Salafi Wahabi

Di Akhir Zaman Akan Banyak Orang Menjadi Kafir Karena Menjisimkan Allah

Di antara kita barang kali ada yang tidak mau melakukan hal-hal berikut: ‘’ TALILAN, BARJANJIAN, MAULUDAN, BURDAHAN, MANAQIBAN,   YASINAN DAN AMALAN-AMALAN BERPAHALA YANG LAINYA ’’.  Atau ada yang dalam hatinya mau tapi malas untuk melakukan semua itu, harap ma’lum saja berbuat kebaikan itu memang selalu dihalangi setan dan ahirnya sangat terasa berat, bahkan terkadang kalah dengan hal-hal tak berguna seperti  nonton dagelan di TV.

Apa pun yang anda lakukan walaupun tak berpahala, namun jangan kawatir itu semua tak akan merusak akidah kita. Sangat berbeda sekali jika sudah tidak mau melakukan amalan-amalan tersebut justru malah menghalangi orang-orang  yang akan melakukanya, setan itu namanya.
Lebih dari itu semua, ada hal sangat penting yang harus benar-benar dihindari dalam akidah ya’ni – akidah kaum mujasimah – yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah mempunyai anggota-anggota badan yang tidak seperti anggota-anggota badan kita”.
Perkataan kaum Mujassimah itu adalah pendustaan terhadap firman Allah ta’ala: [ ليس كمثْله شىءٌ] [سورة الشورى: 11 , maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)

BACA :  Daftar Lengkap Situs Website Salafy Wahabi Indonesia

 

Mari kita lihat bagaimana pendapat para Ulama’ mengenai ayat tersebut:

1). Ibnu al Mu’allim al Qurasyi dalam kitabnya Najm al Muhtadi Wa Rajm al Mu’tadi, hal. 588 meriwayatkan bahwa sayyidina Ali mengatakan:

banner gif 160 600 b - Di Akhir Zaman Akan Banyak Orang Menjadi Kafir Karena Menjisimkan Allah

سيرجع قوم من هذه الأمة عنداقتراب الساعة كفارا ينكرون خالقهم فيصفونه بالجسم والأعضاء

Maknanya: “Ketika kiamat telah dekat akan ada sekelompok ummat ini yang kembali menjadi kafir, mereka mengingkari pencipta mereka dan menyifati-Nya dengan jisim dan anggota badan”.

 

BACA :  Lanjutan..... Koreksi Buat Ustadz Firanda Wahabi Tentang Bid'ah Hasanah

2). Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (W. 321 H) dalam kitab Bayan ‘Aqidah Ahlissunnah Wal Jama’ah mengatakan:

“( تعالَى ( يعِني اللهَ) عنِ الْحدود والْغايات والأركَان والأَعضاءِ والأَدوات لاَتحوِيه الْجِهات الست كَسائرالْمبتدعات

“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.
Nah, demikianlah sedikit penjelasan dari para Ulama semoga menjadi jelas atas tersebarnya syubhat-syubhat kaum mujassimah yang juga mengatasnamakan dirinya sebagai Ahlussunnah yang akhir-akhir banyak berseliweran di tengah kaum muslimin. Sungguh  masih banyak penjelasan-penjelasan dari para Ulama’ mengenai hal ini. Namun cukuplah bagi kita muslim Ahlus sunnah wal jama’ah apa yang  dikatakan oleh orang yang dijuluki Nabi sebagai “pintu ilmu”  Sayidina Ali karrama Allahu wajhah. Semoga akidah kita tidak menjadi rusak oleh tarikan-tarikan propaganda kaum mujassimah, sehingga kita tetap solid dalam naungan payung aqidah Ahlussunnah Wal jamaah.

BACA :  Astaghfirullah..., Ulama Wahabi Salafi Mensifati Allah dengan Sifat Bosan

 

 

Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

69 thoughts on “Di Akhir Zaman Akan Banyak Orang Menjadi Kafir Karena Menjisimkan Allah”

  1. Sekarang ini hanya kaum Wahabi Salafy satu2nya kaum yang suka bilang: “Sesungguhnya Allah mempunyai anggota-anggota badan yang tidak seperti anggota-anggota badan kita”.

    Tetapi anehnya mereka membantah kalau mereka bukan mujassimah, kenapa demikian? Apakah karena cara berpikir yang tidak tertib sehingga jelas mujassim tetapi merasa bukan mujassim?

    1. saya juga waktu kuliah di doktrin gitu mbak…Allah punya tangan, tapi jangan disamakan dengan tangan kita dll. :mrgreen:

      alhamdulillah setelah ketemu kyai, dikasi penjelasan langsung terbuka cara berpikir saya…

  2. @Putri kharisma :“Sesungguhnya Allah mempunyai anggota-anggota badan yang tidak seperti anggota-anggota badan kita”.
    ——————-
    kalimat diatas ini berupa apa? tuduhan? kesimpulan? atau kutipan? Bisa disebutkan sumbernya? jika tidak bisa, ini berarti tuduhan atau fitnah. Dan ingat, bagaimana dosa yg akan ditanggung akibat fitnah.

    1. ibn abdul chair@

      Anda bisa baca dalam artikel Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam tulisan beliau di: http://moslemsunnah.wordpress.com/2010/03/29/benarkah-kedua-tangan-allah-azza-wa-jalla-adalah-kanan/

      atau silahkan lihat di sini: http://artikelassunnah.blogspot.com/2010/03/benarkah-kedua-tangan-allah-azza-wa.html

      Saya dulu juga pernah dengar ceramah beliau di radio Roja, sering dia mengatakan Allah punya tangan tapi tidak seperti tangan kita. Belia memberi contoh, kera punya tangan tapi tangan kera tidak seperti tangan kita, dll.

      1. @Mbak Putri
        Ternyata Mbak Putri tidak sembarangan menuduh dan menabur fitnah. Malah ternyata faktanya banyak. Cuma di sini suka ADA TUKANG TIPU, tetapi pura-pura bodoh agar nggak dibilang TUKANG TIPU. Jadi, malah ketahuan TIPUNYA.

    2. @ibnu abdil chair

      sekedar ngingetin klo ga salah antum pernah komen disini dengan cerita seseorang bertanya sama guru antum tentang Allah, salah satu pertanyaan nya klo ga salah tentang wajah Allah, terus guru antum jawab klo wajah Allah tuh beda dengan wajah makhluk seperti wajah si penanya beda dengan wajah monyet.

      inget ga..?

  3. saya heran dengan ibnu abdul choir. kenapa beliau selalu membela kaum wahabi. seakan wahabi itu adalah faham suci yang tidak ada secuilpun kesalahan padanya. seharusnya antum fear bos. bila ada yang salah dalam faham wahabi terima dong. jangan kemudian dibela habis – habisan. saya sarankan anda untuk tidak TA’ASSUB dengan wahabi.

  4. قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ
    Indonesian
    Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”.

    Kami tidak men-ta’til, tidak ta’rif, tidak takyif, tidak tamtsil terhadap ayat-ayat Allah

    1. wkwkwkw….trus berarti tangan Allah bisa peke garuk-garuk sampe dipake cebok gitu ya? :mrgreen:

      itu mah cuma istilah aja kaleee…karena manusia ngertinya kalo bikin sesuatu pake tangan bukan pake jidat gosong…:lol: ngeliat pemahaman wahabiyun….

      Allah kalo mau menciptakan sesuatu tinggal kun fa yakun dul… :mrgreen:

    2. Mas Ibnu Abdul Choir@

      Yang antum perlihatkan itulah ekspresi yg jelas2 menunjukkan sikap Mujassimah atau Musyabbihah.

      Aliran Mujassimah Musyabihah yang mengimani dan menetapkan makna haqiqi apa adanya, tekstual dan mengartikan ayat-ayat mutsasyabihat dengan arti sesungguhnya, sehingga dapat menyerupakan tuhan dengan makhluknya, ( diatas, bertempat, mempunyai tangan dengan ma`na haqiqi dll ), ini semua merupakan ciri ciri makhluq dan ini tidak layak bagi Allah sang Maha Pencipta karena ALLAH berfirman ” laista kamistlihi syai`un ( tidak ada yang menyerupainya .)

      Perbedaan nyata antara aliran Ulama Salaf dengan Wahabi / Salafi,dalam masalah ini adalah ulama salaf melakukan Tafwidh/ ta`wil ijmali, tanpa mengartikan “Yad / Tangan” dengan makna “Jisim” (jasmani /material) karena menyerahkan sepenuhnya ma`na haqiqi kepada ALLAH, sementara wahabi/salafi memahami “Yad / Tangan” dengan “JISIM” ( fisik, jasmani, materila )) juga melarang ta`wil bahkan harus dimaknai dan difahami sesuai ma`na haqiqinya ,

      Contoh lainnya: seperti pernyataan Ibnu Taymiyah mengatakan dalam kitabnya Risalah Hamawiyyah : “Wallahu ma`a Kholqihi Hakikotan wahuwa fi Arsyihi Hakikotan , Allah bersama Hambanya secara Hakiki dan dia Allah diatas Arysnya secara Hakiki”. pernyataan seperti ini tentu akan mengakibatkan Kontradiksi permanen antar ayat al-qur`an dan Hadist Nabi SAW serta menjerumuskan kepada Tasybih dan Tajsim yang jelas terlarang. Juga akan menjerumuskan kepada keMusyrikan dan kekufuran. Wallahu a`lam.

  5. Ikut pemahaman Islam Aswaja saya yakin lebih selamat daripada yang lainnya. Maaf… ini hanya perspektif saya pribadi. Silahkan bagi yg lain meyakini pemahamannya masing-masing, sebab tanggung jawab di akhirat adalah beban anda sendiri-sendiri.

    Jangan lupa, apapun yg anda yakini…. sebaiknya tidak usah saling mencela. Silahkan dilanjut diskusinya tapi ingat…. tetap santun ya? Karena ajaran Nabi Kita “MUHAMMAD SAW” adalah agar kita berakhlak yang mulia atau salah satunya bersikap santun.

    Maaf, dan terimakasih atas perhatiannya.

  6. Kami beriman dengan apa yg Allah tabarooka wa ta’ala sampaikan melalui Al Qur’an dan Rasulullah jelaskan lewat hadistnya, yang dengannya para shahabat yg mulia, orang2 pilihan dari tabi’in dan tabi’uttabi’in beriman pula.
    Singkatnya, kami hanya mengikuti apa yg telah diimani oleh tiga generasi terbaik umat ini, tidak tercampur dengan pemahaman yg datang belakangan.
    Maka itu kami disebut bermanhaj salaf.

  7. Putri kharisma, ada analogi buat anda.
    Ada seorg tamu yg datang ke rumah anda dan kemudian memberi salam. Kemudian and menjawab salam tersebut, tp krn belum kenal, pintu rumah belum anda buka dan anda bertanya “siapa ya..? tamu itu menjawab ” Saya fulan, dari Surabaya, pake baju koko putih dan peci, bawa rambutan juga” (lagi musim nih soalnya).
    Kemudian..apakah anda ingin memahami keterangan dari tamu anda itu dengan :
    Fulan itu maknanya bla…bla.. hingga hilanglah makna haqiqi-nya.
    Dari surbaya maknanya bla…bla.. hingga hilanglah makna haqiqi-nya.
    Pake baju koko putih dan peci maknanya bla…bla.. hingga hilanglah makna haqiqi-nya.
    Rambutan itu maknanya bla…bla.. hingga hilanglah makna haqiqi-nya.
    Tentunya tidak bukan???? Percaya-i saja apa yg dikatakan oleh tamu tersebut.

    Kami juga begitu :Kami beriman dengan apa yg Allah tabarooka wa ta’ala sampaikan melalui Al Qur’an dan Rasulullah jelaskan lewat hadistnya, yang dengannya para shahabat yg mulia, orang2 pilihan dari tabi’in dan tabi’uttabi’in beriman pula.
    (stlh ini akan ada komen2 dari orang bodoh yg bukan melihat analoginya tp dilihat yg lain)

  8. @ibn abdul chair : :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:
    seperti itu masih ngaku Aswaja ,padahal Gadungan,berkedok sesuai Sahabat,Tabi’in, ataupun Tabiit tabi’in,….semua orang sudah tahu mana yang tajsim dan yang tidak,..syukran Ummati.

  9. @ all my ikhwan
    assalamu ‘alaikum wr.wb.
    Ini cerita kekagetan sy. Ada sebuah kajian di TV Rodja yg dibawakan oleh uts salafy tentunya. Ia sempat membicarakan tentang hadits “Turun Di 1/3 Malam”. Ustd tsb menyalahkan pengarang Buku 40 Masalah Agama yg mnyampaikan takwil, “Rahmat Allah turun di 1/3 malam”. Tapi yang sy kaget (kalau tidak salah, semoga sy yang salah dengar) ustd itu bilang yang maksudnya “Turun Dengan Batang Tubuh-NYA”. Hah…..batang tubuh?. kaget sy dibuatnya. Semoga makin terungkap kekagetan2 yg lain akibat pemahaman dhohir yang tak mau takwil dan ogah majaz.Ayat – Ayat Suci pasti benar dan Iman kepada ayat2-NYA wajib. Penafsiran manusia thdp ayat itu lah yang boleh jadi salah.Semoga kita mendapat ampunan atas kesalahan pemahaman dan ucapan kita. Amiin.

    1. abu ihsan al-pemalanjy@

      Nah, seperti itulah Akhi,
      Mereka ngomong gaya Tajsim nya kencang dan keras akan tetapi mereka tidak mengakui kalau mereka telah menjisimkan Allah. Saya kurang tahu persis apa sebabnya kenapa mereka seperti itu, mungkin karena benar2 bodoh sehingga tidak mampu berpikir yg tertib, atu mungkin sekedar membeo (burung beo) sehingga mereka tidak mengerti apa yg diomongkannya sendiri, wallohu a’lam.

  10. saya kalau mengikuti diskusi ini lihat mas ibn abdul choir, kok ngeyeel banget ya. terus semangat ummati utk memberikan pencerahannya.

  11. Bismillah,

    Kepada segenap saudaraku ASWAJA, mohon untuk berhati-hati dalam berbicara tentang Alloh…. Biarkan mereka yang berbicara tentang Alloh seenak udelnya,

    jangan kita terbawa kedalam pusaran pembicaraan tentang apa yang kita tidak berkapasitas untuk membicarakannya…

    cukup bagi kita, menjadikan comment-comment mereka sebagai bukti adanya aqidah Mujassimah, Wal ‘Iyadz Billah…

    1. Benar ustad @abu hilya
      Kepada rekan2, janganlah kita terlampau jauh memunculkan ayat2 mutasyabihat, karena kalau kita terbawa emosi dari koment akan sangat berbahaya.

    1. ibn abdul chair@

      Lho…. antum ini gemana mas DUL CHAIR, antum sudah diajak dialog face to face oleh Mas Ucep kan antum gak berani, kok masih bisa ngaku2 KSATRIA? Apakah maksud antum “KSATRIA PANTAT HITAM?”

    1. Silahkan kalau mau berprasangka buruk kpd saya, saya nggak akan rugi secuil pun.

      Tapi ngomong2 kenapa dong antum gak berani face to face tetapa masih bisa ngaku2 sbg Ksatria?

    1. Nte pikun atau nte pura2 gak lihat? ntar jadi bita beneran tahu rasa nte. Bukankah waktu itu cerita kuburan orang tua nte di Condet, lalu diajak ketemu oleh bang Ucep di Condet, lalu Nte cuek, apa artinya?

      Dasar Wahabi kerjaannya cuma nyerocos doang, dusta sana dusta sini. Nanti kalau Nte ketemu di Condet berani nggak Nte membuktikan kalau kuburan ibu Nte di Condet? Atau Nte cuma ngibul doang seperti kebanyakan orang2 Wahabi yg menghalalkan dusta?

      Saya tahu kalian diajari menghalalkan dusta demi suksesnya Dakwah Setan Najed (Wahabisme), hayo ngaku!

    2. Betul itu Mas Andi, sudah jadi rahasia umum Wahabi menghalalkan dusta. Ajaran seperti itu kok masih bisa mengaku-ngaku ajaran lurus, lurus dari Hongkong?

      Contoh paling jelas adalah Radio Roja yang membawa-bawa nama Ahlussunnah Wal Jama’ah. Itu penipuan paling terang2an kepada orang awam tapi para ustadz non Wahabi cuma bisa nonton doang nggak berani ambil tindakan, harusnya dilabrak itu radio ROJA si raja dusta.

      Dulu ibnu abdul chair sewaktu belain kenapa Wahabi juga pakai nama Ahlussunnah Waljaah karena kalau nggak pakai nama Ahlussunnah Waljamaah tidak laku di masyarakat, ingat nggak dul? jangan ingkar lagi ya, tanya hatimu yg paling tahu tentang dirimu. OK?

  12. Baca lagi tulisan saya!!!! sy bilang kl kebetulan sedang silaturahmi ke kerabat sy di condet – jakarta, sy suka ziarah ke makam ibunda saya.
    Trus mang ucep bilang : jelas aja nggak ketemu, soalnya dia ke condet ( deket masjid Al-amin )tiap selasa malam – main badminton. trus mang ucep bilang kl mau silaturami silakan saja.
    Apa sy hrs ujug-ujug datang ke condet – jakarta hanya krm mau ketemu ama mang ucep? mikir!!! apa urgensinya.
    Sekalipun sy ingin setting wkt utk ketemu mang ucep, pastinya hrs disesuaikan juga dengan wkt sy bersiaturahmi ke kerabat saya. Penyakit bawaan jangan dipelihara mas

  13. Radio Rodja itu kependekan dari RadiO Dakwah Ahlussunah WalJAma’ah. Ahlussunah itu nggakperlu diaku-aku mas, tapi dipraktekkan.
    Bid’ah dibilang sunnah, yaa kapan beresnya.

    1. ibn abdul chair@

      Saya ulangi lagi pertanyaan teman2 yg dulu-dulu, dan ini sering ditanyakan kepada teman2 Wahabi yang belum pernah dijawab. Pertanyaannnya adalah sejak kapan Wahhabi jadi Ahlussunnah Wal jama’ah? Tolong sebutkan menurut catatan sejarahnya sejak lahir di wilauyah Najd.

    2. Nte ini benar2 manusia kontradiktif dan sepertinya tidak mengerti apa2 yg nte katakan sendiri. Nte katakan ahlussunnah nggak perlu diaku-aku, tetapi kenapa RADIO ROJA mengaku Ahlussunnah Wal Jamaah? Agar tidak menipu Ummat, suruh ganti mottonya, ganti dengan “ROJA, radio Wahabi Jakarta”.

      Kalau berani ganti dg yg saya usulkan, baru pantas bilang: WAHABI GENTLE, Wahabi Ksatria, Wahabi jujur tidak pendusta, Wahabi bisa dipercaya, saya acungi dua jempol kalau Wahabi berani jujur dg missi Wahabi Najd – nya.

  14. @ibn abdul chair
    Ane berharap ente bisa jawab pertanyaan @Putri Karisma, “Pertanyaannnya adalah sejak kapan Wahhabi jadi Ahlussunnah Wal jama’ah ?”

    kedua : “Bid’ah dibilang sunnah, yaa kapan beresnya”
    Dimana letaknya ???, masa sih, coba bisa ente jelaskan sedikit aja atau diskusi lagi masalah permasalah, biar ente gak su’udzhon terus.

  15. Manhaj Ahlussunah Wal Jama’ah sama dengan manhaj Salaf atau salafi atau salafushsholih. Disebut dengan manhaj Ahlussunah wal Jama’ah karena jalan kebenaran itu jalan orang-orang yang berpegang teguh terhadap sunnah Nabi sholallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabat ridwanallahu ajma’in.
    Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin) walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya barang siapa yang hidup setelahku, ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka engkau wajibberpegang pada sunnahku, dan sunnah khulafah yang mendapat petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara yang baru dalam agama, karena semua perkara baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.” HR Abu Dawud, At tirmidzi, Ad darimi, Ahmad dan lainnya dari Al ‘irbadh bin Sariyah.
    Adapun orang yang menempuh jalan Nabi sholallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabat rodhiallahu anhu jami’an itulah yang disebut dengan al-jama’ah, sebagaimana hadist dibawah ini :
    ”Dari ‘Auf bin Malik rodhiallahu anhu ia berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam bersabda: Orang –orang Yahudi telah bercerai berai menjadi 71 kelompok, satu di surga dan 70 di neraka. Orang-orang Nashrani telah bercerai berai menjadi 72 kelompok, satu di surga dan 71 di neraka. Demi (Allah) yang jiwa Muhammad di tanganNYA, umatku benar-benar akan bercerai berai menjadi 73 kelompok, satu di dalam surga, 72 di dalam neraka. Beliau sholallahu ‘alaihi wa salam ditanya :”wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?” Beliau sholallahu ‘alaihi wa salam menjawab :” Al jama’ah”. HR Ibnu Majah, Ibnu Abi Ashim, Al Lalikai’, derajatnya hasan.
    Pada hadist lain disebutkan : Dari Abdullah ibn Amr rodhiallahu anhu ia berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam berkata:” Benar-benar akan datang pada umatku, apa yang telah datang kepada Bani Isro’il, persis seperti sepasang sandal. Sehingga jika diantara mereka ada yang menzinahi ibunya terang-terangan, dikalangan umatku akan ada yang benar-benar melakukannya. Dan sesungguhnya bani isro’il telah bercerai-berai menjadi 72 agama dan umatku akan bercerai-berai menjadi 73 agama, semuanya di neraka kecuali satu. Para shahabat bertanya :”Siapakah yang satu itu wahai Rasulullah?” Beliau sholallahu ‘alaihi wa salam menjawab :” Apa yang aku dan para shahabatku berada diatasnya”. Hadist shohih lighoirihi, riwayat At tirmidzi, Al Hakim dan lainnya. Dishohihkan oleh Ibnu Al Qoyyim dan Asy syathibi. Dihasankan oleh Al Hafidz Al ‘Iraqi dan Syaikh Al Bani.
    Para shahabat serta generasi yang mengikutinya adalah salafush sholih yang sering disingkat dengan salaf. Artinya adalah orang-orang yang terdahulu yang sholih. Sedangkan orang yang mengikutinya disebut salafi. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam memuji salaf tersebut dengan sabda beliau sholallahu ‘alaihi wa salam :” Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi shahabat) kemudian orang-orang yang mengiringinya (tabi’in) kemudian orang-orang yang mengiringinya (Tabi’uttabi’in) Hadist Mutawatir riwayat Al Bukhori dan lainnya.
    Kesimpulan :
    1. Ahlussunnah yaitu berpegang teguh dengan pada sunnah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam dan sunnah khulafah yang mendapat petunjuk dan lurus.
    2. Al Jama’ah yaitu Apa yang Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya berada diatasnya.
    3. Salafush sholih adalah generasi terbaik umat ini : shahabat, tabi’in dan tabi’uttabi’in atau biasa disingkat dengan Salaf. Sedangkan orang-orang yang mengikutinya disebut Salafi.

    Yang seringkali disalah pahami adalah menuduh orang-orang yang mengikuti generasi terbaik ini dengan tuduhan-tuduhan yang jauh dari kebenaran. Seperti halnya, Kholifah Umar bin Abd Azisa dan Al Imam Asy syafi’I yang telah diyakini oleh para ulama sebagai mujaddid yang Allah kirimkan setiap seratus tahun untuk memperbaharui agama ini. Begitu juga terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah dan Syaikh Muhammad bin Abd Wahhab, mereka tidak membawa ajaran baru melainkan memperbaharui agama Islam ini menjadi lurus kembali seperti halnya tugas seorang mujaddid.

    1. Bismillah
      Mengutip kesimpulan ente

      “Yang seringkali disalah pahami adalah menuduh orang-orang yang mengikuti generasi terbaik ini dengan tuduhan-tuduhan yang jauh dari kebenaran. Seperti halnya, Kholifah Umar bin Abd Azisa dan Al Imam Asy syafi’I yang telah diyakini oleh para ulama sebagai mujaddid yang Allah kirimkan setiap seratus tahun untuk memperbaharui agama ini. Begitu juga terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah dan Syaikh Muhammad bin Abd Wahhab, mereka tidak membawa ajaran baru melainkan memperbaharui agama Islam ini menjadi lurus kembali seperti halnya tugas seorang mujaddid.”

      Pertanyaannya Apakah benar Syaikh Muhammad bin Abd Wahhab adalah seorang Mujtahid dan pengikut salafus sholeh? Kalu pengikut salfusholih mengapa mengkafirkan para ulama yang lebih alim sebelum mereka?
      Salah satu bukti kebahtilan Muhammad bin Abd Wahhab

      http://ummatipress.com/2012/04/13/inilah-bukti-muhammad-bin-abdul-wahhab-memusyrikkan-para-ulama/

      Apakah ini pengikut Salafusholeh? Atau hanya mengaku-ngaku ?

    2. @Ibnu Abdul Chair,
      ente bilang jalan kebenaran itu jalan orang-orang yang berpegang teguh terhadap sunnah Nabi sholallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabat, kenapa kok tauhidnya tauhid Tiga (Trinitas) yang tasyabuh dengan Trinitasnya Nasrani, apakah ada contohnya dari Nabi tauhid dibagi jadi tiga ?

  16. Sunnahnya ziarah kubur adalah untuk mengingat kepada kematian. Sedangkan ‘prakteknya ziarah kubur untuk ngalap berkah. inilah yg saya maksud dengan bid’ah dibilang sunnah.

    1. @ibn abdul chair
      Sekarang ane tanya, Ente suka datang kemakam Ibunda. Bagaimana bersitan hati ente yang paling dalam, waktu ente didepan makam ibunda ente. Yah seperti itulah kira2 orang2 berziarah.
      Berziarah kubur adalah sunnah dan bertabaruk juga sunnah. Jadi ente gak perlu menuduh yang gak2.
      Ente tau gak Tabaruk, jangan2 ente gak tau lagi ???

  17. @ibn abdul chair
    Alaa mak, Bisa buktikan gak kira2 ente ?

    1. Sebelum Imam Abu Hassan al Asyary, apakah kata Ahlus Sunnah Waljamaah itu sudah ada ?
    2. Kata Salafi diproklamirkan oleh Muhammad Abduh, sebelum2 nya sudah ada belum ?
    Wahabi yang katanya dari Abdul Wahab bin Abdurahman bin Rustum, ternyata juga bukan.
    Wahabi di nobatkan untuk Golongan Muhammad Ibn Abdul Wahab, yang katanya mengikuti ajaran Ibnu Taimiyah, tapi ternyata tidak.
    Tolong dong jangan diputar-putar otak ente terhadap sejarah, kalo ente memang gentle para wahabi, bilang aja ANE WAHABI DARI MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB, BUKAN AHLUSSUNNAH WALJAMAAH DAN BUKAN SALAFI gitu aja kok repot ya.

    Wahabi juga bukan Shalafus Shaleh, karena Ushul Tauhid nya yang mengacu kepada konsep TRINITAS. Rasulullah saw mengajarkan kepada seluruh umatnya, agar bertauhid kuat LA ILA HA ILALLAH.
    Ane kasihan sama ente, sudah dibodohi oleh orang2 yang selalu mengajak kekerancuan aqidah.

  18. Mang ucep, nggak usah repot-repot…nyantai aja.
    mari kita tengok, sedikit atau banyak saudara2 kita yg ketika punya hajat, malah datang ke kuburan?

    1. @ibn abdul chair
      Ane sih santai, perkara yang gampang kok dibikin ribet.
      Nah ketahuan kan ente gak mengerti arti Tabaruk. Tabaruk itu sunnah bukan syirik.
      Nih ane kasih tahu perkataan Imam Ahmad :
      Abu Sa’id Al-‘Allani memberitahuku bahwasanya : “Aku melihat dalam perkataan anak Imam Ahmad bin Hanbal dalam Juz’ Qadim (risalah ringkas yang lama) bahwasanya Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang mencium kubur Nabi s.a.w. dan mencium selainnya (selain maqam Nabi saw) lalu beliau menjawab: “Tidak mengapa demikian”. [Ar-Rad Al-Muhkam Al-Matin oleh Al-Ghumari m/s 273].

      Dikatakan juga oleh Syeikh Al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Maqri dalam kitab Fathu al-Muta’al bi Shifat an-Ni’al :
      “Dinukil dari Waliyuddin al-Iraqi yang menyatakan : al-Hafiz Abu Sa’id bin al Ala menyatakan: Aku melihat ungkapan Ahmad bin Hambal pada cetakan / bagian lama (juz’ qodim) dimana terdapat tulisan tangan Khath bin Nashir dan dari beberapa al-Hafidz lainnya yang menyatakan bahwasannya : “Sesungguhnya Imam Ahmad (bin Hambal) pernah ditanya tentang mencium kubur Nabi dan mencium mimbarnya. Lantas beliau berfatwa: “Hal itu tidak mengapa”.

      Ia (al-Hafiz Abu Sa’id bin al-‘Ala) berkata : “Lantas kutunjukkan hal itu kepada at-Taqi Ibnu Taimiyah kemudian dia terkejut dengan hal itu dengan menyatakan: “Aku heran dengan (Imam) Ahmad yang sangat mulia disisiku, begini ungkapannya atau kandungan ungkapannya”.

      Adalagi seorang sahabat di zaman Utsman bin affan, dia disuruh mencium makam Rasulullah dan berdoa agar doanya dikabulkan.

      Jadi jelas @ibn abdul chair, jangan suka tuduh2 gitu dong. Selama dihatinya tidak men dua kan Allah, ane sih sah2 aja berdasarkan riwayat2 para Imam tentunya.

    2. Bismillah,

      TABARRUK, TAWASSUL DI MAKAM ORANG-ORANG SHOLIH BUKAN BID’AH

      Bukti Pertama :

      Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang sohih, dari riwayat Abi Sholih As Samman Dari Malik Ad Dariy, dia adalah pembantu (penjaga gudang) Umar –rodhiyallohu ‘anhu- ia berkata : “ Paceklik telah melanda manusia pada masa Umar. maka datang seorang lelaki menuju pusara Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian laki-laki tersebut berkata : “ Ya Rosulalloh, mintakanlah hujan untuk ummatmu, sungguh mereka telah mengalami kerusakan.” Kemudian lelaki tersebut didatangi (Rosululloh) dalam mimpinya dan dikatakan padanya : “Datangilah Umar ! “. Saif meriwayatkan dalam kitab Al Futuh : Sesungguhnya laki-laki yang bertemu ( Rosululloh ) dalam mimpi tersebut adalah Bilal bin Harits Al Muzani salah seorang sahabat. ( Fathul Bari Juz 2 Hal :494 shameela)
      Bukti Kedua :

      Abu Nu’man bercerita kepada kami, Sa’id ibni Zaid bercerita kepada kami, ‘Amr ibnu Malik An Nukri bercerita kepada kami, Abul Jauzaa’ Aus ibnu Abdillah bercerita kepada kami : “Penduduk Madinah mengalami paceklik hebat. Kemudian mereka mengadu kepada ‘Aisyah. “Lihatlah kuburan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan buatlah lubang dari tempat itu menghadap ke atas hingga tidak ada penghalang antara kuburan dan langit,” perintah ‘Aisyah. Abu Al Jauzaa’ berkata, “Lalu mereka melaksanakan perintah ‘Aisyah. Kemudian hujan turun kepada kami hingga rumput tumbuh dan unta gemuk (unta menjadi gemuk karena pengaruh lemak, lalu disebut tahun gemuk).” (HR. Ad Darimi dalam Sunan)

      Pembuatan lubang di lokasi kuburan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, tidak melihat dari aspek sebuah kuburan tapi dari aspek bahwa kuburan itu memuat jasad makhluk paling mulia dan kekasih Tuhan semesta alam. Jadi, kuburan itu menjadi mulia sebab kedekatan agung ini, karenanya berhak mendapat keistimewaan yang mulia.

      Takhrij al hadits :

      – Abu Nu’man adalah Muhammad ibn Al Fadhl yang dijuluki Al ‘Aarim, guru Imam Bukhori. Dalam At Taqrib, Al Haafidh mengomentarinya sebagai orang yang dipercaya yang berubah (kacau fikiran) di usia tua.

      – Pendapat saya kondisi di atas tidak mempengaruhi periwayatannya. Sebab Imam Bukhori dalam Shohihnya meriwayatkan lebih dari 100 hadits darinya. Setelah fikirannya kacau, riwayat darinya tidak bisa diterima. Pandangan ini dikemukakan oleh Ad Daruquthni. “Tidak ada yang memberimu informasi melebihi orang yang berpengalaman.”

      – Adz Dzahabi membantah komentar Ibnu Hibban yang menyatakan, “Bahwasanya banyak hadits munkar ada padanya.” Adz Dzahabi mengatakan : “Ibnu Hibban gagal menyebutkan satu hadits munkarnya. Lalu di manakah dugaannya?” (Mizaanul I’tidal vol. IV hlm. 8).

      – Adapun Sa’id ibn Zaid, ia adalah figur yang sangat jujur yang terkadang salah mengutip kalimat hadits. Demikian pula profil ‘Amr ibn Malik An Nukri. Sebagaimana penilaian Ibnu Hajar mengenai keduanya dalam At Taqrib.

      – Ulama menetapkan bahwa ungkapan Shoduuq Yahimu adalah termasuk ungkapan-ungkapan untuk memberikan kepercayaan bukan ungkapan untuk menilai lemah. (Tadribur Roowi).

      – Adapun Abul Jauzaa’, maka ia adalah Aus ibn Abdillah Ar Rib’i. Ia termasuk figur yang dapat dipercaya dari para perowi Shohih al Bukhori dan Shohih Muslim.

      Berarti sanad hadits di atas adalah tidak mengandung masalah. Para ulama mau menerima dan menjadikan penguat banyak sanad semisalnya, dan bahkan dengan para perowi yang kualitasnya lebih rendah dari sanad hadits ini.

      Adapun pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa atsar di atas berstatus mauquf pada ‘Aisyah yang notabene adalah sahabat perempuan, dan praktek shahabat itu bukan hujjah, maka jawabannya adalah bahwa atsar tersebut meskipun opini ‘Aisyah namun beliau –rodhiyallohu ‘anha- dikenal sebagai perempuan yang memiliki kapasitas keilmuan yang luas dan tindakannya dilakukan di kota Madinah di tengah para ulama sahabat. Dari kisah yang terkandung dalam atsar ini cukup bagi kita untuk menjadikannya sebagai dalil bahwa ‘Aisyah Ummul Mu’minin mengetahui bahwa sesudah wafat, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam senantiasa menyayangi dan mensyafaati ummatnya, dan bahwa orang yang berziarah ke kuburannya dan memohon syafaatnya akan diberi syafaat oleh beliau, sebagaimana praktek yang telah dilakukan Ummul Mu’minin ‘Aisyah. Tindakan ‘Aisyah membuat lubang pada tempat makam Rosululloh tidak dikategorikan kemusyrikan atau perantara kemusyrikan sebagaimana tuduhan yang disuarakan orang-orang yang suka mengkafirkan dan menuduh sesat. Karena ‘Aisyah dan orang yang menyaksikannya bukan termasuk mereka yang buta terhadap kemusyrikan dan hal-hal yang mengantar kepada kemusyrikan.

      Bukti Ketiga :

      Dari Ali bin Maimun, ia berkata : Aku mendengar Imam Syafi’i brkata : “Sesungguhnya saya senantiasa bertabarruk dengan Abu Hanifah. Aku senantiasa mendatangi makamnya setiap hari untuk berziyarah. Apabila aku mempunyai hajat, aku sholat dua rokaat, lalu aku datangi makamnya, selanjutnya aku meminta kepada Alloh tentang hajatku disisi kuburnya, tidak lama kemudian hajatku terkabul.”(Tarikh Baghdad Lil Khothib Al Baghdadiy, vol. 1 hal. 123)

  19. Ini gimana sih…label wahabi khan datang dari orang yg tidak suka dgn dakwah syaikh Muhammad ibn Abd Wahhab. Contohnya : apakah sy mau menyebut wajah sy jelek padahal itu hanya tuduhan yg datangnya dari org yg enggak menyukai saya. tentunya tidak bukan.

    1. @ibn abdul chair
      Ente yang gimana !!!, kan yang memberikan label Wahabi adalah kakak kandung Muhammad ibn abdul Wahab yaitu Syeikh Sulaiman Ibn abdul Wahab. Bukan siapa2 atau bukan kelompok lain.
      Cari aja kitabnya syeikh sulaiman ibn abdul wahab : “As Shawaiqul Al Ilahiyyah Fi Ar Raddi Ala Al Wahhabiyah” cetakan Pertama di Iraq pada tahun 1306 H-1888 M pada hal. 18.
      Jadi ente jangan mengaburkan sejarah dah ya. Ingat : Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa akan sejarah. Gitu.

  20. Kl saya lagi ziarah ke makam ibunda, ada rasa sykur yg begitu dalam, krn 1 -2 tahun sebelum wafatnya, beliau sempat belajar aqidah yg benar. Dan sy selalu berharap dpt mencontoh beliau agar tetap dlhidupkan didalam aqidah yg lurus ini.
    Begitu kl sy ziarah …

    1. @ibn abdul chair
      Nah itu juga syirik, kalau ane baca Kitabnya Muhammad ibn abdul Wahab ya “Fathul Majid. Kenapa ? 1. Ente bersyukur kepada Allah atau 2. Ente bersyukur kepada Ibunda ?
      Kalau yang pertama itu bagus tapi masih bercampur syirik sedikit karena faktor ibunda, sedang yang kedua itu syirik besar katanya MAW.

      Repot juga ya kalau masalah syirik. Masalahnya lawannya Tauhid sih.

  21. Kl sy bilang kakaknya dan orang tuanya syaikh Muhammad ibn Abd Wahhab sudah ruju’ kepada beliau,pasti dibilang dusta. berabe dah…

    1. @ibn abdul chair
      Kan ane baca kitabnya, kalau gak dari kitabnya mana mungkin ane ruju kepada Syeikh Sulaiman ibn Abdul Wahab, kan dia sudah wafat.
      Ane juga baca kitab yang memperkuat cerita itu :
      Kitab : DURAR AS SANIYAH FI RADD ALA WAHABIYAH karangan Syeikh Zaini Dahlan.

      Ini kan fakta sejarah, masa sih ane bisa mengaburkan sejarah. Dosa iya, karena tulisan / komen ini juga akan diperlihatkan Allah swt kepada ane di yaumil akhir.

    1. @ibn abdul chair
      Iya kan “kepada manusia sy berterima kasih”.
      Lha kan ibunda ente sudah tiada, masa sih harus berterima kasih.
      Nah berarti, kalau ane perhatikan ente bukan Wahabi yang sebenarnya, ente baru menyelami sedikit tentang Wahabi (Ini analisa ane ya terhadap ente).
      Makanya dalamilah suatu faham dengan sebenar2nya kandungan faham tersebut, jangan kita ikut2an. karena kalau salah langkah sekarang, di yaumil akhir akan tersesat juga. Hidup ini sebentar, yang abadi dihari akhirat.

    1. @ibn abdul chair
      Ente koment asal2an ya, kan ane bilang kalau ane baca kitab Fathul Majid karangan MAW bab Uluhiyah. Dijelaskan bahwa bertauhid uluhiyah itu harus benar-benar bersih dari segala sesuatu, apapun bentuknya, mau berupa benda, mahluk ataupun yang lain.
      Pegimana ente memahami kitab Imam ente. Coba deh ente kaji, nti ketemu dah Tauhid Uluhiyah, Rububiyah dan Asma wa shifat – Menurut Imam ente !!!

  22. @Ahlussunah Wal Jama”ah, terkhusus untuk saudara Ibn Abdul Chair (Salafi)

    Golongan Wahabi/Salafi melarang orang mentakwil ayat-ayat Ilahi atau hadits-hadits Rasulallah saw. yang berkaitan dengan shifat. Jadi bila ada kata-kata di alqur’an wajah Allah, tangan Allah dan seterusnya harus diartikan juga wajah dan tangan Allah secara hakiki.

    berikut ini ayat-ayat Ilahi yang mutasyabihat (kalimat perumpamaan atau kalimat samar) dalam menerangkan keadaan diri-Nya, seperti dalam firman-firman-Nya:

    “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy……” (QS Al-Araf: 54)

    Dalam QS. As-Shaad:75: ” …hai iblis apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang telah Ku Ciptakan dengan kedua tangan-Ku …”

    Sangat jelas bagi kita, bahwa ungkapan-ungkapan mutasyabihat ayat-ayat di atas ini, dimengerti bukan untuk ditafsirkan secara hakiki/arti sebenarnya, tetapi boleh ditafsirkan secara majazi/kiasan. Bila ayat-ayat di atas ini mempunyai arti yang sebenarnya maka akan berbenturan dengan ayat-ayat ilahi diantaranya dalam QS (42):11; QS (6): 103; QS (37): 159.

    Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.

    “Mereka (Salafi wahabi) telah menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya namun mereka takut akan kecaman manusia maka oleh karena itu mereka pun menyembunyikannya dengan mengatakan tanpa bentuk (bila kaif) atau perkataan buruk lainnya.”

    INKONSISTENSI DAN KERANCUAN AQIDAH SALAFI WAHABI

    Dan orang yang mengambil ayat mutasyabihat ini secara zhahirnya, apakah yang akan ia katakan tentang ayat 115 surat al Baqarah: “…..Kemanapun kamu menghadapa, disanalah wajah Allah….”

    Jika orang salafi wahabi mengambil zhahir ayat ini (karena menolak takwil) berarti: “ke arah manapun kalian menghadap, di belahan bumi manapun, niscaya Allah ada di sana”.

    Seperti ayat : ”Nasuullaha fanasiahum” mereka melupakan Allah maka Allah pun melupakan mereka, (QS. At-taubah : 67). Apakah kaum salafi wahabi ingin mengatakan bahwa Allah memiliki sifat lupa, tapi lupanya Allah tidak seperti lupanya makhluk?

    Lalu bagaimana dengan firman-Nya : ”Mereka yang berbai’at padamu sungguh mereka
    telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS. Al Fath : 10).

    Dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yang turut berbai’at pada sahabat.

    Juga sebagaimana hadits qudsiy yang mana Allah berfirman : ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku sungguh Ku-umumkan perang kepadanya, tiadalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal – hal yang fardhu, dan Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan hal hal yang sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada-Ku niscaya Ku-beri permintaannya….” (Shahih Bukhari)

    Apakah kaum salafi wahabi akan mengatakan bahwa Allah menjadi telinga, mata, tangan dan kaki hambanya?

    Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman : ”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk-Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba-Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim)

    Apakah salafi wahabi akan mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita?

    KEDUSTAAN SALAFI WAHABI DENGAN MENGATASNAMAKAN SALAF

    Salafi wahabi selalu mengatakan bahwa mereka mengikuti generasi salaf, termasuk dalam mengimani shifat shifat Allah swt. sebenarnya hal tersebut hanyalah kedustaan belaka, yang mereka jadikan kamuflase untuk mengelabui umat islam.

    Dalam kitab Sharîh al-Bayân Fî ar-Radd ’Alâ Man Khâlaf al- Qur’ân karya al-Imâm al-Hâfizh Abdullah al-Harari dalam menjelaskan bahwa takwil tidak hanya diberlakukan oleh para ulama Khalaf, tidak pula hanya diberlakukan oleh para ulama dari kalangan Asy’ariyyah dan Maturidiyyah saja, tapi jauh sebelum itu metodologi takwil ini telah diberlakukan oleh para sahabat, tabi’în, dan para ulama Salaf saleh terdahulu.

    Adapun takwil dari sahabat Abdullah ibn Abbas adalah seperti yang telah disebutkan al-Imâm al-Hâfizh ibn Hajar dalam kitab Fath al-Bâri Syarh Shahîh al- Bukhâri, sebagai berikut: “Adapun kata “as-Sâq”, telah diriwayatkan dari Abdullah ibn Abbas dalam takwil firman Allah (Qs. Al Qalam: 42)

    Bahwa yang dimaksud dengan kata “as-Sâq” dalam ayat ini adalah “Perkara yang dahsyat”. Artinya di hari tersebut (hari kiamat) akan dibukakan segala perkara dan urusan yang sulit dan dahsyat.

    Disini kata “as-Saq” yang artinya betis ditakwil dengan makna genting atau dahsyat.

    Sementara itu diriwayatkan dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari dalam menafsirkan ayat QS. al-Qalam: 42 tersebut mengatakan bahwa orang-orang mukmin di saat kiamat nanti dibukakan bagi mereka akan cahaya yang agung (maksudnya pertolongan dari Allah).

    Al-Imâm Ibn Furak berkata: ”Yang dimaksud dengan ayat tersebut ialah bahwa orang-orang mukmin mendapatkan berbagai karunia dan pertolongan”. Al-Muhallab berkata: ”Yang dimaksud ayat tersebut adalah bahwa orang-orang mukmin mendapatkan rahmat dari Allah, sementara pada saat yang sama orang-orang kafir mendapatkan siksa dari-Nya”

    “Maka pada hari ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupa kan pertemuan mereka dengan hari ini…” (QS. al A’râf : 51). Ibnu Abbas ra. menta’wil ayat ini yang menyebut (Allah) melupakan kaum kafir dengan ta’wîl “menelantarkan/membiarkan”.

    Ibnu Jarir berkata: ‘Yaitu maka pada hari ini yaitu hari kiamat, Kami melupakan mereka, Dia berfirman, Kami membiarkan mereka dalam siksa..’ (Tafsir Ibnu Jarir)

    Adapun takwil dari al-Imâm Mujahid adalah sebagaimana telah diriwayatkan oleh al-Hâfizh al-Bayhaqi takwil firman Allah swt. Qs. Al-Baqarah : 115 : ia (Mujahid) berkata: “Yang dimaksud dengan “Wajhullâh” adalah “Kiblatullâh” (kiblat Allah), maka di manapun engkau berada, baik di barat maupun di timur, engkau tidak menghadapkan mukamu kecuali kepada kiblat Allah tersebut” (Yang dimaksud adalah ketika shalat sunnah di atas binatang tunggangan, ke manapun binatang tunggangan tersebut mengarah maka hal itu bukan masalah)

    Adapun takwil dari al-Imâm Ahmad, juga telah diriwayatkan oleh al-Bayhaqi di dalam pembicaraan biografi al-Imâm Ahmad sendiri. Diriwayatkannya dari al-Hakim dari Abu ‘Amr as-Sammak dari Hanbal, bahwa al-Imâm Ahmad ibn Hanbal telah mentakwil firman Allah Qs. Al-Fajr : 22: “Dan datanglah Tuhanmu”.

    bahwa yang dimaksud ayat ini bukan berarti Allah datang dari suatu tempat, tapi yang dimaksud adalah datangnya pahala yang dikerjakan ikhlas karena Allah. Tentang kualitas riwayat ini al-Bayhaqi berkata: “Kebenaran sanad riwayat ini tidak memiliki cacat sedikitpun”, sebagaimana riwayat ini telah dikutip oleh Ibn Katsir dalam kitab Târîkh-nya.

    Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

    Ibnu Abbas ra. adalah seorang sahabat besar dan pakar dalam tafsir Al Qur’an….Mujahid adalah seorang tabi’în agung…Ibnu Jarir adalah pakar Tafsir kalangan Salaf, Imam Hanbali adalah salah seorang Imam Mazhab.

  23. Benarkah Ibnu Taymiyah dan Syaikh Muhammad bin Abd Wahhab adalah seorang mujaddid?

    Al-Imâm Taqiyyuddin as-Subki adalah ulama terkemuka multi disipliner yang oleh para ulama lainnya dinyatakan bahwa beliau telah mencapai derajat mujtahid mutlak, seperti al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm Malik, al-Imâm Abu Hanifah atau lainnya. Dalam pembukaan salah satu karya bantahan beliau terhadap Ibn Taimiyah ad-Durrah al-Mudliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah., beliau menuliskan sebagai berikut:

    “Sesungguhnya Ibn Taimiyah telah membuat ajaran-ajaran baru. Ia telah membuat faham-faham baru dalam masalah pokok-pokok akidah. Ia telah menghancurkan sendi-sendi Islam dan rukun-rukun keyakinan Islam. Dalam mempropagandakan faham-fahamnya ini, ia memakai topeng atas nama mengikut al-Qur’an dan Sunnah. Ia menampakkan diri sebagai orang yang menyeru kepada kebenaran dan kepada jalan surga. Sesungguhnya dia bukan seorang yang mengikut kepada kebenaran, tapi dia adalah seorang yang telah membawa ajaran baru, seorang ahli bid’ah. Ia telah menyimpang dari mayoritas umat Islam dengan menyalahi berbagai masalah yang telah menjadi ijma’. Ia telah berkeyakinan pada Dzat Allah yang Maha Suci sebagai Dzat yang memiliki anggota-anggota badan dan tersusun dari anggota-anggota tersebut”.

    Ibn Taimiyah di masa hidupnya dipenjarakan karena kesesatannya hingga meninggal di dalam penjara dengan rekomedasi fatwa dari para hakim ulama empat madzhab ini, yaitu pada tahun 726 H. Lihat peristiwa ini dalam kitab ‘Uyûn at-Tawârikh karya al-Imâm al-Kutubi, dan dalam kitab Najm al-Muhtadî Fî Rajm al-Mu’tadî karya al-Imâm Ibn al-Mu’allim al-Qurasyi.

    Pimpinan para hakim madzhab Maliki di seluruh wilayah negara Mesir pada masanya; asy-Syaikh Ali ibn Makhluf (w 718 H). Di antara pernyataannya sebagai berikut: “Ibn Taimiyah adalah orang yang berkeyakinan tajsîm, dan dalam keyakinan kita barangsiapa berkeyakinan semacam ini maka ia telah menjadi kafir yang wajib dibunuh”.

    Al-Faqîh Syamsuddin Muhammad ibn Adlan asy-Syafi’i (w 749 H). Salah seorang ulama terkemuka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah yang telah mengutip langsung bahwa di antara kesesatan Ibn Taimiyah mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy, dan secara hakekat Dia berada dan bertempat di atasnya, juga mengatakan bahwa sifat Kalam Allah berupa huruf dan suara.

    kalau Muhammad bin Abdul Wahab tidak perlu diceritakan lagi, semua orang sudah mengetahuinya, kecuali salafi wahabi.

  24. ane heran di situs ini, ko gusdur di puja lalu syekh islam ibnu taimiyah ko dicaci ya?apakah anda yang mencaci syekhul islam ibnu taimiyah sudah membaca karya2 beliau? atau anda sudah membaca karya2 syekh muhammad bin abdul wahab yang anda sebut wahabi? padahal syekh muhammad bin abdul wahab tidak pernah menggelarinya seperti itu, ataukah anda hanya sekedar mencacinya saja. ya ikhwan ketahuilah yang anda caci itu para ulama.

  25. Agung : bahwa di antara kesesatan Ibn Taimiyah mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy, dan secara hakekat Dia berada dan bertempat di atasnya, juga mengatakan bahwa sifat Kalam Allah berupa huruf dan suara
    Bandingkan dengan seorg Ulama Salaf, beliau adalah murid dari Al Imam Asy syafi’i rahimahullah dan Guru dari Al Imam Al Bukhori rahimahullah.
    Imam Al-Humaidi (wafat tahun 219 H)
    Beliau adalah Abu Bakar, Abdullah bin Zubair bin Isa bin Usamah Al-Qurasyi Al-Asadi Al-Humaidi Al-Makki. Beliau termasuk ulama besar, al-hafizh, al-faqih.
    Guru dan Murid Imam Al-Humaidi
    Di antara guru beliau adalah Sufyan bin Uyainah, Muslim bin Khalid, Fudhail bin Iyadh, Ibrahim bin Sa’ad, Asy-Syafi’i, dan Ad-Darawurdi. Beliau termasuk salah satu ulama besar dalam Mazhab Syafi’iyah. Beliau banyak mengikuti majelis Imam Asy-Syafi’i. Di antara murid beliau adalah Al-Bukhari (meriwayatkan tujuh puluh lima hadis dari Humaidi), Muslim, Abu Daud, An-Nasa’i, At-Turmudzi, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan banyak ulama lainnya.
    Pujian untuk Imam Al-Humaidi
    Beliau sangat dihormati dan dimuliakan. Imam Ahmad mengatakan, “Al-Humaidi, bagi kami, adalah ulama besar.” Al-Fashwah mengatakan, “Saya belum pernah bertemu seseorang yang lebih (memiliki sifat) nasihat untuk Islam dan pemeluknya selain Al-Humaidi ….“
    Ajaran Imam Al-Humaidi
    Imam Al-Humaidi menyebutkan bahwa di antara prinsip ajaran Islam adalah:
    1. Segala keterangan yang terdapat dalam Alquran dan hadis tidak boleh ditambahi dan tidak boleh disimpangkan maknanya.
    2. Kita berpemahaman tentang Allah sebagaimana yang ditetapkan Alquran dan Sunah.
    3. Di antara keterangan dari Alquran tentang Allah adalah:
    • Allah memiliki tangan, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah serta berbeda dari tangan makhluk. Allah berfirman (yang artinya), “Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka.” (QS. Al-Fath:10)
    • Allah berada di atas Arsy. Allah berfirman (yang artinya), “Ar-Rahman, Dia berada di atas Arsy.” (QS. Thaha:5)
    • Allah memiliki wajah, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah serta berbeda dari wajah makhluk. Allah berfirman (yang artinya), “Ke mana pun kalian menghadap maka di sana ada wajah Allah ….” (QS. Al-Baqarah:115)
    • Allah memiliki mata, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah serta berbeda dari mata makhluk. Allah berfirman (yang artinya), “Bersabarlah terhadap hukum Allah, karena kamu di bawah pengawasan mata Kami ….” (QS. Ath-Thur:48)
    4. Barang siapa yang memiliki pemahaman yang menyimpang dari prinsip di atas maka dia adalah orang sesat, pengikut aliran Jahmiyah.

  26. Imam Al-Humaidi (wafat tahun 219 H)
    Beliau adalah Abu Bakar, Abdullah bin Zubair bin Isa bin Usamah Al-Qurasyi Al-Asadi Al-Humaidi Al-Makki. Beliau termasuk ulama besar, al-hafizh, al-faqih.
    Guru dan Murid Imam Al-Humaidi
    Di antara guru beliau adalah Sufyan bin Uyainah, Muslim bin Khalid, Fudhail bin Iyadh, Ibrahim bin Sa’ad, Asy-Syafi’i, dan Ad-Darawurdi. Beliau termasuk salah satu ulama besar dalam Mazhab Syafi’iyah. Beliau banyak mengikuti majelis Imam Asy-Syafi’i. Di antara murid beliau adalah Al-Bukhari (meriwayatkan tujuh puluh lima hadis dari Humaidi), Muslim, Abu Daud, An-Nasa’i, At-Turmudzi, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan banyak ulama lainnya.
    Pujian untuk Imam Al-Humaidi
    Beliau sangat dihormati dan dimuliakan. Imam Ahmad mengatakan, “Al-Humaidi, bagi kami, adalah ulama besar.” Al-Fashwah mengatakan, “Saya belum pernah bertemu seseorang yang lebih (memiliki sifat) nasihat untuk Islam dan pemeluknya selain Al-Humaidi ….“
    Ajaran Imam Al-Humaidi
    Imam Al-Humaidi menyebutkan bahwa di antara prinsip ajaran Islam adalah:
    1. Segala keterangan yang terdapat dalam Alquran dan hadis tidak boleh ditambahi dan tidak boleh disimpangkan maknanya.
    2. Kita berpemahaman tentang Allah sebagaimana yang ditetapkan Alquran dan Sunah.
    3. Di antara keterangan dari Alquran tentang Allah adalah:
    • Allah memiliki tangan, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah serta berbeda dari tangan makhluk. Allah berfirman (yang artinya), “Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka.” (QS. Al-Fath:10)
    • Allah berada di atas Arsy. Allah berfirman (yang artinya), “Ar-Rahman, Dia berada di atas Arsy.” (QS. Thaha:5)
    • Allah memiliki wajah, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah serta berbeda dari wajah makhluk. Allah berfirman (yang artinya), “Ke mana pun kalian menghadap maka di sana ada wajah Allah ….” (QS. Al-Baqarah:115)
    • Allah memiliki mata, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah serta berbeda dari mata makhluk. Allah berfirman (yang artinya), “Bersabarlah terhadap hukum Allah, karena kamu di bawah pengawasan mata Kami ….” (QS. Ath-Thur:48)
    4. Barang siapa yang memiliki pemahaman yang menyimpang dari prinsip di atas maka dia adalah orang sesat, pengikut aliran Jahmiyah.

    1. kaum mujassimah musyabihah / wahabiyah menyangka jika semua Idhofah adalah sifat , seingga menurut mereka Allah itu punya tangan 2 semuanya kanan ( jelek amat ) , berdiam diarsy ( katanya dilangit………? ) punya wajah banyak karena kemanapun kau menghadap disitu wajah Allah ( serem amat wajahnya banyak) , punya mata ada brp matanya…….?

      mereka tidak mengindahkan jika Allah tidak ada sedikitpun yang menyerupainya seperti apapun kau membayangkan ” Allah ” sungguh Allah tidak seperti itu laitsa kamistlihi syai`.

    1. Wahabi kan menghalalkan tipu dan bohong Mas Bima, prinsipnya bagi mereka adalah tercapainya tujuan “menTAUHIDkan” ummat Islam agar lebih bertauhid dg tauhid trinitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker