Inspirasi Islam

Distorsi Wahabi Terhadap Kitab-kitab Ahlussunnah

Distorsi Wahabi Terhadap Kitab-kitab Ahlussunnah – Selama ini mungkin anda percaya tak percaya dengan cerita tentang  adanya kitab-kitab ulama yang dipalsukan. Ya, tepatnya ditahrif atau diedit, begitu istilahnya. Kitab-kitab yang diedit itu adalah karya ulama-ulama salafus shalih yang termasyhur bonafiditas-kredibilitasnya. Sementara editornya adalah ulama kontemporer yang kredibilitasnya sangat diragukan oleh mayoritas Ummat Islam.

Anda tentu masih ingat, beberapa minggu yang lalu kami menurunkan berita faktual yang mengungkap tentang Syekh Albani yang ‘mengedit’  kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari. Semua ini adalah kabar yang benar yang dikeluarkan oleh pihak yang sangat terpercaya kredibiltasnya….

islam - Distorsi Wahabi Terhadap Kitab-kitab Ahlussunnah

Distorsi Kitab Dari Wahabi

Oleh: KH. Idrus Ramli

Sejak abad dua belas Hijriah yang lalu, dunia Islam dibuat heboh oleh lahirnya gerakan baru yang lahir di Najd. Gerakan ini dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi dan populer dengan gerakan Wahabi. Dalam bahasa para ulama gerakan ini juga dikenal dengan nama fitnah al-wahhabiyah, karena dimana ada orang-orang yang menjadi pengikut gerakan ini, maka di situ akan terjadi fitnah. Di sini kita akan membicarakan fitnah Wahabi terhadap kitab-kitab para ulama dahulu.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa aliran Wahabi berupaya keras untuk menyebarkan ideologi mereka ke seluruh dunia dengan menggunakan segala macam cara. Di antaranya dengan mentahrif kitab-kitab ulama terdahulu yang tidak menguntungkan bagi ajaran Wahhabi. Hal ini mereka lakukan juga tidak lepas dari tradisi pendahulu mereka, kaum Mujassimah yang memang lihai dalam men-tahrif kitab.

BACA JUGA:  Muktamar Aswaja Sedunia Bikin Wahabi Kebakaran Jenggot

Pada masa dahulu ada seorang ulama Mujassimah, yaitu Ibn Baththah al-’Ukbari, penulis kitab al-Ibanah, sebuah kitab hadits yang menjadi salah satu rujukan utama akidah Wahabi. Menurut al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, Ibn Baththah pernah ketahuan menggosok nama pemilik dan perawi salinan kitab Mu’jam al-Baghawi, dan diganti dengan namanya sendiri, sehingga terkesan bahwa Ibn Baththah telah meriwayatkan kitab tersebut. Bahkan al-Hafizh Ibn Asakir juga bercerita, bahwa ia pernah diperlihatkan oleh gurunya, Abu al-Qasim al-Samarqandi, sebagian salinan Mu’jam al-Baghawi yang digosok oleh Ibn Baththah dan diperbaiki dengan diganti namanya sendiri.

Belakangan Ibn Taimiyah al-Harrani, inspirator ideolog pertama aliran Wahabi, seringkali memalsu pendapat para ulama dalam kitab-kitabnya. Misalnya ia pernah menyatakan dalam kitabnya al-Furqan Bayna al-Haqq wa al-Bathil, bahwa al-Imam Fakhruddin al-Razi ragu-ragu terhadap madzhab al-Asy’ari di akhir hayatnya dan lebih condong ke madzhab Mujassimah, yang diikuti Ibn Taimiyah. Ternyata setelah dilihat dalam kitab Ijtima’ al-Juyusy al-Islamiyyah, karya Ibn al-Qayyim, murid Ibn Taimiyah, ia telah men-tahrif pernyataan al-Razi dalam kitabnya Aqsam al-Ladzdzat.

Tradisi tahrif ala Wahhabi terhadap kitab-kitab Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang mereka warisi dari pendahulunya, kaum Mujassimah itu, juga berlangsung hingga dewasa ini dalam skala yang cukup signifikan. Menurut sebagian ulama, terdapat sekitar 300 kitab yang isinya telah mengalami tahrif dari tangan-tangan jahil orang-orang Wahabi.

BACA JUGA:  Syi'ah Rafidhoh dan Syi'ah Non Rafidhoh di Indonesia

* Di antaranya adalah kitab al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah karya al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Kitab al-Ibanah yang diterbitkan di Saudi Arabia, Beirut dan India disepakati telah mengalami tahrif dari kaum Wahhabi. Hal ini bisa dilihat dengan membandingkan isi kitab al-Ibanah tersebut dengan al-Ibanah edisi terbitan Mesir yang di-tahqiq oleh Fauqiyah Husain Nashr.
* Tafsir Ruh al-Ma’ani karya al-Imam Mahmud al-Alusi juga mengalami nasib yang sama dengan al-Ibanah. Kitab tafsir setebal tiga puluh dua jilid ini telah di-tahrif oleh putra pengarangnya, Syaikh Nu’man al-Alusi yang terpengaruh ajaran Wahabi. Menurut Syaikh Muhammad Nuri al-Daitsuri, seandainya tafsir Ruh al-Ma’ani ini tidak mengalami tahrif, tentu akan menjadi tafsir terbaik di zaman ini.
* Tafsir al-Kasysyaf, karya al-Imam al-Zamakhsyari juga mengalami nasib yang sama. Dalam edisi terbitan Maktabah al-Ubaikan, Riyadh, Wahabi melakukan banyak tahrif terhadap kitab tersebut, antara lain ayat 22 dan 23 Surat al-Qiyamah, yang di-tahrif dan disesuaikan dengan ideologi Wahabi. Sehingga tafsir ini bukan lagi Tafsir al-Zamakhsyari, namun telah berubah menjadi tafsir Wahabi.
* Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain yang populer dengan Tafsir al-Shawi, mengalami nasib serupa. Tafsir al-Shawi yang beredar dewasa ini baik edisi terbitan Dar al-Fikr maupun Dar al-Kutub al-’Ilmiyah juga mengalami tahrif dari tangan-tangan jahil Wahabi, yakni penafsiran al-Shawi terhadap surat al-Baqarah ayat 230 dan surat Fathir ayat 7.
* Kitab al-Mughni karya Ibn Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali, kitab fiqih terbaik dalam madzhab Hanbali, juga tidak lepas dari tahrif mereka. Wahabi telah membuang bahasan tentang istighatsah dalam kitab tersebut, karena tidak sejalan dengan ideologi mereka.
* Kitab al-Adzkar al-Nawawiyyah karya al-Imam al-Nawawi pernah mengalami nasib yang sama. Kitab al-Adzkar dalam edisi terbitan Darul Huda, 1409 H, Riyadh Saudi Arabia, yang di-tahqiq oleh Abdul Qadir al-Arna’uth dan di bawah bimbingan Direktorat Kajian Ilmiah dan Fatwa Saudi Arabia, telah di-tahrif sebagian judul babnya dan sebagian isinya dibuang. Yaitu Bab Ziyarat Qabr Rasulillah SAW diganti dengan Bab Ziyarat Masjid Rasulillah SAW dan isinya yang berkaitan dengan kisah al-’Utbi ketika ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan Rasulullah saw, juga dibuang.

Demikianlah beberapa kitab yang telah ditahrif oleh orang-orang Wahabi. Tentu saja tulisan ini tidak mengupas berbagai cara tahrif dan distorsi Wahhabi terhadap kitab-kitab Ahlussunnah Wal Jama’ah peninggalan para ulama kita. Namun setidaknya, yang sedikit ini menjadi pelajaran bagi kita agar selalu berhati-hati dalam membaca atau membeli kitab-kitab terbitan baru.

Nah, anda masih mau Beli Kitab Baru? Hati-Hati dengan Distorsi Wahabi Terhadap Kitab Para Ulama Ahlussunnah Waljama’ah. Jangan sampai tertipu agamamu! Wallahu a’lam.

Penulis: KH. Idrus Ramli
Pengurus Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Jember.

BACA JUGA:  Nah, Ini Dia.... Para Blogger Pemburu SEO!!!

(Dikutip dari solusiummat.org)

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

24 thoughts on “Distorsi Wahabi Terhadap Kitab-kitab Ahlussunnah”

  1. @Abu Zuhair,

    Ya, agak bodoh emang. Seharusnya lebih lengkap, yaitu “Salafy Wahabi” atau salaf versi wahabi. Inilah kelompok keagamaan yang gemar mengedit kitab-kitab ulama Salaf. Ingin memurnikan Tauhid tapi malah merusak agama. Bagaimana bisa tauhid kalau mereka berkeyakinan Allah Swt duduk di Arsy? Padahal arsy adalah makhluk. Dasar Salafy Wahabi perusak agama, sebaiknya kita sebut aja Talafy atau perusak. Ya, perusak agama itu sebutan yang paling pas buat mereka!

  2. Inilah nama2 penerbit buku wahabi yang suka memenggal, memalsu dan merekayasa buku2 ulama ahlusunah waljamaah, yang banyak bertebaran di toko2 buku Gramedia dan jaringannya di Indonesia dan penerbit2 itu dibiayai oleh negara wahabi Arab saudi dengan Uang Petro Dolarnya :
    1. Penerbit Assunah
    2. Penerbit Darussunah
    3. Penerbit Akbar
    4. Penerbit Azzam
    5. Pustaka Imam Syafe’i
    6. Penerbit Al Kautsar
    7. Penerbit Al Qowam

    1. Yes, teriamakasih infonya. Tapi memang ummat Islam sudah semakin pintar mengenali penerbit yang menyamar. Lama-lama juga bangkrut penerbit-penerbit tsb karena gak laku.

      setelah merasa tertipu dg buku2 terbitan mereka lalu kapok gak mau beli lagi. saya pun juga begitu. Kalau saya beli buku di toko buku al barokah;
      http://toko-buku-albarokah.blogspot.com. Semua bukunya bisa dipercaya ummat. Tuh ada di pajang di UMMAT PRESS di side bar kanannya. UMMATI PRESS emang OYE dalam keberpihakannya kepada Ummat Islam. Semoga dapat pahala yang banyak, amin…..

  3. Assalamu Alaikum…
    Semoga kita semua mendapat hidayah dari Allah Ta’ala.
    Orang yang mengatakan kitab-kitab tersebut ditahrif oleh wahabi, harus membawa bukti. Apa bukti yang menunjukkan hal itu. Saya takut, orang yang masih dangkal ilmunya dan tidak tahu banyak tentang tahqiq kitab, malah dia banyak bicara tentang tahqiq kitab, yang hal itu yang bukanlah bidangnya. Kalau memang benar ditahrif, mengapa anda-anda tidak mentahqiq sendiri saja kitab-kitab tersebut. Sekedar mengingatkan, perkataan dan tulisan kita akan diminta pertanggungjawabannya di hari Kiamat.

  4. Tahqiq = penelitian, penyelidikan

    Karena namanya di-tahqiq (diteliti), wajar jika sebagian isi2nya dibuang. Umumnya yang dibuang tsb. adalah hadits2 palsu/dho’if dan membahayakan aqidah ummat atau yang kurang begitu penting. Metode seperti ini sudah ma’ruf/dikenal di kalangan para ‘ulama’, sebagaimana dengan syarah (penjelasan). Ringkasnya, tahqiq itu seperti meringkas (mukhtashar).

    Sebagaimana Syaikh Albani rohimahullah menyusun:

    * Ghayatul Maram-Shohih Halal wal Haram (tahqiq terhadap kitab Halal wal Haram-nya Syaikh Yusuf Al-Qordhowi)
    * Mukhtashar Shohih Bukhori (tahqiq terhadap Shohih Bukhori yg hadits2nya berulang)
    * Tamaamul Minnah (tahqiq terhadap kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq)
    * Shahih Sunan Abi Daud, Shahih Sunan Nasa’i (membuang hadits2 dho’if dari Sunan Abi Daud dan Sunan Nasa’i)

    (bagi anti-Albani, sorry ya …)

    Contoh lainnya:

    * Mukhtashar Minhajul Qoshidin oleh Ibnu Qudamah rohimahullah (men-tahqiq kitab Minhajul Qoshidin karya Ibnul Jauzi rohimahullah)
    * At-Taqrib oleh Imam Nawawi rohimahullah, dan Mukhtashar ‘Ulumul Hadits oleh Ibnu Katsir rohimahullah (meringkas/mentahqiq Muqoddimah Ibnu Shalah karya Imam Ibnu Shalah rohimahullah)
    * Dzayl al-Mustadrak oleh Imam Adz-Dzahabi rohimahullah (meringkas dan mengkritik kitab Al-Mustadrak ‘alaa Shohiihain karya Imam Al-Hakim rohimahullah)

    Hanya istilah tahqiq ini lebih sering dijumpai pada zaman ini, kalau zaman dulu biasanya memakai istilah mukhtashar.

    Umumnya para ‘ulama’ yang men-tahqiq (meneliti/menyelidiki) kitab-kitab ‘ulama’ lainnya sudah menjelaskan metode pen-tahqiq-an mereka dalam kitab karya mereka tersebut, apakah ditampilkan utuh atau ada yang dibuang sebagian matannya (berikut alasannya). Hal ini mengingat semangat membaca umat masa kini sudah sangat jauh menurun dan agar masyarakat yang awam dengan ilmu agama (dan belum memiliki kemampuan memilah dalil yang benar dengan yang salah) bisa lebih mudah mempelajari agama.

    Oleh karena itu, jika ada yang ingin membaca kitab asli ‘ulama’ yang belum di-tahqiq, ya monggo lihat langsung di kitab aslinya, jangan di kitab yang telah di-tahqiq tersebut (karena sudah diringkas dan dibuang bagian2 yang tidak perlu).

    Sekedar masukan ..

    [Jangan melihat pada siapa yang mengatakan, tapi lihatlah pada apa yang dikatakan]

    1. To Abdullah

      Itulah makanya ilmu keislaman jadi kaca balau, apalagi yang men-tahqiq orang-orang Wahabi, makin rusak deh agama Islam, jadi carut marut disesuaikan hawa nafsu wahabi. Harusnya yang lebih tepat itu memberi Syarah (keterangan), jangan mentahqiq. Kalau ditahqiq, aslinya jadi rusak atau hilang. Mosok sih wahabi lebih rendah ilmunya kok mentahqiq kitab ulama yang lebih tinggi dan lebih kredibel keilmuannya? Kacau kacau…..deh wahabi!!!

      Bacalah artikel di atas biar komentarnya gak asal njeplak!!!

    2. Untuk Abdullah..
      Semoga Kita semua diberi hidayah oleh Allah Ta’ala. Amin
      Maaf, anda seprtinya belum faham benar tentang istilah tahqiq. Anda menyamakan tahqiq dengan ihktishor. padahal keduanya berbeda. Kemudian tahqiq itu ada dua macam : Tahqiq nushus kitab dan ada tahqiq hadits dan atsar pada kitab. Nah, yang anda sampaikan itu adalah mukhtashor dan tahqiq hadits. Kemudian beda antara tahqiq hadits dengan takhrij adalah bahwa tahqiq hadits harus ada penjelasan shahih dhaifnya adapun takhrij tidak harus.

      Kemudian, kalau tahqiq nushus kitab, itu adalah meneliti teks-teks asli yang ditulis oleh ulama penulis kitab tersebut atau oleh muridnya. Seorang pentahqiq harus mempunyai ilmu dalam hal ini dan dia harus mempunyai beberapa makhthuthat (manuskrip)dari kitab yang ia tahqiq untuk membandingkan mana yang paling tsiqah (terpercaya) dari isi dari makhtutat tersebut. Dan tidak ada isi yang dibuang seperti yang anda katakan. Dan sebagian pentahqiq ada yang menggabungkan dua macam tahqiq tersebut dalam satu kitab, yaitu meneliti teks asli kitabnya dan juga mentahqiq hadits-haditsnya. Ini seperti Syaikh Abdul Fattah Abu Guddah, Syu’aib Al-Arnaut.

      Yang ingin saya tekankan adalah kalau kita tidak tahu, maka lebih baik dan selamat kita diam. Bukankan ini semua akan dihisab oleh Allah?
      Maka marilah kita takut akan hisab Allah Ta’ala.
      Lihatlha hasil dari tulisan anda : saudara Aji Pangaribuan jadi salah memahami.
      Maaf kalau ada kata yang tidak enak.

      @Untuk Salik
      mana buktinya?
      Saya tunggu.
      Semoga kita semua mendapat rahmat dari Allah Subhanahu Wata’ala

      1. Ass..,@abdullah dan @Rifai.
        Bisa minta tolong penjelasannya tentang pendapat tokoh2 dibawah ini, yang menurut saya sudah mencoreng muka umat islam.

        Bumi itu Datar
        A TRIBUTE TO A MUSLIM GENIUS
        by Sujit Das

        Salah seorang genius dari Saudi dikenal dengan nama “Shaikh Abd-al-Aziz Ibn Abd-Allah Ibn Baaz” (artinya – abdi Allah yang Maha Besr atau putera abdi Allah). Singkatnya, ‘Ibn Baz’. Sejak kecil ia sangat suka menghafal Quran dan belajar buku2 religius Islam (Saudi Gazette, 1999). Ia percaya bahwa tidak ada pengetahuan diluar Quran dan Ahadith; dan oleh karena itu tidak perlu belajar hal lain selain kitab-kitab suci Islam.

        Pada usia 16, mata Ibn Baaz kena infeksi parah. Pada usia 20 ia menjadi buta total. Namun, ia tidak pernah putus asa. Walau buta, ia berketetapan untuk melanjuntukan studinya dalam Islam dibawah pengarahan pemikir Islam paling ternama jamannya, seperti: Sheikh Shanqeeti dan pakar-pakar Islam lainnya. Sebuah artikel yang diterbuntukan dalam ‘Saudi Gazette’ membeberkan pendidikan lelaki jenius ini:

        “Subyek-subyek yang dipelajarinya termasuk bahasa Arab dan sains Islam termasuk penafsiran Qur’an, Sunnah Nabi (saw), Yurisprudensi dan Sejarah Islam. Sebagai visionaries Islam, ia mengerti penuh pengaruh sejarah terhadap umat dan bekerja keras agar pengaruh iblis pada rakyat masa lalu tidak terulang dijaman kini.” (Anon, 1999)

        Singkatnya, otak kreatifnya di-Islamisi secara total dan tidak ada satupun kitab Islam yang tidak dipelajarinya dengan demikian ia menjadi pakar besar dan dihormati diseluruh Saudi. Tidak ada sains dalam Quran dan hadis yang tidak ia pelajari. Ibn Baz adalah ‘Quran & hadis Berjalan’.

        Selama hidupnya, jenius besar Islam ini mengabdi diri untuk mengerti mukjizat-mukjizat sains Quran dan ia mengeluarkan banyak fataawa (kata jamak “fatwa”) bagi perkembangan peradabpan yang dimulai dari thn 1940 (Wikipedia, 2006). Menurut ‘Arab News’ ( surat kabar ternama Saudi) tgl 15 Mei 1999, Ia mengeluarkan ribuan fatwa tentang masalah-masalah ekonomi & sosial berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Fatwa pertamanya adalah:

        ‘pemberian kerja bagi non-Muslim di Teluk Arab dilarang dalam Islam.’

        Setelah beberapa decade, ia mengeluarkan fatwa berikutnya:

        ‘Tentara Non-Muslim harus ditempatkan di tanah Saudi untuk membela Kerajaan Saudi dari tentara Iraq ’ (Kepel, 2004).

        Fatwa ini bukan merupakan kebalikan dari fatwa pertama, orang jenius selalu berpikir berbeda dan setiap saat dapat mengembangkan ide-ide kreatif.

        Ia menulis sejumlah buku yang berguna bagi umat manusia. Bukunya selalu menjadi best-seller dalam dunia Muslim. Penemuan paling terkenalnya ditulisnya sesuai dengan judul bukunya, “Bukti bahwa Bumi Tidak Bergerak.” Riset sains ini diterbitkan oleh Islamic University of Medina, Saudi, thn 1974. Pada halaman 23, ia berbicara tentang penemuan yang merujuk pada ayat2 Quran dan hadis. Ia dengan yakin menentang kepercayaan kuno bahwa bumi berputar. Ini kutipannya,

        “Kalau bumi berputar (rotasi) seperti yang mereka katakan, maka negara-negara, pegunungan, pohon-pohon, sungai-sungai dan samudera-samudera tidak memiliki dasar dan orang akan melihat negara-negara di timur bergerak ke barat dan negara-negara barat bergerak ke timur.”

        Parvez Hoodbhoy menggambarkan konklusi ilmiah berguna Ibn Baz diatas tersebut dalam bukunya “Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality”. Pada halaman 49, ia menulis,

        “.. The Sheikh (Abdul Aziz Ibn Baz) menulis … sebuah buku dalam bahasa Arab berjudul Jiryan Al-Shams Wa Al-Qammar Wa-Sukoon Al-Arz. Artinya : Pergerakan Matahari dan Bulan dan Tidak Bergeraknya Bumi … Dalam buku sebelumnya, ia mengancam para penantang dengan fatwa keras atau ‘takfir’ (alias kafir), tetapi tidak mengulanginya dalam versi yang lebih baru.”

        Berita tentang penemuan besar Ibn Baz ini tersebar seperti api diseluruh dunia dan Muslim mulai menerima kredibilitas teori ‘tidak bergeraknya bumi’. Namun dunia kafir ragu-ragu menerima pendapatnya ini. Judith Miller, menulis dalam bukunya ‘Tuhan memiliki 99 Nama’, di halaman 114,

        “Ketika ia (Sheikh Bin Baz) mengutuk apa yang disebutnya sebagai penghujatan gaya Copernicus dan bersikeras bahwa Quran mengatakan bahwa matahari bergerak, wartawan Mesir, mengolok-olok ulama ternama itu sebagai ‘refleksi primitif Saudi. ”

        Tahun 1993, pada suatu pagi hari, otak encer sang jenius membuka Qurannya dan menoleh sejumlah mukjizat ilmiah dan sampai pada penemuan baru bahwa ‘bentuk bumi = ceper’. Ini direkam oleh Carl Sagan dalam bukunya “The Demon-haunted World: Science as a Candle in the Dark”. Sagan menulis,

        “Tahun 1993, otoritas religius tertinggi Saudi, Sheik Abdel-Aziz ibn Baaz, mengeluarkan fatwa, menyatakan bahwa bumi adalah ceper. Siapapun yang menolak dianggap tidak percaya Allah dan harus dihukum. ” dan ada sebuah fatwa terkenal yang dikeluarkan oleh Sheik Abdel-Aziz ibn Baaz. Statusnya memberikan bobot pada fatwanya namun pendapat2nya sering membuat rakyat Saudi malu.

        Seluruh dunia (kecuali kafir) mulai menerima penemuan ilmiah ini. Contoh; tanggal 12 February, 1995, hal A-14 sebuah artikel diterbitkan dibawah judul “Fatwa-fatwa Muslim Mengambil Kekuatan Baru”, dimana Yousef Mohammad Ibrahim menulis “Bumi adalah datar. Barang siapa yang menyebutnya bulat adalah atheis dan patut dihukum. ” Ada banyak ayat-ayat Quran dan Ahadith, yang menunjukkan bahwa bumi = datar” (Sina, n.d).

        Namun Ia membantah bahwa ia pernah menyusun teori Bumi Datar (Kepel, 2004), saat teori ini mulai popular diantara Muslim. Tidak diketahui mengapa ia meninggalkan kesimpulan ilmiah yang hebat itu. Mungkin inilah karakteristik jenius. Namun ia menegaskan kepercayaan yang didasarkan pada Quran bahwa

        “keadaan tidak bergerak bumi dan matahari berputar keliling bumi (the motionless state of the earth and sun revolves around the earth)”

        masih tetap berlaku bahkan setelah dibantai habis-habisan dalam tulisan wartawan2 Mesir (Kepel, 2004).

        Seorang pakar Islam lain, Sheikh Muhammad Tantawi mengatakan “ia (Ibn Baz) tidak takut akan kritik manapun sambil mengekspresikan pandangan-pandangan Islaminya” , (Arab News, 1999). Kegigihannya menunjukkan bahwa ia memang jenius asli.

        Pakar besar ini memegang posisi Grand Mufti dari Kerajaan Saudi dan Kepala Dewan Ulama 1993-1999. Ini adalah posisi religius tertinggi dalam sebuah negara Muslim Sunni. Sang Grand Mufti mengeluarkan pendapat-pendapat hukum dan fatwa tentang tafsiran Hukum Islam baik untuk membantu hakim memutuskan kasus dan juga bagi klien-klien privat.

        Prestasi-prestasi hebat lainnya termasuk (Saudi Gazette, 1999; Riyadh Daily, 1999; Arab News, 1999),
        • Wakil Presiden dan kemudian Presiden the Islamic University in Medina, 1960-1970
        • Ketua departemen Riset Ilmiah dan Ifta (pengarah) dengan jabatan Menteri. 1974-1993
        • Presiden Komite Permanen bagi Riset Islam dan Fataawa.
        • Hakim Kharj selama 14 tahun,
        • Dosen Kehormatan di fakultas Shariah di Riyadh Institute of Science, 1951-1960
        • 1981, ia diberi Hadiah Internasional Raja Faisal bagi Pengabdian kpd Islam.
        Sampai kematiannya, ia masih juga menghadiri seminar-seminar dan memberikan ceramah-ceramah dalam berbagai universitas Islam (Riyadh Daily, 1999). Topik paling disukainya adalah ketaatan pada Sunnah Nabi. Kini, hakim-hakim paling top dan ulama, dosen, saintis dan pejabat-pejabat tinggi Saudi adalah siswa-siswanya, termasuk Mendikbud Saudi.

        Walau kesuksesannya sangat menakjubkan, ia tidak mendapatkan hadiah apapun dari dunia kafir. Mungkin karena mereka tidak menaruh perhatian serius pada penemuan-penemuannya. Ibn Baz wafat th 1999.

        Kematian sang jenius ini bukan saja kehilangan besar bagi Saudi, tetapi bagi seluruh dunia Muslim. “Bobot dan reputasinya” begitu besar sampai pemerintah Saudi dikatakan “sulit menemukan orang yang bisa mengganti posisi Baaz.” (Kepel, 2004). ‘Arab News’ melaporkan (1999), lebih dari 50.000 orang mengantarnya ke pemakamannya di Mekah, sementara jutaan Muslim mendoakannya. Raja Fahd mengatakan bahwa dunia Islam shock atas berita sedih ini (Arab News, 1999). Berita ini begitu berat sampai Muslim bak kehilangan orang tuanya sendiri. Banyak dari mereka sampai membasahi jenggot mereka dengan air mata yang tidak habis2nya. Jenius macam Ibn Baz memang sulit ditemukan,
        ————————–
        Reference list
        • Anonimous, (1999), Staunch Defender of Islam, An article published in Saudi Gazette on 14 May 1999.
        • Arab News, (1999), pp. 1, 2; 15 May 1999
        • Barrious A (1980), 24 Qualities That Geniuses Have in Common; National Enquirer/Transworld Features. URL: link.
        • Kepel G., (2004); The War for Muslim Minds: Islam and the West,. Belknap Press of Harvard University Press. pp.184, 186
        • Riyadh Daily Staff Reporter (1999), Sheikh Bin Baz: A life devoted to Islam, Riyadh Daily (Daily newspaper published from Saudi Arabia ) dated, 14 May 1999.
        • Saudi Gazette staff reporter (1999); Biography of Sheikh Bin Baz, Saudi Gazette (Daily newspaper published from Saudi Arabia ) dated, 14 May 1999
        • Sina A., (n.d); Absurdities of Hadith and Muslim’s Denial,Faith Freedom International. URL: link.
        • Wikipedia (2006); Abd-al-Aziz ibn Abd-Allah ibn Baaz (Name). URL: link.
        Untuk cross reference, silakan lihat di sunnah.org: ibn_baz:

        Kalau ada salah kata saya minta maaf.

          1. huaha ha ha…. ikut ketawa aku ya? Lucu abis sindirannya. pengikut salafy wahabinya pada mudeng apa gak neh, atau malah bangga

    1. @Saudara Saliq
      Maaf,..
      yang saya minta adalah bukti bahwa orang wahabi mentahrif kitab ulama ahlussunnah dalam pentahqiqan kitab. Mana buktinya?
      Kok anda malah pindah ke materi yang lain?
      Makanya dari awal saya sudah ragu, apakah kita sudah pantas berbicara masalah tahqiq kitab? Tahqiq kitab itu adalah untuk para ahli di bidangnya dan tidak gampang.

      Masih kurang..? jawab : Tentulah Saudara Saliq, saya minta jalan ke jakarta anda menunjukkan jalan ke surabaya.
      Maaf ya Saudara Saliq, kalau memang ada buktinya saya minta. Saya ingin mencari kebenaran insya Allah. Terima kasih banyak.

      Semoga saya dan anda mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Amin

        1. @Saudara Seiman Saliq

          Sebelumnya maaf.

          Saya ingin mencari kebenaran, insya Allah. Kalau ada bukti dan kebenaran dari Anda , maka berikanlah kepada saya. Paling tidak kalau Anda membawa bukti, saya bisa merenungi dan setelah itu memilih mana yang haq dan mana yang batil. Karena saya juga ingin selamat di dunia dan Akhirat.

          Namun kalau anda tidak bisa memberikan bukti kebenaran itu, berarti saya tidak mendapatkan dari Anda “bukti dan kebenaran itu”.

          Dan maaf kalau saya tidak menanggapi komentar Anda lagi, kalau Anda belum bisa memberikan bukti tersebut. Karena kalau seperti ini, berarti diskusi ini bukan untuk mencari kebenaran, bahkan saya takut kalau diskusi telah dicemari oleh hawa nafsu saya dan Anda.

          Semoga Anda diberkahi oleh Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang dan semoga saya dan Anda mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Amin

          1. @ rifai
            amin…

            sampean tinggal klik link yang di atas terus di baca..sampai selesai..terus coment.
            ngga’ mungkin saya menulis sampai 100 lembar cuman khusus buat sampean..

            semoga hidayah alloh untuk sampean juga..

  5. ass…..
    minta ijin untuk menambahkan atau hanya sekedar saran aja boss….
    menanggapi info dari saudarku Rusli Zachri:
    thanks atas infonya tetapi hendaknya agar ditelusuri kembali kebenarannya… menurut pandangan saya dari data diatas tersebut tidak semuanya benar.. karena forum ini terbuka, siapa pun dapat mengakses…. mbo kesian karena atau apa tidak merasa bersalah apabila terjadi embargo atau sejenisnya terhadap perusahaan tersebut. padahal kita tahu semua berapa banyak saudara saudara muslim kita yang tergantung padanya.
    Didalam dunia bisnis media adalah sesuatu yang biasa…. bahkan dari golongan agama lain ada yang memberiakan order ke golongan agama lain… maka dalam hal ini, tidak bisa menJUST apa yang kita tidak mengerti demikian dalam berbagai hal.
    itu aja deh saran dari saya… (orang yang masih awam),

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker