Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Berita Indonesia

Denny Siregar ‘Membuka Topeng PKS’

Denny Siregar dalam tulisannya: ‘Membuka Topeng PKS’ ini membongkar fakta-fakta yang mungkin sudah dilupakan atau bahkan tak pernah terpikirkan oleh kebanyakan orang.

 

 

 

Penolakan PKS terhadap usulan Perppu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang) yang diwacanakan Menteri Hukum dan Ham untuk cegah virus ISIS di Indonesia sebenarnya bukan barang aneh.

Ingat Anis Matta, mantan Presiden PKS ini pernah mengatakan bahwa mereka yang memusuhi ISIS itu lebay, karena kekuatan ISIS hanya puluhan ribu sedangkan yang memeranginya 40 negara. Pria ber-rolex ini sendiri menganggap bahwa adanya ISIS adalah bagian dari proses hilangnya Irak dan Suriah menjadi negara baru.

Bisa ditangkap bahwa sebenarnya Anis Matta “mendukung” adanya ISIS yang mengobarkan berdirinya negara Islam dengan melenyapkan negara lain.

Kenapa PKS terlihat setuju ? Karena mereka sebenarnya mempunyai ideologi yang sama, yaitu tegaknya khilafah di bumi Indonesia.

BACA JUGA:  Penjelasan Polisi Soal Kronologi Serangan Bom di Sarinah

PKS tidak bisa menghapus jejaknya bahwa mereka didirikan dengan dana mayoritas dari organisasi Ikhwanul Muslimin yang sedang diberantas di Mesir. Dan seperti hal-nya sebuah organisasi, mereka mempunyai ideologi yang tetap mereka nyalakan di hati mereka.

Indonesia adalah ladang yang subur bagi PKS untuk menyemai kembali ruh Ikhwanul Muslimin di sini. Negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia sangat cocok untuk dijadikan negara khilafah.

Jadi, maaf saja PKS, kalau segala gerakmu yang sekarang terlihat cenderung moderat sejak kepemimpinan yang berganti, tidak bisa menutup mata bahwa “ada sesuatu” yang sedang dijalankan. Meski saya akhirnya dituduh ber-prasangka buruk, tapi fakta di lapangan memperkuat teorinya.

BACA JUGA:  FPI Melawan Polisi, Pembubaran FPI Hanya Soal Waktu

Kejadian bom Sarinah yang baru saja, membuka kembali tabir itu.

Serangan dunia maya mengecilkan peran aparat dengan segala teori2 konspirasi seakan2 ini adalah pengalihan isu. Tujuannya jelas, menjatuhkan wibawa aparat dan pemerintah, seolah2 mereka sebenarnya yang menjadi dalang semua itu.

Proses cuci otak ini tidak lepas dari peran cyber army-nya yang terkenal kuat itu. Kemampuan mereka membolak-balik fakta sudah teruji saat pilpres 2014 lalu dan mereka uji kembali sekarang ini.

Dengan adanya berita provokatif dan menjatuhkan wibawa pemerintah, diharapkan terus terpelihara kebencian yang semakin dalam. Bahkan beritanya sempat dikembangkan, bahwa ada Prabowo di balik bom Thamrin, untuk mengadu pendukung fanatik kedua kubu. Sulit melacak asal berita, tetapi polanya terlihat jelas.

Ocehan Fahri Hamzah yang terlihat seperti “menyepelekan” ISIS dengan menolak usulan Perppu, mirip dengan ucapan Anis Matta yang terlihat “mengkerdilkan” ISIS.

BACA JUGA:  Masjid Baiturrahim Diterjang Tsunami Tetap Kokoh

Tujuannya satu, supaya ISIS tidak terlihat menjadi masalah besar di mata pemerintah Indonesia. Dengan begitu pemerintah diharapkan tidak waspada dengan perkembangan ISIS di Indonesia.

Fahri Hamzah dan Anis Matta mungkin lupa, bahwa ISIS yang mereka selalu “kerdilkan” itu, telah membantai ribuan nyawa sejak kehadirannya. Dan tidak mewaspadainya, sama saja mengundang mereka dengan gelaran karpet merah dan mengulurkan kepala dengan sukarela untuk dipenggal. Ah entah, benarkah mereka lupa ?

Saya juga tidak tahu, kenapa mendengar nama PKS seperti menyeruput secangkir kopi tanpa gula ? Pahit di lidah dan membuat mata terjaga waspada.

Bukalah dulu topengmu, wahai PKS.. Biar kulihat jelas wajahmu.

oleh: Denny Siregar

 

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker