Fikih Sunnah

ENGGAN BERMADZHAB KARENA KELIRU MENGARTIKAN BERMADZHAB

 

 

MELURUSKAN KESALAHPAHAMAN MEMAKNAI BERMADZHAB

 

Oleh: Ustadz Abu Hilya

 

Bismillah

Sebelumnya sebagai penghantar perlu kiranya anda merenungkan beberapa hal berikut :

Pertama Firman Alloh :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kalian tidak mengetahui” (QS. An Nahl : 43)

Perhatikan ayat Alloh diatas, betapa luas kemurahan Alloh pada hamba-Nya, karena Dia Maha Mengetahui bahwa sebagian hamba-Nya ada yang tiada atau belum mempunyai pengetahuan, hingga Dia jadikan “Bertanya” sebagai solusi bagi hamba yang belum/tidak tahu.

Kedua : Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Barangsiapa berbicara tentang al qur’an tanpa ilmu, maka hendaklah mengambil tempatnya di neraka” (HR. At Tirmidzi, dan beliau nyatakan sebagai hadits hasan shohih)

Ketiga : Pernyataan para Ulama

a. Pernyataan Imam Ahmad yang dinukil oleh Ibnul Qoyyim dalam I’laamul Muwaqqi’in :

إذا كان عند الرجل الكتب المصنفة فيها قول رسول الله ص – واختلاف الصحابة و التابعين فلا يجوز أن يعمل بما شاء ويتخير فيقضي به ويعمل به حتى يسأل أهل العلم ما يؤخذ به فيكون يعمل على أمر صحيح

“Jika seseorang mempunyai beberapa kitab yang didalamnya terdapat sabda Rosululloh shollallohu ‘alai wasallam, dan khilafiyah para sahabat dan tabi’in, maka ia tidak boleh sekehendaknya mengamalkan dan memilih dan lalu memberi putusan dengan itu semua sampai ia bertanya peda ahli ilmu, pendapat mana yang boleh diambil. Jika demikian maka ia telah menjalankan sesuatu yang benar” (I’laamul Muwaqqi’iin, vol. I, hlm.44 )

Imam Ahmad juga berkata :

“Barangsiapa mempunyai anggapan bahwa ia tidak ber-Taqlid dan tidak ber-Taqlid kepada seseorang dalam agamanya, maka itu adalah pendapat orang fasiq menurut Alloh dan Rosul-Nya”. (Ibnu Abi Ya’la Al Farro’ – Thobaqotul Hanabilah, vol. 1, hlm. 31 dan 65)

b. Pernyataan Al Hafidz Adz Dzahabi ketika menolak orang yang berkata : “Mengambil hadits lebih baik daripada mengambil ucapan As Syafi’iy dan Abu Hanifah”. Imam Adz Dzahabi berkata :

هذا جيد، لكن بشرط أن يكون قد قال بذلك الحديث إمام من نظراء هذين الامامين مثل مالك، أو سفيان، أو الاوزاعي، وبأن يكون الحديث ثابتا سالما من علة، وبأن لا يكون حجة أبي حنيفة والشافعي حديثا صحيحا معارضا للآخرة.

“Pendapat tersebut baik, akan tetapi dengan syarat orang yang berkata tentang hadits tersebut adalah seorang Imam yang sepadan dengan kedua Imam tersebut (Imam As Syafi’iy dan Abi Hanifah), seperti Imam Malik, Sufyan, Al Auza’iy. Dan hendaknya hadits yang ditetapkannya adalah hadits yang tidak mengandung ‘Illat (steril), juga hendaknya hadits yang dijadikan hujjah bagi Imam Abi Hanifah dan Imam As Syafi’iy adalah bukan hadits yang shohih serta bertentangan (Ta’aarudh) dengan yang lain”. (Al Hafidz Adz Dzhabi dalam – Siyaaru A’laamin Nubalaa, vol. 16, hlm. 405)

c. Pernyataan Imam As Syathibi dalam Al Muwafaqoot pada masalah ke sembilan :

فتاوى المجتهدين بالنسبة إلى العوام كالأدلة الشرعية بالنسبة إلى المجتهدين.
والدليل عليه أن وجود الأدلة بالنسبة إلى المقلدين وعدمها سواء؛ إذ كانوا لا يستفيدون منها شيئا؛ فليس النظر في الأدلة والاستنباط من شأنهم، ولا يجوز ذلك لهم البتة وقد قال تعالى: {فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ}
والمقلد غير عالم؛ فلا يصح له إلا سؤال أهل الذكر، وإليهم مرجعه في أحكام الدين على الإطلاق، فهم إذن القائمون له مقام الشارع، وأقوالهم قائمة مقام [أقوال] الشارع.

“Fatwa para Mujtahid bagi orang awam bagaikan dalil Syar’iy bagi para Mujtahid. Adapun dalil (yang menjadi dasar) atas ahal tersebut adalah : Bahwasannya adanya dalil atau tidak adanya dalil bagi orang-orang yang ber-Taqlid adalah sama, mengingat mereka tidak akan dapat mengambil manfaat dari dalil-dalil tsb.Dan tidak akan ada (tidak dapat) Nadzor (analisa) terhadap dalil-dalil dalam kondisi mereka (orang awam), dan hal tersebut (menganalisa dalil-dalil) tidak diperkenankan samasekali bagi mereka.”
Dan bagi orang yang tidak  ‘alim yang ber-taqlid, tidak sah baginya kecuali hanya bertanya kepada para ahli ilmu. Dan para ahli ilmulah tempat yang menjadi rujukan bagi orang awam yang ber-taqlid…. dst . (Al Muwaafaqoot – vol.5, hlm. 336-337)

 

Methode-methode Bermazhab

Banyak kalangan keliru dalam mengartikan “BERMADZHAB”, terlebih bagi kalangan yang menolak bermadzhab. Tulisan kami kali ini tidak dalam rangka menjelaskan alasan serta dasar hukum bermadzhab, akan tetapi lebih kepada penjelasan tentang pola ummat Islam dan para ulama’nya dalam bermadzhab. Hal ini penting agar tidak ada lagi kekeliruan dalam mengartikan bermadzhab.

Sebagai bukti adanya kalangan yang tidak memahami maksud dan pola dalam bermadzhab adalah : Adanya tuduhan sesat terhadap amaliyah atau pendapat yang tidak difatwakan oleh Imam Madzhab.

banner gif 160 600 b - ENGGAN BERMADZHAB KARENA KELIRU MENGARTIKAN BERMADZHAB

Ketahuilah saudaraku, para Aimmatul Madzahib (para Imam Madzhab) khususnya yang empat, secara garis besar mewariskan setidaknya dua hal yang dapat diikuti (dijadikan pedoman) ummat Islam untuk mengetahui hukum-hukum dalam Islam. Dua hal tersebut adalah Qouliy dan Manhajiy. Dari dua hal tersebut, dalam prakteknya kita dapati Tiga Pola bagi para ulama dan ummat Islam dalam mengaplikasikan bermadzhab.

Pertama : METODE QOULIY

Bermadzhab secara Qouliy adalah mengikuti pendapat para Imam Madzhab tentang hukum suatu perkara, dalam hal ini kita ambil contoh : Sunnahnya Qunut dalam sholat shubuh, Dianjurkannya Talaffudz Niyat (bacaan Usholli atau Nawaitu) Sunnahnya Ziyarah Kubur, dll (dalam Madzhab Imam As Syafi’iy dan Syafi’iyyahh).

Pada contoh-contoh diatas, ummat Islam menjadikan pendapat (hasil ijtihad) para Mujtahid sebagai rujukan dalam mengetahui dan menetapkan hukum atas perkara-perkara tsb. Sedangkan para ulama/para Kiyai dan Asatidza hanya sebatas sebagai penyampai informasi atas pendapat-pendapat yang telah menjadi ketetapan para Mujtahid.

Kedua : METODE ILHAQIY

Bermadzhab dengan cara “Ilhaqiy” secara garis besar hampir sama dengan penggunaan “Qiyas” dalam ber-Istinbath/ menggali hukum. Perbedaannya adalah jika dalam “Metode Qiyas” yang menjadi rukun ”Ashal” (Musyabbah Bih atau perkara yang dengannya perkara lain disamakan untuk diketahui hukumnya) adalah Nash yang bersifat “Qoth’iy” (pasti benar). sedangkan dalam “Metode Ilhaqiy” yang menjadi rukun ”Ashal” adalah pendapat para Mujtahid yang bersifat “Dzhonniy” (memiliki kemungkinan salah/keliru).

“Metode Ilhaqiy” biasa digunakan oleh para Ulama atau para Asatidz di pesantren (dalam Bahtsul Masaail) atas perkara-perkara baru yang belum difatwakan hukumnya oleh para Mujtahidin, dimana perkara baru tersebut memiliki kesamaan dengan perkara yang telah difatwakan oleh para Mujtahid.

Dalam hal ini kita ambil contoh Fatwa para Ulama NU tentang “Kenduri Kematian”, dimana dalam tradisi tersebut memiliki kesamaan dengan “Ma’tam” yang dimakruhkan oleh Imam As Syafi’iy atau “Wahsyah, Juma’ atau Arba’in” yang juga dimakruhkan oleh para Ulama Syafi’iyyah.

Disini perlu kami tegaskan sekali lagi, bahwa “Tahlilan” dalam kenduri kematian bukanlah “Ma’tam, Juma’ atau Arba’in” yang dimaksud oleh Imam As Syafi’iy dan para ulama Syafi’iyyah.

Dalam tradisi “Tahlilan/Kenduri Kematian” makanan yang dihidangkan bersifat seadanya dalam rangka menghormat para tamu, dan memang fakta yang terjadi di daerah kami adalah : dengan atau tanpa hidangan makanan para tetangga tetap akan hadir dirumah keluarga simati untuk mendo’akan si mati. Berbeda dengan Ma’tam, Juma’ atau Arba’in, dimana dalam tradisi tersebut keluarga si mati membuat hidangan makanan dengan tujuan menghadirkan orang lain di rumah mereka (hampir menyerupai walimah), sehingga kita dapati Illat (alasan) yang menyebabkan tradisi seperti Ma’tam dihukumi Makruh adalah “Tajdiidul Huzni” dan “Takliful Mu’nah” (menambah kesedihan dan beratnya ongkos/biaya yang ditanggung keluarga si mati) (Lihat Al Umm, vol. 1, hlm. 279).

Disamping itu dalam tradisi “Ma’tam, Juma’ atau Arba’in” yang dimaksud oleh Imam As Syafi’iy dan para ulama Syafi’iyyah tidak disebutkan adanya acara do’a untuk si mati.Dalam hal ini para Ulama NU dalam fatwanya No : 18, menghukumi “Makruh” atas perkara yang berupa “Tahlilan/ Kenduri Kematian” karena memiliki kesamaan dengan “Ma’tam, Juma’, Wahsyah atau Arba’in” yang terletak pada adanya berkumpul dirumah keluarga si mati dan adanya hidangan makanan dalam tradisi tsb. Inilah yang kami maksud bermadzhab dengan cara “Ilhaqiy”.

Ketiga : METODE MANHAJIY

Bermadzhab dengan Metode/cara/pola “Manhajiy” adalah : Menggunakan Manhaj atau Metode yang digariskan oleh para Imam Madzhab dalam Ber-Isthinbath (menggali hukum dari sumber utamanya yakni al qur’an dan as sunnah). Pola ini biasanya diterapkan oleh para “Mujtahid Muqoyyad” (para ulama yang memiliki kapasitas untuk menggali hukum langsung dari sumbernya, akan tetapi penggaliannya tetap menggunakan Manhaj atau Metode yang telah digariskan oleh para Imam Madzhab yang dianutnya).
Dalam hal ini kita ambil contoh Al Imam Ar Rofi’iy, Al Imam An Nawawiy, Al Imam Ibnu Hajar, yang kesemuanya dinisbatkan sebagai “As Syafi’iy” atau “Ash-haabus Syafi’iy” (para ualama yang bermadzhab As Syafi’iy) meskipun dalam banyak hal mereka berpendapat berbeda dengan Al Imam As Syafi’iy sendiri. Akan tetapi karena Manhaj atau metode yang digunakan mereka dalam ber-Isthinbath adalah metode yang digariskan oleh Imam Syafi’iy, karenanya mereka disebut sebagai para Ulama Syafi’iyyah.

Dalam hal ini kita ambil contoh fatwa para Ulama Syafi’iyah tentang “Maulid Nabi”, diantaranya ada Al Allamah Abu Syamah dalam Al Ba’its, Al hafizh Jalaluddin As Suyuthi dalam As Syamil, As Sayyid Abu Bakar Syatho dalam I’anah, As Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam Siroh An Nabawiyyah dll. Meskipun perayaan Maulid Nabi belum terjadi pada masa Imam As Syafi’iy dan tentunya tidak kita dapati fatwa beliau tentang Maulid Nabi, akan tetapi “Maulid Nabi” adalah “Bid’ah Hasanah” dalam Madzhab Syafi’iyyah, karena Isthinbath (penggalian hukum) dalam perkara tersebut menggunakan “Manhaj/Metode” yang telah digariskan oleh Imam As Syafi’iy.

Bermadzhab dengan pola semacam ini sangat diperlukan di era sekarang dan para ulama NU merekomendasikan dan mendorong bermadzhab dengan cara ini (sebagaimana keputusan MUNAS 1992), mengingat banyaknya perkembangan perkara baru yang belum didapati ketentuan hukumnya dari para Imam Madzhab. Di antaranya tentang “Tausi’ul Mina” (perluasan area Mina), “Tausi’ul Mas’a” (pelebaran lalulintas Sa’i), “Wujubu Idzni Zaujah” (mewajibkan izin dari istri sah bagi pelaku poligami), dst.

Semoga tulisan singkat ini dapat menambah wawasan yang bermanfaat bagi kita guna meminimalisir “Perpecahan” yang tidak kita inginkan bersama akibat dari kebodohan dalam mensikapi “Khilafiyah”. Wallohu A’lam…

 

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

47 thoughts on “ENGGAN BERMADZHAB KARENA KELIRU MENGARTIKAN BERMADZHAB”

  1. Menolak atau enggan bermadzhab adalah ekspresi dari kesombongan ilmu. Terbukti mereka yg menolak bermadzhab sering mengatakan hal-hal yg mencerminkan kesombongan bahkan sering merendahkan imam-imam madzhab. Seakan-akan para Imam Madzhab tidak mendasarkan fatwanya kepada Al Qur’an dan Hadits. Itulah kesombongan yg nyata yg sering saya lihat dari orang2 yg menolak bermadzhab.

  2. Salah satu manfaat bermadzhab adalah menyederhanakan/meringkas dalil yg banyak menjadi pemahaman yg simpel. Contoh : ada beberapa macam air : air sungai, laut, hujan, salju, embun, air musakhon, air terkena najis, air bercampur dgn benda air kolam dll. Tapi coba kita telaah dgn kaca mata fiqh syafi’iy ternyata sangat ringkas sehingga kitab fiqh mengatakan Al-Miyahu tsalasatu anwa’ (Rupa2 air ada 3 macam). Ringkas bukan?. Cuma memang seharusnya kita tidak lalu meninggalkan ilmu2 yg menjadi media ijtihad seperti musthalahul hadits, ushul fiqh, ulumul quran dll. Sehingga dgn demikian kita jadi naik kelas dari muqallid thok menjadi muqallid paham dalil. Sehingga klu ada syubhat2 dr kalangan anti madzhab kita bisa berargumen.

  3. GENERASI SALAFUSSOLEH

    ‎1. Sahabat Yang Mulia Khalifah ar-Rasyidin :
    ‎• Abu Bakr Ash-Shiddiq
    ‎• Umar bin Al-Khaththab
    ‎• Utsman bin Affan
    ‎• Ali bin Abi Thalib

    ‎2. Sahabat yang mulia Al-Abadillah :
    ‎• Ibnu Umar
    ‎• Ibnu Abbas
    ‎• Ibnu Az-Zubair
    ‎• ibnu amr
    ‎• Ibnu Mas’ud
    ‎• Aisyah binti Abubakar
    ‎• Ummu Salamah
    ‎• Zainab bint Jahsy
    ‎• Anas bin Malik
    ‎• Zaid bin Tsabit
    ‎• abu hurairah
    ‎• Jabir bin Abdillah
    ‎• Abu Sa’id Al-Khudri
    ‎• Mu’adz bin Jabal
    ‎• Abu Dzarr al-Ghifari
    ‎• Sa’ad bin Abi Waqqash
    ‎• Abu Darda’

    ‎3. Para Tabi’in :
    ‎• Sa’id bin Al-Musayyab wafat 90 H
    ‎• Urwah bin Zubair wafat 99 H
    ‎• Sa’id bin Jubair wafat 95 H
    ‎• Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H
    ‎• MUHAMMAD BIN AL-HANAFIYAH WAFAT 80 H)
    ‎• Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud wafat 94 H
    ‎• Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H
    ‎• Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq
    ‎• Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H
    ‎• Muhammad bin Sirin wafat 110 H
    ‎• Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H
    ‎• Nafi’ bin Hurmuz wafat 117 H
    ‎• Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H
    ‎• Ikrimah wafat 105 H
    ‎• Asy Sya’by wafat 104 H
    ‎• Ibrahim an-Nakha’iy wafat 96 H
    ‎• Aqamah wafat 62 H

    ‎4. Para Tabi’ut tabi’in :
    ‎• MALIK BIN ANAS WAFAT 179 H (PENDIRI MAZHAB MALIKI)
    ‎• Al-Auza’i wafat 157 H
    ‎• Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H
    ‎• Sufyan bin Uyainah wafat 193 H
    ‎• Al-Laits bin Sa’ad wafat 175 H
    ‎• Syu’bah ibn A-Hajjaj wafat 160 H
    ‎• ABU HANIFAH AN-NU’MAN WAFAT 150 H ( MADZAB HANAFI)

    ‎5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Setelah para tabi’ut tabi’in:
    ‎• Abdullah bin Al-Mubarak wafat 181 H
    ‎• Waki’ bin Al-Jarrah wafat 197 H
    ‎• Abdurrahman bin Mahdy wafat 198 H
    ‎• Yahya bin Sa’id Al-Qaththan wafat 198 H
    ‎• IMAM SYAFI’I WAFAT 204 H ( MADZAB SAFI`I)

    ‎6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :
    ‎• AHMAD BIN HAMBAL WAFAT 241 H ( MADZAB HAMBALI)
    ‎• Yahya bin Ma’in wafat 233 H
    ‎• Ali bin Al-Madini wafat 234 H
    ‎• Abu Bakar bin Abi Syaibah Wafat 235 H
    ‎• Ibnu Rahawaih Wafat 238 H
    ‎• Ibnu Qutaibah Wafat 236 H

    Sanad Keguruan Beliau bersambung Hingga baginda rasulullah shalallahu Alaihi Wasallam

    perhatikan huruf besar.. maka adalah bodoh jika wahabi anti madzab

  4. GENERASI SALAFUSSOLEH

    ‎1. Sahabat Yang Mulia Khalifah ar-Rasyidin :
    ‎• Abu Bakr Ash-Shiddiq
    ‎• Umar bin Al-Khaththab
    ‎• Utsman bin Affan
    ‎• Ali bin Abi Thalib

    ‎2. Sahabat yang mulia Al-Abadillah :
    ‎• Ibnu Umar
    ‎• Ibnu Abbas
    ‎• Ibnu Az-Zubair
    ‎• ibnu amr
    ‎• Ibnu Mas’ud
    ‎• Aisyah binti Abubakar
    ‎• Ummu Salamah
    ‎• Zainab bint Jahsy
    ‎• Anas bin Malik
    ‎• Zaid bin Tsabit
    ‎• abu hurairah
    ‎• Jabir bin Abdillah
    ‎• Abu Sa’id Al-Khudri
    ‎• Mu’adz bin Jabal
    ‎• Abu Dzarr al-Ghifari
    ‎• Sa’ad bin Abi Waqqash
    ‎• Abu Darda’

    ‎3. Para Tabi’in :
    ‎• Sa’id bin Al-Musayyab wafat 90 H
    ‎• Urwah bin Zubair wafat 99 H
    ‎• Sa’id bin Jubair wafat 95 H
    ‎• Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H
    ‎• MUHAMMAD BIN AL-HANAFIYAH WAFAT 80 H)
    ‎• Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud wafat 94 H
    ‎• Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H
    ‎• Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq
    ‎• Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H
    ‎• Muhammad bin Sirin wafat 110 H
    ‎• Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H
    ‎• Nafi’ bin Hurmuz wafat 117 H
    ‎• Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H
    ‎• Ikrimah wafat 105 H
    ‎• Asy Sya’by wafat 104 H
    ‎• Ibrahim an-Nakha’iy wafat 96 H
    ‎• Aqamah wafat 62 H

    ‎4. Para Tabi’ut tabi’in :
    ‎• MALIK BIN ANAS WAFAT 179 H (PENDIRI MAZHAB MALIKI)
    ‎• Al-Auza’i wafat 157 H
    ‎• Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H
    ‎• Sufyan bin Uyainah wafat 193 H
    ‎• Al-Laits bin Sa’ad wafat 175 H
    ‎• Syu’bah ibn A-Hajjaj wafat 160 H
    ‎• ABU HANIFAH AN-NU’MAN WAFAT 150 H ( MADZAB HANAFI)

    ‎5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Setelah para tabi’ut tabi’in:
    ‎• Abdullah bin Al-Mubarak wafat 181 H
    ‎• Waki’ bin Al-Jarrah wafat 197 H
    ‎• Abdurrahman bin Mahdy wafat 198 H
    ‎• Yahya bin Sa’id Al-Qaththan wafat 198 H
    ‎• IMAM SYAFI’I WAFAT 204 H ( MADZAB SAFI`I)

    ‎6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :
    ‎• AHMAD BIN HAMBAL WAFAT 241 H ( MADZAB HAMBALI)
    ‎• Yahya bin Ma’in wafat 233 H
    ‎• Ali bin Al-Madini wafat 234 H
    ‎• Abu Bakar bin Abi Syaibah Wafat 235 H
    ‎• Ibnu Rahawaih Wafat 238 H
    ‎• Ibnu Qutaibah Wafat 236 H

    Sanad Keguruan Beliau bersambung Hingga baginda rasulullah shalallahu Alaihi Wasallam
    ‎ dan adalah bodoh jika wahabi anti madzab.perhatikan huruf besar,.

  5. GENERASI SALAFUSSOLEH

    ‎1. Sahabat Yang Mulia Khalifah ar-Rasyidin :
    ‎• Abu Bakr Ash-Shiddiq
    ‎• Umar bin Al-Khaththab
    ‎• Utsman bin Affan
    ‎• Ali bin Abi Thalib

    ‎2. Sahabat yang mulia Al-Abadillah :
    ‎• Ibnu Umar
    ‎• Ibnu Abbas
    ‎• Ibnu Az-Zubair
    ‎• ibnu amr
    ‎• Ibnu Mas’ud
    ‎• Aisyah binti Abubakar
    ‎• Ummu Salamah
    ‎• Zainab bint Jahsy
    ‎• Anas bin Malik
    ‎• Zaid bin Tsabit
    ‎• abu hurairah
    ‎• Jabir bin Abdillah
    ‎• Abu Sa’id Al-Khudri
    ‎• Mu’adz bin Jabal
    ‎• Abu Dzarr al-Ghifari
    ‎• Sa’ad bin Abi Waqqash
    ‎• Abu Darda’

    ‎3. Para Tabi’in :
    ‎• Sa’id bin Al-Musayyab wafat 90 H
    ‎• Urwah bin Zubair wafat 99 H
    ‎• Sa’id bin Jubair wafat 95 H
    ‎• Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H
    ‎• MUHAMMAD BIN AL-HANAFIYAH WAFAT 80 H)
    ‎• Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud wafat 94 H
    ‎• Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H
    ‎• Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq
    ‎• Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H
    ‎• Muhammad bin Sirin wafat 110 H
    ‎• Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H
    ‎• Nafi’ bin Hurmuz wafat 117 H
    ‎• Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H
    ‎• Ikrimah wafat 105 H
    ‎• Asy Sya’by wafat 104 H
    ‎• Ibrahim an-Nakha’iy wafat 96 H
    ‎• Aqamah wafat 62 H

    ‎4. Para Tabi’ut tabi’in :
    ‎• MALIK BIN ANAS WAFAT 179 H (PENDIRI MAZHAB MALIKI)
    ‎• Al-Auza’i wafat 157 H
    ‎• Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H
    ‎• Sufyan bin Uyainah wafat 193 H
    ‎• Al-Laits bin Sa’ad wafat 175 H
    ‎• Syu’bah ibn A-Hajjaj wafat 160 H
    ‎• ABU HANIFAH AN-NU’MAN WAFAT 150 H ( MADZAB HANAFI)

    ‎5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Setelah para tabi’ut tabi’in:
    ‎• Abdullah bin Al-Mubarak wafat 181 H
    ‎• Waki’ bin Al-Jarrah wafat 197 H
    ‎• Abdurrahman bin Mahdy wafat 198 H
    ‎• Yahya bin Sa’id Al-Qaththan wafat 198 H
    ‎• IMAM SYAFI’I WAFAT 204 H ( MADZAB SAFI`I)

    ‎6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :
    ‎• AHMAD BIN HAMBAL WAFAT 241 H ( MADZAB HAMBALI)
    ‎• Yahya bin Ma’in wafat 233 H
    ‎• Ali bin Al-Madini wafat 234 H
    ‎• Abu Bakar bin Abi Syaibah Wafat 235 H
    ‎• Ibnu Rahawaih Wafat 238 H
    ‎• Ibnu Qutaibah Wafat 236 H

    Sanad Keguruan Beliau bersambung Hingga baginda rasulullah shalallahu Alaihi Wasallam

    perhatikan huruf tebal.dan adalah bodoh jika wahabi anti madzab

    1. Bismillaah,

      Kang Von Edison,

      Orang yang mengikuti generasi salafus shalih disebut salafi. Makanya, salafi hanya mengerjakan amalan yang dikerjakan generasi salafus shalih. Mereka tidak mengerjakan amalan yang tidak dikerjakan oleh generasi salafus shalih seperti Maulid Nabi dan lain-lain.

      Wallaahu a’lam.

      1. @ibnu suradi
        “Mereka tidak mengerjakan amalan yang tidak dikerjakan oleh generasi salafus shalih”

        Aqidah salafi wahabi “Allah ada dilangit dan Allah ada di Arsy”, seperti diketahui langit adalah ciptaan Allah.
        Jadi paham wahabi adalah Allah menempati Ciptaannya dan Manusia Ciptaan Allah.
        Kesimpulannya Wahabi adalah penganut paham Wahdathul wujud yang sebenarnya, karena Allah memasuki MakhlukNya / CiptaanNya.

        Bagaimana pandangan ente tentang hal itu, apakah Salafus saleh demikian ??????????

      2. @Ibnu Suradi

        Dalam suatu riwayat hadis Rasulullah Saw. saat melepas kepergian Mu’adz bin Jabal Ra. ke Yaman, di mana beliau bertanya, “Dengan apa engkau menetapkan hukum?” Mu’adz menjawab, “Dengan Kitab Allah (al-Qur’an).” Rasulullah Saw. bertanya, “Bila tidak engkau temukan (di Kitab Allah)?” Mu’adz menjawab, “Dengan Sunnah Rasulullah.” Rasulullah Saw. bertanya, “Jika tidak engkau temukan (di Sunnah Rasulullah)?” Mu’adz menjawab, “Aku berijtihad dengan pendapatku.” Maka Rasulullah Saw. berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasul-Nya.”

        “Barang siapa yang mensunnahkan (membuat/menetapkan) di dalam Islam suatu sunnah hasanah (ketetapan/kebiasaan baik) maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun, dan barang siapa yang mensunnahkan (membuat/menetapkan) di dalam
        Islam suatu sunnah sayyi’ah (ketetapan/kebiasaan buruk) maka atas dia dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim)

        Bila kaum Salafi & Wahabi menafsirkan kata “sanna sunnatan hasanatan” di atas dengan makna “menghidupkan sunnah yang baik” dari sunnah atau ajaran Rasulullah Saw. yang telah ditinggalkan orang karena melihat asbab wurud (latar belakang dikeluarkannya hadis tersebut) yaitu berkenaan dengan sedekah, maka tafsiran itu sungguh keliru dan sangat menyimpang. Kejanggalan tafsiran mereka akan lebih terlihat bila dihubungkan dengan ungkapan “sanna sunnatan sayyi’atan” pada lanjutan hadis tersebut, yang bila diartikan menurut pemahaman mereka “menghidupkan sunnah yang buruk” dari sunnah atau ajaran Rasulullah Saw. Dengan begitu kita akan bertanya, apakah Rasulullah Saw. dan para shahabat beliau mengajarkan keburukan yang juga harus ditiru oleh umatnya??! oleh karena itulah, hadist tersebut dipahami berdasarkan keumumannya, bukan berdasarkan sebab khusus.

        itulah yg dilakukan oleh kami, ahlussunah wal jama’ah as’ariyyah wa maturidiyyah, dari masa ke masa. jika ada persoalan baru, maka ulama kami berijtihad, tidak asal main vonis seperti kalian. Ijtihad itu berlangsung terus, tidak hanya sampai generasi salaf. dan jika berbicara soal ijtihad, maka kita tidak berbicara masalah dosa, karena ijtihad yg benar mendapat dua pahala, jika salah mendapat satu pahala, dengan syarat ijtihad tersebut keluar dari orang yg memang memiliki kapasitas untuk berijtihad.

        Para ulama mujtahid dalam bidang furu’ tidak pernah salah seorang dari mereka mengklaim bahwa dirinya saja yang benar dan selainnya sesat. Mereka tidak pernah mengatakan kepada mujtahid lain yang berbeda pendapat dengan mereka bahwa anda sesat dan haram orang mengikuti anda. Umar bin al Khaththab tidak pernah mengatakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib ketika mereka berbeda pendapat, demikian pula sebaliknya Ali tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepada Umar. Demikian pula para ulama ahli ijtihad yang lain seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ibnu al Mundzir, Ibnu Jarir ath-Thabari dan lainnya. Mereka juga tidak pernah melarang orang untuk mengikuti madzhab orang lain selama yang diikuti memang seorang ahli ijtihad. Mereka juga tidak pernah berambisi mengajak semua ummat Islam untuk mengikuti pendapatnya. Mereka tahu betul bahwa perbedaan dalam masalah-masalah furu’ telah terjadi sejak awal di masa para sahabat Nabi dan mereka tidak pernah saling menyesatkan atau melarang orang untuk mengikuti salah satu di antara mereka.

        Dalam berbeda pendapat, mereka berpegang pada sebuah kaedah yang disepakati: “Tidak diingkari orang yang mengikuti salah satu pendapat para mujtahid dalam masalah yang memang diperselisihkan hukumnya (mukhtalaf fih) di kalangan mereka, melainkan yang diingkari adalah orang yang menyalahi para ulama mujtahid dalam masalah yang mereka sepakati hukumnya (mujma’ ‘alayhi)”.

        Maksud dari kaedah ini bahwa jika para ulama mujtahid berbeda pendapat tentang suatu permasalahan, ada yang mengatakan wajib, sunnah atau makruh, haram, atau boleh dan tidak boleh, maka tidak dilarang seseorang untuk mengikuti salah satu pendapat mereka. Tetapi jika hukum suatu permasalahan telah mereka sepakati, mereka memiliki pendapat yang sama dan satu tentang masalah tersebut maka tidak diperbolehkan orang menyalahi kesepakatan mereka tersebut dan mengikuti pendapat lain atau memunculkan pendapat pribadi yang berbeda.

        Dalam beristidlal sering dijumpai adanya hadits yang diperselisihkan status dan kehujjahannya di kalangan para ulama hadits sendiri. Perbedaan penilaian terhadap suatu hadits inilah salah satu faktor penyebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para ulama mujtahid. Seandainya bukan karena hal ini, niscaya para ulama tidak akan berbeda pendapat dalam sekian banyak masalah furu’ dalam bab ibadah dan mu’amalah. Oleh karenanya, jika ada hadits yang statusnya masih diperselisihkan di kalangan para ahli maka sah-sah saja jika kita mengikuti salah seorang ulama hadits, apalagi jika yang kita ikuti betul-betul ahli di bidangnya seperti Ibnu Hibban, Abu Dawud, at-Tirmidzi, al Hakim, al Bayhaqi, an-Nawawi, al Hafizh Ibnu Hajar, as-Sakhawi, as-Suyuthi dan semacamnya.

        Dari penjelasan ini diketahui bahwa jika ada sebagian kalangan yang mengira bahwa hanya mereka yang mengetahui hadits yang sahih dan hanya mereka yang memiliki hadits yang sahih, hadits yang ada pada mereka saja yang sahih dan semua hadits yang ada pada selain mereka tidak sahih, maka orang seperti ini betul-betul tidak mengerti tentang apa yang dia katakan. Orang seperti ini tidak tahu menahu tentang ilmu hadits dan para ahli hadits yang sebenarnya.

        Allah swt. berfirman: Maknanya: “..Apa yang diberikan Rasulullah kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” (Q.S. al Hasyr: 7)

        Allah swt. tidak menyatakan: “Apa yang diberikan Rasulullah kepadamu maka terimalah dia dan apa yang ditinggalkannya maka tinggalkanlah”.

        al Imam asy-Syafi’i mengatakan: “Setiap perkara yang memiliki sandaran dari syara’ bukanlah bid’ah meskipun tidak pernah dilakukan oleh ulama salaf”.

        Jadi perlu diketahui bahwa ada sebuah kaedah ushul fiqh: “Tidak melakukan sesuatu tidak menunjukkan bahwa sesuatu tersebut terlarang”.

        Dalam ushul fiqh dijelaskan bahwa jika sebuah ayat atau hadits dengan keumumannya mencakup suatu perkara, itu menunjukkan bahwa perkara tersebut masyru’. Jadi keumuman ayat atau hadits adalah dalil syar’i. Dalil-dalil umum tersebut adalah seperti: “Dan lakukan kebaikan supaya kalian beruntung” (Q.S. al Hajj: 77)

        Jadi dalil yang umum diberlakukan untuk semua cakupannya. Kaedah mengatakan: “Dalil yang umum diterapkan (digunakan) dalam semua bagian-bagian (cakupannya)”.

        Bila lingkup rujukan agama hanya dibatasi pada generasi salaf saja (dari masa Rasulullah Saw. sampai masa tabi’in + 300 H.), lalu para ulama setelah mereka dianggap tidak memiliki otoritas untuk menjelaskan agama atau untuk mengijtihadkan hukum, terutama tentang perkara-perkara yang tidak ada di masa salaf tersebut, maka hal ini berarti pengingkaran dan pendustaan terhadap hadis Rasulullah Saw.

        “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambil (mengupayakan)nya, berarti ia telah mengambil bagian yang sangat banyak” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain).

        1. Mas @agung
          Kalau diskusi sama @ibnu suradi, gak usah memakai dalil Ayat maupun hadist, pakai Logika aja. Karena dia tidak mumpuni Ilmu dan tidak menerima dalil yg kita sajikan. Dia berusaha memasukan Shalat ala albani.

          1. Kang Ibnu Suradi harus dipaksa agar bisa berpikir, hanya dg berpikir maka insyaallah beliau akan sembuh. Makanya selama dua hari ini beliau saya sarankan untuk belajar di Ibtidai’iyyah dulu, belajar ilmu dari dasar di pesantren NU, biar tahu di NU itu ilmu sangat komprehensif, belajar dari dasar sampai tingkat lanjut, lengkap di pesantren NU.

            Kalau Ibnu Suradi tinggal di jakarta, saya sarankan masuk di Pesantren DARUL RAHMAN asuhan KH Syukron Makmun, di sini dipelajari ilmu2 sejak dasar sampai lanjut dg bahasa pengantar bahasa Arab.

            Kalau kang Ibnu Suradi tinggal di jawa Tengah, silahkan masuk ke Pesantren Matholi’ul Huda di desa Kajen – Pati, lulus dari situ akan menjadi orang yg benar2 berilmu. Kang Ibnu Suradi juga bisa pilih pesantren di Sarang Rembang asuhan KH Maemun Zubair.

            Banayk sekali Pesantren2 yg komprehensif mempelajari ilmu-ilmu agama, tidak mungkin saya sebutkan semuanya. Silahkan kang Ibnu Suradi mondok di Pesantren, nanti kan tahu bagaimana di pesantren diajarkan dalil-dalil agama. Jadi tidak seperti yg anda bayangkan bahwa warga NU itu tidak mengerti dalil. Keluarlah dari Tempurung, dan bergaullah biar banyak tahu, Kang Ibnu suradi.

  6. Koment-nya koq lucu..sih…salafi wahhabi anti madzhab…tahu apa enggak sih tentang salafi wahhabi? jangan-jangan cuma denger-denger doang ya tentang salafi wahhabi? atau termakan infopalsu yg disampaikan kyai-kyai dan para habaib.

    Yang pasti, salafi wahhabi tidak fanatis pd satu madzhab. Jika pendapat madzhab itu berdasarkan hadits yg lemah, maka diambil lah pendapat yg lebih shohih – walaupun dari madzhab yg lain. banyak koq contohnya. Kenyataannya juga mrk yg mewajibkan bermadzhab lebihbanyak ngawurnya. banyak contohnya koq.

    Artinya, salafi wahhabi mengutamakan pendapat yg lebih shohih dan meninggalkan yg lemah.

    1. @Lau Kaana Khoiron Lasabaquuna ilaihi
      “Artinya, salafi wahhabi mengutamakan pendapat yg lebih shohih dan meninggalkan yg lemah”
      Dalam hal zakat fitrah, ada Makanan pokok dan ada Uang, Mana yang ente ambil?
      Apakah salah satunya “lemah” atau salah satunya “lebih shahih” ?

      1. @Mang Ucep
        Kalau melihat Lau Kaana di atas, jadi saya ingat nama-nama: Ibnu Abdul Chair, Bagus Fadlan, Kh. Anwar, dan Lau Kaana. Itu adalah nama-nama dari SATU Orang yang Paling Ngeyel di sini. Cuma kalau Lau Kaana yang di atas, kita belum tahu, soalnya avitarnya beda.

    2. Bismillah,

      @Lau Kaana Khoiron….

      1. Berarti madzhab apa/siapa yang anda anut ?
      2. Madzhab siapa yang mengharamkan (bahkan menganggap tindakan syirik) tabarruk dengan benda peninggalan orang-orang sholih ?
      3. Madzhab siapa yang menganggap pelaku tawassul adalah Musyrik ?

  7. “Islam itu mudah jgn persulit” salah satu yel” orang yg anti mazhab mengutip salah satu firman Alloh SWT.
    Dlm kenyataan sehari-hari justeru mereka mempersulit diri mereka dan orang” yg terpengaruh pola pikir mereka.ambil contoh aja sholat,sebagai muslim yg awam seperti aku ini hanya tau sholat itu wajib.syarat n rukunnya kurang tau (ini masuk rukun pa syarat).klo aku g ngikut mazhab atau guru/kyai (bermazhab jg) trus aku harus cari di Qur’an n Hadits,ya mungkin sampe mati jg aku g bakalan sholat” (g tau dalil rukun/syarat).bukan berarti aku g mau mencari/mnuntut ilmu.bukan berarti jg aku mnuntut kalian tuk taklid buta,bukan.bukan itu maksud aku.
    Lakukan apa yg kita yakini baik (secara umum) smbil beramal cari ilmu apa yg kita yakini td.

    Wallohu A’lam…..
    Maaf aku manusia yg sudah pasti salah.jd maaf klo ada salah lidah n mohon koreksinya.

    1. Betul mas ridlo, insyaallah shalat seperti yg antum gambarkan itu sudah bagus, Allah maha Rahman dan Maha Rahiim juga maha pemaaf. Allah tidak akan main gebuk seperti preman pasar, jadi tidak perlu kuatir. Percayalah, orang2 awam nanti di akhirat tidak akan ditanya dalil2nya. Asal praktek shalatnya sudah benar sesuai yg diajarkan guru2 ngaji yg pernah mondok di pesantren (NU), percayalah itu sudah benar. Yakinlah akan kasih sayang Allah dan Syafaat Rasulullah Saw, karena itu banyak2 lah baca shalawat Nabi saw, kalau bisa minimal seribu kali setiap hari. Kalau bisa lho ya, kalau nggak bisa bacalah sebisanya atau semampunya. Semoga nanti diaku oleh Nabi kta sebagai Ummat Nabi Muhammad berkat banyak2 baca shalawat.

      Demikian semogaberkenan.

      1. Bismillaah,

        Mbak Aryati menulis: “Asal praktek shalatnya sudah benar sesuai yg diajarkan guru2 ngaji yg pernah mondok di pesantren (NU), percayalah itu sudah benar. ”

        Komentar: “Kok, ukuran kebenaran seperti yang diajarkan guru ngaji yaang pernah mondok di pesantren (NU). Guru saya mengatakan bahwa kebenaran shalat kita diukur dari kesesuaiannya dengan tata cara shalat yang dajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya.

        Kalau begitu, silahkan anda mengikuti tata cara shalat guru2 yang pernah mondok di pesantren. Dan saya akan tetap mengikuti tata cara shalat Rasulullaah.

        Wallaahu a’lam.

        1. Lho, kang Ibnu suradi kok belum mudeng juga dg kata2 saya, kok malah main pelintir kayak tukang cuci memeras cuciannya?

          Artinya begini kang, guru2 ngaji yg pernah mondok di pesantren (terkhusus pesantren NU, karena sekarang ada juga pesantren Wahabi, heh he heh heh…. ), guru2 ngaji tsb sudah belajar Bulughul marom dan kitab2 lainnya sejak Ibtida’iyyah 9dasar), artinya mereka itu mngerti dalilnya, dg demikian guru2 ngaji tsb belajar kepada guru2 di pesantren tentang cara2 shalat sesuai hadits2 yg ada di kitab, dg demikian otomatis mereka ikut cara Shalat rasulullah saw. Ngerti nggak Kang Ibnu suradi?

          Kok susah amat ya kasih pemahaman kpda antum? Itu mungkin karena antum tidak belajar ilmu dari tingkat dasar tetapi langsung belajar tingkat lanjut. Ibarat pemain pencak silat, antum tdk belajar kuda2 yg benar sebagai dasar jurus2 silat, begitu Kang Ibnu Suradi.

      2. Mbak aryati@terima kasih atas koreksinya.
        Sungguh Alloh SWT g akan memberatkan hambanya.Alloh SWT menurut perasangkaan hambaNya (maaf klo slh).tp kita wajib berusaha jg.
        Aku bersyukur sekali dg adanya peringatan maulidur Rosul Muhammad SAW (sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada beliau)semoga kita tergolong orang” yg mencintainya dan mendapat syafaatnya).terus terang aku msh blm bisa merasakan NIKMATnya Ibadah.sholat bolong”,bersholawat hnya dlm sholat,baca Al-Qur’an malasnya minta ampun.
        Alhamdulillah dg adanya peringatan Maulidur Rosul Muhammad SAW aku jd ingat perintah berSHOLAWAT.aku jg mau bersholawat,ya meskipun 1 thn sekali moga Alloh menyampaikan Sholawat dan Salamku kepada SAYYIDIL ANBIYA wa MURSALIN MUHAMMAD SAW.aku jg bersyukur adanya Tahlilan,Yasinan,Dhiba’an,Dzikir bersama dll saya sangat bersyukur adanya itu smua karena jadi pengingat bagiku.mengingat ALLOH ROBBUL ‘ALAMIN.

        Aku hanya manusia
        Maafkan kesalahanku

    2. Bismillaah,

      Kang Ridho,

      Ilmu dalam Islam adalah apa kata Allah dan rasulNya. Kita wajib menuntut ilmu dalam Islam. Namun, kalau ingin menemukan dalil shalat dengan langsung mencarinya dalam Qur’an dan hadits, maka dan benar kata anda: “ya mungkin sampe mati jg aku g bakalan sholat”. Saran saya, tanyakan saja dalil shalat kepada guru yang berilmu, maka ia akan menunjukkan dalil shalat baik dari Qur’an maupun hadits. Jadi, tidaklah sulit bagi anda dan juga salafi untuk bertanya kepada guru tentang dalil shalat dan ibadah lainnya.

      Meski awam, kita toh diberi kemampuan untuk bertanya kepada orang yang memiliki ilmu dalam Islam. Orang awam bertanya. Orang berilmu menjelaskan.

      Wallaahu a’lam.

      1. Bismillah,

        Saudaraku Kang @Ibnu Suradi, anda belum menjawab pertanyaan-pertanyaan kami, hal ini penting sebagai ukuran bagi kami, seberapa manfaat jika kita mengetahui dalil-dalil nash…

        mohon jika tidak keberatan untuk dijawab, atau anda katakan bahwa diskusi kita cukup sampai disini… Matur Nuwoon…

        1. Bismillaah,

          Kang Abu Hilya,

          Bagi saya, dalil-dalil nash itu penting dan sangat bermanfaat bagi saya untuk meyakinkan diri saya bahwa saya beragama Islam termasuk beribadah sesuai dengan perintah Allah yang disampaikan oleh Rasululullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia: “Katakanlah wahai Muhammad: “Jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku……”

          Sekarang saya balik bertanya: “Dari mana anda yakin mengikuti Rasulullaah dalam beragama termasuk ibadah bila tidak melalui dalil-dalil nash?”

          Wallaahu a’lam.

          1. @ibnu suradi :
            Dalam hadist dinyatakan sikap bersidakep tangan setelah takbiratul ikhram adalah diatas dada, sekarang pertanyaan ane :
            1. Kenapa para Imam tidak mengikuti cara yang ada dihadist tersebut secara letterlux ?, apakah mereka tidak tahu atau apa?
            2. Siapa yang lebih dekat antara Imam 4 Madzhab dengan albani, sehingga albani mengajarkan kepada letterlux hadist?.
            3. Apakah salah jika kami aswaja mengikuti Imam2 yang lebih dekat hidupnya, bahkan Imam Abu Hanifah masih sezaman dengan Sahabat Ali ibn Abu Thalib ra. Daripada albani?.
            4. Apakah albani pernah berjumpa dengan Rasulullah saw, sehingga dia mengatakan Shalat ala Nabiy. Sedangkan para Imam tidak ada yang pernah menyebut Shalat ala Nabi?.
            Pertanyaan ini yang belum pernah ente jawab, dari diskusi yang lalu2. Ente jawab dengan jujur.

          2. @Ibnu Suradi
            Mohon jawab dong pertanyaan Mang Ucep. Kan kalau Anda nggak tahu boleh tanya sama Ustadz anda yang katanya mengetahui Qur’an dan Hadits. Masa untuk berbagi ilmu Anda pelit sekali. Padahal anda paling ahli dalil-dalil sholat, sehingga yang selain Anda anggap Taklid Buta.

          3. @ibnu suradi

            kenapa sih klo ditanya dalil antum ga mau ngasih tau dalilnya, takut di rontokin ya ama ustadz2 disini hehehe…

        2. Bismillah,

          Kang @Ibnu Suradi, anda belum menjawab pertanyaan saya, tapi jika anda tidak berkenan kami juga tidak memaksakan….

          tentang pertanyaan anda : darimana kami yakin mengikuti Rosululloh dalam beragama ?
          kami jawab “Dari para ulama dengan sanad yang muttashil hingga Rosululloh”

          selanjutnya kami bertanya :

          1. Darimana anda yakin bahwa hadits atau al qur’an yang anda fahami adalah pemahaman yang benar ?

          2. Bagaimana dalam pandangan anda sholat seseorang yang tiada mengetahui sumber/dalil nash-nya ?

          1. Ustadz @bu Hilya :

            Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

            Semoga Ustadz @bu Hilya, Kang Ucep, Mbak Aryati Kartika, dan yang lain selalu dalam hidayah dan barakah dari Allah. Maaf saya lama tidak muncul, karena kesibukan.

            Wah…Ustadz rupanya saudara kita Ibnu Suradi masih eksis dan pemahamannya masih kaku. Semoga Allah yang membolak-balikkan hati manusia, bisa melembutkan hatinya untuk menerima I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

          2. Ustadz @bu Hilya :

            Maturnuwun Tadz. Alhamdulillah kulo sehat wal afiat, mugi jenengan ugi sedoyo sederek Ummati Press diparingi sehat, panjang umur ugi barakah fid dini wad dunya wal akhirat.

            Maaf lama sekali tidak muncul 🙂

            Sibuk pekerjaan. Saya juga baru kehilangan Mbah Yai panutan saya, persis seminggu setelah saya sowan. Beliau adalah Mbah Yai Hasan Abdillah-Glenmore Banyuwangi. Cucu Mbah Yai Muhammad Shiddiq dari Mbah Yai Qusyairi. Waktu kemarin pulang ke Pondok, saya juga sampaikan salam Ustadz kepada beberapa Kyai dan menceritakan sedikit upaya kita, sebagai saudara seperjuangan menegakkan I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Beliau-beliau senang tapi juga mengingatkan untuk menjaga ukhuwah dan untuk menetapi ahlaqul karimah.

            Semoga pesan moral dan “senang”nya beliau-beliau (yang saya anggap sebagai restu). Menjadikan kita lebih bersemangat.

            Demikian Ustadz @bu Hilya dan saudaraku semua.

            Wallahul muwafiq ila aqwamit thariq

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

          3. Bismillah,

            Mas Derajad, atas wafatnya beliau dan para ulama yang lain dalam minggu ini kami turut berdo’a : Allohu Yaghfiru Lahum Wayarhamuhum Wa Yu’li Darojatahum wa Yanfa’una bi Ulumihim wa barokaatihim fiddunya wal akhiroh… Al Fatihah…

          4. Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

            Mantab ustadz Mas Derajad!

          5. Terimakasih Mbak Aryati Kartika 🙂

            Salam hormat saya

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

          6. @Mas derajat
            Alhamdulillah bisa tampil lagi, semoga bisa memperkuat barisan dan bisa tukar ilmu lagi.
            Ane turut berduka cita juga atas kehilangan Mbah Yai Hasan Abdillah, Semoga Allah memberi tempat yang terbaik disisiNya. Amiin

      2. Pak Suradi@
        Segala Puji Hanya untuk ALLOH Tuhan semesta alam.
        Terima kasih atas koreksi dan sarannya.
        Semua ilmu dari Alloh,dan kita (muslim) wajib mencari ilmu terutama ilmu agama.Alloh Maha Mengetahui,Dia (Alloh) tidak akan mempersulit hambaNya.
        Pak Suradi yth,banyak orang” yg mengetahui dalil” dan nash” tentang sholat yg hanya menyempurnakan rukun/syaratnya saja.banyak orang yg berilmu yg tersesat karena ilmunya.Sungguh dalam diri Rosululloh SAW terdapat uswatun hasanah.
        Betapa mulianya Rosululloh SAW,dia dicintai Alloh SWT,dicintai penduduk langit dan kebanyakan mahluk” Alloh SWT (semoga kita diantaranya).sholatnya khusyu’,dzikirnya tak pernah berhenti.tp dia tak sombong dg ilmunya,dgn amalnya,dgn kekuasaannya dll.
        Sabda Rosululloh SAW
        “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan AKHLAK yang Mulia” (maaf beri sanad n rowinya sndiri ).

        Aku manusia biasa tak luput dari salah dan dosa
        Maafkan kesalahanku
        Mohon koreksinya

  8. bismillah,
    kalo menurut saya sulit kiranya saat ini menemukan orang yang tidak bertaqlid, karena perangkat2 yang dijadikan alat untuk menggali hukum dari dalil syara, semuanya menggunakan metodologi para ulama terdahulu. sekalipun teman2 di salafi menggunakan istilah ittiba` tetap saja hakikatnya bertaqlid juga. mereka juga ujung2nya berkata, ayat atau hadits ini menurut syeikh fulan bla…bla…bla artinya begini. itu kan ciri-ciri orang yang bertaklid juga.

  9. Bismillah,

    Mas @Admin, kalo boleh kami usulkan untuk dikupas sedikit beberapa kelompok diluar ASWAJA, mengingat sebatas yang kami tahu selain ada Salafi/Wahabi, ada yang lebih ekstreem dan ortodok lagi yakni MTA yang berpusat di SOLO, hal ini mungkin akan bermanfaat agar kita dapat mengidentifikasi setiap pengunjung yang hadir di Ummati Press ini untuk selanjutnya dapat kita sikapi secara proporsional.
    sebatas yang kami tahu disekitar kita ada IM yang lebih toleran, ada Salafi/Wahabi yang dangkal dan ekstreem, ada MTA yang lebih Ekstreem dan lebih ceroboh ketimbang Salafi/Wahabi. Dan kami mensinyalir, kita jumpai adanya pengunjung di blog ini dari tiga varian tsb…
    Terimakasih…

    1. Betul Ustadz Abu Hilya, kesemuanya itu, MTA, SALAFI, IM, adalah variant dari sekte Wahabi. Mereka biasa disebut Wahabi. Kalau ada yg menyebut Wahabi, maka yg dimaksud bukan saja Salafi, tetapi ada di antaranya IM dan MTA. Mungkin ada yang lainnya. Ada pun SALAFI sendiri juga pecah jadi beberapa kelompok, ada Sururi, dll.

      Secara garis besar yang cukup menonjol dari sekte-sekte Islam adalah Wahabi, Syi’ah, Aswaja seperti yang diulas secara singkat oleh Mbak Aryati Kartika di link ini:
      http://ummatipress.com/2012/03/21/bukti-orisinalitas-al-quran-keluar-dari-mulut-anak-ajaib-di-negeri-syiah/comment-page-1/#comment-27736

    1. @M Aulia Lubis, saya sudah berkenjung ke Blog anda ternyata bagus juga.
      Teruslah menulis untuk menegakkan Aswaja yang asli dari fitnah Wahabi yang ngaku2 Aswaja yang tujuannya memecah belah umat Islam.

      Kepada Admin Ummati Press, bagus juga jika link nya di cantumkan juga di blog kesayangan kita ini.

  10. Mana ya ibnu suradi..?
    dari beberapa artikel sebelumnya terlihat ibnu suradi punya ilmu MENGHILANG…kayak ninja, tiba2 nongol lalu hilang entah kemana…

  11. Saya secara pribadi sangat bersyukur dengan adanya teman-teman salafi karena dengan adanya mereka saya menjadi tergerak untuk belajar agama lebih dalam, saya jadi lebih mengenal para Kyai dan Habaib, Alhamdulillah. Meskipun pada awalnya saya bingung memilih golongan yang harus saya ikuti, setelah berdo’a dan ikhtiyar Alhamdulillah sekarang saya sudah menentukan pilihan untuk mengikuti para Kyai dan Habaib. Saya tidak perduli apapun yang dikatakan teman-teman salafi terhadap saya. Saya berharap para ustadz mohon untuk memperbanyak dakwah di kampus-kampus umum karena di sana banyak teman-teman yang terseret dengan doktrin golongan tertentu sehingga sampai masuk ke pikiran bawah sadar dan mengkristal sehingga sulit untuk menerima pendapat orang lain (kecuali atas izi Allah SWT) karena merasa dirinya paling benar. Setelah mendengarkan pengajian, saya sadar bahwa walaupun karakter teman-teman salafi demikian tetapi mereka adalah saudara sesama muslim. Saya berdo’a semoga dalam hati saya tidak ada rasa kedengkian terhadap sesama muslim. Semoga para kru ummatipress selalu dalam ridho Allah SWT dan semoga antum sekalian tetap dapat beribadah dengan dengan khusyu’ dan tidak tersita waktunya untuk melayani posting2 dan komentar2 negatif dalam web ini

    1. @abdul
      Apa yg anda alami mungkin hampir sama spt apa yg saya alami, awalnya saya juga menaruh simpati besar kepada ajaran wahaby/salafy ini, apalagi dengan jargon2 yg mereka kobarkan kelihatan sungguh sangat indah.. selama sekian bulan saya setiap hari searching lewat google berpindah dari satu blog ke blog lain… dan cukup byk blog salafy/wahaby yg sudah saya singgahi, tapi Alhamdulillah hanya dengan 2 blog Aswaja saja yaitu SALAFYTOBAt dan UMMATIPRESS, hati saya rujuk kepada mereka,akidah saya rujuk pada Assyariah dan Maturidiyah, saya taqlid pada Imam Syafi’i Insya Allah saya tetap berpegang teguh pada Wal Jamaah (golongan mayoritas), dan sekarang Ummaripress menjadi bacaan saya setiap hari.

      Ada pengalaman lucu yg saya alami, suatu hari karena buru2 menjemput anak saya pulang les saya solat Isya disuatu mesjid, saat itu saya terlambat satu rokaat, begitu imam selesei saya menyelesaikan satu rakaat lagi, selesei solat saya lanjutkan dengan dzikir sampai disitu saya baru sadar saat itu saya menjadi perhatian semua jamaah yg ada disitu, bahkan imamnya sebentar2 ngelirik kesaya seolah2 tdk senang dgn kehadiran saya… saya lanjutkan berdoa sambil mengangkat kedua tangan saya sampai selesei, keluar dari mesjid saya baru sadar baru masuk mesjidnya wahaby/salafy, saat pulang saya ketawa2 sendiri, pantesan saya diliatan celana saya ga cingkrang, selesei solat saya menghapus wajah saya, saya doa mengangkat kedua tangan, seolah olah saya solat dilain dunia…

      Masya Allah kok gitu ya… di mesjid tempat tinggal saya juga ada satu dua orang salafi yg ikut solat berjamaah, tapi kami tetap memperlakukan mereka layaknya ummat yg lain.. tdk ada pandangan sinis dari kami terhadap mereka.
      Begitulah perbedaan Aswaja dengan Wahaby, mereka antipati dengan golongan yg bukan dari manhaj nya… sedangkan kita tetap mermandang mereka sebagai sodara semuslim.
      Sodara Abdul pesan saya berpegang teguhlah kepada yg Mayoritas Insya Allah selamat dunia akherat, ini janji Allah.

  12. amin amin amin mas abdul…. saya teringat waktu dulu paman saya yang ikut muhammadiyah sangat anti tahlilan, namun setelah beliau menyelami lebih dalam tentang muhammadiyah dan usia yang semakin senja malah sekarang sangat getol melakukan tahlilan, karena beliau sadar sebenarnya inti tahlilan hanya baca alqur’an, berdo’a, berdzikir….. malah beliau takut waktu anaknya yang tamatan gontor mendapat beasiswa di ummul quro madinah dan menjadi khawatir kemudianberkata pada anaknya: “kamu kuliah di ponorogo saja, dan besok kalau aku mati jangan lupa di tahlilkan ya…”. subhanalloh. itulah sekelumit riak kehidupan keluarga saya. yang berbeda pemahaman furuiyyah tapi sangat menjaga ukhuwwah. wallohu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker