”.

      Perkataan Al-Haafidh ini perlu ditinjau kembali, sebab riwayat itu mempunyai beberapa kelemahan/cacat, di antaranya :

      1. ‘An’anah Al-A’masy dari Abu Shaalih As-Sammaan, dan ia (Al-A’masy) seorang mudallis.

      2. Abu Shaalih Dzakwaan bin As-Sammaan tidak diketahui penyimakan haditsnya dari Maalik bin Ad-Daar dikarenakan tidak diketahuinya tahun wafatnya Maalik bin Ad-Daar (lihat biografi Malik Ad-Daar dalam Ath-Thabaqaat oleh Ibnu Sa’d 5/6 dan Al-Ishaabah oleh Ibnu Hajar 3/461).

      Jika ada yang mengatakan bahwa Abu Shaalih lahir pada masa kekhilafahan ‘Umar bin Al-Khaththab – sebagaimana dijelaskan oleh Adz-Dzahabi dalam As-Siyar (3/65) – sehingga kemungkinan besar Maalik Ad-Daar ini wafat pada waktu ia masih kecil (sehingga memungkinkan adanya pertemuan dan penyimakan hadits); maka ini pun juga tidak bisa diterima dalam pernyataan keshahihan riwayat. Karena Adz-Dzahabi sendiri tidak menukil tahun kematian Maalik Ad-Daar dari para ulama terdahulu sehingga tidak bisa dipastikan penyimakan hadits Abu Shaalih dari Maalik Ad-Daar – atau bahkan tidak bisa ditentukan apakah Abu Shaalih ini bertemu dengan Maalik ad-Daar. Apalagi Abu Shaalih membawakannya dengan ‘an’anah, sehingga ada kemungkinan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi’). Ini adalah ‘illat yang menjatuhkan. Al-Khaliiliy (1/313) telah mengisyaratkan ‘illat ini sebagaimana perkataannya :

      يقال أن أبا صالح السمان سمع مالك الدار هذا الحديث والباقون أرسلوه

      “Dikatakan bahwasannya Abu Shaalih bin As-Sammaan telah mendengar hadits ini dari Maalik Ad-Daar, dan yang lain mengatakan bahwa ia telah meng-irsal-kannya” [selesai].

      Perkataan Al-Khaliiliy “dan yang lain mengatakan bahwa ia telah meng-irsal-kannya” mengandung satu faedah bahwa penyimakan Abu Shaalih bin As-Sammaan tidaklah ma’ruf di kalangan muhadditsiin.

      Dalil yang mengandung kemungkinan yang masing-masing tidak dapat diambil mana yang rajih (kuat) menyebabkan dalil tersebut tidak bisa dipakai untuk berdalil.

      3. Orang yang mendatangi kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam itu tidak diketahui identitasnya (mubham).

      Sisi kecacatan (wajhul-i’laal)-nya adalah bahwasannya kita tidak bisa mengetahui apakah Malik Ad-Daar melihat peristiwa tersebut atau ia hanya mengambilnya dari orang yang tidak diketahui identitasnya itu. Selain itu, sangat naïf lagi sembrono jika ada orang yang mengklaim bahwa orang yang mubham itu termasuk shahabat. Oleh karena itu, ini termasuk ‘illat yang menjatuhkan kedudukan riwayat.

      Catatan :

      Sebagian orang menyangka bahwa Maalik Ad-Daar ini merupakan salah seorang shighaarush-shahaabah karena Al-Haafidh memasukkannya dalam kitabnya Al-Ishaabah (6/164). Ini satu kekeliruan !! Ibnu Hajar telah memasukkan Maalik Ad-Daar dalam thabaqah (tingkatan) yang ketiga, dimana beliau menjelaskan dalam muqaddimah-nya bahwa dalam thabaqah ini merupakan orang-orang yang mendapati masa Jahiliyyah dan masa Islam, namun tidak didapati satu pun khabar bahwa mereka pernah berkumpul bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ataupun sekedar melihatnya, sama saja apakah mereka memeluk Islam ketika beliau masih hidup atau setelah wafatnya – sehingga mereka ini bukanlah termasuk jajaran shahabat dengan kesepakatan para ulama” [lihat 1/4]. Oleh karena itu Asy-Syaikh Al-Albani menganggap Maalik Ad-Daar ini majhul serta tidak dikenal kejujuran dan kekuatan hapalannya. Al-Haafidh Al-Mundziriy ketika menyebutkan kisah lain dalam At-Targhiib (2/41-42) dari riwayat Maalik Ad-Daar dari ‘Umar berkata : “Ath-Thabaraniy meriwayatkannya dalam Al-Kabiir. Para perawinya sampai Maalik Ad-Daar adalah terpercaya (tsiqaat). Namun Maalik Ad-Daar, aku tidak mengetahuinya” [lihat At-Tawassul Ahkaamuhu wa Anwaa’uhu, hal. 119].[1]

      4. Bertentangan dengan syari’at Islam yang ma’ruf yang menganjurkan shalat istisqaa’ untuk meminta turunnya hujan. Bukan dengan mendatangi kuburan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam atau selainnya.

      1. tidak aneh jika kaum wahabi menolak hampir seluruh riwayat tentang tawassul bil amwaat, menuduh orang lain berhujjah dengan hadist dhaif , sementara mereka sendiri (para wahabis ) banyak menggunakan hadist dhaif , mungkar bahkan maudhu` untuk mendukung akidah Tasybih dan Tajsim mereka.

        silahkan mas agung dilanjut

        1. maaf ahmadsyahid

          mana bukti nya..bukannya anda yang tidak amanah..dalam menyampaikan kebenaran…saya sudah membaca artikel anda dengan abul jauza..ternyata..sungguh anda tidak amanah dalam menyampaikan kebenaran ILMU…

          1. ummu abdillah mau minta bukti apa…….? bukti bulkibal kibul kaum wahabi…….?

            dan kalo anda mendapati tulisan saya ada yang tidak amanah ilmiyah tolong koreksi…terimakasih sebelumnya.

          2. untuk ust ahmadsyahid

            tolong saya dibantu untuk

            Al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam mengatakan bahwa sesungguhnya akidah Asy’ariyyah telah disepakati (Ijmâ’) kebenarannya oleh para ulama dari kalangan madzhab asy-Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi, dan orang-orang terkemuka dari kalangan madzhab Hanbali. Kesepakatan (Ijmâ’) ini telah dikemukan oleh para ulama terkemuka di masanya, di antaranya oleh pemimpin ulama madzhab Maliki di zamannya; yaitu al-Imâm Amr ibn al-Hajib, dan oleh pemimpin ulama madzhab Hanafi di masanya; yaitu al-Imâm Jamaluddin al-Hashiri. Demikian pula Ijma’ ini telah dinyatakan oleh para Imam terkemuka dari madzhab asy-Syafi’i, di antaranya oleh al-Hâfizh al-Mujtahid al-Imâm Taqiyyuddin as-Subki, sebagaimana hal ini telah telah dikutip pula oleh putra beliau sendiri, yaitu al-Imâm Tajuddin as-Subki.

            dikitab mana saya mencarinya dan juz brapa halaman berapa

            kalau bisa disertakan pula sanadnya..makasih

          3. ummu abdillah@

            Emangnya kalau sudah tahu di kitab apa hal itu disebutkan, apakah lalu antum mau beriman kembali sesuai akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah?

            Kalau cuma ngeles aja, sebaiknya antum segera menyadari apa yang sebenarnya sedang berkecamuk dal;am hatimu, cobalah gunakan sedikit waktumu untuk merenungkan apa-apa informasi yang baru saja antum dapatkan di sini. Karena merenung untuk berpikir itu termasuk ibadah yang berpahala jika diniatkan untuk beribadah. Semoga berhasil mendapatkan Hidayah-NYA, amin ya robbal alamin…..

  16. Oke ana minta anda membagi ilmu pada kami pengunjung Blog ini
    Anda mendhoifkan ijma’ yang di nukilkan oleh ustad firanda tentang keberadaan Allah dilangit

    Dalam kitab al umm tentang perkataan

    قتيبة بن سعيد، شيخ خراسان
    قال أبو أحمد الحاكم وأبو بكر النقاش المفسر واللفظ له: حدثنا أبو العباس السراج قال: سمعت قتيبة بن سعيد يقول:
    هذا قول الأئمة في الإسلام والسنة والجماعة:
    نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه، كما قال جل جلاله {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}.
    وكذا نقل موسى بن هارون عن قتيبة أنه قال: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه.
    Telah berkata Abu Muhammad Al-Haakim dan Abu Bakr An-Naqqaasy Al-Mufassir, dan ini adalah lafadhnya (Abu Bakr An-Naqqaasy) : Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas As-Sarraaj, ia berkata : Aku mendengar Qutaibah bin Sa’iid berkata : “…..(matan atsar)…”.

    Perhatikan baik-baik. Adz-Dzahabiy membawakan dua jalur periwayatan atas perkataan Qutaibah bin Sa’iid ini. Pertama jalur Abu Muhammad Al-Haakim, dan kedua jalur Abu Bakr An-Naqqaasy.
    Mungkin anda benar jika atsar yang lewat jalur jalur Abu Bakr An-Naqqaasy dhoif sedangkan atsar lewat jalur Abu Muhammad Al-Haakim shahih..dan ini yang anda coba ingkari..
    سمعت محمد بن إسحاق الثقفي قال سمعت أبا رجاء قتيبة بن سعيد قال: هذا قول الأئمة المأخوذ في الإسلام والسنة: الرضا بقضاء الله ………. ويعرف الله في السماء السابعة على عرشه كما قال {الرحمن على العرش استوى له ما في السماوات وما في الأرض وما بينهما وما تحت الثرى}
    Aku mendengar Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia berkata : Aku mendengar Abu Rajaa’ Qutaibah bin Sa’iid berkata : “Ini adalah perkataan para imam yang diambil dalam Islam dan Sunnah : ‘Ridlaa terhadap ketetapan Allah…… dan mengetahui Allah berada di langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana firman Allah : ‘Ar-Rahmaan di atas ‘Arsy beristiwa’. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah’ (QS. Thaha : 5)…..” [Syi’aar Ashhaabil-Hadiits, hal. 30-34 no. 17, tahqiq : As-Sayyid Shubhiy As-Saamiraa’iy, Daarul-Khulafaa’, Cet. Thn. 1404 H; sanadnya shahih].
    سمعت محمد بن إسحاق الثقفي قال سمعت أبا رجاء قتيبة بن سعيد قال:
    هذا قول الأئمة المأخوذ في الإسلام والسنة: الرضا بقضاء الله والاستسلام لأمره والصبر على حكمه والإيمان بالقدر خيره وشره والأخذ بما أمر الله تعالى والنهي عما نهى الله عنه وإخلاص العمل لله وترك الجدل والمراء والخصومات في الدين والمسح على الخفين والجهاد مع كل خليفة جهاد الكفار، لك جهاده وعليه شره، والجماعة مع كل بر وفاجر يعني الجمعة والعيدين والصلاة على من مات من أهل القبلة سنة، والإيمان قول وعمل الإيمان يتفاضل والقرآن كلام الله تعالى وأن لا ننزل أحدا من أهل القبلة جنة ولا نارا ولا نقطع الشهادة على أحد من أهل التوحيد وإن عمل بالكبائر ولا نكفر أحدا بذنب إلا ترك الصلاة وإن عمل بالكبائر وأن لا نخرج على الأمراء بالسيف وإن حاربوا ونبرأ من كل من يرى السيف على المسلمين كائنا من كان، وأفضل هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر ثم عمر ثم عثمان والكف عن مساويء أصحاب محمد ولا نذكر أحدا منهم بسوء ولا ننتقص أحدا منهم، والإيمان بالرؤية والتصديق بالأحاديث التي جاءت عن رسول الله في الرؤية واتباع كل أثر جاء عن رسول الله إلا أن يعلم أنه منسوخ فيتبع ناسخه، وعذاب القبر حق والميزان حق والحوض حق والشفاعة حق وقوم يخرجون من النار حق وخروج الدجال حق والرحم حق وإذا رأيت الرجل يحب سفيان الثوري ومالك بن أنس وأيوب السختياني وعبدالله بن عون ويونس بن عبيد وسليمان التيمي وشريكا وأبا الأحوص والفضيل بن عياض وسفيان بن عيينة والليث بن سعد وابن المبارك ووكيع بن الجراح ويحيى بن سعيد وعبد الرحمن بن مهدي ويحيى بن يحيى وأحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه فاعلم أنه على الطريق وإذا رأيت الرجل يقول هؤلاء الشكاك فاحذروه فإنه على غير الطريق وإذا قال المشبهة فاحذروه فإنه جهمي وإذا قال المجبرة فاحذروه فإنه قدري والإيمان يتفاضل والإيمان قول وعمل ونية والصلاة من الإيمان والزكاة من الإيمان والحج من الإيمان وإماطة الأذى عن الطريق من الإيمان ونقول الناس عندنا مؤمنون بالاسم الذي سماهم الله والاقرار والحدود والمواريث ولا نقول حقا ولا نقول عند الله ولا نقول كإيمان جبريل وميكائيل لأن إيمانهما متقبل ولا يصلى خلف القدري ولا الرافضي ولا الجهمي ومن قال إن هذه الآية مخلوقة فقد كفر {إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني} وما كان الله ليأمر موسى أن يعبد مخلوقا. ويعرف الله في السماء السابعة على عرشه كما قال {الرحمن على العرش استوى له ما في السماوات وما في الأرض وما بينهما وما تحت الثرى} والجنة والنار مخلوقتان ولا تفنيان والصلاة فريضة من الله واجبة بتمام ركوعها وسجودها والقراءة فيها. [شعار أصحاب الحديث]

    jika anda merasa benar..mohon anda untuk membuat artikel lagi tentang ijma’ kesepakatan allah dilangit dan membantah tulisan abul jauza…

    dan jika anda salah berbesar hatilah karena sifat manusia itu salah..

    1. ummu abdillah , tulisan ustadz firanda tidak lain adalah nukilan dari Ijtima`ul juyusy Ibnul qoyyim dan al-`ulu ad-dzahabi , dari sekian banyak riwayat yang beliau nukil hanya 1 yang coba abul-jauza pertahankan ( sebagai bentuk pembelaan terhadap ustadz firanda dan aqidah bathilnya ) dimana riwayat2 ini hanya dijadikan batu loncatan dan tameng akan aqidah sesungguhnya bahwa Allah berada pada arah yang tidak berwujud , dapatkah ustadz firanda dan ustadz abul Jauza membawakan satu atsar saja (meskipun dhaif ) dari Ulama Salaf as-shalihin yang mendukung aqidah : ” Allah berada pada arah yang tidak berwujud / al-jihah al-`adamiyah ” ………….?

      1. perkataan sahabat

        Perkatan Zainab radhiallahu ‘anha isteri Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam:

        قال أَنس بْن مَالِكٍ رضي الله عنه : كَانَتْ زَيْنََ بِنْتِ جَحْشٍ تَفْخَرُ عَلَى نِسَاءِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ تَقُولُ إِنَّ اللَّهَ أَنْكَحَنِى فِى السَّمَاءِ”.

        Berkata Anas Radhiallahu ‘anhu: Zainab binti Jahsy berbangga diatas para isteri Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam yang lain, ia berkata: sesungguhnya Allah menikahku (dengan Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam) dari langit”[Shahih Bukhari”: 6/2700.].

        Dalam lafazh yang lain ia berkata:

        ” زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ ، وَزَوَّجَنِي اللَّهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سماوات”.

        “Kalian dinikahkan oleh orang tua kalian masing-masing, sedangkan aku dinikahkan Allah dari atas langit yang tujuh”[Shahih Bukhari”: 6/2699.].

        perkataan tabi’in

        Perkataan Imam Dhahhaak:

        عن الضحاك قال: {مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ} [المجادلة/7] قال: هو الله عز وجل على العرش وعلمه معهم”.

        Dari Imam Dhahhaak: Allah berfirman: “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya”. Dhahhaak berkata: “Ia adalah Allah di atas ‘Arasy dan ilmu-Nya bersama mereka”[Al Asmaa was Shifaat/Baihaqy: 2/447 ].

        Dalam riwayat lain Imam Abu hanifah berkata:

        “قال أبو حنيفة: من قال لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقد كفر. وكذا من قال إنه على العرش ولا أدري العرش أفي السماء أو في الأرض. والله تعالى يدعى من أعلى لا من أسفل”.

        “Berkata Imam Abu hanifah: “barangsiapa yang berkata: aku tidak tahu tentang Tuhanku apakah Ia di langit atau di bumi! Maka sesungguhnya ia telah kafir. Demikian pula orang yang berkata: bahwa Ia di atas ‘Arasy, namun aku tidak tahu apakah ‘Arasy itu di langit atau di bumi. Memohon kepada Allah kearah atas, tidak memohon kearah bawah”[Al Fiqhul Akbar”/Abu HAnifah: 135.].

        Maksud dari ungkapan Imam Abu hanifah di atas adalah bila ada orang yang tidak mengetahui bahwa Zat Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya. Demikian pula orang yang tidak mengatahui tentang posisi ‘Arasy sebagai makhluk yang tertinggi, karena hal tersebut berhubungan dengan mengimani sifat Istiwaa bagi Allah di atas ‘Arasy.

        dari Maalik sebagai berikut :

        حدثني أبي رحمه الله حدثنا سريج بن النعمان حدثنا عبدالله بن نافع قال كان مالك بن أنس يقول الايمان قول وعمل ويقول كلم الله موسى وقال مالك الله في السماء وعلمه في كل مكان لا يخلو منه شيء

        Telah menceritakan kepadaku ayahku rahimahullah : Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An-Nu’maan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Naafi’, ia berkata : “Maalik bin Anas pernah berkata : ‘Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, Allah berbicara kepada Muusaa, Allah berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah, hal. 280 no. 532; shahih].

        Diriwayatkan juga oleh Abu Daawud dalam Masaail-nya hal. 263, Al-Aajuriiy dalam Asy-Syarii’ah, 2/67-68 no. 695-696, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad hal. 401 no. 673, Ibnu ‘Abdil-Barr dlam At-Tamhiid 7/138, dan Ibnu Qudaamah dalam Itsbaatu Shifaatil-‘Ulluw hal. 166 no. 76.

        mungkin ini cukup sebagai referensi yang ust ahmadsyahid minta..

        1. maaf ummu abdillah tidak satupun riwayat yang anda bawakan mendukung akidah Allah berada pada arah yang tidak berwujud / al-jihah al-`adamiyah , minta tolong saja sama ustadz abul jauza dan ustadz firanda niscaya mereka berduapun tidak akan mampu mendatangkan dalil / riwayat bahwa Allah berada pada arah yang tidak berwujud.

          dan sebaiknya ummu abdillah baca dulu dengan baik perkataan teman diskusi agar diskusinya nyambung dan tidak pindah kelain topik sebelum selesai.

          1. Ust Ahmadsyahid yang saya hormati saya tidak mengerti maksud tulisan anda tentang Allah berada pada arah yang tidak berwujud coba jelaskan dan saya yakin bahwa kebanyakan dari penggunjung blog ini tidak mengerti

            Kalau yang anda maksud tentang dalil pemutlakan arah dan tempat memang tidak ada dalil yang menjelaskan Namun kita akan juga tidak boleh menafikkan secara mutlak jika hal itu mengkonsekuensikan penafikkan terhadap sifat Al-‘Ulluw bagi Allah ta’ala.

            Jika orang asyaa’iroh ditanya tentang keberadaan Allah
            D ari pengalaman saya melihat jalan pikiran mereka dan berdiskusi dengan mereka, ada beberapa kemungkinan jawaban :

            1. Dimana-dimana, ini bagi asyaa’iroh yg awam
            2. Jawabnya muter-muter ngalor ngidul ga jelas sampe akhirnya bila sudah kalah dia berkata, tidak ada yg serupa dengan Allah, bila kita meyakini dia di langit sama saja meyakini Allah dilingkupi oleh langit dan ini adalah akidah salafi mujassimah musyabbihah wahabiyah. Ini adalah jawabannya asyaa’iroh yg terpengaruh sufi/ilmu kalam.
            3. Tidak boleh menanyakan dimana Allah. Ini jawaban asyaa’iroh yg terpengaruh aqidah syi’ah.
            4. Allah ada tanpa tempat dan arah. Ini jawaban yg paling parah dari asyaa’iroh yg sudah terjangkiti paham jahmiyyah yg menafikan sifat2 istiwa dan al ‘uluw. Kebanyakan asyaa’iroh skrg seperti yg nomer 4 ini.

            Jika anda berkeyakinan akidah seperti ini sungguh ini akan menyusakan orang islam karena rancu antara pendapat satu dengan lainnya..

            Bukan kah agama islam itu mudah……
            Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

            يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا.

            “Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” [HR. Al-Bukhari (no. 69, 6125), Muslim (no. 1734) dan Ahmad (III/131) dari Shahabat Anas z. Lafazh ini milik al-Bukhari.]

            Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

            عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ :
            ( إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ ) رواه البخاري (39) ومسلم (2816).

            “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” [HR. Al-Bukhari (no. 39), Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan an-Nasa-i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.]

            Kenapa saya menganggap islam itu mudah karena kita tinggal mengimani Hadist Shahih yang kita ketahui.
            Sebagaimana perkataan Imam Syafi’I

            إذا صح الحديث فهو مذهبي
            “Bila sebuah hadits dinyatakan sahih, maka itulah mazhabku.”[ An-Nawawi dalam al-Majmu’: 1/63.]
            Diantara hadist shohih yang menunjukkan keberadaan Allah dilangit seperti yang saya sebutkan dibawah ini..

            حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ وَكِيعِ بْنِ حُدُسٍ عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِينٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ قَالَ كَانَ فِي عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ قَالَ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ الْعَمَاءُ أَيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ قَالَ أَبُو عِيسَى هَكَذَا رَوَى حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ وَكِيعُ بْنُ حُدُسٍ وَيَقُولُ شُعْبَةُ وَأَبُو عَوَانَةَ وَهُشَيْمٌ وَكِيعُ بْنُ عُدُسٍ وَهُوَ أَصَحُّ وَأَبُو رَزِينٍ اسْمُهُ لَقِيطُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

            (TIRMIDZI – 3034) : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’ telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengkhabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ya’la bin Atho` dan Waki’ bin Hudus dari pamannya, Abu Razin berkata: Aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah dimanakah Allah sebelum Dia menciptakan makhlukNya? beliau menjawab: “Dia berada di awan yang tinggi, di atas dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan ‘arsyNya di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata: Yazid bin Harun berkata: Istilah Ama` adalah tidak ada sesuatu pun bersamanya. Abu Isa berkata: Seperti itu Hammad bin Salamah dan Waki’ meriwayatkan. Syu’bah, Abu Awanah, Husyaim dan Waki’ bin Udus mengatakan dan itu lebih shahih. Abu Razin namanya Laqith bin Amir. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan.

            قَالَ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ أَخْبَرَنِي يَعْلَى بْنُ عَطَاءٍ عَنْ وَكِيعِ بْنِ حُدُسٍ عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ قَالَ فِي عَمَاءٍ مَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَتَحْتَهُ هَوَاءٌ ثُمَّ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ
            (AHMAD – 15611) : (Ahmad bin Hanbal) berkata; telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah berkata; telah menghabarkan kepadaku Ya’la bin ‘Atha` dari Waki’ bin Hudus dari pamannya, Abu Razin Al ‘Uqaili dia berkata; Wahai Rasulullah, di manakan Rab kita AzzaWaJalla sebelum diciptakannya langit dan bumi?. Beliau menjawab, di awan yang di atasnya adalah udara dan di bawahnya juga udara, lalu Dia menciptakan singgasana-Nya di atas air.

            حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَتَقَارَبَا فِي لَفْظِ الْحَدِيثِ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ حَجَّاجٍ الصَّوَّافِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ هِلَالِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي قَالَ إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ وَإِنَّ مِنَّا رِجَالًا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ قَالَ فَلَا تَأْتِهِمْ قَالَ وَمِنَّا رِجَالٌ يَتَطَيَّرُونَ قَالَ ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ فَلَا يَصُدَّنَّهُمْ قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ قَالَ قُلْتُ وَمِنَّا رِجَالٌ يَخُطُّونَ قَالَ كَانَ نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ يَخُطُّ فَمَنْ وَافَقَ خَطَّهُ فَذَاكَ قَالَ وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِي قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِي بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ

            (MUSLIM – 836) : Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin ash-Shabbah dan Abu Bakar bin Abi Syaibah dan keduanya berdekatan dalam lafazh hadits tersebut, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Hajjaj ash-Shawwaf dari Yahya bin Abi Katsir dari Hilal bin Abi Maimunah dari ‘Atha’ bin Yasar dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami dia berkata, “Ketika aku sedang shalat bersama-sama Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari suatu kaum bersin. Lalu aku mengucapkan, ‘Yarhamukallah (semoga Allah memberi Anda rahmat) ‘. Maka seluruh jamaah menujukan pandangannya kepadaku.” Aku berkata, “Aduh, celakalah ibuku! Mengapa Anda semua memelototiku?” Mereka bahkan menepukkan tangan mereka pada paha mereka. Setelah itu barulah aku tahu bahwa mereka menyuruhku diam. Tetapi aku telah diam. Tatkala Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam selesai shalat, Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu (ungkapan sumpah Arab), aku belum pernah bertemu seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah! Beliau tidak menghardikku, tidak memukul dan tidak memakiku. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.’ -Atau sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, sesungguhnya aku dekat dengan masa jahiliyyah. Dan sungguh Allah telah mendatangkan agama Islam, sedangkan di antara kita ada beberapa laki-laki yang mendatangi dukun.’ Beliau bersabda, ‘Janganlah kamu mendatangi mereka.’ Dia berkata, ‘Dan di antara kita ada beberapa laki-laki yang bertathayyur (berfirasat sial).’ Beliau bersabda, ‘Itu adalah rasa waswas yang mereka dapatkan dalam dada mereka yang seringkali menghalangi mereka (untuk melakukan sesuatu), maka janganlah menghalang-halangi mereka. -Ibnu Shabbah berkata dengan redaksi, ‘Maka jangan menghalangi kalian-.” Dia berkata, “Aku berkata, ‘Di antara kami adalah beberapa orang yang menuliskan garis hidup.’ Beliau menjawab, ‘Dahulu salah seorang nabi menuliskan garis hidup, maka barangsiapa yang bersesuaian garis hidupnya, maka itulah (yang tepat, maksudnya seorang nabi boleh menggambarkan masa yang akan datang, pent) ‘.” Dia berkata lagi, “Dahulu saya mempunyai budak wanita yang menggembala kambing di depan gunung Uhud dan al-Jawwaniyah. Pada suatu hari aku memeriksanya, ternyata seekor serigala telah membawa seekor kambing dari gembalaannya. Aku adalah laki-laki biasa dari keturunan bani Adam yang bisa marah sebagaimana mereka juga bisa marah. Tetapi aku menamparnya sekali. Lalu aku mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, dan beliau anggap tamparan itu adalah masalah besar. Aku berkata, “(Untuk menebus kesalahanku), tidakkah lebih baik aku memerdekakannya? ‘ Beliau bersabda, ‘Bawalah dia kepadaku.’ Lalu aku membawanya menghadap beliau. Lalu beliau bertanya, ‘Di manakah Allah? ‘ Budak itu menjawab, ‘Di langit.’ Beliau bertanya, ‘Siapakah aku? ‘ Dia menjawab, ‘Kamu adalah utusan Allah.’ Beliau bersabda, ‘Bebaskanlah dia, karena dia seorang wanita mukminah’.” Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami al-Auza’i dari Yahya bin Abi Katsir dengan isnad ini hadits semisalnya.

            حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ الْحَجَّاجِ الصَّوَّافِ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ هِلَالِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَارِيَةٌ لِي صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِي بِهَا قَالَ فَجِئْتُ بِهَا قَالَ أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ الشَّرِيدِ أَنَّ أُمَّهُ أَوْصَتْهُ أَنْ يَعْتِقَ عَنْهَا رَقَبَةً مُؤْمِنَةً فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي أَوْصَتْ أَنْ أُعْتِقَ عَنْهَا رَقَبَةً مُؤْمِنَةً وَعِنْدِي جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ نُوبِيَّةٌ فَذَكَرَ نَحْوَهُ قَالَ أَبُو دَاوُد خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَرْسَلَهُ لَمْ يَذْكُرْ الشَّرِيدَ

            (ABUDAUD – 2856) : Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Al Hajjaj Ash Shawwaf telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abu Katsir, dari Hilal bin Abu Maimunah dari ‘Atha` bin Yasar dari Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulami, ia berkata; aku katakan; wahai Rasulullah, terdapat seorang budak wanita yang telah aku pukul dengan keras. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap hal tersebut sesuatu yang besar terhadap diriku, lalu aku katakan; tidakkah saya memerdekakannya? Beliau berkata: “Bawa dia kepadaku!” Kemudian aku membawanya kepada beliau. Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?” Budak wanita tersebut berkata; di langit. Beliau berkata: “Siapakah aku?” Budak tersebut berkata; engkau adalah Rasulullah.”Beliau berkata; bebaskan dia! Sesungguhnya ia adalah seorang wanita mukmin.” Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il, telah menceritakan kepada kami Hammad dari Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Asy Syarid bahwa ibunya telah berwasiat kepadanya agar membebaskan untuknya seorang budak wanita mukmin. Kemudian ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah berwasiat agar saya membebaskan untuknya seorang budak wanita mukmin, dan saya memiliki seorang budak wanita hitam dari Nubiyah… kemudian ia menyebutkan hadits seperti itu. Abu Daud berkata; Khalid bin Abdullah telah memursalkannya dan ia tidak menyebutkan Asy Syarid.

            حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ الْجَوْزَجَانِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَخْبَرَنِي الْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِجَارِيَةٍ سَوْدَاءَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَلَيَّ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللَّهُ فَأَشَارَتْ إِلَى السَّمَاءِ بِأُصْبُعِهَا فَقَالَ لَهَا فَمَنْ أَنَا فَأَشَارَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِلَى السَّمَاءِ يَعْنِي أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

            (ABUDAUD – 2857) : Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ya’qub Al Jauzajani, telah menceritakan kepada kami Yazid? bin Harun, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Al Mas’udi dari ‘Aun bin Abdullah dari Abdullah bin ‘Utbah dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa seorang budak wanita hitam, kemudian ia berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berkewajiban membebaskan budak mukmin. Kemudian beliau bersabda: “Di manakah Allah?” kemudian ia mengisyaratkan ke langit dengan jari-jarinya. Kemudian beliau berkata kepadanya: “Siapakah aku?” kemudian ia menunjuk kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ke langit yang maksudnya adalah engkau adalah Rasulullah. Maka beliau berkata: “Bebaskan dia, sesungguhnya ia adalah wanita mukminah.”

            حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ هِلَالِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ أَنَّهُ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ جَارِيَةً لِي كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا لِي فَجِئْتُهَا وَقَدْ فُقِدَتْ شَاةٌ مِنْ الْغَنَمِ فَسَأَلْتُهَا عَنْهَا فَقَالَتْ أَكَلَهَا الذِّئْبُ فَأَسِفْتُ عَلَيْهَا وَكُنْتُ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلَطَمْتُ وَجْهَهَا وَعَلَيَّ رَقَبَةٌ أَفَأُعْتِقُهَا فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْنَ اللَّهُ فَقَالَتْ فِي السَّمَاءِ فَقَالَ مَنْ أَنَا فَقَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْتِقْهَا

            (MALIK – 1269) : Telah menceritakan kepadaku Malik dari Hilal bin Usamah dari ‘Atha bin Yasar dari Umar bin Al Hakam ia berkata; “Saya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, budak perempuanku mengembala kambing milikku. Saat saya mendatanginya, ternyata kambingku telah hilang satu ekor. Saat aku tanyakan kepadanya, ia menjawab, “Kambing itu telah dimakan serigala.” Aku merasa menyesal dengan kejadian tersebut, dan aku hanyalah manusia biasa, maka aku pun menampar wajahnya. Aku memiliki seorang budak, maka apakah aku harus memerdekakannya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bertanya kepada budak tersebut: “Di mana Allah?” dia menjawab; “Di langit.” Beliau bertanya lagi: “Siapakah aku?” dia menjawab; “Engkau Rasulullah, ” lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bebaskanlah dia! ”

            أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ هِلَالِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ قَالَ حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السَّلَمِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ فَجَاءَ اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ وَإِنَّ رِجَالًا مِنَّا يَتَطَيَّرُونَ قَالَ ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ فَلَا يَصُدَّنَّهُمْ وَرِجَالٌ مِنَّا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ قَالَ فَلَا تَأْتُوهُمْ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرِجَالٌ مِنَّا يَخُطُّونَ قَالَ كَانَ نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ يَخُطُّ فَمَنْ وَافَقَ خَطُّهُ فَذَاكَ قَالَ وَبَيْنَا أَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّلَاةِ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَحَدَّقَنِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهُ مَا لَكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ قَالَ فَضَرَبَ الْقَوْمُ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُسَكِّتُونِي لَكِنِّي سَكَتُّ فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَانِي بِأَبِي وَأُمِّي هُوَ مَا ضَرَبَنِي وَلَا كَهَرَنِي وَلَا سَبَّنِي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ قَالَ إِنَّ صَلَاتَنَا هَذِهِ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ قَالَ ثُمَّ اطَّلَعْتُ إِلَى غُنَيْمَةٍ لِي تَرْعَاهَا جَارِيَةٌ لِي فِي قِبَلِ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ وَإِنِّي اطَّلَعْتُ فَوَجَدْتُ الذِّئْبَ قَدْ ذَهَبَ مِنْهَا بِشَاةٍ وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ فَصَكَكْتُهَا صَكَّةً ثُمَّ انْصَرَفْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أَعْتِقُهَا قَالَ ادْعُهَا فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ فَمَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ فَاعْتِقْهَا

            (NASAI – 1203) : Telah mengabarkan kepada kami Ishaq bin Manshur dia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Auza’i dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir dari Hilal bin Abu Maimunah dia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Atha bin Yasar dari Mu’awiyah bin Al Hakam As Salami dia berkata; bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Shalallah ‘Alaihi Wa Sallam; “Wahai Rasulullah Shalallah ‘Alaihi Wa Sallam, kami baru saja meninggalkan masa Jahiliyah, lalu Allah menurunkan Islam dan beberapa orang dari kami melakukan thathayyur!” Beliau Shallallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Itu hanyalah bisikan hati, maka jangan menghalangi niatan mereka.” Kami berkata; “Di antara kita juga ada yang mendatangi dukun-dukun.” Nabi Shallallallahu’alaihi wasallam berkata: “Jangan kalian datangi mereka.” la berkata; “Wahai Rasulullah, di antara kita ada yang membuat garis ramal.” Lalu Nabi berkata: “Dulu juga ada salah satu nabi yang membuat garis petunjuk. Jadi barangsiapa garisnya sama dengan garis yang dibuat olehnya, maka hal itu boleh.” Ketika kami bersama Rasulullah dalam suatu shalat, tiba-tiba ada seseorang yang bersin, maka aku spontan mengucapkan; “Yarhamukallah (semoga Allah merahmati-Mu).” Orang-orangpun melototiku, maka aku berkata; “Celakalah kalian, kenapa kalian melototiku?” la berkata; “Lalu orang-orang menepukkan tangan ke paha mereka. Setelah aku lihat mereka menyuruhku diam yang (sebenarnya aku ingin mendebatnya), aku akhirnya diam. Setelah Rasulullah selesai shalat, beliau memanggiku – demi ibu dan bapakku yang menjadi jaminan – beliau tidak memukulku, tidak menghardikku, dan tidak mencelaku. Aku belum pernah melihat seorang guru pun sebelum ataupun setelah beliau yang pengajarannya lebih baik daripada beliau. Lantas Rasulullah sekedar bersabda; ‘Shalat kita ini tidak boleh ada ucapan sesuatupun dari pembicaraan manusia. Shalat adalah bertasbih, bertakbir, dan membaca Al Qur’an.” la berkata, “Kemudian aku melihat kambingku yang digembalakan oleh seorang budak perempuanku di daerah antara Uhud dan Jawaniyyah, dan aku melihat seekor srigala membawa kabur salah satu kambing – aku seorang manusia yang kecewa sebagaimana umumnya orang yang kecewa – maka aku menampar budak itu sekali. Kemudian aku datang kepada Rasulullah dan mengabarkan hal itu. Beliau anggap perlakuanku itu keterlaluan, sehingga aku berkata; “Bagaimana kalau dia kumerdekakan?” Beliau menjawab: “Panggillah dia.” Lantas Rasulullah bersabda kepadanya: “Di mana Allah ‘azza wajalla?” la – budak tersebut -menjawab; “Di langit.” Beliau bertanya lagi, “Lalu siapa aku?” la – budak tersebut-menjawab: “Engkau utusan Allah.” Beliau berkata: “Dia perempuan yang beriman. maka merdekakanlah.”

            حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا الْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَوْنٍ عَنْ أَخِيهِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِجَارِيَةٍ سَوْدَاءَ أَعْجَمِيَّةٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَلَيَّ عِتْقَ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْنَ اللَّهُ فَأَشَارَتْ إِلَى السَّمَاءِ بِإِصْبَعِهَا السَّبَّابَةِ فَقَالَ لَهَا مَنْ أَنَا فَأَشَارَتْ بِإِصْبَعِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِلَى السَّمَاءِ أَيْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ أَعْتِقْهَا

            (AHMAD – 7565) : Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Al Mas’udi dari ‘Aun dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah dari Abu Hurairah, dia berkata; bahwasanya ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Salallahu ‘Alaihi wa sallam dengan membawa seorang budak wanita A’jam yang hitam, laki-laki tersebut berkata; “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku memiliki kewajiban untuk memerdekakan seorang budak yang mukmin”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada wanita hitam tersebut, “Di mana Allah?” Lalu wanita tersebut menunjuk dengan jari telunjuknya ke langit, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda kepadanya: “Siapa saya?.” Lalu wanita itu menunjuk dengan jari telunjuknya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan ke langit artinya; engkau adalah utusan Allah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Merdekakan dia.”

            قَالَ وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِي فِي قِبَلِ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُهَا ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّئْبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ آسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِي بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللَّهُ فَقَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ وَقَالَ مَرَّةً هِيَ مُؤْمِنَةٌ فَأَعْتِقْهَا

            (AHMAD – 22645) : Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Mu’awiyah; berkata perawi; Aku dulu memiliki seorang budak wanita yang menggembala kambing disisi gunung Uhud dan Jawaniyah, aku melihatnya dari atas pada suatu hari ternyata serigala memakan salah satu kambingnya dan aku adalah seorang dari Bani Adam, aku menyesal seperti mereka tapi aku aku memukulnya dengan keras kemudian aku mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau membesarkan hal itu padaku, aku berkata: Wahai Rasulullah, perkenanankan aku memerdekakannya. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bawa dia kemari.” Aku membawanya lalu beliau bersabda kepadanya: Dimana Allah? Budak wanita itu menjawab: Di langit. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa aku?” ia menjawab: Engkau utusan Allah. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merdekakan, ia mu`minah.” Ia (Mu’awiah) pernah berkata dalam riwayatnya: “Ia mu`minah, merdekakan.”

            قَالَ وَكَانَتْ لِي غَنَمٌ فِيهَا جَارِيَةٌ لِي تَرْعَاهَا فِي قِبَلِ أُحُدٍ والْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ عَلَيْهَا ذَاتَ يَوْمٍ فَوَجَدْتُ الذِّئْبَ قَدْ ذَهَبَ مِنْهَا بِشَاةٍ فَأَسِفْتُ وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ آسَفُ مِثْلَ مَا يَأْسَفُونَ وَإِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً قَالَ فَعَظُمَ ذَلِكَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ادْعُهَا فَدَعَوْتُهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ إِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ فَأَعْتِقْهَا قَالَ هَذَانِ حَدِيثَانِ

            (AHMAD – 22649) : Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Mu’awiyah; Berkata: Aku dulu memiliki seorang budak wanita yang menggembala kambing disisi gunung Uhud dan Jawaniyah, aku melihatnya dari atas pada suatu hari ternyata serigala memakan salah satu kambingnya dan aku adalah seorang dari Bani Adam, aku menyesal seperti mereka tapi aku aku memukulnya dengan keras kemudian aku mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau membesarkan hal itu padaku, aku berkata: Wahai Rasulullah, perkenanankan aku memerdekakannya. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bawa dia kemari.” Aku membawanya lalu beliau bersabda kepadanya: Dimana Allah? Budak wanita itu menjawab: Dilangit. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa aku?” ia menjawab: Engkau utusan Allah. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Ia mu`minah, merdekakan.” Berkata; Ini hadits kedua.

            قَالَ وَبَيْنَمَا جَارِيَةٌ لِي تَرْعَى غُنَيْمَاتٍ لِي فِي قِبَلِ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ عَلَيْهَا اطِّلَاعَةً فَإِذَا الذِّئْبُ قَدْ ذَهَبَ مِنْهَا بِشَاةٍ وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ يَأْسَفُ كَمَا يَأْسَفُونَ لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً قَالَ فَعَظُمَ ذَلِكَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ أَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ابْعَثْ إِلَيْهَا قَالَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا فَجَاءَ بِهَا فَقَالَ أَيْنَ اللَّهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ فَمَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

            (AHMAD – 22652) : Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya, dari Mu’awiyah; Berkata (Mu’awiyah bin Al Hakam): Aku dulu memiliki seorang budak wanita yang menggembala kambing disisi gunung Uhud dan Jawaniyah, aku melihatnya dari atas pada suatu hari ternyata serigala memakan salah satu kambingnya dan aku adalah seorang dari Bani Adam, aku menyesal seperti mereka tapi aku aku memukulnya dengan keras kemudian aku mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau membesarkan hal itu padaku, aku berkata: Wahai Rasulullah, perkenanankan aku memerdekakannya. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bawa dia kemari.” Aku membawanya lalu beliau bersabda kepadanya: Dimana Allah? Budak wanita itu menjawab: Di langit. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa aku?” ia menjawab: Engkau utusan Allah. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merdekakan, karena adalah mu`minah.”

          2. maaf ummu abdullah, sekedar koreksi nih, bahwa yg mengatakan “Allah berada di arah yg tak berwujud” adalah Firanda, ustadz Ahmad Syahid cuma mengutipnya, dan itu memang seperti itu pendapat Firanda bahwa Allah berada dalam arah tak berwujud sebagaimana yg ada di dalam artikel di blognya, yg dulu pernah dikritisi habis-habisan oleh Ustadz Ahmad Syahid di blog ini.

            Makanya benar apa yg diingatkan oleh Ustadz Ahmad Syahid kepada antum agar menyimak apa yg disampaikan oleh teman diskusi, yah… tentu saja agar diskusinya nyambung. Kalau seperti antum ini gemana, jadi nggak nyambung kan? Sepintas seperti nyambung, tetapi ternyata kan tidak nyambung, duh… gemana sih?

          3. terimakasih mbak Artika atas komentarnya , mohon ijin untuk sedikit memperjelas :

            Ummu Abdillah ,untuk mengetahui apa itu arah yang tidak berwujud , dan mengapa saya katakan ” riwayat2 itu hanya dijadikan batu loncatan dan Tameng ”

            silahkan baca pada artikel bantahan terhadap ustadz firanda dengan judul : ” firanda pendusta murakkab berhujjah dengan hujjah dusta dan palsu ” bagian 3 point 4. dan bagian 4 point kesimpulan.

            Ustadz firanda mengatakan:
            4- Dari penjelasan di atas, maka jika Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah di jihah (di arah) atas maka bukanlah maksudnya Allah berada di suatu tempat yang merupakan makhluk. Akan tetepi Allah berada di luar alam, dan berada di arah atas alam. Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar alam. (lihat penjelasan Ibnu Rusyd Al-Hafiid dalam kitabnya Al-Kasyf ‘an Manhaj Al-Adillah hal 145-147)

            demikianlah Ummu abdillah pernyataan Ustadz firanda yang merupakan kopipaste dari Aqidah syeikh Ibnu Taimiyah.

    2. Tolong mbak ummu abdillah di cek lagi kitab al umm nya, kami punya al umm, cd gamee fiqh dan syamilah kok gak ada yang muncul malah dari fatawi kubro ibnu taimiyyah yang nongol waktu ngeklik lafadz diatas, mohon koreksinya.

  17. Coba bantu semuanya tentang ijma’ yang dikatakan imam izzuddin bin abdissalam dalam kitab tobaqotussyafiiyah kubro juz 3 hal 231 atau klik syamilaah lafadz
    ان عقيدته اجتمع عليها الشافعية والمالكية والحنفية….
    Maaf ngetik pake hp, harap maklum

  18. @ ummu abdillah
    Dalam kitab al umm tentang perkataan

    قتيبة بن سعيد، شيخ خراسان
    قال أبو أحمد الحاكم وأبو بكر النقاش المفسر واللفظ له: حدثنا أبو العباس السراج قال: سمعت قتيبة بن سعيد يقول:
    هذا قول الأئمة في الإسلام والسنة والجماعة:
    نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه، كما قال جل جلاله {الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى}.
    وكذا نقل موسى بن هارون عن قتيبة أنه قال: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه.
    Telah berkata Abu Muhammad Al-Haakim dan Abu Bakr An-Naqqaasy Al-Mufassir, dan ini adalah lafadhnya (Abu Bakr An-Naqqaasy) : Telah menceritakan kepada kami Abul-’Abbaas As-Sarraaj, ia berkata : Aku mendengar Qutaibah bin Sa’iid berkata : “…..(matan atsar)…”.

    kami punya kitab al umm, cd gamee fiqh dan syamilah, setelah kami cek kok tidak ada ya? apa kami kurang teliti atau bagaimana? tolong tanggapannya. trims

    1. kitab (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)

      dan

      مختصر العلو للعلي العظيم

  19. mau tanya ah,bagi anda yang tidak menyakini Allah itu di arsy, trus ada menyakini Allah dimana y??????, coz ane kasihan mendengar dari mulut tipis para santri TPA yang diajarkan oleh guru2 ngaji mereka yang menyatakan Allah itu ada dimana 2 dan itdak mempunyai kepastian, sedangkan Allah menjelaskan dengan pasti keberdaannya.?????

  20. Bismillah,Ya Allah perlihatkanlah kpd kami yang haq itu adlh sesuatu yg haq dan berikanlah kami kekuatan utk mengikutinya, dan perlihatkanlah kpd kami yg bhatil itu sesuatu yg bhatil dan berikanlah kami kekuatan utk menghindarinya.
    mudah2an diskusi ini ttp berjalan secara ilmiah dan penuh kesopanan dan dlm rangka mencari kebenaran bukan dlm rangka mencari pemenang semoga kita dpt berbesar hati thdp kebenaran yg dibawa saudara kita.

  21. Bismillah,Ya Allah perlihatkanlah kpd kami yang haq itu adlh sesuatu yg haq dan berikanlah kami kekuatan utk mengikutinya, dan perlihatkanlah kpd kami yg bhatil itu sesuatu yg bhatil dan berikanlah kami kekuatan utk menghindarinya.
    mudah2an diskusi ini ttp berjalan secara ilmiah dan penuh kesopanan dan dlm rangka mencari kebenaran bukan dlm rangka mencari pemenang semoga kita dpt berbesar hati thdp kebenaran yg dikemukakan saudara kita.

  22. Aryati Kartika say :maaf ummu abdullah, sekedar koreksi nih, bahwa yg mengatakan “Allah berada di arah yg tak berwujud” adalah Firanda,
    ASBUN…ASBUN….ASBUN ATAU LEMPAR BATU SEMBUNYI TANGAN

  23. di copy dari website Al Ustadz Firanda :
    Ijmak para ulama tentang keberadaan Allah di atas langit

    Keberadaan Allah di atas langit merupakan konsensus para ulama Islam. Bahkan telah dinukilkan ijmak mereka oleh banyak para ulama Islam. Diantara mereka:
    Pertama : Al-Imam Al-Auzaa’i rahimahullah (wafat 157 H)
    Al-Auzaa’i berkata : “Ketika kami dahulu –dan para tabi’in masih banyak-kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsyNya, dan kita beriman dengan sifat-sifatNya yang datang dalam sunnah” (Al-Asmaa’ was sifaat li Al-Baihaqi 2/304 no 865, Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/940 no 334, dan sanadnya dinyatakan Jayyid (baik) oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/406-407)

    Kedua : Qutaibah bin Sa’iid (150-240 H)
    Beliau berkata :
    “Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
    Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103)
    Ketiga : Ibnu Qutaibah (213 H- 276 H)
    Beliau berkata dalam kitabnya Takwiil Mukhtalaf al-Hadiits (tahqiq Muhammad Muhyiiddin Al-Ashfar, cetakan keduan dari Al-Maktab Al-Islaami) :

    “Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” (Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395)
    Keempat : Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimi (wafat 280 H)
    Beliau berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
    “Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah” (Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid alaa Bisyr Al-Mariisi Al-‘Aniid Hal 25)
    Kelima : Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H)
    Beliau berkata :
    “Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami –dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai- bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya”
    (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482)
    Adz-Dzahabi berkata : As-Saji adalah syaikh dan hafizhnya kota Al-Bashroh dan Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan aqidah Ahlus Sunnah darinya (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 dan Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah li Ibnil Qoyyim hal 185)
    Keenam : Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H)
    Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid 1/254
    “Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit:
    Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah”
    Ketujuh : Al-Imam Ibnu Baththoh (304 H-387 H)
    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ‘an Syarii’at Al-Firqoh An-Naajiyah :
    “Bab Beriman Bahwa Allah di atas ‘Arsy, ‘Arsy adalah makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi Makhluk-Nya”
    Kaum muslimin dari para sahabat, tabiin dan seluruh ulama kaum mukminin telah bersepakat bahwa Allah -tabaraka wa ta’ala- di atas ‘arsy-Nya di atas langit-langit-Nya yang mana ‘arsy merupakan Makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluknya. Tidaklah menolak dan mengingkari hal ini kecuali penganut aliran hululiyah, mereka itu adalah kaum yang hatinya telah melenceng dan setan telah menarik mereka sehingga mereka keluar dari agama, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Dzat Allah Berada dimana-mana.” (al-Ibaanah 3/136)
    Adz Dzahabi berkata, “Ibnu Baththoh termasuk Pembesarnya Para Imam, Seorang yang Zuhud, Faqih, pengikut sunnah.” (Al-‘uluw li Adz-Dzahabi 2/1284)
    Kedelapan: Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi (339-429H)
    Beliau berkata di dalam kitabnya: Al Wushul ila Ma’rifatil Ushul
    “Kaum Muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat (ijmak) bahwa makna firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” (QS. Al Hadid 4) dan ayat-ayat Al Qur’an yg semisal itu adalah Ilmu-Nya. Allah ta’ala di atas langit dengan Dzat-Nya, ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya sesuai kehendak-Nya”
    Beliau juga mengatakan, “Ahlussunah berkata tentang firman Allah, “Tuhan yang Maha Pemurah, yang ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS Thoohaa : 5), bahwasanya ber-istiwa-nya Allah di atas Arsy adalah benar adanya bukan majaz” (Sebagaimana dinukil oleh Ad-Dzahabi dalam Al-‘Uluw 2/1315)

    Imam Adz Dzahabi berkata, “At-Tholamanki termasuk pembesar para Huffazh dan para imam dari para qurroo` di Andalusia” (Al-‘Uluw 2/1315)
    Kesembilan: Syaikhul Islam Abu Utsman Ash Shabuni (372 – 449H)
    Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab(Al Qur’an)….
    Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
    Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-‘Uluw 2/1317)

    Kesepuluh : Imam Abu Nashr As-Sijzi (meninggal pada tahun 444 H)
    Berkata Adz-Dzahabi (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656) :

    Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, Dia akan turun ke langit dunia, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”

    Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-‘Uluw 2/1321

    Kesebelas : Imam Abu Nu’aim -Pengarang Kitab al Hilyah-(336-430 H)
    Beliau berkata di kitabnya al I’tiqod,
    “Jalan kami adalah jalannya para salaf yaitu pengikut al Kitab dan As Sunnah serta ijmak ummat. Di antara hal-hal yang menjadi keyakinan mereka adalah Allah senantiasa Maha Sempurna dengan seluruh sifat-Nya yang qodiimah…

    dan mereka menyatakan dan menetapkan hadits-hadits yang telah valid (yang menyebutkan) tentang ‘arsy dan istiwa`nya Allah diatasnya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), Allah terpisah dengan makhluk-Nya dan para makhluk terpisah dari-Nya, Allah tidak menempati mereka serta tidak bercampur dengan mereka dan Dia ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya di langit bukan di bumi.” (Al-‘Uluw karya Adz-Dzahabi 2/1305 atau mukhtashor Al-‘Uluw 261)

    Adz Dzahabi berkata, “Beliau (Imam Abu Nu’aim) telah menukil adanya ijmak tentang perkataan ini -dan segala puji hanya bagi Allah-, beliau adalah hafizhnya orang-orang ‘ajam (non Arab) di zamannya tanpa ada perselisihan. Beliau telah mengumpulkan antara ilmu riwayat dan ilmu diroyah. Ibnu Asaakir al Haafizh menyebutkan bahwa dia termasuk sahabat dari Abu Hasan al Asy’ari.” (Al-‘Uluw 2/1306)

    Kedua belas: Imam Abu Zur’ah Ar Raazi (meninggal tahun 264H) dan Imam Abu Hatim (meninggal tahun 277H)
    Berkata Ibnu Abi Hatim :
    “Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:

    Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…

    Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)

    Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,

    “Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
    Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201
    Ketiga belas : Imam Ibnu Abdil Bar (meninggal tahun 463H)
    Beliau berkata dikitabnya at Tamhiid setelah menyebutkan hadits nuzul (turunnya Allah ke langit dunia, pent),
    “Pada hadits tersebut terdapat dalil bahwa Allah berada di atas yaitu di atas ‘arsy-Nya, di atas langit yang tujuh, hal ini sebagaimana dikatakan oleh para jama’ah. Hal ini merupakan hujjah bagi mereka terhadap mu’tazilah dan jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla berada dimana-mana bukan di atas ‘arsy” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/8)
    Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil terhadap hal ini, di antaranya, beliau berkata :
    “Diantara dalil bahwa Allah di atas langit yang tujuh adalah bahwasanya para ahli tauhid seluruhnya baik orang arab maupun selain arab jika mereka ditimpa kesusahan atau kesempitan mereka mendongakkan wajah mereka ke atas, mereka meminta pertolongan Rabb mereka tabaaraka wa ta’ala…”” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/12)
    Beliau juga berkata :
    “Dan kaum muslimin di setiap masa masih senantiasa mengangkat wajah mereka dan tangan mereka ke langit jika mereka ditimpa kesempitan, berharap agar Allah menghilangkan kesempitan tersebut” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/47)

    Para pembaca yang budiman, demikianlah jelas bagi kita ijmak salaf yang disampaikan oleh para ulama mutaqodimin, sepuluh lebih ulama mutqoddimin yang menyebutkan ijmak para salaf

    1. @abu dzar
      Pas gak kira-kira seperti yang ente koment.
      Persis bunyi di Kitab Injil Surat Matius pasal 3 ayat 17 : “Maka suatu suara dari langit mengatakan : “Inilah anakKu yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan”.

  24. MENITI KESEMPURNAAN IMAN (BANTAHAN TERHADAP KEDUSTAAN WAHABI MUJASSIM)

    Sebelumnya, ummu abdillah bertanya, di kitab mana pernyataan ijma’ tentang kebenaran aqidah asy’ariyyah. anda dapat membaca kitab beliau yg berjudul “mulhah al i’tiqad” karya al imam al izz ibn abd as-salam, juga dalam Thabaqat asy Syafi’iyah al Kubra karya at Tajudin as Subki.

    BAB I IJTIHAD

    Sebelum kita membahas masalah Aqidah, tawassul, tabarruk dll. Ada baiknya kita memahami dahulu, apa itu ijtihad. Dalam suatu riwayat diceritakan, ketika Nabi Muhammad saw. Mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, bertanyalah Rasulullah saw. Kepada Mu’adz, bagaimana cara Mu’adz memecahkan suatu masalah, maka menjawablah Mu’adz : akan ku cari di kitabullah. Bila tidak ada, sahut Nabi. Maka akan kucari di sunnah (Hadist), sahut Mu’adz. Jika tidak ada, Tanya Nabi. Maka Mu’adz menjawab, aku akan berijtihad. Dari riwayat tersebut dapat diambil pelajaran, bahwa tidak semua perkara yang tidak ada penjelasan secara terperinci dalam Al-Qur’an dan Hadist langsung di vonis Bid’ah dan haram.

    Demikian pula dalam syariah ini, kita tak mengetahui samudera syariah seluruh madzhab, dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul saw, maka kita tak mengenal hukum ibadah kecuali menelusuri fatwa yang ada di Imam – Imam Muhaddits terdahulu. Dari sekian banyak imam mujtahid, yang secara formulatif dibukukan hasilhasil ijtihadnya dan hingga kini madzhab-madzhabnya masih dianggap eksis hanya terbatas kepada Imam madzhab yang empat saja, yaitu; al-Imâm Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit al-Kufy (w 150 H) sebagai perintis madzhab Hanafi, al-Imâm Malik ibn Anas (w 179 H) sebagai perintis madzhab Maliki, al-Imâm Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i (w 204 H) sebagai perintis madzhab Syafi’i, dan al-Imâm Ahmad ibn Hanbal (w 241 H) sebagai perintis madzhab Hanbali. Sudah barang tentu para Imam mujtahid yang empat ini memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni hingga mereka memiliki otoritas untuk mengambil intisari-intisari hukum yang tidak ada penyebutannya secara sharîh, baik di dalam al-Qur’an maupun dalam hadits-hadits Rasulullah.

    Setelah generasi imam mazhab, umat islam dari masa ke masa senantiasa mengikuti salah satu mazhab yang ada. Sebagai contoh, Imam al-Izz ibn Abd as-Sallam, Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Ibn Hajar al-Asqolani, Imam Nawawi, semuanya bermazhab, yaitu mazhab Syafi’i. Padahal kita tahu, bahwa para imam imam tersebut telah mencapai derajat mujtahid, namun mereka tidak pernah mendakwakan diri sebagai mujtahid mutlaq seperti Imam mazhab yang empat.

    Dari sana dapat diambil pelajaran, bahwa seorang mujtahid saja masih bermazhab, maka orang awam seperti kita harus bermazhab juga. Firman Allah swt. dalam surat Al-Anbiya’: 7 yang artinya: “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui”. Para ulama telah sepakat bahwa ayat ini memerintahkan kepada orang-orang yang tidak mengetahui hukum dan dalilnya agar mengikuti orang-orang yang mengetahui hal tersebut. Para ulama ushul fiqih menjadikan ayat ini sebagai dasar utama bahwa orang yang tidak mengerti (awam) haruslah bertaqlid kepada orang yang alim yang mujtahid.

    Sudah tentu kita harus menyadari bahwa para ulama yang dalam ijtihadnya tidak mendahulukan kehendak hawa nafsunya dan tidak terlalu fanatik buta. Para mujtahid yang telah memenuhi syarat sebagai mujtahid sesungguhnya ingin mencari keridhaan Allah swt. dan berkeinginan untuk mendapatkan yang hak atau benar.

    Seseorang yang telah mengkaji kitab dari enam kitab hadits (kutub As-Sittah), bukan berarti orang tersebut dapat langsung berfatwa. Oleh karena itu para Ulama Salaf Panutan Umat sudah memperingatkan kita akan kelompok orang yang seperti ini sebagai berikut:
    Syeikh Abdul Ghofar seorang ahli hadits yang bermadzhab Hanafi menukil pendapat Ibn Asy-Syihhah ditambah syarat dari Ibn Abidin Dalam Hasyiyah-nya, yang dirangkum dalam bukunya ‘Daf’ Al-Auham An-Masalah AlQira’af Khalf Al-Imam’, hal. 15: ”Kita melihat pada masa kita, banyak orang yang mengaku berilmu padahal dirinya tertipu. Ia merasa dirinya di atas awan, padahal ia berada dilembah yang dalam. Boleh jadi ia telah mengkaji salah satu kitab dari enam kitab hadits (kutub As-Sittah), dan ia menemukan satu hadits yang bertentangan dengan madzhab Abu Hanifah, lalu berkata buang- lah madzhab Abu Hanifah ke dinding dan ambil hadits Rasulallah saw.. Padahal hadits ini telah mansukh atau bertentangan dengan hadis yang sanad nya lebih kuat dan sebab lainnya sehingga hilanglah kewajiban mengamalkan- nya. Dan dia tidak mengetahui. Bila pengamalan hadis seperti ini diserahkan secara mutlak kepadanya maka ia akan tersesat dalam banyak masalah dan tentunya akan menyesatkan banyak orang ”.

    Dalam kitab Tartib Al-Madarik juz Ihal. 66, dengan penjelasan yang panjang dari para Ulama Salaf tentang sikap mereka terhadap As-Sunnah, antara lain:
    Imam Malik berkata: ”Para Ahli Ilmu dari kalangan Tabi’in telah menyampaikan hadits-hadits, lalu disampaikan kepada mereka hadits dari orang lain, maka mereka menjawab: ‘Bukannya kami tidak tahu tentang hal ini, tetapi pengamalannya yang benar adalah tidak seperti ini’ ” .

    Ibn Hazm berkata: Abu Darda’ pernah ditanya: ”Sesungguhnya telah sampai kepadaku hadits begini dan begitu (berbeda dengan pendapatnya-pent). Maka ia menjawab: ‘Saya pernah mendengarnya, tetapi aku menyaksikan pengamal annya tidak seperti itu’.

    Oleh karena itulah, bagi orang yang tidak mencapai derajat mujtahid, dilarang untuk berijtihad. Sebagaimana suatu contoh kejadian ketika Zeyd dan Amir sedang berwudhu, lalu keduanya ke pasar, dan masing – masing membeli sesuatu di pasar seraya keduanya menyentuh wanita, lalu keduanya akan shalat, maka Zeyd berwudhu dan Amir tak berwudhu. Ketika Zeyd bertanya pada Amir, mengapa kau tak berwudhu? bukankah kau bersentuhan dengan wanita? maka amir berkata, aku bermadzhabkan Maliki, maka Zeyd berkata, maka wudhu mu itu tak sah dalam madzhab malik dan tak sah pula dalam madzhab syafii, karena madzhab maliki mengajarkan wudhu harus menggosok anggota wudhu, tak cukup hanya mengusap, namun kau tadi berwudhu dengan madzhab syafii dan lalu dalam masalah bersentuhan kau ingin mengambil madzhab maliki, maka bersuci mu kini tak sah secara maliki dan telah batal pula dalam madzhab syafii.

    Demikian contoh kecil dari kebodohan orang yang sok cerdas, lalu siapa yang akan bertanggung jawab atas wudhunya? ia butuh sanad yang ia pegang bahwa ia berpegangan pada sunnah Nabi saw dalam wudhunya, sanadnya berpadu pada Imam Syafii atau pada Imam Malik? atau pada lainnya? atau ia tak berpegang pada salah satunya sebagaimana contoh diatas.

    Salah satu amalan yang diingkari oleh kelompok pengingkar adalah membaca Al-Qur’an di kuburun. Hadits dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulallah saw.bersabda: ”Jika mati seorang dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah mem- bawanya kekubur dan bacakanlah Fatihatul Kitab disamping kepalanya”. (HR. Thabrani dan Baihaqi). Namun, jika hal tersebut bertentangan dengan pendapat kelompok pengingkar, maka tanpa malu malu mereka berkata bahwa hadist tersebut dhaif dsb. Padahal, dalam kitab Riyadlush Shalihin [1/295] lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin [6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan ; al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] lil-Imam al-Mawardi dikatakan bahwa : “Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan al-Qur’a disisi quburnya maka itu bagus”.

    Dan dijelaskan pula dalam Almughniy : “Tidak ada larangannya membaca Alqur’an dikuburan , dan telah diriwayatkan dari Ahmad bahwa bila kalian masuk pekuburan bacalah ayat Alkursiy, lalu Al Ikhlas 3X, lalu katakanlah : Wahai Allah, sungguh pahalanya untuk ahli kubur”.

    Sehingga cukuplah hadits dari Baginda Nabi saw. Berikut ini, agar kita tidak menafsirkan sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya: Artinya: ”Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur didustakan; para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta bercelotehnya para ‘Ruwaibidhoh’. Ada yang bertanya: ‘Apa itu ‘Ruwaibidhoh’? Beliau saw. menjawab: ”Orang bodoh pandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak” (HR. Al-Hakim jilid 4 hal. 512 No. 8439 — ia menyatakan bahwa hadits ini shohih; HR. Ibn Majah jilid 2 hal. 1339 no. 4036; HR. Ahmad jilid 2 hal. 219, 338 No. 7899,8440; HR. Abi Ya’la jilid 6 hal. 378 no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18 hal. 67 No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7 hal. 284 dalam Majma’ Zawa’id)

  25. @Ummu abdillah

    Sebelumnya, ummu abdillah bertanya, di kitab mana pernyataan ijma’ tentang kebenaran aqidah asy’ariyyah. anda dapat membaca kitab beliau yg berjudul “mulhah al i’tiqad” karya al imam al izz ibn abd as-salam, juga dalam Thabaqat asy Syafi’iyah al Kubra karya at Tajudin as Subki

  26. MENGUNGKAP KEDUSTAAN WAHABI MUJASSIM

    KEHUJJAHAN TAWASSUL HADIST PERTAMA

    Bahwa tawassul dengan Nabi SAW bisa pada saat beliau masih hidup, telah tiada, ketika beliau ada di tempat atau tidak berada di tempat.

    Hadits ini telah diriwayatkan oleh At-Thabarani dan menyebutkan pada awalnya sebuah kisah sbb : seorang lelaki berulang-ulang datang kepada ‘Utsman ibn ‘Affan untuk keperluannya. ‘Utsman sendiri tidak pernah menoleh kepadanya dan tidak mempedulikan keperluannya. Lalu lelaki itu bertemu dengan ‘Utsman ibn Hunaif. Kepada Utsman ibn Hunaif ia mengadukan sikap Utsman ibn ‘Affan kepadanya. “Pergilah ke tempat wudlu, “ suruh ‘Utsman ibn Hunaif, “lalu masuklah ke masjid untuk sholat dua raka’at. Kemudian bacalah doa’ : “Ya Allah sungguh saya memohon kepada Mu bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, Nabi rahmat. Wahai Muhammad, saya bertawassul kepada Tuhanmu lewat dengan engkau. Maka kabulkanlah keperluanku.” Dan sebutkanlah keperluanmu….!

    Lelaki itu pun pergi melaksanakan saran dari Utsman ibn Hunaif. Ia datang menuju pintu gerbang Utsman ibn Affan yang langsung disambut oleh penjaga pintu. Dengan memegang tanggannya, sang penjaga langsung memasukkannya menemui Utsman ibn Affan. Utsman mempersilahkan keduanya duduk di atas permadani bersama dirinya. “Apa keperluanmu,” tanya Utsman. Lelaki itu pun menyebutkan keperluannya kemudian Utman memenuhinya. “Engkau tidak pernah menyebutkan keperluanmu hingga tiba saat ini.” kata Utsman, “Jika kapan-kapan ada keperluan datanglah kepada saya,” lanjut
    Utsman. Setelah keluar, lelaki itu berjumpa dengan Utsman ibn Hunaif dan menyapanya, “ Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Utsman ibn Affan sebelumnya tidak pernah mempedulikan keperluanku dan tidak pernah menoleh kepadaku sampai engkau berbicara dengannya. “Demi Allah, saya tidak pernah berbicara dengan Utsman ibn Affan. Namun aku menyaksikan Rasulullah didatangi seorang lelaki buta yang mengadukan matanya yang buta. “Adakah kamu mau bersabar ?” kata beliau. “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penuntun dan saya merasa kerepotan,”katanya. “Datanglah ke tempat wudlu’ lalu berwudlu’lah kemudian sholatlah dua raka’at. Sesudahnya bacalah do’a ini.” “Maka demi Allah, kami belum bubar dan belum lama obrolan selesai sampai lelaki buta itu masuk seolah ia belum pernah mengalami kebutaan.” Kata Utsman ibn Hunaif.

    Al-Mundziri berkata, “Hadits di atas diriwayatkan oleh At-Thabarani.” Setelah menyebut hadits ini At-Thabarani berkomentar, “Status hadits ini shahih.” ( At-Targhib jilid 1 hlm. 440. Demikian pula disebutkan dalam Majma’u Az-Zawaid. Jilid 2 hlm. 279 ).

    1. LANJUTAN HADIST TAWASSUL YG PERTAMA

      Ibnu Taimiyyah berkata, “At-Thabarani berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Syu’bah dari Abu Ja’far yang nama aslinya ‘Umair ibn Yazid, seorang yang dapat dipercaya. Utsman ibn Amr sendirian meriwayatkan hadits ini dari Syu’bah. Abu Abdillah Al-Maqdisi mengatakan, “Hadits ini shahih.”Kata penulis, “Ibnu Taimiyyah berkata, “At-Thabarani menyebut hadits ini diriwayatkan sendirian oleh Utsman ibn Umair sesuai informasi yang ia miliki dan tidak sampai kepadanya riwayat Rauh ibn Ubadah dari Syu’bah. Riwayat Rauh dari Syu’bah ini adalah isnad yang shahih yang menjelaskan bahwa Utsman tidak sendirian meriwayatkan hadits.” (Qa’idah Jalilah fi at-Tawassul wal Wasilah. hlm 106).

      Dari paparan di atas, nyatalah bahwa kisah di muka dinilai shahih oleh At-Thabarani Al- Hafidh Abu Abdillah Al-Maqdisi. Penilaian shahih ini juga dikutip oleh Al-Hafidh Al- Mundziri, Al-Hafidh Nuruddin Al-Haitsami dan Syaikh Ibnu Taimiyyah

  27. KEHUJJAHAN TAWASSUL HADIST KEDUA

    Dalam biografi Fathimah binti Asad, ibu dari Ali ibn Abi Thalib terdapat keterangan bahwa ketika ia meninggal, Rasulullah SAW menggali liang lahatnya dengan tangganya sendiri dan mengeluarkan tanahnya dengan tangannya sendiri. Ketika selesai beliau masuk dan tidur dalam posisi miring di dalamnya , lalu berkata : “Allah Dzat yang menghidupkan dan mematikan. Dia hidup tidak akan mati. Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad, ajarilah ia hujjah, lapangkanlah tempat masuknya dengan kemuliaan Nabi-Mu dan para Nabi sebelumku. Karena Engkau adalah Dzat yang paling penyayang. Rasulullah kemudian mentakbirkan Fathimah 4 kali dan bersama Abbas dan Abu Bakar Shiddiq RA memasukkannya ke dalam liang lahat.” HR Thabarani dalam Al-Kabir dan Al-Awsath. Dalam sanadnya terdapat Rauh ibn Sholah yang dikategorikan dapat dipercaya oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim. Hadits ini mengandung kelemahan. Sedang perawi lain di luar Rouh sesuai dengan kriteria perawi hadits shahih. (Majma’ul Zawaaid jilid 9 hlm. 257).

    1. LANJUTAN TAWASSUL HADIST KEDUA

      Sebagian ahli hadits berbeda pendapat menyikapi status Rouh ibn Sholah, salah seorang perawi hadits di atas. Namun Ibnu Hibban memasukkannya dalam kelompok perawi tsiqah (dapat dipercaya). Pendapat al-Hakim adalah, “Ia dapat dipercaya.” Keduanya sama-sama mengkategorikan hadits sebagai shahih. Demikian pula Al-Haitsami dalam Majma’u Az-Zawaaid. Perawi hadits ini sesuai dengan kriteria perasi hadits shahih. Sebagaimana Thabarani, Ibnu ‘Abdil Barr juga meriwayatkan hadits ini dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu Abi Syaibah dari Jabir, dan juga diriwayatkan oleh Al Dailami dan Abu Nu’aim. Jalur-jalur periwayatan hadits ini saling menguatkan dengan kokoh dan mantap, antara sebagian dengan yang lain. Dalam Ithaafu al Adzkiyaa’ hlm 20 , Syaikh Al-Hafidh Al- Ghimari menyatakan, “Rouh ini kadar kedloifannya tipis versi mereka yang menilainya lemah, sebagaimana dipahami dari ungkapan-ungkapan ahli hadits. Karena itu Al-Hafidh Al-Haitsami menggambarkan kedloifan Rouh dengan bahasa yang mengesankan kadar kedloifan yang ringan, sebagaimana diketahui jelas oleh orang yang biasa mengkaji kitab-kitab hadits. Hadits di atas tidak kurang dari kategori hasan, malah dalam kriteria yang ditetapkan Ibnu Hibban diklasifikasikan sebagai hadits shahih.

  28. KEHUJJAHAN TAWASSUL

    Al-Imam Al-Hafidh As-Syaikh ‘Imadu Ad-Din Ibnu Katsir mengatakan, “Sekelompok ulama, diantaranya Syaikh Abu Al-Manshur As-Shabbagh dalam kitabnya As-Syaamil menuturkan sebuah kisah dari Al ‘Utbi yang mengatakan, “Saya sedang duduk di samping kuburan Nabi SAW. Lalu datanglah seorang A’rabi (penduduk pedalaman Arab) kepadanya, “Assalamu’alaika, wahai Rasulullah saya mendengar Allah berfirman : “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S.An.Nisaa` : 64).

    Dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan atas dosaku dan memohon syafaat denganmu kepada Tuhanku.” Kata A’rabi. Kemudian A’rabi tadi pergi. Sesudah kepergiannya saya tertidur dan bermimpi bertemu Nabi SAW, “Kejarlah si A’rabi dan berilah kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.”

    1. LANJUTAN KEHUJJAHAN TAWASSUL

      Kisah ini diriwayatkan oleh An-Nawawi dalam kitabnya yang populer Al-Idhaah pada bab 6 hlm. 498. juga diriwayatkan oleh Al-Hafidh ‘Imadu Ad-Din Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Syaikh Abu Muhammad Ibnu Qudamah juga meriwayatkannya dalam kitabnya Al-Mughni jilid 3 hlm. 556. Syaikh Abu Al-Faraj ibnu Qudamah dalam kitabnya As-Syarh Al-Kabir jilid 3 hlm. 495, dan Syaikh Manshur ibn Yunus Al-Bahuti dalam kitabnya yang dikenal dengan nama Kasysyaafu Al-Qinaa’ yang notabene salah satu kitab paling populer dalam madzhab Hambali jilid 5 hlm. 30 juga mengutip kisah dalam hadits di atas.

    2. LANJUTAN KEHUJJAHAN TAWASSUL

      Al-Imam Al-Qurthubi, pilar para mufassir menyebutkan sebuah kisah serupa dalam tafsirnya yang dikenal dengan nama Al-Jaami’. Ia mengatakan, “Abu Shadiq meriwayatkan dari ‘Ali yang berkata, “Tiga hari setelah kami mengubur Rasulullah datang kepadaku seorang a’rabi. Ia merebahkan tubuhnya pada kuburan beliau dan menabur-naburkan tanah kuburan di atas kepalanya sambil berkata, “Engkau mengatakan, wahai Rasulullah!, maka kami mendengar sabdamu dan hafal apa yang dari Allah dan darimu. Dan salah satu ayat yang turun kepadamu adalah : Saya telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan untukku.” Kemudian dari arah kubur muncul suara : “Sesungguhnya engkau telah mendapat ampunan.” (Tafsir Al-Qurthubi jilid 5 hlm. 265).

  29. KEHUJJAHAN TAWASSUL

    Bahwa musim paceklik melanda kaum Muslimin pada masa Khalifah Umar. Maka seorang sahabat (yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani) mendatangi makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mengatakan: “Hai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu karena sungguh mereka benar-benar telah binasa”. Kemudian orang ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan beliau berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya “bersungguh sungguhlah melayani umat”. Kemudian sahabat tersebut datang kepada Umar dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Lalu Umar menangis dan mengatakan: “Ya Allah, saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu”.

    Sanad hadits ini shahih. Al-Hafizh Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, juz 7, hal. 92. Dalam Jami’ al-Masanid juz i, hal. 233, Ibn Katsir berkata, sanadnya jayyid (baik). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Khaitsamah, lihat al-Ishabah juz 3, hal. 484, al-Khalili dalam al-Irsyad, juz 1, hal. 313, Ibn Abdil Barr dalam al-Isti’ab, juz 2, hal. 464 serta dishahihkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, juz 2, hal. 495.

    JADI, YANG MENGATAKAN HADIST ATAU ATSAR TERSEBUT SHAHIH BUKAN SITUS SALAFYTOBAT, SEBAGAIMANA PRASANGKKAN UMMU ABDILLAH

  30. KEHUJJAHAN TAWASSUL

    Sedangkan tentang mengambil berkah dengan berziarah ke makam para nabi dan wali, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Nabi Musa as. berkata, “Ya Allah, dekatkanlah aku kepada tanah suci sejauh satu lemparan dengan batu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, seandainya aku ada disampingnya, tentu aku beritahu kalian letak makam Musa, yaitu di tepi jalan di sebelah bukit pasir merah.”

    Ketika menjelaskan maksud hadits tersebut, al-Hafizh al-’Iraqi berkata: “Hadits tersebut menjelaskan anjuran mengetahui makam orang-orang saleh untuk dizarahi dan dipenuhi haknya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan tanda-tanda makam Nabi Musa u yaitu pada makam yang sekarang dikenal masyarakat sebagai makam beliau. Yang jelas, tempat tersebut adalah makam yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.” (Tharh al-Tatsrib).

    1. KEHUJJAHAN TAWASSUL

      Dalam kitab asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al Mushthafa, al Qadli ‘Iyadl menulis: “Ketika khalifah al Manshur menunaikan ibadah haji lalu ziarah ke makam Rasulullah, ia bertanya kepada Imam Malik (guru Imam Syafi’i): “Aku menghadap kiblat dan berdo’a ataukah aku menghadap (makam) Rasulullah?”. Imam Malik menjawab: “Kenapa anda memalingkan wajah dari beliau sedangkan beliau adalah wasilah anda dan wasilah bapak anda, Adam ‘alayhissalam ?, menghadaplah kepada beliau dan berdo’alah kepada Allah agar anda memperoleh syafa’at dari beliau, niscaya Allah akan menjadikan beliau pemberi syafaat bagi anda”. Cerita ini adalah shahih tanpa ada perselisihan pendapat, sebagaimana yang dikatakan Imam Taqiyyuddin al Hushni (lihat: Daf’u Syubah man Syabbaha wa Tamarrada, hlm. 74 dan 115).

    2. KEHUJJAHAN TAWASSUL

      Dalam kitab al Ilal wa Ma’rifat ar-Rijal, juz II, hlm. 35, dituturkan bahwa aku (Abdullah, putra Ahmad ibn Hanbal) bertanya kepadanya (kepada ayahnya, Imam Ahmad) tentang orang yang menyentuh mimbar nabi dengan niat agar mendapatkan berkah dengan menyentuh dan menciumnya, dan melakukan hal yang sama atau semacamnya terhadap makam Rasulullah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wajalla. Imam Ahmad menjawab: “Tidak mengapa (la ba’sa bi dzalik)”.

    3. KEHUJJAHAN TAWASSUL

      al Hafizh Syamsuddin ibn al Jazari mengatakan dalam kitabnya ‘Uddah al Hishn al Hashin : ” Di antara tempat dikabulkannya doa adalah kuburan orang-orang yang saleh “.

      Masalah tawassul dengan para nabi dan orang saleh ini hukumnya boleh dengan ijma’ para ulama Islam sebagaimana dinyatakan oleh ulama madzhab empat seperti al Mardawi al Hanbali dalam Kitabnya al Inshaf, al Imam as-Subki asy-Syafi’i dalam kitabnya Syifa as-Saqam, Mulla Ali al Qari al Hanafi dalam Syarh al Misykat, Ibn al Hajj al Maliki dalam kitabnya al Madkhal.

  31. TAPI, UMMU ABDILLAH DKK NYA, PASTI AKAN MENGATAKAN BAHWA SEMUA HADIST ATAU ATSAR BERKAITAN DENGAN TAWASSUL TERSEBUT ADALAH DHAIF DAN MENYALAHI AL-QUR’AN DAN HADIST.

  32. SHALAT DI BANGUNAN ATAU MASJID YANG ADA KUBURANNYA

    “Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai tempat dan tujuan bersujud dan beribadah, hendaklah dijauhi apa yang mereka lakukan itu”. (HR. Bukhori)
    Hadits tersebut dimaksudkan untuk orang yang sholat dan menghadap ke kuburan dengan tujuan mengagungkan kuburan tersebut. yang dilarang adalah jika untuk penyembahan maka hancurkanlah, jika untuk tabarruk maka hal itu boleh – boleh saja.

    Berkata Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalaniy : “hadits – hadits larangan ini adalah larangan shalat dengan menginjak kuburan dan diatas kuburan, atau berkiblat ke kubur atau diantara dua kuburan, dan larangan itu tak mempengaruhi sahnya shalat,

    sebagaimana lafadh dari riwayat kitab Asshalaat oleh Abu Nai’im guru Imam Bukhari, bahwa ketika Anas ra shalat di hadapan kuburan maka Umar ra berkata : kuburan..kuburan..!, maka Anas melangkahinya dan meneruskan shalat dan ini menunjukkan shalatnya sah, dan tidak batal. (Fathul Baari Almayshur juz 1 hal 524).

    1. LANJUTAN………..

      Berkata Imam Ibn Hajar : “Berkata Imam Al Baidhawiy : ketika orang yahudi dan nasrani bersujud pada kubur para Nabi mereka dan berkiblat dan menghadap pada kubur mereka dan menyembahnya dan mereka membuat patung patungnya, maka Rasul saw melaknat mereka, dan melarang muslimin berbuat itu, tapi kalau menjadikan masjid di dekat kuburan orang shalih dengan niat bertabarruk dengan kedekatan pada mereka tanpa penyembahan dengan merubah kiblat kepadanya maka tidak termasuk pada ucapan yang dimaksud hadits itu” (Fathul Bari Al Masyhur Juz 1 hal 525)

      Berkata Imam Al Baidhawiy : bahwa Kuburan Nabi Ismail as adalah di Hathiim (disamping Miizab di ka’bah dan di dalam masjidilharam) dan tempat itu justru afdhal shalat padanya, dan larangan shalat di kuburan adalah kuburan yang sudah tergali (Faidhulqadiir Juz 5 hal 251)

      Dijelaskan pada kitab Mughniy Almuhtaj fi Syarahil Minhaj oleh AI Imam khatiib syarbiniy bab washaya bahwa diperbolehkan membangun kuburan para Nabi atau Shalihin, demi menghidupkan syiar dana mengambil keberkahan.

    2. LANJUTAN…..

      Di antara dalil yang menunjukkan tidak diharamkannya sholat di masjid yang ada kuburannya apabila tidak nampak adalah sebuah hadits yang sahih bahwa masjid al Khayf di dalamnya terdapat kuburan 70 Nabi, bahkan menurut suatu pendapat kuburan Nabi Adam ada di sana, di dekat masjid. Masjid al Khayf ini telah digunakan pada zaman Nabi hingga sekarang. Hadits ini disebutkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya al Mathalib al ‘Aliyah, dan al Hafizh al Bushiri mengatakan: Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan al Bazzar dengan isnad yang sahih.

      Kita memahami bahwa Masjidirrasul saw itu didalamnya terdapat makam beliau saw, Abubakar ra dan Umar ra, masjid diperluas dan diperluas, namun bila saja perluasannya itu akan menyebabkan hal yang dibenci dan dilaknat Nabi saw karena menjadikan kubur beliau saw ditengah – tengah masjid, maka pastilah ratusan Imam dan Ulama dimasa itu telah memerintahkan agar perluasan tidak perlu mencakup rumah Aisyah ra (makam Rasul saw) Perluasan adalah di zaman khalifah Walid bin Abdulmalik sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, sedangkan Walid bin Abdulmalik dibai’at menjadi khalifah pada 4 Syawal tahun 86 Hijriyah, dan ia wafat pada 15 Jumadil Akhir pada tahun 96 Hijriyah. Lalu dimana Imam Bukhari? (194 H – 256 H), Imam Muslim? (206 H – 261H), Imam Syafii? (150 H – 204 H), Imam Ahmad bin Hanbal? (164 H – 241 H), Imam Malik? (93 H – 179 H) dan ratusan imam imam lainnya?, apakah mereka diam membiarkan hal yang dibenci dan dilaknat Rasul saw terjadi di Makam Rasul saw?, lalu Imam – Imam yang hafal ratusan ribu hadits itu adalah para musyrikin yang bodoh dan hanya menjulurkan kaki melihat kemungkaran terjadi di Makam Rasul saw??,

  33. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

    BAB I TANZIH

    TANZIH (PILAR AGAMA)
    Tanzih merupakan salah satu pilar agama. Allah ta’ala berfirman : dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11). “Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (Allah)”. (QS. Maryam: 65). Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang berbicara tentang tanzih (mensucikan Allah dari menyerupai makhluk), at-Tanzih al Kulli; pensucian yang total dari menyerupai makhluk. Jadi maknanya sangat luas, dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah maha suci dari berupa benda, maha suci dari berada pada satu arah atau banyak arah atau semua arah. Allah maha suci dari berada di atas ‘arsy, di bawah ‘arsy, sebelah kanan atau sebelah kiri ‘arsy. Allah juga maha suci dari sifat-sifat benda seperti bergerak, diam, berubah, berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain dan sifat-sifat benda yang lain.

    Allah ta’ala berfirman : “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan kegelapan dan cahaya” (Q.S. al An’am : 1).

    Dalam ayat ini Allah ta’ala menyebutkan langit dan bumi, keduanya termasuk benda yang dapat dipegang oleh tangan (Katsif). Allah juga menyebutkan kegelapan dan cahaya, keduanya termasuk benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan (Lathif). Ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa pada Azal (keberadaan tanpa permulaan) tidak ada sesuatupun selain Allah, baik itu benda katsif maupun benda lathif. Dan ini berarti bahwa Allah tidak menyerupai benda lathif maupun benda katsif.
    Masing-masing benda memiliki batas, ukuran, dan bentuk. Allah ta’ala berfirman : “Segala sesuatu memiliki ukuran (yang telah ditentukan oleh Allah)” (Q.S. ar-Ra’d : 8).

    1. LANJUTAN…. BAB I. TANZIH

      Semua benda ini memilki batas dan ukuran, sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya dan karenanya membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam ukuran tersebut.
      “Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata: “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. al-Bukhari).

      Allah ta’ala berfirman : “Allah-lah pencipta segala sesuatu.” (QS. al-Zumar : 62).

      Hadits dan Ayat Al-Qur’an tersebut menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak bertempat karena Allah la pencipta segala sesuatu, termasuk tempat. Allah subhanahu wa ta‘ala ada sebelum adanya makhluk, termasuk tempat.

      Jadi Allah ta’ala yang menciptakan alam ini dengan berbagai macam jenis dan bentuknya, maka Dia tidak menyerupainya, dari satu segi maupun semua segi. Allah ta’ala tidak menyerupai benda katsif maupun benda lathif dan juga tidak bersifat dengan sifat–sifat benda, Allah tidak menyerupai satupun dari segala sesuatu yang diciptakan-Nya, oleh karena itu Ahlussunnah mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah”.

  34. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

    BAB II. KERACUAN PAHAM WAHABI

    Salafi wahabi menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal (zhahir) mengarah pada pengertian bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai keyakinan mereka. Namun keyakinan salafi wahabi adalah keyakinan yang rapuh, karena jika mereka berpegang pada zhahir Al-Qur’an dan Hadist, maka akan bertentangan dengan ayat dan hadist lainnya.

    “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4).

    “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tidak ada lima orang melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka dimanapun mereka berada….” (QS. al-Mujadilah : 7).

    Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit.

    Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman: “Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk.” (QS. al-Shaffat : 99).

    Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim alaihissalam berkata akan pergi menuju Tuhannya, padahal Nabi Ibrahim alaihissalam pergi ke Palestina. Dengan demikian, secara literal ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala bukan ada di langit, tetapi ada di Palestina.”

    1. LANJUTAN….. BAB II. KERANCUAN PAHAM WAHABI

      “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.” (HR. al-Bukhari).

      Hadits ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di depan orang yang sedang shalat, bukan ada di langit.

      “Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata: “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. al-Bukhari)

      Hadits ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak bertempat. Allah subhanahu wa ta‘ala ada sebelum adanya makhluk, termasuk tempat. Al-Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dalam al-Sunan berikut ini:
      “Abi Razin radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertainya. Di atasnya tidak ada sesuatu dan di bawahnya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arasy di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatuapapun yang menyertai (termasuk tempat). Al-Tirmidzi berkata: “hadits ini bernilai hasan”. (Sunan al-Tirmidzi).

      “Engkau Ya Allah azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR. Muslim).

      Jika tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat”.

  35. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

    BAB III. MAKNA MAN FISSAMA-I

    Asy-Syaikh al-‘Allâmah Zainuddin Ibn Nujaim al-Hanafi (w 970 H) dalam karyanya berjudul al-Bahr ar-Ra-iq Syarh Kanz ad-Daqa-iq berkata: “Seseorang menjadi kafir karena berkeyakinan adanya tempat bagi Allah. Adapun jika ia berkata “Allah Fi as-Sama’” untuk tujuan meriwayatkan apa yang secara zhahir terdapat dalam beberapa hadits maka ia tidak kafir. Namun bila ia berkata demikian untuk tujuan menetapkan tempat bagi Allah maka ia telah menjadi kafir” (al-Bahr ar-Ra-iq Syarh Kanz ad-Daqa-iq, j. 5, h. 129).

    Setiap ayat/hadits yang menyebut kata: Man Fissama-I untuk Allah swt. maka yang dimaksud dalam bahasa orang-orang Arab (yang Al Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka) adalah makna majâzi/kiasan, yaitu berarti keagungan, kemuliaan dan ketinggian maknawi, bukan ketinggian hissi (material). Seorang pujangga Arab klasik bersyair: Kami menaiki langit, kejayaan dan moyang kami dan kami menginginkan kemenangan di atas itu. Jelas sekali bahwa yang dimaksud menaiki/meninggii langit bukan langit fisik di atas kita itu, akan tetapi langit dalam pengertian kemuliaan dan keagungan.

    Adapun ketika seseorang menghadapkan kedua telapak tangan ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah, hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini telah dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti al-Imam al-Mutawalli (w 478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah, al-Imam al-Ghazali (w 505 H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulumiddin, al-Imam an-Nawawi (w 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, al-Imam Taqiyyuddin as-Subki (w 756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil, dan masih banyak lagi.

  36. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

    KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM HANAFI

    Suatu ketika al-Imam Abu Hanifah ditanya makna “Istawa”, beliau menjawab: “Barangsiapa berkata: Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau barada di bumi maka ia telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam itu memberikan pemahaman bahwa Allah bertempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah bertempat maka ia adalah seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhuk-Nya”.

    (Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini dikutip oleh banyak ulama. Di antaranya oleh al-Imam Abu Manshur al-Maturidi dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam Hall ar-Rumuz, al-Imam Taqiyuddin al-Hushni dalam Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad, dan al-Imam Ahmad ar-Rifa’i dalam al-Burhan al-Mu’yyad).

    1. LANJUTAN…. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM HANAFI

      Di sini ada pernyataan yang harus kita waspadai, ialah pernyataan Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Murid Ibn Taimiyah ini banyak membuat kontroversi dan melakukan kedustaan persis seperti seperti yang biasa dilakukan gurunya sendiri. Di antaranya, kedustaan yang ia sandarkan kepada al-Imam Abu Hanifah. Dalam beberapa bait sya’ir Nuniyyah-nya, Ibn al-Qayyim menuliskan sebagai berikut:

      “Demikian telah dinyatakan oleh Al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit, juga oleh Al-Imam Ya’qub ibn Ibrahim al-Anshari. Adapun lafazh-lafazhnya berasal dari pernyataan Al-Imam Abu Hanifah…

      bahwa orang yang tidak mau menetapkan Allah berada di atas arsy-Nya, dan bahwa Dia di atas langit serta di atas segala tempat, …

      Demikian pula orang yang tidak mau mengakui bahwa Allah berada di atas arsy, –di mana perkara tersebut tidak tersembunyi dari setiap getaran hati manusia–,…

      Maka itulah orang yang tidak diragukan lagi dan pengkafirannya. Inilah pernyataan yang telah disampaikan oleh al-Imam masa sekarang (maksudnya gurunya sendiri; Ibn Taimiyah).
      Inilah pernyataan yang telah tertulis dalam kitab al-Fiqh al-Akbar (karya Al-Imam Abu Hanifah), di mana kitab tersebut telah memiliki banyak penjelasannya”.

      Apa yang ditulis oleh Ibn al-Qayyim dalam untaian bait-bait syair di atas tidak lain hanya untuk mempropagandakan akidah tasybih yang ia yakininya. Ia sama persis dengan gurunya sendiri, memiliki keyakinan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy.

      Pernyataan Ibn al-Qayyim bahwa keyakinan tersebut adalah akidah al-Imam Abu Hanifah adalah kebohongan belaka. Kita meyakini sepenuhnya bahwa Abu Hanifah adalah seorang ahli tauhid, mensucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk-Nya.

      Bukti kuat untuk itu mari kita lihat karya-karya al-Imam Abu Hanifah sendiri, seperti al-Fiqh al-Akbar, al-Washiyyah, atau lainnya. Dalam karya-karya tersebut terdapat banyak ungkapan beliau menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya, Dia tidak membutuhkan kepada tempat atau arsy, karena arsy adalah makhluk Allah sendiri. Mustahil Allah membutuhkan kepada makhluk-Nya.

    2. LANJUTAN…. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM HANAFI

      Sesungguhnya memang seorang yang tidak memiliki senjata argumen, ia akan berkata apapun untuk menguatkan keyakinan yang ia milikinya, termasuk melakukan kebohongan-kebohongan kepada para ulama terkemuka. Inilah tradisi ahli bid’ah, untuk menguatkan bid’ahnya, mereka akan berkata: al-Imam Malik berkata demikian, atau al-Imam Abu Hanifah berkata demikian, dan seterusnya. Padahal sama sekali perkataan mereka adalah kedustaan belaka.

      dalam al-Fiqh al-Akbar, Al-Imam Abu Hanifah juga menuliskan sebagai berikut:
      “Dan kelak orang-orang mukmin di surga nanti akan melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat-Nya tanpa adanya keserupaan (tasybih), tanpa sifat-sifat benda (Kayfiyyah), tanpa bentuk (kammiyyah), serta tanpa adanya jarak antara Allah dan orang-orang mukmin tersebut (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan atau-pun samping kiri)”” ( Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan syarah Syekh Mulla Ali al-Qari, h. 136-137).

      dalam al-Fiqh al-Akbar, Al-Imam Abu Hanifah juga menuliskan sebagai berikut:
      “Bertemu dengan Allah bagi penduduk surga adalah kebenaran. Hal itu tanpa dengan Kayfiyyah, dan tanpa tasybih, dan juga tanpa arah” (al-Fiqh al-Akbar dengan Syarah Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 138).

      Kemudian pada bagian lain dari al-Washiyyah, beliau menuliskan:
      Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung” (Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh Mullah Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70).

      Pada bagian lain dalam kitab al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:
      “Allah ada tanpa permulaan (Azali, Qadim) dan tanpa tempat. Dia ada sebelum menciptakan apapun dari makhluk-Nya. Dia ada sebelum ada tempat, Dia ada sebelum ada makhluk, Dia ada sebelum ada segala sesuatu, dan Dialah pencipta segala sesuatu. Maka barangsiapa berkata saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah Ia di langit atau di bumi?, maka orang ini telah menjadi kafir. Demikian pula menjadi kafir seorang yang berkata: Allah bertempat di arsy, tapi saya tidak tahu apakah arsy itu di bumi atau di langit” (al-Fiqh al-Absath, h. 57).

      Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:
      “Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqh al-Absath karya al-Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20)

    3. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM HANAFI

      Dalam tulisan al-Imam Abu Hanifah di atas, beliau mengkafirkan orang yang berkata: “Saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah Ia di langit atau di bumi?”. Demikian pula beliau mengkafirkan orang yang berkata: “Allah bertempat di arsy, tapi saya tidak tahu apakah arsy itu di bumi atau di langit”.

      Klaim kafir dari al-Imam Abu Hanifah terhadap orang yang mengatakan dua ungkapan tersebut adalah karena di dalam ungkapan itu terdapat pemahaman adanya tempat dan arah bagi Allah. Padahal sesuatu yang memiliki tempat dan arah sudah pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam tempat dan arah tersebut. Dengan demikian sesuatu tersebut pasti baharu (makhluk), bukan Tuhan.

      Tulisan al-Imam Abu Hanifah ini seringkali disalahpahami atau sengaja diputarbalikan pemaknaannya oleh kaum Musyabbihah. Perkataan al-Imam Abu Hanifah ini seringkali dijadikan alat oleh kaum Musyabbihah untuk mempropagandakan keyakinan mereka bahwa Allah berada di langit atau berada di atas arsy. Padahal sama sekali perkataan al-Imam Abu Hanifah tersebut bukan untuk menetapkan tempat atau arah bagi Allah. Justru sebaliknya, beliau mengatakan demikian adalah untuk menetapkan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Hal ini terbukti dengan perkataan-perkataan al-Imam Abu Hanifah sendiri seperti yang telah kita kutip di atas. Di antaranya tulisan beliau dalam al-Washiyyah: “Jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia?”.

      Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa klaim kafir yang sematkan oleh al-Imam Abu Hanifah adalah terhadap mereka yang berakidah tasybih; yaitu mereka yang berkeyakinan bahwa Allah bersemayam di atas arsy. Inilah maksud yang dituju oleh al-Imam Abu Hanifah dengan dua ungkapannya tersebut di atas, sebagaimana telah dijelaskan oleh al-Imam al-Bayyadli al-Hanafi dalam karyanya; Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imam (Lihat Isyarat al-Maram, h. 200). Demikian pula prihal maksud perkataan al-Imam Abu Hanifah ini telah dijelasakan oleh al-Muhaddits al-Imam Muhammad Zahid al-Kautsari dalam kitab Takmilah as-Saif ash-Shaqil (Lihat Takmilah ar-Radd ‘Ala an-Nuniyyah, h. 180).

    4. LANJUTAN…….. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM HANAFI

      Asy-Syaikh ‘Ali Mulla al-Qari di dalam Syarah al-Fiqh al-Akbar menuliskan sebagai berikut:

      “Ada sebuah riwayat berasal dari Abu Muthi’ al-Balkhi bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Hanifah tentang orang yang berkata “Saya tidak tahu Allah apakah Dia berada di langit atau berada di bumi!?”. Abu Hanifah menjawab: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena Allah berfirman “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa”, dan arsy Allah berada di atas langit ke tujuh”.

      Lalu Abu Muthi’ berkata: “Bagaimana jika seseorang berkata “Allah di atas arsy, tapi saya tidak tahu arsy itu berada di langit atau di bumi?!”. Abu Hanifah berkata: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena sama saja ia mengingkari Allah berada di langit. Dan barangsiapa mengingkari Allah berada di langit maka orang itu telah menjadi kafir. Karena Allah berada di tempat yang paling atas. Dan sesungguhnya Allah diminta dalam doa dari arah atas bukan dari arah bawah”.

      Kita jawab riwayat Abu Muthi’ ini dengan riwayat yang telah disebutkan oleh al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam kitab Hall ar-Rumuz, bahwa al-Imam Abu Hanifah berkata: “Barangsiapa berkata “Saya tidak tahu apakah Allah di langit atau di bumi?!”, maka orang ini telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam ini memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka orang tersebut seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya”. Al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam adalah ulama besar terkemuka dan sangat terpercaya. Riwayat yang beliau kutip dari al-Imam Abu Hanifah dalam hal ini wajib kita pegang teguh. Bukan dengan memegang tegung riwayat yang dikutip oleh Ibn ‘Abi al-Izz; (yang telah membuat syarah Risalah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah versi akidah tasybih). Di samping ini semua, Abu Muthi’ al-Balkhi sendiri adalah seorang yang banyak melakukan pemalsuan, seperti yang telah dinyatakan oleh banyak ulama hadits” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 197-198).

    5. LANJUTAN…….. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM HANAFI

      Ibn al-Qayyim tidak hanya membuat kedustaan kepada al-Imam Abu Hanifah, namun ia juga melakukan kedustaan yang sama terhadap al-Imam Ya’qub. Yang dimaksud al-Imam Ya’qub adalah sahabat al-Imam Abu Hanifah; yaitu Abu Yusuf Ya’qub ibn Ibrahim al-Anshari. Dalam menyikapi perbuatan Ibn al-Qayyim ini, asy-Syaikh Musthafa Abu Saif al-Humami berkata: “Tidak diragukan lagi apa yang ia nyatakan ini adalah sebuah kedustaan untuk tujuan mempropagandakan keyakinan bid’ahnya” (Lihat Ghauts al-‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad, h. 99).

    6. LANJUTAN…. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM HANAFI

      Dengan demikian riwayat yang sering dipropagandakan oleh Ibn al-Qayyim, yang juga sering dipropagandakan oleh kaum Wahhabiyyah bahwa al-Imam Abu Hanifah berkeyakinan “Allah berada di langit” adalah kedustaan belaka. Riwayat ini sama sekali tidak benar. Dalam rangkaian sanad riwayat ini terdapat nama-nama perawi yang bermasalah, di antaranya; Abu Muhammad ibn Hayyan, Nu’aim ibn Hammad, dan Nuh ibn Abi Maryam Abu ‘Ishmah.

      Orang pertama, yaitu Abu Muhammad ibn Hayyan, dinilai dla’if oleh ulama hadits terkemuka yang hidup dalam satu wilayah dengan Abu Muhammad ibn Hayyan sendiri. Ulama hadits tersebut adalah al-Imam al-Hafizh al-‘Assal. Kemudian orang kedua, yaitu Nu’aim ibn Hammad adalah seorang mujassim (Lihat Tahdzib at-Tahdzib, j. 10, h. 409).

      Demikian pula Nuh ibn Abi Maryam yang merupakan ayah tiri dari Nu’aim ibn Hammad, juga seorang mujassim (Lihat Tahdzib at-Tahdzib, j. 10, h. 433).

      Dan Nuh ibn Abi Maryam ini adalah anak tiri dari Muqatil ibn Sulaiman; pemuka kaum mujassimah. Dengan demikian, Nu’aim ibn Hammad telah dirusak oleh ayah tirinya sendiri, yaitu Nuh ibn Abi Maryam. Demikian pula Nuh ibn Abi Maryam telah dirusak oleh ayah tirinya sendiri, yaitu Muqatil ibn Sulaiman. Orang-orang yang kita sebutkan ini, sebagaimana dinilai oleh para ulama ahli kalam, mereka semua adalah orang-orang yang berkeyakinan tasybih dan tajsim. Dengan demikian bagaimana mungkin riwayat orang-orang yang berakidah tasybih dan tajsim semacam mereka dapat dijadikan sandaran dalam menetapkan permasalahan akidah?! Sesungguhnya orang yang bersandar kepada mereka adalah bagian dari mereka sendiri.

      Al-Imam al-Hafizh Ibn al-Jawzi dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybih, dalam penilaiannya terhadap Nu’aim ibn Hammad, mengutip perkataan Ibn ‘Adi, mengatakan: “Dia (Nu’aim ibn Hammad) adalah seorang pemalsu hadits” (Lihat Daf’u Syubah at-Tasybih, h. 32).

      Kemudian al-Imam Ahmad ibn Hanbal pernah ditanya tentang riwayat Nu’im ibn Hammad, tiba-tiba beliau memalingkan wajahnya sambil berkata: “Hadits munkar dan majhul” (Daf’u Syubah at-Tasybih, h. 32). Penilaian Al-Imam Ahmad ini artinya bahwa riwayat Nu’aim ibn Hammad ada sesuatu yang sama sekali tidak benar.

  37. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

    KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM MALIKI

    Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:

    “Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.

    “Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).

    1. LANJUTAN…… AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM MALIKI

      Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.

      Dari sini dapat dipahami bahwa al-Lali’ka’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman mengatakan “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul”, sama sekali bukan untuk tujuan menetapkan makna duduk atau bersemayam bagi Allah.

    2. LANJUTAN…… AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM MALIKI

      Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta). Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-,dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

      (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).

    3. LANJUTAN…… AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM MALIKI

      Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama sekali tidak benar (Ghair Tsabit). Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).

      Dengan demikian pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Malik di atas adalah riwayat yang sama sekali tidak benar. Dan kata-kata tersebut yang sering kali dikutip oleh kaum Musyabbihah dan dinisbatkan kepada al-Imam Malik tidak lain hanyalah kedustaan belaka.

  38. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

    KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM AL-BAYHAQI

    kaum Musyabbihah, seperti kaum Wahhabiyyah, mengatakan bahwa adz-Dzahabi telah mengutip riwayat dari kitab al-Asma’ Wa ash-Shifat karya al-Hafizh al-Bayhaqi bahwa pernyataan “Allah berada di langit” adalah berasal dari al-Imam Abu Hanifah.

    Maka kita katakana kepada mereka, Riwayat al-Hafizh al-Bayhaqi dalam kitab al-Asma’ Wa ash-Shifat dengan memepergunakan kata “In shahhat al-hikayah…” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 429). Hal ini menunjukan bahwa riwayat tersebut bermasalah. Artinya, riwayat yang dikutip al-Hafizh al-Bayhaqi ini bukan untuk dijadikan dalil. Yang menjadi masalah besar ialah bahwa tulisan al-Bayhaqi “In shahhat ar-riwayah…” ini diacuhkan oleh adz-Dzahabi untuk tujuan memberikan pemahaman kepada para pembaca bahwa pernyataan “Allah berada di langit” adalah statemen al-Imam Abu Hanifah. Ini menunjukan bahwa adz-Dzahabi tidak memiliki amanat ilmiyah.

    al-Imam al-Muhaddits Muhammad Zahid al-Kautsari dalam Takmilah ar-Radd ‘Ala Nuniyyah Ibn al-Qayyim menuliskan bahwa pernyataan al-Bayhaqi dalam al-Asma’ Wa ash-Shifat: “In shahhat ar-riwayah…” menunjukan bahwa dalam riwayat tersebut terdapat beberapa cacat (al-khalal).

    1. LANJUTAN….. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM AL-BAYHAQI

      Sesungguhnya, Imam Al-Bayhaqi adalah seorang Imam panutan yg berkeyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah.

      “Sebagian sahabat kami (kaum Ahlussunnah dari madzhab Asy’ariyyah Syafi’iyyah) mengambil dalil dalam menafikan tempat dari Allah dengan sebuah hadits sabda Rasulullah: “Engkau ya Allah az-Zahir (Yang segala sesuatu menunjukan akan keberadaan-Nya) tidak ada suatu apapun di atas-Mu, dan Engkau ya Allah al-Bathin (Yang tidak dapat diraih oleh akal pikiran) tidak ada suatu apapun di bawah-Mu”. Dari hadits ini dipahami jika tidak ada suatu apapun di atas Allah, dan tidak ada suatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 400).

      Pada bagian lain dari kitab di atas, al-Imam al-Bayhaqi menuliskan: “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 448-449).

  39. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

    KEDUSTAAN KAUM MUJASSIM WAHABI ATAS NAMA IMAM ABU HASAN AL-ASY’ARY

    Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (w 324 H) -Semoga Allah meridlainya- berkata:
    “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam kitab al-Asma Wa ash-Shifat).

    Al-Imam al-Asy’ari juga berkata: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al-Imam al-Asy’ari ini dinukil oleh al-Imam Ibn Furak (w 406 H) dalam kitab al-Mujarrad

    Dalam kitabnya Muqaddimât al-Imâm al-Kautsari, h. 247, Al-Muhaddits Asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari mengatakan bahwa kitab al-Ibânah yang sekarang beredar sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena kitab ini sudah lama sekali berada di bawah kekuasaan kaum Musyabbihah, hingga mereka telah melakukan reduksi terhadapnya dalam berbagai permasalahn pokok akidah.

    Oleh karena itulah, wajib bagi kita menjauhi kitab Al-Ibanah yang ada saat ini, karena telah disusupi dengan aqidah aqidah tajsim.

  40. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

    WAHABI MUJASSIM MENYELEWENGKAN MAKNA HADIST AL-JARIYAH

    Ada sebuah hadits yang dikenal dengan Hadits al-Jariyah, hadits tentang seorang budak perempuan yang dihadapkan kepada Rasulullah. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Muslim; bahwa seorang sahabat datang menghadap Rasulullah menanyakan prihal budak perempuan yang dimilikinya, ia berkata: ”Wahai Rasulullah, tidakkah aku merdekakan saja?”. Rasulullah berkata: ”Datangkanlah budak perempuan tersebut kepadaku”. Setelah budak perempuan tersebut didatangkan, Rasulullah bertanya kepadanya: “Aina Allah?”. Budak tersebut menjawab: “Fi as-sama’”. Rasulullah bertanya: “Siapakah aku?”. Budak menjawab: “Engkau Rasulullah”. Lalu Rasulullah berkata (kepada pemiliknya): “Merdekakanlah budak ini, sesungguhnya ia seorang yang beriman” . (HR. Muslim)

    Pemahaman hadits ini bukan berarti bahwa Allah bertempat di langit seperti yang dipahami oleh kaum Wahhabiyyah, tetapi makna “Fi as-Sama'” dalam perkataan budak tersebut adalah untuk mengungkapkan bahwa Allah Maha Tinggi sekali pada derajat dan keagungan-Nya. Pemahaman teks ini harus demikian agar sesuai dengan pemahaman bahasa. Seperti perkataan salah seorang penyair mashur; an-Nabighah al-Ju’di, dalam sebuah sairnya berkata:

    “Kemuliaan dan kebesaran kami telah mencapai langit, dan sesungguhnya kita mengharapkan hal tersebut lebih tinggi lagi dari pada itu”

    Pemahaman bait syair ini bukan berarti bahwa kemuliaan mereka bertempat di langit, tetapi maksudnya bahwa kemuliaan mereka tersebut sangat tinggi.

    1. LANJUTAN…. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      WAHABI MUJASSIM MENYELEWENGKAN MAKNA HADIST AL-JARIYAH

      Kemudian dari pada itu, sebagian ulama hadits telah mengkritik Hadits al-Jariyah ini, mereka mengatakan bahwa hadits tersebut sebagai hadits mudltharib, yaitu hadits yang berbeda-beda antara satu riwayat dengan riwayat lainnya, baik dari segi sanad (mata rantai) maupun matan-nya (redaksi). Kritik mereka ini dengan melihat kepada dua segi berikut;

      Pertama: Bahwa hadits ini diriwayatkan dengan sanad dan matan (redaksi) yang berbeda-beda; ini yang dimaksud hadits mudltharib. Di antaranya; dalam matan Ibn Hibban dalam kitab Shahih-nya diriwayatkan dari asy-Syuraid ibn Suwaid al-Tsaqafi, sebagai berikut: ”Aku (asy-Syuraid ibn Suwaid al-Tsaqafi) berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku berwasiat kepadaku agar aku memerdekakan seorang budak atas nama dirinya, dan saya memiliki seorang budak perempuan hitam”. Lalu Rasulullah berkata: “Panggilah dia!”. Kemudian setelah budak perempuan tersebut datang, Rasulullah berkata kepadanya: “Siapakah Tuhanmu?”, ia menjawab: “Allah”. Rasulullah berkata: “Siapakah aku?”, ia menjawab: “Rasulullah”. Lalu Rasulullah berkata: “Merdekakanlah ia karena ia seorang budak perempuan yang beriman” .

      Sementara dalam redaksi riwayat al-Imam al-Bayhaqi bahwa Rasulullah bertanya kepada budak perempuan tersebut dengan mempergunakan redaksi: “Aina Allah?”, lalu kemudian budak perempuan tersebut berisyarat dengan telunjuknya ke arah langit. Dalam riwayat ini disebutkan bahwa budak tersebut adalah seorang yang bisu.

      Kemudian dalam riwayat lainnya, masih dalam riwayat al-Imam al-Bayhaqi, Hadits al-Jariyah ini diriwayatkan dengan redaksi: “Siapa Tuhanmu?”. Budak perempuan tersebut menjawab: “Allah Tuhanku”. Lalu Rasulullah berkata: “Apakah agamamu?”. Ia menjawab: “Islam”. Rasulullah berkata: “Siapakah aku?”. Ia menjawab: “Engkau Rasulullah”. Lalu Rasulullah berkata kepada pemiliki budak: “Merdekakanlah!” .

      Dalam riwayat lainnya, seperti yang dinyatakan oleh al-Imam Malik, disebutkan dengan memakai redaksi: “Adakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Rasulullah berkata: “Adakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Rasulullah berkata: “Adakah engkau beriman dengan kebangkitan setelah kematian?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Lalu Rasulullah berkata kepada pemiliknya: “Merdekakanlah ia” .

      Riwayat al-Imam Malik terakhir disebut ini adalah riwayat yang sejalan dengan dasar-dasar akidah, karena dalam riwayat itu disebutkan bahwa budak perempuan tersebut sungguh-sungguh datang dengan kesaksiannya terhadap kandungan dua kalimat syahadat (asy-Syahadatayn), walaupun dalam riwayat al-Imam Malik ini tidak ada ungkapan: “Fa Innaha Mu’minah” (Sesungguhnya ia seorang yang beriman)”.

      Dengan demikian riwayat al-Imam Malik ini lebih kuat dari pada riwayat al-Imam Muslim, karena riwayat al-Imam Malik ini sejalan dengan sebuah hadits mashur, bahwa Rasulullah bersabda:

      “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah” .

      Riwayat al-Imam Malik ini juga sejalan dengan sebuah hadits riwayat al-Imam an-Nasa-i dalam as-Sunan al-Kubra dari sahabat Anas ibn Malik bahwa suatu ketika Rasulullah masuk ke tempat seorang Yahudi yang sedang dalam keadaan sakit. Rasulullah berkata kepadanya: “Masuk Islamlah engkau!”. Orang Yahudi tersebut kemudian melirik kepada ayahnya, kemudian ayahnya berkata: “Ta’atilah perintah Rasulullah”. Kemudian orang Yahudi tersebut berkata: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”. Lalu Rasulullah berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dia dari api neraka dengan jalan diriku”.

      Ke dua; Bahwa riwayat Hadits al-Jariyah yang mempergunakan redaksi “Aina Allah?”, adalah riwayat yang menyalahi dasar-dasar akidah, karena di antara dasar akidah untuk menghukumi seseorang dengan keislamannya bukan dengan mengatakan “Allah Fi as-Sama’”. Tidak pernah dan tidak dibenarkan jika ada seorang kafir yang hendak masuk Islam diambil ikrar darinya bahwa Allah berada di langit. karena perkataan semacam ini jelas bukan merupakan kalimat tauhid.

  41. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

    PARA AHLUSSUNAH BERKEYAKINAN BAHWA ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH

    1. Ali bin Abi Thalib
    “Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang -setelah menciptakan tempat- tetap sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).

    “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah yang paling besar bentuknya) untuk menampakan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).

    2. Al-Imam Zainal-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib
    “Engkau wahai Allah yang tidak diliputi oleh tempat” (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 4, h. 380).

    “Engkau wahai Allah yang maha suci dari segala bentuk dan ukuran” (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 4, h. 380).

    3. Al-Imam Ja’far as-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn ibn Zainal ‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain
    “Barang siapa berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau di atas sesuatu maka ia adalah seorang yang musyrik. Karena jika Allah berada di atas sesuatu maka berarti Dia diangkat, dan bila berada di dalam sesuatu berarti Dia terbatas, dan bila Dia dari sesuatu maka berarti Dia baharu -makhluk-” (Diriwayatkan oleh al-Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah al-Qusyairiyyah, h. 6).

    4. Imam Hanafi
    Suatu ketika al-Imam Abu Hanifah ditanya makna “Istawa”, beliau menjawab: “Barangsiapa berkata: Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau barada di bumi maka ia telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam itu memberikan pemahaman bahwa Allah bertempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah bertempat maka ia adalah seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhuk-Nya”.

    (Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini dikutip oleh banyak ulama. Di antaranya oleh al-Imam Abu Manshur al-Maturidi dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam Hall ar-Rumuz, al-Imam Taqiyuddin al-Hushni dalam Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad, dan al-Imam Ahmad ar-Rifa’i dalam al-Burhan al-Mu’yyad).

    1. LANJUTAN…. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      PARA AHLUSSUNAH BERKEYAKINAN BAHWA ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH

      5. Imam Maliki

      al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta). Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-,dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.

      (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).

      6. Imam Syafi’i
      Imam asy-Syafi’i Muhammad ibn Idris (w 204 H), seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Syafi’i, berkata:
      “Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap dengan sifat-sifat-Nya yang Azali sebelum Dia menciptakan tempat tanpa tempat. Tidak boleh bagi-Nya berubah, baik pada Dzat maupun pada sifat-sifat-Nya” (LIhat az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn…, j. 2, h. 24).

      Dalam salah satu kitab karnya; al-Fiqh al-Akbar[selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi’i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar], Imam asy-Syafi’i berkata:

      “Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

      Pada bagian lain dalam kitab yang sama tentang firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Imam asy-Syafi’i berkata :
      “Ini termasuk ayat mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak –secara mendetail– membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini –dan semua orang Islam– adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

    2. LANJUTAN…. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      PARA AHLUSSUNAH BERKEYAKINAN BAHWA ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH

      7. Imam Hambali
      “Apa yang tersebar di kalangan orang-orang bodoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Hanbali bahwa beliau telah menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah, maka sungguh hal tersebut adalah merupakan kedustaan dan kebohongan besar atasnya” (Lihat Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah, h. 144).

      8. Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -Semoga Allah meridlainya
      “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang); tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi oleh enam arah penjuru tersebut”.

      9. Imam Bukhori
      Salah seorang penulis Syarh Shahih al-Bukhari, as-Syekh ‘Ali ibn Khalaf al-Maliki yang dikenal dengan Ibn Baththal (w 449 H) menuliskan sebagai berikut: “Tujuan al-Bukhari dalam membuat bab ini adalah untuk membantah kaum Jahmiyyah Mujassimah, di mana kaum tersebut adalah kaum yang hanya berpegang teguh kepada zhahir-zhahir nash. Padahal telah ditetapkan bahwa Allah bukan benda, Dia tidak membutuhkan kepada tempat dan arah. Dia Ada tanpa permulaan, tanpa arah dan tanpa tempat. Adapun penisbatan “al-Ma’arij” adalah penisbatan dalam makna pemuliaan (bukan dalam pengertian Allah di arah atas). Juga makna “al-Irtifa’” adalah dalam makna bahwa Allah maha suci, Dia maha suci dari tempat” (Fath al-Bari, j. 13, h. 416).

      Pernyataan Ibn Bathal ini dikutip oleh al-hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari dan disepakatinya. Dengan demikian berarti keyakinan Allah ada tanpa tempat adalah merupakkan keyakinan para ahli hadits secara keseluruhan.

      10. Imam Al Ghazali
      Allah Maha suci dari diliputi oleh tempat, sebagaimana Dia maha suci untuk dibatasi oleh waktu dan zaman. Dia ada tanpa permulaan, tanpa tempat, dan tanpa zaman, dan Dia sekarang (setelah menciptakan tempat dan arah) ada seperti sediakala tanpa tempat dan dan tanpa arah” (Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 1, h. 108).

      11. al-Imam al-Fakhr ar-Razi
      Di bagian lain dari tafsirnya dalam penafsiran firman Allah QS. Thaha: 5. Bahwa Allah ada tanpa permulaan. Dia ada sebelum menciptakan arsy dan tempat. Dan setelah Dia menciptakan segala makhluk Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, tidak butuh kepada tempat, Dia Maha Kaya dari segala makhluk-Nya. Artinya bahwa Allah Azali -tanpa permulaan- dengan segala sifat-sifat-Nya, Dia tidak berubah. Kecuali bila ada orang berkeyakinan bahwa arsy sama azali seperti Allah. -Dan jelas ini kekufuran karena menetapkan sesuatu yang azali kepada selain Allah-”.

    3. LANJUTAN…. AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      PARA AHLUSSUNAH BERKEYAKINAN BAHWA ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH

      12. al-Imam al-Bayyadli al-Hanafi
      Dalam kitab Isyarat al-Maram membahas dengan sangat detail argumen rasional bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam kitab ini beliau menjelaskan ungkapan al-Imam Abu Hanifah dalam kitab al-Fiqh al-Akbar bahwa adanya Allah Azali; tanpa permulaan. Dia ada sebelum ada makhluk-Nya. Ada sebelum Dia menciptakan tempat dan arah. Dialah Pencipta segala sesuatu. Maka setelah menciptakan segala sesuatu Dia tetap tidak membutuhkan kepada segala sesuatu. Dia maha Qadim, sementara tempat dan arah itu baharu.

      13. Imam Al Bayhaqi
      “Sebagian sahabat kami (kaum Ahlussunnah dari madzhab Asy’ariyyah Syafi’iyyah) mengambil dalil dalam menafikan tempat dari Allah dengan sebuah hadits sabda Rasulullah: “Engkau ya Allah az-Zahir (Yang segala sesuatu menunjukan akan keberadaan-Nya) tidak ada suatu apapun di atas-Mu, dan Engkau ya Allah al-Bathin (Yang tidak dapat diraih oleh akal pikiran) tidak ada suatu apapun di bawah-Mu”. Dari hadits ini dipahami jika tidak ada suatu apapun di atas Allah, dan tidak ada suatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 400).

      Pada bagian lain dari kitab di atas, al-Imam al-Bayhaqi menuliskan: “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 448-449).

      14. Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (w 324 H) -Semoga Allah meridlainya- berkata:
      “Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam kitab al-Asma Wa ash-Shifat).

      Al-Imam al-Asy’ari juga berkata: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al-Imam al-Asy’ari ini dinukil oleh al-Imam Ibn Furak (w 406 H) dalam kitab al-Mujarrad.

      15. al-Imâm al-Mufassir Muhammad ibn Ahmad al-Anshari al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya yang sangat terkenal; al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, menuliskan sebagai berikut: “Nama Allah “al-‘Aliyy” adalah dalam pengertian ketinggian derajat dan kedudukan bukan dalam pengertian ketinggian tempat, karena Allah maha suci dari bertempat” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 3, h. 278, dalam QS. al-Baqarah: 255).

      Masih dalam kitabnya yang sama al-Imâm al-Qurthubi juga menuliskan sebagai berikut: “Kaedah (yang harus kita pegang teguh): Allah maha suci dari gerak, berpindah-pindah, dan maha suci dari berada pada tempat” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 6, h. 390, dalam QS. al-An’am: 3).
      16. Al-Hâfizh Ibn al-Jawzi dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybîh
      Dalam penjelasan firman Allah: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), menuliskan sebagai berikut: “Penggunaan kata fawq biasa dipakai dalam mengungkapkan ketinggian derajat. Seperti dalam bahasa Arab bila dikatakan:“Fulan Fawqa Fulan”, maka artinya si fulan yang pertama (A) lebih tinggi derajatnya di atas si fulan yang kedua (B), bukan artinya si fulan yang pertama berada di atas pundak si fulan yang kedua. Kemudian, firman Allah dalam ayat tersebut menyebutkan “Fawqa ‘Ibadih”, artinya, sangat jelas bahwa makna yang dimaksud bukan dalam pengertian arah. Karena bila dalam pengertian arah, maka berarti Allah itu banyak di atas hamba-hamba-Nya, karena ungkapan dalam ayat tersebut adalah “’Ibadih” (dengan mempergunakan kata jamak)“ (Daf’u Sybah at-Tasybîh Bi Akaff at-Tanzih, h. 23).

      17. Al-Imâm al-Hâfizh Jalaluddin as-Suyuthi
      Dalam al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an menuliskan tentang pemahaman fawq pada hak Allah, sebagai berikut: “…antara lain sifat fawqiyyah, seperti dalam firman-Nya: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), dan firman-Nya: “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Makna fawq dalam ayat ini bukan dalam pengertian arah atas. Makna fawq dalam ayat tersebut sama dengan makna fawq dalam firman Allah yang lain tentang perkataan Fir’aun: “Wa Inna Fawqahum Qahirun” (QS. Al-A’raf: 127), bahwa pengertiannya bukan berarti Fir’aun berada di atas pundak Bani Isra’il, tapi dalam pengertian ia menguasai Bani Isra’il”.
      Salah seorang ulama bahasa yang sangat terkenal, az-Zujaji, dalam kitab Isytiqaq Isma’ Allah al-Husna menuliskan bahwa makna al-‘Alyy dan al-‘Aali pada hak Allah adalah yang menguasai dan menundukan segala sesuatu

      18. Al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari
      Menjelaskan bahwa makna ini; yaitu makna menguasai dan menundukan serta ketinggian derajat, adalah makna yang dimaksud dari salah salah satu sifat Allah; al-‘Uluww. Dan inilah makna yang dimaksud dari firman Allah: “Sabbihisma Rabbik al-‘Ala” (QS. Al-A’la: 1), dan firman-Nya: “Wa Huwa al-‘Alyy al-‘Azhim” (QS al-Baqarah: 255). Karena makna al-‘Uluww dalam pengertian indrawi, yaitu tempat atau arah atas hanya berlaku pada makhluk saja yang notabene sebagai benda yang memiliki bentuk dan ukuran, tentunya hal itu adalah suatu yang mustahil bagi Allah. Dalam hal ini Ibn Hajar menuliskan sebagai berikut: “Sesungguhnya mensifati Allah dengan sifat al-‘Uluww adalah dalam pengertian maknawi, karena mustahil memaknai al-‘Uluww (pada hak Allah) dalam pengertian indrawi. Inilah pengertian sifat-sifat Allah al-‘Aali, al-‘Alyy, dan al-Muta’ali”.
      Pada halaman lain dalam kitab yang sama, al-Hâfizh Ibn Hajar menuliskan alasan mengapa para ulama sangat keras mengingkari penisbatan arah bagi Allah, adalah tidak lain karena hal itu sama saja dengan menetapkan tempat bagi-Nya. Dan sesungguhnya Allah mustahil membutuhkan kepada tempat, karena Dia bukan benda yang memiliki bentuk dan ukuran, dan Dia tidak boleh disifati dengan sifat-sifat benda (Fath al-Bari Bi Syarh Shahih al-Bukhari, j. 3, h. 30, j. 7, h. 124, dan j. 11, h. 505).

    4. LANJUTAN… AQIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : BANTAHAN TERHADAP WAHABI MUJASSIM

      PARA AHLUSSUNAH BERKEYAKINAN BAHWA ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH

      19. Al-Imâm al-Qâdlî Abu Bakar Muhammad al-Baqillani al-Maliki al-Asy’ari (w 403 H), seorang ulama terkemuka di kalangan Ahlussunnah yang sangat giat menegakan akidah Asy’ariyyah dan memerangi akidah sesat, dalam kitab al-Inshâf Fîmâ Yajib I’tiqâduh Wa Lâ Yajûz al-Jahl Bih, h. 65, menuliskan sebagai berikut:

      “Kita tidak mengatakan bahwa arsy adalah tempat bersemayam Allah. Karena Allah Azaliy; ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Maka setelah Dia menciptakan tempat ia tidak berubah (karena perubahan adalah tanpa makhluk)”.

      Dan pada halaman 64 dalam kitab yang sama, al-Baqillani menuliskan berikut:

      “Wajib diketahui bahwa segala apapun yang menunjukan kepada kebaharuan atau tanda-tanda kekurangan maka Allah maha suci dari pada itu semua. Di antara hal itu ialah bahwa Allah Maha Suci dari berada pada arah atau tempat. Dia tidak boleh disifat dengan sifat-sifat makhluk yang baharu. Demikian pula tidak boleh disifati dengan berubah dan pindah (bergerak), berdiri dan duduk, karena sifat-sifat tersebut menunjukan kebaharuan, dan Allah Maha Suci dari itu”.

      20. Al-Imâm Abu Bakar Muhammad ibn al-Hasan al-Asy’ari yang dikenal dengan Ibn Furak (w 406 H), salah seorag teolog terkemuka di kalangan Ahlussunnah, dalam Musykil al-Hadîts, h. 57, menuliskan sebagai berikut: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah menyatu di seluruh tempat, karena mustahil Allah sebagai benda yang memiliki batasan, ukuran dan penghabisan. Hal itu karena Allah bukan sesuatu yang baharu seperti makhluk”.

      21. Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah, al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H) dalam karyanya; Kitâb at-Tauhîd menuliskan: “Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Tampat adalah makhluk memiliki permulaan dan bisa diterima oleh akal jika ia memiliki penghabisan. Namun Allah ada tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, Dia ada sebelum ada tempat, dan Dia sekarang setelah menciptakan tempat Dia sebagaimana sifat-Nya yang Azali; ada tanpa tempat. Dia maha suci (artinya mustahil) dari adanya perubahan, habis, atau berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lain” (Kitâb at-Tauhîd, h. 69)

      22. al-Hâfizh al-Imâm Muhammad ibn Hibban (w 354 H), penulis kitab hadits yang sangat mashur; Shahîh Ibn Hibbân, dalam pembukaan salah satu kitab karyanya; at-Tsiqât, menuliskan sebagai berikut: “Segala puji bagi Allah, Dzat yang bukan merupakan benda yang memiliki ukuran. Dia tidak terikat oleh hitungan waktu maka Dia tidak punah. Dia tidak diliputi oleh semua arah dan tempat. Dan Dia tidak terikat oleh perubahan zaman” (at-Tsiqât, j. 1, h. 1).

      23. Imam al-Haramain Abu al-Ma’ali Abd al-Malik ibn Abdullah al-Juwaini (w 478 H), salah seorang guru terkemuka al-Imâm al-Ghazali, dalam kitab karyanya berjudul al-Irsyâd Ilâ Qawâthi’ al-Adillah menuliskan sebagai berikut: “Ketahuilah bahwa di antara sifat Allah adalah Qiyâmuh Bi Nafsih; artinya Allah tidak membutuhkan kepada suatu apapun dari makhluk-Nya. Karenanya Dia Maha Suci dari membutuhkan kepada tempat untuk Ia tempatinya” (al-Irsyâd Ilâ Qawâthi’ al-Adillah, h. 53)

      Pada halaman lain dalam kitab yang sama Imam al-Haramain menuliskan: “Madzhab seluruh Ahl al-Haq telah menetapkan bahwa Allah maha suci dari tempat dan maha suci dari berada pada arah” (al-Irsyâd Ilâ Qawâthi’ al-Adillah, h. 58)

  42. IJMA’ AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH : “ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH”

    Dalam kitab yang berjudul Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, Syaikh Ali Mulla al-Qari’ menuliskan sebagai berikut:“Bahkan mereka semua –ulama Salaf– dan ulama Khalaf telah menyatakan bahwa orang yang menetapkan adanya arah bagi Allah maka orang ini telah menjadi kafir, sebagaimana hal ini telah dinyatakan oleh al-Iraqi. Beliau (al-Iraqi) berkata: Klaim kafir terhadap orang yang telah menetapkan arah bagi Allah tersebut adalah pernyataan al-Imâm Abu Hanifah, al-Imâm Malik, al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm al-Asy’ari dan al-Imâm al-Baqillani” (Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, j. 3, h. 300).

    Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi berkata dalam al-Farqu Bayna al-Firaq: “Kaum Muslimin sejak generasi salaf (para sahabat dan tabi’in) telah bersepakat bahwa Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh waktu.” (al-Farq bayna al-Firaq, 256).

    INSYAALLAH DI SAMBUNG LAGI

    1. Saya tunggu lanjutannya Mas Agung, akan saya print dan nantinya akan saya sebar luaskan di masjid-masjid yg berada di lingkungan saya sbg bulletin Jum’at, insyaallah.

  43. KESESATAN ORANG YANG MENISBATKAN ARAH ATAU TEMPAT BAGI ALLAH SWT

    Seorang yang menisbatkan arah atau tempat bagi Allah tidak lepas dari dua kesesatan. Artinya, secara pasti orang tersebut jatuh dalam salah satu dari dua kesesatan ini, jika tidak dalam dua-duanya.

    Pertama; Orang yang menetapkan tempat bagi Allah sama saja dengan menetapkan bahwa tempat adalah sesuatu yang azali dan qadim; ada tanpa permulaan bersama Allah. Keyakinan semacam ini jelas merupakan keyakinan syirik dan kufur, karena menetapkan adanya sesuatu yang azali kepada selain Allah. Padahal dalam banyak ayat al-Qur’an Allah berfirman bahwa Dia adalah pencipta segala sesuatu, seperti firman-Nya: “Allahu Khaliqu Kulli Syai’” (QS. Ar-Ra’ad: 16), artinya Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Dengan demikian, alam, yaitu segala sesuatu selain Allah, apapun ia, termasuk tempat dan arah, semua itu adalah ciptaan Allah. Kemudian dalam banyak hadits, Rasulullah telah menyatakan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah baru, artinya segala sesuatu selain Allah adalah makhluk Allah, di antaranya sabda Rasulullah riwayat al-Imâm al-Bukhari: “Kanallah Wa Lam Yakun Syai’ Gharuh”, artinya; Allah ada tanpa permulaan, Dia ada sebelum segala sesuatu ada. Dia ada sebelum menciptakan langit, bumi, arsy, angin, cahaya, kegelapan, tempat, arah, dan lain sebagainya. Dialah pencipta segala sesuatu.

    Kedua; Orang yang menetapkan adanya tempat atau arah bagi Allah sama juga dengan mengatakan bahwa Allah baru. Artinya dalam keyakinan orang ini, sebelum Allah menciptakan tempat dan arah Dia ada tanpa tempat dan arah, namun setelah Dia menciptakan arah dan tempat Dia berubah menjadi membutuhkan kepada keduanya. Keyakinan seperti ini nyata sebagai keyakinan kufur. Orang semacam ini tidak dapat membedakan antara al-Khaliq dan al-makhluq, ia menjadikan al-Khaliq dan al-makhluq tersebut dengan sifat yang sama. Bagaimana mungkin ia dapat dikatakan ahli tauhid?! Dalam al-Qur’an Allah berfirman: “Huwa al-Awwal Wa al-Akhir” (QS. Al-Hadid: 3). Artinya, hanya Allah al-Awwal; yang tidak memiliki permulaan, dan hanya Allah al-Akhir; yang tidak memiliki penghabisan.

  44. KEKUFURAN ORANG YANG MENYATAKAN TEMPAT BAGI ALLAH

    1. Asy-Syaikh al-‘Allâmah Syihabuddin Ahmad ibn Muhammad al-Mishri asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 974 H) yang lebih dikenal dengan nama Ibn Hajar al-Haitami. Dalam karyanya berjudul al-Minhaj al-Qawim ‘Ala al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah menuliskan sebagai berikut: “Ketahuilah bahwa al-Qarafi dan lainnya telah meriwayatkan dari al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm Malik, al-Imâm Ahmad dan al-Imâm Abu Hanifah bahwa mereka semua sepakat mengatakan bahwa orang yang menetapkan arah bagi Allah dan mengatakan bahwa Allah adalah benda maka orang tersebut telah menjadi kafir. Mereka semua (para Imam madzhab) tersebut telah benar-benar menyatakan demikian” (al-Minhaj al-Qawim ‘Ala al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah, h. 224).

    2. Al-Imâm al-Hâfizh al-Faqîh Abu Ja’far ath-Thahawi (w 321 H) dalam risalah akidahnya; al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah, yang sangat terkenal sebagai risalah akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, menuliskan sebagai berikut: “Barangsiapa mensifati Allah dengan satu sifat saja dari sifat-sifat manusia maka orang ini telah menjadi kafir” (Lihat matan al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah).

    3. Salah seorang sufi terkemuka, al-‘Arif Billah al-Imâm Abu al-Qasim al-Qusyairi (w 465 H) dalam karya fenomenalnya berjudul ar-Risalah al-Qusyairiyyah menuliskan sebagai berikut: “Aku telah mendengar al-Imâm Abu Bakr ibn Furak berkata: Aku telah mendengar Abu Utsman al-Maghribi berkata: Dahulu aku pernah berkeyakinan sedikit tentang adanya arah bagi Allah, namun ketika aku masuk ke kota Baghdad keyakinan itu telah hilang dari hatiku. Lalu aku menulis surat kepada teman-temanku yang berada di Mekah, aku katakan kepada mereka bahwa aku sekarang telah memperbaharui Islamku” (ar-Risalah al-Qusyairiyyah, h. 5).

    4. al-Imâm Abu al-Mu’ain Maimun ibn Muhammad an-Nasafi al-Hanafi (w 508 H) dalam kitab Tabshirah al-Adillah menuliskan sebagai berikut: “Allah telah menafikan keserupaan antara Dia sendiri dengan segala apapun dari makhluk-Nya. Dengan demikian pendapat yang menetapkan adanya tempat bagi Allah adalah pendapat yang telah menentang ayat muhkam; yaitu firman-Nya: “Laysa Kamitslihi Syai’” (QS. asy-Syura: 11). Ayat ini sangat jelas pemaknaannya dan tidak dimungkinkan memiliki pemahaman lain (takwil). Dan barangsiapa menentang ayat-ayat al-Qur’an maka ia telah menjadi kafir. Semoga Allah memelihara kita dari kekufuran” (Tabshirah al-Adillah Fi Ushuliddin, j. 1, h. 169).

    5. Asy-Syaikh al-‘Allâmah Zainuddin Ibn Nujaim al-Hanafi (w 970 H) dalam karyanya berjudul al-Bahr ar-Ra-iq Syarh Kanz ad-Daqa-iq berkata: “Seseorang menjadi kafir karena berkeyakinan adanya tempat bagi Allah. Adapun jika ia berkata “Allah Fi as-Sama’” untuk tujuan meriwayatkan apa yang secara zhahir terdapat dalam beberapa hadits maka ia tidak kafir. Namun bila ia berkata demikian untuk tujuan menetapkan tempat bagi Allah maka ia telah menjadi kafir” (al-Bahr ar-Ra-iq Syarh Kanz ad-Daqa-iq, j. 5, h. 129).

    6. Dalam kitab Syarh al-Fiqh al-Akbar yang telah disebutkan di atas, asy-Syaikh Ali Mulla al-Qari menuliskan sebagai berikut: “Maka barangsiapa yang berbuat zhalim dengan melakukan kedustaan kepada Allah dan mengaku dengan pengakuan-pengakuan yang berisikan penetapan tempat bagi-Nya, atau menetapkan bentuk, atau menetapkan arah; seperti arah depan atau lainnnaya, atau menetapkan jarak, atau semisal ini semua, maka orang tersebut secara pasti telah menjadi kafir” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 215).

    7. Asy-Syaikh al-‘Allâmah Muhammad ibn Illaisy al-Maliki (w 1299 H) dalam menjelaskan perkara-perkara yang dapat menjatuhkan seseorang di dalam kekufuran menuliskan sebagai berikut: “Contohnya seperti orang yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda atau berkayakinan bahwa Allah berada pada arah. Karena pernyataan semacam ini sama saja dengan menetapkan kebaharuan bagi Allah, dan menjadikan-Nya membutuhkan kepada yang menjadikan-Nya dalam kebaharuan tersebut” (Minah al-Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, j. 9, h. 206).

    8. Al-‘Allâmah al-Muhaddits al-Faqîh asy-Syaikh Abu al-Mahasin Muhammad al-Qawuqji ath-Tharabulsi al-Hanafi (w 1305 H) dalam risalah akidah berjudul al-I’timad Fi al-I’tiqad menuliskan sebagai berikut: “Barangsiapa berkata: “Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau berada di bumi”; maka orang ini telah menjadi kafir. Ini karena ia telah menetapkan tempat bagi Allah pada salah satu dari keduanya-” (al-I’timad Fi al-I’tiqad, h. 5).

    1. LANJUTAN… KEKUFURAN ORANG YANG MENYATAKAN TEMPAT BAGI ALLAH

      9. Asy-Syaikh Mahmud ibn Muhammad ibn Ahmad Khaththab as-Subki al-Mishri (w 1352 H) dalam kitab karyanya berjudul Ithaf al-Ka-inat Bi Bayan Madzhab as-Salaf Wa al-Khalaf Fi al-Mutasyâbihât, menuliskan sebagai berikut:
      “Telah berkata kepadaku sebagian orang yang menginginkan penjelasan tentang dasar-dasar akidah agama dan ingin berpijak di atas para ulama Salaf dan ulama Khalaf dalam memahami teks-teks Mutasyâbihât, mereka berkata: Bagaimana pendapat para ulama terkemuka tentang hukum orang yang berkeyakinan bahwa Allah berada pada arah, atau bahwa Dia duduk satu tempat tertentu di atas arsy, lalu ia berkata: Ini adalah akidah salaf, kita harus berpegang teguh dengan keyakinan ini. Ia juga berkata: Barangsiapa tidak berkeyakinan Allah di atas arsy maka ia telah menjadi kafir. Ia mengambil dalil untuk itu dengan firman Allah: “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa” (QS. Thaha: 5) dan firman-Nya: “A-amintum Man Fi as-Sama’ (QS. al-Mulk: 16). Orang yang berkeyakinan semacam ini benar atau batil? Dan jika keyakinannya tersebut batil, apakah seluruh amalannya juga batil, seperti shalat, puasa, dan lain sebagainya dari segala amalan-amalan keagamaan? Apakah pula menjadi tertolak pasangannya (suami atau istrinya)? Apakah jika ia mati dalam keyakinannya ini dan tidak bertaubat dari padanya, ia tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan di pemakaman kaum muslimin? Kemudian seorang yang membenarkan keyakinan orang semacam itu, apakah ia juga telah menjadi kafir?

      Jawaban yang aku tuliskan adalah sebagai berikut: Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Keyakinan semacam ini adalah keyakinan batil, dan hukum orang yang berkeyakinan demikian adalah kafir, sebagaimana hal ini telah menjadi Ijma’ (konsensus) ulama terkemuka. Dalil akal di atas itu adalah bahwa Allah maha Qadim; tidak memiliki permulaan, ada sebelum segala makhluk, dan bahwa Allah tidak menyerupai segala makhluk yang baharu tersebut (Mukhalafah Li al-Hawadits). Dan dalil tekstual di atas itu adalah firman Allah: “Laisa Kamitaslihi Syai’” (QS. asy-Syura: 11). Dengan demikian orang yang berkayakinan bahwa Allah berada pada suatu tempat, atau menempel dengannya, atau menempel dengan sesuatu dari makhluk-Nya seperti arsy, al-kursy, langit, bumi dan lainnya maka orang semacam ini secara pasti telah menjadi kafir. Dan seluruh amalannya menjadi sia-sia, baik dari shalat, puasa, haji dan lainnya. Demikian pula pasangannya (suami atau istrinya) menjadi tertolak. Ia wajib segera bertaubat dengan masuk Islam kembali -dan melepaskan keyakinannnya tersebut-. Jika ia mati dalam keyakinannya ini maka ia tidak boleh dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan dipemakaman kaum muslimin. Termasuk menjadi kafir dalam hal ini adalah orang yang membenarkan keyakinan tersebut. -Semoga Allah memelihara kita dari pada itu semua-. Adapun pernyataannya bahwa setiap orang wajib berkeyakinan semacam ini, dan bahwa siapapun yang tidak berkeyakinan demikian adalah sebagai seorang kafir, maka itu adalah kedustaan belaka, dan sesungguhnya justru penyataannya yang merupakan kekufuran” (Ithaf al-Ka’inat, h. 3-4).

      10. Al-Muhaddits al-‘Allâmah asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari (w 1371 H), Wakil perkumpulan para ulama Islam pada masa Khilafah Utsmaniyyah Turki menuliskan: “Perkataan yang menetapkan bahwa Allah berada pada tempat dan arah adalah perkataan kufur. Ini sebagaimana dinyatakan oleh para Imam madzhab yang empat, seperti yang telah disebutkan oleh al-Iraqi (dari para Imam madzhab tersebut) dalam kitab Syarh al-Misykat yang telah ditulis oleh asy-Syaikh Ali Mulla al-Qari” (Maqalat al-Kautsari, h. 321).

    2. LANJUTA…. KEKUFURAN ORANG YANG MENYATAKAN TEMPAT BAGI ALLAH

      9. Asy-Syaikh Mahmud ibn Muhammad ibn Ahmad Khaththab as-Subki al-Mishri (w 1352 H) dalam kitab karyanya berjudul Ithaf al-Ka-inat Bi Bayan Madzhab as-Salaf Wa al-Khalaf Fi al-Mutasyâbihât, menuliskan sebagai berikut:
      “Telah berkata kepadaku sebagian orang yang menginginkan penjelasan tentang dasar-dasar akidah agama dan ingin berpijak di atas para ulama Salaf dan ulama Khalaf dalam memahami teks-teks Mutasyâbihât, mereka berkata: Bagaimana pendapat para ulama terkemuka tentang hukum orang yang berkeyakinan bahwa Allah berada pada arah, atau bahwa Dia duduk satu tempat tertentu di atas arsy, lalu ia berkata: Ini adalah akidah salaf, kita harus berpegang teguh dengan keyakinan ini. Ia juga berkata: Barangsiapa tidak berkeyakinan Allah di atas arsy maka ia telah menjadi kafir. Ia mengambil dalil untuk itu dengan firman Allah: “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa” (QS. Thaha: 5) dan firman-Nya: “A-amintum Man Fi as-Sama’ (QS. al-Mulk: 16). Orang yang berkeyakinan semacam ini benar atau batil? Dan jika keyakinannya tersebut batil, apakah seluruh amalannya juga batil, seperti shalat, puasa, dan lain sebagainya dari segala amalan-amalan keagamaan? Apakah pula menjadi tertolak pasangannya (suami atau istrinya)? Apakah jika ia mati dalam keyakinannya ini dan tidak bertaubat dari padanya, ia tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan di pemakaman kaum muslimin? Kemudian seorang yang membenarkan keyakinan orang semacam itu, apakah ia juga telah menjadi kafir?

      Jawaban yang aku tuliskan adalah sebagai berikut: Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Keyakinan semacam ini adalah keyakinan batil, dan hukum orang yang berkeyakinan demikian adalah kafir, sebagaimana hal ini telah menjadi Ijma’ (konsensus) ulama terkemuka. Dalil akal di atas itu adalah bahwa Allah maha Qadim; tidak memiliki permulaan, ada sebelum segala makhluk, dan bahwa Allah tidak menyerupai segala makhluk yang baharu tersebut (Mukhalafah Li al-Hawadits). Dan dalil tekstual di atas itu adalah firman Allah: “Laisa Kamitaslihi Syai’” (QS. asy-Syura: 11). Dengan demikian orang yang berkayakinan bahwa Allah berada pada suatu tempat, atau menempel dengannya, atau menempel dengan sesuatu dari makhluk-Nya seperti arsy, al-kursy, langit, bumi dan lainnya maka orang semacam ini secara pasti telah menjadi kafir. Dan seluruh amalannya menjadi sia-sia, baik dari shalat, puasa, haji dan lainnya. Demikian pula pasangannya (suami atau istrinya) menjadi tertolak. Ia wajib segera bertaubat dengan masuk Islam kembali -dan melepaskan keyakinannnya tersebut-. Jika ia mati dalam keyakinannya ini maka ia tidak boleh dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan dipemakaman kaum muslimin. Termasuk menjadi kafir dalam hal ini adalah orang yang membenarkan keyakinan tersebut. -Semoga Allah memelihara kita dari pada itu semua-. Adapun pernyataannya bahwa setiap orang wajib berkeyakinan semacam ini, dan bahwa siapapun yang tidak berkeyakinan demikian adalah sebagai seorang kafir, maka itu adalah kedustaan belaka, dan sesungguhnya justru penyataannya yang merupakan kekufuran” (Ithaf al-Ka’inat, h. 3-4).

      10. Al-Muhaddits al-‘Allâmah asy-Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari (w 1371 H), Wakil perkumpulan para ulama Islam pada masa Khilafah Utsmaniyyah Turki menuliskan: “Perkataan yang menetapkan bahwa Allah berada pada tempat dan arah adalah perkataan kufur. Ini sebagaimana dinyatakan oleh para Imam madzhab yang empat, seperti yang telah disebutkan oleh al-Iraqi (dari para Imam madzhab tersebut) dalam kitab Syarh al-Misykat yang telah ditulis oleh asy-Syaikh Ali Mulla al-Qari” (Maqalat al-Kautsari, h. 321).

      11. al-Imâm asy-Syaikh al-Izz ibn Abd as-Salam (w 660 H) dalam karyanya berjudul Hall ar-Rumuz sekaligus disepakatinya bahwa orang yang berkata demikian itu telah menjadi kafir, adalah karena orang tersebut telah menetapkan tempat bagi Allah. Al-Imâm al-Izz ibn Abd as-Salam menuliskan:

      “Hal itu menjadikan dia kafir karena perkataan demikian memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat, dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka dia adalah seorang Musyabbih (Seorang kafir yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)” (Dikutip oleh asy-Syaikh Mulla Ali al-Qari dalam kitab Syrah al-Fiqh al-Akbar, h. 198).

  45. Tuduhan seperti sudah tidak aneh lagi bagi kami karena memang demikianlah kebiasaan ahli bid’ah semenjak dahulu hingga sekarang. Semoga Allah merahmati Imam Abu Hatim Ar-Razi yang telah mengatakan:
    Tanda ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar. Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari ahli sunnah dengan Musyabbihah. (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah wal Jama’ah Al-Lalikai 1/204, Dzammul Kalam al-Harawi 4/390.)
    Ishaq bin Rahawaih mengatakan:
    Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh ahli sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu’atthilah (meniadakan/mengingkari sifat bagi Allah). ( Syarh Ushul I’tiqad al-Lalikai (937), Syarh Aqidah At-Thahawiyyah 1/85 oleh Ibnu Abi Izzi Al-Hanafi.)

    Adapun tuduhan terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa beliau termasuk golongan Mujassimah atau Musyabbihah, dengarkanlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sendiri:
    “Kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyyah dan sejenisnya dari kalangan pengingkar sifat, mereka menuduh orang-orang yang menetapkannya dengan gelar Mujassimah/Musyabbihah, bahkan diantara mereka ada yang menuduh para imam populer seperti Malik, Syafi’I, Ahmad dan para sahabatnya dengan gelar Mujassimah dan Musyabbihah sebagaimana diceritakan oleh Abu Hatim, penulis kitab “Az-Zinah” dan sebagainya”. (Minhajus Sunnah (2/75))

    Padahal, kalau mau dicermati, ternyata tuduhan “Mujassimah” itu sebenarnya mereka sendiri yang pantas menerimanya (senjata makan tuan). Mengapa demikian? Karena orang yang berfaham bahwa Allah berada di setiap tempat, dia telah membatasi Allah pada tempat yang terbatas. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.
    Adapun pendapat yang menyatakan bahwa Allah di atas langit, tidaklah melazimkan tajsim (membentuk). Mengapa demikian? Karena perkataan kita: “Allah tinggi di atas arsy dan berpisah dari makhluknya” tidaklah berkonotasi membatasi Allah pada satu tempat, sebab tempat itu sesuatu yang terbatas di langit dan bumi serta antara keduanya, sedangkan di atas arsy tidak ada tempat. ( “Al-Jama’at Al-Islamiyyah” hal. 230 oleh Salim Al-Hilali.)

    1. ahlussunah wal jama’ah (ganti aja nama antum dg WAHABI ya?)@ said:

      Padahal, kalau mau dicermati, ternyata tuduhan “Mujassimah” itu sebenarnya mereka sendiri yang pantas menerimanya (senjata makan tuan). Mengapa demikian? Karena orang yang berfaham bahwa Allah berada di setiap tempat…. dst

      Jawab:
      Kami Ahlussunnah Wal Jamaah tidak pernah mengatakan bahwa Allah berada pada setiap tempat, itu adalah interpretasi anda sendiri yg kebakaran jenggot kali ya? Kami juga tidak pernah mengatakan Allah bertempat di langit aatu di Arsy. Sebab kami Ahlussunnah Wal Jamah selalu mengatakan bahwa ALLAH ADA TANPA TEMPAT dan ARAH, jadi anda jangan nambah-nambahi apa yg tidak pernah kami katakan. Karena Allah tidak ada yang menyamainya; LAM YAKUN LAHU KUFUWAN AHAD, LAISA KAMITSLIHI SYAI’UN…, Yang Bertempat itu hanya pantas bagi Makhluk, OK?

    2. KEDUSTAAN @AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH (PALSU)

      ahlussunah wal jama’ah (palsu) : “syarh Ushul I’tiqad al-Lalikai (937), Syarh Aqidah At-Thahawiyyah 1/85 oleh Ibnu Abi Izzi Al-Hanafi”.

      Jawab

      pertama, Riwayat yang telah disebutkan oleh al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam kitab Hall ar-Rumuz, bahwa al-Imam Abu Hanifah berkata: “Barangsiapa berkata “Saya tidak tahu apakah Allah di langit atau di bumi?!”, maka orang ini telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam ini memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka orang tersebut seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya”. Al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam adalah ulama besar terkemuka dan sangat terpercaya. Riwayat yang beliau kutip dari al-Imam Abu Hanifah dalam hal ini wajib kita pegang teguh. Bukan dengan memegang tegung riwayat yang dikutip oleh Ibn ‘Abi al-Izz; (yang telah membuat syarah Risalah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah versi akidah tasybih). Di samping ini semua, Abu Muthi’ al-Balkhi sendiri adalah seorang yang banyak melakukan pemalsuan, seperti yang telah dinyatakan oleh banyak ulama hadits” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 197-198).

      kedua, Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -Semoga Allah meridlainya berkata
      “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang); tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi oleh enam arah penjuru tersebut”.

      2. ahlussunah wal jama’ah (palsu) : “orang yang berfaham bahwa Allah berada di setiap tempat…..”.

      jawab : “kami sudah berulang ulang mengatakan, bahwa aqidah kami : Allah ada tanpa tempat dan arah. bagaimana saudara ini, bodoh kok dipelihara”.

  46. @AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH (PALSU)

    ULAMA AHLUSSUNNAH BERBICARA TENTANG IBNU TAIMIYAH

    1. Al Hafizh Ibnu Hajar (W 852 H) menukil dalam kitab ad-Durar al Kaminah juz I, hlm. 154-155 bahwa para ulama menyebut Ibnu Taimiyah dengan tiga sebutan: Mujassim, Zindiq, Munafiq.

    2. Ibnu Hajar al Haytami (W 974 H) dalam karyanya Hasyiyah al Idlah fi Manasik al Hajj Wa al ‘Umrah li an-Nawawi, hlm. 214 menyatakan tentang pendapat Ibnu Taimiyah yang mengingkari kesunnahan safar (perjalanan) untuk ziarah ke
    makam Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam: “Janganlah tertipu dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap kesunnahan ziarah ke makam Rasulullah, karena sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang disesatkan oleh Allah seperti dikatakan oleh al ‘Izz ibn Jama’ah. At-Taqiyy as-Subki dengan panjang lebar juga
    telah membantahnya dalam sebuah tulisan tersendiri. Perkataan Ibnu Taimiyah yang berisi celaan dan penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad ini tidaklah aneh karena dia bahkan telah mencaci Allah, Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang kafir dan atheis. Ibnu Taimiyah menisbatkan hal-hal yang tidak layak bagi Allah, ia menyatakan Allah memiliki arah, tangan, kaki, mata (yang merupakan anggota badan) dan hal-hal buruk yang lain. Karenanya, Demi Allah ia telah dikafirkan oleh banyak para ulama, semoga Allah memperlakukannya dengan kedilan-Nya dan tidak
    menolong pengikutnya yang mendukung dusta-dusta yang dilakukan Ibnu Taimiyah terhadap Syari’at Allah yang mulia ini”.

    3. Pengarang kitab Kifayatul Akhyar Syekh Taqiyy ad-Din al Hushni (W 829 H), setelah menuturkan bahwa para ulama dari empat madzhab menyatakan Ibnu Taimiyah sesat, dalam kitabnya Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa tamarrada beliau menyatakan: “Maka dengan demikian, kekufuran Ibnu Taimiyah adalah hal yang disepakati oleh para ulama”.

    4. Al Hafizh Abu Sa’id al ‘Ala-i (W 761 H) yang semasa dengan Ibnu Taimiyah juga mencelanya. Abu Hayyan al Andalusi (W 745 H) juga melakukan hal yang sama, sejak membaca pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Kitab al ’Arsy yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah duduk di atas Kursi dan telah menyisakan tempat kosong di Kursi itu untuk mendudukkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bersama-Nya”, beliau melaknat Ibnu Taimiyah. Abu Hayyan mengatakan: “Saya melihat sendiri hal itu dalam bukunya dan saya tahu betul tulisan tangannya”. Semua ini dituturkan oleh Imam Abu Hayyan al Andalusi dalam tafsirnya yang berjudul
    an-Nahr al Maadd min al Bahr al Muhith.

    5. Berikut adalah nama-nama para ulama yang semasa dengan Ibnu Taimiyah (W 728 H) dan berdebat dengannya atau yang hidup setelahnya dan membantah serta menyerang pendapatpendapatnya. Mereka adalah para ulama dari empat madzhab; Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali: 1. Al Qadli al Mufassir Badr ad-din Muhammad
    ibn Ibrahim ibn Jama’ah asy-Syafi’i (W 733 H). 2. Al Qadli Muhammad ibn al Hariri al Anshari al Hanafi. 3. Al Qadli Muhammad ibn Abu Bakar al Maliki 4. Al Qadli Ahmad ibn ‘Umar al Maqdisi al Hanbali. Dengan fatwa empat Qadli (hakim) dari empat madzhab ini, Ibnu Taimiyah dipenjara pada tahun 762 H. Peristiwa ini diuraikan dalam ‘Uyun at-Tawarikh karya Ibnu Syakir al Kutubi, Najm al Muhtadi wa Rajm al Mu’tadi karya Ibn al Mu’allim al Qurasyi.

    dan masih banyak lagi ulama ulama ahlussunah yg mengingkari ibn taymiyyah.

  47. @AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH (PALSU), UMMU ABDILLAH, DAN ABI DZAR

    Sebenarnya saya tidak suka membahas masalah ayat ayat mutasyabihat. kalian kan menolak takwil, tolong y pertanyaan saya ini di jawab. ummu abdillah dan yg sepemahaman dengan saudara juga tolong di jawab, atau kalau perlu, minta bantuan dengan al imam al mujtahid firanda andirja. pertanyaan saya adalah

    1. DIMANA ALLAH SEBELUM MENCIPTAKAN TEMPAT?

    2. TEMPAT YG SAUDARA MAKSUD DENGAN TEMPAT BERSEMAYAMNYA ALLAH ITU MAKHLUK APA BUKAN? QODIM AZALI ATAU TIDAK?

    2. APA MAKNA HADIST BERIKUT INI, INGAT YA, KALIAN KAN MELARANG TAKWIL ;
    ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim).

    DEMIKIANLAH PERTANYAAN SAYA, MOHON KIRAYA KALIAN MAU MENJAWABNYA. TRM KSH.

  48. @BANTAHAN UNTUK UMMU ABDILLAH

    Dalam kitab daf’u syubah al-tasybih bi-akaffi al-tanzih karya imam ibnul jauzi al-hanbali, ketika mengomentari hadist yg diriwayatkan oleh imam Muslim dalam hadits-hadits yang redaksinya diriwayatkan menyendiri olehnya (al-Afrâd) dari sahabat Mu’awiyah bin al-Hakam, bahwa ia (Mu’awiyah bin al-Hakam) berkata:

    (قيل) كَانَتْ لِي جَارِية تَرْعَى غنَمًا، فانْطلقَتْ ذَات يَوْم فإذَا الذّئْب قدْ ذَهَب بشَاةٍ فصَكَكْتُهَا صكّة فأتيْتُ رسُوْلَ الله صلّى الله عَليه وَسَلّم فعَظُم ذلك علَيَّ، فقلتُ ألا أُعْتقُها، قال: ائْتِنِي بِها، فقالَ لَها: أيْن الله تعالَى؟ قالَتْ: فِي السّمَاء، قالَ: منْ أنَا؟ قالَتْ: أنْتَ رَسُولُ الله، فقَال: اعْتِقْها فإنّهَا مُؤمنَة

    [Makna literal riwayat ini tidak boleh kita ambil, mengatakan: “Aku memiliki seorang budak perempuan yang selalu menggembala kambing. Maka suatu hari ia pergi [untuk menggembala] dan ternyata salah satu kambing telah dimangsa oleh srigala, maka aku memukul budak tersebut dengan satu pukulan. Lalu aku mendatangi Rasulullah menyesali perbuatanku tersebut, aku berkata: “Tidakkah aku merdekakan saja ia?”, Rasulullah berkata: “Datangkan budak itu kepadaku”. Lalu Rasulullah berkata kepadanya (budak): “Di mana Allah?”, budak menjawab: “Di langit”, Rasulullah berkata: “Siapa aku?”, budak menjawab: “Engkau adalah Rasulullah”. Rasulullah berkata: “Merdekakanlah ia, karena sungguh ia seorang mukmin”].

    “Para ulama (Ahlussunnah Wal Jama’ah) telah menetapkan bahwa Allah tidak diliputi oleh langit dan bumi serta tidak diselimuti oleh segala arah [artinya Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah; karena tempat dan arah adalah makhluk-Nya]. Adapun bahwa budak perempuan tersebut berisyarat dengan mengatakan di arah langit adalah untuk tujuan mengagungkan Allah [Artinya bahwa Allah sangat tinggi derajat-Nya. Dan pertanyaan Rasulullah dengan redaksi “أين” adalah dalam makna “ما مدى تعظيمك لله؟”; artinya “Bagaimana engkau mengagungkan Allah?”, oleh karena kata “أين” digunakan tidak hanya untuk menanyakan tempat, tapi juga biasa digunakan untuk menanyakan kedudukan atau derajat].

  49. @BANTAHAN UNTUK UMMU ABDILLAH

    Dalam kitab daf’u syubah al-tasybih bi-akaffi al-tanzih karya imam ibnul jauzi al-hanbali, ketika mengomentari hadist yg diriwayatkan oleh Abu Razin meriwayatkan, berkata:

    (قيل) قُلْتُ: يَا رَسوْلَ الله أيْنَ كَان ربّنَا قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ خَلقَه؟ قال: كَانَ فِي عَمَاء، مَا تَحْتهُ هَوَاء ولا فَوقَه هوَاء ثُمّ خَلقَ عرْشَه عَلى الْمَاء

    [Makna literal riwayat ini tidak boleh kita ambil, mengatakan: “Aku berkata: “Wahai Rasulullah di manakah Tuhan kita sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya? Rasululah berkata: “Dia dalam awan, tidak ada udara di bawah-Nya dan di atas-Nya, lalu Dia menciptakan arsy-Nya di atas air”].

    Makna “العماء” dalam bahasa adalah “السحاب”; artinya “awan”. Kata “فوق” [yang secara literal bermakna “di atas”] dan kata “تحت” [secara literal bermakna “di bawah”] dalam redaksi riwayat di atas adalah kembali kepada kata “عماء” (awan), bukan kembali ke “Allah”. Kemudian kata “في” dalam kalimat “في عماء” adalah dalam pengertian “فوق” [dalam makna mengatur dan menguasai]. Dengan demikian makna yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah bahwa Allah maha tinggi derajat-Nya; Dia maha mengatur dan maha menguasai. Hanya saja untuk pendekatan maka jawaban pertanyaannya dikaitkan dengan makhluk, seperti kata “العماء” [yang berarti awan] dalam redaksi hadits yang kita bicarakan ini. Seandainya saja para sahabat bertanya ada apa sebelum ada awan? maka tentu Rasulullah akan memberitakan bahwa sebelum segala sesuatu ada yang ada hanya Allah [Dia ada tanpa permulaan]; tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya, sebagaimana hal ini telah diriwayatkan dalam hadits sahih bahwa Rasulullah bersabda:

    كَانَ اللهُ وَلا شَىءَ مَعَهُ

    [Maknanya: “Allah ada tanpa permulaan dan tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya”].

    Kita semua sepakat bahwa Allah tidak ada yang menyerupai-Nya, keagungan-Nya tidak ada yang menandingi dan menyamai-Nya. Allah tidak menyatu dengan suatu apapun dari makhluk-Nya, namun demikian tidak ada suatu apapun dari makhluk-Nya yang lepas dari pengetahuan-Nya [Artinya bahwa Allah maha mengetahui segala apapun yang terjadi pada makhluk-Nya dengan setiap rinciannya]. Karena bila Allah menyatu dengan sesuatu dari makhluk-Nya maka berarti Allah adalah bagian dari makhluk itu sendiri, dan seandainya ilmu Allah lepas dari para makhluk-Nya maka berarti Allah tidak mengetahui apa-apa yang terjadi pada makhluk-Nya tersebut.

  50. @BANTAHAN TERHADAP MUJASSIM WAHABI

    Dalam kitab daf’u syubah al-tasybih bi-akaffi al-tanzih karya imam ibnul jauzi al-hanbali, ketika menerangkan firman Allah swt. ثُمّ اسْتَوَى عَلَى العَرْش (الأعراف: 54)، / ثُمّ اسْتَوَى عَلَى العَرْش (يونس: 3)، ثُمّ اسْتَوَى عَلَى العَرْش (الرعد: 2)، ثُمّ اسْتَوَى عَلَى العَرْش (الفرقان: 59)، ثُمّ اسْتَوَى عَلَى العَرْش (السجدة: 4)، ثُمّ اسْتَوَى عَلَى العَرْش (الحديد: 4)، الرّحْمنُ علَى العَرْش اسْتَوى (طه: 5)

    Imam al-Khalil ibn Ahmad [ahli bahasa terkemuka; guru Imam Sibawaih] berkata: “Makna al-‘Arsy “العرش” adalah as-Sarîr “السرير”; artinya ranjang [atau singgasana]. Setiap ranjang atau singgasana yang ditempati oleh seorang raja secara bahasa disebut dengan arsy. Penggunaan kata “‘Arsy” dalam bahasa Arab sangat dikenal, baik di masa jahiliyah maupun setelah kedatangan Islam. Dalam al-Qur’an penggunaan kata arsy di antaranya dalam firman Allah:

    وَرَفَعَ أبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْش وَخَرّوْا لَهُ سُجّدًا (يوسف: 100)

    [Maknanya: “Dan Nabi Yusuf menaikan kedua ibu bapaknya (Nabi Ya’qub) ke atas arsy (singgasana), dan mereka semua turun baginya bersujud]” (QS. Yusuf: 100)

    Juga dalam firman-Nya tentang perkataan Nabi Sulaiman:

    قَالَ يَاأيّهَا الْمَلأ أيّكُمْ يَأتِيْنِي بعَرْشِهَا (النمل: 38)

    [Maknanya: “Nabi Sulaiman berkata: Wahai pembesar-pembesar siapakah di antara kalian yang dapat mendatangkan arsy-nya kepadaku? (yang dimaksud mendatangkan singgasana Ratu Bilqis)]”. (QS. An-Naml: 38 ).

    Ketahuilah, kata Istawâ “استوى” dalam bahasa Arab memiliki berbagai macam arti, di antaranya bermakna I’tadala “اعتدل”; artinya “sama sepadan”. Dalam makna ini sebagian kabilah Bani Tamim berkata:

    فَاسْتَوَى ظَالِمُ العَشِيْرَةِ وَالْمَظْلُوْمُ

    [Artinya “Menjadi sama antara orang yang zalim dari kaum tersebut dengan orang yang dizaliminya”. Kata Istawâ dalam bait sya’ir ini artinya “sama sepadan”].

    Kata Istawâ dapat pula bermakna tamma “تمّ” ; artinya sempurna. Dalam makna ini seperti firman Allah tentang Nabi Musa:

    وَلَمّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى ءَاتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا (القصص: 14)

    [”Ketika dia (Nabi Musa) telah mencapai kekuatannya dan telah sempurna Kami (Allah) berikan kepadanya kenabian dan ilmu”]. (QS. Al-Qashash: 14).

    Kata Istawâ dapat pula bermakna al-Qashd Ilâ asy-Syai’ “القصد إلى الشىء” artinya; bertujuan terhadap sesuatu. Dalam makna ini seperti firman Allah:

    ثُمّ اسْتَوَى إلَى السّمَاء (فصلت: 11)

    [Yang dimaksud Istawâ dalam ayat ini ialah qashada “قصد”, artinya bahwa Allah berkehendak (bertujuan) untuk menciptakan langit].

    Kata Istawâ dapat pula dalam makna al-Istîlâ’ ‘Alâ asy-Syai’ “الاستيلاء على الشىء” artinya; menguasai terhadap sesuatu. Dalam makna ini sebagaimana perkataan seorang penyair:

    إذَا مَا غَزَا قَوْمًا أبَاحَ حَرِيْمهُمْ وأضْحَى عَلى مَا مَلَكُوْهُ قَدِ اسْتَوَى

    [Maknanya: “Apa bila ia memerangi suatu kaum maka ia mendapatkan kebolehan atas sesuatu yang terlarang dari mereka, dan jadilah ia terhadap apa yang mereka miliki telah menguasai”].

    Isma’il bin Abi Khalid ath-Tha’i meriwayatkan bahwa arsy adalah yaqut yang berwarna merah. Para ulama Salaf memahami ayat ini sebagaimana datangnya [dalam teks-teks syari’at] tanpa memberlakukan tafsir dan takwil terhadapnya.

    Sementara itu ada golongan yang datang belakangan (al-Muta’akhirîn) yang memahami ayat ini dalam makna indrawi [yaitu kaum Musyabbihah]. Di antara mereka ada yang menambahkan kata “Dzat” “ذات” ; mereka berkata: “Istawâ ‘Alâ ‘Arsyihi Bi Dzâtih” “استوى على عرشه بذاته” [ini ungkapan sesat hendak mengatakan bahwa Allah dengan Dzat-Nya bertempat di arsy]. Padahal tambahan kata tersebut dari mereka sendiri, karena tidak ada riwayat dari siapapun yang menyebutkan redaksi demikian. Tambahan redaksi ini tidak lain hanya datang dari pemahaman indrawi mereka, dalam hal ini mereka berkata: “al-Mustawî ‘Alâ asy-Syai’ Innamâ Yastawî Bi Dzâtih” “المستوي على الشىء إنما يستوي بذاته”. [Mereka memahami kata Istawâ hanya dalam makna bertempat dan bersemayam, karena itu dalam kesimpulan sesat mereka Allah bertempat dengan Dzat-Nya di atas arsy].

    1. LANJUTAN…. @BANTAHAN TERHADAP MUJASSIM WAHABI

      Lanjutan Dalam kitab daf’u syubah al-tasybih bi-akaffi al-tanzih karya imam ibnul jauzi al-hanbali

      Ibnu Hamid al-Musyabbih berkata: “Pemahaman Istawâ di sini adalah bahwa Allah menempel (pada arsy), Istawâ ini adalah sifat Dzat-Nya, dan makna Istawâ di sini adalah duduk”.

      Ibnu Hamid juga berkata: “Sebagian golongan dari para sahabat kami [orang-orang yang mengaku bermadzhab Hanbali] berpendapat bahwa Allah bertempat di arsy, namun Dia tidak memenuhi arsy. Dan bahwa Allah mendudukan Nabi Muhammad di atas arsy bersama-Nya”.

      Ibnu Hamid juga berkata: “Pengertian an-Nuzûl [dalam hadits “ينزل ربّنا”] adalah berpindah [dari atas ke bawah]”.

      Ini artinya dalam keyakinan sesat Ibnu Hamid bahwa Allah ketika turun maka Dzat-Nya menjadi jauh lebih kecil dari pada arsy [karena dalam riwayat sahih disebutkan bahwa besarnya langit dibanding arsy seperti kerikil dibanding padang yang luas]. Yang sangat mengherankan dari mereka dengan keyakinan rusak ini mereka berkata: “Kami bukan kaum Mujassimah (golongan yang mengatakan Allah sebagai benda)”.

      Sementara Ibn az-Zaghuni al-Musyabbih pernah ditanya: “Apakah ada sifat Allah yang baharu sebelum Dia menciptakan arsy?” [Artinya; jika dikatakan Allah bertempat di arsy maka berarti sifat “bertempat” tersebut baharu karena Allah ada sebelum arsy], Ibn az-Zaghuni menjawab: “Tidak ada sifat Allah yang baharu. Allah menciptakan alam ini dari arah bawah-Nya, maka alam ini dari-Nya berada di arah bawah. Dengan demikian, jika telah tetap bahwa “arah bawah” bagi sesuatu selain Allah maka secara otomatis telah tetap bahwa “arah atas” sebagai arah bagi-Nya”.

      Ibn az-Zaghuni juga berkata: “Telah tetap bahwa segala tempat itu bukan di dalam Dzat Allah, dan Dzat Allah juga bukan pada tempat. Dengan demikian maka sesungguhnya Allah terpisah dari alam ini. Dan ini semua mestilah memiliki permulaan hingga terjadi keterpisahan antara Allah dengan alam. Dan ketika Allah berfirman: “استوى” maka kita menjadi paham bahwa Dia berada di arah tersebut [bertempat di arsy]”.

      Lalu Ibn az-Zaghuni juga berkata: “Dzat Allah pasti memiliki ujung dan penghabisan yang hanya Dia sendiri yang mengetahuinya”.

      Aku (Ibnul Jawzi) berkata: “Orang ini tidak mengerti dengan segala apa yang ia ucapkannya sendiri. Padahal [akal sehat mengatakan] ketika ditetapkan adanya ukuran, ujung dan penghabisan serta jarak terpisah antara Allah dengan makhluk maka berarti orang itu telah berkeyakinan bahwa Allah sebagai benda. Benar, memang dia sendiri (Ibn az-Zaghuni) telah mengakui bahwa Allah sebagai benda (jism), karena dalam bukunya ia mengatakan bahwa Allah bukan jawhar (benda terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak dapat dilihat oleh mata) karena jawhar itu tidak memiliki tempat, sementara Allah –menurutnya– memiliki tempat; yang Dia berada pada tempat tersebut”.

      Aku (Ibnul Jawzi) berkata: “Apa yang diungkapkan oleh Ibn az-Zaghuni [dan orang musyabbih semacamnya] menunjukan bahwa dia adalah seorang yang bodoh, dan bahwa dia seorang musyabbih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Si “syekh” ini benar-benar tidak mengetahui apa yang wajib pada hak Allah dan apa yang mustahil bagi-Nya. Sesungguhnya wujud Allah tidak seperti wujud segala jawhar dan segala benda; di mana setiap jawhar dan benda pastilah berada pada arah; bawah, atas, depan, [dan belakang], serta pastilah ia berada pada tempat. Lalu akal sehat mengatakan bahwa sesuatu yang bertempat itu bisa jadi lebih besar dari tempatnya itu sendiri, bisa jadi lebih kecil, atau bisa jadi sama besar, padahal keadaan semacam ini hanya berlaku pada benda saja. Kemudian sesuatu yang bertempat itu bisa jadi bersentuhan atau tidak bersentuhan dengan tempat itu sendiri, padahal sesuatu yang demikian ini pastilah dia itu baharu. Logika sehat menetapkan bahwa segala jawhar [dan benda] itu baharu; karena semua itu memiliki sifat menempel dan terpisah. Jika mereka menetapkan sifat menempel dan terpisah ini bagi Allah maka berarti mereka menetapkan kebaharuan bagi-Nya. Tapi jika mereka tidak mengatakan bahwa Allah baharu maka dari segi manakah kita akan mengatakan bahwa segala jawhar (dan benda) itu baharu -selain dari segi sifat menempel dan terpisah-? [artinya dengan dasar keyakinan mereka berarti segala jawhar –dan benda– tersebut tidak baharu sebagaimana Allah tidak baharu]. Sesungguhnya bila Allah dibayangkan sebagai benda [seperti dalam keyakinan mereka] maka berarti Allah membutuhkan kepada tempat dan arah. [Oleh karena itu Allah tidak dapat diraih oleh segala akal dan pikiran, karena segala apapun yang terlintas dalam akal dan pikiran maka pastilah ia merupakan benda dan Allah tidak seperti demikian itu].

      Kemudian kita katakan pula: “Sesungguhnya sesuatu yang bertempat itu adakalanya bersampingan dengan tempat tersebut (at-Tajâwur) dan adakalanya berjauhan dari tempat tersebut (at-Tabâyun); tentu dua perkara ini mustahil bagi Allah. Karena sesungguhnya at-tajawur dan at-tabayun adalah di antara sifat-sifat benda [dan Allah bukan benda].

      Akal sehat kita juga menetapkan bahwa berkumpul (al-Ijtimâ’) dan berpisah (al-Iftirâq) adalah di antara tanda-tanda dari sesuatu yang bertempat. Sementara Allah tidak disifati dengan tanda-tanda kebendaan dan tidak disifati dengan bertempat, karena jika disifati dengan bertempat maka tidak lepas dari dua kemungkinan; bisa jadi berdiam pada tempat tersebut, atau bisa jadi bergerak dari tempat tersebut. Sesungguhnya Allah tidak disifati dengan dengan gerak (al-Harakah), diam (as-Sukûn), berkumpul (al-Ijtimâ’), dan berpisah (al-Iftirâq).

      Kemudian pula; sesuatu yang bersampingan dengan tempat (at-Tajâwur) dan berjauhan dari tempat (at-Tabâyun) maka pastilah sesuatu tersebut sebagai benda yang memiliki bentuk dan ukuran. Dan sesuatu yang memiliki bentuk dan ukuran maka mestilah ia membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam bentuk dan ukurannya tersebut.

      Kemudian pula; tidak boleh dikatakan bagi Allah di dalam alam, juga tidak dikatakan di luar alam ini, karena pengertian di dalam (Dâkhil) dan di luar (Khârij) hanya berlaku bagi segala benda yang memiliki tempat dan arah. Pengertian di dalam (dâkhil) dan di luar (khârij) sama dengan gerak (al-harakah) dan diam (as-sukûn); semua itu adalah sifat-sifat benda yang khusus hanya tetap dan berlaku pada benda-benda”.

      Adapun perkataan mereka: “Allah menciptakan segala tempat di luar diri-Nya”; ini berarti dalam keyakinan sesat mereka bahwa Allah terpisah dari tempat-tempat tersebut dan dari seluruh alam ini. Kita katakan kepada mereka: “Dzat Allah maha suci; Dzat Allah bukan benda, tidak dikatakan bagi-Nya; Dia menciptakan sesuatu [dari makhluk-Nya] di dalam Dzat-Nya, juga tidak dikatakan Dia menciptakan sesuatu di luar Dzat-Nya. Dzat Allah tidak menyatu dengan sesuatu apapun, dan tidak ada suatu apapun yang menyatu dengan Dzat Allah”.

      Sesungguhnya dasar keyakinan sesat mereka adalah karena mereka berangkat dari pemahaman indrawi tentang Allah [mereka berkeyakinan seakan Allah sebagai benda], karena itulah ada dari sebagian mereka berkata: “Mengapa Allah bertempat di arsy? Adalah karena arsy sebagai benda yang paling dekat dengan-Nya”.

      Apa yang mereka ungkapkan ini adalah jelas kebodohan, karena sesungguhnya dekat dalam pengertian jarak –dalam pemahaman siapapun– hanya berlaku pada setiap benda. Lalu dengan dasar apa orang bodoh semacam ini mengatakan bahwa keyakinan sesatnya itu sebagai keyakinan madzhab Hanbali?? Sungguh kita [Ibnul Jawzi dan para ulama saleh bermadzhab Hanbali] merasa sangat dihinakan karena keyakinan bodoh ini disandarkan kepada madzhab kita.

      Sebagian mereka; dalam menetapkan keyakinan rusak Allah bertempat di arsy mengambil dalil –dengan dasar pemahaman yang sesat– dari firman Allah:

      إلَيْه يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطّيّبُ وَالعَمَلُ الصّالِحُ يَرْفَعُه (فاطر: 10)

      Juga –dengan pemahaman yang sesat– dari firman Allah:

      وَهُوَ القَاهِرُ فَوْقِ عِبَادِهِ (الأنعام: 61)

      Dari firman Allah QS. Fathir: 10 dan QS. al-An’am: 61 ini mereka menyimpulkan bahwa secara indrawi Allah berada di arah atas. Mereka lupa (tepatnya mereka tidak memiliki akal sehat) bahwa pengertian “fawq”, “فوق” dalam makna indrawi hanya berlaku bagi setiap jawhar dan benda saja. Mereka meninggalkan makna “fawq” dalam pengertian “Uluww al-Martabah”, “علوّ المرتبة”; “derajat yang tinggi”, padahal dalam bahasa Arab biasa dipakai ungkapan: “فلان فوق فلان”; artinya; “Derajat si fulan (A) lebih tinggi dibanding si fulan (B)”, ungkapan ini bukan bermaksud bahwa si fulan (A) berada di atas pundak si fulan (B).

      Kita katakan pula kepada mereka: “Dalam QS. al-An’am: 62 Allah berfirman: “فوق عباده”, kemudian dalam ayat lainnya; QS. al Hadid: 4, Allah berfirman: “وهو معكم”, jika kalian memahami ayat kedua ini dalam pengertian bahwa Allah maha mengetahui setiap orang dari kita [artinya dipahami dengan takwil “معيّة العلم”]; maka mengapa kalian menginkari musuh-musuh kalian (yaitu kaum Ahlussunnah) yang mengartikan “فوق” atau “استوى” dalam pengertian bahwa Allah maha menguasai [artinya dipahami dengan takwil “فوقية القهر والاستيلاء”]?”.

      Lebih buruk lagi, sebagian kaum Musyabbihah tersebut berkata: “Allah bertempat di arsy dan memenuhi arsy tersebut, dan sangat mungkin bahwa Allah bersentuhan dengan arsy, sementara al-Kursy [yang berada di bawah arsy] adalah tempat kedua telapak kaki-Nya”. Na’ûdzu billâh.

  51. HALLO…. ABI DZAR, UMMU ABDILLAH, AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH PALSU DKKNYA, TOLONG DONG JAWAB PERTANYAAN SAYA INI, SAYA SUDAH PERNAH BERTANYA KEPADA WAHABI, TAPI TIDAK PERNAH DI JAWAB

    Sebenarnya saya tidak suka membahas masalah ayat ayat mutasyabihat. kalian kan menolak takwil, tolong y pertanyaan saya ini di jawab, kalau perlu, minta bantuan dengan al imam al mujtahid firanda andirja. pertanyaan saya adalah

    1. DIMANA ALLAH SEBELUM MENCIPTAKAN TEMPAT?

    2. TEMPAT YG SAUDARA MAKSUD DENGAN TEMPAT BERSEMAYAMNYA ALLAH ITU MAKHLUK APA BUKAN? QODIM AZALI ATAU TIDAK?

    2. APA MAKNA HADIST BERIKUT INI, INGAT YA, KALIAN KAN MELARANG TAKWIL ;
    ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim).

    DEMIKIANLAH PERTANYAAN SAYA, MOHON KIRAYA KALIAN MAU MENJAWABNYA. TRM KSH.

  52. kayaknya ngumpet dulu, nanti kalau kondisi n situasi aman biasanya muncul lagi. Ini bagi mereka gak aman karena ada Mas Syahid n Mas Agung. Begitu kayaknya.

    1. iya mas Alex , saya harap ada dsikusi Ilmiyah , disini mas Agung sudah siap menunggu Abu dzar dan Ummu , kemudian Ustadz Abu Hilya sudah siap menunggu jawaban saudara Dufal , mas Ucep juga sudah siap dengan Ibnu Abdil Khoir , saya sendiri Insya Allah siap untuk menyimak.

      1. Alhamdulillah ustad bisa aktif lagi diblog ini, semoga juga ustad gak keberatan mengisi lagi nih artikel2 di blog ini dan terus aktif disini, teman2 yang lain menunggu artikel2 nya, maklum kami haus ilmu.
        Ane cuma bisa nyimak aja dan berdoa agar blog ini dapat terus membela Aswaja.

  53. Kaum aswaja tidak pernah menyalahkan/mengkafirkan golongan lain karena sudah ada dalam hadist Nabi Muhammad SAW bahwa umat islam akan terpecah belah dan kaum aswaja mempelajari golongan2 tsb dan diajarkan untuk toleransi dengan golongan lain.Tapi kaum aswaja sering dan hampir selalu disalah2kan/dikafir2kan akan ibadah yg mereka kerjakan apakah itu syirik,tidak sesuai tuntunan Rosulullah SAW,bid’ah dll.Lawong shalat kita belum tentu diterima oleh Allah SWT,ngapain ngurusin ibadah orang/golongan lain??????Mending belajar agama supaya shalat kita diterima Allah SWT,kalo sudah yakin shalat ita diterima Allah SWT,selanjutnya terserah anda hehehe,,,,
    Semoga Allah SWT membukakan pintu hatinya bagi saudara2 muslim yang hobby,menyalahkan,mengkafirkan dan membid’ahkan saudara muslim amin,,,,,
    4admin,,,,blog ini bagus banget dan insyaallah saya infokan ke teman2 buat nambah ilmu dan menangkis serangan2 golongan lain yang terpengaruh faham WAHABI,,

  54. setelah lama membaca dengan teliti (walau sampai capek,dahi berkerut) akhirnya saya mendapat penerangan,bahwa,wahabi itu sebenarnya memang tidaklah mungkin dibuat oleh islam,karena gaya pemikiran/gaya faham mereka kepada Allah sangat menyerupai penyembah berhala,dan juga ada kemiripan dengan kristen.
    kira-kira selain dari hidayah apakah ada yang bisa merubah kesalahan dalam pemahaman mereka?
    apa sih yang membuat kaum wahabi sangat sombong meremehkan Allah dengan menyamakan Allah dengan makhluknya?
    mungkinkah wahabi itu adalah saythan terbusuk dari bangsa manusia?
    na’udzubillahi min dzalik,allahumma ba’id ‘anni wa ‘an dzurriyati kulla syarra saythanin marid wa min qaumil wahhabiyin…amin..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker