Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Berita Fakta

Debat Seru Tentang Maulid Nabi di Facebook

Maulid Nabi

madina - Debat Seru Tentang Maulid Nabi di Facebook

Maulid Nabi

BACA JUGA:  Bahaya Salafy Wahabi Harus Diberitahukan Kepada Muslimin
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

31 thoughts on “Debat Seru Tentang Maulid Nabi di Facebook”

  1. sangat jelas sekali bahwa ‘kimi maki’ dkk. disitu sedang berusaha mendalilkan amalnya, bukan mengamalkan dalil, dia mencari-cari dalil yg ia RASA sesuai dg akal dan hawa nafsunya…..

    saya ingin tanya, sahabat mana yg menafsirkan sabda Rasulullah tentang puasa hari senin itu sbg dalil utk merayakan maulid? apakah ada sahabat yg menafsirkan demikian?
    apakah kita merasa lebih pintar dari Sahabat dlm menafsirkan sabda Rasulullah?
    kalo seandainya kita bnr2 ingin ‘merayakan’ maulid sesuai dg tuntunan Rasulullah, tentunya dg cara puasa hari senin sbgagaimana yg Rasulullah lakukan donk……

  2. setuju dengan salman… memang mereka terkesan mencari cari dalil untuk pembenaran hawa nafsunya….awal awal dengan kata kata yang halus , lama kelamaan terlihat sifat aslinya …..
    Kenapa tidak cari yang mudah saja…ikuti saja petunjuk rasul yang jelas dalam beribadah …ditanggunng aman ..
    Lakukan shalat fardu berjamah dimesjid setiap waktu, dan untuk tambahan bisa denga thajud dimalam hari, dan tambah pula dengan puasa senin kemis …..saya rasa sudah cukup, dari pada ngamali malid mauliddan yang ngga jelas juntrungannnya …….

  3. @salman…
    ================
    @ Maulid dan gembira atas lahirnya Rasul saw sudah ada sejak zaman sahabat radhiyallahu ‘anhum., sebagaimana syair syairnya. Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra :

    “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah.., maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya kelahiranmu itu dan dalam tuntunan kemuliaan kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417).

    wassalam….

  4. @All Brother ini Islam,
    BIARLAH AHLADZ-DZIKR YANG BICARA !!!!

    1. Fatwa tentang perayaan kelahiran Nabi (Maulid Nabi) oleh Syekh ‘Atiyyah Saqr

    “Nabi Muhammad Saw., mengatakan bahwa hari dimana ia dilahirkan adalah hari yang istimewa. Seperti diketahui dalam agama Islam bahwa seorang Muslim harus mempergunakan kesempatan di hari-hari yang diberkati dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, umat Islam semestinya merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw. sebagai ucapan rasa syukur kepada Allah Swt. karena telah membimbing mereka ke dalam Islam melalui Nabi Muhammad Saw.

    Oleh sebab itu, merayakan hari lahirnya Nabi Muhammad Saw. hukumnya boleh selama dalam merayakannya tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang. Sedangkan untuk ‘heboh’ dalam perjamuan makan, hal ini bersumberkan kepada ayat Al-Qur’an: (Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.) (Al-Baqarah 2: 172)

    Menurut saya merayakan sesuatu yang sifatnya relijius seperti maulid Nabi adalah dianjurkan terutama di zaman sekarang bagi kalangan anak muda yang telah melupakan tentang maulid Nabi dan hikmah dibalik merayakannya karena mereka dimanjakan dengan perayaan-perayaan lainnya.

    Merayakan kegiatan yang mulia seperti maulid Nabi seyogyanya diisi dengan menceritakan tentang Sunnah dan kehidupan beliau, membangun masjid, institusi keagamaan dan bentuk amal baik berupa sedekah atau lainnya yang mengingatkan orang tentang kehidupan Nabi serta perjuangan yang beliau lakukan.

    Untuk itu, boleh hukumnya untuk merayakan maulid Nabi sebagai ungkapan rasa cinta kita kepada beliau dan usaha kita untuk mengikuti beliau sebagai panutan asalkan dalam perayaannya tidak melibatkan sesuatu yang dilarang oleh agama. Beberapa hal yang dilarang itu seperti bercampurnya pria dan wanita, bersikap tidak pantas di dalam masjid dan ikut serta melakukan bid’ah yang salah seperti menyembah kuburan dan lainnya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Jika seandainya apa-apa yang dilarang dalam perayaan maulid Nabi sudah melampaui batas maka mereka harus menghentikannya guna menghindari pelanggaran dan kerugian seperti apa yang sudah diatur menurut Islam.

    2. Fatwa tentang perayaan kelahiran Nabi (Maulid Nabi) oleh Syekh Yusuf Al-Qardhawi

    “Kita semua tahu bahwa para Sahabat Nabi Muhammad Saw. tidak pernah merayakan hari kelahiran Nabi, Hijrah ataupun perang Badar, hal ini dikarenakan mereka menyaksikan sendiri semua kejadian itu selama mereka hidup bersama Nabi Muhammad Saw. dan itu tetap membekas dalam hati dan pikiran mereka.

    Sa`ad bin Abi Waqas mengatakan bahwa mereka begitu bersemangat menceritakan kepada anak-anak mereka tentang cerita peperangan yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw. seperti halnya mereka begitu bersemangat mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka. Oleh karena para sahabat terbiasa mengingatkan ke anak-anak mereka tentang apa yang terjadi semasa hidup Nabi Muhammad Saw. maka mereka tidak perlu untuk mengadakan perayaan seperti maulid Nabi. Namun generasi selanjutnya mulai melupakan sejarah gemilang kehidupan Nabi dan hikmah yang ada dibaliknya. Jadi perayaan seperti maulid Nabi diadakan sebagai upaya untuk menghidupkan kembali jejak-jejak kehidupan Nabi dan nilai-nilai yang dapat kita pelajari yang terdapat didalamnya.

    Sayangnya, perayaan seperti maulid Nabi akan melibatkan hal-hal baru yang harus diadakan guna mengingatkan masyarakat tentang kehidupan yang pernah dijalani oleh Nabi Muhammad Saw. Sebenarnya merayakan kelahiran Nabi (maulid Nabi) berarti merayakan lahirnya Islam. Kesempatan seperti itu dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat bagaimana kehidupan Nabi Muhammad Saw..

    Allah Swt. berfirman: (Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.) (Al-Ahzab 33: 21)

    Disamping merayakan maulid Nabi juga ada perayaan Hijrah Nabi, perayaan Hijrah Nabi semestinya mengajarkan kepada umat Islam tentang nilai-nilai seperti pengorbanan, pengorbanan para Sahabat beliau, pengorbanan Sayyidina ‘Ali ra. yang tidur menggantikan Nabi Muhammad Saw. ketika beliau hijrah, dan pengorbanan dari Asma’ binti Abu Bakar yang mendaki Jabal Thur guna mengantarkan makanan bagi Nabi dan ayahandanya. Kita semestinya mengajarkan mereka bagaimana penyusunan rencana yang dilakukan oleh Nabi ketika beliau berangkat untuk Hijrah dan bagaimana beliau yakin kepada Allah Swt. sebagaimana dia yakinkan hal itu kepada Abu Bakar ra.: Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah 9: 40)

    Kita memerlukan semua pembelajaran dan perayaan itu sebagai upaya untuk menghidupkan kembali hikmah dan nilai-nilai yang bisa diambil. Saya pikir jika perayaan seperti maulid Nabi ini dilakukan dengan cara yang benar akan menghasilkan manfaat yang sangat besar seperti mendekatkan kembali umat Islam kepada ajaran Islam dan Sunnah Nabi serta akhlak beliau semasa hidupnya.”

    ILMU-ILMU ANTUM YANG RIBUT DI ATAS JUJUR SAJA BELUM SEBANDING DENGAN KEDUA ULAMA DI ATAS. JADI SEBAIKNYA IKUTI SAJA DENGAN RENDAH HATI FATWA KEDUANYA. JANGAN BANYAK BERARGUMEN YANG KADANG MALAH MEMPERTONTONKAN KEJAHILAN DAN KEDANGKALAN KITA DALAM BERFIKIR DAN BERAGAMA …

  5. @Islamsaja

    Assalam….

    Berikut para Imam dan Muhaddits,serta ulama yg membuat riwayat maulid dan pendapat lain nya: (dr berbagai sumber)

    1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
    Telah jelas dan kuat riwayat yg sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yg berpuasa hari asyura (10 Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari ditenggelamkannya Fir’aun
    dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah yg diberikan pada suatu hari
    tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa didapatkan dg pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca Alqur’an, maka nikmat apalagi yg melebihi kebangkitan Nabi ini?, telah berfirman Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH
    MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al Imran 164)

    2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
    Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dg sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan
    bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yg kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yg telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan saudara saudara, menjamu dg makanan makanan dan yg serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii ‘amalilmaulid”.

    3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
    Merupakan Bid’ah hasanah yg mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yg diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dg kelahiran Nabi saw.

    4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
    Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran
    Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yg gembira atas kelahiran Nabi saw?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

    5. Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy :
    Serupa dg ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab

    6. Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah
    berkata ”tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pd malamnya dg berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yg sangat besar”.

    7. Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : ”ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw”

    8. Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah
    dengan karangan maulidnya yg terkenal ”al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, ”Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dg tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yg membacanya serta merayakannya”.

    9. Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah
    dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: ”Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kpd orang yg menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.

    10. Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yg terkenal dg Ibn Dihyah alkalbi dg karangan maulidnya yg bernama ”Attanwir fi maulid basyir an nadzir”

    11. Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri
    dg maulidnya ”urfu at ta’rif bi maulid assyarif”

    12. Imam al Hafidh Ibn Katsir
    yg karangan kitab maulidnya dikenal dg nama : ”maulid ibn katsir”

    13. Imam Al Hafidh Al ’Iraqy
    dg maulidnya ”maurid al hana fi maulid assana”

    14. Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy
    telah mengarang beberapa maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

    15. Imam assyakhawiy
    dg maulidnya al fajr al ulwi fi maulid an nabawi

    16. Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi
    dg maulidnya al mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

    17. Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yg terkenal dg ibn diba’dg maulidnya addiba’i

    18. Imam ibn hajar al haitsami
    dg maulidnya itmam anni’mah alal alam bi maulid syayidi waladu adam

    19. Imam Ibrahim Baajuri
    mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dg nama tuhfa al basyar ala maulid ibn hajar

    20. Al Allamah Ali Al Qari’
    dg maulidnya maurud arrowi fi maulid nabawi

    21. Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al barzanji
    dg maulidnya yg terkenal maulid barzanji

    23. Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani
    dg maulid Al yaman wal is’ad bi maulid khair al ibad

    24. Al Allamah Syeikh Yusuf bin ismail An Nabhaniy
    dg maulid jawahir an nadmu al badi’ fi maulid as syafi’

    25. Imam Ibrahim Assyaibaniy
    dg maulid al maulid mustofa adnaani

    26. Imam Abdulghaniy Annanablisiy
    dg maulid Al Alam Al Ahmadi fi maulid muhammadi”

    27. Syihabuddin Al Halwani
    dg maulid fath al latif fi syarah maulid assyarif

    28. Imam Ahmad bin Muhammad Addimyati
    dg maulid Al Kaukab al azhar alal ‘iqdu al jauhar fi maulid nadi al azhar

    29. Asyeikh Ali Attanthowiy
    dg maulid nur as shofa’ fi maulid al mustofa

    30. As syeikh Muhammad Al maghribi
    dg maulid at tajaliat al khifiah fi maulid khoir al bariah

    31.Imam Rabi’ At-Thufi Ash-Shurshuri nama kitabnya Maulid Ash-Shurshuriy, ia menulis kitab ini sekitar tahun 700 H

    32.Imam Al-Hafidz Abul-Hasan ‘Ali Al-Mas’udiy ?wafat tahun 346 H? kitab maulidnya terkenal dengan nama Kitab Maulid Al-Mas’udi.

    33.Imam Ash-Shalih As-Sayyid Al-Bakri dikenal dengan kitabnya Kitab Maulid Al-Bakri

    34.Imam Mar’i bin Yusuf Al-Maqdisi ?wafat tahun 1033 H? nama kitab maulidnya Kitab Maulid Al-Maqdisi Al-Hanbali

    35.kitab Attanwir fi maulid basyir an nadzir oleh Imam Al-Hafidh al-Muhaddits Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhamad yang terkenal dengan nama Ibn Dihyah alkalbi

    36.Imam Al-Hafidh al-Muhaddits Syamsuddin Muhamad bin Abdullah aljuzri
    dgn kitab urfu at ta’rif bi maulid assyarif

    37.Syeikh Ma’ruf Al Karkhi berkata :

    “Barang siapa mempersiapkan makanan, mengumpulkan teman teman, menyalakan lampu, mengenakan pakaian baru , memakan parfum dan menghias dirinya untuk membaca dan mengagungkan mauled rasul, maka kelak di hari kiamat Allah akan mengumpulkan bersama para Nabi, orang orang yang berada dalam barisan pertama. Dia kan ditempatkan di Illiyyin yang tertinggi.
    (Abu Bakar Bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Ianathuth Thalibin Darul Fikr, juz3, hal 255)

    38.Syeikh Sirri As-Saqthi berkata :
    “Barangsiapa yang mendatangi tempat pembacaan riwayat Maulid Nabi Muhammad SAW, maka dia diberi sebidang taman disurga, karena sesungguhnya tidak ada orang yang berjalan mendatangi tempat tersebut, kecuali orang-orang itu mencintai Nabi Muhammad SAW. dan Nabi Muhammad SAW telah bersabda: ” Barang siapa yang mencintaiku, maka dia akan bersamaku di syurga.”
    [Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani, Madaarijus-su’uud , hal 15-16]

    39.Imam Jalaluddin as-Suyuthi (849 H – 911 H)
    menjawab bahwa perayaan Maulid Nabi SAW boleh dilakukan. Sebagaimana dituturkan dalam Al-Hawi lil Fatawi:”Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi SAW pada bulan Rabiul Awwal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab: Menurut saya bahwa asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya
    sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmnti bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih.
    Semua itu termasuk bid’ah al-hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka dta dan kegembiraan atas kelahiran Nnbi Muhammad SAW yang mulia”. (Al-Hawi lil Fatawi, juz I, hal 251-252)

    40.Syech Ibnu Taymiah:
    “Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAWakan diberi pahala. Begitulah yang dilakukan oleh sebagian orang. Hal mana juga di temukan di kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS. Dalam Islam juga dilakukan oleh kaum muslimin sebagai rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan”.
    (Manhaj as-Salaf li Fahmin Nushush Bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 399)

    41.Imam al-Syawkânî dalam al-Badr al-Thâli‘. mengatakan,“Dibolehkan merayakan hari kelahiran Nabi saw.”. Beliau pun mengatakan bahwa Mulah ‘Alî al-Qârî memiliki pandangan yang sama dalam kitabnya, al-Mawrid al-Râwî fî al-Mawlid al-Nabawî, yang ditulis secara khusus untuk mendukung perayaan hari kelahiran Nabi saw..

    Imam al-Syakhawî mengatakan, “Peringatan hari kelahiran Nabi saw. dimulai pada tiga abad setelah Nabi saw. wafat. Seluruh muslimin merayakannya dan seluruh ulama membolehkannya, dengan cara beribadah kepada Allah swt, bersedekah, dan membaca riwayat hidup Nabi saw.”.

    42.Al-Hafidh Ibn Hajar al-Haytsamî mengatakan, “Sebagai mana orang-orang Yahudi merayakan Hari Asyura dengan berpuasa untuk bersyukur kepada Allah swt, kita pun mesti merayakan maulid”. Beliau pun mengutip hadits yang telah disebutkan di depan, “Tatkala Nabi saw. tiba di Madinah …” Ibn Hajar kemudian melanjutkan: (Selayak nya) orang bersyukur kepada Allah swt atas rahmat yang telah Dia berikan pada suatu hari tertentu, baik berupa kebaikan yang besar ataupun keterhindaran dari bencana. Hari tersebut dirayakan setiap tahun setelah peristiwa itu. Ungkapan syukur terlahir dalam berbagai bentuk peribadatan seperti sujud syukur, puasa, sedekah, dan membaca Alquran. Lantas, kebaikan apa lagi yang lebih besar dari kedatangan Nabi saw., seorang Nabi penyebar rahmat, pada hari maulid?

    43.Dalam kitab Kasyfudz-Dzunun dikemukakan bahwa orang pertama yang menulis kitab Maghazi (Manakib atau perilaku kehidupan Nabi Muhammad saw.) ialah Muhammad bin Ishaq ?terkenal dengan nama Ibnu Ishaq? wafat pada tahun 151 H (pada zaman tabi’in). Dengan indah dan cemerlang ia menguraikan riwayat maulid Nabi serta menjelaskan berbagai manfaat yang dapat dipetik dari bentuk-bentuk peringatan, seperti walimah, shadaqah dan kebajikan-kebajikan lainnya yang semuanya bersifat ibadah.

    44.Adapun orang pertama yang menulis kitab maulid Nabi dan kemudian dibaca didepan umum dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh para penguasa daulat ‘Abassiyah, adalah Imam Al-Hafidz Hujjatul Islam Al-Qadhi ‘Askar Amirul Mu’minin Muhammad
    Al-Mahdi Al-‘Abbasi wafat tahun 207 H . Imam ini adalah orang pertama yang menghimpun hadits-hadits para sahabat Nabi saw. mengenai kebajikan dan pahala membaca riwayat maulid Nabi saw..

    45.Allamah Nuruddin ‘Ali dalam kitabnya yang berjudul Wafa-ul-Wafa bi Akhbari Daril-Mushtofa mengatakan bahwa Siti Khaizuran, bunda Musa Amirul Mu’minin, pada tahun 170 H sengaja datang ke Madinah, lalu menyuruh penduduk menyelenggarakan peringatan maulid Nabi saw. di dalam masjid Nabawi

    46.Imam Al-Jauzi (Al-Hafidz Jamaluddin ‘Abdurrahman Al-Jauzi) ?seorang imam madzhab Hanbali wafat tahun 567 H? mengatakan;
    “Manfaat istimewa yang terkandung dalam peringatan maulid Nabi saw. ialah timbulnya perasaan tenteram disamping kegembiraan yang mengantarkan ummat Islam kepada tujuan luhur. Dijelaskan pula olehnya bahwa orang-orang pada masa Daulat ‘Abbasiyah dahulu memperingati hari maulid Nabi saw. dengan berbuat kebajikan menurut kemampuan masing-masing, seperti mengeluarkan shadaqah, infak dan lain-lain. Selain hari maulid, mereka juga memperingati hari-hari bersejarah lainnya, misalnya hari keberadaan Nabi saw. di dalam goa Hira sewaktu perjalanan hijrah ke Madinah. Penduduk Baqdad memperingati dua hari bersejarah itu dengan riang gembira, berpakaian serba bagus dan banyak berinfak.

    47.Imam Nawawi (Al-Hafidz Muhyiddin bin Syarat An-Nawawi) yang wafat dalam tahun 676 H bahkan mensunnahkan peringatan maulid Nabi saw.. Fatwa Imam Nawawi tersebut diperkuat oleh Imam Al-Asqalani (Al-Hafidz Abul-Fadhl Al-Imam bin Hajar Al-‘Asqalani) yang wafat dalam tahun 852 H. Dengan berdasarkan dalil-dalil yang meyakinkan, Imam Al-‘Asqalani memastikan bahwa memperingati hari maulid Nabi saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau merupakan amalan yang mendatangkan pahala.

    48.Imam Taqiyyuddin ‘Ali bin ‘Abdul-Kafi As-Sabki ? wafat tahun 756 H? menulis kitab khusus tentang kemuliaan dan kebesaran Nabi Muhammad saw. Bahkan ia menfatwakan, barangsiapa menghadiri pertemuan untuk mendengarkan riwayat maulid Nabi Muhammad saw. serta keagungan maknanya ia memperoleh barokah dan ganjaran pahala.

    49. Imam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar Al-Haitsami As-Sa’di Al-Anshari Asy-Syafi’i ?wafat tahun 973 H? menulis kitab khusus mengenai kemuliaan Nabi saw.. Ia memandang hari Maulid Nabi saw. sebagai hari raya besar yang penuh
    barokah dan kebajikan.

    50.Imam ‘Abdur-Rabi’ Sulaiman At-Thufi As-Shurshuri Al-Hanbali ?terkenal dengan nama Ibnul-Buqiy? wafat tahun 716 H. Ia menulis sajak dan sya’ir-sya’ir bertema pujian memuliakan keagungan Nabi Muhammad saw., ke agungan yang tidak ada pada
    manusia lain mana pun juga. Tiap hari maulid Nabi para pemimpin Muslim berkumpul dirumahnya. Ia lalu minta salah seorang dari hadirin supaya mendendangkan sya’ir-sya’ir Al-Buqiy itu.

    51.Dalam kitab Insanul-‘Uyun Fi Siratil-Amin Al-Ma’mum bab 1, Imam ‘Ali bin Burhanuddin Al-Halabi mengatakan: “Kebiasaan berdiri pada saat orang mendengar pembaca riwayat maulid menyebut detik-detik kelahiran Nabi saw., memang merupakan bid’ah hasanah/baik, bid’ah mahmudah/terpuji, sama sekali bukan bid’ah dholalah atau bid’ah madzmumah/tercela atau munkarah (bid’ah buruk yang tercela). Khalifah Umar Ibnul Khattab ra. sendiri menamakan shalat tarawih berjama’ah sebagai bid’ah hasanah. Dengan demikian maka orang yang berdiri ?sebagai tanda penghormatan? pada saat mendengar detik-detik kelahiran Nabi saw. disebut, apalagi jika peringatan maulid itu dibarengi dengan kegiatan infak dan shadaqah, semua nya itu jelas merupakan kegiatan terpuji.

    52. As-Sayyid Muhammad Shalih As-Sahruwardi judul kitabnya Tuhfatul-Abrar fi Tarikh Masyru’iyyatil-hafl Bi Yaumi Maulid An-nabiyyil-Mukhtar. Dalam kitabnya ini dia mengemukakan dalil-dalil meyakinkan tentang keabsahan peringatan maulid Nabi Muhamad saw. sebagai ibadah sunnah yang ditekankan (sunnah mu’akkadah), agar kaum muslimin melaksanakannya dengan baik.

    53. Al-államah Sayyid Ali bin Muhammad Alhabsyi nama kitab maulidnya Simtud Durar.

    54.Al-államah Al Habib Umar bin hafidh dgn maulid nya addhiya’ulami

    Dan masih banyak lagi nama-nama para imam,muhaddist dan ulama yang menulis kitab-kitab mengenai maulidin Nabi saw dan pendapatnya,yang tidak dicantum disini…

    wassalam….

  6. Assalamu’alaikum…
    Maaf,ikutan NIMBRUNG,klo gk slh Rosululloh SAW prnh bersabda yg intinya bhw ISLAM itu akan terbagi mjd 73 glngn,72 masuk NERAKA.$ 1 yg msk SYURGA,yaitu yg MENGIKUTI $ MENELADANI sunah2 BELIAU ( RASULULLOH SAW ) ti2k
    ( sekali lagi mhn maaf )…tinggal di pilih aja..
    ISLAMnya Nabi MUHAMMAD SAW,atau Islamnya ADAT..
    Klo menurut sy,bknny ISLAM yg mengikuti ADAT,tp adat yg shrsny mengikuti ISLAM,ti2k

  7. RALATAN Edisi 6 April 2010

    Assalamu’alaikum…
    Maaf,ikutan NIMBRUNG,klo gk slh Rosululloh SAW prnh bersabda yg intinya bhw ISLAM itu akan terbagi mjd 73 glngn,72 masuk NERAKA & 1 yg msk SYURGA,yaitu yg MENGIKUTI & MENELADANI sunah2 BELIAU ( RASULULLOH SAW ) ti2k
    ( sekali lagi mhn maaf )…tinggal di pilih aja..
    ISLAMnya Nabi MUHAMMAD SAW,atau Islamnya ADAT..
    Klo menurut sy,bknny ISLAM yg mengikuti ADAT,tp adat yg shrsny mengikuti ISLAM,ti2k

  8. assalamualaikum
    ikhwany…………
    kholas2…………

    bagi yang anti tahlilan tafaddhol……..itu pemahaman taqlid kalian lwt ustad2 antum semua(wahabi)…………..

    bagi yang suka maulid……lanjutkan itulah wujud rasa cinta dan syukur atas lahirnya manusia yang sangat mulia , habibullah……… saiyyidul anbiya’ wal mursalin wal akhirin (al akhirin)………

    “Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan falaHu ajruHa wa ajru man amila biHa badaHu……….” au kama qol rosulullah shollallohu ‘alaihi wa ala alihi wa shohbihi wa sallam

  9. tnks sahabat2 NU BUKTIKAN!!!!!!!!!!! merahmu sebenarnya saya sangat ingin sekali ikut jihad LIA’LAI KALIMATILLAH A’LA TORIKOTIAHLUSUNAH WALJAMAAH.tapi kira dah cukup uraian diatas ketahuilah sodaraku WAHABI buta segala2nya. sekarang aja anak yang lahir kemarin sore kaya WAHABIdah berani unjuk gigi to……….. wahahabi tunggu aja……..

  10. MAULID bida’h ha…ha….ha…..anak kemarin sore aja tau tapi lo bilang HARAM!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! hewan aja tertawa.to…WAHABI selamat ditertaswain binatang

  11. Assalamu alaikum wr.wb.

    Saudara2ku..ane nimbrung dikit y…mudah2n semuanya akur2 aje

    Fakta yang sesungguhnya dari kehidupan Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada riwayat yang menyebutkan beliau pada tiap ulang tahun kelahirannya melakukan ritual tertentu. Bahkan para shahabat beliau pun tidak pernah kita baca dalam sejarah pernah mengadakan ihtifal (seremoni) secara khusus setiap tahun untuk mewujudkan kegembiraan karena memperingati kelahiran Nabi SAW.

    Bahkan upacara secara khusus untuk merayakan ritual maulid nabi SAW juga tidak pernah kita dari generasi tabi”in hingga generasi salaf selanjutnya. Perayaan seperti ini secara fakta memang tidak pernah diajarkan, tidak pernah dicontohkan dan juga tidak pernah dianjurkan oleh Rasulullah SAW, para shahabat bahkan para ulama salaf di masa selanjutnya.

    Perayaan maulid nabi SAW secara khusus baru dilakukan di kemudian hari. Dan ada banyak versi tentang siapa yang memulai tradisi ini. Sebagian mengatakan bahwa konon Shalahuddin Al-Ayyubi yang mula-mula melakukannya, sebagai reaksi atas perayaan natal umat Nasrani. Karena saat itu di Palestina, umat Islam dan Nasrani hidup berdampingan. Sehingga terjadi interaksi yang majemuk dan melahirkan berbagai pengaruh satu sama lain.

    Versi lain menyatakan bahwa perayaan maulid ini dimulai pada masa dinasti Daulah Fatimiyyah di Mesir pada akhir abad keempat hijriyah. Hal itu seperti yang ditulis pada kitab Al-A”yad wa atsaruha alal Muslimin oleh Dr. Sulaiman bin Salim As-Suhaimi hal. 285-287. Disebutkan bahwa para khalifah Bani Fatimiyyah mengadakan perayaan-perayaan setiap tahunnya, di antaranya adalah perayaan tahun baru, asyura, maulid Nabi sAW bahwa termasuk maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husein serta maulid Fatimah dll. (Al-Khuthoth 1/490).

    Versi lainnya lagi menyebutkan bahwa perayaan maulid dimulai tahun 604 H oleh Malik Mudaffar Abu Sa”id Kukburi.

    Hukum Merayakan Maulid Nabi SAW

    Mereka yang sekarang ini banyak merayakan maulid nabi SAW seringkali mengemukakan dalil. Di antaranya:

    1. Mereka berargumentasi dengan apa yang ditulis oleh Imam As-Suyuti di dalam kitab beliau, Hawi li al-Fatawa Syaikhul Islam tentang maulid serta Ibn Hajar Al-Asqalani ketika ditanya mengenai perbuatan menyambut kelahiran nabi SAW. Beliau telah memberi jawaban secara bertulis:

    Adapun perbuatan menyambut maulid merupakan bid”ah yang tidak pernah diriwayatkan oleh para salafush-shaleh pada 300 tahun pertama selepas hijrah. Namun perayaan itu penuh dengan kebaikan dan perkara-perkara yang terpuji, meski tidak jarang dicacat oleh perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya.

    Jika sambutan maulid itu terpelihara dari perkara-perkara yang melanggar syari”ah, maka tergolong dalam perbuatan bid”ah hasanah. Akan tetapi jika sambutan tersebut terselip perkara-perkara yang melanggar syari”ah, maka tidak tergolong di dalam bida”ah hasanah.

    2. Selain pendapat di atas, mereka juga berargumentasi dengan dalil hadits yang menceritakan bahwa siksaan Abu Lahab di neraka setiap hari Senin diringankan. Hal itu karena Abu Lahab ikut bergembira ketika mendengar kelahiran keponakannya, Nabi Muhammad SAW. Meski dia sediri tidak pernah mau mengakuinya sebagai Nabi. Bahkan ekspresi kegembiraannya diimplementasikan dengan cara membebaskan budaknya, Tsuwaibah, yang saat itu memberi kabar kelahiran Nabi SAW.

    Perkara ini dinyatakan dalam sahih Bukhari dalam kitab Nikah. Bahkan Ibnu Katsir juga membicarakannya dalam kitabnya Siratunnabi jilid 1halaman 124.

    Syamsuddin Muhammad bin Nasiruddin Ad-Dimasyqi menulis dalam kitabnya Mawrid as-sadi fi Mawlid al-Hadi : “Jika seorang kafir yang memang dijanjikan tempatnya di neraka dan kekal di dalamnya” (surat Al-Lahab ayat 111) diringankan siksa kuburnya tiap Senin, apalagi dengan hamba Allah yang seluruh hidupnya bergembira dan bersyukur dengan kehadiran Ahmad dan meninggal dengan menyebut “Ahad”?

    3. Hujjah lainnya yang juga diajukan oleh para pendukung maulid Nabi SAW adalah apa yang mereka katakan sebagai pujian dari Imam Ibnu Hajar al-”Asqalani.

    Menurut mereka, Ibnu Hajar telah menulis di dalam kitabnya, ”Al-Durar al-Kamina fi ”ayn al-Mi”at al-thamina” bahwa Ibnu Kathir telah menulis sebuah kitab yang bertajuk maulid Nabi di penghujung hidupnya, “Malam kelahiran NabiSAW merupakan malam yang mulia, utama, dan malam yang diberkahi, malam yang suci, malam yang menggembirakan bagi kaum mukmin, malam yang bercahaya-cahaya, terang benderang dan bersinar-sinar dan malam yang tidak ternilai.”

    4. Para pendukung maulid nabi SAW juga melandaskan pendapat mereka di atas hadits bahwa motivasi Rasulullah SAW berpuasa hari Senin karena itu adalah hari kelahirannya. Selain karena hari itu merupakan hari dinaikkannya laporan amal manusia.

    Abu Qatadah Al-Ansari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ketika ditanya mengapa beliau berpuasa pada hari Senin, menjawab, “Itulah hari aku dilahirkan dan itulah juga hari aku diangkat menjadi Rasul.”

    Hadits ini bisa kita dapat di dalam Sahih Muslim, kitab as-siyam (puasa)

    Pendapat yang Menentang

    Namun argumentasi ini dianggap belum bisa dijadikan landasan dasar pensyariatan seremoni maulid nabi SAW.

    Misalnya cerita tentang diringankannya siksa Abu Lahab itu, mereka mengatakan bahwa Abu Lahab yang diringankan siksanya itu pun hanya sekali saja bergembiranya, yaitu saat kelahiran. Dia tidak setiap tahun merayakan kelahiran nabi dengan berbagai ragam seremoni. Kalau pun kegembiraan Abu Lahab itu melahirkan keringanan siksanya di neraka tiap hari Senin, bukan berarti orang yang tiap tahun merayakan lahirnya nabi SAW akan mendapatkan keringanan siksa.

    Demikian juga dengan pujian dari Ibnu Katsir, sama sekali tidak bisa dijadiakan landasan perintah untuk melakukan sermonial khusus di hari itu. Sebab Ibnu Katsir hanya memuji malam hari di mana Nabi SAW lahir, namun tidak sampai memerintahkan penyelenggaraan seremonial.

    Demikian juga dengan alasan bahwa Rasulullah SAW berpuasa di hari Senin, karena hari itu merupakan hari kelahirannya. Hujjah ini tidak bisa dipakai, karena yang saat dilakukan bukan berpuasa, tapi melakukan berbagai macam aktifitas setahun sekali. Kalau pun mau berittiba” pada hadits itu, seharusnya umat Islam memperbanyak puasa sunnah hari Senin, bukan menyelenggarakan seremoni maulid setahun sekali.

    Bahkan mereka yang menentang perayaan maulid nabi ini mengaitkannya dengan kebiasaan dari agama sebelum Islam. Di mana umat Yahudi, Nasrani dan agama syirik lainnya punya kebiasaan ini. Buat kalangan mereka, kebiasaan agama lain itu haram hukumnya untuk diikuti. Sebaliknya harus dijauhi. Apalagi Rasulullah SAW tidak pernah menganjurkannya atau mencontohkannya.

    Dahulu para penguasa Mesir dan orang-orang Yunani mengadakan perayaan untuk tuhan-tuhan mereka. Lalu perayaan-perayaan ini di warisi oleh orang-orang Kristen, di antara perayaan-perayaan yang penting bagi mereka adalah perayaan hari kelahiran Isa al-Masih, mereka menjadikannya hari raya dan hari libur serta bersenang-senang. Mereka menyalakan lilin-lilin, membuat makanan-makanan khusus serta mengadakan hal-hal yang diharamkan.

    Dan akhirnya, para penentang maulid mengatakan bahwa semua bentuk perayaan maulid nabi yang ada sekarang ini adalah bid”ah yang sesat. Sehingga haram hukumnya bagi umat Islam untuk menyelenggarakannya atau ikut mensukseskannya.

    Jawaban dari Pendukung Maulid

    Tentu saja para pendukung maulid nabi SAW tidak rela begitu saja dituduh sebagai pelaku bid”ah. Sebab dalam pandanga mereka, yang namanya bid”ah itu hanya terbatas pada ibadah mahdhah (formal) saja, bukan dalam masalah sosial kemasyarakatan atau masalah muamalah.

    Adapun seremonial maulid itu oleh para pendukungnya diletakkan di luar ritual ibadah formal. Sehingga tdak bisa diukur dengan ukuran bid”ah. Kedudukannya sama dengan seorang yang menulis buku tentang kisah nabi SAW. Padahal di masa Rasulullah SAW, tidak ada perintah atau anjuran untuk membukukan sejarah kehidupan beliau. Bahkan hingga masa salah berikutnya, belum pernah ada buku yang khusus ditulis tentang kehidupan beliau.

    Lalu kalau sekarang ini umat Islam memiliki koleksi buku sirah nabawiyah, apakah hal itu mau dikatakan sebaga bid”ah? Tentu tidak, karena buku itu hanyalah sarana, bukan bagian dari ritual ibadah. Dankeberadaan buku-buku itu justru akan membuat umat Islam semakin mengenal sosok beliau. Bahkan seharusnya umat Islam lebih banyak lagi menulis dan mengkaji buku-buku itu.

    Dalam logika berpikir pendukung maulid, kira-kira seremonial maulid itu didudukkan pada posisi seperti buku. Bedanya, sejarah nabi SAW tidak ditulis, melainkan dibacakan, dipelajari, bahkan disampaikan dalam bentuk seni syair tingkat tinggi. Sehingga bukan melulu untuk konsumsi otak, tetapi juga menjadi konsumsi hati dan batin. Karena kisah nabi disampaikan dalam bentuk syair yang indah.

    Dan semua itu bukan termasuk wilayah ibadah formal (mahdhah) melainkan bidang muamalah. Di mana hukum yang berlaku bahwa segala sesuatu asalnya boleh, kecuali bila ada dalil yang secara langsung melarangnya secara eksplisit.

    Kesimpulan

    Sebagai bagian dari umat Islam, barangkali kita ada di salah satu pihak dari dua pendapat yang berbeda. Kalau pun kita mendukung salah satunya, tentu saja bukan pada tempatnya untuk menjadikan perbedaan pandangan ini sebagai bahan baku saling menjelekkan, saling tuding, saling caci dan saling menghujat.

    Perbedaan pandangan tentang hukum merayakan maulid nabi SAW, suka atau tidak suka, memang telah kita warisi dari zaman dulu. Para pendahulu kita sudah berbeda pendapat sejak masa yang panjang. Sehingga bukan masanya lagi buat kita untuk meninggalkan banyak kewajiban hanya lantaran masih saja meributkan peninggalan perbedaan pendapat di masa lalu.

    Sementara di masa sekarang ini, sebagai umat Islam, kita justru sedang berada di depat mulut harimau sekaligus buaya. Kita sedang menjadi sasaran kebuasan binatang pemakan bangkai. Bukanlah waktu yang tepat bila kita saling bertarung dengan sesamasaudara kitasendiri, hanya lantaran masalah ini.

    Sebaliknya, kita justru harus saling membela, menguatkan, membantu dan mengisi kekurangan masing-masing. Perbedaan pandangan sudah pasti ada dan tidak akan pernah ada habisnya. Kalau kita terjebak untuk terus bertikai, maka para pemangsa itu akan semakin gembira.

  12. @for Iam dan pengunjung yang lain,
    Kalau saja Para Wahabi (terutama yang mengaku Salafy) tidak lagi mengeksploitir masalah isu-isu bid’ah, dengan sendirinya perdebatan tentang hal-hal semacam Maulid (an), tahlil (an), yasin (an), dll, niscaya akan berhenti dengan sendirinya.

    Kenapa perdebatan ini bisa terus terjadi, tidak lain sebagai reaksi atau respon terhadap provokasi orang-orang berpaham wahabi. Coba anda lihat tulisan “TENTANG KAMI” yang ada di bagian atas blog ini. Saya sangat terharu, dan kesimpulannya blog-blog semacam ini adalah respon atau reaksi dari aksi yang dilancarkan oleh para wahabi.

  13. Dah saya baca semua komen nih :
    – tidak ada Hadits shohih yang menyatakan bahwa Maulid Nabi itu di syariatkan oleh NABI MUHAMMAD. yang ada omongan muter2 aja.. Gimana mau percaya? buktikan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kalo ngga ada, gimana mau percaya?

    – Mas Gondrong bilang Maulid dan gembira atas lahirnya Rasul saw sudah ada sejak zaman sahabat radhiyallahu ‘anhum., sebagaimana syair syairnya. Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra :
    “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah.., maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang..
    komen : Itu khan Syair.. bukti Maulidnya?

    – Oh ya, yang bilang CINTA NABI : mau tanya, pada kemana sih kalo waktunya SHOLAT FARDHU? apalagi SHOLAT SHUBUH?? ini fakta umum di masjid2 kita.. kalo MAULID.. wahhhh masjid penuh sepenu-penuhhnya, luber sampai tumpah kemana2.. tapi kalo SHOLAT FARDHU BERJAMAAH DI MASJID pada kemana..??????? pada kemana????????? katanya cinta NABI?? SHOLAT BERJAMAAH DI MASJID itu syiar ISLAM yang paling agung..

    – BID’AH itu sesat. titik.
    ngga usah dibagi2 lagi jadi BID’AH A.. BID’AH B.. ini NABI MUHAMMAD sendiri yang berkata : “Barang siapa yang membuat hal baru dalam perkara (agama) kami, yang bukan termasuk darinya, maka hal itu tertolak”. (HR: Bukhori Muslim).
    ” Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”. (HR: An Nasai).
    berarti BID’AH A, BID’AH B.. sesat. kok masih berkilah????

    – Syariat ISLAM itu udah komplit.. ngga usah di tambah-tambahin. la wong yang ada aja ngga bisa dilaksanakan semuanya.. eh pake di tambah2 segala..

    – IBLIS itu lebih senang menggoda manusia untuk berbuat BID’AH daripada MAKSIAT..
    kalo MAKSIAT itu sudah jelas.. berdosa. tapi kalo BID’AH, serasa ibadah (padahal bukan).. jadi ngga ngerasa DOSA..

    kesimpulan :
    – komen AHLUSSUNNAH WALJAMAAH yang ASLI lebih bisa diterima, karena pake dalil. JELAS SEJELAS-JELASNYA seperti PERBEDAAN ANTARA GELAP DAN TERANG.

    1. @ joeco quwerain:

      Wah, rupanya Wahabi mlungsungi kayak ular aja? Sejak kapan Wahabi / Salafy berubah Jadi Ahlussunnah Waljama’ah? Setahu saya sih sejak Albani memproklamirkan Salafy Wahabi sebagai Ahlussunnah Waljamaah, itu namanya ndompleng nama besar Ahlussunnah Waljamaah, bagaimana antum bilang Asli? Asli dari ‘Hongkong’? Salafy Mengaku-ngaku sebagai Ahlussunnah waljamaah itu namanya menipu Ummat, agar ‘jualan paham Wahabi’-nya laku di tengah-tengah kaum Muslimin….

      Kamu kena tipu tapi bangga, astaghfirullah al’adhiim…..

  14. Ass..,to all saudara seiman,
    Kalau boleh berpendapat..menurut saya setelah membaca diskusi diatas;
    =Tidak akan ada titik temunya kalau berdiskusi masalah bid’ah dengan orang2 wahhabi..alasannya adalah sepertinya Allah SWT yang kita sembah beda dengan yang mereka sembah.Kalau tidak salah tuhan yang mereka sembah ada tempat dan berjasad.

    Wassalam

    1. @ UD_aja;

      Thank you Mas atas kehadiranmu, kami merasa tersanjung. Sering-seringlah mampir, kami menunggu sharing dan pencerahannya, insyaallah bermanfaat. amin…..

      Begitu juga untuk Mas Gondrong, matur nuwun banget nih atas sharing-sharing-nya selama ini, kami merasakan manfaatnya.

  15. hehhehee… susah ya mz ngomong ma wahabi
    muter2 dimaulid aja….

    mungkin saya akan coba jelasin maulid dgn lebih simple agar lebih mudah difahami oleh para wahabi… maaf kang klo tulisannya agak pnjang….
    para wahabi neh baca, dah saya tulis sesimple mungkin agar gampang dimengerti…
    klo masih gk ngerti juga mending otaknye dibuang kesampah aja…

    Seperti anda tau perayaan mauled itu sebuah kegiatan yg isinya tholabul ilmi, shodaqoh, dzikir n tauziyah, nah anda pasti sangat faham dalil2 ttg tholabul ilmi, shodaqoh, dzikir n tauziyah, sudah byk bertebaran diseantero FB, silakan cari sendiri
    Nah yg mnjadi masalah disini adalah bgmanakah Dalil dari “PERAYAAN MAULID” bnar tidak?
    sampai2 anda menanyakan “MANA DALILNYA?”

    Saya mungkin akan jelaskan sedikit, saya mulai dari suatu kaidah dalam ushul fiqh yg sering didengung2kan oleh para Salafi,

    “Asal semua ibadah adalah haram, sampai ada dalil yang menghalalkannya atau menyuruhnya”..

    Nah dari kaidah ini sesuatu yg diangap ibadah selalu muncul pertanyaan
    “mana dalilnya?” krn sifat dri ibadah yg tauqif

    Permasalahnya adalah utk ibadah apakah kaidah diatas ?

    Saya akan coba mengambil dari kitab,
    bahwa yg dinamakan ibadah sifatnya tauqif adalah sudah ditetapkan dan tidak boleh ditambah2 atau dikurangi atau mendahulukan atau melebihkan atau apapun itu….
    Dan ini beda dengan muamalah yg asalnya boleh sampai ada dalil yg melarangnya…
    Nah sekarang kita lihat apakah sbnarnya ibadah tauqif itu….

    tauqifi dalam sifat ibadah
    ibadah itu tauqifi dalam semua hal. dalam sifatnya,,,
    maka tidak boleh untuk menambah dan megurangi. seperti sujud sebelum ruku’, atau duduk sebelum sujud, atau duduk tasyahud tidak pada tempatnya…oleh karena itu, yang namanya ibadah itu tauqifi dinuqil dari syari’ ( allah )

    tauqifi dalam waktu pelaksanaan ibadah
    waktu pelaksanaan ibadah juga tauqifi. maka tidak boleh seseorang itu membuat buat ibadah di waktu tertentu yang syari’ tidak memerintahkannya.

    tauqifi dalam macamnya ibadah
    begitu juga ibadah juga harus disyaratkan sesuai dg syari’at..artinya termasuk dari jenis ibadah yang disyariatkan. maka tidak sah bagi orang yang menyembah sesuatu yang tidak disyariatkan, seperti menyembah matahari. atau memendam jasadnya sebagian sembari berkata : saya ingin melatih badanku misalkan. ini semua bid’ah.

    begitu juga tauqifi dalam tempat ibadah.
    maka ini juga harus masyru’. maka tidak boleh beribadah tidak pada tempat yang sudah disyari’atkan. seperti jika seseorang wukuf di muzdalifah, maka ini bukan haji. atau wuquf dimina, atau bermalam ( muzdalifah ) di ‘arafah, dan sebaliknya, maka ini semua bukanlah sesuatu yang masyru’. kita wajib melaksanakan ibadah sesuai tempat yang sudah disyari’atkan oleh syari’

    Nah dari penjelasan kitab diatas dpt ditangkap 4 point, dan bila diperhatikan maka disitu didapat kesimpulan bahwa ibadah yg sifatnya tauqif itu adalah ibadah mahdoh… faham??
    (ada bbrapa pnjelasan dari kitab2 n pendapat salafy sendiri yg membaginya bukan hNY 4 tapi lebih bahkan mpe 6, tapi intinya sama, ibadah yg diimksd adalah ibadah mahdoh)

    Jadi yg dimaksd ibadah dalam kaidah “Asal semua ibadah adalah haram, sampai ada dalil yang menghalalkannya atau menyuruhnya”..
    adalah ibadah yg sifatnya mahdoh saja, bukan semua ibadah

    Nah untk bisa membedakannya ibadah harus dilihat wasail (perantara) dan maqoshidnya (tujuan)
    Utk ibadah yg sifatny mahdoh Cuma ada maqoshid, sedangkan utk goer mahdoh ada maqoshid ada wasail

    Ok… langsg contoh saja….biar gampang, perhatikan baik2 mz….

    Sholat, sudah jelas krna ibadah yg dzatny adalah ibadah, maka yg ada Cuma maqoshid (tujuan) tidak ada wasail

    Anda menulis di FB, Kegiatan mnulis sendiri itu bukan ibadah maka hukumnya mubah
    Tapi krna anda mengharapkn ridho Allah dalam rangka dakwah dgn jlan menulis di FB maka dlam Islam ini berpahala dan termasuk ibadah
    (wasailnya anda menulis di FB, maqoshidnya mengharapkan ridho Allah dalam rangka berdakwah)
    Tapi jika anda menganggap kegiatan menulis ini sebuah ibadah yg dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdoh sudah pasti ini namanya bid’ah dholalah

    Saya kasih contoh lagi, kegiatan pengajian dan tabligh, awalnya bntuk kedua kegiatan ini bukan ibadah dan tdk ada contoh dri rasul jadi hukumnya mubah, tapi krna isi dari kegiatan ini adalah ibadah macam (tholabul ilmi dan tauziyah atau bahkan dakwah) maka kegiatan pengajian n tabligh insyaallah brpahala n brnilai ibadah
    (wasailnya kegiatan pengajian n tabligh, maqoshidnya mengharapkan ridho Allah dalam rangka holabul ilmi n berdakwah)
    Sekali lagi jika anda menganggap kegiatan pengajian n tabligh ini sebuah ibadah yg dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdoh sudah pasti ini namanya bid’ah dholalah

    Begitu jga dgn maulid, maulid adalah wasail (perantara atau ada yg bilang sarana), maqoshidnya adalah mengenal Rasul n mengagungknny…
    Bagaimanakah hukum awal dari Maulid? Jwbnny adalah mubah boleh dilakukan boleh tidak
    Tapi knpa mnjadi sunah?? Mnjadi sunah dikarenakan hukum maqoshidny adalah sunah (mengenal n mengagungkn Rasul adalah Sunah)
    karena yg namanya hukum wasail itu mengikuti hukum maqoshid (Lil Wasail hukmul Maoshid) – ini adalah kaidah ushul fiqh
    Contoh gampangny utk (Lil Wasail hukmul Maoshid),
    anda membeli air hukumnya mubah, mo beli atau gak, gk ada masalah
    Tapi suatu saat tiba waktu sholat wajib sedangkan air sama sekali tidak ada kecuali hrus membeliny n anda punya kemampuan utk itu maka hukum membeli air adalah wajib

    Kembali lagi ke maulid
    Apakah maulid bisa menjadi sesuatu yg bid’ah (dholalah)?ya bisa jika anda menganggap maulid adalah sebuah ibadah yg dzatnya adalah ibadah seprti sholat wajib

    Nah perlu saya garis bawahi pertanyaan2 sprti,
    apakah dasar merayakan maulid?
    ^
    ^
    INI ADALAH PERTANYAAN YANG SALAH.
    tidak ada ceritanya namanya wasail ada dalil naqlinya,

    contoh lagi biar lebih gampang mencerna :
    anda brgkat ke bersekolah, ini adalah wasail, maqoshidnya tholabul ilmi, tpi krn tholabul ilmi itu hukumny wajib maka brgkt kesekolahpun mnjdi wajib n bernilai ibadah
    Dalil yg ada adalah dalil ttg tholabul ilmi
    bagaimanakah dalil yg menyuruh kita berangkat kesekolah? JELAS TIDAK ADA!!karena ini adalaha wasail atau sarana
    Begitupula dgn maulid, klo anda tanya dalil maqoshidnya yaitu ttg mengenal n mengagungkan Rasul ya pasti ada
    Tapi jika anda tanya dalil wasailnya, yaitu perayaan Maulid? JELAS TIDAK ADA!!karena ini adalaha wasail atau sarana

    sedikit tambahan, ini juga dasar knpa brmadzab itu wajib hukumnya bagi kita,
    krn madzab adalah wasail, dan ini satu2nya cara yg bisa dilakukan utk mengerti agama ini, kita gk mgkin brtanya lgsg ke rasul
    sedangkn maqoshidnya agar kita bisa mengerti ttg agama islam shingga kita bisa mengamalkanny dgn bnar(hukumnya ini wajib).
    maka bermadzab mnjadi wajib
    klo anda tanya mana dalil naqlinya scra leterleg yg menyuruh kita bermadzab?
    yaa gk ada, lha wong bermadzab itu cuma wasail

    saya harap setelah ini anda2 bisa bljar n lebih mengerti sehingga tdk serampangan dalam bertanya..

    Jgn sedikit2 bertanya “MANA DALILNYA?” , tanpa tau sesuatu hal itu perlu dalil atau tdk

    bgmna prtanyaan bisa dijwb, klo prtanyaannya saja salah????

    1. @ Mas UD_aja

      Kalimat tanya “MANA DALILNYA”, selama ini menjadi senjata andalan kaum Wahabi untuk menyerang Maulid Nabi, Tahlilan dll. Setelah penjelasan mas UD_aja, semuanya menjadi sangat jelas duduk persoalannya. Ternyata pertanyaan keren (mana dalilnya) tersebut terkadang bisa menjadi pertanyaan yang salah, makanya nggak bisa dijawab begitu saja. Karena dalilnya ada pada maqasid-nya….

      Sukron atas sharingnya Mas…. semoga mereka bisa memahami ilmu ini agar tidak sembrono dalam berdiskusi

  16. maap mas admin saya boleh nambahin ga?saya bingung dengan komentar yg di facebook tadi, ada yang bilang imam yg 4 sendiri ga ngadain maulid, nah sya ada pertanyaan ni buat para wahabi, kalo emang imam yg 4 ga ngadain maulid antum sendiri ngikutin imam yg 4 ga, bukannya antum sendiri bikin mazhab buatan antum sendiri, sedangkan KAMI sendiri ngikut imam yg 4, trus knp antum pake dalil2 mereka sedang antum ga ngikutin mereka?cukup segitu aja pertanyaan saya, makasih….

  17. wahabi….ente tuh sadar gak seh….orang bodoh juga tau misi ente..mengkafirkan orang islam sebanyak-banyaknya berbeda dg ahlussunah yg mengislamkan orang yg belum beragama islam sebanyak-banyaknya ….

  18. tidak henti2nya kami ucpkan terimakasih pada semua teman2ASWAJA. kususnys UMMATI PRES. dalam era globalisasi ini memang kita dihadapkan pada persoallan 2n yang sebenarnya sepele karena hanya masallah2 sepele bisa jadi rodail dalam kolbu kita
    namun saya sendi sangat mendukung teman2 apalagi keadaan saya yang jauh dari media karena memang di pesantren seluruh bentuk media dilarang keras kecuali hari libur atau dpt izin dari para masayikh .
    memang memperhatinkan banyak sekali ank2 pesantren yang banyak kiriman buku2 fhm2 diluar akdh kita9 9(whbi) kussnnya tapi alkhmdllh dengan motifasi teman2 kami tidak tergoda bahkan bisa jadi banding atas hujah2 ahlussunah. dan bahkan kami sering langsung dialog terbuka dengan meraka.
    sekali lagi kami mungkin ats nama kaum ortodok pesantren mengucpkan beribu2 trimakash kepada selrh teman semoga kobaran cahaya ilmu antm benar2 menjadi penerang bagi umat manusia………

  19. Assalamualaikum
    Memang susah diskusi sama wahabi, pernah didaerah ane ada yang mengadakan tahlilan 3 hari meninggalnya orang tua tetangga ane, ada seorang wahabi menanyakan mana dalilnya tahlilan?, karena kesel dijawab sama yang yang mengadakan tahlilan, ini orang tua gue itu dalilnye faham.
    Akhirnya si wahabi mesem meninggalkan tempat ane.sekedar joke, supaya gak stress ngadepin wahabi.
    Wassalam

  20. @UD_aja
    Alhamdulillah…. penjelasannya benar benar jelas ! mudah dimengerti ! Dulu ane jg sering pake senjata “MANA DALILNYA ? ” …. jadi nyadar kalo ane selama ini keliru, ane belum paham dan hanya ikut-ikutan , ternyata mau bertanyapun ada ilmu juga ya ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker