Berita Fakta

Fakta Bicara!!! Khulafurrasyidin dan Imam Syafi’i Menganjurkan Majelis Maulid Nabi Saw

Ada dua komentator Wahabi  (Cahaya dan Aryan) yang  ngeyel bahwa Para Sahabat Khulafa’urrasyidin tidak melakukan pengagungan  Maulid Nabi. Nah berikut ini kami pertunjukkan  Atsar Sahabat dan Qaul Ulama Salaf  Shalih tentang mereka yang menganjurkan dan mendorong agar diadakan majelis maulid Nabi Saw. Tapi sebelum membaca pendapat Sahabat dan Ulama Mutaqaddimin  (Ulama Salaf  Shalih), mari kita simak dulu koar-koarnya murid-murid Wahabi di bawah ini. Untuk diperhatikan, sengaja tulisan mereka tidak kami edit sedikit pun, jadi mohon maklum kalau ejaan dan tata bahasanya berantakan.  Tapi setidaknya kami ingin memperlihatkan memang seperti itulah tulisan aslinya.

@ Cahaya menulis komentarnya dengan congkak dan sok tahu:   “bagus..kalau anta dah paham MAULID itu ibadah baru. knp sahabat2 radhiallahuanhum (ABu Bakar,Umar,Ustman) tidak melakukan MAULIDAN.ana tanya adakah Rosululloh memerintahkan??Apakah antum dn org yg sepemahan dgn antum merasa paliiiingg MULIA ilmunya dibanding para sahabat???Kalaulah MAULID itu BAIK..sekali lagi kalau itu BAIK niscahya bukan anta bukan habaib bukan kyai bukan ustzd bukan org2 awam yg pertama2 melakukan MAULID.. maka dipastikan para SAHABAT Rosululloh lah dari 3 generasi terbaik yg akan MELAKUKANYYA..”  

Silahkan periksa di link Komentar di sini, Klik

@ Aryan juga menulis komentar dengan  sombong:  ” Kalau Maulid baru bisa seperti yang antum bilang, “namanya mengikuti kan bisa salah bisa benar menurut pemahaman yang mengikuti”. Maulid siapa yang melakukannya? Ulama, habib, rakyat umumnya, yang sesuai PEMAHAMAN kalian. Rasulullah melakukan ga? TIDAK. Para sahabat melakukan tidak? TIDAK. Kesimpulan, antum TIDAK MENGIKUTI Al Quran dan As Sunnah. Silahkan antum bingung, “bisa benar bisa salah”. Menurut ana, itu SALAH!”

Komentar asli ada di sini, silahkan periksa, klik

Wahai para pengikut Wahabi,  silahkan kalian berteriak lebih lantang dan lebih sombong lagi. Silahkan gembar-gemborkan berita dan isu-isu bahwa Sahabat Khulafa’urrosyidin dan Ulama Salaf  Shalih tidak berkenan dengan Maulid Nabi Saw.  Silahkan terus tebarkan kebohongan-kebohongan, tapi FAKTA AKAN BICARA lebih keras dan jelas dalam misi membela kebenaran!

Berikut adalah fakta bahwa Sahabat Khulafa’urrosyidin dan Ulama tiga generasi menganjurkan dan memotivasi ummat Islam agar diselenggarakan majelis  untuk membesarkan atau mengagungkan Maulid Nabi Saw.

BACA :  Link - Link Pembongkar Kedustaan Salafy Wahabi

1. Abu Bakar ash-Shiddiq
Telah berkata Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq: “Barangsiapa yang menafkahkan satu dirham bagi menggalakkan bacaan Maulid Nabi saw., maka ia akan menjadi temanku di dalam syurga.” (sumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-‘aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii)

2. Umar bin Khottob al-Furqon
Telah berkata Sayyidina ‘Umar: “Siapa yang membesarkan (memuliakan) majlis maulid Nabi saw. maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.” (sumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-‘aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii)

3. Utsman bin ‘Affan Dzun-Nuraini
Telah berkata Sayyidina Utsman: “Siapa yang menafkahkan satu dirham untuk majlis membaca maulid Nabi saw. maka seolah-olah ia menyaksikan peperangan Badar dan Hunain” (sumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-‘aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii)

4. Ali bin Abi Tholib Karomallahu wajhah
Telah berkata ‘Ali : “Siapa yang membesarkan majlis maulid Nabi saw. dan karenanya diadakan majlis membaca maulid, maka dia tidak akan keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan masuk ke dalam syurga tanpa hisab”.   (sumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-‘aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii)

5. Syekh Hasan al-Bashri
Telah berkata Hasan Al-Bashri: “Aku suka seandainya aku mempunyai emas setinggi gunung Uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk membaca maulid Nabi saw.  (sumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-‘aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii)

banner gif 160 600 b - Fakta Bicara!!! Khulafurrasyidin dan Imam Syafi'i Menganjurkan Majelis Maulid Nabi Saw

6. Syekh Junaid al-Baghdady
Telah berkata Junaid Al-Baghdadi semoga Allah mensucikan rahasianya: “Siapa yang menghadiri majlis maulid Nabi saw. dan membesarkan kedudukannya, maka sesungguhnya ia telah mencapai kekuatan iman”.  (sumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-‘aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii)

7. Syekh Ma’ruf al-Karkhy
Telah berkata Ma’ruf Al-Karkhi: “Siapa yang menyediakan makanan untuk majlis membaca maulid Nabi saw. mengumpulkan saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru, memasang bau yang wangi dan memakai wangi-wangian karena membesarkan kelahiran Nabi saw, niscaya Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama kumpulan yang pertama di kalangan nabi-nabi dan dia berada di syurga yang teratas (Illiyyin)” (sumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-‘aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii)

8. Fakhruddin ar-Rozi
Telah berkata seorang yang unggul pada zamannya, Imam Fakhruddin Al-Razi: “Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi saw  ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan zahir keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka makanan tersebut akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga Allah mengampunkan orang yang memakannya”.
“Sekirannya dibacakan maulid Nabi saw. ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki, penyakit dan tidak mati hati tersebut pada hari dimatikan hati-hati”.
“Siapa yang membaca maulid Nabi saw. pada suatu dirham yang ditempa dengan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh ke atas dirham tersebut keberkatan, pemiliknya tidak akan fakir dan tidak akan kosong tangannya dengan keberkatan Nabi saw.”  (sumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-‘aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii)

9. Imam as-Syafii
Telah berkata Imam Asy-Syafi’i: “Siapa yang menghimpunkan saudaranya (sesama Islam) untuk mengadakan majlis maulid Nabi saw., menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan, dan dia menjadi sebab dibaca maulid Nabi saw. itu, maka dia akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat bersama ahli siddiqin (orang-orang yang benar), syuhada’ dan solihin serta berada di dalam syurga-syurga Na’im.” (sumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-‘aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii)

10. as-Sary as-Saqothy
Telah berkata As-Sariyy As-Saqothi: “Siapa yang pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi saw. maka sesungguhnya ia telah pergi ke satu taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan lantaran kerana cintanya kepada Nabi saw. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda: “Sesiapa yang mecintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.” (sumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-‘aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii)

11. Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar al-Haitami
“Siapa yang hendak membesarkan maulid Nabi saw. maka cukuplah disebutkan sekedar
ini saja akan kelebihannya. Bagi siapa yang tidak ada di hatinya hasrat untuk membesarkan maulid Nabi saw. sekiranya dipenuhi dunia ini dengan pujian ke atasnya, tetap juga hatinya tidak akan tergerak untuk mencintai Nabi saw. Semoga Allah menjadikan kami dan kalian di kalangan orang yang membesarkan dan memuliakannya dan mengetahui kadar kedudukan Baginda saw. serta menjadi orang yang teristimewa di kalangan orang-orang yang teristimewa di dalam mencintai dan mengikutinya. Aamiin, wahai Tuhan sekalian alam. Semoga Allah melimpahkan rahmat atas penghulu kami Nabi Muhammad saw. keluarganya dan sahabat-sahabatnya sekalian hingga Hari Kemudian.”

BACA :  Pro-kontra Maulid Nabi SAW

(sumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-‘aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii)

Download Kitab:

Al-Ni’mah Al-Kubro ‘ala Al-‘Alamin fi Maulid Sayyid Walad Adam (Arab)

sumber

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

496 thoughts on “Fakta Bicara!!! Khulafurrasyidin dan Imam Syafi’i Menganjurkan Majelis Maulid Nabi Saw”

  1. Semoga informasi di atas bisa menyadarkan Kaum Wahabi, sehingga selamat dari keterjerumusan yg semakin fatal. Semoga mereka segera mendapatkan jalan keluar dari keterblangsakan yg membingungkan mereka sendiri. Thanks infonya, sekarang jelaslah sudah Maulid Nabi ternyata dianjurkan oleh Para Sahabat dan Ulama Salafuna Shalih.

  2. Kepada kaum muslimin, khususnya admin, agar kitab Anni’matul kubro ‘alaa al-’aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii yang masih orisinil, disimpan baik2 biar ga dirubah2, dibajak atau dihapus oleh salafy/wahaby. Saya ga bisa bayangkan, kira-kira, kalo salafy/wahaby mau merubah kitab tersebut gimana caranya ya? Masa tulisannya dihapus semua? jadi kovernya aja yang ada, isinya kertas putih doang..he..he… atau kata2 para khulafaurrasyidin dan salafussaleh di depannya di tambah tidak kali ya? jadi buku bajakannya kira2 begini, ” tidak berkata Abu Bakar…….., tidak berkata Umar….. dst, dst….

    1. he….he….maaf kok nggak ada ya komen ya all wahabiyun ….semoga pada sadar ya…..buat kesimpulan amalan yang lain juga jangan buru2 di vonis bid’ah …..telusuri,pelajari ,kalau emang menyalahi nash2 Al Qur’an n Hadist baru komentar …..okay ….bravo @admin …

  3. Abah Zahra, dan All ASWAJA, silahkan cepat download kitabnya mumpung belum dihack Wahabi. Itu di bawah postingan ada link Downloadnya.

  4. mantab ummati2 blog yg kita cintai ini,skalian juga dong ustadz,syarh barzanji,madarijussuud nya syech nawawi al jawi albantani jika berkenan….thanks ustadz…

  5. aiih , rontok sudah semua tuduhan kaum Wahabi / salafi dan semua yang anti maulid , artikel diatas juga membatalkan semua teori dan Faham Bahwa Tidak ada Bid`ah Hasanah , ya betul tidak ada Bid`ah Hasanah yang ada hanya Bid`ah Dolalah atau sesat seperti pembagian tiga Tauhid.

    hatur nuwun mas Salik dan Admin , semoga semakin banyak yang tersadarkan.

  6. semua atsar di atas bersumber dari kitab anni’matul kubro ‘alaa al-’aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii. bukannya ana meragukan kredibilitas Al Imam Al Haitami, hanya saja ana ingin menanyakan sanad atsar2 tersebut, karena syarat keshahihan suatu hadits atau atsar atau kisah itu dari dilihat dari segi sanadnya (siapa yang meriwayatkannya), bukan siapa yang menukilnya.

  7. Yg menarik, pembela ummati(mz ,ahmadsyahid dkknya) mengatakan maulid bida’h hasanah,sementara diartikelnya maulid adalah atsar para sahabat.hal ini menyebabkan kerancuan,bahkan mungkin kedustaan sebuah artikel.

  8. he…he…he….ana ngga heran kalau kalian akan menanyakan hal itu ……kalian emang udah ketutup tuh hatinya coba kalau yang menyampaikan hadist imam kalian Al Albani mana tanya kalian syarat keshahihan hadist tsb ……eh mana sanadnya Al Albani yang justru berani merobah dan mendhoifkan suatu hadist ……ntar kalau @admin mengeluarkan sanadnya antum mau nyadar nggak ??????? nauzubillah !!!

  9. ana yakin golongan Pro-maulid sangat menghormati kedudukan Al Imam Ibnu Hajar Al Asqolani. tentang maulid, beliau berkata:

    “Asal melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)” (Al Hawi Lil Fatawa, As Suyuthi)

    – Ibnu Hajar berpendapat tidak ada riwayat (shahih) dari 3 generasi pertama Islam yang mengadakan peringatan Maulid. jadi shahih-kah atsar2 yang disebutkan oleh Al Haitami di atas? jika shahih, sebaiknya situs ini tidak pelit untuk membawakan sanad2nya, bukan sekedar nukilannya saja.
    – Ibnu Hajar berpendapat bahwa hal itu sekalipun tidak dikerjakan oleh generasi salaf, namun ada kebaikannya. padahal jelas2 disebutkan bahwa setiap bid’ah adalah sesat. jadi tidak benar jika kita mengambil kesalahan ulama dan meninggalkan hadits shohih demi memuaskan hawa nafsu. Al Auza’i berkata: “Barangsiapa yang mengambil pendapat yang ganjil dari para ulama, maka ia bisa jadi keluar dari Islam.”

    1. ana mau tanya pemahaman nt terhadap fatwadi atas bagaimana ? sebaliknya juga kalau nt nggak pelit cantumkan juga sanadnya dong …..biar fair ….ya nggak Admin ???

      1. ana ngambilnya malah dari situs golongan kalian
        http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1150&Itemid=1

        ana ambil fatwa Ibnu Hajar itu karena sering dipakai oleh sebagian orang dari golongan kalian sebagai “dalil” pembenaran peringatan maulid nabi.

        adaun pemahaman ana, distu Ibnu Hajar dengans angat gamblang mengatakan bahwa asal peringatan maulid nabi itu tidak ada satu riwayatpun dari 3 generasi salaf. jadi dengan jelas beliau katakan bahwa peringatan maulid nabi itu bid’ah. hal ini tentu saja bertolak belakang dengan pendapat Al Haitami seperti yang disampaikan dalam artikel di atas.

        kemudian beliau katakan lagi bahwa peringatan maulid nabi itu ada kebaikannya sehingga beliau katakan hal ini adlaah bid’ah hasanah. padahal Rasulullah menjelaskan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Ibnu Mas’ud juga berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat, sekalipun dipandang baik oleh manusia. Ibnu Hajar memang seorang alim yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya (semoga Alloh menambahkan pahala kepada beliau), namun beliau hanyalah manusia biasa yang bisa saja salah dalam berfatwa. seperti yang diucapkan oleh Malik bin Anas bahwa perkataan manusia itu bisa diambil dan ditolak kecuali perkataan Rasulullah. jadi tidak benar jika kita mengambil perkataan orang lain dan meninggalkan perkataan Rasulullah demi mendukung hawa nafsu.

        1. saya sangat yaqin jika ibnu Irfan dan seluruh Ustadz Wahabi bahkan Imam besar mereka seperti m. abdul wahhab , bin baz al-bani dan lain-lain , baik dari segi Ilmu maupun Amal , masih sangat Jauh dibawah Al-hafidz Ibnu Hajar , sangat mustahil Jika Ibnu irfan yang benar dan Al-hafidz Ibnu hajar yang salah dalam memahami Hadist Kullu Bid`atin dolalah.

    2. maaf ana ingin tau pemahaman nt tentang fatwa yang nt tulis menurut nt bagaimana ? dalam mema’nainya ???

    3. Mari kita ambil lengkap nya yuuk…

      Syeikhul Islam wa Imamussyurraah al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani:
      Berkata al-Hafiz as-Suyuthi dalam kitab yang disebutkan tadi: Syeikhul Islam Hafizul ‘Asr Abulfadhl Ibn Hajar telah ditanya tentang amal maulid, dan telah dijawab begini: “Asal amal maulid (mengikut cara yang dilakukan pada zaman ini) adalah bid’ah yang tidak dinaqalkan dari salafussoleh dari 3 kurun (yang awal), walaubagaimanapun ia mengandungi kebaikan serta sebaliknya. Maka sesiapa yang melakukan padanya kebaikan dan menjauhi yang buruk, ia merupakan bid’ah yang hasanah.

      Telah jelas bagiku pengeluaran hukum ini dari asal yang tsabit iaitu apa yang tsabit dalam shahihain (shahih al-Bukhari dan shahih Muslim) bahawa Nabi SAW ketika tiba di Madinah mendapati orang Yahudi berpuasa Asyura’, lalu baginda bertanya kepada mereka (sebabnya). Mereka menjawab: Ia merupakan hari ditenggelamkan Allah Fir’aun dan diselamatkan Musa, maka kami berpuasa kerana bersyukur kepada Allah. Maka diambil pengajaran darinya melakukan kesyukuran kepada Allah atas apa yang Dia kurniakan pada hari tertentu, samada cucuran nikmat atau mengangkat kesusahan.”

      Seterusnya beliau berkata lagi: Dan apakah nikmat yang lebih agung dari nikmat diutuskan Nabi ini SAW, Nabi Yang Membawa Rahmat, pada hari tersebut? Dan ini adalah asal kepada amalan tersebut. Manakala apa yang dilakukan padanya, maka seharusnya berlegar pada apa yang difahami sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Ta’ala samada tilawah, memberi makan, sedekah, membacakan puji-pujian kepada Nabi, penggerak hati atau apa sahaja bentuk kebaikan dan amal untuk akhirat.”

      Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)

    4. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :

      Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

  10. wah Rupanya mas mamo asyik banget neh, kongkow sama para pengeyel yang pada tidak punya malu, kok ga ngajak-ngajak mas ?. ikutan ah yang ngeyel ga punya malu ada tiga orang ya ?

    gini lho bapak-bapak , kalo ngeliat komentar yang muncul , persoalan intinya adalah soal metodologi saja , seperti Ibnu Fadlan dan ibu irfan keduanya menganggap bahwa hanya Hadist Shahih saja yang bisa dijadikan Hujjah , sementara bang Tobat rupanya tidak bisa membedakan mana dalil (atsar) dan mana madlul , namun keduanya sama sama menolak amalan Maulidan.

    Yang lebih lucu justru Ibnu Irfan , satu sisi beliau berpegang kepada Pendapat Ulama Ahlu Sunnah seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Suyuthi , bahwa seluruh Hadist/astar yang berkaitan dengan Maulid adalah Dhaif , disisi yang sama ibnu irfan Juga menolak keduanya dalam hal Bid`ah hasanah amalan Maulid, yang kemudian tetap berpegang kepada hadist tentang Bid`ah yang salah ia fahami , begitu juga ia berpegang dengan perkataan Imam al-awza`I hanya sayang keliru juga memahaminya

    Bapak,bapak ,maulidan itu amalan yang intinya adalah Dzikrullah , mengenang Rosul sama dengan mengenang Allah , Dzikrullah itu masuk dalam katagori Ibadah Ghoiru Mahdloh , ibadah yang tidak diikat dengan tata cara tertentu , hal ini merupakan bab Fadloilul A`mal dimana Ulama ahli hadist sepakat bahwa , dalam hal Fadloilul A`mal Hadist Dhaif pun bisa dijadikan pegangan , Bahkan Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan : Hadist dhaif lebih dikedepankan / digunakan ketimbang akal pemikiran.

    Karena kami sadar , dengan kedudukan Hadist atau astar yang berkaitan dengan amalan Maulid , kami legowo mengatakan itu Bid`ah yang baik , sementara kalian tidak sadar jika aqidah kalian adalah Bid`ah sesat.

    Ibnu fadlan , tobat dan ibnu irfan , Bagaimana bisa kalian begitu keras menentang amalan maulid yang hanya masuk kategori Fadloilul A`mal , sementara kalian menerima Bid`ah Dolalah dalam masalah I`tiqod , masalah Prinsip Aqidah ? pliiis jangan lebay deh , hal prinsip kalian anggap Biasa , sementara hal biasa kalian Anggap prinsip ?. bagaimana bisa kalian menaruh sepatu dikepala sementara peci kalian taruh dikaki ….?

    1. Akhuna Ahmad berkata:
      Yang lebih lucu justru Ibnu Irfan , satu sisi beliau berpegang kepada Pendapat Ulama Ahlu Sunnah seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Suyuthi , bahwa seluruh Hadist/astar yang berkaitan dengan Maulid adalah Dhaif , disisi yang sama ibnu irfan Juga menolak keduanya dalam hal Bid`ah hasanah amalan Maulid, yang kemudian tetap berpegang kepada hadist tentang Bid`ah yang salah ia fahami , begitu juga ia berpegang dengan perkataan Imam al-awza`I hanya sayang keliru juga memahaminya

      Ibnu Abi Irfan menjawab:
      ana bawakan fatwa Ibnu Hajar itu karena fatwa itulah yang kalian pergunakan sebagai “dalil” peringatan maulid. jadi ana ingin menjawab dengan menggunakan senjata yang kalian pakai sendiri.
      Malik bin Anas berkata bahwa perkataan manusia itu bisa diambil dan ditolak, kecuali perkataan Rasulullah. jadi tidak ada salahnya jika ana mengambil sebagian perkataan Ibnu Hajar apabila sesuai dengan sunnah dan menolak sebagian lain perkataan beliau yang menyelisihi sunnah.
      dalam hal ini, perkataan beliau yang menyelisihi sunnah adalah bid’ah hasanah, padahal dengan jelas Rasulullah Al Ma’shum mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Ibnu Umar berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat, sekalipun manusia memandangnya baik (hasanah).
      jadi, maukah antum mengambil perkataan Ibnu Hajar dan menolak perkataan Nabid an Ibnu Umar di atas?

    2. Akhuna Ahmad berkata:
      Yang lebih lucu justru Ibnu Irfan , satu sisi beliau berpegang kepada Pendapat Ulama Ahlu Sunnah seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Suyuthi , bahwa seluruh Hadist/astar yang berkaitan dengan Maulid adalah Dhaif , disisi yang sama ibnu irfan Juga menolak keduanya dalam hal Bid`ah hasanah amalan Maulid, yang kemudian tetap berpegang kepada hadist tentang Bid`ah yang salah ia fahami , begitu juga ia berpegang dengan perkataan Imam al-awza`I hanya sayang keliru juga memahaminya
      Ibu Abi Irfan menjawab:
      Malik bin Anas berkata bahwa setiap perkataan manusia itu bisa diambil dan ditolak, kecuali perkataan Nabi. Jadi tidak salah jika ana mengambil sebagian perkataan Ibnu Hajar apabila sesuai dengan sunnah dan menolak sebagian lain perkataan beliau yang menyelisihi sunnah.
      Perkataan beliau yang menyelisihi sunnah disini adalah anggapan beliau adanya bid’ah yang baik, padahal Rasulullah berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat. Ibnu Umar berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat, sekalipun manusia memandangnya baik.
      Ditambah, Ibnu Hajar sendiri di lain tempat mengatakan: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ” semua bid’ah adalah sesat” merupakan qa’idah syar’iyyah yang menyeluruh baik lafazh maupun maknanya. Adapun lafazhnya, seolah-olah mengatakan: “Ini hukumnya bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” Maka, bid’ah tidak termasuk bagian dari syari’at, karena semua syari’at adalah petunjuk (bukan kesesatan, pent.), apabila telah tetap bahwa hukum yang disebut itu adalah bid’ah, maka berlakulah “semua bid’ah adalah sesat” baik secara lafazh maupun maknanya, dan inilah yang dimaksud. (Fathul Baary 13/254)
      Disini kita mendapati dua pedapat bertentangan dari Ibnu Hajar. Di satu tempat beliau mengatakan ada bid’ah yang baik, di tempat lain beliau mengatakan semua bid’ah adalah sesat. Jika kita mau menjadi pengikut beliau yang kritis, seharusnya kita hanya mengambil perkataan beliau yang sesuai dengan sunnah dan menolak perkataan beliau yang menyelisihi sunnah. Bukan malah sebaliknya.
      Jadi sekarang kita tahu, di antara dua perkataan Ibnu Hajar tersebut mana yang sesuai dengan sunnah dan mana yang menyelisihi sunnah.

    3. Akhuna Ahmad berkata:
      Yang lebih lucu justru Ibnu Irfan , satu sisi beliau berpegang kepada Pendapat Ulama Ahlu Sunnah seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Suyuthi , bahwa seluruh Hadist/astar yang berkaitan dengan Maulid adalah Dhaif , disisi yang sama ibnu irfan Juga menolak keduanya dalam hal Bid`ah hasanah amalan Maulid, yang kemudian tetap berpegang kepada hadist tentang Bid`ah yang salah ia fahami , begitu juga ia berpegang dengan perkataan Imam al-awza`I hanya sayang keliru juga memahaminya

      Ibu Abi Irfan menjawab:
      Malik bin Anas berkata bahwa setiap perkataan manusia itu bisa diambil dan ditolak, kecuali perkataan Nabi. Jadi tidak salah jika ana mengambil sebagian perkataan Ibnu Hajar apabila sesuai dengan sunnah dan menolak sebagian lain perkataan beliau yang menyelisihi sunnah.

      Perkataan beliau yang menyelisihi sunnah disini adalah anggapan beliau adanya bid’ah yang baik, padahal Rasulullah berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat. Ibnu Umar berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat, sekalipun manusia memandangnya baik.

      Ditambah, Ibnu Hajar sendiri di lain tempat mengatakan: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ” semua bid’ah adalah sesat” merupakan qa’idah syar’iyyah yang menyeluruh baik lafazh maupun maknanya. Adapun lafazhnya, seolah-olah mengatakan: “Ini hukumnya bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” Maka, bid’ah tidak termasuk bagian dari syari’at, karena semua syari’at adalah petunjuk (bukan kesesatan, pent.), apabila telah tetap bahwa hukum yang disebut itu adalah bid’ah, maka berlakulah “semua bid’ah adalah sesat” baik secara lafazh maupun maknanya, dan inilah yang dimaksud. (Fathul Baary 13/254)

      Disini kita mendapati dua pedapat bertentangan dari Ibnu Hajar. Di satu tempat beliau mengatakan ada bid’ah yang baik, di tempat lain beliau mengatakan semua bid’ah adalah sesat. Jika kita mau menjadi pengikut beliau yang kritis, seharusnya kita hanya mengambil perkataan beliau yang sesuai dengan sunnah dan menolak perkataan beliau yang menyelisihi sunnah. Bukan malah sebaliknya.

      Jadi sekarang kita tahu, di antara dua perkataan Ibnu Hajar tersebut mana yang sesuai dengan sunnah dan mana yang menyelisihi sunnah.

    4. Akhuna Ahmad berkata:
      Yang lebih lucu justru Ibnu Irfan , satu sisi beliau berpegang kepada Pendapat Ulama Ahlu Sunnah seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Suyuthi , bahwa seluruh Hadist/astar yang berkaitan dengan Maulid adalah Dhaif , disisi yang sama ibnu irfan Juga menolak keduanya dalam hal Bid`ah hasanah amalan Maulid, yang kemudian tetap berpegang kepada hadist tentang Bid`ah yang salah ia fahami , begitu juga ia berpegang dengan perkataan Imam al-awza`I hanya sayang keliru juga memahaminya

      Ibu Abi Irfan menjawab:
      Malik bin Anas berkata bahwa setiap perkataan manusia itu bisa diambil dan ditolak, kecuali perkataan Nabi. Jadi tidak salah jika ana mengambil sebagian perkataan Ibnu Hajar apabila sesuai dengan sunnah dan menolak sebagian lain perkataan beliau yang menyelisihi sunnah. Perkataan beliau yang menyelisihi sunnah disini adalah anggapan beliau adanya bid’ah yang baik, padahal Rasulullah berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat. Ibnu Umar berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat, sekalipun manusia memandangnya baik.

      Ditambah, Ibnu Hajar sendiri di lain tempat mengatakan: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ” semua bid’ah adalah sesat” merupakan qa’idah syar’iyyah yang menyeluruh baik lafazh maupun maknanya. Adapun lafazhnya, seolah-olah mengatakan: “Ini hukumnya bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” Maka, bid’ah tidak termasuk bagian dari syari’at, karena semua syari’at adalah petunjuk (bukan kesesatan, pent.), apabila telah tetap bahwa hukum yang disebut itu adalah bid’ah, maka berlakulah “semua bid’ah adalah sesat” baik secara lafazh maupun maknanya, dan inilah yang dimaksud. (Fathul Baary 13/254)

      Disini kita mendapati dua pedapat bertentangan dari Ibnu Hajar. Di satu tempat beliau mengatakan ada bid’ah yang baik, di tempat lain beliau mengatakan semua bid’ah adalah sesat. Jika kita mau menjadi pengikut beliau yang kritis, seharusnya kita hanya mengambil perkataan beliau yang sesuai dengan sunnah dan menolak perkataan beliau yang menyelisihi sunnah. Bukan malah sebaliknya.

      Jadi sekarang kita tahu, di antara dua perkataan Ibnu Hajar tersebut mana yang sesuai dengan sunnah dan mana yang menyelisihi sunnah.

    5. Akhuna Ahmad berkata:
      Yang lebih lucu justru Ibnu Irfan , satu sisi beliau berpegang kepada Pendapat Ulama Ahlu Sunnah seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Suyuthi , bahwa seluruh Hadist/astar yang berkaitan dengan Maulid adalah Dhaif , disisi yang sama ibnu irfan Juga menolak keduanya dalam hal Bid`ah hasanah amalan Maulid, yang kemudian tetap berpegang kepada hadist tentang Bid`ah yang salah ia fahami , begitu juga ia berpegang dengan perkataan Imam al-awza`I hanya sayang keliru juga memahaminya

      Ibu Abi Irfan menjawab:
      Malik bin Anas berkata bahwa setiap perkataan manusia itu bisa diambil dan ditolak, kecuali perkataan Nabi. Jadi tidak salah jika ana mengambil sebagian perkataan Ibnu Hajar apabila sesuai dengan sunnah dan menolak sebagian lain perkataan beliau yang menyelisihi sunnah. Perkataan beliau yang menyelisihi sunnah disini adalah anggapan beliau adanya bid’ah yang baik, padahal Rasulullah berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat. Ibnu Umar berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat, sekalipun manusia memandangnya baik.
      Ditambah, Ibnu Hajar sendiri di lain tempat mengatakan: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ” semua bid’ah adalah sesat” merupakan qa’idah syar’iyyah yang menyeluruh baik lafazh maupun maknanya. Adapun lafazhnya, seolah-olah mengatakan: “Ini hukumnya bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” Maka, bid’ah tidak termasuk bagian dari syari’at, karena semua syari’at adalah petunjuk (bukan kesesatan, pent.), apabila telah tetap bahwa hukum yang disebut itu adalah bid’ah, maka berlakulah “semua bid’ah adalah sesat” baik secara lafazh maupun maknanya, dan inilah yang dimaksud. (Fathul Baary 13/254)
      Disini kita mendapati dua pedapat bertentangan dari Ibnu Hajar. Di satu tempat beliau mengatakan ada bid’ah yang baik, di tempat lain beliau mengatakan semua bid’ah adalah sesat. Jika kita mau menjadi pengikut beliau yang kritis, seharusnya kita hanya mengambil perkataan beliau yang sesuai dengan sunnah dan menolak perkataan beliau yang menyelisihi sunnah. Bukan malah sebaliknya.
      Jadi sekarang kita tahu, di antara dua perkataan Ibnu Hajar tersebut mana yang sesuai dengan sunnah dan mana yang menyelisihi sunnah.

  11. iya mas syahid ….orang kalau ngeyel demen saya ……spt si Aryan itu ngga nongol lagi kangen aku …he….he….

    1. mas mamo mungkin aryan sudah kehabisan kata dan dalil , mungkin nanti juga balik lagi ngobatin kangennya mas mamo.he he he

  12. Mas Syahid, Mas Mamo n semua Pecinta Rasul Saw. Insyaallah pada masa-masa yg akan datang Semangat Cinta Nabi Saw akan semakin bergelora, dan para penganut aqidah Wahabi akan semakin kebakaran jenggot.

    Dari Jakarta GELOMBANG MAULID akan merambah seluruh P. Jawa dan meluas ke seluruh Indonesia, menyebrang ke negara tetangga dan seluruh dunia. AYO SUKSESKAN PERHELATAN MAULID NABI SAW TERBESAR DI KOLONG JAGAD. Monas akan gegap gempita dengan gema SHALAWAT Nabi dan DZIKIR YAA ALLAH 1000x oleh 5000.000 kaum Muslimin. Akan hadir Kaum Muslimin dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan JABOTABEK.

    Bagi yang punya kesempatan silahkan hadir pada hari Selasa pukul 7.00 pagi, tgl 15 Februari 2011 di Lapangan Monas Jakarta Pusat.
    Allohumma Sholli ala Sayyidina Muhammad wa ala alih….!

    1. Amiin…..Amiin ….Amiin …..yaa Rabbal Allamiin…….semoga tiada aral yang berarti Admin ……Alloh meridhoi kita ,……..

    2. siap admin , saya sendiri hampir tiap malem jum`at Istighostahan dan Maulidan , terasa sejuk dan nyaman dihati apalgi kalo ditambah baca Burdah , air mata menetes tak terasa ingat dosa.

  13. Ya wiss,amaluna amalukum,segala amal perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya disisi Allah Subhanahuwataa’la.
    Syukron admin,yg telah memuat koment saya,dan kpd teman2 dunia maya,mohon maaf bila ada tulisan2 saya yg tdk berkenan,sy masih jahil,tp sdh berani2nya masuk situs ini dan ngasih komen lagi.sekali lagi saya minta maaf,dan beristighfar kepada Allah, Subhanakallohumma….
    Wassalaamua’laikum.,

    1. tobat@.
      lana a`maluna , walakum a`malukum , ga ada tuh amaluna amalukum , ( masa amalku amalmu) semua bertanggung jawab atas amal perbuatannya masing-masing , namun begitu kita juga punya kewajiban agama dan sosial ,setelah melihat dan memahami Aqidah dan Manhaj Salafi/Wahabi, saya terpanggil untuk ikut serta tukar pendapat di Blog ini , saya merasa Kasihan dengan Wahabi/Salafi terjerumus dalam kesesatan Aqidah yang bertentangan dengan Qur`an dan Hadist , mereka terjebak dengan Manhaj yang mereka anggap sebagai Manhaj Salaf , padahal itu adalah manhaj Ibnu Taymiyah dan M. abdul Wahhab yang Mujassimah Musyabihah.

      dari kekliruan Aqidah dan Manhaj inilah para Wahabis / Salafis mengklaim diri paling benar , semua yang diluar faham mereka adalah Salah , ahli Bid`ah , Syirik dan Kafir , namun ternyata setelah dialog di forum dan Blog ini , kita tahu jika para Wahabis/salafis adalah orang yang bersemangat tinggi dalam Agama hanya tidak dibarengi dengan Ilmu yang memadai , sehingga sering salah Kaprah , dalam Istinbatul ahkam , mereka Lupa jika menunjuk dengan jari saja ,satu menunjuk keluar , satu kebawah , dan tiga jari yang lainnya menunjuk kepada diri mereka sendiri. semoga keikut sertaan antum ,( yang katanya telah tobat dari NU ) mendapat pencerahan baik dari Artikel yang diposting Admin maupun dari komentar-komentar yang muncul , ambil yang baiknya cukup simpan yang jeleknya , jika ada waktu dan kesempatan jangan ragu dan malu untuk kembali mampir di Blog ini.

      Wassalamualaikum wr. wb.

    2. untuk yang mengaku Tobat @

      Oh ya, terimakasih juga kepada antum telah sudi berkomentar, antum termasuk orang Wahabi yg hebat karena berani melanggar ajaran Wahabi, di mana ajaran wahabi melarang pengikutnya bergaul dengan ‘AHLUL BID’AH’ (pecinta Rasulullah Saw). Itu artinya antum termasuk orang Wahabi yg gaul. Semoga bisa membuka cakrawala berpikir antum yang akan menjadi sebab turunnya hidayah ke hati antum.

      Segeralah antum sadar bahwa Allah Swt tidak akan salah menilai maksud hati-hati hambanya yang Cinta Kepada Rasul-NYA.

  14. trimakasih sahabat ummati….
    jangan kaget tar coment-comentnya pasti dateng lagi,soalnya kalau mereka tuh diajak spontan pake ilmu gak ngerti,nunggu googling atau tanya murrobinya,kan rata-rata gitu.

    pada umumnya beli bukunya sampe ratusan ribu nanti taqlidnya ke buku kalau bukan bukunya gak mungkin percaya kan keliatan buteknya

  15. tapi banyak juga yang gaul,saya seneng share-sharenya sambil senyum-senyum jadi saling menghargai pendapat orang lain,hanya memang kalau sudah keyakinan sulit saya pun lebih baik senyum,mau nulis kadang pegel rasanya,cuma bingung yang mana salafi yang mana khalafi 🙂

    maaf kalau ada tulisan yg kurang berkenan coz sayah masih bodoh….:) kalau saya salah tolong perbaiki luruskan….:)

  16. masih bloon aja neh wahabinya…. apa lagi yg mau dimasalhakn dari maulid??

    perayaan maulid itu wasail nak, hukumny ikut pada maqoshidnya….

    1. UD aja @

      Wah, ini menarik Mas UD aja, tolong kasih pencerahannya biar wahabi-wahabi di sini pada tambah ilmunya. Wasa’il itu apa, maqasid itu apa sepertinya Wahabi yang pada gaul ke sini belum pada ngeti. Coba kalau ada wahabi yg tahu, hebat deh wahabinya. Ustadz-ustzdznya juga pada nggak mudeng kali? Kalau mudeng tentu tidak akan mempermasalahkan maulid Nabi Saw.

      Ayo Mas UD. lanjut….

  17. buat mas @admin maaf ni ah saya minta riwayat pengarang kitab anni’matul kubro ‘alaa al-’aalam fii maulid sayyidii waladii aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii, ma’lum nubie hehe…biar lebih jelas?

  18. Buat Salafy/ Wahabi yang mendasarkan penelitian haditsnya berdasar Syaikh Al-Albani (seakan-akan tidak sah jika dalam sebuah hadits tidak ada kata-kata ‘dishahihkan/ didhaifkan oleh Al-Albani), silahkan baca kritik ilmiah yang dilakukan para ahli hadits jaman ini yang mengkritisi penilaian hadits yang dilakukan Syaikh Al-Albani dan menemukan ratusan bahkan seribu lebih kesalahan dan kerancuan dalam kitab-kitab Syaikh Albani.

    Diantara ahli hadits dan kitabnya yang berisi kritik ilmiah terhadap Syaikh Albani; Jika kalian memang ingin mencari kebenaran, silahkan rujuk kitab-kitab dibawah ini;

    Ahli hadits Jordania, Syaikh Hassan bin Ali As-Saqqaff, menulis 2 jilid dalam kitabnya ”Tanaqudat Al-Albani Al-Wadiha fi ma waqa’a fi tashih al hadith wa tad’ifiha min akhta wa Ghaltat” dan tulisannya “Ihtijaj Al-Kha’ib bi ‘Ibarat man Idda’a al-Ijma’ fa Huwa Kadhib”, dan banyak lagi tulisan-tulisannya yang lain.

    Ulama’ Syria, Sa’id Muhammad Ramadhan Al-Buthi dalam dua buku klasiknya “Al-lamadhabiyya Akhtaru Bid’atin tuhaddidu al-Shari’a al-Islamiyya” dan “Al-Salafiyya Marhalatun Zamaniyyatun Mubaraka Lamadhabun Islami”

    Sarjana Hadits India, Habib Al-Rahman Al-A’zami dalam kitabnya “Al-Albani Sudhudhuh wa Akhta’uh (Kekhilafan dan kesalahan Al-Albani) hingga sebanyak 4 jilid”

    Ahli Hadits dari Marokko, ‘Abdallaah Ibnu Muhammad Ibn Shiddiq Al-Ghumari dalam kitabnya “ Bayan Nakht al-Nakith Al-Mu’tadi”

    Dari Syria ‘Abdul Fattah Abu Guddah dalam kitabnya “Radd ‘ala Abatil wa iftira’at Nasir al-Albani wa Sahibihi Sabiqan Zuhayr al-Shawish wa Mu’azirihima”

    Dari Mesir, Muhammad ‘Awwama dalam Kitab “ ‘Adab al-Ikhtilaf”

    Dari Mesir, Mahmud Sa’id Mamduh dalam kitabnya “Wusul al-Tahani bi Ithbat Sunniyyat al-Subha wa al-Radd ‘ala Al-Albani” dan “Tanbih al-Muslim ila ta’addi al Albani ‘ala Shohih Muslim”

    Dari Saudi Arabia Isma’il ibn Muhammad al-Ansar dalam kitab “Ta’aqubat ‘ala Silsilat al-Ahadist al-Dhaifa wa al-Maudhu’a li al-Albani”, dan banyak lagi kitabnya.

    Dan banyak lagi yang lain termasuk Badr Al-Din Hasan Diab, Firas Muhammad Walid Ways dan Samer Islambuli dari Syria, As’ad Salim Tayyim dari Jordania dan lainnya. (Capek nulisnyaa… hwe he)
    Wallaahua’lam…

  19. Oh iya… ada tambahan lagi… kemaren ane mengunjungi situs Salafy/ Wahabi, nanya konsep pembagian bid’ah mereka; “Siapa ulama’ Salaf yang membagi bid’ah seperti kalian, yaitu menjadi 2: Bid’ah Diniyah dan Bid’ah Duniawiyah??” Jawabannya muter-muter ding… alias gag dijawab-jawab… wkwkwkkwk

    Sedangkan kita yang mengikuti pembagian bid’ah yang dijelaskan oleh Imam As-Syafi’i sesuai yang diriwayatkan secara Shohih oleh Imam Baihaqi bahwa Bid’ah terbagi 2 : Terpuji(mahmudah) dan tercela (madzmumah)dan ini diikuti ulama’-ulama’ dan Muhaddits setelahnya justru tidak mereka terima.

    Salafy… salafy…

    Wallaahua’lam…

    1. Ya begitulah , kalau sudah salah gak mau ngaku lagi kalau salah………suwun Kang Salafy atas pencerahannya.

  20. Assalamu’alaikum

    Ana sudah pernah baca artikel diatas dari saudara-saudara yang mengaku sebagai Ahlussunnah Waljama’ah…….Namun ketika ditanya perawi, sanad dan derajat haditsnya….mereka sengaja memutar-mutar pembicaraan, sebab mereka sendiri tahu bahwa hadits tersebut tidak ada asalnya…….Wallahu’alam

    Ana cuma sekerdar mengutip hadits dari Rasullullah Shallallahu’alaihi wasallam, tentang larangan berdusta atas nama beliau Shallallahu’alaihi wasallam

    Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Ghundar] dari [Syu’bah] (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin al Mutsanna] dan [Ibnu Basysyar] keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja’far] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dari [Manshur] dari [Rib’i bin Hirasy] bahwasanya dia mendengar [Ali] berkhuthbah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian berdusta atas namaku, karena siapa yang berdusta atas namaku niscaya dia masuk neraka.” [HR.Muslim] No.2

    http://lidwa.com/app/

    1. Abu Dzaky@

      Om Abu Dzaky, maaf sebelumnya. Yang dinukil dalam artikel di atas bukan hadits Nabi Saw. Mungkin antum salah lihat, atau barangkali antum tidak bisa membedakan mana hadits Nabi, mana atsar Sahabat dan mana qaul Ulama.

      Selanjutkan antum membawakan hadits Nabi Saw tentang ancaman orang yg berdusta atas nama Nabi Saw, sungguh tidak ada korelasinya denga artikel di atas. Hati-hatilah Om, jadilah seorang muslim yang baik yaitu seorang yg tidak gampang membawakan dalil untuk urusan/persoalan yg belum antum pahami.

      Ini juga sekaligus peringatan buat @Bukan Ronggolawe, antum lebih baik menyimak saja jangan ikut-ikutan. Nanti kalau sudah dapat Ilmunya barulah berkomentar. Sebab menurut yang sudah-sudah, komentar antum menunjukkan kualifikasi antum masih jauh untuk ikutan komentar. Yang dinukil di atas adalah bersumber dari kitab yg ditulis oleh ulama terpercaya, yaitu Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii.

      Kalau antum menuduh dusta kepada artikel di atas berarti antum menuduh pendusta kepada Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii. Antum tahu Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii bukan Ulama Wahabi, jadi pastilah karyanya bisa dipercaya. Karena ulama-ulama yg terkenal sebagai pendusta semuanya dari ulama-ulama Wahabi.

      1. kenapa bertentangan mas? masa ayat al qur’an bertentang. jangan2 fikiran kita bertentang. lha Allah bilang dia di langit, di arasy, dekat bahkan lebih dekat dari urat leher manusia. apa yang salah. kenapa berhubungan dengan tajsim dan tasybih?

  21. Demi terpuaskan nafsu dan tercapainya tujuan, bagi orang aswaja di sini, berdusta atas nama rasul, sahabat dan para ulama itu di perbolehkan. hadis yang anda bawa gak ada dalam literatur mereka.

  22. kang mas, emang imam Syihabuddin ini hidup tahun berapa sich. apa dia langsung jumpa dengan para beliau-beliau di atas? mas bahkan perkataan sahabat dalam agama kita punya riwayat. tinggal bilang aja riwayat siapa kok susah. khan bisa riwaya Syihabuddin misalnya, atau Zaini Dahlan, ato Sirajuddin Abbas, ato Habib Mundzir. kok susah banget.

    1. kalau udah dikasih tau apa nt mau TOBAT ??????? nggak lah …..paling2 nt dah su”uzon …..riwayat lemah lah, terputus lah,……

    2. mas mamo , Ronggol dan sejenis ( mujassimah wahabiyah ) jangankan Qoul Ulama Hadist pun mereka tolak jika belum di tashih oleh Al-bani yang banyak kontradiksinya itru.

      kurang ajarnya lagi mereka menyamakan Hadist Dhaif dengan Maudu` , padahal sekelas Imam Ahmad bin Hambal saja tidak alergi dengan Hadist meskipun dhaif tetap saja itu Hadist Rosulallah SAW.

      1. he…he……ngloyoooor ….dia ketawa mas Syahid pancingan dia BERHASIL ,…..kita2 sewot kan …..syetan itu mas ….

  23. mas, nama saya bukan ronggolawe. bukan cuma ronggol. oh ya mujassimah apa sich mas? pengen tahu saya. dan kalo syaik Al albani, saya ada buku sifat sholat nabi yang di buat syaikh albani, tapi catatan kakinya hr.bukhori, hr muslim, nasa’i, khuzaimah dll. gak ada tuch riwayat albani. ada juga sich yang perkataannya di saya shahihkan, tapi jarang banget. nanti saya pinjamkan biar tahu. soal hadis dhaif, wah mas tahu dari mana ada hadist dhoif juga perkataan nabi.

    1. ronggo , ronggol faham wahabi itu menentukan tempat dan arah untuk Tuhan Allah , sementara Tuhan tidak butuh arah dan tempat , jika dikatakan butuh berarti sama dengan Makhluknya yang butuh tempat dan arah , penyerupaan ini jelas terlarang karena Laitsa kamitslihi syai`. penyerupaan ini disebut Mujassimah atau Musyabihah

      soal hr Bukhori muslim dll emang bener Justru aneh jika Hr (hadist rriwayat ) Al-bani , karena albani memang bukan Muhadits dan ga punya sanad masa mau meriwayatkan Hadist….?

      soal pentashihan atau pen daifan al-albani nt lihat tuh di Silsilat ahadist Ad-dhaifah tulisan al-bani , kalo soal hadist Dhaif dikatakan bukan Hadist Nabi justru saya baru tahu dari kelompok Wahabi yang baru muncul belakangan ini , coba nt pelajarai Ilmu Mushtolahul Hadist , tidak ada seorang Ulamapun yang menyamakan Hadits dhaif dengan Maudu` , Justru yang Maud`u sama sekali tidak boleh disebut Hadits karena memang bukan Hadist, tapi jika Hadist Dhaif disamakan dengan Maudu` Jelas ini adalah pelanggaran Ilmiyah dan bisa terkena Hukum ” Man kadzaba a`laiya fal Yatabawwa Maq`adahu Minannar.

      hati hati ronggol , jangan sekali-kali menyamakan Hadits dhaif dengan maudu` sangat berbahaya.

      1. mas! yang bilang Allah itu di langitkhan Allah sendiri dan juga ada hadist dari nabi Muhammad. kalo arah, emang langit arahnya ke mana. pasti atas. kalo atas bukan arah, berarti apa. soalnya waktu peristiwa isra’ mi’raj, nabi di ajak bertemu Allah, beliau di ajak naik ke langit. langitkhan di atas mas?

        1. ronggo

          betul ayat dan Hadist Rosul bersama seorang jariyah secara dhahir ” ada dilangit ” Namun jangan lupa ayat itu tidak boleh dimaknai secara literal hakiki , karena disamping akan menjerumuskan dalam Tajsim dan Tasybih yang jelas terlarang , juga akan menimbulkan Kontradiksi permanen antar ayat al-qur`an , dan tidak mungkin ada Kontradiksi (Ta`arrudl ) permanen dalam kitab Suci al-qur`an. ada ayat lain yang menyatakan bahwa Allah bersama Hambanya.

  24. “Barang siapa yg menceritakan dariku sebuah hadits yg dia sangka bahwa hadits itu dusta, mk dia adalah salah satu dari pendusta” (HR Muslim dalam Muqaddimah Shahih beliau). Menurut Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya Adh-Dhu’afa : 1/7-8 menyatakan bahwa ” Hadits ini menunjukan bahwa jikalau meriwayatkan sebuah hadits yg tidak shahih dr Rasulullah SAW, padahal dia mengetahuinya, mk dia termasuk salah satu pendusta.
    Dari Hafsh bin Ashim berkata, Rasululllah SAW bersabda “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta kalau dia menceritakan semua yg dia dengar”. Imam Ibnu Hibban berkata “Hadits ini merupakan ancaman bagi seseorang yg menceritakan semua yg dia dengar sampai dia mengetahui dg pasti akan keshahihannya”. (Adh-Dhu’afa 1/9).
    Imam Nawawi juga menegaskan bahwa org yg tdk mengetahui keshahihan sebuah hadits tdk boleh berhujjah dengannya tanpa meneliti terlebih dahulu, jika dia sanggup melakukannya atau bertanya kpd para ulama” (Tamamul Minnah hal 32-34, juga Silsilah adh-Dha’ifah 1/10-12).

  25. hadist buat pendusta katanya …….nggak tau siapa yang dusta ?????mas Syahid nt di sakk matt ama anti rayap tasawuf @ tuh

  26. Wah… nuansa nya beda sekali disini… ana bisa jadi pintar mencela klo disini…

    bukan nya menasehati yang keliru…

    padahal Agama Itu adalah Nasihat, kesabaran…

    1. hati-hati kalo baru bekajar agama , bisa gampang nyalahin apalagi kalo belajarnya sama para ustad wahabi mujassim , bisa bisa kaya jhon yang sudah menuduh KAFIR kepada dua imam besar Jalaluddin As-suyuthi , Jalaluddin Al-mahali, kalo mau nasehatin , nasehatin tuh si jhon segera tobat nuduh KAFIR seenaknya.

  27. Baru Belajar Agama, kayak ente nggak punya nama ya?

    Ya nih anak-anak Wahabi emang jago mencela tanpa ilmu, pada gak bisa diskusi.
    Kalau kepepet dalam diskusi nggak mengakui, eh malah pada kabur kemudian balik lagi sudah pada ganti nama. Yah, begitulah teman-teman Wahabi pada nggak konsisten, susah dipegang kata-katanya.

    Niatnya gak cari kebenaran, cuma ingin menang diskusi aja atau ingin mencela. Kalau merasa “kalah”, terus lari dan balik lagi ganti nama. Mau dibilang apalagi, sudah watak dasar ajarannya begitu, atau sudah dari sononya kata orang Betawi pinggiran sih?

      1. pengikut faham Wahabi Ibarat pecandu Narkoba , biar berbahaya, terlarang dan mematikan tetep aja nekad ? abis setannya seneng sih.

  28. @ Arumi: Apalah artinya nama jika itu malah untuk menyembunyikan Jati diri,,,

    ana mengakui jika diri ni sangat kekurangan akan Ilmu Agama,

    Tapi yang Ingin ana bagikan Kepada Seluruh yang mengakui Cinta Kepada Rasulullah,

    “janganlah kita meletakkan kecintaan kepada Guru, Ustadz, dst, melebihi kecintaan kepada Rasulullah Salallahu ‘alayhi wasallaam,,,

    “ikutilah setiap perintahnya, dan jangan jalankan yang tak pernah diperintahkannya”

    mari kita periksa diri kita apakah yang kita jalani ialah yang diperintahkan,,,

    yang kita tak bisa pungkiri Kaum nifaq selalu ada disetiap zaman, selalu memecah belah, memanfaatkan keadaan…

    na’udzubillah diri ini berselindung dari hal tersebut.

    1. benerkan baru belajar agama saja udah nyalah-nyalahin ? udah bawa kata-kata nifaq , bentar lagi bawa kata syirik terus bawa kata kafir neh.?

    2. jangan naik motor , jangan main komputer , jangan sholat di masjid berkeramik , semua itu nggak pernah di perintah rosul begitu maksud nt @BBA ……..sekalian aja jadi murid P mahrus ali nt ……kan PALING ittiba katannya ……

  29. @ Ahmad : apakah anda akan menyangkal jika Rasululullah itu mengajak ummat untuk menjahui kesyirikan ???

    @ mamo : konteksnya ialah ibadah,,

        1. kalo nt cinta , mana buktinya ? nasehatin tuh si jhon nuduh kafir seenaknya , katanya agama adalah Nasehat mana nasehatmu buat si jhon ?

          1. sepertinya tidak ,,,

            biasa aja tuh,,,

            menasehati setiap hari juga ga ada yang larang toh… apalagi buat yang baik.

            nt kayaknya penuh amarah,, coba berwudhuk dahulu, Insya Allah Bisa menurunkan EMosi

    1. @nasikhun: (sepertinya antum cinta bahasa negeri sana) terima kasih atas infonya,, ana udah coba masuk situ,, pada pinter disana,,

      kadang kala terasa amat sulit untuk memberikan nasehat kepada orang2 yang telah merasa berilmu,,,apatah lagi dia telah merasa berada diatas jalan yang benar,,,

      1. Bro, yang Baru Belajar Agama…, itu link yg aku kasih masih di Ummati Press blog ini juga kok? Klik aja deh, nggak kemana-mana di blog ini juga, Jhon AlWahabi ada di situ nasehatilah dia, sebab dia baru saja memvonis musyrik kafir kepada Penulis Tafsir Jalalain. Klik deh

  30. Ana sedikit gembira ketika membaca judul artikel,

    tapi ana tak menemukan yang membuat Jadi Yakin untuk mengamalkan Ibadah tersebut.

    Allahu a’lam

    1. ngomong aja maulid bid’ah …….he….he….ujung2ya paling nt mau bilang itu kayak temen2 nt gitu loh …..insya Alloh ana menjaga tu amarah …..nggakusah muter2 @BBM maksud lo apa dgn artikel diatas setuju or tidak gitu loh ……

      1. Mamo yang selalu menjaga amarah( memang hobi??)
        seandainya ada perkataan seorang ulama
        (yang tak ada perselisihan atas ucapannya)
        ana masih butuh Perkataan dari Rosulullah tentang “ibadah tersebut”

        antum bisa kasi ana rujukan kitabnya Imam As Syafi’i pada point 9

        Ana Amat Butuh!!! berapapun biayanya ana kirimkan buat Dapatin kitab ( yang asli) tersebut…

        seandainya udah dapat kitabnya dan ana baca… barulah ada bisa jawab pertanyaan mamo setuju apa tidak…

        mencari kebenaran ngga bisa tanggung-tanggung toh,,,

        Ohya sekedar info… saya seorang Muhammadiyah.

          1. Mbak Arumi,,,

            (lihai betul nih Arumi, nampak sedikit peluang langsung…)

            apa ngga salah tuh bertanya Ama yang baru belajar??!

            saya lagi butuh kitabnya Imam As Syafi’i nih (judulnya belum tahu)… yang disebutkan pada artikel diatas.
            (9. Imam as-Syafii
            Telah berkata Imam Asy-Syafi’i: “Siapa yang menghimpunkan saudaranya (sesama Islam) untuk mengadakan majlis maulid Nabi saw., menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan, dan dia menjadi sebab dibaca maulid Nabi saw. itu, maka dia akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat bersama ahli siddiqin (orang-orang yang benar), syuhada’ dan solihin serta berada di dalam syurga-syurga Na’im.”

            klo mbak udah punya .. boleh juga tuh… di beri ke ana…

            ngga minat tuh jadi pendekar. apalagi nantinya dipermalukan DiAKHIRAT kelak…

          2. wow…..nt pesan KITAB ??? alamat nt mana ? nama jelasnya siapa ???? kalau pakai nama palsu mana nyampai ????? nt laki apa cowok ???? ngomong nt kayak milyader aja BERAPAPUN BIAYANYA ????? sombong n penuh prasangka buruk hobinya SYETAN ……

          3. kan udah dibilang jangan mahal!!!……….

            gimana sih yang punya amarah…

            ya udah judulnya aja deh…
            klo ant jg blm punya..

            biar ana pesen sendiri… karena ilmu Islam adalah hal yang wajib bagi penganutnya…

        1. Baru Belajar Agama (Barbela),

          Wih, ada pendekara baru nih. Antum Muhammadiyah, jangan malu-maluin Muhammadiyah ya? Oh ya, sebelum ada Salafy Wahabi di Indonesia bukankah oprang-orang Salafy Wahabi adalah anggota Muhammadiyah yang ekstrim yang kemudian loncat jadi Salafy Wahabi?

          Jadi antum mau membahas masalah Maulid Nabi secara tuntas? Saya tanya dulu, kalau antum sebagai penuntut ilmu, apa hukum perjalanan menuju tempat menuntut ilmu? Perjalan itu wajib, sunnah atau haram? Silahkan jawab, sebab ini nanti akan mengarah ke persoalan Maulid Nabi Saw.

    2. Bro yang Baru Belajar Agama, jadi antum merasa lebih berilmu dibanding Ulama yang menulis kitab tersebut di artikel? Ketahuilah, sang penulis kitab tsb yaitu Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii adalah Ulama Mu’tabar yg diakui oleh Ummat Islam di seluruh dunia.

      Kenapa antum begitu angkuhnya di hadapan seorang Ulama Mu’tabar? Apakah pantas orang seperti antum mau memberi nasehat kepada orang lain?

      1. ana baru belajar nih.. jadi nama Imam Syihabuddin itu baru aja baca disini,,,

        klo Imam Syafi’i sih udah familiar ditelinga,

        jadi Antum belum bisa menilai ana angkuuh…
        afwan

    3. namanya juga pengikut wahabi , kebo bingung dicocok hidungnya, Bid`ah dunia aja mereka gedein , menyambut dan mengenang kelahiran Rosulallah malah di bilang sesat. wahabis pada punya otak enggak sih ?

  31. Assalamu’alaikum,
    salam kenal untuk sahabat ummati press.
    Ikut gabung ngunduh ilmunya zaa…
    Pengen ikut nyebarin kebenaran, biar ikut dapat pahala. (Bolehkan iri ma Ummati yang udah banjir pahala… :))

  32. Wah, saya baru mau turun tangan, eh Wahabinya dah pada kabur, he he he ….
    Mana nih Abu Jupri ama pak Jhon kok nggak pamit sama kita-kita? Apa sudah nggak nganggap saudara lagi nih?

    Allohumma Sholli ala Sayyidina Muhammad wa ala alih….!!!

  33. Babela, Baru Belajar Agama, mana jawabannya atas pertanyaan saya yang sangat mudah tersebut? Sudah kabur apa cari di google dulu? Saya masih nunggu nih, nunggu sudah duapuluh menit!

  34. Orang yang Baru Belajar Agama yg mewakili Muhammadiyah, saya ulang pertanyaan saya di atas: “kalau antum sebagai penuntut ilmu, apa hukum perjalanan menuju tempat menuntut ilmu? Perjalan itu wajib, sunnah atau haram? Silahkan jawab, sebab ini nanti akan mengarah ke persoalan Maulid Nabi Saw.”

    Itu pertanyaan sangat mudah, anak-anak madrasah ibtida’iyah juga bisa jawabnya, silahkan antum jawab biar persoalan Maulid Nabi Saw bisa tuntas, oke?

    1. walau keliatan sopan tapi… sindirannya,,, peedddess… ana blum merasa perlu ulasan dari ant karena yang ana butuh adalah kitabnya imam as Syafi’i, afwan nih ana sambil makan. jd agak susah ngetiknya, siapa sih ant dibanding al imam.

        1. kerjasama yak kompak nih…

          yang atu ajak emosian…

          yang atu ajak keliling,,, yang atu mungkin masih cari judul kitabnya…

          Ana tunggu aja dah judulnya kitabnya…

          Islam mengutamakan sifat sabar, Malu,,

          1. jah…
            ana fikir udah dapet judul kitabnya…

            lebih afdol mana baca kitab imam asy syafi’i ketimbang baca artikel…

            ana tinggal dulu yagh…ntar mampir kesini lagi dah…
            mudah mudahan nanti dapet ilmu disini ( walo cuma judul kitab Imam As Syafi’i)

  35. @buat yang nentang maulid..

    Belajar yang banyak dulu, jangan bertaqlid buta sama ustad2 kalian..

    banyak fakta yang menunjukkan ada perubahan atau penyembunyian hadits tentang keutamaan Rasulallah dan ahlil bait. Yg shahih jadi dhaif, yg dhaif jadi maudhu pada zaman umayyah n abbasiyah.

    @ummatiummati..

    Hati2 kalo mau posting.. Kelihatan gak mungkin para khulafaurrasyidin dan tabiin berkata sperti itu tentang maulud, sedangkan maulud itu baru ada di zaman raja harun al rasyid.

    Acaranya blm ada tapi fatwanya udah ada.

    1. bisa saja pelaksanaan maulid pada zaman khulafa Arosyidin belum se meriah zaman Harun Ar-rosyid , bisa saja Maulid baru populer pada Zaman setelahnya yaitu Zaman Kholifah Harun Ar-rosyid.

      1. kalau pake dalil “bisa saja,” maka semua bisa saja berandai-andai, mas…
        Bisa saja argumen blog ini palsu
        bisa saja admin-nya penipu…
        bisa saja..
        bisa saja..

  36. ahmadsyahid
    ygGILAtuhNAMANYA
    ABDULhusein…
    masa
    bukan
    hamba
    ALLOH
    malah
    budaknya
    husein…coba
    deh
    kritisi
    nama
    saya
    katanya
    suka
    ilmiyyah…kok
    gitu
    aja
    revot…

    1. abahna jibril , saya hanya tahu jika Jibril itu nama Malaikat , dan tidak ada satu riwayatpun yang menyebutkan jika jibril itu punya Abah (ayah).

  37. @Ahmad

    sampai skrg ana belum temukan bukti satupun kalo para sahabat mengadakan maulud, jangan berandai2 dalam hal agama karena imamnya pasti syetan.

    1. Bib Alaydrouz, kitab anni’matul kubro ‘alaa al-’aalam fii maulid sayyidii waladii aadam, penulisnya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii. Apakah penulisnya pembohong, padahal bukankah beliau terkenal bisa dipercaya? Habib Munzir juga sering menukil dari kitab tsb dalam hal Maulid Nabi Saw.

      Apakah tidak sebaiknya dicari dulu referensinya yg lain? Saya pernah baca, pengarang kitab tsb menukil dari kitab yg lain, cuma saya lupa nama kitabnya. Insyaallah nanti akan saya carikan judul kitabnya. Kitab yg dinukil itu juga sering disebut-sebut oleh Habib Munzir.

      1. salam bib….
        kalau pelaksanaan maulid spt zaman kita, wallahu a’lam, jika syair :
        mengenai sahabat maulid?

        @ Maulid dan gembira atas lahirnya Rasul saw sudah ada sejak zaman sahabat radhiyallahu ‘anhum., sebagaimana syair syairnya Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra :

        “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah.., maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya kelahiranmu itu dan dalam tuntunan kemuliaan kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417).

        wallahu a’lam

  38. Bismillahirrahmanirrahim…..

    Untuk meminimalkan komentar-komentar tidak bermutu yang akhir-akhir ini dilontarkan oleh pendukung ajaran Wahabisme, maka sejak hari ini, Ahad 20 Februari 2011, kami terpaksa membuat peraturan baru. Peraturan ini berlaku buat pembela ASWAJA maupun pembela WAHABI.

    1. Bagi pengirim komentar wajib menggunakan nick-name “nama manusia”. Contoh: Arumi, Ahmad Syahid, Miranda, Abu Fida, Yusuf Ibrahim dll.

    2. Peraturan no. 1 tersebut tidak berlaku buat “pemilik blog/website”. Contoh: Artikel Islami, Mutiara Zuhud, Pencari Kebenaran, Bicara Salafy, Wild West Wahabi, dll.

    3. Dilarang mengumpat dan tidak boleh mengandung pornografi.

    Bagi komentator yang melanggarnya, komentar akan didelete tanpa kompromi. Oleh karena itu bagi yang belum menggunakan nick-name “nama manusia” agar segera mengganti namanya dengan “nama manusia” agar tidak terkena delete.

    Terimakasih atas perhatiannya.

  39. @ahmad syahid:
    apakah ada larangan agama dalam hal itu hai suadaraku yang ‘alim dan ilmiyyah sebagaimana Nabi telah melarang ummatnya melakukan bid’ah?ataukah ada kaidah dasar yang saat ini belum pernah ditulis satu ulamapun dimuka bumi ini tentang larangan menamai anak dengan nama malaikat?bukankah nama adalah tafa’ul /berharap kebaikan?lalu bagaimana dengan nama Hamba Husein / Abdul Husein yang pernah saya tanyakan? mohon petunjuk tuan guru…

  40. @. bapaknya jibril

    sebelumnya saya mohon maaf jika keanehan yang saya nyatakan menyinggung perasaan anda dan sudahlah tidak perlu diperpanjang , saya hanya merasa aneh jika malaikat punya bapak dan hak antum untuk memberikan nama apa saja (nama yang baik) untuk anak antum , dan sebaiknya kata abdu (hamba) diidlofahkan kepada Asmaul husna.

  41. hasim@

    Ya Bapake Jibril, saya lihat di situ Mas Syahid cuma bermaksud bercanda karena melihat keanehan aja. Lho Malaikat Jibril kok punya bapak ya, kan agak nganeh-anehi dan ngedap-edapi, he he he….

    Tapi sudahlah, tidak usah diperpanjang, tidak penting-penting amat kok?

  42. @ Pak ahmad : Syukron masukannya… saya g tersinggung kok, hanya ingin tahu barangkali saya ada kesalahan dalam hal menamai anak, bukankah kita perlu share secara ilmiyyah atas setiap perkara agama?juga untuk pak munib muslih, dan pak ahmad syahid salam kenal saja dari saya, oh ya kapan-kapan mampir ya ke blog sederhana saya http://www.abahnajibril.wordpress.com ; begitu juga untuk pemilik blog ummati syukron atas dimuatnya koment saya, ditunggu kunjungan silaturahimnya di blog saya…salam kenal untuk semuanya…

    1. @ bapake jibril saya sempat singgah di blog anda namun ragu untuk komen anda dalam menulis sangat mengagungkan Al Albani ( ditulis seorang ahli hadist besar ) apa anda seyakin itu terhadap beliau ? lalu bagaimana admin ummati memberikan Fakta dgn kesalahan beliau ? kalau anda ada fakta juga tolong ungkapkan biar semua pengunjung blog ummati tau mana haq mana bathil ??? …salam

    2. @. bapaknya jibril salam kenal juga , ternyata antum penggemar ustadz amir abdat yah ? saya sudah kunjungi Blog antum dan kasih komentar , tolong dijawab ya ?.

  43. Shahih, nggak yah kutipan dari para imam tersebut? Apakah ada sanadnya (mauquf
    atau maqthu’) yang shahih sehingga bisa dipertanggung-jawabkan? Sebaiknya antum
    buat analisis isnadnya terus upload juga di site ini. Syukron…

    Abu Fawaz

  44. @pak ahmad syahid : saya mengidolakan Rosululloh dan para pecinta serta pengusung sunnah Nabi yang shohih kok, karena tiap2 manusia diakhirat akan bersama para idolanya, kalau memang Abdul Hakim Abdat itu mencintai Sunnah Nabi yang shohih, maka saksikanlah bahwa saya mencintai beliau juga, oh ya pertanyaan antum sudah saya jawab kok, dilihat saja ya, siapa tahu saya ada salah, mohon dikritik oleh tuan guru, saya tunggu ya pak.

    @Pak Khidir : Apa ada ya pak ulama lain yang buah karyanya seperti Syaikh AlBany pada zaman ini dalam hal ilmu hadits?mohon info dan petunjuknya, adapun semua manusia layak menyandang sebuah kesalahan, baik dalam sisi ilmiyah ataupun peri kehidupannya, maka tak ada keistimewaan Syaikh Albany melainkan dalam hal da’wah dan ilmu beliau yang shohih, adapun dalam hal kesalahan ilmiyah dan pribadinya saya dan semua salafiyyin sepakat tidak akan mengambilnya, karena setiap manusia bisa diterima atau dilemparkan kedalam comberan perkataannya jika menyalahi Al-qur’an dan sunnah kok, kalau studi kritis terhadap karya syaikh Albany merupakan sebuah studi kritis ilmiyyah, mengapa harus ditolak, tapi kalau sekedar asal ktiris ya dibuang saja ke comberan ya pak, betulkan pak? Yang harus kita pegang erat itu kebenarannya kan pak?bukan pribadi-pribadinya..tentu bapak tersenyum setuju.. 🙂 salam kenal ya pak… syukron ummati sudah mau memuat koment saya.

    1. salam kenal juga saudaraku seMUSLIM @ bapake jibril coba nt tenngok ke Al-Albani sang Penghujat Seluruh Ahli Hadits Sejak Generasi Salaf kalau artikel Ummati salah tolong jelaskan dgn fakta yang lain yang nt tau pak @ bapake jibril ….

  45. @. bapaknya Jibril

    pertanyaan saya di blog anda sangat simpel , apakah bapaknyajibril memahami dan mengartikan ayat asma wa shifat dengan makna hakiki atau makna majazi ? al-hamdulillah antum jawab dengan panjang lebar namun tidak langsung menjawab pertanyaan saya, antum jutru memberi kaidah dalam memahami ayat asma wa shifat , pertanyaan saya berikutnya adalah klarifikasi, apakah itu benar-benar kaidah kalian (Wahabi/salafi) dalam memahami ayat asma wa shifat , benar-benar mewakili Faham Wahabi atau itu gagasan anda sendiri ?.

    setelah klarifikasi ini Insya Allah nanti kita bahas tuntas kaidah tersebut. dan mohon maaf , kedepan mungkin saya menyebut anda dengan inisial saja AJ sebab terus terang saya masih tidak cocok jika Jibril sebagai malaikat punya Bapak.

  46. abahna Jibril@

    Sebaiknya antum berdua dg Ms Syahid diskusinya di Ummati Press aja, sebab blog ini cepat munculnya tidak dimoderasi. Kalau di blog abahnajibril kurang efektif sebab pengunjungnya juga masih sedikit, kalau di Ummati pengunjung sudah banyak jadi bisa dilihat oleh ramai orang. Kalau abahnajiril membawa kebenaran akan diketahui banyak orang, dan ini keuntungan buat dakwah Wahabisme yg antum anut. Jadi tidak ada alasan buat abahnajibril menolak diskusi di blog ini. Terimakasih Abahnajibril atas keberanian antum diskusi di sini nantinya.

    Kami semua akan menyimak dan memperhatikan….

  47. Abahna Jibril@

    bagaimana anda masih bisa menganggap syeikh AlBani sebagai panutan, dengan seakan-akan menyatakan tidak adanya lagi ahli hadist yg selevel dg syeikh albani.

    padahal seperti yg anda katakan kepada pak khidir bahwa “kalau studi kritis terhadap karya syaikh Albany merupakan sebuah studi kritis ilmiyyah, mengapa harus ditolak”.

    coba anda membuka diri dengan data yg sudah diajukan oleh saudara salafy.
    sy alhamdulillah sudah baca sebagian dr karya yg beliau saudara salafy ajukan, ternyata betul ada kerancuan dari pendapat albany dalam menghukumi status hadis.
    bahkan beliau syeikh hasan ali assegaf menemukan, ada 1200 hadis yg kontradiktif di dalam “Dhaif al-Jami’ wa Ziyadatuh”.
    saya kira saudara AbnaJibril harus lebih cermat dalam menyikapi permasalahan ini..

    sukron.

  48. Bismillah….
    Assalamu’alaykum..
    Duh abah baru buka koneksi lagi nih, maklum baru pulang kuli… 🙂
    Abah baca-baca respon sahabat diatas, aih… (ikutan mas Ahmad Syahid 🙂 )ternyata ehm..ehmm perhatian juga..syukron..

    wokeh abah sapa-sapa ya, tapi 1-1 ya… 🙂
    1. saudaraku mas khidir -semoga Alloh menunjuki ana dan antum kedalam Al-Haq; untuk saat ini ana mungkin belum bisa menyikapi artikel tentang Syaikh Albany, karena sedang fokus bersama Syaikh Ahmad Syahid Shohibna…afwan ya…Insya Alloh lain waktu..tujuannya supaya diskusi kita fokus saja…ga kemana-mana…
    2. Untuk mas Arumi -semoga Alloh menunjuki ana dan antum kedalam Al-Haq; hmm…idem deh komentnya dengan ke Mas Khidir, agar ga cape ngetiknya.. 🙂
    3. Mas Ibnu Hasyim -semoga Alloh menunjuki ana dan antum kedalam Al-Haq; idem juga deh dengan point 1,dan 2… 🙂
    4. Mas Ahmad Syahid, saya kedepannya juga mau ikutan menyingkat jadi AS (tapi tidak akan ana samakan dengan dukun AS kok … 🙂 ), semoga Alloh menunjuki ana dan mas AS kedalam Al-Haq; Sebetulnya pertanyaan mas sudah terjawab dengan apa yang Abah Tulis, justru yang terpenting dalam Islam itu adalah kaidah mas, Kalo mas menganggap ogah belajar berkutat dengan kaidah, maka Islam bisa Amburadul mas;mengapa demikian?? karena dengan kaidah itulah Islam mampu menjawab semua hal dan masalah sejak zaman dulu sampai kiamat. Dalam hal makanan halal dan haram saja yang kita gunakan dari dulu sampai sekarang adalah kaidah, karena Islam itu sempurna mas, dan Al-qur’an itu bukan kamus, melainkan wahyu untuk manusia disegala zaman, kondisi dan keadaan..

    Saya ulas sedikit, apa Al-qur’an pernah menghalalkan buah durian??tidak ada mas didalam Al-qur’an tentang buah durian dihalalkan, apa di dalam Al-qur’an ada diharamkan Lesbi, Ganja, Shabu-shabu?? Tidak ada mas, karena sekali lagi Al-qur’an bukan kamus, melainkan berisi petunjuk dan kaidah-kaidah ushul tentang semua hal yang terjadi dulu, hingga masa depan..jadi pertanyaan mas saya jawab dengan kaidah, mengenai apakah majaz atau hakiki, silahkan mas tela’ah lagi jawaban saya, dan itu merupakan kaidah Haq yang dipegang oleh seluruh salafiyyin dari sejak zaman sahabat hingga hari kiamat, Insya Alloh, dan apa yang semua mas tanyakan Insya Alloh terjawab oleh kaidah ushul tersebut… Dan diskusi kita kedepannya pun tidak akan lepas dari kaidah ushul tersebut..semoga menyenangkan mas… 🙂 salam buat keluarga mas ya…

    Dan untuk usul mas arumi tentang diskusi disini, maka saya jawab, sebaiknya kita diskusi di blog saya, karena pertimbangan beberapa hal :
    1. Saya akan sediakan ruang khusus diskusi di Blog saya, silahkan dimanfaatkan.
    2. Selama ini, bahkan ada seorang saudara yang mulia berkunjung ke blog saya, lalu marah-marah meminta komentnya di tampilkan, dia berkata bahwa blog wahhabi ga pernah memuat komentar yang kontra, nah akan saya buktikan..di blog saya, akan saya muat komentar-komentar antum sekalian, mengenai masalah moderasi komentar, sengaja saya terapkan, karena seorang muslim yang baik wajiblah menutup pintu rumahnya rapat2 dan menyortir tamu yang masuk, jika dia masuk membawa link pornography, maka akan segera bisa diatasi sebelum dia terbaca orang lain..
    3. Dan jika kita mencari sebuah kebenaran dan berniat diskusi dengan baik, maka tentu tak ada alasan untuk berbondong-bondong masuk ke blog saya walau ga disediakan tenda dan tempat duduk serta jamuan… :).. jumlah pengunjung yang sedikit bukanlah syarat buat pengusung kebenarankan?? 🙂 lagian maklum aja deh, daerah abah nyingkur di pasisian, jadi baru ada koneksi masuk, jadi telat deh punya blognya…mau ya.. 🙂

    1. @. aj

      maafkan saya menyebut nama anda dengan AJ sebab saya tidak mau ber Tasyabuh dengan Musyrikin yang meyakini Malaikat anak Tuhan , dan anda menyerupai mereka karena anda menganggap diri anda sebagai Bapaknya malaikat Jibril. ( sama sekali tidak ada niatan atau anggapan bahwa aj = Asal Jawab )

      AJ , jawaban anda yang panjang lebar itu sama sekali tidak menjawab tegas pertanyaan saya yang sangat simpel , ” apakah anda memahami dengan Hakiki atau Majazi ” ? mestinya jawabanya pun bisa sangat simpel.

      Aj. sedikitpun saya tidak menolak berdiskusi soal Kaidah yang anda sampaikan , saya hanya mengklarifikasi apakah Kaidah tersebut buatan anda sendiri atau mewakili Faham Wahabi , dan Menurut anda Kaidah itu memang kaidah yang dipakai oleh seluruh Wahabi , klarifikasi ini penting agar dikemudian hari tidak ada kata-kata ” Sory itu kaidah buatan saya sendiri sama sekali tidak mewakili faham Wahabi.”

      sebelum masuk ke materi serta menguji kebenaran Kaidah-kaidah yang anda sampaikan , sedikit saya ingin tanya, tolong sebutkan Nama Sahabat atau Tabi`in atau atba` tabi`in yang menggunakan Kaidah-kaidah tersebut ? sebab anda mengatakan :” itu merupakan kaidah Haq yang dipegang oleh seluruh salafiyyin dari sejak zaman sahabat hingga hari kiamat , tolong sebutkan Nama-nama Salafushalihin yang menggunakan Kaidah itu ?

  49. Izin jawab ya mas AS…
    “saya sudah katakan diatas…silahkan saya tunggu diruang diskusi di blogs saya yang sudah saya sediakan…” … terima kasih…hatur nuhun…

    1. abahnajibril@

      Enakan di sini aja Abahna Jibril, lebih open house dan cepat tampil, oke? Maaf ane nunggu di sini, becouse ane sudah terlanjur gelar tikar neh, nontonnya pasti seru neh. Jangan kuatir dikroyoklah, ane mau nyimak aja, setuju ALL ASWAJA?

    2. saya cukup mengerti anda sebetulnya memang nggak punya bantahan buat artikel ummati dihttp://ummatiummati.wordpress.com/2010/08/18/al-albani-sang-penghujat-seluruh-ahli-hadits-sejak-generasi-salaf/ tapi ngga papa saya menghormati anda dgn mas Syahid monggo ,..namun klau anda serius diskusi tempatnya DISINI BROTHER ……

  50. @. aj
    seperti yang saya katakan diatas : sebelum masuk ke materi serta menguji kebenaran Kaidah-kaidah yang anda sampaikan , sedikit saya ingin tanya, siapa sajakah Salaf as-shalihin yang menggunakan Kaidah2 itu ?

    jika aj mau menjawab pertanyaan sederhana saya , jk aj mau menyebut Nama Salaf as-shalihin yang menggunakan Kaidah itu , Insya Allah saya akan langsung meluncur ke Blog anda untuk melanjutkan diskusi, plus menguji kebenaran kaidah tersebut.

    syukron.

  51. @admin serangan lagi dari abahnya jibril Arumi PENDUSTA pakai nama ganti2 dgn IP sama ….bisa nt jelaskan biar tau mana penipu yang ASLI ?????

  52. For ALL ASWAJA@

    Tadi pagi saya Arumi, Miranda, dan Rifan dapat kontak email dari Ummati, yg isinya minta penjelasan secara jujur berkaitan dengan postingan Abahna Jibril di link ini: http://abahnajibril.wordpress.com/2011/02/26/sandiwara-komentator-blog-syiah/

    Di sini saya mewakili teman-teman, Miranda, Rifan (bukan Rifan Mohammad), bahwa kami adalah teman satu kost yang kebetulan memiliki minat sama menyoroti Wahabisme. Kami sering bercanda tentang Wahabisme, sebab menurut kami Wahabi itu lcu-lucu. Dan yang tanpa kami sadari atau lengah, kami sering saling pinjam laptop, jika sedang browsing, maklum namanya juga anak-anak muda, ya kan? Itulah sebabnya terdeteksi IP-adress kami sama, he he he….

    Karena menurut kami Wahabi adalah sekte Islam yg menimbulkan suasana panas di tengah masyarakat Islam dg gaya dakwahnya yg provokatif meneriakkan isu-isu bid’ah, kesyirikan, dll, yang menurut saya dan teman-teman tsb perlu dijawab berdasar kefahaman kami tentang ajaran Islam yg benar.

    Kami hanya menyuarakan faham ASWAJA, dan berlepas diri dari tuduhan Abahna Jibril bahwa kami juga berperan sebagai WAHABI, peran yg dituduhkan oleh Abahna Jibril tidak benar, dan sekali lagi kami berlepas diri dari tuduhan tersebut. Demikian klrifikasi dari saya, Miranda dan Rifan.

    Dengan ini pula, kami beritahukan bahwa alamat email kami yg dimuat di blognya Abahna Jibril sudah kami non-aktifkan. Dan kami akan non-aktif sementara berdiskusi/koment di sini, di waktu lain kami akan tetap membela ASWAJA di blog ini dengan nickname yg baru. Mohon maaf kepada semua teman-teman di sini.

    Terimakasih kepada Ummati atas peringatannya, kami tetap bangga kepada blog ini.

    1. jika mas Arumi Miranda dan rifan dituduh AJ berperan sebagai Wahabi, Nick mana yang katanya kalian Gunakan ? sebab Nick Arumi , Miranda dan Rifan selama ini Komentarnya tidak pernah Pro Wahabisme . jangan-jangan AJ cuma Nuduh tanpa Bukti.

    2. he…he….penjelasan yang masuk akal …….lega rasanya …..inilah kenapa kita dilarang su’udzon oleh Nabi …..thanks mas Arumi …….

  53. Ping-balik: Debat Ilmiyah Aktifis Salafy Wahabi VS Pembela Ahlussunnah Wal-Jama’ah « UMMATI PRESS
  54. Tidak dianjurkan *idola saya, bukan berarti dilarang.
    terkadang dalam dakwah kita sangat membutuhkan yang namanya momentum….
    dan di daerah-daerah tertentu (seperti Tanah Karo), di sini kita sangat membutuhkan Syiar… untuk menanamkan nilai-nilai yang dibawa *Idola saya :), dari syiar-lah baru selanjutnya kita melangkah ke penanaman nilai-nilai keimanan.

    *Idola saya = Rasulullah Muhammad Saw

  55. Bismillah… ana sebetulnya ingin melanjutkan diskusi disini, tapi kalau ada kasus seperti ini, maka diskusi ‘tidak lagi bisa bersih’ …

  56. subhanakallahumma wabihamdika asyhadu’ala ilahailla anta astaghfiruka wa atubu ilaika…dah yuk kita buka topik pembahasan baru dengan elegan dan iktirom bainana…

    1. Abu Kholis;
      Kok elegan sih, seperti tempalate wordpress aja? Tambahin premium biar jadi Elegan Premium Template, he he eh….

  57. copy dari tulian Ibnu Abi Irfan

    Akhuna Ahmad berkata:
    Yang lebih lucu justru Ibnu Irfan , satu sisi beliau berpegang kepada Pendapat Ulama Ahlu Sunnah seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Suyuthi , bahwa seluruh Hadist/astar yang berkaitan dengan Maulid adalah Dhaif , disisi yang sama ibnu irfan Juga menolak keduanya dalam hal Bid`ah hasanah amalan Maulid, yang kemudian tetap berpegang kepada hadist tentang Bid`ah yang salah ia fahami , begitu juga ia berpegang dengan perkataan Imam al-awza`I hanya sayang keliru juga memahaminya

    Ibu Abi Irfan menjawab:
    Malik bin Anas berkata bahwa setiap perkataan manusia itu bisa diambil dan ditolak, kecuali perkataan Nabi. Jadi tidak salah jika ana mengambil sebagian perkataan Ibnu Hajar apabila sesuai dengan sunnah dan menolak sebagian lain perkataan beliau yang menyelisihi sunnah. Perkataan beliau yang menyelisihi sunnah disini adalah anggapan beliau adanya bid’ah yang baik, padahal Rasulullah berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat. Ibnu Umar berkata bahwa setiap bid’ah itu sesat, sekalipun manusia memandangnya baik.
    Ditambah, Ibnu Hajar sendiri di lain tempat mengatakan: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ” semua bid’ah adalah sesat” merupakan qa’idah syar’iyyah yang menyeluruh baik lafazh maupun maknanya. Adapun lafazhnya, seolah-olah mengatakan: “Ini hukumnya bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” Maka, bid’ah tidak termasuk bagian dari syari’at, karena semua syari’at adalah petunjuk (bukan kesesatan, pent.), apabila telah tetap bahwa hukum yang disebut itu adalah bid’ah, maka berlakulah “semua bid’ah adalah sesat” baik secara lafazh maupun maknanya, dan inilah yang dimaksud. (Fathul Baary 13/254)
    Disini kita mendapati dua pedapat bertentangan dari Ibnu Hajar. Di satu tempat beliau mengatakan ada bid’ah yang baik, di tempat lain beliau mengatakan semua bid’ah adalah sesat. Jika kita mau menjadi pengikut beliau yang kritis, seharusnya kita hanya mengambil perkataan beliau yang sesuai dengan sunnah dan menolak perkataan beliau yang menyelisihi sunnah. Bukan malah sebaliknya.
    Jadi sekarang kita tahu, di antara dua perkataan Ibnu Hajar tersebut mana yang sesuai dengan sunnah dan mana yang menyelisihi sunnah.

    1. `ajam tidak aneh jika pengikut sekte wahabi berstandar ganda dan kotradiktif. tidak aneh pula jika pengikut wahabi, merasa lebih alim dan mengerti ketimbang al- hafidz Ibnu Hajar dan an-nawawi sehingga mereka berani mengatakan keduanya Bukan Ahlu Sunnah , bahkan al-hafidz al-hakim pun mereka vonis sebagai orang yang aqidahnya rusak , begitu juga penduduk dubai dikafirkan oleh sekte wahabi , siapapun yang berbeda dengan Wahabi akan divonis sesat mubtadi` Musyrik dan Kafir , yang halal darah dan hartanya , seperti inikah Ajaran Rosulallah SAW ?

      1. saya cukup terkesan dengan perkataan Ibnu Abi Irfan. di satu saat Ibnu Hajar berkata bahwa mua bid’ah adalah sesat, di saat lain bliau berkata ada bid’ah yang baik. sedangkan Rasulullah hanya pernah berkata bahwa smua bid’ah itu sesat. kalo mau cocok-cocokan, seharusnya kita hanya mengambil perkataan Ibnu Hajar yang suai deengan perkataan Rasulullah dan meninggalkan perkataan bliau yang mnylisihi perkataan Rasulullah.

        saya kira tidak ada 1 pun orang dari wahabi baik itu masyaikh-nya, asatidz-nya atau awwam-nya yang merasa lebih alim dari Ibnu Hajar. jika anda mnmui orang yang seperti anda sangka, coba tunjukkan pada saya. mengenai Imam Al Hakim, saya juga belum menemui orang yang memvonis seperti itu pada beliau. kalau ada, mohon ditunjukkan. justru yang ada, golongan salafiyun sangat menghormati Ibnu Hajar, An Nawawi, As Suyuthi, Al Hakim dan imam ahlus sunnah lainnya. namun kami menganggap mereka adalah manusia biasa yang kadang juga bisa salah.

        sebaliknya, ustadz pujaan anda yang majhul bernama SALAFY TOBAT, lebih lancang lagi mengatakan sahabat Rasulullah yaitu Abu Sufyan dan Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai orang munafiq, dzalim dan sebagainya.

        1. `ajam
          soal perkataan ibnu irfan silahkan anda fahami penjelasan dari abah zahra dibawah.
          ajam , apakah anda tidak pernah membaca ta tirul jinan wal arkan an dunal syirk wal kufroon karya al-bhuthomi ? bagai mana ia menuduh Al-hakim sebagai orang yang rusak imannya ? juga buku Liqo ul babil maftuh bagaimana penulisnya mengatakan jika Ibnu hajar dan an-nawai bukan Ahlu sunnah ?
          bahkan Ibnu Irfan pun berani mengatakan jika ibnu Hajar Curang meskipun dengan tanda kutip.

          adapun ustadz salafy Tobat saya tidak mengenalnya secara Langsung dan dia bukan Orang yang majhul coba nt lihat artikel kisah taubatnya salafy tobat di blog ini , lagi pula di artikel mana Salafy tobat mencela Abu sufyan dan Mua`wiyah ? jika pun iya saya berlepas diri dari hal itu , tapi tolong sebutkan judul artikelnya biar saya Crosscek , meskipun sebenarnya Ibnu Taymiyah pun sama menganggap Sayidina Ali Kafir , Abdullah ibnu Umar Musyrik , bin Baz juga mencela Sahabat Rosul Bilal bin Harist al-Muzani jika para pamimpin Ummat Islam sudah di cela sedemikian rupa , apakah sesungguhnya Target Wahabi jika bukan panghancuran Islam dari dalam ?.

    2. Begitulah Mas Syahid, namanya juga pengekor hawa nafsu ya, setan lah yg jadi standarnya, yaitu standar ganda yg bisa menimbulkan kontradiksi. Mereka nggak bakalan menyadari kalau yg dipakainya standar ganda. Para setan sudah sukses mendidik mereka jadi pengikut setianya.

  58. Salafy wahaby mengutip2 perkataan Ibnu Hajar tetapi tidak mengerti apa maksud dan pemahaman Ibnu Hajar tentang bid’ah : Ibnu Hajar sendiri di lain tempat mengatakan: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ” semua bid’ah adalah sesat” merupakan qa’idah syar’iyyah yang menyeluruh baik lafazh maupun maknanya…. (Fathul Baary 13/254)

    Jadi menurut Rasulullah, bid’ah dalam hadits di atas adalah bid’ah secara syar’i, bid’ah secara agama, bukan secara bahasa …. Jadi amalan kaum muslimin yang melanggar syariat, baru bisa dikatakan bid’ah dan sesat …. Sekarang silakan salafy wahaby sebutkan amalan2 kaum muslimin yang melanggar syariat …
    Misalnya, Maulid Nabi, amalan yang mana yang melanggar syariat ???

    1. @. abah zahra ,penjelasan yang bagus , wahabi ngutip perkataan Imam ahlu Sunnah , namun karena mereka tidak mengerti maksud sang Imam , dan bertentangan dengan faham kerdil wahabi , jadinya mereka bilang deh, sang Imam salah dan bukan Ahlu Sunnah , wahabi-wahabi kok cuma bisa mikul doang …..

      1. Berarti Salafy Wahabi bagaikan Khimar pemikul kitab, namanya juga Khimar sudah pasti nggak tau isi kitab yg mereka pikul, eh, ngomong-ngomong khimar itu apakah sama dengan binatang keledai ya?

      2. Mas Syahid, berarti Salafy Wahabi bagaikan Khimar pemikul kitab, namanya juga Khimar sudah pasti nggak tau isi kitab yg mereka pikul, eh, ngomong-ngomong khimar itu apakah sama dengan binatang keledai ya?

        1. mas baihaqi salam kenal , ya memng rata-rata seperti itu , kalaupun ada yang faham maka biasanya dia ingkari atau menuduh yang tidak-tidak , mereka akan sekuat tenaga membela fahamnya meskipun salah dan kontradiktif , silahkan dilanjut mas kayaknya mang deni asih belum puas.

        2. Assalamualaikum….

          ikut gelar tikar ya mas-mas, yai2.. ne banyak maenan.. barang kali ada yang alku.. he3…

          Shollu Alannabiy..

    2. saya setuju dengan anda bahwa bid’ah yang dimakud oleh Rasulullah, para sahabat dan para ulama yang dilarang adalah bid’ah dalam syar’i.

      pengertian bid’ah secara syar’i adalah “sesuatu yang baru yang dianggap syari’at”, bukan “sesuatu yang melanggar syari’at”. jika anda bertanya dimana letak pelanggaran syari’at dari amalan bid’ah seperti maulid nabi, maka jawabnya adalah pada “mengada-adakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah dan para sahabat dan menganggapnya sebagai syari’at”.

      1. ajam jika yang menjadi persoalan adalah “ mengada-adakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah dan para sahabat dan menganggapnya sebagai syari’at ”.
        bagaimana dengan pembagian tiga Tauhid yang tidak diajarkan Rosulallah beserta para sahabatnya ?. bid`ah juga dong ? bahkan Bid`ah sesat

  59. mas ahmad

    3 jenis tauhid itu sudah ada pada zaman Raulullah, hanya saja beliau tidak menyebut istilah “RUBBUBIYAH”, “ULLUHIYAH”, dan “ASMA WA SHIFAT”. anda pasti mengerti bahwa sunnah Nabi itu bukan hanya sunnah qouliyah (perkataan) saja.

    jadi apakah wahabi yang pertama kali mencetuskan untuk mengesakan Alloh dalam Rubbubiyah-Nya, dalam Ulluhiyah-Nya dan Asma wa Shifat-Nya? jika anda jawab iya, berarti Nabi Muhammad itu seorang wahabi.

    1. ajam , mana buktinya (dalilnya) jika Tiga tauhid versi wahabi , sudah ada sejak Zaman Rosulallah SAW , diriwayatkan oleh siapa tuh ?

    2. anda bisa berdalih spt itu Jam ….namun menolak dalam hal tasawuf yang sudah ada sejak zaman Rasululloh ……..aneh ……ya nggak MBAH REDHY ????

  60. dalil tauhid Rubbubiyah:
    ”Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam” [QS. Al-A’raf : 54]

    dalil tauhid ulluhiyah:
    ”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” [QS. Al-Fatihah : 5]

    dalil tauhid asma wa shifat:
    Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik)” [QS. Al-Israa’ : 110]

    1. ooh cuma penamaan kirain esensi Tiga Tauhid , ajam yang saya persoalkan adalah Esensi atau inti dari pembagian tiga Tauhid itu bukan panamaannya , kalo cuma penamaan anak kecil juga Hafal qul a`udzu birobinnas Tauhid Rububiyah malikinnas Tauhid Mulkiyah Ilahinnas Tauhid Uluhiyah bukan penamaan lho yang saya tanyakan tapi esensi Jika

      Muslimin yang hanya mengimani Tauhid Rububiyah sama dengan Musyrikin kafirin

      jika yang membuat seseorang menjadi muslim adalah Tauhid Uluhiyah bukan rububiyah karena Musyrikin dan Kafirin pun sama sama mengimani Tauhid Rububiyah

      ini lho yang saya tanyakan mana Dalilnya ?

  61. contohnya adalah musyrikin quroisy. mereka mengenal Alloh dan mengimani Rubbubiyah-Nya. ketika mreka ditanya iapa pncipta bumi dan langit, mereka menjawab “Alloh”.

    tapi toh ini saja tidak cukup untuk menjadikan mereka sebagai mukminin, karena mreka tidak mengimani Alloh dalam Uluhiyah-Nya. mereka bersujud, bernazar, brqurban, berdoa pada patung dan kuburan.

    Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (Yunus : 31)

    1. ajam , Syirik dan Tauhid tidak mungkin bersatu. Hal ini adalah 2 perkara yang berlawanan bagai siang dengan malam.

      Orang musyrik / kafir di nash musyrik dan kafir tidak layak disebut bertauhid (dengan tauhid apapun) bahkan orang yang telah masuk islam tapi melakukan perbuatan yang membuat mereka kufur, itupun tak layak mendapat sebutan bertauhid dan di nash sebagai KAFIR SECARA MUTLAK!

      Iman itu yakin sepenuhnya dalam hati, diucapkan dgn lisan dan diamalkan dengan perbuatan. Orang hanya ucapannya saja itu tak layak disebut beriman/bertauhid!

      “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu …” (Q.S. al Hujurat: 15)

      adakah dalil lain yang menunjang pendapat ajam , bahwa Muslimin sama dengan Musyrikin dalam tauhid apapun ?

  62. benar. iman itu adalah keyakinan dalam hati, ungkapan dngan lisan, dan amalan dengan badan. tapi lihat kondisi musyrikin quroisy dalam ayat di atas. masalah hati, kita semua tidak tahu bagaimana hati mereka. masalah lisan, mereka sendiri brkata bahwa Alloh-lah pencipta langit dan bumi, pencipta penglihatan dan pendengaran, mengatur hidup dan mati. masalah amalan, ternyata mereka menyembah pada berhala.

    Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (Az-Zumar : 38)

    Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Az Zukhruf : 9)

    Ibnu Jarir Ath Thobari brkata: “Allah berkata : Dan tidaklah kebanyakan mereka –yaitu yang telah disifati oleh Allah dengan firmanNya (“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya” (QS Yusuf : 105))- mengakui bahwasanya Allah pencipta mereka, pemberi rizki kepada mereka, dan pencipta segala sesuatu melainkan mereka berbuat kesyirikian kepada Allah dalam peribadatan mereka kepada patung-patung dan arca-arca dan menjadikan selain Allah sebagai tandingan bagi Allah dan persangkaan mereka bahwasanya Allah memiliki anak. Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Dan para ahli tafsir berpendapat seperti pendapat kami ini)) (Tafsir At-Thobari 13/372)

    kata “mereka” disini tidak lain adalah orang2 musyrik. Ibnu Jarir mnyebutkan bahwa mereka mengakui bahwasanya Allah pencipta mereka, pemberi rizki kepada mereka, dan pencipta segala sesuatu. kemudian Ibnu Jarir menyebutkan bahwa mereka berbuat kesyirikian kepada Allah dalam peribadatan mereka kepada patung-patung dan arca-arca dan menjadikan selain Allah sebagai tandingan bagi Allah dan persangkaan mereka bahwasanya Allah memiliki anak.

    saya setuju dengan anda bahwa syirik itu tidak mungkin bersatu dengan tauhid. namun tauhid disini yang dimaksud adalah tauhid uluhiyah, karena orang yang bertauhid uluhiyah, mereka akan mengsakan Alloh dalam peribadatan kepada-Nya. karna itulah, sperti yang saya katakan tadi, meskipun kaum musyrikin quroisy mengakui rubbubiyah Alloh, tidak cukup untuk menjadikan mereka sebagai mukminin.

  63. ajam anda masih memaksa untuk menyamakan Muslim bersyahadat dengan Musyrik yang Kafir , dari sisi mana persamaannya ? Dari abu dzar ra. berkata, rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seorang hamba Allah yang mengucapkan Laa ilaha illallah kemudian mati dengan kalimat itu melainkan ia pasti masuk sorga”, saya berkata : “walaupun ia berzina dan mencuri?”, Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri”, saya berkata lagi : “walaupun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri, walaupun abu dzar tidak suka” (HR imam bukhary, bab pakaian putih, Hadis no. 5827). Lihat ratusan hadis ttg kalimat tauhid laa ilaha illah dalam kutubushitah!

    Kalimat “laailaha illalllah” mencakup rububiyah dan uluhiyah, kalau saja uluhiyah tak mencukupi, maka syahadat ditambah : “laa ilaha wa rabba illallah”
    tapi nyatanya tidak ada tambahan seperti itu !!

    hadis tentang pertanyaan malaikat munkar nakir di kubur : “Man rabbuka?”
    kalaulah tauhid rububiyah tak mencukupi, pastilah akan ditanya : Man rabbuka wa ilahauka?, tapi nyatanya tidak!!

    ajam berani menyelisihi Alqur`an dengan , MENGGELARI ORANG YANG DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA DENGAN GELAR “UMAT BERTAUHID RUBUBIYAH”

    orang kafir tetap di sebut kafir secara mutlak, tak ada satupun gelar “tauhid” bagi mereka! lihat QS. Az Zukhruf ayat 88

    86. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)1368.

    87.Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?,

    88.dan (Allah mengetabui) ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman (tidak bertauhid DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK!!)”.

    89.Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).
    (QS. Az Zukhruf : 86-89)

    Orang kafir menurut tauhid rububiyah wahaby sendiri tidak yakin 100% kerububiyahan Allah MEREKA MASIH MENYAKINI BERHALA-BERHALA BISA MEMBERI MANFAAT!!! Mereka telah di nash kafir atau tidak ada iman oleh Allah dan rasulnya!, tak ada satupun gelar “tauhid” bagi mereka! lihat QS. Az Zukhruf ayat 88.

    kok bisa ajam memaksa bahwa Muslim bersyahadat sama dengan Musyrikin Kafirin ? dimana letak kesamaannya ? kenapa ajam berani menyatakan jika Musyrikin juga bertauhid , padahal ALLAH dan Rosulnya menyatakan bahwa mereka Musyrik dan Kafir ?

  64. Dari abu dzar ra. berkata, rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seorang hamba Allah yang mengucapkan Laa ilaha illallah kemudian mati dengan kalimat itu melainkan ia pasti masuk sorga”, saya berkata : “walaupun ia berzina dan mencuri?”, Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri”, saya berkata lagi : “walaupun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri, walaupun abu dzar tidak suka” (HR imam bukhary, bab pakaian putih, Hadis no. 5827)

    Rasulullah menjamin orang tersebut masuk surga apabila dia memenuhi syarat “kemudian mati dengan kalimat itu”. apakah anda tidak sadar dengan hal ini?

    saya tidak pernah berkata bahwa tauhid uluhiyah tidak mencukupi. yang saya katakan tidak mencukupi adalah tauhid rubbubiyah. coba simak ulang komentar saya sebelumnya.

    mengenai pertanyaan malaikat dalam kubur, saya tidak tahu kenapa hanya ditanyakan tentang Rabb saja.

    anda menyebut saya telah MENGGELARI ORANG YANG DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA DENGAN GELAR “UMAT BERTAUHID RUBUBIYAH”. ternyata kbnarannya demikian, orang2 muyrik quroisy mengakui bahwa Alloh-lah pencipta, pnguaa, pngatur alam semesta dan lainnya.

    coba anda lihat pada ayat ke-87.

    “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)”

    bukankah ini bukti nyata bahwa mereka mengakui rubbubiyah Alloh. namun hal ini tidak menjadikan mereka beriman. berarti syarat untuk dikatakan beriman itu tidak cukup hanya dengan tauhid rubbubiyah saja, akan ttapi haru juga dilengkapi dengan tauhid uluhiyah dan asma wa shifat.

  65. mas ahmad, anda berkata: kok bisa ajam memaksa bahwa Muslim bersyahadat sama dengan Musyrikin Kafirin ? dimana letak kesamaannya ? kenapa ajam berani menyatakan jika Musyrikin juga bertauhid , padahal ALLAH dan Rosulnya menyatakan bahwa mereka Musyrik dan Kafir ?

    saya katakan sekali lagi, dan anda jangan berpura2 menjadi orang bodoh yang tidak memahami prkataan saya.

    aya katakan bahwa kaum muyrikin quroisy mengakui rubbubiyah Alloh. mereka mengakui bahwa Alloh-lah pencipta bumi dan langit, Alloh-lah pencipta pendengaran dan penglihatan, Alloh-lah yang menghidupkan dan mmatikan, Alloh-lah yang mengatur rizki dan sebagainya. namun toh mereka tetap dicap kafir dan syirik karna tidak mengesakan pribadatan mereka keapda Alloh. mereka bersujud, brnazar, berqurban, berdoa kepada berhala-berhala.

  66. apakah ajam juga menyatakan jika Musyrikin quresy adalah Muslimin Ahli Tauhid ? jika ya , berarti telah terjadi kontradiksi parah dan bathil , karena Iman / Tauhid tidak mungkin bersatu dengan kemusyrikan dan kekufuran.

    jika tidak , berarti ajam tidak Konsisten dengan pernyataan sebelumnya , Bahwa Muslim sama dengan Kafiririn musyrikin.

    kemudian soal runtutan ayat yang saya bawakan adalah sengaja agar difahami secara utuh tidak parsial , seperti ajam yang menekankan pemahaman terhadap ayat ke 87 padahal ayat itu saling berkaitan 86 s/d 89 , sehingga jelas jika mereka sama sekali bukan Ummat berTauhid seperti yang diklaim ajam dan senang disebut :

    berani menyelisihi Alqur`an dengan , MENGGELARI ORANG YANG DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA DENGAN GELAR “UMAT BERTAUHID RUBUBIYAH” kenapa sih ajam berani menyelisihi Al-qur`an , apakah Wahabiyah mengajarkan seperti ini ?

    saya sepakat jika : syarat untuk dikatakan beriman itu tidak cukup hanya dengan tauhid rubbubiyah saja, akan ttapi haru juga dilengkapi dengan tauhid uluhiyah dan asma wa shifat.

    namun saya tidak sepakat Jika ada muslim bertauhid disamakan dengan Kafirin Musyrikin dalam Tauhid apapun.

    dan pernyataan ajam :” ini bukti nyata bahwa mereka mengakui rubbubiyah Alloh , namun hal ini tidak menjadikan mereka beriman ” adalah Bukti jika ajam pun menolak pernyataan nya sendiri jika kaum Quresy adalah kaum ber Iman.

    juga pernyataan ajam bahwa : kata “mereka” disini tidak lain adalah orang2 musyrik membatalkan pernyataan ajam sendiri bahwa kafir quresy pun ber Tauhid.

    Logika dan Falsafah apakah yang digunakan ajam sehingga begitu kontradiktif dengan pernyataannya sendiri ? seperti inikah Aqidah kaum yang mengaku paling mengikuti Rosulallah SAW ? bisakah ajam menjelaskan Kontradiksi ini , ajam mengcounter ajam , ajam menolak pernyataan ajam , coba tolong jelaskan jam kok ajam dengan diri sendiripun bertentangan ?

    Soal hadist yang berkaitan dengan pertanyaan malaikat di alam kubur yang dengan enteng ajam jawab saya tidak tahu , padahal itu membatalkan pendapat ajam soal prinsip , nanti akan saya tanyakan lagi sekarang tolong jelaskan Kontradiksi yang terjadi dalam pernyataan ajam sendiri aja dulu.

  67. dari tadi ternyata anda tidak paham dengan perkataan saya.

    agar jelasnya saya tanyakan saja secara langsung. apakah menurut anda kaum musyrikin quroisy mengakui bahwa Alloh-lah pencipta bumi dan langit, Alloh-lah yang mengatur rizki, Alloh-lah yang menghidupkan dan mematikan? jawablah IYA atau TIDAK!

    1. bagaimana mungkin saya bisa memahami perkataan orang yang dengan perkataannya sendiri saja bertentangan ? mestinya ajam bisa menjelaskan Kontradiksi ini , ajam mengcounter ajam , ajam menolak pernyataan ajam , coba tolong jelaskan , kok ajam dengan diri sendiripun bertentangan ?

      pengakuan Musyrikin quresy terhadap Allah tidak bisa dijadikan landasan untuk menyamakan Musyrikin Kafirin dengan Muslim ahli Tauhid , sama sekali tidak bisa dinyatakan jika Musyrikin pun ber Iman kepada Allah dengan Rububiyahnya , banyak ayat yang menegaskan jika mereka adalah Musyrik dan Kafir.

      tolong jangan lupa jelaskan kontradiksi ajam vs ajam diatas.

      1. saya tidak pernah menyamakan kaum kafir quroisy dengan kaum muslimin. itu hanya kesimpulan anda yang mengada-ada.

        saya tanya sekali lagi, apakah menurut anda kaum musyrikin quroisy mengakui bahwa Alloh-lah pencipta bumi dan langit, Alloh-lah yang mengatur rizki, Alloh-lah yang menghidupkan dan mematikan?

  68. anda berkata: namun saya tidak sepakat Jika ada muslim bertauhid disamakan dengan Kafirin Musyrikin dalam Tauhid apapun.

    kapan saya pernah menyamakan seorang muslim dengan orang kafir?

    begini saja, bagaimana jika ada orang yang mengucapakan syahadat, tapi dia melakukan sihir dan perdukunan. saya pernah membaca berita di koran ada orang yang berhaji dengan biaya uang hasil perdukunan. bagaimana pendapat anda dengan orang tersebut? jelas2 dia adalah orang ber-KTP islam. kalo pernah berhaji, pasti pernah juga bersyahadat. apakah dia masih anda sebut orang yang beriman?

    1. ini pernyataan ajam yang menyamakan Muslimin ahli Tahid dengan musyrikin Quresy yang kafir :

      contohnya adalah musyrikin quroisy. mereka mengenal Alloh dan mengimani Rubbubiyah-Nya. ketika mreka ditanya iapa pncipta bumi dan langit, mereka menjawab “Alloh”.

      terdapat pada komentar no 179 diatas, masa lupa sih ?

      1. jika saya katakan manusia dan malaikat sama2 makhluq Alloh, apakah berarti saya telah menyamakan manusia dengan malaikat?

        jika anda jawab tidak, maka berarti saya juga tidaklah menyamakan kaum kafir quroisy dengan kaum muslimin, meskipun ada beberapa kesamaan antara keduanya.

    2. sebelumnya ajam mengatakan : kapan saya pernah menyamakan seorang muslim dengan orang kafir ?
      setelah dijawab ajam pun berkata : jika saya katakan manusia dan malaikat sama2 makhluq Alloh, apakah berarti saya telah menyamakan manusia dengan malaikat?

      sebelum saya jawab saya katakan : kok bisa ya ajam mengingkari , lalu kemudian menyamakan lagi ? , ini juga pernyataan ajam yang menyamakan Muslimin bertauhid dengan Musyrikin kafirin :

      ” anda menyebut saya telah MENGGELARI ORANG YANG DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA DENGAN GELAR “UMAT BERTAUHID RUBUBIYAH”. ternyata kbnarannya demikian, orang2 muyrik quroisy mengakui bahwa Alloh-lah pencipta, pnguaa, pngatur alam semesta dan lainnya.” pada komentar no 183.

      kok bisa ya ajam mengingkari kemudian menyatakan lagi mengingkari lagi dan menyatakan lagi weleh weleh tapi ga apa apa itulah ajaran kontradikif Khas Wahabi , adapun pernyataan ajam : jika saya katakan manusia dan malaikat sama2 makhluq Alloh, apakah berarti saya telah menyamakan manusia dengan malaikat ?

      saya Jawab ya , anda telah menyamakan Manusia dengan Malaikat dalam hal sama-sama Makhluknya Allah , lalu apa maksud dari analogi ini ? lantas dimana letak persamaanya Kafir Quresy dengan Muslim bertauhid ?

      ajam juga berkata :jika anda jawab tidak, maka berarti saya juga tidaklah menyamakan kaum kafir quroisy dengan kaum muslimin, meskipun ada beberapa kesamaan antara keduanya.

      saya jawab ya , ajam telah menyamakan Malaikat dengan Manusia , sama-sama Makhluk Allah , berarti ajam juga telah menyamakan kaum kafir quroisy dengan kaum muslimin , lantas apa sajakah beberapa persamaan antara Muslimin dengan Musyrikin Quresy yang ajam maksud ?

      1. itu karena anda tidak bisa mncerna perkataan saya dengan baik, hasilnya adalah kesimpulan yang aneh dan mngada-ada.

        baiklah, saya rumuskan saja prbedaan dan persamaan antara kaum kafir quroisy dan kaum muslimin.

        kaum kafir quroisy: tauhid rubbubiyah saja.
        kaum muslimin: tauhid rubbubiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma wa shifat.

        sekarang jawablah, apakah keduanya adalah sama? apakah 1 dengan 3 itu sama?

      2. ajam , bagaimana bisa saya mencerna perkataan orang yang tidak bisa mencerna pernyataannya sendiri ? wong ajam aja ga faham omongan ajam sendiri ?, sampe begitu Kontradiktifnya ajam vs ajam, kok bisa begitu jam ya ? ajam tidak ngerti omongan ajam…. ? apalagi orang lain jam.

        terus itu rumusan apalagi Jam ?
        kaum kafir quroisy: tauhid rubbubiyah saja. wong kafir Musyrik kok Tauhid rububiyah saja , mereka itu Musyrik kok dibilang Tauhid ? gimana seh Jam ?

        rumusannya aja sudah Salah gimana Hasilnya …. coba Jam bikin Analog lain , lagian pertanyaannya juga sederhana kok ? malah bikin Rumusan Bathil. coba lagi yang bener…

        1. ya sudah…pertanyaan itu seharusnya belum saya tanyakan. yang harus saya tanyakan dulu dan harus anda jawab dulu adalah

          apakah menurut anda kaum musyrikin quroisy mengakui bahwa Alloh-lah pencipta bumi dan langit, Alloh-lah yang mengatur rizki, Alloh-lah yang menghidupkan dan mematikan?

        2. kok ajam berfikirnya tidak runut seh ? malah ngedikte lagi , yang runtut donk satu persatu ?, adapun soal pengakuan Musyrikin quresy terhadap Allah tidak bisa dijadikan landasan untuk menyamakan Musyrikin Kafirin dengan Muslim ahli Tauhid , sama sekali tidak bisa dinyatakan jika Musyrikin pun ber Iman kepada Allah dengan Rububiyahnya , banyak ayat yang menegaskan jika mereka adalah Musyrik dan Kafir.

          lantas letak pesamaannya dimana Jam ?

          1. apa masih belum jelas nih saya ulang : soal pengakuan Musyrikin quresy terhadap Allah tidak bisa dijadikan landasan untuk menyamakan Musyrikin Kafirin dengan Muslim ahli Tauhid , sama sekali tidak bisa dinyatakan jika Musyrikin pun ber Iman kepada Allah dengan Rububiyahnya , banyak ayat yang menegaskan jika mereka adalah Musyrik dan Kafir.

            lantas letak pesamaannya dimana Jam ?

          2. baiklah, kalau anda susah diajak bicara, saya akan langsung menebak saja jawaban anda. anda pasti akan menjawab IYA, karena kalau anda menjawab TIDAK, berarti telah mendustakan ayat2 Quran.

            sekarang saya tanya lagi, apakah menciptakan bumi dan langit, mengatur rizki, menghidupkan dan mematikan, dan sebagainya itu bukan merupakan RUBBUBIYAH Alloh?

  69. @ajam 11 Maret 2011 pukul 10:43 pm | #172 said
    Balas | Kutip

    pengertian bid’ah secara syar’i adalah “sesuatu yang baru yang dianggap syari’at”,
    ===========================
    coba ajam, ini definisi bid’ah secara syar’i dari siapa? padahal Rasulullah SAW menganjurkan dalam hadits, ” Barangsiapa membuat kebiasaan/tradisi baru yang baik dalam agama, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya…dst”
    Hadits tsb adalah dasar Imam Syafi’i tentang bolehnya bid’ah hasanah. Imam Syafi’i juga yang mengumpulkan kaidah2 ushul fiqih yang ada dalam Islam, seperti definisi wajib adalah dikerjakan berpahala, bila ditinggalkan berdosa, sunah adalah dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak berdosa.

    Definisi sunnah dan bid’ah versi wahabi kok bertentangan dengan hadits shahih di atas? Katanya wahabi berpegang teguh pada hadits shahih ??

  70. aba zahra, anda telah merubah hadits rasulullah yang seharusnya maknanya menghamtam anda, anda jadikan pndukung anda.

    ” Barangsiapa membuat kebiasaan/tradisi baru yang baik dalam agama, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya…dst”

    hadits tersebut seharusnya berbunyi “barangsiapa mencontohkan suatu kebiasaan yang baik…dst”

    jelas2 hadits itu menyebutkan lafadh “man sanna sunnatan”, bukan menyebutkan lafadh “man sanna bid’atan”

  71. @ajam
    pertanyaan saya belum dijawab… tolong jawab ya… siapa yang mendefinisikan pengertian bid’ah secara syar’i sebagai “sesuatu yang baru yang dianggap syari’at”,
    maksudnya ulama yg pertama kali mengatakan itu sehingga ditaklidi salafy wahaby ?
    karena tidak mungkin untuk dilaksanakan loh kalo kaidahnya seperti itu, seperti sedekah lewat atm atau istighfar sehari 3 kali…. apa hal-hal tersebut menjadi bid’ah di mata salafy wahaby?
    Yang kedua coba, kalo menurut ajam hadits man sanna artinya gimana, seluruh haditsnya ya… jangan sepotong-sepotong….

    1. apanya yang salah dengan definisi itu? syarat untuk dikatakn bid’ah syar’iyah ada 2:

      1) sesuatu yang baru / tidak ada contoh (kalau ada contoh berarti bukan bid’ah)
      2) dianggap syari’at (kalau tidak dianggap syariat bukan bid’ah)

      dimana letak kesalahannya?

  72. @. ajam pindah disini ya

    baguslah kalo ajam bisa mencerna pernyataan saya jawabannya ya , namun kenapa ajam tidak menjawab pertanyaan setelahnya ? tapi malah balik bertanya ?

    ajam kata Rob tidak selalu berarti pencipta , ada makna makna lain untuk Kata Rob , kalupun dipaksakan kata Rob Harus berarti menciptakan bumi dan langit, mengatur rizki, menghidupkan dan mematikan, maka tetap saja pengakuan Musyrikin terhadap Allah , tidak bisa menjadikan mereka sebagai Ahli Tauhid , sebagaimana klaim Wahabiyah, lantas kenapa Harus dipaksakan jika Kafir quresy itu bertauhid Rububiyah ?

  73. intinya, anda akan menjawab IYA bukan? kalau anda jawab TIDAK, berarti anda seorang musyrik.

    nah, kalau demikian berarti pengakuan kaum musyrikin bahwa Alloh yang menciptakan bumi dan langit, Alloh yang menghidupkan dan mematikan, Alloh yang mengatur rizki dan sebagainya adalah pengakuan mereka terhadap RUBBUBIYAH Alloh bukan?

    saya tidak katakan bahwa mereka adalah ahli tauhid. andalah yang seenaknya sendiri menyimpulkan demikian. saya katakan bahwa tauhid RUBBUBIYAH tidak cukup menjadikan mereka sebagai mukminin. silakan baca kembali posting saya yang terdahulu.

    disinilah peran utama tauhid ULUHIYAH dan ASMA WA SHIFAT untuk membedakan antara kaum musyrikin quroisy itu dengan kaum mukminin yang ssungguhnya. tanpa 2 tauhid ini, siapapun mereka, meskipun telah mengakui RUBBUBIYAH Alloh, mereka tidak menjadi seorang muminin. mereka tetap disebut sebagai kafir dan musyrik.

    masih belum paham?

    sekarang ada kasus. ada seorang yang berhaji dengan biaya uang hasil perdukunan. kalau dia pernah berhaji, pastinya dia pernah bersyahadat juga. dan kalau dia pernah bersyahadat, pastinya dia mengakui RUBBUBIYAH Alloh. mnurut anda, apakah orang ini seorang mukmin atau musyrik?

  74. ok ajam mengatakan : bahwa tauhid RUBBUBIYAH tidak cukup menjadikan mereka sebagai mukminin.

    saya jawab : Bukankah ini pernyataan yang sangat jelaaas , Jika `Ajam katakan bahwa mereka adalah ahli tauhid , kok malah bilang : andalah yang seenaknya sendiri menyimpulkan demikian.

    Ajam pernyataan anda kok kontradiktif terus seh ? pernyataan anda itu sudah sangat Jelaaaas kok masih memungkiri ? jika sebuah konsep sudah kontradiktif seperti ini maka jelas ada yang salah dalam perumusannya , kenapa masih dipaksakan ? kafir Quresy jelas Musyrik , kenapa dibilang Ahli Tauhid , ini Bathil ajam B A TH IL , jangan dipaksakan.

    menyamakan muslimin ahli Tauhid dengan kafirin Musyrikin adalah pendustaan terhadap Qur`an dan Hadist juga perlawan terhadap Ijma` Ulama , bahwa Kafir Quresy adalah Musyrik Kafir sama sekali Bukan Ahli Tauhid sebagaimana ajam nyatakan . Istigfar ya `ajam.

  75. lho, memang anda sendiri kan yang menyimpulakn begitu? kapan saya bilang mereka AHLI TAUHID? kalau mungkin saya lupa prnah mengatakannya, mohon diingatkan lagi.

    yang disebut AHLI TAUHID itu jika sudah ada ketiga-tiganya tauhid, yaitu RUBBUBIYAH, ULUHIYAH dan ASMA WA SHIFAT.

    coba untuk sekali saja, saya minta anda jawab pErtanyaan saya dengan jelas agar anda tidak buru2 mengambil kesimpulan seenaknya.

    apakah kaum musyrikin quroisy mengakui RUBBUBIYAH Alloh? IYA atau TIDAK?

    1. ajam ini pernyataan anda saya ambil lengkapnya : saya tidak katakan bahwa mereka adalah ahli tauhid. andalah yang seenaknya sendiri menyimpulkan demikian. saya katakan bahwa tauhid RUBBUBIYAH tidak cukup menjadikan mereka sebagai mukminin.

      ” bahwa tauhid RUBBUBIYAH tidak cukup menjadikan mereka sebagai mukminin. ”

      apa masih tidak jelas atau memang tidak sadar ? jika anda mengingkari pernyataan ini monggo silahkan , Namun dari sisi mana letak kesamaan Muslimin dengan Musyrikin Quresy , bisakah anda menjelaskan pernyataan anda ini ?

    1. Mas Syaahid@

      Perlu kita sadar bahwa yang salah bukan ‘Ajam, dia ini hanya seorang pengekor saja, jadi tokoh-tokoh yg membagi tauhid jadi tiga itulah yg salah. Pembagian tauhid jadi tiga Efeknya adalah menimbulkan kontradiksi. Buktinya ‘Ajam jadi nggak sadar kalau dia sudah menganggap Kafir musyrik Quraisy sebagai orang yg bertauhid, walaupun Tauhidnya Rububiyyah. Inilah kesalahanya, padahal tidak ada keterangan baik dari Qur’an maupun hadits nabi saw yg mengatakan bahwa kaum kafir musyrik quraisy itu bertauhid Rububiyyah. Dalil yg di bawakan oleh ‘Ajam itu samasekali tidak menunjukkan bahwa kafir musyrik Qurisy itu bertauhid Rububiyyah. Tidak ada yg mengatakan demikian, baik dari Nabi Saw, Sahabat, Tabi’in, Tabi’it Tabi’in. Entah sejak kapan munculnya pembagian tauhid yg batil ini.

  76. kok bisa ajam mengatakan : kalau begitu menurut anda, mereka tidak mengakui RUBBUBIYAH Alloh ? apa dasarnya ..?

    1. terimakasih mas jabir atas komentarnya , saya pun sudah ber ulang ulang mengatakan : soal pengakuan Musyrikin quresy terhadap Allah tidak bisa dijadikan landasan untuk menyamakan Musyrikin Kafirin dengan Muslim ahli Tauhid , sama sekali tidak bisa dinyatakan jika Musyrikin pun ber Iman kepada Allah dengan Rububiyahnya , banyak ayat yang menegaskan jika mereka adalah Musyrik dan Kafir.

      bahkan saya juga katakan : baguslah kalo ajam bisa mencerna pernyataan saya jawabannya ya , namun kenapa ajam tidak menjawab pertanyaan setelahnya ? tapi malah balik bertanya ?

      ini jelas jika `ajam tidak bisa menjawab pertanyaan saya yang sekarang juga di tanyakan Mas Jabir.

    2. Maaf Mas ‘Ajam dan Mas Syahid, saya ikut menyela ya? Memang benar bahwa Kafir musyrik itu mengakui Allah sebagai pencipta, tetapi maksud ayat tersebut tidak berarti mereka disebut bertauhid walaupun tauhid rububiyah. Coba deh lihat tafsir ayat tersebut, adakah tafsir yg mengatakan mereka itu bertauhid Rububiyah? Atau adakah keterangan dari Nabi Saw, atau Sahabat dan generasi Salafus sholihin yg memberi penjelasan bahwa kaum musyik tersebut sebagai orang-orang yg bertauhid Rububiyah? Tolong dijawab, ‘Ajam.

  77. dengan kata lain, menurut anda mereka itu tidak mengakui RUBBUBIYAH Alloh?

    anda meyakini bahwa kaum musyrikin quroisy itu mengakui bahwa Alloh pencipta alam semesta, tapi anda mengingkari bahwa mereka mengakui hak Rubbubiyah Alloh, padahal mencipta alam semesta itu adalah salah satu hak Rubbubiyah.

    yang kontradiksi selama ini ternyata adalah anda

    untuk mas Jabir, berikut adalah beberapa pernyataan apra ulama berkaitan dengan masalah ini.

    1) Ibnu Abbas berkata : “Termasuk keimanan mereka adalah jika dikatakan kepada mereka : Siapakah yang menciptakan langit?, siapakah yang menciptakan bumi?, siapakah yang menciptakan gunung?, mereka menjawab : Allah. Namun mereka berbuat kesyirikan” (Tafsir At-Tobari 13/373)

    2) Ikrimah berkata : “Termasuk keimanan mereka adalah jika dikatakan kepada mereka : Siapakah yang menciptakan langit?, mereka menjawab : Allah. Jika mereka ditanya : Siapakah yang menciptakan kalian?, mereka menjawab : Allah. Padahal mereka berbuat kesyirikan kepada Allah” (Tafsir At-Thobari 13/373)

    3) Mujahid berkata : “Keimanan mereka adalah perkataan mereka : Allah pencipta kami dan Yang memberi rizki kepada kami dan mematikan kami. Inilah keimanan (mereka) bersama keyirikan mereka dengan beribadah kepada selain Allah” (Tafsir At-Thobari 13/374)

    4) Qotaadah berkata : “Keimanan mereka ini, (yaitu) tidaklah engkau bertemu dengan seorangpun dari mereka kecuali ia mengabarkan kepadamu bahwasanya Allah adalah Robnya, dan Dialah yang telah menciptakannya dan memberi rizki kepadanya. Padahal dia berbuat kesyirikan dalam ibadahnya” (Tafsir At-Thobari 13/375)

    5) Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata : “Tidak seorangpun yang menyembah selain Allah –bersama penyembahannya terhadap Allah- kecuali ia beriman kepada Allah dan mengetahui bahwasanya Allah adalah Robnya, dan Allah adalah penciptanya dan pemberi rizkinya, dan dia berbuat kesyirikan kepada Allah. Tidakkah engkau lihat bagaimana perkataan Nabi Ibrahim :
    Nabi Ibrahim telah mengetahui bahwasanya mereka menyembah (juga) Allah bersama dengan penyembahan mereka kepada salain Allah. Tidak seorangpun yang berbuat syirik kepada Allah kecuali ia beriman kepadaNya. Tidakkah engkau lihat bagaimana orang-orang Arab bertalbiah?, mereka berkata : “Kami memenuhi panggilanmu Ya Allah, kami memenuhi panggilanmu, tidak ada syarikat bagiMu, kecuali syarikat milikMu yang Engkau menguasainya dan dia tidak memiliki apa-apa”. Kaum musyrikin Arab dahulu mengucapkan talbiah ini” (Tafsir At-Thobari 13/376)

    dan lain-lain

    1. `ajam mengatakan : dengan kata lain, menurut anda mereka itu tidak mengakui RUBBUBIYAH Alloh?

      ajam juga mengatakan : anda meyakini bahwa kaum musyrikin quroisy itu mengakui bahwa Alloh pencipta alam semesta,

      apakah dua pernyataan ini , bukan Kontradiksi yang dibuat saudara Ajam ?

      yang saya Ingkari dan tolak adalah : bahwa kafir Quresy bertauhid RUBBUBIYAH

      bisa kah ajam tidak muter-muter terus ? kita kerucutkan persoalanya yuk ?
      saya menangkap jika persoalan intinya adalah : adakah perbedaan substansial antara makna Rob dengan Ilah , apakah `ajam sepakat ?

  78. makanya biar semua jelas, jawablah pertanyaan saya, jangan muter2, agar saya tahu anda menjawab IYA atau TIDAK.

    1) apakah anda meyakini bahwa kaum musyrikin quroisy mengakui bahwa Alloh yang menciptakan alam semesta?
    2) apakah menciptakan alam semesta itu bukan termasuk hak Rubbubiyah Alloh?

    jika anda menjawab kedua pertanyaan tersebut IYA, bukankah artinya kaum musyrikin quroisy mengakui Rubbubiyah Alloh? bukankah artinya mereka mempunyai tauhid Rubbubiyah juga? simaklah bagaimana Ibnu Abbas dan selainnya menyatakan mereka mempunyai sebagian “keimanan”. ingat, itu kata Ibnu Abbas lho yah, bukan kata saya.

  79. saya mengatakan mereka mempunyai tauhid Rubbubiyah, bukan berarti itu menjadikan mereka Ahli Tauhid (muslim dan m’min). Tauhid itu ada 3, maka yang dapat disebut ahlu tauhid itu hanya apabila terpenuhi ke-3 tauhid itu semua. salah satu saja hilang, maka itu membatalkan seluruhnya.

    sebagaimana sholat, salah satu rukunnya adalah membaca alfatihah. jika dia tidak membaca alfatihah, maka sholatnya tidak sah seluruhnya.

    1. dan menurutn nt orang2 yang HILANG salah satu dari tauhid 3 itu orang musryik begitu ???? terus dilanjut dgn HALAL DARAHNYA DAN HARTANYA begitu ,…….inilah pangkal dari perpecahan dan pembantaian saudara2 kita @ Ajam …….Ajam mereka begitu keJAM lho ……maaf menyela …monggo dilanjut ….

    2. ajam, saya sendiri bisa melihat kontradiksi ajam seperti mas ahmad syahid, kok ajam ga bisa ngeliat ya? nih tulisan ajam :

      “saya mengatakan “mereka” mempunyai tauhid Rubbubiyah…”

      “mereka” itukan kaum musyrik kan? kenapa ajam bilang mempunyai tauhid rububiyah? walaupun mereka menurut Alqur’an mengakui Allah sebagai pencipta, dlsb… tetapi mereka juga percaya adanya rab-rab lain… jadi rab nya musyrikin itu banyak bukan hanya Allah, jadi ga bisa ajam bilang bertauhid rububiyah donk. Contohnya musyrikin kristen itu meyakini tiga rab, rab bapak, rab anak dan rab ruhul qudus, maka bisa kita sebut musyrikin kristen … atau ajam ga mengerti makna tauhid dalam kalimat yang ajam tulis

      “saya mengatakan mereka mempunyai “tauhid” Rubbubiyah…”

      1. kalau anda katakan saya kontradiktif, katakan pula hal itu pada Ibnu Abbas dan ahli tafsir lainnya. mereka itu musyrik, tapi Ibnu Abbas dan selainnya bilang “Termasuk keimanan mereka…dst”.

        saya tanya pada anda, jika ada orang sholat tapi dia tidak baca Alfatihah, apakah sholatnya diterima? jika anda jawab TIDAK, berarti itu benar. orang tidak dianggap mengerjakan sholat kecuali telah terpenuhi semua syarat dan rukunnya. jika hilang salah satunya, maka menggugurkan semuanya.

        orang tidak dianggap AHLI TAUHID kecuali telah ada ke-3 tauhid pada dirinya. jika hilang salah satunya saja, maka dia menggugurkan seluruh ketauhidannya.

        masih menganggap saya kontradiktif?

        saya tanyakan pada anda, ada orang yang berhaji dengan biaya uang dari hasil perdukunan. kalau dia berhaji, tentunya dia bersyahadat. kalau dia brsyahadat, pastinya dia bertauhid. apakah orang ini mu’min atau muysrik menurut anda?

    3. ya kalo `ajam mau tetap muter-muter ya silahkan ,dan biar saya perjelas perkataan saya ,

      1. saya tidak pernah mengingkari jika Kafir quresy mengakui keberadaan Allah sebagai pencipta.
      2. mereka Kafir Quresy sama sekali tidak bisa disebut Mukmin apalagi Ahli Tauhid.
      3, perkataan Ibnu Abbas dan yang lainnya tentang ” ke Imanan ” quresy perlu penjelasan apakah yang dimaksud dengan ” keimanan ” dalam pernyataan2 itu.? apakah sekedar “percaya” , “mengakui” atau Iman dengan Makna sesungguhnya sesuai dengan Hadist Jibril ?
      jika dilihat dari Nash-Nash , jelas kata ” Iman ” dalam pernyataan Ibnu Abbas dan yang lainnya tidak bisa diartikan dengan ” Iman dalam Arti yang sesungguhnya ” , atau minimal ke Imanan mereka itu Bathil.

      Batalnya “Iman” Kafir Quresy tidak bisa dijadikan alasan Untuk membagi Tauhid menjadi Rububiyah dan Uluhiyah , sebab tidak ada perbedaan esensi Makna Ilah dan Rob perhatikan Firman Allah :
      Mereka berkata: “Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun”. [QS. Asy-Syu’ara: 47-48]
      Lihat, pengakuan mereka akan tauhid rububiyyah itu ternyata memasukkan mereka ke dalam Islam. Rabb Musa dan Harun? Apa maksudnya? Yaitu Ilah yang disembah Musa dan Harun. Maka jelaslah bahwa mengakui rububiyyah itu sama dengan mengakui uluhiyyah, mengakui uluhiyyah itu juga mengakui rububiyyah.
      Juga Hadist Rosulallah SAW : hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari al-barra bin a`zib Nabi SAW bersabda ” Allah berfirman , Allah meneguhkan Iman orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh Nabi bersabda ayat ini turun mengenai Adzab kubur, orang yang dikubur itu ditanya , Siapa Robmu ? lalu ia menjawab Allah Robku dan Muhammad SAW adalah Nabiku.

      Lihat , malaikat menanyakan (atas perintah Allah) Siapa Rob mu ? jika ada perbedaan esensi antara makna Rob dan Ilah tentu Allah menyuruh Malaikat menanyakan siapa Rob dan Ilahmu ?

      Dari beberapa ayat dan Hadist diatas tidak satupun yang membedakan Ilah dengan Rob sehingga pernyataan ,Ibnu Taimiyah bahwa Tauhid Rububiyah juga diyakini oleh semua orang baik orang Musyrik maupun Orang mu`min adalah Bathil, bertentangan dengan banyak ayat Al-qur`an dan Hadist,
      andai Ilah dan Rob itu berbeda seperti yang dipahami oleh Ibnu Taimiyah maka Malaikat akan menanyakan Siapa Rob dan Ilahmu ? tetapi malaikat hanya menanyakan Man Robuka siapa Robmu ?
      Andai Ma`na Ilah dan Rob itu memiliki esensi berbeda maka Tukang sihir Fir`aun tidak akan membuat Fir`aun gusar dan menyalib mereka
      Andai ma`na Rob itu berbeda maka Allah akan menyuruh Nabi Musa untuk mengajak Fir`aun kepada Ilah dan Rob , nyatanya nabi musa cukup mengatakan : dan aku tuntun kau ke jalan Rob mu.
      andai Ma`na Rob dan Ilah itu memiliki esensi yang berbeda maka Pasti Allah dan Rosulnya akan menjelaskan itu secara tegas dan gamblang.
      Masih banyak ayat dan hadist lain , namun kiranya cukup bila Ajam mencari kebenaran.

      1. mas ahmad, saya juga tidak mengatakan mereka itu ahli tauhid, meskipun mengakui rubbubiyah Alloh. mereka baru bisa disebut ahli tauhid jika ada ke-3 tauhid pada diri mereka, yakni Rubbubiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat. alah satu saja hilang maka gugurlah seluruhnya.

        saya juga tidak menganggap bahwa Ibnu Abbas membenarkan keimanan kaum musyrikin, sekalipun beliau mengatakan demikian. dan sebelumnya telah saya katakan bahwa meskipun mereka mengakui Rubbubiyah Alloh, mereka tidak menjadi mu’min/muslim. mereka tetap kafir.

        adapun pertanyaan malaikat kenapa hanya Rabb saja, anda tidak punya pegangan baik hadits maupun atsar. kalau boleh saya bermain menjadi mufti seperti anda, saya berpendapat mungkin itu karena pengakuan di dunia tidak sama dengan pengakuan di alam barzah atau akhirat. di dunia, mereka bisa saja mengakui rubbubiyah Alloh, lalu syirik pada uluhiyah-Nya. namun di barzah dan akhirat, pengakuan itu mengikuti konsekuensi. karena itulah mereka tidak bisa mengakui rubbubiyah Alloh di alam barzah dan akhirat karena mreka tidak mengikuti konsekuensi dari pengakuan mereka itu.

        adapun kenapa Musa mengajak Firaun ke jalan Rabbnya, itu karena Firaun tidak mengakui Rubbubiyah Alloh. bda dengan muyrikin quroisy, Firaun menganggap dirinya Tuhan. bagaimana mungkin Musa mengajak Firaun beribadah kepada Alloh, sedangkan Firaun belum mengakui Rubbubiyah Alloh? maka dakwah yang pertama kali diserukan kepada orang2 seperti Firaun, Namrud, atheisme, komunisme dan lainnya adalah dakwah mengenal Rubbubiyah Alloh.

        coba anda kalau brdakwah ke suku pedalaman papua. apakah ujug2 anda langsung mengajak mereka sholat, puasa, zakat, haji dan lainnya? tentu saja tidak. anda kenalkan dulu pada mereka bahwa pencipta alam semesta ini adalah Alloh, yang menghidupkan dan mematikan adalah Alloh, yang menurunkan hujan adalah Alloh, dan lainnya.

      2. intinya Adalah , adakah perbedaan esensi Makna Rob dengan Makna Ilah sehingga Tauhid harus dibagi. ?

        jika ada perbedaan yang esensial silahkan ajam sampaikan , jika tidak ada kenapa harus memaksa ?
        jika ajam memaksa Tauhid harus dibagi maka adakah Rosulallah memerintah pembagian Tauhid ala Ibnu taymiyah ini ? jika tidak ada kenapa masih memaksa ? jika tetap memaksa pembagian itu , berarti juga harus diyakini bahwa orang komunis, orang atheis, orang Kristen, orang Hindu, orang Budha, orang Yahudi, dan yang lainnya itu mengakui bahwa Allah adalah Pencipta semesta alam. Sungguh, ini adalah aqidah yang bathil. yang pada akhirnya adalah : menyamakan muslim bertauhid dengan Musyrikin kafirin.

        Ajam : Mengajak manusia kepada rububiyah Allah itu sama dengan mengajak manusia kepada uluhiyyah Allah, dan juga sebaliknya, mengajak manusia kepada uluhiyyah Allah itu sama dengan mengajak manusia kepada rububiyyah Allah. Rububiyyah dan uluhiyyah tak dapat dipisahkan. Siapa mengakui uluhiyyah Allah berarti mengakui rububiyyah Allah, dan siapa yang mengakui rububiyyah Allah berarti mengakui uluhiyyah Allah. Sebaliknya, siapa mengingkari uluhiyyah Allah berarti mengingkari rububiyyah Allah, dan siapa yang mengingkari rububiyyah Allah berarti mengingkari pula uluhiyyah Allah.

        1. Rabb itu berkenaan dngan perbuatan Alloh pada makhluq, seperti menciptakan, menguasai, mengatur rizki, menghidupkan dan mematikan, dan sebagainya.

          Illah itu berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh, seprti menyembah, beribadah, bernazar, berqurban, berdoa, istighozah, isti’anah dan sebagainya.

          perhatikan dua ayat Alquran berikut:
          1) Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada RABB YANG MENCIPTAKAN LANGIT DAN BUMI, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Al An’am : 79)

          2) Dan barangsiapa menyembah di samping Allah ILAH YANG LAIN, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (Al Mu’minun ; 117)

          pada ayat no 1) digunakan lafadh Rabb untuk menunjukkan hak Rubbubiyah Alloh, yakni menciptakan bumi dan langit. sedangkan pada ayat no 2) menggunakan lafadh Ilah untuk menunjukkan hak Uluhiyah Alloh, yakni sesembahan.

        2. anda katakan:
          Siapa mengakui uluhiyyah Allah berarti mengakui rububiyyah Allah, dan siapa yang mengakui rububiyyah Allah berarti mengakui uluhiyyah Allah. Sebaliknya, siapa mengingkari uluhiyyah Allah berarti mengingkari rububiyyah Allah, dan siapa yang mengingkari rububiyyah Allah berarti mengingkari pula uluhiyyah Allah.

          saya katakan:
          kenyataannya, ada orang yang mengakui bahwa Alloh yang bersyahadat, namun ia melakukan perdukunan. contohnya, ketika saya masih kuliah, saya punya teman kost dari banyuwangi. kakeknya adalah dukun santet, padahal kakeknya itu juga mengerjakan sholat, puasa, zakat, haji dan KTP-nya juga islam.

          bagaimana menurut anda tentang kakeknya teman saya itu?

        3. ajam makna Rob tidak selalu berkenaan dngan perbuatan ” Alloh pada makhluq ”
          seperti firman Allah : Wa`bud Robbaka hatta ya tiyakal Yaqin perintah ibadah dikaitkan dengan kata Rob (ibadah perbuatan makhluk kepada Allah )

          begitu juga makna Ilah tidak selau berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh,

          adakah Dalil atau argumentasi lain ?

          1. QS Al Hijr: 99 itu ada kaitannya dengan ayat2 sebelumnya. pada ayat ke-87, Alloh memprkenalkan Diri-Nya

            “Sesungguhnya RABBmu, Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”

            kemudian Alloh mengulang lafadh yang sama pada ayat ke-92, ke-98 dan ke-99. makna lafadh “ROBBAKA” pada ayat2 itu kembalinya adalah kepada lafadh “ROBBAKA” pada ayat ke-87, yakni “RABB YANG MAHA PENCIPTA LAGI MAHA PENYAYANG”.

            dengan kata lain, ayat 99 QS Al Hijr bermakna demikian:

            “dan sembahlah RABBmu (yang maha pencipta lagi maha penyayang) sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”

          2. Lantas apa perbedaan esensi Ma`na keduanya ?

            tokh memang kata Rob tidak selalu berkenaan dngan ” perbuatan Alloh pada makhluq ”

            begitu juga makna Ilah tidak selau berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh,

            apa masih mau dipaksakan ? silahkan kalo memang mau tetap dipaksakan , tapi tolong jelaskan perbedaan esensi makna keduanya …. apa ?

          3. saya nukilkan dari Syaikh Sholih Fauzan

            beliau berkata: Rabb adalah bentuk mashdar, yang berarti “mengembangkan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada keadaan yang sempurna”. Jadi Rabb adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa’il (pelaku). Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah yang menjamin kemaslahatan seluruh makhluk.

            saya katakan: perhatikan bahwa lafadh Rabb dipinjam untuk bentuk fa’il (pelaku), bukan maf’ul (yang dikenai pekerjaan).

          4. masih ga mau ngaku kalo muter2?

            simak kembali posting saya yang telah lalu!

            males? ya udah saya posting lagi

            Rabb itu berkenaan dngan perbuatan Alloh pada makhluq, seperti menciptakan, menguasai, mengatur rizki, menghidupkan dan mematikan, dan sebagainya.

            Illah itu berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh, seprti menyembah, beribadah, bernazar, berqurban, berdoa, istighozah, isti’anah dan sebagainya.

    4. ‘Ajam@

      Sebenarnya Mas Syahid sudah jawab, tapi nt rupanya TELMI menagkap jawabannya karena nt memaksa jawaban “YA atau TIDAK”. ‘Ajam tolong dijawab biar diskusi ini tidak muter2 terus, SIAPA YANG MENGATAKAN KAFIRIN MUSYRIKIN QURESY ITU BERTAUHID RUBUBIYAH? ADAKAH KETERANGAN DARI NABI N PARA SAHABAT, TABI’IN, TABI’IT TABI’IN DAN PARA SALAFUSH SHOLIHIN YG MENGATAKAN MEREKA (KAUM KAFIR MUSYRIK) SEBAGAI ORANG-ORANG YG BERTAUHID RUBUBIYAH? TOLONG SEBUTKAN SIAPA YG MENGATAKAN DEMIKIAN.

      Nanti kalau ada silahkan dilanjut diskusinya. Tapi kalau tidak ada, buat apa dilanjut sebab berrarti ibarat main tinju si ‘Ajam ini sudah ‘KO’. Artinya penyebutan kaum kafir musyrik sebagai orang bertauhid rububiyah itu menjadi tidak syah atau batil. Yang benar adalah penyebutan Nabi Saw dan para sahabat bahwa mereka adalah kaum kafir musyrik tidak ada tambahan bertauhid rububiyah. Munculnya istilah tauhid rububiyah adalah bid’ah dholalah yg bisa menimbulkan kerancuan dan fitnah kepada kaum muslimin. Sebab implikasi dari istilah Tauhid Rububiyah ini akhirnya akan dengan arogan memusyrikkan orang2 yang sudah bersahadat yg berbeda pendapat dg Wahabi.

      Ingat, hanya Wahabi yg mengakui pembagian Tauhid Tiga yg mirip persis dg TRINITAS Kristen. Entah siapa yg membuat istilah tauhid rububiyah, uluhiyah, tolong sebutkan siapa tokoh-tokoh yg membagi tauhid Trinitas ini.

      1. sebelumnya, saya sampaikan sebuah kaidah ilmiah “undhur ila maa qoola wa laa tandhur ila man qoola” (lihatlah pada apa yang dikatakan, jangan melihat pada siapa yang mengatakan)

        yang mengatakan seperti itu adalah Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahab, dan lain2. dalil bahwa kaum musyrikin quroisy mengakui rubbubiyah Alloh telah saya sampaikan.

        prhatikan pula atsar Ibnu Abbas dan ahli tafsir lainnya bahwa mereka mnyatakan ada sebagian “keimanan” pada diri kaum musyrikin quroisy.

  80. @ajam
    pertanyaan saya yang dua kok ga dijawab, saya ulangi lagi ya :
    yang pertama tolong jawab ya… siapa yang mendefinisikan pengertian bid’ah secara syar’i sebagai “sesuatu yang baru yang dianggap syari’at”,
    maksudnya ulama yg pertama kali mengatakan itu sehingga ditaklidi salafy wahaby ?
    karena tidak mungkin untuk dilaksanakan loh kalo kaidahnya seperti itu, seperti sedekah lewat atm atau istighfar sehari 3 kali…. apa hal-hal tersebut menjadi bid’ah di mata salafy wahaby?
    Yang kedua coba, kalo menurut ajam hadits man sanna artinya gimana, seluruh haditsnya ya… jangan sepotong-sepotong….

    @ajam berkata
    apanya yang salah dengan definisi itu? syarat untuk dikatakn bid’ah syar’iyah ada 2:
    1) sesuatu yang baru / tidak ada contoh (kalau ada contoh berarti bukan bid’ah)
    2) dianggap syari’at (kalau tidak dianggap syariat bukan bid’ah)
    dimana letak kesalahannya?
    =========================================================
    ajam bertanya dimana letak kesalahannya ? coba pertemukan dengan definisi sunnah yang selama ini kita ketahui :

    sunnah adalah sesuatu pekerjaan yang bila dikerjakan berpahala, dan bila ditinggalkan tidak berdosa

    kalo saya, yang dimaksud pekerjaan dalam definisi sunnah di atas adalah semua pekerjaan, baik yang ada contohnya dari Rasulullah SAAW maupun yang tidak ada contohnya…. seperti mandi pakai sabun, mengepel lantai, silaturrahmi dengan sms, belajar di sekolah pake AC, ngasih duren ke orang tua, dll..
    kalo menurut saya, hal-hal seperti di atas tidak ada contohnya dari Nabi SAAW, tetapi mendapat pahala sunnah sesusai syariat, jadi bukan dianggap syariat lagi, tetapi sudah menjadi bagian syariat… syariat nya ya syariat sunnah, bukan wajib. ingat salafy wahaby kan suka melintir amalan kaum muslim, kaum muslim bilang sunnah mereka pelintir jadi wajib.
    Jadi mandi sendiri sudah berpahala, tetapi pake sabunnya sendiri juga berpahala bila dicontoh orang, sesuai dengan hadits man sanna sunnatin, jadi ada dua hal yang berpahala dalam mandi pake sabun,..
    Jadi menjaga kebersihan sendiri sudah berpahala, tetapi ngepel lantai sendiri juga berpahala bila dicontoh orang, sesuai dengan hadits man sanna sunnatin, jadi ada dua hal yang berpahala dalam ngepel lantai,..
    Jadi silaturrahmi sendiri sudah berpahala, tetapi pake sms nya sendiri juga berpahala bila dicontoh orang, sesuai dengan hadits man sanna sunnatin, jadi ada dua hal yang berpahala dalam silaturrahmi dengan sms ,..
    Jadi menuntut ilmu sendiri sudah berpahala, tetapi pake AC sendiri juga berpahala bila dicontoh orang, sesuai dengan hadits man sanna sunnatin, jadi ada dua hal yang berpahala dalam sekolah pake AC,..
    Jadi berbakti sama orang tua sendiri sudah berpahala, tetapi ngasih durennya sendiri juga berpahala bila dicontoh orang, sesuai dengan hadits man sanna sunnatin, jadi ada dua hal yang berpahala dalam ngasih duren pada orang tua,..
    dst… dst…

    coba saya sih pengen tau kalo versi ajam mengenai amalan-amalan sunnah tersebut, apakah hukumnya ? bid’ahkah ? bagaimana perlakuannya ??
    apakah ajam mandinya mirip dengan yang dicontohkan oleh Nabi SAAW ? tdk pake sabun ?
    apakah ajam tidak mengepel lantai karena tidak dicontohkan oleh Nabi SAAW ? karena rumah Nabi SAAW lantainya tanah ?
    apakah ajam tidak silaturrahmi dengan sms karena sms an bid’ah ?
    apakah ajam menuntut ilmu mencontoh Nabi SAAW para sahabat? panas-panasan atau dibantu semilir angin ?
    apakah ajam tidak pernah berbakti sama orang tua karena tidak dicontohkan oleh Nabi SAAW ?

    dan ingat juga bahwa pahala bagi yang mencontohkan/memelopori hal baru dalam hadits “man sanna sunnatin” berlaku selamanya… jadi pahala akan mengalir baik ketika kita hidup maupun bila kita sudah meninggal, dan hadits tersebut juga sesuai dengan hadits amalan anak adam yang terus mengalir walaupun kita sudah meninggal yaitu ilmu yang bermanfaat…. misalnya kita mencontohkan mandi pake sabun kepada anak kita, maka setiap anak kita mandi pake sabun, kita juga akan mendapat pahala, baik ketika kita hidup maupun ketika kita sudah meninggal…

    dijawab ya ajam ….

  81. abah zahra

    anda mngatakan:
    sunnah adalah sesuatu pekerjaan yang bila dikerjakan berpahala, dan bila ditinggalkan tidak berdosa

    saya jawab:
    anda benar, tapi tidak tepat. anda hanya menyebutkan salah satu pengertian SUNNAH. masih ada pengertian lain dari SUNNAH yang anda lupakan.

    pngertian sunnah yang lain adalah:
    1) sunnah adalah hadits nabi.
    2) sunnah adalah seluruh ajaran nabi, dengan kata lain mencakup pula Alquran dan Alhadits, karena keduanya diajarkan oleh nabi kepada kita.

    anda berkata:
    kalo saya, yang dimaksud pekerjaan dalam definisi sunnah di atas adalah semua pekerjaan, baik yang ada contohnya dari Rasulullah SAAW maupun yang tidak ada contohnya…. seperti mandi pakai sabun, mengepel lantai, silaturrahmi dengan sms, belajar di sekolah pake AC, ngasih duren ke orang tua, dll..

    saya jawab:
    yang berpahala itu mandinya atau pake sabunnya? ataukah dua-duanya? kalo pake sabun termasuk mendapat pahala, berarti orang yang mandi tidak pak abun tidak mndapat pahala atau hanya mendapat satu pahala.
    yang berpahala itu smsnya atau silaturrahimnya?
    yang berpahala itu AC-nya atau belajarnya?
    yang berpahala itu durennya atau pemberiannya?

    anda katakan:
    dan ingat juga bahwa pahala bagi yang mencontohkan/memelopori hal baru dalam hadits “man sanna sunnatin” berlaku selamanya..dst

    saya katakan:
    apakah anda menerjemahkan lafadh “man sanna sunnatan” dengan “mencontohkan hal baru”? apa benar kata “sunnatan” jika dialihbahasakan dalam bahasa indonesia itu menjadi “hal baru”? kamus mana yang anda pake?

    1. tidak nyambungnya ajam
      abah zahra katakan:
      dan ingat juga bahwa pahala bagi yang mencontohkan/memelopori hal baru dalam hadits “man sanna sunnatin” berlaku selamanya..dst

      ajam katakan:
      apakah anda menerjemahkan lafadh “man sanna sunnatan” dengan “mencontohkan hal baru”? apa benar kata “sunnatan” jika dialihbahasakan dalam bahasa indonesia itu menjadi “hal baru”? kamus mana yang anda pake?

      pernyataan abah zahra kemana Ajam nanyanya kemana babar blas.

  82. kemana neh ajam , udah Taslim apa , ya sukur deh kalo Ajam udah ngaku Tauhid gaya Ibnu Taymiyah itu salah kaprah and keliru.

  83. pindah disini aja jam , soal santet dan perdukunan yang dilakukan orang yang besyahadat nanti kita Bahas kemudian kita tuntaskan dulu soal Ma`na Ilah dan Rob yang menjadi dasar ajaran tauhid Wahabiyah.

    1. hal ini sudah saya tanyakan sejak lama, namun belum juga mendapat jawaban. sebaiknya anda jawab saja sekarang, takutnya nanti anda lari dan muter2 lagi.

    2. al-hamdulillah saya belum pernah lari dari diskusi dimanapun , dan Insya Allah tidak akan pernah Lari , soal muter-muter biarkan orang lain yang menilainya saya atau Justru ajam yang suka muter2 n mbulet , saya ingin diskusi satu persatu di tuntaskan , supaya tidak bias yang pada akhirnya justru keluar dari tema sebenarnya , masalah perdukunan dan santet Insya Allah sangat mudah saya Jawab , namun nanti pada Waktunya.

    1. maaf menyela …….bom bali 1 n 2 , JW mariot , bom kuningan kerjaan noordin m top …..wahabi bukan jam ???

        1. he..he…tanya sama mantan istri2 nya pasti tau ,….katanya nt minta bukti kejahatan wahabi ??? yang paling dekat yaitu ….di indonesia lagi ….la kalau keluar osamah bin laden …..pasti nt lebih ngga kenal kan ???

    2. mulai keluar dari inti pembahasan , jika memang ingin pindah atau ganti Topik bilang saja berarti mungkin anda sudah menyerah dari bahasan Awal soal pembagian Tauhid , mau ganti topik bahasan …. ? bilang aja Insya Allah saya ladeni.

  84. kalau tidak mau keluar dari topik, jawablah, bagaimana pendapat anda tentang dukun santet yang brsyahadat! apakah dia mu’min atau musyrik?

    1. kenapa harus ada syarat seperti itu…. ? bukankah topik diskusi kita tentang Batalnya pembagian Tauhid…. ? kok jadi tentang dukun santet yang bersyahadat… ?

      1. karna ada kaitannya dengan kasus kaum musyrikin quroisy. kakeknya teman saya itu KTP-nya islam. dia mengerjakan sholat, puasa, zakat, haji dan ibadah lainnya. tentunya dia juga bersyahadat. kalo dia bersyahadat, tentunya dia mengakui Rubbubiyah Alloh. menurut anda apakah dia ini musyrik atau mu’min?

      2. apakah anda takut untuk menjawab pertanyaan saya di atas?

        saya jadi tidak dapat menahan diri untuk berprasangka pada anda. mungkin anda akan berpikir memeras otak begini: “bagaimana mungkin aku katakan dia mu’min, padahal dia dukun santet? dan bagaimana mungkin aku katakan dia musyrik, padahal dia bersyahadat?”

        afwan mas ahmad, saya cuma menebak-nebak saja, seperti pertanyaan IYA atau TIDAk yang tidak kunjung anda jawab sampai saat ini.

          1. anda mau lari ga fair dong anda tanya terus tapi ga pernah mau jawab pertanyaan saya?

            kan mudah saja, tinggal jawab MU’MIN atau MUSYRIK

          2. kan pokok bahasan diskusinya Ma`na Rob dan ma`na Ilah , bukan soal santet dan dukun. jika pertanyaan saya keluar dari pokok bahasan ya enggak usah dijawab dulu.

  85. soal perbedaan makna Rob dan Ilah pindah disini aja Jam biar leluasa.

    Ajam belum bisa menjawab Apa Esensi perbedaan Makna Rob dan Ilah , makanya saya kejar terus , karena memang sebenarnya tidak ada perbedaan Makna yang esensial , sehingga pembagian Tauhid itu Batal dari sisi manapun.

    jika menurut Ajam ada perbedan Prinsip atau esensi dari kedua kata Rob dan Ilah silahkan ajam jelaskan , apakah ini muter2 ?

  86. shllollahu ala muhammd.. shollollhu alaihi wasallam….

    semoga bisa menambah ilmu dan mampu mengamalkannya…

    izizn gelar tikar, nimba ilmunya kang Ahmad syahid dkk

  87. makna esensial yang anda inginkan itu seperti apa? apakah yang telah saya sebutkan itu tidak esensial? agar saya bisa menjawab seperti permintaan anda, coba sebutkan contoh 2 hal yang berbeda secara esensial

    1. yang anda sampaikan diatas hanya menurut persangkaan anda bahwa

      Rabb itu berkenaan dngan perbuatan Alloh pada makhluq.

      Illah itu berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh.

      namun ternyata tidak selalu demikian , seperti yang tadi diatas sudah saya jelaskan.

      1. iya , namun ada Dalil lain yang membatalkannya , sehingga itu tidak lain adalah persangkaan , dan itu akibat dari tidak Komprehensipnya sebuah rumusan.

    1. baik saya bantu ajam untuk memahami apa perbedaan makna yang esensi

      kata Motor dan Mobil , keduanya adalah kendaraan namun ada perbedaan pokok atau esensi dari makna keduanya meskipun keduanya sama-sama kendaraan , sebab motor beroda dua sementara mobil minimal beroda empat .

      kata Faqir dan Miskin keduanya adalah ” orang yang tidak mampu ” meskipun ada perbedaan Makna dari kata Faqir dan Miskin namun perbedaan itu tidak prinsip , tidak esensial sehingga perbedaan makna diantara keduanya tidak melazimkan perbedaan yang mencolok.

      begitu juga makna Rob dan Ilah adakah perbedaan poko diantara keduanya ..? hingga Tauhid harus dibagi menjadi dua …? sehingga bila tidak dibagi akan membatalkan keImanan seseorang…. adakah perbedaan esensi antara Rob dan Ilah… ?

      1. perbedaannya begini:

        orang yang mengakui hak Rubbubiyah Alloh, dia mengakui bahwa Alloh pencipta alam semesta, menghidupkan dan mematikan, mengatur rizki dan sebagainya. (titik)

        orang yang mengakui hak Uluhiyah Alloh, maka otomatis telah didahului dengan pengakuan hak Rubbubiyah Alloh. orang yang mengakui hak Uluhiyah Alloh, dia mengakui bahwa hanya Alloh yang diibadahi, disembah, dimintai pertolongan, petunjuk dan sebagainya.

        akan saya berikan permisalan yang lain.

        1) permisalan pengakuan Rubbubiyah: ahmad mengakui bahwa maryam adalah ibunya. ia mengakui bahwa maryamlah yang mengandung dan melahirkannya.

        2) permisalan pengakuan Uluhiyah: ahmad mengakui bahwa maryam adalah ibunya, karena itu ia harus memenuhi hak ibunya kepadanya dan memenuhi kewajibannya kepada ibunya. maka ia berbakti pada ibunya, tidak mendurhakainya, dan tidak menikahinya (karena ibu adalah mahrom).

        3) permisalan pengakuan Rubbubiyah yang tidak diikuti dengan pengakuan Uluhiyah:
        ahmad mengakui bahwa maryam adalah ibunya, namun ia mendurhakainya, tidak memasukkannya dalam golongan ahli warisnya, bahkan menzinahinya.

      2. kok jadi akal-akalan ya ? itu menurut siapa Jam … ? menurut ajam ya , ?
        mestinya ajam dalam menyatakan sebuah kata penting untuk merujuk kepada Ahli Lughah dan Ahli Tafsr.
        karena Yang kita bahas itu soal Tauhid yang memang harus bersandarkan kepada Al-qur`an dan Hadist bukan berdasarkan pemahamannya sendiri.

        Lagi pula makna Rob tidak selalu berkenaan dngan perbuatan ” Alloh pada makhluq ”
        seperti firman Allah : Wa`bud Robbaka hatta ya tiyakal Yaqin perintah ibadah dikaitkan dengan kata Rob (ibadah perbuatan makhluk kepada Allah )

        sebagaimana kita dapati dalam Al-qur`an : Wa`bud Robbaka hatta ya tiyakal Yaqin jika perintah ibadah dikaitkan dengan kata Rob (ibadah perbuatan makhluk kepada Allah ) QS Al Hijr: 99

        begitu juga makna Ilah tidak selau berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh,
        seperti kita dapati dalam al-qur`an surat hud : 54 dimana kata ilah menjadi Fa`il ( pelaku ) kepada makhluk.

        Jika qur`an saja memperlakukan kata ilah dan kata Rob secara bergantian (tanpa “selalu ” seperti yang ajam katakan ), baik perbuatan makhluk kepada Allah maupun perbuatan Allah kepda makhluk , Lantas kenapa masih terus dipaksakan ? lagipula apa yang ajam contohkan diatas tidak ada Dasarnya sama sekali baik dari qur`an maupun Hadist , sangat Jauh dari Makna Rob dan Ilah.
        Jika ajam mau menjelaskan makna secara baik dan benar maka dia akan katakan begini :

        kata Rob dan Ilah , keduanya adalah “Tuhan ( Allah )” namun ada perbedaan pokok atau esensi dari makna keduanya meskipun keduanya sama-sama ” tuhan (Allah )” , sebab Rob adalah ….. sementara Ilah adalah …. Sehingga jika tidak dibedakan maka …. ….Akan membatalkan keimanan .

        Bisakah ajam menjelaskan seperti yang saya contohkan ini …. ? bukan ngawur sepereti yang ajam nyatakan diatas , sebab yang ajam sampaikan itu soal Hak rububiyah dan hak Uluhiyah menurut persangkaan ajam , bukan Makna Rob dan Makna Ilah.seperti yang sedang kita Bahas.

  88. mengenai makna lafadh Rabb pada QS Al Hijr: 99, maka dikembalikan kepada lafadh pada ayat sebelumnya, karena masih ada kaitannya, yakni ayat ke-87: Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang maha pencipta lagi maha penyayang.

    mengenai makna lafadh Ilah pada QS Huud: 54, maka dikembalikan kepada lafadh pada ayat sebelumnya, yakni ayat k-53: Kaum ‘Ad berkata: “Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan Ilah-Ilah (sembahan-sembahan) kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.

    dalam kaidah bahasa manapun, jika suatu rangkaian kata atau kalimat saling berhubungan, maka makna subyek dan obyek yang ada dalam rangkaian kata atau kalimat itu pasti juga sama.

    misalnya: muhammad adalah anak yang rajin. dia selalu membantu orang tuanya. dia adalah anak yang pintar. orang-orang menyukai muhammad.

    nah, muhammad pada kalimat pertama adalah orang yang sama dengan muhammad pada kalimat terakhir, karena kalimat-kalimat itu terangkai saling berhubungan. karena itulah, untuk menjelaskan siapa yang dimaksud dengan muhammad pada kalimat terakhir, kita harus merujuk pada kata muhammad pada kalimat pertama.

  89. Jika ajam mau menjelaskan makna secara baik dan benar maka dia akan katakan begini :

    kata Rob dan Ilah , keduanya adalah “Tuhan ( Allah )” namun ada perbedaan pokok atau esensi dari makna keduanya meskipun keduanya sama-sama ” tuhan (Allah )” , sebab Rob adalah ….. sementara Ilah adalah …. Sehingga jika tidak dibedakan maka …. ….Akan membatalkan keimanan .

    Bisakah ajam menjelaskan seperti yang saya contohkan ?

    1. jadi menurut Ajam begini

      kata Rob dan Ilah , keduanya adalah “Tuhan ( Allah )” namun ada perbedaan pokok atau esensi dari makna keduanya meskipun keduanya sama-sama ” tuhan (Allah )” , sebab Rob adalah Fa`il sementara Ilah adalah Maf`ul Sehingga jika tidak dibedakan maka….. (bisakah titik2ini ajam isi ?) sehingga Akan membatalkan keimanan .

      Ajam , kata Rob jika tidak dikaitkan dengan ” kata lainnya ” Tidak harus menjadi Fa`il , kalaupun ada kata lainnya seperti ” Robbu musa ” maka kata rob disitu menjadi Mudhof dan Wa`bud Robbaka , Rob disini menjadi Maf`ul

      begitu Juga dengan Kata Ilah tidak selalu menjadi Maf`ul, dia bisa juga menjadi fa`il atau apapun sesuai dengan tata bahasa Arab.

      Fa`il dan Maf`ul itu Hanya kedudukan atau posisi “kata” dalam tata bahasa Arab bukan Ma`na Kata itu sendiri. bisakah Ajam menjelaskan esensi perbedaan Ma`na Rob dan Ilah…. ? seperti yang saya contohkan… ?

      1. seperti lafadh muhammad yang telah saya contohkan, pada kalimat pertama, muhammad berposisi sebagai fa’il/mudhof, sedangkan pada kalimat terakhir muhamamd berposisi sebagai maf’ul. jadi lafadh muhammad pada kalimat pertama dan terakhir adalah sama karena kalimat-kalimat itu saling berhubungan.

        nah, begitu juga lafadh Rabb pada QS Al Hijr: 99 adalah sama dengan lafadh Rabb pada ayat ke-87, 92 dan 98. kembalinya makna Rabb itu adalah “Dialah yang maha pencipta lagi maha penyayang”.

        sehingga jika QS Al Hijr 99 diterjemahkan dengan mengembalikan lafadh “Rabb” kepada ayat ke-87, akan menjadi seperti ini:

        “dan sembahlah RABBmu (yang maha pencipta lagi maha penyayang) sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”

        nah, anda akan mendapati lafadh Rabb masih berkenaan dengan perbuatan Alloh pada makhluq pada QS Al Hijr 99.

      2. kita mo ngebahas Nahwu atau Makna Ilah dan Rob… ?
        dan terus terang Anda salah jika mengatakan : seperti lafadh muhammad yang telah saya contohkan, pada kalimat pertama, muhammad berposisi sebagai fa’il/mudhof,

        muhammad menjadi fa`il/Mudhof itu salah Besar , Muhammad disitu menjadi Mubtada bukan Fa`il apalgi Mudhaf.

        lagipula bukan ini bahasan kita , Inget lho Soal Ma`na ILAH dan ROBB adakah perbedaan MAKNA yang esensial … ?

        1. anda bertanya perbedaan Ilah dengan Rabb kan?

          sebenarnya saya sudah menjawabnya dengan sangat jelas bahwa Ilah itu berkenaan dngan perbuatan makhluq pada Alloh dan Rabb itu berkenaan dengan perbuatan Alloh pada makhluq. sehingga apabila tidak dibedakan pemaknaan keduanya, maka akan timbul pemahaman bahwa orang yang mengakui Rubbubiyah Alloh otomatis mengakui Uluhiyah Alloh. dengan kata lain, orang yang mengakui Alloh sebagai pencipta, otomatis mengakui bahwa Alloh yang disembah.

          padahal kenyataannya, ada orang yang mengakui Alloh adalah pencipta, namun ia menyembah pada malaikat, patung, pohon, kuburan lainnya. ada orang yang mengakui Rubbubiyah Alloh, namun tidak mengakui Uluhiyah-Nya.

        2. nyatanya pendapat ini sudah berulang kali saya dibantah yang anda sampaikan diatas hanya menurut persangkaan anda bahwa

          Rabb itu berkenaan dngan perbuatan Alloh pada makhluq.

          Illah itu berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh.

          namun ternyata tidak demikian , seperti yang tadi diatas sudah saya jelaskan. banyak ayat yang membatalkan kesimpulan anda

          dan anda tidak bisa membuktikan jika pernyataan anda itu Benar.

          1. bantahan anda yang membawakan contoh QS Al Hijr 99 sudah saya bantah. tapi anda belum mngomentari bantahan saya itu.

  90. maaf, cuma sebagai tambahan. saya punya pemikiran yang lain tentang kenapa pada QS Al Hijr 99 itu menggunakan lafadh Rabb jika berkenaan dengan penyembahan (perbuatan makhluq pada Alloh)? kenapa tidak menggunakan lafadh Ilah sehingga ayat tersebut berbunyi: “dan sembahlah Ilahmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)”?

    jawabnya adalah:
    karena orang yang diseru itu telah mengakui Rubbubiyah Alloh. mereka mengakui bahwa Alloh adalah Rabb mereka, yaitu Dzat yang maha pencipta lagi maha penyayang. namun mereka menjadikan patung, pohon, kuburan dan lainnya sebagai Ilah (sesembahan). sehingga jika mereka diseru untuk menyembah pada “Ilahakum” (sesembahan kalian), itu sama saja menyeru mereka untuk menyembah patung, pohon dan kuburan.

    dan karena sebab ini pulalah, pada ayat ke-87, 92, 98 dan 99 kata Rabb selalu diikuti dengan dhomir “kum” (kalian=> Rabbakum: Rabb kalian). jika saja orang yang diseru tersebut tidak mengakui hak Rubbubiyah Alloh, maka seharusnya lafadh Rabb diikuti dengan dhomir “i/ni” (aku=> Rabbi: Rabbku).

    1. belajar bahasa Arab dimana sih… ? Insya Allah saya bisa menjelaskan kebingungan Ajam dalam komentar NO 281 diatas , menjelaskan kedudukan setiap kata dalam ayat ke-87, 92, 98 dan 99 , sesuai dengan tata bahasa Arab , dan pemikiran ajam serta jawabannya adalah keliru , hanya Bahsan diskusinya bukan Soal Nahwu dan Tata bahsa , tapi soal makna Rob dan Ilah , lagipula Bukan hanya ayat-ayat itu saja yang menyebut kata Rob dan Ilah masih sangat Banyak ayat yang lain.

      Inget lho Soal Ma`na ILAH dan ROBB adakah perbedaan MAKNA yang esensial … ?

  91. kalau masih belum jela, saya jelaskan dengan bahasa lbih mudah. semoga mudah dipahami.

    bagi orang yang beriman, Rabb dan Ilah adalah sama, yakni Alloh jalla wa ‘azza. hanya penggunaan lafadhnya saja yang berbeda. sedangkan bagi orang musyrik, Rabb dan Ilah itu beda. mereka mengakui bahwa Alloh adalah Rabb mereka, namun mereka menjadikan patung, pohon, kuburan lainnya sebagai Ilah.

      1. baiklah…sekarang begini. anda pernah katakan bahwa orang yang bertauhid Rubbubiyah otomatis bertauhid Uluhiyah dan juga sebaliknya.

        jika kaidah anda di atas diterapkan pada kaum musyrikin quroisy, berarti anda katakan mereka tidak mengakui tauhid Rubbubiyah sekaligus tauhid Uluhiyah. ((jika kesimpulan saya salah mohon diluruskan))

        jika memang demikian, saya bertanya pada anda wahai akhi Ahmad, apakah kaum musyrikin quroisy itu tidak mengakui Alloh ‘Azza Wa Jalla sebagai Rabb mereka?

        1. “Ajam, kaum musyrikin qurais itu biarpun mengaku rabb mereka adalah Allah, mereka tetap tidak bisa dikatakan bertauhid Rubbubiyah, karena pengakuan mereka tidak disertai ketundukan dan penghambaan kepada Allah.Mka pengakuan ini adalahpengakuan dibibir saja atau hanya dugaan atau sekedar pengetahuan mereka tanpa mereka yakini dengan sebenar-benarnya. Keyakinan mereka atas Rabbubiyah Allah juga bercampur dengan keyakinan mereka bahwa tuhan-tuhan yang lain yaitu sesembehan mereka atau dewa mereka juga mempunyai sebagian sifat sebagai Rabb, seperti mengatur rezeki, melindungi mereka dalam peperangan juda menolong mereka dalam kesusahan yang terlepas dari kehendak Allah.

      2. ? Ajam kaidah yang saya sampaikan adalah : orang yang bertauhid Rubbubiyah otomatis bertauhid Uluhiyah dan juga sebaliknya.

        Sedangkan pengakuan kafir Quresy terhadap keberadaan Allah , tidak serta merta menjadikan mereka sebagai ahli Tauhid , baik Uluhiyah maupun Rububiyah , sebagaimana Ajam simpulkan,. mereka tetap Kafir Musyrik. Sebab memang mereka Tidak Pernah Bersyahadat ” Asyhadu anla Ilaha Illallah Wa Asyhadu anna Muhammadarosulallah. “

    1. Penyebab kaum qurais membedakan Rabb dan Illah ini dikarenakan kebodohan mereka dan mereka tidaklah menganggap Allah sebagai pemelihara mereka dengan sebenarnya, karena mereka menjadikan patung, pohon dan kuburan sebagai Illah dengan alasan sesembahan itu yang akan memelihara mereka, memberi rezeki, dan melindungi mereka serta mengabulkan permohonan mereka dan itu semua adalah tugas Rabb. Maka mereka juga menjadikan Illah mereka sekaligus juga Rabb mereka.

  92. @ajam
    kenapa ajam tidak menjawab pertanyaan saya? padahal kalo ajam menjawab, maka diskusi akan berjalan…. tetapi yang terjadi ajam ga menjawab pertanyaan saya, tetapi malah menanggapi komentar saya dengan salah… kesannya hit and run begitu…
    definisi sunnah :

    sunnah adalah sesuatu pekerjaan yang bila dikerjakan berpahala, dan bila ditinggalkan tidak berdosa

    saya menyebutkan definisi sunnah di atas adalah definisi sunnah sebagai salah satu hukum dalam syariat Islam, maka jangan bandingkan definisi sunnah dalam segi bahasa atau lainnya biar diskusi kita nyambung. Setuju kan? Ajam bilang setuju. Dari definisi di atas, yang dimaksud pekerjaan itu apakah pekerjaan yang hanya/pernah dilakukan Nabi SAAW atau mencakup segala pekerjaan baik yang pernah atau yang baru ( tidak pernah dikerjakan Nabi SAAW? )

    mengenai hadits man sanna sunnati… saya minta ajam menampilkan hadits lengkapnya, tetapi kenapa ga mau? kalo gitu saya tampilkan aja, nih :

    “Barang siapa yang mencontohkan dalam Islam suatu sunnah hasanah lalu diamalkan orang lain sunnahnya itu, maka diberikan kepadanya pahala sebagai pahala orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak mengurangkan sedikit juga dari pahala orang yg mengerjakan kemudian itu. Dan barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam suatu sunnah sayyi’ah, lalu diamalkan orang lain sunnah sayyi’ah itu, diberikan dosa kepadanya seperti dosa orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak dikurangi sedikitpun juga dari dosa orang yang mengerjakan kemudian itu.” [Syarah Nawawi juz’ 14 hlm. 226]

    saya tanya dulu, ajam setuju ga dengan terjemahan hadits man sanna di atas?

    udah 2 itu aja dulu….

    1. @ Abah Zahra

      maaf, sebelum pertanyaan anda saya jawab, saya harus luruskan dulu kesalahan anda dalam pertanyaan itu. kalau anda tidak mau diluruskan, bagaimana mungkin saya mau menjawab.

      baiklah, saya coba menjawabnya

      anda bertanya:
      Dari definisi di atas, yang dimaksud pekerjaan itu apakah pekerjaan yang hanya/pernah dilakukan Nabi SAAW atau mencakup segala pekerjaan baik yang pernah atau yang baru ( tidak pernah dikerjakan Nabi SAAW? )

      saya jawab:
      maksud anda “dari definisi di atas” apakah itu hanya 1 definisi yang anda sebutkan tanpa menoleh pada definisi yang lain? saya kira kita tidak bisa hanya memkai 1 definisi saja dan membuang definisi yang lain. kita harus memakai ketiganya semua.

      salah satu definisi menyebutkan bahwa sunnah adalah semua ajaran nabi. dengan demikian, sunnah mencakup juga apa yang diperintahkan dalam Quran dan Hadits, yang dicontohkan oleh nabi dan yang disetujui oleh nabi.

      lanjut, tentang pertanyaan anda mandi pakai sabun, saya bertanya pada anda, apakah yang berpahala itu amalan mandinya atau karena pakai sabunnya?

      saya setuju dengan terjemahan anda

  93. aduh,saudaraqu @azam setau ana yang awam,jangan main-main dengan tauhid bisa bisa tersesat,jujur saja menurut ana yg baca sebaiknya saudaraqu azam belajarlah kepada mas ahmad,sudah ketauan arahnya saudaraqu,ana jarang sekali coment,tapi ana suka mampir ke blog ini,jangan [ernah malu untuk belajar..malu bertanya dikhawatirkan sesat dijalan saudaraqu,silahkan dilanjut dengan ilmi

    1. terima kasih sodara firdaus. semoga Alloh menempatkan anda dalam firdaus. nama saya ‘Ajam, bukan azam.

      kalo anda mau membela sodara ahmad, bisakah anda membantunya untuk menjawab pertanyaan saya? jika tidak bisa tidak apa-apa, toh itu bukan kewajiban anda.

      pertanyaan saya adalah begini:

      saya punya teman yang kakeknya itu adalah seorang dukun santet. tapi kakeknya ini pernah berhaji, juga pernah (kalo tidak bisa dikatakan rajin) mengerjakan sholat, puasa, zakat dan amalan2 lainnya. menurut anda, kakeknya teman saya ini mu’min atau musyrik?

      1. @ajam ….menurut ana si kakek teman nt itu MENURUT SYARIAT SALAH ( NGGA BERANI BILAMG MUSYRIK ) NAMUN SECARA HAKIKAT HANYA ALLOH YANG TAU ……sebab sesama manusia jangan sampai kita sok2an merasa mewakili Alloh ……begitu @ajam ….apa nt dah merasa mewakili Alloh ….wallohualam …

  94. untuk yang terhormat saudaraku Ajam

    sebelumnya saya Mohon ma`af jika dalam diskusi ada kata-kata yang tidak berkenan dihati ajam , saya sarankan kepada sauda ajam untuk meng Inventarisir seluruh ayat al-qur`an yang berkaitan dengan kata Rob dan Ilah , niscaya saudaraku akan mendapati jika ayat-ayat itu menunjukkan Bahwa : tidak ada perbedaan esensi antara Makna Rob dan Ilah , sehingga jika terus dipaksakan bahwa Tauhid dibagi dua adalah Bathil , bertentangan dengan Qur`an dan Hadist , semoga saudaraku ajam , mau mencari kebenaran.

    1. sodara ahmad, jangan anda lari dari pertanyaan saya. jawablah, niscaya anda akan tahu kebenarannya, insyaAlloh. kecuali anda hanya ingin lari dan terus lari. (mungkin lagi program diet)

      1) Menurut anda, apakah kaum musyrikin quroisy tidak mengakui bahwa Alloh adalah Rabb mereka?
      2) Menurut anda, kakeknya teman saya itu mu’min atau musyrik?

      1. @ Ajam ….begini ,…ana mau mengingatkan nt …….titel mu’min , musyrik, dll yang merupakan HAK ALLOH janganlah nt memaksakan jawaban yang sesuai dgn selera nt berhentilah nt seolah olah menjadi wakil dari Al Quran , wakil dari Alloh , Wakil dari Nabi SAAW ……sesama muslim diwajuibkan hanya saling menasehati …..HANYA ALLOH LAH kebenaran yang tak terbantahkan ….

      2. ‘Ajam, sebaiknya ente menyimak jawaban partner diskusi, sehingga ente tidak gegabah mengatakan Mas Syahid lari dari pertanyaan ente.

        Itu karena ente memaksakan orang untuk menjawab sesuai selere ente, jadi ketika Mas Syahid sudah menjawab dengan mudahnya ente bilang Mas Syahid lari dari pertanyaan ente. Ingat, ini diskusi dua arah dari orang yg berbeda dg anda, isi kepala anda belum tentu sama dg apa yg dipikirkan partner diskusi anda.

        Intinya, ente jangan memaksa agar orang menjawab dg jawaban yg ada di kepala ente. Sehingga ketika Mas Syahid sudah menjawab pun ente menganggapnya belum menjawab. Yang penting jawaban itu tidak keluar dari topik yg didiskusikan.

      3. jawaban saya kaum musyrikin Qurais itu mengakui Allah sebagai rabb mereka, sebagian hanya di mulut saja tapi hatinya tidak, sebagian mengakui di mulut dan hatinya, tetapi mereka mempunyai keyakinan bahwa ada rabb rabb lain yang mempunyai sebagian kekuasaan atau kekuatan independen (tidak bergantung kepada Allah) sebagai pemelihara dan pelindung mereka seperti Latta dan Uzza.

        1. dari mana anda tahu bahwa mereka hanya mengakui di lisan saja dan tidak dari hati? apakah anda juga dukun yang mengaku mengetahui hal ghaib?

          apa dalilnya bahwa mereka menjadikan selain Alloh seperti Latta dan Uzza sebagai Rabb yang mempunyai kekuasaan independen? apakah mereka meyakini bahwa Latta dan Uzza itu yang menciptakan langit dan bumi, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan manfaat dan mudhorot dan sebagainya?

          yang benar adalah, mereka menjadikan Latta dan Uzza sebagai Ilah (bukan Rabb). Rabb mereka adalah sama dengan Rabb kaum muslimin, yakni Alloh.

          “Katakanlah:”Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu?” (QS al-An’aam:164)

          Latta dan Uzza dijadikan oleh mereka sebagai Ilah bukan karena mempunyai kekuasaan independen, melainkan karena mereka mengira bisa mendekatkan diri mereka kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya dengan perantaraan Latta dan Uzza itu.

          “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (Az Zumar 3)

          1. Anda minta dalil ? maka ketahuilah dalil yang ada sebutkan hanyalah sebagian ucapan dan pengakuan kaum musyrikin qurais bukan keseluruhan. Untuk sementara saya hanya menjawab bahwa kaum musyrikin Qurais itu meminta perlindungan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan mereka sewaktu berperang terhadap kaum muslimin. Sekarang coba anda pikirkan terlebih dahulu, sebelum meminta dalil, bagaimanakah bisa kaum musyrikin itu menjadikan tuhannya sebagai perantara meminta perlindungan kepada Allah, sedangkan yang mereka perangi adalah Allah sendiri? ataukah kaum musyrikin itu begitu bodohnya sehingga tidak tahu siapa yang mereka hadapi ? atau anda ingin katakan bahwa kaum musyrikin itu hanya tahu bahwa yang mereka perangi adalah kaum muslimin tanpa tahu siapa illah kaum muslimin itu ? lalu bagaimanakah dan apa tujuan doa kaum qurais itu kepada tuhannya? untuk meminta perlindungan dan pertolongan tuhan yang mereka perangi sendirikah? Aneh juga……

          2. Sungguh sombong sekali anda minta dalil, sedangkan cara berpikir anda aja kurang dalam memahami dalil. tapi oke biar saya berikan contohnya satu aja dulu, biar anda sadar. Sesungguhnya kaum musyrikin itu menganggap berhala-hala itu adalah seperti Rabb, oleh karena itu Tuhan mengkritisinya “Dan yang mereka seru selain Allah itu tidak mampu menolong kamu dan tidak mampu menolong diri mereka sendiri” QS Al A’raf 194. Allah menegaskan bahwa berhala-berhala itu sesungguhnya tidak bisa berbuat apa-apa sebagaimana yang diyakini kaum musyrikin seperti menolong mereka, sebagaimana contoh dalam perang yang saya sebutkan.

          3. anda tidak menyebutkan dalil ko minta dipahami tentang dalil. saya minta dalil bahwa yang diperangi oleh kaum musyrikin itu adalah Allah.

    2. pertanyaan no 1 sebenarnya sudah saya jawab silahkan ajam rujuk komentar saya , postingan no 230

      adapun pertanyaan no 2 bukanlah pokok pembahasan diskusi kita , lagi pula jika saya jawab sekarang ,akan akan membuat diskusi ini keluar dari pokok pembahasan , kecuali jika ajam menginginkan ganti Topik dan bahasan diskusi , Insya Allah akan saya jawab.

      1. tentang pertanyaan no.1, saya anggap anda menjawab bahwa mereka mengakui Alloh sebagai Rabb mereka. (mohon diluruskan kalo salah)

        jika demikian jawaban anda, berarti seharusnya anda katakan juga bahwa mereka mengakui hak Rubbubiyah Alloh.

        tentang pertanyaan no.2 tidaklah keluar dari pembahasan kita. anda sebelumnya berkata bahwa kaum musyrikin itu tidak mengakui Rubbubiyah maupun Uluhiyah Alloh. padahal saya membawakan contoh ada orang yang mengakui bahwa Alloh adalah Rabb, namun ia menjadikan selain Alloh (dalam hal ini adalah Jin) sebagai Ilah.

  95. sebenarnya saya tahu anda tidak akan sanggup/mau menjawabnya karena pasti akan terbongkar syubhat2 anda. namun saya coba untuk terus menahan diri dan sabar menunggu jawaban anda.

    1. @Ajam ….kalau manusia dgn mudahnya memusryikan sesamanya maka yang akan terjadi hanya pertumpahan darah dan kerusakan di muka bumi sebab pasti begitu vonis musyrik di luncurkan kemudian vonis HALAL DARAH DAN HARTANYA ala WAHABI dilanjutkan ……nauzubillah ….

    2. Yang menjadi problem dalam diskusi ini adalah si ‘Ajam memaksa orang lain agar mejawab sesuai keinginannya. Sehingga ketika orang tidak menjawab sesuai yg diinginkannya, dia secara sepihak mengatakan orang lain tidak mampu menjawab.

      Bagaimana jika jawaban yg sesuai keinginannya itu berakibat memvonis musyrik kepada orang lain? Tentu kita tidak ingin berbuat demikian ngawur kepada orang lain, sebab kemusyrikan itu letaknya tersembunyi di hati manusia.

      Saya ingatkan kepada ‘Ajam agar tidak memaksa orang lain untuk menjawab sesuai keinginannya. Ingatlah, apa yg ada di kepala anda belum tentu sama dengan apa yg dipikirkan oleh orang lain. Maka biarlah diskusi mengalir dan itu akan memperkaya cakrawala pengetahuan yg muncul dari diskusi ini.

      Silahkan dilanjut Mas ‘Ajam VS Mas Ahmad Syahid, saya akan gelar tikar kembali dan menyimak diskusi kalian. Wa ilaikum tafadhdhol masykuro…..

      1. yah, kalo gitu saya akan berikan contoh kasus fiktif, namun serupa dengan kasusnya kakeknya teman saya agar tidak ada justifikasi kepada seseorang.

        anggap saja ada dukun santet yang mengerjakan sholat, puasa, zakat, haji dan amalan lainnya. bagaiamana menurut pendapat sodara ahmad mengenai orang ini?

  96. @ajam
    wah… saya kan nanya, eh malah pertanyaannya yang disalahkan,..he..he… oke deh, kalo gitu definisinya adalah :

    sunnah adalah :
    a. pekerjaan yang telah dicontohkan Nabi SAAW yang bila dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa. contohnya ajam udah tahu kan?
    b. pekerjaan yang tidak dicontohkan Nabi SAAW tetapi berdasarkan syariat bila dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa. contohnya seperti mandi pakai sabun, mengepel lantai, silaturrahmi dengan sms, belajar di sekolah pake AC, ngasih duren ke orang tua, dll..

    gimana ? setuju ga ?

    pertanyaan ajam yang kedua :
    tentang pertanyaan anda mandi pakai sabun, saya bertanya pada anda, apakah yang berpahala itu amalan mandinya atau karena pakai sabunnya?
    =================================
    sebagaimana definisi sunnah di atas, maka sesuai point b, maka yang berpahala adalah amalan mandinya.

    nah, sekarang saya yang bertanya, mengenai hadits man sanna
    “Barang siapa yang mencontohkan dalam Islam suatu sunnah hasanah lalu diamalkan orang lain sunnahnya itu, maka diberikan kepadanya pahala sebagai pahala orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak mengurangkan sedikit juga dari pahala orang yg mengerjakan kemudian itu. Dan barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam suatu sunnah sayyi’ah, lalu diamalkan orang lain sunnah sayyi’ah itu, diberikan dosa kepadanya seperti dosa orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak dikurangi sedikitpun juga dari dosa orang yang mengerjakan kemudian itu.” [Syarah Nawawi juz’ 14 hlm. 226]

    dari hadits di atas, yang dimaksud sunnah dalam frase “sunnah hasanah” dan “sunnah sayyi’ah” itu pekerjaan yang dilakukan oleh Nabi SAAW atau pekerjaan yang tidak dicontohkan oleh Nabi SAAW ( istilah saya pekerjaan baru ) ?

    1. sodara abah zahra

      anda bertanya:
      dari hadits di atas, yang dimaksud sunnah dalam frase “sunnah hasanah” dan “sunnah sayyi’ah” itu pekerjaan yang dilakukan oleh Nabi SAAW atau pekerjaan yang tidak dicontohkan oleh Nabi SAAW (istilah saya pekerjaan baru)

      saya jawab:
      sebelumnya harus diuraikan dulu pengertian sunnah dalam segi bahasa, yakni “contoh” atau “kebiasaan”. sehingga yang dimaksud dengan sunnah hasanah fil islam adalah contoh/kebiasaan yang baik dalam syariat islam, sedangkan uyang dimaksud dengan sunnah sayyiah fil islam adalah contoh/kebiasaan buruk dalam syariat islam.

      dalam hadits di atas sama sekali tidak disinggung masalah bid’ah atau sesuatu yang baru, karena pengertian sunnah itu berantonim dengan pengertian bid’ah. sunnah sayyiah bukanlah bid’ah, karena sunnah sayyiah mempunyai pengertian sesuatu yang sudah ada (contoh/kebiasaan) yang buruk, sedangkan bid’ah adalah sesuatu yang belum ada.

      kira2 demikian, wallohu ‘alam

    1. saya sedang bertanya bagaimana penilaian sodara ahmad tentang kakeknya teman saya itu. saya bertanya, menurut sodara ahmad, apakah dia mu’min atau musyrik. mungkin jika sodara baihaqi bisa membantu, silakan!

      1. ‘Ajam@

        Maslahnya, kenapa ente tanya tentang kemusyrikan Kakenya teman ente? Apakah ente igin memaksa saya ikut-ikutan memvonis musyrik kepada Kakeknya teman ente? Nah, kalau ente ingin memvonis kakeknya teman ente musyrik lakukanlah sendiri tidak perlu mengajak orang lain, sebab memvonis musyrik kepada seorang bukanlah perkara gampang, ‘Ajam!!!

        Tapi yg aneh buat saya kenapa ente memvonis musyrik Kakek teman ente? Bisa ente jelaskan? Atau ente mengetahui hati kakek teman ente, ingat kemusyrikan itu tempatnya di hati. Dan itu mustahil bagi saya untuk mengatakan apakah seseorang itu musyrik!!!

  97. mengenai 2 pertanyaan ajam kepada ahmad, saya coba menjawab, boleh ya? barangkali aja benar dimata ajam :
    1) Menurut anda, apakah kaum musyrikin quroisy tidak mengakui bahwa Alloh adalah Rabb mereka?
    ==============================
    jawab : sesuai Al-Qur’an, mereka mengakui Allah sebagai Rabb mereka, tetapi mereka itu tidak melakukan apa yang Allah syariatkan sebagai konsekuensi pengakuan mereka. Jadi dapat dikatakan pengakuan mereka ini dusta. Justru mereka melakukan amalan-amalan yang disyariatkan oleh rabb-rabb ( arbab ) mereka yang lain, ini sama aja menyandingkan Allah dengan rann-rabb yang lain…. musyrik secara rububiyah (jadi bukan bertauhid rububiyah). Contoh gampangnya ya di agama kristen, Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruhul kudus, ketiga-tiganya dianggap rabb, maka mereka musyrik secara rububiyah. Atau juga orang yunani kuno percaya banyak rabb, seperti Dewa Zeus, Dewa Neptunus, Dewa angin, Dewa petir, dll, itu semua dianggap rabb, maka orang yunani musyrik secara rububiyah.

    2.Menurut anda, kakeknya teman saya itu mu’min atau musyrik?
    ===============================================
    Teman-teman kan udah bilang, kita tidak bisa bilang kakek itu mu’min atau musyrik, karena kita tidak tahu hati pikiran sang kakek, tetapi secara sederhana dapat saya jelaskan 2 kemungkinan :

    pertama, jika si kakek sudah mengenal Allah, menjalankan syariat Allah, yang ada di hati dan fikirannya, masih mengilahkan Allah, Allah paling utama, yang selain Allah masih posisinya masih di bawah Allah, maka dia masih seorang mu’min. Adapun santetnya tetap berdosa, sebagaimana dosa-dosa lainnya seperti membunuh orang ( dengan santet ) tanpa hak, dll.

    kedua, jika si kakek mengaku mengenal Allah, menjalankan syariat Allah, tetapi yang ada di hati dan fikirannya, mengilahkan santetnya, mengilahkan kehebatannya, melakukan syariat tertentu untuk santetnya walaupun melanggar perintah Allah, Allah bukan yang utama, Allah nomor 16 belas, berarti pengakuannya bisa disebut pengakuan dusta, seperti musyrikin quraisy, maka si kakek bisa disebut musyrik.

    kalo Allah bisa memvonis musyrikin quraisy sebagai “musyrik” itu karena Allah bisa mengetahui hati dan fikiran mereka, apakah pengakuannya tulus atau tidak, sedangkan kita tidak bisa mengetahui hati dan fikiran seseorang, hendaknya jangan memvonis karena bila salah maka vonisnya berbalik kepada kita. Kita cuma bisa mengingatkan, berusaha agar meninggalkan amalan-amalan tersebut.

    1. terima kasih pada abah zahra atas jawabannya yang sangat ilmiah. saya akan coba mengkaji jawaban anda.

      anda menjawab:
      1. sesuai Al-Qur’an, mereka mengakui Allah sebagai Rabb mereka, tetapi mereka itu tidak melakukan apa yang Allah syariatkan sebagai konsekuensi pengakuan mereka. Jadi dapat dikatakan pengakuan mereka ini dusta. Justru mereka melakukan amalan-amalan yang disyariatkan oleh rabb-rabb ( arbab ) mereka yang lain, ini sama aja menyandingkan Allah dengan rann-rabb yang lain…. musyrik secara rububiyah (jadi bukan bertauhid rububiyah). Contoh gampangnya ya di agama kristen, Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruhul kudus, ketiga-tiganya dianggap rabb, maka mereka musyrik secara rububiyah. Atau juga orang yunani kuno percaya banyak rabb, seperti Dewa Zeus, Dewa Neptunus, Dewa angin, Dewa petir, dll, itu semua dianggap rabb, maka orang yunani musyrik secara rububiyah.

      komentar saya:
      dalam QS ALi Imron 80, sama sekali tidak disebutkan bahwa mereka (kaum musyrikin) itu menjadikan Malaikat dan Nabi sebagai Rabb-Rabb mereka. disitu hanya disebutkan bahwa tidak patut seorang nabi menyuruh mereka untuk menjadikan malaikat dan nabi sebagai Rabb-Rabb.

      yang ada adalah, mereka (kaum musyrikin) itu menjadikan malikat, nabi, patung, pohon, kuburan dan lain-lain sebagai Ilah (bukan sebagai Rabb).

      “Dan ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, ‘Adakah kamu menjadikan patung-patung (sebagai) sembahan-sembahan/tuhan-tuhan (AALIHATAN)?….” (QS Al An’am:74)

      “Sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan keinginannya (sebagai) sembahannya/tuhannya (ILAAHAHU)?…” (QS Al Furqoon:43)

      “Dan berkata Firaun, ‘Wahai pembesar-pembesar, aku tidak mengetahui ada bagi kalian sembahan/tuhan (ILAAHIN) selain aku!…’” (QS Al Qoshosh:38)

      dalam ayat2 di atas dan selainnya, selalu digunakan lafadh ILAH. jadi kesyirikan mereka bukanlah menjadikan selain Alloh sebagai Rabb-Rabb mereka, melainkan sebagai Ilah-Ilah mereka. Rabb mereka tetap satu, yakni Alloh, sedangkan Ilah mereka banyak, yakni malaikat, nabi, patung, pohon, kuburan, batu dan lain-lain.

      demikian pula ahli kitab, menjadikan Malaikat, Isa Al Masih dan Maryam serta rahib-rahib sebagai Ilah mereka, bukan sebagai Rabb. mereka tidak meyakini bahwa Malaikat, Isa dan Maryam serta rahib-rahib adalah pencipta bumi dan langit. mereka menyembah Malaikat, Isa dan Maryam serta rahib-rahib karena mereka mengira bahwa semua itu bisa mendekatkan diri mereka kepada Alloh (sarana/wasilah).

      adapun kaum polytheisme yunani kuno ataupun romawi telah keluar dari pebahasan kita. memang benar mereka menjadikan selain Alloh sebagai Rabb, bahkan mereka sama sekali tidak mengenal Alloh. mereka syirik dalam Rubbubiyah Alloh.

      ===================================================================================
      anda menjawab:
      jika si kakek sudah mengenal Allah, menjalankan syariat Allah, yang ada di hati dan fikirannya, masih mengilahkan Allah, Allah paling utama, yang selain Allah masih posisinya masih di bawah Allah, maka dia masih seorang mu’min. Adapun santetnya tetap berdosa, sebagaimana dosa-dosa lainnya seperti membunuh orang (dengan santet) tanpa hak, dll.

      santet itu adalah sihir. seorang dukun santet harus mempunyai perjanjian dahulu dengan jin, karena hakikatnya yang mengerjakan santet itu adalah jin, bukan dukun. bukankah secara otomatis dukun santet telah menjadikan jin sebagai Ilah disamping Alloh? iya, dia menjadikan Alloh sebagai Ilah. buktinya dia mengerjakan amalan yang disyariatkan. namun disamping Alloh, dia menjadikan Ilah-Ilah yang lain.

      “(Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)” (QS AL Hijr 96)

      “Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (QS Al Israa’ 22)

      “Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).” (QS Al Israa’ 39)

      ayat2 di atas dan selainnya merupakan larangan untuk menjadikan Ilah yang lain di samping Ilah yang hakiki, yakni Alloh.

      dengan demikian, orang yang melakukan perdukunan, apapun bentuknya, maka ia adalah musyrik.

      kembali pada masalah Rabb dan Ilah, orang yang melakukan perdukunan itu tetap menjadikan Alloh sebagai Rabb. dukun itu masih mengakui Alloh sebagai pencipta bumi dan langit, menghidupkan dan mematikan, mengatur rizki dan lainnya. kesyirikan mereka adalah terletak pada menjadikan selain Alloh sebagai Ilah.

      1. Ajam mengatakan : dengan demikian, orang yang melakukan perdukunan, apapun bentuknya, maka ia adalah musyrik.

        kembali pada masalah Rabb dan Ilah, orang yang melakukan perdukunan itu tetap menjadikan Alloh sebagai Rabb. dukun itu masih mengakui Alloh sebagai pencipta bumi dan langit, menghidupkan dan mematikan, mengatur rizki dan lainnya.

        kesyirikan mereka adalah terletak pada menjadikan selain Alloh sebagai Ilah.

        apakah Maksud Ajam orang yang meminta tolong kepada Jin atau Syetan berarti Telah Menyembahnya ..?

      2. Benarkah dukun itu menjadikan syetan atau jin itu ilah? bagaimana kalau mereka hanya bekerjasama dalam permusuhan, sebagaimana diisyaratkan dalam surat Jin. Kalau Sang dukun masih melakukan sholat, haji dsb, maka kemungkinan dukun tersebut bekerjasama atau meminta bantuan jin untuk melakukan kejahatan, maka sang dukun berdosa besar tapi belum dianggap musyrik, bila sang dukun masih menganggap jin itu adalah sekedar sekutunyaatau mahluk Allah juga.

      3. Benarkah dukun itu menjadikan syetan atau jin itu ilah? bagaimana kalau mereka hanya bekerjasama dalam permusuhan, sebagaimana diisyaratkan dalam surat Jin. Kalau Sang dukun masih melakukan sholat, haji dsb, maka kemungkinan dukun tersebut bekerjasama atau meminta bantuan jin untuk melakukan kejahatan, maka sang dukun berdosa besar tapi belum dianggap musyrik, bila sang dukun masih menganggap jin itu adalah sekedar sekutunya atau mahluk Allah juga.

  98. Saudaraku ‘Azam Amin atas do’anya,Semoga Allah mendahulukan orang yang mendo’akan saudaranya…

    Pertanyaan saudara ‘Azam tidak ana fahami dan tidak ingin memahami santet dan lain-lain,walau jaman Rosul kita juga sudah banyak sihir,dan lebih utamanya ana gak mau terlibat akan fitnah / memfitnah seseorang tanpa ana kenal siapa kakek sahabat saudara ‘Azam itu.sebab Allah bisa membalik balikan hati manusia dan kita tau kan “”pagi beriman sore kafir dan seterusnya”” umpama ana katakan mu’min or musyrik bukan wewenang ana.tanpa ana tau jelas,bukan cerita dari saudara ‘Azam.
    Dan yang ana lihat sendiri di depan mata wanita keliatan tangannya saja ana tak berani mengatakan “hai akhwat…tutup auratmu cepat”” padahal kita tau apa hukumnya aurat dan jelas,itu pemandangan sehari-hari kita kan,apalagi di kota2 besar,itu yg fakta dan bisa dibuktikan ana masih payah.

    1. kalo masalah vonis-memvonis saya pikir memang butuh tempat untuk membahasnya secara tersendiri. namun, secara singkat saya katakan bahwa vonis itu bisa dijatuhkan dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar. bagaimana mungkin kita bisa mencegah/menasihati seseorang yang salah jika tidak didahului dengan vonis? hanya saja, vonis tidak bisa dijatuhkan begitu saja. harus ada cek, ricek dan kroscek terlebih dahulu.

      ‘alla kulli hal, terima kasih pada sodara firdaus

      1. sepertinya prinsip ajam, vonis duluan, urusan belakangan. Kalau begini prinsip wahabi, wajar aja banyak yang suka bertindak anarkis dan buat permusuhan.

        1. ‘Ajam :
          kalo masalah vonis-memvonis saya pikir memang butuh tempat untuk membahasnya secara tersendiri. namun, secara singkat saya katakan bahwa vonis itu bisa dijatuhkan dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar. bagaimana mungkin kita bisa mencegah/menasihati seseorang yang salah jika tidak didahului dengan vonis? hanya saja, vonis tidak bisa dijatuhkan begitu saja. harus ada cek, ricek dan kroscek terlebih dahulu.
          ‘alla kulli hal, terima kasih pada sodara firdaus

          baca lagi posting saya. saya katakan “hanya saja, vonis tidak bisa dijatuhkan begitu saja. harus ada cek, ricek dan kroscek terlebih dahulu”.

          1. siapa yang cek dan ricek ? ente? apa kapasitas ente, sehingga setelah ente cek n ricek lalu orang itu anda vonis sesuai pemahaman anda? anda mau amar ma’ruf dengan memvonis orang, padahal masalah yang anda vonis itu adlah masalah khilafiyah? terserah ente, saya hanya mengingatkan tidak ada hak memvonis dalam masalah khilafiyah.

  99. CATATAN ADMIN UMMATI PRESS:

    Disebabkan koment COPAS dari Noval Wijaya teramat sangat panjangnya (kalau diprint bisa jadi sebuah buku), maka kami terpaksa mendelete-nya, dan kami persembahkan bagian kesimpulannya saja. Hendaknya para KOMENTATOR kalau koment lagi tidak COPAS yg terlalu panjang yg mana kita sendiri harus berpusing-pusing membacanya agar paham yg di-COPAS tsb.

    =================================================

    Kesimpulan

    Sebagai bagian dari umat Islam, barangkali kita ada di salah satu pihak dari dua pendapat yang berbeda. Kalau pun kita mendukung salah satunya, tentu saja bukan pada tempatnya untuk menjadikan perbedaan pandangan ini sebagai bahan baku saling menjelekkan, saling tuding, saling caci dan saling menghujat.

    Perbedaan pandangan tentang hukum merayakan maulid nabi SAW, suka atau tidak suka, memang telah kita warisi dari zaman dulu. Para pendahulu kita sudah berbeda pendapat sejak masa yang panjang. Sehingga bukan masanya lagi buat kita untuk meninggalkan banyak kewajiban hanya lantaran masih saja meributkan peninggalan perbedaan pendapat di masa lalu.

    Sementara di masa sekarang ini, sebagai umat Islam, kita justru sedang berada di depat mulut harimau sekaligus buaya. Kita sedang menjadi sasaran kebuasan binatang pemakan bangkai. Bukanlah waktu yang tepat bila kita saling bertarung dengan sesamasaudara kitasendiri, hanya lantaran masalah ini.

    Sebaliknya, kita justru harus saling membela, menguatkan, membantu dan mengisi kekurangan masing-masing. Perbedaan pandangan sudah pasti ada dan tidak akan pernah ada habisnya. Kalau kita terjebak untuk terus bertikai, maka para pemangsa itu akan semakin gembira.

    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    1. noval wijaya
      entah siapa sebenarnya yang Taqlid Buta dan tertutup mata hatinya dari kebenaran , Wahabiyyun atau Aswaja… ? sebab Rosulalla SAW tidak pernah memerintahkan Agar Tauhid dibagi, baik 2 maupun 3.

      orang yang pertama kali merumuskan dan membagi Tauhid adalah Ibnu Taymiyah yang hidup pada akhir abad ke tujuh , tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan pembagian Tauhid Bathil ini , baik dari Rosulallah SAW Sahabat Maupun tiga generasi terbaik Ummat ini. inilah Bidah dolalah yang sesungguhnya .

      kesimpulan , Wahabiyyun adalah maling teriak maling yang berkedok ” pengikut Salaf ” ketika Syubhat mereka terkuak maka mereka mengajak ” agar jangan Saling bertikai , Padahal pertikaian itu pertamakali Muncul dari Fihak mereka (wahabiyaun) dan mereka terus membangun tembok pemisah antar Muslimin ,mereka terus menebar Api permusuhan ditengah tengah Ummat Islam ,yang sesungguhnya sudah Hidup damai dalam perbeda`an 4 madzhab, hingga kemunculan Wahabiyyun.

  100. SAYAPRIBADI sepakat dgn pendapat anda yang mana anda ingin muslimin saling menguatkan,membantu,membela, mengisi kekurangan masing masing , ……namun pertanyaannya saya anda semdiri sebagai yang MENENTANG atau yang MENDUKUNG maulidan ????? salam

  101. Assalamualaikum
    Kalau saya pribadi sih pendukung Maulid :
    Imam Abu Syamah (guru Imam Nawawi) mengatakan : “Di antara perkara baik yang dilakukan pada zaman kami, yang dilakukan pada setiap tahun, pada hari yang bersamaan dengan hari maulid Nabi saw, dari perbuatan memberikan sedekah, melakukan kebajikan, dan melahirkan kegembiraan dan kesenangan. Maka sesungguhnya yang demikian, selain dapat melakukan kebaikan kepada fakir miskin di dalam majelis tersebut, juga diisi dengan rasa kasih terhadap Nabi saw, membesarkannya dan bersyukur kepada Allah swt atas kurniaanNya yang telah mengutuskan seorang Rasul yang diutuskan sebagai rahmat bagi sekalian alam.” Kitab Maulid Nabi Dalam Neraca Nabawi oleh Asy-Syeikh Muhammad Fuad bin Kamaludin Al-Maliki (yang dinukil dari kitab Hasyiah I’anah Al-Tolibin, jilid 3, oleh Al-‘Allamah Abu Bakar Utsman ibn Muhammad Syatto Al-Dimyati Al-Bakri).

    Berkata Ibnu Taimiyyah di dalam kitabnya bertajuk Iqtidha’ Sirat Al-Mustaqim
    “Begitu juga ada sebagian yang lain yang menyambut seperti : pendewaan orang-orang Nasrani pada hari lahir Nabi Isa as atau kecintaan terhadap Nabi saw dan mengagungkannya. Dan Allah swt ( jika dikehendaki ) memberi pahala atas kecintaan ini dan inisiatif nya dan bukan diberi pahala atas ragam amalannya yang baru ( bid’ah ).”

    Beliau berkata lagi di dalam kitab yang sama :
    “Membesarkan maulid Nabi saw dan menjadikannya sebagai suatu musim perayaan kadang-kala diadakan oleh sebagian manusia. Mengingatkan maksud yang baik dan tujuannya untuk memuliakan Rasulullah saw, adalah layak dalam hal ini mereka memperolehi ganjaran pahala yang besar.”

    Telah berkata Imam Asy-Syafi’i ra : “Siapa yang menghimpun saudaranya (sesama Islam) untuk mengadakan majelis maulid Nabi saw, menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan, dan dia menjadi sebab dibaca maulid Nabi saw itu, maka dia akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat bersama ahli siddiqin (orang-orang yang benar), syuhada dan solihin serta berada di dalam syurga-syurga Na’im.”

    Dari Firman Allah swt:
    Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.(Mumtahanah : 8)
    Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (Al A’raaf : 199)

    Dan tetaplah memberi peringatan, Karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.(Adz Dzariyat 51 : 55)
    Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki yang paling Utama”.
    Al Qasthalani menjelaskan bahwa “para malaikat berkeliling dimuka bumi dan mencari mejelis-majelis zikir yang selalu difungsikan untuk berzikir kepada Allah. Para malaikat itu membentangkan sayap-sayapnya disekitar orang-orang yang berzikir, memenuhi udara hingga ke langit dunia bahkan para malaikat itu berbaur melafalkan zikir kepada Allah bersama mereka”.

    Dari Mu’awiyah r.a. telah berkata, “bahwasanya Nabi s.a.w. pernah keluar menuju ke halaqah para sahabat Baginda s.a.w.. Lalu, Baginda s.a.w. bertanya (kepada para sahabat yang berhimpun tersebut): “Apa yang menyebabkan kamu semua duduk berkumpul?” Mereka menjawab: “Kami duduk untuk berzikir kepada Allah s.w.t., memujiNya terhadap nikmatNya takkala Dia memberi hidayah kepada kami dalam memeluk Islam…” sehinggalah sabda Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku dan memberitahuku bahwa Allah s.w.t. bangga terhadap kamu di hadapan para malaikatNya” (HR Muslim.)

    “Sesungguhnya, bagi malaikat itu, sekumpulan malaikat yang berjalan dalam mencari ahli zikir. Maka, apabila mereka (malaikat) mendapati satu kaum berzikir kepada Allah s.w.t., mereka (malaikat) akan berkata (kepada sesama para malaikat yang lain): “marilah segera kepada hajat kamu (apa yang kamu hajati)” Maka, mereka menaungi golongan yang berzikir (secara berjemaah tersebut) dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia…” Al-Hadis. (riwayat Al-Bukhari).

    Dari sinilah saya tetap mengadakan Maulidan, karena peringatan maulidan berisi zikrullah mengagungkan asma Allah, bukan mabuk-mabukan atau melakukan gibah jadi hati ini tetap berzikir dan selalu diingatkan akan kebesaran Allah swt dan diingatkan hidup didunia ini cuma paling 63 tahun, selebihnya hari kembali.
    Wassalam

  102. hilangin haawa nafsu….semua ulama sepakat bahwa perayaan maulid itu bidah ngak ada yang berbeda,,baik dari jaman dulu hingga sekarang

  103. HANYA SAJA MEREKA BERBEDA DALAM MENDEFINISIKANYA,ADA BIDAH HASANAH DAN ADA YG BILANG BIDAH DHOLALAH,TAPI PADA INTINYA MAULID ITU BIDAH (MUTAFAKIN ALIH)

  104. Mulai besok tidak usah pakai mobil, motor, sepeda, makan pakai sendok n garpu, shalat diatas sajadah, kasur yang empuk, perang pakai senpi n bom karena itu gak ada hadist yang paling shahih sekalipun, begitu ya…..

  105. @Ajam
    Saya minta tolong sekali lagi pertanyaan saya dijawab donk biar diskusi kita nyambung
    sunnah adalah :
    a. pekerjaan yang telah dicontohkan Nabi SAAW yang bila dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa. contohnya ajam udah tahu kan?
    b. pekerjaan yang tidak dicontohkan Nabi SAAW tetapi berdasarkan syariat bila dikerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa. contohnya seperti mandi pakai sabun, mengepel lantai, silaturrahmi dengan sms, belajar di sekolah pake AC, ngasih duren ke orang tua, dll..

    pertanyaan pertama
    menurut ajam definisi sunnah di atas itu yang benar yang mana :
    – a dan b benar
    – a yang benar

    Ajam bilang
    sebelumnya harus diuraikan dulu pengertian sunnah dalam segi bahasa, yakni “contoh” atau “kebiasaan”. sehingga yang dimaksud dengan sunnah hasanah fil islam adalah contoh/kebiasaan yang baik dalam syariat islam, sedangkan uyang dimaksud dengan sunnah sayyiah fil islam adalah contoh/kebiasaan buruk dalam syariat islam.
    =======================================
    Pertanyaan kedua
    saya minta contoh sunnah hasanah dan sunnah sayiah dalam kehidupan kita sehari-hari

    Pertanyaan ketiga
    termasuk ke dalam golongan manakah amalan2 seperti mandi pakai sabun, mengepel lantai, silaturrahmi dengan sms, belajar di sekolah pake AC, ngasih duren ke orang tua, dll..
    Pilih : a. sunnah hasanah
    b. sunnah sayiah
    c. tidak masuk ke a dan b karena merupakan amalan bid’ah

    Ajam berkata
    sunnah sayyiah bukanlah bid’ah, karena sunnah sayyiah mempunyai pengertian sesuatu yang sudah ada (contoh/kebiasaan) yang buruk,
    ======================================================================

    yang keempat
    apakah memakai narkotik atau sabu-sabu, ke diskotik joget-joget, termasuk sunnah sayiah

    1. Ajam , pertanyaan Abah Zahra sangat mudah lho cuma pilihan a, b , atau c inget pelajaran waktu dulu….. mudahkan…? aku juga ikut nunggu jawaban Ajam lho… ?

    2. maaf pada abah zahra, dikarenakan banyak pertanyaan tertuju pada saya, saya jadi sedikit hilang konsentrasi. baiklah, saya akan coba menjawabnya:

      anda bertanya:
      menurut ajam definisi sunnah di atas itu yang benar yang mana :
      – a dan b benar
      – a yang benar

      saya jawab:
      yang benar hanya a. poin a adalah salah satu definisi sunnah. adapun poin b saya masih bingung dengan dua hal:
      1) “tidak dicontohkan nabi tapi berdasarkan syariat”. dianggap berdasarkan syariat maksudnya berdasarkan apa? apakah karena ada perkataan, perintah, persetujuan atau isyarat dari rasulullah bahwa hal itu adalah syariat?
      2) yang anda anggap sebagai sunnah itu amalan mandinya atau pakai sabunnya? ataukah keduanya.

      ===================================================================================
      anda bertanya:
      saya minta contoh sunnah hasanah dan sunnah sayiah dalam kehidupan kita sehari-hari

      saya jawab:
      sunnah hasanah: sedekah, menolong nenek-nenek menyeberang jalan, mengembalikan dompet yang ditemukan di jalan dan lain-lain.
      sunnah sayyiah: mencuri, merampok, zina dan lain2.

      ===================================================================================
      anda bertanya:
      termasuk ke dalam golongan manakah amalan2 seperti mandi pakai sabun, mengepel lantai, silaturrahmi dengan sms, belajar di sekolah pake AC, ngasih duren ke orang tua, dll..
      Pilih : a. sunnah hasanah
      b. sunnah sayiah
      c. tidak masuk ke a dan b karena merupakan amalan bid’ah

      saya jawab:
      semuanya adalah sunnah hasanah.

      ===================================================================================
      anda bertanya:
      apakah memakai narkotik atau sabu-sabu, ke diskotik joget-joget, termasuk sunnah sayiah

      saya menjawab:
      benar, itu adalah sunnah sayyiah

  106. Ajam , berita hari ini Ulil Abshor abdalla mendapat peket Bom , yang kena malah Kompol dodi , mungkin yang mengirim paket Bom ini orang-orang yang mempunyai keyakinan yang sama dengan Ajam , bahwa : mereka menyamakan muslim yang jelas Ahli Tauhid dengan Kafir Musyrik.

    inilah bahanya pembagian ” Tauhid ” yang diajarkan Ibnu Taymiyah , para penganutnya rata-rata pada Jadi Teroris.

    1. silakan anda berkata seperti itu. Alloh lebih mengetahui kebenarannya.

      anda tidak pernah mau menjawab pertanyaan saya, maka beginilah jadinya anda, suka membuat kesimpulan ngawur seenaknya sendiri.

      coba sebutkan perkataan saya bahwa “muslim dan ahli tauhid itu sama dengan kafir musyrik”? atau bisakah anda membawakan perkataan saya yang asli?

    2. Ini pernyataan Ajam yang mempersamakan Muslinin dang Kafir Quresy. : ” saya mengatakan mereka mempunyai tauhid Rubbubiyah
      Ajam juga mengatakan : bahwa tauhid RUBBUBIYAH tidak cukup menjadikan mereka sebagai mukminin.
      Ajam juga juga mengatakan : ” anda menyebut saya telah MENGGELARI ORANG YANG DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA DENGAN GELAR “UMAT BERTAUHID RUBUBIYAH”.
      ternyata kbnarannya demikian, orang2 muyrik quroisy mengakui bahwa Alloh-lah pencipta, pnguaa, pngatur alam semesta dan lainnya.” .

      inilah pernyataan2 Ajam , yang kemudian perkataan perkataannya itu , ajam Ingkari sendiri.

      1. yang saya katakan “mereka bertauhid rubbubiyah”, yang anda tuduhkan “mereka ahli tauhid”. anda tidak bisa lihat perbedaan yang mencolok ini?

      2. ajam mengatakan : ” mereka (musyrikin quresy) bertauhid rubbubiyah ”

        orang Musyrik kok dibilang bertauhid gimana Ajam ini….? syirik dan tauhid itu tidak akan pernah bersatu Ajam , bisakah siang dan malam bersatu….? mungkin bisa dalam dunia khayal , sedang berkhayalkah engkau wahai saudaraku ajam…?

        1. anda benar2 tidak melihat perbedaan dari apa yang saya katakan dengan apa yang anda tuduhkan? Allohu akbar…

          begini mas ahmad. jika anda tuduh bahwa saya menganggap mereka ahli tauhid, itu artinya saya menganggap bahwa mereka bertauhid Rubbubiyah, Uluhiyah dan Asma wa shifat (semuanya, ketiganya, tidak luput satupun). sedangkan perkataan saya yang asli adalah mereka hanya bertauhid Rubbubiyah saja, tanpa diikuti Uluhiyah dan Asma wa Shifat.

          saya pernah katakan bahwa tauhid Rubbubiyah saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang sebagai mu’min, jika tanpa diikuti tauhid yang lain. sama seperti seseorang yang mengerjakan sholat, jika ia luput satu saja dari syarat dan rukunnya, maka gugurlah seluruh syarat dan rukun yang dikerjakannya.

          saya pernah bawakan atsar Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa ada sebagian “keimanan” pada diri mereka, apakah lantas itu artinya Ibnu Abbas menganggap mereka adalah seorang mu’min? tidak, karena syarat untuk dikatakan mu’min itu tidak cukup dengan pengakuan Alloh sebagai Rabb saja, namun harus diikuti dengan mengesakan Alloh dalam hal penghambaan, seperti niat, sujud, nazar, qurban, doa, istighozah, isti’anah, isti’adzah dan sebagainya.

        2. ajam mengatakan : sedangkan perkataan saya yang asli adalah mereka hanya bertauhid Rubbubiyah saja, tanpa diikuti Uluhiyah dan Asma wa Shifat.

          lantas bedanya Robb dan ilah itu apa kok mesti / Harus tiga Tauhid.. ?

          1. Allohu akbar, ada apa dengan orang ini ya Alloh???

            sebaiknya anda lihat kembali postingan saya sebelumnya. saya capek nuli2 lagi

          2. Ajam, ini salahnya teori pembagian tauhid jadi tiga yg nt pegang kuat-kuat, jadinya ente pegel ati sendiri ketika menghadapi hujjah Mas Syahid. Dari sejak zaman Awal sejarah Islam tidak ada penyebutan kaum kafir Quresy itu sebagai orang2 yg bertauhid rububiyah, kecuali itu dipopulerkan istilahnya oleh Ibnu Taymiyah. Lebih jelasnya bahwa pembagian tauhid tiga itu benar-benar bid’ah dholalah. Teori Pemabagian Tauhid ini sangat merugikan bagi orang2 yg telah bersyahadatain, tetapi menguntungkan bagi orang2 kafir musyrik. Paham ente, Jam?

          3. silakan saja, ahmad kan emang rekan anda. jadi saya sama sekali tidak heran jika anda mendukung dan membela dia betapapun anehnya dia.

          4. jam , yang namanya kesesatan mau di bela kayak apapun tetep ajam tidak akan bisa merubahnya menjadi kebaikan , pembagian tiga Tauhid itu Bid`ah dolalah , makanya ajam tidak bisa , dan tidak akan pernah bisa membuktikan jika itu bukan kesesatan , apa ruginya sih menerima dan mengakui kesalahan…? bahkan beruntung lho yang yang mau menerima kesalahan dan kekeliruannya , dia bisa sadar dan tobat , semoga ajampun bisa sadar dan tobat. amien.

          5. itu karena ketidakmampuan anda memahami perkataan orang. akibatnya selalu alah menyimpulkan, tidak mau menyimak perkataan orang, menghindar dari pertanyaan penting, dan sebagainya.

          6. he he he…. enak gampang banget jawabnya ya?

            Eh, setelah saya telusuri ternyata tidak ada, wah aku ditipu Ajam, he he he ….

  107. @All Aswaja,
    Sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh Ajam dan kelompok Wahabi itu, adalah bahwa Musyrikin qurais itu mengakui Allah sebagai Rabb tetapi mengakui yang lain sebagai Illah. Maka yang jadi pertanyaan besar atas pernyataan ini adalah kenapa bisa kaum musyrikin itu meyakini Allah sebagai pencipta mereka dan pemelihara mereka tetapi justru mereka menyembah yang lain? Apa maksud dan tujuan kaum musyrikin itu menyembah Selain Allah? Sekarang, kalau ada sesorang menyembah tuhannya, untuk apakah itu ? maka kalau kita berpikir secara sehat, tentulah kita bisa menjawabnya bahwa tujuannya antara lain adalah termasuk tercapainya keinginan, perlindungan, pemeliharaan, mendapatkan rezeki dan hal-hal lain yang berhubungan dengan Rabb. Lalu bagaimanakah bisa dipisahkan antar Rab dan Illah, kalau tujuan mereka mengakui sesuatu sebagai Illah dan beribadah kepadanya adalah juga untuk sesuatu yang berhubungan dengan Rabb, lalu bagaimana bisa Illah dan Rabb terpisah secara langsung dalam keyakinan dan perbuatan? maka yang harus diakui secara akal sehat bagi kita adalah bahwa besar atau kecil, banyak atau sedikit kaum musryikin itu mengakui juga bahwa Illah mereka adalah Rabb mereka juga. Maka jawaban kelompok wahabi yang akan mereka katakan adalah bahwa Kaum Musyrikin itu menjadikan sesembahan mereka atau Illah mereka bertujuan sebagai perantara mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah atau memohon sesuatu yang berhubungan dengan tugas Rabb melalui penyembahan atau mengillahkan sesuatu yang lain yang mereka yakini bisa menyampaikan permohonan mereka kepada Allah. Dengan mengambil kisah bahwa latta dan Uzza serta sesembahan mereka yang lain adalah orang-orang yang saleh sepinanggal mereka, maka kelompok Wahabi memakai beberapa persamaan ini untuk memusyrikkan tawasul kaum muslimin melalui orang-orang saleh yang telah wafat. Maka sekarang yang lebih penting didiskusikan adalah benarkah sama apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin qurais dengan Kaum muslimin yang bertawasul ? maka insyaallah ini yang akan saya diskusikan. Masalah Pemisahan Illah dan Rabb saya rasa telah selesai, maka titik persoalannya adalah hal ini.

    1. pertanyaan anda sebenarnya telah saya jawab, namun tidak ada salahnya saya mengulangi lagi jawaban saya itu.

      mereka (kaum musyrikin) mengakui bahwa Alloh sebagai Rabb pencipta bumi dan langit, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan manfaat dan mudhorot dan sebagainya. akan tetapi mereka menjadikan selain Alloh, seperti Latta dan Uzza, patung, pohon, kuburan dan lainnya sebagai Ilah (sesembahan). kenapa demikian?

      jawabnya adalah bahwa mereka menganggap semua itu (apa yang mereka sembah) bisa mendekatkan diri mereka kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya. dengan kata lain, mereka menjadikan semua itu (apa yang mereka sembah) sebagai sarana/wasilah/perantara/syafaat antara dirinya dengan Alloh.

      “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS Az Zumar 3)

      Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS Yunus 18)

      1. Sedikit tapi juga sudah saya jawab, Masalah Tawasul atau menjadikan sesuatu sebagai perantara adalah seuatu yang disyariatkan sebagaimana ayat Al Quran, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, ” (Al-Maidah:35).
        Sesungguhnya besarlah perbedaan antara apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin dengan kaum muslimin dalam bertawasul. Dari ayat-ayat AlQuran telah jelas bahwa Kaum musyrikin itu menyembah kepada Ilahnya bukan sekedar bertawasul kepada Allah, dan mereka (kaum musyrikin) itu melakukan hal tersebut dengan ketundukan dan penghambaan kepada illahnya, dimana seperti yang pernah saya katakan bahwa mereka sedikit ataupun banyak menganggap Illah mereka sebagai Rabb. Adapun kaum muslimin dalam bertawasul adalah sebagai bentuk meminta penyampaian permohonan melalui permohonan dan doa orang saleh agar permohonannya dikabulkan oleh Allah tanpa penghambaan kepada sarana tawasul serta beritikad semua itu tergantung kepada kehendak dan kekuasaan Allah.

          1. Bisa anda sebutkan contoh dan letak bidahnya….?
            terus apakah sesuatu yang anda hukum bidah bisa menjadi hukumnya musyrik? apakah anda tidak bisa membedakan antara bidah dan musyrik?

          2. disebut syirik karena telah jelas disebutkan dalam QS Az Zumar 3 bahwa orang2 yang menjadikan selain Alloh sebagai pelindung mengakui bahwa mereka menyembah pada thoghut2 itu dalam rangka untuk MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH dengan sedekat-dekatnya, bukan karena meyakini thoghut itu mempunyai kekuasaan independen.

            inilah tawasul mereka yang serupa dengan tawasul kalian.

          3. Ya, begitulah dalih mereka, oleh karena itulah Allah mengatakan mereka sebagai Orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. Karena mereka sesungguhnya menganggap pelindung-pelindung itu memberikan perlindungan secara independen. Coba anda simak kalimat ini lebih baik : Dan orang-orang yang mengambil PELINDUNG SELAIN ALLAH. maka inilah penegasan dari Allah, karena pelindung mereka adalah Illah mereka, maka orang yang mengambil pelindung selain Allah berarti mengakui Pelindung mereka adalah Rabb mereka. Maka yang mereka sembah adalah pelindung mereka yang juga Rabb mereka. terlepas tujuan mereka menjadikan sesuatu sebagai pelindung, maka meminta perlindungan kepada selain Allah adalah mengakui ada Rabb selain Allah. lalu bagaimana bisa menjadi sama dengan kami? Naudzubillah.

          4. persoalannya ada pada kalimat “MEREKA MENGAMBIL PELINDUNG SELAIN ALLAH”, sehingga anda berpikir bahwa mereka menganggap thoghut itu mempunyai kekuasaan independen untuk melindungi mereka.

            kita uraikan dulu satu per satu.
            1) mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb.
            2) mereka mengira thoghut itu dapat memberi syafaat.
            3) syafaat adalah perantaraan pada seseorang untuk mendatangkan mafaat atau menghindarkan mudhorot.

            dengan demikian, maksud dari kalimat “MEREKA MENGAMBIL PELINDUNG SELAIN ALLAH” adalah mereka mengira bahwa Allah akan memberikan perlindungan kepada mereka dengan perantaraan thoghut tersebut.

            tujuan utama mereka adalah meminta perlindungan kepada Alloh, karena mereka mengkui Rubbubiyah Allah. hanya saja, cara yang mereka tempuh adalah dengan menjadikan thoghut itu sebagai Ilah, karena mereka mengira thoghut itu bisa mendekatkan diri mereka kepada Alloh atau bisa memberi mereka syafaat/perantaraan kepada Alloh.

          5. anda katakan : dengan demikian, maksud dari kalimat “MEREKA MENGAMBIL PELINDUNG SELAIN ALLAH” adalah mereka mengira bahwa Allah akan memberikan perlindungan kepada mereka dengan perantaraan thoghut tersebut.
            perkataan anda ini absurd dan kontradiktif. kalau meraka bertujuan meminta perlindungan dari Allah ya berarti mereka mengambil Allah pelindungnya dong, yang benar sebelumnya mereka sudah punya pelindung yaitu berhala yang mereka sembah itu. Firman Allah, mereka mengambil pelindung selain Allah menunjukkan keyakinan mereka. Sekarang saya minta anda tunjukkan dimana mauk akalnya kalau artinya atau arah pernyataan anda jadi begini : bahwa mereka menjadikan pelindung SELAIN Allah agar dilindungi Allah, maka jadi kontradiktif kan? kecuali kalau ayatnya berbunyi mereka mencari perlindungan sebagai perantara perlindungan Allah.

          6. kan sudah diuraikan:
            1) mereka mengakui Alloh sebagai Rabb. (dalilnya banyak sekali)
            2) mereka mengira thoghut itu bisa memberi mereka syafaat/mendekatkan diri kepada Alloh.
            3) syafaat sendiri artinya perantaraan.

            saya punya qiyas seperti ini. si A ingin melamar anaknya B. B mempunyai hubungan yang dekat dengan C. maka A memberikan banyak hadiah pada C agar C mau memerantarai A pada B agar lamarannya diterima.

          7. Qiyas yang anda itu menjadi tidak benar karena Allah telah mengabarkan “mereka mengambil pelindung selain Allah”. kata-kata SELAIN ALLAH, telah menutup kemungkinan lain. Mungkin maksud anda mereka menyangka meminta perlindungan Allah melalui perantara thogut tetapi ternyata menurut Allah itu adalah mengambil Pelindung selain Allah. Maka sudah jelas meminta syafaat atau perlindungan kepada orang yang dekat kepada Allah sebagai perantara perlindungan Allah adalah hal wajar dan tentulah Allah tidak perlu menyatakan bahwa mereka mengambil pelindung SELAIN Allah. Maka kalau anda simak lebih jauh yang dicela oleh Allah adalah penyembahan mereka terhadap thogut, bukan masalah menjadikan thogut sebagai perantara.

          8. Oh iya, saya juga mau tanya…. kenapa Allah katakan mereka pendusta dan sangat ingkar, apakah yang mereka katakan atau lakukan sehingga mereka dikatakan pendusta, maka perkataan dan perbuatan mereka yang dusta itu yang mana ? apakah karena perkataan mereka yang mengaku rubbubiya Allah, tapi dianggap dusta atau karena mereka berkata mereka menyembah tak lain selain sebagai perantara, atau yang lain yang tidak ada hubungannya dengan perkataan dan perbuatan mereka seperti yang tersebut dalam ayat tersebut?

          9. “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki ORANG-ORANG YANG PENDUSTA dan sangat ingkar.” (QS Az Zumar 3)

            Disini Allah menjelaskan bahwa keyakinan kaum musyrikin bahwa sesembahan mereka bisa memberi manfaat dan mudharat adalah keyakinan yang sia-sia.
            Lalu mereka berdalih, bahwa itu hanya sebagai pemberi syafaat, Maka Allah Maha Tahu yang sebenarnya :
            Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS Yunus 18)

  108. Kalaulah seandainya kaum musyrikin itu benar-benar menyembah selain Allah untuk sekedar sebagai perantara, lalu mengapa dalam surat Yunus itu Allah tidak mengatakan bahwa sesungguhnya sesembahan mereka itu tidak bisa dijadikan perantara, Allah justru mengatakan bahwa “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan” hal ini tentulah karena sedikit ataupun banyak mereka menganggap illah mereka dapat memberi manfaat atau mudharat, terlepas dari kekuasaan Allah, bahkan mereka pada beberapa segi menjadikan sesembahannya sebagai tandingan bagi Allah. Wallahualam.

    1. dalam QS Yunus 18 disebutkan bahwa mereka mengira thoghut itu bisa memberi mereka syafaat. bukankah syafaat sendiri bermakna perantaraan pada seseorang untuk mendatangakn manfaat atau menghindarkan mudhorot?

      lalu Alloh membantah apa yang mereka sangkakan itu dengan berfirman: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?”.

  109. Mohon maaf, saya tidak bisa melanjutkan diskusi malam inilebih lanjut, karena ada sesuatu dan lain hal, termasuk jaringan yang lelet, besok bisa kita lanjutkan. terima kasih. wassalam.

  110. Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS Yunus 18)

    mereka menyembah thoghut itu karena mereka mengira thoghut itu bisa memberi syafa’at kepada mereka. syafa’at sendiri adalah usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain.

    jika dikompromikan dengan ayat2 lain tentang pengakuan mereka bahwa Alloh adalah Rabb yang menciptakan, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan manfaat dan mudhorot dan sebagainya, maka akan kita dapati kesimpulan sebagai berikut:

    1) mereka meyakini bahwa manfaat dan mudhorot itu datangnya dari Alloh, bukan dari thoghut yang mereka sembah.
    2) mereka mengira bahwa thoghut itu mampu memberi syafa’at atau perantara antara diri mereka dengan Alloh sehingga mereka mendapatkan manfaat dan menghilangkan mudhorot dari Alloh.

    1. beginilah jadinya jika pertanyaan Ajam soal dukun santet dijawab , makanya dari awal saya tidak ingin dulu menjawab pertanyaan Ajam , sebab inti diskusinya adalah Soal pembagian Tauhid Ala Ibnu Taymiyah , bukan soal dukun Santet.

      pertanyaan Ajam itu hanya untuk mengalihkan pokok bahasan diskusi kepada hal lain , karena memang Ajam tidak pernah dan tidak akan pernah menemukan Per bedaan esensi makna Rob dan Ilah , inilah cerdiknya Ajam dalam mengecoh dan mengalihkan patner diskusi , ketika ajam tidak mampu menjawab pertanyaan patner diskusinya.

      pokok bahasan dibuatnya kabur dan Bias, ketika dia tidak mampu mempertahankan Hujjah dan Argumennya , bahka Tauhid Bathil yang dibelanya itu sama sekali tidak tersentuh dalam bahasan berikutnya setelah pertanyaan sisipannya itu dijawab.

      sungguh cerdik Ajam mengecoh dan mengalihkan pembicaraan , hanya saja bagi saya tetap menunjukkan , Jika Ajam tidak ingin mencari kebenaran , dia tetap membela Tauhid Bathil yang diajarkan Ibnu Taymiyah, meskipun Tanpa Hujjah tanpa dalil , dia lebih mengikuti faham sesat Ibnu Taymiyah ketimbang mengikuti Qur`an dan Sunnah , Astaghfirullahal Adzim.

      1. kenapa saya membahas perdukunan? karena kesyirikan mereka hampir sama dengan kesyirikan kaum musyrikin quroisy. musyrikin quroisy dan dukun santet itu sama2 masih mengakui Alloh sebagai Rabb, namun mereka menjadikan selain Alloh sebagai Ilah.

        anda terlalu banyak berimajinasi dan berkhayal sehingga muncul kesimpulan2 yang ngawur dan aneh. anda juga tidak pernah menyimak posting saya sehingga seringkali saya harus mengulang2 postingan.

      2. OK, saya punya pertanyaan yang mungkin paling cocok ditanyakan kepada anda.

        anda pernah mengatakan bahwa lafadh Rabb dan Ilah itu sama saja, tidak ada perbedaan. dengan demikian, seandainya dalam ayat2 Alquran yang menyebutkan lafadh Rabb kita ganti dengan lafadh Ilah, ataupun sebaliknya, maka seharusnya tidak akan merubah makna. BENAR atau SALAH?

        misalnya QS Al Hijr 99: “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang yang diyakini (ajal)”. jika kita ganti dengan “Dan sembahlah Ilahmu sampai datang yang diyakini (ajal)” tidak akan berubah maknanya.

      3. ajam mengatakan : kenapa saya membahas perdukunan? karena kesyirikan mereka hampir sama dengan kesyirikan kaum musyrikin quroisy.

        berarti menurut ajam ada beberapa kesamaan antara dukun bersyahadat dengan kaum Musyrik quresy , bisa ajam menyebutkan titik2 persamaannya apa saja….?

        (sebenarnya belumsaatnya membahas ini , nanti keluar lagi dari topik pembahasan)

        adapun permisalan ajam soal QS Al Hijr 99: “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang yang diyakini (ajal)”. jika kita ganti dengan “Dan sembahlah Ilahmu sampai datang yang diyakini (ajal)” tidak akan berubah maknanya.

        berarti menurut Ajam maknanya akan berubah , bisa ajam menjelaskan perubahannya maknanya seperti apa… ?

        1. sudah saya katakan, namun lagi2 anda tidak menyimak. tolong dihilangkan kebiasaan buruk yang atu ini.

          saya katakan bahwa kesamaan antara dukun dengan muyrikin quroiy adalah:
          1) mereka mengakui bahwa Alloh adalah Rabb.
          2) mereka menjadikan selain Alloh sebagai Ilah

          ====================================

          ada perbedaan jika dalam ayat terebut lafadh Rabb diganti dengan lafadh Ilah.

          kenapa seruan itu adalah seruan untuk menyembah pada Rabb adalah karena mereka yang diseru itu udah mengakui bahwa Alloh adalah Rabb mereka. sehingga dengan demikian, menyeru untuk menyembah pada Rabb artinya adalah menyembah pada Alloh.

          kenapa tidak diserukan untuk menyembah pada Ilah adalah karena mereka yang diseru itu menjadikan selain Alloh sebagai Ilah, seperti patung, pohon, kuburan dan lainnya. sehingga dengan demikian, menyeru untuk menyembah pada Ilah adalah sama artinya dengan menyeru mereka untuk menyembah patung, pohon, kuburan dan lainnya.

        2. ajam mengatakan : saya katakan bahwa kesamaan antara dukun dengan muyrikin quroiy adalah:
          1) mereka mengakui bahwa Alloh adalah Rabb.
          saya tanya : apakah Musyrikin quresy juga mengucapkan dua kalimat syahadat… ?

          2) mereka menjadikan selain Alloh sebagai Ilah
          maksud menjadikan selain Allah ilah itu apa jam… ?

          1. Ajam, ajam…. seharusnya ajam bisa memahami permasalahan ini lebih menyeluruh dan bukan hanya sibuk membedakan Rabb dan Illah. Apapaun perbedaan Illah dan Rabb menurut Ajam,dan apapun perbuatan Musyrik Qurais menurut Ajam, maka Allah telah mengecam dan mengkritik perbuatan mereka dan mengatakan dalih mereka, pengakuan mereka bahwa Rabb mereka adalah Allah hanyalah dusta, karena Allah selalu bertanya, mengapa mereka tidak bertakwa?, mengapa mereka bisa berpaling? maka dalih mereka bahwa mereka menyembah Illah untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah dalih yang absurd, dan tidak masuk diakal, maka sungguh heran dengan Ajam yang percaya dengan pernyataan musryrik Qurais sedangkan Allah sendiri mengatakan pernyataan mereka itu adalah pernyataan yang absurd.

          2. Oh iya mohon juga dijawab apakah Kaum Qurais yang mengambil Pelindung selain Allah itu berarti tidak mengambil Illah mereka juga sebagai Rabb? terus bagaimana pertanyaan saya tentang Musyrik Qurais yang memerangi kaum muslim, apakah hanya karena kaum muslim mempunyai Illah yang berbeda tapi mempunyai Rabb yang sama, lalu kepada Rabb yang mana musyrik Qurais itu meminta pertolongan, kepada Allah Rabb yang mereka perangi atau kepada Latta dan Uzza? ?

          3. Ibnu Jarir Ath Thobari berkata:

            “Perkataan tentang tafsir firman Allah
            “Dan Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya) (QS Al-’Ankabuut : 63)”

            Allah berkata kepada NabiNya Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- : Jika engkau –wahai Muhammad- bertanya kepada mereka yaitu orang-orang yang muyrik kepada Allah dari kaummu “Siapakah yang menurunkan air dari langit –yaitu air hujan yang Allah turunkan dari awan-, lalu dengan air tersebut Allah menumbuhkan bumi dengan menumbuhkan tumbuhan??…”

            Sungguh mereka (kaum musyrikin Arab -red) akan menjawab : Allahlah yang telah melakukan semua itu”…

            Maka karena kebodohan mereka, mereka menyangka bahwasanya dengan ibadah yang mereka lakukan kepada sesembahan-sesembahan mereka selain Allah maka mereka akan meraih kedekatan di sisi Allah. Mereka tidak tahu bahwasanya dengan ibadah mereka tersebut menyebabkan kebinasaan mereka, menjadikan mereka kekal di dalam api neraka” (Tafsir At-Thobari 18/439)

            dari perkataan Ibnu Jarir tersebut dapat kita ambil 2 poin penting:

            1) mereka mengakui Alloh sebagai Rabb
            2) penyembahan mereka kepada thoghut itu karena mereka mengira thoghut itu bisa menjadi perantara antara diri mereka dengan Alloh

            tidak disebutkan sama sekali, dalam ayat manapun maupun al hadits bahwa mereka meyakini thoghut itu mempunyai kekuasaan independen.

            Al Hafidh Ibnu Katsir berkata:
            Sering kali Allah menetapkan uluhiyyahNya dengan (berdalil dengan) pengakuan (kaum musyrikin) tehadap rububiyyahNya. Kaum musyrikin Arab mengakui rububiyyah Allah, sebagaimana mereka berkata dalam talbiyah mereka : “Kami memenuhi panggilanMu Ya Allah, tidak ada syarikat bagimu, kecuali syarikat milik-Mu yang Engkau memilikinya dan dia tidak memiliki apa-apa” (Tafsiir Al-Qur’aan Al-’Adziim 10/528)

            perhatikan bacaan talbiyah kaum musyrikin. mereka mengakui bahwa syarikat Alloh (thoghut) itu adalah milik Alloh dan tidak memiliki apapun. artinya mereka meyakini bahwa thoghut itu sama sekali tidak mempunyai kekuasaan independen.

          4. Apa yang anda tulis mengutip tafsir Ath Thobari itu menjelaskan bahwa mereka, musyrikin arab itu mengaku meyakini rubbubiyah Allah (namun tidak bisa dikatakan tauhid rubbubiya), maka tafsir itu tidak menjelaskan bahwa pengakuan mereka atas rubbubiyah Allah itu tidak bercampur dengan kesyirikan. Sedangkan tafsir Ibnu Katsir menjelaskan pengakuan melalui perkataan musyrikin arab, tetapi apakah beliau menjelaskan kalau perkataan tersebut juga perbuatannya? karena perbuatan musyrikin Qurais itu bisa berbeda dengan perkataannya.

          5. saya katakan mereka mengakui Rubbubiyah Alloh bukan berarti otomatis saya mengingkari kesyirikan mereka. sudah saya katakan bahwa letak kesyirikan mereka adalah pada menjadikan selain Alloh sebagai Ilah, bukan sebagai Rabb.

            kalo mereka menjadikan selain Alloh sebagai Rabb, tentunya mereka akan mengakui bahwa thoghut itu mempunyai kekuasaan independen (seperti yang anda istilahkan). namun kenyataannya tidak ada ayat Alquran atau Alhadits yang menunjukkan hal seperti itu.

            tentang perkataan Ibnu Katsir, bukankah sudah jelas bahwa lisan mereka mengakui Alloh sebagai Rabb dan lisan mereka juga mengingkari thoghut itu mempunyai kekuasaan independen.

            namun perbuatan mereka tidak mengikuti pengakuan mereka. kalo mereka mengakui bahwa Alloh yang menurunkan hujan, kenapa tidak meminta hujan pada Alloh? kalo mereka mengingkari bahwa thoghut itu tidak bisa menurunkan hujan, kenapa malah meminta hujan kepadanya?

          6. kata anda : namun perbuatan mereka tidak mengikuti pengakuan mereka.
            apa itu namanya ? munafik.tapi bisa kita ambil kesimpulan lebih jauh bahwa hakikatnya bisa terjadi seperti itu karena pengakuannya hanya dimulutsaja tetapi hatinya belum yakin seyakin-yakinnya. karena perkataan bisa dusta, sedangkan perbuatan yang jelas-jelas nyata adalah berasal dari keyakinannya.

  111. @ajam dkk

    Tolong katakan sejujurnya di forum ini, apakah Shalahuddin al Ayyubi seorang panglima tentara muslim pada perang Salib yg berhasil merebut Yerusalem dari pasukan salib itu tokoh ahli bid’ah karena yg memulai peringatan maulid Nabi secara besar2an.

      1. Tanya dalil apalagi ini? Inilah pertanyaan salah kaprah, lha ini sejarah pun diminta dalilnya. Dalilnya kan tinggal buka catatan sejarah, gitu aja kok pakai tanya dalil.

        1. yah, kalo orang makanan sehari-harinya cuman dongeng, maka beginilah jawabannya jika ditanya dalil.

          jika itu adalah fakta, seharusnya ada bukti/dalil. mana buku sejarah yang menyebutkan bahwa Al Ayubi perintis maulid nabi?

          kalo tanpa bukti, saya pun bisa mengatakan bahwa A membunuh B, X membunuh Y, dan sebagainya.

          1. Jam, Jam…. minta bukti melulu ente kerjaannya. Ane ingat beberapa hari yg lalu nt minta bukti referensi Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafy Wahabi”, udah ane kasih referensinya ada 120 buku plus 42 media massa, mana tanggapan ente? nt gak percaya buku tsb karena menurut nt gak ada rujukannya, eh setelah dikasih tahu nt membisu aja tanpa tangggapan atau paling tidak nt punya niatan untuk memburu buku tsb. Tapi emang dasarnya hati sudah tertutup mau bilang apalagi ane selain pasrah kepada Allah Swt? Ane anjurkan kepada nt berdo’alah dg tulus ikhlas: “Allohumma Rabbana laa tuziq qulubana….” semoga hati tidak dikunci oelh Allah Swt, sehingga dapat menerima kebenaran.

  112. @ajam
    Terima kasih ajam udah menjawab pertanyaan saya.. sekarang kita lanjutin diskusinya yuk….

    kita bahas jawaban ajam satu-satu

    untuk pertanyaan yang pertama, saya heran, kenapa ajam bingung menjawabnya…justru saya yang mau tahu pendapat ajam. Apa yang ajam rasakan/fikirkan waktu ajam mandi pakai sabun, mengepel lantai, silaturrahmi dengan sms, belajar di sekolah pake AC, ngasih duren ke orang tua, dll..? Apakah menurut ajam berpahala? Apakah menurut ajam berdosa karena amalan2 bid’ah ( amalan baru yang tidak dicontohkan Nabi SAAW )? Atau apa ?

    untuk pertanyaan kedua, makin terlihat kontradiksi ajam… ajam langsung setuju bahwa amalan baru / bid’ah berupa membantu nenek menyeberang jalan, dan mengembalikan dompet adalah amalan sunnah yang bila dikerjakan berpahala, tetapi di pertanyaan pertama kenapa ajam bingung memasukkan amalan baru / bid’ah mandi pakai sabun, mengepel lantai, silaturrahmi dengan sms, belajar di sekolah pake AC, ngasih duren ke orang tua, dll..ke dalam amalan sunnah yang berpahala?

    untuk pertanyaan ketiga, ajam mulai tidak bingung lagi memasukkan amalan baru / bid’ah seperti mandi pakai sabun, mengepel lantai, silaturrahmi dengan sms, belajar di sekolah pake AC, ngasih duren ke orang tua, dll sebagai amalan sunnah yang berpahala

    untuk pertanyaan keempat, ada kontradiksi lagi, ajam berkata bahwa sunnah sayyiah bukanlah bid’ah, karena sunnah sayyiah mempunyai pengertian sesuatu yang sudah ada (contoh/kebiasaan) yang buruk, amalan yang sudah ada, tetapi ajam bilang kalo amalan baru/ bid’ah seperti memakai narkotik atau sabu-sabu, ke diskotik joget-joget, termasuk sunnah sayiah, padahal amalan2 tersebut adalah amalan baru.

    Kesimpulan :
    Dari uraian di atas, jelas sudah bahwa yang dimaksud amalan sunnah itu mencakup amalan yang sudah dicontohkan oleh Nabi SAAW maupun amalan baru yang tidak dicontohkan. Hal ini juga berlaku pada arti dari frase sunnah hasanah dan sunnah sayiah pada hadits “man sanna sunnati” juga mencakup amalan baru yang tidak dicontohkan oleh Nabi SAAW.

    ajam setuju ga dengan kesimpulan saya ??

    1. mandi pake sabun itu adalah sunnah pada sisi “mandi”-nya, bukan pada “pakai sabun”-nya. pahalanya pun ada pada “mandi”-nya bukan pada “pakai sabunnya”-nya. jadi jika seseorang mandi tidak pakai sabun, bukan ia masih tetap dianggap mengerjakan sunnah dan tidak kehilangan pahalanya.

      adapun tentang menyeberangkan nenek di jalan, saya katakan itu adalah sunnah hasanah dalam segi bahasa. sama seperti hadits man sanna sunnatan, dimana sunnah yang dimaksud adalah sunnah dalam segi bahasa yakni contoh/kebiasaan. dengan demikian, menyeberangkan nenek di jalan adalah suatu “contoh/kebiasaan yang baik”. apakah saya telah keluar dari pemahaman sunnah hasanah karena jawaban di atas?

      adapun tentang mandi pakai sabun dan lainnya saya katakan bahwa itu termasuk sunnah hasanah juga dalam segi bahasa, yakni suatu contoh/kebiasaan yang baik. bukankah mandi, mejaga keberihan, silaturrahim, memberi hadiah adalah suatu yang baik.

      adapun tentang narkoba, saya katakan bahwa itu adalah sunnah sayyiah karena memang merupakan contoh/kebiasaan yang buruk. apakah anda tidak setuju bahwa narkoba merupakan contoh/kebiasaan yang buruk?

      kesimpulan saya: anda tidak memahami definisi sunnah secara menyeluruh dan tidak memahami arti sunnah dari segi bahasa. anda samakan sunnah dalam pengertian syar’i dengan sunnah dalam pengertian lughoh, maka ranculah pemikiran anda.

    2. abah zahra maaf sedikit ikutan

      saudaraku ajam mengatakan : mandi pake sabun itu adalah sunnah pada sisi “mandi”-nya, bukan pada “pakai sabun”-nya. pahalanya pun ada pada “mandi”-nya bukan pada “pakai sabunnya”-nya.

      ajam apakah sebelum Roaulallah SAW diutus , Manusia tidak ada yang pernah mandi sehingga ajam mengatakan pernyataan cerdas seperti diatas… ? waduh ajam jadi ahli sejarah baru….. ya ajaaam , ya ajaaam , ya ajaaam.

      1. kalau mandi sunnah nabawiyah , berarti Kafir , musyrik bahkan atheis pun dapet pahala donk… udah ngerjain sunnah…ah yang bener aja Jam…?

        1. logika anda benar2 aneh. apakah kalo orang kafir mengerjakan amalan syariat islam, lantas dia akan mendapatkan pahala ebagaimana yang didapatkan apabila dikerjakan leh seorang mu’min?

          apakah kalo orang kafir bersedekah dia akan mendapatkan pahala? atau anda akan mengingkari sunnahnya bersedekah?

          1. Yang ganjalan buat ane, apakah ada orang kafir yg mau menjalankan amalan syare’at semisal sodaqoh? Kalau sekedar memberi sesuatu kepada orang lain sih banyak, tapi kalau sodaqoh tentunya beda, sebab Sodaqoh hanya bisa syah jika dia muslim, juga harus ada niatnya.

            Tapi kalau mandi sih bisa dilakukan oleh siapa aja, baik kafir atau musyrik, sebab mandi adalah kebutuhan rutin manusia, atau itu kebiasaan manusia pada umumnya, seperti halnya makan, hubungan suami istri, dll.

          2. saya tidak membahas sodaqoh itu sah atau tidak. yang menjadi peroalan adalah kalo ada orang kafir bersodaqoh, apakah dia akan mendapatkan ganjaran sama dengan seorang mu’min?

            kalo mengikuti logika ahmad, seharusnya IYA.

        2. He he he…. Ikut tersenyum Mas Syahid. Giring terus Mas, soal apakah Ajam akan dapat Hidayah itu urusan Allah Swt. Atau mungkin akan menurunkan hidayah bagi yg lainnya yg menyimak diskusi ini, amin….

      2. yang aneh itu Logika ajam , masa :
        kalau mandi bukan sunnah nabawiyah, berarti nabi tidak pernah mandi dong?
        logika apa ini jam…?
        ajam , mandi itu `Adah atau kebiasaan , hanya bisa bernilai Ibadah (sunnah) jika dibarengi dengan Niat , pernah baca kan Hadist : Inamal A`malu binniyyat… ? ini lho yang menjadi dasar , jadi bukan mandinya , bukan pula Sabunnya Tapi Niatnya , fahamkan hadist ini , ada di arbain nawawiyah hadist no 1.

        kata2 ajam selanjutnya perlu dibahas enggak jam…?

        1. salah satu definisi sunnah itu kan segala sesuatu yang diperintahkan, dikerjakan, diucapkan, disetujui dan diisyaratkan oleh nabi. kalo mandi bukan sunnah, apakah mandi tidak pernah diperintahkan, dikerjakan, diucapkan, disetujui dan diisyaratkan oleh nabi?

          atau anda memang tidak mengerti definisi sunnah?

          kemudian, anda katakan sesuatu itu dianggap sunnah dengan adanya niat. saya tanya, apakah cukup dengan niat baik saja menjadikan suatu malan itu menjadi sunnah?

          1. Yah, berati Ajam ini emang gak paham, harus sabar nagdepin orang gak paham, mas Syahid.

            Sudah Mas-mas semuanya, ane mau tidur aja ah, ngantuk lihat Ajam gak paham-paham, he he he….

        2. ajam , apa dalilnya jika ” mandi ” adalah Sunnah…? fir`aun juga mandi kan.. ?

          yang membedakan itu ” Niat ” Jam , tanpa niat yang shalihah maka perbuatan kebiasaan ya tetp kebiasaan tidak bisa menjadi amal Ibadah , bahkan Hijrah sekalipun jika tidak dibarengi dng niat yang shalihah (sesuai) ya Fa Hijrotuhu ila ma Hajara Ilaihi , hijrahnya tidak bernilai Ibadah, kekeliruan itu jangan dipertahankan lah jam , nantinya bisa semakin tersesat .

          1. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dirinya.” (QS Al-Baqarah: 222).

            “Sesungguhnya Allah itu Baik dan menyukai kebaikan; (Allah) Bersih dan menyukai kebersihan, (Allah) Pemurah dan senang pada kemurahan hati, (Allah) Dermawan dan senang kepada kedermawanan”. (HR. Tirmudzi).

            Aisyah RA berkata,”Ketika mandi janabah, Nabi SAW berwudhu seperti wudhu’ orang shalat (HR Bukhari dan Muslim)

            dan lain-lain

            ================================

            yang keliru adalah anda. niat baik itu tidak cukup. suatu amalan agar diterima sebagai amal sholih harus memenuhi 2 syarat, yakni niat untuk Alloh dan tata cara yang sesuai petunjuk Rosululloh.

            amalan yang niatnya baik tapi tidak sesuai petunjuk Nabi, maka tertolak dan diebut bid’ah. sedangkan amalan yang sesuai petunjuk Nabi tapi tidak dengan niat untuk Alloh juga tertolak dan disebut riya’.

            kalo niat baik saja itu cukup, berarti boleh dong mencuri dengan niat agar bisa bersedekah untuk orang2 miskin?

          2. kok jadi melebar kemana mana mas Ajam ????? bid’ah dibicarakan waktu khusus itu ….kembali ke TOPIK ya ….

          3. katanya yang sunnah itu “mandi”nya kok sekarang suatu amalan agar diterima sebagai amal sholih harus memenuhi 2 syarat dst. ajam-ajam.

  113. sebelum berkata dalil kita lihat maulid dari konteks isinya..karena kebanyakan mereka berdalih namun tdak mengetahui isinya pah..
    Maulid itu berisikan ayat suci al qur’an dan juga pembacaan sejarah Nabi (pke bhs.arab)…dan juga ada dzkir kepada Allah dan Sholawat kepada Nabi saw…setelah itu tausyiah agama..apakah ini salah..sekali lagi apakah ini salah ???
    jika berpendapat segala bid’ah dholalah..berarti sama saja berpikiran..maulid (baca qur’an, baca sejarah Nabi, baca dzikir dan sholawat dengerin tausyiah agama) = bid’ah = bid’ah dholalah = neraka..berarti sama aja menghukum seseorang….baca qur’an masuk neraka, dzikir msuk neraka…
    Naudzubillah…..

  114. Good night, Allohumma sholli wa sallim ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi ajma’in, wal hamdu lillahi Robbil alamin….

      1. Baru datang dari acara Maulid Nabi Saw tadi langsung menyapa antum semuanya. Terus sekarang baru selesai mandi nih, tapi lupa niyat, kayaknya gak dapat pahala karena lupa niyat kok mas, asal byar-byur yg penting seger, he he he….

        Udah ya Mas, dari bangun Subuh sampai sakerang belum istirahat, jadi mau istirahat dulu. Salam untuk antum semuanya….,
        wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…..

  115. @AJAM

    Ha ha ha nt itu tuh lucu banget, Tukul sama Sule aja kalah.
    Lha wong sejarahnya Shalahuddin al Ayyubi kok tanya dalilnya, oalah mas-mas…….lama aq ga tanggapin karena masih ketawa karena lucunya.

    Mas, baca sejarah Al Ayyubi dengan komplet baru nt ngerti. Kisah ini bukan dongeng ninabobok anak kecil, tetapi ada jejak sejarahnya. Yang menyelenggarakan kompetisi penulisan syair kecintaan nabi adalah Shalahuddin dengan minta ijin dulu khalifah pada saat itu. Mulanya juga ditentang ulama karena dianggap bid’ah tetapi demi membangkitkan semangat juang pasukan muslim akhirnya tetap diselenggarakan. Nt tahu ndak, yang memenangkan penulisan syair adalah Syekh Ja’far dari Barzanj dan akhirnya dikenal dengan syair barzanji. Nah sejak itu menggemalah peringatan maulid nabi keseluruh dunia muslim. Banyak ulama kelas dunia yg mensyarahi kitab al barzanji.

    Masih ga paham………ha ha ha ha ha ha

  116. @ajam
    menanggapi komentar tanggal 17 Maret 2011 pukul 11:13 pm | #385

    ajam selalu bilang bahwa sunnah hasanah dan sunnah sayiah beserta contoh2nya tersebut adalah secara bahasa, padahal pertanyaan saya dari awal adalah definisi secara syar’i dalam hukum Islam… jadi siapa yang ga nyambung ya???

    sekali lagi tolong dijawab pertanyaan saya tetapi secara syar’i, menurut ajam :

    a. apakah menyeberangkan nenek di jalan, silaturrahmi dengan sms, belajar di
    sekolah pake AC, ngasih duren ke orang tua, dan mengembalikan dompet SECARA
    SYAR’I berpahala bila dikerjakan ?
    b. apakah memakai narkotik atau sabu-sabu, ke diskotik joget-joget, SECARA
    SYAR’I berdosa bila dikerjakan ?

    atau apakah semua amalan2 tersebut di atas SECARA SYAR’I tertolak ? sebagaimana pernyataan ajam pada 18 Maret 2011 pukul 1:26 am | #400 sbb :
    “amalan yang niatnya baik tapi tidak sesuai petunjuk Nabi, maka tertolak dan disebut bid’ah.”

    1. pertanyaan2 anda berkenaan dengan hadits “man sanna sunnatan” bukan? dalam hadits tersebut, yang dimaksud dengan sunnah hasanah dan sunnah sayyiah adalah dalam segi bahasa, karena jika dibawa ke dalam segi syar’i, mana ada sunnah nabawiyah yang sayyiah. semua sunnah nabawiyah pasti hasanah.

      jika anda sudah paham, maka silakan lihat kembali jawaban saya di atas.

  117. @ajam

    Hayo jawab pertanyaan saya ini;

    Sebutkan amal perbuatan yang dibenci Alloh swt dan juga dibenci oleh setan. Jawaban dalam perspektif tauhid.

  118. kenapa mereka dikatakan berdusta adalah karena mereka tidak mengikuti konsekuensi dari pengakuan mereka terhadap Rubbubiyah Alloh.

    jika mereka mengakui bahwa Alloh yang menurunkan hujan, seharusnya mereka meminta hujan pada Alloh, tapi mereka malah memintanya pada thoghut.

    mereka meyakini bahwa Alloh yang menghilangkan penyakit tapi mereka malah meminta kesembuhan pada thoghut.

    mereka meyakini bahwa Alloh yang mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudhorot, tapi mereka malah meminta perlindungan pada thoghut.

    1. Nah, anda sudah mengakuinya kalau pernyataan mereka itu bertolak belakang dengan perbuatannyanya.
      “jika mereka mengakui bahwa Alloh yang menurunkan hujan, seharusnya mereka meminta hujan pada Alloh, tapi mereka malah memintanya pada thoghut”. ini berarti sedikit atau banyak, besar atau kecil mereka berkeyakinan bahwa thogut itu bisa menurunkan hujan. Bisa jadi mereka masih mempercayai Allah sebagai pengatur alam, tetapi minimal mereka berkeyakinan bahwa thogut itu mempunyai otoritas dalam menurunkan hujan, kasarnya Allah tidak ikut campur lagi. maka ini juga termasuk syirik.

      “mereka meyakini bahwa Alloh yang menghilangkan penyakit tapi mereka malah meminta kesembuhan pada thoghut”. apa artinya meminta kesembuhan kepada thogut kalau bukan berarti mengakui sifat menyembuhkan ada pada thogut. bandingkan dengan meminta disembuhkan dokter yang menjadi perantara kesembuhan dari Allah, kalau yang dimaksud dengan ini, tentu Allah tidak mengatakannya pendusta.

      mereka meyakini bahwa Alloh yang mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudhorot, tapi mereka malah meminta perlindungan pada thoghut.
      makanya pengakuan rubbubiyah mereka juga bercampur dengan dengan keyakinannya kepada thogut.

      1. tidak ada satupun ayat Alquran maupun Alhadits yang menyebutkan bahwa mereka meyakini thoghut itu mempunyai kekuasaan. kalo mungkin saya luput satu ayat saja, coba anda sampaikan disini.

        yang ada adalah, mereka meyakini bahwa thoghut itu bisa memberi syafaat atau perantara kepada Alloh. syafaat untuk mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudhorot, salah satunya adalah menurunkan hujan, menyembuhkan sakit, memberi perlindungan dan lain2.

        sekali lagi, coba anda sebutkan ayat Alquran maupun Alhadits yang menunjukkan bahwa kaum muyrikin itu meyakini thoghut bisa menurunkan hujan, menyembuhkan penyakit dan memberi perlindungan.

        1. Ajam, saya bukan tidak mau menjawab pertanyaan ajam, tapi kita akan berputar-putar kembali kepermasalahan tafsir nash, saya rasa saya sudah masuk ke ranah yang telalu jauh. Maka cukup bagi saya mengatakan bahwa apa yang dipahami oleh musyrikin tentang rubbubiyah Allah itu bukanlahh pemahaman yang benar dan keyakinannya akan rubbubiyah Allah bukanlah keyakinan yang sempurna. Cukup juga bagi saya untuk mengatakan bahwa Allah Maha Benar atas segala firman-Nya, maka pernyataan Allah bahwa mereka pendusta, mereka mengambil pelindung selain Allah dan kebanyakan mereka tidak memahami(nya) adalah pernyataan yang maha benar. Maka kebodohan mereka sehingga tidak menyembah Allah sudah mejelaskan bahwa keyakinan mereka tidak bisa dikatakan sebagai tauhid, rubbubiyah maupun illaiyah. Masalah tawasul, anda bisa menyimak perkataan kang ahmadsyahid (no 15, kalau tidak salah) di artikel terbaru tentang tawasul, yang saya rasa sudah mewakili. Demikian Ajam, saya rasa cukup sampai disini diskusi ini, nanti bisa dilanjutkan, terima kasih. Wassalam.

          1. jawab saja dulu, insyaAlloh saya bisa menghubungkan jawaban anda dengan topik yang kita bahas. tapi kalo anda tidak bisa menjawab ya sudah.

            yang penting anda tidak berusaha lari dari pertanyaan. saya saja bersedia jawab pertanyaan sekalipun melenceng dari topik pembicaraan.

          2. Bung, saya tidak pernah lari dai pertanyaan, justru ente yang sering lari dari pemasalahan.

            Pertama-tama, saya mau beritahukan ente bahwa jawaban ente tentang pertanyaan saya adalah untuk ayat-ayat dimana mereka mengakui sifat rubbubiyah Allah. Adapun ayat :
            Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS Az Zumar 3)
            adalah ayat tentang pengakuan mereka bahwa “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Maka sudah jelas bahwa Allah menganggap mereka sebagai pendusta karena pengakuan mereka itu, bukan karena pengakuan sifat rubbubiyah Allah, karena ayat tersebut jelas isi redaksinya adalah alasan mereka menyenbah Allah, dan dengan alasan itu Allah mengatakan mereka sebagai pendusta dan sangat ingkar.

            Selanjutnya, mari kita lihat kenyataan dan gunakan akal sehat anda:
            “Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutu kalian yang kalian seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas dari padanya Sebenarnya orang-orang yang zhalim itu sebahagian dari mereka tidak men-janjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka.” ?QS. Faathir (35): 40?
            “Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kalian sembah selain Allah; perlihatkanlah kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (al-Qur’an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kalian adalah orang-orang yang benar.” ?QS. al-Ahqaaf (46): 4?

            Lihatlah pertanyaan Allah diatas. Apakah untuk yang meyakini Allah sebagai pencipta atau buat yang meyakini ada syarikat dalam penciptaan? Mengapa Allah bertanya tentang sifat Rubbubiyah kepada kaum nusyrikin kalau kaum musyrikun itu benar-benar bertauhid rubbubiyah?

          3. Sekarang saya ingin anda pergunakan akal sehat anda. Dalam Al Qur an dan Hadist nabi banyak sekali diterangkan sifat-sifat rubbubiyah Allah dan larangan agar kita tidak berbuat syirik dengan sifat Rubbubiyah Allah, maka apakah syirik Rubbubiyah itu tidak ada? pastilah ada, dan tentu kita, kaum muslimim yang bertauhid dilarang berbuat syirik dalam sifat Rubbubiyah Allah. Kalau syirik dalam Rubbubiyah Allah itu ada, lalu siapakah pelakunya yang kita dilarang untuk seperti mereka? Kalau kaum musyrikin Qurais itu bertauhid dalam Rubbubiyah Allah, lalu siapa pelaku syirik Rubbubiyah itu? kalau kita sebagai kaum muslim yang menyembah Allah bisa terperosok dan jatuh dalam syirik Rubbubiyah sehingga diingatkan… lalu bagaimanakah kondisi kaum musyrikin Qurais yang jelas-jelas menyembah selain Allah? Lalu untuk siapa pertanyaan dan logika yang dipergunakan oleh Allah dalam banyak ayat-ayat-Nya dalam membantah kaum musyrikin dengan sifat-sifat Rubbubiyahnya kalau kaum musyrikin itu benar-benar bertauhid kepada Allah dalam sifat rubbubiyah, tentu pertanyaan dan logika itu akan sia-sia dan Allah Maha Suci dari berkata yang sia-sia.

            Maka yang saya pahami adalah, pengakuan mereka akan sifat-sifat rubbubiyah Allah, adalah pengakuan karena tiada lagi hujjah yang mereka bisa bantah, disisi lain pengakuan dan keyakinan mereka akan sifat-sifat Rubbubiyah Allah bukanlah keyakinan yang bulat lagi sempurna dan belum benar karena mereka tidak sepenuhnya memahami dan tentu saja masih bercampur dengan keyakinan mereka akan sifat-sifat rubbubiyah berhalanya, sehingga mereka tetap tidak menyembah Allah. Sekali lagi saya katakan bahwa bagaimanapun pengakuan mereka akan sifat-sifat rubbubiyah Allah, maka sedikit atau banyak, besar atau kecil mereka maish menganggap berhalanya sebagai pelindung selain Allah, pemilik otoritas syafaat, dan dapat memberikan mudharat serta manfaat, sehingga Allah dalam banyak ayatnya menjelaskan bahwa sekali-kali berhala yang kereka seru itu tidak dapat memerikan manfaat dan mhudarat.

  119. Dianth :
    Qiyas yang anda itu menjadi tidak benar karena Allah telah mengabarkan “mereka mengambil pelindung selain Allah”. kata-kata SELAIN ALLAH, telah menutup kemungkinan lain. Mungkin maksud anda mereka menyangka meminta perlindungan Allah melalui perantara thogut tetapi ternyata menurut Allah itu adalah mengambil Pelindung selain Allah. Maka sudah jelas meminta syafaat atau perlindungan kepada orang yang dekat kepada Allah sebagai perantara perlindungan Allah adalah hal wajar dan tentulah Allah tidak perlu menyatakan bahwa mereka mengambil pelindung SELAIN Allah. Maka kalau anda simak lebih jauh yang dicela oleh Allah adalah penyembahan mereka terhadap thogut, bukan masalah menjadikan thogut sebagai perantara.

    sebaiknya anda merujuk pada tafsiran ahli tafsir seperti Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir yang telah saya kutib

    1. ahli tafsir seperti Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir yang telah anda kutib tidak menjelaskan kalau mereka tidak mengambil Pelindung selain Allah. Sudah jelas firman Allah, mereka mengambil pelindung selain Allah.

  120. Dianth :
    kata anda : namun perbuatan mereka tidak mengikuti pengakuan mereka.
    apa itu namanya ? munafik.tapi bisa kita ambil kesimpulan lebih jauh bahwa hakikatnya bisa terjadi seperti itu karena pengakuannya hanya dimulutsaja tetapi hatinya belum yakin seyakin-yakinnya. karena perkataan bisa dusta, sedangkan perbuatan yang jelas-jelas nyata adalah berasal dari keyakinannya.

    dari mana anda tahu isi hati mereka adalah meyakini thoghut itu bisa menurunkan hujan, menyembuhkan sakit dan memberi perlindungan? anda benar2 mengetahui sendiri atau ada dalilnya atau hanya asal menebak saja?

    1. Bukankah anda sendiri mengakuinya bahwa perbuatan mereka tidak mengikuti pengakuan mereka. Apakah anda tidak memahami kalau perbuatan sesorang itu berdasarkan keyakinannya.

      1. saya tahu bahwa perbuatan itu mengikuti keyakinan, lalu apa yang diyakini oleh mereka sehingga mereka meminta hujan itu pada patung, bukan pada Alloh? keyakinan mereka ada 2 kemungkinan:

        1) mereka meyakini bahwa patung itu mempunyai kekuatan sendiri untuk menurunkan hujan.
        2) mereka meyakini bahwa patung itu bisa memberi mereka syafaat kepada Alloh untuk menurunkan hujan.

        di antara 2 kemungkinan ini, mana yang sesuai dengan dalil?

  121. komentar Ajam yang ini bukan yag belum dijawab dan dibahas oleh saya ?:

    Ajam mengatakan : mas ahmad, saya juga tidak mengatakan mereka itu ahli tauhid, meskipun mengakui rubbubiyah Alloh. mereka baru bisa disebut ahli tauhid jika ada ke-3 tauhid pada diri mereka, yakni Rubbubiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat. alah satu saja hilang maka gugurlah seluruhnya.

    Saya jawab : tidak ada perbedaan yang esensi antara Rububiyah dengan Uluhiyah sedangkan Asma wa shifat hanyalah tambahan bukan pokok , jika Robb dan Ilah tidak ada perbedaan , maka kenapa harus dibedakan , sementara qur`an dan Hadistpun tidak membedakan keduanya….?

    Ajam mengatakan : saya juga tidak menganggap bahwa Ibnu Abbas membenarkan keimanan kaum musyrikin, sekalipun beliau mengatakan demikian. dan sebelumnya telah saya katakan bahwa meskipun mereka mengakui Rubbubiyah Alloh, mereka tidak menjadi mu’min/muslim. mereka tetap kafir.

    Saya jawab : lantas kenapa tetap dipaksakan membangun rumusan Tauhid dari kafir Quresy…toh mereka Kafir dan Musyrik..?

    Ajam juga mengatakan : bahwa tauhid RUBBUBIYAH tidak cukup menjadikan mereka sebagai mukminin.

    Saya Jawab :lho katanya mereka tetap kafir Musyrik , kok dibilang ” Tauhid ” ? jam yang tidak menjadikan mereka (kafir quresy) sebagai muslimin karena mereka tidak pernah menyatakan Dua Kalimah Syahadat , sama sekali bukan karena hanya bertauhid rububiyah , sebab Rububiyah dan Uluhiyah itu merupakan ciri / tanda ketuhanan yang melekat pada Allah SWT , Allah adalah Rob dan Ilah yang wajib adanya dan berhak untuk disembah.

    Jika Ilah dan Rob itu mempunyai perbedaan esensi (sehingga Tauhid harus tetap dibagi), berarti menurut teologi Wahabiyah Allah itu tidak Tunggal, menurut faham Bathil kalian berari Allah ada dua : 1. Allah sebagai Rob disebut dengan tauhid Rububiyah dan 2. Allah sebagai Ilah disebut dengan Tauhid Uluhiyah , yang berhak disembah hanyalah Allah yang sebagai Ilah , sementara Allah sebagai Rob tidak wajib untuk disembah , karena Allah sebagai Robb ini hanya yang mencipta dan mengatur makanya tidak Wajib disembah, beginikah faham Bathil Tauhid versi Wahabi… ?

    Ajam juga mengatakan : ” anda menyebut saya telah MENGGELARI ORANG YANG DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA DENGAN GELAR “UMAT BERTAUHID RUBUBIYAH”. ternyata kbnarannya demikian, orang2 muyrik quroisy mengakui bahwa Alloh-lah pencipta, pnguaa, pngatur alam semesta dan lainnya.” .

    Saya Jawab : ajam, ajam belajar dimana sih… ? kok kafir musyrik Quresy anda anggap sebagai “UMAT BERTAUHID RUBUBIYAH”. Dan anda tegaskan dengan pernyataan : ” ternyata kbnarannya demikian,” anda bicara tanpa ilmu jam , berani sekali anda…?

    Ajam berkata : adapun pertanyaan malaikat kenapa hanya Rabb saja, anda tidak punya pegangan baik hadits maupun atsar.

    Saya jawab : apakah Hadist Shahih ini menurut ajam tidak bisa dijadikan pegangan dan landasan..? apa dasarnya… ? hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari al-barra bin a`zib Nabi SAW bersabda ” Allah berfirman , Allah meneguhkan Iman orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh , Nabi bersabda ayat ini turun mengenai Adzab kubur, orang yang dikubur itu ditanya , Siapa Robmu ? lalu ia menjawab Allah Robku dan Muhammad SAW adalah Nabiku. Atau Ajam mengingkari adanya pertanyaan di alam Kubur ?

    Ajam berkata : kalau boleh saya bermain menjadi mufti seperti anda, saya berpendapat mungkin itu karena pengakuan di dunia tidak sama dengan pengakuan di alam barzah atau akhirat. di dunia, mereka bisa saja mengakui rubbubiyah Alloh, lalu syirik pada uluhiyah-Nya. namun di barzah dan akhirat, pengakuan itu mengikuti konsekuensi. karena itulah mereka tidak bisa mengakui rubbubiyah Alloh di alam barzah dan akhirat karena mreka tidak mengikuti konsekuensi dari pengakuan mereka itu.

    Saya Jawab : kenapa ajam malah menjadi tukang ramal ? dan menebak-nebak perkara yang jelas sudah ada Nash nya ? lagi pula yang menjadi Dasar bahwa makna Rob sama dengan makna Ilah itu , bukan Jawaban atau pengakuan orang yang dikubur , tapi lihat pertanyaan Malaikatnya (yang tidak pernah berdusta dan tentu atas perintah Allah ) Man Robbuka ? siapa Rob mu ? tanpa tambahan ” dan Ilahmu ” kenapa ajam masih membedakan Makna Ilah dan makna Robb …? Sementara Allah dan Rosulnya pun tidak membedakannya… ?

    Ajam berkata : adapun kenapa Musa mengajak Firaun ke jalan Rabbnya, itu karena Firaun tidak mengakui Rubbubiyah Alloh. beda dengan muyrikin quroisy, Firaun menganggap dirinya Tuhan. bagaimana mungkin Musa mengajak Firaun beribadah kepada Alloh, sedangkan Firaun belum mengakui Rubbubiyah Alloh? maka dakwah yang pertama kali diserukan kepada orang2 seperti Firaun, Namrud, atheisme, komunisme dan lainnya adalah dakwah mengenal Rubbubiyah Alloh.

    Saya Jawab : pernyataan Ajam : ” adapun kenapa Musa mengajak Firaun ke jalan Rabbnya, itu karena Firaun tidak mengakui Rubbubiyah Alloh, beda dengan muyrikin quroisy ” pernyataan ini menunjukkan jika konsep pembagian Tauhid ala ibnu taymiyah ” menganggap jika Allah itu ada dua , Allah Rob dan Allah Ilah , alangkah bathilya jika demikian. lebih menekankan perhatian kepada Musyrikin Qoresy , seolah gagasan Tauhid Ibnu taymiyah ini diformulasikan hanya Untuk Kafir Quresy , padahal diluar Islam bukan hanya Kafir quresy .

    Lagi pula yang diseru oleh Nabiyullah Musa as kepada Fir`aun , adalah agar Fir`aun beriman kepada Allah , Dan ternyata ajakan Nabiyullah Musa as, terhadap Fira`un agar Iman kepada Allah cukup dengan : ” dan aku tunjuki engkau kepada Rob mu, lihat kata Rob mu , bukan Rob dan Ilah mu. Hal ini jelas menunjukkan jika mengajak kepada Rububiyah Allah sama dengan mengajak kepada Uluhiyah Allah , begitu juga sebaliknya. Karena memang makna Ilah dan Rob itu tidak ada perbedaan esensi.

    Begitu Juga dengan ayat : Ud`u ila sabili robbika bil-hikmati wal- mauidzoh dst , perhatikan kata ROBBIKA sama sekali bukan ROBIKA WA ILAHIKA. Allah pun menyuruh Nabi Muhammad SAW mengajak Iman kepada Allah cukup dengan kata Rob, tanpa kata Ilah. , Kenapa Ajam Justru lebih mengikuti Konsep Bathil Ibnu taymiyah tentang Tauhid .. ? kenapa Ajam tidak mengikuti Allah dan Rosulnya.. ?

    Ajam berkata : coba anda kalau bedakwah ke suku pedalaman papua. apakah ujug2 anda langsung mengajak mereka sholat, puasa, zakat, haji dan lainnya? tentu saja tidak. anda kenalkan dulu pada mereka bahwa pencipta alam semesta ini adalah Alloh, yang menghidupkan dan mematikan adalah Alloh, yang menurunkan hujan adalah Alloh, dan lainnya.

    Saya Jawab : perkataan ajam adalah contoh analogi yang Fasid , akal-akalan yang konyol , ingin lari dari persoalan yang sebenarnya sedang dibahas , ajam sudah kehabisan Dalil dan Logika , mestinya Adalah ” Taslim ” , menerima kekeliruan Tauhid ala Ibnu Taymiyah , jam , kenapa mengajak Ibadah kepada orang yang belum beriman , ? lagi pula yang sedang kita bahas adalah Soal ” KEIMANAN ” , soal TAUHID soal perbedaan makna Ilah dan makna Rob , sama sekali bukan soal IBADAH , tolong jangan mengecoh lagi.

    Masih kah ada Dalil Lain ? , yang menguatkan atau mendukung pendapat Ibnu Taymiyah ? jika masih ada silahkan kumpulkan seluruh Ulama Wahabi , kerahkan seluruh kemampuan kalian untuk membela Aqidah sesat Ibnu Taymiyah yang kalian anggap sebagai satu-satunya kebenaran mutlak , yang kalian anggap sebagai Syeikhul Islam, namun jika tidak ada , sebaiknya anda terima ….. …. dan tobat.

    Saya rasa diskusi dengan ajam Soal pembagian Tauhid versi wahabi perlu ada kesimpulan :
    1. Pembagian Tauhid versi Wahabi tidak ada dasarnya sama sekali baik dari Qur`an maupun Hadist.

    2. ayat-ayat yang menyebut kata Rob dan Ilah sama sekali tidak menunjukkan pembagian Tauhid , ayat-ayat tersebut hanya menunjukkan bahwa Allah sebagai pencipta,pemilik dan pengatur bumi dan se isinya , Ilah dan Rob yang Wajibul wujud yang berhak disembah

    3. pembagian Tauhid versi Wahabi adalah Bid`ah dlolalah yang tidak diridloi Allah dan Rosulnya.

    4. pembagian Tauhid versi Wahabi adalah sumber perpecahan Ummat , karena mempersamakan orang yang sudah bersyahadat (muslim/mu`min) dengan orang yang belum bersyahadat ( kafir/Musyrik).

    5. pembagian Tauhid versi wahabi ini , menjadikan penganutnya mudah menganggap orang lain sebagai Orang Musyrik , mereka sangat ringan mengucapkan kata Syirk dan Kafir.

    6. kaum wahabi /salafi menolak Bid`ah Hasanah dalam masalah Furu` dan menerima , mengamalkan serta menyebarkan Bid`ah dlolalah dalam Masalah I`tiqod. (Ushul ).

    Wallahu a`lam bishowab

  122. mas ahmad:

    anda berkata:
    tidak ada perbedaan yang esensi antara Rububiyah dengan Uluhiyah sedangkan Asma wa shifat hanyalah tambahan bukan pokok , jika Robb dan Ilah tidak ada perbedaan , maka kenapa harus dibedakan , sementara qur`an dan Hadistpun tidak membedakan keduanya….?

    saya jawab:
    jika tidak ada perbedaan antara makna Rabb dengan Ilah, saya tantang anda untuk menyebutkan satu saja ayat Alquran yang menunjukkan ajakan/dakwah nabi/raul kepada kaumnya yang muyrik untuk menyembah pada Alloh dengan menggunakan lafadh Ilah (dan sembahlah Ilahmu)! setahu saya, hanya ada yang menggunakan lafadh Rabb (dan sembahlah Rabbmu)

    anda berkata:
    lantas kenapa tetap dipaksakan membangun rumusan Tauhid dari kafir Quresy…toh mereka Kafir dan Musyrik..?

    saya jawab:
    karena begitulah prinsipnya. sekedar pengakuan saja bahwa Alloh sebagai Rabb tidak cukup untuk menjadikan seseorang sebagai Mu’min jika tidak diikuti dengan mengesakan penghambaan kepada-Nya.

    anda katakan bahwa orang yang bertauhid Rubbubiyah otomatis bertauhid Uluhiyah dan begitu juga sebaliknya. padahal kenyataannya, ada orang yang mengakui Rubbubiyah Alloh, namun menjadikan selain Alloh sebagai Ilah. anda jangan ingkari hal ini, karena Ibnu Abbas dan ahli tafsir lainnya meyakini adanya hal ini.

    anda berkata:
    lho katanya mereka tetap kafir Musyrik , kok dibilang ” Tauhid ” ? jam yang tidak menjadikan mereka (kafir quresy) sebagai muslimin karena mereka tidak pernah menyatakan Dua Kalimah Syahadat , sama sekali bukan karena hanya bertauhid rububiyah , sebab Rububiyah dan Uluhiyah itu merupakan ciri / tanda ketuhanan yang melekat pada Allah SWT , Allah adalah Rob dan Ilah yang wajib adanya dan berhak untuk disembah.

    saya jawab:
    kalo tidak salah, di awal diskusi kita saya pernah menyampaikan definisi Tauhid Rubbubiyah (maaf kalo lupa) adalah mengesakan Alloh dalam hal Rubbubiyah yaitu mengakui bahwa Alloh satu2nya Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, mengatur, dan lain2.

    berdasarkan definisi di atas, bukankah jelas bahwa telah ada 1 jenis tauhid dalam diri kaum musyrikin quroisy. namun 1 jenis tauhid ini saja tidak lantas menjadikan mereka sebagai ahli tauhid atau mu’min. sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas bahwa meskipun ada sebagian “keimanan” dalam diri mereka tidak lantas menjadikan mereka mu’min.

    anda berkata:
    Jika Ilah dan Rob itu mempunyai perbedaan esensi (sehingga Tauhid harus tetap dibagi), berarti menurut teologi Wahabiyah Allah itu tidak Tunggal, menurut faham Bathil kalian berari Allah ada dua : 1. Allah sebagai Rob disebut dengan tauhid Rububiyah dan 2. Allah sebagai Ilah disebut dengan Tauhid Uluhiyah , yang berhak disembah hanyalah Allah yang sebagai Ilah , sementara Allah sebagai Rob tidak wajib untuk disembah , karena Allah sebagai Robb ini hanya yang mencipta dan mengatur makanya tidak Wajib disembah, beginikah faham Bathil Tauhid versi Wahabi… ?

    saya jawab:
    sudah pernah saya katakan bahwa bagi seorang mu’min, Rabb dan Ilah adalah sama, yakni Alloh subhanahu wa ta’ala. seorang mu’min mengakui bahwa Alloh sebagai Rabb, yakni yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, mengatur, menguasai dan lain2, juga sekaligus mengakui bahwa Alloh sebagai Ilah, yakni yang disembah, yang dimintai doa, dimintai ampunan, dimintai pertolongan, dimintai perlindungan dan lain2.

    adapun bagi musyrikin, Rabb dan Ilah itu beda. mereka mengakui bahwa Alloh sebagai Rabb, namun menjadikan selain Alloh sebagai Ilah. mereka mengakui Alloh yang menurunkan hujan, namun mereka meminta hujan pada patung. mereka mengakui Alloh yang menyembuhkan penyakit, namun mereka meminta kesembuhan pada pohon.

    anda berkata:
    ajam, ajam belajar dimana sih… ? kok kafir musyrik Quresy anda anggap sebagai “UMAT BERTAUHID RUBUBIYAH”. Dan anda tegaskan dengan pernyataan : ” ternyata kbnarannya demikian,” anda bicara tanpa ilmu jam , berani sekali anda…?

    saya jawab:
    telah jelas bahwa mereka mengakui Alloh sebagai Rabb. bukankah saya telah jelakan juga definisi tauhid Rubbubiyah adalah pengakuan bahwa Alloh sebagai Rabb.

    kalo anda mengingkari adanya tauhid Rubbubiyah pada diri mereka, berarti menurut anda mereka ini kafir juga pada Rubbubiyah Alloh, padahal kenyataannya Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka mengimani Rubbubiyah Alloh. lalu apa dasar anda menganggap mereka kafir pada Rubbubiyah Alloh?

    anda berkata:
    apakah Hadist Shahih ini menurut ajam tidak bisa dijadikan pegangan dan landasan..? apa dasarnya… ? hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari al-barra bin a`zib Nabi SAW bersabda ” Allah berfirman , Allah meneguhkan Iman orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh , Nabi bersabda ayat ini turun mengenai Adzab kubur, orang yang dikubur itu ditanya , Siapa Robmu ? lalu ia menjawab Allah Robku dan Muhammad SAW adalah Nabiku. Atau Ajam mengingkari adanya pertanyaan di alam Kubur ?

    saya jawab:
    namun adakah anda mempunyai pegangan untuk pernyataan bahwa kaum kafir di alam barzah tidak bisa menjawab “Rabb adalah Alloh” karena mereka tidak mengakui Alloh sebagai Rabb?

    dulu ketika saya bertanya “apakah menurut anda mereka mengakui Rubbubiyah Alloh?” anda menjawab “IYA”. kenapa terjadi sekarang kontradiksi?

    anda berkata:
    kenapa ajam malah menjadi tukang ramal ? dan menebak-nebak perkara yang jelas sudah ada Nash nya ? lagi pula yang menjadi Dasar bahwa makna Rob sama dengan makna Ilah itu , bukan Jawaban atau pengakuan orang yang dikubur , tapi lihat pertanyaan Malaikatnya (yang tidak pernah berdusta dan tentu atas perintah Allah ) Man Robbuka ? siapa Rob mu ? tanpa tambahan ” dan Ilahmu ” kenapa ajam masih membedakan Makna Ilah dan makna Robb …? Sementara Allah dan Rosulnya pun tidak membedakannya… ?

    saya jawab:
    lupakan saja perkataan saya itu karena saya hanya berandai2, bukan bermaksud tegas menjawab. perhatikan saja pada jawaban saya yang pertama yaitu “TIDAK TAHU”. saya tidak tahu kenapa malaikat hanya menanyakan “siapa Rabbmu?” di alam barzah nanti. saya tidak tahu kenapa tidak ditanyakan juga “siapa Ilahmu?”.

    anda berkata:
    ” adapun kenapa Musa mengajak Firaun ke jalan Rabbnya, itu karena Firaun tidak mengakui Rubbubiyah Alloh, beda dengan muyrikin quroisy ” pernyataan ini menunjukkan jika konsep pembagian Tauhid ala ibnu taymiyah ” menganggap jika Allah itu ada dua , Allah Rob dan Allah Ilah , alangkah bathilya jika demikian. lebih menekankan perhatian kepada Musyrikin Qoresy , seolah gagasan Tauhid Ibnu taymiyah ini diformulasikan hanya Untuk Kafir Quresy , padahal diluar Islam bukan hanya Kafir quresy .

    saya jawab:
    pembagian tauhid menjadi tiga bisa diterapkan pada siapa saja. kalo orang musyrik quroisy itu kafir pada Tauhid Uluhiyah dan Asma wa shifat, maka Fir’aun kafir pada semua jenis Tauhid. kalo hilang salah satu tauhid saja bisa dimasukkan ke dalam golongan musyrik/kafir, maka lebih bisa lagi pada orang yang hilang semua tauhidnya.

    anda berkata:
    Begitu Juga dengan ayat : Ud`u ila sabili robbika bil-hikmati wal- mauidzoh dst , perhatikan kata ROBBIKA sama sekali bukan ROBIKA WA ILAHIKA. Allah pun menyuruh Nabi Muhammad SAW mengajak Iman kepada Allah cukup dengan kata Rob, tanpa kata Ilah. , Kenapa Ajam Justru lebih mengikuti Konsep Bathil Ibnu taymiyah tentang Tauhid .. ? kenapa Ajam tidak mengikuti Allah dan Rosulnya.. ?

    saya jawab:
    jutru disinilah alasan kenapa Rabb dan Ilah itu harus dibedakan. kenapa hanya menyeru “sembahlah Rabbmu” saja? kenapa tidak “sembahlah Ilahmu” atau “sembahlah Rabb dan Ilahmu”?

    karena orang yang diseru itu sudah mengakui bahwa Alloh adalah Rabb, maka seruan nabi pada mereka “sembahlah Rabbmu” artinya adalah “sembahlah Alloh”. adapun Ilah mereka adalah patung, pohon, kuburan, malaikat, batu dan lain2. maka seruan nabi pada mereka “sembahlah Ilahmu” artinya adalah “sembahlah patung”.

    sebaliknya, anda katakan bahwa makna Rabb dan Ilah itu sama, tidak menuntut pembedaan. kalo demikian, seharusnya tidak masalah jika “sembahlah Rabbmu” diganti dengan “sembahlah Ilahmu” bukan? tapi kenapa kita tidak menemukan ayat yang menyebutkan “sembahlah Ilahmu”? menurut anda, kenapa demikian?

    anda berkata:
    perkataan ajam adalah contoh analogi yang Fasid , akal-akalan yang konyol , ingin lari dari persoalan yang sebenarnya sedang dibahas , ajam sudah kehabisan Dalil dan Logika , mestinya Adalah ” Taslim ” , menerima kekeliruan Tauhid ala Ibnu Taymiyah , jam , kenapa mengajak Ibadah kepada orang yang belum beriman , ? lagi pula yang sedang kita bahas adalah Soal ” KEIMANAN ” , soal TAUHID soal perbedaan makna Ilah dan makna Rob , sama sekali bukan soal IBADAH , tolong jangan mengecoh lagi.

    saya jawab:
    andalah yang hendak lari dari persoalan, karena sebenarnya saya bisa membantai anda dengan bermodal jawaban anda atas pertanyaan itu. namun karena takut dibantai, anda berusaha mengelak dan menuduh saya mengalihkan pembicaraan.

    kenapa saya membawakan contoh suku pedalaman papua? bukankah mereka tidak mengenal Alloh sebagai Rabb? Abah Zahra pernah membawakan contoh bangsa Yunani kuno yang sama2 dengan suku pedalaman papua tidak mengenal Alloh sebagai Rabb, tapi saya tidak marah dan menjelek2kan dia.

  123. kepada semua pengaku aswaja:

    salah satu sholawat yang sering kalian lantunkan adalah sholawat Nariyah. terus terang, ketika masih kecil saya juga sering melantunkannya setelah selesai adzan sampai dengan iqomat. bacaan sholawat itu kurang lebih begini:

    “Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka”

    dan terjemahannya kurang lebih begini:

    “Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”

    ada beberapa poin yang harus saya garis bawahi:
    1) Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai.
    2) Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap
    3) Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi
    4) Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai

    apakah kalian menganggap Nabi Muhammad itu sebagai Rabb yang mengurai ikatan, yang melenyapkan kesulitan, yang memenuhi kebutuhan, yang menolong dan memberi harapan?

    1. maaf @jam itu pemahaman nt yang bodoh namun sok pinter ……..coba nt berfikir dingin dan jernih …….islam datang berkat Nabi Muhammad SAAW apa bukan karena beliau kita mengenal Alloh ,mengenal cara2 berdoa , mengenal bagaimana kita mengatasi kesulitan hidup didunia ????? jam memaknai kata2 dalam Islam tidak selalu dhahirnya saja namun banyak kata yang harus kita cermati arti kata tersebut dgn ilmu ……….

      1. anda bisa baca tidak?

        jelas2 teks-nya mengatakan “Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap” dan kesyirikan2 lain. mana teks yang menyebutkan “berkat beliau kita mengenal Alloh, mengenal cara berdoa, mengenal islam” dll?

        jelas2 sholawat ini menyandarkan perbuatan Rubbubiyah kepada Rosululloh. kembali lagi kamu belajar baca di TK

    2. Ajam mengatakan : ada beberapa poin yang harus saya garis bawahi:
      1) Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai.
      2) Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap
      3) Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi
      4) Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai

      dari empat point yang ajam garis bawahi diatas , yang jadi persoalan apa Jam…? Kok ajam mengatakan :
      apakah kalian menganggap Nabi Muhammad itu sebagai Rabb yang mengurai ikatan, yang melenyapkan kesulitan, yang memenuhi kebutuhan, yang menolong dan memberi harapan ?

      kok jadi enggak nyambung dengan 4 poin diatas jam…?

  124. Allohumma sholli shollatan kamilah wa sallim salaman. Taman ‘ala sayyidina Muhammadiladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu. Wa tuqdhobihil hawa iju wa tunna lu bihiro ‘ibu wa husnul khowatim wa yustaqol ghomawu biwaj hihil kariim wa ‘ala aalihi washosbihi fii kulli lamhatin wa hafasim bi’adadi kulli ma’luu mi laka ya robbal ‘aalamiin……….@ jam bagaimana ?????

  125. ok, saya bertanya bagaimana cara kamu memaknai bacaan sholawat nariyah itu, jika benar kamu memaknainya dengan ilmu.

    disitu disebutkan “Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap”. menurut kamu, bagaimana caranya/jalannya kesulitan bisa lenyap karena beliau?

    1) apakah beliau mempunyai kekuatan/kekuasaan independen untuk melenyapkan kesulitan?
    2) atau apakah beliau memberi syafaat pada orang itu sehingga Alloh melenyapkan kesulitannya?

    1. jawaban ana simpel namun kalau dijabarkan luas dan panjang ……….JALANNYA KESULITAN BISA LENYAP BERKAT BELIAU KARENA BELIAU MENGAJARKAN DOA2 TATACARA BERIBADAH APABILA KITA MENGALAMI KESULITAN …..APA AJAM NGGAK MENGIKUTI TATACARA YANG BELIAU AJARKAN KALAU ADA KESULITAN ?????

  126. kalo begitu, jika ada orang berkata: “saya sukses/kaya adalah karena usaha diri saya sendiri” juga bukan merupakan kesyirikan?

    1. itu soal lain jam ……pernyataan itu selain sombong juga mencerminkan kurangnya Iman ….

      1. kalo begitu perkataan kamu “memaknai bukan dgn ilmu yaitu nt @jam” kembali pada dirimu sendiri. bisa saja maksud orang itu adalah “saya sukses karena usaha saya untuk mendekatkan diri pada Alloh”.

        kenapa kamu menjudge orang itu dari perkataan dzohirnya padahal kamu melarangku untuk memahami bacaan sholawat nariyah secara dzohir.

        lagipula bagaimana kamu tahu isi hari dan pikiran pengarang bacaan sholawat nariyah itu bahwa apa yang dia maksud berbeda dengan apa yang dikatakannya? apa kamu juga seorang dukun yang mengaku mengetahui hal yang ghoib?

        kita manusia hanya bisa menilai orang dari apa yang tampak. jika hal itu tampak sebagai kemaksiatan, maka ingkarilah. adapun jika ternyata apa yang dimaksudkan/diniatkan oleh pelaku itu berbeda dengan apa yang ditampakkannya, maka itu urusan dia dengan Alloh saja yang tahu.

        1. kejauhan Jam nt …….itu bukan hal Ghoib ……..Jam nt tau sih kata2 bijak dalam sholawat itu dari ulama Jam …….sedangkan contoh perkataan nt biasanya di ucapkan oleh seorang yang notabene pengusaha, para pembisnis sukses ,yg blum tentu muslim ……masa orang macam begini nt samain dgn ulama ……yang bener Jam ….kayaknya yang harus kembali ke TK nt deh……

          1. undzur ila maa qoola wa laa tandzur ila man qoola (perhatikan pada apa yang dikatakan dan jangan perhatikan pada siapa yang mengatakan).

            ulama dengan pengusaha itu sama2 manusia biasa yang bisa salah bisa benar. saya tidak menjudge pengarang sholawat nariyah itu sesat atau kafir. sama sekali tidak, karena itu kompetensi ulama ahli jarh wa ta’dhil. hanya saja, saya menjudge bahwa bacaan sholawat nariyah itu mengandung kesyirikan.

            jika ada orang berkata: “gara2 kamu aku jadi sial”, apakah kamu hanya cukup ber-husnudzon padanya, mungkin maksudnya adalah Alloh menimpakan musibah dengan sebab orang itu? apakah tidak boleh kita menyalahkan perkataannya?

            kalo menuruti logika kamu, seharusnya kita tidak boleh menyalahkannya karena bisa saja hakikat yang dimaksud orang itu beda dengan dzohir yang diucapkannya.

  127. @ajam nt nulis #

    kita manusia hanya bisa menilai orang dari apa yang tampak. jika hal itu tampak sebagai kemaksiatan, maka ingkarilah. adapun jika ternyata apa yang dimaksudkan/diniatkan oleh pelaku itu berbeda dengan apa yang ditampakkannya, maka itu urusan dia dengan Alloh saja yang tahu.

    itulah jam makanya jangan cepet2 ngomong ini bid,ah ,itu syirik , kamu dah termasuk kafir ,……yang sering golongan nt sematkan kesesama muslim….

    1. justru karena kita hanya bisa menilai dari apa yang tampak/dzohir, maka boleh bagi kita untuk memvonis ini bid’ah, syirik dan kufur.

      yang aneh itu kamu, sok tahu isi hati dan maksud pengarang sholawat nariyah, padahal hati dan maksud itu urusan dia dengan Alloh saja.

      1. makanya Tabayyun jam , jangan main vonis se enaknya aja , lagi pula saya sangat meragukan ke ilmuan Ajam bolehkan saya meragukan ke ilmuan Ajam…? soalnya Mubtada Khobar aja ajam gak tahu tapi sudah banyak mengambil kesimpulan , hati-hati jam banyak orang yang merhatiin komentar ajam.

      2. Ajam, ajam, saya juga mau mengatakan bahwa Orangtua sayalah yang telah membesarkan saya, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan menjadi terurai.
        Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap (kesulitan saya dari menyusu, berjalan hingga bisa mandiri)
        Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi (ya, tentu saja, kebutuhan akan uang jajan, akan kasih sayang dsb)
        Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai (ya, sekarang banyak harapan saya tercapai berkat orang tua saya, termasuk kuliah dan punya istri).
        Apakah saya musyrik? apakah anda tidak memahami perkataan? apakah kami menganggap orang tua kami sebagai tuhan ? tentu tidak karena apa yang saya sebut adalah Rahmat dari Allah dan kekuasaanNya melalui perantara orang tua saya. Ajam ..ajam…..

  128. Ajam mengatakan : mas ahmad, saya juga tidak mengatakan mereka itu ahli tauhid, meskipun mengakui rubbubiyah Alloh. mereka baru bisa disebut ahli tauhid jika ada ke-3 tauhid pada diri mereka, yakni Rubbubiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat. alah satu saja hilang maka gugurlah seluruhnya.

    Dari sini saya jd paham kenapa org2 wahabi gak ragu2 dlm mebantai ribuan kaum muslim ketika mereka menjarah kota2 suci di dataran Hijaz, soalnya tauhidnya beda.

  129. Kalau dipikir secara teliti, saya melihat kesamaan antara tauhid-3 Ajam (Salafy Wahabi) dengan TRINITAS Nasroni.

    Mari kita lihat ajaran Tauhid Salafy Wahabi seperti yg dikatakan oleh Ajam: “mereka baru bisa disebut ahli tauhid jika ada ke-3 tauhid pada diri mereka, yakni Rubbubiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat. alah satu saja hilang maka gugurlah seluruhnya”.

    Itulah ajaran Tauhid versi Salafy Wahabi. Sama seperti TRINITAS, jika tidak mengakui salah satu dari ketiga tuhan Nasroni maka batallah keimanan versi Nasroni. Tiga tuhan itu adalah satu kesatuan yg harus diyakini ketiga-tiganya, jika tidak maka gugurlah imannya. Demikian halnya Tiga Tauhid Wahabi adalah satu kesatuan yg harus ada dalam diri orang yg bertauhid, maka kalau tidak gugurlah ketauhidannya. Padahal yg sesungguhnya adalah orang Islam yg beriman itu sudah otomatis disebut orang-orang bertauhid, tapi kalau ada diantara orang2 Islam tsb enggan beribadah kepada Allah itu adalah soal lain. Ada pembahasannya tentang soal ini, di antaranya mereka yg enggan beribadah itu disebut orang-orang berdoasa/fasiq, yaitu gemar bermaksiat kepada Allah. Ini jelas sangat beda dengan kaum kafir musyrik Quresy yg memang mereka tidak mau bersyahadatain.

  130. Kita pindah kesini Jam ya…?

    Ajam berkata :
    jika tidak ada perbedaan antara makna Rabb dengan Ilah, saya tantang anda untuk menyebutkan satu saja ayat Alquran yang menunjukkan ajakan/dakwah nabi/raul kepada kaumnya yang muyrik untuk menyembah pada Alloh dengan menggunakan lafadh Ilah (dan sembahlah Ilahmu)! setahu saya, hanya ada yang menggunakan lafadh Rabb (dan sembahlah Rabbmu)

    saya jawab : ternyata Ajam sampai hari inipun tidak pernah bisa menunjuk kan perbedaan esensi makna Rob dan Ilah iyakan…..? kenapa masih memaksa untuk membedakan keduanya….?

    Ajam berkata : saya tantang anda untuk menyebut / membawakan ayat al-qur`an yang menunjukkan ajakan/dakwah nabi/raul kepada kaumnya yang muyrik untuk menyembah pada Alloh dengan menggunakan lafadh Ilah (dan sembahlah Ilahmu).

    Saya jawab : inilah salah satu contoh kekonyolan dan tidak nyambungnya ajam , ketika tidak mampu menjelaskan dan menunjukkan perbedaan makna Ilah dan Rob , konyolnya ajam adalah mengatakan :…menyembah pada Alloh dengan menggunakan lafadh Ilah (dan sembahlah Ilahmu). kata – kata ajam Ini menunjukkan jika Ajam tidak mengerti Munasabat dalam Fiqhul Lughoh `Arobiyyah , dan saya maklum karena pelajaran paling dasar pun ajam belum mengerti seperti Mubtada Khobar pun ajam tidak tahu.
    Adapun letak tidak nyambungnya Ajam , adalah diskusinya soal Iman , Tauhid dan perbedaan makna ilah dan Rob namun yang ditanyakannya soal Ibadah , ajam , yang sedang kita bahas ini Soal Iman soal Tauhid soal perbedaan makna Ilah dan Rob kok Ajam mengalihkan kepada persoalan ” menyembah ” dengan Kata Ilah…? Persoalan menyembah ini adalah persoalan ” Ibadah ” jam , dan itu bukan persoalan yang sedang kita bahas , atau Ajam tidak bisa membedakan persoalan (kata) Iman dengan Ibadah….? Sekali lagi Inipun saya maklumi karena dia (ajam) pun mengaku sebagai Ajam bukan orang Arab. ( saya juga bukan orang arab lho)
    Meskipun demikian , ini saya bawakan ayat al-qur`an yang mengait kan kata menyembah ” Ibadah ” dengan kata ” Ilah” :
    Qooluu Na`budu Ilahaka wa-ilaha aba-ika dst qs. Baqoroh ayat 133 . apakah ajam masih akan ngeyel…?

    ajam mengatakan :
    karena begitulah prinsipnya. sekedar pengakuan saja bahwa Alloh sebagai Rabb tidak cukup untuk menjadikan seseorang sebagai Mu’min jika tidak diikuti dengan mengesakan penghambaan kepada-Nya.

    Saya jawab : makanya jangan jadikan Pengakuan Kafir Quresy sebagai Landasan untuk merumuskan pembagian tauhid , lagi pula apa dasarnya Jika Robb dan Ilah itu berbeda…. ? tokh dari awal ajam tidak pernah bisa membuktikan apalagi menjelaskan perbedaan esensi makna keduanya. Iyakan….?

    Ajam berkata : anda katakan bahwa orang yang bertauhid Rubbubiyah otomatis bertauhid Uluhiyah dan begitu juga sebaliknya. padahal kenyataannya, ada orang yang mengakui Rubbubiyah Alloh, namun menjadikan selain Alloh sebagai Ilah. anda jangan ingkari hal ini, karena Ibnu Abbas dan ahli tafsir lainnya meyakini adanya hal ini.

    Saya jawab : benar saya katakan bahwa Ilah dan Rob itu sama , karena memang Allah dan Rosulmnyapun tidak membedakannya , adapun pengakuan Kafir quresy adalah Fakta jika sebagian mereka adalah penganut Dien Ibrahim as , Namun juga Sangat keliru jika ajam menyamakan kafir quresy dengan Muslim yang jelas ahli Tauhid , ini menunjukkan jika ajam tidak mampu membedakan antara ” Tauhid Rububiyah ” dengan ” pengakuan akan Rububiyah ”

    Ajam berkata :
    kalo tidak salah, di awal diskusi kita saya pernah menyampaikan definisi Tauhid Rubbubiyah (maaf kalo lupa) adalah mengesakan Alloh dalam hal Rubbubiyah yaitu mengakui bahwa Alloh satu2nya Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, mengatur, dan lain2.
    berdasarkan definisi di atas, bukankah jelas bahwa telah ada 1 jenis tauhid dalam diri kaum musyrikin quroisy. namun 1 jenis tauhid ini saja tidak lantas menjadikan mereka sebagai ahli tauhid atau mu’min. sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas bahwa meskipun ada sebagian “keimanan” dalam diri mereka tidak lantas menjadikan mereka mu’min.

    Saya jawab : inilah contoh lain jika ajam sebenarnya tidak memahami apa yang sedang dia bicarakan , ajam mengatakan : ” jelas bahwa telah ada 1 jenis tauhid dalam diri kaum musyrikin quroisy “. bagaimana bisa Jam orang kafir anda sebut memilki 1 jenis Tauhid , masa ada orang “kafir Musyrik bertauhid”….?
    Ajam juga mengatakan : sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas bahwa meskipun ada sebagian “keimanan” dalam diri mereka tidak lantas menjadikan mereka mu’min. ”

    Saya jawab : lantas kenapa Ajam bilang : mereka memliki 1 jenis Tauhid…? Lalu kenapa kata ” keimanan” dalam pernyataan Ibnu Abbas ini , ajam simpul kan dengan ke ” Tauhidan ”

    ajam mengatakan :
    sudah pernah saya katakan bahwa bagi seorang mu’min, Rabb dan Ilah adalah sama, yakni Alloh subhanahu wa ta’ala. seorang mu’min mengakui bahwa Alloh sebagai Rabb, yakni yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, mengatur, menguasai dan lain2, juga sekaligus mengakui bahwa Alloh sebagai Ilah, yakni yang disembah, yang dimintai doa, dimintai ampunan, dimintai pertolongan, dimintai perlindungan dan lain2.
    adapun bagi musyrikin, Rabb dan Ilah itu beda. mereka mengakui bahwa Alloh sebagai Rabb, namun menjadikan selain Alloh sebagai Ilah. mereka mengakui Alloh yang menurunkan hujan, namun mereka meminta hujan pada patung. mereka mengakui Alloh yang menyembuhkan penyakit, namun mereka meminta kesembuhan pada pohon.

    Saya jawab : kesimpulan ajam ini adalah kesimpulan tanpa dasar baik dari qur`an , Hadist maupun qoul Ulama bahkan bahasa arab pun tidak mendukungnya , bisakah ajam menunjukkan bukti yang mendukung kesimpulan akal-akalan ajam ini… ? lagi pula apakah menurut ajam Bahasa arab yang digunakan Muslimin berbeda dengan bahasa Arab yang digunakan oleh Musyrikin… ? aya aya wae…

    Ajam mengatakan :
    telah jelas bahwa mereka mengakui Alloh sebagai Rabb. bukankah saya telah jelakan juga definisi tauhid Rubbubiyah adalah pengakuan bahwa Alloh sebagai Rabb.
    kalo anda mengingkari adanya tauhid Rubbubiyah pada diri mereka, berarti menurut anda mereka ini kafir juga pada Rubbubiyah Alloh, padahal kenyataannya Ibnu Abbas mengatakan bahwa mereka mengimani Rubbubiyah Alloh. lalu apa dasar anda menganggap mereka kafir pada Rubbubiyah Alloh?

    Saya jawab : inilah salah satu contoh bahaya dari pembagian Tauhid ala Ibnu Taymiyah ” menyamakan Muslim “ahli Tauhid” dengan “Musyrik” yang jelas Kafir , sehingga Ajam pun tidak mampu membedakan antara ” pengakuan Allah adalah Rob ” dengan “Tauhid Rububiyah” bisakah ajam membedakan keduanya… sehingga ajam tidak salah dalam mengambil kesimpulan….?

    ajam mengatakan :
    namun adakah anda mempunyai pegangan untuk pernyataan bahwa kaum kafir di alam barzah tidak bisa menjawab “Rabb adalah Alloh” karena mereka tidak mengakui Alloh sebagai Rabb?

    Saya jawab : akal-akalan apalagi ini jam….? Yang sedang kita bahas adalah Bukti Jika kata Robb dan kata Ilah itu sama dalam arti tidak ada perbedaan yang esensi diantara keduanya , kok bahasannya jadi bisa tidaknya Kafir Musyrik menjawab pertanyaan dialam Barzakh …?
    Coba perhatikan perkataan saya : yang menjadi Dasar dalam Hadist riwayat Imam muslim diatas yang menunjukkan jika ” makna Rob sama dengan makna Ilah itu “, bukan Jawaban atau pengakuan orang yang dikubur , tapi ” LIHAT ” pertanyaan Malaikatnya : ” Man Robbuka ? siapa Rob mu ? sama sekali tanpa tanpa tambahan ” dan Ilahmu ” yang menjadi dasar bahwa Ilah dan Robb itu sama , sama sekali bukan Jawaban Kafir Musyrik di alam Barzakh nanti , tapi ” pertanyaan Malaikat ” lantas kenapa ajam masih membedakan Makna Ilah dan makna Robb dengan Jawaban orang kafir nanti dialam Barzakh …? Apakah ajam ingin menjadi seorang peramal…? Lagi pula bukan itu yang jadi dasar.

    Ajam mengatakan : dulu ketika saya bertanya “apakah menurut anda mereka mengakui Rubbubiyah Alloh?” anda menjawab “IYA”. kenapa terjadi sekarang kontradiksi ?
    Saya jawab : sampai sekarang pun saya katakana IYA , lalu letak kontradiksinya dimana Jam…? Bisa ajam jelaskan bentuk kontradiksinya seperti apa….? Atau karena Ajam tidak bisa membedakan ” mengakui rububiyah Allah ” dengan “Tauhid Rububiyah”…? Lantas ajam bilang saya kontradiktif…?

    ajam mengatakan :
    lupakan saja perkataan saya itu karena saya hanya berandai2, bukan bermaksud tegas menjawab. perhatikan saja pada jawaban saya yang pertama yaitu “TIDAK TAHU”. saya tidak tahu kenapa malaikat hanya menanyakan “siapa Rabbmu?” di alam barzah nanti. saya tidak tahu kenapa tidak ditanyakan juga “siapa Ilahmu?”.

    Saya jawab : kenapa dilupakan jam…? Dan kenapa pula ajam berandai andai dalam masalah Tauhid dan keimanan…? Masalah pokok dan Prinsip…? Berarti benar donk jika Tauhid yang kalian yakini adalah hasil Khayalan semata… ? astaghfirullahal Adzim…, jika ajam mengatakan tidak tahu itu lebih baik dan menunjukkan kerendahan hati juga Ilmu namun sayang tidak tahu tapi tidak bertanya..

    ajam berkata :
    pembagian tauhid menjadi tiga bisa diterapkan pada siapa saja. kalo orang musyrik quroisy itu kafir pada Tauhid Uluhiyah dan Asma wa shifat, maka Fir’aun kafir pada semua jenis Tauhid. kalo hilang salah satu tauhid saja bisa dimasukkan ke dalam golongan musyrik/kafir, maka lebih bisa lagi pada orang yang hilang semua tauhidnya.

    Saya jawab : konsekwensi dari pembagian Tauhid yang Bathil ini adalah bahwa orang Hindu, orang Budha, Atheis, dan komunis juga agama buatan manusia yang lainnya ” mengakui rububiyah Allah “. benarkah orang hindu dan komunis mengakui Rububiyah Allah…? Sungguh Bathil jika demikian , cobalah ajam perhatikan ayat berikut:
    Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. [Al-Jaatsiyah: 24]
    Ayat di atas menjelaskan bagaimana pandangan orang atheis dan orang Budha. Juga Komunisme terhadap ” ketuhanan ” (apalagi terhadap Rububiyah Allah ) Akankah ajam terus mendustakan ayat Allah tersebut…? Demi membela Faham Tauhid Yang Bathil…?
    Lalu kenapa ajam tidak komentari pernyataan saya dalam alinea yang sama bahwa :
    ” konsep pembagian Tauhid ala ibnu taymiyah ” menganggap jika Allah itu ada dua , Allah Rob dan Allah Ilah , yang Robb tidak wajib disembah karena orang kafir pun meyakininya , sedangkan Allah yang Ilah wajib disembah…? alangkah bathilya jika demikian. Kenapa yang ini tidak dikomentari jam…? Aku tunggu lho komentarnya

    ajam mengatakan :
    jutru disinilah alasan kenapa Rabb dan Ilah itu harus dibedakan. kenapa hanya menyeru “sembahlah Rabbmu” saja? kenapa tidak “sembahlah Ilahmu” atau “sembahlah Rabb dan Ilahmu”?

    saya Jawab : inilah logika ajam yang sudah mulai ngawur dan lepas control, logika terbalik yang seolah benar namun ternyata salah kaprah dan hanya bentuk safsathah , ajam anda meyakini dan menegaskan Jika makna Robb dan ilah itu berbeda , sehingga Tauhid harus dibagi , dan andapun tidak mampu menunjukkan perbedaan makna keduanya sehingga andapun mengajukan pertanyaan terbalik ( pertanyaan yang seharusnya ajam jawab malah dia balikan kepada penanya ) : kenapa hanya menyeru “sembahlah Rabbmu” saja? kenapa tidak “sembahlah Ilahmu” atau “sembahlah Rabb dan Ilahmu ”?
    bagi saya jawabannya Mudah , : karena memang kata Robb dan Ilah itu tidak berbeda , coba sekarang pertanyaan itu ajam Jawab… bisakah… ? karena ajam terus meyakini (tanpa ilmu ) bahwa kata Robb dan ilah itu memiliki perbedaan makna silahkan ajam jawab pertanyaan itu , ?

    ajam mengatakan : karena orang yang diseru itu sudah mengakui bahwa Alloh adalah Rabb, maka seruan nabi pada mereka “sembahlah Rabbmu” artinya adalah “sembahlah Alloh”. adapun Ilah mereka adalah patung, pohon, kuburan, malaikat, batu dan lain2. maka seruan nabi pada mereka “sembahlah Ilahmu” artinya adalah “sembahlah patung”.

    Saya jawab : pernyataan ajam ini menunjukkan 1. jika ajam tidak memiliki perbendaharaan ayat yang cukup untuk menyimpulkan sebuah persoalan , atau 2. memang ajam adalah pembela kesesatan sejati.3. ajam gak ngerti Bahasa Arab
    Opsi 1. , jika ajam memiliki perbendaharaan ayat yang “cukup” maka dia tidak akan mengatakan : karena orang yang diseru itu sudah mengakui bahwa Alloh adalah Rabb, sebab Fir`aun tidak mengakui Allah sebagai Robb , bahkan ia menganggap dirinyalah Robb , begitu juga dengan orang Hindu, orang Budha, Atheis, dan komunis juga agama buatan manusia yang lainnya adakah mereka mengakui jika “Allah adalah Robb “, seperti yang ajam nyatakan…?
    tidak tahukah ajam dengan Firman Allah SWT : “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. [Al-Jaatsiyah: 24].
    Opsi 2, jika Ajam pembela sejati kesesatan maka nanti ajam akan mengatakan (dengan logika ngawurnya ) bahwa yang dia maksud dengan perkataan :
    ” karena orang yang diseru itu sudah mengakui bahwa Alloh adalah Rabb, maka seruan nabi pada mereka “sembahlah Rabbmu” artinya adalah “sembahlah Alloh”
    ajam akan mengatakan jika yang dia maksud adalah ” hanya Musyrikin Quresy tidak yang lainnya “, jika ajam tetap mengatakan ini maka jawabannya silahkan merujuk pada jawaban diatas dimana Tauhid yang digagas Ibnu taymiyah hanya untuk Kafisr Quresy juga jawaba dengan qs. Al-jaatsiah 24.
    opsi 3, jika ajam mengerti bahasa Arab maka dia tidak akan bikin contoh yang Fasid , karena sesungguhnya Dhomir Kaaf dalam kata Na`budu Ilaha-ka merupakan dhomir mukhotob limutakillim Wahid (kalo ajam mau nanti saya bahas)

    ajam mengatakan : sebaliknya, anda katakan bahwa makna Rabb dan Ilah itu sama, tidak menuntut pembedaan. kalo demikian, seharusnya tidak masalah jika “sembahlah Rabbmu” diganti dengan “sembahlah Ilahmu” bukan? tapi kenapa kita tidak menemukan ayat yang menyebutkan “sembahlah Ilahmu”? menurut anda, kenapa demikian ?

    saya jawab : jika ajam tidak minim pengetahuan tentang ayat Qur`an maka ajam tidak akan mengatakan :” kenapa kita tidak menemukan ayat yang menyebutkan “sembahlah Ilahmu”? silahkan ajam rujuik lagi qs. Al-baqoroh ayat 133 pada kata ” Na`budu Ilahaka “dan jika ajam pernah belajar Fiqhul lughoh wasirrul `Arobiyyah maka ajam akan dapati Istilah ” munasabat ” (kecocokan kata) dimana kata berbeda memiliki makna yang sama.

    Ajam berkata :
    andalah yang hendak lari dari persoalan, karena sebenarnya saya bisa membantai anda dengan bermodal jawaban anda atas pertanyaan itu. namun karena takut dibantai, anda berusaha mengelak dan menuduh saya mengalihkan pembicaraan.

    Saya jawab : lari dari persoalan… ? ajam coba perhatikan kata-kata saya : ajam , yang sedang kita bahas adalah Soal ” KEIMANAN ” , soal TAUHID soal perbedaan makna Ilah dan makna Rob , sama sekali bukan soal IBADAH kenapa ajam mencotoh kan dengan mengajak “IBADAH ” ke orang pedalaman papua… ? jadi siapa sebenarnya yang hendak lari… ? (poko bahasan soal Tauhid ajam larikan ke soal Ibadah) , membantai saya….? Yang bener aja jam , komentar saya yang mana yang ente anggep sudah dibantai…. ? ga kebalik tuh…? He he he.

    Ajam berkata : kenapa saya membawakan contoh suku pedalaman papua? bukankah mereka tidak mengenal Alloh sebagai Rabb? Abah Zahra pernah membawakan contoh bangsa Yunani kuno yang sama2 dengan suku pedalaman papua tidak mengenal Alloh sebagai Rabb, tapi saya tidak marah dan menjelek2kan dia.

    Saya jawab : ajam yang jadi masalah adalah anda mencontohkan mengajak mereka ber IBADAH , sedangkan yang sedang kita bahas adalah soal pembagian tiga Tauhid , Soal ke Imanan bukan soal ” IBADAH ” soal anda dengan Abah Zahra silahkan anda selesaikan dengan yang bersangkutan , gak usah dibawa-bawa ke diskusi saya dengan ajam ok…? terus siapa yang marah dan menjelek jelekkan Ajam…? Dan kalaupun ada yang tidak berkenan saya mohon maaf , ok…?

    intinya sudah tidak ada Dalil Lain kan…baik aqli maupun Naqli ? ( kecuali logika gawur iyakan…..?) , yang menguatkan atau mendukung pendapat Ibnu Taymiyah ? jika masih ada silahkan kumpulkan seluruh Ulama WAHABI , kerahkan seluruh kemampuan kalian untuk membela Aqidah sesat Ibnu Taymiyah yang kalian anggap sebagai satu-satunya kebenaran mutlak , yang kalian anggap sebagai Syeikhul Islam, namun jika tidak ada , sebaiknya ajam terima ….. …. dan tobat.

    Wallahu a`lam bishowab.

    1. sampai anda bisa mendatangkan bukti yang valid dan otentik yang pernah saya minta bahwa apa yang anda tuduhkan tentang sejarah hitam wahabi adalah benar.

    2. bukti yang valid dan otentik itu seperti apa jam…? mau tobat kok nyari bukti ke orang lain , ajam andakan sudah dewasa cari sendiri donk kalo bener-bener pengen sembuh… kayak anak kecil aja berobat mesti dipaksa…he he he…

      1. hadits Ibnu Abbas menyebutkan bahwa yang menuduhlah yang wajib mendatangkan bukti. jangan2 anda mengingkari kewajiban ini.

        “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nuur 4)

        padahal persoalan ini lebih urgen daripada persoalan zina, ko anda dengan entengnya meremehkan kewajiban mendatangkan bukti/saksi bagi si penuduh.

        1. yang sudah pernah disampaikan itu cuma alur ceritanya. kalo mau disebut bukti, harusnya disertakan juga sumbernya. mana ada orang bisa cerita ngalor ngidul tentang sejarah kurang lebih 300 tahun lalu secara langsung tanpa sumber rujukan.

          kalo cuman mendongeng, saya juga bisa mas. anda pun juga bisa.

          1. si Ajam ini ngeyelan rupanya. Padahal di atas sudah dikasih bukti rujukan oleh Baihaqi, berupa 120 buku referensi juga 42 mess media gitu lho, kok masih ngeyel minta bukti???

            Ajam, sekalian aja minta bukti darah kaum Muslimin yg dibantai Wahabi, he he he ….

  131. mas ahmad:

    anda berkata:
    ternyata Ajam sampai hari inipun tidak pernah bisa menunjuk kan perbedaan esensi makna Rob dan Ilah iyakan…..? kenapa masih memaksa untuk membedakan keduanya….?

    saya jawab:
    sudah saya tunjukkan dengan berbagai cara bahwa Rabb dan Ilah itu berbeda
    1) Rabb berkenaan dengan perbuatan Alloh pada makhluq dan Ilah berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh.
    2) Rabb dan Ilah bagi mu’min adalah sama, yakni Alloh. sedangkan Rabb bagi musyrik itu Alloh namun Ilah bagi mereka adalah selain Alloh.
    3) para nabi dan rasul ketika menyeru kepada ummatnya yang musyrik untuk menyembah Alloh hanya menggunakan lafadh Rabb (dan sembahlah Rabbmu), tidak pernah menggunakan lafadh Ilah (dan sembahlah Ilahmu)
    4) ketika menyebutkan sesuatu yang dipuja2 seperti patung, hawa nafsu, tokoh dll selalu digunakan lafadh Ilah, tidak pernah digunakan lafadh Rabb.

    terserah anda katakan ini esensial atau tidak, yang jelas Rabb dan Ilah itu beda.

    anda berkata:
    inilah salah satu contoh kekonyolan dan tidak nyambungnya ajam , ketika tidak mampu menjelaskan dan menunjukkan perbedaan makna Ilah dan Rob , konyolnya ajam adalah mengatakan :…menyembah pada Alloh dengan menggunakan lafadh Ilah (dan sembahlah Ilahmu). bla bla bla…dst

    saya jawab:
    ngalor ngidul muter2 tidak langsung pada inti pertanyaan saya. jawabannya pun ga nyambung dan ga jelas. yang saya tanyakan adalah ajakan nabi kepada ummatnya yang musyrik untuk menyembah Alloh dengan menggunakan lafadh Ilah, ko yang disebutkan “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.”

    saya tanyakan hal ini agar anda tahu bahwa lafadh Rabb dan Ilah itu beda. karena itulah lafadh Rabb tidak bisa menggantikan lafadh Ilah dan lafadh Ilah tidak bisa menggantikan lafadh Rabb.

    anda berkata:
    makanya jangan jadikan Pengakuan Kafir Quresy sebagai Landasan untuk merumuskan pembagian tauhid , lagi pula apa dasarnya Jika Robb dan Ilah itu berbeda…. ? tokh dari awal ajam tidak pernah bisa membuktikan apalagi menjelaskan perbedaan esensi makna keduanya. Iyakan….?

    saya jawab:
    justru kalo tidak dirumuskan, seperti yang dinyatakan dalam artikel baru “Ulama Mesir: Tentang Sesatnya Pembagian Tauhid Versi Wahabi” yang mengatakan bahwa tauhid Rubbubiyah itu adalah Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Uluhiyah adalah Tauhid Rubbubiyah, maka akan terjadi kerancuan.

    jika ada orang yang bertauhid Rubbubiyah lalu serta merta dengan otomatis kita menganggap dia telah bertauhid Uluhiyah dan Asma wa Shifat juga, berarti kita mengingkari kenyataan adanya orang yang mengakui Alloh sebagai Rabb namun menyembah pada selain Alloh.

    jelas anda katakan bahwa kaum musyrikin quroisy itu mengakui Rubbubiyah Alloh. saya rasa semua orang di forum ini juga setuju dengan hal ini. jika dikatakan mereka itu bertauhid Rubbubiyah, menurut logika anda seharusnya mereka adalah mu’min karena dengan demikian mereka otomatis telah bertauhid Uluhiyah dan Asma wa Shifat juga. akan tetapi jika dikatakan mereka itu kufur Rubbubiyah, maka anda mengingkari perkataan anda sendiri dan Alquran dimana telah dinyatakan mereka mengakui Alloh sebagai pencipta, pengatur, menghidupkan dan mematikan, menurunkan hujan dll. pertanyaan saya, terhadap Rubbubiyah Alloh, mereka itu bertauhid atau kufur?

    anda berkata:
    ini menunjukkan jika ajam tidak mampu membedakan antara ” Tauhid Rububiyah ” dengan ” pengakuan akan Rububiyah ”

    saya jawab:
    jika pengakuan mereka terhadap Rubbubiyah itu bukan tauhid, artinya mereka menganggap ada Rabb lain di samping Alloh (kalo tidak mengesakan bisa berarti menduakan, menigakan, mengempatkan, melimakan dst). kalo gitu saya tanyakan dalil yang terang yang menyebutkan bahwa mereka mengakui adanya Rabb lain selain Alloh! karena selama ini yang saya ketauhi (wallohu ‘alam), kesyirikan mereka adalah karena menjadikan selain Alloh sebagai Ilah (bukan sebagai Rabb).

    anda berkata:
    akal-akalan apalagi ini jam….? Yang sedang kita bahas adalah Bukti Jika kata Robb dan kata Ilah itu sama dalam arti tidak ada perbedaan yang esensi diantara keduanya , kok bahasannya jadi bisa tidaknya Kafir Musyrik menjawab pertanyaan dialam Barzakh …? bla bla bla …dst

    saya jawab:
    anda bertanya alasan malaikat hanya bertanya “siapa Rabbmu?” bukan? jika menurut anda hal itu karena makna Rabb dan Ilah itu sama, sehingga tidak perlu malaikat bertanya “siapa Rabb dan Ilahmu?”, maka saya bertanya balik pada anda. kalo ada orang yang tidak bisa menjawab siapa Rabbnya, dan itu artinya menurut anda dia kufur pada Rubbubiyah dan Uluhiyah Alloh sekaligus, apakah ketika di dunia orang ini tidak mengakui Alloh sebagai Rabb? lalu bagaimana nantinya kaum kafir quroisy yang mengakui Alloh sebagai Rabbnya ditanyai di alam kubur? seharusnya mereka bisa menjawab “Rabbku adalah Alloh” bukan?

    anda berkata:
    konsekwensi dari pembagian Tauhid yang Bathil ini adalah bahwa orang Hindu, orang Budha, Atheis, dan komunis juga agama buatan manusia yang lainnya ” mengakui rububiyah Allah “. benarkah orang hindu dan komunis mengakui Rububiyah Allah…? Sungguh Bathil jika demikian.

    saya jawab:
    sejak awal yang saya maksud dengan kaum musyrikin yang mengakui tauhid Rubbubiyah Alloh adalah yang disebutkan dalam ayat2 Alquran. apakah ayat2 tersebut berkenaan dengan orang budha, hindu dan atheis? sama sekali tidak. pembahasan kita panjang lebar sejak awal adalah kaum musyrikin quroisy dan kaum2 yang kepada mereka diutus nabi dan rasul.

    sejak awal diskusi saya tidak mengingkari adanya kaum yang kufur/syirik terhadap Rubbubiyah Alloh, seperti budha, hindu, atheis, bangsa yunani dan romawi kuno, suku pedalaman papua dan sebagainya. namun semua itu di luar pembahasan kita.

    anda berkata:
    Lalu kenapa ajam tidak komentari pernyataan saya dalam alinea yang sama bahwa :
    ” konsep pembagian Tauhid ala ibnu taymiyah ” menganggap jika Allah itu ada dua , Allah Rob dan Allah Ilah , yang Robb tidak wajib disembah karena orang kafir pun meyakininya , sedangkan Allah yang Ilah wajib disembah…? alangkah bathilya jika demikian. Kenapa yang ini tidak dikomentari jam…? Aku tunggu lho komentarnya

    saya jawab:
    membedakan makna Rabb dan Ilah tidak berkonsekuensi menganggap bahwa Alloh itu dua. tidak berkonsekuensi bahwa Alloh sebagai Rabb ada sendiri dan Alloh sebagai Ilah ada sendiri. bukankah Alloh mempunyai 99 nama dan itu tidak berkonsekuensi bahwa jumlah Alloh ada 99. dan bukankah kalian merumuskan sifat Alloh ada 20 namun kalian tidak mengkonsekuensikan bahwa Alloh berjumlah 20.

    coba pikirkan qiyas ini: Bejo adalah anaknya Untung dan Untung adalah anaknya Slamet. apakah ini mengkonsekuensikan bahwa Untung itu ada 2 orang, yakni Untung sebagai bapaknya Bejo ada sendiri dan Untung sebagai anaknya Slamet ada sendiri? Ataukah Untung itu hanya 1 orang yaitu bapaknya Bejo sekaligus anaknya Slamet?

    anda berkata:
    karena memang kata Robb dan Ilah itu tidak berbeda , coba sekarang pertanyaan itu ajam Jawab… bisakah… ? karena ajam terus meyakini (tanpa ilmu ) bahwa kata Robb dan ilah itu memiliki perbedaan makna silahkan ajam jawab pertanyaan itu , ?

    saya jawab:
    sudah saya jawab, yaitu karena jika menyeru “sembahlah Ilahmu”, maka sama artinya dengan “sembahlah patung”. orang yang diseru itu pada asalnya memang menjadikan patung sebagai Ilah. nabi ibrahim ketika mendakwahi bapaknya, beliau berkata “sembahlah Rabbmu!” dan beliau juga bertanya pada bapaknya “adakah kamu menjadikan patung2 itu sebagai AALIHATAN (Ilah)?”. dalam ayat ini jelas nabi ibrahim mengatakan bahwa patung itu adalah Ilah bagi bapaknya, karena itulah beliau tidak menyeru pada bapaknya “sembahlah Ilahmu”.

    anda berkata:
    1) jika ajam memiliki perbendaharaan ayat yang “cukup” maka dia tidak akan mengatakan : karena orang yang diseru itu sudah mengakui bahwa Alloh adalah Rabb, sebab Fir`aun tidak mengakui Allah sebagai Robb , bahkan ia menganggap dirinyalah Robb , begitu juga dengan orang Hindu, orang Budha, Atheis, dan komunis juga agama buatan manusia yang lainnya adakah mereka mengakui jika “Allah adalah Robb “, seperti yang ajam nyatakan…?

    saya jawab:
    sebelum menjawab, saya ralat dulu perkataan saya yang telah lalu bahwa Firaun tidak mengakui Rubbubiyah Alloh alias tidak mengakui Alloh sebagai Rabb. yang benar adalah, Firaun mengakui Alloh sebagai Rabb namun dia menjadikan dirinya sendiri sebagai Rabb dan Ilah bagi rakyatnya.

    dalilnya:
    1) “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (An Naml 14)

    “mereka” yang dimaksud adalah Firaun dan kaumnya. mereka sebenarnya percaya bahwa Musa itu benar yaitu bahwa Alloh adalah Rabb semesta alam dan Alloh adalah Ilah yang wajib disembah.

    2) “hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan Ilah yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (Yunus 90)

    ini artinya Firaun kufur terhadap Uluhiyah Alloh, namun telah mengakui bahwa Alloh adalah Rabbnya sekalipun itu hanya di dalam hati, sebagaimana dikatakan dalam QS An Naml 14 di atas.

    3) “Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (An Nazi’at 19)

    nabi musa menggunakan seruan “kepada Rabbmu” karena memang Firaun sudah mengakui bahwa Alloh sebagai Rabb alias mengakui Rubbubiyah Alloh. Jika Firaun tidak mengakui Alloh sebagai Rabb, seharusnya seruan itu berbunyi “kepada Rabbku”.

    dengan demikian, kesyirikan Firaun itu hampir sama dengan kesyirikan kaum quroisy.

    kembali pada pertanyaan ahmad, bahwa kaum budha, hindu, atheis, yunani kuno, romawi kuno, suku pedalaman papua sama2 tidak mengakui Rubbubiyah Alloh. keadaan mereka berbeda dengan kesyirikan Firaun dan kaum quroisy.

    letak perbedaannya adalah pada dhomir “kum/kamu/kalian”. jadi seruan “sembahlah Rabbmu” sama artinya dengan “sembahlah Alloh yang telah kamu anggap sebagai Rabb bagi kalian”. dan setahu saya (wallohu ‘alam) tidak ada satupun ayat yang menyebutkan seruan “sembahlah Rabbmu” yang ditujukan kepada orang yang tidak mengakui Alloh sebagai Rabb seperti budha, hindu, atheis dan lain2. jadi kenapa anda masih menghubung2kan antara seruan “sembahlah Rabbmu” dengan apa yang di luar pembahasan kita???

    anda berkata:
    ajam akan mengatakan jika yang dia maksud adalah ” hanya Musyrikin Quresy tidak yang lainnya “, jika ajam tetap mengatakan ini maka jawabannya silahkan merujuk pada jawaban diatas dimana Tauhid yang digagas Ibnu taymiyah hanya untuk Kafisr Quresy juga jawaba dengan qs. Al-jaatsiah 24.

    saya jawab:
    harus diluruskan dulu logika anda yang bengkok anda itu.
    1) pokok pembahasan kita adalah kaum musyrikin yang mengakui Alloh sebagai Rabb namun menjadikan selain Alloh sebagai Ilah sehingga muncul kesimpulan bahwa terdapat orang yang bertauhid Rubbubiyah namun kufur/syirik terhadap Uluhiyah.
    2) bentuk seruan nabi kepada kaum yang mengakui Rubbubiyah Alloh dan kaum yang sama sekali mengingkari Rubbubiyah Alloh itu beda. kepada orang yang mengakui Rubbubiyah Alloh, seruan itu berbunyi “sembahlah Rabbmu!”, tapi kepada yang mengingkari Rubbubiyah Alloh tidak ada seruan seperti itu. saya tidak tahu bagaimana bentuk seruan kepada mereka.
    3) bentuk kesyirikan kaum quroisy dengan kaum budha, hindu, atheis dan lain2 itu beda, jadi terapkanlah pembagian tauhid itu kepada kedua jenis kesyirikan ini secara berbeda pula.
    4) setahu saya, kaum budha, hindu, atheis, bangsa yunani dan romawi, suku pedalaman papua dan kaum yang lain yang tidak mengakui Rubbubiyah Alloh, tidak diutus seorang nabi dan rosul kepada mereka. Kepada mereka tidak ada seseorang yang menyeru “sembahlah Rabbmu”. Jika ada, mohon kekeliruan saya ini diluruskan.
    5) benarkah QS Al Jatsiyah 24 itu berkaitan dengan orang2 yang tidak mengakui Alloh sebagai Rabb. Tolong dong ditunjukkan dimana kaitannya? Yang saya pahami, ayat ini berkaitan dengan Bani Isroil.

    Nah, Alquran saja hanya membahas orang2 yang telah mengakui Alloh sebagai Rabb, kenapa kamu tidak mencela Alquran juga jika seandainya pembagian tauhid hanya diterapkan pada kaum yang mengakui Alloh sebagai rabb kamu cela habis2an? Jika kamu tidak mencela Alquran, seharusnya jangan mencela juga pembagian tauhid ini.

    Dan ternyata kamu juga salah sangka, karena pembagian tauhid ini bisa diterapkan pada siapapun. Jika kehilangan 1 tauhid saja bisa disebut musyrik, maka lebih bisa lagi bagi yang kehilangan semua tauhid.

    Anda berkata:
    jika ajam mengerti bahasa Arab maka dia tidak akan bikin contoh yang Fasid , karena sesungguhnya Dhomir Kaaf dalam kata Na`budu Ilaha-ka merupakan dhomir mukhotob limutakillim Wahid (kalo ajam mau nanti saya bahas)

    saya jawab:
    terima kasih, namun perlu diingat bahwa contoh itu andalah yang membawakannya. Saya tidak pernah membawakan contoh seperti itu.

    Anda berkata:
    jika ajam tidak minim pengetahuan tentang ayat Qur`an maka ajam tidak akan mengatakan :” kenapa kita tidak menemukan ayat yang menyebutkan “sembahlah Ilahmu”? silahkan ajam rujuik lagi qs. Al-baqoroh ayat 133 pada kata ” Na`budu Ilahaka “dan jika ajam pernah belajar Fiqhul lughoh wasirrul `Arobiyyah maka ajam akan dapati Istilah ” munasabat ” (kecocokan kata) dimana kata berbeda memiliki makna yang sama.

    Saya jawab:
    Yang saya minta adalah seruan kepada kaum musyrikin, sedangkan yang anda sebutkan adalah anak2 nabi ya’kub. Apakah menurut anda anak2nya nabi ya’kub adalah musyrikin, padahal salah satunya adalah nabi yusuf?

    Anda berkata:
    lari dari persoalan… ? ajam coba perhatikan kata-kata saya : ajam , yang sedang kita bahas adalah Soal ” KEIMANAN ” , soal TAUHID soal perbedaan makna Ilah dan makna Rob , sama sekali bukan soal IBADAH kenapa ajam mencotoh kan dengan mengajak “IBADAH ” ke orang pedalaman papua… ? jadi siapa sebenarnya yang hendak lari… ? (poko bahasan soal Tauhid ajam larikan ke soal Ibadah) , membantai saya….? Yang bener aja jam , komentar saya yang mana yang ente anggep sudah dibantai…. ? ga kebalik tuh…? He he he.

    Saya jawab:
    membahas suku pedalaman papua tidak jauh juga dengan pembahasan perbedaan Rabb dan Ilah. Yang aneh itu anda, Alquran tidak pernah membahas orang2 yang tidak mengakui Rubbubiyah Alloh seperti budha, hindu, atheis dan lain2, ko anda sangkut pautkan dengan pembahasan kita.

    Buktinya anda selalu menghindari untuk menjawab pertanyaan dengan alasan pertanyaan itu di luar pembahasan. Padahal saya butuh jawaban itu sebagai dasar untuk menjelaskan persoalan ini.

    Anda berkata:
    ajam yang jadi masalah adalah anda mencontohkan mengajak mereka ber IBADAH , sedangkan yang sedang kita bahas adalah soal pembagian tiga Tauhid , Soal ke Imanan bukan soal ” IBADAH ” soal anda dengan Abah Zahra silahkan anda selesaikan dengan yang bersangkutan , gak usah dibawa-bawa ke diskusi saya dengan ajam ok…? terus siapa yang marah dan menjelek jelekkan Ajam…? Dan kalaupun ada yang tidak berkenan saya mohon maaf , ok…?

    Saya jawab:
    Wah, udah maen ga fair ini. Kalo orang yang segolongan aja didiamkan, tapi beda golongan disalahkan. Padahal anda sendiri juga menyimpang dari pembahasan, kenapa tidak menyalahkan diri sendiri juga. Jika bertanya selalu memaksa untuk dijawab, dan alhamdulillah saya jawab semampu saya. Tapi jika ditanya selalu menghindar. Jika dijelaskan tidak mau menyimak sehingga saya harus mengulang2 perkataan dan membuat kesimpulan sendiri yang jauh dari penalaran.

  132. Ajam biar diskusinya bisa focus dan ada Natijahnya , persoalannya saya krucutkan pada pokok pembahasan yaitu perbedaan Makna Robb dan Ilah sehingga apakah Tauhid harus dibagi seperti versi Ibnu Taymiyah atau pembagian itu sesat menyesatkan :

    Ajam berkata :
    sudah saya tunjukkan dengan berbagai cara bahwa Rabb dan Ilah itu berbeda
    1) Rabb berkenaan dengan perbuatan Alloh pada makhluq dan Ilah berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh.

    Saya jawab : saya pun sudah membantah seluruh jawaban ajam soal perbedaan makna Ilah dan rob , dan ajam tidak mampu membuktikan kebenaran dari pendapat ajam , dan bukankah sudah saya katakan bahwa : kata “Rabb” tidak selalu berkenaan dengan perbuatan Alloh pada makhluq begitu juga kata ” Ilah ” tidak selalu berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh. karena Alqur`an dan As-sunnah pun tidak membedakan keduanya…? Kenapa ajam masih ingin membedakannya …? Apa dasarnya hingga ajam masih memaksa membedakan dua Lafadz ini…?

    ajam mengatakan : 2) Rabb dan Ilah bagi mu’min adalah sama, yakni Alloh. sedangkan Rabb bagi musyrik itu Alloh namun Ilah bagi mereka adalah selain Alloh.

    Saya jawab : jadi Robb itu apa dan Ilah itu apa…? Dan adakah dalil dari Qur`an atau hadist yang mendukung pernyataan ajam pada poin 2 diatas…? Silahkan sebutkan…

    ajam mengatakan : 3) para nabi dan rasul ketika menyeru kepada ummatnya yang musyrik untuk menyembah Alloh hanya menggunakan lafadh Rabb (dan sembahlah Rabbmu), tidak pernah menggunakan lafadh Ilah (dan sembahlah Ilahmu)

    Saya Jawab : ajam apakah anda pernah belajar Fiqhul lughoh Wasirrul arobiyyah…? Tahukah anda istilah Munasabatul al-fadz ( kecocokan-kecocokan kata…? Dan apakah ajam sudah meng inventarisir seluruh kata Robb dan kata Ilah dalam al-qur`an dan Hadist sehingga bisa mengatakan “Hanya” menggunakan lafadz Robb…? Jika sudah bagaimana dengan Firman Allah ya ayuhannasu ` budu Robbakumuladzi dst (qs.al-baqoroh :21), ayat ini membantah pernyataan Ajam ” hanya” menggunakan kata Robb untuk Musyrikin , Lihat kata an-nas seluruh manusia baik kafir musyrik Mulhid muslim dan mu`min .

    ajam mengatakan : 4) ketika menyebutkan sesuatu yang dipuja2 seperti patung, hawa nafsu, tokoh dll selalu digunakan lafadh Ilah, tidak pernah digunakan lafadh Rabb.

    Saya jawab : inilah yang saya sebut munasabah (kecocokan kata) sama sekali tidak menunjukkan perbedaan makna yang esensial.

    Ajam mengatakan : terserah anda katakan ini esensial atau tidak, yang jelas Rabb dan Ilah itu beda.

    Saya jawab : iya makanya perbedaanya apa…? Ajam coba deh ente Inventarisir seluruh ayat al-qur`an yang berkaitan dengan Lafadz Ilah dan Robb niscaya ajam akan mendapati jika Robb dan Ilah tidak memiliki perbedaan Makna yang esensial , yang berkonsekwensi Tauhid harus dibagi , setelah ajam inventarisir semuanya silahkan ajam pilih mau tetap membedakan makna keduanya dan mengikuti Ibnu taymiyah(meskipun menyalahi qur`an hadist , dan bahasa arab) atau meninggalkan faham sesat itu , terserah ajam.

  133. ah, anda mau lari saja pake alasan “mengerucutkan” segala. tapi ya sudahlah, toh saya sudah mulai terbiasa menghadapi sikap anda.

    anda berkata:
    saya pun sudah membantah seluruh jawaban ajam soal perbedaan makna Ilah dan rob , dan ajam tidak mampu membuktikan kebenaran dari pendapat ajam , dan bukankah sudah saya katakan bahwa : kata “Rabb” tidak selalu berkenaan dengan perbuatan Alloh pada makhluq begitu juga kata ” Ilah ” tidak selalu berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh. karena Alqur`an dan As-sunnah pun tidak membedakan keduanya…? Kenapa ajam masih ingin membedakannya …? Apa dasarnya hingga ajam masih memaksa membedakan dua Lafadz ini…?

    saya jawab:
    bantahan anda itu mentah. anda pernah membantah saya dengan membawakan QS Al Hijr 99 bukan? sudah saya bantah lagi, kenapa dalam ayat itu dipakai lafadh “sembahlah Rabbmu”, tidak memakai lafadh “sembahlah Ilahmu” adalah karena orang yang diseru itu sudah mengakui Alloh sebagai Rabb sehingga seruan “sembahlah Rabbmu” itu sama artinya “sembahlah Alloh”, sedangkan mereka menjadikan selain Alloh sebagai Ilah sehingga seruan “sembahlah Ilahmu” sama artinya dengan “sembahlah selain Alloh”.

    anda pun tidak bisa berkata sepatah kata pun ketika saya menyebutkan seruan nabi ibrahim kepada bapaknya yang menggunakan lafadh “sembahlah Rabbmu” dan beliau menyebut patung2 yang disembah oleh bapaknya dengan lafadh “Aalihatan(jamak dari Ilah)”.

    anda berkata:
    jadi Robb itu apa dan Ilah itu apa…? Dan adakah dalil dari Qur`an atau hadist yang mendukung pernyataan ajam pada poin 2 diatas…? Silahkan sebutkan…

    saya jawab:
    lagi2 tidak mau menyimak sehingga saya harus mengulang2 posting. mohon disimak baik2 ya mas ahmad, bagi mu’min, Rabb dan Ilah itu sama, yakni Alloh. seorang mu’min meyakini bahwa Alloh adlaah Rabb pencipta alam semesta, menghidupkan, mematikan, memberi rizki dll dan dia meyakini bahwa Alloh adalah Ilah yang wajib disembah, dimintai doa, dimintai pertolongan dll. adapun bagi musyrik, Rabb itu adalah Alloh, namun Ilah adalah selain Alloh, seperti patung, kuburan, pohon, batu, bintang dll. musyrik meyakini bahwa Alloh sebagai rabb yang menurunkan hujan, akan tetapi dia meminta hujan pada selain Alloh, meyakini Alloh yang menyembuhkan penyakit namun meminta kesembuhan pada selain Alloh.

    kalo dalil saya rasa sudah saya sebutkan banyak sekali.

    anda berkata:
    ajam apakah anda pernah belajar Fiqhul lughoh Wasirrul arobiyyah…? Tahukah anda istilah Munasabatul al-fadz ( kecocokan-kecocokan kata…? Dan apakah ajam sudah meng inventarisir seluruh kata Robb dan kata Ilah dalam al-qur`an dan Hadist sehingga bisa mengatakan “Hanya” menggunakan lafadz Robb…? Jika sudah bagaimana dengan Firman Allah ya ayuhannasu ` budu Robbakumuladzi dst (qs.al-baqoroh :21), ayat ini membantah pernyataan Ajam ” hanya” menggunakan kata Robb untuk Musyrikin , Lihat kata an-nas seluruh manusia baik kafir musyrik Mulhid muslim dan mu`min .

    saya jawab:
    saya tidak pernah berkata bahwa seruan “sembahlah Rabbmu” itu ditujukan kepada musyrikin, tidak berlaku bagi mu’minin. yang saya tanyakan itu khusus tentang seruan kepada musyrikin, adakah yang menggunakan lafadh “sembahlah Ilahmu”? ko anda meluaskan pembahasan sampai masalah seruan kepada mu’min.

    anda berkata:
    4) ketika menyebutkan sesuatu yang dipuja2 seperti patung, hawa nafsu, tokoh dll selalu digunakan lafadh Ilah, tidak pernah digunakan lafadh Rabb

    saya jawab:
    ya benarlah apa kata saya, kalo anda menyebut ini karena kecocokan, sehingga apabila ayat yang mengguankan lafadh Rabb diganti dengan Ilah jadinya tidak cocok, dan demikian pula sebaliknya. artinya, lafadh Rabb tidak bisa menggantikan lafadh Ilah dan juga sebaliknya.

    karena itulah, jika lafadh Rabb dan Ilah itu sama penggunaannya, coba deh disebutkan ada ulama berkata “Ilahul ‘alamiin” (Ilah semesta alam) atau “Ilahul masyrik wa Ilahul maghrib” (Ilah timur dan Ilah barat) atau perkataan apa saja yang menyatukan lafadh Ilah dengan perbuatan Alloh seperti menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki dan lainnya.

    anda berkata:
    iya makanya perbedaanya apa…? Ajam coba deh ente Inventarisir seluruh ayat al-qur`an yang berkaitan dengan Lafadz Ilah dan Robb niscaya ajam akan mendapati jika Robb dan Ilah tidak memiliki perbedaan Makna yang esensial , yang berkonsekwensi Tauhid harus dibagi , setelah ajam inventarisir semuanya silahkan ajam pilih mau tetap membedakan makna keduanya dan mengikuti Ibnu taymiyah(meskipun menyalahi qur`an hadist , dan bahasa arab) atau meninggalkan faham sesat itu , terserah ajam.

    saya jawab:
    saya perlu waktu untuk ini, karena jumlahnya terlalu banyak. namun saya minta anda menyebutkan 1 ayat saja ko ga bisa yah, malah menyebutkan ayat yang salah.

  134. ada pertanyaan penting yang belum anda jawab

    1) pengakuan kaum kafir quroisy terhadap Rubbubiyah Alloh itu apakah tauhid atau kufur?
    2) bagaimana jawaban kaum kafir quroisy ketika ditanyai di alam barzah “siapa Rabbmu?”
    3) Bejo adalah anaknya Untung dan Untung adalah anaknya Slamet. berapa orang jumlah Untung?
    4) dimana kaitan QS AL Jatsiyah 24 dengan kaum yang mengingkari Rubbubiyah Alloh?

    pertanyaan saya jangan dianggap keluar dari pembahasan karena sebenarnya ini sebagai bantahan terhadap komentar anda sebelumnya. jadi tolong dijawab.

    1. @Ajam pertanyaan nt itu yang bisa dijawab cuma yang no 3 yang lainya itu urusan Alloh jam …..nt jngan memaksakan lawan diskusi menjawab pertanyaan yang bukan wewenangnya dong ……..yang no 3 nt nulis bejo adalah anaknya untung dan untung adalah anaknya slamet berapa orang jumlah untung ??? ini adalah petanyaan jebakan kenapa nt nggak sekalian nulis untung juga suaminya minah dan untung kakeknya rudi dan untung adalah pamanya ajam …….berapa orang jumlah untung ????? saya jawab bisa untung 1 orang bisa untung berjumlah yang kita mau sebab untung adalah satu nama namun bisa beda orang ……ajam….ajam ….diskusi adalah menemukan kebenaran bukan kemenangan ……

  135. @Ajam,
    Mas Ajam, sebaiknya antum tidak perlu menghina Mas Syahid terus-terusan. Diskusi akan lebih menarik dan berbobot seandainya antum juga bisa mengimbangi akhlak Mas Syahid yg sangat tampak sayangnya kepada antum sebagai saudranya. Janganlah gara-gara antum ingin menang dalam diskusi ini lalu antum berusaha menjatuhkannya dengan cara menghinanya.

    1. anda diam saja, jangan bicara apa2 jika tidak bisa membantu ahmad menjawab pertanyaan saya. anda malah bikin diskusi ini jadi keruh dan tidak fair. jangan cuman saya yang dijudge mencela, tapi lihat juga kata2 ahmad pada saya. mentang2 kalian satu golongan trus dibela2, tapi yang beda golongan didiskriminasi.

      1. @ Ajam jgn begitu nt keliatan nafsu sekali ingin di anggap menang sih …..memaksa menjawab yang bukan wewenangnya lawan diskusi itu bs juga jadi nggak fair kan karena jawabannya bs jadi bumerang si penjawab contoh ana bertannya ajam nt kan dah tau hukum2 syariat islam dan nt kan udah mengamalkannya (insyaAlloh) apakah nt yakin semua amalan nt itu diterima Alloh SWT ????? dgn keyakinan nt ????

        1. ayo ayo, maen keroyokan… yang jelas2 kelihatan bernafsu dan ingin menang adalah ahmad karena belum apa2 dia sudah membuat kesimpulan sendiri yang jauh dari penalaran. dia juga takut dianggap kalah, karena itulah sealu menghindari pertanyaan.

          wah, anak NU pada maen ga fair nih

          1. jawab aja pertanya ana diatas kalau ngga bs nggak papa jam wong itu cuma contoh dari pertanyaan nt yang nggak fair …..

          2. bagus @ jam nt gentle ……tidak tahu bukan berati bodoh …….@ jam saudaraku belajarlah islam keseluruhan jam biar kita nggak terjebak salah dalam memahaminya……..wassalam

  136. Masya allah berat juga diskusi dengan ajam tanpa moderator , kacau and ngawur dari sering melenceng dari pokok bahasan, dari soal perbedaan esensi makna lafadz Ilah dan Rob , dialihkan kepada persoalan tafsir ayat , dari persoalan Iman dan tauhid dikecoh menjadi persoalan Ibadah , dari persoalan kata Robb apakah selalu berkaitan dengan perbuatan Allah terhadap makhluknya di plintir menjadi persoalan nahwu dan tata bahasa dari persoalan apakah kata Robb selalu berkenaan dengan perbuatan Allah pada Makhluknya atau tidak dipindah menjadi persoalan hak Rububiyyah dan Hak uluhiyah dan lain-lain lika liku pembenaran , bahkan ada juga kecurangan.

    Ajam mengatakan : ah, anda mau lari saja pake alasan “mengerucutkan” segala. tapi ya sudahlah, toh saya sudah mulai terbiasa menghadapi sikap anda.

    Saya jawab : kalo ajam menyebut mau lari silahkan saja , namun apa gunanya jika muter2 terus ngalor ngidul ga ada gunanya kan…? Mendingan langsung aja ke pokok persoalan.

    Ajam mengatakan : bantahan anda itu mentah. anda pernah membantah saya dengan membawakan QS Al Hijr 99 bukan? sudah saya bantah lagi, kenapa dalam ayat itu dipakai lafadh “sembahlah Rabbmu”, tidak memakai lafadh “sembahlah Ilahmu” adalah karena orang yang diseru itu sudah mengakui Alloh sebagai Rabb sehingga seruan “sembahlah Rabbmu” itu sama artinya “sembahlah Alloh”, sedangkan mereka menjadikan selain Alloh sebagai Ilah sehingga seruan “sembahlah Ilahmu” sama artinya dengan “sembahlah selain Alloh”. anda pun tidak bisa berkata sepatah kata pun ketika saya menyebutkan seruan nabi ibrahim kepada bapaknya yang menggunakan lafadh “sembahlah Rabbmu” dan beliau menyebut patung2 yang disembah oleh bapaknya dengan lafadh “Aalihatan(jamak dari Ilah)”.

    Saya jawab : bukan hanya surat al-hijr yang saya bawakan , bahkan jawaban ngawur ajam pun sudah saya bantah bukankah ajam pernah mengatakan : “Rabb adalah fa’il dan Ilah adalah maf’ul ” dan ajam salah menempatkan kata Muhammad sebagai Mudhof/ maf`ul…? lagi pula surat al-hijr tersebut untuk membantah pernyataan ajam bahwa kata “Robb” selalu dikaitkan dengan perbuatan Allah terhadap makhluknya kemudian saya bantah bahwa lafadz Robb tidak selalu menunjukkan perbuatan Allah terhadap makhluknya seperti yang ajam nyatakan , sebagaimana kita dapati dalam Al-qur`an : Wa`bud Robbaka hatta ya tiyakal Yaqin , dalam ayat ini perintah ibadah dikaitkan dengan kata Rob (ibadah perbuatan makhluk kepada Allah ) QS Al Hijr: 99. bukan soal ” Tafsir”dan maksud ayat itu sendiri , tapi soal apakah kata Robb selalu dikaitkan dengan perbuatan Allah kepada makhluknya atau tidak… jangan mengalihkan pokok bahasan dong.

    ajam mengatakan :
    lagi2 tidak mau menyimak sehingga saya harus mengulang2 posting. mohon disimak baik2 ya mas ahmad, bagi mu’min, Rabb dan Ilah itu sama, yakni Alloh. seorang mu’min meyakini bahwa Alloh adlaah Rabb pencipta alam semesta, menghidupkan, mematikan, memberi rizki dll dan dia meyakini bahwa Alloh adalah Ilah yang wajib disembah, dimintai doa, dimintai pertolongan dll. adapun bagi musyrik, Rabb itu adalah Alloh, namun Ilah adalah selain Alloh, seperti patung, kuburan, pohon, batu, bintang dll. musyrik meyakini bahwa Alloh sebagai rabb yang menurunkan hujan, akan tetapi dia meminta hujan pada selain Alloh, meyakini Alloh yang menyembuhkan penyakit namun meminta kesembuhan pada selain Alloh.

    Saya jawab : yang gak nyimak itu ajam , saya berulang-ulang mengatakan apa perbedaan esensi makna Robb dan Ilah sehingga tauhid harus dibagi…? Bukan soal apakah bagi seorang mu`min Ilah dan Robb itu sama sedangkan Musyrikin berbeda tapi soal perbedaan makna kata Robb dan Ilah …? Lalu dalilnya apa bahwa Ilah adalah selain Allah dan Robb itu Allah bagi Musyrikin….? Apakah menurut ajam tidak bisa ditukar penggunaan “kata” menjadi : Robb adalah selain Allah dan Ilah itu Allah bagi Musyrikin , apa dasarnya….?

    Ajam mengatakan : kalo dalil saya rasa sudah saya sebutkan banyak sekali.

    Saya jawab , ya mana dalilnya Jika : Ilah adalah selain Allah dan Robb itu Allah bagi Musyrikin….?

    ajam mengatakan :
    saya tidak pernah berkata bahwa seruan “sembahlah Rabbmu” itu ditujukan kepada musyrikin, tidak berlaku bagi mu’minin. yang saya tanyakan itu khusus tentang seruan kepada musyrikin, adakah yang menggunakan lafadh “sembahlah Ilahmu”? ko anda meluaskan pembahasan sampai masalah seruan kepada mu’min.

    saya Jawab : jam yang kita bahas ini soal Kata , soal lafadz ” Rob” apakah hanya bias digunakan untuk perbuatan Allah kepada Makhluknya atau tidak dan ternyata Firman Allah ya ayuhannasu ` budu Robbakumuladzi dst (qs.al-baqoroh :21), membantah pernyataan ajam , Lihat kata an-nas ” seluruh manusia ” baik kafir musyrik Mulhid muslim dan mu`min , artinya pernyataan ajam bahwa : para nabi dan rasul ketika menyeru kepada ummatnya yang musyrik untuk menyembah Alloh hanya menggunakan lafadh Rabb (dan sembahlah Rabbmu), tidak pernah menggunakan lafadh Ilah (dan sembahlah Ilahmu) terbantah kan dengan ayat ini

    ajam mengatakan
    : anda berkata:
    4) ketika menyebutkan sesuatu yang dipuja2 seperti patung, hawa nafsu, tokoh dll selalu digunakan lafadh Ilah, tidak pernah digunakan lafadh Rabb
    ya benarlah apa kata saya, kalo anda menyebut ini karena kecocokan, sehingga apabila ayat yang mengguankan lafadh Rabb diganti dengan Ilah jadinya tidak cocok, dan demikian pula sebaliknya. artinya, lafadh Rabb tidak bisa menggantikan lafadh Ilah dan juga sebaliknya.

    Saya Jawab : jam point no 4) itu kata-kata ajam kok dinisbatkan ke saya…? Jangan curang dong, poin 4) itu kata-kata ajam , astagfirullah sampe bingung sendiri saya.

    Ajam mengatakan : karena itulah, jika lafadh Rabb dan Ilah itu sama penggunaannya, coba deh disebutkan ada ulama berkata “Ilahul ‘alamiin” (Ilah semesta alam) atau “Ilahul masyrik wa Ilahul maghrib” (Ilah timur dan Ilah barat) atau perkataan apa saja yang menyatukan lafadh Ilah dengan perbuatan Alloh seperti menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki dan lainnya.

    Saya jawab : jam , siapa yang mengatakan jika kata Robb dan Ilah itu sama penggunaannya ….? Itukan hasil kesimpulan ajam setelah berbuat curang dengan memasukkan poni 4) sebagai kata-kata saya , padahal itu perkataan ajam sendiri yang diplintir seolah itu perkataan saya , gimana ajam ini …? (banyak saksi lho disini)

    Ajam, yang saya katakan adalah kata Robb dan Ilah tidak mempunyai perbedaan makna yang esensi , saya tidak pernah mengatakan ” lafadh Rabb dan Ilah itu sama penggunaannya “, jangan main plintir dong….? (sepertinya ajam ini Ibnu Abi Irfan)

    Ajam mengatakan : saya perlu waktu untuk ini, karena jumlahnya terlalu banyak. namun saya minta anda menyebutkan 1 ayat saja ko ga bisa yah, malah menyebutkan ayat yang salah.

    Saya jawab : Satu ayat yang seperti apa jam…? Terus yang salah yang mana ..? bisa ajam jelaskan kesalahannya…? Jangan curang lagi lho…

  137. anda berkata:
    bukan hanya surat al-hijr yang saya bawakan , bahkan jawaban ngawur ajam pun sudah saya bantah bukankah ajam pernah mengatakan : “Rabb adalah fa’il dan Ilah adalah maf’ul ” dan ajam salah menempatkan kata Muhammad sebagai Mudhof/ maf`ul…? lagi pula surat al-hijr tersebut untuk membantah pernyataan ajam bahwa kata “Robb” selalu dikaitkan dengan perbuatan Allah terhadap makhluknya kemudian saya bantah bahwa lafadz Robb tidak selalu menunjukkan perbuatan Allah terhadap makhluknya seperti yang ajam nyatakan , sebagaimana kita dapati dalam Al-qur`an : Wa`bud Robbaka hatta ya tiyakal Yaqin , dalam ayat ini perintah ibadah dikaitkan dengan kata Rob (ibadah perbuatan makhluk kepada Allah ) QS Al Hijr: 99. bukan soal ” Tafsir”dan maksud ayat itu sendiri , tapi soal apakah kata Robb selalu dikaitkan dengan perbuatan Allah kepada makhluknya atau tidak… jangan mengalihkan pokok bahasan dong.

    saya jawab:
    bantahan anda itu juga saya bantah lagi. lafadh Rabb dalam QS Al Hijr 99 masih berkenaan dengan perbuatan Alloh pada makhluq, yakni dikembalikan pada ayat 87 “Dialah yang maha pencipta lagi maha mengetahui”.
    kenapa harus menggunakan lafadh Rabb? karena memang orang yang dieru itu udah mengakui Alloh sebagai Rabb mereka, maka seruan “sembahlah Rabbmu” adalah sama dengan “sembahlah Alloh”. kenapa tidak menggunakan lafadh Ilah? karena mereka menjadikan selain Alloh sebagai Ilah. ditunjukkan pada ayat 97: “(Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya ILAH YANG LAIN DI SAMPING ALLAH; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya).”
    maka seruan “sembahlah Ilahmu” sama artinya dengan “sembahlah selain Alloh (patung, batu, bintang, pohon dll)”.

    anda berkata:
    yang gak nyimak itu ajam , saya berulang-ulang mengatakan apa perbedaan esensi makna Robb dan Ilah sehingga tauhid harus dibagi…? Bukan soal apakah bagi seorang mu`min Ilah dan Robb itu sama sedangkan Musyrikin berbeda tapi soal perbedaan makna kata Robb dan Ilah …? Lalu dalilnya apa bahwa Ilah adalah selain Allah dan Robb itu Allah bagi Musyrikin….? Apakah menurut ajam tidak bisa ditukar penggunaan “kata” menjadi : Robb adalah selain Allah dan Ilah itu Allah bagi Musyrikin , apa dasarnya….?

    saya jawab:
    dalil bahwa mereka menjadikan Alloh sebagai Rabb namun menjadikan selain Alloh sebagai Ilah adlaah sebagai berikut:

    Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (QS Az Zumar 38)

    disitu mereka mengakui Alloh yang menciptakan langit dan bumi. menciptakan adalah salah satu hak Rubbubiyah:

    Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (QS AL Qashash 68)

    dan pada QS Az Zumar 38 juga diebutkan bahwa mereka menyembah berhala. berhala adalah salah satu Ilah bagi kaum musyrikin:

    “Dan ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, ‘Adakah kamu menjadikan patung-patung sebagai Ilah-Ilah?” (QS Al An’am 74)

    anda berkata:
    jam , siapa yang mengatakan jika kata Robb dan Ilah itu sama penggunaannya ….? Itukan hasil kesimpulan ajam setelah berbuat curang dengan memasukkan poni 4) sebagai kata-kata saya , padahal itu perkataan ajam sendiri yang diplintir seolah itu perkataan saya , gimana ajam ini …? (banyak saksi lho disini)

    saya jawab:
    jadi perbedaan penggunaan seperti apa antara Rabb dan Ilah menurut anda? Rabb digunakan ketika apa dan Ilah digunakan ketika apa? dan jika anda katakan berbeda penggunaan, berarti kedua lafadh ini tidak bisa saling bertukar dong?

    anda berkata:
    Satu ayat yang seperti apa jam…? Terus yang salah yang mana ..? bisa ajam jelaskan kesalahannya…? Jangan curang lagi lho…

    saya jawab:
    saya bertanya tentang satu ayat yang menyebutkan seruan seorang nabi/rasul kepada kaumnya yang musyrik untuk menyembah pada Alloh dengan menggunakan lafadh Ilah (dan sembahlah Ilahmu). lalu anda membawakan ayat tentang anak2 nabi Ya’kub yang menyembah pada Alloh dengan menggunakan lafadh Ilah.

    ya jelas ga nyambung dong, wong yang saya minta itu tentang orang musyrik, ko dikasih anak2 nabi ya’kub yang mu’min, padahal salah satunya adalah Nabi yusuf. atau jangan2 anda mau mengatakan bahwa naka2 nabi ya’kub itu musyrik?

  138. Ajam mengatakan :
    bantahan anda itu juga saya bantah lagi. lafadh Rabb dalam QS Al Hijr 99 masih berkenaan dengan perbuatan Alloh pada makhluq, yakni dikembalikan pada ayat 87 “Dialah yang maha pencipta lagi maha mengetahui”.
    kenapa harus menggunakan lafadh Rabb? karena memang orang yang dieru itu udah mengakui Alloh sebagai Rabb mereka, maka seruan “sembahlah Rabbmu” adalah sama dengan “sembahlah Alloh”. kenapa tidak menggunakan lafadh Ilah? karena mereka menjadikan selain Alloh sebagai Ilah. ditunjukkan pada ayat 97: “(Yaitu) orang-orang yang menganggap adanya ILAH YANG LAIN DI SAMPING ALLAH; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya).”
    maka seruan “sembahlah Ilahmu” sama artinya dengan “sembahlah selain Alloh (patung, batu, bintang, pohon dll)”.

    Saya jawab : bantahan Ajam itu lemah dan ngawur , sebab yang saya bantah adalah pernyataan ajam bahwa : Rabb itu berkenaan dngan perbuatan Alloh pada makhluq , sedangkan Allah pun menggunakan kata Robb untuk perbuatan Makhluk kepada Allah , saya koreksi pernyataan ajam, jika firman Allah “Dialah yang maha pencipta lagi maha mengetahui” adalah ayat ke 86 bukan 87 , dan jika dikembalikan pada ayat 86 “Dialah yang maha pencipta lagi maha mengetahui”. Adalah salah kaprah sebab ayat 99 diiringi dengan wawu Isti`naf sehingga tidak bisa dikembalikan kepada ayat ke 86 seperti yang ajam katakan, dan sekali lagi saya tegaskan yang saya bantah adalah pernyataan ajam bahwa : Rabb itu berkenaan dngan perbuatan Alloh pada makhluq , sedangkan Al-qur`an pun menggunakan kata Robb untuk perbuatan Makhluk kepada Allah.

    Ajam mengatakan :
    dalil bahwa mereka menjadikan Alloh sebagai Rabb namun menjadikan selain Alloh sebagai Ilah adlaah sebagai berikut:
    Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya-lah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (QS Az Zumar 38)
    disitu mereka mengakui Alloh yang menciptakan langit dan bumi. menciptakan adalah salah satu hak Rubbubiyah:
    Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (QS AL Qashash 68)
    dan pada QS Az Zumar 38 juga diebutkan bahwa mereka menyembah berhala. berhala adalah salah satu Ilah bagi kaum musyrikin:
    “Dan ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, ‘Adakah kamu menjadikan patung-patung sebagai Ilah-Ilah?” (QS Al An’am 74)

    Saya Jawab : pernyataan ajam bahwa : mereka menjadikan Alloh sebagai Rabb namun menjadikan selain Alloh sebagai Ilah terbantahkan dengan kenyataan, karena ternyata mereka pun menjadikan selain Allah sebagai Arbab (jama` Robb).

    firman Allah : dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat sebagai Arbab (tuhant-uhan) qs. Al-imron : 80 , ayat diatas menegaskan bahwa orang-orang Musyrik juga mengakui adanya arbab selain Allah.

    Allah juga firmannya : ” Demi Allah sungguh kita dahulu dalam keseatan yang nyata, karena kita dahulu (didunia) mempersamakan kamu dengan Robbul Alamin Qs. assyua`ra : 97-98 , ayat ini tegas membatalkan pernyataan ajam , bahwa : mereka menjadikan selain Alloh sebagai ” Ilah ” , karena ternyata merekapun menjadikan selain allah sebagai Arbab

    juga firmannya : ( qs..al-kahfi : 38 ) Tetapi aku percaya dialah Allah, Robku dan aku tidak menyekutukan seorangpun dengan Robku, ayat ini jelas membatalkan pernyataan ajam bahwa : mereka menjadikan selain Alloh sebagai ” Ilah ” , karena ternyata merekapun menjadikan selain allah sebagai Arbab

    ajam mengatakan :
    jadi perbedaan penggunaan seperti apa antara Rabb dan Ilah menurut anda? Rabb digunakan ketika apa dan Ilah digunakan ketika apa? dan jika anda katakan berbeda penggunaan, berarti kedua lafadh ini tidak bisa saling bertukar dong?

    Saya jawab : ajam saya tidak pernah mengatakan : jika kata Robb dan Ilah itu sama penggunaannya ” bukan kah sudah saya peringatkan agar ajam jangan berbuat Curang…? Kenapa ajam Ulang…? (Pertanyaan ajam Itu hasil kesimpulan setelah ajam berbuat curang dengan memasukkan poin 4) sebagai kata-kata saya , padahal itu perkataan ajam sendiri yang diplintir seolah itu perkataan saya , padahal itu perkataan ajam ), gimana ajam ini membela “kebenaran” kok dengan kecurangan …? Jangan main-main lagi ajam.

    ajam mengatakan :
    saya bertanya tentang satu ayat yang menyebutkan seruan seorang nabi/rasul kepada kaumnya yang musyrik untuk menyembah pada Alloh dengan menggunakan lafadh Ilah (dan sembahlah Ilahmu). lalu anda membawakan ayat tentang anak2 nabi Ya’kub yang menyembah pada Alloh dengan menggunakan lafadh Ilah. Ajam mengatakan : ya jelas ga nyambung dong, wong yang saya minta itu tentang orang musyrik, ko dikasih anak2 nabi ya’kub yang mu’min, padahal salah satunya adalah Nabi yusuf. atau jangan2 anda mau mengatakan bahwa naka2 nabi ya’kub itu musyrik?

    Saya jawab : ok saya akui itu kesalahan dari saya , dan mohon maaf , hanya pertanyaan ajam juga adalah contoh lain pengalihan dari pokok Bahasan , sebab yang kita bahas adalah soal perkataan ajam bahwa :
    Rabb itu berkenaan dngan perbuatan Alloh pada makhluq,
    dan Illah itu berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh ,
    dan bukankah sudah saya katakan jika penggunaan kata itu hanya soal kecocokan kata..sama sekali tidak menunjukkan perbedaan ma`na…? kenapa anda meminta sesuatu yang menyalahi bahasa arab itu sendiri….? Lalu apa kaitannya dengan pokok pembahasan kita …? Bukankah yang sedang kita bahas adalah soal perbedaan esensi makna Robb dan Ilah…? Sama sekali Bukan , apakah kata itu digunakan untuk seruan seorang nabi/rasul kepada kaumnya yang musyrik untuk menyembah pada Alloh dengan menggunakan lafadh Ilah atau tidak . , Coba luruskan niatmu itu ajam jangan cuman mondar-mandir ingin cari kemenangan

    yang kita bahas adalah soal perkataan ajam bahwa :
    Rabb itu berkenaan dngan perbuatan Alloh pada makhluq,
    dan Illah itu berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh ,

    ternyata tidak selalu demikian , karena kata Robb tidak selalu berkenaan dengan perbuatan Allah pada makhluq ”seperti firman Allah : Wa`bud Robbaka hatta ya tiyakal Yaqin , perintah ibadah dikaitkan dengan kata Rob (ibadah perbuatan makhluk kepada Allah )

    begitu juga makna Ilah tidak selalu berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh, allah berfirman Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada ilah (yang lain) beserta-Nya, kalau ada ilah beserta-Nya, masing-masing ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari ilah-ilah itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu. [QS. Al-Mu`minun: 90-91]

    perhatikan kalimat ” masing-masing ilah itu akan membawa makhluk yang diciptakannya “.ayat ini tegas jika kata “Ilah ” digunakan untuk perbuatan Ilah kepada Makhluknya , sehingga tidak selalu berkenaan dengan perbuatan Makhluk kepada Allah seperti yang ajam simpulkan

    sampai disini kiranya telah jelas jika pernyataan : Rabb itu berkenaan dngan perbuatan Alloh pada makhluq, dan Illah itu berkenaan dengan perbuatan makhluq pada Alloh,adalah tidak benar , karena ternyata kata “Ilah” dan kata “Robb” digunakan silih berganti dalam al-qur`an tanpa ada perbedaan makna yang esensi.

    jika kita mau jujur dari ayat yang dibawakan ajam dan ayat yang saya bawakan maka Kata Robb dan kata Ilah tidak memiliki perbedaan makna yang esensial , sehingga tidak ada keperluan untuk membagi Tauhid , bahkan pembagian Tauhid ini serta pembatasan makna maknanya tidak rasional , bertentangan dengan al-qur`an dan hadist juga pendapat seluruh Ulama Ahlu Sunnah wal-jama`ah , ayat-ayat al-qur`an , hadist-Hadist dan pernyataan para Ulama ahlu Sunnah Wal-Jama`ah tidak ada yang membedakan antara makna Robb dan makna Ilah , bahkan dalil2 al-qur`an dan hadist meng-Isyaratkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara Robb dan Ilah.

    wallahu a`lam bishowab

    1. Untuk kesimpulan terakhir dar Mas Syahid, ane sangat amat setuju. Memang seharusnya tidak perlu tauhid dibagi-bagi seperti yg dilakukan Wahabis. Selain hal itu bid’ah dholalah, efek buruk dari pembagian tauhid itu adalah sangat menguntungkan orang-orang kafir musyrik. Seperti kita tahu bersama, para penganut wahabi memandang orang-orang kafir musyrik lebih bertauhid dibanding orang-orang yg bertawassul dan bertabarruk. Demikianlah akibat dari implikasi pembagian tauhid, orang-orang yg bersyahadatain divonis lebih rendah daripada orang-orang kafir msyrik asli, itulah keblingernya wahabi yg nyata, makanya dalam sejarah mereka dicatat telah membantai ummat Islam karena mereka dianggap halal darahnya karena ummat Islam lebih musyrik dari orang2 musyrik..

  139. Eit, menurut saya diskusi ini sudah memasuki wilayah yang sangat berat bagi orang awam, yakni wilayah ilmu kalam.
    Pesan saya hati-hati ya jgn sampai terlalu jauh biar selamat.

  140. Ping-balik: - Ummati Press
Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker