Amalan Cerdas

Empat Guru Lecehkan NU, Ajari Siswa Tinggalkan Amalan NU

Empat Guru Diduga Lecehkan NU, Guru Diminta Lebih Professional

Empat oknum  guru tersebut membantah telah melecehkan tradisi amalan NU. Mereka menyatakan tidak pernah menyampaikan penyataan yang menyinggung tradisi amalan NU, kepada para siswanya.

Islam-institute.com, PUWOKERTO TIMUR – Massa dari Badan Otonom Nahdlatul Ulama (NU) Banyumas, menggelar aksi unjuk rasa di MAN 2 Purwokerto, kemarin. Ratusan orang itu menuntut empat guru, yaitu Yusuf Haryadi, Samingat, Ummu Kalsum, dan Nidaul Mu’tamaroh agar tidak mengajar.

Para guru itu diduga telah melecehkan tradisi amalan NU. Massa yang terdiri atas perwakilan wali murid, Ansor, Banser, IPNU/IPPNU, Muslimat, Fatayat, dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banyumas, menilai materi pelajaran agama Islam yang disampaikan empat oknum guru tersebut menyinggung amalan warga NU.

 

 

Situasi memanas, karena massa yang beraksi di pintu gerbang sekolah, mencoba mengajak para siswa untuk ikut turun berunjuk rasa. Adu mulut sempat terjadi, antara massa dan guru yang mencoba menahan siswa agar tidak mengikuti aksi. Setelah menggelar orasi, perwakilan pengunjuk rasa kemudian diterima pihak sekolah.

Pengunjuk rasa juga meminta klarifikasi secara langsung, kepada empat guru tersebut. Empat oknum  guru tersebut membantah telah melecehkan tradisi amalan NU. Mereka menyatakan tidak pernah menyampaikan penyataan yang menyinggung tradisi amalan NU, kepada para siswanya.

Mediasi tersebut juga dihadiri perwakilan dari Kementerian Agama (Kemenag), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Polsek Purwokerto Timur. Perwakilan massa, Muktamir, menilai guru tersebut tidak profesional, karena menyampaikan pelajaran, dengan mendoktrin agar anak didiknya meninggalkan tradisi amalan NU.

Padahal materi tersebut, disampaikan di lembaga pendidikan milik pemerintah. ”Tidak sepantasnya menyampaikan masalah khilafiyah. Silahkan itu hak masing-masing, tapi kalau mau menyampaikan di kelompoknya sendiri, kalau di sekolah beraneka ragam keyakinan,” ujar dia.

Dalam pernyataan sikapnya, mereka menuntut guru tersebut diberi sanksi tegas. Guru diminta tidak mengajar karena berpotensi menimbulkan perpecahan umat islam dan keutuhan NKRI. Mereka memimnta seluruh guru untuk bersikap lebih profesional.

Ketua Ansor, Taufik Hidayat, mengatakan aksi tersebut sebagai bentuk kepedulian warga NU agar persoalan tersebut tidak semakin melebar. ”Kami khawatir apabila persoalan ini dibiarkan akan menimbulkan konflik horisontal,” kata dia.

Menurut pengakuan Kepala MAN 2, Muslikh, mengatakan sebelum terjadi aksi unjuk rasa, pihaknya sudah memproses persoalan tersebut.

Sekolah telah meminta klarifikasi kepada sejumlah murid dan empat oknum guru tersebut. ”Awalnya kami menerima laporan dari murid, kemudian melalui Waka Kurikilum sudah memanggil guru-guru tersebut. Kami sedang memproses, bukan mendiamkan persoalan ini. Kami berusaha agar persoalan ini tuntas dengan baik,” jelas dia.

Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag, Ibnu Asaduddin, menyatakan akan menelusuri persoalan tersebut. Pihaknya mengagendakan pemanggilan kepala sekolah dan empat oknum guru tersebut, Jumat ini (18/9). ”Kami sudah mengagendakan pemanggilan kepala sekolah. Pihak-pihak terkait, akan kami klarifikasi.

Hasil pemeriksaan tersebut kemudian akan kami serahkan ke Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Jateng,” kata dia.

Ketua MUI, KH Chariri Shofa, meminta persoalan tersbeut diselesaikan secara internal. ”Dia (oknum guru) kan orang dinas, biar dinas yang menyelesaikan, tindaklanjutnya bagaimana,” ujar dia. (al/fz-63/berita.suramerdeka.com)

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker