Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Iman

Contoh Para Sahabat dan Salaf Sholih dalam Bertawassul (Bagian 2)

Berdoa dengan bertawassul sudah dicontoh oleh ulama salaf sholih - Contoh Para Sahabat dan Salaf Sholih dalam Bertawassul (Bagian 2)Tawassul Dengan Pusara Nabi

Al Imam Al Hafidh Ad Darimi menuturkan sebuah hadits yang sanadnya bersambung sampai kepada Abul Jauza’ Aus Ibn Abdillah, ia berkata :

قُحِطَ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ قَحْطاً شَدِيْداً فَشَكَوْا إِلَى عَائِشَةَ، فقَالَتْ : أُنْظُرُوا قَبْرَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلُوا مِنْهُ كُوًّا إِلى السًّمَاءِ حَتَّى لَايَكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السًّمَاءِ سَقْفٌ ، قَالَ:فَفَعَلُوا، فَمُطِرْنَا مَطَراً حَتَّى نَبَتَ الْعشْبُ وَسَمِنَتْ الْإِبِلُ (تَفَتَّقَتْ مِنَ الشَّحْمِ فَسُمِيَ عَامُ الفَتْقِ ،وَمَعْنَى كُوًّا أي نَافِذَة).

Penduduk Madinah mengalami paceklik hebat. Kemudian mereka mengadu kepada ‘Aisyah (istri Rosululloh). “Lihatlah kuburan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan buatlah lubang dari tempat itu menghadap ke atas hingga tidak ada penghalang antara kuburan dan langit,” perintah ‘Aisyah.

Abul Jauzaa’ berkata; “Lalu mereka melaksanakan perintah ‘Aisyah. Kemudian hujan turun kepada kami hingga rumput tumbuh dan unta menjadi gemuk (lalu tahun tersebut disebut tahun gemuk).” (HR. Ad Darimi dalam Sunan)

Pembuatan lubang di lokasi kuburan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, tidak melihat dari aspek sebuah kuburan, tapi dilihat dari aspek bahwa kuburan itu memuat jasad makhluk paling mulia dan kekasih Alloh. Jadi, kuburan itu menjadi mulia sebab kedekatan agung ini, karenanya kuburan tersebut berhak mendapat keistimewaan yang mulia.

Perlu dicatat, meskipun hadits di atas dinyatakan sebagai hadits mauquf, atau sebatas opini Sayyidah ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha-, akan tetapi beliau adalah wanita yang mendapat bimbingan langsung dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan beliau bukanlah orang yang tidak mengetahui makna syirik atau perbuatan yang bisa menyebabkan syirik, terlebih tindakan beliau dilaku-kan di tengah-tengah para Ulama dari kalangan para sahabat di kota Madinah.

• Kisah Al ‘Utbiy

Al Imam Al Hafidh Ibnu Katsir ketika menjelaskan firman Alloh :

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS, An Nisaa : 64)

BACA JUGA:  Ziarah Kubur dan Tawassul Versi Ahlussunnah Waljama'ah

Beliau menuturkan kisah seorang A’robi sebagai berikut :

عن العُتْبي، قال: كُنْتُ جَالِساً عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَ أَعْرَابِيّ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ: { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } وَقَدْ جِئْتُكَ مُسْتَغْفِراً لِذَنْبِي مُسْتَشْفِعًا بِكَ إِلَى رَبِّي ثُمَّ أَنْشَأَ يَقُوْلُ:

Al ‘Utbi (seorang sahabat) bercerita : Suatu ketika saya sedang duduk di samping kuburan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Lalu datanglah seorang A’robi (penduduk pedalaman Arab) kepadanya, kemudian A’robi tersebut berkata : “Assalamu’alaika, wahai Rosulalloh, saya telah mendengar Allah berfirman : “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS, An Nisaa : 64)

Dan saya datang kepadamu seraya memohon ampun atas dosaku dan memohon syafaat denganmu kepada Tuhanku.”
Selanjutnya A’robi tersebut mengumandangkan bait-bait syair :

يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمُهُ … فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنَّ الْقَاعُ وَالْأَكَمُ …
نَفْسِي الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ … فِيْهِ الْعَفَافُ وَفِيْهِ الْجُوْدُ وَاْلكَرَمُ …
ثُمَّ انْصَرَفَ الْأَعْرَابِيُّ فَغَلَبَتْنِي عَيْنِي، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّوْمِ فَقَالَ: يَا عُتْبِى، اِلْحَقْ الْأَعْرَابِيَّ فَبَشِّرْهُ أَنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَهُ

Wahai orang yang tulang belulangnya dikubur di tanah datar…
Berkat keharumannya, tanah rata dan bukit semerbak mewangi…
Diriku jadi tebusan untuk kuburan yang engkau tinggal di dalamnya…
Di dalam kuburmu terdapat sifat bersih dan kedermawanan…
Kemudian A’robi tadi pergi. Setelah kepergiannya saya (Al ‘Utbi) tertidur dan bermimpi bertemu Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Kejarlah si A’robi dan berilah kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, vol. 2, hal. 347)

Kisah ini dituturkan pula oleh :

• Al Hafizh An Nawawi dalam kitabnya yang populer Al Adzkaar, hal. 206. Juga dalam Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, vol. 8 hal, 274.

BACA JUGA:  Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah: Allah Tidak di Atas Langit

• Syaikh Abu Muhammad Ibnu Qudamah juga meriwayatkannya dalam kitabnya Al Mughni vol III hlm. 556.

• Syaikh Abul Faroj ibnu Qudamah dalam kitabnya As Syarhul Kabir vol. 3 hlm. 495

• Syaikh Manshur ibn Yunus Al Bahuti dalam kitabnya yang dikenal dengan nama Kasysyaaful Qinaa’ yang notabene salah satu kitab paling populer dalam madzhab Hanbali vol. V hlm. 30 juga mengutip kisah dalam hadits di atas.

Kisah dengan tema serupa juga dituturkan oleh Imam Al Qurthubi -yang merupakan pilar para Mufassirin (para ulama ahli tafsir)- sebagai berikut :

رَوَى أَبُو صَادِقٍ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَدِمَ عَلَيْنَا أَعْرَابِيٌّ بَعْدَ مَا دَفَنَّا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، فَرَمَى بِنَفْسِهِ عَلَى قَبْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحْثًا عَلَى رَأْسِهِ مِنْ تُرَابِهِ؛ فَقَالَ: قُلْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَسَمِعْنَا قَوْلَكَ، وَوَعَيْتُ عَنِ اللهِ فَوَعَيْنَا عَنْكَ، وَكَانَ فِيْمَا أَنْزَلَ اللهُ عَلَيْكَ {وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ} اَلْآيَةَ، وَقَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَجِئْتُكَ تَسْتَغْفِرَ لِي. فَنُوْدِيَ مِنَ الْقَبْرِ أَنَّهُ قَدْ غُفِرَ لَكَ.

Abu Shodiq meriwayatkan dari Ali, ia berkata: “Tiga hari setelah kami mengubur Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, datang kepadaku seorang a’robi. Ia merebahkan tubuhnya pada kuburan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan menabur-naburkan tanah kuburan di atas kepalanya sambil berkata: “Engkau mengatakan, wahai Rosululloh!, maka kami mendengar sabdamu dan hafal apa yang dari Alloh dan darimu. Dan salah satu ayat yang turun kepadamu adalah: “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS, An Nisaa : 64) Saya telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan untukku.” Kemudian dari arah kubur muncul suara : “Sesungguhnya engkau telah mendapat ampunan.” (Tafsir Al Qurthubi vol.V hlm. 265)

BACA JUGA:  Koreksi Ahlussunnah Wal-Jama'ah Kepada Salafy Wahabi Soal Tawassul

Apapun status kisah diatas, baik ia masuk kategori shohih ataupun dho’if, yang pasti para Ulama telah banyak yang menuturkannya, jika perbuatan si A’robi tersebut dianggap syirik, maka kami bertanya ; Adakah para ulama diatas telah menuturkan kisah yang dapat mendorong pada perbuatan syirik tanpa menyebutkan status hukumnya? Dan bahkan menjadikannya sebagai penguat penjelasannya…. Bagi kami itu hal yang tidak mungkin, mengingat hal itu justru akan menghilangkan kredibilitas karya-karya mereka.

• Tawassul Dengan Nabi Disaat Sakit Dan Mengalami Musibah

عَنِ الْهَيْثَمِ بْنِ خَنَسٍ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فَخَدِرَتْ رِجْلُهُ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ : أُذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ .

Dari Al Haitsam ibn Khonas, ia berkata, “Saya berada bersama Abdulloh Ibn Umar -rodhiyallohu ‘anhuma-. Lalu kaki Abdulloh mengalami kram.

“Sebutlah orang yang paling kamu cintai !,” saran seorang lelaki kepadanya. “Yaa Muhammad,” ucap Abdulloh. Maka seolah-olah ia terlepas dari ikatan.

وَعَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ : خَدِرَتْ رِجْلُ رَجُلٍ عِنْدَ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، فَقَالَ لَهُ اِبْنُ عَبَّاسٍ: أُذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ ، فَقَالَ: مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَذَهَبَ خِدْرُهُ.

Dari Mujahid, ia berkata; “Seorang lelaki yang berada dekat Ibnu Abbas -rodhiyallohu ‘anhuma- mengalami kram pada kakinya. “Sebutkan nama orang yang paling kamu cintai,” kata Ibnu Abbas kepadanya.
Lalu lelaki itu menyebut nama Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, dan akhirnya hilanglah rasa sakit akibat kram pada kakinya.

Hadits diatas disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al Kalimut Thoyyib hlm. 165. Tawassul menggunakan ungkapan “Ya Muhammad” adalah tawassul dalam bentuk panggilan.

Beberapa contoh diatas adalah sebagian bukti sekaligus menjadi dalil praktek tawassul mayoritas kaum muslimin di dunia.

Tulisan di bawah ini adalah lanjutan dari artikel bagian pertama yang kami posting sebelumnya.

 

Oleh Ustadz Abu Hilya

 

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker